Gambar dalam Cerita
Triple L
Leonardo Putra Abraham, anak laki-laki yang kini sudah berusia 28 tahun dan bekerja sebagai Direktur di perusahaan keluarga mereka. Leon adalah anak pertama dari Pasangan Aditya Abraham dan Mia Larasati. Leon adalah tahta tertinggi di dalam keluarga Abraham.
Leon memiliki dua adik kembar laki-laki yang juga tampan seperti dirinya. Varoliam Putra Abraham dan varelian Putra Abraham. Dua adik kembar Leon yang usianya hanya berjarak tiga tahun lebih muda dari dirinya.
Kediaman keluarga Abraham pun tak pernah sepi dari pertengkaran mereka bertiga. Namun dibalik pertengkarannya, mereka bertiga tetap saling menyayangi satu sama lain.
"Boys, kalian tau kan kemarin Mama ke Jogja karena sahabat Mama meninggal dunia" Ucap Mia
"Iya Ma" Balas Leon, Liam dan Lian
"Mama dan Papa udah mutusin untuk menjaga anak sahabat Mama yang ditinggal pergi kedua orang tuanya" Ucap Mia
"Hah? Mama angkat anak? Apa masih kurang kita bertiga bikin rusuh dirumah Ma?" Tanya Liam
"Diem dulu ege! Mama belum kelar ngomong!" Omel Leon
Diantara ketiga anaknya, Leon dan Liam lah yang memang seringkali bertengkar. Sedangkan Lian sebagai anak terakhir justru lebih pendiam dibanding kedua kakaknya.
"Bukan adopsi juga sih boys, anak sahabat Mama udah besar kok. Mama cuma jagain dia karena dia perempuan. Mama kasian kalo liat dia harus tinggal sendirian"
"Mama dan Papa juga akan biayain kuliahnya disini nanti" Ucap Mia
"Cewek Ma? Cantik gak? Kalo cantik mah langsung jodohin aja sama Liam. Biar Liam yang jagain dia secara lahir dan batin" Balas Liam
Tukk
Leon menyentil kening Liam
"Awss sakit bang!" Rintih Liam
"Mangkanya, jangan asal kalo ngomong! Masalah cewek aja cepet banget" Omel Leon
"Abang Leon, Liam dan Lian. Mama cuma pesen bantu Mama jagain dia ya nak. Jangan di gangguin atau digodain terus. Bikin dia betah tinggal disini, karena Mama udah lama pengen punya anak cewek yang bisa nemenin Mama kalo kalian sibuk sendiri" Ucap Mia
"Ma, maafin kita ya kalo selama ini sering ninggalin Mama sendiri di rumah" Ucap Lian
"Iya Ma, maaf ya Ma"
"Sebagai gantinya, Liam janji Liam bakal bantuin Mama jagain anak sahabat Mama itu" Ucap Liam
"Iya Ma, kita janji gak bakal gangguin dia kok. Kita akan bantu Mama jagain dia" Balas Leon
"Makasih ya boys" Balas Mia
"Liam, jangan di gangguin loh! Papa hajar kamu kalo dia sampe gak betah gara-gara kamu" Ucap Aditya
"Astagaaa, Liam terus yang di curigain" Balas Liam
"Soalnya cuma lo yang keganjenan mulu sama cewek! Noh liat kembaran lo? Dia anteng mulu, gapernah keliatan deket cewek malah" Ucap Leon
"Apaan sih bang" Balas Lian
"Kan emang bener dek, lo gapernah tuh ngajakin cewek ke rumah. Beda sama dia, tiap bulan beda-beda mulu ceweknya" Ucap Leon
"Mumpung masih muda, punya wajah tampan buat apa kalo gak di manfaatin kan" Balas Liam
"Liam!" Tegur Aditya
"Eh, hehe. Becanda Papa ku sayang" Balas Liam kikuk
"Awas kamu sampe rusak anak gadis orang ya! Papa kirim ke pesantren kamu!" Ancam Aditya
"Paa astaghfirullah, Liam emang playboy. Tapi Liam gapernah rusak anak gadis orang kok. Sumpah demi apapun deh"
"Abang nih kali, sama Kak Angel udah gitu-gituan" Ucap Liam
"Mulut lo gue sobek beneran ya dek!" Ancam Leon
"Bang?" Tanya Mia
"Ma sumpah, Leon gapernah ngapa-ngapain Angel. Jangan dengerin omongan kutu kupret ini ma" Balas Leon panik
"Liam emang bener-bener ya" Omel Aditya
"Hahahaha peacee Ma, Pa, Bang" Balas Liam
Semua orang menggelengkan kepalanya melihat tingkah Liam yang sangat menjengkelkan
***
"Boys, kenalin ini Salsadila Anggraini. Panggilannya Sasa. Dia anak sahabat Mama yang akan tinggal disini mulai hari ini" Ucap Mia
"Hay Sa, kenalin nama gue Liam" Ucap Liam sembari mengulurkan tangannya
"Hay Bang Liam, aku Sasa" Balas Salsa menjabat tangan Liam
"Udah, gantian gue!"
"Hay Sa, gue Leon. Anak pertama Mama Mia" Ucap Leon setelah menepis tangan Liam
"Hallo Bang Leon, aku Sasa" Balas Salsa
Setelah menjabat tangan Leon, Salsa beralih menatap Lian yang hanya diam tanpa mengenalkan dirinya.
"Kalo yang ini? Kembaran Bang Liam ya?" Tanya Salsa pada Lian
"Lian" Ucap Lian singkat
"Hay Bang Lian" Balas Salsa
"Jangan sakit hati yaa, Lian mah emang begitu. Dia cuek Sa, beda sama gue eh aku. Dia mah gak asik" Ucap Liam
"Sasa kan dari Jogja, dia gak biasa pake bahasa lo gue. Jadi kalian biasain ya pake aku kamu, diubah kalo ngomong sama Sasa. Mulai hari ini dia adik kalian, anak perempuan Mama! Ngerti!" Tegas Mia
"Siap boss" Balas Liam
"Iya Ma" Balas Leon
"Lian?" Panggil Mia
"Iya Mama" Balas Lian
"Okee"
"Yuk sayang, Mama anter ke kamar kamu" Ucap Mia sembari menggandeng tangan Salsa
"Iya Ma" Balas Salsa
Setelah kepergian Salsa dan Mia, Liam masih saja menatap kepergian gadis itu.
"Heh! Kedip!" Tegur Leon
"Bang, gila bang! Dia beneran manusia kah bang? Kok cantik banget bang?" Tanya Liam
"Ya jelas manusia bego! Kalo bukan terus apa? Jin?" Ucap Leon
"Kali aja bidadari yang Tuhan kirim untuk jadi jodoh gue" Balas Liam
"Ngayal aja lo! Sasa juga gak akan mau sama lo! Dia mah maunya sama gue! Direktur tampan dan ternama!" Balas Leon
"Dih! Sing eling! Lo udah punya Angel! Anak orang udah di obok-obok malah mau di tinggalin" Omel Liam
"Alah, kek lo gapernah aja sama mantan-mantan lo" Balas Leon
"Gapernah gue anjirr! Palingan main atasan doang" Balas Liam
"Sama aja ege!" Balas Leon
"Bang, gausah macem-macem ya Lo! Sasa punya gue!" Ucap Liam
"Ya terserah Sasa lah. Kita bersaing secara sehat, kalo Sasa mau sama gue. Langsung gue nikahin!" Balas Leon
"Gila! Si Angel mau di kemanain!" Ucap Liam
"Putusin" Balas Leon
"Yeuhh brengsek lo emang bang! Gue aduin Mama lo ya" Ancam Liam
"Bercanda elah! Gue mau tunangan sama Angel, gue gak akan rebut Sasa"
"Tapi sih gue yakin, Sasa gak akan mau sama lo! Dia pasti maunya sama si Lian" Ucap Leon
"Kenapa gue?" Tanya Lian
"Lo emang gak tertarik gitu sama si Sasa? Sasa kan cantik bro" Balas Liam
"Biasa aja" Balas Lian
"Wahh bang, adek lo beneran harus di periksa sih. Takutnya dia pelangi" Ucap Liam
"Sembarangan aja lo! Gue normal!" Balas Lian
"Hahaha udah udah, mending kita berangkat deh ke kantor dek. Gausah gangguin Lian lagi"
"Lo gak ke cafe dek?" Tanya Leon
"Nanti agak siangan bang" Balas Lian
"Yaudah, gue sama Liam ke kantor dulu ya" Ucap Leon
"Iya bang, hati-hati" Balas Lian
"Jangan godain calon istri gue ya Li, awas aja lo" Ucap Liam
"Udahh, ayoo!" Tegur Leon
Lian memang memilih jalannya sendiri dengan membuka usaha sebuah cafe. Berbeda dengan Leon dan Liam yang memilih bekerja di kantor keluarganya, Lian lebih memilih menjadi pengusaha.
Lian tidak tertarik dengan pekerjaan di kantor yang menurutnya membosankan. Lian lebih tertarik dengan usaha kuliner yang membuatnya memutuskan untuk membuka cafe. Dan ternyata cafenya cukup ramai hingga kini Lian memiliki tiga cabang cafe dan hampir 60 karyawan.
