Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
The Biggest Fear
Fantasy
13 Feb 2026

The Biggest Fear

Ammara menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon oak yang paling besar di Fairyfarm. Ia sedang melamun sambil memilin-milin ujung rambutnya yang berwarna keemasan. Saat itu, langit telah beranjak senja di Fairyverse, tetapi Ammara masih enggan untuk pulang. Di sampingnya, Selly sesekali menguap seraya mengunyah buah plumnya dengan malas."Jadi, kau benar-benar tidak akan datang ke pesta ulang tahun Putri Tatianna?" Marybell bertanya dengan suara melengkingnya. Suara pixie yang bertengger di punggung Selly itu memecahkan lamunan Ammara."Entahlah, Marybell. Aku merasa tidak pantas saja. Lagi pula aku merasa sangat malu kalau harus bertemu mereka lagi karena waktu itu aku dengan lancangnya memasuki taman istana." Ammara menerawang mengingat kejadian di taman Istana Avery. Peri perempuan itu menyesal sekaligus merasa malu."Tapi sepertinya kau sangat ingin datang ..." ucap Marybell seraya menopang dagunya dengan kedua tangan. Ia telah berpindah ke atas pangkuan Ammara. Matanya yang bulat besar menyorot Ammara penuh selidik.Ammara mengembuskan napas kasar. "Sudahlah, Marybell, jangan menggangguku ...."Ketiga makhluk itu terdiam. Hening kembali menyergap kebun Ailfryd. Namun, tiba-tiba seberkas cahaya keunguan berpendar dari kalung zamrud milik Ammara. Ammara dan Marybell sontak terkejut. Rasanya peri perempuan itu tidak pernah melihat pendar aneh itu muncul pada mata kalung sebelumnya. Tubuhnya menegang. Ia meraih mata kalung itu dan mengamatinya dengan seksama. Sementara, Marybell terbang bersembunyi di balik bahu Ammara.Pendar cahaya pada mata kalung zamrud itu semakin lama semakin jelas. Setelah berukuran sekepalan tangan peri elf , cahaya keunguan itu lantas melayang keluar dari mata kalung zamrud Ammara. Cahaya itu kemudian melesat cepat meninggalkan Ammara dan Marybell yang masih terdiam dalam keterkejutan mereka. Netra kedua peri itu mengikuti kemana arah cahaya itu pergi dengan takjub.Ammara yang telah reda rasa terkejutnya, bergegas berlari mengikuti cahaya keunguan itu dengan penasaran. Di belakangnya Marybell terbang mengiringi dengan panik. Melihat kedua peri itu berlari meninggalkan Fairyfarm, Selly pun segera bangkit dan mengejar kedua sahabatnya.Ammara tanpa sadar melewati gerbang kebun Ailfryd, menerobos semak dalam keremangan senja. Napasnya memburu dan keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipisnya. Satu hal yang terus menggelayuti pikirannya adalah pertanyaan mengenai ke mana cahaya itu akan pergi."Ammara, berhenti!" Samar-samar teriakan Marybell terdengar di belakang punggungnya.Derap langkah Selly pun terdengar mendekat dan dalam sepersekian detik berhasil menyusul di sisinya. Marybell bertengger pada punggung makhluk itu dengan wajah khawatir. Sementara, Selly meringkik, meminta Ammara berhenti dan segera naik ke punggungnya.Peri perempuan itu mengangguk sekilas, sebelum melompat naik ke atas punggung Selly. Bersamaan dengan itu, Marybell terbang menyingkir.Peri perempuan itu lantas menoleh pada Marybell. "Katakan pada ibu, aku akan segera kembali! Aku harus tahu cahaya apa yang keluar dari mata kalungku itu dan ke mana dia akan pergi! " jerit Ammara di tengah riuhnya suara derap langkah unicorn.Marybell mengangguk, sebelum menghentikan terbangnya, membiarkan sahabatnya menjauh meninggalkan Firyfarm.* * *Putri Tatianna menyunggingkan senyum terbaiknya. Bibir merahnya merekah menyambut tamu-tamu undangan yang mulai berdatangan. Malam itu adalah malam pesta perayaan ulang tahunnya. Semua peri membungkuk dan memberikan senyum terbaik kepadanya. Ia memang tak mengundang banyak tamu, hanya keluarga dan beberapa teman dekat. Peri cantik itu memakai gaun yang terbuat dari kelopak bunga asli yang memancarkan kelip-kelip indah aneka warna. Rambutnya yang berwarna perak dikuncir ke atas dengan beberapa bunga mawar putih sebagai pengikat dan sebuah tiara kecil bertakhta di atas kepala. Iris mata cokelat terangnya tampak bercahaya memantulkan cahaya dari kelopak bunga yang memenuhi seluruh penjuru Istana Avery malam itu.Semua peri telah berkumpul di aula, menikmati alunan musik dan tarian para nimfa yang berkumandang dari atas sebuah panggung yang dikelilingi tiga kolam air mancur. Namun, semua itu tak berarti apa-apa bagi Tatianna karena sesosok peri yang dinanti belum menampakkan batang hidung. Netranya menyusuri balai pesta, mencari satu sosok itu."Pangeran Archibald!" Beruntung, netranya segera menemukan rupa familier yang selama ini selalu menggenggam tangannya. Kali ini senyumnya kembali merekah, disertai rona kemerahan yang muncul di kedua belah pipinya begitu saja."Di mana yang lain?" Archibald mendekat. Wajah rupawan itu membalas tatapannya tanpa ekspresi. Pandangan sang pangeran peri menyapu kerumunan tamu undangan yang bercengkerama di salah satu sudut aula Istana Avery."Mereka sedang menyicipi sari buah plum di meja hidangan," sahut Tatianna semringah. Archibald hendak berbalik menuju meja hidangan yang dimaksud Tatianna, tetapi peri perempuan itu terlebih dahulu meraih pergelangan tangannya.Archibald tersentak. "Ada apa?""Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," sahut Tatianna pelan. Ia sempat ragu, sebelum akhirnya melanjutkan ucapan. "Mari kita bicara berdua saja. Ayo ikut denganku sebentar."Archibald mengernyit, seolah menangkap sesuatu yang aneh dari gelagat saudara tirinya. Setelah menimbang sejenak, peri laki-laki itu lantas bersedia mengikuti Tatianna yang menggiringnya menuju balkon istana yang sepi."Ada apa?" tanya Archibald sembari melemparkan pandangan ke arah rerimbunan bunga lavender yang bercahaya di bawah balkon istana.Wajah Tatianna mendadak bersemu merah di bawah keremangan cahaya tempat itu. Ia telah melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan Archibald. Kini tangan Tatianna sedang menggenggam pergelangan tangannya sendiri, berusaha mengenyahkan gemetar yang seketika menyerangnya.Sang putri peri menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri, sebelum akhirnya membuka suara. "Archibald, sebenarnya ... Aku sudah lama .... "Archibald menatap mata peri perempuan itu lekat-lekat, "Hei, tenanglah. Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"Tatianna semakin gugup. Jantungnya berdegup tidak karuan, tetapi perasaan itu harus tetap ia sampaikan. "Aku menyukaimu, Archibald." Kata-kata itu akhirnya terucap dari mulut Tatianna.Archibald terpana mendengar ucapan Tatianna. Ia seakan tidak percaya bahwa peri perempuan itu telah menyatakan cinta padanya. Archibald menggeleng, sementara mulutnya bungkam.Hening menggantung di antara mereka, menyisakan perasaan yang canggung bagi Tatianna. "Aku sudah lama sekali menyukaimu," ungkap Tatianna pelan. Matanya menumbuk pada lantai batu di bawah kaki, berusaha mencari kekuatan."Aku tidak percaya kau mengucapkan ini," respon Archibald sejurus kemudian. Ia masih menggeleng perlahan. Sementara iris matanya menatap Tatianna yang sedang menunduk. "Maafkan aku, Tatianna. Aku bukanlah orang yang tepat untuk kau sukai. Aku tidak bisa. Aku hanya menganggapmu sebagai adik perempuanku."Sebulir air bening mengalir di pipi Tatianna. Ia perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Archibald nanar. Iris mata mereka beradu dalam keremangan balkon istana. "Begitu tidak pantaskah aku menjadi pendampingmu, Archibald?" tanya Tatianna dengan suara yang nyaris menghilang ditelan isak tangis.Archibald hanya diam. Ia takut jika jawabannya akan semakin melukai Tatianna."Apa kau masih mengharapkan gadis manusia itu? Apa kau masih mempercayai bahwa gadis itu akan datang dan menemuimu di sini?!"Archibald tersentak mendengar pertanyaan Tatianna. Sebuah kisah masa lalu sontak terbayang di benaknya. Sebuah kisah lama yang menyebabkan ibunya terusir dari kerajaan Avery. Archibald menghela napas panjang berusaha untuk menahan emosi yang mulai menguasainya setiap kali ia mengingat kejadian itu."Tatianna, aku bukanlah peri yang pantas untuk mendampingimu. Kau berhak untuk mendapatkan pendamping terbaik," ucap Archibald pelan. Ia kemudian melanjutkan. "Ini tidak ada hubungannya dengan apapun atau siapa pun. Aku hanya tidak bisa. Aku tidak ingin menyakitimu Tatianna."Tatianna menggeleng pelan, mencoba menahan hatinya yang perih. "Kau sudah sangat menyakitiku sekarang," lirihnya."Maafkan aku, Tatianna." Archibald mendekat, kemudian mengecup puncak kepala sang putri peri sekilas. Setelah itu, ia pergi meninggalkan Tatianna yang patah hati begitu saja.Sepeninggal Archibald, peri perempuan itu menghempaskan lututnya ke lantai sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Bahu peri itu berguncang. Ia menangisi hatinya yang hancur dan cintanya yang tidak terbalas. Ia menangisi Archibald yang telah ia cintai sejak lama, tetapi nyatanya tidak dapat ia miliki.Sedetik kemudian, Tatianna bangkit dengan berpegangan pada pagar balkon. Matanya yang bersimbah air mata menatap nanar pada rerimbunan bunga lavender di bawah balkon istana. Ia mencoba menahan sakit hatinya, seraya merapalkan mantra pelan. Manik matanya menghilang dan memutih beberapa saat. Ia mengangkat tangan kanannya ke arah rerimbunan lavender itu. Seberkas cahaya putih memancar dari telapak tangannya dan menyambar ke arah rerimbunan lavender. Bersamaan dengan itu, sebuah ledakan kecil menghancurkan rerimbunan lavender, menyisakan bunga-bunga hangus dan dedaunan yang rusak.Tatianna melakukannya lagi dan lagi. Ledakan demi ledakan memecah keheningan taman. Sang putri peri bahkan menghancurkan rerimbunan lavender dan pohon-pohon lainnya di sekitar balkon istana. Peri itu berharap, dengan merusak makhluk lain, maka sakit hatinya dapat sedikit berkurang.* * *Elwood memandang gusar ke arah pintu aula Istana Avery. Tamu-tamu telah berdatangan, tetapi satu sosok yang ia tunggu tak kunjung tiba. Elwood beberapa kali menatap pintu istana dengan berakhir kecewa. Peri laki-laki itu lantas merutuki dirinya sendiri. Seikat bunga Camellia putih yang sedari tadi ia genggam di balik punggung sudah mulai rusak di beberapa bagian."Selamat malam, Pangeran Elwood!" Sapa sebuah suara yang sudah lama ia tunggu-tunggu.Elwood menatap sosok yang datang menyapanya dengan senyum terkembang di bibir. Peri tampan itu terpana melihat Ammara yang tampil tidak biasa pada malam itu. Ammara memakai gaun merah muda lembut selutut yang terbuat dari kelopak bunga mawar, sementara rambut pirang keemasannya dikuncir tinggi ke atas dengan ikatan dari bunga mawar berwarna senada dengan gaunnya."Ammara, kau ... terlihat berbeda!" ucapnya tertahan. Matanya masih menatap Ammara terpesona. Sementara, di hadapannya peri perempuan itu mengulum senyum dengan pipi putihnya bersemu kemerahan."Terima kasih, Pangeran Elwood." Ammara membungkuk sekilas memberi hormat."Tolong, jangan panggil aku pangeran. Panggil saja Elwood ... seperti biasanya." Elwood berkata pelan. Pangeran peri itu lantas mengacungkan seikat bunga Camellia putih ke arah Ammara. Peri perempuan itu tampak terkejut dan dengan ragu meraihnya."Untukmu," ucap Elwood. "Aku minta maaf karena tidak jujur dari awal. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku ... aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya kepadamu. Aku takut kalau kau tidak mau bertemu denganku lagi, jika kau tahu siapa aku sebenarnya."Ammara tersenyum sambil menggelengkan kepalanya perlahan. "Kuakui aku sakit hati awalnya, Elwood. Namun, setelah kupikir-pikir, siapa pun dirimu, itu tidak akan mengubah apapun.""Maukah kau menjadi temanku lagi?" Elwood bertanya lembut sambil menatap dalam iris hijau Ammara.Peri cantik itu tersenyum dan mengangguk. Namun, tiba-tiba sesosok ogre yang sangat besar dan mengerikan muncul dari permukaan marmer aula Istana Avery. Lantai marmer pecah berderai hingga membuat garis retakan yang menjalar ke segala penjuru lantai. Makhluk itu berdiri tepat di hadapan Ammara dan dengan cepat meraih pinggang Ammara dengan kedua tangannya yang kekar.Ammara berteriak, meronta-ronta, sementara kedua lengannya menggapai-gapai ke arah Elwood. Elwood dengan panik berusaha menarik tangan Ammara dari cengkeraman ogre itu, tetapi gagal. Ogre berwarna hitam itu memanggul Ammara dengan mudah di atas salah satu pundaknya yang kekar. Sementara, tubuh Ammara yang kecil terayun-ayun mengikuti gerak tubuh ogre yang berjalan menuju pintu aula istana Avery.Para tamu undangan serta-merta menjerit dan berlarian mencari pintu keluar dari aula istana Avery. Suasana aula yang indah dan menenangkan mendadak berubah menjadi mengerikan dan porak-poranda akibat ogre yang mengamuk dan hendak menculik Ammara.Dalam keadaan panik, Elwood menjentikkan jarinya dan memunculkan sebilah tongkat sihir berwarna perak. Ia kemudian mengarahkan tongkat sihirnya ke arah ogre hitam yang sedang memanggul Ammara sambil merapal sebuah mantra singkat. Tongkat sihir perak itu memercikan sebuah bunga api, tetapi kemudian padam. Elwood mencoba lagi beberapa kali. Namun, tetap gagal. Wajah peri tampan itu menjadi pucat. Ia melemparkan tongkat sihirnya begitu saja, kemudian berlari mengejar ogre hitam itu.Di pintu utama menuju aula Istana Avery telah tampak sepasukan kesatria elf dengan pedang perak terhunus di tangan mereka menghalangi ogre hitam yang ingin keluar. Makhluk mengerikan itu menyeringai menampakkan gigi-giginya yang tajam ke arah para pengepung, kemudian mengibaskan sebelah tangan yang mengeluarkan lidah api ke arah para kesatria elf . Seketika itu juga para kesatria elf yang menghalangi pintu terlempar ke segala arah.Sebelum melangkah melewati pintu aula istana, sang ogre menoleh ke arah Elwood yang jatuh tersungkur akibat salah satu kesatria elf yang menubruk tubuhnya. Tatapan mata ogre yang merah menyala itu mengejek Elwood. "Sungguh pangeran peri yang menyedihkan!" desisnya meremehkan. "Kau bahkan tidak bisa menyelamatkan peri yang kau sukai. Kau juga tidak bisa menggunakan tongkat sihirmu. Sungguh menyedihkan. Kau tidak pantas menjadi pangeran dari Kerajaan Avery!"Setelah menyelesaikan kalimatnya, Ogre hitam segera menghilang bersama Ammara yang terkulai lemas di pundaknya. Elwood membelalak. Mulutnya menganga. Tubuhnya menggigil, menahan kecewa dan tangis yang akan pecah. Ia mengepalkan tangannya, menekan pada lantai marmer yang retak. Kedua tangannya itu meneteskan darah kental, "Ammara ..." desisnya lemah.* * *Putra Mahkota Albert memasuki ruangan aula Istana Avery tempat akan dilangsungkannya pesta ulang tahun Putri Tatianna dengan tergesa-gesa. Namun, peri tampan itu sangat terkejut saat mendapati ruangan aula yang kosong. Padahal seharusnya undangan telah ramai berdatangan. Ia berjalan mondar-mandir mencari kesatria elf atau pixie kerajaan yang harusnya berjaga di ruangan itu, tetapi tak ada siapa pun yang dapat ia temukan. Dengan putus asa, akhirnya Putra Mahkota Albert duduk di kursi singgasananya yang tepat berada di sebelah singgasana Raja Brian.Tiba-tiba, Pangeran Archibald dan Pangeran Elijah masuk dari pintu aula yang terbuka. Pangeran Elijah bahkan sempat menutup pintu utama aula, sebelum mereka mendekat ke singgasana putra mahkota Albert. Albert mengangkat wajah menatap Archibald dan Elijah dengan kening mengerut. Wajah keduanya juga terlihat dingin, tidak seperti biasanya."Aku pikir malam ini adalah pesta ulang tahun Putri Tatianna. Apakah aku salah?" tanya Albert sambil menatap Archibald dan Elijah bergantian. Ia melanjutkan, "Apakah pestanya telah di pindahkan ke tempat lain?""Ada pesta lain yang harus kita rayakan di sini," sahut Archibald sarkas."Apa maksudmu?!" Putra Mahkota Albert mulai gusar.Archibald dan Elijah tak menjawab. Sejurus kemudian, mereka serempak menghunus pedang peraknya ke arah Putra Mahkota Albert dan menyorot nyalang sang Putra Mahkota. Sementara, Albert yang merasa terancam juga menghunus pedang peraknya ke arah kedua pangeran itu."Aku akan menganggap ini sebagai pengkhianatan!" bentak Albert."Cih! Kami sama sekali tidak takut dengan Putra Mahkota yang tidak kompeten sepertimu," desis Elijah."Beraninya kau menghina Putra Mahkota!" Wajah Albert memerah, tangannya yang menggenggam sebilah pedang perak dengan gemetar karena emosi. "Kalian akan diadili sebagai unsheelie sama seperti ibu kalian dan kalian akan dibuang ke Hutan Larangan seumur hidup!"Elijah terbahak. "Sebelum melaporkan kami ke Dewan Peri, Kau bahkan tidak akan pernah bisa keluar dari aula ini hidup-hidup!"Putra Mahkota Albert terkejut mendengar perkataan saudara tirinya itu. Emosinya semakin memuncak. Ia tidak menyangka bahwa kedua saudaranya itu berniat untuk merebut takhtanya."Albert, aku memberimu kesempatan untuk mempertahankan posisimu secara terhormat. Kau harus melawanku. Buktikan kau layak menjadi Putra Mahkota," ucap Archibald seraya maju mendekati Albert dengan pedang perak masih terhunus di tangannya. "Namun, jika kau ingin hidup lebih lama, maka serahkan takhtamu sekarang!""Kurang Ajar!" Albert berteriak marah. "Aku tidak akan menyerah demi apapun ...!"Albert maju, mengayunkan pedangnya ke arah Archibald. Dengan sigap Archibald menangkis serangan Albert. Seketika bunyi pedang berdesing memecah keheningan aula Istana Avery.* * *Pangeran Elijah menunggangi unicornnya secepat kilat, meninggalkan pesta ulang tahun Putri Tatianna yang sedang berlangsung di Istana Avery malam itu. Napasnya memburu dan matanya berkilat nyalang dalam kegelapan malam. Setelah ia rasa berada cukup jauh dari Istana Avery, ia merapalkan mantra singkat setengah berteriak, lalu serta merta unicorn yang ia tunggangi memunculkan sepasang sayap besar yang bercahaya. Unicorn itu membawanya terbang dengan cepat melintasi Fairyverse menuju perbatasan Hutan Larangan.Sesampainya di perbatasan Hutan Larangan, unicorn itu melayang turun dan sayapnya menghilang. Sesesok berjubah hitam telah menanti, berdiri menghadap ke arah Hutan Larangan."Kau menerima pesanku?" tanya suara yang berasal dari sosok berjubah hitam di perbatasan Hutan Larangan itu.Elijah terkesiap, tetapi ia segera saja turun dari tunggangannya dan mendekati sosok berjubah hitam itu. Ia menghentikan langkah tepat sebelum memasuki perbatasan Hutan Larangan."Jadi kau yang mengirim mimpi dan menyuruhku datang ke sini. Aku tidak punya banyak waktu, aku hanya ingin tahu siapa ibuku sebenarnya? Apakah benar ibuku adalah peri unsheelie?" Elijah bertanya dengan suara gemetar yang sarat emosi. Salah satu tangannya menggenggam erat gagang pedang perak yang masih tersampir di sisi tubuhnya.Sosok berjubah hitam itu kemudian berbalik perlahan, menatap Archibald dengan iris matanya yang ungu menyala. Sosok itu adalah peri perempuan yang sangat cantik, tetapi berparas kejam. Peri perempuan itu menyeringai. "Akulah ibumu, Elijah.""Ti-tidak mungkin!" Elijah terkejut dengan mata membelalak. Ia mundur beberapa langkah sambil menggeleng pelan. Tubuh tingginya menggigil menahan emosi yang menguasai dirinya.Peri berjubah hitam itu memunculkan sebuah bola cahaya dari telapak tangannya. Bulatan cahaya putih itu kemudian menampilkan bayangan masa lalu saat Elijah dilahirkan oleh sesosok peri perempuan yang semula merupakan peri sheelie. Sebuah kejadian menimpanya, hingga peri perempuan itu dibuang ke Hutan Larangan dan berubah menjadi peri unsheelie. Setelah menampilkan bayangan masa lalu, bola cahaya itu seketika menghilang.Elijah menggelengkan frustrasi. Ia tidak dapat menerima apa yang baru saja ia lihat."Ini tidak mungkin ... Kau pasti berbohong dan merekayasa semuanya!" desis sang pangeran peri pelan. Ia menatap sosok perempuan peri itu dengan mata nanar, menolak untuk mempercayai kenyataan bahwa ia adalah anak dari peri unsheelie. Kenyataan yang selama ini sangat ia takutkan. Elijah merasa sangat kecewa. Peri lain pasti akan merendahkannya karena ia adalah pangeran dari ibu yang dibuang di Hutan Larangan."Inilah kenyataannya Elijah. Aku tahu apa yang kau pikirkan ... tetapi, apapun yang kau inginkan, aku akan mewujudkannya untukmu Elijah karena aku adalah ibumu.""Tidak ... Kau bukan ibuku ....!"* * *Pangeran Claude menatap bingung ke arah Putra Mahkota Albert, Putri Tatianna dan para pangeran lainnya yang bertingkah sangat aneh. Putra Mahkota Albert bahkan terlihat sedang beradu pedang dengan pangeran Archibald. Sementara Putri Tatianna sedang menghancurkan seluruh isi aula dengan sinar putih yang ada di tangannya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Pangeran Elwood juga tampak menghancurkan sisa atribut pesta serta menyerang para kesatria elf yang berusaha mengamankannya. Di sisi lain aula Istana Avery, Pangeran Elijah juga mengamuk dan menyerang para kesatria elf dan pixie kerajaan.Pesta ulang tahun Putri Tatianna telah dibatalkan sedari tadi. Para tamu undangan telah berlarian meninggalkan aula istana saat keanehan mulai terjadi pada putri, putra mahkota dan para pangeran. Pangeran Claude yang datang terlambat karena ketiduran saat membaca di ruang baca Istana Avery begitu kaget melihat kekacauan itu."Mereka terkena sihir, Pangeran. Sihir hitam," tutur Maurelle, peri cenayang istana yang tiba-tiba telah berdiri di samping Pangeran Claude."Apa kau tidak bisa menyadarkan mereka, Maurelle?" tanya Claude tanpa mengalihkan pandangan khawatirnya dari saudara-saudaranya. Mata batin Claude yang lebih tajam dari siapapun di Kerajaan Avery itu sedang melihat apa yang tak terlihat. Seberkas cahaya keunguan berpendar di dada mereka. "Sihir apa itu?" tanyanya lagi."Kau bisa melihatnya, Pangeran Claude? Itu adalah sihir hitam milik peri penyihir unsheelie. Aku tidak memiliki kemampuan untuk menyadarkan mereka, Pangeran Claude. Namun, aku tahu siapa yang bisa menyadarkan mereka.""Iya, aku bisa melihat ....""Pangeran, maafkan aku, apa yang terjadi di sini? Aku melihat cahaya ungu masuk ke sini." Suara panik perempuan tiba-tiba menyela pembicaraan antara Claude dan Maurelle.Ammara terengah-engah, berusaha mengatur napasnya yang memburu karena berlari saat memasuki Istana Avery.Claude menatap Ammara dengan curiga. "Apa yang kau lakukan di sini? Apa maksudmu dengan cahaya ungu masuk ke istana Avery?"Maurelle menatap peri perempuan itu dengan sebelah alis terangkat. Mata hitamnya yang tajam menyorot mata kalung zamrud di leher Ammara. "Siapa dirimu sebenarnya?" tanya Maurelle dengan tidak ramah."Aku ... Aku sebenarnya ... cahaya ungu itu ..." Ammara tergagap. Ia merasa terintimidasi oleh Maurelle. Ia lantas memutuskan untuk tidak menceritakan yang sebenarnya. "Cahaya ungu itu, aku melihatnya terbang dan memasuki istana Avery. Aku ... mengikuti cahaya ungu itu dan sampai ke sini. Apa yang terjadi sebenarnya?"Belum sempat Claude atau Maurelle menjawab, Ammara telah mendapati kenyataan mengerikan itu di depan matanya. Peri perempuan itu refleks menutup mulut saat melihat kekacauan di hadapannya."Kita harus menghentikan mereka!" jerit Ammara panik. Ia hendak berlari mendekati putri dan pangeran lainnya, tetapi Claude serta-merta menarik tangannya."Kau pikir apa yang bisa kau lakukan? Jangan ikut campur!" Claude memperingatkan."Aku tahu dari mana asal sihir itu, Pangeran Claude," potong Maurelle."Dari mana, Maurelle?""Dari mata kalung zamrud peri perempuan ini. Mata kalung itu adalah mata sekaligus jendela dari Hutan Larangan!" sahut Maurell sambil menatap Ammara dingin. "Peri ini harus menjelaskan semuanya di hadapan para Dewan Peri!""Apa?"Dua sosok kesatria elf dengan sigap menghampiri Ammara dan menahan kedua lengannya. Ammara memberontak, tetapi tenaga kedua kesatria elf itu jauh lebih kuat darinya."Bawa peri ini ke penjara bawah tanah!" titah Maurelle pada kedua kesatria elf ."Tidak. Tunggu. Aku bisa jelaskan. Bukan aku yang melakukannya ... !" jerit Ammara seraya terus meronta. Namun, kedua kesatria elf itu telah menyeretnya pergi menjauh dari hadapan Maurelle dan Pangeran Claude."Tidak! Lepaskan aku!""Maurelle, aku rasa bukan dia yang melakukannya," ucap Claude. Ia menatap kepergian Ammara dengan khawatir."Mata kalung zamrud itu berasal dari Hutan Larangan, Pangeran. Dan, dia adalah pemiliknya. Biarkan Dewan Peri yang akan memutuskannya," sahut Maurelle tegas. "Sekarang aku akan meminta seseorang menjemput Ella dari Fairyfarm. Dia adalah penyihir penyembuh terbaik yang memiliki segala penawar untuk sihir hitam."Maurelle membungkuk hormat, sebelum meninggalkan Pangeran Claude yang masih bergeming menatap kepergian Ammara. Claude memang merasa ada yang berbeda dengan peri perempuan itu, tetapi ia yakin Ammara bukan peri yang jahat.

