Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Magic
Fantasy
06 Dec 2025

Magic

Dari balkon kamarnya di lantai dua, pohon sakura terlihat cantik di pandang. Dia bisa melihat langsung dan berhadapan dengan senja kemerahan. Hidupnya tampak tidak menarik sama sekali. Bahkan tidak tahu apa hidup yang sebenarnya.Apa yang kau pikirkan ketika kau tahu apa yang terjadi esok? Bahkan tak ada kejutan sama sekali yang membuatnya menerka-nerka. Dia tahu cara pikir semua orang di sekitarnya. Dan, dengan mudah dia bisa membedakan teman yang tulus atau sekedar memanfaatkannya. Bukan hanya itu, dia bisa menghentikan waktu sesaat. Tidak. Dia jarang melakukan itu, setelah dia menghentikan waktu, dia harus tidur selama seminggu penuh untuk memulihkan tenaganya. Dia sekali melakukannya dan tidak berencana melakukannya. Dua lagi. Dia bisa memindahkan benda tanpa tersentuh oleh tangannya. Dan satu hal dari semuanya yang satu-satunya menyebalkan. Dia tidak pernah merasakan sakit dan sedih. Baik sakit tubuh yang terluka atau sedih perasaan. Jangan pernah bercerita kesedihanmu padanya dia tak pernah mengerti. Yang diketahui hanya rasa bahagia luar biasa setiap harinya.Aisawa Tsukinami percaya bahwa dirinya adalah putri sang dewa. Namun dalam hati kecilnya dia tak menginginkan itu semua. Dia ingin menjadi manusia normal. Bisa merasakan cinta dan tentunya akan merasakan sakit hati. Tak ada dorongan lain selain kekuatannya untuk bahagia. Bahkan seberapa banyak temannya. Tidak ada satu pun yang benar-benar membuatnya bahagia. Dia tampak asing dari mereka dan lebih memilih sendirian. Meskipun dia tak merasa sedih saat itu."Kau harus mencarinya. Kau harus mencarinya untuk menyempurnakan hidup. Kau harus mencarinya untuk menjadi manusia seutuhnya." Suara itu lagi. Aisawa tidak menggubris seperti biasanya. Dia termenung membayangkan orang yang selama ini dikatakan oleh suara sang dewa. Tapi, dia tak mengenal siapa pun.Dia bosan. Dia tidak merasakan sebuah petualangan dalam hidup. Dia merasa dirinya paling tahu, paling kuat, paling bisa dan paling-paling yang lainnya. Matanya yang bening bahkan sudah tak terlihat indah lagi. Dia tak pernah sekali pun menangis. Entah ketika pertama kali dia dilahirkan. Apakah dia menangis? Tidak. Dia bahkan tak tahu apakah dia benar-benar dilahirkan atau diturunkan dewa dari langit. Yang dia tahu, dia dirawat sepasang suami istri yang sudah tua. Dan, mereka meninggal ketika Aisawa belum sempat bertanya siapa kedua orangtua kandungnya.Aisawa memandangi kelopak bunga sakura yang merah muda. Satu persatunya berhamburan hanya dengan perlakuan Aisawa yang menggerak-gerakkan jari telunjuk seolah mengomandoi setiap kelopaknya turun. Tiba-tiba saja semua itu berhenti seketika. Dia mencoba lagi dan lagi. Namun, sia-sia. Jemarinya tak berfungsi. Pikirannya juga kacau. Tak ada pandangan untuk esok. Hatinya pun serasa aneh tidak seperti biasanya dia segelisah ini. Bahkan dia belum tahu apa itu gelisah. Ini sangat aneh."Ada apa ini?!" tanyanya pada diri sendiri.Seketika pandangan membunuhnya terhenti pada seorang lelaki yang sedang mengobrol lewat telepon dengan sangat ceria. Bahkan dia sama sekali tak punya kekuatan. Dia tidak bisa membaca pikiran lelaki itu, masa depan, menggerakkan benda, atau bahkan menghentikan waktu. Hatinya benar-benar aneh sekarang. Dengan cepat dia menuruni anak tangga turun ke lantai satu dan keluar pagar rumah. Dia bertemu lelaki itu sekarang. Lelaki yang membuatnya tidak bisa apa-apa.Lelaki itu melirik sebentar ke arah Aisawa. Alisnya mengangkat tanda tidak mengerti mengapa gadis itu keluar dari rumah dengan terengah-engah. Dia tersenyum ramah sementara itu Aisawa menatap tajam kepadanya. Kali ini lelaki berwajah sangat Jepang itu mengerutkan kening tanda lebih bingung. Dia melirik sekitar tapi tak ada siapa pun di trotoar itu. Hanya dia. Dan tatapan itu memang untuknya."Apa saya mengganggumu, Nona?" tanyanya ramah. Benar-benar ramah. Bibir merah gelapnya tersenyum sangat manis. Seketika Aisawa takjub dan entah mengapa emosinya mereda. Meski masih lemas karena berlari menuruni tangga terburu-buru."Tidak." Ujar Aisawa masih berusaha sinis dan meninggalkan lelaki itu.Dia memasuki rumah meninggalkan lelaki itu dengan wajah bingung sekaligus menyejukkannya. Aisawa merasakan itu. Perasaan yang tak biasa. Perasaan yang belum pernah dirasakannya. Perasaan lain selain bahagia yang tak pernah menjeda dalam hidupnya. Siapa dia? Siapa dia? Siapa dia? Satu pertanyaan itu memburu pikirannya dengan berentetan seolah banyak pertanyaan. Namun hanya satu. Dia ingin tahu lelaki itu. Bagaimana pun dia penasaran. Perasaan yang pertama kalinya ia rasakan di dalam hidupnya. Betapa menyenangkan merasakan sebuah penasaran. Sesuatu yang belum diketahui sebelumnya. Apa ini yang disebut kejutan?☆☆☆☆☆Sejak lulus SMA dia sungkan melanjutkan kuliah. Apa pentingnya melakukan itu semua? Bahkan dia tidak pernah punya alasan untuk SMA atau pun hidup.Pikirannya menggantung tepat di atas kepalanya. Belum sampai ke otaknya. Dan, klakson mobil membuatnya tersadar. Teriakan demi teriakan. Dia baru sadar ada keramaian di sini. Keramaian yang biasanya dilewati namun tidak pernah diingat-ingat sama sekali. Seolah berlalu begitu saja."Minggirlah! Kau mau mati?!" teriakan itu seketika membuat hatinya tersentak. Satu lagi perasaan aneh. Dia tak pernah tersinggung sebelumnya.Akhirnya Aisawa buru-buru menuju trotoar dan meninggalkan zebra cross dimana lampu merah sudah berwarna hijau. Suara dewa pernah berkata bahwa yang membuat dia menjadi manusia sungguhan adalah seseorang yang tanpa sengaja membuatnya kehilangan kekuatan. Jika dekat dengan orang tersebut dia tak merasakan kekuatan apa pun. Dan, dia di sini sekarang.BRUK! Seseorang menabraknya dari belakang. Seorang gadis cantik lebih tua dua tahun darinya. Rambutnya yang hitam sepinggang dikepang satu ke belakang dengan diikat pita putih di bagian ujung. Matanya tidak begitu sipit. Sangat cantik!"Maafkan aku." Ujar gadis itu menundukkan kepala beberapa kali dengan rasa bersalah. Aisawa mengangguk tanpa senyum sedikit pun.Tiba-tiba dia merasakan sakit. Punggung tangannya tergores. Ternyata mengenai gelang kerang yang dipakai gadis itu. Aisawa tidak mempermasalahkan hal itu, tapi dia baru pertama kalinya terluka seumur hidupnya. Rasa sakit yang luar biasa. Apa begini menjadi manusia? Sangat tidak menyenangkan. Jika begini, dia akan berhenti mengejar mimpinya untuk menjadi manusia. Dia lebih suka kekuatannya kembali.Ketika berusaha menahan sakit yang luar biasa baginya itu, ekor matanya bisa melihat jelas gadis tadi bersama lelaki yang pernah ditemui beberapa waktu yang lalu. Pantas saja kekuatannya tidak berfungsi. Dia begitu dekat dengan lelaki itu. Tiba-tiba rasa sakit yang sulit digambarkan bahkan lebih parah dari lukanya sekarang memburu dan hampir membuatnya menyerah. Hatinya. Ya. Dia baru mengenal apa itu hati. Lelaki tampan itu menatap gadis yang menabraknya dengan perasaan penuh cinta. Lidahnya kelu seketika. Ada apa dengan hatinya? Dia tidak mungkin jatuh cinta. Dia baru dua kali melihatnya dan jatuh cinta? Itu tidak mungkin! Batinnya menegur.Tak disadari. Langkahnya mendekat. Sepasang kekasih yang tampak serasi itu tak sadar. Tentu saja, mereka berdua tak mengenal Aisawa."Sayang, tak bisakah kau duduk sebentar. Aku lelah menunggumu hampir satu jam. Tapi, entah mengapa aku menyukai apa pun tentangmu meskipun membosankan." Ujar lelaki itu manis sekali. Aisawa merasakan sentuhan lembut meskipun kalimat manis itu bukan untuknya. Lelaki yang tahu menghargai dan menyenangkan wanita."Jangan berkata seperti itu Mada-kun. Aku malu." Gadis itu menampakkan wajah memerah di pipinya yang putih. "Oh ya, kuharap kau benar-benar menghafal namaku. Namaku, Kirei Kabayashi. Dan namamu, Madara Sanada. Ingatlah!" ujar gadis itu sedikit manja namun bijak. Manis sekali.Kirei mengambil alih air isotonik dalam botol milik Madara yang digenggam pria itu sedari tadi. Madara tersenyum manis. Tiba-tiba senyumnya berubah lebih sumringah ketika tahu Aisawa sedang memerhatikan sedari tadi. Kirei sama-sama menoleh dan tersenyum. Keduanya sama-sama ramah, sama-sama tampan dan cantik, sama-sama manis, sama-sama sopan dan sama-sama menatapnya penuh tanda tanya."Kau nona pemilik rumah ini, bukan?" tanya Madara sembari menunjuk rumah besar di belakangnya. Kirei mengeryit. Aisawa mengangguk. Ingin menjawab namun bimbang. "Namaku Sanada Madara. Ini Kabayashi Kirei, kekasihku." Tegas Madara membuat pipi Kirei menjadi memerah seketika."Tsukinami Aisawa." Ujar Aisawa akhirnya. Madara dan Kirei senyum bersama."Senang bisa berkenalan denganmu, Ai-chan." Ujar Kirei sumringah. Dia sangat tulus dan begitu manis. Meskipun saat ini Aisawa tidak bisa membaca pikiran gadis itu.Aisawa lebih banyak diam. Tersenyum canggung dan masih berpikir mengapa kekuatannya melemah. Bahkan tidak berfungsi sama sekali. Dia masih menatap kedua manusia itu, mereka tampak menawan, mengesankan dan membuatnya iri. Itu sangat mengganggu pikirannya juga hatinya yang entah mengapa bergejolak tanpa ampun. Aisawa menggigil memikirkan keraguannya sendiri. Ini bukan dia."Kami harus pamit. Sampai jumpa, Ai-chan." Ujar Kirei dijawab anggukan oleh Aisawa. Madara lebih memilih diam meskipun tak lupa tersenyum. Seolah Madara memberi kesempatan untuk wanita berbicara meski didominasi Kirei yang ramai.Hatinya tiba-tiba merasa keanehan. Dia menginginkan lelaki itu sangat ingin, tapi dia pun merasa terharu dengan hubungan manis keduanya. Aisawa tetap dalam diam memerhatikan sepasang manusia yang sangat serasi itu dari kejauhan. Hingga mereka benar-benar menghilang dan membawanya masuk rumah. Ketika memasuki halaman yang luas dia merasakan pulih. Telunjuknya diarahkan ke arah pintu. Tak perlu lima detik, pintu itu terbuka lebar seolah menerima Aisawa dengan lapang dada. Ketika dia masuk pun, hal sama dilakukannya.Dia manusia biasa. Dia merasakan itu. Hanya saja dia punya banyak kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Apakah dia akan menjadi setega itu?☆☆☆☆☆Aisawa baru ingin keluar untuk berolahraga kecil. Sebenarnya dia butuh keluar untuk melepas kebosanan. Dia tak merasakan berbeda tentang kekuatannya. Ya, Madara tidak ada di sini. Namun, langkahnya terhenti seketika melihat seorang gadis cantik yang muncul tiba-tiba di hadapannya. Wajah yang sesuai dengan namanya, Kirei."Hai!" sapa Kirei ramah sekaligus riang. Aisawa hanya tersenyum. "Kau mau kemana? Bolehkah aku main ke rumahmu? Sepertinya rumahmu menarik." Ujar Kirei sambil melirik lantai dua yang terlihat dari gerbang kayu tinggi.Rumah itu sangat tertutup. Matanya mengambang memerhatikan pohon sakura yang tampak menyentuh atap lantai dua. Siapa pun yang berada di balkon kamar itu akan sangat senang memerhatikan berseminya sakura. Sangat indah. Senyum manis nan tulus merangkai bibir Kirei dengan pesona luar biasa. Aisawa merasakan itu. Senyum yang benar-benar tulus dan bahagia. Tak ada sikap jahat yang ada dipikiran Kirei tentangnya. Perlukah dia menerimanya menjadi teman setelah sekian banyak waktu yang digunakannya untuk sendirian?"Baiklah jika tidak boleh. Aku akan pulang." Ujar Kirei mengerucutkan bibirnya. Aisawa hampir tertawa melihat tingkah bidadari ini. Bahagia yang selalu menjumpainya berbeda dengan bahagia kali ini. Apa ini tanda-tanda dia akan menjadi manusia?"Silakan masuk." Ujar Aisawa menjentikkan jarinya membuat gerbang kayu tinggi itu menjadi terbuka sebagian. Kirei takjub sekaligus heran. Aisawa lupa seharusnya dia tak melakukan itu. Dia mengutuk dirinya sendiri. "Ini pintu otomatis. Arsitek mendesain sedemikan rupa dan bisa terbuka otomatis dengan suaraku. Silakan masuk. Membuatku lebih mudah membuka tanpa bersusah payah." Aisawa mengeryit bingung. Dia tak yakin kalau Kirei akan percaya. Namun, dia percaya."Menakjubkan! Hebat sekali." Sahutnya senang. Dia melangkah masuk berlari kecil meninggalkan Aisawa yang ada di belakangnya. "Apa pintu itu bisa dibuka manual, Ai-chan?" tanyanya kemudian seperti ingin tahu. Aisawa mengangguk.Kali ini mereka berjalan bersama saling berjajar. Kirei tampak antusias melirik ke sana kemari memerhatikan rumah yang tidak terawat meskipun sebenarnya sangat indah. Dia tak menemui siapa pun sedari tadi. Ya. Tak ada satu pun selain dirinya dan Aisawa, pemilik rumah. Apa Aisawa tinggal sendiri?"Aku tinggal sendirian. Sebatangkara." Tegas Aisawa membuat Kirei terkejut. Dia tak menemukan wajah sedih sedikit pun di wajah Aisawa. Tentunya dia menganggap Aisawa berusaha tegar. Pantas saja Aisawa pendiam.Tidak. Aisawa membantah habis-habisan dalam hatinya tentang pemikiran Kirei. Dia sama sekali tidak memikirkan kesedihan. Bahkan dia belum tahu apa definisi dari kata itu. Mungkin dia akan merasakannya nanti jika bertemu dengan Madara. Seperti tidak bisa membaca pikiran siapa pun ketika ada Madara, tidak bisa menggerakkan telunjuknya jika ada Madara, tidak bisa merasa rileks dan bahagia seperti biasanya saat ada Madara dan semua hal jika dekat dengan Madara.Kali ini, Aisawa tidak ingin membuat Kirei curiga. Dia mendorong pintu rumah pelan membuka lebar. Ini bukan rumah Jepang kebanyakan. Lebih terkesan Asia Tenggara atau Eropa, mungkin. Tampak mewah dan elegan."Kau tidak bersama kekasihmu?" tanya Aisawa akhirnya ketika membaca pikiran Kirei yang menyebutnya aneh karena sejak tadi diam. Itu bisa diketahui dengan mudah."Oh, Madara? Ya. Madara selalu sibuk kuliah jam segini. Mungkin dia akan kesini menjemputku. Aku sudah mengirim pesan bahwa aku di rumahmu." Ujar Kirei sambil tersenyum manis. Aisawa tidak terkejut. Tentunya dia lebih tahu apa yang akan dikatakan oleh Kirei. Membosankan sekali, bukan?"Aku akan membuat secangkir teh putih hangat." Ujar Aisawa sambil berlalu meninggalkan Kirei yang tanpa henti merasakan ingin tahunya pada rumah itu."Apa aku boleh ke kamarmu?" tanya Kirei kemudian.Aisawa mengangguk. Tak ada yang penting di setiap detail rumah ini. Apa yang perlu dicatat jika otaknya berfungsi sangat baik. Dia sudah mencatat nama orang yang membuat kekuatannya tidak berfungsi, bahkan sebelum Aisawa tahu kalau orang itu benar-benar ada. Suara dalam kegelapan itu yang memberitahunya. Dia mencatat apa pun diingatannya. Tentang teman-temannya yang tidak pernah tulus. Tentang pertama kalinya dia menggunakan jemarinya untuk menjahili orang-orang jahat. Tentang suatu waktu dia menghentikan waktu dan membuatnya koma di Rumah Sakit selama satu minggu. Tentang hal-hal lainnya. Itu sangat jelas diingatannya."Dia musuhmu. Kenapa kau memperlakukannya dengan baik?" pertanyaan itu milik suara dalam kegelapan. Aisawa jadi ragu apakah itu dewa? Bukankah dewa suatu hal yang baik? Aisawa memilih diam dan mengaduk teh dengan jari telunjuk yang mengaduk otomatis. Sendok itu berputar-putar dengan ritme yang konstan di dalam gelas. Tampak menarik untuk dilihat. "Apa kau memasukkan racun di dalamnya?" suara itu terdengar terkekeh. Suara itu benar-benar memancingnya."Tak bisakah kau diam dan pergi dari sini!" bentak Aisawa dengan lantang. Dia hampir saja kelepasan. Emosinya entah mengapa tidak stabil.Aisawa mengarahkan jari telunjuknya lagi ketika suara itu sudah diam dan pergi meninggalkannya. Gelas terangkat dan Aisawa meletakkannya ke nampan yang sudah dibuat melayang terlebih dahulu. Namun, tiba-tiba saja semuanya jatuh dan pecah seketika. PRANG! Suara itu membuat Kirei yang ada di atas langsung turun dan datang menemui Aisawa. Kirei tampak bingung mengapa nampan kemarik dan gelas kaca itu pecah hancur berkeping-keping. Mungkin, Aisawa tidak sengaja."Ada apa, Ai-chan? Kau tadi membentak seseorang dan sekarang gelas itu pecah. Siapa yang mengganggumu?" tanya Kirei khawatir. Aisawa menatapnya tajam. Kirei ketakutan menatap mata itu. Mata yang ingin memakannya bulat-bulat."Maafkan aku, Kirei. Sebaiknya kau membukakan gerbang. Seseorang menunggu di sana. Aku akan membuatkanmu teh yang baru." Ujar Aisawa berusaha mengontrol emosinya. Kirei mulai tersenyum meskipun masih dalam keadaan waspada. "Sepertinya Madara datang." Tegasnya membuat Kirei benar-benar tersenyum dan mengangguk.Kirei sudah berlalu. Sementara itu, Aisawa setengah emosi. Dia tak tahu mengapa perasaannya aneh. Dia pertama kalinya merasakan jatuh cinta, pertama kalinya merasa terharu, pertama kalinya merasa sebuah bahagia yang berbeda dan kali ini pertama kalinya dia merasakan sebuah emosi yang luar biasa berbeda. Sangat besar. Dia ingin membunuh gadis itu dan ingin memiliki Madara. Apa sedemikian rumitnya menjadi manusia normal? Tapi dia tidak ingin menjadi dirinya yang membosankan!"Kau ingin memiliki lelaki itu, Aisa? Kau sudah jatuh cinta padanya. Kau sudah tergila-gila. Bukankah dia sangat tampan?" suara itu lagi.Aisawa berusaha tetap diam dan enggan menjawab apa pun. Dia mengaduk teh dengan tangannya sendiri. Dia tak bisa menggunakan kekuatannya. Tiga cangkir teh putih untuknya, untuk Kirei dan tentunya untuk Madara."Aku bisa melihat nafsumu itu. Kau benar-benar ingin memilikinya. Dia yang membuatmu merasa aneh, bukan? Dia yang membuatmu sangat lemah. Aku ragu bahwa itu cinta. Kau sangat menginginkannya. Aku tahu kau membenci kekasihnya. Itu nafsu! Lihatlah dirimu. Kau tidak berdaya!" kata-kata dari kegelapan itu merasuki pikirannya. Dia menjadi lebih emosi sekarang. Hati kecilnya berusaha meredakan."Jangan memerintahku!" teriakan ini lebih lantang dari sebelumnya.Suara itu tak bersuara. Namun, Aisawa bisa mendengar pekikan tajam dan tawa yang menggema. Sangat mengganggunya. Sangat mengerikan sekaligus membuatnya berpikir ulang tentang memiliki lelaki itu. Mungkin ini hanya nafsu. Tapi dia tak peduli. Dia benar-benar ingin memiliki lelaki itu. Tapi bagaimana jika dia benar-benar memiliki Madara? Dia hanya seorang wanita lemah. Dia tidak akan bisa menggunakan kekuatan yang dimilikinya. Dia. Dia meragu. Apakah dia siap?☆☆☆☆☆Kirei dan Madara duduk di ruang tamu. Rumah mereka yang tidak begitu mewah sekaligus mempunyai rumah yang sangat Jepang terasa canggung duduk di sofa mewah di sebuah ruangan yang bergaya Eropa kelas atas. Lukisan-lukisan negeri-negeri di Eropa seperti menara Eifeel di Prancis, Kincir Angin di Belanda, Liberty di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa-Amerika lainnya pada sebuah lukisan besar yang begitu indah. Keduanya saling pandang ketika Aisawa datang.Teriakan sekaligus jeritan tadi membuat keduanya bingung. Namun, dia tidak ingin ikut campur. Kali ini, Aisawa tidak bisa membaca pikiran Kirei lagi. Ada Madara di dekatnya membuat kekuatannya tidak berfungsi. Kenapa harus ke semua orang? Dia mengumpat dalam hati. Dan, kenapa dia mulai menginginkan laki-laki yang akan membuatnya tidak memiliki kekuatan selamanya?"Ada apa?" tanya Aisawa menyerah. Dia tidak enak melihat pandangan Kirei dan Madara seolah-olah menyelidik. Aisawa berusaha tenang."Tidak ada apa-apa." Jawab Kirei, Madara tidak berani menjawab. Aisawa hanya mengangguk. "Apa kau tidak kesepian di sini sendiri? Kau tidak mencari pembantu atau mengangkat seorang adik dari panti asuhan? Tentunya akan begitu menyenangkan, bukan?" Kirei memberi usul. Madara dan Aisawa sama-sama tertegun."Kadang-kadang memang membuatku merasa kesepian. Tapi aku menikmatinya. Aku sudah terbiasa." Sahut Aisawa berbohong. Kirei dan Madara mengangguk.Sebelum bertemu Madara, Aisawa tidak pernah merasakan apa kesepian. Dia selalu merasa bahagia. Meskipun bahagia yang membosankan. Selain bahagia dia hanya tahu marah dan bosan. Itu saja. Tak ada yang lain. Namun, kedatangan Madara berhasil mengubah semuanya. Dia merasakan bahagia yang berbeda, marah yang berbeda dan bosan yang berbeda. Tentunya perasaan yang baru dikenalinya, jatuh cinta, terharu, tenang, cemburu dan emosi yang meledak-ledak.Semua itu ia kira akan hilang ketika Madara menjauh. Namun, terus membekas dan masih ada meskipun kekuatannya sudah kembali. Dia masih merasakan jatuh cinta pada Madara, bahkan berusaha untuk memiliki lelaki itu. Terharu. Tenang. Dan, yang dia benci dari semuanya adalah cemburu dan emosi. Dia takut kalau suatu saat dia dan Kirei sedang berdua tanpa Madara, dia akan sangat marah. Tentunya dia yang memiliki kekuatan bisa membuat Kirei tak berdaya dengan mudah. Atau mungkin dia akan membunuh wanita itu? Membunuh? Kalau Kirei mati, dia akan memiliki Madara tanpa penghalang. Dia memiliki Madara seutuhnya. Sepertinya menyenangkan.☆☆☆☆☆Bangun tidur matanya memerah. Bibirnya pecah-pecah, matanya hampir kering dan daerah sekitar matanya menghitam. Tidak pernah dia seperti ini, bahkan sekali pun tidak pernah di seumur hidupnya. Entah mengapa lelaki yang tak banyak omong itu terus-terusan masuk dalam mimpinya. Dia tak pernah seburuk ini. Dia ingin mengaduh pada siapa kalau sudah begini? Dia hanya mengira kalau jauh dari lelaki itu semuanya seperti mula. Namun, tidak. Dia memang mendapatkan kekuatannya kembali sekaligus membawa perasaan aneh yang terus memburunya."Apa enaknya menjadi manusia normal kalau begini? Terasa menyakitkan." Ujar Aisawa menatap wajahnya yang tampak berbeda di cermin."Kau hanya harus belajar." Tiba-tiba sebuah suara menyahutinya. Itu bukan suara yang biasa dia dengar. Suaranya lebih halus dan seperti suara lelaki. "Belajar. Hanya itu yang kau perlu." Ujar lelaki itu lagi.Aisawa mulai mencari asal suara. Tiba-tiba, pandangannya terhenti pada pintu kamar yang terbuka. Seorang pria yang tampak tampan, bahkan lebih tampan dari Madara. Wajah campuran Jepang dan Eropa ada di sana. Mata abu-abu, kulit putih seperti orang Jepang kebanyakan, rambut cokelat terang dan tubuh tinggi dengan dada bidang. Kemeja hitamnya menempel pas pada tubuh membuat lelaki itu bertambah tampan dibalut dengan jaket tebal berbulu. Tampan sekali!Namun, sesaat Aisawa harus waspada. Dia tak mengenal lelaki itu. Lalu mengapa lelaki itu bisa ada di kamarnya? Lebih tepatnya di rumahnya. Karena, kamarnya selalu dibuka. Dia pasti sudah masuk rumahnya terlebih dahulu. Bagaimana bisa?"Aku melewati jendela itu. Sejak tadi malam aku berada di sini. Tidur di kamar ini juga, bersamamu." Ujar lelaki tampan itu. Dia setengah bersandar di ambang pintu. Memerhatikan Aisawa yang hanya diam. Dia tersenyum. "Aku sungguh-sungguh lewat jendela itu!" tunjuknya pada jendela kamar yang sedikit terbuka. Aisawa memang butuh udara setiap malamnya. "Baiklah akan aku tunjukkan." Lanjutnya.Aisawa berusaha tenang meskipun pikirannya sudah kacau. Sepertinya lelaki itu bisa membaca dengan jelas apa yang dipikirkan Aisawa. Tiba-tiba, Aisawa takjub melihat lelaki itu bergerak dengan cepat melewatinya. Seperti tokoh Edward yang menyelamatkan Bella dalam film Twilight Saga."Kau tidak mungkin takjub, bukan? Bahkan kekuatanmu lebih dari yang kumiliki kan, Ai-chan?" lelaki itu sudah kembali ke tempat semula dan berjalan pelan menuju Aisawa yang masih terdiam kaku. Kali ini mereka berhadapan."Kau siapa? Apa yang sedang kau bicarakan?!" Aisawa belum mengubah posisi. Dia menatap tajam seolah mengancam lelaki itu. Namun, lelaki itu masih tersenyum. Aisawa tidak bisa membaca pikirannya. Tidak. Dia tidak seperti Madara. Dia tidak membuat kekuatannya hilang, hanya saja dia menghalangi pikirannya dengan kekuatan yang dimiliki. Tentunya Aisawa pun melakukan hal sama.Kali ini lelaki itu melangkah sekali lagi dan mereka sangat dekat. Dada mereka bersentuhan. Aisawa harus mendongak sedikit menatap lelaki yang lebih tinggi darinya itu. Kilatan di mata sang lelaki tak membuatnya takut sama sekali."Peter Kawahara." Jawabnya singkat. Keduanya tak ada yang mengubah posisi. "Kurasa kau tahu apa yang kubicarakan, bukan?" lelaki itu tersenyum sinis. Tapi, Aisawa masih tidak bisa menemukan sesuatu dari pikirannya."Apa yang kau inginkan dariku?!" tanya Aisawa kemudian.Lelaki itu tak menjawab. Dia masih tersenyum, menatap Aisawa penuh tanda tanya. Begitu sebaliknya. Hingga menurunkan kepalanya, mengecup pelan bibir Aisawa. Gadis itu terbelalak kaget, namun tak menolak. Ketika sadar bahwa Aisawa tak menolak, maka Peter terus menciumnya lama. Mata mereka masih berpandangan. Sebuah mata terkejut dari Aisawa dan mata tersenyum milik Peter. Tiba-tiba Aisawa tersadar dan memundurkan tubuhnya dari Peter. Bibir Peter sudah lepas dari bibirnya. Ada napas terengah-engah dari keduanya. Namun, Peter masih tersenyum tanpa ekspresi lain."Hanya itu yang kuinginkan." Ujar Peter sambil menjilat bibirnya yang tampak kemerahan. Aisawa hampir saja tak bisa mengontrol emosinya.Namun, emosinya melemah. Tubuhnya melemah. Semuanya tampak abu-abu. Pria bernama Peter itu tiba-tiba mendekatinya lagi. Namun, ada wajah khawatir di sana. Aisawa sudah jatuh terduduk setengah sadar. Peter buru-buru membopongnya ke atas ranjang. Sebuah mata yang berbeda. Tak ada kilatan berbahaya lagi di sana. Dia justru terlihat khawatir dan kebingungan. Setelah meletakkan tubuh Aisawa yang setengah tersadar ke ranjang, Peter buru-buru turun dengan cepat dan mencari sesuatu yang mungkin bisa digunakan untuk membuat Aisawa tersadar.☆☆☆☆☆Sejam kemudian Aisawa tersadar. Suara orang yang bercakap-cakap di luar kamarnya membuat dia bangkit dan penasaran. Tubuhnya sudah membaik. Namun, dia merasakan kekuatannya tak terasa. Apa ada Madara di sini?Ketika bangkit dia menemukan wajahnya di cermin. Ditatapnya lama-lama. Bibir bekas ciuman Peter membuatnya takut bertemu lelaki itu lagi. Tapi dari wajah khawatir Peter dia tahu, lelaki itu tak tahu kalau melakukan hal itu energinya akan berkurang. Dan, Aisawa pingsan karena melakukan itu. Tidak! Bagaimana mungkin Peter tidak tahu tentang itu? Bahkan dia mempunyai kekuatan yang hampir sama sepertinya."Kau baik-baik saja, Ai-chan?" suara khas itu membuat Aisawa memalingkan wajah dari cermin dan menoleh ke sumber suara. Kirei. Aisawa hanya mengangguk.Setiap detik menatap Kirei, tubuhnya memanas, emosinya meledak-ledak. Dia ingin memakan gadis itu mentah-mentah. Sekedar membunuhnya saja mungkin sangat menyenangkan. Namun, bagaimana dengan Madara? Tidak. Dia memang menginginkan Madara. Dan, selama ada Kirei, dia tak akan memiliki Madara."Kekasihmu bilang kalau kau baik-baik saja. Aku jadi tenang." Ujar Kirei tampak santai dan tidak mengerti kebingungan Aisawa."Kekasihku?" Aisawa memastikan."Ya. Kawahara Peter. Dia sangat tampan. Dia bilang kalau dia kekasihmu. Kalian berdua cocok sekali. Kau sangat beruntung mempunyai kekasih seperhatian dia. Bahkan dia menunggumu sakit semalaman. Tidak seperti Madara. Dia begitu manis namun cuek." Ujar Kirei sedih. Aisawa terdiam.Cerita apa yang dikarang Peter? Kekasih? Menunggu semalaman? Astaga! Dan, dari semua pernyataan itu dia membenci tidak seperti Madara. Lelaki itu memang tidak seperti Madara. Madara yang manis dan pendiam. Dan, Aisawa harus memilikinya. Lalu, bagaimana bisa Kirei tidak menyukuri itu semua? Aisawa benar-benar geram. Ingin membunuh wanita itu sekarang juga. Namun, sepertinya kehendaknya terhenti ketika Madara dan Peter memutuskan masuk. Keempatnya berdiri saling diam. Tentu saja, percakapan dimulai lagi dengan obrolan milik Kirei.Aisawa terdiam memerhatikan Peter yang sejak tadi menatapnya penuh jahil dari belakang Madara. Pria itu menggigit bibirnya seolah memberi petunjuk sekaligus ledekan pada Aisawa tentang pagi tadi."Kita bisa mengobrol di ruang tamu." Ujar Aisawa tiba-tiba.Mereka bertiga diam. Kemudian Kirei dan Madara mengangguk setuju. Hingga mereka turun dan meninggalkan Aisawa bersama Peter. Lelaki itu tampak menyebalkan namun jahil. Bukan tentang itu, yang Aisawa rasakan, lelaki itu membuatnya muak. Aisawa berusaha tak peduli. Gadis itu hendak keluar, namun Peter berusaha berdiri di tengah ambang pintu untuk menghalangi."Kau ingin membunuhnya?" tanya Peter sinis. Sebelah tangannya mencengkeram rahang Aisawa. Namun, dia diam saja."Bukan urusanmu!" Aisawa mendengus. Peter tertawa sinis."Kau menginginkannya lagi? Bibirku?" goda Peter membuat Aisawa bergidik. Dia tak tahu ada lelaki segila itu. Aisawa berusaha tenang dalam diam. Dia akan kalah jika melawan. Dia tidak berkekuatan sekarang. Tangan sebelahnya lagi melingkar di pinggang Aisawa membuat gadis itu kaget setengah mati.Mereka sangat dekat, lebih dekat dari tadi pagi. Peter memeluk Aisawa dengan erat tak membiarkan gadis itu lepas dari pelukannya. Bibirnya mencium bibir Aisawa dengan nafsu dan gairah. Aisawa berusaha bergerak. Namun, tidak ada ruang baginya untuk bergerak. Lelaki itu sudah gila! Tangan yang memeluk pinggang Aisawa terus dieratkan ketika Aisawa berusaha keluar dari pelukannya. Ciumannya belum juga dilepas. Aisawa benar-benar merasakan kekonyolan luar biasa! Namun, dia tak merasa kalau energinya habis. Dia tampak biasa saja."Lelaki itu melindungimu." Ujar Peter melepas ciumannya. Namun, tidak untuk pelukannya. Setelahnya, dia mencium pipi kanan Aisawa dan melepaskan gadis itu. "Meskipun kau tidak mempunyai kekuatanmu sekarang. Tapi, dia membuatmu terlindungi dan tak pingsan seperti tadi." Peter terkekeh. "Sayangnya, kau ingin membunuh kekasihnya. Madara yang malang." Peter masih tertawa. Sinis."Ketika mereka pergi. Aku akan membunuhmu lebih dulu!" tegas Aisawa tajam. Gadis itu menuruni tangga meninggalkan Peter yang mendengus kesal.☆☆☆☆☆Sejak kejadian itu, Aisawa tak menemukan Peter dimana pun. Mungkin Peter ketakutan dengan ancamannya. Berhari-hari setelahnya, dia tak menemukan Madara atau pun Kirei. Perasaannya bergejolak tak beraturan. Dia menyukai Madara, ingin memiliki Madara. Namun, rasa penasarannya tentang Peter membuatnya bingung dan enggan menghabisi Kirei. Apa dia begitu jahat? Dia tak tahu harus melakukan apa."Aku menghilang beberapa hari ini untuk mencari tahu tentang Kawahara Peter, Aisawa." Ujar suara kegelapan yang sudah hilang dan membuatnya rindu beberapa hari. Aisawa mendengarkan intens. "Sebelumnya akan saya jelaskan tentang kekuatan itu. Di Jepang ada tujuh orang yang memiliki kekuatan sepertimu. Dua di antaranya kau dan Peter. Ambisi Peter yang besar menginginkan kekuatan itu dimilikinya sendiri. Namun, dari semuanya, kekuatanmu yang paling besar. Peter sudah mengambil empat kekuatan dan dia sedang mencari satu orang lagi. Jika dia mendapatkan satu orang itu, maka dia memiliki kekuatan seimbang denganmu. Dia akan mengambil milikmu juga. Kau harus berhati-hati. Waktu itu kau hampir terkecoh." Jelas suara itu membuat Aisawa terkejut dan mengutuk dirinya sendiri dengan bingung luar biasa."Aku ingin menjadi manusia normal. Bukankah tidak apa-apa memberikan ini padanya. Toh, aku akan kehilangan juga." Ujar Aisawa akhirnya."Dia akan menggunakannya dengan tidak bermanfaat." Tegas suara itu lagi."Saat ada Madara. Dan, dia menciumku. Itu tidak berpengaruh sama sekali. Bagaimana bisa?" tanya Aisawa benar-benar bingung. Suara langkah menyusuri tangga membuatnya resah. Pasti Peter!"Madara melindungimu. Meskipun kau kehilangan kekuatanmu, tak ada yang menyakitimu meskipun itu kekuatan besar sekali pun." Tegas suara itu hingga menjadi sayup-sayup. Dan, semakin lama semakin menghilang.Aisawa mulai melangkah dan membuka pintu kamar. Di sana ia menemukan Peter. Lelaki yang dengan sengaja membuatnya pingsan. Peter menatap Aisawa dengan senyuman yang biasanya, senyuman manis dan menggoda. Sebenarnya, Peter sudah tahu kalau Aisawa mengetahui semua rahasia itu. Namun, dia tak ingin membahasnya."Hai Sayang." Ujar Peter sembari mendekatkan wajah ingin mencium Aisawa. Dia dengan cepat menghindar dan menuruni tangga. Dengan lebih cepat, Peter sudah berada di bawah sana. "Kau kenapa menghindariku? Bukankah kau menikmati saat aku menciummu?" ujar Peter tepat di hadapan Aisawa. Gadis itu tak bisa menghindar lagi. Peter mendorong tubuh Aisawa ke dinding dan membuatnya tidak bisa bergerak."Selama kau belum mendapatkan kekuatan kelima. Kau tidak akan bisa menang dariku." Aisawa mencibir. Matanya menajam.Yang tak di duga, Peter melepas cengkeramannya. Dia membalik tubuh dan turun tanpa menggunakan kekuatannya. Sepertinya, kata-kata Aisawa berhasil membuat Peter ketakutan atau pura-pura ketakutan?☆☆☆☆☆Sejak saat itu Peter benar-benar menghilang. Sebenarnya itu membuat Aisawa tenang. Namun, dia tetap harus waspada. Kemungkinan, Peter sudah memiliki apa yang sedang dicarinya. Kebosanan melingkupi perasaannya. Ia juga ingin bertemu dengan Madara. Dia merasakan rindu luar biasa. Entah karena cinta atau nafsu memilikinya.Jari telunjuknya tak berfungsi dengan baik membuka gerbang. Gerbang itu menjadi gebrak-gebrak tak beraturan. Mungkin karena ada Madara di sekitar sini. Pikir Aisawa. Akhirnya, dia keluar dengan mendorong pelan gerbang kayu yang tinggi itu. Dan, benar saja. Dia menemukan lelaki Jepang itu duduk di bangku besi panjang di depan rumah sekaligus sepanjang trotoar. Lelaki itu setengah tertidur. Tubuhnya bersandar pada punggung bangku sementara kepalanya tertunduk.Dengan hati-hati, Aisawa mendekatinya dan duduk di sampingnya. Suasana sepagi itu membuat jalanan masih lenggang. Tiba-tiba, kepala Madara jatuh ke samping dan berada tepat di bahu Aisawa. Jantung Aisawa meledak-ledak dengan gejolak aneh. Hatinya entah mengapa merasa berbunga-bunga. Bibirnya merekah tersenyum."Aisawa?" ujar Madara memastikan ketika mendapati gadis itu berada di sisinya. "Kenapa kau disini?" tanya Madara akhirnya."Aku melihatmu ketiduran. Kau kenapa berada di sini?" tanya Aisawa akhirnya. Mukanya sudah memerah karena malu. Dia tertangkap basah meminjamkan bahunya untuk tidur Madara. Pria itu tampak letih."Kirei. Dia sudah janji menemuiku dua hari yang lalu di sini. Tapi dia tidak ada dimana pun. Aku sudah bertanya ke rumah dan teman-temannya. Dia sudah hilang, Ai-chan. Aku semalaman mencarinya. Dan, tak sengaja tidur di sini. Aku sangat khawatir padanya. Aku sangat mencintainya." Kalimat terakhir adalah hantaman hebat yang meluluh-lantahkan bunga-bunga yang baru saja terkembang di hatinya.Aisawa terdiam. Antara sakit hati dan sama khawatirnya. Dia melihat wajah sedih Madara yang sedih sekaligus ketakutan. Meskipun dia tidak bisa membaca apa yang dipikirkan Madara, dia tahu betul kalau lelaki itu sangat kehilangan kekasihnya. Apa dia perlu membantu? Kalau tidak ada Kirei. Dia bisa memiliki Madara seutuhnya. Tapi, dia tidak bisa melakukan itu. Melihat Madara sedih, itu lebih sakit dari apa pun."Kau tetap di sini. Aku akan mencarinya." Ujar Aisawa membuat Madara tertegun dan mengeryit. Aisawa masih berpikir keras."Aku tidak mungkin diam saja. Kita cari Kirei bersama-sama." Ujar Madara akhirnya. Aisawa terdiam. Dia tidak mungkin bisa mendeteksi Kirei jika ada Madara. Dia pun tidak mungkin menyuruh Madara tetap diam. Andai saja dia bisa menggunakan kekuatannya bersama Madara yang ada di sisinya."Tetaplah di sini. Aku akan membeli beberapa minuman dan sarapan untukmu. Kau tidak akan berpikir jernih kalau tidak makan, Madara-kun. Sepuluh menit lagi aku akan kembali. Aku pinjam sepedamu." Ujar Aisawa dengan cepat tanpa mengizinkan Madara menjawabnya. Gadis itu sudah pergi."Aku tidak mungkin makan. Bahkan aku tak bisa membayangkan apa Kirei bisa makan di sana." Ujar Madara lirih. Air matanya menetes begitu saja.☆☆☆☆☆Dia tidak benar-benar ke supermarket. Dia memilih tempat yang jauh dari Madara untuk menggunakan kekuatannya. Membaca pikiran Kirei dan membaca masa depan yang akan terjadi. Dia terus berusaha keras. Hingga benar-benar menjauh dari Madara. Bahkan dia tidak tahu, sudah berapa lama dia mengayuh sepeda. Sepuluh menit rasanya tidak cukup jika tak bisa berlari secepat Peter.Tunggu. Peter?Tiba-tiba bayangan demi bayangan masuk ke penglihatannya. Dan di sana dia melihat Kirei. Tubuhnya diikat dengan tali dan didudukkan pada sebuah kursi kayu kecil. Mulutnya diplester dan matanya sudah sangat lama menangis. Dia tahu tempat itu. Beberapa orang berada di sana sama-sama diikat dan diplester di bagian mulut. Kirei tak seperti biasanya yang ceria, ramah dan murah senyum. Dia tampat sangat marah.☆☆☆☆☆Aisawa dan Madara di sini sekarang. Aisawa tidak tahu harus melakukan apa. Dia ingin terus bersama Madara, memiliki lelaki itu dan dia pun mencintainya. Membiarkan Kirei hilang selama-lamanya dan memandangnya. Nafsu dan cinta itu beda tipis hanya dibatasi selaput tipis yang bahkan mungkin tak bisa dilihat oleh mikroskop. Kau tahu, mengikhlaskan sesuatu tidak semudah yang dibayangkan siapa pun. Dan, Aisawa pun tidak sebaik itu. Bahkan dia baru pertama kali mengenal rasa lain selain bahagia."Aku mencintaimu. Aku menginginkanmu." Ujar Aisawa sambil menahan tangan Madara yang hendak masuk ke sebuah gedung."Heh?" hanya itu jawaban dari Madara. Lelaki itu memandang pintu utama gedung sekaligus berganti menatap Aisawa yang masih diam di tempat. Madara melihat setitik air mata menetes di sudut mata Aisawa.Aisawa buru-buru menghapusnya. Menenangkan hatinya yang telah hancur berkeping-keping. Ketika dia ingin melanjutkan masuk menuju gedung. Seseorang yang cukup dikenalnya berjalan cepat dan kali ini sudah berada di hadapannya, begitu dekat atau bahkan tanpa jarang sekali pun. Aisawa menatap lelaki itu dengan tatapan penuh amarah. Tentu saja dia tahu siapa di balik penculikan Kirei. Aisawa tak sempat melihat wajah terkejut, kaget dan ketakutan yang ada di wajah milik Madara."Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Aisawa setengah berbisik. Madara tak mendengar jelas obrolan keduanya. Peter tersenyum kecut."Aku mencintaimu. Aku menginginkanmu!" ujar Peter meledek dan mengulang kata-kata yang diucapkan Aisawa pada Madara. Madara mendelik ke arah keduanya. "Aku hanya mempermudah kau memiliki dia." Lanjut Peter dengan nada lebih lirih dan menggoda. Nada bicaranya begitu mesra dan membuat Aisawa jijik."Kau tidak membunuhnya, bukan?" kali ini Aisawa ketakutan dan khawatir. "Kau lihat Kirei di dalam!" perintah Aisawa pada Madara. Madara menurut saja."Kau serahkan semua kekuatanmu maka aku akan membuat mereka baik-baik saja. Mudah, bukan? Dan, kau akan mati dengan tenang." Ujar Peter berusaha setenang mungkin. Jantungnya bergejolak tak tentu arah. Sepertinya Aisawa mulai menyadari sesuatu yang beda pada tatapan Peter.Napas Peter terengah-engah. Dia berusaha tenang dan terus tenang, matanya terus menatap Aisawa yang seolah menantang menatapnya penuh kebencian. Keduanya sama-sama berpandangan tak seorang pun pindah dari posisinya. Aisawa tersenyum sinis dengan tatapan mencibir seolah tidak takut kematian atau keadaan rekan-rekannya. Peter mengeraskan rahang dan mulai stabil. Dia tersenyum jahil sambil terkikik kecil. Aisawa kali ini mengeryit."Kau tak menjawab. Apa berarti kau ingin kubunuh tanpa perlawanan?" bisik Peter pada telinga Aisawa. Bibirnya menempel pada telinga Aisawa. Membuat Aisawa merasakan dingin pada telinganya. Peter menegakkan tubuhnya lagi."Aku tidak yakin kau akan melakukan itu padanya." Seseorang melangkah dan mendekati keduanya. Keduanya menoleh dan hampir saja bertabrakan karena begitu spontan. Peter terkejut begitu pula Aisawa. Namun, Aisawa mengenal suara ini."Kenapa kau tidak yakin? Aku bisa membunuhnya dengan mudah kalau aku mau. Lelaki konyol itu sudah pergi menjemput kekasihnya. Dia tak akan menolong gadis ini." Tegas Peter membuat Aisawa mendelik tajam namun masih tak bicara.Aisawa menerka-nerka siapa suara itu. Justru baginya ocehan Peter sudah tidak menarik lagi. Dia lebih tertarik pada lelaki setengah baya dengan pakaian adat Jepang serba hitam. Matanya membelok tajam ke arah Peter dan Aisawa. Bergantian menatap kedua makhluk setengah manusia itu satu persatu."Aku tahu, kau mencintainya, bukan?" lelaki itu memastikan pada Peter. Aisawa mendelik kaget, begitu pula Peter. Hanya saja ada wajah terkejut yang berbeda. "Kau tahu bahwa mendapatkan kekuatan dari Aisawa yang begitu tak banyak omong adalah mudah, bukan? Bahkan kau bisa melakukannya sekarang juga. Tapi, apa?" lelaki itu bicara lagi. Namun, Peter masih terdiam. "Tanpa perlu menculik Kirei. Kau bisa dengan mudah melakukannya. Kau bermain perasaan dalam misimu!" tegas lelaki itu membuat Peter memanas dan meledak-ledak. Pasir di bawah kakinya berhamburan.Kali ini, Aisawa sudah mendapatkan jawaban siapa suara itu. Suara kegelapan yang selalu memberitahu apa yang dibutuhkannya. Namun, Aisawa sudah melupakan tentang itu. Dia menatap Peter yang emosi dan detik berikutnya entah pergi kemana.☆☆☆☆☆Ketika Aisawa masuk gedung bersama lelaki yang baru dikenalnya meskipun dia tahu sebenarnya, Ikogi Hatake, dia sedang mendapati Madara memeluk Kirei dengan penuh cinta. Beberapa orang yang sama-sama dikurung semua seusia dengannya. Dan, kelima yang lain tampak berbincang meninggalkan Madara dan Kirei di sudut ruangan. Kirei menangis, Madara menghapus air mata gadis itu penuh cinta. Mereka berbincang kecil dan membuat tawa yang Aisawa inginkan. Tak disadari, dia menangis.Berusaha baik-baik saja, gadis itu menghampiri Kirei yang bersama Madara. Dia berusaha menahan gejolak hatinya yang terasa pedih dan teriris. Dia tidak mempunyai kekuatan apa-apa sekarang. Ketika menyadari Aisawa mendekat, Kirei melepaskan pelukannya dari Madara. Gadis menatap Aisawa penuh ketakutan."Apa kau baik-baik saja?" tanya Aisawa yang sebenarnya hanya formalitas. Dia melihat ada ketakutan luar biasa di mata Kirei. Kirei atau Madara hanya saling pandang tanpa berani menjawab apa pun. "Lelaki brengsek itu pasti mengatakan sesuatu yang tidak-tidak, Kirei-chan?" ini kali pertama Aisawa menyebut nama gadis itu. Kirei diam kemudian mendongak dan mengangguk."Dia bilang, kau ingin membunuhku." Ujar Kirei lirih. Madara menggenggam erat tangan Kirei berusaha menguatkan. Ada pedih yang dalam di hati Aisawa."Pasti kau lebih tahu siapa yang sedang berbohong saat ini." Ujar Aisawa tegas. Bukan hanya Kirei dan Madara yang mendelik. Lima orang yang tidak dikenal Aisawa dan Ikogi pun mendelik. "Aku tidak memaksamu mempercayaiku. Kurasa kau lebih tahu kenyataannya." Lanjut Aisawa seraya pergi dengan tatapan tak bisa ditebak.Bersamaan dengan itu, semuanya bangkit dan meninggalkan tempat mengerikan yang bisa saja Peter sedang bersembunyi di salah sudutnya. Apakah ini sakit hati? Sakit yang begitu pedih dan menyesakkan. Jika sakit hati seperti ini, dia lebih memilih tidak berperasaan, tidak jatuh cinta, tidak tersenyum untuk orang lain dan tidak merasakan apa pun. Dia lebih menyukai kehampaan sekaligus bahagia yang biasa-biasa saja.☆☆☆☆☆Sejak dua hari yang lalu, Aisawa mengurung diri. Dia tidak ingin menemui Kirei atau pun Madara. Itu adalah sumber penyakitnya yang luar biasa pedih. Lagipula dia lebih menyukai kesendiriannya seperti sebelum-sebelumnya. Namun, semua itu tampak berbeda. Dia bukan dia yang dulu. Dia masih merasakan gundah, sedih, terkekang, bosan dan semua yang sebelum bertemu dengan Madara tidak pernah dirasakannya. Dia tampak putus asa untuk kembali ke kehidupan semulanya yang bahagia, melakukan apa pun sesukanya. Dia tak menyangka dia sudah menjadi manusia normal meskipun kekuatannya tidak hilang. Malam ini dia benar-benar tidak bisa tidur. Lebih tepatnya dua malam berturut-turut dan itu melelahkan sekali."Apa kabar, Sayang?" pertanyaan itu membuat Aisawa sontak bergerak waspada. Dia duduk di tepi ranjang, dengan cepat Peter duduk di samping gadis itu."Apa yang kau inginkan dariku?" pertanyaan itu begitu saja keluar dari Aisawa tanpa ingin menjawab pertanyaan yang diajukan Peter lebih dulu. Aisawa bangkit dari tepi ranjang dan buru-buru tangannya ditarik Peter agar tetap duduk. Dia menurut."Tidak ada keinginan apa pun selain ingin dirimu." Ujar Peter singkat.Peter melepaskan genggamannya dan bangkit ingin meninggalkan Aisawa. Mata abu-abunya tampak sedih dan tidak bersemangat. Tubuhnya pun terlihat begitu lemah. Apa benar Peter menyayanginya dengan tulus? Aisawa membuang semua pikiran itu. Lelaki itu yang membawa hidupnya pada masalah-masalah baru. Dia tidak harus percaya dan tidak harus membencinya juga. Peter yang memunggungi Aisawa akhirnya menoleh dan menatap gadis itu lembut, tidak seperti biasanya."Ada apa?" tanya Aisawa sinis. Gadis itu menatap Peter penuh kebencian. Peter membalas tatapan Aisawa dengan wajah murung kemudian tersenyum. Senyum yang jelas-jelas dibuat-buat. Peter menghela napas kecewa."Tidak ada apa-apa. Aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggumu lagi." Jawab Peter lirih. Dia kembali membalik tubuhnya, kali ini Aisawa yang tampak sedih.Entah apa yang dirasakan Aisawa saat ini. Hatinya bergejolak tak keruan. Bibir kelu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, hatinya menolak kepergian Peter. Ketika Peter ingin melangkah keluar dengan cekatan Aisawa menggerakkan jari telunjuknya dan membuat pintu tertutup dengan gebrakan keras. Kali ini, Peter menoleh dan menatap Aisawa tak mengerti. Lelaki itu jelas-jelas tak menampakkan perasaan bahagia sama sekali. Namun, tiba-tiba saja Aisawa merasakan sesuatu yang aneh. Dia bisa membaca pikiran Peter. Pemikiran yang rasanya amat mustahil.Keduanya sama-sama diam di tempat. Saling menatap dan terus begitu beberapa saat. Peter mencintainya? Bahkan sejak awal dia berencana ingin memiliki kekuatan Aisawa, Peter sudah menghapus mimpi-mimpinya. Peter benar-benar bodoh! Dia menculik Kirei hanya untuk membuat Aisawa memilih Madara. Peter ingin melihat Aisawa bahagia. Ancaman bahwa dia akan membunuh Aisawa pun hanya bohong. Aisawa tidak mempercayai bacaannya. Ini benar-benar konyol."Kau bodoh!" ujar Aisawa sinis. Membuat Peter menatap lebih tajam."Aku memang bodoh. Kenapa kau menahan orang bodoh ini? Aku ingin pergi." Ujar Peter lirih. Pria itu memasukkan kedua tangannya di kantung jaket tebalnya. Dingin musim dingin memang mulai dirasakan belakangan ini."Kau bodoh!" ulang Aisawa masih sinis.Peter menatap Aisawa dalam diam. Ada kemarahan yang begitu besar di mata itu. Aisawa merasakan gejolak di hatinya tidak keruan. Bukan hanya rasa ingin memiliki yang dirasakannya pada Madara. Ini berbeda. Benar-benar berbeda. Dia tidak tahu perasaan apa. Dia ingin memiliki sekaligus menginginkan lelaki itu tetap tinggal."Kau bodoh!" ujarnya sekali lagi. Peter masih diam di tempat. "Kau sangat bodoh! Sangat bodoh!" hardik Aisawa dengan volume lebih tinggi.Tanpa diduga, pria itu dengan cepat duduk di samping Aisawa. Gadis itu kaget dan hampir saja terjatuh, namun Peter mencengkeram bahunya. Detik berikutnya pria itu mencium bibir Aisawa pelan. Lelaki itu menutup mata, begitu pula Aisawa. Namun, tiba-tiba saja, Aisawa merasakan tak ada lagi dingin di bibirnya. Ketika membuka mata, Peter menatapnya dengan wajah sedih. Ada penyesalan yang sangat besar. Dan, detik selanjutnya, yang Aisawa ketahui hanya samar dan abu-abu. Tubuhnya lemas dan setengah sadar tubuhnya terjatuh ke belakang. Peter tampak kebingungan.Peter mengangkat kedua kaki Aisawa hingga tubuh keseluruhannya berbaring di ranjang. Setiap menyentuh Aisawa, itu sama saja mengambil energi Aisawa. Meskipun tidak keseluruhan energi tercabut. Dan, dia tidak ingin melakukan itu lagi."Kau bodoh, Peter." Ujar Aisawa lirih. Matanya setengah terbuka. Lelaki itu diam, namun melirik ke arah Aisawa dengan konstan.Hingga akhirnya, Peter bangkit dan hendak pergi. Namun, pergelangannya digenggam erat oleh Aisawa. Ketika dia membalik tubuhnya, genggamannya makin lemah dan beberapa detik kemudian terlepas. Kedua mata gadis itu tertutup rapat, napas yang semula konstan menjadi lemah. Peter benar-benar kebingungan. Memang sebuah larangan jika bersentuhan dengan seseorang yang berkekuatan. Siapa yang hatinya lebih lemah, energinya akan tertarik dengan mudah meskipun kenyataannya memiliki kekuatan luar biasa. Dan, Aisawa begitu lemah."Dewa, berikan dia kehidupan lagi. Aku rela menukarnya dengan nyawaku!" teriak Peter sejadinya. Tangis pecah dan mengucurkan banyak air mata di sana.Entah mengapa dia bisa selemah ini. Dia tak pernah tahu mencintai Aisawa begitu dalam. Semula dia ingin berbuat jahat dan mengambil semua kekuatan gadis lemah itu. Namun, dengan mudah pula gadis itu membuatnya jatuh cinta. Dia adalah orang bodoh yang pernah ada. Mencintai namun menyakiti. Bahkan untuk Madara yang tidak pernah mencintainya pun, Madara selalu melindungi Aisawa.☆☆☆☆☆Sudah lebih dari sebulan lamanya tak ada kabar dari Peter. Aisawa duduk diam memerhatikan salju yang turun dengan cantik. Putih dan tampak menyejukkan. Sudah sekian lama dia menunggu Peter datang, namun lelaki itu tak pernah hadir. Aisawa melangkah dengan cepat menuju ranjang kamarnya. Dia tak tahu mengapa bisa mendapatkan ilmu kecepatan milik Peter. Dia tidak ambil pusing.Tubuhnya ia baringkan pada tempat tidur yang empuk. Udara dingin yang masuk dari jendela membuatnya menggerakkan ujung telunjuk untuk menutupnya. Tertutup dan terkancing dengan sempurna. Selanjutnya, dia mulai menarik selimut ingin tidur."Dia...," suara Ikogi membuat Aisawa mengurungkan diri untuk tidur. Sejak saat kemunculan perdananya, Aisawa tak bertemu dengan Ikogi sekaligus mendengar suara lelaki setengah baya itu lagi. Ini pertama kalinya. "Dia mengorbankan dirinya agar kau tetap hidup. Dan, dewa mengabulkan. Dia sudah tidak ada di dunia sekarang." Lanjut Ikogi membuat Aisawa mengeryit tanpa tak mengerti."Dia? Siapa?" tanya Aisawa."Kawahara Peter. Dia telah membuatmu pingsan waktu itu. Kau menggenggam erat tangannya begitu erat, itu membuatmu kehilangan banyak energi. Kau tahu bukan kalau bersentuhan dengan orang jenis kalian, maka salah satu di antara kalian yang memiliki hati bersedih akan kehilangan energi. Dan, dia tak sengaja membuatmu seperti itu. Dia merasa sangat bersalah. Dia meminta dewa agar menghidupkanmu lagi. Dan, dia terima jika dia yang harus mati." Jelas Ikogi membuat Aisawa hampir menangis karena tak percaya. "Sebenarnya aku tidak percaya dia begitu mencintaimu. Saat pertama kali dia datang ke sini saat kau bangun tidur, saat dia menciummu dan membuatmu hampir pingsan, dia sangat merasa bersalah. Aku tahu, saat itu dia sudah mencintaimu." Tegas Ikogi. "Dia menculik dan berniat membunuh Kirei hanya agar kau bahagia dengan Madara. Ternyata kau mengetahui keberadaan Kirei. Akhirnya, dia pura-pura marah dan mengancammu. Dia itu sangat konyol, Aisawa." Lanjut Ikogi."Sudah cukup aku mendengarnya! Aku ingin keluar sebentar!" bentak Aisawa emosi. Dia menghapus air matanya yang sudah bercucuran deras.☆☆☆☆☆Udara malam yang dingin ditambah musim salju menjadi dingin yang luar biasa. Aisawa menyusuri jalan setapak berusaha mencari-cari sesuatu yang membuatnya tidak merasa bosan dan merindukan Peter. Namun, itu begitu sulit. Hingga langkahnya terhenti ketika melihat seseorang sedang berdiri memeluk tubuh dengan kedua tangan yang masing-masing mengenakan kaus tangan hangat. Uap putih keluar dengan cantik dari mulutnya. Aisawa terdiam masih memerhatikan, hingga seseorang di sana sadar telah diperhatikan. Aisawa mendekat dengan cepat tanpa langkah berarti."Astaga!" teriaknya refleks. Aisawa hampir tertawa dibuatnya.Lelaki itu mundur satu langkah tampak ketakutan. Kali ini, Aisawa yang terdiam sekaligus menatap penuh tanda tanya. Mengapa orang itu takut padanya. Aisawa melangkah satu kali ke depan. Membuat orang itu mundur sekali lagi hingga akhirnya dia menyerah ketika tahu tubuhnya sudah menempel di dinding. Aisawa tersenyum jahil dengan tatapan menggoda."Apa kau hantu? Kau bisa melakukan seperti tadi." Ujarnya terbata-bata.Aisawa mulai sangat kebingungan. Lelaki itu setengah gemetar, mungkin karena efek langkah Aisawa yang begitu cepat. Aisawa menjadi kesal dan tidak sabaran. Dia menjinjitkan kaki dan mencium bibir lelaki itu dengan susah payah. Lelaki itu terdiam dengan mata terbelalak kaget. Bibir basah Aisawa masih menyentuh bibirnya dengan lembut, Aisawa belum melepaskannya. Sangat lama seolah menikmatinya ketika Aisawa menyadari bahwa energi dalam tubuhnya baik-baik saja."Apa yang kau lakukan? Bahkan kita belum pernah mengenal!" teriak lelaki itu tak terima. Napasnya terengah-engah. Pipinya panas. Aisawa sama-sama terengah-engahnya. Dia tak menyangka melakukan hal bodoh seperti yang dilakukan Peter padanya dulu. Aisawa masih merapatkan tubuhnya dengan tubuh lelaki itu."Bukankah aku kekasihmu? Ini aku, Peter!" tegas Aisawa geram.Wajah itu benar-benar sama persis. Sebenarnya dia yakin kalau lelaki itu Peter. Namun, lelaki itu memang sedikit berubah, lebih lembut dan culun. Namun, masih tampan dan membuatnya rindu seperti sebelumnya. Aisawa menatap lelaki itu tanpa berkedip sekali pun melihat kebenaran yang ada di matanya. Dia sudah membaca hal yang ada di pikirannya. Lelaki itu sedang berpura-pura. Hingga akhirnya, Peter tersenyum dan tangan kanannya meraih pinggang Aisawa ke pelukannya. Tangan kiri meraih leher Aisawa dan membenamkannya ke dadanya yang bidang. Terasa hangat."Aku mencintaimu, Aisawa. Meskipun aku sudah tak punya kekuatan apa pun. Aku akan melindungimu dengan seluruh ragaku." Ujar Peter sembari mengeratkan pelukannya. Tak ada yang dilakukan. Aisawa membalas pelukan hangat Peter. Mungkin itu sudah jawaban lebih atas ucapan Peter. Peter tersenyum.

