Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Misteri Toilet Umum
Malam itu aku baru selesai menonton sebuah film di bioskop. Pada awalnya aku berniat menonton Sadako vs Kayako, namun niat itu harus aku batalkan karena saat itu sangat penuh sehingga aku memilih menonton sebuah film yang aku lupa apa judulnya.Tepat pukul setengah 8 malam aku selesai menonton film dan langsung bergegas ke parkiran karena orang tua sudah menunggu di mobil untuk pulang. Diperjalanan pulang aku hanya diam saja di mobil dengan sesekali bermain smartphone dan mengobrol dengan orang tua dan adikku.Sesampainya disebuah rest area, aku dan ibuku turun dari mobil. Aku ke Toilet dan ibuku ke KFC, sedangkan ayah dan adikku di mobil.Saat itu keadaan toilet sangat sepi dari luar padahal biasanya rame, saat masuk ke Toilet aku melihat seorang anak kecil berdiri dipojokan toilet didepan pintu bilik WC yang terbuka namun karena sudah terlalu kebelet aku tidak terlalu mempedulikannya walau tetap ada rasa penasaran. Saat aku membuka pintu bilik WC ternyata ada seseorang juga yang membuka pintu bilik WC sebelah dari dalam, saat aku masuk bilik WC tersebut aku merasakan kejanggalan. Biasanya seorang wanita setelah dari WC pasti mencuci tangannya atau berkaca terlebih dahulu untuk memperbaiki riasannya, namun itu semua tidak terjadi dan keadaan menjadi sangat sunyi seakan tidak ada siapa-siapa selain aku.Lalu selesai dari WC akupun mencuci tangan, saat hendak keluar toilet tiba-tiba ada suara anak-anak. Yang terdengar hanya suara anak-anak tersebut, saat aku menengok kebelakang kearah pojok WC dimana anak kecil tadi berada ternyata tidak ada siapa-siapa dan semua pintu bilik WC terbuka. Saat itupun aku bergegas pergi meninggalkan toilet.Kejadian tadi masih terpikirkan olehku, aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri tentang apa yang barusan terjadi. "Untuk apa seorang anak kecil berdiri dipojokan toilet? menunggu bilik WC yang kosong? tapi saat itu pintu bilik WC terbuka, kenapa dia tidak masuk saja?" pikirku curiga terhadap anak kecil itu. "Tidak seperti biasanya seorang perempuan dari WC tidak cuci tangan terlebih dahulu, apalagi keadaan saat itu sangat sunyi seakan hanya ada aku sendiri disana" pikirku curiga. "lalu suara apa tadi? kenapa bisa ada suara padahal saat itu hanya ada aku seorang" pikirku terhadap suara itu.Memang kalau dipikir semuanya sangat aneh, buat apa seseorang menunggu bilik WC kosong padahal didepannya pun pintu bilik WC terbuka, lalu (mungkin) seorang perempuan selesai dari bilik WC tidak mencuci tangan bahkan seperti tidak ada orang lain saat itu selain aku, dan yang terakhir suara darimanakah yang muncul?. adakah hubungannya dengan film horor yang aku saksikan sebelumnya? atau hanya ulah hantu-hantu usil?
Malam Maghrib
Aku Roy, seorang anak laki-laki dari keluarga yang mencukupi. Kami di kota kecamatan yang namanya Cikampek, kalian pasti tidak asing dengan nama tersebut terlebih apabila libur panjang tiba khususnya saat menjelang lebaran. Kisah horror yang ingin aku ceritakan ini terjadi pada bulan Desember tahun 2016, maka izinkanlah aku untuk bercerita.Pagi itu hari minggu, cuaca yang cerah membuat udara luar sangat nikmat rasanya. Sehari sebelumnya ada sebuah pengumuman bahwa pada hari ini akan ada mati listrik dari pukul 7 pagi hingga 5 sore, maka dari itu aku mengajak pacarku, Rini, untuk berjalan-jalan menggunakan sepeda motor. Pukul 11 siang akhirnya kami pergi menuju Karawang, sedangkan kedua orang tuaku pergi ke kebon untuk mengecek hasil kerja tukang disana.Sepanjang perjalanan kami banyak mengobrol. Mulai dari hal yang penting hingga hal yang gak penting sama sekali, salah satunya adalah kita suka menggoda pengguna motor lainnya yang sedang bersama pacarnya juga tetapi perempuannya gak dikasih helm "cie cie mesra banget, kalau sayang kasih helm dong" begitu ganggu kami ke mereka. Sudah 1 jam setengah kami menempuh perjalanan, akhirnya kami sampai juga di salah satu mall yang terkenal di Karawang. "mau ngapain kita?" tanyaku kepada Rini. "terserah kamu aja roy, aku ngikut aja" "ya tapi mau ngapain nih rin? Apa kita nonton aja gitu? Ada Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 tuh kayanya seru juga sih" "yasudah boleh deh kalau begitu". Akhirnya kami menonton film tersebut.Setelah selesai menonton, rupanya diluar hujan deras bahkan bisa dibilang terjadi hujan angina yang sangat besar sehingga menuntut kami untuk menunggu hujan reda. Kami menunggu disalah satu tempat untuk meminum minuman hangat, sembari menunggu hujan reda kami pun banyak mengobrol ya hitung-hitung melepas bosan. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 16:30, aku pun mengintip keadaan diluar dan ternyata hujannya sudah reda lalu kami langsung menuju parkiran motor."rin, pake nih jas hujan. Aku bawa 2 soalnya" ucapku sambil memberikan jas hujan kepada Rini agar tidak sakit karena kebasahan terkena hujan. Perjalanan pulang dihiasi dengan hujan dan sedikit banjir memperlambat perjalanan kita, aku terpaksa memacu sepeda motor paling kencang hanya 40KM/jam. Sesampainya kita di rumah Rini jam sudah menunjukkan pukul 18:10, karena aku takut waktu semakin malam maka aku langsung saja menuju rumah. Perjalanan dari rumah Rini ke rumah ku butuh waktu sekitar 25-30 menit.Jalanan yang minim penerangan dengan pohon-pohon besar dipinggiran jalan serta sepinya keadaan jalan membuat keadaan menjadi cukup horror. Aku merasa tidak enak karena sesekali seperti ada yang berbisik ditelingaku, bahkan motor sempat oleng dengan sendirinya seakan ada orang yang duduk dibelakang padahal kecepatanku hanya 40KM/jam. Tak sampai disitu, aku melihat sosok yang sedang menyeberang sudah tepat ditengah jalan namun saat aku mendekatinya tiba-tiba sosok hitam tersebut menghilang. Aku berusaha menenangkan diri dan memperlambat kecepatan, untungnya tidak ada gangguan lagi hingga aku sampai di rumah."padahal udah mau jam 7, kenapa masih mati aja listriknya sih" ucapku saat sampai di perumahan. "mah pah, bukain pintu" teriakku, tapi tidak ada yang menyaut. Perumahan terasa sangat mencekam, tidak ada cahaya sama sekali bahkan tetangga pun seperti tidak ada nyawanya. Aku mencoba menelpon orang tuaku namun jawaban yang aku terima membuatku takut, bukannya dering menghubungkan yang terdengar tetapi suara bisikan halus yang menyeramkan terdengar dari telepon genggamku. Aku coba berteriak memanggil orang tua tetapi balasan yang diterima sungguh membuat bulu kuduk merinding, saat aku berteriak "mah pah" tetapi yang menjawab adalah bisikan yang sangat halus berkata "iyaaa" lalu diikuti suara gemuruh entah darimana.Aku sudah sangat ketakutan dengan semua gangguan tersebut. Aku mencoba menelpon kembali tetapi bisikan halus tersebut muncul kembali bahkan telepon genggamku sempat eror tidak bisa menyala. Aku duduk diatas sepeda motorku, menatap sekitar yang sangat gelap. Keadaan gelap dan hujan membuat keadaan semakin menyeramkan. Aku coba menelepon sekali lagi, untunglah kali ini menyambung. Orang tuaku berkata bahwa di rumah tidak ada siapapun dan beliau menyuruhku untuk datang ke salah satu rumah makan untuk bertemu dengannya.Aku nyalakan sepeda motor, aku tancapkan gas dengan kencang dan terlihat di spion bahwa ada sosok putih sedang berduduk santai di teras rumah. Aku tidak mempedulikannya dan berkata "setan sialan bangke!". Sesampainya di rumah makan, aku lega bertemu keluargaku. Aku tidak berani bercerita yang aku alami kepadanya karena takut adikku akan ketakutan di rumah. Selesai makan, kami kembali ke rumah dan ternyata listrik sudah menyala kembali dan sosok putih yang duduk di teras rumah pun pasti sudah pergi.
Mantan
PlakkkSalma menampar pipi Rony dengan kencang."Bagus ya, udah selingkuh. Ciuman di tempat umum lagi! Gatau malu emang lu anjing!" Umpat Salma"Ca, ca aku bisa jelasin ini semua Ca. Ini semua gak seperti yang kamu liat" Balas Rony"Apa? Jelasin kalo lu selingkuh udah lama sama nih cewek hah!!!" Bentak SalmaRony yang sudah kepalang ketahuan pun akhirnya berusaha jujur pada Salma"Sorry kalo aku sempet bosen sama kamu, tapi cinta aku tetap sama kamu Ca! Cinta ku gapernah sedikit pun hilang dari kamu, tapi mungkin aku yang brengsek. Aku gamau ngerusak kamu, tapi aku juga laki-laki normal dan pengen ngerasain yang lebih jauh dari sekedar kissing Ca. Maafin aku" Balas Rony"Ohh hahaha kalo sama cewek lain bisa sekalian dapet selangkangan ya?"."Tapi Thankyou ya atas kejujurannya, bisa bikin gue jadi makin ilfeel sama lu! Let's break up brengsek! Gue gamau punya hubungan sama cowo brengsek kaya lu!" Bentak Salma"Ca, gak Ca. Aku gamau putus dari kamu Ca, maafin aku. Aku janji aku bakalan berubah, aku gak akan selingkuh lagi. Maaf ca, please jangan putusin aku" Balas Rony sembari mencoba menggenggam tangan Salma" Don't touch me! Gue gak Sudi di pegang sama cowo brengsek kaya lu! Keputusan gue udah bulat! Gue gamau punya hubungan sama lu! Lu lanjutin aja kegiatan lu yang terganggu sama nih cewek! Gausah peduliin gue!" Ucap Salma dan langsung pergi meninggalkan Rony"Arghhhh anjing!!! Kenapa jadi gini sihhh" Teriak Rony frustasi"Lu kenapa gak bilang kalo di belakang gue tadi ada Caca sih bangsat!" Teriak Rony pada wanita selingkuhan nya"Ya soryy Ron, mungkin udah waktunya Salma tau hubungan kita. Lu juga udah nidurin gue berkali-kali ya, jadi lu gaboleh ninggalin gue gitu aja dan cuma jadiin gue selingkuhan lu" Ucap Cindy"Gue gak cinta sama lu! Cinta gue cuma buat Caca! Ngerti lu!""Oh atau lu emang sengaja kan? Nyuruh Caca dateng kesini biar gue putus sama dia? Iya kan? Jawab anjing!" Bentak Rony"Iya kenapa!! Hah!! Lu brengsek tau gak Ron! Lu nidurin gue tapi yang lu sebut nama Caca bangsat! Selama ini gue juga cuma bisa nahan cemburu saat liat lu mesra-mesraan sama Salma di kampus! Sedangkan gue? Lu cari gue saat lu nafsu doang anjing!" Balas Cindy"Lu harusnya mikir Cindy!!! Dari awal yang godain gue siapa? Lu kan? Lu ajak gue ke apartemen lu dengan alasan nugas! Terus Lu masukin obat perangsang di minuman gue sampe akhirnya gue nidurin lu! Lu juga terus-terusan goda gue bangsat! Gue cuma laki-laki normal, gue cuma nurutin apa yang udah lu lakuin sama gue!""Terus salah gue kalo gue nidurin lu tapi malah nyebut nama Caca? Gue cinta nya cuma sama Caca! Ngerti lu! Meskipun lu udah suka rela ngasih tubuh lu juga gue gak akan pernah cinta sama lu!""Inget sekali lagi! Gue gak pernah minta tubuh lu! Tapi lu yang maksa gue anjing! Jadi jangan salahin gue kalo sampe sekarang gue cuma jadiin lu pemuas nafsu gue! Karena sampai kapan pun gue gak akan rusak Caca demi nafsu gue! Ngerti lu!" Bentak RonyPlakkk"Lu emang brengsek Ron, gue cinta sama lu! Mangkanya gue rela ngasih apapun sama lu termasuk tubuh gue! Tapi apa balesan lu? Balesan lu malah bikin gue sakit hati!" Balas Cindy setelah menampar Rony"Hahaha gausah playing victim anjing! Lu kira gue gak sadar waktu pertama lu jebak gue pake obat perangsang itu? Bukan gue orang pertama yang udah masuk ke lubang lu anjing! Lu kira gue gak sadar sama hal itu? Iya?"Sekarang gue tanya deh, berapa laki yang udah make lu? Hhmm? Gue bukan cowo tolol yang bisa lu bodohin ya, jadi gausah sok sedih karena gue udah make lu berkali kali. Gue gak akan pernah kasian kok""Dan mulai hari ini, gue udah gamau berurusan lagi sama lu! Urusan kita kelar semenjak lu udah berani bikin gue putus sama Caca! Ngerti lu!""Gausah lu hubungin gue lagi! Kalo lu lagi sange panggil aja cowo lain! Gue udah gak Sudi muasin lu lagi anjing! Gue benci sama lu! Benci banget! Bangsattt!" Umpat Rony"Lu segitu nya Ron sama gue cuma karena gue ngasih tau Salma tentang hubungan kita! Gak ada sedikit pun rasa kasian apa sama gue! Padahal lu selama ini udah nikmatin tubuh gue cuma-cuma Ron hiks hiks" Balas Cindy"Iya gue emang benci sama lu anjing! Gara-gara lu gue kehilangan Caca gue! Wanita yang gue jaga dan bakal gue nikahin setelah lulus kuliah! Tapi apa? Gara-gara kebangsatan lu semuanya rusak! Semuanya ancur!""Gak peduli gue! Gue cuma lakuin apa yang lu lakuin sama gue! Lu jebak gue karena lu pengen tidur sama gue kan? Yaudah gue turutin! Selama ini gue juga cari lu kalo gue cuma lagi butuh tubuh lu! Jadi kita impas! Gausah sok jual kesedian lu Bitch! Gue gak akan kasian!" Ucap Rony lalu meninggalkan Cindy sendirianSalma dan Rony memang sudah menjalin kasih sejak mereka baru saja masuk SMA hingga saat ini mereka tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Mereka berdua saling mencintai, walaupun sudah bertahun-tahun mereka tetap mesra dan jarang sekali bertengkar.Namun semuanya berubah saat Rony di pilih satu kelompok dengan Cindy. Cindy mengajak Rony untuk mengerjakan tugas kelompok mereka di apartemen nya. Cindy yang memang sudah suka dengan Rony sejak mereka sekelas pun menjadikan ini kesempatan untuk bisa memiliki Rony. Cindy juga tau jika Rony telah memiliki kekasih, tapi dia tetap tak peduli.Cindy menjebak Rony dengan memberikan obat perangsang, hingga akhirnya mereka melakukan hal itu di apartemen Cindy. Sejak saat itu, Rony yang memang baru merasakan kenikmatan bercinta akhirnya ketagihan untuk kembali melakukannya dan melakukannya lagi.Rony pun menjadikan Cindy sebagai pemuas nafsunya, karena ia juga tau bahwa malam itu dia di jebak oleh Cindy. Rony berpikir jika Cindy lah yang memang ingin memberikan tubuhnya cuma-cuma pada Rony, bukan salahnya jika dia justru menjadikan nya sebagai pemuas nafsunya saja. Rony juga tau dari beberapa teman nya bahwa Cindy adalah mantan FWB dari temannya sendiri. Maka dari itu Rony semakin tak merasa bersalah karena menjadikan Cindy pemuas nafsunya, toh ternyata teman nya juga pernah melakukan hal yang sama dengan wanita itu.Namun, Rony memang brengsek, dia melakukannya dengan Cindy tapi dia justru membayangkan melakukannya dengan Salma. Dia selalu menyebut nama Caca jika sedang bercinta dengan Cindy. Akhirnya itu yang membuat Cindy muak dan berniat membongkar perselingkuhannya dengan Rony pada Salma. Dia ingin Rony hanya menjadi miliknya, tapi nyata nya Rony tak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman ranjangnya saja.***"Selamat pagi sayang" Sapa RonySalma hanya memutar bola matanya malas melihat Rony. Pagi-pagi begini sudah berada di dalam rumah nya."Caca lama banget sih turunnya dek, kasian si Rony nunggu kamu dari tadi ih" Omel Ibu Salma"Gak ada yang nyuruh dia nunggu Bu! Caca sekarang lagi kosong, gak ada jadwal kuliah. Ngapain coba jemput segala" Omel Salma"Hahaha bau-bau lagi berantem sih ini Bu, Abang sudah bisa mencium aroma nya dengan kuat" Goda Kelvin Abang Salma"Bacod banget sih lu bang" Omel Salma"Lagi berantem Ron?" Tanya Kelvin"Hehe lagi salah paham doang kok bang" Balas Rony kikuk"Yaudah, selesai in masalahnya""Ca, kalo ada masalah itu di selesaikan bukan malah menghindar. Oh iya, selesaikan masalahnya ya, bukan hubungannya. Inget, kalian udah sama-sama dewasa kan, harus nya udah ngerti gimana caranya bersikap" Ucap Ibu Salma"Iya Bu, ini Rony mau izin ajak Caca jalan-jalan sekalian mau selesaiin masalahnya" Balas RonySebenarnya Salma sudah muak dengan laki-laki di depannya. Namun entah mengapa, Salma masih tidak ingin jika keluarga nya tau tentang kebusukan Rony selama ini. Jadilah ia tahan dan menuruti permintaan Rony untuk membicarakan nya di luar rumah."Noh, sana keluar. Kasian Rony udah nungguin lu ngebo dari tadi dek" Ucap Kelvin***"Kita sarapan dulu ya sayang. Kamu kan baru bangun, pasti belum mam""Mau mam apa? Bubur ayam langganan kita aja ya? Mau gak?" Tanya Rony lembut"Gausah panggil gue sayang! Lu gak denger kalo kemarin gue udah mutusin lu! Hah!" Bentak Salma"Okee, bubur ayam langganan kita. Leggooo" Balas Rony"Apaan sih, gak nyambung anjing!" Balas Salma"Bahasa nya loh sayang, jangan kasar-kasar gitu dong" Ucap Rony memelasSalma tak menanggapi, ia hanya memandangi pemandangan di kaca mobil samping nya. Ia benar-benar enggan melihat ke arah Rony yang tengah fokus mengemudi. Sedangkan Rony, ia masih terus melirik wanita di sampingnya. Ingin sekali dia peluk Salma untuk meminta maaf atas semua kesalahannya selama ini. Rony benar-benar takut kehilangan wanita di sampingnya, wanita yang akan ia jadikan masa depannya."Nah udah sampe, mau mam di luar apa di mobil aja sayang?" Tanya RonySalma hanya diam, dia tidak mood untuk makan. Apalagi makan bersama laki-laki yang sudah membuatnya menangis semalaman."Mam di mobil aja ya, tuh warung nya rame. Bentar, aku pesenin dulu. Kamu tunggu sini aja ya sayang" Ucap Rony sembari mengusap kepala Salma yang tertutup hijabNamun dengan cepat Salma mengalihkan kepalanya dari tangan Rony. Rony hanya menghela nafas melihat sikap dingin Salma padanya.Setelah menunggu beberapa saat, Rony kembali membawa dua bungkus bubur ayam."Nahh ini punya sayangku, tanpa kacang dan tanpa bawang goreng. Nih sayang" Ucap Rony sembari menyodorkan bubur ayam untuk SalmaSalma tak menggubris, dia justru sibuk bermain ponselnya. Rony yang kesal dengan segera merebut Ponsel Salma."Apaan sih lu! Gak sopan banget jadi orang!" Tegas Salma"Lagian kamu ngapain sih main hp Mulu, lagi chattan sama siapa?" Tanya Rony"Bukan urusan lu! Balikin hp gue!" Bentak Salma"Gak! Makan dulu baru aku balikin hp kamu" Balas Rony"Apaan sih lu Ron! Gausah sok ngatur hidup gue! Gue bukan siapa-siapa lu lagi anjing!" Bentak Salma kesal"Kamu pacar aku! Aku gak pernah setuju untuk putus dari kamu, jadi kamu tetap pacar aku" Balas Rony"Sakit lu emang! Selain sakit gapunya malu lagi! Udah selingkuh, sekarang maksa tetep buat pacaran. Brengsek!" Umpat SalmaEmosi Rony mulai terpancing mendengar Salma terus saja memaki dirinya. Namun apa yang di katakan Salma juga benar, dirinya memang brengsek. Saat ini dia harus bisa jauh lebih sabar, karena ia tidak ingin melakukan kesalahan lagi dan membuat gadis cantik nya akan benar-benar meninggalkan nya."Maaf yaa, sekarang mam dulu. Baru aku jelasin semuanya sama kamu. Yuk, mam dulu yaa sayang. Apa mau aku yang suapin? Hmm?" Tawar Rony lembut"Gaperlu! Tangan gue masih sehat! Sini!" Balas Salma***Saat ini Rony sudah membawa Salma ke salah satu danau yang sering mereka kunjungi selama lima tahun ini."Sayang" Panggil Rony"Jangan panggil gue sayang!" Bentak Salma"Iya iya maaf""Ca, aku minta maaf kalo kamu ngerasa aku khianatin kamu Ca. Tapi sumpah aku gak pernah sedikit pun berniat untuk khianatin kamu, aku di jebak sama Cindy Ca. Aku gak suka sama dia" Jelas RonySalma tersenyum miris mendengar ucapan Rony"Di jebak? Baru tau sih gue ada orang di jebak tapi menikmati gitu. Udah ciuman di parkiran kampus, sambil grepe-grepe dadanya lagi. Itu ya yang namanya di jebak? Hahaha kocak banget" Balas Salma"Dia yang tarik aku Ca, dia sengaja mau hancurin hubungan kita. Dia kemarin bilang mau ngomong sesuatu tentang kamu dan minta ketemuan di parkiran mobil kampus. Pas aku kesana dia langsung tarik aku dan cium aku, aku laki-laki normal aku kebawa sama permainan dia. Maafin aku Ca, maaf" Jelas RonyApa yang Rony katakan memang benar, Rony selama ini tidak pernah melakukan hal seperti itu pada Cindy jika di kampus. Dia bahkan seolah tak mengenal Cindy jika sudah di kampus. Tapi hari itu, Cindy menjebak Rony dengan mengancam akan memberi tahu Salma jika ia tidak datang ke parkiran mobil."Ron Ron. Lu selalu berlindung di balik ucapan laki-laki normal! Kalo lu emang dasarnya gak brengsek! Lu juga bakalan bisa jaga nafsu lu! Mau Cindy godain lu kaya gimana juga kalo lu emang cinta sama gue! Lu gak akan lakuin itu sama Cindy! Tapi apa? Lu udah kelewatan, Cindy juga udah cerita kok sama gue kalo lu udah tidur beberapa kali sama dia kan""Jadi please stop deketin gue! Tanggung jawab sama kelakuan lu! Nikahin tuh Cindy. Gue juga udah gamau sama cowo brengsek yang pikirannya cuma kesitu!""Terimakasih untuk lima tahun nya, gue juga gak menyangkal kalo selama bareng lu gue bahagia dan nyaman. Tapi lu juga berhasil bikin gue paling hancur karena pengkhianatan lu Ron. So, kita lanjutin hidup kita masing-masing ya, masa kita udah habis dan gak akan bisa kembali lagi" Ucap Salma lalu meninggalkan Rony yang masih mematung mendengar ucapan Salma"Ca!! Gak Ca! Gue gamau pisah sama lu Ca hiks hiks. Gue akuin gue salah, tapi tolong jangan tinggalin gue ca. Gue gamau Ca hiks hiks" Teriak Rony terisak"Arghhhhh Cindy Anjing! Gue benci lu bangsat!!! Gara-gara lu, gue jadi laki-laki brengsek dan nyakitin wanita yang gue sayang! Anjing!!!" Teriak Rony***Setahun berlalu, Rony masih berusaha mendapatkan Salma kembali. Dia bahkan sudah berubah jauh lebih baik, dia tidak mau berurusan dengan wanita lain kecuali Salma. Dia tidak pernah telat untuk sholat lima waktu, dia juga masih sering mendatangi rumah Salma untuk sekedar bertemu Ayah, Ibu dan Abang Salma.Salma memang tak menceritakan apa penyebab mereka putus, Salma hanya bilang jika mereka putus karena merasa sudah tidak cocok. Makanya keluarga Salma masih sangat hangat menyambut Rony. Walaupun Salma tak ingin menemui nya, Rony tidak pernah menyerah untuk bisa mendapatkan Salma kembali. Rony juga tidak mau memberi celah sedikit pun pada laki-laki lain untuk mendekati Salma.Katakan lah Rony egois, namun ini semua karena ia sangat mencintai Salma. Apalagi kedua keluarga mereka sudah sangat dekat, baik Rony maupun Salma sama-sama sangat di sayangi oleh calon mertua mereka.Seperti malam ini, Rony tengah asyik bermain PS bersama Kelvin Abang Salma. Namun hingga pukul delapan malam, belum ada tanda-tanda jika Salma pulang ke rumah."Bang, lu telpon kek Adek lu. Udah jam delapan ini. Suruh pulang gitu" Ucap Rony pada KelvinRony memang sangat akrab dengan Kelvin, hingga tak ada kecanggungan diantara keduanya."Masih jam delapan ini Ron, ntar deh jam sembilan baru gue telpon""Lagian lu kan masih ada nomor Adek gue? Kenapa gak telpon sendiri kalo khawatir sih. Gengsi amat lu" Omel Kelvin"Ya gue mau-mau aja bang, tapi masalahnya gue udah gak berhak ngatur-ngatur dia. Ntar kalo gue yang telpon, dia malah makin benci sama gue. Kan sekarang gue lagi caper sama dia, lagi usaha balikan lagi sama dia. Kalo dia marah, makin sia-sia dong usaha gue selama ini" Balas Rony"Lagian lu ngelakuin kesalahan apa sih, sampe si Caca Gedeg banget sama lu Ron. Perasaan dulu meskipun putus palingan dua hari balikan. Ini malah sampe setahunan lu masih aja uring-uringan gara-gara di putusin Caca""Cari cewek lain udah sana, Adek gue kaya nya udah gak demen lagi sama lu Ron" Ucap Kelvin"Ck, jangan gitu lah bang. Gue gamau cari cewe lain. Gue cuma mau Caca, yang gue pengen cuma Caca. Gak mau yang lain""Kalo masalah putusnya tuh gara-gara Caca liat gue ciuman sama cewe lain" Balas Rony santai"Hah!!""Lu selingkuhin Adek gue bangsat?" Pekik Kelvin"Kalem, kalem. Gue jelasin nih""Jadi gue punya temen sekelas namanya Cindy, dia tuh udah suka sama gue dari maba katanya tapi gak pernah gue notice. Ya iyalah, ngapain notice orang gue udah punya Caca""Nah dia makin gencar aja tuh deketin gue, gak peduli kalo gue udah punya Caca di hidup gue. Sampe akhirnya dia minta gue temuin dia di parkiran mobil kampus. Dia bilang bicara soal Caca. Ya gue langsung Dateng bang, pas gue Dateng dia langsung cium gue dan peluk gue. Pas itu juga Caca Dateng dan nampar gue. Gue udah jelasin juga Caca gak percaya dan tetep minta putus sama gue" Ucap RonySorry bang, gue cuma ceritain bagian kecilnya doang. Gue gak mungkin cerita kebrengsekan gue juga, karena lu pasti bakalan ikut benci sama gue. Dan gue gamau itu terjadi *batin Rony"Ck! Mangkanya lu jangan ganteng-ganteng cuk! Jadi banyak kan yang gatel sama lu, kasian juga Adek gue. Pasti dia sakit hati banget""Udah lah Ron, mending lu nyerah deh. Biarin Adek gue cari cowo lain" Ucap Kelvin"Bang, kok lu gamau support gue sih. Katanya lu bestie gue bang, ayolah bantuin gue buat balikan sama Caca. Gue cuma cinta sama Adek lu bang""Ini gue gak gila aja bersyukur banget setelah di tinggalin Caca. Gue mau berjuang lagi bang, gue gamau nyerah gitu aja. Support kek" Balas Rony"Males gue kalo udah masalahnya orang ketiga, belum lagi ntar lu malah nyaman sama tuh cewek. Kasian Adek gue nantinya" Balas Kelvin"Ck! Gue malah udah maki-maki tuh cewek bang biar gak deketin gue lagi. Aman kalo dia mah, gak akan berani macem-macem lagi sama gue. Ayo lah bang bantuin gue yaa, pleaseee" Rengek Rony"Ogah ah, males gue ikut-ikutan masalah lu" Balas Kelvin"PS 5 deh, gimana?" Tawar Rony"Oke deal, penawaran yang cukup baik" Balas Kelvin"Bangsat, cepet banget di sogoknya" Ucap Rony"Hidup itu realistis bro hahaha" Balas Kelvin"Bang, suara motor tuh. Gue liat dulu ya, kali aja Caca" Ucap Rony ketika mendengar suara motor di depan rumah SalmaJantung Rony seketika berdegup sangat kencang ketika melihat Salma baru saja pulang bersama seorang laki-laki menggunakan motor. Salma juga tampak akrab dengan laki-laki tersebut.Pemandangan itu berhasil membuat mata Rony memanas dan darahnya mendidih seketika.Rony keluar menghampiri Salma lalu merangkul pinggang wanita itu dengan mesra. Rony ingin memberi tahu laki-laki itu bahwa Salma adalah miliknya."Sayang, kamu di tungguin dari tadi loh. Ternyata baru pulang, dari mana aja sih?" Tanya Rony lembutSalma yang bingung, akhirnya hanya bisa menjawab pertanyaan Rony dengan canggung dan merasa tidak enak pada teman lelakinya"Dari mall tadi, ketemuan sama temen" Balas Salma"Ih dasar nakal ya, gak ngabarin" Ucap Rony sembari mencubit gemas hidung Salma"Apaan sih Ron" Balas Salma"Oh iya, ini siapa? Kok gak di kenalin ke aku?" Tanya Rony"Eh iya, gue Naufal. Temen sekelas Salma. Sorry