Avery Kingdom
Fantasy
13 Feb 2026

Avery Kingdom

Matahari baru saja terbit, kelopak bunga di Fairyfarm bahkan belum padam seluruhnya. Namun, sepagi itu Ammara telah sibuk memetik buah plum di kebun ayahnya.Selly tampak masih berusaha keras menahan kantuk sambil sesekali mengintip Ammara memetik plum dari balik kelopak matanya yang berat. Biasanya, unicorn itu selalu bersemangat jika menemani Ammara memetik plum karena ia dapat dengan leluasa mencomot buah plum sesuka hatinya. Namun, pagi itu, entah mengapa, Selly masih sangat mengantuk. Aroma plum ranum seakan tak ada apa-apanya. Beberapa saat kemudian unicorn itu bahkan tampak telah mendengkur pelan di tempatnya.Pagi itu, Ammara tidak sendirian. Ia juga ditemani dua sahabat perinya, yaitu Marybell dan Tally. Marybell tampak terbang dengan lincah memetik buah plum yang letaknya agak tinggi. Sementara Tally berdiri di samping Ammara menyambut plum yang dilempar peri perempuan itu, kemudian menempatkannya pada keranjang-keranjang yang telah tersedia. Dwarf itu tampak menggumamkan sesuatu yang tidak jelas selama ia bekerja."Untuk apa Kerajaan Avery memerlukan buah plum sebanyak ini?" tanya Tally di sela-sela gumamanya."Tentu saja untuk dimakan Tally, kau pikir untuk apa lagi!" sahut Marybell asal dengan suara melengkingnya. Jawaban peri pixie ini sudah barang tentu akan mengundang perdebatan."Astaga! Demi leluhur para peri! Aku juga tahu kalau buah-buah plum ini untuk dimakan. Maksudku, apa kerajaan akan menyelenggarakan pesta atau apa." Tally mendengus kesal. Wajahnya yang separuh tersembunyi di balik kumis dan janggut tebal itu berubah masam."Memangnya kenapa kalau kerajaan akan mengadakan pesta? Apa kau pikir mereka akan mengundangmu? Kau sudah terlalu tua untuk berpesta, Tally. Lihat saja kumis dan janggutmu yang sudah memutih semua itu!" Tawa melengking Marybell memecah keheningan pagi di Fairyfarm. Ammara sampai harus menutup telinganya dengan kedua tangan.Wajah Tally memerah seketika. Jelas jika ia sangat jengkel dengan apa yang diucapkan Marybell. Ia menatap plum yang ada di genggamannya, kemudian melirik jahil ke arah Marybell. Saat Peri pixie itu lengah, ia melancarkan aksinya. Setelah membidik dengan baik, ia lantas melempar buah plum itu pada Marybell.Peri perempuan yang tidak siap itu hanya bisa terdiam saat plum menghantam tubuh mungilnya dan meninggalkan noda berwarna kemerahan yang sangat banyak pada gaunnya. Marybell menjerit marah.Sementara, dwarf itu tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya seraya berguling-guling di rerumputan. Hatinya terasa puas karena telah memenangkan satu lemparan.Peri pixie yang kini berpenampilan mengenaskan itu menatap Tally sengit. Wajahnya memerah dan napasnya memburu. Ia harus membalas perbuatan makhluk kerdil itu. Dengan cepat Marybell mengambil plum, membidik wajah menyebalkan rekannya itu, lalu melemparkan plum tepat ke wajahnya.Plum itu melesat cepat, kemudian menumbuk tepat pada hidung besar Tally. Kejadian itu sukses membungkam tawa Tally. Ia menyeka wajahnya yang bernoda merah dengan geram dan melotot marah pada Marybell yang kini menertawakannya.Tally, menarik napas dalam-dalam, lalu kembali meraup beberapa plum sekaligus dalam genggaman. Ia melemparkan buah-buah itu ke arah Marybell bertubi-tubi. Namun, peri pixie itu terbang menghindar dengan lincah.Tanpa Tally sadari, sebuah plum yang paling besar menyasar menghantam pipi Ammara. Kedua peri yang tadinya sedang berseteru itu sontak terdiam, menanti responnya."Oh, tidak!" desis Tally.Ammara menggeram tertahan seraya mengusap wajahnya kasar. Ia mendelik ke arah kedua makhluk itu. Wajah putihnya terlihat mengerikan, memerah dengan pecahan plum yang masih menempel di pipi."Kalian membuat kesabaranku habis!" teriak Ammara penuh penekanan.Marybell dan Tally menggigil di tempat. Tally bahkan sampai harus menutup matanya karena tak ingin ditatap wajah seram Ammara saat itu. Marrybell tak jauh berbeda, tubuhnya seolah menciut di udara.Dengan sigap, peri perempuan itu meraup sebanyak mungkin plum dengan kedua tangannya. "Rasakan ini!" Ammara melemparkan plum-plum tersebut pada kedua rekannya bergantian. Marybell dan Tally yang panik dan tidak siap tampak kewalahan menerima serangan plum yang bertubi-tubi itu.Mereka membalas Ammara, tetapi tentu saja kekuatan mereka sama sekali bukan apa-apa jika dibanding dengan lemparan sang Peri Elf . Tally tersungkur di atas tanah sambil menutupi kedua wajahnya, sementara Marybell melayang liar di udara, tanpa sempat terbang menghindar lebih jauh. Tubuh kedua peri itu memerah berlumuran pecahan plum.Demi melihat wajah dua sahabatnya kini tampak sama mengerikannya dengan wajahnya, Ammara tertawa puas. Marybell dan Tally yang awalnya kesal, kini juga ikut tertawa terbahak-bahak, terlebih saat melihat penampilan masing-masing. Fairyfarm kini menjadi riuh dengan suara tawa ketiga peri itu."Apa yang terjadi di sini?" suara Ailfryd yang menggelegar sontak menghentikan tawa Ammara, Marybell dan Tally. Perang buah plum mereka telah berakhir.Wajah terkejut Ailfryd, membuat ketiga peri itu serempak menunduk menyembunyikan wajah. Remah-remah dan noda buah plum berserakan di mana-mana. Selly yang sedari tadi tertidur, langsung terlonjak kaget dan terbangun dari tidurnya."Kami sedang memetik buah plum," cicit Ammara seraya menyeka buah plum benyek di atas rambutnya. Matanya menyorot penuh harap pada sang ayah agar peri laki-laki itu tidak memarahinya.Ailfryd menggeleng dengan mulut menganga. Dalam sekejap kebun indahnya terlihat mengerikan."Hai, Tuan Ailfryd!" sapa Marybell dan Tally hampir bersamaan setelah berhasil mengendalikan ketakutan mereka. Marybell menepis sisa-sisa plum di tangannya kasar. Tanpa ia sadari, pecahan plum yang kemerahan itu memercik pada pipi Ailfryd.Ailfryd sontak mendelik, sementara Marybell yang gemetaran memasang gestur meminta ampun.Kedua makhluk itu lantas bergerak menjauhi Ailfryd dan menyembunyikan diri mereka di balik sosok Ammara seraya mengintip ekspresi wajah Ailfryd."Kami sudah mengumpulkan hampir 10 keranjang besar buah plum, Ayah," bujuk Ammara lembut berusaha meredakan kemarahan ayahnya.Ailfryd mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan gejolak emosinya. Ia menghapus noda plum di pipinya dengan tangan dan melihat noda kemerahan yang tertinggal pada jari-jemarinya dengan frustrasi. Dalam hati, berulangkali ia membisikkan sugesti bahwa ia tidak akan marah. Tidak untuk hari ini."Ayah rasa itu sudah cukup, Nak," semburnya dengan suara bergetar, sembari merapikan dan memeriksa pakaiannya. Ia khawatir jika ada noda plum yang tertinggal di sana. Baiklah, ia terlihat masih cukup rapi.Ammara menaikkan salah satu sudut alisnya, mengamati Ailfryd. "Ayah mau kemana? Apa ayah akan ikut mengantar plum bersama para Dwarf pekerja?""Ayah akan mengantar langsung buah-buah ini ke Kerajaan Avery. Apa kau ingin jalan-jalan ke sana?"Pupil mata gadis itu sontak melebar. "Mau, Ayah! Aku mau ikut!" Ammara memekik antusias."Baiklah, Nak. Cepat bersihkan dirimu. Ayah menunggumu di sini.""Baik, Ayah." Ammara melesat pergi meninggalkan Tally dan Marybell yang masih bergeming.Ailfryd menatap Tally dan Marybell yang kini menunduk canggung, tak berani menatap wajah sang pemilik kebun. Terlebih tak ada lagi tempat berlindung bagi mereka sekarang."Aku ingin meminta bantuan kalian," tutur Ailfryd beberapa saat kemudian."Te-tentu saja, Tuan," sahut mereka serempak seraya mengangkat wajah. Sudah pasti mereka akan mengiakan apapun keinginan Ailfryd untuk menebus kesalahan."Tolong, awasi para dwarf pekerja yang akan menyusun keranjang buah di dalam kereta. Ada 10 keranjang buah plum di sini dan 7 keranjang jeruk yang sudah ada di depan gerbang. Sementara aku akan mempersiapkan beberapa unicorn," jelasnya setelah menimbang sesaat. Ia tampak menerawang sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya. "Jarak Avery terlalu jauh jika harus dilakukan dengan perjalanan darat. Aku akan meminta istriku untuk menyihir kereta dan para unicorn agar bisa terbang.""Baik, Tuan," sahut keduanya serempak sebelum melaksanakan tugas.* * *Sebuah istana besar berdinding batu berwarna cokelat kemerahan berdiri kokoh di atas tebing yang dipenuhi oleh bunga lavender. Istana itu terdiri dari beberapa bangunan. Pada bagian undakan di bawah tebing tersebut terdapat sebuah benteng yang sangat luas dan tinggi, sementara di sisi lain tebing terhampar hutan yang berbatasan dengan lautan. Di dalam benteng terdapat rumah-rumah kecil dengan atap seperti kepala cendawan yang beraneka warna. Setelah melalui perjalanan udara yang cukup panjang, akhirnya mereka tiba di depan gerbang benteng Kerajaan Avery, kerajaan terbesar di Fairyverse.Ailfryd mendaratkan kereta terbangnya tepat di depan gerbang. Sepasang peri elf dengan baju zirah yang merupakan pengawal kerajaan menyambut mereka. Ailfryd turun dari kereta dan menemui salah satu penjaga untuk menyampaikan identitas dan maksud kedatangan.Setelah mendapat izin masuk, Ailfryd kembali ke kereta. Kereta yang ditarik oleh tujuh ekor unicorn itu terbang menuju tebing dan memasuki halaman istana utama yang dipenuhi lavender. Beberapa kesatria elf telah menantinya di atas sana. Begitu roda-roda kereta menjenjak halaman istana, Ammara langsung melompat dari kereta dengan antusias."Hati-hati, Nak," ucap Ailfryd mengingatkan."Ini luar biasa, Ayah!" jerit Ammara girang. Iris mata hijaunya membulat menatap istana megah yang menjulang tinggi di hadapan. Ammara dapat melihat setidaknya sepuluh menara lain yang menjulang sangat tinggi di balik benteng. Sebuah kubah berwarna keemasan yang melingkupi bagian atas istana memantulkan cahaya matahari, sehingga menampilkan visual seolah istana itu bercahaya.Ammara tak berkedip untuk beberapa saat lamanya terpana oleh pemandangan yang tersaji. Selain bangunan istana yang megah dan indah, istana itu juga dikelilingi oleh padang lavender berwarna ungu yang menebar aroma wangi menenangkan. Benar-benar perpaduan yang apik.Ailfryd tersenyum melihat tingkah Ammara. "Inilah istana dari Raja kita, Ammara," tuturnya dengan nada bangga. Kebanggaan itu segera saja menular pada putrinya. "Bersenang-senanglah hari ini, Ammara. Kau bisa berkeliling dengan bebas di sini. Istana ini adalah tempat paling aman di seluruh Fairyverse. Ayah tahu kau pasti merasa sangat bosan karena hanya berdiam di Fairyfarm saja. Kau bisa tinggal di sini dan melihat-lihat sebentar, sementara Ayah mengurus buah-buah plum dan jeruk ini dulu.""Baik, Ayah!" sahut Ammara semringah seraya mengangguk mantap.Ailfryd dan para dwarf pekerjanya bersama-sama menurunkan keranjang-keranjang berisi buah dari kereta. Sementara Ammara berlari menaiki undakan tangga menuju pintu masuk istana. Ia sudah tidak sabar untuk melihat bagian lain dari istana yang mewah itu.Begitu melewati pintu istana yang dijaga oleh beberapa elf kesatria yang berdiri berjejer, Ammara kembali terperangah melihat sebuah air mancur yang cukup besar. Kolamnya berbentuk lingkaran, sementara di sekelilingnya terdapat pahatan patung-patung peri bersayap yang mengeluarkan air berwarna-warni dari bagian mulutnya. Di tengah-tengah kolam, berdiri kokoh sebuah patung yang mirip sesosok raja peri elf dengan mahkota, tongkat dan baju zirah lengkap tanpa sayap. Ammara menebak bahwa itu adalah patung raja yang memimpin kerajaan Avery saat ini.Di belakang air mancur terdapat bangunan istana dengan beberapa pintu besar yang terbuat dari emas. Pada pintu-pintu itu terdapat masing-masing dua sosok penjaga di sisi kanan dan kiri.Para penjaga melihat ke arahnya dengan heran, saat Ammara melewati mereka begitu saja. Namun, tak satupun dari mereka yang bergerak dari posisi begitu melirik kalung tanda tamu undangan istana yang menggantung di lehernya. Ammara melemparkan seulas senyum sambil mengangguk, memberi salam kepada para penjaga.Setelah puas melihat-lihat air mancur dan pemandangan di sekitarnya, peri perempuan itu melanjutkan langkah menuju ke arah kiri air mancur. Sebuah gerbang yang lebih kecil dari ukuran gerbang utama istana berwarna keemasan tanpa penjaga berhasil menarik atensinya. Dari kejauhan, Ammara dapat melihat samar-samar sebuah taman indah terhampar di balik gerbang itu.Dengan langkah riang, Ammara melewati ambang gerbang yang tak terkunci. Ia kembali terperangah begitu melihat keindahan taman yang tersaji di baliknya.Di hadapannya kini terhampar rerimbunan pohon dan tanaman merambat berbunga aneka warna yang sangat indah dan terawat. Di atas kelopak-kelopak bunga yang terbuka, beberapa peri pixie yang cantik dan bercahaya berterbangan. Sebagian peri pixie itu menoleh pada Ammara ketika ia memasuki taman, sementara sebagian lainnya bersembunyi di balik kelopak-kelopak bunga, menyorotnya dengan tatapan malu-malu.Dari sela-sela rerimbunan tanaman itu, Ammara melihat sebuah danau yang tidak terlalu luas namun sangat cantik berwarna turquoise . Ammara penasaran untuk melihat danau itu dari dekat. Ia mencari jalan masuk di sela-sela pohon yang cukup lebar untuk dilewati.Pupil mata Ammara melebar, begitu tubuh rampingnya lolos menuju tepian danau. Netranya menyorot takjub pada danau turquoise yang sekelilingnya dipagari oleh tanaman mawar putih. Di seberang danau itu, beberapa peri rupawan sedang duduk bercengkerama di bawah sebuah gazebo yang dinaungi kubah berwarna keemasan, serupa dengan kubah istana.Ammara bergeming, seolah tersihir oleh pamandangan di taman itu, ketika sesosok peri elf menghampirinya."Siapa kau?" Suara ketus muncul tepat di sampingnya.Ammara terkesiap, lantas mengalihkan pandang pada sesosok peri yang menyorotnya dengan tatapan penuh selidik.Ammara mendadak gugup. "A-aku sedang berjalan-jalan ....""Berjalan-jalan?" Apa kau pikir ini tempat umum?" Peri laki-laki itu menaikkan salah satu alisnya.Tidak seperti para kesatria yang mengenakan baju zirah lengkap, peri laki-laki itu memakai kemeja putih longgar dengan aksen emas pada sejenis kain sutra yang tersampir di bahunya. Sebuah mahkota bulat berbentuk jalinan dedaunan bertengger ketat di keningnya. Jadi, kemungkinan besar, peri laki-laki tersebut bukan pengawal kerajaan. Entah mengapa, asumsi ini justru membuat Ammara semakin gugup.Ammara menelan ludah dengan susah payah. Ia terlalu gelisah untuk memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan peri laki-laki itu. Mulutnya membuka hendak menjawab sekenanya. Namun, belum lagi suaranya keluar, sang peri telah memotong ucapannya."Apa para pengawal tidak ada yang mencegahmu masuk ke mari?" Ia masih menatap Ammara dengan sorot penuh penghakiman. "Lagi pula, kau terlihat sangat berbeda ...."Peri itu terdiam. Ia mengamati sesuatu yang berpendar samar pada leher Ammara hingga membuat gadis itu sedikit risih. Peri laki-laki itu membuka mulut, tampak hendak melanjutkan kata-katanya."Ammara!" Sebuah seruan menginterupsi ketegangan di antara mereka.Ammara dan peri laki-laki itu sontak terkejut dan menoleh ke arah suara. Elwood berdiri di sisi lain danau, yang tak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri. Peri laki-laki itu tersenyum sembari melambaikan tangan."Apa yang membawamu ke mari?" tanyanya riang sambil berjalan mendekati Ammara."Kau mengenalnya?" tanya peri laki-laki bersurai hitam yang berdiri tepat di samping Ammara. Keningnya berkerut dalam."Tentu saja, dia temanku dari Fairyfarm. Namanya Ammara," sahut Elwood riang. Peri laki-laki itu lantas beralih menatap Ammara."Dia saudaraku, Claude," ungkapnya sedikit canggung."Hai, Claude!" sapa Ammara sambil mengulas sebuah senyum tipis. Gugupnya perlahan mulai reda, sementara peri laki-laki yang bernama Claude hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. Ia tidak tersenyum, tetapi wajah dan tatapannya tidak sedingin tadi."Baiklah, sepertinya tak ada masalah di sini, aku akan melanjutkan membaca kitabku," ucap Claude sambil menunjuk sebuah kitab keemasan yang ia genggam. "Kau bisa bergabung dengan kami di gazebo di seberang danau." Peri laki-laki itu lantas menunjuk sebuah bangunan indah yang terletak di seberang danau dengan ujung dagunya."Ti-tidak perlu ... aku hanya ....""Tentu saja. Aku akan mengajaknya ke sana," sahut Elwood cepat sembari menyunggingkan senyum yang rasanya terlampau lebar dan dibuat-buat. Claude menjawabnya dengan anggukan sekilas sebelum berjalan menuju ke seberang danau."Kau belum menjawab pertanyaanku." Elwood menaikkan salah satu alisnya, menuntut jawaban Ammara setelah Claude berlalu dari hadapan mereka."Ayahku membawa banyak plum dan jeruk kemari. Aku ikut dengannya untuk melihat-lihat Avery. Tempat ini benar-benar luar biasa!" sahut Ammara sambil melemparkan tatapan kagum ke sekelilingnya.Elwood mengangguk. "Ah, ya, jadi buah-buahan yang tampak menggiurkan itu berasal dari kebun ayahmu di Fairyfarm?" ulangnya meyakinkan.Ammara mengangguk mantap. "Jadi kau tinggal di sini? Atau keluargamu yang bekerja di sini? Atau ... kau yang bekerja di sini?"Elwood tampak berpikir sejenak, seolah menimbang sesuatu dan akhirnya menjawab dengan kurang yakin. "Bisa dibilang begitu.""Begitu bagaimana? Kau belum menjawab pertanyaanku." Ammara memicingkan mata, menyorot Elwood penuh selidik.Elwood terbahak, mengalihkan pembicaraan mereka. "Lebih baik kita temui saudara-saudaraku yang lain. Mereka ada di gazebo sana. Mari," ajaknya sembari meraih pergelangan tangan Ammara dan menuntunnya menuju ke seberang danau. Ammara menuruti Elwood tanpa bertanya lagi. Ia pikir ia akan segera mendapatkan jawaban ketika mereka sampai di gazebo.Mereka sampai di gazebo beberapa saat kemudian setelah menyusuri pinggir danau yang tidak terlalu luas. Ammara melihat lima peri lain yang sedang bercengkerama di bangunan indah berkubah emas dan permata itu. Salah satu di antara mereka adalah peri perempuan yang sangat cantik. Peri perempuan itu sedang memegang sebuah alat musik yang mengeluarkan alunan suara yang sangat indah. Ia menghentikan permainan musiknya dan menatap Ammara, saat Ammara dan Elwood memasuki gazebo."Sepertinya kita kedatangan tamu," ucap peri cantik itu sambil menyunggingkan seulas senyum pada Ammara. Rambut platinumnya yang berkilauan tampak dihiasi sebuah mahkota kecil bertakhta batu mulia berwarna safir, sangat kontras dengan warna matanya yang kecokelatan. Beberapa kuntum bunga mawar putih terselip pada rambutnya yang terjalin berbentuk sayap malaikat. Sementara gaun berwarna lilac yang panjang tampak berkelip dengan taburan permata di permukaannya. Peri perempuan itu adalah peri tercantik yang pernah Ammara lihat seumur hidupnya.Demi mendengar perkataan peri cantik itu, tiga sosok peri lainnya sontak menghentikan aktivitas mereka masing-masing, lalu menatap ke arah datangnya Ammara dan Elwood. Sementara sesosok peri lainnya tampak sedang sibuk membersihkan sebilah pedang perak miliknya, enggan mengangkat wajah untuk sekadar beramah-tamah."Wah, kau peri cantik yang waktu itu ya?!" Seru salah seorang peri dengan tindik di bibirnya. Iris mata birunya menatap Ammara terpesona. Senyum mengembang di bibir sang pangeran peri."Pangeran Elijah, jaga sikapmu. Tampaknya dia adalah kekasih pangeran Elwood," sela peri cantik itu seraya meletakkan alat musiknya di atas sebuah meja batu yang terletak di tengah-tengah gazebo. Ia mendekati Ammara untuk menyambutnya."Tidak ... !" Bantah Elwood dan Ammara gelagapan, hampir bersamaan. Wajah keduanya seketika memerah.Pupil mata cokelat peri cantik itu melebar, menunjukkan ketertarikan. "Jadi Pangeran Elwood belum menyatakan perasaannya?"Elwood mendelik, menatap tajam pada saudara perempuannya. Sementara peri cantik itu terkikik geli."Tidak ... Kami hanya berteman." Ammara kembali menegaskan dengan canggung. Elwood menggeleng sambil menatap sang putri peri dengan sorot memohon, sementara Putri Tatianna membalas tatapannya dengan senyum mengejek.Elijah terbahak melihat tingkah Ammara dan Elwood yang menjadi bulan-bulanan saudara perempuan mereka. "Kalau begitu tampaknya aku masih punya kesempatan," timpalnya dengan senyum menggoda."Sudahlah Pangeran Elijah, jangan menggodanya. Dia adalah tamu kita," sergah sang putri peri setelah tawanya mereda. Ia lantas beralih pada Ammara. "Perkenalkan, aku adalah Putri Tatianna. Kau bisa memanggilku Tatianna saja. Siapa namamu?""Ammara," sahutnya singkat.Peri laki-laki yang sedang membersihkan pedangnya sontak mengangkat wajah. Netranya bertemu dengan netra Ammara. Kini mereka saling tatap dengan mata membelalak."Kau juga mengenal Pangeran Archibald?" tanya Tatianna penuh selidik saat ia memperhatikan reaksi keduanya.Archibald mengembuskan napas panjang sembari meletakkan pedang yang sedang ia bersihkan di atas meja batu dengan kasar. "Aku bertemu dengannya di Fairyfall. Peri ceroboh yang dengan mudahnya terkena tipu muslihat para nimfa," sahutnya dingin.Sontak seluruh peri yang ada di gazebo itu terkejut mendengar penuturan Archibald. Sang pangeran peri yang terkenal sangat dingin dan irit bicara itu membuka suara hanya untuk menjelaskan pertemuannya dengan Ammara merupakan sebuah kejadian langka.Ammara membelalak, mendengar jawaban Archibald barusan. Emosinya kontan tersulut. Ia membentak Archibald. "Aku tidak pernah meminta pertolonganmu saat itu. Jadi jangan pernah mengataiku ceroboh!"Suasana menjadi hening seketika. Semua peri yang ada di gazebo itu tampak tegang menantikan reaksi Archibald setelah dibentak oleh Ammara. Peri perempuan itu terlalu berani. Tidak ada yang pernah berlaku demikian kepada Archibald sebelumnya. Putri Tatianna yang terkejut bahkan menutup mulutnya dengan tangan."Mengapa aku harus selalu bertemu denganmu?! Bertemu denganmu membuatku selalu bermimpi buruk," desis Archibald dengan nada dingin. Ia berdiri dan memasukan pedang perak ke dalam sarung kulit yang tersampir di pinggangnya dengan kasar. Ia hendak pergi meninggalkan gazebo itu. Namun, Claude menahan langkahnya."Apa?! Dasar peri kurang ajar! Aku juga tidak suka bertemu dengan peri sombong sepertimu!" Ammara membalas dengan sengit. Ia nyaris menghampiri Archibald, andai saja Elwood tak menahan pergelangan tangannya."Maafkan saudaraku, Ammara. Dia sedang tidak enak hati. Belakangan dia memang sering bermimpi buruk. Kami tidak menyangka bahwa ia akan melimpahkan kekesalannya padamu," bujuk salah seorang peri yang belum pernah Ammara lihat sebelumnya. Warna rambutnya pirang keperakan seperti rambut putri Tatianna. Iris matanya yang tajam dan bijak berwarna abu-abu. Ia tersenyum kepada Ammara, "Perkenalkan, Aku adalah Putra Mahkota Albert. Selamat datang di kerajaan Avery."Ammara terperangah. Jadi, para peri yang sedang berkumpul di gazebo ini adalah Putri dan para pangeran kerajaan Avery. Bahkan, pemuda yang kini berdiri tepat di hadapannya adalah putra mahkota Kerajaan Avery. Ammara tidak tahu harus bersikap bagaimana, suasana jadi begitu canggung baginya.Jadi, peri sombong itu adalah seorang pangeran juga. Berarti Elwood juga seorang pangeran. Ammara menoleh ke arah Elwood dengan tatapan meminta penjelasan. Sementara, di sisinya Elwood hanya menyunggingkan senyum tidak enak, tetapi ia tak mengatakan apa-apa."Senang berkenalan denganmu Putra Mahkota," tutur Ammara pelan. "Maaf, Aku... sepertinya ini bukan tempatku. Aku harus mencari ayahku."Ammara hendak beranjak dari tempat itu, ketika seseorang meraih tangannya. "Kau tidak salah, Ammara. Selalu ada tempat untuk peri secantik dirimu disini," ucap Elijah seraya mengarahkan jari telunjuknya di dadanya.Ammara tersenyum sambil menggeleng pelan, "Terima kasih sudah menghiburku," gumamnya pelan."Ammara, sebagai ucapan permintaan maafku atas perlakuan buruk saudaraku, aku ingin mengundangmu ke pesta ulang tahunku besok. Aku sangat berharap kau bisa hadir. Aku ingin kita menjadi teman." Tatianna akhirnya kembali angkat suara seraya merangkul pundak Ammara."Baiklah, akan aku mempertimbangkannya, terima kasih Putri Tatianna," sahut Ammara. "Aku harus mencari ayahku, aku permisi dulu."Setelah berpamitan, Ammara melepaskan diri dari rangkulan Tatianna dan berjalan menjauh meninggalkan gazebo. Ia keluar dari taman kerajaan Avery dengan setengah berlari. Arthur, Elwood, Elijah, Claude dan Tatianna mengiringi kepergian Ammara sampai peri itu menghilang di balik gerbang kecil menuju taman istana Avery. Sementara Archibald hanya tertunduk menyesali sikap kasarnya pada Ammara.* * *Jauh di pelosok Hutan Larangan, seorang peri perempuan dengan jubah hitam menyeret sebuah tongkat bermata kristal ungu. Surai hitamnya tergerai menutupi kedua pipinya. Mata peri itu tampak bercahaya di dalam kegelapan Hutan Larangan menampakkan bola mata yang keseluruhannya putih. Bibir merahnya tampak bergerak-gerak merapalkan mantra.Beberapa saat kemudian, cahaya di matanya meredup dan hilang. Matanya kembali memunculkan iris berwarna hitam pekat. Bersamaan dengan itu, suara tawa peri itu menggelegar memecah keheningan Hutan Larangan yang sunyi senyap."Apa yang kau lihat, Minerva?" tanya Lucifer ingin tahu.Tawa peri itu seketika reda."Gadis manusia itu telah berhasil memasuki istana. Aku tidak sabar ingin menyaksikan kehancuran kerajaan itu, Lucifer.""Jadi ramalan itu memang benar adanya," desis Lucifer. Seringai di wajah mengerikannya tampak mengembang ."Tentu saja," sahut Minerva. "Besok Kerajaan Avery akan mengadakan pesta untuk Putri Tatianna, segel istana pasti akan melemah. Aku ingin memberikan sebuah hadiah. Lucifer, cepat siapkan sesuatu yang sangat istimewa untuk Kerajaan Avery.""Baik, Minerva." Sahut makhluk hijau dengan wajah mengerikan itu. Seketika sebuah kepulan asap menghitam muncul menyelubungi sosok Lucifer, bersamaan dengan itu ia pun merubah wujudnya menjadi seekor rajawali. Burung itu mengepakkan sayapnya dan terbang menjauh meninggalkan Minerva, menembus kegelapan hutan Larangan.To be continue....Dear readers terima kasih sudah membaca Fairyverse sampai sejauh ini. Semoga sukaJangan lupa vomentnya yaaa

