Langit Senja
Fantasy
30 Jan 2026

Langit Senja

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-30T225742.510.jfif

download - 2026-01-30T225742.510.jfif

30 Jan 2026, 15:59

download - 2026-01-30T225741.607.jfif

download - 2026-01-30T225741.607.jfif

30 Jan 2026, 15:59

Tok tok tok

Salsa mengetuk pintu rumah yang begitu mewah namun tampak sepi. Hampir beberapa menit dia menunggu, hingga akhirnya pintu rumah pun terbuka lebar.

"Eh, Non Sasa. Masuk Non" Ucap Bi Mina

"Makasih Bi. Oh iya, Langitnya ada Bi?" Tanya Salsa

"Loh, Sasa? Sejak kapan dateng dek?" Tanya seorang pria yang baru saja turun dari tangga

"Baru aja mas. Gimana kabar Mas Lian?" Tanya Salsa sembari menyalimi tangan Lian

Lian tersenyum lalu mengusap kepala Salsa lembut

"Baik. Kamu sendiri gimana dek?" Tanya Lian

"Alhamdulillah baik Mas"

"Langit mana mas? Aku kangen banget sama keponakan gemoy ku itu" Balas Salsa

"Ada di kamar. Naik aja"

"Jam segini mah Langit masih merajut mimpi dek. Kamu mah kepagian datengnya" Balas Lian

"Hehe soalnya keretanya pilih yang paling murah. Dan berangkat dari Jogja nya malem, jadi sampe sini ya pagi mas" Balas Salsa

"Astaga dek! Kenapa gak ngomong mas kalo mau kesini sih? Mas bisa pesenin kamu pesawat pagi. Gaperlu malem-malem harus perjalanan kesini" Omel Lian

"Gapapa kok Mas"

"Aku cuma numpang beberapa hari disini boleh gak? Aku mau cari pekerjaan di Jakarta Mas" Balas Salsa

"Kenapa dengan kerjaan kamu di Jogja?" Tanya Lian

"Bener kata Mas Lian. Boss aku gak baik. Gaji aku dua bulan gak di bayar Mas. Jadi aku putusin untuk resign aja" Balas Salsa

"Ck, kamu sih. Udah mas bilang kan sejak awal. Mas tau siapa dia, dia itu tukang korupsi"

"Udah dari Ibu meninggal juga, mas tawarin kamu untuk tinggal disini tapi kamu gamau" Omel Lian

"Iya maaf Mas. Kan aku gaenak, mas bukan kakak kandung aku. Mas cuma kakak ipar aku, tapi aku malah repotin mas terus" Ucap Salsa

"Astaga dek! Masih bisa kamu mikir begitu yaa"

"Kamu udah mas anggep adek kandung mas dek. Meskipun mbak mu udah gak ada, bukan berarti mas bakal lupain kamu gitu aja"

"Kamu juga keluarga Mas! Kamu gapernah sedikit pun repotin mas! Jangan pernah ngomong gitu lagi ya dek! Mas gak suka dengernya" Omel Lian

Lian Pradipta, seorang pria berusia 30 tahun. Pemilik sebuah cafe yang lumayan besar di Jakarta. Lian sendiri adalah seorang duda yang di tinggal pergi oleh Istrinya karena melahirkan buah hati mereka. Lian harus mengikhlaskan kepergian istrinya, setelah Istrinya melahirkan putra kecil mereka.

Sedangkan Salsadila Anastasya merupakan adik dari mendiang istri Lian. Lian sudah menganggap Salsa seperti adiknya sendiri. Karena Lian dan istrinya sudah menikah sejak sepuluh tahun lalu, saat usia Salsa masih duduk di bangku SMP. Lian yang merupakan anak tunggal pun sangat senang saat melihat adik iparnya yang sangat menggemaskan saat itu.

Setelah lima tahun lamanya menikah, Lian dan istrinya pun tak kunjung diberikan buah hati. Namun Lian tetap sabar dan tak memaksakan apapun pada istrinya. Hingga di tahun pernikahannya yang keenam, istrinya pun hamil. Lian sangat bahagia setelah mengetahui jika ia akan menjadi seorang ayah. Namun ternyata kebahagiaannya tak berlangsung lama, setelah melahirkan putra kecilnya. Istri tercintanya harus pulang ke peristirahatannya untuk selama-lamanya.

Lian sudah tiga tahun merawat putranya sendiri karena Salsa dan Mertuanya tinggal di Jogjakarta. Sedangkan Lian tinggal di Jakarta. Walaupun begitu, Salsa hampir dua bulan sekali ke Jakarta untuk menemui keponakan kesayangannya. Namun, setahun yang lalu ibu Salsa meninggal dunia, karena penyakit yang ia derita. Lian sudah berusaha mengajak Salsa tinggal bersamanya, namun Salsa menolak karena ia merasa tak enak jika merepotkan kakak iparnya.

"Iya, maaf Mas. Janji gak ngomong begitu lagi"

"Sasa ke kamar Langit dulu ya Mas" Ucap Salsa

"Yaudah sana, Langit juga pasti seneng. Tantenya dateng" Balas Lian

Salsa berjalan menuju kamar Langit. Keponakan kesayangannya yang kini berusia tiga tahun. Langit Revanjaya Pradipta, nama yang Lian berikan untuk putra semata wayangnya.

Salsa menciumi seluruh wajah Langit yang masih terlelap

"Eughh ayahhh, Langit masih ngantuk" Lenguh sang bocah

"Loh? Kok ayah? Ayah diem aja loh disini. Bukan ayah yang ciumin kamu. Coba di buka dulu matanya sayang" Ucap Lian di belakang Salsa

Dengan berat hati, Langit mencoba membuka matanya. Senyumannya langsung terpancar melihat sosok gadis cantik di hadapannya

"Anteeeeee Sasaaaaa" Teriak Langit

"Hayy gantengnya antee" Sapa Salsa

Langit beranjak dan langsung memeluk Salsa

"Langit kangen sekali sama Anteeee. Ante jahat, Ante lupain Langit" Ucap Langit di dalam pelukan Salsa

"Utututu maafin ante ya sayang. Ante gak lupain Langit sayang, tapi ante sibuk kerja kemarin. Maaf ya sayang" Balas Salsa merasa bersalah

"Langit sayang, udah gausah sedih. Mulai sekarang, ante bakal nemenin Langit bobo disini" Ucap Lian

Langit terperangah menatap Lian dan Salsa bergantian. Sedangkan Salsa sudah tersenyum ke arahnya

"Benelan ante?" Tanya Langit

"Iya sayang, boleh kan ante bobo sama Langit?" Tanya Salsa

"Yeayyyy, boleh ante. Langit senang ante bobo sama Langit. Yeayyy" Teriak Langit

"Tuh dek, seneng banget bocahnya" Ucap Lian tersenyum

Lian ikut senang melihat Langit begitu bahagia mendengar Salsa akan tinggal bersamanya

"Iya Mas, aku gak nyangka Langit sebahagia ini. Jadi gak tega nanti mau ngekos" Ucap Lirih Salsa

"Ck, nanti kita bicara lagi ya. Mas ke cafe dulu, kamu jagain Langit" Balas Lian kesal

"Dih, kenapa sih? Harus ada ck nya segala" Balas Salsa

"Kamu nakal soalnya, bikin mas kesel mulu dari tadi dateng" Ucap Lian

"Loh, aku salah ap - "

"Sayangnya ayah, ayah kerja dulu ya nak. Langit sama ante di rumah. Jagain ante nya jangan sampe pergi yaa. Ante nakal soalnya, kalo gak di jagain tiba-tiba pergi" Ucap Lian pada Langit

"Ish, ante nakal? Ante mau pelgi lagi? Katanya mau nemenin Langit?" Tanya Langit

"Makanya Langit jagain ante jangan sampe pergi yaa"

"Yaudah kiss ayah dulu, ayah mau kerja" Ucap Lian

Langit mencium kening, kedua pipi dan terakhir bibir Lian. Lian memang membiasakan hal itu pada Langit setiap ia pergi dan pulang dari cafe. Hingga kini Langit sudah terbiasa mencium ayahnya setiap hari

"Ayah hati-hati" Balas Langit

"Makasih ganteng. Bye nak"

"Berangkat dulu Sa, inget. Jagain Langit yaa" Ucap Lian

"Astaga Mas! Langit ponakan aku! Gak mungkin aku biarin dia ilang!" Gerutu Salsa

"Hahaha ya bukan Langit yang ilang, tapi kamu" Balas Lian sembari mencubit pipi Salsa

"Awshh Mas! Ishhh!"

"Mas nih gapernah berubah! Seneng banget nyubit pipi aku!" Omel Salsa

Memang sejak menjadi kakak iparnya, Lian senang sekali mencubit pipi gembul Salsa. Karena dulu saat Salsa SMP, Salsa sangat berisi dan pipinya sangat menarik perhatian Lian untuk Lian cubit. Namun kini walaupun sudah kurus, pipi Salsa tetap menggemaskan bagi Lian.

"Mas kangen sama pipi bakpao mu itu hahaha" Balas Lian sembari meninggalkan kamar Langit

"Ayah tuh nakal ya dek, ngeselin" Ucap Salsa pada Langit

"Hihihi gak ante, ayah baik kok" Balas Langit

"Yeuh salah gue ngomong sama anaknya" Lirih Salsa

***

"Dek, Langit udah tidur?" Tanya Lian lirih

"Eh? Udah mas. Baru aja" Balas Salsa

"Ke bawah yuk, Mas mau ngobrol sama kamu. Mas juga beli martabak coklat keju kesukaan kamu" Ucap Lian

"Wih? Oke yuk" Balas Salsa semangat

Lian menggelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat tingkah Salsa yang sangat menyukai Martabak coklat keju

Setelah sampai di bawah, Lian membiarkan Salsa untuk makan martabak lebih dulu. Setelah di rasa Salsa sudah cukup puas, baru Lian memulai obrolan mereka

"Adek apa kabar?" Tanya Lian

"Mas? Mas udah tanya itu saat aku dateng tadi loh" Balas Salsa heran

"Tadi pagi, Mas tanya keadaan fisik kamu. Sekarang, mas tanya kabar hati adek"

"Dek, mas jadi kakak kamu bukan setahun dua tahun. Mas tau kamu gimana, setahun di tinggal ibu pasti berat banget buat kamu. Mas cuma pengen tau kabar kamu yang sebenarnya dek" Jelas Lian

Mata Salsa tiba-tiba berkaca-kaca. Salsa tak menyangka, kakak iparnya ini benar-benar mengerti dirinya yang memang tidak baik-baik saja.

