Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Buku Kosong dan Nenek Pendongeng
"Bisakah kau membawaku ke duniamu?" tuntutku penuh harap pada seorang wanita tua yang menjadi penjaga perpustakaan desa.Wanita itu sering dipanggil Nenek Pendongeng dan rumor mengatakan kalau ia berasal dari negeri dongeng. Namun, bagiku yang sudah lama menghabiskan waktu bersamanya, Nenek Pendongeng memang berasal dari negeri dongeng.Si Nenek Pendongeng tersenyum sendu atas pertanyaanku, ia lalu balas bertanya, "Apa kau yakin Ilona?"Aku mengangguk mantap. "Dunia ini terlalu terkutuk," keluhku.Tawa si Nenek Pendongeng seketika menggema renyah.Aku tidak peduli ia mengolokku. Apa yang kukatakan memang benar adanya. Jadi tanpa menunggu tawanya selesai, aku melanjutkan penjelasanku. "Di sini tidak ada makhluk indah yang benar-benar pantas dipuja. Orang-orang yang enak dipandangi, semuanya menyebalkan. Tumbuhan yang kulihat juga tidak begitu ajaib, hewannya tidak bisa bicara, dan pemandangannya biasa saja. Berbeda dengan dunia yang sering kau ceritakan. Aku ingin melihat rumah para peri, bermain dengan kelinci raksasa, mengunjungi pangeran di kastil megahnya—""Kau mendambahkan pangeran di usiamu yang bahkan baru 11 tahun?" Nenek Pendongeng berdecak. "Sepertinya aku sudah salah memilih cerita untukmu."Aku menggeleng keras. "Kau justru membuat hariku tidak terasa terlalu mengerikan. Kau tahu sendiri betapa menyebalkannya desa ini."Sekali lagi senyum sendu terlukis di wajah si Nenek Pendongeng. "Kau agak salah paham, Ilona. Di negeriku juga ada banyak hal yang tidak menyenangkan. Bahkan bisa dikatakan tempatku justru lebih terkutuk dari dunia ini.""Masalahnya, aku tidak cocok dengan dunia ini. Ia dengan rajin memberiku banyak hal tak menyenangkan, seakan ingin mengusirku. Aku juga tak begitu menyukai semua kenormalan membosankannya," protesku. "Sedangkan di negerimu, orang-orang sepertiku pasti akan sangat betah. Seperti kisah tentang gadis penjaga gerbang dengan teko retak dan cangkir bocor yang selalu terisi penuh, lalu kisah bocah traumatis dan para peri mimpi, ada juga Negeri Sayap dengan rumah dan perabotan yang bersayap."Nenek Pendongeng berdeham untuk menghentikan ocehanku, kemudian ia sendiri mulai berceloteh. "Kalaupun kau pergi ke sana, kau tidak akan menemukan semua itu. Cara kerja negeriku agak berbeda. Setiap jiwa yang menjelajahi tempat itu akan disuguhkan hal berbeda.""Itu lebih bagus lagi," pekikku semangat. "Makhluk fantasi dan tempat luar biasa yang hanya untukku. Luar biasa. Kapan kita bisa berangkat? Aku sudah melakukan banyak kebaikan. Aku membantu setiap orang yang kutemui meski aku tak begitu ingin. Aku juga memasang senyum ramah hampir setiap saat hingga wajahku pegal. Harusnya aku sudah memenuhi syarat untuk menjadi penjelajah dongeng seperti yang sering kau ceritakan."Nenek Pendongeng menghembuskan nafas berat. "Sayangnya kau masih belum memenuhi syarat, Ilona. Namun, kalau kau tetap berkeras, akan tiba masanya di mana kau akan ke negeri itu. Saat kisahmu sudah memenuhi syarat untuk diceritakan, setetes air mata emas akan membukakan jalan bagi api tiga warna yang datang menjemputmu. Hingga saat itu tiba, jagalah buku ini.""Buku?" tuntuku tak percaya seraya menerima sebuah buku tebal yang disodorkan si Nenek Pendongeng. Saat kubuka, buku itu hanya berisi lembaran-lembaran kosong dari awal hingga akhir. "Untuk apa pula ini? Kenapa aku belum memenuhi syarat? Hidupku sudah menderita, aku sudah berusaha menjadi gadis baik, apa lagi yang kurang?""Suatu hari, Ilona. Suatu hari nanti kau akan menemukan sendiri jawabannya. Kau akan melihat suatu syarat yang belum kau pahami sekarang."Nenek Pendongeng tidak terdengar senang. Aku yakin ia enggan membagi negeri ajaibnya dengan siapapun. Aku pun pasti akan begitu jika menjadi dirinya."Lalu untuk apa buku ini?" tuntutku sedikit kesal. "Apa ini sejenis buku petunjuk? Kunci? Atau mungkin portal? Atau—""Kau akan tahu nanti."Nenek Pendongeng tersenyum aneh sebelum melanjutkan dengan suara misteriusnyayang amat kusukai. "Kau ingat saat orang-orang mencemoo negeriku sebagaidongeng yang hanya ada di dalam buku? Mereka tidak sepenuhnya salah."
Suara Cilo
Suara CiloCilo adalah peri berambut keriting dengan pipi tembem. Dia sangat lucu dan juga ramah. Jika bicara, suaranya halus bahkan hampir tidak terdengar. Semua teman-temannya menyukai Cilo, kecuali satu kurcaci di ujung hutan."Cilo, kita butuh banyak jamur untuk membuat asinan pesanan Ratu. Kita harus pergi ke ujung hutan dimana kurcaci Mozi menanamnya," kata peri Tita suatu pagi."Baik Tita, ayo kita mengambilnya ke sana!""Apa katamu?" Tita menatap sahabatnya."Ayo kita mengambilnya sekarang juga." Cilo berbisik di telinga Tita"Tapi, ini masih sangat pagi.""Tidak apa-apa, ayo!"Cilo dan Tita terbang menuju ujung hutan dengan membawa keranjang jamur.Tanaman jamur milik Mozi Kurcaci tampak sangat indah dengan macam-macam bentuk dan warna."Ratu menyukai jamur yang merah ini, Cilo!" Teriak Tita ketika sampai di kebun jamur."Tunggu Tita! Sebaiknya kita menemui Tuan Mozi dulu.""Apa katamu?" Tita menoleh."Kita harus mencari Tuan Mozi dulu," ulang Cilo."Cilo, kalau bicara itu yang keras aku nggak mendengar!" Teriak Tita sambil memasukkan jamur pada keranjang.Cilo hanya melongo dan tidak bicara lagi."Hai sedang apa kalian di sana!" Teriakan bergema mengegetkan kedua peri yang sedang asyik memanen jamur itu.Seorang kurcaci datang dengan wajah marah."Letakkan jamur itu!" Teriaknya nyaring.Cilo dan tita saling berpandangan. Keduanya sepakat untuk turun dan meletakkan keranjang jamur."Maaf anda siapa?" Tanya Tita heran."Aku Lilo, penjaga kebun jamur Tuan Mozi. Kalian mencuri ya?!" Lilo kurcaci melotot."Maaf, Tuan Lilo. Kami tak bermaksud mencuri. Kami membutuhkan jamur ini untuk membuat asinan pesanan ratu." Tita mencoba menjelaskan.Lilo melirik Cilo yang tak bicara sedikit pun. "Kalau butuh saja kalian datang! Kalian ini peri sombong!"Tita dan Cilo saling bertatapan dengan cemas."Maaf Tuan, kenapa bilang kami sombong?" Tanya Tita."Tanya saja sama dia!" Seru Lilo melirik Cilo yang langsung memerah pipinya."Cilo ada apa?" Tanta Tita menatap sahabatnya. Cilo menggeleng dan mengangkat kedua tangannya."Pulang saja kalian! Aku tak sudi memberikan jamur ini untuk peri sombong!" Lilo pergi sambil membawa keranjang jamur milik Tita dan Cilo."Cilo, apa yang telah kau lakukan?" Kembali Tita menatap sahabatnya.Cilo hanya merenung sambil duduk di salah satu jamur."Kau beberapa hari yang lalu kemana saja?" Tita mencoba membuka ingatan Cilo."Aku hanya mengantar asinan jamur. Memang itu kan pekerjaanku!""Apa kau bertemu Tuan Lilo!" Tita bertanya lagi.Cilo mondar mandir sambil mengingat ingat."Aku mengantarkan asinan terakhir ke ke rumah Nyonya Min. Eits tunggu, aku ingat!""Ingat apa?""Iya aku bertemu Tuan Lilo dan Lian anaknya!""Dimana?""Di jalan sebelum ke rumah Nyonya Min.""Lalu?""Saat itu hujan. Tuan Lilo dan Lian memesan asinan juga. Aku bilang kalau asinannya habis, itu saja."Tita mengernyitkan dahi."Kenapa Tuan Lilo marah? Apa karena asinannya habis? Tapi kan tidak perlu marah.""Aku juga tidak tahu.""Ayo kita datangi dia lagi!" Seru Tita menarik tangan Cilo.Tampak tuan Lilo sedang merapikan jamur yang dipetik mereka berdua ke freezer."Tuan, apa kau marah karena asinan jamurnya habis waktu itu?" Tanya Tita."Kalau habis aku maklumi. Temanmu itu yang kelewat sombong!" Tuan Lilo tak menjawab tanpa menoleh.Tita menatap Cilo."Kenapa Tuan menganggap saya sombong? Saya kan bilang kalau asinannya habis, jadi maaf kami tidak bisa mengantarkan pesanan Tuan.""Apa katamu? Aku tidak dengar," kata Tuan Lilo menoleh."Cilo bilang asinannya waktu itu habis. Dia bilang maaf tidak bisa mengantarkan pesanan hari itu ke rumah Tuan." Tita mengulang ucapan Cilo."Oh jadi begitu? Aku tahu sekarang. Kau ini peri dengan suara yang sangat pelan bahkan dalam jarak dekat begini. Tahukah kamu, aku dan anakku Lian menunggumu lama sekali dalam kondisi kelaparan waktu itu. Kau tidak datang!"Cilo betul-betul kaget."Maafkan aku Tuan Lilo. Aku benar-benar minta maaf," ucapnya dengan penuh penyesalan."Apa katamu?""Maafkan aku, Tuan Lilo!" Cilo berkata sambil berteriak. Teriakannya itu bergema di seluruh kebun jamur mengagetkan banyak binatang yang masih tidur. Seluruh binatang menatap mereka dengan kaget."Cilo?" Tita merangkul sahabatnya."Itulah suaraku kalau berteriak. Aku hanya akan mengganggu tidur para binatang dan juga teman-teman." Cilo menunduk."Cilo, maafkan aku. Aku hanya salah paham, kukira kamu peri sombong yang tak mau bicara," ucap Lilo kurcaci."Jadi, bolehkah kami mengambil jamurnya?" Tanya Tita dengan mata berbinar."Silakan. Tapi ada syaratnya." Tuan Lilo menatap mereka."Apa itu?""Antarkan aku asinan jamurnya." Kurcaci Lilo tersenyum."Baik, Tuan!" Teriak Cilo yang disambut tawa Tita dan Lilo.===========================Hai hai Readers! Apa kabarnya?😊Maaf baru updet lagi, saya sedang sedikit sibuk menyelesaikan beberapa deadline menulis buku.Selamat mendongeng ya, terima kasih banyak.😊😘
My Handsome Manager
My Handsome Manager"Sa, hari ini ada tiga pemotretan ya. Jadi mending lo makan dulu, siapin tenaga" Ucap Lian"Lemes nihhh, butuh ciuman mas dulu baru semangat" Goda Salsa"Gausah mulai gatelnya bisa!" Omel Lian"Ish, jahat banget di katain gatel!" Balas Salsa sembari meninggalkan Lian"Hadeuhh bocil, bocil!" Monolog LianSalsadila Prameswari, seorang model cantik terkenal berusia dua puluh satu tahun. Salsa tinggal seorang diri di Indonesia, karena kedua orang tuanya memilih menetap di Belanda.Salsa sendiri merupakan gadis yang sangat cantik dan tengah naik daun. Karirnya melambung tinggi hingga menjadi model paling mahal di management yang menaunginya. Banyak laki-laki yang mencoba mendekati Salsa, namun gadis itu justru menyukai manager nya sendiri yang bernama Lian.Lian Pramudya Raksa, seorang pria tampan berusia dua puluh enam tahun. Lian sendiri merupakan anak dari pemilik management tempat Salsa bernaung. Sudah banyak model yang sukses di bawah naungan Management keluarga Lian.Walaupun hidupnya di kelilingi banyak wanita cantik, tidak membuat Lian menjadi pria yang suka berganti pacar. Lian justru sangat pendiam dan hampir tidak pernah berpacaran dengan model-model di bawah naungannya.Di goda oleh banyak perempuan seperti Salsa pun Lian sudah biasa, dan itu tak membuatnya baper sama sekali ataupun memanfaatkan perempuan-perempuan itu.Itulah salah satu hal yang membuat Salsa makin tergila-gila dengan Lian. Selain tampan, Lian juga tidak gila perempuan. Namun sepertinya rasa suka Salsa bertepuk sebelah tangan. Banyak kabar beredar, jika Lian justru menyukai gadis cantik bernama Clara.Clara anandita, sesama model cantik namun tak begitu terkenal. Clara sendiri sudah menjadi saingan Salsa sejak dulu. Clara selalu iri pada Salsa karena Salsa selalu lebih unggul darinya. Maka dari itu, Salsa dan Clara sama sekali tak pernah akur sejak awal mereka menitih karir di dunia modeling hingga kini mereka harus bernaung di management yang sama dan manager yang sama."Sa, profesional dong. Gausah ngambek gitu" Ucap Lian"Mas jahat sih, ngatain aku gatel" Balas Salsa"Yaudah iya maaf, maaf ya Sasa. Gue gak bermaksud ngatain lo gitu kok" Ucap Lian"Beliin coklat dulu! Baru gue maafin" Balas Salsa"Iyaa, sekalian jalan nanti gue beliin coklat ya. Sekarang siap-siap dulu yuk" Bujuk Lian"Yeayy, makasih Gantengnya Sasaaaa" Ucap Salsa"Iya, yaudah yukk" Ajak Lian"Gandenggg" Rengek SalsaLian menghembuskan nafasnya, lalu menggandeng Salsa. Lian tak ingin merusak mood Salsa, karena hari ini Salsa akan melakukan photoshoot dengan brand besar. Kalo Salsa bad mood dan enggan melakukan photoshoot, Lian lah yang akan riweuh sendiri nantinya.***"Hay Cantik, Apa kabar?" Tanya seorang model pria"Hay Mark, gue baik. Lo apa sendiri apa kabar?" Tanya Salsa"Seperti yang lo lihat, gue baik-baik aja" Balas MarkSalsa tersenyum manis menanggapi jawaban Mark"Makin cantik aja sih, tiap hari lo makan apa emang?" Tanya Mark"Makasih ya Mark, gue emang cantik sih. Gue makan ya seperti manusia pada umumnya kok, gue - ""Eh, sorry Cla. Pertanyaan gue tadi buat Sasa, bukan buat Lo" Ucap Mark menanggapi ClaraPasalnya Clara tiba-tiba masuk dan menjawab pertanyaan Mark untuk Salsa."Ppffttt, malu sih kalo gue" Timpal Salsa menahan tawanya"Ck, kurang ajar lo!" Balas Clara lalu pergi dari hadapan Salsa dan MarkLian yang melihat itu justru menatap sinis ke arah Salsa lalu menyusul Clara.Clara memang sangat menyukai Mark. Pria tampan yang menjadi salah satu model di management mereka. Mereka bak cinta segiempat, dimana Salsa menyukai Lian, Lian menyukai Clara dan Clara sangat menyukai Mark.Namun Clara tau jika Salsa menyukai Lian, dia sering kali memanasi Salsa dengan menarik perhatian Lian. Dan Salsa pun tak ingin kalah, ia selalu mendekati Mark saat Clara mencoba memanasinya dengan Lian.Saat Salsa tengah asyik berbincang dengan Mark. Tiba-tiba Lian menarik lengan Salsa sedikit kencang"Apaan sih! Sakit tau!" Ucap Salsa"Clara marah! Minta maaf sekarang ke dia! Dia nangis Salsa!" Tegas Lian"Apa urusannya sama gue! Dia nya aja yang lebay!" Balas Salsa"Jelas-jelas lo yang salah! Lo yang bikin dia nangis!" Balas Lian"Mas! Gue emang suka ya sama lo! Tapi lo jangan seenaknya gini dong!""Buka mata lo lebar-lebar! Clara itu suka sama Mark! Dan Mark gak suka sama dia! Mark yang bikin Clara nangis bukan gue!" Bentak SalsaLian sedikit terkejut saat Salsa membentaknya"Yang Sasa omongin tuh bener Mas! Bukan salah dia, tapi gue""Biar gue nanti yang minta maaf sama Clara" Ucap Mark"Gausah Mark, dia emang ratu drama. Gak tenang kalo sehari aja gak caper! Pantes gak laku, jelek begitu attitudenya!""Mending kita ke mall yuk, makan, main game, belanja. Lebih seru tuh" Balas Salsa"Boleh deh, yuk. Kapan lagi bisa hangout sama cewek secantik Sasa hahaha" Balas Mark lalu menggandeng Salsa"Lo urus aja sono drama queen lo itu!" Ucap Salsa sinis saat melewati LianLian membeku menatap kepergian Salsa. Lian bukan kesal karena Salsa menghina Clara, namun entah mengapa Lian tidak suka saat Mark menggandeng mesra tangan Salsa. Bukannya selama ini hanya dia yang bisa menggandeng Salsa, namun kini Mark dengan beraninya menggandeng tangan mungil itu di depannya.Lian juga merasa bersalah telah menyalahkan Salsa atas kesedihan Clara. Namun Lian juga tak bisa melihat Clara bersedih, dan dia hanya ingin menuruti permintaan Clara yang meminta Salsa untuk mengucapkan maaf padanya.***Lian yang hendak menggandeng Salsa, segera gadis itu tepis lalu jalan lebih dulu di depan Lian"Gue bisa jalan sendiri" Ucap SalsaLian menghela nafasnya lalu mengikuti Salsa masuk ke dalam mobil"Sa, jangan marah lagi ya. Please, gue minta maaf. Udah tiga hari loh, lo diemin gue. Gak kangen emang sama gue?" Tanya LianSalsa masih saja diam tak menanggapi Lian. Salsa justru sibuk bermain dengan ponselnya. Lian yang geram pun merebut ponsel Salsa"Ishh! Balikin hp gue!" Ucap Salsa"Gamau! Karena lo nakal! Lo gak dengerin gue ngomong dari tadi!" Balas Lian"Gue dengerin! Mana sini hp gue!" Balas SalsaLian menatap layar ponsel Salsa"Ohh, ternyata lagi sibuk chatan sama Mark" Ucap Lian"Iya, mana sini. Kasian itu nanti kalo gak di bales" Balas Salsa"Sa, gue yang di depan lo gak lo dengerin. Tapi chat Mark gaboleh telat sedetik pun untuk lo bales? Lo semarah itu sama gue?" Tanya Lian kesalSalsa menghembuskan nafasnya lalu menatap Lian"Gue emang marah, gue kesel sama lo! Tapi gue sadar, gue bukan siapa-siapa Lo Mas. Semua orang juga tau lo suka sama Clara, yang lo lakuin kemarin emang wajar kok. Jadi ngapain gue harus marah?" Tanya SalsaLian merasa heran dengan jawaban Salsa, dia benar-benar terkejut dengan jawaban yang tenang dari Salsa."Sa, maafin gue. Please jangan gini dong. Gue lebih suka lo yang manja sama gue dari pada lo diem gini. Gue minta maaf yaa, gue janji kedepannya gue gak akan belain Clara berlebihan lagi" Balas Lian"Mas - ""Please Sa, maafin gue. Jangan diemin gue lagi yaa. Anggap gue abang lo, lo bisa manja sama gue seperti dulu. Pleaseee" Ucap Lian sembari menggenggam tangan SalsaSalsa tersenyum, rencana nya berhasil membuat Lian merasa bersalah."Yaudah, gue maafin. Tapi beliin - ""Coklat, ice cream, sushi? Apalagi? Gue siap beliin semuanya buat lo" Balas Lian"Hahaha yaudah ayo ke mall, beli coklat, ice cream, dan sushi" Balas Salsa terkekeh"Sa? Beneran?" Tanya Lian"Iya gantengnya Sasa, yukk" Balas SalsaLian memeluk Salsa erat"Makasih ya cantik, udah di maafin" Ucap Lian"Eitss belum lah, kan belum ada coklat, ice cream dan sushinya. Nanti kalo udah ada baru di maafin" Balas Salsa"Hahaha iya iya, legooo ke Mall. Sekalian reward buat si cantik yang sukses photoshoot hari ini" Ucap Lian"Sasa gitu lohhh, brand mana yang gak puas sama kecantikan Sasa hahahaha" Balas Salsa"Hahaha dasar jumawa" Ledek Lian***"Hay, Gantengnya Sasaa" Ucap Salsa"Akhirnya dateng juga! Udah di tungguin dari tadi juga""Udah ayo, buruan. Keburu Klien marah nungguin lo kelamaan Sa" Omel Lian"Ish, apasih! Udah kali. Kliennya malah udah pergi" Balas Salsa"Maksud lo?" Tanya Lian"Gue udah tanda tangan kontrak sama mereka dan sekarang mereka udah pergi dari kantor" Balas Salsa"Hah? Sama siapa? Kok lo gak nungguin gue sih!" Omel Lian"Sama Bapak Raksaaaaaa, ayah kandung andaaa tuan Lian" Balas Salsa"Sama Papa?" Tanya Lian"Iyaaaa, dan sekarang Pak Raksa pergi sama kliennya makan siang" Balas Salsa"Huft, syukur lah!""Bandel banget sih, di bilang jangan telat juga" Omel Lian"Macet sayang! Kaya gatau Jakarta aja. Lagian gak di jemput sih" Balas Salsa"Ya maaf, kan mobil gue masih di bengkel. Gue aja nebeng Papa ke kantor" Balas Lian"Yaudah gapapa" Balas Salsa"Makan siang dulu yuk" Ajak Lian"Gamau, lagi gak laper" Balas Salsa"Terus maunya apa?" Tanya LianTanpa aba-aba Salsa duduk di pangkuan Lian yang tengah fokus dengan laptopnya"Mau kamu" Ucap Salsa mesra"Astaga Saaa""Sa, gue ini laki-laki dewasa yang normal! Lo duduk di pangkuan gue, dengan rok mini dan pakaian sabrina lo ini lama-lama bisa mancing nafsu gue tau gak! Berdiri sekarang!" Tegas Lian"Gamau, masih mau begini" Balas Salsa yang sudah menyenderkan kepalanya pada bahu Lian"Sa, ini di kantor! Nanti kalo ada yang tiba-tiba masuk gimana!" Omel Lian"Udah gue kunci pintunya" Balas Salsa"Hah? Astagaaaa nih bocah bener-bener ya!" Omel LianCupSalsa mengecup bibir Lian sekilas"Jangan ngomel terus sayang, nanti gantengnya ilang" Balas SalsaSalsa memang tak pernah malu menunjukkan rasa cintanya pada Lian. Apa itu mencintai dalam diam? Salsa bukan tipe perempuan seperti itu, Salsa akan ugal-ugalan untuk menaklukan dan mendapatkan cinta Lian."Heh! Nakal banget sih, tiba-tiba nyium bibir or - "Belum sempat Lian menyelesaikan ucapannya. Salsa lebih dulu membungkam bibir Lian. Salsa melumat bibir laki-laki itu dengan lembut hingga Lian berhasil terpancing dan mulai membalas ciuman Salsa. Ciuman mereka yang awalnya lembut, kini mulai terasa panas. Lian bahkan mulai beralih menciumi leher mulus Salsa dan perlahan menarik baju Salsa dan membuka bra gadis itu."Eughh Mashh Liannhh" Lenguh Salsa saat Lian sibuk menyesap nipple SalsaLian dan Salsa sama-sama terbawa suasana hingga kini Lian sudah menyesap kedua Dada Salsa dan memainkannya secara bergantian.Tangan Lian yang semula mengusap paha mulus Salsa mulai naik dan menyentuh milik Salsa. Salsa semakin gelisah berada di atas pangkuan Lian hingga membuat milik Lian dan miliknya bersentuhan."Ahh Sahh, jangan banyak gerakkk" Desah LianSaat Lian hendak bermain lebih dalam dengan milik Salsa. Salsa tiba-tiba bangkit dari pangkuan Lian"Kenapa?" Tanya Lian heran"Punya kamu ganjel banget. Gaenak di dudukin" Balas Salsa yang langsung jongkok di hadapan LianLian paham apa yang akan gadis itu lakukan, ia tersenyum sembari menikmati permainan tangan dan mulut Salsa memanjakan miliknya.Lian benar-benar terhanyut dalam permainan Salsa. Ini baru pertama kalinya mereka bermain sejauh ini. Biasanya, Salsa dan Lian hanya saling mencium pipi dan bibir walaupun status mereka hanya manager dan model."Ahh enakk sahh, terushh ahhh""Shitt!!! Enakhh Saaa, lebihh cepathhh" Desah LianNamun saat Lian akan mencapai puncak, Salsa tiba-tiba menghentikkan permainannya"Shitt!! Kenapa berhentiii!!!" Omel Lian"Hahahaha bilang dulu, cantikkan gue atau Clara?" Tanya Salsa"Cantikkan lo Sa, lo paling cantik!! Ayo selesaiin permainan lo! Gue mau sampai Sasaaaa" Omel Lian"Hahaha okee sayang" Balas Salsa terkekehLian mengusap bibir Salsa yang terdapat sisa cairan pelepasannya. Ya, gadis itu berhasil membuat Lian merasakan pelepasan pertama kali dibantu oleh seorang wanita."Nakal banget sih" Ucap Lian"Hahaha kan sekalian kenalan sama punya kamu" Balas SalsaMuka Lian tiba-tiba cemberut"Udah sering ya begini sama cowok lain?" Tanya Lian"Ish, enak aja! Baru punya kamu ya, aku gapernah begituan sama siapapun termasuk mantan-mantan aku!" Balas Salsa"Berarti gue yang pertama?" Tanya Lian"Iya lah, kamu yang pertama nen ke aku, kamu yang pertama aku servis dengan baik dan apa kamu juga mau jadi yang pertama untuk buka segelan yang bawah? Hhmm?" Goda SalsaLian tersenyum lalu menggendong Salsa ke dan mendudukkan gadis itu di atas meja kerjanya"Kamu dari tadi nakal banget sih! Mancing-mancing terus! Jangan salahin aku ya kalo aku beneran buka segelan kamu" Balas Lian"Gak akan aku salahin sayang" Ucap Salsa tersenyumLian mulai kembali melumat bibir Salsa, sembari tangannya mencoba membuka celana dalam Salsa. Dan saat celana dalam Salsa terlepas, Lian mulai memainkan jarinya diatas milik Salsa"Ahhh" Desah SalsaLian melakukan hal yang sama seperti yang Salsa lakukan padanya. Hingga gadis itu pun berhasil mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya. Lian menghisap habis cairan milik Salsa dan membuat perempuan itu kembali menggelinjang kegelian karena ulah LianLian terkekeh melihat wajah Salsa yang lemas lalu ia kecup kening Salsa"Udah capeknya? Aku mau langsung ke inti" Ucap Lian sembari mengusap peluh Salsa"Boleh, lanjut aja" Balas SalsaLian tersenyum lalu mulai menggesekkan miliknya pada milik Salsa. Namun, saat Lian hendak mendorong masuk miliknya. Suara ketukan pintu membuyarkan mereka berdua"Ah shittt!!!" Umpat Lian"Udah cepetan rapihin baju kamu. Aku pake baju di kamar mandi aja" Balas Salsa lalu kabur masuk ke dalam kamar mandiLian membuka pintu ruangannya dan melihat ternyata Clara di depan ruangannya"Eh, hay Cla? Kenapa?" Tanya Lian"Gapapa, cuma tadi kaya denger suara Salsa di dalam. Kalian gak ngapa-ngapain kan?" Tanya Clara"Mana ada? Sasa ikut Papa meeting sama klien. Aku sendirian dari tadi di ruangan" Balas Lian gugup"Oh okee. Berarti Sasa gak di kantor kan?" Tanya Clara"Gak, aman. Kenapa?" Tanya Lian"Gapapa. Gue mau ngajak Mark ke Mall. Gue takut aja Salsa ganggu gue" Balas ClaraLian menghembuskan nafasnya"Sama aku aja yuk" Ajak Lian"Gak deh, orang maunya sama Mark. Bye" Balas ClaraSetelah kepergian Clara, Lian menutup pintunya dengan sedikit kesal."Siapa?" Tanya Salsa lalu keluar dari kamar mandi"Clara" Balas Lian"Ohh, kenapa emang?" Tanya Salsa"Dia mau ngajak Mark keluar ke Mall" Balas Lian kesal"Ohh, cemburu? Yaudah ikut sana" Balas Salsa kesalLian tersenyum lalu mendekat ke arah Salsa"Sa, makasih ya tadi udah nyenengin gue. Lo mau bikin gue seneng lagi gak?" Tanya Lian"Ngapain? Lanjutin yang tadi? Hhmm?" Goda Salsa"Gak, bukan. Gue udah gak mood!""Bantuin gue, lo ajak Mark kemana kek. Biar Clara gak jadi keluar sama Mark dan minta gue yang temenin dia ke Mall. Jadi gue bisa keluar sama Clara dan punya waktu berdua sama dia" Ucap LianHati Salsa rasanya remuk setelah mendengar ucapan Lian. Salsa sudah berkorban memberikan tubuhnya pada Lian, namun ternyata laki-laki itu masih saja mengharapkan Clara.Tanpa menjawab ucapan Lian, Salsa mengambil tasnya lalu meninggalkan Lian."Sa? Lo mau kemana? Sasa???" Ucap Lian menahan Salsa"Gue gak habis pikir sama lo! Setelah gue kasih tubuh gue sama lo cuma-cuma tapi dengan gampangnya lo nyuruh gue pergi sama laki-laki lain demi Clara!""Otak lo dimana Lian! Setidaknya lo hargai perasaan gue sedikit aja brengsek!""Emang harusnya dari awal gue gapernah ngejar-ngejar lo! Karena sampai kapan pun cuma Clara yang ada di mata dan hati lo! Gue gak akan pernah menang dari Clara buat dapet ruang di hati lo!" Tegas Salsa lalu pergi meninggalkan Lian begitu sajaLian mematung mendengar ucapan Salsa. Apa dia sudah ketelaluan pada Salsa, hingga gadis itu benar-benar kecewa padanya sekarang.***Kini Lian sudah berada di dalam apartemen Salsa. Sudah seminggu semenjak kejadian di kantor, Salsa benar-benar mendiami Lian. Dan hari ini, Salsa terpaksa harus mengizinkan Lian datang ke apartemennya karena ia juga butuh bantuan untuk take video Endorse dari beberapa brand.Lian yang melihat Salsa tengah bersiap di kamarnya pun segera masuk sembari membawa bucket yang berisi bunga dan coklat."Maafin gue Sa, gue tau gue salah. Jangan diemin gue lagi" Bujuk Lian sembari menyodorkan bucket coklat"Gue gak butuh coklat lo" Balas Salsa sembari merias wajahnyaLian yang sudah tak tahan pun duduk tepar di sebelah Salsa lalu memeluk Salsa dengan erat."Please maafin gue Sa, jangan bersikap seperti ini Sa. Gue gamau" Ucap LianSalsa menghembuskan nafas lalu mendorong tubuh Lian"Maksud lo apa sih Mas! Jangan plin-plan dong jadi laki! Lo suka kan sama Clara? Terus ngapain lo masih bersikap begini sama gue? Emang gabisa ya kalo kita bersikap profesional aja?""Jangan bikin gue bimbang dan makin berharap sama lo! Ucapan lo itu seakan-akan nahan gue untuk pergi, tapi sikap lo justru minta gue buat pergi! Gue bingung lama-lama sama sikap lo mas!""Jangan egois jadi cowok! Kalo lo suka Clara, yaudah kejar! Gausah sok peduli lagi sama gue!" Tegas Salsa lalu bangkit dari duduknya dan hendak meninggalkan LianNamun Salsa baru beberapa melangkah, Lian memeluknya erat dari belakang"Maafin gue Sa, gue juga bingung sama perasaan gue. Selama ini gue udah anggap lo adik gue, dan gue gamau kalo lo jauh sama gue. Tapi semenjak kejadian di kantor, gue sadar perasaan gue salah sama lo. Gue bukan lagi anggap lo adik gue Sa, gue sayang sama lo. Gue nyaman tiap ada di deket lo dan gue gabisa kalo lo diemin gue gini, gue sedih Sa" Ucap LianSalsa tersenyum tipis saat Lian mengatakan itu. Memang jiwa cegilnya masih tak bisa ia hilangkan, baru mengatakan hal itu saja Salsa langsung lupa dengan sakit hatinya pada Lian"Clara?" Tanya Salsa"Gue akan berusaha lupain dia" Balas Lian"Beneran?" Tanya Salsa"Iya Sa, gue serius. Gue mau buka hati gue buat cegil gue satu ini" Balas LianSalsa memutar tubuhnya menghadap Lian"Jangan marah lagi ya cantik" Ucap Lian mengusap wajah Salsa"Mangkanya jangan nyebelin" Balas SalsaLian tersenyum lalu mencium bibir Salsa dan melumatnya."Udah, take video dulu yuk" Ajak Salsa sembari menyudahi ciuman Lian"Yaudah yuk" Balas LianSetelah beberapa video endorse sudah berhasil di ambil. Lian sibuk mengambil alih mengedit video endorse Salsa, sedangkan Salsa di dalam kamar sengaja menyiapkan ide gila untuk menjahili Lian."Mas, lo lupa ya kalo ada satu video endorse lagi hari ini?" Tanya Salsa"Hah? Gak ada kok, udah semua ini. Gak ada lagi" Balas Lian tanpa menatap SalsaSalsa tersenyum lalu berdiri di hadapan Lian"Ada kok, nih endorse lingerie seksi ini? Lo lupa ya?" Tanya SalsaLian melotot melihat Salsa memakai lingerie seksi di hadapannya. Lian bahkan bisa melihat jika Salsa sudah tak mengenakan bra di balik lingerie tipis itu"Sa! Gausah mancing ya. Cepet ganti" Omel Lian"Dih, orang mau kerja kok. Udah cepet take videonya" Balas Salsa"Video apaan! Gila aja gue nerima endorse beginian! Gak akan lah!""Tubuh seksi lo ini cuma buat gue! Yakali gue terima endorse beginian! Gak rela gue aset gue di liat banyak orang!" Ucap Lian lalu menghampiri Salsa"Hahaha apaan sih, tiba-tiba ngeklaim tubuh gue!" Balas SalsaLian mendekat lalu memeluk erat tubuh Salsa sembari meremas payudara Salsa"Emang tubuh lo cuma punya gue cantik" Bisik Lian mesraSalsa benar-benar merinding karena Lian, Salsa berbalik lalu mengalungkan tangannya pada Lian. Dan mereka mengulangi kegiatan mereka persis seperti di kantor saat itu.Dan setelah Lian mendapatkan pelepasan karena bantuan Salsa. Lian segera membawa Salsa masuk ke dalam kamar dan menarik lingerie tipis itu hingga Salsa naked di hadapannya."Ahhh Mashh Liannn oughh" Desah Salsa saat Lian mulai memanjakan miliknyaLian tersenyum mendengar suara desahan Salsa yang menyebutkan namanya. Lian kembali bersemangat memuaskan model cantiknya itu, namun saat Salsa hendak mendapatkan pelepasan. Telpon Lian berdering dan mengganggu mereka"Jangan berhenti pleasee, lanjutin Mashh" Racau SalsaLian melirik ponselnya dan ternyata Clara yang tengah menelponnya. Lian benar-benar bimbang, apa yang harus ia lakukan. Namun Lian memilih membantu Salsa hingga tuntas lalu mengangkat telpon Clara.Lian mengecup kening Salsa setelah membantu gadis itu mendapatkan pelepasannya."Mau kemana?" Tanya Salsa"Angkat telpon dulu sayang" Balas LianSalsa mengangguk sembari mengatur nafasnya."Sa, gue pergi ya. Terimakasih malam ini cantik" Ucap Lian"Mas? Lo mau kemana? Kenapa buru-buru gitu? Ada masalah?" Tanya Salsa heran"Hhmm, gapapa kok Sa. Gue duluan ya" Balas Lian lalu pergi meninggalkan Salsa begitu saja"Aneh, kenapa sih? Baru di puasin di tinggal pergi gitu aja! Udah kek jalang gue" Monolog SalsaSalsa yang enggan memikirkan lagi soal Lian memilih memainkan ponselnya dan membuka seluruh sosmednya. Namun saat sedang asyik memainkan ponselnya. Tiba-tiba Salsa menerima pesan dari Clara yang membuat hati Salsa kembali hancur.Clara mengirimkan sebuah foto dimana Lian tengah berada di rumahnya sembari membawa beberapa makanan. Clara sengaja mengirimkan foto itu untuk memanasi Salsa. Dan Clara berhasil, saat ini Salsa sudah sangat kecewa pada Lian.Lian tega meninggalkan Salsa begitu saja hanya untuk pergi ke rumah Clara. Lian bahkan berbohong padanya saat hendak pergi dari apartemennya tadi. Salsa sudah benar-benar muak dengan segala tingkah Lian.***Pagi ini, Salsa datang ke kantor bersama Mark sembari bergandengan tangan. Mereka datang bersama karena ada project yang akan mereka lakukan bersama. Sekaligus untuk membalas tingkah Clara dan Lian yang dua hari lalu membuatnya sakit hati."Oh, pantes gamau di jemput. Ternyata dateng bareng Mark? Iya!" Tegas Lian saat Mark pergi ke toilet"Apa urusannya sama lo? Emang lo siapa gue?" Tanya Salsa ketus"Sa! Lo kenapa lagi sih? Perasaan kita udah baikan kan? Kenapa lo marah lagi sampe blokir nomer gue? Ayo lahh, jangan dikit-dikit ngambek! Jangan kek anak kecil bisa gak sih?" Ucap Lian kesalPlakkkSalsa yang sudah menahan amarahnya sejak dua hari yang lalu pun refleks menampar Lian"Lo bilang gue anak kecil? Lo bener! Emang gue masih kecil, gue masih childish! Makanya lo bisa seenaknya bodohin gue!" Balas Salsa kesal"Sorry Sa, bukan maksud gue - ""Udah lah Mas! Gue bosen denger ucapan maaf lo!" Ucap Salsa ketusTak lama Clara datang dan duduk di sebelah Lian sembari mencoba memanasi Salsa."Makasih ya Mas, udah rawat aku dua hari kemarin pas aku sakit" Ucap Clara mesraLian membulatkan matanya mendengar Clara bicara seperti itu di depan Salsa."Ii-iya Cla" Balas Lian gugup sembari menatap Salsa"Sorry ya Sa, padahal waktu itu lo lagi butuh Mas Lian ya buat take endorse? Eh tapi Mas Lian nya malah lebih milih nyamperin gue" Ucap Clara"Gak masalah, videonya juga udah kelar kok""Gue kan cantik, public speaking gue bagus, dan gue jago acting. Jadi take video sebentar juga kelar. Gak kek lo, yang harus ribuan video baru selesai" Balas Salsa santai"Ck, nyebelin banget sih lo!" Ucap ClaraAnjing, pasti Salsa marah sama gue karena ini. Clara pasti sengaja ngirim foto gue ke Sasa saat gue di rumahnya kemarin *batin Lian"Udah udah, bisa gak sih kalian gausah ribut kalo ketemu?" Ucap Lian melerai"Dia dulu tuh mas" Rengek ClaraSalsa memutar bola matanya malas"Maaf ya lama, lagi mules banget soalnya" Ucap Mark tiba-tiba kembali bergabungMelihat Mark datang, Clara langsung merapikan rambut dan penampilannya. Hal itu pun tak luput dari pandangan Lian, dan membuat laki-laki itu lama-lama jengah dengan Clara"Hay Mark" Sapa Clara"Oh, hai Cla" Balas Mark cuek"Kasian banget sih sampe keringetan gini? Panas ya?" Ucap Salsa sembari mengusap keringat MarkSalsa bisa melihat mata Lian dan Clara sama-sama membulat kala melihat Salsa mengusap keringat Mark"Hey, gaperlu babe. Udah gapapa" Balas Mark"Babe? Kalian pacaran?" Tanya Clara"Iya, kenapa?" Balas Salsa jumawaLian mengepalkan tangannya mendengar jawaban Salsa"Ck! Kok lo mau sih sama Sasa Mark? Lebih cantikkan juga gue!" Ucap Clara kesalMark tersenyum lalu menatap Salsa"Sorry Cla, tapi Salsa jauh lebih cantik buat gue" Balas Mark tersenyumSalsa membalas senyuman Mark dan mereka saling menatap. Hal itu berhasil membuat tubuh Lian menjadi panas seketika, rasanya ia tak percaya jika Salsa benar-benar berpacaran dengan Mark."Kalian inget ya! Di management ini, kalian boleh-boleh aja pacaran asal bisa profesional! Ngerti!" Tegas Lian"Sellow aja Mas, gue dan Sasa ngerti kok" Balas Mark"Ohh atau jangan-jangan lo pacaran sama Mark karena sakit hati ya, karena Mas Lian lebih milih gue daripada lo?" Tanya ClaraDan ucapan Clara benar-benar tepat sasaran. Salsa memang menerima Mark karena ia sudah terlanjur sakit hati dengan Lian. Salsa sudah muak dan tak ingin mengejar Lian lagi."Dih, gue bersaing sama lo cuma demi dia?" Ucap Salsa sembari menunjuk Lian"Ogah! Gue cantik, seksi dan model terkenal, harus ngemis-ngemis sama laki modelan dia yang gabisa di pegang omongannya?""Big No! Yang suka sama gue banyak kali, mending gue sama Mark yang bisa hargain gue. Apalagi gue gapernah tuh kalah dari Lo! Dan gak akan pernah Cla""Jangan-jangan lo kan yang hampir gila setelah tau fakta gue dan Mark resmi pacaran? Sakit hati ya? Kalah lagi ya dari gue? Hahaha""Udah lah, mending kita ke studio sekarang sayang. Gak jelas ngadepin dua sejoli yang lagi kepanasan ini, yuk" Ucap Salsa lalu menggandeng MarkMark tersenyum lalu mengusap kepala Salsa lembut"That's My Girl""Permisi ya semua" Ucap MarkLian hanya diam mematung mendengar semua ucapan Salsa. Lian sadar, dia sudah keterlaluan pada Salsa. Lian tak bisa menyalahkan gadis itu jika kini Salsa sangat membencinya. Namun Lian juga merasa tak rela, ada laki-laki lain yang memiliki Salsa. Lian benar-benar tak bisa tegas dengan perasaannya sendiri.***"Ngapain lagi lo minta gue ke ruangan lo?" Tanya Salsa sembari masuk ke dalam ruangan LianSudah hampir tiga bulan, Salsa benar-benar menjauh dari Lian. Salsa hanya bertemu Lian saat dirinya tengah bekerja, selain itu Salsa tak pernah bercengkrama seperti biasanya.Salsa bahkan menolak saat Lian memaksa untuk mengantar jemput dirinya seperti dulu. Salsa mengancam akan keluar dari management jika Lian masih saja memaksa dirinya.Saat Salsa sudah masuk, Lian segera mengunci pintu ruangannya saat Salsa masuk ke dalam ruangannya"Anjir! Mau ngapain lagi sih lo Mas!" Tegas Salsa"Sa, gue mau - ""Bosen! Gue udah bosen denger perkataan maaf lo!""Sekarang minggir! Gue mau balik sama pacar gue!" Tegas SalsaSaat Salsa berbalik, Lian kembali memeluk Salsa dengan erat dari belakang"Sa, please maafin aku. Aku beneran nyesel, aku mau jelasin semuanya sama kamu Sa. Please dengerin dulu ya" Mohon Lian"Lepas gak! Lepasin!!!!" Teriak Salsa"Gue udah bosen! Gue beneran muak sama semua omong kosong lo! Lo itu cuma butuh tubuh gue! Makanya lo sibuk nyari gue di saat lo butuh kepuasan! Dan setelah lo dapetin itu semua, lo kembali sama wanita pujaan hati lo itu!""Lo beneran brengsek tau gak! Gue benci sama Lo Lian! Gue benciiii!" Teriak Salsa"Sa, gak gitu Sa. Aku - ""Stop ngomong aku kamu! Gue jijik dengernyaa!""Dan sekarang, biarin gue pergi atau gue bakalan teriak dan bilang lo udah lecehin gue!" Ancam Salsa"Sa, please dengerin aku dulu Sa" Mohon Lian"Oh, oke. Gue bakalan teriak, Toll - ""Okee, okee. Aku bakal lepasin kamu, tapi aku gak bakal nyerah untuk dapetin maaf dari kamu sayang" Ucap LianSalsa memutar bola matanya malas lalu pergi dari ruangan LianNamun saat Salsa keluar ternyata Mark sudah ada di depan ruangan Lian"Eh sayang? Ngapain?" Tanya Salsa berusaha menetralkan jantungnya"Aku nyariin kamu, terus kata orang-orang kamu di panggil Mas Lian. Makanya aku disini sayang" Balas MarkLian ikut berdiri di samping Salsa"Eh sorry bro, gue pinjem pacar lo bentar tadi bahas kerjaan" Ucap LianNamun Salsa menahan sekuat tenaga untuk tak menampar Lian di depan Mark, sebab tangan Lian sudah meraba masuk ke dalam rok mini yang Salsa gunakan. Lian dan Salsa sama-sama berdiri di ambang pintu ruangan Lian, hingga tak tersisa space untuk mereka berjauhan. Itu membuat Lian memudahkan aksinya untuk menyentuh tubuh Salsa. Lian tau jika sangat mudah menaikkan hasrat Salsa, tubuh Salsa sangat sensitif dengan sentuhan darinya."Iiyah Sayang, ada project baru soalnya" Balas Salsa gugup"Ohh, yaudah lanjutin aja sayang. Aku juga belum kelar nih photoshootnya. Brand nya ribet, jadi harus take berkali-kali""Daripada kamu bosen, mending di ruangan Mas Lian aja ngobrol" Ucap MarkLian tersenyum mendengar ucapan Mark lalu menatap Salsa dengan tangannya yang kini mulai masuk ke dalam celana dalam Salsa."Gak! Gak! Aku nemenin kamu aja sayang di studio" Tolak Salsa"Gapapa disini aja Sa, ntar gue orderin makanan deh. Mau coklat, ice cream apapun itu" Ucap Lian"Nah, udah sama mas Lian aja. Aku lebih percaya kamu sama Mas Lian daripada si fotografer playboy di studio itu sayang""Mas titip cewek gue ya, jagain! Manjain, pesenin makanan" Balas Mark"Tapi yang - ""Udah lo gausah rewel, ayo. Kasian pacar lo mau kerja itu" Ucap LianSetelah berdebat panjang, kini Mark sudah kembali ke studio dan menyisahkan Salsa dan Lian.Plakkkk"Lo gila ya! Hah!" Bentak SalsaTanpa basa-basi Lian menarik Salsa kembali masuk ke ruangannya dan menguncinya"Iya aku gila! Aku gila karena kamu!""Tiga bulan Sa! Tiga bulan kamu jadian sama Mark, kamu jauhin aku dan gapernah mau dengerin penjelasan aku! Aku kangen sama kamu Sa! Aku gamau hubungan kita kaya gini!""Aku gak suka kamu diemin gini! Aku tau aku salah! Tapi please harusnya kamu dengerin penjelasan aku dulu!!" Tegas Lian"Apa lagi yang mau gue dengerin dari lo! Penjelasan bulshit lo yang ninggalin gue setelah puas demi jagain tuan putri lo itu? Iya? Hah!!" Bentak Salsa"Sa! Aku lakuin itu bukan karena aku masih suka sama Clara!""Malam itu Clara tiba-tiba telfon aku dan bilang kalo dia sendirian di rumah! Kepala dia sakit dan dia minta tolong aku beliin obat! Just it!""Setelah aku beliin obat untuk Clara, aku pulang ke rumah karena aku ngerasa bersalah sama kamu!""Aku udah janji untuk jauhin Clara dan buka hati buat kamu! Tapi malam itu aku justru pergi menemui Clara di belakang kamu!""Besok paginya, Sara ngirim foto kalo Clara masuk rumah sakit. Aku pergi ke rumah sakit hanya karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawabku sebagai seorang manager Sa. Tapi saat aku mau pulang, Sara ternyata ada pemotretan dan terpaksa harus pergi ninggalin Clara. Jadi aku yang nemenin dia di rumah sakit""Please maafin aku Sa, aku tau aku salah. Aku bohongin kamu, aku ninggalin kamu gitu aja. Tapi jujur aku gabisa di giniin sama kamu, aku pun bingung sama perasaanku sendiri. Aku udah gak suka sama Clara Sa, aku berani sumpah" Ucap Lian"Udah lah, gausah di paksa. Dari semua penjelasan lo yang panjang lebar ini juga masih bisa ngejelasin rasa sayang lo sama Clara lebih besar daripada sayang lo yang hanya bualan semata buat gue""Lo cuma kehilangan gue karena lo butuh tubuh gue kan? Kemarin-kemarin gapernah tuh ngerasa kehilangan gue, gue aja yang gila-gilaan deketin lo dan berusaha untuk ada di hati lo tapi kenyataannya nihil. Gue gak akan pernah bisa menggeser tahta tuan putri lo itu""Please stop ganggu gue Mas! Gue mau bahagia sama Mark. Gue udah gapeduli sama lo! Gue beneran mau hapus semua tentang lo di kehidupan gue! Karena lo itu cuma sumber luka di hidup gue! Paham!" Tegas Salsa lalu pergi dari ruangan LianLian masih diam mematung mendengar jawaban Salsa. Ternyata penjelasannya sama sekali tak bisa masuk ke dalam logika Salsa. Padahal Lian sudah mengatakan hal yang sejujur-jujurnya pada Salsa, apa yang terjadi hari itu. Namun Salsa justru seakan menolak segala penjelasan Lian.***Hari ini, Salsa dan Lian tengah berada di studio kantornya untuk melakukan pemotretan. Sudah dua minggu sejak kejadian di dalam ruangan Lian terjadi, namun Lian masih saja berusaha mendapatkan maaf dari Salsa."Good, lanjut besok yaa. Udah tengah malam ini, jangan gila kerja lo berdua" Ucap sang Photografer"Besok masih berapa pemotretan bang?" Tanya Salsa"Lah, lu dari tadi sama manager lu diem-dieman apa gimana? Ngapain tanya gue Sa? Kan ada si Lian noh nganggur" Balas Rafi si Photografer"Sasa ngambek sama gue bang, makanya gue di diemin" Balas Lian melirik ke arah Salsa"Ohh pantes hahaha. Biasanya udah nempel bangettt""Mending kita seneng-seneng dulu yuk. Nih, gue bawain sesuatu buat kalian" Balas Rafi sembari mengeluarkan dua botol alkohol"Wihh, tau aja lo bang gue udah lama gak minum" Balas Salsa"Sa, gausah banyak-banyak" Tegur Lian"Gue juga tau kali! Gak mungkin gue habisin semuanya" Balas Salsa"Hahaha udah udah, nih pada minum" Balas RafiMereka bertiga pun mulai meminum minuman yang sudah biasa mereka nikmati. Hingga dua botol alkohol itu habis tak tersisa, Rafi dan Salsa lah yang lebih banyak meminum minuman itu. Lian tak ingin banyak minum karena ia ingat harus mengantar Salsa ke apartemennya.Ya, walaupun hubungan mereka sudah tak baik-baik saja. Namun baik Salsa dan Lian tetap profesional tentang masalah pekerjaan. Lian akan menjemput dan mengantar Salsa kemanapun gadis itu akan melakukan pekerjaannya."Bang, gue bawa Salsa pulang deh ya. Nih bocah udah gak sadar begini" Ucap Lian"Okee""Gue nginep studio deh, udah gak kuat gue mau balik" Balas Rafi"Yaudah, terserah lo deh bang" Balas Lian"Ayo Sa, balik" Ucap Lian sembari membantu membopong tubuh SalsaSalsa yang sudah tak sadar dan meracau tak karuan membuat Lian tersenyum. Ternyata dalam racauan Salsa, Salsa mengatakan jika ia masih mencintai Lian."Sa, aku juga cinta sama kamu Sa. Aku baru sadar perasaan ku setelah kamu pergi dari aku. Aku cinta sama kamu Sa" Ucap LianKini Lian sudah berada di basement apartemen Salsa. Lian tak kuasa mengungkapkan perasaannya pada Salsa. Sungguh Lian kini sudah sadar sepenuhnya tentang perasaannya pada Salsa.Lian tak lagi tertarik pada Clara karena Lian sadar selama ini Clara hanya memanfaatkannya untuk memanasi Salsa. Lian sadar jika Salsa lah yang selama ini dengan tulus mencintai dirinya. Dan karena kesalahannya yang tak jujur hari itu, Lian harus kehilangan Salsa"Hahaha Lo itu jahat Lian, lo itu gak cinta sama gue! Lo cuma cinta sama Clara. Apalah gue? Cuma lo anggap perempuan murahan yang bisa lo pake setiap lo butuh kan?""Ya meskipun gue masih perawan, tapi setiap tubuh gue udah ada bekas Lo Lian. Lo gak inget ya? Padahal cantikan dan seksian juga gue dari pada Clara. Kenapa lo gapernah liat ketulusan cinta gue sih Lian?" Racau SalsaLian menggelengkan kepalanya lalu menangkup wajah Salsa"Maaf sayang, selama ini aku terlalu denial tentang perasaan aku ke kamu. Dan disaat aku mulai kehilangan sosok kamu di hidupku, aku baru sadar kalo aku bener-bener cinta sama kamu sayang" Ucap Lian"Lian jahat, Lian gak cinta sama Sasa" Racau SalsaLian kembali menggelengkan kepalanya lalu mencium bibir Salsa. Ciuman yang awalnya hanya Lian lakukan untuk melepas rasa rindunya justru semakin panas saat Salsa tiba-tiba membalasnya dengan agresif. Salsa bahkan sudah berpindah pada pangkuan Lian.Beruntung Lian memarkirkan mobilnya di paling ujung basement, dan kaca mobilnya pun sangat gelap hingga tak akan ada orang yang menyadari jika saat ini Salsa tengah duduk di atas pangkuannya."Ashh Masss Liannhhh, hisap yang kencenggghh mashh" Desah Salsa saat Lian menghisap nipple nyaYa, Lian pun sama. Dia memang sadar, namun dia terbawa suasana hingga menuruti permainan panas Salsa yang Lian tau Salsa lakukan karena pengaruh alkohol yang membuatnya tak sadar sepenuhnya."Malam ini, aku gak akan lepasin kamu Sa. Aku gak peduli mau kamu makin marah sama aku setelah ini. Terpenting aku mau kamu jadi milik aku!! Aku akan buat kamu putus sama Mark Sa! Sorry kalo aku jahat dan egois, tapi aku beneran gabisa liat kamu lama-lama sama Mark Sa" Ucap Lian yang kini sudah menggotong Salsa masuk ke dalam apartemen SalsaPagi harinya, Salsa bangun karena merasa tubuhnya terasa berat dan sangat pegal. Betapa terkejutnya Salsa melihat Lian yang tertidur di sebelahnya sembari memeluknya erat. Salsa membulatkan matanya melihat Lian yang tengah bertelanjang dada, dan membuatnya refleks melihat tubuhnya yang ternyata juga tak mengenakan sehelai pakaian."Mas! Bangun! Jelasin semuanya! Mas!!!" Teriak Salsa sembari mengubah posisinya menjadi duduk dan menahan selimut untuk menutupi tubuhnya"Ck, apasih sayang? Mas masih ngantuk" Balas Lian"Mas! Bangun atau gue makin marah sama lo ya Mas!" Ancam SalsaDengan terpaksa Lian membuka matanya"Kenapa? Hhmm?" Tanya Lian lembut seraya mengusap punggung mulus Salsa"Lo ngapain tidur disini? Kita ngapain semalam sampe kita telanjang gini?" Tanya Salsa serius"Sayang? Serius kamu tanya begitu sama mas? Kondisi mas dan kamu yang berantakan gini masih kurang jelas kita ngapain semalam?" Tanya Lian heran lalu merubah posisinya ikut duduk di sebelah Salsa"Lo beneran udah - ""Iya udah, dan kita lakuin itu atas dasar suka sama suka sayang" Balas LianSalsa mencoba mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Salsa mulai mengingat beberapa hal tentang semalam, ia juga mengingat bagaimana Salsa yang lebih dulu mencium Lian dengan sangat ganas.Salsa mencoba menutupi rasa malunya pada Lian karena tingkahnya semalam di bawah kendali alkohol."Ck, lo harusnya gausah ambil kesempatan! Lo tau semalam gue mabuk dan gak sadar! Kenapa masih lo - ""Karena mas mau kamu jadi milik mas seutuhnya! Mas gak peduli kamu pacar Mark atau siapapun itu! Kamu cuma punya mas! Kita saling mencintai, dan - ""Mencintai? Haha? Masih gak sadar lo efek alkohol? Lo itu - ""Mas cinta sama kamu! Mas cinta sama Salsa! Model genit yang selalu godain Mas! Model yang selalu manja sama Mas! Yang ternyata cintanya tulus sama Mas!" Ucap LianLian mengulangi semua ucapannya semalam pada Salsa. Lian ingin Salsa tau jika dirinya kini benar-benar mencintai Salsa."Lo cinta setelah berhasil ambil virgin gue kan? Haha dasar laki! Itu bukan cinta tapi nafsu!" Tegas SalsaLian yang sudah terlanjur kesal mencium bibir Salsa dengan sedikit brutal"Mas cinta sama kamu bukan karena mas udah ambil keperawanan kamu semalam! Mas cinta kamu jauh sebelum ini Sa! Mas baru sadar setelah kepergian kamu yang berhasil buka pikiran mas! Mas udah cinta jauh sebelum kamu nyerahin diri kamu untuk mas!!!" Tegas LianSalsa terdiam menatap mata Lian yang terlihat penuh ketulusan.Lian menggenggam tangan Salsa serasa mengusapnya dengan penuh kelembutan"Maafin mas kalo kemarin-kemarin mas gak ngehargain perasaan kamu. Mas fikir kamu sama seperti perempuan lain yang hanya ingin harta mas dan karirnya naik di management karena deket sama mas""Tapi jujur semakin lama mas deket sama kamu, mas jadi tau kalo penilaian mas salah sama kamu. Mas tau kamu tulus sama mas, tapi mas masih aja denial dan menutupi itu semua dengan rasa suka mas sama Clara""Lama kelamaan mas makin gabisa nahan perasaan mas, terlebih setelah kejadian malam itu yang membuat kamu berubah sama mas. Mas sadar mas salah, mas sadar kalo mas cinta sama kamu, mas gabisa jauh sama kamu""Sayang? Will you marry me?" Ucap Lian menatap Salsa dengan penuh keseriusanSalsa membulatkan matanya, ia masih mencerna kata demi kata yang Lian ucapkan padanya"Mas udah nidurin kamu, mas udah ambil kehormatan kamu. Dan mas mau hanya mas yang pertama dan terakhir lakuin itu sama kamu, begitu pula mas. Mas mau kamu yang pertama dan terakhir untuk mas sayang""Pleasee, kita mulai semuanya dari awal ya. Tolong beri kesempatan buat mas, kita rajut cerita kita dengan versi yang jauh lebih baik. Kamu milik mas, dan mas milik kamu" Lanjut LianAir mata Salsa mengalir tanpa di komandoi. Salsa benar-benar terharu, ia tak menyangka jika laki-laki yang selama ini ia cintai kini bisa membalas cintanya."Jangan nangis sayang, please. Terima mas jadi suami kamu ya" Ucap Lian sembari menghapus air mata SalsaSalsa menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis pada Lian"Makasih sayang, makasihhhh""Mas cinta sama kamu, mas sayanggg banget sama kamu sayang" Ucap Lian memeluk Salsa dengan erat"Aku juga cinta sama mas" Balas Salsa"Mas tau sayang, Mas sangat-sangat tau itu. Cinta kamu gak akan pernah hilang buat mas" Balas LianLama mereka berpelukan, Lian melepaskan pelukannya lalu menatap Salsa"Beneran ya, mau nikah sama mas?" Tanya Lian"Iya mau""Lagian kalo bukan mas yang nikahin aku siapa? Mana ada cowok yang mau nikah sama gadis rasa janda begini" Balas SalsaLian terkekeh lalu mengacak-acak rambut Salsa"Ada aja jawaban nyelenehnya" Balas Lian"Emang bener kan""Udah tau orang mabuk, malah modus banget, kesempatan merawanin anak orang" Balas Salsa"Hey, orang kamu duluan yang nyerang mas""Nih liat karya kamu, di leher dan dada mas? Masih kurang jelas apa ya? Yang ganas semalam siapa?""Nih, tangan mas juga bekas cakaran kamu banyak" Balas Lian menunjukkan beberapa bagian tubuhnya"Emang yakin itu aku yang lakuin?" Tanya Salsa"Wahhh nih bocah yaa, apa harus mas tanya Bang Rafi? Semalam leher mas masih bersih apa udah merah-merah begini? Hhmm?" Tanya Lian"Heh! Ya gaperlu lah massss" Balas Salsa"Makanya, jangan asal kalo ngomong!""Orang ini perbuatan kamu kok, gamau ngaku banget""Tau gitu, semalam mas rekam biar mas punya bukti kalo semalam kamu tuh ganas banget" Ucap Lian"Yaudah sih, orang menikmati juga meskipun aku ganas? Iyakan?" Tanya Salsa"Hahaha pasti lah, menikmati banget malah" Balas Lian terkekeh"Dihhhh, dasar mesum" Umpat Salsa"Oh iya sayang, mas boleh minta sesuatu gak sama kamu?" Tanya Lian"Apa mas?" Tanya Salsa"Kalo kita nikah, kamu berhenti aja ya jadi model. Mas aja yang kerja, kam - ""Gak! Gamau! Kalo Mas masih nerapin sistem patriarki, mending mas cari perempuan lain deh buat jadi istri mas! Karena aku gak akan mau!""Model ini cita-cita ku mas! Aku akan berhenti atas kemauan ku sendiri, saat aku rasa semuanya udah cukup buat aku!""Walaupun nanti aku akan jadi istri dan ibu, aku gak akan pernah lupa sama kewajibanku! Aku tau kodratku dan aku tau apa yang menjadi tanggung jawabku!" Balas Salsa"Sayang, maafin mas. Mas gamau maksa kamu, mas cuma takut kamu nantinya kecapekan aja. Harus kerja dan ngurus rumah tangga kita nantinya""Kalo kamu emang masih mau kerja, mas gak akan larang kamu sayang. Bukan maksud mas nerapin patriarki ke kamu, gak! Mas beneran gak bermaksud kesana""Mas cuma gamau kamu kecapekan aja nantinya" Balas Lian"Mas, aku gak akan kecapekan. Aku tau kapasitas tubuh ku! Aku janji aku gak akan maksain kalo aku udah ngerasa capek!""Aku juga gak akan nunda punya anak, seperti model-model lain yang takut badannya rusak karena hamil! Aku gak akan seperti itu mas, kamu tenang aja""Aku mau punya anak dan keluarga kecil yang bahagia sama kamu. Jadi please jangan larang aku kerja ya" Ucap SalsaLian tersenyum mendengar penjelasan Salsa. Lian benar-benar tak salah memilih Salsa untuk menjadi pendamping hidupnya. Karena jujur Lian enggan menikah dengan seorang model karena kebanyakan dari mereka memilih menunda memiliki anak sebab lebih mementingkan