The Unsheelie
Fantasy
12 Feb 2026

The Unsheelie

Dalam keremangan malam, sesosok peri perempuan berbaring gelisah di bawah sebatang pohon besar. Peri itu merintih menahan sakit sementara kelopak matanya masih terpejam. Dari pelupuk mata setetes air bening mengalir membasahi pipi pucatnya.Archibald perlahan mendekati peri yang kesakitan itu untuk dapat memastikan identitasnya. Ia mengamati wajah peri perempuan itu, lalu memeriksa kemungkinan adanya bekas luka ataupun memar yang membekas pada permukaan kulit peri itu. Namun, Archibald tidak dapat menemukannya. Ia berasumsi bahwa peri itu mungkin terkena luka dalam atau sihir.Wajah peri perempuan itu tampak familiar, tapi sangat sulit bagi Archibald untuk mengingatnya saat itu. Dalam jarak yang sangat dekat, peri laki-laki itu kemudian mengulurkan jari tangannya untuk menyentuh wajah pucat tersebut. Namun, tiba-tiba mata peri perempuan itu terbuka lebar menampakan iris mata hitam yang besar, nyaris tak menampakan bagian putih bola matanya. Peri perempuan itu lantas mendesis parau. "Tolong .... !"Archibald terbangun dari tidurnya dengan napas memburu. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. Mimpi buruk itu lagi, batinnya. Entah sudah berapa kali ia memimpikan hal yang sama. Mimpi tentang seorang peri perempuan yang sedang kesakitan lalu meminta pertolongannya. Mimpi itu selalu berakhir dengan sesuatu yang sangat mengerikan.Archibald bangkit dari posisinya yang tengah bersandar di bawah sebatang pohon besar. Peri laki-laki itu menyeka wajahnya dengan air yang ia bawa di dalam sebuah wadah kulit yang tersampir di pinggang. Ia berharap mimpi buruk itu enyah bersama air yang meleleh di permukaan kulit wajahnya. Setelah membasuh wajahnya, dengan sigap, ia menunggang unicornnya menjelajahi Fairyverse.* * *Pangeran Elwood melangkahkan kakinya memasuki gerbang Fairyfarm. Senyumnya merekah tatkala ia melihat Ammara yang sedang duduk bersungut-sungut di bawah sebatang pohon besar dengan mata tertutup. Entah apa yang menyebabkan peri cantik itu menggerutu dan mengantuk bersamaan sepagi ini."Mungkin lebih baik aku kembali di lain waktu, " ucap Pangeran Elwood sambil pura-pura berdeham ketika ia sampai di hadapan Ammara.Selly menegakkan lehernya waspada, lalu memicingkan mata pada peri lelaki yang baru pertama kali dilihatnya. Unicorn itu meringkik tak suka mencoba mengusir Elwood.Ammara tersentak. Ia tersadar dari kantuknya seraya mengucek mata."Hai Elwood, rupanya kau sudah datang!" Sapanya sambil menguap lebar. Ammara mengalihkan pandangan pada unicornnya yang kini memasang tampang seperti siap menendang Elwood kapan saja."Tenang Selly, dia Elwood temanku. Kami bertemu di Fairyfall," tutur Ammara sambil menepuk punggung unicornnya untuk menenangkan. Selly seketika mendengus, lalu ekspresinya menjadi sedikit lebih tenang. Tak ada lagi tatapan curiga pada Elwood. Makhluk berkulit putih itu kini kembali sibuk dengan aktivitasnya memakan buah plum."Hai Selly!" Elwood menyapa unicorn yang berada tepat di samping Ammara seraya tersenyum ramah. Namun, Selly tampak tidak menghiraukannya lagi."Baiklah, kita mau ke mana hari ini?" tanya Ammara bersemangat setelah kantuknya benar-benar hilang."Wow. Kau bersemangat sekali, Anak Muda! Aku bahkan belum sempat duduk dan mencicipi buah plum yang terkenal di Fairyfarm ini."Elwood duduk di sebelah Ammara. Saat ia hendak mencomot sebutir plum dari keranjang yang terletak tepat di depan Selly, unicorn itu sontak meringkik tidak senang. Selly refleks melayangkan kaki depannya ke arah tangan Elwood. Namun, Elwood dengan lincah menggerakkan tangannya untuk mengelak dari tendangan makhluk itu. Unicorn itu mendengus marah saat Elwood akhirnya berhasil mencomot sebutir plum sambil terkekeh geli."Berhentilah mempermainkannya, Elwood. Dia tidak suka bercanda!" sergah Ammara seraya memutar bola matanya.Elwood berusaha keras menahan tawa seraya mengunyah plum yang ia curi dari Selly. Sementara, unicorn bersurai putih itu masih menatapnya sengit. Setelah selesai mengunyah dan menelan buah plumnya, Elwood akhirnya membuka suara. "Fairyverse ini sangat luas. Kita perlu waktu setidaknya berbulan-bulan untuk menjelajahi keseluruhan negeri ini. Kita akan memulai dari tempat-tempat yang paling sering dikunjungi para peri elf . Namun, aku masih penasaran, apa kau benar-benar tidak pernah keluar dari Fairyfarm ini seumur hidupmu?"Ammara menggeleng pelan. Kesedihan membayang samar pada netranya. "Tidak, sebenarnya ayah dan ibuku melarangku keluar dari Fairyfarm. Mereka bilang tempat lain sangat berbahaya.""Jadi, bagaimana kau bisa sampai ke Fairyfall waktu itu?" Elwood bertanya dengan tatapan menyelidik."Mereka tidak tahu aku ke Fairyfall. Mereka akan panik sekali kalau tahu aku keluar dari tempat ini ... " sahut Ammara gugup. Tanpa sadar peri perempuan itu menggigit bibir bawahnya."Jadi.. sekarang kau mengajakku bersekongkol untuk membohongi orang tuamu?" Elwood menaikkan sebelah alisnya. Iris mata birunya menatap Ammara dengan jenaka.Ammara lantas membalas tatapannya itu dengan mendelik."Tenanglah Ammara, aku hanya bercanda," timpal Elwood sambil tertawa renyah. "Baiklah, kita akan mulai dari yang paling dekat dulu. Mari kita pergi ke Fairyhill, tidak terlalu jauh dari sini. Kita akan melihat-lihat perbatasan Hutan Larangan.""Hutan Larangan?""Iya, Fairyhill berbatasan langsung dengan Hutan Larangan. Tempat tinggal para peri unsheelie. Jangan terlalu khawatir, kita tidak akan masuk ke sana. Kita hanya akan melihat-lihat. Perbatasannya sangat indah. Lagi pula banyak hal menarik di sana," tutur Elwood."Mari kita berangkat dengan unicornku. Aku berjanji, kita akan kembali lagi kemari sebelum kelopak bunga bercahaya. Bagaimana menurutmu?" sambungnya menanti respon peri perempuan yang tampak sedang berpikir keras itu.Setelah beberapa detik, akhirnya Ammara mengangguk mantap."Bagus!" seru peri laki-laki itu dengan semangat.Elwood bergegas membantu Ammara naik ke unicornnya. Kemudian dengan sigap, ia sendiri melompat ke atasnya. Setelah itu, ia memacu unicornnya dengan kencang menuju Fairyhill.* * *Fairyhill adalah salah satu dataran tertinggi di Fairyverse. Dataran tinggi itu sangat hijau dengan beraneka ragam pohon besar dan tua. Pohon-pohon rindang yang rapat menyebabkan suasana di tempat itu bagaikan suasana sehabis hujan, lembab dan sejuk. Bahkan, hanya sedikit sekali sinar matahari yang dapat menyorot langsung melewati celah-celah pepohonan. Para penghuni Fairyhill sebagian besar terdiri dari beraneka ragam peri yang menghuni pohon-pohon besar seperti nimfa, peri pixie dan dryad.Elwood dan Ammara tiba di Fairyhill nyaris tengah hari. Peri perempuan itu merasa jarak yang mereka tempuh menuju tempat ini bahkan lebih jauh dari saat menuju Fairyfall dengan berjalan kaki.Pemandangan hijau nan rimbun langsung menyergap netra Ammara, membuat kelelahannya sedikit menguap. Peri perempuan itu tersenyum lebar saat meraih tangan Elwood yang membantunya turun dari punggung unicorn."Tempat ini ... indah sekali!" Seru Ammara dengan mata berbinar.Para pixie yang berkumpul di dekat sebatang pohon besar tak jauh dari posisi mereka seketika berhamburan meninggalkan sesosok dryad yang tertanam pada batang pohonnya begitu melihat kedatangan mereka. Peri pohon itu berusaha memanggil rekan-rekan pixienya kembali, tetapi sia-sia. Makhluk itu menoleh pada Elwood dan Ammara yang tersenyum canggung. Kini ia menyadari siapa yang menyebabkan teman-teman kecilnya lari ketakukan.Makhluk itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada seraya menatap Ammara penuh selidik. Surainya yang sewarna kayu itu terlihat kaku, tapi sama sekali tak dapat menyembunyikan wajah rupawannya."Hai, Alfreda ... maaf telah mengagetkanmu! Kami hanya sedang melihat-lihat di sekitar sini." Elwood menyapa peri pohon yang separuh badannya tertanam pada batang pohon itu dengan ramah."Hai, pange---Elwood mendesis pelan sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir. Matanya menyorot aneh pada Alfreda hingga peri pohon itu terkejut dan urung meneruskan kata-katanya."Aku tidak pernah melihatnya di sekitar sini." Alfreda bertopang dagu. Tatapan penuh selidik masih ia sorotkan pada peri perempuan yang datang bersama Elwood itu. Namun, tiba-tiba matanya berbinar jenaka. Sebuah pemikiran seketika terlintas di kepalanya."Apakah dia pacarmu?"Demi mendengar pertanyaan itu, Elwood dan Ammara sontak terkejut. Sepasang peri itu lantas bertukar pandang dengan canggung.Semburat kemerahan seketika muncul pada wajah Ammara. "Ti-tidak," sahutnya seraya menggeleng cepat. "Hai, Alfreda! Perkenalkan, aku Ammara. Aku peri elf dari Fairyfarm. Aku memang tidak pernah ke sini sebelumnya. Senang berkenalan denganmu.""Hai, Ammara!" sapa Alfreda seraya menyunggingkan senyum ramah. Namun, peri pohon itu mendadak terkekeh, lalu mengalihkan pandangannya pada Elwood. "Jadi ini semacam kencan pertama ya, Elwood? Dan kau akan menyatakan perasaanmu di sini. Wah, manis sekali!" sambungnya lagi seraya mengedipkan sebelah matanya yang berbulu mata lentik."Tidak ... bukan!"Elwood dan Ammara menjawab hampir bersamaan membuat Alfreda semakin terkekeh geli. Suara tawanya kian meninggi hingga terdengar sedikit menyeramkan. Setelah puas menertawakan kecanggungan sepasang peri di hadapannya, makhluk dryad usil itu pun lantas menghilang. Alfreda kembali menyatu ke dalam pohon tempat tinggalnya."Jangan diambil hati. Bangsa dryad memang sangat jahil," kilah Elwood canggung. Wajah rupawannya seketika memerah."Aku pikir ucapan itu lebih pantas untukmu. Lihatlah, anak muda, wajahmu merah sekali!" seru Ammara tergelak. Peri perempuan itu lalu berjalan menjauhi Elwood untuk melihat-lihat pemandangan di sekitarnya."Jadi, kau sekarang sedang membalasku?" Elwood menyusulnya."Kukira kau sangat suka bercanda." Ammara kembali menggodanya."Baiklah, kau menang!" Elwood lantas memasang tampang pura-pura cemberut. Peri laki-laki itu mengerucutkan bibirnya.Ammara terkekeh. Ia senang sekali karena dapat mempermainkan Elwood. "Beri aku hadiah," ucapnya lagi. Sebuah senyuman jahil seketika mengembang di bibirnya."Apa yang kau inginkan, Tuan Putri?" tanya Elwood seraya membungkukkan badan.Ammara berpikir beberapa saat sebelum akhirnya ia menjawab. Binar jenaka terpancar jelas dari matanya. Rupanya ia telah memikirkan sesuatu yang ia inginkan sejak tadi. "Aku ingin melihat-lihat Hutan Larangan."Wajah Elwood berubah seketika. Senyumnya menghilang dan wajahnya menjadi serius. "Itu bukanlah hal yang bisa aku hadiahkan padamu, Ammara. Hutan itu berbahaya. Hutan itu dipenuhi oleh para peri jahat dengan sihir hitam. Lagi pula hutan itu terlarang bagi peri sheelie seperti kita."Ammara tak begitu saja puas mendengar penjelasan Elwood. "Apakah kau pernah masuk ke sana?" selidiknya."Belum. Aku tidak pernah ke sana. Banyak peri sheelie yang datang ke sana. Namun, mereka tak pernah kembali. Archibald pernah ke sana. Ia bahkan sering ke sana, tetapi itu karena dia istimewa.""Peri sombong itu istimewa?" Ammara mengernyitkan wajahnya tak senang mendengar nama itu disebut.Elwood terkekeh. Kemudian, ia melanjutkan kata-katanya setengah berbisik. "Tampaknya kau sangat tidak menyukai Archibald, ya? Banyak yang bilang ia adalah keturunan peri unsheelie. Namun, aku tidak yakin. Ia sering bilang bahwa ibunya adalah seorang Ratu yang sangat sakti dari sebuah kerajaan kecil di Fairyhill. Akan tetapi, kerajaannya tak terlihat, seperti tersegel atau semacamnya. Dari sanalah ia mendapatkan keistimewaannya."Ammara mendengarkan penjelasannya dengan serius, sambil sesekali matanya melayangkan pandangan ke arah sebuah padang tandus dan gersang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tempat itulah yang disebut Hutan Larangan. Jika Fairyhill tampak kehijauan di semua sisinya, maka Hutan Larangan tampak kuning kecoklatan menunjukkan permukaan tanah tanpa rumput yang mengering berwarna hitam dan abu-abu. Pohon dan dedaunannya menghitam."Bagaimana rupa para peri unsheelie itu?" Ammara bertanya lagi semakin penasaran."Mereka sama seperti kita bangsa peri pada umumnya. Hanya saja, ada satu hal yang menjadi penanda bahwa mereka adalah unsheelie yaitu rambut mereka yang tergerai, tanpa jalinan. Itu adalah sebuah simbol bahwa mereka tidak mau terikat dengan aturan mana pun. Mereka melakukan apapun atas kehendak dan nafsu mereka sendiri. Para peri sheelie seperti kita selalu menjalin rambut karena itu adalah bentuk komitmen dan kepatuhan kita pada aturan, Ammara"Ammara terdiam beberapa saat. Ternyata, begitu banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Fairyverse. Ia memang lupa ingatan, menurut orang tuanya. Namun, ia merasa sangat asing dengan segala yang ada di Fairyverse, bahkan dengan dirinya sendiri."Apakah mereka benar-benar peri jahat? Bagaimana bisa kita menilai seseorang itu jahat seutuhnya? Aku terkadang mengerjai Selly sampai ia merasa kesal, bukan berarti aku peri yang jahat, 'kan?" Ammara menerawang ke arah Hutan Larangan. "Mengapa mereka harus tinggal terpisah di Hutan Larangan itu? Bukankah hal itu hanya akan membuat mereka semakin terluka dan semakin jahat?"Elwood menatap peri perempuan itu takjub. Ia tak pernah bertemu dengan peri sheelie lain yang membela peri unsheelie sebelumnya. Peri perempuan di hadapannya ini benar-benar unik. "Tidak ada yang berpikir seperti itu, Ammara. Kalau orang kerajaan Avery mendengar apa yang kau ucapkan, mungkin kau akan ditangkap." Elwood menghela napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya. "Mereka diasingkan ke Hutan Larangan agar mereka tidak mengganggu peri lainnya. Setiap tahun para peri putih dari kerajaan Avery bahkan memberi segel tak kasat mata agar para peri unsheelie tidak melintasi perbatasan Hutan Larangan. Namun, tetap saja peri sihir hitam unsheelie yang berilmu tinggi bisa melewati segel itu dan membuat kekacauan di Fairyverse.""Aku tidak takut," sahut Ammara sambil menggeleng. "Tidak ada makhluk yang benar-benar jahat, Elwood. Yang ada hanyalah makhluk yang terluka.""Wow, kau peri yang luar biasa, Ammara." Elwood masih menatap peri perempuan itu dengan takjub. "Aku harap kau benar, semoga saja para Peri unsheelie itu tidak sepenuhnya jahat.""Kita tidak akan tahu kalau kita tidak pernah bertemu dengan mereka secara langsung, 'kan?" Iris mata hijau Ammara berkilat jahil. Rupanya peri perempuan itu tak juga mau menyerah."Oh ayolah, Ammara, jangan minta itu lagi. Orang tuamu akan marah besar kalau kau sampai kau masuk ke sana dan tidak pulang ke Fairyfarm. Mereka pasti akan membunuhku!"Ammara tergelak, "Aku hanya bercanda, Elwood ... ! Aku hanya ingin mengintip sedikit di dekat perbatasan," ucapnya sambil mempercepat langkah mendekati perbatasan Fairyhill dan Hutan Larangan. Elwood mengikuti peri perempuan itu dengan sigap.Dari kejauhan tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki unicorn. Suara itu berasal dari arah Hutan Larangan dan suara lainnya berasal dari arah rerimbunan Fairyhill.Elwood seketika menjadi waspada. Ia segera meraih tangan Ammara dan menarik peri itu ke sisinya. Kemudian, ia mengeluarkan sebilah pedang perak yang semula tersampir di pinggangnya.Archibald melaju dari arah hutan Fairyhill dan segera menghentikan unicornnya begitu ia melihat Elwood dan Ammara. Bersamaan dengan kedatangannya, dari arah berlawanan, sesosok peri laki-laki muncul melewati perbatasan Hutan Larangan lalu berhenti tepat di hadapan Archibald, Elwood dan Ammara."Apa yang kau lakukan di tempat itu?" tanya Archibald pada Elijah dengan dingin. Matanya menatap lurus pada iris mata Elijah yang menyiratkan keterkejutan."Aku hanya sedang berjalan-jalan," sahut Elijah berusaha menutupi kegugupan dalam suaranya yang bergetar."Dan, kau berhasil keluar dari hutan larangan itu dengan selamat?" gumam Archibald lebih kepada dirinya sendiri. Ia menatap Elijah dengan penuh selidik."Hai, Archibald! Hai, Elijah!" Elwood menyapa untuk meredakan ketegangan di antara kedua peri laki-laki yang masih menunggang unicorn itu.Archibald menoleh ke arah Elwood dan Ammara dengan tatapan datar. "Kalian juga, apa yang sedang kalian lakukan di sini? Tempat ini bukan taman bermain, tempat ini sangat berbahaya!""Kami tidak sedang bermain-main, peri sombong!" Ammara menyahut dengan sengit. Ia mendelik pada Archibald.Tiba-tiba tawa Elijah meledak hingga wajah rupawannya memerah. "Siapa gerangan peri cantik yang pemberani ini? Aku gemas sekali!" Elijah menatap Ammara dengan penuh kekaguman. "Bolehkah aku tahu namamu?""Ammara," sahut peri perempuan itu tegas sambil mengulas senyum sekilas."Akhirnya si sombong mendapat lawan yang setimpal!" sindir Elijah sarkas sambil menatap tajam ke arah Archibald. Tawa peri laki-laki bernetra biru itu telah reda, menyisakan salah satu sudut bibirnya yang terangkat."Aku akan tetap mengawasimu. Peraturan tetaplah peraturan. Tidak ada Peri Sheelie yang bisa keluar masuk Hutan Larangan tanpa seizin raja!" Archibald menatap lurus pada Elijah."Apa masalahmu?!" wajah Elijah berubah muram seketika. Ia lantas menuntun tunggangannya mendekat ke arah Archibald. Wajah memerahnya tampak siap melayangkan tinju ke arah Archibald kapan pun.Dengan sigap Elwood berdiri di antara mereka. "Sudah, cukup, saudara-saudaraku. Masalah ini bisa kita selesaikan nanti. Redakan dulu emosi kalian."Elijah membuang mukanya yang merah padam menahan emosi. Ia menghela unicornnya mundur lalu mendekati Ammara yang berdiri bergeming menatap mereka."Maafkan situasi yang tidak mengenakkan ini, cantik. Kita akan bertemu di lain waktu, di saat yang lebih menyenangkan," ucap Elijah sambil mengulas senyum. Wajah rupawannya kini tak semerah tadi. Setelah menyapa Ammara yang hanya mengangguk canggung menanggapinya, peri laki-laki itu segera menghela unicornnya pergi menerobos rerimbunan hutan Fairyhill meninggalkan tempat itu.Archibald menatap kepergian Elijah dengan mata memicing. Amarah sang pangeran peri rupanya belum surut. Namun, kepergian Elijah membuatnya sedikit lebih tenang."Elwood, bawa peri itu meninggalkan tempat ini. Tempat ini berbahaya. Jangan sekali-kali berpikir untuk kemari lagi!" bentak Archibald. Ia pun lantas bergegas menuntun unicornnya meninggalkan tempat itu.Elwood menatap punggung Archibald sampai peri itu menghilang ditelan rimbunnya hutan Fairyhill. Elwood meraih tangan Ammara yang masih terpaku di tempatnya. "Mari kita pulang."