tadi gue yang maksa buat anter dia pulang" Balas Naufal"Yoi, gapapa bro. Makasih udah anter balik pacar gue ya. Oh iya, kenalin gue Rony. Pacar Salma" Balas Rony"Cuma man - ""Sayang masuk yuk, pasti kamu udah capek. Tuh ayah ibu sama Abang juga udah nungguin di dalem, yuk" Ujar Rony memotong ucapan Salma"Yaudah Sal, gue balik duluan ya" Ucap Naufal"Thankyou ya Fal, udah anterin gue balik. Lu ati-ati pulangnya ya" Balas SalmaNaufal pun pergi dari rumah Salma, namun tangan Rony masih setiap bertengger pada pinggang Salma."Sampe kapan sih lu terus ganggu hidup gue, sampe kapan juga masih terus ngaku-ngaku pacar gue?" Ucap Salma"Sampe selamanya, kecuali kita udah nikah. Nanti aku pamerin kamu sebagai istri aku ke orang-orang" Balas Rony tengil"Ogah gue nikah sama lu!" Ucap Salma sembari melepas kasar tangan Rony yang berada di pinggang nya"Jangan gitu, biasanya kalo ogah ogah an malah ntar beneran nikah tau Ca" Goda Rony"Bodo amat, pulang sono lu! Tiap hari ke rumah gue Mulu! Gapunya rumah apa!" Omel Salma"Nih rumah gue, depan gue" Balas Rony sembari menunjuk ke arah Salma"Dasar gila!" Umpat Salma***Setahun lebih ini berhasil membuat Salma sedikit yakin jika Rony sudah berubah. Rony yang dulu ramah dan friendly pada semua wanita, sekarang berubah dingin dan acuh. Terutama Cindy, Salma tak pernah mendengar kabar Cindy lagi. Terakhir yang Salma tau Cindy di DO dari kampus karena video mesum bersama dosen nya sendiri tersebar di kalangan kampus.Itu membuat Salma sedikit percaya akan cerita Rony jika Cindy lah yang memang dulu menjebak nya. Namun tetap saja, kesalahan Rony dulu menurutnya fatal. Jika malam itu memang Rony di jebak, seharusnya dia tak mengulanginya berkali-kali lagi dengan Cindy. Namun apa, Rony justru memanfaatkan Cindy untuk menjadi pemuas nafsunya saja.Hari ini, Salma pergi ke bangunan kosong belakang kampus karena mendapat pesan dari seseorang yang tidak Salma tau. Tapi yang pasti, orang itu mengatakan Jika Rony masih tidak berubah, dia masih sama seperti yang dulu dan jika dia ingin tau. Coba datang ke gedung kosong belakang kampus.Salma mencoba datang sendiri kesana, namun belum sempat masuk ke dalam bangunan kosong. Salma sudah mendengar percakapan Rony dengan seorang wanita."Ngapain lagi sih lu anjing! Gak puas apa lu rusak hidup gue hah!" Bentak Rony"Rusak apa sih sayang, bukannya dulu kamu selalu aku bikin enak? Hmm?" Balas CindyYa, nomor yang menghubungi Salma adalah Cindy. Dia masih terobsesi memiliki Rony dan dia juga marah ketika mengetahui Salma dan Rony sudah mulai kembali dekat sedangkan dirinya harus menderita dengan di keluarkan dari kampus dan di campakkan oleh dosen yang menjanjikannya kehidupan mewah.Untung nya Salma datang tepat waktu, dia bisa mendengar dan melihat kejadiannya dari awal. Sehingga dia bisa mencerna apakah Rony kali ini akan jujur atau malah tergoda lagi dengan Cindy. Apalagi Salma sedikit mengintip lewat jendela, Cindy berpakaian sangat minim di depan Rony.Cindy mulai mendekat ke arah Rony, namun Rony segera mundur."Dimana Caca anjing! Lu bilang Caca sama lu! Lepasin cewe gue! Jangan pernah berani lu nyentuh cewek gue sedikit pun! Atau lu bakal mati di tangan gue!" Bentak Rony"Utututu takutnya, kejam banget sih? Hmmm? Gak kangen sama aku atau sama goyangan ku hmm? Aku bisa kok muasin kamu lagi, tanpa Salma tau""Aku janji kok Ron, aku gak akan bertindak bodoh kaya kemarin. Aku mau jadi selingkuhan kamu lagi sayang, mau ya balikan sama aku" Rayu Cindy"Gak Sudi anjing! Cukup sekali gue khianatin Caca sama jalang macam lu! Gue nyesel dan gue jijik pernah lakuin itu sama lu dulu anjing!" Bentak Rony"Bangsat! Beraninya nolak gue! Gue udah baik sama lu ya Ron! Gue udah mohon-mohon sama lu tapi lu nolak gue!""Liat aja apa yang akan gue lakuin sama Caca lu itu! Gue pastiin dia pulang tinggal nama!" Ancam Cindy"Jangan macem-macem bangsat! Lu nyentuh seujung kuku cewe gue! Abis lu sama gue!" Bentak Rony"Gak peduli! Gue cuma mau lu, gue mau lu Ronyyyy!!! Balik lagi sama gue pleasee, gue janji gue gak bakal larang lu berhubungan sama Salma, asal lu masih mau sama gue yaa" Ucap Cindy semakin mendekat ke arah Rony"Itu gak akan pernah terjadi bangsat! Gue gak akan ngulangin kesalahan gue lagi! Gue cuma cinta sama Caca, sampe mati pun cuma Caca yang gue mau! Ngerti lu!" Balas Rony"Oh, okee. Kalo gue gabisa milikin lu, berarti Salma juga gak akan bisa" Ucap Cindy"Mau apa lu sama gue? Hah?" Teriak Salma yang memutuskan untuk masuk ke bangunan kosong"CA?""PERGI!! NGAPAIN KESINI!" Bentak Rony"Aku cuma mau bantuin kamu, dari cewek murahan ini" Balas Salma"Apa lu bilang! Jangan macem-macem sama gue bangsat!" Bentak Cindy"Kan emang lu murahan, lu kira gue gatau? Lu jadi jalang si Danu, terus Rony, sekarang udah naik pangkat kan jadi gadun nya dosen lu sendiri? Masih mau ngelak kalo lu murahan? Apa perlu gue bawain kaca? Hmm?" Ucap Salma sinis"Gue emang murahan, tapi buktinya cowo lu juga doyan kan sama gue? Hahaha kasian banget lu dapet bekas gue" Balas Cindy"Bangsat! Dulu lu jebak gue anjing! Kalo lu gak pernah jebak gue, gue juga gak bakal pernah mau sama lu!" Elak Rony"Ya mungkin dulu Rony khilaf lakuin itu sama lu, tapi buktinya sekarang? Lu pake baju setengah telanjang begini juga Rony gamau kan sama lu? Kasian banget!""Mau gue tunjukkin sesuatu gak sama lu? Hmm? Biar lu sadar kalo Rony cinta nya sama gue bukan sama lu!" Ucap SalmaCindy diam dan bingung mencerna ucapan Salma. Apa yang akan Salma lakukan di depannya.Saat Cindy tengah menatap nya heran, dengan cepat Salma mengalungkan tangannya pada leher Rony. Salma mencium bibir Rony di depan Cindy, perlahan Salma juga mulai melumat nya.Rony yang awalnya bingung, ia juga merasa senang. Bibir yang selama ini ia rindukan, kini bisa kembali ia rasakan. Rony tak mau kalah, ia pun ikut membalas ciuman Salma. Tangan Rony pun memeluk pinggang Salma erat.Ciuman mereka sangat lembut dan menggairahkan. Saling melumat satu sama lain dan saling beradu Saliva di dalam mulut mereka.Cindy yang melihat itu benar-benar emosi, bisa-bisanya mereka melakukan hal itu di depannya. Cindy pergi dari gudang mengambil sesuatu.Sedangkan kedua insan itu masih saja terbawa suasana, mereka saling melampiaskan nafsu mereka. Rony sedikit mendorong tubuh Salma hingga bersandar ke dinding bangunan. Tangan Rony pun mulai meraba tubuh Salma, dari pinggang perlahan naik hingga ia bisa meremas payudara Salma. Ini kali pertama Rony menyentuh payudara Salma.Walaupun mereka dulu berpacaran selama lima tahun, Rony sama sekali tak pernah menyentuh Salma. Dia hanya sebatas mencium kening, pipi dan juga bibir saja. Rony benar-benar menjaga Salmanya."Eughh Ron" Desah Salma"Aku kangen bibir manis kamu Ca, aku kangen banget" Ucap RonySetelah mengatakan itu Rony kembali melumat bibir Salma dengan tangan yang masih meremas payudara Salma. Mereka berdua seakan lupa tujuan mereka ke bangunan kosong ini untuk menemui Cindy, mereka juga lupa tentang Cindy.Saat mereka sedang menikmati percumbuan mereka, tiba-tiba Cindy membawa pisau di tangannya dan mengarahkan pada tubuh Rony yang memang sedang mengunci Salma di dinding dan membelakangi dirinya. Namun saat hendak menancapkan pisau pada Rony, Salma lebih dulu mendorong Rony. Hingga akhirnya Salma lah yang tertusuk."CACAAAAAA!!!!" Teriak RonyRony menatap Cindy dengan tajam, tanpa berpikir panjang Rony justru melayangkan kepalan tangan nya pada wajah Cindy dengan keras. Rony sudah tidak peduli jika Cindy adalah wanita.Cindy jatuh tersungkur dengan hidung yang sudah berdarah."Bangsat! Dasar pembunuh! Murahan! Urusan kita belum selesai anjing! Kalo sampe Caca kenapa-napa gue pastiin lu yang bakal mati, bukan Caca bangsat!" Teriak Rony"Hahaha gausah berharap Ron, pasti dia yang mati bukan gue" Balas Cindy yang berusaha menutupi kesaktiannyaSaat Rony mencoba menggendong Salma, mahasiswa kampus mereka tiba di bangunan kosong tersebut."Ron kenapa Ron? Tadi Salma chat gue katanya butuh bantuan disini. Ada apa? Ini Salma kenapa?" Tanya Salah satu Mahasiswa"Dia si jalang gatau diri itu nusuk Salma, dia mau bunuh gue, tapi justru Salma yang ketusuk karena nyelamatin gue Raf""Gue minta tolong, lu dan anak-anak urus dia. Masukin dia ke kantor polisi bawa pisau yang ada di sana, itu pasti ada sidik jari dia. Tolong raf, gue mau bawa Salma ke rumah sakit" Ucap Rony panik"Iya iya, lu buruan urusin Salma. Biar nih jalang gue sama anak-anak yang urus" Balas Rafa***"Ca bangun dong, udah dua hari nih kamu bobo terus. Gak capek apa?""Kamu ngapain sih lagian, nyelamatin cowo brengsek kaya aku? Aku gak pantes di selametin kamu Ca, harusnya aku yang disini bukan kamu. Ayo bangun sayang, kita nikah ya. Aku gak peduli kamu masih nolak aku atau gak! Yang pasti setelah kamu sadar aku bakal minta nikah sama orang tua aku dan orang tua kamu. Aku mau hidup sama kamu terus, aku janji aku gak akan khianatin kamu lagi sayang. Aku janji" Ucap Rony sembari meneteskan air matanya"Jangan nangis, kamu jelek kalo nangis" Balas Salma lemas"Ca???? Kamu bangun Ca???" Ucap Rony senang"Katanya tadi di suruh bangun, giliran aku bangun kamu bingung" Balas Salma"Gak sayang, aku cuma kaget. Akhirnya kamu bangun sayang. Aku kangen" Ucap Rony sembari memeluk tubuh Salma"Ssshh Rony! Sakit perut aku" Rengek Salma ketika Rony menyenggol luka tusukan nya"Astaghfirullah, maaf sayang. Aku lupa, aku terlalu excited tadi. Maaf ya sayang" Ucap Rony panik"Kok kamu sendirian? Ayah Bunda Abang kemana?" Tanya Salma"Ini udah malem banget sayang, aku suruh Ayah bunda Abang pulang. Kan ayah sama Abang besok kerja, sedangkan bunda kasian kalo harus nginep sini sayang. Jadi aku yang nungguin kamu disini" Balas Rony"Oh" Balas Salma"Dih, kok Oh doang? Gak seneng ya di jagain aku? Hmm?" Tanya Rony"Gak" Balas Salma"Sayang, kok cuek lagi? Perasaan kemarin di gudang kita udah baikan loh" Ucap Rony"Kata siapa?" Tanya Salma"Kata aku! Buktinya kamu cium aku tuh kemarin, kita juga sama-sama menikmati ciuman kita" Ucap Rony"Apasih! Kemarin aku cuma mau manas-manasin si jalang itu doang" Balas Salma"Ya gapapa sih, intinya aku menganggap ciuman kemarin itu pertanda kalo kita balikan. Dan aku bakal nikahin kamu setelah ujian semester nanti" Balas Rony"Jangan gila ya! Aku masih mau nyusun skripsi gila!" Umpat Salma"Kan kita bisa skripsi an bareng Ca, jadi makin semangat tau kalo ngerjainnya bareng suami kaya aku hmm" Goda Rony"Gamau, aku mau nikah sama cowo lain. Aku gamau cowo bekas si jalang itu" Balas Salma"Aku bunuh cowo yang berani nikahin kamu, liat aja""Lagian aku udah tobat Ca, beneran. Kamu gak liat perjuangan aku gimana selama setahun ini ngejar cinta kamu? Coba balikin kepercayaan kamu lagi? Se enggak berharganya itu ya usaha ku selama ini Ca? Aku beneran nyesel Ca, aku janji aku gak akan pernah ngulangin kesalahan itu lagi" Mohon Rony"Susah Ron, kepercayaan itu ibarat Kaca. Sekali nya pecah susah buat utuh kembali""Apalagi banyak orang bilang, selingkuh itu tabiat! Susah ngerubahnya. Sekali selingkuh pasti nanti bakalan selingkuh lagi" Balas Salma"Aku gak Ca! Aku berani sumpah aku gak akan selingkuh dari kamu! Kemarin aku bukan selingkuh, aku cuma di jebak dan akhirnya terjebak sama hawa nafsu ku sendiri. Please Ca, maafin aku. Oke kalo kamu sekarang gak percaya sama aku, tapi aku gak akan pernah bosen buat nunjukkin kalo aku beneran serius sama kamu. Aku cuma mau kamu dan aku gak akan duain kamu. Aku janji" Ucap RonySalma tersenyum melihat ketulusan di mata Rony, ia sebenarnya juga sudah yakin lelaki nya itu sudah berubah. Setahun adalah waktu yang lama untuk Salma bisa kembali percaya pada laki-laki di hadapannya. Apalagi kejadian dua hari lalu membuat Salma makin yakin jika Rony benar-benar berubah."Iya, aku mau dampingi kamu buat berjuang ngembaliin kepercayaan aku lagi ya. Tapi ini kesempatan terakhir buat kamu, sekali kamu selingkuh aku pastiin kamu gak akan bisa nemuin aku lagi Ron. Aku akan pergi sejauh-jauhnya dari hidup kamu" Ucap SalmaRony tersenyum, mata nya sudah berkaca-kaca dan ia tak menyangka usaha nya untuk mendapatkan kembali wanita yang sangat ia cintai akhirnya terwujud."Makasih sayang, makasih. Iya aku janji, aku gak akan pernah melakukan hal bodoh itu lagi. Aku gamau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya, kesalahan ku kemarin cukup menjadi pelajaran berharga bagi aku Ca. Aku gak akan pernah sia-siain kamu lagi. Sekali lagi makasih ya sayang" Balas Rony sembari mengecup kening Salma berkali-kali"Iya udah ah gausah nangis, jelek tau muka kamu kalo nangis" Ledek Salma sembari menghapus air mata Rony"Ishh sayanggg, jangan ngeledek. Kan aku lagi terharu, akhirnya kamu jadi milik aku lagi" Rengek Rony"Lebay hahaha" Ledek Salma***Seminggu sudah Salma menginap di rumah sakit. Rencana nya hari ini adalah hari kepulangan Salma dari rumah sakit. Namun Keluarga nya justru tak bisa menjemput Salma.Nenek Salma dari Ibu nya meninggal semalam, hingga ayah ibu nya memutuskan untuk pergi ke Surabaya hari itu juga. Salma yang memaksa mereka untuk pergi, karena Salma tau ibu nya sangat dekat dengan neneknya. Salma tidak ingin karena kondisinya ini membuat Ibu nya tidak bisa melihat neneknya untuk terakhir kalinya.Ayah dan Ibu Salma menitipkan Salma pada Rony hingga nanti abangnya pulang dari kerjanya. Akhirnya Rony lah yang akan menjaga Salma di rumahnya. Sebenarnya masih ada ART namun tetap saja orang tua Salma menitipkan anaknya pada Rony."Eh eh, ngapain pake di tutup segala pintu kamarnya?" Omel Salma"Kenapa sih? Takut banget berdua sama aku di kamar? Perasaan dulu sering deh, aku bahkan sering nginep disini juga kamu gak seheboh ini" Balas Rony"Ya kan dulu, sebelum Otak kamu di racuni sama jalang itu. Takut aja tiba-tiba kamu macem-macem sama aku" Balas Salma"Ya gapapa dong, kan kita bentar lagi juga nikah. Anggep aja DP dulu yang hahaha" Goda Rony"Gue tampar ya Ron, ngomongnya aneh banget!" Omel Salma"Hahaha lagian, mikirnya kesana Mulu""Aku tutup pintu nya karena aku mau obatin luka kamu. Ini udah siang, tadi kata suster kan siang harus di ganti perbannya sayang" Balas Rony"Eh gak gak! Aku bisa ganti sendiri, kamu mending keluar deh" Usir Salma"Mana coba, yakin bisa sendiri. Orang kamu aja gabisa liat luka nya""Udah ah gausah bawel, biar aku yang obatin" Omel RonySalma sebenarnya malu dan ragu saat Rony hendak mengobati luka nya. Bagaimana tidak, luka nya itu persis di perut bagian atas dekat dengan bagian payudara nya. Jika memang harus di obati, otomatis Rony pasti akan menyingkap baju yang Salma kenakan.Tanpa menunggu persetujuan Salma, Rony langsung menyingkap baju Salma."Ron!" Tegur Salma"Apa sih, udah gapapa. Nanti kalo udah nikah juga aku bakalan liat semuanya, jadi gausah malu" Balas Rony santaiMata Rony bisa melihat perut rata Salma yang sangat mulus, apalagi baju yang tersingkap sedikit memperlihatkan bra yang Salma kenakan. Rony berusaha menahan diri nya, dia tidak boleh melakukan hal itu lagi apalagi pada Salma. Gadis yang ia jaga mati-matian dan yang akan dia nikahi nantinya."Ashhh pelan-pelan Rony! Sakit" Omel Salma"Ck! Luka nya parah banget ya ternyata Ca. Kurang ajar banget emang tuh jalang! Pantes dia membusuk di penjara" Ucap Rony ketika melihat luka tusukan Salma"Dih, jalang-jalang juga dulu lu doyan sama dia" Sindir Salma"Dibahas terus, gak asik banget!""Itu juga karena aku gak bisa kontrol nafsu aku Ca, baru ngerti rasanya begituan jadi keterusan. Coba dari dulu udah tau rasanya punya kamu gimana, gak akan kecantol aku sama jalang kek Cindy" Ucap Rony"Heh! Mulut lu yaaa. Sembarangan banget! Kalo emang ngebet begituan ya nikah! Bukan malah zina!" Omel Salma"Ya mangkanya ayo nikah sayang, biar kita halal dan bebas ngapain aja. Yuk" Rengek Rony"Ck, udah gausah bahas aneh-aneh. Cepetan lanjutin itu ganti perban. Perut ku dingin kena AC lama-lama di umbar begitu" Balas SalmaRony melanjutkan memasang perban, lalu setelah selesai mengganti perban Salma. Rony justru mengecup perut Salma."Besok anak aku ada disini ya Ca hehe" Ucap Rony"Heh! Main cium-cium aja! Geli Rony!" Tegur Salma sembari langsung menutup bajunya"Baru di cium perutnya doang udah geli, gimana yang lain" Gerutu Rony"APA!!!" Sentak Salma"Eh gak gak Kok yang becanda hehe" Balas Rony kikuk***Setelah lima bulan pasca Salma sembuh, kini mereka akan melangsungkan pernikahan nya.Salma memutuskan untuk kembali menaruh kepercayaan pada Rony, laki-laki yang memang selama bertahun-tahun singgah di hatinya. Namun ia juga lah yang sempat menorehkan luka yang sangat dalam bagi Salma.Tetapi kegigihan Rony yang mencoba memperbaiki kesalahannya membuat Salma akhirnya memutuskan untuk kembali menerima dia di hidupnya. Dan hari ini ia juga akan menjadi pasangan dan imam untuk hidupnya."Alhamdulilah ya yang, akhirnya kita nikah" Ucap Rony"Iya Ron, tapi aku selalu ingetin sama kamu. Jangan pernah khianatin kepercayaan aku lagi ya" Balas Salma"Iya sayang, aku janji. Maafin kesalahan ku yang dulu yaa. Sekarang kita mulai lembaran baru hidup kita bersama ya" Ucap Rony"Iya mas mantan hahaha" Balas Salma"Dih, ya gapapa sih. Yang penting bisa nikahin kamu""Plot twist nya ya mantan tapi menikah hahaha" Balas Rony terkekeh"Iya deh si paling mantan hahaha" Balas Salma"Ck, nakal ya godain aku mulu. Aku makan juga nih kamu ya" Ucap Rony"Coba aja kalo bisa" Tantang Salma"Yeeuhh nantangin, kalo kamu ketangkep gak aku kasih ampun ya. Aku pastiin besok kamu gak akan bisa jalan yang. Liat aja" Ancam Rony"Bodo amat, wleee" Ledek Salma dan langsung lari menuju kamar mandiNamun ternyata pergerakan Salma lebih lambat di banding Rony, Rony bisa dengan cepat menangkap Salma dan membawa nya ke ranjang.Malam itu adalah malam yang indah bagi mereka, malam dimana mereka akan memulai semua nya bersama. Melupakan hal yang lalu dan mulai menjalani masa depan. Semua orang punya masa lalu, kita tidak bisa menghakimi seseorang tentang masa lalunya, yang terpenting adalah bagaimana dia bisa belajar dan merubah semuanya jauh lebih baik untuk masa kini dan masa depan yang akan datang.~END~
Dulu Kita Beda, Kini Kita Satu
Salva adalah siswi SMA kelas 12 yang dikenal kalem, pintar, dan penuh aturan. Ia ketua OSIS di sekolahnya dan menjadi panutan banyak siswa. Tak hanya cantik, Salva juga berasal dari keluarga berada. Berbanding terbalik dengan Rulian — siswa kelas 12 juga, tapi dikenal urakan, suka telat, sering dipanggil BP karena kenakalan-kenakalan khas anak cowok rebel. Tapi Rulian bukan anak sembarangan. Di balik sikap cueknya, dia anak yang tangguh. Tinggal hanya berdua dengan neneknya, hidup sederhana, dan harus kerja paruh waktu sepulang sekolah.Awalnya, Salva dan Rulian bagaikan langit dan bumi. Mereka tak pernah bicara. Bahkan saling tak peduli. Tapi semua berubah sejak insiden lomba antar-OSIS se-Jakarta, di mana sekolah mereka mewajibkan keterlibatan siswa berprestasi dan siswa aktif. Kepala sekolah pun memaksa Rulian untuk ikut demi memperbaiki citra sekolah. Salva yang jadi ketua panitia tentu tak senang, karena ia harus bekerja sama dengan "berandalan" yang selama ini ia nilai tidak serius dalam hidup.Hari pertama latihan, Salva jutek. Rulian pun tak peduli. Tapi hari demi hari, kepribadian asli mereka mulai terlihat. Salva menyadari bahwa Rulian sebenarnya cerdas dan cekatan, hanya saja tidak punya cukup dukungan. Sementara Rulian mulai melihat sisi rapuh Salva — seorang gadis yang lelah dengan ekspektasi semua orang, tapi tetap tersenyum.Di suatu sore saat latihan selesai, mereka duduk di balkon sekolah. Langit berwarna oranye. Angin sore membelai rambut Salva yang tergerai."Kamu tahu, kenapa aku selalu telat sekolah?" tanya Rulian tiba-tiba.Salva menoleh. "Karena kamu malas?"Rulian terkekeh. "Karena aku nganterin koran dulu sebelum sekolah. Nenekku udah tua. Aku harus bantu."Sejak hari itu, pandangan Salva berubah. Ia tak lagi melihat Rulian sebagai anak nakal, tapi sebagai pejuang. Perlahan, ia mulai menaruh hati. Rulian pun demikian. Ia jatuh pada kesederhanaan Salva saat tersenyum, saat tanpa riasan, saat duduk bersamanya di kantin tanpa geng cewek populer.Mereka mulai dekat. Makan siang bareng, saling bantu tugas, bahkan sesekali curi pandang di kelas. Tapi hubungan mereka tak semulus yang dibayangkan. Teman-teman Salva mulai menjauh karena menganggap ia berubah. Orang tua Salva juga mulai curiga dan melarangnya dekat-dekat dengan anak dari "kelas bawah."Sementara Rulian... ia mulai merasa tidak pantas. Ia miskin. Masa depan belum pasti. Ia takut justru merusak masa depan Salva yang begitu cerah. Maka, di malam kelulusan, setelah mereka menari di tengah aula sekolah, Rulian berkata, "Mungkin kita harus berhenti sampai di sini."Salva menatapnya lama. "Kenapa?""Karena aku terlalu sayang sama kamu. Dan kalau aku benar-benar sayang... aku harus tahu kapan berhenti sebelum nyakitin kamu lebih jauh."Salva meneteskan air mata. Tapi ia tahu, cinta juga berarti rela melepaskan.Mereka berpisah setelah kelulusan. Salva melanjutkan kuliah di luar kota. Rulian kerja keras, menghidupi neneknya, dan membuka bengkel kecil-kecilan dengan uang hasil kerja serabutan.Waktu berjalan. Lima tahun kemudian, di sebuah acara reuni sekolah, Salva hadir dengan penampilan sederhana tapi dewasa. Ia sudah menjadi psikolog muda. Di tengah keramaian, matanya mencari-cari. Dan di sudut aula, berdiri Rulian — mengenakan kemeja sederhana, senyum masih sama, tapi kini matanya penuh percaya diri.Mereka bertemu lagi. Tak ada pelukan. Tak ada kata "aku rindu." Hanya saling diam dan menatap."Gimana kabar?" tanya Rulian."Baik. Kamu?""Lebih dari baik. Bengkelku lumayan jalan. Aku juga ngajar anak-anak jalanan motor dan mesin."Salva tersenyum. "Kamu tahu nggak, aku pernah bilang ke diriku sendiri... kalau jodoh itu pasti balik lagi. Nggak peduli sejauh apa pisahnya."Rulian menatapnya lama. Kali ini, tanpa ragu, ia menggenggam tangan Salva."Kalau gitu, boleh aku mulai dari awal lagi?"Salva tersenyum pelan. "Boleh. Tapi kali ini, jangan kabur lagi, ya."Mereka tertawa. Dan malam itu, tak ada tarian, tak ada musik, hanya dua orang yang dulu sempat saling lepaskan... kini kembali menggenggam, tak mau lepas lagi.Karena cinta yang tulus... kadang butuh waktu untuk kembali, tapi ketika datang lagi, ia datang untuk menetap.Setelah reuni itu, Salva dan Rulian kembali menjalin komunikasi. Awalnya canggung. Mereka banyak diam, saling kirim pesan singkat, saling tunggu siapa yang mulai bicara dulu. Tapi perlahan, keakraban itu tumbuh kembali, tak seperti dulu yang serba rahasia dan sembunyi, kini terasa lebih dewasa, lebih jujur.Salva mulai sering mampir ke bengkel Rulian saat hari libur. Duduk di bangku kayu di sudut ruangan, sambil melihat Rulian mengotak-atik motor tua. Kadang ia membawakan makanan, kadang hanya ingin melihat senyumnya yang dulu sempat ia rindukan dalam diam.Suatu sore, ketika bengkel sudah tutup dan langit mulai kelabu, Rulian berkata pelan, "Salva... kamu yakin masih mau sama aku? Hidupku nggak akan pernah seglamor orang-orang di sekelilingmu. Aku bukan lelaki berdasi. Tanganku kotor oli tiap hari."Salva menoleh, menggenggam tangan Rulian yang penuh luka dan goresan. "Tapi tangan ini yang selalu kerja keras tanpa banyak bicara. Yang berjuang bahkan sebelum aku kenal cinta sesungguhnya. Dan tahu nggak, Rulian? Aku nggak pernah nyari laki-laki berdasi. Aku nyari laki-laki yang bisa pulang ke rumah, dan bilang 'aku pulang' dengan tenang. Itu kamu."Rulian menunduk. Untuk pertama kalinya, matanya basah. Ia memeluk Salva dengan perasaan yang utuh — bukan lagi cinta anak muda yang terburu-buru, tapi rasa yang tumbuh dari waktu dan luka yang mereka lewati sendiri-sendiri.Beberapa bulan setelah itu, mereka melangsungkan lamaran kecil di rumah Salva. Keluarga Salva yang dulu ragu, kini melihat sendiri bagaimana tulusnya Rulian. Ia datang bukan untuk mengambil putri mereka, tapi untuk merawatnya.Pernikahan mereka sederhana, di halaman rumah Rulian, di bawah langit senja dan rangkaian lampu gantung. Salva tampil cantik dalam gaun putih sederhana. Rulian mengenakan jas pinjaman yang sempit di bahu, tapi senyumnya lebar dan penuh kebanggaan.Dan saat ijab kabul terucap, semua yang pernah terasa menyakitkan — perpisahan, pertentangan, air mata — seolah berubah jadi kekuatan.Setelah menikah, Salva membuka klinik kecil di dekat bengkel Rulian. Mereka hidup berdampingan, saling bantu, saling dukung. Ketika Salva kelelahan setelah menangani pasien, Rulian akan membuatkan teh dan memijat pundaknya. Saat Rulian kesulitan mencari suku cadang, Salva yang mencarikannya lewat kenalan atau online.Mereka bukan pasangan sempurna. Kadang bertengkar karena hal kecil. Tapi mereka tak pernah tidur tanpa saling minta maaf. Mereka tahu... cinta bukan soal kata manis atau hadiah mahal. Tapi soal siapa yang tetap bertahan, meski dunia tak selalu ramah.Beberapa tahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang mereka beri nama Rasya — gabungan dari "Rulian" dan "Salva." Rasya tumbuh di antara suara ketukan mesin dan lembutnya pelukan ibunya. Ia dibesarkan dengan cinta, dengan kerja keras, dan kisah nyata tentang dua orang muda yang dulunya bertolak belakang... tapi pada akhirnya, saling menemukan.Dan saat Rasya bertanya di usia 7 tahun, "Ayah ketemu Ibu di mana?" — Rulian hanya tersenyum sambil mengelus rambutnya."Di sekolah, waktu Ayah masih urakan dan Ibu sok galak. Tapi di situlah cinta dimulai. Dari beda, jadi satu."Salva tertawa mendengar itu dari dapur. Dan dalam hati, ia tahu... ia tak pernah salah memilih hati.
