Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
[0.5] Beatitude
Fantasy
11 Jan 2026

[0.5] Beatitude

“Dia datang lagi, tuh.”Ilyas yang biasanya pendiam, pekerja keras dan hampir tidak pernah mengeluh, menghela napas pelan. Entah sudah keberapa kalinya aku menangkap basah ekspresinya yang tidak wajar itu. Setelah kuingat-ingat, Ilyas hanya bisa mengeluarkan ekspresi semacam itu ketika ada di sekitar gadis itu.“Sudah kularang, padahal,” gerutu Ilyas pelan.“Teman kuliah?” tanya Bu Lia--pemilik toko roti tempat kami bekerja.“Bukan teman, Bu,” balas Ilyas yang tampaknya menahan jengkel.Aku selalu bisa mengingat kesan pertama dengan para langganan yang membeli roti kami. Gadis manis yang menunggu di depan gerai itu pertama kalinya datang beberapa bulan yang lalu, kira-kira di jam segini juga.Awalnya, aku agak heran sih, mengapa ada anak gadis yang beli roti sendirian pada pukul 7 malam di tempat yang enggak terlalu strategis. Itu memang jam dimana roti kami sudah diskon 30% untuk mengurangi kemungkinan roti bersisa, karena kami akan membuat roti baru yang renyah pada keesokan paginya.“Terus kalau bukan teman?” Aku iseng menjahilinya, tapi reaksi Ilyas tidak seperti yang kuharapkan.“Penguntit,” balas Ilyas pendek, tanpa merasa bersalah.“Cantik banget, padahal,” ucapku sembari memangku dagu.Hidup serba pas-pasan sepertiku jelas tidak akan mengerti bagaimana rasanya merias dan menggunakan pakaian trendy sepertinya. Itu memang salah satu keinginanku sejak masa SMA, tapi sudah lama aku membuang jauh semua keinginanku.Sekarang, bisa tinggal di atas atap tanpa kepanasan dan kehujanan saja sudah syukur. Untungnya, aku tidak perlu khawatir soal perut. Bu Lia cukup memperhatikan jam makan kami, terkadang kami diperbolehkan membawa pulang roti sisa.“Jangan terlalu benci begitu, Yas, nanti kalau jodoh gimana?” canda Bu Lia.Ilyas terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya membalas, “Aku enggak benci dia, Bu, tapi dia bebalnya minta ampun,” keluhnya.Wah, tiba-tiba enggak irit ngomong , pikirku. Namun aku tidak mengutarakannya, takut Ilyas membantah lagi.“Kayaknya dia suka sama kamu, Yas.” Wira yang bertugas membuat roti ikut menyahut dari jendela kecil penghubung dapur dan gerai. Hanya kepalanya yang tampak, karena jendela itu biasanya adalah tempat untuk menghidangkan roti panggang yang harum.Aku hanya mengangguk, setuju dengan pendapat Wira. Maksudku, itu sudah tampak jelas sekali, sih.“Kayaknya gerimis.” Bu Lia mengintip jendela di dekat meja kasir. Sesekali, melirik ke arah Ilyas untuk melihat reaksi lelaki itu.Memang, sih . Ilyas sangat mudah terbaca. Meskipun mulutnya jahat begitu, tapi ujung-ujungnya dia kembali menghela napas, lalu melepas apron dan bersiap-siap keluar untuk mengajak gadis itu masuk ke dalam gerai.“Tinggal masuk aja, masak harus kuundang segala?” protes Ilyas, tapi tetap mengambil langkah lebar untuk mempercepat jangkauannya ke pintu.“Kan kemarin kamu yang bilang ke dia; jangan datang terus,” balasku.Ilyas tidak ambil pusing dengan komentarku. Lelaki itu berjalan keluar, tampak ragu-ragu menghampiri gadis itu, lalu akhirnya memanggilnya. Kami bertiga yang hanya bisa mengintip dari balik kaca, hanya bisa menyaksikan sambil menggeleng-geleng. Dasar anak muda.Beberapa saat kemudian, mereka berdua berbalik menuju gerai. Gadis itu tampak tersenyum berseri-seri ketika Ilyas membukakan pintu untuknya.“Selamat datang,” sapaku dan Bu Lia dengan kompak, sementara Wira pura-pura sibuk, padahal sudah tidak ada lagi tugas berat di dapur.Gadis itu malah menengok ke arah Ilyas dengan antusias, membuat lelaki itu kembali memasang apron. “Selamat datang di Lia Bakery. Mau beli roti apa?”“Hari ini Ilyas bikin roti?” tanya gadis itu.Aku tiba-tiba teringat dengan kejadian tadi siang, ketika Ilyas menitipkan satu adonan yang dibentuknya ke dalam loyang kosong sebelum Wira memasukkannya ke dalam oven.“Oh, tadi Ilyas--”“Enggak ada. Tugasku kan bukan bikin roti,” potong Ilyas, sesuatu yang sebenarnya sangat baru.“Yas, ini rotimu mau diapain?”Wira bagaikan cupid mungil yang melintas, karena tiba-tiba mengeluarkan roti gagal buatan Ilyas dari jendela penghubung. Ajaibnya lagi, roti itu sudah dibungkus plastik bening, seolah siap untuk dipasarkan. Harus kuakui, bentuknya memang abstrak dan enggak terlalu pantas buat dijual.“Mau aku makan pas pulang entar,” balas Ilyas lagi, lalu lelaki itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. “Kamu duduk aja, deh. Pesan susu coklat atau apa, gitu.”“Ilyas, 5S, ingat,” tegur Bu Lia.Ilyas bahkan melewatkan aturan pertama dalam 5S yang kami terapkan. Dia masih kesusahan tersenyum di depan pembeli kami, apalagi di depan gadis ini, yang jelas bakal terbang sampai langit ke tujuh jika beneran ada kejadian dimana Ilyas senyum kepadanya.“Aku boleh beli?”“Enggak.” Ilyas menjawab dengan sangat cepat. Hampir tidak ada jeda di antara percakapan mereka berdua.“Kenapa?” tanya gadis itu dengan cemberut.“Enggak lihat bentukannya kayak gitu?” Ilyas bertanya balik dengan heran.“Gitu tuh gimana? Bentuknya lucu, kok.”Ternyata memang benar, cinta itu buta. Buktinya, gadis ini mau-mau saja membeli roti absurd buatan Ilyas. Aku saja gagal paham dengan kue yang mau dibentuk di sana.“Silakan, semua yang kami jual sudah dipajang di sini,” ucap Ilyas dengan sopan, sembari memperlihatkan etalase.Gadis itu memilih berjalan ke arahku daripada meladeni ucapan Ilyas.“Kak, mau beli roti buatan Ilyas, ya.”Aku melirik Ilyas yang tampak menatapku horor. Kembali, aku mengalihkan pandanganku ke arah gadis yang menatap roti absurd itu dengan terkagum-kagum. Bingung melihat tingkah mereka, aku berakhir menoleh ke arah Bu Lia yang senyam-senyum di meja kasir.“Bu, itu roti Ilyas mau kita jual berapa, Bu?”“Harus nanya yang bikin, sih, Rhea,” jawab Bu Lia.“Yas, mau dijual berapa?” tanyaku lagi.Ilyas memelototiku, “Itu enggak ada di dalam menu.”“Kalau aku beli semua roti di sini, apa bisa--”“Ya ampun,” potong Ilyas dengan frustrasi. “Tolong ya, Cinta, setidaknya belinya setelah rotinya berbentuk.”Aku cengo, Bu Lia juga cengo. Jangan tanya bagaimana ekspresi wajah Wira, soalnya aku hanya bisa mendengarkan suara loyang jatuh dari dapur.Mendengar Ilyas yang pendiam ngomong kata ‘cinta’ entah mengapa bikin waktu serasa berhenti.Seperti yang sudah kami duga, gadis itu juga berakhir bengong.“Roti buatanmu bakal dijual?” tanya gadis itu setelah keheningan selama beberapa saat.“Kalau Bu Lia ngizinin,” jawab Ilyas dengan tenang.“Ibu izinkan, kok, kalau sudah berbentuk roti.” Bu Lia ikut merespons, meskipun beliau juga masih tidak percaya dengan adanya percakapan ini.“Oh ….”Entah mengapa, aku merasa gadis itu tidak seantusias yang kupikirkan.“Jadi, mau pesan apa?” Ilyas bertanya lagi.Akhirnya, gadis itu berakhir memesan susu coklat panas dan beberapa roti yang terpajang di etalase. Bersamaan dengan itu, hujan yang tadinya gerimis pun menjadi deras. Hanya gadis itu yang menjadi pelanggan kami malam itu.Gadis itu datang di jam segini jelas bukan karena mengincar diskonan, sebab kami semua tahu persis bahwa gadis ini berasal dari keluarga yang berada.Aku sudah pernah bilang bahwa aku mudah mengingat kesan pertama kepada pelanggan, kan? Gadis ini juga salah satu yang berkesan. Dia mengenali Ilyas, berusaha mengajaknya berbicara, lalu memilih memborong semua roti yang ada di etalase hanya agar Ilyas mau berbicara dengannya.Yang jelas kuingat persis, dia menanyakan satu persatu nama roti yang jelas sudah bertulis di etalase di hadapan pelanggan. Waktu itu, Ilyas masih menjadi pegawai baru, tetapi untungnya dia sudah mengingat semua nama roti yang dijual.Lalu, ketika hendak membayar, rupanya gadis itu membawa kartu debet, padahal toko roti ini hanya menerima pembayaran tunai. Itu membuat Ilyas kerepotan dan berakhir meminjamkan uang kepada gadis itu.“Sudah makan belum?” tanya gadis itu ketika Ilyas mengantarkan piring-piring yang berisi roti.“Sudah,” balasnya tanpa melabuhkan sedikitpun pandangannya ke arah gadis itu, hanya fokus menata piring di atas meja.“Makan malam, lho.”“Sudah.”“Maksudku, makannya sama nasi--”“Sudah, Cinta,” balas Ilyas yang terdengar agak kesal.Gadis itu malah tertawa kecil, “Aku kaget, lho. Kukira kamu enggak ingat namaku.”Kami bertiga--Aku, Bu Lia, dan Wira--langsung saling bersitatap dan mengangguk paham seolah kami saling bertelepati. Rupanya Ilyas bukan sedang menggombal, tapi nama gadis itu memang Cinta.“Enggak perlu peduli soal makan malamku,” ucap Ilyas.“Habisnya, kamu mungkin cuma makan roti ….”“Aku enggak mau dengar itu dari orang yang sedang makan di sini jam segini.”Cinta tersenyum cerah, “Kamu khawatir?”Ilyas memutar bola matanya kesal, tidak meladeni ucapannya, “Selamat menikmati.”“Tunggu, tunggu!” Cinta menahan kepergian Ilyas dengan menyesap cepat susu coklatnya, sambil menahan raut wajah karena tampaknya lidahnya kepanasan. “Ini kurang manis.”Ilyas kembali memperlihatkan wajah datarnya, “Tiga sendok gula kurang?”“Kamu senyum dikit dong, biar manis,” bujuk Cinta.Ilyas menyadari bahwa kami sedang memperhatikannya. Dia memaksakan senyumnya sekilas, sebelum akhirnya melangkah pergi dari sana.Cinta menikmati pesanannya dengan riang, sebelum akhirnya ponselnya berbunyi mengacaukan suara hujan di luar sana yang menenangkan. Gadis itu melihat ponselnya sekilas, lalu memutuskan untuk mematikan ponsel tanpa mengangkatnya.“Siapa tuh?” Wira yang kepo di dapur, masih mencoba mengintip dari jendela.Ilyas pura-pura tidak peduli, meskipun sesekali lelaki itu tampak menoleh risih ke arah Cinta yang menghabiskan waktunya di toko ini.Setelah beberapa saat kemudian, ada sebuah mobil hitam terparkir di depan toko, tampaknya jemputan Cinta, karena teleponnya terus berdering tanpa henti setelahnya. Ilyas yang memayungi Cinta sampai ke mobilnya dan sempat berbicara dengan seseorang, tetapi Ilyas segera masuk kembali ke dalam toko roti setelahnya.“Sebenarnya siapamu, sih, Yas?”Wira akhirnya keluar dari dapur lantaran terlalu penasaran, tentu saja dengan dalih bahwa jam tutup toko ini akan segera tiba dan waktunya menghitung sisa roti hari ini untuk dibagi rata.“Bukan siapa-siapa,” balas Ilyas acuh.“Namanya Cinta ya? Imut banget, ya,” timpalku.“Kenal darimana?” tanya Bu Lia dengan lembut.Ilyas pun pada akhirnya menjawab, “Kami satu sekolah sejak SD.”“Sejak?” tanyaku. “Sekarang?”“Iya, masih diikutin sampai sekarang,” jawab Ilyas, lagi-lagi menghela napas.Cinta tidak datang ke toko roti tiap hari, tetapi jika gadis itu sudah datang, Ilyas akan mulai menghela napas, tanpa henti. Seperti saat ini, contohnya.“Kamu enggak mungkin enggak tahu kan, soal tujuannya?” tanya Wira.“Tujuan apa?” tanya Ilyas.“Tujuannya ngikutin kamu sejak SD,” sahut Wira.Ilyas menghela napas, “Sudahlah, enggak perlu dibicarain.” Segera, Ilyas mengambil rotinya yang ada di depan jendela dapur. “Bu Lia, aku ngambil yang ini, ya.”“Iya, Yas, ambil saja. Besok kamu belajar cara bentuk roti sama Wira, ya.”Wira malah tampak dramatis, “Bu, ini kenapa Ilyas ngambil alih tugas? Wira-nya jangan dipecat, dong.”“Eh? Enggak, kok. Biar nanti ada yang bisa dibeli Cinta, kalau nanti dia datang lagi.”Mungkin hanya aku yang menyadari ini, sebab ketika Bu Lia dan Wira tertawa dengan percakapan yang baru saja mereka lakukan, untuk beberapa alasan, Ilyas hanya diam dan menatap roti absurd buatannya dengan agak serius.Mungkin, Ilyas punya pemikiran sendiri tentang hal itu.

Wrong Confession!
Fantasy
11 Jan 2026

Wrong Confession!

"Leen."Panggilan Arnold membuatku yang sedang bercerita semangat, menjadi terbungkam. Aku pun sontak terbungkam dalam diam.Kenapa? Apakah ceritaku membosankan ? Hanya itu yang kupikirkan, tetapi aku hanya diam.Maksudku, aku baru bercerita tentang betapa kerennya Kak William kurang dari lima belas menit. Karena, ya, kalau sudah lima belas menit, sudah dipastikan kami sudah sampai di rumah kami dengan jalan kaki, karena begitulah jarak tempuh yang biasanya kami lewati.Arnold menatapku selama beberapa saat, lalu menghela napas pendek. Dilepaskannya tas hitam yang merangkulnya, lalu membuka tas, sepertinya hendak menggambil sesuatu.Di saat itulah, aku bisa melihat kucing-kucing mengeong manja ke arahnya, burung-burung pun berkicau memutari Arnold dari atas. Nah, ternyata bukan perasaanku saja saat merasa bahwa hewan-hewan itu memang mengikuti kami sedaritadi. Namun aku tidak terlalu terkejut, aku sudah terbiasa."Nih."Apa yang Arnold perlihatkan padaku, membuat jantungku nyaris lepas dari rongganya.As-Ta-Ga! ASTAGA!Aku buru-buru merampas amplop merah muda yang Arnold pegang. "Kok? Kok bisa?!"Mengapa bisa surat cinta yang kuberikan kepada Kak William minggu lalu ada di Arnold?! Astaga, astaga. Pantas saja sifat Kak William masih santuy dan B aja! Tunggu! Apa jangan-jangan Kak William membocorkan perihal surat itu kepada seisi tim basket?!Apakah aku sedang dibully? Padahal aku sengaja tidak mengirimkan DM, Line, WA atau semua sosial media Kak William karena aku tahu bahwa Kak William tidak akan mungkin menanggapinya. Aku sering mengawasi Kak William dan sepertinya satu-satunya cara agar dia bisa menyadari keberadaanku adalah dengan melakukan sesuatu yang anti-mainstream!Tapi ... Kak William kok tega? Padahal--"Hush, hush, pikiran buruk Aileen, pergilah." Arnold mengucapkan kata-kata yang nyaris selalu sama, setiap aku sedang berpikiran negatif.Arnold sahabatku sejak masa kami tak tahu malu sampai hari ini, tentu saja Arnold tahu sifatku yang satu itu. Suka su'udzon, singkatnya."Terus kenapa?" tanyaku histeris. "Kok bisa di Arnold?""Aileen yang taruh itu di lokerku."Burung-burung yang sedang bertengger di pohon seperti tengah menari, dan kicauannya seperti sedang meledekku. Begonya aku!Kabar baiknya, karena seperti yang kubilang tadi--aku dan Arnold sudah berteman baik sejak zaman baheula ketika kata 'malu' tidak ada di kamusku--aku agak lega sih, bisa salah di loker Arnold.EH, ENGGAK DENG. TETAP AJA MALU! Puisi tjintahku yang agung dan seharusnya hanya dibaca Kak Will seorang telah kehilangan jati diri--"Aileen harus senang karena salah taruh di lokerku," ucap Arnold sambil melanjutkan langkahnya."Iya, aku tahu, kok. Hehe, tapi Arnold baca semuanya?" tanyaku.Arnold menatapku datar. "Enggak, soalnya Aileen alay.""Ih! Apa sih! Enggak, tahu!" protesku sembari membuka amplop, mengambil isi di dalamnya dan mulai membaca, "Hai, cowok ganteng se-Garuda Putih~""Alay," balas Arnold yang bikin aku kesal setengah mati. Bayangkan saja! Dia mengatakan sepatah kalimat itu pakai nada pra-pantun kacau 'cakeeep', seolah-olah aku akan berpantun ria. Padahal kan aku sedang berpuisi!Kuabaikan Arnold dan kembali membaca, "Aku suka cara kamu main basket dan fokus masukin bola ke dalam ring.""Namanya nge- shoot ," timpal Arnold."Ih Arnot bacot. Kan biar panjang," gerutuku. Aku kembali melanjutkan ketika melihat Arnold sudah kicep. "Walau tidak terlalu mengenal kamu, aku tahu kamu baik dan perhatian.""--Emot sok baik," potong Arnold."Ih! Ini tuh bukan emot sok baik, tapi emot senyuman lembut dan hangat!" ucapku sambil menunjuk emotikon (^^).Aku kembali memeriksa suratku. Kali ini membacanya dalam hati, agar Arnold tidak lagi seperti komentator sepak bola yang terus-terusan berbacot ria."Eh ... tapi aku tidak menulis nama penerima surat ....""Ya, tapi kan Aileen tidak mungkin tidak terlalu mengenalku," balas Arnord."Heh, tapi kan aku juga tidak menulis nama pengirimnya?""Tulisan tangan Aileen kan Aileen sekali."Kami kembali melanjutkan jalan kami. Entah mengapa rasanya Arnold bisa saja membahas soal surat cinta salah penerimaku, kalau saja aku kembali membahas tentang Kak William."Ngomong-ngomong, Leen." Arnold tiba-tiba membuka topik lagi saat kami sudah hampir sampai di rumah."Kenapa, Not?" tanyaku.Arnold tampak ragu-ragu ketika hendak mengatakannya, "Um ... gimana, ya.""Apanya yang gimana?" tanyaku lagi, kali ini agak lebih mendesakinya."Soal surat cinta Aileen buat Kak William."Wadidaw sekali Arenot ini. Masiiih saja diingat, padahal topik pembicaraannya sudah ekspairit. Pembicaraan Arnold kadang memang seterlambat itu. Wajar saja dia tidak punya pacar sampai sekarang, walaupun dia Snow White (kalau aku bicara begitu, dia akan memintaku bercermin atas statusku)."Suratnya--"Tiba-tiba saja anjing-anjing tetangga menggonggong heboh, tapi sudah teruji di IPB dan ITB bahwa mereka menggonggong antusias, bukan untuk mengusir kami. Jelas saja, itu karena ada Arnold di sini. Semua hewan menyukainya, wajar saja dia mendapat julukan Snow White versi cowok kemarin."Para pemuja Dewa Snow White sudah menunggu," ejekku.Arnold mengerutkan kening, seolah tidak suka aku mengalihkan pembicaraan tiba-tiba. Aku mengerucutkan bibir, padahal kan aku tidak sengaja."Iya, iya, aku dengar. Arnold jangan ngambek.""Siapa yang ngambek?" balas Arnold lagi."Iya, ada apa dengan 'ngomong-ngomong soal surat cinta' alayku?" tanyaku, berusaha melucu agar setidaknya Arnold jangan ngambek lagi."Aileen move on lah. Kak William sudah punya gebetan, tahu." Arnold mengatakan demikian sambil menatapku perihatin."Hah?? What to the hell ?! SIAPA? KOK BISA?""Kak Stefany-lah! Siapa lagi? Aileen nggak lihat Kak William suka berduaan aja sama Kak Stefany?" tanya Arnold."Y-Ya, aku tahu, tapi bukannya mereka berdua hanya sekadar teman dekat? Seperti aku sama Arnold?" tanyaku, sebenarnya agak panik.Apa jangan-jangan perkataan Arnold memang benar? Eh tapi benar juga sih, tapi Kak Stefany tidak memperlakukan Kak Will kayak pacar, kok. Tapi Kak William memang selalu mampirin Kak Stefany sih, tiap istirahat. Tapi ... emang benar sih mereka dekat. Tapi kok banyak banget tapinya?"Bukannya perasaan Kak William sudah terang-terangan, ya?" tanya Arnold."Hah? Masakkk?""Hmm ... wajar saja sih Aileen tidak sadar," ungkap Arnold."Lho? Lho? Kok gitu?!"Arnold menatapku amaaaaat datar, "Soalnya Aileen memang tidak pernah peka terhadap perasaan orang lain."Bukannya mendapat pencerahan, aku makin cengo karena perkataannya.Setelah mengatakan itu, Arnold melambaikan tangannya. "Oke, Leen. Aku masuk dulu. Nanti aku kabarin kalau mau ngerjain PR di rumah Aileen."Tanpa menunggu jawabanku, Arnold masuk rumah, membuat kucing-kucing, anjing-anjing dan burung-burung di sekitaranku patah hati. Berbeda dengan mereka, aku malah makin berapi-api akibat kemisteriusan yang dikatakan Arnold."Eh ... EH, TUNGGU! Woy! Arnold ngomong apaan sih, nggak jelaaas!""Pikirin aja sendiri," balas Arnold dari balik pintu.Dia pun tak susah payah membukakan pintu walaupun aku sudah mengomel-ngomel.