"Berat Mas. Tiga tahun lalu waktu di tinggal Mbak aja rasanya masih sakit, ditambah Ibu yang pergi ninggalin aku sendirian"

"Aku udah gapunya siapa-siapa selain Mas dan Langit. Cuma Mas dan Langit keluarga aku yang tersisa"

"Aku cuma mau minta tolong banget sama Mas. Kalo Mas nanti nikah lagi, jangan pernah larang aku ketemu Langit ya Mas. Jangan pernah lupa sama aku, aku tetep adik Mas kan meskipun mas sudah punya keluarga baru nantinya?" Ucap Salsa dengan air mata yang sudah mengalir di wajahnya

Lian yang tak kuasa mendengar ucapan Salsa segera menarik Salsa ke dalam pelukannya. Lian mengusap punggung Salsa seraya menenangkan Salsa

"Dek, mas bahkan gapernah kepikiran untuk nikah lagi. Tujuan mas cuma mau fokus rawat Langit dek"

"Mas gak akan pernah jauhin kamu dan Langit, karena Langit sayang sekali sama kamu. Mas juga gak akan pernah lupain adik kecilnya Mas ini. Kamu jangan pernah takut yaa, Mas dan Langit akan selalu ada untuk kamu dek. Mas dan Langit akan selalu nemenin kamu" Balas Lian

Salsa membalas pelukan Lian dan menangis di dada bidang Lian

"Makasih ya Mas hiks hiks. Mas Lian sehat-sehat terus yaa. Jangan ninggalin aku dan Langit seperti Mbak dan Ibu hiks hiks. Lukanya masih sakit Mas, aku takut kehilangan lagi hiks hiks" Balas Salsa

"Hey, jangan bicara begitu yaa. Kamu doain aja Mas, kamu dan Langit sehat terus"

"Udah yaa, jangan sedih. Maaf sudah buat Adek nangis malem-malem begini" Ucap Lian sembari melepas pelukannya dan mengusap air mata di wajah Salsa

Lian sempat terpaku melihat wajah Salsa dari dekat. Salsanya kini sudah menjadi seorang gadis dewasa yang sangat cantik.

"Kenapa mas?" Tanya Salsa heran melihat kakaknya terpaku menatapnya

Lian segera menggelengkan kepalanya

"Gak, gapapa" Balas Lian

Astaga Lian, lo ngapain sih! Sasa adek lo! Kenapa lo bisa terpesona sama adek lo sendiri sih *batin Lian

"Mas, besok aku cari kerja ya" Ucap Salsa

"Nah, ini juga yang mau mas sampein ke kamu" Balas Lian

"Kenapa?" Tanya Salsa

"Bi Mina udah lama pengen berhenti kerja" Ucap Lian

"Hah? Kenapa Mas?" Tanya Salsa

"Ya Bi Mina kan udah tua. Dia pengen menikmati masa tuanya sama anak dan cucunya di kampung Sa"

"Tapi mas larang karena mas gabisa percaya sama orang lain untuk jagain Langit. Apalagi banyak berita suster dari yayasan terpercaya pun melakukan penyiksaan sama anak majikannya"

"Mas takut kalo itu kejadian sama Langit. Mas juga kan sibuk kerja di cafe, gabisa jagain Langit seharian full"

"Nah, waktu kemarin kamu dateng dan Bi Mina denger kamu akan tinggal disini. Bi Mina ngajuin resign lagi sama Mas. Mas gak tega sebenernya sama Bi Mina dek. Dia udah tua dan pengen banget balik ke kampungnya"

"Jadi maksud mas mau ngobrol sama kamu tuh. Mas mau kamu aja yang jagain Langit di sini yaa. Kamu gausah kerja, mas akan bayar kamu setiap bulannya untuk beli kebutuhan kamu disini. Mas titip anak mas sama kamu, bisa kan dek?" Tanya Lian

"Mas ishhh, Langit itu keponakan aku. Masa aku jagain dia harus dibayar sih. Kek baby sitter aja" Balas Salsa

"Ya anggap aja kamu kerja sama mas dek. Jadi kamu gausah sibuk cari kerja di Jakarta" Balas Lian

"Hhmm boleh deh Mas. Cari kerja di Jakarta juga pasti susah kalo aku cuma lulusan SMA" Balas Salsa

"Beneran? Kamu mau dek?" Tanya Lian

"Beneran. Tapi gausah banyak-banyak sih Mas. Terpenting cukup buat beli skincare ku aja hehe"

"Kan kalo makan aku tetep ikut Mas Lian" Balas Salsa

"Iyaa, bilang aja butuhnya kamu berapa. Nanti Mas transfer tiap bulan"

"Asal kamu bisa jagain anak mas dengan baik ya" Ucap Lian

"Siap bos! Dengan Sasa, dijamin anak Mas bakalan gembul kek Sasa dulu" Balas Salsa sembari memberikan hormat pada Lian

"Hahaha okee, buktikkan aja ya sus" Balas Lian terkekeh

"Dihh, sus rini kali ah" Balas Salsa

Lian terkekeh mendengar jawaban nyeleneh dari adik iparnya itu

***

"Ante" Panggil Langit

"Kenapa sayang?" Tanya Salsa

"Kata ayah, Ibu Langit udah di sulga?" Tanya Langit

"Iya sayang, Ibu Langit sudah tinggal di Surga"

"Langit kenapa sayang? Kok tiba-tiba tanya Ibu? Hhmm?" Tanya Salsa lembut

"Langit ingin sepelti Sam Ante. Sam selalu jalan-jalan sama Ayah dan Ibunya. Tapi Langit tidak pelna jalan-jalan sama Ayah" Balas Langit sedih

"Sayang, Langit mau jalan-jalan? Jalan-jalan sama ante aja mau ya? Hhmm?" Bujuk Salsa

"Nanti ayah malah kalo Langit pelgi sama ante" Balas Langit

"Kenapa marah? Kan perginya sama ante. Kalo Langit pergi sendiri, pasti ayah marah" Balas Salsa

"Tapi Langit pengen sepelti Sam ante, pelginya sama Ayah dan Ibu" Balas Langit sedih

"Sayang, Ibu kan sudah di surga. Ibu jagain Langit dari surga sayang. Langit gaboleh sedih, kalo Langit sedih nanti di atas sana Ibu ikut sedih sayang" Balas Salsa

"Ibu sedih kalo Langit sedih?" Tanya Langit

"Iya sayang, Ibu pasti sedih kalo liat Langit sedih disini"

"Oh iya, Langit tau gak kenapa kamu namanya Langit? Hhmm?" Tanya Salsa

"Gatau ante" Balas Langit

"Karena itu nama pemberian Ibu sayang. Ibu mau Langit bisa menjadi laki-laki yang memiliki hati seluas angkasa, laki-laki yang kuat dan mandiri. Serta bisa menjadi laki-laki yang sabar dan tenang, setenang langit biru di atas sana sayang" Ucap Salsa sembari menunjuk ke arah langit lepas

Salsa dan Langit tengah berada di halaman belakang rumah Lian. Salsa menemani Langit bermain di halaman belakang. Namun entah mengapa, Langit tiba-tiba menanyakan hal yang menyedihkan

"Nama Langit kelen dong belalti ante" Balas Langit

"Keren banget dong. Kan Ibu yang memberikan nama pada Langit" Balas Salsa

"Ayah dan Ibu dong tante. Ayah juga ikut kasih nama buat Langit loh" Seru Lian

Salsa dan Langit refleks menoleh ke arah Lian ketika laki-laki itu tiba-tiba ikut menimbrung pembahasan tante dan keponakan itu

Lian yang baru saja pulang kerja langsung membersihkan tubuhnya dan masuk ke dalam kamar Langit untuk mencari putranya. Namun saat tak menemukan Langit di kamarnya, Lian langsung mencari putranya di seluruh rumah.

Lian yang hendak menghampiri Salsa dan Langit, menghentikkan langkahnya ketika mendengar ucapan sedih dari putranya. Lian pun mencoba mendengarkan lebih dulu pembahasan Salsa dan Langit.

Lian baru sadar, anaknya sudah semakin besar. Langit bahkan mulai merasa iri pada teman sepantarannya yang memiliki orang tua lengkap.

"Loh ayah? Ayah sudah pulang" Ucap Langit

"Udah dong sayang"

"Oh iya, tadi ayah denger Langit pengen jalan-jalan? Bener? Hhmm?" Tanya Lian

"Iya ayah, tapi kalo ayah kelja gapapa kok ayah. Langit di lumah saja sama Ante" Balas Langit

Lian menatap putranya dengan tatapan sedih. Anaknya baru berusia tiga tahun, tapi kenapa Langit bisa sedewasa ini di usia nya yang masih sangat kecil.

"Mas" Ucap Salsa sembari mengusap punggung Lian

Salsa tau rasa bersalah Lian yang selama ini kurang perhatian pada Langit karena pekerjaannya. Salsa bisa menyadari dari tatapan sedih Lian.

