Gambar dalam Cerita
1 Maret 1866, Cottingley, pinggiran Kota Bradford, West Yorkshire, Inggris (Dunia Manusia).
Chiara Wyatt membuka pintu belakang rumahnya sambil membawa sebuah mangkuk berisi susu segar. Seperti biasa, ia hendak memberikan susu segar untuk anjing golden retriever kesayangannya, sebelum mengajak makhluk itu masuk ke dalam rumah.
"Max!" Chiara berteriak lantang ketika ia tidak menemukan anjingnya di depan pintu. Chiara merasa heran, tidak biasanya Max pergi meninggalkan teras belakang rumahnya pada malam hari. Terlebih Max termasuk anjing yang penakut dan tidak suka berkeliaran di malam hari.
Chiara mengedarkan pandangan ke sekeliling pekarangan rumah. Namun, ia tak dapat menemukan Max di sisi pekarangan mana pun. Suasana malam itu tidak terlalu gelap sehingga gadis bersurai keemasan itu dapat melihat dengan jelas pada tiap sudut pekarangan walaupun tanpa penerangan lampu.
Chiara menatap langit malam yang tampak lebih terang dari biasanya. Gadis itu tertegun sesaat memperhatikan bulan purnama yang tampak sedikit berbeda dari biasanya. Bulan purnama itu tampak lebih besar dan berwarna kemerahan. Blood moon, batin Chiara.
Ia mengingat-ingat informasi yang ia baca di koran tadi pagi bahwa malam ini akan terjadi fenomena langka yang disebut blood moon. Netra hijaunya membelalak takjub. Jadi inilah blood moon . Chiara benar-benar terpesona menatap keindahan purnama berwarna merah itu hingga ia nyaris lupa untuk mencari Max.
Chiara meletakkan mangkuk susunya di depan pintu berharap saat Max kembali, anjing itu bisa langsung meminumnya. Sementara, ia mulai berjalan menyusuri pekarangan belakang rumahnya yang terhubung dengan pekarangan rumah tuan Parker. Ia pernah memergoki Max bermain-main ke tempat itu untuk mengejar kunang-kunang yang sesekali muncul di sana pada suatu malam musim panas. Asumsi itulah yang mengarahkan Chiara untuk mencarinya ke sana.
"Max!" Teriak Chiara lantang.
Nihil. Ia juga tidak menemukan keberadaan Max di sana.
Udara malam semakin terasa menusuk kulit Chiara. Gadis itu mengeratkan sweaterny a ke tubuh untuk mendapat sedikit kehangatan.
Ia terus melangkah dalam keremangan cahaya di pekarangan rumah Tuan Parker. Tempat itu tampak sepi. Si empunya rumah barangkali telah terlelap atau Tuan Parker sedang tidak di rumah karena tak ada satu lampu pun yang menyala di sana. Penerangan satu-satunya yang membantu Chiara melihat ke seluruh penjuru pekarangan hanya berasal dari purnama merah yang sedang bertakhta di langit.
Netra Chiara terpaku pada salah satu sisi pekarangan rumah tuan Parker yang berbatasan langsung dengan hutan. Pagar kayu berwarna putih kusam dengan beberapa bagiannya tampak terkelupas membatasi pekarangan dan hutan. Beberapa bagian pagar kayu itu terlihat telah rusak dan patah hingga membuat celah yang dapat dilewati hewan seperti kucing atau anjing.
Entah apa yang menggerakkan gadis itu hingga ia mendekati celah pagar kayu tersebut. Chiara berasumsi bisa jadi Max melewati pagar itu lalu masuk ke dalam hutan. Pandangan gadis itu kini teralih pada pemandangan hutan yang lumayan gelap.
Chiara menghela napas. Baiklah, barangkali ia akan mencoba peruntungannya. Rencananya adalah ia akan masuk tidak begitu jauh ke dalam hutan untuk mencari Max, siapa tahu anjing itu ada di sana. Jika ia tidak menemukannya, Chiara berjanji dalam hati bahwa ia akan segera kembali ke rumah.