DiAsramaAja
Fantasy
10 Jan 2026

DiAsramaAja

Di Asrama Aja - Kamar nomor 24PIYORIN's"Aku tahu asal muasal dari semua ini, dan bukankah itu artinya kita harus menjauhi Vampix?"Perkataan Kayaka membuatku mengerjapkan mata."Tunggu, itu ada hubungannya dengan manusia congkak, angkuh dan sok penguasa?" tanyaku, yang membuat Ryuko kini mengerutkan keningnya, bingung."Bukankah itu karena Vampix berteman dengan spesies kelelawar?" Ryuko mengoreksi jawabanku."Oh, seperti itu."Akan kuceritakan kejadian yang kami alami secara singkat. Mendekati akhir bulan Januari, tiba-tiba dunia gempar dengan keberadaan sebuah virus. Gemparnya ... hm, kira-kira sama seperti dulu ketika Jepang gempar dengan fenomena hilangnya manusia (ya, walau sekarang tidak ada yang mengingatnya sama sekali).Gempar, gempar sekali sampai akhirnya semua fasilitas umum ditutup. Kuakui, aku cukup kaget dengan ini. Sebab ketika fenomena menghilangnya manusia dulu, sekolah dan kantor bahkan tetap beroperasi. Setelah kupikir-pikir, situasi ini lebih dapat dikendalikan daripada fenomena aneh yang bisa saja melahap siapapun tanpa kenal bulu.Nah, haruskah kukatakan bahwa aku senang karena sekolahku libur? Ya, tentu saja aku senang, tapi masalahnya ..." Iya, tapi jangan bermimpi misi kita libur. Dunia sedang bersibuk dengan dunia mereka, kita harus sibuk dengan misi kita. Virus mungkin berbahaya, tapi perlu diingat kalau peri-peri mungil itu bisa lebih mengacaukan dunia."Kata-kata Vampix di pengumuman terakhir di siaran sekolah minggu lalu masih terngiang-ngiang di pikiranku. Dan sebenarnya sudah seminggu pula aku menghabiskan waktu di asrama, di dalam kamarku dan bertemu dengan beberapa orang sesekali, ketika pergi ke cafeteria.Semua jadwal dibuat ulang dan karena itu, tidak ada lagi orang yang boleh berlama-lama di sana. Begitu selesai makan, harus langsung naik karena orang-orang sudah menunggu jadwal mereka. Saat cafeteria kosong, mereka akan menyemprotkan antiseptik ke seluruh ruangan, seolah kami semua adalah virusnya.Malam hari, kami semua menyelinap keluar untuk menangkap para peri yang masih berkeliaran. DAN itupun kami diwajibkan memakai masker. Sebenarnya bisa saja aku mencari mantra pelindung yang membebaskanku dari segala jenis kuman, tapi katanya itu berisiko karena tidak semua kuman bersifat jahat--ini kata Kayaka.Belakangan, isu tentang kami yang akan dipulangkan ke rumah masing-masing, mulai menghilang. Sepertinya isu itu tidak benar, karena sampai detik ini belum ada pengumuman resmi dari pengurus sekolah. Ya, siapa lagi kalau bukan dua kakak beradik itu. Jangan-jangan mereka berdua tidak diperbolehkan keluar dari rumah mereka sendiri. Membayangkan kalau kami akan menjadi tumpukan manusia di asrama membuatku agak merinding."Aku bosan, mau ke kamar kakakku. Mau ikut?" tawar Kayaka padaku."Bukankah kita diminta untuk saling berjauhan dulu? Seperti yang kita lakukan sekarang?" tanya Ryuko.Oh ya, coba tebak apa yang sedang kami lakukan!Ya, benar, tiduran di kasur masing-masing."Rin bisa menggunakan kekuatannya untuk membuat kita memakai pakaian astronot, iya kan, Rin?"Ryuko menolehkan kepalanya ke arahku yang kebetulan tidur di tengah. Rasanya malu sekali setiap Kayaka membahas soal kostum astronot. Aku yang mengusulkannya awal-awal, tapi aku hanya bercanda. Aku tidak tahu bahwa Kayaka akan mengganggapnya seserius ini."Kalau Piyorin menggunakan kekuatannya dan membuat semua orang di sini memakai pakaian astronot, apa kita bisa beraktivitas seperti biasa, ya?" Ryuko bertanya sambil menatap langit-langit kamar.Kami bertiga menghela napas kami bersamaan."Pasti berat," keluhku sambil membayangkan."Hmm ..., membosankan, ya."Dan itulah yang kami lakukan, terus menerus. Sama saja. Tujuh hari berturut tanpa bisa berjalan sesuka hati. Entah mengapa aku jadi merindukan rasa lelah ketika berjalan jauh dari gedung cadangan ke asrama."Ayo, kita berkeliling!" Kayaka tiba-tiba mengusulkan sebuah ide."Dalam keadaan seperti ini sangat tidak memungkinkan," balasku malas."Tinggal pakai pakaian astronot--""Itu berat. Beraaat," balasku sambil merenggangkan tubuh."Kan tinggal teleport ," ucap Kayaka, berusaha meyakinkan."Memangnya kau ingin kemana, sih?" tanyaku.Ryuko tiba-tiba bersuara di sela perdebatan absrud kami. "Ah, kau rindu dengan kakakmu, ya?"Wajah Kayaka sontak berubah masam, "Ih! Tidak!""Oh~ Jadi begitu ya? Kulaporin ke Kayato ah, nanti," ucapku, ikut menggoda Kayaka. Ya, daripada bosan."Rin! Tidak seperti itu, kok!" balas Kayaka makin keras kepala."Masak sih? Memangnya kau tidak rindu main game lagi dengannya?" tanyaku."Daripada dengan Kak Kayato, lebih baik dengan Light," ucap Kayaka.Sontak, perkataannya membuat seisi kamar kami menjadi hening."Hah? Dengan Light? Kenapa?" Ryuko bertanya dengan agak antusias.Sedangkan aku, alih-alih mengganggu Kayaka lagi, aku malah merinding ngeri karena secara otomatis membayangkan petir yang menyambar keras dan halilintar di atas awan."Soalnya sudah bosan main game dengan Kak Kayato. Strateginya sama saja dari zaman dahulu kala. Sudah bisa ditebak, sangat membosankan," jelas Kayaka."Oh, kau membicarakan soal bermain game, rupanya." Mendadak antusiasme Ryuko memadam tanpa sebab."Kau bicara begitu, padahal walaupun sudah tahu taktik Kayato, kau tetap kalah setiap bermain dengannya," sahutku."Rin kan tidak pernah main game dengan Kak Kayato, mana ngertii." Kayaka berpendapat."Aku memang hanya suka melihat orang main game," timpalku pendek."Oh ya? Aku juga begitu." Ternyata Ryuko seperjuangan denganku."Hm, kalau aku, daripada menonton orang, lebih suka mengerjakannya langsung," sahut Kayaka."Ya, karena itulah dia tidak pernah betah di bioskop," sambungku."Hmm...."Kamar kembali hening. Ryuko akhirnya memutuskan untuk memainkan gadgetnya--pilihan paling baik yang sebenarnya hampir kami lupakan keberadaannya.Jangan lupakan bahwa kami sebagai manusia semi-penyihir mengemban tugas berat di pagi sampai sore hari untuk bersekolah dan malam hari sebagai pemburu peri. Tentu saja aku jadi jarang memainkan ponselku. Hanya saja, belakangan ini semenjak maraknya virus itu, aku dan ponselku seperti tak terpisahkan. Tampaknya yang lain juga signifikan terkena dampak yang serupa."Wah. Mai dan Nai sedang memasak bersama." Ryuko memperlihatkan hasil masakan mereka dari salah satu sosial media."Eh? Kalian berteman di sosial media?" tanyaku."Mai mencari akun Reina, lalu mengikuti yang diikuti Reina satu persatu," jelas Ryuko."Rin, kau juga di follow , tuh." Kayaka memperlihatkanku ponselnya. Entah kapan dia mulai membuka ponselnya."Hah? Aku tidak menyadarinya." Aku malah ikut-ikutan membuka sosial media untuk mengonfirmasi perkataan Kayaka.Sugihara Mayaka."Ohh! Dia pakai nama aslinya! Pantas saja aku tidak mengenalinya!""Memangnya kau berharap dia memakai nama penyihirnya untuk sosial media?" tanya Kayaka dengan tatapan datar."Rainna memakai nama penyihirnya, tuh," kataku."Itu karena Rainna tidak ingin kita semua kena masalah, kalau dia menggunakan akun selebritinya untuk mengikuti kita semua. Bisa-bisa, semua geger setiap hal yang berhubungan dengan sekolah Rainna," ucap Kayaka."Iya, Reina hanya tidak ingin kita kena masalah. Kalian masih ingat dengan nasib papparazi malang yang menyelinap masuk ke dalam Gakuen Sora?" Ryuko bertanya.Tentu saja aku masih ingat bagaimana nasibnya. Beragam, mulai dari ilusi memutar yang sama dengan kejadian yang kualami ketika menolak mendatangi Gakuen Sora, sampai akhirnya pingsan karena melihat pohon-pohon berlari mengejarnya dengan akar panjang mereka.Dia datang diwaktu yang sangat tidak tepat, pagi buta ketika Ryuko membangunkan bunga. Dan karena itu, Ryuko harus membangunkan Kayaka untuk membantunya menghilangkan ingatan papparazi itu. Waktu kejadian itu, aku masih tertidur pulas, tak tahu menahu apa yang terjadi di bawah sana."Hmm, kurasa keputusan Rainna membuat akun kedua sangat bijaksana," komentar Kayaka.Aku tidak pernah benar-benar melihat Kayaka berbicara dengan Rainna. Kayaka sebenarnya tidak akan masalah berteman dengan Rainna, begitupun sebaliknya. Tetapi dari yang kulihat selama ini, mereka hanya jarang mengobrol karena minimnya kesamaan mereka. Namun, tanpa kuketahui, rupanya Kayaka dan Rainna sudah saling mengenal."Ngomong-ngomong, Mai dan Nai sudah SMP 3. Itu artinya mereka akan ke sini tahun depan," ucap Ryuko."Hah? Mereka berdua masih SMP?!" tanyaku tidak percaya."Rin, ingat. Kau sendiri juga baru lulus SMP tahun lalu," peringat Kayaka."Bukan begitu! Maksudku, Nai sangat dewasa, tahu! Kukira dia lebih tua dariku atau paling tidak seumuranku," jelasku."Hm, aku pernah berbicara dengan Nai waktu di Blackmix, tapi tidak terlalu dekat dengannya. Ya, dia cukup dewasa, sih." Kayaka sependapat denganku."Wah! Mereka memakai seragam SMP favorit di Tokyo! Mereka pasti sangat pintar," kagum Ryuko."Ya, pernah favorit, sampai akhirnya Gakuen Sora muncul dari tanah dan merebut titel itu," balasku. Sampai hari ini, aku tidak pernah setuju dengan hal itu."Hmm ...."Hening kembali."Orang-orang jadi pemalas ya, karena kondisi ini," ucapku."Tidak juga, banyak kok, yang mencoba produktif dari rumah." Kayaka tiba-tiba menoleh tajam ke arahku, sekolah baru saja mengingat sesuatu. "Eh, Rin, ngomong-ngomong, kita jadi tidak berkeliling dengan pakaian astronot?""Hah? Kau masih ingin melakukannya?!" tanyaku tidak percaya.Ryuko hanya tertawa pelan mendengar percakapan kami.***#DiAsramaAja , karena Piya dkk tidak bisa pulang ke rumah masing-masing.Ini kira-kira 1300-an kata, untuk menutup kerinduan kalian terhadap Piya dkk.Semoga segera mereda dan membaik. Stay safe and please stay at home!

150 Hari
Fantasy
10 Jan 2026

150 Hari

Hari ini bertepatan dengan 150 hari, sejak kejadian itu.Dan aku masih sama seperti yang sudah-sudah, mengurung diri di dalam kamar kosanku yang berukuran 2x3 meter.Sedikit pun, aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan melakukan hal seperti ini. Hanya berdiam diri di kamar kosan-ku, sesekali melihat isi ponselku tentang kabar yang sama, tapi yang paling kuingat adalah tiduran dan memandang langit-langit.Tidak melakukan apapun, hanya diam.Tidak lagi pergi ke kampus, tidak perlu lagi pusing memikirkan revisian skripsiku yang belum berakhir.Tidak lagi pergi ke tempat kerja part time -ku sebagai kasir di salah satu minimarket.Masih rebahan seperti yang telah kujelaskan tadi, selanjutnya yang kudapati adalah chat dari ibu kos di grup Whatsapp yang isinya seperti ini:Sdh wktunya b yr kosVia tf atau plsaHRS BYR / KLUAR!Aku mengerutkan keningku dalam-dalam. Dasar Ibu kos tidak tahu belas kasihan. Iblis! Tidak berperikemanusiaan!Nyatanya, aku yakin semua anggota yang ada di grup alias semua penghuni kosan juga sedang merutuk sang Ibu kos.Namun nyatanya pesan dari ibu kos hanya jadi pajangan belaka.Tidak ada yang merespons sekali pun aku melihat beberapa orang tampak sedang mengetik, lalu mengurung niat.Selanjutnya, chat dari Nia--tetangga kosan sekaligus teman kampus--pun datang.Ada pulsa ga?Kuputuskan untuk tidak menekan pesan itu agar tidak ada dua centang biru. Kuabaikan kenyataan bahwa Nia bisa melihat jam online-ku.Rasanya, aku semakin penutup saja ....Telepon dari Bapak mengejutkanku. Dengan buru-buru, kuangkat dan menyusun kata-kata untuk menjelaskan situasiku kepadanya."Halo. Siang, Bapak. Gimana keadaan di sana?" tanyaku." Ini HP Bapak udah sekarat betul. Batere-nya sudah mau habis. Kamu kapan pulang, Nak ?"Aku menelan ludahku tertahan, "Listriknya masih mati, Pak?" tanyaku yang sengaja mengalihkan topik.Walau Bapak sudah menjelaskan bahwa baterai ponselnya sudah nyaris mati, tapi aku tahu persis bahwa ponsel ayah yang jadul itu masih awet sampai dua atau tiga hari lagi. Tentu saja berbeda dengan ponsel pintarku." Iya, sejak sebulan yang lalu. Bensin motor Bapak juga sudah habis, jadi tidak bisa transfer uang dari ATM ." Bapak menjelaskan dengan pelan. " Kamu gimana di sana, Nak ?""Masih ada listrik, Pak. Soalnya kosan sini listriknya ngisi pakai token," jelasku, meski tahu Bapak mungkin tidak mengerti maksudnya. "Tapi, listrik hanya dinyalain setengah jam tiap hari. Buat nge-charge HP."Bapak kedengaran lega, " Kalau gitu, kamu masih bisa dihubungin kan ya? Kamu kan punya dua HP. Nanti kalau sudah ada listrik lagi, Bapak telepon ya .""Uh ... Ya," jawabku berusaha terdengar yakin." Kamu makannya masih teratur kan, ya ?" tanya Bapak."Masih, Pak. Makan dua kali sehari."" Jangan sampai sakit ...""Iya, Pak."" Kalau gitu Bapak tutup dulu teleponnya, ya. Bapak mau telepon adikmu juga .""Bapak!" panggilku, mencegah Bapak menutup telepon. "Jaga kesehatan."" Iya, kamu juga. Nanti Bapak telepon lagi .""Iya."Telepon Bapak ditutup. Aku masih berbaring menatap langit-langit.Hari ini bertepatan lima bulan sejak kejadian itu.Sejak penyebaran virus itu.Bermula di satu negara maju, virus itu menyebar dengan sangat cepat. Untuk sumber penyebab munculnya virus masih belum diidentifikasi. Aku masih terus mencari tahu.Selama dua bulan sejak virus itu muncul, penyebaran virus terjadi sangat cepat di wilayah sumber. Lalu, menjangkit orang-orang melarikan diri ke benua Asia Tenggara.Padahal sudah ada pengumuman bahaya soal virus ini. Bahkan orang-orang yang berasal dari negara tersebut dan juga turisnya, diperiksa rutin untuk mempelajari virus tersebut.Namun semuanya tetap menyebar cepat.Awalnya semuanya baik-baik saja, sampai virus itu mulai menyebar di pulau-pulau terluar di Indonesia, lalu menyebar cepat pula di pulau-pulau besar lainnya.Ada beberapa kebohongan yang tidak kuceritakan kepada Bapak.Bulan kemarin, aku menukar salah satu ponselku untuk stok beberapa bungkus mie instan.Tapi kini stok makananku benar-benar habis sejak tiga hari yang lalu.Untungnya toilet ada di dalam kamarku, jadi aku bisa meminum air keran untuk mencegah dehidrasi.Tidak ada satu pun dari orang-orang di kosan yang keluar masuk dengan bebas. Begitu pun orang-orang di luar sana.Terakhir, sebelum aku menutup jendelaku dengan lakban, aku bisa melihat betapa jalan besar menuju kampusku itu kosong melompong.Uang cicilan kuliahku sudah kupakai untuk melakukan transfer via internet banking untuk ibu kos bulan lalu. Aku mengatakan dia tidak berperikemanusiaan karena dia menaikkan tarif hampir 50%. Benar-benar iblis!Lalu kebohongan lainku ....Aku tidak menjelaskan apapun soal adikku.Tiga hari yang lalu, dia mengirim pulsa dan transfer yang agak janggal.Tapi saat menghubunginya, dia tidak pernah lagi mengangkat ponselnya.Aku ... Tidak ingin berprasangka buruk atas apa yang terjadi. Kuharap dia baik-baik saja.Lalu,Sebenarnya aku sangat ingin pulang ke kampung halamanku.Aku tidak mungkin mau bertahan di kosan harga bintang lima ini jika jarak kampung halamanku dan tempat ini tidak jauh.Aku jadi menyesal karena memutuskan merantau.Kini stok makanan habis, hanya sisa transferan dari adikku yang bahkan aku tidak tahu apakah boleh kugunakan atau tidak.Kembali kuratapi langit-langit kamarku.Entahlah, apakah aku masih akan hidup besok?***Entah kenapa, aku kepikiran terus.Jadi akhirnya jadilah cerpen ini, walau absurd setengah mati.