Lian tersenyum pada Salsa, sebagai tanda jika ia tak apa-apa

"Besok ayah libur sayang. Besok kita jalan-jalan liat hewan mau? Ayah, Langit dan Tante Sasa? Mau tidak?" Tanya Lian

"Ayah? Ayah benelan? Kita jalan-jalan ayah?" Tanya Langit

"Iya dong boy. Mau gak?" Tanya Lian

"Mau ayah! Langit mauuuu. Yeayyyyy jalan-jalannnn" Seru Langit

"Hahahah seneng banget sih"

"Tanya dulu dong sama tantenya, tante mau ikut gak?" Tanya Lian

"Ante, ante ikut yaa. Biar Langit bisa sepelti Sam. Jalan-jalan sama ayah dan Ibunya"

"Ante jadi Ibu Langit ya besok. Kita jalan-jalan sama ayah. Mau ya anteee" Ucap Langit semangat

Sedangkan Salsa dan Lian menatap Langit, karena terkejut dengan ucapan Langit. Langit begitu ingin merasakan memiliki orang tua yang lengkap, hingga ia ingin Salsa menjadi ibunya

"Dek, maafin Langit. Dia masih gatau apa yang dia ucapin" Bisik Lian

"Iya mas. Gapapa. Aku paham kok" Balas Salsa

"Iya sayang, ante mau. Besok kita jalan-jalan ya" Ucap Salsa

"Yeayyyy jalan-jalan sama Ayah dan anteeee" Balas Langit bahagia lalu melanjutkan bermain dan meninggalkan Lian dan Salsa

"Seneng banget liat dia sebahagia itu Mas" Ucap Salsa

"Iya dek. Mas jadi ngerasa bersalah karena selama ini mas terlalu sibuk kerja dan kurang perhatian sama Langit"

"Sania pasti sedih di atas sana, karena mas gak becus jadi ayah yang baik buat Langit" Ucap Lian

"Sustt hey, Mas gaboleh ngomong begitu"

"Mas itu ayah terbaik buat Langit. Mas bahkan rela gak nikah lagi demi fokus ngurus Langit. Mbak Sania pasti bangga sama Mas disana Mas. Mas jangan ngomong gitu lagi ya" Ucap Salsa sembari mengusap punggung Lian

"Dek, mas boleh minta peluk gak? Mas capek banget rasanya hari ini" Balas Lian

Salsa tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya. Lian segera masuk ke dalam pelukan Salsa dan mencari kenyamanan pada dada Salsa

"Nyaman banget ada di pelukan kamu dek" Ucap Lian

Entah mengapa jantung Salsa berpacu sangat cepat saat mendengar Lian mengatakan hal itu. Di tambah Lian yang kini tengah mengusal pada dadanya, berhasil membuat jantung Salsa semakin tak karuan.

"Mas udahan ih, berat tau" Ucap Salsa sembari mencoba menetralkan perasaannya

"Masih nyaman dek, disini empuk" Balas Lian frontal

"Isshhh masss ihhh! Minggir! Mesum banget sihhh" Omel Salsa sembari mendorong tubuh Lian

"Hah? Mas mesum darimana nya sih dek?" Tanya Lian terkejut

"Itu tadi bilang dada Aku empuk" Balas Salsa malu

Lian tersenyum lalu mengusap kepala Salsa kasar

"Ya kan emang empuk. Adek kan cewek, punya nenen, makanya empuk"

"Kalo mas, kan cowok gapunya nenen dek" Balas Lian frontal

"Ishhh gausah di perjelas! Aku kan maluuu massss" Ucap Salsa

"Hahahaha ngapain malu sih! Kamu dari kecil tuh sama mas! Walaupun setelah mbak gak ada, mas pindah ke Jakarta tapi tetep aja mas tau kamu dari SMP dek. Gausah malu sama Mas" Balas Lian

"Ish ya tetep aja. Dulu kan aku masih kecil, sekarang kan udah gede. Ya beda lah mas" Balas Salsa

"Iya sih beda, sekarang makin gede" Balas Lian sembari menatap dada Salsa

"Masshhh ishhhhhhh tau ahhh! Dasar duda mesum!" Umpat Salsa lalu meninggalkan Lian dan menggandeng Langit pergi

Lian terkekeh melihat Salsa yang terlihat kesal padanya. Lian bisa kembali merasakan kebahagiaan sejak Salsa tinggal di rumah bersamanya dan Langit.

***

"Hey, kok diem aja? Langit gak seneng liat hewan-hewan? Hhmm?" Tanya Lian

Sesuai janjinya, Lian mengajak Salsa dan Langit pergi ke daerah bogor untuk melihat satwa di tempat wisata Cimory Dairyland. Lian ingin menghabiskan waktunya bersama Langit dan Salsa.

"Hey? Sayang? Di tanya ayah loh? Kok diem aja sih? Kenapa? Hhmm?" Tanya Salsa

"Hiks hiks ayahhh hiks hiks" Ucap Langit terisak

"Loh? Kenapa? Kok nangis?" Tanya Lian lalu menggendong Langit

"Ayahhh, Langit pengen punya Ibu hiks hiks. Langit pengen sepelti anak itu hiks hiks" Ucap Langit menunjuk sebuah keluarga kecil yang terlihat bahagia

"Sayang, Langit kan tau. Ibu Langit sudah di surga. Kenapa Langit nangis dan marah seperti ini? Langit punya Ibu kok sayang, tapi Ibu Langit sudah ada di atas sana" Balas Lian

"Hiks hiks gamau ayahhh gamauuuu"

"Langit mau punya Ibuuuuu hiks hiks" Balas Langit berontak

"Langit!" Tegur Lian

"Mas! Jangan di bentak Langitnya" Tegur Salsa

"Sini sayang sama ante" Ucap Salsa lalu merebut Langit dari Lian

"Langit dengerin Ante ya sayang"

"Langit kan masih punya ante, Langit bisa anggap Ante Ibu Langit. Ante sayang sama Langit seperti Ibu yang sayang banget sama Langit" Ucap Salsa pada Langit

"Hiks hiks, benelan ante? Langit boleh panggil ante Ibu? Hiks hiks?" Tanya Langit

"Eh? Hhmm jangan sayang. Tetep panggil ante dong. Kan ante - "

"Hiks hiks hiks katanya ante Ibu Langit? Kenapa gaboleh panggil Ibu? Hiks hiks" Ucap Langit terisak

"Langit! Kamu kenapa sih! Ayah udah ajak kamu jalan-jalan sesuai keinginan kamu! Tapi nyampe disini kamu malah marah-marah gak jelas gini! Mending kita pulang deh! Kamu juga nakal, maksa tante Sasa aneh-aneh! Udah ayo pulang!" Omel Lian

"Mass!" Tegur Salsa

"Udah Sa, gausah di manja lagi Langitnya! Dia malah makin ngelunjak nanti" Balas Lian

"Ck, udah sana Mas minggir. Biar aku yang urus Langit" Omel Salsa

"Loh, kok mas yang di usir sih" Balas Lian

"Yaudah makanya diem! Nenangin anak tuh bukan sama emosi! Diem!" Omel Salsa

"Hhmm lupa mas kalo di depan mas udah bukan bocil! Udah berani bentak-bentak masnya" Sindir Lian

"Astaga, maaf Mas. Bukan begitu maksud aku" Balas Salsa

"Iya iya, mas paham kok" Balas Lian

"Langit sayang, cup cup nak. Udah ya jangan nangis"

"Langit kan laki-laki. Masa anak laki, cengeng sih? Hhmm? Malu tauu" Ucap Salsa

Langit tak lagi menanggapi Salsa, dia masih menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya

"Sayang, jangan nangis. Ante ikut sedih liat Langit nangis begini"

"Maafin ante yaa, ante bukan larang Langit untuk manggil Ibu sama Ante. Ibu Langit tetep Ibu Sania sayang. Ibu yang sudah berjuang lahirin Langit"

"Ante gak akan pernah bisa ganti posisi Ibu Sania di hidup Langit. Tapi Ante bisa menyayangi Langit seperti Ibu Sania menyayangi Langit"

"Hhmm gimana kalo Langit panggil Ante, Buna? Gimana? Hhmm?" Tanya Salsa

Lian membulatkan matanya mendengar Salsa mengatakan hal itu pada Langit

"Buna?" Tanya Langit

"Buna itu sama seperti Ibu sayang. Hanya berbeda panggilannya saja"

"Jadi, Ibu Langit tetap abadi di hidup Langit yaitu Ibu Sania. Dan ini, Buna Sasa yang akan menyayangi Langit selama-lamanyaaaa" Balas Salsa memeluk Langit

"Hiks hiks Bunaaaaa"

"Langit punya Bunaaa" Ucap Langit membalas pelukan Salsa

"Iya sayang, Langit punya Buna" Balas Salsa dengan air mata yang menetes

Mbak, aku janji. Aku akan lakuin apapun demi kebahagiaan Langit *batin Salsa

San, liat adik kita San. Dia benar-benar sudah dewasa. Dia bahkan rela mengisi sosok mu dalam hidup Langit *batin Lian

"Eitss tanya Ayah dulu. Boleh tidak panggil ante Buna. Takutnya ayah gak bolehin Langit" Ucap Salsa sembari menatap Lian

"Ayah hiks hiks. Boleh kan Langit panggil Ante Buna?" Tanya Langit

Lian mensejajarkan tubuhnya dengan Langit dan Salsa.

"Boleh, tapi janji Langit jangan nangis lagi yaa. Sekarang Langit kan udah punya Buna, Langit gaboleh iri sama orang lain lagi. Oke sayang" Ucap Lian

"Iya ayah" Balas Langit

"Good boy. Di hapus dong air matanya, masa anak ayah cengeng sih"

"Nanti ayah kasih kamu ke harimau ya, biar di makan harimau. Mau?" Tanya Lian sembari mengusap air mata di wajah Langit

"Gamau ayah" Balas Langit

"Maafin ayah ya, tadi udah marah sama Langit" Ucap Lian

"Iya ayah. Langit juga minta maaf kalena nakal dan cengeng" Balas Langit

"It's okey sayang. Asal janji gaboleh di ulangi ya" Balas Lian

"Iya ayah" Balas Langit

"Buna di hapus juga dong air matanya. Langit kan udah gak nangis" Ucap Lian lalu mengusap air mata Salsa

"Eh, hehe iya lupa"

"Yaudah yuk, kita lanjut jalan-jalannya" Balas Salsa salah tingkah

Entah mengapa setelah hampir dua bulan tinggal bersama kakak iparnya. Salsa seringkali gugup dan salah tingkah saat berinteraksi dengan Lian. Salsa sendiri bingung dengan perasaannya saat ini.

