My beautiful ex wife
Romance
05 Feb 2026 08 Feb 2026

My beautiful ex wife

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-05T222630.973.jfif

download - 2026-02-05T222630.973.jfif

05 Feb 2026, 23:29

download - 2026-02-05T222622.589.jfif

download - 2026-02-05T222622.589.jfif

05 Feb 2026, 23:29

download - 2026-02-06T070339.689.jfif

download - 2026-02-06T070339.689.jfif

06 Feb 2026, 00:04

download - 2026-02-06T070335.879.jfif

download - 2026-02-06T070335.879.jfif

06 Feb 2026, 00:04

Hari itu Salma pulang dari rumah sakit dengan langkah ringan, meski hatinya berdebar. Dua tahun menunggu, dua tahun berharap, dua tahun menahan tanya yang tak terjawab—akhirnya dokter tersenyum dan mengangguk. Salma mengandung. Dunia rasanya kembali berwarna.

Di dalam taksi menuju kantor Rony, Salma memandangi hasil pemeriksaan yang ia simpan rapi di tas. Ia membayangkan wajah Rony yang akan terkejut, lalu tertawa, mungkin memeluknya. Ia ingin menjadi orang pertama yang membawa kabar ini. Ia ingin momen itu menjadi milik mereka berdua.

Namun, takdir memilih cara lain.

Saat Salma tiba di kantor, suasana terasa aneh. Meja resepsionis kosong. Ruang kerja Rony pun sunyi. Ia memanggil pelan, tak ada jawaban. Langkahnya terhenti di depan kamar pribadi—pintu sedikit terbuka. Dari celah itu, Salma melihat sesuatu yang seharusnya tak pernah ia lihat.

Hatinya seolah runtuh.

Ia tak berteriak. Tak menangis keras. Hanya ada rasa dingin yang menjalar dari dada ke ujung jari. Salma berdiri terpaku, menyadari bahwa kebahagiaan yang baru saja ia genggam kini pecah berkeping-keping. Dengan tangan gemetar, ia mengabadikan bukti sekadarnya—bukan untuk balas dendam, melainkan untuk melindungi dirinya sendiri—lalu pergi.

Malamnya, Rony pulang dan mendapati rumah kosong. Lemari Salma kosong. Bibi rumah menangis, menyampaikan pesan singkat: Salma pergi dan tak akan kembali. Saat Rony membuka ponselnya, ia melihat kiriman Salma. Dunia Rony berhenti berputar.

Penyesalan datang seperti gelombang yang tak memberi jeda.

Salma berlindung di rumah Nabila dan Paul. Ia bercerita dengan suara yang sering terputus. Di balik ketegaran yang ia paksakan, ada perempuan yang hancur. Ada calon ibu yang ketakutan. Ada istri yang kehilangan kepercayaan.

Paul menyarankan langkah bijak dan tenang. Nabila memeluk Salma erat. “Kamu tidak sendirian,” katanya. Salma mengangguk, menahan air mata. Di dalam dirinya, ia berjanji: anak ini akan lahir dalam lingkungan yang aman dan penuh cinta.

Enam bulan berlalu. Perceraian diputuskan. Rony jatuh dalam kesunyian panjang. Ia menutup diri, menyesali satu keputusan yang meruntuhkan segalanya. Ia mencoba meminta maaf, namun Salma telah menutup semua pintu. Bukan karena benci, melainkan karena ia perlu selamat.

Tujuh belas tahun kemudian, Salma kembali ke Indonesia bersama Keenan. Ia datang bukan sebagai perempuan yang patah, melainkan ibu yang telah menempuh jalan panjang sendirian. Keenan tumbuh menjadi remaja yang hangat, santun, dan penuh empati—buah dari cinta yang Salma rawat dengan susah payah.

Takdir kembali mempertemukan Salma dan Rony. Kali ini, tanpa amarah. Rony yang menua oleh penyesalan, Salma yang matang oleh waktu. Saat Rony menyadari bahwa Keenan adalah putranya, ia menangis—bukan untuk menuntut, melainkan untuk mengakui kehilangan.

Salma memaafkan. Bukan karena lupa, tetapi karena ia telah berdamai. Ia memilih membuka pintu bagi Rony sebagai ayah, demi Keenan. Hubungan mereka dibangun pelan-pelan, dengan batas yang jelas dan kejujuran yang tak ditawar.

Rony belajar hadir. Belajar menepati janji kecil. Belajar menunggu. Keenan, dengan kebijaksanaan yang tak sesuai usianya, menerima ayahnya dengan hati terbuka namun teguh. “Jaga Bunda,” katanya suatu hari. Rony mengangguk, sungguh-sungguh.

Waktu merajut ulang kepercayaan. Bukan seperti dulu, tetapi lebih dewasa. Ketika akhirnya Salma dan Rony memutuskan untuk menyatukan kembali keluarga mereka, keputusan itu lahir dari kesadaran penuh. Tanpa paksaan. Tanpa rahasia.

Pernikahan mereka sederhana. Tak ada kemewahan. Hanya doa, harapan, dan komitmen untuk menjaga apa yang pernah hampir hilang. Keenan tersenyum—untuk pertama kalinya, ia melihat kedua orang tuanya berdiri berdampingan dengan tenang.

Bagi Salma, cinta kali ini bukan tentang menunggu keajaiban, melainkan tentang memilih setiap hari. Bagi Rony, ini adalah kesempatan kedua yang ia jaga dengan sepenuh jiwa.

Dan bagi Keenan, keluarga bukan lagi mimpi—melainkan rumah.

Kembali ke Beranda