Rasa yang Tak Pernah Padam
Rolly menatap layar laptop yang terbuka di meja kerjanya. Dokumen pasien belum juga selesai ditulis, tapi pikirannya malah melayang ke ruang praktik tadi siang. Seorang pasien baru, perempuan dengan dua anak kembar yang aktif dan lucu, datang dengan senyum ramah—namanya Salca.Wanita itu memperkenalkan diri sebagai ibu tunggal yang baru pindah ke kompleks rumah yang sama dengan tempat tinggal Rolly. Ia sopan, tangguh, dan tenang dalam caranya menjelaskan keluhan batuk pilek anak-anaknya, namun dari tatapannya, Rolly tahu bahwa perempuan itu menyimpan lelah dan luka yang dalam.Rolly, duda tanpa anak yang kehilangan istrinya karena kecelakaan tiga tahun lalu, tak pernah lagi tertarik pada perempuan—sampai hari itu. Bukan karena Salca cantik, tapi karena ada ketegaran dalam dirinya yang tak bisa Rolly abaikan.Beberapa hari setelah pertemuan pertama itu, Rolly tanpa sadar mulai mencari-cari alasan untuk berbincang. Entah menanyakan kabar anak-anaknya lewat pesan WhatsApp, atau sekadar menawarkan vitamin tambahan untuk daya tahan tubuh. Salca menanggapi dengan sopan, tapi menjaga jarak. Ia paham, tetangga bisa saja baik tanpa maksud lain.Tapi malam-malam panjang yang dingin membuat Salca diam-diam menantikan sapaan Rolly. Lelaki itu tak pernah memaksa, tapi selalu hadir saat dibutuhkan. Ketika anak-anaknya demam tengah malam dan ia panik, Rolly datang tanpa banyak bicara, memeriksa dengan sigap, lalu tinggal sampai anak-anak tenang.Kehadiran Rolly perlahan menjadi bagian dari hari-hari Salca. Saat ada kerja bakti kompleks, Rolly mengangkat galon untuknya. Saat Salca sakit ringan, Rolly mengantarkan makanan. Sampai suatu hari, di depan rumahnya, Salca berkata jujur, "Aku takut nyaman sama kamu, Rol."Rolly menatap perempuan itu serius. "Kenapa?""Karena aku nggak ingin anak-anakku berharap pada orang yang bisa saja pergi."Rolly tersenyum pahit. "Aku juga pernah takut seperti itu. Tapi sejak kehilangan istriku, aku tahu satu hal—aku nggak bisa terus hidup dengan menolak perasaan. Kita berdua sama-sama pernah kehilangan. Tapi aku ingin mencoba. Kalau kamu izinkan."Salca terdiam. Malam itu, tak ada jawaban. Tapi sejak hari itu, ia mulai membiarkan hatinya terbuka perlahan.Perjalanan mereka tidak semulus kisah romantis di novel. Ada hari-hari ketika Salca merasa bersalah—karena ia merasa seperti "membawa beban" berupa dua anak kecil. Ada juga hari ketika Rolly merasa tidak cukup, karena ia takut tak bisa menjadi ayah yang baik.Namun mereka saling belajar. Rolly mulai rutin mengantar-jemput anak-anak sekolah, belajar memasak bekal sederhana, dan menghadiri acara perpisahan TK bersama Salca. Sementara Salca mulai mempercayakan sebagian ruang hatinya pada lelaki yang tak pernah sekalipun menuntut.Hingga pada suatu hari ulang tahun Salca, saat ia bangun pagi, ia mendapati meja makan kecil di rumahnya sudah dihiasi bunga dan kue sederhana. Dua anaknya berdiri dengan wajah ceria, dan Rolly muncul dari dapur dengan celemek."Selamat ulang tahun, Salca," ucap Rolly lembut.Air mata Salca jatuh tanpa bisa ditahan. Bukan karena hadiah itu mahal. Tapi karena ia tak pernah merasa dihargai dan dicintai seperti ini sebelumnya."Aku nggak punya cincin malam ini, nggak punya kata-kata romantis, bahkan nggak yakin bisa jadi suami yang sempurna. Tapi... maukah kamu menjalani hari-hari bersamaku dan anak-anakmu yang sudah seperti anak-anakku juga?"Salca tak menjawab dengan kata. Ia hanya mengangguk dan memeluk Rolly erat.Mereka menikah sederhana. Tanpa pesta mewah, hanya keluarga, tetangga, dan tawa anak-anak. Rolly memeluk dua anak Salca di pelaminan dan berkata, "Boleh ya, Ayah jadi Ayah baru buat kalian."Waktu berjalan. Mereka bukan keluarga yang sempurna, tapi mereka bahagia. Rumah itu tak pernah sunyi—ada tawa anak-anak, ada Salca yang sibuk memasak, dan ada Rolly yang membaca cerita pengantar tidur sambil ketiduran lebih dulu.Dan dalam segala kekurangan, cinta itu tumbuh subur. Karena mereka tak mencari cinta yang sempurna. Mereka hanya mencari seseorang yang mau tinggal, bertahan, dan mencintai... meski masa lalu mereka tidak sederhana.Hari-hari setelah pernikahan mereka terasa seperti mimpi indah yang sederhana. Rolly, yang dulu begitu kaku, perlahan menjadi sosok suami sekaligus ayah yang lembut. Ia belajar menyisir rambut Nayla sebelum berangkat sekolah, belajar membaca dongeng yang sama berkali-kali karena Rafif selalu meminta cerita dinosaurus favoritnya, dan tentu saja... belajar hidup bukan hanya sebagai "dokter," tapi sebagai kepala keluarga.Sementara Salca? Ia mulai berani bermimpi kembali. Bersama Rolly, ia membuka usaha katering rumahan kecil-kecilan. Tak besar, tapi cukup untuk membuat tangannya sibuk dan hatinya hangat. Dapur yang dulunya sunyi kini selalu ramai dengan aroma bumbu dan tawa anak-anak yang bermain sambil membantu membungkus nasi kotak.Mereka bukan pasangan glamor, bukan pasangan sosial media yang pamer kemesraan, tapi mereka saling tahu: cinta itu bukan soal gengsi, tapi soal hadir. Hadir ketika lelah, hadir ketika bingung, hadir meski tak diminta.Namun, seperti kehidupan nyata pada umumnya, badai pun datang.Ayah Salca yang dulu menolak keras kehadiran Rolly—karena statusnya sebagai duda, dan bukan dari keluarga terpandang—kembali muncul setelah bertahun-tahun pergi. Lelaki tua itu datang bukan untuk minta maaf, tapi karena sakit keras. Tak punya siapa-siapa.Rolly menyambut pria itu dengan tenang. Ia tak menyimpan dendam, hanya keinginan untuk menunjukkan bahwa keluarga itu bukan dibangun dengan gelar atau darah bangsawan, tapi dengan keikhlasan.Salca sempat bimbang. Masa lalu yang kelam dengan ayahnya membuatnya gamang. Tapi malam itu, saat ia melihat Rolly mengganti perban luka kecil di kaki sang ayah, hatinya luluh."Kenapa kamu tetap baik sama orang yang pernah hina kamu, Rol?"Rolly menjawab pelan, "Karena dia ayahmu. Dan aku mencintai semua bagian dari hidupmu. Bahkan yang paling menyakitkan."Salca menangis malam itu. Untuk pertama kalinya, ia menangis bukan karena sakit, tapi karena merasa sangat dicintai.Setelah ayahnya wafat, Salca merasa ada beban yang lepas. Ia dan Rolly mulai menabung untuk membeli rumah yang lebih besar. Bukan karena ingin pamer, tapi karena mereka ingin mengadopsi satu anak lagi dari panti asuhan. Anak itu—seorang gadis kecil yatim piatu bernama Dira—menjadi pelengkap dalam rumah kecil mereka.Tiga anak. Satu ibu. Satu ayah sambung yang tak pernah membedakan kasih.Mereka merayakan ulang tahun pernikahan keempat dengan sederhana: nasi liwet di teras rumah, lilin seadanya, dan anak-anak yang menyanyikan lagu dengan suara sumbang tapi tulus."Pernah nyangka, hidupmu akan begini, Rol?" tanya Salca sambil menyender di bahu suaminya.Rolly menggeleng. "Dulu aku pikir aku akan tua sendirian, Sal. Tapi kamu... kamu seperti rumah. Penuh luka, tapi tetap berdiri. Dan aku... aku bersyukur pernah kehilangan, karena kalau tidak, aku mungkin tidak akan pernah bertemu kamu."Salca menggenggam tangan suaminya erat.Dan malam itu, di bawah langit yang sama, mereka berdua sadar bahwa cinta yang tumbuh dari luka... bisa jadi cinta yang paling kuat. Bukan karena tak pernah goyah, tapi karena mereka selalu memilih untuk bertahan.Beberapa tahun kemudian, kehidupan mereka makin dewasa. Anak-anak tumbuh, rumah makin ramai dengan suara tawa, kadang tangis, tapi selalu dipenuhi cinta. Nayla kini duduk di bangku SMP, dan mulai mengenal dunia remaja dengan segala peliknya. Rafif yang dulu cerewet, kini justru jadi pendiam dan lebih suka main game. Dira, si bungsu, sudah pintar membaca dan suka menggambar keluarga kecil mereka.Suatu malam, saat anak-anak sudah tidur, Salca duduk di beranda sambil memandangi langit. Di tangannya ada secangkir teh hangat, di pangkuannya selimut tipis. Rolly datang menyusul, duduk di sebelahnya tanpa suara, hanya merangkul dan mendekap lembut."Kita berhasil ya..." bisik Salca."Belum selesai. Tapi kita masih jalan bareng. Itu yang paling penting," jawab Rolly sambil mengecup pelipis istrinya."Kalau kamu bisa kembali ke masa lalu," tanya Salca pelan, "apa kamu akan pilih hidup yang sama? Menikahi janda anak dua yang keras kepala kayak aku?"Rolly tertawa kecil. "Tanpa ragu sedikit pun. Karena di balik keras kepalamu itu... kamu satu-satunya yang bikin hidupku lembut."Salca menoleh, matanya hangat dan basah."Kamu tahu nggak, Rol?""Apa?""Dulu aku takut cinta kedua nggak akan sesempurna yang pertama. Tapi ternyata, cinta kedua bisa jadi yang paling matang, karena datang bukan cuma dari rasa... tapi dari kesadaran. Bahwa kita saling butuh, bukan karena takut sendiri, tapi karena benar-benar ingin jalan bareng."Rolly menggenggam tangannya. Diam, tapi utuh.Dan malam itu, mereka hanya duduk berdua, tak banyak kata, tapi penuh makna.Karena cinta sejati... kadang tak butuh drama. Hanya butuh dua orang yang tak saling lepas, meski hidup berkali-kali menguji mereka.~END~
Duda Anak Dua Dapat Gadis Kaya
Hidup Ian hancur saat istrinya meninggal karena kecelakaan empat tahun lalu. Sejak itu, dunia miliknya hanya berkisar pada dua hal: anak-anaknya — Nayla yang baru masuk SMP dan Rafif yang duduk di kelas tiga SD — serta pekerjaannya sebagai supir pribadi di sebuah perusahaan besar.Ia tak pernah berpikir soal cinta lagi. Hatinya sudah lama terkubur bersama jenazah wanita yang pernah ia cintai. Tapi hidup punya cara aneh mempermainkan manusia.Pertemuan itu terjadi di sore hujan, saat Ian sedang menunggu jemputan bos barunya. Ia tak tahu siapa yang akan ia antar hari itu. Yang ia tahu hanya nama di pesan: "Ms. Salca" .Saat seorang wanita muda melangkah cepat dengan payung putih dan sepatu hak tinggi ke arah mobilnya, Ian buru-buru membuka pintu."Maaf, saya agak telat," katanya.Suaranya lembut tapi tegas. Wajahnya bersih, aura anggun tapi tak sombong. Usianya sepertinya belum tiga puluh.Dan sejak itu, Salca menjadi penumpang tetap Ian. Setiap hari, setiap jam, selama berminggu-minggu.Ian tidak banyak bicara, hanya menjawab jika ditanya. Tapi Salca justru merasa nyaman. Ia tahu sopirnya duda. Ia tahu juga tentang dua anaknya — karena kadang Ian terpaksa menjemput dari sekolah dulu sebelum mengantar Salca rapat malam.Yang tak ia duga adalah... hatinya mulai tertarik.Salca adalah anak tunggal pemilik perusahaan tekstil besar. Ia punya segalanya. Rumah mewah, mobil, bahkan saham sendiri. Tapi seumur hidup, ia tak pernah bisa percaya pada laki-laki. Semua pria yang mendekatinya selalu membicarakan uang.Tapi tidak Ian.Pria itu malah selalu menjaga jarak. Ia bahkan pernah menolak Salca membelikan mainan untuk anaknya."Terima kasih, Bu... tapi saya ingin anak-anak saya tahu kalau mainan mereka datang dari hasil kerja ayahnya," kata Ian waktu itu.Perasaan kagum Salca berubah menjadi rasa ingin mengenal lebih dalam. Ia mulai menyapa anak-anak Ian, kadang mengantar makanan ke rumah mereka saat Ian lembur.Dan suatu malam, setelah mengantar Salca pulang dari pesta gala, Ian bicara dengan suara paling pelan yang pernah ia keluarkan."Maaf, Bu... kalau boleh jujur... saya merasa harus berhenti jadi sopir pribadi Anda."Salca terkejut. "Kenapa? Saya nggak pernah marah, kan?"Ian menunduk."Karena saya mulai menyukai Anda."Salca terdiam. Hatinya berdebar. Tapi ia tersenyum. "Kalau begitu, jangan berhenti. Kita ngobrol sebagai teman dulu... bukan bos dan sopir."Hubungan mereka tumbuh diam-diam.Salca tak peduli pada pandangan orang. Ia sering datang ke rumah Ian, ikut bantu masak, bahkan menjemput Nayla dan Rafif dari sekolah.Anak-anak Ian menyukai Salca. Nayla memanggilnya "Kak Salca", sementara Rafif pernah dengan polosnya berkata, "Kak Salca, kalau Ayah nikah lagi, kamu aja ya..."Ian tertawa waktu itu. Tapi Salca menatap matanya serius. "Kalau kamu siap... aku juga mau."Pernikahan mereka diadakan sederhana. Hanya di taman belakang rumah keluarga Salca, dengan undangan terbatas. Tapi yang hadir tahu bahwa cinta sejati sedang menyatu di sana — antara pria sederhana yang setia dan wanita kaya yang berhati tulus.Ian mengenakan jas abu-abu, matanya berkaca saat melihat Salca berjalan ke arahnya dalam gaun putih sederhana."Kamu yakin mau jadi istri duda kere dengan dua anak?" bisik Ian saat upacara akan dimulai.Salca tersenyum sambil menggenggam tangannya erat. "Justru karena kamu duda dua anak yang bikin aku jatuh cinta. Kamu bukan kere... kamu kaya dalam cara yang nggak semua orang punya: kaya tanggung jawab, kaya hati."Dan mereka menikah.Lima tahun berlaluIan kini bukan lagi supir pribadi. Dengan dukungan Salca, ia membuka bengkel mobil sendiri dan bahkan punya beberapa karyawan. Nayla masuk SMA favorit dan aktif di OSIS. Rafif ikut klub bola dan sudah dua kali jadi juara tingkat kota.Salca tetap mengurus bisnisnya, tapi lebih santai. Ia sering membawa sarapan untuk anak-anak ke sekolah, mengantar suaminya ke bengkel dulu, lalu ngopi sambil menulis jurnal hidupnya.Mereka hidup sederhana. Tapi penuh. Setiap malam makan malam bersama. Setiap akhir pekan piknik di taman atau sekadar masak bareng di dapur.Dan malam itu, saat Rafif tertidur di sofa dan Nayla sibuk dengan tugas sekolah, Ian menarik Salca ke halaman belakang.Ia menggenggam tangannya dan menatap langit."Kamu tahu nggak?" bisiknya. "Hidupku dulu cuma abu-abu. Tapi sejak kamu datang, semuanya jadi penuh warna."Salca tersenyum dan menyandarkan kepala di bahunya."Dan kamu, Ian... mengajarkanku bahwa bahagia bukan tentang punya segalanya, tapi cukup dengan seseorang yang tak pernah pergi."Di bawah langit malam itu, cinta mereka tumbuh — bukan dari kemewahan atau masa lalu, tapi dari saling menerima... dan memilih untuk tetap tinggal.Pagi itu berbeda dari biasanya.Ian baru saja mengantar Rafif ke sekolah dan Nayla ke bimbel. Sementara itu, Salca sibuk merapikan meja sarapan, mengenakan daster santai dan senyum yang tidak pernah luntur dari wajahnya."Aku ada kejutan," kata Salca sambil menyodorkan surat ke tangan Ian.Ian mengangkat alis curiga, lalu membuka surat itu perlahan. Matanya membaca cepat. Lalu berhenti. Lalu membaca ulang.Matanya melebar."Ini...?" tanyanya tak percaya.Salca mengangguk pelan. "Aku diterima di program akselerasi MBA di Prancis. Beasiswa penuh. Dua tahun."Ian mematung. Jantungnya mendadak berat."Berarti kamu bakal tinggal di sana selama itu?"Salca duduk di sebelahnya. "Enggak. Aku nggak akan ninggalin kamu dan anak-anak. Aku mau kamu ikut. Kita semua. Aku bisa ajukan cuti urus bisnis dari jarak jauh. Kamu bisa ngurus Rafif dan Nayla di sana. Sekalian buka bengkel kecil kalau mau."Ian menatap wanita itu — wanita yang dulu ia kira tak mungkin bisa ia miliki. Dan kini, wanita itu justru mengajaknya membuka lembaran baru."Kamu yakin mau tinggalin semua ini? Bisnismu, rumah ini, semuanya?"Salca menggenggam tangan Ian. "Aku nggak ninggalin apa pun. Aku cuma bawa yang paling berharga: kamu, dan anak-anak kita."Delapan Bulan Kemudian – PrancisIan tidak pernah membayangkan dirinya bisa berjalan menyusuri jalanan Lyon dengan mantel panjang dan secangkir kopi panas di tangan. Rafif kini sekolah internasional dan fasih mengucapkan "bonjour". Nayla berhasil masuk klub seni dan sudah dua kali tampil di teater sekolah.Sementara itu, Salca sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya, tapi selalu menyempatkan sarapan bersama setiap pagi.Di malam minggu, mereka sering duduk di balkon apartemen sambil berbagi cerita."Dulu aku pikir, jadi duda itu akhir dari segalanya," gumam Ian."Dan aku dulu pikir, jadi gadis kaya bakal sulit nemu yang beneran tulus," balas Salca sambil menatap matanya.Mereka saling tersenyum.Dan di tengah sejuknya malam Eropa, mereka tahu: bukan masa lalu yang menentukan akhir cerita, tapi keberanian untuk mencintai tanpa pamrih.Lima Tahun Lagi – IndonesiaIan dan Salca kembali ke Indonesia. Mereka mendirikan yayasan pendidikan untuk anak-anak yatim dan keluarga tidak mampu — hasil kombinasi dari pengalaman hidup Ian dan kepekaan sosial Salca.Nayla diterima di jurusan seni Universitas Indonesia. Rafif sedang meniti karier di tim sepak bola muda.Dan Salca?Ia kini dikenal bukan hanya sebagai pengusaha sukses, tapi juga istri dari "mantan supir" yang kini menjadi simbol cinta sejati.Suatu malam, di taman belakang rumah mereka yang baru, Ian duduk dengan segelas teh sambil melihat langit.Salca menghampiri dan duduk di sampingnya. "Masih percaya jodoh bisa datang tanpa diduga?" tanyanya.Ian menatapnya dalam-dalam. "Aku lebih percaya... jodoh itu seperti kamu. Datangnya tak terduga, tapi bertahan seumur hidup."Salca tertawa pelan dan bersandar di bahunya.Dan di bawah cahaya bintang yang sama, cinta mereka terus hidup. Bukan karena harta. Bukan karena status.Tapi karena mereka pernah memilih untuk saling menerima — dan tak pernah menyerah pada cinta.~END~
Ketua Osis Dijodohkan dengan Berandalan Sekolah
Sasa dikenal sebagai sosok ketua OSIS teladan. Rapotnya nyaris tak pernah ada nilai di bawah 90. Rambut dikuncir rapi, roknya tidak pernah di atas lutut, dan suaranya tegas saat memimpin rapat atau apel pagi. Ia panutan siswa dan kesayangan guru.Sebaliknya, Lian adalah mimpi buruk setiap wali kelas. Murid laki-laki yang sering nongkrong di belakang sekolah, berseragam tidak rapi, rambut acak-acakan, dan selalu jadi biang masalah. Tidak pernah ikut upacara, bolos pelajaran, dan prestasinya hanya unggul di satu bidang: bela diri.Sasa dan Lian adalah dua kutub berbeda. Tak ada yang menyangka mereka bisa duduk berdampingan, apalagi menjadi pasangan.Tapi hidup penuh kejutan.Satu hari setelah Sasa genap 17 tahun, orangtuanya mengajaknya makan malam di rumah kakeknya. Ternyata bukan cuma keluarga mereka yang hadir. Ada tamu lain — pasangan suami istri dan seorang remaja laki-laki berpakaian santai, duduk dengan tangan di saku.Itu Lian.Sasa menegang begitu tahu.Ibunya tersenyum. "Nak, kami sudah lama bersahabat dengan keluarga Lian. Waktu kalian kecil, kalian sering main bareng. Kakekmu dan kakek Lian dulu bersumpah menjodohkan cucu mereka. Dan sekarang... saatnya."Sasa terbatuk. "M-ma? Dijodohkan sama... dia?"Lian hanya cengengesan. "Tenang aja, aku juga kaget. Tapi katanya ini demi silaturahmi. Santai, kita masih SMA, bukan langsung nikah."Sasa ingin menolak, ingin kabur dari ruang makan itu. Tapi saat itu, ia hanya bisa diam, shock. Ia tidak mau mempermalukan keluarganya.Setelah malam itu, kehidupan di sekolah jadi canggung. Semua orang mulai tahu kalau si ketua OSIS dijodohkan dengan anak paling berandal. Gosip menyebar, teman-teman Sasa mulai bertanya-tanya. Beberapa merasa Sasa mencoreng nama baiknya sendiri.Sasa dan Lian pun dipaksa menjalani "masa pendekatan".Sasa awalnya bersikap dingin. Ia tetap fokus pada tugas-tugas OSIS, menghindari Lian sebisa mungkin. Tapi Lian? Dengan santainya sering muncul di depan ruang OSIS, pura-pura pinjam spidol atau minta air minum."Ngapain sih kamu gangguin aku terus?" tanya Sasa suatu siang."Aku penasaran. Apa rasanya punya pasangan yang tiap hari bagi-bagi peraturan," jawab Lian santai.Sasa mencibir. "Aku bukan pasangan kamu.""Tapi kata kakekku, sebentar lagi iya."Menyebalkan. Tapi anehnya, Sasa mulai terbiasa dengan kehadiran Lian.Suatu hari, saat pulang rapat OSIS, Sasa dihampiri sekelompok cowok dari sekolah lain yang suka usil dan ganggu murid putri. Mereka mengikutinya sampai gang kecil dekat rumah."Ayo temenin kita ngobrol, ketua OSIS cantik!" teriak salah satu dari mereka.Sasa panik. Tapi tiba-tiba, satu motor berhenti mendadak.Itu Lian.Tanpa banyak bicara, Lian menghajar dua dari tiga cowok itu. Yang satu kabur ketakutan. Sasa berdiri gemetar di tempat."Ngapain kamu di sini?" tanyanya begitu Lian mendekat."Kakekku mimpi kamu bahaya. Katanya suruh jagain kamu."Sasa menunduk. Itu alasan aneh, tapi ia tak bisa menyangkal: ia merasa aman bersama Lian.Sejak kejadian itu, hubungan mereka perlahan berubah. Sasa mulai melihat sisi lain dari Lian. Memang, Lian bandel, tapi ia setia kawan, tidak suka menyakiti yang lemah, dan punya rasa hormat tinggi pada orang tua.Dan Lian mulai berubah. Ia lebih sering masuk kelas, bahkan pernah bantu membersihkan gudang OSIS. Bukan karena dia suka kegiatan OSIS, tapi karena ingin dekat dengan Sasa.Lambat laun, guru-guru pun mulai memperhatikan perubahan itu. Dan yang paling heran adalah Sasa sendiri. Ia jatuh hati, tanpa sadar.Tiga bulan sebelum kelulusan, Sasa mengaku pada ibunya kalau ia tidak keberatan lagi soal perjodohan itu."Aku... nggak benci Lian lagi, Ma."Ibunya hanya tersenyum penuh arti.Sementara itu, Lian yang dulu dikenal brutal, kini jadi sosok yang banyak ditiru anak laki-laki lain. Ia memang tidak jadi siswa teladan, tapi perubahan sikapnya membuat para guru mulai percaya padanya.Saat kelulusan, Lian memegang tangan Sasa di belakang panggung. "Gimana, Ketua? Masih menyesal dijodohin sama anak bengal?"Sasa menoleh dan tersenyum. "Menyesal sih... kenapa baru sekarang kamu berubah?"Lian tertawa. "Karena kamu yang bikin aku berubah."Lima tahun kemudian, mereka menikah. Sasa jadi pengacara muda, Lian membuka dojo bela diri dan bengkel modifikasi motor. Dua dunia berbeda, tapi menyatu dalam kehidupan nyata.Di hari pernikahan mereka, kakek mereka tersenyum puas. Taruhan masa lalu tentang perjodohan ternyata menjadi kenyataan yang manis.Dan cinta yang awalnya terasa seperti paksaan, ternyata jadi takdir terbaik yang pernah mereka terima.Meski kelulusan SMA mereka begitu manis, kehidupan setelahnya tak serta-merta berjalan mulus. Masa kuliah adalah babak baru—dan penuh tantangan.Sasa berhasil masuk Fakultas Hukum di universitas ternama lewat jalur prestasi. Ia hidup di kos-kosan sederhana dekat kampus, belajar keras siang dan malam demi mengejar cita-citanya jadi jaksa. Di sisi lain, Lian , meskipun tak masuk universitas, justru memilih jalur berbeda: ia ikut kursus otomotif dan membuka bengkel kecil bersama temannya. Sempat diremehkan oleh keluarga besar Sasa, Lian tetap bertahan. Ia ingin membuktikan bahwa cintanya untuk Sasa tak sekadar omongan remaja.Hubungan mereka tetap berjalan, meski jarak dan kesibukan sering menimbulkan masalah. Pernah suatu waktu, Sasa merasa terlalu sibuk dengan tugas kuliah dan hampir memutuskan Lian."Aku nggak punya waktu buat pacaran, Lian. Apalagi kalau kamu terus curiga aku deket sama cowok lain di kampus," ucap Sasa, frustasi.Lian diam, menahan emosi. "Aku cuma takut kehilangan kamu. Tapi kalau kamu ngerasa aku beban, aku bisa mundur.""Bukan gitu maksudku..." Sasa mulai menangis, menyadari bahwa yang ia butuhkan bukan perpisahan, tapi pengertian.Hari itu mereka sama-sama belajar. Bahwa cinta bukan cuma soal rasa nyaman, tapi juga perjuangan untuk tetap bertahan.Tiga tahun berlalu.Sasa lulus dengan predikat cumlaude. Di acara wisuda, ia hanya mengundang sedikit orang—dan Lian salah satunya. Saat namanya dipanggil di podium, Lian berdiri dari kejauhan, memakai kemeja putih dan celana jeans paling bersih yang ia punya.Ia tepuk tangan paling keras. Dan saat Sasa turun dari panggung, Lian mendekat sambil menyerahkan satu kotak kecil."Kalau kamu sudah selesai mengejar impianmu... boleh nggak aku mulai mewujudkan impianku?"Sasa membuka kotak itu. Sebuah cincin emas putih sederhana dengan ukiran kecil: "Untuk Perempuan Paling Kuat"Sasa tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Impianmu... sama kayak impianku."Dua tahun kemudianMereka resmi menikah di hadapan keluarga, guru-guru SMA, dan sahabat lama. Bahkan, kepala sekolah mereka yang dulu sering memanggil Lian ke ruang BK ikut hadir, meneteskan air mata bangga melihat murid "berandalan" itu kini tumbuh jadi pria sejati.Setelah menikah, mereka membeli rumah kecil hasil tabungan bersama. Sasa bekerja sebagai asisten pengacara muda, dan Lian kini punya bengkel besar dengan lima anak buah. Mereka tidak hidup mewah, tapi cukup. Dan yang paling penting—bahagia.Suatu malam, setelah pulang dari kantor, Sasa duduk di ruang tengah sambil memandangi foto pernikahan mereka."Lian..." panggilnya pelan."Hm?" jawab Lian dari dapur, sedang mengaduk teh hangat."Kalau dulu aku nolak dijodohin sama kamu... kamu bakal apa?"Lian tertawa kecil, lalu mendekat dan duduk di sampingnya."Ya, mungkin aku akan tetap ngejar kamu. Atau mungkin aku bakal jadi cowok yang kamu hukum tiap hari sebagai ketua OSIS."Sasa tersenyum sambil bersandar di bahunya. "Untung kita dijodohin, ya?""Untung kamu sabar ngadepin aku," bisik Lian.Tahun-tahun berikutnya, hidup mereka dipenuhi perjuangan dan kebahagiaan. Ada saat-saat sulit—krisis ekonomi, tekanan pekerjaan, bahkan keguguran pertama Sasa. Tapi mereka selalu kembali saling menggenggam, mengingat masa remaja mereka yang penuh warna.Dan saat anak pertama mereka lahir—seorang putri kecil bernama Kirana —Lian menangis di ruang bersalin. Ia memandangi anaknya, lalu istrinya, lalu berkata, "Aku nggak pernah nyangka anak bengal kayak aku bisa sampai di titik ini."Sasa menggenggam tangannya, lemah tapi penuh cinta. "Dan aku nggak pernah nyangka jatuh cinta sama kamu adalah keputusan terbaik dalam hidupku."~END~