Ammara dan Para Pangeran Peri
Fantasy
12 Feb 2026

Ammara dan Para Pangeran Peri

Derap langkah kaki unicorn memecah keheningan dini hari di Fairyfarm, sebuah daerah di dekat portal Utara Fairyverse. Empat orang pemuda peri elf menghentikan unicorn mereka tepat di depan portal Utara. Satu per satu pangeran peri itu melompat turun dari punggung unicorn masing-masing lalu berjalan mendekati para pixie kerajaan yang tergeletak tak sadarkan diri di atas tanah."Seorang unsheelie telah menyihir tempat itu," ucap salah seorang pangeran ketika ia melihat para pixie kerajaan yang tertidur dalam keadaan tidak wajar. Pangeran bersurai gelap itu bernama Claude, pangeran termuda di kerajaan Avery. Ia memiliki beberapa jenis keahlian di bidang sihir serta kemampuan melihat masa lalu. Wajah rupawannya memiliki rahang berbentuk tirus sempurna. Surai hitamnya yang berkilat terpantul cahaya bulan malam itu. Iris mata obsidiannya menyisir keadaan di sekitar. Ia merasakan aura tak biasa yang menyelimuti tempat itu."Apa kau juga merasakan kehadiran seorang manusia di sini?" tanya pangeran Archibald yang menyadari perubahan raut wajah Claude. Salah satu tangan peri laki-laki bersurai keemasan itu menghunus sebilah pedang perak yang berkilat. Dalam remang cahaya bulan purnama, iris mata hazel kehijauan sang peri berkilat memindai sekeliling Portal Utara. Rahang persegi sang pangeran peri mengeras dengan tubuh tegapnya berdiri waspada merespon keheningan yang seolah menyimpan misteri."Entahlah. Aura bekas sihir unsheelie ini terlalu pekat. Aku tidak bisa merasakan yang lainnya," sahut Claude dengan kening berkerut. Entah mengapa pandangannya tertumpu pada gundukan akar yang muncul ke permukaan tanah tepat di bawah pohon oak. Padahal, ia tak melihat apa pun di bawah sana. Berulang kali peri laki-laki itu mencoba menajamkan mata batinnya untuk melihat tempat itu, tetapi sia-sia. "Seperti ada yang aneh di sini ..." gumam pangeran peri itu pada akhirnya.Untuk beberapa saat lamanya para pangeran peri hanya berdiam diri dalam keheningan dengan pandangan yang menjelajahi tempat itu.Claude memunculkan sebilah tongkat sihir di genggamannya lalu mengarahkan bola kristal bening di puncaknya pada tubuh para pixie kerajaan. Bibirnya merapalkan mantra singkat. Dalam sepersekian detik kemudian, cahaya biru berpendar dari bola kristal di puncak tongkat sihir menuju tubuh-tubuh para pixie kerajaan hingga mereka sontak terbangun saat cahaya biru memasuki tubuh mereka.Makhluk-makhluk kecil itu terkejut dan merasa sangat bingung ketika melihat para pangeran peri Kerajaan Avery yang telah berdiri di hadapan mereka. "Ampun tuanku, kami lalai dalam bertugas," ucap salah satu dari mereka. pixie itu membungkukkan badannya diikuti oleh pixie lainnya. Wajah mereka tertunduk karena merasa bersalah."Lanjutkan saja tugas kalian. Kami hanya sedang melihat-lihat di sekitar sini." Claude mengibaskan tangannya acuh hingga para peri pixie itu mengangkat wajah mereka dengan bingung. Pangeran peri itu sama sekali tidak marah dengan para pixie kerajaan karena ia telah memahami situasinya.Demi mendengar itu, para pixie sontak membungkuk takzim memberi hormat, kemudian terbang dan kembali ke posisi mereka masing-masing. "Baik, tuanku!" sahut mereka bersamaan."Apa menurutmu saat ini purnama merah sedang berlangsung di dunia manusia?" Salah seorang pangeran peri bermata biru bertanya kepada Claude. Wajah tirusnya yang sepucat pualam menengadah menatap bulan purnama yang bercahaya kekuningan di langit Fairyverse. Elwood seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. "Harusnya saat ini dunia manusia juga sedang purnama," ucapnya pelan."Kau terlalu banyak membaca buku, Elwood," sela salah seorang pangeran bersurai gelap bergelombang sambil terkekeh. Pangeran Elijah merasa apa yang diucapkan saudaranya sangat menggelikan. Ia tak dapat menahan tawanya terlebih saat mengamati wajah tegang pangeran peri yang lain. Netra birunya berkilat penuh pesona, sementara sepasang piercing di bibirnya bergetar seirama dengan suara tawanya yang mengalun memecah hening."Aku bisa mengeceknya ke dunia manusia, kalau kau mau," imbuhnya lagi sambil terkekeh. Sontak seluruh pandangan para pangeran menghunus tajam padanya. "Ada apa?!" tanyanya berpura-pura bingung."Kita sedang serius di sini Elijah, berhentilah menggodanya!" sergah Archibald dingin."Hei, sepertinya ada yang sedang naik darah di sini!" balas pangeran Elijah tanpa perasaan bersalah. Peri laki-laki itu menyunggingkan senyum mengejek pada pangeran Archibald hingga kedua lesung pipinya tercetak jelas."Sudahlah, Elijah." Claude menengahi. Ia tahu bahwa perdebatan ini akan berakhir buruk jika dibiarkan. "Yang jelas, segel pada portal itu tidak terlihat rusak, tidak mengalami serangan apapun. Dan, kau tidak perlu menggunakan cara licikmu untuk melintasi portal utara, Elijah. Itu tidak legal. Kecuali, kalau kau mau dicap sebagai unsheelie...?""Ayolah, Claude, aku cuma bercanda!" bantah Elijah sambil menahan tawanya. "Tidak adakah yang tau caranya bersenang-senang di sini?"Elwood mendelik ke arahnya. "Tidak di saat seperti ini, Elijah!""Baiklah, kutu buku, aku tidak akan ikut campur," sahut Elijah pada akhirnya. Ia menjauh dari para pangeran lainnya lalu duduk bersandar di bawah pohon oak."Mungkin cahaya ungu tadi tidak berasal dari sini," terka Archibald. Ia menanti respon Claude, tetapi sepertinya pangeran peri bersurai kelam itu tengah serius memperhatikan butiran tanah yang berasal dari jejak kaki yang tertinggal."Bisa jadi," sahutnya sambil berpikir. Ternyata Claude masih mendengarkannya. Peri laki-laki itu tampak sedang menimbang sesuatu selama beberapa saat sebelum melanjutkan ucapannya. "Bagaimana kalau kita memeriksa perbatasan Hutan Larangan?""Nah, itu baru menyenangkan!" Pangeran Elijah menimpali seraya bangkit dari duduknya. Sebelah tangannya menepuk-nepuk bagian belakang pakaiannya hingga bekas tanah yang menempel jatuh berguguran. Peri laki-laki itu sudah merasa sangat bosan berada di sana tanpa melakukan apa pun.Pangeran peri lainnya hanya bungkam. Mereka menyetujui usulan Pangeran Claude dalam diam. Begitu banyak dugaan mengenai kejadian di tempat itu berkecamuk di dalam pikiran mereka. Para pangeran kembali menunggangi unicorn masing-masing dan memacunya kencang menuju perbatasan Hutan Larangan.* * *Matahari telah terbit, ketika sepasang peri mendekati sosok Chiara Wyatt yang tergeletak tak sadarkan diri di bawah pohon Oak di dekat perbatasan portal utara Fairyverse. Sepasang peri itu mengamati Chiara dengan penuh selidik."Sayang, aku rasa dia bukan sebangsa peri," bisik peri perempuan berwajah pucat rupawan pada peri laki-laki yang ada di sebelahnya. Peri perempuan itu adalah Ella. Sementara peri laki-laki yang berdiri di sampingnya merupakan suaminya yang bernama Ailfryd. Sepasang suami istri peri itu adalah pemilik kebun buah di Fairyfarm yang terletak tak jauh dari perbatasan Portal Utara."Apa maksudmu, Sayangku?" tanya Ailfryd. Peri laki-laki itu mengernyit. Raut kebingungan terpampang jelas pada wajah rupawannya. Perkataan sang istri benar-benar mengusiknya. Jika sosok yang mereka temukan bukanlah sebangsa peri berarti bisa saja sosok itu adalah makhluk yang berbahaya. Ailfryd menarik tangan istrinya yang terulur hendak menyentuh sosok itu.Ella terkesiap. "Jangan, Sayang! bagaimana kalau makhluk itu ternyata berbahaya?!" seru Ailfryd panik."Aku harus memastikannya, Ailfryd!" Ella melotot ke arah sang suami seraya melepaskan tangannya dari genggaman peri laki-laki itu. "Bagaimana aku bisa tahu dia makhluk apa kalau aku tidak menyentuhnya. Yang jelas, dia tidak memiliki telinga yang runcing seperti kita. Lagi pula dia sedang tak sadarkan diri, sayangku. Dia tidak mungkin membahayakan kita."Ailfryd mendengkus, akhirnya dengan enggan ia membiarkan Ella melakukan apa yang semestinya dilakukan. Ella adalah keturunan peri penyembuh, meskipun ia tidak pernah menunjukan kemampuan penyembuhannya di depan banyak orang. Ella yang telah ia nikahi selama ratusan tahun itu juga memiliki kemampuan sihir yang luar biasa.Ella mengulurkan tangannya perlahan lalu menyentuhkan jari tejunjuknya pada kening Chiara. Cahaya hijau seketika berpendar pada kening gadis. Ekspresi Ella yang awalnya biasa saja, berubah menjadi keruh. Ia menarik jarinya dari kening gadis itu lalu meraih tubuh itu ke atas pangkuannya. Ia mendekatkan telinganya pada dada gadis itu, berusaha mencari tarikan napasnya. Setelahnya, ia juga memeriksa pergelangan tangan makhluk itu untuk mencari denyutnya.Ailfryd yang sedari tadi hanya mengamati apa yang dilakukan istrinya, kini ikut duduk bersimpuh di dekat Ella. Ailfryd dapat merasakan kekhawatiran dari sikap dan ekspresi sang istri."Ada apa, Sayang?" tanyanya cemas dengan alisnya bertaut."Ailfryd, gadis ini adalah manusia ... dia telah terkena sihir hitam unsheelie," ungkap Ella dengan suara tertahan. Ada kengerian lain yang masih belum bisa ia sampaikan pada sang suami. Ella tampak sedang menimbang sesuatu. Di satu sisi ia sangat ingin menyelamatkan gadis itu, tetapi di sisi lain sebuah keraguan terselip di hatinya. Terlebih saat ia mengetahui jika yang memberikan sihir pada gadis manusia itu bukanlah peri unsheelie biasa."Jadi apa yang akan kita lakukan, Sayang?" Ailfryd bertanya dengan hati-hati.Ella menatap suaminya lekat-lekat. "Kita harus menolongnya, Sayang. Aku tahu ini akan sangat sulit. Bisa saja kelak kita akan berhadapan dengan peri unsheelie yang sangat berbahaya. Tapi gadis ini ... sesosok makhluk bahkan telah menghapus seluruh ingatannya." Suara Ella bergetar menahan emosi yang membuncah di dalam dadanya. Entah mengapa peri perempuan itu merasa sangat iba pada makhluk asing di pangkuannya. Gadis manusia itu mengingatkannya pada Celeste, anaknya yang telah lama meninggal.Ailfryd mengembuskan napas panjang seraya membalas tatapan sang istri. Ia sangat memahami mengapa Ella ingin menyelamatkan gadis manusia itu. Gadis itu mirip dengan Celeste, warna kulitnya juga surai panjangnya yang sewarna emas.Peri laki-laki itu menggenggam tangan istrinya menyerahkan dan mendukung seluruh keputusan peri perempuan itu.Ella seolah mengerti dan untuk beberapa saat kemudian mereka saling bersitatap saling menguatkan. "Mari kita bawa dia ke rumah, Sayang."Seulas senyum terbit di wajah Ella. Senyum yang selalu membuat Ailfryd jatuh hati pada peri perempuan itu setiap hari selama ratusan tahun. Hati peri perempuan itu menghangat seketika. Para leluhur peri sepertinya ingin agar Ella merasakan kebahagiaan serupa lagi, kebahagiaan saat ia memeluk Celeste dalam dekapannya. Peri penyembuh itu telah memutuskan, apapun yang akan ia hadapi kedepannya, ia tidak perduli selama Alifryd berada di sisinya.Ella memandang lekat wajah gadis manusia yang tengah tak sadarkan diri itu. Surai panjangnya yang keemasan sama persis dengan surai Celeste. Kulit wajah gadis itu sebening milik putrinya dengan bintik-bintik kemerahan samar bertakhta di kedua pipi yang merona. Peri perempuan itu membayangkan netra hijau terpampang saat kelopak mata gadis itu terbuka. Ia menyadari bahwa sekilas gadis itu memang serupa bangsa peri, kecuali telinganya.Ella menimbang sesuatu. "Tidak boleh ada peri lain yang tahu kalau dia adalah manusia," putusnya.Ella kemudian menjentikkan jarinya, netranya melebar. Sebilah tongkat kecil berwarna hitam kemudian muncul secara ajaib dalam genggamannya. Tongkat itu memiliki bola kristal berwarna hijau zamrud yang bertakhta di atasnya. Peri perempuan itu mulai merapalkan mantra, sementara bola kristal pada tongkat sihirnya mulai berpendar mengeluarkan cahaya. Ia mengarahkan tongkat sihir itu pada gadis manusia di pangkuannya. Garis-garis cahaya kehijauan memancar ke arah Chiara mengeluarkan serbuk-serbuk peri dari bola kristalnya.Sepasang telinga lancip serupa telinga para peri terbentuk melalui cahaya kehijauan yang menyapu wajah gadis manusia itu. Kemudian percikan cahaya lainnya menyelubungi seluruh tubuh Chiara untuk beberapa saat sebelum akhirnya menghilang. Ella telah selesai membacakan mantra dan tongkat sihirnya telah menghilang dengan sendirinya."Nah, sekarang ia sudah terlihat seperti peri," gumamnya sambil tersenyum.* * *"Ammara..."Gadis itu menggeliat di atas dipan, merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Ia meluruskan kakinya dan terdengar bunyi gemeretak. Entah berapa lama ia tak sadarkan diri, gadis itu tak dapat mengingatnya dengan pasti. Setelah puas menggeliat dan merenggangkan otot-otot tubuhnya, gadis itu membuka matanya perlahan. Cahaya terang yang masuk dari jendela tampak menyorot dan menyilaukan matanya. Ia mengerjapkan matanya beberapa saat sebelum akhirnya membuka kelopak matanya dengan sempurna."Kau sudah siuman, Ammara ?" Seorang perempuan dengan wajah rupawan yang keibuan menyapanya sambil tersenyum.Gadis yang dipanggil Ammara itu mengamati perempuan yang menyapanya. Dahinya mengerut berpikir keras untuk mengingat-ingat wajah itu dalam memorinya. Namun, nihil."Ella, beri dia sedikit waktu. Dia baru saja siuman, Sayang," ucap Ailfryd yang muncul di samping perempuan itu. Peri laki-laki itu merangkul Ella sambil menyorot gadis yang baru saja siuman itu dengan simpati."Apa kau tidak mengingatku Ammara?" Kedua netra Ella berkaca-kaca. Ella menggigit bibir bawahnya seolah menahan tangis. Ia menyandarkan kepalanya di bahu lelaki yang merangkulnya."Maafkan aku," sahut gadis yang yang dipanggil Ammara itu dengan suara serak, "Aku sama sekali tidak mengingatmu."Ella mulai terisak lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Anak-anak rambut yang menyembul dari sekitar telinganya, sedikit basah terkena air mata.Ammara merasa bersalah atas jawabannya, Namun ia benar-benar tak mengingat perempuan dan laki-laki itu sama sekali. Ia tak mmapu mengingat apapun. Ia bahkan tak mengingat namanya sendiri. "Bantu aku mengingatmu ... bantu aku mengingat semuanya," cetus Ammara lirih. Ia berusaha sekuat tenaga menelan emosi dan tangisnya yang mulai melesak di tenggorokannya.Ella membuka tangan yang wajahnya. Bekas air mata yang menggenang di kedua pipinya tak mampu memudarkan kecantikan parasnya. Seulas senyum tipis seketika tersungging di bibir merahnya, "Aku ibumu, Sayang. Kau adalah Ammara... kami adalah orang tuamu," sahut Ella sambil menyedot ingusnya. "Aku Ella... dan dia adalah ayahmu Ailfryd."Lelaki tampan berbadan besar yang bernama Ailfryd itu tampak tersenyum ramah pada Ammara sambil mengangguk. "Kau tertidur selama seminggu penuh, Nak. Ibumu terus-terusan merasa khawatir. Ia takut kalau kau tidak bangun lagi." Ailfryd berkata dengan suara bas-nya yang dalam."Apa? Seminggu? Apa yang terjadi padaku?" tanya Ammara dengan gusar. Ia memegangi kepalanya yang mendadak terasa pusing."Iya, Sayang. Kau terjatuh saat menunggang unicornmu. Kepalamu membentur tanah dengan keras hinggs kau tak sadarkan diri selama seminggu," sahut Ella dengan wajah khawatir. Ia duduk di samping tempat tidur Ammara dan merangkul gadis itu."Unicorn?!" Ammara mengernyit kebingungan. Ia memang tidak mengingat apapun, tapi menunggang unicorn adalah hal yang benar-benar asing baginya. Ia merasa semuanya sangat aneh dan tidak masuk akal sekarang.Dengan panik, gadis bersurai keemasan itu melihat kesekelilingnya. Ia baru menyadari bahwa ia juga berada di sebuah ruangan yang sangat asing. Ruangan itu memang seperti kamar, kamar yang terbuat dari batang pohon yang dijalin dengan rapat. Kamar itu tidak memiliki perabot yang banyak, hanya sebuah dipan tempatnya kini berbaring, sebuah lemari kayu,dan sebuah tanaman bunga yang menjulang dengan kelopak bunga besar dan berwarna cerah. Tepat di depan dipan, terdapat sebuah jendela kecil tanpa kaca yang menghadap ke taman bunga. Bagi Ammara, seluruh pemandangan ini tampak aneh dan tidak biasa.Ella menggenggam tangan Ammara untuk menenangkannya. "Ini rumahmu, Nak. Rumah kita di Fairyfarm. Kami akan membantumu mengingat semuanya, perlahan-lahan. Tidak perlu tergesa-gesa. Kita masih punya banyak waktu," ucapnya lirih di telinga Ammara."Fairyfarm?!""Ya, Ammara, kita ada di Fairyfarm, bagian dari kerajaan Avery," Ella kembali menjelaskan.Ammara merasakan pusing luar biasa seketika menyengat kepalanya saat ia mendengar semua informasi asing dari Ella tersebut. Tiba-tiba kepalanya bagaikan dihantam sebuah palu besar. Pandangannya kembali berkunang-kunang. Tak lama kemudian ia terkulai tak sadarkan diri.

Blood Moon
Fantasy
12 Feb 2026

Blood Moon

1 Maret 1866, Cottingley, pinggiran Kota Bradford, West Yorkshire, Inggris (Dunia Manusia).Chiara Wyatt membuka pintu belakang rumahnya sambil membawa sebuah mangkuk berisi susu segar. Seperti biasa, ia hendak memberikan susu segar untuk anjing golden retriever kesayangannya, sebelum mengajak makhluk itu masuk ke dalam rumah."Max!" Chiara berteriak lantang ketika ia tidak menemukan anjingnya di depan pintu. Chiara merasa heran, tidak biasanya Max pergi meninggalkan teras belakang rumahnya pada malam hari. Terlebih Max termasuk anjing yang penakut dan tidak suka berkeliaran di malam hari.Chiara mengedarkan pandangan ke sekeliling pekarangan rumah. Namun, ia tak dapat menemukan Max di sisi pekarangan mana pun. Suasana malam itu tidak terlalu gelap sehingga gadis bersurai keemasan itu dapat melihat dengan jelas pada tiap sudut pekarangan walaupun tanpa penerangan lampu.Chiara menatap langit malam yang tampak lebih terang dari biasanya. Gadis itu tertegun sesaat memperhatikan bulan purnama yang tampak sedikit berbeda dari biasanya. Bulan purnama itu tampak lebih besar dan berwarna kemerahan. Blood moon, batin Chiara.Ia mengingat-ingat informasi yang ia baca di koran tadi pagi bahwa malam ini akan terjadi fenomena langka yang disebut blood moon. Netra hijaunya membelalak takjub. Jadi inilah blood moon . Chiara benar-benar terpesona menatap keindahan purnama berwarna merah itu hingga ia nyaris lupa untuk mencari Max.Chiara meletakkan mangkuk susunya di depan pintu berharap saat Max kembali, anjing itu bisa langsung meminumnya. Sementara, ia mulai berjalan menyusuri pekarangan belakang rumahnya yang terhubung dengan pekarangan rumah tuan Parker. Ia pernah memergoki Max bermain-main ke tempat itu untuk mengejar kunang-kunang yang sesekali muncul di sana pada suatu malam musim panas. Asumsi itulah yang mengarahkan Chiara untuk mencarinya ke sana."Max!" Teriak Chiara lantang.Nihil. Ia juga tidak menemukan keberadaan Max di sana.Udara malam semakin terasa menusuk kulit Chiara. Gadis itu mengeratkan sweaterny a ke tubuh untuk mendapat sedikit kehangatan.Ia terus melangkah dalam keremangan cahaya di pekarangan rumah Tuan Parker. Tempat itu tampak sepi. Si empunya rumah barangkali telah terlelap atau Tuan Parker sedang tidak di rumah karena tak ada satu lampu pun yang menyala di sana. Penerangan satu-satunya yang membantu Chiara melihat ke seluruh penjuru pekarangan hanya berasal dari purnama merah yang sedang bertakhta di langit.Netra Chiara terpaku pada salah satu sisi pekarangan rumah tuan Parker yang berbatasan langsung dengan hutan. Pagar kayu berwarna putih kusam dengan beberapa bagiannya tampak terkelupas membatasi pekarangan dan hutan. Beberapa bagian pagar kayu itu terlihat telah rusak dan patah hingga membuat celah yang dapat dilewati hewan seperti kucing atau anjing.Entah apa yang menggerakkan gadis itu hingga ia mendekati celah pagar kayu tersebut. Chiara berasumsi bisa jadi Max melewati pagar itu lalu masuk ke dalam hutan. Pandangan gadis itu kini teralih pada pemandangan hutan yang lumayan gelap.Chiara menghela napas. Baiklah, barangkali ia akan mencoba peruntungannya. Rencananya adalah ia akan masuk tidak begitu jauh ke dalam hutan untuk mencari Max, siapa tahu anjing itu ada di sana. Jika ia tidak menemukannya, Chiara berjanji dalam hati bahwa ia akan segera kembali ke rumah.Dengan hati-hati, Chiara pun akhirnya melewati celah pada pagar kayu rusak itu setelah menyingkirkan sebilah kayu rapuh yang melintang di depan celah pagar. Setelah melewati pagar itu, ia mempercepat langkah menuju hutan berharap dapat segera menemukan Max."Max!" Chiara berteriak memecah keheningan hutan. Gadis itu memelankan langkahnya saat telah memasuki hutan seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari sosok Max. Lagi-lagi cahaya purnama merah membantunya melihat setiap sudut hutan yang ia lalui.Setelah beberapa saat lamanya berjalan menyisir hutan, rasa takut dan khawatir perlahan-lahan mulai menyusup dalam benak Chiara. Bagaimana jika ternyata golden retriever -nya ternyata tidak pernah memasuki tempat itu. Ia mulai merutuki kecerobohannya karena telah masuk ke dalam hutan tanpa berpikir panjang. Seumur hidupnya yang baru enam belas tahun, bahkan di siang hari sekali pun, Chiara tak pernah menjejakkan kakinya di sana.Gadis itu menggigil. Udara hutan mulai terasa semakin dingin. Ia bahkan dapat melihat uap napas yang mengepul dari mulutnya dalam temaram cahaya. Ia mulai menyesali keputusannya untuk mencari Max. Gadis itu ingin segera kembali ke rumah dan membayangkan dirinya bergelung dalam selimut hangat di kamar. Lagi pula, neneknya pasti sangat khawatir jika tahu Chiara tidak ada di rumah sekarang. Namun, di sisi lain Chiara bimbang. Bagaimana jika Max ada di suatu tempat di hutan itu dan anjing kesayangannya itu barangkali sedang terperangkap pada sebuah jebakan yang biasa dipasang pemburu untuk menjebak binatang buas. Ia tentu tak akan mengabaikannya begitu saja.Chiara menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran buruk itu. Dengan gigi-geligi yang gemeletak menahan dingin, ia melangkah semakin dalam masuk ke hutan. Suara langkah kakinya yang beradu dengan daun-daun kering memecah keheningan hutan.Tiba-tiba dari kedalaman hutan terdengar suara lolongan anjing. Chiara menajamkan telinganya untuk mengenali suara yang terdengar sayup-sayup. Rasanya suara lolongan itu terdengar familiar. Ia tidak mungkin salah. Itu adalah suara lolongan Max saat bertemu orang atau sesuatu yang asing.Chiara mempercepat langkah, setengah berlari menuju ke asal suara tersebut. Suara itu semakin lama semakin jelas. Jantung gadis itu berpacu kencang dan napasnya memburu. Sesekali kakinya terperosok pada tanah hutan yang bergelombang, tetapi segera ia bangkit lagi demi mendapati Max.Namun, beberapa saat kemudian, suara lolongan itu mendadak berhenti. Hutan kembali hening.Di bawah temaram sinar bulan purnama merah, Chiara berlari sekuat tenaga dengan dada bergemuruh panik saat lolongan penunjuk arah itu berhenti. Gadis itu bahkan sempat terjatuh beberapa kali karena tersandung akar-akar pohon besar yang menjalar di permukaan tanah. Piyama tidurnya berantakan, penuh noda tanah dan dedaunan kering yang menempel. Namun, ia tak peduli, ia hanya ingin segera bertemu dengan Max dan membawanya pulang.Setelah berlari sekian lama, langkah Chiara akhirnya berhenti di depan sebuah mulut gua yang dipenuhi oleh tanaman merambat yang sangat lebat. Tampaknya tidak pernah ada yang melewati mulut gua itu.Chiara mengernyit bingung dan dengan panik ia melihat ke sekelilingnya. Ternyata tanpa disadari, ia sudah berada di dalam hutan yang sangat lebat. Gadis itu bahkan rasanya telah lupa jalan pulang.Chiara mencoba mengatur napas yang memburu. Wajahnya memerah karena kelelahan. Pelipisnya dibanjiri keringat. Rambut pirangnya yang panjang berantakan, dipenuhi potongan dedaunan dan ranting yang tanpa sadar menempel di beberapa bagian kepalanya saat ia berlari.Gadis itu terduduk lesu di atas akar pohon yang tepat berada di depan mulut gua. Tak ada tanda-tanda keberadaan Max di tempat itu. Ia kelelahan dan mulai merasa putus asa. Chiara benar-benar tak sanggup lagi berpikir jernih. Suara lolongan yang ia kira Max tadi ternyata malah membuatnya tersesat jauh ke dalam hutan.Di tengah-tengah kegundahannya, tiba-tiba terdengar suara gonggongan pelan Max yang entah berasal dari mana. Suara itu terdengar sangat dekat, tetapi teredam oleh sesuatu. Chiara mengedarkan pandangannya pada kegelapan hutan. Ia sama sekali belum dapat menangkap keberadaan Max."Max, kau kah itu?" tanya Chiara dengan suara lirih. Tubuhnya menggigil dan sepasang tungkainya terasa lemas. Namun, suara Max barusan mampu memberinya sedikit kekuatan dan harapan.Suara Max terdengar lagi. Kali ini gonggongannya terdengar lirih dan penuh harap. Gadis itu yakin jika suara Max berasal dari suatu tempat di sekitarnya.Chiara bangkit dari duduknya perlahan-lahan. Pandangannya sekali lagi menyisir sisi hutan yang terkena temaram cahaya purnama merah.Lagi-lagi Max menggonggong. Jantung gadis itu seketika berdegup kencang. Chiara mendekat ke arah mulut gua membiarkan telinganya menjadi penuntun pencarian. Dengan bantuan cahaya bulan, dari sela-sela tanaman merambat yang lebat pada mulut gua, Chiara samar-samar melihat sosok Max yang bergerak gusar.Seseorang, entah bagaimana caranya, telah menempatkan anjing malang itu di dalam sana. Ia yakin, tidak mungkin Max bisa masuk ke dalam tempat itu tanpa merusak tanaman merambat di depan mulut gua, kecuali gua itu punya pintu masuk lain di sekitarnya. Namun, agaknya asumsi Chiara yang terakhir itu tidak masuk akal. Sejauh mata memandang, gadis itu tidak dapat menemukan jalan lain di sekitar gua, selain dinding batu yang besar dan sangat tinggi. Ia hampir tidak dapat melihat seberapa tinggi gua batu tersebut."Max, bertahanlah. Aku akan mengeluarkanmu dari situ," ucap Chiara pelan. Ia mencari sesuatu yang tajam dan keras di sekitarnya untuk mencabut rerimbunan tanaman merambat yang menutupi mulut gua dengan panik. Nihil. Ia tak dapat menemukannya. Akhirnya, Chiara mencoba mencabut tanaman merambat itu dengan tangannya. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Chiara mencengkeram kuat pada sebuah akar tanaman merambat yang terlihat paling mudah untuk dicabut, kemudian ia menariknya sekuat tenaga. Gagal. Ia harus mencobanya lagi. Kali ini ia menariknya lebih kuat dan cepat.Usahanya kali ini berhasil. Seuntai tanaman merambat yang sangat panjang berhasil terlepas. Sedikit celah pada mulut gua mulai terbuka.Max mengeluarkan moncongnya, mengendus ke arah celah gua yang terbuka. Demi melihat itu, Chiara mendekatkan wajahnya pada Max sambil bergumam lirih, "Max, syukurlah kau tidak apa-apa."Chiara mengulurkan tangannya masuk ke dalam celah yang terbuka. Ia hendak mengelus punggung Max. Namun, di luar dugaan, sesuatu dari kegelapan di dalam gua menarik tangannya dengan sangat keras. Tubuh gadis itu terperosok masuk ke dalam celah hingga merusak sebagian besar tanaman merambat yang menutupi mulut gua. Tubuh Chiara menghilang seketika.* * *Sesosok peri perempuan berdiri di tengah-tengah kegelapan Hutan Larangan di Fairyverse. Dia merentangkan lengannya sambil menengadah ke langit. Surai hitamnya yang tergerai berkibar tertiup angin. Iris matanya yang berwarna ungu menatap ke arah seekor burung rajawali yang baru saja datang mendekat lalu bertengger di salah satu tangannya yang terentang. Ia menyunggingkan seulas senyum miring yang menyiratkan kelicikan. Dialah Minerva, peri penyihir terkuat dari kaum unsheelie."Terima kasih telah membantunya masuk ke tempat ini, Lucifer," tuturnya pada burung rajawali yang sedang bertengger di tangannya.Sedetik kemudian, burung itu segera beranjak dari lengannya melesat terbang menembus awan, lalu menukik kembali tepat di hadapan Minerva sebelum berubah menjadi wujud aslinya. Asap hitam seketika mengepul saat burung rajawali itu hampir menyentuh permukaan tanah. Sosok rajawali itu menghilang dalam gumpalan asap yang dalam sekejap berubah menjadi sesosok makhluk dengan wujud mengerikan. Matanya merah, dengan wajah hijau penuh kutil. Dia adalah peri dari klan Fir Darrig. Salah satu klan peri dengan rupa terburuk yang memiliki keahlian berubah wujud menjadi apapun.Makhluk itu menyeringai dan mengangguk takzim pada Minerva. "Dia berhasil membuka segel portal Utara itu tanpa kesulitan berarti, Minerva. Dia pasti istimewa," sahut Lucifer dengan suaranya yang parau. Ia bermaksud merendahkan diri di hadapan Minerva. Namun, tentu peri perempuan itu langsung mencibirnya tidak senang."Tidak ada manusia yang istimewa, Lucifer. Bangsa perilah yang istimewa. Gadis itu hanya mengikuti takdirnya," ucap peri cantik itu dengan tatapan dingin.Lucifer membeku. Ia tak menyangka akan mendapat tanggapan seperti itu dari Minerva, sang ratu kegelapan. Ia hanya dapat mengangguk takzim, tak berani membantah Minerva. Terlebih lagi peri buruk rupa itu telah menyadari kesalahannya karena memuji makhluk lain di hadapan sang ratu. Ia menundukkan kepalanya, tak berani melihat ekspresi ketidaksukaan Minerva. Ia hanya menunggu Minerva menitahkan sesuatu terkait dengan misi yang telah ia kerjakan.Hening menyergap mereka. Minerva menerawang memikirkan sesuatu. Sebelum akhirnya ia bergumam, "Mari kita lihat apa yang bisa aku lakukan pada gadis manusia itu. Kita harus cepat. Sebelum tabir sihirku di portal utara melemah."Minerva mengibaskan jubah hitamnya hingga menutup seluruh wajah dan tubuhnya lalu menghilang dan menyatu dalam gelapnya Hutan Larangan. Lucifer langsung dapat menerka ke mana ratunya pergi. Makhluk itu juga langsung mengubah wujudnya kembali menjadi rajawali dan terbang tinggi menuju ke portal utara Fairyverse.***Di bawah cahaya bulan purnama, seorang gadis tergeletak di bawah sebatang pohon oak tua yang besar. Akar-akarnya yang mencuat di permukaan tanah menjadi penyangga tubuh gadis yang tak sadarkan diri itu. Di sampingnya, seekor anjing golden retriever tampak sedang mengendus-endus tubuh si gadis sambil menggonggong lirih. Makhluk itu seolah sedang berusaha membangunkannya.Di atasnya, beberapa peri pixie Kerajaan Avery terbang berputar lalu bertengger pada dahan-dahan pohon Oak. Mereka sedang berpatroli menjaga perbatasan portal utara. Namun, anehnya tak satu pun dari para pixie kerajaan Avery itu yang menyadari keberadaan gadis yang tergeletak di bawah pohon Oak. Gadis itu dan anjing di sebelahnya seolah tak terlihat. Minerva dengan liciknya telah menyulubungi mereka dengan tabir sihir tak kasat mata sehingga tak satu pun peri di sana menyadari keberadaannya.Tiba-tiba seberkas cahaya ungu berpendar ke arah portal utara, tertiup bersama embusan angin. Cahaya ungu yang berpendar itu kemudian memecah menjadi bola-bola cahaya yang mendekati masing-masing pixie kerajaan Avery yang tengah berjaga. Para pixie yang terserang cahaya ungu itu lantas berjatuhan tak sadarkan diri ke tanah.Bersamaan dengan angin yang tiba-tiba berembus kencang membawa pendar cahaya ungu lain menuju Portal Utara, sosok Minerva seketika muncul. Ia melangkah perlahan mendekati gadis manusia yang tak sadarkan diri itu. Seulas senyum licik menghiasi wajah sang ratu kegelapan."Kemarilah makhluk berbulu yang menggemaskan. Aku akan menjagamu di sini," bisik Minerva pada anjing berbulu keemasan. Peri perempuan itu membungkuk dengan sebelah tangan meraih makhluk berbulu coklat keemasan. Ia tahu bahwa anjing itu adalah milik si gadis manusia. Lucifer telah menggunakannya untuk memancing gadis manusia malang itu menuju portal Fairyverse.Minerva mengusap kepala si anjing pelan. Serta merta, anjing itu menurut dan berpindah ke sisinya. "Huh, dasar makhluk fana! Umurmu tak begitu lama. Namun, karena tuanmu akan membantuku, aku akan membuatmu abadi!" gumamnya seraya mengusap sekilas pada wajah makhluk itu, cahaya keunguan berpendar sesaat dari telapak tangannya.Lucifer muncul di dekat Minerva beberapa saat kemudian, menatap gadis manusia yang sedang tergeletak tak sadarkan diri. Ia masih tidak begitu paham apa yang sedang direncanakan ratunya. Namun, apapun itu, ia akan selalu berada di pihaknya.Minerva mengulurkan tangan menyentuhkan telunjuknya pada kening si gadis manusia. Bibir merahnya bergerak-gerak merapalkan mantra dalam suara lirih. Manik mata Minerva yang berwarna ungu mendadak menghilang. Matanya memutih. Sementara, kening gadis malang itu tampak memancarkan cahaya ungu.Lucifer menahan napasnya saat menyaksikan peristiwa itu. Dari ekspresi kejam Minerva, ia yakin bahwa sang ratu kegelapan sedang melakukan hal yang mengerikan kepada si gadis manusia."Chiara Wyatt ..." gumam Minerva saat ia selesai merapalkan mantra. Ia menoleh ke arah Lucifer lalu berkata, "Aku akan menyimpan ingatannya di Hutan Larangan. Kau harus memastikan ingatannya tetap aman di sana. Begitu juga dengan makhluk berbulu ini. Gadis ini harus menyelesaikan misinya terlebih dahulu sebelum mendapatkan ingatan dan anjingnya kembali!"Lucifer mengangguk takzim. Ia siap melaksanakan apapun yang dititahkan Minerva.Sebelum meninggalkan gadis itu sendiri, Minerva mengalungkan sebuah liontin bermata zamrud pada lehernya. Liontin bermata zamrud itu berpendar dengan cahaya keunguan untuk beberapa saat. Dalam sepersekian detik, pendarnya menghilang dan mata kalung itu tampak seperti liontin biasa.Minerva dan Lucifer pergi dalam desiran angin kehitaman yang melesat cepat menuju Hutan Larangan, meninggalkan Chiara dan para pixie kerajaan yang tak sadarkan diri. Portal utara tampak lengang. Tabir sihir Minerva telah menguap dalam terang bulan purnama kekuningan di Fairyverse.