Away
Fantasy
09 Jan 2026

Away

Suara radio yang menyala, tak mampu menghilangkan bayangan terakhir yang diingatnya tentang terkasihnya. Suaranya masih terngiang-ngiang di telinganya, walaupun kini lagu rock and roll berputar menemani perjalanan pulangnya dari rumah duka.“Aku pasti akan ada di sampingmu, kapanpun kamu membutuhkanku!”Bohong. Itu kebohongan besar yang dikatakannya.Mengapa memberikan janji yang tidak mampu ditepatinya?“ Namamu Alvis, ya ?”Suaranya terdengar lagi.Pakaian hitam yang samar-samar masih menguar aroma dupa masih tercium jelas. Alvis juga yakin, ada abu yang bersembunyi di sela rambutnya.Menyedihkan, memang.Kakinya menekan pegas tanpa sadar. Kecepatan kendaranya bertambah, diselipnya mobil-mobil di depannya, membalap entah mengejar apa. Alvis tidak mengerti, apa yang tengah ditargetkannya, apa yang membuatnya terlihat terburu-buru saat ini.“ Apakah ini yang benar-benar keinginanmu ?”“ Bagaimana kalau keinginanku sudah pasti tidak akan pernah terwujud lagi? ” tanya Alvis, bergumam seorang diri.“ Apa kamu tidak bisa mengganti keinginanmu ?” Itu jawaban yang selalu ditanya balik olehnya, di setiap pertanyaan Alvis. “ Apa kamu tidak bisa berhenti berpikir bahwa hidupmu telah berakhir? Memangnya, kamu pikir bunuh diri itu jalan ?”“ Kamu tidak tahu apapun ,” lirih Alvis saat itu.“ Jangan melakukan ini, jangan membuat orang di sekitarmu sedih .”“ Semua keluargaku telah meninggal, Papa, Mama, dan semua saudaraku. Memangnya siapa yang akan sedih? Lagipula kalau aku mati, tidak akan ada pengaruh apapun dengan dunia ini. Bumi akan terus berputar, matahari akan terus bersinar, tata surya akan tetap berlangsu —”Lalu, Alvis mendapatkan tamparan yang panas.“ Mengapa kamu menamparku ?!”Namanya Sifa, dia bukan gadis yang manis.Pertemuan pertama mereka bukanlah pertemuan yang romantis. Di atap rumah sakit. Saat itu adalah masa yang berat untuk Alvis.Lelaki itu bangun dari tidurnya setelah kecelakaan beruntun di perjalanan pulang habis tamasya.Dia bangun sendirian, tanpa ada seorangpun yang menunggunya di sisi tempat tidur, tanpa ada yang memeluknya dan mengucapkan kata syukur karena dia selamat dari maut.Kabar lain datang; hanya dia yang selamat dari kecelakaan itu.Papa, Mama, dan ketiga adiknya tewas di tempat. Hanya dia yang selamat.Otomatis, yang dipikirkan oleh Alvis hanyalah menyusul mereka secepatnya.Sangat tertekan dan putus asa, Alvis berdiri di atap rumah sakit. Entah darimana dia mendapatkan kunci untuk membuka akses pagar. Sifa saat itu memang sudah di atap, menjemur dirinya karena dia merindukan cahaya matahari yang menyelimuti dirinya.Berikutnya, hampir seluruh perawat di rumah sakit mengetahui tentang kucing dan tikus yang selalu cekcok bila bertemu.Sifa adalah gadis bar-bar, matanya selalu melotot marah bila bertemu dengan Alvis.“ Aku nggak suka cowok lemah ,” ucapnya dengan sengaja, saat Alvis melewatinya bersama perawat yang mendorong kursi rodanya.Alvis yang merasa sedang dibicarakan, langsung emosi.“ Siapa juga yang mau disukai oleh gadis bar-bar sepertimu ?!”“ Mengapa malah kamu yang marah? Merasa lemah?” tanya Sifa balik, dengan nada-nada penuh kemenangan.Dia memang gadis yang menyebalkan.Namun pada akhirnya, terlalu banyaknya kebetulan di antara pertemuan mereka berdua membuat mereka berdua secara tidak sadar menjadi teman bicara. Walaupun masih diselimuti duka, pelan-pelan Alvis mulai bangkit dari keterpurukannya.“ Pernah merasa konyol tidak, karena hampir bunuh diri ?” Sifa bertanya.“ Jangan diingetin ,” keluh Alvis.“ Habisnya, setiap aku melihatmu, aku selalu ingat ekspresi bodohmu waktu kamu bilang mau mati .”Alvis memutar bola matanya kesal, “ Dasar bar-bar .”Sering adanya interaksi dari keduanya, akhirnya membuat Alvis ingin tahu lebih banyak tentang Sifa. Alvis mulai bertanya-tanya mengapa Sifa ada di rumah sakit, walaupun dia sama sekali tidak kelihatan sakit. Namun, Alvis tidak berani bertanya.Sepertinya Sifa memang benar, dia hanya lelaki yang lemah.Lama merenungi kenangannya bersama Sifa, Alvis baru tersadar bahwa ringtone HP-nya berbunyi sedaritadi. Alvis mengangkatnya, lalu menekan lambang speaker dari ponselnya.“Halo, Vis. Kamu di mana?” tanya suara dari seberang sana.“Pulang,” balas Alvis dengan nada serendah-rendahnya.“Sendirian?”“Iya.”“Oh.”Jeda selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia bertanya lagi.“Kamu nggak berniat melakukan hal aneh, kan?”Alvis tertawa hambar, “Hal aneh gimana, maksudmu?”“Tidak apa-apa.” Ada helaan napas lega dari seberang sana. “Kalau kamu udah sampai rumahmu, hubungi aku lagi, ya.”Usai memutus sambungan, Alvis pikir dia bisa segera melupakan pikirannya yang sempat larut dalam kenangan lama yang panjang bersama Sifa. Rupanya, semua kenangan itu seolah mendekapnya kembali.There are times you'll want to cry, we can just be together.When you can't find the words, can't we just be together?You don’t have to be alone.Alvis kembali mengingat Sifa.“ Ini apaan ?” tanya Alvis saat Sifa menyerahkan sebuah tape recorder lama kepadanya.“ Lagu .”Alvis menekan tombol yang dia yakini adalah play , lalu mendengarkan lagu itu dengan seksama.“ Aku pernah dengar lagu ini, tapi suaranya nggak sejelek ini ,” celetuk Alvis.Sifa melengkungkan alisnya cemberut, “ Nggak usah bilang jelek, kali. Namanya juga usaha .”“ Kenapa ngasih beginian ?”Sifa mengelus tengkuk, lalu menatap Alvis dengan tatapan serius, “ Karena menurutku, kamu butuh .”“ Butuh lagu ?”“ Butuh teman !” balas Sifa, nyaris berteriak. “ Aku mau jadi temanmu, kalau kamu butuh .”Alvis punya banyak teman. Sayangnya, baru pertama kali dia merasa sesenang ini saat ada yang mengajaknya berteman.Whenever you miss me, we can just be together.Although words are hard to find, can't we just be together?You don’t have to be alone anymore.Alunan biola dan piano dalam musik itu membuat Alvis semakin emosional. Kecepatan laju mobil yang dibawanya semakin tidak wajar.Tempat yang dilewatinya bukan lagi tempat yang familiar. Langit senja, tiang listrik dan awan-awan yang mengambang di langit, semuanya terlihat sama saja.“ Aku senang, kamu sudah mulai terlihat bersemangat untuk hidup lagi .”Batu yang mengukir nama lengkap Sifa kembali masuk dalam bayangannya. Rasanya baru beberapa saat yang lalu dia mengelus batu itu dengan perasaan tidak percaya, sekarang tangannya memegang setir mobil yang melaju dengan kecepatan penuh di jalanan panjang tanpa tujuan.Ini jelas bukan jalan pulang ke rumahnya.Ada setengah hatinya yang berbisik memintanya untuk berhenti melakukan hal bodoh dan mengikhlaskan segalanya. Sifa dan semua keluarganya di surga, tidak akan menyukai keadaan Alvis saat ini.Karena itulah, saat Alvis menemukan tanah kosong di pinggir jalan dari kejauhan, Alvis memutuskan untuk menurunkan kecepatan lajunya agar bisa segera memutar arah dari arah dia datang.Namun, kecepatan mobilnya tidak segera melambat, sekuat apapun Alvis menginjak rem.Kepanikan tidak dapat terelakkan. Meskipun Alvis berusaha tetap tenang dan mulai memanfaatkan rem tangan pada mobilnya, kecepatan mobil tetap tidak turun.Alvis tidak percaya bahwa dia akan mati dengan cara yang sama seperti semua keluarganya.“ Setelah aku sembuh nanti, ayo kita menikah !”“ Karena itu, tetaplah hidup .”Keduanya mengingkar tanpa sengaja.***END***

Frost Village
Fantasy
09 Jan 2026

Frost Village

Langkahku melemah, rasanya kakiku tak mampu lagi menahan bobot tubuhku. Salju tebal yang menumpuk membuatku makin lelah. Badai salju di depan mata dan sekelilingku yang penuh dengan pepohonan kering yang rantingnya saling bergesekan menambah rasa nyilu di pendengaranku.Kuabaikan tubuhku yang mulai mati rasa, langkahku yang semakin berat karena harus berjalan di tumpukan salju yang tingginya sudah di atas lututku.Sial, sial!Seharusnya aku tak pernah mengikuti ajakan bodoh Angelos. Dia yang membuatku seperti ini, dua hari tanpa makanan di atas gunung es yang membeku.Aku akan mati bila tidak segera mencari pertolongan . But come on, man ! Tidak ada orang segila itu yang akan berkeliaran di salah satu puncak Himalaya yang jalur pendakiannya bukan jalur favorit para pecinta gunung.Dan di sini aku dipaksa untuk selalu merasa bersyukur. Maksudku, aku masih di sini, di pegunungan es, dengan perlengkapan pendakian yang masih lengkap.Aku benar-benar tidak bisa berpikir lagi kalau aku diterlantarkan seperti ini di gurun Sahara. Kehausan, kelaparan, dan apalagi yang paling menyedihkan dari semua itu? Terik matahari yang membakar? Kurasa tidak, aku benar-benar ingin merasakan terik matahari saat ini.Baiklah, tenang.At least , aku hanya perlu mengunyah salju untuk mengurangi dahaga (Bohong sih, ini sangat tidak disarankan, kecuali kalau sangat darurat dan kau siap merasakan nyilu berat di gigimu). Kalau di sini ... sial! Di sini benar-benar sangat dingin!Badai semakin kencang, beberapa kali tubuhku hampir roboh dan berbaring pada tumpukan salju yang selembut ranjang kamarku yang hangat di rumahku.Ah, tidak, tidak. Aku tidak boleh begini terus, aku benar-benar akan mati jika terus-terusan begini. Sebaiknya aku terus berjalan, mengabaikan rasa kantuk ini. Aku tahu wajahku sudah sangat buruk karena sudah nyaris tak tidur dua hari, tapi ayolah, tidak ada siapapun yang akan melihat wajahmu di sini. Kalaupun ada, harusnya aku bersyukur, mungkin aku mendapat pertolongan.Badai masih berlangsung, aku mulai bingung dengan langkah yang kujalani. Apa karena badai aku jadi kehilangan arah? Apa mungkin aku berbalik ke jalan yang tadi? Ya ampun, bagaimana aku mengetahuinya?"Sial," umpatku sambil menggosokan dua sarung tanganku yang basah. Membuangnya pun sayang karena aku ingat berapa USD yang kuhabiskan untuk sarung ini, 200 USD. Melepaskannya pun bodoh, karena salju yang amat dingin siap mendarat kapanpun di telapak tanganku.Ransel beratku yang berisi pelengkapan mendakiku masih utuh dan tentu saja berat. Tambang sepuluh meter yang membawaku ke tempat terkutuk ini masih kusimpan sebagai kenang-kenangan—sebenarnya aku menyimpannya karena bisa saja sewaktu-waktu aku menemukan jalan turun yang terjal.Jalan mulai menurun dan aku mencoba berhati-hati, aku berpegangan pada dahan yang kuat, dengan bantuan tumpukan salju yang ada, aku memanfaatkannya sebagai penahan kakiku agar tidak terseret ke bawah.Melupakan ketidakberdayaan diriku, aku akhirnya jatuh ke bawah dalam keadaan yang sangat buruk. Sangat! Aku terjatuh dengan tidak elite, lebih mirip bayi yang baru belajar berjalan daripada orang keren yang berusaha menyelamatkan dirinya dari dataran terjal.Setelah menguatkan diriku, aku pun bangkit pelan-pelan, kutarik napas panjang dan memperhatikan uap yang keluar dari mulutku. Ah, sialan, aku masih bernapas, huh?Pandanganku beralih ke depan, mataku membulat lalu mengerjap beberapa kali. Batu-batu yang disusun dengan sangat rapi, papan besi yang memperlihatkan embun tebal, rumah-rumah sederhana yang terlihat simetris dari sini, membuat tenagaku yang sudah merosot drastis setelah jatuh tadi, langsung berkumpul kembali.Akhirnya! Akhirnya aku selamat!Namun langkahku terhenti, entah mengapa, disaat seperti ini pikiranku bereaksi dengan cepat. Aku ingat betul istilah fatamorgana diciptakan disaat seperti ini, ya kuakui ini hanyalah sebuah desa sederhana, tapi ini sangat indah saat ini.Dengan penuh harap-harap, aku melangkah di depan papan besi itu, sekarang aku merasa beruntung tak membuang sarung tangan beku ini, dengan itu aku mengusap embun di papan itu. Hanya dalam sekali usap saja, aku menemukan tulisan disana, yang membuat senyumanku melebar." Frost Village , huh?" Suaraku yang mulai terasa serak pun kukeluarkan untuk pertama kalinya, setelah dua hari aku melangkah tanpa arah, tentunya.Dengan langkah terseret-seret, aku berusaha mencapai bangunan yang terbuat dari batu itu, bentuknya mirip kubah dan pintunya dari kayu. Tidak ada siapapun di luar—ya, tentu saja. Semua bangunannya memiliki bentuk yang sama, membosankan. Ah, kuharap mereka punya makanan hangat dan minuman panas. Aku masih punya dollar lebih di dompetku, kurasa memberikan setengahnya tidak akan membuatku mati.Aku mengetuk pintu berkali-kali, tak punya kekuatan sedikitpun untuk mengucapkan apapun. Dengan sedikit kecewa, aku bermaksud untuk berpindah ke rumah yang lain. Aku harus optimis, pasti ada seseorang disini yang bisa menolongku.Pintu tiba-tiba saja terbuka, menampakkan seseorang perempuan muda yang membukanya dengan sedikit ragu. Ya ampun, sungguh, gadis ini cantik sekali.Dia memakai pakaian tebal—selimut yang membungkusnya sedikit tersikap—syal di lehernya yang terlihat melilit lehernya dan juga napas gadis itu membuatku tersadar bahwa bisa saja gadis ini juga kedinginan."A-aku tersesat, bisakah kau tolong aku?" tanyaku dengan gugup.Kulit tangannya yang putih pucat itu mendorong pintu kayu, membuka pintunya sedikit lebih lebar dan membuatku tanpa sadar tersenyum, dia mengizinkanku masuk."Jadi, sudah berapa lama tuan tersesat?" tanyanya sewaktu aku sedang meneliti sudut ke sudut ruangannya, ukuran ruangan ini kira-kira...4x5 meter, tempat ini lebih hangat daripada diluar sana, ada lentera minyak dengan api kecil yang sedikit redup di sana. Aku tidak dapat menebak apakah gadis ini kehabisan sumbu atau minyak.Gadis itu memberikan padaku segelas cangkir yang terasa hangat di tanganku. Mungkin air ini bukan air yang baru dimasak, tapi tak apalah."Te-rima kasih," Aku menengak dahulu air putih itu untuk memulihkan suaraku. "Aku datang di puncak ini tiga hari yang lalu dengan temanku, tapi aku kehilangan kontak dengannya karena cuaca ekstrem. Selama dua hari aku berjalan tanpa arah," terangku.Gadis itu menatapku dengan tatapan tidak tega, "kalau begitu, Tuan pasti belum makan. Tunggu sebentar, aku ingat masih punya sisa kemarin ...."Aku mengeryitkan keningku. Sisa? Yang benar saja ? Tapi tentu saja aku akan mengutuk diriku sendiri sebagai orang yang tak tahu untung ! Gadis itu rela memberikan makanan satu-satunya untukmu, bodoh !"Apa tidak ada orang lain di sini?"Gadis itu menolehkan setengah kepalanya, menatapku lewat ekor matanya, "Tidak, Tuan. Desa ini kosong sejak seminggu yang lalu, saat makhluk itu datang."Aku menenggak kembali minumanku, "Makhluk?"Gadis itu berbalik, menyerahkan sebuah piring dengan beberapa 'makanan' yang bahkan tak kumengerti apa itu. Benda ini lebih mirip jelly dengan warna merah, aku tak berani berkomentar setelah kebaikannya memberikan makanan itu kepadaku."Benar. Sebenarnya ...," Gadis itu menyandar di satu sisi dinding, rambut hitam panjangnya nampak sangat kontras dengan dinding berwarna putih abu itu. "Sebenarnya sudah dari dulu, warga kami mengetahui tentang keberadaan makhluk itu."Aku masih tak mengerti penjelasannya, aku mulai mencicipi 'makanan' itu tanpa sendok, rasanya dingin, kucoba meresapi rasanya yang hambar dan terasa sangat kenyal. Uh, sungguh, apa ini bisa dimakan ?"Kami menyebutnya Frost , tidak ada siapapun yang tahu bentuk dan wujudnya sampai seminggu yang lalu," gadis itu memejamkan matanya. "Bahkan aku juga melihatnya..."Aku menggunakan kesempatan itu untuk memuntahkan apa yang kukunyah selama beberapa detik itu ke sarung tanganku. Ew, wujudnya sungguh menjijikan dan tak pantas diceritakan. Selanjutnya aku buru-buru memasukkan 'makanan sisa' itu ke saku jaket tebalku. Tanpa membuka sarung tanganku, aku bahkan tahu betapa menggelikannya benda itu."Lalu, Tuan ..." gadis itu tiba-tiba membuka matanya dan mendekat ke arahku, membuatku gelagapan dan bertanya-tanya apakah dia melihat tindakanku barusan. "Apa selama dua hari itu, Anda bertemu dengan Frost ?"Aku menenggak saliva-ku, ya ampun, dia membuatku terkejut. Disaat seperti itu, aku mencoba tenang dengan tatapannya.Aku berdeham pelan, "Aku bahkan belum tahu bagaimana wujudnya, bagaimana mungkin aku tahu apakah aku sudah menemuinya atau belum."Konyol sih, seharusnya gadis itu tidak perlu bertanya seperti itu kan, kalau aku bertemu seseorang, aku pasti akan meminta bantuannya terlebih dahulu sebelum sampai kemari. Bukankah aku sudah menceritakan kronologisnya?"Tingginya dua meter, tubuhnya dipenuhi oleh bulu putih, kepalanya bertanduk..." Caranya menerangkan semakin lambat dan tentu saja membuatku bergidik, makhluk apa itu? "Dia memiliki cakar yang tajam, matanya tak terlihat karena dihalangi oleh bulu putihnya ..., ekornya..."Gadis itu terdiam tiba-tiba."Ekornya kenapa?" tanyaku penasaran.Dengan bibir bergetar, gadis itu menjawab dengan pelan. "Sebenarnya, aku tidak tahu apakah yang ini sungguhan atau bukan. Tapi katanya, benda apapun yang menyentuh ekornya akan berubah menjadi es."Hanya satu pemikiranku, mungkin saja gadis ini berfatamorgana, astaga, dalam usia sebelia ini... sungguh kasihan."Lalu, apa yang Frost lakukan? Mengapa semua orang menghilang?"Gadis itu menjawab semakin pelan, "Dia ... dia menyerang semua warga."Aku mendorong pelan piring itu ke depan, tanda telah menyelesaikan makanku—meski masih ada sisa di sana, "dan terima kasih makanannya, aku sudah kenyang, cukup membantu," ucapku berusaha mengatakannya setulus mungkin."Sama-sama, Tuan," balasnya sambil mengambil piring itu dan meletakannya kembali ke tempat dia membawanya tadi.Aku penasaran, apakah makhluk itu benar-benar ada? Maka dari itu aku bertanya lagi pada gadis itu. "Lalu, kemana semua warga?"Gadis itu melakukan hal yang sama, membalikkan setengah kepalanya, menatapku lewat ekor matanya, "Di dalam perutnya."...baiklah, ini tidak lucu."Omong-omong ...," Aku berusaha mengubah topik. "kira-kira kapan cuaca ekstrem ini akan berakhir?"" Frost Village belum pernah sekalipun kelihatan tanahnya. Singkatnya, tempat ini selalu ditutupi salju.""Lalu, bagaimana kalian makan?"Gadis itu duduk di posisinya yang tadi lagi, "Kami berburu, Tuan. Yang tadi anda makan adalah hati rusa yang Ayahku tangkap dari tempat yang jauh ...."Aku merinding, sungguh. Apalagi mengingat salah satu bagiannya ada di dalam saku jaketku ..., dan mulutku telah menggigit hancur hati rusa, lalu, cairan yang keluar dari sana ... ya ampun, berhenti memikirkannya! Sungguh menjijikkan!"Apa kau tahu cara turun dari puncak ini?" tanyaku berusaha melupakan semua rasa jijik ini.Gadis itu menggeleng, "Aku belum pernah sekalipun turun dari puncak, Tuan ...."Aku mulai sibuk memeriksa ranselku, berharap peta yang diberikan Angelos masih ada padaku, tapi demi apapun yang ada dunia ini, aku merutuk menyadari bahwa benda itu telah hilang, tidak ada di sana.Tambang, besi dengan ujung runcing—yang tadinya kami rencanakan untuk membuat tempat pemancingan pribadi di atas es (kami menyebutnya alat pemecah es, karena memang itu fungsinya saat kami berniat membawanya), pemantik api, koyo penghangat, satu botol alkohol yang telah kosong, tali pancing, sebotol kecil pengait, pisau, tenda, dan sisanya beban tak berguna yang membuat ranselku berat.Baru saja aku menutup tasku setelah memeriksanya, gadis itu sudah berada di depanku. Matanya melotot, sebelah tangannya mencengkram syalku, tangannya yang lain tiba-tiba saja mengarahkan pisau ke arah mataku.Aku refleks menghindar, butuh beberapa milisecond untuk mencerna apa yang terjadi saat ini.Gadis itu menyerangku sekali lagi, kali ini mengarahkan pisau itu ke arah perutku. Aku berputar, cepat-cepat bangkit dari dudukku dan segera berlari menuju pintu. Gadis itu muncul dari samping dan lagi-lagi mencoba menyerangku dengan pisaunya. Aku meraih pergelangan tangannya, menahan pergerakannya dan berusaha mungkin menjauhkan pisau itu darinya."Anda kurus, Tuan. Tapi tidak masalah, mungkin aku bisa bertahan selama dua minggu."Gila. Gadis ini positif gila! Dia berniat memakanku? Apa-apaan itu? Aku yang akan membunuhnya kalau dia berani macam-macam!"Dengar, gadis gila! Aku juga tidak bodoh untuk menduga bahwa monster yang kau sebut Frost itu benar-benar ada! Kau gila!"Gadis itu tersenyum meremehkan, "Sayang sekali, Tuan. Frost memang ada."Aku membalas dengan geram, "Kalaupun ada, KAU-lah monsternya!"Aku mengeluarkan alat pemecah yang es dari tasku, aku yakin tidak akan kalah dari monster ini setelah melihat perbandingan senjata kami. Dia hanya punya sebilah pisau yang panjangnya bahkan tak sejengkal ukuran tanganku. Dan alat pemecah esku? Ujungnya tajam dan panjang, mudah untuk dibawa kemana-mana.Karena itulah aku optimis akan memanangkan ini.Apa yang kutebak benar, senyumku melebar saat aku berhasil menusuk tepat di perut gadis itu. Bahkan sampai menembus ke belakang. Aku bersorak dalam hati, ada rasa bangga tersendiri karena berhasil menyelamatkan diri dari monster sepertinya.Tubuh gadis itu meluluh turun, dirinya terduduk, kulit tangannya yang putih pucat kini telah dibalut oleh darah. Pisau yang dipegangnya terjatuh. Bahkan sebelum ajal kematian menjemputnya, gadis itu menyempatkan diri menatapku, seolah menyalahkanku. Tatapan balas dendamnya itu seolah berpesan padaku bahwa dia akan membalasnya di kehidupan lain."Kau yang memulainya, Nona," ujarku tak terima.Aku mencabut pemecah esku—yang kini kuanggap sebagai senjata—dari perut gadis itu. Gadis itu masih menatapku tajam, napasnya naik turun berusaha menahan persetan yang dia rasakan. Aku tidak peduli."A-anda ju-ga akan mati sebentar lagi, Tuan..." Gadis itu tersenyum, jika dalam keadaan normal dan tidak seperti ini, senyumannya benar-benar memikat dan akan kusetarakan dengan senyuman bidadari. Tapi tidak, aku menebak bahwa senyuman itu ditujukan kepada malaikat maut yang kini ada di sekitar sini, entah dimana.Aku mendesis, "Kalau begitu, bermimpilah di neraka."Gadis itu sudah tidak bergerak lagi, napasnya berhenti dan tangannya tergeletak di lantai begitu saja. Matanya masih dalam keadaan terbuka, ini aneh, seharusnya dia memejamkan matanya karena dia tidak mati penasaran, kan? Tapi ah, sudahlah, masa bodoh. Aku bisa bertahan hidup di sini sekitar...sepuluh hari, mungkin. Sepertinya dagingnya banyak, terutama di bagian kakinya.Aku keluar dari rumah itu, bukan, aku bukan ingin pergi, aku hanya mencari kayu bakar. Tentu saja tidak, tidak dengan masuk ke hutan terdekat disana. Tidak ada kayu bakar yang kering kan, di sana?Tiba-tiba mataku terasa berat, pandanganku berkunang-kunang, langkahku menjadi oleng dan aku terpeleset saat menginjak salju. Sialnya, kepalaku terbentur tembok luar rumah yang keras, itu membuat kepalaku terasa terbuka lebar dan salju yang turun di atasnya, seolah berlomba-lomba masuk ke dalam sana.Jantungku berdebar, aku menggertakkan gigiku, sialan, pasti dia meletakan sesuatu di minumanku .Aku berusaha menarik diri untuk masuk kembali ke rumah itu, namun tubuhku tak mau menurutiku sedikitpun. Aku berada dalam posisi itu hampir selama beberapa menit. Tubuhku kedinginan, terutama di bagian kepalaku, dan itu benar-benar tersiksa.Mataku masih terbuka lebar, hanya tubuhku yang mendadak kaku seolah sejak awal aku diciptakan sebagai patung. Aku mencoba bernapas pelan-pelan karena ada rasa tertekan di bagian dadaku saat setiap aku mencobanya.Samar tapi jelas, aku mendengar suara salju yang terinjak, semakin lama semakin dekat. Aku ingin melihat siapa yang datang, tapi kepalaku tak mampu menoleh. Kuharap itu bukan orangtua gadis itu, kalaupun iya, aku tinggal menjawab pembelaan diri. Dia ingin membunuhku, dan yang harus kulakukan adalah melindungi diri. Yah, meski aku tidak yakin mereka sewaras diriku.Tapi semua persepsi itu berakhir begitu saja, saat aku melihat Angelos. Matanya menatapku dengan mata melebar.Astaga, Angelos! Aku tidak mampu berteriak, meski aku ingin.Kepala Angelos ada dalam genggaman makhluk itu! Makhluk berbulu putih, bertanduk, memiliki tinggi dua meter, cakar tajam, dan gigi tajam yang kini tengah memainkan lengan Angelos. Darahnya sudah membeku.Astaga! Itu benar-benar tangan Angelos! Tangan yang penuh dengan tatto itu!Makhluk ini Frost , dan keberadaannya benar-benar nyata. Aku terkejut, tapi tetap saja tubuhku yang seharusnya sudah berlari jauh tanpa mempedulikan ranselku di dalam sana ... tidak bisa bergerak sedikitpun!Frost melempar kepala Angelos di sampingku, senyumannya melebar dan dia memamerkan deretan gigi tajamnya tanpa malu. Cakarnya meraih kepalaku......Dingin dan mati rasa, namun aku bisa merasakan semuanya.***END***

