Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Sana dan Saha
Manan Sana.Manan Saha.Sang Kembar, tak terpisahkan.Mereka dari desa terpencil, dekat pegunungan penuh siluman.***Memikul kayu bakar di punggung masing-masing, si Kembar terus berjalan perlahan menuruni gunung selagi mencari sesuatu yang bisa dijual atau dimakan langsung."Aku dengar kabar," kata Sana. "Kalau tetangga kita meninggal malam itu."Saha membalasnya. "Aku mendengar, kalau dia tewas dimangsa."Desa yang mereka tinggali saat ini, punya kisah tersembunyi. Setiap satu purnama, pasti ada setidaknya satu warga yang meninggal. Jasad tampak kering seakan darahnya dihisap, juga begitu kurus bagai tengkorak berbalut kulit.Semua sudah terjadi selama mereka tinggal di sana. Si Kembar terus mendengarkan setiap larangan dan peringatan warga sekitar akan teror makhluk yang menganggu mereka sejak satu dekade lamanya."Dahulu, ada kakak beradik seperti kalian tinggal di sini," kata salah satu tetangga Sana dan Saha di hari kedua kedatangan mereka. "Namun, di malam purnama mereka lenyap tanpa jejak."Bukan hal janggal jika ada warga yang kabur akibat teror makhluk misterius itu. Namun, sekali melangkah, sudah raib dan tidak terdengar lagi kabarnya.Sana dan Saha bukan pendatang baru di desa ini. Mereka menetap di sana baru beberapa bulan dan sudah ada banyak kehilangan tetangga. Entah tewas dalam keadaan aneh tadi atau justru lenyap seperti beberapa warga.Namun, Sana dan Saha hanya menyimak. Entah percaya atau tidak.Selagi menyusuri jalan kecil, mereka sesekali menengok ke belakang. Kadang ke kiri dan kanan sambil memasang telinga. Waspada ketika mendengar suara gemerisik, meski itu hanya dari babi hutan yang mencari makan."Sana, malam ini malam purnama." Saha menginggatkan.Sana pun mengiakan.Mereka hidup bersama sejak lama, lebih tepatnya kembar tak terpisahkan. Tapi, tidak jelas dari mana kedua orangtua mereka dan tidak sekalipun dibahas ketika mengobrol santai maupun ditanya."Kami dilahirkan dan hidup begitu saja," ujar Sana ketika ditanyai perihal orangtua. "Aku dan Saha saling melengkapi. Kami hidup berdampingan dan saling menjaga."Maka, keduanya pun tetap hidup bersama meski tidak mengenang atau mengingat masa lalu barang sekali.Sana punya rambut lurus hitam legam yang diurai dengan mata biru langit serta postur tubuh yang tinggi.Saha punya postur dan gaya rambut sama dengan warna ungu, sebagai pembeda di antara mereka.Keduanya tinggal bersama di sebuah desa kecil di bawah gunung bersama warga lain. Orang-orang sana tahu keduanya hanyalah pendatang yang kemudian menjadi warga di desa itu.Mereka berdua muncul dalam wujud yang kita ketahui saat ini, tampak seperti dua gadis remaja yang menawan. Meski hidup di tengah desa yang diteror makhluk misterius pemangsa warga selama satu dekade lamanya."Kamu dari desa mana?" tanya salah seorang warga begitu melihat si Kembar.Sana menatap adiknya sesaat. "Dari sebuah desa dekat pegunungan.""Pegunungan yang terpencil," timpal Saha.Keduanya lalu meninggalkan si petanya. Kesannya seperti tidak ingin bicara, tapi jika ditanya lagi mereka akan menjawabnya dengan kalimat yang sama untuk pertanyaan serupa. Hampir semua orang menanyai, dari kepala suku hingga warga sekitar bahkan sesekali pengunjung yang kebetulan menetap di tempat mereka untuk sementara. Semua pertanyaan itu selalu dijawab demikian seakan mereka tidak ingat asal usul sendiri."Saha, lihat di sana, desa ini telah mati," ujar Sana setibanya mereka di tempat yang mereka tinggali saat ini.Hanya ada rumah-rumah kosong dan suasana hening menyambut. Belum lagi kabut putih menyelimuti menambah kesan kelam. Seakan desa ini tidak dihuni sejak lama.Saha mengiakan. "Kamu sudah kumpulkan semuanya?""Iya, aku sudah mengumpulkan semua ." Sana sengaja mengucapkannya dengan perlahan untuk menekankan. "Kamu lapar?""Tentu saja tidak," balas Saha. "Ayo, kita cari rumah lain!"Mereka pun melanjutkan perjalanan.***Hingga keduanya tiba di sebuah danau yang cukup keruh dan diselimuti kabut.Saha menyalakan api, Sana mencari kayu.Keduanya lalu duduk diam saling tatap, sesekali juga memandang sekitar tanpa mengucapkan sepatah kata."Sana, aku lapar," keluh Saha."Aku juga," balas Sana. "Sebentar, aku merasakan aura makhluk yang mendekat."Benar saja, muncul perahu dengan seorang pria mengayuh pelan menyusuri danau. Ia berhenti kala menyadari keberadaan si Kembar."Hai, gadis-gadis! Tidak takut di sana berduaan?" Sang pengayuh berniat menggoda, melihat paras sang Kembar bagai bintang-bintang penghias malam.Sana lantas berdiri, bersama Saha keduanya melambaikan tangan, isyarat menyuruh si pengayuh mendekat.Si pengayuh tersenyum. Ia mendekat dengan antusias, mengabaikan kabut yang kian pekat menghalangi pandangan.Kabut-kabut ditembus tanpa beban, si pengayuh tadi akhirnya tiba di depan sang Kembar lalu duduk menghadap mereka."Kalian berani sekali ke sini," komentarnya. "Banyak siluman ganas, lho."Sana dan Saha tersenyum."Kami terbiasa," ujar Sana."Kami tahu apa yang harus dilakukan," timpal Saha."Kami tidak perlu takut.""Kami tidak akan takut."Keduanya tersenyum pada pria yang baru dikenal itu. Membuat lawan bicara terlena akibat suara mereka yang mendayu bagai kicauan burung."Kamu pasti lapar," ujar Sana.Saha kembali menimpali. "Kamu pasti lelah.""Izinkan kami menghiburmu," ucap si Kembar.Tentu saja pria itu senang mendengarnya. Ia lalu kembali berkomentar."Kalian kembar yang cantik," pujinya. "Akan kupinang kalian berdua."Sana dan Saha terkikik, mereka tidak menjawab setelahnya melainkan dengan menyodorkan segelas air hangat.Si pengayuh menegaknya dengan lahap. "Terima kasih. Aku tidak menyangka kalian ternyata di sini."Sana dan Saha hanya tersenyum menanggapi. Bukan hal aneh jika mereka bertemu lagi meski dengan wajah yang berbeda.Pria itu menghabiskan gelasnya. "Benar-benar lezat, aku suka hasil panen dari desa itu.""Sayangnya, para warga telah pergi beberapa jam lalu," ujar Sana.Saha membenarkan. "Sepertinya mereka sudah tahu.""Sayang sekali." Pria itu lantas berdiri. "Kalau begitu, sampai jumpa di lain desa."Ia lalu kembali ke perahunya lalu lenyap ditelan kabut.Sana berdiri. "Ayo, kita cari tempat baru."Saha menyusun bekal mereka. "Ayo."Mereka pun melanjutkan perjalanan.***Manan Sana.Manan Saha.Sang Kembar, tak terpisahkan.Mereka dari desa terpencil, dekat pegunungan penuh siluman.TAMAT
Spirit of The Forest
Pada hari itu, hutan hening seperti biasa. Di hari itu pula, dia berkeliling. Seperti penghuni hutan lain, dia memulai harinya dengan menghirup udara segar, kemudian mencuci wajah di genangan air yang terkumpul berkat embun. Setelahnya, dia akan melangkah keluar dari pohon tempatnya bernaung dan mengamati tanah dia dilahirkan.“Selamat pagi!” sapa salah seorang tetangga. Dia memiliki tubuh mungil dengan telinga runcing serta sepasang sayap tipis menghias badan guna memudahkan tugas sebagai penjaga hutan.Dia pun membalas sapaan kenalannya dengan senyuman. Dalam wujud hari ini, dia menyerupai tetangganya itu. Sehari sebelumnya, menyamar sebagai tupai. Karena dia tidak memiliki wujud asli melainkan menyerupai makhluk hutan.“Kamu menjadi peri hari ini?” tanya tetangganya lagi.Dia mengiakan, kemudian pamit kepada tetangganya. Hari ini, dia akan memulai aktivitas yang sama seperti hari sebelumnya.Sambil mengepakkan sayapnya yang tipis, dia itu terbang melintasi pepohonan subur layaknya pagar penjaga. Sesekali mengamati sesama penghuni pohon yang masih terlelap dalam dahan berselimut dedaunan. Sebagai salah satu peri penghuni hutan, dia tahu betul apa tugasnya hari ini.Sebagai ruh penjaga hutan, dia tidak bisa berjaga tanpa raga. Pada malamnya, dia bisa leluasa berkeliling tapi ketika mentari menampakkan wajahnya, ruh tidak bisa berbuat banyak. Maka, dengan menjelma sebagai makhluk lain bisa membantu.Seperti yang terjadi di percakapan sebelumnya, dia kini mengambil wujud salah satu pekerja keras yang senantiasa menjaga hutan, sekaligus sebagai pilar penyangga agar hutan tetap berjalan dengan stabil. Maka, ruh ini tertarik dan mencoba wujud sebagai bagian dari mereka hari ini. Entah wujud apa yang akan dia pakai esok harinya.Terus menyusuri, di antara pepohonan yang berdiri kukuh, dia menemukan seekor tupai yang tengah sibuk mengumpulkan biji-bijian di mulut mereka. Namun, masih banyak barang bawaannya sementara pohon yang dipanjang jauh lebih tinggi.Tupai itu pasti kesulitan, itulah yang ruh ini pikirkan. Maka, dia dekati tupai itu dan terus mengamati dalam diam selama beberapa saat.Tidak lama, salah satu biji yang dibawa si tupai terjatuh ke tanah, padahal jaraknya begitu jauh. Mau tidak mau, si tupai harus turun dan memanjat jauh lagi agar bisa mengambil makananya atau dia tidak akan makan hari ini.Ruh memang tidak sepenuhnya punya empati, tapi mereka dikaruniai akal untuk meresap apa yang dilihat dan memikirkan solusi untuk penghuni hutan.Tanpa berpikir panjang, ruh itu mengerakkan jemari mengikuti irama hati. Saat itulah biji-bijian yang tadinya tergeletak di tanah mulai terbang perlahan dengan sendirinya, mengikuti arah si tupai menuju sarang. Akhirnya, si tupai tidak perlu lagi turun dan memanjat untuk mengumpulkan semua makanan.Si tupai tersenyum cerah melihat bantuan yang datang untuknya. Dia tatap ruh dalam wujud peri itu. “Terima kasih!”Ruh itu hanya membalas dengan senyuman.Sebelum masuk, tupai itu melambai ke arah sosok yang membantunya tadi dan kemudian pergi dari pandangan. Kini dia bisa menghabiskan waktu bersama makanannya hari ini tanpa kesulitan.Itulah salah satu tugasnya, berjaga dan memastikan keadaan hutan tetap aman sambil sesekali membantu yang membutuhkan. Maka, pada hari ini, sang ruh merasa puas dengan bantuan kecilnya dan kembali menjalankan tugas dengan menyusuri hutan.Sambil tersenyum puas, ruh itu melayang lagi menyusuri hutan, memastikan tidak ada yang kesulitan hari ini dan seterusnya.Tamat
Maiden of The Sea
Lautan menyimpan seribu misteri. Di antara misteri, menyimpan keajaiban. Sebagian disembunyikan dari penghuni darat, sebagian pula sudah diketahui.Di antara misteri lautan, berdiri sebuah tempat yang aman bagi penghuni lautan dalam. Mereka menjaga dan memastikan tidak ada penghuni darat yang berani masuk. Mereka disebut penjaga lautan.Alannis salah satunya. Di hari ulang tahunnya yang keenam belas, dia akhirnya bisa bebas berenang menjelajahi lautan lepas tanpa pengawasan dari orangtuanya. Sudah lama bercita-cita menjaga laut, dia bertekad akan memastikan dunianya senantiasa aman.Di hari pertamanya berjaga, Alannis ditemani beberapa temannya. Meski berada di lautan dalam, mereka berenang tanpa beban. Dengan siripnya yang ungu gelap, Alannis terus berenang di sisi teman-temannya sambil mengawasi lautan untuk kali pertama.Sebagai penghuni lautan dalam, tidak banyak yang mau mendekati. Itu sebabnya tempat asal Alannis selalu sepi. Namun, dia tidak memedulikan selama masih berada di sisi teman-temannya."Hari ini, aku melihat kapal berlayar." Temannya bercerita. "Mereka mencoba menangkap mermaid.""Ah, biarkan saja," sahut Alannis. "Salah mereka mencari perhatian terus dengan manusia."Siren memang tidak sering bercengkerama dengan manusia. Alannis sudah muak dengan para mermaid sejak dia masih kecil. Tidak tahan menyaksikan kaumnya selalu disisihkan dengan "yang cantik" padahal mereka saja tidak mengurusi hidup para mermaid."Kalau ada manusia yang jatuh cinta dengan mermaid, pasti terjadi hal yang tidak diinginkan," sahut temannya dengan wajah masam."Ya, paling mermaid dungu itu berakhir di restoran ikan." Alannis pun tertawa dan diikuti teman-temannya.Alannis merasa, kaumnya yang seharusnya tinggal bahagia di laut. Meski tidak secantik mermaid, setidaknya tidak pernah mencampuri urusan makhluk di darat sana. Kenapa juga para mermaid berduyun-duyun hendak ke darat? Ah, harusnya ini jadi berita bagus bagi para siren agar tidak diganggu terus. Perlahan, mungkin kaumnya akan menguasai lautan seperti sedia kala."Alannis," panggil temannya. "Kamu lihat itu?"Alannis mendongak. Di atas sana, terpantul cahaya bulan yang senantiasa menghias lautan. Namun, di laut dalam fenomena ini cukup jarang sehingga sukses membuat Alannis kagum menyaksikannya. Tanpa sadar, bayangan sirip merah muda memantul menyakiti matanya."Akh!" Alannis lantas mundur dengan wajah jijik penuh kekesalahan."Alannis!" Teman-temannya yang berjumlah empat siren mendekat dan menahan Alannis agar tidak terlempar jauh."Beraninya dia merusak pemandangan!" kesal Alannis.Tepat ketika Alannis mengucapkannya, mermaid itu menjulurkan lidah dan memandangnya hina. Membakar hati Alannis seketika."Hei, lihat! Ada kapal!" seru temannya sambil menunjuk ke atas. Dia lalu berbisik kepada ketiga teman lainnya. "Kita tarik dia ke sana, lumayan buat dijadikan ikan bakar."Alannis terkikik. "Ide bagus, ayo!"Tanpa ragu, mereka semua berenang cepat ke arah mermaid yang juga terpana menyaksikan kapal berlayar. Dia menyadari kehadiran Alannis dan teman-temannya. "Hei!"Belum sempat mermaid itu bersuara, Alannis menyambar tubuhnya lalu dengan kuat melempar badan mermaid malang itu ke atas kapal. Mereka semua menertawakan kesialan lawan mereka saat mendengar bunyi benda jatuh di atas kapal. Diam-diam semua mengintip suara dari sana."Wah, ada mermaid." Terdengar suara berat dari atas. "Lumayan dijual dengan harga mahal."Tawa seketika memecah malam, perpaduan antara kru kapal dengan kawanan Alannis sukses membuat mermaid itu menjerit ketakutan."Tunggu, jangan!" seru mermaid itu. Namun, naas sebilah pedang telah menusuk jantungnya hingga tewas.Alannis dan teman-temannya pun langsung meninggalkan tempat dan kembali menjelajahi lautan lepas.Tamat
Let's Fly Together
Seharusnya aku tidur malam ini. Namun, entah kenapa mata menolak untuk memejam meski malam sudah larut. Ah, aku ingat niatku sekarang, menunggu kepulangannya. Sudah sebulan lamanya dia tinggal di rumah ini dan kedatangannya bagai penerang dalam kegelapan hidup. Selama hidup sebatang kara tanpa seseorang menemani setelah kematian Ibu, hidup ini terasa hampa. Apalagi sebagai satu-satunya manusia di perumahan ini. Namun, seorang wanita datang membawakan surat adopsi beberapa bulan setelahnya. Kini, dia resmi menjadi waliku atau ... Hanya sekadar penggalang dana.Dia datang dengan niat menemani, meski lebih sibuk dibandingkan Ibu. Diselingi pekerjaannya, dia akan pulang membawa makan malam dan mengobrol bersama hingga jam tidur. Kali ini, sosoknya tidak juga muncul meski sudah lewat jam sembilan malam.Kuraih ponsel dan berniat menghubungi, tidak terjawab. Bahkan pesanku tiada yang terkirim. Barangkali dia sibuk mengurus segala hal yang tidak pernah diceritakan. Kalau kutanya apa pekerjaannya, dijawabnya dengan sesederhana ini."Memastikan kota ini tetap aman."Lalu, jika ditanya lebih jauh, dia hanya tersenyum lalu mengalihkan topik. Aku sendiri tidak paham mengapa dirahasiakan. Alasannya mengadopsiku belum jelas selain simpati. Barangkali karena dia dekat dengan mendiang Ibu, atau sesuatu.Dya namanya. Setiap hari pergi dan pulang jam tujuh, kadang kala lebih awal atau sebaliknya. Tidak banyak waktu yang kami habiskan, kecuali akhir pekan atau tanggal merah. Itu pun lebih canggung dibandingkan obrolanku dengan orang asing. Namun, aku maklum jika Dya mencoba menjadi sosok 'Ibu' bagiku.Terdengar suara kepakkan sayap dari luar jendela. Beberapa bulu putih berjatuhan menghiasi pandangan."Aku pulang!"Suara khas Dya yang antusias dan berima menggelitik telinga. Aku keluar kamar lalu menyambutnya di ruang tamu yang menyatu dengan pintu depan. Sudah pasti dia mendarat tepat setelah mengucapkannya."Bagaimana harimu?" sapanya dengan senyuman. Rambut pirangnya disisir ke belakang, hanya sebatas bahu, membuatnya tampak seperti pria dari belakang. Dia kenakan jaket hitam kesayangannya yang kabarnya sudah dipakai sejak memasuki masa Sekolah Menengah Atas. Sayapnya yang terpasang di punggung, dia lipat agar dapat masuk ke rumah. Ya, barangkali kami perlu merenovasi pintunya.Tidak banyak keluhan darinya selain pintu tadi, itu pun hanya diucapkan sekali saat pertemuan pertama saat Ibu masih ada."Ayo, dimakan! Nanti dingin." Dya letakkan sebungkus makanan di meja lalu melepas jaketnya. Kini dia mengenakan kaos putih yang dirancang sesuai dengan tubuh sehingga tidak menyulitkannya untuk terbang.Kutatap diriku di cermin. Aku hanya manusia biasa, sama seperti Ibu. Lingkunganku dipenuhi makhluk ajaib, terutama Dya yang bersayap. Kuhela napas, aku tidak berguna baginya. Tapi, dia juga yang memungutku sejak awal tanpa diminta."Kamie?" Suara Dya terdengar lagi. "Ada apa?"Aku tidak menjawab. Langsung duduk dan menatap makanan yang dibeli. Ini sudah lewat jam sembilan dan aku seharusnya tidur dan kenyang. Namun, kupilih untuk diam dan menyantap apa yang ada. Dya membelikan gorengan yang lumayan banyak dan mengunggah selera. Wanita itu duduk di depan, makan lebih lahap dariku.Kutarik napas. Ada perasaan menjanggal yang selama ini menghantui. Perbedaan ras hanya masalah kecil, apalagi bagi sosok Dya. Namun, kekuatanku tiada gunanya dibandingkan bayi sekalipun. Bisa dibilang, keluargaku yang manusia hanya penumpang gelap perumahan ini."Kamie, dari tadi kamu diam saja," tegur Dya sambil mengepakkan sedikit sayapnya. "Ada apa? Seseorang mengganggumu di sekolah?"Itu bukan masalah, lantaran aku diperlakukan sama di sekolah. Atau, barangkali semua siswa disuruh menghargaiku sebagai makhluk lain. Sepertinya, aku jenis terakhir yang harus dilindungi setelah Perang Besar. Kuharap, jauh di sana ada manusia yang bertahan. Barangkali, Dya bisa membantu. Namun, lagi-lagi aku tidak nyaman meminta.Aku ingin keluarga manusia, yang mengerti dan menjalani hidup sepertiku. Bukannya tidak bersyukur, tapi hidup di dunia seperti ini, rasanya bagai titik hitam di kertas putih. Dya sendiri belum tentu paham tentang manusia, apalagi makhluk lain selain dia.Kepakkan sayapnya membuyarkan lamunan. "Kamu tampak sedih hari ini. Aku telat, ya?"Merasa tidak nyaman, aku balas dengan pelan. "Bukan. Aku ... Agak ragu."Dya tersenyum, "ragu kenapa, Nak? Siapa tahu aku bisa bantu."Kutarik napas, berharap agar dia paham maksudku. "Apa benar aku satu-satunya manusia di dunia ini?"Setelah kematian Ibu, aku jelas kesepian dan tiada manusia yang bisa diajak bicara. Tentu saja, Dya datang saat beliau dimakamkan lalu menghibur dengan beragam kata. Meski sedikit membaik, aku tetap tidak terima kenyataan bahwa satu-satunya manusia dalam hidupku telah pergi dan tidak akan kembali."Tidak juga," sahut Dya sambil tersenyum. "Aku yakin di luar sana ada manusia menunggumu."Kupaksakan senyum, pendapat kami ternyata sama. "Dya, kamu ... Mau membantuku mencari mereka? Aku butuh keluarga.""Keluarga?"Ah, ucapanku sepertinya kasar. Aku jelas menyakiti perasaannya. Ya, Dya memang bukan manusia, namun masih punya hati nurani dan perasaan. Kalimatku tadi seakan menolak keberadaannya di rumahku."Maksudku ... Aku ..." Aku kehabisan kata. Mau bagaimana lagi? Tidak ada makhluk yang cocok di sini. Dalam segala hal, tentu memerlukan ras yang sama, bukan?Tidak disangka, Dya tersenyum lalu berdiri dan menepuk pelan bahuku. "Kamie, kamu mau melihat dunia baru?"Belum sempat menjawab, Dya tarik tanganku dan mengepakkan sayap. Lantas melesat keluar jendela sambil mendekapku yang belum siap sama sekali. Entah ke mana dia membawaku, diri ini sibuk berlindung di pelukannya lantaran takut jatuh. Udara dingin menusuk kulit namun tampak tidak mengganggu Dya yang berpakaian kaos biasa, sementara aku mengenakan piama merah muda dan celana panjang."Dya!" seruku selagi kani melesat melewati sebuah gedung.Dya tertawa dan malah melesat.Kueratkan pelukan sambil memejamkan mata. Kuharap Dya tidak pergi ke tempat aneh para makhluk lain di kota.Tak lama, Dya mendarat. Menurunkanku lalu duduk di samping sambil menikmati keindahan kota. Kami berada di atas gedung, tidak terlalu tinggi sehingga tidak menakutiku. Tercium aroma udara malam nan segar."Dya?" panggilku, meminta penjelasan."Kamie, kamu pikir keluarga itu harus satu ras?" Dya tersenyum sambil menikmati pemandangan."Tentu," balasku. Ibu manusia, begitu juga dengan Ayah. Aku juga satu ras dengan mereka. Yang mana membuat kami satu keluarga. Meski Ayah tidak pernah menampakkan diri."Jadi, kamu anggap sedarah itu keluarga?" sahut Dya. "Lalu, apa kabar orangtua yang membuang anaknya? Atau anak yang mendurhakai orangtuanya?"Pertanyaannya lantas membuatku bungkam. Apa Ayah sosok yang dimaksud? Aku sendiri tidak tahu. Ibu tidak pernah cerita dan menolak membahas. Jika ditanya, pasti mengalihkan topik atau menjawab kalau beliau sedang bekerja di luar sana. Nyatanya, setelah kematian Ibu, tidak ada pria yang datang ke pemakanannya yang mengaku sebagai suami beliau atau ayahku. Ke mana dia? Tidak ada yang tahu. Ibu bahkan tampak marah jika ditanya soal itu.Dya tatap para pejalan kaki menikmati malam. "Aku sama sepertimu. Dulu berpikir jika sedarah berarti keluarga. Ya, tidak sepenuhnya salah. Tapi, tidak semua orang pantas menjadi bagian dari keluarga."Aku diam saja."Kamie, kalau kamu ingin mencari keluarga-mu di sana, aku tidak keberatan membantu," lanjutnya dengan senyuman. "Lagi pula, tidak ada salahnya mencoba. Kalau kamu ingin keluarga manusia, bukannya makhluk aneh sepertiku."Aku lantas menyahut, entah dari dorongan mana. "Dya!"Dya menatapku. "Hm?""A ..." Kugantung kalimat, mencari yang tepat.Dia berusaha menjadi teman bahkan keluarga bagiku. Jelas tidak ingin melihatku sedih atas kesendirian ini. Kalau Ibu melihatnya, beliau pun pasti senang menerimanya di rumah. Kalau begitu, keputusanku telah bulat."Dya, mari terbang bersama!" ajakku. "Ajak aku keliling duniamu dan jadikan aku sebagai sahabatmu.""Ah, kamu berubah pikiran?""Kurasa, keluarga tidak harus sedarah. Melainkan mereka yang menerimamu apa adanya," balasku. "Tidak masalah jika aku berbeda, bukan?"Dya tersenyum, "tidak ada yang menolak, Nak."Aku mendekat lalu menatapnya penuh tekad. "Terima kasih, Dya.""Atas apa?" Dya mengangkat sebelah alis."Telah mengajariku apa arti dari keluarga." Kuhela napas. "Terima kasih."Dya tersenyum. "Kamie, let's fly together!"Dya meraihku lalu kami melesat pulang. Tanpa banyak bicara, kami tidur di ruang terpisah dengan damai menghabiskan malam. Ah, entah kenapa ada perasaan baru di kalbu. Sesuatu yang kudambakan sejak awal.Ucapan Dya terus terdengar, seakan menolak untuk berpisah.Let's fly together!Tamat
Pemburu dan Iblis
Ada iblis, ada pemburu.Ketika dunia perlahan dikuasai iblis, di situlah para pemburu berusaha menjaga ras mereka dari kepunahan.Iblis membutuhkan daging manusia untuk dimakan, tapi tiada manusia yang bersedia menyerahkan diri begitu saja. Pada akhirnya, para iblis mulai membantai di kala lapar maupun bosan. Kematian dan darah sudah menjadi makanan sehari-hari bagi kedua ras itu.Manusia yang pemberani mulai berkumpul dan melindungi sesama. Beberapa iblis tumbang, namun ada juga yang berhasil mengubah pemburu menjadi iblis.Hanya sinar matahari yang ditakuti iblis, hanya di saat itulah manusia merasa aman.Iblis hanya akan berkeliaran di malam hari hingga fajar tiba. Memangsa siapa saja yang berdiri di depan mata. Tidak banyak yang bisa dilakukan manusia selain mencoba berjaga meski di kala lelah dan sakit.Ada iblis, ada pemburu.Para pemburu lahir dari kalangan manusia pemberani, mereka tidak takut mati apalagi iblis.Sudah menjadi kewajiban bagi mereka untuk memburu iblis dan melindungi sesama. Tidak sedikit juga berusaha mencegah manusia lain menjadi iblis.Mereka memastikan tidak ada benda yang mengandung sihir hitam, sekaligus membagikan benda yang sekiranya bisa dipakai untuk membela diri.Para pemburu akan berjaga pada malam hari, memastikan manusia aman. Jika ada tanda kedatangan iblis, mereka akan bergerak melawan hingga titik darah penghabisan.Meski tidak sedikit dari mereka yang tumbang dimangsa bahkan menjadi iblis, namun tekad para pemburu menjaga sesama tidak akan padam.Iblis tetaplah iblis.Jika pemburu menjadi iblis, tamatlah riwayatnya.Jika iblis bertemu pemburu, mereka akan bertarung hingga salah satu akan memutuskan nasib yang lain.Kedua kubu ini akan selamanya berdampingan.Iblis akan memburu pemburu.Pemburu akan membasmi iblis.Ada iblis, ada pemburu.Jika iblis bertemu pemburu, tidak selamanya mereka akan saling memburu.Jika pemburu melihat iblis, tidak selamanya akan membunuh.Ada iblis, ada pemburu.Keduanya tidak akan dipisahkan.***“Tolong! Iblis!”Jeritan seorang wanita menggemparkan seisi desa lantaran saudaranya telah berubah menjadi iblis setelah berburu.Seorang pria dengan tatapan liar dengan taring tajam siap memangsa. Cakarnya hendak mencengkeram leher wanita yang berlari di depannya.Wanita itu tumbang.Iblis telah mengisap darahnya. Geligi itu perlahan menggerogoti seluruh bahu wanita malang itu.Mangsanya menjerit dengan sia-sia. Perlahan, suaranya semakin serak hingga akhirnya hening. Wanita itu tewas dengan mata terbalak merasakan dirinya dimangsa hidup-hidup.Syaaat!Iblis telah tumbang. Sebuah tombak menancap di kepalanya.Sosok wanita berdiri memandangi tragedi di depannya. Dia terlambat.Wanita itu menatap korban dengan tatapan prihatin. Namun, segera setelahnya, dia tancapkan pisau ke kening sang mayat hingga remuk kepalanya demi mencegah perubahan.Seorang warga yang ketakutan mencoba memastikan bahwa wanita di depannya itu memang berasal dari rasnya sendiri. Menyadari bahwa itu manusia, dia mendekat. “Terima kasih!”Para warga yang ketakutan mulai berduyun-duyun keluar rumah untuk mengucapkan terima kasih kepadanya. Namun, wanita itu hanya membalas dengan senyuman lalu pergi meninggalkan mereka.Wanita ini sudah cukup lama menjadi pemburu. Terbiasa baginya jika setiap langkah hidup akan dihantu makhluk pemangsa manusia itu. Karena dia pemburu.Ada iblis, ada pemburu.Di setiap langkah pemburu, akan ada iblis menyertai.***Yumi dibesarkan di sebuah desa seperti kebanyakan anak, dengan ibu yang menyayangi serta teman-temannya. Terlahir dari keluarga pemburu membuatnya tumbuh besar dengan keahlian memanah dan bela diri, termasuk memanfaatkan peralatan dapur seperti pisau bahkan sendok. Ayah Yumi tewas dimangsa iblis ketika dia masih di dalam rahim ibunya. Maka dia tidak pernah tahu rasanya memiliki seorang ayah.Tinggal bersama dengan ibunya yang merupakan salah satu pemburu membuatnya harus sering ditinggalkan. Tapi, bukan berarti ibunya jarang menjenguk. Beliau selalu memastikan akan punya waktu di rumah dan menghabiskan hari bersama sang buah hati.Hari ini, ibunya datang lebih awal.“Yumi, Ibu pulang!”Yumi yang waktu itu berusia tujuh tahun bergegas menghampiri sang ibu dan memeluknya. Di tengah pelukan manis bersama sang ibu, Yumi melihat seorang anak berdiri di belakang.“Siapa itu?” bisik Yumi pada ibunya.Sang Ibu tersenyum, dia menyuruh bocah itu masuk. “Yumi, perkenalkan, ini Hisa.” Ibunya menepuk bahu anak itu.Sama dengan Yumi, anak itu memiliki rambut hitam sebahu dengan kulit pucat serta mata biru, sementara Yumi punya netra cokelat seperti ibunya dengan kulit kuning langsat.“Halo, Hisa!” sapa Yumi.Hisa membalas dengan senyuman.“Hisa sekarang keluargamu,” ujar ibunya. “Yumi tidak akan sendirian lagi.”***Yumi dengan cepat bergaul dan berteman baik Hisa yang kini menjadi keluarganya. Mereka hampir tidak bisa dipisahkan dan saling menyayangi.Yumi menyadari jika Hisa berbeda dari kebanyakan anak. Dia berpenampilan pucat dan begitu pendiam. Bahkan setelah bertahun-tahun lamanya mereka bersama, tidak juga muncul sifat lain seperti yang dia kira.“Hisa,” panggil Yumi ketika mereka mencapai usia dua belas tahun. Keduanya memang sebaya. “Kenapa kamu begitu pucat?”Hisa hanya tersenyum. “Setiap makhluk diciptakan berbeda.”Yumi hanya ber-“oh” panjang tanpa bertanya banyak.“Yumi, Hisa!” Ibu mereka memanggil.Kedua anak itu langsung mencari ibu mereka yang sedang duduk di serambi. Beliau sudah memakai pakaian tebal demi melindungi diri dari gigitan dan beberapa senjata.“Ibu akan berburu,” ujar ibu mereka. “Kalian jaga diri!”Hanya dengan itu, ibu mereka tersenyum dan melangkah pergi untuk terakhir kalinya.***Tahun demi tahun berlalu, Yumi dan Hisa tumbuh menjadi lebih dewasa tanpa kehadiran ibu mereka. Yumi akhirnya mengikuti jejak sang ibu dan mulai berkelana mencari tempat yang nyaman untuk ditinggali. Sementara Hisa pada akhirnya keluar rumah untuk mendampinginya.Yumi mengamati sekitar, sudah lama dia melihat hal yang sama di daerah berbeda, tapi kali ini dia yakin dengan apa yang dilihatnya.Syut!Hanya dengan sekali lemparan, iblis tumbang dari semak belukar. Nyaris saja memangsanya.Yumi memungut kembali pisaunya yang menancap di kening iblis itu. Dia pun menghancurkan kepala sang iblis, memastikan makhluk terkutuk itu tidak bangkit kembali.Sambil menarik napas, Yumi pun membersihkan pisau di genangan air terdekat lalu menyimpannya ke kantong sebelum melanjutkan perjalanan.Ada pemburu, ada iblis.Selama dia melangkah, ada iblis menyertai.***“Yumi, apa kabar?”Untuk pertama kali dari sekian lamanya, Yumi mendengar suara itu lagi. Dia sedang beristirahat di salah satu rumah warga dan tidak menyangka akan dikunjungi.“Baik.” Yumi menyahuti suara tadi. “Bagaimana denganmu?”“Aman, aku sudah menumbangkan iblis yang nyaris memangsamu. Beberapa bergerak menuju ke arah sini. Sebaiknya kita bersiap.” Hisa yang telah lama berpisah dengannya kembali membawa beberapa uang dan kabar. Seperti biasa, mereka akan saling menjaga dari kejauhan. Dia tidak boleh terlihat.Yumi tahu, bagaimanapun, Hisa akan memihaknya meski dia tahu kenyataannya.Sudah sejak lama ibunya menyembunyikan kebenaran itu, bahkan setelah kepergiannya. Yumi tahu dan Hisa berjanji akan melindunginya.Yumi akan berburu, Hisa akan menjaga.Ada pemburu, ada iblis.Tamat
Sayang Semuanya