Kartini yang Salah
Fantasy
06 Dec 2025

Kartini yang Salah

Langkah berisik dari badan jalan benar-benar mengganggu. Bau rokok di mana-mana, tatapan mata yang menghujani lorong-lorong sempit perumahan kumuh. Aku marah, kesal dan segala jenis peluapan emosi negatif. Negeri ini amat busuk, sampah-sampah berserakan di jajaran lantai panggung. Panggung akademik, sosial, budaya hingga politik. Tak adakah kata yang lebih dari sarkastis lagi?Telepon genggamku berdering. Tampilan layar berubah, tertulis sebuah nama di sana. Aku langsung menjawab. "Ada apa?" pertanyaanku tak disambut.Sang penelepon menghujaniku dengan kalimat perintah. "Tak bisakah kau memulai dengan ucapan Assalamualaikum ?" aku tak menganggap itu pertanyaan. Jelas-jelas adalah sebuah kalimat perintah.Aku melakukan perintahnya. Lalu dia menjawab, " waalaikumsalam ." Aku menghela napas lega.Segala tentang konflik dan pertikaian aku selalu menghindarinya. Menjadi orang yang memiliki beberapa teman, tidak begitu pendiam dan tidak begitu mencolok adalah pilihan yang tepat. Aku ingin masa-masa sekolahku tak bermasalah. Hanya itu."Besok aku ke rumahmu. Dan aku harap kau sedikitnya menyingkirkan barang-barang menyeramkan yang menutup semua ventilasi udara," perintahnya sekali lagi. Jelas dia berucap tenang dan tidak memerintah, namun aku sangat peka terhadap ucapannya. Perintah lagi.Entah apa yang membuatnya menjadi begitu ikut campur akan tentangku.Aku menggeretakkan gigi-gigiku. Kesal. Rahangku bertautan. "Jangan memerintahku. Kau tidak paham tentang kesukaanku!"Percakapanku berlanjut dengan debat kecil tak bermakna. Entah bagaimana aku meladeni orang sepertinya. Merepotkan. Dan aku sampai di depan rumahku. Rumah biasa yang tidak istimewa. Gerbang kecil yang hanya cukup jalan untuk sebuah motor, taman dengan ukuran empat kali sepuluh meter dan selain itu tidak ada yang istimewa. Rumah tua dengan dinding terkelupas berwarna biru kusam hampir putih kecokelatan."Barang-barang menyeramkan yang menutup ventilasi udara? Ha! Yang benar saja!" gerutuku memerhatikan jejeran lukisan, foto dan beberapa jenis bingkai foto yang seluruhnya adalah tentang Raden Ajeng Kartini. Aku tersenyum. Aku mengaguminya.Purnama yang kelam lama-lama pudar dipunggungi oleh fajar. Fajar yang merah keperakan mengintip dari balik celah-celah jendela. Matanya riuh menerpa gorden. Silau. Aku perlu membersihkan diri, tindakan jaga-jaga kalau benar gadis itu datang. Rana. Ajeng Kirana. Teman kelasku itu tak pernah jera. Aku tak membencinya. Namun, aku hanya tidak ingin ada yang terlalu memedulikanku, aku tak cukup mampu menampung beberapa kebisingan dalam duniaku lagi."Saat di kelas sepuluh kau tidak seperti ini. Berjalan beriringan dengan teman-teman, membicarakan tentang pelajaran dengan antusias dan lebih ceria. Bukankah begitu?"Rana bicara terus. Benar-benar gadis yang tidak mau menyerah, bukan?Aku diam. Memerhatikan secangkir teh yang baru saja aku buat. Tak ada yang bisa menyuguhkan hidangan selain aku sendiri. Ayah telah lama meninggal dan ibu selalu bekerja pagi dan pulang larut malam. Setiap hari aku sendirian. Bahkan untuk hari Minggu seperti ini. Ya, selalu seperti. Seperti yang kubilang, tak ada yang istimewa. Kecuali rumah tua bersama bingkai-bingkai menawanku."Ini hidup bukan permainan Kartini-Kartini-an, Ni!" selalu seperti ini. Sikapnya yang sok dewasa. Aku lama-lama kesal."Dengarkan aku! Kapan aku bilang ini permainan? Aku hanya memberi pelajaran pada wanita-wanita busuk yang tidak pernah menghargai Ibu Kartini! Emansipasi yang bertahun-tahun diperjuangkannya, pendidikan yang diraihnya mati-matian dan kesetaraan derajat dengan lelaki dicampuradukkan seenaknya! Mereka pikir hidup mereka akan seperti apa tanpa Ibu Kartini yang dulu? Ha?!" suaraku parau. Napasku tersengal-sengal. Aku tahu dia tidak akan paham.Sepasang bola mata yang terfokus pada tatapanku terlihat berbinar, bulir bening menetes perlahan mendobrak pertahanan yang selama ini dibendung. Aku tidak bisa menyakiti sahabat baikku itu. Dia pertama yang kukenal di SMA, dia pun yang selalu menemaniku ketika yang lain acuh. Namun, aku telah menyakiti perasaannya. Kau tahu? Nada tinggi tidak akan menyelesaikan masalah. Dan, benar."Dengan pulang malam dan meneror teman-teman kita seperti itu?" kali ini Rana benar-benar mengajukan pertanyaan. Pertanyaan atau pernyataan? Aku hampir tak bisa membedakannya. Ironis.Aku tersenyum sinis. "Kami berikhtiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup sendiri. Menolong diri sendiri. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula."Rana bangkit dari kursinya. Dia tersenyum. Senyum yang tidak aku kenal. Sebuah senyum dipaksakan.Kursi rotan itu kini kosong. Tak ada yang tertinggal di sana. Hanya mataku yang masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah muram dan mata indahnya meneteskan air mata. Tak ada ingatan lain selain itu. Tak ada. Cukup rasa bersalah yang membuatku ingin tenggelam lebih dalam atas kebencianku.Seperti malam biasanya, bising dan bau-bau khas. Selalu ada wanita-wanita busuk yang membuat negeri ini menjadi penuh tumpukan sampah. Ucapan-ucapan yang berbisa dan lebih beracun dari bisa ular kobra. Lidah yang tajam menusuk-nusuk hingga menghancurkan tulang-tulang. Sikap yang kotor, bau busuk dan tak mampu dibersihkan meskipun berbulan-bulan. Negeri ini akan hancur. Terlalu sarkasme memang."Benar-benar konyol. Kalau saja tidak ada Kartini di masa lalu, aku tidak akan melihat lembar soal ini! Benar-benar menyebalkan. Aku benci sekolah!" Ucapan dari salah seorang gadis di kelas, memulai riuh tawa di tengah-tengah ujian.Aku mendapati lirikan Rana kepadaku. Dia benar-benar tak bisa berhenti mencampuri urusanku. Aku memalingkan pandanganku. Berusaha tenang dan mengendalikan emosiku. Bagaimana kau menahan emosimu ketika seseorang mencemooh idolamu? Aku sungguh tak mampu.Dunia yang busuk. Seharusnya dia berpikir, bagaimana hidupnya sekarang tanpa Ibu Kartini. Apa dia akan mampu melangkahkan kaki keluar rumah? Ha! Aku selesai memberinya pelajaran. Kuharap dunia akan lebih baik."Apa yang kau lakukan kali ini? Apa dia benar-benar keterlaluan? Dia hanya bercanda!" sudah kuduga, dia memerhatikanku. Dia tidak benar-benar pulang sekolah.Aku tersenyum sinis. "Menguntit? Aku hanya ingin menolongmu." Dia benar-benar Rana yang selalu ikut campur.Headset kupautkan pada kedua lubang telingaku. Mengenakan tas punggung dan kemudian berlalu pulang seperti biasanya. Sangat biasa dan tak ada yang spesial. Suara dengungan dari musik yang aku putar terus menggema di telingaku. Mataku menatap jalanan yang selalu ingin kupalingkan. Namun, ini negeriku. Aku tak bisa keluar atau harus pindah. Ke mana? Aku hanya harus membersihkan sampah-sampah yang bertumpuk dan lama-lama mungkin akan menyebarkan banyak penyakit."Menyontek? Apa kau pikir orang tuamu menyekolahkanmu hanya untuk ini? Mereka mencari uang siang dan malam hanya untuk membuatmu belajar dan tahu banyak hal! Dan yang membawamu ke sini. Raden Ajeng Kartini. Aku rasa dia akan malu, memperjuangkan kaum untuk bisa menuntut ilmu namun menyalahgunakannya. Kaum yang diperjuangkannya seperti sampah busuk yang harusnya dibuang!" seisi kelas menjadi riuh dan bising. Jelas aku gagal menjadi gadis biasa yang tidak mencolok.Wanita di hadapanku bersungut-sungut. "Ha! Lelucon macam apa ini?!" teriaknya tepat di depan wajahku. Ada beberapa percik air yang mengguyur wajahku."Ucapanmu benar-benar kasar! Untuk seorang yang sangat mencintai Kartini, apakah pantas menyakiti perasaan kaum wanita yang lain?" Rana menimpaliku.Sesaat semuanya gelap, tak ada suara aneh selain sorakan dan hardikan. Aku hanya bisa berlari dan meninggalkan kelas. Pengalaman mengesankan. Jika ini adalah sebuah panggung teater, kurasa banyak yang akan berdiri dan bertepuk tangan.Ingatan itu muncul kembali.Sejak kejadian itu, aku tak memiliki teman satu pun. Semuanya menganggapku aneh, kasar dan psikopat. Meskipun anggapan mereka tidak salah. Aku duduk di ruang baca Perpustakaan. Tak ada yang mendekatiku. Untuk sebuah sekolah khusus wanita, tentu wajar untuk perjalanan gosip yang lebih cepat dari kecepatan cahaya. Meskipun itu bukan gosip, jelas-jelas adalah fakta."Apa kau tahu rasanya dicambuk berdarah-darah? Itulah harga dari pelecehan atas sikap terpuji Kartini." Suara itu kubuat berulang dengan nada suara berbeda. Musik pengiring pun aku sisipkan dengan lagu-lagu penyiksaan. Membayangkannya saja aku sudah ngeri. Aku tak ingin memutarnya ulang. Kemudian aku kirim ke pembuat masalah.Esok paginya sudah bisa kubayangkan. Tak ada kabar beredar. Ancamanku sempurna. Seusai dipermalukan, pengumuman bahwa sang pembuat masalah itu pindah sekolah adalah kabar bahagia bagi kami. Lebih tepatnya bagiku. Untuk membuat sebuah negeri bebas sampah, harus dimulai dari lingkungan yang kupijak dahulu. Aku yakin, aku berhasil. Agar benar-benar bersih, kau harus membuangnya satu persatu terlebih dahulu."Nanti malam aku akan berdandan paling cantik. Aku yakin, dia akan meninggalkan kekasihnya yang buruk rupa itu! Bagaimana bisa dia menolakku dan memilih seorang gadis buruk rupa?!" dunia benar-benar busuk.Mataku memejam sesaat kemudian kutemukan ide bagus. Aku melanjutkan membaca bukuku. Tak akan ada lagi sampah yang berserakan. Sampah harus dibuang pada tempatnya.Purnama berada di pusat langit. Tampak berbintang dan menyilaukan. Sangat indah. Aku menyukai keadaan ini. Seperti diperhatikan oleh banyak hal, walaupun itu hanya alam. Jika alam mendukung, bagaimana manusia-manusianya tidak? Aku hidup di masa dalam asa yang tak kunjung nyata. Angan-angan itu selalu memburuku, membuatku terus bekerja keras menyapu bersih deretan sampah-sampah. Aku pun membenci ibuku. Untuk seorang wanita yang emansipasinya diperjuangkan Ibu Kartini, mengapa dia melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu? Menghabiskan waktunya untuk berhura-hura.Bagaimana pun aku paham, pekerjaannya tak selarut yang aku lihat. Banyak sampah di mana-mana. Aku perlu menyingkirkannya. Darahku mendidih, menyumbat paru-paru bersama tekanan darah yang terus berpacu dengan cepat. Aku marah. Kesal. Kecewa."Dia di Rumah Sakit, wajahnya iritasi. Kata dokter, make up yang dia pakai mengandung obat-obatan berbahaya." Kabar bahagia sekali lagi. Dan, topik ini membawa aku pada harapan yang lain. Kadang ujian adalah hal yang dapat membuat orang sadar. Kurasa inilah balasan untuk orang-orang yang tidak menghargai perjuangan Ibu Kartini.Bangku itu masih kosong sejak kepergian Rana dengan meninggalkanku bersama ucapan terakhir kalimat Kartini yang ditulis pada suratnya.Kami berikhtiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup sendiri. Menolong diri sendiri. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula.Tak seperti aku, dia hanya tahu dan tak begitu mencintai Kartini. Kehidupan nyaman, hedonis dan bersama jutaan spekulasi kemanusiaannya yang salah. Kemanusiaan macam apa yang mendukung wanita-wanita berbuat salah? Dan dari semua hal, dia tak pernah paham atas pemikiranku.Alasan aku memasang bingkai-bingkai di dinding-dinding rumah. Aku hanya sekedar membuat ibuku paham. Bisakah ia menjadi seorang wanita seperti Kartini yang berbudi luhur dan mencintai keluarganya.Suara-suara deru mesin kendaraan begitu khas. Suara bising hilir mudik bersama bunyi-bunyi klakson mobil dan motor. Seperti biasa. Maka, seperti biasa pula aku melangkahkan kaki menuju sekolah setiap jam enam hingga sampai ke sekolah jam enam tiga puluh pagi. Lagi-lagi tak ada yang istimewa, karena semuanya dapat melakukan apa yang kulakukan.Sebuah kelas yang monoton dan tak menyenangkan. Namun, aku sedang menunggu kabar kemarin. Sesuatu yang aku letakkan di dalam laci meja wanita yang dengan beraninya melecehkan Kartini. Sedikitnya ini akan memberikan sesuatu yang menarik untuk hari ini."Seperti bau bangkai tikus." Ucapan salah seorang teman kelasku membuatku memalingkan wajah ke arah mereka karena penasaran. Rana. Lagi.Sang pemilik meja hanya menggeleng seolah tak mencium bau apa pun. Aku benar-benar gagal. Akan kucoba lain kali. Atau aku perlu menyingkirkan sang pengganggu terlebih dahulu? Aku ingin melakukannya. Aku tak akan dapat membuang sampah ketika tempat sampah tertutup rapat dengan penutupnya."Aku harus menolongmu." Ucapannya setengah berbisik ketika jam pelajaran berlangsung, suaranya tergantung di kerongkongan. Matanya terlihat tulus. Namun, aku tidak sedang membutuhkan bantuan. "Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri." Dia mulai bersikap bak pujangga. Ocehan yang menyebalkan.Riuh suasana kelas lebih ramai setelah bunyi bel berdentang. Aku tersenyum sinis. "Kau benar-benar pengkritik sekaligus penguntit." Aku bangkit dari tempat dudukku, memasukkan buku dan beberapa alat tulis di dalam tas."Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan tak pernah memberikannya, kamulah yang membiarkannya datang. Atas dua kalimat ini, aku perlu membersihkan hal-hal buruk itu," ujarnya. Setelah kalimat itu, tak ada lagi yang perlu dibicarakan.Bola lampu kamarku berkedip-kedip, setelah beberapa lama terulang, lampu kamar padam. Benar-benar gelap total. Cahaya satu-satunya yang muncul adalah dari layar telepon genggam samping ranjangku. Kali ini sebuah nomor tidak dikenal."Apa?!" teriakanku menggema di seisi rumah beserta diikuti rasa dingin dari pipiku, terasa lembab dan basah. Kali pertama aku menangis bukan karena Kartini.Jalanan koridor rumah sakit terasa lenggang. Tak banyak orang-orang yang berada di depan kamar inap. Jantungku berdegup dengan cepat, pipiku panas sekaligus dingin seiring air mata yang membanjiri. Peredaran darahku serasa tidak normal, jemariku gemetar bersamaan dengan gigi-gigi yang bergemeretak. Duduk di depan ruang IGD sedikit mengganggu, namun setelah itu aku merasa nyaman." Assalamualaikum , Anak Baik." Sebuah suara halus bersama jemari yang lembut membelai rambutku dengan sangat nyaman. Senyum yang selalu kurindukan, wajah yang selalu kuimpikan, mata bening yang meneduhkan dan pelukan yang menenangkan.Bibirku bungkam. Mataku berkaca-kaca karena bahagia. Wanita di sampingku kini, benar-benar sangat menawan. Aku benar-benar menyayanginya." Assalamualaikum , Anak Baik." Dia mengulang kalimatnya seolah menegaskan sekali lagi. Benar-benar suara merdu bak kicauan burung gereja di pagi hari.Bibirku membentuk bulan sabit kecil. Aku benar-benar merasa sebagai orang paling beruntung di dunia seketika." Waalaikumsalam , Bu," ujar wanita itu.Wanita itu kembali membelai rambutku yang kusam. Tangan halusnya merambah hingga akar-akar rambut seolah memberikan energi positif pada akar-akar rambut, saraf-saraf rambut hingga ke otak. Sihir apa yang digunakannya?"Dulu aku seperti kamu. Membenci mata yang melihat tak seronok, membenci badan yang dijajakan, membenci kaki yang salah berpijak dan membenci bibir yang bau busuk," ujarnya dengan suara-suara lembutnya.Aku mendengarkan dengan saksama. Nada bicaranya tenang dan menenangkan. Aku masih mendengarkan tak mengalihkan pandangan sedikit pun."Kemudian aku sadar. Apa gunanya meminta orang lain menjadi berlian ketika aku sendiri hanya sebongkah besi berkarat?" dia berhenti bicara sebentar. "Apa gunanya meminta orang lain naik undakan ke lantai tujuh menggapai langit ketika aku sendiri merobohkan lantai-lantainya?" lanjutnya.Mataku berbinar. Bukan terharu. Hanya menjadi sedikit sadar atas segala sikapku yang telah menyimpang terlalu jauh. Bahkan air mata ini pun seakan tak berguna lagi."Apa gunanya meminta orang lain membuat pelangi indah setelah hujan ketika aku sendiri menjadi mendung yang datang bersama petir menggelegar?" ucapannya yang halus dan sinis membuatku kembali terdiam dan membuat bulir bening turun perlahan.Kurasakan belaiannya sekali lagi. Mata sayu yang membuatku rindu. Suara merdu yang merengkuh kalbu. Bibir merah membiru yang membuat rasaku haru."Ketika kau sangat mengagumiku, maka dekatlah denganku. Semut akan bergaul dengan semut, ular akan bergaul dengan ular dan kupu-kupu akan bergaul dengan kupu-kupu. Maka, di antaranya seharusnya tidak berkhianat. Kala kau mengagumiku, maka dekatlah denganku. Jangan membuat sikap yang membuatmu jauh," ujarnya lagi membuat air mataku deras membasahi pipi, entah berapa sudah berapa lama aku menangis.Abu-abu. Semuanya menjadi pudar dan samar-samar. Mata sayu telah hilang dibawa kelam, suara merdu tak lagi terdengar dan pelukan hangat samar-samar direngkuh oleh gelap kemudian tenggelam. Wajah yang kurindukan kini hilang. Meninggalkanku bersama secercah harapan yang hampir tak tertinggal. Sebuah cahaya membangunkanku dari lelapku. Terlalu nyata untuk sebuah mimpi."Ibumu telah sadar dari pingsan. Tak seperti yang kau lihat. Perusahaan bos ibumu telah bangkrut setahun lalu. Ibumu kemudian menganggur dan bekerja dari pagi sampai malam di restoran ayahku. Dia memintaku tak membicarakan ini denganmu. Dia terlalu peduli padamu, tidak ingin membuatmu sedih kemudian memikirkan masalahnya. Dia hanya ingin kau terus bersekolah. Kau tahu? Dia sangat mencintai Kartini. Dia mengabadikannya pada namamu. Sempurna bukan?" Ucapan Rana membuatku bungkam.Air mataku semakin deras mengucur. Tak mampu kutahan lagi bendungannya."Kurasa ucapanku tetap tak akan kau gubris. Hanya Kartini yang akan membuatmu sadar. Wanita itu cantik, bukan?" ucapan Rana membuatku terbelalak kaget, kemudian aku memeluk gadis itu erat.Sepertinya tak ada yang perlu aku bahas lagi. Aku tak ingin berhenti. Akan kulanjutkan perjuangan Kartini. Bukan hanya kulanjutkan perjuangan Kartini, namun akan kulindungi harta berharganya, wanita Indonesia.