One Gloomy Day
Fantasy
08 Jan 2026

One Gloomy Day

NICO memincingkan matanya, begitu melihat keadaan di taman bermain dari kejauhan. Tidak ada yang mengayun di ayunan, meluncur di perosotan terowongan, atau bermain pasir bersama semut atau cacing yang ... hii, menjijikan itu.Kosong. Taman bermain di komplek rumah yang biasanya menjadi rebutan para bocah komplek, tidak ada di sana. Tidak ada keberadaan sepeda, tidak ada Abang Tukang Es Krim, atau siapapun di sana.“Hiih! Sebal! Gara-gara Ibu nih, minta aku keluar segala,” omel Nico seorang diri.Dirinya sama sekali tidak antusias dengan keberadaan taman bermain—yang biasa disebut Nirvana—oleh anak-anak seusianya. Hal ini dikarenakan dia masih ingin bermesraan dengan gadget di rumahnya, pemberian papanya. Nico lebih suka di rumah, tanpa ada keberadaan ibunya.Nico tentu saja ingat apa kata ibunya sebelum dia keluar dari rumahnya.“Anak sehat itu main di luar! Kena matahari! Nico mau jadi vampir di rumah? Dan Nico belum punya teman kan, sejak kita pindah kemari beberapa hari yang lalu? Ayo cari teman.”Dan sekarang Nico bagaikan anak terbuang yang dilepaskan ke alam liar.Pada akhirnya, Nico duduk di salah satu ayunan, mengayunkan sedikit agar bergerak. Diperhatikannya kumpulan semut yang berbaris menuju rumah mereka. Sedikit iri juga, rasanya. Dia merasa diusir, padahal ibunya hanya memintanya bermain di luar.“Kau sedang apa di sana, Dik?”Nico berhenti menunduk. Dia langsung melihat seorang wanita yang mengapit payung merah di depannya. Wanita itu memperhatikannya kiri dan kanan dengan gelisah, lalu dihampirinya Nico dengan sedikit tergesa-gesa.“Main,” jawab Nico, malas.“Mengapa main? Kan sudah mau hujan,” ucap wanita itu sambil mendongak menatap langit, “dan tidak ada yang bermain di sini. Kau tidak mau pulang saja?”“Ibu maunya Nico main,” jawab Nico lagi, “padahal, Nico lebih suka di rumah.”“Eh? Benarkah? Padahal gadis-gadis kecilku lebih suka bermain di luar.”Diperhatikannya seekor bekicot yang diam di besi tiang ayunan yang telah berkarat, tak bergerak.“Jadi siput enak, ya. Rumah mereka mengikuti mereka kemanapun. Mereka bisa pulang kapan saja.”“Itu bekicot, Nico.” Wanita itu tertawa, “lagipula, kau tidak tahu, kan? Siapa tahu sebenarnya mereka sangat ingin berpisah dengan rumah mereka?”Nico memiringkan kepalanya, tidak mengerti.“Ibumu pasti tidak tahu kalau belakangan ini komplek ini tidak aman. Katanya ada yang suka menculik anak-anak,” ucap wanita itu sambil mengulurkan tangan, “alamatmu di mana? Biar Tante antarkan.”“Di blok F, Tante.”“Blok F? Padahal aku juga tinggal di sana, tapi tidak pernah melihatmu.”Itu pasti karena Nico jarang bermain di luar. Oh dan tentu saja, karena dia baru pindah.Setelah Tante itu mengantarkan Nico kembali ke rumahnya dengan payung merahnya, Wanita itu menunjuk sudut persimpangan di dekat rumah Nico.“Itu rumah Tante. Kapan-kapan, main ya.”Setelah Wanita itu pergi, Nico buru-buru masuk ke dalam rumahnya, tak mengindahkan ucapan ibunya yang mempertanyakan sosok wanita yang menjemputnya.Suara jeritan anak-anak perempuan yang berasal dari rumah itu, tetap tidak dapat teredam oleh guyuran air hujan.***

Favor
Fantasy
08 Jan 2026

Favor

Lupakan surat dalam botol, karena Rey sudah lelah menunggu balasan.Semua suratnya memiliki isi yang sama.Kira-kira begini;“Hai, namaku Rey dan aku berumur 15 tahun. Aku tinggal di Pulau Timur. Setiap aku menonton televisi, aku selalu mendengar kabar tentang bencana di luar sana. Aku sudah membantu, tapi merasa belum cukup. Maukah kau berteman denganku? Ini alamat rumahku di Pulau Timur....”Karena sudah mengirimkan surat dalam botol di lautan lepas hampir selama 4 bulan dan tak kunjung mendapat balasan, Rey memikirkan cara lain.Dengan sebuah balon.“Rey masih belum menyerah?” tanya Essy sambil menopang dagu.“Belum, sampai ada yang membalas,” jawab Rey sambil terus menulis. “Bukankah akan sangat lucu kalau aku bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang tak kukenal lewat surat?”“Akan lebih lucu lagi kalau yang mendapatkan suratmu itu laki-laki.”Rey tertawa. “Aku hanya bercanda. Aku benar-benar ingin berteman.”Tentu saja dia hanya bercanda. Dia sudah punya seseorang yang spesial di hatinya.Essy menatapnya sambil mengangkat alis. “Punya aku tidak cukup?”Jantungnya berdesir selama beberapa saat.“Cukup, kok, cukup. Tapi kata ibuku, sebaiknya aku mencari teman selain di sekolah.” Rey mengalihkan topik dan tetap menulis. “Sebaiknya kulepaskan saat pagi, siang, sore, atau malam?”Essy mengendikkan bahu, lalu beranjak dari duduknya. “Ya sudah, aku pulang dulu, ya.”“Eh, bukannya kau bilang kau ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanya Rey.Essy tersenyum. “Tidak jadi, lain kali saja.”Rey berpikir, Essy mungkin ingin membicarakan sesuatu soal ayahnya yang terbaring sakit di Pulau Barat.Keesokan harinya, saat Rey pulang dari sekolah, dia tak lagi menemukan rumah Essy. Rumahnya sudah dihancurkan. Tiba-tiba. Itu cukup mengejutkan Rey, mengingat bahwa rumah yang nyaris rubuh itu memiliki kenangan tersendiri untuknya.“Essy mana?” tanya Rey pada ibunya dengan cemas.“Mereka sekeluarga pindah ke Pulau Barat. Ayahnya Essy meninggal kemarin malam,” jawab ibunya, mencoba menenangkan putranya.“Penyakitnya tidak bisa sembuh?” tanya Rey.Ibunya hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.Hari itu, Rey tidak tahu harus menyesal atau meratapi semuanya.Terlambat. Jelas. Dia jelas terlambat. Essy tidak pernah tahu dan dia tidak pernah memberitahukannya pada Essy.Dan dia tidak pernah melepaskan balon yang telah disiapkannya.*“Rey, ada pesan untukmu.”Rey buru-buru keluar dari kamarnya dan hampir terjatuh kala menuruni tangga. Diterimanya sepucuk surat lusuh dengan hati-hati. “Dari Pulau Barat?”“Baca saja,” ucap ibunya sambil tersenyum.“Halo, Rey. Ini aku, Essy. Kupikir akan ada keajaiban saat aku pindah ke Pulau Barat dan menemukan botol suratmu. Kurasa itu adalah pemikiran paling bodoh yang pernah kulakukan. Kau sudah melepaskan balonmu? Kalau kau mendapatkan teman, aku harap kau mau mengenalkanku padanya. Terlebih kalau dia adalah laki-laki, hehehe.Di sini tak seburuk yang kita dengar di televisi, tak seburuk yang pernah kau katakan. Aku baik-baik saja di sini. Semoga kita bisa bertemu lagi!Salam sayang, Essy.”Rey bersandar di dinding sambil tersenyum lega. “Salam sayang balik juga,” ucapnya seorang diri.***

Get The Wind Up
Fantasy
07 Jan 2026

Get The Wind Up

“Tapi, Ma, kuota Armel sudah habis.”Mama menyergah pembicaraanku dari seberang telepon, “ Salah kamu sendiri. Siapa suruh kamu nge-kos jauh-jauh? Sudah Mama bilang kan, kemarin? Kuliahnya di tempat yang deket rumah aja. Kamu sih, ngeyel, nggak mau dengerin .”Aku memutar bola mataku malas. “Ya udah deh.”Usai Mama menutup telepon, aku menjerit kesal. Mama-ku benar-benar pelit dan tidak mengerti keadaanku sebagai mahasiswi. Aku sudah berulang kali menjelaskan padanya kalau kami—mahasiswa—selalu membuat tugas pada detik-detik terakhir. Besok tugas ini sudah harus dikumpulkan dan kuota midnight -ku baru saja habis saat aku mencari artikel terkait.Sepertinya Mama tidak percaya kalau aku benar-benar serius kuliah di sini.Berbekal artikel terakhir yang kubuka barusan, aku mulai membaca setiap katanya dengan hati-hati, agar aku tak melewatkan bagian penting yang ada. Kalau hari ini aku tidak dapat menyelesaikannya, mungkin besok pagi aku harus benar-benar membuatnya dengan cepat.Dan karena aku mengharapkan kebaikan hati dari jaringan wifi dot id, aku melakukan scanning hingga berkali-kali. Apapun koneksi gratis yang masuk, aku benar-benar ...TRING.Sebuah jaringan terkunci dengan nama ‘ Passwordnya KECOAK ’ mulai mencuri perhatianku.Semula, kupikir itu hanyalah kelakuan orang iseng di samping kamarku, namun saat aku mencobanya, aku benar-benar bisa masuk ke dalam jaringan itu. Passwordnya benar-benar adalah KECOAK.Dengan keajaiban terakhir itulah, akhirnya aku memanfaatkannya untuk membuat tugasku.Pagi itu aku mengisi kuotaku dan tidak pernah mengingat soal keberadaan jaringan itu, atau mencoba mencari tahu soal siapapun yang meminjamkannya untukku.Malam ini, saat aku tengah bermain Facebook, jaringanku dialihkan ke jaringan orang lain. Nama jaringannya adalah ‘hai’.Belum sempat aku berpikir apapun, nama jaringan itu berganti lagi.‘ Hai, Armel. Kamu cantik ’.Aku mulai berpikir bahwa itu adalah perbuatan iseng salah satu penghuni kos di sana. Langsunglah aku beranjak dari dudukku, lalu mengetuk satu persatu kamar yang ada di antara kamarku. Tapi, saat aku ingat bahwa mereka semua tidak berada di sana, aku langsung pucat pasi.Untuk memastikan bahwa pemikiranku benar, aku mengecek sepatu mereka. Dan yang benar saja, mereka sedang tidak ada di tempat.Aku kembali ke kamarku dengan wajah pucat.Nama jaringan itu berganti lagi.‘ Wajahmu benar-benar cantik saat ini ’.Tak menunggu lama, aku langsung keluar dari kosan-ku sambil membawa laptop dan ponselku.Kurasa mendengar saran Mama untuk tidak menetap di kos adalah hal yang tepat.

FLASHBACK - Just Me and You"Anne, panggil Zeffrey kemari ya."  Guru olahraga di sekolah kami yang bernama Pak Suhendra itu lagi-lagi membuatku kesal untuk kesekian kalinya, tadi manggil-manggil dari kelas sampai meminta anak sebelah buat panggil aku di ke
Fantasy
07 Jan 2026

FLASHBACK - Just Me and You"Anne, panggil Zeffrey kemari ya." Guru olahraga di sekolah kami yang bernama Pak Suhendra itu lagi-lagi membuatku kesal untuk kesekian kalinya, tadi manggil-manggil dari kelas sampai meminta anak sebelah buat panggil aku di ke

"Anne, panggil Zeffrey kemari ya."Guru olahraga di sekolah kami yang bernama Pak Suhendra itu lagi-lagi membuatku kesal untuk kesekian kalinya, tadi manggil-manggil dari kelas sampai meminta anak sebelah buat panggil aku di kelas, sekarang, ketika aku sudah sampai di mejanya, eh, malah disuruh panggil si Zeff."Kok saya, Pak?" tanyaku yang terdengar sedikit tidak senang. Sebenarnya aku bukan tidak senang karena diminta memanggil Zeff, tapi karena sifat Pak Suhendra yang suka semena-mena itu."Bapak mau bicarain soal tour Sudirman Cup , team kita akan melawan team dari sekolah Garuda Putih, kamu tahu kan, betapa unggulnya mereka?"Dari minggu kemarin juga, kami sudah tahu kalau team basket sekolah kami akan melawan Garuda Putih yang benar-benar terkenal karena permainan basketnya yang ahli, tidak ada siapapun yang tak mengenal Garuda Putih, apalagi katanya captain -nya ganteng.Eh, eh, salkus-salkus. Tapi William emang keren ya~Oke, makin ngaco.Dan ya, aku harus siap diperbudak oleh Pak Suhendra yang kadang suka semena-mena memperlakukan murid layaknya pembawa pesan. Sebagai ketua tim basket putri, aku harus berbangga hati karena tidak ada team dari sekolah manapun yang bisa melawan team kami. Tapi, jadi cewek ya gitu, pertandingannya benar-benar dianggap remeh sama dunia.Aku memperhatikan Zeff yang sedang latihan sangat serius dengan team -nya. Kali ini mereka benar-benar ambisius untuk memenangkan pertandingan kali ini.Loncatan, passing, dribble dan shoot .Zeff seharusnya bisa menyaingi William, baik dari tampang maupun permainan basketnya. Tapi entah mengapa fans William yang bejibun dan seolah dimana-mana itu kadang membuatku ngeri juga. Kadang aku mensyukuri Zeff yang tidak setenar William meskipun dia juga terkenal....Zeff keren banget kalau lagi fokus shoot ."Annely!" seru Zeff yang membuat kesadaranku kembali, aku yang menyadari bayangan sebuah bola mendekat pun refleks memajukan langkahku beberapa langkah, bola basket itu memantul tepat di area yang kupijak tadi."Iih, Zeff nggak hati-hati, nih. Tadi kalau kena gue, terus gue amnesia, gimana?"Zeff menatapku datar, lalu melemparkan bola yang dipungutnya ke arahku, "Jangan lebay, lah. Lagian, lo ngapain di sini? Mending lo belajar bagus-bagus buat try out .""Gue kemari juga karena disuruh Pak Hendra, kali. Disuruh ke kantor, mau diskusiin soal pertandingan."Zeff menghela nafas lelah, "Bakalan sampe maghrib nih, kalo diskusi sama pak Hendra."Zeff memantulkan bola basketnya ke lapangan, memberi arahan pada anggota-anggotanya untuk latihan tanpanya. Sedangkan aku diam-diam tersenyum juga karena aku menyadari bahwa aku akan menghabiskan waktu dengan Zeff.Ya, meski ada Pak Suhendra sih, tapi nggak masalah.*"Gila, capek banget debat sama Pak Hendra," keluhnya kesal, aku mengangguk setuju, padahal bukan aku yang sedang berdebat, tapi aku ikut kesal karenanya.Pak Suhendra mengatakan bahwa beliau kurang menyukai susunan formasi yang diterapkan Zeff cs, dan menyarankan mereka untuk mengganti formasi yang lain."Lo sih enak ya, cewek, kemana bola pergi, di situ cewek-cewek berkumpul. Tanpa formasi yang jelas pun, kalian bisa menang."Aku memutar bola mataku kesal, "Kalau enak, lo tukaran aja sama gue, lo jadi cewek dan gue jadi cowok. Lo cuman gatau, saking gampangnya sampai terlalu membosankan. Kadang gue ingin bermain bersama team lo, tapi lo-nya ngga ngizinin mulu dengan alasan klasik karena gue cewek.""Kan lo emang cewek?"Aku kesal dengan perbedaan itu. Perbedaan yang membuat semuanya menjadi amat jauh berbeda. Kenyataannya kami sama, makan nasi, bernafas dan sama-sama manusia, tapi apa?"Gue capek sebenarnya jadi captain ," ungkap Zeff."Sama, gue juga capek," balasku malas."Mau makan nggak? Gue traktir deh."Aku menggeleng, "Nggak deh, gue lagi diet."Aku diet bukan karena ada pakaian kesempitan yang sedang ingin kupakai, tapi hanya agar tubuhku lebih ringan dan loncatanku lebih tinggi. Oh, dan sebenarnya juga merasa berat badanku sudah sedikit over dari kebanyakan cewek. Sedikit doang, kok, sumpah."Siang tadi emang lo sempat makan?"Aku tersenyum, "Ihh, Zezef kok tau? Perhatian banget," aku tertawa mengejek, sebenarnya hanya akal-akalan agar Zeff tak membahas apapun yang berhubungan dengan permintaan memintaku makan atau apapun itu.Padahal sebenarnya tadi siang itu banyak PR dan kami sekelas nggak ada yang keluar dari kelas karena itu. Zeff tentu saja tahu karena itu. Dasar miris."Annely....""Hm?" Aku membalikkan kepalaku, sedikit terdiam juga dengan perubahan ekspresinya yang begitu cepat itu. Seharusnya aku sudah menyeberang karena rambu lalu lintas masih menunjukan warna hijau, namun aku tak melakukannya.Zeff serius sekali, sih?"Lo bakal kuliah di mana?"Aku terdiam untuk beberapa saat, "Ih, kok Zezef kepo tiba-tiba?" tanyaku iseng, wajah mengerut milik Zeff benar-benar membuatku gemas, ingin memonopoli keberadaannya seorang diri. Bahaya."Serius, Anne, lo mau kemana?" tanyanya lagi.Aku menarik nafas, "Gue mau ke Pulau Jawa, gue denger universitas di sana bagus-bagus semua. Lo sendiri mau kemana?" tanyaku meringis pelan saat menyadari bahwa rambu kembali merah. Tapi nggak masalah, selama ada Zeff di sini, aku siap nunggu lebih lama lagi."Kenapa mesti jauh-jauh sih?" tanyanya malas. "Gue stay di provinsi ini, tapi bakal keluar kota. Secara, lo tau kan kalau kota kecil kita nggak punya satu bangunan universitas pun?"Aku mengangguk mengiyakan."Terus , pulangnya kapan?""Kalo libur, gue usahain pulang. Tapi tiket pesawat mahal, nih. Doain aja gue-nya cepet sukses."Keheningan berlangsung selama beberapa menit, hingga akhirnya rambu berubah hijau, membuatku sontak melangkah menuruni trotoar. Di sinilah kami berpisah biasanya setiap pulang, Zeff tetap di sana dan aku diseberang sana."Anne!" serunya yang membuatku berbalik lagi ke arahnya, namun yang kulihat bukanlah lambaian tangan yang biasanya ia lakukan. Zeff sudah berada di sampingku.Di belakang Zeff, aku bisa melihat sebuah truk melaju dengan kecepatan sedang, namun tak bisa kami hindarkan lagi. Truk jelas muncul dari perbelokan tajam dari belakang sana.Jeritan klakson terdengar begitu tajam.BRAKKK!!!...Zeff,Zeff...Aku ingin bersama denganmu .*Mataku terbuka secara tiba-tiba, cahaya putih terlihat jelas di atasku. Semuanya putih. Ah, apa ini sudah di surga?Saat menolehkan kepalaku ke samping, aku langsung berusaha menjauhkan diriku, pasalnya Zeff berada sangat dekat denganku. Hanya beberapa centi. Namun tubuhku tertahan, dan tak kunjung menjauh darinya meski aku sudah berupaya keras menarik diri. Aku memperhatikan tubuhku yang tak mau menurut....Kakiku.Kakiku dimana?D-dan mengapa tubuhku menyatu dengan tubuh Zeff?"Zeff...Zeff! Zeffrey, bangun!"Mata Zeff terbuka, dia langsung menolehkan wajahnya ke arahku. "...Annely?" tanyanya tak percaya, "Kapan datangnya?""Apa yang lo maks-"Tangannya yang terulur ke arah kepalaku, sukses membuat bola mataku membulat sempurna. Mengapa bisa?! Mengapa bisa tangannya melewati kepalaku?!"Z-Zeff, apa gue kehilangan kepala atas juga?" tanyaku hampir menangis, sudah cukup aku kehilangan kakiku. Basket bukan segalanya dihidupku, kehilangan kaki memang menakutkan, tapi lebih menakutkan lagi tidak punya kepala."Kepala lo baik-baik aja, tapi kayaknya jiwa lo keluar dari tubuh lo," balasnya mencoba menjelaskan dengan pelan, Zeff sendiri terlihat tak percaya dengan apa yang terjadi. "Tubuh lo masih di ICU, sudah hampir tiga jam belum ada kabar apa-apa.""Gue nggak mau mati, Zeff!" seruku frustasi.Zeff menatapku dalam, "Sama!" serunya yang membuatku terpana beberapa saat, "Gue juga nggak mau lo mati."Aku terdiam. Di saat seperti ini, kupikir wajar bagi Zeff untuk mengatakan itu. Aku benar-benar menyesali hal yang terjadi, meskipun itu bukanlah kesalahanku. Tapi, aku manusia, setelah mengetahui diriku kemungkinan meninggal, hal yang ingin kulakukan hanyalah meminta maaf sebanyak-banyaknya pada siapapun yang sempat kuminta maaf."Boleh lo bawa gue ke Bokap-nyokap gue? Gue pengen lo titipin pesan ke mereka sebelum aku-""Nggak! Lo nggak bakal mati, Anne!" gumamnya tegas. "Gue nggak bakal nerima satupun pesan lo kalau lo nggak hidup!"" Please , Zeff...." sahutku memelas, "Gue masih berantem sama nyokap gue tadi pagi.""ANNELY! Lo nggak bakal dan nggak boleh mati!" bentaknya yang membuat tubuhku tersentak, air mata yang berada di sudut kelopakku turun dengan sendirinya. " Please, Anne, stay alive ."Pintu kamar tiba-tiba saja terbuka, menampakan Dokter berpakaian serba putih yang datang terburu-buru bersama streoskopnya. "Ada apa?"Matanya yang menatap lurus ke arah Zeff membuatku putus asa, aku bisa langsung yakin bahwa sosokku tak bisa terlihat olehnya. Ini benar-benar membuatku ingin menjerit putus asa."...Teman saya yang di ICU, bagaimana keadaannya?" tanya Zeff."Anda tenang saja ya, nak. Kami akan berusaha semampu kami."... Mom, maafkan aku .Ini pasti kutukan buatku karena sudah melawan Mom tadi pagi. Mom memintaku untuk tidak bermain basket lagi sejak dulu. Aku paham, Mom hanya takut sifatku yang kasar itu semakin tak terkendali, dan aku paham benar kekhawatiran setiap orangtua terhadap anaknya.Aku yang salah.Zeff turun dari ranjangnya, meraih tongkat yang berada di sisi nakas dan berjalan keluar tanpa berkata apa-apa. Dokter di belakang kami hanya melangkah mengikuti kami, lalu berbalik lagi ke arah lain begitu Zeff sampai di depan yang bertuliskan ICU.Aku bisa melihat Mom sedang menangis di sana, sedangkan Dad nampak serius berbicara dibalik telepon, dengan air muka yang jelas amat emosi."Orang yang menabrak tadi sepertinya mabuk," gumam Zeff yang membuatku menggertakan gigiku."Gue pengen bunuh dia!"Zeff menatapku dalam, lalu menarik nafas panjang. "Gue pengen banget, meluk lo, tau?""Huh?" Aku mengerjapkan mataku, "Maksud lo?""Jangan sedih, please , Anne. Gue nggak tau gimana caranya nenangin lo."...jangan baik begini, Zeff. Aku bisa terjatuh makin dalam.Aku termenung untuk pertama kalinya setelah bangun barusan.Mungkinkah gara-gara itu?Aku ingin bersama denganmu ....Permintaanku terkabul...?Apa ini yang namanya permintaan terakhir saat hidup?"Anne, lo udah tenang?" tanya Zeff dengan hati-hati.Aku mengangguk dan mencoba tenang, "Duduk di samping bokap nyokap gue, tenangin mereka dulu, please .""Anne..."" Please , Zeff, ini permintaan sekali seumur hidup gue. Please ."Tubuhku mulai menghilang dan aku menangis semakin keras, Zeff yang tidak tahan langsung menghampiri orangtuaku dan duduk di samping mereka, dia memeluk Dad dan Mom yang kini meratap ke lantai dengan tatapan kosong. Keduanya hanya terdiam. Zeff membisikkan sesuatu di telinga mereka berdua.Aku mulai mendengar suara yang terdengar makin cepat. Lalu suara dokter dan suster yang terdengar bergerak semakin cepat. Aku memeluk kedua orangtuaku meski mereka berdua tak mampu melihat keberadaanku."Mom, Dad, Anne sayang kalian..." bisikku.Suara mesin tiba-tiba memanjang, aku hanya sempat melihat tanganku menghilang sebelum akhirnya tubuhku terasa tertarik dengan begitu cepat. Aku bisa melihat sekilas seorang dokter menggosokan dua buah alat bersamaan, lalu menekan duanya bersamaan di tubuhku.Aku semakin merasakan tarikan itu, alat kejut jantung itu sepertinya bisa..., sepertinya bisa menyelamatkanku."Coba lagi."Sekali lagi, aku bisa melihat tubuhku tersentak, mataku masih terpejam erat tak rela terbuka. Aku menangisi keadaanku saat ini. Kuharap Zeff benar-benar menghibur kedua orangtuaku.Aku bukan anak yang baik, aku hanya menyusahkan kalian selama ini. Tapi aku tahu, kalau mereka kehilanganku, mereka akan sedih."...Sekali lagi."Mom, Dad, maafkan Anne tidak bisa menjadi anak yang baik.Alat itu kembali menyetrum diriku, tubuhku terasa ditarik oleh sesuatu yang kencang, tubuhku tiba-tiba saja merasa lemah, pelan-pelan aku bisa mendengar suara pelan dari mesin di sampingku. Aku membuka mataku pelan-pelan dan melihat para dokter menatapku sangat lega."...Pasien kecelakaan barusan, berhasil diselamatkan," gumam salah satu dokter tadi entah kepada siapa.*"Sudah gue bilang kan, lo bakalan selamat..." Zeff mendorong kursi rodaku sambil menghela nafas lelah. "Malah nyuruh gue hibur orangtua lo... Lo beneran bikin orang cemas, tau nggak?"Aku menunduk dalam, " Sorry , Zeff. Gara-gara lo nyelamatin gue, lo ga bisa ikutan tour ya?""Sudahlah, nggak apa-apa. Nanti gue langsung ajak William tanding saja tanpa perlu ada pertandingan resmi. Gue kenal dia kok, gue punya kontaknya."Aku langsung bersemangat, "Serius? Lo punya kontaknya William? Gue boleh minta tidak?" Asyikk, nambah kontak cogan di hapeku.Zeff menatapku datar, "Nggak bakal gue kasih," ucapnya jengkel."Ih, Zefferey pelit, ih." Aku pura-pura merajuk. Mana mungkin aku merajuk gara-gara Zeff tidak memberikan kontak William. Orang aku sukanya ke Zeff kok, bukan William."...Anne,""Hm?"Tubuhnya menunduk, aku bisa merasakan leherku kini tengah dipeluk olehnya, aku benar-benar...benar-benar kaget setengah mati."Z-Zeff, lo ngapain?!""Meluk lo, lah, masak nggak tau?"Aku makin tergagap mendengar jawaban santainya, yaampun, selamatkanlah aku dari apapun namanya ini. Jantungku sudah bekerja lebih maksimal dari biasanya. Aku bisa mati, sepertinya."Iya, ngapain lo meluk gue?!"Dan Zeff berbisik amat pelan, "Gue sayang lo, Annely."