karir mereka di dunia modeling.Namun Salsa sangat berbeda, gadis itu sangat mengerti jika Lian ingin segera memiliki anak setelah mereka menikah nantinya."Mas emang gak salah pilih kamu jadi istri mas""Makasih ya sayang" Ucap Lian memeluk Salsa erat"Hhmm sekarang, boleh gak kalo aku yang minta sesuatu sama mas?" Tanya Salsa"Apa sayang?" Tanya Lian seraya melepas pelukannya"Berhenti jadi manager artis dan model lain. Fokus aja di posisi lain""Management itu kan punya keluarga kamu, kamu bisa minta di tempatin di posisi lain tanpa harus berurusan dengan talent-talent lagi" Ucap SalsaLian tersenyum lalu mengusap wajah Salsa"Kenapa sih? Hhmm? Kok tiba-tiba minta mas pindah posisi?" Tanya Lian"Ya kamu tau kalo aku cemburuan! Nanti kalo ada talent yang genit sama kamu, terus kamu kegoda gimana!""Nanti kamu malah nyaman sama dia, terus selingkuh di belakangku!" Balas Salsa"Sayang, sebelum mas berniat menikahi kamu. Bahkan udah puluhan talent genit sama mas, termasuk kamu ini!""Tapi mas gak tergoda kan? Mas justru kegodanya sama model yang nakal, gabisa di kasih tau, gabisa ontime tapi manja banget sama mas" Balas Lian sembari mencolek hidung Salsa"Ya aku takut aja mas" Balas Salsa"Yaudah, nanti mas obrolin sama Papa ya. Biar mas jadi manager pribadi kamu aja. Mas juga bisa isi posisi lain di kantor yang gak akan berhubungan sama talent-talent lain kecuali sama kamu doang! Sama istri mas yang kemana-mana tetep wajib sama mas" Ucap Lian"Calon ya! Belum jadi istri!" Balas Salsa"Soon!""Mas gamau istri mas di deketin sama cowok lain kalo di tinggal sendirian. Jadi wajib sama mas kemana-mana" Balas Lian"Yeayy, seru ya kalo gitu. Kita bakalan kerja bareng terus mas" Ucap Salsa"Hahaha benerrrr" Balas Lian***"Sayang, semuanya udah beres. Mas udah urus pernikahan kita ke KUA""Papa juga udah setuju kalo mas hanya akan jadi manager kamu sayang" Ucap Lian"Alhamdulillah mas, aku gak nyangka Papa bakalan setuju sama pernikahan kita hehe" Balas Salsa"Dih, malah Papa tau yang bahagia banget sama pernikahan kita""Berkali-kali Papa nuduh mas pake dukun buat dapetin kamu. Padahal mah, mas gak ngapa-ngapain juga kamu udah tergila-gila sama mas" Balas Lian"Dihh, sombong banget. Mau marah, tapi bener sih. Kan aku yang kegilaan sama mas" Balas Salsa"Hahahaa tapi sekarang, mas juga gila-gilaan sama kamu sayang" Balas Lian"Emang iya?" Tanya Salsa"Gausah mulai ya yang" Balas Lian"Hahahaa iya iya, becanda" Balas Salsa"Oh iya, besok setelah catwalk kita lanjut meeting sama WO ya sayang. Setelah meeting, baru balik ke studio karena kita harus take video endorse" Ucap Lian"Wow, padet banget ya" Balas Salsa"Maaf ya sayang, jadwal kamu makin padet karena harus sembari ngurus pernikahan kita""Tapi kalo kamu besok capek, biar mas aja yang meeting sama tim WO. Kamu tinggal bilang ke mas, mau konsep nikahan yang gimana" Balas Lian"Mas? It's okay. Aku kuat kok""Lagian ini tuh bukan cuma pernikahan kamu, tapi pernikahan kita sayang. Masa kamu sendiri yang urus semuanya. Aku juga mau terlibat sayang, kita urus semua sama-sama ya mas" Ucap Salsa sembari mengusap wajah LianLian tersenyum lalu mencium tangan Salsa yang tengah mengusap lembut wajahnya"Iya sayang" Balas LianBrakkkPintu ruangan Lian terbuka, dan menampilkan Clara yang tengah berdiri dan menatap tajam ke arah Lian dan Salsa"Nikah? Maksud kalian apa? Hah!" Bentak ClaraSalsa dan Lian saling menatap"Iya! Gue mau nikah sama mas Lian! Kenapa? Masalah buat lo?" Tanya Salsa sinis"Gak! Kalian gabisa nikah!""Mas, lo itu sukanya sama gue! Cintanya sama gue! Kenapa yang lo nikahin Salsa? Hah! Gabisa gitu dong mas!" Ucap Clara"Iya, kaya nya gue emang salah deh" Balas LianSalsa menatap Lian tak percaya dengan ucapan lelaki itu pada Clara. Sedangkan Clara sudah tersenyum licik ke arah Salsa"Maksud kamu apa mas?" Tanya Salsa"Iya, kaya nya gue salah. Dulu pernah suka sama cewek segila Clara" Lanjut LianSalsa tersenyum lalu menatap Clara dengan tatapan mengejeknya"Mas? Apa maksud lo?" Tanya Clara tak terima"Ya gue nyesel aja, gue dulu pernah suka sama cewek gila kaya lo! Yang egois dan pengen selalu di ngertiin! Padahal ada Sasa yang selama ini tulus sama gue! Gue bahkan berkali-kali nyakitin dia demi lo!" Balas Lian"Ohh gue tau, lo jadiin Salsa pelampiasan aja kan? Karena gue gapernah respon lo mas?""Hahaha kasian banget, yang katanya model nomer satu tapi cuma di jadiin pelampiasan sama laki yang cinta mati sama gue" Ucap Clara meremehkanSalsa terdiam dan mencerna ucapan Clara. Apa iya, jika Lian hanya menjadikan dirinya pelampiasan karena Clara menolaknya."Anjing! Jaga mulut lo Cla! Gue bukan laki-laki sebrengsek itu anjing!""Gue cinta sama Sasa! Gue sayang sama dia! Makanya gue pilih dia sebagai pendamping hidup gue!""Dan gue? Gak mungkin jadiin pelampiasan Sasa hanya karena lo yang gak ada apa-apanya sama calon istri gue!" Bentak Lian"Mas lo beneran keterlaluan ya!""Kalian berdua keterlaluan! Gue bakal bilang Mark kalo lo udah khianatin dia!!" Ancam ClaraSalsa tersenyum sinis lalu menatap Clara tajam"Sayangnya lo kalah start Cla""Gue udah jujur sama Mark semuanya, dan Mark bisa ngertiin gue. Kita putus baik-baik dan dia bisa maafin gue""Sekarang lo pun kalah start karena Mark udah gue kenalin sama temen gue yang jauh lebih baik dan cantik dari lo!""Lo, gak akan bisa dapetin Mark dan Mas Lian! Paham lo!" Tegas SalsaYa, Salsa memang sudah menemui Mark dan menyelesaikan hubungannya dengan Mark. Awalnya Mark memang marah dan kecewa pada Salsa. Namun Mark sadar, selama mereka berhubungan pun Salsa masih sangat mencintai Lian. Mark juga ingin melihat Salsa bahagia bisa bersanding dengan lelaki yang sangat Salsa cintai."Anjing! Lo bener-bener keterlaluan Salsa!!!!" Bentak ClaraClara hendak menampar Salsa, namun Lian segera menepis tangan Clara"Jangan pernah berani lo nyentuh calon istri gue!" Bentak Lian lalu menghempaskan tangan Clara"Hiks hiks, lo beneran jahat Mas! Jahat banget!!!" Balas Clara lalu pergi dari ruangan LianLian menatap Salsa yang masih saja diam, Lian takut jika Salsa memikirkan ucapan Clara"Sayang, mas anter pulang yuk. Udah sore" Ucap Lian"Gausah mas. Aku pulang sendiri yaa. Aku lagi pengen sendiri dulu" Balas Salsa dengan senyumannyaNah kan, bener. Emang anjing si Clara! Gue yakin Sasa kepikiran omongan si Clara ini pasti *batin Lian"Sayang, selama ada mas. Kenapa harus sendiri? Pulang sama mas ya cantik" Ucap Lian"Mas, please. Aku lagi pengen metime" Balas Salsa"Gak! Mas tau kamu pasti kepikiran omongan Clara kan?""Sayang, please percaya sama Mas. Mas gapernah sedikit pun punya niat jadiin kamu pelampiasan!""Mas sayang, mas cinta sama kamu! Mas bahkan gapernah sayang sama Clara! Mas hanya sekedar suka sama dia!""Buat apa mas jadiin kamu pelampiasan hanya karena Clara! Mas bahkan gapeduli mau dia tolak mas dan hina mas, karena mas udah sadar. Rasa sayang mas sama kamu jauh lebih besar daripada rasa suka mas sama Clara Sa! Please percaya sama mas" Ucap Lian"Ucapan Clara emang buat aku jadi mikir mas. Selama ini kamu suka sama Clara, gak mungkin kan tiba-tiba kamu sayang sama aku gitu aja""Mungkin Clara bener, kamu cuma jadiin aku pelampiasan karena kamu mau bales Clara yang udah nolak kamu kan?" Balas Salsa"Sa! Kenapa sih, kamu bisa mikir sejahat itu sama mas?""Selama ini mas udah berusaha buktiin sama kamu, kalo mas itu sayang dan cinta sama kamu! Mas pilih kamu jadi istri mas karena perasaan mas dan mas yakin sama kamu!""Apa belum cukup semua usaha mas buat yakinin perasaan kamu? Buat bikin kamu percaya kalo mas tulus sama kamu? Iya?""Kalo emang kamu lebih percaya omongan Clara dan gak pernah bisa percaya sama mas. Buat apa kita nikah? Yang ada pernikahan kita gak akan bahagia karena kamu yang gapernah percaya sama mas!""Sekarang terserah kamu deh, mau lanjutin pernikahan ini apa gak! Mas capek, mas capek di tuduh ini itu sama kamu, mas capek gapernah dapet kepercayaan itu dari calon istri mas sendiri!" Balas Lian lalu pergi meninggalkan SalsaAir mata Salsa sudah mengalir deras membasahi wajahnya. Salsa menyesal sudah mengucapkan kata-kata yang membuat Lian marah padanya. Padahal Lian selama ini selalu mengusahakan apapun untuknya, namun semudah itu Salsa termakan ucapan Clara dan membuat Lian kecewa padanya.***"Lo kenapa lagi Li? Lagi berantem sama Sasa?" Tanya Rafi"Gak Bang, emang kenapa?" Tanya Lian"Gausah bohong deh. Lo berdua tuh sama aja tau gak""Si Sasa dari tadi keliatan banget galaunya, dia emang senyum di kamera tapi gue tau dia lagi sedih""Lo juga, dari tadi diem mulu kek orang gak di kasih makan setahun, lemes banget""Kenapa sih?" Tanya RafiLian menghembuskan nafasnya lalu mulai menceritakan semuanya pada Rafi. Rafi adalah photografer andalan di kantor Lian. Rafi juga sudah Lian anggap seperti kakaknya karena Rafi yang selama ini menjadi tempat curhat bagi Lian."Tapi lo beneran udah gak suka sama si Clara?" Tanya Rafi"Gue berani sumpah bang, kalo gue udah gak suka sama si Clara. Gue malah benci sama dia, karena mulut sampahnya bikin Sasa makin susah percaya sama gue" Balas Lian"Menurut gue wajar sih Sasa bersikap begifu sama lo. Secara lo dulu nyakitin dia demi Clara gak sekali dua kali Li. Sering banget kalo lo inget itu""Mungkin sekarang Sasa lagi trust issue sama lo. Gak mudah buat dia bisa percaya sama lo lagi" Balas Rafi"Iya gue paham bang, gue dulu emang keterlaluan, gue brengsek, gue sama sekali gak peka sama Sasa""Tapi setelah gue sadar gue cinta sama dia, gue selalu mengusahakan apapun untuk kita sama-sama. Gue selalu berusaha buat numbuhin rasa percaya Sasa sama gue""Tapi sampe sekarang, bukannya numbuh malah makin ancur! Capek gue lama-lama bang" Balas Lian"Anjirr, jangan nyerah bego! Itu ujian buat lo sama Sasa sebelum pernikahan! Hal begini wajar di alami orang-orang yang mau nikah!""Tinggal lo sama Sasanya aja yang harus sabar ngadepin semuanya. Kalo lo sama Sasa sama-sama egois, yang ada pernikahan lo batal Lian!" Ucap Rafi"Tapi masa iya harus gue mulu yang sabar bang. Gue udah ngertiin Sasa, gue udah berusaha mati-matian demi dia. Tapi dia gak ada usahanya gue liat-liat bang" Balas Lian"Hadeuhhh, lo sama Sasa sama-sama egois. Mending batalin aja sekalian nikahan lo" Ucap Rafi"Anjing lo bang! Ya jangan lah!""Gue cinta mati sama Sasa, gue mau dia jadi pendamping hidup gue selamanya!" Balas Lian"Ya makanya selesaiin masalah lo Lian! Usaha lagi buat yakinin Sasa""Lo cinta sama dia, tapi giliran di suruh ngalah dikit aja gamau" Balas Rafi"Ya kan gue gak salah bang" Balas Lian"Lo lupa kalo cewek gapernah salah?""Udah lah, ngalah dikit. Demi pernikahan lo sama Sasa" Balas Rafi"Yaudah deh, next time aja. Gue mau tenangin diri dulu" Balas Lian"Semangat bro, menjelang pernikahan emang ada aja ujiannya" Balas Rafi"Makasih bang" Balas LianSalsa semakin merasa bersalah mendengar semua ucapan Lian dan Rafi. Salsa yang hendak masuk ke dalam studio pemotretan, memutuskan untuk mendengar lebih dulu semua obrolan Lian dan Rafi setelah mendengar namanya di sebut.Salsa tersenyum mendengar ucapan Lian yang dengan lantang mengatakan bahwa dia mencintai Salsa. Di sisi lain Salsa juga bersedih, setelah mendengar Lian yang merasa lelah karena menganggap dirinya tak pernah percaya pada Lian. Padahal kepercayaan itu penting dalam sebuah hubungan.***"Sayang? Kamu dimana? Sa? Sayang?" Panggil Lian panikSasa menghubungi Lian dan memintanya untuk segera datang ke apartemennya. Lian berpikir jika sedang terjadi sesuatu pada Salsa, karena Salsa tak pernah meminta Lian tiba-tiba datang jika tidak ada masalah dengannya. Apalagi di tengah malam seperti saat ini, Lian sudah panik tak karuan memikirkan keadaan Salsa.Lian segera membuka kamar Salsa dan menampilkan gadis cantik yang tengah memegang kue tart di dalam kamar"Surpriseeeee""Selamat ulang tahun calon suami Sasa yang tampan" Ucap Salsa sembari berjalan mendekati LianLian menghela nafasnya lalu mencium kening Salsa"Sayang, mas udah panik banget. Mas kira kamu kenapa-kenapa" Ucap LianSalsa tersenyum, Lian tidak bohong. Salsa bisa melihat wajah panik Lian saat membuka pintu kamarnya tadi"Hehe maaf ya mas. Namanya juga mau kasih surprise""Selamat ulang tahun ya calon suami, semoga mas Lian panjang umur, sehat selalu, rejekinya lancar, selalu setia sama aku doang, diberikan kesabaran seluas samudra menghadapi tingkah aku seumur hidup, dan yang pasti cinta nya harus selalu nambah untuk aku ya mas" Ucap SalsaLian tersenyum lalu mengusap wajah Salsa dengan lembut"Aamiin, makasih ya sayang" Balas Lian"Make a wish dulu, terus tiup lilinnya" Ucap SalsaLian melalukan apa yang Salsa minta padanya lalu meniup lilin di kue ulang tahunnya."Makasih ya sayang""Maaf sudah bersikap buruk beberapa hari ini sama kamu. Mas - ""Sutss udah yaa""Bukan kamu doang yang salah, tapi aku juga mas""Aku minta maaf ya, karena aku lebih percaya orang lain di banding calon suamiku sendiri""Salah satu kunci dalam sebuah hubungan kan kepercayaan. Wajar kalo kamu marah dan kecewa sama aku karena aku yang gapernah percaya sama kamu. Padahal kamu sudah berjuang mati-matian demi aku""Mas, maafin aku ya. Aku yang terlalu egois dan memikirkan perasaanku sendiri. Aku sama sekali gak mikirin perasaan kamu, perasaan kamu pasti sakit karena gapernah dapat kepercayaan dari aku""Aku udah belajar mas dari kesalahanku kemarin. Aku akan lebih percaya sama pasanganku sendiri di banding orang lain. Maafin aku ya mas. Kita jadi nikah kan mas?" Tanya SalsaLian terkekeh mendengar pertanyaan terakhir Salsa, lalu memeluk erat tubuh Salsa"Jadi dong sayang. Kenapa masih tanya sih kita jadi nikah atau gak?" Tanya Lian"Takutnya kamu udah terlanjur kecewa dan gamau nikahin aku" Balas Salsa"Ya gak mungkin dong. Mas emang sempet kecewa sama kamu. Tapi rasa cinta mas jauh lebih besar dari rasa kecewa mas""Mas bisa gila kalo kita gak jadi nikah dan mas kehilangan kamu sayang. Mas justru mau kita nikah secepetnya, supaya gak ada salah paham lagi diantara kita yang bikin kamu ragu sama mas dan gamau nikah sama mas" Ucap Lian"Gamau! Aku juga tetep mau nikah sama mas. Aku mau bobo sama mas tiap hari sambil pelukan, ciuman, apapun deh sama mas" Balas Salsa manja"Hahahaha sayang ish. Makin gak sabar deh mau nikah""Nikah besok aja yuk" Ajak Lian"Yeuhhh, ya gak besok juga kali mas" Balas Salsa"Udah gak sabarrrr pengen nikah sama kamu sayang" Rengek Lian"Nikahnya sesuai tanggal yang udah di tentuin dong mas. Gimana kalo malam ini kita kawin aja dulu? Hhmm? Gimana? Mau gak? Pasti kangen kan sama nen nya? Kangen sama yang bawah juga kan? Hhmm?" Goda Salsa sembari memainkan alisnya"Hahaha nakal banget sih kamu yang! Udah jelas kangen lah. Seminggu diem-dieman, gak peluk, gak cium, gak dapet jatah juga""Gass lah, kita begadang sampe pagi yaa" Balas Lian sembari menggandeng tangan Salsa menuju ranjang"Malam ini, karena kamu lagi ulang tahun. Biar aku yang manjain kamu mas. Kamu diem aja, biar aku yang mimpin" Balas SalsaLian menggelengkan kepalanya sembari tersenyum saat mendengar ucapan Salsa. Malam ini kekasihnya terlihat sangat agresif dan membuat Lian cukup shock dengan itu.Lian membulatkan matanya, saat melihat Salsa yang keluar dari kamar mandi menggunakan baju dinas yang sangat seksi. Baru pertama kalinya, Lian melihat Salsa bertingkah seperti ini di depannya. Padahal selama mereka berhubungan, Salsa sangat pasif dan cenderung Lian yang selalu memimpin permainan."Oughh shittt sayang! Kamu kenapahh? Ahhhh" Desah Lian"Sebagai tanda permintaan maaf, dan ucapan ulang tahun dari aku. Malam ini aku yang bakalan manjain Lian junior ini sayang. Kamu nikmatin aja ya" Ucap Salsa sembari memainkan milik LianSalsa benar-benar membuktikan ucapannya. Selama permainan panas mereka, Salsa benar-benar menggila di atas tubuh Lian. Lian pun merasa sangat puas dengan permainan Salsa yang benar-benar memanjakan miliknya malam ini."Makasih ya sayang, mas beneran cinta mati sama kamu. Jangan tinggalin mas ya" Ucap Lian lemas"Sama-sama sayang""Siapa juga yang mau ninggalin mas. Masa udah di tidurin tiap malem tapi gak di nikahin sih. Aku potong tytyd kamu kalo gituu" Balas SalsaLian yang masih lemas pun terkekeh mendengar ucapan Salsa"Jangan dong. Kalo tytyd mas di potong, nanti kamu mainin apa?" Tanya Lian"Oh iyaaa, jangan deh. Kan ini kesayangan aku" Balas Salsa sembari memegang milik Lian"Ahhhh udahh sayanghh, mashh nafas dulu" Lenguh Lian"Hahaha cupu ihh, masa baru di servis begitu udah lemes sih" Balas Salsa terkekeh"Kamu lagi gila soalnya malam ini. Mas beneran shock sayang" Balas LianSalsa terkekeh lalu menciumi seluruh wajah Lian. Salsa benar-benar bahagia, manager tampan yang sangat dingin padanya. Kini sudah menjadi kekasih dan calon suaminya.Manager yang sangat susah ia gapai dan dekati, kini bahkan tak mau jauh darinya sedikit pun. Entah mengapa Salsa bisa sejatuh cinta itu pada Lian, namun yang Salsa tau jika Lian merupakan sosok yang sempurna untuk menjadi pemdamping hidupnya selamanya.Salsa sangat jatuh cinta pada Lian, dan kini perasaannya tak bertepuk sebelah tangan. Salsa justru merasa jika Lian jauh lebih mencintainya, setelah melihat usaha Lian yang selalu mengusahakan dirinya dan memperjuangkan Salsa mati-matian. Wanita itu sangat bahagia, laki-laki impiannya akan segera menjadi suaminya dalam waktu dekat. Lian dan Salsa akan membina keluarga kecil mereka yang bahagia dan penuh cinta.~END~
Langit Senja
Tok tok tokSalsa mengetuk pintu rumah yang begitu mewah namun tampak sepi. Hampir beberapa menit dia menunggu, hingga akhirnya pintu rumah pun terbuka lebar."Eh, Non Sasa. Masuk Non" Ucap Bi Mina"Makasih Bi. Oh iya, Langitnya ada Bi?" Tanya Salsa"Loh, Sasa? Sejak kapan dateng dek?" Tanya seorang pria yang baru saja turun dari tangga"Baru aja mas. Gimana kabar Mas Lian?" Tanya Salsa sembari menyalimi tangan LianLian tersenyum lalu mengusap kepala Salsa lembut"Baik. Kamu sendiri gimana dek?" Tanya Lian"Alhamdulillah baik Mas""Langit mana mas? Aku kangen banget sama keponakan gemoy ku itu" Balas Salsa"Ada di kamar. Naik aja""Jam segini mah Langit masih merajut mimpi dek. Kamu mah kepagian datengnya" Balas Lian"Hehe soalnya keretanya pilih yang paling murah. Dan berangkat dari Jogja nya malem, jadi sampe sini ya pagi mas" Balas Salsa"Astaga dek! Kenapa gak ngomong mas kalo mau kesini sih? Mas bisa pesenin kamu pesawat pagi. Gaperlu malem-malem harus perjalanan kesini" Omel Lian"Gapapa kok Mas""Aku cuma numpang beberapa hari disini boleh gak? Aku mau cari pekerjaan di Jakarta Mas" Balas Salsa"Kenapa dengan kerjaan kamu di Jogja?" Tanya Lian"Bener kata Mas Lian. Boss aku gak baik. Gaji aku dua bulan gak di bayar Mas. Jadi aku putusin untuk resign aja" Balas Salsa"Ck, kamu sih. Udah mas bilang kan sejak awal. Mas tau siapa dia, dia itu tukang korupsi""Udah dari Ibu meninggal juga, mas tawarin kamu untuk tinggal disini tapi kamu gamau" Omel Lian"Iya maaf Mas. Kan aku gaenak, mas bukan kakak kandung aku. Mas cuma kakak ipar aku, tapi aku malah repotin mas terus" Ucap Salsa"Astaga dek! Masih bisa kamu mikir begitu yaa""Kamu udah mas anggep adek kandung mas dek. Meskipun mbak mu udah gak ada, bukan berarti mas bakal lupain kamu gitu aja""Kamu juga keluarga Mas! Kamu gapernah sedikit pun repotin mas! Jangan pernah ngomong gitu lagi ya dek! Mas gak suka dengernya" Omel LianLian Pradipta, seorang pria berusia 30 tahun. Pemilik sebuah cafe yang lumayan besar di Jakarta. Lian sendiri adalah seorang duda yang di tinggal pergi oleh Istrinya karena melahirkan buah hati mereka. Lian harus mengikhlaskan kepergian istrinya, setelah Istrinya melahirkan putra kecil mereka.Sedangkan Salsadila Anastasya merupakan adik dari mendiang istri Lian. Lian sudah menganggap Salsa seperti adiknya sendiri. Karena Lian dan istrinya sudah menikah sejak sepuluh tahun lalu, saat usia Salsa masih duduk di bangku SMP. Lian yang merupakan anak tunggal pun sangat senang saat melihat adik iparnya yang sangat menggemaskan saat itu.Setelah lima tahun lamanya menikah, Lian dan istrinya pun tak kunjung diberikan buah hati. Namun Lian tetap sabar dan tak memaksakan apapun pada istrinya. Hingga di tahun pernikahannya yang keenam, istrinya pun hamil. Lian sangat bahagia setelah mengetahui jika ia akan menjadi seorang ayah. Namun ternyata kebahagiaannya tak berlangsung lama, setelah melahirkan putra kecilnya. Istri tercintanya harus pulang ke peristirahatannya untuk selama-lamanya.Lian sudah tiga tahun merawat putranya sendiri karena Salsa dan Mertuanya tinggal di Jogjakarta. Sedangkan Lian tinggal di Jakarta. Walaupun begitu, Salsa hampir dua bulan sekali ke Jakarta untuk menemui keponakan kesayangannya. Namun, setahun yang lalu ibu Salsa meninggal dunia, karena penyakit yang ia derita. Lian sudah berusaha mengajak Salsa tinggal bersamanya, namun Salsa menolak karena ia merasa tak enak jika merepotkan kakak iparnya."Iya, maaf Mas. Janji gak ngomong begitu lagi""Sasa ke kamar Langit dulu ya Mas" Ucap Salsa"Yaudah sana, Langit juga pasti seneng. Tantenya dateng" Balas LianSalsa berjalan menuju kamar Langit. Keponakan kesayangannya yang kini berusia tiga tahun. Langit Revanjaya Pradipta, nama yang Lian berikan untuk putra semata wayangnya.Salsa menciumi seluruh wajah Langit yang masih terlelap"Eughh ayahhh, Langit masih ngantuk" Lenguh sang bocah"Loh? Kok ayah? Ayah diem aja loh disini. Bukan ayah yang ciumin kamu. Coba di buka dulu matanya sayang" Ucap Lian di belakang SalsaDengan berat hati, Langit mencoba membuka matanya. Senyumannya langsung terpancar melihat sosok gadis cantik di hadapannya"Anteeeeee Sasaaaaa" Teriak Langit"Hayy gantengnya antee" Sapa SalsaLangit beranjak dan langsung memeluk Salsa"Langit kangen sekali sama Anteeee. Ante jahat, Ante lupain Langit" Ucap Langit di dalam pelukan Salsa"Utututu maafin ante ya sayang. Ante gak lupain Langit sayang, tapi ante sibuk kerja kemarin. Maaf ya sayang" Balas Salsa merasa bersalah"Langit sayang, udah gausah sedih. Mulai sekarang, ante bakal nemenin Langit bobo disini" Ucap LianLangit terperangah menatap Lian dan Salsa bergantian. Sedangkan Salsa sudah tersenyum ke arahnya"Benelan ante?" Tanya Langit"Iya sayang, boleh kan ante bobo sama Langit?" Tanya Salsa"Yeayyyy, boleh ante. Langit senang ante bobo sama Langit. Yeayyy" Teriak Langit"Tuh dek, seneng banget bocahnya" Ucap Lian tersenyumLian ikut senang melihat Langit begitu bahagia mendengar Salsa akan tinggal bersamanya"Iya Mas, aku gak nyangka Langit sebahagia ini. Jadi gak tega nanti mau ngekos" Ucap Lirih Salsa"Ck, nanti kita bicara lagi ya. Mas ke cafe dulu, kamu jagain Langit" Balas Lian kesal"Dih, kenapa sih? Harus ada ck nya segala" Balas Salsa"Kamu nakal soalnya, bikin mas kesel mulu dari tadi dateng" Ucap Lian"Loh, aku salah ap - ""Sayangnya ayah, ayah kerja dulu ya nak. Langit sama ante di rumah. Jagain ante nya jangan sampe pergi yaa. Ante nakal soalnya, kalo gak di jagain tiba-tiba pergi" Ucap Lian pada Langit"Ish, ante nakal? Ante mau pelgi lagi? Katanya mau nemenin Langit?" Tanya Langit"Makanya Langit jagain ante jangan sampe pergi yaa""Yaudah kiss ayah dulu, ayah mau kerja" Ucap LianLangit mencium kening, kedua pipi dan terakhir bibir Lian. Lian memang membiasakan hal itu pada Langit setiap ia pergi dan pulang dari cafe. Hingga kini Langit sudah terbiasa mencium ayahnya setiap hari"Ayah hati-hati" Balas Langit"Makasih ganteng. Bye nak""Berangkat dulu Sa, inget. Jagain Langit yaa" Ucap Lian"Astaga Mas! Langit ponakan aku! Gak mungkin aku biarin dia ilang!" Gerutu Salsa"Hahaha ya bukan Langit yang ilang, tapi kamu" Balas Lian sembari mencubit pipi Salsa"Awshh Mas! Ishhh!""Mas nih gapernah berubah! Seneng banget nyubit pipi aku!" Omel SalsaMemang sejak menjadi kakak iparnya, Lian senang sekali mencubit pipi gembul Salsa. Karena dulu saat Salsa SMP, Salsa sangat berisi dan pipinya sangat menarik perhatian Lian untuk Lian cubit. Namun kini walaupun sudah kurus, pipi Salsa tetap menggemaskan bagi Lian."Mas kangen sama pipi bakpao mu itu hahaha" Balas Lian sembari meninggalkan kamar Langit"Ayah tuh nakal ya dek, ngeselin" Ucap Salsa pada Langit"Hihihi gak ante, ayah baik kok" Balas Langit"Yeuh salah gue ngomong sama anaknya" Lirih Salsa***"Dek, Langit udah tidur?" Tanya Lian lirih"Eh? Udah mas. Baru aja" Balas Salsa"Ke bawah yuk, Mas mau ngobrol sama kamu. Mas juga beli martabak coklat keju kesukaan kamu" Ucap Lian"Wih? Oke yuk" Balas Salsa semangatLian menggelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat tingkah Salsa yang sangat menyukai Martabak coklat kejuSetelah sampai di bawah, Lian membiarkan Salsa untuk makan martabak lebih dulu. Setelah di rasa Salsa sudah cukup puas, baru Lian memulai obrolan mereka"Adek apa kabar?" Tanya Lian"Mas? Mas udah tanya itu saat aku dateng tadi loh" Balas Salsa heran"Tadi pagi, Mas tanya keadaan fisik kamu. Sekarang, mas tanya kabar hati adek""Dek, mas jadi kakak kamu bukan setahun dua tahun. Mas tau kamu gimana, setahun di tinggal ibu pasti berat banget buat kamu. Mas cuma pengen tau kabar kamu yang sebenarnya dek" Jelas LianMata Salsa tiba-tiba berkaca-kaca. Salsa tak menyangka, kakak iparnya ini benar-benar mengerti dirinya yang memang tidak baik-baik saja."Berat Mas. Tiga tahun lalu waktu di tinggal Mbak aja rasanya masih sakit, ditambah Ibu yang pergi ninggalin aku sendirian""Aku udah gapunya siapa-siapa selain Mas dan Langit. Cuma Mas dan Langit keluarga aku yang tersisa""Aku cuma mau minta tolong banget sama Mas. Kalo Mas nanti nikah lagi, jangan pernah larang aku ketemu Langit ya Mas. Jangan pernah lupa sama aku, aku tetep adik Mas kan meskipun mas sudah punya keluarga baru nantinya?" Ucap Salsa dengan air mata yang sudah mengalir di wajahnyaLian yang tak kuasa mendengar ucapan Salsa segera menarik Salsa ke dalam pelukannya. Lian mengusap punggung Salsa seraya menenangkan Salsa"Dek, mas bahkan gapernah kepikiran untuk nikah lagi. Tujuan mas cuma mau fokus rawat Langit dek""Mas gak akan pernah jauhin kamu dan Langit, karena Langit sayang sekali sama kamu. Mas juga gak akan pernah lupain adik kecilnya Mas ini. Kamu jangan pernah takut yaa, Mas dan Langit akan selalu ada untuk kamu dek. Mas dan Langit akan selalu nemenin kamu" Balas LianSalsa membalas pelukan Lian dan menangis di dada bidang Lian"Makasih ya Mas hiks hiks. Mas Lian sehat-sehat terus yaa. Jangan ninggalin aku dan Langit seperti Mbak dan Ibu hiks hiks. Lukanya masih sakit Mas, aku takut kehilangan lagi hiks hiks" Balas Salsa"Hey, jangan bicara begitu yaa. Kamu doain aja Mas, kamu dan Langit sehat terus""Udah yaa, jangan sedih. Maaf sudah buat Adek nangis malem-malem begini" Ucap Lian sembari melepas pelukannya dan mengusap air mata di wajah SalsaLian sempat terpaku melihat wajah Salsa dari dekat. Salsanya kini sudah menjadi seorang gadis dewasa yang sangat cantik."Kenapa mas?" Tanya Salsa heran melihat kakaknya terpaku menatapnyaLian segera menggelengkan kepalanya"Gak, gapapa" Balas LianAstaga Lian, lo ngapain sih! Sasa adek lo! Kenapa lo bisa terpesona sama adek lo sendiri sih *batin Lian"Mas, besok aku cari kerja ya" Ucap Salsa"Nah, ini juga yang mau mas sampein ke kamu" Balas Lian"Kenapa?" Tanya Salsa"Bi Mina udah lama pengen berhenti kerja" Ucap Lian"Hah? Kenapa Mas?" Tanya Salsa"Ya Bi Mina kan udah tua. Dia pengen menikmati masa tuanya sama anak dan cucunya di kampung Sa""Tapi mas larang karena mas gabisa percaya sama orang lain untuk jagain Langit. Apalagi banyak berita suster dari yayasan terpercaya pun melakukan penyiksaan sama anak majikannya""Mas takut kalo itu kejadian sama Langit. Mas juga kan sibuk kerja di cafe, gabisa jagain Langit seharian full""Nah, waktu kemarin kamu dateng dan Bi Mina denger kamu akan tinggal disini. Bi Mina ngajuin resign lagi sama Mas. Mas gak tega sebenernya sama Bi Mina dek. Dia udah tua dan pengen banget balik ke kampungnya""Jadi maksud mas mau ngobrol sama kamu tuh. Mas mau kamu aja yang jagain Langit di sini yaa. Kamu gausah kerja, mas akan bayar kamu setiap bulannya untuk beli kebutuhan kamu disini. Mas titip anak mas sama kamu, bisa kan dek?" Tanya Lian"Mas ishhh, Langit itu keponakan aku. Masa aku jagain dia harus dibayar sih. Kek baby sitter aja" Balas Salsa"Ya anggap aja kamu kerja sama mas dek. Jadi kamu gausah sibuk cari kerja di Jakarta" Balas Lian"Hhmm boleh deh Mas. Cari kerja di Jakarta juga pasti susah kalo aku cuma lulusan SMA" Balas Salsa"Beneran? Kamu mau dek?" Tanya Lian"Beneran. Tapi gausah banyak-banyak sih Mas. Terpenting cukup buat beli skincare ku aja hehe""Kan kalo makan aku tetep ikut Mas Lian" Balas Salsa"Iyaa, bilang aja butuhnya kamu berapa. Nanti Mas transfer tiap bulan""Asal kamu bisa jagain anak mas dengan baik ya" Ucap Lian"Siap bos! Dengan Sasa, dijamin anak Mas bakalan gembul kek Sasa dulu" Balas Salsa sembari memberikan hormat pada Lian"Hahaha okee, buktikkan aja ya sus" Balas Lian terkekeh"Dihh, sus rini kali ah" Balas SalsaLian terkekeh mendengar jawaban nyeleneh dari adik iparnya itu***"Ante" Panggil Langit"Kenapa sayang?" Tanya Salsa"Kata ayah, Ibu Langit udah di sulga?" Tanya Langit"Iya sayang, Ibu Langit sudah tinggal di Surga""Langit kenapa sayang? Kok tiba-tiba tanya Ibu? Hhmm?" Tanya Salsa lembut"Langit ingin sepelti Sam Ante. Sam selalu jalan-jalan sama Ayah dan Ibunya. Tapi Langit tidak pelna jalan-jalan sama Ayah" Balas Langit sedih"Sayang, Langit mau jalan-jalan? Jalan-jalan sama ante aja mau ya? Hhmm?" Bujuk Salsa"Nanti ayah malah kalo Langit pelgi sama ante" Balas Langit"Kenapa marah? Kan perginya sama ante. Kalo Langit pergi sendiri, pasti ayah marah" Balas Salsa"Tapi Langit pengen sepelti Sam ante, pelginya sama Ayah dan Ibu" Balas Langit sedih"Sayang, Ibu kan sudah di surga. Ibu jagain Langit dari surga sayang. Langit gaboleh sedih, kalo Langit sedih nanti di atas sana Ibu ikut sedih sayang" Balas Salsa"Ibu sedih kalo Langit sedih?" Tanya Langit"Iya sayang, Ibu pasti sedih kalo liat Langit sedih disini""Oh iya, Langit tau gak kenapa kamu namanya Langit? Hhmm?" Tanya Salsa"Gatau ante" Balas Langit"Karena itu nama pemberian Ibu sayang. Ibu mau Langit bisa menjadi laki-laki yang memiliki hati seluas angkasa, laki-laki yang kuat dan mandiri. Serta bisa menjadi laki-laki yang sabar dan tenang, setenang langit biru di atas sana sayang" Ucap Salsa sembari menunjuk ke arah langit lepasSalsa dan Langit tengah berada di halaman belakang rumah Lian. Salsa menemani Langit bermain di halaman belakang. Namun entah mengapa, Langit tiba-tiba menanyakan hal yang menyedihkan"Nama Langit kelen dong belalti ante" Balas Langit"Keren banget dong. Kan Ibu yang memberikan nama pada Langit" Balas Salsa"Ayah dan Ibu dong tante. Ayah juga ikut kasih nama buat Langit loh" Seru LianSalsa dan Langit refleks menoleh ke arah Lian ketika laki-laki itu tiba-tiba ikut menimbrung pembahasan tante dan keponakan ituLian yang baru saja pulang kerja langsung membersihkan tubuhnya dan masuk ke dalam kamar Langit untuk mencari putranya. Namun saat tak menemukan Langit di kamarnya, Lian langsung mencari putranya di seluruh rumah.Lian yang hendak menghampiri Salsa dan Langit, menghentikkan langkahnya ketika mendengar ucapan sedih dari putranya. Lian pun mencoba mendengarkan lebih dulu pembahasan Salsa dan Langit.Lian baru sadar, anaknya sudah semakin besar. Langit bahkan mulai merasa iri pada teman sepantarannya yang memiliki orang tua lengkap."Loh ayah? Ayah sudah pulang" Ucap Langit"Udah dong sayang""Oh iya, tadi ayah denger Langit pengen jalan-jalan? Bener? Hhmm?" Tanya Lian"Iya ayah, tapi kalo ayah kelja gapapa kok ayah. Langit di lumah saja sama Ante" Balas LangitLian menatap putranya dengan tatapan sedih. Anaknya baru berusia tiga tahun, tapi kenapa Langit bisa sedewasa ini di usia nya yang masih sangat kecil."Mas" Ucap Salsa sembari mengusap punggung LianSalsa tau rasa bersalah Lian yang selama ini kurang perhatian pada Langit karena pekerjaannya. Salsa bisa menyadari dari tatapan sedih Lian.Lian tersenyum pada Salsa, sebagai tanda jika ia tak apa-apa"Besok ayah libur sayang. Besok kita jalan-jalan liat hewan mau? Ayah, Langit dan Tante Sasa? Mau tidak?" Tanya Lian"Ayah? Ayah benelan? Kita jalan-jalan ayah?" Tanya Langit"Iya dong boy. Mau gak?" Tanya Lian"Mau ayah! Langit mauuuu. Yeayyyyy jalan-jalannnn" Seru Langit"Hahahah seneng banget sih""Tanya dulu dong sama tantenya, tante mau ikut gak?" Tanya Lian"Ante, ante ikut yaa. Biar Langit bisa sepelti Sam. Jalan-jalan sama ayah dan Ibunya""Ante jadi Ibu Langit ya besok. Kita jalan-jalan sama ayah. Mau ya anteee" Ucap Langit semangatSedangkan Salsa dan Lian menatap Langit, karena terkejut dengan ucapan Langit. Langit begitu ingin merasakan memiliki orang tua yang lengkap, hingga ia ingin Salsa menjadi ibunya"Dek, maafin Langit. Dia masih gatau apa yang dia ucapin" Bisik Lian"Iya mas. Gapapa. Aku paham kok" Balas Salsa"Iya sayang, ante mau. Besok kita jalan-jalan ya" Ucap Salsa"Yeayyyy jalan-jalan sama Ayah dan anteeee" Balas Langit bahagia lalu melanjutkan bermain dan meninggalkan Lian dan Salsa"Seneng banget liat dia sebahagia itu Mas" Ucap Salsa"Iya dek. Mas jadi ngerasa bersalah karena selama ini mas terlalu sibuk kerja dan kurang perhatian sama Langit""Sania pasti sedih di atas sana, karena mas gak becus jadi ayah yang baik buat Langit" Ucap Lian"Sustt hey, Mas gaboleh ngomong begitu""Mas itu ayah terbaik buat Langit. Mas bahkan rela gak nikah lagi demi fokus ngurus Langit. Mbak Sania pasti bangga sama Mas disana Mas. Mas jangan ngomong gitu lagi ya" Ucap Salsa sembari mengusap punggung Lian"Dek, mas boleh minta peluk gak? Mas capek banget rasanya hari ini" Balas LianSalsa tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya. Lian segera masuk ke dalam pelukan Salsa dan mencari kenyamanan pada dada Salsa"Nyaman banget ada di pelukan kamu dek" Ucap LianEntah mengapa jantung Salsa berpacu sangat cepat saat mendengar Lian mengatakan hal itu. Di tambah Lian yang kini tengah mengusal pada dadanya, berhasil membuat jantung Salsa semakin tak karuan."Mas udahan ih, berat tau" Ucap Salsa sembari mencoba menetralkan perasaannya"Masih nyaman dek, disini empuk" Balas Lian frontal"Isshhh masss ihhh! Minggir! Mesum banget sihhh" Omel Salsa sembari mendorong tubuh Lian"Hah? Mas mesum darimana nya sih dek?" Tanya Lian terkejut"Itu tadi bilang dada Aku empuk" Balas Salsa maluLian tersenyum lalu mengusap kepala Salsa kasar"Ya kan emang empuk. Adek kan cewek, punya nenen, makanya empuk""Kalo mas, kan cowok gapunya nenen dek" Balas Lian frontal"Ishhh gausah di perjelas! Aku kan maluuu massss" Ucap Salsa"Hahahaha ngapain malu sih! Kamu dari kecil tuh sama mas! Walaupun setelah mbak gak ada, mas pindah ke Jakarta tapi tetep aja mas tau kamu dari SMP dek. Gausah malu sama Mas" Balas Lian"Ish ya tetep aja. Dulu kan aku masih kecil, sekarang kan udah gede. Ya beda lah mas" Balas Salsa"Iya sih beda, sekarang makin gede" Balas Lian sembari menatap dada Salsa"Masshhh ishhhhhhh tau ahhh! Dasar duda mesum!" Umpat Salsa lalu meninggalkan Lian dan menggandeng Langit pergiLian terkekeh melihat Salsa yang terlihat kesal padanya. Lian bisa kembali merasakan kebahagiaan sejak Salsa tinggal di rumah bersamanya dan Langit.***"Hey, kok diem aja? Langit gak seneng liat hewan-hewan? Hhmm?" Tanya LianSesuai janjinya, Lian mengajak Salsa dan Langit pergi ke daerah bogor untuk melihat satwa di tempat wisata Cimory Dairyland. Lian ingin menghabiskan waktunya bersama Langit dan Salsa."Hey? Sayang? Di tanya ayah loh? Kok diem aja sih? Kenapa? Hhmm?" Tanya Salsa"Hiks hiks ayahhh hiks hiks" Ucap Langit terisak"Loh? Kenapa? Kok nangis?" Tanya Lian lalu menggendong Langit"Ayahhh, Langit pengen punya Ibu hiks hiks. Langit pengen sepelti anak itu hiks hiks" Ucap Langit menunjuk sebuah keluarga kecil yang terlihat bahagia"Sayang, Langit kan tau. Ibu Langit sudah di surga. Kenapa Langit nangis dan marah seperti ini? Langit punya Ibu kok sayang, tapi Ibu Langit sudah ada di atas sana" Balas Lian"Hiks hiks gamau ayahhh gamauuuu""Langit mau punya Ibuuuuu hiks hiks" Balas Langit berontak"Langit!" Tegur Lian"Mas! Jangan di bentak Langitnya" Tegur Salsa"Sini sayang sama ante" Ucap Salsa lalu merebut Langit dari Lian"Langit dengerin Ante ya sayang""Langit kan masih punya ante, Langit bisa anggap Ante Ibu Langit. Ante sayang sama Langit seperti Ibu yang sayang banget sama Langit" Ucap Salsa pada Langit"Hiks hiks, benelan ante? Langit boleh panggil ante Ibu? Hiks hiks?" Tanya Langit"Eh? Hhmm jangan sayang. Tetep panggil ante dong. Kan ante - ""Hiks hiks hiks katanya ante Ibu Langit? Kenapa gaboleh panggil Ibu? Hiks hiks" Ucap Langit terisak"Langit! Kamu kenapa sih! Ayah udah ajak kamu jalan-jalan sesuai keinginan kamu! Tapi nyampe disini kamu malah marah-marah gak jelas gini! Mending kita pulang deh! Kamu juga nakal, maksa tante Sasa aneh-aneh! Udah ayo pulang!" Omel Lian"Mass!" Tegur Salsa"Udah Sa, gausah di manja lagi Langitnya! Dia malah makin ngelunjak nanti" Balas Lian"Ck, udah sana Mas minggir. Biar aku yang urus Langit" Omel Salsa"Loh, kok mas yang di usir sih" Balas Lian"Yaudah makanya diem! Nenangin anak tuh bukan sama emosi! Diem!" Omel Salsa"Hhmm lupa mas kalo di depan mas udah bukan bocil! Udah berani bentak-bentak masnya" Sindir Lian"Astaga, maaf Mas. Bukan begitu maksud aku" Balas Salsa"Iya iya, mas paham kok" Balas Lian"Langit sayang, cup cup nak. Udah ya jangan nangis""Langit kan laki-laki. Masa anak laki, cengeng sih? Hhmm? Malu tauu" Ucap SalsaLangit tak lagi menanggapi Salsa, dia masih menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya"Sayang, jangan nangis. Ante ikut sedih liat Langit nangis begini""Maafin ante yaa, ante bukan larang Langit untuk manggil Ibu sama Ante. Ibu Langit tetep Ibu Sania sayang. Ibu yang sudah berjuang lahirin Langit""Ante gak akan pernah bisa ganti posisi Ibu Sania di hidup Langit. Tapi Ante bisa menyayangi Langit seperti Ibu Sania menyayangi Langit""Hhmm gimana kalo Langit panggil Ante, Buna? Gimana? Hhmm?" Tanya SalsaLian membulatkan matanya mendengar Salsa mengatakan hal itu pada Langit"Buna?" Tanya Langit"Buna itu sama seperti Ibu sayang. Hanya berbeda panggilannya saja""Jadi, Ibu Langit tetap abadi di hidup Langit yaitu Ibu Sania. Dan ini, Buna Sasa yang akan menyayangi Langit selama-lamanyaaaa" Balas Salsa memeluk Langit"Hiks hiks Bunaaaaa""Langit punya Bunaaa" Ucap Langit membalas pelukan Salsa"Iya sayang, Langit punya Buna" Balas Salsa dengan air mata yang menetesMbak, aku janji. Aku akan lakuin apapun demi kebahagiaan Langit *batin SalsaSan, liat adik kita San. Dia benar-benar sudah dewasa. Dia bahkan rela mengisi sosok mu dalam hidup Langit *batin Lian"Eitss tanya Ayah dulu. Boleh tidak panggil ante Buna. Takutnya ayah gak bolehin Langit" Ucap Salsa sembari menatap Lian"Ayah hiks hiks. Boleh kan Langit panggil Ante Buna?" Tanya LangitLian mensejajarkan tubuhnya dengan Langit dan Salsa."Boleh, tapi janji Langit jangan nangis lagi yaa. Sekarang Langit kan udah punya Buna, Langit gaboleh iri sama orang lain lagi. Oke sayang" Ucap Lian"Iya ayah" Balas Langit"Good boy. Di hapus dong air matanya, masa anak ayah cengeng sih""Nanti ayah kasih kamu ke harimau ya, biar di makan harimau. Mau?" Tanya Lian sembari mengusap air mata di wajah Langit"Gamau ayah" Balas Langit"Maafin ayah ya, tadi udah marah sama Langit" Ucap Lian"Iya ayah. Langit juga minta maaf kalena nakal dan cengeng" Balas Langit"It's okey sayang. Asal janji gaboleh di ulangi ya" Balas Lian"Iya ayah" Balas Langit"Buna di hapus juga dong air matanya. Langit kan udah gak nangis" Ucap Lian lalu mengusap air mata Salsa"Eh, hehe iya lupa""Yaudah yuk, kita lanjut jalan-jalannya" Balas Salsa salah tingkahEntah mengapa setelah hampir dua bulan tinggal bersama kakak iparnya. Salsa seringkali gugup dan salah tingkah saat berinteraksi dengan Lian. Salsa sendiri bingung dengan perasaannya saat ini."Yaudah yuk" Balas LianSetelah selesai dari tempat wisata awal, Lian mengajak Langit dan Salsa untuk bermalam di Puncak. Karena Lian sudah menyewa sebuah Villa untuk mereka bertiga."Mas udah sore, udahan renangnya. Kasian Langit itu nanti masuk angin" Teriak Salsa"Tuh, Buna udah suruh berhenti. Ayoo" Ucap Lian pada Langit"Ayahhh masih mau renanggg" Rengek Langit"Anaknya masih mau renang Bun" Teriak LianSalsa berusaha menetralkan jantungnya tiap Lian memanggilnya dengan sebutan BunaMbak, Mbak marah gak ya kalo tiba-tiba aku suka sama Mas Lian? Mas Lian bener-bener suami idaman Mbak. Lama-lama aku bisa gila kalo suami mbak bersikap manis terus sama aku mbak. Sikap Mas Lian udah bukan seperti dulu, ini udah bukan kek abang ke adek nya mbakkkk *batin Salsa"Langit, udah sore nak. Ayo udahan berenangnya. Besok pagi kan bisa berenang lagi sayang" Ucap Salsa"Oke Buna" Balas Langit"Lah, nurut banget giliran buna nya yang ngomong" Gerutu Lian"Hahaha siapa dulu, Sasa gitu loh""Udah mas juga buruan mandi, ntar masuk angin lagi. Makin dingin soalnya udaranya" Omel Salsa"Mandiin juga dong Buna" Goda Lian"Heh! Mas!" Tegur Salsa"Hahahaha gak adil kamu dek, Langit di mandiin. Mas gak di mandiin" Balas Lian terkekeh"Dasar gilaaa!" Umpat Salsa lalu membawa Langit masuk ke dalam VillaLagi-lagi Lian tertawa melihat Salsa kesal kepadanya.***"Loh mas? Kok belum tidur?" Tanya Salsa menghampiri Lian"Eh dek, tunggu dalem aja. Mas lagi ngerokok" Balas Lian"Mas! Kayanya semenjak di tinggal Mbak. Mas makin parah ya ngerokoknya" Omel SalsaLian segera mematikan rokok yang ada di tangannya lalu menatap Salsa dengan senyumannya"Udah lama gak ada yang ngomel kalo Mas lagi ngerokok" Balas Lian"Ish, malah ngomong yang lain!" Omel Salsa"Hahaha mas seneng aja dek. Ternyata kamu gak perhatian sama Langit aja, tapi mas juga" Balas LianSalsa menghela nafasnya lalu menatap Lian"Mas, mas kan udah janji untuk sehat terus. Gimana mas mau sehat kalo mas ngerokok terus mas?""Sisa rokok di baju mas juga bahaya buat Langit dan aku. Mas gak kepikiran kalo rokok itu sangat bahaya ya buat Langit, aku dan bahkan mas sendiri" Ucap Salsa berkaca-kacaLian yang melihat mata Salsa mulai berkaca-kaca pun sadar jika Salsa kembali merasa ketakutan akan kehilangan"Mas mandi dulu ya, kamu tunggu mas di ruang tengah. Nanti kita lanjutin obrolan kita" Ucap Lian mengusap kepala SalsaSalsa menganggukkan kepalanya lalu menunggu Lian di ruang tengah Villa mereka."Maaf ya, mas lama" Ucap Lian sembari duduk di sebelah Salsa"Gak kok mas" Balas SalsaLian menghela nafasnya lalu menghadap ke arah Salsa"Adek, adek jangan marah dong sama mas""Semenjak Sania pergi, hidup mas udah jauh gak terkontrol apalagi soal rokok""Tapi mas janji, mas akan kurangin rokok mas yaa. Adek juga gaperlu khawatir, Mas gak akan kenapa-napa dek" Ucap Lian"Berhenti mas, bukan di kurangin! Rokok itu bahaya! Mas ngerti gak sih!" Omel Salsa"Ya gabisa dong dek kalo langsung berhenti, susah" Balas Lian"Pasti bisa mas! Aku bakal bantuin Mas buat berhenti ngerokok!""Ntar kalo udah pulang ke rumah, aku bakal beliin mas buah-buahan dan permen. Jadi tiap mas pengen rokok, mas mam aja permen" Balas Salsa"Hhmm gak ngaruh! Mas udah pernah coba""Dulu mas bisa berhenti ngerokok karena gantinya cium bibir mbakmu. Makanya setelah mbak mu gak ada, mas jadi ngerokok lagi" Balas Lian"Ish, masa harus gitu sih mas" Balas Salsa"Emang iya harus gitu""Adek mau gak? Mas cium bibirnya, untuk gantiin mulut mas yang pahit pas pengen ngerokok?" Tanya Lian Frontal"Hah? Kenapa harus aku? Sama pacar mas sana lah" Balas Salsa"Ck, mas gapunya pacar!""Lagian yang maksa mas untuk berhenti ngerokok kan kamu, ya makanya mas minta ke kamu dek" Balas Lian mengintimidasiSejujurnya Lian sendiri sudah mulai jatuh hati dengan Salsa. Beberapa bulan tinggal bersama, membuat Lian bisa kembali merasakan gejolak aneh setiap di dekat adik iparnya. Salsa benar-benar memberi warna baru pada hidup Lian setelah kehilangan istrinya tiga tahun lalu."Tapi aku kan maksa mas juga untuk kesehatan mas" Balas Salsa"Iya, mas paham dek. Tapi mas gabisa langsung berhenti gitu aja, mas - ""Yaudah iya, aku mau" Balas Salsa pasrahLian menatap Salsa dengan tatapan tak percaya"Beneran mau?" Tanya Lian"Mm-mau" Balas Salsa gugupLian tersenyum lalu mengusap wajah Salsa"Kalo sekarang boleh? Tadi kan ngerokoknya belum puas" Balas Lian senduSalsa refleks menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Lian. Salsa benar-benar tak bisa mengendalikan diri jika sudah berada di dekat Lian.Lian tersenyum lalu mulai mencoba mendekatkan wajahnya pada wajah Salsa. Lian mulai menempelkan bibirnya pada bibir mungil Salsa, lalu perlahan melumatnya."Buka bibirnya dek, ikutin apa yang mas lakuin" Ucap LianLagi-lagi Salsa hanya bisa menganggukkan kepalanya lalu mulai mengikuti permainan lidah Lian.Salsa dan Lian benar-benar terbawa suasana, hingga kini Salsa tak sadar sudah berada di bawah kungkungan Lian."Eughh mashh" Lenguh Salsa saat Lian menyesap leher mulusnyaSaat Lian mulai meremas payudaranya, kesadaran Salsa segera kembali lalu mendorong Lian."Kenapa dek?" Tanya Lian heran"Maaf mas, aku ngantuk. Aku tidur dulu" Balas Salsa lalu pergi dari hadapan Lian"Ck! Lo gabisa banget nahan diri Lian! Sasa pasti marah sama lo! Lagian nih tangan nakal banget main remes-remes dada Sasa!""Begini nih efek kelamaan jomblo! Sekali deket cewek gabisa nahan! Padahal itu adek lo Lian!""San, maafin Mas yaa. Sepertinya mas udah beneran jatuh cinta sama adek kita. Kamu bener San, hanya Sasa yang bisa gantiin kamu di hidup mas" Monolog LianFlashback On"Mas, kalo nanti aku melahirkan dan aku gabisa di selamatkan. Tolong kamu jaga anak kita baik-baik ya Mas" Ucap Sania"Ck, kamu tuh ngomong apa sih sayang!""Bertahun-tahun kita nikah! Kehadiran adik sudah lama kita nantikan! Tapi kamu malah ngomong begini! Mas gak suka dengernya!" Balas Lian"Mas, kamu kan tau sendiri. Melahirkan seorang anak itu taruhannya nyawa mas. Dan aku paham resiko itu""Aku cuma mau kamu janji kalo aku udah gak ada, kamu harus jaga dan rawat anak kita baik-baik mas" Ucap Sania"Sayang! Belum lahir aja mas udah sayang banget sama anak kita! Tanpa kamu minta pun mas akan jaga anak kita sebaik mungkin sayang, dan itu sama kamu!" Balas LianSania tersenyum lalu mengusap wajah Lian"Kalo aku gak ada, jangan nikah lagi ya mas. Aku takut istri baru kamu gak akan terima Langit dengan tulus. Aku takut Langit - ""Sutss udah, tidur! Kamu makin lama makin ngaco ngomongnya. Udah ayo tidur" Omel Lian"Mas, kamu boleh nikah lagi kalo nikahnya sama Sasa ya mas. Aku lebih percaya adik aku akan menyayangi Langit setulus aku, dan dia gak akan berani nyakitin Langit kaya ibu tiri di sinetron-sinetron. Aku takut mas" Balas Sania"Astaga Sania! Kamu sadar gak sih barusan ngomong apa? Sasa masih kecil! Dia itu adik kamu, adik mas, adik kita! Gimana bisa mas nikah sama dia!""Bahkan Mas yang akan nikahin dia sama laki-laki pilihan dia nantinya sebagai pengganti bapak! Bukan mas yang nikah sama Sasa!" Ucap Lian"Mas, takdir gak ada yang tau kedepannya akan seperti apa! Aku cuma takut takdir gak mengizinkan aku untuk merawat putra ku nanti mas!""Kamu itu laki-laki dewasa, setelah aku tiada kamu juga pasti butuh istri yang melayani kamu nantinya sebagai penggantiku. Dan aku yakin, cuma Sasa yang bisa gantiin aku sebagai istri kamu mas""Adik aku itu cantik, manis dan penurut. Dia juga sangat baik mas! Aku hanya percaya sama dia untuk menjadi Ibu sambung dari anak kita. Dan aku yakin, kamu juga akan bahagia jika hidup sama Sasa nantinya Mas" Ucap Sania"Cukup San! Kamu udah bener-bener kelewatan! Mas gak suka denger semua ucapan kamu ini!""Kamu cuma overthinking karena sebentar lagi melahirkan! Semua itu gak akan terjadi! Kamu akan baik-baik saja dan kita yang akan merawat anak kita sama-sama! Paham!" Tegas Lian"Aku yakin, suatu saat nanti kamu pasti jatuh cinta sama adik aku Mas. Aku akan bahagia sekali kalo kamu beneran nikah sama Sasa nantinya" Ucap SaniaSetelah mengatakan itu, Sania memilih tidur dan meninggalkan Lian yang masih mematung dan sibuk mencerna ucapan SaniaFlashback OffMas jadi curiga, kamu itu peramal dari masa depan San. Kamu yang dari awal yakin kalo mas bakalan jatuh cinta sama Sasa, dan hari ini mas mengakui itu. Mas jatuh cinta sama adik kita San, mas jatuh cinta sama SasaMas minta izin ya sayang, mas akan ajak Sasa menikah. Mas gamau nantinya mas mengulangi kesalahan mas barusan dan merusak masa depan Sasa. Mas mau menikah dan menjalin hubungan yang sah dengan adik kamu. Mas janji, mas akan jaga Sasa sesuai permintaan bapak, Ibu dan kamu sayang *batin Lian sembari memandang foto pernikahannya dan Sania***"Sayangnya ayah, bangun yuk" Ucap Lian sembari menciumi wajah Langit"Eughh ayahhhh, Langit masih ngantukkk" Rengek Langit"Sayang, kan kita mau pulang ke Jakarta nak. Ayo bangun" Bujuk Lian"Buna mana? Kenapa ayah yang disini?" Tanya Langit"Hhmm mentang-mentang udah punya Buna. Ayahnya di lupain" Balas Lian"Ayahhhh manaaa Bunaaaa" Rengek Langit"Buna lagi masak di bawah buat sarapan. Ayo sekarang Langit mandi sama ayah ya, yuk" Balas Lian"Gamauuu, mau sama Bunaaa" Rengek Langit"Hhmm Langit mau gak, kalo Buna sama-sama, sama Langit dan ayah selamanya?" Tanya Lian"Mau ayah, Langit sayang Buna" Balas Langit"Langit minta Buna untuk nikah ya sama Ayah. Biar kita bisa sama-sama terus sayang" Ucap Lian"Nikah? Apa itu ayah?" Tanya Langit"Hhmm pokoknya Langit bujuk Buna ya sayang, supaya Buna mau nikah sama Ayah. Biar kita bisa hidup bareng-bareng terus""Langit emang mau kalo Buna ninggalin Langit dan ayah seperti dulu? Hhmm?" Tanya Lian"Gamau ayah, Langit mau sama Buna telus" Balas Langit"Yaudah, Langit bujukin Buna yaa supaya Buna mau nikah sama ayah sayang" Ucap LianSemalaman Lian berpikir bagaimana cara untuk menikahi Salsa. Lian sendiri takut jika adik iparnya itu menolak keinginan darinya untuk menikah. Namun Lian teringat, jika Salsa tak mungkin bisa menolak Langit. Salsa sangat menyayangi Langit, Lian berpikir untuk sedikit memanfaatkan anaknya demi bisa menikah dengan Salsa.Lian sudah benar-benar yakin dengan perasaannya. Lian tak ingin kejadian semalam terulang dan berujung Ia akan menghancurkan masa depan Salsa nantinya."Oke ayah" Balas Langit"Loh, kok belum mandi? Katanya ayah mau mandiin Langit?" Ucap Salsa yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar"Buna, kata ay - ""Iya Bun, ini mau di mandiin. Udah sana, Buna keluar dulu" Ucap Lian sembari membekap mulut Langit"Heh! Mas. Langit di apain ituuu" Omel Salsa"Gapapa udah biasa, udah sana" Balas Lian sembari mendorong Salsa keluar kamar"Ish! Ayah, kenapa di tutup mulut Langit? Katanya Langit halus bilang sama Buna!" Ucap Langit"Ya nanti dong sayang, bukan sekarang""Udah ayo, Langit mandi sama ayah" Balas Lian***"Dek, lagi apa?" Tanya Lian"Lagi coba bikin pancake Mas" Balas Salsa"Dek, mas mau ngerokok yaa. Satu batang aja" Ucap LianSalsa berbalik badan menatap tajam ke arah Lian"Please dek, pahit banget mulut mas" Ucap Lian lagiTanpa aba-aba Salsa mencium bibir Lian dan melumatnya. Lian sedikit terkejut dengan sikap Salsa, namun perlahan ia pun membalas ciuman SalsaTangan Lian bergerak tanpa di komandoi, tangannya bahkan sudah masuk ke dalam kaos Salsa dan meremas payudara Salsa"Masshh eughh" Lenguh SalsaMendengar lenguhan Salsa, Lian segera menyadarkan tubuhnya. Lian melepas ciuman mereka lalu menggandeng Salsa duduk di ruang tengah"Loh, mas? Mau kemana? Pancake ku belum jadi" Ucap Salsa"Mas mau ngomong penting" Balas Lian tetap menggandeng SalsaSetelah sampai di ruang tengah, Lian menghadap Salsa dan menggenggam kedua tangan Salsa"Mas?" Tanya Salsa heran"Maaf kalo akhirnya mas jujur sama kamu. Semoga kamu bisa menerima dan gak risih dengernya ya dek" Ucap Lian"Kenapa?" Tanya Dalsa"Mas cinta sama kamu dek. Rasa sayang mas berubah setelah