Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
Rasa yang tertinggal
Teen
07 Feb 2026

Rasa yang tertinggal

Hari itu seharusnya menjadi hari bahagia.Ayah Salsadila berdiri di depan cermin kamar, merapikan jasnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Di ruang tamu, kursi-kursi telah tersusun rapi, bunga melati memenuhi sudut rumah, dan aroma harum bercampur dengan doa-doa yang sejak pagi dipanjatkan.Hari ini, ayahnya akan menikah kembali.Salsa—begitu ia biasa dipanggil—duduk di tepi tempat tidur sambil menatap pantulan dirinya sendiri. Gaun sederhana berwarna krem membalut tubuhnya. Wajahnya tenang, bahkan tersenyum kecil. Tidak ada penolakan. Tidak ada amarah.Perempuan yang akan menjadi istri ayahnya adalah Bu Ratna, sahabat almarhum ibunya.Salsa mengenalnya sejak kecil. Perempuan itu yang selalu datang ketika Salsa demam, yang menyiapkan makanan saat ayahnya lembur, yang duduk menemani Salsa belajar ketika teman-temannya bermain. Dalam diam, Salsa sudah menganggapnya sebagai ibu.Dan bersama Bu Ratna… akan hadir satu orang baru dalam hidupnya.Raka.Putra tunggal Bu Ratna dari pernikahan sebelumnya.Mereka seumuran. Bedanya, Raka lebih tinggi, lebih pendiam, dan memiliki tatapan yang selalu seolah menyimpan jarak. Mereka sudah bertemu beberapa kali, tapi tak pernah benar-benar berbincang panjang. Sekadar anggukan, senyum tipis, lalu kembali ke dunia masing-masing.Salsa tak pernah mengira, kehadiran laki-laki itu akan mengubah banyak hal.Babak BaruSetelah akad nikah selesai dan rumah kembali sunyi, kehidupan baru dimulai.Kini mereka tinggal serumah—empat orang dengan status yang tak lagi sama.Bu Ratna berusaha menjadi ibu sebaik mungkin. Ayah Salsa terlihat lebih sering tersenyum. Semuanya berjalan wajar… setidaknya di permukaan.Raka pindah ke kamar di ujung lorong, tepat berseberangan dengan kamar Salsa.Mereka mulai sering bertemu: di dapur, di ruang makan, di ruang TV. Percakapan tetap singkat, canggung.“Udah makan?”“Belum.”“Oh.”Hanya itu.Namun, tanpa Salsa sadari, Raka selalu memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya. Cara Salsa mengikat rambut ketika belajar. Kebiasaannya menyeduh teh setiap malam. Tatapan kosong yang muncul setiap kali Salsa melihat foto lama ibunya.Dan Salsa pun mulai menyadari hal yang sama.Raka selalu ada ketika ia pulang terlambat. Selalu bertanya dengan nada datar, “Kok pulang malam?” Selalu meninggalkan segelas air di meja belajarnya tanpa sepatah kata.Hubungan mereka pelan-pelan berubah. Tidak ada sentuhan berlebihan. Tidak ada kata-kata manis. Tapi ada kenyamanan yang aneh.Perasaan yang SalahSemua berubah di suatu malam hujan.Listrik padam. Rumah gelap. Petir menyambar keras.Salsa yang takut gelap keluar kamar, mendapati Raka duduk di ruang tamu dengan lilin kecil di atas meja.“Kamu takut?” tanya Raka pelan.Salsa mengangguk.Tanpa banyak bicara, Raka menggeser duduknya, memberi ruang. Mereka duduk bersebelahan. Hujan semakin deras.“Kadang,” Raka membuka suara, “aku ngerasa rumah ini terlalu sunyi.”Salsa menoleh. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi rapuh Raka.“Padahal ramai,” jawab Salsa lirih.“Iya. Tapi tetap terasa sepi.”Malam itu menjadi awal segalanya.Setelahnya, mereka semakin dekat. Terlalu dekat untuk sekadar saudara. Terlalu salah untuk disebut wajar.Tatapan yang terlalu lama. Perhatian yang terlalu dalam. Rasa cemburu yang tak seharusnya ada.Salsa tahu ini salah. Raka tahu ini terlarang.Tapi perasaan tak pernah bertanya apakah ia boleh tumbuh atau tidak.Pecahnya DiamKonflik memuncak ketika suatu malam Bu Ratna melihat mereka tertidur di sofa—berdekatan, tangan hampir saling bersentuhan.Tidak ada adegan yang salah. Tapi insting seorang ibu tak pernah keliru.Keesokan harinya, Raka dipanggil.“Apa yang kamu rasakan ke Salsa?” tanya Bu Ratna, dengan suara gemetar.Raka terdiam lama.“Aku berusaha berhenti,” jawabnya akhirnya. “Tapi aku gagal.”Tamparan tak pernah mendarat. Tapi kata-kata Bu Ratna lebih menyakitkan.“Kalian keluarga.”Hari itu, Raka memutuskan pergi.Tanpa pamit pada Salsa.PerpisahanSalsa menemukan kamar Raka kosong. Lemari terbuka. Meja belajar bersih.Hanya satu surat tertinggal.Salsa,Maaf karena aku nggak cukup kuat untuk tetap tinggal tanpa menyakitimu.Aku pergi bukan karena nggak peduli. Justru karena terlalu peduli.Hidup yang benar bukan selalu hidup yang kita inginkan.Jaga dirimu.—RakaTangis Salsa pecah malam itu.Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, ia merasa kehilangan lagi.EpilogTahun-tahun berlalu.Salsa tumbuh dewasa. Menjadi perempuan yang kuat, tenang, dan berdamai dengan masa lalu.Suatu sore, di sebuah kafe kecil, ia melihat sosok yang familiar.Raka.Mereka saling menatap. Tidak ada pelukan. Tidak ada air mata.Hanya senyum tipis.“Bahagia?” tanya Raka.“Belajar,” jawab Salsa.Mereka mengerti—tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimiliki. Beberapa hanya datang untuk mengajarkan arti melepaskan.Dan mereka… adalah salah satunya.