INSOMNIA Again
Fantasy
06 Jan 2026

INSOMNIA Again

27th Desember 2016, Tue***Sebelum kau terlelap dalam mimpi yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya, pastikan kau telah membersihkan dirimu sepenuhnya. Jangan lupa mencuci kakimu, menggosok gigimu dan memanjatkan doa sebelum tidur.Hei, mau kuceritakan cerita yang menarik sebelum kau akan beranjak tidur malam ini?Kau tahu? Bed covermu mungkin sudah harus kau ganti. Ah, maksudku, kau tidak akan tahu ada berapa makhluk kecil yang tak terlihat selalu mengulurkan tangan mereka untuk menunggumu berbaring disana. Mereka bisa sepuasnya menguasai dirimu saat kau terlelap, memasuki organ tubuhmu yang hampir selalu terbuka setiap waktu.Ah, kita bukan ingin membahas itu, tenanglah. Ya, aku tahu itu menjijikan, aku pun sebenarnya ragu untuk menceritakan ini padamu. Aku takut tidurmu akan terganggu hari ini, jadi kalau kau merasa tak sanggup, jangan lanjutkan! Karena aku tidak akan bisa bertanggung jawab.Omong-omong, hei, aku akan melanjutkan topik ini. Kalau terganggu, tutuplah dan lupakan apa yang kusampaikan hari ini.Pertama, posisikan bantalmu agar kepalamu sejajar dengan tubuhmu. Atau lebih singkatnya, posisikan dirimu yang paling nyaman di atas kasurmu, tidurlah dalam keadaan lurus, tangan di sisi tubuhmu. Pastikan lututmu tak terangkat, aku bisa jelaskan mengapa kau harus benar-benar santai saat tidur. Percayalah.Jika kau terbiasa menggunakan selimut, kenakanlah, malam ini mungkin akan dingin. Kalau kau terbiasa memeluk guling, peluklah, kau juga boleh berada dalam posisi miring dan dalam keadaan meringkuk (asal kau tidak berbaring lurus dan bagian kakimu tidak membentuk /\ ).Nah, aku akan ceritakan apa yang kualami sejak dulu, kalau kau mengangkat lututmu dan telapak kakimu berada di atas kasur, ada beberapa kemungkinan. Kau mimpi indah, mimpi buruk, atau mungkin bermimpi (tapi kau tidak akan mengingatnya). Kalau kau mimpi indah, kau pasti tidak bisa terbang bebas di sana, dan kalau kau mimpi buruk, kau tak akan bisa lari dari kejaran- nya . Begini, akan kuceritakan sesingkatnya saja, kalau kau melakukan itu saat tidur, kau tidak akan bisa berjalan saat di mimpimu.Kalau tanganmu berada di kedua sisi kepalamu, kau biasanya tidak akan ingat mimpi yang kau alami. Tenang, itu bukan hal yang buruk. Nah, dan itu adalah biasanya , bukan berarti kau tidak akan ingat. Karena ada beberapa cerita lain di sana.Hey, apa kau pernah merasakan takut saat tidur? Oh, tidak, kau hanya memejamkan matamu, sebenarnya. Kesadaranmu masih utuh, tapi seluruh organ tubuhmu tidak ingin mengikuti perintah otakmu.Ah, selamat! Mungkin kau sedang tertindih!Biar kuberitahu soal masalah ketindihan, ini bukan hal yang langka dan jarang terjadi. Kebanyakan orang sudah pernah merasakannya, aku pun pernah, haha. Eh, itu bukan sesuatu yang perlu ditakutkan, biar kuceritakan langkah aman yang mungkin harus kau tahu.Yang harus kau lakukan saat ketindihan adalah membaca doa sesuai kepercayaanmu. Setelah bait doamu selesai, kau boleh mencoba menggerakan jari telunjukmu. Kalau gagal, ulangi sekali lagi. Kalau masih gagal, kau boleh mencoba untuk menggerakan kakimu atau mungkin kepalamu. Kalau kau berhasil melakukannya tapi matamu tetap tidak bisa terbuka, cobalah menggeser tubuhmu menjauh dari pinggir kasur, itu akan membantumu sedikit. Kalau sudah, baca doa sekali lagi dan tidurlah. Besoknya kau akan kembali seperti semula.Hei, itu hanya ketindihan. Aku bahkan pernah mengalami yang lebih dari itu. Aku pernah menghadapi mimpi dimana aku mengira bahwa aku baru terbangun dari mimpi dan rupanya aku masih bermimpi. Ah, bahasaku aneh sekali, biar kuperjelas di bawah.Begini, bayangkanlah kau baru terbangun dari sebuah mimpi buruk. Kau sangat lega karena berasumsi bahwa itu hanyalah mimpi dan semuanya telah berakhir. Kau bangun dan melakukan aktivitas biasamu, namun kau tiba-tiba melihat kejadian aneh disekitarmu. Kau menyadari bahwa itu hanya mimpi dan mencoba untuk bangun.Kau bangun, bersyukur bahwa itu hanyalah mimpi. Kau mencoba mengingat mimpi burukmu barusan. Kau melakukan aktivitas dan lagi-lagi melihat kejadian aneh di depanmu. Kau lagi-lagi berusaha bangun.Kau bangun lagi, mencurigai bahwa kau masih bermimpi. Kau mencubit dirimu dan tak merasakan sakit. Kau mencoba bangun lagi.Berulang-ulang sampai kau tak bisa membedakan dunia nyata dan dunia mimpi.Ketahuilah bahwa saat itu, sebenarnya kau sedang menggantikan dirimu yang juga terlelap. Maksudku, dirimu yang lain, dirimu yang ada di dunia lain, dirimu yang juga mengira bahwa hanya ada satu dunia di semesta ini.Kau lagi-lagi bangun, namun kali ini kau mengalami ketindihan dalam mimpimu. Kau masih sadar sepenuhnya dan masih mengira-ngira apakah ketindihan ini terjadi di dunia nyata atau dunia mimpimu. Kau tidak bisa menyimpulkan. Kau hanya melihat gelap, dan kau bisa merasakan seluruh tubuhmu mati rasa dan tak bisa kau kendalikan.Begini, kalau kau mengalami kejadian seperti itu, kusarankan kau untuk tidur saja atau menunggu seseorang dari dunia nyata untuk membangunkanmu.Karena kalau kau bangun, ada dua kemungkinan.Yang pertama; kau benar-benar terbangun.Atau yang kedua; matamu terbuka dan kau akan langsung bersitatap dengan seseorang yang di atasmu.Biar kuberitahu, ini cara yang beresiko. Ini akan membuka indra keenammu selama beberapa saat. Setelah itu wujud diatasmu akan menghilang tanpa kau sempat menjerit, karena kau bahkan tak bisa mengeluarkan suaramu.Kau akan tertidur secara otomatis dan terbangun keesokan harinya, mengingat semua mimpi buruk itu.Tapi, setelah itu, jika kejadian tadi berulang kembali, apa kau akan berpikir untuk terbangun dari situasi seperti itu lagi?

Lilyon
Fantasy
06 Jan 2026

Lilyon

"Woi, Lyon! Udah pagi!" seruku sambil memukuli Lyon dengan bantal.Enak aja dia malah enak-enakan tidur di sini. Berasa dayangnya, tau gak sih. Bangun pagi-pagi harus aku yang lakuin, diberlakuin kayak cowok sama Lyon sialan ini. Masak iya aku disuruh manjat ke jendela kamar dia? Iya, aku emang udah kebiasa manjat-manjat di jendela kamar dia, tapi kalau diperintahin langsung rasanya engga banget.Namaku Lily, aku udah SMA 3. Namaku cantik banget ya? Sayangnya orangnya nggak secantik namanya. Cowok yang tidur kayak kebo itu namanya Lyon. Dia childhood friend -ku sejak kami kecil, gatau deh dari kapan."Lyon! Kalau masih tidur, aku tinggalin nih!"Tetap aja dia masih tidur."Lyon!"Dan kesabaranku yang memang limit pun habis terkikis oleh ulah Lyon yang tak bergerak sedikitpun. Dia memang bakalan jadi mayat kalau udah tidur."AKU PERGI!" seruku sambil membanting pintu kamarnya keras-keras, lalu turun ke lantai bawah untuk menyapa Tante."Lho, Lily manjat lagi?" tanya Tante begitu melihatku turun ditangga. "Aduh, padahal kan kalau kamu menekan bel, pasti dibukain," ujarnya tak enak hati.Aku tidak bilang pada Tante bahwa Putra kedua-nya lah yang memintaku memanjat dan membangunkannya pagi-pagi. Habisnya kalau aku nekan bel, Tante pasti nyuruh aku nunggu di sofa yang ada di ruang keluarga, terus naik ke kamar sendiri buat bangunin Lyon. Kata Lyon, cara Tante bangunin dia itu TSADEST pake banget. Ya, aku mengakuinya, soalnya aku pernah lihat Tante membangunkan Lyon dengan cara berteriak, " KEBAKARAN !" atau " ADA KECOAK TERBANG !" Tapi reaksi Lyon lucu deh, dia ngeloncat dari tidurnya tiba-tiba gitu."Lyon-nya belum bangun?" tanya Tante sambil mencoba ngintip-ngintip dari bawah.Aku cuman ngangkat bahu. Harapannya sih, Tante naik sendiri dan bangun Lyon dengan salah satu jurus TSADESTnya, ini gara-gara aku udah kesal sampai pengen banget loncat-loncatin tubuhnya bak trampoline .Tapi Lyon sedikit beruntung pagi ini, soalnya pas Tante mau naik, dia udah keluar kamar sambil bawa handuk. Rambut-nya acak-acakan kayak singa, wajah dia kusut bak pakaian kusut. Heran aja akunya, kok banyak sih cewek yang suka sama dia?Aku dipaksa Tante untuk sarapan bersama keluarganya lagi . Di sana Kak Leo sudah makan roti isi selai kacangnya dengan nikmat, sedangkan Lyon sedang menggosok giginya di depan cermin berwastafel dengan malas-malasan."Lily nggak makan?" tegur Kak Leo memergokiku sedang memperhatikan Lyon mengusap wajahnya sendiri dengan mimik wajah yang lucu."Eh. Aku udah makan di rumah tadi.""Makan aja lagi, kamu kurus banget kayak lidi," balas Lyon terdengar mengejek. Aku menatapnya dengan tatapan tajam, bahkan sampai dia duduk bergabung di meja makan bersama. "Lily kurus kayak lidi," ulangnya dengan kening berkerut. "Wah, mirip! Aku memang jenius!""Hush, Lyon," tegur Kak Leo dengan bijak.Omong-omong, kak Leo memang bijak, keren, dan sangat-sangat berbeda dengan Lyon yang pencicilan. Ah, sudahlah, aku lelah membandingkan mereka berdua.Entah bagaimana ceritanya, selang beberapa menit setelah Lyon bahkan sudah menyelesaikan sarapannya, Tante tiba-tiba saja menjerit histeris. Aku yakin bukan cuma aku yang terkaget saking tiba-tibanya itu. Kak Leo dan Lyon juga ikut tersentak dan menoleh horror ke sang Ibu."Iih! Mama kok gitu sih?" tanya Lyon dengan nada tidak senang.Tante langsung berdiri menghampiriku dan menjabat tanganku dengan gerakan yang amat cepat, "Ya ampun, Lily sayang, Tante hampir lupa! Selamat ulangtahun ya, sayang. Semoga panjang umur, makin sehat, makin cantik, makin manis, makin makin deh, pokoknya!"Senyumanku melebar saat aku menyadari hal itu, ah, benar juga . Aku sendiri hampir melupakan fakta itu sampai Tante mengingatkannya."Terima kasih, Tante," balasku sambil tersenyum lebar."Duh ...," Tante mengelus kepalaku, "Kok masih manggil Tante, sih? Manggil Mama kenapa? Lily kan sudah lama bareng Lyon."Aku tertawa kecil. "Iya deh, iya. Mama sayang.""Ini kamu sudah tujuh belas kan? Aduh, Mama pengen deh kalian cepat-cepat married !" pekiknya sambil memelukku erat."Maa," tegur Lyon saat menyadari sifat over-antusias yang dirasakan Tante saat ini."Selamat ulang tahun ya, Lily." Kak Leo menjabat tanganku, melemparkan senyuman khasnya yang membuatku membalas jabatannya dengan salam yang sama."Hehe, makasih kak Leo."Lyon mengintrupsi. "Udah ah, udah. Kami mau ke sekolah, udah telat. Ada try out .""Yeeh, kamunya yang bikin telat." Aku memutar bola mataku malas."Pergi dulu ya, Kak, Ma."Usai Lyon memberi salim, aku melakukan hal yang sama dan langsung keluar dari rumah Lyon sebelum Tante over-reacted dan membuat kami makin terlambat hari ini."Eh, kita naik itu? Gamau naik angkot aja?" tanyaku sambil menaikkan sebelah alisku.Lyon menepuk bangku kosong di belakang sepedanya sambil tersenyum lebar. "Naik angkot mulu, mau jadi Nyonya angkot, apa? Sesekali Bang Lyon bonceng, dong. Sini."Aku pun duduk di bangku itu dalam keadaan menyamping. Meski sebenarnya aku lebih suka duduk dalam keadaan normal, tapi tentu saja aku harus ingat kalau aku sedang memakai rok."Nih." Lyon menyerahkan jaket kainnya untuk kuikat di pinggangku. "Oh ya, Selamat ulang tahun Lily, maaf telat, hehe."Aku memutar bola mataku bosan, "Udah biasa kok, kamu telat kayak gini. Jadi aku sama sekali nggak ngarep kaca jendela kamar dilempari kerikil, terus kamu-nya di bawah main gitar sambil bawa kue.""Gimana ceritanya, coba?" Lyon tertawa ringan. Bagian ini selalu menjadi favoritku. Selalu.Saat Lyon mulai menjalankan sepedanya, aku memeluk tasnya yang digantung di bahunya. "...Lyon, kapan kamu mau lurusin masalah ini ke Mama-mu?" tanyaku sambil menghela nafas. "Sudah berapa tahun mereka mengira kita jadian?""Boleh nggak usah lurusin, nggak sih? Toh kita sudah nyaman."Aku lagi-lagi menghela nafas, "Iya, tapi kan-"...Jadian karena omongan dan perasaan itu, beda kan?Aku sudah nyaman sama Lyon. Bukan sebagai sahabat .Ya Tuhan, bangunkan aku jika ini memang hanya keindahan sesaat.Lyon memang mengumbarkan kepada dunia bahwa aku adalah pacarnya sejak dia telah terlanjur mengatakannya pada Ibunya. Dunia tahu bahwa aku dan Lyon memiliki hubungan. Tapi, hanya aku seorang yang tahu tentang perasaan ini.Aku memejamkan mataku, memeluk erat tas Lyon yang jelas memiliki aroma khas Lyon. Semoga saja aku bisa melupakanmu saat kamu melepaskanku."Lily...."Aku tak berani membalas, takut pikiranku kacau dan salah mengungkap lagi."Apa aku terlihat tak seserius itu?"Ya. Tapi, suaramu tak terdengar seperti itu."Tidak," balasku pada akhirnya. "Bukan begitu.""Jadi?"Aku menarik nafas, "Aku hanya terlalu nyaman denganmu, sampai-sampai aku takut terlalu bergantung padamu. Seandainya suatu hari kamu menemukan gadis lain, apa yang harus kulakukan?"Lyon tertawa pelan, "Waw, sepertinya kita memang berjodoh. Kita punya kekhawatiran yang sama.""Jangan menganggapnya lelucon, Lyon," balasku malas."Tenang saja, Lily, aku belum pernah sekalipun menganggap hubungan kita lelucon. Aku bisa menjamin bahwa dimasa depan sekalipun, aku akan berpikir begitu."Omongan Lyon manis sekali, ya ampun.Terlalu manis sampai aku sangat takut."Aku sayang kamu."Tiga kata itu membuat semuanya pergi. Kekhawatiran, kegelisahan, ketakutan. Mengundang hal-hal menyenangkan lain yang membuatku terlupa akan segalanya yang kurasakan kini. Aku lupa segalanya, lupa bernafas adalah salah satunya."Lily, bernafaslah!" Lyon memberi arahan sekalipun matanya kni fokus menatap jalanan kota besar, dan ia masih sempat mengingatkanku sebelum aku benar-benar terlupa lebih lama dan kehilangan diriku. "Sudah bernafas?""Sudah," balasku jengkel, darimana coba dia tahu kalau aku menahan nafas tadi?"Kalau kamu?" Aku bisa merasakan Lyon mempercepat laju sepedanya. "Sayang aku, tidak?"Aku tersenyum dan berhenti memeluk tasnya, beralih menyentuh bahunya."Sayang, kok."Laju sepedanya yang melambat membuatku tahu bahwa dia bisa mendengarkan ucapanku tadi. itu benar-benar membuatku menghela nafas lega.Lega dengan semua ini."Ulangi lagi kata-katamu tadi saat kita pulang ya? Aku tidak bisa mendengarmu."Aku memukul pelan bahunya, "Aku tahu kau mendengarnya!"Entahlah, ini hadiah termanis yang pernah diberikan oleh seorang Lyon padaku. Semoga saja semua ini bertahan lama, lebih dari selamanya.