Utopis
Fantasy
06 Dec 2025

Utopis

Seperti biasanya aku menyukai sudut kamar ini. Sebuah kursi kayu tua dipernis sedemikian rupa hingga mengilap. Aku sedang duduk di atasnya. Seraya itu aku melirik sebuah jam dinding kuno yang besar di kamar apartemen ini menunjukkan pukul 2 dini hari. Dan dari tempat aku berada ini, aku memerhatikan mantan kekasihku. Kami putus hubungan tiga tahun yang lalu. Dia sudah memiliki kekasih baru. Berbeda dengan janji yang pernah diucapkannya dulu akan setia padaku. Bullshit!Lelaki berusia dua puluh lima tahun itu menarik selimutnya hingga menutup seluruh bagian tubuh kecuali wajah. Lampu kamar dimatikan. Hanya lampu tidur redup dengan cahaya remang-remang yang menyala. Namun, wajah tampannya masih terlihat sangat jelas di mataku. Dia seperti tiga tahun yang lalu saat kami sama-sama masih duduk di bangku kuliah. Tidak ada yang berubah, bahkan kamar apartemen ini sekali pun. Hanya saja mungkin hatinya telah berubah. Ia sudah menyerahkan hatinya yang selalu kudambakan pada wanita lain. Entah aku harus sedih atau bahagia.Aku tidak bisa tidur semalaman. Sejak aku kembali ke tempat ini, aku melupakan rasanya memejamkan mata. Tentu saja karena aku lebih menyukai wajah tampannya ketika dia tertidur. Mungkin aku masih mencintainya. Ya, kurasa sangat mencintainya.Waktu berlalu begitu cepat. Kali ini menunjukkan pukul 6 pagi. Ketika dia bangun dan menuju kamar mandi, aku buru-buru ke dapur. Membuka lemari makan dan mencari sesuatu yang bisa dimasak dan dimakan untuk sarapannya. Aku tidak menemukan apa pun kecuali stoples gula dan stoples garam. Akhirnya aku menuju ke kulkas dan menemukan beberapa roti tawar dengan pelengkap untuk membuat sandwich . Ya, dia sangat menyukai sandwich , aku sering membawakannya sandwich setiap pagi ke kamar apartemennya sebelum kami berangkat kuliah bersama.Aku memanaskan mentega pada wajan, kemudian menggoreng telur setengah matang. Selanjutnya memanaskan roti tawar pada panggangan. Ketika roti terlihat sudah kecokelatan, aku meletakkannya pada piring dan menyusunnya. Dimulai dari satu lembar roti bakar, kemudian daun selada, potongan tomat dan tanpa potongan mentimun. Dia tidak menyukai mentimun. Kemudian setelah potongan tomat, aku meletakkan telur yang sudah digoreng sebelumnya, menuangkan saus manis, saus pedas, mayonnaise , taburan sedikit keju dan menutup dengan selembar roti tawar. Sangat lengkap.Terbilang cukup lengkap untuk membuat sandwich , bagaimana pun ia memang hanya butuh makanan itu selama beberapa bulan belakangan. Selanjutnya, aku meninggalkan sebuah catatan kecil. Aku harap dia menyukainya seperti dulu.Aku tidak kembali pada tempatku. Aku memilih ke ruang tamu, karena bersamaan dengan selesainya dia berganti pakaian setelah mandi, seseorang menekan bel kamar. Aku memerhatikan wajahnya dari layar belakang pintu. Penampakan yang sering aku lihat, seseorang di sana adalah orang yang foto-fotonya banyak dipajang di berbagai ruangan di kamar ini. Aku sudah menelusuri semuanya. Mulai dari kamar ada dua buah foto, ruang tamu ada sebuah foto besar, dan dapur hanya memiliki satu foto kecil. Lebih tepatnya, ia mengganti semua foto-fotoku sebelumnya."Sebentar!" teriak mantan kekasihku dengan tegas. Dia buru-buru berhambur keluar kamar dan menuju pintu apartemen. Dia sudah lengkap dengan pakaian kerjanya, hanya saja rambutnya yang basah masih bertopikan handuk.Pintu dibuka. Seorang wanita seumuran denganku masuk tanpa dipersilakan. Pria dengan rambut ditutup handuk itu menutup pintu, kemudian kembali menuju balkon untuk menjemur handuk. Setelah itu dia hendak menuju ruang tamu lagi, menikmati sarapan yang dibawa kekasihnya, namun dia terhenti di dapur. Mungkin, aroma sandwich buatanku mulai memasuki rongga-rongga ruang penapasannya.Dia terkejut ketika memerhatikan catatan kecil di sebelah piring sandwich , suara teriakannya yang tidak terlalu lantang tetap membuat kekasihnya datang ke arahnya."Ada apa, Lex?" tanya wanita itu tanpa panggilan sayang. Membuatku menjadi ingat ketika kita masih menjadi sepasang kekasih, Alex memang tidak suka dipanggil sayang atau semacamnya. Sebagai bukti, wanita itu memanggil kekasihnya hanya dengan sebutan nama, Alex. Telapak tangan kanan bagian kanannya, menyentuh bahu Alex."Kau membawakanku sandwich ?" Alex balik tanya. Kekasihnya menggeleng. "Lalu, siapa yang meletakkan ini di sini? Apa seseorang yang ingin menyebarkan teror?!"Alex menunjuk sandwich buatanku. Sesaat dia mampu membuatku sakit hati, hati ini teriris begitu saja dengan mudahnya, membuatku menangis dengan tertahan. Walaupun sebenarnya aku tahu, suaraku tak bisa didengarnya."Helena?" wanita itu membaca catatan kecil yang kubuat. Lebih tepatnya pada bagian bawah catatan, sebuah nama pengirim, namaku. "Apa maksudnya ini? Helena? Kekasihmu yang mati kecelakaan itu? Orang konyol macam apa yang mempermainkan permainan bodoh seperti ini? Ha! Mana ada orang mati gentayangan! Pasti dia lagi sibuk disiksa di neraka!" wanita itu tertawa seenaknya. Aku geram. Namun, aku tidak bisa melawan. Namun, kudapati wajah Alex sama marahnya."Jangan berkata sembarangan tentang Helena!" Alex berteriak lantang di depan wajah kekasihnya. "Aku memang tidak percaya dengan hal semacam ini. Tapi, aku lebih tidak suka mendengar seseorang menjelek-jelekkannya! Dia adalah hal yang paling berharga di dunia ini. Melebihi siapa pun!" kata-kata Alex masih bernada tinggi, namun mampu membuatku sekaligus kekasihnya terdiam.Selama kematianku, bahkan dia masih sangat mencintaiku. Aku melangkah mendekatinya, membelai rambutnya yang hitam legam, meskipun itu hanya menembus saja. Aku mencium pipinya dan hal yang sama terjadi. Ini adalah hal paling utopis. Aku tidak bisa menggapainya bahkan ketika aku bisa melakukan apa pun."Helena?" suara Alex terdengar lirih. Apa dia bisa merasakan keberadaanku?Kekasihnya terdiam. "Kau sudah benar-benar gila, Lex! Hubungan kita berakhir di sini! Aku tidak sudi diselingkuhi olehmu hanya karena setan gentayangan!" wanita itu berhambur pergi, mengambil bekal makanan dan juga tas jinjingnya.Alex tak mendengar ucapan marah dari kekasihnya.Dia memanggilku kembali. "Helena?" suaranya masih sama-sama lirih seperti tadi.Aku bingung harus melakukan apa, namun Alex benar-benar menyadari keberadaanku. Akhirnya, kuambil sebuah buku catatan di ruang tamu dan kembali. Kuterbangkan sebuah catatan di hadapannya. Catatan itu berisi tulisan.Aku di sini, Lex. Apa kau baru menyadari kalau aku selama tiga tahun ini berada di sampingmu?Alex membaca perlahan catatan itu, dia selalu takut dengan hantu dan aku sadar aku telah membuatnya takut. Namun, ada secercah senyum di bibir manisnya."Kenapa baru sekarang datang? Kenapa tidak sejak dulu? Kenapa kau biarkan aku mengkhianatimu dengan seorang wanita sialan sepertinya! Aku tidak pernah mencintai wanita itu! Aku hanya mencintaimu, Helena!" teriakan dengan deru napas dan diiringi tangis yang mengucur di sudut matanya menampakkan cahaya kemilau yang sangat terang. Hingga aku pun silau melihatnya.Semenit kemudian, aku bisa melihat Alex dengan jelas. Bahkan, senyum yang lebih manis ada di bibirnya. Aku merindukan senyum yang entah berapa lama tak pernah aku lihat lagi. Tidak. Ini bukan senyum yang seperti kubayangkan. Dia sedang tersenyum padaku. Dan, dia mampu memelukku dengan erat.Apakah ini mimpi? Namun, sebagai hantu gentayangan, aku tidak mungkin bisa tertidur apalagi bermimpi? Lalu, apakah ini kenyataan? Bagaimana bisa? Entah ekspresi apa yang harus kusuguhkan.Aku benar-benar senang merasakan pelukan dari seseorang yang sangat kucintai ini. Karena ini benar-benar nyata. Bukan angan seperti biasanya. Utopiskah? Absolut.***Wajah Alex terlihat penuh senyum bahagia setiap harinya setelah kedatanganku sebulan yang lalu. Ya, sebulan penuh dia sangat bahagia. Dia selalu berkata bahwa penantiannya selama tiga tahun tidak sia-sia. Bahwa pengharapan dan keteguhan hatinya yang tetap mempertahankan cintanya untukku tidak pernah sia-sia. Sebenarnya, aku tahu betul bukti itu, karena selama tiga tahun aku bersamanya, meski hanya menjadi sebuah penonton yang sedang menonton aktor memainkan skenarionya."Siapa yang sedang kau perhatikan, Lex?" pertanyaan itu milik, Matthew, dia adalah teman Alex sejak SD. Aku cukup mengenalnya.Mendengar pertanyaan itu, Alex hanya senyum-senyum sambil memandangiku penuh rasa bahagia. Rasanya, dia mulai benar-benar gila, seperti apa yang dikatakan Matthew. Aku memerhatikan Alex sambil tertawa."Apa sebulan putus dengan Evelyn membuatmu gila?" Alex masih tidak menjawab. "Habiskanlah makananmu. Waktu makan siang kita hampir habis. Bos akan marah besar jika kita telat masuk kantor." Ujar Matthew lagi. Dia begitu cerewet."Aku tidak lapar. Pergilah lebih dulu." Alex mendorong sepiring Taco padaku yang berada tepat di hadapannya. Matthew yang duduk di sebelahnya hanya bingung.Ketika Alex menatapku untuk menghabiskan makanan di hadapannya, aku langsung bergegas memenuhi perintahnya. Matthew sedang mengalihkan pandangan, ketika bersamaan. Piring itu kudorong hingga ke depan Alex. Agar terlihat Alex yang menghabiskannya. Permainan kecil ini membuatku senang. Namun, tak akan kulakukan lagi di depan umum, aku takut banyak orang yang menjauhi Alex."Akhirnya kau menghabiskannya juga. Sangat cepat dan bersih."Matthew bangkit dan berlalu meninggalkan Alex yang belum juga bangkit dari tempat duduknya. Lelaki berambut pirang itu sudah meninggalkan Alex.Aku tersenyum memerhatikan tingkat kedua sahabat ini. Mereka sering sekali bertengkar, meskipun hanya pertikaian kecil yang mereka sukai."Kau itu bukan hantu. Masih seperti bidadari yang sama sejak tujuh tahun yang lalu aku mengenalmu. Dan, kali ini aku beruntung. Hanya aku yang bisa melihat kecantikanmu. Mereka tidak berhak melihatmu."

KELELAWAR YANG PENGECUT
Fantasy
06 Dec 2025

KELELAWAR YANG PENGECUT

Di sebuah padang rumput di Afrika, seekor Singa sedang menyantap makanan. Tiba-tiba seekor burung elang terbang rendah dan menyambar makanan kepunyaan Singa.“Kurang ajar”, kata singa.Sang Raja hutan itu sangat marah sehingga memerintahkan seluruh binatang untuk berkumpul dan menyatakan perang terhadap bangsa burung.“Mulai sekarang segala jenis burung adalah musuh kita, usir mereka semua, jangan disisakan!” kata Singa. Binatang lain setuju karena mereka pun telah diperlakukan demikian oleh bangsa burung. Ketika malam mulai tiba, bangsa burung kembali ke sarangnya. Kesempatan itu digunakan oleh para Singa dan anak buahnya untuk menyerang. Burung-burung kocar-kacir melarikan diri. Untung masih ada burung hantu yang dapat melihat dengan jelas di malam hari sehingga mereka semua bisa lolos dari serangan singa dan anak buahnya.Melihat bangsa burung kalah, sang kelelawar merasa cemas, sehingga ia bergegas menemui sang raja hutan. Kelelawar berkata, “Sebenarnya aku termasuk bangsa tikus, walaupun aku mempunyai sayap. Maka izinkan aku untuk bergabung dengan kelompokmu. Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk bertempur melawan burung-burung itu.” Tanpa berpikir panjang singa pun menyetujui kelelawar masuk dalam kelompoknya. Malam berikutnya kelompok yang dipimpin singa kembali menyerang kelompok burung dan berhasil mengusirnya.Keesokan harinya, manakala matahari mulai menyinari permukaan bumi, disaat kawanan Singa tengah beristirahat, tiba-tiba gerombolan burung melancarkan serangan balasan. Mereka menghujani kelompok singa dengan lemparan batu dan kacang-kacangan. Serangan mendadak ini membuat para singa panik dan berhamburan, masig-masing menyelamatkan diri.“Awas hujan batu, lekas menghidar. Selamatkan diri masing-masing...!” teriak pemimpin kelompok singa memberi komando pada kawanannya, sambil ia menyelamatkan diri.Sang kelelawar yang melihat kejadian itu mulai berfikir, “Nampaknya bangsa burung lebih hebat daripada bangsa singa,” bisiknya dalam hati. “Aku akan selamat jika berada dalam perlindungan bangsa burung.” Demikian kelelawar memutuskan. Segera saja kelelawar terbang menuju tempat dimana sang pemimpin bangsa burung berada.Setelah beberapa lama mengitari bukit-bukit batu, akhirnya ia menemukan lokasi sang pemimpin burung. yaitu burung Elang.Dengan memasang mimik layaknya sedang bersedih kelelawar menghadap sang Elang. “Lihatlah sayapku, Aku ini seekor burung seperti kalian.” katanya menghiba. “Siapakah lagi yang dapat menyelamatkan hamba dari buasnya alam ini kalau bukan dari bangsa sendiri, duhai Raja burung yang bijaksana?” lirih sang kelelawar. “Baiklah, engkau kini dalam perlindunganku, wahai saudaraku kelelawar.” Ucap sang Elang. Hari si kelelawar melonjak kegirangan. Pertempuran antara bangsa burung dengan bangsa singa berlanjut, kera-kera menunggang gajah atau badak sambil memegang busur dan anak panah. Kepala mereka dilindungi dengan topi tempurung kelapa sebagai perisai dari lemparang batu ataupun kacang-kacangan. Pertempuran antara keduanya begitu sengit. Mereka saling serang, saling melempar. Waktu terus berlalu, pagi ke siang. Siang ke sore. perperangan sudah mulai menampakan siapa pemenangnya. Bangsa burung satu-persatu meninggalkan gelanggang pertempuran. Kelompok singa menang!Apa yang dilakukan kelelawar? Ya, kini kelelawar kembali meminta perlindungan kepada kelopmpok singa. Namun sifat kelelawar yang tidak pernah memiliki pendirian tetap telah diketahui oleh kalangan singan, maupun kalangan burung-burung. Ini merupakan sifat pengecut! Bersyukur dengan kejadian itu bangsa burung dan bangsa binatang lainnya sudah saling dapat memahami. Dan mereka memutuskan untuk hidup berdampingan dengandamai.Adapun kelelawar pun telah menyadari betapa sikapnya yang tidak memiliki pendirian itu sangatlah memalukan. Kelelawar menyingkir dari lingkungan binatang lainnya. Kini ia memutuskan untuk menghindari dari bertemu dengan binatang lainnya. Kelelawar hanya beraktifitas dikala bangsa singa, bangsa burung serta binatang lainya tengah tertidur, yaitu dimalam hari.

SERIGALA YANG BODOH
Fantasy
03 Dec 2025

SERIGALA YANG BODOH

Kisah ini terjadi ketika Sang Elang Tua memerintah menjadi raja hutan yang bijaksana.Pada suatu hari, seekor serigalabernama Woli datang pada Elang Tua. Ia membungkuk dengan hormat, lalu mengeluh, “Rajaku yang Mulia, aku sangat kelaparan sampai-sampai aku ingin menangis! Tolong berikan aku sedikit makanan.”“Kenapa aku harus memberimu makanan? Sebagai serigala, kau bisa memburu makanan untuk dirimu sendiri!” kata Elang Tua tegas.“Tapi aku tidak tahu harus berburu apa. Tolonglah aku, Raja. Berikanlah aku saran. Apa yang harus aku makan...” mohon Woli Serigala.“Kamu lihat seekor anak kuda di padang rumput itu? Pergi, dan makanlah dia!” perintah Sang Elang Tua.Woli berterimakasih kepada Sang Elang Tua, lalu berlari ke padang rumput dan mendekati seekor anak kuda yang sedang merumput.“Anak kuda yang malang, aku akan menelanmu bulat-bulat!”“Eh... mengapa kau berkata begitu, PakSerigala?” tanya anak kuda itu ketakutan.“Raja memerintahkanku untuk memakanmu!”“Tidak mungkin! Aku ini kuda milik kerajaan. Tidak mungkin dibiarkan menjadi makanan serigala. Lihatlah! Aku mempunyai cap kerajaan pemberian Raja Elang Tua sendiri!” ujar anak kuda.“Di mana cap itu?” tanya Woli Serigala.“Di kaki belakangku,” kata si anak kuda.Woli segera melangkah ke dekat kaki belakang anak kuda. Ia lalu memeriksanya. Ketika wajah Woli mendekat ke kaki kuda, anak kuda itu langsung menendang wajah si serigala. DHUK!“AAA...” jerit Woli kaget dan kesakitan. Sementara, anak kuda itu telah melarikan diri.Woli kembali kepada Sang Elang Tua. “Rajaku yang Agung, aku sangat kelaparan, aku benar-benar ingin menangis! Berikanlah sesuatu untuk kumakan. Anak kuda tadi menendang wajahku dan melarikan diri...““Mmmm... kalau begitu, lahaplah kambing gunung. Dia pasti ada di atas bukit batu,” perintah Sang Elang Tua.Woli berterimakasih kepada Elang Tua, lalu segera lari menuju ke bukit batu dan memanjatnya. Di sana, ia bertemu kambing gunung.“Hei, kambing gunung, aku akan menelanmu hidup-hidup!” teriak Woli.“Mengapa engkau sangat ingin menelanku?”“Raja memerintahkanku untuk memakanmu!”“Kalau itu memang perintah Raja, baiklah, aku akan menurut. Bagian mana yang ingin kau telan lebih dulu? Mulai dari kepala, atau dari ekor?” tanya kambing gunung.“Aku tidak peduli. Menurutmu, dari mana aku harus mulai?”“Lebih baik kau memulai dari kepalaku. Sekarang, berdirilah tepat di depanku. Lalu buka mulutmu. Aku akan segera masuk ke dalam mulutmu!” ujar kambing gunung.Woli lalu berdiri tepat di depan kambing gunung dan membuka mulutnya. Kambing gunung itu mengambil ancang-ancang, lalu berlari dengan sangat kencang ke arah woli. DHUKK! Ia menyeruduk Woli dengan tanduknya. Woli terpental dan jatuh menggelinding dari bukit.Karena terjatuh dari atas, Woli pingsan. Ketika ia sadar, si kambing gunung sudah berlari jauh. Woli akhirnya kembali menghadap Sang Elang Tua dan mengadu.“Rajaku yang Mulia, aku sangat sangat kelaparan! Tolong, berikanlah aku sedikit makanan!”“Tapi, aku sudah mengizinkanmu untuk memakan kambing gunung itu,” ujar Sang Elang Tua.”memerintahkan Singa, kepala keamanan hutan ini, untuk memenjarakanmu!”Woli sekali lagi berterimakasih kepada Sang Elang Tua. Ia pun berlari ke tepi hutan, menemui Pak Talor penjahit di gubuknya.“Pak Talor, aku akan menelanmu bulat-bulat!” teriak Woli.“Mengapa kau mau menelanku?” kata Pak Talor penjahit.“Raja Elang Tua yang memerintahkanku.”“Baiklah. Kalau begitu, mendekatlah, anjing pudel kecil. Coba telanlah aku!”“Hey, aku bukan anjing pudel kecil. Akuserigala!” teriak Woli marah.“Benarkah? Aku tidak tahu kalau kau seekor serigala. Ukuran tubuhmu sangat kecil sebagai seekor serigala. Coba lebih mendekat lagi. Pandanganku rabun. Aku ingin lihat, kau serigala atau anjing pudel kecil!” ujar Pak Talor.Woli segera melangkah mendekati Pak Talor. Penjahit itu lalu berjalan mengelilingi Woli, dari depan ke belakang.“Aneh sekali! Kenapa ekormu ada di sini? Tidak cocok samasekali! Biarkan aku mengguntingnya!”Sebelum Woli sempat bergerak, dengan cepat Pak Talor memotong ekor Woli dengan gunting. CREK! Pak Talor lalu berlari secepatnya masuk ke dalam hutan.Woli sangat marah dan mulai melolong. Namun, kemana ia harus pergi sekarang? Ia tak berani masuk ke dalam hutan dan bertemu Sang Elang Tua lagi. Bisa-bisa, Singa akan memasukkannya ke dalam penjara hutan.Woli lalu menemui saudaranya.“Di mana ekormu, saudaraku?”“Pak Talor penjahit menipuku dan memotong ekorku.”Saudara Woli jadi ikut marah. Mereka berdua lalu mengejar Pak Talor ke dalam hutan. Ketika Pak Talor melihat keduaserigala itu, ia berlari, lalu memanjat ke atas pohon. Kedua serigala itu berlari mengejar Pak Talor. Mereka berdiri di bawah pohon tempat Pak Talor sembunyi.“Turunlah kamu, Pak Talor! Kami akan menelanmu hidup-hidup, karena kamu telah memotong ekor saudaraku!” teriak saudara Woli.“Tidak, aku tidak akan turun! Kalianlah yang harus naik ke atas bila ingin menangkapku!” teriak Pak Talor.Kedua serigala itu melompat setinggi-tingginya dan mencoba memanjat pohon itu, namun usaha mereka sia-sia.“Aku punya ide, saudaraku. Kamu berdirilah di bawah pohon. Kita akan bergantian menaikki punggung satu sama lain, sehingga bisa sampai ke dahan pohon dan menangkap penjahit itu!” kata saudara Woli.Mereka lalu menjalankan rencana mereka. Saudara Woli mulai menaiki punggung Woli, dan Woli lalu menaiki punggung saudaranya. Ketika mereka sudah mencapai dahan tempat Pak Talor sembunyi, si penjahit itu berseru,“Mendekatlah padaku, serigala yang lucu. Aku ingin melihat, bagian tubuhmu yang mana yang letaknya kurang pas. Wah, sepertinya telingamu harus dipindahkan ke atas sedikit...” goda Pak Talor.Mendengar hal itu, Woli merinding ketakutan, karena Pak Talor telah berhasil menghilangkan ekornya. Ia tak tahu kehilangan telinganya sekarang. Maka, Woli langsung melompat menjauh dari Pak Talor. Ia lupa kalau ia sedang menopang saudaranya yang ada di atasnya. Akibatnya, saudara Woli jatuh dari dahan pohon.Saudara Woli jadi sangat marah pada Woli. Ia langsung mengejar Woli sambil membawa ranting pohon untuk memukul Woli. Pak Talor tertawa terbahak-bahak sendiri. Ia lalu pulang dengan hati lega.Begitulah nasib Woli, si serigala tanpa ekor. Ia berjalan, dan berjalan tanpa ekor. Ia tidak berani melapor pada Sang Elang Tua, karena ia tidak tahu bagaimana harus menceritakan kejadian itu.

TERJEBAK DI MASA DEPAN
Fantasy
03 Dec 2025

TERJEBAK DI MASA DEPAN

"ini adalah sebuah kisah tentang lima orang yang terjebak di masa depan.mereka berjuang agar dapat kembali ke asal mereka.jika kalian ingin mengetahui awal petualangan mereka yang menggetarkan hati ini,maka dengarkanlah..."Tiara,Lulu,Cici,Rizka dan Efrida mengetuk pintu laboratorium Profesor Rayhan.sebagai asisten termuda Profesor Rayhan mereka selalu datang setiap pulang sekolah.mereka dan Profesor Rayhan sedang mengerjakan mesin waktu.sekarang mesin waktu itu masih setengah jadi.oke,mungkin Profesor Rayhan agak kesal dibantu oleh lima orang anak kecil itu.mereka mungkin pintar dan rajin,tapi mereka juga ceroboh.mereka sering merusak kembali barang-barang yang baru saja selesai dibuat.Lima orang itu masuk ke laboratorium Profesor Rayhan.kedua anak laki-laki Profesor Rayhan,Irfan dan Adam,menyambut kedatangan mereka.entah kenapa hari ini Profesor Rayhan membawa anak-anaknya ke lab-nya.Mereka memutuskan untuk bertemu Profesor Rayhan dulu sebelum memulai kerjaan mereka.mereka menghampiri Profesor Rayhan yang dari tadi menulis di papan tulis.saat berjalan,tanpa sengaja mata Cici melihat mesin waktu yang masih setengah jadi itu.dalam hati dia merasakan semangat untuk segera menyelesaikan mesin itu.Profesor Rayhan masih menulis tanpa menyadari kelima anak itu disebelahnya,"apa yang kau lakukan?" tanya Rizka penasaran."mencari cara agar mesin itu bekerja.dan sepertinya aku menemukannya" jawab Profesor Rayhan semangat lalu mulai menjelaskan caranya.kelima anak itu mendengarkan dengan muka bodoh mereka.mereka sama sekali tidak tertarik dengan penjelasan.Akhirnya setelah bekerja hingga tengah malam,mesin itupun selesai dikerjakan.mereka menatap puas hasil kerja mereka.lima orang anak itu tiba-tiba menjadi sangat senang dan mulai loncat-loncat kegirangan di dalam mesin itu.tapi karena kebodohan Efrida,mereka semua terjatuh.salah satu dari mereka tanpa sengaja memencet tombol mulai dan mesin itu mulai menutup dan bergetar.mereka panik dan mulai menggedor-gedor pintu dengan keras.tapi semua itu percuma,waktu di dalam mesin bukan lagi tertulis tahun 2014 melainkan tahun 2032,masa depan.Pintu mesin itu terbuka otomatis.kelima anak itu keluar dari mesin dengan canggung,"ini bukan lab profesor" kata Tiara."memang bukan" sahut Cici sambil menunjuk angka 2032 yang tertera di mesin itu.jalanan dibawah memang sepi tapi, jika kalian melihat keatas,disanalah kemacetan terjadi.mobil-mobil terbang.anak-anak yang pasti sangat tidak gaul dimasa depan itu hanya bisa menganga.terlebih lagi mereka melihat nama dan foto Cici saat dewasa di pinggir jalan.Cici menjadi caleg tahun 2032,mengejutkan."bagaimana kalau kita kunjungi Cici di masa ini dan bertanya cara kembali?" usul Rizka.usul Rizka yang sebenarnya aneh itu tetap disetujui oleh keempat sahabantnya.Setelah bertanya dengan beberapa orang,mereka akhirnya mendapatkan alamat Cici.mereka dengan semangat pergi kesana.setelah sampai,Cici muda mengetuk rumahnya dimasa depan.yang membuka adalah seorang anak kecil yang berwajah mirip dengan Cici,"ini rumahnya Bu Zen Nisa,kan?" tanya Lulu sambil menyebutkan nama lengkap Cici,Zen Nisa."Ma!ada yang nyariin" panggil anak itu lalu dia pergi meninggalkan pintu depan.seorang wanita berbaju model cewek kantoran warna ungu berjalan kearah pintu.setelah melihat siapa tamunya dia histeris lalu pingsan.anak-anak itu menggotongnya kedalam rumah.Cici muda menampar wajah dewasanya sendiri.Cici dewasa bangun,"mau apa kalian?!" bentaknya."kami hanya ingin mengetahui cara kembali kemasa kami" jawab Tiara."tunggu,sebelum itu,mana aku,Tiara,Lulu dan Efrida saat dewasa?" tanya Rizka.Cici dewasa menghela nafas,"Rizka melanjutkan kerjaan Profesor Rayhan di Australia,Tiara menjadi fotografer dan tinggal di Swiss,Lulu menjadi dosen di Inggris,lalu Efrida sudah meninggal dua tahun lalu" jawabnya santai.Efrida shock."kau menjadi caleg?" tanya Cici muda.Cici dewasa mengangguk.lalu dia tersadar dengan apa yang terjadi,"ini bukan saatnya mengurusi itu! kalian harus pulang kalau tidak kalian akan mengacaukan waktu! aku punya peta dimana ada portal waktu kalian bisa pulang melewati itu" bentak Cici dewasa.dia memberikan sebuah peta ketangannya saat muda."pergilah.." usirnya halus."ayo!" ajak Rizka."pertama caranya ke portal waktu kita harus terbang" baca Cici.mereka bingung.tiba-tiba Efrida menjentikkan jari,"kalian ingat kartun Peter Pan? yang diperluka manusia untuk terbang itu hanya kepercayaan,keberanian dan serbuk Pixie" kata Efrida.keempat kawannya terlihat kurang yakin namun mereka tetap mengatakan itu,"kepercayaan,keberanian dan serbuk Pixie!" lalu datanglah ratusan peri.satu diantaranya adalah Tinker Bell.mereka mengerubuni anak-anak itu dan anak-anak itu mulai terbang.Saat terbang,Cici membacakan isi peta,"jika kau melihat kucing bersayap itu artinya kau harus belok kiri" bacanya."maksudmu itu?" tanya Tiara sambil menunjuk sebuah kucing bersayap merah muda.Cici mengangguk dan mereka semua berbelok ke kiri."selanjutnya,jika kalian melihat gunung terbalik berarti kelian terbang dalam posisi terbalik.putar badan kalian!" baca Cici.yang dikatakannya benar,didepan mereka tiba-tiba ada gunug terbalik.mereka memutar badannya dan Lulu melihat lubang berwana merah muda,"apa itu portal ajaibnya?" tanya Lulu."sepertinya.." jawab Cici dan Efrida kompak.mereka akhirnya memutuskan untuk turun.Saat di tanah,mereka dihadang oleh dua orang laki-laki berotot.satu orang berambut pirang dan satunya lagi berambut dan berjenggot putih,"aku Zeus,ini adikku,Poseidon.jika kalian mau melewati portal ini kalian harus menghadapi kami dulu" tantang Zeus.kelima orang itu ketakutan,siapa yang bisa melawan dewa? tapi Tiara teringat sesuatu,"aku tahu para dewa paling takut dengan tikus!" kata Tiara."KENAPA TIKUS??!!"tanya keempat teman lainnya."karena dewa sangat elit dan tikus sangat tidak elit" jawab Tiara.ditangannya tiba-tiba sudah ada empat ekor tikus.Tiara melepasnya dan tikus itu langsung memburu para dewa.karena takut para dewa langsung lari meninggalkan portal waktu sendiri."Ayo,kita harus pulang" ajak Rizka.mereka berpandang-pandangan sebentar sebelum masuk kedalam portal itu.untuk sementara semua terlihat seperti kaleidoskop,bewarna-warni.mereka jatuh didepan lab Profesor Rayhan.semua seperti semula.tanggal di HP mereka masih menunjukkan tahun 2014.mereka kembali tepat saat mesin waktu setengah jadi.mereka semua berjanji merahasiakan itu dari siapapun termasuk Profesor Rayhan.

