Jatuh Cinta Lagi
Romance
05 Feb 2026 08 Feb 2026

Jatuh Cinta Lagi

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-05T222630.973.jfif

download - 2026-02-05T222630.973.jfif

05 Feb 2026, 15:26

download - 2026-02-05T222622.589.jfif

download - 2026-02-05T222622.589.jfif

05 Feb 2026, 15:26

Di rumah sakit itu, tangis Salma terdengar pilu, nyaris tak tertahankan. Tubuhnya bergetar saat menatap pintu kamar jenazah—tempat suaminya berbaring tanpa nyawa. Baru setahun mereka menikah, dan kini ia harus merelakan Fajar untuk selamanya.

Salma dan Fajar bertemu dua tahun lalu di tempat kerja yang sama. Dari rekan kerja, tumbuh rasa saling peduli. Setahun kemudian, Fajar melamar Salma dengan jujur—tentang penyakit yang ia derita, tentang waktu yang mungkin tak panjang. Salma tahu risikonya, namun ia memilih tinggal. Ia memilih mencintai.

Fajar mengidap kanker hati stadium lanjut. Selama setahun pernikahan mereka, Salma setia menemani—di ruang rawat, di lorong rumah sakit, di malam-malam panjang penuh doa. Fajar sering berkata bahwa ia adalah lelaki paling beruntung karena bisa menghabiskan sisa hidupnya bersama Salma, meski sebentar.

“Salma?”

Suara itu membuat Salma menoleh. Di hadapannya berdiri seseorang dari masa lalu—wajah yang tak pernah benar-benar ia lupakan.

“Rony?” suara Salma serak.

Rony mengangguk pelan. Mereka pernah saling mencintai di masa SMA, namun perbedaan latar belakang dan penolakan keluarga membuat Salma memilih pergi. Luka itu tak pernah benar-benar sembuh—hanya tertutup waktu.

“Maaf… panggil aku Salma saja,” ucapnya lirih.

Rony melihat mata Salma yang sembab. “Siapa yang meninggal?”

“Suamiku.”

Kalimat itu jatuh seperti beban. Rony terdiam, lalu menunduk hormat. Ia menyampaikan belasungkawa dengan tulus. Tak ada pertanyaan berlebihan, hanya doa singkat dan tatapan penuh empati. Sebelum pergi, Rony meminta nomor Salma—bukan untuk apa pun, hanya agar suatu hari bisa menanyakan kabarnya.

Salma mengangguk, lalu pergi mengiringi jenazah suaminya. Di dalam hatinya, duka dan kenangan lama bertabrakan.

Seminggu berlalu. Salma kembali bekerja. Rekan-rekannya memberi dukungan, termasuk Nabila—sahabat yang tak henti menguatkannya. Saat ditawari proyek besar di Bandung, Salma menerimanya. Ia tahu, kesedihan tak boleh menjadi alasan untuk berhenti hidup.

Dua bulan setelah kepergian Fajar, Salma mencoba bangkit. Ia menyimpan rindu dan doa di tempat yang aman di hatinya—tanpa menenggelamkan diri di dalamnya.

Di Bandung, takdir kembali mempertemukannya dengan Rony. Mereka tergabung dalam proyek yang sama. Awalnya canggung, lalu perlahan menjadi hangat. Obrolan mereka sederhana—tentang pekerjaan, tentang hidup. Rony menyimpan banyak hal, Salma pun demikian.

Suatu sore, di tengah hujan dan gemuruh petir, trauma lama Salma kembali muncul. Ia teringat hari ketika orang tuanya pergi untuk selamanya—tersambar petir di sawah. Hujan selalu memicu ketakutan itu.

Rony melihat Salma gemetar di depan pintu kamar. Tanpa banyak kata, ia menenangkan. Tidak ada niat buruk, tidak ada batas yang dilanggar. Hanya kehadiran—dan itu cukup.

Malam itu, Salma tertidur dengan rasa aman yang sudah lama tak ia rasakan.

Hari-hari berikutnya membawa kedekatan yang jujur. Rony akhirnya menceritakan rumah tangganya—tentang pernikahan yang tak pernah hangat, tentang pengkhianatan yang ia saksikan sendiri, tentang upayanya bertahan dan kegagalannya. Salma mendengarkan tanpa menghakimi.

“Aku turut sedih,” ucap Salma pelan. “Kalian sama-sama terluka.”

Rony mengangguk. “Aku tidak ingin membenarkan diriku. Aku hanya ingin jujur.”

Pelukan itu terjadi bukan karena hasrat, melainkan karena dua orang yang sama-sama lelah. Dua orang yang pernah saling kehilangan.

Namun ketika perasaan lama muncul terlalu cepat, Salma menarik diri. “Ini salah,” katanya. “Aku baru kehilangan. Aku butuh waktu.”

Rony menghormati itu.

Ia melamar Salma dengan cara yang sederhana—tanpa paksaan, tanpa janji berlebihan. “Aku ingin menunggu. Jika kamu siap, aku di sini.”

Salma menangis. Bukan karena ragu, tetapi karena akhirnya ia merasa aman untuk memilih.

“Aku mau,” katanya. “Tapi beri aku waktu.”

Enam bulan kemudian, mereka menikah. Tanpa kemewahan berlebihan. Hanya keluarga, doa, dan komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan. Salma menyimpan kenangan Fajar di tempat yang layak—bukan untuk dibandingkan, melainkan dihormati.

Rony memahami. Ia tidak cemburu pada masa lalu yang telah mengajarkan Salma tentang ketulusan.

Malam pertama mereka tidak diceritakan dengan detail—cukup dengan satu kalimat sederhana:

mereka memilih saling menjaga.

Hari-hari setelahnya dipenuhi tawa kecil, omelan ringan, dan proses belajar menjadi pasangan yang sehat. Rony yang jahil, Salma yang tegas—keduanya tumbuh bersama.

Salma tahu hidupnya penuh kehilangan. Namun kali ini, ia tidak berjalan sendirian.

Dan Rony tahu, cinta sejati bukan tentang memiliki, melainkan menjaga.

Kembali ke Beranda