APPLE
Fantasy
05 Jan 2026

APPLE

Menyicip apel yang telah dipotong kecil sebelum memberikannya pada para bangsawan tentu saja adalah hal yang biasa kulakukan sebagai seorang pelayan, terlebih lagi setelah ramalan buruk itu muncul, bahwa di antara banyaknya apel yang terbentuk setiap waktu, ada satu buah apel yang mengandung racun.Ramalan itu baru muncul beberapa waktu yang lalu, saat pihak kerajaan menghabisi penyihir terakhir yang ada karena merasa terancam dengan keberadaan mereka.Aku tak bisa berbohong bahwa aku selalu mengambil keuntungan dari ramalan itu, pelayan seperti kami sangat jarang memakan buah yang segar.Kami bahkan boleh memakan apel yang ada di dalam karung setelah mereka mengambil apel yang paling berkualitas.Ramalan buruk datang tidak selalu membawa hal yang buruk, karena berkat ramalan itu, para manusia yang kelaparan di luar sana pun mendapatkan apel yang dibagi cuma-cuma."Hei, bagaimana bisa kau makan apel itu dengan tenangnya?" tanya temanku yang juga merupakan seorang pelayan dengan cemas, "Kau tidak takut akan memakan racun?""Satu dari sekian banyaknya orang, aku percaya bahwa bukan aku yang akan memakannya."Temanku itu hanya mengendikan bahunya tanpa membalas perkataanku sedikitpun. Aku merasa dia iri padaku, karena ibunya tidak akan pernah mengizinkannya memakan apel dan yang dia lakukan hanyalah melihatku memakan buah itu setiap harinya.Lihat saja tubuhnya yang kurus dan kulitnya yang kasar itu, terlihat jelas kalau dia kurang asupan gizi. Padahal, dia itu pelayan yang mengurus kebersihan kastil, bagaimana mungkin dia bisa melakukannya dengan tubuh kurus itu?Pokoknya, aku masih percaya dengan kata-kata pelayan di dapur, bahwa bekerja sebagai pelayan dapur adalah pekerjaan yang paling menyenangkan di kerajaan ini.*Aku tetap tidak bisa terlelap meskipun sudah berulang kali mencari posisi nyaman, rasanya tubuhku begitu gelisah tanpa tahu dan mengerti apa yang terjadi. Punggungku terasa panas-dingin, kuabaikan itu karena itu bukanlah hal yang tidak wajar.Keringat dingin mulai mengalir di pelipisku, jari-jariku terasa begitu gatal jika tidak digerakan, kakiku terasa lemas, dan rasanya nyeri di bagian jantungku tak terelakkan.Kepalaku mulai pusing dan mataku mulai begitu berat. Penglihatanku berkunang-kunang, nafasku mulai tersenggal karena sesak, dan lidahku terlalu kelu untuk menjerit memohon pertolongan.Akhirnya aku pasrah, mempercayakan apapun pyang akan terjadi kepada diriku terhadap kenyataan...Namaku terpanggil berulang kali oleh beberapa orang yang berbeda. Suara pintu yang dibuka-tutup terdengar lebih keras dari biasanya.Setelah memaksakan diri, akhirnya aku membuka mataku perlahan.Orang-orang masih memanggilku dan terus lalu-lalang tanpa mempedulikanku yang duduk termenung di depan mereka.Aku meratapi diriku sendiri.Aku percaya bahwa aku telah memakan racun itu.Karena jika tidak, tidak mungkin aku berubah menjadi makhluk kerdil dengan sayap transparan dibelakang punggungku.Bagaimana bisa aku menjadi orang tersial itu ?*Berita tentang diriku yang telah menghilang berhari-hari, membuatku begitu marah. Dalam sosokku yang tak berdaya, aku bertanya-tanya mengapa tidak ada siapapun yang mencariku.Mereka memang mencariku pagi itu, tapi hanya sebentar saja.Aku sangat bingung, mengapa mereka malah mengadakan pesta yang megah nan mewah, entah menyambut siapa atau mengadakan acara apa.Ayah dan ibuku bahkan tak mencariku, malahan mereka diberi banyak koin emas dan benda berharga lainnya oleh pihak kerajaan. Senyuman lebar mereka yang terlihat begitu senang mendapatkan benda-benda mewah itu membuatku tak mengerti.Aku tidak mengerti.Sampai akhirnya aku mendengar perbincangan mereka mengenai perihal itu...Dan aku sadar ..., pesta itu, kesenangan itu, dan semua imbalan itu adalah bentuk suka cita yang mereka perlihatkan karena satu-satunya apel beracun itu, kini telah lenyap termakan olehku.Tapi aku dikejutkan kembali dengan seringai Ayah yang mengerikan, lalu melambaikan tangan di depanku seolah dapat melihatku, aku menghilangkan keraguanku."Mereka itu bodoh ya?"Aku memiringkan kepalaku bingung, namun aku masih melihat mata Ayah yang menatapku fokus."Tunggulah beberapa hari lagi, kau bisa berubah menjadi manusia lagi setelah kita pindah ke kerajaan lain."Aku melongo. "Bagaimana dengan ramalannya?""Putri-ku yang lugu, haruskah aku menjawabmu?" Ibu mengelus kepalaku dengan telunjuknya. "Tentu saja apel itu masih ada, tunggu saja sampai ada manusia sial yang memakannya."Ayah memberikan sebuah cairan kepada Ibu. "Berikan dia minum, agar dia tak mengingatnya lagi nanti," bisik Ayah yang terdengar amat jelas di pendengaranku."Minum ini, biar kau lebih cepat menjadi manusia."Aku menelan saliva-ku tertahan, meski tahu bahwa cairan itu akan membuatku kehilangan ingatanku tentang ini, aku tetap saja meminumnya. Aku percaya pada Ayah dan Ibu.Kegelapan menuntunku untuk kembali terlelap.*Menyicip pir yang telah dipotong kecil sebelum memberikannya pada para bangsawan tentu saja adalah hal yang biasa kulakukan sebagai seorang pelayan, terlebih lagi setelah ramalan buruk itu muncul, bahwa di antara banyaknya pir yang terbentuk setiap waktu, ada satu buah pir yang mengandung racun.Ramalan itu baru muncul beberapa waktu yang lalu, saat pihak kerajaan menghabisi penyihir terakhir yang ada karena merasa terancam dengan keberadaan mereka.Aku tak bisa berbohong bahwa aku selalu mengambil keuntungan dari ramalan itu, pelayan seperti kami sangat jarang memakan buah yang segar.Kami bahkan boleh memakan pir yang ada di dalam karung setelah mereka mengambil pir yang paling berkualitas.Ramalan buruk datang tidak selalu membawa hal yang buruk, karena berkat ramalan itu, para manusia yang kelaparan di luar sana pun mendapatkan pir yang dibagi cuma-cuma.

I Hate You
Fantasy
05 Jan 2026

I Hate You

"Cepet banget ya, kita kelas enam... bentar lagi ujian, habis itu perpisahan. Terus, kita semua mencar," gumamku sedih kepada kedua sahabatku."Hm," jawab mereka berdua dengan sama sedihnya."Cepet banget kita kelas enamnya, padahal dulu awal ketemu itu kita kelas satu SD... masih kecil banget kita," lirihku lagi, dan dibalas anggukan oleh mereka."Hanya ada satu hal yang tak berubah..." Aku menaikkan kepalaku, ingin mengatakan 'Persahabatan' guna membuat kedua sahabatku ini menangis terisak, sebelum akhirnya dia datang dan mengacaukan segalanya. "Persaha-""Yeah, tinggi badanmu."Tanganku seolah tercipta hanya untuk mencubit tangannya, sebab pemadangan dimana aku mencubitnya dan dia mengaduh kesakitan itu seperti sudah menjadi sarapan untuk seisi kelas--sudah biasa."AW!" Dia mengaduh kesakitan. "Apaan sih, kan aku bilang kenyataan!""Iya, gausah frontal kayak gitu juga dong!" makiku tanpa berhenti mencubitinya."Mesra amat, ciyeee," goda sahabat baiknya, yang membuatku memanas dan akhirnya memutuskan untuk menjauh dari mereka."Capek tau nggak sih, berantem mulu sama kamu! Sifatmu masih aja kayak anak-anak, padahal kita udah mau lulus SD!" seruku dengan berapi-api."Ye, kamu-nya juga kayak anak-anak, diledekin dikit langsung meledak," ucapnya dengan penuh dengan tatapan mengejek. Tangannya yang berada disisi tubuhnya tiba-tiba terangkat dan ditaruhnya di puncak kepalaku sebelum akhirnya menariknya kembali ke lehernya. "Tinggimu juga kayak anak-anak."Dan aku benar-benar meledak."AKU BENCI KAMU!"***Pada kenyataannya, setelah selesai ujian dan kami mengadakan acara perpisahan, melewati semuanya dengan begitu normal, aku tidak tahu bagaimana bisa aku masih bingung dengan diriku sendiri yang tak kunjung meminta maaf dengannya, meskipun aku tidak pernah merasa bahwa aku yang salah, karena yang diledekin itu aku, bukan dia.Aku masih marah dengannya sampai akhirnya salah satu temanku mengabarkan padaku tentang apa yang terjadi padanya setelah seminggu acara perpisahan kami terlewat."Hah?"Aku mengerjapkan mataku tak percaya. Dibalik telepon, perkataan mereka terdengar terlalu serius untuk kucerna. Aku sempat berpikir bahwa aku tengah di prank call atau mungkin ini usaha yang dilakukan oleh teman sekelasku yang tahu bahwa hubungan kami tak dalam keadaan baik-baik saja setelah aku membentaknya di depan kelas dan di hadapan semua orang, namun nada yang serius itu membuatku mau tak mau harus mempercayai perkataannya." Iya... Nanti kita mau jenguk dia, mau ikutan ?"Terdengar penuh dengan bualan dan dusta, namun aku tak percaya bahwa aku mempercayainya, dan dengan perasaan cemas dan penuh keyakinan, aku menjawab, "Iya, aku ikut."...Dan mataku tak bisa berhenti menatapnya--sama seperti teman-temanku yang lain, semuanya menatapnya iba. Matanya menatap kami semua dengan sorot bingung, sebelum akhirnya sahabat mainnya menunjuk dirinya sendiri dan berbicara dengan sedikit ragu."...Kau ingat aku kan?"Hening, kamar itu hening, semua orang dalam kamar menatap ke arahnya dengan penuh keingintahuan. Kami semua menghela nafas panjang saat dia menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan."Kamu benar-benar amnesia ya?" tanya salah satu temanku yang mendapatkan perlototan tajam dari kami semua, orang yang ada di sampingnya pun menyikut sikunya dengan amat kesal."...Apa aku pernah mengenal kalian sebelumnya?"Dan perkataannya itu sontak membuat seisi manusia dalam ruangan terdiam. Akupun tanpa sadar menahan nafas, tak percaya dengan apapun yang sebenarnya terjadi.Katanya, saat pendaftaran di salah satu sekolah ternama di kota kami, salah satu tiang listrik tak sengaja roboh. Tampaknya kepalanya terbentur kuat dengan batu kala ia mencoba menghindar. Siapapun pasti tahu mengenai robohnya tiang listrik yang membuat seluruh kota harus mengalami mati lampu selama semalaman, aku pun tahu. Aku hanya tidak tahu, kalau korban yang kami dengar itu ternyata...dia.Setelah agak lama mulai mengobrol dan memperkenalkan diri, juga setelah mencoba membantunya mengorek ingatannya dulu--meskipun tak sekalipun berhasil, beberapa orang pun memutuskan kembali.Aku masih duduk terdiam di tempatku, tak bergerak sedikitpun sampai akhirnya aku melihatnya menghampiriku dengan tongkat yang membantunya bangkit."Kamu belum pulang?"Aku menggelengkan kepalaku dan mengepalkan tanganku erat sekali, berusaha agar aku tak menangis di depannya. "Kamu ingat denganku?"Dia mengernyitkan keningnya, sedetik kemudian menggelengkan kepalanya pasrah. "Maaf, aku tidak ingat."Bahkan sifatnya yang berubah drastis itu, membuatku berpikir bahwa dia punya maksud terselubung--seperti yang biasanya dilakukannya."Kamu ...," Dia mendekatkan wajahnya, menatap mataku dalam. "Kamu terlihat tidak asing ..., uh, ya, mungkin karena kita memang pernah bertemu sebelumnya?""Ya," jawabku sangat pelan. "Aku sangat membencimu."Dirinya menatapku bingung, butuh beberapa saat bagiku untuk menarik nafas dan tersadar dari keheningan itu. "Aku minta maaf."...Kata-kata itu bukanlah yang kuharapkan akan keluar dari mulutnya."Kamu dimaafkan," ucapku sebelum akhirnya bangkit dari dudukku dan berjalan menuju pintu keluar."Kamu mau kemana?""Aku sudah menjengukmu, ini sudah malam. Aku tidak mau ketinggalan bus pagi besok." Aku memincingkan mataku, menatap matanya yang kini menatapku bingung--atau memang sedaritadi menatapku bingung. Dan saat itu aku sadar, dia benar-benar kehilangan ingatannya. "Kuharap ingatanmu cepat pulih, kudengar dari dokter, kamu akan mendapatkan ingatanmu kembali dalam waktu singkat ini.""...Kamu mau pergi?""Yah," balasku singkat. "Sejauh-jauhnya, menjauhimu."Aku membuka pintu dan menutupnya tanpa berkata apa-apa lagi.*Sepuluh tahun kemudian ...Rasanya aku patut ditertawakan nantinya. Maksudku kebanyakan teman-temanku sudah menyelesaikan tugas akhir mereka dan terbebas dari kutukan maut itu, sementara aku? Dosen pembimbingku sepertinya tak menyukaiku. Dia mencibirku terang-terangan, semua hal yang kuajukan ditolak dengan alasan tak manusiawi.Kemarin lusa mungkin adalah hal yang kebetulan. Sebab aku tak biasanya membuka sosial media disaat aku memiliki tugas. Salah satu temanku mengirimkan undangan tentang reuni SD kami, dan acaranya akan berlangsung nanti malam.Yeah, karena itulah aku lesu sedari kemarin. Mungkin saja kebanyakan mereka sudah menyelesaikan skripsi mereka--seperti teman-teman angkatanku?Kutarik koperku dengan sedikit malas, ini terdengar gila, namun Ibuku menyarankan agar aku mengunjungi kota kelahiranku selama seminggu ini. Mungkin saja beliau tahu betapa gila-nya aku setiap pulang kuliah dan menghadapi dosen itu.Dan bye! Melupakannya memang saat terbaik saat ini!Rumahku memang terletak di tempat yang lumayan strategis, karena jauh dari jalan besar namun di sekitarnya sangat banyak perumahan. Meskipun lahan hijaunya tak lagi sebanyak dulu, tapi tetap saja tempat ini masih sangat segar berapa kalipun kau mengunjunginya. Kota besar tempat aku menaung ilmu sekarang, tentu saja lebih minim lahan hijau daripada di sini.Di depan rumah, Bi Surti telah menyambutku dengan senyum sumirgah, aku pun membalasnya dengan senyuman lebar. Bi Surti diberi kepercayaan oleh Ibuku untuk menjaga rumah kami di kota kelahiran ini. Melihat fisik rumahku hanya dari taman dan pohon-pohon yang digunting rapi, aku percaya bahwa dia melakukan tugasnya dengan baik.Sudah sepuluh tahun aku meninggalkan kota kelahiranku ini. Masa SMP dan SMA di kota besar benar-benar berbeda dengan di sini. Di sana, kita mengikuti gaya kehidupan mereka. Aku tidak membandingkan, tapi memang di sana dan di sini sangatlah berbeda.Tidak ada yang berubah di sini, begitupun kenangan dulu.*Dan di sinilah aku, di cafe yang 'lumayan' ternama di kota ini. Bersama beberapa orang yang kurang kukenal, namun mereka berbicara dengan sangat akrab kepadaku. Padahal, aku sama sekali tidak merasa kenal dengan mereka, tapi biarlah, daripada aku sendiri di sini, kan?Orang-orang yang datang belum terlalu ramai, karena aku memang datang lebih awal daripada jadwal yang telah ditentukan--begitupun orang-orang disini. Kukira saat reuni, aku hanya akan mengobrol dengan orang yang kukenal dan sekelas denganku saja, rupanya perkiraanku salah.Karena pakaian wajib di acara ini adalah dress, aku mengenakan dress pastel tanpa lengan selutut yang kubalut dengan cardigan putih. Selama diperjalanan tadi aku amat panik dan hampir berbalik pulang saat aku membayangkan mereka semua datang dengan dress formal yang biasanya digunakan saat acara-acara yang formal pula, untungnya dugaanku salah.Saat orang-orang mulai berdatangan, aku berpencar dengan orang-orang tadi (yang tadi kusebut ramah), sepertinya mereka juga sibuk untuk bertemu dan bersapa ria dengan teman-temannya dulu. Aku pun bertemu dengan beberapa teman sekelasku. Tidak ramai yang menggunakan dress informal, itu benar-benar membuatku canggung.Tadinya aku memilih untuk tak menyesal, sebelum akhirnya aku merutuki diriku sendiri karena lupa dengan pakaian wajib pria yang diharuskan memakai jas. Ini benar-benar canggung. Jadi, aku memutuskan untuk melepas cardiganku dan menyimpannya dalam tas. Untunglah karena ini, aku tak terlihat aneh seperti tadi."Eh, lihat!" Temanku menunjuk keberadaan pintu yang membuatku ikut menoleh ke sana.Dan aku melihatnya.Dia sedang berbincang dengan teman-temannya yang lain. Jas hitam yang dikenakannya benar-benar pantas di tubuhnya. Aku hanya bisa berbalik kembali dan bertanya pada teman yang tadi menunjuknya."Ingatannya udah balik?"Temanku itu hanya mengangguk mengiyakan, lalu mengambil gelas berisi minuman berwarna merah yang aku tidak tahu apa namanya. "Hm, beberapa hari setelah kamu pindah, ingatannya kembali."Aku menghela nafas panjang. "Sudah kubilang kalau ingatannya itu akan segera kemba-""Hei." Seseorang menepuk bahuku membuatku merinding. Temanku itu langsung ngacir pergi begitu melihat siapa yang berbicara, sedangkan aku enggan berbalik ke belakang. "Kamu tidak dengar, aku memanggilmu?"Dengan berat hati, aku berbalik ke belakang, "Oh, hei...""Gimana kabarmu?""Baik," balasku canggung. "Uhm, kabarmu?""Aku juga baik," Lalu dia memperhatikanku dari atas hingga bawah. "Wah, kukira tinggimu bakalan segitu terus."Dia tetap menyebalkan!"Kukira kamu berubah, kamu masih menyebalkan!" hardikku sambil membuang muka."Kamu masih membenciku?" tanyanya dengan nada seperti tengah menggoda dan meledekku."Tentu saja!"Pembicaraan terhenti saat salah satu temanku--yang aku lupa namanya--naik ke atas panggung dan mempersilahkan kami semua untuk duduk. Mataku tak henti-hentinya menatap pria di sampingku dengan tajam."Kamu ngapain ikutin aku?" tanyaku tak terima.Dan aku berani bertaruh, jawabannya pasti bisa membuatku jengkel."Memangnya acara ini punya kamu?" balasnya santai, membuatku ingin mencungkil matanya keluar. Baiklah, kurasa aku harus berhenti membaca cerita psycho.Aku memilih tempat duduk yang berada di paling ujung, dan aku hanya bisa menatapnya kesal karena dia mengambil tempat di sampingku.Saat acara dimulai dengan pertunjukan sulap, nyanyi dari teman-teman angkatanku itu, aku mulai bosan dan bangkit menuju meja tempat dimana makanan dan minuman dihidangkan. Kulihat sebotol vodka tersedia di atas meja, dan aku tanpa ragu menuangkannya di dalam gelasku."Kamu yakin minum itu?" Terdengar suaranya di belakangku, membuatku berbalik dan menatapnya bosan."Aku bukan tipe yang tidak tahan minum," balasku santai. "Aku hanya minum sedikit," lanjutku saat kulihat wajahnya menegang. Kupikir dia bukan tipe pria yang bisa minum, entahlah."Kalau begitu...," Dia juga menuangkan vodka ke dalam gelas kosong, dan tanpa persetujuanku dia bersulang padaku. "Bersulang!"*Aku kewalahan.Sialnya, aku benar. Dia benar-benar bukan tipe pria yang tahan minum.Dia sudah menyandarkan punggungnya di sandaran bangku dan sesekali meracau entah mengatakan apa. Padahal, acara sudah selesai dan foto reuni sudah dilaksanakan tadi. Banyak orang-orang yang sudah pulang, tapi karenanya, aku harus tetap berada di sini."Kau pulang saja, deh." Temannya mengingatkanku."Maunya juga gitu sih, tapi ...," Aku meratapinya yang kini tidur terlelap tanpa mengatakan apa-apa seperti tadi."Tenang saja, nanti kami bawa dia pulang," balas temannya yang membuatku menghela nafas lega. Baru saja aku bangkit, temannya bertanya lagi. "Kau pulang sendiri?""Aku bawa mobil," balasku singkat. "Tolong ya, urusin anak satu ini. Aku duluan.""Ya, hati-hati."Baru saja aku hendak pergi meninggalkan tempat itu, aku mendengar suara keras di belakang sana, yang membuatku reflek berbalik lagi memastikan keadaan.Ah, dia sudah bangun."Kamu mau kemana?" tanyanya dengan mata sayu dan suara serak khas baru saja bangun. Aku hanya bisa mengerutkan kening bingung, sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan langkahku keluar. "Tunggu!"Aku memekik saat merasakan tangannya menahan pundakku. Dengan sedikit kesal, aku berbalik ke belakang. "Aku mau pulang."Teman-temannya ikut menahannya saat menyadari kekesalanku. "Sudahlah, dia mau pulang. Kau-""Aku ikut kamu pulang ya?"Aku melotot galak, lalu menggeleng cepat."Ya?""Enggak boleh!" balasku tegas."Kalau gitu, ayo kita ngobrol sebentar." Dia menarik pergelangan tanganku, lagi-lagi sukses membuat mataku membulat. Aku menatap ke arah teman-temannya yang hanya bisa menggeleng-geleng seolah memintaku pasrah saja."Kita kan sudah ngobrol tadi!""Tapi belum selesai," balasnya.Aku melotot lagi, "Kalau begitu, cepat selesaikan!""Kok buru-buru? Kamu mau kemana?""Aku mau pulang!" jeritku tak terbendung. Inilah mengapa aku kesal setengah mati bicara dengan orang mabuk."Kamu, jangan jauh-jauh dari aku ya!" pintanya layaknya anak-anak, namun sukses membuatku melongo. "Aku nggak bisa...""Kamu ngomong apaan sih?" tanyaku kebingungan. Dia nanya apa, aku jawab apa, dia entah ngomong apa.Ekspresinya berubah cemberut. "Jangan benci aku. Sedaridulu aku ingin memberitahumu langsung seperti ini.""Telat, aku udah benci kamu," balasku enteng. "Udah? Udah ya?""Terus ...," dia menjeda selama tiga detik. "Terus kalau aku suka kamu, gimana?"Hening.Aku berusaha mencerna perkataannya."Huh?"Itu jawaban terbodoh yang pernah kujawab di sepanjang pertanyaan yang ada. Bahkan saat guru bertanya dan aku tak bisa menjawabnya, setidaknya bukan jawaban bodoh itu yang keluar dari mulutku. Atau saat aku diskakmat oleh dosen pembimbingku, aku masih bisa menjawab pertanyaan lain.Sudah kubilang itu jawaban terbodoh yang pernah kujawab."Kamu ngerti aku bilang apa," balasnya dengan suara kecil. "Kamu bukan anak-anak lagi kayak dulu. Kamu pasti ngerti."Tunggu.Tunggu dulu.Sekilas, tatapannya yang menatapku dalam itu, kembali membuatku teringat dengan kejadian dulu. Yeah.Sudah sangat lama.Kala itu, kami berdua masih dalam masa sekolah dasar kelas lima SD.Dan dia mengatakan hal yang sama." Aku lebih suka padamu daripada dia. " Dia membandingkanku dengan salah satu temanku.Tapi saat itu aku masih terlalu polos untuk mengerti maksudnya. " Kamu nggak boleh gitu. Dia kan juga baik ."Maksudku saat itu, dia tidak boleh membanding-bandingkan teman.Tapi sepertinya aku salah.Dan yang aku ingat, setelah kejadian itu, dia sering meledekku 'pendek', 'kurang tinggi', 'tumbuh ke samping' dan lain-lain (pokoknya yang bisa bikin aku kesal)."Aku sedih saat tahu kamu akan pindah," gumamnya. "Makanya, aku bermaksud menemuimu setelah selesai mendaftar."Aku masih diam--masih tak percaya apa yang sedang terjadi sekarang."Tapi aku tidak bisa bertemu denganmu. Saat kita bertemu untuk terakhir kalinya, aku malah nggak ingat kamu," ucapnya panjang-lebar. "Setelah kamu pergi, aku baru bisa mengingatmu. Kamu bilang mau pergi sejauh mungkin dari aku, jadi kukira kamu masih membenciku.""Aku... memang membencimu," jawabku pendek. "Aku hanya bercanda," ucapku cepat saat kulihat ekspresinya kian berubah. "Aku sama sekali tidak membencimu.""Benarkah?""Tapi aku juga tidak memikirkanmu selama aku pindah." Aku melipat kedua tanganku. "Oke, hanya beberapa kali, mungkin.""...Lalu?""Kukira aku mengkhawatirkanmu.""Maafkan aku."Aku berdengus kesal. "Aneh sekali mendengarmu minta maaf. Baiklah-baiklah, aku memaafkanmu.""Ugh... lalu bagaimana? Kamu... mau?""Mau apa?" tanyaku bingung. Hanya butuh sedetik untuk mencerna kata-katanya. "Oh... itu...""Ngomong-ngomong aku serius dengan kata-kataku dari dulu," ujarnya tegas. "Kecuali saat aku bilang kamu pendek.""Kamu memulainya lagi!" kataku tak terima. "Baiklah."Aku membulatkan mataku saat merasakan tubuhnya memeluk tubuhku, sebelum akhirnya melepaskanku dan melemparkan senyuman tipis. "Terima kasih."Aku hanya bisa tertawa kecil, "sama-sama."***