***
"Hay Bang Lian" Sapa Salsa
"Hay" Balas Lian
"Bang Lian lagi bikin apa? Mau aku bantuin?" Tanya Salsa
"Cuma bikin mie instan, gaperlu dibantuin" Balas Lian datar
"Ohh yaudah" Balas Salsa
Saat Salsa hendak pergi, Lian kembali memanggil Salsa
"Sa" Ucap Lian
"Eh? Iya? Kenapa bang?" Tanya Salsa
"Mau mie juga? Biar sekalian abang masakin" Ucap Lian
"Bb-boleh bang, aku mau mie juga" Balas Salsa gugup
"Yaudah, tunggu di meja makan aja. Biar abang masakin" Balas Lian
"Makasih bang" Balas Salsa
Salsa berbalik menuju meja dengan senyuman di wajahnya. Sudah hampir satu bulan dia tinggal dirumah keluarga Abraham. Salsa mulai tau karakter orang-orang yang tinggal bersama dirinya. Termasuk Lian, Salsa sangat tertarik dengan karakter Lian yang dingin dan cuek.
Padahal selama ini Liam dan Leon lah yang selalu bersikap hangat dan ramah pada Salsa demi menarik perhatian Salsa. Namun perhatian Salsa justru terfokus pada Lian, laki-laki dingin yang membuat Salsa penasaran.
Dan saat ini, hati Salsa semakin tak karuan saat ia harus makan berdua dengan Lian. Salsa sibuk menatap Lian yang duduk di sampingnya sembari menyantap mie dan menatap layar televisi.
"Kenapa liatin abang?" Tanya Lian tanpa menatap Salsa
Salsa salah tingkah saat ia kepergok dengan Lian sedang menatapnya
"Hhmm gapapa, cuma heran aja" Balas Salsa
"Heran kenapa?" Tanya Lian
"Bang Lian dan Bang Liam tuh kembar. Tapi sifat dan perilakunya sangat jauh berbeda"
"Bang Liam friendly, sedangkan abang cuek banget" Balas Salsa
"Oh" Balas Lian
"Gitu doang jawabannya? Gak ada yang lebih panjang kah bang?" Tanya Salsa
"Mau yang panjang? Tuh di bawah" Balas Lian
"Hah? Maksudnya?" Tanya Salsa
Salsa ikut menatap ke arah tatapan Lian
"Ihh mesum!" Rengek Salsa
"Hahaha becanda Sa" Balas Lian terkekeh
"Loh? Eh? Ternyata abang bisa ketawa hahaha gemes deh" Balas Salsa
"Abang kan manusia, jelas bisa ketawa" Balas Lian
"Hahaha ya jarang aja liat abang ketawa. Ngomong aja di irit-irit" Balas Salsa
"Males aja ngomong hal yang gak penting" Balas Lian
"Kalo sama aku, jangan irit-irit dong bang" Ucap Salsa
"Kenapa?" Tanya Lian
"Ya biar gak garing aja, capek tau cari topik obrolan" Balas Salsa
"Yaudah iya, abang usahain" Balas Lian
"Yeayy, makasih bang"
"Btw mie nya enak. Abang pinter masaknya" Ucap Salsa
"Cuma mie instan doang, di bilang pinter masak" Balas Lian
"Hahaha yaudah sih biarin, emang enak kok" Balas Salsa
"Sa? Abang boleh ngomong?" Tanya Lian
"Boleh, silahkan bang" Balas Salsa
"Besok-besok jangan pakai baju seperti ini lagi ya" Ucap Lian
Pasalnya saat ini Salsa tengah memakai crop top dengan bawahan hotpans yang sangat pendek.
"Kenapa Bang?" Tanya Salsa
"Disini ada Bang Leon, Bang Liam dan Abang yang tinggal sama kamu. Kita laki-laki dewasa, dan kamu perempuan yang masih sangat muda"
"Kamu jangan tersinggung, tapi abang ingetin ini demi kebaikan kamu. Dijaga ya pakaiannya, kalo di kamar gapapa pakai begini. Tapi kalo keluar kamar, pakai pakaian yang lebih tertutup"
"Kamu udah gede, abang yakin kamu tau maksud abang apa" Jelas Lian
Salsa terperangah menatap Lian yang dengan lembut menasehatinya. Ini kali pertamanya Salsa melihat Lian berbicara panjang padanya.
Salsa tersenyum menatap Lian
Gak salah aku suka sama kamu bang. Kamu emang beda *batin Salsa
"Kok diem? Dengerin abang gak?" Tanya Lian
"Iya abang, aku dengerin abang kok"
"Maaf yaa, lain kali aku gak akan keluar kamar dengan pakaian terbuka lagi" Balas Salsa
"Good girl" Balas Lian
***
"Sa, sini cantik duduk sebelah Bang Liam" Ucap Liam
"Sini aja Sa, deket Bang Leon. Deket Liam mah bau" Timpal Leon
"Sembarangan aja lo bang! Gue wangi yaa, sini Sa" Balas Liam
"Haduhh tiap mau makan malam selalu begini! Udah Sa, mulai hari ini dan seterusnya kamu duduk deket Lian aja. Jangan sama mereka, berisik" Omel Aditya
"Iya Pa" Balas Salsa
"Yahhh Papaaaaaa" Rengek Liam
Salsa tersenyum lalu duduk disebelah Lian.
"Gapapa kan bang, aku duduk sini?" Tanya Salsa
"Gapapa, duduk aja" Balas Lian
"How's your day Sa? Everything good?" Tanya Leon
"Alhamdulillah baik kok Bang, semuanya lancar-lancar aja" Balas Salsa
"Betah di kampus baru Sa? Ada yang deketin kamu gak? Kalo ada bilang Bang Liam ya, biar Bang Liam samperin" Ucap Liam
"Aman Bang, gak ada kok" Balas Salsa
"Leon, Liam udah! Biarin Sasanya makan dulu, kalian jangan berisik!" Omel Mia
"Iya Maaa" Balas Leon dan Liam
Selama makan, Leon dan Liam sibuk memperhatikan Salsa. Salsa sendiri justru sibuk meredamkan jantungnya yang berdebar sangat kencang hanya karena ia duduk disebelah Lian. Semakin hari rasanya Salsa semakin tak bisa mengontrol perasaannya pada Lian.
Padahal selama ini jarang ada interaksi lebih antara dirinya dan Lian. Namun anehnya, perasaan Salsa semakin bertumbuh setiap menatap mata teduh dari Lian.
"Sasa kenapa? Dari tadi megang dadanya? Sakit sayang?" Tanya Mia
"Eh, gapapa kok Ma" Balas Salsa kikuk
"Beneran Sa? Kita ke rumah sakit aja yuk" Ajak Liam
"Gaperlu bang, beneran aku gapapa kok" Balas Salsa
"Jangan bohong, kalo emang sakit mending ke rumah sakit" Ucap Lian
Semua orang terperangah melihat Lian mengatakan hal itu pada Salsa
"Apa? Kenapa semua liat Lian?" Tanya Lian heran
"Lo tumben dah Li, ngomong lebih dari tiga kata" Ucap Liam
"Biasa aja" Balas Lian
"Wahhh abang udah feeling nih, si kembar bakal berebut dapetin Sasa" Ucap Leon
"Liannn, lo suka sama Sasa?" Tanya Liam
"Apasih lo, gak jelas. Skip" Balas Lian
Salsa sedikit kecewa dengan jawaban Lian, padahal Salsa sudah sangat menantikan jawaban lelaki itu tentang perasaannya.
Apa iya gue harus jadi cegil biar bisa deketin Bang Lian? Kalo Bang Liannya ilfiel gimana ya? *batin Salsa
"Yaudah sih, gapapa kalo emang Lian suka sama Sasa. Gue ngalah ajaa, sekalinya doi suka cewek masa tega gue rebut"
"Ntar jadi trauma dia, suka sama cewek, terus malah suka sama sesama kan ngeri ya" Ucap Liam
Leon refleks menoyor kepala Liam yang berada tepat di sampingnya
"Jangan asal kalo ngomong!" Tegur Leon
"Kurang kenceng bang" Timpal Lian
"Wahhh lo, gue udah ngalah malah gak dibelain ya" Ucap Liam pada Lian
"Bodo" Balas Lian
"Udah udah udah! Astagaaaa, tiap hari ada aja topik buat berantem! Papa heran sama kalian" Omel Aditya
"Mama sampai pusing sama kalian, udah pada gede kelakuannya masih aja gak berubah, heran" Omel Mia
"Ma, Pa udah yaa. Kasian abang-abang Sasa"
"Nanti kalo mereka udah pada nikah, pasti Mama dan Papa rindu momen-momen ini loh" Ucap Salsa
"Tuh, Ma, Pa. Sasa bener tauuu, nanti kalian pasti rindu sama Liam" Timpal Liam
"Dek! Astagaaa!" Tegur Leon
"Hehe, mencairkan suasana aja bang" Balas Liam
"Sasa bener juga sih, tapi nak kalo tiap malem begini pusing juga" Ucap Aditya
"Hahaha abang-abang Sasa, jangan berantem terus. Kasian Mama Papa tuh, pada pusing denger kalian berantem terus" Balas Salsa
"Oke siap boss cantik, kita gak akan berantem di meja makan lagi" Ucap Liam sembari memberi hormat pada Salsa
"Giliran Sasa di dengerin, orang tua di lawan. Durhaka lo dek" Timpal Leon
"Astagaa bang, siapa juga yang durhaka coba" Balas Liam
"Kutuk aja Ma, jadi kerikil" Ucap Lian
"Dih, hahahaha kembaran gue lucu juga ternyata" Ledek Liam
Semua tertawa mendengar ucapan Lian dan Liam.