Cinta Karena Taruhan
Caca terkenal di kampus sebagai gadis paling cuek dan dingin. Cantik, pintar, dan mandiri, tapi seperti membangun tembok tinggi di sekelilingnya. Tidak ada yang bisa mendekat terlalu dekat, apalagi menjadikannya pacar. Banyak yang mencoba, dan semuanya gagal—karena Caca terlalu sulit ditaklukkan.Sampai muncul nama Arlian .Cowok populer, tajir, dan jago main basket. Dikenal playboy tapi selalu menang taruhan dengan teman-temannya. Kali ini, taruhan yang dilemparkan oleh teman-temannya cukup gila:"Kalau lo bisa bikin Caca nembak duluan dalam waktu sebulan, semua motor kita jadi milik lo."Dan seperti biasa, Arlian menyanggupi."Aku cuma butuh tiga minggu," jawabnya percaya diri.Pertama-tama, Arlian mendekati Caca dengan cara biasa: ngajak ngobrol di kantin, pura-pura nanya tugas, sampai ngikutin dia pulang. Tapi semua usahanya seperti menabrak tembok. Caca terlalu pintar untuk jatuh dalam pesona murahan."Aku tahu kamu taruhan," kata Caca suatu hari di perpustakaan. Matanya menatap tajam. "Dan kamu gagal."Arlian kaget. Tapi justru itu awal dari sesuatu yang tak ia duga.Ia mulai penasaran. Kenapa Caca bisa sekuat itu? Kenapa tidak seperti cewek lain?Arlian tak lagi mengejar demi taruhan. Ia mulai ingin tahu siapa Caca sebenarnya. Dan saat ia mulai berhenti pura-pura, segalanya berubah.Caca bukan sekadar cewek dingin. Ia membangun benteng karena trauma masa lalu. Ibunya ditinggal ayahnya demi wanita lain. Caca menyaksikan ibunya kerja banting tulang dan menangis malam-malam. Karena itu, Caca bersumpah tak akan pernah jatuh pada pria yang menjadikan cinta sebagai permainan.Tapi Arlian... perlahan berubah.Ia berhenti jadi playboy. Ia benar-benar menjaga jarak, tapi tetap hadir. Ia bantu Caca saat motornya mogok, mengantar pulang saat hujan turun, dan bahkan menunggu di depan rumah saat tahu ibunya Caca masuk rumah sakit."Kenapa kamu di sini?" tanya Caca di tengah malam itu."Karena aku nggak tahu cara ninggalin kamu sendirian sekarang."Tanpa sadar, Caca mulai menurunkan temboknya.Ia mulai tertawa saat Arlian melontarkan candaan. Ia mulai mencari-cari alasan agar mereka bisa ngobrol. Dan ia mulai gelisah... saat Arlian tak ada.Hingga suatu hari, mereka duduk berdua di taman kampus. Angin sore berhembus pelan.Caca menggigit bibirnya. "Aku tahu... taruhan itu nyata."Arlian menunduk. "Iya. Awalnya cuma taruhan. Tapi sekarang... aku nggak peduli lagi soal motor, taruhan, atau gengsi. Yang kupeduliin cuma kamu."Caca menatap mata itu. Mata yang tak lagi main-main."Kamu tahu nggak," kata Caca, "kenapa aku tetap bertahan ngobrol sama kamu? Karena aku nunggu... kapan kamu akan jujur. Dan sekarang kamu jujur."Arlian menarik napas. "Caca... aku jatuh cinta beneran."Caca tersenyum tipis."Aku juga."Mereka resmi pacaran. Tapi bukan kisah cinta yang mulus. Banyak yang mencibir, menyindir bahwa Caca "kalah taruhan", bahkan menyebarkan isu kalau hubungan mereka hanya akan bertahan sebentar.Tapi Caca dan Arlian bertahan.Karena keduanya tidak memulai dari manis-manis palsu. Mereka memulai dari kebohongan, lalu belajar untuk jujur dan mencintai dari nol.Empat tahun kemudian, Arlian berdiri di depan altar. Ia memakai jas abu-abu gelap, matanya berkaca-kaca saat melihat Caca berjalan pelan dalam gaun putih sederhana.Di hadapan semua orang, ia mengucap janji."Dulu aku taruhan untuk menangkan kamu. Tapi ternyata... aku kalah. Karena sejak mencintaimu, aku sadar... yang paling menang itu kamu. Kamu membuatku jadi pria yang lebih baik. Dan untuk itu, aku akan mencintaimu... seumur hidup."Caca tersenyum, lalu menggenggam tangan Arlian erat.Dan di pelaminan itulah, dua orang yang dulu saling curiga akhirnya bersatu — karena cinta yang diawali taruhan, justru tumbuh menjadi kenyataan yang paling tulus.Lima Tahun Setelah PernikahanRumah kecil berwarna krem itu terletak di sudut perumahan yang tenang. Taman mungil di halaman dipenuhi bunga matahari, dan suara tawa anak-anak sering terdengar dari dalam.Itu rumah Arlian dan Caca. Dan dua anak mereka: Alya , gadis kecil yang suka melukis, dan Dio , bayi berusia satu tahun yang baru bisa berdiri dan suka mengejar kakaknya ke mana-mana.Caca kini menjadi dosen tetap di kampus lamanya. Ia dikenal sebagai pengajar yang cerdas dan inspiratif. Sementara Arlian, setelah berhenti jadi "anak motor" dan gaya hidup main-main, membuka bengkel modifikasi motor custom yang cukup terkenal di kota mereka. Ia bahkan pernah masuk majalah otomotif nasional.Tapi kehidupan mereka tak selalu mulus.Masa SulitTahun ketiga pernikahan, Caca pernah keguguran anak keduanya. Saat itu, Arlian sedang berada di luar kota mengikuti pameran motor.Caca merasa sendirian, hancur, dan marah. Ia menyalahkan dirinya, bahkan sempat menyalahkan Arlian karena tak ada di sisinya saat itu."Harusnya kamu di sini!" bentaknya malam itu, setelah pulang dari rumah sakit.Arlian hanya menatap mata istrinya. "Kalau aku bisa, aku rela gantiin sakitmu. Tapi aku nggak bisa, Ca. Yang bisa kulakuin sekarang cuma jadi sandaran kamu, kalau kamu izinkan."Caca menangis, dan malam itu mereka berdua duduk di lantai dapur, saling berpelukan tanpa kata.Sejak saat itu, mereka semakin kuat sebagai pasangan. Cinta mereka bukan lagi soal perhatian kecil, tapi soal bagaimana mereka tetap berdiri meski badai datang.Ketika Masa Lalu Datang KembaliSuatu hari, di kampus, Caca bertemu Rani , mantan gebetan Arlian waktu kuliah — cewek populer yang dulu pernah bersaing diam-diam memikat Arlian, sebelum Arlian jatuh cinta sungguhan pada Caca.Rani kini juga mengajar, dan mereka satu jurusan."Aku kira hubungan kalian nggak bakal lama," kata Rani di ruang dosen. "Ternyata kamu bisa tahan ya, jadi pemenang dari taruhan cinta."Caca tersenyum tenang. "Taruhannya sudah lama selesai. Tapi kami berdua terus bertaruh setiap hari — untuk tetap saling memilih meski kadang lelah."Rani terdiam.Itulah Caca. Tetap anggun, tetap tenang, dan tetap tak mudah diprovokasi.Ulang Tahun Pernikahan Ke-7Arlian menyiapkan kejutan kecil. Di halaman belakang rumah, ia memasang tenda kecil, lampu-lampu gantung, dan meja makan sederhana.Caca baru pulang dari kampus, masih memakai sepatu hak dan tas jinjing."Apa ini?" tanyanya sambil tertawa kecil."Tempat kencan kita malam ini. Gratis, tanpa harus nyuap penjaga bioskop kayak dulu waktu kita mau nonton pas mahasiswa," canda Arlian.Mereka makan malam sambil tertawa, membahas anak-anak, dan impian ke depan.Lalu Arlian mengambil sebuah kotak kecil dari saku bajunya."Apa lagi ini?" tanya Caca, mengernyit.Ia membuka kotak itu, dan di dalamnya ada sebuah cincin dengan ukiran halus bertuliskan:"Cinta karena taruhan, setia karena pilihan."Caca menatapnya, nyaris menangis."Dulu aku jatuh cinta karena ego dan tantangan. Tapi sekarang, aku bangun tiap pagi hanya untuk bersyukur karena kamu masih memilihku."Caca mencium tangan suaminya."Dan aku juga, Lian. Kamu bukan sekadar masa lalu atau cerita taruhan. Kamu masa kini, dan masa depanku."Beberapa tahun kemudian, anak-anak mereka tumbuh besar. Alya mewarisi ketegasan ibunya, sementara Dio mirip Arlian yang suka ngoprek dan tak bisa diam.Caca menulis buku berjudul "Cinta Karena Taruhan" , bukan sebagai kisah roman klise, tapi sebagai refleksi perjalanan hubungan — dari kebohongan ke kejujuran, dari kepura-puraan ke ketulusan.Buku itu menjadi bestseller.Dalam salah satu wawancaranya, Caca pernah berkata:"Cinta itu nggak harus dimulai dengan sempurna. Yang penting, bagaimana kita memperbaikinya setiap hari. Karena kadang, dari taruhan paling bodoh... bisa tumbuh cinta paling jujur."~END~
Janda Anak Dua Dapat Brondong Kaya
Hidup Salca , 33 tahun, adalah tentang bertahan.Ia adalah ibu dari dua anak, ditinggal suami sejak tiga tahun lalu tanpa kabar, tanpa tanggung jawab. Ia bekerja sebagai kasir di minimarket, nyambi jadi penjahit rumahan malam hari demi menghidupi kedua anaknya: Nala (8 tahun) dan Rafi (5 tahun). Baginya, cinta adalah kemewahan, dan harapan adalah sesuatu yang dikubur dalam-dalam.Sampai seorang pria muda— Lian , 26 tahun—datang ke hidupnya. Awalnya, hanya sebagai pelanggan tetap.Lian adalah pria sukses, pemilik startup properti yang baru pindah ke kota kecil tempat Salca tinggal. Penampilannya rapi, tutur katanya halus, dan yang paling menonjol: dia sangat perhatian pada orang-orang kecil. Setiap datang ke minimarket, ia selalu beli satu susu cokelat dan satu permen karet."Buat anak saya?" tanya Salca iseng suatu malam saat kasir mulai sepi.Lian tersenyum. "Buat saya sendiri. Tapi bisa juga dibagi kalau kamu mau."Salca tertawa, tidak menyangka ada pelanggan sehumoris itu.Hari demi hari, pertemuan mereka makin sering. Kadang di minimarket. Kadang tanpa sengaja di warung kopi dekat rumah. Kadang Lian bahkan membeli pesanan jahit dari Salca, seperti sarung bantal atau tas kain yang dia pesan sebagai 'souvenir kantor'.Salca sempat curiga. Tapi Lian hanya berkata, "Aku bantu karena aku bisa. Tapi kalau kamu anggap itu sebagai beban, aku berhenti."Tapi Lian tak pernah benar-benar pergi.Suatu hari, Nala sakit. Salca panik, tak punya cukup uang untuk periksa ke rumah sakit. Ia hampir menangis saat melihat tubuh anaknya panas tinggi.Tanpa diminta, Lian datang malam itu dengan membawa dokter dan obat-obatan. Ia bahkan menunggu di depan rumah sampai Nala tertidur."Kenapa kamu lakukan semua ini, Lian?" tanya Salca dengan suara bergetar.Lian hanya menjawab pelan, "Karena aku peduli. Bukan karena kasihan. Karena kamu wanita kuat. Dan aku... aku suka wanita kuat."Salca hanya bisa menunduk, jantungnya berdetak keras. Ini bukan kali pertama Lian membuatnya merasa dihargai—tapi inilah pertama kalinya ia merasa ingin percaya lagi pada cinta.Tapi tentu saja, kisah mereka tidak mudah.Lingkungan mulai bergosip. "Janda kok deket-deket cowok muda?" "Pasti si Lian itu cuma main-main." Bahkan adik ipar mantan suaminya datang dan berkata, "Kamu pikir laki-laki kaya mau serius sama janda anak dua?"Salca gemetar. Tapi Lian berdiri di sampingnya. "Kalau dunia memandang kamu rendah, aku akan berdiri cukup tinggi untuk menutupi kamu dari semua itu."Hubungan mereka perlahan jadi serius. Lian mulai dekat dengan anak-anak Salca. Ia mengantar Nala ke sekolah, mengajari Rafi main robot, bahkan sering memasak bareng mereka di dapur sempit rumah kontrakan.Salca mulai terbiasa menyebut nama Lian saat membuat teh. Membuat dua gelas, bukan satu.Namun ketakutan tetap membayangi."Saya takut kamu akan nyesel nanti, Lian. Dunia kamu beda. Kamu masih muda, bisa dapat yang lebih dari saya."Lian memegang tangannya. "Kalau cinta ditimbang dari umur dan status, saya nggak akan pernah bisa jatuh cinta sama kamu. Tapi nyatanya... saya jatuh. Dan nggak pernah mau bangun."Hari itu, Salca menangis di pelukannya.Setahun setelah semua itu, Lian melamar Salca.Bukan di restoran mewah. Tapi di dapur rumah Salca, sambil mengupas bawang, dengan cincin sederhana dan dua anak di pangkuannya."Nala, Rafi, boleh nggak kalau Om Lian jadi bagian dari keluarga ini?"Keduanya mengangguk polos. "Boleh, tapi Om Lian harus cuci piring juga kayak Ibu ya!"Tawa pecah. Dan Salca hanya bisa menatap wajah pria itu—pria yang bukan cuma menerima dirinya, tapi juga dua anak kecil yang ikut dalam paket cintanya.Pernikahan mereka sederhana tapi hangat. Tak semua orang setuju, tapi cinta mereka lebih besar dari komentar orang.Kini, Salca tidak lagi berdiri sendirian di ujung kasir, memikirkan cara bertahan hidup.Dia berdiri di sisi pria yang mencintainya tanpa syarat, memegang dua tangan kecil yang menyebutnya "Ibu", dan satu tangan besar yang kini menggenggamnya erat.Bukan lagi sekadar bertahan. Tapi hidup. Dan dicintai.Setelah pernikahan sederhana itu, Salca resmi menjadi istri dari Lian — pria muda, kaya, dan paling penting, paling sabar menghadapi dua anak kecil yang punya energi seperti roket tiap pagi .Pindah ke rumah baru yang lebih besar bukan hanya soal pindah tempat tinggal, tapi juga soal menyesuaikan diri.Salca sempat canggung di awal. Rumah itu terlalu besar, terlalu mewah dibanding rumah kontrakannya dulu. Bahkan mesin cucinya bisa bicara dan nyala sendiri pakai sensor. Tapi yang membuatnya paling gugup... adalah kamar utama yang kini berbagi ranjang dengan suaminya yang tujuh tahun lebih muda."Kalau aku mimpi buruk dan bangunin kamu jam dua pagi, kamu marah gak?" tanya Salca malu-malu.Lian tertawa, memeluknya dari belakang. "Aku gak akan marah. Aku akan bilang, 'Sini, mimpi bareng aku aja.'"Malam pertama sebagai keluarga terasa berbeda. Bukan karena romantis, tapi karena Rafi demam dan muntah-muntah. Salca panik, tapi Lian tetap tenang.Ia menggendong Rafi, menyeka keringatnya, dan menenangkan Nala yang ikut menangis karena takut adiknya kenapa-kenapa.Dan saat semua sudah tertidur, Salca menatap Lian yang duduk di tepi kasur sambil mengipas Rafi."Kenapa kamu nggak pernah terlihat kesal?" bisik Salca.Lian menoleh, matanya lembut."Karena ini bukan beban. Ini yang aku pilih. Kamu. Anak-anak. Semuanya."Salca menggenggam tangannya erat-erat.Hari-hari berlalu. Lian mulai mengajak Salca bergabung dalam usahanya. Ia ingin membuka cabang butik rumahan untuk menjual hasil jahitan tangan Salca yang selama ini cuma untuk tetangga."Aku nggak cuma pengen kamu jadi istriku, Ca. Aku juga pengen kamu punya hidup yang kamu impikan."Tapi Salca masih takut. Ia belum terbiasa jadi "nyonya muda". Ia masih suka menyetrika sendiri, walau sudah ada ART. Ia masih suka masak sambel terasi, walau dapurnya sudah digital semua.Tapi satu hal yang tak berubah: kasih sayang Lian tak pernah berkurang sedikit pun.Tantangan datang dari luar. Terutama dari orang-orang yang tak bisa menerima kenyataan: seorang janda anak dua menikah dengan pria muda dan sukses.Dari tetangga yang bilang Lian dikutuk karena menikahi 'bekas istri orang', sampai keluarga jauh Lian yang berkata secara terang-terangan: "Dia itu cuma bawa beban buat kamu."Tapi Lian bukan pria biasa. Ia berdiri di hadapan semua itu dan berkata lantang:"Salca bukan beban. Dia alasan kenapa aku pulang setiap hari dengan senyum. Anak-anaknya bukan penghalang. Mereka keluarga aku."Dan hari itu, untuk pertama kalinya Salca tidak menahan air mata. Ia menangis dalam pelukan pria yang mencintainya tanpa tapi.Setahun kemudian, ada kejutan lain. Salca hamil.Awalnya ia tidak percaya. Ia pikir sudah terlalu lelah untuk diberi anugerah baru. Tapi dokter berkata lain."Kamu positif hamil, Bu Salca. Lima minggu."Lian yang ikut ke rumah sakit langsung sujud syukur di lantai. "Kita punya bayi kecil, Ca. Kita punya cerita baru lagi."Selama kehamilan, Lian menjaga Salca sepenuh hati. Ia rela bangun malam hanya untuk memastikan istrinya tidak kram. Ia menahan tawa ketika Salca ngidam bakso kuah durian, dan tetap makan bersamanya walau hampir muntah.Nala dan Rafi pun jadi lebih mandiri. Mereka membantu masak, menyapu, bahkan menggambar dinding kamar bayi dengan crayon (meskipun akhirnya harus dicat ulang).Dan saat bayi mereka lahir—seorang bayi perempuan dengan senyum yang mirip sekali dengan Lian—Salca tahu bahwa ia sudah sampai di tempat yang dulu hanya ia impikan: rumah yang benar-benar rumah.Mereka menamainya Aurelia , yang artinya cahaya emas."Aurelia Lianadewi," kata Lian sambil menatap wajah mungil putrinya. "Supaya dia selalu tahu bahwa dia lahir dari cinta yang tak pernah takut dilukai masa lalu."Salca menggenggam tangan suaminya. "Kamu tahu, dulu aku pikir aku cuma layak untuk bertahan hidup. Tapi kamu datang, dan bikin aku percaya... aku juga pantas dicintai."Lian mencium keningnya. "Dan aku bersyukur kamu gak menutup hati waktu aku datang. Karena kalau kamu tolak waktu itu, mungkin hidupku gak akan sehangat sekarang."Kini, Salca dan Lian tinggal di rumah yang selalu dipenuhi tawa. Nala sudah masuk SMP, Rafi mulai bisa bantu jaga adik, dan Aurelia baru bisa bicara satu kata: "Liiin!"Lian pura-pura marah. "Kamu harus panggil aku Ayah, bukan nama depan!"Tapi Aurelia hanya tertawa dan berlari memeluk kakinya.Dan Salca—dengan apron penuh tepung, rambut berantakan, tapi hati penuh syukur—menatap mereka bertiga.Ia tahu, cinta tidak selalu datang tepat waktu. Kadang terlambat. Kadang datang dalam bentuk yang tak disangka—seperti brondong muda yang suka beli susu cokelat dan permen di kasir.Tiga tahun setelah kelahiran Aurelia, kehidupan keluarga kecil Salca dan Lian terlihat nyaris sempurna dari luar. Rumah mereka selalu ramai suara tawa anak-anak. Butik Salca makin berkembang, bahkan sudah dua kali ikut pameran busana lokal. Lian juga berhasil membuka cabang usaha kulinernya sampai ke kota sebelah.Tapi... tidak semua hal bertahan dalam kedamaian.Semua berubah saat Lian makin sibuk dan sering pulang larut malam."Maaf, Sayang... klien dari Jakarta maksa meeting sampai jam sepuluh," kata Lian suatu malam sambil mencium kening Salca yang sudah hampir tertidur.Salca tersenyum kecil, meski hatinya tidak sepenuhnya tenang.Di dapur, piring bekas makan malam Lian masih utuh. Sup yang ia masak khusus — pakai resep warisan ibunya — bahkan tak disentuh. Anak-anak sudah tidur duluan.Salca mulai merasa... sendiri.Awalnya ia berusaha memahami. Tapi lama-lama, ia ragu. Apalagi saat menemukan parfum wanita asing di jas Lian. Bukan parfumnya. Bukan miliknya.Saat Lian pulang malam itu, Salca berdiri di ambang pintu kamar."Kamu... mulai berubah," ucapnya lirih.Lian terdiam. "Kamu curiga?""Aku takut.""Takut aku selingkuh?"Salca mengangguk, meski air matanya jatuh duluan.Lian mendekat, menggenggam bahunya. "Ca, aku gak pernah... dan gak akan pernah nyakitin kamu seperti itu."Salca menarik napas panjang, mencoba percaya. Tapi trauma masa lalu kadang datang tanpa izin. Dulu ia pernah dikhianati. Dan rasa itu, meski sudah lama dikubur, muncul kembali.Beberapa minggu kemudian, kejadian yang ditakutkan benar-benar hampir terjadi.Seorang wanita muda — asisten manajer baru di salah satu proyek restoran Lian — terang-terangan menunjukkan ketertarikan. Ia cantik, pintar bicara, dan punya segalanya... kecuali batas.Ia datang ke rumah suatu hari, berpura-pura mengantarkan dokumen.Saat Salca membuka pintu, wanita itu menatapnya dari ujung kaki sampai kepala dengan senyum mengejek."Eh, jadi ini yang selalu kamu sebut 'istri kerenmu', Mas Lian? Wah... nggak nyangka. Keliatannya kayak... ibu kos ya."Salca membeku.Tapi sebelum ia bicara, suara keras terdengar dari belakang.Lian berdiri di balik pagar, wajahnya dingin seperti batu."Dia bukan cuma istri kerenku. Dia perempuan yang ngajarin aku tentang hidup. Kalau kamu sekali lagi datang ke rumah ini, kamu yang harus siap dilupakan di dunia kerja. Ngerti?"Wanita itu terdiam, lalu pergi dengan wajah merah padam.Lian mendekat ke Salca. Ia tahu Salca sudah menangis sebelum membuka pintu."Kenapa kamu gak bilang kamu ngerasa insecure?"Salca menunduk. "Karena aku takut kamu bosen. Aku bukan gadis muda lagi, Li. Aku bukan tipe yang... bisa bersaing dengan wanita kayak tadi."Lian memeluknya erat. "Justru karena kamu bukan gadis muda. Kamu adalah wanita dewasa yang kuat. Yang punya luka, tapi tetap bisa mencintai. Yang bisa jadi ibu, istri, dan sahabat sekaligus. Gak akan ada yang bisa gantikan kamu."Malam itu, Lian meminta maaf — bukan karena bersalah, tapi karena lalai menjaga hati Salca. Ia tahu, cinta bukan hanya soal kesetiaan, tapi juga kehadiran.Sejak hari itu, Lian mengatur ulang semua jadwal. Ia selalu makan malam di rumah. Setiap Sabtu, mereka berkencan meski hanya nonton film di ruang keluarga.Dan Salca? Ia mulai merawat dirinya lagi. Bukan untuk membandingkan, tapi untuk menghargai dirinya sendiri.Ia ikut kelas yoga. Belajar baking. Dan mulai menulis blog tentang pengalaman menjadi istri brondong.Judul blognya? "Janda Anak Dua, Kini Jadi Ratu Hati Suami Muda."Followers-nya meledak.Anak-anak pun tumbuh dengan penuh cinta.Nala kini remaja yang pintar dan kalem, mirip Salca. Ia mulai belajar menjahit, mengikuti jejak ibunya.Rafi lebih aktif, tapi sangat penyayang. Ia jadi pelindung adiknya, Aurelia, yang kini TK dan suka memeluk ayahnya setiap pagi sambil bilang, "Ayah, aku nanti mau nikah sama kamu aja."Lian tertawa. "Boleh, asal kamu izin sama Mamah ya."Dan Salca, yang menyaksikan semua dari dapur, tersenyum. Hatinya penuh.Suatu malam, Lian duduk di teras, memeluk Salca sambil menatap bintang."Kamu tahu, Ca? Kalau waktu bisa diulang, aku akan tetap pilih kamu. Bahkan jika kamu janda anak lima pun."Salca tertawa sambil mencubit pinggang Lian. "Kalau kamu duda kere pun, aku mungkin tetap kecantol."Mereka tertawa bersama, menyadari bahwa cinta sejati bukan tentang awal yang sempurna, tapi tentang bagaimana mereka bertahan bersama dalam segala musim.Karena cinta... adalah ketika dua orang yang patah, memilih saling memulihkan.Dan kisah mereka — janda anak dua dan brondong kaya — adalah bukti bahwa cinta tidak pernah melihat latar belakang... hanya hati yang saling memilih, dan tak pernah menyerah.~END
