Gambar dalam Cerita
Seharusnya ini menjadi perjalanan yang berkesan. Seharusnya kami membuat kenangan manis di tempat ini. Mungkin ini hukuman yang harus aku terima. Sungguh, sama sekali tak ku duga persahabatan yang terjalin dalam hitungan tahun, kini terancam retak hanya karena sebatang cokelat.
Pagi ini aku terbangun di dalam tenda, meringkuk dengan kantung tidurku sembari meratapi nasib. Marah, kesal, takut, dan sedih semua bercampur aduk pada diriku. Namun, di antara semua itu hanya ada satu hal yang paling aku rasakan. πΏππππ.
Sudah empat hari terlewati semenjak persediaan makanan kami habis. Selama empat hari itu pula kami mati-matian bertahan hidup. Rasa lapar kami tebus dengan mengikis kulit kering dari pepohonan ataupun mengunyah daun kering. Rasa dahaga kami bayarkan dengan menjulurkan lidah ke langit, mengandalkan hujan rintik yang sesekali turun. Terdampar selama 10 hari di tempat ini berhasil merubah kami menjadi hewan liar. Tak ada lagi yang peduli dengan martabat dan kehormatan. Optimisme yang kami miliki perlahan memudar. "Kita pasti selamat" bukan lagi kalimat yang selalu didengungkan di hadapan api unggun. Raut wajah kami tak lagi seceria hari pertama. Suara tawa kami tak lagi riuh terdengar. Namun, semua itu tak meruntuhkan semangat kami. Yang jelas, tak ada satupun dari kami yang sudi meregang nyawa di jurang sialan ini.
Sungguh, orang tolol macam apa yang tak sengaja membakar peta kami di api unggun? Orang tolol macam apa yang terjatuh dari tebing, namun justru menyeret teman-temannya ke dalam jurang juga? Lalu, dengan bodohnya membuat kakinya patah, tak mampu berjalan dan menambah beban sahabatnya. Seakan belum cukup, dengan egoisnya ia menyembunyikan sebatang cokelat untuk dirinya sendiri! Seakan sahabatnya yang kelaparan tak ada maknanya bagi dirinya! Tak akan bisa kau bayangkan apa yang dirasakan teman-temannya ketika mereka menemukan sebungkus cokelat di balik jaketnya! Dasar berengsek, semua ini karena orang itu! Ya, semua ini terjadi karena aku, William si Idiot.
Pasti itu yang mereka rasakan pada diriku. Aku sungguh menyesali atas apa yang telah ku lakukan. Aku menyesali atas keangkuhanku sebagai manusia. Dengan arogan aku mengkhianati teman-temanku, sahabat yang tulus mempercayaiku. Mungkin, aku tak lagi pantas disebut sebagai teman oleh mereka. Bahkan, mungkin aku tak lagi pantas disebut sebagai manusia.
Tapi, semua penyesalanku kini tak berarti. Tadi malam, Oliver mengatakan padaku bahwa ia menemukan celah di dinding. Rob dan Zack hanya memandangi diriku tanpa emosi, seakan meminta persetujuan dariku. Dinding tebing memang cukup licin untuk didaki, namun jika kami bisa melewatinya mungkin kami bisa pulang. Namun, celah tersebut terlalu sempit, dan sulit dilewati. Terutama bagiku yang kondisi kakinya tak memungkinkan untuk berjalan. Oliver berjanji besok pagi kita semua bisa pulang.
Pagi ini, aku terbangun di tenda sendirian. Tak ada Zack, tak ada Rob, tak ada Oliver. Mereka pasti meninggalkanku. Ya, sudah sewajarnya mereka menelantarkanku. Siapa juga yang mau menyelamatkan teman yang egois dan juga pincang, ya kan? Haha, mungkin ini memang hukuman yang pantas ku terima. William si Idiot akan mati sendirian di jurang antah-berantah! Kematian yang pantas untukku. Air mata yang membasahi pipiku ini bahkan tak dapat menghapus kesalahan yang telah ku lakukan.
Kini di tenda aku hanya bisa meringis menahan perih pada perutku. Tubuhku dingin, namun keringat terus mengalir dari dahiku. Jari-jariku gemetar menancapkan kuku di perut, berusaha menahan raungan perutku yang beringas. Oh Tuhan, aku rela melakukan apa saja demi sepotong roti. Pedih yang kurasakan karena lapar, dan juga pedih yang kurasakan dari kakiku seakan berlomba-lomba untuk melihat siapa yang berhasil menghilangkan kesadaranku terlebih dahulu. Ah, ya ini pasti akhirnya...
*SRAKK! SRAKK!*
Di tengah ratapanku, tiba-tiba aku mendengar suara daun kering yang terinjak-injak. Suara itu semakin keras. Langkah kaki itu perlahan mendekat. Tak berapa lama, aku melihat siluet di depan tenda. Aku ingin menjerit, namun kerongkongan ku terlalu kering untuk mengeluarkan suara. Dengan sigap aku meraih senter, satu-satunya benda yang bisa kulemparkan pada makhluk apapun yang berada di luar tenda.
*ZZZRRRT!!*
Makhluk itu membuka resleting tenda, lalu tanpa aba-aba aku melemparkan senter tepat ke wajahnya hingga ia tersungkur ke tanah.
"OUCH!!"
Hah? Ouch?
Makhluk itu bangkit kembali dan menghampiriku.
"Agh! Shit!! Apa-apaan tadi itu, Will?!" ujar Oliver dengan nada kesal sambil mengusap dahinya.
"Oliver? A-apa yang kau lakukan di sini?!" tanyaku dengan penuh keheranan.
"Apa maksudmu?! Dasar berengsek, kau pikir selama ini kita dimana?!"
"A-aku kira... Aku kira kalian meninggalkanku..."
Oliver terdiam beberapa detik. Kepalanya menunduk ke tanah tanpa berkata-kata. Rambutnya yang gondrong menutupi wajahnya. Saat itu, semua seakan terasa lebih dingin.
"Jangan konyol, Will! Mana mungkin kami meninggalkanmu! Rob dan Zack sudah menunggumu di celah dinding itu! Aku akan membantumu. Ayo!"
Aku memandang Oliver dengan canggung.
"Hey, ayolah cepat! Kita tak punya banyak waktu!"
Oliver menyingkapkan rambutnya dan memperlihatkan wajahnya. Kemudian ia mengulurkan tangannya yang kini kurus kering padaku.
Pada saat itulah aku melihatnya, dan aku membeku...
Bibirku yang kering menyunggingkan senyum palsu. Dengan gemetar aku meraih uluran tangan Oliver.
"Baiklah, Oliver. Antarkan aku pulang." ucapku pasrah.
Ah, tentu saja semua ini akan lebih mudah...
Seandainya saja aku tak melihat pandangan mata Oliver yang liar dan penuh amarah...
Seandainya saja aku tak melihat belati yang ia sembunyikan di balik mantelnya...
Seandainya saja aku tak melihat air liur Oliver yang kian menetes membasahi bibirnya...
Setidaknya, aku bisa menebus dosaku...