***
"Sayang, Mama arisan dulu yaa. Apa kamu mau ikut Mama?" Tanya Mia
"Gak Ma, Sasa dirumah aja ya" Balas Salsa
"Yakin? Sasa dirumah sendiri loh, Papa dan abang-abang udah berangkat kerja" Ucap Mia
"Iya Ma, Sasa berani kok. Mama berangkat aja ya" Balas Salsa
"Yaudah, Mama tinggal ya sayang. Maafin Mama, Mama udah terlanjur janji soalnya sama temen Mama" Ucap Mia
"Mama ihhh, gausah minta maaf. Mama berangkat aja, Sasa beneran gapapa Mama cantikk" Bujuk Salsa
"Haha yaudah, Mama berangkat ya sayang" Ucap Mia
"Iya Ma, hati-hati" Balas Salsa
Setelah kepergian Mia dari kamarnya, Salsa mengambil ponselnya dan membuka galeri. Salsa sangat merindukan kedua orang tuanya.
"Ayah, Bunda apa kabar? Disana indah ya yah? Bun? Sampai kalian tega ninggalin Sasa disini sendirian?"
"Yah, Bund. Sasa kangen banget sama kalian hiks hiks. Kenapa kalian tega ninggalin Sasa sendiri?"
"Sasa rindu sama kalian, Sasa rinduu hiks hiks" monolog Salsa sembari menangis terisak
"Sasa kan gak sendiri disini, ada Mama, Papa dan abang-abang" Ucap seseorang yang kini sudah duduk di hadapan Salsa
"Bang Lian?" Ucap Salsa shock
Lian tersenyum lalu menarik Salsa kedalam pelukannya
"Lagi kangen Ayah Bunda ya?" Tanya Lian
Salsa semakin terisak sembari memeluk erat tubuh Lian.
"Hiks hiks iya bang, aku kangen banget sama Ayah dan Bunda" Balas Salsa
"Kamu boleh rindu, tapi alangkah baiknya kalo rindu itu kamu sampaikan lewat doa, bukan tangisan Sa"
"Ayah dan Bunda pasti ikut sedih liat kamu nangis gini Sa" Ucap Lian
Salsa melepaskan pelukannya lalu menatap Lian
"Bang Lian bener, gak seharusnya aku nangis gini" Balas Salsa lalu menghapus air matanya
Entah keberanian dari mana, Lian justru membantu mengusap air mata Salsa lalu mengusap wajahnya
"Jangan nangis lagi, nanti cantiknya ilang" Ucap Lian
Salsa tersenyum lalu mengambil tangan Lian di wajahnya dan ia genggam
"Bang, makasih yaa. Abang dan keluarga abang udah baik banget sama aku" Ucap Salsa sembari mengusap tangan Lian
"Iya sama-sama. Janji ya jangan nangis lagi" Balas Lian
"Iyaa"
"Oh iya? Kok abang disini? Bukannya tadi udah berangkat kerja?" Tanya Salsa heran
"Iyaa, tapi nyampe cafe ternyata semua kerjaan abang udah beres. Abang gabut, yaudah abang pulang"
"Waktu abang pulang, pintu kamar kamu gak ketutup rapat dan abang liat kamu lagi nangis. Makanya abang masuk" Ucap Lian
"Hhmm pasti Mama lupa tutup pintu kamarnya" Balas Salsa
"Mama? Mama pergi?" Tanya Lian
"Iya, baru aja berangkat arisan" Balas Salsa
"Ohh, kok kamu berani sendirian? Padahal di kamar ini udah lama gak di huni, dan katanya sihh - "
"Abanggggggg jangan nakutinnnn" Rengek Salsa
"Hahaha gemes banget sih" Balas Lian
"Sumpah? Abang ketawa? Yaampun, baru kali ini liat abang ketawa selepas itu" Balas Salsa
"Apasihh, abang kan juga manusia" Balas Lian
Lian sendiri heran dengan dirinya, dua bulan tinggal bersama Salsa. Hidupnya terasa jauh berbeda dari sebelumnya. Lian merasa sejak kehadiran Salsa, hidupnya semakin berwarna. Lian juga mulai menyayangi Salsa, namun bukan sebagai adik tapi sebagai pria pada wanitanya.
Salsa yang gemas pun menangkup wajah Lian dengan kedua tangannya
"Kenapa?" Tanya Lian heran
"Abang tuh ganteng kalo senyum atau ketawa. Aku jadi gemes" Balas Salsa
Lian melepaskan kedua tangan Salsa lalu menggenggamnya.
"Jangan bilang gitu lagi, nanti abang terbang" Ucap Lian
"Hahaha apasih bang, garing" Balas Salsa
Lian menatap Salsa dalam-dalam, Salsa pun menghentikkan tawanya saat menyadari Lian tengah menatapnya intens. Salsa pun terkunci dengan tatapan Lian yang semakin lama semakin mendekat. Hingga tak terasa kini bibir Lian sudah menikmati bibir manis Salsa.
"Ahhh abangghh" Desah Salsa saat Lian mulai menyesap nipplenya
Ya, Lian dan Salsa terlalu terbawa suasana. Rumah yang sepi dan di dalam kamar hanya ada mereka berdua membuat keduanya kini tak sadar telah berbuat terlalu jauh. Lian berhasil membuka seluruh pakaian Salsa hingga kini Salsa benar-benar naked di bawahnya.
Mulutnya sibuk menyesap nipple Salsa, dan tangannya memainkan milik Salsa hingga Salsa menggelinjang menikmati kenikmatan yang Lian berikan padanya.
"Ouhhh Sa, iyaa Sa terushh Saa aghhh" Desah Lian sembari menjambak rambut Salsa agar menuntun gerakan Salsa lebih cepat memanjakan miliknya
Setelah saling menuntaskan satu sama lain, Lian kembali mengukung tubuh Salsa.
"Yakin mau lanjut? Abang sebenernya takut rusak kamu, kita udah terlalu jauh Sa" Ucap Lian
Salsa yang sudah kepalang nafsu pun ingin merasakan apa itu having sex seperti yang di ceritakan oleh teman-temannya. Apalagi dengan laki-laki yang selama ini menjadi penghuni di hatinya. Salsa benar-benar tak memikirkan resiko dibelakang, hari ini Salsa hanya ingin menghabiskan waktunya bersamaa Lian.
"Abang, aku punya abang, aku mau abang" Balas Salsa
Lian tersenyum lalu kembali menyambar bibir Salsa dan melanjutkan kegiatannya.
"Makan malam nanti, pakai kerudung ya Sa" Ucap Lian
"Kenapa bang?" Tanya Salsa
"Leher kamu Sasa, banyak bekas abang" Balas Lian
"Oh iyaa, aku lupa" Balas Salsa
"Abang udah pesenin obat lewat ojol, nanti di minum ya" Ucap Lian
"Obat apa?" Tanya Salsa
"Punya Sasa kan sakit, biar cepet sembuh harus minum obat" Balas Lian
"Kalo aku hamil gimana bang?" Tanya Salsa
"Abang udah bilang dari awal kita lakuin ini tadi. Abang akan tanggung jawab Sa"
"Abang tau, meskipun tadi abang keluar di luar. Pasti resiko kamu hamil juga besar, karena abang telat cabut juga tadi"
"Kamu tenang aja ya, abang akan tanggung semua resikonya" Ucap Lian
"Beliin obat pencegah kehamilan aja bang, jaga-jaga" Balas Salsa
"Gaperlu! Abang gamau kamu minum itu!"
"Abang siap kalo kamu hamil! Udah gausah khawatir ya" Ucap Lian
"Abang janji kan gak bakal ninggalin Aku?" Tanya Salsa
"Janji, kamu punya abang, dan abang punya kamu! Komitmen itu akan selalu abang pegang sampai kamu siap abang nikahin" Ucap Lian
"Ahhh abangggg, aku sayang banget sama abang" Balas Salsa
"Abang juga sayang sama kamu. Terimakasih ya sudah memberikan abang hal yang berharga hari ini. Dan maaf, abang rebut itu sebelum pernikahan" Ucap Lian
"Gapapaa abang, tadi kan aku yang maksa abang juga hehe" Balas Salsa
"Dasar nakal! Sama abang-abang yang lain gaboleh nakal gitu ya! Bolehnya cuma sama abang Lian" Ucap Lian
"Iya abang Lian ku" Balas Salsa
Lian tersenyum lalu kembali memeluk tubuh polos Salsa.