Dokter Pribadiku Ternyata Masa Depanku
Hari Senin. Caca baru dua minggu bekerja sebagai dokter pribadi di klinik milik perusahaan tempat Rolly bekerja. Dia terbiasa menghadapi karyawan stres dan lelah mental, tapi Rolly berbeda .Pria itu datang dengan ekspresi datar, duduk diam dan hanya berkata, "Saya insomnia. Obati."Caca menatapnya. "Insomnia itu gejala. Bukan penyakit. Mau kita cari akar masalahnya?"Rolly melirik tajam. "Saya nggak butuh teman curhat. Saya cuma butuh tidur."Caca tersenyum lembut. "Kalau kamu datang ke saya, kamu nggak cuma bawa badan. Kamu bawa cerita. Dan saya siap dengerin—kapan pun kamu siap."Hari itu, Rolly pergi tanpa bicara banyak. Tapi seminggu kemudian, dia kembali.Setiap pertemuan membuat Rolly lebih terbuka. Awalnya, dia hanya membahas kerjaan yang membuatnya stres. Lalu keluarganya. Lalu, akhirnya—tentang rasa kehilangan."Aku kehilangan Ibu tiga tahun lalu. Setelah itu, semuanya runtuh. Aku nggak bisa tidur, nggak bisa percaya siapa-siapa."Caca mendengarkan tanpa menghakimi."Caca... kenapa kamu bisa sabar banget?""Karena aku pernah jadi orang yang kehilangan juga."Mereka mulai bicara bukan sebagai dokter dan pasien, tapi dua orang dengan luka berbeda yang saling memahami.Perasaan muncul. Diam-diam. Lembut.Rolly mulai memperhatikan Caca lebih dari sekadar 'dokter'. Dia datang lebih awal ke jadwal konsul, pura-pura butuh resep baru hanya agar bisa bicara.Suatu malam hujan, Caca kehabisan ojek online. Klinik sepi. Rolly—yang baru selesai konsul—menawarkan antar.Sepanjang jalan, mereka diam. Sampai Rolly berkata pelan, "Kamu bukan cuma nyembuhin aku, Ca. Kamu bikin aku ngerasa hidup lagi."Caca menoleh, menahan degup jantungnya.Tapi dia hanya tersenyum. "Aku senang kamu sudah mulai tidur lebih nyenyak."Hubungan mereka melanggar batas profesional. Dan Caca tahu itu.Suatu hari, ia mengajukan ke klinik untuk mengalihkan Rolly ke dokter lain.Rolly marah."Kenapa kamu jauhin aku, Ca?""Aku doktermu, Rolly. Kalau aku terlalu terlibat, aku nggak netral lagi. Dan kamu... kamu udah lebih dari sekadar pasien buatku."Rolly terdiam.Lalu dengan suara rendah ia berkata, "Kalau gitu, berhenti jadi dokternya aku. Tapi jangan berhenti jadi seseorang yang ada di hidup aku."Dan hari itu, mereka memulai hubungan yang sebenarnya.Caca membuka diri perlahan. Ia menceritakan masa lalunya—bagaimana ayahnya seorang dokter yang selingkuh dengan pasien sendiri. Keluarganya hancur, dan sejak itu Caca benci cinta yang melewati batas."Aku takut jadi seperti ayahku. Aku takut mencintai pasienku... tapi aku lebih takut kehilangan kamu."Rolly menggenggam tangannya. "Aku bukan ayah kamu. Aku nggak mau kamu jadi pelampiasan. Aku mau kamu jadi tujuan."Hubungan mereka diuji saat ayah Caca datang—setelah bertahun-tahun menghilang—dan meminta maaf.Caca goyah.Rolly, yang juga baru dihubungi ayah kandungnya yang dulu meninggalkan ibunya, mendukung Caca sepenuh hati."Terkadang, kita nggak butuh minta maaf untuk mengikhlaskan. Tapi kalau kamu mau maafin, itu bukan kelemahan. Itu kekuatan."Hubungan mereka semakin dewasa. Bukan sekadar cinta, tapi juga tempat pulang.Rolly tidak melamar Caca dengan mewah. Ia datang ke rumah dengan satu map penuh hasil konsulnya selama ini."Dulu aku datang ke kamu sebagai pasien. Sekarang aku datang sebagai laki-laki yang ingin melindungi kamu. Mau jadi rumah aku, Ca?"Caca tak bisa menahan air mata. "Mau. Dengan satu syarat.""Apa?""Kamu tetap tidur cukup, minum air, dan berhenti bilang kamu nggak butuh siapa-siapa. Karena sekarang kamu punya aku."Pernikahan mereka kecil dan sederhana. Hanya dihadiri keluarga, rekan kerja, dan pasien Caca yang sudah seperti keluarga.Kini, Caca membuka klinik kesehatan mental bersama Rolly yang menjadi penggerak edukasi kesehatan kerja.Mereka bukan pasangan sempurna, tapi mereka saling menguatkan.Dan Rolly tahu, malam-malam yang dulu dipenuhi kecemasan... kini dipenuhi pelukan hangat dan suara lembut yang membisikkan, "Aku di sini."Hari pertama setelah akad nikah, Rolly bangun pagi dan menatap wanita di sampingnya.Dia masih belum percaya bahwa dokter yang dulu menegurnya karena kurang tidur... sekarang tidur di sebelahnya setiap malam."Lama-lama aku takut kamu bosen lihat muka aku tiap hari," gumam Caca sambil membuka mata.Rolly tersenyum dan membalas, "Aku justru takut bangun tanpa kamu di sebelah."Pagi mereka diisi dengan sarapan seadanya—telur dadar gosong buatan Rolly dan teh manis kebanyakan gula buatan Caca.Tapi di balik tawa dan candaan, mulai muncul kenyataan: pernikahan bukan hanya tentang jatuh cinta—tapi juga belajar bertahan.Tinggal serumah membuat perbedaan karakter mereka semakin terlihat.Caca adalah tipe yang perfeksionis, disiplin, dan teratur. Sementara Rolly... santai, spontan, dan kadang terlalu cuek."Rol, handukmu jangan ditaruh sembarangan!""Maaf, aku pikir dia pengen jalan-jalan."Kadang berdebat. Kadang saling ngambek. Tapi tak pernah saling diam lebih dari satu jam.Kunci rumah tangga mereka hanya satu: saling bicara, bukan saling mendiamkan.Caca pernah berkata, "Kita dulu sembuhin diri kita masing-masing. Sekarang, kita saling jaga supaya gak saling melukai."Dan Rolly menjawab, "Kamu luka yang jadi obat, Ca. Aku nggak mau sembarangan."Setelah satu tahun menikah, Caca merasa aneh—lelah berlebih, mual, dan emosional."Kayaknya aku harus periksa darah," katanya.Rolly panik, "Jangan bilang kamu sakit..."Beberapa jam kemudian, Caca menunjukkan test pack.Dua garis merah.Rolly terdiam. Lalu memeluk istrinya erat-erat."Kita bakal punya versi kecil dari kamu?" gumamnya."Semoga nggak bawel kayak ayahnya," balas Caca sambil tertawa menangis.Masa kehamilan tidak mudah bagi Caca. Morning sickness parah, mood naik-turun, dan trauma lama muncul: ketakutan menjadi ibu yang gagal."Aku takut anak kita nanti kecewa punya ibu kayak aku."Rolly mencium dahinya."Kamu adalah orang yang nyembuhin aku tanpa nyuruh aku berubah. Kalau kamu bisa sembuhin aku, kamu pasti bisa rawat anak kita."Hari itu, Caca menangis bukan karena takut. Tapi karena merasa dicintai.Delapan bulan kemudian, lahirlah Aira , bayi perempuan mungil dengan mata bulat dan rambut hitam tebal.Rolly menangis saat mengumandangkan azan di telinga anaknya."Ayah dulu susah tidur, Nak. Tapi kamu bikin semua malam jadi indah."Caca menatap mereka sambil tersenyum lemah.Ia tahu, cinta mereka kini tumbuh jadi lebih luas:dari dua orang yang menyembuhkan diri,menjadi dua orang tua yang siap melindungi hati kecil yang mereka ciptakan.Tahun-tahun berlalu. Rolly dan Caca membesarkan Aira dengan cinta dan komunikasi. Mereka tetap aktif dalam kegiatan sosial: Caca membuka klinik keluarga kecil, dan Rolly menjadi edukator kesehatan mental di berbagai komunitas.Mereka tak lagi sempurna. Tapi mereka selalu kembali ke tempat paling aman: satu sama lain.Suatu malam, Aira bertanya,"Ayah dulu ketemu Ibu di mana?"Rolly menjawab sambil tersenyum,"Ayah dulu pasien Ibu. Tapi ternyata, obat paling mujarab ayah bukan pil tidur. Tapi ibu kamu."Caca mencubit pipinya, tertawa. "Gombal sejak belum nikah, nggak sembuh-sembuh."~END~
Ketua Geng Kecantol Mb Panti
Di balik tembok SMA Harapan Bangsa, ada dua dunia yang bertolak belakang.Yang satu penuh suara tawa dan tangisan anak-anak panti asuhan di belakang sekolah, tempat para relawan muda sering datang untuk membantu. Di sanalah Sasa , gadis berhijab dengan senyum tulus, mengabdikan waktunya selepas sekolah. Dikenal sebagai "Mb Panti" , dia bukan siapa-siapa, tapi dihormati karena kebaikan hatinya.Sementara di sisi lain sekolah, ada dunia yang berbeda. Dunia di mana kekuasaan dan kekuatan jadi mata uang. Di sanalah Arlian , ketua geng sekolah paling ditakuti, memerintah. Dingin, cuek, dan jarang bicara, tapi sekali dia bicara—semua diam.Dua dunia ini tak pernah bersinggungan.Hingga suatu sore, hujan deras membuat Arlian berteduh di dekat gedung panti.Dia melihat gadis itu lagi. Gadis yang pernah dia bentak di kantin karena tak sengaja menumpahkan teh manis ke jaket kulit kesayangannya. Waktu itu, dia pikir dia sedang melihat anak baru yang sok alim.Sekarang, Arlian menyaksikan Sasa memapah seorang anak kecil yang demam ke dalam panti. Tanpa payung. Basah kuyup. Tapi senyumnya masih ada. Anjing panti menyalak, dan anak-anak panti yang lain menyambut Sasa dengan pelukan.Ada yang aneh di dada Arlian."Lo ngapain ngeliatin dia?" tanya Daren, tangan kanan Arlian."Enggak."Tapi sejak hari itu, Arlian sering muncul di dekat panti. Kadang pura-pura beli gorengan di depan gerbang. Kadang cuma lewat. Sekali waktu, dia bantuin mbah-mbah ngangkat galon—dan entah kenapa Sasa muncul dari balik pintu panti, bilang, "Makasih, Kak Geng."Sejak kapan dia tahu aku ketua geng?"Lo suka sama Mb Panti?" tanya Daren lagi, nggak percaya."Bodoh amat."Tapi diam-diam, Arlian mulai berubah. Dia jadi sering buang rokok sebelum sampai gerbang panti. Dia ngajarin anak panti main futsal tiap Sabtu sore. Dan anehnya, anak-anak itu suka padanya.Sasa? Awalnya cuek.Tapi dia mulai melihat sisi lain dari si ketua geng."Kenapa lo jadi sering ke sini?" tanya Sasa suatu hari."Karena lo," jawab Arlian jujur, sambil jongkok membersihkan luka si Riko, bocah kecil yang jatuh dari sepeda.Sasa tertawa, "Gombal amat. Udah mandi belum, Kak Geng?""Belum. Tapi udah jatuh cinta."Sasa mendelik, tapi mukanya memerah. Hari itu, langit cerah setelah hujan.Hubungan mereka tak langsung mulus. Nama Arlian masih menakutkan di sekolah. Banyak yang mencibir. Termasuk guru BK yang manggil Sasa dan bilang, "Kamu tahu siapa Arlian? Dia pernah berantem sampai lawannya dirawat dua minggu."Tapi Sasa hanya tersenyum. "Yang saya lihat, dia bisa bikin anak-anak panti ketawa. Itu lebih penting, Bu."Hari-hari berganti. Arlian mulai jarang ikut tawuran. Bahkan dia sendiri yang bubarkan gengnya."Gue nggak butuh jadi ditakuti," katanya, "Gue pengen jadi pantas buat orang yang gue sayang."Daren cuma bisa geleng-geleng, tapi mendukung. "Kalau lo berubah karena cinta... mungkin itu cinta yang benar."Suatu malam di acara panti, ada pentas kecil. Anak-anak tampil nyanyi dan baca puisi. Sasa tampil terakhir. Ia membaca puisi tentang seseorang yang datang dari dunia gelap, tapi bersinar terang karena cinta.Saat itu, Arlian berdiri di belakang, membawa setangkai mawar.Setelah acara selesai, dia menghampiri Sasa dan menyerahkan bunga itu."Kalau lo nggak keberatan, boleh nggak gue serius sama lo?"Sasa menunduk, matanya berkaca."Aku nggak butuh cowok sempurna, Kak Geng. Aku cuma butuh seseorang yang punya hati. Dan kamu... udah punya itu."~~~~~~~~~Arlian sekarang bekerja di LSM yang fokus pada anak-anak jalanan. Sasa menjadi guru TK di panti yang dulu. Mereka menikah sederhana, dengan anak-anak panti jadi pagar ayunya.Dan dari si ketua geng yang keras kepala, kini lahir seorang ayah penyayang.Semua berawal dari satu hal kecil: jatuh cinta... sama Mb Panti.Dulu, orang-orang heran bagaimana bisa seorang mantan ketua geng menikah dengan gadis panti yang kalem dan suka mengurus anak-anak. Sekarang, mereka lebih heran lagi melihat betapa romantis dan noraknya pasangan itu setelah menikah.Pagi itu, di rumah sederhana dekat panti, terdengar suara berisik dari dapur."Lian! Kamu lagi goreng apa? Asapnya kayak mau bakar rumah!"Arlian muncul dari balik pintu dapur, pakai celemek warna pink—hadiah dari anak-anak panti. "Goreng hati aku yang hancur tiap kamu bentak," jawabnya sambil senyum jahil.Sasa hanya bisa menggeleng sambil tertawa kecil. Suaminya memang berubah. Dulu dingin, sekarang bisa jadi drama king kelas kakap.Meski begitu, cinta mereka bukan tanpa cobaan.Sasa sedang hamil 5 bulan, dan mood swing-nya kayak roller coaster. Hari ini ingin rujak. Besok ingin bakso, tapi harus dari abang yang biasa mangkal dekat lampu merah jam 2 siang. Arlian? Nurut. Meski harus naik motor bolak-balik hanya demi satu mangkok bakso."Dulu lo ngeri. Sekarang lo budak cinta," goda Daren saat berkunjung."Dulu gue ngeri karena nggak punya tujuan. Sekarang... istri gue, anak gue nanti—itu tujuan gue," jawab Arlian sambil elus perut Sasa yang membuncit.Setiap malam, Arlian masih suka baca cerita buat anak-anak panti. Tapi sekarang, dia juga suka bisikin cerita buat anak dalam kandungan istrinya."Dek, nanti kalau kamu lahir... jangan kayak ayah ya, dulu bandel banget. Tapi ayah janji bakal jagain kamu dan ibu sekuat mungkin."Sasa pura-pura tidur, padahal matanya panas.Si ketua geng yang dulu sering bikin orang takut... sekarang jadi pria paling lembut yang pernah dia temui.Lalu datang ujian besar.Sasa sempat mengalami pendarahan, dan dokter menyarankan untuk bed rest total. Arlian panik, tapi berusaha tetap kuat. Dia yang ambil alih semua urusan rumah. Nyuci, masak, urus anak panti, bahkan bantu ngajarin anak-anak TK secara daring.Suatu malam, Sasa menangis di ranjang."Aku takut, Lian... kalau anak kita..."Arlian memeluknya erat."Nggak usah takut. Kamu punya aku. Anak kita juga. Kita berjuang bareng, ya?"Akhirnya, tujuh bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki mungil yang mereka beri nama Raka Alfarel , yang artinya cahaya kecil dari masa lalu yang gelap."Wajahnya kayak kamu," bisik Sasa di ruang bersalin."Berarti bakal ganteng dan galak?" canda Arlian."Nggak. Ganteng dan... penyayang."Arlian mencium kening Sasa. "Makasih udah ngasih aku rumah. Dulu hati aku kosong. Sekarang penuh—sama kamu, sama Raka, sama anak-anak panti... semuanya."Arlian dan Sasa kini punya dua anak kandung dan belasan anak panti yang mereka anggap anak sendiri. Rumah mereka selalu ramai, penuh tawa dan pelukan. Meski hidup sederhana, tapi cinta di dalamnya tak pernah kekurangan.Setiap orang yang dulu mengenal Arlian si ketua geng, kini mengenalnya sebagai Pak Lian , suami dari Bu Sasa , si "Mb Panti" yang hatinya selalu hangat.Dan kisah mereka membuktikan satu hal:Cinta bisa mengubah siapa saja. Bahkan ketua geng yang paling keras kepala... bisa tunduk pada satu senyum tulus dari Mb Panti.~END~
Teman Kecilku yang Menghilang, Kembali Menjadi Teman Hidupku
Sasa duduk di bangku taman sekolah dasar lamanya, tangannya menggenggam sebuah foto usang. Di dalamnya, dua anak kecil tersenyum ceria—Sasa dan Lian. Teman kecil yang sudah menghilang lebih dari sepuluh tahun. Tanpa kabar. Tanpa pamit.Dulu mereka seperti kembar tak terpisahkan. Lian selalu menjaga Sasa dari anak-anak yang suka mengejeknya karena tubuhnya yang mungil. Tapi sejak kelas lima SD, Lian dan keluarganya pindah mendadak ke luar kota. Tak ada nomor telepon, tak ada surat. Hanya kenangan yang tertinggal.Kini, Sasa sudah beranjak dewasa. Lulusan psikologi, ia bekerja sebagai konselor di sebuah sekolah internasional di Jakarta. Tapi bayang-bayang masa kecil itu selalu hidup. Kadang, ia bertanya-tanya—apakah Lian juga masih mengingatnya?......Hari itu hujan turun deras. Sasa yang sedang tergesa-gesa menuju halte bus menabrak seseorang di trotoar."Aduh! Maaf banget!" ucap Sasa sambil menunduk, berusaha mengangkat dokumen yang jatuh."Tidak apa-apa. Kamu... Sasa?" suara itu membuatnya tertegun.Ia mendongak. Mata itu, suara itu... seperti hantu dari masa lalu."Lian?" bisik Sasa nyaris tak percaya.Pria itu mengangguk, senyumnya perlahan merekah. "Teman kecilku."......Beberapa hari kemudian, mereka bertemu lagi di sebuah kafe. Lian kini bekerja sebagai arsitek, baru kembali ke Jakarta setelah tinggal di Jerman bertahun-tahun. Sasa merasa emosinya campur aduk. Senang, bingung, dan sedikit marah."Kenapa kamu pergi tanpa kabar?" tanyanya pelan.Lian menatap ke luar jendela. "Ayahku tiba-tiba dipindahtugaskan ke luar negeri. Saat itu, semuanya begitu kacau. Aku bahkan nggak sempat pamit ke siapa pun."Hening sesaat. Lalu Lian melanjutkan, "Tapi aku selalu cari tahu tentang kamu. Sampai akhirnya aku tahu kamu kerja di sekolah ini. Aku sengaja kembali, Sasa. Untuk menemuimu.".....Sejak hari itu, Lian dan Sasa sering bertemu. Jalan-jalan, nonton, bahkan masak bersama. Kedekatan masa kecil mereka seakan tak pernah benar-benar hilang, hanya tidur untuk sementara waktu.Lian sudah tak lagi jadi anak kecil kurus yang suka mengejar layang-layang. Ia tumbuh jadi pria dewasa yang tenang, sopan, dan penuh perhatian. Sementara Sasa—masih seperti dulu—riang, lembut, dan sedikit cerewet.Di suatu malam saat menonton film lama bersama, Lian menatap Sasa lama."Aku dulu pernah janji sama kamu, waktu kita kecil," ujarnya tiba-tiba."Janji apa?" tanya Sasa sambil memutar mata ke arahnya."Aku bilang, nanti kalau udah besar, aku mau nikah sama kamu."Sasa terkesiap. Ia menertawakannya, tapi pipinya memerah."Lucu ya. Tapi... kamu masih serius soal itu?"Lian menggenggam tangannya. "Sekarang lebih serius dari sebelumnya."......Dua tahun kemudian, di taman tempat mereka pertama kali bertemu kembali, Lian berdiri dengan setelan jas. Di hadapannya, Sasa dalam gaun putih sederhana. Sahabat masa kecilnya. Cinta pertamanya.Mereka mengikat janji, bukan hanya sebagai suami istri, tapi juga sebagai sahabat seumur hidup."Aku nggak akan pernah hilang lagi," bisik Lian saat mengecup kening Sasa.Dan kali ini, Sasa tahu, janji itu benar-benar akan dijaga......Setelah pertemuan mereka yang intens dan manis, Lian mulai sering datang menjemput Sasa dari sekolah. Namun suatu hari, Sasa melihat Lian berbicara serius dengan seorang wanita cantik berambut panjang. Perempuan itu memeluk Lian dengan wajah penuh harap.Sasa canggung. "Siapa dia?""Namanya Amara. Dulu dia kekasihku waktu kuliah di Jerman. Tapi kami sudah lama putus."Namun firasat Sasa tak bisa dibohongi—Amara belum benar-benar menyerah.....Hubungan Sasa dan Lian mulai memasuki tahap yang lebih dalam. Mereka mulai bicara soal masa depan, soal rumah impian, anak, hingga pekerjaan. Tapi semua itu terasa rapuh saat Sasa melihat Amara mulai muncul lebih sering.Sasa merasa minder. Ia hanya konselor biasa. Amara? Seorang pengusaha sukses dengan tampilan memukau."Aku takut, Lian," ujar Sasa suatu malam. "Kamu dan dia... kalian lebih cocok.""Aku mencintaimu, Sasa. Bukan dia.".....Lian mengajak Sasa ke rumah lamanya yang telah direnovasi. Di sana, mereka menemukan kotak tua berisi barang-barang masa kecil. Di dalamnya, sebuah surat tertulis tangan Sasa kecil—belum pernah terkirim."Untuk Lian, teman terbaikku. Kalau kamu baca ini, artinya aku kangen banget. Aku harap kamu bahagia di sana. Tapi aku berharap suatu hari kamu balik lagi dan kita main bareng kayak dulu."Lian menggenggam surat itu. Matanya berkaca-kaca."Aku janji, aku nggak akan ninggalin kamu lagi."....Amara tak tinggal diam. Ia mendatangi sekolah Sasa dan menyebar rumor bahwa Sasa merebut tunangannya. Beberapa guru mulai menjaga jarak, dan kepala sekolah mulai mempertanyakan profesionalisme Sasa.Sasa marah. Bukan pada Amara, tapi pada dirinya yang merasa lemah."Aku nggak mau hubungan kita malah jadi beban buat karierku.""Kalau kamu mundur, kamu hanya membiarkan dia menang," tegas Lian.......Sasa mengambil cuti dari sekolah dan pergi ke Bandung, ke rumah neneknya. Ia butuh waktu untuk berpikir. Di sana, ia merenung: apakah cinta masa kecilnya benar-benar layak diperjuangkan? Atau hanya nostalgia semata?Di sisi lain, Lian merasa hampa. Ia menyadari, bukan kenangan yang ia cintai—tapi perempuan itu, Sasa yang sekarang. Kuat, mandiri, tapi juga penuh luka.Saat di Bandung, Sasa bertemu mantan kekasihnya, Bagas. Mereka mengobrol hangat. Bagas menyesal telah mengabaikan Sasa dulu. Ia menyatakan ingin kembali.Namun saat itu juga, Sasa sadar—hanya Lian yang membuatnya merasa seperti rumah.Sasa kembali ke Jakarta. Malam itu hujan deras, seperti malam saat mereka bertemu kembali. Ia menunggu di taman, di bawah pohon besar yang menjadi saksi janji Lian dulu.Lian datang. Mereka berpelukan di bawah hujan. Basah kuyup, tapi hangat."Aku pulang, bukan hanya ke Jakarta. Tapi ke kamu."......Beberapa minggu kemudian, Lian membawa Sasa ke pameran arsitektur. Salah satu desain rumah di sana mirip dengan rumah kayu impian mereka sewaktu kecil.Saat pameran selesai, Lian berlutut."Aku ingin membangun rumah itu... bersamamu. Menjadi teman hidupmu."Sasa menangis sambil mengangguk.Pernikahan mereka tidak megah, tapi hangat. Keluarga, teman lama, dan bahkan beberapa guru SD mereka hadir. Di tengah pesta, slide foto masa kecil mereka ditampilkan. Tawa dan air mata bercampur.Sasa menggenggam tangan Lian erat. "Kamu nggak cuma teman kecilku. Tapi juga rumahku.".....Setahun kemudian, mereka tinggal di rumah kecil yang didesain Lian. Di ruang tengah, tergantung foto kecil: dua anak kecil tersenyum sambil memegang layang-layang.Kini mereka bukan lagi anak kecil. Mereka sudah melewati luka, ragu, dan cinta yang diuji waktu. Tapi satu hal tetap sama:Mereka saling memilih. Hari ini, dan seterusnya.Sasa menulis surat untuk anak mereka yang baru lahir:"Nak, kamu akan bertemu banyak orang dalam hidupmu. Tapi kalau suatu hari kamu bertemu seseorang yang membuatmu merasa pulang... jangan lepaskan dia. Seperti aku dan ayahmu."~END~