Memory Indah
Teen
07 Feb 2026

Memory Indah

Salma kini tengah menangis pasrah di sebelah brankar suaminya yang sudah koma hampir tiga bulan setelah kecelakaan maut itu terjadi. Dokter mengatakan ada syaraf di otak suaminya yang rusak akibat benturan keras saat kecelakaan. Dokter juga mengatakan bahwa suaminya hingga kini hanya bertahan karena bantuan oleh alat, mereka tak bisa memastikan suaminya akan sadar atau tidak.Walaupun nantinya sadar, suaminya bisa saja cacat, amnesia atau banyak hal buruk yang tidak pernah dokter prediksi kedepannya. Mengingat bagian kepala Rony yang terluka parah saat itu."Bangun yuk sayang, kamu gak kangen aku? Kasian anak kamu sayang, dia mau ketemu ayahnya hiks hiks hiks" Ucap Salma menangis"Aku gamau ikhlasin kamu sayang, orang-orang jahat. Orang-orang maksa aku buat ikhlasin kamu dan lepas alat-alat ini. Aku gamau sayang, aku masih butuh kamu. Anak kita butuh ayahnya sayang hiks hiks. Aku ikhlas ngerawat kamu apapun keadaan kamu setelah kamu sadar nanti, asal aku gak kehilangan kamu sayang hiks hiks. Bangun yuk mas, aku rindu sama kamu" Lanjut Salma sembari menggenggam tangan suaminyaSaat Salma menangis dan mencium tangan suami nya, Salma merasakan tangan suaminya bergerak. Salma tersenyum, ia seperti melihat secercah harapan akan kesadaran suaminya pun tumbuh.Salma memanggil dokter untuk memeriksa keadaan suaminya. Tidak lupa Salma juga menghubungi kedua orang tua suami nya agar segera ke rumah sakit.Salma sangat bahagia, akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana ia bisa kembali melihat suaminya membuka mata dan kembali bersamanya.Suami Salma yang bernama Rony adalah seorang pengusaha sukses dan terkenal. Tidak jarang banyak yang iri atas kesuksesan CEO muda itu. Hingga tiba dimana Rony yang mendapatkan kabar jika Salma akan melahirkan, membuat nya panik dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.Mobil yang di gunakan Rony ternyata sudah di sabotase seseorang yang membuat rem mobil tersebut rusak. Tepat saat berada di perempatan yang seharusnya Rony bisa berhenti, dia tidak bisa mengendalikan mobilnya hingga tertabrak sebuah truk yang juga tengah melintas di jalan yang sama.Bagian belakang mobil Rony hancur, dan kepala Rony terluka parah. Salma yang saat itu baru saja selesai berjuang melahirkan sang buah hati dibuat histeris mendengar kabar tentang suaminya. Beruntung keluarga mereka bisa menguatkan wanita itu, hingga Salma bisa tabah dan sabar menunggu Rony yang koma selama tiga bulan ini."Gimana dok? Keadaan suami saya?" Tanya Salma"Alhamdulillah Bu, ini sebuah keajaiban dari Allah untuk Pak Rony. Kondisi Pak Rony sudah membaik, bahkan setelah saya periksa Pak Rony sama sekali tak mengalami kecacatan fisik" Balas Dokter"Alhamdulillah Ya Allah, makasih Ya Allah" Ucap Salma terharu"Hmm namun Pak Rony sepertinya mengalami amnesia Bu. Pak Rony kehilangan sebagian memori ingatannya, setelah saya coba bicara dengan beliau. Beliau bersikap layaknya seperti anak kecil dan mengatakan bahwa dirinya berusia lima tahun" Jelas Dokter"Berarti suami saya gak mengingat saya Dok?" Tanya Salma"Sepertinya tidak Bu, tapi kasus amnesia seperti ini tidak terbilang buruk di bandingkan yang ingatan nya hilang total Bu. Pak Rony menyimpan sedikit memori di kepala nya dan itu jauh lebih baik. Penyembuhannya juga bisa lebih cepat asal ibu sabar dan tidak pernah memaksa untuk Pak Rony mengingat apapun itu. Pelan-pelan saja, asal Pak Rony nya nyaman""Jika Pak Rony mulai merasakan sakit di kepalanya lebih baik di hentikan dahulu takut nya jika di paksakan malah menanggung resiko untuk kesehatan Pak Rony Bu" Ucap Dokter"Baik dok, terimakasih penjelasan nya" Balas SalmaSetelah dokter pergi, Salma mencoba masuk dan menemui Rony. Dia sangat merindukan sosok suaminya itu."Assalamualaikum" Ucap Salma"Waalaikumsallam, kamu siapa? Ngapain masuk kamar aku? Mama aku kemana?" Ucap Rony ketakutan"Hey, jangan takut. Aku baik kok, aku gak akan nyakitin kamu. Kamu lupa ya sama aku? Aku kan sahabat kamu" Ucap Salma dengan air mata yang mengalir"Teman aku? Kenapa aku tidak ingat kamu? Aku juga tidak tau kamu siapa" Balas RonySaat Salma mencoba berbicara pada Rony, tiba-tiba Mama dan Papa Rony datang."Mama??? Papa??? Kalian dari mana? Ony kangen kalian" Teriak RonyMama dan Papanya memeluk Rony sangat erat."Maaf sayang, Mama Papa di rumah. Kan disini udah ada istri kamu" Ucap Mama Rony"Istri? Apa itu istri Ma?" Tanya Rony"Ma, Pa? Boleh Salma bicara lebih dulu sama kalian tentang kondisi mas Rony?" Tanya Salma"Iya sayang, yuk" Balas Mama Rony"Mamaaaa, mama mau kemana lagi? Kenapa tinggalin ony lagi sihhh" Rengek Rony"Bentar Ron, Mama Papa diluar sebentar" Balas Papa RonySetelah keluar dari ruangan Rony, Salma menjelaskan kondisi Rony pada Mama dan Papa Rony. Mama Rony terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Mama Rony juga memeluk Salma dengan erat. Dia tau menjadi Salma sangat lah berat. Namun dia juga bangga pada menantunya itu, dia tak pernah lelah dan selalu sabar menjaga dan merawat Rony selama ini."Sayang, sabar ya nak. Nanti Mama bantu kamu. Mama pasti bantu kamu" Ucap Mama Rony"Ca, Papa juga bakalan bantu kamu sayang. Papa gak akan biarin kamu sendirian ngurus Rony. Ayah Bunda kamu menitipkan kamu pada kami sebelum mereka meninggal, dan Papa juga pastikan kamu gak akan pernah merasakan sendirian dalam keadaan apapun itu" Timpal Papa Rony"Makasih Ma, Pa. Caca butuh banget support kalian" Balas Salma terharu***Kini Rony sudah sampai di rumah kediaman orang tuanya. Setelah di rawat hampir seminggu, kondisi Rony jauh lebih membaik sehingga dokter mengizinkan Rony untuk pulang.Mama dan Papa Rony meminta Salma agar tinggal di kediaman nya lebih dulu supaya memudahkan mereka untuk membantu Salma menjaga bayi nya dan Rony sekaligus. Jika Salma tinggal di rumah baru mereka mungkin Rony juga akan kesusahan untuk beradaptasi dengan rumah itu, karena yang Rony ingat adalah rumah kediaman orang tuanya."Ony, sekarang Ony bobo nya sama Caca ya bukan sama Mama lagi" Ucap Mama Rony"Kenapa Ma? Bukannya Ony biasanya bobo sama Mama ya?" Tanya Rony"Iya, sekarang kan Ony udah gede. Caca kan sahabat sekaligus istri Ony, jadi Ony bobo nya sama Caca" Balas Mama RonyMereka sudah menjelaskan dengan perlahan mengenai siapa Salma pada Rony. Beruntung nya Rony bisa menerima kehadiran Salma dengan cepat, entah karena memang perasaan cinta Rony yang ada di hatinya pada Salma membuatnya sama sekali tak menolak kehadiran Caca di dekatnya. Justru seminggu ini dia sangat manja pada Salma, dia menganggap Salma sama seperti mama nya."Oh iya, Ony lupa. Ony kan punya Caca ya hehe" Balas Rony dengan cengirannya"Yaudah masuk yuk Ony, kita bobo siang. Pasti ngantuk kan?" Tanya Salma"Iya, ayo Caca juga masuk temenin Ony. Ony takut sendirian" Balas Rony"Iya yuk" Balas Salma"Nanti Mama anter aja Celline ke kamar kamu ya. Biar ketemu sama ayahnya" Bisik Mama Rony"Iya ma, makasih ya ma" Balas Salma"Ih ayo Caca, malah bisik-bisik sama Mama sih" Rengek Rony"Iya iya, ayo masuk" Ucap SalmaSetelah masuk ke dalam kamar, Salma mengajak Rony bebersih."Caca tadi kan sudah mandi, kenapa mandi lagi?" Tanya Rony"Iya Ony kan dari rumah sakit, tempatnya orang sakit. Jadi sebelum masuk ke kamar kita harus mandi lagi. Caca mandiin Ony dulu ya" Balas SalmaRony hanya mengangguk mengikuti perintah Salma.Dengan sabar dan telaten Salma memandikan Rony layaknya seorang bocah. Namun Salma tak sengaja malah menyusap milik Rony. Rony memang hilang ingatan dan berpikir dirinya masih kecil. Namun nafsu nya juga tidak bisa dia kendalikan ketika Salma menyentuh area sensitifnya. Rony refleks mendesah dan seketika miliknya itu berdiri dengan tegang."Eh? Caca lupa, tadi pagi kan Caca bilang bagian itu Ony sendiri yang harus bersihin tapi malah Caca pegang sekarang. Maaf ya, Caca lupa" Ucap Salma"Caca itu kenapa? Rasanya aneh, badan Ony aneh Caca. Kenapa?" Ucap Rony panik"Eh udah udah, Ony gausah panik. Sekarang Ony duduk di sini. Caca bantu bobo in punya Ony lagi yaa" Balas SalmaSalma mendudukan Rony di Closet duduk, lalu mulai membantu suaminya untuk mendapatkan pelepasan. Salma memainkan tangannya pada batang milik Rony."Ahh Caca gelihh Cacahh" Desah RonySalma tak menggubris desahan Rony. Dia semakin mempercepat gerakan tangannya lalu memasukkan milik Rony kedalam mulutnya. Menggerakan dengan cepat hingga tak terasa milik Rony pun mengeluarkan cairannya di dalam mulut Salma."Ahhhh" Lenguh Rony"Udah kan? Ayo mandi lagi" Ucap Salma"Tadi itu apa Caca? Kenapa Caca makan burung Ony?" Tanya Rony"Itu tadi Caca bantuin Ony biar burung Ony bobo lagi. Jadi caranya harus gitu deh. Tapi enak gak?" Tanya Salma"Enak Caca, kalo Ony mau lagi boleh?" Tanya Rony polos"Boleh, tapi janji jangan bilang Mama Papa ya. Ini rahasia kita berdua" Ucap Salma"Yeay, makasih Caca. Iya Ony janji, Ony gak akan bilang Mama Papa" Balas Rony"Good boy, yuk lanjut mandi" Ucap SalmaSetelah Rony mandi, dia meminta Rony berendam lebih dulu di bathup sembari menunggu dirinya mandi. Rony hanya memandangi tubuh polos Salma saat mandi di depannya. Lalu memilih memejamkan mata sembari menikmati rendaman air hangat di dalam bathtub.Selesai urusan mandi bersama, Salma lebih dulu memakai pakaiannya. Lalu beralih memakaikan pakaian pada Rony dan menyisir rapi rambut suaminya."Nah, udah cakep, udah harum. Sekarang waktunya bobo" Ucap Salma"Ayo, Caca bobo juga" Balas Rony"Iyaa, udah sana Ony rebahan dulu" Ucap Salma"Tap - "Tok tok tok"Bentar ya, Caca buka pintu" Ucap SalmaSalma membuka pintu dan menampilkan Mama Rony yang tengah menggendong Celline."Ini Ca Celline, kasih ASI gih. Tadi kata sus nya, Celline terakhir minum ASI empat jam yang lalu terus bobo pules banget" Ucap Mama Rony"Tau kali Ma, ayah nya mau dateng. Makanya dia bobo dulu, sekarang malah melek. Pengen liat ayahnya" Balas Salma sedih"Sabar ya sayang, Mama yakin Rony pasti bakalan cepet sembuh. Kamu sabar aja ya nak" Balas Mama Rony"Iya Ma, yaudah Caca masuk ya Ma. Makasih udah bawain Celline kesini Ma" Balas Salma"Iya sayang, masuk gih. Ntar bayi gede kamu tantrum itu di dalem" Ucap Mama Rony"Haha iya Ma" Balas SalmaSalma menutup kembali pintu kamarnya lalu berjalan ke arah ranjang. Rony sudah menatap nya intens sedari tadi."Caca itu adik bayi siapa?" Tanya Rony"Ini adik bayi nya Caca sama Ony dong. Cantik gak?" Tanya Salma ketika sudah mendudukan dirinya di sebelah RonySalma menyandar pada dipan ranjang dengan Rony di sebelahnya yang ikut menyandar."Adik bayi nya Ony? Ony punya adik?" Tanya Rony"Iya, ini adik Ony. Lucu gak?" Tanya SalmaSalma berpikir tidak mungkin jika mengenalkan Celline sebagai anak Rony sedangkan Rony saja berpikir dirinya masih lah anak-anak."Lucu Caca, cantik sekali kaya Caca" Balas Rony"Caca cantik?" Tanya Salma"Iya, kata Mama semua perempuan cantik. Kalo laki-laki tampan" Balas Rony"Ony pinter" Balas Salma"Nama adiknya siapa?" Tanya Rony"Celline, coba cium. Pasti adiknya seneng Ony" Balas Salma"Halo adik Celline, ini Ony. Kamu cantik sekali" Ucap Rony di akhiri mengecupi wajah Celline"Ony, manggilnya bukan Ony dong. Tapi Ayah" Ucap Salma"Ayah? Ayah Ony?" Tanya Rony"Iya, Ayah Ony. Ini Ibu Caca" Balas Salma sembari menunjuk dirinya sendiri"Hihi lucu Caca. Ini Ayah Ony, Ini Ibu Caca, Ini Adik Celline" Balas Rony terkekehAlhamdulillah mas, kamu bisa menerima Celline walaupun kamu hanya bisa menganggapnya adik *batin SalmaSaat Rony sibuk menciumi wajah Celline, tiba-tiba Celline menangis"Caca adik nangis, Caca kenapa? Ony salah ya? Adik nangis gara-gara Ony ya? Hiks hiks maafin Ony Caca" Ucap Rony ikut menangis"Hey hey, udah gaboleh nangis dong sayang. Ini Adik nangis karena haus bukan karena Ony. Udah ya, Ony gaboleh nangis. Sini di hapus air matanya. Gaboleh nangis sayang" Balas Salma sembari menghapus air mata Rony"Adik mau minum? Ony ambilkan air ya?" Tanya Rony"Eh, gausah sayang. Adik minum dari Caca" Balas Salma sembari membuka kancing piyama nyaSalma perlahan mengeluarkan payudara nya dan mengarahkan nipple nya pada Celline"Caca itu adik minum apa?" Tanya Rony"Minum ASI biar Adek sehat" Balas Salma"Kenapa minumnya dari Caca?" Tanya Rony"Ya karena ASI nya cuma ada di Caca" Balas Salma bingung"Ony boleh minta ASI Caca?" Tanya Rony"Kenapa? Ony mau?" Tanya Salma"Kata Caca adik minum itu biar sehat. Ony juga mau sehat, biar Ony gak di suntik kaya kemarin di rumah sakit" Balas Rony"Hahahaha iya iya boleh, tapi nanti ya gantian sama adik" Balas Salma"Iyaa Caca" Balas RonyRony yang penasaran pun mencoba menoel payudara Salma menggunakan satu jarinya"Eh kenapa?" Tanya Salma"Ony dari tadi waktu Caca mandi penasaran sama ini. Sekarang adik juga minum ASI nya dari ini. Ini apa sih Caca?" Tanya Rony"Ini namanya Nenen. Cuma perempuan yang punya. Dulu waktu bayi Ony juga minum ini dari Mama" Balas Salma"Jadi sekarang Ony boleh minta ASI sama Mama?" Tanya Rony"Eh gaboleh dong, kan sekarang udah ada Caca. Ony minta ke Caca aja yaa" Balas Salma"Iya Caca. Tapi adik lama, Ony udah kepengen coba itu" Ucap Rony"Ony bobo.an dulu deh, nanti kalo adek udah selesai, Caca bangunin. Ony udah ngantuk banget itu" Balas Salma"Iya, Ony ngantuk Caca mau bobo" Balas Rony"Yaudah bobo yaa. Sini Caca usapin kepalanya biar cepet bobo" Balas SalmaSalma mengusap kepala Rony dengan lembut. Sedang tangan satunya menopang tubuh anaknya yang sedang menyusu. Salma sangat sabar dan menikmati perannya saat ini yang tengah mengasuh kedua bayi nya secara bersamaan.***Saat ini Salma tengah menjemur anaknya di halaman belakang rumah."Ca, suami kamu gak nyariin kamu? Kalo kamu tinggal jemur Adek?" Tanya Mama Rony"Masih tidur kok ma tadi waktu Caca tinggal ke bawah" Balas Salma"Udah seminggu di rumah, dia ada rewel gak pas Adek tidur sama kalian?" Tanya Mama Rony"Alhamdulillah nya gak ma, dari awal Caca ngenalin Adek ke Mas Rony. Dia malah seneng ya walaupun Mas Rony tau nya kalo Celline itu adiknya sih. Tapi gak masalah, yang penting dia sayang aja dulu sama anaknya Ma" Balas Salma"Iya Ca, bener. Yang penting Rony Deket aja dulu sama Adek. Kasian Adek, sejak lahir belum pernah ngerasain dekat bahkan di gendong ayahnya" Ucap Mama Rony"Iya Ma, tapi pelan-pelan nanti Caca ajarin gendong Adek ma" Balas Salma"Hmm maaf kalo Mama tanya ini ya Ca, Mama cuma penasaran. Tiap mandi kan kamu yang mandiin Rony. Rony masih ada nafsu gak? Soalnya Mama pikir dia kan hanya gak ingat usianya dan kamu sebagai istrinya, tapi hormon dan lainnya kan gak menutupi kalo dia laki-laki dewasa" Ucap Mama Rony"Iya Ma, tiap Caca mandiin dia. Dia masih ada nafsu kok. Kesentuh dikit aja langsung tegang. Ya akhirnya Caca bantu tiap mandi sekalian bantuin dia nuntasin itu Ma pake tangan. Dia kan masih gak ngerti masalah hubungan suami istri""Karena dia sendiri aja bingung sama tubuhnya sendiri dia gatau harus apa" Balas Salma"Kamu kuat nahan sendirian Ca?" Tanya Mama Rony"Insyaallah Caca kuat Ma, Caca cuma mau berbakti sama suami Caca tanpa berharap apa-apa sama kondisi Mas Rony yang sekarang. Mama gausah khawatir ya, Caca gapapa kok" Balas Salma"Sabar ya nak, semoga perjuangan kamu di ganti pahala yang berlipat sama Allah" Ucap Mama Rony"Aamiin, makasih Mama" Balas Salma"Cacaaaaaaaaa" Teriak Rony sembari berlari ke arah Salma dan memeluknya"Hey kenapa? Kenapa lari-lari? Nanti jatuh gimana?" Tanya Salma"Hiks hiks Caca kenapa ninggalin Ony? Ony takut sendirian di kamar" Balas Rony terisak"Maaf Ony, Caca kan mau jemur badan adik. Lagian ini udah pagi, Ony kenapa takut?" Tanya Salma lembut"Iya sayang, kan ini udah pagi nak. Kenapa takut? Kan gak ada apa-apa" Timpal Mama Rony"Ony takut ada hantu di kamar, tapi Caca malah ninggal Ony hiks hiks" Balas Rony"Maaf ya Ony, soalnya tadi Ony masih bobo. Caca gak tega mau bangunin Ony" Balas Salma"Anak cowo gak boleh takutan dong sayang. Masa kalah sama Caca? Caca cewek tapi dia gak penakut kaya Ony" Ledek Mama Rony"Ishh Mamaaaa!!! Kan Ony takut, makanya Ony mau bobo sama Caca. Ony gamau Caca jauh-jauh dari Ony" Rengek Rony"Iya iya, maafin Mama ya. Kan Caca lagi jemur Adek Celline. Tuh liat Adek Celline lagi telanjang sambil di jemur. Lucu kan hahaha" Bujuk Mama Rony"Ih Caca, kenapa adek gak di pakein Baju Caca! Itu Adek kepanasan Caca kasian" Ucap Rony sembari menutupi punggung anaknya dengan kedua tangannya"Hey, jangan di tutupin dong punggungnya Ony. Ini kan Adek emang di jemur, minggirin ih tangannya" Balas Salma sembari menyingkirkan tangan Rony"Ihh Caca! Kasian Adek kepanasan! Emangnya adek baju! Pake di jemur segala" Omel Rony"Bukan gitu konsepnya sayang. Itu Adek di jemur justru biar Adek bisa kuat. Sinar matahari pagi itu bagus untuk jemur adik bayi nak" Balas Mama Rony"Tapi Adek gak kepanasan?" Tanya Rony"Gak dong, kan ini belum terlalu panas juga Ony" Balas Salma"Ony sayang sama Adek Celline?" Tanya Mama Rony"Sayang Mama, Ony sayang sekali sama Adek Celline" Balas Rony"Alhamdulillah kalo Ony sayang sama Adek. Mama seneng dengernya" Ucap Mama Rony terharuSama halnya dengan Mama Rony. Salma juga terharu mendengar jawaban Rony. Walaupun Rony tak mengenali anaknya, setidaknya Rony bisa menyayangi putri kecilnya itu."Adek lucu sekali sih bobo tengkurap gini hahaha. Ayah Ony mau cium, tapi Adek pasti bau matahari hahaha" Ucap Rony sembari mendudukan dirinya di depan wajah anaknya"Ayah Ony gaboleh gitu dong, masa Adek di ledekin bau matahari. Nanti kalo adek nangis gimana?" Ucap Mama Rony"Hehe maafin Ayah Ony ya Adek. Ayah Ony cuma bercanda kok. Adek selalu harum, ayah Ony aja suka bau nya adek" Balas Rony lalu mencium pipi gembul anaknyaMama Rony meneteskan air matanya melihat interaksi Rony pada anaknya. Sedangkan Salma, dia sudah terbiasa melihat Rony berinteraksi dengan Celline namun ia juga tetap senang melihat Rony sangat menyayangi Celline.***Selesai menidurkan Celline, Salma menemui Rony yang sedari menatapnya dengan muka yang cemberut"Kenapa? Kok cemberut gitu?" Tanya Salma"Dari tadi Caca sibuk sama Adek. Ony gak di ajak main" Balas Rony"Utututu ngambek ceritanya nih? Maaf ya Ony sayang, kan tadi Adeknya rewel. Jadi Caca harus nidurin Adek dulu" Ucap Salma"Tau ah, Caca nakal" Balas Rony"Maaf, Caca minta maaf yaa sayang. Ony gamau maafin Caca?" Tanya Salma memelas"Mau, tapi ada syaratnya" Balas Rony"Kok pake syarat segala sih? Diajarin siapa pake syarat-syarat gini?" Tanya Salma"Diajarin Caca kan? Caca tiap Ony minta ini itu pasti ada syarat nya. Jadi kali ini Ony juga mau maafin Caca tapi ada syaratnya" Balas RonyNah di tiru kan Ama bocah gede lu Ca *batin Salma"Yaudah deh, apa syaratnya?" Tanya Salma"Beliin robot Transformer yang baru Ca. Punya Ony udah rusak robotnya. Beliin yayayaya" Rengek Rony"Ony baru Minggu lalu beli, masak mau beli lagi" Balas Salma"Mau warna dan bentuk lain Cacaa" Rengek Rony"Ck Yaudah Caca beliin, tapi cium Caca dulu" Balas Salma"Yeayyy, makasih Caca. Ony sayang Caca" Balas Rony lalu mengecup pipi Salma berkali-kali"Hahaha seneng banget sih? Pengen banget ya beli robot baru?" Tanya Salma"Iya, tadi pas liat di TV ada yang terbaru Caca. Ony mau itu" Balas Rony"Yaudah, nanti kita jalan-jalan ke mall yuk sekalian ajak Adek juga. Mau kan?" Tanya Salma"Yeayyy mau mau. Jalan-jalan sama Adek jugaa yeayyy" Ucap Rony"Sutss jangan berisik, Adek baru bobo. Ayo Ony bobo juga, udah siang ini" Balas Salma"Iya tapi janji nanti sore jalan-jalan ya Ca" Ucap Rony"Iya iya, udah ayo bobo" Balas Salma"Nen nya mana Ca" Ucap Rony"Oh iya lupa, sini baring" Balas Salma lalu mengeluarkan payudara nyaRony mulai mendekat dan menyesap Nipple Salma."Udah bobo, ngapain mainin nen nya" Omel Salma merasa tangan Rony menepuk-nepuk payudaranya"Belum ngantuk Caca" Balas Rony melepas nipple Salma"Ck Yaudah kalo gak bobo, gak ada jalan-jalan" Ancam Salma"Ihh Caca jangan gitu. Iya Ony bobo, usapin kepalanya biar ngantuk" Balas Rony lalu kembali menyesap Nipple nyaSalma tersenyum gemas dengan suaminya yang mulai menutup matanya itu. Salma juga masih terus mengusap lembut kepala Rony lalu mengecup keningnya. Salma sangat mencintai Rony, dia ikhlas jika harus merawat Rony walau entah kapan suaminya ini akan sembuh dan mengingat semuanya.***Sesuai janjinya, kini Salma, Rony dan Celline yang berada di stroller pergi ke salah satu Mall di Jakarta. Awalnya Mama Rony ragu untuk mengizinkan Salma pergi seorang diri bersama Celline dan Rony yang kondisinya masih belum stabil. Namun Salma meyakinkan mertuanya bahwa dirinya pasti bisa melakukannya.Rony mendorong Stoller anaknya dengan perlahan sesuai arahan Salma, sedang Salma berjalan tepat di samping Rony. Semua orang yang melihat nya pasti tak akan menyangka jika Rony tengah mengalami amnesia yang membuatnya berkelakuan seperti anak kecil."Caca itu toko nya, ayo cepet Caca" Ucap Rony"Hey, pelan-pelan aja sayang. Toko nya gak akan tutup. Kalo Ony cepet-cepet kasian Adek, Adek pusing di stroller" Balas Salma"Hah? Adek pusing? Yaampun, Adek maafin Ayah Ony ya. Ayah Ony bikin Adek pusing ya? Maaf ya" Ucap Rony yang kini sudah berjongkok di depan stroller"Eh eh, gak sayang. Kan dari tadi Ony pinter, dorong nya pelan-pelan. Kalo pelan-pelan Adek gak akan pusing, tapi kalo Ony nya bawa strollernya cepet baru Adek pusing" Balas Salma"Oh gitu, yaudah Ony gak bawa cepet-cepet lagi. Ony gamau Adek pusing" Ucap Rony"Pinternya suami Caca" Balas Salma lalu mencium pipi Rony"Ish Caca, kenapa cium-cium? Ony malu Caca" Balas Rony dengan muka memerah"Hahahahaha lucu banget muka nya merah. Kenapa emangnya kok malu?" Tanya Salma terkekeh"Kan disini banyak orang Caca, Ony malu" Balas Rony"Hahahaha gapapa, orang gak akan liat. Yaudah yuk, masuk ke toko nya" Ucap SalmaMata Rony berbinar kala melihat robot Transformer berjejer rapi di depannya. Rony langsung memilih beberapa mainan yang ia sukai. Setelahnya dia baru mencari mainan untuk anak perempuan."Ngapain kok ngambil boneka? Ony mau main boneka?" Tanya Salma"Ih bukan Caca, ini buat adek. Beliin yaa, kasian Adek gak punya mainan. Ony mau beliin ini buat adek" Balas RonyMas, walaupun kamu gak inget aku dan Celline. Tapi feeling mu sebagai seorang ayah emang gak pernah ilang mas. Kamu selalu memikirkan Celline apapun keadaannya *batin SalmaSalma terharu karena Rony selalu mengingat Celline tentang apapun itu. Rony bahkan selalu mendahulukan Celline dibandingkan keinginan dia. Dia selalu mengalah walau kadang timbul rasa cemburu pada Celline karena lebih sering dekat dengan Salma dibanding dirinya."Iya boleh, mau cari apa lagi? Udah itu aja?" Tanya Salma"Udah Caca, ini aja. Yuk bayar terus mam ya, Ony laper" Balas Rony"Iya yuk" Ajak SalmaSalma dan Rony pun masuk ke dalam resto yang berada di dalam Mall."Ony jagain Adek dulu ya, biar Caca yang antri pesen makanan. Ony mau mam apa?" Tanya Salma"Mau nasi goreng aja Caca, minum nya Es jeruk ya" Balas Ony"Oke, Caca antri tapi inget Adeknya di jagain. Kalo Adek nangis itu susunya di tas Adek ya" Balas Salma"Iya Caca" Balas RonySalma berlalu dan mulai mengantri di kasir untuk memesan makanan. Sedangkan Rony menjaga Celline dan sesekali mencium dan memainkan pipi gembul Celline.Namun perhatian Rony justru beralih menatap Salma yang terlihat tengah berbincang dengan seorang pria di antrian itu. Entah mengapa perasaan Rony sangat kesal melihat Salma berbincang dengan pria lain. Rasanya ingin sekali dia menangis disana karena kesal dan marah pada Salma.Rony bergegas membawa belanjaan dan stroller Celline pergi dari restoran itu tanpa memberitahu Salma. Beruntungnya Salma sempat melihat kepergian Rony dan segera mengejarnya."Ony, Ony mau kemana sayang?" Teriak SalmaRony tak menggubris, dia sudah meneteskan air mata namun langsung ia hapus sebelum orang lain melihatnya. Rony berjalan sangat cepat sembari mendorong stroller Celline.Hingga Salma pun berhasil menyusul langkah Rony."Ony jangan cepet-cepet kasian Adek, nanti adek pusing" Ucap SalmaRony baru teringat dan akhirnya memelankan langkahnya"Kenapa pergi? Katanya laper pen mam? Gak suka ya sama restoran nya?" Tanya Salma lembutRony masih saja tak menjawab dan membuat Salma menghembuskan nafasnya kasar.Singkat cerita mereka sudah sampai di halaman rumah Rony. Rony langsung saja keluar dari mobil dan membanting pintu mobil meninggalkan Salma."Sabar ya Mbak, mungkin Mas Rony lagi capek aja""Sini saya bantu mbak" Ucap Supir Rony"Iya pak, makasih. Tolong di keluarin stroller Adek aja ya pak" Balas Salma"Baik mbak" Balas supirSalma pun masuk ke dalam rumah dan menyusul Rony ke kamarnya."Hey kenapa? Marah sama Caca ya?" Tanya Salma sembari mengusap lembut pundak RonyNamun Rony menepis tangan Salma dan duduk membelakangi Salma."Caca minta maaf ya kalo Caca salah, Caca minta maaf udah bikin Ony kesel. Maafin Caca ya sayang" Ucap Salma lembutRony masih tetap diam tanpa menoleh ke arah Salma."Yaudah, Caca keluar dulu ya. Ony gak nyaman ya Caca disini. Caca tunggu di luar aja ya" Ucap Salma lembutNamun baru saja Salma berdiri dari duduknya. Tangis Rony langsung pecah."Caca nakal hiks hiks, Ony marah sama Caca! Caca nakal hiks hiks" Ucap Rony terisak"Caca nakal kenapa? Hmm? Mainannya ada yang kurang? Atau apa?" Tanya Salma bingung"Caca nakal hiks hiks, Caca tinggalin Ony dan punya temen baru hiks hiks. Ony gak suka liat Caca sama temen baru Caca! Caca kan temen Ony hiks hiks" Balas RonySalma semakin bingung dengan ucapan Rony. Salma mencoba memeluk Rony yang beberapa kali memberontak namun akhirnya luluh dan memeluk balik tubuh Salma."Caca kan emang temen Ony, Caca gak punya temen baru kok" Balas Salma"Bohong! Caca bohong! Hiks hiks. Ony liat tadi di restoran Caca bicara sama temen Caca laki-laki hiks hiks. Ony gak suka liat Caca punya temen lain hiks hiks. Temen Caca itu cuma Ony. Caca nakal tinggalin Ony hiks hiks" Balas Rony terisakOh cemburu ini ceritanya? Hahaha gemes banget sih mas. Amnesia aja masih bisa cemburu. Dasar posesif *batin Salma"Yaampun Ony, tadi mas itu cuma tanya-tanya doang sama Caca. Bukan temen baru Caca itu, temen Caca kan cuma Ony seorang" Balas Salma"Gak! Bohong!! Caca bohong hiks hiks. Caca cari teman lain selain Ony. Caca gak suka kan temenan sama Ony hiks hiks hiks" Ucap Rony terisak di pelukan Salma"Astaghfirullah, gak Ony sayang. Caca kan sayang nya sama Ony, mau nya cuma sama Ony gamau sama yang lain. Tadi beneran cuma orang nanya doang, Caca gak kenal sama orang itu" Balas Salma"Hiks hiks beneran? Caca gak bohongin Ony?" Tanya Rony menatap ke arah SalmaSalma melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Rony."Beneran sayang, Caca cuma sayang dan cinta sama Ony. Caca cuma mau sama Ony dan Adek Celline aja" Balas Salma"Ony juga sayang sama Caca. Ony gamau Caca punya temen lain. Kalo sama Adek Celline gapapa, tapi kalo sama yang lain No No Caca. Ony gak suka" Ucap Rony"Hahaha gemes banget sih hmm" Balas Salma lalu mengecupi seluruh wajah RonySampai di bibirnya, Salma melumat bibir Rony lumayan lama. Rony hanya diam karena ia tidak tau harus berbuat apa. Namun tak bisa di bohongi, jantungnya berdegup kencang saat Salma melumat bibirnya."Ony gamau bales ciuman Caca?" Tanya Salma"Memang nya gimana balesnya?" Tanya Rony"Ony ikutin yang Caca lakuin tadi, Ony buka mulut Ony terus tiru apa yang Caca lakuin sama Ony" Balas Salma"Iya Caca" Balas RonySalma mulai mencium kembali bibir Rony, tak disangka kali ini Rony justru lebih dulu melumat bibir Salma. Salma yang mendapatkan akses masuk ke dalam mulut Rony pun langsung menerobos dan bermain bersama lidah Rony. Benar hanya memori nya yang hilang sebagai laki-laki dewasa, namun nalurinya pun masih tetap sama. Kini Rony yang semakin bersemangat bersilat lidah bersama istrinya.Salma tersenyum di tengah ciumannya bersama Rony. Salma benar-benar merindukan sosok suaminya yang romantis dan selalu memberikan ciuman serta sentuhan hangat untuknya. Salma menarik tangan Rony untuk meremas payudaranya, entah mengapa malam ini rasanya Salma sangat ingin di sentuh oleh Rony.Salma terus membimbing tangan Rony agar tetap meremas payudara nya dengan bibir yang masih bertaut. Hingga Rony tiba-tiba meremas payudara Salma dengan kencang membuat Salma sedikit tersentak dan melepaskan ciumannya."Awss sakit Ony" Ucap Salma"Huh huh huh, Cacaaaa ihhh Onyy gabisa napasssss Cacaaaa" Rengek Rony"Hahaha maaf ya sayang, abisnya Caca kangen sama bibir Ony. Maaf ya" Balas Salma"Kenapa kangen bibir Ony?" Tanya Rony"Ya bibir Ony lucu, gemesin, manis lagi" Balas Salma"Bibir Caca juga manis rasa strawberry. Caca habis makan strawberry ya? Kok Ony gak di kasih?" Tanya Rony"Gak dong sayang, Caca gak makan strawberry sama sekali. Ya emang rasanya strawberry aja bibir Caca. Ony suka?" Tanya Salma"Suka, tapi gak suka ciumannya. Ony gak bisa napas terus bikin burung Ony bangun lagi tuh liat" Ucap Rony melirik ke arah miliknya"Hahahaha Ony lucu banget sih. Itu tadi wajar sayang, kan Ony temen sekaligus suami Caca. Masa gak suka cium istrinya sendiri? Hmm?" Goda Salma"Ony suka cium Caca, tapi Ony gak bisa napas Cacaaa" Rengek Rony"Itu karena kelamaan aja tadi, kalo gak kelamaan ya tetep bisa napas kok sayang" Balas Salma"Oh gitu ya? Ony gatau Caca" Balas Rony"Tapi Ony jago tadi bales ciuman Caca, Ony pinter" Ucap Salma"Iya Ca? Ony pinter? Ony jago?" Tanya Rony semangat"Jago, jago banget hahaha" Balas Salma"Yeayy, Ony jago. Ayo lagi Caca, Ony kan jagoo" Ucap Rony"Nanti lagi ya, sekarang bersih-bersih dulu terus bobo. Kan udah malem, yukk" Ajak Salma"Mau ciuman lagi Caca, kan kata Caca Ony jagoo" Balas Rony"Iya nanti yaa, bersih-bersih dulu ayo" Ajak Salma"Huft, yaudah" Balas Rony cemberut"Jangan cemberut, kan sekalian Caca bantuin bobo in itu yang di bawah. Katanya tadi bangun" Goda Salma"Oh iya, ayo Caca bantuin Ony ya" Balas Rony semangat"Hahaha dasar, meskipun lupa ingatan. Mesumnya masih sama" Lirih Salma***Tidur Rony terusik kala mendengar tangisan dari Celline yang tidak berhenti dari tadi. Rony membuka mata dan menghampiri Salma."Adek kenapa sih Ca? Ony ngantuk, Adek nangis teruss" Rengek Rony"Maaf ya, Adek kaya nya sakit. Badannya anget, Ony bobo kamar lain aja ya biar gak keganggu bobonya" Balas Salma"Adek sakit Ca? Kasian Adek" Balas Rony lalu mengusap kening Celline dan mencium pipi nya"Adek jangan sakit, kasian Caca. Adek cepet sembuh ya" Ucap Rony"Makasih ayah Ony, sekarang ayah Ony bobo kamar lain aja ya. Biar gak keganggu bobo nya" Balas Salma"Gamau Caca, mau bobo sama Caca" Rengek Rony"Caca gabisa bobo dulu, Adek kan masih mau di gendong Ony" Balas Salma"Kasih Nen aja, biasanya Adek bobo kalo kasih Nen" Balas Rony"Dari tadi udah Caca kasih Nen, tapi gamau si Adek" Balas Salma"Adek bobo dong, Ayah Ony ngantuk. Jangan nangis terus adekkk" Rengek RonySejujurnya Salma benar-benar pusing dan lelah. Celline dan Rony sama-sama rewel, Salma rasanya ingin sekali menangis."Ony, bobo di kamar luar ya kalo ngantuk. Adek masih rewel, Ony gak akan bisa bobo kalo disini" Ucap Salma lembut"Adek aja yang keluar! Caca sama Ony disini! Ony ngantuk Cacaaa, Ony mau boboooo. Adek bobo di kamar lain ajaaa" Rengek Rony"Ya gabisa gitu dong Ony, Adek kan masih bayi masa di tinggal sendirian. Adek juga lagi sakit, ayo dong ngerti yaa. Bobo di luar dulu ya kalo emang keganggu" Balas Salma mulai kesal"Gamau! Ony takut bobo sendiri! Ony mau bobo sama Caca! Adek aja yang bobo sendiri!" Ucap Rony kesal"Ony, Ony kan laki-laki. Ony harus berani dong, sampe kapan Ony jadi penakut? Adek gabisa bobo sendiri sayang, Adek masih bayi. Nanti kalo adek jatuh gimana? Ony gak kasian sama Adek? Adek lagi sakit gini?" Tanya Salma"Ony kasian, tapi Ony kesel Adek nangis terus! Ony ngantuk! Ony mau bobo sama Caca tapi Adek berisik! Ony kesel sama Adek!!" Teriak Rony"Ron! Tolong ngerti dong! Ini anak kamu lagi sakit! Please aku juga capek! Aku capek! Adek rewel, kamu rewel! Aku capek Rony!! Aku capekkk" Bentak Salma lalu menangisRony seketika menjadi takut melihat Salma membentaknya. Rony juga sedih kala melihat Salma menangis. Rony berlari keluar kamar dan membanting pintu kamar. Dia masuk ke dalam kamar orang tuanya dan mengadu pada orang tuanya.Mama dan Papa Rony masuk ke dalam kamar Rony dan melihat Salma tengah duduk di lantai memeluk kedua kakinya sembari menunduk dan menangis. Sedangkan Celline berada di tengah kasur dengan kondisi yang masih menangis."Ya Allah Caca" Ucap Mama Rony menghampiri SalmaPapa Rony mengambil lalu menggendong Celline."Kenapa sayang? Hmm? Kenapa nak?" Tanya Mama Rony sembari memeluk Salma"Hiks hiks Caca capek Ma. Caca capek""Celline sakit dia rewel, Mas Rony juga rewel karena ngantuk. Dia bilang kesel sama anaknya karena dari tadi Celline nangis dan ganggu tidurnya. Caca pusing, Caca capek. Caca gak sengaja bentak Mas Rony ma hiks hiks" Balas Salma"Ya Allah, maafin anak Mama ya nak. Mama paham, kamu pasti capek banget ya sayang. Maafin Rony ya nak" Ucap Mama Rony"Ca, udah ya. Biar Papa nanti yang coba ngomong sama Rony. Kamu capek ya nak, biar Rony sama Celline Mama Papa ya yang ngurus. Kamu istirahat aja nak, Papa tau kamu pasti capek banget" Timpal Papa Rony"Iya nak, Papa bener. Biar Celline dan Rony jadi urusan Mama ya. Kamu istirahat aja sayang" Ucap Mama Rony"Hiks hiks, gausah Ma, Pa. Caca juga gak bakalan bisa istirahat kalo anak Caca lagi sakit gini""Caca titip Mas Rony aja ya Ma, Pa. Biar Celline sama Caca gapapa kok" Balas Salma berusaha tegar"Beneran sayang? Biar Mama temenin disini ya jagain Celline. Biar Papa yang sama Rony" Ucap Mama Rony"Gausah Ma, Caca bisa kok sendiri jagain Celline" Balas Salma"Yaudah, Mama Papa balik ke kamar ya. Rony kaya nya tidur disana. Dia tadi nangis-nangis masuk kamar dan bilang di marahin kamu. Mama Papa bingung, tumben banget kamu marah mangkanya langsung kesini. Ternyata bener, keadaan kamu lagi gak baik-baik aja""Kalo capek atau apapun itu jangan di Pendem sayang. Ada Mama Papa yang siap bantu dan dengerin semua keluh kesah kamu sebagai pengganti Rony sementara. Jangan di Pendem sendiri ya nak" Ucap Mama Rony"Iya Ma, makasih. Pa makasih ya. Caca titip Rony dulu" Balas Salma"Iya sayang, ayo Mama bantu ngobatin Celline dulu. Baru Mama bisa tenang balik ke kamar" Balas Mama RonySalma mencoba mengobati Celline dengan penurun demam dibantu oleh Mama Rony. Baru setelahnya Mama dan Papa Rony keluar dan meninggalkan Salma dengan Celline. Tak berapa lama, Celline pun tertidur setelah Salma menyusui nya."Cepet sembuh ya Adek, maaf kalo tadi ayah bilang kesel sama Adek. Ayah sayang kok sama Adek, tapi ayah lagi sakit dan gak inget siapa Adek sebenernya. Maafin ayah ya sayang" Ucap Salma mengusap lembut kepala Celline***Sudah dua hari, Rony tak ingin berbicara pada Salma. Rony juga tak ingin bertemu dengan Salma. Mama Papa Rony sudah berusaha membujuk Rony tapi Rony tetap marah pada Salma."Ony, sampe kapan mau marah sama Caca? Caca minta maaf ya, Caca malam itu udah bentak Ony. Maafin Caca ya sayang" Bujuk SalmaSaat ini Salma tengah berada di kamar Mama dan Papa Rony menemui suaminya. Sudah dua hari ini, Rony memilih tidur bersama Mama nya dan Papa nya yang terpaksa mengungsi di kamar tamu karena Rony marah pada Salma.Hari ini Mama nya berencana membawa Celline ke kantor Papanya agar Salma bisa memanfaatkan waktu untuk berbaikan dengan suaminya. Selama Rony sakit, memang Papa nya lah yang menggantikan Rony di perusahaan. Jadi Mama Rony memiliki alasan untuk meninggalkan Rony bersama Salma di rumah untuk mengantarkan makan siang pada Papanya."Gamau! Caca jahat! Caca gak sayang Ony! Caca marahin Ony" Ucap Rony kesal"Caca gak sengaja, malam itu Caca panik karena Adek sakit. Maafin Caca ya Ony, Caca janji Caca gak akan bentak-bentak Ony lagi" Balas Salma"Gamau! Ony gamau temenan lagi sama Caca! Caca Nakal! Caca jahat sama Ony!" Balas Rony"Hiks hiks maafin Caca Ony, Caca kesepian dua hari ini Ony tinggalin Caca dan gamau ngomong sama Caca hiks hiks. Adek juga kangen sama Ony, tapi Ony gamau nemuin Adek juga hiks hiks. Caca kangen bobo meluk Ony, tapi Ony malah bobo sama Mama hiks hiks" Ucap Salma terisakRony menoleh dan melihat Salma yang tengah menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hati Rony ikut sedih melihat Salma menangis. Dia tidak tega jika Salma menangis seperti itu.Rony mendekat dan mencoba membuka kedua tangan Salma."Caca jangan nangis, Ony gak suka liat Caca nangis. Ony ikut sedih Caca" Ucap Rony dengan mata yang sudah berkaca-kaca"Hiks hiks Ony kan gamau maafin Caca, Ony gamau temenan lagi sama Caca. Gimana Caca gak sedih" Balas Salma terisak"Hiks hiks gak Caca, Ony bohong. Ony masih mau temenan sama Caca hiks hiks. Jangan nangis Caca, Ony ikutan nangis hiks hiks" Balas Rony menangis"Loh, Ony jangan ikut nangis. Maafin Caca ya, Caca udah bikin Ony nangis. Ini Caca udah gak nangis lagi kan. Udah ya Ony jangan nangis yaa" Ucap Salma menghapus air matanya lalu menghapus air mata Rony"Caca jangan nangis lagi, nanti Ony ikutan nangis" Balas Rony"Ya Ony gamau temenan sama Caca. Gimana Caca gak nangis coba" Balas Salma"Gak Caca, Ony mau temenan sama Caca kok. Ony juga mau bobo sama Caca lagi, Ony udah gak marah sama Caca. Jadi Caca jangan nangis lagi ya" Balas Rony"Beneran?" Tanya Salma"Beneran Caca, Ony gak bohong" Balas Rony"Yaudah ayo bobo siang di kamar Ony, jangan di kamar Mama" Balas Salma"Iya ayo, sambil nen ya" Balas Ony"Kangen ya, gak nen dua hari?" Tanya Salma"Iya, mau nen sama Mama tapi kata Caca gaboleh" Balas Rony"Iya lah gaboleh, kalo mau Nen ya sama Caca gaboleh sama Mama" Balas Salma"Iya Caca, Ony inget kok makanya Ony gak minta nen ke Mama. Sekarang kan kita udah baikkan, jadi Ony mau nen ya" Ucap Rony"Iya, sambil bobo siang ya" Balas Salma"Iya Caca""Oh iya, Adek kemana Caca?" Tanya Rony"Adek ikut Mama ke kantor Papa. Kenapa?" Tanya Salma"Ony mau baikkan juga sama Adek, Ony kangen gak ketemu Adek dua hari" Balas Rony"Nanti yaa, setelah Adek pulang. Adek juga kangen banget sama Ayah Ony nya. Dia sedih dua hari gak di temuin sama Ayah Ony" Ucap Salma"Iya kah? Adek kangen sama Ony?" Tanya Rony"Iya sayang, Adek kangen sama Ony" Balas Salma"Adek udah sembuh? Gak nangis lagi?" Tanya Rony"Udah kok, adek udah sembuh. Gak rewel lagi" Balas Salma"Yeay, bisa bobo bertiga lagi" Balas Rony"Iya, akhirnya ya bobo bertiga lagi" Ucap Salma"Udah yuk ke kamar" Ajak Salma"Ayo Ca" Balas Rony***Hari berganti hari, hingga bulan berganti bulan. Kondisi Rony masih belum ada peningkatan. Selama hampir empat bulan Salma tak pernah menyerah mencoba mengembalikan memori ingatan Rony namun jika kepala Rony terasa sakit dia pun menghentikannya."Caca, Caca lagi ngapain?" Tanya Rony"Eh sayangku udah bangun. Sini, Caca lagi liat album foto" Balas SalmaRony beranjak dari kasur dan menemui Salma di balkon kamarnya"Caca lagi liat foto ya?" Tanya Rony"Iya, foto pernikahan kita Ony" Balas Salma"Pernikahan?" Tanya Rony bingung"Iya, ini liat. Ini pas Ony nikahin Caca. Ony ganteng banget ya pake baju putih gini" Balas Salma menunjukkan foto akad nikah mereka"Nikah itu apa Caca?" Tanya Rony"Nikah itu ketika laki-laki dan perempuan yang saling mencintai menjadi satu di hubungan yang halal karena Allah. Seperti Ony yang sayang sama Caca dan Caca yang sayang sama Ony terus kita sekarang jadi satu. Kita bisa bobo bareng, ngapa-ngapain bareng" Balas Salma"Jadi ini waktu Ony nikah sama Caca?" Tanya Rony"Iya, ini Ayah Bunda Caca. Mereka sudah meninggal setahun setelah kita menikah Ony" Balas Salma sembari menunjukkan foto pernikahan mereka"Jadi Ayah Bunda Caca sudah di surga?" Tanya Rony"Iya, tapi sekarang kan Caca punya Mama, Papa, Ony dan Adek. Jadi Caca gak kesepian" Balas Salma"Adek kok gak ada di foto ini?" Tanya Rony"Ony, Adek itu ada setelah kita menikah. Bahkan kita sempat menunggu lama untuk Adek hadir di keluarga kecil kita. Setelah hampir dua tahun kita menikah, Caca baru hamil adek. Dan naas nya pas adek lahir kamu malah kecelakaan dan koma berbulan-bulan Ony" Ucap Salma dengan deraian air mataRony menatap foto pernikahan mereka sembari mendengar cerita dari Salma. Tiba-tiba kepalanya terasa sakit namun tak seberapa. Rony masih mencoba mendengarkan cerita dari Salma."Dulu Ony selalu manjain Caca waktu Caca hamil. Ony bahkan rela harus libur kerja karena Caca ngidam makan ayam betutu langsung di Bali. Caca juga pernah minta Ony beli bakso jam tiga pagi karena Caca ngidam. Semua Ony turutin kemauan Caca, karena Ony takut anak Ony ileran. Sekarang anak Ony udah lahir, dia cantik dan gak ileran Ony. Dia cantik banget, Ony bahkan sayang sama Adek kan" Ujar Salma terisak"Caca berharap Ony bisa segera ingat ya semua memori-memori indah kita berdua. Memori dimana kita bener-bener bahagia jadi pasangan suami istri, karena sekarang keluarga kita makin lengkap setelah ada Celline Ony. Celline yang selalu kamu harapkan selama ini sayang" Lanjut SalmaKepala Rony semakin sakit mendengar semua ucapan Salma. Rasanya kepalanya ingin sekali pecah dan meledak saat ini."Arghhhh Cacaaa, kepala Ony sakittt ahhhhhhh" Teriak Rony"Mas? Mas kenapa? Kita ke rumah sakit ya mas. Maafin Caca mas, pasti kamu tersiksa ya Caca paksa kamu inget semuanya. Maaf mas" Ucap Salma panikSingkat cerita, kini Salma dan kedua orang tua Rony tengah berada di Rumah sakit. Pasalnya setelah mengeluh sakit kepala hebat, tiba-tiba Rony tak sadarkan diri.Selesai di periksa dokter, Rony di pindahkan ke ruang rawat inap karena Dokter masih harus mengobservasi keadaan Rony yang masih belum sadarkan diri.Mama, Papa, Salma dan Celline sudah berada di dalam ruangan Rony. Berkali-kali orang tua Rony meminta Salma pulang karena merasa kasian dengan Celline. Namun Salma bersih keras menolak dan ingin menemani suaminya di rumah sakit.Beruntung Mama dan Papa nya memesan ruangan yang terdapat satu kamar di dalamnya. Agar menantu dan cucu nya bisa beristirahat dengan nyaman disana.Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya Rony mulai menampakkan kesadaran nya. Perlahan Rony membuka mata dan melihat kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa dekat brankar."Ma, Pa" Sapa Rony"Alhamdulillah sayang, akhirnya kamu bangun juga. Gimana nak? Apanya yang sakit? Hmm?" Tanya Mama Rony"Kepala Rony sakit Ma" Balas Rony"Rony? Kamu udah inget Ron?" Tanya Papa Rony"Inget Pa, ini Papa Mama kan? Kenapa Rony harus lupa" Balas Rony"Alhamdulillah nak, Ya Allah Alhamdulillah, akhirnya kamu inget sayang. Caca pasti seneng kamu udah kembali inget semuanya" Balas Mama Rony"Caca? Dimana istri Rony ma? Istri Rony baik-baik aja kan?""Awsss kepala Rony sakit banget Ma" Rintih Rony"Papa Panggilin dokter sebentar" Ucap Papa Rony lalu menekan tombol di ruangannya"Sayang, Caca ada di kamar. Dia lagi istirahat sama anak kamu. Biarin dia istirahat dulu ya. Dari tadi dia nangis dan nungguin kamu disini, kasian Caca dan anak kamu" ucap Mama Rony"Ma, anak Rony sehat kan ma? Awss" Rintih Rony"Udah jangan banyak ngomong dulu Ron, tunggu dokter ya" Ucap Papa RonySetelah dokter memeriksa Rony dan memberikan obat padanya. Perlahan kondisi Rony mulai membaik dan nyeri di kepala nya pun mulai menghilang.Rony yang mendesak sang Mama untuk memberitahu kabar tentang anaknya. Membuat Mama Rony pun akhirnya menceritakan semuanya, mengenai kondisinya selama beberapa bulan ini. Bagaimana sabarnya Salma mengurus dirinya dan juga anaknya. Bagaimana usaha Salma mengembalikan ingatannya dan bagaimana perjuangan Salma mengasuh putrinya sendiri tanpa bantuan dari Rony sedikit pun.Rony merasa sedih dan bersalah mendengar semua cerita Mama nya. Perjuangan istrinya selama ini begitu besar untuknya. Tak terasa air mata Rony menetes mendengar perjuangan Salma merawatnya dan juga putrinya beberapa bulan ini. Hingga mungkin efek obat yang diberikan oleh dokter, membuat Rony kembali menutup matanya karena ia tertidur."Ma, Pa. Gantian gih, Mama Papa yang istirahat di kamar ya nemenin Celline. Biar Caca yang disini jagain Mas Rony" Ucap Salma"Gausah sayang, kamu aja ya istirahat" Balas Mama Rony"Ma, Pa. Tolong lah yaa, Mama Papa juga capek. Caca gamau liat Mama Papa ikutan sakit karena kecapekan. Caca udah puas tidur dari tadi. Sekarang gantian kalian yaa, ayoo kasian Celline di dalem sendirian" Ucap Salma"Yaudah, Papa Mama istirahat dulu ya Ca" Balas Papa Rony"Iya Pa, selamat istirahat Mama Papa" Ucap SalmaSalma memilih duduk di kursi dekat brankar Rony. Lalu menggenggam erat tangan laki-laki yang sangat ia cintai itu."Bangun yuk sayang, maafin aku ya kalo aku maksa kamu inget semuanya. Aku janji, aku gak akan maksa-maksa kamu lagi sayang. Aku takut banget pas kamu kesakitan kaya kemarin""Kamu capek ya karena aku paksa inget semuanya, maaf ya. Gapapa deh kalo mau bobo, tapi jangan lama-lama ya sayang. Aku kangen hiks hiks, Celline juga kangen sama ayah Ony nya. Mas, aku janji aku gak akan Bentak kamu lagi kalo kamu lagi rewel mas. Maafin aku mas hiks hiks""Aku cinta banget sama kamu mas, aku gamau kehilangan kamu. Cepet bangun ya mas, kita main robot lagi ya kita beli robot Transformer yang terbaru. Jalan-jalan ke mall bertiga lagi, Bobo bertiga lagi, nanti Ayah Ony gantian nen nya sama Celline lagi ya hiks hiks. Ayo mas, pulang ya hiks hiks cepet bangun. Aku kangen sama kamu mas hiks hiks" Ucap Salma menangis sembari mencium tangan Rony"Ony juga kangen sama Caca" Balas RonySalma mendongak dan menatap Rony yang tengah menatap dirinya. Salma tersenyum lalu bangkit dari kursinya mengecup kening Rony dan mengusap pipi suaminya."Mas eh maksud Caca Ony. Ony udah bangun sayang? Mana yang sakit? Kepalanya ya? Maafin Caca ya, maafin Caca udah paksa Ony inget sesuatu dengan buka album foto itu. Maafin Caca yaa" Ucap Salma sembari terisak dan mengusap lembut pipi Rony"Caca gak salah, Ony yang salah udah ngrepotin Caca selama ini. Maafin Ony ya sayang, maaf udah bikin Caca capek karena harus ngurusin Ony dan Anak Ony" Balas Rony seraya menghapus air mata Salma"Mas?" Ucap Salma tak percaya"Jangan nangis sayang, mas udah inget semuanya. Ini bukan salah kamu, justru ini berkat kamu. Mas bisa kembali ingat semuanya" Balas Rony"Mas? Beneran mas?" Tanya Salma terharu"Iya sayang, mas beneran" Jawab RonySalma memeluk erat suaminya, ia bahagia akhirnya Rony kembali mengingat semuanya."Mas hiks hiks aku seneng akhirnya kamu ingat semuanya mas hiks hiks" Balas Salma"Makasih ya sayang, makasih udah ngerawat mas dengan tulus. Maafin sikap mas selama amnesia kemarin yang bikin kamu kesel sama mas. Maafin mas udah ngrepotin kamu sayang, maaf - ""Mas, udah ya mas. Aku ini istri mas, udah kewajiban aku ngerawat dan jagain mas. Jangan pernah bilang mas ngrepotin aku, sama sekali gak mas. Aku ikhlas ngerawat mas, aku ikhlas asal mas selalu di samping aku mas. Udah ya mas, jangan ngomong gitu lagi. Aku lagi bahagia banget akhirnya suami aku udah inget istrinya" Balas Salma seraya melepas pelukannya dan mengusap lembut pipi Rony"Makasih ya sayang, kamu istri mas paling hebat. Mas cinta banget sama kamu sayang" Ucap Rony"Aku lebih cinta sama kamu mas. Jangan gini lagi ya mas, aku gamau kehilangan kamu mas" Balas Salma"Iya sayang, maafin mas ya. Mas gabisa nemenin kamu lahiran. Mas malah koma berbulan-bulan, setelah sadar mas bahkan gabisa bantuin kamu ngurus anak kita. Maafin mas sayang" Ucap Rony"Mas, kan aku baru bilang tadi. Aku gak suka mas bilang begitu. Ini semua udah takdir, ini semua bukan salah mas. Udah yaa, mas gak usah ngerasa bersalah lagi""Oh iya, anak kita perempuan mas. Cantik banget. Mukanya mirip sama kamu, nama nya juga sesuai yang kita sepakati waktu itu. Celline Anastasia Parulian. Nanti kita ketemu yaa, Adek masih bobo sama Mama Papa" Ucap Salma"Iya sayang, mas gak sabar ketemu putri kecil mas. Putri kecil yang kita tunggu dari lama ya sayang" Balas Rony"Iya mas, Malaikat kecil pelengkap keluarga kita""Sebenernya beberapa bulan kemarin kita udah bobo bertiga, kemana-mana bertiga. Tapi kamu tau nya Celline itu Adek kamu mas, bahkan kamu pernah ada di posisi bilang sebel dan kesel sama anak kamu sendiri gara-gara Celline sakit dan rewel. Dia nangis terus dan tidur kamu keganggu. Eh kamu ikutan rewel terus bilang sebel sama Celline" Ucap Salma"Mama tadi juga udah cerita sama mas masalah itu sayang. Mas bener-bener minta maaf, itu semua di luar kendali mas sayang. Kalo pun mas inget itu anak mas, gak mungkin tega mas bilang gitu sama anak mas sendiri sayang. Apalagi keadaannya anak mas lagi sakit. Mas gak akan Setega itu sayang. Maafin sikap mas kemarin-kemarin yang kaya bocah dan nyusahin kamu ya sayang" Ucap Rony"Mas bilang gitu lagi, aku pun tau mas itu semua diluar kendali mas. Aku cuma mau cerita doang kok beneran. Mas gausah minta maaf terus. Aku beneran sama sekali gak marah sama mas. Udah yaa, jangan minta maaf terus ahh. Bosen dengernya loh mas" Ucap Salma"Tapi mas ngerasa gak enak sama kamu. Mas berasa jadi suami yang gak becus buat kamu" Balas Rony"Sutss apa sih kok ngomongnya gitu. Udah ah bobo lagi aja mending, ngomongnya udah makin ngelantur kemana-mana. Udah yaa gausah di bahas lagi, yang penting sekarang mas udah sadar dan ingat semuanya itu udah lebih dari cukup buat aku mas" Balas Salma"Makasih ya sayang" Ucap Rony"Sama-sama suami" Balas Salma***Setelah tiga hari menginap di rumah sakit, saat ini Rony sudah kembali menginjakkan kakinya di rumah milik orang tuanya. Rony pulang dengan menggendong Celline di tangannya. Semenjak bertemu dengan Celline, Rony sama sekali tak ingin jauh sedikit pun dari putri kecilnya itu.Rony melangkah masuk ke dalam kamar dan meletakkan Celline di ranjang. Celline yang kini sudah berusia tujuh bulan mulai aktif dan banyak mengoceh membuat kedua orang tuanya dan kakek nenek nya gemas padanya."Celline, bentar ya. Ayah Ony bersih-bersih dulu, Celline anteng disini ya sama Ibu. Jangan bikin Ibu kecapekan sayang. Mainnya sama ayah aja nanti yaa. Oke cantik" Ucap RonyCelline tersenyum menatap Rony"Dih, senyum-senyum. Emang ngerti ayahnya ngomong apa? Hmm?" Ucap Salma"Hahaha ngerti dong Ibu. Kan anak ayah selain cantik juga pinter" Timpal Rony"Iya deh si paling anak ayah" Balas SalmaSetelah Rony selesai bebersih, kini giliran Salma yang meninggalkan Celline dan Rony ke kamar mandi.Rony mengajak Celline bercanda di ranjang. Tawa Celline terdengar sangat nyaring saat Salma baru saja membuka pintu kamar mandi.Melihat pemandangan di ranjangnya saat ini membuat hati Salma menghangat. Akhirnya Salma kini bisa melihat Rony kembali mengingat segala memori indah bersamanya. Rony juga terlihat sangat menyayangi putri kecilnya."Adududuh, seneng banget sih main sama ayah. Seneng ya sayang, hmm""Kalo ini beneran Ayah Ony, kalo kemarin Kakak Ony kali yaa eh atau Abang? Hahaha soalnya tiap main bareng mesti berebut mainan dan Celline nya selalu di bikin nangis sama abangnya mah" Goda Salma"Hah? Emang iya ya yang? Yaampun maapin Ayah ya cantik. Ayah nakal ya kemarin-kemarin" Ucap Rony"Gapapa ayah, Celline kan tau ayah kemarin lagi sakit. Sekarang kan udah sembuh, udah bisa main bareng sama Celline" Balas Salma menirukan suara anak kecil"Anak ayah pinter, mirip Ibu ya sayang. Sama-sama cantik, pinter, lembut, penuh kasih sayang dan yang pasti Sholehah" Ucap Rony"Aamiin" Balas Salma tersenyum***Seminggu berlalu, kondisi Rony sudah jauh lebih membaik. Bahkan Minggu depan Rony akan kembali bekerja menggantikan ayahnya. Rony juga sudah memutuskan untuk menjual rumah mereka sendiri yang tak di tempati lumayan lama, karena Rony khawatir jika Salma merawat Celline sendirian. Jika di rumah orang tuanya, Salma akan dibantu oleh Mamanya. Salma pun tak keberatan karena memang selama ini mertuanya selalu membantunya merawat Celline, mertuanya juga sangat baik padanya sehingga Salma tak ada masalah sama sekali Jika harus tinggal bersama mertuanya."Sayang, Celline kan udah hampir delapan bulan ya. Gimana kalo kita bikin Adek buat Celline, yuk" Ajak Rony"Hah? Mas? Yang bener aja sih, Celline masih kecil. Ntaran aja mikirin Adek buat Celline, kalo Celline udah umur 4/5 tahun lah" Balas Salma"Ck, kelamaan yang. Kan kalo jarak setahunan lucu tau. Ntar mereka bisa jadi bestie udah gede nya" Ucap Rony"Tapi kasian, nanti Celline malah kekurangan kasih sayang mas. Tunggu Celline tiga tahun aja yaa, udah pas itu gausah di tawar" Balas Salma"Iya deh, mas nurut sama kamu""Hmm tapi kalo mas minta jatah sekarang boleh? Mumpung Adek udah bobo tuh" Ucap Rony"Ish beneran udah sembuh ternyata ini mah hahaha""Jadi arahnya dari tadi tuh mau minta jatah toh, hmm" Goda Salma"Iya, kamu mah gak peka. Emang kamu gak kangen begituan sama mas hmm?" Goda Rony"Gak sih, biasa aja" Balas Salma"Hahaha bohong banget. Mama udah ceritain kok sama mas masalah kamu yang sering bantuin mas di kamar mandi. Hmm""Sekarang gamau bantuin mas lagi? Ayo sayang, mas kangen" Bujuk Rony"Yaudah iya, aku juga kangen kok mas haha" Balas Salma"Dasar! Gengsi aja di gedein. Kalo pengen itu ngomong sayang, jangan gengsi. Mas kan suami kamu, kamu berhak dapat nafkah batin dari mas. Begitu pula sebaliknya, mas gak pernah gengsi atau malu kan minta sama kamu karena itu juga hak mas" Ucap Rony"Iya mas, tapi kan aku takutnya mas masih lemes atau masih sakit gitu" Balas Salma"Ih enak aja, mas gak pernah lemes ya yang. Mas selalu berstamina. Apalagi kalo udah ketemu sama lubang surgawi kamu, mau berhenti aja tuh rasanya susah tau" Ucap Rony"Ish kok kesana sih arahnya! Maksudnya lemes tuh kamu kan baru keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu. Takutnya kamu masih ada yang sakit atau apa gitu kepalanya mas" Balas Salma"Ohh hahahaha, aman kok sayang. Mas udah sembuh, apalagi kalo di tambah servisan dari kamu. Makin sembuh mas mah" Goda Rony"Astaghfirullah, mesum nya udah beneran balik ini. Caca jadi takutt" Balas Salma"Sini sayang, jangan takut. Ony gak akan gigit kok sini sini" Goda Rony"Mas ih geli ihh" Balas Salma"Kamu desah nya jangan kenceng-kenceng sayang. Mas belum pasang peredam suara di kamar, nanti Mama Papa denger lagi suara merdu kamu""Oh iya, kan disini sekarang ada Adek juga. Jadi desahnya pelanin aja ya sayang" Goda Rony"Mamaaaa tolonggggg, Suami Caca mesum bangettttt" Rengek Salma"Hahahaha udah ah ayo, gausah sok kek perawan deh yang hahaha" Ledek RonyRony pun mulai menyerang Salma, Rony benar-benar merindukan tubuh istrinya yang sangat indah. Salma yang juga sudah lama tak merasakan sentuhan dari Rony, akhirnya malam ini dia bisa kembali merasakannya.Malam ini menjadi malam yang indah bagi Salma dan Rony. Malam dimana mereka kembali menjalin kasih dalam bercinta di ranjang milik Rony. Saling menuntaskan kerinduan yang mendalam antara keduanya.Salma sangat bahagia, malam ini dia bisa melihat kembali sosok laki-laki tampan yang selalu bisa membuatnya bahagia. Laki-laki tampan yang beberapa bulan kemarin berubah menjadi bocah yang sangat manja padanya, kini dia sudah kembali menjadi sosok pelindung baginya.Memori-memori Indah akan dirinya dan keluarga kecilnya sudah kembali tersimpan rapi dalam ingatan Rony. Kini Rony kembali menjadi sosok suami dan ayah yang baik bagi Salma dan Celline. Menjadi pelindung bagi dua wanita kesayangannya, dan Rony pun berjanji akan selalu membahagiakan kedua wanita yang sangat ia cintai dalam hidupnya itu.~END~