kita tinggal bersama beberapa bulan ini. Rasa sayang kakak ke adik, tiba-tiba berubah gitu aja jadi rasa sayang ke pasangan bahkan sudah berubah menjadi cinta dek""Setiap mas deket kamu, mas ngerasa nyaman. Mas ngerasa tenang, dan mas bisa kembali merasakan perasaan itu sama kamu setelah tiga tahun lamanya rasa itu hilang dari hidup mas""Hidup mas kembali berwarna setelah kamu hadir dalam hidup mas dan Langit. Mas jadi punya semangat baru setiap harinya dek. Dan mas gamau setiap mas deket kamu, mas selalu kelepasan dan berakhir khilaf nantinya""Karena perasaan mas udah bukan layaknya kakak ke adik, tapi layaknya laki-laki pada pasangannya dek. Mas selalu ingin nyentuh kamu layaknya pasangan mas. Mas takut, mas takut kalo mas khilaf dan lakuin hal yang gak bener nantinya""Mas mau menikahi kamu dek, mas mau kamu jadi istri mas dan hidup sama Mas dan Langit selamanya. Apa kamu mau dek jadi istri mas?" Tanya Lian"Mas? Mas beneran?" Tanya Salsa shock"Maafin mas kalo kejujuran mas bikin kamu shock. Tapi mas beneran dek, mas beneran jatuh cinta sama kamu" Balas Lian"Mm mbak Sania?" Tanya Salsa"Kamu tau, Sania pasti memiliki ruang tersendiri di hati Mas dan Langit. Sania sudah bahagia di surga, dia juga pasti bahagia kalo kita menikah dek" Balas LianSalsa menarik nafasnya dalam"Mas, sejujurnya beberapa bulan tinggal bersama sama mas. Itu buat perasaan aku juga berubah sama mas. Aku suka sama mas, dan aku sayang bukan lagi sebagai kakak ku""Tapi aku jadi ngerasa kalo aku khianatin Mbak Sania mas. Aku coba hilangin perasaan itu, tapi entah kenapa setiap berdekatan sama mas dan bahkan setiap kali berinteraksi sama mas. Perasaan itu semakin besar di hati aku mas""Aku gapernah ngerasain hal ini sebelumnya, tapi aku udah dewasa dan aku tau ini perasaan cinta. Aku cuma takut, mbak Sania marah karena aku suka sama suaminya" Balas Salsa menundukLian tersenyum mendengar ucapan Salsa, lalu menarik dagu Salsa agar menatapnya"Mbak mu gak akan marah Dek. Asal kamu tau, mbak mu itu seperti peramal di masa depan" Ucap Lian"Maksudnya?" Tanya SalsaLian pun menceritakan kilas balik tentang Sania yang memaksanya menikahi Salsa setelah dirinya tiada"Mas? Beneran mbak ngomong gitu?" Tanya Salsa"Mas berani sumpah apapun! Mbak sendiri yang ngomong begitu sama mas!""Ya walaupun awalnya mas marah besar sama dia, karena mas masih anggap kamu adik kecilnya mas""Tapi sekarang, mas justru ingin mengabulkan permintaan mbak mu dulu Dek""Adek mau kan menikah dengan Mas? Jadi istri mas dan buna untuk Langit?" Tanya Lian sekali lagiSalsa tersenyum lalu menganggukkan kepalanya"Insyaallah, aku mau Mas! Selama ini aku hanya takut mbak marah diatas sana karena berpikir aku merebut suami dan anaknya""Tapi setelah dengar cerita mas, ketakutanku hilang. Aku akan jaga amanah mbak untuk selalu jagain dan sayangin Langit mas""Beberapa hari ini juga Langit selalu bilang kalo aku harus nikah sama ayahnya. Agak bingung juga, si Langit tau bahasa nikah dari siapa! Dan sekarang udah ketemu sih pelakunya" Balas Salsa"Hahaha ya Jagain dan sayangin mas juga dong, bukan Langit doang""Lagian, kalo mas gak paksa Langit buat bujukin kamu, mas takut kamu nolak ajakan nikah dari mas" Balas Lian"Ish, masa cemburu sama anak sendiri sih" Balas Salsa"Jelas cemburu! Kalo soal kamu, mas dan Langit harus bersaing dapetin perhatian kamu dek" Ucap Lian"Astaga Mas Lian. Gausah sampe bersaing gitu deh. Mas Lian dan Langit itu berbeda, kalian punya porsinya masing-masing di hati aku" Balas Salsa"Tapi porsi mas lebih besar kan?" Tanya LianSalsa yang tak ingin memperpanjang masalah pun akhirnya mengiyakan ucapan Lian"Iya, Porsi Mas Lian jauh lebih lebih lebih besar" Balas Salsa"Yeayyy, makasih Buna""Besok Mas akan urus pernikahan kita secepatnya ya. Kita menikah bulan depan" Ucap Lian"Hah? Gak kecepetan mas?" Tanya Salsa"Yaudah minggu depan" Balas Lian"Hah! Gila! Gak ya mas! Bulan depan aja udah" Balas Salsa"Hahaha kenapa sih? Mas kan gak sabar mau nikah sama kamu sayang" Balas Lian"Dih? Main sayang-sayang aja nih" Balas Salsa"Ya kenapa? Sama calon istri ini" Balas Lian"Ya pelan-pelan dong. Kan jantung aku belum siap ini" Balas Salsa"Hahaha sayang, kamu lucu banget sih" Balas Lian terkekeh sembari memeluk Salsa***"Sayang, Langit kan udah besar. Malam ini, Langit mulai bobo sendiri ya sayang" Ucap Lian"Hah? Kenapa ayah? Langit mau bobo sama Bunaaaa" Rengek Langit"Loh, hari ini Langit kan udah umur 4 tahun sayang. Langit lupa? Berarti Langit sudah semakin besar. Dan Langit harus bobo sendiri mulai malam ini" Ucap Lian"Buna?" Tanya Langit"Buna bobo sama ayah. Kan tadi ayah sama buna sudah menikah sayang. Jadi Buna sudah boleh bobo sama ayah" Balas LianLian dan Salsa memang sudah menikah tepat di hari ulang tahun Langit yang keempat tahun. Salsa semakin yakin menerima Lian karena ia sempat bermimpi kakaknya yang tersenyum bahagia padanya. Salsa sangat berharap mimpi itu pertanda jika kakaknya juga bahagia dengan pernikahannya dan Lian."Bunaaaa" Rengek Langit"Udah gapapa ya mas, malam ini Langit bobo sama kita dulu" Ucap Salsa tak tega"Ck, sayang! Kalo gak dari sekarang, mau kapan Langitnya di ajarin? Kamu tuh harus tega sekali-kali sama Langit""Langit itu laki-laki, jangan terlalu di manja sayang" Omel Lian"Mas, tapi kan - ""Sayang, ayolahhh" Mohon LianSalsa paham betul mengapa Lian memaksa Langit untuk tidur di kamarnya sendiri malam ini. Lian pasti ingin menghabiskan malam pertamanya dengan Salsa."Langit, sayangnya Buna""Langit kan laki-laki, Langit harus berani bobo sendiri. Buna pernah denger kalo Sam sudah tidur sendiri loh di rumahnya""Langit gamau kaya Sam? Sam aja berani loh sayang bobo sendiri. Langit pasti bisa lebih hebat dari Sam, kalo Langit bisa bobo sendiri" Bujuk Salsa"Benelan Buna?" Tanya Langit"Iya, Ibu nya Sam tadi bilang sama Buna. Sam sudah bobo sendiri sejak malam-malam kemarin. Langit gamau bobo sendiri juga? Hhmm?" Tanya Salsa"Hhmm mau Buna! Langit mau sepelti Sam yang tidak penakut" Balas Langit"Nah, Langit dan Sam kan bersahabat. Jadi Langit dan Sam harus sama-sama jadi anak hebat""Dengan Langit mau bobo sendiri, itu udah jadi contoh anak yang hebat sayang""Buna dan Ayah bangga sekali sama Langit" Ucap Salsa lembutLian tersenyum manis setiap mendengar obrolan Salsa dengan Langit. Salsa selalu bisa menasehati Langit dengan lembut, tidak seperti Lian yang selalu tidak sabar dengan putranya sendiri."Langit mau jadi anak hebat Buna, Langit mau bobo sendili ayah" Ucap Langit"Good boy! Itu baru anak ayah""Yaudah, Langit bobo ya nak. Ini udah malam""Selamat malam Langit sayang" Ucap Lian"Selamat Malam ayah" Balas Langit"Selamat malam gantengnya Buna. Bobo yang nyenyak ya sayang. Mimpi indah Langitnya Buna" Ucap Salsa lalu mengecup kening Langit"Selamat malam juga Buna cantik" Balas LangitLian tersenyum lalu merangkul mesra pinggang Salsa untuk keluar dari kamar Langit"Mas bangga sama kamu sayang, kamu beneran udah sesiap itu jadi Ibu" Ucap Lian di depan kamar Langit"Aku juga masih belajar mas" Balas Salsa"Yaudah, ke kamar mas yuk" Ajak Lian"Iya mas" Balas Salsa***Lian tersenyum menatap Salsa yang masih tertidur pulas di dalam pelukannya. Istri barunya itu pun nampak sangat kelelahan setelah semalaman Lian gempur tanpa henti.Bayangkan saja, Tepat empat tahun Lian tak pernah merasakan surga dunia lagi setelah mendiang istrinya pergi. Selama ini Lian hanya bisa bermain sendiri jika sudah tak kuasa menahan nafsunya. Namun, malam ini Lian sudah kembali memiliki kekasih halal untuk menyalurkan segala hasratnya.Tentu Lian lupa sosok Salsa yang selama ini menjadi adik kecilnya. Lian hanya bisa melihat sosok Salsa yang baru, Istri yang baru ia nikahi hari itu.Apalagi ternyata tubuh Salsa sangat indah, putih, mulus dan juga seksi. Membuat Lian benar-benar kalap dan lupa akan waktu. Lian sangat menikmati setiap inchi tubuh Salsa yang sudah Sah menjadi miliknya.Lian, lo brutal banget sih semalam. Sampe tubuh Salsa penuh bekas lo begini, mana ada bekas cakaran tangan lo lagi! Bener-bener kesetanan lo ya semalamTapi wajar gak sih? Gue udah gapernah begituan sejak Sania pergi. Dan semalam tiba-tiba gue di suguhkan tubuh istri gue yang begitu indah. Gimana gue gak gila?Tapi gue bukan pedofil kan? Nikahin bocah yang usianya jauh di bawah gue? Gak lah yaa, kan Sasa udah gede *batin Lian sembari tersenyum geli melihat bekas miliknya di tubuh Salsa"Sayangnya mas, bangun yuk sayang. Udah siang cantik" Ucap Lian sembari menciumi wajah Salsa"Eughhh masih ngantuk mas, capek. Badanku remuk" Balas SalsaLian terkekeh lalu kembali menciumi Salsa"Ahhh mashhhhh basah wajah akuuu" Rengek Salsa"Makanya bangun! Mas cuma basahin wajah kamu ya sekarang. Tapi kalo masih gak bangun, mas bikin basah yang bawah" Ancam LianSalsa refleks membuka lebar-lebar matanya"Ishhh gak ada puasnya!""Semaleman kan udah! Habis subuh juga minta lagi! Masa masih kurang sihhhh""Punya aku masih sakit mas! Sakit bangettttt" Rengek Salsa dengan mata berkaca-kacaLian yang melihat mata Salsa hendak mengeluarkan air mata pun segera memeluk istrinya"Sayang, maaf. Mas becanda sayang""Maaf yaa, mas keterlaluan ya dari semalam? Maaf sayang. Mas janji, mas gak akan maksa kamu lagi. Mas akan tunggu sampai punya kamu sembuh yaa""Jangan nangis sayang, maafin Mas" Ucap Lian panik"Janji yaa, Mas libur sampai punyakku sembuh dulu" Balas Salsa"Iya sayang, mas janji. Mas akan tahan sampai punya kamu sembuh" Balas Lian"Ini jam berapa mas?" Tanya Salsa"Jam 1 siang" Balas Lian"Hah? Jam 1 siang?""Langit? Ya Allah mas, Langit gimana? Aku belum mandiin dia, belum bikin makanan, dia pas - ""Sstt sayang. Langit aman kok cantik""Tadi pagi Mas udah mandiin Langit dan bikin sarapan buat dia""Sekarang, Langit lagi di bawa sahabat Mas namanya Paul ke Mall sama istrinya jalan-jalan" Ucap Lian"Hah? Mas? Kamu yakin Langit aman?" Tanya Salsa"Sayang, sejak dulu Paul yang selalu bantu Mas jagain Langit kalo Mas lagi repot""Langit udah deket banget sama Paul dan Paul pun sangat sayang sama Langit""Tapi beberapa bulan yang lalu, tepatnya sebelum kamu datang ke rumah mas. Dia pindah ke Aceh karena ikut istrinya yang asli orang sana""Dan kemarin dia telat datang ke acara kita. Makanya kamu belum ketemu dia sama sekali""Dan tadi pagi, dia izin untuk bawa Langit karena dia kangen banget sama Langit. Istrinya juga sayang banget kok ke Langit. Jadi Langit pasti aman sama mereka" Ucap Lian"Alhamdulillah, aku seneng dengernya kalo banyak yang sayang sama Langit mas""Maafin aku ya mas, aku bangun kesiangan. Gak bikin sarapan, gak man - ""Sutsss udah sayang. Ini bukan salah kamu, tapi salah mas yang udah bikin kamu gak tidur semalaman""Wajar kalo kamu bangun siang sekarang, karena kamu pasti capek banget""Mas bangunin kamu cuma minta kamu makan dulu, baru setelah makan kita sholat dhuhur berjamaah, baru kamu boleh bobo lagi yaa" Ucap LianSalsa tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Lian benar-benar membuatnya bahagia sejak ia sah menjadi istrinya.Dan saat ini, Salsa bersama Lian kembali merebahkan tubuh mereka di ranjang yang sudah berganti sprei dan wangi."Sayang, mas mau ngomong tapi please. Kamu jangan tersinggung ya sayang" Ucap Lian"Kenapa mas?" Tanya Salsa"Hhmm mas udah beliin obat untuk pereda nyeri buat kamu sayang" Ucap Lian"Ohh, yaudah mana? Biar aku minum mas. Kebetulan badanku rasanya remuk banget ini" Balas Salsa"Kamu minum yaa, hhmm sama ada satu obat lagi yang harus kamu minum sayang" Ucap Lian"Obat apa mas?" Tanya Salsa"Obat pencegah kehamilan" Balas Lian raguSalsa langsung melebarkan matanya mendengar jawaban dari Lian"Maksud mas apa? Mas gamau aku hamil?" Tanya Salsa kesal"Sayang, bukan begitu. Tapi mas beneran takut kamu hamil sayang, mas tak - ""Ohh, mas nikahin aku cuma untuk jadi budak nafsu mas? Mas gamau aku hamil anak mas supaya aku bisa terus layani mas? Iya!""Aku gak nyangka mas bisa sejahat ini ternyata" Ucap Salsa dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya dan hendak bangkit dari ranjangLian segera memeluk Salsa dari belakang untuk menahan istrinya agar tak meninggalkannya"Sayang, bukan seperti itu. Mas gak mungkin sejahat itu sayang. Mas, mas takut hiks hiks. Mas trauma sama kejadian yang Sania alami""Mas takut, mas takut kamu akan ninggalin mas juga kalo kamu melahirkan nanti. Mas gamau sayang hiks hiks""Kita sudah punya Langit, mas cuma mau kamu selalu ada di hidup mas sayang hiks hiks" Ucap Lian menangisSalsa terpaku mendengar ucapan Lian, ternyata laki-laki itu menyimpan trauma yang cukup besar"Mas, mas percaya takdir?" Tanya SalsaLian mengangguk dengan tangisan di belakang tubuh Salsa"Kalo Mas percaya sama takdir, mas percaya sama Tuhan. Gak seharusnya mas punya ketakutan yang berlebihan seperti ini mas""Mas, mas gak kasian sama aku? Mas tau dari dulu aku suka banget anak kecil. Aku pengen punya anak mas, tapi kenapa? Justru suami aku sendiri yang larang aku untuk hamil?" Ucap Salsa"Maaf sayang hiks hiks. Maafin mas, mas hanya takut kejadian itu terulang lagi" Balas Lian"Yaudah, kalo mas gamau aku hamil. Ceraiin aja aku, biar aku menikah sama laki-laki lain yang gak akan larang aku untuk punya anak" Ucap SalsaLian menggelengkan kepalanya dan refleks mempererat pelukannya pada Salsa"Gak! Hiks hiks gaboleh sayang! Gamau!""Mas gak akan ceraiin kamu! Kamu cuma istri mas! Kamu istri mas selamanya hiks hiks""Maafin mas, mas janji mas gak akan lakuin hal bodoh itu lagi! Mas mau punya anak sama kamu sayang, mas mau kamu hamil anak mas hiks hiks" Balas Lian"Beneran?" Tanya Salsa"Iya sayang, mas beneran. Mas gak akan minta hal bodoh itu lagi sama kamu. Mas mau punya anak sama kamu sayang hiks hiks. Kita bikin adek buat Langit ya" Balas Lian"Yaudah, berhenti dulu nangisnya" Ucap SalsaLian melepas pelukannya lalu mengusap air mata yang membasahi wajahnya"Maafin mas sayang" Balas Lian"Iya, aku gak marah kok sama mas. Aku cuma kaget aja mas tiba-tiba minta hal itu sama aku" Ucap Salsa"Maaf" Balas Lian menunduk"Hey, it's okey mas. Udah, jangan minta maaf terus ya" Balas Salsa"Makasih sayang, makasih udah maafin mas" Balas LianSalsa tersenyum sembari menganggukkan kepalanya***"Buna, adek lagi apa di dalem perut Buna? Kenapa adek bergerak-gerak terus buna?" Tanya Langit"Hahaha adek lagi seneng karena dari tadi di ciumin abang Langit" Balas SalsaSalsa kini tengah mengandung anak kedua Lian, adik dari Langit. Usia kandungan Salsa pun sudah masuk usia sembilan bulan. Hanya tinggal menunggu beberapa hari lagi, mereka akan bertemu dengan malaikat kecil mereka.Salsa dan Lian pun sudah memberikan Langit pengertian tentang adiknya. Langit sangat bahagia saat mengerti ia akan menjadi seorang kakak. Langit juga sudah semakin besar dan semakin mengerti tentang seorang kakak. Langit sangat menyayangi adiknya sejak dalam perut Salsa."Beneran Buna?" Tanya Langit"Beneran sayang, tuh liat aja adek sampe gerak-gerak terus kan? Adek tuh kangen sama abang, semenjak abang sekolah. Abang jadi sibuk main sendiri, adiknya jarang di sapa" Ucap SalsaLangit memang sudah masuk sekolah Paud, Lian menyekolahkan Langit karena putranya sendiri yang memintanya."Maaf Bunaaa, Langit jadi lupa sama adik" Balas Langit"Jangan minta maaf sama Buna dong, minta maaf sama adiknya gih. Adiknya kan jadi kangen sama abang kesayangannya ini" Ucap Salsa sembari mencubit gemas pipi LangitLangit tersenyum lalu menciumi perut Salsa"Adik, abang Langit minta maaf yaaa. Abang Langit lupa sama adik" Ucap Langit"Iya abang, adik maafin" Balas Salsa sembari meniru suara anak kecil"Hahahaaha itu Buna yang bicara, bukan adik" Balas Langit terkekehSalsa pun ikut terkekeh sembari menciumi wajah Langit yang sangat menggemaskanDi balik pintu, Lian tersenyum penuh haru melihat Salsa dan Langit. Pemandangan yang selalu berhasil menyentuh hati Lian. Salsa sangat menyayangi Langit, walaupun Langit bukan lah putra kandungnya. Lian juga sangat bahagia, setelah menikah dan menjadi Ibu, sikap Salsa benar-benar jauh berubah. Salsa menjadi sangat dewasa, lembut dan sabar menghadapi tingkah Lian dan Langit.Tidak ada lagi Salsa yang masih bersikap manja dan kekanakan. Salsanya kini sudah benar-benar berubah menjadi Ibu yang hebat untuk Langit dan calon anak keduanya."Wahh lagi ngobrol apa sih Buna dan Abang? Kok sampe ngakak-ngakak begitu? Hhmm?" Ucap Lian sembari masuk ke dalam kamar"Loh? Ayah udah pulang? Kok gak kedengeran suara mobilnya" Balas Salsa sembari menyalimi tangan Lian"Gimana mau denger, orang Buna lagi asyik bercanda sama cowok lain" Balas Lian"Hahahaha soalnya lagi kangen sama brondong Buna satu ini. Semenjak sekolah, jadi sibuk sendiri sama Sam""Pulang sekolah, bobo siang. Setelah bobo siang, eh malah main ke rumah sebelah. Main sama Sam nya sampe sore lagi. Gimana Buna nya gak kangen coba" Ucap Salsa"Hihihi maaf ya Buna" Balas Langit terkekeh"Buna nya sedih kok di ketawain sih bang?" Tanya Lian"Karena Buna lucu ayah" Balas Langit"Iya bang, Buna tuh selain cantik banget, lucu juga ya" Ucap Lian"Iya Ayah, Buna itu cantik sekali. Nanti adik Langit pasti cantik sekali seperti Buna" Balas Langit lalu mencium perut SalsaSalsa memang tengah mengandung bayi yang berjenis kelamin perempuan. Baik Lian dan Salsa sudah mengetahui hal itu sejak kehamilan Salsa masuk bulan ke enam. Lian pun sangat bahagia mendengar Salsa tengah mengandung bayi perempuan."Iya dong, nanti adik pasti cantik sekali seperti Buna""Jadi abang harus jagain adik ya nanti. Abang juga harus sayang sama adik" Ucap Lian"Langit selalu sayang sama adik ayah" Balas Langit"Good boy! Anak ayah emang terbaik" Ucap Lian lalu mencium kening LangitSalsa tersenyum mendengar ucapan Langit yang sangat menyayangi adiknya***"Hiks hiks, udah ya sayang, cukup. Mas gak mau liat kamu kesakitan lagi kaya tadi""Rasanya mas mau mati setelah liat kamu lahiran sayang hiks hiks""Kita udah punya abang dan adek. Cukup ya yang hiks hiks. Dua anak lebih baik, kita ikut program pemerintah ya sayang hiks hiks" Ucap Lian terisakSalsa menahan tawanya saat melihat Lian yang masih saja menangis di hadapannya"Tapi mas - ""Mas gamau denger tapi-tapian hiks hiks. Terserah kamu mau marah sama mas atau apa silahkan! Yang penting mas gamau liat kamu kesakitan lagi sayang hiks hiks""Udah cukup, abang dan adik udah cukup sayang hiks hiks" Balas Lian"Hahaha mas, udah ih. Capek itu matanya, nangis terua" Ledek Salsa"Mas gapeduli, mas masih takut sayang hiks hiks" Balas LianSalsa memang sudah melahirkan bayi berjenis kelamin perempuan. Selama proses melahirkan pun, Lian sangat setia menemani Salsa di sampingnya.Dan saat proses melahirkan, bukan Salsa yang menangis melainkan Lian yang terus mengeluarkan air mata hingga malaikat kecil mereka berhasil melihat dunia. Kondisi Salsa yang baik-baik saja pun tak membuat Lian berhenti menangis karena ia terlalu takut melihat istrinya berjuang melahirkan buah hati mereka.Salsa pun mewajarkan hal itu, karena ia pikir Lian masih berusaha melawan traumanya saat ia harus kehilangan kakaknya setelah melahirkan Langit empat tahun lalu.Salsa yang tak tega melihat Lian pun mengusap wajah suaminya"Mas, udah ya nangisnya. Iya-iya, cukup Abang dan Adek kok. Lagian tadi langsung di pasang juga alat kontrasepsinya kan sama dokter""Jadi gaperlu khawatir keluarin di dalem" Bisik Salsa berusaha menghibur Lian"Ish sayang hiks hiks! Mas masih gak mikirin itu! Mas juga masih harus libur sebulan lebih ke depan!""Mas cuma mau kamu jangan hamil lagi yaa, cukup. Mas gak sanggup liat yang kaya tadi yang hiks hiks" Balas Lian terisak"Iya iya, udah ih di hapus air matanya. Bentar lagi adik pasti di antar kesini. Hapus dulu air matanya""Masa adik mau kesini liat ayahnya nangis sih. Ntar adik gamau lagi jadi anak ayah, karena ayah cengeng" Ledek Salsa"Ish, enak aja. Orang mas yang bikin adik hadir disini. Masa adik gamau sama mas" Ucap Lian berusaha menghapus air matanya"Hahaha iya siapa tau kan" Balas Salsa terkekeh"Gab - ""Permisi Bapak Ibu, si cantik sudah datang" Ucap perawat yang mengantar bayi Lian dan Salsa"Terimakasih sus" Balas Salsa"Iya Bu Salsa""Ini, coba di susuin dulu ya putrinya Bu. Saya lihat baju Bu Salsa juga rembes, Asinya pasti sudah keluar" Ucap Suster sembari memberikan bayi mungil pada Salsa"Makasih sus" Balas Salsa"Iya bu sama-sama. Kalo begitu saya tinggal ya, permisi" Balas SusterLian tersenyum melihat Salsa yang tengah menyusui putrinya"Masyaallah, cantik banget anak kita ya sayang" Ucap Lian"Iya mas""Udah di siapin belum namanya? Kasian adik gapunya nama" Balas Salsa"Eitsss, siapa bilang? Punya dong""Senja Arabella Putri Pradipta""Adik kan lahirnya tadi sore, waktu senja. Arabella artinya cantik, dan dia seorang putri dari keluarga Pradipta""Bagus gak sayang?" Tanya Lian"Bagus mas""Abang Langit, adek Senja. Bagus banget nama anak-anak aku" Balas Salsa"Enak aja anak-anak aku! Anak-anak kita!""Emang bisa bikin anak sendiri? Hhmm?" Ucap Lian"Astagaaaa! Iya maaf, anak-anak kita suamiku sayang" Balas Salsa"Hehe itu baru bener" Ucap Lian"Ayahhh Bunaaaaa" Teriak LangitLian segera menutupi dada Salsa saat terdengar Langit datang. Pasalnya Lian tadi menitipkan Langit pada Paul dan istrinya."Hay abang sayang. Sini nak" Ucap Salsa"Sal, gimana? Lancar kan?" Tanya Nabila istri Paul"Alhamdulillah lancar kak, ini anaknya lagi nyusu" Balas Salsa"Masyaallah, alhamdulillah. Semoga aku bisa segera nyusul, aku pengen banget punya anak" Ucap NabilaSalsa tersenyum dan melihat putrinya sudah nyenyak, Salsa melepas nipplenya dari mulut Senja. Setelah merapikan kembali pakaiannya, Salsa mendekatkan tangan Senja pada perut Nabila"Semoga lekas ada dedek bayi di dalam perut onty yaaa. Biar bisa jadi temen adik Senja nanti" Ucap Salsa sembari mengusap perut Nabila dengan tangan Senja"Aamiin" Balas semua orang"Makasih ya Sal" Balas Nabila terharu"Harusnya aku yang bilang makasih. Kak Nab dan Kak Paul mau jagain Langit dari kemarin" Balas Salsa"Sal, Langit kan anak gue juga. Dari orok juga gue yang bantuin Lian jaga dia" Ucap Paul"Iya kak, makasih ya" Balas Salsa"Sal, aku boleh gendong adik bayi gak?" Tanya Nabila"Boleh dong onty, nih. Adek udah kenyang" Balas SalsaNabila tersenyum lalu mencium pipi gembul bayi cantik yang sekarang ada di gendongannya"Mau tips gak ul?" Tanya Lian sembari memainkan alisnya"Bangke! Noh, ada anak lo! Segala ngomongin tips lo" Omel PaulLian terkekeh sembari memeluk Langit"Nama adek siapa Buna?" Tanya Langit"Nama adek, Senja sayang" Balas Salsa"Senja?" Tanya Langit"Iya, bagus gak nama adeknya sayang?" Tanya Lian"Bagus ayah" Balas Langit"Langit seneng punya adik? Hhmm?" Tanya Lian"Senang ayah, adek cantik sekali. Seperti Buna cantik" Balas Langit"Emang Buna cantik Bang?" Tanya Salsa"Cantik, Buna cantik sekali" Balas Langit"Istri ayah itu Bang" Balas Lian"Awss, sakit Paul!" Gerutu Lian"Ya habisnya lo! Anak sendiri muji Ibu nya aja segala cemburu! Inget umur Liannnnn" Ucap Paul setelah menoyor kepala Lian"Apa sih lo! Gue gak cemburu, cuma negesin aja kalo Salsa bini gue!" Balas Lian"Ya fungsinya apa? Lo negesin sama anak kecil begitu? Hah?" Omel Paul"Ya - ""Ck, udah udah. Berisik banget sih kalian!""Senja keganggu suara kalian nantiiii!" Omel Nabila"Ck, laki lo tuh Nab berisik" Balas Lian"Lo juga ya!" Balas Paul"Terusss, terusss! Gue usir juga ya kalian berdua!" Omel Nabila"Enak aja! Ini kan ruangan istri gue. Laki lo tuh usir" Balas Lian"Mas, udahhhh" Tegur Salsa"Iya sayang" Balas Lian"Nah, kicep kan lo kalo udah Salsa yang ngomong" Balas Paul"Diem lo!" Balas Lian"Abang, abang gaboleh seperti Ayah sama Om Paul yaa. Abang harus rukun sama temen abang, terutama adek Senja""Abang Langit dan Adek Senja harus selalu akur, gaboleh berantem. Karena Abang Langit dan Adek Senja itu bersaudara. Kalian harus sama-sama terus ya sayang. Abang harus jagain adek Senja. Abang mau kan?" Ucap Salsa lembut"Iya Buna, Abang akan selalu jagain Adek Senja" Balas Langit"Pinternya anak Buna" Balas Salsa"Ck, masa gue jadi contoh jelek buat Langit sih Sa. Keterlaluan lo" Ucap Paul"Ya emang jelek! Dari tadi berantem sama Lian di depan anak-anak! Baik dari mananya coba" Omel Nabila"Udah lah, diem aja gue" Balas Lian"Harusnya dari tadi sih Mas" Balas Salsa"Alahhh ayanggggg ihhh. Kan Paul yang mulai" Rengek Lian"Udah stop! Gausah komen. Makin panjang nanti" Omel Nabila saat melihat Paul hendak mengeluarkan suara"Ck, kamu ih" Balas Paul kesal"Lagian, yang toddler sebenernya siapa sih? Bocah 4 tahun aja anteng, ini malah yang tua pada tantrum" Ucap NabilaLian dan Paul hanya mencebikkan bibirnya. Sedangkan Salsa sudah tertawa mendengar ucapan Nabila yang sangat lucu baginya.Salsa tak menyangka, takdir akan membawanya menjadi istri dari kakak iparnya sendiri. Kakak ipar yang dulu sangat menyayanginya sebagai seorang adik, kini berubah menjadi suami yang sangat mencintai istrinya.Salsa mengingat bagaimana dulu kakaknya sangat bahagia hidup bersama Lian. Dan kini ia merasakan apa yang kakaknya rasakan, dia benar-benar bahagia hidup bersama Lian. Laki-laki yang selalu meratukannya, menyayanginya dan mencintainya dengan begitu hebatnya.Langit dan Senja akan selalu menjadi bukti kekuatan cinta Lian dan Salsa. Walaupun Langit tidak lahir dari rahimnya, Namun Salsa akan selalu menyayangi Langit seperti putranya sendiri. Langit dan Senja adalah anugerah terindah untuk Lian dan Salsa.~END~
Triple L
Triple LLeonardo Putra Abraham, anak laki-laki yang kini sudah berusia 28 tahun dan bekerja sebagai Direktur di perusahaan keluarga mereka. Leon adalah anak pertama dari Pasangan Aditya Abraham dan Mia Larasati. Leon adalah tahta tertinggi di dalam keluarga Abraham.Leon memiliki dua adik kembar laki-laki yang juga tampan seperti dirinya. Varoliam Putra Abraham dan varelian Putra Abraham. Dua adik kembar Leon yang usianya hanya berjarak tiga tahun lebih muda dari dirinya.Kediaman keluarga Abraham pun tak pernah sepi dari pertengkaran mereka bertiga. Namun dibalik pertengkarannya, mereka bertiga tetap saling menyayangi satu sama lain."Boys, kalian tau kan kemarin Mama ke Jogja karena sahabat Mama meninggal dunia" Ucap Mia"Iya Ma" Balas Leon, Liam dan Lian"Mama dan Papa udah mutusin untuk menjaga anak sahabat Mama yang ditinggal pergi kedua orang tuanya" Ucap Mia"Hah? Mama angkat anak? Apa masih kurang kita bertiga bikin rusuh dirumah Ma?" Tanya Liam"Diem dulu ege! Mama belum kelar ngomong!" Omel LeonDiantara ketiga anaknya, Leon dan Liam lah yang memang seringkali bertengkar. Sedangkan Lian sebagai anak terakhir justru lebih pendiam dibanding kedua kakaknya."Bukan adopsi juga sih boys, anak sahabat Mama udah besar kok. Mama cuma jagain dia karena dia perempuan. Mama kasian kalo liat dia harus tinggal sendirian""Mama dan Papa juga akan biayain kuliahnya disini nanti" Ucap Mia"Cewek Ma? Cantik gak? Kalo cantik mah langsung jodohin aja sama Liam. Biar Liam yang jagain dia secara lahir dan batin" Balas LiamTukkLeon menyentil kening Liam"Awss sakit bang!" Rintih Liam"Mangkanya, jangan asal kalo ngomong! Masalah cewek aja cepet banget" Omel Leon"Abang Leon, Liam dan Lian. Mama cuma pesen bantu Mama jagain dia ya nak. Jangan di gangguin atau digodain terus. Bikin dia betah tinggal disini, karena Mama udah lama pengen punya anak cewek yang bisa nemenin Mama kalo kalian sibuk sendiri" Ucap Mia"Ma, maafin kita ya kalo selama ini sering ninggalin Mama sendiri di rumah" Ucap Lian"Iya Ma, maaf ya Ma""Sebagai gantinya, Liam janji Liam bakal bantuin Mama jagain anak sahabat Mama itu" Ucap Liam"Iya Ma, kita janji gak bakal gangguin dia kok. Kita akan bantu Mama jagain dia" Balas Leon"Makasih ya boys" Balas Mia"Liam, jangan di gangguin loh! Papa hajar kamu kalo dia sampe gak betah gara-gara kamu" Ucap Aditya"Astagaaa, Liam terus yang di curigain" Balas Liam"Soalnya cuma lo yang keganjenan mulu sama cewek! Noh liat kembaran lo? Dia anteng mulu, gapernah keliatan deket cewek malah" Ucap Leon"Apaan sih bang" Balas Lian"Kan emang bener dek, lo gapernah tuh ngajakin cewek ke rumah. Beda sama dia, tiap bulan beda-beda mulu ceweknya" Ucap Leon"Mumpung masih muda, punya wajah tampan buat apa kalo gak di manfaatin kan" Balas Liam"Liam!" Tegur Aditya"Eh, hehe. Becanda Papa ku sayang" Balas Liam kikuk"Awas kamu sampe rusak anak gadis orang ya! Papa kirim ke pesantren kamu!" Ancam Aditya"Paa astaghfirullah, Liam emang playboy. Tapi Liam gapernah rusak anak gadis orang kok. Sumpah demi apapun deh""Abang nih kali, sama Kak Angel udah gitu-gituan" Ucap Liam"Mulut lo gue sobek beneran ya dek!" Ancam Leon"Bang?" Tanya Mia"Ma sumpah, Leon gapernah ngapa-ngapain Angel. Jangan dengerin omongan kutu kupret ini ma" Balas Leon panik"Liam emang bener-bener ya" Omel Aditya"Hahahaha peacee Ma, Pa, Bang" Balas LiamSemua orang menggelengkan kepalanya melihat tingkah Liam yang sangat menjengkelkan***"Boys, kenalin ini Salsadila Anggraini. Panggilannya Sasa. Dia anak sahabat Mama yang akan tinggal disini mulai hari ini" Ucap Mia"Hay Sa, kenalin nama gue Liam" Ucap Liam sembari mengulurkan tangannya"Hay Bang Liam, aku Sasa" Balas Salsa menjabat tangan Liam"Udah, gantian gue!""Hay Sa, gue Leon. Anak pertama Mama Mia" Ucap Leon setelah menepis tangan Liam"Hallo Bang Leon, aku Sasa" Balas SalsaSetelah menjabat tangan Leon, Salsa beralih menatap Lian yang hanya diam tanpa mengenalkan dirinya."Kalo yang ini? Kembaran Bang Liam ya?" Tanya Salsa pada Lian"Lian" Ucap Lian singkat"Hay Bang Lian" Balas Salsa"Jangan sakit hati yaa, Lian mah emang begitu. Dia cuek Sa, beda sama gue eh aku. Dia mah gak asik" Ucap Liam"Sasa kan dari Jogja, dia gak biasa pake bahasa lo gue. Jadi kalian biasain ya pake aku kamu, diubah kalo ngomong sama Sasa. Mulai hari ini dia adik kalian, anak perempuan Mama! Ngerti!" Tegas Mia"Siap boss" Balas Liam"Iya Ma" Balas Leon"Lian?" Panggil Mia"Iya Mama" Balas Lian"Okee""Yuk sayang, Mama anter ke kamar kamu" Ucap Mia sembari menggandeng tangan Salsa"Iya Ma" Balas SalsaSetelah kepergian Salsa dan Mia, Liam masih saja menatap kepergian gadis itu."Heh! Kedip!" Tegur Leon"Bang, gila bang! Dia beneran manusia kah bang? Kok cantik banget bang?" Tanya Liam"Ya jelas manusia bego! Kalo bukan terus apa? Jin?" Ucap Leon"Kali aja bidadari yang Tuhan kirim untuk jadi jodoh gue" Balas Liam"Ngayal aja lo! Sasa juga gak akan mau sama lo! Dia mah maunya sama gue! Direktur tampan dan ternama!" Balas Leon"Dih! Sing eling! Lo udah punya Angel! Anak orang udah di obok-obok malah mau di tinggalin" Omel Liam"Alah, kek lo gapernah aja sama mantan-mantan lo" Balas Leon"Gapernah gue anjirr! Palingan main atasan doang" Balas Liam"Sama aja ege!" Balas Leon"Bang, gausah macem-macem ya Lo! Sasa punya gue!" Ucap Liam"Ya terserah Sasa lah. Kita bersaing secara sehat, kalo Sasa mau sama gue. Langsung gue nikahin!" Balas Leon"Gila! Si Angel mau di kemanain!" Ucap Liam"Putusin" Balas Leon"Yeuhh brengsek lo emang bang! Gue aduin Mama lo ya" Ancam Liam"Bercanda elah! Gue mau tunangan sama Angel, gue gak akan rebut Sasa""Tapi sih gue yakin, Sasa gak akan mau sama lo! Dia pasti maunya sama si Lian" Ucap Leon"Kenapa gue?" Tanya Lian"Lo emang gak tertarik gitu sama si Sasa? Sasa kan cantik bro" Balas Liam"Biasa aja" Balas Lian"Wahh bang, adek lo beneran harus di periksa sih. Takutnya dia pelangi" Ucap Liam"Sembarangan aja lo! Gue normal!" Balas Lian"Hahaha udah udah, mending kita berangkat deh ke kantor dek. Gausah gangguin Lian lagi""Lo gak ke cafe dek?" Tanya Leon"Nanti agak siangan bang" Balas Lian"Yaudah, gue sama Liam ke kantor dulu ya" Ucap Leon"Iya bang, hati-hati" Balas Lian"Jangan godain calon istri gue ya Li, awas aja lo" Ucap Liam"Udahh, ayoo!" Tegur LeonLian memang memilih jalannya sendiri dengan membuka usaha sebuah cafe. Berbeda dengan Leon dan Liam yang memilih bekerja di kantor keluarganya, Lian lebih memilih menjadi pengusaha.Lian tidak tertarik dengan pekerjaan di kantor yang menurutnya membosankan. Lian lebih tertarik dengan usaha kuliner yang membuatnya memutuskan untuk membuka cafe. Dan ternyata cafenya cukup ramai hingga kini Lian memiliki tiga cabang cafe dan hampir 60 karyawan.***"Hay Bang Lian" Sapa Salsa"Hay" Balas Lian"Bang Lian lagi bikin apa? Mau aku bantuin?" Tanya Salsa"Cuma bikin mie instan, gaperlu dibantuin" Balas Lian datar"Ohh yaudah" Balas SalsaSaat Salsa hendak pergi, Lian kembali memanggil Salsa"Sa" Ucap Lian"Eh? Iya? Kenapa bang?" Tanya Salsa"Mau mie juga? Biar sekalian abang masakin" Ucap Lian"Bb-boleh bang, aku mau mie juga" Balas Salsa gugup"Yaudah, tunggu di meja makan aja. Biar abang masakin" Balas Lian"Makasih bang" Balas SalsaSalsa berbalik menuju meja dengan senyuman di wajahnya. Sudah hampir satu bulan dia tinggal dirumah keluarga Abraham. Salsa mulai tau karakter orang-orang yang tinggal bersama dirinya. Termasuk Lian, Salsa sangat tertarik dengan karakter Lian yang dingin dan cuek.Padahal selama ini Liam dan Leon lah yang selalu bersikap hangat dan ramah pada Salsa demi menarik perhatian Salsa. Namun perhatian Salsa justru terfokus pada Lian, laki-laki dingin yang membuat Salsa penasaran.Dan saat ini, hati Salsa semakin tak karuan saat ia harus makan berdua dengan Lian. Salsa sibuk menatap Lian yang duduk di sampingnya sembari menyantap mie dan menatap layar televisi."Kenapa liatin abang?" Tanya Lian tanpa menatap SalsaSalsa salah tingkah saat ia kepergok dengan Lian sedang menatapnya"Hhmm gapapa, cuma heran aja" Balas Salsa"Heran kenapa?" Tanya Lian"Bang Lian dan Bang Liam tuh kembar. Tapi sifat dan perilakunya sangat jauh berbeda""Bang Liam friendly, sedangkan abang cuek banget" Balas Salsa"Oh" Balas Lian"Gitu doang jawabannya? Gak ada yang lebih panjang kah bang?" Tanya Salsa"Mau yang panjang? Tuh di bawah" Balas Lian"Hah? Maksudnya?" Tanya SalsaSalsa ikut menatap ke arah tatapan Lian"Ihh mesum!" Rengek Salsa"Hahaha becanda Sa" Balas Lian terkekeh"Loh? Eh? Ternyata abang bisa ketawa hahaha gemes deh" Balas Salsa"Abang kan manusia, jelas bisa ketawa" Balas Lian"Hahaha ya jarang aja liat abang ketawa. Ngomong aja di irit-irit" Balas Salsa"Males aja ngomong hal yang gak penting" Balas Lian"Kalo sama aku, jangan irit-irit dong bang" Ucap Salsa"Kenapa?" Tanya Lian"Ya biar gak garing aja, capek tau cari topik obrolan" Balas Salsa"Yaudah iya, abang usahain" Balas Lian"Yeayy, makasih bang""Btw mie nya enak. Abang pinter masaknya" Ucap Salsa"Cuma mie instan doang, di bilang pinter masak" Balas Lian"Hahaha yaudah sih biarin, emang enak kok" Balas Salsa"Sa? Abang boleh ngomong?" Tanya Lian"Boleh, silahkan bang" Balas Salsa"Besok-besok jangan pakai baju seperti ini lagi ya" Ucap LianPasalnya saat ini Salsa tengah memakai crop top dengan bawahan hotpans yang sangat pendek."Kenapa Bang?" Tanya Salsa"Disini ada Bang Leon, Bang Liam dan Abang yang tinggal sama kamu. Kita laki-laki dewasa, dan kamu perempuan yang masih sangat muda""Kamu jangan tersinggung, tapi abang ingetin ini demi kebaikan kamu. Dijaga ya pakaiannya, kalo di kamar gapapa pakai begini. Tapi kalo keluar kamar, pakai pakaian yang lebih tertutup""Kamu udah gede, abang yakin kamu tau maksud abang apa" Jelas LianSalsa terperangah menatap Lian yang dengan lembut menasehatinya. Ini kali pertamanya Salsa melihat Lian berbicara panjang padanya.Salsa tersenyum menatap LianGak salah aku suka sama kamu bang. Kamu emang beda *batin Salsa"Kok diem? Dengerin abang gak?" Tanya Lian"Iya abang, aku dengerin abang kok""Maaf yaa, lain kali aku gak akan keluar kamar dengan pakaian terbuka lagi" Balas Salsa"Good girl" Balas Lian***"Sa, sini cantik duduk sebelah Bang Liam" Ucap Liam"Sini aja Sa, deket Bang Leon. Deket Liam mah bau" Timpal Leon"Sembarangan aja lo bang! Gue wangi yaa, sini Sa" Balas Liam"Haduhh tiap mau makan malam selalu begini! Udah Sa, mulai hari ini dan seterusnya kamu duduk deket Lian aja. Jangan sama mereka, berisik" Omel Aditya"Iya Pa" Balas Salsa"Yahhh Papaaaaaa" Rengek LiamSalsa tersenyum lalu duduk disebelah Lian."Gapapa kan bang, aku duduk sini?" Tanya Salsa"Gapapa, duduk aja" Balas Lian"How's your day Sa? Everything good?" Tanya Leon"Alhamdulillah baik kok Bang, semuanya lancar-lancar aja" Balas Salsa"Betah di kampus baru Sa? Ada yang deketin kamu gak? Kalo ada bilang Bang Liam ya, biar Bang Liam samperin" Ucap Liam"Aman Bang, gak ada kok" Balas Salsa"Leon, Liam udah! Biarin Sasanya makan dulu, kalian jangan berisik!" Omel Mia"Iya Maaa" Balas Leon dan LiamSelama makan, Leon dan Liam sibuk memperhatikan Salsa. Salsa sendiri justru sibuk meredamkan jantungnya yang berdebar sangat kencang hanya karena ia duduk disebelah Lian. Semakin hari rasanya Salsa semakin tak bisa mengontrol perasaannya pada Lian.Padahal selama ini jarang ada interaksi lebih antara dirinya dan Lian. Namun anehnya, perasaan Salsa semakin bertumbuh setiap menatap mata teduh dari Lian."Sasa kenapa? Dari tadi megang dadanya? Sakit sayang?" Tanya Mia"Eh, gapapa kok Ma" Balas Salsa kikuk"Beneran Sa? Kita ke rumah sakit aja yuk" Ajak Liam"Gaperlu bang, beneran aku gapapa kok" Balas Salsa"Jangan bohong, kalo emang sakit mending ke rumah sakit" Ucap LianSemua orang terperangah melihat Lian mengatakan hal itu pada Salsa"Apa? Kenapa semua liat Lian?" Tanya Lian heran"Lo tumben dah Li, ngomong lebih dari tiga kata" Ucap Liam"Biasa aja" Balas Lian"Wahhh abang udah feeling nih, si kembar bakal berebut dapetin Sasa" Ucap Leon"Liannn, lo suka sama Sasa?" Tanya Liam"Apasih lo, gak jelas. Skip" Balas LianSalsa sedikit kecewa dengan jawaban Lian, padahal Salsa sudah sangat menantikan jawaban lelaki itu tentang perasaannya.Apa iya gue harus jadi cegil biar bisa deketin Bang Lian? Kalo Bang Liannya ilfiel gimana ya? *batin Salsa"Yaudah sih, gapapa kalo emang Lian suka sama Sasa. Gue ngalah ajaa, sekalinya doi suka cewek masa tega gue rebut""Ntar jadi trauma dia, suka sama cewek, terus malah suka sama sesama kan ngeri ya" Ucap LiamLeon refleks menoyor kepala Liam yang berada tepat di sampingnya"Jangan asal kalo ngomong!" Tegur Leon"Kurang kenceng bang" Timpal Lian"Wahhh lo, gue udah ngalah malah gak dibelain ya" Ucap Liam pada Lian"Bodo" Balas Lian"Udah udah udah! Astagaaaa, tiap hari ada aja topik buat berantem! Papa heran sama kalian" Omel Aditya"Mama sampai pusing sama kalian, udah pada gede kelakuannya masih aja gak berubah, heran" Omel Mia"Ma, Pa udah yaa. Kasian abang-abang Sasa""Nanti kalo mereka udah pada nikah, pasti Mama dan Papa rindu momen-momen ini loh" Ucap Salsa"Tuh, Ma, Pa. Sasa bener tauuu, nanti kalian pasti rindu sama Liam" Timpal Liam"Dek! Astagaaa!" Tegur Leon"Hehe, mencairkan suasana aja bang" Balas Liam"Sasa bener juga sih, tapi nak kalo tiap malem begini pusing juga" Ucap Aditya"Hahaha abang-abang Sasa, jangan berantem terus. Kasian Mama Papa tuh, pada pusing denger kalian berantem terus" Balas Salsa"Oke siap boss cantik, kita gak akan berantem di meja makan lagi" Ucap Liam sembari memberi hormat pada Salsa"Giliran Sasa di dengerin, orang tua di lawan. Durhaka lo dek" Timpal Leon"Astagaa bang, siapa juga yang durhaka coba" Balas Liam"Kutuk aja Ma, jadi kerikil" Ucap Lian"Dih, hahahaha kembaran gue lucu juga ternyata" Ledek LiamSemua tertawa mendengar ucapan Lian dan Liam.***"Sayang, Mama arisan dulu yaa. Apa kamu mau ikut Mama?" Tanya Mia"Gak Ma, Sasa dirumah aja ya" Balas Salsa"Yakin? Sasa dirumah sendiri loh, Papa dan abang-abang udah berangkat kerja" Ucap Mia"Iya Ma, Sasa berani kok. Mama berangkat aja ya" Balas Salsa"Yaudah, Mama tinggal ya sayang. Maafin Mama, Mama udah terlanjur janji soalnya sama temen Mama" Ucap Mia"Mama ihhh, gausah minta maaf. Mama berangkat aja, Sasa beneran gapapa Mama cantikk" Bujuk Salsa"Haha yaudah, Mama berangkat ya sayang" Ucap Mia"Iya Ma, hati-hati" Balas SalsaSetelah kepergian Mia dari kamarnya, Salsa mengambil ponselnya dan membuka galeri. Salsa sangat merindukan kedua orang tuanya."Ayah, Bunda apa kabar? Disana indah ya yah? Bun? Sampai kalian tega ninggalin Sasa disini sendirian?""Yah, Bund. Sasa kangen banget sama kalian hiks hiks. Kenapa kalian tega ninggalin Sasa sendiri?""Sasa rindu sama kalian, Sasa rinduu hiks hiks" monolog Salsa sembari menangis terisak"Sasa kan gak sendiri disini, ada Mama, Papa dan abang-abang" Ucap seseorang yang kini sudah duduk di hadapan Salsa"Bang Lian?" Ucap Salsa shockLian tersenyum lalu menarik Salsa kedalam pelukannya"Lagi kangen Ayah Bunda ya?" Tanya LianSalsa semakin terisak sembari memeluk erat tubuh Lian."Hiks hiks iya bang, aku kangen banget sama Ayah dan Bunda" Balas Salsa"Kamu boleh rindu, tapi alangkah baiknya kalo rindu itu kamu sampaikan lewat doa, bukan tangisan Sa""Ayah dan Bunda pasti ikut sedih liat kamu nangis gini Sa" Ucap LianSalsa melepaskan pelukannya lalu menatap Lian"Bang Lian bener, gak seharusnya aku nangis gini" Balas Salsa lalu menghapus air matanyaEntah keberanian dari mana, Lian justru membantu mengusap air mata Salsa lalu mengusap wajahnya"Jangan nangis lagi, nanti cantiknya ilang" Ucap LianSalsa tersenyum lalu mengambil tangan Lian di wajahnya dan ia genggam"Bang, makasih yaa. Abang dan keluarga abang udah baik banget sama aku" Ucap Salsa sembari mengusap tangan Lian"Iya sama-sama. Janji ya jangan nangis lagi" Balas Lian"Iyaa""Oh iya? Kok abang disini? Bukannya tadi udah berangkat kerja?" Tanya Salsa heran"Iyaa, tapi nyampe cafe ternyata semua kerjaan abang udah beres. Abang gabut, yaudah abang pulang""Waktu abang pulang, pintu kamar kamu gak ketutup rapat dan abang liat kamu lagi nangis. Makanya abang masuk" Ucap Lian"Hhmm pasti Mama lupa tutup pintu kamarnya" Balas Salsa"Mama? Mama pergi?" Tanya Lian"Iya, baru aja berangkat arisan" Balas Salsa"Ohh, kok kamu berani sendirian? Padahal di kamar ini udah lama gak di huni, dan katanya sihh - ""Abanggggggg jangan nakutinnnn" Rengek Salsa"Hahaha gemes banget sih" Balas Lian"Sumpah? Abang ketawa? Yaampun, baru kali ini liat abang ketawa selepas itu" Balas Salsa"Apasihh, abang kan juga manusia" Balas LianLian sendiri heran dengan dirinya, dua bulan tinggal bersama Salsa. Hidupnya terasa jauh berbeda dari sebelumnya. Lian merasa sejak kehadiran Salsa, hidupnya semakin berwarna. Lian juga mulai menyayangi Salsa, namun bukan sebagai adik tapi sebagai pria pada wanitanya.Salsa yang gemas pun menangkup wajah Lian dengan kedua tangannya"Kenapa?" Tanya Lian heran"Abang tuh ganteng kalo senyum atau ketawa. Aku jadi gemes" Balas SalsaLian melepaskan kedua tangan Salsa lalu menggenggamnya."Jangan bilang gitu lagi, nanti abang terbang" Ucap Lian"Hahaha apasih bang, garing" Balas SalsaLian menatap Salsa dalam-dalam, Salsa pun menghentikkan tawanya saat menyadari Lian tengah menatapnya intens. Salsa pun terkunci dengan tatapan Lian yang semakin lama semakin mendekat. Hingga tak terasa kini bibir Lian sudah menikmati bibir manis Salsa."Ahhh abangghh" Desah Salsa saat Lian mulai menyesap nipplenyaYa, Lian dan Salsa terlalu terbawa suasana. Rumah yang sepi dan di dalam kamar hanya ada mereka berdua membuat keduanya kini tak sadar telah berbuat terlalu jauh. Lian berhasil membuka seluruh pakaian Salsa hingga kini Salsa benar-benar naked di bawahnya.Mulutnya sibuk menyesap nipple Salsa, dan tangannya memainkan milik Salsa hingga Salsa menggelinjang menikmati kenikmatan yang Lian berikan padanya."Ouhhh Sa, iyaa Sa terushh Saa aghhh" Desah Lian sembari menjambak rambut Salsa agar menuntun gerakan Salsa lebih cepat memanjakan miliknyaSetelah saling menuntaskan satu sama lain, Lian kembali mengukung tubuh Salsa."Yakin mau lanjut? Abang sebenernya takut rusak kamu, kita udah terlalu jauh Sa" Ucap LianSalsa yang sudah kepalang nafsu pun ingin merasakan apa itu having sex seperti yang di ceritakan oleh teman-temannya. Apalagi dengan laki-laki yang selama ini menjadi penghuni di hatinya. Salsa benar-benar tak memikirkan resiko dibelakang, hari ini Salsa hanya ingin menghabiskan waktunya bersamaa Lian."Abang, aku punya abang, aku mau abang" Balas SalsaLian tersenyum lalu kembali menyambar bibir Salsa dan melanjutkan kegiatannya."Makan malam nanti, pakai kerudung ya Sa" Ucap Lian"Kenapa bang?" Tanya Salsa"Leher kamu Sasa, banyak bekas abang" Balas Lian"Oh iyaa, aku lupa" Balas Salsa"Abang udah pesenin obat lewat ojol, nanti di minum ya" Ucap Lian"Obat apa?" Tanya Salsa"Punya Sasa kan sakit, biar cepet sembuh harus minum obat" Balas Lian"Kalo aku hamil gimana bang?" Tanya Salsa"Abang udah bilang dari awal kita lakuin ini tadi. Abang akan tanggung jawab Sa""Abang tau, meskipun tadi abang keluar di luar. Pasti resiko kamu hamil juga besar, karena abang telat cabut juga tadi""Kamu tenang aja ya, abang akan tanggung semua resikonya" Ucap Lian"Beliin obat pencegah kehamilan aja bang, jaga-jaga" Balas Salsa"Gaperlu! Abang gamau kamu minum itu!""Abang siap kalo kamu hamil! Udah gausah khawatir ya" Ucap Lian"Abang janji kan gak bakal ninggalin Aku?" Tanya Salsa"Janji, kamu punya abang, dan abang punya kamu! Komitmen itu akan selalu abang pegang sampai kamu siap abang nikahin" Ucap Lian"Ahhh abangggg, aku sayang banget sama abang" Balas Salsa"Abang juga sayang sama kamu. Terimakasih ya sudah memberikan abang hal yang berharga hari ini. Dan maaf, abang rebut itu sebelum pernikahan" Ucap Lian"Gapapaa abang, tadi kan aku yang maksa abang juga hehe" Balas Salsa"Dasar nakal! Sama abang-abang yang lain gaboleh nakal gitu ya! Bolehnya cuma sama abang Lian" Ucap Lian"Iya abang Lian ku" Balas SalsaLian tersenyum lalu kembali memeluk tubuh polos Salsa.