Dengan hati-hati, Chiara pun akhirnya melewati celah pada pagar kayu rusak itu setelah menyingkirkan sebilah kayu rapuh yang melintang di depan celah pagar. Setelah melewati pagar itu, ia mempercepat langkah menuju hutan berharap dapat segera menemukan Max.
"Max!" Chiara berteriak memecah keheningan hutan. Gadis itu memelankan langkahnya saat telah memasuki hutan seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari sosok Max. Lagi-lagi cahaya purnama merah membantunya melihat setiap sudut hutan yang ia lalui.
Setelah beberapa saat lamanya berjalan menyisir hutan, rasa takut dan khawatir perlahan-lahan mulai menyusup dalam benak Chiara. Bagaimana jika ternyata golden retriever -nya ternyata tidak pernah memasuki tempat itu. Ia mulai merutuki kecerobohannya karena telah masuk ke dalam hutan tanpa berpikir panjang. Seumur hidupnya yang baru enam belas tahun, bahkan di siang hari sekali pun, Chiara tak pernah menjejakkan kakinya di sana.
Gadis itu menggigil. Udara hutan mulai terasa semakin dingin. Ia bahkan dapat melihat uap napas yang mengepul dari mulutnya dalam temaram cahaya. Ia mulai menyesali keputusannya untuk mencari Max. Gadis itu ingin segera kembali ke rumah dan membayangkan dirinya bergelung dalam selimut hangat di kamar. Lagi pula, neneknya pasti sangat khawatir jika tahu Chiara tidak ada di rumah sekarang. Namun, di sisi lain Chiara bimbang. Bagaimana jika Max ada di suatu tempat di hutan itu dan anjing kesayangannya itu barangkali sedang terperangkap pada sebuah jebakan yang biasa dipasang pemburu untuk menjebak binatang buas. Ia tentu tak akan mengabaikannya begitu saja.
Chiara menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran buruk itu. Dengan gigi-geligi yang gemeletak menahan dingin, ia melangkah semakin dalam masuk ke hutan. Suara langkah kakinya yang beradu dengan daun-daun kering memecah keheningan hutan.
Tiba-tiba dari kedalaman hutan terdengar suara lolongan anjing. Chiara menajamkan telinganya untuk mengenali suara yang terdengar sayup-sayup. Rasanya suara lolongan itu terdengar familiar. Ia tidak mungkin salah. Itu adalah suara lolongan Max saat bertemu orang atau sesuatu yang asing.
Chiara mempercepat langkah, setengah berlari menuju ke asal suara tersebut. Suara itu semakin lama semakin jelas. Jantung gadis itu berpacu kencang dan napasnya memburu. Sesekali kakinya terperosok pada tanah hutan yang bergelombang, tetapi segera ia bangkit lagi demi mendapati Max.
Namun, beberapa saat kemudian, suara lolongan itu mendadak berhenti. Hutan kembali hening.
Di bawah temaram sinar bulan purnama merah, Chiara berlari sekuat tenaga dengan dada bergemuruh panik saat lolongan penunjuk arah itu berhenti. Gadis itu bahkan sempat terjatuh beberapa kali karena tersandung akar-akar pohon besar yang menjalar di permukaan tanah. Piyama tidurnya berantakan, penuh noda tanah dan dedaunan kering yang menempel. Namun, ia tak peduli, ia hanya ingin segera bertemu dengan Max dan membawanya pulang.
Setelah berlari sekian lama, langkah Chiara akhirnya berhenti di depan sebuah mulut gua yang dipenuhi oleh tanaman merambat yang sangat lebat. Tampaknya tidak pernah ada yang melewati mulut gua itu.
Chiara mengernyit bingung dan dengan panik ia melihat ke sekelilingnya. Ternyata tanpa disadari, ia sudah berada di dalam hutan yang sangat lebat. Gadis itu bahkan rasanya telah lupa jalan pulang.
