Saudara ya?
Saat mendengar itu, aku langsung teringat kakakku. Dia benar benar orang yang kuat.
Sejak kami masih kecil, dia terus melindungiku. Rela dipukul Ayah demi menutupi kesalahanku, rela dicaci Ibu agar cacian Ibu tidak ditujukan untukku.
Tapi bukan berarti Ibu dan Ayah akan selalu memujiku. Kami sama sama tidak disukai mereka. Dan kami tidak tahu apa salah kami. Apakah karena kami terlahir ke dunia ini, atau karena kami hanya membebani mereka.
Kakak memutuskan untuk membawaku pergi dari rumah, dengan harapan agar kami terlepas dari siksaan ayah dan ibu. Tapi tak ada bedanya walau kami keluar dari rumah.
Ayah menyewa preman untuk membawa kami pulang, kami dihajar habis habisan dan diseret pulang. Lalu kami kabur lagi. Seperti itu terus berulang.
Sampai kami berhasil keluar kota tanpa meninggalkan jejak untuk para preman itu.
Kakak sangat memikirkanku. Di tengah malam saat kakak sudah tertidur lelap, aku menangis tanpa suara. Dia sangat menderita, dan itu hanya untuk melindungiku. Aku ingin membantunya, aku ingin meringankan bebannya. Tapi dia selalu menolak, dan akan memarahiku saat aku nekat menolongnya.
Dia bahkan berhenti sekolah untuk terus membiayai sekolahku, bekerja dari pagi sampai malam setiap hari dengan gaji yang pas pasan.
Aku pernah mendatangi kakak saat dia bekerja, dan pemandangan tak mengenakan yang terlihat olehku. Lagi lagi kakak mendapatkan cacian dari orang sekitarnya. Dari teman serekannya, managernya, bahkan pelanggannya.
Dan bodohnya aku, aku hanya bisa terdiam dengan air mata yang mengalir, lalu lekas bersembunyi saat kakak hampir melihatku.
Setiap makan malam aku bertanya padanya "apa kakak benar benar tidak mau aku membantumu?"
Dan dia hanya tersenyum manis sambil mengusap kepalaku "kamu tidak perlu mengkhawatirkan kakak, semua ini tidak berat untuk kakak"
Dia tertawa, membuatku juga menarik tawaku dengan hati yang sakit.
Suatu hari saat kakak akan berangkat bekerja aku mengatakan suatu hal padanya "kakak, kamu tidak perlu menanggung beban yang berat sendirian. Aku ada disini, disisimu"
Kakak tersenyum dan mengusap kepalaku. Tapi siapa yang sangka kalu itu adalah senyuman dan usapan terakhir darinya?
Aku diberitahukan bahwa kakakku telah tewas terbunuh akibat peluru tanpa arah.
Hahhhh... Mengesalkan!
Bagaimana bisa selama 17 tahun aku hidup dan aku tidak pernah melihat kakakku menangis?
Dua hari setelah kematian kakak, bos ditempat kerjanya menghampiriku dan memberikan sebuah amplop. Di dalam amplop itu terdapat sebuah surat dan uang. Kata bos, uang itu adalah tabungan kakakku yang dititipkan padanya.
Bahkan dari suratnya, tidak ada satu katapun yang menjelaskan betapa kesusahannya dia. Dia hanya mengkhawatirkanku, dan berkata aku harus hidup lebih baik.
Hei kak! Apa bahkan kau tidak bisa meluapkan kesedihanmu bahkan setelah kau tiada?!
Aku meremas kesal surat itu. Kalimat terakhirnya mengatakan dengan jelas apa yang dia rasakan selama ini.
'Yahh... Kamu tidak akan tau kapan kamu pergi ya hahaha.. Kakak tidak mau membuatmu sedih, semua cacian, pukulan, hinaan, ejekan, atau apapun itu tidak lebih berat daripada melihatmu merasa sedih, kamu harus bahagia, Shou'
Waktu yang kuhabiskan diseluruh tengah malamku adalah bersedih kak. Apa kamu keberatan saat aku mengkhawatirkanmu? Sebegitu kamu tidak maunya melibatkanku dalam masalahmu?!
Hufff ... Setelah 3 tahun kematian kakak, ayah menemukan keberadaanku. Dia marah, sangat sangat marah. Tapi juga tersirat kesedihan dalam matanya.
Ternyata selama kami kabur dari rumah dan tak pernah kembali lagi, ibu mulai sakit sakitan. Ayah bilang, semua malam ibu dihabiskan untuk menangis dan meminta maaf pada aku dan kakak dengan menyebut nama kami.
Aku tidak harus memberikan reaksi seperti apa, karena aku tidak merasa senang atau pun sedih dengan kabar itu.
Saat ayah menyadari bahwa kakakku tidak terlihat, aku mengatakan dengan mata berkaca bahwa kakak sudah meninggal 3 tahun lalu.
Ayah tidak bereaksi, duduknya yang awalnya tegap, mulai merosot lemah. Matanya menyiratkan penyesalan. Tapi kami tidak bisa berbuat apapun.
Setelah 3 hari ayah menginap di rumahku, ia membujukku untuk pulang menemui ibu dengan lembut. Tapi yang terlintas dalam benakku adalah _'itu sudah terlambat kan?'_
Aku menolaknya, dengan alasan aku bekerja. Dan berjanji akan menemui ibu kapan kapan. Tapi dalam hati pun aku ragu, apa aku sanggup pulang kerumah? Rumah dimana awal semua beban kakak tertimbun, rumah dari rasa sedih, kesal, marah, dan benci kakak yang tertimbun dengan dedaunan gugur.
Aku ingin berkunjung sekali, tapi aku takut melihat bayanganku saat kecil yang tidak bisa apa apa dan hanya memberatkan kakak.
Tapi bertahun tahun kemudian waktu berlalu, aku sudah bisa berdamai dengan masa lalu.
"Kak, lihatlah keponakanmu yang lucu ini, mereka hidup lebih bahagia daripada kita kak. Ayah dan ibu juga memperlakukan mereka dengan baik. Mereka kakek dan nenek yang baik. Apa kau bahagia melihat ini kak? Apa bebanmu mulai runtuh?
Entah bagaimana, buku diari dan surat terakhir kakak benar benar terwujud. Kakak menaruh impian yang sangat besar kepadaku. Dia mengabaikan kebahagiaannya demi kesuksesanku, dia merawat mentalku dari cacian orang orang.
Kak, kamu adalah seorang anak yang luar biasa. Kamu adalah pahlawan yang menyelamatkan hidupku walau masa remajamu terlewatkan.
Aku harap dikehidupan berikutnya, kamu bisa hidup dengan penuh kebahagiaan tanpa ada rasa yang tertimbun lagi.
Dari adikmu, Shou.
[ E N D ]