***"Makin hari makin cantik aja ya si Sasa. Tapi dia gak pernah peka kalo gue deketin, heran" Ucap Liam"Kan abang udah bilang, Sasa tuh demennya sama si Lian bukan sama lu" Balas Leon"Emang lo beneran deket sama Sasa?" Tanya Liam"Kepo" Balas Lian"Dihh, jawab dong Li. Lo ada rasa gak sih sama Sasa? Kalo gak ada ya lo yang teges dong, biar Sasa gak mengharap sama lo" Ucap Liam"Liam, Lo sesuka itu ya sama Sasa?" Tanya Lian"Iya, gue suka sama Sasa. Gue bahkan rela berubah kalo Sasa mau sama gue" Balas LiamMasa iya gue harus relain Sasa demi Liam? Tapi gue sama Sasa udah terlalu jauh *batin Lian"Gue gabisa ngatur perasaan orang ke gue. Kalo Sasa suka sama gue, itu hak dia. Gue - ""Hay abang-abang ku, kalian lagi apa? Serius banget ngobrolnya?" Tanya Salsa tiba-tiba datang"Hay dek, lagi nyantai aja kok" Balas Leon"Hay, sini cantik" Balas Liam sembari menepuk space kosong di sebelahnya"Iya bang Liam" Balas Salsa lalu duduk di sebelah Liam"How's your day? Seru kuliahnya?" Tanya Liam sembari mengusap kepala SalsaLian berusaha meredam rasa cemburunya saat Liam menyentuh Salsa. Lian tak ingin jika semua orang curiga akan hubungannya dengan Salsa jika ia menunjukkan kecemburuannya.Bang Lian diem aja, apa bener ya Bang Lian gak cinta sama gue. Bang Lian cuma butuh tubuh gue? *batin SalsaYa, Salsa sedikit ragu pada Lian setelah ia menceritakan kisah cintanya dengan Lian pada sahabat barunya di kampus. Salsa bahkan menceritakan bahwa ia dan Lian sudah sering melakukan having sex di rumah mereka hampir setiap hari.Setelah semua orang tidur, Lian akan masuk ke kamar Salsa ataupun sebaliknya. Mereka sama-sama ketagihan melakukan hal itu, hingga sejak dua bulan lalu mereka selalu mengulanginya lagi tanpa rasa bersalah."Seru bang, semuanya lancar""Oh iyaa, tadi aku juga pergi berdua sama Kak Angel Bang. Kak Angel belanjain aku make up banyak banget hihi, aku seneng deh punya calon kakak ipar sebaik Kak Angel""Bang Leon beruntung banget, dapetin Kak Angel. Udah baik, lembut, cantik banget lagiii" Ucap Salsa excited"Hahaha iyaa, tadi Angel cerita sama abang""Angel juga cerita katanya kamu mau belajar make up sama dia. Emang ngapain mau belajar make up segala? Biar apa sih dek? Udah cantik begini padahal" Balas Leon"Hhmm ya biar makin cantik aja, siapa tau bisa dapet cowok kan nanti" Balas Salsa sembari melirik LianLian membulatkan matanya dan menatap tajam ke arah SalsaYes, berhasil! Ternyata dugaan gue salah! Keliatan banget Bang Lian marah pas gue bilang mau cari cowok *batin SalsaMaksud Sasa apasih! Ngapain dia ngomong begitu coba *batin Lian"Eh, kok centil? No, No, No Sasa. Gaboleh centil gitu ah""Udah kamu gausah cari cowok, tinggal pilih aja antara Bang Liam dan Bang Lian. Tapi kalo Bang Lian gamau sama Sasa, Bang Liam mau kok, mau banget malah" Goda Liam"Dasar! Lo larang Sasa centil, lo sendiri centil ke Sasa" Omel Leon"Hehe, lagian kamu tuh gausah make up juga udah cantik banget Sa. Ngapain sih begitu-begitu" Ucap Liam"Kuliah yang bener, gausah aneh-aneh jadi cewek" Ucap Lian lalu pergi dari ruang tengahLeon, Liam dan Salsa menatap kepergian Lian. Hati Salsa sedikit tercubit dengan sikap Lian. Lian benar-benar berbeda jika bersamanya dan bersama keluarga lainnya."Ck, kenapa sih tuh bocah""Jangan diambil hati ya ucapan Lian, dia mah emang gak asik" Ucap Liam"Iya bang, udah biasa" Balas Salsa"Lian begitu berarti dia peduli sama kamu Sa, mungkin caranya aja salah" Ucap Leon"Iya Bang Leon, maaf yaa. Aku tadi cuma becanda kok" Balas Salsa"Iya, abang tau Sa kamu cuma becanda" Balas Leon mengusap kepala Salsa***Beberapa hari setelah hari itu, sikap Lian benar-benar berubah pada Salsa. Bahkan Lian setiap malam mengunci kamarnya saat Salsa ingin meminta kejelasan dari sikap Lian beberapa hari ini. Salsa benar-benar frustasi menghadapi sikap Lian yang tiba-tiba berubah padanya.Jika bertemu pun Lian sama sekali enggan bertegur sapa dengannya, dia hanya diam tanpa menatap Salsa sedikit pun. Salsa benar-benar dibuat sakit hati oleh sikap Lian saat ini padanya.Belum tuntas rasa sakit hatinya karena sikap Lian padanya, Salsa semakin dibuat hancur saat melihat Lian membawa seorang wanita yang ia kenalkan pada kedua orang tuanya di depan Salsa. Salsa sama sekali merasa Lian membuangnya begitu saja setelah berhasil mendapatkan apa yang ia mau dari Salsa."Ohh, jadi ini alasan sikap kamu berubah bang? Ternyata udah ada cewek baru ya?" Sindir SalsaLian hanya melirik Salsa sekilas tanpa menjawab ucapan Salsa. Lian melanjutkan langkahnya menuju kamar tanpa mempedulikan Salsa."Emang brengsek kamu ya bang! Setelah bosen sama tubuh ku? Kamu cari perempuan lain? Jahat kamu bang!" Ucap SalsaLian menghentikan langkahnya lalu menatap Salsa"Gausah playing victim, kita sama-sama menikmatinya bukan? Lo enak, gue juga enak" Balas LianSalsa mendekat lalu menampar wajah Lian dengan kencang"Salah aku jatuh cinta dan percaya sama cowok brengsek seperti kamu bang! Aku gak percaya ucapan itu bakal keluar dari mulut kamu!""Aku benci sama kamu bang hiks hiks, aku benci!" Ucap Salsa lalu pergi meninggalkan Lian begitu sajaMaaf Sa *batin LianSejak ucapan Lian padanya, Salsa berniat membalas tingkah Lian padanya. Salsa yakin jika Lian masih mencintainya, namun karena hal lain Lian tega menyakitinya. Salsa tau Lian tak mungkin bersikap seperti itu padanya tanpa alasan.Dan kini, Salsa benar-benar mencoba mendekatkan diri pada Liam agar Lian merasakan apa yang ia rasakan. Seperti saat ini saat Leon, Liam dan Lian tengah berada di ruang tengah keluarga mereka. Salsa langsung duduk di tengah-tengah Leon dan Liam."Bang Leon, besok aku pinjem Kak Angelnya lagi yaa" Ucap Salsa"Mau kemana lagi dek? Perasaan tiap hari keluyuran mulu sama Angel. Salah nih keknya abang kenalin kamu sama Angel" Balas Leon"Ish abanggg, mau nonton aja sih. Boleh yaaa" Rengek Salsa"Hahaha lucu banget sihh mukanya" Ucap Leon sembari mencubit pipi Salsa"Bang, ishhh. Jangan di cubit dong, kasian ini pipi bakpao ku di cubit-cubit. Sakit sayang?" Tanya Liam"Sayang, sayang pala lo peang! Enak bener tuh mulut manggil sayang" Omel Leon"Dih, Sasa aja gak keberatan. Iya kan Sa?" Tanya Liam"Iya, bebas aja. Senyamannya Bang Liam" Balas Salsa"Tuhh dengerinnn, gausah protes deh lo bang" Ucap Liam"Yaudah deh iyaa""Eh, tapi jangan besok deh yaa. Abang mau bawa Angel ke tempat temen abang kalo besok" Ucap Leon"Hhmm yaudah deh bang, next time aja" Balas Salsa"Sama abang aja gimana? Mau?" Tanya Liam"Boleh deh, yuk" Balas Salsa"Oke, besok kita nonton ya cantik" Ucap Liam"Oke ganteng" Balas Salsa"Gemes, jadi pengen cium" Ucap Liam"Cium aja" Balas SalsaSemua orang terkejut dengan jawaban Salsa, termasuk Lian. Lian sudah mengepalkan tangannya, menahan emosi yang mulai memuncak"Gausah genit bisa gak sih jadi cewek" Ucap Lian"Dih, yang genit siapa? Lagian terserah aku lah, kalo pun mau genit sama siapa juga! Bukan urusan Bang Lian" Balas Salsa kesal"Udah udah yaa, kok jadi berantem sih""Bang Lian bener dek, Sasa kan cewek. Sebaiknya jangan genit sama laki-laki. Sasa harus jaga diri dari laki-laki, Sa - ""Percuma, semua juga udah rusak" Balas Salsa lalu pergi meninggalkan ketiga pria itu"Hah? Maksud kamu apa dek?" Teriak Leon"Maksud Sasa apa? Dia ngomong apa tadi?" Ucap Liam bingungLian tampak menetralkan perasaannya yang sudah tak karuan."Mungkin dia cuma ngomong sembarangan karena kesel sama gue. Udah biarin aja" Balas Lian"Iya kali ya, keknya si Sasa lagi PMS deh. Jadi ngomongnya asal nyeplos aja" Balas Liam"Semoga dia beneran ngomong ngasal deh" Balas LeonUntung yang lain percaya. Sasa beneran udah benci sama gue sepertinya *batin Lian***"Paaaa, Paaapaaaa" Teriak Mia"Kenapa Ma? Kenapa?" Tanya Aditya bingung"Iya, Mama kenapa? Kenapa nangis Ma?" Tanya Leon"Mama nemuin ini di kamar Salsa hiks hiks""Dan Salsa gak ada di kamarnya Pa hiks hiks" Balas Mia sembari membawa dua buah testpack"Ss-sasa hamil? Gak mungkin kan Ma?" Tanya Aditya"Hasilnya positif Pa hiks hiks" Balas Mia"Anjing! Siapa yang berani hamilin Sasa? Leon tau betul Sasa gapernah deket sama laki-laki di kampusnya Pa! Karena Leon udah ngikutin permintaan Papa untuk sewa bodyguard buat jagain Sasa di kampus!" Ucap Leon"Ma? Sasa dimana? Sasa gak ada di kamarnya?" Tanya Lian panik"Gak ada hiks hiks, Mama gatau Sasa kemana hiks hiks" Balas Mia"Kalian cari Sasa sampai ketemu! Bawa Sasa pulang ke rumah! Kita harus tanya siapa ayah dari bayi yang di kandung Sasa!" Tegas Aditya"Papa mau apa? Jangan sakitin Sasa dan bayinya Pa hiks hiks" Ucap Mia"Kalo ayahnya gamau tanggung jawab! Mending kita minta Sasa gugurin bayi itu Ma! Papa gamau Sasa menderita karena ngurus bayi itu sendirian!" Tegas AdityaLian menggelengkan kepalanya lalu ia berlari dan bersujud pada kaki Mamanya"Ma maafin Lian Ma, anak itu anak Lian Ma. Tolong jangan bunuh anak Lian" Ucap Lian"Maksud kamu apa Lian!" Bentak Aditya"Maafkan Lian Pa, Lian yang sudah ngerusak hidup Sasa. Lian yang sudah tega ambil kehormatan Sasa Pa" Balas Lian lemasLeon dan Liam mengepalkan tangannya lalu menarik Lian dan mereka hajar habis-habisan."Brengsek! Dasar bajingan! Gue gak nyangka gue punya kembaran brengsek kaya Lo Lian! Anjing!!!" Bentak Liam"Lo udah punya pacar, lo bahkan kenalin pacar lo ke kita semua beberapa hari lalu! Lo kenalin dia di depan Sasa setelah lo pake tubuh dia seenaknya!! Bajingan lo emang!" Bentak LeonBughBughBughLian hanya pasrah saat Leon dan Liam terus menerus menghajarnya"Udah cukup! Cukup Leon, Liam! Jangan sampai Lian mati! Dia harus bertanggung jawab dengan kesalahannya!" Bentak Aditya"Kalo dia gamau tanggung jawab! Biar Liam yang nikahin Sasa Pa" Ucap LiamLian menatap Liam tajam dan langsung mendorong tubuh Liam"Gue akan tanggung jawab! Gue bakalan nikahin Sasa, bukan Lo! Sasa hamil anak gue, gue bapaknya!" Tegas Lian"Haha setelah tau Sasa hamil lo mau tanggung jawab! Kemarin kemana aja lo? Hah? Malah sibuk sama cewek lain!" Balas Liam"Gue begitu karena lo Liam! Lo bilang ke gue lo cinta sama Sasa! Lo bahkan rela berubah demi dapetin Sasa! Gue ngalah karena gue liat kebahagiaan lo sama Sasa! Lo bahkan beneran berubah, gapernah mainin cewek setelah lo berusaha deketin Sasa!""Gue cinta sama Sasa! Gue sayang sama dia! Gue rela macarin cewek lain biar Sasa benci sama gue dan mau terima lo! Gue tau gue salah, gue brengsek karena gue udah ngerusak Sasa! Tapi gue juga gabisa bahagia diatas penderitaan lo Liam!""Tapi sekarang keadaannya udah beda! Sasa sedang hamil anak gue! Gue gabisa ngalah lagi dan biarin lo rebut Sasa dan anak gue! Maafin gue kalo gue egois! Gue cuma mau mempertahankan apa yang udah jadi milik gue Li" Balas Lian diiringi air mata yang mengalir di wajahnyaSemua orang lantas terkejut dengan ucapan Lian, terutama Liam. Liam tak menyangka jika Lian pernah berbesar hati merelakan Salsa demi dirinya."Cukup! Udah cukup semuanya!""Mama kecewa sama kamu Lian hiks hiks! Mama bawa Sasa kesini untuk jaga dia! Tapi anak Mama sendiri yang justru menghancurkan dia hiks hiks""Sahabat Mama pasti sedih di atas sana Lian hiks hiks, Mama gagal jagain putri kesayangannya hiks hiks" Ucap Mia"Maaaa hiks hiks maafin Lian Ma. Lian cinta sama Sasa, tapi Lian justru ngancurin masa depannya""Lian janji Ma, Lian akan tanggung jawab hiks hiks. Maafin Lian Ma" Balas Lian"Cari Sasa sampai ketemu! Tanggung jawab sama perbuatan kamu Lian!" Tegas Mia"Iya Ma, Lian akan cari Sasa" Balas Lian"Tunggu!" Ucap Leon"Kenapa bang? Lo belum puas mukulin gue? Nanti aja bang, gue siap kalo lo mau mukul gue sampai gue sekarat. Tapi please, biarin gue cari Sasa dulu sekarang bang" Balas Lian"Ck, gue udah cukup puas bonyokin muka lo! Sekarang, kita cari Sasa bareng-bareng. Lo cari sama gue, biar Liam sama bodyguard Papa""Gue gak akan biarin lo pergi sendiri dengan kondisi lo yang kaya gini! Gue takut lo kenapa-kenapa di jalan!" Ucap Leon"Makasih bang, maaf gue udah ngecewain lo" Balas Lian"Udah ayo" Balas Leon***"Cup cup cup sayang, udah yaa jangan nangis terus nak. Adek mau apa? Laper ya sayang? Hhmm""Saa, anak kita laper. Please kasih dia ASI ya" Bujuk Lian"Lo gak liat gue lagi apa! Di freezer banyak stoknya! Kenapa harus ganggu gue sih!" Tegas Salsa"Sa, adek udah keburu laper. Kalo manasin ASI nya kan lama. Kasian adek Sa" Mohon Lian"Ck, gue lagi nugas! Bisa gak sih gausah ganggu!" Balas Salsa lalu pergi dari kamar meninggalkan LianLian hanya bisa menghela nafas menghadapi tingkah Salsa.Ya, setahun berlalu setelah kejadian dimana semua orang tau kehamilan Salsa. Lian dan Leon akhirnya berhasil menemukan Salsa seminggu setelahnya di apartemen sahabat Salsa.Salsa tak pernah bisa menerima kehamilannya karena ia masih merasa sakit hati dengan sikap Lian padanya. Salsa masih ingat betul perdebatannya dengan Lian sehari sebelum ia mengetahui kehamilannya. Ucapan Lian selalu terngiang-ngiang di kepalanya dan membuat dirinya membenci Lian hingga saat ini." Kita lakuin itu atas dasar suka sama suka. Lo gausah ngarep lebih deh dari gue. Gue sengaja bilang bakalan tanggung jawab karena gue butuh tubuh lo saat itu. Dan sekarang? Gue udah bosen sama tubuh lo yang gak seksi-seksi amat itu""Lo nya aja yang terlalu murah, gue rayu dikit aja udah mau gue tidurin. Ohh, atau jangan-jangan lo bukan cuma tidur sama gue ya? Sama Bang Leon dan Liam juga pernah? Hhmm?"Ucapan Lian saat itu berhasil membuat harga diri Salsa runtuh begitu saja. Salsa merasa dirinya tak berharga lagi, dan itu pula yang membuatnya sangat membenci Lian termasuk putri kecilnya sendiri.Ya, Salsa melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Semua orang sangat bahagia, kecuali Salsa. Salsa sempat beberapa kali berusaha menggugurkan bayinya namun selalu gagal karena Lian selalu berhasil menyelamatkannya.Semua orang juga tau jika Salsa masih belum bisa menerima anaknya dan Lian. Salsa pun terpaksa menikah dengan Lian setelah melahirkan karena Mia dan Aditya yang memohon padanya. Dan setelah menikah, Lian full mengurus bayinya tanpa campur tangan Salsa.Salsa hanya memompa ASInya dan ia letakkan di freezer. Salsa sama sekali tak ingin menyentuh bayi mungil yang lahir dari rahimnya sendiri sejak hari pertama bayi itu lahir ke dunia.Lian sadar ini semua karena salahnya, dulu ia terlalu gegabah membuat Salsa membencinya. Dan kini, Salsa benar-benar sangat membencinya bahkan pada anak mereka sendiri. Lian hanya bisa sabar dan berharap jika suatu saat nanti Salsa akan kembali menerimanya dan anak mereka."Adek sabar ya sayang. Ayah yakin, suatu saat nanti Bunda pasti mau gendong adek" Ucap Lian sembari menggendong anaknyaSedangkan di tempat Lain, Salsa sedang duduk di ruang tengah sembari memangku laptopnya dan melanjutkan tugas kuliahnya."Mau sampe kapan dek?" Tanya Leon"Maksudnya bang?" Tanya Salsa heran"Mau sampe kapan kamu begini?" Tanya Leon"Ya sampe tugasnya selesai bang" Balas Salsa"Benci sama anak kamu sendiri. Bayi cantik, lucu dan gak berdosa yang lahir dari rahim kamu sendiri" Ucap Leon yang duduk di sebelah Salsa"Dia bukan anak aku, tapi anak Bang Lian" Balas Salsa kembali menatap laptopnya"Anak kalian berdua, bukannya kalian lakuin itu atas dasar suka sama suka? Dan atas dasar cinta kan" Ucap Leon"Dulu, aku yang cinta sendirian, sedangkan dia hanya menganggap aku jalang yang bisa dia tiduri setiap dia mau""Aku yang bodoh, karena dengan gampangnya memberikan seluruh hidupku untuk dia yang ternyata hanya memanfaatkan tubuh ku aja bang" Balas Salsa"Kata siapa? Hhmm?" Tanya Leon"Dia sendiri yang bilang" Balas Salsa"Berarti abang percaya kalo kamu bodoh" Balas Leon"Maksud abang?" Tanya Salsa"Sebelum kamu menaruh hati pada Lian, apa pernah kamu liat sikap Lian yang suka nyakitin dan mainin perempuan? Hhmm?" Tanya LeonSalsa menggelengkan kepalanya"Lalu kenapa setelah dia dekat sama kamu, dia justru nyakitin kamu?" Tanya Leon"Ya karena dia udah bosen sama tubuhku yang udah dia nikmati setiap hari" Balas SalsaLeon menyentil pelan kening Salsa"Kalo hanya karena nafsu, Lian bisa bayar jalang kalo dia mau, atau bisa dapetin cewek yang mau suka rela tidur sama dia Sasaaa" Ucap LeonSalsa nampak memikirkan ucapan Leon"Lian itu cinta sama kamu, ada satu alasan yang akhirnya buat Lian lakuin hal jahat itu sama kamu" Lanjut Leon"Apa? Alasan apa?" Tanya Salsa"Karena abang pernah suka sama kamu, dan Lian rela berkorban demi abang" Ucap Liam"Bang Liam?" Ucap Salsa shockLiam tersenyum lalu mendekat ke arah Salsa"Iya Sa""Dulu, abang sering curhat sama Bang Leon dan Lian. Betapa sukanya abang sama kamu, abang bahkan rela berubah demi dapetin kamu. Dan Lian merasa jahat karena udah deket sama kamu dibelakang kita""Lian mau kamu deket sama abang, tapi karena Lian tau kamu cinta sama dia. Lian berusaha membuat kamu membenci dia Sa. Padahal dia sendiri tersiksa karena harus berbuat jahat sama kamu, apalagi membuat kamu membenci dia. Itu beneran gak mudah buat Lian. Tapi Lian rela lakuin itu demi abang""Tapi, setelah dia tau kamu hamil anaknya. Dia merasa menyesal Sa, dia mau mempertahankan kamu dan anak kalian. Dia sangat siap bertanggung jawab dengan kamu dan adik" Ucap Liam"Lihat perjuangan dia selama ini sama kamu Sa. Sejak kamu hamil bahkan sampai adik seusia sekarang, dia ikhlas dan sabar dengan semua sikap kamu yang nyakitin dia""Dia bahkan sabar merawat adik sendiri, siang dan malam. Lian gapernah maksa kamu untuk menerima dia dan adik, tapi dia selalu berusaha agar kamu gak membenci dia lagi""Sa, abang Leon dan Bang Liam ngomong gini bukan karena abang belain Lian atau karena Lian adik abang. Abang tau Lian emang salah, tapi dia lakuin itu karena suatu alasan, bukan benar-benar kemauan hatinya Sa" Ucap Leon"Sa, Lian cinta sama kamu. Perempuan yang dia kenalin ke kita dulu, hanya temen Lian yang Lian minta untuk jadi pacar pura-puranya aja Sa. Lian gapernah deket sama perempuan lain, karena di hatinya hanya kamu Sa" Lanjut LiamSalsa meneteskan air matanya, ia baru mengetahui semua fakta ini dari Liam dan Leon. Selama ini Lian sama sekali tak pernah menjelaskan ini padanya dan membuat rasa bencinya terus bertahan hingga saat ini."Hiks hiks hiks aku jahat banget ya bang, sama Bang Lian dan anak aku. Aku bahkan benci sama anak aku sendiri Bang. Ibu macam apa aku ini hiks hiks" Ucap Salsa terisak"Heyy udah yaa, kamu bersikap seperti itu karena kamu terlalu terbawa perasaan benci kamu sama Lian. Dan sekarang, kamu udah sadar kan kalo itu salah Sa?" Tanya Leon"Iya bang hiks hiks" Balas Salsa"Udah mau liat anaknya? Udah mau gendong si cantik? Hhmm?" Tanya Leon lembut"Mau bang hiks hiks" Balas Salsa"Yaudah, samperin sana anaknya. Rugi banget dari lahir gak pernah liat si adek. Padahal dia cantik, lucu, gemoy loh Sa" Timpal Liam"Di hapus dulu air matanya, adek pasti seneng akhirnya bundanya mau gendong dia Sa" Ucap Leon sembari menghapus air mata Salsa"Bang Leon, Bang Liam. Makasih banyak ya, udah bantu nyadarin aku. Kalian emang abang terbaik aku" Ucap Salsa"Iya, yaudah yuk samperin adek. Kasian Lian, adek masih nangis terus dari tadi" Ajak LeonMereka bertiga pun naik menuju kamar Lian dan ketika mereka membuka kamarnya, terlihat Lian sudah sangat panik melihat anaknya yang tak kunjung berhenti menangis"Kenapa kalian kesini? Kalo cuma pengen liat adek, mending nanti deh. Dia lagi rewel banget" Ucap Lian pada Leon dan Liam"Bang, boleh aku gendong adek?" Tanya Salsa lembutLian shock dan menatap kedua saudaranya bergantian. Leon dan Liam tersenyum lalu menganggukkan kepalanya"Sa? Beneran?" Tanya Lian"Iya bang, aku mau gendong adek" Balas SalsaLian tersenyum lalu memberikan putri kecilnya pada Salsa. Sedangkan Salsa benar-benar terharu, akhirnya ia bisa melihat putrinya berada di dalam gendongannya. Air mata Salsa turun dengan sendirinya melihat kecantikan bayi mungilnya."Bener kata Bang Leon dan Bang Liam, adek cantik banget" Ucap Salsa terharu"Dikata juga apa, masa tega benci sama bayi secantik dan selucu adek" Timpal Leon"Iya, aku baru sadar aku udah jahat banget sama adek" Balas Salsa yang masih terus memandangi putrinyaSedangkan Lian masih diam dan sibuk mencerna apa yang terjadi di hadapannya."Adek kenapa nangis terus bang? Abang udah kasih susunya?" Tanya Salsa pada LianLian masih diam menatap Salsa, hingga Leon menyenggol tubuh Lian barulah Lian tersadar"Bengong aja! Tuh bini lo tanya, adek udah di kasih susu belum?" Tanya Leon"Eh, hhmm udah Sa. Tapi adek gamau" Balas Lian"Kalian bisa keluar dulu gak? Aku mau coba nenenin adek dulu, siapaa tau dia mau" Ucap SalsaLeon dan Liam tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Mereka pun keluar dari kamar, di susul dengan Lian yang hendak mengikuti langkah Leon dan Liam."Abang mau kemana?" Tanya Salsa sembari menahan tangan Lian"Hhmm mau keluar Sa, katanya kamu mau nenenin adek?" Tanya Lian ragu"Abang kan suami aku, temenin aku disini aja ya" Balas Salsa"Beneran?" Tanya Lian"Iya" Balas SalsaLian pun mengikuti langkah Salsa yang dengan perlahan naik ke atas ranjang."Bentar ya, abang ambilin bantal menyusuinya. Abang udah siapin bantal itu dari lama, karena abang yakin suatu saat nanti kamu pasti mau nenenin adek langsung" Ucap Lian semangat"Iya bang" Balas SalsaLian dengan cekatan membantu Salsa agar posisi Salsa dan anaknya dalam posisi nyaman. Lian memang sudah sangat siap menjadi suami dan ayah siaga bagi kedua perempuannya."Ssshhh" Rintih Salsa"Kenapa Sa? Kamu sakit? Apa yang sakit?" Tanya Lian panik"Hhmm nen ku nyeri, mungkin karena baru pertama kali bang nenenin adek" Balas Salsa"Astaga, gimana gak sakit? Liat aja tuh dia ngisepnya semangat banget begitu" Balas Lian sembari mengusap pipi putrinya"Adek, pelan-pelan dong sayang. Kasian bundanya kesakitan. Jangan kenceng-kenceng nak, ayah gak bakalan minta kok" Ucap Lian"Eh, apasih bang" Balas Salsa salah tingkahLian tersenyum lalu mengusap wajah Salsa perlahan"Terimakasih sudah mau menerima adek ya Sa. Maafin semua kesalahan abang sama kamu dulu, jangan sangkut pautin kesalahan abang sama adik. Dia gak salah apa-apa Sa" Ucap Lian"Bang, kenapa abang gak pernah cerita yang sejujurnya sama Aku? Abang mau aku benci abang seumur hidup ku dan gak nerima adik selamanya?" Tanya Salsa"Maksud kamu?" Tanya Lian"Aku udah tau alasan sikap kamu yang tiba-tiba berubah sama aku. Aku juga tau perempuan itu bukan benar-benar pacar kamu""Bang, Bang Leon dan Bang Liam yang bantu nyadarin aku dari rasa benci ku sama kamu dan adik. Mereka udah jelasin semuanya sama aku kebenarannya. Makanya aku sekarang disini dan coba menerima semuanya" Balas SalsaLian tertunduk tak berani menatap Salsa"Maafkan abang Sa, abang gak seberani itu ceritain semuanya sama kamu. Abang takut kamu mikir abang itu pengecut dan gamau perjuangin kamu""Abang dulu memang bodoh dan terlalu gegabah. Abang mau kamu benci sama abang, padahal abang sendiri gak sanggup kalo kamu benci sama abang""Abang cuma - ""Sutsss, udah ya bang. Aku udah maafin abang, aku udah ikhlasin semuanya. Aku mau kita mulai semuanya dari awal""Bantu aku untuk bisa jadi istri dan ibu yang baik untuk kamu dan adek ya bang. Selama ini sikap ku sangat kurang ajar sama kamu sebagai suami ku. Maafin aku ya bang" Ucap Salsa"No sayang, kamu gak salah. Abang bisa memahami kenapa kamu bersikap seperti itu sama abang""Abang bahagia denger kamu mau memberi abang kesempatan untuk membangun kembali rumah tangga kita. Abang janji, sebisa mungkin abang gak akan nyakitin kamu seperti dulu lagi Sa. Abang cuma mau kamu dan adik bahagia, keluarga kecil abang bahagia" Ucap Lian"Aamiin, semoga keluarga kecil kita selalu bahagia ya bang" Balas Salsa"Aamiin sayang" Balas LianSalsa tersenyum lalu kembali menatap putrinya yang kini sudah terlelap."Loh, si cantik udah bobo" Ucap Salsa"Hahaha kekenyangan dia sayang. Mungkin adek ikut bahagia, akhirnya bisa ngerasain di gendong bundanya dan di beri ASI langsung untuk pertama kalinya" Balas Lian"Adek cantik banget ya bang, perpaduan kita berdua banget" Ucap Salsa"Iya, Masyallah sayang. Abang tiap gendong adek juga ngerasa bahagia banget, bisa punya anak secantik adek" Balas Lian"Nama adek siapa bang?" Tanya Salsa"Liliana Camila Abraham, di panggilnya adek Lili" Balas Lian tersenyum"Masyaallah, adek Lili""Maaf yaa dek, selama ini Bunda gamau denger dan gamau tau siapa nama adek. Dan ternyata ayah kasih nama yang sangat indah untuk adek. Adek emang persis seperti bunga Lili yang indah dan cantik" Ucap Salsa"Iya sayang, anak kita emang secantik bunga Lili" Balas LianSalsa tersenyum menatap Lian dan anaknya bergantian. Salsa merasa bahagia, setelah ia berhasil mengikhlaskan semuanya dan menghapus rasa bencinya pada Lian.***"Mama Papa seneng akhirnya bisa liat pemandangan sehangat ini dari kalian berdua" Ucap Mia"Iya, Papa gak nyangka sekarang Sasa udah menerima kehadiran Lili" Timpal Aditya"Ini semua berkat Bang Leon dan Liam yang bantuin Lian Pa. Sasa berubah juga karena mereka" Balas Lian"Bener, Bang Leon dan Bang Liam yang bantu nyadarin Sasa untuk memaafkan Bang Lian dan menerima Lili Pa, Ma" Balas SalsaMia tersenyum menatap ketiga anaknya bergantian"Mama bangga sama anak-anak Mama. Kalian semua anak-anak baik. Mama sayang banget sama kalian" Ucap Mia"Iya boys, Papa juga bangga sama kalian. Kalian memang benar-benar bisa Papa andalkan" Timpal Aditya"Ahhhh Mamaaaaaa, Papaaaa sedih deh" Ucap Liam lalu memeluk kedua orang tuanya"Gue ikutan dongggg" Timpal Leon lalu ikut memeluk kedua orang tuanya"Kamu gak ikutan bang?" Tanya SalsaLian tersenyum lalu bergabung dengan saudara-saudaranya"Dasar triple L hahahaha" Ledek Salsa"Ehh gak triple lagi dong sekarang kan udah nambah nih si adek. Jadinya Q uadruple L, Leon, Liam, Lian dan Liliii" Ucap Liam"Hahaha bang, bang ada ada aja deh kamu tuh" Timpal Mia"Udahan pelukannya ih, cucu Papa jadi kegencet kalian ini. Minggir-minggir" Usir Aditya yang memang sejak tadi menggendong Lili"Hadeuhhh, liat noh bang. Tahta lo udah tergantikan dengan Lili. Lo bukan tahta tertinggi lagi, disini cuma Lili yang bisa ngatur kita" Ucap Liam sembari menjawil pipi gembul Lili"Heh! Papa potong ya tangan kamu! Berani banget colek-colek cucu Papa" Omel Aditya"Astagaaaaa si adek aja diem loh Paaaa, gak kesakitan dianyaaaa" Rengek Liam"Tetep aja! Pipi gembulnya adek gaboleh di colek! Bolehnya di cium kek gini" Ucap Aditya lalu menciumi wajah Lili"Hahaha sabar bang""Dari dulu Papa mu pengen banget punya anak cewek, tapi tiap Mama lahiran cowok mulu yang keluar""Jadi begini nih, sangking senengnya punya cucu cewek. Gaboleh lecet sedikit pun" Ucap Mia"Yaudah Pa, ntar kalo Leon nikah. Leon bikinin cucu cewek buat Papa sebuluh biji" Balas Leon"Sepuluh biji sepuluh biji! Biji kamu tuh yang Papa potong jadi sepuluh! Sembarangan aja kalo ngomong" Omel Aditya"Astaga Pa, ngilu bener bayanginnya" Ucap Leon refleks memegang miliknya"Hahahaha lagian lo sih bang, enteng bener nyebutnya biji! Itu anak manusia ege, bukan kucing" Balas Liam terkekeh"Cepet nikah makanya bang, keburu Kak Angel nyerah karena gak di nikah-nikahin" Ucap Lian"Iya iya dek, secepatnya abang bakal nikahin Angel kok" Balas Leon"Tau! Anak orang di tidurin mulu gak di nikah-nikahin" Sindir Liam"Liam! Mulut lo ya!!!" Omel Leon"Beneran bang? Hah!" Omel Aditya"Eh, gak Pa. Jangan dengerin bacodnya si Liam. Abang mah anak baik, gapernah ngapa-ngapain hehe" Balas Leon gugup"Hahahaha gugup lo bang?" Ledek Liam"Diem lo!!!!" Omel AdityaOekkkk oeekkkk oeekkkLili yang sejak tadi tertidur nyenyak di gendongan Aditya, kini menangis setelah mendengar suara kencang dari Leon dan Liam. Membuat Aditya geram pada kedua anaknya."Kan!!! Kalian berisik banget sih! Adek jadi bangun ini!!!" Omel Aditya"Lo sih bang" Ucap Liam"Ya lo cari gara-gara""Sini deh biar abang yang gendong Pa, abang yang nidurin lagi" Ucap Leon"Gausah! Tangan kamu bau tikus, nanti Lili makin gabisa tidur" Balas Aditya"Astagaaa punya bapak begini banget ya Tuhannnn" Rengek Leon"Sini Pa, biar Lian yang gendong" Ucap Lian"Udah gausah Li, biar Papa aja""Papa bawa Lili tidur di kamar Papa Mama yaa. Kalian nikmatin aja waktu kalian berdua, kalian kan baru baikkan. Biar Lili sama Papa yaa" Ucap Aditya"Tapi Pa, kalo tengah malem adek suka rewel - ""Papa tau, ASI nya kan banyak di freezer. Udah kalian gausah khawatir" Ucap Aditya"Iya, Mama Papa juga udah pengalaman kali rawat bayi. Gausah takut deh lo Li, anak lo aman sama Mama Papa" Timpal Liam"Iya nak, kalian istirahat aja ya. Biar Lili sama Mama Papa" Ucap Mia"Yaudah Ma, Pa" Balas LianAditya dan Mia pun membawa Lili masuk ke dalam kamar mereka."Duhh, bau-bau bikin ponakan baru ini mah" Sindir Liam"Lo diem deh dek! Berisik banget dari tadi ya lo! Ledekin gue sama Lian mulu!" Omel Leon"Ya emang lo gak seneng kalo punya ponakan baru lagi? Hhmm?" Tanya Liam"Ya seneng, tapi itu kan urusan Lian dan Salsa. Lo tuh gausah kepo dan ikut campur sama rumah tangga mereka ege!" Omel Leon"Udah bang, biarin aja. Begitu emang kalo jones" Ucap Lian"Wehh anjing juga lo ya! Gue mah gak jones, siapa juga mau jadi cewek gue yaa! Emang sekarang lagi tobat aja, makanya gapunya cewek" Balas Liam"Udah udah, kenapa jadi makin ribut sih" Ucap Salsa"Laki lo tuh Sa, diem-diem ngeselin" Balas Liam"Lo juga ngeselin!""Udah ayoo balik ke kamar. Kalian juga balil ke kamar Sa, Li, udah malem" Ucap Leon menengahi"Iya bang" Balas LianSetelah sampai di kamar, keduanya merasa canggung karena selama ini hubungan mereka sudah merenggang. Dan kini mereka harus berada di dalam kamar berdua tanpa ada Lili."Sa, tidur yaa. Udah malem, gulingnya tetep di tengah kok, gak abang pindahin" Ucap LianPasalnya selama ini, Salsa selalu meminta untuk dibatasi guling antara dirinya dan Lian. Karena Salsa tidak ingin berdekatan dengan Lian sedikit pun."Bang, kita kan udah baikkan. Gaperlu pakai guling lagi ya" Balas Salsa"Kamu beneran Sa? Emang kamu nyaman? Hhmm?" Tanya Lian"Malah aku kangen bobo di peluk sama kamu bang, rasanya pasti beda kalo bobo di peluk sama suami" Balas SalsaLian tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya"Sini sayang" Ucap LianSalsa dengan cepat masuk ke dalam pelukan Lian"Bang, sekali lagi maafin sikapku selama ini ya sama abang. Aku sering bentak abang, aku kasar sama abang, ak - "Ucapan Salsa terpotong kala Lian tiba-tiba membungkam bibir Salsa dengan bibirnya."Udah yaa, tadi katanya janji gamau bahas yang kemarin-kemarin lagi. Tapi kenapa kamu nakal dan bahas lagi sih? Hhmm" Ucap Lian"Soalnya tiba-tiba ngerasa jahat aja sama abang. Aku gapernah ngehargain abang sebagai suamiku" Balas Salsa"Itu kan dulu, dan semua sikap kamu dulu itu sangat wajar sama abang. Kamu benci sama abang juga karena abang sendiri sayang""Udah yaa, gausah di bahas lagi cantik" Ucap Lian sembari mengusap wajah Salsa"Makasih bang, udah sabar banget ngadepin aku. Dan terimakasih kamu udah jadi suami dan ayah siaga untuk aku dan adek" Balas Salsa"Sama-sama sayang""Abang akan selalu siap siaga dan jadi garda terdepan untuk cantik-cantiknya abang" Ucap Lian"Wah, ternyata aku punya saingan ya sekarang. Padahal dulu aku paling cantik nih di hati abang" Balas Salsa"Hahaha sekarang mah, Lili mah yang pertama. Kamu yang terakhir sayang" Balas Lian sembari mencubit gemas pipi Salsa"Ishhh kok aku yang terakhir? Kan aku yang duluan di hati kamu!" Omel Salsa"Justru itu, kamu yang terakhir dan gak akan terganti sampai kapanpun""Nanti sampai abang tua pun yang ada di samping abang tetep cuma kamu, bukan Lili. Karena Lili dan adik-adiknya, juga pasti akan menikah dan ninggalin kita. Jadi gimana pun kamu tetap jadi penghuni terakhir di hati abang selamanya sayang" Balas Lian"Ahhhhh abanggggg, sweet banget sih" Rengek Salsa"Hahaha apasih yang, jadi ngrengek begitu" Balas Lian terkekeh"Eits bentar, tadi ngomong apa? Adik? Kamu masih berharap punya anak lagi mas?" Tanya Salsa"Ya jelas dong, masa cuma satu yang" Balas Lian"Ishhh sakitnya lahiran aja masih kebayang tauu. Masih aja mau nambah" Balas Salsa"Hahaha ya kan gak sekarang sayang. Tunggu adek gedean dikit gituuu" Ucap Lian"Nanti kan Bang Leon nikah, Bang Liam nikah dan mereka pasti punya anak bang. Udah tunggu mereka aja yaaa hehe" Balas Salsa"Orang maunya hasil bikinan sendiri sayang" Balas Lian"Ishhh ada aja deh jawabannya" Balas Salsa"Hahaha orang bener kok" Balas Lian"Iya deh iyaaa" Balas Salsa"Hhmm kalo sekarang bikin dulu boleh gak? Hehe" Ucap Lian"Bikin apa?" Tanya Salsa seolah tak paham"Ituu sayang, bikin anak hehe""Tapi kalo kamu mau, abang gamau maksa kamu sayang" Ucap Lian"Ohhhh, udah lama puasa ya hahaha" Ledek Salsa"Hehe iyaa, udah lama gak ganti oli nih yang" Balas Lian"Hahaha boleh deh""Tapi janji ya, buang di luar! Aku beneran belum siap hamil lagi bang" Ucap Salsa"Hhmm yaudah iyaaa, janji""Kalo inget" Lirih Lian"Tuh kannnn, yaudah deh gak usah""Sana jauh-jauhhh" Rengek Salsa"Eh, jangan dong sayang. Iya-iya, abang janji keluar di luar. Beneran sayang" Ucap Lian"Nahh gituu dong, kalo gitu boleh" Balas SalsaLian tersenyum lalu mulai mencoba mendekati istrinya. Namun, baru saja Lian hendak mencium bibir istrinya. Tiba-tiba saja pintu kamar mereka terbuka.BraakkkkLian dan Salsa refleks melihat ke arah pintu. Dan ternyata Leon juga Liam terjatuh ke dalam kamar mereka dengan posisi bertindihan."Abang? Liam? Kalian ngapain?" Tanya Lian"Hehehe Sa, Li? Sorry, ya ganggu kalian hehe" Ucap Leon"Hehe maaf ya guys" Timpal Liam"Ohhh kalian berdua mau ngintipin kita iya? Mau nguping? Hah!!!" Omel Lian"Eh, hmm gak kok. Apaan sih lo, asal nuduh aja. Orang kita gak sengaja lewat depan kamar lo kok, iyakan bang?" Elak Liam"Lewat doang kenapa tiba-tiba ambruk ke kamar gue? Hah!" Omel Lian"Hehe sorry dek, ini ulahnya si Liam nih" Balas Leon"Dih, si abang! Malah numbalin gue" Balas Liam"Ya kan emang lu biang keroknya" Ucap Leon"Ishhh kalian yaa, gak sopan banget sihhh" Ucap Salsa"Maaf maaf, kalian lanjutin aja yaa hehe. Kita pergi""Maafin abang ya Sa, Li" Balas Leon"Pergi sono lu! Ganggu aja sih kalian berduaaaa" Usir Lian sembari mendorong tubuh kedua saudaranyaSebelum mengunci kamarnya, Lian berkata pada kedua saudaranya."Gausah nguping! Kalian gak bakal denger apa-apa karena kamar gue udah gue pasang kedap suara! Udah sono pergi!" Omel Lian lalu mengunci kamarnya"Lu sih bang, bego banget jadi orang! Ngapain coba tadi pegang gagang pintunya. Jadi kebuka kan tuh pintu" Omel Liam"Ya kan gue gak sengaja ege" Balas Leon"Udah ahh, balik kamar aja. Males gue sama lo" Ucap Liam"Sama! Gue juga males sama lo" Balas LeonMereka berdua pun pergi dari depan kamar Lian dan kembali ke kamar mereka masing-masing.Sedangkan di dalam kamar, Lian mencoba kembali mendekati istrinya."Lanjutin yang tadi yuk yang" Ajak Lian"Besok aja deh, udah gak mood aku. Ngantuk banget" Balas Salsa"Bentar aja yang" Bujuk Lian"Kamu gak akan pernah main bentar. Besok aja deh yaa, aku juga masih takut Bang Leon dan Bang Liam ada di depan. Mending besok aja udah" Ucap Salsa"Ck, Dasar abang-abang sialannnnn" Gerutu LianSalsa terkekeh di balik selimut mendengar umpatan Lian pada kedua saudaranya yang memang sangat menyebalkan."Dasar triple L, kadang akur, kadang berantem. Kadang baik, kadang nyebelin hahaha" Ucap SalsaLian hanya mencebikkan bibirnya lalu merebahkan dirinya lalu memeluk Salsa"Udah gausah ngambek, gitu-gitu juga berkat mereka loh kita bisa baikkan" Ucap Salsa"Iya iya""Sebel aja dikit sama mereka, selebihnya mah sayang meskipun mereka kelakuannya kek anjing" Balas Lian"Hahahaha udah, mending bobo sambil pelukan aja yuk" Ucap Salsa"Iya sayang, yuk""Selamat malam sayangnya abang, mimpi indah ya cantik" Balas Lian"Selamat malam juga suamiku, mimpiin aku ya bang" Balas SalsaLian tersenyum lalu memeluk istrinya dengan erat dan keduanya pun mulai menutup mata mereka.~END~
Mystery boss
Mystery bossSebelum lanjut membaca, Minthor hanya mengingatkan, cerita kali ini lebih banyak mengandung unsur 18+. Jika kalian merasa risih, lebih baik di skip yaa, makasih ✌️"Sasa! Ini masih salah! Udah berapa kali saya bilang sama kamu, revisi berkas ini hati-hati! Kamu mau bikin saya rugi? Hah!" Bentak Lian"Maaf pak, tapi bukan saya yang revisi berkas itu. Kan kemarin bapak minta Pak Paul yang revisi berkas itu dan saya handle acara anniversary bapak sama istri bapak di resto Valleta" Balas Salsa"Ya harusnya kamu bantu handle dong revisi berkas ini! Kan kamu tau hari ini kita meeting sama klien tentang masalah ini!""Kamu tuh bisa kerja gak sih sebenernyaa!" Bentak Lian"Astaga pak! Bapak yang adil dong, jangan mentang-mentang pak Paul saudara bapak. Kalo beliau salah, bapak melimpahkan sama saya!""Bapak kira handle acara anniv bapak gak ribet? Bapak itu banyak requestnya! Mau ini lah, mau itu lah! Gimana saya bisa handle dua tugas sekaligus?!""Bapak tanya saya bisa kerja apa gak? Selama ini kalo bukan saya, siapa lagi yang betah jadi sekertaris bapak? Semuanya resign dan gak betah kerja sama bapak!""Dan hari ini rasanya sudah gak kuat lagi kerja sama bapak! Saya juga mau resign! Saya capek di salah-salahin terus! Di marah-marahin terus! Padahal disini juga bapak gak becus kerja!" Bentak Salsa"Wah! Berani sekali kamu ya!" Ucap Lian"Berani! Ngapain gak berani! Bapak bukan Tuhan yang harus saya takuti!" Balas SalsaLian tersenyum miring lalu bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Salsa."Sekali lagi saya tanya, berani kamu sama saya? Hhmm" Ucap Lian yang terus mendekat pada SalsaSalsa tetap mencoba memberanikan diri namun langkahnya terus mundur saat Lian perlahan maju mendekat padanya"Berani! Saya berani sama bapak!" Tegas SalsaHingga Salsa merasa tubuhnya sudah menabrak dinding, namun Lian masih saja terus mendekat. Dan saat Salsa hendak menghindar, dengan cepat Lian mengukung tubuhnya dengan kedua tangan Lian yang sudah bertumpu pada dinding"Ngomong sekali lagi dan tatap mata saya! Bilang kalo kamu berani sama saya!" Tegas Lian"Saya berani sama bapak! Saya bukan pengecut yang takut sama atasan toxic seperti bapak! Saya - "Ucapan Salsa terhenti saat Lian tiba-tiba mencium bibirnya. Bukan hanya mencium namun Lian bahkan melumat bibir sekertaris cantiknya itu.Hingga kesadaran Salsa kembali penuh, ia segera mendorong tubuh Lian dan mengusap bibirnya"Bapak kurang ajar ya! Ngapain bapak cium-cium saya! Bapak itu udah punya istri! Keliatannya aja kek kecintaan banget sama istrinya, tapi ternyata sama aja brengsek!""Ohh jangan-jangan sekertaris bapak yang dulu juga bapak giniin? Iya? Hah! Pantes mereka gak betah! Selain toxic bapak juga mesum! Ini pelecehan tau gak pak! Saya bakal laporin bapak!" Tegas Salsa"Laporin ke siapa? Hhmm? Emang bisa?" Tanya Lian kembali mendekat pada Salsa"Laporin ke - ""Awhhhh pakkkk!! Turunin!! Pak Liannn!!!" Teriak Salsa ketika Lian tiba-tiba menggendongnyaSalsa semakin panik saat Lian membawanya masuk ke dalam kamar pribadinya. Pikiran Salsa semakin kalut ia takut jika Lian akan berbuat nekat padanya.Lian membawa Salsa ke ranjangnya, dan setelah mengunci pintu kamarnya. Lian menatap wajah Salsa yang mulai ketakutan."Pak! Bapak jangan macem-macem ya sama saya! Saya punya nomer istri bapak! Saya telpon istri bapak dan bilang kalo suaminya brengsek!" Ancam Salsa sembari mencoba menelpon istri LianNamun tangan Lian lebih cepat, ia mengambil ponsel Salsa lalu membuangnya. Lian bahkan berhasil menindih tubuh Salsa dan membuat Salsa semakin ketakutan."Kenapa? Takut? Hhmm? Bukannya tadi bilang kamu berani sama saya? Hhmm" Ucap Lian"Gila! Bapak udah gila! Lepasin pak! Jangan macem-macem sama saya!" Balas Salsa"Saya gak akan macem-macem, untuk pemula seperti kamu, sepertinya cukup satu macam saja" Balas Lian dengan muka menggoda"Pak Liannnnnnn!!! Jangan macem-macemmmmm!!!" Teriak Salsa"Tadi kamu bilang apa? Saya brengsek? Iya? Hhmm?""Saya gak brengsek Sasa, saya ini setia sama istri saya! Saya cinta sama dia, dan saya gak pernah mengkhianati dia""Saya juga gak pernah kurang ajar sama sekertaris-sekertaris saya sebelumnya karena mereka juga gak kurang ajar sama saya! Berbeda sama kamu""Kamu berani menantang saya! Kamu berani melawan saya, dan kamu berani menghina saya!""Saya cuma mau kasih kamu pelajaran, supaya kamu tau siapa saya! Kamu gak akan berani ngelawan saya lagi" Ucap Lian"Saya gak akan tak - "Ucapan Salsa terhenti saat Lian tiba-tiba kembali menciumnya. Lidah Lian bahkan langsung masuk ke dalam mulut Salsa saat Salsa membuka mulutnya.Salsa sempat memberontak dan mendorong tubuh Lian, namun tubuh Lian terlalu kuat dan membuatnya tak mampu menyingkirkan tubuh Lian. Dan anehnya, ciuman Lian justru berhasil membuat Salsa kini menerimanya. Salsa bahkan mencoba membalas ciuman atasannya ituTangan Lian sudah sibuk meremas kedua payudara Salsa yang masih tertutup bra setelah Lian membuka kemeja Salsa."Ahh Jangannhh Pak Liahhh" Desah SalsaLian tersenyum miring saat Salsa mendesah menyebut namanya. Dada Salsa pun penuh dengan bekas karya Lian. Dan saat Lian hendak membuka bra Salsa, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan membuat Lian kesal."Kita harus meeting, rapikan pakaianmu! Dan inget, kalo kamu berani sama saya lagi! Beneran habis kamu sama saya!" Ucap LianSalsa menggeram kesal, mengapa ia terlalu bodoh dan malah menikmati cumbuan dari Lian. Salsa tau Lian itu sudah beristri, dan Salsa sangat membenci atasannya itu. Namun hari ini, ia justru membiarkan bosnya menyentuh tubuhnya.Saat berangkat meeting pun, Lian bersikap acuh pada Salsa seolah tak pernah terjadi apapun diantara mereka. Tindakan Lian benar-benar membuat Salsa semakin membenci lelaki itu."Pastikan baju kamu terkancing dengan benar! Di dada kamu penuh bekas saya! Saya gamau orang lain curiga sama kamu!" Tegas Lian setelah sampai di tempat meeting"Biar aja! Biar orang tau kalo bosnya itu mesum dan berusaha memperkosa saya!" Balas Salsa"Tidak ada orang yang diperkosa tapi menikmati dan malah mendesah Sasa! Kamu itu menikmati cumbuan saya! Memang awalnya saja dipaksa, tapi lama kelamaan kamu menikmati" Ucap Lian"Memberontak pun percuma! Tenaga bapak jauh lebih besar dari saya! Dan mulai besok saya pastikan saya akan berhenti jadi sekertaris bapak! Saya gak peduli mau bapak ngancem saya atau apa! Lebih baik saya berhenti daripada kehormatan saya di renggut sama orang seperti bapak!" Balas Salsa lalu keluar dari mobil meninggalkan LianLian menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis"Saya suka dengan perempuan pemberani seperti dia. Dan saya pastikan, ucapan kamu hanya akan menjadi mimpi Sasa. Saya gak akan melepaskan apa yang sudah jadi milik saya!""Bekas di tubuh kamu sudah menandakan kalo sejak hari ini kamu itu milik saya! Mau kamu lari ke ujung dunia pun, kamu akan tetap kembali pada saya" monolog Lian***Lian dengan santai masuk ke dalam kamarnya, dan melihat bagaimana istrinya berkhianat dengan sahabatnya sendiri.Lian bertepuk tangan dengan senyuman yang tak bisa di artikan, hingga membuat keduanya terkejut saat Lian memergoki mereka tengah bercinta di kamar Lian."Saya gak nyangka kalian bisa ada di tahap seberani ini bercinta di kamar saya!""Belum cukup selama ini kalian berkhianat di belakang saya di berbagai hotel? Hhmm" Tegas LianLian memang sangat mencintai istrinya, wanita yang Lian nikahi sejak dua tahun lalu merupakan satu-satunya wanita yang sangat Lian cintai. Selama ini banyak yang menggoda Lian, termasuk sekertaris-sekertaris sebelum Salsa. Namun Lian tak pernah tergoda karena kesetiaannya pada istrinya.Hingga beberapa kali akhirnya Lian mengetahui jika istrinya berkhianat dengan sahabatnya sendiri. Lian masih menahan semuanya dan mencoba menganggap istrinya tak pernah berselingkuh. Hingga Lian selalu mendapatkan penolakan dari istrinya saat meminta haknya, disitu Lian mulai merasa jika istrinya memang sudah tak pantas untuk di pertahankan.Bagaimana tidak, istrinya hampir setiap hari bertemu sahabatnya di hotel dan Lian tau apa yang mereka lakukan pasti lebih dari sekedar bertemu. Namun saat berada dirumah, istrinya selalu menolaknya. Memuaskan pria lain dia bisa, sedangkan suaminya tak pernah ia layani selayaknya istri pada umumnya"Sayang? Kamu salah paham sayang, ini gak seperti yang kamu liat, ak - ""Salah paham kata kamu? Salah paham dari mana Syifa? Jelas-jelas saya melihat kamu sangat menikmati permainan Regan!" Bentak Lian"Sayang, kamu salah paham. Aku di jebak sama Regan, aku gak pernah selingkuh Lian" ucap Syifa"Hahahaha liat Re, bahkan pasangan ranjang lo ini udah ngefitnah lo loh" Ucap Lian"Sorry Li, gue - ""Udah lah, kalian cocok kok. Pengkhianat dengan pengkhianat memang cocok""Dan untuk kamu Syif, saya sudah tau pengkhianatan kamu sejak lima bulan lalu! Tapi saya menahan semuanya karena saya masih cinta sama kamu, saya sengaja menunggu sampai saya benar-benar lelah dan bisa melepaskan kamu!""Dan malam ini, saya sudah yakin 100% cinta saya sudah benar-benar hilang untuk kamu. Saya sama sekali gak sakit hati setelah melihat secara langsung pengkhianatan kamu""Syifa Cantika Raharjo, saya Varelian Wiratama dengan sadar ingin menceraikan kamu!" Ucap LianLian mengulangi perkataan hingga tiga kali, dan saat itu pula pernikahan Lian dan Syifa berakhir."Lian gak! Hiks hiks, aku gamau Lian. Aku gamau cerai sama kamu, tolong maafin aku Lian, aku khilaf hiks hiks" Mohon Syifa"Khilaf itu sekali Syif, sedangkan kamu? Kamu sudah berbulan-bulan mengkhianati saya! Saya bahkan tau kamu pernah hamil anak Regan, tapi kamu gugurin!""Kamu sadar? Semenjak kamu berhubungan dengan Regan, kamu bahkan gapernah ngasih hakku sebagai suami! Kamu tidur dengan dia sepuasnya, tapi suami kamu? Kamu biarkan menuntaskan hasratnya sendirian!""Tapi semua gak ada masalah Syif, berkat itu semua saya jadi terbiasa hidup tanpa kamu! Dan berkat itu pula, saya berhasil menghilangkan rasa cinta itu dengan cepat!""Talak saya gak akan saya cabut, saya sudah menalak kamu tiga kali! Dan pernikahan kita berakhir, saya juga sudah mendaftarkan perceraian kita minggu lalu. Kamu tinggal datang di persidangan minggu depan!" Tegas LianSyifa bersimpuh di depan Lian, ia benar-benar takut jika Lian menceraikan dan mengusirnya."Maafin aku Lian hiks hiks, tolong jangan ceraikan aku. Aku gapunya siapa-siapa Lian, aku cuma punya kamu hiks hiks" Ucap Syifa"Rumah ini akan saya jual, saya gak sudi tinggal di rumah yang sudah menjadi bekas kamu dan selingkuhan kamu!""Jadi cepat bereskan pakaian kamu dan pergi dari sini!" Bentak Lian"Dan untuk lo Regan, gue gamau liat muka lo lagi di kantor gue! Besok, gue akan minta hrd untuk kirim surat pemutusan kerja sama lo!" Lanjut Lian"Li, gabisa gitu dong. Ini gak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan! Oke gue salah karena gue udah selingkuh sama Syifa, tapi pekerjaan gue gak ada masalah selama ini! Lo gak boleh mecat gue seenaknya!" Ucap Regan"Itu kantor gue, dan semua terserah gue! Paham lo!" Tegas Lian lalu pergi meninggalkan kedua orang itu***Keesokan paginya, Salsa yang sudah membawa berkas pengunduran diri masuk ke dalam ruangan Lian."Pak, ini surat pengunduran diri saya. Tolong segera tanda tangani surat saya pak" Ucap SalsaLian tak menjawab, ia tetap diam dalam posisinya saat ini. Duduk di sofa ruangannya dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya"Pak Lian" Ucap Salsa"Letak di meja, nanti saya tanda tangani" Lirih LianSalsa yang sedikit khawatir dengan Lian pun duduk di sebelah Lian dan mencoba menyentuh Lian"Pak? Pak Lian gapapa?" Tanya SalsaLian hanya menggelengkan kepalanya"Pak? Bapak sakit ya? Saya anter ke rumah sakit yuk" Ajak Salsa mulai khawatir"Saya gapapa Sa, kamu bisa pergi dari ruangan saya" Balas Lian"Saya gak mungkin pergi sebelum memastikan kondisi bapak baik-baik saja""Bapak kenapa? Ada masalah? Bapak mau cerita sama saya? Saya siap dengerin cerita bapak pak" Balas SalsaDan saat itu pula, Lian langsung memeluk erat tubuh Salsa"Syifa jahat Sa, dia selingkuh sama Regan. Dia bahkan hamil anak Regan Sa hiks hiks. Saya salah apa Sa? Selama ini saya sangat mencintai dia, tapi balasan dia seperti ini Sa""Bahkan semalam, saya melihat mereka bercinta di kamar saya Sa hiks hiks" Ucap LianSalsa membulatkan wajahnya mendengar cerita pilu Lian. Salsa tau bagaimana cintanya Lian pada Syifa, namun ia tak menyangka jika Syifa bisa mengkhianati Lian dengan sahabatnya sendiri"Pak, bapak sabar yaa. Ini mungkin cara Tuhan menyadarkan bapak jika Bu Syifa memang bukan istri yang baik untuk bapak" Balas Salsa"Saya sudah tau beberapa bulan lalu Sa, tapi saya tahan karena saya masih mencintai dia. Bahkan di hari ulang tahun pernikahan kita, semua yang kamu siapkan itu sia-sia. Dia gak datang Sa, karena dia kelelahan setelah melayani Regan""Sampai puncaknya semalam, hati saya benar-benar mati untuk dia. Saya gak merasa sakit hati lagi, tapi hanya rasa kecewa melihat kedua orang yang dekat dengan saya bisa tega berkhianat di belakang saya" Ucap Lian"Bapak udah tau? Tapi bapak hanya diam?" Tanya Salsa"Iya Sa, karena saya ingin tau seberapa kuat saya menahan semuanya. Dan ya, hati saya lelah dan mati dengan sendirinya setelah berkali-kali melihat pengkhianatan mereka""Saya bahkan berbulan-bulan gak pernah mendapatkan hak saya sebagai suami. Tapi Syifa justru memberikan kepuasan pada laki-laki lain, pada sahabat saya sendiri Sa""Tapi sekarang saya sudah lega Sa, saya sudah menalak Syifa semalam. Dan minggu depan sidang perceraian pertama saya dan Syifa Sa" Ucap Lian"Bapak menceraikan Bu Syifa?" Tanya Salsa"Iya Sa, saya gak akan pernah memaafkan pekhianatan. Lagi pula, cinta saya sudah mati untuk dia. Pernikahan saya sudah hancur, dan saya sudah tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan Syifa" Balas Lian"Bapak, sabar yaa. Mungkin ini sudah cobaan untuk bapak supaya bisa lebih baik kedepannya""Bapak harus ikhlas, Allah pasti sudah siapkan hal yang baik dan membahagiakan setelah ini. Bapak harus sabar dan ikhlas ya pak" Ucap Salsa"Makasih ya Sa""Tapi apa boleh saya minta satu permintaan sama kamu?" Tanya Lian yang sudah melepaskan pelukannya"Apa pak?" Tanya Salsa"Jangan resign ya, jangan tinggalin saya. Saya butuh kamu Sa, saya nyaman kerja sama kamu. Saya bahkan sangat percaya sama kamu sampai saya bisa mencurahkan semua permasalahan rumah tangga saya sama kamu"" At least kalo kamu emang tetep mau resign, jangan sekarang yaa. Tunggu kondisi saya sudah sembuh kembali dan siap menghadapi apapun lagi. Boleh?" Tanya LianSalsa sempat berpikir, ia juga kasian melihat kondisi Lian yang memprihatinkan. Walaupun Salsa membenci Lian, namun ia juga tak tega jika melihat Lian semenyedihkan ini."Yaudah, iya pak. Saya gak jadi resign" Balas Salsa"Beneran Sa?" Tanya Lian"Bener pak, walaupun saya benci sama bapak tapi saya juga masih punya rasa kemanusiaan. Saya gak tega ninggalin bapak dengan keadaan yang masih kalut kek gini" Balas SalsaLian tersenyum lalu kembali mempererat pelukannya dan memposisikan wajahnya pada leher Salsa senyaman mungkin"Terimakasih ya Sa. Bulan ini gaji kamu naik, dan saya akan kasih bonus kamu tiap bulan" Balas Lian"Hhmm makasih Pak""Yaudah, lepas dulu pelukannya pak. Saya mau balik kerja dulu" Ucap Salsa"Ini juga termasuk kerjaan kamu sekarang Sa, manjain saya. Saya masih butuh pelukan kamu, jangan pergi dulu" Balas Lian"Hah? Manjain bapak? Yang bener aja sih pak, bap - ""Sutss, diem. Saya gamau denger kamu protes" Ucap LianSaat Lian sibuk memeluk Salsa, ponsel Lian bergetar dan Lian segera melihat ponselnya dan melepaskan pelukannya pada Salsa"Liat Sa? Semua bukti sudah ada di tangan saya, gampang untuk saya cerai dari Syifa. Atau mungkin sekalian memenjarakan mereka berdua karena berselingkuh dibelakang saya" Ucap Lian sembari memberikan ponselnyaSalsa terperangah melihat video yang Lian berikan, disana jelas terlihat istri Lian dan sahabat Lian tengah bercinta selayaknya pasangan suami istri"Ihh, udah pak. Gamau liat" Ucap Salsa"Kenapa? Biar kamu percaya kalo saya gak bohong" Balas Lian"Iya, saya percaya sama bapak kok. Gausah di liatin video gituan juga" Ucap Salsa"Hahaha kenapa? Emang kamu gapernah nonton video porno?" Tanya Lian"Ya gapernah lah pak, buat apa juga" Balas Salsa"Buat belajar dong" Balas Lian"Belajar apaan? Video begituan kok buat belajar" Balas Salsa"Ya buat belajar, biar pinter waktu praktekkin sama saya" Bisik Lian"Ihh pak Lian! Jangan mulai nyebelin ya" Balas Salsa sembari mendorong Lian"Hahaha becanda Sasa cantik""Udah sana balik kerja, makasih udah nemenin saya ya" Ucap LianSalsa tersenyum malu saat Lian memujinya cantik"Saya balik kerja dulu pak" Balas Salsa lalu pergi dari ruangan LianSetelah Salsa pergi, Lian tersenyum puas. Rencananya untuk membatalkan niat Salsa akhirnya berhasil"Akhirnya, kucing kecil gue masuk perangkap juga. Pinter juga akting gue supaya Sasa kasihan dan batalin niat dia buat resign""Syifa, thanks yaa. Gara-gara video murahan lo ini, gue bisa bikin Sasa percaya semenyedihkan apa hidup gue setelah lo selingkuh""Padahal gue cuma pengen tarik simpati Sasa aja, gue sama sekali gak sedih dengan apa yang lo lakuin. Karena cinta gue beneran udah mati sama lo" Monolog Lian***Hari ini Salsa terpaksa harus mengikuti jadwal Lian untuk meeting di Surabaya. Paul tak bisa menemani Lian karena Paul tengah mempersiapkan pertunangannya. Akhirnya Salsa terpaksa menemani bosnya yang baru saja resmi berstatus duda setelah perceraiannya di kabulkan oleh pengadilan agama.Tumben banget ini orang gak rese? Biasanya gangguin gue mulu *batin SalsaPasalnya sejak berangkat dari kantor tadi, Lian hanya diam dan tak sedikit pun menggoda Salsa."Pak? Bapak kenapa?" Tanya Salsa"Kepala saya pusing banget Sa" Balas Lian yang tanpa aba-aba menyenderkan kepalanya pada bahu Salsa"Loh? Badan bapak panas, bapak demam ya. Kita ke rumah sakit aja ya pak" Ucap Salsa"Gak perlu Sa, saya memang begini kalo udah kecapekan. Saya cuma butuh istirahat" Balas Lian"Beneran pak?" Tanya Salsa"Iya Sasa""Tolong anterin ke kamar aja bentar lagi ya" Balas Lian"Iya pak" Balas SalsaSetelah mobil mereka sampai di hotel, Salsa segera membantu Lian menuju kamarnya. Tubuh Lian sangat lemas sehingga Salsa harus membantu memapah tubuh atasannya yang lumayan berat untuknya.Dan saat membantu Lian berbaring di ranjang, karena tubuh Lian yang berat membuat Salsa ikut terjatuh di ranjang. Dan dengan cepat Lian memeluk tubuh Salsa"Pak lepasin, jangan gini ih. Saya mau ke kamar saya" Ucap Salsa"Kita sekamar aja, saya gak akan apa-apain kamu. Kamu tau kan saya lagi sakit, kalo kamu tinggalin saya terus saya tiba-tiba mati gimana" Balas Lian"Astaga pak! Bapak cuma demam! Gausah lebay deh" Ucap Salsa"Saya beneran butuh kamu Sasa, saya mau tidur sambil peluk kamu" Balas Lian"Haduhh pak, setelah bapak cerai. Bapak jadi manja banget sama saya! Saya kan sekertaris bapak, bukan istri bapak" Ucap Salsa"Kalo mau saya bisa nikahin kamu sekarang kok" Balas Lian"Astagaa! Kalo ngomong emang seenak jidat ya! Ngajak nikah kek ngajak beli cilok!""Lagian saya gamau sama duda, apalagi dudanya kek bapak! Nyebelin" Ucap Salsa"Jangan asal ngomong, nanti kemakan omongan sendiri" Balas Lian"Gak akan, saya gak - ""Sutss Sasa, jangan berisik. Kepala saya pusing. Usapin kepala saya" Ucap LianSalsa pun hanya bisa pasrah dengan perintah Lian, akhirnya ia mengusap kepala Lian dengan lembut. Dan tak disangka, beberapa menit kemudian ternyata ia ikut tertidur dipelukan Lian.Lian tersenyum melihat Salsa ternyata sudah pulas di dalam pelukannya. Lian mencium bibir Salsa dan melumatnya sebentar."Jangan asal ngomong cantik, kamu lupa siapa saya? Kalo saya maunya kamu, ya kamu harus jadi milik saya!" Monolog LianLian bangkit dari ranjang lalu membereskan koper mereka berdua. Tak lupa Lian mengunci pintu kamar mereka sebelum akhirnya kembali ke ranjang dan memeluk gadis incarannya itu.Salsa terbangun saat merasa tubuh panas Lian sangat terasa di tubuhnya. Salsa bahkan kembali terkejut saat melihat kemejanya sudah terbuka dan tangan Lian yang sudah masuk ke dalam bra dan menyentuh buah dadanya.Salsa ingin sekali marah tapi melihat kondisi Lian, ia urungkan niatnya. Lian pun terbangun saat merasa Salsa bergerak menyingkirkan tangannya"Ahh Sasa, sini aja. Mau main nennnn" Rengek LianSalsa terkejut dengan tingkah atasannya yang tiba-tiba berubah seperti anak TK."Pak, kita ke rumah sakit aja yaa. Bapak makin demam ini" Ucap Salsa"Gamauuu, mau nen Sasaaaaa" Rengek Lian"Pak, tap - ""Huaaaaaaaaa hiks hiksss mau nennnnnnn. Sasa jahatttttt hiks hiks hikss" Ucap Lian sembari menangisSalsa benar-benar bingung dengan perubahan sikap Lian. Mengapa bos garang nya ini tiba-tiba berubah menjadi anak kecil saat sedang demam"Pak, jangan nangis. Ini di hotel pak, nanti orang denger gimanaa" Ucap Salsa Panik"Huaaaaaa Sasa jahattttt!!! Aku gamau temenan sama Sasa lagiii, Sasa jahatttt hiks hiks hiks" Balas Lian semakin terisakSalsa yang panik pun akhirnya membuka kembali kemejanya"Yaudah iya, main nen yaa. Jangan nangis lagi pak" Ucap Salsa panikNamun tingkah Lian benar-benar diluar prediksi Salsa, bukan tangan Lian yang memainkan dada Salsa namun mulutnya juga ikut melahap dan memainkan nipple Salsa"Shhh pakkhhh, pelan-pelann" Lenguh SalsaLian tak mempedulikan ucapan Salsa, matanya justru kembali terpejam saat ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.Salsa menghela nafas dan menghapus air mata Lian, ia juga mengusap wajah Lian yang memang sangat tampan."Kenapa gue bisa sepasrah dan semurahan ini sih sama Pak Lian. Padahal gue benci sama dia, tapi gue gapernah bisa tega sama dia""Dia udah cium gue, udah grepe-grepe gue, dan sekarang dia malah nete sama gue. Dan gue diem aja? Gue kenapa sih? Aneh banget, kenapa coba gue gak bisa marah sama ini orang? Dia kan udah kurang ajar banget sama gue, tapi gue malah gak bisa marah sama sekali sama dia" Monolog SalsaSalsa kembali tertidur dengan Lian yang masih menyesap dadanya. Panas Lian pun semakin mereda dan membuat Salsa jauh lebih tenang hingga ia tertidur di sebelah Lian.Dua jam kemudian, Lian bangun lebih dulu dan betapa terkejutnya ia saat ia bangun dengan pemandangan dada Salsa yang berada di hadapannya. Perlahan Lian bangkit dan melihat Salsa yang tertidur pulas dengan dada yang terbuka lebar. Lian dengan sadar bisa melihat kedua buah dada Salsa yang indah."Anjing, mulus banget! Pantes gue nyenyak, ternyata gue tidur sambil nete sama Sasa" Ucap Lian sembari mengusap-usap dada SalsaMelihat Salsa bergerak, Lian segera berpura-pura tidur dan kembali menyesap dada Salsa"Astaga, jadi gue ikut ketiduran""Mana Pak Lian belum bangun juga, dada gue udah sakit banget""Tapi alhamdulillah deh, udah gak demam lagi" Monolog Salsa sembari mengusap kening LianOhh, jadi tadi gue demam? Pasti gue manja banget tadi kek ke Mama atau Syifa. Pantes gue bisa nete sama Sasa, pasti gue nangis deh tadi minta nete. Gue malu banget asli, tapi gapapa lah berkat itu gue bisa mainan dada Sasa *batin Lian"Pak Lian, bangun pak. Ini udah malem, bangun yuk" Ucap SalsaPerlahan Sasa menarik dadanya dari Lian, namun Lian justru menghisap dada Salsa lebih kencang hingga membuat Salsa sedikit kesakitan"Awshh pakk, udahhh pak. Bangun pak" Ucap Salsa sembari menepuk pipi Lian sedikit kencang"Ahhhsshh sakitt" Lirih LianSalsa segera merapikan pakaiannya saat Lian sudah membuka matanya"Kenapa di tampar sih Sa? Sakit" Ucap Lian"Habisnya bapak gak bangun-bangun! Dada saya sakit bapak hisap terus" Balas Salsa"Hisap? Saya hisap dada kamu? Ngapain?" Tanya Lian pura-pura"Bapak tadi demam, bapak rewel banget sampe nangis-nangis kek anak kecil minta nen saya! Masa gak inget sih" Balas Salsa"Hah? Emang iya?" Tanya Lian"Ish, tau deh! Saya mau ke kamar dulu!" Balas Salsa kesalSaat Salsa hendak bangkit dari ranjang, Lian segera memeluk Salsa dari belakang"Saya gak inget Sa, tapi kata Mama dan mantan istri saya. Kalo saya demam, saya memang manja seperti anak kecil""Maaf ya kalo saya tadi mainan dada kamu, saya beneran gak sadar. Makasih juga karena kamu mau nurutin kemauan saya tadi" Ucap Lian lembutJantung Salsa berdebar sangat kencang saat Lian tiba-tiba bicara sangat lembut sembari memeluknya dari belakang."Ss-saya cuma gak tega liat bapak demam sambil nangis-nangis" Balas Salsa gugup"Iya, makasih ya sayang" Ucap LianSalsa semakin shock dan mencoba menatap Lian, namun gerakan Lian benar-benar cepat. Saat Salsa menatapnya, Lian langsung mencium bibir Salsa dan melumatnya.Malam ini, tak akan Lian biarkan Salsa lolos darinya. Lian terus melumat bibir manis Salsa, tangannya bahkan sudah meremas kedua dada Salsa dan perlahan membuka kemeja sekertarisnya itu. Salsa kini mulai ikut membalas ciuman Lian, gadis itu benar-benar terbuai dengan apa yang Lian lakukan padanya."Ashhh Pak Lianhh" Desah Salsa saat Lian tengah memainkan milik Salsa dengan tangan dan lidahnyaSalsa menggelinjang saat ia berhasil mendapatkan pelepasan pertamanya karena Lian. Lian tersenyum puas saat melihat Salsa tak berdaya karena ulahnya. Ia segera membuka seluruh pakaiannya dan segera mengarahkan miliknya pada Salsa"Pegang sayang, ini sekarang milik kamu" Ucap LianSalsa meneguk salivanya saat melihat milik Lian yang berukuran cukup besar. Lian pun menarik tangan Salsa agar mengusap miliknya, dan baru tangan Salsa saja membuat Lian memejamkan matanya"Saya sudah gak tahan sayang, saya mau kamu malam ini" Ucap LianLian mengarahkan pusakanya pada milik Salsa, tanpa menunggu lagi ia mencoba menerobos masuk dan membobol milik Salsa. Sesekali Lian berhenti dan memastikan keadaan Salsa, mengalihkan rasa sakit gadis itu dengan ciuman"Ahhhhh Pak Liannhhhh. Sakittt hiks hiks" Ucap Salsa terisak"Eh eh cup cup cup sayang, jangan nangis cantik. Ini udah masuk sayang, jangan nangis yaa. Maaf udah bikin sakit, sakitnya sebentar doang kok. Tahan ya sayang" Bujuk Lian sembari menghapus air mata SalsaSetelah memastikan kondisi Salsa, Lian segera menggerakkan miliknya keluar masuk dalam lubang kenikmatan milik sekertarisnya.Lian benar-benar dibuat gila dengan sekertarisnya ini, padahal dulu mantan-mantan sekertarisnya jauh lebih seksi dan menggoda. Namun Lian sama sekali tak tertarik sekalipun mereka menawarkan diri pada Lian, berbeda dengan SalsaSejak awal Salsa bekerja dengannya, Lian memang sudah jatuh hati dengan Salsa namun mencoba menepis semuanya karena Lian masih memiliki Syifa dalam hidupnya. Dan saat mengetahui pengkhianatan Syifa, akhirnya Lian berani memulai membuka kembali hatinya pada Salsa.Dan malam ini adalah malam yang sangat indah bagi Lian, setelah lama tak mendapatkan haknya dari Syifa. Malam ini Lian berbuka puasa dengan menu yang sangat spesial, Lian berhasil mendapatkan kehormatan Salsa. Lian adalah orang pertama di hidup Salsa, dan itu membuat Lian sangat bahagia"Makasih sayang, makasih untuk malam ini" Ucap Lian diakhiri mengecup kening SalsaSalsa yang sudah sangat lemas hanya bisa diam. Bagaimana tidak, Lian sungguh menggila pada tubuhnya. Lian terus menggempur Salsa hingga adzan subuh terdengar. Tubuh Salsa pun penuh dengan bekas Lian, rasanya tubuhnya sudah benar-benar hancur karena ulah Lian.