Chiara mencoba mengatur napas yang memburu. Wajahnya memerah karena kelelahan. Pelipisnya dibanjiri keringat. Rambut pirangnya yang panjang berantakan, dipenuhi potongan dedaunan dan ranting yang tanpa sadar menempel di beberapa bagian kepalanya saat ia berlari.
Gadis itu terduduk lesu di atas akar pohon yang tepat berada di depan mulut gua. Tak ada tanda-tanda keberadaan Max di tempat itu. Ia kelelahan dan mulai merasa putus asa. Chiara benar-benar tak sanggup lagi berpikir jernih. Suara lolongan yang ia kira Max tadi ternyata malah membuatnya tersesat jauh ke dalam hutan.
Di tengah-tengah kegundahannya, tiba-tiba terdengar suara gonggongan pelan Max yang entah berasal dari mana. Suara itu terdengar sangat dekat, tetapi teredam oleh sesuatu. Chiara mengedarkan pandangannya pada kegelapan hutan. Ia sama sekali belum dapat menangkap keberadaan Max.
"Max, kau kah itu?" tanya Chiara dengan suara lirih. Tubuhnya menggigil dan sepasang tungkainya terasa lemas. Namun, suara Max barusan mampu memberinya sedikit kekuatan dan harapan.
Suara Max terdengar lagi. Kali ini gonggongannya terdengar lirih dan penuh harap. Gadis itu yakin jika suara Max berasal dari suatu tempat di sekitarnya.
Chiara bangkit dari duduknya perlahan-lahan. Pandangannya sekali lagi menyisir sisi hutan yang terkena temaram cahaya purnama merah.
Lagi-lagi Max menggonggong. Jantung gadis itu seketika berdegup kencang. Chiara mendekat ke arah mulut gua membiarkan telinganya menjadi penuntun pencarian. Dengan bantuan cahaya bulan, dari sela-sela tanaman merambat yang lebat pada mulut gua, Chiara samar-samar melihat sosok Max yang bergerak gusar.
Seseorang, entah bagaimana caranya, telah menempatkan anjing malang itu di dalam sana. Ia yakin, tidak mungkin Max bisa masuk ke dalam tempat itu tanpa merusak tanaman merambat di depan mulut gua, kecuali gua itu punya pintu masuk lain di sekitarnya. Namun, agaknya asumsi Chiara yang terakhir itu tidak masuk akal. Sejauh mata memandang, gadis itu tidak dapat menemukan jalan lain di sekitar gua, selain dinding batu yang besar dan sangat tinggi. Ia hampir tidak dapat melihat seberapa tinggi gua batu tersebut.
"Max, bertahanlah. Aku akan mengeluarkanmu dari situ," ucap Chiara pelan. Ia mencari sesuatu yang tajam dan keras di sekitarnya untuk mencabut rerimbunan tanaman merambat yang menutupi mulut gua dengan panik. Nihil. Ia tak dapat menemukannya. Akhirnya, Chiara mencoba mencabut tanaman merambat itu dengan tangannya. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Chiara mencengkeram kuat pada sebuah akar tanaman merambat yang terlihat paling mudah untuk dicabut, kemudian ia menariknya sekuat tenaga. Gagal. Ia harus mencobanya lagi. Kali ini ia menariknya lebih kuat dan cepat.
Usahanya kali ini berhasil. Seuntai tanaman merambat yang sangat panjang berhasil terlepas. Sedikit celah pada mulut gua mulai terbuka.
Max mengeluarkan moncongnya, mengendus ke arah celah gua yang terbuka. Demi melihat itu, Chiara mendekatkan wajahnya pada Max sambil bergumam lirih, "Max, syukurlah kau tidak apa-apa."
Chiara mengulurkan tangannya masuk ke dalam celah yang terbuka. Ia hendak mengelus punggung Max. Namun, di luar dugaan, sesuatu dari kegelapan di dalam gua menarik tangannya dengan sangat keras. Tubuh gadis itu terperosok masuk ke dalam celah hingga merusak sebagian besar tanaman merambat yang menutupi mulut gua. Tubuh Chiara menghilang seketika.