Seragam dan Cinta
Kapten Lian datang ke Desa Lembah Hijau dengan misi menjaga stabilitas wilayah karena meningkatnya konflik penguasaan lahan antara warga dan pihak swasta. Pria berusia 32 tahun itu dikenal tenang, keras, dan sangat menjunjung etika militer. Ia tak banyak bicara, namun selalu tegas dalam tindakan.Hari pertama, ia berjalan menyusuri jalanan berbatu desa bersama dua anak buahnya. Wajah-wajah penduduk terlihat enggan menyambut. Mereka hanya melirik tanpa senyum, seolah kedatangan Lian dan timnya adalah awal dari kekacauan baru.Di balai desa, ia bertemu kepala desa dan beberapa tokoh masyarakat. Di sanalah matanya bertemu dengan seorang perempuan berambut ikal sebahu, mengenakan seragam dinas kesehatan yang lusuh namun rapi. Tatapan mereka bertaut, singkat, lalu saling membuang muka."Itu Sasa," bisik kepala desa. "Bidan desa kami. Keras kepala, tapi disayangi warga."Lian hanya mengangguk.....Pagi hari berikutnya, Sasa terburu-buru mengendarai motor bebek tuanya. Jalan menuju kampung atas diblok oleh Lian dan timnya. Ia menghentikan kendaraannya dengan wajah kesal."Permisi, saya mau lewat. Urgen," katanya ketus."Kami sedang lakukan penyekatan untuk keamanan. Silakan putar arah, Bu," jawab Lian."Saya bidan. Ada ibu yang mau melahirkan. Apa tentara lebih penting dari nyawa?"Lian terdiam. Sorot matanya mengeras. Tapi sebelum ia sempat menjawab, salah satu anggotanya berbisik, memberi izin. Lian mengangguk pelan, dan Sasa langsung tancap gas.....Setelah kejadian itu, Lian mulai memperhatikan Sasa. Diam-diam, ia mempelajari jadwal dan kegiatan perempuan itu. Ia melihat bagaimana Sasa menembus hujan untuk mengobati anak-anak. Bagaimana ia bertahan di gunung tiga hari saat terjadi wabah diare."Kenapa kamu sering melamun?" tanya Letda Yuda, salah satu bawahannya."Tidak. Hanya... aku belum pernah melihat orang seperti dia," ujar Lian pelan. "Keras, tapi hatinya lembut."Sementara itu, Sasa pun merasa aneh. Beberapa kali Lian membantunya—membawakan obat, memperbaiki atap posyandu yang bocor, atau hanya mengantar pulang saat malam hujan. Tapi Sasa menolak mengakuinya. "Dia cuma tentara. Nanti juga pergi," batinnya.....Kondisi desa makin memanas. Lian mendapat tugas dari markas untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan warga agar konflik tidak meluas. Ia membuat rencana penyuluhan terpadu bersama Sasa."Kau butuh bantuanku karena warga tidak percaya padamu," sindir Sasa saat mereka bertemu di balai desa."Benar. Tapi aku juga percaya kamu bisa bantu mereka lebih baik dengan tenang, kalau kondisinya aman. Kita sama, ingin desa ini baik."Untuk pertama kalinya, Sasa tidak membalas sinis. Ia mengangguk. Dalam penyuluhan pertama mereka, mereka duduk berdampingan di teras balai desa. Lian menyadari bahwa senyum Sasa lebih menenangkan dari pelatihan militer mana pun yang pernah ia jalani.....Suatu malam, Sasa menunggu hujan reda di teras rumah kliniknya. Lian datang, membawa termos teh dan roti."Kau pikir aku akan terharu?" tanya Sasa."Tidak. Aku hanya ingin duduk di sini sebentar. Tanpa bicara pun tak masalah."Di tengah obrolan, Lian bercerita tentang masa kecilnya. Tentang ayahnya yang gugur saat bertugas dan ibunya yang dingin karena kehilangan. Sasa mendengarkan, pelan-pelan hatinya luluh."Kau bukan sekaku itu ternyata," katanya sambil tersenyum.....Suatu pagi, kabar beredar bahwa aparat akan menggusur sawah rakyat. Massa marah. Warga berkumpul di balai desa. Sasa ada di tengah-tengah, mencoba menenangkan ibu-ibu.Lian mendapat kabar bahwa warga mengepung rumah kepala desa. Ia segera menuju lokasi. Dalam perjalanan, ia mendengar Sasa terjebak di dalam kerumunan. Tanpa ragu, ia menerobos barikade, tubuhnya terkena pukulan dan batu.Ia mendapati Sasa yang ketakutan, memeluk anak kecil."Pegang tanganku," kata Lian. "Aku akan bawa kalian keluar."Dengan penuh keberanian, ia membawa Sasa melewati kerumunan. Suara sorakan, makian, dan tangisan mewarnai perjalanan mereka malam itu.....Situasi mereda. Warga mulai percaya bahwa Lian bukan musuh. Saat perpisahan tugas tiba, Lian berdiri di tengah lapangan desa."Aku tidak tahu bagaimana hidup di luar seragam. Tapi satu hal yang pasti, aku ingin ada kamu di dalamnya."Sasa menatapnya, menahan air mata."Kalau kamu berani mencintaiku tanpa janji-janji manis, aku akan menunggumu pulang dari setiap misi."Mereka menikah seminggu kemudian. Bukan pesta mewah, hanya doa dan tawa hangat di rumah kepala desa. Sasa mengenakan kebaya putih sederhana, Lian dengan seragam lengkapnya.....Tiga tahun berlalu. Klinik Sasa berkembang, Lian tetap mengabdi sebagai Kapten. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang lincah dan cerdas. Rumah mereka selalu terbuka untuk siapa pun yang butuh bantuan.Di ruang tengah, tergantung foto pernikahan mereka. Di bawahnya, tertulis kalimat:"Seragam bukan penghalang cinta. Justru di balik tugas, ada cinta paling tulus yang pernah tumbuh."Dan malam-malam mereka diisi dengan tawa anak kecil, suara radio tua, dan pelukan hangat setelah seharian mengabdi pada negara.Setelah menikah, Lian dan Sasa pindah ke rumah dinas kecil di pinggir desa. Sasa tetap menjadi bidan, kini dengan dukungan lebih dari warga dan suaminya. Namun hidup tak lantas menjadi mudah. Lian sering harus keluar daerah untuk tugas dinas. Sasa belajar menjalani kesepian dengan doa dan keteguhan hati.Setiap malam saat sendiri, Sasa menulis surat untuk Lian, meski kadang tak tahu kapan akan dikirim. Dalam salah satu suratnya, ia menulis: "Tak apa kita tak selalu bersama, yang penting kamu tahu, aku selalu menunggumu pulang."....Suatu hari, kabar bahwa Lian terluka saat operasi militer di perbatasan membuat Sasa gemetar. Ia segera ke rumah sakit militer terdekat. Lian selamat, tapi kakinya mengalami cedera cukup serius. Di rumah sakit, Lian merasa gagal sebagai suami karena membuat istrinya cemas."Kau tak perlu jadi sempurna," bisik Sasa sambil menggenggam tangannya. "Aku tidak mencintaimu karena kamu Kapten. Tapi karena kamu Lian."....Beberapa bulan setelah Lian pulih, Sasa hamil. Kehamilan itu menjadi hadiah terindah bagi mereka. Tapi di tengah kehamilan, Lian kembali ditugaskan. Sasa menjalani bulan-bulan penuh tantangan seorang diri. Ia menjadi ibu, istri, dan pelindung desanya sekaligus.Saat anak mereka lahir, Lian hanya bisa melihat lewat video call. Ia menahan air mata saat mendengar tangisan pertama sang bayi.Setelah setahun di luar, Lian kembali. Ia disambut anak kecil yang memanggilnya "Ayah" dengan malu-malu. Malam itu, mereka bertiga tidur bersama untuk pertama kalinya. Rumah kecil itu terasa hangat meski tak mewah.Desa kembali terusik. Sebuah perusahaan asing datang dan hendak membeli tanah warga. Warga terpecah. Lian yang kini menjadi instruktur militer regional, tak tinggal diam. Ia kembali ke desa sebagai fasilitator damai, didampingi Sasa.Sasa kembali berdiri di depan warga, bukan sebagai bidan saja, tapi sebagai istri Kapten yang mereka hormati dan percaya.Pemerintah menawarkan promosi untuk Lian—jabatan di ibu kota, dengan fasilitas lebih baik. Tapi itu berarti meninggalkan desa dan memindahkan keluarga. Sasa tak ingin meninggalkan klinik dan warga. Mereka berdiskusi panjang."Apakah kita akan bahagia kalau tinggal di kota tapi tak merasa berguna?" tanya Sasa.Akhirnya mereka memilih tinggal. Lian menolak promosi, memilih menjadi pengajar dan pelatih di akademi terdekat, agar tetap bisa pulang setiap hari.Anak mereka tumbuh sehat dan cerdas. Ia ingin menjadi seperti ayah dan ibunya—berbakti pada negeri. Saat anak itu memakai seragam pramuka pertamanya, Sasa menangis. Ia sadar, cinta mereka telah tumbuh menjadi teladan.Suatu malam, di halaman rumah mereka, Lian memeluk Sasa sambil menyaksikan anak mereka berlari-lari kecil."Dulu aku takut tak layak dicintai, Sa. Tapi kau membuatku percaya bahwa cinta adalah tentang hadir, bukan tentang sempurna."Sasa tersenyum. "Dan kamu membuatku percaya, bahwa seragam tak hanya lambang tugas, tapi juga lambang perlindungan."....Tahun-tahun berlalu. Lian pensiun, Sasa tetap aktif sebagai mentor bidan muda. Mereka membuka klinik pelatihan gratis di desa. Setiap hari mereka berjalan berdua, menggandeng tangan, menyapa warga yang tersenyum hangat.Di ruang tengah rumah mereka, tergantung dua seragam: satu militer, satu kesehatan. Di bawahnya tertulis:"Kami abdi negara, tapi cinta adalah misi terbesar kami."Dan begitulah mereka dikenang, bukan hanya sebagai pasangan, tapi sebagai dua hati yang setia melayani dan saling mencinta.~END~
Cinta di Balik Status
Hujan turun sejak sore, membasahi seluruh halaman rumah keluarga Pramesti—keluarga kaya raya yang dikenal sebagai pemilik PT Pramesti Grup, perusahaan properti besar di Jakarta.Di ruang tamu berdesain klasik modern, seorang gadis duduk dengan tubuh kaku. Gaun pastel yang dikenakannya terasa terlalu sempit di dada. Bukan karena ukurannya salah, tapi karena jantungnya berdebar tak karuan.Salca Pramesti , 22 tahun, anak satu-satunya dari Tuan Bram dan Ny. Ayu, malam itu duduk di antara dua keluarga yang sedang membicarakan masa depan hidupnya —tanpa persetujuannya."Jadi, kita sepakat ya. Lamaran resmi bulan depan, pernikahan bisa menyusul setelah itu," kata Tuan Bram sambil tersenyum ke arah pria muda di depannya.Pria itu duduk tegak. Revan Aryasatya , anak dari pengusaha konstruksi dan teman bisnis lama keluarga Salca. Wajahnya tampan, tubuhnya tegap, pembawaannya sopan. Tapi... hampa."Salca?" tanya Ibunya, menoleh dengan pandangan memaksa. "Kamu setuju, kan?"Salca tidak langsung menjawab. Matanya tertuju pada jendela. Hujan masih turun deras, menampar-nampar kaca jendela seperti gema dari dalam hatinya yang resah.Dia tersenyum kecil. "Kalau ini memang yang terbaik untuk keluarga... aku ikut saja."Dari kejauhan, di lorong menuju dapur , sepasang mata memperhatikannya diam-diam. Mata itu tajam tapi menyimpan kesedihan. Pemiliknya—seorang pria muda dengan pakaian sederhana, mengenakan sweater lusuh dan celana hitam yang sudah memudar warnanya.Namanya Arlian . Anak dari Bu Mirah, pembantu yang sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun di rumah keluarga Pramesti.Arlian baru pulang dari pesantren di Jawa Timur. Ia datang karena ibunya memintanya kembali, katanya butuh bantuannya beberapa minggu ke depan. Tapi Arlian tidak pernah menyangka bahwa gadis yang dulu selalu memanggilnya "anak belakang" itu, kini tumbuh menjadi wanita dewasa yang wajahnya tak bisa ia abaikan.Dan malam itu, melihat Salca duduk mematung di antara dua keluarga kaya, mata Arlian tak bisa bohong.Dia jatuh cinta.Tapi siapa dia? Hanya anak pembantu. Bahkan hadir pun seolah tak boleh terdengar.Salca berdiri perlahan dan meminta izin untuk masuk kamar. Ia melangkah cepat, dan tanpa sengaja—tanpa direncanakan—ia berpapasan dengan Arlian di lorong gelap itu.Hanya sebentar. Tapi cukup lama untuk saling menatap.Arlian menunduk. "Selamat ya, Mbak Salca."Salca diam. Hatinya seperti dihantam sesuatu."Kamu pulang?" suaranya nyaris berbisik.Arlian mengangguk. "Iya. Mau bantu Ibu."Salca melangkah lagi, tapi sebelum benar-benar pergi, dia berkata pelan, "Jangan panggil aku 'Mbak'."Arlian menoleh. Mata mereka bertemu sekali lagi."Namaku... Salca.".....Hari-hari setelah lamaran terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai bagi Salca. Ia seperti terperangkap dalam dinding rumah besar itu, dengan setiap sudut mengingatkannya bahwa hidupnya telah diputuskan oleh orang lain. Revan, pria yang dipilihkan untuknya, memang tampan dan kaya raya. Namun hatinya tak bergetar. Ia terlalu sopan, terlalu sempurna, terlalu... kosong.Revan datang hampir setiap malam, mengajak makan malam, membawakan bunga, dan kadang buku puisi. Namun, bukan puisinya yang membuat jantung Salca berdetak lebih cepat—melainkan suara gesekan sepatu Arlian di lantai belakang saat menyapu halaman, atau suaranya memanggil ibunya dari dapur.Suatu malam, saat Revan tengah membaca puisi, Salca mencuri pandang dari balkon lantai dua. Di bawah, Arlian sedang menyiram pohon jambu. Ia melirik ke atas, dan mata mereka bertemu. Dalam satu detik itu, Salca merasa lebih hidup daripada sejam duduk bersama Revan.....Salca mulai mencari-cari alasan untuk ke dapur. Kadang hanya untuk mengambil air, kadang pura-pura mengajak bicara ibunya Arlian. Tapi yang ia cari adalah dia—Arlian. Kadang mereka hanya bertukar pandang, kadang saling lempar tanya-jawab pendek."Kamu suka melati, ya?" tanya Salca sambil menunjuk bunga yang selalu disiram Arlian.Arlian tersenyum kecil. "Ibu bilang, bunga itu wangi meski kecil. Harusnya orang juga begitu."Kalimat itu menghantam pelan. Salca merasa kalimat itu lebih jujur dari semua janji Revan.....Suatu pagi, Salca menemukan secarik kertas terselip di antara buku puisinya. Isinya tulisan tangan:"Kadang, cinta tidak datang dari kemewahan atau janji, tapi dari kehadiran yang tak pernah kita sadari telah menjadi bagian hidup kita."....Jejak Rahasia di Taman Hari Minggu pagi, langit mendung namun belum turun hujan. Salca melangkah pelan ke taman belakang rumah, tempat ia mulai merasa dekat dengan seseorang yang selama ini nyaris tak ia perhatikan.Di bawah pohon melati, ia melihat selembar kertas lain terselip di pot bunga. Kali ini tak hanya tulisan puitis, tapi sebuah gambar—sketsa wajahnya, sedang tersenyum. Guratan pensil itu sederhana, namun penuh rasa."Kamu menggambarku?" tanya Salca pelan, ketika ia mendapati Arlian sedang membersihkan kolam ikan tak jauh dari sana.Arlian tampak terkejut, namun tidak menyangkal. Ia hanya menunduk, tangannya terus bekerja."Aku cuma menggambar apa yang... membuatku tenang," katanya akhirnya.Salca tak tahu harus menjawab apa. Hatinyalah yang menjawab: degupnya tak beraturan.Beberapa menit mereka hanya diam, sampai Salca duduk di kursi taman dan menatap Arlian."Kenapa kamu selalu ada di sini? Di taman ini, setiap kali aku butuh udara?"Arlian berhenti bekerja, lalu menatapnya dalam-dalam. "Karena kamu satu-satunya bagian dari rumah ini yang tidak membuatku merasa kecil."Ucapan itu menghentak perasaan Salca. Di dalam rumah, ia adalah putri keluarga terpandang. Tapi di taman ini, ia hanyalah perempuan yang merasa sendiri. Bersama Arlian, ia bisa bernapas tanpa harus menjadi sempurna."Kalau aku bilang, aku takut menikah dengan orang yang tak aku cintai... kamu akan menertawakanku?" bisiknya."Aku akan diam. Tapi dalam diam itu, aku berdoa agar kamu berani memilih hatimu sendiri."Angin berhembus pelan. Melati-melati putih berguguran, seolah ikut mengerti bahwa ada cinta yang sedang tumbuh di tempat tak terduga.....Salca mulai membatalkan beberapa jadwal pertemuan dengan Revan. Orang tuanya mulai curiga. Ketika Revan memergoki Salca sedang berbicara akrab dengan Arlian, benih kecurigaan mulai tumbuh. Arlian dimarahi ibunya karena dianggap melampaui batas.Revan memutuskan untuk bicara empat mata dengan Salca. Ia meminta kejelasan, dan Salca hanya bisa terdiam. Di balik diam itu, Revan tahu bahwa hati Salca bukan miliknya. Ia mulai melaporkan kedekatan Salca dengan Arlian pada keluarga besar.Arlian dipindahkan dari pekerjaan luar ke dalam gudang. Ibunya pun ditekan agar segera berhenti bekerja. Salca yang mengetahui hal itu mulai memberanikan diri menentang keputusan orang tuanya untuk pertama kali dalam hidup.Salca melawan ayahnya. Ia meminta pertunangan dibatalkan. Ketika semua menolak, Salca memilih kabur malam itu juga, membawa tas kecil dan secarik surat untuk Arlian. Mereka bertemu di halte tua dan pergi bersama ke kota kecil tempat paman Arlian tinggal.Salca dan Arlian memulai hidup dari nol. Mereka tinggal di rumah kayu kecil. Salca bekerja di toko buku, Arlian membantu paman beternak. Meski hidup sederhana, Salca merasa bebas untuk pertama kalinya. Tapi bayangan masa lalu masih menghantui.Suatu hari, Revan muncul di toko tempat Salca bekerja. Ia tak marah, hanya menatap sedih. Ia berkata bahwa Salca telah menghancurkan reputasi keluarganya. Namun Salca tetap teguh. Revan pun pergi dengan kata-kata terakhir, "Aku harap kamu bahagia, meski tanpaku."Hubungan Salca dan Arlian sempat renggang. Tekanan ekonomi dan rasa bersalah membuat Salca mudah tersinggung. Arlian pun merasa tak cukup layak untuknya. Namun pada akhirnya mereka memilih duduk bersama, menangis, dan saling menguatkan.Salca mulai mengajar anak-anak kampung secara sukarela. Arlian membuat taman baca kecil dari kayu bekas. Mereka mulai dikenal warga dan dianggap inspiratif. Cinta mereka tumbuh bukan lagi dari pelarian, tapi dari perjuangan bersama.Suatu siang, ibu Salca datang tanpa diduga. Ia membawa surat restu dari ayah Salca. Ternyata diam-diam sang ayah mengikuti perjalanan mereka. Ia melihat ketulusan dan keberanian putrinya. Tangis pun pecah. Luka lama mulai sembuh perlahan.....Di tengah taman kecil di kota itu, di bawah pohon jambu yang dahulu ditanam paman Arlian, berdirilah pelaminan sederhana yang dikelilingi oleh warga kampung. Bunga-bunga liar dirangkai menjadi hiasan. Tak ada gaun mewah, tak ada tamu undangan berdasi. Tapi ada senyum yang lebih jujur dari semua pesta mewah.Salca berjalan perlahan dengan gaun putih sederhana. Di ujung altar, Arlian menunggunya dengan senyum yang gemetar namun bahagia. Ibu Salca menangis pelan di samping paman Arlian. Seorang anak kecil menaburkan bunga di jalan setapak menuju pelaminan."Aku tidak pernah menyangka akan mencintaimu seperti ini," bisik Arlian saat menggenggam tangan Salca."Dan aku tidak pernah menyangka, cinta bisa seteguh ini," jawab Salca dengan mata berkaca-kaca.Dengan saksi langit biru dan tanah yang mereka pijak bersama, mereka mengucap janji. Janji bukan hanya untuk mencintai, tapi juga untuk memperjuangkan. Semua luka, rindu, dan air mata hari itu menjadi saksi pernikahan yang tumbuh dari keberanian.....Tiga tahun telah berlalu sejak hari itu. Rumah mereka kini bukan hanya tempat tinggal, tapi tempat belajar, tempat bermain, tempat tumbuh harapan. Taman baca yang dibangun Arlian dan Salca kini menjadi tempat anak-anak desa bercita-cita. Salca hamil anak kedua, sementara Arlian membuka bengkel kecil di samping rumah.Di ruang tamu, tergantung foto pernikahan mereka: Salca dan Arlian di bawah pohon jambu, tersenyum, dengan cahaya senja sebagai latar. Di bawahnya tertulis:"Cinta bukan tentang seberapa tinggi statusmu, tapi seberapa dalam kamu bersedia merendah untuk saling memahami."Dan begitulah mereka hidup. Bukan dengan segala kemewahan, tapi dengan cinta yang terus diperjuangkan setiap hari.~END~
MENGAPA ANJING TAK BERTANDUK