"Yaudah yuk" Balas Lian

Setelah selesai dari tempat wisata awal, Lian mengajak Langit dan Salsa untuk bermalam di Puncak. Karena Lian sudah menyewa sebuah Villa untuk mereka bertiga.

"Mas udah sore, udahan renangnya. Kasian Langit itu nanti masuk angin" Teriak Salsa

"Tuh, Buna udah suruh berhenti. Ayoo" Ucap Lian pada Langit

"Ayahhh masih mau renanggg" Rengek Langit

"Anaknya masih mau renang Bun" Teriak Lian

Salsa berusaha menetralkan jantungnya tiap Lian memanggilnya dengan sebutan Buna

Mbak, Mbak marah gak ya kalo tiba-tiba aku suka sama Mas Lian? Mas Lian bener-bener suami idaman Mbak. Lama-lama aku bisa gila kalo suami mbak bersikap manis terus sama aku mbak. Sikap Mas Lian udah bukan seperti dulu, ini udah bukan kek abang ke adek nya mbakkkk *batin Salsa

"Langit, udah sore nak. Ayo udahan berenangnya. Besok pagi kan bisa berenang lagi sayang" Ucap Salsa

"Oke Buna" Balas Langit

"Lah, nurut banget giliran buna nya yang ngomong" Gerutu Lian

"Hahaha siapa dulu, Sasa gitu loh"

"Udah mas juga buruan mandi, ntar masuk angin lagi. Makin dingin soalnya udaranya" Omel Salsa

"Mandiin juga dong Buna" Goda Lian

"Heh! Mas!" Tegur Salsa

"Hahahaha gak adil kamu dek, Langit di mandiin. Mas gak di mandiin" Balas Lian terkekeh

"Dasar gilaaa!" Umpat Salsa lalu membawa Langit masuk ke dalam Villa

Lagi-lagi Lian tertawa melihat Salsa kesal kepadanya.

***

"Loh mas? Kok belum tidur?" Tanya Salsa menghampiri Lian

"Eh dek, tunggu dalem aja. Mas lagi ngerokok" Balas Lian

"Mas! Kayanya semenjak di tinggal Mbak. Mas makin parah ya ngerokoknya" Omel Salsa

Lian segera mematikan rokok yang ada di tangannya lalu menatap Salsa dengan senyumannya

"Udah lama gak ada yang ngomel kalo Mas lagi ngerokok" Balas Lian

"Ish, malah ngomong yang lain!" Omel Salsa

"Hahaha mas seneng aja dek. Ternyata kamu gak perhatian sama Langit aja, tapi mas juga" Balas Lian

Salsa menghela nafasnya lalu menatap Lian

"Mas, mas kan udah janji untuk sehat terus. Gimana mas mau sehat kalo mas ngerokok terus mas?"

"Sisa rokok di baju mas juga bahaya buat Langit dan aku. Mas gak kepikiran kalo rokok itu sangat bahaya ya buat Langit, aku dan bahkan mas sendiri" Ucap Salsa berkaca-kaca

Lian yang melihat mata Salsa mulai berkaca-kaca pun sadar jika Salsa kembali merasa ketakutan akan kehilangan

"Mas mandi dulu ya, kamu tunggu mas di ruang tengah. Nanti kita lanjutin obrolan kita" Ucap Lian mengusap kepala Salsa

Salsa menganggukkan kepalanya lalu menunggu Lian di ruang tengah Villa mereka.

"Maaf ya, mas lama" Ucap Lian sembari duduk di sebelah Salsa

"Gak kok mas" Balas Salsa

Lian menghela nafasnya lalu menghadap ke arah Salsa

"Adek, adek jangan marah dong sama mas"

"Semenjak Sania pergi, hidup mas udah jauh gak terkontrol apalagi soal rokok"

"Tapi mas janji, mas akan kurangin rokok mas yaa. Adek juga gaperlu khawatir, Mas gak akan kenapa-napa dek" Ucap Lian

"Berhenti mas, bukan di kurangin! Rokok itu bahaya! Mas ngerti gak sih!" Omel Salsa

"Ya gabisa dong dek kalo langsung berhenti, susah" Balas Lian

"Pasti bisa mas! Aku bakal bantuin Mas buat berhenti ngerokok!"

"Ntar kalo udah pulang ke rumah, aku bakal beliin mas buah-buahan dan permen. Jadi tiap mas pengen rokok, mas mam aja permen" Balas Salsa

"Hhmm gak ngaruh! Mas udah pernah coba"

"Dulu mas bisa berhenti ngerokok karena gantinya cium bibir mbakmu. Makanya setelah mbak mu gak ada, mas jadi ngerokok lagi" Balas Lian

"Ish, masa harus gitu sih mas" Balas Salsa

"Emang iya harus gitu"

"Adek mau gak? Mas cium bibirnya, untuk gantiin mulut mas yang pahit pas pengen ngerokok?" Tanya Lian Frontal

"Hah? Kenapa harus aku? Sama pacar mas sana lah" Balas Salsa

"Ck, mas gapunya pacar!"

"Lagian yang maksa mas untuk berhenti ngerokok kan kamu, ya makanya mas minta ke kamu dek" Balas Lian mengintimidasi

Sejujurnya Lian sendiri sudah mulai jatuh hati dengan Salsa. Beberapa bulan tinggal bersama, membuat Lian bisa kembali merasakan gejolak aneh setiap di dekat adik iparnya. Salsa benar-benar memberi warna baru pada hidup Lian setelah kehilangan istrinya tiga tahun lalu.

"Tapi aku kan maksa mas juga untuk kesehatan mas" Balas Salsa

"Iya, mas paham dek. Tapi mas gabisa langsung berhenti gitu aja, mas - "

"Yaudah iya, aku mau" Balas Salsa pasrah

Lian menatap Salsa dengan tatapan tak percaya

"Beneran mau?" Tanya Lian

"Mm-mau" Balas Salsa gugup

Lian tersenyum lalu mengusap wajah Salsa

"Kalo sekarang boleh? Tadi kan ngerokoknya belum puas" Balas Lian sendu

Salsa refleks menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Lian. Salsa benar-benar tak bisa mengendalikan diri jika sudah berada di dekat Lian.

Lian tersenyum lalu mulai mencoba mendekatkan wajahnya pada wajah Salsa. Lian mulai menempelkan bibirnya pada bibir mungil Salsa, lalu perlahan melumatnya.

"Buka bibirnya dek, ikutin apa yang mas lakuin" Ucap Lian

Lagi-lagi Salsa hanya bisa menganggukkan kepalanya lalu mulai mengikuti permainan lidah Lian.

Salsa dan Lian benar-benar terbawa suasana, hingga kini Salsa tak sadar sudah berada di bawah kungkungan Lian.

"Eughh mashh" Lenguh Salsa saat Lian menyesap leher mulusnya

Saat Lian mulai meremas payudaranya, kesadaran Salsa segera kembali lalu mendorong Lian.

"Kenapa dek?" Tanya Lian heran

"Maaf mas, aku ngantuk. Aku tidur dulu" Balas Salsa lalu pergi dari hadapan Lian

"Ck! Lo gabisa banget nahan diri Lian! Sasa pasti marah sama lo! Lagian nih tangan nakal banget main remes-remes dada Sasa!"

"Begini nih efek kelamaan jomblo! Sekali deket cewek gabisa nahan! Padahal itu adek lo Lian!"

"San, maafin Mas yaa. Sepertinya mas udah beneran jatuh cinta sama adek kita. Kamu bener San, hanya Sasa yang bisa gantiin kamu di hidup mas" Monolog Lian

Flashback On

"Mas, kalo nanti aku melahirkan dan aku gabisa di selamatkan. Tolong kamu jaga anak kita baik-baik ya Mas" Ucap Sania

"Ck, kamu tuh ngomong apa sih sayang!"

"Bertahun-tahun kita nikah! Kehadiran adik sudah lama kita nantikan! Tapi kamu malah ngomong begini! Mas gak suka dengernya!" Balas Lian

"Mas, kamu kan tau sendiri. Melahirkan seorang anak itu taruhannya nyawa mas. Dan aku paham resiko itu"

"Aku cuma mau kamu janji kalo aku udah gak ada, kamu harus jaga dan rawat anak kita baik-baik mas" Ucap Sania

"Sayang! Belum lahir aja mas udah sayang banget sama anak kita! Tanpa kamu minta pun mas akan jaga anak kita sebaik mungkin sayang, dan itu sama kamu!" Balas Lian

Sania tersenyum lalu mengusap wajah Lian

"Kalo aku gak ada, jangan nikah lagi ya mas. Aku takut istri baru kamu gak akan terima Langit dengan tulus. Aku takut Langit - "

"Sutss udah, tidur! Kamu makin lama makin ngaco ngomongnya. Udah ayo tidur" Omel Lian

"Mas, kamu boleh nikah lagi kalo nikahnya sama Sasa ya mas. Aku lebih percaya adik aku akan menyayangi Langit setulus aku, dan dia gak akan berani nyakitin Langit kaya ibu tiri di sinetron-sinetron. Aku takut mas" Balas Sania

"Astaga Sania! Kamu sadar gak sih barusan ngomong apa? Sasa masih kecil! Dia itu adik kamu, adik mas, adik kita! Gimana bisa mas nikah sama dia!"

