Pizza's Day
Fantasy
25 Jan 2026

Pizza's Day

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-26T004203.644.jfif

download - 2026-01-26T004203.644.jfif

25 Jan 2026, 17:42

download - 2026-01-26T004200.916.jfif

download - 2026-01-26T004200.916.jfif

25 Jan 2026, 17:42

Di Negeri Kora-Kora, para kurcaci sedang sibuk antri. Hari ini adalah peringatan Pizza's Day. Semua kurcaci berjejer ke belakang di depan toko Pizza milik Tuan Smith.

Pizza di toko Tuan Smith memang terkenal sangat lezat. Semua kurcaci sangat suka pizza itu, tak terkecuali Kurcaci Jim yang sejak tadi pagi ikut antri. Beberapa kali ia mengembuskan napas dan mengelus perutnya yang keroncongan. Apalagi ketika menghirup aroma perpaduan bumbu-bumbu khas dengan keju yang lumer.

"Ohh ... aku sebal harus antri!" gerutu Jim sambil menelan ludah.

"Sabar Jim, sebentar lagi goliran kamu!" kata Kurcaci Rio yang berdiri di belakangnya.

Akhirnya, tiba giliran Jim berdiri di depan kasir dan siap memesan. Melihat pizza yang baru matang dengan asap yang masih mengepul, tiba-tiba Jim mendapatkan ide.

"Aku beli sepuluh pizza sekaligus!" katanya sambil mengeluarkan uang.

"Maaf Jim, semua mendapatkan jatah satu pizza." Tuan Smith mengeulurkan satu loyang pizza.

"Aku punya uang, kenapa tidak boleh beli banyak?" tanya Jim tak terima.

"Sekali lagi maaf, semua temanmu ingin merasakan pizza hari ini. Jika kamu beli sepuluh pizza, itu artinya ada banyak temanmu yang tidak akan mendapatkan pizzanya!" Tuan Smith menjelaskan.

Sebetulnya Jim tahu itu, namun rasa lapar telah melupakan semuanya. Jim meletakkan uang di kasir dan mengambil paksa sepuluh pizza dari toko Tuan Smith.

"Jim, hentikan! Kamu tak boleh makan pizzaku sebanyak itu!" teriak Tian Smith.

"Aku sudah bayar, apa salahku?" Jim berlalu dengan membawa pizzanya.

"Jim! Kamu telah mengambil pizzaku!" teriak Rio dan kurcaci lainnya. Namun Jim telah menghilang ke dalam hutan.

"Dasar rakus, persis raksasa Grolle!" Teriak Rio sambil memdengus.

Jim masuk hutan dan mencari tempat untuk menghabiskan pizzanya. Di bawah sebuah pohon besar, ia membuka dus per dus pizza dan memakannya dengan lahap. Tanpa terasa, sepuluh dus pizza hampir ia habiskan sendirian. Dengan menyender di pohon, Jim mengelus perutnya yang mulai sakit.

"Aku tak sanggup lagi memakan pizza ini." Jim meletakkan sepotong pizza yang tersisa.

Angin sepoi-sepoi membuat matanya mengantuk. Jim tertidur dengan pulasnya.

*

Negeri Kora-Kora gempar! Dengkuran monster Grolle membuat mereka ketakutan.

"Asal suaranya dari hutan. Apa benar monster Grolle itu ada?" tanya Kurcaci Rio.

"Aku tidak tahu. Kukira itu hanya dongeng semata," jawab Tuan Smith.

Sementara itu, Jim terbangun dengan sangat kaget. Dia kesulitan berdiri, badannya sangat besar dan tinggi. Setelah susah payah berusaha, akhirnya Jim bisa berdiri.

"Apa yang terjadi dneganku? Mengapa aku jadi besar begini?" kata Jim sambil memegangi tubuhnya.

Matanya pun kini bisa melihat seluruh hutan dan negeri Kora-Kora.

"Ya ampun, apa aku jadi raksasa?" katanya pelan.

Jim mencoba berjalan, namun setiap kali menjejakkan kaki, tanah di sekitarnya bergetar.

"Aku benar-benar raksasa! Ya ampun apa yang harus aku lakukan?" Jim berhenti dengan kebingungan. Ia menatap rumahnya, namun negeri Kora-Kora tampak sepi.

"Pasti mereka ketakutan. Sebaiknya aku pergi dari sini."

Hari demi hari, Jim menyesali perbuatannya yang rakus. Kini ia telah menjadi raksasa menakutkan. Kerinduannya pada rumah terpaksa ia lupakan, karena Jim tahu teman-temannya pasti ketakutan melihat badannya kini.

Ketika sedang tiduran, Jim melihat binatang hutan berteriak dan berlarian ke arah negeri Kora-Kora.

"Apa yang terjadi?" gumamnya.

Seekor kelinci melintas dengan cepat, Jim menangkapnya dan bertanya.

"Apa yang terjadi?" katanya pada kelinci yang gemetar ketakutan.

"Ada yang memburu kami dan membakar hutan!" dengan terbata kelinci menjelaskan.

Jim melepaskan kelinci itu lalu mendekati hutan yang mulai memanas akibat dibakar. Ia mempercepat langkahnya dan menggeram marah.

Tanah bergetar dengan geraman yang menggema membuat manusia pembakar hutan itu lari tunggang langgang. Jim mengambil air di kali, dan menyemburkan air ke api yang membakar hutan. Beruntung, hutan yang dibakar baru sedikit hingga Jim masih bisa menyelamatkannya.

"Dasar manusia rakus!" teriak Jim.

Para binatang berkumpul menyambut Jim yang telah menolong mereka.

"Terima kasih, Tuan. Berkat anda, hutan kami masih utuh."

Jim menunduk meninggalkan mereka.

Setelah kejadian itu, para binatang sering mengirimkan Jim buah-buahan dan sayuran. Jim menerimanya dengan senang hati. Perlahan namun pasti, tubuh Jim mulai mengecil. Jim pun sangat bahagia.


Kembali ke Beranda