Aku sayang semuanya.Tiada dari mereka yang tidak kucinta.Mereka pergi, aku tidak rela.Karena mereka keluarga.Keluarga akan selalu bersama.***Dalam laut, kami hidup damai.Dalam buaian ombak, kami bermain.Setiap hari, dilalui bersama. Membiarkan ombak membawa ekor kami selagi lautan jernih menampilkan beragam makhluk dan tumbuhan. Beberapa menyapa, beberapa pula sekadar melewati.Aku mengintip ke luar dari air, disambut dunia atas dengan embusan angin. Pemandangan biru cerah disertai cahaya hangat menyambut. Di saat itu juga aku perlahan merasa kedinginan dan kembali ke air demi menghangatkan diri."Cordelia!" Seruan Kakak menyambut ketika aku kembali ke dalam. "Ayo, pulang! Nanti ditangkap bajak laut!"Aku mengibaskan ekor menuju Kakak. Tentu saja tidak mau ditangkap bajak laut yang telah lama memburu para putri duyung seperti kami.Kakak mengenggam tangan dan kami berenang kembali ke dasar air. Dia mrmang bertugas menjagaku dan Adik saat bermain. Tapi, sepertinya Adik sudah pulang dan tinggal aku yang tersisa.Kami hidup di bagian gelapnya laut. Ketika makhluk atas tidak mampu menjangkau kami. Karena mereka yang selalu memburu, aku tidak tahu mengapa.Rumah kami hanya berupa lubang yang menjorok ke bawah, lebih tepatnya berupa lorong panjang yang menyatu dengan lorong lainnya menuju satu tempat di bagian terdalam yang belum pernah kujangkau.Semakin dekat, kulihat ekor kuning melesat ke arah kami. Ketika ekorku tercekat akibat kaget, saat itu juga kudengar seruan."Kakak!" Adik berenang mendekat dan menyambut kami berdua.Aku memeluk Adik dan mencubit pelan pipinya yang tembam. "Makin gemuk saja.""Iya dong, Adik 'kan, sehat," balasnya dengan senyuman cerah."Makan terus, sih, sama kayak kamu." Kakak justru mengacak rambut pirangku.Aku mengangkat pelan tangannya dari kepala. "Ih, mana ada.""Sudah," tegur Kakak. "Ayo, masuk. Nanti telat."Kami pun berenang masuk ke rumah. Bergandengan selagi sesekali mengayunkan tangan untuk bermain sejenak.Ketika memasuki rumah, Ibu menyambut kami dengan hidangan malam ini. Dia tersenyum dan menyuruhku duduk di antara mereka.Sementara Ayah sudah duduk dan tampak menunggu kami sebelum menyantap hidangannya. Begitu kami duduk, dia menyambut kami semua."Bagaimana harimu?" Begitulah basa-basi yang kerab diucapkan orang tua kami, tapi kami tidak akan bosan mendengar."Cordelia kembali menengok daratan," lapor Kakak."Hanya sekali!" sanggahku."Tidak ada manusia, 'kan?" tanya Ibu, raut wajahnya tampak khawatir.Selama ini, aku hanya melihat langit biru serta burung camar dari kejauhan. Rasanya sukar jika ada manusia atau makhluk dunia atas yang melihat."Tidak ada, seperti biasa," jawabku."Hati-hati ke sana," ucap Ayah. "Kita tidak tahu jika mereka bisa melihat dari jauh."Aku mengiakan tanda patuh."Cordelia juga kurangi ke atas," timpal Ibu. "Takutnya kalau berjumpa dengan satu saja manusia, habislah."Aku diam saja, memilih menunduk dan tidak bersuara sebagai jalan aman. Memang benar nasihat mereka, tapi manusia mana yang rela menempuh jarak begitu jauh hanya untuk melihat kami?Sementara Adik dan Kakak makan, kedua orang tua kami pun menyantap makan malam.Kami pun kembali makan bersama. Makanan kami beragam setiap hari tergantung suasana hati Ibu. Menu utama kali ini adalah ikan tentunya. Di tengah waktu, beberapa dari kami akan bercerita tentang hari ini untuk mendapat saran atau hanya sekadar bercerita.Setelah makan malam, kami pun pergi tidur. Kamar hanya terdiri dari bebatuan penyusun gua. Dalam satu ruang ini kami isi bersama khusus tidur hingga hari esok menyambut.Aku memejamkan mata.***"Pagi, Ibu! Pagi juga, Ayah!" sambutku ketika hari esok tiba. Mata biruku menyambut lembaran baru kehidupan.Mereka sedang duduk di meja makan, tersenyum kepadaku."Di mana Adik dan Kakak?" tanyaku, menyadari keduanya tidak muncul juga setelah ditunggu."Mereka bermain," jawab Ibu. "Kamu ketiduran, jadi ditinggal, deh."Aku tersenyum meski sedikit malu. Jarang sekali aku bangun terlambat, padahal kemarin biasa saja."Ya, sudah. Cordelia pergi juga, ya." Aku mendekat dan memeluk kedua orang tuaku sebagai tanda perpisahan singkat. Toh, nanti bakal kembali lagi ke sini setelah beberapa waktu."Hati-hati," ucap Ibu."Jangan sampai tertangkap," timpal Ayah."Baik." Aku berenang menjauh. "Cordelia pergi, ya!"Aku pun pergi meninggalkan mereka dengan semangat membara, tidak sabar kembali menyambut daratan dan desiran angin pantai yang segar.***Ketika pandangan laut biru gelap semakin terang, aku melesat ke atas dan berniat melompat."Halo, daratan!" seruku.Langit tersenyum cerah hari ini, tanda akan menjadi hari yang baik seperti kemarin. Aku melompat dan merasakan angin membelai wajah dan kembali dipeluk lautan.Kembali melompat, aku menatap lautan luas seakan melihat dari sudut pandang burung camar, belum setinggi itu sudah membuatku terkesima.Hari ini begitu damai, begitu sunyi.Tiada suara, tiada interupsi.Sepertinya memang aku harus sendirian saat ini. Kenapa gerangan?Aku kembali menyelam ke dalam, menatap lautan yang masih hening. Sejauh mata memandang, tiada suara melainkan gelombang air."Kakak? Adik?" panggilku. Biasanya mereka yang terlebih dahulu menyeru namaku. Tapi, ini sudah lebih lama dari biasanya.Aku menyelam semakin dalam, menuju daerah terpencil, lebih tepatnya rumahku.Masih saja hening."Ibu? Ayah?" panggilku. "Adik? Kakak?"Lagi-lagi, tiada sahutan.Tetapi, aku dapat melihat secara samar warna gua yang berubah menjadi lebih gelap dan bau aneh.Aku diam, mencoba mencerna apa gerangan yang terjadi. Namun, tidak ada yang baik. Tidak ingin semakin menjadi, aku memberanikan diri masuk ke rumah."Ibu! Ayah!" seruku semakin kencang. "Adik! Kakak!"Terdengar bunyi geraman, di saat itu juga gua bergetar hebat menciptakan guncangan. Aku yang tidak sempat berpikir langsung berlari menyelamatkan diri. Tidak peduli makhluk jenis apa yang mencoba merisak rumahku.Ekorku kini terasa berat. Sesuatu seakan mencoba menarik.Aku berhasil menebas hingga ekorku terlepas. Bergegas pergi sebelum makhluk itu memangsa.Makhluk itu berbentuk bulat besar serta dipenuhi tentakel. Begitu besar hingga gua tempatku tinggal terasa begitu sempit. Dia menyelinap ke sana tanpa memedulikan ukuran.Aku menelan ludah, menatapnya tanpa gerakan. Seakan melihat makhluk ini sukses membuatku gentar hingga pasrah.Namun, makhluk itu berlalu. Meninggalkanku seakan aku makhluk tiada daya tariknya.Menyadari ada kesempatan, aku berenang kembali ke dalam gua dan menyeru nama keluargaku."Ibu! Ayah!" seruku lagi dan lagi. "Adik! Kakak!"Namun, tiada balasan.Ekorku yang lelah mulai melamban. Aku berenang begitu pelan hingga berhenti tepat di ruang makan tempat terakhir aku menjumpai mereka.Mereka di sana.Ekor terpisah dari raga, sementara beberapa bagian telah dimangsa makhluk itu. Menyiksakan tulang dan beberapa daging yang tidak tergigit.Mereka di sana.Tidak mampu bergerak maupun bicara padaku lagi.Terlelap dalam keabadian.Tidak akan ada yang menyambutku pulang.Tidak akan ada yang menemaniku.Tiada lagi ...Mereka yang kusayangi telah pergi.Aku dekati mereka. Terdiam selagi ekorku yang masih menyatu dengan raga mencoba menyeimbangkan diriku yang mulai lunglai.Keluargaku.Aku baringkan badan. Membiarkan raga menyentuh bagian bawah gua yang dingin, menatap langit-langit yang tersusun dari bebatuan.Membiarkan ini menjadi momen kebersamaan kami.Aku tersenyum selagi mata terasa berat. Dunia terasa berputar.Perlahan, menginggat kembali.Andai aku pulang lebih dahulu.Andai pula aku lebih waspada.Andai saja ...Kegelapan perlahan menyambut. Membawaku ke dunia mimpi, satu-satunya tempatku bisa melihat mereka kembali.Aku sayang Ibu.Juga sayang Ayah.Sayang Adik dan Kakak.Aku sayang semuanya.Tamat
Ada Lima
Ada lima, termasuk aku.Beragam rupa dan kisah.Dari yang senasib hingga beda nasib.Tapi, tujuan kami hanya satu.Pergi dari sini hidup-hidup.***Hijaunya rumput membuatku rindu, mengenang masa di mana masih bisa menikmati indahnya sinar mentari yang kuning dan hangat.Tinggal di sini, dunia rasanya hanya terdiri dari warna kelabu. Hambar rasanya tanpa bisa menghirup udara segar, melihat dunia luar, harus tetap tegar.Di sini, kami hanya makan apa yang diberikan. Bentuknya hanya satu, yaitu berupa bubur merah muda. Baunya aneh seperti bahan yang biasa dipakai untuk berobat. Tapi, demi mengisi perut kami makan saja. Jika minta yang lain, yang ada hanya cacian.“Sudah diberi gratis malah minta lagi! Dasar tidak tahu terima kasih!”Setelahnya, kami hanya bungkam. Berserah diri dengan apa yang diterima.Tinggal dalam satu ruang bersama empat orang lainnya, lengkap dengan keheningan dan kecanggungan, tiada rasa selama beberapa waktu terkurung di sini.Aku tidak ingat banyak apa yang terjadi. Dahulu, aku hanya bermain bersama teman sebayaku di sebuah taman.Muncul sosok pria datang kepadaku, menawarkan sebuah permen.“Ini permen paling manis yang pernah diciptakan,” katanya sambil menyodorkan permen kecil berwarna merah muda. “Kamu yang terpilih untuk mencicipinya.”Tanpa ragu, diriku yang tidak tahu menahu langsung menyantapnya kemudian lari menyusul teman-temanku.Langkah kakiku terpacu mengejar teman-teman sambil tertawa riang. Bermain sambil mengecap permen manis ini. Hingga perlahan dunia terada berputar, kaki perlahan kaku, hingga kepalaku terbentur ke tanah.Menyisakan kegelapan.Disertai jeritan teman-temanku.***Begitu bangun, aku telah berada di ruangan kelabu ini bersama keempat anak lainnya. Mereka duduk memeluk lutut, sebagian berbaring, tapi tidak satu pun menyapa saat menatapku.“Um, halo?” sapaku.Hening.Tiada dari mereka yang bahkan membuka mulut. Semua diam menatapku. Tatapan yang sama herannya.Menyadari bahwa aku barangkali tidak akan bisa bicara lagi, kuputuskan untuk diam dan duduk di pojokkan. Menunggu dan menunggu.Di sinilah aku berada. Bersama orang baru di tempat yang baru pula.***Langit biru tampak di sela jendela berjeruji. Aku dekati kemudian berusaha menghirup udara dari sana. Saking lamanya di sini, lupa bagaimana bau kebebasan itu.Ada lima orang termasuk aku di sini. Kami diambil pada suatu hari, direngut dari tanah kelahiran tanpa tahu apa yang terjadi.Tidak ada yang bicara, bahkan aku sendiri merasa berat saat hendak berbisik. Namun, kami semua tetap saling menerima, meski di sisi lain tampak lebih mengabaikan.Terkurung di sini dan diberi makan makanan yang aneh, tanpa alasan yang jelas, membuat semangat hidup pudar.Rasanya, tiada gunanya hidup di dunia candramawa ini.Namun, aku tidak akan menyerah.Kami akan keluar.Kami harus pergi.Suatu saat nanti jika takdir berkehendak, aku akan mengibarkan sayapku menuju langit biru.Mencari keluargaku yang tidak pernah ada.***Ada lima, termasuk aku.Meski tidak bicara, kami bisa saling memahami melalui isyarat.Tapi, dengan ini kami juga harus bersabar dan menunggu sebelum melancarkan aksi.Ketika penjaga yang biasa mengawasi kami pergi, kami mencoba mendobrak pintu. Setiap bunyi dentuman yang kami ciptakan, tidak menimbulkan suara lain melainkan dentuman tadi. Pertanda kami benar-benar aman.Inilah kesempatan.Makanan merah muda aneh itu memang terasa memengaruhi badan kami, membuat kami kian cepat letih. Tetapi, tekad kami tetap kuat hingga ...Pintu didobrak.Jatuh di hadapan kami.Atas ketabahan dan kekuatan, kami bersama berhasil keluar dari jeruji besi ini.Terpampang jelas rumput hijau menyambut. Artinya kami hanya dikurung di satu ruang kecil tanpa pengawasan yang berarti. Tampak warna lembayung senja menyambut mata, membuatku seakan telah bertemu dengan sosok yang telah lama tidak dijumpa.Rasa rindu ini ... Membuat jantungku berdebar.Rasa rindu ini membuat hatiku terasa berbunga.Aku telah bebas.Tapi, ada yang aneh.Kami hanya dikurung semudah ini dan bebas secepat ini pula. Lantas, kenapa kami ditangkap dan dikurung? Jika benar tiada niat, kenapa bisa terjadi?Aku tidak begitu memusingkan, kami pun saling tatap dan memantapkan diri.Begitu mentari mulai tenggelam, kami meneruskan langkah ke depan. Tidak tahu pasti apa yang menghadang.Kami akan maju.Kami harus tetap maju.Bergandengan kami berlari menembus hijaunya hutan di kelamnya malam.Tidak ada yang terlihat melainkan bayangan kegelapan.Tiada suara melainkan suara napas dan langkah kaki.Napasku memburu, perlahan membuatku tersenggal. Tapi, tekad untuk bebas tetap berkobar. Demi bisa merasakan kehidupan lamaku yang indah.Hingga tampak semburat cahaya dari kejauhan. Tampak bagaikan malaikat penyelamat.Itu lampu jalanan menuju kota.Sebentar lagi kami akan diselamatkan warga kota di ujung sana.Kami akan keluar.Kami telah bebas ...Dor!Jantungku berdegup kencang, napasku kian kacau. Bahkan kaki nyaris terjatuh akibat tidak fokus berlari saking gentarnya.Rasa takut kembali menggelayut. Harapanku untuk bebas pecah bersamaan dengan bunyi tembakan itu. Seakan sebuah peluru menembus langsung ke kepala.Bruk!Bunyi benda jatuh menghantam tanah. Diiringi langkah kaki kami yang meleburkan suara kekacauan tadi.Mataku tidak sempat menoleh, hanya melihat salah seorang dari kami jatuh.Dia telah gugur. Bersama genangan merah dari kepala.Kami tidak menjerit. Sejak awal kami tidak bisa bersuara meski berharap.Kami tidak boleh bersuara. Tidak bisa menolong apalagi membopong.Kami harus maju.Kami harus tetap maju.Meneruskan langkah, menghindari bunyi tembakan serta peluru yang melesat ke segala arah.Beberapa pohon dan tanah tertembak, mereka tidak menjerit juga.Lidahku kelu, ditambah tenaga kian menipis. Yang ada di benak adalah cara bebas. Setelah semua perjuangan ini, aku akan pergi, harus.Kini tinggal kami berempat.Ketika bunyi dentuman disertai bentakan menghias udara malam yang sunyi, kami berpegangan dengan erat.“Sialan! Di mana mereka?!”Suara itu tidak digubris melainkan dengan bunyi tembakan dan bentakan lain darinya. Bagai kesetanan, dia menjerit layaknya seekor serigala yang kelaparan dan geram akibat kehilangan mangsa.Sayangnya, dia hanya berhasil menemukan satu. Itu pun tiada gunanya lagi baginya.Aku menarik napas, mengumpulkan tenaga sebelum akhirnya melesat sambil menarik tangan teman-temanku.Kami berlari.Berlari dan terus berlari.Menyusuri hutan yang gelap, disertai bunyi tembakan dalam ketakutan.Kami akan bebas.Kami harus bebas.Jika perjuangan kami sia-sia, setidaknya kami tidak menunjukkan kalau kami pasrah.Ketika bunyi mengerikan itu perlahan tertelan di dalam gelapnya hutan, kami akhirnya bisa tenang.Meski kami tidak tahu pasti jika kami telah aman.Aku terus menggandeng teman-temanku. Bertekad akan menjaga mereka hingga maut memisah.Kami terus berlari. Meninggalkan semua kesialan ini. Menuju terbitnya mentari.Tamat
Makanan Hari Ini (Special Halloween)
Aku merentangkan badan, berusaha mengumpulkan kesembilan nyawaku yang berjalan di kala lelap. Hari sudah gelap, biasanya babu akan datang dan menyapa. Mata masih setengah terbuka. Begitu bisa melihat dengan jelas, seisi ruangan masih terlihat sama seperti sedia kala. Hanya diterangi cahaya lampu beserta perabotan rumah yang masih tertata rapi.Mengeong pelan, memastikan tidak ada siapa pun di rumah ini, atau setidaknya direspons oleh babuku. Nyatanya, semua hening.Aku lalu melangkah keluar dari tempatku tidur yang berupa keranjang kecil berisi kain menumpuk. Mencari apa saja yang bisa dilakukan selama babuku pergi.Tidak banyak cerita tentang diriku. Aku hanya makhluk kecil imut yang berbulu kelabu. Kegiatanku hanya makan, tidur, dan sesekali kawin jika berkehendak. Bukan berarti aku hanya hiasan di rumah, aku berguna jika ada tikus, lho. Meski tidak semua bisa ditangkap.Babu yang kumiliki saat ini sepertinya sibuk. Karena biasanya dia akan pulang membawa daging. Mungkin makanan hari ini lebih susah dicari karena jalanan lebih ramai.Kenapa jalanan ramai? Karena sekarang ini Halloween.Perayaan setahun sekali yang menurutku biasa saja. Ketika orang-orang memakai pakaian gembel dan berkeliling komplek sambil menjerit minta sebiji makanan. Memang, babuku juga ikut merayakan, tapi percuma dia membawa pulang banyak permen kalau taringku tidak kuat. Sebagai kucing, aku merasa tidak dihargai.Sambil menginggat-ingat, berulah aku sadar jika babuku keluar rumah lebih awal. Sepertinya suasana hati tampak berbunga, melihat dia langsung pergi tanpa pamit maupun memeriksa mangkuk makananku bilamana kosong. Padahal biasanya, sebelum pergi, dia akan datang padaku dan menggendong majikannya yang imut ini sambil memberitahu rencananya."Hari ini, aku cari makanan yang banyak, ya." Begitulah pesan dari babuku.Tapi, hari ini tidak ada sama sekali.Aku hanya diam sambil memandanginya keluar. Sebagai kucing yang baik, harus tetap kalem. Meski dalam hati sedikit kesal karena pelayanannya kurang.Tapi, sudahlah. Toh, sebentar lagi dia pulang dan aku akan memaafkannya.Kepergian babuku sudah biasa terjadi, lebih tepatnya hampir setiap hari. Maka aku sebagai majikan, harus menjaga rumah. Baru setelahnya kuhabiskan waktu di tempat tidur. Jangan salah, tidur bukan berarti lengah.Sebagai kucing yang istimewa dan imut, telingaku berfungsi dengan baik. Saat tidur, masih bisa mendengar bunyi decitan tikus yang sedang bergosip di loteng. Ah, apa gerangan yang mereka bahas?"Cit, cit, cit!" Decitan yang menyebalkan.Aku biarkan saja. Mereka barangkali membahas kenapa makanan di sini mulai berkurang. Salah sendiri rakus, yang punya rumah siapa, yang susah siapa.Aku lanjutkan perjalanan menyusuri rumah. Mengabaikan para tikus yang sedang berkumpul. Selama mereka tidak merusak barang berharga, biarkan saja. Lagian, sudah wajar kalau rumah berbau ini dipenuhi tikus. Makanya aku di sini.Ekor yang panjang ini bergoyang tegak selagi menuntunku berjalan mengelilingi rumah babuku. Meski sudah hidup bersamanya selama hampir empat tahun, aku tetap saja jarang melihat ruangan tersembunyi. Barangkali ada benda yang menarik.Sayangnya, meski dia babuku, dia sering marah ketika aku merobek gorden jendela maupun melubangi seprai kasur dengan cakar. Maksudku, aku hanya mengasah pusakaku demi melindungi kami berdua dari segala gangguan. Kenapa harus marah?Karena hari ini dia tidak ada, aku bisa kembaki mengasah pusakaku tanpa halangan. Tapi, itu untuk hari lain. Sekarang, aku butuh istirahat setelah perjalanan panjang.Ketika aku kembali ke kamar babuku, aku pun berbaring di kasurnya. Ah, ada aroma kami berdua. Baguslah kalau dia tidak menghilangkan bauku dari barangnya.Ah, nyamannya. Enak sekali dia berbaring di tempat yang lebih luas dan empuk, sementara aku hanya di keranjang berisi tumpukan kain. Aku harus protes!Tapi ...Mataku perlahan terpejam selagi aku membaringkan diri. Begitu nyamannya hingga aku melupakan sejenak kekesalanku. Tidak heran babu,ini betah berbaring. Sehabis menghilang beberapa jam, langsung saja dia tepar di sini. Sayangnya, babu tidak sepenuhnya senang melihatku berbaring di kasurnya. Tapi, salah dia membiarkan pintu kamar terbuka."Venn! Venn!"Akhirnya datang juga babuku.Bergegas aku datang mengeong, mengeluh kenapa dia terlambat.Dia menggendong lalu mencium pipiku yang berbulu. Sudah biasa bagiku, meski tetap saja di sisi lain risi.Babu ini cukup pendek untuk anak berusia enam belas tahun, dengan tubuh kurus serta rambut kelabu agak panjang yang terlihat lepek. Pascal namanya, dan dia babu ekslusifku. Maksudku, memang hanya aku yang dibesarkan oleh Pascal.Seperti hari biasa, aku mencium bau menyengat tapi lezat. Langsung saja mengeong meminta.Pascal ternyata membawa beberapa kantong yang cukup besar, dia lempar ke lantai.Aku pun mendekat lantaran penasaran.Ternyata seperti biasa. Pascal memang membawa daging yang sering kami santap bersama. Kali ini, jumlahnya lebih banyak dan ada tambahan daging yang telah dihancurkan hingga tidak jelas bentuknya. Tapi, baunya sungguh harum.Aku pun menatapnya polos, meminta penjelasan.Pascal tersenyum, "Venn, malam ini kita makan daging lagi, ya."Aku akui, memang bosan makan daging. Tapi, aku juga tidak bisa makan yang lain selain itu. Selama bertahun-tahun, kupendam saja perasaan ini.Pascal kemudian mengambil beberapa potong daging dari kantong yang paling besar. Ternyata banyak cairan merah yang masih basah dan perlu dibersihkan. Bagian ini hanya akan disimpan untuk beberapa hari ke depan.Kantong kedua sedikit lebih kecil, dan terakhir tentunya. Dia hanya membawa dua kantong yang cukup besar. Sementara isinya kebanyakan berisi bagian yang paling kami suka, tangan.Pascal mendekatkan tangan itu padaku. Seperti biasa, aku akan mengendusnya. Sedikit tergoda untuk menyantap, tapi sudah telanjur ditarik kembali."Hari ini, dagingnya sedikit susah dicari karena agak gagah," ujar Pascal. "Kulitnya susah dipotong, belum lagi aku sudah lelah dari tadi mengejarnya."Aku diam saja, membiarkan Pascal mengelusku lembut. Bertingkah seakan mendengarkan, demi makanan. Maka, aku gulingkan badan dan menampilkan perutku yang indah."Venn," panggil Pascal dengan nada manja. "Kamu manja, deh. Ya, sudah, aku kasih sekarang."Langsung saja aku berdiri dan mengeong keras, sudah tidak sabar tentunya.Pascal tertawa kecil dan menyerahkan tangan pucat itu padaku. "Makan yang lahap, ya."Aku pun menggigit tangan itu dan berjalan menuju mangkuk makan yang telah kosong. Rasanya enak, meski sedikit keras. Pasti semasa hidup belum pernah merawat diri.Pascal tampak tersenyum melihatku lahap. Dia lalu berpaling dan kembali membereskan daging-daging itu. Tidak perlu menunggu lama bagiku menunggu Pascal memasak dan menyajikan makanannya. Sementara sisa daging bisa disaji besok.Pascal duduk di meja bersama sup dengan daging baru itu. Dia menghirup asap yang mengepul dari mangkuk sebelum akhirnya menyantap masakannya.Setelah selesai menyantap tangan mentah, aku mendekati babuku.Aku mendekat lalu mengeong, menunjukkan betapa enaknya dagingnya kali ini, meski sedikit keras. Tapi toh, tetap saja lidahku merasa dimanja. Sekaligus ingin daging tambahan.Pascal mengelus kepalaku, dia lalu menyerahkan sepotong daging mentah padaku. Langsung aku santap dengan nikmat. Sementara dia kembali menyantap sup tadi."Hari biasa, bersama daging," ujar Pascal sambil tersenyum.Aku mengeong, tanda setuju. Barangkali nanti dia bisa mencarikan daging yang lebih montok. Tapi, untuk kali ini, sudah cukup.Di malam Halloween, kami menikmati makan malam bersama. Di bawah rembulan yang lembut diselimuti kebahagiaan kami bersama.Tamat
Dunia Berbunga
Ketika memejamkan mata, aku pun terlelap. Tempat di mana aku semestinya merasa nyaman bersama pikiranku, hingga menuntun ke alam mimpi.Ketika aku bermimpi, yang kulihat adalah kehidupan. Sekelompok makhluk bercengkarama dalam sebuah ikatan. Namun, yang kualami saat ini jauh dari impian itu.***Begitu kembali membuka mata, aku hanya bisa melihat tumbuhan merambat dari sela lubang kamar. Merangkak mendekat setiap detiknya, tampak mencoba meraihku.Kamar kini dipenuhi tumbuhan dari beragam bentuk dan rupa. Mulai dari warna putih, ada pula merah. Setiap hari, mereka tampak bergerak mengeliat ingin melakukan sesuatu. Tapi, saat itu juga aku berhasil memotong mereka sebelum meraihku.Sulur yang mengekang pintu kamar sudah berhasil kupotong semua. Kupastikan tidak ada lagi yang mencoba menganggu. Setelahnya, aku akan keluar dari wilayah terkutuk ini.Sudah seminggu semenjak wabah aneh menyelimuti daerahku. Ketika tanaman tumbuh dengan cepat membentuk rupa yang aneh. Ada yang menyerupai hewan, manusia, bahkan bentuk aneh dari kombinasi semua ini.Sulur-sulur yang merambat di bekas kamarku ini bukan tipe yang berbahaya secara langsung. Tapi, bisa jadi mereka mengikat lalu mencekikku dalam tidur jika lengah. Maka, kuputuskan untuk pergi dan mencari tempat baru yang tidak dijamah.Aku keluar dari bekas apartemenku. Semua orang sepertinya sudah pergi. Tentu saja, mereka pasti minggat sehari setelah mendengar kabar wabah aneh ini. Tapi, aku menunda karena mengira tidak akan separah tadi. Akhirnya, seperti yang lain, pergi juga dari wilayah yang sudah ditempati selama dua tahun ini. Niat hendak pulang kampung jika memang di sana belum terjangkit.Sambil mengangkat tas punggung berisi barang bawaan, aku melangkah menuju stasiun, mencari-cari kereta yang masih beroperasi. Semenjak tumbuhan mulai merambat menguasai kota, seluruh alat komunikasi tidak terkecuali televisi seketika padam. Sehingga aku jelas ketinggalan banyak.Stasiun tampak menyedihkan. Sulur-sulur merambat memeluk erat hampir setiap sisi, belum lagi beragam macam bunga tumbuh menghiasi stasiun yang mulai tampak mati ini. Layaknya kebun, semua hanya terdiri dari itu saja."Tolong! Tolong!"Terdengar jeritan dari dalam. Entah naluri dari mana, aku sahuti mereka dari luar."Tunggu!" Aku pun melangkah masuk. Memberanikan diri mendekat tanpa memikirkan sulur-sulur yang bergerak ke arahku. Ini kesempatan terakhir, jangan sampai tertinggal.Mereka menjerit lagi, kali ini lebih keras disertai isak tangis. Aku yang tidak tega, mempercepat langkah hingga tiba di sumber suara.Aku terkesiap menyaksikan apa yang kulihat. Sesuatu yang kutakutkan sejak wabah aneh ini menyerang.Sekumpulan orang melekat satu sama lain. Menyatu dalam ikatan sulur selapis demi selapis. Namun, hanya satu dua orang yang berseru padaku, sementara sisanya terkulai lemas dalam balutan sulur."Bertahan!" seruku sambil menarik tas punggung untuk mencari pisau kecil yang biasa kupakai untuk memotong sulur.Mereka berhenti menjerit, tapi pandangan terus tertuju padaku, tampak berharap agar aku lekas membebaskan mereka.Syat! Aku memotong sulur demi sulur yang mengikat mereka.Satu dari mereka lepas. Terkapar sebelum akhirnya bangkit dan menjauh beberapa langkah."Terima kasih!" serunya sambill memandangi sisa orang yang masih terikat.Tidak butuh waktu lama, aku berhasil membebaskan satu lagi. Menyisakan yang lainnya, tidak merespons seakan sudah tiada."Terima kasih," ucap satunya.Baru saja hendak berkenalan, terdengar bunyi kereta lewat. Bagai disambar petir, aku melesat. Ini kesempatan terakhir, jangan sampai tertinggal.Terdengar suara langkah kaki lain, rupanya mereka berdua mengejarku, berniat turut serta.Tepat di depanku, telah singgah sebuah kereta. Aku langsung naik bersama dua orang baru tadi kemudian duduk. Tidak butuh waktu lama, kereta melaju sebelum sulur-sulur merambat kembali.Aku duduk di kereta yang isinya tidak terjamah sulur. Sementara kedua orang baru ini langsung tepar di tempat duduk bahkan ada yang di lantai. Mereka tampak kurus dan pucat, belum lagi tubuh dipenuhi bekas ikatan hingga menciptakan garis besar membekas di kulit.Aku belum bisa memastikan untuk memperkenalkan diri. Melihat kondisi mereka yang menyedihkan ini. Hendak mengambilkan air minum, tapi aku urungkan niat menyadari stok terbatas. Mungkin bisa dibagikan kalau ada tambahan.Dua orang yang kuselamatkan adalah seorang pemuda dan gadis sebaya denganku. Mereka tampaknya juga berusaha pindah sepertiku, tapi malah justru ditangkap tumbuhan aneh itu."Terima kasih," lirih salah satu dari mereka. Seorang gadis berambut hitam pendek, melirikku dengan sorot mata lelah. "Kukira aku tidak akan selamat."Aku mengiakan. "Kalian mau ke mana?""Ke mana saja," sahut gadis itu, dia kemudian duduk perlahan di sisiku. "Kamu?""Sama, asalkan aman," jawabku kemudian menatap pemuda yang telah tepar. "Kamu mengenalnya?""Tidak," jawab gadis itu. "Tapi, dia terjebak lebih dulu dariku.""Kukira sama," balasku."Tidak," jawabnya. "Saat aku terperangkap, saat itu stasiun masih penuh dan semua orang kalang kabut. Tanaman meliar dan aku tidak sempat menyelamatkan diri."Dia lalu menarik napas lega. "Untung ada kamu."Aku mengiakan tanda mendengar. Kubiarkan kedua orang baru ini beristirahat selagi kereta melaju.***Ketika aku bermimpi, kulihat lagi pemandangan yang sama. Hamparan rumput menyapa, bersama beberapa orang melintas disertai senyuman.Aku berada di antara mereka, semua tampak bahagia bersama alam. Ketika bunga dan tumbuhan masih menghias bumi dengan indah, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya juga.Begitu harum, begitu indahnya.Ketika aku memetik sebuah dandelion kemudian meniupnya, serpihan halus menghias udara dengan indahnya. Aku menyaksikan dalam diam, selagi mentari senja semakin jingga.***Perasaan geli membuatku tersadar. Sesuatu telah menyentuh pipi.Begitu aku mengerjapkan mata. Aku disunguhi pemandangan sulur yang merambat menghiasi langit-langit hingga mengeliat ke arahku."Hiii ...!" Rekfleks aku menjauh dan terjatuh ke lantai yang dipenuhi sulur-sulur.Nyaris saja menyergapku, aku langsung berdiri dan berhasil menarik sulur yang menyentuhku hingga putus.Mengatur napas, aku mencari area dalam kereta yang tidak tersentuh.Area sekitarku telah dipenuhi sulur. Tampak telah memangsa semua yang terlihat. Aku bahkan tidak menemukan kedua teman baru yang bahkan tidak jelas namanya.Berbekal pisau kecil, aku berlari dan mengayunkannya pada sulur yang merambat. Kereta telah berhenti, bisa jadi masinisnya telah pergi bahkan tewas. Aku berusaha mencari pintu yang terbuka, malahan terkunci.Sial! Aku harus menyelamatkan diri sebelum sulur meliar!Teman-teman baruku telah pergi, dan barangkali tewas juga lantaran aku tidak menemukan jejak atau bekas berupa perlawanan. Bahkan tidak ada tanda pintu maupun kaca diretakkan. Bisa jadi mereka dimangsa dalam lelap.Sulur-sulur ini mulai mengikat kaki. Aku tebas semua dan melompat ke kursi, meski telah dikuasai mereka juga.Mataku tertuju pada gumpalan sulur yang menutupi sesuatu di samping kiri dekat pintu. Aku berhasil memotong mereka semua setelah beberapa kali menebas. Akhirnya ketemu juga apa yang dicari.Palu!Langsung kuraih dan mengarahkannya ke kaca jendela.Prang! Jendela pecah hingga terlihat celah bagiku.Aku menarik napas lega. Tanpa berpikir panjang, melompat keluar dari kereta yang telah dikuasai sulur.Ketika keluar, aku menyadari suatu kenyataan pahit.Di depanku, terdapat jurang yang begitu luas dan curam. Dan kegelapan semakin dekat ke arahku. Hingga akhirnya menjemputku.