Ramalan Maurelle
Fantasy
12 Feb 2026

Ramalan Maurelle

Maurelle berjalan tergesa menuju tribune singgasana Raja Brian. Wajahnya pias. Ketakutan membayang jelas di kedua netra cokelat terangnya. Peri laki-laki itu tahu jika kedatangannya saat ini sungguh sangat tidak tepat. Terlebih saat itu raja dan segenap rakyatnya tengah bersukacita merayakan pesta penobatan putra mahkota Kerajaan Avery. Namun, ia tak dapat menyimpan penglihatannya akan masa depan lebih lama lagi. Nyaris tiap malam peri cenayang itu dihantui oleh potongan-potongan kejadian masa depan sebagai pertanda jika sebuah ramalan harus segera diterima batinnya. Tidak. Apalagi ramalan itu berkaitan dengan masa depan Kerajaan Avery.Jubah hitam Maurelle berkibar dan sesekali menyapu permukaan lantai marmer yang berkilat memantulkan cahaya-cahaya dari kelopak bunga dan kunang-kunang yang menerangi istana. Tangan kanannya memegang tongkat sihir dengan batu berwarna putih bercahaya bertakhta di puncaknya.Peri cenayang itu meneguk ludahnya kasar saat netranya dengan lancang beradu dengan netra sang raja. Raja Brian yang sebelumnya sedang berbincang hangat dengan sang ratu yang duduk di sisinya sontak mengalihkan pandang. Dari kejauhan, Maurelle dapat melihat perubahan raut wajah Raja Brian ketika melihatnya berjalan mendekat. Di samping sang raja, Ratu Serenity pun seolah dapat mengendus kegusaran Maurelle yang menular pada sang suami."Ada apa, Maurelle?" Raja Brian langsung berdiri dari singgasananya begitu peri cenayang itu menghaturkan hormat dengan membungkuk dalam dan takzim.Maurelle kembali menegakkan tubuhnya. Iris mata cokelatnya menyorot sekilas pada Raja Brian lalu menunduk seraya menggigit bibir bawahnya. Peri laki-laki itu sempat diserang ragu saat hendak menyampaikan tujuannya. Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya membuka suara. "Maafkan hamba, Yang Mulia, hamba ingin menyampaikan sesuatu. Batu sihir di tongkat hamba tidak berhenti bercahaya. Sepertinya akan ada penglihatan yang akan hamba terima terkait dengan kerajaan Avery," ucapnya hati-hati.Raut wajah Raja Brian menegang seketika. Raja peri itu mengerling sekilas ke tribune di sebelah kanan dan kiri secara bergantian, di mana para pangeran, putri serta keluarga kerajaan lainnya berada. Mereka tengah asyik menikmati pesta. Namun, beberapa pasang mata terlihat menyoroti kedatangan Maurelle dengan kegusaran yang terlalu kentara. Lambat laun keriuhan pesta mereda, menyisakan bisik-bisik dalam suara rendah di tribune keluarga kerajaan dan sayup-sayup nyanyian siren pada kolam air di atas panggung hiburan.Raja Brian menimbang beberapa saat sebelum akhirnya menyilakan Maurelle menyampaikan penglihatannya.Maurelle mengangguk takzim. Peri laki-laki itu menundukkan kepala seraya menutup kelopak matanya. Beberapa saat kemudian, peri cenayang itu menengadah lalu membuka kembali kelopak matanya. Manik mata sang peri cenayang memutih. Bola Kristal yang bertakhta pada puncak tongkat sihir Maurelle memancarkan cahaya putih yang berkedip-kedip. Hal itu berlangsung selama beberapa detik, sebelum akhirnya manik mata Maurelle kembali seperti semula.Peri cenayang itu mendadak pucat pasi. Jantungnya berdebar kencang, sementara napasnya memburu. Kedua lengannya terkepal. Maurelle menggerak-gerakan mulutnya dengan panik. Kerongkongannya seolah tercekat. "Seorang manusia akan datang, Yang Mulia! Dia akan masuk melalui portal yang akan terbuka saat bulan purnama merah terjadi di dunia manusia ....""Seorang manusia katamu? Lantas apa yang membuatmu khawatir, Maurelle?" Raja Brian mengerutkan keningnya mencoba mencerna apa yang disampaikan sang cenayang."Menurut roh masa depan, manusia itu datang dan akan merusak tatanan di dunia peri, Yang Mulia," ucap Maurelle. Suara peri laki-laki itu bergetar.Ketika mendengar ramalan Maurelle, Raja Brian terkesiap. Wajahnya memerah seketika dan sepasang matanya membelalak. Kegusaran membayang jelas di wajahnya. Ramalan sang cenayang telah mengusik hati dan pikirannya hingga ia tak dapat menikmati keramaian pesta lagi.Raja Brian menoleh pada permaisurinya seolah mencari kekuatan. Permaisuri Serenity membalas tatapan suaminya dengan senyuman simpati. Sang raja mengalihkan pandangannya kepada berpasang-pasang mata di tribune kanan dan kiri yang menyorotnya dengan tatapan ingin tahu.Suasana pesta yang hingar-bingar seolah menghilang dari penglihatan dan pendengaran Raja Brian. Perlahan, tetapi pasti kabut kegelisahan menyelimuti hati dan pikirannya. Ia begitu mengkhawatirkan keluarga serta rakyat perinya. Raja Brian lantas kembali mengalihkan pandangan pada Maurelle lalu bertanya dengan suara serak. "Apakah kedatangan manusia itu bisa dicegah, Maurelle?""Ampun Yang Mulia, apapun yang kita lakukan, manusia itu tetap akan datang karena pada saat purnama Merah, segel pada portal-portal menuju Fairyverse akan melemah sehingga makhluk apapun bisa masuk ke dalam Fairyverse dengan mudah. Yang hamba khawatirkan adalah kaum peri unsheelie. Hamba takut mereka memanfaatkan keadaan ini untuk mengusik kerajaan Avery." Maurelle menerangkan dengan hati-hati.Raja Brian mengangguk pelan. Ia mulai memahami situasi yang akan dihadapi kerajaan dan rakyatnya. Raja peri itu berpikir keras."Berarti kita perlu mantra segel yang lebih baik, Maurelle," gumam Raja Brian lebih kepada dirinya sendiri.Maurelle bergeming. Wajahnya tertunduk bimbang. Ia menantikan Raja Brian menitahkan sesuatu atas ramalannya."Kumpulkan para cenayang putih terbaik dari seluruh Fairyverse secepatnya, Maurelle. Kirim para pixie kerajaan untuk berjaga di seluruh portal yang ada di Fairyverse. Siapkan pasukan kesatria elf untuk menjaga wilayah perbatasan Hutan Larangan. Awasi tiap gerak-gerik para unsheelie. Aku yakin manusia itu tidak akan masuk jika segel telah diperbaiki. Yang aku khawatirkan adalah tipu muslihat para unsheelie jika mereka tahu tentang kelemahan Fairyverse saat bulan purnama merah," ucap Raja Brian sambil menerawang.Ia tampak berpikir sejenak. "Aku akan mengutus Pangeran Archibald untuk memata-matai unsheelie.""Pangeran Archibald, Yang Mulia?" Maurelle terkejut mendengar Raja Brian menyebut nama itu. Peri cenayang itu merasa ragu. Pangeran Archibald memang merupakan salah satu pangeran yang paling tangguh dan dapat keluar-masuk Hutan Larangan dengan leluasa. Namun, yang membuat Maurelle heran adalah mengapa raja menugaskan pangeran yang paling pembangkang dan sulit diatur itu untuk menjalankan misi yang penting.Raja Brian mengangguk mantap. "Iya, Maurelle. Dia yang terbaik dan yang paling berpengalaman."Maurelle mengangguk takzim. Itulah keputusan sang raja. "Baik, Yang Mulia. Hamba akan segera laksanakan."Maurelle menunduk hormatsebelum akhirnya mengundurkan diri dari hadapan Raja Brian. Raja Brian punkembali duduk di singgasananya, dengan pikiran yang berkelana jauh menembuslangit malam Fairyverse. Malam itu purnama putih besar menggantung di langitFairyverse. Harusnya purnama yang sama juga menggantung di dunia manusia.Namun, kapan purnama merah itu datang di dunia manusia, tak ada yang bisamengetahuinya, tidak juga para cenayang di dunia peri. Raja Brian mengembuskannapas panjang sambil menggenggam tangan istrinya. Semoga belum t erlambat , bisiknya dalam hati.

Kebaikan Simpleton
Fantasy
10 Feb 2026

Kebaikan Simpleton

Ada seorang pemuda bernama Simpleton. Ia adalah anak bungsu. Ia memiliki dua kakak laki-laki. Mereka bertiga bekerja sebagai tukang kayu. Setiap pagi, mereka selalu pergi untuk menebang kayu di hutan. Tetapi, meskipun bersaudara. Mereka memiliki perangai yang berbeda.Suatu hari, kakak pertama Simpleton pergi ke hutan. Ia membawa bekal makanan dari rumahnya. Sesampainya di dalam hutan, ada manusia kerdil yang mendatanginya."Bolehkah aku meminta sedikit makananmu? Aku sangat lapar," ucap manusia kerdil itu, memelas."Hei, siapa kau? Enak saja, sana pergi! Jangan menggangguku." hardik kakak pertama Simpleton.Manusia kerdil itu lalu pergi. Ia sangat kecewa terhadap kakak pertama Simpleton. Kakak pertama Simpleton sama sekali tak peduli dengannya.Hari berikutnya, kakak kedua Simpleton pergi ke hutan yang sama. Ia juga membawa bekal makanan dari rumahnya. Setelah menebang pohon, ia beristirahat untuk makan siang. Saat itu, manusia kerdil menghampirinya."Maaf aku mengganggu makan siangmu. Bolehkah aku meminta sedikit makan siangmu?" tanya manusia kerdil.Kakak kedua Simpleton memandang tak suka pada manusia kerdil. Lalu ia mengusir manusia kerdil, seperti yang dilakukan oleh kakaknya. Manusia kerdil kembali kecewa. Ia pun pergi meninggalkan kakak kedua Simpleton.Hari berikutnya, Simpleton pergi ke hutan yang sama. Saat hendak makan siang, ia didatangi oleh manusia kerdil. Manusia kerdil itu datang dengan wajah yang murung."Kau pasti juga tak mau membagikan sedikit makananmu untukku," ucap manusia kerdil.Simpleton memandangi manusia kerdil. Ia tersenyum manis pada manusia kerdil itu."Kata siapa? Aku justru senang jika ada yang menemaniku makan siang. Ayo, aku akan membagi separuh makananku untukmu," balas Simpleton.Alangkah senangnya hati manusia kerdil. Ia pun makan dengan lahap bersama Simpleton. Hem... makanan yang sangat enak. Manusia kerdil lalu berterima kasih kepada Simpleton. Ia bahkan membisikkan sebuah rahasia kepada Simpleton."Karena kau sudah berbaik hati membagikan makananmu, aku akan buka sebuah rahasia padamu," ucap manusia kerdil."Rahasia apa?" Simpleton penasaran."Kau tebanglah pohon di ujung sungai sana. Di dalam pohon itu ada angsa bertelur emas. Itu sebagai ucapan terima kasihku karena kau baik hati," balas manusia kerdil.Simpleton lalu menebang pohon yang ditunjukkan oleh manusia kerdil. Benar saja, di dalamnya ada seekor angsa yang bertelur emas. Simpleton pun membawa angsa itu ke rumahnya. Angsa itu setiap hari bertelur emas, membuat Simpleton menjadi kaya raya. Sejak saat itu, Simpleton hidup dengan sejahtera. Ia juga menikahi wanita tercantik di desanya.

Williem dan Irene
Fantasy
10 Feb 2026

Williem dan Irene

Beratus-ratus tahun yang lalu di sebuah desa nelayan bernama Volendam, hiduplah keluarga Jansen dan keluarga Hendrik.Masing masing keluarga ini memiliki anak yang berumur sembilan tahun.Keluarga Jansen mempunyai anak perempuan bernama Irene dan keluarga Hendrik mempunyai anak laki-laki bernama Willem. Willem dan Irene adalah anak-anak yang rajin. Willem selalu membantu ayahnya memperbaiki jala yang rusak. Irene selalu membantu ibunya yang berjualan makanan di pinggir pantai.Suatu hari, seperti biasa Willem dan Irene menunggu kepulangan ayah mereka di pinggir dermaga. Satu per satu nelayan pulang, tapi sampai sore belum terlihat tanda-tanda kepulangan ayah mereka."Pak, apakah Bapak melihat ayah kami?" tanya Irene pada seorang nelayan."Oh, kami melihat ayah kalian menuju ke utara. Katanya, dia mau menangkap ikan tuna lebih banyak lagi," jawab si nelayan.Irene menatap langit di utara. Tampak awan mendung bertumpuk. Sepertinya, akan terjadi badai. Irene sangat khawatir."Ayah," isak Irene."Jangan khawatir, Irene," hibur Willem."Tapi, bagaimana kalau mereka terjebak badai? Kapalnya bisa terbalik dan tenggelam.""Kita bisa menolong ayah kita," kata Willem. "Bagaimana caranya?" tanya Irene."Dengan berdoa," jawab Willem mantap.Irene memandang Willem. "Apakah Tuhan akan mendengar doa kita?" tanyanya."Ya, Tuhan yang mengendalikan alam. Kita harus berdoa semoga Tuhan mau menghentikan hujan dan membuat laut menjadi tenang," kata Willem.Mereka lalu berlutut dan berdoa dengan khusyuk. Tiba-tiba, langit menjadi terang dan angin yang tadinya kencang bertiup lembut. Tidak berapa lama, dari tengah taut nampak sebuah perahu.Ternyata itu memang perahu ayah mereka. Kedua anak itu berseru mengucap syukur. Ternyata, ayah mereka berhasil menangkap seekor ikan tuna yang sangat besar. Belum pernah ada nelayan lain yang pernah menangkap tuna sebesar itu.Ayah mereka membawa ikan tuna itu ke tempat pelelangan ikan dan terjual dengan harga tinggi. Pemuda yang membeli ikan tuna besar itu ingin makan di rurnah keluarga Hendrik dan Jansen. Hendrik dan Jansen setuju.Di rumah, Willem dan Irene membawa ikan itu ke dapur untuk dibersihkan. Saat mengeluarkan isi perut ikan, mereka menemukan sebuah cincin berlian.Willem dan Irene menyerahkan cincin itu ke. pada si pemuda pembeli ikan. Pemuda itu kagum mengetahui kejujuran kedua anak tersebut."Seandainya mereka tidak menyerahkan cincin itu padaku, aku pun tidak akan tahu kalau ada cincin berlian di dalam perut ikan yang kubeli," batin si pemuda.Pemuda itu tersenyum pada Willem dan Irene Lalu, ia membuka jubah yang menutupi pakaiannya. Ternyata, pemuda itu adalah pangeran yang sedang menyamar."Kalian anak yang jujur," katanya."Karenanya, mulai besok aku akan mengangkat Willem sebagai pengawal pribadiku. Dan Irene, bagaimana kalau kau kuangkat sebagai adikku?"Sejak saat itu, Willem dan Irene menjadi anggota kehormatan kerajaan. Berkat kejujuran, mereka bisa hidup mulia.

Petualangan Sheila di negeri peri
Fantasy
10 Feb 2026

Petualangan Sheila di negeri peri

Di sebuah desa, ada seorang anak perempuan yang baik dan polos bernama Sheila. Ia senang sekali bermain di hutan.Ibunya selalu mengingatkannya agar tak terlalu jauh masuk ke hutan. Menurut kepercayaan para penduduk, orang yang terlalu jauh masuk ke hutan, tak akan pernah kembali.Sheila sering datang ke tempat perbatasan kabut di hutan. Setiap kali Sheila pergi bermain, ibunya selalu membekalinya dengan sekantong kue, permen cokelat, dan sebotol jus buah. Di sana, Sheila duduk di bawah pohon dan menikmati bekalnya.Suatu kali, seperti biasa Sheila duduk menikmati bekalnya. Tiba-tiba, Sheila merasa ada beberapa pasang mata memerhatikannya. la memandang berkeliling untuk mencari tahu. Namun, ia tak meliihat siapa-siapa."Heil Siapa pun itu, keluarlah! Jika kalian mau, kalian boleh makan kue bersamaku," teriak Sheila.Mendengar tawaran Sheila, tiga peri muncul di depan Sheila. Tubuh mereka hanya separuh tinggi badan Sheila. Mereka memiliki sayap di punggung dan telinga mereka berujung lancip. Peri-peri itu bernama Plo, Plea, dan Plop. Ketiga peri itu bersaudara. Mereka mau menikmati kue bersama Sheila.Suatu hari, Sheila bertanya kepada ketiga temannya, "Pio, Plea, dan Plop. Mengapa ada daerah berkabut di hutan ini? Apa isinya?" tanya Sheila penuh rasa ingin tahu.Mendengar pertanyaan Sheila, ketiga peri ragu untuk memberi tahu Sheila. Setelah berpikir sejenak, akhirnya mereka memberitahu rahasia hutan berkabut."Para peri tinggal di balik hutan berkabut, termasuk kami. Kabut itu adalah pelindung agar tak seorang pun dapat masuk ke wilayah kami tanpa izin. Kami adalah peri penjaga daerah berkabut. Jika kabut menipis, kami akan meniupkannya lagi banyak-banyak. Jika ada tamu yang tak diundang masuk ke wilayah kami, kami membuatnya tersesat," jelas Pio, Plea, dan Plop."Bisakah aku datang ke negeri kalian?' tanya Sheila berharap.Ketiga peri berdiskusi. "Baiklah. Kami akan mengusahakannya," kata mereka.Tak lama kemudian, Sheila diajak Pio, Plea, dan Plop ke negeri mereka. Hari itu, Sheila membawa kue, cokelat, dan permen banyak-banyak. Sebelumnya, Sheila didandani seperti peri oleh ketiga temannya agar bisa mengelabui pare peri lain. Sebab, manusia dilarang masuk ke wilayah peri.Ketiga teman Sheila ini juga memberi kacamata khusus pada Sheila. Dengan kacamata itu, Sheila dapat melihat dengan jelas.Kemudian, dengan bimbingan Pio, Plea, dan Plop, akhirnya Sheila sampai ke negeri peri. Di sana, banyak rumah mungil yang bentuknya aneh-aneh.Ada rumah berbentuk jamur, berbentuk sepatu, bahkan ada yang berbentuk teko. Pakaian mereka seperti kostum karnaval. Kegiatan para peri pun bermacam-macam. Ada yang mengumpulkan madu, bernyanyi, membuat baju dari kelopak bunga, dan sebagainya. Semua tampak riang gembira.Sheila sangat senang. la diperkenalkan pada anak peri lainnya. Mereka sangat terkejut mengetahui Sheila adalah manusia. Namun, mereka senang dapat bertemu dan berjanji tidak akan memberi tahu ratu para peri.Tiba-tiba, ratu para peri datang. "Siapa itu?" tanyanya penuh selidik."Ratu, dia adalah teman hamba dari hutan utara," jawab Plop ketakutan.Sang ratu memerhatikan Sheila dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah itu, ia pergi. Namun sayang, cuping telinga palsu Sheila copot. sang ratu melihat hal itu dan murka."Manusia! Bagaimana ia bisa sampai kemari? Siapa yang membawanya?" teriak sang ratu.Pio, Plea, dan Plop maju ke depan dengap gemetar. "Kami, Ratu," jawab mereka gugup.Namun, sebelum Ratu Peri memarahi Pio, Plea, dan Plop, Sheila berkata, "Mereka tidak bersalah, Ratu. Akulah yang memaksa mereka agar membawaku kemari.""Kalau begitu, kau harus dihukum menggantikan mereka," kata sang ratu.Sheila dimasukkan ke dalam panci raksasa. la akan direbus selama setengah jam. Namun, Sheila ternyata tidak apa-apa.Ternyata, kebaikan hati Sheila membuat ia lolos dari hukuman. Akhirnya, ia diperbolehkan pulang dan tiga teman perinya bebas dari hukuman. Ratu para peri membuat Sheila mengantuk dan tertidur. la menghapus ingatan Sheila tentang negeri peri. Ketika terbangun, Sheila telah berada di tempat tidurnya.