* * *
Sesosok peri perempuan berdiri di tengah-tengah kegelapan Hutan Larangan di Fairyverse. Dia merentangkan lengannya sambil menengadah ke langit. Surai hitamnya yang tergerai berkibar tertiup angin. Iris matanya yang berwarna ungu menatap ke arah seekor burung rajawali yang baru saja datang mendekat lalu bertengger di salah satu tangannya yang terentang. Ia menyunggingkan seulas senyum miring yang menyiratkan kelicikan. Dialah Minerva, peri penyihir terkuat dari kaum unsheelie.
"Terima kasih telah membantunya masuk ke tempat ini, Lucifer," tuturnya pada burung rajawali yang sedang bertengger di tangannya.
Sedetik kemudian, burung itu segera beranjak dari lengannya melesat terbang menembus awan, lalu menukik kembali tepat di hadapan Minerva sebelum berubah menjadi wujud aslinya. Asap hitam seketika mengepul saat burung rajawali itu hampir menyentuh permukaan tanah. Sosok rajawali itu menghilang dalam gumpalan asap yang dalam sekejap berubah menjadi sesosok makhluk dengan wujud mengerikan. Matanya merah, dengan wajah hijau penuh kutil. Dia adalah peri dari klan Fir Darrig. Salah satu klan peri dengan rupa terburuk yang memiliki keahlian berubah wujud menjadi apapun.
Makhluk itu menyeringai dan mengangguk takzim pada Minerva. "Dia berhasil membuka segel portal Utara itu tanpa kesulitan berarti, Minerva. Dia pasti istimewa," sahut Lucifer dengan suaranya yang parau. Ia bermaksud merendahkan diri di hadapan Minerva. Namun, tentu peri perempuan itu langsung mencibirnya tidak senang.
"Tidak ada manusia yang istimewa, Lucifer. Bangsa perilah yang istimewa. Gadis itu hanya mengikuti takdirnya," ucap peri cantik itu dengan tatapan dingin.
Lucifer membeku. Ia tak menyangka akan mendapat tanggapan seperti itu dari Minerva, sang ratu kegelapan. Ia hanya dapat mengangguk takzim, tak berani membantah Minerva. Terlebih lagi peri buruk rupa itu telah menyadari kesalahannya karena memuji makhluk lain di hadapan sang ratu. Ia menundukkan kepalanya, tak berani melihat ekspresi ketidaksukaan Minerva. Ia hanya menunggu Minerva menitahkan sesuatu terkait dengan misi yang telah ia kerjakan.
Hening menyergap mereka. Minerva menerawang memikirkan sesuatu. Sebelum akhirnya ia bergumam, "Mari kita lihat apa yang bisa aku lakukan pada gadis manusia itu. Kita harus cepat. Sebelum tabir sihirku di portal utara melemah."
Minerva mengibaskan jubah hitamnya hingga menutup seluruh wajah dan tubuhnya lalu menghilang dan menyatu dalam gelapnya Hutan Larangan. Lucifer langsung dapat menerka ke mana ratunya pergi. Makhluk itu juga langsung mengubah wujudnya kembali menjadi rajawali dan terbang tinggi menuju ke portal utara Fairyverse.
***
Di bawah cahaya bulan purnama, seorang gadis tergeletak di bawah sebatang pohon oak tua yang besar. Akar-akarnya yang mencuat di permukaan tanah menjadi penyangga tubuh gadis yang tak sadarkan diri itu. Di sampingnya, seekor anjing golden retriever tampak sedang mengendus-endus tubuh si gadis sambil menggonggong lirih. Makhluk itu seolah sedang berusaha membangunkannya.