My Bodyguard
Teen
07 Feb 2026

My Bodyguard

My BodyguardSalma berjalan gontai menuju meja makan, padahal dirinya masih sangat mengantuk namun terpaksa harus bangun karena Papi nya sudah memanggil dirinya."Ada apa sih Pi? Caca ngantuk banget iniii" Rengek Salma"Papi cuma mau bilang, besok Papi Mami mau ke London tiga bulan. Kamu di rumah sendiri atau mau ikut?" Tanya Papi Salma"Gak lah ngapain ikut, mending di rumah Pi" Ucap SalmaMending di rumah, bisa party tiap hari *batin Salma"Papi tau ya isi pikiran kamu! Papi gak akan biarin kamu party atau pun ke clubbing sama temen-temen nakal kamu itu!" Ucap Papi Salma"Pi apaan sih! Temen Caca itu baik-baik, sopan lagi" Balas Salma"Baik dan sopan dari mana! Baik nya cuma pas butuh duit kamu doang! Papi udah tau semuanya ya Ca! Kamu sering traktir teman-teman kamu itu di Club! Kamu juga jadi berubah semenjak berteman sama mereka! Pake baju kurang bahan! Suka pulang pagi! Mau jadi apa kamu!! Hah!!" Tegas Papi Salma"Pi ayolah, Caca udah gede. Gausah larang-larang Caca lagi" Ucap Salma"Oh, udah ngerasa gede dan gamau di larang-larang Papi? Iya?" Tanya Papi Salma"Iya Pi, Caca udah gede. Jadi Papi gausah larang-larang Caca lagi!!" Balas Salma"Oke, kalo gitu silahkan pergi dari rumah Papi! ATM, HP, Kunci Mobil balikkin ke Papi! Cari uang sendiri kalo emang udah gamau Papi atur!" Tegas Papi Salma"Piiiii, kok tega sih sama Caca! Caca anak papi satu-satunya, cewek lagi! Tega banget Papi ngusir Caca!" Balas Salma"Kan kamu sendiri yang minta gamau Papi atur lagi kan? Yaudah gausah jadi anak Papi lagi!" Tegas Papi Salma"Ahhhh papiiiiiii jahat banget sihhh""Miiii suami Mami jahat bangettttt sama Caca" Rengek Salma"Ca, Papi kamu itu ngomong demi kebaikan kamu nak. Mami Papi khawatir sama pergaulan kamu yang gak jelas. Kamu itu perempuan, kalo kamu kenapa-kenapa gimana sayang" Ucap Mami Salma lembut"Ck, mami sama aja sama papi!" Balas Salma"Selama Papi dan Mami ke London, jangan harap kamu bisa ke clubbing sama temen-temen kamu ya! Papi ada bodyguard buat jagain kamu kemana pun kamu pergi dan dia juga yang akan ngelarang kamu sesuai aturan papi! Jadi kamu harus nurut sama dia!" Tegas Papi Salma"Piiii apaan sih! Caca gamau ya! Caca jadi gak bebas dong!" Balas Salma"Itu memang tujuan Papi! Biar kamu gak seenaknya bisa hidup bebas tanpa pengawasan Papi Mami!" Balas Papi Salma"Ck papi jahat! Tega sama Caca!!" Ucap Salma kesal"Terserah, kamu mau anggap Papi jahat. Papi gak peduli! Papi hanya mau yang terbaik buat anak Papi!""Bodyguard kamu baru besok mulai kerja! Papi harap kamu bisa bersikap baik sama dia!" Ucap Papi Salma"Jangan harap! Kalo bisa Caca bakalan bersikap aneh, jahat, nyebelin biar dia gak betah jadi bodyguard Caca!" Balas Salma"Yaudah, coba aja kalo bisa" Balas Papi Salma"Ck! Papi gak asik!!" Balas Salma lalu pergi meninggalkan Mami dan Papi nya***Kini Papi, Mami dan Salma sedang berada di ruang tengah karena menunggu seseorang yang akan menjadi bodyguard nya selama tiga bulan kedepan."Assalamualaikum, selamat pagi Bapak Tama dan Ibu Lina" Sapa seseorang"Waalaikumsallam" Balas semuanya"Pagi juga Rony, silahkan duduk" Ucap Papi Rony ramahRony pun duduk sembari sesekali melirik ke arah SalmaYakin ini bodyguard gue? Masih muda dan ganteng banget *batin Salma"Kenapa liatin Rony sampe gitu? Ganteng yaa?" Bisik Mami Salma"Ck, apaan sih mi!" Balas Salma"Ca, kenalin ini Rony yang akan jadi bodyguard kamu" Ucap Papi Rony"Dan Rony, ini Caca putri saya yang harus kamu jaga dengan baik" Lanjut Papi Salma"Kenalin Non, Saya Rony. Bodyguard non Caca" Ucap Rony tersenyum ramah"Caca" Balas Salma datar"Gausah di ambil hati ya Ron, Caca sebenernya baik cuma emang agak ngeselin. Jadi kamu harus ekstra sabar ngadepin dia ya" Ucap Mami Salma"Iya, dia terbiasa di manja dari kecil jadi kamu harus sabar-sabar ngadepin dia Ron. Semua yang saya kirim ke kamu semalam itu harus di perhatikan ya""Kamu bentak aja sekalian, kalo Caca gak nurut sama kamu Ron. Saya gak masalah" Ucap Papi Salma"Pi!! Kok gitu sihh! Jahat banget" Timpal Salma"Kalo gak di tegesin! Kamu sudah nurutnya" Tegas Papi Salma"Ya gak di bentak juga Papiiiii" Rengek SalmaCantik tapi manja *batin Rony***"Pagi Non, hari ini ke kampus ya?" Tanya Rony ramah"Iya" Balas Salma datar lalu masuk ke dalam mobilRony ikut menyusul Salma masuk ke dalam mobil dan memposisikan dirinya pada bagian pengemudi"Eh kok lu yang nyetir? Pak Jono mana?" Tanya Salma"Pak Jono ada non, tapi Tuan meminta saya menjadi bodyguard sekaligus supir untuk Non Caca" Balas Rony"Ck, yaudah cepet jalan!""Inget, nanti lu jangan deket-deket gue jagainnya. Jaga jarak 30 meter dari gue!" Ucap Salma"Gabisa non, kata tuan harus selalu di dekat Non" Balas Rony sembari menjalankan mobilnya"Ck! Gue malu kalo lu deket-deket gue dengan pakaian bodyguard lu ini! Pasti gue nanti di cengin anak manja ngerti gak!" Omel SalmaEmang manja *batin Rony"Terus saya harus gimana non? Masa iya saya pulang dulu ganti baju?" Tanya Rony"Ya jangan lah! Yang ada gue telat!""Untuk hari ini please jaga jarak, jangan deket-deket banget sama gue! Besok gue minta lu pake baju biasa aja, yang sopan buat nganterin gue ke kampus! Gausah pake baju lu sebagai bodyguard gini" Omel Salma"Siap non" Balas RonyHari demi hari Salma lewati bersama Rony yang kini menjadi bodyguard nya. Hingga tiba di hari Sabtu malam, Salma yang memang hampir dua minggu ini tidak pernah keluar rumah dan pergi bersama teman-teman nya. Berniat kabur dari Rony dan pergi bersama teman-teman nya. Salma dengan sengaja memberi Rony obat tidur agar laki-laki itu tertidur pulas dan tak melarang nya keluar."Rony" Ucap Salma sok manis"Eh, kenapa non?" Tanya Rony yang tengah duduk di halaman belakang rumah Salma"Nih, gue bikinin kopi buat lu. Soalnya dari tadi gue perhatiin lu ngantuk banget" Balas Salma sembari tersenyum"Non? Non lagi sakit kah? Atau kenapa?" Tanya Rony bingung"Gak kok, gue sehat? Emangnya kenapa?" Tanya Salma"Tumben non bikinin saya kopi? Biasanya marah-marah Mulu sama saya" Balas Rony"Ck, di baikin malah bilang tumben. Gak bersykur emang lu ya" Balas Salma cemberut"Maaf non, yaudah saya terima kopi nya ya" Ucap RonySalma pun meninggalkan Rony setelah memberi Rony kopi yang di dalamnya sudah ia beri obat tidur.Setelah menunggu beberapa jam, Salma melihat Rony sudah pulas di sofa ruang tengah. Dengan jalan mengendap-endap, Salma pergi menggunakan taksi online ke club' tempat favorit mereka bersama teman-teman nya.Salma menggunakan dress body fit pendek di atas lutut yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan bagian atas yang sedikit terbuka sehingga menampakkan belahan payudaranya.Setelah sampai di club' Salma langsung bergabung dengan teman-teman kampusnya. Salma mulai minum dan berjoget mengikuti alunan lagu dari DJ. Namun tak di sangka, laki-laki yang selama ini mengidam-idamkan Salma sudah merencanakan hal buruk pada gadis itu.Laki-laki yang memang mengincar tubuh Salma dari awal mengenal Salma, semakin terpancing dengan pakaian Salma saat ini. Di tambah dia sedikit dendam pada perempuan itu setelah cinta nya di tolak berkali-kali oleh Salma. Malam ini, laki-laki itu tak akan meloloskan Salma lagi. Dia bahkan sengaja bekerja sama dengan teman-teman Salma untuk menjebak gadis itu.Setelah Salma minum beberapa gelas alkohol, tiba satu teman Salma memberikan gelas terakhir yang sudah di campur obat perangsang oleh laki-laki yang berniat buruk padanya. Salma meneguknya tanpa berpikir apa-apa, setelah itu ia lanjut berjoget tanpa beban.Laki-laki itu mulai mendekat dan memapah Salma yang mulai mabuk untuk keluar dari club'. Walaupun masih ada kesadaran dari Salma, dia serasa tak memiliki kekuatan untuk menolak laki-laki yang bernama Ryan itu membawa nya pergi."Ryan! Lu mau bawa gue kemana?" Tanya Salma"Kita senang-senang ya sayang, malam ini gue mau rasain tubuh lu yang seksi ini" Balas Ryan sembari mencium pipi Salma"Kurang ajar! Gue bukan cewek rendahan ya! Minggir lu gue mau pulang!" Bentak Salma sembari mendorong Ryan dan jalan sempoyongan"Hey, gabisa dong sayang. Malam ini lu milik gue! Temen-temen lu bahkan udah dukung rencana gue buat dapetin tubuh lu ini! Mereka cuma butuh di sogok duit juga nurut sama gue dan bantuin gue buat bikin lu mabuk malam ini hahaha" Balas Ryan"Bangsat!! Pergi!!! Jangan sentuh guee" Bentak Salma"Kenapa? Panas ya badannya? Hmm? Mangkanya ayo, ikut gue. Gue bantuin lu dapet pelepasan berkali-kali sayang. Yuk" Ucap Ryan mencoba menarik Salma masuk ke dalam mobilNamun belum sempat Salma masuk, Rony datang dan menghajar Ryan hingga terkapar. Rony menarik Salma masuk ke dalam mobil mereka dan melajukan menuju rumah Salma."Pantesan tadi baik! Saya tau ya, Non campur minuman saya pake obat tidur kan! Untung Satpam perumahan lapor saya kalo non kabur! Dan saya bisa lacak ponsel non. Kalo non kenapa-napa gimana! Non mikir gak!!" Omel Rony"Sutss diem, gausah ngomel! Kepala gue pusing Rony" Balas Salma"Non kebanyakan minum makanya pusing! Mana pake baju kurang bahan begini! Bahaya tau Non!" Omel Rony"Ron, badan gue panas Ron" Rengek Salma"Maksud Non? Demam? Pusing? Ke rumah sakit ya?" Tanya Rony"Gak! Gue cuma mau pulang" Balas SalmaSetelah menempuh perjalan sekitar setengah jam. Kini mereka sudah sampai di rumah Salma. Rony menggendong Salma masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuh Salma.Namun saat Rony hendak pergi, Salma justru menarik tangan Rony hingga Rony tak seimbang dan jatuh di atas tubuh Salma."Ron, panas Ron" Rengek Salma"Aduh non, maaf maaf. Saya gak sengaja" Ucap Rony hendak bangkit"Rony, jangan tinggalin gue. Bantuin gue Ron" Balas Salma gelisah"Bantuin apa non? Non kepanasan ya?" Tanya Rony melihat Salma berkeringatMata Rony justru salah fokus melihat keringat yang mengalir pada belahan dada Salma. Rony menelan saliva nya dengan kasar melihat pemandangan itu. Rasanya dia ingin mengusap keringat Salma dengan tangan nya.Rony yang tak tahan mulai memberanikan diri mengusap keringat di belahan dada Salma menggunakan tangannya. Dia bahkan menyentuh kulit payudara Salma dan mengusapnya lembut."Ahh Ronn, iyaahh sentuhh gue Ronhh ahhh" Lenguh SalmaMendengar lenguhan Salma membuat nafsu Rony semakin tak karuan. Namun dengan cepat dia menarik kembali tangannya dan berusaha pergi dari kamar Salma."Non, saya keluar dulu. Non sepertinya lagi gak sadar. Ini bahaya buat saya non, saya takut khilaf. Saya gabisa lakuin ini sama non, non adalah atasan saya yang harus saya ja - "Belum sempat menyelesaikan ucapannya, bibir Rony sudah di serang oleh Salma. Salma melumat bibir Rony dengan kasar. Rony berusaha memberontak namun ciuman Salma seakan memabukkan untuk Rony. Rony justru mulai membalas ciuman Salma.Tangan Salma membuka kancing kemeja milik Rony dan mengusap dada Rony. Rony memejamkan matanya menikmati usapan tangan nona nya pada dada bidangnya. Rony kini mengerti jika Salma tengah di pengaruhi obat perangsang yang membuat dirinya menggila.Rony takut dia khilaf dan melakukan hal lebih pada Salma namun sepertinya Salma memang sengaja memancing gairahnya. Dengan bibir yang masih bertaut, tangan Salma beralih mengusap milik Rony dari balik celana."Eughh non, udah non" Ucap Rony"Lu harus bantu gue Ron, gue gak kuat. Badan gue panas" Balas Salma lalu menyesap leher Rony dengan tangan yang masih mengusap milik Rony.Rony benar-benar tidak kuat, ia mendorong tubuh Salma lalu menindihnya dan mulai termakan godaan Salma. Rony tak ingin kalah, ia pun mulai menciptakan beberapa tanda pada leher dan dada Salma.Dengan kelihaiannya Rony kini berhasil membuka dress milik Salma dan menyisakan bra serta celana dalam milik Salma."Non maafkan saya, tapi ini non sendiri yang memancing saya non" Ucap Rony merasa bersalah tapi ia juga tak menampik ingin sekali melahap tubuh mulus milik Salma"Gue gak peduli, puasin gue Ron! Badan gue panasss!!!" Teriak SalmaRony baru sadar jika pintu kamar Salma belum tertutup. Rony segera bangkit dan mengunci pintu kamar Salma. Melihat Rony bangkit dari ranjang, Salma justru membuka bra miliknya dan melemparkan ke arah Rony. Rony terperangah saat kembali ke ranjang dan bra Salma sudah terbuka.Rony kembali menelan saliva nya melihat payudara indah milik Salma terpampang jelas di depannya tanpa penghalang kain apapun. Salma menarik Rony yang masih terdiam di tempat dan mendorong tubuh Rony ke ranjang. Salma dengan agresifnya membuka celana Rony dan mengeluarkan milik Rony yang sudah menegang"Ahhhh nonnn, oughhh" Desah Rony saat Salma mulai memainkan miliknyaSalma memainkan milik Rony menggunakan tangan dan mulutnya. Walaupun ini baru yang pertama, namun Salma seperti sudah jago dalam memainkan benda panjang milik Rony. Hingga Rony pun mendapatkan pelepasan pertamanya akibat ulah Salma.Rony merubah posisinya kembali menindih Salma. Rony sudah hilang akal, dia menyerang Salma dan melupakan siapa Salma."Oughh iya Ron, ahhh" Desah SalmaRony menyesap dan memainkan lidahnya pada payudara Salma. Rony menghisap layaknya bayi yang tengah kehausan sedangkan tangan satunya sibuk memilin puting Salma yang menganggur."Non, maafkan saya kalo malam ini saya gabisa berhenti. Tubuh Non terlalu candu untuk saya non" Ucap Rony"Iyahh Ronhh ahhh" Desah SalmaCiuman Rony perlahan turun hingga sampai di depan milik Salma yang masih tertutup rapat oleh celana dalam nya. Rony membuka celana dalam Salma dan melemparnya sembarang arah. Rony tersenyum melihat apa yang ada di depannya saat ini.Keberuntungan macam apa ini, dia bisa menikmati tubuh majikannya yang sangat cantik dan menarik hatinya sejak awal bekerja bersama nya. Bahkan Salma sendiri yang menawarkan tubuhnya pada Rony dengan cuma-cuma. Rony sebenarnya bukan laki-laki brengsek, namun ia juga tak menampik bahwa apa yang dilakukan Salma berhasil membangkitkan hasratnya sebagai laki-laki normal."Oughh Ronyyhh ahhh enakk Ronnhhh" Desah Salma"Enak non? Hmm? Malam ini saya puasin non Caca yaa" Balas RonySetelah Salma mendapatkan pelepasan nya karena permainan lidah dan jari Rony. Rony sudah tak sabar ingin segera menerobos masuk ke dalam tubuh Salma. Baru menggesekkan miliknya dengan milik Salma saja membuat mereka berdua berhasil mendesah.Rony mulai mendorong miliknya, baru masuk kepalanya saja Salma sudah merintih kesakitan, Rony kembali mencoba mendorong untuk kedua kalinya dan Salma kembali berteriak."Arghhh Ronyyy, sakittt" Teriak Salma"Tahan ya non, ini udah masuk setengah non. Tahan ya bentar lagi" Ucap RonyDan hentakkan terakhir, Rony berhasil menerobos lubang milik Salma dan merenggut kesucian Salma. Rony bisa melihat dengan adanya darah yang keluar dari milik Salma."Non? Non masih perawan?" Tanya Rony"Iya, lu pikir apa Rony! Gue baru pertama ngelakuin ini sama lu!" Balas Salma yang masih setengah sadarSalma memang sudah terbiasa minum minuman alkohol, sehingga minum beberapa gelas di club' tadi tak akan membuatnya mabuk hingga tak sadarkan diri.Anjing! Gue yang pertama? Thankyou Ca, ternyata kamu bisa jaga ini buat aku *batin Rony"Gerakkin Rony! Cepet!! Gue gak tahan!!" Pinta SalmaRony yang masih melamun akhirnya tersadar dan mulai mencoba menggerakkan miliknya keluar masuk milik Salma."Oughh shitt! Milik non nikmat banget non ahhhh" Racau Rony"Lebih cepat Ronhh" Balas SalmaRony mempercepat gerakannya hingga tak terasa mereka pun sama-sama mendapatkan pelepasan. Namun Rony sudah seperti kerasukan, dia tak ingin menghentikan permainan ini begitu saja. Dia kembali melakukan nya hingga dirinya bisa mendapatkan kepuasan nya. Tak cukup sekali, dua kali, Rony bahkan membuat Salma hingga terkulai lemas di bawahnya karena Rony yang tak kunjung menyelesaikan permainannya.Tiba di pelepasan terakhirnya, Rony sudah merasa sangat puas menggenjot tubuh Salma. Rony mendiamkan miliknya dan membiarkan cairannya masuk ke dalam rahim Salma lebih dulu. Setelah itu, dia mencium kening Salma dan terakhir bibir Salma."Makasih ya non untuk malam ini. Maaf saya sudah merenggut kesucian non malam ini. Saya janji, saya akan tanggung jawab atas perbuatan saya non" Ucap RonyHati Salma menghangat mendengar ucapan Rony, sebenarnya Salma tau Rony bukan laki-laki brengsek. Walaupun Salma sendiri baru mengenalnya dua Minggu ini. Namun Salma lebih rela memberikan tubuhnya pada Rony di bandingkan Ryan yang notabenenya memang terkenal sebagai penjahat kelamin di kampus nya.Rony berbaring di sebelah Salma dan menarik Salma kedalam pelukannya. Tak ada penolakan dari Salma dan kini Salma justru memeluk Rony dengan erat.Pagi harinya, Salma lebih dulu membuka mata dengan kepala yang sangat pusing. Dia melihat wajah tampan Rony yang sedang tidur di sebelahnya, Salma tersenyum mengingat kejadian semalam bersama bodyguard nya itu.Bodyguard nya itu bukan hanya garang saat bekerja, namun dia juga ganas saat di ranjang bersama nya. Perlahan Salma mencoba melepaskan pelukannya dan mengubah posisinya menjadi duduk.Rony yang terusik karena pergerakan Salma pun mulai membuka mata dan langsung di suguhkan oleh punggung mulus Salma yang sedang duduk di sampingnya. Dia baru teringat, semalam dia baru melakukan pergulatan panas bersama majikannya itu.Rony langsung mendudukan dirinya tepat di samping Salma dan mengambil tangan Salma lalu di ciumnya."Non, non Caca maafin saya. Semalam saya gabisa kontrol diri saya non. Jangan aduin ini ke tuan ya non, saya masih butuh pekerjaan ini non" Ucap Rony"Ck apasih Ron! Udah gapapa, gue juga inget kali semalem gue yang maksa lu buat ngelakuin itu sama gue""Gue yang harusnya makasih karena lu udah nyelamatin gue dari Ryan semalem. Gue lebih ikhlas tidur sama lu di banding sama Ryan" Balas SalmaRony melotot mendengar ucapan Salma"Non, tapi saya udah renggut mahkota non semalam. Maaf kan saya non" Balas Rony"Ck udah gapapa! Gue juga udah dari lama penasaran rasanya bercinta tuh kek gimana. Semalam juga badan gue panas banget gara-gara Ryan kasih obat perangsang di minuman gue! Gue yang makasih sama lu udah bantuin gue kelarin hasrat gue gara-gara obat sialan itu" Balas Salma"Non gak marah sama saya?" Tanya Rony"Gak, gue gak munafik kalo gue semalem juga menikmati permainan lu. Jadi santai aja, anggap kita gak pernah ngelakuin ini. Kita bersikap biasa aja dan lupain kejadian semalam. Oke" Ucap Salma sembari berusaha bangun dari ranjangNamun baru beberapa langkah, tubuh Salma sedikit oleng karena merasa kesakitan di bagian inti nya. Dengan sigap Rony menangkap tubuh Salma."Non, saya bantu ya ke kamar mandi. Pasti punya non masih sakit kan? Saya bantu aja ya non. Bentar saya pake kolor saya dulu" Ucap RonyRony segera bangkit dan memakai celana pendek nya. Tanpa aba-aba Rony mengangkat tubuh Salma ke dalam kamar mandi dengan balutan selimut yang menutup tubuh polos Salma."Nanti selesai mandi, panggil saya ya non. Saya tunggu luar" Ucap Rony"Gaperlu, lu pergi mandi aja. Gue bisa sendiri" Balas Salma"Gak non, punya non Caca pasti masih sakit kan dan susah buat jalan. Jadi biar saya bantu ya non, non gak boleh nolak! Non begini juga gara-gara saya" Balas Rony lalu pergi keluar kamar mandi"Lu emang bukan cowok brengsek Ron, dan gue gak nyesel ngelakuin ini sama lu. Coba aja semalem jebakan Ryan berhasil, pasti gue udah jadi sampah di depan dia sekarang" Monolog SalmaSedangkan di balik pintu, Rony memikirkan ucapan Salma padanya"Gimana bisa saya lupain kejadian semalem non, semalem adalah malam paling indah di hidup saya. Saya juga bisa tidur sambil meluk non semalaman, bikin tidur saya nyenyak banget non" Monolog RonySetelah menunggu hampir satu jam, akhirnya pintu kamar mandi terbuka. Rony melihat Salma mencoba berjalan perlahan langsung menggendong Salma tanpa aba-aba."Eh eh Ron, apaan sih. Gue bisa jalan sendiri" Ucap Salma"Kan saya udah bilang non, panggil saya. Kenapa malah jalan sendiri sih! Bebal banget" Omel Rony"Dih, berani lu ya ngomelin gue" Balas Salma"Berani, ini kan demi kebaikan non" Ucap Rony sembari mendudukan Salma di pinggir ranjang"Non, saya mandi dulu ya. Setelah itu ambilin non sarapan terus saya tinggal ke apotik buat beli obat anti nyeri buat ngobatin itunya non. Non diem di rumah ya, jangan kemana-mana. Kalo non coba kabur, saya laporin ke Tuan masalah semalem non mabuk" Ucap Rony"Ck, kok jadi lu ngancem-ngancem gue sih!" Balas Salma kesal"Demi kebaikan non Caca. Saya pergi dulu ya non" Ucap Rony seraya bangkit dari ranjang"Eh eh bentar Ron" Balas Salma"Kenapa non?" Tanya Rony"Lu semalem ngeluarin di dalem kan?" Tanya SalmaDegRony baru teringat, semalam dia berkali-kali mengeluarkan cairan miliknya di dalam rahim Salma."I - Iya Non" Balas Rony panik"Ck, gausah panik gitu. Gue cuma mau titip kalo ke apotik sekalian beliin pil pencegah kehamilan. Gue gamau ambil resiko gue hamil ya Ron, apalagi gue lagi masa subur sekarang. Udah sana cepet pergi, jangan lupa obat gue! Itu paling penting!" Ucap Salma"Non, jangan bikin saya seolah-olah jadi cowo brengsek non. Kalo pun non hamil saya siap tanggung jawab kok non" Balas Rony"Ya masalahnya gue gamau hamil Rony! Gue masih kuliah, gue juga masih mau have fun sama hidup gue. Gue gapernah nganggep lu cowo brengsek kok. Udah gausah bacod deh, beliin obat itu pokoknya. Cepet" Omel Salma"Baik non" Balas Rony pasrah***Dua hari kemudian, Salma sudah mulai masuk kuliah setelah merasa miliknya sudah tak terasa nyeri. Rony juga setia menjaga nona cantiknya dari jarak yang sedikit jauh. Selama hampir tiga Minggu ini Rony selalu memberikan laporan pada Papi Salma kecuali kejadian malam itu. Rony masih membutuhkan pekerjaan ini, dan dia tidak ingin Salma juga di hukum atas kelakuannya yang tetap nekat pergi ke clubbing malam itu."Wah akhirnya si cantik masuk kuliah juga? Gimana? Di apain lu sama laki-laki yang bawa lu kabur? Hmm?" Goda RyanRony yang melihat Ryan kembali menggoda Salma, ia pun berjalan mendekat dan mencoba memberikan pelajaran pada laki-laki itu. Tapi langkahnya terhenti kala mendengar ucapan Salma"Laki-laki siapa? Rony maksud lu? Laki-laki yang ngehajar lu sampe terkapar di parkiran club'? Lu belum tau ya? Dia cowo gue! Bahkan calon suami gue! Hebat kan dia? Bisa ngalahin lu dengan tangannya sendiri""Mangkanya kalo lemah gausah sok-sokan jadi jagoan! Lu emang bisanya ngerusak masa depan anak orang doang tapi asline Cemen! Berantem aja gak bisa!""Lu nanya gue sama dia ngapain? Ya lu mikir lah, laki gue gak bakal biarin gue mendem hasrat sendirian. Terpaksa gue malam pertama duluan deh sama dia, apalagi dia jago mainnya. Bikin gue puasss banget" Ucap Salma sinis lalu pergi meninggalkan Ryan"Anjing! Andai malam itu laki-laki bajingan itu gak Dateng! Lu udah jadi sampah di mata gue Salma! Lu gak akan bisa bicara sombong di depan gue kaya tadi! Bangsatt!!!" Monolog RyanRony mengepalkan tangannya mendengar ocehan Ryan setelah kepergian Salma. Dia menghampiri Ryan lalu menghajar laki-laki itu lagi hingga babak belur."Jangan ngomong sembarangan sama calon istri gue! Apalagi sampe berniat macem-macem sama dia! Lu lakuin kesalahan seperti malam itu lagi, habis lu di tangan gue! Ngerti!!" Bentak Rony lalu pergi meninggalkan Ryan yang tengah lemasRony berjalan mengikuti Salma lalu berdiri di sampingnya"Non, non gapapa kan? Diapain sama laki-laki itu?" Tanya Rony"Lah, lu ngapain sih ngikutin gue? Udah sana pergi" Usir Salma"Ya mau jagain calon istri saya lah" Goda Rony"Maksud lu apaan?" Tanya Salma"Bukannya tadi ada yang bilang ya, kalo saya calon suami non caca? Apa saya salah denger?" Goda Rony"Ron! Lu nguping?" Tanya Salma kaget"Hahaha, sedikit non" Balas Rony"Ishh lu nyebelin yaa ternyata!! Kesel banget gueee" Omel Salma sembari memukul dada Rony"Hahaha maaf maaf, becanda kali non" Balas Rony seraya menahan tangan Salma"Bodo amat" Balas Salma"Non, saya serius? Diapain sama laki-laki tadi?" Tanya Rony"Gak di apa-apain Rony! Gue hajar dia sampe ngapa-ngapain gue!" Balas Salma"Kalo saya yang ngapa-ngapain non? Non hajar juga gak?" Goda Rony"Ish Rony!!! Lu beneran ngeselin yaa!! Gue aduin Papi lu yaaa" Ancam Salma"Eh eh, jangan dong non. Saya bercanda kok, yaudah non ke kelas ya. Saya tunggu di taman depan kelas non yaa. Semangat kuliahnya non Caca Cantik" Ucap Rony tersenyum manis lalu pergiSalma tersenyum menatap kepergian Rony"Ahhh apaan sih Ca! Masa lu baper sama dia sih! Gak!! Gaboleh Cacaaa" Monolog Salma sembari menggelengkan kepalanya***Hari demi hari berlalu, kedekatan Rony dan Salma pun semakin terasa. Rony yang kini tak lagi canggung menggoda Salma, Salma pun begitu dia justru semakin nyaman berdekatan dengan Rony. Rony adalah laki-laki yang menurut Salma memiliki semua love language yang membuatnya semakin nyaman bersama dengan Rony.Selama ini dia sering kali dekat dengan laki-laki namun baru dengan bodyguard nya itu dia merasa sangat di istimewa kan. Terlebih setelah malam itu, baik Salma maupun Rony masih sama-sama mengingat dengan jelas kejadian malam itu. Sungguh kenangan yang sangat manis bagi mereka berdua."Non, bibi tadi izin pulang kampung beberapa hari karena anaknya sakit. Jadi untuk makan malam nya biar saya saja yang masak gapapa kan non?" Tanya Rony yang kini sedang menyetir"Ron! Gue udah berapa kali sih bilang! Panggil Caca aja! Gausah nan non nan non Mulu" Omel Salma"Ah iya, maaf saya lupa terus. Maaf ya Caca" Balas Rony"Hhmm" Balas Salma"Gimana? Yang tadi belum di jawab loh? Kamu mau kan makan masakan saya Ca?" Tanya Rony"Bikin sakit perut gak? Awas aja masaknya ngasal" Balas Salma"Wah kamu ngremehin saya? Awas ya nanti ketagihan sama masakan saya" Balas Rony"Iya iya percaya si paling jago masak. Yaudah deh terserah lu nanti mau masak apa yang penting enak dan bisa di makan" Balas Salma"Siap Caca cantik" Balas Rony"Hmm Ca? Saya boleh tanya gak?" Tanya Rony"Kenapa Ron?" Tanya Salma"Kamu aman kan?" Tanya Rony"Aman gimana? Aman aman aja kok" Balas Salma"Hmm ini kan udah sebulan lebih setelah malam itu, apa kamu hmm itu euhh - " Ucap Rony gugup"Gak, gue gak hamil. Aman" Balas Salma"Ca, maksud saya tanya bukan karena saya gamau kamu hamil atau mau lari dari tanggung jawab, jujur saya beneran siap tanggung jawab kalo kamu hamil Ca" Ucap Rony"Ron gue tau kok, udah lu tenang aja. Gue gak hamil kok. Gue kan langsung minum obat itu pas lu beliin kemarin. Jadi aman" Balas Salma"Maaf ya Ca" Balas Rony"Ngapain minta maaf? Lu gak salah, gue yang salah. Gue yang udah godain lu dulu kan? Gara-gara obat sialan dari Ryan gue jadi berasa kurang belaian banget" Ucap Salma"Tapi juju saya masih belum bisa lupain malam itu Ca. Malam itu terlalu indah buat saya. Maaf ya" Balas RonyDegJantung Salma berdegup lebih kencang saat mendengar ungkapan hati Rony tentang malam itu. Jujur dia pun merasakan hal yang sama, namun ia malu untuk mengakuinya."Iya gapapa" Balas Salma"Kamu udah lupain malam itu ya Ca?" Tanya Rony lembut"Gak kok, gue masih inget jelas. Bahkan bentuk punya lu juga gue inget" Balas Salma sembari melirik milik Rony yang tengah duduk di kursi pengemudi tepat di sampingnya"Ca, frontal banget sih ngomongnya" Balas Rony salah tingkah"Hahahaha lagian lu bahas itu Mulu! Kenapa sih? Pengen lagi lu?" Tanya Salma"Eh gak, bukan gitu maksud saya" Balas Rony"Beneran? Pengen kan lu?" Goda Salma"Hmm emang boleh?" Tanya Rony ragu"Boleh" Balas Salma"Beneran Ca?" Tanya Rony semangat"Boleh gue potong leher lu! Enak ajaa lu!" Balas Salma"Padahal kamu yang nawarin tadi" Balas Rony memelas"Sumpah? Lu serius pengen Ron?" Tanya SalmaRony yang sadar bahwa dirinya sudah kurang ajar pada Salma pun segera menggelengkan kepalanya."Ca gak Ca, saya bercanda kok. Beneran, saya gak maksud apa-apa. Jangan marah yaa, maafin saya" Balas Rony"Iya" Balas SalmaRony menghela nafasnya, ia yakin bahwa Salma marah padanya. Rony memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk rumah Salma."Udah sampe non" Ucap Rony memelasRony yang hendak turun membuka kan pintu mobil untuk Salma pun di tahan oleh Salma.Salma mencium bibir Rony dan melumatnya, sembari tangannya mengusap milik Rony yang seketika mengembung di balik celana karena sentuhan dari Salma.Rony yang masih shock hanya diam dan menikmati usapan tangan Salma."Gue juga ketagihan kok main sama lu, apalagi sama ini hahaha" Goda Salma di akhiri meremas milik Rony dan turun dari mobil"Eughh Cahhh" Lenguh RonyRony menatap kepergian Salma dari dalam mobil"Ck nakal banget sih, gak tanggung jawab! Udah bangunin, malah di tinggal gitu aja""Eh tapi maksud Caca tadi apa? Dia mau lagi? Apa gimana sih? Gue bingung jadinya""Asep, maaf ya kamu jadi bangun gara-gara di remes Caca ya? Yaudah lah, kita main sendiri yuk, aku tidurin kamu dulu ke kamar mandi" Gerutu RonyMalamnya, Rony sudah menyiapkan beberapa masakannya di meja makan. Lalu memanggil Salma untuk makan."Ini lu semua yang masak?" Tanya Salma"Iya dong, udah ayo cobain dulu" Balas RonyRony menarik kursi untuk Salma dan menyiapkan makanan untuk Salma."Mau lauk apa cantik?" Tanya Rony"Udang aja" Balas SalmaRony mengambilkan makanan sesuai permintaan Salma."Gimana enak?" Tanya Rony cemas"Hmmmm... ""Enak kok hahaha" Goda Salma"Ih iseng banget sih. Alhamdulillah kalo enak, di habisin ya" Balas RonySelesai makan dan Rony mencuci semua perlengkapan makanan mereka. Salma menghampiri Rony yang masih berada di dapur."Makasih ya udah di masakin" Ucap Salma"Sama-sama, kamu kan tanggung jawab saya. Papi kamu mempercayakan kamu sama saya, jadi saya harus pastiin kamu selalu baik-baik aja sama saya" Balas Rony"Ron, gue boleh keluar gak?" Tanya Salma"Boleh, asal jangan ke club' dan harus sama saya" Balas Rony"Ck! Gue sumpek sama tugas kampus! Gue pengen minum! Boleh lah, ayoo" Bujuk Salma"Gak ada ya Ca, gak ada minum minum lagi""Kamu sumpek kan? Ikut saya aja yuk, dijamin stress kamu bakalan ilang" Balas Rony"Beneran?""Soalnya selama ini yang bisa ngilangin rasa stress gue cuma alkohol" Balas Salma"Beneran, saya yakin kamu bisa ngilangin stress tanpa minum minuman haram itu lagi" Ucap Rony"Yaudah ayo, keburu malem" Ajak Salma"Ya kamu ganti dulu dong cantik, masa pake tangtop begini? Ini udah malem, ayo ganti" Ucap Rony"Ck, gamau ah. Udah ayoo" Balas SalmaRony menarik tangan Salma menuju kamar Salma"Loh kok ke kamar sih?" Tanya Salma"Ganti baju! Atau mau saya yang gantiin?" Ucap Rony"Ck iya iya sana pergi" Balas Salma"Saya gaboleh disini?" Tanya Rony"Ya gabole lah gila! Gue mau ganti baju" Balas Salma"Kenapa? Saya kan juga udah pernah liat semuanya. Saya bahkan masih hafal banget gimana bentuknya" Balas Rony"Ron! Pergi gak! Gue tonjok beneran ya" Ucap Salma"Hahaha iya iya, saya juga mau ganti. Nanti kalo udah saya tunggu di bawah ya. Pake jaket jangan lupa" Balas Rony"Kenapa harus jaket segala sih?" Tanya Salma"Kita night ride naik motor saya aja lebih seru yaa" Balas Rony"Oh okeee" Balas SalmaPuas mengelilingi Jakarta dan melihat city light Jakarta dari salah satu rooftop gedung