***Salsa terbangun kala Lian terus saja menciumi wajahnya"Eughh pakk, masih ngantuk! Jangan ganggu" Ucap Salsa"Hey? Ini udah sore loh, saya bahkan udah kelar meeting tapi kamu masih belum bangun. Ayo bangun sayang, makan dulu" Balas Lian"Hah? Meeting? Kenapa bapak gak bangunin saya? Terus meetingnya gimana?" Tanya Salsa panik"Hey hey, tenang. Saya bisa handle semuanya sendirian kok, lagian saya gak tega minta sekertaris cantik saya ini kerja lagi. Setelah semalaman kamu lembur sama saya" Goda LianSalsa baru teringat lalu kembali menutupi wajahnya dengan selimut. Salsa benar-benar malu, apalagi sebelum tidur Lian sempat memandikannya karena ia yang sangat lemas membuatnya pasrah berada di tangan Lian."Hahaha kenapa kok di tutupin sih? Hhmm?" Goda Lian"Saya laper mau makan" Ucap Salsa dibalik selimut"Lucu banget kalo lagi malu gini, gemes" Balas LianSalsa kembali membuka selimutnya lalu menatap Lian"Bapak kenapa sih! Kenapa berubah gini? Dulu bapak jahat banget sama saya! Tapi semenjak bapak cerai, bapak jadi baik banget sama saya!""Bapak sengaja ya? Bapak mau jebak saya, bapak mau tubuh saya aja kan? Bap - "Lian mencium bibir Salsa dan menggigitnya"Awss!! Sakit pakkk" Ucap Salsa sembari mendorong Lian"Makanya, jangan asal ngomong!""Kamu lupa saya banyak uang? Kalo saya cuma butuh kepuasan, saya bisa sewa perempuan yang jauh lebih seksi dari kamu""Yang bodynya bagus, dadanya besar, bokongnya besar dan sudah pasti bisa muasin saya tanpa saya pandu seperti kamu semalam""Tapi saya gak pernah tertarik sama perempuan seperti itu, saya lebih tertarik sama sekertaris galak saya yang ternyata desahannya lebih merdu dari omelannya tiap hari" Ucap Lian"Ya terus kenapaa harus saya pak! Sekarang, masa depan saya sudah hancur di tangan bapak! Bapak harus tanggung jawab!" Balas Salsa"Iya sayang, saya pasti tanggung jawab""Besok pagi kita berangkat ke Probolinggo ya, saya mau ketemu kedua orang tua kamu. Dan saya akan nikahin kamu disana juga" Ucap LianSalsa membulatkan matanya mendengar jawaban Lian"Hah? Bapak serius?" Tanya Salsa"Serius, saya gamau Lian junior ada disini sebelum kita menikah sayang" Balas Lian sembari mengusap perut Salsa"Ck, aneh! Dimana-mana nikah dulu baru unboxing, ini malah unboxing dulu baru kepikiran nikah!" Balas Salsa"Kalo kamu gak di unboxing dulu, kamu gak akan mau nikah sama saya. Kan katanya kamu benci sama saya" Balas LianIya juga ya, tapi yang bikin gue bertanya-tanya sampai saat ini, kenapa gue gak marah sama dia tentang kejadian semalam? Kenapa gue terima dia apa-apain gue? Kenapa gue bisa sepasrah itu memberikan mahkota gue buat dia yang jelas-jelas bukan siapa-siapa gue *batin Salsa"Ya itu semua karena kamu suka sama saya, kamu gak benar-benar benci sama saya. Makanya kamu sangat menikmati semalam sama saya" Ucap Lian"Anjir? Bapak cenayang?" Tanya Salsa shock"Hahaha nebak aja sih, soalnya ngeliat kamu ngelamun pasti mikirin kejadian semalam" Balas Lian"Ck. Udahlah pak, gausah nikahin saya. Saya juga tau bapak lakuin hal semalam hanya karena pelampiasan bapak yang gak pernah dapet jatah dari mantan istri bapak kan?""Bapak itu masih cinta sama istri bapak, jadi gausah sok-sokan mau nikahin saya! Saya gamau nikah sama laki-laki yang belum selesai sama masa lalunya!""Bapak cukup tanggung jawab dengan memberikan uang sama saya 5M! Saya akan pergi dari kehidupan bapak dan melupakan semua yang terjadi semalam! Saya gak akan ganggu bapak lagi!" Ucap SalsaLian mengepalkan tangannya mendengar ucapan Salsa"Coba kamu ngomong begitu sekali lagi!" Tegas LianNyali Salsa seketika menciut saat melihat Lian tampak sangat emosi dengan tangan yang sudah mengepal"Ngomong sekali lagi Sasa!" Bentak Lian"Mm-maaf" Balas Salsa ketakutan"Kenapa minta maaf! Saya gak mau denger maaf kamu! Saya mau kamu ulangi ucapan kamu sebelumnya! Cepet!" Tegas LianSalsa hanya diam dan menunduk, selama ini ia biasa melihat Lian marah padanya. Namun entah mengapa Salsa bisa melihat kemarahan Lian kali ini berbeda dari biasanya dan itu berhasil membuat Salsa ketakutan."Cepet Sasa!" Bentak LianSalsa memeluk Lian lalu menangis dalam pelukannya"Maaf pak, jangan marah-marah hiks hiks, saya takut" Ucap SalsaLian menarik nafasnya panjang, lalu memeluk Salsa. Lian sadar jika ia sudah keterlaluan membentak Salsa"Maaf, saya cuma gak suka dengan ucapan kamu tadi. Maaf kalo bikin kamu takut, saya gak berniat seperti itu sayang" Ucap Lian lembut"Jangan marah lagi hiks hiks" Balas Salsa"Makanya nurut, kamu tau saya paling gak suka penolakan. Dan ucapan kamu tadi benar-benar nyakitin saya!""Saya bukan laki-laki brengsek! Saya melakukan itu sama kamu pakai hati dan perasaan, bukan sekedar nafsu""Jangan posisikan kamu seperti jalang, yang meminta bayaran setelah kamu memberikan tubuh kamu sama saya! Kamu bukan perempuan seperti itu Sasa!""Kalo kamu butuh uang, jadi istri saya! Jangankan 5M, semua harta saya akan jadi milik kamu! Asal kamu selalu ada di samping saya, menemani hidup saya selamanya!" Tegas LianSalsa terdiam mendengar ucapan Lian, ia tak menyangka jika Lian adalah laki-laki yang sangat bertanggung jawab. Lian bahkan sangat menghargai Salsa yang sudah rela memberikan kehormatannya pada Lian"Maaf pak" Balas Salsa"Saya maafkan, asal kamu janji gak akan ngomong macam-macam lagi! Ngerti!" Tegas Lian"Iya pak, saya janji" Balas Salsa***Salsa yang terbangun lebih dulu, menatap Lian yang masih tidur di sebelahnya."Hidup gue random banget ya, udah lama kerja sama Pak Lian dan gue bahkan benci sama dia, tapi tiba-tiba dia cerai, tiba-tiba gue tidur sama dia, dan sekarang? Tiba-tiba gue jadi istrinya?""Gue jadi bingung sama perasaan gue sendiri, gue benci apa gak sih sama dia? Kenapa gue bisa sepasrah ini sama hidup gue yang seolah di atur sama dia? Dan anehnya gue gak merasa marah sama sekali dengan semua ini" Monolog Salsa sembari mengusap lembut kepala Lian"Itu karena kamu sayang sama saya" Lirih LianSalsa segera sadar lalu menepis tangannya"Ish, kok gak ngomong sih kalo udah bangun" Gerutu SalsaLian tersenyum lalu meletakkan wajahnya pada Dada Salsa dan memeluk istrinya"Kalo saya buka mata, kamu pasti gak akan usap-usap kepala saya lagi""Usapin lagi sayang, saya suka" Ucap Lian menarik tangan Salsa kembali pada kepalanyaSalsa mulai mengusap lembut kepala Lian"Maaf ya kalo selama ini sikap saya jahat sama kamu, saya cuma profesional menjalankan tugas saya sebagai pemimpin perusahaan""Maaf kalo akhirnya sikap saya bikin kamu kesel sama saya. Atau bahkan benci seperti yang kamu bilang itu""Tapi Sayang, asal kamu tau. Benci sama cinta itu beda tipis. Mungkin kamu terlalu benci sama saya sampai akhirnya rasa benci itu berubah jadi cinta semenjak ciuman pertama kita" Ucap Lian"Gak mungkin! Emang bisa tiba-tiba cinta karena ciuman? Aneh banget!" Balas Salsa"Cinta bisa datang kapan aja dan dimana aja. Mungkin cinta kamu sama saya datang karena ciuman kita" Balas Lian"Ish, aneh banget sih" Balas Salsa"Kamu gak perlu bingung sayang, intinya sekarang saya menikahi kamu karena saya cinta sama kamu. Dan cepat atau lambat kamu juga pasti menyadari perasaan cinta kamu untuk saya" Ucap Lian"Iyain aja deh biar cepet" Balas Salsa"Saya boleh minta sesuatu?" Tanya Lian"Apa?" Tanya Salsa"Jangan panggil bapak lagi, saya sekarang suami kamu bukan atasan kamu lagi" Balas Lian"Loh? Saya di pecat? Saya masih mau kerja pak! Saya gamau dirumah aja!" Tegas Salsa"Padahal kamu tinggal terima uang dari saya Sa, kamu gak perlu capek kerja" Balas Lian"Gamau! Kalo bapak pecat saya, yaudah saya cari kerja di kantor lain!" Ucap Salsa"Coba aja kalo bisa, saya akan hubungi semua kantor di Jakarta agar black list kamu" Balas Lian"Ck, egois banget sih jadi orang!" Ucap Salsa sembari mendorong tubuh LianSalsa membelakangi Lian setelah tubuh Lian menjauh dari tubuhnya. Lian mendekat lalu memeluk Salsa dari belakang"Maaf sayang, saya becanda. Saya gak pecat kamu kok sekarang, tapi nanti kalo kamu hamil anak saya. Tolong nurut ya, berhenti kerja, cukup jadi istri dan ibu untuk saya dan anak saya. Ya sayang" Ucap Lian lembut"Iya" Balas Salsa"Sayangg, jangan marah" Bujuk Lian"Iya, gak marah" Balas Salsa"Bohong, kamu marah" Balas Lian"Gak marah pakkkk" Balas Salsa"Kok pak sih, kan saya udah minta jangan panggil bapak lagi sayang" Ucap Lian"Ya terus apa?" Tanya Salsa"Sayang, ay, babe?" Balas Lian"No, mas aja deh. Yang itu terlalu lebay" Balas Salsa"Oke, not bad. Saya suka dipanggil mas" Balas Lian"Ya kamu juga jangan saya-sayaan dong! Formal banget" Balas Salsa"Kamu juga saya-sayaan tuh" Balas Lian"Yaudah, aku!" Balas Salsa"Hahahaha maaf sayang, mas coba yaa" Balas Lian lembutHati Salsa berdebar cukup kencang saat Lian menyebut dirinya dengan sebutan Mas."Hhmm" Balas Salsa"Cuacanya mendung sayang, dingin lagi" Ucap Lian"Jelas dingin, orang lagi di Bromo" Balas SalsaLian dan Salsa memang tengah berada di daerah bromo. Mereka memilih bulan madu disana setelah melangsungkan pernikahannya di Probolinggo."Hahaha pas kan sayang" Balas Lian"Pas apa mas?" Tanya Salsa"Pas kalo kita produksi Lian junior" Lirih Lian"Astaga mas! Semalem kan udahhhh" Rengek Salsa"Ya lagi dong, masa sekali doang. Mana jadi nanti anak kita" Balas Lian"Ih, bisa aja jawabnya" Balas Salsa"Hahaha yuk yukkk" Ucap Lian semangatAkhirnya mereka pun kembali melakukan hubungan suami istri di Villa yang cukup indah dengan pemandangan gunung bromo.***"Mas, ayo makan siang dulu" Ucap Salsa sembari membawa bekal di tangannya"Yahhh, mas masih belum selesai sayang" Balas Lian"Ck, makan dulu. Aku udah masak buat kamu, tapi kamu gamau makan? Yaudah, mulai besok aku gak akan masakin kamu lagi" Ancam Salsa"Eh eh? Apasih? Siapa yang gamau makan? Kan mas bilang mas belum selesai kerjanya""Sini, duduk disini suapin mas" Ucap Lian sembari menepuk pahanya"Apaan sih, ini soal makan! Kenapa malah pangku-pangkuan" Balas Salsa"Loh, emang ini soal makan kok? Emang soal apalagi? Pikiran kamu tuh jorok" Balas Lian"Ck, terus kenapa harus duduk di paha kamu?!" Balas Salsa"Suapin mas sayang, biar mas bisa sambil kerja" Balas Lian"Ck, tinggal bentar kenapa sih mas? Emang gabisa?" Tanya Salsa"Gabisa sayang, ini urgent""Suapin yaaa" Mohon Lian"Yaudah deh" Balas SalsaSalsa pun menuruti permintaan Lian dengan duduk di pangkuan Lian sembari menyuapi suaminya"Enak banget sayang, makasih ya" Ucap LianSalsa tersenyum mendengar pujian Lian. Sudah dua bulan menikah dengan Lian, rasanya Salsa kini benar-benar mencintai bos galaknya itu. Bagaimana tidak, Lian benar-benar memperlakukannya selayaknya ratu. Lian bahkan tak pernah lupa memuji masakan dan penampilan Salsa, hingga membuat Salsa selalu bahagia dengan antusias Lian padanya."Sama-sama mas" Balas Salsa"Mas katanya kerja, tapi tangannya kemana-mana!" Omel Salsa saat tangan Lian mulai masuk ke dalam paha nya"Ya kan kangen sayang, tiga hari udah gak ketemu dia" Ucap Lian"Suruh siapa lembur terus? Pulang malem terus? Salah sendiri kan" Balas Salsa"Ih, ya kan mas kerja buat kamu sayang" Tanya Lian"Ya tapi jangan di forsir juga" Balas SalsaLian hanya mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Salsa"Yaudah, nanti malem ya" Ucap Salsa"sekarang aja? Yaaaa" Ucap Lian semangat"Ck, gausah aneh-aneh deh! Katanya sibuk kerja" Balas Salsa"Ish, mau sekarangggg" Rengek Lian"Mas! Aku beneran ngambek ya kalo kamu maksa sekarang!" Omel Salsa"Ck, yaudah iya nanti malem! Tapi gamau sekali! Harus berkali-kali!" Ucap Lian"Atur aja deh" Balas Salsa"Hihi makasih sayangnya mas" Ucap Lian sembari menarik dagu SalsaLian mencium dan melumat bibir istrinya, tangannya pun tak tinggal diam. Meremas kedua buah dada istrinya yang memang cukup besar bagi Lian."Lian!!" Tegas seseorangLian dan Salsa sontak terkejut mendengar teriakan seseorang itu"Syifa?" Ucap Lian"Ohh, jadi karena dia kamu ceraikan aku? Hah? Sok-sokan nuduh aku selingkuh, padahal kamu yang selingkuh!" Ucap SyifaSalsa menunduk tak berani menatap Syifa yang tengah menatapnya tajam. Meskipun ia menikah dengan Lian setelah Lian bercerai, namun tetap saja Salsa merasa tak enak pada Syifa. Salsa teringat, ia dan Lian hampir khilaf saat Lian masih menjadi suami Syifa."Syifa, Syifa. Kedatangan kamu sudah saya duga sebelumnya""Selingkuhan kamu sudah gak ada uang kan? Makanya kamu kembali mencari saya? Hhmm?" Tebak Lian"Jangan mengalihkan pembicaraan Lian! Aku sedang - ""Apa? Hah? Mencampuri hidup saya? Kamu fikir kamu berhak? Hah?!""Kamu itu hanya mantan istri saya yang gatau malu Syifa! Sudah selingkuh, dan sekarang datang seolah-olah tersakiti? Mau playing victim? Iya!""Saya dan istri saya tidak pernah selingkuh! Saya menikah setelah saya bercerai dengan kamu!!" Bentak LianSyifa tersenyum licik menatap Salsa"Ohh, jadi kamu menikahi Salsa hanya untuk pelarian ya Li? Hhmm?""Aku tau, kamu itu sangat mencintai aku. Gak mungkin kamu bisa lupain aku secepat itu. Apalagi langsung menikah dengan pegawai kamu sendiri""Ohh, aku tau. Kamu pasti menikahi dia selain untuk pelarian, hanya karena nafsu kan? Secara tubuh dia sangat seksi, kamu pasti butuh dia untuk muasin kamu setelah aku gabisa muasin kamu""Iya kan Lian? Aku bener kan? Kamu itu masih sangat mencintai aku, bukan dia" Ucap SyifaSalsa menatap Syifa dan Lian bergantian, harapan Salsa agar Lian membantah semuanya seakan luruh saat suaminya hanya diam tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.Air matanya luruh saat melihat Syifa dengan senyuman liciknya menatap ke arahnya. Salsa masih berharap Lian menjawab, namun laki-laki itu masih saja diam seolah menyetujui semua ucapan SyifaLo berharap apa sih Sa? Udah pasti yang Bu Syifa ucapin itu bener! Lo yang bodoh! Terlalu cepat menerima Pak Lian dalam hidup lo! Pak Lian gak tulus sama lo! Dia cuma butuh tubuh Lo! Dia gak cinta sama lo, dia cuma cinta sama Bu Syifa *batin SalsaTanpa pamit pada Lian, Salsa pergi dari ruangan Lian dan membuat Lian tersadar lalu menatap tajam ke arah Syifa"Jangan terlalu percaya diri Syifa! Cinta saya sudah hilang untuk kamu! Melihat pengkhianatan kamu dengan mata kepala saya sendiri membuat cinta saya lenyap begitu saja!""Jadi gak perlu menghayal untuk bisa kembali sama saya! Karena saya tidak suka memungut kembali barang bekas!""Dan terakhir! Jangan pernah ganggu kehidupan saya dan istri saya lagi! Kalo kamu masih saja mengganggu saya dan istri saya! Habis kamu!" Ancam Lian lalu pergi menyusul SalsaBaru saja Lian keluar dari ruangannya, tiba-tiba Paul menghampiri Lian"Li Li, istri lo pingsan di lobby" Ucap Paul"Hah? Kok bisa?" Tanya Lian"Gatau! Dia mau pergi kali, eh keburu pingsan di lobby" Balas PaulLian segera menuju lobby kantornya, perasaannya mulai tak tenang memikirkan kondisi Salsa.***Salsa yang kini masih berada di dalam ruang perawatan mulai membuka matanya. Salsa melihat Lian yang tengah tersenyum manis padanya. Dan setelah melihat Salsa bangun, Lian menciumi kening Salsa berkali-kali"Alhamdulillah kamu udah bangun sayang" Ucap Lian"Aku dimana?" Tanya Salsa"Di rumah sakit deket kantor sayang" Balas Lian"Kenapa aku disini?" Tanya Salsa"Kamu tadi pingsan, makanya mas bawa kesini" Balas Lian"Aku mau pulang aja" Ucap Salsa"Iya, tunggu cairan infusnya habis baru kita boleh pulang sayang" Balas Lian"Ck, aku maunya sekarang!" Balas Salsa"Gabisa sayang, tolong nurut ya sama dokter. Karena ini bukan cuma untuk kesehatan kamu, tapi untuk anak kita" Ucap Lian sembari mengusap perut Salsa"Apa? Apa kamu bilang?" Tanya Salsa"Disini ada anak kita sayang, buah cinta kita" Balas LianSalsa justru menangis mendengar ucapan Lian"Loh? Sayang? Kenapa kamu nangis? Kamu gak bahagia dengan kehadiran adik?" Tanya Lian"Aku mau gugurin anak ini" Balas Salsa"Apa! Ngomong apa kamu!" Tegas Lian"Aku mau gugurin anak ini! Terserah kamu mau marah, mau bunuh aku sekalipun, aku gak peduli! Yang penting anak ini gak lahir ke dunia!" Balas SalsaLian mengepalkan tangannya mendengar ucapan Salsa"Kamu apa-apaan sih Sa! Kamu sadar kamu ngomong apa barusan? Kamu mau bunuh anak kamu sendiri? Hah! Kamu tega?!" Tegas Lian"Iya! Aku memang tega! Lebih baik dia gak hadir di dunia, daripada dia harus hadir tanpa cinta dari ayahnya!" Ucap Salsa"Maksud kamu?" Tanya Lian"Dia hadir bukan karena cinta, tapi karena nafsu kamu doang! Dan aku tau kamu masih sangat mencintai Bu Syifa! Jadi anak ini gak perlu lahir di dunia, supaya kamu gak terikat sama aku lagi!""Setelah anak ini pergi, kamu bisa ceraikan aku dan kembali sama cinta kamu! Aku baru sadar kalo selama ini aku hanya jadi pelarian dan pelampiasan kamu karena pengkhianatannya bu Syifa!""Aku yang terlalu bodoh karena menikmati semua perlakuan kamu sampai akhirnya aku hanya cinta sendirian! Dan sekarang, aku gamau lagi terjebak dengan hubungan ini mas, aku mau kita cerai!" Ucap SalsaLian baru sadar jika Salsa pasti terpengaruh dengan ucapan Syifa. Karena rasa bahagianya, Lian sampai lupa kejadian sebelum Salsa dilarikan ke rumah sakit.Lian menghela nafasnya, mencoba mengendalikan emosinya lalu menggenggam kedua tangan Salsa"Sayang? Kamu lebih percaya sama Syifa? Mulut perempuan jahat itu? Hhmm? Kamu gak percaya sama mas? Sama suami kamu sendiri?" Tanya Lian lembut"Awalnya aku percaya sama kamu, kamu akan bantah semua omongan Bu Syifa. Tapi justru yang aku lihat hanya keraguan di diri kamu! Kamu hanya diam, seolah menyetujui semua ucapan Bu Syifa!""Di detik itu juga aku tau kalo kamu memang gak cinta sama aku! Kamu memang menikahi aku hanya karena nafsu! Kamu gak tulus sama aku!" Balas Salsa dengan air mata yang mengalir deras"Say - "Saat Lian hendak menjelaskan perasaannya, tiba-tiba dokter dan perawat datang melihat kondisi Salsa. Ternyata kondisi Salsa sudah jauh lebih baik dan di persilahkan pulang."Istirahat ya sayang, nanti kalo kondisi kamu sudah jauh lebih baik. Kita obrolin semuanya, yang penting kamu harus inget kalo mas cinta sama kamu""Jangan pernah berfikiran untuk menggugurkan anak kita. Dia sama sekali gak bersalah sayang, disini yang salah mas. Jangan hukum anak kita, dia gak berdosa" Ucap LianSalsa hanya diam tanpa menjawab Lian, sedangkan Lian hanya bisa menghela nafas saat ucapannya di abaikan oleh Salsa.***"Sayang, makan dulu yuk. Baru minum vitamin, supaya malaikat kecil kita juga sehat di dalam perut" Ucap Lian sembari membawa nampanSetelah meletakkan nampan yang berisi makanan, minuman dan vitamin dari dokter. Lian duduk di samping Salsa yang masih merebahkan tubuhnya"Kenapa kekeuh mempertahankan bayi ini? Apa karena dia satu-satunya anak yang akan kamu miliki?" Tanya Salsa"Maksud kamu apa sih sayang? Hhmm" Balas Lian lembut"Bu Syifa gamau hamil karena menjaga postur tubuhnya, makanya kamu hamilin aku? Setelah aku hamil dan melahirkan, kamu akan bawa bayi ini dan hidup sama cinta kamu? Sama Bu Syifa kan?" Ucap Salsa"Astaga Sasa! Kamu di diemin makin jadi ya! Bisa-bisanya kamu mikir seburuk itu sama saya!!""Saya tau saya salah karena kemarin hanya diam di depan Syifa! Tapi asal kamu tau, saya diam bukan karena menyetujui semua ucapan Syifa atau ragu sama perasaan saya sendiri! Saya diam karena saya mencoba menahan emosi saya di depan kamu! Saya gamau sampai kelepasan dan melukai Syifa di depan kamu!""Kamu tau saya paling gabisa menahan emosi! Tapi setelah menikah sama kamu, saya mencoba berubah Sa! Saya mencoba menahan emosi saya karena saya gamau nyakitin kamu dengan kata-kata saya lagi seperti sebelum kita menikah!""Dan hari itu! Kesabaran saya benar-benar di uji! Saya diam mencoba menahan semuanya! Kalo saya menjawab, mungkin bukan hanya kata-kata jahat saya yang keluar untuk Syifa! Mungkin wanita itu sudah masuk rumah sakit karena tamparan saya! Dan saya gamau semua itu terjadi!""Kamu salah paham Sa! Saya sudah tidak mencintai Syifa! Saya cinta sama kamu! Saya sayang sama kamu! Anak yang ada dalam kandungan kamu itu buah cinta kita berdua! Dia ada bukan hanya karena nafsu Sa! Tapi karena cinta! Tolong percaya sama saya!" Tegas LianSalsa menatap Lian dengan penuh keyakinan, ia ingin melihat apakah ada kebohongan di mata Lian. Namun nihil, Salsa tak menemukan itu sama sekali. Salsa melihat Lian begitu tulus padanya"Saya benar-benar mencintai kamu Sa, tolong percaya sama saya!""Kamu pasti bertanya-tanya kan, kenapa saya bisa menikahi kamu dalam kurun waktu yang sebentar setelah saya bercerai?""Itu karena saya sudah tertarik sama kamu sebelum saya bercerai. Saya menyukai kamu sejak hari pertama kamu bekerja sebagai sekertaris saya""Tapi saya coba menghilangkan perasaan saya karena saya masih memiliki Syifa. Namun, setelah saya tau pengkhianatan Syifa. Rasa cinta saya pada Syifa benar-benar hilang, dan saya coba kembali membuka hati saya untuk kamu""Setiap hari saya mencoba mencari perhatian kamu dengan marah-marah atau sekedar meminta kamu melakukan hal yang tidak jelas. Tapi kamu tetap saja cuek dan gak pernah peka sama saya""Kamu berbeda dari sekertaris-sekertaris saya sebelumnya yang selalu menggoda dan mencari perhatian saya. Sedangkan kamu? Bahkan saya yang harus mencari perhatian sama kamu Sa""Sampai dimana saya pertama kali berhasil mencium bibir kamu. Saya sudah bertekad akan menceraikan Syifa dan memiliki kamu Sa. Karena saya tau, kamu gak akan mau sama saya kalo saya masih jadi suami Syifa""Saya sengaja menjebak Syifa dengan mengatakan akan pergi ke luar kota lima hari. Karena saya tau, Syifa pasti memanfaatkan hal itu untuk bertemu Regan. Dan rencana saya berhasil Sa, saya bisa memergoki mereka bercinta di kamar saya sendiri!""Setelah perceraian saya selesai, saya gamau nunggu lagi untuk menikahi kamu karena saya takut. Saya takut kamu diambil orang, apalagi saya sempat mendengar jika kamu dekat dengan anak sekantor""Saya berpikir bagaimana caranya supaya kamu bisa menikah sama saya. Dan ya, pikiran saya hanya itu. Kamu pasti mau menikah sama saya jika saya bisa tidur sama kamu dan merenggut kehormatan kamu""Lagi-lagi Tuhan berpihak sama saya Sa. Semuanya benar-benar berjalan sesuai rencana saya sampai akhirnya kita menikah dan kamu bisa menerima saya! Tapi sekarang? Kamu masih meragukan saya karena ucapan Syifa?""Apa semua perbuatan saya masih kurang mencerminkan rasa cinta saya sama kamu Sa? Apa masih kurang sampai kamu lebih percaya Syifa, dibandingkan suami mu sendiri? Iya?" Tanya LianSalsa merasa bersalah saat melihat mata Lian berkaca-kaca. Ia tak menyangka, suaminya yang garang itu hendak menangis saat menjelaskan semuanya pada Salsa.Salsa segera memeluk Lian, ia ikut menangis saat merasakan ketulusan Lian"Hiks hiks maafin aku mas. Aku terlalu percaya dengan asumsiku sendiri. Aku gamau dengerin kamu dulu, aku udah nyakitin kamu. Maafin aku hiks hiks" Ucap SalsaAir mata Lian lolos, ia memeluk erat istrinya dengan air mata yang membasahi wajahnya"Mas cinta banget sama kamu sayang, tolong jangan ragukan perasaan mas lagi. Ini memang bukan pernikahan pertama mas, tapi mas mau ini pernikahan terakhir mas. Mas mau sehidup semati sama kamu" Ucap LianGapernah saya nangis karena wanita, sekalipun hidup 5 tahun sama Syifa gapernah buat saya nangis seperti ini. Tapi sama kamu Sa, rasanya berbeda. Saya benar-benar takut kehilangan kamu *batin Lian"Hiks hiks iya mas, iya. Aku juga cinta sama mas Lian, aku gamau pisah sama Lian. Maafin ucapan aku tadi mas, maaf" Balas Salsa"Mas udah maafin kamu sayang, tapi tolong jangan bicara seperti tadi lagi. Mas benar-benar mencintai kamu, mas gak pernah jadiin kamu pelarian. Mas menikahi kamu karena perasaan mas, bukan karena nafsu sayang" Ucap Lian"Iya mas, hiks hiks. Aku yang salah karena aku udah ragu sama mas. Aku terlalu percaya sama asumsiku sendiri. Maafin aku mas" Balas Salsa"Mas maafin kamu sayang, asal kamu mau makan dan minum vitamin yaa. Demi kamu, demi anak kita" Ucap Lian sembari melepas pelukannyaSalsa tersenyum lalu menghapus air mata Lian, begitupun Lian ikut menghapus air mata Salsa"Iya, aku makan" Balas Salsa"Kita jaga sama-sama anak kita ya sayang, malaikat kecil kita, pelengkap keluarga kecil kita. Jangan pernah berpikiran lagi untuk menghilangkan dia dari perut kamu" Ucap Lian sembari mengusap perut Salsa"Maaf mas, aku khilaf. Aku juga gamau kehilangan dia, tapi kemarahanku tadi jadi buat aku gila sampai bicara hal buruk itu" Balas Salsa"Gapapa sayang, yang penting sekarang kamu sudah sadar akan kesalahan kamu tadi" Balas Lian"Iya mas""Adek, maafin Ibu ya. Ibu sayang sama adek, ibu gamau gugurin adek kok. Adek sehat-sehat ya sampai nanti kita ketemu. Kita kumpul bertiga sama Ibu dan Ayah" Ucap Salsa sembari mengusap perutnyaLian tersenyum lalu mencium perut rata Salsa"Sayangnya ayah, sehat-sehat di dalam ya nak. Nanti kalo udah lahir, ayah ajarin ngurus perusahaan" Ucap Lian"Ish, Mas Lian! Anak baru lahir itu di ajak main, bukan malah di ajarin ngurus perusahaan!" Omel Salsa"Hahaha becanda sayang, masa anak kesayangan mas. Mas suruh kerja sejak bayi, ya gak lah! Justru kalo bisa, mas bakalan bangun tempat main yang besar di rumah untuk adik nanti" Ucap Lian"Gausah aneh-aneh deh mas ish" Balas Salsa"Ih, kenapa? Apanya yang aneh? Mas kan mau nyenengin anak mas" Ucap Lian"Ya gausah berlebihan kali mas. Bisa beliin mainan sewajarnya aja" Balas Salsa"Gamau! Kamu lupa siapaa yang ada di dalam perut kamu?""Dia itu pewaris tahta kekayaan Mas! Jelas semuanya harus istimewa!" Ucap Lian"Ck, lebay! Aku gamau ya nantinya anak aku jadi sombong kek kamu! Aku mau anak aku tetap jadi pribadi yang rendah hati meskipun ayahnya bisa kasih seluruh dunia buat dia!" Balas Salsa"Anak aku! Anak aku! Anak kita!""Lagian mas sombong apa sih sayang? Mas kan emang kaya, itu bukan sombong tapi fakta" Balas Lian"Itu sombong namanya! Dan aku gamau anak aku nanti sombong!" Balas Salsa"Anak kita sayang! Sekali lagi kamu ngomong anak aku anak aku! Mas gigit bibir kamu sampe berdarah ya" Ucap Lian"Bodo amat! Pokoknya aku gamau nanti adek jadi anak sombong! Mending aku bawa kabur aja nanti adek, supaya kamu gak ngajarin aneh-aneh" Balas Salsa"Coba aja! Kamu lupa orang-orang mas dimana-mana? Mau kamu sembunyi di lubang buaya sekalipun, mas bakalan bisa temuin kamu dan anak kita sayang!" Ucap Lian"Ish! Kamu nyebelin banget sih mas!!!!" Rengek Salsa"Hahahaha mas becanda sayang, iya iya mas nurut apa yang kamu inginkan untuk anak kita""Mas juga gamau anak kita jadi anak manja yang hanya bisa mengandalkan kekayaan ayahnya. Mas juga mau anak kita tumbuh jadi anak yang baik, pintar, dan bermanfaat bagi banyak orang nantinya" Ucap Lian"Beneran mas?" Tanya Salsa"Iya sayang, mas akan nurut sama kamu demi kebaikan anak kita" Balas Lian"Makasih mas, aku sayang banget sama mas Lian" Ucap Salsa"Beneran? Bukannya dulu ada yang benci banget ya sama bosnya ini? Hhmm" Ucap Lian"Itu dulu, sekarang tetep benci tapi beda arti" Balas Salsa"Maksudnya?" Tanya Lian"Sekarang benci, benar-benar cinta hehe" Balas Salsa memeluk Lian"Hahahahaha sayang ish, lucu banget. Mas jadi gemes""Jangan tinggalin mas ya sayang, atau bahkan mengkhianati pernikahan kita. Mas sayang dan cinta banget sama kamu, mas mau kita sama-sama sampai tua nanti" Ucap Lian"Harusnya aku gak sih yang ngomong itu sama kamu?""Sekarang aku udah gak kerja lagi sama kamu, kamu bakalan cari sekertaris yang lebih cantik dari aku""Apalagi sebentar lagi aku pasti jadi gendut karena hamil, kamu pasti cari sekertaris yang seksi. Aku malah takut kamu yang selingkuh dari aku sama sekertaris kamu nanti" Ucap Salsa"Awss! Mas! Sakit ish!" Ucap Salsa sembari mendorong LianLian tiba-tiba menggigit bibir Salsa setelah istrinya itu berhenti bicara"Dari tadi bibirnya nakal sih! Jadi harus di gigit!""Dengerin mas ya! Sesuai perjanjian kita dulu, kamu harus berhenti kerja kalo kamu hamil. Dan sekarang kamu hamil, otomatis kamu bukan lagi sekertaris mas!""Kalau pun kamu gendut, mas sama sekali gak masalah, mas justru seneng. Artinya anak mas di dalam perut kamu itu sehat dan gizinya terpenuhi. Mas juga gak masalah kamu gendut, karena kamu itu cantik, mau gendut pun pasti tetep cantik!""Dan yang terakhir, mas gak akan cari sekertaris lagi sayang! Ada Paul dan Dani, mereka yang nanti akan bantu mas. Entah Paul atau Dani yang nantinya mas pilih jadi sekertaris mas""Mas janji, mas gak akan cari sekertaris perempuan. Mas akan selalu jaga kepercayaan kamu sama mas sayang" Ucap Lian"Beneran ya? Awas aja bohong!" Balas Salsa"Bener sayang. Lagian mas udah pernah tau rasanya di selingkuhi itu seperti apa, mas gamau kamu merasakan apa yang mas rasakan! Mas juga gamau kehilangan kamu nantinya" Ucap LianSalsa tersenyum menatap suaminya"Kenapa senyum-senyum?" Tanya Lian"Gapapa, aku seneng aja mas. Aku masih gak percaya sekarang ada di tahap kecintaan banget sama laki-laki yang dulunya pengen aku gampar tiap hari" Balas Salsa"Hahahaha sini, gampar aja sayang untuk balas rasa sakit hati kamu sama mas" Ucap Lian"Gamau! Maunya cium aja" Balas Salsa"Woww, itu mah mas juga seneng sayang hahaha" Balas LianSalsa pun tersenyum lalu menciumi pipi Lian berkali-kali"I love you my mystery bos" Ucap Salsa"Love you more babe" Balas Lian lalu memeluk erat istrinya~END~
Backstreet
Salma dan Rony hampir satu tahun ini menjalani hubungan diam-diam. Semua berawal karena Papa Salma yang melarang Salma berpacaran dengan Rony yang notabenenya hanya seorang penjual mie ayam.Salma adalah anak dari perusahaan terkenal di Jakarta, dia juga anak tunggal. Hidup terjamin, fasilitas mewah dan apapun yang dia minta pasti akan selalu terwujud. Kecuali, permintaan dia untuk di restui oleh Rony.Salma dan Rony sendiri sudah menjalin kasih sejak dua tahun lalu, setelah setahun pacaran Salma ingin mengenalkan Rony pada keluarganya. Rony awalnya pun ragu, mengingat perbedaan status sosial mereka yang jauh. Namun Salma tetap meyakinkan Rony, hingga akhirnya mereka menemui orang tua Salma.Tapi kejadian satu tahun lalu, saat Salma mengenalkan Rony di depan Papa Mama nya. Membuat Salma justru kini susah untuk bertemu dengan sang kekasih. Hal itu pula yang membuat mereka akhirnya menjalani hubungan diam-diam saat ini.Semua mereka lakukan demi kebaikan bersama, karena hampir beberapa kali orang tua Salma bahkan membayar preman untuk menghancurkan warung mie ayam milik Rony. Akhirnya Salma juga tak tega, karena kenekatan dirinya pasti akan membuat hidup Rony semakin sengsara.Salma yang lebih sering menurut dengan ucapan Papa nya, lebih sering berdiam diri di rumah, bahkan tidak pernah menemui Rony membuat Papa Salma semakin percaya jika anaknya telah putus dari Rony. Hingga menghentikan penjagaan nya pada Salma seperti sebelumnya.Papa Salma memang membayar orang untuk mengawasi dan menjaga Salma. Sebenarnya Salma tau jika Papa nya mengawasinya dari jauh, justru itu yang membuat Salma pandai mengambil keputusan hingga Papa nya pun percaya dan menghentikan pengawasan padanya.Hari ini Papa dan Mama Salma akan berangkat ke Jepang untuk keperluan bisnisnya selama dua Minggu. Papa dan Mama Salma yang sudah lupa dan percaya pada anaknya pun mulai memberikan Salma kebebasan nya lagi tanpa ada pengawasan atau pun penjagaan yang ketat."Ma, Pa hati-hati ya. Semoga selamat sampai di Jepang. Jangan lupa kabarin Caca kalo udah sampe disana" Ucap Salma"Iya sayang, nanti mama papa kabarin pokoknya. Kamu hati-hati ya di rumah, jangan suka keluyuran malem-malem bahaya. Kalo pergi malem harus sama supir gabole nyetir sendiri. Oke" Ucap Papa Salma"Oke Ma, Pa""Tapi kaya nya Caca bakalan sering nginep di rumah Nabila deh Pa. Yakali Caca sendirian di rumah dua minggu, pasti bosen!!! Boleh kan Pa? Atau kalo Papa gak percaya sama Caca, ini Caca kasih nomor Abi nya Nabila deh. Biar papa bisa mantau Caca disana. Gimana?" Izin Salma"Gausah sayang, papa percaya kok sama Caca. Tapi kenapa kok Caca yang kesana? Gak ajak Nabila nya aja yang kesini?" Tanya Papa Salma"Ya sama aja dong kalo Nabila nya yang Caca ajak kesini, sama-sama sepi. Kalo disana kan enak rame, Nabila aja 7 bersaudara. Adek-adek nya lucu lucu semua, rame plus seru banget lagi. Jadi Caca seneng kalo disana Pa. Boleh yaa" Balas Salma"Wah, banyak juga ya Adek Nabila? Yaudah yaudah boleh deh. Tapi jangan ngrepotin Ca. Kalo bisa kamu kesana tuh bawain apa gitu buat adek-adek Nabila, buat Abi Umi nya Nabila atau apa gitu sayang" Timpal Mama Salma"Iya pasti lah Ma, masa iya Caca numpang makan doang disana. Ntar malu-malu in kalian lagi hahaha" Balas Salma"Nanti Papa transfer ya, beliin apapun yang terbaik buat Nabila sekeluarga. Jangan bikin Papa Mama malu, udah numpang gak ngasih apa-apa" Balas Papa Salma"Dih, jelek banget bahasanya numpang. Iye iye Pa, udah buruan berangkat ntar ketinggalan pesawat lagi" Balas Salma"Iya, berangkat dulu ya Ca" Balas Papa SalmaMaaf ya Ma, Pa. Caca bohongin kalian *batin Salma***Saat ini Salma sudah berada di kawasan Apartemen elit di Jakarta pusat. Salma sengaja membeli sebuah apartemen mewah dan elit karena fasilitas nya yang bisa menjaga data pemilik masing-masing unit pasti terjamin. Ini semua dia lakukan demi menghindari pengawasan dari Papa nya jika sewaktu-waktu Papa nya akan kembali mengawasi dirinya.Salma juga membeli apartemen itu dari uang hasil menabungnya yang berbeda dengan rekening yang dibuat oleh Papanya. Agar Papa Salma juga tak bisa memeriksa mutasi uang yang keluar dari rekening Salma. Apartemen ini sengaja dia beli diam-diam khusus untuk tempat menenangkan diri sekaligus tempat paling aman untuk bertemu dengan kekasihnya.Tok tok tokSalma segera membuka pintu ketika melihat siapa yang datang."Surpriseeeee" Sapa Salma"Loh, kok kamu disini sayang?" Ucap Rony kagetRony memang belum mengetahui bahwa Salma adalah pemilik unit apartemen yang ia datangi. Pasalnya adik Rony tadi hanya mengucapkan jika ada yang memesan mie ayam mereka dan minta di antar ke unit apartemen tersebut."Ayo ih masuk dulu, aku jelasin di dalem. Gak sopan banget ngobrol depan pintu gini" Ucap Salma sembari menarik tangan Rony untuk masukSalma menarik tangan Rony masuk ke dalam unit apartemen nya dan mengajak Rony duduk di sofa ruang tengah."Kamu kok bisa disini sayang? Ini apartemen siapa?" Tanya Rony lembut"Apartemen aku, baru tadi pagi aku lunasin hehe tapi ngincernya udah dari bulan lalu cuma nunggu Mama Papa pergi aja baru aku lunasin unit ini" Balas Salma"Ngapain beli apartemen? Terus Mama Papa kemana emangnya?" Tanya Rony"Buat nenangin diri kalo lagi bosen di rumah, kalo lagi sendirian juga di rumah. Mending disini bisa liat city light Jakarta dari balkon kamar""Mama Papa lagi keluar negeri dua Minggu, mangkanya aku mending tinggal disini deh. Ada satu lagi sih alasan aku beli apartemen ini" Balas Salma"Apa Ca?" Tanya Rony"Buat ketemuan sama kamu hehe" Balas Salma"Ketemuan sama aku? Kenapa harus disini? Kan di taman kampus juga bisa" Balas RonyYaps, walaupun hanya penjual mie ayam. Rony adalah laki-laki yang sangat cerdas, dia bisa mendapatkan beasiswa dari SD hingga kuliah.Awal Salma dan Rony bertemu adalah saat ospek di kampus mereka. Rony yang kebetulan satu kelompok dengan Salma, menjadi ketua kelompok tersebut. Salma dibuat kagum oleh sikap dan jiwa kepemimpinan dari Rony. Rony bahkan berhasil membawa kelompoknya meraih nilai tertinggi diantara kelompok yang lain.Dari sana lah, Salma merasa jatuh hati dengan Rony. Dia mencoba mendekati Rony namun Rony selalu menolak Salma. Rony sadar diri jika dirinya tidak pantas untuk Salma, namun Salma tak peduli dia terus meyakinkan Rony jika dia pantas untuk Salma. Hingga akhirnya Rony pun tertarik dan mulai jatuh hati dengan gadis yang pantang menyerah untuk mendekati nya. Salma juga tulus dan tak pernah menghina keadaan ekonomi Rony yang berbeda di antara mahasiswa lainnya."Bahaya, di kampus juga Papa masih bisa ngintai kita. Kalo disini aman sayang, aku beli ini dari rekening yang berbeda. Jadi Papa gak akan bisa cek mutasi rekening ku""Nah, ini access card pintu unit apartemen ini kalo kode nya sih tanggal jadian kita sayang" Ucap Salma sembari menyodorkan kartu akses apartemen nya"Ngapain aku pegang ini sayang? Kan kalo aku kesini pasti ada kamu yang bukain pintu nya" Balas Rony"Udah gapapa, pegang aja. Mungkin sewaktu-waktu kamu butuh tempat istirahat atau apa. Bisa kesini, ini aku beli buat kita berdua. Jadi ini punya aku dan kamu sayang" Balas Salma"Ca, beneran gausah Ca. Sayang uang kamu" Ucap Rony"Apasih Ron, orang udah di bayar juga. Gapapa, udah pegang ini access card nya. Kalo kamu gamau terima, kita gausah ketemu lagi!" Ancam Salma"Ish, ngancemnya kok gitu sih sayang. Mana bisa aku gak ketemu sama kamu?""Di kampus aja, aku harus cari cara supaya bisa liat kamu dari jauh tanpa ketahuan orang suruhan papa kamu. Ini kamu malah ngancem gamau ketemu aku lagi, mana bisa aku" Balas Rony memelas"Mangkanya terima sayang, gaboleh nolak yaa" Ucap Salma"Yaudah iya, aku terima ini""Sekarang nih makan mie ayamnya, takutnya mie nya makin lebar" Balas Rony"Suapin" Rengek Salma"Ishh manja banget sih, jadi makin gemes tau gak!" Ucap Rony sembari mencubit pipi Salma"Ihh sakit sayangggggg" Rengek Salma sembari mengusap pipinya"Hahaha maaf ya, abisnya gemes banget sih aku sama kamu""Yaudah sini aku suapin. Selesai makan aku pulang ya, kasian Adek jaga warung sendirian" Balas Rony"Ihh, kan masih kangen sayanggg" Rengek Salma"Kasian Adek sayang, bentar lagi jam makan siang pasti warung rame""Nanti pulang jualan, aku janji deh kesini lagi yaa. Kita ketemu lagi setelah aku jualan, iya sayang. Boleh kan?" Tanya Rony lembut"Yaudah deh, boleh. Tapi janji nanti kesini lagi ya" Balas Salma manja"Iya janji sayang" Balas Rony***Dagangan Rony sudah terjual habis setelah adzan magrib. Rony dan adiknya pun bergegas pulang dan bebersih. Rony sudah janji jika ia akan menemui Salma lagi di apartemen nya.Setelah membuka unit apartemen nya, Rony tak mendapati Salma di ruang tengah dan saat membuka pintu kamar. Rony mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Rony tau jika Salma tengah mandi, lalu ia pun memutuskan untuk melihat beberapa foto kecil Salma yang terpajang di dekat Walk in Closet sebelah kamar mandi.Salma yang baru saja selesai mandi, dengan hanya menggunakan handuk pendek di atas lutut yang ia lilitkan di badan, ia keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah meja riasnya. Salma belum menyadari keberadaan Rony di dalam kamar. Namun saat Salma hendak melangkah, langkahnya terhenti saat Rony tiba-tiba memanggilnya."Ca?" Ucap Rony shockTubuh Salma menegang, dia tidak tau jika Rony ada di dalam kamarnya. Saat ini bahkan kondisi Salma hanya memakai handuk pendek, dan rambut yang di balut handuk kecil karena ia baru saja selesai keramas.Rony mulai mendekati Salma, entah mengapa tiba-tiba dirinya ingin sekali mendekat pada tubuh gadis cantik yang sangat ia cintai. Leher dan bahu Salma yang terekspos membuat badan Rony merinding dibuatnya. Salma nya sangat mulus dan benar-benar menggoda iman nya.Entah keberanian dari mana, Rony mulai memeluk Salma dari belakang lalu mencium aroma tubuh Salma dari lehernya. Rony terus mengecupi leher dan bahu Salma yang memang menggodanya dari tadi."Kamu wangi banget sayang" Ucap Rony dengan suara yang sudah memberat"Eugh Ron, geli" Balas SalmaRony tak mempedulikan jawaban Salma, ia terus saja mencium leher Salma. Ia bahkan sudah membuat banyak tanda cinta nya disana. Tangan yang semula memeluk perut Rata Salma, beralih meremas payudara Salma dari belakang."Eughhhh Ronhhh" Lenguh SalmaTubuh Salma semakin tak terkontrol kala bibir dan tangan Rony bekerja dengan baik menyentuh tubuhnya. Bibir dan lidah Rony bermain di leher hingga belakang telinga Salma, dimana itu adalah titik lemah Salma. Sedangkan tangan Rony masih terus meremas payudara Salma.Ini baru pertama kali, Rony mencium bahkan berani menyentuh tubuh Salma. Walaupun dua tahun sudah menjalin kasih dengan Salma, Rony sama sekali tak pernah sedikit pun menyentuh gadisnya. Hanya sekedar mencium kening Salma saja bisa di hitung dengan jari.Namun malam ini, entah mengapa Rony sama sekali tak bisa mengontrol tubuhnya. Rasanya Rony ingin sekali menjadikan Salma menjadi miliknya seutuhnya. Rony sangat mencintai wanita itu, Rony juga takut jika Salma akan meninggalkan nya demi laki-laki lain pilihan orang tuanya.Rony semakin menjadi menyentuh dan mencium Salma. Sedangkan Salma yang awalnya memegang ujung handuknya dengan kuat, semakin lemas karena sentuhan Rony.Rony melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Salma menghadap dirinya. Dengan perlahan Rony mencium bibir Salma untuk pertama kalinya, dia melumat bibir wanita yang ia cintai dengan sangat lembut. Selain itu, Rony juga mendorong tubuh Salma perlahan hingga kini ia sudah mengukung tubuh Salma yang tertidur di atas ranjang.Ciuman Rony sangat memabukkan bagi Salma, ia bahkan tak mau kalah dari Rony. Dia ikut membalas ciuman dari lelakinya, saling berperang lidah dan bertukar Saliva. Rony tersenyum tipis merasakan Salma yang mulai membalas ciumannya.Perlahan, ciuman Rony turun menuju leher Salma. Memberikan beberapa tanda cinta yang membuktikan bahwa Salma hanya lah miliknya. Hanya dirinya yang bisa melakukan ini pada Salma, hanya dia yang boleh menyentuh tubuh mulus Salma dan hanya dia yang harus memiliki Salma seutuhnya."Buka ya sayang, aku mau lihat. Boleh?" Tanya Rony lembut dengan mata yang sangat sayu"Aku malu Ron" Balas Salma sembari memegang ujung handuknya"Gapapa sayang, ngapain malu? Aku milik kamu, dan kamu milik aku. Kamu berhak atas aku dan begitu pun sebaliknya. Boleh yaa, pleasee" Ucap Rony memohon sembari mencoba mengalihkan tangan Salma dari ujung handuk"Kamu janji gak akan ninggalin aku setelah ini?" Tanya Salma"Janji, ada niat ninggalin kamu pun aku gak ada sayang. Beneran" Balas Rony"Jadi, boleh yaa" lanjut RonySalma hanya mengangguk, Rony pun tersenyum lalu mengecup kening Salma. Tangan Rony langsung sigap membuka handuk Salma. Dan saat handuk terbuka, seluruh tubuh Salma sudah terpampang jelas di depan matanya tanpa terhalang sehelai benang pun.Salma menutup matanya karena merasa sangat malu, kini seluruh tubuhnya bisa di lihat dengan jelas oleh Rony. Sedangkan Rony tersenyum bangga, Salma nya sangat indah dan itu semua adalah miliknya. Tubuh Salma adalah milik Rony, dan hanya Rony yang bisa memiliki tubuh indah itu."Kamu indah sayang, indah sekali" Puji RonyRony langsung meremas payudara Salma dan memainkan nipple Salma menggunakan jarinya, sedangkan mulutnya juga bermain pada payudara Salma yang menganggur. Lidah Rony yang memainkan nipple Salma berhasil membuat tubuh Salma menggelinjang kegelian."Ashhh Ronhhh" Desah SalmaDesahan Salma membuat Rony semakin bersemangat melanjutkan aksinya. Desahan Salma terdengar sangat seksi di telinganya dan membuat hasratnya semakin naik.Hingga tak terasa kini wajah Rony sudah berada tepat di depan milik Salma. Rony semakin melebarkan kaki Salma agar bisa melihat milik Salma lebih jelas. Tak ingin berlama-lama, Rony memainkan inti Salma menggunakan jari dan juga mulutnya.Malam ini Rony benar-benar bahagia karena bisa menikmati tubuh indah milik Salma nya. Banyak lelaki di kampusnya yang lebih tampan dan pastinya lebih kaya yang menginginkan gadis cantiknya itu. Namun siapa sangka, justru dirinya lah yang beruntung. Laki-laki miskin yang membuat Salma tergila-gila hingga rela menurunkan gengsinya untuk menyatakan perasaannya lebih dulu pada Rony."Ahhh Ronn, mauu pipishhh ahhh" Desah Salma"Keluarin sayang, jangan di tahan" Balas Rony"Aahhhh" Desah Salma ketika berhasil mendapatkan pelepasan pertamanya karena ulah lidah dan tangan Rony di intinyaSalma sedikit lemas setelah mendapatkan pelepasan pertamanya. Rony juga menyesap habis cairan cinta milik Salma, lalu ia bangkit dan langsung membuka seluruh pakaiannya di depan Salma. Salma terbelalak ketika melihat milik Rony yang sudah berdiri tegak dan terlihat sangat besar.Rony terkekeh melihat wajah Salma yang sepertinya kaget melihat miliknya."Kenapa? Kok mukanya gitu?" Tanya Rony"Punya kamu gede banget sayang, emang muat?" Tanya Salma"Hahaha muat kok sayang, kamu tenang ya. Gausah takut, aku bakalan lakuin ini pelan-pelan. Kamu percaya sama aku kan?" Tanya Rony"Iya" Balas Salma"Rileks ya sayang, jangan tegang. Kalo pertama emang sakit, tapi gak akan lama kok" Balas Rony"Beneran?" Tanya Salma"Iya beneran, kita coba yaa" Balas RonyRony mulai mengarahkan miliknya pada milik Salma. Rony menggesekkan ujung miliknya pada Salma sebelum memasuki lubang surga dunianya."Ahhhh" Desah RonyPerlahan Rony mendorong masuk miliknya pada lubang Salma."Ahhhhhh Rony sakittt" Rengek Salma"Tahan ya sayang, sabar yaaa" Balas RonyRony masih berusaha menerobos lubang sempit milik Salma, berkali-kali mencoba masuk dengan perlahan namun bukannya semakin masuk malah jeritan Salma yang semakin keras terdengar. Rony yang tak tega merasa Salma semakin kesakitan pun langsung menghentakkan miliknya masuk dalam milik Salma.Akhirnya berhasil, Rony sudah membobol mahkota milik Salma. Rony bisa melihat darah yang keluar dari dalam inti Salma. Rony tersenyum senang, mengetahui bahwa ialah yang pertama bagi Salma. Dan sekarang ia juga berhasil memiliki Salma seutuhnya."Ahhhhh Ronyyyyyyy" Teriak Salma saat Rony berhasil merobek miliknyaAir mata Salma mengalir deras, namun dengan sigap Rony menghapus air mata Salma lalu mengecup kening Salma."Maaf sayang, sakit ya? Maafin aku, kamu tenang ya. Ini udah masuk semua kok punya aku. Tahan yaa, kalo udah gak sakit baru aku gerak" Balas Rony lembut"Aku gerakkin ya yang" Tanya Rony saat melihat Salma mulai tenangSalma hanya menganggukkan kepalanya, entah Salma merasa menyesal atau tidak melakukan ini dengan Rony. Tapi ia juga ingin memiliki Rony seutuhnya, dia sangat mencintai Rony. Jangankan kehormatan nya, hartanya saja rela ia berikan pada laki-laki baik yang selama ini mengisi hatinya.Gerakan Rony yang awalnya pelan lama kelamaan menjadi lebih cepat. Salma maupun Rony Sama-sama merasakan kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan."AAhhh Cahhh, kamuhh nikmathh Cahh ahh" Desah Rony"Ashhh Ronnn ahhh" Desah SalmaDesahan Salma dan Rony memenuhi kamar apartemen yang baru pagi tadi ia beli. Dan mungkin akan menjadi tempat mereka untuk terus beradu kasih kedepannya.Gerakan Rony semakin cepat kala merasakan milik Salma semakin menjepit nya, dan ia juga merasakan miliknya semakin membesar di dalam pertanda ia akan segera mendapatkan pelepasan nya."Ahhhh" Desah Rony kala merasakan pelepasan nyaRony yang lemas langsung menjatuhkan diri di atas Salma dan membiarkan cairan cinta nya masuk ke dalam rahim Salma. Salma juga merasakan sesuatu yang hangat masuk ke dalam rahimnya."Makasih sayang, makasih udah ngasih ini buat aku. Makasih kamu udah percaya sama aku untuk ambil hal paling berharga milik kamu. Aku sayang sama kamu Ca, aku cinta kamu dan kamu cuma milik aku sampai kapanpun. Aku gak akan pernah biarin seseorang nyentuh kamu atau bahkan milikin kamu selain aku. I Love You Caca ku" Ucap Rony lemas"Love you more Ron. Aku juga cinta dan sayang sama kamu. Semoga kamu gak akan pernah ninggalin aku, setelah aku kasih semuanya buat kamu" Balas Salma"Gak akan sayang, aku terlalu cinta sama kamu dan gak akan pernah ninggalin kamu" Balas Rony"Yaudah, bangun gih. Kamu berat tau, sama sekalian lepasin itunya. Aku mau bobo tapi punyakku rasanya penuh banget" Ucap Salma"Eh, no no sayang. Kita lanjut ronde kedua ketiga, keempat mungkin. Aku masih pengen, jangan bobo dulu. Kalo bisa malam ini kita begadang ya, kan besok juga free gak kuliah, okeee" Balas Rony"Hah!! Gila ya kam - "Belum sempat Salma membalas ucapan Rony, dengan segera Rony kembali membungkam bibir Salma dengan bibir nya. Dan mereka pun melakukannya kembali.