"Bahkan Mas yang akan nikahin dia sama laki-laki pilihan dia nantinya sebagai pengganti bapak! Bukan mas yang nikah sama Sasa!" Ucap Lian

"Mas, takdir gak ada yang tau kedepannya akan seperti apa! Aku cuma takut takdir gak mengizinkan aku untuk merawat putra ku nanti mas!"

"Kamu itu laki-laki dewasa, setelah aku tiada kamu juga pasti butuh istri yang melayani kamu nantinya sebagai penggantiku. Dan aku yakin, cuma Sasa yang bisa gantiin aku sebagai istri kamu mas"

"Adik aku itu cantik, manis dan penurut. Dia juga sangat baik mas! Aku hanya percaya sama dia untuk menjadi Ibu sambung dari anak kita. Dan aku yakin, kamu juga akan bahagia jika hidup sama Sasa nantinya Mas" Ucap Sania

"Cukup San! Kamu udah bener-bener kelewatan! Mas gak suka denger semua ucapan kamu ini!"

"Kamu cuma overthinking karena sebentar lagi melahirkan! Semua itu gak akan terjadi! Kamu akan baik-baik saja dan kita yang akan merawat anak kita sama-sama! Paham!" Tegas Lian

"Aku yakin, suatu saat nanti kamu pasti jatuh cinta sama adik aku Mas. Aku akan bahagia sekali kalo kamu beneran nikah sama Sasa nantinya" Ucap Sania

Setelah mengatakan itu, Sania memilih tidur dan meninggalkan Lian yang masih mematung dan sibuk mencerna ucapan Sania

Flashback Off

Mas jadi curiga, kamu itu peramal dari masa depan San. Kamu yang dari awal yakin kalo mas bakalan jatuh cinta sama Sasa, dan hari ini mas mengakui itu. Mas jatuh cinta sama adik kita San, mas jatuh cinta sama Sasa

Mas minta izin ya sayang, mas akan ajak Sasa menikah. Mas gamau nantinya mas mengulangi kesalahan mas barusan dan merusak masa depan Sasa. Mas mau menikah dan menjalin hubungan yang sah dengan adik kamu. Mas janji, mas akan jaga Sasa sesuai permintaan bapak, Ibu dan kamu sayang *batin Lian sembari memandang foto pernikahannya dan Sania

***

"Sayangnya ayah, bangun yuk" Ucap Lian sembari menciumi wajah Langit

"Eughh ayahhhh, Langit masih ngantukkk" Rengek Langit

"Sayang, kan kita mau pulang ke Jakarta nak. Ayo bangun" Bujuk Lian

"Buna mana? Kenapa ayah yang disini?" Tanya Langit

"Hhmm mentang-mentang udah punya Buna. Ayahnya di lupain" Balas Lian

"Ayahhhh manaaa Bunaaaa" Rengek Langit

"Buna lagi masak di bawah buat sarapan. Ayo sekarang Langit mandi sama ayah ya, yuk" Balas Lian

"Gamauuu, mau sama Bunaaa" Rengek Langit

"Hhmm Langit mau gak, kalo Buna sama-sama, sama Langit dan ayah selamanya?" Tanya Lian

"Mau ayah, Langit sayang Buna" Balas Langit

"Langit minta Buna untuk nikah ya sama Ayah. Biar kita bisa sama-sama terus sayang" Ucap Lian

"Nikah? Apa itu ayah?" Tanya Langit

"Hhmm pokoknya Langit bujuk Buna ya sayang, supaya Buna mau nikah sama Ayah. Biar kita bisa hidup bareng-bareng terus"

"Langit emang mau kalo Buna ninggalin Langit dan ayah seperti dulu? Hhmm?" Tanya Lian

"Gamau ayah, Langit mau sama Buna telus" Balas Langit

"Yaudah, Langit bujukin Buna yaa supaya Buna mau nikah sama ayah sayang" Ucap Lian

Semalaman Lian berpikir bagaimana cara untuk menikahi Salsa. Lian sendiri takut jika adik iparnya itu menolak keinginan darinya untuk menikah. Namun Lian teringat, jika Salsa tak mungkin bisa menolak Langit. Salsa sangat menyayangi Langit, Lian berpikir untuk sedikit memanfaatkan anaknya demi bisa menikah dengan Salsa.

Lian sudah benar-benar yakin dengan perasaannya. Lian tak ingin kejadian semalam terulang dan berujung Ia akan menghancurkan masa depan Salsa nantinya.

"Oke ayah" Balas Langit

"Loh, kok belum mandi? Katanya ayah mau mandiin Langit?" Ucap Salsa yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar

"Buna, kata ay - "

"Iya Bun, ini mau di mandiin. Udah sana, Buna keluar dulu" Ucap Lian sembari membekap mulut Langit

"Heh! Mas. Langit di apain ituuu" Omel Salsa

"Gapapa udah biasa, udah sana" Balas Lian sembari mendorong Salsa keluar kamar

"Ish! Ayah, kenapa di tutup mulut Langit? Katanya Langit halus bilang sama Buna!" Ucap Langit

"Ya nanti dong sayang, bukan sekarang"

"Udah ayo, Langit mandi sama ayah" Balas Lian

***

"Dek, lagi apa?" Tanya Lian

"Lagi coba bikin pancake Mas" Balas Salsa

"Dek, mas mau ngerokok yaa. Satu batang aja" Ucap Lian

Salsa berbalik badan menatap tajam ke arah Lian

"Please dek, pahit banget mulut mas" Ucap Lian lagi

Tanpa aba-aba Salsa mencium bibir Lian dan melumatnya. Lian sedikit terkejut dengan sikap Salsa, namun perlahan ia pun membalas ciuman Salsa

Tangan Lian bergerak tanpa di komandoi, tangannya bahkan sudah masuk ke dalam kaos Salsa dan meremas payudara Salsa

"Masshh eughh" Lenguh Salsa

Mendengar lenguhan Salsa, Lian segera menyadarkan tubuhnya. Lian melepas ciuman mereka lalu menggandeng Salsa duduk di ruang tengah

"Loh, mas? Mau kemana? Pancake ku belum jadi" Ucap Salsa

"Mas mau ngomong penting" Balas Lian tetap menggandeng Salsa

Setelah sampai di ruang tengah, Lian menghadap Salsa dan menggenggam kedua tangan Salsa

"Mas?" Tanya Salsa heran

"Maaf kalo akhirnya mas jujur sama kamu. Semoga kamu bisa menerima dan gak risih dengernya ya dek" Ucap Lian

"Kenapa?" Tanya Dalsa

"Mas cinta sama kamu dek. Rasa sayang mas berubah setelah kita tinggal bersama beberapa bulan ini. Rasa sayang kakak ke adik, tiba-tiba berubah gitu aja jadi rasa sayang ke pasangan bahkan sudah berubah menjadi cinta dek"

"Setiap mas deket kamu, mas ngerasa nyaman. Mas ngerasa tenang, dan mas bisa kembali merasakan perasaan itu sama kamu setelah tiga tahun lamanya rasa itu hilang dari hidup mas"

"Hidup mas kembali berwarna setelah kamu hadir dalam hidup mas dan Langit. Mas jadi punya semangat baru setiap harinya dek. Dan mas gamau setiap mas deket kamu, mas selalu kelepasan dan berakhir khilaf nantinya"

"Karena perasaan mas udah bukan layaknya kakak ke adik, tapi layaknya laki-laki pada pasangannya dek. Mas selalu ingin nyentuh kamu layaknya pasangan mas. Mas takut, mas takut kalo mas khilaf dan lakuin hal yang gak bener nantinya"

"Mas mau menikahi kamu dek, mas mau kamu jadi istri mas dan hidup sama Mas dan Langit selamanya. Apa kamu mau dek jadi istri mas?" Tanya Lian

"Mas? Mas beneran?" Tanya Salsa shock

"Maafin mas kalo kejujuran mas bikin kamu shock. Tapi mas beneran dek, mas beneran jatuh cinta sama kamu" Balas Lian

"Mm mbak Sania?" Tanya Salsa

"Kamu tau, Sania pasti memiliki ruang tersendiri di hati Mas dan Langit. Sania sudah bahagia di surga, dia juga pasti bahagia kalo kita menikah dek" Balas Lian

Salsa menarik nafasnya dalam

"Mas, sejujurnya beberapa bulan tinggal bersama sama mas. Itu buat perasaan aku juga berubah sama mas. Aku suka sama mas, dan aku sayang bukan lagi sebagai kakak ku"

"Tapi aku jadi ngerasa kalo aku khianatin Mbak Sania mas. Aku coba hilangin perasaan itu, tapi entah kenapa setiap berdekatan sama mas dan bahkan setiap kali berinteraksi sama mas. Perasaan itu semakin besar di hati aku mas"

"Aku gapernah ngerasain hal ini sebelumnya, tapi aku udah dewasa dan aku tau ini perasaan cinta. Aku cuma takut, mbak Sania marah karena aku suka sama suaminya" Balas Salsa menunduk

Lian tersenyum mendengar ucapan Salsa, lalu menarik dagu Salsa agar menatapnya

"Mbak mu gak akan marah Dek. Asal kamu tau, mbak mu itu seperti peramal di masa depan" Ucap Lian

"Maksudnya?" Tanya Salsa

Lian pun menceritakan kilas balik tentang Sania yang memaksanya menikahi Salsa setelah dirinya tiada

"Mas? Beneran mbak ngomong gitu?" Tanya Salsa

"Mas berani sumpah apapun! Mbak sendiri yang ngomong begitu sama mas!"