Di atasnya, beberapa peri pixie Kerajaan Avery terbang berputar lalu bertengger pada dahan-dahan pohon Oak. Mereka sedang berpatroli menjaga perbatasan portal utara. Namun, anehnya tak satu pun dari para pixie kerajaan Avery itu yang menyadari keberadaan gadis yang tergeletak di bawah pohon Oak. Gadis itu dan anjing di sebelahnya seolah tak terlihat. Minerva dengan liciknya telah menyulubungi mereka dengan tabir sihir tak kasat mata sehingga tak satu pun peri di sana menyadari keberadaannya.
Tiba-tiba seberkas cahaya ungu berpendar ke arah portal utara, tertiup bersama embusan angin. Cahaya ungu yang berpendar itu kemudian memecah menjadi bola-bola cahaya yang mendekati masing-masing pixie kerajaan Avery yang tengah berjaga. Para pixie yang terserang cahaya ungu itu lantas berjatuhan tak sadarkan diri ke tanah.
Bersamaan dengan angin yang tiba-tiba berembus kencang membawa pendar cahaya ungu lain menuju Portal Utara, sosok Minerva seketika muncul. Ia melangkah perlahan mendekati gadis manusia yang tak sadarkan diri itu. Seulas senyum licik menghiasi wajah sang ratu kegelapan.
"Kemarilah makhluk berbulu yang menggemaskan. Aku akan menjagamu di sini," bisik Minerva pada anjing berbulu keemasan. Peri perempuan itu membungkuk dengan sebelah tangan meraih makhluk berbulu coklat keemasan. Ia tahu bahwa anjing itu adalah milik si gadis manusia. Lucifer telah menggunakannya untuk memancing gadis manusia malang itu menuju portal Fairyverse.
Minerva mengusap kepala si anjing pelan. Serta merta, anjing itu menurut dan berpindah ke sisinya. "Huh, dasar makhluk fana! Umurmu tak begitu lama. Namun, karena tuanmu akan membantuku, aku akan membuatmu abadi!" gumamnya seraya mengusap sekilas pada wajah makhluk itu, cahaya keunguan berpendar sesaat dari telapak tangannya.
Lucifer muncul di dekat Minerva beberapa saat kemudian, menatap gadis manusia yang sedang tergeletak tak sadarkan diri. Ia masih tidak begitu paham apa yang sedang direncanakan ratunya. Namun, apapun itu, ia akan selalu berada di pihaknya.
Minerva mengulurkan tangan menyentuhkan telunjuknya pada kening si gadis manusia. Bibir merahnya bergerak-gerak merapalkan mantra dalam suara lirih. Manik mata Minerva yang berwarna ungu mendadak menghilang. Matanya memutih. Sementara, kening gadis malang itu tampak memancarkan cahaya ungu.
Lucifer menahan napasnya saat menyaksikan peristiwa itu. Dari ekspresi kejam Minerva, ia yakin bahwa sang ratu kegelapan sedang melakukan hal yang mengerikan kepada si gadis manusia.
"Chiara Wyatt ..." gumam Minerva saat ia selesai merapalkan mantra. Ia menoleh ke arah Lucifer lalu berkata, "Aku akan menyimpan ingatannya di Hutan Larangan. Kau harus memastikan ingatannya tetap aman di sana. Begitu juga dengan makhluk berbulu ini. Gadis ini harus menyelesaikan misinya terlebih dahulu sebelum mendapatkan ingatan dan anjingnya kembali!"
Lucifer mengangguk takzim. Ia siap melaksanakan apapun yang dititahkan Minerva.
Sebelum meninggalkan gadis itu sendiri, Minerva mengalungkan sebuah liontin bermata zamrud pada lehernya. Liontin bermata zamrud itu berpendar dengan cahaya keunguan untuk beberapa saat. Dalam sepersekian detik, pendarnya menghilang dan mata kalung itu tampak seperti liontin biasa.
Minerva dan Lucifer pergi dalam desiran angin kehitaman yang melesat cepat menuju Hutan Larangan, meninggalkan Chiara dan para pixie kerajaan yang tak sadarkan diri. Portal utara tampak lengang. Tabir sihir Minerva telah menguap dalam terang bulan purnama kekuningan di Fairyverse.