Gambar dalam Cerita
Sore yang hangat di negeri Peri.
Lorita terbang lebih cepat dari biasanya. Ini sungguh darurat, ia harus sudah menyelesaikan pekerjaan sebelum besok pagi. Sementara ide maupun bahan belum juga ia dapatkan.
Tiba-tiba...
Duk! Aw aw! dia menabrak sesuatu.
"Lorita! Kebiasaan deh!" Rocita mendengus sambil memegang kepalanya.
"Maaf Roc, aku terburu-buru!" Lorita meninggalkan Rocita yang kesal.
Lorita kian panik dan terburu-buru, ia tak melirik ke kanan dan ke kiri.
Bluk! Bluk!
Buah stroberi milik kurcaci Eddie berjatuhan.
"Lorita!" terdengar Kurcaci Eddie berterik keras. Lorita segera melarikan diri sebelum kurcaci Eddie mengejarnya.
Lorita berhenti di sebuah batang pohon, napasnya tersengal.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya.
"Wahai Peri yang cantik, bisakah kamu menolong aku?" tiba-tiba terdengar suara.
Lorita menoleh ke kiri dan ke kanan. "Suara siapa itu tadi?" gumamnya.
"Ini aku di dalam sini! Bantulah aku untuk ke luar dari benda putih menyebalkan ini!"
Sebuah benda putih menggantung didepannya. Ia melongo.
"Peri jangan diam saja, bukalah selimutku. Aku sudah kepanasan!"
Lorita berusaha membuka benda putih itu, namun tak berhasil.
"Ayolah, gunakan tenagamu, Peri!"
"Baiklah, aku coba lagi!"
Lorita berusaha membuka lagi, kali ini dengan bantuan kakinya juga.
"Hiyaaaaat!"
Akhirnya selimut putih itu terbuka dan muncullah kupu-kupu cantik berwarna kuning dan hitam.
"Syukurlah aku sudah bebas. Selimut ini membuatku kepanasan!" kata kupu-kupu itu sambil menggeliat dan tertawa.
"Aku harus pergi!" ujar Lorita.
"Tunggu! Kamu mau kemana?"
"Aku ada urusan penting!" Lorita terbang lagi.
Lorita melanjutkan perjalanan. Namun belum juga mendapat ide cemerlang yang akan ia persembahkan untuk ulang tahun sang ratu. Sebagai Peri Sepatu, tentu Lorita ingin mempersembahkan sepatu istimewa untuk Ratu Anya.
Duk!
Sebuah benda panjang dan cepat mengenai keningnya. Lorita tersentak dan limbung.
"Auowww!" jeritnya. Tubuhnya melayang terjun bebas. Kepalanya pening dan pandangan kabur. Lorita tak sadarkan diri.
Lorita terbatuk dan memegang keningnya yang masih sakit. Ia melihat sekeliling dan seketika bangkit.
"Halo peri cantik! Oh ya namaku Kucan, namamu siapa?" Kupu-kupu kuning cantik tersenyum menatapnya.
"Lorita. Apa yang terjadi padaku?"
"Hihihi ... kamu terjun bebas. Apa keningmu masih sakit?"
"Sedikit. Wah udah malam? Aku harus pergi!" Lorita hendak terbang lagi.
"Kamu sedang mencari apa sih Lorita? Biar aku bantu." Kucan memegang bahu Lorita.
"Tidak. Kamu pasti tidak akan mengerti!"
Lorita terbang, namun pandangannya kabur. Berulang kali ia mengerjap, akhirnya ia duduk lagi di rumah Kucan.
"Besok ulang tahun Ratu Anya dan mungkin aku sendiri yang tak memberikan hadiah istimewa." Lorita tampak bersedih.
"Oh jadi itu masalahnya? Lorita, terkadang orang tak mengharapkan bingkisan istimewa untuk bahagia. Dengan kamu datang dan mendokannya pasti ia akan senang menyambutmu."
"Aku ingin memberikan hadiah istimewa untuk Ratu Anya, Kucan. Namun sepertinya aku tak sempat." Wajah Lorita kian muram.
"Apa ada Peri Lorita di sini!" seseorang berteriak.
Kucan keluar. "Ada apa, Tuan Owen?"
"Peri Lorita diundang Ratu Anya untuk datang ke istana sekarang. Beliau memintanya untuk menghias sepatu Ratu."
Lorita terperanjat dan keluar. "Benarkah itu?" kata Lorita.
"Betuk sekali. Mari Peri Lorita."
Lorita datang ke istana dan mulai menghias sepatu Ratu Anya. Tiba-tiba ia teringat pada Kucan, maka sepatu Ratu pun ia hias dengan motif sayap Kucan. Ratu begitu puas dengan karya Lorita.