Mereka Yang Terpilih & Mereka Yang Tak Terlihat
Fantasy Noveltoon
02 Dec 2025

Mereka Yang Terpilih & Mereka Yang Tak Terlihat

Langkah Afdan terhenti ketika dia sampai di depan pintu warung kopi andalannya yang terletak di suatu perempatan. Di bawah hujan yang amat deras, Afdan mematung menatap seorang gadis kecil yang duduk di pinggir jalan sambil berlindung dalam naungan payung mungil.Apa yang harus dilakukannya? Tanya Afdan dalam hati.Sudah tiga tahun lamanya Afdan menetap di negara sakura ini, Jepang. Tapi malangnya nasib Afdan malah semakin memburuk seiring bergantinya hari. Warung kopi yang didirikannya sama sekali tidak memberikan untung apapun untuknya. Malahan, dia sendiri lebih senang pergi ke kafe lain. Isi dompetnya juga semakin menipis. Entah apa yang akan dilakukannya jika tabungannya sudah habis, tapi Afdan yakin kalau sang Pencipta pasti masih memiliki jalan untuk Afdan. Yah, dia adalah seorang penganut katolik yang taat.Namun, semua itu tidak penting untuk saat ini.Wajah gadis kecil gelandangan itu membuat Afdan terdiam seribu bahasa. Matanya memancarkan kehampaan yang mengerikan, dan raut mukanya kosong dan sepucat lembaran kertas, tapi, wajahnya — wajah anak itu, adalah wajah orang berkebangsaan Indonesia.Afdan tidak tahu persis bagaimana bisa anak itu sampai di sini dan menjadi gelandangan, tapi dia percaya kalau itu bukan salahnya. Anak itu jelas-jelas tak berdosa.Sungguh pemandangan yang menyakitkan untuk dilihat. Afdan ingin menolongnya, tapi situasinya juga sedang berada diujung tanduk.Benar-benar tak adil dunia ini, pikir Afdan sambil melangkah masuk ke dalam kafe."Ya, dunia ini tidak adil, kan?" Ujar seseorang yang berdiri tepat di depan Afdan.Afdan sangat terkejut saat menyadari kehadiran orang itu, atau tepatnya anak itu. Ini sangat aneh karena anak itu tahu apa yang tengah dipikirkan Afdan. Bahkan dia berdiri di situ seakan-akan dia memang menantikan kedatangannya.Awalnya akal Afdan sempat menolak untuk mempercayai kejadian yang dialaminya saat ini, tapi sayangnya kenyataan berkata lain, karena Afdan sendiri sangat mengenal bocah ini. Anak yang berdiri di hadapannya saat ini adalah seorang yang sangat luar biasa. Seorang Pahlawan dengan kekuatan super yang amat mengagumkan.Dia dikenal sebagai Odin sang Pembebas. Seorang anak bertubuh kecil dengan wajah polos, serta memiliki rambut biru gondrong yang rapi, dengan pupil mata yang sewarna darah. Di kalangan para Pahlawan, Odin adalah satu-satunya orang yang selalu berpakaian layaknya gelandangan, dan tak pernah mengenakan alas kaki. Padahal, dia sendiri adalah salah satu dari jejeran para Pahlawan terkuat yang ada di dunia ini. Tepatnya, dia berada di peringkat enam.Yah, meski tampangnya hanya seperti seorang bocah yang aneh, namun kekuatan yang dimilikinya tidak main-main. Selain karena bisa bergerak sangat cepat, terbang, dan memiliki fisik yang super kuat, dia juga memiliki kekuatan yang berhubungan dengan lautan."Bisakah kau berhenti mengagumiku?" Kata anak itu sambil memandang jijik Afdan."Ah... maaf, maaf."Ngomong-ngomong soal Pahlawan — ya, Pahlawan, mereka benar-benar ada dan nyata di dunia ini, dan semuanya bermula pada Tahun 2012 lalu, waktu di mana ada suatu pulau yang muncul tiba-tiba di angkasa, lalu tak lama setelah kemunculannya, pulau itu mulai runtuh dan lenyap tanpa jejak.Kejadian itu benar-benar menghina akal sehat sampai habis.Tak ada korban jiwa dari peristiwa itu, tapi para peneliti menyatakan bahwa ada sebuah energi yang tersebar ke seluruh dunia saat pulau itu hancur, dan orang-orang yang tercemar oleh energi itu akhirnya berakhir dengan memiliki suatu kekuatan yang aneh, layaknya para pahlawan super dalam cerita-cerita."Yah, nggak masalah, sih... " Kata Odin sambil berjalan menuju ke salah satu meja yang terletak di samping jendela.Akan tetapi, suasana menjadi semakin canggung waktu Odin meminta Afdan untuk duduk bersamanya. Odin bahkan dengan lantang menyebut nama Afdan, hingga membuat seisi kafe menoleh ke arahnya dengan pandangan heran setengah mati.Odin langsung angkat bicara begitu Afdan duduk."Hidup dan mati anak itu tergantung pada jawaban terakhirmu, Afdan." Kata Odin tiba-tiba. Dia memandang ke arah gadis kecil gelandangan yang duduk di pinggir jalan dari balik jendela. "Dia sudah terlalu menderita... ""Eh...?" Afdan semakin keheranan. Matanya terbuka lebar. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi padanya. "A-apa maksudmu!?" Bisik Afdan panik. Suara pemuda jangkung dan berkacamata itu bergetar karena syok."Apa yang kamu ketahui tentang anak itu, Afdan?" Tanya Odin. "Kau ada di sini kan waktu itu?"Mata Afdan mulai bergetar karena saking paniknya, tapi dia berusaha untuk menjernihkan pikirannya demi menjawab pertanyaan Odin tanpa kesalahan apapun."Y-ya, aku memang ada di sini saat itu, karena para polisi mencari orang yang bisa berbahasa indonesia, dan pemilik kafe ini juga kebetulan tahu kalau aku orang Indonesia." Afdan mulai menjelaskan dengan singkat. "Setahuku, anak itu muncul begitu saja di perempatan ini dalam keadaan tak sadarkan diri bulan desember tahun lalu. Dan ketika ia bangun dia mengaku kalau dia sama sekali tidak mengingat apa-apa. Ha-hanya itu saja yang aku tahu..."Setelah selesai menjelaskan, tiba-tiba muncul sebuah bola air tepat di udara di samping Odin, dan di dalam bola air itu ada seekor ikan hidup."Apa kau tahu? Hidup ini ini bagaikan gula yang yang rasanya teramat sangat pahit, sedangkan kematian itu bagaikan sebuah batu besar yang keras namun memiliki cita rasa yang amat manis. Jadi, kau sadar kan? kalau dunia ini sangatlah menyedihkan... "Perkataan Odin memiliki makna yang terkesan sangat gelap, tapi Afdan yang mengetahuinya memilih untuk bungkam. Apa maksudnya coba mengatakan hal sekelam itu?"Y-yah... mungkin kau benar." Kata Afdan sambil memasang senyuman kecut. "Ngomong-ngomong, apa sebenarnya tujuanmu datang jauh-jauh dari Indonesia ke sini? Maksudku, nggak mungkin kan kau datang ke sini hanya untuk membahas soal anak itu?""Yah, memang itu tujuanku datang ke sini." Ungkap Odin yang terlihat ragu. "Tapi bisa dibilang juga bukan itu. Soalnya... tadi waktu aku sedang mengamati Gunung Bromo, tiba-tiba saja aku sangat ingin datang ke sini, tepat ke tempat ini. Sumpah, tadi itu benar-benar perasaan yang sangat aneh, dan aku sama sekali nggak bisa melawannya..""Hmm... itu aneh.""Ngomong-ngomong, kamu pesan saja dulu apa yang kau mau pesan, baru aku akan jelaskan semuanya. Oh, dan tenang saja, aku yang akan membayarnya."Gerakan Afdan jadi lambat karena kebingungan. Dia kemudian pergi memesan secangkir kopi yang diyakininya tidak seenak racikannya, dan juga omelet. Lalu, setelah beberapa menit, seorang pelayan akhirnya datang membawa pesanan Afdan. Namun, tubuh pelayan itu gemetaran karena melihat Odin."Begini." Odin mulai menjelaskan. "Sejak zaman kuno, kami Rakyat Dunia Lain percaya, kalau ada dua jenis manusia yang ada di dunia ini. Yang pertama adalah Mereka Yang Tak Terlihat. Mereka Yang Tak Terlihat adalah orang-orang yang memiliki kesempatan untuk menggenggam keajaiban dengan tangan mereka sendiri, atau mudahnya, mereka memiliki kekuatan untuk membuat mukjizat. Orang-orang yang sangat spesial di antara yang spesial.""Rakyat Dunia Lain? Tunggu... Jadi kau bukan makhluk dari dunia ini?"Afdan kehabisan kata-kata. Dia tidak habis pikir kalau dia akan mendengar kebenaran semacam itu sekarang. Jantungnya berdetak terlalu kencang, dan otaknya juga terus mengolah informasi-informasi dari Odin dengan cepat.Masalah ini, sudah melenceng terlalu jauh dari kenyataan dunia ini.Ini bukan lagi soal Pahlawan. Bahkan, dengan Odin yang menyatakan bahwa dirinya adalah Rakyat Dunia Lain, itu artinya dia sendiri bukanlah Pahlawan yang menerima kekuatan dari kejadian di tahun 2012 lalu."Yap, tapi itu tidak penting." Ujarnya sembari kembali menjelaskan. "Lalu, jenis manusia yang kedua adalah Mereka Yang Terpilih—Jenis manusia yang ini adalah orang-orang yang ditunjuk sang Pencipta untuk menjadi saksi mata atas keberadaan Mereka Yang Tak Terlihat. Dan lumrahnya, orang Yang Terpilih dan Yang Tak Terlihat adalah orang yang ditakdirkan untuk bertemu."Afdan memetik sesuatu dari penjelasan Odin. Hatinya berdebar kencang dan senyuman terbentuk di bibirnya. "Jadi, kau mau bilang kalau aku adalah Yang Terpilih?""Ya, memang, tapi bukan itu intinya. Masalahnya di sini adalah orang Yang Tak Terlihat yang harus kau saksikan sebenarnya adalah gadis kecil yang di sana itu." Odin menunjuk ke arah gadis gelandangan di luar yang masih berlindung dari hujan menggunakan payung mungil. "Dia sudah melakukan kesalahan besar, padahal maksud dari tindakannya itu adalah demi kebaikan. Tapi... Tuhan selalu menentukan takdir dengan cara yang tidak biasa."Saat memandang ke arah gadis itu, Afdan menyadari kalau mata gadis itu bergetar. Tapi, matanya bukan gemetar karena takut atau panik, melainkan karena pemandangan yang tengah dilihatnya kala itu.Ada seorang pria di seberang jalan yang tengah berjalan bersama seorang bocah kecil yang pastinya adalah anaknya. Meski payung yang mereka gunakan tidak cukup lebar untuk melindungi mereka dari hujan, tapi mereka tampak bahagia saat itu. Si ayah dan sang Anak tertawa bersama di bawah hujan yang amat deras.Pasti pemandangan itulah yang membuat gadis itu menangis."Jadi... "Afdan merasa sangat kesakitan begitu melihat air mata gadis itu mengalir."Jadi, kau akan menjalani bagiannya agar kisah anak itu terselesaikan. Kau harus menjadi Yang Terpilih dan Yang Tak Terlihat di waktu yang sama." Ujar Odin sambil menuangkan sedikit tehnya ke atas bola air berisi ikan yang masih melayang di sampingnya."Tapi... apa maksudmu soal tadi? Tentang jawabanku yang akan menentukan hidup dan mati anak itu?""Ya, persis seperti itu. Nanti jawabanmu lah yang akan menentukan nasibnya. Menyelamatkannya, atau membiarkannya tetap duduk di perempatan itu untuk selamanya. Semua itu tergantung pada jawabanmu nanti." Jelas Odin. "Oh, dia itu makhluk abadi, lho.""Nanti? Tapi kapan?"Odin bertukar pandang dengan ikan yang mengambang sampingnya, lalu kemudian ikan itu melirik arloji yang muncul di depannya yang entah muncul dari mana. Sungguh, Afdan mulai sangat keheranan dengan keberadaan ikan itu."Sekarang, kisahmu untuk menjadi Yang Terpilih akan segera dimulai. Nah, cepat pegang tanganku erat-erat."Setelah Afdan memegang tangan mungil Odin dengan sangat erat, Odin pun mengucapkan kata-kata yang aneh."Geminus, Triplici, Altum, Omnia, Lucendi, Ictus, dan... Lubuntur Defuid."Diiringi dengan suara guntur yang membahana tiba-tiba saja muncul cahaya hijau yang amat menyilaukan dari langit-langit, membuat pandangan Afdan menjadi putih dan kemudian menjadi gelap, dan Afdan tidak tahu lagi apa yang sebenarnya terjadi.Akan tetapi, setelah mengedipkan matanya hampir ratusan kali, akhirnya Afdan berhasil mendapatkan pandangannya kembali, dan dia pun sadar kalau dirinya sudah tidak berada di kafe lagi.Mereka tiba di suatu gua yang ukurannya sangat luas seperti stadion lapangan sepak bola. Tapi, saat Afdan memandang berkeliling, Afdan juga mendapati ada hamparan rerumputan yang tumbuh di sana. Rerumputan itu berpendar memancarkan cahaya putih terang untuk menerangi gua ini.Jauh di depan mereka ada satu gerbang baja seukuran gedung bertingkat lima yang masih terbuka, dan ada dua bongkah batu kristal menyala yang melayang di sisi kiri dan kanan gerbang itu."Selamat datang di lantai sembilan puluh sembilan dalam Menara Yenos." Jelas Odin sambil berjalan ke arah gerbang besar itu, sementara Afdan mengikut di belakang."Menara Yenos?""Ya, Menara Yenos adalah tempat di mana keturunan langsung para Dewa menjalani ujian mereka demi mendapatkan hak untuk menyandang gelar Dewa.""Dewa...? Jadi, maksudmu Dewa itu nyata!?""Mungkin akan lebih baik kalau kau berhenti terkejut, soalnya lama-lama mataku jadi terasa aneh kalau melihat matamu selalu terbuka terlalu lebar... Tapi, seperti itulah. Dan gadis kecil itu... adalah salah satu dari mereka."Afdan baru menyadari sesuatu. Nama Odin sendiri berasal dari nama dewa tertinggi dalam mitologi Nordik. Namun, Odin yang ini tidak memiliki kekuatan yang sama dengan Odin dalam legenda itu. Jadi, kenapa dia menggunakan nama Odin? Padahal kekuatan terkuat yang dimilikinya adalah mengendalikan lautan."Odin... " Afdan berbisik."Aku tahu apa yang kau pikirkan, Afdan." Anak berambut biru itu tersenyum kecil. "Tapi aku menggunakan nama Odin karena kebetulan dia adalah temanku.""Teman — ""Kumohon, berhentilah melebarkan matamu... " Tukas Odin kesal."Oh, iya, maaf." Kata Afdan sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan gelisah. "Lalu, bagaimana dengan gadis kecil itu?""Yah, seperti yang kukatakan, dia adalah Dewa." Odin tersenyum kecil. "Dia adalah satu-satunya Dewa Baru yang lahir dari manusia yang murni.""Tunggu... maksudmu, awalnya dia itu manusia? Tapi dia berubah menjadi Dewa?""Yap, persis seperti itu. Demi menolong teman-temannya, dia rela menembus batasan tertinggi kekuatannya, dan berubah menjadi makhluk dewata. Namun, karena tubuh manusianya tak mampu menahan kekuatan itu, akhirnya dia berakhir menjadi seperti sekarang ini." Odin mendongak ke atas sedikit, seakan-akan dia tengah membayangkan masa lalunya. "Yah... pada akhirnya mereka semua tidak selamat... sungguh menyedihkan... "Afdan melihat jelas air mata yang tertahan di pelupuk mata Odin. Entah apa yang sebenarnya tengah dibayangkan oleh anak itu sampai dia jadi seperti sekarang ini."Kau... mengenalnya, kan?" Tanya Afdan."Namanya adalah Amalia, dulu kami itu teman seperjalanan, dan dia adalah manusia paling kuat yang pernah kutemui... Amalia memiliki kemampuan yang membuatnya berkuasa atas kekuatan itu sendiri. Yah, itulah sebabnya dia sangat tangguh sebagai seorang gadis.""Maksudmu?""Oke, sudah cukup basa-basinya. Sekarang, masuklah ke sana, dan pancinglah makhluk itu ke sini, biar aku bisa memusnahkannya, lalu kau bisa mengambil benda yang kita butuhkan untuk menolong gadis itu." Jelas Odin."Tunggu, apa!? Kau menyuruhku masuk ke sana sendirian!? Kau lihat sendiri bagaimana besarnya gerbang ini! Apapun yang ada di dalam sana pasti seukuran dengan gerbang ini! Dan kau menyuruhku masuk ke sana sendirian!?""Yah... maka dari itu aku menyuruhmu untuk memancing makhluk itu ke tempatku... aku nggak bisa masuk ke sana karena aku memiliki nama Odin.""Tapi... aku hanya manusia biasa...""Tenang saja, kau itu adalah Yang Terpilih. Selama takdir itu masih melekat padamu, maka kujamin kau tidak akan mati konyol." Ujar anak berambut biru itu sambil membentuk senyuman penuh ketulusan di bibirnya."Yah... baiklah kalau begitu." Afdan dengan ragu mulai melangkah masuk melalui gerbang itu."Kau adalah Yang Terpilih sekaligus Yang Tak Terlihat! Jadi, camkan ini! saat semuanya selesai, maka kau tidak akan sama lagi!" Sahut Odin.Afdan tidak memiliki alasan untuk menolak permintaan Odin. Mengingat dirinya juga sudah terlanjur mengetahui semua rahasia-rahasia itu. Akan tetapi, walau Afdan juga telah mengetahui tentang takdir hebat yang mengikat dirinya, entah kenapa dia tetap tak merasa senang atau apa. Dia hanya merasa ganjil.Jika benar tindakannya saat ini bisa berguna bagi gadis malang itu, maka Afdan juga tidak akan keberatan. Toh, Afdan sendiri memang berniat untuk menolongnya sejak awal."Tapi... aku harap dia akan memberikanku sesuatu saat ini selesai... " Gumam Afdan.Lalu, dalam perjalanannya menyusuri terowongan yang besar dan panjang itu, Afdan juga mendapati gambar-gambar aneh yang terukir rapi di sepanjang dinding gua.Afdan tertawa pelan. "Rasanya kayak lagi di dunia game saja, deh."Gambar itu tampaknya menceritakan tentang kisah suatu makhluk raksasa berkaki empat dengan bentuk tubuh yang tidak jelas, yang ditugaskan untuk menjaga sebuah gerbang. Tapi, di gambar selanjutnya dijelaskan kalau makhluk itu tiba-tiba saja malah menyerang gerbang itu, hingga akhirnya ada seseorang yang datang menghukum makhluk itu dan mengurungnya ke dalam menara ini.Namun, saat tiba di ujung lorong itu, mata Afdan tiba-tiba terbuka lebar. Dia menyadari sesuatu, dan itu membuat wajahnya berubah menjadi sangat pucat.Afdan memang tidak paham dengan maksud cerita pada gambar itu, tapi dia tadi jelas-jelas melihat bagaimana besar dan megahnya gambar makhluk itu, sementara gambar sosok orang yang mengusir makhluk itu saja tidak lebih besar dari pada kuku kaki makhluk itu.Yah, itu kabar buruk. Benar-benar kabar yang sangat buruk.Ruangan yang berada di depannya masih dipenuhi kegelapan, tapi Afdan tahu kalau dia melangkahkan kakinya lebih jauh lagi, pasti Afdan akan melihat wujud sebenarnya dari makhluk yang ada di gambar itu dengan mata kepalanya sendiri."Apa yang harus kulakukan... "Namun, semuanya sudah terlambat."Eh...?"Afdan sama sekali tidak tahu kalau suaranya ternyata malah membuat cahaya yang ada di tempat itu menjadi menyala.Afdan berusaha menggerakkan lehernya yang kaku dan memandang lurus ke atas. Ada suatu bongkahan permata raksasa berbentuk bunga yang menempel pada langit-langit dan menyinari tempat ini dengan cahaya putih terang."Tuhan... tolong aku... " Bisik Afdan dengan suara gemetar.Afdan menjerit dalam hati.Dia sengaja mengarahkan pandangan matanya ke arah langit-langit karena Afdan sadar betul akan keberadaan sesosok makhluk yang tengah berdiri di depannya. Makhluk itu benar-benar sangat-sangat-sangat besar dan lebar layaknya sebuah pulau.Perasaan yang mengerikan merasuk ke dalam diri Afdan. Nafasnya tertahan, jantungnya berdegup kencang, seluruh tubuhnya gemetar, dan keringatnya mengalir sangat deras sampai-sampai bajunya basah dalam sekejap mata.Sekali lagi, Afdan berusaha untuk tidak menatap makhluk itu, dan mengarahkan pandangannya lurus ke depan melalui bagian bawah makhluk itu. Namun di saat itulah, Afdan melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang berhasil mengusir semua perasaan mengerikan dalam diri Afdan begitu saja hingga lenyap tanpa sisa."Gerbang... emas?"Pandangan Afdan tertuju pada gerbang itu — gerbang besar dan mengkilap yang tampaknya terbuat dari emas sungguhan. Apapun yang ada di balik gerbang itu, pastilah sesuatu yang sangat berharga.Namun, makhluk raksasa berkaki empat, berbentuk abstrak dan berkulit abu-abu itu tiba-tiba saja mulai menjerit sangat keras hingga membuat dunia di sekitar Afdan terasa berguncang hebat."Apa-apaan!"Afdan langsung mengambil langkah seribu begitu makhluk itu selesai menjerit, dan pada saat itu pula, keempat kaki makhluk itu mulai bergerak mengejar Afdan."Ini gila! ini sangat gila!"Makhluk itu masih mengejar Afdan dari belakang. Yah, setidaknya, gerakan makhluk itu tidak terlalu cepat, jadi Afdan masih memiliki peluang untuk selamat. Tapi, Afdan tidak mampu membayangkan jika dirinya diinjak oleh makhluk itu. Entah akan jadi seperti apa bentuk tubuhnya."Cepat ke sini!"Afdan mendengar sahutan Odin dari ujung terowongan, tapi dia tidak melihat sosok anak itu."Ah! Persetan!"Afdan terus berlari, berlari, dan berlari, hingga akhirnya dia berhasil keluar dari terowongan. Nafasnya terengah-engah, dan matanya dengan liar mencari-cari keberadaan Odin."Sialan! kau dimana, Odin!?""Hey! Aku di sini!" Teriak Odin yang ternyata sedang berada di udara."Syukurlah — "Namun, mata Afdan langsung terbuka sangat lebar waktu dia mendongak ke atas dan mendapati pemandangan yang amat mengerikan sekaligus menakjubkan.Inilah wujud dari kekuatan sejati Odin sang Pembebas.Odin melayang di udara dan tangan kanannya terangkat ke atas seolah dia sedang menahan sesuatu. Yah, dia memang sedang menahan sesuatu dengan lengan mungilnya, dan sesuatu itu adalah lautan. Di atas sana, air membentang dan menutupi seluruh langit-langit gua, dan sumber dari lautan itu adalah telapak tangan kanan Odin.Odin mengacungkan tangan kirinya ke arah Afdan seraya mengucap kalimat-kalimat aneh, "Ictus! Flovugite Aer!""Loh!?" Tiba-tiba tubuh Afdan mulai terangkat ke udara begitu saja, lalu tiupan angin menggerakkannya dan mengantarkan Afdan ke sisi Odin. "A-aku melayang! Aku benar-benar terbang!""Kisah anak itu sebentar lagi akan selesai." Odin angkat bicara. "Dan waktumu untuk memberikan jawaban yang terakhir sudah dekat, jadi bersiaplah, Afdan.""Yah... tentu saja." Jawab Afdan santai.Langkah kaki makhluk raksasa itu semakin dekat, dan suara bongkahan-bongkahan batu yang berjatuhan juga terdengar dari dalam terowongan. Entah makhluk apa itu sebenarnya, tapi warna tubuhnya sama seperti abu dari kayu bakar, dan postur tubuhnya juga tampak seperti hewan berkaki empat pada umumnya, namun jika dilihat sekilas, makhluk itu malah hampir sama seperti alien atau sejenis serangga."Kau tahu, Afdan? Kau itu manusia yang sangat unik." Ujar Odin tiba-tiba."Hah?""Kau adalah penerima, Afdan. Tapi, kau menerima segalanya dengan berlebihan, sampai-sampai kau tidak memikirkan dirimu sendiri. Sungguh, kau orang yang sangat aneh, dan manusia paling unik yang pernah kutemui.""Eh... ngomong-ngomong, bisakah kau urus itu dulu?"Diiringi suara teriakan yang melengking dan menggetarkan dunia, makhluk besar itu akhirnya berhasil keluar dari terowongan. Gerbangnya terhempas jauh karena hentakkan yang kuat, dan kedua kristal lampu itu melayang pergi menyelamatkan diri."Wah! Akhirnya kita bertemu lagi! sang Penjaga Gerbang Pohon Keabadian, Jerikho!" Bisik Odin sambil menatap tajam pada makhluk itu, dan begitu pula sebaliknya. Makhluk itu terlihat geram waktu menyadari keberadaan Odin.Makhluk itu, Jerikho menjerit keras setelah mendengar ucapan Odin."Baiklah, aku tidak bisa berlama-lama lagi. Aku akan menyelesaikan ini sekarang juga!" Odin menurunkan tangan kanannya ke bawah, dan di saat yang bersamaan, lautan yang mengambang di langit-langit akhirnya jatuh dan membuat gua hampir penuh dengan air.Dari atas sana Afdan dan Odin menonton Jerikho yang tengah dilumat oleh lautan. Seakan sedang terjadi badai hebat di bawah sana, dan Jerikho yang terombang-ambing oleh ombak hanya bisa meraung tak karuan."Cepat kembali ke dalam sarang Jerikho dan buka gerbang emas itu!" Perintah Odin. "Sihir yang kuberikan padamu akan melindungimu dari lautan! Cepatlah!"Afdan mengangguk mantap, kemudian ia menukik ke bawah dan terbang melesat melalui terowongan, hingga dia akhirnya tiba di depan gerbang emas itu.Afdan memandang telapak tangannya dengan ragu-ragu, tapi, tekadnya sudah bulat. Dia akan menyelamatkan gadis itu apapun yang terjadi. Lalu setelah Afdan berhasil mengalahkan keraguannya, dia pun mendorong gerbang itu dengan kedua tangannya, dan pada saat itu pula, pancaran sinar yang amat terang yang berasal dari balik gerbang memaksa Afdan menutup matanya."Eh...?" Tetesan air yang jatuh di atas kepalanya membuat Afdan tersadar kembali.Hujan.Afdan memandang ke segala arah. Ternyata mereka sudah kembali ke perempatan itu, tepat di tengah jalan bersama Odin. Namun, Afdan merasa aneh. Dia seakan tidak bisa mendengar apa-apa. Dunia ini terasa sangat senyap sekarang.Di sana ada banyak orang yang keheranan dengan kemunculan mereka berdua. Polisi mulai berdatangan, dan begitu pula orang-orang dari saluran berita. Kilatan-kilatan menyilaukan dari kamera timbul tiada henti hingga membuat mata Afdan menjadi sedikit perih."Kita sudah kembali...?" Tanya Afdan pada Odin yang masih berdiri di sampingnya."Ya." Jawab Odin singkat. "Semuanya sudah selesai... "Dia mengarahkan pandangannya pada sesuatu yang ada tangannya; itu adalah buah apel yang seluruhnya berwarna emas. Tapi, anehnya Afdan sama sekali tidak tahu bagaimana ia mendapatkan apel ini. "Apa?""Gerbang emas itu adalah hadiah terakhir dari Menara Yenos. Gerbang itu akan memberikanmu sesuatu yang paling kau butuhkan dalam kehidupanmu. Entah itu uang, kekuatan, status, atau apapun. Tapi... apel ini adalah bentuk hadiah tertinggi dari gerbang itu. Dan jujur saja, aku bahkan masih nggak percaya kalau kau ternyata berhasil mendapatkan apel ini." Jelas Odin. "Sepertinya kau memang benar-benar ingin menyelamatkan gadis ini..." Odin menunduk memandang gadis berwajah kosong yang duduk di depan mereka.Afdan sama sekali tidak menyadari keberadaan gadis malang itu."Baiklah, ini pertanyaan terakhirnya." Kata Odin dingin.Afdan menjadi tegang, dan jantungnya berdegup kencang."Apa kau ingin menyelamatkan gadis ini, atau membiarkannya. Jika kau ingin menyelamatkannya, maka berikan apel itu padanya. Tapi, jika kau tidak ingin menolongnya, maka buanglah apel itu."Pemikiran Afdan sempat berhenti sebentar setelah mendengar pertanyaan itu. Afdan tidak tahu apa-apa tentang apel ini. Jika dia memberikannya pada gadis itu, itu artinya dia akan selamat, tapi Afdan tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Namun, jika Afdan membuang apel itu, maka semua usahanya tadi akan sia-sia, dan nasib gadis ini tidak akan berubah."Kesempatanmu hanya satu. Tugasmu sebagai Yang Terpilih akan berakhir, tapi tugasmu untuk menggantikannya sebagai Yang Tak Terlihat akan ditentukan setelah kau menentukan pilihanmu. Jadi bagaimana?"Afdan tersenyum kecil. Entah kenapa dia tiba-tiba ingin ketawa sekarang."Tentu saja akun akan menyelamatkannya." Afdan berlutut satu kaki di depan gadis itu dan membuat kilatan-kilatan kamera menjadi semakin heboh. Lalu dia pun mengulurkan apel itu pada si gadis. "Kamu lapar, nggak?"Anak itu hanya mengangguk pelan untuk menanggapi pertanyaan Afdan."Apa kau mau apel ini? Aku juga nggak tahu rasanya sih, tapi aku jamin, rasanya pasti sangat enak." Afdan membentuk senyuman manis di bibirnya. Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya, dia akhirnya bisa berbuat sesuatu untuk menolong gadis ini.Lambat laun, tangan gadis kecil itu mulai bergerak, dan ia menggapai apel yang ada di tangan Afdan. Dengan satu tarikan nafas yang terdengar sangat berat dan menyakitkan, gadis itu pun menggigit apel itu dan mengunyahnya tanpa suara."Selamat, Afdan, kau mewarisi Bakat Jiwanya sebagai Tuan Atas Kekuatan." Kata Odin.Di depan matanya sendiri, Afdan menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan itu dengan kedua matanya. Waktu itu, rasanya seperti ada seribu tombak yang menghujam tubuhnya di saat yang bersamaan.Suatu rasa sakit yang tak terbayangkan.Nafas Afdan tertahan, dia merasa tercekik, dan jantungnya seakan berhenti berdetak."Sampai jumpa... Amalia... kawanku." Bisik Odin teramat sangat pelan sembari melangkah pergi meninggalkan Afdan yang mematung.Gadis mungil itu — seseorang yang selama ini Afdan ingin selamatkan — perlahan mulai lenyap. Ia berubah menjadi debu-debu cahaya emas yang kemudian berhamburan ke langit malam dan lenyap tanpa sisa bersama dengan apel emas itu."Ti-TIDAK!!!"Teriakan keputusasaan Afdan malam itu mengakhiri kisah gadis kecil itu.

Pelukan & Sayatan Masa Depan
Fantasy Wattpad
02 Dec 2025

Pelukan & Sayatan Masa Depan

Pernah melihat seekor banteng bertanduk besar berjalan dengan boneka porselen yang mungil? Seperti itulah rupa Jaka dan Ratna saat mereka sedang menghabiskan waktu malam minggu mereka di pekan raya.Mereka berdua begitu berbeda, bukan hanya dari penampilan, tapi juga latar belakang. Ratna adalah seorang akuntan di sebuah perusahaan bisnis ternama, penampilannya rapi, dan badannya tidak tinggi. Sementara Jaka adalah seorang preman.Bukan hanya seorang preman biasa, tapi ketua preman di Gang Girang. Jaka ditakuti oleh orang-orang sekitar dengan perawakannya yang besar dan amarahnya yang tidak kalah besarnya. Sumbunya juga sependek rambutnya yang dipotong cepak, potongan yang dia pilih karena anak buahnya mengatakan itu modis—dan dia sudah menjitak dengan keras mereka yang mengatakan sebaliknya.Sebelum bertemu dengan Ratna, malam Minggu Jaka dimulai dengan mengamankan daerah kekuasaannya dari ancaman-ancaman geng saingan, sekaligus mengumpulkan uang dari toko-toko sekitar yang berterima kasih banyak—tanpa paksaan atau ancaman apapun, kata Jaka—karena sudah mengamankan toko mereka dari bahaya kekerasan dan perampokan.Lalu ketika itu semua selesai, dia akan pergi ke warung langganannya untuk memikirkan tujuan hidupnya yang cukup sederhana, yang terakhir setelah harta dan tahta, yaitu wanita.Ketika Jaka masih menjadi ajudan ketua geng yang sebelumnya, dia pernah bertanya apa yang diperlukan lelaki sejati seperti dirinya agar bisa dianggap sukses dalam hidupnya. Sang ketua menjawab kalau dia harus memiliki ketiga hal tersebut, karena hidup harus dinikmati semaksimal mungkin karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok harinya.Jaka sangat menganggap serius pesan dari sang ketua, saking seriusnya sampai dia melengserkannya dan membuat sang "mantan" ketua harus dirawat inap di rumah sakit luar kota demi keselamatannya.Sebagai ketua yang baru, Jaka sudah memiliki harta dan tahta. Sekarang, tinggal wanita saja. Bagi Jaka yang sering membajak TV warung untuk memutar sinetron-sinetron romansa favoritnya, dia tahu kalau wanita tidak bisa dibeli begitu saja dengan uang, karena itu bukanlah cinta yang tulus. Seorang wanita harus bisa didapatkan dengan menggunakan usaha dan pesonanya sendiri sebagai seorang laki-laki sejati. Lebih dari satu wanita sudah berusaha mendekatinya karena posisi dan statusnya, tapi tidak ada satupun yang Jaka terima karena dia bisa merasakan kalau mereka tidak tulus kepadanya.Hal ini membuat Jaka gundah, yang bisa dilihat jelas oleh orang sekitarnya ketika dia menghabiskan minimal tujuh gelas soda gembira di warung dan menonton sinetron dengan tatapan murung. Terkadang dia memejamkan matanya dan membayangkan dirinya sedang mencium seorang wanita saat sebuah adegan romansa sedang berlangsung, terus berharap dalam hatinya kalau suatu saat akan datang wanita yang dia idamkan selama ini."Heh! Ngapain kalian lihat-lihat?!"Itulah saat Jaka pertama kali mendengar suara Ratna, yang langsung tersentak keluar dari fantasinya untuk melihat apa gerangan yang terjadi di luar warung."Sini dong cantik...""Ayo mbak, ikut sama kita..."Begitulah kata Bang dan Sat, kedua anak buah Jaka yang duduk di depan warung dan sedang berusaha memikat hati seorang wanita yang lewat di hadapan mereka, Ratna. Tidak seperti wanita lainnya yang biasanya mempercepat langkah dan mengabaikan mereka, Ratna menunjukkan kekesalannya dengan mengucapkan berbagai sumpah serapah kepada mereka berdua. Beberapa kata-kata yang diucapkannya bahkan belum pernah Jaka dengar sebelumnya, membuatnya begitu penasaran, sementara Bang dan Sat hanya tertawa mendengar makiannya.Jaka mulai berpikir, apakah ini wanita yang dicarinya selama ini? Bang dan Sat mengincarnya, jadi sudah pasti wanita ini berbeda dari wanita yang biasanya. Lalu dia menunjukkan perlawanan, yang artinya menunjukkan kalau dia seorang pemberani, cocok untuk pasangan seorang ketua preman sepertinya. Untuk rupa, wanita ini juga terlihat cukup menawan, setidaknya untuk selera Jaka.Tapi apa yang Jaka dapat katakan untuk menarik perhatiannya? Apa mungkin dimulai dengan yang sopan seperti bertanya siapa namanya? Atau langsung mendatanginya? Atau mungkin...Apapun yang Jaka pikirkan, Bang, Sat, dan Ratna hanya melihat responnya."Grrr..."Geraman itu saja yang Jaka dapat keluarkan karena saking bingungnya dia untuk menentukan apa yang dia dapat katakan.Bang dan Sat yang tunduk kepada bos mereka, segera pergi tanpa berkata apapun, mengira kalau mood Jaka sedang buruk. Sementara Ratna mengucapkan kata-kata yang Jaka tidak sangka sama sekali."Terima kasih!" sahut Ratna dengan lega sambil berjalan ke arah Jaka, "Kukira aku akan terus diganggu sama dua orang itu, untung saja anda muncul.""Hmm," gumam Jaka yang masih tidak bisa merangkai kalimat karena suasana hatinya yang gembira."Siapa namamu?"Begitulah cerita bagaimana Jaka bertemu dengan Ratna, yang kemudian saling mengenalkan nama mereka dan berjanji untuk bertemu lagi di lain waktu.Tapi seperti yang Jaka tahu, dari pengalamannya sebagai ketua, mendapatkan daerah kekuasaan itu tidak sulit. Mempertahankannya, itu lain cerita, dan Jaka mulai merasa kalau mempertahankan Ratna akan lebih sulit dibanding saat mendapatkannya. Hal ini terus Jaka pikirkan saat dia terus berjalan bersama Ratna di pekan raya, wajahnya tetap diam membatu."Ada apa, Jaka?""N-Nggak kenapa-napa kok, Rat..." kata Jaka dengan nada ragu yang pasti akan membuat orang sekitarnya menoleh dan bertanya-tanya kenapa lelaki perkasa sepertinya bisa dibuat grogi dengan sebuah pertanyaan yang sederhana."Kalau ada masalah mending kamu cerita sama aku," Ratna berkata dengan senyuman manis, "Aku pendengar yang baik lho."Jaka mengangguk mendengarnya, dan mencoba tersenyum ke Ratna dengan senyuman yang bisa membuat anak kecil menangis. Untungnya Ratna bukan anak kecil, dan dia menganggapnya manis karena tertawa melihat usaha Jaka."Begini... sebenarnya sudah tiga hari ini aku mendapatkan mimpi itu. Mimpi yang sangat aneh... ""Hmm? Mimpi seperti apa? Coba kamu jelaskan semuanya." Ujar Ratna tampak tertarik."Di mimpiku... aku seperti sedang berada di tempat yang sangat-sangat gelap, tapi anehnya aku bisa melihat dengan jelas. Dan ada seseorang di tempat gelap itu. Dia seorang wanita yang sangat cantik deh pokoknya... dan sangat... sempurna.""Heh...?" Ratna memasang senyuman yang aneh saat mendengar penjelasan Jaka.Jaka yang mengerti maksud dari senyuman itu buru-buru melanjutkan ceritanya, agar Kekasihnya itu tidak salah kaprah."A-ah! Tapi, aku tidak peduli dengan kecantikannya kok!" Celetuk Jaka takut-takut.Ratna tertawa pelan. "Nggak usah panik begitu dong." Kata Ratna. "Tapi, yah mimpimu memang sangat aneh sih menurutku.""I-iya... Sudah tiga malam aku memimpikan tentang gadis itu. Di tempat yang gelap itu, gadis itu duduk di udara, dan dia terus memandangku dengan tatapan tajam. Hingga akhirnya, tadi malam, gadis itu berhenti menatapku dengan tatapan sinisnya, dan turun dari kursinya yang tak terlihat. Kemudian... dia berjalan ke arahku.""Hah!? Terus!? Apa yang terjadi!?" Pekik Ratna yang semakin penasaran."Dia berkata kalau dia memilihku... Dan dia akan mencobaiku terlebih dahulu... Lalu, saat dia selesai bicara, aku langsung terbangun karena panik.""Lho... Gitu doang?" Tanya Ratna yang kini keheranan. "Aku nggak paham... ""Iya... aku juga sama kok—""Aku yang duluan!""Nggak, aku!""Enak saja!"Sebuah keributan tiba-tiba dapat mereka dengar, yang berasal dari kios es krim. Mereka berdua segera menoleh dan melihat Bang dan Sat sedang bergumul di tanah tanpa peduli atau tahu kalau mereka sekarang menjadi pusat perhatian."Dasar tukang nyerobot!""Salahnya sendiri pergi duluan!""Sudah kubilang jagain tempatku!"Melihat ini, Jaka membuat catatan ke dirinya untuk segera menjitak dengan keras kedua bawahannya itu saat mereka bertemu lagi di warung karena telah membuatnya malu di depan wanita yang disukainya."Huh, dasar preman-preman kasar," kata Ratna dengan ketus, membuat Jaka langsung menoleh ke arahnya dan melihat Ratna menatap mereka seperti bagaimana seseorang melihat gundukan sampah yang bau, "Aku benci orang-orang seperti itu."Secepat jentikan jari, Ratna menoleh ke Jaka dengan senyuman manis yang harusnya bisa melelehkan hati Jaka, "Tapi untung saja kamu tidak seperti mereka. Ya kan, Jaka?"Namun Jaka terlalu terhenyak mendengar kata-kata Ratna yang sebelumnya untuk menikmati senyuman itu. Kalau sampai Ratna tahu Jaka seorang preman, apalagi kalau tahu amarahnya serupa dengan amarah banteng saat melihat warna merah, habislah hubungan mereka."Hngh," hanyalah kata yang Jaka dapat ucapkan dan Ratna menganggapnya sebagai tanda dia setuju."Yuk, kita cari wahana yang lain saja!" kata Ratna dengan semangat sambil menarik tangan Jaka.Sebuah pergumulan juga sedang terjadi di pikiran Jaka, apa yang dia harus katakan kepada Ratna? Jaka tidak mau berhenti begitu saja menjadi preman, ini adalah hidupnya, dia tidak tahu apa yang dia harus lakukan kalau seandainya dia tiba-tiba berhenti. Apa mungkin kalau dia harus menyembunyikan pekerjaan premanismenya—kalau itu sebuah pekerjaan atau bahkan kata yang sah—untuk seterusnya? Atau Jaka harus mengambil keputusan yang paling sederhana, tapi juga yang tersulit, yaitu jujur saja kepada Ratna?Tiba-tiba mata Jaka tertuju ke sebuah tenda kecil yang terletak agak jauh dari keramaian, rupanya terlihat mencolok karena kainnya yang berwarna putih bersih. Sebuah papan kayu terpasang di depan tenda itu dengan tulisan serapi sebuah kaligrafi yang berkata "RAMALAN MASA DEPAN: GRATIS".Tidak ada manusia yang tidak suka dengan kata gratis—dengan beberapa pengecualian—termasuk Jaka. Mungkin ini kesempatan baginya untuk mengetahui keputusan apa yang dia harus ambil untuk menjaga hubungannya dengan Ratna."Ratna, kita ke situ saja yuk," ajak Jaka sambil menunjuk ke tenda itu, "Sepertinya menarik.""Wah, boleh tuh! Yuk!"Ketika memasuki tenda itu, entah kenapa Jaka merasa kalau dirinya seakan sedang berada di dunia lain, dan itu bukan kiasan belaka. Selain udara yang terasa lebih dingin, cahaya terang yang masuk lewat jendela-jendela yang tinggi dan anggun membuatnya seakan berada di siang hari yang cerah dan bukan lagi di malam pekan raya. Tidak mungkin tenda yang terlihat sebesar warung di Gang Girang bisa menampung sebuah aula yang seluas lapangan sepak bola di dekat rumahnya dan setinggi gedung kantor Ratna.Keduanya mendongak ke atas dengan keheranan."Kayaknya ada yang nggak beres deh... Tapi tempat ini keren banget deh kalau dipikir-pikir." Gumam Ratna. Kekaguman terpancar di wajahnya yang cantik."Ada yang bisa saya bantu?"Suara perempuan berlogat asing itu mengejutkan Jaka dan Ratna, yang seakan muncul begitu saja di belakang mereka dengan badan yang tinggi dan tegap seperti seorang pelayan yang terlatih.Mempertajam matanya, Jaka mulai mengamati perempuan itu sambil memosisikan tangannya di depan Ratna untuk menjaganya. Perempuan itu juga menatapnya dengan mata yang tajam dan terlihat licik seperti seekor rubah yang mengamati mangsanya. Jaka juga menganggapnya seperti rubah, dengan rambut panjang berwarna jingga kemerahan dan sosoknya yang ramping mengenakan pakaian formal bagaikan pelayan.Tapi rupa pelayan ini begitu kontras dengan rupa aula tempat mereka berada, yang memiliki langit-langit yang tinggi dan ditopang oleh pilar-pilar batu yang kokoh, begitu juga dengan tangga-tangga ukiran yang mengarah ke bawah mereka. Dalam tenda ini—kalau masih bisa dibilang begitu—malah seperti aula sebuah katedral lama yang Jaka sering lihat dikunjungi oleh turis."Kami ingin melihat masa depan," jawab Ratna dengan polos, membuat Jaka merasa kalau Ratna sepertinya mengabaikan keanehan tempat ini."Silahkan duduk terlebih dahulu," kata sang pelayan yang menunjuk ke kursi-kursi yang mengitari sebuah meja kecil bertaplak putih yang terlihat begitu kecil dibandingkan dengan luasnya aula. "Saya akan memanggil orang yang anda cari."Jaka masih terus menatap tajam pelayan itu, memberinya tatapan yang selama ini dia gunakan setiap kali sedang menagih hutang ke para pemilik toko setempat. Tapi pelayan itu tidak bergeming, sampai Jaka merasa kalau mata sang pelayan bahkan tidak berkedip dari tadi."Ayo Jaka, sini duduk.""Ah—oke," jawab Jaka yang sesaat menoleh memandang kekasihnya, dan kemudian sempat mengalami serangan jantung kecil ketika melihat kalau sang pelayan telah menghilang dari hadapannya ketika dia menoleh ke Ratna. Bulu kuduknya mulai berdiri, dan sang preman Gang Girang mulai mengakui di dalam hatinya kalau dia merasa takut.Demi Ratna, dia tetap memasang wajah tegar. Tapi Ratna sepertinya tahu tentang itu."Kamu kok pucat? Ada apa?""Nggak ada apa-apa kok," jawab Jaka dengan datar sambil mengusap keringat dingin di dahinya, "Kayaknya di sini terlalu panas, aku jadi nggak nyaman.""Hahaha, masa sih? Tempat ini dingin lho, kayak saat kamu ngajak aku pergi ke puncak," Ratna tersenyum dengan manis, mengingat momen-momen menyenangkan yang mereka habiskan bersama di tempat itu, "Pasti tempat ini pakai banyak AC supaya bisa bikin suasana dingin ini."Jaka hanya mengiyakan kata-kata Ratna, tidak berani mengatakan kalau hawa dingin ini malah terlalu mirip dengan hawa pegunungan. Apapun yang perempuan aneh itu akan lakukan, Jaka akan melindungi kekasihnya."Selamat datang," kata satu suara lelaki dengan logat yang sama asingnya bagi Jaka, "Maaf membuat kalian berdua menunggu."Pelayan itu kembali muncul dari tangga yang mengarah ke bawah tanah sambil menuntun orang yang Jaka anggap sebagai sang peramal. Jaka yakin dia seorang laki-laki karena suaranya, meski penampilannya terlihat feminin baginya, dengan rambut putih panjang yang mencapai pundaknya, begitu pula dengan wajahnya yang terlihat halus serta kulitnya yang sepucat jubah putih yang dia kenakan. Jelas kalau sang peramal ini juga buta, karena sebuah kain sutra putih menutupi matanya—atau mungkin seperti itulah."Jadi," kata sang sang peramal yang dibantu duduk oleh sang pelayan, "Siapa yang ingin melakukannya terlebih dahulu?""Aku!" jawab Ratna dengan penuh semangat, "Tapi boleh aku bertanya dulu?""Silahkan.""Kenapa gratis? Bukannya melihat masa depan itu membutuhkan kemampuan yang khusus ya? Jadi harusnya ada..." Ratna diam beberapa saat selagi memikirkan kata-kata yang tepat sebelum melanjutkan kalimatnya, "Bayarannya, bukan?""Sebelum saya mendapatkan anugerah ini, saya juga memikirkan hal yang sama," jawab sang peramal dengan tenang, "Tapi ternyata orang-orang tidak ingin mendengar masa depan mereka sendiri karena mereka takut kalau masa depan itu tidak mereka sukai dan tidak dapat dihindari. Lagipula saya juga tidak membutuhkan uang, saya hanya ingin mencoba melihat masa depan orang lain selain raja-raja dan para penguasa yang sering berusaha mencari saya."Jaka mendengus mendengar penjelasan sang peramal, ini pasti sekedar skenario akal-akalan supaya dia dapat terdengar lebih menyakinkan. Tapi sebuah suara kecil di dalam dirinya merasa kalau semua yang peramal itu katakan memang benar, dan dari nadanya menjelaskan, bisa jadi dia jauh lebih tua dari rupanya."Oh begitu rupanya. Terima kasih atas penjelasannya, tuan peramal," kata Ratna dengan sopan, "Kalau begitu saya tidak usah dilihat masa depannya, mungkin apa yang anda bilang memang benar. Biar saja masa depanku menjadi kejutan, kayaknya nggak seru deh kalau tahu apa yang akan terjadi nantinya, hahaha!"Sang peramal hanya tersenyum mendengarnya, seakan Ratna telah mengambil keputusan yang bijak, atau karena sang peramal memang memiliki pribadi yang lembut."Peramal," kata Jaka dengan nada tinggi, "Baca masa depanku.""Baik, apa mungkin anda ada permintaan yang lebih spesifik?""Soal asmara.""Letakkan tangan anda di sini," kata sang peramal yang mengulurkan telapak tangannya ke Jaka, "Dan saya akan lihat."Tangan sang peramal terasa begitu mulus dan dingin, tapi Jaka tidak begitu memikirkannya dan menoleh ke Ratna sambil memberikannya senyum yang penuh percaya diri. Baginya, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan keberaniannya di depan Ratna, kalau dia tidak takut dengan masa depannya."Terima kasih," kata Sang peramal sambil menarik lagi tangannya, membuat Jaka terkejut karena dia hanya membutuhkan beberapa detik untuk melihat masa depan, "Jadi apa anda mau saya berbohong atau jujur saja?""Hah!? Apa maksudmu?!" sahut Jaka dengan bingung, mengejutkan Ratna yang tidak pernah mendengar Jaka menggunakan suara sekeras itu, suara yang Jaka sering gunakan untuk mengintimidasi lawannya sebelum melakukan tawuran."Saya rasa kejujuran adalah kebijakan yang terbaik, Karena itu saya tidak akan menyembunyikan apapun," jawab sang peramal dengan polosnya, "Tapi banyak orang hebat sekalipun yang tidak puas mendengar ramalan saya yang sejujurnya, jadi saya bisa memberikan ramalan bohong yang sangat enak untuk didengar.""Bohong seperti apa?!""Seperti, 'hubungan dengan pasangan anda akan berjalan mulus tanpa hambatan apapun'."Kata-kata sang peramal membuat Jaka naik pitam, dan Ratna tidak pernah melihat wajah sebuas itu sejak dia melihat dokumenter tentang serudukan banteng di Spanyol."Lalu ramalan yang sebenarnya akan seperti apa?!""Yah, kalian akan putus malam ini juga."Biasanya orang-orang yang mendengar kejujuran sang peramal segera pergi dengan penuh amarah tanpa berkata apapun, atau menyangkal sang peramal.Namun, Jaka tidak seperti mereka. Dengan satu pukulan yang perkasa, sang peramal terpental ke belakang dan pelayannya langsung berlari menghampirinya. Sebuah kepuasan bagi Jaka untuk melihatnya terkapar lemas di lantai setelah mendengarnya mengatakan hal yang dia tidak ingin dengar.Tapi sebuah langkah kaki yang semakin menjauh darinya membuat Jaka sadar dari amarahnya. Ketika dia menoleh, dia hanya melihat Ratna yang berjalan keluar menjauh dari dirinya. Sebuah kata-kata permohonan dan maaf segera terucap dari mulutnya yang tidak didengarkan oleh Ratna.Sekarang Jaka sadar betapa bahayanya mengetahui masa depan, dan ketika Ratna pulang dengan sendirinya, Jaka berusaha mencari tenda kecil milik sang peramal, tapi dia tidak menemukannya.Untuk pertama kalinya bagi Bang dan Sat yang melihat Jaka dari kejauhan, mereka melihat sang ketua preman Gang Girang menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.Mungkin Jaka harus bersiap mempertahankan kedudukannya dari kedua bawahannya yang menganggap kalau dia sudah melunak.Mungkin Jaka tidak sadar dengan pepatah yang mengatakan kalau cinta sejati tidak akan selalu berjalan dengan mulus, dan sang peramal hanya mengatakan kalau malam itu mereka akan putus.Mungkin saja kalau Jaka dan Ratna dapat kembali berbaikan suatu saat. Mungkin.Karena masa depan hanyalah sebuah harapan, bukan sesuatu yang dijanjikan."Apa jadinya kalau Tuhan itu tidak ada? Aku tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa dunia ini jika sang Takdir yang berkuasa atas kehidupan. Pasti dunia ini akan dipenuhi oleh suara tangisan yang mengerikan." sang Peramal itu melirik kepada pelayannya, dan pelayannya itu menunduk. "Tapi yah, syukurlah sang Takdir telah mendapatkan mainan barunya... Korban kedua puluh tiga..."Lalu, sang peramal pun menutup tendanya, dan pada saat itu pula, tenda itu pun lenyap begitu saja dari pandangan.