Gadis Berbaju Hijau
Fantasy
10 Feb 2026

Gadis Berbaju Hijau

Dahulu kala, hiduplah seorang anak pelajar yang sangat pintar dan rajin bernama Yu. Sejak kecil, Yu dikenal sebagai anak yang gemar membaca dan belajar. Ia bercita-cita menjadi orang bijak yang dapat menolong banyak orang dengan ilmunya. Karena itulah, ia tidak pernah menyia-nyiakan waktunya.Suatu hari, Yu memutuskan pergi ke sebuah kuil tua yang terletak di puncak bukit yang sunyi. Tempat itu jauh dari keramaian desa dan dikelilingi pepohonan yang rimbun. Yu memilih kuil itu agar ia bisa belajar dengan tenang tanpa gangguan apa pun.Hari demi hari berlalu. Yu belajar dengan sangat rajin. Sejak pagi hingga malam, ia membaca kitab-kitab, menulis catatan, dan merenungkan pelajaran yang ia pelajari. Ia hampir tidak pernah beristirahat, karena semangat belajarnya begitu besar.Namun pada suatu malam, tubuh Yu akhirnya tidak sanggup lagi menahan rasa lelah. Saat sedang menulis di meja belajarnya, matanya terasa sangat berat. Tanpa disadari, kepalanya tertunduk dan ia pun tertidur pulas di atas meja.Tidurnya sangat lelap hingga ia terjatuh ke dalam sebuah mimpi yang terasa begitu nyata.Dalam mimpinya, Yu melihat seorang gadis cantik mengenakan baju berwarna hijau. Wajah gadis itu tampak lembut, tetapi penuh dengan rasa takut dan harap. Ia melangkah mendekati Yu, lalu membungkuk dengan sopan.“Tolonglah aku,” kata gadis itu dengan suara gemetar. “Aku mohon, tolonglah aku…”Yu terkejut mendengar permohonan itu. Sebelum sempat bertanya lebih jauh, mimpi itu pun menghilang.Yu terbangun dengan kaget. Tangannya tanpa sengaja menyenggol botol tinta hingga tinta tumpah di atas meja dan kertasnya. Jantungnya berdebar kencang.Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara mendengung pelan dari luar ruangan. Suara itu berasal dari arah jendela. Merasa penasaran, Yu bangkit dan menghampiri jendela, lalu membukanya perlahan.Di sanalah ia melihat seekor lebah kecil yang terperangkap dalam jaring laba-laba. Lebah itu berusaha keras melepaskan diri, tetapi semakin bergerak, semakin terjerat. Sementara itu, seekor laba-laba sudah mendekat, bersiap memangsa lebah tersebut.Yu teringat akan mimpinya. Hatinya tergerak. “Apakah ini yang dimaksud gadis dalam mimpiku?” gumamnya.Tanpa ragu, Yu segera memetik sehelai daun dan dengan hati-hati mengambil lebah itu dari jaring laba-laba. Ia berhasil menyelamatkannya tepat sebelum laba-laba itu menyerang.Yu membawa lebah tersebut ke dalam kuil dan meletakkannya di atas meja. Lebah itu tampak lemah dan berjalan sempoyongan. Kakinya tanpa sengaja menginjak tinta yang tumpah sebelumnya.Perlahan-lahan, lebah itu mulai bergerak lebih tenang. Setelah tampak pulih, lebah tersebut berjalan menuju selembar kertas putih di atas meja. Yu memperhatikannya dengan heran.Lebah itu berjalan berkeliling di atas kertas, meninggalkan jejak tinta dari kakinya. Jejak-jejak itu tampak seperti goresan yang tidak beraturan. Namun, setelah Yu mengamati dengan saksama, ia terkejut.Di atas kertas itu kini tertulis dua kata yang jelas:“Terima kasih.”Yu terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Lebah ajaib,” kata Yu pelan sambil menatap kertas itu penuh takjub.Saat Yu mengangkat wajahnya, lebah itu sudah terbang keluar jendela dan menghilang ke malam yang sunyi. Sejak hari itu, Yu semakin percaya bahwa setiap perbuatan baik, sekecil apa pun, pasti akan membawa keajaiban.

Peri Danau Wildsee
Fantasy
10 Feb 2026

Peri Danau Wildsee

Pada suatu hari yang cerah, seorang penggembala muda sedang menggembalakan kawanan biri-birinya di padang rumput yang luas. Angin sepoi-sepoi bertiup lembut, dan suasana alam terasa sangat damai. Untuk mengusir rasa bosan, ia memainkan suling kecilnya sambil berjalan perlahan mengikuti ternaknya. Nada suling itu mengalun sederhana namun penuh ketenangan.Tiba-tiba, alunan sulingnya terhenti. Dari kejauhan, terdengar suara lain yang jauh lebih indah dan menawan. Itu adalah suara harpa yang merdu, mengalun lembut dari arah Danau Wildsee. Bunyi harpa itu begitu halus, seakan-akan mampu menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.Penggembala itu merasa sangat penasaran. “Suara apakah itu?” gumamnya.Tanpa berpikir panjang, ia meninggalkan kawanan biri-birinya dan melangkah mengikuti arah suara harpa tersebut. Semakin dekat ia melangkah, suara harpa itu terdengar semakin jelas dan indah. Bukan hanya itu, ia juga mencium aroma bunga mawar yang sangat harum, seolah-olah danau itu dipenuhi oleh ribuan bunga yang sedang bermekaran.Akhirnya, ia sampai di tepi Danau Wildsee. Air danau tampak tenang dan berkilauan, memantulkan cahaya matahari sore. Di sana, ia melihat sosok yang belum pernah ia lihat sebelumnya—seorang peri yang sangat cantik. Rambutnya panjang berkilau, wajahnya lembut, dan matanya memancarkan cahaya misterius. Di tangannya, ia memegang sebuah harpa dan memainkannya dengan penuh perasaan.Penggembala itu terpaku. Ia tidak mampu berkata apa-apa. Namun, ketika peri itu menyadari kehadirannya, ia berhenti bermain harpa dan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar penggembala itu tidak mendekat.“Namaku Meline,” kata peri itu dengan suara lembut namun dingin. “Tapi ingatlah baik-baik. Danau ini akan menjadi kuburanmu jika kau memanggil namaku.”Setelah mengucapkan kata-kata itu, peri tersebut menghilang perlahan bersama suara harpanya. Danau kembali sunyi, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.Sejak hari itu, penggembala tidak pernah bisa melupakan peri bernama Meline. Wajah cantiknya selalu terbayang di benaknya, begitu pula suara harpa yang memikat hatinya. Ia jatuh cinta, meski tahu bahwa cinta itu berbahaya dan terlarang.Hari demi hari berlalu, dan penggembala itu menjadi murung. Ia sering melamun dan kehilangan semangat. Suatu sore, seorang laki-laki tua menghampirinya. Wajahnya tampak bijaksana dan penuh pengalaman.“Pergilah jauh dari tempat ini, anak muda,” kata laki-laki tua itu dengan suara serius. “Aku tahu apa yang kau alami. Peri di danau itu membawa kematian. Kau akan mati di tangannya jika terus mendekatinya.”Namun, nasihat itu tidak mampu menghapus perasaan penggembala. Kerinduannya semakin besar. Hatinya gelisah dan pikirannya selalu tertuju pada Meline. Ia merasa harus kembali ke danau itu, meskipun nyawanya menjadi taruhan.Pada suatu sore yang sunyi, penggembala itu kembali ke tepi Danau Wildsee. Angin bertiup pelan, dan suasana terasa mencekam.“Meline… Meline… di manakah engkau berada?” panggilnya dengan suara penuh harap.Danau tetap sunyi. Tidak ada jawaban, tidak ada suara harpa. Namun tiba-tiba, dari tengah danau muncul setangkai bunga mawar yang sangat indah. Mawar itu tampak bersinar dan mengapung di atas air.Penggembala itu merasa penasaran. Ia melangkah mendekat, mencoba meraih bunga tersebut. Namun tanah di tepi danau licin. Kakinya terpeleset, tubuhnya terjatuh, dan ia tenggelam ke dalam air danau yang dalam.Danau Wildsee kembali tenang. Setangkai mawar itu perlahan menghilang, seakan membawa serta jiwa penggembala yang telah melanggar peringatan.

Dick Si Nakal
Fantasy
10 Feb 2026

Dick Si Nakal

Suara berisik terdengar dari atas atap rumah Harry hampir setiap malam. Bunyi langkah kecil yang berlarian, disertai suara gesekan dan decitan, membuat suasana malam menjadi tidak tenang.“Berisik sekali suara di atas atap itu. Itu pasti suara tikus yang sedang berkejaran,” ucap Harry sambil menutup telinganya dengan bantal.Benar saja, di rumahnya memang sudah lama banyak tikus. Tikus-tikus itu sering berlarian di atap dan di langit-langit rumah. Akibatnya, Harry sering sulit tidur dan kelelahan keesokan harinya.“Besok akan aku tangkap tikus-tikus itu,” ucapnya dengan tekad kuat sebelum akhirnya tertidur.Keesokan paginya, Harry menemui ibunya di dapur. Dengan wajah sungguh-sungguh, ia menyampaikan keinginannya.“Ibu, bolehkah aku dibelikan perangkap tikus?” tanya Harry.Ibunya menoleh dan tersenyum. “Aku akan membelikannya untukmu,” ujar ibunya dengan lembut.Namun Harry segera menambahkan, “Aku tidak mau perangkap yang bisa membunuh tikus-tikus itu, Bu. Aku ingin merawat mereka dengan baik.”Ibunya sedikit terkejut, tetapi ia bangga melihat hati Harry yang penuh kasih. “Baiklah,” katanya, “Ibu akan membelikan perangkap berbentuk kandang saja.”Ibunya pun membeli perangkap tikus yang aman. Perangkap itu berbentuk kandang kecil sehingga tikus yang masuk tidak akan terluka. Malam harinya, Harry memasang perangkap tersebut di beberapa sudut rumah. Ia meletakkan keju di dalamnya sebagai umpan.Tak lama kemudian, tikus-tikus mulai masuk ke perangkap. Pagi harinya, Harry sangat terkejut sekaligus senang melihat banyak tikus tertangkap dengan selamat.Dengan hati-hati, Harry memindahkan tikus-tikus itu ke sebuah kandang khusus di kamarnya. Ia berjanji akan merawat mereka dengan baik. Setiap sepulang sekolah, Harry selalu membersihkan kandang dan memberi makan tikus-tikus itu. Ia berbicara pada mereka seolah-olah mereka adalah teman-temannya. Harry sangat menyayangi tikus-tikus itu.Suatu hari di sekolah, Harry bertemu dengan seorang anak bernama Dick. Dick adalah anak yang terkenal nakal dan suka membuat onar. Ia sering mengganggu teman-temannya dan tidak disukai banyak orang.Dick tidak menyukai Harry karena sikap Harry yang tenang dan selalu berbuat baik. Suatu hari, Dick menantang Harry untuk bermain sebuah permainan. Tanpa diduga, Harry berhasil mengalahkan Dick dengan jujur.Kekalahan itu membuat Dick sangat kesal. “Akan kubalas kau,” dengus Dick penuh amarah.Sepulang sekolah, Dick diam-diam pergi ke rumah Harry. Ia tahu bahwa Harry masih berada di sekolah dan tidak ada di rumah. Dick juga tahu bahwa Harry memelihara banyak tikus di kamarnya. Dengan niat jahat, Dick membawa beberapa kucing peliharaannya.Setibanya di rumah Harry, Dick menemui ibu Harry. “Aku ke sini mau mengambil sesuatu. Aku disuruh Harry,” ucap Dick dengan nada meyakinkan.Ibu Harry sama sekali tidak menaruh curiga. Ia mengizinkan Dick masuk ke kamar Harry. Begitu masuk, Dick langsung memasukkan kucing-kucingnya ke dalam kandang tikus milik Harry. Dalam waktu singkat, semua tikus kesayangan Harry dimangsa oleh kucing-kucing itu.Setelah melakukan perbuatan jahat tersebut, Dick segera pamit dan pergi seolah tidak terjadi apa-apa.Sore harinya, Harry pulang dari sekolah. Ia langsung menuju kamarnya untuk memberi makan tikus-tikusnya. Namun, langkahnya terhenti. Kandang itu kosong. Tidak ada satu pun tikus di dalamnya.Harry sangat terkejut dan sedih. “Ibu, siapa yang masuk ke kamarku?” tanya Harry dengan suara bergetar.“Tadi Dick ke sini,” jawab ibunya. “Ia bilang kau yang menyuruhnya.”Mendengar itu, Harry langsung mengerti. Air mata mengalir di pipinya. Rupanya Dick membalas kekalahannya dengan cara yang sangat kejam, yaitu membunuh tikus-tikus kesayangannya.Tak lama kemudian, teman-teman sekolah mereka mengetahui perbuatan Dick. Mereka sangat kecewa dan marah atas tindakan jahat itu. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang mau berteman dengan Dick. Ia dijauhi oleh semua teman di sekolah.Kini, Dick selalu sendirian. Ia tidak memiliki teman bermain seperti dulu. Ia baru menyadari bahwa perbuatan jahat hanya akan membawa kesepian dan penyesalan.

Pemakaman Raja Kucing
Fantasy
10 Feb 2026

Pemakaman Raja Kucing

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seekor burung yang terlahir dengan keadaan berbeda dari burung-burung lainnya. Ia tidak memiliki kemampuan untuk terbang. Sayapnya lemah dan tak pernah mampu membawanya terangkat ke udara. Karena keadaannya itu, ia hidup sendirian di sebuah padang rumput yang luas, jauh dari kawanan burung lain.Setiap hari, ia hanya bisa memandangi burung-burung lain yang terbang bebas di langit biru. Mereka beterbangan bersama, bernyanyi, dan saling bercengkerama. Namun, tidak satu pun dari mereka yang mau mendekatinya atau mengajaknya berteman. Burung itu sering merasa sangat kesepian. Saat malam tiba, ia tidur sendirian dengan hati yang penuh rasa sepi dan rindu akan kehadiran seseorang yang bisa menemaninya.Suatu hari, ketika sedang mencari makanan di tanah, burung itu menemukan sesuatu yang aneh. Di antara rerumputan, tergeletak sebuah telur yang tampak terbengkalai. Ia menatap telur itu lama sekali.“Ah, telur ini pasti milik seekor burung yang terjatuh dari sarangnya,” pikirnya. “Kasihan sekali. Jika tidak ada yang mengeraminya, telur ini pasti tidak akan menetas.”Setelah berpikir sejenak, timbul sebuah harapan di hatinya. “Aku akan mengerami telur ini sampai menetas. Anak burung yang lahir nanti akan menjadi anakku. Aku tidak akan sendirian lagi.”Dengan penuh kasih sayang, burung itu menjaga telur tersebut. Ia mengeraminya siang dan malam, melindunginya dari hujan, angin, dan binatang buas. Ia rela menahan lapar demi memastikan telur itu tetap hangat dan aman.Hari demi hari berlalu. Hingga akhirnya, setelah seminggu, terdengarlah bunyi retakan kecil. Telur itu menetas. Dari dalamnya keluar seekor anak burung dengan paruh tajam dan mata yang tajam pula. Ternyata, anak burung itu adalah seekor elang.Namun, sang induk burung tidak peduli. Ia merasa sangat bahagia. “Anakku… akhirnya kau lahir,” katanya dengan mata berbinar.Ia merawat anak elang itu dengan sepenuh hati, memberinya makan, mengajarinya berjalan, dan menjaganya dengan penuh cinta, seolah-olah anak itu benar-benar darah dagingnya sendiri. Anak elang itu pun tumbuh sehat dan kuat.Hari berganti hari, anak elang semakin besar. Sayapnya semakin kuat, dan naluri alaminya mulai muncul. Ia sering mengepak-ngepakkan sayapnya dan menatap langit dengan penuh rasa ingin tahu.Suatu hari, anak elang bertanya, “Ibu, bagaimana caranya terbang?”Pertanyaan itu membuat induk burung terdiam. Hatinya terasa perih. Ia tahu, anak yang ia besarkan bukanlah burung biasa. Ia adalah seekor elang yang ditakdirkan untuk terbang tinggi di langit. Namun, ia sendiri tidak bisa terbang dan tidak tahu bagaimana cara mengajarinya.Dengan suara lembut namun penuh kesedihan, ia berkata, “Kau harus mencoba sendiri, Nak. Ibu tidak bisa terbang.”Sejak saat itu, setiap hari anak elang mencoba belajar terbang. Ia melompat, mengepakkan sayapnya, dan jatuh berkali-kali. Sang ibu selalu memperhatikannya dari kejauhan dengan hati yang campur aduk—bangga, namun juga sedih. Ia tahu, saat anaknya bisa terbang, saat itu pula ia akan ditinggalkan sendirian lagi.Anak elang menyadari kesedihan ibunya. Ia sering melihat mata ibunya yang berkaca-kaca setiap kali ia mencoba terbang. Hatinya pun dipenuhi rasa bimbang.Ia berpikir, “Jika saja ibuku tidak mengeramiku, aku tidak akan lahir ke dunia ini. Ibu telah merawatku dengan penuh kasih. Namun sekarang, setelah aku bisa terbang, aku akan meninggalkannya. Betapa sedihnya ibu nanti.”Setelah berpikir panjang, anak elang membuat sebuah keputusan besar. Ia menghentikan usahanya untuk terbang dan memilih tetap tinggal di darat bersama ibunya.“Ibu,” katanya suatu hari, “aku tidak akan terbang. Aku ingin tetap bersama ibu.”Mendengar itu, induk burung sangat terharu. Hatinya dipenuhi kebahagiaan. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi merasa kesepian. Mereka hidup bersama dengan penuh kasih sayang hingga akhir hidup sang induk burung.

Balas Budi
Fantasy
10 Feb 2026

Balas Budi

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seekor burung yang terlahir dengan keadaan berbeda dari burung-burung lainnya. Ia tidak memiliki kemampuan untuk terbang. Sayapnya lemah dan tak pernah mampu membawanya terangkat ke udara. Karena keadaannya itu, ia hidup sendirian di sebuah padang rumput yang luas, jauh dari kawanan burung lain.Setiap hari, ia hanya bisa memandangi burung-burung lain yang terbang bebas di langit biru. Mereka beterbangan bersama, bernyanyi, dan saling bercengkerama. Namun, tidak satu pun dari mereka yang mau mendekatinya atau mengajaknya berteman. Burung itu sering merasa sangat kesepian. Saat malam tiba, ia tidur sendirian dengan hati yang penuh rasa sepi dan rindu akan kehadiran seseorang yang bisa menemaninya.Suatu hari, ketika sedang mencari makanan di tanah, burung itu menemukan sesuatu yang aneh. Di antara rerumputan, tergeletak sebuah telur yang tampak terbengkalai. Ia menatap telur itu lama sekali.“Ah, telur ini pasti milik seekor burung yang terjatuh dari sarangnya,” pikirnya. “Kasihan sekali. Jika tidak ada yang mengeraminya, telur ini pasti tidak akan menetas.”Setelah berpikir sejenak, timbul sebuah harapan di hatinya. “Aku akan mengerami telur ini sampai menetas. Anak burung yang lahir nanti akan menjadi anakku. Aku tidak akan sendirian lagi.”Dengan penuh kasih sayang, burung itu menjaga telur tersebut. Ia mengeraminya siang dan malam, melindunginya dari hujan, angin, dan binatang buas. Ia rela menahan lapar demi memastikan telur itu tetap hangat dan aman.Hari demi hari berlalu. Hingga akhirnya, setelah seminggu, terdengarlah bunyi retakan kecil. Telur itu menetas. Dari dalamnya keluar seekor anak burung dengan paruh tajam dan mata yang tajam pula. Ternyata, anak burung itu adalah seekor elang.Namun, sang induk burung tidak peduli. Ia merasa sangat bahagia. “Anakku… akhirnya kau lahir,” katanya dengan mata berbinar.Ia merawat anak elang itu dengan sepenuh hati, memberinya makan, mengajarinya berjalan, dan menjaganya dengan penuh cinta, seolah-olah anak itu benar-benar darah dagingnya sendiri. Anak elang itu pun tumbuh sehat dan kuat.Hari berganti hari, anak elang semakin besar. Sayapnya semakin kuat, dan naluri alaminya mulai muncul. Ia sering mengepak-ngepakkan sayapnya dan menatap langit dengan penuh rasa ingin tahu.Suatu hari, anak elang bertanya, “Ibu, bagaimana caranya terbang?”Pertanyaan itu membuat induk burung terdiam. Hatinya terasa perih. Ia tahu, anak yang ia besarkan bukanlah burung biasa. Ia adalah seekor elang yang ditakdirkan untuk terbang tinggi di langit. Namun, ia sendiri tidak bisa terbang dan tidak tahu bagaimana cara mengajarinya.Dengan suara lembut namun penuh kesedihan, ia berkata, “Kau harus mencoba sendiri, Nak. Ibu tidak bisa terbang.”Sejak saat itu, setiap hari anak elang mencoba belajar terbang. Ia melompat, mengepakkan sayapnya, dan jatuh berkali-kali. Sang ibu selalu memperhatikannya dari kejauhan dengan hati yang campur aduk—bangga, namun juga sedih. Ia tahu, saat anaknya bisa terbang, saat itu pula ia akan ditinggalkan sendirian lagi.Anak elang menyadari kesedihan ibunya. Ia sering melihat mata ibunya yang berkaca-kaca setiap kali ia mencoba terbang. Hatinya pun dipenuhi rasa bimbang.Ia berpikir, “Jika saja ibuku tidak mengeramiku, aku tidak akan lahir ke dunia ini. Ibu telah merawatku dengan penuh kasih. Namun sekarang, setelah aku bisa terbang, aku akan meninggalkannya. Betapa sedihnya ibu nanti.”Setelah berpikir panjang, anak elang membuat sebuah keputusan besar. Ia menghentikan usahanya untuk terbang dan memilih tetap tinggal di darat bersama ibunya.“Ibu,” katanya suatu hari, “aku tidak akan terbang. Aku ingin tetap bersama ibu.”Mendengar itu, induk burung sangat terharu. Hatinya dipenuhi kebahagiaan. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi merasa kesepian. Mereka hidup bersama dengan penuh kasih sayang hingga akhir hidup sang induk burung.

Nelayan dan Guru Bahasa
Fantasy
10 Feb 2026

Nelayan dan Guru Bahasa

Seorang nelayan muda bernama Arya dikenal sebagai pemuda yang tangguh dan sangat memahami laut. Sejak kecil, ia sudah terbiasa mengikuti ayahnya melaut, membaca arah angin, mengenali awan, dan merasakan perubahan cuaca hanya dari gerak ombak. Meski begitu, Arya tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi dan tidak begitu memahami tata bahasa dengan baik.Suatu hari, Arya mengundang seorang guru bahasa yang terkenal pandai dan terpelajar di desanya untuk ikut melaut bersamanya di Laut Kaspia. Guru bahasa itu menerima undangan Arya dengan senang hati, merasa perjalanan laut bisa menjadi pengalaman baru baginya.Di atas perahu milik Arya, guru bahasa duduk santai di kursi empuk sambil menikmati angin laut. Sementara itu, Arya sibuk memeriksa layar perahu, memperhatikan arah angin, dan menatap langit dengan wajah serius.Dengan nada penasaran, guru bahasa bertanya, “Akan seperti apa cuaca hari ini?”Arya menoleh sebentar, mengerutkan dahinya, lalu menjawab, “Aku menurut, hari ini mau ada badai.”Mendengar jawaban itu, guru bahasa langsung terkejut. Ia mengernyitkan dahi dan berkata dengan nada menggurui, “Arya, kamu seharusnya berkata menurutku, bukan aku menurut. Tata bahasamu benar-benar kacau. Kamu tidak pernah belajar tata bahasa, ya?”Arya hanya mengangkat kedua bahunya sambil tertawa kecil. “Aku tidak peduli dengan tata bahasa,” jawabnya santai.Guru bahasa menggelengkan kepala dengan wajah kecewa. “Jika kau tidak memahami tata bahasa dengan benar, sisa hidupmu akan sia-sia nantinya,” katanya dengan penuh keyakinan.Tak lama setelah itu, perkataan Arya mulai terbukti. Langit yang tadinya cerah perlahan berubah gelap. Awan hitam berkumpul semakin tebal. Angin bertiup kencang dan ombak besar mulai menghantam perahu. Air laut masuk ke dalam perahu, membuatnya oleng.Arya segera bergerak cepat, berusaha mengendalikan perahu. Sementara itu, wajah guru bahasa berubah pucat. Tubuhnya gemetar melihat ganasnya laut yang tiba-tiba berubah murka.Di tengah kekacauan itu, Arya menoleh dan bertanya dengan suara tegas, “Apakah Anda pernah belajar berenang?”Guru bahasa menelan ludah, lalu menjawab dengan gugup, “Tidak. Untuk apa aku belajar berenang?”Arya menatapnya serius dan berkata, “Kalau begitu, sisa hidup Anda akan sia-sia, karena perahu kita akan tenggelam ke dasar laut dalam beberapa menit lagi.”Mendengar itu, guru bahasa sangat ketakutan. Semua pengetahuan dan kepandaiannya tentang tata bahasa seolah tidak ada artinya di hadapan bahaya laut. Ia akhirnya menyadari bahwa kepintaran saja tidak cukup. Dalam situasi tertentu, keterampilan hidup jauh lebih penting.Beruntung, Arya dengan pengalamannya berhasil membawa perahu mendekati daratan dan menyelamatkan mereka berdua.Sejak hari itu, guru bahasa tidak pernah lagi meremehkan Arya. Ia belajar bahwa setiap orang memiliki keahlian yang berbeda, dan tidak semua kebijaksanaan berasal dari buku.