Mora
Malam ini, tidak ada jatah untuknya.Hari ini, pertunjukan ditiadakan.Saat ini seharusnya dia sudah kenyang dan siap menyambut mimpi. Namun, dia tidak mungkin tidur dengan gelisah, ditambah perutnya yang terus menjerit minta diisi.Selagi menunggu pengurus, dia kembali menatap ke luar jendela dengan penuh harap, menggenggam jeruji besi yang menghias jendela, di ruang yang dia sebut sebagai kamarnya.“Tuan akan memberimu makan dan minum, selalu menjagamu dan memastikan kamu tetap bahagia.”Begitulah yang diucapkan seseorang di hari dia memilih meninggalkan rawa tempat dia berasal. Sambil menggenggam tangan gadis lugu itu, orang asing ini membawanya masuk ke kereta kuda yang melaju kencang menuju tempat yang belum pernah gadis ini lihat.Sambil berharap, gadis lugu itu menatap jendela, memandangi jalanan yang asing. Sejak awal dia hidup, belum pernah ada pemandangan lain melainkan pepohonan dan sungai mengalir. Di hutan itu dia hidup berkecukupan, makan apa yang ada, menemukan teman bermain. Namun, kini gadis itu sepertinya menemukan teman baru.Kereta melewati tempat yang dipenuhi makhluk yang aneh, sama persis seperti sosok yang membawanya ini.Gadis itu bertanya-tanya. Ke mana sirip mereka? Kenapa kulitnya begitu aneh? Sambil mengamati, dia pegang sirip yang menghias telinganya, serta tangan yang berlapis kulit kehijauan persis seperti tempat kelahirannya di rawa. Dia tidak tahu dari mana asalnya, tapi dia tahu rawa itu cocok untuknya.Sekarang, dia menemukan tempat lain. Barangkali akan lebih baik dibandingkan kehidupannya di hutan.Tirai kereta ditutup.Gadis itu terkejut dan menatap teman barunya. Dia mengungkapkan kebingungan di balik wajahnya yang berlapis sisik kehijauan.“Mereka belum siap melihatmu,” ujar sang teman. “Tapi, mereka pasti akan menyukaimu.”Tidak begitu paham dengan apa yang diucapkan, gadis itu mengiakan dan diam memandangi seisi kereta.Begitu sampai, tampak sebuah tempat mirip gua yang biasa dia lihat, bedanya yang ini penuh dengan warna dan bentuk atasnya tampak runcing seperti taring. Campuran warna dari semua musim yang dia lalui, tercampur padu dalam satu tempat aneh ini. Inilah rumah baru.“Ayo, masuk!” Orang itu mendorong si gadis masuk ke gua aneh.Mereka menjelajahi lorong panjang yang gelap, sebelum akhirnya tiba di tempat yang luas dan terang. Tempat ini layaknya sebuah dasar jurang namun dindingnya terbuat dari kayu serta tampak beberapa celah yang bisa diduduki. Belum lagi yang mereka pijak selama ini terbuat dari pasir. Ada beberapa cahaya nyaris menusuk mata, tapi gadis ini sudah terbiasa dengan sinar mentari yang jauh lebih ganas.Teman baru menyeru, “Tuan! Aku dapat dia!”Gadis itu menatap sekeliling, bertanya-tanya siapa gerangan yang dipanggil.Tidak lama setelahnya, muncul sosok berbaju hitam dan tampak rapi mendekat dan mengamati mereka berdua. Entah kenapa, dia tidak tampak seseram yang dibayangkan. Namun, gadis ini merasa ada yang janggal, tapi tidak tahu harus berbuat apa.“Jadi, ini yang kamu maksud?” tanya pria berbaju rapi itu.“Ya, Tuan,” jawabnya. “Tidak disangka, dia begitu jinak.”Si Tuan mengamati kembali gadis ini, tampak ujung bibirnya melengkung membentuk senyuman tapi tidak begitu menyenangkan hati si gadis. “Dia anak yang baik. Dengan kedatangannya, sudah pasti dia akan memberi kita banyak keuntungan.”“Ya, dia akan menari dan bermain untuk pengunjung sirkus ini.” Orang itu menepuk bahu gadis itu. “Dia pasti akan memberi kita banyak uang. Jika dilatih dengan benar, maka sirkus ini akan laku keras!”Gadis itu tidak paham maksudnya, tapi dia merasa telah diberikan tugas yang diemban untuk waktu yang lama. Tidak tahu apa dan mengapa harus dijaga amanat aneh ini. Hendak bertanya tapi tidak tahu bagaimana cara bicara, gadis ini lagi-lagi hanya diam dan patuh.“Sekarang, kita beri dia nama.” Sosok yang disebut Tuan ini kemudian menatapnya. “Bagaimana kalau ‘Gadis Rawa’ atau mungkin ‘Monster Rawa’ saja?”“Pilihan kedua lebih keren, menurutku,” komentar teman baru ini. “Kita singkat saja jadi si ‘Mora’ lalu tulis di papan ‘Mora si Monster Rawa’ pasti langsung penuh sirkus ini!”Kini, dia punya kata yang harus dia tanggapi, “Mora.” Sepanjang hidup, belum pernah dia memiliki kebiasaan seperti itu. Dia bahkan tidak tahu fungsinya nama. Kini, dia harus ingat bahwa kini ada perubahan baru untuknya.“Ayo, Mora! Kubawa ke kamarmu!” Teman membawanya berjalan menuju lorong gelap lagi, meninggalkan Tuan di ruang penuh cahaya itu.Mora yang kini punya julukan baru terus menatap Teman. Ya, itu panggilannya untuk sosok ini. Meski pertemuan mereka berawal dari sebuah kebetulan.Ketika itu, Mora sedang asyik mengamati tumbuhan yang menarik selagi dia memainkan jari. Saat itulah dia terkesiap melihat sosok besar bersembunyi di balik pohon, tidak kalah kagetnya. Mereka saling tatap, sebelum akhirnya pria aneh ini mendekat.“Siapa namamu?” tanyanya. “Di mana orang tuamu?”Mora jelas bingung. Dia tidak punya nama, apalagi orang tua. Dia jawab dengan keheningan.Sosok itu tertegun. “Di mana kamu tinggal?”Tanpa ragu, Mora menarik tangannya dan mengajak tamu aneh ini menuju rawa tempat tinggalnya. Gadis itu langsung melompat dan berenang sambil tertawa. Dia kemudian menatap sosok baru itu, tampak hendak mengajaknya bermain.Tapi, dia hanya mengamati, lalu kembali bertanya.“Kamu tinggal sendiri?”Mora mengiakan dan kembali berenang.Sosok itu terus mengamati gerak-gerik Mora, mulai dari cara dia berenang hingga kembali ke darat dan bermain bersama apa saja yang lewat, mulai dari dedaunan hingga kelinci.Tamu aneh ini kemudian menghampiri Mora yang sedang mengelus kelinci. Tapi, binatang itu lari begitu melihat makhluk asing.“Kamu suka menari, ya?”Mora mengangguk.“Aku punya tempat di mana kamu akan terus menari dan bermain,” katanya. “Kamu tidak perlu khawatir, karena kami akan merawatmu dengan baik.”Mora hanya tersenyum, mengira ini sekadar tawaran dari sosok yang baik hati.Dari situlah, keduanya saling kenal dan kini Mora tinggal di tempat yang dimaksud.Kamarnya terdiri dari jerami yang empuk, sekiranya dia bisa tidur dengan nyaman. Teman juga memberinya makanan ikan mentah, sama enaknya dengan yang biasa Mora tangkap.“Ingat, Mora,” pesan Teman sebelum pamit. “Besok kamu harus menari untuk kami, kalau mau makan enak.”Mora tanpa ragu mengangguk, dia pun ditinggalkan di kamarnya.***Begitu mentari bersinar kembali, Mora dibangunkan oleh Teman dan disuruh memakai kain aneh yang menghias kulitnya yang bersisik. Kain ini terbuat dari bahan nyaman dan berwarna seperti daun di musim gugur. Rambut hijau pucatnya juga disisir lalu diikat dua sisi membentuk jeruk. Mora tampak manis hari ini.“Nah, Mora, silakan menari dan jangan kecewakan kami!”Teman pun menggandeng Mora menuju gua aneh yang disebut “sirkus” itu. Setelah melewati lorong gelap yang panjang, dia tidak menyangka akan disambut dengan jeritan memekakkan telinga.“Inilah Mora si Monster Rawa!”Suara aneh yang menggema sontak membuat Mora gemetar, ditambah lagi jeritan dan kericuhan dari atasnya. Puluhan orang yang menyerupai Teman dan Tuan menatap dan tampak hendak mengusirnya.Dia tahu karena biasanya binatang akan menjerit dan mendesis jika tidak ingin dia mendekat. Mora kira dia telah ditolak. Sakit hati, Mora berlari sambil terisak.“Hei, kembali!”Seruan Teman dia abaikan. Terus saja berlari sambil menahan derai air mata. Dia ketakutan, tidak tahu mengapa ini terjadi.“Akh!” Mora terjatuh ketika benda yang begitu ringan menyayat kakinya.Begitu menoleh, Mora melihat tangan Teman memegang benda menyerupai sulur panjang yang mengeluarkan suara layaknya dahan patah. Ketika benda itu berayun ke arahnya dan mengenai badan mungil Mora, gadis itu menjerit.“Diam!” bentak Teman.Mora tersentak dan terisak. Dia tidak mengerti mengapa dia dimarahi.“Kamu merusak acaranya!” kesal Teman. “Kamu membuat kami bangkrut!”Teman menyeretnya dengan kasar kembali ke kamar.Mora terlempar dan kamarnya langsung dikunci. Dia gemetar mendengar geraman dari luar. Mengingat kembali jeritan serta sulur menyakitkan itu, membuat tangis Mora pecah saat itu juga.Mora menjerit, meluapkan segala yang menjanggal di hati. Kesal, malu, takut, dan sakit.Mora roboh dengan isak tangis di kamarnya.***“Maklum, Mora hanya anggota baru.” Terdengar suara Teman dari kejauhan, terdengar jelas oleh Mora di kamarnya. “Dia perlu belajar.”“Kalau begini terus, kita bisa bangkrut!” bentak Tuan. “Carikan aku makhluk aneh lain! Pastikan dia tidak pengecut seperti bajingan tadi!”“Baik, Tuan.”“Jangan beri Mora makan! Dia harus belajar untuk berusaha baru bisa makan enak.,” tambah Tuan.“Baik, aku mengerti.”Hanya dengan itu, suasana kembali hening.Mora menatap dari dalam kamar, lantas duduk dan mengamati bekas luka di kaki. Apa dia harus melawan para makhluk aneh yang menjerit itu? Atau sekadar menari? Tapi, apa mereka suka dengannya? Jika mereka tidak suka, maka Mora tidak bisa makan.Katanya, mereka akan merawat Mora dengan baik.Tapi, di hari pertama malah seperti ini.Dia harus menurut, agar bisa menikmati ikan mentah yang enak. Tapi, apa dia akan selamanya harus menari untuk makhluk menjerit itu?Mora menatap jendela, membayangkan dirinya terbebas dari kurungan ini.Membayangkan dirinya harus melakukan apa pun yang mereka inginkan, demi melangsungkan hidup. Jika tubuhnya terlalu rapuh, bagaimana dia bisa makan? Apa mereka akan membuangnya?Dalam keheningan malam, Mora memeluk lututnya.Berharap kebebasan akan menghampiri.TAMAT
Kepahitan Hidup yang Telah Lewat
Saat Jaka melihat anak itu menangis, Jaka bisa merasakan sesuatu yang amat menyakitkan dalam dirinya. Suatu perasaan yang tidak dapat dimengerti dan gelap.Jaka memang tidak tahu apa yang telah dilewati oleh anak itu, tapi Jaka yakin, kalau anak itu telah melalui dunia yang teramat sangat berat. Seakan-akan, anak yang masih berusia enam tahun itu, tampak seolah baru saja kembali dari medan peperangan.Waktu masih menandakan pukul empat subuh saat Jaka mendengar suara bising yang berasal dari luar kamar. Mungkin dari ruang keluarga.Hal seperti ini tentu saja jarang terjadi di rumah ini. Tapi sekalinya kejadian berarti Tante Roslia sudah pulang dari kegiatan misteriusnya yang selalu dilakukannya sekali tiap beberapa bulan, dari tengah malam hingga subuh."Apa itu Tante?" Tanya Rian.Jaka menyalakan lampu dan memperhatikan keenam teman sekamarnya sekilas. Kenyataannya, semua orang yang ada di dalam kamar ini adalah anak-anak yang dipungut oleh Tante Roslia dari jalanan, termasuk Jaka."Ya." Jawab Jaka sambil menilik pintu yang masih tertutup di pojok. Ada sesuatu yang mengganggu benaknya saat ini. "Tapi... kali ini agak berbeda... ""Iya, sepertinya begitu." Ujar Ilham."Jadi, bagaimana?" Tanya Beni."Kita tungguin saja dulu." Jelas Jaka. "Sudah mau pagi juga, kan?"Keenam anak lainnya mengangguk mengikuti perkataan Jaka, dan mereka semua pun sepakat untuk tetap terjaga hingga waktu sarapan tiba.Sambil menunggu, Jaka menoleh memandang jendela yang tergantung di dinding. Di luar sana masih gelap, dan langit memancarkan warna kelabu yang agak menyeramkan, tapi, entah kenapa Jaka selalu menyukai pemandangan seperti ini. Rasanya asing sekaligus nyaman.Jaka lalu mengalihkan pandangannya dan memandang berkeliling sembari memastikan keadaan adik-adiknya satu demi satu.Diantara mereka semua, Jaka adalah yang tertua, Dia juga sudah menempuh pendidikan hingga ke universitas ternama di Jogjakarta. Dan semua itu berkat Tante Roslia pastinya. Sementara saudara-saudaranya yang lain masih berada di bangku SMA, SMP, bahkan SD.Jaka tidak tahu betul dari mana uang Tante Roslia berasal, tapi pada dasarnya, dia itu sangatlah kaya. Rumah yang mereka tempati saat ini saja sangatlah mewah, dan ada pula empat pembantu yang selalu siap untuk melayani mereka.Waktu demi waktu berlalu, dan sekarang sudah pukul lima lewat tiga puluh menit. Waktunya untuk sarapan bersama.Semua orang kini berkumpul di ruang makan, namun kali ini situasinya agak berbeda karena keberadaan seorang anak tak dikenal yang berdiri di samping Tante Roslia.Akan tetapi, Jaka dan semua saudaranya tampak sangat tercengang dengan sosok bocah berusia enam tahun itu. Mata mereka membuka lebar, dan nafas mereka tertahan. Bukan karena dia orang asing, tapi karena bekas-bekas luka yang tertoreh di kulitnya."Apa-apaan... "Tangan, kaki, leher, dagu, muka. Hampir seluruh bagian tubuhnya dipenuhi luka, dan itu bukanlah jenis luka yang disebabkan oleh semacam penyiksaan. Luka-luka yang melekat di kulit anak itu sangatlah berbeda dari luka yang pernah dilihat Jaka selama dia hidup. Dan dia sama sekali tidak bisa membayangkan luka seperti apa yang tersembunyi di balik bajunya."Itu... bajuku... " Gumam Aska sambil memasang wajah kosong."Itu... pedang?" Mata Jaka tertuju pada pedang hitam dengan corak ungu yang digenggam erat oleh bocah itu. Mau dilihat dari sisi manapun, pedang itu pastilah sungguhan, bahkan ada batu pertama ungu yang melekat di ujung gagangnya. Tapi, kenapa anak itu memiliki pedang?"Hey! Semuanya sudah bangun rupanya!" Seru Tante Roslia penuh semangat. "Oh iya!" Tante Roslia berdiri di belakang anak itu, dan memegang kedua pundaknya. "Perkenalkan, anak ini namanya Kakak—Eh! Maksudku Armarto, dan mulai sekarang, dia juga akan menjadi adik kalian! Ayo! Mana tepuk tangan kalian!"Mau tak mau, Jaka dan yang lainnya pun bertepuk tangan dengan wajah bego sambil mengikuti perintah Tante Roslia. Bahkan para pembantu juga yang tampak berwibawa seperti biasa."Baiklah, karena perkenalannya sudah selesai, jadi ayo kita sarapan. Ayo, ayo, kita harus makan biar bisa beraktivitas hari ini!"Setelah Tante Roslia duduk di kursi, Jaka dan yang lain pun ikut duduk. Sedangkan si anak baru itu duduk tepat di samping kiri Tante Roslia, yang berhadapan langsung dengan Jaka.Ada banyak makanan yang tersaji di atas meja, dan semuanya benar-benar tampak sangat enak. Semua orang membalik piring mereka masing-masing, dan mulai mengambil hidangan yang telah disiapkan, hingga membuat suara dentingan memenuhi pendengaran.Seperti biasa, Jaka selalu sarapan dengan sepiring nasi yang ditambah sayuran-sayuran tumis seperti kacang panjang dan buncis. Kemudian, setelah berdoa dia pun makan dengan lahap."Oh, iya. Tante bisa nggak bayarin baju praktekku? Soalnya sebentar lagi ujian, dan nanti kita diharuskan buat pakai baju praktek selama ujian." Tanya Ilham."Heh!? Tunggu, kenapa kamu baru minta sekarang!? Gila, padahal sudah mau ujian loh." Tanya Bibi Roslia yang terkejut setengah mati."Yah, cuma telat empat bulan nggak masalah, kok.""Nggak masalah ginjal kau retak!" Pekik Tante Roslia jengkel. "Kan Tante selalu bilang, kalau kalian butuh uang buat urusan sekolah, lebih baik cepat dilunasi biar nggak merepotkan pihak sekolah.""Hah... iya deh. Namanya juga lupa, Tante." Jawab Ilham kalem.Tante Roslia menghela nafas dalam dan pasrah. Tapi, begitu dia menyadari bahwa si anak baru itu sama sekali belum membalik piringnya, Tante Roslia kembali heboh."Loh! Ar! Kenapa kamu belum makan! Ayo sini, Tante ambilin." Ujar Tante Roslia sembari mengambilkan makanan untuk Armarto. "Nih, makan yang banyak, ya." Katanya.Jaka sadar, ada sesuatu yang aneh antara Tante Roslia dan si Armarto itu. Wajah Tante Roslia tampak sangat ganjil. Dia memang tersenyum seperti biasa, tapi bibirnya bergetar dan matanya pun terlihat seolah dia merasa sangat kesakitan. Seakan-akan Tante Roslia berusaha untuk tidak menangis.Namun, lambat laun, anak itu pun akhirnya mengangkat sendok dan garpunya, kemudian, dengan tangan yang gemetaran, dia pun berhasil menyendok nasi dari piringnya, yang lalu dia masukkan ke dalam mulutnya. Dia mengunyah dengan teramat sangat pelan.Jaka benar-benar kebingungan. Anak itu bertingkah seolah dia tidak pernah makan sebelumnya. Dan anehnya, Jaka percaya dengan kata hatinya itu.Tapi, tiba-tiba saja air mata anak itu mulai jatuh membasahi wajahnya. Air matanya terus mengalir dan tampak seakan tidak akan pernah berhenti. Wajahnya kosong tak mengekspresikan apapun, namun dia tetap menangis dalam diam."Aku nggak pernah makan makanan kayak begini sebelumnya... " Gumam Armarta sambil kembali melanjutkan makannya. "Ini sangat enak... Sudah lama banget... nggak tahu sudah berapa tahun aku nggak makan."Sementara itu, Bibi Roslia tiba-tiba meletakkan sendok dan garpunya di piring, lalu menutup wajah dengan tangannya, dan mulai menangis.Kesunyian seketika memenuhi ruang makan. Tak ada yang bersuara sama sekali, semuanya terdiam seribu bahasa. Dunia bahkan terasa seolah sedang berhenti bergerak."Ya... pada akhirnya, dunia ini sebenarnya baik, kan?" Kata Armarta. "Itu berarti, perang telah berakhir, kan?" Air mata anak itu mengalir semakin kencang, dan dia pun makan lebih lahap.Ini benar-benar pemandangan yang sangat menyakitkan untuk dilihat. Anak itu menangis hanya karena makanan. Jaka bertanya dalam hati, apa yang sebenarnya telah dilewati oleh anak itu? Kehidupan seperti apa yang telah ia lalui? Padahal, dia hanyalah seorang anak kecil.Dulu, Jaka pernah hidup di jalanan tanpa punya apa-apa, dan kehidupannya waktu itu tentulah terlalu jauh dari kata mudah. Dan waktu itu, Jaka merasa bahwa dirinyalah yang paling menderita di dunia ini, sampai-sampai, setiap hari dia hanya memikirkan tentang indahnya rasa dari kematian.Akan tetapi, setelah melihat keberadaan anak itu, Jaka tahu bahwa kehidupannya yang dulu, sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding dunia yang telah dilihat oleh anak itu.Pemandangan ini, lebih dari cukup untuk menjelaskan betapa pahitnya kenyataan itu.
Bebungaan yang Menyembunyikan Kengerian
Benar-benar sangat sulit untuk memandang dunia ini dengan cara yang baik, apalagi Sully juga hampir tidak pernah mendapati kebaikan yang layak sejak dia menetap di dunia manusia ini.Hari demi hari, dunia ini terus bergerak menuju ke dalam kehancuran oleh karena ulah manusia, dan itulah salah satu penyebab mengapa Sully begitu kesulitan untuk mempertahankan kebaikan yang ada dalam diriya. Meski begitu, Sully tetap tak berniat untuk menyerah terhadap kebenaran.Sully tidak akan pernah berhenti melindungi kehidupan, apapun yang terjadi."Tapi, bukan berarti menyerah itu buruk, bukan? Lagipula kita juga bisa beristirahat sejenak, kan? Maksudku, menyerah itu bukanlah suatu pilihan yang buruk atau baik, itu hanyalah sesuatu yang harus dilakukan disaat yang tepat demi kebaikan diri kita sendiri."Butuh waktu lama hingga perkataan Ujang lenyap dibawa angin yang berhembus kencang. Pemuda jangkung berkulit agak gelap itu berdiri di samping seorang lelaki misterius berpakaian aneh.Sosok pemuda elok berkulit putih dan berambut pirang emas cerah serta berpakaian kain putih bersih itu, bernama Sully, seorang yang mampu mengendalikan tumbuhan. Entah itu pepohonan, rerumputan, juga bunga-bunga. Bagi Sully, semua itu bagaikan bagian dari tubuhnya sendiri.Namun, Ujang tidak terlalu peduli dengan itu, karena baginya merupakan suatu kebahagiaan tiada tara karena bisa berteman dengan seorang yang baik seperti Sully. Dan disinilah, di bawah pohon beringin tua inilah, Ujang dan Sully selalu bertemu setiap hari."Hey, memangnya siapa yang ingin menyerah?" Tanya Sully heran. Pemuda itu masih duduk di bangku yang terbuat dari kayu jati tempat ia selalu duduk, sambil mengamati anak-anak yang tengah bermain di taman tak jauh di depan sana. "Siapa yang akan menjaga anak-anak itu jika aku menyerah? Kamu?""Wah... kejam amat, Pak." Gumam Ujang sambil meremas dada sebelah kirinya."Hehe... aku bercanda, kok." Kata Sully sambil nyengir. "Tapi, ya, aku tidak akan menyerah. Aku akan menjaga setiap anak-anak yang datang bermain di taman ini. Tak peduli mereka kelak akan menjadi pribadi yang buruk atau baik, yang penting, aku tetap akan menjaga masa kanak-kanak mereka, apapun yang terjadi.""Heh... kau benar-benar terlalu baik, loh, Sul." Ujar Ujang sambil tersenyum."Mereka... masih terlalu polos untuk melihat kenyataan lain dari dunia ini. Aku hanya ingin mereka terus bermain seperti itu, tanpa tahu apa-apa, dan membiarkan takdir yang akan menunjukkan kengerian itu kepada mereka suatu saat nanti.""Yap, aku juga setuju dengan yang itu." Kata Ujang. "Ngomong-ngomong, bisa nggak kamu urus yang itu dulu." Ujang menunjuk ke arah sosok makhluk lain yang berdiri tak jauh di sana dan tampak mengincar anak-anak di taman. Sosok itu seperti gumpalan asap hitam yang menyerupai serigala raksasa dan memiliki dua titik hijau menyala layaknya bola mata."Dosa? Padahal sekarang masih sore loh." Gumam Sully sambil menempelkan telapak tangannya di pohon beringin yang berada tepat di sampingnya.Tiba-tiba, akar pohon beringin itu mulai mencuat keluar dari dalam tanah dengan cepat, dan langsung mengejar serigala itu. Si serigala yang tidak menyadari kedatangan akar-akar itu tak mampu berbuat apa-apa saat akar-akar itu menembus tubuhnya dan mengangkatnya ke udara."Heh... sadis banget." Bisik Ujang ngeri sambil memandang ke atas pohon. Rupanya, di atas sana ada begitu banyak makhluk hitam yang telah dikalahkan oleh akar beringin tua itu. Ada yang berbentuk serigala, ular, banteng, singa, dan entah apa lagi. Semuanya sudah mati dan kini mereka mulai dilebur menjadi debu-debu cahaya hijau.Akan tetapi, entah kenapa leher ujang seolah bergerak dengan sendirinya, dan tatapan matanya yang kosong seketika tertuju ke arah setangkai bunga putih yang tumbuh sendirian di antara rerumputan tak jauh dari sana."Hmm... "Ujang lalu mengalihkan pandangannya ke arah Sully dengan senyuman lebar yang terbentuk di bibir. "Kau benar-benar terlalu baik, Sul!" Ujar Ujang sambil merangkul Sully dan mengacak-acak rambutnya."Berhenti woy, Jang!"
Cerita Yang Menembus Batas Garis Kehidupan
Renaldi berbaring terpaku menatap suster yang sedang berusaha berbicara kepadanya. Entah mengapa sulit baginya memahami apa yang dikatakan wanita itu. Kesadarannya kembang kempis. Ia tak yakin sedang berada di mana. Apakah sekarang siang? Atau malam? Di mana ibunya? Mulutnya terasa kering.Sang suster menyodorkan segelas jus seraya membantu meletakkan ujung sedotannya di bibir Renaldi. Pemuda itu menyeruput sedikit. Tapi ia lekas merasa mual. Lidahnya hambar. Padahal biasanya ia sangat menyukai jus melon.Akhirnya sang suster pergi setelah membantunya mengubah posisi berbaring. Kini ia tinggal sendiri bersama kebingungannya. Ia mulai mengantuk. Tubuhnya lelah sekali. Ia memejamkan kelopak mata sembari menerka. Kapan?"Empat minggu lagi."Pemuda itu kembali membuka mata. Suara barusan benar-benar jelas. Tidak seperti perkataan sang suster yang bahkan tak bisa ia pahami setengahnya. Seolah suara barusan berbicara langsung ke dalam pikirannya.Disampingnya berdiri sosok besar berkepala tengkorak yang mengenakan jubah hitam."Siapa?" Mulut pemuda itu tak bergerak, tapi ia mengajukan pertanyaan tersebut."Aku adalah yang akan mencabut nyawamu, empat minggu dari sekarang."Akhirnya Renaldi ingat. Satu tahun terakhir ini ia sedang berjuang melawan kanker."Apa kau takut?" tanya sang malaikat kematian.Renaldi terenyak.Ia merenung beberapa saat, lalu menggeleng, "Nggak."Wajah tengkorak sang malaikat tentu tak menyiratkan apa-apa. Sementara Renaldi, ia sendiri keheranan. Ia sama sekali tidak takut, padahal dulu hanya melihat papan tulisan 'Kamar Jenazah' saja sudah membuat seluruh kuduknya merinding."Aku mengerti. Dalam posisimu saat ini, memang kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari rasa sakit," ujar sang malaikat seraya menganggukkan kepala."Entahlah," kata Renaldi. "Aku cuma senang akhirnya punya teman ngobrol.""Heh?""Kau mengingatkanku pada temanku waktu SD. Dia orangnya kekanak-kanakan. Ia senang memakai topeng ke sekolah lalu berlagak. Kadang ia memakai topeng Kamen Rider sambil berlagak seperti penegak keadilan. Kadang juga memakai topeng franskentein, kadang kepala gorila."Sang malaikat hening beberapa saat. "Tapi... Ini bukan topeng."Renaldi pun tertawa terbahak. "Aku tahu! Tidak usah dibawa serius begitu!"Sang malaikat hening lagi, lalu duduk di sofa yang kosong."Hei, hei, beri tahu aku," kata Renaldi lagi, seolah ia takut sang malaikat pergi kalau tak diajak bicara. "Apa di surga... ah, aku tidak yakin apa akan masuk surga... pokoknya di sebelah sana, apakah ada permainan gim? atau PS?""Uh... pertanyaan itu di luar kapasitasku.""Kenapa begitu?" Renaldi agak kecewa."Tugasku hanya mencabut nyawa manusia.""Tunggu! Jangan bilang... kau bahkan tidak tahu apa itu gim?"Sang malaikat tak menjawab."Jadi benar? Kau hidup selama ini tanpa tahu gim? Yang benar saja?!""Cukup! Aku tahu apa itu gim! Tapi itu tidak ada kaitannya—""Apa gim favoritmu?"Sang malaikat mendesah. Ia menyerah."Winning Eleven," katanya. "Bukannya aku pernah memainkannya. Aku hanya suka menonton orang-orang memainkannya.""Sama!" seru Renaldi tiba-tiba. "Sejak dulu aku tidak bisa bermain sepak bola. Biasanya aku jadi anak bawang, atau dipaksa jadi kiper. Gara-gara itu aku jadi sering dibuli. Tapi ternyata bakatku memang bermain bola di dunia gim, hahahaha.""Wow," respon sang malaikat datar. Kemudian ia kembali diam.Waktu terus berlalu."Hei," panggil Renaldi.Sang malaikat tak menjawab. Pemuda itu jadi khawatir."Apa aku membuatmu bosan?"Sang malaikat berdecak, "Kalau mau cerita, cerita saja. Aku mendengarkan."Renaldi terbelalak.Tiba-tiba saja, suatu bulir hangat mengalir dari sudut matanya. Seumur hidup pemuda itu tak pernah banyak bicara. Ia kira bermain game sudah cukup untuk membuatnya bahagia. Ia tak pernah mengira selama setahun terakhir ini justru yang paling menyakitkan bukanlah proses kemoterapi. Melainkan, rasa kesepian. Ia ingin sekali memulai semuanya dari awal, tapi waktunya sudah habis."Kenapa malah menangis?" tanya sang malaikat. "Cepat cerita!""Ya... baik..." jawab Renaldi sesenggukan. Lalu ia tersenyum lebar. "Aku sering membayangkan bagaimana kalau diadakan turnamen Winning Eleven tingkat nasional! Pasti seru, kan. Pertama adalah pertandingan di tingkat sekolah, lalu perwakilannya melawan sekolah lain, sampai akhirnya wakil-wakil tiap provinsi bertanding untuk menentukan gelar juara."Renaldi terus bercerita, dan sang malaikat mendengarkan. Mereka melakukan hal itu sampai empat minggu lamanya, hingga waktu yang ditentukan tiba.Maka pagi itu, pukul empat lebih dua puluh, Renaldi semakin lemah. Dokter sudah pasrah. Kedua orang tuanya menanti dengan haru di samping tempat tidurnya. Pemuda itu tak bisa menahan tangisnya sendiri, tapi hanya air mata yang sanggup ia titikkan. Tenggorokannya sudah tak mampu bersuara."Siap?" tanya sang malaikat kematian.Renaldi membuat senyum terakhirnya, lalu mengangguk.Sang malaikat pun mencengkram ubun-ubunnya, lalu mencabut jiwanya.Pemuda itu memejamkan mata. Ia merasakan sensasi unik tak terjelaskan yang belum pernah ia rasakan semasa hidup. Saat sensasi itu hilang, ia membuka kedua matanya.Surga? Atau neraka?Namun, ternyata ia masih di bumi. Ia berdiri di samping sang malaikat kematian, di atas bangunan rumah sakit."Belum berangkat?" tanyanya."Ah... Kupikir... aku ingin mendengar ceritamu lebih banyak lagi," jawab sang malaikat kematian tanpa melihat ke arahnya. Makhluk itu tengah menatap pekatnya malam. "Ya... kau jelas layak untuk melihat kenyataan lebih dalam... " Gumamnya. "Di dunia ini, kau hidup dengan cerita yang terbatas karena rasa sakit yang kau derita. Tapi, karena rasa sakit itulah, kamu tumbuh menjadi sangat kuat. Jadi, sekarang aku akan membawamu ke sana... ke dunia yang penuh keajaiban. Karena aku yakin, anak yang kuat sepertimu, pasti bisa menemukan lebih banyak cerita di sana."Renaldi pun tersadar ia sudah tak lagi mengenakan baju pasien. Seluruh tubuhnya kini dibalut jubah hitam yang sama seperti yang digunakan sang malaikat."Sudah siap untuk tugas pertamamu?"Pemuda yang masih terkesima itu pun menjawab, "Tentu saja!""Ambilah semua kesempatan yang ada, entah itu terlihat baik atau jahat. Dan ingatlah, pada akhirnya, semua itu tergantung padamu." kata sang malaikat sembari melangkah pergi.
Terbang Meninggalkan Penyesalan Masa Lalu
Dodi berdiri di tepi atap sebuah gedung pencakar langit. Pemuda itu melempar tatapan ke kota di bawahnya. Cahaya yang berasal dari lampu jalan dan kendaraan bermotor, juga jendela-jendela rumah serta apartemen, bersatu-padu seperti gugusan rasi bintang. Begitu indah. Sebuah mahakarya yang terbentuk tanpa disengaja.Lalu pemuda itu melangkah. Tubuhnya serta-merta jatuh bebas, menuju rasi bintang di bawahnya.Namun, sesaat sebelum wajahnya menghantam lantai beton, tiba-tiba saja tubuhnya bergerak melawan gravitasi. Ia meluncur ke atas, menuju angkasa yang sebenarnya. Menembus lapisan awan, seperti seekor burung rajawali.Pemuda itu memejamkan mata, meresapi terpaan angin malam membelai wajahnya. Sejak dulu inilah mimpinya. Terbebas dari belenggu dunia. Pergi kemanapun yang ia inginkan, tanpa ada yang mengatur atau menghalangi. Ia selalu berdoa pada yang Maha Kuasa—meski ia tahu mustahil—tapi ia juga tahu jika Sang Maha Kuasa tak mampu mengabulkan ini, masih pantaskah Ia disebut Maha Kuasa?Dan kini Sang Maha Kuasa mengabulkan permintaannya.Meski dengan harga yang mahal.Malam itu, bertahun-tahun yang lalu, Dodi kecil terjebak dalam kemacetan lalu-lintas. Ia sudah bilang tak mau ikut, tapi orang tuanya memaksa dirinya ikut menghadiri pesta pernikahan seorang kerabat. Padahal ia sangat ingin menonton film yang saat ini sedang diputar di televisi.Kemacetan itu membosankan, membuat hatinya panas. Ia terus mengutuk dalam hati.Tuh kan, seharusnya aku tidak ikut! pikirnya.Ia mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai sebagai bentuk protes. Ayahnya merespon dengan membesarkan volume radio.Dodi pun berdecak. Ia menatap keluar jendela mobil. Hujan deras sepertinya membuat kemacetan semakin parah.Anak itu mulai melamun. Pikirannya melayang. Untuk kesekian kali, ia berharap dirinya bisa terbang. Membelah angkasa sambil menertawai orang-orang yang kesal terjebak macet. Terbang cepat seperti superman, menukik dan bermanuver, menjelajah hingga ke ujung dunia."Ah, jadi ini sebabnya!"Suara sang ayah membuat lamunan Dodi buyar. Di depan sana ada perbaikan jalan sehingga terjadi penyempitan lajur. Setelah berdesakan dengan mobil lain—dan sedikit adu klakson—akhirnya kendaraan mereka bisa lolos. Lalu lintas menjadi lengang. Ayahnya mulai menancap gas.Dodi selalu menyukai akselerasi. Ia yang tadinya nyaris mati bosan, kini mencondongkan kepalanya ke depan, di antara kursi kedua orang tuanya. Ia asyik memperhatikan jalan, seolah dirinya lah yang menyetir mobil."Pah, hati-hati," kata ibunya."Tenang saja, biar cepat sampai," jawab sang ayah.Dodi juga lebih senang begini. Paling tidak pengorbanannya untuk tak nonton televisi jadi tidak sia-sia.Namun, saat melewati jembatan, tiba-tiba mobil mereka oleng. Entah kenapa kendaraan itu tergelincir dengan sendirinya."Pah, jangan bercanda!" sang ibu sedikit berteriak.Tapi sang ayah tak menjawab. Hanya ada ekspresi panik bercampur ngeri di wajahnya. Sebab ia sendiri tidak mengerti. Padahal ia mencengkram gagang setirnya erat-erat, tapi roda kendaraannya seolah memiliki keinginan sendiri. Mobil mereka terus meluncur menghantam pembatas jalan, lalu terjun ke jurang yang cukup dalam.Entah apa yang membuat Dodi dengan sigap membuka kunci pintu. Ia melompat keluar. Ia sama sekali tidak berpikir bahwa tindakannya bodoh. Ia hanya merasa bahwa hal itu yang harus ia lakukan. Dan tubuhnya pun melayang di udara. Untuk sesaat kebahagiaannya membuncah. Ia benar-benar bisa terbang!Namun, berikutnya ia menyaksikan mobil yang masih membawa kedua orang tuanya meluncur ke jurang. Suara jeritan mereka terdengar begitu keras, hingga terpatri ke benak ingatannya. Kemudian kendaraan itu menghantam tanah, dan tak terdengar suara apapun lagi. Seketika anak itu menjadi lemas. Ia perlahan mendarat. Ia meringkuk putus asa di depan mobil yang hancur berantakan. Ia tidak berani melihat ke dalamnya. Ia tak mengerti kenapa doanya dijabah dengan cara seperti ini.Bertahun-tahun sejak saat itu, Dodi tak pernah lagi merasa bahagia. Ia bahkan lupa seperti apa rasanya bahagia. Meski berapa kalipun ia terbang membelah angkasa, ia sama sekali tak bahagia. Seolah ada lubang menganga di dadanya.Tiap pagi ia akan kembali ke kamar, lalu ke ruang tamu sambil pura-pura baru bangun tidur. Kakak perempuannya sudah menyiapkan sarapan sederhana seperti telur dadar atau gorengan nugget."Ayo makan sama-sama."Dodi mengangguk. Ia duduk berhadapan dengan sang kakak.Setiap hari, momen inilah yang paling menyiksa dirinya.Ketika ia harus bersikap seakan tak pernah terjadi apa-apa, padahal dirinya yang telah membuat mereka jadi yatim piatu. Kalau saja ia tak menginginkan permintaan aneh tersebut... saat ini keluarga mereka pasti masih utuh. Kakaknya bisa melanjutkan kuliah, tak perlu susah-payah bekerja untuk membiayai hidup mereka.Dada Dodi sesak."Kenapa?" tanya sang kakak keheranan. "Kamu udah nggak doyan telur?""Ng—nggak apa-apa Mbak."Dodi menelan ludah, lalu mulai menyantap sarapannya. Kemudian mereka berangkat.Setelah ratusan kali mengulang keseharian tersebut, akhirnya Dodi tak sanggup lagi.Malam itu, ia tak mengudara seperti malam-malam sebelumnya. Ia terjaga untuk menulis sebuah surat. Berkali-kali ia merobek kertasnya, lalu menulis lagi dari awal. Waktu sudah hampir dini hari saat ia akhirnya puas atas kalimat-kalimat yang ia susun. Ia meletakkan surat tersebut di atas meja, mengambil ransel, mengenakan jaket, lalu ia membuka jendela kamarnya, menatap gelap. Ia naik ke bingkai jendela. Untuk terakhir kali ia menoleh ke belakang, merekam situasi kamarnya dalam ingatan.Di cermin pintu lemari, Dodi menatap bayangannya. Disitu tampak siluet sosok pemuda bertubuh jangkung dengan mata yang menyala memancarkan warna keemasan."Ya... Aku nggak bisa menyalahkan sang Takdir, karena ia terlalu polos, dan dia juga hanya melakukan tugasnya. Namun, jika saja ada satu jalan, satu pilihan, apapun itu, aku akan mengambilnya, asalkan penyesalanku di masa lalu bisa sirna dari ingatanku... "Kemudian ia melompat.Tubuhnya terbang ke angkasa.Melebur dalam pekat malam.