Kekuatan Yang Patut Disyukuri
Fantasy Wattpad
01 Dec 2025

Kekuatan Yang Patut Disyukuri

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Galang sampai tidak bisa tidur semalaman hanya karena suatu buku cerita. Yah, cerita dalam buku itu memang menarik, jadi bukankah itu wajar? Ditambah lagi, bukunya juga lumayan tipis.Buku itu menceritakan kisah tentang dua orang yang disebut sebagai Yang Terpilih dan Yang Tak Terlihat, yang berkelana menyusuri suatu dunia yang penuh sihir dan keajaiban, demi menemukan jalan menuju ke dunia manusia.Di buku itu diceritakan kalau kedua orang itu sebenarnya sangat mendambakan kehidupan yang normal dan biasa-biasa saja, tapi karena kenyataan dunia mereka sangatlah berbeda, akhirnya mereka berdua pun memulai perjalanan yang mengharuskan mereka untuk melawan takdir demi menggapai mimpi itu.Benar-benar kisah yang sangat menarik, dan Galang juga sudah hampir sampai di bagian akhir dari cerita itu. Hatinya berdebar-debar karena membayangkan akhir dari cerita itu."Hah... " Anak bertubuh agak gemuk, berkulit putih cerah dan berambut gondrong rapi itu mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas, ke arah jam dinding yang tergantung di atas pintu kamar. Meski waktu sudah menunjukkan pukul lima dini hari, anehnya Galang sama sekali tidak merasa lelah, padahal dia belum beristirahat sejak tiba di sini.Galang mengucek-ucek matanya sambil mengedarkan pandangannya menyusuri kamarnya yang masih lumayan gelap.Kamar yang sangat luas itu dilengkapi dengan berbagai perabotan lengkap dan tampak masih baru. Bahkan ranjang tempat tidurnya pun seharusnya muat untuk empat orang atau lebih. Yah, gampangnya, bisa dikatakan kalau kamar ini sangatlah mewah, atau tepatnya rumah ini."Eh... Liel?"Galang memanggil nama itu dan berharap ada yang menanggapinya, tapi dia sadar kalau pemilik nama itu jelas masih belum bangun saat ini.Galang turun dari ranjang, dan dengan langkah yang ringan dan senyap, dia berjalan menghampiri sofa panjang yang terletak di samping pintu. Di sofa itu terbaring seorang remaja bertubuh lumayan gemuk yang berbalut jaket berwarna abu-abu gelap.Entah kenapa Galang merasa sangat aneh waktu memandang wajah orang itu.Faktanya, Galang sebenarnya tidak mengenal remaja ini sama sekali. Bahkan Galang memang hampir tidak mengingat apa-apa. Ingatannya menjadi kacau, dan tiap kali dia berusaha untuk menelusuri memorinya, kepalanya malah langsung terasa sangat sakit dan serasa akan meledak kapan saja.Kemarin, tepat pukul enam sore, Galang terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya sudah berada di suatu tempat yang asing dengan kepala yang terasa berdenyut-denyut. Tapi. satu-satunya yang ada di sini waktu itu adalah remaja bertubuh gemuk ini. Orang yang memiliki kekuatan sihir yang nyata.Mungkin Galang seharusnya mengamuk, panik, atau menangis, karena kejadian gaib yang dialaminya sekarang. Namun, untuk saat ini Galang lebih memilih tetap bertahan di sini karena suatu alasan."Kau mewarisi bakat dan berkatnya, Galang." Kata Liel kemarin sore saat kondisi Galang sudah agak membaik. "Kau mewarisi Bakat Jiwa- nya untuk menjadi penguasa kegelapan, dan juga berkat miliknya yaitu, Seni Dunia: Salju Hitam . Itulah sebabnya aku membawamu kesini, karena aku ingin membantumu menguasai kekuatan itu. Aku akan mengajarimu di sini selama tujuh hari. Dan, kalau semuanya sudah selesai, aku akan mengantarmu kembali ke tempat asalmu, oke?"Kekuatan, itulah alasan yang membuat Galang memutuskan untuk tinggal di sini. Perkataan Liel jelas-jelas menyatakan kalau Galang memiliki kekuatan dalam dirinya. Meski Galang masih belum mendapatkan kembali ingatan masa lalunya—ingatan tentang siapa dirinya sebenarnya—tapi dia tetap memiliki ingatan tentang dunia asalnya, yaitu dunia manusia. Dunia yang tidak memiliki keajaiban setitikpun.Yah, mungkin itulah yang terjadi pada Galang sekarang.Sama seperti orang Yang Terpilih dalam buku cerita yang dibaca Galang. Yang Terpilih sebenarnya hanyalah manusia biasa, maka dari itu Tuhan membawanya ke dunia lain agar dia bisa menikmati keajaiban tangan Tuhan dan menjalani takdirnya sebagai Yang Terpilih."Yah... setidaknya aku masih ingat namaku sendiri... " Bisik Galang sambil tersenyum kecut, sampai-sampai pipinya jadi terlihat lebih tembem dari sebelumnya.Lagi pula, Liel juga telah menjelaskan hal-hal penting yang harus diketahui Galang kemarin sore, termasuk fakta kalau mereka berdua sebenarnya sudah saling mengenal sebelumnya, juga kenyataan bahwa dialah yang membuat ingatan Galang menjadi kacau."Sihir... ya?" Tanya Galang pada dirinya sendiri. Semua keanehan ini, jelas-jelas karena sihir.Namun, ada hal lain yang harus Galang lakukan saat ini. Sudah seharian dia menahannya dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengeluarkannya. Apa yang dibutuhkannya sekarang adalah, toilet."Tapi... rumah ini kayaknya besar banget, deh..." Beberapa menit telah berlalu sejak Galang meninggalkan kamarnya untuk mencari toilet. Dia telah melewati banyak ruangan seperti ruang keluarga, ruang yang penuh dengan rak buku, juga ruang yang dihiasi dengan senjata-senjata yang tergantung di dinding, dan berbagai ruangan lainnya. Namun, pada akhirnya dia tetap tidak menemukan toilet dan malah berakhir di dapur.Lampu langsung menyala begitu Galang melangkahkan kakinya memasuki dapur. Tapi, betapa terkejutnya Galang waktu dia mendapati keberadaan orang lain di situ."Oh? Dik Galang, ya?" Tanya gadis berhijab oranye itu. Dia mungkin sudah berada di sini sejak tadi. Gadis itu tengah menikmati secangkir kopi hangat sambil mengamati pemandangan melalui jendela yang berada di antara kabinet. Dari tampangnya, gadis ini pastilah seorang mahasiswi yang masih duduk di bangku kuliah."Eh... " Galang yang tak mengenal gadis itu ikut mengarahkan pandangannya ke arah jendela. Di luar sana masih gelap, dan langitnya yang suram memancarkan warna kelabu dan membuat pemandangannya terkesan terasa dingin menusuk."Namaku Afizah, tapi aku lebih suka dipanggil Afi," katanya seraya meletakkan cangkirnya di meja."Ugh!" Perasaan yang tidak menyenangkan itu akhirnya muncul lagi di dalam diri Galang. Dia sudah berada di ujung tanduk dan tak mampu menahannya lebih lama lagi. "K-kak... kalau boleh tahu, to-toiletnya ada di mana, ya? Soalnya a-aku mau pipis." Tanya Galang. Wajahnya pucat pasi."Wajahmu benar-benar lucu, loh, Dik." Afizah yang menyadari situasi Galang saat ini, langsung tersenyum sambil menunjuk ke arah pintu kuning yang berada di seberang ruangan, tepat di depan Galang. "Tuh.""Ah! Terima kasih, Kak!" Ucap Galang ketus sambil melesat masuk ke dalam kamar mandi.Setelah Galang menyelesaikan urusannya dengan toilet hingga tuntas, dia pun keluar dari kamar mandi dan berniat kembali ke kamar untuk menyelesaikan buku cerita itu. Akan tetapi, ketika Galang melangkahkan kakinya melewati ambang pintu kamar mandi, tiba-tiba saja, Afizah langsung menyodorkan satu pertanyaan kepada Galang."Kenapa kau membaca buku itu?""Ah... Karena sampulnya menarik, kurasa." Galang terlihat bingung."Yah, karena sampulnya menarik." Afizah terlihat sedang berusaha untuk menahan tawanya saat mengulangi kata-kata Galang. "Sebenarnya sudah menjadi tugas Liel untuk menjelaskan semuanya kepadamu. Tapi, aku yakin dia lelah karena semua persiapan itu, jadi aku akan mengambil sedikit bagiannya.""Maksud Kakak?""Sebenarnya, buku yang sedang kau baca dikamar itu disebut sebagai, Kitab Tragedi .""Hah? Kitab Tragedi ?" Tanya Galang tak percaya. Pipinya terlihat agak memerah karena suhu dingin kala itu."Yah, sebenarnya kitab itu bisa membangkitkan kekuatan tersembunyi yang ada dalam dirimu secara paksa. Jadi kau tak perlu latihan atau melakukan apapun. Tepat setelah kau membaca huruf pertama dalam lembar pertama buku itu, maka kekuatan yang ada di dalam jiwamu bisa dipastikan sudah bangun.""Jadi... itu artinya aku benar-benar punya kekuatan sungguhan, kan?"Siapapun bisa melihat betapa bahagianya Galang sekarang hanya dari tatapan matanya. Kebenaran itu, kenyataan itu, adalah hal yang sudah Galang nanti-nantikan sejak masih kecil. Dia selalu berpikir akan betapa hebatnya jika dirinya memiliki kekuatan yang tidak dimiliki orang lain, dan sekarang dia tahu kalau dia memiliki kekuatan itu."Ja-jadi! Bagaimana caranya menggunakan kekuatan itu, Kak!?" Tanya Galang dengan semangat yang berapi-api."Liel berkata kalau kau memiliki dua macam kekuatan, dan kedua kekuatan itu berhubungan dengan unsur kegelapan, jadi coba kamu bayangkan sesuatu, misalnya membuat sebuah pedang dari kegelapan?"Anak itu tanpa basa-basi langsung mengikuti instruksi Afizah. Dia berusaha untuk fokus dan mencoba untuk membuat sesuatu dari unsur kegelapan. Galang menjerit-jerit dalam hati akan betapa mengagumkannya nasibnya saat ini.Keringat mulai mengalir dari pelipis Galang dan tubuhnya sedikit bergetar. Anak itu mengeraskan badannya. Galang terus membayangkan untuk membuat sesuatu di tangannya."Aku bisa!"Mata Galang terbuka sangat-sangat lebar waktu menyadari keberadaan sesuatu seperti api membara berwarna hitam yang muncul di atas telapak tangannya. Galang merasakannya. Dia merasa seperti sedang memegang sesuatu di tangannya. Namun di saat yang sama, entah kenapa dia juga merasa seolah-olah dia sedang mengangkat batu yang sangat besar dan amat berat."Lihat! Lihat ini, Kak! Aku bisa menggunakan sihir!" Pekik Galang yang sebenarnya sangat ingin melompat-lompat karena saking senangnya."Aku lihat, kok." Kata Afizah sambil tersenyum kecil.Akan tetapi, tepat ketika Galang merayakan keberhasilannya, pada saat itu pula api hitam itu lenyap dari tangannya, dan beban yang berat itu pun ikut hilang."Loh! Kok begitu, sih?" Kekecewaan yang besar terpancar dari wajah Galang waktu itu. Tapi, dia tidak menyerah. Dia kembali mencoba untuk memunculkan api hitam itu dengan cara yang sama seperti yang sebelumnya. Meski begitu, beberapa menit telah berlalu, dan tidak ada tanda-tanda bahwa api hitam itu akan muncul lagi. Lalu, dia memutuskan untuk mencoba dengan cara lain, seperti mengatur nafasnya atau membuat badannya menjadi lebih keras. Akan tetapi, pada akhirnya, api hitam itu tetap tak keluar."Apa yang sebenarnya terjadi, Kak?"Waktu Galang memandang sekitarnya, ternyata tanpa dia sadari dunia ini sudah menjadi lebih terang dibanding beberapa saat lalu. Matahari hampir menunjukkan dirinya di ufuk timur, dan atmosfernya juga sudah tidak sedingin sebelumnya. Entah berapa lama waktu yang digunakan Galang dalam percobaannya tadi, sampai-sampai dia tidak sadar kalau pagi sudah berada di depan mata.Afizah sedang memasak sesuatu saat itu."Minum dulu tehnya." Afizah menyuruh Galang untuk meminum teh yang sudah dia siapkan di atas meja. "Sekarang kau santai saja dulu. Mending tunggu sampai Liel bangun, baru dia akan mengajarkanmu cara menggunakan kekuatan itu."Galang menjatuhkan dirinya ke kursi, kemudian ia minum teh itu dengan perlahan. Tehnya masih hangat, membuatnya merasa nyaman dan tenang. Rasa lelahnya bahkan hilang begitu saja ketika teh itu mengalir masuk ke dalam kerongkongannya."Hah... " Nafas Galang mengepul di udara, memisahkan diri dari hawa dingin di sekitar. "Oh, iya, kalau boleh tahu kekuatan seperti apa yang Kakak miliki?" Tanya Galang yang tampak sangat tertarik."Kalau aku sih nggak punya kekuatan. lagi pula aku juga nggak terlalu memerlukan sihir-sihir semacam itu." Afizah menjawab dengan santai."Loh! Kok begitu, sih?""Yah, waktu masih kecil dulu, aku juga sebenarnya ingin memiliki kekuatan sihir seperti itu. Tapi... karena aku tidak pernah mendapatkannya, jadi aku terpaksa menjalani masa laluku, dengan diriku sendiri. Dan lihat, akhirnya aku berhasil melaluinya. Sekarang aku sudah tiba di masa depan, bersama dengan diriku yang dulu." Jelas Afizah."Eh... aku nggak paham, Kak." Jawab Galang yang sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan Afizah."Yah, aku sudah menduganya... lagi pula kau masih SMP." Ujar Afizah sambil tersenyum kecut. "Tapi, intinya jangan berhenti berusaha. Teruslah hidup dan teruslah melangkah, percaya deh, kau pasti akan bertahan sampai akhir walau nggak punya kekuatan sihir."Galang terdiam seribu bahasa mendengar nasehat Afizah. Dia tidak tahu harus menjawab apa.Afizah mematikan kompornya, lalu dia pun mulai menata berbagai jenis makanan di atas meja. Aroma yang harum menyeruak masuk menembus hidung Galang. Seluruh ruangan dipenuhi oleh wangi dari masakan Afizah."Hmm... kenapa Liel membawaku kesini, Kak?" Tanya Galang tiba-tiba.Afizah terhenti seketika waktu mendengar pertanyaan Galang. Namun, setelah dia selesai menghidangkan semua makanan itu, gadis itu pun ikut duduk di samping Galang."Liel... adalah orang yang dikutuk untuk menderita, Galang." Ujar Afizah.Walau Galang tidak terlalu mengerti maksud dari perkataannya, namun Galang tahu kalau maksudnya itu adalah sesuatu yang sangat buruk."Gampangnya, Liel akan terus merasakan rasa sakit selama dia masih hidup dan bernafas. Dia akan terus menderita setiap hari, dari pagi sampai pagi lagi.""Hah...? Kok kedengaranya dia seperti hidup di neraka, ya?""Yah, memang seperti itulah kehidupan Liel." Afizah memegang cangkir kopinya dengan erat. "Dunia ini... tidak... kehidupan ini, baginya adalah sebuah neraka tanpa akhir."Galang merinding mendengarnya."Hanya ada segelintir orang di dunia yang ini diizinkan Tuhan untuk menjalani takdir menyedihkan semacam itu. Orang-orang yang dikutuk untuk menderita. Tapi anehnya mereka malah tetap memilih untuk terus hidup. Apa kau tahu kenapa? Ya, karena mereka semua tahu akan betapa mahalnya harga dari nafas kehidupan.""Eh... Tapi, aku masih tidak mengerti alasan dia membawaku kemari.""Yah, karena kamu sebenarnya sangat mirip dengan almarhum adiknya yang sudah meninggal bertahun-tahun silam. Bahkan, kau mewarisi kekuatannya. Maka dari itu dia membawamu ke sini. Dia menganggapmu sebagai adiknya. Dia menganggapmu sebagai bagian dari kehidupannya.""Hah? Tapi—""Dia tidak akan peduli meskipun kamu tidak mau menganggapnya sebagai seorang Kakak." Afizah menjelaskan sembari bangkit berdiri. "Permintaanku hanya satu; turuti saja segala permintaannya. Sudah lama aku ingin melihat dia bahagia. Meskipun hanya sedetik, itu tidak akan jadi masalah. Asalkan, dia tahu bagaimana rasanya kebahagiaan itu. Kumohon... jadilah jejaknya... Kumohon... jadilah keluarganya...""Jejak...?""Ya, jejak... Kau adalah bukti bahwa Liel pernah hidup." Ujarnya. "Ya sudah, aku mau siap-siap dulu buat ke kampus. Tunggu sampai Liel bangun, baru kalian makan, oke?" Gadis itu kemudian pergi meninggalkan Galang sendirian di meja makan.Galang meletakkan tangan kanannya di atas meja, lalu membuka telapak tangannya lebar-lebar sambil membayangkan api hitam hitam muncul di situ. "Atau tepatnya... Salju Hitam."Galang sama sekali tidak mengerti dengan situasinya saat ini. Rasanya mengerikan dan menyedihkan. Dia tetap tidak mengerti. Meskipun kini ada bola-bola berwarna hitam pekat yang melayang di atas telapak tangannya, anak itu tetap tak merasakan apa-apa lagi. Yang ada dalam dirinya saat ini, hanyalah ketidakpastian."Lho, Afi kemana?" Tanya Liel yang tiba-tiba saja sudah muncul di belakang Galang. Pemuda gemuk itu mengalihkan pandangannya ke arah meja yang sudah dihiasi oleh makanan.Galang langsung tersentak karena kaget. "A-ah! Liel, Kak Afizah katanya mau bersiap-siap buat ke kampus sekarang." Galang memberitahu dengan gelisah."Oh? Begitu, ya?" Kata Liel sambil berjalan ke arah kursi yang berada di sisi lain meja, yang berhadapan dengan Galang. "Ngomong-ngomong gimana tidurmu semalam?" Liel menjentikkan jarinya, dan pada saat itu pula lemari yang ada di belakang Liel tiba-tiba terbuka, dan beberapa alat makan langsung melayang keluar dengan sendirinya. Dua piring, dua sendok dan dua garpu mendarat dengan pelan masing-masing di depan Liel dan Galang."Ah... Biasa saja, kok." Jawab Galang yang tampak sedikit takjub dengan apa yang baru saja terjadi."Yah, baguslah kalau begitu. Tapi, Galang, tolong ya jangan gunakan kekuatanmu kalau aku lagi nggak ada, soalnya di pulau ini kadar energi Animanya terlalu tinggi. Jadi, ada kemungkinan kalau kekuatanmu bisa lepas kendali." Liel mengingatkan sambil tersenyum kecil."Tunggu... kita berada pulau?""Yah, pulau buatanku. Pulau Avalon II."Galang hanya bisa menunduk setelah mendengar penjelasan itu. Kenyataan itu terdengar sangat mengagumkan. Bagaimana bisa dia menciptakan sebuah pulau? Bukankah itu sudah terlalu tidak masuk di akal? Tapi sayangnya bukan itu yang membuatnya masih merasa bingung.Saat ini, Galang harus membuat suatu keputusan.Anak itu mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan sambil memantapkan keyakinannya. Lagi pula dia sudah tahu mana pilihan yang akan membuatnya rugi dan mana pilihan yang akan menguntungkannya. Dan, satu-satunya yang dibutuhkannya sekarang, adalah keberanian untuk berbicara."Eh... sebenarnya kekuatanmu... tidak, maksudku, kekuatan Kakak itu sebenarnya apa?" Tanya Galang dengan ekspresi yang sedikit panik.Seulas senyuman terbentuk di bibir Liel kala itu."Jadi kamu sudah tahu, ya?" Tanya Liel."Iya... K-kak... ""Sulit, bukan?""Maksud Kakak...?""Setelah mendengar cerita menyedihkan tentang diriku, kamu jadi merasa kasihan padaku dan malah memaksa dirimu sendiri untuk memanggilku dengan sebutan itu.""H-hah?" Galang terkejut. "A-aku nggak bermaksud seperti itu, kok!" Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam karena saking paniknya."Ya, aku tahu kok." Liel bangkit berdiri lalu mengambil piring milik Galang, dan mengisinya dengan nasi dan berbagai macam lauk pauk hingga piring itu hampir penuh. "Kamu terlalu baik, Galang, dan apapun yang berlebihan itu bukan sesuatu yang baik. Tapi, aku memakluminya sih, soalnya kamu juga masih muda." Liel akhirnya mengembalikan piring Galang."Ah... terima kasih, Kak... " Jawab Galang ragu-ragu. Entah kenapa dia kini merasa telah melakukan kesalahan. Padahal, dia hanya berusaha."Tidak, aku yang harusnya berterima kasih padamu." Ujar Liel.Galang yang bisa merasakan kebaikan dari perkataan Liel langsung mengangkat kepalanya dan menatap wajah pemuda itu dengan heran."A-apa...?""Rasa kasihan itu bukan sesuatu yang buruk kok, Galang. aku malah senang karena kamu sudah berusaha untuk menganggapku sebagai seorang Kakak,. Kenyataannya, aku ini hanya orang asing, lho. Meski begitu, kau berhasil menggunakan rasa kasihanmu itu untuk membuat suatu kemungkinan, dan kemungkinan yang kau hasilkan sekarang adalah sesuatu yang baik, dan aku sangat berterima kasih atas kebaikan itu."Galang tidak mengerti maksud perkataan Liel. Dia sama sekali tidak mengerti."Kau benar-benar orang yang baik, Galang. Terima kasih, sudah mau menjadi jejakku." Liel kembali memasang senyuman di bibirnya. Tapi, senyumannya kali ini adalah senyuman yang sangat hangat dan tulus. "Ya sudah, makan dulu yuk.""I-iya, Kak." Jawab Galang yang juga kembali tersenyum dengan gembira.TAMAT

Malapetaka dari Bintang Jatuh
Fantasy Noveltoon
01 Dec 2025

Malapetaka dari Bintang Jatuh

Pagi itu Linda tak terbangun di rumahnya. Ia dan ratusan penghuni pulau Kecubung lainnya menempati tenda-tenda pengungsian. Beberapa orang mulai sakit akibat dingin dan hujan deras semalam. Anggota Badan Nasional Penanggulangan Bencana sedang membagi-bagikan bantuan sembako serta pakaian bersih. Prajurit TNI juga ramai memenuhi tempat tersebut, tapi mereka lebih fokus mengawasi objek raksasa yang saat ini berdiri kaku bagai gunung di atas Pulau Kecubung—bekas rumah Linda dan ratusan orang lainnya."Sialan... Aku nggak menyangka kalau bajingan itu akan berani datang ke tempatku seperti ini... " Gadis berparas cantik dan berperawakan tomboy itu kini mengamati kedua telapak tangannya lamat-lamat. "Kalau sudah begini, ya berarti aku juga harus meninggalkan kehidupanku yang lama deh... "Semua bermula kemarin sore. Langit yang tenang tiba-tiba dilintasi garis cahaya benderang. Awalnya semua mengira itu adalah bintang jatuh biasa. Namun, semakin lama tampak jelas benda itu bergerak menuju pulau mereka. Perangkat desa segera menyerukan agar penduduk berlindung di rumahnya masing-masing.Kemudian bintang jatuh itu menghantam pulau disertai dentuman luar biasa. Seluruh daratan bergetar. Tanah, pasir, dan batuan beterbangan. Gelombang kejutnya menghantam rumah-rumah warga hingga luluh-lantak. Seolah dalam sekejap mata kiamat sedang terjadi. Malam itu menjadi malam yang kacau.Baru keesokan paginya kapal dari pulau seberang datang untuk mengevakuasi korban selamat. Tapi mereka harus menunggu hingga bantuan dari pulau utama tiba, sebab tempat tinggal mereka berada jauh di perbatasan negara yang menghadap Samudra Hindia.Kesedihan meliputi hati semua orang, terlebih bagi yang kehilangan keluarga maupun orang-orang tersayang.Itu juga yang dirasakan Linda. Namun, kemarahannya jauh melampaui kesedihan. Gadis itu berjalan sendirian ke tepi pulau, lalu memperhatikan objek raksasa yang menghancurkan rumahnya. Wujudnya menjulang dengan bagian-bagian seperti kepala, tangan, sayap, dan kaki. Wajahnya mengerikan, tatapannya mengancam, bahkan meski jarak mereka terpaut lautan. Mengingatkan Linda pada patung Garuda Wisnu Kencana di Pulau Bali, namun yang ini ukurannya jauh lebih dahsyat.Banyak yang berspekulasi. Ada yang bilang bahwa benda itu cuma batu meteor yang kebetulan menyerupai makhluk hidup. Ada juga yang bilang kalau itu adalah alien yang sedang berhibernasi—meski saat ini cuma diam, suatu saat ia akan bergerak. Yang paling liar, bahwa itu adalah malaikat yang hendak meniupkan sangkakala kiamat.Apapun itu, entah mengapa Linda merasa tahu mengenai patung tersebut. Ia tahu namanya. Deus Dorogon. Dan ia harus ke sana untuk menghancurkannya. Memang tidak masuk akal, bagaimana caranya menghancurkan sesuatu yang sebesar itu? Pasti butuh sesuatu dengan kekuatan ledak yang dahsyat seperti bom nuklir.Tetapi Linda merasakan tubuhnya sangat kuat. Darahnya membara. Kepalannya begitu keras, hingga ia yakin bisa menghancurkan batu dengan tinju tersebut. Cahaya merah bersinar dari sana."Ya, tugasku di sini sudah selesai." Linda berbisik pada hati kecilnya. "Keajaiban memang selalu terlihat sebagai sesuatu yang tampak murni dan tak bercela, tapi bukan berarti itu adalah hal yang baik. Karena semua orang tahu... kalau kegelapan selalu bisa muncul dari cahaya yang paling terang sekalipun.""Hei, kamu ngapain disitu?!"Linda spontan meredupkan cahaya di tangannya, lalu berbalik. Sekelompok prajurit TNI berjalan ke arahnya."Di sini berbahaya," ucap salah satu dari mereka. "Sana kembali ke tenda. Ada pembagian makan malam.""Eh... oke." Kata Linda kalem. Tapi, entah kenapa saat dia menoleh ke arah Deus Dorogon, tiba-tiba saja Linda merasa sangat kesal dan mendidih. Gadis itu menggigit bibir seakan berusaha menahan emosinya. "Kunyuk... ! Tunggu saja kau keparat! Akan ku remukkan ginjalmu!" Pekiknya sepelan mungkin.Linda kembali ke pengungsian. Sesampainya di sana, ibu dan adiknya langsung memanggil. Gadis itu bergabung dengan mereka dan berusaha menyembunyikan keanehan yang timbul dalam dirinya.Esoknya, sebelum mentari fajar terbit, Linda sudah bersiap-siap pergi. Ia bergerak pelan-pelan agar tak membangunkan siapapun di dalam tenda, lalu berjingkat keluar.Sesampainya di tepi pantai, tiba-tiba ada suara sahutan yang mencegat Linda."Diam di tempat!"Satu lusin pucuk senapan terarah padanya oleh barisan prajurit TNI. Linda dapat mengenali wajah-wajah itu, yakni anggota yang memergokinya kemarin."Kau mau ke mana?" hardik pemimpin mereka."Ya ke pulau dong, Pak," jawab Linda jengkel."Sudah kuduga, gadis ini ada kaitannya dengan patung raksasa itu!" seru sang TNI.Linda segera membantah dengan pandangan tak percaya. Matanya membelalak. "Tunggu! Hey! Aku ini mau ke sana untuk menghancurkan monster itu!""Monster? Apa maksudnya? Apa kau juga adalah monster?!""Manusia-manusia gila... " Linda pun putus asa. Ia merasa bicara tak ada gunanya. Ia menghentakkan kaki, lalu melesat dengan kecepatan tinggi.Seorang prajurit mengarahkan senapannya, lalu melepas tembakan. Sang gadis yang khawatir tembakan itu mengenai penduduk segera berhenti. Kedua tangannya menyala merah, lalu menangkap tiap peluru yang dimuntahkan ke arahnya. Tak hanya itu, ia menyentil peluru-peluru tersebut hingga berbalik melesat ke arah para prajurit. Sebuah aksi yang mustahil dilakukan manusia biasa.Satu persatu prajurit TNI berjatuhan karena pahanya tertembak.Pemimpin mereka yang menyadari bahwa senapan tak berfungsi segera mengeluarkan belati, kemudian menerjang. Ia menghujamkan senjata tersebut. Namun, Linda menangkap bilahnya hanya menggunakan tangan kosong. Lalu gadis itu meremasnya hingga hancur seperti kaca."Minggir!"Linda menapak perut sang prajurit, dan pria besar itu terhempas bermeter-meter ke belakang."Satu hal yang perlu kalian tahu, aku berada di pihak manusia!" serunya menggema. Kini para penduduk yang tadinya terlelap juga sudah bangun akibat keributan. "Aku akan menyerang Deus Dorogon. Doakan saja aku berhasil. Karena kalau tidak... yah, aku juga nggak tau sih."Lalu ia melangkah. Tiap jengkal tanah yang ia pijak bagai meleleh. Sinar di tangannya menyala makin terang, memancarkan hawa panas yang membuat para prajurit TNI tak berani mendekat. Tatapan gadis itu begitu mantap dan tajam, sehingga siapapun yang tertatap merasa bola matanya seperti mencair. Matanya pun ikut berpendar merah.Ia terus bergerak meninggalkan pulau, lalu masuk ke air. Dan ajaib, ia berjalan di atas permukaannya. Sementara uap tebal mengepul menyamarkan tubuhnya. Seolah lautan mendidih.Sang monster yang semula hanya diam pun kini mulai bergerak. Terdengar suara derak keras hanya ketika ia memutar tubuh. Makhluk itu menatap Linda."Aku datang, keajaiban sialan... Deus Dorogon. Mati kau bajingan..." Bisik Linda sambil memasang senyuman kecut. Urat-urat di pelipisnya timbul. Dia benar-benar jengkel sekarang.

Mahkota Raja Ramah
Fantasy Noveltoon
30 Nov 2025

Mahkota Raja Ramah

Rara selalu bertanya-tanya pada hati kecilnya, mengapa orang-orang kerap memandang keanehan dunia ini sebagai sesuatu yang mengerikan? Padahal, semua keanehan-keanehan itu, bagaikan batu permata yang amat mengkilap di mata Rara.Bagi Rara, keganjilan adalah hal yang paling megah di dunia ini, sama seperti mahkota emas yang pernah muncul di masa lalunya. Sebuah mahkota emas yang ukurannya menyerupai gelang, dan memancarkan cahaya yang terang benderang dan hangat layaknya sinar mentari, hingga mampu mengusir angkasa yang gelap gulita."Ya... orang-orang memang aneh... " Ujar Angga yang duduk di samping Rara. Mata pemuda itu terbuka lebar karena kagum dengan keberadaan sebuah ponsel yang melayang-layang tepat di depan matanya. "Tapi... kita juga orang kan?"Siang ini adalah siang terpanas yang pernah dirasakan Rara seumur hidupnya. Bahkan, karena saking panasnya, tak ada satupun pelanggan yang belanja di grosirnya sejak pukul sebelas tadi—saat dimana matahari mulai memancarkan sinar yang begitu menyengat.Waktu itu, Rara dan Angga sedang duduk di meja kasir yang berada di dekat pintu masuk. Di tokonya, rak-rak tersusun rapi dengan berbagai macam dagangan yang tertata di atasnya, sedangkan di bagian paling dalam juga ada begitu banyak susunan kotak kardus dengan berbagai ukuran dan isinya.Yah, meskipun toko Rara terbilang besar, tapi sayangnya dia hanya memasang satu buah AC saja, dan sekarang Rara menyesal karena tidak memasang dua pendingin ruangan."Hah... kau benar-benar beruntung Angga. Padahal ini baru hari pertamamu bekerja di sini, tapi sekarang grosirku malah sepi begini... " Ujar Rara. Wajahnya yang biasanya terlihat cantik dan penuh semangat, kini terlihat murung dan hampa. "Seandainya saja nggak panas kayak begini, pasti kau nggak akan bisa bernafas karena saking banyaknya pembeli... ""Eh... tapi kan, tugasku cuma di meja kasir doang... " Gumam Angga."Heh... iya juga, ya?" Rara lalu menatap Angga dengan heran. Entah kenapa rasanya sulit sekali bagi Rara untuk percaya dengan semua yang baru terjadi akhir-akhir ini. Angga yang merupakan anak dari keluarga kaya, dan juga teman Rara sedari kecil, yang beberapa tahun silam pergi keluar kota untuk melanjutkan pendidikannya, minggu lalu tiba-tiba datang ke hadapan Rara dan menawarkan diri untuk menjadi karyawannya.Benar-benar tak bisa dipercaya."Jujur lho, sejak aku balik ke kota ini, aku selalu penasaran dengan tokomu, karena tiap kali aku lewat, tokomu pasti ramai banget... Bahkan orang luar kota pun pasti datang ke sini untuk belanja, sampai-sampai tokomu ini malah terlihat lebih ramai daripada mall di kota." Angga bergumam, tapi matanya masih tertuju pada ponsel yang mengambang-ngambang di depannya itu. "Dan... sekarang aku tahu penyebabnya... ""Yah... aku perhatikan, kamu kayaknya memang sering lewat jalan sini deh, tapi kamu sama sekali nggak pernah singgah belanja di sini... " Rara menatap curiga pada Angga, tapi pemuda itu masih terpaku pada ponsel yang melayang. "Memangnya kamu biasanya ngapain ke sini? Setidaknya, kalau kamu lewat sini, kamu belanja minum gitu kek. Kita sudah berteman dari kecil loh—""Eh, Ra, kamu kok bisa punya kekuatan kayak begini sih? Bagaimana ceritanya coba? Dan sejak kapan?" Ujar Angga yang akhirnya berhasil memalingkan pandangannya dari ponsel itu. Dari mukanya, siapapun bisa tahu akan betapa penasarannya dia sekarang.Rara hanya mampu memasang wajah datar setelah mendengar perkataan Angga. Dia bahkan tidak memedulikan semua yang telah dikatakan Rara beberapa detik lalu. Namun, pada akhirnya Rara hanya bisa menghela nafas dalam, lalu ia pun mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Angga."Yah, pada dasarnya sih, ada banyak hal yang telah terjadi sejak kau memutuskan untuk SMA di Makassar... Dan... soal kekuatan ini, aku mendapatkannya sehari setelah kau berangkat." Rara menjelaskan sambil tersenyum kecil. Namun, entah kenapa kini dia bisa merasakan rasa pahit yang amat pekat di lidahnya. Perasaannya tiba-tiba bergejolak."Hah? Yang benar? Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana caranya?"Tubuh Rara tersentak saat mendengar pertanyaan itu. Hatinya terasa semakin terombang-ambing tanpa sebab yang pasti."Ah... kayaknya nggak perlu aku ceritain deh... " Rara mengangkat tangan kanannya agak tinggi, dan ponsel itu pun juga bergerak naik ke atas mengikuti gerakkan tangan Rara, atau mungkin juga hatinya. Sungguh kekuatan yang sangat aneh. Sudah tiga tahun Rara memiliki keganjilan ini di dalam dirinya, tapi dia tetap saja kebingungan dengannya.Kekuatannya itu adalah satu-satunya keganjilan yang bisa membuat hati Rara menjadi bimbang.Apakah dia harus memandang keganjilan—kekuatan—ini sebagai sesuatu yang mengerikan, atau sebagai sesuatu yang indah bak permata?"Kok?" Pekik Anga. "Hey, Ra, kita ini sudah berteman dari kecil loh, masa iya kamu nggak mau menceritakan aku hal sepenting itu.""Yah, kita memang sudah kenal dari kecil, dan kau bahkan mengetahui semua rahasiaku. Tapi, apa kau tahu? Aku sama sekali nggak tahu apa-apa tentangmu loh... selain namamu, hobimu, dan keluargamu... sisanya, aku sama sekali nggak tahu.""Hey, hey... aku bahas apa, kamu bahas apa...""Tapi—""Ayolah! Ceritakan semuanya padaku, Ra!"Rara kembali menghela nafas. "Sebenarnya... Aku... " Rara berhenti sejenak. Matanya sedikit bergetar. Dia merasa dicekik. Walau ingatan itu masih terlalu jelas dalam benaknya, tapi Rara sudah memutuskan untuk tidak mengungkit lagi tragedi mengerikan yang terjadi pada hari itu. "Maaf... kayaknya aku memang nggak bisa deh... ""Eh...? Apaan sih?" Angga terlihat kecewa. "Hmm... tadi katamu, kau mendapatkan kekuatan ini sehari setelah aku pindah ke Makassar... Dan kalau nggak salah... hari itu adalah hari di mana panti asuhan terbakar kan?"Dunia di sekitar mereka tiba-tiba berguncang, sampai-sampai ada beberapa barang di sekitar mereka yang jatuh dari rak. Mata Rara terbuka sangat lebar. Keringat dinginnya bercucuran. Dia merasa seolah baru saja jatuh dari langit. Tapi, Rara buru-buru mengontrol napasnya dan berusaha menenangkan dirinya."Barusan... apaan?" Angga bergumam heran."Eh, demi apa... Kok kamu berpikir sampai kesitu?" Senyuman Rara ikut bergetar."Lagian kamu nggak mau ceritain juga," Kata Angga cemberut."Hah... ""Yah, kalau kamu tetap nggak cerita, aku bisa cari sendiri kok." Kata Angga sok seraya mendongak menatap ponsel yang mengambang tinggi itu. "Hari ini, aku akan mengetahui kebenarannya... ""Eh? Maksudmu?""Ah, nggak ada apa-apa kok," Jawab Angga sambil tersenyum manis. "Oh iya, kau ingat nggak dengan ucapan yang sering dikatakan Kakek Johan tiap kali kita berkunjung ke panti?""Ah, aku masih ingat.""Ada satu kekuatan lahiriah yang amat menjengkelkan yang melekat pada manusia, dan itu adalah kemampuan mereka untuk mengecewakan orang lain." Angga mengulangi kembali kata-kata bijak yang selalu dikatakan oleh almarhum Kakek Johan. Meski wajahnya tampak sedih, tapi senyumannya tidak raib dari bibirnya.Keheningan menelan setiap sudut ruangan setelah suara Angga hilang dibawa oleh waktu. Rara hanya diam waktu itu. Kata-kata Angga terasa seperti bilah pisau yang menusuk dada Rara."Selamat siang, Rara!"Namun, keheningan itu lenyap begitu saja saat rombongan ibu-ibu tiba-tiba masuk ke dalam toko tanpa disadari. Ada beberapa yang langsung mengantri di depan meja kasir, sedangkan yang lainnya memilih untuk masuk lebih dalam dan melihat-lihat isi toko untuk menambahkan barang-barang lain dalam daftar belanja mereka."Nih, Ra, tolong ya." Salah seorang ibu memberikan secarik kertas pada Rara, dan di kertas itu sudah tertulis daftar barang yang ingin dibeli oleh ibu itu."Siap, Bu!" Kata Rara penuh semangat seraya membaca daftar belanja itu. "Yah, kebetulan semuanya ada, dan kalau nggak ada tambahan, jadi langsung saja ya?"Setelah membaca semuanya, mata Rara tiba-tiba mulai bersinar memancarkan cahaya keemasan, lalu Rara mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jarinya, dan pada saat itu pula, ada beberapa barang dari rak, dan juga barang-barang di ruang belakang, serta kardus kosong di pojok yang tiba-tiba mulai bergerak sendiri, kemudian melayang dan berkumpul di udara di atas meja Rara."Hey... Ra... kok matamu jadi kayak senter loh..." Bisik Angga keheranan.Sungguh suatu pemandangan yang benar-benar berhasil merusak kenyataan dunia.Akan tetapi, anehnya para pelanggan setia Rara, maupun orang-orang yang baru pertama kali datang ke toko ini, pasti akan langsung tahu dengan satu peraturan yang harus dipatuhi selama mereka belanja di sini.Hanya satu peraturan, dan itu adalah; para pelanggan tidak boleh membeberkan kejadian-kejadian ajaib yang terjadi di sini pada orang-orang yang tidak berkepentingan sama sekali.Rara juga tidak tahu persis bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi sepertinya itu hanyalah salah satu dampak dari kekuatannya.Semua barang-barang itu meluncur masuk ke dalam kardus kosong, dan kemudian tali yang ada di meja Rara juga ikut terulur dengan sendirinya, lalu mengikat kardus itu dengan erat. Dan saat semuanya selesai, kardus yang berisi barang-barang pesanan si Ibu pun mendarat dengan mulus di atas meja."Hah... " Rara menghela nafas dalam seraya menengok ke arah Angga yang takjub dengan apa yang baru saja dilakukan Rara. "Nih, buruan kamu hitung semuanya." Ujar Rara sambil menyodorkan kertas itu pada Angga."Eh?" Angga menoleh ke arah Rara dengan ekspresi tolol yang terpampang di wajahnya. "Oh! Iya! Cepat siniin." Namun Angga berhasil sadar, dan dia dengan cekatan mulai menjumlahkan harga keseluruhan dari semua barang belanja ibu itu.Ya, suasana siang yang sibuk itu begitu menyenangkan bagi Rara. Dia dan Angga bekerja dengan penuh semangat, walau cuacanya sangat panas. Namun, bagi Rara, momen ini sangatlah mahal, apalagi Angga juga merupakan salah satu orang paling berarti dalam hidupnya.Namun, dosa adalah dosa. Dan seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti akan jatuh juga, jadi, kejahatan Rara, mau tak mau kelak tentu saja akan terbongkar, dan dia harus menerima kenyataan itu. Begitulah hukum dunia.Dan beberapa jam kemudian, saat langit memancarkan cahaya oranye yang hangat dan membuat dunia terasa damai, akhirnya saat itu pun tiba."BERHENTI WOY! ANGGA!"Tampak ada ratusan garis cahaya yang melesat dari langit, dan bergerak dengan kecepatan kilat menuju ke arah Rara. Meski begitu, anehnya Rara sama sekali tidak merasa terancam dengan cahaya-cahaya kemerahan itu, dan dia tetap berdiri tegak di langit.Rara memantapkan pikirannya, hingga membuat cahaya keemasan meledak dari dalam dirinya, dan menciptakan semacam pelindung untuk Rara untuk menahan cahaya-cahaya kemerahan itu.Ledakan bertubi-tubi terjadi tepat di depan mata Rara. Ledakan yang seharusnya menghancurkan sebuah kota hingga rata dengan tanah, bahkan tidak bisa membuat Rara tergores.Itu semua berkat mahkota emas kecil yang melayang rendah di atas kepalanya."Kenapa kau tidak menyelamatkan mereka!" Teriak suara Angga yang terdengar dari langit. Awalnya tidak terlihat apa-apa di atas sana, tapi tak lama kemudian, dari balik awan-awan akhirnya Angga muncul dengan menunggangi seekor naga raksasa bersisik ungu bercahaya."A-aku bahkan hampir tidak bisa berbuat apa-apa saat itu! Semuanya terjadi begitu saja! Dan apa yang kau harapkan!" Balas Rara. Emosinya bercampur aduk. Alisnya berkerut sedih."Dasar bodoh! Orang-orang di panti itu sudah seperti keluarga kita! Dan kau bertanya apa yang aku harapkan!? Apa-apaan kau, Rara!" Angga berteriak murka dengan Air mata yang mengalir di wajah. "Dengan kekuatanmu! Kau seharusnya bisa menyelamatkan mereka! Tapi kenapa kau hanya menyelamatkan Sari!?""Tapi... semuanya sudah terjadi... " Rara berbisik pelan sambil menoleh ke belakang, dan memandang seorang gadis kecil yang berdiri jauh dibawah sana. "Semuanya sudah terjadi! Dan itu nggak bisa dirubah lagi!""Memang sudah terjadi... tapi aku juga sudah terlanjur kecewa, Ra." Kata Angga. "Bagiku, kematian mereka adalah sebuah kesalahan, dan Sari yang bertahan hidup, juga merupakan suatu kesalahan... " Sayap naga itu tiba-tiba terbentang lebar dan membuat angin berguncang, tanda bahwa mereka siap untuk bertempur. "Berkatmu, semua ingatan itu sekarang sudah tak ada artinya lagi."Rara menggigit bibir. "Nggak ada yang tergantikan di dunia ini! Semuanya berarti!"Rara masih tak tahu harus berbuat apa sekarang. Sahabatnya tetap tak mau sadar. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana caranya mengakhiri ini? Rara kehabisan kata-kata. Satu-satunya yang mampu dilakukannya saat ini, adalah membuat langit dipenuhi oleh cahaya keemasan yang berasal dari dalam dirinya.+"Bunuh tukang bacot itu... Barbatheos.""Hah? Yang benar? Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana caranya?"Tubuh Rara tersentak saat mendengar pertanyaan itu. Hatinya terasa semakin terombang-ambing tanpa sebab yang pasti."Ah... kayaknya nggak perlu aku ceritain deh... " Rara mengangkat tangan kanannya agak tinggi, dan ponsel itu pun juga bergerak naik ke atas mengikuti gerakkan tangan Rara, atau mungkin juga hatinya. Sungguh kekuatan yang sangat aneh. Sudah tiga tahun Rara memiliki keganjilan ini di dalam dirinya, tapi dia tetap saja kebingungan dengannya.Kekuatannya itu adalah satu-satunya keganjilan yang bisa membuat hati Rara menjadi bimbang.Apakah dia harus memandang keganjilan—kekuatan—ini sebagai sesuatu yang mengerikan, atau sebagai sesuatu yang indah bak permata?"Kok?" Pekik Anga. "Hey, Ra, kita ini sudah berteman dari kecil loh, masa iya kamu nggak mau menceritakan aku hal sepenting itu.""Yah, kita memang sudah kenal dari kecil, dan kau bahkan mengetahui semua rahasiaku. Tapi, apa kau tahu? Aku sama sekali nggak tahu apa-apa tentangmu loh... selain namamu, hobimu, dan keluargamu... sisanya, aku sama sekali nggak tahu.""Hey, hey... aku bahas apa, kamu bahas apa...""Tapi—""Ayolah! Ceritakan semuanya padaku, Ra!"Rara kembali menghela nafas. "Sebenarnya... Aku... " Rara berhenti sejenak. Matanya sedikit bergetar. Dia merasa dicekik. Walau ingatan itu masih terlalu jelas dalam benaknya, tapi Rara sudah memutuskan untuk tidak mengungkit lagi tragedi mengerikan yang terjadi pada hari itu. "Maaf... kayaknya aku memang nggak bisa deh... ""Eh...? Apaan sih?" Angga terlihat kecewa. "Hmm... tadi katamu, kau mendapatkan kekuatan ini sehari setelah aku pindah ke Makassar... Dan kalau nggak salah... hari itu adalah hari di mana panti asuhan terbakar kan?"Dunia di sekitar mereka tiba-tiba berguncang, sampai-sampai ada beberapa barang di sekitar mereka yang jatuh dari rak. Mata Rara terbuka sangat lebar. Keringat dinginnya bercucuran. Dia merasa seolah baru saja jatuh dari langit. Tapi, Rara buru-buru mengontrol napasnya dan berusaha menenangkan dirinya."Barusan... apaan?" Angga bergumam heran."Eh, demi apa... Kok kamu berpikir sampai kesitu?" Senyuman Rara ikut bergetar."Lagian kamu nggak mau ceritain juga," Kata Angga cemberut."Hah... ""Yah, kalau kamu tetap nggak cerita, aku bisa cari sendiri kok." Kata Angga sok seraya mendongak menatap ponsel yang mengambang tinggi itu. "Hari ini, aku akan mengetahui kebenarannya... ""Eh? Maksudmu?""Ah, nggak ada apa-apa kok," Jawab Angga sambil tersenyum manis. "Oh iya, kau ingat nggak dengan ucapan yang sering dikatakan Kakek Johan tiap kali kita berkunjung ke panti?""Ah, aku masih ingat.""Ada satu kekuatan lahiriah yang amat menjengkelkan yang melekat pada manusia, dan itu adalah kemampuan mereka untuk mengecewakan orang lain." Angga mengulangi kembali kata-kata bijak yang selalu dikatakan oleh almarhum Kakek Johan. Meski wajahnya tampak sedih, tapi senyumannya tidak raib dari bibirnya.Keheningan menelan setiap sudut ruangan setelah suara Angga hilang dibawa oleh waktu. Rara hanya diam waktu itu. Kata-kata Angga terasa seperti bilah pisau yang menusuk dada Rara."Selamat siang, Rara!"Namun, keheningan itu lenyap begitu saja saat rombongan ibu-ibu tiba-tiba masuk ke dalam toko tanpa disadari. Ada beberapa yang langsung mengantri di depan meja kasir, sedangkan yang lainnya memilih untuk masuk lebih dalam dan melihat-lihat isi toko untuk menambahkan barang-barang lain dalam daftar belanja mereka."Nih, Ra, tolong ya." Salah seorang ibu memberikan secarik kertas pada Rara, dan di kertas itu sudah tertulis daftar barang yang ingin dibeli oleh ibu itu."Siap, Bu!" Kata Rara penuh semangat seraya membaca daftar belanja itu. "Yah, kebetulan semuanya ada, dan kalau nggak ada tambahan, jadi langsung saja ya?"Setelah membaca semuanya, mata Rara tiba-tiba mulai bersinar memancarkan cahaya keemasan, lalu Rara mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jarinya, dan pada saat itu pula, ada beberapa barang dari rak, dan juga barang-barang di ruang belakang, serta kardus kosong di pojok yang tiba-tiba mulai bergerak sendiri, kemudian melayang dan berkumpul di udara di atas meja Rara."Hey... Ra... kok matamu jadi kayak senter loh..." Bisik Angga keheranan.Sungguh suatu pemandangan yang benar-benar berhasil merusak kenyataan dunia.Akan tetapi, anehnya para pelanggan setia Rara, maupun orang-orang yang baru pertama kali datang ke toko ini, pasti akan langsung tahu dengan satu peraturan yang harus dipatuhi selama mereka belanja di sini.Hanya satu peraturan, dan itu adalah; para pelanggan tidak boleh membeberkan kejadian-kejadian ajaib yang terjadi di sini pada orang-orang yang tidak berkepentingan sama sekali.Rara juga tidak tahu persis bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi sepertinya itu hanyalah salah satu dampak dari kekuatannya.Semua barang-barang itu meluncur masuk ke dalam kardus kosong, dan kemudian tali yang ada di meja Rara juga ikut terulur dengan sendirinya, lalu mengikat kardus itu dengan erat. Dan saat semuanya selesai, kardus yang berisi barang-barang pesanan si Ibu pun mendarat dengan mulus di atas meja."Hah... " Rara menghela nafas dalam seraya menengok ke arah Angga yang takjub dengan apa yang baru saja dilakukan Rara. "Nih, buruan kamu hitung semuanya." Ujar Rara sambil menyodorkan kertas itu pada Angga."Eh?" Angga menoleh ke arah Rara dengan ekspresi tolol yang terpampang di wajahnya. "Oh! Iya! Cepat siniin." Namun Angga berhasil sadar, dan dia dengan cekatan mulai menjumlahkan harga keseluruhan dari semua barang belanja ibu itu.Ya, suasana siang yang sibuk itu begitu menyenangkan bagi Rara. Dia dan Angga bekerja dengan penuh semangat, walau cuacanya sangat panas. Namun, bagi Rara, momen ini sangatlah mahal, apalagi Angga juga merupakan salah satu orang paling berarti dalam hidupnya.Namun, dosa adalah dosa. Dan seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti akan jatuh juga, jadi, kejahatan Rara, mau tak mau kelak tentu saja akan terbongkar, dan dia harus menerima kenyataan itu. Begitulah hukum dunia.Dan beberapa jam kemudian, saat langit memancarkan cahaya oranye yang hangat dan membuat dunia terasa damai, akhirnya saat itu pun tiba."BERHENTI WOY! ANGGA!"Tampak ada ratusan garis cahaya yang melesat dari langit, dan bergerak dengan kecepatan kilat menuju ke arah Rara. Meski begitu, anehnya Rara sama sekali tidak merasa terancam dengan cahaya-cahaya kemerahan itu, dan dia tetap berdiri tegak di langit.Rara memantapkan pikirannya, hingga membuat cahaya keemasan meledak dari dalam dirinya, dan menciptakan semacam pelindung untuk Rara untuk menahan cahaya-cahaya kemerahan itu.Ledakan bertubi-tubi terjadi tepat di depan mata Rara. Ledakan yang seharusnya menghancurkan sebuah kota hingga rata dengan tanah, bahkan tidak bisa membuat Rara tergores.Itu semua berkat mahkota emas kecil yang melayang rendah di atas kepalanya."Kenapa kau tidak menyelamatkan mereka!" Teriak suara Angga yang terdengar dari langit. Awalnya tidak terlihat apa-apa di atas sana, tapi tak lama kemudian, dari balik awan-awan akhirnya Angga muncul dengan menunggangi seekor naga raksasa bersisik ungu bercahaya."A-aku bahkan hampir tidak bisa berbuat apa-apa saat itu! Semuanya terjadi begitu saja! Dan apa yang kau harapkan!" Balas Rara. Emosinya bercampur aduk. Alisnya berkerut sedih."Dasar bodoh! Orang-orang di panti itu sudah seperti keluarga kita! Dan kau bertanya apa yang aku harapkan!? Apa-apaan kau, Rara!" Angga berteriak murka dengan Air mata yang mengalir di wajah. "Dengan kekuatanmu! Kau seharusnya bisa menyelamatkan mereka! Tapi kenapa kau hanya menyelamatkan Sari!?""Tapi... semuanya sudah terjadi... " Rara berbisik pelan sambil menoleh ke belakang, dan memandang seorang gadis kecil yang berdiri jauh dibawah sana. "Semuanya sudah terjadi! Dan itu nggak bisa dirubah lagi!""Memang sudah terjadi... tapi aku juga sudah terlanjur kecewa, Ra." Kata Angga. "Bagiku, kematian mereka adalah sebuah kesalahan, dan Sari yang bertahan hidup, juga merupakan suatu kesalahan... " Sayap naga itu tiba-tiba terbentang lebar dan membuat angin berguncang, tanda bahwa mereka siap untuk bertempur. "Berkatmu, semua ingatan itu sekarang sudah tak ada artinya lagi."Rara menggigit bibir. "Nggak ada yang tergantikan di dunia ini! Semuanya berarti!"Rara masih tak tahu harus berbuat apa sekarang. Sahabatnya tetap tak mau sadar. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana caranya mengakhiri ini? Rara kehabisan kata-kata. Satu-satunya yang mampu dilakukannya saat ini, adalah membuat langit dipenuhi oleh cahaya keemasan yang berasal dari dalam dirinya.+"Bunuh tukang bacot itu... Barbatheos."