Mata Seorang Remaja
Fantasy
04 Jan 2026

Mata Seorang Remaja

Sebuah sungai terbentuk di wajah sayu Bunda: panjang, amat panjang. Tidak ada yang dapat menghentikannya dan memang tidak sepantasnya dihentikan; Bunda ingin menikmati dingin airnya bersama harum bunga kamboja yang jatuh di pusara Rian."Rian, kamu cerdas, pantas untuk menjadi dokter seperti kami."Masih basah; dan Bunda berharap dapat kembali mendengar kisah-kisah menakjubkan Rian-pecinta sains sekaligus seni rupa, putranya yang santun dan selalu tersenyum, permatanya-sebagaimana dahulu ia mendengar tangis Rian di dunia. Masih sama; bahkan kisah terakhir Rian tentang kunjungan ke tempat yang terkena wabah tetaplah bersemangat serta menggugah.Pelukan itu masihlah Rian yang ia kenal.Oleh karena itu, pantaslah jika sungai terbentuk dan urung hancur ketika permatanya, anak semata wayangnya, tertidur bersama lautan darah dari nadi yang telah terluka parah. Sebanding dengan duka, Bunda justru bertanya: mengapa bisa demikian?"Rian, kamu selalu tersenyum dan menceritakan banyak hal hebat pada Bunda, termasuk kamu yang ikut serta dalam kelompok peneliti khusus tahun ini. Kamu tidak pernah mengeluh, lalu apa yang salah?"Tidak ada yang sanggup menjawab, sedangkan suara itu, pelukan itu, kisah-kisah menakjubkan itu... Menyiksanya secara perlahan.*Wajah Bunda masih mendung ketika ia memasuki kamar itu (yang tertata rapi meskipun empunya telah pergi). Tidak ada lipatan di seprai biru dan komputer sempurna mendingin dengan partikel debu di sekitarnya, ibarat tempat itu telah lama ditinggalkan (dan akan begitu kodratnya)."Apa ini?"Ia tengah menyusuri ruang memori ketika menemukan tumpukan kertas berkerut. Sebuah surat-catatan, mungkin, sebab wujudnya menyerupai kertas lusuh-yang amat santun, tulus, dan menohok di saat bersamaan.Tuhan, maukah Engkau membaca suratku untuk kesekian kalinya?Bunda, aku ingin berkata bahwa aku amat menyayangimu, tetapi kata itu selalu habis di tenggorokan: sama seperti saat aku berkata jurusan ini bukanlah keinginanku dan prestasiku tidak secemerlang bayangan Bunda. Aku ingin menjadi desainer grafis, tetapi amat sulit percaya bahwa aku bisa (aku tidak akan bisa secemerlang Bunda ataupun Ayah). Aku tidak pernah yakin pada cita-citaku, aku berusaha pasrah pada permintaan Bunda tapi rasanya amat menyesakkan.Aku sekarat, tolong aku, Bunda... Benda itu bahkan menjadi momok menakutkan bagiku.Bunda , rasanya ingin mati... tapi aku akan bertahan sampai keinginanmu terwujud.Bunda tercekat lama. Amat lama.Hari itu, hujan turun memenuhi sungai Bunda-deras, amat deras-bersamaan dengan ditemukannya banyak coretan kasar yang terselip di buku catatan, di kertas sampah, di meja kayu yang tidak lagi mulus, di ponsel yang tidak pernah terkunci-lalu, barangkali, akan butuh banyak waktu bagi Bunda untuk berhenti menangis menganak sungai serta memaafkan dirinya yang gagal menjadi orang tua.*Dunia kami sangat liar serta penuh permainan tipu-tipuan; karena itu, para orangtua, lekaslah pergi ke kamar anakmu dan renungkan hal ini sembari memandang wajahnya yang terkadang gelisah: apakah anakmu baik-baik saja? (*)

Kadar Kemanusiaan
Fantasy
04 Jan 2026

Kadar Kemanusiaan

Kendati telah bekerja di Departemen Kesehatan Nasional, Silla selalu mengingat potongan dongeng yang Ibu ceritakan: " Tempat tujuan mereka adalah sebuah tempat yang bahkan lebih sulit diimajinasikan oleh kebanyakan dari kita daripada untuk membayangkan kota kebahagiaan ". Orang-orang Omelas, demikian Silla menyebutnya, adalah gambaran betapa manusia telah diperbudak oleh nurani dan kemanusiaan itu sendiri.Setelah perang nuklir terjadi, dunia diselimuti oleh ketakutan akan dampak radiasi. Bunga matahari dibudidayakan, banker-banker dibuat, pemeriksaan barang yang berpotensi terkena dampak radiasi diperketat. Limabelas hari setelah kiamat, negara-negara yang selamat menerbitkan undang-undang perihal suntik mati atas korban paparan radiasi tingkat menengah hingga atas. Kebijakan tersebut diambil untuk meminimalisir pasokan makanan korban selamat dan sepenuhnya dibebankan pada Departemen Kesehatan.Sialnya, Silla lah salah satu dewa kematian tersebut. Maka, tidak heran bila ia dihadapkan oleh banyak nyawa sekarat tiap harinya. Baju anti-radiasinya pengap, tetapi pikirannya sesak oleh pertanyaan monoton: apa itu kemanusiaan di era serbarasional seperti ini?Pertanyaan itu meliar hari demi hari, menghantui layaknya kegilaan negara adikuasa; dan, ketika wanita yang terpapar radiasi 3 Gy itu datang, Silla tidak kuasa menahan gemetar.Rambut wanita itu rontok dan epidermis kulitnya tidak berhenti mengeluarkan darah—tetapi bukan keadaan mengerikan itu yang menjatuhkan pertahanan Silla, melainkan fakta bahwa tanpa bersitatap pun, Silla dapat membayangkan senyuman wanita tersebut.Apa itu kemanusiaan? Apa dan siapa itu "manusia"?Pertanyaan itu menguat ketika Silla mendekat, memperhatikan wajah merah yang matanya ditutup oleh kain hitam.Kala itu, seketika, kisah orang-orang Omelas bergaung membabi buta; bercampur dengan pernyataan gila dari dua negara adikuasa yang melantakkan mimpinya, mimpi banyak orang, mimpi umat manusia.Silla menahan napas, memandangi sosok itu dengan sayu.Ibu, pantaskah kita—aku—disebut manusia?Butuh banyak waktu untuk menjawab pertanyaan kosmik tersebut, tetapi hanya sedetik bagi Silla untuk menyadari, mengingat, betapa manusia di ruangan itu dipenuhi oleh derita, rasa sakit oleh dampak permanen nuklir, serta keputusasaan... yang menghantui, menyakiti, sampai mati.Semisal, masa tigapuluh hari terlewati dengan selamat dan mereka berhasil hidup dengan membawa partikel radioaktif dalam tubuh mereka, penyiksaan mental (hinaan serta fakta mereka hanya akan hidup di atas ranjang ruang isolasi) tetap menghantui; dan itu membuat Silla bertanya: Apakah membiarkan seseorang menderita selama sisa hidupnya ... adalah hal manusiawi?Silla terdiam. Pikirannya bermutasi.a melanggar prosedur suntik mati dan membisikkan sesuatu ke telinga yang tidak berhenti mengeluarkan darah tersebut, "Ibu," Tubuh wanita itu menegang, "aku menyayangimu. Aku tidak akan membiarkanmu kesakitan. Aku harus mengakhiri semua ini."Hening untuk waktu yang lama."Ibu mengerti, 'kan?"Yang dimaksud menarik bibirnya; dan langkah-langkah itu terdengar jelas di telinga.Silla menyuntikkan potasium klorida pada lengan beruam ibunya ... atas nama kebejatan negara tetangga, atas nama dunia yang tidak lagi ramah, atas nama kemanusiaan yang diperjuangkan orang-orang Omelas ... bahwa kemanusiaan masih ada di dunia.*Beberapa sesepuh idealis berkata bahwa inilah zaman rasionalitas, di mana kemanusiaan dibuang untuk membentuk keturunan-bebas-radiasi; tetapi, Silla, dengan tegas menyatakan bahwa kadar kemanusiaan mereka bukan berkurang, melainkan mengalami resistensi ... sebuah evolusi.Kemanusiaan adalah hal yang dilakukan untuk membahagiakan orang-orang—membebaskan mereka dari rasa sakit duniawi—'kan? Jadi, bukankah dengan membebaskan orang-orang itu dari rasa sakit ... sama saja dengan memelihara rasa kemanusiaan dalam diri kita? (*)

Konsekuensi
Fantasy
03 Jan 2026

Konsekuensi

Apa yang mesti kulakukan?Setiap ujian, ketimbang menghafal Dalil Menelaus dan Hukum Avogadro, Amer memilih memikirkan apa yang mesti ia lakukan. Sudah bukan rahasia lagi jika budaya menyontek telah mengakar di kalangan pelajar; masalahnya adalah bagaimana kau beradaptasi dengan teman-teman yang saling berbisik; buku dan ponsel yang disembunyikan dari lingkup pandangan guru; tangan-tangan yang mencolek bahumu.Awalnya, Amer mengatasinya dengan baik (ia tersenyum dan menolak permintaan mereka). Namun, masa SMA menuntut kebebasan berlebih. Tahu-tahu, keramaian saat ulangan harian menjadi hal yang familiar, dan Amer hanya bisa diam di meja terdepan bersama Fikha, teman seperjuangannya sejak SMP."Mer, apa yang harus kita lakukan?""Udahlah, jalani saja seperti waktu SMP."Wajah-wajah berharap itu masih datang, tetapi lamat-lamat kian kentara lelah, marah, muak ... sampai pada satu titik, pandangan mereka berubah amat sinis pun dingin. Intensitas pertanyaan saat ujian menurun—terus, terus—sampai akhirnya lenyap; lalu, tiba-tiba, keadaan menjadi amat sunyi bagi mereka berdua.( Apa yang mesti kulakukan? )"Kita harus dinamis, Amer. Apa salahnya, sih, memberikan satu-dua jawaban pada mereka?" putus Fikha suatu hari. Amer ingin mengatakan banyak hal pada gadis berkerudung putih tersebut, tetapi manik sendu Fikha membuatnya gamang. "Toh, niat kita, 'kan, untuk mendapat teman... bukan untuk berbuat dosa. Niat kita baik, 'kan?"Apa itu kesepian? Apa itu makhluk sosial? Sains mengatakan bahwa spesies terkuat adalah mereka yang dapat beradaptasi dengan lingkungan; tetapi apakah ikut serta dalam kecurangan adalah sebuah "kebenaran"? Apakah menjadi "makhluk sosial" adalah salah satu bentuk kemanusiaan?Salahkah ... jika manusia menjadi jahat hanya untuk mempunyai teman?"Siapa yang tidak mengerjakan Uji Kompetensi 1?""Amer, Bu!"Apa yang mesti kulakukan? —Amer memendam pertanyaan itu dalam-dalam, kemudian tertawa dalam hati lantaran tahu ia selalu kembali pada jawaban serupa: bahwa ketimbang beradaptasi, ia memilih menjadi spesies yang punah.Amer bangkit, tersenyum miris, lantas begitu ke luar kelas, ia ingat ketika teman-teman nya memilih untuk tidak memberitahukan tugas ketika ia sakit atau dispen olimpiade; saat ia dipaksa menyelesaikan tugas kelompok sendirian; tatkala ia didepak dari grup dan harus bersusah payah bertanya pada Fikha (yang masih sudi berkomunikasi dengannya)—dan, ketika semua ingatan itu terangkum dan dikaji secara menyeluruh, ia menemukan sosok dirinya yang lain... yang terlihat amatlah kesepian.*Lorong lengang; Amer menatap tiang bendera yang kentara jelas dari jendela besar di lantai dua. Ia kini sendirian, selalu demikian, dan ia paham mengapa bisa terjadi: bahwa mereka yang menentang bakal dikucilkan. Itulah hukum absolut di kelas mereka.Amer tertawa keras, menertawakan dirinya yang menyedihkan—ortodoks: yang memuja kejujuran alih-alih mencari kawan. Semua orang paham bahwa tidak ada manusia yang memilih sendirian; tetapi, barangkali, tidak akan ada yang mengerti bahwa ujian melawan diri dan ego sendiri lebih mengerikan ketimbang menghadapi sesuatu bernama "nilai" dan "peringkat"."Aku kesepian, Sialan." (*)

Matahari di Pangkal Samudra
Fantasy
03 Jan 2026

Matahari di Pangkal Samudra

Perempuan itu telah bersuami-cucunya genap balita beberapa tahun lalu-tetapi ia selalu tepekur di sana, memilin kenangan, sembari memandang senja yang mengambil paksa pria itu ... yang berjanji akan membawanya mengarungi samudra.Ri-Matoari-sama seperti kebanyakan pemuda Mentawai: berkulit hitam terbakar matahari. Ia yatim piatu dan sesekali mencuri hasil ladang orang-orang untuk bertahan hidup. Ketika Manua memergoki Ri mencuri hasil ladang bapaknya, Manua langsung tahu pemuda itu punya mata yang berbeda. Tidak seperti kebanyakan penduduk Mentawai yang bekerja di ladang serta berburu di hutan, Ri sering mengunjungi pesisir Mapadegat untuk melihat laut serta para turis. Ia badung; tetapi dari kebadungannya itulah Manua tersihir untuk terus duduk di sampingnya, mendengar betapa semangatnya Ri dalam menceritakan mimpinya.Ri ingin mengarungi dunia, pergi ke Dataran Sumatera, menjadi nahkoda ke Gujarat, bahkan mampir ke Tanjung Harapan. Katanya, ia ingin melihat dunia .Manua mempelajarinya di sekolah, tetapi Ri menceritakannya dengan bergairah ... dengan semangat meletup di manik arangnya. Manua tidak jemu mendengarkan di sampingnya, dengan khidmat pun setia, setiap hari, setiap sore."Saya akan membawamu mengarungi samudra," ucapnya suatu hari; dan gadis bergigi tajam itu tertawa meremehkan, bertanya alasannya. Ri menjawab sembari memandang senja di lepas pantai Mapadegat, pantai kebanggaan mereka, "Karena kamu istimewa."" Kamu orang pertama yang mau menerima saya-setelah laut, pasir putih ini. Kamu seperti matahari. Jadi, kamu sangat istimewa ."Senja melahap wajah bersemu Manua ketika Ri mengatakan hal itu.Mereka tumbuh dengan tawa di bawah sinar matahari serta di rerimbunan pohon bakau. Mereka menebar impian di perairan Hindia sembari menggambarkan banyak mimpi indah. Mereka menunggu Tuhan memberikan satu kesempatan itu sehingga Ri dapat berlayar ke Daratan Sumatra; lalu Manua akan ikut bersamanya mengarungi dunia."Saya akan memastikan bahwa laut menerima kehadiran kamu," kata Ri saat kesempatan pertama datang. Manua tertawa; Ri tertawa; takdir tertawa terbahak.Sore itu, badai menghantam, memporakporandakan ruang kecilnya, membawa serta Ri dalam dekapan Ibu Laut; selamanya. Orang-orang mengatakan ia telah kandas dihantam ombak; beberapa mengatakan ia menemukan pekerjaan menarik dan akhirnya menetap di suatu kota, menikah, lantas melupakan semua-tetapi telinga Manua mendenging. Ia tidak mendengar apa-apa dan memilih tidak mendengar apa-apa. Perlahan, ia menjadi karang di sudut Mapadegat; menunggu sembari memilin kenangan yang berubah menjadi fosil tak kasat mata. Menunggu seseorang datang dari pangkal samudra dan mengajaknya mengelilingi dunia.*Perempuan itu telah habis dimakan usia; kulitnya telah bergelambir pun keriput, tetapi ia tidak pernah lelah duduk di atas karang: menghabiskan waktu, menunggu Ibu Laut melumatnya ke dasar Hindia dan ia dapat melupakan semua kenangan itu.Tidak ada yang tahu ia terus menerus menunggu; dan memang tidak ada yang perlu tahu.Sore itu, laut bergemuruh; matahari mengirim seseorang dalam perahu. Seorang remaja laki-laki. Kulitnya hitam terbakar matahari. Gigi putihnya bersinar mengalahkan semburat jingga yang menelusup lewat tubuh kokohnya di usia muda. Dan, Manua tidak kuasa menahan senyum. Telapak kakinya telah pecah-pecah oleh panas, tetapi ia tetap berdiri dengan gemetar, mengeja: sudah lama, Ri, sudah sangat lama.Remaja itu mengulurkan tangan, tertawa jenaka. "Halo, Manua! Saya tahu ini terlambat, tetapi masih ada waktu untuk mengarungi samudra, bukan?" (*)