"Ya walaupun awalnya mas marah besar sama dia, karena mas masih anggap kamu adik kecilnya mas"

"Tapi sekarang, mas justru ingin mengabulkan permintaan mbak mu dulu Dek"

"Adek mau kan menikah dengan Mas? Jadi istri mas dan buna untuk Langit?" Tanya Lian sekali lagi

Salsa tersenyum lalu menganggukkan kepalanya

"Insyaallah, aku mau Mas! Selama ini aku hanya takut mbak marah diatas sana karena berpikir aku merebut suami dan anaknya"

"Tapi setelah dengar cerita mas, ketakutanku hilang. Aku akan jaga amanah mbak untuk selalu jagain dan sayangin Langit mas"

"Beberapa hari ini juga Langit selalu bilang kalo aku harus nikah sama ayahnya. Agak bingung juga, si Langit tau bahasa nikah dari siapa! Dan sekarang udah ketemu sih pelakunya" Balas Salsa

"Hahaha ya Jagain dan sayangin mas juga dong, bukan Langit doang"

"Lagian, kalo mas gak paksa Langit buat bujukin kamu, mas takut kamu nolak ajakan nikah dari mas" Balas Lian

"Ish, masa cemburu sama anak sendiri sih" Balas Salsa

"Jelas cemburu! Kalo soal kamu, mas dan Langit harus bersaing dapetin perhatian kamu dek" Ucap Lian

"Astaga Mas Lian. Gausah sampe bersaing gitu deh. Mas Lian dan Langit itu berbeda, kalian punya porsinya masing-masing di hati aku" Balas Salsa

"Tapi porsi mas lebih besar kan?" Tanya Lian

Salsa yang tak ingin memperpanjang masalah pun akhirnya mengiyakan ucapan Lian

"Iya, Porsi Mas Lian jauh lebih lebih lebih besar" Balas Salsa

"Yeayyy, makasih Buna"

"Besok Mas akan urus pernikahan kita secepatnya ya. Kita menikah bulan depan" Ucap Lian

"Hah? Gak kecepetan mas?" Tanya Salsa

"Yaudah minggu depan" Balas Lian

"Hah! Gila! Gak ya mas! Bulan depan aja udah" Balas Salsa

"Hahaha kenapa sih? Mas kan gak sabar mau nikah sama kamu sayang" Balas Lian

"Dih? Main sayang-sayang aja nih" Balas Salsa

"Ya kenapa? Sama calon istri ini" Balas Lian

"Ya pelan-pelan dong. Kan jantung aku belum siap ini" Balas Salsa

"Hahaha sayang, kamu lucu banget sih" Balas Lian terkekeh sembari memeluk Salsa

***

"Sayang, Langit kan udah besar. Malam ini, Langit mulai bobo sendiri ya sayang" Ucap Lian

"Hah? Kenapa ayah? Langit mau bobo sama Bunaaaa" Rengek Langit

"Loh, hari ini Langit kan udah umur 4 tahun sayang. Langit lupa? Berarti Langit sudah semakin besar. Dan Langit harus bobo sendiri mulai malam ini" Ucap Lian

"Buna?" Tanya Langit

"Buna bobo sama ayah. Kan tadi ayah sama buna sudah menikah sayang. Jadi Buna sudah boleh bobo sama ayah" Balas Lian

Lian dan Salsa memang sudah menikah tepat di hari ulang tahun Langit yang keempat tahun. Salsa semakin yakin menerima Lian karena ia sempat bermimpi kakaknya yang tersenyum bahagia padanya. Salsa sangat berharap mimpi itu pertanda jika kakaknya juga bahagia dengan pernikahannya dan Lian.

"Bunaaaa" Rengek Langit

"Udah gapapa ya mas, malam ini Langit bobo sama kita dulu" Ucap Salsa tak tega

"Ck, sayang! Kalo gak dari sekarang, mau kapan Langitnya di ajarin? Kamu tuh harus tega sekali-kali sama Langit"

"Langit itu laki-laki, jangan terlalu di manja sayang" Omel Lian

"Mas, tapi kan - "

"Sayang, ayolahhh" Mohon Lian

Salsa paham betul mengapa Lian memaksa Langit untuk tidur di kamarnya sendiri malam ini. Lian pasti ingin menghabiskan malam pertamanya dengan Salsa.

"Langit, sayangnya Buna"

"Langit kan laki-laki, Langit harus berani bobo sendiri. Buna pernah denger kalo Sam sudah tidur sendiri loh di rumahnya"

"Langit gamau kaya Sam? Sam aja berani loh sayang bobo sendiri. Langit pasti bisa lebih hebat dari Sam, kalo Langit bisa bobo sendiri" Bujuk Salsa

"Benelan Buna?" Tanya Langit

"Iya, Ibu nya Sam tadi bilang sama Buna. Sam sudah bobo sendiri sejak malam-malam kemarin. Langit gamau bobo sendiri juga? Hhmm?" Tanya Salsa

"Hhmm mau Buna! Langit mau sepelti Sam yang tidak penakut" Balas Langit

"Nah, Langit dan Sam kan bersahabat. Jadi Langit dan Sam harus sama-sama jadi anak hebat"

"Dengan Langit mau bobo sendiri, itu udah jadi contoh anak yang hebat sayang"

"Buna dan Ayah bangga sekali sama Langit" Ucap Salsa lembut

Lian tersenyum manis setiap mendengar obrolan Salsa dengan Langit. Salsa selalu bisa menasehati Langit dengan lembut, tidak seperti Lian yang selalu tidak sabar dengan putranya sendiri.

"Langit mau jadi anak hebat Buna, Langit mau bobo sendili ayah" Ucap Langit

"Good boy! Itu baru anak ayah"

"Yaudah, Langit bobo ya nak. Ini udah malam"

"Selamat malam Langit sayang" Ucap Lian

"Selamat Malam ayah" Balas Langit

"Selamat malam gantengnya Buna. Bobo yang nyenyak ya sayang. Mimpi indah Langitnya Buna" Ucap Salsa lalu mengecup kening Langit

"Selamat malam juga Buna cantik" Balas Langit

Lian tersenyum lalu merangkul mesra pinggang Salsa untuk keluar dari kamar Langit

"Mas bangga sama kamu sayang, kamu beneran udah sesiap itu jadi Ibu" Ucap Lian di depan kamar Langit

"Aku juga masih belajar mas" Balas Salsa

"Yaudah, ke kamar mas yuk" Ajak Lian

"Iya mas" Balas Salsa

***

Lian tersenyum menatap Salsa yang masih tertidur pulas di dalam pelukannya. Istri barunya itu pun nampak sangat kelelahan setelah semalaman Lian gempur tanpa henti.

Bayangkan saja, Tepat empat tahun Lian tak pernah merasakan surga dunia lagi setelah mendiang istrinya pergi. Selama ini Lian hanya bisa bermain sendiri jika sudah tak kuasa menahan nafsunya. Namun, malam ini Lian sudah kembali memiliki kekasih halal untuk menyalurkan segala hasratnya.

Tentu Lian lupa sosok Salsa yang selama ini menjadi adik kecilnya. Lian hanya bisa melihat sosok Salsa yang baru, Istri yang baru ia nikahi hari itu.

Apalagi ternyata tubuh Salsa sangat indah, putih, mulus dan juga seksi. Membuat Lian benar-benar kalap dan lupa akan waktu. Lian sangat menikmati setiap inchi tubuh Salsa yang sudah Sah menjadi miliknya.

Lian, lo brutal banget sih semalam. Sampe tubuh Salsa penuh bekas lo begini, mana ada bekas cakaran tangan lo lagi! Bener-bener kesetanan lo ya semalam

Tapi wajar gak sih? Gue udah gapernah begituan sejak Sania pergi. Dan semalam tiba-tiba gue di suguhkan tubuh istri gue yang begitu indah. Gimana gue gak gila?

Tapi gue bukan pedofil kan? Nikahin bocah yang usianya jauh di bawah gue? Gak lah yaa, kan Sasa udah gede *batin Lian sembari tersenyum geli melihat bekas miliknya di tubuh Salsa

"Sayangnya mas, bangun yuk sayang. Udah siang cantik" Ucap Lian sembari menciumi wajah Salsa

"Eughhh masih ngantuk mas, capek. Badanku remuk" Balas Salsa

Lian terkekeh lalu kembali menciumi Salsa

"Ahhh mashhhhh basah wajah akuuu" Rengek Salsa

"Makanya bangun! Mas cuma basahin wajah kamu ya sekarang. Tapi kalo masih gak bangun, mas bikin basah yang bawah" Ancam Lian

Salsa refleks membuka lebar-lebar matanya

"Ishhh gak ada puasnya!"

"Semaleman kan udah! Habis subuh juga minta lagi! Masa masih kurang sihhhh"

"Punya aku masih sakit mas! Sakit bangettttt" Rengek Salsa dengan mata berkaca-kaca

Lian yang melihat mata Salsa hendak mengeluarkan air mata pun segera memeluk istrinya

"Sayang, maaf. Mas becanda sayang"

"Maaf yaa, mas keterlaluan ya dari semalam? Maaf sayang. Mas janji, mas gak akan maksa kamu lagi. Mas akan tunggu sampai punya kamu sembuh yaa"

"Jangan nangis sayang, maafin Mas" Ucap Lian panik

"Janji yaa, Mas libur sampai punyakku sembuh dulu" Balas Salsa

"Iya sayang, mas janji. Mas akan tahan sampai punya kamu sembuh" Balas Lian

"Ini jam berapa mas?" Tanya Salsa

"Jam 1 siang" Balas Lian

"Hah? Jam 1 siang?"