 AIR SUSU PERAWAN
Fantasy Wattpad
30 Nov 2025

AIR SUSU PERAWAN

"Zyan, kenapa dia mengompol?" teriakan itu membuat sang gadis yang dituju jadi serba salah, dan mengambil apa saja yang ada di depannya."Kenapa kamu pegang pembalut?" tanya sang pria dengan nada galak. Mata bundar itu melotot setelah mengetahui kebodohan apa yang dia lakukan dengan wajah memerah seperti tomat rebus dia menyembunyikan di belakang."M-maksudnya, mau ambil popok." Sang gadis nyegir."Nih, urus bayi ini. Jangan biarkan dia menangis, beri dia air susu 24 jam, jangan ada bau kotoran bayi, saya benci anak kecil!" desisnya.Azyan hanya mengangguk kaku, dan hanya bisa menelan ludahnya. Baru seminggu dia bertugas menjadi babysitter demi menjaga seorang bayi menggemaskan yang diadopsi dari panti asuhan, berbekal pengelaman nol dia akan mengurus bayi sepenuh hati walau ia belum punya anak."Kenapa kamu masih berdiri di situ? Ambil bayi ini.""I-iya," jawab Azyan dengan gugup.Bayi merah yang diberi nama Danish berpindah tangan dan dengan telaten Azyan memaikan popok pada bayi tersebut.Azyan melirik pada laki-laki dewasa yang masih mengawasi dirinya, gadis itu menjadi semakin gugup oleh tatapan tersebut. Dennis adalah manusia kaku yang tidak pernah tahu bercanda dan juga sangat irit bicara, seolah keyboard dalam otaknya hanya terdiri dari beberapa huruf.Berkali-kali ia mengembuskan napas lelah sambil memijit kepala otaknya yang hampir pecah karena punya keluarga yang kelewat bar-bar. Keluarga paling berisik sedunia yang ia sebut sebagai keluarga: Raja Hutan.Dennis masih berdiri di sana sambil memperhatikan gadis yang begitu telaten mengurus bayi. Demi menuruti bundanya ia mengalah menerima orang baru dalam rumahnya karena tuntutan yang tidak masuk akal baginya.Saat bayi Danish menangis Azyan jadi kelabakan sendiri. Dennis masih berdiri di depan pintu membuat sang gadis kian gugup."Coba beri air susu. Saya benci suara anak kecil menangis.""I-iya."Dengan malu-malu Azyan mencoba memberi air susu tapi bayi itu masih rewel, Dennis kian berang. Semua karena bundanya, hidup damainya yang penuh ketenangan terusik dengan kehadiran bayi yang menyusahkan."Apakah kamu tidak bisa membuat dia diam? Beri apa saja agar dia diam." Azyan hanya mengangguk dengan gugup.Karena kesusahan menenangkan bayi merah yang terus menangis kain untuk menutupi buah dadanya sekarang terbuka lebar yang membuat buah dada Azyan sudah terpampang nyata di depan Dennis.Matanya melotot dengan perasaan gugup yang luar biasa saat Dennis berjalan ke arahnya, apa pria itu semakin melihat buah dadanya dekat? Azyan adalah seorang gadis perawan yang tidak pernah disentuh lelaki manapun.Dennis menunduk membuat seluruh tubuhnya ikut bergetar, apa laki-laki ini akan menyusu juga? Apa air susunya akan habis dalam sekali sedot, begitu malu dan takut sekuat tenaga Azyan menutupi matanya. Ia hanya mengandalkan indra pendengaran untuk mengetahui semua gerakan Dennis."Kamu berharap sekali saya rasa susu kamu sepuluh detik?" Pertanyaan itu membuat mulutnya terbuka lebar. Kurang ajar!Tapi, dengan sopan Dennis mengambil kain yang jatuh di lantai dan menutup kedua payudara Azyan."Saya tidak tertarik dengan buah dada kecil," pungkas Dennis tanpa rasa bersalah membuat rahang Azyan jatuh hingga ke lantai. Sialan! Bedebah! Laki-laki sial! Ia hanya bisa memaki dalam hati, karena Azyan masih training mengurus bayi jadi dia hanya bisa menahan dalam hati.+Saat Dennis keluar dari kamar tangisan bayi kian kuat, hingga seluruh wajahnya memerah."Kenapa tidak beri dia susu?" Dennis kembali berkacak pinggang di pembatas pintu membuat Azyan kian menjadi serba salah...."S-sudah.""Oh Tuhan!" Dennis semakin menggerang frustrasi karena pekikan bayi itu semakin membuat kepala otaknya mau pecah.Dennis mendekat membuat Azyan semakin gugup, sedangkan tangisan bayi merah yang tak tahu apa-apa semakin kuat."Sini." Dengan perasaan gugup Azyan menyerahkan bayi merah pada Dennis, ajaibnya bayi itu mau diam yang membuat dia merasa lega, jika sudah begini rasanya Azyan ingin mengadu pada Ilona dan resign segera.Walau benci anak-anak saat melihat bayi merah yang terdiam di tangannya membuat Dennis tak percaya dengan penglihatannya. Apa bayi merah suka berbuat di luar nalar?Keduanya sama-sama menarik napas panjang, tak pernah mengurus bayi sebelumnya tentu saja akan kesusahan bagi Dennis maupun Azyan dengan kehadiran bayi merah di dalam hidup keduanya.Azyan masih kuliah semester lima, jika kuliah, bayi merah akan dititipkan pada pengasuh yang lain."Jadi sekarang apa? Saya harus mengendongnya setiap saat?" tanya Dennis yang membuat Azyan hanya berdiri serba salah."Bisa ditidurkan." Azyan menunujuk ke arah sisi ranjang.Dennis mencoba untuk meletakkan bayi merah di atas ranjang, tak lagi mencium bau Dennis ia kembali terpekik. Azyan menjadi tak enak pada Dennis. Laki-laki itu terlihat frustrasi dengan tangisan bayi.Akhirnya Dennis mengalah dan mencoba untuk ikut berbaring karena sejujurnya tangannya terasa keram.Azyan hanya berdiri serba salah. Sekarang apa? Dia harus ikut berbaring juga? Atau berdiri melihat dua laki-laki ini tertidur. Gadis itu menunduk dan memainkan jari-jari kakinya, ini adalah keadaan paling awkward yang pernah dia rasakan."Kenapa berdiri di situ? Tidur sini," ajak Dennis.Dengan susah payah ia menelan salivanya, tenggorokannya terasa kering, bibirnya terasa sakit karena digigit begitu kuat.Saat tubuhnya perlahan mendekat, Azyan langsung tersentak karena Dennis sudah menarik tubuhnya dan ia terjatuh di atas tubuh pria itu. Degupan jantungnya terasa bertalu-talu, Azyan juga ikut merasakan degupan jantung milik Dennis.Ini bahaya! Alarm dalam otaknya sudah berbunyi keras, tapi seluruh tubuhnya terasa kaku karena baru kali ini dia bersentuhan langsung dengan laki-laki."Kenapa? Merasa nyaman?"Azyan menutupi matanya sambil menggepalkan tangan, kenapa laki-laki ini bicaranya sembarangan? Dia tahu seluruh keluarga Dennis adalah manusia yang bicara tanpa peduli perasaan orang lain, ia kira Dennis akan berbeda tapi sama saja, memang darah lebih kental daripada air.Saat tatapan keduanya bertemu seluruh kegiatan di seluruh dunia seolah terhenti, dan Azyan kembali menelan ludah karena merasa gugup luar biasa.Harus ia akui jika dia adalah laki-laki matang paling tampan yang pernah ia temui, seluruh keluarga gen Raja Hutan adalah keluarga yang good looking, dengan banyak bibit unggul.Alis tebal, jambang tipis, rahang tegas, bibir merah alami, tatapan tajam tapi juga teduh di saat bersamaan. Dia punya bahu lebar dan juga tangan berotot yang menunjukkan seorang laki-laki jantan, aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya membuat tenggorokan Azyan terasa kering.Ini adalah pose paling intim yang terjadi dalam hidupnya, oleh laki-laki dewasa abang sahabatnya sendiri. Hidung mancung yang membuat Azyan ingin sekali menyentuhnya."Dia sangat tampan!" Gadis itu menjerit dalam hatinya walau ia tak bisa mengeluarkan itu."Handsome as hell.""Bayinya menangis." Tangisan bayi kembali mengintrupsi keduanya, tanpa sadar Dennis mendorong tubuh Azyan ke lantai, padahal baru saja beberapa detik lalu ia memujinya. Jika sudah begini, Azyan kembali menarik kata-katanya.Gadis itu memegang bokongnya yang baru saja mencium lantai, gini amat kerja. Segala sumpah serapah ia keluarkan akhirnya kembali berdiri, tentu saja dia harus sabar. Azyan hanya seorang gadis yatim piatu yang tidak punya keluarga, selama ini ia tinggal di panti asuhan setelah Ilona memintanya untuk mengurus bayi ia menyetujui untuk mendapatkan uang, tempat tinggal, dan juga ia punya penyakit langka bisa mengeluarkan air susu walau tak pernah hamil sebelumnya.Saat tangan Dennis menyentuh bayi merah seolah mengerti bayi itu kembali terdiam. Azyan kembali terdiam memikirkan nasibnya dan bagaimana dia berakhir di sini.Sedangkan Dennis terpaksa menerima Azyan dan bayi Danish karena tuntutan sang bunda sebagai pancingan agar dia memikirkan pasangan. Usianya nyaris menyentuh kepala tiga tapi ia seolah lelaki abnormal yang tidak mengenal cinta selama hidupnya."Sekarang sudah jam berapa?" tanya Dennis merasa jengkel karena harus terjebak bersama bayi yang tidak ia inginkan sama sekali."J-jam lima."Dennis menghela napas tak ikhlas, andai bisa menyumpahi ibunya sendiri dan juga saudarinya ia akan melakukannya sekarang, tapi yang bisa ia lakukan adalah terbiasa dengan kehadiran bayi, tangisan bayi dan juga mencium kotoran bayi."A-bang bisa bisa pergi, aku akan mengurusnya.""Nanti dia menangis lagi."Azyan menggigit bibirnya lagi, tentu saja dia tidak bisa mencegah tangisan bayi ini."Saya lapar.""A-abang bisa makan, aku bisa mengurusnya," ucap Azyan tertunduk dalam. Ia tak berani menatap Dennis, laki-laki itu masih berbaring menempelkan tangannya pada kulit bayi merah tersebut karena ia seolah punya radar jika Dennis tak lagi menyentuhnya."Bisakah kamu suapin? Saya sungguh lapar," pinta Dennis."O-oke."Azyan dengan cepat berlari ke dapur, dia merasa serba salah dengan keadaan super canggung di antara mereka. Gadis itu berkali-kali menggigit bibirnya.Usianya masih 20 tahun, Dennis berusia 29 tahun.Azyan menyiapkan makanan yang tersisa di meja. Biasanya saat bayi merah Danish menangis ia yang akan masak, tugasnya memang banyak selain mengurus bayi, seolah jadi istri seorang Dennis Nortman walau tanpa status.Dennis membawa bayi merah menyusul ke dalam meja makan, Azyan hanya melirik lewat bulu mata lentiknya. Entah kenapa, dia suka melihat interaksi alami yang terjadi antara Dennis dan bayi merah. Seolah ayah dan anak beneran.Dengan susah payah dan keadaan yang begitu canggung, Azyan menyuapi Dennis. Laki-laki itu bisa bekerjasama dengan membuka mulutnya lebar."Kamu tidak makan?" Azyan hanya menggeleng dengan pertanyaan tersebut dan kembali menyuapi Dennis."Mau saya suapi juga?""Tidak perlu!" jawab Azyan cepat. Padahal seluruh wajahnya sudah memanas.Dennis berusaha untuk menggendong bayi merah dengan satu tangan dan menyuapi Azyan balik, gadis itu menolaknya tapi pria itu masih keras kepala untuk menyuapi gadis di depannya.Dengan mulut setengah terbuka ia menerima suapan besar tersebut yang membuat separuh nasi tumpah."Apakah setiap hari akan seperti ini?" tanya Dennis sambil menunduk mengisyaratkan pada bayi merah yang ia gendong."T-tidak."Akhirnya gantian Azyan yang menyuapi Dennis. Tanpa sadar keduanya saling menyuapi alih-alih makan sendiri.Setelah makan Dennis kembali ke kamar Azyan dan mencoba untuk meniduri bayi merah yang manja.Azyan dan Danish berada di kamar bawah, kamar yang dulunya Dennis jadikan sebagai kamar tamu, sedangkan laki-laki itu tinggal di kamar lantai atas, kamar utama miliknya.Azyan membereskan peralatan makan keduanya, sebenarnya dia suka mengurus bayi bahkan sudah ada rasa sayang pada bayi merah tersebut."Oh Tuhan!" Azyan berseru dengan kaget saat tubuh tinggi Dennis tiba-tiba sudah berdiri di pintu, laki-laki itu suka sekali berdiri di pintu tiba-tiba."Bayinya sudah tidur. Oh Tuhan, jika setiap hari seperti ini saya bisa mati berdiri," keluh Dennis sambil menyugar rambutnya. Setelah ini dia akan protes pada bundanya pada beban yang dipikulkan untuknya.+"Karena bayi sudah tidur, sekarang untuk mengasuh bayi yang lain." Azyan berbalik tak mengerti dengan ucapan pria tersebut."Tidur sama saya malam ini," putus Dennis dan berlalu.

Ular Laut Yang Diamuk Si Pendiam
Fantasy Noveltoon
29 Nov 2025

Ular Laut Yang Diamuk Si Pendiam

Aldo duduk di kursi berjemur sambil memandangi aktivitas di atas geladak utama kapal pesiar. Orang-orang berenang santai atau bersenda gurau, sementara pelayan sibuk membawakan pesanan makanan dan minuman. Saat ini mereka tengah berlayar melintasi Laut Natuna.Tiba-tiba sebuah bola plastik terlempar ke arah Aldo. Remaja itu menangkapnya dengan sigap. Seorang gadis berbikini buru-buru berlari ke arahnya."Maaf ya Dek, nggak sengaja," ucap gadis tersebut."Nggak apa-apa kok. Nih." Aldo menyerahkan bolanya."Anu..." sang gadis agak ragu. "Mau ikut main?"Aldo segera menyadari teman-teman gadis itu tertawa-tawa di kolam. Mungkin mereka memang sengaja melempar bola ke arahnya agar bisa berkenalan."Maaf, aku sedang kurang enak badan." Remaja itu tersenyum kecil. "Lagian aku sebenarnya masih enam belas tahun."Oh, yaudah deh..." jawab sang gadis terlihat kecewa.Aldo mengangguk. Namun, ia memang tidak naik ke atas kapal pesiar ini untuk berlibur. Ia memiliki tujuan lain.Ya, tujuan lain. Alasan yang datang lima tahun lalu, saat dimana pedang Orochi tiba-tiba menancap di depan rumah Aldo, tepat saat anak itu hendak berangkat sekolah. Sebagai penerus kepala keluarga Orochi berikutnya, Aldo segera memahami bahwa itu adalah pertanda buruk. Satu-satunya saat di mana pedang diwariskan adalah saat pemilik sebelumnya terbunuh.Anak itu pun jatuh berlutut, lalu menangis.Padahal seharusnya kedua orang tuanya cuma pergi berlibur, kenapa tragedi ini sampai terjadi?Beberapa hari kemudian, ramai pemberitaan di televisi mengenai sebuah kapal yang diserang sesosok ular laut raksasa. Di antara daftar korban terdapat nama ayah dan ibu Aldo.Berita itu membawa kehebohan di penjuru negeri, bahkan mengundang peneliti dari negara lain untuk datang ke Indonesia. Mereka semua ingin menangkap makhluk ajaib tersebut. Ada yang bilang itu adalah dinosaurus yang selamat dari era prasejarah, ada juga yang bilang itu adalah makhluk mitologi. Akan tetapi, cuma Aldo yang tahu makhluk apa itu, dan bagaimana cara menghentikannya."Lewiatan," gumamnya.Sejak saat itu ia memiliki obsesi untuk mengejar makhluk tersebut, seberat apapun pengorbanannya.Aldo sudah mengarungi lautan di seluruh Indonesia, menyisakan Laut Natuna ini sebagai titik terakhir pencarian. Apabila ia masih tidak menemukan Lewiatan, mungkin monster itu sudah pergi ke belahan bumi yang lain.Remaja itu pun menyerah. Tubuhnya juga sudah kedinginan karena hawa dingin dari awan mendung mulai terbentuk di langit. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamar. Ia benar-benar lelah entah karena apa.Baru saja melangkah, hujan gerimis datang. Orang-orang langsung berkemas untuk kembali ke kamar masing-masing. Termasuk gadis-gadis cantik yang tadi.Tapi semenit kemudian, gerimis berubah menjadi hujan deras. Gelombang-gelombang tinggi tinggi terbentuk, menggoyang seisi kapal. Petir menggelegar di angkasa. Entah bagaimana cuaca yang awalnya cerah bisa berubah sedemikian drastis."Hati-hati, jangan berlari!" seru awak kapal yang membimbing para penumpang masuk ke dalam.Namun, Aldo merasakannya. Ada aura buas yang hendak melahap semua. Remaja itu pun berhenti bergerak. Sebaliknya, ia berjalan ke ujung haluan."Mas, jangan ke sana! Berbahaya!" seru seorang awak kapal sembari berpegangan karena guncangan kapal semakin tidak beresAkhirnya sang awak lepas tangan. Ia masih memiliki tugas lain untuk dikerjakan.Air hujan menyerbu hingga Aldo basah kuyup, tapi tak dipedulikan. Ia bahkan tidak peduli puting beliung yang mulai memerangkap kapal pesiar dalam pusaran raksasa.Dan saat remaja itu berdiri di haluan, tiba-tiba terbentuk gelombang besar di hadapannya. Dari gelombang tersebut muncul kepala ular raksasa. Kedua matanya kuning dengan garis hitam vertikal. Ia memiliki sisik-sisik hijau yang bersinar licin. Eksistensi yang begitu purba dan perkasa. Makhluk itu mulai mengangkat kepalanya hingga tinggi ke langit, kira-kira setinggi gedung lima tingkat."Akhirnya!" seru Aldo. Ia memasang kuda-kuda, mengacungkan tangannya ke langit. "Jawab panggilanku, Orochi!"Langit pun membelah, lalu senjata magis itu melesat turun. Sebuah pedang berkilauan dengan permata ungu di bilahnya. Aldo menggenggamnya mantap."Ini saat yang sudah kutunggu-tunggu," Aldo mengayunkan pedang itu sekuat tenaga, "Orochi, bangkitlah!"Keajaiban terjadi. Bilah pedang itu tiba-tiba bertransformasi menjadi ular hitam besar berkepala tujuh, yang masing-masing memiliki permata di dahi."Serang bajingan ini..."Aldo mengayunkan pedangnya lagi. Ketujuh kepala Orochi memanjang, lalu menggigit leher sang Lewiatan. Monster raksasa itu mengamuk. Ia menyeruduk badan kapal pesiar, hingga pijakan Aldo terguncang. Dinding kapal yang terbuat dari logam sampai penyok dibuatnya.Sang nahkoda, para awak, dan penumpang yang melihat peristiwa itu hanya bisa berdoa ketakutan. Mereka tak pernah menyangka laut dihuni oleh monster sebesar itu, yang bisa melumat mereka dengan sangat mudah.Aldo menyerang lagi agar Lewiatan menjauh dari kapal. Tapi pergerakan monster itu amat lihai. Saat ini memang ia tidak memiliki keunggulan. Medan air adalah elemen Lewiatan. Namun, gigitan Orochi bukanlah gigitan biasa. Setiap taringnya menyimpan racun yang sangat mematikan. Tak peduli sebesar apapun Lewiatan, apabila terus diserang dengan racun, lama-kelamaan tubuhnya pasti akan melemah.Aldo melompat di udara, menggunakan kepala-kepala Orochi sebagai pijakannya.Monster raksasa pun itu pun menenggelamkan tubuhnya ke dalam air."Selesai, kah?" tanya Aldo pada dirinya sendiri. Tetapi ia yakin pertarungan seharusnya tak berakhir semudah ini. Karena kalau iya, mustahil ayahnya yang memiliki kemampuan luar biasa bisa kalah.Tiba-tiba kapal menjadi tidak stabil. Bagian geladaknya terangkat, sementara buritannya turun. Aldo segera menyadari apa yang terjadi. Lewiatan memilih untuk menyerang kapal ini. Monster itu sedang berusaha menarik kapal ke dalam air."Celaka!"Aldo kembali melesat."Orochi!"Ia lompat ke atas kepala salah satu ular Orochi, lalu senjata itu mengular di udara. Ia bergerak cepat menuju buritan yang sudah nyaris tenggelam. Remaja itu menarik napas dalam-dalam, lalu terjun ke dalam air.Kini ia bisa melihat wujud utuh Lewiatan yang sangat besar dengan dua pasang sayap. Makhluk itu menggigit propeller kapal pesiar sambil terus menariknya ke dalam air. Seketika Aldo merinding. Ia tak bisa membayangkan bagaimana cara mengalahkan makhluk semasif itu. Keinginan untuk menyerah pun timbul."Yakinlah!"Tiba-tiba ada yang berbisik. Aldo dapat mengenali suara tersebut, "Ayah!""Kami tahu kau pasti bisa!""I—ibu?" Aldo mengeratkan gerahamnya. "Jadi selama ini kalian terus memperhatikan. Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini!"Semangat Aldo berkobar kembali. Ia melesat menuju Lewiatan. Pedang Orochi siap di tangannya."Orochi!"Ketujuh kepala ular Orochi menyambar Lewiatan. Di leher, sayap, dada, dan perut. Tapi Lewiatan masih tak melepas gigitannya pada kapal pesiar. Air sudah mulai masuk ke bagian dalam kapal, membuat para penumpang panik."Aku tidak akan membiarkannya!"Aldo mengeraskan tekad. Meski oksigen di paru-parunya hampir habis, tapi ia belum boleh menyerah. Ia terus menancapkan racun ke tubuh Lewiatan melalui taring-taring Orochi."Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini. Setiap kali aku naik kapal, aku selalu berpikir untuk berhenti. Tapi setelah melihatmu terluka... Ya, aku akan membunuhmu!"Aldo mengerahkan seluruh energinya. Ia tak peduli meski ia harus mati sekalipun. Jika ia mati, Lewiatan akan ikut mati bersamanya!Lalu rahang Lewiatan lepas dari propeller kapal pesiar. Rahangnya tetap membuka, seiring tubuhnya tenggelam. Garis hitam di matanya menghilang, menyisakan warna kuning kosong. Sementara kapal pesiar yang sudah bebas kembali terangkat ke permukaan.Aldo juga sudah kehabisan napas. Yang penting ia sudah merasa lega. Ia membiarkan tubuhnya ikut menuju dasar lautan bersama Lewiatan.Namun, kepala-kepala Orochi terus bergerak. Mereka menciut dan melilit tubuh Aldo, kemudian mengangkatnya ke permukaan. Hingga remaja itu bisa menghirup udara dan terbatuk-batuk. Ia benar-benar kebingungan, sebab selama ini ia mengira Orochi tak memiliki jiwa. Mustahil mereka bisa mengambil inisiatif di saat energi Aldo itu sudah terkuras.Tetapi, mungkin ayah dan ibunya memang masih di sana, memperhatikan sambil melindunginya.Remaja itu memejamkan mata. Badai sudah berakhir. Fajar menjelang. Dendamnya usai. Tapi bukan berarti tugasnya sudah selesai, karena dia masih belum mengetahui kenyataan dunia ini. Masih terlalu banyak.Para awak kapal pun keluar, lalu berusaha mengangkat Aldo dari air.

Keajaiban Tiga Buku
Fantasy Wattpad
29 Nov 2025

Keajaiban Tiga Buku

Perkenalkan namaku Aeri. Aku mempunyai hobi yaitu membaca dan mengoleksi buku.Suatu hari aku ingin sekali untuk membeli buku, karena koleksi buku-buku dirumahku sudah dibaca semua. Biasanya aku membeli buku di toko buku terkenal di kotaku yang tidak jauh dari rumah. Jadi aku pergi kesana dengan berjalan kaki agar sehat hehehe.Saat dijalan, aku melihat ada kakek-kakek yang meringis kesakitan dan memegangi perutnya dan aku mendekati kakek itu dan bertanya, "Kakek kenapa ya?""Kakek lapar nak. Kakek sudah tidak makan dari kemarin dan kakek tidak punya uang untuk membeli makanan." Kata kakek itu.Aku merasa kasihan dengan kakek itu, lalu aku memberinya uang. Uang yang aku beri adalah uang yang aku pakai untuk membeli buku. Ya, aku hanya membawa uang pas-pasan saja untuk membeli buku."Hmm... ini uang untuk kakek." Kataku sambil memberinya uang."Terima kasih banyak ya nak. Kamu sangat baik, sebagai ucapan terima kasih terimalah ketiga buku ini!" katanya sambil memberiku 3 buah buku.Aku menerima buku itu tanpa rasa curiga, karena kakek itu memberikanku buku ini. Mungkin untuk membalas budi. Lalu aku mengucapkan terima kasih kepadanya dan aku memutuskan untuk kembali ke rumah, karena uangku tidak cukup untuk membeli buku.Sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamarku. Entah kenapa aku ingin sekali untuk membuka buku-buku itu dan aku memutuskan untuk membukanya. Saat dibuka, buku pertama yang aku temukan adalah buku berwarna kuning, lalu merah dan yang terakhir biru."Hmm..... coba aku buka buku yang kuning deh."Aku membuka buku yang kuning dan pada halaman pertamanya tertulis,'Buku ini bukan buku biasa. Jika kalian menuliskan suatu kalimat, maka itu akan menjadi kenyataan dalam waktu 10 menit setelah kalian menulisnya dan itu bisa tidak terjadi jika kalian merobeknya'."Wow buku apa ini? Hmm...aku harus hati-hati dalam menggunakannya." Kataku dan menutup buku itu dan aku membuka buku yang berwarna merah. Saat dibuka ternyata buku itu berisi gambar-gambar suatu tempat yang indah dan ada yang menyeramkan."Buku apa lagi ini? Aku harus berhati-hati dan menjaganya dengan baik." Kataku lagi.Setelah itu aku membuka buku yang berwarna biru dan saat dibuka, ternyata buku itu berisi gambar-gambar aneh, seperti alat-alat yang biasanya dikeluarkan oleh Doraemon."Wow apa lagi ini? Kenapa alat-alat ini mirip seperti alat-alatnya Doraemon ya?" kataku dan pada setiap gambar terdapat gambar kotak berwarna merah pada pojok kanan bawah.Karena aku penasaran, jadi aku tekan saja kotak itu dan pada saat itu aku membuka halaman yang berisi gambar alat berbentuk seperti monyet yang membuka mulutnya. Dan saat aku menekannya, BOOM...

Gereja Yang Terbakar & Akhir Bunga Perasaan
Fantasy Noveltoon
28 Nov 2025

Gereja Yang Terbakar & Akhir Bunga Perasaan

Aktivitas favorit Arin pada sore hari adalah duduk di bangku taman sambil memandangi indahnya bunga-bunga dan teduhnya pepohonan. Hatinya menjadi damai, ketimbang saat ia dikelilingi oleh manusia. Biasanya ia berada di sana cukup lama, hingga matahari nyaris terbenam.Namun, sore itu aktivitasnya terganggu. Sekelompok anak bermain kejar-kejaran, lalu menerjang sebaris bunga dengan seenaknya saja. Sontak Arin berdiri ingin memarahi mereka. Tapi kata-katanya tak keluar. Dan anak-anak itu terlanjur berlalu meninggalkan taman.Arin pun mendesah."Dasar bocah-bocah kampret..."Pemuda itu mendekati bunga-bunga yang dirusak, lalu berjongkok di sana. Ia meletakkan telapak tangan kanannya di tanah dan di batang tanaman yang patah. Ajaib, batang itu perlahan pulih seperti sedia kala. Bunga yang terinjak pun mekar lagi. Itulah bakat spesial yang dimiliki Arin, yang tak pernah ia ceritakan pada siapapun."Waw... itu keren banget!"Pemuda itu sontak menoleh. Ia kaget setengah mati, tak mengira ada orang yang memperhatikannya. Seorang gadis muda berpakaian suster berdiri di dekatnya. Gadis itu sedang menenteng plastik belanjaan."A—anu—aku bisa jelaskan!" seru Arin tergagap.Sang gadis menggeleng, "Aku lihat semuanya. Tadinya kan aku mau mengejar anak-anak itu karena merusak tanaman.""Mati aku..." Arin tertunduk, tak tahu harus berbuat apa. Ia tak mau dianggap aneh. Orang-orang dengan kemampuan khusus sepertinya biasanya akan diviralkan, menjadi pusat pembicaraan, didatangi wartawan, memiliki haters—"Aku tidak akan bilang siapa-siapa," ucap gadis itu, menghentikan kegundahan Arin. "Namaku Silvia." Ia mengulurkan tangannya."Arin," jawab sang pemuda sembari menjawab uluran tangan tersebut."Kau memiliki bakat yang luar biasa," ulang Silvia."Eh... Terima kasih," jawab Arin tersipu malu."Jadi... apa kau mau membantuku menanam bunga di kebun gereja?""Eh?""Suster kepala memerintahkanku, tapi kurasa aku tidak punya bakat berkebun.""Tapi—"Silvia memegang kedua tangan Arin, kedua matanya berbinar, "Tolonglah..."Pemuda itu pun tak sanggup menolak. Meski ia tahu sedang dimanfaatkan, tapi nalurinya sebagai lelaki sangat menggebu."Kalau begitu besok pagi aku akan ke gereja!" seru Arin lalu berlari meninggalkan Silvia.Awalnya Silvia ragu apakah pemuda itu akan benar-benar datang. Tapi keesokan paginya ia benar-benar datang. Jadi mereka pun mulai bekerja. Silvia yang mengatur desain dan jenis bunga apa yang perlu ditanam, sedangkan Arin yang mengeksekusi rencana tersebut.Setelah selesai, Silvia menyuguhkan teh dan kue untuk Arin. Pemuda itu langsung menyantap hidangannya dengan lahap."Kamu lapar atau doyan?" tanya Silvia yang memperhatikan pemuda tersebut."Dua-duanya," jawab Arin. Tapi kemudian ia berhenti. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Setelah ini apa aku masih boleh main-main ke sini?"Silvia mengerutkan dahinya, "Memangnya kenapa tidak boleh?""Tugasku kan sudah selesai..."Arin merasa tahu diri. Silvia adalah gadis yang manis. Apalagi ia seorang suster. Kalau bukan karena butuh bantuan, mustahil ia bisa terus bersama Silvia."Tentu saja, datang saja sesukamu! Nanti aku akan membuatkan teh dan kue!" jawab Silvia."Serius?"Silvia mengangguk."Baiklah," Arin pun tersenyum bahagia.Sejak saat itu mereka sering bertemu. Kadang Arin datang ke gereja sambil berpura-pura menjadi jemaat, kadang Silvia mampir saat melihat Arin di taman, dan kadang mereka mengatur pertemuan di tempat rahasia. Di hutan pinggir kota yang lebat, tapi Arin mendekorasinya senyaman mungkin menggunakan kekuatannya. Tanpa diketahui siapapun, mereka memadu kasih. Sebuah cinta terlarang antara orang biasa dan pelayan Tuhan.Di suatu sore yang damai, setelah selesai berpetualang menyusuri hutan, Arin dan Silvia pun memutuskan untuk beristirahat di bagian terdalam hutan, dan berbaring diatas rerumputan yang lembut."Sil," ucap Arin sembari memegang tangan Silvia."Kenapa?" Jawab Silvia yang masih menikmati pemandangan langit nan cerah."Apa ini benar?" Rasa takut terdengar jelas dalam suara Arin."Hah? Gimana?""Yang kita lakukan... terkadang aku khawatir... tidak seharusnya kita memiliki hubungan seperti ini.""Eh? Kenapa? Karena aku seorang suster?""Ya, tentu saja lah." Arin menatap gadis itu. Ia bisa melihat bola mata Silvia yang begitu jernih.Silvia ragu sejenak sebelum menjawab, "Yah... Aku sendiri sebenarnya tidak pernah mau menjadi suster kok. Orang tuaku yang mengirimku ke sana. Jadi... Aku bisa apa? Terkadang hidup kita seperti boneka marionette yang dikendalikan orang lain... dan Tuhan, pastinya."Arin merinding mendengarnya. Selama ini ia tak pernah terlalu memikirkan soal Tuhan. Tapi ide untuk membangkang sang pencipta agak membuatnya takut. Namun, Arin juga sebenarnya masih ingin mengungkapkan sesuatu yang lain, tapi dia mengurungkan niatnya."Sesekali, aku hanya ingin melakukan apa yang kumau. Aku mau kamu, Arin.""Tapi ini beresiko banget loh...""Biar aku yang tanggung resikonya." Gadis itu mendekatkan kepalanya ke samping Arin, dan memandang wajah pemuda itu. "Daripada hidup seribu tahun sebagai domba, aku ingin menjadi serigala satu hari saja. Meski akhirnya dibunuh gembala."Kemudian gadis itu mendekatkan wajahnya ke arah Arin. Bibir mereka pun bertemu, berpagutan. Rasanya ingin agar sore itu berlangsung selamanya, agar mereka tak perlu pulang ke tempat masing-masing dan berusaha menyembunyikan bahwa kisah ini pernah terjadi.Keesokan harinya, Arin datang ke gereja membawakan buah-buahan untuk suster kepala. Ia takut wanita tua itu mulai mencurigainya. Mungkin ia perlu lebih rajin beribadah agar tak dikira macam-macam.Namun, dari kejauhan ia melihat asap hitam yang membumbung tinggi. Perasaannya segera berubah tidak enak. Ia mempercepat langkahnya menuju gereja. Tampak orang-orang sedang berkumpul, sementara lidah api berkobar melalap bangunan gereja. Sontak Arin menjatuhkan barang bawaannya lalu berlari."Silvia!"Orang-orang segera menghentikan pemuda itu."Jangan! Bahaya!""Tidak! Lepaskan!"Tapi akhirnya Arin tak kuasa. Ia berlutut lemas. Katanya api tiba-tiba menyambar di tengah kebaktian, memberangus semua orang yang terjebak di dalamnya—termasuk Silvia."Inikah hukuman? Inikah hukuman dari-Mu?" isak Arin tak tertahan. Air matanya berurai. Ia akhirnya menempelkan kedua telapak tangannya di tanah, lalu mengerahkan seluruh kekuatannya. Tiba-tiba sulur-sulur raksasa mencuat dari dalam tanah lalu melilit bangunan gereja, mematikan api yang berkobar.Semua orang terkejut, dan tak ada yang menyadari bahwa itu adalah perbuatan Arin. Atau mungkin, ada beberapa yang menyadarinya. Makanya Arin merasakan ada tatapan aneh yang terarah ke arahnya. Tapi dia tidak peduli. Tidak untuk saat ini.Namun, warga dibuat semakin terkejut saat melihat ada banyak bunga-bunga berwarna-warni dari berbagai jenis yang tiba-tiba tumbuh menutupi seluruh gereja itu.Kemudian hujan yang deras turun, seakan menyudahi hukuman bagi sang pemuda. Walau akhirnya tetap tak bisa mengembalikan Silvia."Tidak... ini tidak mungkin..." Kini air mata Arin telah bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya.