membuat pikiran Salma menjadi lebih tenang. Rony benar, stress nya bisa hilang tanpa harus pergi ke club'.Setelah sampai di rumah, Rony mengantar Salma hingga ke depan pintu kamar milik Salma."Sekarang tidur ya, udah malem. Udah ilang kan stress nya" Ucap Rony"Udah, gue happy banget Ron. Night ride ternyata seseru itu hahaha. Makasih ya" Balas Salma"Iya sama-sama, udah sana tidur ini udah malem" Ucap Rony"Belum ngantuk, masih kebayang serunya tadi" Balas Salma"Tidur Ca! Atau mau saya kelonin biar bisa tidur?" Goda RonyBukannya membantah, Salma justru berbisik di telinga Rony yang membuat seluruh tubuh Rony merinding."Boleh, sekalian kita olahraga malem dulu biar capek mau gak?" Bisik Salma tepat di telinga RonySalma lalu mengalungkan tangannya dan melumat bibir Rony. Rony tersenyum dan perlahan membalas ciuman Salma. Rony mendorong tubuh Salma masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar Salma.Malam itu mereka berdua kembali melakukan nya di kamar Salma. Malam yang panjang untuk kedua manusia yang bahkan bukan lah pasangan kekasih."Makasih ya cantik. Udah capek kan? Udah lemes juga, bobo ya" Ucap Rony lembut sembari mendekap tubuh Salma"Gimana gak lemes? Lu brutal banget" Balas Salma"Maaf ya, soalnya kamu tuh candu Ca. Susah buat saya berhenti, nagih banget" Ucap Rony"Punya lu juga juara, bisa banget bikin gue puas. Tapi sayangnya mulut lu gak bisa ke kontrol! Gue udah bilang jangan bikin tanda, malah bikin sebanyak ini. Gue kan besok kuliah, repot nutupinnya" Omel Salma"Gabisa Ca, gak ada rem nya ini. Susah buat nahan nya. Maaf yaa cantik" Ucap Rony"Tapi gue boleh nanya gak? Lu sering ya begini sama cewek-cewek lu?" Tanya Salma"Gak pernah Ca. Saya baru pertama kali bercinta ya sama kamu malam itu""Selama ini saya gak pernah deket sama perempuan atau bahkan pacaran. Karena saya fokus kerja buat berobat ibu saya, tapi setelah ibu saya meninggal makin gak ada semangat saya buat dekat sama perempuan" Balas Rony"Tapi kok lu jago?" Tanya Salma"Ya naluri laki-laki Cantik. Kan saya laki-laki normal, sedikit banyak tau lah tentang sex " Balas Rony"Ohh gitu" Ucap Salma"Kamu juga jago, padahal saya tau sendiri kamu baru pertama kali sama saya. Belajar dari mana coba?" Tanya Rony"Pernah di ajak nonton video porno sama temen-temen pas di kampus. Jadi pernah tau lah yang beginian" Balas SalmaCk bener-bener ya pergaulan Caca se gak baik itu buat dia. Pantes Papi nya maksa buat gue jagain dia *batin Rony"Kuliah itu tempat buat belajar, kok malah nonton begituan?" Tanya Rony"Ya gatau, orang cuma di ajak" Balas Salma"Tapi kamu pernah gak? Ciuman atau ngapain gitu?" Tanya Rony"Gapernah, tiap deket sama cowo aja langsung di sidang sama Papi""Temenan sama temen-temen cewekku pun bahkan di larang sama Papi. Gimana mau bebas coba" Ucap Salma"Ca, papi lakuin itu semua demi kamu. Demi kebaikkan kamu. Papi gak akan larang kamu kalo itu emang positif buat kamu cantik" Balas Rony"Ck, udah lah. Males bahas beginian. Mending tidur, gue ngantuk" Ucap Salma"Ck nakal ya, di kasih tau malah bobo" Balas Rony sembari memilin puting Salma"Ahh Ron! Sakit! Ck!!" Omel Salma"Kamu nakal soalnya" Balas Rony"Udah tidur! Gue ngantuk, lemes, badan gue remuk habis di hantam sama lu dari tadi malem sampe subuh begini" Omel Salma"Yang nantangin semalem siapa? Hmm?" Goda Rony"Nyebelin ya! Awas lu! Sana pergi dari kamar gue! Jangan harap lu bisa deket-deket sama gue lagi! Ini yang terakhir lu tidur sama gue!" Ancam Salma"Eh eh, gak gitu Ca. Maaf maaf, jangan gitu dong. Maaf yaa, gak di godain lagi deh. Bobo yaa sini peluk" Ucap Rony memelasDengan sedikit bujukan, Salma pun luluh dan tertidur di pelukan Rony.Huftt , hampir aja. Mana bisa gue gak deket-deket sama dia. Bisa begini aja rasanya bahagia banget *batin Rony***Waktu berjalan begitu cepat, dua minggu lagi orang tua Salma rencananya akan kembali ke Indonesia. Selama beberapa bulan ini juga Salma dan Rony hampir setiap hari tidur bersama tanpa sepengetahuan orang rumah mereka.Rony akan masuk ke dalam kamar Salma setelah memastikan semua pekerja di rumah Salma sudah tidur. Rony tau ini salah, namun ia juga tak bisa menahan diri jika sudah berdekatan dengan Salma. Apalagi Salma lah yang selalu lebih dulu menggoda nya."Sayang, bangun. Udah pagi, katanya ada kelas pagi" Ucap Rony sembari menepuk lembut pipi SalmaRony memang lebih berani memanggil Salma dengan sebutan sayang setelah dirinya mengungkapkan perasaannya pada Salma yang ternyata tak bertepuk sebelah tangan."Masih ngantuk Ron" Balas Salma"Tapi kamu ada kuliah pagi loh, ayo ah bangun. Jangan males-males, atau mau aku mandiin? Hmm?" Goda Rony"Ck apasih! Yang ada makin lama kalo sama kamu" Omel Salma"Hahaha kan kuliahnya jam delapan sayang, ini masih setengah tujuh. Masih sempet lah, yuk" Ucap Rony"Ron! Bener-bener ya, gak ada puasnya apa? Semalem udah, sekarang mau lagi!" Omel Salma"Sutss, udah ayoo" Ucap Rony sembari menggendong Salma"Ronyy!!! Bisa-bisanya langsung gendong gak pake aba-aba!!" Omel Salma"Kalo mandi pagi sendirian dingin sayang, kalo sama kamu kan jadi anget" Balas RonySalma hanya bisa pasrah, ketika Rony mulai menggendong nya ke kamar mandi."Ayo cepetan Ronyy!!! Aku udah telattt" Teriak Salma dari dalam mobil"Iya bentar" Balas Rony seraya memasuki mobil"Kenapa sih hmm? Cemberut terus? Mau di cium ya itu bibirnya?" Goda Rony"Gara-gara lu! Segala pake acara mandi bareng! Jadi telat kan! Mana udah setengah delapan! Kalo macet gimana!!" Omel Salma"Ya tapi seru kan? Hmm?""Gak akan telat sayang, aku udah cek gak macet kok" Balas Rony"Astaga Ron! Gue lupa!" Ucap Salma"Lupa apa?" Tanya Rony"Gue belum minum obatnya! Cari apotik sekarang!" Tegas Salma"Obat apa yang?" Tanya Rony"Pil KB!" Balas Salma"Ck, gausah lah yang. Kamu Segamau itu ya hamil anak aku?" Tanya Rony"Bukan gamau Rony! Please lah, kita masih pacaran belum nikah! Kamu mau Papi aku kena stroke kalo tau anaknya hamil di luar nikah? Hah!!" Ucap Salma"Astaghfirullah mulutnya yang! Ya gak mungkin lah Papi stroke, palingan kita langsung di nikahin" Balas Rony asal"Ron yang bener ish! Cepetan cari apotik!" Omel Salma"Iya iya" Balas Rony"Nah tuh apotik" Ucap Salma sembari menunjuk ke sebuah apotik"Udah, kamu tunggu sini. Biar aku yang turun yaa" Balas Rony sembari mengecup pipi Salma"Ron, Ron. Tiap hari sikapnya manis banget, gimana gak makin cinta coba gue sama lu! Tapi gue takut, papi gak setuju sama hubungan kita. Secara lu cuma bodyguard gue Ron" Lirih Salma ketika Rony sudah meninggalkan nya di mobilSetelah beberapa menit, akhirnya Rony datang membawa obat dan air mineral."Di minum dulu sayang" Ucap Rony"Kok tumben bungkusnya beda?" Tanya Salma"Ini yang bagus kata mbak nya, yaudah aku beli aja. Udah di minum" Balas Rony"Oke" Balas Salma lalu meminum obat tersebutSemoga kamu cepet hadir di perut Mama ya nak *batin RonyYa, Rony menukar obat Salma menggunakan obat penyubur kandungan. Rony ingin sekali Salma mengandung anaknya di rahimnya. Apalagi semalam hingga pagi ini mereka intens berhubungan dan Rony selalu mengeluarkan cairan nya di dalam rahim Salma."Eh eh mau kemana?" Tanya Rony setelah sampai di kampus Salma"Mau kuliah lah, apa lagi sih Ron? Cepetan udah telat ini aku" Balas Salma"Salim dulu sama suami, gak sopan banget" Balas Rony"Suami, suami! Gausah ngarang" Omel Salma sembari mencium tangan Rony"Kita udah beberapa bulan ini ya tidur bareng dan lakuin hubungan suami istri. Berarti kamu itu istri aku" Balas Rony"Ck, serah lu deh" Balas SalmaRony menarik Salma lalu melumat bibirnya dan menggigit bibir Salma."Ronyy sakit!!" Omel Salma"Salah kamu sendiri ya, gak sopan ngomongnya! La lu la lu! Yang bener itu Kamu, Bukan lu!" Omel Rony"Iya iya, maaf. Yaudah turun dulu, bye Assalamualaikum" Pamit Salma"Waalaikumsallam" Balas RonySalma yang berjalan ke arah kelasnya, tiba-tiba salah fokus melihat teman-teman nya yang sedang berada di kantin. Salma pun berniat menghampiri teman-teman nya. Setelah mendekat Salma mengurungkan niatnya setelah mendengar percakapan teman-teman nya di belakang nya.Mereka mengatakan bahwa beberapa bulan ini Salma sudah tak bisa di ajak ke club', percuma berteman dengan Salma jika dia tak bisa lagi di manfaatkan. Mereka juga mengatakan bahwa mereka butuh uang Salma untuk berpesta disana. Apalagi Ryan kembali menawarkan kerja sama dengan mereka jika mereka mau bekerja sama lagi menjebak Salma. Nominal yang di tawarkan Ryan pun sangat besar hingga membuat mereka tergiur.Salma mendengar semua perkataan mereka yang hendak menjebaknya di rumah salah satu temannya besok malam. Dan memastikan bahwa rencananya kali ini tidak akan gagal dan mereka akan mendapatkan bayaran dari Ryan yang cukup banyak.Salma menangis mendengar semua fakta tentang teman-teman nya itu. Papi nya selama ini tak pernah salah, teman-teman nya ini terlalu buruk untuk dirinya. Mereka membawa Salma terjerumus pada pergaulan yang salah.Salma berlari kembali masuk ke dalam mobilnya dengan air mata yang mengalir. Rony yang melihat Salma menangis langsung menarik wanitanya ke dalam pelukannya."Hey kenapa sayang? Kenapa kok balik?" Tanya Rony"Hiks hiks mereka jahat Ron, mereka jahat sama aku" Balas Salma"Siapa? Mereka siapa?" Tanya RonySalma menceritakan semua yang dia dengar dari teman-temannya termasuk rencana jebakan mereka. Rony mengepalkan tangannya mendengar ucapan Salma."Sayang, tenang ya. Mereka gak akan bisa ngapa-ngapain kamu. Ada aku disini yang jagain kamu, kamu gak akan kenapa-napa! Justru mereka yang akan kenapa-kenapa karena udah jahat sama kamu" Balas Rony"Kamu mau ngapain? Gausah Ron, gausah di apa-apain! Aku gamau kamu berurusan sama mereka, udah ya. Aku cuma kecewa, aku cerita karena aku sakit hati ngerasa di khianatin sama mereka tapi bukan berarti aku mau mereka kenapa-napa. Udah ya, jangan kamu apa-apain mereka" Balas Salma"Iya iya udah yaa, gak aku apa-apain kok mereka" Balas RonyPalingan aku akan kasih mereka sedikit pelajaran, terutama Ryan karena dia masih kurang ajar sama kamu Ca *batin Rony***Beberapa hari setelah kejadian itu, Salma benar-benar ingin berubah. Dia sadar selama ini dia terhasut oleh teman-temannya itu. Salma mulai kembali memperbaiki sholatnya, dan memperbaiki penampilannya. Salma mulai nyaman dan memutuskan untuk mengenakan hijab."Sayang ayo, buruan nanti tel - ""Sayang?" Ucap Rony terpesonaSalma tersenyum manis pada Rony"Sayang kamu serius? Kamu cantik banget sayang. Masyaallah" Timpal Rony"Iya Ron, mulai hari ini aku mau pake hijab. Kamu bener Ron, selama ini aku terlalu jauh sama Allah gara-gara pergaulan ku dulu. Aku mau tobat dan berusaha memperbaiki diri aku Ron" Balas Salma"Masyaallah sayang, Alhamdulillah aku ikut seneng. Semoga Istiqomah ya sayang" Balas Rony"Aamiin, tapi maaf ya Ron. Aku gabisa lagi tidur atau pun ngelakuin itu lagi sama kamu. Aku beneran mau tobat Ron" Ucap SalmaRony tersenyum mendengar ucapan Salma"Iya gapapa sayang, aku ngerti kok. Aku dukung keputusan kamu, dan aku gak akan minta apa-apa lagi sama kamu. Aku cuma mau kamu Istiqomah sayang" Balas Rony"Makasih ya Ron, udah support aku terus" Ucap Salma"Sama-sama sayang. Yaudah yuk berangkat ke kampus, nanti telat" Balas Rony***Seminggu sudah berlalu semenjak Salma mantap mengenakan hijabnya. Kini Salma dan Rony tengah menanti kehadiran orang tua Salma di Bandara."Papiiii, Mamiiiiii" Teriak Salma sembari berlari memeluk kedua orangtuanya"Ca sayang? Ini beneran kamu nak?" Tanya Mami Salma"Iya mami, siapa lagi?" Tanya Salma"Sayang, putri papi Cantik sekali pake hijab" Balas Papi Salma"Iya Pi, anak kita cantik banget" Balas Mami Salma"Alhamdulillah, doain Caca ya Mi, Pi semoga Caca bisa selalu Istiqomah sama hijab Caca" Balas Salma"Pasti sayang, Mami Papi pasti doain kamu nak" Ucap Mami Salma"Tiga bulan di tinggal sama Rony kamu banyak berubah ya ternyata sayang" Goda Papi Salma"Iya, Rony orangnya baik Pi. Dia selalu sabar ngadepin semua sifat buruk Caca. Rony juga yang pernah bujuk Caca pake hijab dulu, tapi Caca tolak. Tapi dia gak nyerah tau Pi, pelan-pelan dia ngasih tau Caca dan coba nyadarin Caca. Sampe akhirnya Caca sadar dan mulai tobat sama semua perbuatan Caca yang jauh sama Allah" Balas Salma"Masyaallah, gak salah emang Papi Mami milih Rony" Ucap Papi Salma"Iya, Papi gak salah milih Rony jadi bodyguard Caca" Balas SalmaMami dan Papi Salma saling memandang sembari tersenyum."Terus sekarang, Rony dimana?" Tanya Papi Salma"Loh, perasaan tadi dibelakang Caca deh Pi. Kemana ya tuh orang?" Tanya Salma"Yaudah gapapa palingan nunggu di mobil sayang" Ucap Mami Salma"Iya kali ya, yaudah ayo Pi Mi ke mobil" Balas Salma"Bentar sayang, Papi nunggu seseorang" Balas papi Salma"Siapa Pi?" Tanya Salma"Nah itu orangnya" Balas Papi Salma"Ca, kenalin ini sahabat lama Papi sama Mami. Namanya Om Rama dan Tante Rina" Ucap Mami Salma"Hay Om Rama, Tante Rina saya Salma" Balas Salma"Hay Caca, cantik banget sih sayang" Ucap Rina"Iya Bund, cantik banget. Pantes aja gak nolak ya Bund haha" Balas Rama"Makasih om, Tante" Balas SalmaSingkat cerita kini mereka sudah berada di kediaman orang tua Salma."Om sama Tante tinggal di rumah juga Mi?" Lirih Salma"Iya Ca, untuk sementara. Karena rumah anaknya masih di renovasi" Balas Mami Salma"Loh, mereka punya anak? Kok gak di jemput sama anaknya?" Tanya Salma"Punya kok ta - ""Mi, ayo anterin Rama dan Rina ke kamarnya" Ajak Papi Salma"Yaudah Ca, kamu ke kamar gih. Nanti malem kita dinner di luar ya" Ucap Mami Salma"Yaudah deh" Balas SalmaMalam harinya Salma yang sudah bersiap sejak awal memilih menunggu kedua orang tuanya di halaman depan."Hay sayang, cantik banget sih yang mau dinner?" Sapa Rony yang tiba-tiba berdiri di depan Salma"Ck kok aku takut ya Ron?" Ucap Salma"Takut kenapa sayang? Hmm?" Tanya Rony sembari mengusap lembut pipi Salma"Takut tiba-tiba di jodohin""Sumpah pikiran aku dari tadi gak tenang setelah papi ajak sahabatnya kesini, terus mami juga bilang sahabat papi punya anak. Tiba-tiba malem ini ngajak dinner, pikiran ku jadi kemana-mana Ron" Ucap Salma sedih"Hey, kamu gak suka sama sahabatnya Papi kamu? Kok suudzon gitu?" Tanya Rony"Bukan gak suka Ron, mereka baik. Baik banget malah, gak ada alasan buat gak suka sama mereka. Aku cuma takut Ron, aku gamau di jodohin" Balas Salma"Kenapa gak mau sayang?" Tanya Rony"Ck! Kok kamu masih nanya gitu sih? Kamu gak sayang ya sama aku? Kamu gamau perjuangin hubungan kita? Apa kamu udah bosen sama aku?" Balas Salma kesal"Hey hey, gak gitu dong cantik. Kok ngomongnya gitu sih? Udah tau aku sayang banget sama kamu, aku udah jatuh sejatuh-jatuhnya sama kamu! Mana bisa aku kehilangan kamu sih" Ucap Rony"Bohong! Buktinya kamu biasa aja, padahal posisinya aku sekarang lagi ketakutan. Takut beneran di jodohin! Tapi kamu malah santai gitu" Balas Salma"Semuanya belum tentu sayang, itu hanya pikiran kamu aja kan. Itu hanya ketakutan kamu doang, udah yaa. Jangan takut, kamu itu punya aku. Selamanya cuma punya aku" Ucap Rony"Buktiin! Jangan ngomong doang! Ngomong ke Papi kalo berani! Jangan berani nya nidurin anaknya doang" Balas Salma"Hahaha siap, aku akan ngomong sama papi kalo anaknya udah sering aku tidurin yaa. Biar di nikahin sekalian" Ucap Rony"Ya jangan gitu lah Ron! Nanti Papi aku yang shock!" Balas Salma"Hahah gemesss banget sih" Ucap Rony"Kamu ikut?" Tanya Salma"Iya dong, kalo gak ikut siapa yang jagain pacar aku ini? Hmm?" Balas Rony"Yaudah deh, bantuin aku ya nanti kalo aku beneran di jodohin" Ucap Salma"Iya sayang, udah ya jangan khawatir" Balas RonySalma tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya"Jangan sedih sayang, everything will be fine. Trust me" Ucap Rony sembari mengusap lembut pipi SalmaSalma memeluk Rony erat, menyalurkan segala kegelisahan di hati dan pikirannya. Rony pun membalas pelukan Salma tak kalah erat, menyalurkan ketenangan bagi wanitanya itu."Ekheemm" Suara Papi Salma membuyarkan pelukan mereka berdua"Masuk mobil Ca!" Pinta Papi Salma"Pi, ini gak seperti yang papi Li - ""Masuk!" Tegas Papi Salma"Masuk ya, aku gapapa" Ucap Rony lirih"Tapi Ron - ""Udah gapapa masuk ya" Pinta Rony lembutSingkat cerita kini mereka semua sudah berada di sebuah ruangan VVIP restoran mewah."Sebelum memulai dinner ini, Papi mau bicara serius sama kamu sayang" Ucap Papi SalmaMakin gaenak kan perasaan gue *batin Salma"Kenapa Pi?" Tanya Salma"Sebenernya, Papi dan Mami sudah menjodohkan kamu dengan anak dari Om Rama dan Tante Rina" Ucap Papi SalmaApa gue bilang! Bener kan ketakutan gue dari tadi! Arghh sial!! Gue cinta Rony! Gue mau dia bukan yang lain *batin Salma"Caca sayang? Kok bengong?" Tanya Mami Salma"Pi, Mi, Caca gamau di jodohin! Caca udah punya pilihan sendiri!!!" Ucap Salma sedih"Tapi maaf Ca, kali ini kamu gabisa nolak karena Papi udah nikahin kamu sama dia sebelum Papi berangkat ke London kemarin sama Mami" Balas Papi Salma"Gausah bercanda ya Pi!! Caca gak suka Papi ngarang cerita begini!!!" Balas Salma"Papi beneran! Sebelum Papi berangkat ke London dan di malam kamu papi kurung di kamar! Di bawah Papi sedang melangsungkan akad nikah kamu sama ustadz dan suami kamu""Memang baru nikah secara agama, tapi kita akan melangsungkan pernikahan kamu secara negara dan resepsinya Minggu depan" Balas Papi Salma"Hiks hiks Papi jahat! Papi gak mikirin gimana perasaan Caca! Caca bahkan gatau Caca di nikahkan sama siapa! Papi jahat!!" Ucap Salma terisak"Kata siapa kamu gatau? Bahkan selama ini kamu udah tinggal dan tidur sama dia" Balas Papi SalmaDegTiba-tiba jantung Salma berdegup sangat kencang mendengar ucapan Papinya"Ma - Maksud Papi apa?" Tanya Salma gugup"Hay sayang, maaf ya. Kamu kaget ya sama ini semua?" Sapa Rony"Ron? Pi? Apa sih ini! Caca gak ngerti!!" Bentak Salma"Hey hey tenang yaa, maafin aku kalo selama ini aku bohongin kamu""Boleh aku jelasin sekarang sama kamu gak?" Tanya Rony lembut sembari menggenggam kedua tangan Salma"Jelasin" Balas Salma datar"Satu bulan sebelum Papi Mami kamu ke London, aku di suruh pulang ke Indonesia sama Mama Papa. Untuk nemuin Caca kecil yang sekarang udah gede ini, pasti kamu lupa kan kalo kita dulu temen kecil? Sebelum akhirnya aku pindah ke Belanda sama Mama Papa?" Tanya RonySalma hanya menganggukkan kepalanya"Iya sih, soalnya kamu masih kecil banget waktu itu. Jelas kalo kamu lupa haha""Mama Papa bilang kalo mereka mau jodohin aku sama kamu. Awalnya aku nolak, tapi setelah aku lihat foto kamu aku langsung terima. Yakali nolak cewek secantik ini yakan hahaha" Ucap RonySalma memukul lengan Rony, jujur dia sangat malu di depan keluarganya saat ini"Akhirnya aku pulang ke Indonesia, selama hampir sebulan aku selalu ikutin kamu dari jauh. Aku pantau pergaulan kamu, kuliah kamu dan segala tentang kamu. Papi kamu juga cerita semuanya tentang kamu, gimana khawatir nya papi kamu sama kamu sayang""Akhirnya Papi mutusin untuk nikahin aku sama kamu sebelum beliau berangkat ke London. Supaya aku bisa jagain kamu dan tinggal satu atap sama kamu. Kenapa harus nyamar jadi bodyguard? Itu karena kemauan aku sendiri""Aku mau kita lebih deket dan bisa pendekatan secara natural aja. Ternyata rencana ku berhasil kan, kita bisa saling cinta dan sayang tanpa ada keterpaksaan dari perjodohan ini? Dari sini juga aku tau kamu orang nya tulus. Kamu bahkan gak pernah malu ngenalin aku sebagai pacar kamu padahal aku hanya bodyguard kamu""Selain itu, aku jadi makin tau kamu setelah kita sama-sama beberapa bulan ini sayang. Kamu gadis yang baik, kamu kemarin hanya terbawa pergaulan aja. Terbukti setelah kamu menjauh dari mereka, kamu berubah jadi lebih baik. Aku bangga sama kamu sayang""Kamu penurut, kamu gak pernah bantah aku sedikit pun. Kamu tulus dan kamu selalu menghargai aku sebagai pasangan kamu. Makasih ya istriku" Ucap Rony"Jadi selama ini kita - ""Iya, kamu istri aku dan aku suami kamu. Kita SAH secara agama sayang. Jadi walaupun kita kemarin satu kamar dan tidur bareng itu gak zina. Karena kita udah halal" Balas Rony"Sumpah aku masih speechless. Semuanya terlalu tiba-tiba buat aku! Papi, Mami dan kamu semuanya bohongin aku!!" Ucap Salma"Maafin Papi Ca, papi cuma takut ninggalin kamu dalam waktu yang lama tanpa pengawasan. Apalagi pergaulan kamu waktu itu sangat membawa pengaruh buruk sama kamu. Papi percaya sama Rony, dia bakalan bisa jagain kamu. Tapi papi gak akan mungkin biarin dia jagain kamu 24 jam tanpa ada ikatan. Makanya Papi nikahin kalian tanpa sepengetahuan kamu sebelumnya. Maaf ya sayang" Ucap Papi Salma"Caca sayang, semuanya memang awalnya terpaksa. Tapi sekarang kamu cinta kan sama Rony? Rencana Rony berhasil kan? Dia bisa bikin kamu jatuh cinta dengan sendirinya tanpa ada rasa terpaksa karena perjodohan. Rony laki-laki yang baik, dia cocok jadi suami kamu sayang. Jangan marah lagi ya" Balas Mami Salma"Maafin aku ya Ca, maaf kalo aku yang berperan dalam kebohongan ini. Tapi aku beneran gamau kehilangan kamu sayang. Aku cinta banget sama kamu, please maafin aku ya" Ucap Rony"Maafkan anak papa ya Ca. Dia cinta banget sama kamu. Tolong terima dia jadi suami kamu" Timpal Papa Rony"Iya sayang, maafin Rony ya nak. Semoga kamu bisa maafin dan terima Rony sayang" Timpal Mama Rony"Gak, Caca gamau" Ucap Salma"Ca? Aku sayang sama kamu, pleasee maafin aku. Aku janji aku gak akan bohongin kamu lagi, tolong Ca. Jangan kaya gini sayang, maafin aku yaa. Please ma - ""Aku gamau nolak pernikahan ini Ron. Dengerin dulu dong sampe aku selesai ngomong" Ucap Salma tersenyum"Astaghfirullah Ca, jantung aku hampir copot tau gak! Aku kira kamu nolak pernikahan ini dan kamu marah sama aku. Ck nakal banget sih" Balas Rony sembari menyentil pelan kening Salma"Aku emang masih marah ya sama kamu! Kamu tega banget bohongin aku selama ini" Omel Salma"Iya iya maaf ya sayang, aku bakal turutin apapun kemauan kamu deh asal kamu mau maafin aku" ucap Rony"Beneran ya?" Tanya Salma"Iya beneran" Balas Rony"Yaudah oke, pulang dari sini wajib beli Seblak! Gamau tau" Ucap Salma"Ca tapi udah malem sayang, besok ya" Balas Rony"Iya Ca, besok aja ih. Ini udah malem, mami marah ya kalo kamu masih maksa beli Seblak!" Omel Mami Salma"Ish, iya yaudah besok aja deh" Balas Salma"Nah gitu dong, oke besok kita langsung ke Bandung juga gapapa demi berburu Seblak yang enak buat istri aku ini" Ucap Rony"Gausah sampe Bandung juga kali Ron, disini banyak kok yang enak" Balas Salma"Hahaha okee okee terserah tuan putri deh, bodyguard nya ngikut aja" Balas RonySemua terkekeh mendengar ucapan Rony"Ish, dasar bodyguard palsu! Pantes aja malam itu gak nolak sama sekali!" Lirih Salma"Ya ngapain nolak, orang kamu sendiri yang nawarin kan. Alhamdulillah juga aku bisa dapet hak aku secara cuma-cuma haha" Bisik Rony"Alhamdulillah sih emang, virgin ku di ambil suami sendiri" Bisik Salma"Nah tuh pinter, emang itu wajib buat aku. Bukan buat laki-laki lain""Jadi ntar malem boleh kali ya yang, kan kamu udah tau kalo aku suami kamu. Udah gak tahan ini dua Minggu kamu larang aku deket-deket sama kamu. Gak dapet jatah juga, please boleh ya ntar malem ambil jatah" Mohon Rony berbisik"Ya sapa suruh bohong, kalo jujur kan kamu masih bisa dapet. Kan kalo gini justru aku yang dosa gak ngasih hak kamu hampir dua mingguan" Balas Salma"Iya gapapa yang, kan aku mau liat keseriusan kamu berubah""Yang penting pulang dari sini kita langsung gass ya yang" Bisik Rony"Iya iya, ngebet banget sih" Balas Salma"Punya aku udah kangen banget masuk sarangnya. Gabisa di tahan lagi ini mah" Bisik Rony"Ck mes - ""Udah kali bisik-bisik terus dari tadi. Ntar aja pulang dari sini baru bahas begituan" Sindir Papi Salma"Tau nih si Rony, mantu Papa jangan di gas terus. Kasian" Sindir Papa Rony"Katanya mau cepet dapet cucu, ya harus di gass terus Pa. Lagian istri Rony cantik begini, ya gabisa di anggurin dong Pa" Balas Rony"Hahaha gapapa Ron, gass terus biar cepet jadi" Ucap Papi Salma"Oke Pi, siap laksanakan" Balas Rony"Ron, ishh" Tegur Salma sembari mencubit perut Rony"Awss, sakit Ca" Adu Rony"Bodo" Balas Salma"Ya tapi jangan keseringan juga Ron. Kasian Caca nya" Balas Mama Rony"Caca suka kok kalo sering-sering Ma, iya kan sayang?" Ucap Rony"Ck! Tau ah" Kesal Salma"Hahahaha anak Mami udah gede ternyata yaa, udah jadi istri orang. Bentar lagi jadi Ibu, semoga secepatnya ya nak" Ucap Mami Salma"Aamiin" Semua orang mengaminkan doa Mami Salma***Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba, hari ini Salma dan Rony akan mengulang akad nikah mereka secara resmi agar terdaftar di Negara."Sayang, kenapa kok pucet?" Tanya RonySaat ini Rony dan Salma sedang berada di hotel untuk menggelar acara resepsi."Gapapa kok mas, sedikit capek aja" Balas SalmaSalma memang di paksa oleh Mami nya memanggil Rony dengan sebutan Mas agar terdengar lebih sopan."Duduk aja ya sayang kalo kecapekan" Balas Rony"Gapapa mas, nanggung. Bentar lagi juga acaranya selesai" Balas Salma"Ck, nurut sayang. Udah duduk" Omel Rony"Yaudah iya" Balas SalmaWaktu berjalan begitu cepat, hingga kini mereka pun telat usai melaksanakan resepsi pernikahan mereka. Rony menggandeng tangan Salma untuk kembali ke kamarnya. Namun baru beberapa langkah dari atas pelaminan, Salma pingsan.Rony segera membawa Salma ke kamar dan memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Salma."Jadi gimana dok? Istri saya kenapa?" Tanya Rony panik"Sepertinya Bu Salma hanya kecapekan pak. Karena di kondisi hamil muda seperti Ibu Salma saat ini memang tidak boleh terlalu lelah. Itu bisa berbahaya juga untuk kandungannya" Balas Dokter"Hah? Istri saya hamil dok?" Tanya Rony"Iya pak, dari pemeriksaan saya tadi pada perut Bu Salma memang sedikit keras seperti ciri hamil muda""Apa kalian semua memang belum mengetahui ini?" Tanya Dokter"Belum dok, istri saya gak cerita apa-apa. Istri saya juga gak mengalami morning sickness seperti ibu hamil biasanya" Balas Rony"Tanda awal kehamilan gak selalu mengalami morning sickness pak. Kadang gejala itu bisa datang terlambat, setelah masuk trimester kedua atau bahkan baru mengalami trimester ketiga. Semua kondisi ibu hamil itu berbeda-beda""Tapi untuk lebih jelasnya lebih baik besok Bu Salma di periksakan ke dokter kandungan saja ya pak" Ucap Dokter"Baik dok, terimakasih atas penjelasannya" Balas Rony"Yaudah kamu temenin istri kamu Ron. Biar kita semua anter dokter, biar Caca dan kamu bisa istirahat. Kasian Caca" Ucap Mama RonySetelah semua orang pergi, Rony duduk di ranjang sebelah Salma yang masih belum sadarkan diri. Rony mengusap perut rata Salma"Semoga kamu beneran ada disini ya nak, Papa berharap kamu udah hadir di perut Mama" Ucap Rony"Eughh mass" lenguh Salma"Hay? Akhirnya sadar juga. Kecapekan ya sayang" Ucap Rony lembut"Aku kenapa mas? Kok tiba-tiba di kamar?" Tanya Salma"Kamu tadi pingsan, yaudah mas gendong aja ke kamar" Balas Rony"Ya Allah mas, maafin aku ya. Kamu pasti kesusahan gendong aku ke kamar. Maaf ya mas" Ucap Salma"Sutss sutss jangan ngomong gitu sayang. Kamu itu tanggung jawab mas. Gak ada yang kesusahan disini, mas ikhlas gendong kamu mau sampe mana pun mas siap sayang""Udah ya, sekarang bebersih terus istirahat. Ayo mas bantu sayang" Ucap Rony"Makasih ya mas" Balas Salma"Sama-sama sayangku" Balas RonyKeesokan harinya, Rony sudah menyiapkan seluruh perlengkapan dirinya dan Salma. Rony sama sekali tak mengizinkan Salma untuk bergerak dari ranjang. Semua nya Rony lakukan sendiri, dari membereskan koper hingga menyiapkan baju Salma.Salma yang bingung hanya bisa pasrah, karena menurut Salma jika Rony sudah melarangnya dengan tegas Salma pun tak berani membantahnya."Loh mas, kok ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" Tanya Salma"Gak ada yang sakit sayang, udah ayo turun" Ajak Rony"Oh, kamu mau jenguk temen kamu yaa" Ucap SalmaRony hanya tersenyum lalu menggandeng Salma menuju ruangan dokter kandungan. Rony sudah membuat janji oleh dokter di rumah sakit ini semalam."Loh mas kok masuk ke dokter kandungan? Temen ka - ""Selamat siang Ibu Salma dan Bapak Rony" Sapa Dokter kandungan"Siang dok" Balas keduanya"Silahkan Bu Salma, berbaring di ranjang ya" Ucap Dokter"Hah? Maksudnya? Apa sih mas?" Tanya Salma bingung"Sayang periksa dulu ya, kita lihat kamu hamil atau gak? Soalnya semalem pas kamu pingsan, dokter keluarga menyarankan aku untuk periksa in kamu ke dokter kandungan. Karena dia yakin kalo kamu lagi hamil" Ucap Rony"Mas gak mungkin dong, kan selama ini kita berhubungan juga aku selalu rutin minum obatnya" Balas Salma"Udah periksa dulu ya, sapa tau emang rezeki kita" Ucap Rony"Baik saya periksa dulu ya Bu" Ucap Dokter"Ini bisa di lihat di monitor ya pak, Bu. Yang titik kecil hitam itu janin kalian. Masih sangat kecil, sepertinya ini baru berusia tiga mingguan pak Bu" Jelas dokter"Masyaallah sayang, Alhamdulillah kamu beneran hamil" Ucap Rony lalu mengecup kening Salma"Mas? Ini beneran?" Tanya Salma bingung"Iya sayang, kan dokter sendiri yang bilang" Balas Rony"Tapi anak saya sehat kan dok?" Tanya Rony"Sehat pak, janin nya juga kuat. Tapi nanti saya tetap akan resepkan vitamin untuk Bu Salma yaa" Balas DokterSelesai memeriksakan kandungan dan menebus obat. Kini Salma dan Rony sudah kembali di mobil mereka. Rony duduk di belakang mendampingi Salma karena mereka memang di antar supir mereka."Sayang makasih ya sayang, mas bahagia banget. Mas akhirnya punya anak sama kamu" Ucap Rony mengusap perut rata Salma"Mas kok aku masih bingung sih, kenapa aku bisa hamil? Kan aku selalu minum obat KB" Balas Salma"Hehe maaf ya sayang, mas tuker obat kamu dari Pil KB jadi Pil penyubur kandungan. Itu semua juga atas saran Papi dan Mami kamu waktu itu. Maaf yaaa" Ucap Rony"Astaghfirullah! Pantesan aja! Ternyata kalian sekongkol lagi ya di belakang aku!" Omel Salma"Hehe maaf sayang, mereka ngebet banget pengen punya cucu. Pas mas bilang kamu konsumsi pil KB mereka marah dan maksa mas buat ganti obat itu tanpa sepengetahuan kamu. Maaf ya sayang" Ucap Rony"Bodo ah, kesel aku sama kamu dan mami papi" Balas Salma"Kamu gak seneng ya ada adik bayi di perut kamu? Kamu gamau ya hamil anak mas?" Ucap Rony memelas"Ish, apa sih kok ngomongnya gitu! Ya aku seneng lah, ada adik bayi di perut aku! Aku juga seneng aku bisa hamil anak kamu. Tapi aku kaget aja, kehadiran dia bahkan gak aku ketahui sama sekali. Kalo dari kemarin aku makan atau melakukan hal yang bisa bahayain adik bayi gimana? Kan aku juga yang nyesel nantinya!" Omel Salma"Maaf sayang, maaf yaa. Mas gak kepikiran sampe situ. Maafin mas sayang" Ucap Rony panik"Untung anak kamu kuat! Kalo sampe adik bayi kenapa-napa, aku gak akan maafin mas!!" Ancam Salma"Sayang jangan gitu, mas juga gak akan biarin kamu dan adik bayi kenapa-napa. Mas sayang sama kalian, mas janji bakalan jagain kalian sayang. Maafin mas ya sekali lagi" Ucap Rony"Kamu juga pernah bohong, bilang Mama kamu udah meninggal ya mas waktu itu sama aku" Balas Salma"Ya emang sayang, Mama kandung Mas udah