***
"Makin hari makin cantik aja ya si Sasa. Tapi dia gak pernah peka kalo gue deketin, heran" Ucap Liam
"Kan abang udah bilang, Sasa tuh demennya sama si Lian bukan sama lu" Balas Leon
"Emang lo beneran deket sama Sasa?" Tanya Liam
"Kepo" Balas Lian
"Dihh, jawab dong Li. Lo ada rasa gak sih sama Sasa? Kalo gak ada ya lo yang teges dong, biar Sasa gak mengharap sama lo" Ucap Liam
"Liam, Lo sesuka itu ya sama Sasa?" Tanya Lian
"Iya, gue suka sama Sasa. Gue bahkan rela berubah kalo Sasa mau sama gue" Balas Liam
Masa iya gue harus relain Sasa demi Liam? Tapi gue sama Sasa udah terlalu jauh *batin Lian
"Gue gabisa ngatur perasaan orang ke gue. Kalo Sasa suka sama gue, itu hak dia. Gue - "
"Hay abang-abang ku, kalian lagi apa? Serius banget ngobrolnya?" Tanya Salsa tiba-tiba datang
"Hay dek, lagi nyantai aja kok" Balas Leon
"Hay, sini cantik" Balas Liam sembari menepuk space kosong di sebelahnya
"Iya bang Liam" Balas Salsa lalu duduk di sebelah Liam
"How's your day? Seru kuliahnya?" Tanya Liam sembari mengusap kepala Salsa
Lian berusaha meredam rasa cemburunya saat Liam menyentuh Salsa. Lian tak ingin jika semua orang curiga akan hubungannya dengan Salsa jika ia menunjukkan kecemburuannya.
Bang Lian diem aja, apa bener ya Bang Lian gak cinta sama gue. Bang Lian cuma butuh tubuh gue? *batin Salsa
Ya, Salsa sedikit ragu pada Lian setelah ia menceritakan kisah cintanya dengan Lian pada sahabat barunya di kampus. Salsa bahkan menceritakan bahwa ia dan Lian sudah sering melakukan having sex di rumah mereka hampir setiap hari.
Setelah semua orang tidur, Lian akan masuk ke kamar Salsa ataupun sebaliknya. Mereka sama-sama ketagihan melakukan hal itu, hingga sejak dua bulan lalu mereka selalu mengulanginya lagi tanpa rasa bersalah.
"Seru bang, semuanya lancar"
"Oh iyaa, tadi aku juga pergi berdua sama Kak Angel Bang. Kak Angel belanjain aku make up banyak banget hihi, aku seneng deh punya calon kakak ipar sebaik Kak Angel"
"Bang Leon beruntung banget, dapetin Kak Angel. Udah baik, lembut, cantik banget lagiii" Ucap Salsa excited
"Hahaha iyaa, tadi Angel cerita sama abang"
"Angel juga cerita katanya kamu mau belajar make up sama dia. Emang ngapain mau belajar make up segala? Biar apa sih dek? Udah cantik begini padahal" Balas Leon
"Hhmm ya biar makin cantik aja, siapa tau bisa dapet cowok kan nanti" Balas Salsa sembari melirik Lian
Lian membulatkan matanya dan menatap tajam ke arah Salsa
Yes, berhasil! Ternyata dugaan gue salah! Keliatan banget Bang Lian marah pas gue bilang mau cari cowok *batin Salsa
Maksud Sasa apasih! Ngapain dia ngomong begitu coba *batin Lian
"Eh, kok centil? No, No, No Sasa. Gaboleh centil gitu ah"
"Udah kamu gausah cari cowok, tinggal pilih aja antara Bang Liam dan Bang Lian. Tapi kalo Bang Lian gamau sama Sasa, Bang Liam mau kok, mau banget malah" Goda Liam
"Dasar! Lo larang Sasa centil, lo sendiri centil ke Sasa" Omel Leon
"Hehe, lagian kamu tuh gausah make up juga udah cantik banget Sa. Ngapain sih begitu-begitu" Ucap Liam
"Kuliah yang bener, gausah aneh-aneh jadi cewek" Ucap Lian lalu pergi dari ruang tengah
Leon, Liam dan Salsa menatap kepergian Lian. Hati Salsa sedikit tercubit dengan sikap Lian. Lian benar-benar berbeda jika bersamanya dan bersama keluarga lainnya.
"Ck, kenapa sih tuh bocah"
"Jangan diambil hati ya ucapan Lian, dia mah emang gak asik" Ucap Liam
"Iya bang, udah biasa" Balas Salsa
"Lian begitu berarti dia peduli sama kamu Sa, mungkin caranya aja salah" Ucap Leon
"Iya Bang Leon, maaf yaa. Aku tadi cuma becanda kok" Balas Salsa
"Iya, abang tau Sa kamu cuma becanda" Balas Leon mengusap kepala Salsa
***
Beberapa hari setelah hari itu, sikap Lian benar-benar berubah pada Salsa. Bahkan Lian setiap malam mengunci kamarnya saat Salsa ingin meminta kejelasan dari sikap Lian beberapa hari ini. Salsa benar-benar frustasi menghadapi sikap Lian yang tiba-tiba berubah padanya.
Jika bertemu pun Lian sama sekali enggan bertegur sapa dengannya, dia hanya diam tanpa menatap Salsa sedikit pun. Salsa benar-benar dibuat sakit hati oleh sikap Lian saat ini padanya.
Belum tuntas rasa sakit hatinya karena sikap Lian padanya, Salsa semakin dibuat hancur saat melihat Lian membawa seorang wanita yang ia kenalkan pada kedua orang tuanya di depan Salsa. Salsa sama sekali merasa Lian membuangnya begitu saja setelah berhasil mendapatkan apa yang ia mau dari Salsa.
"Ohh, jadi ini alasan sikap kamu berubah bang? Ternyata udah ada cewek baru ya?" Sindir Salsa
Lian hanya melirik Salsa sekilas tanpa menjawab ucapan Salsa. Lian melanjutkan langkahnya menuju kamar tanpa mempedulikan Salsa.
"Emang brengsek kamu ya bang! Setelah bosen sama tubuh ku? Kamu cari perempuan lain? Jahat kamu bang!" Ucap Salsa
Lian menghentikan langkahnya lalu menatap Salsa
"Gausah playing victim, kita sama-sama menikmatinya bukan? Lo enak, gue juga enak" Balas Lian
Salsa mendekat lalu menampar wajah Lian dengan kencang
"Salah aku jatuh cinta dan percaya sama cowok brengsek seperti kamu bang! Aku gak percaya ucapan itu bakal keluar dari mulut kamu!"
"Aku benci sama kamu bang hiks hiks, aku benci!" Ucap Salsa lalu pergi meninggalkan Lian begitu saja
Maaf Sa *batin Lian
Sejak ucapan Lian padanya, Salsa berniat membalas tingkah Lian padanya. Salsa yakin jika Lian masih mencintainya, namun karena hal lain Lian tega menyakitinya. Salsa tau Lian tak mungkin bersikap seperti itu padanya tanpa alasan.
Dan kini, Salsa benar-benar mencoba mendekatkan diri pada Liam agar Lian merasakan apa yang ia rasakan. Seperti saat ini saat Leon, Liam dan Lian tengah berada di ruang tengah keluarga mereka. Salsa langsung duduk di tengah-tengah Leon dan Liam.
"Bang Leon, besok aku pinjem Kak Angelnya lagi yaa" Ucap Salsa
"Mau kemana lagi dek? Perasaan tiap hari keluyuran mulu sama Angel. Salah nih keknya abang kenalin kamu sama Angel" Balas Leon
"Ish abanggg, mau nonton aja sih. Boleh yaaa" Rengek Salsa
"Hahaha lucu banget sihh mukanya" Ucap Leon sembari mencubit pipi Salsa
"Bang, ishhh. Jangan di cubit dong, kasian ini pipi bakpao ku di cubit-cubit. Sakit sayang?" Tanya Liam
"Sayang, sayang pala lo peang! Enak bener tuh mulut manggil sayang" Omel Leon
"Dih, Sasa aja gak keberatan. Iya kan Sa?" Tanya Liam
"Iya, bebas aja. Senyamannya Bang Liam" Balas Salsa
"Tuhh dengerinnn, gausah protes deh lo bang" Ucap Liam
"Yaudah deh iyaa"
"Eh, tapi jangan besok deh yaa. Abang mau bawa Angel ke tempat temen abang kalo besok" Ucap Leon
"Hhmm yaudah deh bang, next time aja" Balas Salsa
"Sama abang aja gimana? Mau?" Tanya Liam
"Boleh deh, yuk" Balas Salsa
"Oke, besok kita nonton ya cantik" Ucap Liam
"Oke ganteng" Balas Salsa
"Gemes, jadi pengen cium" Ucap Liam
"Cium aja" Balas Salsa
Semua orang terkejut dengan jawaban Salsa, termasuk Lian. Lian sudah mengepalkan tangannya, menahan emosi yang mulai memuncak
"Gausah genit bisa gak sih jadi cewek" Ucap Lian
"Dih, yang genit siapa? Lagian terserah aku lah, kalo pun mau genit sama siapa juga! Bukan urusan Bang Lian" Balas Salsa kesal
"Udah udah yaa, kok jadi berantem sih"
"Bang Lian bener dek, Sasa kan cewek. Sebaiknya jangan genit sama laki-laki. Sasa harus jaga diri dari laki-laki, Sa - "
"Percuma, semua juga udah rusak" Balas Salsa lalu pergi meninggalkan ketiga pria itu
"Hah? Maksud kamu apa dek?" Teriak Leon
"Maksud Sasa apa? Dia ngomong apa tadi?" Ucap Liam bingung
Lian tampak menetralkan perasaannya yang sudah tak karuan.