Salah Satu Nama Kutukan
Sesungguhnya, Diva memang tidak memiliki cacat otak apapun, tapi dia tentu saja dapat merasakan saat ingatan-ingatannya tentang sang sahabat perlahan lenyap begitu saja dari dalam benaknya. Kenangan-kenangan indahnya bersama Sella seakan telah direnggut dari dirinya secara paksa, dan Diva merasakannya. Rasanya sangat menyakitkan, tajam, dan gelap.Untuk mengantisipasi hal itu, Diva akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah buku harian. Tiap detik yang dilaluinya bersama Sella akan ditaburkannya ke dalam bentuk tulisan, agar dia tidak lupa akan keberadaan sang sahabat.Terkadang Diva beranggapan bahwa apa yang ditulisnya kemarin, terasa sangat sulit untuk diterima oleh akalnya tiap kali dia membaca ulang tulisan-tulisan itu di keesokan harinya. Namun, di sampul depan buku itu tertulis, " Semua ini adalah benar. Percayalah...?" dan anehnya tulisan itu adalah tulisan tangannya.Diva mulai membalik lembar demi lembar dalam buku itu, dan mencari-cari kalimat-kalimat aneh yang sulit dicerna oleh logikanya sendiri. Bahkan, hanya dengan melihatnya sekilas, hampir tiap lembar ternyata memiliki paragraf-paragraf yang menyatakan suatu keajaiban atau keanehan." Ada banyak dunia dalam kehidupan ini. Dunia itu memang indah sekaligus mengerikan... Sella bekerja menjadi Pengawal seorang pedagang kaya yang menjual hewan-hewan... gaib? Sekaligus bekerja sebagai agen? di bawah pemerintahan Indonesia? " Bibir Diva komat-kamit seolah-olah dia sedang membaca mantra. "Sella mendapatkan kekuatan yang hebat dan menakjubkan dari pekerjaan itu, tapi bayaran atas kekuatan itu adalah... keberadaannya sendiri."Mata Diva menyipit sedih setelah membaca bagian yang satu itu."Semua ini memang tulisanku... Tapi, apa-apaan ini..." gumamnya tak percaya sembari menghela nafas berat, kemudian menutup buku bersampul kulit itu. "Untuk apa memiliki suatu kekuatan yang hebat, kalau akhirnya, tidak akan ada yang mengingatnya...?"Di tengah malam itu, Diva tengah duduk santai sendirian di taman kota. Memang agak berisiko sebenarnya, karena ada banyak orang-orang jahat yang berkeliaran di waktu seperti ini. Belum lagi sosok Diva yang tampak lugu, juga hijab merah mudanya, serta kacamata yang menghiasi wajahnya, membuat dirinya terlihat sangat cantik sekaligus menjadikannya sebagai mangsa yang empuk di mata para orang-orang jahat.Tapi, menurut buku ini, semua penjahat-penjahat yang sering beraksi di sini, ternyata mengenal Diva. Hampir semua penjahat di sini, pernah mencoba untuk berbuat jahat padanya. Namun, untung saja semua aksi mereka selalu berhasil digagalkan oleh Sella.Orang-orang jahat itu berakhir dalam kondisi babak belur, atau yang paling parah sampai harus dibawa ke rumah sakit. Tapi keesokan harinya, mereka tidak ingat siapa yang telah melukai mereka. Dan satu-satunya gambaran wajah yang ada di dalam ingatan mereka, adalah sosok Diva. Dan, ya, seharusnya itu sudah cukup untuk menjadi alasan agar mereka tak berbuat macam-macam lagi pada Diva."Hah... sudah dingin begini, Sella juga masih belum datang-datang, lagi." Gumam Diva sambil mendongak menatap angkasa malam. Bintang-bintang berhamburan menghiasi langit dengan kelap-kelipnya yang terlihat berwarna-warni. Siapapun juga tidak akan bosan walau harus menunggu lama asalkan ada pemandangan semacam ini.Meski Diva selalu menunggu hingga berjam-jam di sini, tapi anehnya, dia sama sekali tidak pernah marah pada Sella. Ya, mungkin saja karena dia memang seorang sahabat yang patut untuk ditunggu. Seseorang yang begitu berharga bagi Diva.Waktu Diva mengamati pemandangan langit, tiba-tiba tampak segaris cahaya yang muncul di atas sana dan seakan membelah langit malam; itu sebuah bintang jatuh. Mata coklat Diva mengkilap saat melihat pemandangan yang agak langka itu. Namun, saat ini, masih ada satu hal yang sangat mengganggu benaknya, sehingga membuat pemandangan bintang jatuh itu seolah tidak berarti di mata Diva."Semua dongeng dan legenda hidup itu... hidup... ya? " Diva menggumamkan salah satu kalimat yang ada dalam buku itu, seraya menutup matanya rapat-rapat. Kalimat itu tadinya benar-benar sempat membuat Diva merasa bahwa dunia ini penuh akan kebohongan.Sungguh aneh Dirinya menulis itu. Tapi, sekarang Diva paham maksudnya.Diva membuka matanya, dan pada saat itu pula, dia kini mendapati pemandangan dunia malam yang sangat berbeda dari sebelumnya. Di mana sebelumnya hanya ada bintang-bintang, manusia, pepohonan, dan kegelapan yang suram, sekarang Diva dapat melihat banyak makhluk-makhluk aneh berterbangan di udara dan melompat jauh kesana kemari tanpa kesusahan."Wah..." mata Diva berbinar-binar takjub.Ada gadis-gadis yang terbang menggunakan sapu di udara, bahkan ada beberapa siluet yang melompat dengan ringannya dari satu tiang listrik ke tiang tiang listrik lainnya. Ada juga peri-peri kecil yang memancarkan cahaya terang warna-warni dari tubuh mereka, dan ada sesosok reptil raksasa yang jelas-jelas adalah seekor naga yang baru saja melintas tepat di atasnya. Serta hantu-hantu menyeramkan yang sedang nongkrong di bawah pohon dan tengah berbincang. Semua itu benar-benar nyata."Inilah kenyataan dunia..." Dunia yang tadinya sangat biasa dan gelap, sekarang berubah menjadi ramai dan berkelap-kelip.Namun, tiba-tiba, ada seorang pria asing yang berjalan menghampiri Diva sambil bersiul riang.Diva memicingkan mata dan menatap lelaki bertampang penjahat itu lekat-lekat. Senyum pria baya itu sangat aneh, tapi, entah kenapa Diva malah memasang senyuman kecil di bibirnya."Wah-wah... nggak baik, lho, perempuan duduk sendirian di sini tengah malam begini." Ujar pria itu dengan nada menggoda yang terdengar menjijikkan, sembari bersandar di pohon di samping tempat duduk Diva. Pria itu menarik sebungkus rokok dari kantongnya, dan mengambil satu batang rokok yang kemudian diselipkan di bibirnya.Diva memandang berkeliling sejenak. Hampir semua orang yang kala itu sedang nongkrong di sana, tiba-tiba beranjak pergi dan tampak ketakutan saat melihat pria itu mendekat dengan Diva."Lihat mereka." Kata pria itu, terdengar agak tak jelas, karena rokoknya masih terselip di antara bibirnya. "Hah... Syukurlah. Mereka sepertinya sudah paham, dan bersedia memberikan waktu untuk kita." Pria itu terkekeh-kekeh. Dia mungkin beranggapan, bahwa rencana jahat yang telah ia siapkan untuk Diva mungkin pasti berjalan mulus malam ini."Ya, tentu saja begitu." Kata Diva dengan nada bercanda. Dia masih terlihat santai, dan senyumnya juga malah makin lebar.Mata Diva agak sedikit melebar saat melihat pria itu merogoh kantong belakangnya. Sempat Diva berpikir kalau lelaki itu mungkin menyembunyikan pisau di situ, tapi untungnya, yang diambil pria itu dari kantongnya ternyata bukanlah barang yang berbahaya—itu hanya sebuah pemantik.Akan tetapi, baru saja pria itu berniat menyalakan pemantiknya, semua lampu di sana tiba-tiba saja padam. "Lho, mati lampu mendadak begini?" pria itu memandang berkeliling dengan heran.Diva mendongak lagi menatap angkasa. Semuanya menjadi gelap gulita, bahkan sinar rembulan juga terhalangi oleh awan-awan yang kini menggumpal di atas sana. Tapi, anehnya mata Diva sudah tak lagi mendapati kenyataan dunia yang tadi. Matanya telah tertutup kembali.Seharusnya ini merupakan situasi buruk bagi Diva. Tapi, tetap saja, dia tak beranjak dari tempatnya dan tetap tersenyum."Kenapa lama sekali, Sella?" Tanya Diva entah pada siapa."Hah? Kamu bicara sama siapa, cantik?" pria itu tengah berusaha untuk menyalakan pemantiknya. "Tapi terserahlah... Keadaan semakin membaik saja, bukan? Seolah-olah, yang di atas sana juga merestui hubungan yang akan kita jalin... sebentar lagi." Pria itu kembali terkekeh-kekeh dan kesannya juga semakin menjijikkan.Namun, akhirnya sesuatu yang ganjil tiba-tiba terjadi.Saat pemantik pria bejat itu akhirnya menyala dan menghasilkan api kecil, tiba-tiba saja, mata pria itu membuka sangat lebar, dan wajahnya seketika menjadi pucat pasi.Entah bagaimana bisa gadis berambut perak, panjang nan lebat itu tiba-tiba muncul di depannya begitu saja. Seakan-akan sedari tadi, gadis itu memang bersembunyi di dalam kegelapan.Dialah Sella, sahabat Diva sejak kecil—menurut buku ini, tentu saja."Si-siapa kamu...?" tanya pria itu ragu-ragu sekaligus takut."Diva tidak suka asap rokok." Jawab Sella sambil mengangkat tangan kirinya. Dari postur itu, dia sepertinya berniat untuk menampar pria itu. "Apa anda tahu? Dari tadi, suara anda itu terdengar sangat menjijikkan di telinga saya." Sella langsung menampar pipi kiri pria itu, yang seketika membuatnya terhempas jauh sampai— duar! menabrak sebuah pohon hingga tumbang. Dan tak lama kemudian, listrik pun kembali menyala.Daripada disebut tamparan, serangan Sella barusan itu malah dapat disamakan dengan tembakkan mobil baja yang biasa digunakan untuk peperangan.Diva agak keheranan saat melihat sosok Sella, karena dia saat ini mengenakan gaun pengantin putih berenda dengan corak-corak berbentuk bunga mawar berwarna hitam. Namun, Diva tahu tatapannya barusan agak aneh, jadi dia menggeleng dan menyunggingkan senyuman kecil.Sella tersenyum kecil kemudian duduk di samping Diva. "Nggak apa-apa, kok, kalau kau melihatku seperti itu, asalkan itu kamu, Div." Katanya. "Ngomong-ngomong, maaf aku terlambat, soalnya tadi ada pekerjaan mendadak." Jelasnya sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Diva. Rambut peraknya terasa sangat halus.Entah kenapa rasanya sangat aneh, seakan-akan ini adalah kali pertama Diva bertatap muka dengan Sella. Tapi kenyataannya, Sella tetaplah sahabatnya. Walau Diva sangat kesulitan menemukan sosok Sella di dalam memorinya, tapi tubuh dan hatinya tetap mengenal Sella.Diva juga menyandarkan kepalanya ke kepala Sella. "Nggak apa-apa, kok, yang penting, sih, kamu sudah datang." Jawab Diva sambil memasang senyum penuh arti. "Tapi, apa nggak berlebihan, memukul laki-laki tadi sampai segitunya?""Ya, aku yakin dia nggak apa-apa." Jawab Sella yang tampak mengantuk dan lelah. "Hah... aku rindu kamarmu, Div." Gumamnya.Diva tertawa pelan mendengar keluh kesah sang sahabat. Ya, walau dia tidak memasang mimik apapun di wajahnya, tapi hati Diva tahu bagaimana sikap Sella saat sedang ada masalah."Hmm... Kamarku itu sempit lho." Diva berusaha mengingat-ingat kapan dia sekamar dengan Sella. Tapi sepertinya, mustahil untuk mendapatkan ingatan itu."Sempit sih, iya. Tapi... Ranjangmu yang keras itu benar-benar terasa nyaman buatku." Sella terkekeh. "Juga bantal-bantal punyamu yang telah terkena tanda-tandaku... Aku rindu bantal-bantal itu.""Hah? Tanda? Jadi, semua iler yang ada di bantal-bantal itu punyamu!?" pekik Diva karena saking terkejutnya akan kenyataan itu. Pagi tadi—atau bahkan mungkin di pagi-pagi yang sebelumnya—saat merapikan ranjangnya, Diva sempat keheranan karena ada iler di bantalnya. Tapi, akhirnya, karena tidak ingat apapun, Diva berspekulasi bahwa iler-iler itu adalah miliknya.Sella tersentak saat menyadari kebodohannya sendiri. "Hmm... aduh, harusnya aku nggak bicara."Tawa Diva dan Sella mendadak meledak memecah kesunyian malam kala itu.Ya, tentu saja, mereka memang bersahabat, tapi tetap saja wajahnya terlihat sedih. Pasalnya, tidak mungkin Diva bisa tertawa lepas seperti ini bersama orang asing, bukan?"Jadi, bagaimana pekerjaanmu?" Entah kenapa pertanyaan itu yang pertama terlintas di benak Diva."Hmm... Bukannya di bukumu tertulis agar tidak membahas tentang pekerjaanku saat kita sedang bersama?" Sella terlihat sangat nyaman bersandar di pundak Diva. Dia bahkan terlihat hampir tertidur di situ. "Tapi, ya... pekerjaanku hari ini, baik-baik saja, kok. Dan ngomong-ngomong, barusan aku sudah mengirim bagianmu ke rekeningmu.""Ah, iya! Aku mau bertanya." Diva bangkit secepat kilat, hingga membuat Sella tersentak. "U-u-uang di rekeningku! Untuk apa uang sebanyak itu!? aku bahkan bisa membeli sebuah negara dengan uang sebanyak itu!""Baca saja di bukumu—" Sella berhenti berkata-kata kala menyadari Diva tengah memelototinya sekarang."Itu tidak ada bukuku! Astaga!" Teriak Diva panik."Tapi, Div, biasanya, kalau orang punya banyak uang, harusnya senang, dong. Bukannya malah kesurupan kayak begitu." Cibir Sella."Serius, dong." Diva memohon. Dia berlutut di depan Sella serta memeluknya, dan membenamkan wajahnya di rok Sella yang luar biasa besar dan tebal, kemudian menjerit histeris sekeras mungkin dengan suara yang teredam. "A-aku tahu gajimu sangat-sangat besar dari pekerjaanmu! Tapi di bukuku tidak dijelaskan kenapa kamu memberikan setengah dari gajimu kepadaku! KENAPA!"Sella tak dapat menahan senyumnya melihat tingkah bodoh Diva."Diva," bisik Sella lembut."Hmm?" Diva mengangkat wajah dan bertukar pandang dengan mata Sella."Makan di sari laut, yuk. Soalnya aku sudah lapar banget." Ujar Sella sambil menyunggingkan senyuman manis.Namun, Diva merasa amat kesakitan begitu melihat senyum yang terbentuk di bibir Sella. Senyumnya memang tampak manis dan tulus, seolah-olah dia terlihat sangat bahagia. Walau pada kenyataannya, senyum Sella sebenarnya telah lama mati, dan tak bermakna apa-apa—itu hanyalah senyum palsu yang penuh kehampaan. Tapi, Diva tak mau berlama-lama terpuruk dalam pemikiran itu. Untuk saat ini, satu-satunya yang harus dilakukannya adalah membuat Sella merasa senang."Hmm... ya sudah, ayo! Kebetulan juga aku belum makan!" Diva bangkit secepat yang dia bisa, seraya menarik Sella untuk beranjak dari tempat duduk. Sekaligus berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit yang dirasakannya. "Jadi, kita mau makan di mana—""Awas." Bisik Sella."Eh? Kenapa?"Dalam sekejap mata, Sella tiba-tiba saja sudah berada di belakang Diva. Entah bagaimana bisa dia melakukannya, tapi Diva tak mau dan tak ingin tahu tentang kekuatan anehnya itu. Namun, mata Diva membuka semakin lebar kala melihat sebuah pedang putih berukuran jumbo yang digenggam oleh Sella, kemudian ia perlahan mengangkat pedang itu tinggi ke atas dengan tangan kanannya, seolah-olah dia berniat untuk memotong sesuatu dengan itu."Tunggu... Apa yang mau kamu lakukan dengan itu?" Tanya Diva heran."Sepertinya... ada sesuatu yang mengejarku." Bisik Sella seraya mengayunkan pedangnya ke depan yang seketika membuat angin di sekitar mereka mengamuk tak karuan, sampai-sampai debu-debu berhamburan dengan liar memenuhi udara."Hey! hey! hey! Apa lagi ini!?" Diva yang panik langsung menguatkan pijakannya agar tidak terhempas. Dia amat sangat terkejut dengan kemunculan angin kencang ini, yang ternyata berasal dari ayunan pedang Sella. Benar-benar luar biasa mengagumkan sekaligus aneh.Di saat angin sudah berhenti mengamuk dan debu-debu juga berhenti berterbangan, Diva akhirnya bisa melihat apa yang sebenarnya diserang oleh Sella tadi.Kini ada seekor makhluk seukuran bus bertampang menyeramkan yang tengah berdiri di hadapan mereka. Sosok itu adalah seekor serigala. Namun, anehnya serigala itu memiliki bola mata yang memancarkan warna hijau menyala, dan dia juga tampak sangat marah, sampai-sampai air liurnya mengalir deras melalui sela-sela gigi-giginya yang tajam."Eh... Sella, Apa itu—""Bukan. Makhluk ini sudah bukan hewan gaib lagi." Tukas Sella. "Serigala ini sudah tercemar oleh dosa." Pandangan mata Sella yang tajam tertuju pada serigala itu, sementara pedangnya teracung ke depan."Dosa? Maksudnya?" Diva langsung terpikirkan hal-hal aneh saat mendengar kata itu."Dosa manusia." Jelas Diva. "Hewan-hewan gaib itu menjadi rusak karena tercemar oleh dosa.""Tapi... Aku masih nggak terlalu mengerti... " Jawab Diva. Dari air mukanya terlihat jelas kalau ia sedang berkutat dalam benaknya."Ya, sudah kuduga..." Jawab Sella tak acuh."Heh!" Pekik Diva jengkel."Nggak usah dipikirin, ah, Div." Kata Sella sambil menyunggingkan senyuman kecil. "Yang penting kamu nggak boleh lupa, kalau kita itu sahabat sampai mati. Oke?""Hmm... baiklah..." Jawab Diva yang ikut tersenyum.Dalam sekejap mata Sella lenyap lagi dari pandangan, hingga membuat lantai tempatnya berpijak tadi hancur, dan bagaikan kilat, dia kini sudah muncul lagi di atas si serigala, dan langsung menerjang dengan pedangnya.Akan tetapi, serigala itu berhasil menghindar dengan melompat cepat ke belakang. Sementara itu, jalanan di taman kota ini malah sudah hampir tidak berbentuk lagi akibat serangan pedang Sella yang barusan.Namun, entah kenapa serigala itu sekarang mulai mengerang kesakitan, padahal Diva melihat dengan jelas kalau serigala itu berhasil mengelak sebelum terkena serangan Sella. Tapi, tak lama kemudian, Diva tersadar kala melihat kuping sebelah kanan si serigala yang tiba-tiba saja jatuh ke lantai, dan perlahan melebur menjadi debu-debu cahaya.Diva kembali dibuat bingung. Dia bersumpah melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau serigala itu tidak terkena serangan apapun. Tapi, bagaimana bisa kuping serigala itu tiba-tiba copot?Keringat dingin mulai mengalir di pelipis Diva. Dengan kekuatan seperti itu, Sella mungkin bisa saja menghancurkan kota ini dengan mudah, tanpa harus mengeluarkan setetes keringat.Ya, Diva sempat membacanya di halaman ke lima puluh tujuh di bukunya. Kekuatan yang Sella dapatkan dari pekerjaannya, ialah kekuatan itu sendiri. Di situ tertulis, kalau Sella memiliki hak atas kekuatan, dan menjadi tuan dari kekuatan. Berdasarkan penjelasan itu, Diva hampir tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya kekuatan Sella yang sebenarnya."Kumohon, Div, kamu ingat, kan? apa yang aku katakan tadi." Tanya Sella tiba-tiba.Pemikiran Diva langsung berhenti seketika saat mendengar perkataannya. Seolah-olah, Sella berharap agar Diva tidak berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya.Ingin rasanya Diva menampar pipinya sendiri sekeras mungkin karena sudah memikirkan hal-hal yang buruk itu. Tapi, apa daya, Diva sudah terlanjur membayangkannya. Jadi, untuk menebus kesalahannya, Diva akhirnya memutuskan untuk menjawab pertanyaan Sella. Dia mencengkeram erat tali tas sampirnya, lalu berkata dengan penuh keyakinan, "Ya, kita adalah sahabat, sampai maut memisahkan.""Nah, kalau begitu, Diva pergi saja dulu cari warung makan yang bagus." Ujar Sella sambil melompat keluar dari lubang besar yang tercipta dari serangannya tadi. Gadis berambut perak itu tetap berdiri kokoh, sementara pedangnya kembali ia arahkan ke arah si serigala."Tapi, kamu jangan lama-lama. Cepat lakukan apa yang mau kamu lakukan kepada serigala itu. Aku juga sudah mulai lapar, soalnya.""Iya, iya, kamu tenang saja. Nggak bakalan lama, kok." Ungkap Sella.Diiringi suara dentuman keras yang membahana, Diva akhirnya melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Namun, senyuman yang tadinya terbentuk di bibirnya kini perlahan mulai luntur. Dia memang bahagia, karena bertemu dengan sahabat sejatinya, tapi, Diva juga merasa sangat kesakitan karena kenyataan yang masih membelenggunya."Aku akan berusaha..." Diva mengungkapkan kata-kata yang timbul dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam. "Aku berjanji tidak akan melupakanmu, Sella."Akan tetapi, walau Diva sudah bertekad untuk tidak melupakan Sella, tapi sayang, di keesokan harinya, Diva terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang hampa.Diva yang masih duduk di atas ranjang sedang melamun dan menatap kosong pada jendela yang tergantung di dinding. Pancaran sinar mentari terlihat jelas di balik jendela itu. Namun, di pagi yang cerah ini, anehnya Diva malah merasa sangat suram. Dia merasa telah kehilangan sesuatu dan itu membuatnya kesal.Tiba-tiba, mata Diva tanpa sadar bergerak sendiri memandang ke arah sebuah buku yang tergeletak di sampingnya. Kemudian tangan Diva dengan perlahan mulai menggapai buku itu, lalu setelah mendapatkannya, Diva langsung kembali berbaring sambil mengurung buku itu ke dalam dekapannya yang erat."Hari ini aku ada jadwal kuliah apa nggak, ya?"
Gaib
"Jika kau bertanya padaku, mana yang lebih mengerikan antara manusia dan makhluk halus? Yah jawabannya sudah pasti, bukan? Kalau yang paling mengerikan itu adalah, manusia."Jarwo menampar makhluk jelek berwajah menyeramkan, bertubuh jangkung dan berambut panjang berantakan itu dengan amat kuat, sampai-sampai makhluk itu terlempar ke pagar tembok bagaikan habis ditabrak oleh truk.Yah, Jarwo juga sebenarnya tidak mau melakukannya, tapi masalahnya, makhluk gaib itu sudah terlalu sering mengganggu Jarwo setiap kali dia lewat di jalan ini, dan itu sangat menjengkelkan."Manusia keparat!"Namun, Jarwo tak berhenti sampai di situ. Pemuda berseragam SMA itu kembali melesat dengan sangat cepat menghampiri makhluk yang masih menempel di dinding, lalu mencekik lehernya tanpa ragu dan welas kasih."Ugh! Apa-apaan! Le-lepaskan aku manusia gila!""Bisa diam nggak sih, demit sialan..." Ujar Jarwo dengan suara sedingin es. "Sudah seminggu loh... seminggu!" Ia menekankan dengan nada mengancam. "Tapi, kau tetap saja menggangguku setiap kali aku lewat sini. Maumu apaan coba? Padahal kau tahu aku bisa melihatmu, tapi kau tetap saja bertingkah. Kau minta disiksa?""A-aku nggak bermaksud jahat kok! Aku hanya iseng doang! Jadi cepat lepaskan tanganmu! Sakit woy!" Makhluk itu berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Jarwo, tapi usahanya sia-sia. Jarwo tidak bergeming sama sekali.Akan tetapi, setelah termenung selama beberapa saat, Jarwo akhirnya menghela nafas dalam dan memutuskan untuk melepaskan si jelek itu."Eh?""Lebih baik kau pergi aja deh." Ujar Jarwo sembari melangkah pergi. "Aku sudah capek, lapar, pusing lagi. Dan gara-gara ladeni kamu, kepalaku jadi tambah sakit begini.""Te-terima kasih, Tuan! Aku bersumpah tidak akan mengganggumu lagi mulai sekarang! Dan ka-kalau bisa, aku juga akan menjadi pelayanmu!" Sahut makhluk itu."Heh... kau mau jadi pelayanku ya?" Langkah Jarwo terhenti. "Boleh sih, tapi siapa namamu? Soalnya aku nggak suka berteman dengan setan yang nggak ingat namanya sendiri.""Yah, panggil saja aku Aska." Katanya."Hmm... Baiklah, kau boleh ikut, Aska, tapi tolong jangan panggil aku dengan sebutan yang aneh-aneh seperti tadi. Panggil saja aku Jarwo atau Bos.""Siap, Bos." Jawab Aska sambil mengikuti Jarwo dari belakang. "Cuma sebelumnya, aku punya satu pertanyaan.""Hmm? Apa?""Kenapa Bos nggak melawan balik anak-anak nakal yang sering mengganggu itu?"Pertanyaan singkat itu seketika kembali membuat Jarwo berhenti melangkah. Dia tenggelam dalam diam. Ingatan tentang anak-anak yang disinggung Aska langsung terbayang dalam benaknya."Maksudku, Bos kan kuat banget loh. Bahkan Bos ini nggak sama seperti Indigo yang lain. Masa anak-anak bodoh seperti itu saja, Bos nggak bisa ladeni."Ya, di sekolah Jarwo ada sekelompok anak yang sangat ahli dalam hal menyiksa Jarwo. Bahkan, kalau dipikir-pikir, sudah hampir enam tahun Jarwo terlibat dengan anak-anak itu. Dari SMP sampai sekarang. Keterlaluan memang, tapi Jarwo sendiri sebenarnya tidak terlalu peduli jika mereka hanya menyiksanya saja, asalkan anak-anak yang lain tidak menjadi target mereka juga.Namun, Jarwo kini merasa agak kesal setelah Aska menyinggung soal itu."Yah... karena manusia itu sangat aneh... dan jahat."Jarwo melanjutkan perjalanannya keluar dari jalan kecil itu, sementara Aska mengikut di belakang. Saat mereka berdua sampai di suatu trotoar yang sangat ramai, Jarwo melihat ada begitu banyak makhluk aneh seperti Aska yang berkeliaran di mana-mana. Mereka ada di dekat manusia, di langit, dan jumlah mereka juga tak kalah banyak dengan manusia."Aku nggak bisa membalas mereka, karena mereka hanya manusia.""Ah... maaf, tapi aku sama sekali nggak paham Bos."Jarwo tertawa pelan setelah melihat ekspresi Aska yang tampak sangat kebingungan."Ya, tentu saja. Aku juga nggak bisa menjelaskannya dengan benar. Tapi... intinya sih, aku sebenarnya sangat-sangat membenci yang namanya manusia. Dan akhir-akhir ini, kebencian itu... semakin bertambah besar." Jarwo menyipitkan matanya, seakan menahan sakit."Hah... ?""Minggu lalu, ada salah seorang sahabatku yang mati terbakar karena dia berusaha menyelamatkan pacar bodohnya. Dan tiga hari yang lalu, ada lagi sahabatku hilang begitu saja kayak ditelan bumi. Lalu, mereka berdua sama-sama memiliki ibu yang keduanya juga sakit keras dan sekarat di rumah sakit."Jarwo tiba-tiba menggigit bibir dan mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Matanya memancarkan amarah dan kesedihan yang mendalam. Wajahnya juga berubah menjadi sangat menyeramkan dibanding sebelumnya. Sungguh perasaan gelap yang menyakitkan."Wah? Yang benar, Bos? Kok bisa sih? kasihan banget mereka." Ujar Aska tulus. "Memangnya mereka nggak ada keluarga atau tetangga yang bisa membantu ya?"Yah begitulah manusia, mereka itu pendosa yang cuma peduli pada diri mereka sendiri, dan sangat hobi menciptakan kehancuran... Manusia brengsek, bodoh, keparat, tolol, dungu, tak berguna, sampah!" Orang-orang di sekitar sedikit terkejut saat mendengar bentakan Jarwo yang penuh emosi, namun mereka hanya menghiraukannya."E-eh! Tenang bos! Tenang!""Hah... aku nggak terlalu mempermasalahkannya kok. Tak apa jika mereka berdua menyerah, apalagi mereka juga cewek. Lagi pula, mereka memang sudah pernah mengaku kalau mereka tidak kuat lagi menghadapi kehidupan ini... dunia ini... dan manusia. Malahan... aku sebenarnya bersyukur, karena mereka sudah beristirahat dengan tenang sekarang.""Jadi... gimana dengan Bos?" Tanya Aska takut-takut."Hoh... Aku nggak akan menyia-nyiakan nafasku. Pasti ada alasan mengapa Allah memberikanku mata untuk melihat dua dunia, jadi aku akan menggunakan berkat ini sebaik-baiknya. Dan yang paling hebat lagi, kemarin aku juga dapat kiriman uang satu miliar dari entah siapa, jadi, sekarang seharusnya aku bisa bersiap-siap." Jarwo menengadah menatap angkasa gelap, dan mendapati sosok ular raksasa bersisik hitam yang menyeramkan. "Soalnya, kalau aku juga ikut menyerah, siapa dong yang akan merawat orang tua mereka berdua? Sudah jelas itu sekarang tanggung jawabku.""Mantap Bos! Selalu berpikir positif, ya kan?""Yah... Kau tenang saja. Aku akan menggunakan mata ini... aku benar-benar akan menggunakannya untuk masuk lebih dalam lagi menuju kegaiban... Akan kurobek kenyataan dunia yang jahat ini... dan manusia. Tunggu saja. Suatu saat nanti. Pasti."
Dalam Kegelapan Lebih Lagi
Awal adalah akhir, dan akhir adalah awal.Segala sesuatu yang ada dalam dunia ini hanyalah tentang kehidupan. Ada yang berjuang mati-matian untuk terus bernafas, dan ada juga yang hanya duduk diam pun, tapi tetap bisa hidup dalam kebahagiaan.Anak itu pun juga sangat mendambakan hidup. Seumur hidupnya, dia hanya ingin hidup seperti yang diinginkannya. Dia rela berjabat tangan dengan kutukan demi menggapai impiannya itu.Namun, pada akhirnya, dunia ini terlalu keras padanya.Di atas gunung, di antara ribuan mayat yang berhamburan, dan dihiasi oleh warna merah darah yang meneror jiwa, anak lelaki itu berdiri sendirian di sana, membiarkan dirinya diguyur hujan yang berjatuhan dari langit kelabu dengan diiringi suara guntur yang membahana.Setelah melalui perjalanan panjang yang sangat melelahkan dan penuh dengan pertempuran, dia kini telah sampai di bukit Golgota, dan memutuskan untuk mengambil apa yang telah menjadi haknya. Namun, sayangnya dia sadar kalau hatinya terlalu ragu untuk memilih."Tuhan, aku percaya... Aku selalu percaya bahwa segala yang ada di dunia ini, adalah kehendak-Mu. Jadi... kumohon... biarkan aku hidup."Setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, air matanya pun mengalir membasahi pipi. Ia mengangkat tangan kanannya ke atas seakan ingin meraih angkasa, dan menerima berkat dari kegelapan dengan tangan dan hati yang terbuka lebar, karena terpaksa.Akan tetapi, tiba-tiba saja terdengar suara teriakkan yang amat lantang dari kejauhan. Anak itu lantas menoleh dan melihat ada beberapa orang yang berdiri jauh di sana.Sama seperti dirinya, keadaan mereka pun juga terlihat sangat buruk. Tubuh mereka dibalut luka, dan mereka juga tampak sangat-sangat kelelahan. Bahkan, ada dua orang di antara mereka yang baru saja jatuh berlutut karena mungkin sudah tak sanggup berdiri lebih lama lagi. Dan, salah satunya juga sedang dalam keadaan pingsan."Jangan lakukan itu! Jojo!"Dengan sedikit kekuatan yang tersisa, mereka menjerit keras untuk memperingati Jojo agar tidak mengambil pilihan yang salah."Maafkan aku... semuanya... dan terima kasih. Terima kasih karena kalian telah bersedia menemaniku dalam semua penderitaan ini."Meski suara yang keluar dari mulut Jojo hanyalah bisikkan, namun mereka semua bisa mendengarnya dengan sangat jelas, seolah-olah Jojo berbicara tepat di samping mereka."Walau ini mungkin adalah pilihan yang salah, tapi aku akan menjadikannya sebagai keputusan yang benar... Demi kebaikan kalian." Ucap Jojo. Sekali lagi, dia memasang senyuman manis di bibir. Matanya yang tadinya berwarna hijau zamrud, kini mulai berubah menjadi hitam.Mereka semua mulai menangis saat melihat perubahan yang terjadi pada diri Jojo. Kekecewaan tergambar jelas di wajah mereka, dan rasa putus asa memenuhi raga."Sekali lagi, aku mengucapkan terima kasih... Jadi, tolong biarkan aku membalas semua kebaikan kalian." Jojo mengepalkan tangan kanannya sambil menguatkan tekadnya, dan pada saat itu pula, cahaya hitam turun dari langit melubangi awan-awan dan menelan Jojo. Angin bertiup keras, dunia terasa berguncang, dan terdengar pula suara jeritan yang amat menyeramkan.Tangisan teman-temannya semakin menjadi-jadi menyaksikan pemandangan itu. Ada yang berteriak dengan penuh ketakutan, dan beberapa lagi hanya mampu diam membatu.Lalu, ketika pilar cahaya yang turun dari angkasa itu padam, Jojo pun akhirnya telah terlahir kembali dengan jati diri yang sangat berbeda. Sangat gelap. Hitam. Tapi, benar.Sang Raja Keputusasaan.