My Special Doctor
Romance
07 Feb 2026

My Special Doctor

Sudah dua hari Rony mencari informasi mengenai keluarga Salma. Namun yang ia ketahui, gadis itu adalah seorang diri. Kedua orang tuanya telah lama meninggal di kampung halaman mereka. Kini Salma tinggal di sebuah kontrakan kecil dan bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah hotel.Dua hari lalu, Rony yang sedang sibuk menerima panggilan telepon menjadi tidak fokus saat berkendara. Kelalaiannya menyebabkan ia menabrak seorang gadis yang sedang menyeberang jalan. Tubuh gadis itu terpental cukup jauh akibat kecepatan mobil Rony yang cukup tinggi.Sebagai seorang dokter, Rony segera bertanggung jawab. Ia membawa gadis itu ke rumah sakit tempatnya bekerja dan langsung menangani kondisinya dengan bantuan beberapa perawat. Penyesalan mendalam menyelimuti hatinya sejak kejadian itu.Salma didiagnosis mengalami gegar otak akibat benturan keras di kepala serta gangguan pada saraf motorik yang menyebabkan kelumpuhan sementara. Selama dua hari, Salma dinyatakan dalam kondisi koma, membuat rasa bersalah Rony semakin besar. Ia seorang dokter, namun justru kelalaiannya membuat seseorang terbaring tak berdaya.Setelah mengetahui latar belakang Salma, Rony memutuskan untuk bertanggung jawab penuh. Ia tidak sanggup membiarkan gadis itu kembali menjalani hidup seorang diri dalam kondisi seperti ini.“Bang, Kak Salma masih belum sadar?” tanya Nabila.“Belum, Nab.”“Aku ngerasa Abang jahat banget ya… Abang sampai bikin orang koma karena kelalaian Abang sendiri,” ucap Rony lirih.Nabila adalah adik satu-satunya Rony. Mereka hidup berdua sejak orang tua mereka berpisah. Kehidupan Nabila tidak mudah. Ia pernah tinggal bersama ayah dan ibu sambungnya, lalu bersama ibunya dan ayah sambung lainnya, hingga akhirnya memilih tinggal bersama Rony setelah mengalami perlakuan yang membuatnya tidak lagi merasa aman.Sejak saat itu, Rony berjanji akan selalu melindungi adiknya, bahkan ketika hidup mereka masih serba kekurangan.“Abang nggak jahat,” ujar Nabila lembut. “Ini kecelakaan. Abang sudah mau bertanggung jawab. Nab juga akan bantu Abang ngerawat Kak Salma sampai sembuh.”Rony mengangguk, menahan emosinya.Tiga minggu kemudian, kondisi Salma menunjukkan perkembangan. Jarinya bergerak, dan tak lama kemudian ia membuka mata. Namun kebingungan jelas terlihat—ia kehilangan ingatannya.Dengan sabar, Rony dan Nabila menjelaskan siapa dirinya. Demi ketenangan Salma, Rony menyebut dirinya sebagai keluarga yang akan merawatnya.Beberapa hari kemudian, Salma diperbolehkan pulang dan tinggal bersama Rony dan Nabila. Nabila memberi Salma panggilan “Caca”, yang perlahan membuat suasana rumah menjadi hangat.Hari demi hari, kebersamaan menumbuhkan rasa nyaman. Salma yang lembut dan sederhana membuat Nabila merasa memiliki kakak perempuan, sementara Rony mulai merasakan perasaan yang sulit ia pahami.Di sisi lain, Rony harus menghadapi kenyataan pahit tentang kekasihnya, Jasmine. Pengkhianatan yang ia saksikan sendiri menghancurkan kepercayaannya. Hubungan itu berakhir dengan luka dan kemarahan.Tak lama kemudian, Jasmine datang ke rumah Rony dan membuat keributan. Ucapannya kasar, sikapnya tak terkendali, bahkan sampai menyakiti Salma. Saat itulah Rony benar-benar melihat wajah asli wanita yang selama ini ia bela.Ia mengusir Jasmine dari hidupnya untuk selamanya.Malam itu, Rony menemukan Salma menangis sendirian. Dengan penuh kesabaran, ia mendengarkan keluh kesah Salma—tentang rasa lelah, putus asa, dan perasaan tidak berguna.Rony menenangkan Salma dengan kata-kata penuh keyakinan dan iman. Ia meyakinkan bahwa Salma tidak sendirian dan bahwa hidupnya berharga.Sejak malam itu, jarak di antara mereka perlahan menghilang.Waktu berlalu. Ingatan Salma kembali, dan Rony akhirnya mengakui bahwa dialah penyebab kecelakaannya. Namun Salma memilih memaafkan.Kejujuran itu justru memperkuat hubungan mereka.Rony menyatakan perasaannya dengan tulus. Ia tidak meminta Salma menjadi kekasihnya, melainkan pasangan hidupnya. Meski Salma merasa tidak pantas, keteguhan Rony akhirnya membuatnya menerima.Pernikahan mereka berlangsung hangat dan penuh kebahagiaan. Tiga bulan kemudian, kondisi Salma semakin membaik. Ia mulai berjalan dengan bantuan tongkat.Kehidupan rumah tangga mereka dibangun dengan cinta, pengertian, dan kesabaran. Malam pertama mereka dijalani dengan penuh rasa hormat, kelembutan, dan kasih sayang—tanpa paksaan, tanpa kata berlebihan, hanya ikatan suci antara dua insan yang saling mencintai.Beberapa bulan kemudian, Salma mengandung anak kembar. Kehadiran mereka menjadi anugerah yang melengkapi keluarga kecil itu.Tahun demi tahun berlalu. Anak-anak mereka tumbuh ceria. Rumah mereka dipenuhi tawa, candaan, dan cinta.Meski kehidupan tidak selalu mudah, Salma dan Rony belajar menghadapi semuanya bersama. Dengan saling percaya, saling menguatkan, dan selalu menjadikan keluarga sebagai prioritas utama.Cinta mereka bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang kesetiaan untuk tetap bertahan.TAMAT

Penawar Hati
Romance
07 Feb 2026

Penawar Hati

Salma Alliyah adalah seorang mahasiswi semester empat jurusan seni yang dikenal lembut dan penyabar. Ia memiliki seorang sahabat bernama Nabila Taqiyah. Persahabatan mereka sudah terjalin sejak SMA, bermula dari sebuah kejadian yang tak pernah dilupakan Salma.Saat itu, Nabila menjadi korban perundungan kakak kelas. Tidak ada satu pun yang berani membela, kecuali Salma. Dengan suara tegas dan keberanian yang bahkan tak ia sadari dari mana datangnya, Salma berdiri di depan Nabila dan membela sahabatnya itu. Sejak hari itu, Nabila berjanji pada dirinya sendiri bahwa Salma adalah orang yang akan selalu ia jaga.Mereka tumbuh bersama, saling menguatkan, hingga akhirnya memilih jurusan kuliah yang sama.Namun, hidup Nabila tidak sesederhana yang terlihat. Ia memiliki seorang kakak bernama Rony—sosok yang dulu ceria, hangat, dan penuh ambisi, namun berubah drastis sejak dua tahun lalu.Rony mengalami kecelakaan hebat yang merenggut nyawa sahabat kecilnya, Faldo. Rony selamat, tetapi rasa bersalah menghancurkan jiwanya. Ia meyakini kematian Faldo adalah kesalahannya. Sejak itu, Rony mengurung diri, menghentikan kuliahnya, dan mengalami gangguan psikologis berat. Ia mudah panik, sering menangis, berteriak, dan takut berada dekat dengan orang lain karena merasa dirinya berbahaya.Nabila dan orang tuanya telah melakukan segalanya demi kesembuhan Rony. Namun tidak ada yang benar-benar berhasil—hingga Salma hadir lebih dekat dalam kehidupan mereka.Tanpa Salma sadari, kehadirannya membawa ketenangan yang berbeda bagi Rony. Suaranya yang lembut, caranya berbicara, dan kesabarannya membuat Rony lebih mudah tenang. Atas saran dokter, Salma kerap diminta menemani Rony saat emosinya tidak stabil.Salma melakukannya tanpa paksaan.Ia tidak pernah menghitung lelah.Ia hanya ingin Rony sembuh.Karena kondisi Rony yang sering memburuk ketika Salma tidak ada, orang tua Nabila akhirnya meminta Salma tinggal di rumah mereka. Setelah berkonsultasi dengan dokter, keputusan itu dianggap sebagai langkah terbaik.Salma meninggalkan kosnya dan menetap di rumah itu.Hari-hari mereka dipenuhi dinamika. Rony sering bersikap seperti anak kecil—takut ditinggal, takut kehilangan, takut orang-orang yang dekat dengannya akan celaka. Salma selalu berada di sisinya, memberikan afirmasi positif, memeluknya ketika ia menangis, dan mengingatkannya bahwa tidak semua hal buruk adalah kesalahannya.Perlahan, Rony mulai menunjukkan kemajuan.Ia mulai tertawa kembali.Mulai berani keluar kamar.Mulai berinteraksi dengan orang tuanya.Mulai menjalani hari tanpa kemarahan.Bulan demi bulan berlalu. Tanpa disadari Salma, rasa pedulinya telah berubah menjadi cinta. Ia mencintai Rony dalam diam—tanpa tuntutan, tanpa harapan berlebihan. Baginya, melihat Rony membaik saja sudah cukup.Namun bagi Rony, Salma telah menjadi pusat dunianya.Ia merasa aman hanya ketika Salma berada di dekatnya. Ketika Salma pergi kuliah atau berhalangan datang, kecemasan Rony kembali muncul. Ia takut Salma meninggalkannya seperti Faldo pergi untuk selamanya.Yang tidak Salma ketahui, Rony sebenarnya telah sembuh sepenuhnya.Ia mampu berpikir jernih, mampu mengendalikan emosinya, dan telah berdamai dengan masa lalunya. Namun Rony menunda kejujuran itu karena satu alasan: ia takut kehilangan Salma.Ia takut jika Salma tahu dirinya sudah sembuh, Salma akan pergi dan kembali menjalani hidupnya sendiri.Rony jatuh cinta.Dan untuk pertama kalinya, ia takut mencintai.Akhirnya, Rony memilih jujur.Ia mengumpulkan orang tuanya, Nabila, dan Salma di ruang keluarga. Dengan suara bergetar namun mantap, Rony mengakui bahwa ia telah pulih dan tidak lagi bergantung pada obat-obatan. Ia juga mengungkapkan satu hal yang menjadi alasan terbesarnya untuk sembuh—keinginannya menikahi Salma.Salma terdiam lama.Bukan karena ragu, melainkan karena terharu.Ia menerima lamaran Rony dengan keyakinan penuh.Mereka menikah dalam suasana sederhana namun hangat. Tidak ada kemewahan berlebihan, hanya doa, restu keluarga, dan janji untuk saling menjaga.Beberapa bulan setelah pernikahan, Salma mengandung anak pertama mereka. Rony memulai hidup barunya dengan bekerja di perusahaan ayahnya dari posisi paling dasar. Ia ingin belajar bertanggung jawab, belajar rendah hati, dan belajar menjadi suami serta ayah yang layak.Kebahagiaan mereka sempat terusik ketika Salma mengalami serangkaian teror misterius. Ancaman tertulis, kejadian mencurigakan di kampus, hingga makanan beracun yang hampir membahayakan kandungannya.Pelaku akhirnya terungkap—Flora, mantan kekasih Rony, yang belum mampu menerima kematian Faldo. Flora ingin Rony merasakan kehilangan yang sama seperti yang ia rasakan.Rencana itu gagal. Flora ditangkap dan diproses hukum.Kejadian tersebut hampir menyeret Rony kembali pada rasa bersalah lamanya. Namun kali ini, Salma menggenggam tangannya lebih erat. Ia mengingatkan Rony bahwa masa lalu tidak boleh menghancurkan masa depan.Rony belajar berdamai.Belajar memaafkan dirinya sendiri.Belajar menerima bahwa hidup harus terus berjalan.Salma tidak pernah menyembuhkan Rony dengan obat. Ia menyembuhkannya dengan kesabaran, penerimaan, dan cinta yang tidak memaksa.Kini, Rony menatap istrinya yang tertidur dengan tangan melingkar di perutnya yang membesar. Senyum tipis terukir di wajahnya.Dulu ia hidup dalam rasa bersalah. Kini ia hidup dalam syukur.Salma adalah penawarnya. Dan akan selalu menjadi alasan Rony untuk bertahan, mencinta, dan hidup sepenuh hati.

Memilihmu
Romance
07 Feb 2026

Memilihmu

Salma Alliyah datang ke kafe milik Rony Parulian sebagai kandidat terakhir wawancara hari itu. Sejak pertama kali bertemu, Rony merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan karena kecantikan berlebihan, melainkan ketulusan dan kesederhanaan yang terpancar dari cara Salma berbicara.Tanpa banyak pertimbangan, Rony menerimanya bekerja. Keputusan yang kelak mengubah hidupnya.Hari-hari berlalu, Salma bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia ramah, cekatan, dan jarang mengeluh. Rony semakin sering memperhatikannya dari kejauhan, bahkan sengaja meminta Salma mengantarkan kopi setiap pagi, hanya untuk sekadar berbincang singkat dan melihat senyumnya.Tanpa Rony sadari, Salma mulai mengisi ruang kosong dalam hatinya.Pada hari libur, Rony bertemu seorang anak kecil yang terjatuh di taman. Anak itu bernama Anaya. Saat ibunya datang dengan wajah panik, Rony terkejut—ibu Anaya adalah Salma.Hari itu membuka mata Rony tentang kehidupan Salma. Ia seorang ibu tunggal yang membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang, meski hidup dalam keterbatasan. Salma bahkan sering membawa pulang makanan sisa dari kafe demi Anaya, bukan karena serakah, melainkan karena tak ingin menyia-nyiakan rezeki.Rony semakin kagum.Ia mulai sering berkunjung ke rumah Salma. Dari ibunya, Rony mengetahui masa lalu Salma—pernikahan yang terpaksa, kekerasan yang dialami, penolakan terhadap anak yang ia kandung, hingga perceraian yang menyakitkan. Semua itu dijalani Salma dengan diam dan keteguhan hati.Rony tersentuh. Ia jatuh cinta—bukan hanya pada Salma, tapi juga pada Anaya.Hubungan mereka semakin dekat. Rony menjadi sosok ayah bagi Anaya, dan kehadirannya membawa rasa aman bagi Salma. Hingga akhirnya, Rony mengajak mereka berlibur ke Puncak.Di sana, kebahagiaan kecil tercipta. Tawa Anaya, kebersamaan sederhana, dan kehangatan yang terasa seperti keluarga utuh. Di balkon vila, Rony akhirnya menyampaikan perasaannya dengan jujur.Ia ingin menjaga Salma dan Anaya. Ia ingin menikah.Salma ragu—bukan karena tak cinta, melainkan karena masa lalu yang meninggalkan luka dan rasa tidak pantas. Namun ketulusan Rony perlahan meluruhkan semua ketakutannya.Salma menerima.Pernikahan mereka berlangsung sederhana, penuh doa dan kehangatan. Tidak ada kemewahan, hanya janji setia dan harapan baru.Tak lama setelah menikah, masa lalu Salma kembali menghampiri. Mantan suami dan mantan mertuanya datang menuntut, mengancam, dan merendahkan. Namun kali ini, Salma tidak sendirian.Rony berdiri di depannya. Tegas. Melindungi.Dengan bukti-bukti yang telah lama ia kumpulkan, Rony menyerahkan semuanya pada hukum. Kejahatan masa lalu akhirnya terbongkar, dan Salma terbebas dari bayang-bayang ketakutan yang selama ini menghantuinya.Waktu berlalu.Salma dan Rony dikaruniai seorang bayi laki-laki. Kehidupan mereka semakin lengkap. Rony mencintai Anaya seperti darah dagingnya sendiri, tanpa perbedaan. Rumah mereka dipenuhi tawa, kehangatan, dan cinta yang saling menguatkan.Salma sering merenung—tentang hidupnya yang dulu penuh luka, dan kini dipenuhi syukur. Rony bukan datang untuk menyelamatkannya, melainkan untuk berjalan bersamanya.Dan di sanalah Salma akhirnya mengerti: tidak semua luka menghancurkan, sebagian justru menuntun pada kebahagiaan yang lebih besar.

Rasa Terdalam
Romance
07 Feb 2026

Rasa Terdalam

"Kamu beneran terima cinta aku, Sal?" Tanya Rony dengan binar mata yang penuh harap, seolah dunia berhenti berputar menunggu jawaban dari bibir gadis di depannya. Salma tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan debar jantungnya yang tak kalah hebat. "Kamu maunya gimana?" tanya Salma balik, sedikit menggoda. "Maunya diterima dong," balas Rony cepat. "Yaudah, aku terima," ucap Salma lembut. Seketika, senyum lebar terukir di wajah Rony. Ia merasa menjadi pria paling beruntung karena akhirnya Salma Mahyra, gadis yang ia kagumi sejak masa awal kuliah, resmi menjadi kekasihnya. Rony menggenggam tangan Salma dengan hangat, sebuah gestur sederhana yang menandai awal dari perjalanan panjang mereka.Kebahagiaan mereka disaksikan oleh Raisha, sahabat masa kecil Rony yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Rony sudah menganggap Raisha seperti adiknya sendiri, terlebih karena keluarga Rony sangat peduli pada nasib Raisha yang tumbuh di tengah keluarga yang kurang harmonis. Namun, di balik ucapan selamat yang terlontar dari bibir Raisha, tersimpan rasa tidak rela yang perlahan tumbuh menjadi duri. Raisha yang terbiasa menjadi pusat perhatian Rony, merasa posisinya mulai tergeser oleh kehadiran Salma.Seiring berjalannya waktu, kasih sayang Rony kepada Salma begitu nyata. Ia adalah sosok kekasih yang sangat perhatian; sering berkunjung ke apartemen Salma untuk sekadar membawakan sarapan atau membantu merapikan ruang tamu sambil berbagi cerita tentang perkuliahan. Namun, ujian mulai datang ketika Rony sering kali kesulitan membagi waktu antara kekasih dan sahabatnya. Suatu hari, saat Rony sedang menikmati waktu berkualitas bersama Salma, Raisha menelepon dengan suara panik mengabarkan bahwa ibunya jatuh sakit. Tanpa berpikir panjang dan tanpa memberikan penjelasan yang tenang kepada Salma, Rony langsung bergegas pergi. Kejadian serupa terulang berkali-kali, membuat Salma sering kali merasa ditinggalkan di tengah momen-momen penting mereka.Puncaknya terjadi ketika mereka merayakan hari jadi yang kelima bulan. Di tengah kebersamaan mereka di sebuah mal, Rony kembali menghilang tiba-tiba setelah menerima panggilan dari Raisha. Salma menunggu berjam-jam hingga suasana mal mulai sepi dan lampu-lampu mulai meredup, namun Rony tak kunjung kembali. Kepercayaan yang susah payah dibangun Salma kembali runtuh. Baginya, cinta bukan hanya soal kata-kata manis, tapi tentang menghargai kehadiran satu sama lain. Dengan hati yang hancur, Salma memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Ia merasa bahwa Rony belum sepenuhnya mampu menentukan prioritas dalam hidupnya.Perpisahan itu membuat Rony jatuh terpuruk. Ia jatuh sakit karena rasa penyesalan yang mendalam. Kabar sakitnya Rony sampai ke telinga Salma melalui ibunda Rony yang sangat menyayangi Salma. Dengan kebesaran hati dan rasa khawatir yang masih tersisa, Salma datang menjenguk. Di rumah itulah, semua tabir mulai terbuka. Raisha yang awalnya mencoba menghalangi kedatangan Salma, akhirnya mendapatkan ketegasan dari Rony. Untuk pertama kalinya, Rony bicara jujur bahwa meskipun ia menyayangi Raisha sebagai adik, ia tidak bisa membiarkan sikap posesif Raisha menghancurkan hubungannya dengan Salma. Rony memohon maaf kepada Salma dengan penuh ketulusan, mengakui kesalahannya yang terlalu abai terhadap perasaan Salma demi rasa kasihan yang salah tempat.Suasana haru itu membawa perubahan besar. Raisha akhirnya menyadari bahwa tindakannya selama ini hanya menyakiti orang-orang yang ia sayangi. Ia datang menemui Salma dan Rony untuk meminta maaf secara tulus. Raisha mengabarkan bahwa ia dan ibunya akan pindah ke luar kota untuk memulai hidup baru. Ia ingin melepaskan ketergantungannya pada Rony dan belajar untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Salma yang pemaaf merangkul Raisha, menghapus segala kesalahpahaman yang sempat menciptakan jarak di antara mereka.Setelah badai mereda, hubungan Rony dan Salma pun pulih dengan fondasi yang jauh lebih kuat. Rony menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Ia membuktikan bahwa Salma adalah muara dari segala kasih sayangnya. Tak butuh waktu lama bagi Rony untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Di hadapan kedua keluarga besar, Rony mempersembahkan sebuah cincin sebagai simbol janji suci. Ia menyatakan keinginannya untuk menjadikan Salma sebagai teman hidup selamanya. Salma menerima pinangan itu dengan air mata bahagia, menyadari bahwa setiap ujian yang mereka lalui adalah cara semesta untuk mendewasakan cinta mereka, hingga akhirnya mereka bersiap melangkah menuju kehidupan baru yang penuh dengan rasa saling percaya dan kasih sayang yang tulus.