"Langit? Ya Allah mas, Langit gimana? Aku belum mandiin dia, belum bikin makanan, dia pas - "

"Sstt sayang. Langit aman kok cantik"

"Tadi pagi Mas udah mandiin Langit dan bikin sarapan buat dia"

"Sekarang, Langit lagi di bawa sahabat Mas namanya Paul ke Mall sama istrinya jalan-jalan" Ucap Lian

"Hah? Mas? Kamu yakin Langit aman?" Tanya Salsa

"Sayang, sejak dulu Paul yang selalu bantu Mas jagain Langit kalo Mas lagi repot"

"Langit udah deket banget sama Paul dan Paul pun sangat sayang sama Langit"

"Tapi beberapa bulan yang lalu, tepatnya sebelum kamu datang ke rumah mas. Dia pindah ke Aceh karena ikut istrinya yang asli orang sana"

"Dan kemarin dia telat datang ke acara kita. Makanya kamu belum ketemu dia sama sekali"

"Dan tadi pagi, dia izin untuk bawa Langit karena dia kangen banget sama Langit. Istrinya juga sayang banget kok ke Langit. Jadi Langit pasti aman sama mereka" Ucap Lian

"Alhamdulillah, aku seneng dengernya kalo banyak yang sayang sama Langit mas"

"Maafin aku ya mas, aku bangun kesiangan. Gak bikin sarapan, gak man - "

"Sutsss udah sayang. Ini bukan salah kamu, tapi salah mas yang udah bikin kamu gak tidur semalaman"

"Wajar kalo kamu bangun siang sekarang, karena kamu pasti capek banget"

"Mas bangunin kamu cuma minta kamu makan dulu, baru setelah makan kita sholat dhuhur berjamaah, baru kamu boleh bobo lagi yaa" Ucap Lian

Salsa tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Lian benar-benar membuatnya bahagia sejak ia sah menjadi istrinya.

Dan saat ini, Salsa bersama Lian kembali merebahkan tubuh mereka di ranjang yang sudah berganti sprei dan wangi.

"Sayang, mas mau ngomong tapi please. Kamu jangan tersinggung ya sayang" Ucap Lian

"Kenapa mas?" Tanya Salsa

"Hhmm mas udah beliin obat untuk pereda nyeri buat kamu sayang" Ucap Lian

"Ohh, yaudah mana? Biar aku minum mas. Kebetulan badanku rasanya remuk banget ini" Balas Salsa

"Kamu minum yaa, hhmm sama ada satu obat lagi yang harus kamu minum sayang" Ucap Lian

"Obat apa mas?" Tanya Salsa

"Obat pencegah kehamilan" Balas Lian ragu

Salsa langsung melebarkan matanya mendengar jawaban dari Lian

"Maksud mas apa? Mas gamau aku hamil?" Tanya Salsa kesal

"Sayang, bukan begitu. Tapi mas beneran takut kamu hamil sayang, mas tak - "

"Ohh, mas nikahin aku cuma untuk jadi budak nafsu mas? Mas gamau aku hamil anak mas supaya aku bisa terus layani mas? Iya!"

"Aku gak nyangka mas bisa sejahat ini ternyata" Ucap Salsa dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya dan hendak bangkit dari ranjang

Lian segera memeluk Salsa dari belakang untuk menahan istrinya agar tak meninggalkannya

"Sayang, bukan seperti itu. Mas gak mungkin sejahat itu sayang. Mas, mas takut hiks hiks. Mas trauma sama kejadian yang Sania alami"

"Mas takut, mas takut kamu akan ninggalin mas juga kalo kamu melahirkan nanti. Mas gamau sayang hiks hiks"

"Kita sudah punya Langit, mas cuma mau kamu selalu ada di hidup mas sayang hiks hiks" Ucap Lian menangis

Salsa terpaku mendengar ucapan Lian, ternyata laki-laki itu menyimpan trauma yang cukup besar

"Mas, mas percaya takdir?" Tanya Salsa

Lian mengangguk dengan tangisan di belakang tubuh Salsa

"Kalo Mas percaya sama takdir, mas percaya sama Tuhan. Gak seharusnya mas punya ketakutan yang berlebihan seperti ini mas"

"Mas, mas gak kasian sama aku? Mas tau dari dulu aku suka banget anak kecil. Aku pengen punya anak mas, tapi kenapa? Justru suami aku sendiri yang larang aku untuk hamil?" Ucap Salsa

"Maaf sayang hiks hiks. Maafin mas, mas hanya takut kejadian itu terulang lagi" Balas Lian

"Yaudah, kalo mas gamau aku hamil. Ceraiin aja aku, biar aku menikah sama laki-laki lain yang gak akan larang aku untuk punya anak" Ucap Salsa

Lian menggelengkan kepalanya dan refleks mempererat pelukannya pada Salsa

"Gak! Hiks hiks gaboleh sayang! Gamau!"

"Mas gak akan ceraiin kamu! Kamu cuma istri mas! Kamu istri mas selamanya hiks hiks"

"Maafin mas, mas janji mas gak akan lakuin hal bodoh itu lagi! Mas mau punya anak sama kamu sayang, mas mau kamu hamil anak mas hiks hiks" Balas Lian

"Beneran?" Tanya Salsa

"Iya sayang, mas beneran. Mas gak akan minta hal bodoh itu lagi sama kamu. Mas mau punya anak sama kamu sayang hiks hiks. Kita bikin adek buat Langit ya" Balas Lian

"Yaudah, berhenti dulu nangisnya" Ucap Salsa

Lian melepas pelukannya lalu mengusap air mata yang membasahi wajahnya

"Maafin mas sayang" Balas Lian

"Iya, aku gak marah kok sama mas. Aku cuma kaget aja mas tiba-tiba minta hal itu sama aku" Ucap Salsa

"Maaf" Balas Lian menunduk

"Hey, it's okey mas. Udah, jangan minta maaf terus ya" Balas Salsa

"Makasih sayang, makasih udah maafin mas" Balas Lian

Salsa tersenyum sembari menganggukkan kepalanya

***

"Buna, adek lagi apa di dalem perut Buna? Kenapa adek bergerak-gerak terus buna?" Tanya Langit

"Hahaha adek lagi seneng karena dari tadi di ciumin abang Langit" Balas Salsa

Salsa kini tengah mengandung anak kedua Lian, adik dari Langit. Usia kandungan Salsa pun sudah masuk usia sembilan bulan. Hanya tinggal menunggu beberapa hari lagi, mereka akan bertemu dengan malaikat kecil mereka.

Salsa dan Lian pun sudah memberikan Langit pengertian tentang adiknya. Langit sangat bahagia saat mengerti ia akan menjadi seorang kakak. Langit juga sudah semakin besar dan semakin mengerti tentang seorang kakak. Langit sangat menyayangi adiknya sejak dalam perut Salsa.

"Beneran Buna?" Tanya Langit

"Beneran sayang, tuh liat aja adek sampe gerak-gerak terus kan? Adek tuh kangen sama abang, semenjak abang sekolah. Abang jadi sibuk main sendiri, adiknya jarang di sapa" Ucap Salsa

Langit memang sudah masuk sekolah Paud, Lian menyekolahkan Langit karena putranya sendiri yang memintanya.

"Maaf Bunaaa, Langit jadi lupa sama adik" Balas Langit

"Jangan minta maaf sama Buna dong, minta maaf sama adiknya gih. Adiknya kan jadi kangen sama abang kesayangannya ini" Ucap Salsa sembari mencubit gemas pipi Langit

Langit tersenyum lalu menciumi perut Salsa

"Adik, abang Langit minta maaf yaaa. Abang Langit lupa sama adik" Ucap Langit

"Iya abang, adik maafin" Balas Salsa sembari meniru suara anak kecil

"Hahahaaha itu Buna yang bicara, bukan adik" Balas Langit terkekeh

Salsa pun ikut terkekeh sembari menciumi wajah Langit yang sangat menggemaskan

Di balik pintu, Lian tersenyum penuh haru melihat Salsa dan Langit. Pemandangan yang selalu berhasil menyentuh hati Lian. Salsa sangat menyayangi Langit, walaupun Langit bukan lah putra kandungnya. Lian juga sangat bahagia, setelah menikah dan menjadi Ibu, sikap Salsa benar-benar jauh berubah. Salsa menjadi sangat dewasa, lembut dan sabar menghadapi tingkah Lian dan Langit.

Tidak ada lagi Salsa yang masih bersikap manja dan kekanakan. Salsanya kini sudah benar-benar berubah menjadi Ibu yang hebat untuk Langit dan calon anak keduanya.

"Wahh lagi ngobrol apa sih Buna dan Abang? Kok sampe ngakak-ngakak begitu? Hhmm?" Ucap Lian sembari masuk ke dalam kamar

"Loh? Ayah udah pulang? Kok gak kedengeran suara mobilnya" Balas Salsa sembari menyalimi tangan Lian

"Gimana mau denger, orang Buna lagi asyik bercanda sama cowok lain" Balas Lian

"Hahahaha soalnya lagi kangen sama brondong Buna satu ini. Semenjak sekolah, jadi sibuk sendiri sama Sam"

"Pulang sekolah, bobo siang. Setelah bobo siang, eh malah main ke rumah sebelah. Main sama Sam nya sampe sore lagi. Gimana Buna nya gak kangen coba" Ucap Salsa

"Hihihi maaf ya Buna" Balas Langit terkekeh

"Buna nya sedih kok di ketawain sih bang?" Tanya Lian

"Karena Buna lucu ayah" Balas Langit

"Iya bang, Buna tuh selain cantik banget, lucu juga ya" Ucap Lian

"Iya Ayah, Buna itu cantik sekali. Nanti adik Langit pasti cantik sekali seperti Buna" Balas Langit lalu mencium perut Salsa

Salsa memang tengah mengandung bayi yang berjenis kelamin perempuan. Baik Lian dan Salsa sudah mengetahui hal itu sejak kehamilan Salsa masuk bulan ke enam. Lian pun sangat bahagia mendengar Salsa tengah mengandung bayi perempuan.

