Gambar dalam Cerita
Hari itu seharusnya menjadi hari bahagia.
Ayah Salsadila berdiri di depan cermin kamar, merapikan jasnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Di ruang tamu, kursi-kursi telah tersusun rapi, bunga melati memenuhi sudut rumah, dan aroma harum bercampur dengan doa-doa yang sejak pagi dipanjatkan.
Hari ini, ayahnya akan menikah kembali.
Salsa—begitu ia biasa dipanggil—duduk di tepi tempat tidur sambil menatap pantulan dirinya sendiri. Gaun sederhana berwarna krem membalut tubuhnya. Wajahnya tenang, bahkan tersenyum kecil. Tidak ada penolakan. Tidak ada amarah.
Perempuan yang akan menjadi istri ayahnya adalah Bu Ratna, sahabat almarhum ibunya.
Salsa mengenalnya sejak kecil. Perempuan itu yang selalu datang ketika Salsa demam, yang menyiapkan makanan saat ayahnya lembur, yang duduk menemani Salsa belajar ketika teman-temannya bermain. Dalam diam, Salsa sudah menganggapnya sebagai ibu.
Dan bersama Bu Ratna… akan hadir satu orang baru dalam hidupnya.
Raka.
Putra tunggal Bu Ratna dari pernikahan sebelumnya.
Mereka seumuran. Bedanya, Raka lebih tinggi, lebih pendiam, dan memiliki tatapan yang selalu seolah menyimpan jarak. Mereka sudah bertemu beberapa kali, tapi tak pernah benar-benar berbincang panjang. Sekadar anggukan, senyum tipis, lalu kembali ke dunia masing-masing.
Salsa tak pernah mengira, kehadiran laki-laki itu akan mengubah banyak hal.
Babak Baru
Setelah akad nikah selesai dan rumah kembali sunyi, kehidupan baru dimulai.
Kini mereka tinggal serumah—empat orang dengan status yang tak lagi sama.
Bu Ratna berusaha menjadi ibu sebaik mungkin. Ayah Salsa terlihat lebih sering tersenyum. Semuanya berjalan wajar… setidaknya di permukaan.
Raka pindah ke kamar di ujung lorong, tepat berseberangan dengan kamar Salsa.
Mereka mulai sering bertemu: di dapur, di ruang makan, di ruang TV. Percakapan tetap singkat, canggung.
“Udah makan?”
“Belum.”
“Oh.”
Hanya itu.
Namun, tanpa Salsa sadari, Raka selalu memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya. Cara Salsa mengikat rambut ketika belajar. Kebiasaannya menyeduh teh setiap malam. Tatapan kosong yang muncul setiap kali Salsa melihat foto lama ibunya.
Dan Salsa pun mulai menyadari hal yang sama.
Raka selalu ada ketika ia pulang terlambat. Selalu bertanya dengan nada datar, “Kok pulang malam?” Selalu meninggalkan segelas air di meja belajarnya tanpa sepatah kata.
Hubungan mereka pelan-pelan berubah. Tidak ada sentuhan berlebihan. Tidak ada kata-kata manis. Tapi ada kenyamanan yang aneh.
Perasaan yang Salah
Semua berubah di suatu malam hujan.
Listrik padam. Rumah gelap. Petir menyambar keras.
Salsa yang takut gelap keluar kamar, mendapati Raka duduk di ruang tamu dengan lilin kecil di atas meja.
“Kamu takut?” tanya Raka pelan.
Salsa mengangguk.
Tanpa banyak bicara, Raka menggeser duduknya, memberi ruang. Mereka duduk bersebelahan. Hujan semakin deras.
“Kadang,” Raka membuka suara, “aku ngerasa rumah ini terlalu sunyi.”
Salsa menoleh. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi rapuh Raka.
“Padahal ramai,” jawab Salsa lirih.
“Iya. Tapi tetap terasa sepi.”
Malam itu menjadi awal segalanya.
Setelahnya, mereka semakin dekat. Terlalu dekat untuk sekadar saudara. Terlalu salah untuk disebut wajar.
Tatapan yang terlalu lama. Perhatian yang terlalu dalam. Rasa cemburu yang tak seharusnya ada.
Salsa tahu ini salah. Raka tahu ini terlarang.
Tapi perasaan tak pernah bertanya apakah ia boleh tumbuh atau tidak.
Pecahnya Diam
Konflik memuncak ketika suatu malam Bu Ratna melihat mereka tertidur di sofa—berdekatan, tangan hampir saling bersentuhan.
Tidak ada adegan yang salah. Tapi insting seorang ibu tak pernah keliru.
Keesokan harinya, Raka dipanggil.
“Apa yang kamu rasakan ke Salsa?” tanya Bu Ratna, dengan suara gemetar.
Raka terdiam lama.
“Aku berusaha berhenti,” jawabnya akhirnya. “Tapi aku gagal.”
Tamparan tak pernah mendarat. Tapi kata-kata Bu Ratna lebih menyakitkan.
“Kalian keluarga.”
Hari itu, Raka memutuskan pergi.
Tanpa pamit pada Salsa.
Perpisahan
Salsa menemukan kamar Raka kosong. Lemari terbuka. Meja belajar bersih.
Hanya satu surat tertinggal.
Salsa,
Maaf karena aku nggak cukup kuat untuk tetap tinggal tanpa menyakitimu.
Aku pergi bukan karena nggak peduli. Justru karena terlalu peduli.
Hidup yang benar bukan selalu hidup yang kita inginkan.
Jaga dirimu.
—Raka
Tangis Salsa pecah malam itu.
Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, ia merasa kehilangan lagi.
Epilog
Tahun-tahun berlalu.
Salsa tumbuh dewasa. Menjadi perempuan yang kuat, tenang, dan berdamai dengan masa lalu.
Suatu sore, di sebuah kafe kecil, ia melihat sosok yang familiar.
Raka.
Mereka saling menatap. Tidak ada pelukan. Tidak ada air mata.
Hanya senyum tipis.
“Bahagia?” tanya Raka.
“Belajar,” jawab Salsa.
Mereka mengerti—tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimiliki. Beberapa hanya datang untuk mengajarkan arti melepaskan.
Dan mereka… adalah salah satunya.