Dada Burung Murai
Fantasy
10 Feb 2026

Dada Burung Murai

Dahulu kala, pada suatu malam di penghujung akhir tahun, angin jahat berembus sangat kencang. Angin itu membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Langit gelap pekat, dan bintang-bintang pun seakan bersembunyi di balik awan tebal.Malam itu terasa sangat menyiksa bagi seorang bapak dan anaknya yang sedang melakukan perjalanan jauh. Mereka telah berjalan sejak pagi, menyusuri jalan sunyi yang membentang di antara hutan dan padang rumput. Padahal, perjalanan mereka esok hari masih sangat panjang dan melelahkan.Dengan tubuh gemetar, mereka berusaha mencari tempat berlindung. Mereka berharap menemukan sebuah pondok tua, peternakan, atau setidaknya sebatang pohon besar yang dapat melindungi mereka dari terjangan angin. Namun sejauh mata memandang, tak ada apa pun selain semak-semak belukar yang kering dan bergoyang tertiup angin.Tak ada pilihan lain. Sang bapak mengumpulkan ranting-ranting kering dan menyalakan api unggun kecil. Cahaya api itu memberi sedikit kehangatan dan rasa aman di tengah malam yang kejam. Ia menyelimuti anaknya dengan pakaian seadanya dan berkata, “Tidurlah dulu, Nak. Kita akan berjaga bergantian.”Anaknya pun berbaring di dekat api. Sang bapak duduk terjaga, menatap nyala api sambil melawan rasa dingin dan lelah. Namun, malam semakin larut, dan angin semakin menusuk. Kelopak mata sang bapak terasa semakin berat. Akhirnya, ia membangunkan anaknya untuk bergantian berjaga.Kini giliran anak itu yang terjaga. Ia duduk memeluk lututnya, berusaha melawan kantuk. Namun tubuhnya sangat lelah setelah berjalan jauh seharian. Angin dingin terus menerpa wajahnya, membuat matanya perlahan terpejam.Api unggun pun semakin kecil. Bara merahnya mulai redup, dan kayu-kayu bakar hampir habis terbakar.Tanpa disadari bapak dan anak itu, dari balik kegelapan, sepasang mata mengintai. Serigala-serigala lapar mulai mengelilingi mereka. Tubuh-tubuh mereka bergerak perlahan, mengendap-endap, menunggu saat api benar-benar padam sebelum menyerang mangsa mereka.Apakah bapak dan anak itu akan mati diterkam serigala-serigala lapar itu? Tidak!Di atas sebuah dahan, seekor burung murai kecil terbangun dari tidurnya. Ia melihat pemandangan mengerikan di bawah sana. Dengan hati penuh rasa iba, burung murai itu merasa kasihan kepada bapak dan anak yang tertidur pulas tanpa menyadari bahaya.Tanpa ragu, burung murai itu terbang mendekati api unggun. Dengan sayap kecilnya, ia mulai mengipasi api yang hampir padam. Perlahan, api kembali menyala. Namun angin dingin segera melemahkannya lagi.Burung murai itu tidak menyerah. Ia terus mengipasi api, lagi dan lagi. Dadanya terasa panas karena api yang menjilat tubuhnya, tetapi ia tetap bertahan. Demi menyelamatkan bapak dan anak itu, burung murai rela menahan rasa sakit.Akhirnya, api unggun kembali menyala terang. Melihat nyala api yang membesar, serigala-serigala lapar itu menggeram kecewa dan perlahan menjauh, menghilang ke dalam kegelapan malam.Tak lama kemudian, fajar menyingsing. Matahari terbit perlahan, mengusir dingin malam. Bapak dan anak itu terbangun dengan selamat, tanpa pernah mengetahui bahaya besar yang mengintai mereka semalam.Burung murai itu terbang menjauh dengan dada yang kini berwarna merah. Sejak saat itulah, burung murai dikenal memiliki dada merah, sebagai tanda pengorbanannya yang mulia karena “terjilat” panas api.

Kaus Kaki Mermaid
Fantasy
10 Feb 2026

Kaus Kaki Mermaid

Pada suatu hari yang cerah, seorang nelayan sederhana pergi melaut seperti biasa. Sejak pagi buta ia telah bersiap, membawa jala dan bekal seadanya. Laut tampak tenang, langit biru terbentang luas, dan angin berembus lembut. Nelayan itu merasa hari ini akan menjadi hari yang baik untuk mencari ikan.Namun, belum lagi perahunya sampai di tengah laut, suasana tiba-tiba berubah. Angin besar berembus kencang tanpa peringatan. Awan gelap mulai berkumpul, dan ombak tinggi datang berdeburan menghantam perahu kecilnya.Nelayan itu segera sadar bahwa laut sedang murka. Ia tahu, jika tanda-tanda seperti itu muncul, ia harus segera kembali ke daratan. Dengan sekuat tenaga, ia mendayung perahunya menuju pantai. Sayangnya, sekeras apa pun ia mendayung, perahunya hanya bergerak sedikit karena tertahan oleh ombak yang sangat kuat.Di tengah kepanikan itu, tiba-tiba nelayan melihat sesuatu yang membuat tubuhnya gemetaran. Dari dalam air laut yang bergelora, muncul sesosok laki-laki berambut dan berjenggot abu-abu. Makhluk itu berdiri di atas ombak, seolah menungganginya seperti manusia menunggang kuda.Nelayan itu langsung berlutut di dalam perahu dan berdoa dengan penuh ketakutan. Ia tahu betul makhluk apa yang ada di hadapannya. Itu adalah duyung laki-laki. Dalam kepercayaan para nelayan, melihat duyung laki-laki adalah pertanda bahwa badai besar akan segera datang.Namun, ketika nelayan itu memperhatikan lebih saksama, ia melihat sesuatu yang aneh. Duyung itu tidak tampak mengancam. Justru tubuhnya terlihat menggigil, wajahnya pucat, dan gerakannya gemetar menahan dingin.Tiba-tiba, duyung laki-laki itu berteriak dengan suara parau, “Dingin sekali! Aku sangat kedinginan! Salah satu kaus kakiku hilang!”Nelayan itu tertegun. Ketakutannya berubah menjadi kebingungan. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa makhluk laut yang menakutkan itu bisa mengeluh seperti manusia biasa.Tanpa banyak berpikir, nelayan itu duduk, membuka sepatunya, lalu melepas salah satu kaus kakinya. Dengan niat tulus untuk menolong, ia melemparkan kaus kaki itu ke arah duyung.Duyung laki-laki itu menangkap kaus kaki tersebut, lalu menatap nelayan dengan mata penuh rasa terima kasih. Sesaat kemudian, ia menghilang ke dalam laut, lenyap bersama ombak yang bergulung.Ajaibnya, angin mulai mereda. Ombak pun perlahan mengecil. Nelayan itu kembali mendayung dan akhirnya berhasil sampai ke pantai dengan selamat.Hari-hari pun berlalu. Selama seminggu penuh, nelayan itu selalu mendapatkan hasil tangkapan yang melimpah. Jalanya tak pernah kosong, dan ikan-ikan besar seolah datang sendiri ke perahunya. Nelayan itu merasa sangat bersyukur, meski ia tak sepenuhnya mengerti apa yang telah terjadi.Suatu hari, saat ia sedang asyik menarik jala yang penuh ikan, ia melihat sesuatu muncul dari permukaan air. Rambut abu-abu yang dikenalnya kembali terlihat.Itu adalah duyung laki-laki yang pernah ia tolong.Dengan suara lantang, duyung itu berseru, “Dengar, dengar, nelayan yang melemparkan kaus kaki! Pulanglah! Mendayunglah untuk pulang sekarang juga! Badai besar telah dekat!”Tanpa ragu, nelayan itu segera mengemasi peralatannya dan mendayung secepat mungkin menuju pantai. Tak lama setelah ia sampai di daratan, badai besar benar-benar terjadi. Angin mengamuk, ombak menghantam pantai dengan ganas, dan hujan turun deras.Nelayan itu menatap laut dari kejauhan dengan hati penuh rasa syukur. Ia sadar bahwa duyung laki-laki itu telah membalas kebaikannya. Berkat sikap baik hati dan keikhlasannya, nyawanya telah diselamatkan dari bahaya.Sejak saat itu, nelayan tersebut percaya bahwa kebaikan sekecil apa pun akan selalu kembali kepada orang yang melakukannya, bahkan dari makhluk yang paling tak terduga.

Sumur Naga
Fantasy
09 Feb 2026

Sumur Naga

Sembilan bersaudara diperintahkan oleh Raja untuk pergi memerangi bangsa Frank, yang kini dikenal sebagai wilayah Jerman. Perintah itu tidak bisa ditolak. Dengan perlengkapan perang seadanya, mereka bersiap meninggalkan rumah.Sebelum berangkat, anak tertua mendekati ibunya dan berkata dengan penuh hormat, “Beri kami restumu, Ibu.”Ibu itu menatap satu per satu wajah putra-putranya. Dengan suara bergetar ia berkata, “Aku berikan restu untuk kalian berdelapan. Namun, untuk anak bungsuku tersayang, John… aku hanya bisa memberikan kuda terbaikku dan ucapan selamat tinggal.”Ibu itu tertunduk sedih. Dalam hatinya, ia seakan merasakan firasat buruk yang akan menimpa John. Meski demikian, ia tahu takdir tak bisa dicegah. Ia mencium kening kesembilan anaknya satu per satu, lalu mengantar mereka sampai ke ujung jalan desa sambil menahan air mata.Hari demi hari berlalu. Empat puluh hari sudah mereka berjalan melewati hutan, padang tandus, dan jalan berbatu. Persediaan air mereka pun habis. Tenggorokan terasa kering, tenaga mulai melemah.Tiba-tiba, di kejauhan mereka melihat sebuah sumur tua. Dengan penuh harap, mereka berlari mendekatinya. Awalnya kegembiraan memenuhi hati mereka, tetapi kegembiraan itu sirna saat mereka menyadari bahwa ember sumur telah jatuh ke dasar.Setelah berdiskusi, mereka sepakat menurunkan John ke dalam sumur. Tubuhnya paling ringan dan ia masih cukup kuat. Mereka mengikatkan tali ke pinggang John dan menurunkannya perlahan-lahan ke dalam kegelapan sumur.Tak lama kemudian, terdengar teriakan dari bawah, “Tarik! Tarik! Tidak ada air di sini! Hanya ada hantu yang sangat menakutkan!”“Kami sedang menarikmu, John! Tapi kau terasa sangat berat!” teriak delapan kakaknya.“Gunakan kudaku, si Hitam!” teriak John putus asa.Mendengar suara itu, si Hitam meringkik keras dan bergerak liar seolah merasakan bahaya besar. Delapan kakak John segera mengikatkan tali ke pelana kuda itu. Bersama-sama, mereka menarik dengan sekuat tenaga.Perlahan, tangan John mulai terlihat di bibir sumur. Disusul pedangnya. Namun ketika seluruh tubuh John muncul ke permukaan, delapan kakaknya terperanjat ketakutan.Seekor Naga Hitam besar melilit tubuh John dengan sisiknya yang gelap dan matanya menyala merah. Delapan kakak John langsung menyerang naga itu dengan pedang mereka. Namun, sebuah tebasan meleset dan justru mengenai tali penarik hingga putus.Dalam sekejap, John dan Naga Hitam terjatuh kembali ke dalam sumur yang gelap.“Tinggalkan aku! Pulanglah kalian!” teriak John dari dasar sumur.“Kami tidak bisa meninggalkanmu!” jawab kakak-kakaknya dengan suara putus asa.Namun suara John kembali terdengar, lebih tenang namun penuh kepasrahan. “Pergilah… dan katakan pada Ibu bahwa aku telah menikah. Katakan padanya bahwa batu nisan adalah mertuaku, dan bumi yang gelap ini adalah istriku.”Suara itu perlahan menghilang, tenggelam bersama keheningan sumur. Delapan kakak John menangis dan berlutut di tepi sumur. Mereka tahu adik bungsu mereka telah menerima takdirnya dengan keberanian.Dengan hati berat, mereka kembali pulang. Saat tiba di rumah, ibu mereka langsung tahu bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Dengan suara gemetar, anak tertua menyampaikan pesan terakhir John.Mendengar itu, ibu mereka menangis, namun ia juga merasa bangga. John telah berkorban demi saudara-saudaranya, tanpa rasa takut, tanpa penyesalan.Sejak saat itu, kisah John si anak bungsu yang berani diceritakan turun-temurun. Ia dikenang sebagai lambang pengorbanan, keberanian, dan cinta kepada keluarga, bahkan hingga nyawanya sendiri.

Angsa Keberuntungan
Fantasy
09 Feb 2026

Angsa Keberuntungan

Pada suatu hari yang cerah di sebuah desa kecil di Skotlandia, hiduplah seorang ibu muda yang dikenal baik hati dan penuh kasih sayang. Ia tinggal berdua dengan anaknya yang masih kecil. Sudah beberapa hari anaknya jatuh sakit, tubuhnya lemah dan sulit bangun dari tempat tidur. Sang ibu sangat khawatir dan bertekad mencari tanaman obat agar anaknya bisa segera sembuh.Pagi itu, setelah menyiapkan sedikit bekal, ibu muda itu berjalan menuju sebuah padang rumput yang luas di dekat hutan. Rumput hijau terbentang sejauh mata memandang, dipenuhi bunga-bunga liar yang bergoyang tertiup angin. Dengan teliti, ia menyibak-nyibakkan rumput, mencari tanaman obat yang biasa digunakan oleh orang-orang desa.Tiba-tiba, di tengah kesibukannya, ia mendengar bunyi gemerisik dari balik semak-semak. Suaranya pelan, seolah berasal dari makhluk yang sedang kesakitan. Dengan rasa penasaran dan sedikit khawatir, ibu muda itu mendekati sumber suara tersebut.Di sana, ia menemukan seekor angsa putih terbaring lemah di tanah. Bulu-bulunya tampak kusam, matanya mengedip perlahan, dan paruhnya sesekali terbuka seperti sedang berusaha bernapas. Salah satu sayapnya terlihat terluka, membuatnya tak mampu terbang.“Ah, angsa yang malang. Kasihan sekali nasibmu,” ucap ibu muda itu dengan suara lembut.Tanpa ragu, ia menggendong angsa tersebut dengan sangat hati-hati dan membawanya pulang ke rumah. Ia merasa tak tega meninggalkan makhluk lemah itu sendirian di padang rumput.Sesampainya di rumah, ibu muda itu menaruh angsa di dekat perapian agar tubuhnya tetap hangat. Ia membersihkan luka di sayap angsa, memberinya air, dan menyuapi sedikit makanan. Angsa itu tampak tenang, seolah merasa aman berada di rumah sang ibu.Sejak hari itu, ibu muda tersebut merawat angsa dengan penuh perhatian. Setiap pagi dan sore, ia membersihkan lukanya dan memastikan angsa itu cukup makan. Meski sibuk merawat anaknya yang sakit, ia tidak pernah mengeluh.Hari demi hari berlalu. Kondisi angsa perlahan membaik. Lukanya mengering, bulu-bulunya kembali bersih dan indah. Ajaibnya, seiring dengan membaiknya kesehatan angsa, kondisi anaknya juga ikut membaik. Anak itu mulai bisa tersenyum, makan dengan lahap, dan tidur lebih nyenyak.Suatu hari, angsa itu akhirnya sembuh sepenuhnya. Ia sudah bisa berjalan-jalan di dalam rumah, mengepak-ngepakkan sayapnya yang lebar, bahkan sesekali mengeluarkan suara riang. Melihat itu, hati ibu muda dipenuhi rasa syukur.Keesokan paginya, angsa itu tampak gelisah, seolah ingin kembali ke alam bebas. Ibu muda itu mengerti. Dengan perasaan haru, ia membukakan pintu rumah dan mempersilakan angsa itu terbang kembali ke langit.Angsa tersebut mengepakkan sayapnya, terbang berputar-putar di atas rumah seakan mengucapkan terima kasih, lalu melesat tinggi ke angkasa.Saat ibu muda masih menatap langit, tiba-tiba ia mendengar suara yang sangat ia rindukan.“Ibu, aku lapar!”Ibu muda terkejut dan segera menoleh. Ternyata anaknya telah bangun dari tidurnya dengan wajah cerah dan tubuh yang segar. Anak itu benar-benar telah sembuh sepenuhnya. Air mata kebahagiaan mengalir di pipi sang ibu. Ia memeluk anaknya erat-erat sambil mengucap syukur.Sejak saat itu, ibu muda percaya bahwa kebaikan yang ia berikan kepada angsa telah membawa keberuntungan bagi keluarganya. Hingga kini, masyarakat Skotlandia menganggap angsa sebagai burung pembawa keberuntungan.Pesan Moral dari Dongeng Luar Negri Dari Skotlandia : Angsa Pembawa Keberuntungan adalah Berbuatlah baiklah kepada semua makhluk Tuhan. Orang yang herbuat baik akan mendapatkan kebahagiaan.

Alam Nyata dan Gadis Yang Diserang Memori
Fantasy
09 Feb 2026

Alam Nyata dan Gadis Yang Diserang Memori

Di langkah selanjutnya, kudapati diriku tidak lagi berada di negeri dongeng. Aku kembali ke Alam Nyata. Di belakangku tak ada lagi api tiga warna, hanya sisa-sisa kayu yang dulunya bersatu menjadi rumah.Tak ada api. Tak ada suara memanggil pertolongan.Seketika serbuan memori dan pengetahuan menghantam kepalaku hingga aku tersungkur.Pandanganku mengabur, tetapi aku bisa menangkap gambaran samar sebuah buku yang tergeletak di dekatku. Sayangnya, gambaran itu segera kehilangan fokusku saat berbagai emosi menyeruak. Kemarahan, bahagia, bingung, serta berbagai hal lain berkecamuk dan bersekongkol menyerbuku."Bagaimana bisa kau sampai gagal tes?" sosok Nenek Pendongeng nampak memungut buku tua yang tergeletak di sampingku."Aku justru merasa lebih baik," sanggaku seraya bangkit berdiri. Aku memang sudah merasa demikian. Memoriku sudah kembali utuh dan pemahaman melingkupiku. Jika sebelumnya perkataan si Gadis Bermahkota Api terdengar seperti tuduhan mengerikan, sekarang aku justru paham kenapa tindakkan tersebut layak dilakukan. Yah, aku melakukan upaya pembunuhan dan tidak begitu merasa bersalah. "Apa mereka sudah mati?"Nenek Pendongeng menggeleng. "Kau berhasil menyelamatkan ayah dan adikmu dalam tes, jadi jiwa mereka tidak bisa diklaim Negeri Para Terkutuk. Keduanya sekarang ada di rumah sakit, mereka hidup dan selamat dari kutukkan mengerikan.""Dan aku justru mendapatkan kaki yang baru," seruku girang. Tubuh fisiku tak lagi cacat. Kaki busuk yang sudah teramputasi kini menjadi kaki jenjang idaman para gadis."Masalahnya, kau tidak lagi menjadi bagian dunia ini," ujar Nenek Pendongeng. "Tubuh fisikmu yang sesungguhnya sudah dikebumikan—""Bukankah itu justru bagus?" sergaku, "Aku mendapatkan apa yang dari dulu kuimpikan.""Negeri Dongeng bukanlah tempat untuk orang hidup. Apalagi Negeri Para Terkutuk. Berbeda dengan tes yang kau jalani, mulai sekarang kau akan menjalani kisah orang lain. Kebebasan penuh dalam memilih tidak berlaku dalam Negeri Para Terkutuk. Kau dikutuk bermain peran untuk waktu yang sulit diukur. Bukan hanya dongeng manis yang biasa kau sukai, kau juga akan menjalani dongeng gelap yang tidak patut dibaca anak-anak. Lagipula, kakimu bukanlah sesuatu yang pasti. Kau mungkin akan utuh di suatu kisah, dan cacat di kisah lainnya.""Apa ngerinya, semua kata-katamu justru terdengar seperti petualangan menyenangkan."Nenek Pendongeng menghela nafas berat. "Saat dongeng berakhir, semua tokoh lain akan lenyap sementara kau akan terus di sana, menanti cerita lain untuk kau jalani. Artinya kau akan mencintai dan ditinggal pergi jutaan kali. Kau tidak akan memiliki pendamping yang bertahan lama. Kebahagiaan dan deritamu hanya akan sesingkat satu percikan air di tengah gurun."Tidakah kau berpikir? Selama ini kau memaksakan diri untuk melakukan kebaikan demi pergi ke negeri dongeng. Namun aku tak pernah membawamu ke sana. Saat kau pada akhirnya memilih untuk membunuh kedua anggota keluargamu, kau justru menemukan dirimu dijemput ke negeri dongeng. Menurutmu dongeng seperti apa yang menanti seseorang tanpa niat baik? Seseorang yang ingin melepas semua tugas dan tanggung jawabnya di dunia dan kabur ke dunia lain? Negeri Para Terkutuk bukanlah tempat pelarian yang akan kau sukai Ilona.""Apa aku punya pilihan lain sekarang?" tuntutku, "Tidakkah nasehatmu sudah sangat terlambat? Aku sudah gagal tes, dan kau di sini akan menjemputku kembali ke duniamu. Apa aku salah?"Senyuman mengerikan merekah di wajah si Nenek Pendongeng. "Kau benar. Dirimu sudah tidak terselamatkan lagi. Aku hanya terlalu menikmati sandiwaraku sebagai orang yang bijak dan baik hati. Jadi, selamat bergabung dan selamat menikmati perjalanan panjangmu di Negeri Para Terkutuk. Aku mengandalkanmu sebagai tokoh antagonis dalam beberapa cerita pilu yang akan terpajang di perpustakaanku nanti."Nenek pendongeng pun membuka buku di tangannya. Seketika api tiga warna kembali menampakkan diri dan detik selanjutnya akulah yang tidak nampak.===