"Mungkin dia cuma ngomong sembarangan karena kesel sama gue. Udah biarin aja" Balas Lian
"Iya kali ya, keknya si Sasa lagi PMS deh. Jadi ngomongnya asal nyeplos aja" Balas Liam
"Semoga dia beneran ngomong ngasal deh" Balas Leon
Untung yang lain percaya. Sasa beneran udah benci sama gue sepertinya *batin Lian
***
"Paaaa, Paaapaaaa" Teriak Mia
"Kenapa Ma? Kenapa?" Tanya Aditya bingung
"Iya, Mama kenapa? Kenapa nangis Ma?" Tanya Leon
"Mama nemuin ini di kamar Salsa hiks hiks"
"Dan Salsa gak ada di kamarnya Pa hiks hiks" Balas Mia sembari membawa dua buah testpack
"Ss-sasa hamil? Gak mungkin kan Ma?" Tanya Aditya
"Hasilnya positif Pa hiks hiks" Balas Mia
"Anjing! Siapa yang berani hamilin Sasa? Leon tau betul Sasa gapernah deket sama laki-laki di kampusnya Pa! Karena Leon udah ngikutin permintaan Papa untuk sewa bodyguard buat jagain Sasa di kampus!" Ucap Leon
"Ma? Sasa dimana? Sasa gak ada di kamarnya?" Tanya Lian panik
"Gak ada hiks hiks, Mama gatau Sasa kemana hiks hiks" Balas Mia
"Kalian cari Sasa sampai ketemu! Bawa Sasa pulang ke rumah! Kita harus tanya siapa ayah dari bayi yang di kandung Sasa!" Tegas Aditya
"Papa mau apa? Jangan sakitin Sasa dan bayinya Pa hiks hiks" Ucap Mia
"Kalo ayahnya gamau tanggung jawab! Mending kita minta Sasa gugurin bayi itu Ma! Papa gamau Sasa menderita karena ngurus bayi itu sendirian!" Tegas Aditya
Lian menggelengkan kepalanya lalu ia berlari dan bersujud pada kaki Mamanya
"Ma maafin Lian Ma, anak itu anak Lian Ma. Tolong jangan bunuh anak Lian" Ucap Lian
"Maksud kamu apa Lian!" Bentak Aditya
"Maafkan Lian Pa, Lian yang sudah ngerusak hidup Sasa. Lian yang sudah tega ambil kehormatan Sasa Pa" Balas Lian lemas
Leon dan Liam mengepalkan tangannya lalu menarik Lian dan mereka hajar habis-habisan.
"Brengsek! Dasar bajingan! Gue gak nyangka gue punya kembaran brengsek kaya Lo Lian! Anjing!!!" Bentak Liam
"Lo udah punya pacar, lo bahkan kenalin pacar lo ke kita semua beberapa hari lalu! Lo kenalin dia di depan Sasa setelah lo pake tubuh dia seenaknya!! Bajingan lo emang!" Bentak Leon
Bugh
Bugh
Bugh
Lian hanya pasrah saat Leon dan Liam terus menerus menghajarnya
"Udah cukup! Cukup Leon, Liam! Jangan sampai Lian mati! Dia harus bertanggung jawab dengan kesalahannya!" Bentak Aditya
"Kalo dia gamau tanggung jawab! Biar Liam yang nikahin Sasa Pa" Ucap Liam
Lian menatap Liam tajam dan langsung mendorong tubuh Liam
"Gue akan tanggung jawab! Gue bakalan nikahin Sasa, bukan Lo! Sasa hamil anak gue, gue bapaknya!" Tegas Lian
"Haha setelah tau Sasa hamil lo mau tanggung jawab! Kemarin kemana aja lo? Hah? Malah sibuk sama cewek lain!" Balas Liam
"Gue begitu karena lo Liam! Lo bilang ke gue lo cinta sama Sasa! Lo bahkan rela berubah demi dapetin Sasa! Gue ngalah karena gue liat kebahagiaan lo sama Sasa! Lo bahkan beneran berubah, gapernah mainin cewek setelah lo berusaha deketin Sasa!"
"Gue cinta sama Sasa! Gue sayang sama dia! Gue rela macarin cewek lain biar Sasa benci sama gue dan mau terima lo! Gue tau gue salah, gue brengsek karena gue udah ngerusak Sasa! Tapi gue juga gabisa bahagia diatas penderitaan lo Liam!"
"Tapi sekarang keadaannya udah beda! Sasa sedang hamil anak gue! Gue gabisa ngalah lagi dan biarin lo rebut Sasa dan anak gue! Maafin gue kalo gue egois! Gue cuma mau mempertahankan apa yang udah jadi milik gue Li" Balas Lian diiringi air mata yang mengalir di wajahnya
Semua orang lantas terkejut dengan ucapan Lian, terutama Liam. Liam tak menyangka jika Lian pernah berbesar hati merelakan Salsa demi dirinya.
"Cukup! Udah cukup semuanya!"
"Mama kecewa sama kamu Lian hiks hiks! Mama bawa Sasa kesini untuk jaga dia! Tapi anak Mama sendiri yang justru menghancurkan dia hiks hiks"
"Sahabat Mama pasti sedih di atas sana Lian hiks hiks, Mama gagal jagain putri kesayangannya hiks hiks" Ucap Mia
"Maaaa hiks hiks maafin Lian Ma. Lian cinta sama Sasa, tapi Lian justru ngancurin masa depannya"
"Lian janji Ma, Lian akan tanggung jawab hiks hiks. Maafin Lian Ma" Balas Lian
"Cari Sasa sampai ketemu! Tanggung jawab sama perbuatan kamu Lian!" Tegas Mia
"Iya Ma, Lian akan cari Sasa" Balas Lian
"Tunggu!" Ucap Leon
"Kenapa bang? Lo belum puas mukulin gue? Nanti aja bang, gue siap kalo lo mau mukul gue sampai gue sekarat. Tapi please, biarin gue cari Sasa dulu sekarang bang" Balas Lian
"Ck, gue udah cukup puas bonyokin muka lo! Sekarang, kita cari Sasa bareng-bareng. Lo cari sama gue, biar Liam sama bodyguard Papa"
"Gue gak akan biarin lo pergi sendiri dengan kondisi lo yang kaya gini! Gue takut lo kenapa-kenapa di jalan!" Ucap Leon
"Makasih bang, maaf gue udah ngecewain lo" Balas Lian
"Udah ayo" Balas Leon
***
"Cup cup cup sayang, udah yaa jangan nangis terus nak. Adek mau apa? Laper ya sayang? Hhmm"
"Saa, anak kita laper. Please kasih dia ASI ya" Bujuk Lian
"Lo gak liat gue lagi apa! Di freezer banyak stoknya! Kenapa harus ganggu gue sih!" Tegas Salsa
"Sa, adek udah keburu laper. Kalo manasin ASI nya kan lama. Kasian adek Sa" Mohon Lian
"Ck, gue lagi nugas! Bisa gak sih gausah ganggu!" Balas Salsa lalu pergi dari kamar meninggalkan Lian
Lian hanya bisa menghela nafas menghadapi tingkah Salsa.
Ya, setahun berlalu setelah kejadian dimana semua orang tau kehamilan Salsa. Lian dan Leon akhirnya berhasil menemukan Salsa seminggu setelahnya di apartemen sahabat Salsa.
Salsa tak pernah bisa menerima kehamilannya karena ia masih merasa sakit hati dengan sikap Lian padanya. Salsa masih ingat betul perdebatannya dengan Lian sehari sebelum ia mengetahui kehamilannya. Ucapan Lian selalu terngiang-ngiang di kepalanya dan membuat dirinya membenci Lian hingga saat ini.
" Kita lakuin itu atas dasar suka sama suka. Lo gausah ngarep lebih deh dari gue. Gue sengaja bilang bakalan tanggung jawab karena gue butuh tubuh lo saat itu. Dan sekarang? Gue udah bosen sama tubuh lo yang gak seksi-seksi amat itu"
"Lo nya aja yang terlalu murah, gue rayu dikit aja udah mau gue tidurin. Ohh, atau jangan-jangan lo bukan cuma tidur sama gue ya? Sama Bang Leon dan Liam juga pernah? Hhmm?"
Ucapan Lian saat itu berhasil membuat harga diri Salsa runtuh begitu saja. Salsa merasa dirinya tak berharga lagi, dan itu pula yang membuatnya sangat membenci Lian termasuk putri kecilnya sendiri.
Ya, Salsa melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Semua orang sangat bahagia, kecuali Salsa. Salsa sempat beberapa kali berusaha menggugurkan bayinya namun selalu gagal karena Lian selalu berhasil menyelamatkannya.
Semua orang juga tau jika Salsa masih belum bisa menerima anaknya dan Lian. Salsa pun terpaksa menikah dengan Lian setelah melahirkan karena Mia dan Aditya yang memohon padanya. Dan setelah menikah, Lian full mengurus bayinya tanpa campur tangan Salsa.
Salsa hanya memompa ASInya dan ia letakkan di freezer. Salsa sama sekali tak ingin menyentuh bayi mungil yang lahir dari rahimnya sendiri sejak hari pertama bayi itu lahir ke dunia.
Lian sadar ini semua karena salahnya, dulu ia terlalu gegabah membuat Salsa membencinya. Dan kini, Salsa benar-benar sangat membencinya bahkan pada anak mereka sendiri. Lian hanya bisa sabar dan berharap jika suatu saat nanti Salsa akan kembali menerimanya dan anak mereka.
"Adek sabar ya sayang. Ayah yakin, suatu saat nanti Bunda pasti mau gendong adek" Ucap Lian sembari menggendong anaknya
Sedangkan di tempat Lain, Salsa sedang duduk di ruang tengah sembari memangku laptopnya dan melanjutkan tugas kuliahnya.
