Gambar dalam Cerita
"Cepetan Tarel! Kita harus segera mendatangi anak-anak. Mumpung hari masih larut!" Teriak Peri Germa menatap pintu rumah Tarel.
"Sebentar, aku mempersiapkan bubuk Pixie supaya tidur mereka tetap nyenyak!" jawab Tarel.
Sebentar kemudian, Tarel keluar dengan bubuk pixie pink di tangannya.
"Yang lain mana?" tanya Tarel menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Mereka menunggu kita di perbatasan. Ayo!" kedua peri berpenampilan serba putih itu terbang menuju perbatasan. Rambut keduanya yang panjang dan putih berkilau tertimpa sinar bulan.
"Kalian lama sekali," ujar Peri Sera yang tampak sedikit kesal.
Ya, malam ini para peri dari negeri Fairyland akan mencari atau menjajaki calon anak untuk diambil giginya dan ditukar dengan hadiah yang mereka siapkan nanti.
Setelah terbang cukup lama, semua peri berpencar memeriksa anak-anak yang sedang tidur.
"Tunggu! Kalian melupakan ini!" kata Peri Tarel.
Semua berbalik mengambil bubuk pixie dan langsung terbang lagi.
Tarel juga mencari anak yang menurutnya cocok. Setelah cukup lama terbang, Tarel akhirnya berhenti pada anak perempuan yang tertidur pulas. Ia mendekat dan meniupkan bubuk pixienya. Lalu dengan hati-hati ia memeriksa gigi anak tersebut. Tarel tersenyum puas dan langsung terbang lagi untuk pulang.
Semua peri selesai mendapatkan calon anak, keculai Germa yang masih kebingungan.
"Kenapa Germa? Kok bingung begitu?" tanya Tariel.
"Aku tidak mau menjadi peri anak itu!" Germa bergidik.
"Kenapa?" serempak teman-temannya bertanya.
"Dia memiliki banyak permen dan cokelat. Pasti giginya jelek! Aku mau tukar dengamu Tarel!"
Tarel kaget dan segera melihat anak yang dimaksud tersebut.
"Sudah kamu periksa giginya?" bisik Tarel.
"Belum. Aku yakin giginya jelek dan bau!" Germa meringis. "Lihat itu stok permen dan cokelatnya!"
"Ayo teman-teman! Ini sudah mau pagi. Sebentar lagi mereka bangun," kata Sera setengah jengkel memgingatkan dua temannya.
Tarel dan Germa saling bertatapan bingung. Ini adalah tugas pertama Germa, jika ia tak mendapatkan calon anaknya, maka Ratu Peri Gigi mungkin akan memberikan tugas itu pada peri lain. Padahal Tarel sangat menyukai Germa.
"Biar aku saja yang jadi peri anak ini. Kamu kebagian anak di rumah bertingkat itu!" Tarel menunjuk ke sebuah rumah.
"Kamu yakin? Tapi ... "
"Aku yakin. Aku tidak bermasalah dengan gigi yang busuk dan bau," kata Tarel.
"Ayo pulang!" teriak Peri Sera kesal. Ketiganya segera terbang menyusul teman-temannya.
Semua Peri dengan sukacita membuat bingkisan untuk anak-anak yang akan diambil giginya. Germa hanya menatap Tarel yang juga begitu semangat membungkus hadiah.
"Hadiahmu apa?" kata Tarel mengagetkan lamunan Germa.
"Aku bawa permen tanpa gula. Kalau kamu?"
"Aku bawa sikat dan pasta gigi ajaib!" kata Tarel.
"Bagus itu, biar dia rajin sikat gigi." Keduanya tersenyum.
Tiba saat pengambilan gigi. Tarel terbang perlahan mendekati anak perempuan berambut panjang yang tidur nyenyak. Ia meniupkan bubuk pixie lalu mengangkat bantal. Betapa terkejut ia mendapati gigi itu. Setelah meletakkan hadiah, Tarel bergegas terbang.
Begitu sampai di perbatasan dimana teman-temannya menunggu, Tarel kaget melihat mereka pada meringis. Bahkan Germa muntah-muntah.
"Aku tak bisa membawa gigi itu, Tarel. Bau dan jijik!" kata Germa begitu melihat Tarel datang.
"Iya Tarel, gigi anak cowok itu pun sama bau busuk!" kata Sera meringis. Tarel kaget, ia memperlihatka gigi anak yang pada awalnya disangka akan bau itu.
"Hah? Itu beneran gigi anak itu?" Germa bengong.
Keesokan harinya. Karena penasaran, Tarel mendatangi anak perempuan itu. Sembunyi-sembunyi ia menyaksikan anak tersebut mengantarkan sebungkus permen dan cokelat untuk teman-temannya. Semua kabagian tanpa terkecuali hingga persediaannya di rumah habis.
"Pantesan saja!" gumam Tarel.
*************
Terima kasih bagi kamu yang sudah membaca dan memberikan vote untuk setiap cerita Fairy Tales ini. 🙏🙏
Pesan Moral dari cerita si atas adalah jangan mudah menjudge orang dari luarnya dan jangan berburuk sangka atas sesuatu yang belum pasti kebenarannya.
Salam Sayang,
Yetti Nurma