Kawan-kawannya yang Tak Nampak
Sejak dua hari yang lalu, Joni selalu datang ke taman itu bukan karena banyaknya botol-botol bekas atau barang-barang bekas yang bisa dia punguti, melainkan karena keberadaan seorang kakek tua misterius yang berdiam di taman itu dari siang sampai sore bersama dengan teman-temannya yang aneh."Apa, sih, yang aneh dari teman-teman kakek itu?" Tanya Bagas heran."Kalau yang kamu maksud itu kakek-kakek yang selalu pakai kacamata dan baju batik coklat itu, ya, aku nggak pernah lihat kalau dia punya teman di taman. Dia sendirian terus, kok." Celetuk Rima."Hmm... " Joni lalu memandang sekeliling.Karena masjid di kejauhan sudah mulai mengumandangkan adzan, berarti sekarang harusnya sudah hampir pukul dua belas siang, yang artinya Joni akan pergi meninggalkan tempat yang kumuh ini dan berkeliling kota untuk mencari barang-barang bekas yang bisa didaur ulang."Tapi... aku nggak bohong, kok. Kakek itu punya banyak teman. Cuma... " Terdengar keraguan dari suara Joni. "Teman-temannya memang aneh. Mereka bukan orang seperti kita. Mereka seperti hewan, tapi bukan hewan.""Ya, terus saja dengarkan ocehan Joni, biar kalian dihukum sama Bos." kata seorang anak bertubuh besar yang sukses membuat anak-anak lainnya langsung bergegas pergi dari sana, termasuk Joni.Kenyataannya, Joni adalah seorang pemulung. Sejak kecil dia ditinggalkan di jalanan oleh kedua orang tuanya, tapi untungnya ada orang yang memungut Joni dan merawatnya hingga sekarang. Dia adalah Bos Anca, salah seorang pemimpin preman di daerah Jakarta Pusat ini. Walaupun Bos Anca merupakan seorang preman, tapi dia adalah orang yang baik.Semua anak-anak yang ada di sini adalah anak pungut Bos Anca. Di bawah kolong jembatan ini, Joni dan teman-temannya biasanya beristirahat sebelum lanjut memulung lagi di siang hari.Namun, saat semua teman-temannya pergi ke satu daerah yang sangat ramai, anehnya Joni malah melangkah ke arah yang berlawanan, tepatnya menuju ke suatu taman yang tak jauh dari pusat kota.Anak kecil bertampang tak karuan itu berjalan dengan santainya menyusuri trotoar. Meski tubuhnya memancarkan aroma yang tak sedap, tapi dia terus melangkah dan memasang senyum lebar di bibirnya.Joni tahu kalau orang-orang di sekitarnya selalu menjaga jarak darinya. Entah apa yang mereka takuti dari Joni. Mungkin bau badannya, atau tubuhnya yang kotor, atau mungkin juga mereka curiga dengan isi dari karung yang tergantung di punggung Joni. Tapi Joni tidak peduli dengan hal itu.Biarkan orang-orang itu tetap menjadi diri mereka sendiri, dan Joni tetaplah Joni. Begitu lebih baik, bukan? Bos Anca saja setuju dengan Joni. Lagi pula, Joni tidak melakukan kesalahan apapun kepada orang-orang."Lho? Kamu mau pergi ke taman lagi, ya?" Tanya seorang pemuda tinggi yang tiba-tiba muncul di samping Joni.Lelaki itu berpakaian rapi dan keren layaknya orang-orang kaya. Dia mengenakan pakaian yang tampak mahal dan wangi. Wajahnya juga tampan seperti artis-artis yang biasa dilihat Joni di televisi. Namun, lelaki itu memiliki sesuatu yang aneh di belakang pantatnya, dan itu adalah ekor. Pemuda itu benar-benar memiliki tiga ekor berbulu putih bersih dan terlihat sangat lembut.Meski begitu, Joni tidak ambil pusing dengan keanehan yang dimiliki pemuda ini. Dia bersedia berjalan bersebelahan dengan Joni, dan hal itu sudah cukup untuk menjelaskan bahwa dia adalah orang yang baik sama seperti teman-temannya, dan juga Bos Anca."Kamu ini teman kakek itu, kan?" Tanya Joni spontan."Ya, benar. Dan, kamu ini anak yang suka memperhatikan kakek, kan?" Pemuda itu tersenyum tipis."Eh... Hehe—Tolong jangan kasih tahu dia, Kak." Kata Joni yang tiba-tiba berkeringat dingin sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan gelisah."Kau tenang saja, aku nggak akan memberitahu kakek, kok.""Hahaha—Makasih, deh, kalau begitu.""Hmm... Ngomong-ngomong, aku ingin bertanya tentang sesuatu." Ungkap pemuda itu ragu-ragu. "Kamu ini, kan, masih kecil, ya? Tapi, kok, kamu sudah bekerja begini, sih? Orang tuamu di mana?"Mendengar pertanyaan ini, Joni merasa sedikit heran sekaligus bingung."Lho... aku, kan, pemulung, Kak. Masa Kakak nggak sadar, sih?" Tanya Joni yang baru saja memungut beberapa gelas plastik."Pemulung? Apa itu? Makanan, ya?"Dilihat dari raut wajah pemuda itu, tampaknya dia tidak sedang bercanda. Dia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang pemulung."Eh... itu pekerjaanku." Joni menjelaskan. "Kami memunguti gelas-gelas minuman atau botol-botol yang terbuat dari plastik, juga barang-barang bekas yang sudah dibuang oleh orang, atau sesuatu yang sudah tidak dibutuhkan tapi masih memiliki sedikit harga. Terus, nanti malam kami akan menyerahkannya pada Bos Anca buat dijual.""Oh, rupanya pekerjaanmu itu ternyata nggak jauh beda dengan pekerjaanku."Hening sejenak.Joni memandang ke angkasa, dan melihat ada banyak gumpalan awan di atas sana yang melindunginya dari sengatan sinar mentari. Namun, karena pemandangan itu, Joni jadi tersadar akan satu hal."Heh!?" Joni memekik heran. "Kakak pemulung juga!?""Sepertinya begitu. Soalnya si Kakek selalu mengajak kami ke taman buat memunguti sampah-sampah yang mengotori taman. Tapi... aku nggak tahu kalau sampahnya bisa dijual." Wajah lelaki itu masih tidak berubah. Dia benar-benar serius dengan perkataannya. "Terus, siapa itu Bos Anca? Apa dia orang tuamu?""Ah... bukan. Dia itu orang yang merawatku. Soalnya aku nggak punya orang tua. Waktu kecil, aku dibuang di jalanan, dan Bos Anca yang memungutku dan membesarkanku.""Tunggu—Apa!? Kau dibuang oleh orang tuamu!?" Pemuda itu terkejut. "Kenapa bisa begitu!? Kenapa mereka melakukan hal jahat seperti itu!?""Kata Bos Anca, orang tua biasanya membuang anak mereka bukan karena mereka tidak menginginkan kita, tapi karena mereka juga memiliki masalah sendiri." Ujar Joni."Tapi, bukannya itu tidak layak? Mereka berarti orang jahat, kan? Cih... semua manusia sama saja rupanya. Para pendosa yang tak tahu berterima kasih pada sang Pencipta.""Lho... Kakak nggak boleh bicara begitu, lah. Mereka juga pasti punya alasan. Siapa tahu saja, karena ada aku, mereka jadi tambah menderita atau masalah mereka jadi tambah besar. Makanya mereka membuangku. Toh, begitu juga bagus, kan? Dari pada harus melihat orang yang kita sayangi kesakitan.""Tapi, setelah semua yang terjadi, masa, sih, kamu masih sayang dengan orang tuamu? Kamu saja nggak pernah melihat mereka, kan?""Ya, nggak apa-apa kok. Lagian, kalau nggak ada mereka, pasti aku juga nggak berbicara dengan Kakak sekarang."Lelaki itu terdiam dan tampak sedang berkutat dalam benaknya, tapi entah kenapa ekornya bergoyang-goyang dengan cepat seperti cacing yang kepanasan. Lalu, tak lama kemudian, pemuda itu berdeham pelan dan kembali angkat bicara, "Hmm... Sepertinya aku harus menarik kembali semua kata-kata burukku tentang manusia.""Hmm?""Tapi, kulihat-lihat, sepertinya kamu kayaknya nggak keberatan, ya, hidup seperti ini? Atau itu hanya perasaanku saja?"Joni cukup terkejut mendengarnya. "Ah... bukannya nggak keberatan, Kak. Cuma, aku sudah bahagia bersama dengan teman-temanku. Walau kami memang tidak punya banyak uang, tapi kalau berhemat, pasti kami bisa bertahan, kok."Tak jauh di depan sana tampak suatu daerah yang ditumbuhi banyak pepohonan yang hijau dan rimbun. Tinggal beberapa langkah saja lagi, Joni akan sampai di taman itu. Bahkan sebenarnya Joni sendiri sudah tak sabar untuk bertemu banyak orang-orang menarik seperti pemuda itu di sana."Apa sebenarnya yang kau inginkan?" Tanya pemuda itu tiba-tiba.Joni seketika terdiam begitu mendengar pertanyaan yang tak terduga itu. Seolah-olah pertanyaan itu membawa suatu perasaan yang aneh ke dalam diri Joni. Rasanya sangat dingin, dan menusuk, dan membuat senyumnya hilang untuk sesaat."Aku... hanya ingin hidup." Kata Joni dengan suara berbisik. "Aku ingin terus hidup, dan membantu orang-orang yang tak beruntung sepertiku. Aku... aku ingin menuntun mereka dan memastikan mereka semua tetap hidup hingga besok... "Sesampainya di taman itu, Joni melihat ada lumayan banyak orang yang sedang nongkrong di sana. Tapi, mata Joni langsung tertuju pada seorang kakek tua yang duduk sendiri di bangku panjang di bawah pohon. Kakek misterius itu hanya diam di situ, dengan kedua tangannya yang berpegang pada tongkat di depannya, sementara matanya terpaku memandang ke bawah.Namun, selain pemandangan biasa itu, mata Joni juga bisa menangkap hal-hal aneh yang ada di taman itu.Ada banyak makhluk aneh di sana. Jika dihitung, jumlah mereka mungkin ada lima belas termasuk si pemuda. Mereka berada di setiap sisi taman dan mengawasi orang-orang, atau tepatnya, mereka memunguti sampah-sampah yang ditinggalkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab, yang lalu mereka masukkan ke dalam salah satu dari dua karung yang berada di dekat air pancuran.Sebagian dari mereka ada yang sosoknya hampir terlihat sama seperti orang-orang biasa pada umumnya, tapi mereka memiliki setidaknya satu bagian aneh yang melekat pada tubuh mereka, sama seperti si pemuda yang memiliki ekor. Sementara sebagiannya adalah sosok-sosok yang wujudnya sama sekali tidak menyerupai manusia. Bentuk mereka malah terlihat seperti hewan, hantu, monster dan entah apa lagi."Yah... Sudah nggak ada apa-apa lagi yang bisa dipungut di sini... " Kata Joni pasrah."Kau boleh, kok mengambil punya kami." Kata si pemuda sambil menunjuk ke arah karung. "Karung yang di sebelah kanan, isinya itu khusus untuk sampah-sampah yang bisa didaur ulang, kok.""Wah! Yang benar, Kak!?" Tanya Joni tak percaya."Ya, tentu saja."Tanpa basa-basi lagi, Joni langsung melesat ke pancuran itu untuk melihat isi dari karung itu, dan ternyata ada begitu banyak gelas dan botol plastik di dalamnya. Makhluk-makhluk aneh yang ada di sana juga ikut merapat ke tempat Joni, dan mereka semua terlihat senang, termasuk si pemuda.Akan tetapi, Joni sama sekali tidak sadar bahwa si Kakek misterius itu ternyata sudah bangkit dari bangkunya dan tengah mengamatinya sejak tadi. Tapi, tiba-tiba saja Kakek itu tersenyum kecil, dan tak lama kemudian, dia pun berjalan pergi meninggalkan taman, hingga akhirnya dia hilang di antara kerumunan pejalan kaki yang baru saja masuk ke dalam taman. Sementara itu, si pemuda yang menyadari kepergian kakek itu, hanya mampu berdiri di sana dan melihat kepergiannya, begitu juga dengan semua teman-teman anehnya."Selamat tinggal, Tuan." Bisik si pemuda."Hey, Kakek itu, kok, sudah nggak ada?" Tanya Joni yang baru sadar kalau kakek itu sudah tak ada lagi di sana."Hmm... Joni, aku mau bertanya lagi padamu." Ujar si pemuda."Apa lagi, Kak?" Tanya Joni yang sedang fokus memindahkan setengah dari isi karung itu ke karung miliknya."Boleh nggak aku jadi sahabatmu?"Pertanyaan itu berhasil memancing minat Joni. "Wah! Tentu saja, Kak! Dan... dan... Kakak tenang saja, deh! Aku nggak akan minta uang Kakak, kok!" Kata Joni tampak bangga."Baiklah, itu aneh." Kata sesosok serigala yang berdiri layaknya seperti manusia."Wajar, dia masih anak-anak." Ujar sesosok makhluk kerdil berwajah lucu, berkulit hijau dan memiliki telinga yang panjang dan lancip."Begini, Joni." Kata si pemuda seraya berlutut satu kaki di depan Joni, sementara satu tangannya memegang pundak Joni. "Kalau aku boleh menjadi sahabatmu, aku akan membantumu untuk mendapatkan segala yang kau inginkan, termasuk menjagamu dan juga teman-temanmu. Dan kalau aku menjadi sahabatmu, maka teman-temanku ini juga akan menjadi temanmu, dan kami juga akan membantumu mengumpulkan semua sampah yang ada di dunia ini. Gimana?"Joni seketika memandangi semua makhluk-makhluk aneh itu dengan heran, dan kemudian, sambil tersenyum lebar dia berkata, "Ya, tentu saja aku mau, Kak!""Baiklah kalau begitu." Pemuda itu bangkit berdiri sembari mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya, itu adalah sebuah kalung yang tampak indah, dengan empat belas batu berwarna-warni yang tertata pada hiasannya yang berbentuk lingkaran, dan sebuah batu berwarna hitam berukuran agak besar yang berada di bagian tengahnya."Kalung ini buatku?""Ya, ini untukmu." Jelas si pemuda. "Dengan kalung ini, kamu bisa meminjam kekuatanku, dan juga kekuatan salah satu dari mereka. Tapi, kau hanya boleh menggunakannya di saat-saat penting saja, oke?""Hmm... Beneran, Kak?" Tanya Joni heran sambil memandangi kalung itu. "Kalung ini kelihatannya mahal banget, lho... "Si pemuda, beserta teman-temannya yang aneh tiba-tiba tertawa pelan setelah mendengar apa yang dikatakan Joni."Lho? Kenapa?""Ah... Nggak, kok." Jawab pemuda itu sambil mengusap kepala Joni. "Ya, sudah, kita pulang ke rumahmu, yuk?""Ah... baiklah. Ayo, Kak."Namun, saat Joni berniat untuk pergi meninggalkan taman itu, tiba-tiba saja ada seorang gadis bertubuh tinggi yang memiliki empat lengan, yang mengambil kedua karung Joni, lalu memasukkannya ke dalam mulut sesosok makhluk berbulu biru dan bertubuh besar. Kedua karung yang yang isinya hampir penuh itu benar-benar masuk ke dalam perut makhluk bertampak lucu dan berbulu lebat itu."Kok—""Joni tenang saja, kami, kan, teman-temanmu sekarang, jadi kami akan membantumu membawa barang-barang itu ke tempatnya si Bos Anca itu." Jelas si pemuda seraya menggandeng tangan Joni, lalu menuntunnya keluar dari taman. "Ayo kita pulang."Joni berjalan di depan bersama pemuda itu, sementara teman-temannya yang lain mengikuti dari belakang."Oh, iya, Joni, namaku adalah Ulficer, tapi kamu boleh memanggilku Ulfi.""Oke, Kak Ulfi. Dan namaku Joni, Kak.""Ya, aku tahu, kok, Joni." Ujar Ulfi. "Itulah sebabnya kami memilihmu untuk melindungi orang-orang... "
Untuk Dirinya yang Telah Pergi
Usianya baru menginjak dua belas tahun, saat Kevin menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Di tengah hutan yang senyap ini, anak kecil kurus berambut emas itu berlutut di hadapan keputusasaan. Dia menangis di depan sebuah papan kecil yang tertancap di tanah, di mana di papan itu pula terukir satu nama dari orang yang sangat ia sayangi di dunia ini.Suatu ingatan berputar dalam pandangan Kevin.Dia melihat seorang anak berambut putih yang jatuh di bawahnya. Tangan anak itu terulur ke arah Kevin seakan dia berharap agar Kevin segera menolongnya. Tapi, Kevin tidak mampu berbuat apa-apa. Satu-satunya yang bisa ia lakukan saat itu, hanya melihatnya jatuh ke dalam lautan api yang mengamuk jauh di daratan.Namun, waktu itu, Kevin menangkap sebuah senyuman yang terbentuk di bibir anak itu. Dia tersenyum kepada Kevin. Meski ia tahu bahwa kematian kini sudah berjarak satu jengkal saja dari kehidupannya, anehnya, anak itu malah tersenyum."Tidak... Tidak... Aku gagal... Ya Tuhan... " Kalimat singkat itu meluncur keluar dari mulut Kevin. Air matanya mengalir deras di wajah dan tak dapat dibendung lagi. Sungguh rasanya sangat menyakitkan, karena dia telah gagal melindungi seorang sahabat sekaligus keluarga yang paling berarti baginya. "Mereka yang hidup dengan pedang... akan mati dengan pedang... Apakah ini maksudnya? Tapi... Kenapa?"Setelah perjuangannya selama ini, setelah semua pengorbanan yang diberikannya selama ini, akhirnya, dia gagal. Kevin gagal untuk melindungi Abi, seorang yang dianggapnya sebagai adik di kehidupan ini.Abi selalu berdiri di depan Kevin dalam situasi apapun. Setiap pagi, saat matahari terbit, anak berambut putih cerah itu adalah orang yang selalu berdiri paling depan untuk menyambut hari esok. Dia adalah anak paling pemberani yang pernah dikenal Kevin seumur hidupnya. Meski tubuhnya kecil, tapi dia memiliki hati yang sangat berani seperti singa.Akan tetapi, kini Abi telah pergi meninggalkan kehidupan.Semua yang pernah Kevin lalui bersama Abi juga teman-teman lainnya dalam perjalanan menuju ke dunia manusia, sekarang telah bertukar menjadi sebuah kenangan yang terasa menyakitkan.Dulu, mereka semua selalu tidur di kamar yang sama, makan di tempat yang sama, berenang di sungai bersama, bercanda gurau bersama, duduk di depan api unggun bersama, bernyanyi bersama, dan mengikuti jalan setapak yang sama. Mereka semua melakukan segalanya hampir bersama-sama.Namun, karena peperangan, Kevin terpisah dari teman-temannya yang lain, dan satu-satunya yang menemaninya hingga perjalanannya selesai, hanyalah Abi seorang. Akan tetapi, Kevin tak menyangka, bahwa orang yang selalu ada untuknya, sekarang sudah tiada.Meski begitu, Kevin tahu dia tidak bisa berlama-lama seperti ini. Kesedihannya saat itu cukuplah untuk sehari saja. Dia harus meninggalkan semua penderitaannya di masa lalu dan menuju ke masa depan, agar kejadian yang sama tidak terulang lagi. Cukup Abi saja lah yang menjadi bukti bahwa Kevin pernah gagal. Tak perlu ada lagi orang lain yang menjadi korban atas kesalahannya."Jika saja aku tidak membunuhnya... Pasti aku tidak akan berada di sini sekarang... " Kevin bangkit dan memandang papan itu dengan tatapan marah. Pelupuk matanya bengkak mengingat ia sudah seharian menangis. "Baiklah, kalau memang begitu maumu, aku pastikan, aku tidak akan membuat kesalahan lagi. Tak akan pernah."Di keesokan harinya, Kevin memutuskan untuk mencari teman-temannya yang lain yang selamat dari perang itu, dan mungkin juga sudah sampai ke dunia ini. Apalagi, mereka semua sudah pernah membuat janji untuk memulai kehidupan baru yang damai di dunia manusia ini bersama-sama. Dan sebagai pemimpin dari rombongan mereka, orang pertama yang harus melanjutkan rencana itu adalah Kevin.Ya, atau begitulah yang diharapkannya.Namun, beberapa bulan setelah berduka atas kepergian Abi, takdir yang mengerikan tanpa diduga berhasil menemukan Kevin dan menyeretnya kembali ke dalam hutan itu. Untuk yang kedua kalinya di dunia ini, Kevin kembali dipaksa berlutut di depan dua batu nisan baru yang berada di samping papan nisan Abi.Terdapat sepasang anting-anting berbentuk api yang terletak di depan batu nisan sebelah kiri, sedangkan di nisan sebelah kanan yang berukuran lebih kecil, dihiasi oleh sebuah busur biru gelap yang dililit akar hijau dengan bebungaan yang tumbuh di sekujurnya.Kini, dua nama lagi telah pergi, yaitu Ronzo Putra dan Arima Putri. Seorang kakak yang bertampang seperti preman pasar tapi memiliki hati yang tulus, serta seorang adik perempuan periang yang bisa menyelesaikan persoalan apapun dengan memanah."Ya Tuhan! apa sebenarnya salahku padamu, hah!?" Kevin meraung keras. Tangannya meremas rerumputan dalam genggamannya, dan kepalanya tertunduk hingga dahinya menyentuh tanah. "Aku sudah menyelesaikan semua yang kubisa! Aku menyelesaikan tugas yang kau berikan padaku! Tapi, kenapa Kau malah mengambil mereka dariku?! KENAPA!?"Tangisan Kevin terdengar membahana di bawah rintik hujan. Angkasanya gelap, guntur datang lalu pergi begitu saja. Entah kenapa Kevin merasa seakan ada seseorang yang sedang duduk di balik awan-awan itu dan menyaksikan dirinya yang tengah terpuruk dalam penderitaan.Seluruh tubuhnya terasa hancur menjadi kepingan-kepingan kecil, karena sekarang Kevin sudah kehilangan dua anggota keluarga lagi.Namun, Kevin tiba-tiba teringat akan satu hal.Dia teringat saat-saat dimana dia dipertemukan kembali dengan semua sahabat-sahabatnya—seluruh keluarganya—di Taman Bunga Abadi, Faharum, setelah tiga tahun terpisah. Dan di hari itu juga, untuk pertama kalinya mereka semua bisa merasakan apa itu kedamaian setelah bertahun-tahun. Ya, walaupun keesokan harinya mereka harus kembali berpisah untuk menyelesaikan tugas masing-masing, tapi tetap saja, Kevin sangat bersyukur karena mengetahui bahwa mereka semua baik-baik saja."Sa-saat itu, ka-kalian semua berkata kalau bunga Faharum a-adalah bunga paling indah yang pernah kalian lihat. Jadi, ku-kuharap kalian senang dengan ha-hadiahku ini. Kamu juga, Abi, ma-maaf aku baru kasih kamu hadiah sekarang." Kevin lalu menengadah ke angkasa, dan menutup matanya rapat-rapat seraya menghela nafas dalam. Dia merasa sangat lelah.Meski air matanya terus mengalir deras dan nafasnya terasa sesak, Kevin sudah memutuskan untuk memberikan hadiah terakhir kepada mereka. Kevin mengayunkan tangan kanannya yang masih gemetaran untuk menghasilkan debu-debu cahaya emas, yang kemudian berubah menjadi tiga buah vas bening, yang masing-masing menampung setangkai bunga putih bercahaya di depan ketiga nisan itu."Kuharap... Kau menunjukkan belas kasihanmu padaku... Tuhan." Kevin menghela nafas sekali lagi, dan pasrah kepada sang Takdir.Akan tetapi, pada kenyataannya, nisan-nisan itu terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Hari berganti hari, musim berganti musim, dan bulan berganti bulan, Kevin selalu datang ke hutan itu untuk berduka, menangis, dan menderita. Empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, dan menjelang akhir tahun, jumlah seluruhnya ada sepuluh nisan yang Kevin letakkan di tempat itu.Mungkin seperti inilah rasanya terjun ke dalam jurang keputusasaan.Kevin hampir tak mampu merasakan apa-apa lagi, hatinya sudah hancur lebur. Dia hanya berdiri di sana, di bawah lebatnya hujan salju yang dingin dan menusuk, sambil menatap kosong pada jejeran nisan itu. Sempat Kevin berpikir bahwa raga itu bukan lagi miliknya. Lalu, tak lama kemudian, Kevin pun akhirnya jatuh berlutut, dan mulai menangis dalam diam.Dunia menjadi hening kala itu.Seluruh keluarganya telah pergi meninggalkan dirinya seorang."Abi... Ronzo... Arima.... Paman Zara... Anna... Kak Alam... Kak Olla... Kak Amalia... Sella... Juga Kak Lion, dimanapun Kakak berada... Maafkan aku... Aku sudah tak bisa lagi. Aku tidak tahu kenapa ini terjadi padaku... pada kita semua. Padahal... kita sudah pernah menyelamatkan dunia ini, tapi... kenapa kalian semua malah pergi?"Kevin mengangkat kepalanya dan memandang angkasa yang kelabu."Tuhan... aku tahu kalau kami semua sudah berdosa... aku paham kalau membunuh itu salah... Tapi... Aku benar-benar tidak menyangka bahwa bayarannya ternyata semahal ini... Kukira... semua teriakkan kami di sana, semua tangisan kami, semua luka kami... kukira semua itu sudah cukup untuk melunasi semuanya... Rupanya aku salah... "Wajah Kevin yang tadinya kosong, perlahan memancarkan nestapa."Kenapa aku selalu terlambat! KENAPA!? Kumohon, sekali saja dalam hidupku, bisakah kau berhenti menyiksaku!?"Kesedihan, amarah dan penyesalan mulai merasuk dalam dirinya."Kau yang menempatkan kami di sana... tempat mengerikan dimana kedamaian itu hanya dianggap sebagai mimpi... dan saat kami berusaha menemukan kedamaian itu, Kau malah menghukum kami sampai seperti ini! Kami sudah menolong banyak orang! Kami sudah berjuang! Tapi kenapa Kau malah menyiksa kami!"Kevin ada di sana menjelang saat-saat terakhir mereka. Dari Abi, sampai pada Sella, Kevin ada di sisi mereka dan memegang erat tangan mereka. Dia mendengar kalimat terakhir yang mereka ucapkan, dia juga mendengar hembusan nafas terakhir mereka semua. Dan satu-satunya yang Kevin rasakan saat itu terjadi, adalah rasa sakit yang tiada tara."Sekali lagi... maafkan aku, ya, semuanya." Senyuman kecil tiba-tiba terbentuk di bibir Kevin. "Aku akan memulai semuanya dari awal lagi... Tapi, kalian tenang saja... aku berjanji akan membawa kenangan-kenangan itu di kehidupanku yang baru. Jadi... Selamat tinggal."Ya, itu terlalu menyakitkan untuk dilihat, jadi pada hari itu, Velicia memilih untuk menutup mata dari pemandangan menyedihkan itu.Akhirnya, sehari sebelum tahun baru, Velicia kembali ke hutan itu untuk melihat keberadaan makam itu. Gadis berambut pirang keemasan itu berdiri di sana. Dia memandang nisan-nisan itu dengan mata kanannya yang berwarna emas menyala, serta mata kirinya yang berwarna biru mengkilap."Sangat keterlaluan untuk membuat anak-anak seperti mereka merasakan penderitaan semacam itu. Tapi, mau bagaimana lagi. Mereka yang hidup dengan pedang akan mati dengan pedang." Velicia tersenyum aneh.Veli meregangkan jari jemari kakinya. Dia tak mengenakan alas kaki apapun, jadi wajar kalau dia bisa merasakan hawa dingin yang terasa menusuk-nusuk telapak kakinya layaknya jarum."Menyedihkan, bukan? nasib mereka yang hidup berdampingan dengan keajaiban."Veli menatap sedih pada batu nisan yang terletak di bagian paling depan."Maaf, ya, Vin, aku nggak bisa membantumu saat kau berusaha menghadapi semua kesengsaraan itu." Lalu, Veli berpaling dam berniat meninggalkan hutan itu. "Kau sudah berusaha, Vin. Jadi... kau bisa beristirahat sekarang."Ada banyak bulu burung berwarna emas yang berhamburan di sekitar nisan itu, juga sebuah jaket berwarna abu-abu yang menggantung di atas nisan. Satu nama terukir di situ, dan nama itu adalah namanya. Kevin.