***Sudah hampir dua Minggu tinggal di Apartemen. Besok rencananya Salma akan kembali ke rumah, mengingat kedua orang tuanya akan pulang lusa.Selama dua Minggu di apartemen, selama itu pula hampir setiap hari Rony dan Salma melakukannya. Sepulang berjualan, Rony selalu kembali ke Apartemen dan tidur bersama Salma.Sebenarnya Salma ingin hamil anak Rony agar hubungan mereka bisa di restui, namun Rony yang tidak ingin jika harus mendapat restu dengan cara seperti itu. Rony meyakinkan Salma, jika dengan cara seperti itu Rony akan semakin di pandang buruk oleh orang tua Salma. Atau parah nya mungkin mereka akan menjodohkan Salma dengan laki-laki lain yang mau bertanggung jawab atas kehamilannya kelak dan Rony tidak ingin itu.Salma berpikir apa yang di takutkan Rony bisa saja terjadi, karena Salma pun tau orang tua nya seperti apa. Jadilah Salma memilih mengonsumsi obat pencegah kehamilan setiap selesai melakukan hubungan dengan Rony, mengingat Rony yang selalu mengeluarkan cairan cinta nya di dalam rahim Salma.Di kampus, baik Salma dan Rony tak pernah menunjukkan kemesraan nya, karena mereka takut jika masih ada yang akan memata-matai hubungan mereka. Baik Salma maupun Rony Sama-sama saling takut kehilangan, jadi mereka berupaya sebisa mungkin melakukan apapun agar mereka tak terpisah satu sama lain.Salma juga sudah meminta maaf pada Deril, adik Rony karena selama ini Rony harus meninggalkan dirinya di rumah seorang diri. Rony hanya tinggal berdua dengan adik laki-lakinya. Orang tua Rony sudah meninggal, dan tersisa adik Rony yang masih duduk di bangku SMA. Rony berjualan mie ayam untuk bertahan hidup sekaligus membayar uang sekolah adiknya. Dia meneruskan usaha dari kedua orang tuanya yang memang berjualan mie ayam sejak dulu.Selesai Kelas, Rony menghampiri Salma yang duduk di bangku nya."Ca" Panggil Rony"Kenapa Ron?" Tanya Salma"Kaya nya nanti malem, aku gabisa ke apartemen deh" Balas Rony"Kenapa? Aku sendirian dong?" Ucap Salma memelas"Deril bilangnya ada kerja kelompok, jadi gabisa jualan. Aku harus jaga warung sendirian Ca, takutnya ntar kemaleman selesai dagangnya. Gapapa yaa, malem ini doang kok" Balas Rony pelan"Yaudah, gausah jualan sayang. Aku ganti deh uang jualan nya. Yayaya, temenin aku tapi di apart ya sayang" Rengek Salma"Ca, kan kamu tau aku paling gak suka kamu kaya gini. Aku gamau manfaatin uang kamu""Hari ini aja ya sayang, aku mau jualan sampe malem mumpung Deril gak bantuin. Kalo ada dia, aku gak tega mau jualan sampe malem soalnya besok dia sekolah. Boleh yaa" Balas Rony memelas"Aku bantuin deh, yaa. Aku ikut kamu jualan, boleh kan?" Tanya Salma"Jangan sayang, kamu itu anak orang kaya. Yakali mau jualan mie ayam, jangan ya sayang. Udah, kamu diem bobo di apart aja, nanti kalo kamu kesepian kita video call okee. Nurut ya sayang" Ucap Rony lembut"Gamau! Aku mau ikut kamu jualan! Aku bisa nyamar kok pake Hoodie, atau apapun itu untuk nutupin identitas ku. Pleasee aku mau bantuin kamu, boleh yaa" Rengek SalmaLama Salma menunggu keputusan Rony, yang terlihat bimbang. Salma bangkit dari bangkunya lalu berdiri persis sebelah Rony, tangan Salma mengusap milik Rony dari balik celananya."Nanti kalo capek jualan, kan bisa langsung ke apart. Aku servis dengan baik adik kamu ini. Mau gak?" Bisik Salma menggoda sembari tangannya mengusap milik Rony"Eughh Caahh, tangan kamu nakal banget sih. Jangan gini sayang, nanti dia bangun" Balas Rony sembari menjauhkan tangan Salma dari miliknya"Hahaha yaudah langsung sekarang aja ke Apart, kalo adik kamu bangun" Balas Salma sembari mengusap lagi milik Rony"Yang ih, tangan kamuuu. Nakal banget sih!" Omel Rony sembari memukul tangan Salma"Kenapa sih, kek baru pertama kali di pegang aja. Orang udah sering aku mainin, aku juga tau rasanya punya kamu gimana, pas banget tau di mulut aku hahaha" Goda Salma"Yang sumpah ya, kamu nakal banget sekarang. Ini bibirnya emang minta di cium! Bisa-bisanya ngomong gitu di kelas" Ucap Rony sembari memukul pelan bibir Salma"Hahaha gapapa udah sepi ini, cuma tinggal kita berdua tuh liat. Apa sekalian mau coba disini yang? Hhmm" Goda Salma"Astaghfirullah, salah keknya aku ngajarin kamu soal beginian ya yang. Ternyata kamu lebih nakal dari aku sekarang" Ucap Rony"Kamu sih, bikin aku ketagihan terus tiap gituan. Jadi pengen terus kan hahaha" Balas Salma"Yang, awas ya kamu nanti malem! Habis kamu sama aku, liat aja! Gak akan bisa jalan lagi kamu besok!""Dari tadi nantangin aku Mulu. Aku mau hukum kamu, karena kamu hari ini nakal banget! Liat aja nanti ya!" Ancam Rony"Yeayy, berarti nginep apart kan?" Tanya Salma"Iya!! Mau hukum anak nakal kaya kamu!" Balas Rony"Takut bangettt, om om ngamukkkk" Ucap Salma sembari meremas milik Rony lalu pergi meninggalkan kelas"Ahh Cacaaaaa!!! Awas kamu ya!! Beneran gak aku kasih ampun!!!!" Teriak RonySedangkan Salma sudah terkekeh sembari berlari menuju parkiran.***Tak terasa hubungan Salma dan Rony sudah berjalan hampir empat tahun. Salma dan Rony juga bisa lulus kuliah kurang dari empat tahun dan kemarin adalah hari wisuda mereka.Selama ini, Salma selalu saja punya alasan agar orang tuanya tak curiga jika Salma menginap di apartemen nya. Selama hampir empat tahun pula, baik Salma maupun Rony tak pernah absen untuk meminta hal itu di apartemen mereka."Ahhh Cahhh kamuhh selalu nikmattthhhh sayangghhh, masihhh sempithhh ajjah, aku sukkaaahh ahhh" Desah Rony"Punyaahh kamuh juggahh Gedehh sayangg ashhhh" Balas Salma"Akuh mau keluar Ron, ahhh" Ucap Salma"Barenghh sayangghhh ahhhhh" Balas Rony"Ahhhhhhh" Desah Rony ketika mendapatkan pelepasannya yang ketigaSedangkan Salma sudah sangat lemas, karena melayani Rony hingga Rony mendapatkan pelepasan ketiganya"Makasih sayang, kamu selalu nikmat dan selalu jadi candu buat aku. Love you sayang" Ucap Rony sembari mencium kening Salma"Everything for you babe" Balas Salma lemasRony melepaskan penyatuan mereka, lalu mendudukan dirinya di samping Salma."Sayang" Panggil Rony"Kenapa?" Tanya Salma lalu ikut duduk di hadapan Rony"Sebenarnya aku mau ketemu kamu malam ini, buat ngucapin salam perpisahan" Ucap Rony sembari menundukDegUcapan Rony berhasil membuat Salma terdiam dengan jantungnya yang berdegup dengan kencang."Maksud kamu?" Tanya Salma dengan mata yang berkaca-kacaRony menggenggam tangan Salma lalu menatap lekat wanita nya."Maaf sayang, maafin aku. Aku terpaksa harus ninggalin kamu kali ini, demi masa depan kita sayang""Kita gak mungkin begini terus, aku mau nikah sama kamu, aku mau punya anak sama kamu dan kita mulai kehidupan rumah tangga kita yang baik. Bukan seperti ini sayang, bukan hubungan seperti ini yang aku mau""Hampir dua tahun aku selalu nidurin kamu layaknya kamu istri aku. Kamu itu wanita baik-baik, gak seharusnya aku lakuin ini sama kamu. Tapi karena kebodohan kita berdua, hubungan kita bisa sejauh ini sekarang sayang. Gak mungkin kalo aku gak nikahin kamu, aku harus nikahin kamu sayang""Aku mau berjuang dapet restu dari orang tua kamu. Tapi kalo aku tetap mengandalkan dagangan aku, itu sama aja mengulang kesalahan yang sama. Aku akan tetap di usir oleh orang tua kamu""Aku dapet kerjaan di luar negeri sayang, tepatnya di London. Dan aku memutuskan untuk ambil kerjaan itu demi masa depan kita. Aku juga harus biayain kuliah Deril, dan aku mau punya tabungan untuk nikahin kamu""Tolong izinin aku pergi ya, aku janji aku akan cepat pulang dan langsung nikahin kamu sayang. Aku janji, kamu cuma harus jaga hati kamu buat aku. Jangan pernah berpaling dari aku. Kamu harus inget kalo kamu cuma punya aku. Iya sayang" Ucap Rony lembutSalma hanya bisa menangis setelah Rony menjelaskan tentang kepergian nya. Terpaksa Salma juga harus mengikhlaskan kepergian Rony ke luar negeri. Karena apa yang Rony bilang tidak ada yang salah.***Lima tahun berlalu, kehidupan Salma hanya sekedar pulang ke rumah dan bekerja di cafe nya. Salma menolak meneruskan perusahaan papanya, dan lebih memilih untuk membuka cafe.Hidup Salma juga berubah drastis sejak kehilangan Rony. Tepat empat tahun lalu, Salma mulai kehilangan kontak Rony. Setahun setelah memutuskan pergi ke luar negeri, tiba-tiba Ponsel Rony sama sekali tak bisa di hubungi hingga Salma berspekulasi jika Rony sengaja meninggalkan dirinya.Salma menjadi sosok yang dingin, tak bersemangat dan hanya menyibukkan diri di cafe nya hingga larut malam. Itu semua Salma lakukan demi bisa melupakan Rony. Laki-laki yang sangat dia cintai, lebih dari hidupnya sendiri.Banyak laki-laki yang ingin mendekati Salma namun selalu Salma tolak. Salma tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun, karena hatinya masih sangat sakit mengingat bahwa dirinya di tinggalkan begitu saja oleh Rony. Padahal laki-laki itu sudah berjanji akan menikahi nya setelah pulang dari London.Namun hingga lima tahun berlalu, Rony tak pernah ada kabar. Rony juga menghilang bak di telan bumi. Deril pun ikut menghilang dari kehidupan Salma, membuatnya semakin yakin jika Rony memang sudah meninggalkan dirinya. Atau bahkan mungkin Rony sudah menikah dengan gadis lain yang ia temui di London. Semua pikiran buruk itu selalu terlintas di pikiran Salma hingga dia mungkin sekarang membenci laki-laki itu.Hari demi hari berganti, Salma yang sudah pasrah dengan kehidupan nya yang sudah hancur. Akhirnya menerima perjodohan dari orang tuanya. Salma bahkan sudah tak mengharapkan apapun dari laki-laki yang sudah menidurinya berkali-kali dulu.Hari ini hari yang tak pernah Salma sangka sebelum nya, hari dimana seharusnya dia bisa berbahagia dengan lelaki yang paling ia cintai. Nyatanya harapannya kandas, ia harus menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya.Air mata Salma seketika luruh kala mendengar kata SAH di ucapkan dengan lantang. Salma yang berada di kamar pun sudah menangis ketika menyadari kini dirinya sudah menjadi istri dari laki-laki yang tak pernah ia temui sekali pun.Salma memang tak pernah mau menemui calon suaminya. Salma sudah sangat pasrah dengan jalan hidupnya, kemana takdir akan membawa kehidupan nya. Salma hanya bisa berserah karena memang Salma sudah tak memiliki semangat untuk melanjutkan hidup tanpa Rony di sampingnya.Lo jahat Ron, sumpah Lo jahat. Lo buang gue gitu aja setelah semua nya gue beri buat lo . Sekarang gue udah jadi istri orang yang bahkan gue gatau dia siapa Ron *batin SalmaSalma menghapus air matanya kala mendengar suara Mama nya masuk ke dalam kamar. Salma di gandeng keluar kamar untuk menemui suaminya di meja akadSalma jalan menunduk menyembunyikan wajahnya, Salma enggan melihat semua tamu undangan bahkan melihat acara pernikahan ini. Hingga sampai di tempat duduk, Salma masih saja menunduk. Ia belum siap melihat pria yang kini sudah SAH menjadi suaminya. Hingga suara yang sangat ia rindukan membuat Salma mendongak pada laki-laki di depannya"Jangan nunduk dong sayang, kamu gak seneng ya nikah sama aku?" Ucap RonySalma dibuat terkejut kala melihat Rony yang kini berada di sebelahnya. Rony yang ternyata sudah sah menjadi suami nya dan mengucapkan akad dengan lantang di depan orang tuanya."Ron?" Ucap Salma tak percaya"Hay istri, makin cantik aja sih" Goda Rony"Lo jahat Ron, sumpah!" Ucap Salma yang sudah meneteskan air matanyaRony menghapus air mata Salma dengan jarinya"Sama suami gabole manggil Lo gue sayang. Harus sopan, manggilnya aku kamu""Jangan nangis ya, nanti aku jelasin semuanya. Sekarang harus senyum, malu sama tamu undangan. Oke" Ucap Rony***Kini Salma dan Rony sudah berada di dalam kamar Salma. Setelah seharian melaksanakan pesta pernikahan mereka, akhirnya mereka berdua bisa rebahan di ranjang mereka"Cepet jelasin!" Ucap Salma"Gamau malam pertama dulu nih? Emang ga kangen sama adik aku? Hmm" Goda Rony sembari memainkan alisnya"Apaan sih Ron! Cepet jelasinnnnn" Tegas Salma"Hahaha iya iya, galak banget sih istri aku ini""Sebelumnya aku minta maaf banget ya kalo aku sempet hilang kabar selama empat tahun ini. Maaf kalo kesannya aku ninggalin kamu, tapi ini semua demi berlangsung nya acara hari ini sayang" Ucap Rony"Maksudnya?" Tanya Salma"Hmm jadi setahun setelah aku kerja di London, aku di percaya jadi sekertaris pribadi CEO disana sayang. Gaji ku naik drastis dan semua keperluan ku di fasilitasi perusahaan""Hari itu, aku nemenin bos aku meeting sama perusahaan asal Indo dan aku gatau kalo ternyata itu perusahaan papa kamu. Papa kamu kaget saat tau aku jadi sekpri Tuan Mark yang ternyata kolega bisnis papa kamu""Tuan Mark bangga-bangga kan aku di depan Papa kamu sayang. Katanya dia suka sama kinerja ku lah. Nah, karena Tuan Mark tau aku asal Indonesia, dia lah yang mengutus aku untuk mengambil projects kerja sama dengan perusahaan Papa sayang""Selama di London, Papa selalu meeting sama aku saat Tuan Mark sibuk. Kita jadi lumayan dekat, bahkan Papa kamu meminta maaf karena dulu sempat merendahkan aku sayang. Papa juga cerita, kamu gak pernah mau di jodohkan sama Papa karena kamu cuma mau sama aku""Papa juga tau kalo aku masih sangat cinta sama kamu. Papa beneran ngira kalo kita putus waktu itu sayang. Akhirnya aku jujur dan aku minta maaf kalo selama ini kita gak pernah putus bahkan sampai hari itu saat aku jujur sama Papa""Papa sempet kecewa karena ngerasa di bohongin kita. Tapi aku jelasin kalo itu bukan salah kamu, itu salah aku. Aku pun minta maaf sama beliau dan berusaha minta restu sama Papa""Akhirnya Papa mau restuin kita dengan syarat aku harus putusin hubungan komunikasi aku sama kamu. Papa berharap kalo aku jauhin kamu, kamu bisa jadi lebih fokus sama hidup kamu fokus menata kehidupan kamu. Karena Papa bilang setahun setelah aku pergi, kamu kerjanya cuma main-main sama temen-temen kamu. Kamu jarang pulang ke rumah, Kamu bantah Papa Mama, kamu gamau di atur dan kamu sibuk main hp terus. Kamu lakuin itu semua karena kamu merasa kepergian aku karena Papa yang gak restuin hubungan kita. Iya kan?" Tanya RonySalma hanya menganggukkan kepalanya sembari menyesal mengingat perbuatan nya dulu"Kenapa sayang? Kan semuanya bukan salah Papa tapi emang kemauan aku yang pengen buktiin kalo aku layak buat kamu. Bukan karena Papa sayang" Ucap Rony"Maaf, dulu pikiranku belum dewasa dan aku pikir itu semua gara-gara Papa gak restuin kita dan buat kamu pergi dari aku" Balas Salma"Udah gapapa, mungkin kamu waktu itu masih kalut atas keputusan aku yang harus pergi ninggalin kamu ke luar negeri. Akhirnya bikin kamu berubah dan lakuin hal itu ke Papa Mama" Ucap Rony"Iya maaf ya, aku emang childish banget waktu itu" Balas Salma"Udah gapapa, aku lanjutin ceritaku ya sayang" Ucap Rony sembari mengusap pipi Salma"Iya" Balas Salma"Setelah aku mutusin untuk blokir semua akun kamu dan mutusin komunikasi kita. Papa selalu ngabarin tentang kamu ke aku. Papa bilang rencana kita berhasil, kamu mulai mau usaha buka cafe, kamu sibuk sama kerjaan kamu dan kamu jadi lebih tertata hidupnya. Walaupun kata Papa kamu berubah jadi dingin, jarang ngomong dan suka ngurung diri di kamar. Sebenernya aku gak tega pas papa cerita itu sama aku, aku tau kamu lakuin itu pasti sengaja karena mau lupain aku kan. Aku takut, sumpah aku takut kalo kamu sampe berhasil lupain aku yang""Aku gamau, tapi aku juga gabisa apa-apa. Semua aku lakuin juga demi dapet restu papa. Empat tahun tanpa komunikasi sama kamu tuh rasanya berat banget, aku kangen banget sama kamu yang. Aku cuma bisa minta Papa buat video in kamu sembunyi-sembunyi agar kangen aku terobati""Aku juga minta bantuan Deril untuk selalu kirim bunga mawar ke cafe kamu. Bunga yang aku harap bisa selalu ngingetin aku ke kamu. Karena jujur aku takut kamu beneran lupa sama aku yang" Ucap Rony"Jadi? Selama ini yang kirim bunga mawar dan bikin aku sudah untuk move on dari kamu itu Deril? Dan di suruh kamu?" Tanya Salma"Iya, dan itu emang tujuan aku. Aku tau kamu udah di tahap bosen ngarepin aku dan kamu pasti mikir kalo aku udah ninggalin kamu kan. Kamu pasti mikir kalo kamu harus move on dan lupain aku. Aku gamau itu terjadi, aku disana berjuang buat dapetin restu Papa. Eh disini kamu mau lupain aku gitu aja, ya aku gamau lah sayang. Gimana caranya aku akan selalu buat kamu inget tentang aku, ya salah satu caranya ngirim bunga mawar itu setiap hari" Balas Rony"Jahat banget sih, narik ulur hati orang seenaknya" Sindir Salma"Maaf ya sayang, itu semua aku lakuin demi hubungan kita. Demi kita bisa begini, ada di hubungan yang Sah secara agama dan negara""Sebenernya di tahun keempat, Papa udah bolehin aku komunikasi sama kamu. Papa juga udah kasih restu sama kita, bahkan Papa meminta aku untuk resign dari perusahaan tuan Mark dan meneruskan perusahaan papa karena kamu gamau ngurusin perusahaan Papa. Papa bilang udah capek kerja, Papa pengen pensiun tapi Papa bingung gak ada yang mau lanjutin perusahaan Papa""Ratusan karyawan bergantung sama Papa, Papa gabisa ninggalin perusahaan nya gitu aja tanpa tau siapa yang akan nerusin itu nanti. Sampe akhirnya Papa maksa aku untuk segera nikahin kamu dan nerusin perusahaan Papa. Papa bilang, Papa mau pulang ke Surabaya sama Mama. Mau hidup berdua disana tanpa pusing ngurusin kerjaan lagi""Akhirnya aku setuju, setahun yang lalu aku pulang ke Indonesia. Aku bantu ngurusin perusahaan Papa. Aku juga ngurusin semua acara pernikahan kita diam-diam di bantu Mama dan Papa. Dari berkas-berkas KUA, hotel, catering, dan lain-lain itu aku urus semua dari lama""Aku juga bilang sama Mama Papa untuk rahasiakan ini semua dari kamu. Niatnya aku mau kasih surprise sama kamu saat makan malam pas Papa bilang kamu harus ketemu calon suami kamu. Tapi kamu malah gak Dateng. Aku tau, kamu pasti berat dan ngiranya orang lain yang nikahin kamu kan. Gapapa kok, aku mewajari hal itu""Aku juga sering dateng ke cafe kamu diem-diem. Aku seneng banget bisa liat kamu lagi setelah hampir lima tahun pisah. Tapi aku sedih, karena aku liat kamu makin kurus, kamu juga jarang senyum, kamu jadi dingin dan pendiem. Bukan seperti Caca ku dulu, ceria, lucu, berisik" Ucap Rony"Itu juga gara-gara kamu! Aku jadi gak ada semangat buat lanjutin hidup karena mikir kamu udah ninggalin aku!""Aku bahkan udah di tahap pasrah, kemana takdir mau bawa aku. Dan aku mau terima perjodohan ini karena aku udah capek berharap sama kamu Ron" Balas SalmaRony memeluk erat tubuh Salma"Maaf ya sayang, maaf kalo akhirnya harus bikin kamu nunggu selama lima tahun tanpa harapan yang pasti. Tapi sekarang kita udah bahagia kan. Kita udah gak perlu backstreet lagi, kita gaperlu sembuyi sembunyi lagi, gaperlu takut ketahuan orang tua kamu lagi. Kita bahkan bebas mau lakuin apapun sekarang sayang. Kita udah Sah, ini yang aku mau dari dulu sayang. Kita menikah dan punya kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya" Balas Rony"Iya, makasih ya Ron. Makasih karena kamu gapernah ingkar janji. Makasih karena kamu udah nepatin janji kamu kalo kamu akan nikahin aku" Ucap Salma"Pasti dong sayang, kamu itu wanita baik. Wanita paling tulus yang mau mencintai pedagang mie ayam ini, dan rela nunggu selama lima tahun demi kita bisa bersama. Yakali aku ninggalin kamu, rugi dong" Balas Rony terkekeh"Mie ayam tapi kerjanya di luar negeri gaya banget hahaha" Balas Salma"Yoi dong, mie ayam internasional namanya hahahaha""Udah kan, jelas semua nya. Sekarang kita malam pertama yuk yang. Kangen nih sama kamu" Goda Rony"Malam pertama apaan, orang udah tau masing-masing juga bentukannya kek gimana" Balas Salma"Astaghfirullah, istri aku emang mulutnya gak pernah berubah yaa. Asal banget kalo ngomong""Udah ah ayoo, ini Adik aku udah kangen banget sama sarangnya. Lima tahun nih nganggur, gak bisa masuk ke sarangnya""Emang kamu gak kangen sama adik aku? Hmm?" Goda Rony"Kangen, kangen banget" Balas Salma"Hahahaha yaudah yukk, legooo kita bikin anak yang banyak sayanggggg" Ucap Rony terkekehMalam ini pun kembali menjadi malam milik mereka, setelah berjuang demi bisa bersama selama lima tahun. Akhirnya hari ini semuanya di bayar lunas. Kebahagiaan yang sudah lama mereka nantikan akhirnya bisa terwujud hari ini. Sungguh perjuangan cinta yang luar biasa.~END~
My sweet Lecturer
My sweet LecturerHari ini adalah hari paling Sial untuk Salma. Hari ini ia harus menjadi istri dari seseorang yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Salma akan menikah dengan seorang pria yang berusia tiga puluh tahun, sedangkan usia Salma sendiri baru dua puluh empat tahun.Salma terpaksa menerima perjodohan ini karena permintaan Papa nya yang kini bahkan tengah terbaring lemah di brankar rumah sakit. Salma tidak ada pilihan lain, selain menuruti permintaan Papa nya. Salma berharap jika ia bisa menikah dengan pilihannya, Papa nya akan cepat pulih.Hari ini, tepat di samping brankar Papa nya. Salma akan menikah dengan seorang pria matang yang baru ia temui dua kali. Salma hanya pasrah, ia melakukan ini demi papanya."Saya terima nikah dan kawinnya Salma Syaquilla Ahmad binti Zanuar Ahmad dengan maskawin tersebut dibayar tunai" Ucap calon suami Salma"Bagaimana saksi?" Tanya Penghulu"SAH!!!" Ucap para saksiAkhirnya Salma sudah Sah menjadi istri dari seorang pria bernama Zafrony Aditya Bagaskara. Pria yang baru ia temui dua kali, karena permintaan ayahnya. Dan di dua pertemuan itu pun Salma bisa menilai jika laki-laki itu sebenarnya baik, namun hanya irit bicara dan kaku.Salma juga sudah mengetahui alasan Rony menerima perjodohan itu. Lelaki itu mengatakan bahwa ia mau menerima perjodohan itu karena hatinya merasa yakin setelah melakukan sholat istikharah. Sebelumnya bahkan dia menolak saat di jodohkan, namun setelah berkali-kali meminta petunjuk pada Allah. Ternyata hati nya semakin mantap untuk menerima perjodohan itu.Sebab itu lah salah satu hal yang membuat Salma, bisa menilai laki-laki itu baik dan agama nya kuat. Namun tetap saja, menurut Salma laki-laki itu sangat membosankan. Bagaimana bisa dia menghabiskan waktu dengan pria yang irit bicara seperti Rony, sedangkan dirinya termasuk perempuan yang friendly dan suka sekali bercerita hal random.Setelah Akad selesai, Salma di arahkan untuk mencium tangan Rony sedangkan Rony mendoakan ubun-ubun istrinya dan di akhiri dengan mencium kening Salma.Tak terasa air matanya mengalir deras, dia bingung bagaimana dia bisa mengatakan hal ini pada kekasihnya nanti.Salma memang memiliki kekasih bernama Lian, namun hubungannya tak di restui karena perbedaan keyakinan yang dianut Lian. Mereka sudah berpacaran sejak awal masuk ke kampus, hingga kini mereka semester empat.Walaupun sudah sering kali papa nya menyuruh Salma putus, namun ia tetap berat memutuskan lelaki itu karena Salma sangat mencintai Lian."Terimakasih sayang, sudah mau menuruti permintaan terakhir Papa. Kamu bahagia ya nak, jangan pernah coba untuk mengakhiri hubungan pernikahan ini. Papa akan selalu mendoakanmu""Untuk Rony, Papa titipkan putri kecil papa sama kamu ya nak. Jaga dia, bimbing dia dan kasihi dia. Jangan pernah bentak atau bermain tangan dengan dia, karena Papa sama sekali tidak pernah melakukan itu padanya. Jika kamu memilih menyerah pada hubungan ini, kembalikan dia pada mama nya dengan baik-baik ya nak. Papa takut jika umur Papa tidak akan lama lagi" Ucap Papa Salma"Pa! Jangan bilang gitu hiks hiks. Caca kan udah turutin kemauan Papa, jadi Papa harus sembuh Pa hiks hiks" Balas SalmaPapa Salma hanya tersenyum, tak lama setelah itu Papa Salma dinyatakan meninggal dunia.***"Mas baju nya udah aku siapin di ranjang ya, aku turun dulu mau bantuin Mama" Teriak Salma dari luar kamar mandi"Iya, terima kasih ca" Balas RonySudah hampir dua bulan, Papa Salma pergi meninggalkan mereka. Salma meminta Rony untuk ikut tinggal bersama Mama nya, karena mengingat Mama nya sekarang sendirian tanpa Papa.Selama dua bulan juga Salma sudah mulai beradaptasi menjadi istri dari Rony. Dia melakukan semua kewajiban nya sebagai seorang istri, kecuali memberikan Hak pada Rony. Salma sudah beberapa kali mengatakan bahwa dia tidak ingin di sentuh oleh Rony dan Rony memahami itu.Salma juga masih menjalin kasih dengan Lian, dia masih belum rela jika harus memutuskan hubungannya begitu saja dengan Lian demi pernikahan terpaksa itu.Walaupun sudah dua bulan menikah, Salma tak pernah mengetahui apa pekerjaan suaminya. Salma selalu mengira mungkin saja suaminya ini adalah karyawan kantoran biasa karena penampilannya yang rapi bak seorang karyawan kantoran."Gilaaa gue udah telat!! Bangkeee emang. Kelamaan berendam ini mah" Ujar Salma dan langsung berlari menuju kelasnyaSaat Salma membuka pintu, semua pandangan mata yang berada di dalam kelas tertuju padanya. Tak terkecuali, pria yang tengah mengajar di kelasnya dan mampu membuat Jantung Salma berhenti berdetak."Ini sudah jam berapa? Kenapa kamu telat?" Tanya Dosen"Mm ma - af mas eh pak. Tadi saya bangun kesiangan" Ucap Salma sembari menunduk"Duduk! Tapi nanti saya akan kasih kamu hukuman karena telat pada matkul saya! Selesai jam kuliah, saya tunggu kamu diruangan saya!" Tegas Dosen"Bbb baik pak" Balas Salma gugupBajingan, ternyata dia dosen gue. Arghhh sempit banget dunia *batin SalmaSelesai kelas, Salma bergegas menuju ruangan dosen yang hendak menghukum nya. Dia juga berniat untuk meminta maaf padanya.Tok tok tok"Masuk" Ucap seseorang dari dalamSalma pun masuk ke dalam ruangan dosen baru nya itu dengan perasaan tak karuan."Duduk, ngapain berdiri di situ" Ucap dosen dinginSetelah Salma duduk di sofa, ternyata dosen nya juga menyusul untuk duduk di sebelahnya."Pak, maaf tadi saya telat. Saya kelamaan berendam di bathtub sampe lupa sama waktu. Maaf ya pak" Ujar Salma"Ini udah di luar jam kuliah Ca, jangan panggil Pak" Balas RonyDosen baru yang di maksud Salma adalah Rony, suami nya sendiri."Kenapa mas gak bilang kalo mas sebenernya dosen?" Tanya Salma"Memangnya kamu pernah tanya sama saya? Gak kan?" Ucap Rony"Ya seenggaknya kasih tau kek, kalo hari ini mulai ngajar gantiin Pak Heru yang udah pensiun. Jangan tiba-tiba nongol terus ngajar di kelas. Kan jadinya kaget" Balas Salma"Oh, jadi selama jam nya Pak Heru kemarin-kemarin kamu juga sering telat Ca?" Tanya Rony dingin"Eh gak gitu mas, duh tau deh bodo amat""Cepetan, saya mau di hukum apa ini?" Tanya Salma"Kamu ada kelas lagi gak?" Tanya Rony"Gak ada" Balas Salma"Yaudah, nih kamu bantuin saya ngerapihin berkas dari Pak Heru. Ini penting buat pedoman saya ngajar disini, jadi jangan sampe ada yang keselip atau hilang" Tegas Rony"Banyak banget Masssss" Rengek Salma"Ya kalo dikit, enak di kamu nanti. Malah kebiasaan telat di jam kuliah yang lain""Kamu juga masih mending ya, cuma saya suruh ngerapihin berkas. Kalo dosen lain mungkin udah main ke nilai kamu" Ancam Rony"Ck, iya iya bawel" Umpat Salma"Yaudah, saya ngajar dulu. Setelah saya balik ngajar semua berkas juga sudah rapi. Ngerti ca?" Tanya Rony dingin"Eh bentar pak, saya cuma mau minta tolong sama kamu mas. Kalo di kampus tolong jangan panggil saya Ca, jangan nyebarin juga kalo kita udah nikah ya" Mohon Salma"Kenapa?" Tanya RonyRony sebenarnya sudah tau, Jika Salma memiliki kekasih di kampusnya bernama Lian. Rony juga sudah menyelidiki semuanya tentang Lian termasuk alasan mereka tak di restui karena apa."Ck, ya masa kamu gak malu nanti dapet omongan. Seorang dosen menikahi mahasiswa nya sendiri" Ucap Salma"Ngapain malu, kan itu hal baik yang gak perlu untuk di tutup tutupi" Balas Rony"Ahhh Masssss, pleaseee jangan sampe ada yang tau ya kalo kamu suami ku yayayaya" Mohon SalmaGemes banget, gini ya rasanya nikah sama bocil. Tiap hari bikin gemes doang kerjaan nya *batin Rony"Ya" Balas Rony dingin dan langsung meninggalkan Salma***Salma dan Nabila baru saja keluar dari kelasnya. Mereka pun berniat mencari makan di kantin saat merasa cacing cacing di perutnya sudah berdemo."Ca? Lian bukan sih?" Tanya Nabila"Eh iyaa, yuk samperin" Ajak SalmaHanya tinggal beberapa langkah saja, Salma menghampiri Lian. Namun langkahnya terhenti kala seorang wanita lebih dulu duduk di samping Lian sembari merangkul mesra sang pacar."Lama banget yang? Pesen apa sih?" Tanya Lian"Pesen batagor sayang, antri banget. Cape tau berdiri di sana" Balas Flora manja"Aduh, kasiannya cantikku. Yaudah sabar ya, duduk aja disini. Nanti kalo mau apa-apa lagi biar aku yang mesenin ya sayang" Ucap LianDegPercakapan mereka berdua cukup membuat Salma menegang. Dia tak menyangka bahwa Lian tega mengkhianati dirinya."Lian" Ucap Salma lirihLian menoleh pada Salma, seketika dia panik dan sedikit kebingungan"Eh Sal" Balas Lian kikuk"Selamat ya, semoga hubungannya langgeng" Ucap Salma"Sorry Sal, gue nyerah. Gue gamau terus maksain hubungan kita""Oh iya Kenalin, dia Flora pacar gue. Dia seiman sama gue dan gue udah niat serius sama dia Sal" Ucap Lian"Gapapa santai aja. Semoga hubungan kalian lancar-lancar ya. Gue permisi" Pamit Salma"Bangsat! Cowok brengsek! Sok ganteng padahal muka lu kek pantat wajan ngerti gak! Gue doain putus lu berdua anjing" Bentak Nabila lalu meninggalkan Lian dan FloraSedangkan Salma sudah lari lebih dulu dari Nabila, ia mencoba menahan air matanya hingga ada seseorang yang menariknya masuk ke dalam ruangan."Mas Rony?""Kamu kenapa jalan sambil nangis? Hmm" Tanya Rony lembutBukannya menjawab, Salma justru memeluk suaminya dengan erat dan menangis pada dada bidang Rony."Hiks hiks hiks, mas maafin aku. Maafin aku kalo selama ini aku khianatin mas. Selama kita menikah, aku gak pernah mutusin pacar ku mas. Aku cinta sama dia, dan aku gabisa kalo harus mutusin dia""Aku tau aku salah, gak seharusnya aku giniin kamu. Walaupun pernikahan kita terpaksa, seharusnya aku bisa tetap menghargai kamu sebagai suami ku dan menjaga Marwah ku sebagai istri kamu hiks hiks tapi aku bodoh, aku justru berusaha mempertahankan hubungan ku dengan laki-laki lain yang dia sendiri udah gak menginginkan aku mas hiks hiks""Lian jahat, Lian khianatin aku mas. Dia selingkuh sama wanita lain hiks hiks. Mungkin ini karma buat aku karena selama ini aku mempermainkan pernikahan ini mas hiks hiks" Ucap Salma panjang lebar"Sstt sstt udah ya, jangan kenceng-kenceng nangisnya. Nanti dikira saya apa-apain kamu lagi""Ini bukan karma Ca, ini namanya Tuhan sayang sama kamu. Tuhan tunjukkin bahwa laki-laki itu memang bukan jodoh kamu. Jangan pernah suudzon sama takdir Allah Ca, karena sesungguhnya apapun yang terjadi sama kita itu udah jadi kehendak Allah""Udah ya, jangan nangis" Ucap Rony***Semenjak kejadian dua Minggu lalu, kini hubungan Salma dan Rony semakin dekat. Bahkan tak jarang, Salma kini mau untuk berangkat bersama ke kampus dengan Rony."Ciyee yang udah mau bareng sama paksu, romantis banget" Ledek Nabila"Heh! Jangan berisik. Ntar banyak yang tau gimana Nabilaaaaa" Omel Salma"Lagian kenapa sih? Malu banget lu ngakuin Pak Zaf jadi suami lu. Padahal dia tuh paket lengkap tau Ca. Udah ganteng, pinter, kaya, sholatnya beuh gapernah ketinggalan. Apalagi bacaan sholatnya Masyaallah banget tau Ca""Elu udah di kasih Ahli Surga kek Pak Zaf malah milihnya Ahli neraka macem Lian. Sadar!! Yuk bisa yuk, move on yuk" Ucap Nabila"Kurang ajar lu! Ya gak segampang itu juga move on. Semua butuh waktu oon""Lagian lu tau banget keknya sama suami gue? Naksir lu sama dia?" Tanya Salma"Mangkanya, kalo sholat itu jangan di tunda-tunda. Jadi gak pernah jamaah kan lu di masjid fakultas""Padahal suami lu tuh selalu jadi imam tau di masjid fakultas. Banyak yang ngefans sama laki lu bego! Ati-ati aja lu ketikung sama dosen-dosen muda yang lain atau bahkan cewek cewek kampus yang lebih alim dari lu. Yang tiap hari jadi jamaah nya laki lu pas sholat, gak kek bini nya. Sholat kalo inget doang" Sindir Nabila"Astaghfirullah, bacod an lu Nab. Gue sholat lima waktu gak pernah bolong anjirr. Tapi ya emang seringnya di akhir waktu aja sih hehe" Balas Salma"Suami nya ngumpulin pahala, bini nya nyumbang dosa Mulu sama suaminya. Kasian banget si Pak Zaf" Sindir Nabila"Bangkee, udah jangan banyak bacod lu. Ayo masuk kelas" Balas Salma***"Massss capek ihh. Hobi banget si kamu nyuruh-nyuruh aku ngoreksi tugas begini! Capek tau" Omel Salma"Bantuin suami sendiri gak ikhlas banget" Sindir Rony"Ya kamu gak ngotak sih! Ini mah bukan bantuin tapi aku yang ngerjain semuanya! Mana banyak banget lagi" Omel Salma"Yaudah yaudah, minta tolong bawa sini biar aku yang lanjutin" Ucap RonySalma yang awalnya duduk di sofa ruangan Rony akhirnya berdiri dan menghampiri Rony yang sedang duduk di kursi kerjanya."Nih tugas tugas menyebalkan""Awss" Rengek Salma"Kenapa?" Tanya Rony"Meja kamu berapa lama sih gak di bersihin. Berdebu banget! Mata ku kelilipan ini perih. Ck" Balas Salma"Eh jangan di kucek mata nya nanti makin perih, sini sini biar aku tiupin aja ya" Ujar Rony lembutRony berdiri dari kursi kerjanya lalu berdiri tepat di hadapan Salma. Rony pun mulai meniup mata Salma dengan lembut."Gimana masih perih?" Tanya Rony sembari mengelus lembut pipi Salma"Udah mendingan kok mas, makasih ya" Balas SalmaRony hanya membalas dengan senyuman. Dengan jarak yang sangat dekat, tatapan Rony berhasil mengunci pandangan Salma. Mereka berdua saling menatap cukup lama hingga Rony semakin mengikis jarak diantar keduanya.Salma refleks menutup mata saat merasakan bibir Rony sudah menempel pada bibirnya. Rasanya jantung Salma ingin meledak saat ini juga.Rony mulai melumat perlahan bibir Salma, menikmati ciuman pertama mereka setelah hampir tiga bulan menikah. Bibir Salma terasa sangat manis bagi Rony, rasanya Rony ingin mengeksplor bibir Salma lebih dalam.Salma yang tak kunjung membuka mulutnya, membuat Rony akhirnya menggigit bibir bawah Salma. Dan ketika Salma membuka bibirnya, Rony tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Lidahnya langsung masuk dan mengeksplor mulut Salma. Mengabsen satu persatu gigi Salma.Hingga tak sabar, Rony perlahan kembali duduk di kursi kerjanya dan menarik Salma untuk duduk di pangkuannya. Perlahan Salma juga mulai membalas lumatan suaminya. Tangannya pun sudah bertengger pada leher Rony.Merasa ciumannya kini mendapatkan balasan, Rony tersenyum tipis. Tangannya yang semula berada di pinggang Salma pun perlahan naik menyentuh buah dada Salma. Dengan perlahan ia remas payudara istrinya."Eughh" Lenguh Salma ketika merasa kan remasan pada payudara nyaCiuman Rony semakin tak terkontrol setelah mendengar lenguhan Salma yang terdengar sangat seksi di telinga nya. Dengan lincah tangannya membuka kancing kemeja Salma. Hingga menyisahkan bra yang terpampang di depannya.Rony semakin bergairah, ciumannya juga semakin kasar. Sedangkan Salma hanya menikmati sentuhan dari Rony. Dia bahkan tak sadar jika Rony sudah membuka semua kancing kemeja nya.Bagian bawah Rony sudah semakin sesak, rasanya ingin sekali di keluarkan dari dalam celana nya.Rony melepas tautan bibirnya lalu mengangkat Salma dan mendudukan di meja kerjanya. Salma yang masih terengah-engah karena ciuman panas mereka akhirnya sadar jika kemaja nya sudah terbuka dan bra sudah terlihat jelas di mata Rony.Dengan segera Salma mencoba mengancingkan kembali kemejanya. Namun Rony dengan cepat menahannya"Jangan, tolong jangan di tutup lagi Ca. Aku mau lihat hak ku boleh?" Mohon Rony"Mas ini masih di kampus, jangan sekarang" Balas SalmaRony berjalan meninggalkan Salma lalu mengunci pintu ruangannya."Udah aku kunci pintu nya. Boleh aku lihat?" Tanya Rony lembut"Mas?""Boleh ya Ca, aku buka?" Tanya Rony lembutAkhirnya Salma hanya menganggukkan kepalanya.Perlahan Rony membuka hijab yang Salma kenakan. Dan Rony terperangah melihat rambut Salma yang nampak indah."Kamu cantik Ca" Puji RonyPipi Salma sudah memerah akibat ulah Rony. Ia bahkan hanya bisa menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajah merahnya."Jangan nunduk, nanti aku gabisa lihat kecantikan kamu" Ucap RonyRony mengangkat dagu Salma dan kembali mencium bibir Salma. Perlahan tangannya malah melepaskan kemeja Salma dan membuangnya secara sembarangan. Tangan Rony mengusap lembut punggung mulus Salma lalu beralih mencari kaitan bra istrinya.Posisi Salma yang duduk di meja kerjanya dan Rony yang berdiri di tengah-tengah kedua kaki Salma membuat posisi Rony semakin mudah untuk mencumbui Salma. Setelah kaitan bra nya terbuka, Rony pun membuang asal bra milik Salma.Kini Rony bisa merasakan buah dada Salma tanpa penghalang apapun. Ciuman Rony perlahan berpindah pada leher Salma, dengan tangan yang sudah meremas dan memainkan nipple Salma."Eughhh mass Rony" Desah Salma"Sutss desahnya jangan keras-keras ya Ca" Pinta Rony lembutRony pun melanjutkan aksinya, ciumannya semakin turun hingga sampai lah di depan payudara Salma. Rony langsung melahap habis dua gundukan Salma dengan rakus. Memainkan lidahnya pada nipple pink yang sudah tegak berdiri. Rasanya Rony ingin sekali menghabiskan waktunya hanya untuk memakan dua benda kenyal yang kini menjadi miliknya itu. Rony sangat gemas dengan milik Salma, menurut Rony sangat pas dan besar untuknya."Ashhh masshh" Desah SalmaSalma merasa geli dengan apa yang tengah Rony lakukan sekarang padanya. Namun ia juga tak menyangkal bahwa ia merasakan kenikmatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.Puas dengan meremas dan memainkan payudara Salma, tangan Rony perlahan mulai turun menuju milik Salma. Namun belum sempat menyentuh milik Salma. Alarm ponselnya berbunyi."Arghh apasih ganggu banget" Teriak Rony"Jangan teriak, aku kaget" Ucap Salma"Maaf, maaf. Aku kesel aja Ca, kita lagi enak enak gini malah di ganggu" Balas Rony frontal"Ck, frontal banget ngomong nya" Omel Salma"Kan emang enak, emang kamu gak ngerasain enak barusan? Orang sampe desah gitu?" Goda Rony"Berisik! Udah di liat dulu itu ponselnya" Balas Salma hendak turun dari meja Rony"Eh kamu mau kemana?" Tahan Rony"Mau pake baju lah, dingin tau" Balas Salma"Jangan dulu, kita belum selesai" Balas Rony"Yaudah cepetan, liat ponsel kamu terus selesaiin" Balas SalmaSetelah melihat ponsel nya ternyata itu alarm yang tertera bahwa sekarang adalah waktu untuk mengajar pada kelas Salma.Rony melihat Salma dengan tatapan yang sulit di artikan."Kenapa?" Tanya Salma"Harus ngajar" Balas Rony lesuh"Yaudah ngajar sana" Balas Salma"Masih mau lanjut loh ca, punya aku udah keras banget ini di bawah" Ucap RonyRefleks Salma menatap milik Rony yang memang tercetak sangat besar pada celananya"Ihh apasih, yaudah beresin aja dulu ke kamar mandi baru ngajar" Balas Salma"Ck, yaudah lah. Sana pake baju, buruan ke kelas. Aku mau beresin ini dulu di kamar mandi baru nyusul kamu ke kelas" Ucap Rony kesal"Lah ngapain nyusulin aku? Ngajar aja sana" Balas SalmaRony refleks menoyor Salma pelan"Ya saya mau ngajar di kelas anda Syaquilla""Kamu lupa ya kalo sekarang jam ku ngajar di kelas kamu?" Tanya Rony"Hehe iya lupa, padahal udah kepikiran buat pulang bentar lagi" Balas Salma"Pulang Mulu pikirannya, belajar yang rajin biar bisa banggain Alm. Papa, Mama, sama aku nanti" Ucap Rony"Ya aku capek! Kamu tiba-tiba nyerang aku gini! Aku mau lanjut tidur di rumah" Balas Salma kesal"Yaudah sih maaf, namanya juga sama istri sendiri. Bawaannya pengen deket-deket terus""Kalo emang capek, gapapa istirahat aja disini. Biar aku ijinin gak ikut kelas aku sekarang, tidur aja di ruangan aku" Balas Rony"Gamau, aku kelas aja deh. Nanti yang ada Nabila pasti ngira mentang-mentang kamu suami aku, aku bisa seenaknya ijin""Ambilin baju sama bra aku, kamu yang buang-buang sembarangan" Pinta Salma"Aku ini dosen kamu loh, suami kamu juga. Sopan kamu nyuruh-nyuruh gitu?" Ucap Rony"Yaudah gajadi" Balas Salma kesalSalma memunguti Pakaian dan bra nya di bawah lalu ia pakai kembali. Rony yang sadar Salma kesal pun langsung memeluk Salma dari belakang."Maaf ya, jangan ngambek. Tadi aku cuma mau kamu yang sopan kalo minta tolong. Bukan kaya tadi caranya Ca, kan bisa ngomong yang lebih lembut dan ucapin kata tolong. Bukan nyuruh-nyuruh gitu CaGak sopan namanya" Ucap Rony lembutSalma menghela nafas, apa yang diucapkan suaminya ini benar juga. Dia yang salah, bukan Rony"Iya, maaf ya. Tadi aku gak sopan sama kamu. Udah lepas dulu pelukannya, kamu cepetan ke kamar mandi. Aku mau balik ke kelas duluan" Balas Salma"Yaudah, rapihin hijabnya itu jangan sampe keliatan lehernya. Banyak bekas aku soalnya" Goda Rony"Ck! Bawel" Balas Salma***"Dari mana aja lu? Habis enak-enak lu ya sama suami lu?" Tanya Nabila ketika Salma baru tiba di kelas"Apaan sih lu, sok tau banget" Balas Salma"Bukan sok tau, tapi gue emang tau anjirr. Tadi gue di suruh anak-anak nyusulin Pak Zaf ke ruangannya. Eh pas nyampe depan pintu, gue denger suara lu lagi desah anjir. Untung gue yang denger bukan anak-anak""Diapain lu sama Pak Zaf? Kalo lagi pengen tuh di rumah aja kali, jangan di kampus. Udah tau di kampus, tapi desahan lu kemana-mana anjir. Di tahan kek, atau di pelanin" Omel Nabila"Anjirr lu denger?" Tanya Salma shock"Iya gue denger dan lu selamat karena cuma gue yang denger! Lain kali pelanin desahan lu babi" Omel Nabila"Ck iya iya, sama suami ini. Di grebek juga gue bisa tunjukkin buku nikah gue sama Mas Rony" Balas Salma"Ciyee udah diakuin suami nih, mana ada panggilan special lagi. Mas Rony. Aww hahahaha" Ledek Nabila***"Kamu kenapa sih? Cemberut terus perasaan dari tadi" Tanya Rony"Gapapa" Balas Salma"Yaudah, aku gamau jalanin mobilnya kalo kamu gamau ngomong. Kenapa kok bete" Balas Rony"Oke aku pulang naik ojek""Ishh mas! Buka gak pintunya!" Omel Salma"Gamau, berangkat sama aku pulang ya sama aku" Balas Rony"Yaudah ayo pulang!" Ajak Salma"Ngomong dulu, kamu kenapa!" Ucap Rony"Aku kesel mas! Nabila tadi ngeledekin aku terus!" Balas Salma"Ngledekin gimana emangnya?" Tanya Rony lembut"Ternyata dia tadi mau manggil kamu ke ruangan kamu, pas nyampe pintu dia denger suara aku akhirnya dia mutusin balik ke kelas dan nyampe kelas dia ngecengin aku Mulu. Aku malu plus kesel sama dia. Sama kamu juga terutama!" Omel Salma"Kok aku?" Tanya Rony"Ya yang ngajakin aku aneh-aneh di ruangan kamu tadi siapa? Kalo bukan kamu!" Omel SalmaRony tersenyum mendengar ucapan Salma, ia jadi kembali teringat kejadian di ruangannya tadi. Rony sangat senang, karena kejadian tadi membuat Rony tau bahwa Salma sudah mulai menerima nya dan sudah mengizinkan dirinya untuk menyentuh Salma."Yaudah maaf ya, gara-gara aku tadi kamu dicengin Nabila. Besok aku tegur deh Nabila nya yaa" Balas Rony lembut"Gausah! Nanti yang ada makin di cengin aku sama dia" Balas Salma"Terus mau nya gimana? Biar gak bete lagi? Hmm? Aku turutin semua mau kamu deh, biar gak bete lagi" Balas Rony"Beneran?" Tanya Salma"Iyaa, beneran. Mau apa hmm?" Tanya Rony lembut"Mau mam ramen, boleh?" Tanya Salma manja"Boleh sayang, yuk ke Mall" Balas Rony"Apaa??? Coba ulang, kamu manggil aku apa" Ucap Salma"Sayang? Emang salah ya manggil istri sendiri sayang?" Tanya Rony"Hmm aneh aja sih" Balas Salma"Dih, salting ya? Hahaha" Goda Rony"Gak ada yaa, udah ayo buru jalan" Ajak Salma"Hahahaha gemes banget istri aku" Balas Rony***Rony menggandeng tangan Salma menuju resto ramen kesukaan Salma. Sembari mereka bercanda tawa, sungguh terlihat pasangan yang sangat serasi."Salma" Panggil seseorangSalma dan Rony refleks menoleh ke sumber suara"Oh Lian, Hay" balas SalmaYa, laki-laki yang menyapa Salma adalah Lian, mantan Salma. Dan kini tengah jalan bersama Flora."Hmm mau kemana?" Tanya Lian sembari melirik ke arah genggaman tangan Salma dan RonySalma yang merasa bahwa Lian melirik ke arah tangannya dan Rony, sengaja ingin menggunakan kesempatan itu untuk membalas Lian."Oh, mau ke tempat ramen sama suami aku""Kenalin Lian, ini Zaf. Suami aku""Sayang, kenalin. Ini Lian temen sekampus" Ucap SalmaSuami? Kapan nikahnya? Dan gue? Cuma di anggep temen? Bangsat *batin Lian"Zaf" Ucap Rony dingin mengenalkan dirinya"Oh iya, Lian. Ini pacar gue Flora" Balas LianRony hanya menganggukkan kepala tanpa menjabat tangan flora yang mengarah padanya.Gila, suami Salma ganteng banget. Berkharismatik lagi. Ck, sialan banget nih si Salma. Selalu dapet yang lebih dari gue *batin Flora"Hay Zaf, gue Flora" Ucap Flora centil"Eh sorry, yang sopan dong sama suami gue. Dia dosen di tempat kita, dosen baru pengganti Pak Heru. Tapi keknya kelas kalian gak di ajar sama suami gue ya? Mangkanya gatau?" Ucap Salma jumawa"Oh, pantesan kek pernah liat. Ternyata pengganti Pak Heru toh" Timpal Lian"Lu gak lagi halu kan Sal? Kapan lu nikah? Perasaan juga baru putus sama Lian. Kok udah nikah aja, apa jangan-jangan lu?" Ucap Flora menggantung sembari melirik perut Salma"Jangan sembarangan bicara tentang istri saya! Untuk pernikahan saya dan Salma sudah lama di laksanakan. Memang acara nya tertutup dan khusus keluarga! Kita juga gak pernah menutupi pernikahan ini, jadi kalo kalian baru tau. Mungkin kalian yang memang gak update!" Ucap Rony tegas"Mangkanya punya mulut jangan asal bacod! Sembarangan nuduh orang!" Timpal Salma"Wait! Udah lama? Berarti sebelum kita putus?" Tanya Lian"Iya, kenapa?" Tanya Salma"Kamu selingkuhin aku? Dan nikah sama orang lain?" Tanya Lian"Hahaha iya, gimana? Satu sama kan? Lu nyelingkuhin gue sama nih cewe gatel, gue juga sama bahkan gue udah nemuin jodoh gue yang jauh lebih baik dari lu Li. So , gak ada yang di rugiin kan disini? Kita permisi ya, bye " Balas Salma dan melenggang pergi meninggalkan Lian dan Flora"Arrghhh anjing!! Selama ini gue di selingkuhin sama Salma! Bangsat" Umpat Lian"Kenapa harus marah? Bukannya kamu juga ngelakuin hal yang sama, sama aku kan" Ucap Flora"Ck! Diem, aku gamau minta pendapat kamu! Ngerti!" Bentak LianSetelah sampai di resto ramen dan memesan ramen favoritnya. Salma tak henti-hentinya tersenyum."Kenapa sih senyum-senyum terus?" Tanya Rony"Ya seneng lah mas, akhirnya mam ramen lagi setelah hampir sebulan gak mam rameeennnn" Ucap Salma manja"Hahaha lucu amat sih, perkara mam ramen doang seneng""Kirain seneng karena ketemu mantan tadi" Sindir Rony"Dih, gak ada ya gitu-gitu""Tapi agak puas sih bisa bales tuh cowok brengsek. Dia kira, dia doang apa yang bisa selingkuh. Aku kan juga bisa, mana langsung nikah lagi sama kamu. Keren kan" Ucap Salma"Berarti dulu aku selingkuhan kamu?" Tanya Rony"Dih, gausah sok pura-pura gatau ya mas. Udah ah gausah dibahas, ngerusak momen aja bahas masa lalu""Penting kan sekarang kita udah coba saling Nerima satu sama lain, masalah Lian mah gausah di pikirin lagi. Aku udah beneran move on kok dari dia. Dan coba buka hati buat dosen ku yang nyebelin itu" Balas Salma"Emang siapa dosennya hmm?" Goda Rony"Ada lah, nyebelin pokoknya. Mesum juga, masa tadi aku di grepe-grepe. Parah banget, mahasiswa nya sendiri di grepe-grepe" Sindir Salma"Hahaha orang yang di grepe-grepe juga kesenengan tuh, malahan menikmati. Hayoo" goda Rony"Ishhh aku juga gatau, kenapa badan aku malah gak bisa berontak ya. Harusnya kan tadi aku tampar tuh dosen, udah berbuat tak senonoh" Balas Salma"Hahahaha ya gabisa nolak lah, orang badan kamu tau kalo yang grepe-grepe tuh suami kamu sendiri bukan orang lain. Jadinya dia ikhlas mau di pegang-pegang apapun juga. Udah hak suaminya juga tuh, dari ujung rambut sampe ujung kaki kamu" Ucap Rony terkekeh"Iya iya, gausah nyindir gitu deh" Balas Salma"Jadi boleh gak nanti malem aku minta hak aku sebagai suami kamu? Hmm? Sekalian kita lanjutin yang tadi sayang" Goda Rony"Boleh" Balas Salma"Beneran?" Tanya Rony berbinar"Yaudah kalo gamau" Balas Salma"Mau lah, mau mau. Yakali gamau, rugi dong" Balas Rony"Dih, bisa juga ngikutin tren nih om-om hahaha" Ledek Salma***Kini pernikahan Rony dan Salma sudah berjalan sekitar lima bulan, dan selama dua bulan kebelakang hubungan Salma dan Rony semakin banyak kemajuan. Rony juga sudah berhasil menjadikan Salma istri seutuhnya. Rony sangat bahagia, karena ia bisa melakukan pernikahan ini tanpa ada rasa terpaksa lagi pada hati istrinya itu.Berbeda dengan Salma, hampir setiap hari badannya remuk karena ulah Rony. Memang benar kata temannya, jika menikah dengan pria matang harus siap fisik yang kuat karena pikiran mereka tidak pernah jauh-jauh dari hubungan seksual. Gairah seksual mereka tinggi dan Salma merasakan hal itu.Semenjak malam itu, dimana Rony pertama kali membobol milik Salma. Rony malah terus menerus meminta nya untuk melayaninya. Jika mengingat lelahnya pasti Salma ingin menolak, tapi jika sudah di ranjang ia malah sangat menikmati permainan dari suaminya. Rony benar-benar jago membuat Salma terbuai dengan setiap sentuhannya."Salma, tolong ini bawakan ke ruangan saya sekarang" Ucap Rony setelah mengakhiri kelas"Baik Pak" Balas SalmaCk , mau ngapain lagi nih si Om-om. Awas aja ngajakin mesum lagi ya. Gue potong beneran tuh tytyd *batin SalmaPasalnya bukan hanya dirumah, Rony juga sering kali mengajak Salma berhubungan di ruangan miliknya. Rony bahkan sengaja memasang alat kedap suara di ruangannya demi melancarkan aksi mesumnya pada Salma.Saat Salma membuka pintu, dia justru tak melihat Rony di dalam, dengan santainya Salma masuk dan berjalan ke arah meja Rony namun seketika pintu nya tertutup dengan kencang dan ternyata Rony yang menguncinya dari dalam."Lama banget sih sayang, aku udah nungguin dari tadi jugaaa" Rengek Rony yang langsung memeluk Salma"Perasaan gak ada lima menit deh, setelah kamu keluar kelas. Ngapain sih? Manja banget tumben" Balas SalmaBukannya menjawab, tangan Rony justru meremas payudara Salma."Main yuk yang, bentaran doang. Sebelum aku rapat nih di ruang dekan. Yuk" Ajak Rony"Heh! Sempet-sempetnya. Kalo mau rapat, ya rapat aja mas" Tegur Salma"Gamau, mau main dulu. Ayo bentar yaa" Ucap Rony dan langsung membuka kancing kemeja Salma"Hmm, percuma kan nolak. Aku gak akan ada kesempatan buat nolak, mulut aku udah kalah cepet sama tangan kamu buat nelanjangin aku" Balas SalmaRony terkekeh"Hahahaha tuh tau, jadi nurut aja ya" Balas Rony"Dasar Om-om" Omel Salma"Biarin" Balas RonySetelah hampir satu jam bermain, Rony dan Salma masih belum ingin mengusai kan permainan mereka."Ahh Ahh sayangg, kamu nikmath banget ahhh terus sayang gerakkkhh ashhh" Desah RonySaat ini mereka tengah main di kursi kerja Rony, dengan Salma yang bergerak di atas pangkuan Rony. Tangan Rony berada di pinggang Salma membantu istrinya agar bisa bergerak lebih cepat, mulutnya sesekali bermain pada payudara Salma yang bergerak bebas di depan wajahnya."Eughh mass ahhh, aku mau keluarrrhh" Desah Salma"Tunggu sayang, lebih cepaathh lagi ahhhh""Barenghhh sayanggggg""Ahhhhhh" Desah Rony kala mendapatkan pelepasan yang kedua kalinyaSalma langsung menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Rony tanpa melepas penyatuan mereka"Capek sayang?" Tanya Rony"Ya mikir mas, masih tanya segala" Balas Salma ketus"Hahaha ketus banget sih jawabnya. Yaudah istirahat dulu deh, bobo disini aja ya biar mas peluk" Balas Rony"Kamu katanya mau rapat? Udah rapat aja sana, biar aku disini tidur dulu sambil nungguin kamu" Balas Salma"Udah telat, percuma. Mending disini sama kamu" Balas RonyAkhirnya mereka berdua tertidur dengan posisi saling berpelukan dan Salma yang masih berada dalam pangkuan Rony. Mereka berdua juga masih sama-sama naked tanpa selimut atau apapun yang menutupi tubuh polos mereka. Penyatuan mereka pun belum terlepas, tetapi kedua insan itu justru tertidur sangat pulas di kursi kerja Rony.***Kini genap satu tahun Rony dan Salma membina rumah tangga mereka. Dan saat ini Salma juga tengah mengandung buah cinta mereka berdua dengan usia kandungan nya yang baru menginjak lima bulan.Setelah menikah dengan Salma banyak perubahan yang terjadi pada dosen muda yang dingin, ketus dan terkenal killer di kalangan mahasiswa nya. Kini berubah menjadi dosen yang ramah, murah senyum, hangat, dan selalu mencoba membaur dengan mahasiswa nya saat di kelas.Itu semua terjadi karena Salma yang meminta Rony untuk tidak menjadi dosen yang di takuti mahasiswa namun dosen yang justru bisa menjadi sahabat sekaligus mengayomi mahasiswa nya. Dengan begitu, Mahasiswa biasanya akan lebih mudah memahami serta menyampaikan pendapat mereka saat kelas berlangsung. Dan ternyata benar, semua ucapan Salma tak ada yang meleset sedikit pun.Semenjak Rony mencoba merubah gaya mengajarnya di kelas, Mahasiswa nya justru lebih aktif dalam mempelajari materi yang ia ajarkan. Mahasiswa nya juga lebih mudah untuk di ajak berdiskusi mengenai pembahasan mata kuliah mereka.Semua mahasiswa dan dosen-dosen di kampus mereka juga sudah banyak yang mengetahui hubungan Salma dan Rony. Banyak dari mereka yang sangat mensupport hubungan mereka, terlebih teman sekelas Salma. Mereka adalah saksi bagaimana dosen nya itu memperlakukan istrinya dengan sangat manis.Walaupun begitu, Rony selalu menegaskan pada semua mahasiswa nya jika dia akan bersikap adil. Bukan berarti Salma adalah istrinya, dia bisa memberikan nilai yang baik untuk Salma. Rony hanya menuliskan sesuai dengan apa yang ia dapat, dan Rony buktikan di hasil nilai semester kemarin."Baik, saya akhiri pertemuan kali ini. Jangan lupa Minggu depan, tugas kalian sudah harus masuk ke email saya dan batas pengiriman jam dua belas malam. Terimakasih""Oh iya, satu lagi. Saya titip istri saya ya, kalo dia nakal laporin sama saya. Apalagi kalo centil sama cowo lain, tolong ingetin kalo di perutnya itu lagi hamil anak saya. Terimakasih semuanya" Ucap Rony setelah mengakhiri kelas nya"Siap pak, kami selaku pasukan pengawal istri pak Rony siap menjaga Salma dari apapun pak" Teriak salah satu mahasiswa"Siap pak, asal nilai aman. Salma pun aman hahahaha" Saut salah satu mahasiswaRony berjalan ke arah Salma lalu mengusap lembut kepala Salma"Jangan capek-capek, kasian Adek. Kalo mau apa-apa, bilang saya aja. Biar saya yang beli, kamu duduk disini aja. Ngerti?" Ucap Rony"Siap ngerti Pak" Balas Salma kikukSemua mahasiswa kelasnya pun tertawa lalu menyoraki pasangan bucin yang tak tau tempat itu.Setelah kepergian Rony, Salma hanya bisa menahan malu karena semua teman sekelasnya masih sibuk menertawakan nya dan Rony."Asli sih, suami lu bucin banget anjirr sama lu. Setiap akhir kelas selalu aja nitipin lu sama anak sekelas hahahaha kocak banget tuh dosen ya" Ucap Nabila"Tau, bikin gue malu aja. Mana anak-anak pro banget lagi sama dia" Balas Salma"Gimana gak pro? Semenjak nikah sama lu, doi berubah asyik begitu. Mana tiap ngajar jadi seru dan gak ngebosenin. Nyambung lagi sama jokes jokesnya anak-anak" Balas Nabila"Hahaha iya karena gue yang mau. Gue bilang kalo gue mau nya punya My sweet Lecturer not My Killer Lecturer" Balas Salma"Fix Pak Zaf bulol abis hahahaha" Ledek Nabila"Hahahaha gimana gak bucin, tiap minta jatah gue turutin Mulu. Mau di ruangannya pun tetep gas hahahaha" Ucap Salma"Bajingan, kenapa jadi ke arah sana sih anjirr. Bangke" Umpat Nabila"Hahahahahahaha santai aje dong Brodie" Ledek Salma~ END ~