Perbatasan dan Gadis Bermahkotah Api
Fantasy
08 Feb 2026

Perbatasan dan Gadis Bermahkotah Api

Entah aku yang gila atau memang dunia ini tak lagi memiliki logika, tubuhku tidak pernah membentur bebatuan berukir di balik cairan cermin. Aku justru merasa diri ini tenggelam sendirian dalam cairan yang selama ini kukenal dengan nama air. Lebih ajaibnya lagi, aku bisa bernafas di dalamnya.Refleks aku meraba sisi leherku, khawatir jika tubuhku ditumbuhi sejenis insang. Untung saja, leherku baik-baik saja. Saat kubuka mata, aku juga bisa mendapati semuanya baik-baik saja. Aku hanya tenggelam.Tak ada tanda-tanda kedua teman seperjalananku ataupun si sosok bertopeng. Aku sendirian dalam hamparan air yang tidak ada habisnya. Sepertinya perjalanan tanpa akhirku kembali berganti tema. Setelah labirin batu, jembatan kayu di atas awan, hutan pohon putih, sekarang lautan tak berujung. Aku benar-benar tidak mau memikirkan kemungkian selanjutnya yang mengarah ke sesuatu yang berhubungan dengan api. Penderitaan sekarang sudah cukup menyiksa karena aku ternyata tidak bisa berenang.Tubuhku dengan pasrah menerima apapun perlakuan sang lautan.Saat aku akhirnya menjejak permukaan datar yang terasa seperti kaca, aku menunduk. Di bawah kakiku nampak dua sosok yang selama ini menemani perjalananku. Kaki kananku nampak sejajar dengan salah satu kaki si Pemuda Pembawa Lentera sementara kaki kiriku sejajar dengan salah satu kaki Pemuda Pemain Biola.Kedua pemuda itu nampak hilang arah. Si Pemuda Pembawa Lentera meraba-raba sekelilingnya sementara si Pemuda Pemain Biola sudah berhenti bertingkah seperti orang kesurupan dan mulai sibuk melayangkan pandang ke berbagai arah.Tanpa kusadari air di sekelilingku berkurang. Ketinggiannya menurun cukup perlahan hingga hanya mencapai sekitar dua senti. Di atasku langit berwarna biru tua yang dipenuhi bintang berkedip seakan mengejekku yang tadinya mengharapkan kehadiran mereka sebagai pemandu jalan.Ku pandangi lagi ke dua pemuda yang masih kebingungan. Di tempat mereka, hari masih nampak siang. Sementara di tempatku sekarang, kegelapan menunjukkan kuasanya.Lalu aku melihatnya, sosok bertopeng yang sebelumnya tampak gagah kini berdiri tiga meter di depanku dengan penampilan yang benar-benar berbeda. Pakaiannya memang masih mengagumkan seperti sebelumnya, tetapi ia kini bertubuh pendek dan gemuk.Bunyi ledakan seperti kembang api terdengar dari atas. Saat aku menengadah, hujan kerlipan dari serpihan bintang menyapaku. Untung saja tak ada yang benar-benar membakar. Apalagi setelah satu kerlipan bintang selesai, satu bintang lainnya meledak menjadi serpihan dan berjatuhan dengan indah.Bunyi kecipak air mengalihkan perhatianku dari pemandangan di atas. Si sosok bertopeng yang tadinya hanya diam kini berlari menjauh tanpa alasan. Aku hendak mengabaikannya dan kembali menikmati pemandangan jika tidak karena kegilaan lain yang merusak kesenanganku.Tubuhku ditarik paksa mengikuti arah lari si sosok bertopeng. Tak ada apapun yang menyentuh tubuhku, aku hanya merasakan tarikkan kuat yang tak bisa di lawan.Sesaat kemudian semua tarikan itu lenyap. Aku dibiarkan terhempas kepermukaan licin sementara sang sosok bertopeng lari semakin jauh.Instingku membisikkan perintah untuk mengejar sosok itu. Aku yakin dia tahu bagaimana caranya keluar dari tempat sunyi ini. Namun aku tidak beranjak. Aku hanya memandangi kepergiannya.Aku ragu ingin kembali ke sisi lain. Tempat itu juga sama-sama bukan tempat aku seharusnya berada. Aku pun tak begitu yakin ingin direpotkan lagi dengan dua mahkluk yang nyaris mengantarku pada kecelakaan. Apalagi jika perjalanku akan ditambah dengan beban baru berupa sosok mengerikan bertopeng.Melihat tingkah si sosok bertopeng, aku yakin dia sejenis tunagrahita dan aku jelas tidak mau berurusan dengannya. Tempat ini sudah cukup gila untuk membuat sakit kepala.Pada akhirnya aku memilih berbaring, memikirkan jalan keluar, sementara mataku memandang keindahan bintang yang meletup dan memercik nun jauh di atas.Tanpa benar-benar kusadari, bintang terakhir pun meletup.Kali ini pecahannya tidak hanya nampak indah. Percikannya juga menyengat kulitku dengan rasa terbakar yang aneh.Tidak hanya percikan panas, air di sekeliling pun laksana minyak yang disulut. Kobaran api langsung mengurungku. Rasa panas itu menyiksa kulitku tapi tidak sampai mengubahnya menjadi hitam. Aku terlihat baik-baik saja.Bunyi bergemeretak tulang menggelegar. Perlahan pijakkanku bergoyang. Seketika aku tak lagi memijak lantai licin berair. Kakiku ditopang oleh tumpukan tulang-tulang tua yang membara.Entah sejak kapan di depanku tidak ada lagi kekosongan. Sebuah ayunan yang entah bagaimana disusun oleh tulang berulang bergerak maju mundur. Di sepanjang susunan tulang, membelit rambatan tumbuhan dengan bunga mirip mawar putih. Bunga tersebut tengah diselimuti lidah-lidah api, tetapi kelopaknya tetap utuh dengan sedikit semburat merah bara.Kedua ujung ayunan memudar di udara, sementara di tengahnya, seorang gadis kecil berayun cekikikan. Sang gadis mengenakan gaun merah dengan sebuah mahkotah yang juga nampak berkobar."Kau gagal menyelamatkan satu orang lagi," ujar sang gadis dengan suara aneh. Aku langsung mengenali suara itu sebagai suara yang menyapaku di ketiadaan."Kau yang membawaku ke sini?" tuntutku."Kau yang membawa dirimu sendiri dan sekarang kau gagal menyelesaikan tes." Senyuman manis terlukis di wajah si gadis. Ia lalu mengedipkan mata kirinya sebelum kembali cekikikan."Tes? Apa-apaan ini semua?" suaraku meninggi kesal. Benakku dengan lekas membuat kesimpulan, sepertinya aku bertemu dengan sosok tunagrahita yang lebih parah dari si sosok bertopeng. Perjalananku semakin lengkap saja."Kau gagal menyelamatkannya." Si gadis menunjuk ke arahku.Saat kulirikkan pandang ke belakang, sang sosok kerdil bertopeng sudah ada di sana."Dia nampak baik-baik saja. Apa yang harus kuselamatkan?" ujarku masih dengan suara tinggi sarat kekesalan."Kau seharusnya membawa sosok itu untuk menggantikan posisimu di antara Pemuda Pembawa Lentera dan Pemuda Pemain Biola. Namun kau hanya menghabiskan waktu dengan berdiam diri, padahal dia tidak baik-baik saja.""Bagaimana aku tahu hal seperti itu. Maksudku kau tidak menjelasakan apa yang harus kulakukan. Kau dengan seenaknya menempatkanku di tempat gila dengan penghuni yang sama gilanya denganmu."Si gadis memberi kode dengan kepala agar aku kembali melihat si sosok bertopeng. Saat kuturuti kemauannya, kudapati sosok tersebut tengah membuka topeng. Anehnya tidak ada wajah untuk dikenali. Bahkan bisa dibilang tidak ada kepala, karena memang tidak ada apa-apa. Penutup kepala dan topeng hanya menutupi ketiadaan. Saat sarung tangan dan jubah dilepas pun, tidak ada yang tampak. Hanya ada kekosongan."Seperti yang sudah kau simpulkan dengan tepat," ujar si Gadis Bermahkota Api, "Si Pemuda Pembawa Lentera adalah representasi ayahmu dan si Pemuda Pemain Biola adalah representasi adikmu. Sementara representasi dirimu di dunia ini adalah dia.""Sosok kerdil itu?" tuntutku murka. "Aku tidak sekecil itu. Lagi pula aku ada di sini, untuk apa direpresentasikan?""Tubuhmu memang tidak kerdil, tapi jiwamu sudah lama mengkerut. Kau seharusnya lolos dalam tes dan pulang ke Alam Nyata dengan jiwa yang lebih murni.""Jiwaku mengkerut?" tanyaku spontan, memastikan telingaku tidak menjadi cukup kreatif untuk mengarang kata-kata absurd.Anehnya si gadis malah memejamkan mata dan menitikkan air mata. Saat air mata si gadis akhirnya menentuh tulang berulang membara di bawah kakinya, seketika terdengar suara bergemuru disusul kemunculan lidah-lidah api yang nampak tidak wajar. Aku bahkan ragu menyebutnya lidah api. Warnanya merah muda, abu-abu dan biru langit, tetapi meliuk layaknya kobaran api. Persis seperti yang kulihat sebelumnya pada gambaran di Danau Kisah.Api tiga warna tersebut membuat lingkaran yang mengurung diriku dan si Gadis Bermahkota Api dalam diameter kurang dari dua kali rentangan tanganku."Apa lagi ini?" keluhku kesal."Ingatanmu sengaja dihapus untuk melakukan tes dengan adil." Mata si gadis kembali membuka.Bersamaan dengan ucapannya, sayup-sayup terdengar suara lain dari balik lingkaran api tiga warna. Semakin lama, suara itu semakin jelas, "Tolong ... tolong bawa aku dari sini. Aku benci dunia ini. Tolong ... tolong....""Itu suaramu Ilona," ujar si Gadis Bermahkota Api. Kau bukan minta tolong untuk menyelamatkan keluargamu. Kau justru yang mengurung pribadi-pribadi yang seharusnya kau sapa keluarga, kemudian kau menyalakan api untuk membumi hanguskan mereka. Kau ingin melenyapkan semua hal di dunia yang membuatmu malu untuk sekadar mengangkat muka. Pada dua sosok pria tak berguna yang mengukungmu dalam ikatan bernama keluarga, pada gubuk reyot yang tak layak ditinggali. Kau ingin meleyapkan semuanya dan menyambut dunia impianmu."Segala sesuatu semakin terdengar tidak masuk akal. Aku tentu saja malas meladeni sosok gila yang mengarang bebas suatu cerita tentang diriku. Dengan muak aku milih berlari ke arah api tiga warna. Jika benda itu bisa membawaku ke sini. Ia harusnya bisa membawaku kembali.

Hutan Hati dan Pemuda Pemain Biola
Fantasy
08 Feb 2026

Hutan Hati dan Pemuda Pemain Biola

Aku tak tahu berapa lama aku dan si Pemuda Pembawa Lentera menyusuri jembatan. Perjalanan kami rasanya kembali tidak memiliki ujung. Hanya tempatnya saja yang berganti tema dari labirin batu menjadi jembatan kayu. Beberapa kali aku tergoda untuk melompat saja. Bosan lama-lama melihat susunan kayu yang nampak lapuk tetapi ajaibnya tidak juga remuk saat di injak.Seakan bisa mendengar gerutuanku, sang jembatan akhirnya menyanggupi. Terdengar suara retak mengerikan dan detik selanjutnya aku sudah ditarik grafitasi. Lebih sialnya lagi, sang Pemuda Pembawa Lentera justru menarikku dalam pelukannya. Kedua tangannya mengunci pergerakkanku dalam dekapan berat.Kecepatan jatuhku jelas bertambah karena bobot tubuhnya. Namun sekali lagi, aku tidak bisa melawan kekuatan si Pemuda Pembawa Lentera. Dengan posisi ini, meski kami jatuh ke air, aku yakin diriku akan dibuat tenggelam. Tak ada kesempatan bagiku untuk selamat.Sayup-sayup terdengar melodi sedih dari gesekan biola. Melodi yang cocok untuk digunakan saat acara pemakaman atau sejenisnya. Dunia yang menggelikan, pikirku, mereka bahkan menyediakan musik pengantar untuk peristiwa naas seperti ini.Saat suara itu semakin jelas, aku semakin yakin akhir hidupku akan semakin dekat. Setidaknya aku berharap dengan kematianku di dunia aneh ini, aku akan kembali ke dunia normal tempat aku berasal.Benturan yang kuperkirakan pun terjadi. Sang Pemuda Pembawa Lentera menyentuh sesuatu yang nampak cukup empuk untuk membuat kami kembali terlonjak beberapa meter, lagi dan lagi hingga mendarat dengan cukup keras. Sayangnya nasipku tidak seberuntung dia. Aku tidak membentur sesuatu yang empuk, tubuh malangku disambut tubuh sekeras batu yang enggan melepaskanku, kecuali pada benturan terakhir.Seluruh tubuhku terasa remuk. Selama beberapa waktu yang tak bisa kupastikan, aku hanya berbaring di tempat aku mendarat.Sensasi hangat yang berkedut-kedut menyapaku setelah beberapa saat. Makhluk atau sesuatu apapun itu, menjalar hingga nyaris menutupi sebagian besar sisi tubuhku. Ia memberikan kenyamanan yang kudambakan. Namun otak warasku meneriakkan peringatan. Sesuatu yang menggoda biasanya berujung pada bencana.Aku tak akan kaget kalau ternyata benda berkedut yang memberiku kenyamanan adalah permukaan lidah sejenis makhluk karnifora. Dunia ini sudah sinting. Kenapa tidak ia memiliki penghuni yang sama sintingnya?Sialnya, meski dengan berbagai hipotesis gila menjajah pikiran, tubuh remukku tidak bisa berbuat banyak. Membuka mata untuk mengintip saja aku tak sanggup.Melodi kematianku masih mengalun di kejauhan. Rasa damai tak wajar melingkupiku.Ah, setidaknya aku akan mati dengan damai.***Sensasi tarikan di tangan kanan akhirnya membawa kesadaran kembali ke tubuhku. Kini tak bisa kucari lagi bagian tubuh yang terasa remuk, pegal pun tidak. Aku merasa sangat bugar.Sesuatu yang berkedut hangat masih melingkupiku, seketika kubuka mata untuk melihat wujudnya. Makhluk itu berbentuk seperti hati dan berwarna merah. Setiap mereka tehubung pada pohon-pohon putih yang memenuhi pandanganku.Kalau diperhatikan, pohon-pohon tersebut memiliki daun berupa bulu-bulu unggas dengan batang pohon yang nampak terbuat dari jalinan benang-benang halus. Di beberapa cabang nampak kuncup bunga sebesar galon air dan saat kuncup itu membuka, ia menyemburkan jutaan bunga-bunga putih kecil untuk menjelajah tempat baru.Kugerakkan tangan kiriku yang bebas untuk menyentuh benda merah berkedut yang menghinggapiku. Mereka terasa hangat dan empuk. Namun begitu aku berniat mendekatkannya ke mata untuk mengamati lebih kelas, benda itu seakan ditarik kembali ke pohon.Yang lain juga mengikuti. Satu per satu, hati-merah-berkedut mulai menjauh. Pohon-pohon putih yang tadi nampak memiringkan diri agar buah merahnya bisa menyentuhku, kini menegakkan batangnya kembali.Di sampingku, sang Pemuda Pembawa Lentera sudah lebih dahulu sadar. Ia tengah berjongkok dengan satu tangan menggenggam tanganku. Matanya masih terpejam, tetapi wajahnya mengarah ke satu arah dengan ekpresi yang lebih kosong dari sebelumnya.Begitu hati merah terakhir meninggalkanku, sang Pemuda Pembawa Lentera bangkit berdiri dengan tiba-tiba dan menyeretku untuk berjalan bersamanya.Aku memang sudah merasa sehat, tetapi pemuda itu tetap bukan lawanku dalam hal kekuatan. Aku tak bisa melawan saat ia membawaku menyusuri pohon-pohon putih berbuah merah. Dari melodi sendu yang terdengar semakin jelas, aku yakin sang pemuda pembawa lentara sedang membawaku ke sumber melodi.Semakin lama, melodi itu terdengar begitu intens dan memabukkan. Setiap langkahku mendekatinya membuat kesadaranku goyah. Tangan bebasku masih bisa merasakan kelembutan batang pohon putih yang halus bagaikan sutra, tetapi aku tidak bisa menahan langkah dan keinginan untuk mendekati sumber melodi. Aku justru semakin ingin berjalan ke sana.Aku tak begitu sadar hingga kakiku merasakan sengatan dingin yang tak terkira. Saat aku melirik tanah di bawah kaki, diriku tersentak dengan kengerian. Entah sejak kapan pemandangan telah berubah. Di depanku terbentang lapisan es yang menyelubungi daratan dalam bentuk lingkaran besar. Nampak juga sulur-sulur hitam dan akar-akar busuk yang saling membelit di atas lapisan es.Di tengah lingkaran, duduk seorang pemuda yang tengah memainkan biola. Ia nampak tidak terpengaruh dengan singgasana beku berwarna biru langit yang ia duduki. Matanya pun terpejam, seakan hanyut dalam kesedihannya sendiri.Seketika aku melompat ke belakang, menjahui hamparan es. Sialnya, sang Pemuda Pembawa Lentera enggan melepaskan tanganku dan enggan mengikutiku. Ia justru menarikku mengikutinya.Dengan ngeri aku menggapai pohon terdekat. Cabangnya yang lentur terasa aneh dalam genggamanku, tapi aku berusaha tetap menariknya. Bahkan saat sebuah kuncup pada cabang tersebut nampak siap meledak dan mengarahkan diri padaku, aku tetap mempertahankan peganganku.Detik selanjutnya, wajahku disembur bunga-bunga putih. Peganganku terpaksa lepas dan aku terjerembap. Bersamaan dengan bunyi tubuhku yang mengguncang tanah, terdengar suara mendesis. Sulur dan akar busuk ikut bergerak panik menghindari jatuhan bunga putih, sementara lapisan es yang tersentuh bunga-bunga tersebut langsung mencair.Tak berhenti sampai di situ, para pohon putih lain seakan terinspirasi dengan perbuatan salah satu rekannya dan mereka pun ikut menyemburkan bunga-bunga. Selama beberapa saat, yang terlihat hanya warna putih berjatuhan diiringi suara mendesis memekakkan telinga serta lantunan melodi kematian.Di kejahuan, dapat kulihat singasana beku perlahan mencair dan berubah menjadi susunan kayu berbunga kuning cerah. Mata si Pemuda Pemain Biola terbuka dan balas memandangku. Musik kematiannya berhenti. Selama beberapa saat hanya ada suara desisan disusul teriakan-teriakan samar ketika para sulur mulai kehabisan pijakkan beku dan terbakar habis dengan sendirinya.Tiba-tiba saja, senyum dan lesung pipi nampak di wajah si Pemuda Pemain Biola. Detik selanjutnya, pemuda itu mulai memainkan irama cepat. Ia pun mulai melompat dan menari seraya berjalan mendekat."Bisakah kau memberitahu di mana ini?" tanyaku pada si pemain biola begitu ia tiba di depanku.Sialnya, si pemuda terlalu asik menari dan bermain biola. Ia menatapku, ia tersenyum, tetapi tidak mengindahkan kata-kataku. Berapa kali pun kuulang pertanyaanku, ia hanya berjingkrak dan menari berputar dengan aku sebagai porosnya.Keluhan diiringi sedikit makian meluncur dari mulutku.Sekali lagi, akubertemu makhluk rupawan tidak berguna. Kalau dipikir lagi, si pembawa lenterabersikap seperti tunanetra. Sementara si pemain biola bersikap seperti tunarungu.Mereka berdua nampaknya juga tunawicara di saat bersamaan. Aku benar-benarberharap, pemuda rupawan selanjutnya yang akan kutemui bukan tunagrahita, ataubahkan tunasusila.

Labirin Maut dan Pemuda Pembawa Lentera
Fantasy
08 Feb 2026

Labirin Maut dan Pemuda Pembawa Lentera

Aku bergidik ngeri mendengar suara tak biasa yang keluar dari mulut sang pemuda. Namun ketakutan akan ketidaktahuan membuatku berani mengajukan pertanyaan lain. "Apa kau malaikat pencabut nyawa?"Kali ini tidak ada suara apapun. Tidak ada jawaban. Pemuda itu justru kembali berjalan.Untung saja sang Pemuda Pembawa Lentera melangkahkan kaki jenjangnya dalam ritme lambat jadi aku bisa menyusulnya tanpa kesulitan."Kau mau ke mana?" tanyaku lagi.Tidak ada jawaban. Pemuda itu hanya memandang lurus ke depan tanpa berhenti melangkah. Respon yang sama juga terjadi untuk setiap pertanyaan lain yang kuajukan. Lama-lama aku lelah bertanya dan mulai melakukan beberapa hal untuk mengusir kebosanan.Salah satu yang kulakukan adalah membuat jejak. Dengan bebatuan-bebatuan kecil yang tersebar di lantai batu, aku menyusun anak panah sebagai petunjuk jalan. Siapa tahu nanti aku perlu kembali.Masalahnya, aku pun lama-lama bosan dan lelah membuat anak panah. Perjalanan menyusuri labirin seperti tak ada habisnya."Bisakah kita beristirahat sebentar?" keluhku untuk kesekian kali dan seperti sebelumnya, sang Pemuda Pembawa Lentera hanya mengabaikanku.Sejak tadi aku sudah berpikir kalau alasan tempat ini disebut Labirin Maut adalah karena pengunjungnya akan diajak berjalan sampai mati kelelahan. Namun anehnya, terdapat satu keuntungan yang agak tidak logis di mana diriku tidak merasa lapar maupun haus. Selama perjalanan menyusuri labirin yang terasa berabad-abad, tidak pernah tubuhku menuntut nutrisi. Kakiku memang pegal bukan main, capainya juga terasa sampai ke paru-paru. Tapi keringat dan haus tidak menghampiriku.Saat kembali menyeret kaki untuk mengikuti si Pemuda Pembawa Lentera, kakiku tak sengaja menyapu barisan bebatuan. Setelah kujamah lebih jauh dengan jemari, ternyata bebatuan itu sebelumnya tersusun dalam bentuk panah."Kau hanya membawa kita berputar-putar," sergaku kesal.Pemuda itu kembali tidak merespon, menambah kekesalanku. Aku pun merampas lentera yang ia bawa. Jemari dingin dan sekeras batu bersinggungan dengan kulit tanganku. Aku nyaris berpikir kalau tindakanku sia-sia, tetapi si Pemuda Pembawa Lentera justru tidak melakukan perlawanan. Dengan mudah lentera bawaannya bisa kurebut.Masalahnya, saat tangan sang pemuda melepas lentera, cahaya pun ikut padam."Apa yang kau lakukan?" tuntutku putus asa."Labirin Maut."Sekali lagi terdengar seruan mengerikan dari berbagai suara. Kali ini efeknya terasa berkali lipat lebih buruk dengan kegelapan yang melingkupi. Bulu romaku berdiri tegak. Buru-buru kulemparkan lentera tak berguna kembali pada tuannya.Cahaya dalam lentera kembali.Tidak ada ekpresi yang nampak pada wajah sang Pemuda Pembawa Lentera. Ia hanya membenarkan letak lentera tanpa melirik sedikit pun dan kembali berjalan."Kau buta?" tuntutku seraya menyelaraskan langkah.Kalau diperhatikan, bola mata sang pemuda tak pernah bergerak. Saat ini pun tidak. Pemuda itu hanya menatap lurus ke depan, bahkan tidak sekalipun berkedip. Namun begitu, tak pernah kulihat sang Pemuda Pembawa Lentera menabrak dinding. Ia selalu berbelok tepat waktu.Sang pemuda tidak membantah ataupun mengiyakan pertanyaanku. Ia hanya berjalan dalam diam. Sepertinya hanya ada dua kata yang bisa ia ucapkan: Labirin Maut.Kesal diabaikan, aku memaksakan kaki untuk mendahului si pemuda dan berbalik menghadapnya. Kutempatkan tubuhku untuk menghalangi jalan. Ia berhenti sejenak dengan pandangan masih lurus ke depan.Tanpa membengkokan pandangan, pemuda itu menunduk dan melewati cela di bawah tanganku yang terlentang. Pada akhirnya, dia bisa melewatiku dan kembali berjalan dengan tatapan lurus dan tak berekspresi.Aku mengeluh. Perasaan kesal ini melingkupiku. Selama sesaat aku tak peduli apapun kecuali memikirkan cara agar pemuda itu berhenti melangkah.Dari sudut pikiranku, muncul sensasi aneh. Seakan aku pernah mengalami kekesalan yang sama sebelumnya. Bukan hanya sekali, tetapi berulang-ulang di suatu masa yang tak bisa kuingat."Jangan lewat sana lagi." Dengan frustrasi kutarik lengan si pemuda agar menjahui lorong yang sudah pernah kami lalui. Di luar dugaan, ia tidak melakukan perlawanan. Pemuda itu mengikutiku.Dengan harapan baru yang muncul, aku tak bisa menahan senyuman. Kulepaskan tangannya, bermaksud kembali berjalan di belakang. Namun begitu aku melepas tanganku, sang pemuda berbalik, hendak berjalan ke arah yang sudah pernah kami lalui."Yang benar saja," keluhku kesal sembari meraih tangan si pemuda dan menyeretnya menyusuri lorong yang kupilih. Kali ini aku tak mau ambil resiko melepaskan tangannya. Nampaknya, sang Pemuda Pembawa Lentera hanya akan berjalan sesuai kenginanku jika aku berjalan di sampingnya dan menahan lengannya. Ia tak mau mengikutiku saat aku di depan dan ia akan menyesatkan jika aku berjalan di belakang.Entah berapa lama aku berjalan menyeret si Pemuda Pembawa Lentera seraya membuat jejak berupa panah. Sudah berulang kali aku mengistirahatkan kakiku dan lanjut berjalan. Namun tak pernah kudapati jalan keluar, selalu saja percabangan yang semakin memperbanyak pilihan.Sesekali sang pemuda menunjukan kemampuan tubuhnya yang sekeras batu. Pada beberapa percabangan jalan, aku terpaksa mengikuti jalan pilihannya karena ia tidak mau bergerak ke arah lain. Ia akan berdiri membatu tanpa bisa digeser seinci pun menuruti kemauanku.Aku langsung berpikir kalau dia tidak ingin aku melalui jalan menuju kebebasan. Namun aku pun tidak berdaya. Tanpa si pemuda, tidak ada pencahayaan untukku, dan meraba-raba jalan dalam kegelapan sama sekali tidak terdengar menarik.Untung saja, dugaanku tidak tepat. Aku akhirnya melihat cahaya selain lentera temaram yang entah sejak kapan menerangi jalanku. Cahaya di depanku itu begitu putih dan cukup menyilaukan. Sang Pemuda Pembawa Lentera bahkan sampai menutup mata.Dengan sedikit berlari, aku menyeret sang pemuda untuk mencapai ujung lorong batu. Sebenarnya aku sudah berniat melepaskannya dan menyongsong kebebasanku. Namun kali ini, dia yang enggan melepaskan tanganku. Kekuatan tangan batunya jelas tak bisa kulawan dan aku benar-benar bersyukur karena pemuda itu tidak berdiri mematung dan menahanku.Aku pun berhasilkeluar untuk menjumpai jembatan kayu di atas awan. Lebar jembatan itu tak lebihdari satu meter dan kayu-kayu penyusunnya nampak di ambang kelapukkan. Panjangjembatan tersebut tidak bisa kupastikan karena ujung lainnya menghilang di balikawan. Sama halnya dengan kaki-kaki jembatan yang melesak dalam kumpulan awan.Tak bisa kupastikan berapa jauhnya aku dari permukaan tanah di bawah. Akusendiri tidak begitu yakin kalau di bawah sana ada tempat untuk berpijak.

Ketiadaan dan Gadis Yang Terdampar
Fantasy
08 Feb 2026

Ketiadaan dan Gadis Yang Terdampar

Aku diselimuti kehampaan. Segala sesuatu hitam dan kosong. Tak ada apapun, bahkan tak ada secerca memori tentang alasan aku berakhir di sini atau tentang siapa aku. Hanya ada beberapa pengetahuan yang masih tersisa untukku menyimpulkan betapa tidak logisnya semua ini."Kesempatan keduamu dimulai."Sebuah suara nyaring menyentakku. Tak ada wujud yang tertangkap mata, kegelapan masih tidak mengizinkanku untuk mengamati sekitar."Sekali lagi, pilihan diletakkan ke pangkuanmu, pulang ke Alam Nyata atau menjadi bagian pelengkap Negeri Para Terkutuk," lanjut sang suara yang tak bisa kupastikan laki-laki atau perempuan. Suaranya berat dan melengking aneh di saat yang bersamaan."Apa aku sudah mati?" jeritku kalut. Segala sesuatu terasa tidak masuk akal. Bagaimana mungkin aku tidak bisa menyentuh apapun selain diriku sendiri. Bahkan tidak ada tanah untuk dipijak, tetapi ada udara yang bisa kuhirup."Belum sepenuhnya." Suara aneh itu kini menjawab sayup-sayup. Seakan ia pun berniat meninggalkanku."Di mana ini? Bagaimana aku bisa sampai ke sini?" tuntuku. Aku sama sekali tidak paham apa yang sedang terjadi ataupun arti perkataan suara tak bertuan tersebut. Aku hanya ingin penjelasan logis. Namun, seperti yang kutakutkan, tidak ada jawaban.Sekeras apapun aku mengulang berbagai pertanyaan, yang kuperoleh hanya keheningan. Setidaknya itu sebelum kegelapan mulai mengurangi kepekatannya.Tiba-tiba saja kaki telanjangku merasakan permukaan kasar berpasir, aku akhirnya menjejak. Udara mulai terasa berat dan pengap, titik-titik debu bahkan mengusik hidungku. Area di sekitar seakan memadat, dan detik selanjutnya, jemariku bisa menjelajahi permukaan kasar dinding batu yang membatasi gerak.Seketika ketakutan menjalariku. Mungkinkah aku sudah dikubur? Namun mengingat tubuhku berdiri dan tak ada peti kayu yang terjamah kulit, aku menyingkirkan pemikiran itu jauh-jauh.Sekali lagi kucoba memikirkan ulang maksud semua ketidaklogisan ini. Pertama, aku berada di antaberanta dengan rambut terurai sepanjang pinggang dan gaun polos selutut yang tidak bisa kupastikan warnanya. Kedua, berbagai hukum alam nampaknya agak kacau di tempat ini. Ketiga, aku seperti berada dalam suatu misi dengan si pemilik suara tak jelas tadi sebagai pengamatnya.Sementara aku berpikir, setitik cahaya menampakkan diri di kejahuan. Titik itu mendekatiku dengan lambat. Aku sendiri terlalu takut untuk beranjak, jadi pada akhirnya aku hanya diam menunggu.Bersamaan dengan jarak yang semakin menipis, aku melihat lentera yang dibawa oleh seorang pemuda. Jubah lusuh berwarna hitam menutupi sebagian besar tubuh jangkung sang pemuda yang terjamah cahaya temaram. Parasnya elok tetapi tak ada ekspresi yang nampak, tatapannya pun lurus ke depan.Meski penampilannya meragukan, aku tetap bersyukur akan kehadiran seseorang selain diriku. Karena itu, dengan bersemangat kulambaikan kedua tangan dan berlari mendapatinya."Permisi, apa kau tahu kita ada di mana sekarang?" tanyaku.Sang pemuda samasekali tidak melirikku yang bahkan tak setinggi pundaknya. Namun saat pemuda itumembuka mulut, seketika ratusan jenis suara terdengar berseru serentak dengannada mengerikan. "Labirin Maut."

Menampilkan 24 dari 230 cerita Halaman 2 dari 10
Menampilkan 24 cerita