SUAMIKU BOCAH SMA MESUM
Fantasy Wattpad
28 Nov 2025

SUAMIKU BOCAH SMA MESUM

"Pendek!""Oi, pendek!"Aku berbalik dan mendelik sebal ke arah suamiku yang super ngeselin itu. Dia baru saja kunikahi tiga hari yang lalu, ya, aku yang memaksanya agar mau bertanggung jawab dan menikah denganku, karena aku rela membohongi semua orang jika aku hamil, membuat Bunda murka dan menuntut agar Gerald segera menikahiku.Wajah Gerald tidak ramah sama sekali, dia merajuk sodara-sodara karena tidak mendapat jahat, karena aku masih begitu takut untuk unboxing, walau aku tahu punya suami yang super mesum.Aku mendekat dan mencoba memberi senyum manis padanya, tapi dia malah mendorongku. Perlu kalian ingat, Gerald itu mesum, tidak peka, tidak romantic sama sekali, tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta terlalu dalam padanya, dia adalah muridku. Usiaku 23 tahun saat ini, usia Gerald 18 tahun, dia sudah tingkat akhir masa SMA."Muka kamu cemberut terus, kayak kurang jatah aja," celutukku dan mendekat ke arahnya, sedikit berjinjit dan menyentuh ujung hidungnya yang mancung. Gerald itu tingginya 183 centi, sedangkan aku kaum kurcaci yang tinggi hanya 150 centi, itu juga yang membuat dia suka memanggilku pendek."Emang kurang jahat," jawab Gerald dengan nada tidak ramah, dia perlu dikasih bintang satu karena tidak ramah."Peluk dulu. Kalau Rara sudah siap Rara kasih, okay.""Yang banyak dan lama," tambahnya."Yang banyak dan lama." Aku menambahkan lagi sambil memeluknya. Gerald itu bule nyasar yang kukira dibuang orang tuanya dari luar negri karena dia sangat mesum, dia adalah lelaki paling tampan yang pernah kutemui, harus kuakui jika pertemuan pertama kami sangat tidak berkesan sama sekali, tapi aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dari dulu aku bercita-cita punya suami bule, memilih jurusan bahasa Inggris dengan begitu bisa mudah berkomunikasi dengan suami nanti, dan sekarang menjadi guru bahasa Inggris di SMA Mercusuar.Aku memeluknya lama, sambil melihat keadaan sekitar karena sekarang kami sedang berada di parkiran sekolah, tidak ada yang pernah tahu hubungan ini karena aku tak mau mendapat masalah, baik aku atau Gerald. Aku tahu bagi orang hubungan ini aneh dan tabu, tapi bagi orang yang sedang jatuh cinta terkadang suka berbuat di luar nalar.Tangan Gerald melingkar di pinggangku dan mendorong ke arah mobil, keadaan sekolah masih sepi karena kami sengaja berangkat awal agar tidak membuat penghuni sekolah yang lain curiga, aku juga sudah pindah ke rumah Gerald, rumahnya super besar yang tidak ada orang di dalamnya."I love you, pendek," ucap Gerald sambil menepuk-nepuk belakangku. Perbedaan yang sangat kontras sekali, dia masih memakai seragam sekolah dan aku memakai seragam kebanggan para guru, jika penghuni sekolah lain melihat pemandangan ini mereka bisa kejang-kejang, tapi aku Bahagia dengan hidupku sekarang walau memulai semuanya dengan kebohongon.Hubungan yang dilandasi kebohongan apa bisa bertahan lama?-----(Flashback)"Rara hamil, Bunda," ujarku dengan nada penuh penyesalan dan air mata penuh sambil menunduk, mulai melancarkan aksi, jika aku tidak nekat maka Gerald tidak akan menjadi bagian dari cerita hidupku. Setelah lulus sekolah dia akan kuliah di negara asalnya Jerman."RARA!" Bunda berteriak heboh, aku belum masuk ke dalam rumah. Gerald juga masih berada di sini karena dia mengantarku, Bunda juga mati-matian menentang hubungan ini karena dia tidak suka dengan Gerald. Aku sudah punya tunangan sebelumnya, Mas Rangga, tapi aku berkhianat pada Mas Rangga dan menjalin hubungan di belakang Bersama Gerald."CEPAT GERALD! KAMU NIKAHI!" Bunda masih berteriak heboh, dia berdiri di depan pintu. Aku menunduk dengan rasa bersalah karena tega membohongi Bunda, sedangkan Mas Rangga juga masih berada di rumah. Bunda sudah menganggap Mas Rangga sebagai anaknya, bahkan aku dianggap anak pungut dan Mas Rangga anak kandung Bunda."Apa?" tanya Gerald kebingungan, dia mendekat ke arahku."KAMU HARUS NIKAHI RARA. GILA KALIAN YA, MASIH ANAK-ANAK, TAPI NEKAT SEPERTI ITU. DI MANA OTAK KALIAN! DI MANA OTAKMU, RARA?"Aku berbalik menatap Gerald memohon agar dia mengikuti saja permainan ini."Apa?" tanya Gerald lagi. Dia semakin kebingungan.Mas Rangga keluar dari dalam sambil melihat drama apa yang terjadi."Rara hamil, jadi kamu harus menikahi dia," tuntut Bunda."What? Pendek, apa ini?"Aku mundur dan menggengam tangan Gerald, sedikit meremasnya agar dia mengikuti saja permainan gila ini. sudah terlanjur, aku juga muak karena Bunda terus memaksa agar aku segera menikah dengan Mas Rangga, lelaki paling sabar, baik hati, lelaki impian para mertua, tapi aku mati rasa saat aku menemukan Gerald dan berani main gila di belakang Mas Rangga Bersama Gerald muridku sendiri."Rara hamil! Jadi, panggil orang tua kamu Gerald, nikah sekarang!"Gerald menatap bingung ke arahku, mata hijaunya ikut menyala."Please!" Aku menggerakan bibirku berharap agar Gerald peka dan menyelamatkan aku dari situasi sekarang."Whoaa! Burung anak kecil sekarang tidak bisa tahan, luar biasa. Paling juga itu kencingnya belum lurus," ejek Mas Rangga. Sekarang berdiri di samping Bunda, sekarang aku dan Gerald makin terpojokan."What the fuck!" Gerald masih shock, dia menarik tanganku kasar. Aku mulai melancarkan aksi drama yang lainnya, menangis."Rara hamil, Gerald. Kamu harus tanggung jawab, aku nggak mau punya anak tanpa ayah." Aku tersedu-sedu."The fuck!" Gerald masih kebingungan dan terima apa yang terjadi, aku berjinjit dan mengecup bibirnya agar dia diam, dan mengikuti permainan ini."GILA KALIAN! UDAH TAK PUNYA OTAK LAGI!" Bunda makin histeris."Cepat panggil orang tua kamu. Sekarang!"Bunda maju dan mendorong Gerald agar dia segera memanggil orang tuanya, Gerald masih kebingungan, sedangkan aku hanya mengangguk. Berharap jika Gerald bisa bekerja sama karena dia satu-satunya yang bisa menyelamatkan dari kekacauan ini.Gerald langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, aku hanya menggigit bibirku dan berharap jika Gerald bisa pulang dan membawa orang tuanya, jika tidak akan akan jadi gembel di jalanan karena diusir Bunda."Nggak punya otak kamu, ya," maki Bunda. Dengan geram, Bunda menarik rambutku karena begitu kesal dan merasa kecewa. Bunda selalu menganggap Mas Rangga sebagai menantu potensial dan aku hanya ingin Bersama Gerald."Ampun, Bunda." Aku meingis menahan rambutku yang rasanya rontok semua karena Bunda nariknya tidak kira-kira."Ingat kamu Rara, Bunda tidak akan pernah sudi kamu Bersama anak itu. Sampai mati!"Tubuhku bergetar. Belum apa-apa, aku sudah mendapatkan sumpah sial."Jika hari ini anak itu tidak datang Bersama orang tuanya, maka kamu Bunda usir."Sekarang aku menangis beneran karena merasa takut jika semua kebohongan ini tidak berjalan mulus. Karena yang aku inginkan hanya Gerald."Tidak perlu, Bunda. Rara bisa nikah sama Mas," timpal Mas Rangga sambil tersenyum manis."Dia memang tak punya otak! Udah dikasih laki-laki baik-baik, malah milih anak kecil yang tak bisa apa-apa. Hidupmu akan berada di neraka, Rara." Bunda masih begitu geram dan menarik-narik rambuktu, sebenarnya karena terlalu geram Bunda ingin mengoyakkan bajuku."AHHH... Bunda. Ampun!""Jangan masuk ke dalam rumah sebelum anak kecil itu datang membawa orang tuanya," ancam Bunda dan masuk ke dalam rumah membanting pintu sekuat mungkin."Jika anak kecil itu tak mau. Mas selalu ada untuk kamu," tambah Mas Rangga dan berlalu pergi. Aku hanya berdiri kaku dan melirik dengan ekor mataku melihat mobil Mas Rangga perlahan menjauh.Ya Tuhan, nasibku bergantung pada Gerald sekarang!

Kapal yang Berlayar di Langit Lama
Fantasy Noveltoon
27 Nov 2025

Kapal yang Berlayar di Langit Lama

Suasana sekolah memang tidak pernah berubah, membosankan dan sangat tidak menyenangkan. Namun, Fatih memiliki satu cara ampuh untuk mengusir rasa bosan itu. Saat Fatih merasa dunia terasa sunyi dan hening, yang perlu Fatih lakukan hanyalah memandang ke angkasa, di mana di atas sana, di balik awan-awan, dia bisa melihat dengan kedua matanya sendiri, kapal-kapal yang berlayar di langit.Ya, itulah yang dilakukan Fatih sekarang. Remaja kurus berseragam putih abu-abu dan berambut hitam gondrong yang duduk di bangku pojok belakang, tepat di samping jendela, sejak awal pelajaran hingga sekarang, yang dilakukannya hanya memandang angkasa dan mengamati kapal yang berlalu-lalang di atas sana."Kenapa, ya, Tuhan memberikanku mata ini?" Tanya Fatih pada dirinya.Akan tetapi, Fatih sadar kalau dia sudah cukup lama melihat pemandangan gaib itu, jadi dia memutuskan untuk mengalihkan pandangannya sejenak, menarik nafas dalam, dan mengamati keadaan kelas saat itu.Seperti biasa, jam pelajaran selalu begini-begini saja. Dari hari senin sampai sabtu, beginilah suasana kelas ini, tidak ada yang berbeda. Namun, Fatih juga sedikit suka dengan pemandangan seperti ini, saat-saat di mana ia bisa dengan leluasa menilik pribadi teman-temannya tanpa harus bertanya langsung pada mereka, dan yang perlu dilakukannya hanyalah melihat ekspresi wajah mereka.Fatih bisa melihat mana temannya yang belajar dengan giat, juga anak yang tidak tertarik untuk belajar. Ada anak yang tampak semangat, dan ada juga yang terlihat malas dan mengantuk. Pada dasarnya, mereka semua memanglah berbeda, dan menurut Fatih, ini adalah hal yang menarik untuk diamati."Orang-orang itu... aneh banget, ya?" Gumam Fatih sambil menyeringai.Namun, di antara semua teman-temannya, ada satu wajah yang membuat Fatih merasa sedikit kesal tiap kali memandangnya. Namanya adalah Jojo. Anak itu duduk di bangku paling belakang di barisan tengah, dan dari senyumannya, siapapun bisa tahu kalau dia bukanlah anak yang baik.Dia sama benar-benar tidak layak... Pikir Fatih.Jojo adalah putra dari pemimpin perkumpulan preman terkenal di kota ini, dan dia jugalah orang yang suka melakukan tindakan bullying pada murid-murid lainnya. Dia berlagak seperti bos besar. Bahkan, setelah dua tahun mengenal Jojo, Fatih hampir tidak pernah melihat anak itu menulis di bukunya sendiri, mengingat dia memiliki setidaknya tiga budak di kelas ini, yang akan mengikuti segala perintahnya.Saat bel pulang berbunyi semua murid langsung buru-buru berkemas secepat yang mereka bisa, dan juga menyelesaikan tugas-tugas yang diperlukan, lalu saat semuanya sudah siap, mereka pun melesat keluar melalui pintu itu dan pulang ke rumah.Tapi, berbeda dengan Fatih. Dia selalu memiliki tiga alasan atas penantiannya. Alasan yang pertama, ya, tentu saja dia ingin pergi dari tempat ini, dan alasan yang kedua berhubungan dengan keajaiban itu. Tapi alasan yang ketiga merupakan hal yang sangat berbeda."Hey, anak aneh!" Teriak Jojo. Dia terlihat marah."Hmm?" Fatih yang saat itu masih duduk di bangkunya dan tengah menikmati pemandangan langit, tiba-tiba dihampiri oleh Jojo serta kedua temannya yang bertubuh besar yang sejak dulu bertindak selayaknya bodyguard-nya.Mungkin, banyak yang bertanya-tanya, kenapa wajah Fatih setiap hari terlihat bonyok dan penuh memar di mana-mana, jawabannya adalah, Jojo. Hampir setiap hari sepulang sekolah, anak itu terus menyiksa Fatih karena satu alasan sederhana, dan kelas inilah yang menjadi saksi bisu atas kejahatan itu.Sementara kedua anak bertubuh subur itu mengekang Fatih, Jojo meninju dan menendang Fatih seakan-akan dia adalah samsak tinju. Dalam kurun waktu yang terhitung cukup lama, Fatih harus berhadapan dengan rasa sakit itu. Namun, Fatih menganggap ini sebagai suatu kesenangan."Kenapa kau tetap tersenyum, hah!?" Teriak Jojo yang tampak semakin kesal.Fatih tetap tersenyum meski sudah disiksa berkali-kali. Sampai-sampai Jojo mungkin sangat membenci senyum Fatih yang satu itu."Bukannya sudah kubilang, kalau kau itu... tidaklah istimewa—ugh-ugh!" Kata Fatih yang sudah terlihat sekarat. Akan tetapi, karena kalimat itu pula, Jojo kembali melayangkan beberapa tinju menuju wajah dan perut Fatih.Bagi Fatih, sebenarnya ini adalah pertukaran yang sepadan. Malahan, Fatih masih menang banyak. Fatih tahu apa yang membuat Jojo emosi, sementara Jojo sendiri tidak tahu alasan kenapa dirinya naik pitam setiap kali mendengar kalimat yang diucapkan Fatih.Padahal, sudah satu tahun berlalu sejak Fatih mengucapkan kalimat itu untuk yang pertama kalinya, dan sudah satu tahun pula sejak Jojo mendengar pernyataan itu untuk kali pertamanya. Jojo semakin berubah hari demi hari. Dia menjadi semakin jahat, pemarah, dan wajahnya juga selalu terlihat sedih.Fatih tahu bahwa dirinyalah pemenang dalam "pertarungan" ini. Dia selalu menang. Itulah sebabnya, Jojo terus melakukan kekejaman ini.Fatih bisa melihat keajaiban itu, sementara Jojo hanya melihatnya sekilas saat itu."Hah... tadi itu menyenangkan juga." Fatih bergumam. Dia kini berdiri di depan pohon beringin raksasa yang tumbuh di samping halaman sekolahnya. Pohon itu sudah sangat tua, dan akarnya timbul di mana-mana. Mungkin tak lama lagi pohon ini akan tumbang, tapi, Fatih tak yakin akan hal itu.Lima belas menit sudah berlalu sejak Jojo dan kedua bawahannya meninggalkan Fatih terbaring di kelas seolah-olah dia sekarat dan hampir mati. Sekarang sudah pukul empat sore, dan ini adalah waktu bagi Fatih untuk menikmati keistimewaan yang telah diberikan padanya.Fatih tersenyum kecil sambil meraba-raba wajahnya yang terasa sakit."Aduh... sialan, sakit banget. Aku nggak menyangka rasanya bisa bertambah parah seperti ini." Ujar Fatih. "Tapi, aku tetap menang, sih—Aw!" Fatih tak sengaja menyentuh luka yang paling parah di wajahnya, dan rasa perihnya melonjak seketika."Kalau begitu, bukannya kamu malah terlihat seperti orang jahat, ya?" Tanya seorang gadis kecil yang tiba-tiba muncul di samping Fatih. Matanya terpaku memandang pohon beringin di depan mereka."Hmm? Aku, kan, memang orang jahat." Ungkap Fatih sambil menoleh memandang gadis kecil yang mengenakan gaun putih bersih polos dan berwajah datar itu. "Berdasarkan kehidupanku di masa lalu, oh, jelas aku ini orang jahat.""Ya, ya, sakarepmu, lah." Ujar gadis itu tak acuh."Oh, iya, kok, kamu baru muncul lagi sekarang? Sudah dua bulan lebih, lho, aku nggak lihat kamu di sini." Jelas Fatih. "Kamu kemana saja, sih?""Kau serius memberikan pertanyaan seperti itu pada Roh Langit sepertiku?" Gadis itu kini memasang wajah heran."Eh... lupakan sajalah." Fatih menghela nafas dalam. Senyuman kecil terbentuk di bibirnya. "Tapi, senang bisa melihatmu lagi, Ravril." Kata Fatih tulus."Ya... senang bisa melihatmu juga, Fatih." Ujar gadis itu yang juga tersenyum.Guk! Guk!Tanpa Fatih dan Ravril sadari, ternyata sekarang sudah ada seekor anjing kecil berbulu putih yang duduk di depan mereka. Anjing itu terus mengibas-ngibaskan ekornya, tanda bahwa dia sedang senang."Oh? Helly juga ada rupanya." Kata Fatih.Senja telah datang. Langit yang tadinya berwarna biru dan cerah, kini mulai memancarkan cahaya oranye yang membawa serta kehangatan. Sementara itu, Fatih, Ravril dan Helly si anjing masih berada di depan pohon beringin itu dan menunggu datangnya sesuatu yang entah apa.Namun, setelah menunggu cukup lama, akhirnya sesuatu yang aneh pun terjadi. Bersamaan dengan datangnya hembusan angin yang lembut, sebuah pintu tiba-tiba muncul di permukaan batang pohon beringin itu. Pintu itu terlihat mahal, dan permukaannya dipoles mengkilap seperti baru.Fatih yang pertama melangkah maju. Tangannya tanpa ragu menggapai gagang pintu itu, lalu menariknya sampai terbuka lebar, dan pada saat itu juga mata Fatih membelalak. Di balik pintu itu, Fatih bisa melihat pemandangan yang sungguh luar biasa menakjubkan. Suatu pemandangan yang sangat ajaib dan tak bisa diterima oleh akal manusia.Fatih melirik Ravril dan Helly, kemudian, setelah meyakinkan diri, mereka bertiga pun melangkah melewati pintu itu dan tiba di tempat yang benar-benar berbeda. Kini mereka bertiga berjalan menyusuri jembatan yang terbuat dari kayu, dan meninggalkan kenyataan jauh di belakang mereka.Sejatinya, pintu itu secara ajaib mengantarkan mereka bertiga ke atas suatu jembatan kayu yang berada di atas langit. Jauh tinggi di angkasa, di antara awan-awan putih, di bawah pancaran sinar mentari senja yang nyaman, disitulah Fatih, Ravril dan Helly berada sekarang.Dengan keempat kaki mungilnya, Helly berlari menuju ke ujung jembatan, sementara Fatih dan Ravril berjalan dengan santai di belakang sambil menikmati pemandangan bernuansa magis di sekitar mereka."Sejak awal masuk sekolah, aku masih nggak tahu apa alasan Tuhan membiarkanku melihat semua ini." Ungkap Fatih sembari menggapai gumpalan awan yang tak jauh di sampingnya. "Padahal aku ini penjahat... " Fatih menambahkan. Air mukanya berubah aneh, dan senyumnya sedikit melengkung."Kenapa, sih, kau membahas itu lagi?" Tanya Ravril sedikit kesal."Ya, tentu saja, lah." Celetuk Fatih. "Aku nggak jauh beda dengan Jojo, kok. Malahan aku lebih parah. Aku sudah pernah membunuh, lho, sedangkan dia mungkin nggak pernah."Entah kenapa kepala Fatih terasa berdenyut setelah mengatakan kenyataan itu. Sungguh sangat tidak menyenangkan jika harus mengungkit kejadian tragis yang pernah menimpanya di masa lalu.Ravril menghela nafas dalam."Hey, Nak, mending jangan bertanya padaku, deh. Aku ini bukan Tuhan, soalnya yang memberimu izin untuk melihat semua ini, itu Tuhan, bukan aku." Jelas Ravril. "Tapi... ya, memang, sih, kamu itu jahat. Cuma, yang bisa menentukan itu, ya, hanya yang di atas sana. Nggak ada makhluk hidup di bawah langit ini yang berhak menilai kamu baik atau jahat."Kini mereka bertiga telah sampai di ujung jembatan itu, dan di hadapan mereka terbentang luas langit yang begitu megah. Namun, meski mereka berada di atas langit sekalipun, tapi udaranya sama sekali tidak terasa terlalu dingin, melainkan hangat."Mungkin... Tuhan tidak melihat dirimu yang ada di masa lalu, tapi dia melihat dirimu yang ada di masa depan." Ungkap Ravril."Hah? Maksudnya?" Tanya Fatih yang keheranan setengah mati."Maksudku... Ya, memang betul kalau kau jahat di masa lalu, tapi Tuhan pasti tahu kalau kau sudah berubah di masa depan. Maka dari itu Tuhan memilihmu untuk memiliki apa yang tak orang lain miliki. Tuhan memberimu berkat untuk melihat. Semacam hadiah, mungkin. Hadiah karena kau kelak akan berhasil berubah menjadi pribadi yang lebih baik.""Eh... " Fatih terdiam. Dia dibuat bingung oleh perkataan Ravril."Lagian, kau juga tidak bersalah, kok. Toh, orang tuamu juga mau membunuhmu."Suasana seketika menjadi hening. Baik Fatih maupun Ravril, keduanya terdiam seribu bahasa, sementara Helly masih menggonggong ria di situ dan tak berhenti berlarian di antara kaki mereka.Namun, apa yang dikatakan Ravril memang benar.Fatih akhirnya mengerti kenapa Ravril selalu emosi setiap kali dia membahas tentang ini. Fatih seharusnya tidak menanyakan pertanyaan itu pada Ravril, karena sejak awal, Ravil tahu bahwa bukan dia yang harus menjawab pertanyaan itu.Memang, Fatih pernah membunuh kedua orang tuanya waktu masih kecil. Tapi, jelas saja itu tak disengaja. Semuanya terjadi begitu saja tanpa Fatih niatkan.Tuhanlah yang menciptakan masa lalu dan masa depan Fatih, dan Dia jugalah yang memberikan dan mengakhiri ujian-ujian itu. Tinta itu sudah tertuang dan telah mengering, jadi, yang perlu dilakukan Fatih sekarang adalah tinggal mengikuti alurnya saja."Syukurlah selama ini kamu cuma mengajukan pertanyaan itu padaku saja. Coba kalau orang lain yang kau ajukan pertanyaan itu. Bisa kacau, lho, urusannya." Ungkap Ravril. "Aku hidup sudah lama banget, lho, Fat. Aku tahu sifat manusia. Meski mereka tahu kalau mereka tidak seharusnya menghakimi orang lain, tapi mereka tetap melakukannya dan mengambil keuntungan dari situ. Manusia itu... jahat—""Hmm... Ya... kau memang benar, Ril." Potong Fatih tiba-tiba. "Entah kenapa aku baru sadar sekarang.""Eh? Apanya?"Fatih masih terdiam dengan senyum yang melekat di bibir. Dia baru sadar akan satu hal yang terlewatkan selama ini. Setelah dua tahun, dia akhirnya sadar. Dia benar-benar sudah paham."Berarti, selama ini, Tuhan memilihku karena aku ini layak, kan?"Tak lama kemudian, terdengar suatu suara dari arah belakang mereka. Suara yang perlahan mendekat itu terdengar sedikit berat dan berdengung. Sementara itu, Fatih bersama Ravril tetap berdiri di tempatnya dan memandang ke depan, sedangkan si Helly berlari mengejar sumber suara itu yang entah dari mana asalnya.Bersamaan dengan datangnya hembusan angin kencang, tiba-tiba saja ada banyak kapal raksasa yang keluar dari gumpalan awan tebal di kiri dan kanan mereka. Jumlahnya ada sepuluh.Dari ujung jembatan itu, Fatih juga bisa melihat beberapa sosok di atas kapal itu. Ada yang berwujud seperti manusia, dan ada pula yang wujudnya menyerupai sosok makhluk lain yang tidak pernah dilihat Fatih.Kapal-kapal ajaib yang berlayar di udara itu, sebenarnya terlihat seperti kapal biasa pada umumnya. Terbuat dari kayu dan papan, serta memiliki layar dari kain putih yang agak kusam. Akan tetapi, tetap saja semua itu tidak menjelaskan bagaimana caranya kapal-kapal itu bisa mengambang di angkasa ini.Fatih dan Ravril yang ada di sana berusaha agar tidak terhempas karena angin kencang yang datang bersama kapal-kapal itu. Senyuman yang melukiskan berbagai arti terbentuk di bibir mereka berdua, dan Helly terlihat semakin senang akan kemunculan kapal-kapal itu.Dari kejauhan, terlihat seseorang yang melambaikan tangan di salah satu kapal itu. Fatih yang melihatnya tanpa ragu langsung membalas lambaian tangan orang itu dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi."Hati-hati, ya! Jangan sampai jatuh!" Teriak Fatih selantang mungkin.Orang itu tertawa. Dari suaranya, dia pastilah seorang lelaki. "Tenang saja! Aku nggak akan jatuh, kok!"Kapal-kapal itu berlayar semakin jauh, hingga akhirnya tak terlihat lagi oleh mata."Kenapa kamu jadi senang begitu, Fat?" Tanya Ravril sedikit heran."Ya, rasanya aneh saja. Soalnya sudah dua tahun aku mencari jawaban atas pertanyaan itu, tapi, aku sama sekali nggak menyangka jawabannya akan sesimpel ini.""Hmm..." Sambil tersenyum manis, Ravril menatap malas pada langit yang terbentang di hadapannya. "Tuhan menciptakan orang-orang karena mereka layak. Siapapun itu. Bahkan termasuk Jojo temanmu. Hanya saja... Tuhan bekerja dengan cara yang sangat misterius.""Ya... semua orang memang layak." Bisik Fatih.

Tunangan Antagonis
Fantasy Wattpad
27 Nov 2025

Tunangan Antagonis

Sinar matahari menerobos masuk memasuki celah jendela sebuah kamar dengan nuansa abu-abu.Perlahan mata lentik itu mengerjab memindai sekeliling."Gue masih hidup?"Bagaimana tidak heran? Dirinya baru saja mengalami kecelakaan pesawat. Kenapa bisa ia masih hidup? Terlebih dengan badan yang sehat bugar."Shhhh" gadis itu bangun dari tidurnya, matanya berkeliling memindai setiap sudutnya.Sebuah kamar yang cukup besar dengan nuansa abu-abu. Di dindingnya terdapat beberapa bingkai yang berisi lukisan abstrak dan pemandangan alam."Ini dimana?" Gumam gadis itu pada dirinya sendiri.CklekkSuara pintu terbuka, lalu tampaklah seorang wanita paruh baya dengan pakaian daster dengan rambut yang di cepol asal."Udah bangun ternyata, cepetan mandi di bawah ada Hades." Lalu wanita itu pergi disusul Dengan pintu yang tertutup rapat.Melihatnya membuat Rena mengernyit bingung.Banyak pertanyaan di benak RenaTadi itu siapa? Dan siapa Hades?Ini dimana?Apa dirinya telah diculik?Tapi kan seharusnya dirinya sudah matiSiapapun tolong beri Rena jawaban..!!"CK ini dimana sihh?!" Rena menyibak selimut yang membungkus dirinya lalu bangkit dari ranjangnya. Kakinya mendekat ke arah jendela. Ahhhh ternyata kamar ini berada di lantai dua.Di bawah sana tampak taman dengan berbagai jenis bunga yang bermekaranSangat indah pikirnyaLama dirinya termenung dalam pikirnya, gadis itu terkejut takkala sebuah tangan melilit di perutnya."Aaaaaa" teriak Rena takutSontak Rena berbalik lalu mendorong sosok itu agar menjauh.Nafas Rena tercekat, kenapa Rena tidak menyadari jika ada orang yang masuk ke kamar ini?"Si-siapa lo?!" Remaja laki-laki itu mengerutkan dahi. Lalu tanpa dipinta dia duduk pada sebuah meja belajar. Memandang Rena intes."Mandi" ucapnya dengan gerakan dagu mengarah pada sebuah pintu yang Rena tebak adalah kamar mandi.Alih-alih menuruti perintah remaja laki-laki itu Rena beringsut menjauh dengan berjalan mundur, lalu berlari kencang keluar kamar,  meninggalkan remaja laki-laki yang kini menatap jendela bekas Rena berdiri dengan tatapan rumit.🍁🍁🍁🍁🍁Rena berlari hingga keluar rumah, nafasnya ngos-ngosan dengan degub jantung yang bertalu-talu.Ini aneh, kenapa Rena bisa tidak nyasar saat ingin keluar rumah?Apa kepanikan memberi kekuatan tak terduga?Berpikir jika ini adalah sebuah kebetulan, Rena mendekat pada seorang wanita paruh baya yang sedang menyirami tanaman. Dia bukan wanita yang tadi, tapi dilihat pakaiannya sepertinya dia adalah pembantu di rumah ini."Per-permisi?" Wanita itu menoleh."Nona? Anda butuh sesuatu?" Jawabnya."Saya mau tanya, ini di mana ya?" Sekejab wanita itu menatap Rena bingung di susul tawa kecil yang membuat Rena menatap wanita itu aneh."Nona mau ngeprank saya lagi ya? Maaf ya kali ini gak akan kena?"Ngeprank gundulmu , kenal aja kagakRena merasa dongkol. Sudah bangun di tempat asing, ketemu orang-orang aneh pula. Sial sekali hidupnya.Ehh dirinya ini masih hidup atau sudah mati sihh..?!"Maaf ya mbak tapi saya serius, atau jangan-jangan mbak yang lagi ngeprank saya ya?" Tuduh Rena menahan kekesalanya."Sudahlah nona Rana, menyerahlah kali ini saya gak akan kena."Apa tadi, Rana? Hey namanya Rena"Maaf ya mbak kita kenal saja enggak,buat apa saya ngeprank anda. Dan lagi nama saya Rena bukan Rana."Rena menunjuk mulutnya lalu menyebut namanya dengan nada menekan"Rrreeeeennnaaaaa.... R-e-n-a..!!""Sejak kapan nona Rana ganti nama? Perasaan tuan dan nyonya gak pernah nyuruh saya bikin bubur." Santai wanita yang Rena duga adalah pembantu rumah ini dan kembali fokus menyirami tanaman sang majikan.Lagi-lagi Rena dibuat bingung dengan jawaban wanita aneh ini. Aisshhh kenapa kepalanya kini malah nyut-nyutan."Orang aneh" gumam Rena dongkol"Ya Nona?"Rena menatap wanita itu malas."Disuruh siapa sih mbak?" Dengus Rena kesal"Hah?"Rena menggeleng lirih. Dirinya lalu duduk dengan kedua lutut yang ditekuk.Tiba-tiba kepalanya merasakan sakit. Dirinya memegang kepala yang terasa nyut-nyutan serta perut yang terasa mualSemakin lama sakit kepalanya semakin menjadi. Rasanya seperti di tusuk oleh sesuatu yang tajam."Shhhhh" desis Rena kesakitanWanita tadi kelabakan. Dengan sembarang dia membuang selang di genggamannya."Ehhh nona kenapa?" Paniknya"Sa-sakittt...""Nona...nona Rana kenapa..!?"Perut Arana semakin mual. Rasanya ada sesuatu di perutnya yang terdorong ke kerongkongan.Laluuu"Huwekkkk...huwekkkk""Nonaa..!!"Setelah itu semuanya gelap.Ini gilaBagaimana bisa?Perpindahan jiwa? Sangat tidak masuk akal.Dirinya yang amat tak percaya tentang transmigrasi jiwa, kini malah mengalaminya.Transmigrasi yang nyata itu adalah perpindahan penduduk. Bukan hanya jiwanya saja tapi raganya juga ikut.Apasih namanya?Lupakan ituKarena nyatanya Rena mengalaminyaMengalami perpindahan jiwaCatat..!! Hanya jiwanya sajaRaganya? Entahlahh...mungkin sudah habis dimakan megalodon.Tadi, dalam pingsannya Rena bermimpi jika sekarang dia berada di dalam tubuh seorang figuran novel yang bernama Arana Wilson.Rasanya Rena ingin tertawa dengan kekonyolan ini.Maksudnya, siapa yang bakal percaya jika orang bisa berteleportasi ke dunia lain?Waktumu sudah habis RenaIni adalah tubuhmuMulai sekarang hiduplah sebagai Arana WilsonSuara sialan yang tak bertuan itu, bolehkah Rena mencekiknya?Ohh atau jangan-jangan, selama ini hidupnya dikendalikan oleh mahkluk empat dimensi. Jika manusia yang merupakan mahkluk tiga dimensi bisa menciptakan mahkluk dua dimensi, berarti bisa jadi para mahkluk tiga dimensi juga dikendalikan oleh mahkluk empat dimensi bukan?Ohhh Tuhan sepertinya Rena sudah tidak mempunyai kewarasan lagi"Masih sakit?" Lamunan Rena buyar. Gadis itu menoleh ke sumber suara. Di sana, tepatnya di depan pintu, remaja laki-laki yang tadi seenak jidat memeluk Rena berdiri dengan membawa nampan yang Rena yakini berisi makanan.Dengan langkah tegasnya dia menghampiri Rena, duduk di tepi ranjang dan menatap Rena intes."Makan" Astaga... suaranya mengingatkan Rena pada JisungAlih-alih mengikuti perintah pemuda itu Rena menatapnya penuh tanya."Lo.... Hades?"Enggan menjawab pemuda itu mengambil piring, menyodorkan sendok pada Rena.Anehnya Rena menurut. Enggan memberontak sampai makanan itu habis.Ya...Karena dirinya juga lapar siihh...Lalu pemuda itu juga menyodorkan gelas dan Rena menerimanya kembaliMelihat sesuatu yang aneh pemuda itu menarik tangan Rena membuat gelas di genggaman Rena hampir tumpah."Mana?" Rena menatap pemuda itu bingung"Apa?""Cincin" Rena juga menatap tangannya. Bingungnya bertambah."Cincin" gumamnya"Cincin pertunangan kita Arana."Ohhh God dia beneran Hades.*****Novel My Cruel Mate. Novel yang sedang booming di kalangan pecinta novel. Novel dengan genre dark romance.Bercerita seorang remaja sma yaitu Malvin Wijaya jatuh cinta dengan Mira de Louis. Tentu tidak akan seru jika kisah asmara mereka berjalan lancar, lalu terciptalah antagonis.Salah satunya adalah Hades Giovandrick, dia dikenal sebagai antagonis paling ganas diantara antagonis lainnya. Tidak diceritakan secara detail bagaimana kehidupan dari seorang Hades. Hanya saja dituliskan jika Hades sudah memiliki tunanganTidak diceritakan secara detail bagaimana kisah hubungan asmara Hades dengan tunangannya. Mungkin karena Hades hanyalah peran pembantu atau Hades hanya bumbu pedas untuk membuat cerita lebih menantang.Dan sekarang Rena harus terperangkap dalam tubuh dari Arana. Ini tidak masuk akal tapi ini benar-benar terjadi.Tuhan, apa yang harus Rena lakukan ketika Rena saja tidak tau bagaimana hubungannya dengan HadesBaik?Tidak baik?Biasa saja?Dingin?Atau bahkan pasangan bucin?Tolong, bolehkah dia menjedotkan kepala pada dinding?"Rana?"Rana tersentak dari lamunannya, lalu menatap seorang pria paruh baya dengan pakaian kantornya. Dia adalah Dika Wilson, ayah dari Arana Wilson."Ehh i-iya?" Rana menjawab linglung"Kenapa makan nya gak selera gitu? Makanannya gak enak?"Rana kelabakan, jujur saja dirinya masih merasa asing dengan dunia ini begitupun dengan para tokohnya. Sebelumnya mereka tidak saling mengenal bukan? Lalu sekarang secara tiba-tiba disatukan menjadi keluarga. Ahh walaupun disini hanya jiwa Rena yang tidak mengenali mereka."Enggak kok p-pa, makanannya enak" Arana tersenyum kikuk"Kamu sakit?" Kini pandangan Rana beralih pada seorang wanita kini menatapnya khawatir. Dia wanita berdaster kemarin. Namanya Dela Wilson, ibu dari Arana.Rana menggelengkan kepala sebagai jawaban. Lalu mulai fokus pada makanannya."Aku baik-baik aja"ujar Arana pelan lalu mulai memaksakan makan."Oh ya, kata mama, kemarin Hades kesini?" Dika kembali membuka obrolan.Rana berhenti mengunyah lalu mengangguk singkat."Bagaimana hubungan kalian sekarang?""Maksud papa?""Kalian jadi lebih dekat mungkin?" Tebak Dika yang membuat Arana berspekulasi yang tidak-tidakRana termenung, jadi selama ini hubungannya dengan Hades tidak rukun apa bagaimana?"Kayaknya ada kemajuan deh pa, kemarin aja mereka seharian di kamar. Berdua doang lagi." Ujar Dela tanpa beban yang diakhiri tawa cekikikan.TakkkDika berhenti memotong roti panggangnya lalu menatap Rana dengan alis bertaut."Ak-aku gak ngapa-ngapain!" Rana panik. "Suerr!!" Lanjutnya dengan menunjukan tanda peace."Emangnya papa tanya kamu ngapain aja sama Hades?"DamnRana menatap Dika memelas. "Paaa" rengeknya."Hahaha, ya ampun Rana. Kenapa panik gitu? Emang kemarin ngapain aja sama Hades?" Goda Dela yang tambah membuat Rena frustasi."Gak ngapa-ngapain ma" lirihnya.Dela mengulum senyum jenaka "Ngapa-ngapain juga gak papa kok, asal setelah itu mau dinikahin."Pantatmu"Gak boleh ya ma, nunggu sah dulu." Dika bersuara."Papa gak mau putri papa hamil di luar nikah. Apalagi jika mental Rana belum siap. Jangan sampai Rana nanti menikah dalam keadaan terpaksa." Dika berujar tegas, namun Rana tahu ada nada kekhawatiran di sana. Untuk sekejab perasaan Rana menghangat.Dela menghela nafas lalu dengan gemasnya mencubit pipi anaknya"Iya-iyaa yang kesayanganya papa""Sakit maa""Utututu tayangnya mama sakit...? Mana yang sakit hm?" Lalu dengan lancangnya Dela mengecup pipi Rana yang tadi dia cubit."Ishh mama...." rengeknya."Sudah-sudah, Rana cepat habiskan makananmu. Sebentar lagi Hades bakalan jemput."🍁🍁🍁🍁🍁Pagi ini SMA Cendana dihebohkan dengan kedatangan salah satu most wanted mereka dengan anak eksul Sastra.Hades Giovandrick yang terkenal akan sifat dinginnya sukses membuat gempar satu sekolah. Bukan hanya murid tapi guru dan kariawan lainya turut melongo melihat pemandangan yang satu ini.Selama ini Hades tidak pernah terlibat kasus asmara dengan siapapun. Tapi lihat apa yang terjadi sekarang.Hades juga jarang berinteraksi dengan siswa lain."Lo ada hubungan apa sama Hades Ran?" Rana menatap gadis kucir kuda ini gugup.Arana sudah berada di kelasnya dan duduk di kursi nomor dua dari depan dengan deretan kursi paling jauh dari pintu."Hub-hubungan apa emangnya?""Yeuhh lo, ditanya malah tanya balik" Sasti menggeplak pelan kepala Rana membuat sang empu meringis pelan."Aduhh, sakit woy.""Sasti nakal banget, kasian tau Rana nya." Kata Lia."Diem lo" semprot Sasti membuat Lia langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan mata yang menatap memelas."Berisik!" Ketiga gadis itu berjengit. Menatap aneh pada Puput yang tengah bermain dengan angka di bukunya."Si Paling ambis" Rana mengangguk setuju mendengar bisikan dari Sasti.Rana menghela nafas panjang. Mereka adalah teman-teman Arana Wilson.Lalu dengan langkah gontainya dia duduk di bangku sebelah Puput si anak ambis.Jujur saja Rana masih berharap ini adalah mimpi.🍁🍁🍁🍁🍁Rasa lega melingkupi Arana ketika hajatnya telah terselesaikan. Gadis itu lalu mencuci tanganya pada wastafel.CklekkkkArana tahu, ada seseorang yang masuk, namun dirinya cuek-cuek saja. Palingan juga orang mau pipis."Ohhh....haii...Arana..."Merasa nama raga ini dipanggil, Arana menoleh. Di sampingnya berdiri seorang gadis yang sedikit lebih tinggi darinya tengah tersenyum lembut.Cantik banget gilaaaa....."O-ohhh..haiii.." Arana membalas tersenyum kikuk setelah itu mematikan kran yang baru dipakainya."Duluan yaaa..." Pamit AranaLalu ia, mengambil beberapa lembar tisu yang tersedia dan hendak meninggalkan toilet, namun gadis asing tadi menghentikan langkahnya."Arana..."Arana menoleh ke belakang menatap penuh tanya."Seberapa indah masalalu kalian...tetap saja, sekarang dia udah jadi milikku""Hahh...?"Gadis tadi kembali tersenyum lembut lalu berjalan menuju Arana, sempat menepuk pundak Arana dua kali, gadis itu berbisik pelan."Jadi.... siapa di sini pemenangnya?"Fakta baru yang Arana dapatkan. Tidak ada yang tahu tentang pertunanganya dengan Hades dan itu cukup membuat Arana bernafas lega.Ehh tapiGara-gara dirinya berangkat bareng Hades tadi pagi, dirinya berhasil jadi bahan gosib murid SMA Cendana.Tapi lupakanlah...harusnya dirinya siap, jika hidupnya tak akan sama. Hidup tenangnya telah hilang...Ohhh....menyedihkan sekali...Dengan pelan Aranaa memakan batagor yang dia pesan di kantin sekolah.Entahlah, sejak hidup di dunia semu ini Rana tidak memiliki nafsu makan yang bagus.Bagaimana punya nafsu makan jika sedang dilanda musibah? Yaa..ini adalah sebuah musibah bagi Arana."Kenapa Ran? lesuh gitu." Arana menoleh pada Sasti lalu menggeleng pelan."Kenyang." Lalu dia meletakan sendok dan membersihkan mulutnya menggunakan tisu yang memang tersedia di meja kantin."Masih banyak batagor nya Ran.""Kalo mau buat lo aja""Aisshhh makasih Rana cantik" dengan semangat Lia menggeser piring Arana untuk mendekat dan memakannya tanpa beban."Enak!" Serunya membuat Arana tersenyum tipis. Sangat tipis.Lalu dia menelungkupkan kepalanya pada meja. Memandang Puput yang memakan mie ayamnya disambi membaca buku sejarah kedatangan bangsa barat di Indonesia .Benar-benar anak ambis.Lama-lama matanya memberat. Kebisingan kantin samar-samar menghilang. Tidak setelah mendengar sesuatu yang terbanting.PyarrrrrArana terkejut dari kantuknya. Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara itu. Kantin yang tadinya riuh semakin riuh."Ada apa" Tanya Arana serak."Itu Malvin mecahin piringnya Mira."DegKantuk yang tadi hinggap terbang entah kemana digantikan dengan degub jantung yang bertalu-talu."Siapa? Malvin? Mira?""CK iyaa, makanya jangan molor aja.""Huhh" gadis itu mendengus."Emangnya kenapa? Emm maksudnya masalahnya apa?" Arana kembali bertanya.Apakah alur tetap berjalan semestinya?Sasti meletakan ponsel yang sejak tadi ia mainkan lalu menghadap Arana."Biasa, sifat keposesifanya Malvin kambuh. Lo tau sendiri kan gimana dramanya pasangan yang satu ini."Arana termenung"Coba pikir deh, gara-gara Mira bicara sama Bobi aja dia marah. Toxic banget tau gak.""Mira juga, udah tau Malvin gak waras, masih mau aja."Arana paham, karena di dalam novel memang di ceritakan jika Malvin adalah sosok yang sangat posesif dan penuh dengan obsesi terhadap Mira.Tidak seharusnya Sasti mencibir Mira, karena sebenarnya Mira juga terpaksa.Dan satu rahasia yang para tokoh tidak ketahuiMalvin dan MiraMereka sudah menikahJadi alur novel tetap berjalan semestinya?Adegan ini adalah ketika Mira bertanya pada Bobi tentang acara gelar karya dan bazar yang akan dilangsungkan di SMA Cendana. Pada saat itu Malvin marah besar dan langsung menyeret Mira pulang tak peduli jika masih dalam jam pembelajaran.Tapi bukan itu point pentingnya, Karena ketika mereka sampai di apartment Malvin. Protagonis pria itu menyiksa Mira. Menyayat bahu Mira membentuk sebuah tulisan 'Malvins'Yaaaa dia psikopatMemang harus seperti iniArana berharap alur tidak akan melenceng hanya karena kehadiranya."Tapi Malvin tuh ganteng Sas, gak salah lah kalo Mira tetep mau."Suara itu membuat Arana kembali sadar dari pikiranya."Buat apa ganteng kalo gila." Lia mendengus mendengarnya."Puput mana?""Kabur duluan, dia kan paling anti sama keributan."Arana paham, sahabat Arana yang satu ini. Entah sudah berapa kali Arana harus merasa insecure dengan keambisan Puput."Sekarang, Malvin sama Mira nya kemana?" Arana celingak celinguk."Udah pergi, mana perginya pakai seret-seretan. Le to the bay lebay.""Terus-"Banyak tanya lo!"Sebenarnya Arana penasaran bagaimana rupa rupa mereka berdua.Apa... yang tadi di toilet itu.... Mira?🍁🍁🍁🍁🍁Arana mengemasi buku-bukunya. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak tadi tapi karena Arana harus menyelesaikan catatan biologi jadinya dia pulang sedikit terlambat.Menghela nafas panjang Arana keluar dari kelas dan betapa terkejutnya dia melihat pemuda berhody hitam sedang bersadar pada pintu."Pulang?""Hah??" Mengendikan bahu acuh pemuda tampan itu merangkul Arana lalu membawa mereka menjauh dari kelas."Gue pikir, lo udah pulang." Tidak ada jawaban. Hades mendorong Arana agar gadis itu masuk ke dalam mobil lalu disusul dirinya.Di perjalanan tidak ada suara. Hades yang irit bicara dan Arana yang malas berbicara. Sungguh pasangan yang klopLagi-lagi Arana melamun. Memikirkan nasib aneh yang menimpa dirinya. Bagaimana dirinya bisa masuk dalam cerita khayalan orang?"Mau makan?" Arana terkejut. Dengan cengo dia menoleh pada Hades."Gimana?"Pemuda itu menghela nafas panjang"Makan. Mau?"Sejenak Arana termenung, entah apa yang dia pikirkan. Sampai dirinya tersentak saat merasakan elusan di kepalanya."Jangan melamun.""Maaf""Hm, kita mampir ke BlueResto ya?"Malam ini langit terlihat sangat cantik, berhias ribuan bintang yang berkilau menemani bulan.Arana duduk di gazebo yang berada di taman belakang rumahnya. Mengenakan piyama bermotif bulan dan bintang. Walau malam ini cerah nyatanya sapuan angin malam berhasil membuat Arana berkali-kali menggosokan kedua tangannya.Arana kembali memikirkan tentang kelanjutan nasibnya. Jika di tanya apakah dia ingin menuruti alur novel, Arana akan menjawab dengan lantang 'tidak'Ohhh ayolah dirinya tidak ingin mati konyol hanya karena sebuah perasaan yang dinamakan cinta. Sangat bukan dirinya.Dirinya harus bisa menyelamatkan nyawanyaArana memandang jejeran bintang yang mempertontonkan keindahanya. Sangat cantik dengan kemilaunya.Lalu, dirinya tersentak kala sebuah selimut kecil bersandar di bahunya. Reflek dia menoleh ke belakang."Dingin" ucap orang ituArana diam tidak berniat merespon dan berposisi seperti semula. Lalu orang itu menyusulnya."Belum ngantuk?" Tanya nya, mengikuti Arana menatap hamparan langit malam.Arana menggeleng. Tanpa diduga dia bersandar pada bahu Hades. Pemuda itu sempet tersentak kemudian membiarkanya."Hades""Hm?"Arana membasahi bibirnya."Menurut lo, hubungan kita ini apa?"Pemuda itu menaikan salah satu alisnya. Kenapa gadis ini tiba-tiba bertanya seperti itu?"Maksudnya?" Tanya nya dengan mata yang senantiasa menatap langit.Arana berdebar, gadis itu menegakkan badannya."Selama kita menjalani hubungan ini, lo nyaman gak sih?"Pemuda itu terdiam hingga Hades tersenyum miring setelahnya"Menurut lo gimana?"Arana menghela nafas panjang. Dia turut memandang langit malam menerawang jauh akan gambaran nasibnya di waktu yang akan datang"Makanya gue tanya, karena yaaa gue gak tahu. Semisal lo terganggu dengan ikatan ini, gue gak papa kalo hubungan ini berakhir." Ucapnya tanpa melihat perubahan ekspresi Hades.Rahang itu mengeras, walaupun wajahnya terlihat tenang tapi satu yang pasti dia sedang menyimpan amarah."Kalo lo gak enak buat ngomong sama para orangtua, gue yang bakal ngomong. Lo gak usah pusing soal itu."Mendengarnya, membuat Hades terkekeh. Tangannya terulur merangkul Arana erat. Menyalurkan rasa hangat kepada gadis itu. Dan Arana menerima tanpa menolaknya. Entahlah, tapi Arana merasa nyaman."Sangat pengertian" bisik Hades.Lalu dengan lancang dia mengecup kening Arana cukup lama yang membuat empunya terkejut.Dia ingin marah tapi entah kenapa bibirnya kelu."Tidur ya? Lo kebanyakan ngelantur."Tanpa aba-aba Hades membopong Arana."Hades-"Sttttt"CupLagi-lagi kening Arana sebagai sasaran"Malam, Ara"🍁🍁🍁🍁🍁Di lain tempat, seorang gadis tengah meringkuk pada sebuah kamar.Matanya sembab rambutnya berantakan badannya bergemetar.CklekkMendengar pintu berdecit membuat ketakutan gadis itu semakin bertambah. Dirinya beringsut mundur sampai menabrak penyangga.Sampai di depan gadis itu orang itu tersenyum lebar. Dirinya berjongkok menatap sang gadis dari bawah.Sangat cantik pikirnyaPerlahan tangannya mengelus pipi sembab gadisnya."Makan, lalu tidur. Oke?""Hukumanya sudah selesai."