Peri Buku Sonia
Sonia sedang terkantuk-kantuk ketika Ellen menghampirinya."Sonia, kok perpustakaannya sepi ya akhir-akhir ini?" tanya Ellen."Iya, nggak apa-apa. Daripada diramaikan anak-anak nakal!" jawab Sonia ketus."Terus buat apa itu bukunya?" tanya Ellen lagi. "Nggak ada yang baca kan? Lama-lama dimakan rayap lho.""Pasti bakalan datang anak-anak yang baik. Yang tidak suka berteriak-teriak dan merusak buku! Sudah ah, sana pergi!" jawab Sonia penuh keyakinan.Ellen hanya geleng-geleng kepala. Dia tahu betul kalau Sonia sangat tidak suka pada pembaca yang berisik apalagi sampai merusak buku. Dia akan menakut-nakuti anak tersebut hingga tak pernah kembali lagi.Oleh karena itu, Ratu Peri sangat mempercayainya untuk menjaga perpustakaan. Ya memang betul perpustakaannya selalu bersih sejak ditungguin Sonia.Ellen pergi meninggalkan Sonia untuk melanjutkan pekerjaannya. Sementara Sonia masih menunggu pengunjungnya yang baik.Hari demi hari berlalu, tak ada satu pun yang mau datang ke perpustakaan FairyBooks yang dijaga Peri Sonia.Hingga suatu hari, terdengar bunyi yang aneh dari dalam buku-bukunya. Soni langsung memasang telinganya tinggi-tinggi dan terbang berkeliling."Suara apa itu?" gumamnya. Dia mulai mencari-cari sumber suara. Tetapi, kok sepertinya darimana-mana asal suara itu."Hai suara siapa itu!" teriaknya. Suara berisik tadi tiba-tiba diam. Sonia menghela napas lalu balik ke tempatnya.Tetapi, baru saja dia akan duduk kembali, suara itu terdengar lagi. Malah semakin ramai dari yang tadi. Sonia langsung terbang lagi, berputar ke sana kemari.Dia memutuskan untuk mengambil satu buku. Lalu dibukanya,"Siapa kamu?!" bentak Sonia dengan menjulurkan tongkatnya.Sekumpulan rayap menyeringai ke arah Sonia."Kami rayap! Kami lapar dan kebetulan di sini buku-bukunya banyak dan masih bagus-bagus. Enak sekali rasanya," kata satu rayap yang langsung menggigiti bagian dalam buku."Stop! Kalian mencuri!" teriak Sonia sambil menggebrak buku."Siapa yang mencuri? Kami hanya makan disini. Buat apa buku banyak-banyak? Dibaca tidak, ya aku makan saja!" kata satu rayap yang paling besar."Itu buku-buku kami, hentikan!" Sonia berusaha mengusir rayap-rayap itu, namun mereka pandai berkelit hingga buku-buku bagus itu malah yang jadi korban pukulan Sonia.Dalam waktu cepat buku-buku berhamburan di lantai. Sonia tampak marah besar."Sonia, ada apa?" tanya Ellen kaget sambil melihat buku berantakan."Ada rayap di dalam buku!" teriak Sonia.Ellen kaget dan ikut membantu mengusir rayap itu. Namun dia juga tak berhasil mengusir rayap yang banyak itu."Apa yang harus aku lakukan, Ellen? Rayap itu akan menghancurkan bukuku," tanya Sonia kebingungan."Tak ada jalan lain, kamu butuh pengunjung, Sonia!" kata Ellen."Apa hubungannya pengunjung dengan mengusir kutu?" tanya Sonia mendelik."Ingat Sonia, rayap paling takut jika buku sering dibuka.""Oh ya? Baiklah kalau begitu. Terus kita ngapain? Apa yang harus kita lakukan?""Kita mulai dari bagaimana cara menarik anak-anak untuk mau membaca lagi di sini," kata Ellen tersenyum."Tapi ..." Sonia tampak bingung."Aku bantu cara menarik anak-anak lagi jika kamu setuju. Pikirkan saja, maukah bukunya habis dimakan rayap?" Ellen mengedikkan kedua alisnya."Baiklah kalau begitu aku lebih suka anak-anak yang berisik daripada rayap yang banyak!"Keduanya sepakat untuk membawa seluruh bukunya keluar dari perpustakaan. Mereka membuat taman bacaan di halaman perpustakaan. Dibantu para kurcaci akhirnya taman bacaan itu siap untik dikunjungi.Mula-mula tak ada yang mau mampir, namun lama kelamaan banyak juga anaka-anak yang baca. Rayap yang kesal akhirnya harus rela pergi dari buku-buku itu."Huh dasar tuh Peri Ellen! Nggak bisa lihat kita bahagia!" seru salah satu rayap menjulurkan lidahnya pada Ellen.Sonia merangkul Ellen sambil tersenyum, "Ellen terima kasih ya!"Ellen tersenyum. "Aku suka melihat bukumu dibaca oleh anak-anak. Buku kan memang untuk dibaca.""Hehe ... kau benar Ellen. Aku takkan menakuti anak-anak lagi setelah ini."Kedua peri itu terbang berkejaran sambil tertawa.====================%%%%%%Hai hai selamat siang, 😊😊😊Maaf baru updet. Lagi sibuk nyelesaikan buku anak juga nih, ada dua deadline dari penerbit mayor yang pasti hehe...Tunggu ya buku saya di toko buku kesayangan kamu. 😊😊🙏Kali ini Saya buat cerita peri buku. Bagaimana menurut kalian? Suka tidak? hehe...Terimakasih yang sudah vote, baca dan komentar.Salam sayang,Yetti Nurma
Peri Gigi
"Cepetan Tarel! Kita harus segera mendatangi anak-anak. Mumpung hari masih larut!" Teriak Peri Germa menatap pintu rumah Tarel."Sebentar, aku mempersiapkan bubuk Pixie supaya tidur mereka tetap nyenyak!" jawab Tarel.Sebentar kemudian, Tarel keluar dengan bubuk pixie pink di tangannya."Yang lain mana?" tanya Tarel menoleh ke kiri dan ke kanan."Mereka menunggu kita di perbatasan. Ayo!" kedua peri berpenampilan serba putih itu terbang menuju perbatasan. Rambut keduanya yang panjang dan putih berkilau tertimpa sinar bulan."Kalian lama sekali," ujar Peri Sera yang tampak sedikit kesal.Ya, malam ini para peri dari negeri Fairyland akan mencari atau menjajaki calon anak untuk diambil giginya dan ditukar dengan hadiah yang mereka siapkan nanti.Setelah terbang cukup lama, semua peri berpencar memeriksa anak-anak yang sedang tidur."Tunggu! Kalian melupakan ini!" kata Peri Tarel.Semua berbalik mengambil bubuk pixie dan langsung terbang lagi.Tarel juga mencari anak yang menurutnya cocok. Setelah cukup lama terbang, Tarel akhirnya berhenti pada anak perempuan yang tertidur pulas. Ia mendekat dan meniupkan bubuk pixienya. Lalu dengan hati-hati ia memeriksa gigi anak tersebut. Tarel tersenyum puas dan langsung terbang lagi untuk pulang.Semua peri selesai mendapatkan calon anak, keculai Germa yang masih kebingungan."Kenapa Germa? Kok bingung begitu?" tanya Tariel."Aku tidak mau menjadi peri anak itu!" Germa bergidik."Kenapa?" serempak teman-temannya bertanya."Dia memiliki banyak permen dan cokelat. Pasti giginya jelek! Aku mau tukar dengamu Tarel!"Tarel kaget dan segera melihat anak yang dimaksud tersebut."Sudah kamu periksa giginya?" bisik Tarel."Belum. Aku yakin giginya jelek dan bau!" Germa meringis. "Lihat itu stok permen dan cokelatnya!""Ayo teman-teman! Ini sudah mau pagi. Sebentar lagi mereka bangun," kata Sera setengah jengkel memgingatkan dua temannya.Tarel dan Germa saling bertatapan bingung. Ini adalah tugas pertama Germa, jika ia tak mendapatkan calon anaknya, maka Ratu Peri Gigi mungkin akan memberikan tugas itu pada peri lain. Padahal Tarel sangat menyukai Germa."Biar aku saja yang jadi peri anak ini. Kamu kebagian anak di rumah bertingkat itu!" Tarel menunjuk ke sebuah rumah."Kamu yakin? Tapi ... ""Aku yakin. Aku tidak bermasalah dengan gigi yang busuk dan bau," kata Tarel."Ayo pulang!" teriak Peri Sera kesal. Ketiganya segera terbang menyusul teman-temannya.Semua Peri dengan sukacita membuat bingkisan untuk anak-anak yang akan diambil giginya. Germa hanya menatap Tarel yang juga begitu semangat membungkus hadiah."Hadiahmu apa?" kata Tarel mengagetkan lamunan Germa."Aku bawa permen tanpa gula. Kalau kamu?""Aku bawa sikat dan pasta gigi ajaib!" kata Tarel."Bagus itu, biar dia rajin sikat gigi." Keduanya tersenyum.Tiba saat pengambilan gigi. Tarel terbang perlahan mendekati anak perempuan berambut panjang yang tidur nyenyak. Ia meniupkan bubuk pixie lalu mengangkat bantal. Betapa terkejut ia mendapati gigi itu. Setelah meletakkan hadiah, Tarel bergegas terbang.Begitu sampai di perbatasan dimana teman-temannya menunggu, Tarel kaget melihat mereka pada meringis. Bahkan Germa muntah-muntah."Aku tak bisa membawa gigi itu, Tarel. Bau dan jijik!" kata Germa begitu melihat Tarel datang."Iya Tarel, gigi anak cowok itu pun sama bau busuk!" kata Sera meringis. Tarel kaget, ia memperlihatka gigi anak yang pada awalnya disangka akan bau itu."Hah? Itu beneran gigi anak itu?" Germa bengong.Keesokan harinya. Karena penasaran, Tarel mendatangi anak perempuan itu. Sembunyi-sembunyi ia menyaksikan anak tersebut mengantarkan sebungkus permen dan cokelat untuk teman-temannya. Semua kabagian tanpa terkecuali hingga persediaannya di rumah habis."Pantesan saja!" gumam Tarel.*************Terima kasih bagi kamu yang sudah membaca dan memberikan vote untuk setiap cerita Fairy Tales ini. 🙏🙏Pesan Moral dari cerita si atas adalah jangan mudah menjudge orang dari luarnya dan jangan berburuk sangka atas sesuatu yang belum pasti kebenarannya.Salam Sayang,Yetti Nurma
Hari Kebersihan
Hari ini, negeri Kora-Kora sedang sibuk. Semua kurcaci membawa alat kebersihan seperti pengky, sapu dan sabit. Ya, hari ini adalah Hari Kebersihan.Kurcaci Rhey sejak tadi sudah mulai bersih-bersih di sekitar rumahnya. Dicabutinya rumput liar di sekitar pagar. Tiba-tiba ia mendengar suara dengkuran."Kebiasaan nih Gio! Jam segini belum bangun," ujarnya geleng-geleng kepala menatap rumah sebelah."Ayo semuanya bersihkan rumah masing-masing! Setelah itu, kita akan membersihkan tempat-tempat umum supaya kita tetap sehat! Yang ikut bersih-bersih hati ini, akan mendapat hadiah cokelat lezat dari toko Tuan Chou!" teriak kurcaci Rikon memberi semangat dengan pengeras suara."Hore!" semua berteriak gembira mendengar itu, tak terkecuali Rhey.Setelah membersihkan seluruh bagian rumah bercat hijau miliknya, Rhey masih mendengar dengkuran Gio tetangganya."Gio! Gio, bangun!" Rhey mengetuk keras pintu rumah Gio. Namun Gio tak bergerak sedikitpun.Rhey tahu betul jika Gio sangat suka makan cokelat. Maka ia pun membuka pintu dan masuk membangunkan sahabatnya itu."Gio, ayo bangun! Hari ini adalah hari kebersihan, kamu harus bersih-bersih rumahmu!" katanya sambil melirik bagian dalam rumah Gio yang kotor oleh sampah dan debu."Jangan ganggu aku!" Gio menghardik dan tidur lagi."Gio, kamu tak akan dapat cokelat lezat Tuan Chou jika tak ikut bersih-bersih hari ini!" Rhey masih membujuk kurcaci berambut biru itu."Aku tak peduli!" Gio membalikkan badannya dan langsung terlelap lagi.Rhey berdiri dan berjalan keluar. "Aku sudah mengingatkan kamu ya Gio," katanya sambil bergegas ke lapangan sepakbola.Di sana telah ramai oleh para kurcaci yang sedang membersihkan lapangan."Rhey, ayo bersihkan rumput di sebelah sana!" ujar Kurcaci Rikon begitu melihat Rhey datang."Gio mana?" katanya lagi."Gio spertinya sakit," kata Rhey berbohong."Oh, kalau sakit biarlah dia istirahat."Rhey mengangguk dan langsung membabat ilalang di pinggir lapangan tempat mereka bermain bola itu.Selesai membersihkan seluruh kota, semua kurcaci berkumpul. Tuan Chou membagikan cokelat lezat dan minuman dingin dari buah-buahan segar. Semua antusias makan dan minum setelah capek bekerja."Ini aku titipkan dua cokelat dan satu botol minuman untuk Gio, Rhey. Aku tahu, Gio sangat suka cokelat madu dan blueberry. Semoga dia lekas sehat kembali," kata Tuan Chou sambil tersenyum.Sedikit ragu, Rhey menerima cokelat dan minuman itu."Terima kasih, Tuan Chou. Aku akan memberikannya pada Gio." Rhey langsung pulang dan menghampiri Gio yanh masih tidur."Gio, ini sudah siang. Apa kamu tidak lapar?" kata Rhey sambil menggoyangakn lengan Gio."Hoaaam ... ada apa Rhey?! Ganggu terus! Mau tidur kek, mau makan kek terserah aku. Hmmm ... ada harum cokelat nih." Gio mengendus-endus ke dekat Rhey duduk."Ini cokelat dan minuman dari Tuan Chou. Terpaksa aku berbohong kalau kamu sakit. Aku tak ingin kamu dapat masalah," kata Rhey pelan."Kamu memang sahabatku yang paling baik, Rhey," kata Gio semringah sambil langsung mengambil dan makan cokelat panjang itu.Selesai makan dua cokelat, Gio meminum minuman sari buah dan melemparkan bekasnya sembarangan."Gio, lihatlah sekelilingmu. Sampah dimana-mana. Jika kamu begini terus, kamu akan sakit.""Kamu cerewet kayak dokter Fin jika ceramah kaya gitu, Rhey. Sudah sana pulang aku mau tidur lagi." Gio menarik selimut birunya dan langsung terlelap lagi.Rhey hanya geleng-geleng kepala dan pulang.Menjelang tidur, Rhey kaget mendengar teriakan. Itu suara Gio."Ada apa, Gio?" kata Rhey panik. Kurcaci lain berdiri di luar pintu rumah Gio dengan khawatir."Perutku sakit, Rhey. Sakit banget! Aww!" Gio meringis dengan wajah penuh keringat."Tolong panggilkan dokter Fin!" Teriak Rhey pada teman-teman kurcaci di luar rumah.Tak berapa lama dokter Fin datang."Gio terkena infeksi saluran pencernaan. Ini akibat kurang menjaga kebersihan. Dia tidak cuci tangan sebelum tidur, tidak mandi, tidak mencuci tangan setelah buang air besar dan tidak menjaga kebersihan rumah," ucap dokter Fin setelah selesai memeriksa keadaan Gio."Ayo teman-teman, kita bersihkan rumah Gio bersama-sama supaya cepat sehat. Gio sebaiknya tiduran dulu di rumah Rhey," kata Kurcaci Rikon yang juga datang.Gio menatap dari jendela rumah Rhey ke arah rumahnya yang dibersihkan teman-temannya."Teman-teman, aku minta maaf telah merepotkan kalian," kata Gio setelah semua temannya akan berpamitan. Wajahnya begitu murung."Sama-sama, Gio. Itulah pentingnya kerjasama dan teman," jawab Rikon tersenyum."Tapi, sebetulnya aku telah bersalah. Rhey terpaksa harus berbohong karena aku malas ikut Hari Kebersihan hari ini. Maafkan aku, aku menyesal." Gio menunduk.Semua kurcaci terperangah dan langsung menatap Rhey."Maafkan aku, Tuan Rikon. Aku sangat menyayangi Gio, tapi caraku salah ternyata." Rhey pun menunduk."Hari ini Gio dan Rhey telah mendapatkan akibatnya. Semoga setelah kejadian hari ini, kalian berdua akan saling menasehati dan bersama-sama menjaga kebersihan. Karena jika kita tidak bersih, dapat terserang penyakit seperti Gio. Kita doakan Gio cepat sehat bersama-sama. Setelah sehat, Gio harus menjalankan hukumannya karena telah malas dan tidak ikut Hari Kebersihan. Gio dibantu Rhey harus membersihkan kebun cokelat Tuan Chou!" ucap Rikon."Wah aku suka bermain di kebun cokelat Tuan Chou. Baiklah aku akan melakukannya!"Semua tersenyum menatap Gio.
Pesta Musim Panas
Peri Leena sedang asyik memeriksa pohon cokelatnya ketika Ratu Peri datang."Leena, pesta musim panas aku ingin kamu yang menggelarnya!" titah Ratu."Benarkah? Aku ... aku hanya peri cokelat yang bekerja di kebun, Ratu. Sepertinya aku tak bisa Ratu." Leena menunduk. Ia memang merasa tak berbakat menyelenggarakan pesta."Leena lihat aku! Kamu harus mencobanya. Jika belum pernah mencoba, kamu tak akan tahu kemampuanmu.""Tapi ... kalau jelek bagaimana, Ratu? Teman-teman pasti akan kecewa.""Makanya kamu harus mencoba. Jangan menyerah dulu, hanya kamu sendiri yang belum pernah mencoba. Aku yakin kamu bisa!"Leena tampak berpikir. "Baiklah Ratu, aku akan mencobanya," katanya pelan."Begitu dong! Tunjukkan bahwa kamu bisa, Leena!" Ratu Peri tersenyum sambil menepuk pundak Leena.Ratu pun meninggalkan Leena yang tampak khawatir dan bingung.Ini kali pertama ia mendapat tugas istimewa itu. Ia harus membuktikan kalau peri cokelat pun mampu menggelar pesta musim panas istimewa seperti kata Ratu peri tadi.Kabar tentang peri cokelat yang mendapat tugas menggelar pesta musim panas segera terdengar oleh peri-peri lain."Si Kikuk Cokelat? Nggak salah? Memangnya apa yang dia bisa lakukan? Pasti pestanya tak akan istimewa!" ujar Peri bunga."Iya benar, mendengarnya aja sudah nggak semangat!" timpal Peri Hujan.Leena tahu betul semua peri pasti menyangsikan kecakapannya dalam menyelenggarakan pesta. Ia bahkan dijuluki Peri Kikuk. Namun sebuah ide mnghampirinya. Ia terbang secepatnya menuju perbatasan hutan."Rici, bantulah aku. Kau tahu, aku peri biasa yang tak pandai menyelenggarakan pesta mewah seperti peri lain." Leena mendatangi rumah Kurcaci Rici sahabatnya dan menceritakan semua."Maafkan aku Leena. Apa yang bisa kami lakukan sementara kaum kalian saja mengaggap kami bodoh." Rici menunduk. Di benaknya kebingungan, satu sisi ia menyayangi peri cokelat yang selalu membantunya. Namun ia sadar, ia dan saudaranya hanya kurcaci yang dianggap bodoh oleh kaum peri."Jangan lihat mereka, lihatlah aku. Aku sangat menyayangi kalian semua. Dan, aku yakin kalian adalah sahabatku yang istimewa." Leena menatap Kurcaci Rici dan saudaranya yang berjumlah sembilan orang."Baiklah Leena, apa rencanamu?""Aku ingin membuat pesta musim panas dengan tema manis karena aku adalah peri cokelat dan mungkin dingin untuk meminimalisir cuaca panas, Rici. Bagaimana menurutmu?""Hmm ... manis dan dingin?" Kurcaci Rici tampak berpikir keras. Beberapa menit kemudian, ruang tengah rumah Kurcaci Rici dan saudaranya hening. Semua berpikir keras."Aku ada ide! Salju!" Teriak Kurcaci Rici."Salju? Ceritakan padaku idemu itu!" Leena menatap Rici dengan mata berbinar. Ia hapal kalau temannya itu selalu memiliki ide brilian.Kurcaci Rici membisikkan sesuatu ke telinga Leena. Mata peri cokelat itu kian bersinar dan tersenyum mengembang.Leena dibantu Kurcaci Rici dan teman-temannya menyiapkan dan menyebabarkan undangan pesta Musim Panas. Tak seperti biasa, kali ini tempat untuk pesta di perbatasan negeri peri hutan dan negeri peri musim dingin.Tibalah waktu pesta. Semua peri yang datang memakai gaun warna-warni sesusai dengan dresscode yang ditetapkan.Tabuhan musik dari para kurcaci yang berdandan ala pemain orkestra itu terdengar begitu meriah. Tak ada satu pun peri yang tak terpana pada pemandangan pesta itu. Leena dibantu kurcaci menghias tempat pesta itu dengan sentuhan salju. Hujan salju buatan yang disemburkan oleh alat penghancur es menambah suasana bak pesta musim dingin."Wah asyiknya ada salju!" Teriak peri Buah sambil sibuk terbang menangkap butir-butir kecil salju.Bukan itu saja, makanan didominasi oleh cokelat lezat buatan Peri Cokelat. Di tengah meja, berdiri sebuah patung yang terbuat dari cokelat. Itu adalah miniatur ratu peri yang sangat mereka cintai. Seluruh tempat pesta di kelilingi oleh pohon yang terbuat dari cokelat. Lantainya adalah perpaduan antara tiga warna, cokelat putih dan pink yang kesemuanya terbuat dari cokelat beku."Ini sangat keren, Leena. Aku sangat menyukai pesta ini. Aku juga mulai menyukai para kurcaci lucu itu! Aku tak mengira mereka berbakat juga!" Teriak Ratu Peri disela hentakan musik yang membuat semua peri menggoyangkan tubuhnya.Peri Cokelat tersenyum bahagia melihat semua orang menikmati pestanya.*****Bagaimana dengan cerita ini, kawan? hehe... Terima kasih vote nya🙏🙏
Hari Kebersihan
Hari ini, negeri Kora-Kora sedang sibuk. Semua kurcaci membawa alat kebersihan seperti pengky, sapu dan sabit. Ya, hari ini adalah Hari Kebersihan.Kurcaci Rhey sejak tadi sudah mulai bersih-bersih di sekitar rumahnya. Dicabutinya rumput liar di sekitar pagar. Tiba-tiba ia mendengar suara dengkuran."Kebiasaan nih Gio! Jam segini belum bangun," ujarnya geleng-geleng kepala menatap rumah sebelah."Ayo semuanya bersihkan rumah masing-masing! Setelah itu, kita akan membersihkan tempat-tempat umum supaya kita tetap sehat! Yang ikut bersih-bersih hati ini, akan mendapat hadiah cokelat lezat dari toko Tuan Chou!" teriak kurcaci Rikon memberi semangat dengan pengeras suara."Hore!" semua berteriak gembira mendengar itu, tak terkecuali Rhey.Setelah membersihkan seluruh bagian rumah bercat hijau miliknya, Rhey masih mendengar dengkuran Gio tetangganya."Gio! Gio, bangun!" Rhey mengetuk keras pintu rumah Gio. Namun Gio tak bergerak sedikitpun.Rhey tahu betul jika Gio sangat suka makan cokelat. Maka ia pun membuka pintu dan masuk membangunkan sahabatnya itu."Gio, ayo bangun! Hari ini adalah hari kebersihan, kamu harus bersih-bersih rumahmu!" katanya sambil melirik bagian dalam rumah Gio yang kotor oleh sampah dan debu."Jangan ganggu aku!" Gio menghardik dan tidur lagi."Gio, kamu tak akan dapat cokelat lezat Tuan Chou jika tak ikut bersih-bersih hari ini!" Rhey masih membujuk kurcaci berambut biru itu."Aku tak peduli!" Gio membalikkan badannya dan langsung terlelap lagi.Rhey berdiri dan berjalan keluar. "Aku sudah mengingatkan kamu ya Gio," katanya sambil bergegas ke lapangan sepakbola.Di sana telah ramai oleh para kurcaci yang sedang membersihkan lapangan."Rhey, ayo bersihkan rumput di sebelah sana!" ujar Kurcaci Rikon begitu melihat Rhey datang."Gio mana?" katanya lagi."Gio spertinya sakit," kata Rhey berbohong."Oh, kalau sakit biarlah dia istirahat."Rhey mengangguk dan langsung membabat ilalang di pinggir lapangan tempat mereka bermain bola itu.Selesai membersihkan seluruh kota, semua kurcaci berkumpul. Tuan Chou membagikan cokelat lezat dan minuman dingin dari buah-buahan segar. Semua antusias makan dan minum setelah capek bekerja."Ini aku titipkan dua cokelat dan satu botol minuman untuk Gio, Rhey. Aku tahu, Gio sangat suka cokelat madu dan blueberry. Semoga dia lekas sehat kembali," kata Tuan Chou sambil tersenyum.Sedikit ragu, Rhey menerima cokelat dan minuman itu."Terima kasih, Tuan Chou. Aku akan memberikannya pada Gio." Rhey langsung pulang dan menghampiri Gio yanh masih tidur."Gio, ini sudah siang. Apa kamu tidak lapar?" kata Rhey sambil menggoyangakn lengan Gio."Hoaaam ... ada apa Rhey?! Ganggu terus! Mau tidur kek, mau makan kek terserah aku. Hmmm ... ada harum cokelat nih." Gio mengendus-endus ke dekat Rhey duduk."Ini cokelat dan minuman dari Tuan Chou. Terpaksa aku berbohong kalau kamu sakit. Aku tak ingin kamu dapat masalah," kata Rhey pelan."Kamu memang sahabatku yang paling baik, Rhey," kata Gio semringah sambil langsung mengambil dan makan cokelat panjang itu.Selesai makan dua cokelat, Gio meminum minuman sari buah dan melemparkan bekasnya sembarangan."Gio, lihatlah sekelilingmu. Sampah dimana-mana. Jika kamu begini terus, kamu akan sakit.""Kamu cerewet kayak dokter Fin jika ceramah kaya gitu, Rhey. Sudah sana pulang aku mau tidur lagi." Gio menarik selimut birunya dan langsung terlelap lagi.Rhey hanya geleng-geleng kepala dan pulang.Menjelang tidur, Rhey kaget mendengar teriakan. Itu suara Gio."Ada apa, Gio?" kata Rhey panik. Kurcaci lain berdiri di luar pintu rumah Gio dengan khawatir."Perutku sakit, Rhey. Sakit banget! Aww!" Gio meringis dengan wajah penuh keringat."Tolong panggilkan dokter Fin!" Teriak Rhey pada teman-teman kurcaci di luar rumah.Tak berapa lama dokter Fin datang."Gio terkena infeksi saluran pencernaan. Ini akibat kurang menjaga kebersihan. Dia tidak cuci tangan sebelum tidur, tidak mandi, tidak mencuci tangan setelah buang air besar dan tidak menjaga kebersihan rumah," ucap dokter Fin setelah selesai memeriksa keadaan Gio."Ayo teman-teman, kita bersihkan rumah Gio bersama-sama supaya cepat sehat. Gio sebaiknya tiduran dulu di rumah Rhey," kata Kurcaci Rikon yang juga datang.Gio menatap dari jendela rumah Rhey ke arah rumahnya yang dibersihkan teman-temannya."Teman-teman, aku minta maaf telah merepotkan kalian," kata Gio setelah semua temannya akan berpamitan. Wajahnya begitu murung."Sama-sama, Gio. Itulah pentingnya kerjasama dan teman," jawab Rikon tersenyum."Tapi, sebetulnya aku telah bersalah. Rhey terpaksa harus berbohong karena aku malas ikut Hari Kebersihan hari ini. Maafkan aku, aku menyesal." Gio menunduk.Semua kurcaci terperangah dan langsung menatap Rhey."Maafkan aku, Tuan Rikon. Aku sangat menyayangi Gio, tapi caraku salah ternyata." Rhey pun menunduk."Hari ini Gio dan Rhey telah mendapatkan akibatnya. Semoga setelah kejadian hari ini, kalian berdua akan saling menasehati dan bersama-sama menjaga kebersihan. Karena jika kita tidak bersih, dapat terserang penyakit seperti Gio. Kita doakan Gio cepat sehat bersama-sama. Setelah sehat, Gio harus menjalankan hukumannya karena telah malas dan tidak ikut Hari Kebersihan. Gio dibantu Rhey harus membersihkan kebun cokelat Tuan Chou!" ucap Rikon."Wah aku suka bermain di kebun cokelat Tuan Chou. Baiklah aku akan melakukannya!"Semua tersenyum menatap Gio.
Pesta Musim Panas
Peri Leena sedang asyik memeriksa pohon cokelatnya ketika Ratu Peri datang."Leena, pesta musim panas aku ingin kamu yang menggelarnya!" titah Ratu."Benarkah? Aku ... aku hanya peri cokelat yang bekerja di kebun, Ratu. Sepertinya aku tak bisa Ratu." Leena menunduk. Ia memang merasa tak berbakat menyelenggarakan pesta."Leena lihat aku! Kamu harus mencobanya. Jika belum pernah mencoba, kamu tak akan tahu kemampuanmu.""Tapi ... kalau jelek bagaimana, Ratu? Teman-teman pasti akan kecewa.""Makanya kamu harus mencoba. Jangan menyerah dulu, hanya kamu sendiri yang belum pernah mencoba. Aku yakin kamu bisa!"Leena tampak berpikir. "Baiklah Ratu, aku akan mencobanya," katanya pelan."Begitu dong! Tunjukkan bahwa kamu bisa, Leena!" Ratu Peri tersenyum sambil menepuk pundak Leena.Ratu pun meninggalkan Leena yang tampak khawatir dan bingung.Ini kali pertama ia mendapat tugas istimewa itu. Ia harus membuktikan kalau peri cokelat pun mampu menggelar pesta musim panas istimewa seperti kata Ratu peri tadi.Kabar tentang peri cokelat yang mendapat tugas menggelar pesta musim panas segera terdengar oleh peri-peri lain."Si Kikuk Cokelat? Nggak salah? Memangnya apa yang dia bisa lakukan? Pasti pestanya tak akan istimewa!" ujar Peri bunga."Iya benar, mendengarnya aja sudah nggak semangat!" timpal Peri Hujan.Leena tahu betul semua peri pasti menyangsikan kecakapannya dalam menyelenggarakan pesta. Ia bahkan dijuluki Peri Kikuk. Namun sebuah ide mnghampirinya. Ia terbang secepatnya menuju perbatasan hutan."Rici, bantulah aku. Kau tahu, aku peri biasa yang tak pandai menyelenggarakan pesta mewah seperti peri lain." Leena mendatangi rumah Kurcaci Rici sahabatnya dan menceritakan semua."Maafkan aku Leena. Apa yang bisa kami lakukan sementara kaum kalian saja mengaggap kami bodoh." Rici menunduk. Di benaknya kebingungan, satu sisi ia menyayangi peri cokelat yang selalu membantunya. Namun ia sadar, ia dan saudaranya hanya kurcaci yang dianggap bodoh oleh kaum peri."Jangan lihat mereka, lihatlah aku. Aku sangat menyayangi kalian semua. Dan, aku yakin kalian adalah sahabatku yang istimewa." Leena menatap Kurcaci Rici dan saudaranya yang berjumlah sembilan orang."Baiklah Leena, apa rencanamu?""Aku ingin membuat pesta musim panas dengan tema manis karena aku adalah peri cokelat dan mungkin dingin untuk meminimalisir cuaca panas, Rici. Bagaimana menurutmu?""Hmm ... manis dan dingin?" Kurcaci Rici tampak berpikir keras. Beberapa menit kemudian, ruang tengah rumah Kurcaci Rici dan saudaranya hening. Semua berpikir keras."Aku ada ide! Salju!" Teriak Kurcaci Rici."Salju? Ceritakan padaku idemu itu!" Leena menatap Rici dengan mata berbinar. Ia hapal kalau temannya itu selalu memiliki ide brilian.Kurcaci Rici membisikkan sesuatu ke telinga Leena. Mata peri cokelat itu kian bersinar dan tersenyum mengembang.Leena dibantu Kurcaci Rici dan teman-temannya menyiapkan dan menyebabarkan undangan pesta Musim Panas. Tak seperti biasa, kali ini tempat untuk pesta di perbatasan negeri peri hutan dan negeri peri musim dingin.Tibalah waktu pesta. Semua peri yang datang memakai gaun warna-warni sesusai dengan dresscode yang ditetapkan.Tabuhan musik dari para kurcaci yang berdandan ala pemain orkestra itu terdengar begitu meriah. Tak ada satu pun peri yang tak terpana pada pemandangan pesta itu. Leena dibantu kurcaci menghias tempat pesta itu dengan sentuhan salju. Hujan salju buatan yang disemburkan oleh alat penghancur es menambah suasana bak pesta musim dingin."Wah asyiknya ada salju!" Teriak peri Buah sambil sibuk terbang menangkap butir-butir kecil salju.Bukan itu saja, makanan didominasi oleh cokelat lezat buatan Peri Cokelat. Di tengah meja, berdiri sebuah patung yang terbuat dari cokelat. Itu adalah miniatur ratu peri yang sangat mereka cintai. Seluruh tempat pesta di kelilingi oleh pohon yang terbuat dari cokelat. Lantainya adalah perpaduan antara tiga warna, cokelat putih dan pink yang kesemuanya terbuat dari cokelat beku."Ini sangat keren, Leena. Aku sangat menyukai pesta ini. Aku juga mulai menyukai para kurcaci lucu itu! Aku tak mengira mereka berbakat juga!" Teriak Ratu Peri disela hentakan musik yang membuat semua peri menggoyangkan tubuhnya.Peri Cokelat tersenyum bahagia melihat semua orang menikmati pestanya.*****
Pizza's Day
Di Negeri Kora-Kora, para kurcaci sedang sibuk antri. Hari ini adalah peringatan Pizza's Day. Semua kurcaci berjejer ke belakang di depan toko Pizza milik Tuan Smith.Pizza di toko Tuan Smith memang terkenal sangat lezat. Semua kurcaci sangat suka pizza itu, tak terkecuali Kurcaci Jim yang sejak tadi pagi ikut antri. Beberapa kali ia mengembuskan napas dan mengelus perutnya yang keroncongan. Apalagi ketika menghirup aroma perpaduan bumbu-bumbu khas dengan keju yang lumer."Ohh ... aku sebal harus antri!" gerutu Jim sambil menelan ludah."Sabar Jim, sebentar lagi goliran kamu!" kata Kurcaci Rio yang berdiri di belakangnya.Akhirnya, tiba giliran Jim berdiri di depan kasir dan siap memesan. Melihat pizza yang baru matang dengan asap yang masih mengepul, tiba-tiba Jim mendapatkan ide."Aku beli sepuluh pizza sekaligus!" katanya sambil mengeluarkan uang."Maaf Jim, semua mendapatkan jatah satu pizza." Tuan Smith mengeulurkan satu loyang pizza."Aku punya uang, kenapa tidak boleh beli banyak?" tanya Jim tak terima."Sekali lagi maaf, semua temanmu ingin merasakan pizza hari ini. Jika kamu beli sepuluh pizza, itu artinya ada banyak temanmu yang tidak akan mendapatkan pizzanya!" Tuan Smith menjelaskan.Sebetulnya Jim tahu itu, namun rasa lapar telah melupakan semuanya. Jim meletakkan uang di kasir dan mengambil paksa sepuluh pizza dari toko Tuan Smith."Jim, hentikan! Kamu tak boleh makan pizzaku sebanyak itu!" teriak Tian Smith."Aku sudah bayar, apa salahku?" Jim berlalu dengan membawa pizzanya."Jim! Kamu telah mengambil pizzaku!" teriak Rio dan kurcaci lainnya. Namun Jim telah menghilang ke dalam hutan."Dasar rakus, persis raksasa Grolle!" Teriak Rio sambil memdengus.Jim masuk hutan dan mencari tempat untuk menghabiskan pizzanya. Di bawah sebuah pohon besar, ia membuka dus per dus pizza dan memakannya dengan lahap. Tanpa terasa, sepuluh dus pizza hampir ia habiskan sendirian. Dengan menyender di pohon, Jim mengelus perutnya yang mulai sakit."Aku tak sanggup lagi memakan pizza ini." Jim meletakkan sepotong pizza yang tersisa.Angin sepoi-sepoi membuat matanya mengantuk. Jim tertidur dengan pulasnya.*Negeri Kora-Kora gempar! Dengkuran monster Grolle membuat mereka ketakutan."Asal suaranya dari hutan. Apa benar monster Grolle itu ada?" tanya Kurcaci Rio."Aku tidak tahu. Kukira itu hanya dongeng semata," jawab Tuan Smith.Sementara itu, Jim terbangun dengan sangat kaget. Dia kesulitan berdiri, badannya sangat besar dan tinggi. Setelah susah payah berusaha, akhirnya Jim bisa berdiri."Apa yang terjadi dneganku? Mengapa aku jadi besar begini?" kata Jim sambil memegangi tubuhnya.Matanya pun kini bisa melihat seluruh hutan dan negeri Kora-Kora."Ya ampun, apa aku jadi raksasa?" katanya pelan.Jim mencoba berjalan, namun setiap kali menjejakkan kaki, tanah di sekitarnya bergetar."Aku benar-benar raksasa! Ya ampun apa yang harus aku lakukan?" Jim berhenti dengan kebingungan. Ia menatap rumahnya, namun negeri Kora-Kora tampak sepi."Pasti mereka ketakutan. Sebaiknya aku pergi dari sini."Hari demi hari, Jim menyesali perbuatannya yang rakus. Kini ia telah menjadi raksasa menakutkan. Kerinduannya pada rumah terpaksa ia lupakan, karena Jim tahu teman-temannya pasti ketakutan melihat badannya kini.Ketika sedang tiduran, Jim melihat binatang hutan berteriak dan berlarian ke arah negeri Kora-Kora."Apa yang terjadi?" gumamnya.Seekor kelinci melintas dengan cepat, Jim menangkapnya dan bertanya."Apa yang terjadi?" katanya pada kelinci yang gemetar ketakutan."Ada yang memburu kami dan membakar hutan!" dengan terbata kelinci menjelaskan.Jim melepaskan kelinci itu lalu mendekati hutan yang mulai memanas akibat dibakar. Ia mempercepat langkahnya dan menggeram marah.Tanah bergetar dengan geraman yang menggema membuat manusia pembakar hutan itu lari tunggang langgang. Jim mengambil air di kali, dan menyemburkan air ke api yang membakar hutan. Beruntung, hutan yang dibakar baru sedikit hingga Jim masih bisa menyelamatkannya."Dasar manusia rakus!" teriak Jim.Para binatang berkumpul menyambut Jim yang telah menolong mereka."Terima kasih, Tuan. Berkat anda, hutan kami masih utuh."Jim menunduk meninggalkan mereka.Setelah kejadian itu, para binatang sering mengirimkan Jim buah-buahan dan sayuran. Jim menerimanya dengan senang hati. Perlahan namun pasti, tubuh Jim mulai mengecil. Jim pun sangat bahagia.
Peri Sepatu
Sore yang hangat di negeri Peri.Lorita terbang lebih cepat dari biasanya. Ini sungguh darurat, ia harus sudah menyelesaikan pekerjaan sebelum besok pagi. Sementara ide maupun bahan belum juga ia dapatkan.Tiba-tiba...Duk! Aw aw! dia menabrak sesuatu."Lorita! Kebiasaan deh!" Rocita mendengus sambil memegang kepalanya."Maaf Roc, aku terburu-buru!" Lorita meninggalkan Rocita yang kesal.Lorita kian panik dan terburu-buru, ia tak melirik ke kanan dan ke kiri.Bluk! Bluk!Buah stroberi milik kurcaci Eddie berjatuhan."Lorita!" terdengar Kurcaci Eddie berterik keras. Lorita segera melarikan diri sebelum kurcaci Eddie mengejarnya.Lorita berhenti di sebuah batang pohon, napasnya tersengal."Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya."Wahai Peri yang cantik, bisakah kamu menolong aku?" tiba-tiba terdengar suara.Lorita menoleh ke kiri dan ke kanan. "Suara siapa itu tadi?" gumamnya."Ini aku di dalam sini! Bantulah aku untuk ke luar dari benda putih menyebalkan ini!"Sebuah benda putih menggantung didepannya. Ia melongo."Peri jangan diam saja, bukalah selimutku. Aku sudah kepanasan!"Lorita berusaha membuka benda putih itu, namun tak berhasil."Ayolah, gunakan tenagamu, Peri!""Baiklah, aku coba lagi!"Lorita berusaha membuka lagi, kali ini dengan bantuan kakinya juga."Hiyaaaaat!"Akhirnya selimut putih itu terbuka dan muncullah kupu-kupu cantik berwarna kuning dan hitam."Syukurlah aku sudah bebas. Selimut ini membuatku kepanasan!" kata kupu-kupu itu sambil menggeliat dan tertawa."Aku harus pergi!" ujar Lorita."Tunggu! Kamu mau kemana?""Aku ada urusan penting!" Lorita terbang lagi.Lorita melanjutkan perjalanan. Namun belum juga mendapat ide cemerlang yang akan ia persembahkan untuk ulang tahun sang ratu. Sebagai Peri Sepatu, tentu Lorita ingin mempersembahkan sepatu istimewa untuk Ratu Anya.Duk!Sebuah benda panjang dan cepat mengenai keningnya. Lorita tersentak dan limbung."Auowww!" jeritnya. Tubuhnya melayang terjun bebas. Kepalanya pening dan pandangan kabur. Lorita tak sadarkan diri.Lorita terbatuk dan memegang keningnya yang masih sakit. Ia melihat sekeliling dan seketika bangkit."Halo peri cantik! Oh ya namaku Kucan, namamu siapa?" Kupu-kupu kuning cantik tersenyum menatapnya."Lorita. Apa yang terjadi padaku?""Hihihi ... kamu terjun bebas. Apa keningmu masih sakit?""Sedikit. Wah udah malam? Aku harus pergi!" Lorita hendak terbang lagi."Kamu sedang mencari apa sih Lorita? Biar aku bantu." Kucan memegang bahu Lorita."Tidak. Kamu pasti tidak akan mengerti!"Lorita terbang, namun pandangannya kabur. Berulang kali ia mengerjap, akhirnya ia duduk lagi di rumah Kucan."Besok ulang tahun Ratu Anya dan mungkin aku sendiri yang tak memberikan hadiah istimewa." Lorita tampak bersedih."Oh jadi itu masalahnya? Lorita, terkadang orang tak mengharapkan bingkisan istimewa untuk bahagia. Dengan kamu datang dan mendokannya pasti ia akan senang menyambutmu.""Aku ingin memberikan hadiah istimewa untuk Ratu Anya, Kucan. Namun sepertinya aku tak sempat." Wajah Lorita kian muram."Apa ada Peri Lorita di sini!" seseorang berteriak.Kucan keluar. "Ada apa, Tuan Owen?""Peri Lorita diundang Ratu Anya untuk datang ke istana sekarang. Beliau memintanya untuk menghias sepatu Ratu."Lorita terperanjat dan keluar. "Benarkah itu?" kata Lorita."Betuk sekali. Mari Peri Lorita."Lorita datang ke istana dan mulai menghias sepatu Ratu Anya. Tiba-tiba ia teringat pada Kucan, maka sepatu Ratu pun ia hias dengan motif sayap Kucan. Ratu begitu puas dengan karya Lorita.
Tiga Tikus Got
Lorong gelap terowongan di dasar jalan raya selalu padat dengan mobilisasi lalu-lalang. Hal itu menimbulkan getaran hingga ke bawah—di mana terdapat kehidupan lain yang keberadaannya tak pernah terbesit di pikiran siapa pun yang tinggal di atas. Kita bisa menyebut tempat yang terdapat jalan raya tersebut adalah dunia atas, sedangkan di bawah yang katanya tempat dari “kebusukan” berada adalah dunia bawah.Dunia atas yang ingar bingar, mengalir dengan glamour, berbeda dengan dunia sebaliknya. Memang peribahasa yang tepat adalah “bagaikan langit dan bumi” artinya sungguh jauh berbeda. Dunia bawah yang kumuh, becek, berbau tak sedap, kotor, menjijikkan, serta semuanya yang tak menyedapkan indra.Dalam lingkupan hal menjijikkan ini, ada secuil kisah dari penghuni bawah tanah yang terlupakan. Hidup tiga ekor tikus yang sudah seperti keluarga. Sebuah ikatan keluarga yang tercipta dari nasib yang sama, sesama makhluk terbuang yang kehadirannya tak diharapkan siapa pun.Arel—tikus malang yang semenjak kecil telah ditinggal mati orang tuanya hingga menjadi trauma. Reli—tikus gemuk yang sedari kecil telah menghabiskan banyak makanan dibanding tikus mana pun, hingga tubuhnya gemuk. Yang terakhir adalah Rey—tikus perempuan yang pernah hampir mati karena kelaparan. Nasib baik ketika Rey bertemu dua tikus yang sekarang menjadi keluarganya.Kala itu, Rey sedang merintih kesakitan, meringkuk di dalam sebuah kaleng bekas ikan sarden yang nyaris berkarat sepenuhnya. Ia bertemu Arel dan Reli yang sedang berjalan-jalan menjelajahi penjuru gorong-gorong. Nyawa Rey berhasil terselamatkan berkat Arel yang merebut paksa makanan di mulut Reli, lantas memberikannya pada Rey yang sekarat. Semenjak saat itu, mereka bertiga memutuskan untuk bersatu, melakukan petualangan, menghadapi kehidupan bersama sama dan menciptakan sebuah keluarga buatan.* * *Pagi cerah dimulai kembali. Angin berdesis kalem, embun perlahan tertepis sinar mentari hangat, udara bersahaja untuk menjalankan rutinitas. Namun, semua itu hanya terjadi di dunia atas. Dunia bawah terjadi sebaliknya.Pagi yang tetap gelap, sinar matahari hanya secercah—hasil menembus lubang-lubang kecil penutup gorong-gorong. Udara yang dingin, lembab, aroma buruk yang tidak jelas muncul dari benda apa, serta keadaan yang sepi, hanya terdengar tetesan limbah air dari atas. Suasana yang membuat siapa pun merasakan lebih baik mati saja. Namun, bukan itu penyelesaianya. Justru ketika seseorang yang berkata lebih baik mati saja dalam keadaan yang serba buruk, ia tak pernah merasakan bahwa sebenarnya hidup yang begini itu indah. Bukankah ada semacam fenomena yang berisi orang-orang dengan kekayaan berlebih, hidup bergelimang kecukupan yang kadang berlebihan? Akan tetapi, menjalani kehidupan dengan mengeluh terus-menerus, merasa kekurangan dan sangat haus akan kekuasaan, hingga nekat mengambil rezeki insan lain sekalipun. Saking hausnya, sampai lidahnya terjulur tak bisa kembali meneteskan air liur yang menjadi saksi kedustaan mulutnya. Lidah terjulur, menggonggongkan kebenaran hasil pencitraan tanpa kenyataan, mirip seekor paling hina di dunia ini. Kita semua tahu apa itu.Hari masih pagi, Arel sudah di pinggir sungai dasar gorong-gorong, sibuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Si besar Reli masih tidur. Sementara itu, Rey layaknya perempuan. Mungkin ia jalan-jalan atau pergi berbelanja. Konyol, tidak mungkin ada tikus yang berbelanja walalupun tikus berdasi sekalipun.Di mana pun tikus berada, nalurinya tetaplah mencuri. Mengapa seorang Arel tidak mencuri layaknya teman-temannya? Malahan, ia lebih memilih mengais sisa makanan di tempat sampah? Inilah trauma yang dialami Arel. Nyawa orang tuanya terenggut akibat mencuri di sebuah rumah besar. Kedua orang tuanya dikejar, lalu pada akhirnya diterkam seekor kucing penjaga rumah tersebut. Arel menyaksikan sendiri dengan mata mungilnya."Guys! Ada kabar gembira nih!" Suara mengagetkan Rey tiba-tiba muncul entah dari mana. Arel yang terkaget, hampir tersungkur ke dalam aliran limbah masyarakat. Sementara itu, Reli tetap melanjutkan dengkurannya setelah beberapa saat terdiam pasca Rey berteriak."Ada apa sih Rey? Kalem dikit kenapa?""Ya maklumlah, berita bagus nih.""Iya-iya, katakan aja.""Tadi, pas lagi jalan-jalan di atas, aku lihat ada sekumpulan makanan dekat tong sampah di sebuah rumah.""Makanan?" Reli langsung bangkit dari mimpinya setelah sebuah kata "makanan" terlontar dari ujung lidah Rey."Bukan berita bagus. Setiap hari kan memang selalu ada sisa makanan di tong sampah. Manusia kan emang gitu," ucap Arel biasa saja."Iya. Tapi, ini tempatnya dekat dan sepi," balas Rey tetap kukuh."Kesempatan nih, yuk!" ujar Reli dengan liurnya mulai menetes."Terakhir kapan kita makan?""Tiga hari lalu. Tapi, aku punya beberapa lalat, mau coba satu?" tawar Reli." .... "Arel tampak berpikir keras untuk sebuah pilihan yang sulit. Di antara trauma yang masih bersarang di dalam tubuhnya, juga karena perutnya kini benar-benar berteriak keras minta diisi."Kalau kamu masih saja berpikir terus tak melakukan apa pun, aku akan lakukan sendiri," kata Rey sambil berlalu."Rey! Aku ikut!" teriak Reli ketika sudah agak jauh berlalu.Sementara itu, Arel tetap merenung, memikirkan sesuatu dengan dalam. Menimbang apa yang harus ia lakukan saat ini. Bagaimanapun ia sudah sangat kelaparan."Untuk kali ini saja, aku ikut." Arel sudah membulatkan keputusannya."Nah, gitu dong," ujar Rey dengan riang, lalu melakukan tos dengan dua sahabatnya sambil berjalan menuju rumah tersebut.Ketiga sahabat ini pun lantas mengendap-endap di balik sebuah sapu ijuk. Rey sedang mengawasi keadaan, barangkali kucing itu sedang tidak ada atau pun tidur. Reli masih mengunyah makanannya sembari menunggu instruksi dari Rey. Sementara itu, Arel gemetaran karena hidungnya mencium sebuah aroma ikan asin dan nafas yang memburu di belakangnya. Rey berada di depan, Reli di tengah, dan Arel di urutan ketiga. Di urutan paling belakang, seekor hewan berkumis telah membuka cakarnya yang tajam, hendak menerkam mangsanya.T A M A T
Sang Malam
Angin berhembus kencang kala senja mulai meredup, digantikan langit tanpa mentari yang mendinginkan suasana. Di angkasa yang luas itu, sang Malam di dalam kegelapan tengah tersenyum manis sembari menunggu Bulan menyapa. Sudah saatnya Sang Malam menghabiskan waktu bersama Bulan hari ini.Ketika siang telah usai, Sang Malam akan bertemu Bulan indah yang tak ada duanya itu. Ia sudah rindu kepada Bulan yang selalu menemani malamnya.Bulan juga tak kalah merindukan Sang Malam yang menjadi semangat untuknya bersinar. Hanya cahaya Bulan yang selalu ada dan menemani ketika Sang Malam datang. Biarlah waktu berlalu, Bulan akan menghabiskan sisa sinarnya hanya untuk Sang Malam. Mereka akan selalu bersama hingga waktu dunia telah usai.Kala itu, sang Malam tersenyum menghampiri bulan sembari berkata, "Aku merindukanmu."Bulan pun tersipu malu, ia juga tak kalah merindu. "Aku juga merindukanmu."Sang Malam semakin tersenyum, menatap cinta kepada Bulan yang tengah memerah seperti tomat. Bulan memang selalu cantik meskipun merah menghiasi, terlihat sangat menggemaskan.Ia pun berbisik. "Malam ini, kau sangat indah."Kemudian Bulan buru-buru mengulum senyum, sang Malam memang selalu bisa membuatnya malu. Tiada malam tanpa merayu, Bulan akan selalu tersipu karena rayuan yang langka itu. Begitupun sang Malam yang hanya bisa terkekeh pelan.Setiap hari, sang Malam mengirim syair-syair indah tentang Bulan yang selalu cantik. Bulan semakin jatuh cinta kala sang Malam mengukir kisah mereka bersama pada syair-syair langka dari pujaan hati yang tampan. Meskipun malam menjadi sangat dingin, tapi Bulan selalu hangat dengan syair indah itu.Sebelum malam tiba, senja selalu menjadi pertanda bahwa sang Malam akan datang. Terkadang Bulan yang menunggu, dan tak jarang sang Malam juga menunggu Bulan. Mereka saling menunggu dengan tenang meskipun waktu berjalan. Kemudian berakhir dengan senyuman bahagia kala mereka bertemu melepas rindu.Bagi Bulan, sang Malam adalah kenyamanan. Mereka saling berkeluh kesah sembari tersenyum bahagia. Semua dilalui dengan tersenyum, meskipun terkadang rasa lelah datang. Namun, Bulan mengerti sang Malam selalu kuat melewati gelap yang mencekam pada dini hari karena sang Malam akan menghabiskan waktu dengan Bulan lebih lama.Ketika Sang Malam terkekeh, tiba-tiba sinar kilat datang diikuti Petir yang menyambar. Langit berubah mendung dan semakin hitam, mereka sangat terkejut menatap langit di hiasi sinar petir. Tidak jauh dari mereka berada, suara petir menggelegar seolah siapapun yang dekat dengannya akan habis saat itu juga.CETARRR!Sang Malam mencemaskan Bulan sehingga bertanya, "Apa kau baik-baik saja?"Bulan terlihat cemas dan takut, Petir sangat menyeramkan di antara gelap."Bagaimana aku bisa tenang? Petir itu sangat menyeramkan," ujarnya. Bahkan Petir tak segan hampir mengenai Bulan jika saja sang Malam tidak menghalangi."Aku akan melindungimu," ucap sang Malam di tengah kegaduhan Petir di antara mereka.Petir menyambar dengan tiba-tiba sungguh mengganggu kebersamaan mereka. Ketika mereka mulai tersenyum bersama, diikuti cepatnya kilat petir datang dengan seramnya. Ditambah langit mendung yang mendukung bahwa keadaan cuaca akan berubah buruk.CETAAAR!"Wahai Bulan, menjauhlah darinya!"Di kala Bulan tengah ketakutan, suara oetir terdengar menggelegar menyebut namanya. Hingga Bulan berpaling, menatap tak suka pada Petir yang berbicara seenaknya itu."Apa yang sudah kau katakan?""Kau harus meninggalkan sang Malam!""Kenapa aku harus meninggalkannya?" Bulan terdengar sangat ketus.Petir menguar tertawa, kemudian berkata, "Sang Malam tidak akan bisa melindungimu dari cambukan petirku!""Tidak, aku tidak akan meninggalkan sang Malam." Bulan menatap sang Malam dengan gurat sedih bercampur cemas.Digantikan Petir yang masih menggelegar dengan cambukan panas penuh kekuatan, lantas memandang Bulan yang terlihat begitu menatap cinta pada sang Malam."Bulan, tenanglah. Meskipun bukan aku pemenangnya, tapi percayalah bahwa aku akan selalu ada bersamamu." sang Malam menenangkan Bulan dengan lembut.CETAAAR!Lagi-lagi Petir menyambar dengan kuat, sinar kilat tak henti menakuti. Namun, sang Malam tetap berada di depan Bulan. Ia akan melindungi Bulan apa pun yang terjadi. Meskipun cambukan petir itu menyapa, ia akan tetap melindungi Bulan hingga waktunya telah habis. Dengan sekuat tenaga sang Malam merentangkan tongkat sakti pada Petir."Lawan aku, sebelum kau menyakiti Bulanku!" teriaknya.Petir yang masih sibuk akan cambukan, lantas ia menatap remeh sang Malam. "Wahai sang Malam, kau hanyalah kegelapan yang mencekam! Tidak akan ada yang mencintai kegelapan sepertimu!"Sang Malam menatap marah, ia merasa bahwa petir menghina kegelapan yang ada dalam dirinya."Wahai Petir, aku tidak butuh pengakuan cinta. Karena siapa pun yang berada dalam kegelapan sepertiku adalah yang paling kuat untuk melawan Petir seperti dirimu!"Petir terkekeh. "Lebih baik kau menyerah, sebelum aku mencambukmu dengan petir panasku ini!"Sang Malam mengeluarkan kekuatan dari tongkat sakti, melawan Petir yang dengan sombong meremehkan kegelapan. Mereka bertengkar di tengah angkasa hingga menimbulkan gemuruh kencang.CETAAAR! WUSSH!Sang Malam sekuat tenaga mengalahkan Petir panas itu hingga menghilang. Tongkat sakti miliknya kembali pada tangan dengan tenang. Berbalik melihat Bulan yang masih meringkuk takut, ia menghampiri dengan perlahan."Bulan, kita sudah aman. Petir telah menghilang."Bulan menatap dan bertanya, "Apa kau baik-baik saja?"Sang Malam mengangguk yakin. "Aku berhasil."Mendengar itu, Bulan tersenyum bahagia. Ia memeluk sang Malam yang sudah berhasil mengalahkan petir dengan hebatnya dan sang Malam pun berbalik memeluk Bulan dengan begitu erat."Aku akan selalu ada bersamamu, karena cahaya Bulanmu yang membuatku kuat."Dahulu, sang Malam terlalu sepi akan kegelapan. Namun, hadirnya Bulan mengubah sang Malam menjadi sangat kuat. Cahaya Bulan telah membangkitkan sang Malam untuk mengetahui arti dari tersenyum. Ia merasa nyaman bersama Bulan hingga mereka saling jatuh hati.Terkadang kegelapan memang menyeramkan, tetapi masih ada cahaya di dalamnya yang tak akan pernah.