"Mau sampe kapan dek?" Tanya Leon
"Maksudnya bang?" Tanya Salsa heran
"Mau sampe kapan kamu begini?" Tanya Leon
"Ya sampe tugasnya selesai bang" Balas Salsa
"Benci sama anak kamu sendiri. Bayi cantik, lucu dan gak berdosa yang lahir dari rahim kamu sendiri" Ucap Leon yang duduk di sebelah Salsa
"Dia bukan anak aku, tapi anak Bang Lian" Balas Salsa kembali menatap laptopnya
"Anak kalian berdua, bukannya kalian lakuin itu atas dasar suka sama suka? Dan atas dasar cinta kan" Ucap Leon
"Dulu, aku yang cinta sendirian, sedangkan dia hanya menganggap aku jalang yang bisa dia tiduri setiap dia mau"
"Aku yang bodoh, karena dengan gampangnya memberikan seluruh hidupku untuk dia yang ternyata hanya memanfaatkan tubuh ku aja bang" Balas Salsa
"Kata siapa? Hhmm?" Tanya Leon
"Dia sendiri yang bilang" Balas Salsa
"Berarti abang percaya kalo kamu bodoh" Balas Leon
"Maksud abang?" Tanya Salsa
"Sebelum kamu menaruh hati pada Lian, apa pernah kamu liat sikap Lian yang suka nyakitin dan mainin perempuan? Hhmm?" Tanya Leon
Salsa menggelengkan kepalanya
"Lalu kenapa setelah dia dekat sama kamu, dia justru nyakitin kamu?" Tanya Leon
"Ya karena dia udah bosen sama tubuhku yang udah dia nikmati setiap hari" Balas Salsa
Leon menyentil pelan kening Salsa
"Kalo hanya karena nafsu, Lian bisa bayar jalang kalo dia mau, atau bisa dapetin cewek yang mau suka rela tidur sama dia Sasaaa" Ucap Leon
Salsa nampak memikirkan ucapan Leon
"Lian itu cinta sama kamu, ada satu alasan yang akhirnya buat Lian lakuin hal jahat itu sama kamu" Lanjut Leon
"Apa? Alasan apa?" Tanya Salsa
"Karena abang pernah suka sama kamu, dan Lian rela berkorban demi abang" Ucap Liam
"Bang Liam?" Ucap Salsa shock
Liam tersenyum lalu mendekat ke arah Salsa
"Iya Sa"
"Dulu, abang sering curhat sama Bang Leon dan Lian. Betapa sukanya abang sama kamu, abang bahkan rela berubah demi dapetin kamu. Dan Lian merasa jahat karena udah deket sama kamu dibelakang kita"
"Lian mau kamu deket sama abang, tapi karena Lian tau kamu cinta sama dia. Lian berusaha membuat kamu membenci dia Sa. Padahal dia sendiri tersiksa karena harus berbuat jahat sama kamu, apalagi membuat kamu membenci dia. Itu beneran gak mudah buat Lian. Tapi Lian rela lakuin itu demi abang"
"Tapi, setelah dia tau kamu hamil anaknya. Dia merasa menyesal Sa, dia mau mempertahankan kamu dan anak kalian. Dia sangat siap bertanggung jawab dengan kamu dan adik" Ucap Liam
"Lihat perjuangan dia selama ini sama kamu Sa. Sejak kamu hamil bahkan sampai adik seusia sekarang, dia ikhlas dan sabar dengan semua sikap kamu yang nyakitin dia"
"Dia bahkan sabar merawat adik sendiri, siang dan malam. Lian gapernah maksa kamu untuk menerima dia dan adik, tapi dia selalu berusaha agar kamu gak membenci dia lagi"
"Sa, abang Leon dan Bang Liam ngomong gini bukan karena abang belain Lian atau karena Lian adik abang. Abang tau Lian emang salah, tapi dia lakuin itu karena suatu alasan, bukan benar-benar kemauan hatinya Sa" Ucap Leon
"Sa, Lian cinta sama kamu. Perempuan yang dia kenalin ke kita dulu, hanya temen Lian yang Lian minta untuk jadi pacar pura-puranya aja Sa. Lian gapernah deket sama perempuan lain, karena di hatinya hanya kamu Sa" Lanjut Liam
Salsa meneteskan air matanya, ia baru mengetahui semua fakta ini dari Liam dan Leon. Selama ini Lian sama sekali tak pernah menjelaskan ini padanya dan membuat rasa bencinya terus bertahan hingga saat ini.
"Hiks hiks hiks aku jahat banget ya bang, sama Bang Lian dan anak aku. Aku bahkan benci sama anak aku sendiri Bang. Ibu macam apa aku ini hiks hiks" Ucap Salsa terisak
"Heyy udah yaa, kamu bersikap seperti itu karena kamu terlalu terbawa perasaan benci kamu sama Lian. Dan sekarang, kamu udah sadar kan kalo itu salah Sa?" Tanya Leon
"Iya bang hiks hiks" Balas Salsa
"Udah mau liat anaknya? Udah mau gendong si cantik? Hhmm?" Tanya Leon lembut
"Mau bang hiks hiks" Balas Salsa
"Yaudah, samperin sana anaknya. Rugi banget dari lahir gak pernah liat si adek. Padahal dia cantik, lucu, gemoy loh Sa" Timpal Liam
"Di hapus dulu air matanya, adek pasti seneng akhirnya bundanya mau gendong dia Sa" Ucap Leon sembari menghapus air mata Salsa
"Bang Leon, Bang Liam. Makasih banyak ya, udah bantu nyadarin aku. Kalian emang abang terbaik aku" Ucap Salsa
"Iya, yaudah yuk samperin adek. Kasian Lian, adek masih nangis terus dari tadi" Ajak Leon
Mereka bertiga pun naik menuju kamar Lian dan ketika mereka membuka kamarnya, terlihat Lian sudah sangat panik melihat anaknya yang tak kunjung berhenti menangis
"Kenapa kalian kesini? Kalo cuma pengen liat adek, mending nanti deh. Dia lagi rewel banget" Ucap Lian pada Leon dan Liam
"Bang, boleh aku gendong adek?" Tanya Salsa lembut
Lian shock dan menatap kedua saudaranya bergantian. Leon dan Liam tersenyum lalu menganggukkan kepalanya
"Sa? Beneran?" Tanya Lian
"Iya bang, aku mau gendong adek" Balas Salsa
Lian tersenyum lalu memberikan putri kecilnya pada Salsa. Sedangkan Salsa benar-benar terharu, akhirnya ia bisa melihat putrinya berada di dalam gendongannya. Air mata Salsa turun dengan sendirinya melihat kecantikan bayi mungilnya.
"Bener kata Bang Leon dan Bang Liam, adek cantik banget" Ucap Salsa terharu
"Dikata juga apa, masa tega benci sama bayi secantik dan selucu adek" Timpal Leon
"Iya, aku baru sadar aku udah jahat banget sama adek" Balas Salsa yang masih terus memandangi putrinya
Sedangkan Lian masih diam dan sibuk mencerna apa yang terjadi di hadapannya.
"Adek kenapa nangis terus bang? Abang udah kasih susunya?" Tanya Salsa pada Lian
Lian masih diam menatap Salsa, hingga Leon menyenggol tubuh Lian barulah Lian tersadar
"Bengong aja! Tuh bini lo tanya, adek udah di kasih susu belum?" Tanya Leon
"Eh, hhmm udah Sa. Tapi adek gamau" Balas Lian
"Kalian bisa keluar dulu gak? Aku mau coba nenenin adek dulu, siapaa tau dia mau" Ucap Salsa
Leon dan Liam tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Mereka pun keluar dari kamar, di susul dengan Lian yang hendak mengikuti langkah Leon dan Liam.
"Abang mau kemana?" Tanya Salsa sembari menahan tangan Lian
"Hhmm mau keluar Sa, katanya kamu mau nenenin adek?" Tanya Lian ragu
"Abang kan suami aku, temenin aku disini aja ya" Balas Salsa
"Beneran?" Tanya Lian
"Iya" Balas Salsa
Lian pun mengikuti langkah Salsa yang dengan perlahan naik ke atas ranjang.
"Bentar ya, abang ambilin bantal menyusuinya. Abang udah siapin bantal itu dari lama, karena abang yakin suatu saat nanti kamu pasti mau nenenin adek langsung" Ucap Lian semangat
"Iya bang" Balas Salsa
Lian dengan cekatan membantu Salsa agar posisi Salsa dan anaknya dalam posisi nyaman. Lian memang sudah sangat siap menjadi suami dan ayah siaga bagi kedua perempuannya.