Keajiban Peri Keemasan
Kalian percaya pada sebuah keajaiban? Kepada Peri yang bisa mengabulkan permohonan? Peri itu bersemayam di sebuah air terjun dekat dengan Desa Tebing Linggahara. Hanya saja tidak pernah ada yang menyaksikan secara langsung wujud peri itu. Sehingga semua orang di desa menganggap itu sekedar mitos belaka.Namun tidak dengan Reihan. Reihan yang berusia tujuh tahun diselamatkan oleh peri itu saat dia terjatuh dari puncak air terjun. Reihan yang tidak bisa berenang, hampir tenggelam bersama arus air. Saat nyaris tidak sadarkan diri, Reihan merasakan kehangatan yang begitu lembut menyelimuti tubuhnya."Wahai anak manusia, kisahmu masih belum berakhir. Hiduplah sebagai bagian dari diriku." ucap sosok yang berkilauan itu.Saat itu, sang peri menyelamatkan hidupnya. Peri itu "mengorbankan" dirinya sendiri. Mungkin akan lebih tepat jika dikatakan bahwa Reihan telah membunuh sang peri karena kecerobohannya. Itu adalah sebuah fakta yang tidak diketahui orang lain.Hasilnya, Reihan mendapatkan sebuah keajaiban dan kutukan disaat bersamaan. Keajaiban yang Reihan dapatkan membuat dirinya mampu mengabulkan sebuah permohonan yang benar-benar dia inginkan. Hanya saja kutukan yang diterimanya membuat Reihan tidak memiliki hasrat untuk menggunakannya. Benar-benar ironis. Namun itu menjelaskan kenapa banyak sekali peri yang punya keajaiban namun mereka tidak menggunakannya sembarangan.Entah mengapa Reihan malah mengingat kenangan yang seharusnya ia lupakan. Ah! Benar juga, Reihan teringat hal itu karena surat yang dikirimkan Anggita. Anggita tidak menuliskan banyak hal di dalam suratnya.Reihan kawanku.Aku akan kembali.Anggita.Hanya tiga kalimat.Sebagai orang yang telah lama mengenalnya, Reihan pasti merasa senang akan kedatangan Anggita. Hanya saja Reihan tidak bisa mengabaikan kemungkinan lain. Sebuah firasat buruk yang tiba-tiba menyelimuti batinnya. Yang dia ketahui, Anggita pergi dari desa untuk melakukan pengobatan terhadap penyakit yang dideritanya. Apakah dia telah sembuh atau tidak? Reihan tidak mengetahuinya sama sekali. Karena surat itu adalah surat pertama yang diterimanya sejak mereka berpisah.Pagi ini dia akan tiba di halte yang tidak jauh dari desa. Reihan telah menantinya di sana. Dengan mengenakan kaos dan celana panjang, dia duduk sambil membaca sebuah buku. Tidak lama setelah itu, bis pun terlihat dari kejauhan. Reihan menutup buku dan berdiri. Melihat bis itu semakin dekat ke arahnya, semakin bergejolak pula keresahan di dadanya. Sebuah firasat yang tidak bisa dienyahkan dari hatinya.Tak berselang lama, seorang gadis akhirnya turun dari dalam bis. Dengan mengenakan rok, topi kupluk, baju lengan panjang, dan tas sandang, ia berdiri di hadapan Reihan. Sebuah senyuman pun muncul dari wajah wanita itu. Senyuman yang selalu menghangatkan sanubari."Reihan.""Anggita ..."Wanita itu langsung lompat dan memeluk Reihan erat-erat."Selamat datang kembali... Anggita."Anggita melepaskan pelukannya. Ia menatap Reihan sesaat lalu menggenggam jemarinya, dan menariknya untuk berlari bersamanya. Setiap langkah kakinya yang terdengar oleh Reihan, membuat Reihan merasa sangat bahagia.Setelah lima menit, mereka pun berhenti berlari."Hah... Aku tidak kuat lari lagi..." keluh Anggita sembari menghela nafas."Tentu saja. Perjalanan dari kota ke desa sangat jauh. Dan lihat dirimu, masih pagi tapi sudah keringatan segitu banyaknya." celetuk Reihan.Anggita tertawa. Ia berbalik dan tersenyum lebar."Bahkan setelah lama tidak bertemu, kamu tetap saja tidak pernah berubah.""Eh? Kamu juga tidak berubah, Anggita. Masih saja memaksakan diri seperti itu.""Ini semangat di pagi hari!" ucapnya sembari menggembungkan pipinya. "Olahraga di pagi hari itu menyehatkan, lho!""Ya, ya, ya. Kalau begitu kita temui dulu kepada desa buat mengambil kunci rumahmu yang dulu.""Oke!" sahutnya cepat.Desa Tebing Linggahara merupakan desa yang masih permai. Sawah padi yang membentang luas di sisi jalan menuju desa membuat siapapun terkesima. Kebun sayuran warna-warni juga menghiasi daerah perbukitannya. Lingkungan di desa ini sangat bersih, sampai parit di depan rumah penduduk saja jernih sekali. Saat mereka masuk ke dalam desa, udara sejuk itu begitu nikmat dihirup."Baiklah, ayo masuk. Pak Kades pasti bakalan senang melihatmu lagi." Kata Reihan setibanya mereka di depan halaman rumah pak Kepala Desa.Mereka pun masuk ke rumah kepala desa. Setelah bersilaturahmi dengan pak Kades, dan juga menerima kunci rumah Anggita, mereka pun bergegas pergi ke sebuah rumah yang Anggita tempati dulu. Rumah itu cukup jauh. Letaknya di ujung jalan setapak. Rumah bernomor enam belas itulah yang menjadi tempat tinggal Anggita dahulu. Sesampainya disana, mereka tanpa ragu mulai membersihkan rumah itu."Gila... banyak banget debunya!" keluhnya.Akan tetapi, entah kenapa Anggita tiba-tiba berhenti bergerak. Dia mematung dan tubuhnya sedikit gemetar, walau Reihan tak menyadarinya."Aku mungkin akan mati besok, Reihan." bisik Anggita dengan suara datar. Dia menggigit bibirnya dengan keras tanpa alasan yang jelas."Hey... Berhentilah bercanda."Ia menggelengkan kepalanya. Senyuman yang selalu ia pasang kini telah raib."Aku tidak bercanda... Reihan."Perkataan Anggita seolah menusuk dada Reihan bagaikan bilah pisau yang teramat sangat tajam."Kalau begitu, kenapa kamu tidak menghabiskan saat terakhirmu bersama ayah dan ibumu di sana? Mereka pasti—""Karena aku memilihmu, Reihan. Aku ingin menghabiskan waktu terakhirku bersamamu."Reihan pun berhenti membersihkan lantai. Tanpa menatap Anggita, Reihan mengatakan sesuatu yang kasar."Kalau begitu kamu tidak perlu datang kemari."Keheningan pun menyelimuti ruangan."Apa maksudmu, Rei!?" Anggita kesal."Bukankah kamu harus menghabiskan waktumu bersama orang-orang yang berharga untukmu? Aku cuma temanmu. Tidak lebih." jelas Reihan yang masih tak mampu menatap Anggita. Perasaan yang amat mengerikan merasuk ke dalam dirinya. Dia menatap kosong pada lantai di bawah kakinyaReihan benar-benar tidak menyangka, bahwa dia akan mendengar hal menggusarkan sanubarinya itu di pagi ini. Semuanya terlalu tiba-tiba, sehingga rasanya Reihan seakan baru saja jatuh ke dalam jurang tanpa dasar."Kau tahu, kan? kalau kamu adalah temanku yang sangat berharga," lirihnya.Ucapan Anggita itu berhasil mengetuk kembali hati Reihan. Menyadarkannya kembali akan betapa berharganya sosok Anggita di dalam hidupnya. Wanita yang dulu memberi dirinya motivasi untuk melakukan sesuatu. Wanita yang mengajarkannya untuk bersemangat dalam setiap hal. Wanita yang berhasil membuatnya mengerti betapa indahnya hidup di dunia."Lho, kok kamu malah nangis, sih?"Anggita menyeka air matanya. Reihan tidak bisa menjawab pertanyaan Anggita."Karena aku telah memilihmu, itu artinya kamu harus mengabulkan seratus keinginanku hari ini!""Tunggu—Apa!?"Anggita membalas dengan senyuman.Setelah selesai membersihkan, Anggita mengajak paksa Reihan untuk keluar dari rumah. Gadis itu lalu mengeluarkan sebuah buku dari sakunya."Keinginan pertama telah selesai," gumamnya sambil mencoret sebuah kalimat di dalamnya."Lho, kenapa berhenti?" tanya Reihan."Tidak perlu! Membersihkan kamarku itu saja sudah cukup. Kita tidak punya banyak waktu!" Anggita menarik Reihan lagi."Setidaknya pakaianmu diganti dulu, Anggita.""Tidak perlu! Kita sekarang harus mencari es krim!""Hah?""Itu keinginanku yang kedua." Jawabnya sambil melemparkan senyuman.Ia tahu sekali cara memaksa Reihan untuk ikut dengannya. Benar-benar wanita yang egois. Namun keegoisannya lah yang membuat Reihan jadi seperti ini. Reihan benar-benar berterima kasih atasnya.Setibanya di sebuah kedai, dia langsung membeli dua buah es krim. Satu untuknya dan satu untuk Reihan. Mereka pun duduk di bangku dekat kedai itu.Setelah tuntas melumat habis es krim mereka, Anggita langsung membuka bukunya dan mencoret satu kalimat lagi di baris kedua."Jadi, apa lagi keinginanmu itu?" tanya Reihan."Keinginanku yang ketiga adalah... teng, teng teng! Makan udang bakar!" sorak Anggita."Kalau begitu kita pergi ke tempat Pak Somat." Kata Reihan."Siap!"Di sepanjang perjalanan, Anggita terus bersenandung ria. Dia benar-benar tampak bahagia, dan Reihan sangat bersyukur melihatnya. Tapi, kenyataan bahwa sesuatu yang sangat buruk akan terjadi besok, membuat Reihan sangat ketakutan. Jauh di dalam hatinya, Reihan menjerit sangat keras. Namun, dia tetap berusaha untuk tegar, demi Anggita."Wah! Udangnya enak banget!" teriakan Anggita menggelora saat memakan satu ekor udang bakar Pak Somat."Hahaha! Ini udang spesial buat Mbak Anggita! Udang gala bakar rasa spesial!" seru Pak Somat. "Ngomong-ngomong, ini gratis! Anggap saja hadiah kepulangan buat Mbak.""Wah! Terima kasih banyak, Pak Somat!" Anggita terus melahap udang bakarnya.Mereka berdua ngobrol sangat akrab sekali. Reihan bahkan tidak ingin mengganggu momen ini. Dahulu Anggita adalah sosok anak kecil yang sangat disayangi di desa. Sekarang ia telah tumbuh menjadi wanita yang begitu cantik dan ceria. Reihan yakin rasa bangga dan bahagia juga tumbuh di benak Pak Somat."Baiklah, selanjutnya kita akan pergi ke kebun tomat Pak Saleh!" celetuk Anggita."Hah... terserah kau saja, deh, Anggita. Tapi... kebun itu cukup jauh, lho.""Tenang saja! Aku ini sangat kuat!" celetuknya."Kuat makan doang kamu!" ejek Reihan."Karena aku masih dalam pertumbuhan!" ujarnya dengan percaya diri.Setelah berjalan cukup jauh, mereka pun tiba di kebun Pak Saleh.Melihat kebun tomat Pak Saleh tidak berbuah, Anggita menggeram."Kenapa kamu tidak bilang kalau ini belum masanya panen?" cibirnya."Kau yang benar saja, aku bukan petani tomat, lho.""Gagal, deh, makan tomat Pak Saleh ..."Rasanya cukup kesal jika harus melihat gadis cantik seperti Anggita makan terlalu lahap tanpa memikirkan kondisinya sendiri. Tapi, begitulah Anggita.Anggita terlihat sedang memikirkan sesuatu. Reihan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sudah empat jam berlalu sejak Anggita tiba di desa."Kamu mau jalan-jalan ke SD, nggak?" usul Reihan."Ah! Ide bagus! Ayo!" sahutnya secepat kilat.Jarak sekolah dasar dengan kebun Pak Saleh tidak jauh. Selang beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di tempat dimana mereka dulu belajar bersama.Melihat anak-anak yang berlarian saat jam istirahat membuat Reihan teringat masa lalu. Itu adalah masa-masa yang menyenangkan bersama Anggita. Sebuah kenangan saat Anggita masih tinggal di desa ini."Wah... aku jadi ingin kembali ke SD lagi." ungkap Anggita."Kenapa nggak coba jadi guru saja?" tanya Reihan."Jadi guru itu merepotkan. Mendidik anak kecil itu susah banget!""Ya, lupakanlah kalau begitu." ujar Reihan dengan tawa kecil.Anggita menatap Reihan sebentar, kesal. Lalu tawa kecilnya terlepas begitu saja."Ternyata berada di sini malah membuatku teringat dengan masa lalu yang indah itu.... Aku... benar-benar merindukan saat-saat itu." Ungkap Anggita. Wajahnya terlihat sangat damai. Saat ini."Bagaimana denganmu, Reihan?"Reihan memilih untuk tidak menjawabnya.Dia menatap Reihan yang membisu sebentar. Kemudian memutuskan untuk berkeliling sebelum pergi ke tujuan selanjutnya.Reihan memang sudah menebaknya, tapi tetap saja itu mengejutkannya."Wah! Bakso Pak Bejo memang paling top dah di dunia!""Mbak Gita bisa aja deh!" Kata pria baya itu."Tidak-tidak! Aku serius Pak Bejo! Coba kalau Pak Bejo jualan di kota, pasti bakal laris manis baksonya!""Hahaha! Jualan di sini aja sudah cukup, Mbak!" Kata pria baya itu malu-malu. "Tapi, Abang masih kaget banget, lho, soalnya kamu tiba-tiba saja nongol kayak nggak ada apa-apa."Orang-orang di desa tidak mengetahui alasan Anggita dan keluarganya pindah ke kota. Itu karena permintaan Anggita yang tidak ingin membuat semuanya khawatir. Anggita benar-benar menyukai orang-orang di desa. Maka dari itu orang-orang di desa bisa tersenyum bahagia saat melihatnya kembali tanpa mengkhawatirkan apapun.Namun tidak bagi Reihan. Dia masih sadar akan kenyataan itu. Baginya ini adalah mimpi yang awalnya terlihat bahagia, namun pada akhirnya... akan menjadi sebuah mimpi buruk—mimpi yang teramat sangat buruk. Bahkan Reihan masih berharap apa yang dikatakan oleh Anggita sebelumnya hanyalah gurauan belaka.Setelah selesai makan bakso, Anggita pun menarik Reihan pergi—lagi—menuju ke sebuah toko. Di sana dia membeli kembang api yang ukuran kecil. Lalu dia menyuruh Reihan untuk membawanya.Tiap kali Anggita berjalan melintasi orang yang menjual makanan, dia pasti akan membelinya. Di saat ia melihat baju yang dijual di toko, dia juga membelinya. Di saat dia melihat hal hal yang menarik baginya, dia akan langsung menuju ke sana. Ia terlihat begitu bebas bagai tidak memiliki beban hidup apapun. Wajahnya yang terus terlihat bahagia itu membuat Reihan sedikit khawatir.Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat hingga senja mulai menyapa."Anggita, kamu tidak lelah?""Heh! Aku tadi sudah bilang kalau aku ini wanita yang kuat!" ujarnya sambil menulis sesuatu di dalam bukunya. "Baru empat puluh dari seratus keinginan yang sudah terwujud. Kita tidak punya banyak waktu!""Tapi... sebelum itu, kita mungkin harus membawa semua barang-barang ini pulang ke rumah dulu, deh." Reihan memperlihatkan beragam kantong plastik yang sedari tadi dibawanya. Syukur Reihan cukup kuat untuk menahan semua beban itu."Ah, maaf aku lupa."Reihan menghempaskan nafas panjang. Kegiatan ini membuatnya cukup lelah.Sepanjang perjalanan pulang, mereka tidak berbicara sepatah kata pun. Anggita berjalan di samping Reihan dengan tenang. Tanpa membuka buku dan hanya menatap ke jalanan yang panjang. Reihan tidak ingin bertanya apa yang sedang Anggita pikirkan.Sesampainya di rumah, Reihan menaruh semua barang belanjaan itu di dalam kamar Anggita. Namun, saat dia keluar dari rumah itu lagi, Reihan melihat Anggita berdiri diam sambil menatap langit. Reihan mendekatinya. Lalu Anggita menoleh saat mendengar langkahnya."Sudah selesai? Yuk kita lanjut lagi!""Ya... Kemana kita malam ini? Aku tidak mau makan lagi."Dia kaget seolah Reihan bisa membaca pikirannya."Kamu ini seperti dukun ya? Tahu aja apa yang sedang kupikirkan," cibirnya."Itu hanya perasaanmu saja," balas Reihan, "Lalu kemana kita selanjutnya?""Hmmm..." Anggita tampak ragu-ragu, "Aku... ingin pergi ke air terjun.""Ditolak." balasnya cepat."Eh?! Kenapa?""Kau tahu kalau tempat itu dilarang untuk dimasuki oleh siapapun. Lagian sekarang sudah gelap. Sangat sulit pergi ke sana dalam kondisi seperti ini."Anggita tersenyum licik. Ia pergi ke dalam rumah sebentar dan setelah beberapa saat, dia akhirnya keluar membawa dua senter dan satu lentera."Benar-benar penuh persiapan." Reihan terkagum melihat kematangan rencananya."Walau ada senter dan lentera, tempat itu tetap saja tidak boleh dikunjungi oleh siapapun, Anggita.""Kita bukan anak kecil lagi, Reihan!""Nggak bisa! Tidak boleh pokoknya!""Kalau begitu aku pergi sendiri." Wanita itu pun berlari.Reihan tidak punya pilihan selain mengejarnya. Namun entah mengapa ia tidak bisa menghentikan langkah Anggita."Halo." Sapa seseorang yang tiba-tiba muncul di depan mereka.Anggita hampir melompat karena saking terkejutnya."Eh... halo?" Reihan membalas sapaannya dengan ragu."Eh... maaf, kalau aku membuat kalian terkejut. Tapi aku ingin bertanya, boleh nggak?" Jelas sosok itu, yang ternyata hanya seorang anak yang mungkin masih berusia dua belas tahunan. Anak itu berkulit kecoklatan dan memiliki mata kuning yang agak mengkilap."Wah... " Anggita tampak kagum dengan warna mata anak itu. Ya, karena memang sangat jarang ada orang yang memiliki warna mata seperti itu di Indonesia. "Tadi kamu mau tanya apa memangnya?""Oh, iya. Bisa nggak kalian memberitahuku jalan menuju ke Air Terjun Linggahara?""Eh? Air Terjun? Kamu ingin ke sana? Kebetulan kami berdua sedang menuju kesana sekarang. Kamu mau ikut?" Anggita menawarkan."Maaf sebelumnya." Kata Reihan tiba-tiba. Dia memandang curiga anak itu. "Kalau boleh tahu, kamu mau ngapain kesana malam-malam begini? Dan kamu juga jelas-jelas bukan warga desa ini.""Aku memang bukan orang sini, sih, Kak. Aku datang ke sini karena aku ingin bertemu dengan peri yang tinggal di sana." Jawab anak itu sambil tersenyum kecil. Bahkan, kalau diperhatikan, anak itu sejak tadi memang terus memandang ke arah Reihan."Jarang, lho, ada orang luar desa yang tahu tentang cerita itu." Bisik Anggita heran.Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Ada cahaya hijau yang tiba-tiba terpancar dari salah satu kantong celana anak itu. Mata Reihan dan Anggita langsung terbelalak saat menyadarinya."Cahaya apa itu...?""Hmm?" Anak itu memandang cahaya itu cukup lama, lalu kembali angkat bicara dengan santai setelah beberapa saat. "Oh, sepertinya aku nggak jadi kesana, deh. Kalau begitu, sekarang aku akan kembali ke penginapan. Terima kasih, ya, Kakak-kakak sekalian. Aku pergi dulu. Dadah." Anak itu dengan cepat melangkah pergi dari sana meninggalkan Reihan dan Anggita begitu saja."Hmm... sungguh aneh... " Gumam Reihan dan Anggita dengan wajah datar.Anggita pun melanjutkan perjalanannya. Reihan tetap mengekor di belakang gadis itu. Beberapa menit telah berlalu, dan Anggita bersama dengan Reihan akhirnya tiba di pintu masuk menuju air terjun tersebut. Tanpa dipandu, Anggita memasuki jalan menuju air terjun. Dia masih ingat betul jalan menuju ke sana. Meski sudah bertahun-tahun."Sudah lama sekali, bukan?""Hah?" ucapannya membuyarkan lamunan Reihan."Dulu kita sering kemari, bukan? Saat itu benar-benar menyenangkan.""Tapi... itu sudah lama banget.""Ya memang. Aku masih ingat sekali saat itu, saat-saat kita masih takut dengan apapun. Aku merindukan perasaan seperti itu. Perasaan yang bebas tanpa terkekang oleh apapun.""Waktu tidak bisa diputar kembali, kau tahu.""Tentu. Hanya saja, aku tetap ingin kembali ke masa-masa itu. Aneh sekali, bukan? Padahal aku jelas-jelas sudah dewasa sekarang."Reihan merasa kalau Anggita sedang menangis saat mengatakan hal itu. Walau gelapnya malam ini tidak mengizinkannya untuk melihat air mata Anggita, dan Reihan cukup peka untuk tidak mengarahkan cahaya senternya ke arah wajah Anggita.Suara riak air mulai terdengar. Mereka sudah hampir tiba di tempat itu.Saat menembus semak yang ada di depan, terlihat sebuah pemandangan yang sangat merindukan.Air yang deras jatuh dengan bebasnya hingga menimbulkan suara yang amat berisik. Suara jangkrik dan lolongan anjing yang berirama menambah kesan kerinduan di dalam hati.Sudah berapa lama dia tidak ke sini? Batin Reihan."Lihat!" Anggita menariknya menuju tepian. "Bulannya terpantul di air!""Harus dijelaskan, ya?" celetuk Reihan.Tawa Anggita pun meledak. Kenangan masa kecil dulu mengalir bagaikan sungai di dalam kepalanya. Tanpa sadar, Reihan pun terhanyut dalam perbincangan itu."Tapi coba lihat... air terjun ini terlihat lebih pendek sekarang.""Bukan Anggita. Air terjun itu tidak bisa mengubah ukurannya sekalipun. Kitalah yang telah berubah. Air terjun yang tingginya tidak sampai sepuluh meter ini, dulu memang terlihat tinggi. Waktu itu, kita, kan, masih bocah."Anggita malah terpingkal-pingkal."Heh, apanya yang lucu?"Ia menggelengkan kepala sambil menahan tawanya. Anggita perlahan mengatur nafasnya, lalu menatap mata Reihan."Kamu benar-benar sudah berubah ya, Reihan. Sekarang kamu tidak kaku dan membosankan seperti yang dulu.""Ya, itu kan gara-gara kamu, Anggita." Reihan menggaruk kepalanya dengan gelisah. "Tapi, terima kasih banyak, deh, karena telah mengubah hidupku.""Ya... Aku juga," Anggita menggenggam erat tangan Reihan, "Aku sangat berterima kasih karena kamu mau menemaniku saat itu dan saat ini juga, Reihan."Setelah itu, mereka pun menyalakan kembang api yang telah dibeli sebelumnya. Berlarian sambil memegang kembang api itu terlihat kekanak-kanakan menurut Reihan. Namun Anggita tidak peduli dengan tanggapan seperti itu. Dia berlarian bebas ke sana ke mari, sedangkan Reihan memilih untuk berjalan dengan santai. Wajah Anggita yang terlihat sangat bahagia membuat rasa senang membingkai hati sang lelaki. Namun tetap saja, ini adalah waktu terakhirnya.Saat semua kembang apinya telah habis, Reihan mengajaknya untuk pulang."Pulang yuk, Anggita—""Reihan, kamu masih ingat tidak tentang Peri di air terjun ini?" sela Anggita tiba-tiba.Reihan memperhatikan air terjun itu."Cerita itu sudah seperti bagian dari kita semua yang tinggal di desa ini. Jadi... pertanyaanmu agak konyol lho."Ya... aku sudah tidak terlalu mengingatnya, sih.""Hah... " Reihan menghela nafas. "Konon katanya peri itu terlihat seperti gadis bertubuh kecil yang memiliki sayap berkilauan. Ada juga yang mengatakan kalau bentuknya seperti kakek tua yang mengerikan." Reihan menghela nafas sebentar, "Aku nggak nyangka kalau kamu masih tertarik pada mitos seperti itu.""Hmm... Itu bukan mitos, Reihan. Bukankah kamu yang mengatakannya waktu itu? Kalau peri itu sudah menyelamatkan hidupmu?""Ya Tuhan... waktu itu kita masih SD.""Tapi... sejak dulu aku memang selalu percaya pada ucapanmu. Hingga saat ini juga masih seperti itu.""Kalau begitu ayo kita pulang. Sudah gelap banget, lho, sekarang. Dan aku juga mulai merinding, nih.""Aku... tidak mau pulang." Mata Anggita berkaca-kaca, "Aku ingin tetap di sini."Reihan pun tidak bisa lagi memaksanya. Sorot mata itu membuatnya gentar.Suasana mulai hening. Hanya suara riak air dan suara jangkrik yang terdengar."Reihan..." suara Anggita memecah kesunyian, "Mati di tempat seperti ini tidak buruk, bukan?"Pertanyaan itu membuat dadanya bergetar hebat."Anggita... kalau boleh tahu, kenapa, sih, kau memaksakan diri untuk datang ke desa lagi?""Hmph! Kan sudah aku bilang kalau aku ingin menghabiskan waktu terakhirku bersamamu.""Jangan beralasan! Apa kau pikir aku tidak melihat semua obat-obatan yang kau bawa di dalam tasmu?" Pekik Reihan. Dia berusaha menahan amarahnya.Anggita tidak terlihat terkejut."Jika saja kau tidak memaksakan diri, pasti kau bisa sembuh. Paling tidak... kau bisa hidup lebih lama...""Hidup lebih lama, kah?" Anggita berjalan menghampiri Reihan, "Kamu kira nggak bosan apa, tiduran di rumah sakit seharian? Bau obat-obatan itu juga membuatku mual. Saat aku mendengar vonis dokter tentang hidupku yang tidak lama lagi, aku pun memutuskan untuk kemari. Bertemu denganmu di sini, membicarakan masa lalu dan melakukan hal-hal yang menyenangkan bersamamu. Reihan... memangnya yang aku lakukan ini salah, ya?"Reihan berusaha menahan gejolak yang menderu di dalam jiwanya."Aku... tidak tahu...""Oh ya! Aku masih ada lima puluh sembilan keinginan lagi!" seru Anggita."Hey! ini sudah malam! Kamu sadar apa nggak, sih?""Aku tidak bilang kalau kita akan keliling seperti tadi." Anggita memberikan isyarat agar Reihan duduk di dekatnya.Saat duduk, Anggita langsung meletakkan kepalanya di pangkuan Reihan."Dengan begini keinginanku tinggal lima puluh delapan lagi."Reihan duduk sambil memandangi angkasa malam berbintang."Ya... sepertinya aku tidak bisa mewujudkan semua keinginanku yang tersisa. Tapi, sebagai gantinya, Reihan... kamu mau nggak mendengarkan keinginan-keinginanku yang tersisa itu?""Ya... aku mau, kok.""Elus kepalaku, Reihan."Sesuai dengan permintaannya, Reihan pun mengelus kepalanya.Kemudian Anggita pun memberitahukan satu persatu keinginannya yang tidak bisa dilakukan lagi. Setiap kali ia mengatakan keinginannya itu, suaranya terdengar semakin pelan. Seolah tenaganya terus terkuras setiap ia menyebutkannya."Sudah ke berapa... ya?" tanya Anggita pelan."Sudah ke sembilan puluh sembilan. Tinggal satu keinginan lagi." jawab Rehan sambil terus mengelus kepala sang wanita.Anggita tersenyum lemas. Badannya mulai gemetaran."Kalau begitu... yang terakhir aku berikan untukmu, Reihan. Apa keinginanmu?"Reihan jatuh dalam ketakutannya sendiri. Rasa sedih yang bercampur aduk dengan rasa sakit yang ia rasakan, membuatnya menitiskan air matanya."Kenapa kamu menangis lagi, Reihan? Dasar anak kecil." ucap Anggita sambil menyeka air matanya."Aku... aku hanya ingin...""Apa... kamu bilang apa, Reihan...? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Aku... sangat mengantuk. Reihan... cepat beritahu apa keinginanmu...?"Suaranya lambat laun memudar. Anggita pun menutup matanya perlahan. Tangannya terkulai lemas. Tidak bergerak.Dia... telah pergi."Apa-apaan...?"Air mata Reihan mengalir deras membasahi wajah Anggita yang tak lagi tersenyum itu. Reihan menggenggam tangannya dan bermunajat kepada segala yang bisa mendengarkan permohonannya.Reihan jatuh dalam sendu yang menggerayangi jiwanya. Hanyut dalam kenangan dan rasa sakit yang mendalam. Bercampur aduk. Menggerakkan hatinya yang telah membeku oleh kutukan dari keajaiban Peri Tebing Linggahara. Seolah rantai yang mengekang hasratnya itu hancur, dan membuatnya mampu untuk mengucapkan sebuah permohonan. Permohonan yang begitu sederhana."Aku... hanya ingin dia bisa tersenyum setiap hari. Besok, dan besoknya lagi, dan besok harinya lagi. Aku hanya ingin hal itu! Kumohon dengarlah! Dengarlah keinginanku, Hey, Peri! Kalau memang kau nyata! Kumohon kabulkanlah permintaan ini! Kabulkanlah! Kabulkanlah! Kabulkanlah! Kumohon!" Reihan terus menjerit, meminta agar Anggita bisa tersenyum kembali esok hari.Hingga akhirnya sesuatu terjadi.Tiba-tiba tubuh Anggita mulai mengeluarkan cahaya keemasan yang amat terang benderang dan mengagumkan. Hal itu sempat membuat Reihan berhenti sebentar.Ia terkejut melihat hal yang tidak masuk akal itu. Cahaya keemasan itu berubah bentuk menjadi gerombolan kupu-kupu cahaya yang menari-nari di angkasa. Kemudian gerombolan kupu-kupu itu turun dan menyelimuti tubuh Anggita yang mulai dingin. Kupu-kupu cahaya membungkus Anggita dengan benang-benang keemasan dan membentuk kepompong yang terbuat dari cahaya yang menyilaukan mata. Membuat dunia seperti di siang hari.Angin kencang berhembus dan membuat Reihan terdorong ke pohon. Namun itu tidak menghentikan munajatnya. Ia memohon dengan segenap jiwanya kepada keajaiban yang bisa membawa senyuman Anggita kembali menghiasi dunianya. Lalu, kepompong cahaya itu pun pecah, mengeluarkan Anggita yang kini memakai sayap yang terbuat dari cahaya dan turun perlahan ke daratan. Reihan segera menghampiri dan menyambut Anggita dengan lembut.Sebuah suara menggema di dalam kepala Reihan."Wahai pewaris Peri Tebing Linggahara, Reihan, Gunakanlah keajaiban yang kamu miliki dengan bijaksana.""Tapi... Aku tidak menginginkan kekuatan ini! Yang aku inginkan hanyalah membuat Anggita bisa tersenyum lagi seperti hari ini! Aku mohon!"Kemudian suara itu lenyap bersama sayap cahaya yang menempel di punggung Anggita. Debu-debu cahaya keemasan itu terangkat ke langit dan hilang tanpa jejak."Tunggu—""Reihan..."Reihan terkejut setengah mati. Wanita yang harusnya sudah tidur dalam keabadian, tiba-tiba menyebut namanya."Anggita...?" Reihan langsung memeluk erat tubuh Anggita. Ia kembali menitiskan air mata."Rei...han... Apa... yang terjadi?""Syukurlah... Syukurlah!"Anggita juga tidak mengerti. Harusnya ia telah mati. Namun ia masih bisa merasakan kehangatan dari sebuah pelukan. Air matanya pun menetes tanpa henti. Di dalam keheningan malam, mereka berdua tenggelam dalam kebahagiaan yang begitu besar.Malam itu, mata Reihan akhirnya terbuka.Padahal, selama bertahun-tahun, Reihan terus menyangkal keberadaan kekuatan yang bersemayam di dalam dirinya. Namun, Reihan juga tak bisa menyangkal, kalau Anggita kini bisa kembali bernafas lagi, itu semua berkat kutukan, sekaligus keajaiban itu.Dalam hati Reihan mulai berpikir, apa yang akan terjadi jika orang-orang mengetahui tentang kekuatan yang dimilikinya? Ya, Reihan sendiri memang tidak tertarik dengan kekuatan itu karena kekuatan itu sendiri yang menjadikannya begitu. Tapi, bagaimana jika itu adalah orang lain?Akan tetapi, semua itu tidak penting sekarang, karena Permohonan Reihan sekarang sudah terkabulkan."Apa, sih, yang kau pikirkan?" Tanya Anggita. Gadis itu kembali memasang senyum di bibirnya."Tersenyumlah... "
Finally, I Meet You!
Zhifa hanya menatap kosong ponselnya. Sudah berbulan-bulan cowok yang menetap di hatinya itu menghilang. Memutuskan komunikasi mereka tanpa akhir yang jelas. Denis hanya hilang. Tidak terlihat lagi dihari-hari berikutnya.Zhifa memilih mengambil ponselnya. Mengirim chat pada Indah, teman dekatnya yang dikenal dari media sosial.Zhifa : Ndah ☹️Indah : Kenapa lo, Fa ?Zhifa : Kangen Denis 😭Indah : Idih masih belum move on lo ya?Zhifa : Kangen Denis 😭Indah : Kan udah gue bilang, lo jangan baper ke dia. Mampus udah.Zhifa : Ih kok jahat ☹️Indah : Lo sih gue bilangin nggak mau. Ngeyel.Zhifa meletakkan ponselnya tanpa membalas chat dari Indah. Ia cemberut kesal. Memang begitu hasilnya kalau curhat ke Indah, tidak akan mendukungnya jika mengenai tentang Denis."Ih Denis brengsek monyet babi! Kangen gue sama lo!" Zhifa memukul bonekanya seakan ia sedang memukul Denis.Zhifa dan Denis memang hanya kenal di media sosial. Mereka berpacaranpun juga lewat media sosial. Panjang ceritanya bagaimana perkenalan awal mereka. Yang terpenting hampir dua bulan mereka pacaran secara online , Zhifa begitu nyaman bersama Denis. Ia bahkan tidak bisa menyukai cowok lain lagi selain cowok yang dikenalnya dari media sosial itu.Zhifa pernah menyeritakan tentang Denis pada teman dekatnya di sekolah. Tetapi tanggapan mereka sungguh tidak sesuai dengan harapan Zhifa. Teman-temannya malah meledek dan menertawainya.Gila lo ya bisa suka sama orang yang ketemu aja lo nggak pernah .Itu tanggapan mereka. Zhifa merespon dengan cemberut. Selanjutnya teman-teman Zhifa hanya tertawa. Sejak saat itu Zhifa tidak mau lagi menyeritakan tentang Denis pada teman-teman sekolahnya. Hanya pada Indah. Meski respon Indah juga tidak begitu bagus, tapi setidaknya Indah sedikit mengerti.Ting!Zhifa tersentak begitu bunyi ponsel menghentikan lamunannya. Zhifa meraih ponselnya dan menatap heran layar ponsel. Telpon dari nomor yang tidak dikenal."Angkat nggak ya?" Zhifa ragu. Pasalnya cewek itu tidak suka mengangkat telpon dari nomor tidak jelas. Dulu saja ada yang iseng menelponnya entah siapa tapi lebih mirip seperti diteror. Akhinya Zhifa memblokir nomor itu hingga tidak bisa menghubunginya lagi.Ponsel Zhifa berhenti berdering. Baru saja Zhifa menghela napas lega, ponselnya kembali berdering."Angkat aja kali ya. Kayaknya penting. Siapa tau abang yang mau ngantar paket," gumam Zhifa pada dirinya sendiri."Halo?" sapa Zhifa ragu saat mengangkat telpon." Halo, " balas orang itu. Zhifa mengernyit heran. Merasa tidak mengenal siapa orang dibalik suara itu. Atau lebih tepatnya ia lupa."Ini siapa?"" Ini gue."" Ha? Siapa? Gue lupa deh kayaknya. Maaf," ringis Zhifa merasa tidak enak. Ia memang sepelupa itu." Nggak inget gue sama sekali , Jipa ? "Zhifa terbelalak kaget begitu mendengar panggilan itu. Yang memanggilnya Jipa hanya satu orang. Denis."Denis?" panggil Zhifa dengan suara bergetar. Akhirnya cowok itu kembali muncul, setelah sekian lama menghilang." Iya, Yang. Ini gue. Denis , " kekeh Denis disebrang sana. Mata Zhifa mulai berkaca-kaca. Denisnya kembali." Eets sebelum lo nangis, mending lo ke bandara dulu. Jemput pacar ganteng lo ini. ""Bandara?"" Iya Sayang. Bandara. Bandar udara di kota lo. ""Lo di kota gue?"" Duh banyak nanya bener pacar gue ini. Gue tau lo pasti kangen sama guekan? Ya udah sini cepet. Gue tunggu di bandara. Bye, Sayang."Sambungan telepon mati. Zhifa bergegas bersiap untuk segera menyusul Denis ke bandara."Tan, Zhifa pergi dulu ya. Ada janji sama temen," pamit Zhifa pada Tantenya. Zhifa memang tinggal berbeda kota dari orang tuanya. Ia tinggal bersama keluarga Tantenya yang kebetulan berada di kota yang sama dengan universitasnya."Jangan kemalaman ya pulangnya," pesan sang Tante. Zhifa hanya mengangguk. Ia terlalu bersemangat menemui Denis hingga tidak terlalu mendengar pesan sang Tante. Dengan terburu ia menuju mobilnya dan mengendarai secepat ia bisa."Jangan macet please, jangan macet," rapal Zhifa berulang kali. Sayangnya keinginan Zhifa tidak terkabul. Ia terjebak kemacetan tengah kota karena ini keluar saat sedang jam makan siang seperti ini."Duh pake macet segala. Denis pasti nunggu lama." Zhifa mulai gusar. Jarak dari rumah tantenya ke bandara itu sudah lebih dari setengah jam. Apalagi dia terjebak macet seperti ini. Bisa lebih dari satu jam dia membuat Denis menunggu.Zhifa mengotak-atik ponselnya. Ia berusaha menelpon Denis." Ya, Yang?""Lo masih di bandara? Gue kejebak macet nih," keluh Zhifa begitu mendengar suara Denis." Santai aja. Gue tungguin lo sampai lo datang. Lo kesini make apa? ""Mobil. Gue bawa mobil."" Ya udah. Jangan ngebut ya. Tetap perhatiin keselamatan lo. Nggak usah pikirin berapa lama gue nunggu. Gue bakal tetap nunggu lo ," kata Denis penuh perhatian. Mata Zhifa mulai berkaca-kaca. Meski selama berpacaran mereka tidak pernah bertemu dan Denis selalu bertingkah laku menyebalkan, tapi Denis sangat perhatian pada Zhifa. Cowok itu tidak suka Zhifa terlambat makan, tidur terlalu malam ataupun kelelahan. Perhatian sekali."Iya. Tunggu gue," balas Zhifa serak." See you soon, Sayang. Nggak sabar untuk ketemu lo. "" Me too ," gumam Zhifa. Setelah itu sambungan telepon terputus. Zhifa kembali fokus pada jalanan di depannya. Ia harus selamat dan sampai secepat mungkin dihadapan Zhifa.Satu jam kemudian, barulah Zhifa lepas dari kemacetan. Tidak butuh waktu lebih lama lagi, dalam waktu dua puluh menit, Zhifa sudah berada di parkiran bandara."Duh telpon Denis dulu," gumam Zhifa. Ia kembali menghubungi pacarnya itu. Eh apakah Denis masih bisa dikatakan sebagai pacarnya?"Halo, Yang. Gue udah di bandara. Lo dimana?" Serbu Zhifa begitu Denis mengangkat panggilannya." Ets sabar, Sayang. Jangan buru-buru gitu. Gue di dekat pintu kedatangan. Gue make jaket levis biru muda sama bawa koper kecil warna hitam. Ingat jangan lari-lari kesini. Jalan aja. Gue nggak mau lo sampai jatuh, " peringat Denis. Mengingat Zhifa yang kadang ceroboh jika sedang terburu-buru."Iya. Jangan pindah kemana-mana ya. Gue jalan kesana." Zhifa mematikan sambungan telepon lalu berjalan cepat ke arah pintu kedatangan. Denis hanya menyuruhnya untuk tidak berlari bukan?Begitu tiba di dekat pintu kedatangan, mata Zhifa liar mencari keadaan Denis. Keadaan bandara cukup padat siang ini hingga membuat Zhifa agak susah menemukan Denis."Gue telpon aja deh." Lalu Zhifa mencoba menelpon Denis. Selagi menunggu Denis mengangkat teleponnya, mata Zhifa tetap liar mencari keberadaan Denis. Lalu tiba-tiba penglihatannya berhenti di satu titik. Ke arah cowok yang berdiri tidak jauh di depannya, dengan posisi membelakanginya. Tepat disaat itu pula Denis mengangkat telponnya. Dan cowok itu juga sedang mengangkat telepon." Ya, Sayang. Lo dimana?""Tepat di belakang lo," lirih Zhifa. Denis segera berbalik dan tersenyum kecil. Sedangkan Zhifa, tubuh cewek itu tiba-tiba kaku. Akhirnya, akhirnya ia bertemu dengan cowok yang dikenalnya hanya dari media sosial saja.Denis berjalan ke arah Zhifa. Meski ia belum pernah bertemu Zhifa sebelumnya, ia yakin cewek yang sedang menatapnya tanpa berkedip itu adalah Zhifa. Hatinya mampu merasakan desiran halus begitu melihat Zhifa. Ah, akhirnya..."Hai." Denis berdiri dengan jarak selangkah di hadapan Zhifa. Cowok itu menunduk, karena perbedaan tingginya dengan Zhifa. Di mata Denis, Zhifa terlihat begitu mungil dan kecil. "Sampai kapan mau bengong liatin gue kayak gitu?""JAHAT." Tiba-tiba Zhifa menghambur memeluk Denis. Denis yang tidak siap hampir saja terjungkal kebelakang jika ia tidak segera menyeimbangkan dirinya. Tangannya terlepas dari pegangan koper, bergerak melilit tubuh mungil gadisnya.Denis mulai mendengar suara tangisan Zhifa. Cowok itu makin mempererat pelukannya. Tidak peduli bahwa saat ini mereka sedang berada di bandara. " I'm so sorry .""Lo jahat, Den. Lo ninggalin gue gitu aja. Nggak ada kabar. Berbulan-bulan. Tapi sekarang, lo malah muncul dihadapan gue dengan senyum sialan lo itu. Gue benci sama lo," isak Zhifa. Ia memukul punggung Denis. Perasaannya saat ini campur aduk. Senang dan kesal dalam waktu bersamaan."Maaf, Fa. Gue tau kalau gue nyakitin lo. Tapi gue punya alasan. Gue nggak bermaksud ninggalin lo gitu aja," lirih Denis. Suaranya teredam dibalik helaian rambut Zhifa karena cowok itu menumpukan kepalanya di atas kepala Zhifa."Jelasin kalau gitu." Zhifa menjauhkan kepalanya dari dada Denis. Matanya menatap mata cowok pujaannya itu. "Lo nggak tau betapa bahagianya gue bisa ketemu lo.""Gue juga. Bahkan lebih dari itu."***Zhifa dan Denis memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu karena perut Denis yang meronta meminta makan. Zhifa membawa Denis ke restoran yang berada di salah satu mall."Pesan apa?" Tanya Zhifa. Denis membolak balik buku menu dengan serius, seakan buku menu tersebut merupakan hal yang sangat penting. Senyum Zhifa mengembang melihat wajah cowok yang ia cintai itu. Akhirnya mereka bertemu. Akhirnya Denis kembali padanya." Chicken katsu, french fries, mac n cheese terus minumnya ice lemon tea ," jawab Denis kemudian. Zhifa terpana mendengar pesanan cowok itu yang lumayan banyak."Lo yakin mau makan semua?""Gue laper." Denis memamerkan senyum tengilnya. Zhifa hanya tersenyum lalu ikut memesan makanan ke pelayan yang berada di hadapan mereka."Saya pesan spaghetti carbonara sama milkshake strawberry ." Setelah itu si pelayan menyatat pesanan mereka lalu berlalu dari hadapan mereka berdua.Lima belas menit kemudian, pelayan tadi kembali membawa pesanan mereka. Denis terlihat makan dengan lahap, membuat Zhifa tertawa melihat kelakuan pacarnya itu."Jadi, mau dimulai darimana?" tanya Denis tiba-tiba membuat Zhifa mengerutkan keningnya heran. Makanan mereka baru saja habis."Mulai apa?""Nggak penasaran gue kemana aja?" Denis menaikkan sebelah alisnya serta tersenyum jahil. Refleks Zhifa menyubit punggung tangan Denis. "Aw! Sakit, Yang.""Suka banget senyum jail kayak gitu," gerutu Zhifa seraya berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. Ntah kenapa hanya melihat senyum cowok itu, Zhifa merasa sangat bahagia."Ganteng ya gue senyum kayak gitu? Sampai merah nih pipinya." Tangan Denis terulur menyubit pipi Zhifa yang sedikit tembam."Ih sakit," cemberut Zhifa. Denis tergelak lalu mengelus pipi yang ia cubit tadi sayang."Uh kasian pacar gue kesakitan." Zhifa tersenyum malu mendengarnya. Pacar. Ya, ia masih pacar Denis."Ayo cerita. Kenapa lo ninggalin gue nggak ada kabar berbulan-bulan? Dikira enak apa ditinggal gitu aja. Nunggu nggak jelas, nggak pasti gini," gerutu Zhifa kesal. Tapi Denis tahu, cewek itu sedang menahan tangisnya agar tidak pecah dihadapan umum seperti ini." I''m so sorry . Gue tau gue salah. Gue pergi gitu aja. Nggak ngehubungin lo. Nggak bilang apa-apa. Padahal terakhir kali kita chat , gue bilang bakal setiakan? Gue emang sebrengsek itu, Fa. Nggak bisa nepatin apa yang gue janjiin ke lo. Tapi, makasih karena lo masih mau nunggu gue. Meski dengan semua ketidak jelasan ini," kata Denis. Cowok itu meraih tangan Zhifa untuk ia genggam. Lalu ia kecup sebentar."Gue sayang sama lo, banget. Gimana caranya gue bisa lupain lo gitu aja? Gue udah pernah nyoba. Tapi nggak pernah berhasil. Jadi yang bisa gue lakuin cuma nunggu dan... gue nggak munafik mau buka hati untuk cowok lain disaat lo di hati gue mulai memudar. Tapi sampai sekarang, gue belum bisa hapusin bahkan untuk mudarin sayang rasa sayang gue ke lo. Gimana gue mau pindah hati?" Suara Zhifa terdengar lirih. Denis segera berpindah posisi duduk disebelah gadisnya. Memeluk gadis kesayangannya erat tanpa peduli beberapa pengunjung mulai menatap mereka."Maafin gue. Salah gue bikin lo harus nunggu gue. Salah gue bikin lo sedih begini," bisik Denis di puncak kepala Zhifa."Kenapa lo lakuin ini ke gue?" Zhifa melepas pelukannya. Matanya menatap Denis dalam, dibalas hal serupa oleh cowok itu."Gue akan cerita. Semuanya. Terserah setelah ini lo mau respon gimana. Gue sadar ini salah gue, Fa.""Cerita dulu. Gue nggak bakal ngerti kalau lo bilang kayak gitu aja," desak Zhifa. Denis terdiam. Dari awal keinginannya menyusul Zhifa ke kota ini, Denis memang berniat akan menyeritakan semuanya pada Zhifa. Ia hanya ingin jujur pada cewek yang menetap di hatinya hampir setahun ini. Tapi entah kenapa, disaat ia dihadapkan pada masanya, Denis merasa takut untuk mengatakannya. Takut Zhifa marah, bahkan meninggalkannya. Sungguh, Denis sudah berada di kota yang bahkan sekalipun belum pernah dia kunjungi. Hanya demi Zhifa."Awalnya, lo taukan kita baik-baik aja? Nggak ada masalah ataupun berantem? Palingan yang menghalangi itu kesibukan gue sama bengkel," kata Denis. Zhifa mengangguk kecil. Denis benar. Mereka merupakan pasangan yang cukup jarang bertengkar. Pernah sekali bertengkar, dan langsung putus. Tapi besoknya mereka sudah kembali bersama lagi."Nggak lama setelah chat terakhir kita itu. Gue mulai berpikiran buruk sama hubungan kita. Gue mikir, kenapa gue bisa sayang banget sama lo yang bahkan ketemu pun gue nggak pernah. Kenapa gue bisa nyaman sama lo hanya dari chat dan teleponan kita tiap hari? Kenapa gue nggak bisa ngerasain hal yang sama ke cewek lain, yang lebih nyata untuk gue, yang ada dihadapan gue? Ditambah, teman-teman gue yang ikut meracuni pikiran gue. Bilang kalau hubungan kita nggak logis. Terlalu aneh dan nggak nyata. Karena itu... karena itu gue jauhin lo. Gue pergi gitu aja tanpa pamit. Gue takut kalau gue pamit ke lo, semua rencana gue gagal total. Gue tau gue brengsek, Fa. Gue mau lupain lo. Gue mau dapat hubungan yang lebih nyata dan jelas. Gue mau lakuin sesuai yang teman-teman gue bilang. Tapi hasilnya lo tau apa? Gue nggak berhasil. Nggak ada seharipun gue lewatin tanpa mikirin lo. Gue bahkan udah berusaha pacaran sama cewek lain. Tapi rasanya hambar. Nggak sama kayak waktu gue sama lo. Berbulan-bulan gue lakuin segala cara buat hapusin lo dari hati gue. Gue bahkan udah macarin lima belas cewek cuma buat buang rasa sayang gue ke lo. Tapi tetap nggak berhasil. Akhirnya gue sadar. Kalau yang gue lakuin selama ini bodoh. Gue udah bikin kesalahan. Gue nggak akan pernah bisa ngapusin lo dari hati gue. Lalu kenapa gue masih berusaha? Harusnya yang gue lakuin dari dulu itu, ini. Nemuin lo secara langsung, bikin hubungan ini makin nyata. Nggak masalah jika nantinya kita akan ldr . Yang penting gue udah liat secara nyata, gimana gadis kesayangan gue ini."Gue kesini itu modal nekat dan sayang ke lo doang. Gue bahkan nggak mikir resiko kalau gue nggak bisa sama sekali ngehubungin lo, ketemu lo saat gue udah menginjakkan kaki di kota ini. Yang gue pikirin, gue harus nyusul lo. Segera. Bahkan gue rela untuk nyari lo ke seluruh penjuru kota."Mata Zhifa berkaca-kaca mendengar penjelasan yang keluar dari mulut Denis. Ia marah. Tentu saja. Tapi dibalik itu, ada rasa bahagia yang ntah datang darimana. Jika berpikir logis, hubungan mereka yang dulu hanya lewat ponsel, memang sungguh seperti mainan. Manusia mana yang tahan dengan hubungan sebatas ponsel? Semua orang pasti ingin bertemu dengan pacarnya, saling menghabiskan waktu bersama. Zhifa cukup memaklumi pemikiran Denis yang seperti itu. Walau rasa kesal dan marah itu masih ada karena Denis meninggalkannya begitu saja."Harusnya ini yang lo lakuin sebelum ninggalin gue, Den. Kasih gue penjelasan. Setidaknya gue nggak nunggu lo kayak orang bodoh karena nyatanya lo sendiri berusaha lupain gue. Tapi gue cukup ngerti. Nggak papa," lirih Zhifa serak. Denis segera mengenggam tangan gadis itu."Maafin gue. Gue tau gue bodoh. Gue tau gue salah. Gue mohon, maafin gue. Gue sekarang sadar sama perasaan gue, Fa. Gue nggak mau lepasin lo. Gue mau sama lo. Oleh karena itu, gue ada disini. Mau buktiin kesungguhan gue ke lo. I love you, so much. Gue mau lo tetap jadi pacar gue, gadis kesayangan gue. Lo masih maukan jalin hubungan sama cowok brengsek ini?" Denis menatap Zhifa penuh harap. Dari matanya terpancar kecemasan. Ia takut Zhifa menolaknya, tidak ingin bersamanya lagi. Hal ini bukan karena kedatangannya yang sia-sia jika Zhifa menolak, tapi betapa menyesalnya ia meninggalkan Zhifa dulu hingga cewek itu tidak mau lagi kembali bersamanya."Gue sebenarnya mau nolak. Gue sebenarnya nggak mau. Tapi... gue masih cinta sama lo, Den. Jadi gimana caranya gue bisa nolak?" Senyuman Denis terbit. Ia segera membawa Zhifa masuk ke dalaman pelukannya."Makasih. Makasih Sayang. Gue janji akan berusaha nggak nyakitin lo lagi. Gue nggak bakal raguin hubungan kita lagi." Denis mencium puncak kepala Zhifa lama. Cowok itu senang, sangat. Begitupun Zhifa. Akhirnya penantiannya terbayar tidak sia-sia. Denisnya kembali. Bahkan muncul dihadapannya dengan perasaan yang sama dengannya.