Pepo, Oh Pepo
Di suatu hari, riuh suasana mengisi hari seekor kura-kura. Tempurungnya yang cacat, menjadi bahan elokan para hewan di hutan. Sedih dan rapuh, mengisi hati sang kura-kura. Setiap harinya, berbagai ejekan dia terima dengan sebuah senyuman.Kala itu, petir menyambar rumahnya yang cukup sederhana dengan balok kayu sebagai papah. Reruntuhannya menghancurkan barang-barang yang dimiliki sang kura-kura.Biar aku kenalkan namanya pada kalian semua. Hewan-hewan di sekitarnya, kerap memanggilnya dengan sebutan Pepo. Seekor kura-kura yang begitu cekatan dan pandai.Saat ini, dia hanya tinggal seorang diri. Tanpa keluarga, teman atau pun saudara. Di setiap paginya, dia selalu pergi untuk mencari bahan makanan yang bisa dia gunakan atau simpan sebagai cadangan makanan di rumah. Mulai dari ujung ke ujung, selalu dia tempuh tanpa ada keluh kesah sedikit pun.Lalu pada hari itu, seekor kelinci bernama Rai mendekatinya dan bertanya padanya, "Hai, Pepo. Kau sedang apa di sini?""Aku sedang mencari bahan makanan, Rai. Aku harus mencari untuk menyimpan cadangan makanan di rumah," jawab Pepo."Wah, pas sekali. Aku juga ingin mencari makanan. Apakah aku boleh ikut?" tanya Rai."Tentu, Rai. Ayo!" jawab Pepo, lalu mereka berjalan beriringan bersama.-o0o-Di tengah perjalanan, seekor harimau tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Harimau itu tampak ganas dan mengerikan. Sampai-sampai, kelinci gemetar dan berlindung di belakang kura-kura.Saat harimau itu semakin dekat dengan jarak mereka berdua, seekor burung elang datang, mengepakkan sayapnya. Elang itu tak lain adalah Heri. Seekor elang yang memiliki sayap yang indah dan lebar. Elang itu pun bertanya, "Hai Remo. Kau sedang apa di sini?""Aku ingin mencari mangsa," jawab Remo—harimau tadi."Oh, Remo. Kau tak boleh memakan Pepo dan Rai. Mereka adalah teman kita, Remo," ujar Heri."Tidak! Mereka adalah mangsaku. Mangsaku! Bukan teman," tukas Remo tak sudi menganggap kura-kura cacat dan kelinci itu sebagai temannya."Kenapa? Bukankah mereka adalah warga di hutan ini? Kita sudah sepantasnya menganggap mereka teman, bukan?" tanya Heri."Aku tidak peduli. Aku hanya ingin makan," jawab Heri semakin mendekati kelinci dan kura-kura dengan wajah mengerikannya."Hm, baiklah. Aku pergi," ucap Heri kembali terbang jauh, menjauhi mereka bertiga."Haha. Kalian tak akan bisa selamat dariku," seru Remo semakin dekat--lima sentimeter dari jarak mangsanya.Saat harimau itu hendak menerkam mereka bertiga, segerombolan orang utan datang mendekati mereka. Orang utan itu tampak memberi perlawanan pada sang harimau. Kelinci dan kura-kura yang melihatnya, hanya bisa mengernyitkan dahi mereka—bingung. Entah apa yang sebenarnya terjadi hingga banyak hewan yang melindungi mereka saat ini. Mereka hanya bisa diam dan melihatnya dengan saksama."Hei, Remo! Jangan berani-berani mendekati mereka. Mereka itu teman kami. Kau tak berhak untuk memangsa mereka. Tak berhak sedikit pun!" gertak salah satu orang utan, yang tak lain adalah Derel."Apa kau bilang? Teman? Haha," ujar Remi tertawa keras."Ya. Mereka adalah teman kami. Kau tak bisa mendekati mereka, selama kami masih ada di sini," tukas orang utan lainnya."Oh, ya? Memangnya kalian bisa mengalahkanku? Hah!" tanya Remo menantang."Tentu saja kami bisa," ujar Derel dengan percaya dirinya.Aksi perkelahian terjadi di antara dua kubu dengan sangat seriusnya. Mereka tampak saling marah dan melampiaskan segala emosi yang ada. Saat nabastala berubah menjadi jingga, perkelahian mereka usai dengan orang utan sebagai pemenangnya. Kepintaran dan kehebatan mereka berhasil mengalahkan seekor harimau yang gagah dan perkasa. Baru itulah sang kura-kura mendekati mereka dan bertanya, "Kenapa kalian menyelamatkan kami?""Karena kamu sudah menyelamatkan nyawa kami. Ingat kejadian beberapa hari yang lalu?" jawab Derel, lalu bertanya balik.Wesh! Angin bertiup dengan sangat kencangnya. Tak seperti biasanya keadaan hutan dipenuhi dengan rasa takut akan kehancuran. Kala itu, semua rumah-rumah dan pepohonan milik para hewan, hancur berkeping-keping bak kaca yang bersemai. Namun, anehnya, rumah kura-kura menjadi satu-satunya yang masih utuh dan hanya atapnya yang runtuh.Semua hewan heran. Mengapa semua itu bisa terjadi? Padahal rumah kura-kura paling kecil dan berpotensi hancur pertama dari rumah yang lainnya. Semua itu mengundang pertanyaan di benak para hewan.Saat itulah, kura-kura membantu semua hewan dalam membangun kembali rumah mereka. Mulai dari nol, hingga menjadi rumah seutuhnya. Tak hanya itu, kura-kura juga berbagi makanan dengan mereka.Padahal, dia selalu menjadi bahan hinaan dan selalu dijauhi khalayak ramai. Dia tak pernah menyimpan dendam sekali pun pada mereka. Di saat itulah, mereka menyadari, bahwa hal yang tak sempurna, tak seburuk kelihatannya. Begitu pun sebaliknya."Jadi, begitu. Terima kasih karena sudah menyelamatkan kami," ucap Pepo mengembangkan senyumannya."Tidak. Harusnya kami yang berterima kasih," tukas salah satu orang utan bernama Lei."Hehe. Ya, sudah. Aku dan Rei harus mencari makanan.""Wah, kalau begitu, datanglah ke rumah kami. Kami punya banyak persediaan," ucap Derel menawarkan dengan senang hati."Benarkah?" tanya Rei."Iya, benar," jawab Derel."Hm, tidak. Terima kasih. Aku akan mencari sendiri. Tak enak jika harus merepotkanmu," ujar Pepo."Tak apa. Mari!" ajak Derel.Kura-kura pun menerimanya. Mereka pergi bersama dan saling merangkul satu sama lain hingga sampai di rumah orang utan. Sejak kejadian itu, semua hewan berjanji tak akan pernah mengulangi semua hal itu lagi. Mereka akan menjadi teman kura-kura, untuk selamanya.
Manusia dan Alam
Pada aman dahulu, seorang manusia yang merupakan Kepala Suku di suatu tempat di dunia ini, sudah membawa kesejahteraan pada para penduduknya. Kepala suku ini mempunyai jiwa kepemimpinan yang besar. Dia begitu tegas, ramah, dan menebarkan rasa kasih sayang kepada para penduduknya.Namanya Raja Mala. Raja Mala bukanlah seorang raja biasa. Dia mempunyai kemampuan untuk berbicara pada Alam. Itulah kenapa, kemakmuran menghampiri para rakyatnya. Bahkan, dia menamai semua alam itu dengan berbagai macam nama, seperti Pantai, Pasir, Samudera, Gunung, Tanah dan lain sebagainya.Kehidupan kerajaan ini dan rakyatnya tidak jauh dari Alam. Mereka begitu bersahabat pada alam. Begitu pun dengan Alam yang senang berdampingan dengan para manusia itu. Karena hubungan kedua makhluk hidup ini mulai tercipta, ketika Raja Mala dan para Alam membuat perjanjian untuk saling menjaga dan memberi.Manusia menjaga alam dengan merawat dan menanam mereka, dan juga memanfaatkan sumber daya mereka dengan secukupnya. Alam pun berjanji untuk tidak akan mengusik peradaban ini dengan bencana, dan akan terus memberi kenyamanan serta kebutuhan mereka tanpa pamrih.Sudah ratusan tahun hubungan ini terjalin dengan baik. Hingga pada suatu ketika, Raja Mala termenung di atas gunung sambil melihat suasana kampungnya dari atas sana. Terdapat sedikit perbincangan dari Raja Mala dengan Alam di sekitarnya."Hei, Mala. Apa yang sedang kamu pikirkan seharian di atas ini?” tanya Gunung.“Aku memikirkan tentang banyak hal yang berhubungan dengan kita,” jawab Raja Mala.“Kita?” seru Gunung kebingungan.“Sepertinya aku akan sedikit memberi perubahan pada wilayah kekuasaanku ini,” lanjut Raja Mala.“Apa maksudmu, Mala?” tanya Gunung kembali.“Kalau dilihat. Selama ini, rakyatku menanam dan merawat kalian dengan baik, memanfaatkan Alam ini dengan secukupnya. Rakyatku juga yang memetik hasilnya sendiri, semua mereka lakukan sendiri. Tanpa bantuan sedikit pun dari kalian,” jelas Raja Mala."Jadi, apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan?” tanya Gunung kembali."Yah, sepertinya sudah merupakan hal yang wajar jika mereka dapat memanen lebih dari kata cukup seperti biasanya. Karena merekalah yang melakukan semua hal itu sendiri dan itu adalah hak rakyatku untuk menikmatinya sendiri,” jelas Raja Mala lagi.Para Alam terlihat ricuh saat mendengar perkataan Raja Mala yang mengejutkan itu. Mereka semua meneriaki Raja Mala untuk menarik kembali ucapannya karena bisa merusak perjanjian mereka yang sudah terjalin lama."Hei, Mala. Tarik ucapanmu itu,”teriak Pohon.“Kamu tidak akan tumbuh, jika rakyatku tidak menanammu," balas Raja Mala.“Jangan terlalu angkuh, Mala. Kalian tidak bisa hidup tanpa kami!” sahut Air sungai.“Kalian terdapat banyak di belahan Bumi ini, kalian tidak akan pernah habis walaupun rakyatku terus mengambil. Menurutku, sudah tugas kalian untuk mencukupi segala sesuatu yang diperlukan oleh rakyatku," jawab Raja Mala membalas ucapan Air.“Hati-hati Mala. Kalian tidak akan hidup makmur jika tanpa kami,” seru Gunung.“Diamlah, Gunung. Jika tidak ada kami, kalian akan merasa kesepian di dunia ini. Dengan adanya kami, adalah bukti bahwa kalian sudah tugasnya melayani segala kebutuhan kami," balas Raja Mala dengan penuh amarah.Alam tidak berhenti meneriaki Raja Mala. Namun, dia mengabaikan semua itu dan turun dari Gunung. Semenjak kejadian itu, Raja Mala juga menjelaskan pada semua Alam tentang pemikirannya. Semua Alam tidak ada yang menyetujui sama sekali pemikirannya karena dapat merusak keseimbangan dan perjanjian yang sudah terjalin bertahun-tahun.Raja Mala Pulang ke Singgasananya dengan wajah yang kusut dan terlihat marah karena apa yang dia pikirkan tidak diterima oleh Alam. Para penasihat melihat ekspresi Raja Mala yang sangat memprihatinkan itu."Ada apa, Tuanku?” tanya Penasihat.“Penasihatku, pemikiranku sama sekali tidak disetujui oleh mereka. Kalau terus begini, eakyatku tidak dapat mengambil sumber daya alam dengan jumlah yang lebih dari cukup untuk kebutuhan mereka. Dan kemakmuran kerajaan ini," jelas Raja Mala.“Lupakan kritik mereka, Tuanku. Mereka melupakan apa yang sudah kita lakukan bertahun-tahun untuk generasi mereka. Dan mereka membalasnya dengan tidak mau memberikan sedikit lebih banyak hasil mereka. Tuanku bukan Raja bagi rakyat ini saja, tapi sudah termasuk Raja bagi Bumi ini. Semua keputusan Tuanku adalah perintah mutlak,” jelas Penasihat.Mendengar penjelasan penasihat itu, Raja Mala pun merasa mendapat persetujuan dari para rakyat tercintanya. Hingga akhirnya, para rakyat mulai memproduksi sedikit lebih banyak dari hasil yang mereka tanam sebelumnya. Mereka menebang banyak pohon sekaligus untuk pembangunan desa, mengambil air, sayur dan buah dalam jumlah yang besar. Sehingga, beberapa kali Raja Mala mengadakan Pesta besar-besaran atas kemakmuran desa ini.Alam merasa sangat marah saat itu, mereka selalu mengkritik dan berteriak sekencang-kencangnya pada para manusia. Namun, hanya Raja Mala saja yang dapat mendengarnya. Dan ia hanya mengabaikan hal itu. Selama Rakyatnya bisa bahagia dengan apa yang sudah mereka hasilkan bertahun-tahun ini.Gunung sudah tidak tahan lagi dengan sikap Raja Mala, Gunung pun berteriak dengan sangat kencang sambil berkata, “Mala, ini sudah keterlaluan. Terimalah akibatnya!" teriaknya.Teriakan Gunung membuat gemuruh yang sangat besar, hingga mengagetkan para rakyat yang sedang berpesta. Tanah saat itu bergetar, para rakyat takut dan kebingungan. Tiba-tiba, puncak Gunung itu pecah mengeluarkan asap dan api dalam jumlah yang begitu banyak. Mereka semua kaget dengan apa yang terjadi pada Gunung itu. Hingga Raja Mala membawa mereka menuju ke pesisir Pantai.Namun, gemuruh tidak hanya terjadi di Gunung. Gemuruh juga terjadi di dalam Laut. Air tiba-tiba saja menyurut sedikit dari Pantai dan mereka tidak tahu sama sekali apa yang akan terjadi. Hingga pada akhirnya, sebuah gelombang setinggi dua puluh meter menuju ke arah mereka. Raja Mala begitu kebingungan dan gelisah melihat keadaan rakyatnya yang panik, mereka sudah terkepung.Lava turun perlahan menuju kaki Gunung, dan Air Laut menghampiri mereka dengan kecepatan yang tinggi. Karena dataran mereka yang sudah sedikit gundul, membuat gelombang itu dengan mudah menghancurkan dataran dan banyak rakyat Raja Mala yang tewas karena hal itu.Raja Mala sendiri yang selamat dalam bencana itu. Dia begitu menyesal dengan keputusannya. Namun, yang terjadi sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Alam berhenti percaya kepada Raja Mala. Dataran dia hancur dan mengalami kekeringan setelah itu, hingga memutuskan Raja Mala untuk berlabuh ke dataran lain dan mencari peradaban.Sampai sekarang ini, bencana tidak berhenti menghantui manusia. Di mana pun kita bersembunyi saat ini. Alam memberikan hukuman yang setimpal untuk manusia serakah seperti Raja Mala. Namun, tetap mentoleransi pada manusia yang masih ada bentuk rasa kepedulian terhadap kelangsungan hidup Alam.
Hasian dan Gogo
Di Huta Siantar Standuk, ada seorang ompung bermarga Hasugian. Ia punya banyak ternak. Ia menyayangi ternak-ternaknya. Dari semua ternak, yang paling disayanginya ialah Hasian, seekor ayam betina.Hasian berbulu indah. Badannya besar. Rajin bertelur. Karena itu, Ompung Hasugian merasa senang dengan Hasian. Apabila hendak pergi, Ompung Hasugian selalu membawa Hasian. Ia tak peduli orang menertawakannya. Baginya, Hasian pembawa keberuntungan. Lebih-lebih, kalau sedang memancing.Suatu ketika, Ompung Hasugian pergi ke dekat kaki gunung untuk memancing. Di situ, ada sungai yang jernih. Tak lupa, ia membawa Hasian.Saat Ompung Hasugian asyik memancing, Hasian berjalan ke arah gunung untuk mencari cacing. Tak sadar, ia telah masuk jauh ke dalam. Namun, Hasian tidak merasa takut. Ia justru penasaran.Hasian menemukan sebuah telur besar. Ia heran melihat besarnya telur itu. Saat asyik mengamati, tiba-tiba telur itu retak.‘Ciap? Ciap Ciap!’Seru anak burung yang baru menetas. Melihat si anak burung sendirian, Hasian merasa iba. Ia mematuknya dan membawanya pergi.Di sungai, Ompung Hasugian mencari-cari Hasian. Ia hampir menangis ketika melihat Hasian kembali. Dengan cepat, ia mengangkat Hasian.“Ke mana saja kau, Nang? Aku takut kali kehilangan kau! Eh, apa yang kau bawa itu?” katanya memperhatikan paruh Hasian.Ia menurunkan Hasian. Diambilnya si anak burung dengan hati-hati. “Ini kan anak elang? Dari mana dapatmu?” tanya Ompung Hasugian.Hasian berkotek-kotek ke arah kaki gunung. “Ini harus dikembalikan. Nanti dicari induknya,” kata Ompung HasugianHasian berkotek-kotek lebih keras. Bahkan, mematuk-matuk kaki Ompung Hasugian. Ia tak rela si anak burung dikembalikan.“Aduh, baiklah kalau itu maumu. Kita bawa saja ke rumah. Kau jaga baik-baik. Tapi, ingat! Kalau sudah besar, dia harus dilepaskan!” tegas Ompung Hasugian.Mendengar itu, Hasian meluapkan kebahagiaannya. Ia mengepak-ngepakkan sayap. Berlari-lari mengelilingi Ompung Hasugian.Ompung Hasugian geleng-geleng kepala melihat kelakuan Hasian.“Kita kasi namalah anak elang ini. Bagaimana kalau Gogo? Karena elang itu kuat,” kata Ompung Hasugian.Demikianlah Gogo menjadi keluarga baru di peternakan Ompung Hasugian. Hasian membawa Gogo pulang dengan bangga. Sesampainya di peternakan, ternak-ternak lain melihat Gogo penasaran.Bunyi ribut terdengar di seluruh peternakan manakala Hasian membawa Gogo jalan-jalan. Mereka belum pernah melihat elang. Walau demikian, mereka senang. Gogo tidak terlihat buas. Hasian mendidik Gogo seperti mendidik anak ayam.Hari demi hari, bulan demi bulan, Gogo bertambah besar. Paruhnya semakin tajam. Cakarnya semakin kokoh. Sayapnya semakin lebar. Melihat itu, Ompung Hasugian mendekati Hasian.“Sudah saatnya Gogo dilepaskan,” kata Ompung Hasugian.Hasian tertunduk. Ia terlihat tak rela. Tapi, ia ingat janjinya. Dengan berat hati, ia berkotek pelan.Esoknya, Ompung Hasugian membawa Gogo kembali ke kaki gunung. “Gogo, di sini rumahmu. Pulanglah pada keluargamu,” kata Ompung Hasugian melepas Gogo.“Selamat tinggal, Gogo!” pamit Ompung Hasugian. Ia berbalik. Sebenarnya, ia merasa sedih kehilangan Gogo. Namun, ia sadar bahwa peternakan bukan tempat Gogo.Tiba-tiba, Gogo mengepakkan sayapnya. Ia terbang dan hinggap di bahu Ompung Hasugian. Ompung Hasugian terkejut.“Gogo? Sejak kapan kamu bisa terbang?” tanya Ompung Hasugian heran.Gogo mengelus kepalanya ke kepala Ompung Hasugian. Kemudian, berteriak pelan. Ompung Hasugian tersenyum.“Gogo, Ompung tidak mengusirmu. Hanya saja, peternakan bukanlah rumahmu. Rumahmu ialah alam liar. Kalau rindu, kamu boleh pulang kapan pun kamu mau. Kami akan tetap menerimamu,” kata Ompung Hasugian“Ingatlah selalu mereka yang membesarkanmu dengan baik,” pesan Ompung Hasugian.Gogo menjawab dengan mengelus kepala Ompung Hasugian. Ia pun terbang menghilang. Ompung Hasugian merasa lega atas pengertian Gogo. Ia pulang dengan air mata kebahagiaan.Di peternakan, Hasian terlihat murung. Ia tidak mau makan. Pikirannya terus pada Gogo. Ompung Hasugian bersedih melihat keadaan ternak kesayangannya itu.Berulang kali, ia membujuk Hasian makan. Namun, Hasian tetap tidak mau makan. Hasian membiarkan saja makanannya sampai berhari-hari.Hasian menjadi semakin kurus. Tubuhnya semakin lemah. Saat itulah, Gogo datang ke peternakan. Badannya terlihat gagah. Semua hewan ternak memandangnya dengan kagumIa mengetuk paruhnya di pintu rumah Ompung Hasugian.Melihat Gogo, Ompung Hasugian bergegas memeluknya. Ia menangis. Mengadu keadaan Hasian.Gogo mengerti. Ia pun terbang menjumpai ibu angkatnya. Hasian terlihat menyedihkan. Napasnya berat. Gogo merasa sedih.“Hasian, anakmu datang,” kata Ompung Hasugian.Melihat Gogo, Hasian mencoba berdiri. Tapi, ia tidak kuat. Dengan lembut, Gogo mengangkat Hasian dengan paruhnya. Ia teringat masa lalu. Saat itu, Hasian yang membawanya ke peternakan.Hasian merasa senang. Gogo masih mau kembali. Padahal, Hasian hanya ibu angkat. Hasian pun kembali bersemangat dan mau makan.Sejak saat itu, Gogo sering berkunjung ke peternakan. Ia tidak pernah lupa mereka yang telah membesarkan dan mendidiknya dengan baik. Demikianlah peternakan Ompung Hasugian menjadi penuh sukacita karena kebaikan-kebaikan yang ditabur oleh Hasian dan Gogo.
Keajaiban Si Marmut
Suatu pagi yang cerah, ada si Marmut yang sedang mandi di tepi sungai. Pagi-pagi buta, si Marmut melakukan rutinitasnya seperti biasa yaitu bekerja di pasar dengan giat untuk menyambung hidupnya. Ketika berangkat, si Marmut tidak sarapan karena bahan pangan si Marmut sudah habis. Akhirnya pun si Marmut lekas berangkat kerja supaya tidak terlambat.Si Marmut adalah kaum yang sangat tampan di antara kaum yang lain, tetapi sayang hidup si Marmut ini bukanlah kaum yang kaya. Ia tergolong kaum yang miskin atau kurang mampu. Si Marmut hidup sebatang kara. Keluarganya sudah tiada. Kedua orang tua si Marmut sudah meninggal dan si Marmut adalah anak tunggal.Si Marmut belum mempunyai pendamping hidup yang tulus, banyak calon wanita-wanita yang mendekatinya karena memang Marmut tampan. Namun, setelah wanita-wanita tersebut tahu bahwa Marmut adalah orang yang kurang mampu dan hidup sebatang kara, wanita-wanita tersebut menjauhi Marmut dan bahkan tidak pernah menemui Marmut lagi.Terkadang bertemu di jalan tak pernah bertegur sapa sama sekali dan Marmut pun sangat sedih. Dia tetap bersabar. Marmut selalu berdoa kepada Tuhan."Ya Allah, pertemukanlah hamba dengan jodoh hamba yang sholeh dan menerima saya dengan apa adanya. Hamba janji ya Allah, hamba akan berusaha lebih keras lagi untuk kehidupan ini hingga hamba memiliki keluarga kecil," ujar Marmut dalam doanya.Sesampainya di pasar, seperti biasanya Marmut langsung memutari semua pedagang untuk menarikan biaya tempat sewa perdagangan mereka. Marmut di sini bekerja sebagai asisten yang kerjaannya hanya sebagai pesuruh dan gajinya pun juga tidak seberapa, tetapi Marmut tetap bersyukur atas karunia yang telah Allah berikan kepadanya.Marmut tidak sendiri, ia bersama shohibnya yaitu Kelinci. Kelinci adalah sahabat baik Marmut dari kecil hingga sekarang.Usai menarik uang pedagang mereka pun beristirahat, Marmut mengajak Kelinci untuk makan."Makan, yuk. Laper nih, belum sarapan," ujar Marmut yang lelah karena kelaparan dan juga capek seharian mutar di pasar."Ya, udah. Ayo, aku temenin kebiasaan emang jarang sarapan," ujar Kelinci yang sangat kasian dengan Marmut."Iya, kamu tau kan aku hidup sebatang kara. Boro-boro ada yang nyiapin makanan," ujar Marmut yang sudah sangat kelaparan."Ya udah yang sabar aja, ya. Terus berdoa biar cepet punya pendamping yang nerima apa adanya supaya besok ada yang nyiapin makanan," ujar Kelinci mendoakan Marmut."Aamiin, baik banget di doain. Hihi," ujar Marmut bahagia."Udah lah, nggak usah lebay. Mau es teh dua sama nasi goreng buat Marmut satu," ujar Kelinci sembari memesan untuk keduanya."Nggak makan?" tanya Marmut."Udah kenyang, tadi Ibu kan nyiapin sarapan," ujar Kelinci menjelaskan Marmut."Oke," jawab Marmut singkat."Gini Mut, nggak usah khawatir. Jodoh dah ada yang ngatur. Tuhan nggak asal kok milihnya karena jodoh itu cerminan dari kita. Kalau kita baik pasti kita juga dapet calon yang baik juga sebaliknya, tapi semisal kita buruk, ya udah tinggal bayangin aja jodohnya kayak apa," canda Kelinci sembari memberi sedikit ilmu pada Marmut."Coba mau nanya kalau semisal udah baik, tapi jodohnya kita buruk gimana tuh. Meraka nggak cocok cerai cari baru atau selingk ... " ujar Marmut terpotong"Sst, jangan dilanjutin. Itu mah kitanya aja yang nggak introspeksi diri ngaku-ngaku baik. Semisal udah terlanjur, lebih baik perbaiki, bicara dengan baik, pecahkan masalah dengan kepala dingin. Intinya kita cari jodoh itu yang bener lah, nggak perlu cantik deh, ya. Walapun kau sangat tampan, penting nerima apa adanya. Udah cukup itu pun sudah bersyukur," ujar Kelinci menjelaskan lebih lengkap.“Iya juga kebanyakan zaman sekarang ciwi-ciwi pada matre sih,” ujar Marmut sebagai penutup obrolan di siang itu.Usai istirahat meraka kembali bekerja hingga sore, dan setelah mereka selelsai Marmut menghampiri si Kelinci."Allhamdulillah selesai, ayok pulang," ujar Marmut dengan lelah."Yuk, siap." Semangat Kelinci menjawab."Besok libur," ujar Marmut senang."Iya, eh besok mandi di sungai sekalian nangkep ikan daripada bosen di rumah," ujar Kelinci seraya mengajak Marmut."Wah, ide bagus. Aku suka banget idemu," ujar Marmut senang."Ya, emang ideku bagus. Aku kan cermelang." Lagak sombongnya Kelinci yang penuh canda pun keluar.“Iya deh, iya. Besok ke rumahku dulu, ya jemput,” ujar Marmut."Oke, sip,” singkat Kelinci.Pagi pun tiba dan si Kelinci sudah sampai di rumah Marmut."Mut ....""Eh, iya. Cepet banget, masih pagi ini,” ujar Marmut yang masih mengantuk."Ayo cepetan kebetulan masih pagi nih, ikannya masih fresh,” ujar Kelinci semangat.Ketika si Marmut udah selesai buang air tiba-tiba, di pertengahan jalan ada buah beri yang jatuh.“Alhamdullilah, rezeki nih. Makan ah, kebetulan belum sarapan," ujar Marmut seraya melahapnya.Tiba-tiba ...."Wahai anak muda, apakah kau sedang makan buah beri milikku?” ujar paman Kucing.Si Marmut pun ketakutan seraya menjawab, “Ma ... maafkan saya, Paman. Tadi saya makan karena kelaparan, tapi saya janji Paman akan bertanggung jawab atas semua ini. Saya hanya kaum yang miskin Paman, mungkin saya bisa membantu paman berkebun,” kata Marmut yang sangat ketakutan dan ia juga bertanggung jawab atas semua yang ia perbuat.“Oke, baiklah. Kamu harus bertangung jawab, kau harus menikahi putriku. Putriku seorang gadis yang cacat tidak bisa melihat tidak bisa berjalan. Terserah, mau tidak mau kau harus bertanggung jawab atas yang kau perbuat,” ujar tegas paman Kucing.Setelah bepikir panjang Marmut pun menyetujui karena ia harus bertanggung jawab.“Baik, Paman. Aku akan menikahi putrimu."Akhirnya mereka berjalan menuju rumah paman Kucing untuk melihatnya. Sampai di ruang tamu, Paman ke dalam kamar putrinya dan memanggil. Saat putrinya datang, Marmut pun kaget."Ma'syaa Allah, cantiknya” ujar Marmut kagum karena putrinya tidak cacat sama sekali."Iya, ini putriku. Ketika aku bilang cacat menguji kesetiaanmu, ia tidak pernah keluar rumah untuk itu aku carikan jodoh yang pas,” ujar Paman.Akhirnya Marmut mendapat pasangan yang diidamkan. Marmut pun memberitahu sahabatnya yang berada di sungai atas kejadian tadi. Marmut hidup bahagia dan tak sebatang kara lagi.
ORANG-ORANGAN MONOPOLI, DADU, DAN UANG DOLAR YANG MENEMANI LEGO
"Sudah lama aku terbaring di kotak ini."Orang-orangan hijau terbangun dari tidurnya yang sudah sangat lama setelah merasakan kotak tempatnya tidur bergerak."Lego lebih suka ponsel pintarnya. Jangankan kita, mainan murahan yang menemani masa kecilnya ... lihat saja buku-buku mahal yang ada di rak itu juga tidak disentuhnya," kata si Merah galak."Tahu dari mana kamu soal itu?" tanya si Kuning."Aku tahu dari Dadu yang suka menggelinding tiap kali Lego memindahkan kita. Dia mudah mengintip!" tuding si Merah."Apa Lego akan memindahkan kita lagi?" tanya Dadu yang menggelinding ke salah satu sudut kotak, mengenai si Kuning yang kakinya tersangkut di celah kotak yang sudah bolong."Lihat hotel-hotel itu. Dulu mereka mahal sekali! Sekarang nasibnya sama dengan rumah-rumah dan kartu dana umum dan kesempatan. Tergeletak di dalam kotak, tidak tersentuh sama sekali." Kali ini si Hitam yang bersuara. Dia melihat sekeliling."Aku ... andai saja aku jadi dadu yang ada di meja bar permainan para mafia di TV. Orang-orang kaya dan perempuan-perempuan cantik di sana akan lebih baik daripada kotak ini," keluh Dadu. "Awas ... awas!!!" teriaknya pada si Kuning yang masih saja tertidur, hampir saja keluar dari kotak yang sudutnya sudah menipis, sedikit berlubang karena kaki runcing si kuning yang menyangkut."Tahu dari mana kamu kalau dadu bisa ada di meja mafia?" tanya si Kuning yang terbangun karena Dadu yang mengimpitnya."Aku mengintip Lego yang menonton film mafia waktu itu," Dadu menjawab. "Coba saja kamu lihat dari celah tempat kakimu tersangkut itu. Ah, Lego akan memindahkan kita ke mana lagi?!" teriak Dadu saat merasakan kotak tempat mereka tinggal kembali bergerak." Issshhhhh , rumah-rumah dan hotel itu berisik sekali!" seru si Biru yang paling pendiam. "Waaahhhhh! Awas ... awas! Dana umum dan kesempatan akan mengenai kalian," katanya melihat kartu berwarna hijau dan pink itu terlepas dari ikatannya."Uang-uang itu juga. Aku senang mereka semakin kelihatan sedikit, tapi tetap mereka yang paling banyak. Awas, Dadu!" teriak si Hijau.Tiba-tiba cahaya menyorot ke seisi kotak. Lego dewasa memperhatikan semua isi kotak dengan bahu menurun. Dia membenarkan posisi si Kuning, melepaskan kakinya yang tersangkut pada sudut kotak."Ah, terima kasih Lego!" seru si Kuning yang kini bergabung dengan si Merah, Hijau dan Biru."Berlebihan sekali, kau, Kuning!" kata si Hitam kesal karena tempatnya sempit dengan si Kuning di sebelahnya."Aku masih berharap kalau Lego bisa mendengarkan kita."Suara berat dari gambar uang-uangan Dolar menarik perhatian seluruh isi kotak."Konyol sekali, kau, Dolar!" tawa Dadu meledek. "Kau tahu, ada film anak-anak yang sering ditonton Lego. Di sana mainan seorang anak juga bercakap-cakap seperti kita.""Lalu?" tanya si Biru. "Apa hubungannya dengan kita?""Di sana mainan-mainan itu juga tidak bisa bicara dengan pemiliknya. Mereka berinteraksi satu sama lain. Menjadi saksi si pemilik yang tumbuh dewasa.""Seharusnya kalau Lego ingat kita, dia akan tersentuh dengan film itu. Mungkin dia akan merapikan kita, membiarkan kita berkumpul dengan mainan lain atau ...." Dolar menggantungkan ucapannya."Membuang kita. Aku mengerti itu." Si Biru tidak ambil pusing dengan perkataan Dolar. "Tapi buktinya, Lego tidak pernah membuang kita. Ke mana pun dia pergi, kita akan selalu dibawanya. Saat dia pindah rumah, tinggal di asrama, tinggal di kosan, sampai sekarang tinggal di apartemen. Sebatas itu. Sudah cukup. Tidak perlulah dia mendengarkan kita.""Tapi aku bosan hidup di kotak hanya dengan kalian," kata si Hitam. "Lego! Aku ingin keluar!""Hai, apa kalian yang jadi ide cerita Lego yang tidak punya lego dalam buku yang terpisah sendiri di sana?" tanya perempuan yang datang bersama Lego, mengabaikan sejenak benda pintar yang semula ditekuninya. "Hebat! Kamu masih punya monopoli. Aku ... waktu kecil aku membelinya setiap tahun untuk dimainkan di bulan puasa."Lego tertawa. "Hampir aja lupa, mau aku pindahin," kata Lego yang sedang menuangkan air. "Kotaknya udah rusak.""Ini monopoli edisi lama banget, Lego!" seru perempuan itu riang. "Aku dulu kalau main ini suka pakai orang yang warna biru."Si Biru tercengang begitu perempuan itu mengangkatnya, meletakkannya di telapak tangannya, menelitinya lebih dekat."Kalau aku malah enggak pernah pakai yang biru, Cita," kata Lego, menyerahkan air minum untuk temannya itu.Si Merah, Kuning, Hijau dan Hitam, semuanya bergantian melihat si Biru."Apa karena Biru itu melambangkan kesedihan?" tanya Cita, meletakkan si Biru lagi ke tempatnya. "Ah, berarti novel pertamamu itu kisahmu sendiri?""Novel apa? Apa Lego penulis?" Dadu berisik bertanya.Lego terangguk dengan senyum manisnya, kembali menekuni kotak usang yang hendak digantinya. Semua isi kotak itu meluncur ke atas meja, mendekat pada laptop yang terbuka."Sebenarnya dulu kalau pakai si Biru itu aku enggak pernah menang. Aku miskin," kekeh Lego. "Saat besar, baru aku tahu makna biru itu apa ... sampai aku jadikan tambahan buat pelengkap cerita di novelku. Biru enggak selalu berarti sedih, Cita ...."Si Biru yang ikut menyimak percakapan itu, tersenyum. Si Hitam, Merah, Kuning dan Hijau ikut melihatnya."Biru itu punya banyak makna. Menjadi simbol banyak macam perasaan. Mungkin karena Biru mewakili warna langit, laut."" Feeling the blue, out of the blue ," Cita menyebutkan dua kalimat terkenal. "Kita lihat langit di saat sedih, melamun, tapi langit cerah juga yang bikin kita senang dan tenang. Suara angin, suara air laut.""Atau karena kita senang yang bikin langit jadi terlihat indah karena kita butuh tenang yang bikin laut jadi menenangkan," lanjut Lego."Enggak tahu, ah! Capek ngomong sama penulis. Enggak ngerti," keluh Cita yang ditertawai Lego. "Tapi itu semua yang bikin kita lebih merasa. Jadi teman kita buat berpikir lebih dalam. Benar kan kalau dengan itu semua pikiran kita lebih mudah dirasa?""Sekarang aku yang enggak ngerti sama omongan kamu," ledek Lego."Hih!" Hampir saja Cita mengambil rumah-rumahan, melemparkannya pada Lego saking kesalnya. "Apa berarti kamu juga enggak punya mainan lain waktu kecil? Seperti dalam novel itu?" tanya Cita penasaran. Kembali dia mengambil si Hitam, Merah, Kuning, Hijau dan Biru, meletakkannya semua di telapak tangannya. "Kamu sungguh enggak punya Lego walaupun namamu Lego, tapi kamu punya monopoli ini yang sekarang mungkin udah beda edisi.""Iya, jangankan lego yang mahal. Monopoli itu pun aku beli pakai uang jajanku. Ibuku pernah bilang kalau dia enggak akan membelikan aku mainan, apa pun, karena aku akan lupa belajar. Aku jadi malas nantinya, tapi ...." Lego menaikkan bahunya, tidak melanjutkan ucapannya."Kenapa?""Dulu aku enggak cukup mampu buat beli lego," terang Lego, mengingat masa kecilnya. "Mungkin karena tahu lego itu mahal, aku jadi enggak punya keinginan buat beli."Cita yang mendengarnya ikut bersedih melihat Lego."Tapi monopoli yang bisa kamu beli itu yang bikin kamu banyak belajar sampai jadi juara di sekolah, jadi jenius sampai sekarang akhirnya jadi penulis sukses!" Cita menjabarkannya dengan bangga. "Kalau kamu suka lego, punya, mungkin kamu juga akan punya cerita dengan lego.""Mungkin." Lego terangguk-angguk. Dia langsung menuliskan apa kata Cita tadi. Siapa tahu bisa jadi ide untuk cerita berikutnya."Aku suka buku-buku, sampai sekarang aku koleksi. Kalau lagi beres-beres, selalu aku ingat waktu aku beli buku itu," cerita Cita, kembali ke masa kecilnya. "Kamu juga, kan, Lego?""Persis. Aku dan monopoli punya cerita panjang. Karena monopoli, aku jadi mau tahu negara-negara itu. Aku cari tahu soal Jepang, Spanyol, negara-negara di Komplek H, Pelabuhan dan Bandara. Semuanya! Itu karena monopoli," cerita Lego yang juga seperti kembali ke masa lalu."Dan cerita itu udah kamu tuliskan. Kenapa kamu menuliskannya, Lego?" tanya Cita, merapikan semua isi kotaknya; orang-orangan, rumah-rumahan, hotel, dadu, uang, dan semua kartunya. "Kamu juga merawat mereka dengan baik, masih menyimpannya.""Mereka itu temanku, Cita," kata Lego, memberikan kotak kayu yang tampak seperti peti harta karun. "Aku mau mereka terus menemaniku, jadi cerita sampai aku tua nanti."Orang-orangan, Dadu, dan Dolar tercenung mendengarnya."Apa semua penulis memang perasa seperti kamu, Lego?" tanya Cita, membuat Lego terbahak. "Aku jadi berpikiran kenapa orang-orang suka menulis. Waktu ke waktu otak kita akan terus diisi dengan ingatan yang baru. Menulis jadi salah satu cara buat kita ingat.""Menulis itu magis, Cita ... aku enggak pernah peduli orang bilang aku melankolis, sensitif atau seperti perempuan," terang Lego bangga."Aku baru tahu kalau cita-cita itu punya jenis kelamin," sindir Cita. "Jangan ambil hati omongan seperti itu!""Tolong susun semuanya di sini," kata Lego yang sudah selesai menyusun sebagian kartu dan uang dolar, tidak mau menanggapi apa kata Cita.Cita menurutinya. Orang-orangan yang tadi dimainkannya semua berpindah ke kotak kayu besar."Ah, tempat ini lebih nyaman!" seru Dadu yang menggelinding ke bagian sudut. "Kotak ini ada celahnya. Aku bisa dengan mudah mengintip Lego.""Untuk apa kamu mengintipnya? Tidak sopan!" kata Dolar. "Andai Lego membayangkan kalau kita hidup. Andai dia bisa mendengar kita juga. Mungkin dia akan membuang kita karena kita berisik sekali membicarakannya.""Tapi itu yang selalu kamu bayangkan," timpal si Hitam."Kamu, kok, bisa masih nyimpan ini?" tanya Cita masih heran di tengah-tengah kegiatannya merapikan isi kotak kayu yang sudah ditempati semua penduduk monopoli. "Selain kamu mau terus sama mereka, menjadikan mereka cerita di hari tua. Kenapa juga kamu menuliskannya jadi cerita?" tanya Cita, masih belum selesai dengan keingintahuannya."Aku mau mereka dapat aku kenang waktu aku pikun sekalipun," jelas Lego. "Aku baca mereka, aku jadi ingat mereka. Aku punya cerita panjang soal kenapa monopoli ini penting buat aku. Kalau aku ceritakan bisa jadi satu buku.""Dan kamu sudah menjadikannya sebuah cerita, menjualnya dalam bentuk buku.""Lebih dari cerita di buku. Aku mau orang-orang juga punya perasaan atas apa yang mereka punya, Cita. Berpikir sebelum membeli. Apa kegunaannya, apa bisa menjaganya?" Lego memulai khotbahnya. "Aku juga ingin orang tahu kalau apa-apa yang kita punya akan selalu punya cerita. Enggak peduli berapa harganya, gimana bentuknya. Yang penting gimana kita suka sama benda itu," jelas Lego dengan senyum. "Walaupun mereka hilang, rusak atau aku yang pikun, aku akan tetap punya cerita dengan mereka."" Ugh , Lego romantis sekali!" Dadu berseru, terkagum dengan Lego, terharu dengan ceritanya."Itu pesan yang aku dapat dari buku pertamamu itu, Lego," ungkap Cita. "Kamu berhasil!""Terima kasih Cita!" Lego senang mengetahuinya."Oh iya, si Putih enggak ada di sini." Cita menyusun uang-uangan yang berceceran.Ucapan Cita menarik perhatian semua penduduk monopoli yang tengah menikmati rumah baru mereka."Dia patah. Kalau kamu lihat di sana, aku menempelkannya di depan buku catatanku."Cita meraih buku catatan yang ditunjuk Lego. Si Merah dan kawan-kawannya, Dadu dan Uang Dolar bersorak begitu melihat si Putih masih ada."Putih, kukira kamu mati!" seru Dolar, tertawa membahana. "Atau menghilang.""Tidak. Aku hanya sulit bergerak saja, tidak bisa bertemu kalian juga.""Kasihan dia sendirian," kata Cita, mengusap si Putih."Hahaha benar juga," Lego berpikir sebentar, melihat buku catatannya. "Masukan saja ke kotak itu nanti.""Apa bukunya enggak akan kamu pakai lagi?" tanya Cita, menutup buku tersebut."Buku itu satu kesatuan dengan monopoli," ucap Lego mulai yang tidak Cita mengerti. "Seperti kata kamu tadi, kasihan si Putih sendirian."Cita menggeleng-gelengkan kepalanya. Meski aneh dengan jawaban Lego, dia memasukkan buku itu ke kotak.Semua penduduk monopoli menyambut hangat kembalinya si Putih dengan sorak-sorai."Putih ... Putih, kamu tahu apa yang ditulis Lego di sana?" tanya si Kuning penasaran."Ya, apa yang ditulisnya? Aku sering melihatnya menulis di sana!" seru Dadu si tukang intip."Menuliskan kita semua," kata si Putih. "Aku tidak peduli lagi soal kehancuranku yang ditempelkannya di sampul buku yang membuatku terimpit saat dia menulis, tapi karena itulah aku mendengar banyak cerita Lego.""Apa ceritanya? Apa Putih? Katakan pada kami!" si Hijau penasaran sekali."Ceritanya ....""Lego suka membacakan apa yang sudah ditulisnya. Aku pernah melihatnya," jawab Dadu."Iya, tapi apa yang dia katakan?" tanya si Hitam mulai kesal."Apa yang dituliskannya?" tanya si Biru yang juga tidak sabar.Kotak kayu yang mereka tempati kembali bergerak. Lego mengangkatnya."Akan dibawa ke mana lagi kita sekarang?" tanya si Dolar yang dari tadi diam.Orang-orangan, Dadu, dan Dolar yang berpencar, mengintip lewat celah kayu."Kamu yakin mau bawa mereka? Rak bukumu penuh sekali, Lego. Ada bukuku juga. Kamu juga sibuk. Aku pun sama. Kita tidak akan sempat merawat mereka," Cita mengingatkan."Apa dua puluh tahun mereka yang tetap ada tidak cukup jadi bukti kalau aku bisa menjaga mereka?" tanya Lego.Semua penduduk monopoli di dalam kotak terharu mendengarnya."Bukan cuma Lego yang semakin tua ...," kata si Merah bijaksana."Aku yang menguning," kata si Dolar. "Mereka yang menipis dan memudar," ia melihat semua kartu yang bertumpuk jadi satu; dana umum, kesempatan, kartu kepemilikan."Kita yang berdebu," si Putih melanjutkan."Waktu kecil mereka yang membawaku ke banyak tempat di dunia, Cita. Sekarang, aku yang akan bawa mereka ke mana-mana," tutup Lego.
MENGENAL SEBELUM MEMULAI
"Andai kata memang waktu adalah jawabannya, apa benar? Pada akhirnya, bahagia bisa ditemukan?"Pertanyaan itu kembali berputar di kepala seorang anak berkepribadian melankolis, dengan tubuh dibalut penuh kepingan es. Sebuah pertanyaan semu, yang sebab semakin sering munculnya, kini telah menjelma bagai teman sejatinya.Jika ada yang ingin tahu, mengapa sebuah pertanyaan bisa dijadikan seorang teman baginya, jawabannya adalah, karena dia tidak dikelilingi oleh siapa pun selain kesendirian. Harinya diselimuti kesepian.Namanya Shiver, pemilik jiwa yang sulit untuk berkembang karena sewaktu kecil, anak-anak di sekitarnya enggan membawanya jalan.Katanya, Shiver terlalu dingin, tidak menyenangkan, cenderung membosankan, kaku, sehingga tidak cocok dengan kelompok mereka. Melalui ucapan yang kian menyakiti hati tersebut, Shiver jadi paham kehadirannya tidak diterima.Oleh karena itu, ketika waktunya hadir di saat anak-anak berkumpul untuk bermain di tengah hamparan ilalang kuning, Shiver hanya memangku lututnya erat di bawah pohon rindang demi menutupi keberadaannya. Duduk, mengamati tiap gelak tawa yang terpancar di antara anak-anak yang sibuk bercengkerama bersama, namun ia tidak ikut meramaikannya.Demi sebuah alasan yang sesulit itu untuk ia petik, Shiver menyimpulkan jika ia bergabung, kebahagiaan yang terpancar di depannya akan serempak menghilang begitu saja. Presensinya seburuk itu dalam menghancurkan suasana. Anak-anak membenci dirinya. Wajar ia perlu menghilang.Satu-satunya hal yang biasa ia lakukan untuk menghibur diri ketika itu terjadi adalah, Shiver akan membayangkan sebuah skema dalam benak di mana dirinya turut berlari mengitari ilalang kuning dengan senyum terbaiknya. Membaringkan tubuh, sejajar lurus di atas rerumputan, sedang tangannya digerakkan melayang seakan ia tengah bermain kejar-kejaran.Nahas, ketika ia tersadar bahwa imaji hanyalah gambaran semu yang sulit menjadi nyata, Shiver biasanya akan segera pulang ke rumah dan menangis seharian. Iya, bayangannya tidaklah nyata. Begitu seterusnya, hari demi hari, hingga waktu memakan usianya tanpa memancarkan kebahagiaan.Lantaran kehidupan Shiver sangatlah muram, di suatu malam seorang nenek sihir datang mengunjungi kediamannya. Sesumbar dengan tongkat kayu yang ujungnya memercik cahaya gelap menakutkan, Nenek Sihir itu berkata, "Kau terlalu menyedihkan Shiver! Anak-anak seumurmu, seharusnya hidup bahagia dalam masanya. Jika kau tidak segera merasakan itu, maaf, maka setiap air mata yang menggenang jatuh dari pelupukmu, akan menjelma bagai es batu yang semakin lama ia beku, ia dapat membunuh jiwamu."Kala itu, Shiver tidak melawan. Ia secara sukarela menerima kutukan tersebut. Namun, selepas semua mantra habis diucapkan, Shiver mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Nenek Sihir terdiam menimbang jawaban."Jika memang hidupku menyedihkan dan begitu berbeda dari yang lainnya, apa yang mungkin sebenarnya hilang dalam diriku ini?" kata Shiver berani mendongakkan kepalanya menghadap Nenek Sihir. Matanya yang kelam tidak menyorotkan sedikit pun ketakutan, Shiver hanya ingin mendengar sebuah alasan. "Apa waktu bisa menjadi jawabannya? Banyak orang bertaruh pada waktu untuk mengubah nasib buruk. Apa itu juga berlaku untukku?""Itu merupakan sesuatu yang perlu kau temukan sendiri, Shiver. Barangkali, waktu bisa jadi musuh terbesarmu. Ingat, kutukan ini mengikat jiwamu bersamanya." Melalui kalimat terakhir itu, bayangan Nenek Sihir pun hilang bagai debu yang begitu mudahnya diterpa udara malam.Hari itu, adalah hari pertama di mana air mata Shiver yang biasa datang menemani kesendirian, berubah selayaknya musuh yang tidak segan mengikis usianya.Bertahun-tahun pun cepat berlalu semenjak kejadian tersebut. Kabar Shiver masih tidak baik-baik saja. Tubuhnya semakin berat menopang padatan es akibat tumpahan air mata sementara ia belum bisa menemukan bahagianya.Selama itu pula, Shiver belum lagi keluar rumah. Ia takut, rasa sepi yang menyelimuti akibat sakitnya sebuah penolakan akan membuat air matanya turun deras memadati tubuh. Jadilah, untuk mengingat bentuk rupanya sebuah canda tawa yang begitu ia dambakan, Shiver mencurinya dengan cara mengintip ke luar jendela yang mengarah tepat ke hamparan ilalang kuning tempat anak-anak biasa berkumpul. Pecahan tangisnya tidak akan seburuk ketika ia melihatnya langsung dari jarak yang lebih dekat.Kutukan yang dimilikinya saat ini, mungkin hanya memberinya kesempatan satu kali seumur hidup untuk dipatahkan. Pilihannya hanya ada dua, Shiver bisa memperpanjang hidupnya dengan terus membekukan diri di dalam rumah sampai nanti waktunya tiba, atau Shiver bisa pergi mengangkat kakinya ke luar sana, dengan catatan, jiwanya menjadi taruhan atas rasa sakit dalam perjalanan mencari kebahagiaan.Demikian, tepat pada hari ini, Shiver memutuskan untuk mengambil risiko kesempatan satu kali seumur hidupnya.Shiver menarik napas panjang. Ia bergegas menarik daun pintu dengan jantung menggebu-gebu, siap kembali memasuki dunianya yang nyata. Hilir embusan angin yang menderu, menjadi sobat pertama yang menyambut kedatangannya. Kupu-kupu pun beterbangan, daun-daun jatuh bebas berkeliaran, Shiver rindu semua tentang dunia luar yang memberinya kehangatan.Tak lama kemudian, anomali sekejap berubah. Tiba-tiba, cerahnya cuaca yang dikibarkan mentari, mendadak dingin akibat kehadiran Shiver. Shiver memeluk dirinya dengan erat. Berharap apa? Alam pun menghindari sebuah kutukan. Namun, Shiver sudah terlanjur keluar, tidak mungkin ia kembali masuk ke dalam.Berbekal kutukan Nenek Sihir yang sangatlah ingin ia patahkan, Shiver tetap menapakkan kakinya maju menuju hamparan ilalang kuning. Ia tidak mau menerima nasib buruknya begitu saja. Shiver ingin mengakhirinya sekarang juga.Sesampainya di tempat tujuan tempat anak-anak biasa berkumpul, Shiver mendapati kolam kebahagiaannya terpancar dari sana. Mungkin, selama waktu telah berjalan, mereka telah berubah. Barangkali di masa kini, Shiver akan diterima."Hai, boleh aku ikut bergabung?" batin Shiver berucap. Belum benar-benar diucapkan, melainkan masih sebatas angan-angan di kepala.Meski begitu, keberadaan Shiver tetaplah kentara. Kumpulan pasang mata berbalik menghadap Shiver. Shiver terpaku. Ada rasa sakit yang ia tidak mengerti, hadirnya selalu muncul di dalam sana. Tatapan yang diterimanya saat ini, bukanlah tatapan yang menyenangkan. Shiver tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."Jelek sekali? Siapa manusia es batu itu?""Aku tidak menyukainya.""Dia sangat berbeda dari kita semua.""Kutukan Nenek Sihir? Dia pasti melakukan sesuatu yang sangat buruk!""Menyusahkan! Lebih baik pergi saja!""Iya, pergi yang jauh sekalian!"Mendengar banyaknya untaian kata yang menyusun kalimat penuh lara, Shiver menggenggam kedua tangannya erat. Ia tidak membalas. Sebaliknya, ia menuruti permintaan mereka semua. Bedanya, kali ini ia tidak kembali ke rumah. Ia benar-benar pergi jauh sekali melewati perbatasan kampung halamannya."Aku tidak akan pernah bisa bahagia," ucap Shiver di sela-sela pelariannya. Kutukan tentu tidak mengingkari janji. Tubuhnya tidak mampu lagi menahan padatnya kepingan es yang meninggi. Air mata Shiver terus bercucuran, rasa sakit itu tidak bisa ia lupakan."Sampai di sini." Pada akhirnya, Shiver tidak bisa melanjutkan perjalanan. Ia menggigil berat. Terjatuh begitu saja di tengah hamparan salju entah sejauh mana ia telah berkelana.Di penghujung sisa-sisa waktu terakhirnya, Shiver mendongakkan kepala mengamati bola air berbentuk kapas yang melayang di udara. Shiver pikir, setidaknya jika ia menghilang hari ini, cukuplah keberadaannya ditemani kerumunan salju berwarna putih."Hei! Kau tidak apa-apa?"Shiver tersentak. Ada seseorang yang berusaha menopangnya dari belakang."Kau bisa mati jika menyerah di sini. Ayo, ikut aku!" ujarnya menggendong Shiver secara sukarela.Shiver terperanjat. "Kenapa kau menolongku?" Sedikit rona kehangatan muncul dari dasar hatinya."Kenapa? Bukankah sudah seharusnya sebagai sesama makhluk hidup, kita perlu saling menolong?" jawabnya terhadap Shiver. "Apa yang kau lakukan di tengah badai salju seperti ini?""Aku sedang mencari seorang teman," balas Shiver kepada sang penyelamat."Teman?""Iya, teman. Aku butuh teman untuk saling berbagi kisah mengenai kebahagiaan."Sang penyelamat termenung. Ia terus membawa Shiver menuju gubuk tempatnya tinggal. Sembari menyalakan api unggun dan memberi Shiver pakaian berjahit tebal, ia menyambung percakapan. "Aku bisa menjadi temanmu.""Hm ... tapi kita adalah dua orang asing yang tidak saling mengenal.""Kalau begitu, ayo, saling berkenalan." Sang penyelamat tersenyum."Kau tidak takut dengan penampilanku yang seperti ini?" Shiver memindai perawakannya yang tampak sangat kacau. "Di sisi lain, banyak yang bilang aku membosankan."Sang penyelamat duduk mendekati Shiver. "Aku tidak percaya kata orang-orang. Sebagian besar dari mereka, hanya terpaku pada apa yang terlihat di luar. Buta sebelum menilik ke arah dalam." Ia mengucapkan hal tersebut dengan lugas. "Aku ingin memastikan, bahwa aku bukanlah salah satu dari orang-orang itu. Oleh karenanya, mari kita berteman. Aku yakin, kau pun tidak seburuk apa yang dibicarakan orang-orang."Untuk pertama kalinya, Shiver menemukan sesosok manusia yang mau menerimanya begitu sempurna. Tak terasa, balok-balok es yang menutupi tubuhnya mulai mencair sebagaimana hatinya pun menghangat. Bukan dari panasnya api unggun, bukan juga dari pakaian berjahit tebal, melainkan berdasar atas kebaikan sang penyelamat."Baik, mari kita berteman." Shiver tersenyum ceria. "Akan kupastikan, aku tidak seburuk apa yang dibicarakan orang-orang."Hari itu, sebuah kutukan kejam yang diberikan Nenek Sihir pun terangkat dari kelamnya jiwa Shiver. Selama terjadinya, Shiver telah banyak menderita sebab orang-orang enggan mengenalnya sebelum memulai. Bahagianya bergantung pada penilaian massa. Namun, berkat keajaiban sang penyelamat, Shiver percaya, waktu akan terus memberikan kesempatan untuknya menemukan seseorang yang tepat.Shiver hanya perlu terus mencari. Pula memercayai, suatu saat nanti layaknya hari ini, akan ada masa di mana dunia kembali membagi hangatnya pertemanan yang turut menyertai.