Di suatu pagi yang masih diseliputi kabut tampak serombongan hewan yang baru turun dari perahu Nabi Nuh. Semua bersuka cita, karena telah terhindar dari malapetaka banjir yang melanda negeri mereka."Untung ya kita ikut perahu Nabi Nuh, coba kalau kita menolak, pasti kita sudah tenggelam!" ucap si anjing."Iya, padahal aku kan paling tidak suka kena air!" ucap si kambing.Pada saat itu anjing memiliki tanduk di kepalanya.Sedangkan kambing tidak memiliki tanduk dan ekornya masih panjang seperti ekor monyet.Mereka berdua sangat akrab. Kemana anjing pergi, si kambing selalu ada didekatnya. Begitu sebaliknya. Mereka pun saling berbagi suka dan duka."Kita bagi dua ya pisangnya!""Apelku dibelah dua juga sebelah untuk kamu sebelah untukku."Mereka masing- masing memiliki tempat tinggal sebuah pondok mungil yang mereka bangun bersama. Dan letaknya berdekatan."HOAAAHH... Ngantuk, aku pulang dulu ya! Oya, tolong besok pagi aku dibangunkan, supaya bisa ikut lari pagi denganmu!""BERES!!"Pagi itu si kambing tampak gembira sekali"CIHUUUI...!""AHH... segarnya udara pagi ini, terima kasih ya kamu mau mengajakku lari pagi. Tadinya aku pikir kamu tidak akan membangunkan aku!""Kalau sudah janji harus kita tepati!"Suatu hari..."Ada apa sih, kok ramai sekali? Coba aku lihat dari dekat!"Wah, rupanya sahabatku si anjing dikagumi oleh hewan-hewan di hutan ini. Aku ingi juga seperti dia..."Tandukmu bagus sekali!!""Iya betul-betul bagus, tidak ada duanya!""..HUH!"Siang itu, tanpak pak monyet mampir ke pondok si kambing."Datang ya ke acara pesta nanti malam!""Tentu, aku pasti datang!""Hmm... aku harus tampil gagah malam ini. Tapi bagaimana ya caranya? Oya, kebetulan si anjing sedang tidak enak badan, jadi aku bisa pinjam tanduknya!"Si kambing pun menemui anjing yan sedang asyik membaca buku."Sahabatku, bolehkah aku meminjam tandukmu? Untuk aku kenakan di acara pesta pak monyet. Aku ingin tampil gagah di pesta itu!""Boleh ambillah!""Oooh... tampan sekali aku!""Tapi jangan lama-lama, ya? Sehari ini saja!""Oke! Aku pergi dulu, ya!"Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya si kambing mengagumi tanduk pinjamannya."OOH.. TANDUKKU BAGUS SEKALI... LA..LA..LA.."Keesokan harinya...KUKURUYUK! KUKURUYUK! KUKURUYUK!"HOAAAHH...""Lho, kok si kambing belum muncul, ya? Ah, coba aku tunggu sampai besok!"Hari berikutnya pun si kambing belum juga kelihatan...Akhirnya habis juga kesabaran si anjingGRHHH..."Wah, si kambing rupanya ingkar janji. Sudah seminggu ini belum juga dia kembalikan tandukku!""Aku temui saja si kambing di pondoknya!..""LHO, KOSONG?!.."Sampai pada suatu ketika, saat anjing sudah mulai lelah mencari si kambing...Itu kan si kambing, sedang apa dia? Coba aku intip!"Nih kalian lihat, tandukku adalah tanduk paling bagus sedunia!""Iya, kami percaya!"Tiba-tiba...SREK!!"Hei! Kemana saja kau kambing? Sudah seminggu aku mencarimu. Ayo kembalikan tandukku!""Enak saja kamu meminta. Tanduk ini kan kepunyaanku!"Si anjing sangat gusar mendengar ucapan kambingGRRH!"Ayo kembalikan! Aku Cuma mau meminta tandukku!"Karena merasa malu, si kambing melarikan diri..."HEI JANGAN LARI!"Anjing pun mengejar si kambing yang lari terbirit- birit...GUK..GUK..GUK..Sampai akhirnya...."KENA KAU!!...""ADUUUH..!!"Si kambing terus berusaha mencoba melepaskan diri dengan sekuat tenaga!Akhirnya karena ekornya terlalu tegang, maka putuslah ekor si kambing..TUS!Sehingga tinggal sedikit ekornya yang tersisa.Si kambing bisa lolos dari terkaman."Rasakan kamu kambing ekormu jadi pendek sekarang!"Anjing pun kembali ke pondoknya dengan perasaan kesal dan pasrah.Akhirnya sejak saat itu kambing memiliki tanduk tapi ekornya pendek.Dan anjing tak lagi bertanduk!Si anjing merenungkan nasibnya."Aha, tanpa tanduk pun aku masih cakep."SELESAI
KLUNTUNG WALUH
Disebuah desa kecil bernama Desa Gembung."DUK! DUK! DUK!""Mbok Minah, ini bayaran Mbok Minah hari ini.""Terima kasih Bu"Dia adalah janda Aminah yang sehari-hari bekerja sebagai penumbuk padi di rumah para tetangganya."Ibu pulang""Kasihan ibu kelihatan lelah sekali"Janda Aminah mempunyai anak semata wayang yang terlahir cacat tanpa tangan dan kaki. Untuk berpindah tempat ia harus bergelinding seperti buah labu. Karena itu ia dipanggil Kluntung Waluh.Seriap hari Kluntung Waluh hanya tinggal di rumah menanti ibunya pulang."Ah... seandainya Kluntung Waluh dapat mengerjakan sawah, tentu aku tidak harus bekerja sekeras ini"Tanpa disengaja Kluntung Waluh mendengar keluhan Ibunya."Aku harus bisa membantu ibu! Harus!"Pagi-pagi sekali Kluntung Waluh berangkat menuju sawah.Nun jauh di kahyangan beberapa pasang mata mengamati perbuatannya."Sungguh mulia niat Kluntung Waluh, kita harus turun ke Bumi untuk membantunya!""Kluntung Waluh""Ss...si...siapa ka...lian??""Kluntung Waluh, jangan takut, kami dewi-dewi dari kahyangan""Karena niat baikmu kami datang membantu, kamu tidak usah bersusah payah mengerjakan sawahmu""Terima kasih dewi, tapi aku ingin tetap membantu ibu...kasihan ibuku tiap hari lelah bekerja""Kamu memang anak yang baik dan berbakti pada orang tua, tapi percayalah kami akan membantumu mengerjakan sawah!""Terimalah uang ini, berikan pada ibumu untuk membeli kebutuhan sehari-hari"Dengan raut wajah bingung Kluntung Waluh menerima uang tersebut.Dan mereka pun lenyap."Apakah aku bermimpi?...Ah! uang ini sungguh nyata!"Kluntung Waluh pun kembali kerumahnya."IBU! IBU!!""Ibu! Pagi ini Kluntung mengalami peristiwa aneh""Para dewi kahyangan datang...lalu...memberikan...ini ibu..""Uang???""Kluntung, ibu tidak mengerti apa yang kamu...bicarakan...""Kluntung... sulit bagi ibu mempercayai ceritamu... tapi, saat ini memang ibu memerlukan uang untuk membeli makanan.."Maka janda Aminah berangkat ke pasar."Sementara ibu berbelanja, aku akan kembali ke sawah.. dan mulai bekerja...""Entah apa yang bisa aku dapatkan dengan uang sesedikit ini?"Tiba-tiba"Selamat pagi Bu! Apa yang ibu butuhkan?""Rasanya tadi aku tidak melihat warung di sebelah sini?""Saya perlu telur... gula... beras""Silakan Bu""Sayur..., tapi uang saya hanya...""Silakan Bu... bawa belanjaan ibu, dan ini uang kembalinya!""Sungguh banyak hal yang sulit ku percaya hari ini""Aku belanja barang sebanyak ini... uangku cukup, bahkan ada kembalinya??"Setelah janda Aminah pergi, penjaga warung di pasar itu berubah wujud menjadi dewi kahyangan.Ketika Janda Aminah melewati sawahnya. Janda Aminah terharu melihat sawahnya telah selesai di kerjakan."Kluntung? Anakku berkerja di sawah?""Nak... k... k..au.. telah mengerjakan sawah ki..ta?""Oh! Ibu, dewi-dewi kahyangan yang telah menolongku Bu.""Kluntung, engkau benar- benar anak yang berbakti. Aku sungguh bersyukur memiliki anak sepertimu.""Aku tidak akan mengeluh lagi. Aku rela bekerja keras demi engkau nak!"Akhirnya mereka hidup bahagia berdua, saling membantu dan memperhatikan.
RORO JONGGRANG
Dahulu kala, terdapat kerajaan beser bernama Prambanan.Suatu hari, Kerajaan Prambanan diserang oleh Negari Pengging. Para tentara Prambanan tidak mampu menghadapi pasukan Pengging. Akhirnya, kerajaan Prambanan dikuasai kerajaan Pengging dibawah pimpinan Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso sangatlah sakti dan mampunyai pasukan jin.Suatu hari, dia tertarik kepada Roro Jonggrang, putri Raja Prambanan."Cantik sekali putri itu. Aku ingin menjadikan dia sebagai permaisuriku." kata Bandung Bondowoso.Keesokan harinya. Bandung Bondowoso mendekati Roro Jonggrang."Hai, maukah kau menjadi permaisuriku?" tanya Bandung Bondowoso."Laki- laki ini lancang sekali. Belum kenal denganku langsung memintaku menjadi permaisurinya." ujar Roro Jonggrang dalam hari.Roro Jonggrang kebingungan. Jika dia menolak, Bandung Bondowoso pasti marah besar dan akan membahayakan keluarga serta rakyat Prambanan. Jika dia mengiyakan, itu tidak mungkin. Karena Roro Jonggrang memang tidak suka dengan Bandung Bondowoso."Bagaimana, Roro Jonggrang?" desak Bandung Bondowoso.Akhirnya, Roro Jonggrang mendapatkan ide."Saya bersedia menjadi permaisuri Tuan, tetapi ada syaratnya. Saya minta dibuatkan candi. Jumlahnya harus seribu buah," kata Roro Jonggrang."Seribu buah?" teriak Bandung Bondowoso."Ya, dan candi itu harus selesai dalam semalam."Bandung Bondowoso menatap Roro Jonggrang. Bibirnya bergetar menahan amarah."Tuan dapat membuat seribu candi dengan bantuan Jin!" kata penasehat."Benar juga usulmu. Siapkan peralatan yang kubutuhkan!" kata Bandung Bondowoso.Bandung Bondowoso berdiri di depan altar batu. Kedua lengannya dibentangkan lebar-lebar."Pasukan jin, bantulah aku!" teriaknya dengan suara menggelegar.Tak lama, langit menjadi gelap. Angin menderu- deru. Sesaat kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso."Apa yang harus kami lakukan Tuan?" tanya pemimpin jin."Bantu aku membangun seribu candi!" pinta Bandung Bondowoso.Para jin segera melaksanakan perintah Bandung Bondowoso.Dalam waktu singkat, bangunan candi tersebut hampir mencapai seribu buah.Sedangkan Roro Jonggrang yang mengamati dari kejauhan mulai merasa panik."Wah, bagaimana ini? Pekerjaan mereka hampir selesai," ujar Roro Jonggrang.Roro Jonggrang yang mulai merasa panik segera mencari akal untuk bisa menggagalkan pembangunan seribu candi oleh Bandung Bondowoso dan para jin yang membantunya.Tidak butuh waktu lama Roro Jonggrang segera mengumpulkan para dayang-dayang kerajaan untuk diminta mengumpulkan jerami."Cepat bakar semua jerami itu!" perintah Roro Jonggrang.Sebagian dayang lainnya diminta menumbuk lesung.DUNG ... DUNG ... DUNG!Semburat warna merah memancar ke langit diiringi suara hirup- pikup. Membuat para pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing."Wah, matahari akan terbit!" seru salah satu jin."Kita harus segera pergi sebelum tubuh kita dihanguskan matahari," kata jin yang lain.Para jin berhamburan meninggalkan tempat tersebut.Bandung Bondowoso yang melihat kejadian itu mulai merasa heran terhadap keadaan tersebut. Dikarenakan matahari belum benar- benar muncul tetapi para jin sudah menghilang dikarenakan kepanikan mereka.Segeralah Bandung Bondowoso mendekati Roro Jonggrang."Candi yang kau minta sudah berdiri!" kata Bandung Bondowoso.Segera saja Roro Jonggrang mulai menghitung jumlah candi tersebut. Ternyata, hanya 999!"Jumlahnya kurang satu!" seru Roro Jonggrang."Tidak mungkin! Kamu pasti salah dalam menghitung" teriak Bandung Bondowoso"Tidak mungkin aku salah dalam menghitung, jadi kamu gagal untuk bisa memenuhi permintaanku" ucap Roro Jonggrang.Bandung Bondowoso yang merasa ditipu oleh perilaku Roro Jonggrang yang bermain curang, mulai marah dan mengutuk Roro Jonggrang."Kalau begitu, kau saja yang melengkapinya!" ucap Bandung Bondowoso.Setelah Bangdung Bondowoso selesai berucap seperti itu, secara ajaib Roro Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Sehinggan melengkapi jumlah candi tersebut menjadi seribu buah.Konon, hingga saat ini, candi - candi itu masih ada di wilayah Prambanan, yang dikenal dengan nama "Candi Roro Jonggrang."
SI KURUS & HARIMAU LORENG
Dahulu kala ada seorang pemuda. Karena badannya sangat kurus, maka orang sekampungnya menjulukinya si Kurus."Hai... Kurus mau kemana kau?" tanya seorang warga."Aku mau ke pasar," jawab si Kurus.Sambil berjalan santai si Kurus melewati jalan, dan sesekali membalas sapaan baik dari warga maupun teman- temannya."Hai Kurus!""Kurus!""Kurus seperti tokek hihihihi.""Dari dulu aku sudah kurus memangnya kenapa?" ucap si Kurus.Tubuh si Kurus yang lemah membuat banyak pemuda senang mempermainkannya."Hai Kurus ini ada bingkisan untukmu, terimalah," ucap salah satu pemuda desa."Dari siapa?" tanya si Kurus pada pemuda itu."Entahlah dari siapa yang penting isinya, bukalah!" Ucap pemuda yang lainnya."Terima kasih," ucap si Kurus.Begitu si Kurus membukanya."KRROOOK! WUAAOO!"Yang didapatkan si Kurus di dalam bingkisan itu adalah seekor kodok yang tiba-tiba melompat ke arah wajahnya. Karena merasa kaget si Kurus langsung berlari menjauh. Sedangkan para pemuda yang melihatnya tertawa kegirangan."HAA... HAA... HAA...""HA HAA HAA! Lucu ya.""Sst! Aku ada permainan lagi pasti lebih lucu ""Permainan apa???""Lihat saja nanti."Pada suatu hari"Nah itu dia orangnya.""Hai Kurus, di hutan ada pohon mangga yang sangat manis buahnya, kami ingin mencarinya ke sana. Apakah kau mau ikut?""Tentu aku ikut!""Kalau begitu mari kita berangkat sekarang."Sesampainya di hutan.Tiba - tiba"Lihat""Itu..! itu..! ha.. ha.. harimau.. harimaauu!""HWUAAAOO!"Semuanya lari ketakutan kecuali si Kurus yang tetap berdiri di tempatnya dengan tenang."Kenapa harimau ini diam saja, apakah dia sakit??"Tapi badanya gemuk, mungkin...""OOO.... Rupanya kau sedang ke sakitan karena kakimu terjerat perangkap pemburu.""Kasihan... mari kutolong."Dengan ketulusan hatinya, si Kurus memberanikan diri menolong harimau malang itu."Nah, Kau telah terbebas dan selamat sekarang. Pergilah ke tempatmu."Dengan terpincang - pincang harimau itu pun pergi.Beberapa hari kemudian terjadi keributan di kota."Ada harimau mengamuk""Apa? Harimau mengamuk""Gawat!!"Penduduk panik dan ketakutan.Mendengar kerajaannya mengalami masalah raja segera memerintahkan para pengawalnya untuk mengumpulkan para penduduk di depan halaman kerajaan. Mendengar ada adanya sebuah pengumuman para penduduk pun berkumpul termasuk juga si Kurus."Siapa yang dapat menundukkan harimau yang mengganggu penduduk , akan aku angkat menjadi hulubalang."Ternyata tak seorang pun yang berani menyatakan diri."Huh! Siapa yang mau menjadi mangsa harimau ganas itu?"Mendengar ucapan dari orang yang disebelahnya hati si Kurus pun berkata."Kalau tak ada orang yang mau berusaha menangkapnya, biarlah aku mencobanya."Malam itu."Pasti dia lewat sini."Tiba - tiba terdengar suara yang seram dan mendebarkan."AUUUMRR!!"Harimau itupun muncul.Si Kurus dengan tenang menghadapinya.Aneh, harimau itu tidak menyerang bahkan mendekati si Kurus denga jinak."Hai, rupanya kau adalah harimau lorang yang pernah terjebak itu. Syukur kakimu telah sembuh."Harimau itu tunduk dan mengikuti langkah si Kurus ke mana pun ia pergi.Keadaan ini membuat penduduk heran dan kagum."Ha!""Luar biasa""Tak kusangka ternyata si Kurus pemuda yang hebat."Sebagaimana telah dijanjikan, maka si Kurus pun diangkat menjadi hulubalang istana.Sejak saat itu para pemuda di kampung segera sadar. Betapapun mereka tak boleh merendahkan orang lain."Kita tidak boleh meremehkan seseorang hanya karena melihat fisiknya.""Benar itu"TAMAT
Rokujo no Miyasundokoro
Lady Rokujo adalah seorang wanita yang muncul dalam permainan Noh Aoi no Ue yang didasarkan pada novel abad ke-11 dalam The Tale of Genji. Novel ini berkisah seputar kehidupan Hikaru Genji, seorang bangsawan yang hidup pada puncak periode Heian. Transformasi Lady Rokujo dari bangsawan menjadi iblis telah membuatnya menjadi salah satu monster paling terkenal di teater Jepang. Namanya berasal dari Rokujo, daerah Kyoto tempat dia tinggal.Lady Rokujo adalah putri seorang menteri yang tinggal di ibukota selama periode Heian. Dia berpangkat tinggi, sangat cantik, anggun, canggih, dan cerdas. Dia telah menikah dengan putra mahkota dan akan menjadi permaisuri saat suaminya naik tahta. Namun, ketika suaminya meninggal, Lady Rokujo kehilangan sebagian besar kekuatannya dan berdiri di antara pengadilan, merampas ambisinya. Dia mengirim putri mereka ke Ise untuk menjadi putri kuil, lalu dirinya menjadi pelacur istana kekaisaran. Si janda Lady Rokujo segera menjadi salah satu gundik seorang bangsawan yang berpangkat tinggi bernama Hikaru Genji. Dia jatuh cinta pada laki-laki tersebut. Tapi Hikaru Genji enggan membalas cintanya. Lady Rokujo juga tidak bisa mengungkapkan perasaan sejatinya seperti yang ia inginkan tanpa melanggar kesopanan istana. Sebagai gantinya, ia menekan perasaan cemburu yang mulai mengubahnya menjadi setan.Suatu malam, saat bertamasya selama Festival Hollyhock, kereta Lady Rokujo bertabrakan dengan kereta milik istri sah Genji, Lady Aoi. Setelah kehilangan tempat tinggalnya karena istri Genji, Lady Rokujo mengetahui bahwa Lady Aoi sedang mengandung anak Genji. Hinaan itu terlalu banyak baginya. Kecemburuannya yang tertekan terlepas dari tubuhnya dan berubah menjadi ikiryo yang menghantui Lady Aoi setiap malam. Akhirnya, ikiryo dilihat oleh Genji. Ia lalu mmembeli jimat herbal untuk istrinya agar melindung si istri dari roh jahat. Lady Aoi melahirkan putra Genji, tapi tak lama kemudian ia dikuasai semangat mendendam Lady Rokujo. Para ikiryo akhirnya diusir oleh seorang Shugenja, namun justru membuat Lady Aoi meninggal dunia. Lady Rokujo telah berharap untuk menjadi istri Genji berikutnya, tapi ia menemukan bahwa rambut dan pakaiannya sendiri membawa bau jimat Genji. Ia menyadari bahwa dirinya bertanggung jawab atas kematian istri sah Genji. Berpikir bahwa Genji tidak pernah bisa mencintainya setelah membunuh istrinya, Lady Rokujo meninggalkan ibu kota dan bergabung dengan putrinya di Kuil Ise.Enam tahun kemudian, Lady Rokujo kembali ke Kyoto bersama putrinya dan menjadi seorang biarawati. Tak lama kemudian, ia jatuh sakit. Genji datang mengunjunginya dan malah jatuh cinta pada putri Rokujo. Lady Rokujo yang masih sangat mencintai Genji, memintanya untuk tidak membawa putrinya sebagai kekasih. Lady Rokujo meninggal dunia dan Genji mengadopsi putrinya. Mereka pindah ke vila lamanya di Rokujo. Bahkan dalam kematian, kecemburuan Lady Rokujo tetap menjadi shiryo yang penuh dendam. Ia muncul di vila Rokujo. Iblis ini menghantui Genji, juga menyerang istri barunya yang bernama Lady Murasaki dan wanita-wanita lain di rumah tersebut. Setelah mendengar tentang si hantu, putri Lady Rokujo menjadi sedih karena ibunya masih belum menemukan kedamaian dalam kematian. Ia lalu melakukan upacara peringatan untuk arwah ibunya agar tenang di alamnya.
Yamawaro
Yamawaro adalah dewa kecil pegunungan, berkaitan erat dengan roh alam lainnya seperti Kappa, Garappa, dan Hyosube. Mereka adalah makhluk pendek yang menyerupai anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun. Kepala mereka ditutupi rambut cokelat panjang. Sementara tubuh mereka tertutup rambut yang sangat halus dan ringan. Mereka memiliki badan pendek dan dua kaki panjang untuk berjalan dengan tegak. Ciri khas Yamawaro yang paling membedakan adalah mata tunggal di tengah kepala. Mereka terampil meniru, seperti meniru suara bebatuan yang jatuh, angin, dinamit, peralatan, dan bahkan bisa belajar bahasa manusia dan menyanyikan lagu manusia.Seperti sepupu mereka Kappa, Yamawaro meremehkan kuda dan sapi. Mereka menyukai olahraga sumo, bahkan mereka lebih baik daripada manusia. Mereka juga menikmati menyelinap ke rumah untuk tidur siang dan mandi, meninggalkan lapisan lemak dan rambut tebal di bak mandi saat selesai. Yamawaro sering dijumpai di pegunungan oleh pemotong kayu dan diketahui membantu pekerjaannya. Jika mengucapkan terima kasih dengan benar dan menawarkan makanan untuk melayani mereka, sesosok Yamawaro kemungkinan akan kembali untuk membantu lagi. Namun, pelayanan yang baik harus dilakukan saat memberi makan Yamawaro. Jika jumlah makanan kurang dari apa yang dijanjikan, maka ia akan menjadi sangat marah dan tidak pernah kembali. Jika makanan itu ditawarkan sebelum pekerjaan dilakukan, ia hanya akan mengambil makanan dan melarikan diri.Satu teori dari Kumamoto mengatakan bahwa Yamawaro dan Garappa sebenarnya adalah bentuk yokai yang sama. Selama bulan-bulan yang dingin, makhluk-makhluk ini tinggal di pegunungan sebagai Yamawarawo sementara selama bulan-bulan hangat, mereka tinggal di danau dan sungai sebagai Garappa. Setiap tahun di musim gugur, semua Garappa negara itu berubah menjadi Yamawaro dan melakukan perjalanan dari sungai ke pegunungan dalam migrasi massal. Mereka kembali pada musim semi dan berubah kembali menjadi Garappa. Penduduk desa yang membangun rumah mereka di jalur migrasi yokai ini, mereka cenderung menemukan lubang, luka bakar, dan kerusakan lainnya yang disebabkan oleh Yamawaro yang marah karena menghalangi jalan mereka di rumah. Orang yang menyaksikan kembalinya musim semi Yamawaro sering mengalami demam mematikan. Teori ini didukung oleh fakta bahwa makhluk-makhluk ini memiliki begitu banyak ciri yang sama satu sama lain dan karena sangat jarang melihat Garappa di musim dingin. Namun, kemungkinan juga bahwa yokai perairan ini hanya mengalami hibernasi selama bulan-bulan yang dingin dan bahwa kesamaan antara Garappa dan Yamawaro hanyalah kebetulan saja.***
Tesso
Pada zaman dahulu kala selama masa pemerintahan Kerajaan Shirakawa (1073-1084 M), hiduplah seorang biarawan yang bernama Raigo. Raigo merupakan kepala biara dari Mii-dera, sebuah biara di Prefektur Shiga di kaki Gunung Hiei. Raigo terkenal karena kesalehannya.Sang Raja yang tidak memiliki pewaris menjadi prihatin tentang garis keturunannya. Pada suatu hari, ia mendatangi Raigo dan memintanya agar berdoa pada Dewa dan Budha agar mendapatkan keturunan. Raigo berdoa dengan keras. Pada akhirnya pada tahun 1074 lahirlah seorang anak laki-laki, Pangeran Taruhito. Sang Raja yang ingin berterima kasih berjanji untuk memberikan apa pun yang kepala biara minta atas doa yang telah ia lakukan. Raigo meminta dibuatkan sebuah bangunan di Mii-dera sehingga ia bisa melatih para pendeta baru. Sang Raja setuju. Namun demikian, Mii-dera memiliki kuil saingan —Enryaku-ji yang terletak di puncak Gunung Hiei— yang mana mereka memiliki kekuatan politik yang kuat. Enryaku-ji tidak bisa tinggal diam melihat kuil saingan mereka mendapatkan hadiah. Mereka lalu mendesak Sang Raja. Karena tekanan dari Enryaku-ji, Sang Raja mengingkari janjinya pada Raigo.Raigo mulai memprotes pada Sang Raja karena telah ingkar janji, tapi Sang Raja tidak mau atau tidak bisa menentang keinginan Enryaku-ji. Pada hari keseratus menuntut janji, Raigo meninggal dunia. Hatinya penuh kemarahan pada Raja yang tidak setia dan biara Enryaku-ji yang dengki. Jadi, hati Raigo yang penuh kebencian saat meninggal dunia mengubahnya menjadi onryo, sesosok hantu yang dikendalikan oleh dendam. Tidak lama setelah Raigo meninggal, penampakan hantu kepala biara tersebut terlihat melayang-layang di dekat ranjang Pangeran Taruhito. Beberapa hari kemudian, si pangeran muda tewas, menjadikan Sang Raja kembali tidak memiliki ahli waris. Tapi dendam Raigo tidak berakhir begitu saja.Arwah Raigo berubah menjadi sesosok tikus raksasa. Tubuhnya sekeras batu, gigi dan cakarnya sekuat besi. Roh yang sangat besar ini, namanya Tesso, memerintahkan bala tentara tikus yang amat banyak. Mereka berlarian melewati Kyoto, naik ke Gunung Hiei, dan sampai di Enryaku-ji. Di sana, tikus-tikus itu melampiaskan dendam Raigo kepada para biarawan. Bala tentara tikus berlarian melewati kompleks biara. Mereka mengunyah dinding dan pintu, merobek atap dan lantai, serta menyerang para biarawan. Mereka menghancurkan sutra, gulungan perkamen dan buku kebanggaan Enryaku-ji. Mereka juga mengunyah dan memakan apa pun yang bisa ditemukan. Mereka bahkan memakan patung Budha yang berharga.Tidak ada yang bisa menghentikan Tesso dan para bala tentara tikus sampai akhirnya sebuah kuil dibangun di Mii-dera untuk menenteramkan arwah Raigo. Kuil ini masih berdiri di Mii-dera sampai sekarang.Sebuah catatan kaki yang menarik ditulis pada cerita ini: Sementara para pemeluk agama Budha membangun biara yang menghadap ke timur, kuil Raigo dibangun menghadap ke utara. Kuil tersebut menunjuk pada puncak Gunung Hiei, secara langsung menunjuk pada Enryaku-ji, sasaran dari kemarahannya.