Affair
Romance
07 Feb 2026

Affair

Rony dan Salma berdiri terlalu dekat di ruang kerja yang seharusnya menjadi tempat profesional. Rony memeluk Salma dari belakang, menahan rindu yang sudah lama tertahan.“Mas, ini di kantor,” bisik Salma gelisah, berusaha menjaga jarak.“Aku cuma kangen,” jawab Rony pelan. “Aku udah kunci pintu.”Salma menoleh, dan tanpa banyak kata, mereka saling bertukar tatap yang sarat emosi. Rony mendekat, mencium Salma dengan penuh perasaan. Bukan nafsu semata, melainkan luapan rindu yang tak terucap sejak lama. Salma sempat membalas, lalu segera menarik diri.“Kita nggak boleh,” ucapnya lirih.Ketukan pintu membuyarkan segalanya. Salma merapikan dirinya, sementara Rony membuka pintu dengan wajah yang kembali dingin dan profesional. Seorang karyawan memberi tahu bahwa klien dari PT Gemilang sudah menunggu.Salma terdiam. Klien itu adalah suaminya sendiri.Hubungan mereka memang sudah lama berada di wilayah yang salah. Salma adalah sekretaris Rony sejak beberapa tahun lalu, jauh sebelum ia menikah dengan Abimana. Rony sendiri telah menikah dengan Rana—pernikahan yang terjadi bukan karena cinta, melainkan demi menyelamatkan perusahaan keluarga.Pernikahan Salma dan Abimana terlihat baik-baik saja di mata orang lain. Namun kenyataannya, mereka berdua sama-sama merasa ada jarak yang tak bisa dijelaskan. Salma ingin memiliki anak, tapi tak kunjung diberi kesempatan. Abimana semakin sibuk, semakin sering pergi, dan semakin jarang pulang dengan hati yang utuh.Perselingkuhan Rony dan Salma bermula setahun lalu, saat perjalanan dinas ke Surabaya. Kesalahan reservasi hotel memaksa mereka berada dalam satu kamar. Awalnya canggung, lalu percakapan berubah menjadi pengakuan perasaan yang selama ini dipendam.Salma tahu itu salah. Ia tahu ia mencintai suaminya. Namun ia juga tak bisa menepis kenyamanan dan perhatian yang Rony berikan—sesuatu yang perlahan menghilang dari pernikahannya.Sejak malam itu, hubungan mereka semakin dalam. Perjalanan dinas berubah menjadi pelarian. Mereka sama-sama sadar bahwa apa yang mereka lakukan keliru, namun tak satu pun mampu berhenti.Rony semakin terikat. Ia ingin Salma sepenuhnya, ingin Salma meninggalkan suaminya dan membangun hidup bersamanya. Salma terombang-ambing—hatinya terbagi antara rasa bersalah dan rasa cinta yang tumbuh diam-diam.Puncaknya terjadi saat mereka kembali dari Bali lebih awal. Di parkiran apartemen, Salma tanpa sengaja melihat Abimana datang bersama dua perempuan lain. Pemandangan itu menghancurkan sisa keyakinan yang ia miliki.Dengan langkah gemetar, Salma memastikan kebenaran pahit itu. Di balik pintu apartemen suaminya, ia menemukan sisi Abimana yang tak pernah ia kenal—sisi yang membuat hatinya runtuh sepenuhnya.Rony mengumpulkan bukti. Bukan untuk balas dendam, melainkan untuk melindungi Salma agar tak lagi dibohongi.Saat Salma mengonfrontasi Abimana, semua alasan runtuh. Perselingkuhan, kebohongan, dan pengkhianatan terbongkar tanpa sisa. Salma memilih pergi, bukan karena kalah, tetapi karena ingin menyelamatkan dirinya sendiri.Perceraian pun terjadi.Setahun setelahnya, Salma akhirnya menerima Rony sebagai pendamping hidupnya, meski hanya secara sederhana. Mereka memilih menunggu waktu yang tepat untuk meresmikan segalanya dengan sah dan tenang.Tak lama kemudian, Rana justru meminta perceraian. Ia memilih mengejar kariernya di luar negeri, melepaskan Rony dengan ikhlas. Rony tak menahan—ia tahu pernikahan itu memang tak pernah berlandaskan cinta.Dengan restu keluarga, Rony dan Salma akhirnya menikah secara sah, tanpa sembunyi-sembunyi, tanpa rahasia.Kebahagiaan mereka sempurna ketika Salma melahirkan anak kembar perempuan. Dua bayi mungil yang menjadi penutup perjalanan panjang penuh luka dan kesalahan.Rony memandang keluarganya dengan rasa syukur yang dalam. Ia tahu hidup mereka tidak dimulai dengan cara yang benar, namun ia berjanji akan mengakhirkannya dengan cara yang bertanggung jawab.Salma pun akhirnya menemukan rumah—bukan tempat tanpa masa lalu, tetapi tempat di mana ia diterima, dihargai, dan dicintai sepenuhnya.Dan di situlah mereka berdiri, bukan sebagai pasangan tanpa cela, melainkan sebagai dua manusia yang belajar dari kesalahan, lalu memilih untuk bertumbuh bersama.

My Beloved Cousin
Romance
07 Feb 2026

My Beloved Cousin

Salma terpaksa menginap di rumah tantenya karena kedua orang tuanya harus ke luar negeri untuk urusan bisnis. Ia memilih tinggal bersama Tante Rima karena merasa lebih aman dibanding harus sendirian di rumah. Kakaknya, Paul, jarang berada di rumah dan sering pulang larut malam, sehingga Salma tidak merasa tenang jika harus sendirian.Di rumah Tante Rima, Salma tinggal bersama Rony dan adik kecilnya, Safeea. Rony adalah sepupu Salma—anak Tante Rima—yang dikenal usil, cerewet, dan sering menggoda Salma dengan candaan yang terkadang berlebihan. Meski sering bertengkar kecil, mereka sebenarnya sangat dekat.Hari-hari Salma di rumah tantenya diisi dengan kebersamaan sederhana. Mereka makan bersama, menonton film, dan saling berbagi cerita. Di balik candaan dan pertengkaran kecil, Rony diam-diam selalu berusaha menjaga Salma, terutama karena ia tahu Salma sering merasa tidak diperhatikan oleh kakaknya sendiri.Suatu hari, Salma pulang ke rumahnya untuk mengambil pakaian. Di sana, ia kembali bertengkar dengan Paul. Perdebatan mereka memanas hingga membuat Salma menangis. Rony yang melihat kejadian itu segera melerai dan membawa Salma menjauh agar emosinya mereda. Ia menenangkan Salma dengan sabar dan meyakinkannya bahwa ia tidak sendirian.Kedekatan mereka semakin terasa sejak saat itu. Rony sering membantu Salma, mendengarkan keluh kesahnya, dan menjadi tempat aman ketika Salma merasa terluka. Perasaan yang awalnya hanya sebatas perhatian perlahan berubah menjadi rasa yang lebih dalam—sesuatu yang tidak mereka rencanakan, namun tumbuh seiring waktu.Hubungan itu sempat membuat Salma diliputi kebingungan dan rasa bersalah. Ia sadar status mereka sebagai sepupu, dan ia mempertanyakan apakah perasaan itu seharusnya ada. Namun Rony selalu menenangkan Salma, meyakinkannya bahwa ia serius dan berniat bertanggung jawab.Kebenaran akhirnya terungkap di hadapan keluarga. Bukannya ditentang, orang tua mereka justru bersikap bijak. Mereka menjelaskan bahwa secara agama dan hukum, pernikahan sepupu diperbolehkan. Yang terpenting adalah niat baik, tanggung jawab, dan kesiapan membangun rumah tangga.Di sisi lain, keluarga Salma diuji oleh masalah besar ketika Paul harus bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Nabila, sahabat Salma. Kejadian itu menjadi titik balik bagi Paul. Ia berubah, belajar bertanggung jawab, dan akhirnya menikahi Nabila dengan penuh kesadaran.Di tengah semua proses itu, Rony membuktikan keseriusannya. Ia menyelesaikan studinya, mempersiapkan masa depan, dan secara resmi melamar Salma di hadapan keluarga besar. Lamaran itu diterima dengan haru dan doa restu.Pernikahan mereka berlangsung sederhana namun penuh kebahagiaan. Salma dan Rony membangun rumah tangga dengan saling menghormati, belajar dari kesalahan masa lalu, dan menumbuhkan cinta dengan cara yang lebih dewasa.Tahun-tahun berlalu. Mereka dikaruniai dua orang anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang hangat. Salma merasa bersyukur—ia dicintai sebagai istri dan dihargai sebagai ibu. Rony pun menemukan kebahagiaan sejati bersama wanita yang sejak dulu ia kagumi.Di malam hari, ketika rumah sudah sunyi dan anak-anak terlelap, Rony sering memandang Salma dengan rasa syukur. Perjalanan mereka tidak dimulai dengan mudah, namun berakhir dengan keutuhan dan tanggung jawab.Cinta mereka bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang keberanian untuk memperbaiki diri, bertanggung jawab, dan memilih untuk tumbuh bersama.

Kesempatan Kedua
Romance
07 Feb 2026

Kesempatan Kedua

Bryan berlari masuk ke rumah dengan wajah ceria. Rony yang sudah menunggu sejak sore menoleh dan tersenyum kecil melihat putranya.Ayah dan anak itu saling menyapa, disusul Salma yang datang sedikit terlambat karena perjalanan yang padat. Rony menegur Salma dengan nada dingin, seperti biasa. Salma tidak membantah. Ia hanya meminta maaf dan langsung menjalankan perannya di rumah.Pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang lahir dari cinta. Salma menikah dengan Rony karena perjodohan keluarga. Ia masih sangat muda saat itu, sementara Rony adalah seorang duda dengan seorang anak kecil bernama Bryan. Istri pertama Rony, Maura, meninggal dunia saat melahirkan Bryan, meninggalkan luka yang belum sepenuhnya sembuh di hati Rony.Salma menerima pernikahan itu karena kasih sayangnya pada Bryan. Sejak pertama bertemu, Bryan begitu dekat dengannya. Anak kecil itu menemukan sosok ibu pada diri Salma, dan Salma pun menyayanginya sepenuh hati.Namun kehidupan pernikahan mereka jauh dari kata hangat. Selama satu tahun pernikahan, Rony bersikap dingin, kasar dalam kata-kata, dan menjaga jarak emosional dari Salma. Ia menegaskan bahwa Salma hanyalah pengasuh Bryan, bukan pengganti Maura. Kata-kata itu berulang kali melukai Salma, tetapi ia memilih bertahan demi Bryan.Setiap hari Salma menjalani perannya dengan sabar. Ia mengurus rumah, menjaga Bryan, dan tetap melanjutkan kuliahnya. Ia menerima sikap Rony tanpa perlawanan, meski hatinya perlahan terkikis.Suatu hari, konflik besar terjadi ketika orang tua Rony datang dan menyaksikan langsung sikap Rony yang kasar pada Salma. Mereka marah besar. Kata-kata keras terlontar, kekecewaan terungkap. Untuk pertama kalinya, Salma berdiri di tengah badai itu tanpa membela diri, bahkan masih mencoba melindungi Rony dari kemarahan orang tuanya.Ketika orang tua Rony mengajak Salma pergi dan menawarkan untuk membantunya keluar dari pernikahan itu, Salma hampir menyerah. Namun Bryan menangis memeluknya, memohon agar Salma tidak pergi. Tangisan anak kecil itu membuat Salma kembali menahan luka dan memilih bertahan.Hari-hari berlalu tanpa perubahan. Hingga suatu sore, Rony salah paham melihat Salma diantar pulang oleh teman kampusnya. Amarah dan kecemburuan membuat Rony bertindak kasar secara emosional, melontarkan tuduhan yang sangat menyakitkan.Di titik itulah Salma akhirnya runtuh.Dengan air mata dan suara bergetar, Salma mengungkapkan semua luka yang selama ini ia pendam. Ia memilih pergi. Tanpa drama, tanpa balas dendam—ia hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri.Kepergian Salma menjadi titik balik bagi Rony.Rumah terasa kosong. Bryan jatuh sakit karena merindukan Salma dan menolak bertemu ayahnya. Untuk pertama kalinya, Rony merasakan kehilangan yang lebih dalam daripada saat kehilangan Maura. Ia menyadari bahwa Salma telah menjadi pusat kehidupannya tanpa ia sadari.Penyesalan datang terlambat.Setelah sebulan mencari, Rony akhirnya menemukan Salma di rumah lama keluarganya di daerah pegunungan. Salma menolak menemuinya. Namun Rony tetap menunggu, bahkan ketika hujan turun dan udara menjadi sangat dingin.Kondisi Rony memburuk hingga ia jatuh sakit. Salma yang melihat itu akhirnya luluh—bukan karena cinta, melainkan karena kemanusiaan. Ia merawat Rony, memastikan kondisinya membaik.Di sanalah, dengan kerendahan hati, Rony meminta maaf. Ia mengakui kesalahan, kecemburuan, dan ketidakmampuannya melepaskan masa lalu. Ia mengakui bahwa ia mencintai Salma—bukan sebagai pengganti siapa pun, tetapi sebagai dirinya sendiri.Salma tidak langsung menerima. Namun ketika Rony menceritakan kondisi Bryan yang sakit dan sangat merindukannya, hati Salma kembali goyah. Demi Bryan, ia pulang.Perlahan, Rony berubah. Ia menjadi lebih lembut, lebih hadir, dan lebih menghargai Salma. Ia berhenti membandingkan masa lalu dengan masa kini. Foto-foto lama disimpan, bukan untuk dilupakan, melainkan untuk dikenang dengan cara yang lebih dewasa.Salma pun tidak langsung membuka hatinya. Ia memberi jarak, memberi waktu, dan memberi batas. Rony menerima itu sebagai konsekuensi dari kesalahannya.Hingga suatu hari, Rony memberikan kejutan kecil—sesuatu yang sangat berarti bagi Salma. Bukan hadiah mahal, melainkan perhatian yang tulus. Di situlah Salma melihat kesungguhan Rony.Salma akhirnya memberi kesempatan kedua.Bukan karena lupa, tetapi karena melihat perubahan. Bukan karena kasihan, tetapi karena yakin.Mereka belajar membangun kembali rumah tangga mereka dengan komunikasi, rasa hormat, dan tanggung jawab. Bryan kembali ceria. Rumah kembali hangat.Salma memilih memaafkan, dan Rony memilih berubah.Dan dari semua luka itu, mereka belajar satu hal: cinta bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang mau memperbaiki diri dan bertahan.

Si Culun
Romance
07 Feb 2026

Si Culun

Salsabila Arranda dikenal sebagai siswi tomboy yang tegas, berani, dan tidak takut menghadapi siapa pun. Sejak hari pertama di SMA Bimantara, namanya sudah dikenal—bukan karena popularitas, melainkan karena keberaniannya melawan perundungan.Suatu pagi, Salsa menghentikan sekelompok siswa yang sedang mengganggu murid baru. Tanpa ragu, ia membela anak laki-laki itu dan mengantarkannya ke ruang guru. Murid baru itu bernama Rony Rayandra, siswa pindahan dari Bandung yang pendiam dan lugu.Sejak hari itu, mereka menjadi teman sebangku.Rony sering menjadi sasaran ejekan karena penampilannya yang sederhana dan sikapnya yang pemalu. Namun satu sekolah tahu, selama Salsa ada di sampingnya, tak ada yang berani menyentuh Rony. Persahabatan mereka tumbuh perlahan—bukan yang ramai, tetapi penuh rasa aman.Salsa, yang tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh, menemukan ketenangan bersama Rony. Rony tak pernah memaksanya berubah, tak pernah menghakimi amarahnya, dan selalu mendengarkan. Rony pun merasa diterima apa adanya oleh Salsa.Tahun demi tahun berlalu. Mereka naik kelas bersama, duduk sebangku, belajar bersama, dan saling menjadi tempat pulang.Namun, ketenangan itu terusik oleh Dion—siswa bermasalah yang terobsesi pada Salsa. Berkali-kali Dion mendekati Salsa, dan berkali-kali pula ditolak. Penolakan itu berubah menjadi niat buruk.Dion merencanakan sesuatu yang berbahaya. Namun rencana itu diketahui oleh Paul, teman Dion yang diam-diam masih memiliki hati nurani. Paul menggagalkan rencana tersebut dan menyelamatkan Salsa, sementara Rony datang menjemput sahabatnya tanpa tahu bahwa dirinya juga akan menjadi sasaran balas dendam.Akibatnya, Rony diserang dan terluka cukup parah.Kejadian itu menjadi titik balik segalanya.Salsa yang selama ini terlihat kuat, akhirnya runtuh. Ia menyadari bahwa Rony bukan sekadar sahabat baginya. Rony adalah orang yang selalu berdiri di sisinya, bahkan ketika ia sendiri tidak menyadari betapa berharganya kehadiran itu.Dion dan rekannya akhirnya dilaporkan dan dikeluarkan dari sekolah. Kebenaran terungkap. Rony pulih perlahan, dirawat dengan penuh perhatian oleh Salsa.Hubungan mereka pun berubah. Dari persahabatan yang penuh candaan, tumbuh perasaan yang lebih dalam—lebih tenang, lebih dewasa, dan penuh tanggung jawab.Setelah lulus SMA, Rony menepati janjinya. Ia datang menemui orang tua Salsa, meminta izin dengan sungguh-sungguh. Awalnya berat, namun akhirnya restu diberikan setelah melihat ketulusan dan kesungguhan Rony.Mereka menikah sederhana, tanpa kemewahan, namun penuh kebahagiaan.Salsa yang dulu dikenal galak dan tertutup, kini menemukan rumahnya. Rony yang dulu dianggap “culun”, tumbuh menjadi pria yang berani, bukan karena fisik—melainkan karena cinta dan tanggung jawab.Hubungan mereka yang berawal dari bangku sekolah, tumbuh dari persahabatan, dan berakhir dalam ikatan suci, menjadi bukti bahwa cinta tidak selalu datang dari sosok yang paling sempurna—melainkan dari orang yang selalu tinggal, menjaga, dan tidak pergi saat keadaan paling sulit.

Jodoh kedua
Romance
06 Feb 2026

Jodoh kedua

Salma dan Rony mulai menjalin hubungan sejak duduk di bangku SMA. Hubungan mereka tumbuh dari rasa cinta remaja yang intens, penuh ketergantungan emosional, dan kurangnya kedewasaan dalam mengambil keputusan. Salma, seorang gadis yatim piatu yang hidup dengan keterbatasan, menggantungkan hidup dan hatinya pada Rony. Sementara Rony, meski terlihat mencintai Salma, menyimpan trauma keluarga yang membuatnya takut pada komitmen.Masalah besar muncul ketika Salma mengetahui dirinya hamil. Alih-alih bertanggung jawab, Rony diliputi ketakutan dan kepanikan. Ia menolak kehamilan itu, meragukan Salma, dan akhirnya memilih pergi. Hubungan mereka berakhir dengan luka yang sangat dalam, terutama bagi Salma yang harus menghadapi kehamilan itu sendirian.Salma dikhianati tidak hanya secara emosional, tetapi juga secara sosial. Rony menjalin hubungan baru dan membiarkan Salma menanggung stigma di sekolah. Salma akhirnya meninggalkan sekolah tersebut dan, atas bantuan Nabila—sahabatnya—ia tinggal bersama keluarga Nabila. Di sanalah Salma mendapatkan perlindungan, dukungan, dan kesempatan untuk melanjutkan hidupnya.Di rumah itu, Salma bertemu Alan, kakak Nabila. Alan adalah sosok pria dewasa, tenang, dan penuh empati. Ia menerima Salma apa adanya, termasuk masa lalunya dan anak yang sedang dikandungnya. Dengan penuh kesabaran, Alan membantu Salma bangkit, hingga akhirnya mereka menikah dan membangun keluarga kecil bersama putri Salma, Keysa.Bertahun-tahun kemudian, Rony telah berubah menjadi pria sukses dan berkarier tinggi. Takdir mempertemukan kembali Rony dengan Salma secara tak terduga. Rony baru menyadari bahwa Keysa adalah anak kandungnya. Penyesalan besar menghantam dirinya—ia kehilangan kesempatan menjadi ayah sejak awal karena ketakutannya sendiri.Meski terluka, Salma telah berdamai dengan masa lalu. Ia membangun hidup baru bersama Alan. Namun Alan, sebagai pria yang bijak dan tulus, tidak menghalangi Rony untuk mendekati Keysa. Alan percaya bahwa seorang anak berhak mengenal ayah kandungnya.Rony perlahan mendekati Keysa, membangun hubungan sebagai ayah kandung yang menyesal dan ingin memperbaiki kesalahan. Hubungan ini tidak mudah bagi Salma, namun demi kebahagiaan anaknya, ia belajar memaafkan—bukan untuk melupakan, melainkan untuk berdamai.Tragedi terjadi ketika Alan mengalami kecelakaan fatal dan meninggal dunia setelah menyumbangkan penglihatannya untuk Salma. Kepergian Alan mengguncang semua orang. Dalam duka mendalam, Rony berdiri menemani Salma dan Keysa, bukan sebagai pengganti, melainkan sebagai penopang.Sesuai pesan terakhir Alan, Salma akhirnya membuka hatinya kembali. Rony dengan kesabaran luar biasa menemani Salma menyembuhkan lukanya selama bertahun-tahun. Tidak ada paksaan—hanya waktu, tanggung jawab, dan ketulusan.Akhirnya, Salma dan Rony menikah. Mereka membesarkan Keysa bersama dan dikaruniai seorang putra bernama Keyvano. Rony menjalani perannya sebagai suami dan ayah dengan penuh tanggung jawab, belajar dari kesalahan masa lalu yang hampir menghancurkan segalanya.Cerita ini bukan tentang cinta yang sempurna, melainkan tentang kesalahan, penyesalan, pengampunan, dan kesempatan kedua. Tentang bagaimana seseorang bisa kehilangan segalanya karena ketakutan, dan bagaimana cinta sejati terkadang hadir melalui jalan yang paling menyakitkan.

My Enemy My Husband
Romance
06 Feb 2026

My Enemy My Husband

Pagi itu Salma hampir menabrak seseorang di lobi kampus.“Kalau jalan lihat depan, bisa?” omelnya kesal.“Harusnya kamu bersyukur ketemu orang setampan aku,” balas Rony dengan senyum percaya diri.Salma mendengus. “Tampan atau tidak, tetap saja mengganggu.”Begitulah keseharian mereka—dua mahasiswa pintar yang selalu bersaing. Rony dikenal populer dan penuh percaya diri, sementara Salma disiplin, mandiri, dan tak mudah terkesan. Mereka sering berdebat soal apa pun, dari nilai sampai cara bicara.Takdir mempermainkan keduanya ketika keluarga mempertemukan mereka dalam rencana perjodohan. Ayah Salma yang sakit harus berobat ke luar negeri dalam waktu lama. Demi ketenangan keluarga, disepakati Salma akan menikah dengan Rony—anak sahabat ayahnya—agar tetap ada yang menjaga.Salma menolak keras. Rony pun awalnya enggan. Namun keadaan memaksa, dan keduanya akhirnya setuju dengan syarat masing-masing. Pernikahan disiapkan sederhana, dengan harapan waktu akan melunakkan segalanya.Hari pernikahan tiba. Salma terlihat tenang meski hatinya penuh cemas. Rony, yang biasanya santai, justru gugup. Ketika ijab kabul selesai, mereka resmi menjadi pasangan suami istri—dua orang yang belum sepenuhnya saling memahami.Hari-hari awal dipenuhi aturan dan jarak. Mereka sepakat memberi ruang, belajar saling menghormati. Rony berusaha menahan kebiasaan menggoda berlebihan; Salma mencoba membuka diri meski masih kaku.Suatu malam, Salma jatuh sakit karena kelelahan dan rindu keluarga. Rony yang biasanya jahil, berubah sigap. Ia menyiapkan minum, mengecek suhu tubuh, dan menemani Salma sampai tertidur. Tanpa kata berlebihan, perhatian itu perlahan meruntuhkan tembok Salma.“Terima kasih,” ucap Salma lirih keesokan paginya. “Aku tidak menyangka kamu bisa setelaten ini.”Rony tersenyum kecil. “Aku sedang belajar.”Sejak saat itu, mereka mulai berkomunikasi. Pertengkaran berkurang, candaan lebih ringan. Rony berhenti mencari perhatian di luar; Salma mulai mempercayai niat baik suaminya.Cobaan datang ketika Salma mengalami keguguran di usia pernikahan yang masih sangat muda. Keduanya terpukul. Rony menyalahkan diri sendiri, Salma larut dalam duka. Namun keluarga menguatkan, dan mereka memilih berdiri bersama—menggenggam, bukan menyalahkan.“Aku takut kehilangan kamu,” kata Rony suatu malam. “Aku tidak ingin lagi hidup saling melukai.”Salma mengangguk. “Aku ingin kita mulai ulang. Pelan-pelan.”Mereka fokus menyelesaikan pendidikan, membangun karier, dan memperbaiki diri. Waktu mengajarkan kesabaran. Luka menjadi pelajaran.Beberapa tahun kemudian, Salma lulus dan merintis usaha busana. Rony melanjutkan bisnis keluarga dengan cara yang lebih bertanggung jawab. Rumah mereka tak lagi riuh oleh pertengkaran, melainkan tawa sederhana.Kehadiran seorang putri kecil melengkapi segalanya. Mereka menamainya Aira—pengingat bahwa cinta bisa tumbuh dari niat baik dan usaha.Suatu sore, Rony bercerita pada Aira tentang masa lalu. “Dulu Papi dan Mami sering berbeda pendapat.”Aira tertawa. “Sekarang sudah akur?”“Karena Papi belajar mencintai dengan benar,” jawab Salma sambil tersenyum.Rony menggenggam tangan Salma. “Dan Mami mau memberi kesempatan.”Keluarga kecil itu berjalan ke depan—bukan karena tanpa salah, melainkan karena memilih memperbaiki.

Young Wife
Romance
06 Feb 2026

Young Wife

Salma baru saja menyelesaikan pendidikannya dan bermimpi melanjutkan kuliah. Namun hidupnya runtuh dalam waktu singkat. Kedua orang tuanya meninggal dunia, meninggalkan utang besar yang tak pernah ia ketahui sebelumnya. Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindungnya disita, dan Salma harus pergi tanpa sempat menoleh ke belakang.Di balik pagar rumah itu, berdiri Rony—pemilik perusahaan yang mengambil alih aset keluarga Salma. Ia menikah dengan Raline, perempuan lembut yang telah mendampinginya selama bertahun-tahun. Pernikahan mereka harmonis, hanya satu hal yang belum terwujud: kehadiran seorang anak.Raline sangat ingin menjadi ibu. Setelah melalui banyak pemeriksaan medis, harapan itu kian tipis. Dalam keputusasaan, Raline mengusulkan jalan yang berat namun ia yakini sebagai satu-satunya harapan: sebuah pernikahan kontrak yang sah dan bermartabat, dengan kesepakatan jelas, tanpa paksaan fisik, dan penuh batasan—agar mereka bisa memiliki anak dan tetap menjaga kehormatan semua pihak.Rony menolak keras pada awalnya. Ia mencintai Raline dan tidak ingin melukai siapa pun. Namun Raline memintanya dengan air mata dan ketulusan, meyakinkannya bahwa niat mereka bukanlah kejahatan, melainkan ikhtiar keluarga dengan syarat Salma harus setuju tanpa tekanan dan hak-haknya dilindungi sepenuhnya.Salma dihadapkan pada pilihan yang mustahil. Masa depan pendidikannya, rumah peninggalan orang tua, dan kesempatan bangkit kembali dipertaruhkan. Setelah melalui pertimbangan panjang, Salma menyetujui pernikahan kontrak yang sah, berjangka, dan transparan, dengan pendampingan hukum dan keluarga.Pernikahan itu berlangsung sederhana. Raline menyambut Salma bukan sebagai saingan, melainkan adik. Ia mendampingi Salma menjalani hari-hari baru dengan penuh empati, mengajarinya beradaptasi, dan memastikan Salma tetap mengejar mimpinya.Waktu berjalan. Hubungan yang awalnya formal perlahan berubah. Rony belajar menahan ego dan bersikap bertanggung jawab. Salma menemukan rasa aman yang tak ia duga. Raline menjadi penopang bagi keduanya, meski hatinya kerap diuji.Takdir kembali menguji. Raline mengalami kecelakaan dan jatuh koma. Rumah yang dulu hangat berubah sunyi. Rony diliputi rasa bersalah, Salma hidup dalam kecemasan. Di rumah sakit, Raline terbangun sesaat dan meminta mereka berdua mendekat.Dengan suara lirih, Raline berpesan agar Salma tidak meninggalkan mimpinya, agar Rony menjaga keluarga dengan hati yang adil, dan agar anak yang dinanti dibesarkan dengan cinta—tanpa kebencian masa lalu. Tak lama setelah itu, Raline berpulang dengan tenang.Kehilangan itu mengubah segalanya.Rony dan Salma belajar berdiri kembali. Mereka menata ulang hidup, bukan karena kontrak, melainkan karena pilihan. Saat anak mereka lahir, air mata dan doa menyatu. Anak itu diberi nama yang mengandung kenangan dan harapan—sebuah cara sederhana untuk menghormati cinta yang pernah ada.Salma melanjutkan pendidikannya. Rony menepati janji-janjinya. Rumah yang dulu hilang kini kembali menjadi rumah—bukan karena temboknya, melainkan karena orang-orang di dalamnya.Cinta tidak selalu lahir dari rencana yang sempurna. Kadang ia tumbuh dari luka, bertahan lewat pengorbanan, dan menguat melalui kejujuran. Mereka memilih melangkah ke depan—lebih dewasa, lebih tenang, dan lebih manusiawi.

Sahabat Istri ku
Romance
06 Feb 2026

Sahabat Istri ku

Salma tiba di Jakarta dengan satu koper dan satu alamat di ponselnya. Alamat itu milik Mita—sahabat yang ia kenal sejak bangku sekolah dasar. Bertahun-tahun berpisah membuat mereka sama-sama berubah, tetapi pelukan di depan rumah Mita terasa sama hangatnya seperti dulu.“Aku masih gak enak, Mit. Aku takut merepotkan,” ucap Salma pelan.“Berhenti mikir begitu. Kamu aman di sini,” jawab Mita mantap.Rony, suami Mita, menyambut Salma dengan sopan. Ia tak banyak bicara, hanya senyum ramah dan sikap tenang yang membuat Salma sedikit lega. Rumah itu besar, rapi, dan terasa sunyi—sunyi yang baru ia pahami beberapa minggu kemudian.Mita sibuk. Sangat sibuk. Ia berangkat pagi dan pulang larut. Rony pun tenggelam dalam pekerjaannya. Tanpa disadari, Salma menjadi pengisi ruang-ruang kosong: menyiapkan minuman hangat, mendengarkan keluh kesah singkat, menjadi teman makan malam ketika Mita belum pulang.Ketika Rony menawarkan pekerjaan sementara sebagai asisten pribadi, Salma ragu. Namun tawaran itu datang dengan janji bimbingan dan batasan profesional. Salma menerima—ia ingin berdiri di kakinya sendiri.Hari-hari kerja mempertemukan mereka lebih sering. Percakapan mereka sederhana, nyaris selalu tentang pekerjaan. Tapi di sela itu, ada tawa kecil, ada rasa saling menghargai, ada empati yang tumbuh pelan-pelan. Salma berulang kali mengingatkan dirinya: ini suami sahabatmu.Retakan mulai terlihat dalam rumah tangga Mita dan Rony. Bukan karena orang ketiga, melainkan karena jarak yang dibiarkan terlalu lama. Mita mencintai kariernya; Rony mendambakan kehadiran. Mereka berdua baik, hanya saja berjalan ke arah yang berbeda.Perjalanan dinas ke luar kota mempertebal konflik batin Salma. Ia dan Rony bekerja hingga larut, berbagi lelah dan kejujuran yang selama ini tertahan. Di malam yang sunyi, mereka duduk berjauhan, berbicara tentang tanggung jawab dan rasa bersalah. Tak ada sentuhan. Hanya pengakuan bahwa perasaan manusia kadang tumbuh tanpa izin.“Aku tidak ingin merusak apa pun,” kata Salma tegas pada dirinya sendiri.Sekembali ke Jakarta, Salma menjaga jarak. Ia meminta dipindahkan ke tim lain. Rony menghormati keputusan itu. Namun rumah itu keburu berubah. Mita mulai pulang lebih sering, mencoba memperbaiki yang retak. Upaya itu terlambat—bukan karena Salma, melainkan karena akumulasi tahun-tahun yang tak terurus.Kebenaran akhirnya muncul. Bukan pengkhianatan fisik, melainkan pengkhianatan emosional yang tak kalah menyakitkan. Percakapan panjang terjadi. Tangis, marah, dan kejujuran yang pahit. Rony mengakui kegagalannya sebagai suami. Mita mengakui prioritas yang keliru. Salma meminta maaf—berkali-kali—dan bersiap pergi.Perceraian berlangsung dengan dewasa. Tak ada saling menjatuhkan. Mita memilih menata hidupnya, menutup lembar lama, dan meminta satu hal pada Salma: jangan memutus persahabatan mereka. Salma mengangguk dengan mata basah.Waktu berjalan. Luka mengering. Salma pindah, bekerja, melanjutkan hidup. Rony belajar sendiri—belajar hadir, belajar menunggu. Ketika mereka bertemu kembali, itu bukan karena kebutuhan, melainkan pilihan yang dipikirkan matang.Pernikahan mereka sederhana, tenang, dan jujur. Tak ada janji berlebihan, hanya komitmen menjaga batas dan menghormati masa lalu. Anak-anak mereka tumbuh dalam rumah yang hangat, mengenal kata maaf dan tanggung jawab sejak dini.Beberapa tahun kemudian, Mita datang berkunjung dengan senyum yang utuh. Ia telah bahagia dengan hidupnya sendiri. Mereka bertiga duduk di ruang tamu, berbagi cerita, tanpa rahasia.Persahabatan mereka tak kembali seperti dulu—ia tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dewasa. Bukan lupa, melainkan berdamai.Dan di sanalah mereka belajar: cinta yang sehat tidak pernah lahir dari perebutan, melainkan dari keberanian mengakui salah, memilih pergi saat perlu, dan kembali hanya ketika semua siap.