"Iya dong, nanti adik pasti cantik sekali seperti Buna"

"Jadi abang harus jagain adik ya nanti. Abang juga harus sayang sama adik" Ucap Lian

"Langit selalu sayang sama adik ayah" Balas Langit

"Good boy! Anak ayah emang terbaik" Ucap Lian lalu mencium kening Langit

Salsa tersenyum mendengar ucapan Langit yang sangat menyayangi adiknya

***

"Hiks hiks, udah ya sayang, cukup. Mas gak mau liat kamu kesakitan lagi kaya tadi"

"Rasanya mas mau mati setelah liat kamu lahiran sayang hiks hiks"

"Kita udah punya abang dan adek. Cukup ya yang hiks hiks. Dua anak lebih baik, kita ikut program pemerintah ya sayang hiks hiks" Ucap Lian terisak

Salsa menahan tawanya saat melihat Lian yang masih saja menangis di hadapannya

"Tapi mas - "

"Mas gamau denger tapi-tapian hiks hiks. Terserah kamu mau marah sama mas atau apa silahkan! Yang penting mas gamau liat kamu kesakitan lagi sayang hiks hiks"

"Udah cukup, abang dan adik udah cukup sayang hiks hiks" Balas Lian

"Hahaha mas, udah ih. Capek itu matanya, nangis terua" Ledek Salsa

"Mas gapeduli, mas masih takut sayang hiks hiks" Balas Lian

Salsa memang sudah melahirkan bayi berjenis kelamin perempuan. Selama proses melahirkan pun, Lian sangat setia menemani Salsa di sampingnya.

Dan saat proses melahirkan, bukan Salsa yang menangis melainkan Lian yang terus mengeluarkan air mata hingga malaikat kecil mereka berhasil melihat dunia. Kondisi Salsa yang baik-baik saja pun tak membuat Lian berhenti menangis karena ia terlalu takut melihat istrinya berjuang melahirkan buah hati mereka.

Salsa pun mewajarkan hal itu, karena ia pikir Lian masih berusaha melawan traumanya saat ia harus kehilangan kakaknya setelah melahirkan Langit empat tahun lalu.

Salsa yang tak tega melihat Lian pun mengusap wajah suaminya

"Mas, udah ya nangisnya. Iya-iya, cukup Abang dan Adek kok. Lagian tadi langsung di pasang juga alat kontrasepsinya kan sama dokter"

"Jadi gaperlu khawatir keluarin di dalem" Bisik Salsa berusaha menghibur Lian

"Ish sayang hiks hiks! Mas masih gak mikirin itu! Mas juga masih harus libur sebulan lebih ke depan!"

"Mas cuma mau kamu jangan hamil lagi yaa, cukup. Mas gak sanggup liat yang kaya tadi yang hiks hiks" Balas Lian terisak

"Iya iya, udah ih di hapus air matanya. Bentar lagi adik pasti di antar kesini. Hapus dulu air matanya"

"Masa adik mau kesini liat ayahnya nangis sih. Ntar adik gamau lagi jadi anak ayah, karena ayah cengeng" Ledek Salsa

"Ish, enak aja. Orang mas yang bikin adik hadir disini. Masa adik gamau sama mas" Ucap Lian berusaha menghapus air matanya

"Hahaha iya siapa tau kan" Balas Salsa terkekeh

"Gab - "

"Permisi Bapak Ibu, si cantik sudah datang" Ucap perawat yang mengantar bayi Lian dan Salsa

"Terimakasih sus" Balas Salsa

"Iya Bu Salsa"

"Ini, coba di susuin dulu ya putrinya Bu. Saya lihat baju Bu Salsa juga rembes, Asinya pasti sudah keluar" Ucap Suster sembari memberikan bayi mungil pada Salsa

"Makasih sus" Balas Salsa

"Iya bu sama-sama. Kalo begitu saya tinggal ya, permisi" Balas Suster

Lian tersenyum melihat Salsa yang tengah menyusui putrinya

"Masyaallah, cantik banget anak kita ya sayang" Ucap Lian

"Iya mas"

"Udah di siapin belum namanya? Kasian adik gapunya nama" Balas Salsa

"Eitsss, siapa bilang? Punya dong"

"Senja Arabella Putri Pradipta"

"Adik kan lahirnya tadi sore, waktu senja. Arabella artinya cantik, dan dia seorang putri dari keluarga Pradipta"

"Bagus gak sayang?" Tanya Lian

"Bagus mas"

"Abang Langit, adek Senja. Bagus banget nama anak-anak aku" Balas Salsa

"Enak aja anak-anak aku! Anak-anak kita!"

"Emang bisa bikin anak sendiri? Hhmm?" Ucap Lian

"Astagaaaa! Iya maaf, anak-anak kita suamiku sayang" Balas Salsa

"Hehe itu baru bener" Ucap Lian

"Ayahhh Bunaaaaa" Teriak Langit

Lian segera menutupi dada Salsa saat terdengar Langit datang. Pasalnya Lian tadi menitipkan Langit pada Paul dan istrinya.

"Hay abang sayang. Sini nak" Ucap Salsa

"Sal, gimana? Lancar kan?" Tanya Nabila istri Paul

"Alhamdulillah lancar kak, ini anaknya lagi nyusu" Balas Salsa

"Masyaallah, alhamdulillah. Semoga aku bisa segera nyusul, aku pengen banget punya anak" Ucap Nabila

Salsa tersenyum dan melihat putrinya sudah nyenyak, Salsa melepas nipplenya dari mulut Senja. Setelah merapikan kembali pakaiannya, Salsa mendekatkan tangan Senja pada perut Nabila

"Semoga lekas ada dedek bayi di dalam perut onty yaaa. Biar bisa jadi temen adik Senja nanti" Ucap Salsa sembari mengusap perut Nabila dengan tangan Senja

"Aamiin" Balas semua orang

"Makasih ya Sal" Balas Nabila terharu

"Harusnya aku yang bilang makasih. Kak Nab dan Kak Paul mau jagain Langit dari kemarin" Balas Salsa

"Sal, Langit kan anak gue juga. Dari orok juga gue yang bantuin Lian jaga dia" Ucap Paul

"Iya kak, makasih ya" Balas Salsa

"Sal, aku boleh gendong adik bayi gak?" Tanya Nabila

"Boleh dong onty, nih. Adek udah kenyang" Balas Salsa

Nabila tersenyum lalu mencium pipi gembul bayi cantik yang sekarang ada di gendongannya

"Mau tips gak ul?" Tanya Lian sembari memainkan alisnya

"Bangke! Noh, ada anak lo! Segala ngomongin tips lo" Omel Paul

Lian terkekeh sembari memeluk Langit

"Nama adek siapa Buna?" Tanya Langit

"Nama adek, Senja sayang" Balas Salsa

"Senja?" Tanya Langit

"Iya, bagus gak nama adeknya sayang?" Tanya Lian

"Bagus ayah" Balas Langit

"Langit seneng punya adik? Hhmm?" Tanya Lian

"Senang ayah, adek cantik sekali. Seperti Buna cantik" Balas Langit

"Emang Buna cantik Bang?" Tanya Salsa

"Cantik, Buna cantik sekali" Balas Langit

"Istri ayah itu Bang" Balas Lian

"Awss, sakit Paul!" Gerutu Lian

"Ya habisnya lo! Anak sendiri muji Ibu nya aja segala cemburu! Inget umur Liannnnn" Ucap Paul setelah menoyor kepala Lian

"Apa sih lo! Gue gak cemburu, cuma negesin aja kalo Salsa bini gue!" Balas Lian

"Ya fungsinya apa? Lo negesin sama anak kecil begitu? Hah?" Omel Paul

"Ya - "

"Ck, udah udah. Berisik banget sih kalian!"

"Senja keganggu suara kalian nantiiii!" Omel Nabila

"Ck, laki lo tuh Nab berisik" Balas Lian

"Lo juga ya!" Balas Paul

"Terusss, terusss! Gue usir juga ya kalian berdua!" Omel Nabila

"Enak aja! Ini kan ruangan istri gue. Laki lo tuh usir" Balas Lian

"Mas, udahhhh" Tegur Salsa

"Iya sayang" Balas Lian

"Nah, kicep kan lo kalo udah Salsa yang ngomong" Balas Paul

"Diem lo!" Balas Lian

"Abang, abang gaboleh seperti Ayah sama Om Paul yaa. Abang harus rukun sama temen abang, terutama adek Senja"

"Abang Langit dan Adek Senja harus selalu akur, gaboleh berantem. Karena Abang Langit dan Adek Senja itu bersaudara. Kalian harus sama-sama terus ya sayang. Abang harus jagain adek Senja. Abang mau kan?" Ucap Salsa lembut

"Iya Buna, Abang akan selalu jagain Adek Senja" Balas Langit

"Pinternya anak Buna" Balas Salsa

"Ck, masa gue jadi contoh jelek buat Langit sih Sa. Keterlaluan lo" Ucap Paul

"Ya emang jelek! Dari tadi berantem sama Lian di depan anak-anak! Baik dari mananya coba" Omel Nabila

"Udah lah, diem aja gue" Balas Lian

"Harusnya dari tadi sih Mas" Balas Salsa

"Alahhh ayanggggg ihhh. Kan Paul yang mulai" Rengek Lian

"Udah stop! Gausah komen. Makin panjang nanti" Omel Nabila saat melihat Paul hendak mengeluarkan suara

"Ck, kamu ih" Balas Paul kesal

"Lagian, yang toddler sebenernya siapa sih? Bocah 4 tahun aja anteng, ini malah yang tua pada tantrum" Ucap Nabila

Lian dan Paul hanya mencebikkan bibirnya. Sedangkan Salsa sudah tertawa mendengar ucapan Nabila yang sangat lucu baginya.

Salsa tak menyangka, takdir akan membawanya menjadi istri dari kakak iparnya sendiri. Kakak ipar yang dulu sangat menyayanginya sebagai seorang adik, kini berubah menjadi suami yang sangat mencintai istrinya.

Salsa mengingat bagaimana dulu kakaknya sangat bahagia hidup bersama Lian. Dan kini ia merasakan apa yang kakaknya rasakan, dia benar-benar bahagia hidup bersama Lian. Laki-laki yang selalu meratukannya, menyayanginya dan mencintainya dengan begitu hebatnya.

Langit dan Senja akan selalu menjadi bukti kekuatan cinta Lian dan Salsa. Walaupun Langit tidak lahir dari rahimnya, Namun Salsa akan selalu menyayangi Langit seperti putranya sendiri. Langit dan Senja adalah anugerah terindah untuk Lian dan Salsa.





~END~


Kembali ke Beranda