Farel & Naurin
Aku tersenyum di balik bukuku saat mendapatinya memasuki ruangan kelas. Ia berjalan ke arah sudut kelas lalu menghampiri gerombolan temannya. Sapaan khas cowok dilontarkannya lalu tos dengan semua temannya. Senyumku makin mengembang saat mendengar tawanya di sudut sana. Aku makin menenggelamkan diriku di balik buku, meredakan jantungku yang berdegup cepat hanya karena mendengar tawanya."Nau," tepukan Tiara di bahuku membuatku cepat bangkit dari balik buku. Aku menoleh ke belakang, mendapati sahabatku yang sedang memandang ku heran."Apaan sih Tir, masih pagi juga," omelku. Semoga Tiara tidak sadar akan perilaku anehku pagi ini."Lo kenapa pagi-pagi udah sembunyi di balik buku? Sakit?" tuhkan, Tiara sadar! Aku harus jawab apa?"Ng-nggak kenapa-napa. Kepo lo," kilahku cepat. Semoga Tiara percaya. Kan malu kalau ketahuan liatin dia pagi-pagi, meskipun itu Tiara yang mengetahuinya."Emm," Tiara bergumam panjang dan menatapku tidak percaya. Entah kenapa ia malah melihat sekeliling lalu kembali memandangku dengan kerlingan jahilnya. Tuhkan, Tiara tau!"Pasti karena ngeliatan Farel ya?" goda Tiara tepat sasaran. Aku enggan menjawab dan memilih kembali menenggelamkan wajahku di buku."Ya deh yang nggak mau ngaku. Tapi hati-hati ya. Jangan sampai tu mupeng ketahuan sama Farel." Tiara tertawa sendiri setelah puas menggodaku. Aku menggeram kesal melihat tingkahnya. Huh, untung sahabat. Kalau tidak, udah aku pites dia dari tadi."Idih, jijik gue," seruan Farel membuatku kembali menatap ke arah sudut kelas. Farel terlihat terpingkal bersama yang lain entah karena apa. Dia makin ganteng kalau tertawa seperti itu.***"Naurin, buku PR kamu yang ketinggalan kemarin saya letakkan di meja guru," kata bu Retno sebelum keluar dari kelasku. Aku mengangguk dan tersenyum pada guru berbadan gempal itu. Segera aku ke meja guru dan mengambil bukuku. Tapi tunggu, kenapa ada dua buku?"Farel Jonathan," gumamku saat membaca nama sang pemilik buku. Farel? Tiba-tiba wajahku memerah. Aku megang buku Farel?"Woi Nau! Bengong aja lo. Kantin yuk," ajak Tiara yang tiba-tiba datang."I-iya. Gue ambil buku dulu.""Buku PR lo ada dua Nau?" tanya Tiara. Aku menggeleng."Satu lagi punya Farel," jawabku terkesan lirih."Wih, dapat rejeki lo. Balikin sana sama orangnya, sekalian modus." Tiara menaikkan kedua alis mata tebalnya."Lo yakin? Nanti gimana kalau...""Kan lo cuma mau balikin buku dia. Niat lo baik. Tenang aja." Tiara menyokongku terus agar mau mengembalikan buku ini pada Farel yang kelihatan sibuk sendiri di kursinya."Iya deh. Gue balikin.""Jangan sampai liatin mupeng lo ke dia ya!""Sialan lo." aku melangkah ragu mendekati Farel. Sebenarnya aku takut dan malu. Tapi aku juga mau berbicara dengannya."Rel," panggilku lirih saat aku tepat berada di depan mejanya. Tidak ada respon."Farel," panggilku lagi. Tapi tetap saja, tidak ada respon."Farel Jonathan," kini aku memanggilnya sedikit keras dan yak... berhasil membuatnya melihat padaku. Meski dengan wajah datar."Ini buku lo. Tadi ketinggalan di meja guru," aku menyodorkan buku padanya. Farel memandangku sekilas lalu ke buku. Kemudian ia mengambil bukunya cepat dan kembali asik sendiri.Aku meneguk air liurku pahit melihat respon buruknya padaku. Ya harusnya aku memang tak perlu berharap akan mendapat respon baik dari cowok ini. Alasannya? Ah, sungguh menyakitkan."Ka-kalau gitu gue duluan ya, Rel," kataku serak menahan sesak di dadaku. Farel tetap diam hingga aku melesat cepat dari hadapannya. Aku akan menangis jika masih disana."Udah?" tanya Tiara saat aku menghampirinya yang menungguku di depan kelas. Aku hanya mengangguk singkat dengan ekspresi menahan sakit."Dia nyakitin lo?" tanya Tiara saat aku menariknya ke kantin. Aku tidak menjawab. Toh, tanpa harus menjawab, Tiara pasti tahu. "Jangan sedih, Nau.""Udah biasa, Tir. Udah ah, jangan bahas dia. Mending kita makan. Gue laper," aku cepat mengalihkan topik pembicaraan karen aku tahu, akan terlalu menyakitkan jika terus membahas dia."Lo mau pesan apa? Biar gue pesanin sekalian," tanya Tiara."Samain aja sama lo," jawabku. Tiara mengangguk lalu pergi memesan makanan. Aku menyandarkan diriku di sandaran kursi. Kantin tampak penuh sekali saat ini. Maklum lah, jam istirahat.Sembari menunggu Tiara, mataku asik menjelajahi setiap penjuru kantin. Pandanganku terhenti tiba-tiba saat melihat Farel memasuki kantin dengan Kanaya."Kanaya? Sejak kapan Farel dekat sama dia?" batinku selama ini, aku tidak pernah tahu jika Farel dan Kanaya berteman. Maksudku, aku tidak pernah melihat mereka saling berbicara. Kenapa sekarang tiba-tiba mereka bisa jalan bersama?"Nau, nih pesanan lo," kedatangan Tiara membuatku berhenti menatap Faren dan Kanaya. Sahabatku itu muncul bersama pesanan kami."Wah, bakso nih. Tau aja kesukaan gue," sahutku girang saat semangkuk bakso dengan asap mengepul di atasnya berada di hadapanku."Kesukaan kita," koreksi Tiara. Ya soal makanan, aku dan Tiara memiliki selera yang sama."Traktir nggak nih?" godaku seraya memakan bakso. Tiara memutar kedua bola matanya."Gratis mulu isi tu otak," aku terpingkal mendengar jawaba Tiara lalu kembali memakan baksoku. Uhm, ini nikmat. Setidaknya semangkuk bakso ini mampu mengalihkan sedikit perhatianku dari Farel dan Kanaya.***"Mami, Naurin cantik pulang!" seruku heboh saat memasuki rumah. Aku pastikan Mami pasti menggerutu mendengar suara toaku ini."Nau, harus berapa kali sih Mami bilang kalau masuk rumah jangan teriak-teriak? Kamu pikir rumah ini hutan?" tuhkan aku benar! Mami datang dengan omelannya untuk menyambut anaknya yang baru pulang dari sebuah perjuangan besar *read:bersekolah." Assalammualaikum Mami kesayangan Naurin," aku mencium tangan Mami tanpa peduli omelan Mami."Omongan kamu kayak kamu punya banyak Mami aja. Gimana sekolah?" tanya Mami. Aku nyengir mendengarnya."Baik, kayak biasa. Ya walaupun sama, masih sangat melelahkan. Huh, kapan sih penderitaan ini berhenti?" keluhku lalu bergelayut manja di lengan Mami."Kamu kan udah kelas tiga. Bentar lagi juga lulus. Udah ah, Mami mau lanjut masak dulu," Mami melepaskan tanganku lalu melenggang ke dapur tersayangnya. Aku menggidikkan bahuku cuek saat melihat Mami lalu beranjak menuju kamarku. Ah my lovely, I'm coming!Berada di kamar adalah hal yang paling aku sukai. Aku melempar tas sembarang lalu menjatuhkan diriku di atas kasur. Aih, nyamannya."Hm," aku bergumam sendiri sembari menutup mata. Ini merupakan kebiasaanku yang aku akui cukup aneh, tapi aku tetap melakukannya. Setelah puas bergumam seperti itu, aku membuka mata lalu menoleh ke arah pintu kaca yang langsung menuju balkon. Samar-samar aku bisa melihat balkon seberang yang letaknya tidak begitu jauh dari kamarku. Balkon kamar milik Farel.Aku duduk di atas kasur lalu menatap kamar di seberang kamarku lama. Pintunya tertutup walau tirai di pintu kaca itu terbuka. Perlahan, mataku memanas. Semua tentang Farel kembali memenuhi kepalaku. Aku merindukan Farel. Aku tahu, aku sudah begitu bodoh di masa lalu. Pengakuanku membuatnya meninggalkanku. Aku kehilangan sahabat kecilku."Rel, lo ada kegiatan nggak sore ini?" tanyaku pada Farel. Farel yang sedang asik dengan rubiknya hanya menggeleng singkat tanpa mau menatapku."Ih, kalau gue ngomong liat ke gue dong. Nggak sopan banget," kesalku. Ku rebut rubiknya secara paksa lalu menyembunyikannya di balik tubuhku."Rin, lo apa-apaan sih. Balikin rubik gue," Farel yang kesal melihat ulahku berusaha menjangkau rubiknya. Aku langsung mengelak dan membuang rubik Farel jauh. "Rin!""Gue nggak suka dicuekin," aku mencebik kesal. Aku menatap Farel kesal dengan bibir yang dimajukan."Keluar lagi deh childish-nya," Farel mendesah berat. "Iya deh, nggak gue cuekin lagi. Lo mau apa, hm?""Temenin gue ke pantai nanti sore," senyumku kembali mendapati Farelku yang kembali perhatian. Farel adalah hal terbaik yang pernah ku miliki di dunia ini."Ngapain?""Kepo. Pokoknya lo harus mau," paksaku."Iya, gue mau. Apapun untuk sahabat gue ini."Sorenya aku dan Farel ke pantai. Kami duduk dia atas pasir seraya memandang jauh ke arah matahari yang mulai tinggal setengah."Rel," panggilku. Farel menoleh padaku dengan senyum manisnya."Apa?""Gue mau bilang sesuatu," kataku sedikit gugup."Bilang apa? Bilang aja kali, Rin. Tumben baget lo pakai permisi gini," ledek Farel."Ih, gue serius. Gue mau bilang sesuatu," aku memukul lengan Farel kesal."Aduh, jangan pakai pukul dong. Suka banget liat gue tersiksa. Lo mau bilang apa?""Gue sayang sama lo," kataku cepat lalu menunduk."Gue juga sayang sama lo," balas Farel enteng. Aku mendongak cepat, melihat wajahnya yang biasa-biasa saja."Bukan gitu, Rel. Maksud gue, gue sayang sama lo. Tapi bukan sebagai sahabat, sebagai cewek," ungkapku. Aku ingin Farel mengerti bahwa perasaanku untuknya telah berubah dan tumbuh dengan cepat."Ma-maksud lo?" Farel terkejut mendegar pengakuanku. Matanya bahkan melebar, seperti tidak percaya."Gue cinta sama lo, Farel Jonathan," tekanku agar ia yakin."Nggak mungkin, Rin. Kita itu sahabatan. Lo nggak mungkin dan nggak boleh suka sama gue," Farel menggelengkan kepalanya pertanda sebuah penolakan. Dadaku tiba-tiba terasa nyeri karena penolakan Farel."Kenapa nggak boleh? Gue rasa wajar kalau gue suka sama lo. Kita udah bertahun-tahun selalu bareng, Rel. Lo bikin gue selalu nyaman dan gue mau kita lebih dari sahabat.""Lo masih tanya kenapa? Kita itu sahabatan, Naurin Zaskia! Lo nggak seharusnya suka sama gue. Gue sahabat lo, dari kecil," suara Farel meninggi. Aku takut sebenarnya, namun aku tidak akan menyerah untuk memperjuangkan perasaanku."Gue nggak peduli sama status persahabatan kita. Apa salanya sih Rel kalau sahabat jadi cinta? Toh banyak yang kayak gitu," aku menatap mata yang dipenuhi kilat emosi itu. Apa segitu marahnya Farel akan pengakuanku."Gue nggak bisa, Rin. Gue nggak mau," Farel beranjak berdiri meninggalkanku. Aku ikut berdiri menyusulnya."Tapi Rel...""Gue nggak mau Rin. Jangan paksa gue."Air mataku menetes saat mengingat kejadian menyakitkan tiga tahun lalu itu. Sejak saat itu, Farel menjauhiku. Ia mendiamkanku dan meninggalkanku. Hubunganku dan Farel resmi merenggang hanya karena satu kalimat bodohku. Aku kehilangan Farel, selamanya."Rin, Mami mau ke rumah tante Rena. Kamu jaga rumah," teriakan Mami dari luar membuatku tersentak."Iya Mi," balasku. Sebisa mungkin aku menutupi suara serakku karena menangis.Mami sepertinya sudah pergi. Aku menghelas napas lega. Untung tidak ketahuan. Selama ini, orang tuaku dan orang tua Farel tidak tahu jika aku dan Farel tidak lagi dekat seperti dahulu. Saat mereka bertanya, aku cepat memberi alasan yang masuk akal pada mereka. Untungnya mereka langsung percaya.Aku beranjak dari kasur lalu menuju meja belajarku. Aku meraih pigura foto disana lalu duduk di kursi. Perlahan, aku mengelus pigura foto itu. Itu fotoku dan Farel saat pembagian rapor tiga tahun lalu. Aku dan Farel mendapat juara saat itu. Orang tua kami begitu senang hingga mereka memotret kami berdua. Kenang-kenangan katanya.Kini saat seperti itu tidak lagi ada. Aku dan Farel yang sekarang bagaikan dua orag yang tidak pernah saling mengenal. Farel tidak pernah mau berbicara padaku. Jikapun ada, itupun terpaksa dan terlalu singkat. Lebih baik dia diam daripada seperti itu."Rel, lo kenapa kayak gini sih? Kenapa jauhin gue? Apa sebegitu besar salah gue sampai lo tega giniin gue? Maafin gue, Rel. Maaf kalau perasaan gue bikin lo terganggu. Gue nggak maksud sama sekali. Lo tau Rel, gue kangen sama lo. Gue kangen sama persahabatan kita dari kecil. Dari kita cuma pakai popok doang. I miss you so much , Farel," aku mencium foto itu tepat di wajah Farel. Kaca pelindungnya basah karena air mataku. Aku tersenyum miris lalu membawa pigura foto itu ke dalam dekapanku. Aku ingin tidur. Rasanya lelah sekali menangis seperti ini. Aku ingin Farel disini, menghiburku ketika aku sedih, seperti apa yang selalu dilakukannya dahulu. Aku rindu mendengar dia memanggilku dengan panggilan kesayangannya, Rin. Tapi aku tahu itu semua sia-sia. Farel tidak mungkin ada, yang ada hanya fotonya. Semoga foto Farel ini mampu menenangkanku. Seperti yang selalu Farel lakukan. Walau hanya sedikit.***Aku berdiri sendiri di depan gerbang sekolah. Aku sedang menunggu pak Parjo, supir Papi yang selalu mengantar-jemputku ke sekolah. Ini sudah lebih dari lima belas meit aku menunggu. Kemana sih pak Parjo? Tidak biasanya dia terlambat seperti ini."Belum pulang, Nau?" tiba-tiba Weno, teman sekelasku sekaligus sahabat Farel muncul dengan motornya."Belum No. Masih nunggu jemputan. Kayaknya kejebak macet," jawabku."Mau pulang bareng gue?" tawarnya."Nggak usah, No. Makasih. Palingan bentar lagi supir gue dateng," tolakku halus. Aku bukannya tidak tahu jika Weno menyukaiku. Akhir-akhir ini ia rajin sekali mendekatiku. Ia juga sering menghubungiku. Tapi maaf-maaf saja, aku masih belum bisa membuka hatiku. Farel masih ada disana."Serius? Gue nggak keberatan kok nganterin lo.""Serius. Udah pulang sana. Nanti Emak lo nyariin lagi," tolakku. Semoga Weno tidak lagi memaksa."Lo pikir gue anak SD yang selalu dikhawatirin emaknya? Enggaklah. Ya udah deh, gue pulang dulu. Lo hati-hati ya," Weno menutup kaca helmnya lalu meninggalkanku. Huh, untunglah.Hingga lima belas menit kemudian, pak Parjo masih belum datang. Aku tidak bisa menghubunginya karena aku lupa membawa ponselku. Apa aku pulang sendiri saja?Saat aku masih berpikir, suara tawa mengalihkanku. Disana, di parkiran sekolah, aku melihat Farel dan Kanaya sedang bersama. Mereka tertawa ketika Farel memberikan helm kepada Kanaya. Kemudian kedua orang itu sudah berada di atas motor Farel. Mereka pulang bersama.Aku segera menolehkan kepalaku saat mereka mendekati gerbang. Jantungku berdebar hebat. Hingga Farel dan Kanaya melewatiku, aku menahan napas. Farel tidak ,menghiraukanku yang sedang berdiri sendirian seperti orang bodoh disini. Ada rasa sesak yang ku rasakan saat melihat Farel dekat dengan gadis lain selain aku. Ya aku tahu, ini memang bukan yag pertama kalinya. Tapi entah kenapa sakitnya selalu sama. Perasaaku kepadanya terlalu kuat, hingga sakit yang ku rasakan juga begitu.***Istirahat membuat kelasku sepi seketika. Hanya ada beberapa orang yang bertahan, termasuk aku dan Farel. Tiara sudah menuju kantin duluan karena tidak tahan menahan perutnya yang begitu lapar. Ia tidak sempat sarapan tadi pagi.Aku menoleh ke arah Farel yang asik dengan bukunya. Ku tebak, ia sedang menggambar. Farel memang jago dalam menggambar."Samperin nggak ya?" batinku. Aku ragu untuk ke Farel memberi bekal makanan dari Mami. Tadi pagi entah kenapa Mami tiba-tiba memberiku dua kotak makanan. Untukku dan Farel, kata Mami.Aku memutuskan kesana. Setidaknya ini keinginan Mami, bukan aku. Jadi Farel tidak akan merasa terganggu."Farel," panggilku ketika berdiri di sampingnya. Farel diam, tidak merespon. Aku menghela napasku berat lalu meletakkan kotak makanan itu ke atas mejanya."Dari Mami. Dia mau lo makan ini," lirihku. Farel menghentikan gerakan tangannya lalu meraih kotak makan itu. Tidak ada satu kalimatpun keluar dari mulutnya. Lebih baik aku pergi saja."Makasih. Ke Mami," suaranya menghentikan langkahku. Sudah lama rasanya aku tidak mendengar ia berbicara padaku. Aku membalik badanku lalu menatapnya yang sedang makan makanan dari Mami. Apa sebegitu bencinya Farel kepadaku hingga karena Mami, ia baru mau berbicara padaku? Tidak adakah kesempatan bagiku untuk kembali dekat dengannya?"Sama-sama," jawabku lirih. Aku berlari cepat ke arah toilet. Semua ini terlalu menyakitkan bagiku. Tiga tahun ini aku selalu merasakan penolakan Farel. Terlalu sakit merasakannya selama itu.Aku menangis sendirian di toilet yang kebetulan sepi. Aku menumpahkan kesedihanku. Aku tahu, aku salah. Tapi kenapa Farel harus menghukumku dengan cara seperti ini? Kenapa ia tidak mau berbicara saja padaku dan menjelaskannya dengan baik-baik? Toh jika dia menolakku, itu tak apa bagiku. Aku tak apa menjadi sahabatnya lagi dari pada harus merasakan kehilangannya. Kehilangan Farel terlalu menyakitkan. Selama ini aku selalu bergantung padanya. Apapun yang ku lakukan, Farel yang akan selalu ada untukku. Aku tidak pernah terbiasa tanpa kehadirannya dan aku tidak pernah bisa. Aku membutuhkan Farel sebesar itu."Nau, lo kenapa nangis?" tiba-tiba Tiara datang. Aku segera memeluk Tiara erat dan kembali menangis. Setelah kehilangan Farel di tahun terakhir SMP, Tiara adalah satu-satunya sahabatku sejak awal masuk SMA. Ia tahu semua ceritaku dengan Farel. Ia yang selalu mendukungku selama ini jika aku terlalu lemah karena Farel."Nau, jangan nangisin dia lagi. Lo harus kuat, Nau," Tiara mengelus punggungku lembut."Tapi ini terlalu sakit, Tir. Tiga tahun ini, dia selalu nolak apapun interaksi yang gue lakuin ke dia. Apa kesalahan gue terlalu besar? Gue cuma mau minta maaf dan memperbaiki semuanya. Tapi dia nggak pernah mau dengerin gue," isakku."Nau, lo harus kuat. Naurin yang gue kenal nggak pernah selemah ini. Lo haus yakin, akan selalu ada pelangi setelah hujan," aku tidak membalas perkataan Tiara. Aku hanya menangis dalam pelukan sahabatku. Aku hanya ingin menumpahkan sakit ini.***Malam ini aku sendirian berada di rumah. Mami dan Papi sedang pergi ke acara kantor Papi yang diantar pak Parjo. Pelayan yang bekerja di rumahku sedang pulang kampung karena anaknya sedang sakit. Hanya ada aku dan satpam di depan rumah. Tapi aku tidak yakin jika pak Yono sedang berjaga di tempatnya sekarang. Palingan ia sudah ketiduran di pos.Aku duduk sendirian di atas kasurku. Aku bosan, tidak tahu harus apa. Dulu, biasanya, Farel selalu menemaniku jika Papi dan Mami sedang pergi. Farel tinggal melompat dari balkon kamarnya ke balkon kamarku. Ia akan berada disini hingga Papi dan Mami datang. Kami akan melakukan banyak hal yang menyenangkan. Sayangnya kini Farel tidak disini dan tidak mungkin mau datang kesini lagi.Saat aku sedag asik melamun, tiba-tiba listrik mati. Aku berjengkit ketakutan. Aku memiliki phobia terhadap tempat gelap dan sempit. Ya walaupun kamarku tidak sempit, tapi tetap saja gelap.Aku meraba kasur, mencari keberadaan ponselku. Aku menghubungi pak Yono agar beliau bisa mencari penerangan. Sayangnya, telponku tak diangkat. Haduh, kemana sih pak Yono?Kemudian aku mencoba menelpon Papi dan Mami. Hasilnya sama, tidak diangkat. Apa yang harus ku lakukan? Aku sudah terlalu takut saat ini. Aku tidak mungkin menelpon Tiara. Rumahnya jauh dari rumahku. Aku tidak mau merepotkan sahabatku malam-malam begini.Bajuku mulai basah karena keringat dingin yang mengalir di sekujur tubuhku. Sudah setengah jam aku bertahan dengan keadaan seperti ini dan aku sudah terlalu takut. Aku meringkuk di atas kasur. Mataku memanas dan aku menangis. Aku takut. Apa tidak ada yang bisa menolongku?Aku kembali mengacak kontak di ponselku, mencari siapa yang bisa membantuku. Tinggal satu nama yang belum ku minta tolong. Farel. Tapi apa dia mau?Dengan modal nekat dan karena sudah terlalu takut, aku menghubungi Farel. Panggilan pertama, Farel tidak mengangkat telponku. Panggilan kedua juga tidak. Di panggilan ketiga, saat aku mulai putus asa, dia mengangkatnya."Rel, to-tolongin gue," kataku bergetar."Listrik rumah gue padam dan gue sendiri di rumah. Gue takut, Rel. Tolongin gue.""Nggak bisa," Farel menolakku secara dingin. Hatiku terluka mendengarnya. Farel tahu jika aku phobia, tapi ia tetap tak mau membantuku."Please, gue mohon. Gue takut, Rel. Nggak ada yang bisa nolongin gue. Sekali ini aja, gue mohon Rel," aku terisak memohon padanya. Takut dan sakit bercampur saat ini."Nggak bisa. Gue lagi di luar sama Kanaya. Jangan ganggu gue," kemudian Farel mematikan sambungannya secara sepihak. Aku menenggelamkan diriku di balik lutut seraya terisak hebat. Aku tersakiti, sungguh. Farel terlalu membenciku hingga disaat darurat seperti ini, ia tidak mau menolongku.Hingga satu jam kemudian, aku memilih menuju pos satpam. Aku yakin pak Yono ketiduran. Dengan tenaga yang tersisa karena habis menangis tadi, aku berjalan keluar rumah. Berbekal penerangan dari ponsel dan sedikit keberanian, aku menuju pos satpam. Mataku mulai berkunang-kunang saat aku keluar kamar. Tapi aku tetap memaksakan diri keluar. Hingga saat berjalan di tangga, pusing yang hebat menderaku. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku selain badanku yang begitu sakit karena berguling dari tangga dan mataku menutup.***Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, mencoba beradaptasi dengan suasana terang. Hidungku mencium bau obat-obatan dan alkohol yag begitu kental. Samar, aku melihat Tiara yang menatapku senang."Tir," panggilku denga suara serak. Tenggorokanku kering sekali rasanya."Akhirnya lo sadar. Tunggu, gue panggil dokter dulu," Tiara melesat meninggalkanku. Aku menatapnya bingung. Dokter? Apa aku di rumah sakit?Tak lama kemudian Tiara datang bersama seorang dokter dan suster. Dokter mengecek keadaanku dan mengatakan kondisiku mulai stabil. Tapi aku masih harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Setelah itu, dokter dan suster meninggalkan aku dan Tiara."Akhirnya lo sadar, Nau. Semua orang udah frustasi karena nungguin lo nggak sadar-sadar," cerocos Tiara. Ia tampak begitu lega melihatku bangun."Emang gue kenapa?" tanyaku bingung."Lo jatuh dari tangga rumah lo dua hari yang lalu. Semua orang panik pas tau lo jatuh. Lo kenapa bisa kayak gini?" aku mengernyitkan keningku, berusaha mengingat apa yang terjadi padaku sebelum aku seperti ini. Ah iya, listrik mati, takut dan jatuh dari tangga."Waktu itu listrik mati dan gue sendirian di rumah. Lo tau gue takut gelap. Udah hampir dua jam gue nunggu, tapi listrik nggak hidup juga. Akhirnya gue nekat ke pos satpam tempat pak Yono. Terus pas di tangga, eh gue malah jatuh," terangku."Lo kenapa nggak ngubungin gue, orang tua lo atau yang lain sih? Kenapa sok-sok berani. Udah tau lo itu phobia. Ginikan jadinya," omel Tiara. Aku tahu dia terlalu khawatir dengan kondisiku."Gue udah telpon Papi, Mami, dan pak Yono. Tapi nggak diangkat. Kalau lo, gue nggak enak. Rumah lo kan jauh dari rumah gue," jawabku."Kenapa nggak ngubungin tetangga sebelah? Setau gue, lo lumayan akrab sama tetangga lo.""Gue udah telpon Farel, tapi dia nolak. Dia nggak mau nemuin gue," jawabku lirih. Penolakan Farel menjadi cambuk besar bagi hatiku. Aku sadar sepenuhnya sekarang. Ia memang tak ingin aku ada lagi dihidupnya. Buktinya saja, di saat aku dalam keadaan darurat, ia masih menolakku."Fa-Farel?""Iya. Farelkan tetangga gue. Malam itu gue juga nelpon dia. Gue nekat. Pas gue telpon minta tolong, dia malah nggak mau. Gue udah mohon-mohon, dia tetap nggak mau. Dia lagi di luar sama Kanaya. Terus dia matiin telponnya. Gue sadar setelah itu Tir, gue emang udah nggak berarti lagi dihidupnya. Dia udah benci sama gue yang udah ngerusakin persahabatan kami," jelasku dengan suara serak. Sial, aku tidak mau menangis lagi."Nau...""Mulai sekarang, gue nggak mau mikirin dia lagi. Gue bakal berusaha lupain dia, lupain semua kenangan kami. Gue tau itu nggak akan mudah. Tapi apa salahnya gue coba. Farel aja bisa, masa gue enggak? Gue bakal berusaha hilangin nama Farel Jonathan dari hidup gue," tekadku. Aku akan melakukan hal itu agar hidupku tak lagi tersiksa. Ini ku lakukan juga untuk Farel. Ia pasti senang dengan aku yang berusaha melupakannya."Naurin, lo nggak harus kayak gini," geleng Tiara. Ia menatapku iba."Gue harus and I'm okay . Lo nggak usah khawatir. By the way , Mami sama Papi mana?"