My beautiful ex wife
Romance
05 Feb 2026

My beautiful ex wife

Hari itu Salma pulang dari rumah sakit dengan langkah ringan, meski hatinya berdebar. Dua tahun menunggu, dua tahun berharap, dua tahun menahan tanya yang tak terjawab—akhirnya dokter tersenyum dan mengangguk. Salma mengandung. Dunia rasanya kembali berwarna.Di dalam taksi menuju kantor Rony, Salma memandangi hasil pemeriksaan yang ia simpan rapi di tas. Ia membayangkan wajah Rony yang akan terkejut, lalu tertawa, mungkin memeluknya. Ia ingin menjadi orang pertama yang membawa kabar ini. Ia ingin momen itu menjadi milik mereka berdua.Namun, takdir memilih cara lain.Saat Salma tiba di kantor, suasana terasa aneh. Meja resepsionis kosong. Ruang kerja Rony pun sunyi. Ia memanggil pelan, tak ada jawaban. Langkahnya terhenti di depan kamar pribadi—pintu sedikit terbuka. Dari celah itu, Salma melihat sesuatu yang seharusnya tak pernah ia lihat.Hatinya seolah runtuh.Ia tak berteriak. Tak menangis keras. Hanya ada rasa dingin yang menjalar dari dada ke ujung jari. Salma berdiri terpaku, menyadari bahwa kebahagiaan yang baru saja ia genggam kini pecah berkeping-keping. Dengan tangan gemetar, ia mengabadikan bukti sekadarnya—bukan untuk balas dendam, melainkan untuk melindungi dirinya sendiri—lalu pergi.Malamnya, Rony pulang dan mendapati rumah kosong. Lemari Salma kosong. Bibi rumah menangis, menyampaikan pesan singkat: Salma pergi dan tak akan kembali. Saat Rony membuka ponselnya, ia melihat kiriman Salma. Dunia Rony berhenti berputar.Penyesalan datang seperti gelombang yang tak memberi jeda.Salma berlindung di rumah Nabila dan Paul. Ia bercerita dengan suara yang sering terputus. Di balik ketegaran yang ia paksakan, ada perempuan yang hancur. Ada calon ibu yang ketakutan. Ada istri yang kehilangan kepercayaan.Paul menyarankan langkah bijak dan tenang. Nabila memeluk Salma erat. “Kamu tidak sendirian,” katanya. Salma mengangguk, menahan air mata. Di dalam dirinya, ia berjanji: anak ini akan lahir dalam lingkungan yang aman dan penuh cinta.Enam bulan berlalu. Perceraian diputuskan. Rony jatuh dalam kesunyian panjang. Ia menutup diri, menyesali satu keputusan yang meruntuhkan segalanya. Ia mencoba meminta maaf, namun Salma telah menutup semua pintu. Bukan karena benci, melainkan karena ia perlu selamat.Tujuh belas tahun kemudian, Salma kembali ke Indonesia bersama Keenan. Ia datang bukan sebagai perempuan yang patah, melainkan ibu yang telah menempuh jalan panjang sendirian. Keenan tumbuh menjadi remaja yang hangat, santun, dan penuh empati—buah dari cinta yang Salma rawat dengan susah payah.Takdir kembali mempertemukan Salma dan Rony. Kali ini, tanpa amarah. Rony yang menua oleh penyesalan, Salma yang matang oleh waktu. Saat Rony menyadari bahwa Keenan adalah putranya, ia menangis—bukan untuk menuntut, melainkan untuk mengakui kehilangan.Salma memaafkan. Bukan karena lupa, tetapi karena ia telah berdamai. Ia memilih membuka pintu bagi Rony sebagai ayah, demi Keenan. Hubungan mereka dibangun pelan-pelan, dengan batas yang jelas dan kejujuran yang tak ditawar.Rony belajar hadir. Belajar menepati janji kecil. Belajar menunggu. Keenan, dengan kebijaksanaan yang tak sesuai usianya, menerima ayahnya dengan hati terbuka namun teguh. “Jaga Bunda,” katanya suatu hari. Rony mengangguk, sungguh-sungguh.Waktu merajut ulang kepercayaan. Bukan seperti dulu, tetapi lebih dewasa. Ketika akhirnya Salma dan Rony memutuskan untuk menyatukan kembali keluarga mereka, keputusan itu lahir dari kesadaran penuh. Tanpa paksaan. Tanpa rahasia.Pernikahan mereka sederhana. Tak ada kemewahan. Hanya doa, harapan, dan komitmen untuk menjaga apa yang pernah hampir hilang. Keenan tersenyum—untuk pertama kalinya, ia melihat kedua orang tuanya berdiri berdampingan dengan tenang.Bagi Salma, cinta kali ini bukan tentang menunggu keajaiban, melainkan tentang memilih setiap hari. Bagi Rony, ini adalah kesempatan kedua yang ia jaga dengan sepenuh jiwa.Dan bagi Keenan, keluarga bukan lagi mimpi—melainkan rumah.

Jatuh Cinta Lagi
Romance
05 Feb 2026

Jatuh Cinta Lagi

Di rumah sakit itu, tangis Salma terdengar pilu, nyaris tak tertahankan. Tubuhnya bergetar saat menatap pintu kamar jenazah—tempat suaminya berbaring tanpa nyawa. Baru setahun mereka menikah, dan kini ia harus merelakan Fajar untuk selamanya.Salma dan Fajar bertemu dua tahun lalu di tempat kerja yang sama. Dari rekan kerja, tumbuh rasa saling peduli. Setahun kemudian, Fajar melamar Salma dengan jujur—tentang penyakit yang ia derita, tentang waktu yang mungkin tak panjang. Salma tahu risikonya, namun ia memilih tinggal. Ia memilih mencintai.Fajar mengidap kanker hati stadium lanjut. Selama setahun pernikahan mereka, Salma setia menemani—di ruang rawat, di lorong rumah sakit, di malam-malam panjang penuh doa. Fajar sering berkata bahwa ia adalah lelaki paling beruntung karena bisa menghabiskan sisa hidupnya bersama Salma, meski sebentar.“Salma?”Suara itu membuat Salma menoleh. Di hadapannya berdiri seseorang dari masa lalu—wajah yang tak pernah benar-benar ia lupakan.“Rony?” suara Salma serak.Rony mengangguk pelan. Mereka pernah saling mencintai di masa SMA, namun perbedaan latar belakang dan penolakan keluarga membuat Salma memilih pergi. Luka itu tak pernah benar-benar sembuh—hanya tertutup waktu.“Maaf… panggil aku Salma saja,” ucapnya lirih.Rony melihat mata Salma yang sembab. “Siapa yang meninggal?”“Suamiku.”Kalimat itu jatuh seperti beban. Rony terdiam, lalu menunduk hormat. Ia menyampaikan belasungkawa dengan tulus. Tak ada pertanyaan berlebihan, hanya doa singkat dan tatapan penuh empati. Sebelum pergi, Rony meminta nomor Salma—bukan untuk apa pun, hanya agar suatu hari bisa menanyakan kabarnya.Salma mengangguk, lalu pergi mengiringi jenazah suaminya. Di dalam hatinya, duka dan kenangan lama bertabrakan.Seminggu berlalu. Salma kembali bekerja. Rekan-rekannya memberi dukungan, termasuk Nabila—sahabat yang tak henti menguatkannya. Saat ditawari proyek besar di Bandung, Salma menerimanya. Ia tahu, kesedihan tak boleh menjadi alasan untuk berhenti hidup.Dua bulan setelah kepergian Fajar, Salma mencoba bangkit. Ia menyimpan rindu dan doa di tempat yang aman di hatinya—tanpa menenggelamkan diri di dalamnya.Di Bandung, takdir kembali mempertemukannya dengan Rony. Mereka tergabung dalam proyek yang sama. Awalnya canggung, lalu perlahan menjadi hangat. Obrolan mereka sederhana—tentang pekerjaan, tentang hidup. Rony menyimpan banyak hal, Salma pun demikian.Suatu sore, di tengah hujan dan gemuruh petir, trauma lama Salma kembali muncul. Ia teringat hari ketika orang tuanya pergi untuk selamanya—tersambar petir di sawah. Hujan selalu memicu ketakutan itu.Rony melihat Salma gemetar di depan pintu kamar. Tanpa banyak kata, ia menenangkan. Tidak ada niat buruk, tidak ada batas yang dilanggar. Hanya kehadiran—dan itu cukup.Malam itu, Salma tertidur dengan rasa aman yang sudah lama tak ia rasakan.Hari-hari berikutnya membawa kedekatan yang jujur. Rony akhirnya menceritakan rumah tangganya—tentang pernikahan yang tak pernah hangat, tentang pengkhianatan yang ia saksikan sendiri, tentang upayanya bertahan dan kegagalannya. Salma mendengarkan tanpa menghakimi.“Aku turut sedih,” ucap Salma pelan. “Kalian sama-sama terluka.”Rony mengangguk. “Aku tidak ingin membenarkan diriku. Aku hanya ingin jujur.”Pelukan itu terjadi bukan karena hasrat, melainkan karena dua orang yang sama-sama lelah. Dua orang yang pernah saling kehilangan.Namun ketika perasaan lama muncul terlalu cepat, Salma menarik diri. “Ini salah,” katanya. “Aku baru kehilangan. Aku butuh waktu.”Rony menghormati itu.Ia melamar Salma dengan cara yang sederhana—tanpa paksaan, tanpa janji berlebihan. “Aku ingin menunggu. Jika kamu siap, aku di sini.”Salma menangis. Bukan karena ragu, tetapi karena akhirnya ia merasa aman untuk memilih.“Aku mau,” katanya. “Tapi beri aku waktu.”Enam bulan kemudian, mereka menikah. Tanpa kemewahan berlebihan. Hanya keluarga, doa, dan komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan. Salma menyimpan kenangan Fajar di tempat yang layak—bukan untuk dibandingkan, melainkan dihormati.Rony memahami. Ia tidak cemburu pada masa lalu yang telah mengajarkan Salma tentang ketulusan.Malam pertama mereka tidak diceritakan dengan detail—cukup dengan satu kalimat sederhana: mereka memilih saling menjaga.Hari-hari setelahnya dipenuhi tawa kecil, omelan ringan, dan proses belajar menjadi pasangan yang sehat. Rony yang jahil, Salma yang tegas—keduanya tumbuh bersama.Salma tahu hidupnya penuh kehilangan. Namun kali ini, ia tidak berjalan sendirian.Dan Rony tahu, cinta sejati bukan tentang memiliki, melainkan menjaga.

babi alive
Horror
05 Feb 2026

babi alive

CATATAN: Ini didasarkan pada mimpi yang saya miliki.Anda telah diperingatkan, dan nikmati.Untuk seumur hidup saya, saya menikmati mengumpulkan boneka bayi, saya memiliki sekotak besar dari mereka. Suatu hari, ayah saya membawa beberapa boneka bayi pulang dari nenek saya. Nenek saya memiliki minat yang sama untuk mengumpulkan boneka seperti yang saya lakukan, dan saya selalu mencintai boneka bayinya.Mereka selalu sangat menarik. Ayahku membawa kembali tiga atau empat boneka, tapi salah satu dari mereka benar-benar menarik perhatian mataku. Itu adalah boneka yang sangat cantik dengan rambut cokelat pendek, mata hijau yang indah, dan terlihat sangat realistis. Jadi, saya memilih yang itu dari yang lain, tentu saja, tapi masalahnya, boneka itu membutuhkan baterai.Ayah saya keluar dan membeli beberapa baterai untuk saya. Aku memasukkan mereka ke dalam boneka itu, dan manusianya, boneka itu luar biasa. Tidak hanya terlihat realistis, tapi juga realistis. Aku sangat menyukai boneka itu. Segera rasanya seperti anak saya sendiri. Kemudian saya menemukan sebuah catatan di dalam kotak yang ada di dalamnya. Berpikir itu mungkin hanya sebuah instruksi manual atau semacamnya, saya membacanya. Catatan tersebut mengatakan:"Jangan menyalakan boneka itu boneka itu sangat buruk dan akan membuatmu takut, boneka ini tidak bisa dibunuh, pastikan untuk menempatkan boneka ini di tempat yang tidak akan pernah ditemukan lagi."Hah? Sungguh lelucon yang mengerikan. Aku sudah memiliki Baby Alive kecilku untuk sementara waktu sekarang, dan ini adalah hal termanis yang pernah ada; Itu tidak akan menyakitiku Tentu saja saya tidak pernah benar-benar mempercayainya, karena saya sendiri menyukai creepypasta tapi saya tahu kebanyakan dari mereka sangat palsu, jadi itulah yang saya pikirkan tentang yang satu ini. Saya hanya menaruh catatan itu kembali di dalam kotak.Beberapa malam kemudian, bayi kecilku yang berharga itu merangkak menangis; Itu ingin pelukan. Jadi saya memungutnya dan memeluknya, lalu bayi itu tenang dan diam beberapa saat. Saya suka bayi saya hidup. Aku menyukainya seperti anakku sendiri. Aku bersumpah, hal ini tidak nampak atau terasa seperti boneka bayi. Rasanya sangat nyata, dan rasanya seperti milikku.Saya sangat senang memilikinya, tapi tiba-tiba bayi itu mulai menangis lagi. Tapi kali ini, tangisan bayi itu semakin dalam dan dalam. Kupikir ini aneh, tapi kemudian aku ingat! Baterainya Betul! Perlu baterai, tapi bayi sudah bangun dan berlari berbulan-bulan, dan baterainya tidak pernah mati, dan nah, kapan baterai mati, apa artinya? Apakah bayi akan mati?Jika saya mengganti baterai apakah dia benar-benar akan melupakan saya? Saya khawatir, sampai bayi mencengkeram saya. Dia menggali jari-jarinya di pinggangku. Rasanya sakit sekali; Aku tidak percaya. Apakah catatan itu benar-benar mengatakan yang sebenarnya? Apakah bayiku benar-benar jahat? Tidak, saya tidak ingin memikirkannya seperti itu! Tapi kemudian ayahku ikut berteriak. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia menemukan catatan itu, dan melihat bagaimana bayi itu menggaruk pinggang saya dan membuatnya berdarah. Dia mengatakan kepada saya bahwa kami tidak punya pilihan lain selain membunuhnya dan melepaskannya dari saya.Ayahku menyambar bayi itu dari rambutnya dan mulai mencoba menariknya keluar dan akhirnya dia merobek beberapa rambutnya. Bayi itu terus menangis. Aku tidak tahan melihatnya. Kepala bayi saya berdarah. Saya tidak ingin melihat bayi saya kesakitan, jadi saya menyuruh ayah saya untuk menariknya dari tempat memegang taliku dengan lengannya. Ayahku mencoba menarik sekeras yang dia bisa, dan akhirnya dia merobek sebagian kulitku dari pinggangku. Rasa sakit itu terbakar, tapi aku lebih suka kesakitan daripada bayiku. Meski ternyata berbalik dan mencoba membunuhku, aku masih sangat menyukainya.Ayahku pergi membawa bayi itu ke gudang di luar rumah kami. Aku mengejarnya, tapi sudah terlambat. Di dalam gedung, saya melihat bayi saya tergantung di sana dengan seutas tali. Saya menangis dan merasa sakit saat melihat. Pinggul saya masih sangat sakit sehingga agak sulit bagi saya untuk berjalan-jalan, tapi kemudian bayi mulai menangis! Itu masih hidup.Ya, catatan itu menyebutkan bahwa Anda tidak bisa membunuh bayinya. Ayahku lalu mengeluarkan baterai dari situ, lalu perlahan berhenti menangis. Apakah sudah berakhir Apakah bayinya akhirnya mati? Ada bagian dari diriku yang berharap tidak, karena jauh di lubuk hatiku masih sangat mencintainya. Tapi sekali lagi, itu mulai menangis! Tapi kali ini ia menangis seperti boneka bayi dengan baterai rendah.Bayi itu mencoba keluar dari tali. Saat itulah ayahku mengambil pistolnya dan mulai menembaknya. Bayi berhenti bergerak bersama. Kami menunggu sebentar sebelum mengambilnya untuk memastikannya berhenti bekerja, dan yah, kami melakukannya.Setelah semua ini saya dilarikan ke rumah sakit karena pinggul saya. Di rumah sakit ibuku berusaha menghiburku; Tapi tidak peduli bagaimana orang mencoba, saya tidak akan pernah bisa melupakan hari itu. Sementara itu, ayahku mengembalikan 'boneka' dari kotak itu dan saudaraku menulis catatan lain untuk dimasukkan ke dalam kotak untuk memperingatkan orang-orang tentang boneka ini kalau-kalau ada orang yang menemukannya lagi.If you ever stumble upon this doll, listen to the notes. Don't turn it on or anything. Leave it alone. You are guaranteed to fall in love with this doll and then have it taken away from you. Or worse, It'll get you.

Tolong aku!!
Horror
05 Feb 2026

Tolong aku!!

Saat itu umurku masih 12 tahun. Pada liburan musim panas, orang tuaku mengajakku dan adikku untuk piknik ke alam bebas. Di sana dekat dengan pegunungan dan ada sungai yang cukup deras mengalir di sana. Kami membuka bekal kami dan menatanya di atas tanah berumput yang lapang. Seingatku, hari itu amat cerah.Ketika ayah dan ibuku menyiapkan makanan, aku dan adikku, Nori, pergi bermain ke sungai.Orang tua kami melarang kami pergi pada awalnya, namun kami mengatakan bahwa kami hanya akan bermain di bantaran di tepian sungai, tidak bermain air dan masuk ke sungai.Aku sangat sibuk mengamati serangga sehingga tak menyadari bahwa Nori pergi sendirian. Begitu aku sadar, ia sudah tak ada lagi di sampingku.“Nori!” teriakku. Aku mencarinya, namun aku tak melihatnya dimanapun.“Nori!” aku terus memanggilnya, namun tak ada jawaban. Aku mencoba mencari orang tuaku, namun mereka juga tak lagi terlihat karena aku berjalan terlalu jauh menyusuri sungai.Aku mulai panik dan menangis.“Kak, tolong aku!”Tiba-tiba aku mendengar jeritan adikku. Asalnya dari sungai.Aku segera bergegas ke sana dan melihat tubuhnya terbawa arus sungai. Kepalanya masih muncul di atas air dan ia melambai-lambaikan tangannya ke arahku.“KAK! TOLONG AKU!”Kemudian aku menyadari, ia tengah berpegangan di sebuah batang kayu, mencoba bertahan agar tidak tenggelam.“KAK! TOLONG AKU!”“Tung ... tunggu aku!”Waktu itu aku tak punya waktu untuk memanggil orang tuaku karena takut adikku akan segera tenggelam jika aku tak segera menolongnya.Aku segera turun ke bebatuan di pinggir sungai dan mencoba meraihnya. Namun itu amat sulit sebab ia terjebak di tengah sungai. Satu-satunya cara adalah masuk ke sungai itu. Aku tak keberatan basah dan aku juga bisa berenang, jadi saat itu aku merasa itu bukanlah masalah.“KAK, TOLONG AKU!”“Sebentar aku ke sana!”Namun ketika aku menginjakkan kaki ke dalam sungai (arusnya cukup kencang saat itu), tiba-tiba aku merasakan ada yang menarikku ke belakang.“Hei! Sudah kubilang jangan masuk ke sungai!”Aku menoleh. Jelas-jelas itu ayahku.Ia menarik tubuhku ke tepian dan mengangkatku ke atas, ke tempat tadi aku mencari adikku.Wajah ayahku amat serius dan marah saat itu.“Ooooh ... kakak dalam masalah ...” aku mendengar suara tawa kecil. Aku menoleh dan melihat Nori ada di belakangku bersama dengan ibu.“Ta ... tapi tadi Nori ...”Aku mencoba melihat kembali ke sungai. Yang kulihat hanyalah tangan berwarna hitam masuk ke dalam sungai, di tempat dimana tadi aku merasa melihat Nori. Dan apapun itu, ia berenang sejenak lalu menyelam ke dalam sungai.

Gestalt Break Down
Horror
05 Feb 2026

Gestalt Break Down

Aku tidak tahu apakah benar cerita tentang mereka. Bagi Anda yang memiliki cermin di rumah (boleh ukuran setengah badan, tapi lebih baik ukuran seluruh badan), cobalah hal ini.Berdiri di depan cermin, lihat refleksi Anda, dan tanyakan “Siapa kau?”Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan monster atau hantu atau sesuatu seperti itu, jadi jangan khawatir.Lihatlah bayanganmu di cermin, tatap langsung ke mata bayanganmu dan tanyakan “Siapa kau?”Anda mungkin merasa ini cukup aneh dan mungkin memiliki rasa tidak nyaman, kan?Nah, selama Perang Dunia II, Nazi melakukan banyak percobaan pada orang-orang Yahudi. Salah satu dari mereka membuat salah satu ‘test subjek’ berdiri di depan cermin, kadang-kadang beberapa kali dalam sehari, dan memaksa mereka untuk berbicara dengan diri mereka sendiri. Mereka dipaksa untuk bertanya pada refleksi mereka “Siapa kau?”, atau pertanyaan yang mirip, dan perubahan mental selama percobaan akan didokumentasikan.Penelitian ini adalah salah satu dari banyak cara untuk mencoba dan mengendalikan kepribadian seseorang.Sekitar sepuluh hari setelah percobaan dimulai, para peneliti mulai menyadari adanya keanehan. Subyek mulai kehilangan kemampuan untuk membuat penilaian yang logis, dan mereka sering mengalami kesulitan membedakan apa yang nyata dan tidak nyata.Sepuluh bulan kemudian, ego subyek benar-benar hilang. Daripada mempertanyakan refleksi yang berada di cermin, mereka mulai mempertanyakan siapa mereka dan akhirnya menjadi gila.***Aku membaca tentang eksperimen itu di internet beberapa waktu lalu. Pada saat itu, temanku dan aku berpikir hal itu benar-benar menarik. Kami juga sempat berpikir itu hanyalah omong kosong belaka, jadi kami sepakat untuk mencoba dan membuktikannya sendiri.Hari itu, aku berdiri di depan cermin di rumahku dan bertanya pada bayanganku, “Siapa kau?”Ini sudah larut malam dan membuat atmosfer di dalam.kamarku terasa benar-benar menakutkan, tapi aku begitu bersemangat untuk mencoba sebuah eksperimen Nazi yang aku rasa sama sekali tidak berbahaya.Tapi beberapa saat kemudian, aku jatuh sakit dan muntah (tidak, wajahku tidak terlalu buruk). Aku menyadari bahwa melanjutkan hal ini mungkin ide yang buruk, jadi aku menyerah setelah itu.Keesokan harinya, aku memberitahu temanku kalau aku terlalu takut untuk menyelesaikannya. Dia segera mulai menggodaku, Dia tertawa dan menyebutku kucing penakut.Tapi setelah percakapan tentang percobaan ini, kami tidak lagi saling sapa.Setelah kejadian itu, aku mulai melupakan eksperimen ini. Temanku mulai bolos sekolah dan semakin sering tidak masuk sekolah.Ketika ia akhirnya muncul di sekolah, aku bertanya padanya apa yang terjadi, tapi ia mengatakan, “Hmm … Bukan apa-apa,”Dia bahkan tidak memperdulikanku.Beberapa hari kemudian, aku mendapat telepon darinya saat tengah malam. Segera setelah aku mengangkat telepon, aku berpikir bahwa ia mengalami sesuatu yang buruk.“Hei, aku adalah aku, kan? Namaku Aida, kan?” Suaranya bergetar, dan aku pikir dia menangis. “Benar kan? Katakan kalau aku benar! ”“Apa yang kau bicarakan?” Aku bertanya, kesal. “Tentu saja kau Aida!”“Oh … Ya … Kau benar.” Dia menarik napas dan terus berbicara. “Aku … Kau ingat tentang cermin? Yah, aku terus melakukannya setelah kau bilang kau tidak akan meneruskannya. Aku telah melakukannya berulang ulang. Aku bukan seorang yang narsis atau apa pun, tapi melihat dan berbicara dengan diriku sendiri di cermin membuatku merasa baik. Anehnya, semakin sering aku berbicara dengan refleksiku, aku semakin merasa kurang yakin kalau aku adalah aku”“Woah, itu tidak terdengar aman, sebaiknya kau hentikan,” kataku dan mencoba untuk meyakinkan dia untuk berhenti, tapi dia menolak untuk mendengarkanku.“Jangan khawatir tentang hal itu. Aku akan baik-baik saja. Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja. Tidak apa-apa, tidak, aku baik-baik saja.” Dia terus mengulangi kata kata yang sama seperti kaset rusak.“HEY!” Aku berteriak, dan ia segera menutup telepon.Aku khawatir, jadi aku menelponnya kembali, tapi tidak ada yang mengangkat telepon. Aku terus menelpon ulang, berharap dia akan menjawab. Akhirnya pada telponku yang ke duabelas, aku mendengar telepon diangkat.“Siapa … kau?” Temanku bertanya sebelum panggilan terputus.Aku mencoba menelepon lagi, tapi tidak peduli berapa kali aku mencoba aku tetap tidak bisa menghubunginya.Aku berharap untuk melihat dia di sekolah besok, tapi dia tidak pernah datang lagi.Beberapa waktu kemudian, orang tuanya khawatir karena mereka tidak mendengar bahkan tidak dapat berbicara apapun dengannya.Mereka terus mencoba menyadarkan anaknya, tapi dia sudah benar-benar gila. Dia bahkan tidak bisa mengenali orang tuanya sendiri. Dia menatap kosong ke arah mereka dan hanya memberi senyum kecil.Setelah itu, dia kembali menghadap ke cermin untuk berbicara dengan refleksinya.Orang tuanya membawanya pulang dan membawanya ke rumah sakit jiwa, dekat tempat tinggal mereka.Aku tidak tahu persis rincian selanjutnya, tetapi aku mendengar bahwa dia sudah jauh lebih baik.Dia tidak diijinkan untuk memiliki cermin atau logam reflektif dari apa pun di kamar rumah sakit.Aku tidak berpikir kau bisa kehilangan akalmu dalam periode waktu yang singkat.Mengenai percobaan asli, mereka terus melangsungkan hal itu selama beberapa waktu. Beberapa subyek dipaksa untuk berdiri di antara menghadapi cermin bukan di depan cermin tunggal.Entah bagaimana cermin yang dipakai membuat tekanan psikosis jauh lebih cepat.Dalam kasus ini kau mungkin bertanya-tanya, cermin apa yang temanku gunakan?Cermin yang ia gunakan adalah cermin tiga sisi.Jika kau memiliki cermin, silahkan mencoba percobaan ini.Tatap langsung ke mata bayanganmu dan bertanya, “Siapa kau?”Kau mungkin merasa cukup aneh dan mungkin memiliki rasa tidak nyaman, kan? Jika kau adalah seseorang yang lemah mental, kau akan merasakan efek menjadi gila dalam waktu yang singkat, atau kau dapat memutuskan untuk tidak melanjutkan percobaan.Baru-baru ini ketika aku mencuci wajahku, aku sering terkejut, seperti menatap mata orang lain di dalam bayanganku.Jika aku melihat dan menatap bayanganku terus, aku tidak dapat melihat diriku.Tapi…Aku adalah aku, kan?

Kagome Kagome (war experiments)
Horror
05 Feb 2026

Kagome Kagome (war experiments)