 Kegelapan yang Membebaskan
Fantasy
02 Jan 2026

Kegelapan yang Membebaskan

Tidurlah, bukankah kau sudah lelah menangisinya?Lihatlah! Ada laba-laba yang merangkak di sudut dinding yang catnya mengelupas. Ada tirai jendela yang berkibar ketika udara di sekitarmu semakin dingin. Lalu, barangkali, ada sosok yang mengintip dari balik jendela.Dengarkan! Keheningan yang merambat teramat ganjil; tetes air dari kamar mandi yang sedang tidak dipakai; laju kendaraan yang kian jarang, kemudian menghilang; desah napasmu yang semakin tidak beraturan. (Kamu ketakutan oleh semua itu, 'kan?)Selimut hangat itu membuatmu gerah. Aku tidak dapat menahan tawa melihat matamu yang memerah, persis anak kecil. Elta, kalau dipikir, kau masihlah anak kecil yang berbinar ketika mendapat surat dariku. Aku masih ingat, dulu, kau lekas memberikannya pada Bunda sembari menceritakan diriku dengan bersemangat—aku pun masih ingat wajah kebingungan Bunda ketika membacanya (ia memandangmu sembari mengulang namaku, "Rea?"). Kau tidak pernah melihatku, tetapi surat-suratku cukup untuk mendorongmu berdoa agar dapat bertemu dan bermain denganku.Aku ingat, itulah hari terakhir aku merasakan kebahagiaan.Beberapa minggu kemudian, kau menangis karena diganggu bocah sialan dari kelas sebelah. Tas sekolahmu basah karena masuk selokan. Kau menangis seharian, mengabaikan suratku, karena takut tidak dapat mengikuti pelajaran.Saat itulah, Elta, aku meminta izin pada Tuhan agar bisa memelukmu, tetapi Dia melarang. Kata-Nya, kita tidak bisa bertemu. Kata-Nya, dunia kita berbeda ... dan kini aku paham maksud itu semua; karena itulah kita melakukan permainan ini, 'kan?"Kau itu cahaya dan selamanya cahaya, jadi jangan pernah takut padaku." Matamu mulai mengerjap, berusaha menahan kantuk, padahal ketakutanmu telah sampai di ubun-ubun. Ini pukul tiga dini hari, saatnya "mereka" bangkit buat menakuti, saatmu untuk tidur setelah terjaga tiga hari penuh, menangisi dia yang tidak mungkin kembali."Saatnya kamu berhenti berjuang untuk dia yang tidak lagi memikirkanmu, Elta."Kamu orang baik, Elta, anak kecil polos yang berpikiran positif pada semua orang. Aku tidak bisa mengubahnya, tetapi aku akan berusaha agar kau tidak dipandang sebelah mata.Pejamkanlah mata ... dan rasakanlah esensi diriku yang meluap-luap dalam tubuhmu. Lalu, di satu waktu, ketika kau tidak dapat menahan kantuk dan mulai mendengar suaraku di kamarmu yang sangat hening, menyerahlah, dan serahkan kebebasanmu untuk kupakai sebagai kegelapan... beberapa jam saja. Kau tahu bahwa aku hanya ingin membantu. Jadi, mengertilah di detik-detik ketika kesadaran kita nyaris bertemu."Mengapa kau sangat keras kepala? Kita sudah bermain hal ini sejak berumur tujuh tahun dan kau tahu akulah pemenangnya, 'kan?" Matamu mulai tertutup. "Aku masih anak yang sama, yang sangat menyayangimu, jadi mengalahlah demi aku, ya? Elta?""Dia selingkuh, 'kan? Mereka yang dalam cahaya tidak akan bisa balik menyakiti, tetapi aku berbeda ... Aku adalah kegelapan. "Akhirnya, kau tertidur, sedangkan aku tersenyum.Aku bangkit. Meluruskan badan. Memandang tubuhmu yang terlihat amat kuyu.Tenanglah, aku tidak akan melukainya seperti mantan pacarmu yang terakhir ... hanya ingin memberikan peringatan bahwa gadis yang ia putuskan punya sisi gelap... yang sangatlah gelap. "Jadi, biarkan aku kembali jadi penjahat, ya? Elta?" (*)

Bloodlust
Fantasy
02 Jan 2026

Bloodlust

Ada perasaan yang ganjil ketika gadis berambut hitam itu duduk di depannya: sebuah kengerian; hawa intimidasi yang amat pekat. Awalnya, Lee—pria berusia duapuluh lima tahun yang telah bergabung dengan tim interogasi kepolisian pusat—menganggapnya wajar, sebab psikopat selalu menghadirkan hawa tenang yang amat mencekam. Namun, semakin ia menyelami latar belakang gadis bertubuh kurus itu, semakin ketakutan menguncinya tanpa ampun."Kim, duapuluh enam tahun, terbukti melakukan pembunuhan berantai atas petinggi kota. Kau memutilasi dan menyebarkan bagian tubuh mereka ke sepanjang jalan menuju Gedung Pemerintahan." Lee merasakan bulu romanya meremang oleh sensasi aneh, terlebih ketika Kim menatapnya dalam (bukan sebagai predator; sesuatu yang lain ). "Kenapa melakukan hal itu?""Aku hanya menyukainya: ketika memotong tubuh-tubuh pendosa itu," Kim memilin rambut kusutnya, "teriakan mereka seperti suara Siren; tetapi itu belumlah cukup untuk menebus semua kebejatan mereka."Sesuai tugasnya, Lee menuliskan semua jawaban Kim di lembar putih di hadapannya ... sebelum perkataan Kim membuat membatu, "Dan, aku tahu siapa yang juga menyukai hiburan macam itu."Kim menyibak poninya. "Dulu, tetanggaku juga suka dengan darah ... hanya, dia lebih tidak pandang bulu," Ia mengalihkan pandangan pada kamera CCTV yang terpasang di sudut ruang kelam tersebut sembari tertawa mengejek. "Karena muak, aku mengajaknya untuk membungkam wanita sialan yang selalu pergi dengan pria berbrankas emas. Haha, kau takkan membayangkan betapa menyenangkannya bermain-main dengan darah dan daging seorang penghuni neraka."Kim tergelak, kentara puas dengan apa yang ia lakukan.Udara mendingin; dan, dari earphone yang ia kenakan, kepala tim tempatnya bernaung sudah menginstruksikan agar pembicaraan dikembalikan ke topik awal ... tetapi insting Lee memaksanya untuk memberontak. Ia tetap menunduk, berpura-pura menulis, padahal pikirannya telah dipenuhi berbagai prasangka.Sebuah ketakutan."Sialnya, aku lolos dan malah dia yang tertangkap. Sekarang, pastilah orang-orang keparat itu sudah mengubahnya menjadi boneka abnormal ... sampai-sampai ia tidak mengenali sahabatnya sendiri."Sekali lagi, Lee mengangkat wajah, memperhatikan betul-betul wajah tirus dengan mata cekung mengerikan tersebut; dan, pelan-pelan, ia menyadari betapa miripnya wajah itu dengan seseorang ... seorang bocah perempuan."Apa aku harus mengucapkan salam?"Lee bergetar hebat. Ingatan itu datang; mengacaukan semua omongan psikolog yang menanganinya sejak kejadian itu. Tiba-tiba, semua kenangan masa kecilnya berubah menjadi mengerikan: bagian tubuh laba-laba yang tercerai berai, anak ayam yang ia injak hingga dengan sengaja, desahan Ibu ketika jarinya tersayat saat memotong sayur mayur; gadis yang tersenyum padanya dengan wajah penuh cipratan darah. Sialnya, Lee merasakan darahnya berdesir dan adrenalinnya terpacu ketika mengingat semua itu.Keterlaluan... Perasaan macam apa ini?Suara-suara di intercome terdengar panik menyadari satu kecolongan besar di kepolisian mereka. Derap orang berlari lamat-lamat terdengar ketika Kim tertawa sembari mendekatkan diri pada Lee, "Jangan berpura-pura, Lee: kita ini sama, 'kan?" (*)

Orang-orang Dalam Lubang
Fantasy
01 Jan 2026

Orang-orang Dalam Lubang

Orang-orang di lubang ini punya nama, begitu juga aku. Pria di depanku bisa saja bernama Muttaqin; lansia di seberang sana mungkin bernama Matius; sedangkan yang baru saja meregang nyawa itu bisa kausebut Toiran. Namun, tampaknya dunia sepakat bahwa menyebut kami sebagai pendosa lebih efisien ketimbang mendaftar identitas kami dalam sejarah bangsa.Bukan tanpa alasan. Sejak setahun silam, atmosfer negara kami dipenuhi oleh bau darah dan kemarahan massa. Jumlahnya melebihi kadar oksigen di udara. Amat pekat, tentu. Saking pekatnya, masyarakat seolah dibutakan oleh dendam dan memilih memangkas semua golongan yang disinyalir sebagai pendosa, entah itu kabar burung atau fakta.Manusia punya trauma hebat akan tragedi masa lalu dan aku bisa mengerti alasan mereka sudi mengenyahkan kemanusiaan adalah agar kejadian itu tidak terulang lagi ... bahkan jika itu berarti menjadi anjing-anjing dari sebagian orang."Berlutut! Angkat kedua tangan kalian!" Pria bersenapan itu berteriak. "Pendosa seperti kalian pantas untuk mati! Kafir seperti kalian harus hilang dari tanah ini!"Aku tersenyum sarkas. Masyarakat selalu terpaku akan cap yang diberikan oleh pihak berkuasa ; sama seperti yang mereka lihat dari orang-orang di lubang ini. Muttaqin mungkin seorang guru teladan di sekolahnya; Matius bisa saja seorang tokoh yang dihormati masyarakat; sedangkan Toiran adalah penggerak massa yang cukup kritis—tetapi sekali didakwa menjadi pendosa, publik serta merta menuntut buat dihukum seberat-beratnya ... tidak peduli riwayat asli serta kebaikan yang kami lakukan. Tidak akan ada yang meneliti berkas-berkas yang menegaskan kami tidak bersalah. Tidak akan ada yang menyadari bahwa kami hanyalah korban—kambing hitam atas propaganda raksasa di balik Istana.Aku memandang salah seorang dari mereka yang memaksa Muttaqin untuk berlutut. Marah sekaligus lelah.Kami adalah umpan ... tidakkah kalian menyadari hal tersebut?"Tuhan tidak akan mengampuni kalian! Kalian akan dikutuk di neraka terdalam! Kalian akan merasakan kesengsaraan kami akibat perbuatan kalian!"Telingaku memanas. Aku ingin berteriak bahwa di mereka telah diperalat kekuasaan, bahwa sang Dalang Utama tengah tertawa menyadari rencananya terlaksana. Namun, buat apa membela diri ketika sang petinggi menitah untuk membasmi orang-orang berdosa tanpa terkecuali? Buat apa menjelaskan sekian hipotesis tentang kudeta besar-besaran jika publik telah didoktrin untuk membenci sebagian orang? Suaraku bakal habis dan aku kelak jadi bangkai juga. Iya, kan?"Bersiap!"Aku memejamkan mata sampai air mataku menetes. Tawa sarkasku bergema dalam kepala."Tembak!"Sedetik kemudian, rentetan tembakan meniadakan kami sebagaimana angin menghapus jejak musafir di atas padang pasir.*Tidak perlu bertanya siapa namaku, apa jenis kelaminku, apa pekerjaanku, apakah aku betulan penjahat atau justru yang dijahati, serta apakah aku cukup waras untuk kalian percayai. Identitas dan fakta tak lagi berguna jika masyarakat telah mencap kita dengan sesuatu (itulah yang kuyakini sampai akhir hayatku). Namun, jika kalian betul-betul ingin tahu siapa aku (atau mungkin cap yang telah mereka berikan padaku), buka saja buku sejarahmu dan temukan aku dalam salah satu arsip kelam nasional.Ya, itu dia! Kalian sudah menemukannya, kan? (*)

Felony
Fantasy
01 Jan 2026

Felony

Kita hidup dalam lingkaran kejahatan. Kita menelurkan dosa seumpama menyemai ilalang. Kita bergumul dengan kemaksiatan seperti seorang bocah yang tergila-gila dengan manisan. Kehidupan selalu berjalan menuju kematian dan, pelan tapi pasti, umat manusia telah sampai di titik nadir kekuasaan mereka—Geddon mengamini pernyataan tersebut sembari memandang ranah berpolusi pun terpapar radiasi yang kini menjadi tempat tinggalnya. Tidak ada berhala, tidak ada agama; bagaimana kehidupan bisa tetap berjalan tanpa semua pondasi tersebut?Ah, tapi juga tidak ada kepastian ia adalah "makhluk beragama", 'kan?Arma menghela napas. "Kau yakin akan melakukannya? Energi sebesar itu hanya akan cukup untuk satu perjalanan, yaitu ketika kau kembali ke masa itu. Tapi, aku juga tidak menjamin kau dapat mencapainya," Ia memandang mesin impian yang selama ini ia ciptakan bersama kembarannya—Geddon—lantas memegang kuat-kuat tuas berwarna merah tersebut, "kau bisa saja kembali ke masa Perang Salib; saat bom atom meledak di Hiroshima; bahkan saat tragedi Chernobyl. Kau bisa saja mati sia-sia.""Lalu apa, Arma? Manusia pasti mati suatu hari nanti, 'kan?" Geddon membalas cepat, memandang miris pada mayat orangtuanya yang diawetkan sebagai kelinci percobaan. "Lagipula, jika aku berhasil melakukannya, tidak ada lagi masa depan ... kau paham, 'kan?"Arma memandang sendu pada Geddon yang mendekati mesin impian mereka. "Sial, kau benar-benar tidak punya harapan, ya?"Geddon tertawa sarkas. "Sejak kapan umat manusia punya harapan, Arma?"*Sejak orangtuanya "dimatikan" dunia ini, Geddon telah memutuskan untuk menjadi sosok egois. Ia akan menghentikan semua kekacauan ini bahkan jika harus mengorbankan hidup banyak orang, termasuk kakak kembarnya. Manusia diwajibkan untuk memilih ... dan ia telah membuat keputusan absolut.Langit berkilau. Pohon-pohon sutra. Sungai susu. Daun emas. Alunan harpa malaikat yang mampu meninabobokan banyak makhluk. Tawa di antara ranting-ranting gulali; sepasang kekasih yang menjadi pusat semua kebahagiaan tersebut.Pusat pohon kehidupan. Adam dan Hawa.Dan, di kejauhan, sang iblis telah bersiap untuk membuat pelanggaran pertama.Geddon memejamkan mata. "Menyucikan" dunia memang harus dilakukan sejak awal kesalahan itu dibuat—kendati itu berarti menghapus semua sejarah yang telah dibuat hingga masanya kelak. (*)

Prasasti
Fantasy
01 Jan 2026

Prasasti

"Aku mau jadi prasasti. Biar abadi di hatimu." Al tertawa jenaka-matanya ikut-ikutan tersenyum-sedangkan aku bergeming, melanjutkan memilah tumpukan kertas usang di gudang panti, mengabaikannya yang terus saja berputar sembari membeo.Al memang begitu. Kendati sepantaran, ia kentara amat kekanakan. Ketika masih di panti, ia selalu memaksaku membacakan buku-buku fairy tale koleksinya, bahkan bersekongkol dengan penghuni lain yang masih muda untuk membuat berantakan ruang bermain di bagian tengah. Orang-orang telah membiarkan lakon gilanya, tetapi aku dengan tolol tetap mengingatkannya-dan ia selalu punya alasan untuk menyanggah perkataan sarkasku.Pernah, saat menonton film Twilight di televisi, ia menceletuk ingin hidup abadi serta menyebut Edward bodoh karena tidak mengabulkan keinginan Bella untuk menjadi vampir. Jam menunjuk pukul satu dini hari dan penghuni panti lain telah terlelap. Aku, yang memang menemaninya dengan ogah-ogahan, nyaris menanggapi hingga ia menghabiskan camilan seraya berkata, "Mereka hanya tidak melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Kalau aku, sih, pasti langsung memilih buat hidup selamanya."Film telah menginjak scene prom night ketika aku bersyukur menjadi pendengar tunggal atas pernyataan Al.Setelah itu, suasana panti menjadi lebih tenang dan Al berubah sedikit normal. Ia masih tersenyum lebar sembari sesekali menceritakan hal-hal tidak masuk akal. Kertas gambar, buku dongeng, serta foto-foto konyol berserakan di ranjangnya. Candaannya masih segaring dulu ketika aku mengkritik sikap random -nya. Al masih kekanakan, seperti dulu, dan kupikir ia akan terus seperti itu-tetapi, ketika pernyataan ironis itu keluar, ia lekas melihat potret kami ketika SD. "Dulu, aku sempat ingin menjadi penjahat, tetapi aku sadar bahwa aku terlalu kecil untuk melakukan hal itu."Al menghela napas dan, seketika, aku benci melihatnya menjadi orang normal. "Aku ingin dikenang, tetapi aku takut tidak pantas mendapatkannya. Aku takut hilang dalam sejarah. Aku takut bila batu nisanku kelak digusur karena pembangunan. Aku ingin menjadi seseorang yang berguna, tetapi aku sadar tidak bisa melakukannya ." Tangannya tremor kecil.Aku mendengus. "Fokus saja pada apa yang kauinginkan di dunia ini. Tidak usah melihat ke belakang," Ucapanku terhenti sejenak, "aku selalu ada di belakangmu. Kau harus ingat itu."Ia mengerjap. "Selamanya?" tanyanya, yang kujawab dengan berdeham. Tidak puas, ia kembali mengajukan pertanyaan serupa, "Selama-lama-lama-lamanya?"" Just shut up and do your treatment, Kid ."Saat itu, Al tertawa lepas, sedangkan aku memandang datar playgroup yang memang terletak di samping tempat ini, tidak menyadari apa yang kelak terjadi. Waktu berlalu dan dunia berubah teramat cepat seperti kelereng yang berbenturan dengan gugusan kelereng lain. Aku tidak suka hal picisan, tetapi baru sekarang memahami bahwa membuat janji dengan orang seperti Al hanya mencipta luka permanen. Sesuatu yang muskil dihapuskan.*Al masih mengoceh, menceritakan seberapa banyak ia menggambar ulang pemandangan di panti asuhan-serta seberapa sering aku menyingkirkannya ke dalam kotak karena mengotori dinding rumah sakit-ketika air mataku menetes tidak diundang, menetes di atas gambar bodoh yang sedari tadi kupegang. Aku mengeratkan genggaman, kemudian dengan cepat berbalik. Dapat kupastikan ia menahan napas lantaran kami nyaris berciuman ... tetapi apa makna interaksi tersebut bila akhirnya aku hanya mencium udara hampa?Aku menarik napas, berusaha mengontrol emosi berlebih yang akhirnya tumpah. " You've seen it, Al. So, can you let me go and enjoying my life ... once again ?"(*)

 Avaritia
Fantasy
01 Jan 2026

Avaritia

Grith ingin abadi.Ia telah mengubah sebuah tempat gersang penuh penderita busung lapar menjadi destinasi serta sentral pendidikan dan perdagangan dunia. Ia telah memberikan banyak mimpi ketika orang-orang telah menyerah dan memilih hidup dalam penjajahan nonfisik. Kata anak-anak, Grith adalah malaikat tanpa sayap ... dan malaikat ini telah menorehkan tinta emas di kertas papirus lapuk yang menjadi sejarah negaranya.Grith ingin abadi. Ia ingin terus menjadi pemimpin. Ia ingin melihat tanah kelahirannya berkembang, berevolusi, berjaya ... ia tidak dapat menerima jikalau negerinya hancur di tangan orang-orang tak berpengalaman. Ia tidak ingin anak cucunya kembali merasakan atmosfer kemiskinan pun kemelaratan yang sedari kecil generasinya kecap. Grith tidak ingin jatuh. Grith ingin bersinar.Grith ingin abadi."Rumput di rumah tetangga memang terlihat lebih hijau, Grith. Ini pilihan krusial. Sekarang, kau mungkin tidak dapat memahami apa itu kehampaan, rasa jenuh, dan keputusasaan. Namun, kau akan benar-benar tahu itu saat kau tidak punya jalan untuk kembali." Dia diam. "Apa kau masih mau menjadi abadi?"Grith menjawab mantap, "Pengabdian terhadap negara merupakan kehormatan yang tidak ada duanya ... dan saya rela mengorbankan apa pun untuk itu semua."Dia memandang Grith lekat-lekat. "Seberapa cintakah kamu pada negaramu?""Seberharga hidup saya sendiri.""Seberapa tidak inginkah kamu mengalami stagnasi?""Sama seperti Muhammad yang tidak rela pamannya dilalap api neraka."Mereka saling berpandangan. Dia bertanya pelan, menusuk, "Seberapa besar ... ketidakpercayaanmu terhadap generasimu sendiri, Lux?"Kalimat Dia menggantung di udara. Amat lama.*Grith ingin abadi ... dan ia telah mendapatkannya: di tengah roda pemerintahan yang selalu berputar; di antara sekian sanjungan masyarakat padanya yang seorang malaikat; dalam sebuah keabadian yang ia inginkan. Menjadi dirinya sendiri: sebuah patung perunggu yang dibangun tepat di Gedung Ibukota ... benda tanpa nyawa, tak bisa mati, dan hanya menunggu waktu untuk rusak atau hancur—entah kapan itu terjadi.Grith ingin marah. Ia ingin berteriak, menyumpah, menangis hingga tenggorokannya kering dan tidak lagi mengeluarkan suara ... tetapi apa yang dapat dilakukan batu sepertinya selain pasif pada keadaan sekitar?Langit terbelah dan mega berarak menutup cakrawala pagi. Badai datang tiba-tiba dan suara tanpa muara menggema di antara guntur pun guruh, "Kau tidak percaya pada bangsamu. Kau tidak percaya pada bara api dalam hati generasi mudamu. Kau terlalu meremehkan mereka. Kau ingin abadi di atas remah kesombongan dan keegoisanmu sendiri," Grith benar-benar membatu, tak dapat berkata apa-apa. Ia ingin tidur dan bangun di Nirwana, tetapi ia bahkan tidak bisa memejamkan mata untuk menyalahi realita.Grith telah membuat keputusan krusial ... dan Dia dengan terang menunjukkan bahwa Grith punya sebuah sisi kelam dalam hati terdalamnya."Kini, nikmatilah keabadianmu, Grith! Di antara laju pemerintahan negaramu, di antara sanjungan orang-orang ... hanya diam, tidak dapat berbuat apa-apa, sambil menunggu kehancuran yang tidak kauketahui kapan kedatangannya!" (*)[1] (bhs. Latin) ketamakan; salah satu dari Tujuh Dosa Besar

Menampilkan 24 dari 166 cerita Halaman 2 dari 7
Menampilkan 24 cerita