"Ssshhh" Rintih Salsa
"Kenapa Sa? Kamu sakit? Apa yang sakit?" Tanya Lian panik
"Hhmm nen ku nyeri, mungkin karena baru pertama kali bang nenenin adek" Balas Salsa
"Astaga, gimana gak sakit? Liat aja tuh dia ngisepnya semangat banget begitu" Balas Lian sembari mengusap pipi putrinya
"Adek, pelan-pelan dong sayang. Kasian bundanya kesakitan. Jangan kenceng-kenceng nak, ayah gak bakalan minta kok" Ucap Lian
"Eh, apasih bang" Balas Salsa salah tingkah
Lian tersenyum lalu mengusap wajah Salsa perlahan
"Terimakasih sudah mau menerima adek ya Sa. Maafin semua kesalahan abang sama kamu dulu, jangan sangkut pautin kesalahan abang sama adik. Dia gak salah apa-apa Sa" Ucap Lian
"Bang, kenapa abang gak pernah cerita yang sejujurnya sama Aku? Abang mau aku benci abang seumur hidup ku dan gak nerima adik selamanya?" Tanya Salsa
"Maksud kamu?" Tanya Lian
"Aku udah tau alasan sikap kamu yang tiba-tiba berubah sama aku. Aku juga tau perempuan itu bukan benar-benar pacar kamu"
"Bang, Bang Leon dan Bang Liam yang bantu nyadarin aku dari rasa benci ku sama kamu dan adik. Mereka udah jelasin semuanya sama aku kebenarannya. Makanya aku sekarang disini dan coba menerima semuanya" Balas Salsa
Lian tertunduk tak berani menatap Salsa
"Maafkan abang Sa, abang gak seberani itu ceritain semuanya sama kamu. Abang takut kamu mikir abang itu pengecut dan gamau perjuangin kamu"
"Abang dulu memang bodoh dan terlalu gegabah. Abang mau kamu benci sama abang, padahal abang sendiri gak sanggup kalo kamu benci sama abang"
"Abang cuma - "
"Sutsss, udah ya bang. Aku udah maafin abang, aku udah ikhlasin semuanya. Aku mau kita mulai semuanya dari awal"
"Bantu aku untuk bisa jadi istri dan ibu yang baik untuk kamu dan adek ya bang. Selama ini sikap ku sangat kurang ajar sama kamu sebagai suami ku. Maafin aku ya bang" Ucap Salsa
"No sayang, kamu gak salah. Abang bisa memahami kenapa kamu bersikap seperti itu sama abang"
"Abang bahagia denger kamu mau memberi abang kesempatan untuk membangun kembali rumah tangga kita. Abang janji, sebisa mungkin abang gak akan nyakitin kamu seperti dulu lagi Sa. Abang cuma mau kamu dan adik bahagia, keluarga kecil abang bahagia" Ucap Lian
"Aamiin, semoga keluarga kecil kita selalu bahagia ya bang" Balas Salsa
"Aamiin sayang" Balas Lian
Salsa tersenyum lalu kembali menatap putrinya yang kini sudah terlelap.
"Loh, si cantik udah bobo" Ucap Salsa
"Hahaha kekenyangan dia sayang. Mungkin adek ikut bahagia, akhirnya bisa ngerasain di gendong bundanya dan di beri ASI langsung untuk pertama kalinya" Balas Lian
"Adek cantik banget ya bang, perpaduan kita berdua banget" Ucap Salsa
"Iya, Masyallah sayang. Abang tiap gendong adek juga ngerasa bahagia banget, bisa punya anak secantik adek" Balas Lian
"Nama adek siapa bang?" Tanya Salsa
"Liliana Camila Abraham, di panggilnya adek Lili" Balas Lian tersenyum
"Masyaallah, adek Lili"
"Maaf yaa dek, selama ini Bunda gamau denger dan gamau tau siapa nama adek. Dan ternyata ayah kasih nama yang sangat indah untuk adek. Adek emang persis seperti bunga Lili yang indah dan cantik" Ucap Salsa
"Iya sayang, anak kita emang secantik bunga Lili" Balas Lian
Salsa tersenyum menatap Lian dan anaknya bergantian. Salsa merasa bahagia, setelah ia berhasil mengikhlaskan semuanya dan menghapus rasa bencinya pada Lian.
***
"Mama Papa seneng akhirnya bisa liat pemandangan sehangat ini dari kalian berdua" Ucap Mia
"Iya, Papa gak nyangka sekarang Sasa udah menerima kehadiran Lili" Timpal Aditya
"Ini semua berkat Bang Leon dan Liam yang bantuin Lian Pa. Sasa berubah juga karena mereka" Balas Lian
"Bener, Bang Leon dan Bang Liam yang bantu nyadarin Sasa untuk memaafkan Bang Lian dan menerima Lili Pa, Ma" Balas Salsa
Mia tersenyum menatap ketiga anaknya bergantian
"Mama bangga sama anak-anak Mama. Kalian semua anak-anak baik. Mama sayang banget sama kalian" Ucap Mia
"Iya boys, Papa juga bangga sama kalian. Kalian memang benar-benar bisa Papa andalkan" Timpal Aditya
"Ahhhh Mamaaaaaa, Papaaaa sedih deh" Ucap Liam lalu memeluk kedua orang tuanya
"Gue ikutan dongggg" Timpal Leon lalu ikut memeluk kedua orang tuanya
"Kamu gak ikutan bang?" Tanya Salsa
Lian tersenyum lalu bergabung dengan saudara-saudaranya
"Dasar triple L hahahaha" Ledek Salsa
"Ehh gak triple lagi dong sekarang kan udah nambah nih si adek. Jadinya Q uadruple L, Leon, Liam, Lian dan Liliii" Ucap Liam
"Hahaha bang, bang ada ada aja deh kamu tuh" Timpal Mia
"Udahan pelukannya ih, cucu Papa jadi kegencet kalian ini. Minggir-minggir" Usir Aditya yang memang sejak tadi menggendong Lili
"Hadeuhhh, liat noh bang. Tahta lo udah tergantikan dengan Lili. Lo bukan tahta tertinggi lagi, disini cuma Lili yang bisa ngatur kita" Ucap Liam sembari menjawil pipi gembul Lili
"Heh! Papa potong ya tangan kamu! Berani banget colek-colek cucu Papa" Omel Aditya
"Astagaaaaa si adek aja diem loh Paaaa, gak kesakitan dianyaaaa" Rengek Liam
"Tetep aja! Pipi gembulnya adek gaboleh di colek! Bolehnya di cium kek gini" Ucap Aditya lalu menciumi wajah Lili
"Hahaha sabar bang"
"Dari dulu Papa mu pengen banget punya anak cewek, tapi tiap Mama lahiran cowok mulu yang keluar"
"Jadi begini nih, sangking senengnya punya cucu cewek. Gaboleh lecet sedikit pun" Ucap Mia
"Yaudah Pa, ntar kalo Leon nikah. Leon bikinin cucu cewek buat Papa sebuluh biji" Balas Leon
"Sepuluh biji sepuluh biji! Biji kamu tuh yang Papa potong jadi sepuluh! Sembarangan aja kalo ngomong" Omel Aditya
"Astaga Pa, ngilu bener bayanginnya" Ucap Leon refleks memegang miliknya
"Hahahaha lagian lo sih bang, enteng bener nyebutnya biji! Itu anak manusia ege, bukan kucing" Balas Liam terkekeh
"Cepet nikah makanya bang, keburu Kak Angel nyerah karena gak di nikah-nikahin" Ucap Lian
"Iya iya dek, secepatnya abang bakal nikahin Angel kok" Balas Leon
"Tau! Anak orang di tidurin mulu gak di nikah-nikahin" Sindir Liam
"Liam! Mulut lo ya!!!" Omel Leon
"Beneran bang? Hah!" Omel Aditya
"Eh, gak Pa. Jangan dengerin bacodnya si Liam. Abang mah anak baik, gapernah ngapa-ngapain hehe" Balas Leon gugup
"Hahahaha gugup lo bang?" Ledek Liam
"Diem lo!!!!" Omel Aditya
Oekkkk oeekkkk oeekkk
Lili yang sejak tadi tertidur nyenyak di gendongan Aditya, kini menangis setelah mendengar suara kencang dari Leon dan Liam. Membuat Aditya geram pada kedua anaknya.
"Kan!!! Kalian berisik banget sih! Adek jadi bangun ini!!!" Omel Aditya
"Lo sih bang" Ucap Liam
"Ya lo cari gara-gara"
"Sini deh biar abang yang gendong Pa, abang yang nidurin lagi" Ucap Leon
"Gausah! Tangan kamu bau tikus, nanti Lili makin gabisa tidur" Balas Aditya
"Astagaaa punya bapak begini banget ya Tuhannnn" Rengek Leon
"Sini Pa, biar Lian yang gendong" Ucap Lian
"Udah gausah Li, biar Papa aja"
"Papa bawa Lili tidur di kamar Papa Mama yaa. Kalian nikmatin aja waktu kalian berdua, kalian kan baru baikkan. Biar Lili sama Papa yaa" Ucap Aditya
"Tapi Pa, kalo tengah malem adek suka rewel - "
"Papa tau, ASI nya kan banyak di freezer. Udah kalian gausah khawatir" Ucap Aditya
"Iya, Mama Papa juga udah pengalaman kali rawat bayi. Gausah takut deh lo Li, anak lo aman sama Mama Papa" Timpal Liam
"Iya nak, kalian istirahat aja ya. Biar Lili sama Mama Papa" Ucap Mia
"Yaudah Ma, Pa" Balas Lian
Aditya dan Mia pun membawa Lili masuk ke dalam kamar mereka.