***Aku terbangun dari tidur siangku. Aku meringis saat merasakan perih di keningku. Sudah seminggu sejak aku keluar dari rumah sakit, tapi perih di keningku masih tetap saja terasa. Aku juga masih menggunakan perban kecil untuk menutupi luka di keningku."Udah sore aja. Saatnya beli muffin," gumamku. Memang kebiasaanku dari dulu pergi ke toko kue di ujung komplek pada sore hari pada hari sabtu. Aku juga sudah mengenal pemilik toka kue itu. Paman Fian. Ia seorang duda beranak dua yang menjalankan usaha itu sejak sepuluh tahun yang lalu. Meski tokonya kecil, tapi setiap hari selalu dipenuhi pengunjung. Aku cepat-cepat membersihkan diriku agar tidak kehabisan muffin coklat kesukaanku.Aku menggunakan sepede ke toko paman Fian. Tempatnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Namun aku mengernyit heran saat mendapati tokonya sepi. Tumben sekali. Apa tutup ya?Aku turun dari sepeda untuk memastikan apakah tokonya tutup atau tidak. Disana, aku mendapati paman Fian di balik etalase."Eh ada Naurin. Masuk Nau," suruh paman Fian ramah. Aku memasuki tokonya dan celingak-celinguk heran."Kenapa tokonya sepi, Paman? Tutup ya?" tanyaku."Enggak kok. Kamu pasti mau beli muffinkan? Tunggu, Paman siapin dulu," tanpa menunggu jawabanku, paman Fian melesat menuju dapur tokonya. Paman memang tahu sekali kebiasaanku.Aku menelisik ruangan toko ini. Dulu, aku selalu kesini dengan Farel. Jadwalnya juga seperti saat ini. Aku dan Farel suka makan kue disini dan terkadang membantu paman Fian.Ah, kenapa aku memikirkan Farel lagi?! Akukan sudah bertekad untuk melupakannya, ya walau tak mudah. Tapi aku yakin aku bisa."Paman mana ya? Kok lama?" gumamku sendiri. Paman Fian tak kunjung datang dari tadi. Padahalkan hanya mengambil muffin. Kenapa la...Aku melotot terkejut saat mendapati diriku dipeluk oleh seseorang dari belakang. Aku hampir saja berteriak heboh jika aku tak sadar siapa orang ini. Bau tubuhnya sungguh aku kenali, meski sudah lama tak ku rasakan lagi."Maafin gue," lirih Farel. Ya, yang memelukku adalah Farel."Fa-Farel," kataku gelagapan. Tidak menyangka dia ada disini dan memelukku."Gue minta maaf, Rin. Gue tau gue salah. Gue udah terlalu jahat sama lo. Selalu nyakitin lo. Maafin gue," suara Farel kembali terdengar, namun serak."Rel," aku membalikkan tubuhku. Farel menatapku dengan sendu. Tangannya masih betah melingkar di pinggangku."Maafin gue. Gue tau, gue terlalu bodoh. Gue bodoh nyakitin lo tiga tahun ini. Maafin gue," sesalnya. Mataku memanas seketika. Aku sudah lama tak mendapati keadaan seperti ini. Berbicara sedekat ini dan merasakan kembali pelukan hangat Farel."Lo nggak salah. Gue yang salah. Pengakuan gue hari itu ngancurin persahabatan kita. Maafin gue," aku menatapnya penuh penyesalan. Dia tidak salah, aku yang salah."Lo nggak salah. Gue yang salah. Gue terlalu kalut saat itu. Perasaan lo ke gue nggak pernah salah, Rin," katanya yang membuatku bingung."Maksud lo?""Lo nggak salah karena suka ke gue," jawabnya."Tapi lo marah dan ngindarin gue sampai tiga tahun, Rel. Jelas itu salah.""Naurin," Farel menghela napasnya berat. Ia menatapku, tepat di maniknya. "Lo salah paham. Keadaan yang sebenarnya bukan kayak gitu. Sebenarnya, pas lo bilang suka sama gue, gue kaget. Gue bilang nggak boleh karena suatu alasan. Gue nggak mau kehilangan lo. Bagi gue, seandainya kita pacaran, hubungan kita bisa berakhir kapan aja. Gue nggak sanggup kehilangan lo. Karena itu gue kalang kabut pas dengar pengakuan lo. Bodohnya gue malah jauhin lo dan seakan nggak mau lo ada di hidup gue lagi. Gue tau gue bodoh lakuin itu semua. Awalnya gue jauhin lo cuma mau lo bisa hilangin perasaan lo ke gue. Tapi gue malah melakukannya bertahun-tahun. Gue malah benar-benar kehilangan lo, tanpa pacaran. Gue nyesel, Rin. Gue bodoh. Gue udah berusaha cuek sama lo selama ini, nyatanya gue nggak bisa. Lo terlalu berpengaruh di hidup gue. Lo maukan maafin gue?"Aku terpaku mendengar semuanya. Jadi, Farel tidak membenciku?"Rin, jangan nangis. Gue tau gue udah terlalu terlambat. Apa nggak ada maaf lagi untuk gue? Apa lo benci sama gue? Perasaan ke gue udah hilang?""Nggak Rel. Lo salah," gelengku. "Lo nggak perlu minta maaf karena lo nggak salah. Gue nggak pernah benci sama lo. Perasaan untuk lo masih ada sampai saat ini," jawabku. Farel tersenyum senang lalu memelukku erat. Air mataku kembali tumpah saat aku mendapati diriku kembali barada di dekapan hangat Farel. Aku balas memeluknya erat. Aku sangat merindukannya."Maafin gue, Rin. Gara-gara gue nggak datang pas listrik mati, lo malah jatuh dari tangga dan masuk rumah sakit. Maafin gue. Harusnya gue datang saat itu," kata Farel di atas kepalaku."Bukan salah lo. Ini salah gue sendiri karena nggak hati-hati.""Mulai sekarang," Farel melepas pelukan kami. Ia membingkai wajahku dengan tangannya. "Gue akan selalu ada untuk lo. Lo harus bergantung ke gue lagi, kayak dulu. Gue mau jadi orang yag paling lo butuhin lagi. Ngerti?""Ngerti," anggukku."Dan satu lagi, gue sayang sama lo. Bukan sebagai sahabat, tapi perasaan cowok ke cewek. Lo mau jadi pacar gue?" mataku melebar mendengar pernyataannya. Ia menyukaiku? Membalas perasaanku?"Rel, lo nggak harus kayak gini. Jadi sahabat lo lagi aja gue udah bersyukur," kataku pada akhirnya. Aku berusaha melepas tangannya di wajahku, tapi tidak bisa."Bukan gitu. Lo salah, Rin. Sebenarnya gue udah lama sayang sama lo. Pas lo bilang suka dulu, gue juga ngerasain perasaan yag sama. Tapi sayangnya, dulu ketakutan gue untuk kehilangan lo terlalu besar. Sekarang udah nggak lagi. Kenapa? Karena gue nggak akan biarin diri gue kehilangan lo. Lo maukan jadi pacar gue?" Farel menatapku lekat. Apa ini benar? Ku tatap matanya, berusaha mencari hal yan mampu membuatku yakin."Yakin, Rel? Kanaya gimana?""Gue nggak pernah seyakin ini," jawabnya mantap. "Gue juga nggak pernah pacaran sama Kanaya. Kami cuma temenan.""Gue mau," anggukku yang mampu membuat Farel terlonjak kegirangan. Ia memelukku erat."Aku sayang kamu," katanya."Aku lebih sayang kamu.""Akhirnya baikan juga," tiba-tiba paman Fian datang."Paman?!" seruku. Aku lupa jika kami masih di toko kue paman Fian."Nggak sia-sia Farel nyewa toko Paman sore ini. Rencana kamu sukses besar, Rel," paman Fian memberi dua jempolnya yang dibalas cengiran oleh Farel."Maksudnya apa sih, Rel?" tanyaku bingung."Udah, nggak perlu tau. Yang penting aku sukses," jawabnya penuh misteris. Oh, sepertinya aku tahu.***Setelah dari toko kue paman Fian, Farel membawaku ke pantai. Kini kami sedang duduk berdua menunggu matahari terbenam. Sudah lama kami tidak seperti ini. Yang terakhir adalah tiga tahun yang lalu, saat aku mengungkapkan perasaanku padanya."Ke pantai terus nunggu sunset . Aku jadi ingat tiga tahun lalu," kataku. Aku nyandarkan diriku di bahu Farel. Tangannya melingkar di pinggangku."Jangan ingat itu lagi, Sayang. Aku jadi merasa bersalah," melasnya."Biasa aja kali," aku memencet hidungnya hingga memerah yang membuatnya meringis."Besok aku mau bilang makasih sama sahabat kamu. Tiara," kata Farel disela-sela ringisannya."Makasih? Untuk apa?""Karena udah nyadarin aku," jawabnya."Maksudnya?"Farel sedang asik menggambar saat Tiara tiba-tiba datang."Farel, gue mau ngomong sama lo," kata Tiara tajam."Ngomong aja," balas Farel cuek."Nggak disini. Kita ke belakang sekolah," Tiara menarik tangan Farel tiba-tiba. Ia membawa cowok itu ke belakang sekolah yang sepi."Mau lo apa bawa gue kesini?""Gue benci sama lo, Rel. Gara-gara lo, Naurin masuk rumah sakit. Dia jatuh dari tangga pas listrik padam tiga hari yang lalu," kesal Tiara."Naurin masuk rumah sakit? Gara-gara gue? Gue nggak salah apa-apa perasaan," kata Farel enteng. Tiara mengepalkan tangannya, menahan emosinya. Dia tidak habis pikir, kenapa Naurin bisa cinta mati sama cowok tidakk berperasaan seperti Farel."Salah lo karena lo nggak mau nolongin dia! Dia uda minta totlong tapi lo nggak mau. Lo taukan dia itu punya phobia sama tempat gelap? Kenapa lo nggak mau nolongin dia hah?" emosi Tiara sudah sampai di ubun-ubun."Dia bukan urusan gue.""Kenapa lo jahat baget sama dia? Lo benci gara-gara dia suka sama lo? Lo kekanakan banget! Gue nggak nyangka ini Farel yang katanya sahabat Naurin sejak mereka masih pakai popok. Otak lo dimana bego?! Kenapa lo setega itu sama Naurin? Kenapa lo nyakitin dia terus? Kenapa lo harus milih sama Kanaya malam itu dari pada nolongin Naurin? Lo orang terjahat yang pernah gue temui!" Tiara menunjuk-nunjuk wajah Farel. Ingin sekali rasaya ia menampar cowok itu."Lo nggak ngerti apa-apa!" Farel mulai terpancing emosinya. Ia tidak rela dihakimi oleh Tiara."Anggap gue nggak tau apa-apa. Tapi gue nggak rela sahabat gue lo gituin! Lo nggak tau betapa tersiksanya Naurin! Lo nggak tau dia sakit pas lo selalu cuek ke dia! Lo nggak tau dia selalu sedih karena lo seakan udah buang dia dari hidup lo! Lo nggak tau betapa sayangnya dia sama lo! Selama ini Naurin nggak pernah pacaran karena apa? Karena dia terlalu sayang sama lo, bego! Bagi Naurin, cuma satu cowok yang selalu ada di hatinya. Sayangnya itu cowok terlalu bego karena udah nyia-nyiain Naurin," Tiara melontarkan semuanya dengan emosi. Ia hanya ingin Farel tahu dengan semua penyiksaan yang dialami Naurin."Naurin..." Farel menggantungkan kata-katanya."Naurin tersiksa tapi dia masih mau bertahan. Gue disini cuma mau nyampein unek-unek Naurin untuk lo. Gue harap lo sadar setelah ini," setelah itu Tiara pergi meninggalkan Farel yang mematung sendirian."Tiara ngelakuin itu semua?" tanyaku tidak percaya setelah mendengar cerita Farel. Tiara benar-benar sahabat terbaikku."Iya. Kamu beruntung punya sahabat kayak dia," Farel mencium puncak kepalaku."Kamu jadian sama aku bukan karena kasihan sama akukan?" entah kenapa pikiran negatif itu terlintas di kepalaku."Bukan. Aku jadian sama kamu karena aku memang sayang. Anggap aja perkataan Tiara kemarin yag bikin aku sadar sama semuanya. Kamu jangan pernah berpikir kalau aku cuma kasihan sama kamu. Kamu taukan aku nggak pernah main-main kalau tentang perasaan?" Farel menatapku. Aku tersenyum kepadanya lalu memeluknya dari samping."Makasih udah balas perasaan aku, Rel.""Aku harusnya yang berterima kasih sama kamu. Makasih udah mau jadiin aku satu-satunya cowok dihati kamu, Yang. Aku beruntung miliki kamu. Aku sayang kamu, Naurin Zaskia.""Aku sayang kamu, Farel Jonathan."***Lucky I'm in love with my best friendLucky to have been where I have beenLucky to be coming home again
Sayap Patah
Aku tersenyum kecil begitu mendapati ia mengernyitkan kening. Lucu. Matanya menyipit keheranan. Sedetik kemudian ekspresi itu berubah, kini tak ada lagi kernyitan di keningnya. Wajahnya kembali serius dan datar menekuni buku di hadapannya. Aku masih tersenyum memperhatikan wajahnya itu.Memperhatikannya dari jauh sudah menjadi kebiasaanku sebulan kebelakangan ini. Sejak pertama kali aku melihatnya sebagai siswa pindahan di kantor tata usaha. Kedatangannya cukup menggemparkan sekolah. Ia menjadi buah bibir dimana-mana pada minggu pertamanya. Semua siswa mengangumi sosoknya yang rupawan, termasuk aku. Aku mengaguminya saat pertama kali aku melihatnya. Seperti ada debaran aneh yang ku rasa pada saat itu. Seperti cinta pada pandangan pertama, mungkin.Aku seperti mendapat lotre saat mengetahui ia berada di kelas yang sama denganku. Jantungku berdetak tak karuan saat ia memperkenalkan namanya di depan kelas. Suaranya begitu menenangkan. Saat ia melangkah menuju kursinya, mataku tetap mengawasinya. Sayangnya ia terlalu peka. Ia menyadari jika aku memperhatikannya. Aku segera membuang muka. Wajahku pasti merah saat itu. Tidak, dia tak boleh tahu jika aku menyukainya. Karena itu tak ada gunanya sama sekali. Tak akan pernah ada kesempatan bagi gadis cupu berkacamata tebal ini."Bel?" aku tersentak saat Ghina menepuk pundakku. Aku segera menormalkan wajahku yang memerah karena lamunanku tadi."Kamu ngelamun ya?""Ah, enggak. Aku cuman lagi mikirin gimana cara ngerjain soal yang ini." Aku menunjuk buku di hadapanku. Untunglah buku ini terbuka. Kalau tidak, Ghina bisa berpikiran yang lain."Aku kira kamu ngelamun. Bel, aku pinjam pena. Pena aku macet," pinta Ghina. Aku memberikan pena berwarna hitam kepadanya."Nih.""Makasih Bel." Aku hanya mengangguk. Ghina merupakan sahabat dan temanku, satu-satunya. Selama ini hanya Ghina yang mau berteman denganku. Dia selalu ngotot ingin bersamaku sejak dulu, meski aku sudah mengatakan ia tidak pantas berteman denganku. Ghina itu gadis yang cantik dan modis, sangat berbanding terbalik denganku.Ghina memelukkan singkat, salah satu kebiasaanya berterima kasih padaku, lalu kembali ke kursinya. Saat memperhatikan Ghina, tanpa sengaja mataku dan mata seseorang bertabrakan. Itu mata dia. Matanya indah. Bola matanya berwarna hitam pekat. Aku menyunggingkan senyumku, kecil. Sayangnya, ia malah melongos tak peduli membuang muka tanpa mau repo-repot membalas snyumku. Aku meringis saat merasakan sakit di dadaku. Dia sudah terang-terangan menolakku, bahkan sebelum sempat aku mendekat. Bagaimana bisa aku dengan bodohnya masih menyukainya? Bagaimana bisa aku menyukai seseorang yang hanya untuk membalas senyumku saja ia tak mau ? Aku tahu, aku bodoh. Sangat bodoh.💔💔💔Aku duduk di pinggir lapangan dengan napas tersengal. Jam olahraga baru saja berakhir dan kami semua diizinkan beristirahat. Aku melepas kacamataku yang berembun, lalu membersihkannya dengan kain khusus yang selalu ku bawa."Bel." Suara bariton khas lelaki menyapaku. Aku membeku seketika saat mendengar suara yag sangatku kenal. Itu suaranya!"Bel," panggilnya lagi. Aku segera memakai kaca mataku, lalu menoleh ke arahnya. Mataku langsung disuguhkan dengan senyumannya. SENYUMANNYA! Ini senyuman pertamanya."Y-ya," jawabku gelagapan. Jantungku yang mulanya mulai normal detaknya kembali berdetak kencang. Seperti beribu gendang ditabuh dengan begitu semangat. Tuhan, semoga ia tak menyadari debaran ini."Kamu sakit? Wajahmu merah." Matanya tampak khawatir. Aku menggeleng cepat. Kenapa wajahku harus memerah begini?"Ng-ngak. Aku nggak sakit. Mungkin efek baru selesai olah raga," bohongku. Ia mengangguk, percaya begitu saja. Syukurlah."Bel, pulang sekolah ini kamu sibuk?" tanyanya. Aku hanya menggeleng. "Boleh aku ke rumahmu? Masih ada beberapa materi fisika yang belum aku mengerti. Mau mengajarkanku?""Aku mau," seruku terlampau bersemangat. Dia tersenyum senang, menampilkan lesung pipinya."Baiklah. Terima kasih, Bel. Sampai jumpa nanti sore." Ia melambaikan tangannya, lalu berlari menjauh. Aku memperhatikannya yang mulai menjauh dengan senyum terkembang. Apa kejadian ini nyata? Ia tiba-tiba menghampiriku, tersenyum padaku, mengajakku berbicara dan ingin belajar bersamaku. Ia melakukan semua hal yang tak pernah dilakukannya padaku. Aku kira selama ini ia menganggapku tak ada.Ini seperti mimpi menjadi nyata. My dream comes true .💔💔💔Bel istirahat sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu, tapi aku masih berkutat dengan soal matematika yang begitu memusingkan kepala. Suasana kelas sepi karena semua orang lebih menyukai kantin dari pada kelas. Sangat berbanding terbalik denganku. Aku lebih menyukai tempat yang sunyi dan tenang daripada keramaian. Aku membenci keramaian.Alunan musik klasik menemaniku dengan setia. Meskipun aku terkenal sebagai gadis cupu dan kutu buku, aku sangat menyukai musik. Menurutku musik adalah hasil karya manusia yang menjadi media terbaik dalam menyampaikan perasaan. Senang, sedih, marah, bahagia ataupun menangis, semuanya mampu diluapkan melalui musik.Soal terakhir sudah selesai ku kerjakan. Aku membali-balikkan bukuku, mencari soal lain yang mungkin bisa ku kerjakan. Tapi aku merasakan suatu pergerakan disampingku. Aku melihat ke arah kanan, penasaran siapa yang datang, yang pasti tidak mungkin Ghina. Sahabatku sedang sakit."Nggak ke kantin, Bel?" ternyata itu dia. Dia menarik kursi lalu duduk di sebelahku. Jantungku kembali berdetak tak karuan jika sudah berada dalam jarak sedikit dengannya."Nggak. Lagi malas," gelengku."Nih makanan untukmu. Sengaja aku beliin." Ia menyodorkan sebungkus roti dan sekotak susu. Aku memerah karena perhatiannya. Sejak insiden kami berbicara seminggu lalu, aku dan dia memang semakin dekat. Sering kali ia mengajakku untuk sekedar main maupun belajar bersama. Dalam waktu bersamaan ia juga membuatku makin jatuh padanya. Jatuh terlalu dalam hingga aku tak mampu naik ke permukaan."Makasih," lirihku malu."Sama-sama. Oh ya, Ghina mana? Aku nggak liat dia dari pagi," tanyanya."Ghina lagi sakit. Jadi dia nggak masuk.""Oh gitu. Titip salam ya sama dia. Semoga cepat sembu." Aku mengacungkan jempolku. Ia kembali tersenyum. Senyuman yang sangat manis. Senyuman kesukaanku.💔💔💔Aku menunggunya di salah satu kafe langganan kami. Siang ini ia ingin mengajakku ke suatu tempat, entah kemana. Ia tak mau menyebutkannya. Aku hanya mengangguk menurutinya. Lagi pula, sejak kapan aku mampu menolaknya?Jantung kembali berdetak tak karuan saat mengingat akan pergi bersama, berdua saja. Harus ku akui, aku sudah sering pergi bersamanya. Sialnya jantungku masih saja berdetak tak normal dan wajahku selalu memerah saat berdekatan dengannya. Aku masih belum bisa mengontrol perasaanku dengan baik." Sorry telat Bel, tadi kejebak macet." Ia tiba dihadapanku dengan penampilannya yang selalu sempurna dimataku. Aku hanya tersenyum tipis. Aku menyodorkan buku menu padanya."Mau pesan apa ?""Seperti biasa aja, kamu taukan?" aku mengangguk. Tentu saja aku tahu. Banyak hal tentang dirinya yang ku ketahui. Hampir semuanya, mungkin."Oke." aku memanggil pelayan, lalu memesan makanan kami. Aku permisi ke toilet sebentar, membiarkannya menunggu pesanan kami sendirian."Bel, duduk disini." Ia menepuk-nepuk kursi disebelahnya saat aku kembali dari toilet. Mengisyaratkan agar aku duduk disebelahnya. Lihat apa yang dia lakukan! Bukankah itu sangat romatis? Bagaimana caranya aku tak memerah jika ia berlaku seperti ini terus? Siapapun, tolong beri tahu aku!Ia menyodorkan piring makananku. Aku menggumamkan terima kasih lalu menyantap makananku."Kayaknya makanan kamu enak deh, Bel." Ia merebut sendok dari tanganku tiba-tiba, lalu menyuapkan makanan ke mulutnya. Ia makan dengan sendokku? Astaga!"Enak. Lain kali aku bakal mesan ini." Dengan santainya ia mengembalikan sendokku. Apa ia tak sadar akan apa yang dilakukannya ?"Setelah ini, kita mau kemana?" tanyaku."Kamu bakal tahu nanti," jawabnya penuh misterius. Aku mendesah pasrah. Terserah dia sajalah."Kamu nggak malu apa jalan sama aku ?" tanyaku lirih. Sebenarnya aku sudah sering menanyakan hal ini padanya. Dan reaksi yang diberikannya selalu sama. Ia marah. Ia tak suka aku bertanya seperti itu."Jangan mulai, Bel," katanya datar. Aku menunduk dalam. Jujur saja, kedekatan kami ini masih terasa seperti mimpi, logikaku tak bisa mencapai bahwa si gadis cupu ini mampu berdekatan dengannya. Aku merasa tidak cocok."Aku hanya merasa tak enak padamu. Aku ini cuma...""Bel, sudah ku katakana aku tak suka mendengarnya. Aku suka berteman denganmu. Kamu itu baik, lucu dan pintar. Aku nyaman sama kamu," potongnya. "Lagi pula jika soal penampilan, sebenarnya kamu itu cantik. Jika ini di lepas,"Tiba-tiba saja ia menarik kacamataku. Aku mengerjap kaget. Apa yang ia lakukan? Kenapa berani sekali?"Ini juga harus dilepas." Kali ini ia menarik ikat rambutku hingga rambutku tergerai begitu saja. Tangannya dengan cekatan merapikan rambutku."Kalau beginikan cantik," pujinya dengan senyuman yang tampak buram olehku. Tentu saja, aku sedang tak memakai kacamata."Penampilanmu selanjutnya harus seperti ini ya, Bel. Hanya tinggal dipolesi sedikit make up aja, kamu pasti cantik banget. Soal kacamata, aku saranin kamu pakai soft lens . Aku akan bantu merubah penampilanmu." Ia menawarkan dirinya sendiri. Entah mantra apa yang terkandung dari setiap kalimatnya, aku hanya mengangguk patuh menuruti kemauannya."Kamu... kenapa sebaik ini sama aku ?""Aku hanya mau menolongmu. Kamu itu temanku, Bel. Lagi pula aku ingin kamu sadar akan kelebihan yang selalu kamu tutupi dengan kacamata besar itu. Kamu itu cantik Bel, sangat cantik," pujinya berhasil membuatku melayang. Kenapa ia selalu berhasil melakukan hal ini padaku?💔💔💔Sejak ia memintaku merubah penampilan, hidupku ikut berubah. Semua orang terkejut saat menyadari perubahanku. Salah satu contohnya adalah Ghina yang memekik girang saat melihatku yang saat ini. Sialnya Ghina tak berhenti berterima kasih padanya karena berhasil mengubahku. Sebenarnya dari dulu Ghina sudah membujukku untuk mengubah penampilanku sayangnya Ghina tak pernah berhasil. Hanya ia yang bisa.Berbulan-bulan terlewati begitu saja. Kini aku sudah yakin dengan perasaanku padanya. Aku menyayanginya, bukan hanya suka atau kagum. Aku benar-benar telah jatuh padanya. Rasa minderku padanya juga mulai memudar. Penampilan baruku tak membuatku merasa tak paantas lagi."Ada apa?" Aku bertanya padanya. Kami sedang berada di kafe langganan kami dengan minuman hangat di tangan masing-masing. Di luar, rintik-rintik hujan membasahi bumi."Ada apa?" tanyaku lagi karena ia tak menjawab pertanyaanku sebelumnya. Ia masih tetap diam, terlihat ragu," Bicaralah. Aku tahu kamu ingin mengatakan sesuatu," desakku. Aku benar-benar penasaran."Bel, sebenarnya aku udah mendam ini dari lama. Aku cuma takut bilangnya ke kamu. Sebenarnya aku...." Kalimatnya tergantung. Jantungku berdegup kencang. Apa sebenarnya yang ingin ia katakana? Apa ia...?"Aku menyukai... Ghina, Bel." Saat itu aku merasakan duniaku runtuh seketika. Aku membeku bagaitersanbar petir. Apa aku tak salah dengar? Ia menyukai Ghina?"Aku suka sama Ghina sejak aku liat dia petama kali di kelas. Kamu mau bantu aku untuk dapatin dia?" pintanya penuh harap. Aku terdiam. Dadaku terasa begitu sesak, walau hanya untuk bernapas. Ini seperti ditusuk ribuan pisau lalu dicabik-cabik dengan kasar. Sakit sekali."Bel, kenapa diam? Kamu nggak mau?" Ia menatapku kecewa. Tidak, jangan beri tatapan itu padaku. Aku tak pernah tahan jika tatapan seperti itu. Aku mohon, jangan."Y-ya. Aku mau." Akhirnya aku menemukan suaraku yang sempat hilang. Ia tersenyum sumringan tanpa tahu betapa hancurnya aku saat ini. Ia memelukku ringan tanpa sadar bahwa disaat yang bersamaan ia juga memenusukkan pisau ke dalam diriku."Terima kasih, Bel," gumamnya dipelukku. Aku berusaha mengelus punggungnya dengan tanganku yang terasa begitu berat. Mati-matian aku berusaha menahan tangisku agar tidak pecah. Jika aku menangis, ia akan langsung tahu tentang perasaanku padanya, aku tidak mau itu terjadi."Sama-sama."💔💔💔Aku meringkuk lemah di kasurku. Sudah berjam-jamku habiskan untuk menangisi dia. Ini terlalu pedih bagiku. Terlalu menyakitkan. Aku sangat menyayanginya. Aku sudah melakukan segalanya untuknya. Tapi kenapa balasan seperti ini yang ku dapat? Kenapa sakit ini yang harus aku terima?Aku kira semua yang kami lalui selama ini adalah jalan bagi kami. Sayangnya pada kenyataan tidak. Ia malah menyukai Ghina, sahabatku. Apa Ghina yang membuatnya mau dekat denganku?Aku tahu Ghina lebih baik dariku, jauh lebih baik. Tapi apa aku memang tak pantas untuknya? Apa ia masih menganggapku gadis cupu yang tak menarik? Apa tak ada artinya kedekatan kami selama ini? Apa gunanya aku berubah seperti ini jika ia masih tak tertarik. Lebih baik aku kembali seperti dulu saja.Aldan. Lelaki yang selam ini membuatku jatuh cinta dan ia juga yang menyakitiku hingga aku hancur berkeping-keping. Aldan, siswa pindahan dari luar kota yang ternyata menyukai sahabatku. Aldan, sang pematah sayap harapanku.💔💔💔Apa cerita hidupku bagaikan serial drama picisan yang sering muncul di televisi? Sebutlah ini berlebihan atau apa, tapi ini memang sangat menyakitkan bagiku. Aku berkorban untuknya. Aku mengorbankan perasaan tulusku, hanya untuknya.Sesuai janjiku, aku memang membantu Aldan untuk mendapatkan Ghina. Dan Aldan berhasil. Dia mendapatkan Ghina. Aku bodoh, memang. Aku biarkan diriku terus disakiti saat melihat kedekatan mereka. Aku mana bisa menolak permintaannya. Jadi ini semua ku lakukan untuknya. Walaupun perasaanku yang menjadi korbannya, biarlah.Dulu, aku selalu membayangkan ia adalah malaikat yang datang padaku. Mengajakku terbang bersama, dengan sayap harapan yang ia berikan padaku. Sayangnya, ia mematahkan sayap itu. Meninggalkanku di dasar bumi, sendiri.Love,Vand 🦋
A Necklace
Aku terbangun dari tidurku. Rasanya tubuhku begitu ringan, bahkan tak sedikit pun kelelahan, padahal kemarin aku sibuk membantu acara pernikahan adik perempuanku yang berjalan selama tiga hari berturut-turut.Meskipun aku anak sulung dan kedua adikku sudah menikah semua, aku masih tak memikirkan itu. Selain bekerja dan menikmati uang banyak untuk keliling dunia, tak ada lagi yang ingin kulakukan. Apalagi, rasanya tubuhku sangat mendukung untuk perjalanan selanjutnya.Aku menyingkirkan selimut yang menutup tubuhku, mataku masih terasa sedikit perih dan kupaksa buka sedikit demi sedikit. Aku menggeser kakiku ke kanan hingga turun dari ranjang, begitu pula dengan tubuhku mengikuti.Bruk! Tubuhku basah kuyup."Apa ini?" tanyaku setengah berteriak entah pada siapa. Mataku telah terbuka sepenuhnya.Mataku seolah berkeliling memperhatikan setiap sudut ruangan. Tunggu, ini bukan ruangan. Aku berada di sebuah tempat asing dan tubuhku sepenuhnya terduduk di sebuah kolam yang berbentuk lingkaran, di bagian tengah terdapat air mancur.Kau tahu? Aku seperti berada di sebuah tempat yang pernah kulihat sebelumnya, tapi kali ini tampak nyata, sebuah negeri dongeng.Aku memaksakan diriku bangkit, tubuhku kali ini terasa berat, bagaimana pun karena sesuatu yang menempel di tubuhku, sebuah gaun berwarna putih dengan segala pernak-pernik yang membuatnya tampak mewah."Kau baik-baik saja, Tuan Putri?" tanya seorang lelaki yang baru saja turun dari kuda putihnya, kuda itu bertanduk atau lebih cocok disebut cula. Kalian mungkin terbiasa menyebutnya, unicorn.Aku menghela napas panjang. Tubuhku kedinginan, bibirku kelu, namun yang lebih parah dari itu, semua ototku kaku. Dia? Aku mengenalnya."Aku sudah mencarimu sepuluh tahun belakangan. Bahkan, aku tahu semua yang kau lakukan, tapi baru sekarang aku dapat menemuimu," ujarnya seraya membawaku keluar dari sisi kolam air mancur.Aku masih memikirkan sesuatu, sosok yang sedang berbicara di hadapanku ini tentu aku sangat mengenalnya."Maafkan aku, karena aku pergi tanpa pamit," lanjutnya tanpa mempersilakan aku bertanya apapun. Namun, aku memang sulit berkata-kata.Ia merogoh jas atau mantel yang tampak seperti pangeran-pangeran kerajaan, semuanya serba putih. Aku masih meniti satu persatu detail wajahnya."Ada sesuatu yang tak sempat kuberikan dulu."Sebuah kotak kecil berwarna hitam legam sekarang berada di tangannya, ia mengapit dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan, sementara tangan kiri membukanya. Sebuah kalung permata berwarna putih mengilap dikeluarkan, kemudian mengalungkannya padaku."Kau tampak cantik dengan ini. Seharusnya, aku memberikannya lebih cepat," ujarnya. Setelah selesai mengaitkan kalung itu di lingkar leherku.Aku tersenyum, entah mengapa semuanya menjadi terasa hangat. Begitu pula sikapnya."Mada?" tanyaku hati-hati, ini kata pertama yang keluar dari mulutku setelah lidahku terasa kaku sejak tadi."Maafkan aku pergi di hari pernikahan kita sepuluh tahun lalu," sahutnya seraya tersenyum, sebuah bulir bening muncul di sudut matanya."Kau di sini?" tanyaku lagi."Pulang lah!" pintanya sedikit memohon."Kenapa? Bukankah kita perlu saling bicara?" tanyaku lagi, kesekian kalinya menunggu jawabnya.Ia menghela napas, sebuah kecupan hangat mendarat di keningku. Tiba-tiba semuanya gelap, seakan membutakan mataku, tak ada yang dapat kulihat. Namun, aku bisa mendengar sesuatu."Kau dapat menemuiku jika ingin."Tiba-tiba sebuah cahaya yang sangat terang membuat mataku terpejam dalam lalu kupaksakan untuk menatap cahaya itu. Semuanya berubah secepat kilat, ruangan yang sama sebelum aku jatuh tertidur. Ternyata, semua itu hanya mimpi."Kau tidak berangkat kerja?" suara wanita paruh baya membangunkanku dari tidur panjang."Ternyata aku hanya bermimpi," ujarku seraya menertawakan diriku sendiri. Wanita paruh baya itu pergi keluar kamar, meninggalkan aku sendiri.Aku bangkit dari ranjang, ketika aku baru berjalan dua langkah untuk keluar kamar, langkahku terhenti. Aku melihat bayanganku di sebuah cermin besar di meja rias. Bayangku. Tak ada yang aneh, kecuali sebuah benda berkilau melingkar di leherku."Mada?" tanyaku pada bayangan itu.