Ibaraki Doji
Ibaraki Doji merupakan salah satu iblis terkenal. Ia merupakan iblis yang menyebabkan kerusakan di Jepang. Ibaraki Doji adalah wakil kepala Shuten Doji, raja para iblis. Tidak banyak yang tahu tentang kehidupan Ibaraki Doji. Bahkan tidak ada yang mengetahui jenis kelaminnya, apakah laki-laki atau perempuan. Kebanyakan legenda menggambarkan Ibaraki Doji sebagai Kijo atau iblis wanita. Ada juga legenda yang menyatakan bahwa kepala Shuten Doji berjenis kelamin laki-laki. Ada juga kemungkinan jika keduanya bukan hanya bekerja sama, tapi juga sepasang kekasih. Apa yang diketahui adalah Ibaraki Doji sangat mengerikan. Ia memiliki kemampuan melakukan banyak kerusakan di dunia manusia.Kisah terkenal dari Ibaraki Doji terjadi di Rashomon, gerbang utara di dinding Kota Kyoto. Rashomon dibangun pada tahun 789, tapi setelah zaman Heian, Rashomon runtuh dan rusak. Rashomon terkenal sebagai salah satu tempat yang buruk. Rashomon tidak lagi terawat. Para pencuri dan bandit berkeliaran di sekitar sana. Bahkan tempat itu digunakan untuk membuang bayi yang tidak diinginkan atau sebagai tempat pembunuhan. Tapi bagian terseram dari tempat berhantu tersebut adalah legenda tentang hantu Rashomon atau iblis dari Rashomon.Setelah merayakan kemenangan melawan Shuten Doji, pahlawan bernama Minamono no Yorimitsu kembali dengan kejayaan ke Kyoto. Ia merayakan kemenangannya di rumah dengan para petinggi, seperti Sakata no Kintoki, Urabe no Suetake, Usui Sadamitsu, dan Watanabe no Tsuna. Saat itulah seorang bangsawan bernama Fujiwara no Yasumasa memberitahu mereka bahwa sesosok iblis terlihat sedang menghantui Gerbang Rashomon. Watanabe no Tsuna yang baru saja kembali dari perang hebat dengan klan Shuten Doji tidak percaya bahwa ada iblis yang masih tersisa. Ia lalu keluar dari rumah untuk menyelidikinya sendiri. Ia menaiki kudanya dan pergi ke arah selatan.Saat Tsuna tiba di gerbang, datanglah hembusan angin yang kencang. Ia kehilangan kendali atas kudanya, lalu jatuh ke tanah. Ia mencoba mendekati gerbang dalam cahaya yang samar-samar, kemudian ia melihat tangan yang sangat besar keluar dari kegelapan untuk mencengkeram topi bajanya. Tsuna tidak memiliki waktu lagi, jadi ia mengayunkan katana ke sekelilingnya, mencoba memenggal tangan iblis yang sangat besar. Iblis itu adalah Ibaraki Doji yang datang untuk membalaskan dendam atas kematian Shuten Doji. Si iblis yang terluka melarikan diri, meninggalkan lengannya yang telah terpenggal. Rashomon tidak lagi berhantu.Ibaraki Doji lalu kembali ke Rashomon untuk mencari lengannya. Ia menyamar sebagai inang pengasuh Watanabe no Tsuna sehingga bisa mencuri lengannya kembali, kemudian melarikan diri. Setelah itu, keberadaannya tidak diketahui lagi selama beberapa tahun kemudian. Kadangkala di beberapa kota lain, penduduk mengaku bahwa mereka telah melihat Ibaraki Doji datang atau pergi, selalu berhubungan dengan berbagai jenis kerusakan.
Sekretaris Penggodaku
Lian, CEO muda dan tampan dari perusahaan media digital terbesar di Jakarta, terkenal karena dua hal: profesionalismenya yang dingin dan ketampanannya yang mematikan.Ia tidak pernah mencampur urusan kerja dengan urusan hati. Bahkan banyak yang bilang, pria itu anti cinta.Sampai suatu hari, datanglah seorang sekretaris baru bernama Salca —perempuan berwajah manis dengan mata tajam dan bibir jenaka. Bukan tipe wanita pendiam. Bukan juga tipe yang akan takut pada bos sekelas Lian."Kalau kamu ingin bertahan di sini, jangan terlalu banyak bicara," kata Lian saat hari pertama.Salca hanya tersenyum. "Kalau Anda ingin saya diam, pastikan tidak sering-sering menatap saya seperti itu, Pak."Lian terdiam. Bibirnya sempat menyungging senyum tipis, lalu buru-buru menepisnya.Wanita ini... berbeda.....Hari-hari berikutnya di kantor tidak pernah sama lagi. Salca punya cara sendiri untuk 'mengganggu' Lian. Dari menyelipkan sticky note berisi kalimat genit di laptop sang CEO, hingga pura-pura menjatuhkan pena hanya untuk membungkuk di hadapannya.Tapi Lian tetap diam. Dingin. Tak bergeming.Hingga suatu malam, hujan deras turun, dan Salca masih bekerja lembur. Lian lewat dan tanpa berkata apa-apa, meletakkan jaket di bahunya."Aku bisa antar kamu pulang," katanya.Salca terkejut. "Tumben, Pak Bos perhatian."Lian tidak menjawab. Tapi di dalam mobil, selama perjalanan, hening itu justru terasa... hangat.....Suatu malam, Salca mendengar kabar dari rekan kerja: Lian pernah patah hati parah karena ditinggal tunangannya di altar. Sejak saat itu, pria itu tak pernah membiarkan siapa pun mendekat. Termasuk dirinya.Salca mulai ragu."Jangan-jangan aku cuma main-main sendiri..."Tapi Lian, diam-diam, sudah mulai gelisah juga. Perempuan itu terlalu cerah untuk diabaikan. Terlalu berani untuk dilupakan.Suatu hari, Salca tidak masuk kerja. Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Lian merasa... kehilangan.....Setelah dua hari absen, Lian memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Ia mendatangi alamat rumah di data HRD, dan menemukan Salca demam tinggi, sendirian.Tanpa banyak bicara, ia membelikan obat, membuatkan bubur, dan menemani sampai Salca tertidur.Pagi harinya, saat Salca membuka mata, Lian sedang duduk di lantai, tertidur dengan tangan masih menggenggam tangan Salca.Saat Salca menggerakkan jari pelan, Lian terbangun dan menatap matanya."Aku pikir aku bisa terus jadi dingin sama kamu," ucap Lian pelan. "Ternyata... aku salah."....Setelah pengakuan itu, hubungan mereka berubah. Tidak lagi ada batasan dingin antara bos dan sekretaris. Tapi mereka sepakat: cinta ini tetap harus tersembunyi.Namun, cinta diam-diam tak pernah bisa benar-benar sembunyi.Desas-desus mulai terdengar. Rekan kerja mulai bergosip. Hingga akhirnya, pemegang saham utama mendesak Lian: pilih antara profesionalisme... atau skandal yang bisa menghancurkan reputasi.Lian bimbang. Tapi Salca justru yang membuat keputusan lebih dulu.Ia mengajukan surat pengunduran diri."Aku mencintaimu, tapi aku tidak ingin jadi alasan reputasimu hancur," katanya dengan air mata di mata.....Dua bulan setelah kepergian Salca, Lian berubah. Ia tidak fokus bekerja. Setiap ruangan terasa kosong. Setiap pagi, ia mencari-cari sticky note yang tak pernah lagi muncul.Hingga suatu pagi, ia menghentikan rapat, berdiri, dan berkata:"Ada seseorang yang lebih penting dari perusahaan ini. Dan aku bodoh karena membiarkannya pergi."Dia keluar, mengendarai mobilnya sendiri, dan datang ke tempat Salca kini bekerja—di kantor kecil milik startup temannya.Di hadapan semua orang, Lian berdiri dan berkata:"Kamu sekretarisku dulu. Sekarang, biarkan aku jadi milikmu sepenuhnya. Aku mau kamu... jadi istriku."Salca menatapnya. Terdiam. Lalu tersenyum kecil."Kamu yakin bisa ngadepin aku tiap hari seumur hidupmu?""Selama kamu tetap gangguin aku seperti dulu... aku yakin."....Beberapa bulan kemudian, mereka menikah secara sederhana. Salca tidak lagi menjadi sekretaris, tapi kini menjadi pemilik hati sang bos besar.Lian yang dulu dingin, kini jadi pria paling perhatian. Dan Salca? Masih sama. Masih suka menggoda. Tapi sekarang, dengan tambahan status: istri sah .Dan setiap pagi, sebelum Lian berangkat kerja, Salca akan berbisik:"Hati-hati ya, Pak Bos. Jangan godain sekretaris lain."....Setelah permintaan lamaran mendadak dari Lian, kabar itu menyebar lebih cepat daripada yang mereka kira. Foto Lian memegang tangan Salca di depan kantor startup tempat Salca bekerja menyebar di media sosial, dibagikan oleh salah satu karyawan di sana.Pagi berikutnya, media ramai dengan judul:"CEO Muda Jatuh Cinta pada Sekretarisnya—Cinta di Balik Meja Kerja!"Lian menghela napas panjang di ruangannya. Sementara Salca hanya bisa tertunduk, merasa bersalah telah menjadi pusat perhatian yang seharusnya bukan miliknya."Maaf, aku nggak bermaksud bikin semua jadi ribet," ucap Salca.Lian mengangkat wajahnya. "Ribet memang. Tapi kamu tahu? Aku lebih takut kehilangan kamu daripada kehilangan reputasi."....Masalah belum selesai. Di tengah hebohnya kabar pertunangan mereka, muncul satu nama lama: Tiara , mantan tunangan Lian yang dulu meninggalkannya di altar.Tiara kembali dari luar negeri dan datang langsung ke kantor Lian, tanpa izin. Dengan wajah cantik dan percaya diri, ia langsung masuk ke ruang CEO, membuat Salca yang sedang duduk di luar menegang."Kamu masih milik aku, Lian. Jangan bilang kamu benar-benar jatuh cinta sama... sekretarismu itu?"Lian berdiri pelan, tenang namun tegas. "Dulu kamu yang pergi. Sekarang aku sudah milik orang lain."Tapi Tiara tak mudah menyerah. Dia mulai menyebarkan rumor ke para investor, menyebut Lian tidak profesional dan menjadikan perusahaan tempat 'main cinta'.Akibatnya, dewan direksi mulai mempertanyakan kapasitas Lian sebagai CEO. Mereka mendesak agar Lian memutuskan: pertahankan posisinya... atau lepaskan Salca.....Tekanan itu akhirnya membuat Lian mengambil langkah drastis: meminta Salca pergi dari hidupnya."Aku ingin kamu pergi jauh dari aku, Salca," kata Lian malam itu. Dingin. Datar.Salca membeku. "Kamu bohong.""Enggak. Aku nggak bisa lagi mempertaruhkan semuanya demi hubungan ini.""Jadi aku cuma gangguan, ya?" suara Salca bergetar.Tanpa kata lagi, Salca pergi. Malam itu, dia meninggalkan apartemen Lian—dan juga hatinya yang telah terlanjur ia beri pada pria itu.....Tiga bulan berlalu. Salca bekerja di sebuah perusahaan media kecil sebagai penulis konten. Ia mencoba memulai hidup baru—tapi setiap malam, ingatannya tetap kembali pada pria bernama Lian.Sementara Lian tampak tenang di luar, tapi di dalam dirinya hancur. Ia tidak pernah memecat Salca. Ia tidak pernah mengganti sekretaris. Meja Salca tetap kosong. Sticky note yang dulu mengganggunya... kini justru dirindukannya.....Hingga suatu malam, Lian melihat presentasi dari perusahaan kecil yang sedang naik daun. Di dalamnya, ada nama yang sangat ia kenal.Salca Rineka.Tanpa pikir panjang, ia hadir ke acara peluncuran produk startup itu, duduk di deretan belakang. Dan saat mata mereka bertemu, dunia seolah berhenti.Setelah acara, Lian mendekat."Kamu kelihatan kuat sekarang," katanya."Dan kamu terlihat lebih kurus," jawab Salca ringan, meski hatinya bergetar."Aku salah waktu itu. Aku takut. Tapi sekarang aku sadar... aku lebih takut hidup tanpa kamu."Salca menatapnya, menahan air mata."Aku nggak butuh janji lagi, Lian. Aku cuma butuh bukti."....Sebulan kemudian, Lian mengundurkan diri dari posisi CEO dan menyerahkan jabatan pada wakilnya. Ia memutuskan membuka agensi media kreatif sendiri, dan mengajak Salca bergabung—bukan sebagai sekretaris, tapi sebagai partner bisnis sekaligus calon istri."Aku ingin mendirikan sesuatu dari nol, bersamamu. Tanpa tekanan, tanpa bayang-bayang siapa pun. Hanya kita."Salca mengangguk, dan kali ini, dia tak ragu lagi.....Dua tahun kemudian, Salca dan Lian menikah dalam upacara kecil di tepi danau. Tak mewah, tapi hangat. Di hadapan keluarga dan sahabat, mereka saling bersumpah."Aku pernah menggoda kamu setiap hari," kata Salca, tertawa."Dan sekarang kamu yang berhasil buat aku menyerah," balas Lian sambil menggenggam tangan istrinya.Di akhir hari, mereka sadar—hubungan yang dimulai dari candaan ringan, bisa jadi cinta yang paling kuat. Karena yang benar-benar bertahan... bukan hanya yang romantis, tapi yang berani berjuang bersama.~END~
Mantan Musuhku, Ternyata Suamiku
Salsa masih ingat dengan jelas hari pertama ia masuk SMA—bukan karena semangat masa putih abu-abu, tapi karena langsung bertengkar dengan seorang cowok menyebalkan bernama Roly. Hanya karena mereka rebutan bangku dekat jendela, semuanya berubah jadi medan perang kecil."Kamu yang datang belakangan, kok malah ngusir?" protes Salsa waktu itu.Roly mengangkat alis, "Siapa cepat dia dapat. Atau kamu mau duduk di lantai aja?"Murid-murid lain tertawa. Tapi tidak dengan Salsa. Sejak hari itu, dia menandai Roly sebagai musuh nomor satu .Dan entah kenapa, semesta seolah mendukung permusuhan mereka. Tiga tahun SMA, selalu sekelas. Saat Salsa menang lomba pidato, Roly menyindirnya "tukang ceramah". Saat Roly jadi ketua OSIS, Salsa terang-terangan memprotes. Perdebatan mereka jadi tontonan favorit teman-teman sekelas.Di balik permusuhan itu, tak ada yang tahu bahwa ada hal kecil yang bersembunyi: perhatian yang tak pernah diakui .....Beberapa tahun kemudian, setelah mereka menjalani kehidupan masing-masing, Salsa fokus mengejar karier di dunia periklanan. Perempuan mandiri, ambisius, dan tidak tertarik menjalin hubungan.Hingga suatu malam, ayahnya—yang telah lama sakit jantung—memanggilnya."Ayah cuma ingin satu hal sebelum pergi, Sal... Lihat kamu menikah."Salsa terdiam. Ia ingin membantah, tapi tangis ibunya sudah lebih dulu pecah.Dan keesokan harinya, saat nama calon yang disebutkan adalah Roly , rasanya seperti dijatuhi petir."Mereka sudah lama dekat, Sal. Sahabat Ayah dan Om Bram ingin menjodohkan kalian sejak lama," jelas ibunya.Salsa ingin menolak, tapi dia juga tahu... waktu ayah tidak lama lagi. Dan di tengah dilema itu, Roly muncul.Masih dengan wajah dinginnya, tapi kini lebih dewasa, lebih tenang."Kalau kamu nggak mau, bilang aja. Tapi... aku mau lakuin ini buat orang tua."Dan akhirnya, dengan hati berat, Salsa mengangguk.....Pernikahan mereka berlangsung sederhana. Tidak ada pelaminan mewah, tidak ada pesta besar. Hanya dua keluarga yang saling menatap penuh harap.Roly dan Salsa resmi menjadi suami-istri—dua orang yang dulu saling benci, kini berbagi atap.Malam pertama mereka bukan malam romantis. Roly tidur di sofa. Salsa di ranjang. Sepasang cincin di jari mereka terasa seperti borgol tak kasat mata."Mau sampai kapan begini?" tanya Salsa suatu malam."Sampai kita menemukan cara buat keluar dari ini tanpa menyakiti siapa-siapa," jawab Roly pelan.Hari-hari awal pernikahan mereka berjalan seperti dua orang asing yang tinggal dalam satu rumah. Percakapan hanya seputar hal-hal penting: belanja bulanan, urusan keluarga, atau tagihan listrik.Namun seiring waktu, ada hal-hal kecil yang mengubah segalanya.Roly mulai membuatkan kopi tiap pagi, tanpa diminta. Ia ingat jenis teh favorit Salsa. Dia diam-diam mengganti lampu kamar mandi yang rusak, membersihkan kaca mobil istri yang kotor."Kenapa kamu ngelakuin semua ini?" tanya Salsa."Karena kamu istriku."....Suatu hari, Salsa jatuh sakit. Demam tinggi membuatnya lemas dan tidak bisa bangun dari tempat tidur.Saat membuka mata, ia mendapati Roly tertidur di sisi ranjang, menggenggam tangannya erat."Aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap Roly lirih ketika sadar Salsa terbangun.Salsa tak mampu menjawab. Dadanya sesak oleh perasaan yang tidak bisa ia definisikan.Sejak hari itu, ia mulai melihat Roly dengan cara berbeda.Ia perhatikan cara pria itu memperhatikan detail kecil: menyiapkan jaket saat cuaca dingin, memasang pengingat di ponselnya agar Salsa minum obat, atau menyelipkan makanan kesukaan di kulkas.Semua perhatian itu... perlahan mencairkan kebekuan di hati Salsa.....Suatu malam, saat mencari dokumen di lemari Roly, Salsa menemukan sebuah kotak kecil. Isinya surat-surat lama, potongan kertas bertuliskan puisi, dan yang paling mengejutkan: foto dirinya saat SMA .Di balik foto itu tertulis:"Kalau saja aku cukup berani, mungkin dia sudah jadi milikku sejak dulu."—RTangis Salsa pecah. Semua sikap menyebalkan Roly di masa lalu ternyata bukan karena benci, tapi karena... rasa suka yang tak bisa diungkap.....Salsa mendekati Roly malam itu, memperlihatkan foto tersebut."Jadi... semua ini... sejak SMA?"Roly menatapnya lama, lalu mengangguk. "Aku nggak pernah benci kamu, Sal. Aku cuma... nggak tahu caranya deketin kamu. Dan kamu terlalu keras kepala buat didekati dengan cara biasa.""Jadi kita bertahun-tahun buang waktu buat musuhan... padahal saling suka?" tanya Salsa, separuh tertawa, separuh menangis.Roly tersenyum. "Lebih baik telat dari pada nggak sama sekali, kan?"Dan untuk pertama kalinya, mereka berciuman. Bukan karena drama, bukan karena tuntutan, tapi karena cinta yang akhirnya menemukan jalannya.....Dua tahun kemudian, Salsa duduk di ruang tamu rumah mereka yang kini terasa benar-benar seperti "rumah." Di pangkuannya, seorang bayi laki-laki tertidur lelap.Roly datang membawa dua cangkir teh, mencium kening Salsa lalu duduk di sampingnya."Aku masih nggak percaya kalau kamu dulu musuh bebuyutanku," kata Salsa.Roly terkekeh. "Dan sekarang jadi cinta sejatimu?""Lebih dari itu... Kamu rumahku."Mereka tertawa kecil. Dunia boleh berubah, tapi satu hal takkan pernah berubah: cinta yang hadir setelah pertengkaran panjang, justru terasa paling dalam.....Kebahagiaan rumah tangga Salsa dan Roly sempat terasa sempurna. Namun, hidup tak pernah sesederhana itu. Sebuah pesan masuk ke ponsel Salsa, dari nomor tak dikenal."Lama tak bertemu. Aku masih ingat kita pernah punya rencana masa depan. Mau kopi sore ini?"Pengirimnya: Dion , mantan pacar Salsa yang dulu sempat berjanji menikahinya—sebelum menghilang tanpa kabar.Salsa terdiam lama. Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh. Dion adalah bagian dari masa lalunya yang tidak pernah ia pahami akhir ceritanya. Tapi dia juga sadar, sekarang dia sudah menjadi istri Roly .Sialnya, Roly melihat pesan itu malam harinya. Tak ada nada marah, hanya satu tatapan dingin yang membuat jantung Salsa mencelos."Dia... datang lagi?" tanya Roly pelan.Salsa mengangguk."Aku cuma mau tahu... kenapa dulu dia pergi," kata Salsa."Dan kamu pikir kamu berhak tahu, setelah kamu menikah sama aku?" Nada suara Roly berubah.Pertengkaran tak terhindarkan malam itu. Untuk pertama kalinya, mereka tidur dengan punggung saling membelakangi. Tak ada kata cinta. Tak ada pelukan pagi. Yang ada hanyalah dingin , dan luka yang terbuka kembali.....Salsa menemui Dion di sebuah kafe. Pertemuan singkat itu menjawab semua pertanyaan yang tertunda selama bertahun-tahun. Dion mengaku saat itu dia kabur karena dijodohkan oleh keluarganya ke luar negeri. Tapi kini, dia kembali—dan menyesal."Aku bisa memperbaiki semuanya. Kita bisa mulai dari awal."Salsa hanya menatapnya kosong."Maaf. Aku sudah menikah.""Tapi kamu nggak mencintai dia, kan?" desak Dion.Salsa terdiam. Sebuah bayangan muncul—Roly yang merawatnya saat demam, membelikan cokelat saat dia lelah, diam-diam menyelimutinya saat tertidur di sofa."Aku benci dia dulu... tapi sekarang aku takut kehilangan dia."Itulah jawabannya.....Salsa pulang dan mendapati rumah kosong. Tidak ada suara Roly. Tidak ada aroma kopi. Hanya keheningan yang menyesakkan.Di meja makan, ada sepucuk surat:"Aku pernah jadi pengecut waktu SMA—menyembunyikan perasaan dengan cara yang salah.Sekarang aku kembali jadi pengecut karena cemburu pada seseorang dari masa lalu kamu.Tapi yang paling aku takutkan...Kamu lebih memilih dia, bukan aku."– RolySalsa mengejarnya. Hujan deras malam itu tak menyurutkan langkahnya. Ia tahu ke mana harus mencari—apartemen lama Roly, tempat kenangan mereka dulu dimulai.Saat pintu dibuka, Roly berdiri di ambang pintu. Basah, lelah, dan... patah."Aku milikmu," ucap Salsa pelan. "Kalau aku pernah mencintai dia, itu dulu. Tapi kamu... kamu yang aku pilih sekarang. Dan besok. Dan setiap hari setelahnya."Malam itu mereka saling berpelukan. Tanpa suara. Hanya detak jantung yang menjawab.....Tak lama setelah konflik itu mereda, cobaan lain datang.Salsa keguguran.Kandungan yang baru berjalan dua bulan itu, hilang dalam satu malam penuh tangis dan darah. Roly yang saat itu sedang di luar kota, segera pulang dengan panik. Di rumah sakit, ia mendapati Salsa dengan mata bengkak dan tubuh lemah."Aku nggak bisa jadi ibu yang baik..." bisik Salsa, suara tercekat."Jangan pernah bilang begitu. Kamu kuat, Sal. Kita gagal sekali, bukan berarti gagal selamanya."Mereka melewati masa-masa berat itu bersama. Menangis di malam hari. Diam saat sarapan. Tapi perlahan, mereka bangkit. Bersama.....Setahun kemudian, Salsa hamil kembali. Tapi kali ini, ia memilih berhenti kerja sementara. Roly menolak awalnya—khawatir Salsa kehilangan jati diri. Tapi Salsa meyakinkannya."Aku ingin fokus. Kali ini aku ingin menikmati semuanya—bersama kamu."Di usia kandungan tujuh bulan, mereka pindah ke rumah baru. Tak besar, tapi hangat. Setiap sudutnya dipenuhi foto-foto mereka—dari SMA hingga kini.Roly bahkan membuatkan kamar bayi dengan tema langit malam, lengkap dengan bintang dan bulan di langit-langit."Biar anak kita tahu, dia datang ke dunia dengan cinta."....Tiga tahun kemudian, pagi di rumah kecil itu selalu ramai.Tawa seorang balita laki-laki, suara Roly yang cerewet soal popok, dan Salsa yang kini bekerja dari rumah sebagai konsultan kreatif—semua menyatu menjadi simfoni kebahagiaan.Suatu sore, mereka duduk di teras, seperti biasa."Dulu aku benci kamu setengah mati," kata Salsa sambil menyeruput teh."Dan sekarang?""Sekarang aku cinta kamu... seumur hidupku."Roly memeluknya dari samping. "Ternyata musuh terbesarku... adalah cinta terbesar dalam hidupku."~END~