"Duhh, bau-bau bikin ponakan baru ini mah" Sindir Liam
"Lo diem deh dek! Berisik banget dari tadi ya lo! Ledekin gue sama Lian mulu!" Omel Leon
"Ya emang lo gak seneng kalo punya ponakan baru lagi? Hhmm?" Tanya Liam
"Ya seneng, tapi itu kan urusan Lian dan Salsa. Lo tuh gausah kepo dan ikut campur sama rumah tangga mereka ege!" Omel Leon
"Udah bang, biarin aja. Begitu emang kalo jones" Ucap Lian
"Wehh anjing juga lo ya! Gue mah gak jones, siapa juga mau jadi cewek gue yaa! Emang sekarang lagi tobat aja, makanya gapunya cewek" Balas Liam
"Udah udah, kenapa jadi makin ribut sih" Ucap Salsa
"Laki lo tuh Sa, diem-diem ngeselin" Balas Liam
"Lo juga ngeselin!"
"Udah ayoo balik ke kamar. Kalian juga balil ke kamar Sa, Li, udah malem" Ucap Leon menengahi
"Iya bang" Balas Lian
Setelah sampai di kamar, keduanya merasa canggung karena selama ini hubungan mereka sudah merenggang. Dan kini mereka harus berada di dalam kamar berdua tanpa ada Lili.
"Sa, tidur yaa. Udah malem, gulingnya tetep di tengah kok, gak abang pindahin" Ucap Lian
Pasalnya selama ini, Salsa selalu meminta untuk dibatasi guling antara dirinya dan Lian. Karena Salsa tidak ingin berdekatan dengan Lian sedikit pun.
"Bang, kita kan udah baikkan. Gaperlu pakai guling lagi ya" Balas Salsa
"Kamu beneran Sa? Emang kamu nyaman? Hhmm?" Tanya Lian
"Malah aku kangen bobo di peluk sama kamu bang, rasanya pasti beda kalo bobo di peluk sama suami" Balas Salsa
Lian tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya
"Sini sayang" Ucap Lian
Salsa dengan cepat masuk ke dalam pelukan Lian
"Bang, sekali lagi maafin sikapku selama ini ya sama abang. Aku sering bentak abang, aku kasar sama abang, ak - "
Ucapan Salsa terpotong kala Lian tiba-tiba membungkam bibir Salsa dengan bibirnya.
"Udah yaa, tadi katanya janji gamau bahas yang kemarin-kemarin lagi. Tapi kenapa kamu nakal dan bahas lagi sih? Hhmm" Ucap Lian
"Soalnya tiba-tiba ngerasa jahat aja sama abang. Aku gapernah ngehargain abang sebagai suamiku" Balas Salsa
"Itu kan dulu, dan semua sikap kamu dulu itu sangat wajar sama abang. Kamu benci sama abang juga karena abang sendiri sayang"
"Udah yaa, gausah di bahas lagi cantik" Ucap Lian sembari mengusap wajah Salsa
"Makasih bang, udah sabar banget ngadepin aku. Dan terimakasih kamu udah jadi suami dan ayah siaga untuk aku dan adek" Balas Salsa
"Sama-sama sayang"
"Abang akan selalu siap siaga dan jadi garda terdepan untuk cantik-cantiknya abang" Ucap Lian
"Wah, ternyata aku punya saingan ya sekarang. Padahal dulu aku paling cantik nih di hati abang" Balas Salsa
"Hahaha sekarang mah, Lili mah yang pertama. Kamu yang terakhir sayang" Balas Lian sembari mencubit gemas pipi Salsa
"Ishhh kok aku yang terakhir? Kan aku yang duluan di hati kamu!" Omel Salsa
"Justru itu, kamu yang terakhir dan gak akan terganti sampai kapanpun"
"Nanti sampai abang tua pun yang ada di samping abang tetep cuma kamu, bukan Lili. Karena Lili dan adik-adiknya, juga pasti akan menikah dan ninggalin kita. Jadi gimana pun kamu tetap jadi penghuni terakhir di hati abang selamanya sayang" Balas Lian
"Ahhhhh abanggggg, sweet banget sih" Rengek Salsa
"Hahaha apasih yang, jadi ngrengek begitu" Balas Lian terkekeh
"Eits bentar, tadi ngomong apa? Adik? Kamu masih berharap punya anak lagi mas?" Tanya Salsa
"Ya jelas dong, masa cuma satu yang" Balas Lian
"Ishhh sakitnya lahiran aja masih kebayang tauu. Masih aja mau nambah" Balas Salsa
"Hahaha ya kan gak sekarang sayang. Tunggu adek gedean dikit gituuu" Ucap Lian
"Nanti kan Bang Leon nikah, Bang Liam nikah dan mereka pasti punya anak bang. Udah tunggu mereka aja yaaa hehe" Balas Salsa
"Orang maunya hasil bikinan sendiri sayang" Balas Lian
"Ishhh ada aja deh jawabannya" Balas Salsa
"Hahaha orang bener kok" Balas Lian
"Iya deh iyaaa" Balas Salsa
"Hhmm kalo sekarang bikin dulu boleh gak? Hehe" Ucap Lian
"Bikin apa?" Tanya Salsa seolah tak paham
"Ituu sayang, bikin anak hehe"
"Tapi kalo kamu mau, abang gamau maksa kamu sayang" Ucap Lian
"Ohhhh, udah lama puasa ya hahaha" Ledek Salsa
"Hehe iyaa, udah lama gak ganti oli nih yang" Balas Lian
"Hahaha boleh deh"
"Tapi janji ya, buang di luar! Aku beneran belum siap hamil lagi bang" Ucap Salsa
"Hhmm yaudah iyaaa, janji"
"Kalo inget" Lirih Lian
"Tuh kannnn, yaudah deh gak usah"
"Sana jauh-jauhhh" Rengek Salsa
"Eh, jangan dong sayang. Iya-iya, abang janji keluar di luar. Beneran sayang" Ucap Lian
"Nahh gituu dong, kalo gitu boleh" Balas Salsa
Lian tersenyum lalu mulai mencoba mendekati istrinya. Namun, baru saja Lian hendak mencium bibir istrinya. Tiba-tiba saja pintu kamar mereka terbuka.
Braakkkk
Lian dan Salsa refleks melihat ke arah pintu. Dan ternyata Leon juga Liam terjatuh ke dalam kamar mereka dengan posisi bertindihan.
"Abang? Liam? Kalian ngapain?" Tanya Lian
"Hehehe Sa, Li? Sorry, ya ganggu kalian hehe" Ucap Leon
"Hehe maaf ya guys" Timpal Liam
"Ohhh kalian berdua mau ngintipin kita iya? Mau nguping? Hah!!!" Omel Lian
"Eh, hmm gak kok. Apaan sih lo, asal nuduh aja. Orang kita gak sengaja lewat depan kamar lo kok, iyakan bang?" Elak Liam
"Lewat doang kenapa tiba-tiba ambruk ke kamar gue? Hah!" Omel Lian
"Hehe sorry dek, ini ulahnya si Liam nih" Balas Leon
"Dih, si abang! Malah numbalin gue" Balas Liam
"Ya kan emang lu biang keroknya" Ucap Leon
"Ishhh kalian yaa, gak sopan banget sihhh" Ucap Salsa
"Maaf maaf, kalian lanjutin aja yaa hehe. Kita pergi"
"Maafin abang ya Sa, Li" Balas Leon
"Pergi sono lu! Ganggu aja sih kalian berduaaaa" Usir Lian sembari mendorong tubuh kedua saudaranya
Sebelum mengunci kamarnya, Lian berkata pada kedua saudaranya.
"Gausah nguping! Kalian gak bakal denger apa-apa karena kamar gue udah gue pasang kedap suara! Udah sono pergi!" Omel Lian lalu mengunci kamarnya
"Lu sih bang, bego banget jadi orang! Ngapain coba tadi pegang gagang pintunya. Jadi kebuka kan tuh pintu" Omel Liam
"Ya kan gue gak sengaja ege" Balas Leon
"Udah ahh, balik kamar aja. Males gue sama lo" Ucap Liam
"Sama! Gue juga males sama lo" Balas Leon
Mereka berdua pun pergi dari depan kamar Lian dan kembali ke kamar mereka masing-masing.
Sedangkan di dalam kamar, Lian mencoba kembali mendekati istrinya.
"Lanjutin yang tadi yuk yang" Ajak Lian
"Besok aja deh, udah gak mood aku. Ngantuk banget" Balas Salsa
"Bentar aja yang" Bujuk Lian
"Kamu gak akan pernah main bentar. Besok aja deh yaa, aku juga masih takut Bang Leon dan Bang Liam ada di depan. Mending besok aja udah" Ucap Salsa
"Ck, Dasar abang-abang sialannnnn" Gerutu Lian
Salsa terkekeh di balik selimut mendengar umpatan Lian pada kedua saudaranya yang memang sangat menyebalkan.
"Dasar triple L, kadang akur, kadang berantem. Kadang baik, kadang nyebelin hahaha" Ucap Salsa
Lian hanya mencebikkan bibirnya lalu merebahkan dirinya lalu memeluk Salsa
"Udah gausah ngambek, gitu-gitu juga berkat mereka loh kita bisa baikkan" Ucap Salsa
"Iya iya"
"Sebel aja dikit sama mereka, selebihnya mah sayang meskipun mereka kelakuannya kek anjing" Balas Lian
"Hahahaha udah, mending bobo sambil pelukan aja yuk" Ucap Salsa
"Iya sayang, yuk"
"Selamat malam sayangnya abang, mimpi indah ya cantik" Balas Lian
"Selamat malam juga suamiku, mimpiin aku ya bang" Balas Salsa
Lian tersenyum lalu memeluk istrinya dengan erat dan keduanya pun mulai menutup mata mereka.
~END~