War ExperimentsRezim Nazi terkenal akan eksperimen ekpserimen rahasianya dan para peneliti occultisme mereka. Divisi khusus ekspedisi dari Reich seringkali dikirim keluar untuk mencari artefak atau lokasi lokasi yang berkaitan dengan okultisme atau yang berhubungan dengan keagamaan. Sementara itu, di Jerman, bunker bunker dibangun, dan rumah rumah besar seperti mansion atau banyak kastil dipenuhi dengan labirin labirin dan penjara bawah tanah yang gelap. Ditempat tempat inilah eksperimen ekpserimen mengerikan dan aneh tertuang dalam bertumpuk tumpuk catatan yang ditemukan didalamnya.Ketika pihak sekutu menemukan tempat tempat ini, mereka akan merusaknya, membakar, ataupun meninggalkannya dalam keadaan kosong. Ketika sebuah laboratorium ditemukan dalam keadaan utuh, seringkali peneliti yang ditemukan bukan merupakan orang orang yang berkompeten langsung, atau dalam banyak kasus lain, para peneliti ini telah menghilang. Setelah pihak sekutu menemukan tempat ini, mereka memilih untuk menghancurkannya dengan tujuan agar pihak Nazi tidak dapat untuk mengambil kembali data data yang telah mereka peroleh sebelumnya. Kebanyakan, eksperimen Nazi ini berada dibawah tanah, tak terditeksi radar. Sampai pada akhirnya, beberapa veteran yang bertugas sebagai penjaga dari lab dan zona ritual memaparkan apa yang telah mereka saksikan. Atau banyak folder folder dan buku buku yang kemudian ditemukan bersama peti peti milik para peneliti. Banyak dari penemuan ini yang terkadang menyingkap tujuan dari ekpserimen ekpserimen yang mereka lakukan.Memberi manusia kekuatan seperti dewaSebenarnya kekuatan sesungguhnya seperti apa masih seringkali diperdebatkan namun hal ini seringkali digambarkan dalam riset riset Nazi sebagai “keabadian”, tidak terlihat, atau faktor faktor lain yang berhubungan dengan menghilangkan kematian dalam sebuah cara atau yang lain.Hal yang lebih luas dari riset ini sebenarnya lebih didasarkan secara khusus berdasar: dosis dari senyawa kimia yang digunakan untuk menyokong aliran darah pada orang orang yang telah menua. Konsep utama yang digunakan saat ini pada operasi tranplantasi, okulasi, salep untuk anti penuaan, antibodi untuk melawan penyakit, dan riset mengenai fitness / dietNamun sebuah set peti yang ditemukan di Hamburg pada tahun 1999 sungguh melenceng dari konsep ini. Penelitian ini merupakan sebuah gabungan dari eksperimen okultisme dengan penelitian mengenai keabadian.Pikiran merupakan penyakitBagian pembukaan dari folder dan bukti dari konsep penelitian ini dimulai dengan sebuah prinsip bahwa otak merupakan bagian yang mengontrol seluruh aktivitas tubuh, dan ketika tubuh perlahan mengalami degenerasi, otak ini tetap melakukan fungsinya. Sebuah pendapat mengatakan, bahwa alasan kenapa tubuh mengalami degenerasi ada;aj karena otak mempunyai “alarm biologis”, seperti mana halnya kenapa seekor kupu kupu hanya hidup selama satu hari saja, sedangkan serangga lain dapat hidup jauh lebih lama ; semua ini karena otak memunyai sebuah sistem yang mengatur kita untuk mati.Semua dikemukakan melalui sebuah hipotesa bahwa ketika otak mulai tumbuh, otak ini akan mulai membuat koneksi, hal ini mengakibatkan makin matangnya tubuh dan kemajuan otak yang semakin pesat. Pada umur 35-50 tahun, koneksi ini perlahan lahan akan mulai mengendur dan terputus, sehingga mengakibatkan lupa, demensia dan penyakit penyakit mental lain yang umum dialami oleh para manula.Para peneliti Nazi menyimpulkan bahwa otak merupakan oragan yang mempunyai sebuah “universal Killswitch”yang akan aktif segera begitu otak terbentuk secara sempurna. Pada semua manusia normal, killswitch ini akan memicu urutan pematian dalam fungsi fungis faal tubuh, yang dimana terjadi selama beberapa dekade. Saat tubuh benar benar dalam keadaan “dimatikan”, otak akan dipaksa mati karena kekurangan oksigen yang diangkut oleh darah dalam system transportasi.Dikatakan juga bahwa Werner Syndrome (sebuah penyakit dimana seseorang menua secara sangat cepat) merupakan akibat dari aktifnya killswitch ini yang terlalu awal.Nazi kemudian menyimpulkan bahwa jika mereka mampu untuk melepaskan atau membuang killswitch ini, maka mereka akan berhasil membuat pikiran manusia tidak pernah mati. Dan oleh karena itu, maka akan menghasilkan keabadian yang sesungguhnya pula. Tidak perlu dibantah lagi bahwa pembedahan atau melakukan operasi terhadap otak merupakan sebuah hal yang sangat sulit pada saat itu, namun bukan berarti tidak mungkin. Dalam tumpukan folder yang ditemukan, terdapat banyak diagram diagram dan riset riset dimasa lampau tentang otak, fisiologi, psikologis, pikiran manusia dan hal hal lain semacamnya.Lokasieksperimen ini awalnya diusulkan oleh pihak Nazi di tahun 1940 dan ijin untuk melakukan eksperimen ini diberikan pada tahun 1942, dengan sebuah syarat :“eksperimen harus dilakukan diluar Jerman. Penduduk Jerman tidak boleh melihat eksperimen ini dalam bentuk maupun wujud apapun”Hal ini tidak mengejutkan bagi para peneliti. Para petinggi tentunya berusaha menghindari reaksi publik yang berlebihan akan hal ini, dan itu cukup bisa dimengerti. Kebanyakan eksperimen eksperimen tersebut dilakukan di bunker atau ruang bawah tanah. Para peneliti akhirnya bisa memenuhi syarat tersebut dan kemudian mulai melakukan pengorganisasian dengan sekutu mereka; Jepang. Pada awal 1942, riset dan penelitian ini mulai dijalankan.Dan disaat inilah hal hal mengerikan mulai terjadi.Tim peneliti mengambil alih sebuah panti asuhan di Jepang. Panti asuhan ini terletak disebuah bukit, diperkirakan berada disebuah tempat di Shimane, sebuah area didekat Hiroshima.Eksperimen dimulaiPara peneliti menyimpulkan bahwa jika mereka melakukan test ini kepada subyek biasa ; orang tua atau berpenyakitan yang “tidak memiliki apa apa lagi” (mirip dengan model Gateway of The Mind) mereka akan menghadapi barbagai macam penyakit, atau, yang lebih penting, mereka akan melakukan eksperimen terhadap otak yang dimana killswitch-nya telah aktif, sehingga hal ini akan menjadi percuma saja dalam usaha untuk mendapatkan sebuah solusi atau informasi yang berguna.Berangkat dari hal ini, para peneliti Nazi kemudian menginginkan subyek tes dalam bentuk anak anak yang tinggal dalam panti asuhan tersebut (yang dimana mereka menganggap bahwa mereka juga sudah tidak mempunyai apa apa lagi). Mereka menyimpulkan bahwa kondis otak otak muda dari anak anak ini bisa meminimalkan kemungkinan sudah aktifnya killswitch yang ada.Untuk memulai eksperimen, anak anak ini diharuskan mendapatkan beragam imunisasi dan mengikuti test psikologis secara intens, untuk meyakinkan dikedepannya mereka tidak akan mengalami kesalahan sebagai subyek test, sehingga dapat dijadikan sebagai patokan terhadap subyek subyek yang lain.Selanjutnya, mereka memulai prosedur eksperimen ini dengan menggunakan para staf dari panti asuhan ini yang lebih tua. Setelah mengalami pembiusan, dokter bedah yang ada akan membuka tengkoraknya untuk mencari dan mempelajari lobus otak terbaik dari otak manusia dewasa. Kemudian mereka mulai mencari kunci perbedaan antara otak manusia dewasa dengan otak anak anak.Setelah mendapatkan model dari masing masing otak manusia dewasa dan anak anak, para peneliti kemudian menyimpulkan bahwa “universal killswitch” ini tidak terletak didalam otak, namun pada bagian cerebellum, terletak pada bagian lebih kebelakang. Cerebellum ini mengatur semua aktifitas tak sadar didalam otak, dan hal ini bisa dimengerti sebab untuk mengaktifkan killswitch, yang diperlukan bukanlah sebuah aktifitas sadar, melainkan sebaliknya.Secara sistematis, mereka mengambil anak tertinggi yang ada di panti asuhan, dan mulai membukanya. Mereka akan memulai melakukan “killswitch-ectomy” (operasi pengangkatan killswitch) pertama mereka. Mereka berhasil membuka cerebellum dan membuang bagian yang mereka anggap sebagai killswitch ini, namun setelah subjek penelitian mereka “ditutup”, mereka menyadari bahwa ternyata subjek tersebut gagal. Mereka menduga bahwa irisan yang mereka lakukan diotak telah terlalu kasar, dan membutuhkan persiapan yang lebih matang kembali. Mayat dari gadis cilik ini, yang gagal sebagai subjek eksperimen ini, dibuang begitu saja dihutan dibelakang panti asuhan.Sukses,... sepertinyaSetelah mengimpor berbagai macam peralatan, dan berbagai macam tehnik yang dikembangkan, para peneliti akhirnya berhasil membuang killswitch tersebut dan secara sukses pula pasien yang menjadi subjek eksperimen mereka tidak tewas. Pada bulan mei tahun 1943, mereka menggunakan seorang gadis paling muda di panti asuhan tersebut sebagai subyek test untuk dibuang killswitch-nya, satu satunya fungsi tubuh dari gadis ini yang hilang adalah kemampuannya dalam berkeringat. Setelah menduga bahwa mereka telah sukses dalam eksperimen ini, para peneliti melakukan perayaan atas keberhasilan mereka. Keesokan paginya, gadis tersebut tidak kunjung bangun, dan akhirnya diketahui bahwa gadis ini jatuh dalam keadaan koma. Setelah beberapa saat, gadis ini bisa kembali bangun dengan sukses, dan usaha pengangkatan killswitch inipun terus berlanjut.Kesuksesan mereka sebelumnya memberikan para dokter yang ada sebuah sudut pandang baru, sebagai sebuah penyegaran saja, mereka dapat terus melanjutkan eksperimen mereka dengan sebuah kegembiraan bahwa teori mereka telah terbukti. Setidaknya itu yang mereka pikirkan.Sebelum para dokter melanjutkan riset pengangkatan killswitch, mereka mempersilahkan beberapa dokter lain untuk berkunjung, yang dimana mereka merupakan para dokter dari Moscow. Para dokter Moscow ini cukup terampil dalam praktik pembangkitan mayat (bukan merupakan sebuah hal yang klenik, secara tekhnik mereka menggunakan prinsip zombifisasi, dimana hal ini berdasarkan pada penggunaan teknik kejutan listrik dan jantung buatan yang diperuntukan untuk kembali memebrikan tenaga kepada tubuh agar kembali berfungsi). Alasan Mereka melakukan hal ini adalah karena subyek asli mereka selalu saja koma atau secara klinis mengalami mati, tiap kali dia tidur, dan kemudian hidup kembali secara otomatis dipagi harinya. Subyek ini tidak memiliki kelainan ini sebelum eksperimen dilakukan, dan berdasarkan fakta bahwa akhirnya dia bangkit kembali, para dokter tidak mau mengambil resiko dengan meletakan kesuksesan mereka yang bisa menjadi sebuah kegagalan jika mereka melakukan tes atau operasi lain terhadap subyek ini. Para peneliti dari Russia kemudian mendapatkan tugas untuk “menghidupkan” subyek ini kembali, kapanpun jika ternyata subyek ini tiba tiba saja kadaluwarsa (mati). Setelah selama beberapa hari, pihak Nazi menyimpulkan bahwa keadaan aman, dan eksperimen bisa dilanjutkan kembali.Projekt VenomProjekt Venom merupakan eksperimen yang dilakukan oleh pihak Russia untuk menciptakan tentara super berdasarkan theory dari Dr. Frankenstein. (hal ini mungkin juga merupakan dasar dari superhero Marvell juga) sebagai pembayaran atas jasa para peneliti dari Russia, pihak Russia meminta agar mereka dapat mengkombinasikan riset dari Projekt Venom dengan eksperimen Nazi yang sedang berjalan. Dan pihak Nazi ternyata menyetujui hal ini.Namun jumlah anak yatim piatu menurun drastis, karena pihak Nazi membutuhkan sangat banyak anak anak ini, mereka hanya bisa memberikan satu orang gadis kecil saja untuk dijadikan subyek eksperimen. Pihak Russia sungguh merasa terhina akan hal ini, dan mereka mulai membuktikan konsep yang mereka anut.Mereka secara terpisah membuat sebuah lengan di moscow, dimana mereka mengatakan bahwa lengan itu sedang dalam perjalanan menuju panti asuhan untuk segera dicangkokan. Hal ini mereka lakukan untuk membuktikan bahwa amputasi dan penggantian dengan yang baru merupakan sebuah terobosan yang dapat berhasil untuk dilakukan. Sementara itu, pihak Russia harus menyiapkan semua hal berkaitan dengan hal ini.Maka kemudian lengan kanan gadis kecil tersebut diamputasi.Namun tidak lama setelah itu, secara misterius para peneliti Russia segera bergegas mengepak peralatan mereka dan pergi. Lengan pengganti yang dijanjikan tidak pernah datang, dan gadis subyek tes tersebut dibiarkan begitu saja dengan perban yang dibebatkan melingkar dikimononya. Pihak Russia konon dikatakan bahwa mereka pergi dengan sangat tergesa gesa dan penuh dengan kekhawatiran. Seperti ada sesuatu yang mengancam jiwa mereka dan sesuatu yang tidak beres akan segera terjadi.Pemberontakan.Salah seorang anak yang berada dikomunitas panti asuhan ini, tidak menyetujui dengan kehadiran para peneliti. Dalam aksinya melakukan protes, dia mengambil salah satu catatan kerja penelitian dan menyobeknya menjadi kepingan kepingan kecil, menghancurkan banyak peralatan penelitian dari kaca, dan juga merusak ruang operasi. Gadis cilik ini, mengingat usianya yang baru saja 8 tahun sungguh mempunyai kemampuan dalam melakukan pengrusakan yang sangat luar biasa. Hal ini dicatat dalam sebuah jurnal, dan selain itu catatan lain ditambahkan mengenai gadis ini yang ternyata merupakan anak dengan heterochromic (memiliki mata yang berbeda warna dari kiri ke kanan; cokelat dan biru). Para ilmuwan senior sungguh sangat marah kepadanya, namun walaupun mereka menahannya, namun mereka tidak bisa mencegah rasa penasaran dan curiga mereka terhadap kelebihan yang ada dalam diri gadis cilik ini, namun bagaimanapun juga, mereka memerintahkan kepada tentara Nazi untuk mengurusnya.Gadis cilik ini dengan brutalnya dipenggal menggunakan bayonet tumpul, dia tidak dikubur, namun dibiarkan begitu saja terbuang di hutan dibelakang panti asuhan. Para tentara mengatakan kepada pengurus panti bahwa gadis cilik ini telah mendapatkan keluarga baru.Berbagai kegagalanpara ilmuwan Nazi berusaha untuk melakukan coba coba dengan hasil eksperimen mereka yang telah berhasil sebelumnya dengan mencoba menambahkan beberapa aspek yang berbeda didalamnya, sayangnya, tidak ada satupun aspek tersebut yang berhasil dan berjalan atau memberikan hasil. Berikut merupakan daftar dari aspek aspek tersebut :Pembedahan dengan masuk melalui dahi. Dilakukan terhadap seorang anak laki laki berumur 10 tahun, tengkoraknya menjadi cacat, mengalami kelainan bentuk dan pada akhirnya anak ini dilobotomy. Namun hasilnya, dia sungguh sangat pasif, tidak mampu menunjukan reaksi atas impuls atau rangsangan yang masuk sama sekali, anak ini menjadi anak dengan retardasi mental parah yang diakibatkan oleh eksperimen ini.Melalui rahang bawah. Dilakukan kepada gadis berumur 6 tahun, lidah dan nyaris keseluruhan daging yang ada dirahang bawah diangkat dan tidak bisa digantikan kembali. Sinus dari subyek ini juga hancur.Melalui samping kepala, sebagai hasilnya subyek menjadi setengah mati. Dalam catatan disebutkan bahwa operasi ini tidak menggunakan anastesi dan suara jeritan sungguh sangat memilukan, seperti yang tertulis dikebanyakan jurnal yang lain.Walaupun banyak sekali kegagalan dalam eksperimen ini, namun killswitch tetap saja diangkat, dan subyek bertingkah laku tidak jauh berbeda dengan gadis pertama, mengalami koma pada saat tidur..Pada akhirnya penghuni panti asuhan tersebut berkurang pesat menjadi hanya sepuluh orang saja, karena anak anak yang lain yang dijadikan obyek eksperimen, ternyata berakhir pada kegagalan. Dan dari kesepuluh ini termasuk sang pengurus panti juga, dan mereka melakukan operasi terhadap semua anak anak yang ada.Pembalikan KillswitchPara dokter mulai menyusun teori bahwa pada anak anak, sebuah killswitch belum diaktifkan, tapi pada orang dewasa sebuah killswitch bisa dibalikan dengan menggunakan senyawa kimia untuk menghilangkan hormon yang diproduksi dan kemudian barulah killswitch tersebut diangkat.Hal ini dilakukan kepada semua pengurus dan secara mengejutkan, hal ini benar benar berhasil dan mereka semua tetap hidup.Kepribadian menjadi janggalSepanjang eksperimen, para ilmuwan telah mendapatkan perinyah untuk selalu menjaga dan mengamati anak anak yang sukses menjalani eksperimen ini, dan mereka diharuskan untuk selalu memonitor perilaku mereka. Dan pada bagian ini semuanya menjadi bertambah aneh dan ganjil.“ Pada awalnya mereka nampak normal, seperti anak anak lain pada umumnya, bermain, bergembira, belajar normal, namun ketika terpisah satu dengan yang lain, mereka terlihat..... kosong. Mereka mondar mandir, dengan senyman kosong menghiasi wajah mereka, mata mereka menatap langsung tepat kearahmu. Jika didekati dari belakang, kepala mereka segera tersentak dan berputar dengan sangat cepatnya dan sekilas, kau hampir dapat melihat ekspresi yang sangat keji di wajah mereka yang membuatmu ingin membungkuk berlindung jika melihatnya. Namun kemudian kau akan menyadari bahwa mereka membentuk senyuman kosong itu kembali.hal lainnya adalah bahwa mereka menguntit kami, namun hanya ketika kami sedang sendirian saja. Setelah selesai mengetik dan menuju kamarku, aku seringkali dibuat ketakutan oleh salah seorang anak yang berdiri hanya beberapa meter dariku dilorong gelap, dan dia menatapku. Ketika aku beranjak menuju kamarku, gadis ini mengikutiku, dan aku mengunci rapat rapat pintu, mengganjalnya menggunakan kursi, hanya dengan cara itulah aku bisa tidur dengan merasa tenang. Rasanya mereka seperti sosok hantu yang datang pada malam hari. Dan hal yang sungguh lucu adalah, aku selalu terbayang dan melihat salah satu anak dengan rambut kemerahan. Aku selalu bersikeras untuk menanyakan siapakah gadis cilik dengan rambut kemerahan ini keesokan paginya, namun pengurus panti mengatakan bahwa mereka tidak pernah menerima anak dengan rambut kemerahan kembali. (1)Mereka juga terlihat seringkali memainkan sebuah permainan, jauh lebih sering daripada saat kami mulai. Aku tidak terlalu paham mengenai budaya jepang, namun nampaknya permainan ini bernama memutarimu, memutarimu (2), yang dijelaskan oleh salah satu translator. Satu grup anak anak mengelilingi seorang anak, yang duduk ditengah tengah lingkaran, sendirian, mereka saling bergandengan dan mulai bergerak dalam sebuah gerakan memutar mengelilingi anak yang ada ditengah tengah, membuat wajah wajah menakutkan untuk menakut nakuti dan kemudian menyanyikan sebuah dendang mengerikan, kau akan kalah jika tersentak kemudian.pada saat berbicara dengan mereka, aku menyadari mereka lebih terlihat seperti dalam keadaan sedang bermimpi, acuh dan lupa, serta entah kenapa aku melihat mereka sungguh terlihat sangat kosong, seperti bahwa semua eksperimen yang mereka jalani telah menghapus semua memori mereka. Namun hal ini bukan merupakan sebuah bentuk polos dari keadaan tengah bermimpi, tapi lebih pada sesuatu yang menakutkan dan mengancam. Mereka menatapmu dengan mata yang membelalak, dan kemudian menanyakan pertanyaan padamu sebuah pertanyaan yang sangat tidak disangka sangka, aku tidak pernah menyangka bahwa mereka bisa mengetahui lingkup pertanyaan yang mereka ajukan padaku. Salah seorang dari mereka menanyakan padaku 'ketika nenekmu mati, apakah dia benar benar meninggalkan sebuah jam tangan bersepuh emas?' hal ini sungguh sangat terasa gila, tapi jawaban jujurku adalah.... ya”Catatan :1 anak yang memberontak dan mengamuk melawan para ilmuwan memiliki rambut kemerahan2 Kagome Kagome berarti lingkaran, lingkaran. Permainan ini diterjemahkan menjadi memutarimu, memutarimuAkhirPada awal 1945, hiroshima dibom, jerman kalah dan bangkrut, dan eksperimen yang ada berhenti seketika. Pihak Jerman mulai mengepak perlatan mereka, kebanyakan dari mereka telah kembali kerumah dikarenakan “gangguan mental”, dilihat dari tanda tanda yang muncul dari dalam diri mereka yang menjurus pada kegilaan. Hanya tersisa 4 ilmuwan saja yang masih tinggal.Setelah mengirimkan peralatan terakhir, para peneliti kemudian hanya mengucapkan salam perpisahan singkat kepada pengurus panti bahwa mereka akan segera pergi.hal yang sungguh mengerikan yang dialami oleh salah seorang ilmuwan dan mengejutkan ilmuwan yang lain adalah, tanpa dinyana sang pengurus panti berkata dalam bahasa Jerman yang fasih “maukah kalian memainkan permainan terakhir bersama kami?”ketiga ilmuwan menyetujuinya, dan sebuah lingkaran dibentuk oleh anak anak dan pengurus panti, mereka kemudian mengelilingi para ilmuwan tersebut. “jika kalian sampai tersentak ketakutan, kalian kalah....”Salah seorang ilmuwan yang sungguh merasa ngeri segera berlari menuju truk terakhir dan segera melompat menaikinya tanpa pernah menoleh kebelakang kembali.”Kisah yang ada sekarangJika kalian pergi ke Hiroshima, pergilah menuju hutan yang lebat akan pepohonan dan kalian akan menemukan jalur setapak dari tanah disana. Jika kalian menyusurinya, kalian akan melihat rimba yang sungguh sangat indah, namun jika kalian menyusuri lebih dalam jalur dimana terdapat bekas jejak truk, kalian akan merasakan udara yang sangat dingin, dan kalian akan melihat disana banyak sekali bekas pepohonan yang ditebang. Tapi jangan pernah untuk menjelajahinya, jangan pernah keluar dari jalur setapak ini, atau kalian akan tersesat didalam rimba luas dan liar ini.Jika kalian memperhatikan sekitar, kalian akan menyadari bahwa tunggul pohon tersebut terlihat seperti manusia yang sedang berlutut, namun kehilangan kepalanya.Jika kalian terus melanjutkan berjalan, udara akan terasa semakin dingin, normal, karena kalian sedang mendaki sebuah bukit bukan? Tentu saja kemudian kalian akan mendapati sebuah tanah lapang, dengan sebuah bangunan tua terbuat dari batu ditengah tengahnya, tanaman merambat menutupi tempat ini.Masuklah jika kalian ingin bermain.Begitu kalian membuka pintu, bau busuk akan segera menyeruak, sama dengan bau busuk yang dihasilkan dari mayat. Jika kalian mengalihkan pandangan kalian menuju hall, keadaan disana akan sangat gelap walaupun siang hari, sebab tidak ada sinar yang masuk sedikitpun.Lanjutlah menuju hall, ambil persimpangan pada sisi kiri, dan kemudian susuri hall sampai kalian melihat sebuah pintu yang nampaknya terbuat dari kayu yang berwarna merah (yang lainnya berwarna cokelat). Buka pintu tersebut, kalian akan menjumpai 10 anak anak dan penjaga panti, semuanya mengenakan kimono, sedang bermain disebuah ruang bermain yang normal. Salah satu dari mereka kehilangan lengannya, yang lainnya kehilangan dahinya, dan yang ketiga rahangnya lepas, namun mereka semua diperban dalam ketelitian yang sangat tepat. Tempat ini harusnya terlihat sangat bersih dan rapiKehadiran kalian akan menarik perhatian semua orang yang ada diruangan tersebut, termasuk mereka yang berada terlalu jauh untuk teralihkan perhatiannya. Mereka akan berbalik untuk menatap kalian, senyum riang akan muncul dari semua wajah ramah mereka.ketua pengurus panti dengan semua kecantikannya kemudian akan bertanya pada kalian “maukah kau bergabung untuk bermain dengan kami?”Pada saat ini, jika kalian belum membasahi celana kalian dengan kencing, maka lebih baik kalian kencing sekarang, daripada kalian melakukannya saat kalian berada ditengah tengah permainan.Jika kalian menjawab “tidak”, pintu akan terbanting keras, dan jika kalian mencoba untuk menuju ke lorong menuju pintu keluar, kalian hanya akan menemukan lorong gelap lainnya. Buka pintu warna cokelat manapun dan kalian akan menjumpai meja operasi atau ranjang susun. Jika kalian melanjutkan untuk menyusuri lorong ketiga, kalian akan menyadari bahwa seorang gadis kecil berdiri hanya beberapa meter dibelakang kalian, wajahnya tertutup oleh bayangan. Hampiri dia, dan terkalah sendiri kematian kalian akan seperti apa. Lanjutlah menyusuri lorong, dan berusahalah agar tidak sampai dia menangkap kalian.Jika kalian menjawab “iya” kalian akan disambut diruangan tersebut. Pintu dibelakangmu akan tertutup, dan semua orang yang ada diruangan ini akan membentuk lingkaran mengelilingi kalian.“sekarang duduklah dan jangaaaaaann kaget!!” sebuah suara riang akan mengatakan hal iniIkutilah instruksi mereka, tepat seperti yang mereka instruksikan, dan kalian akan selamat.Semua lampu dan cahaya akan menghilang dari ruangan, namun kalian akan bisa melihat lingkaran dari anak anak, masing masing dari mereka akan memasang mimik muka bengis dan menyeramkan untuk menakuti kalian, salah satu dari mereka mungkin akan sangat buruk dan menakutkan sehingga mungkin kalian akan tersentak kaget. Namun jika kalian bisa menahan perasaan ngeri itu, mereka akan mulai bergerak memutari kalian, berulang ulang secara perlahan. Kalian mungkin akan merasakan salah seorang dari mereka menghambur kearah kalian. Namun, Jika kalian melihat kembali, tidak ada apapun dsiana, selain anak anak yang sedang memutari kalian secara normal.jika hal itu masih belum cukup, mereka akan mulai berdendang “Kagome, kagome...”Aku tidak bisa menjelaskan lebih lanjut lagi. Tidak ada seorangpun yang masih hidup untuk menceritakan kelanjutannya.Jika kalian tersentak kaget sebelum mereka mulai berdendang, mereka hanya akan melanjutkan semua dengan normal.Jika kalian memutuskan untuk menjawab “mungkin” atas pertanyaan dari pengasuh, atau hal lain selain iya atau tidak, konon dikisahkan kemudian bahwa ekspresi wajah dari anak anak ini akan berubah menjadi sangat mengerikan, dan mereka akan berteriak dengan suara yang takkan mampu dihasilkan dari seorang manusia “putuskan! PUTUSKAN!” jika kalian melakukan sesuatu yang lain selain iya atau tidak pada saat ini, maka dikatakan bahwa anak anak dan pengasuh tersebut akan membanting pintu dibelakang kalian. Dan jika kemudian kalian berbalik, kisahnya bervariasi. Namun yang jelas mimpi terburuk kalian menunggu diujung lorong, memisahkan kalian dengan pintu keluar.Hal terakhir yang bisa kalian lakukan hanyalah menyapa mahluk yang menunggu kalian sebelum sosok ini mencabik cabik tubuh kalian. Jika kalian tengah beruntung, maka sosok ini akan membalas sapaan dari kalian dan kemudian kalian akan mati sebagai orang yang terhormat, setidaknya. Jangan menyapanya, dan kalian akan berakhir seperti salah satu yang dipenggal yang kalian temui sebelumnya dijalan setapak.Jika kalian menjawab “tidak tahu”, dan kalian sungguh benar benar jujur dan asli dalam menjawabnya, ketua pengasuh kemudian akan berkata “pergilah kesekolahmu, dan lihatlah anak anakmu yang tengah bermain. Kau akan mengerti kemudian”. Tidak ada yang akan terjadi, dan tutuplah pintu saat kalian keluar, hal ini adalah sopan santun yang umum dilakukan.*************

Hide and Kill
Horror
04 Feb 2026

Hide and Kill

''Apakah kalian Siap '' Kataku , ''siap, coba saja kalau kau menemukan ku pertama kali lagi nanti giliran kamu nih yang akan kutemukan pertama kali,,,'' jawab salah satu teman ku yang ku tahu itu adalah suara temanku Hendri yang suka banyak omong.Oh ya namaku Charlie aku sedang bermain petak umpet bersama teman-temanku Hendri,Tasya,Dadang,dan ecci juga teman baikku Ronald, ini sudah kedua kalinya.kami bermain Dirumahku pada malam hari karena kami berpikir itu adalah waktu yang asyik untuk bermain petak umpet.''hei ,kalian dimana ,masa dari tadi aku terus yang jaga ''ucapku. Namun setelah aku lama mencari tidak dapat menemukan tempat persembunyian mereka.Kubuka Lemari kulkas dan ''haaaaaaaa apa yang terjadi padamu Hendri''. Hendri mati kedinginan didalam kulkas. Saat aku memanggil temanku mereka malah tertawa mendengar lelucon ku .krana hendri sedang bersama mereka.Sejenak aku berpikir bagai mana hendri bersama mereka tetapi mayat ini mirip sekali dg hendri.Oh iya di permainan pertama kutemukan hendri di bawah meja dapur lalu ku penggal kepala nya dan kumasukan ke freezer,ku belah perutnya dan mengambilususnya untuk kumakan nanti malam dan bagian lainnya kumasukan ker lemari es untuk cadangan makanan besok malam.Dadang berada di kamar mandi. Ia ku congkel matanya lalu kumasukan ketoilet memaotong kedua tangannya dan kupasang toilet,ter akhir ku tusuk jantungnya beberapa kali sampai tewas di bak mandi.Selanjutnya ada tasya yang berada di garasi ayah. Ia kusiksa lebih lama dari pada yang lain karna ia pernah menolak Cintaku ,wajahnya kusiram dengan air aki sambil ia menjerit-jerit tapi apa daya garasi sudah kuttupi dengan kedap suara, jadi tidak ada yang mendengarnya, kuiris telinganya dan kusiram matanya dengan larutan asam, sekarang ia sudah jelek dan agar tidak lagi disukai para laki-laki lagi, aku lindas saja sebagian wajahnya lalu kubakar ia dengan bensin.Ecci ia oran yang palin cepat mati , bari saja ku belah kepalanya saja sudah mati. Tidak menyenangkan . Dimana wajah sombong mu selama ini ahhkh.Dan temanku yang ter akhir dari tadi tidak bisa kutemukan adalah Ronald, Tapi ia sekaran sudah kutemukan di gudan peralatan ayahku, dengan kaki dan tangan ku ikat dengan kursi, ku copot plester yang menutup mulutnya . '' Dasar Bedebah kau Charli Ku kira kau teman baikku,kenapa kau bunuh teman-teman mu,kenapa kau tak ingin bunuh aku saja ,hiks '' ''tenang kawan kau yang akan kubunuh paling akhir,karena kau adalah teman baik ku........YANG SUKA MEMBICARAKAN KEBURUKANKU DIBELAKANGKU '' maka matilah kau Biadap glessssssssss kepalanya terjatuh dari tubuh nya dengan kapak k sy good bey my friends...

CHOCOLATE BAR
Horror
04 Feb 2026

CHOCOLATE BAR

Seharusnya ini menjadi perjalanan yang berkesan. Seharusnya kami membuat kenangan manis di tempat ini. Mungkin ini hukuman yang harus aku terima. Sungguh, sama sekali tak ku duga persahabatan yang terjalin dalam hitungan tahun, kini terancam retak hanya karena sebatang cokelat.Pagi ini aku terbangun di dalam tenda, meringkuk dengan kantung tidurku sembari meratapi nasib. Marah, kesal, takut, dan sedih semua bercampur aduk pada diriku. Namun, di antara semua itu hanya ada satu hal yang paling aku rasakan. 𝐿𝑎𝑝𝑎𝑟.Sudah empat hari terlewati semenjak persediaan makanan kami habis. Selama empat hari itu pula kami mati-matian bertahan hidup. Rasa lapar kami tebus dengan mengikis kulit kering dari pepohonan ataupun mengunyah daun kering. Rasa dahaga kami bayarkan dengan menjulurkan lidah ke langit, mengandalkan hujan rintik yang sesekali turun. Terdampar selama 10 hari di tempat ini berhasil merubah kami menjadi hewan liar. Tak ada lagi yang peduli dengan martabat dan kehormatan. Optimisme yang kami miliki perlahan memudar. "Kita pasti selamat" bukan lagi kalimat yang selalu didengungkan di hadapan api unggun. Raut wajah kami tak lagi seceria hari pertama. Suara tawa kami tak lagi riuh terdengar. Namun, semua itu tak meruntuhkan semangat kami. Yang jelas, tak ada satupun dari kami yang sudi meregang nyawa di jurang sialan ini.Sungguh, orang tolol macam apa yang tak sengaja membakar peta kami di api unggun? Orang tolol macam apa yang terjatuh dari tebing, namun justru menyeret teman-temannya ke dalam jurang juga? Lalu, dengan bodohnya membuat kakinya patah, tak mampu berjalan dan menambah beban sahabatnya. Seakan belum cukup, dengan egoisnya ia menyembunyikan sebatang cokelat untuk dirinya sendiri! Seakan sahabatnya yang kelaparan tak ada maknanya bagi dirinya! Tak akan bisa kau bayangkan apa yang dirasakan teman-temannya ketika mereka menemukan sebungkus cokelat di balik jaketnya! Dasar berengsek, semua ini karena orang itu! Ya, semua ini terjadi karena aku, William si Idiot.Pasti itu yang mereka rasakan pada diriku. Aku sungguh menyesali atas apa yang telah ku lakukan. Aku menyesali atas keangkuhanku sebagai manusia. Dengan arogan aku mengkhianati teman-temanku, sahabat yang tulus mempercayaiku. Mungkin, aku tak lagi pantas disebut sebagai teman oleh mereka. Bahkan, mungkin aku tak lagi pantas disebut sebagai manusia.Tapi, semua penyesalanku kini tak berarti. Tadi malam, Oliver mengatakan padaku bahwa ia menemukan celah di dinding. Rob dan Zack hanya memandangi diriku tanpa emosi, seakan meminta persetujuan dariku. Dinding tebing memang cukup licin untuk didaki, namun jika kami bisa melewatinya mungkin kami bisa pulang. Namun, celah tersebut terlalu sempit, dan sulit dilewati. Terutama bagiku yang kondisi kakinya tak memungkinkan untuk berjalan. Oliver berjanji besok pagi kita semua bisa pulang.Pagi ini, aku terbangun di tenda sendirian. Tak ada Zack, tak ada Rob, tak ada Oliver. Mereka pasti meninggalkanku. Ya, sudah sewajarnya mereka menelantarkanku. Siapa juga yang mau menyelamatkan teman yang egois dan juga pincang, ya kan? Haha, mungkin ini memang hukuman yang pantas ku terima. William si Idiot akan mati sendirian di jurang antah-berantah! Kematian yang pantas untukku. Air mata yang membasahi pipiku ini bahkan tak dapat menghapus kesalahan yang telah ku lakukan.Kini di tenda aku hanya bisa meringis menahan perih pada perutku. Tubuhku dingin, namun keringat terus mengalir dari dahiku. Jari-jariku gemetar menancapkan kuku di perut, berusaha menahan raungan perutku yang beringas. Oh Tuhan, aku rela melakukan apa saja demi sepotong roti. Pedih yang kurasakan karena lapar, dan juga pedih yang kurasakan dari kakiku seakan berlomba-lomba untuk melihat siapa yang berhasil menghilangkan kesadaranku terlebih dahulu. Ah, ya ini pasti akhirnya...*SRAKK! SRAKK!*Di tengah ratapanku, tiba-tiba aku mendengar suara daun kering yang terinjak-injak. Suara itu semakin keras. Langkah kaki itu perlahan mendekat. Tak berapa lama, aku melihat siluet di depan tenda. Aku ingin menjerit, namun kerongkongan ku terlalu kering untuk mengeluarkan suara. Dengan sigap aku meraih senter, satu-satunya benda yang bisa kulemparkan pada makhluk apapun yang berada di luar tenda.*ZZZRRRT!!*Makhluk itu membuka resleting tenda, lalu tanpa aba-aba aku melemparkan senter tepat ke wajahnya hingga ia tersungkur ke tanah."OUCH!!"Hah? Ouch?Makhluk itu bangkit kembali dan menghampiriku."Agh! Shit!! Apa-apaan tadi itu, Will?!" ujar Oliver dengan nada kesal sambil mengusap dahinya."Oliver? A-apa yang kau lakukan di sini?!" tanyaku dengan penuh keheranan."Apa maksudmu?! Dasar berengsek, kau pikir selama ini kita dimana?!""A-aku kira... Aku kira kalian meninggalkanku..."Oliver terdiam beberapa detik. Kepalanya menunduk ke tanah tanpa berkata-kata. Rambutnya yang gondrong menutupi wajahnya. Saat itu, semua seakan terasa lebih dingin."Jangan konyol, Will! Mana mungkin kami meninggalkanmu! Rob dan Zack sudah menunggumu di celah dinding itu! Aku akan membantumu. Ayo!"Aku memandang Oliver dengan canggung."Hey, ayolah cepat! Kita tak punya banyak waktu!"Oliver menyingkapkan rambutnya dan memperlihatkan wajahnya. Kemudian ia mengulurkan tangannya yang kini kurus kering padaku.Pada saat itulah aku melihatnya, dan aku membeku...Bibirku yang kering menyunggingkan senyum palsu. Dengan gemetar aku meraih uluran tangan Oliver."Baiklah, Oliver. Antarkan aku pulang." ucapku pasrah.Ah, tentu saja semua ini akan lebih mudah...Seandainya saja aku tak melihat pandangan mata Oliver yang liar dan penuh amarah...Seandainya saja aku tak melihat belati yang ia sembunyikan di balik mantelnya...Seandainya saja aku tak melihat air liur Oliver yang kian menetes membasahi bibirnya...Setidaknya, aku bisa menebus dosaku...

The sound of silence
Horror
04 Feb 2026

The sound of silence

Jalan itu tertutup kabut tebal. Denise memutuskan untuk menyewa kamar untuk malam itu, karena dia parkir di dekat hotel yang tidak dikenalnya. Dia keluar dari mobilnya, mencari-cari tanda-tanda pintu masuk dalam kabut kelabu. Cahaya kecil menerobos kabut untuk membuka pintu kaca menuju lobi hotel. Seorang lelaki tua di belakang konter menatap Denise dengan ekspresi lelah. "Bolehkah aku membantumu, Nona?" Dia bertanya dengan suara letih. Denise maju dan meminta sebuah kamar. Setelah pertukaran, dia diberi kunci. Dia menuju ke kamar dan mengunci pintu di belakangnya.Dia duduk sebentar, berbicara dengan seorang rekan yang selalu mendengarkannya. Dia selalu ada di sana; dari perceraiannya yang membawa bencana, sampai kematian orang tuanya. Tidak ada yang mengerti dia seperti dia. Dia membuatnya merasa aman, selalu melindunginya dari kekejaman dunia luar. Dia meninggalkan semuanya dengan dia di sisinya. Dia tidak pernah menghakiminya. Dia tidak pernah mengecewakannya. Denise merasa lengkap ketika dia pertama kali menahannya, seorang wanita yang selalu menjalani kehidupan di satu jalan. Ketika dia menahannya, dia merasakan kekuatan yang hanya bisa dia berikan.Denise mengeluarkan botol anggur, menghirupnya dengan penuh air mata saat stereo bergetar dengan musik favoritnya. Malam masih; masih cukup untuk pikirannya datang dengan seketika. Dia mengingat pepatah lama, "Pikiran Anda bisa menjadi musuh terburuk Anda sendiri." Imajinasinya merajalela dengan berbagai kemungkinan; apa yang bisa terjadi, bagaimana hal-hal seharusnya terjadi, dan bagaimana semuanya sudah terlambat untuk berubah. Pilihan tidak dapat diambil kembali setelah dibuat.Denise pergi ke kamar mandi, menyebarkan rias wajahnya ke seluruh wastafel. Dia memperbaiki dirinya dengan sempurna untuk pasangannya. Dia selalu bangga dengan seberapa baik dia bisa menempatkan lipstik merah di bibir lembutnya. Denise memang wanita yang cantik, tapi dia tidak pernah melihat dirinya seperti itu. Mantan suaminya tidak peduli bahwa dia adalah visi kecantikan; Satu-satunya tujuannya adalah menaklukkan hati wanita lain. Mitra Denise akhirnya menangani masalah itu.Musik bergeser ke jazz lembut. Denise perlahan menari keluar dari kamar mandi dan lebih dekat ke tempat tidur, di mana dia mendapati pasangannya dan memeluknya erat saat malam berlangsung, semua air mata bergulir di matanya. Maskaranya dicampur dengan air, mengikuti lesung pipinya. Tarian itu berhenti sejenak saat musik berakhir dengan suara hening. Denise memandang pasangannya, siap melakukan apa yang sudah lama ingin dilakukannya. Dia berlutut, meraihnya dengan kuat. Dia selalu mengagumi seberapa besar dia, sering merasa dia ingat berapa banyak kekuatan yang dia berikan padanya. Perlahan-lahan, dia menempatkan poros di mulutnya sejauh mungkin. Ulurkan kebahagiaan melalui tubuhnya; dia akhirnya melakukan apa yang dia ingin lakukan sepanjang waktu ini. Dia menutup matanya saat pasangannya akhirnya mengatakan sesuatu sepanjang itu,Tembakan itu terdengar oleh beberapa kamar. Polisi menemukan tubuh Denise di lantai

Menampilkan 24 dari 1144 cerita Halaman 10 dari 48
Menampilkan 24 cerita