KISAH: Api & Sungai yang Mengangkat Beban Dunia
Fantasy Noveltoon
26 Nov 2025

KISAH: Api & Sungai yang Mengangkat Beban Dunia

Anak itu adalah orang yang mengangkat beban seluruh dunia ini seorang diri. Memang ia awalnya terlihat mampu, tapi pada akhirnya, semua orang tahu, bahwa dia pasti akan menyerah. Namun, bukan berarti ia akan kehilangan keyakinannya.Di bawah langit malam, gadis kecil berpakaian lecek itu melangkah dengan ragu menyusuri daratan rumput itu. Di sekitarnya, ada banyak pepohonan yang tampak amat indah dan istimewa. Pasalnya, semua pohon yang tumbuh di sana, memiliki daun yang menyala terang, yang memancarkan warna merah muda yang sangat serasi dengan kegelapan malam kala itu. Umat manusia menyebut tempat ini sebagai Daratan Kenangan.“Rasanya... dunia ini... sudah tidak memiliki harapan lagi...”Berbagai pemikiran yang tidak menyenangkan mulai merasuk ke dalam gadis itu. Pandangannya yang kosong menatap lurus ke depan, seakan-akan dia sama sekali tidak peduli lagi dengan nasib dunia ini.Namun, selain si gadis, rerumputan, kegelapan, dan pepohonan bersinar itu, di sana juga ada ribuan manusia lainnya, yang berpakaian kotor dan tidak terurus sama seperti gadis itu, yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya.Semua orang memberikan jalan agar gadis mungil itu bisa lewat.Gadis itu terus berjalan, sementara orang-orang di sekitarnya malah menatap dirinya dengan tatapan sedih, heran, dan takut.Selang beberapa waktu kemudian, gadis itu pun berhenti melangkah. Di depannya kini ada suatu danau yang cukup lebar, yang hanya berjarak satu jengkal saja dari kaki telanjangnya yang penuh luka.“Tuhan... mengapa dunia ini sangat senyap?”Gadis kecil itu mengambil nafas dalam, lalu dengan perlahan dan pasti, dia mulai melangkahkan kakinya ke dalam air yang terasa amat dingin itu, dan berjalan menuju ke tengah-tengah danau. Semakin dalam dan semakin dalam, sampai-sampai setengah dari tubuhnya sudah tenggelam, dan hanya bagian perut ke atas saja yang terlihat darinya.“Tuhan... mungkinkah ini adalah bayaran atas dosa-dosaku di masa lalu?”Air di danau itu sangat tenang dan tidak beriak sama sekali, seakan-akan, danau itu terlihat seperti membeku, sama seperti gadis itu yang kini hanya berdiri diam di tengah danau.Sekarang suasananya menjadi lebih hening—sangat hening.Ada banyak orang yang melihat ke arah gadis itu dengan tatapan yang menyiratkan rasa putus asa yang sangat dalam. Sampai-sampai kau merasa seolah bisa melihat jurang tanpa dasar di dalam pandangan mereka. Sebagian orang di sana juga ada yang mulai menangis terisak, dan sebagian lagi gemetar hebat dan berkeringat dingin.“Tuhan... Tolong dengarlah suaraku…”Namun, tiba-tiba ada satu suara yang memecah keheningan malam.Jauh di kiri gadis itu, ada seorang wanita yang baru turun ke air dan tengah berjalan ke arahnya. Wanita itu juga menggendong bayinya bersamanya. Meski begitu, wanita itu adalah satu dari sekian banyak orang yang tidak terlihat takut, sedih, ataupun putus asa. Dia hanya tersenyum kecil sambil memastikan bayinya tetap tertidur dalam dekapannya. Sementara jauh di belakang wanita itu, tampak pula seorang pria yang bertekuk lutut dan menangis layaknya seorang balita. Seolah-olah dia akan kehilangan wanita itu.Dalam perjalanannya, wanita itu berbisik pada bayinya; “Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah pada Ibu.” Suaranya yang pelan sungguh menenangkan.Puluhan langkah telah ditempuh, dan wanita itu akhirnya sampai di hadapan si gadis di tengah-tengah danau. Wanita itu mengulurkan tangannya yang lemah kepada si gadis, tapi, gadis kecil itu malah menggigit bibirnya sendiri dengan sangat keras, dan tubuhnya juga ikut gemetar.“Jangan takut, Nak Riveria...” Kata wanita itu sambil tersenyum simpul.Dia tahu, bahwa wanita yang berdiri di depannya itu sebenarnya sudah sangat siap. Tapi, kenyataannya, satu-satunya orang yang belum siap di sini, kemungkinan adalah dirinya sendiri.“Kau tahu, kan? Semakin cepat manusia pergi, maka dunia ini juga akan menjadi lebih baik.” Wanita itu menatap Riveria lamat-lamat. “Manusia adalah sumber kehancuran, Nak, dan aku adalah salah satu dari mereka.”“Tapi—”“Aku mengandalkanmu, Nak Riveria.”Akhirnya, Riveria dengan berat hati terpaksa menerima uluran tangan wanita itu.“Kalau begitu, selamat tinggal.” Bisik wanita itu pelan, lalu kemudian wanita itu dengan perlahan membungkukkan tubuhnya sampai dia benar-benar tenggelam ke dalam air.Jemari Riveria bergetar hebat, sampai-sampai dia kesulitan untuk melepaskan tangan wanita itu. Tapi, sungguh, hati kecil Riveria terus berteriak dan memberitahunya untuk tidak melepaskan tangannya.Seketika, tubuh Riveria menjadi lemas bukan main entah karena apa.Namun, saat tangan mereka telah bercerai, sesuatu yang gaib kembali terjadi.Ada banyak titik-titik cahaya hijau terang yang mulai timbul dari tempat si wanita tadi tenggelam. Cahaya itu sejatinya terlihat sangat ajaib, tapi sayangnya, apa yang terpancar dari mata Riveria yang kala itu bergetar hebat bukanlah rasa kagum, melainkan rasa takut yang tiada tara.Lambat laun, cahaya itu perlahan-lahan terangkat dari air dan naik ke udara, hingga lenyap begitu saja dari pandangan—dari dunia ini. Semua orang yang ada di sana hanya bisa terdiam melihat pemandangan itu. Dan dunia ini sekarang telah menjadi lebih senyap dari sebelumnya.Riveria lalu menatap telapak tangannya dengan pandangan hampa. Suatu memori terlintas di dalam benaknya. Tapi, ingatan itu bukanlah miliknya, kenangan itu adalah milik wanita yang telah pergi sebelumnya.Walau hanya sekilas, Riveria bisa melihat hampir semua kenangan itu dengan amat jelas. Namun, berdasarkan semua ingatan itu, Riveria hanya mampu menangkap dua ingatan saja yang memberikan kebahagiaan pada wanita itu, yaitu saat wanita itu menikah dengan pria yang tengah menangis di sana, dan yang kedua adalah waktu dia melahirkan anaknya. Sementara sisanya, adalah ingatan-ingatan yang pahit dan mengerikan.“Bagaikan ribuan bintang di langit, tapi hanya dua bintang saja yang bersinar....”Detik demi detik berlalu, dan kesenyapan itu tiba-tiba lenyap diiringi derap langkah kaki ratusan orang yang memutuskan untuk turun ke air dan menggapai Riveria di tengah danau.Mereka adalah orang-orang yang telah siap untuk pergi meninggalkan kehidupan, sama seperti wanita tadi. Tapi bukan berarti mereka pergi ke surga atau pula ke neraka, karena saat ini, semua manusia tahu, bahwa gerbang di kedua tempat itu telah tertutup rapat. Saat ini, semua manusia sudah menjadi makhluk yang abadi, dan tak akan bisa mati. Walau begitu, bukan berarti Tuhan benar-benar meninggalkan manusia.Empat ratus tahun lalu, suara Tuhan yang menggelegar di langit menyatakan bahwa Ia akan menurunkan Sepuluh Keajaiban Terakhir untuk umat manusia. Dan salah satu dari keajaiban itu, adalah Riveria, dia diberikan kemampuan untuk mengirim manusia ke dalam kematian yang hampa—dia diberikan hak untuk mengantarkan manusia ke dalam peristirahatan yang terakhir dari yang terakhir.Kedengarannya tidak masuk akal, bukan? Namun sayangnya, sudah jelas kalau empat ratus tahun lalu, Tuhan sendirilah yang memberitahukan kebenaran itu pada manusia. jadi, semua orang hanya bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada.Akan tetapi, jika masih ada orang yang mencoba untuk menyangkal kenyataan itu, mereka bisa bertanya pada Riveria secara langsung, mengingat dia adalah salah satu dari segelintir makhluk yang telah hidup sejak empat ratus tahun lalu—sejak dunia ini masih dikuasai oleh manusia.Suara percikkan air, tangisan, teriakkan, dan keputusasaan terdengar makin membahana memenuhi tempat itu, seolah-olah ada upacara pemakaman massal yang tengah diadakan di Daratan Kenangan ini.Lalu, saat pagi telah datang, Riveria pun pulang ke rumahnya untuk beristirahat.Riveria berdiri sendirian di atas tumpukkan bebatuan yang menjulang tinggi bak bukit. Rambut pendeknya yang terurai ke leher memancarkan warna merah mengkilap layaknya api membara. Tatapan matanya yang sebiru langit tengah memandang kosong pada cakrawala yang terbentang di depannya. Kenyataannya, di dunia yang sudah hampir mati ini, hanya gadis mungil itu sajalah yang bisa menyelamatkan orang-orang.Hanya dia.Seorang gadis kecil nan rapuh yang dianggap terkutuk oleh manusia lainnya.“Harus seberapa keras aku berteriak agar Engkau bisa mendengar suaraku... Tuhan.”Riveria bertanya pada hati kecilnya. Entah kenapa kala itu Riveria seakan ingin menangis. Dia merasa bahwa dunia ini sudah bertindak terlalu berlebihan. Tapi, air matanya telah lama kering, menyisahkan tatapannya yang tanpa arti.“Kenapa aku nggak memiliki perasaan lagi?” Tangan kiri Riveria bergerak meraba dada kirinya. “Kumohon... Tuhan, dengarlah suaraku untuk kali ini saja.” Suara Riveria terdengar layu dan malas.Matahari sebentar lagi akan menampakkan dirinya, menandakan bahwa dunia ini masih bertahan dan memilih untuk terus melangkah, dan juga memutuskan untuk terus menyiksa umat manusia.Riveria tetap berdiri di puncak bukit batu itu, menunggu datangnya sinar mentari.Suara angin yang berhembus melalui jendela dan pintu gedung-gedung yang telah lama hancur dan tertutupi oleh debu yang amat tebal, seakan membawa suara jeritan ke telinga Riveria. Kendaraan, jalan raya, lampu lalu lintas, serta segala yang telah dibangun manusia di kota ini—semuanya telah lama mati.Dunia ini berhasil bertahan melalui suatu malapetaka—kiamat.Saat ini, hanya alam yang berkuasa atas bumi. Dan manusia? Manusia hidup dengan mengikuti aturan yang telah dibuat oleh alam. Tak ada lagi hukum manusia.“Di manakah sebenarnya engkau, Tuhan?”Akhirnya mata Riveria bisa menangkap sinar keemasan yang bersinar dari ufuk timur. Cahayanya begitu terang dan hangat, menembus pakaian kotor Riveria, dan seolah-olah cahaya itu tengah memeluk dirinya. Tubuh Riveria yang tadinya sangat kaku karena terkena angin malam, sekarang sudah terasa jauh lebih baik.Waktu itu, meski hanya sesaat, Riveria bisa merasakan sesuatu yang disebut dengan kedamaian. Untuk sesaat—hanya sesaat saja—Riveria bisa melihat sesuatu yang disebut sebagai... “Harapan.”Sungguh pemandangan yang amat megah, sekaligus perasaan yang luar biasa. Akan tetapi, terbitnya matahari adalah penanda waktu bagi Riveria untuk tidur.Namun, karena sinar mentari itu juga, Riveria jadi teringat kembali dengan kejadian kemarin malam. Semua kenangan-kenangan yang diterimanya dari orang-orang yang telah pergi, sekarang telah lenyap dari kepalanya. Ia sudah tak merasa pusing lagi. Tapi, bukan berarti ia bisa melupakan kengerian yang dirasakannya saat berdiri di danau itu.“Aku lelah banget... Hoam...” Mulut Riveria membuka lebar, ia menguap karena saking ngantuknya. Kemudian setelah melemaskan tubuhnya sedikit, Riveria pun mulai berbaring, dan dia pun terlelap begitu saja.Hanya di puncak bukit batu itu sajalah, Riveria bisa tertidur pulas untuk melepas penat setelah semalaman menunaikan kewajibannya. Meski tak ada bantal yang empuk, atau alas yang lembut, bagi Riveria, tumpukkan bebatuan yang menjulang tinggi ini, adalah tempat yang bisa disebutnya sebagai rumah.Riveria Agnisia, itulah namanya. Nama yang memiliki dua makna yang berbeda.Dia adalah nyala api—api mungil yang bahkan bisa padam kapan saja hanya karena sepoy angin. Namun, di saat yang sama, dia adalah sungai—sungai yang amat deras yang akan terus mengalir tanpa ragu dan takut.

LUST IN AFFAIR
Fantasy Wattpad
26 Nov 2025

LUST IN AFFAIR

"A-aku bukan Celine," gugup Celena menatap pria yang sudah dia cintai selama satu decade terakhir berdiri tepat di depannya. Entah mabuk atau apa, lelaki yang tak pernah menganggap dirinya tiba-tiba sudah berada dalam kamarnya. Sedangkan, di luar sedang ramai. Acara pertunangan Saxon dan Celine dilaksanakan.Saat pintu tertutup gadis itu semakin berada dalam posisi yang serba salah. Dia sangat mencintai Saxon, tapi kenyataan jika pria itu adalah tunangan kakak kembarnya membuat dia menutup rapat-rapat perasaan itu. Celine bahkan tidak pernah tahu, jika pria yang selalu diceritakan adalah lelaki yang sama."A-aku tahu kamu mabuk, tolong keluar dari kamarku." Gadis itu menggeleng, baru kali ini dia bisa begitu dekat dengan Saxon, selama ini hanya bisa melihat bayangannya dari jauh, Saxon bahagia bersama Celine, mereka adalah pasangan yang selalu diagungkan semua orang, bahkan keduanya berencana untuk menikah dalam waktu dekat."Tidak, Baby. Aku tidak cukup mabuk, aku tahu kamu Nena," jawab Saxon. Celena kian menggigit bibirnya, bahkan belum ada yang pernah memanggil namanya dengan Nena, apakah itu panggilan kesayangan?Celena menggeleng cepat, tidak! Tidak bisa! Saxon adalah milik orang lain, walau dia sudah lama mencintai pria ini.Saxon menyeringai, dia semakin berjalan mendekat. Celena beringsut mundur, dan menabrak headboard."Apa yang kau lakukan di sini?" pekik Celena. Dia beharap ada orang yang bisa mendengar dari luar dan mengusir Saxon sekarang, tapi tidak ada yang pernah bisa menyelamatkan dirinya sekarang karena orang-orang sedang sibuk."Aku menginginkanmu," jawab Saxon santai. Celena menggeleng. Pria ini gila!"Kau gila!""Aku gila karenamu!"Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Celena, otak dan hatinya perang. Sebelum Saxon mengenal namanya dia sudah lama mencintai pria itu, saat Saxon mengatahui namanya dia bahkan membeli cake untuk merayakan sendiri akhirnya crush notice dirinya, tapi juga menjadi hari patah hati terhebat untuknya karena Saxon adalah kekasih kembarannya. Dunia memang tak pernah adil padanya.Gadis itu makin menggeleng, sedangkan Saxon semakin naik ke atas ranjang. Celena menggeleng keras."Jangan, jangan seperti ini. Celine sangat mencintai kamu.""Aku tahu."Saat tangan Saxon terulur untuk memegang tangannya seluruh tubuh Celena bergetar, dia selalu memimpikan hal ini, Saxon tak pernah absen hadir dalam setiap tidur malamnya. Gadis itu menelan ludahnya kasar, dengan perlahan Saxon menarik tangannya lembut dan mengecupnya. Detik ini Celena merasa telah mengkhianati kembarannya, tapi dia juga selalu memimpikan hal ini. apa yang harus dia lakukan?"Kamu sangat cantik malam ini," puji Saxon sambil mengelus-elus wajah mulus Celena yang sudah banjir air mata. Suaranya terdengar rendah."Leave me alone.""Not now, Baby. Bukankah ini yang kamu inginkan?" tanya Saxon, Celena menutupi matanya.Tiba-tiba Saxon sudah menarik tubuhnya. Membuat Celena makin menganga takut, dia berperang antara hati dan kewarasannya. Saat sentuhan lembut kian dia rasakan Celena hanya bisa beteriak dalam hatinya.Dia hanya mampu menutupi matanya merasakan semua sentuhan lembut yang selalu diimpikan, tidak apa jika semunya hanya mimpi karena Saxon tidak akan pernah bisa diraihnya."Kenapa kamu selalu menghindar dariku?" tanya Saxon. Celena langsung membuka matanya, dia gugup luar biasa tapi juga senang di waktu bersamaan bisa melihat Saxon sedekat ini. diam-diam dia menghirup semua aroma tubuh pria yang berjarak sepuluh tahun lebih tua darinya."K-kamu mabuk, dan keluar dari kamarku sekarang," gugup Celena, tapi hatinya beteriak keras jangan lagi melepaskan pria ini, minimal dia belama selama lima menit yang akan dikenang selamanya."A-apa yang kamu inginkan sebenarnya?" Celena berani bertanya, dadanya berdegup sangat kencang dia tidak menyangka bisa punya jarak sedekat ini dengan Saxon, pria yang selalu dia impikan."Yang aku inginkan?" tanya Saxon sambil mengangkat alisnya, ia tersenyum sebentar. Saxon adalah pria paling tampan yang pernah dia tahu, dan Celena tidak akan pernah bosa memandanginya.Saxon menurunkan wajahnya membuat Celena kian gugup, gadis itu menutupi matanya. Apa dia akan dicium? Tapi, apa dia berdosa? Demi Tuhan, pria ini tunangan orang! Bahkan, tunagan kembarannya sendiri. Hati Celena berperang, perlahan ia membuka matanya dan Saxon masih memandanginya, netra madu itu menusuknya dalam. Celena hanya bisa menelan ludahnya.Dia menggigit bibirnya karena siapa pun bisa melihat mereka dalam posisi yang tak senonoh seperti ini, dan semuanya jadi kacau.Hidung keduanya menempel membuat Celena kian gugup, bahkan menahan napasnya. Ia bisa merasakan napas hangat Saxon di wajahnya."Tidak ada," bisik Saxon rendah. Gadis itu langsung membuka matanya dan melotot. Sial! Apa-apaan tadi?Tanpa aba-aba Saxon sudah menciumnya membuat Celena melotot. Ia membeku, first kiss-nya hilang oleh lelaki tsundere yang selalu hadir dalam setiap tidur panjangnya. Celena masih membeku saat Saxon melepaskan bibir mereka, jari Saxon memainkan bibirnya."Jangan pernah menghindar dariku," ancam Saxon. Celena menelan ludahnya kasar. Masih belum juga mencerna apa yang terjadi.Tanpa dosa Saxon langsung keluar dari kamar tersebut dan membuat Celena kian mencak-mencak. Sialan!------Celena hanya bisa melihat dari kejauhan dengan hati yang berdarah-darah saat Saxon dan Celine saling bertukar cincin. Keduanya tersenyum bahagia."Ya, inilah yang kita tunggu-tunggu. Pertunangan Caryl Saxon dan Celine Angel. Pasangan yang sangat serasi sekali, semoga hubungan terus berjalan sampai pernikahan," ucap MC dengan nada yang bersemangat.Celena hanya berdiri di pojokan sambil melihat pasangan bahagia itu bertukar cincin dan memamerkan, serta pengumuman pernikahan. Enam bulan dari sekarang pernikahan itu dilaksanakan dan Celena pasti ikhlas melepaskan perasaan bertahun-tahun yang bersarang di dadanya.Saat Saxon mencium kening tunangannya lama, Celena menutup matanya. Ya, ini adalah hari paling sial untuknya, tak ada lagi harapan ataupun mimpi, dia akan mengubur semua mimpi yang jadi mimpi buruk untuknya.Saat semua orang bertepuk tangan dan memberi selamat, Celena juga melakukan hal yang sama, turut berbahagia, karena jika kembarannya bahagia maka dia ikut bahagia, walau tidak ada yang pernah tahu perasaan berat apa yang dia hadapi."Selamat, ya. Aku tidak menyangka dulu kita suka makan permen kapas bersama dan sekali kedip mata kamu udah nikah aja," ucap Celena pada kembarannya."Ah, kau cepat cari laki sana! Jangan sampai aku udah punya suami, dan kamu hanya bisa main sama dildo," goda Celine membuat kembarannya memerah apalagi Saxon yang menatapnya tajam. Sial! Gadis itu dengan cepat memalingkan wajahnya.Celena melewati Saxon, tidak memberi selamat, pria itu menarik tangannya yang membuat Celena langsung menoleh."Sayang lihat, dia tidak memberiku selamat," adu Saxon pada tunangannya yang membuat Celena menggepalkan tangan. Gadis itu pura-pura tersenyum, padahal jantungnya sudah jungkir balik berdekatan dengan Saxon, sampai kapan dia akan menghilangkan perasaan sial ini?Belum sempat tersadar, Saxon menarik tubuhnya cepat dan membawa tubuh kecilnya dalam dekapan dada bidang tersebut membuat Celena hampir pingsan."Jangan pernah melawanku, Baby girl. Ngomong-ngomong, bibirmu sangat manis," bisik Saxon membuat Celena langsung menginjak kaki pria itu karena telah melakukan pelecehan padanya.

Past & Future
Fantasy
25 Nov 2025

Past & Future

Aku terbangun dari mimpiku. Masih terdiam di tempat tidur sembari menatap langit-langit plafon. Aku mimpi apa yah? Itulah yang tersirat dalam pikiranku ketika bangun. Tak ingin berlama-lama, aku mulai bangun dan melakukan aktivitasku seperti biasa.“Ana, makan dulu baru berangkat,” sebuah suara menggagalkan niatku yang ingin berangkat sekolah. “hehe, males makan bunda,” balasku disertai senyuman. Bunda. Bunda adalah sosok yang paling kukagumi di dunia ini. Sosoknya yang terlihat kuat padahal rapuh, membuatku tidak bisa berhenti mengaguminya. “kalau gak makan nanti sakit perut loh, makan aja sedikit,”Aku melepas sepatuku lalu berjalan menuju meja makan. Kuliat masakan bunda yang tertata rapi di meja makan. Dengan cepat aku mulai mengambil nasi dan lauk lalu memakannya dengan terburu-buru. “uhuk… Uhuk!” “duh makannya pelan-pelan aja dong,” Ucap bunda sembari memberikanku segelas air.Lebih pelan dibandingkan sebelumnya, aku sarapan dengan cepat. Setelah selesai, aku buru-buru memakai sepatu dan mengambil tasku lalu berjalan keluar rumah. “Bunda aku berangkat dulu ya! Assalamualaikum,” “Waalaikumsalam, hati-hati ya!”Aku sudah merasakan keanehan semenjak masuk di kelas. Rasanya seperti deja vu. Entah mengapa, sekolah hari itu cepat sekali selesai. Karena bosan di rumah, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke taman lalu pulang ke rumah.Taman itu terlihat ramai dari biasanya. Banyak anak kecil yang sedang bermain disana. Tetapi setelah kulihat lagi, sepertinya kata bermain itu tidak terlihat cocok. Kata yang lebih cocok adalah… Beberapa anak sedang mengganggu seorang anak perempuan. Mereka mendorong anak itu, menarik rambutnya, bahkan tak sesekali mereka melemparkan benda yang mereka bawa pada anak perempuan itu.“hei! Kok kalian gituin teman kalian sih? Pergi sana, kakak laporin nih ke orangtua kalian, ” Mendengar ancamanku, beberapa anak itu lantas pergi meninggalkan si gadis kecil yang masih terduduk di tanah.“masih kecil udah ganggu orang, gimana kalau besar coba?” aku membantu gadis kecil itu lalu menepuk pakaiannya yang kotor terkena tanah. “kamu gak papa?” tanyaku pada gadis itu. Ia mengangguk lalu tersenyum.“Cecil,” Aku menatap gadis kecil itu dengan bingung. Melihat kebingunganku, ia tersenyum lalu menunjuk dirinya. “nama cecil,” ucapnya. “oh, nama kamu cecil?” Ia mengangguk membenarkan pertanyaanku. Aku tersenyum lalu merapikan rambutnya.“rumahnya dimana? Mau kakak antar?” Cecil menggelengkan kepalanya lalu memberikanku sebuah kotak tua. Aku memegang kotak itu lalu menatap Cecil. “ini buat kakak, makasih ya,” setelah mengatakan itu Cecil pergi meninggalkanku yang masih terdiam menatap kotak tua itu. Tanpa kusadari, hari mulai sore dan dengan membawa kotak tua itu aku berjalan pulang ke rumah. Tetapi tiba-tiba saja sebuah mobil menghampiriku dengan cepat tanpa sempat aku menghindar.BRUK Aku membuka mataku. Kurasakan benda empuk di bawahku. Kasur? Dengan tergesa-gesa aku bangkit dan berjalan menuju cermin. “loh? Kok aku baik-baik saja? Bukannya tadi aku ketabrak ya?” kutepuk pipiku berkali-kali. “sakit kok, ah berarti tadi aku sedang mimpi iya gitu!”Kubalikkan badanku dan terpaku melihat sebuah kotak di samping tempat tidurku. Aku meraih kotak itu dan membukanya. Terdapat beberapa jam pasir dengan waktu yang berbeda-beda. Tapi yang lebih anehnya kotak itu terbagi dua. Di bagian atas seluruh jam pasir berwarna merah. Sedangkan yang bawah jam pasirnya berwarna biru. Kuraih jam pasir berwarna biru. “ini berapa menit ya?” kubalikkan jam pasir itu dan…BRUK… “Aw…” aku mengelus kepalaku yang terbentur di meja. Aku mengernyitkan dahi bingung. Sekolah? Batinku.Terlihat seorang gadis dan beberapa anak lainnya mendekati gadis berambut kepang. “heh, katanya kamu cuman tinggal sama ibu kamu ya? Kasihan deh gak punya ayah!”Ah… Aku ingat, ini adalah saat aku diejek karena hanya tinggal bersama bunda. Aku menatap gadis berkepang dua yang sedang dikelilingi gadis lainnya. Ia menangis, gadis kepang dua itu menangis. Senyum getir terlukis di wajahku. Ah… Begitu rupanya aku di masa lalu. Padahal aku bisa melawan mereka, padahal aku bisa menyuruh mereka pergi… Kenapa aku hanya diam?Suara bunyi jam pasir mengalihkan pandanganku. Eh? Jam pasirnya hanya lima menit? Di depanku adalah aku lima tahun yang lalu. Apakah aku… Kembali ke lima tahun yang lalu?Belum sempat pertanyaanku terjawab aku sudah terduduk di atas kasur. Kulirik jam pasir yang kupegang. Kini warna pasir itu berubah menjadi abu-abu. Aku turun dari kasur dan berjalan menuju cermin.“apa aku… Benar-benar kembali ke masa lalu? Lalu setelah itu aku kembali lagi?” kucubit diriku berusaha memastikan bahwa aku sedang tidak bermimpi. “okay… Tenang, kita harus coba sekali lagi,” ku raih jam pasir berwarna biru dengan ukuran yang lebih kecil dari sebelumnya. “3… 2… 1…”“pemenangnya adalah Ariana Leteshia!!! ” Sorakan dan teriakan memenuhi ruangan tempatku berada. Semuanya bersorak untuk seseorang bernama Ariana Leteshia itu. Aku tersenyum melihat diriku berdiri di atas panggung di hadapan banyak orang. “padahal saat itu adalah hari yang paling sulit bagiku, tetapi setelah kulihat lagi… Ternyata… Rasanya bangga ya… ”Aku menengok kanan kiri mencari seseorang yang dulu sangat kunantikan datang. Badanku terpaku melihat seorang laki-laki yang sedang berdiri menatap panggung. Setelah menatap panggung, laki-laki itu mengalihkan pandangannya dan tanpa sengaja kami bertatapan. “Ry…”BRUK… Aku kembali lagi di kamarku masih dengan posisi yang sama. Dengan cepat aku mengambil kotak yang berisi 1 jam pasir berwarna merah. Kubalikkan jam pasir itu.CRIIING… Suara bel membuatku memfokuskan pandanganku. Hm… Tempat yang bagus, batinku sembari berjalan menyelusuri tempat itu. Tatapanku tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk di hadapan kanvas besar. Gadis itu melukis dengan sangat fokus. Tiba-tiba saja terdengar bunyi ledakan yang memekakkan telinga. Entah kenapa orang-orang yang tadi tidak terlihat, kini terlihat dan berlari melewati gadis yang sedang melukis itu.Gadis itu terjatuh dan terdorong oleh orang-orang. Gedung di tempat itu hancur, kebakaran terjadi di gedung lainnya. Semua orang menjadi panik. Sedangkan gadis pelukis itu pingsan di lantai. Aku berusaha membangunkan gadis itu tapi tak bisa.“Ariana!” terdengar teriakan laki-laki dari kejauhan. Aku segera berlari mencari sumber suara itu. Aku berdiri di hadapan laki-laki yang sedang meneriakkan nama ‘Ariana’ itu. Kupejamkan mataku.“kumohon… Tolong! Tolong aku Ryan!” teriakku. “Ariana?” Ryan menatapku. “kamu… Kenapa kamu jadi kayak dulu?” Aku terpaku. “tolong, disana ada aku. Tolong aku!”Ryan mengikuti instruksiku dan membawa gadis ah, tidak. Ryan mengikuti instruksiku dan membawa ‘aku’ di masa depan keluar dari sana.Mereka selamat. Ryan dan ‘aku’ berhasil keluar dari tempat itu dengan selamat. Aku tersenyum lega sebelum akhirnya aku kembali terduduk di kasur.Kini di tanganku bukanlah jam pasir melainkan sebuah kertas.Kamu mungkin tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kamu bisa mengubah masa depan. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan. Dibanding kamu hanya terlarut pada masa kelammu, mulailah untuk membuat masa bahagiamu di masa depan…

Hadiah Penolong
Fantasy
25 Nov 2025

Hadiah Penolong

Suatu hari yang cerah setelah pulang dari sekolah nampak dari kejauhan anak laki anak lagi bersekolah SMP tengah lari karena ingin cepat pulang ke rumahnya. Sampai rumah ia langsung berganti baju pergi ke sungai, dengan membawa pancingan.Sesampainya ia memancing tetapi, sudah berjam jam tak ada ikan yang ia dapatkan. Ia lalu hendak pulang, tetapi ia mencoba sekali lagi jika tidak berhasil ia akan pulang. Tak disangka sangka, ia mendapatkan ikan, bersyukurlah sang anak itu. Akhirnya dibawalah ikan tersebut ke rumahnya.“Bu.. Ibu… Toto bawa ikan bu yuhuuuu.” Ucapnya sangat girang. “Ikan? Oalah.. Habis mancing rupanya yooo.” Ucap ibunya. “Iya bu heheh nih dapet ikan nanti aku goreng atau ibu mau yang mau goreng pasti lezaat yummy..” “halaahh sana mandi nanti kamu aja yang goreng nanti ibu tak ajarin. Nak, ibu mau pesen jangan sering sering ke sungai.. bahaya nanti kalo kamu tenggelam gimana” “Iya bu, Toto janji akan berhati hati okeh.” Ucap Toto sambil memperlihatkan jempolnya dan tersenyum. “Yawess sana mandi..” ucap ibunya.Setelah mandi Toto kembali melihat kearah ember yang yang diisi air dan ikan tersebut. “Gak sabar untuk aku goreng hehehe. Emmm aku ambil pisau dulu laah.” Ucapnya lalu bergegas mengambil pisau. “Jangan… jangan.. bunuh aku..” “loh loh siapa yang ngomong ya? Ah jangan jangan sinetron kesukaan ibu itu.. biasaa. pisaunya dimana ya?”. “Jangan.. jangan bunuh aku Toto ini aku disini.. aku ikan yang kamu pancing tadi Toto.. tolong jangan bunuh dan goreng aku…” “Hah? Kamu kamu.. kamu ikan yang ngomong? Hah masa sih ini yang ngomong siapa?” “ini aku ikan yang kamu pancing.. jangan bunuh aku.. tolong…” “Beneran kamu bisa bicara?” Ucap Toto tidak menyangka. “Iyaa saya sebenarnya manusia tapi saya dikutuk menjadi ikan.. Tolong saya..” “baik-baik saya gak akan goreng kamu tenang yah.” Ucap Toto. “Syukurlah.. saya bisa menjadi manusia kembali jika ada orang yang menaruh saya dan menaburinya dengan pasir. Apakah kamu bisa?” “Ooh begitu, saya bisa kok ayo saya bawa kamu sekarang juga ya.” Ucapnya langsung membawa ember itu ke lahan yang ada di belakang rumah. Disitu juga sepi, dan Toto meletakkan ikan tersebut ke tanah ia lalu menaburinya dengan pasir.Akhirnya tak disangka ikan itu berubah menjadi manusia ia berwajah tampan. “Waahh ini bukan mimpi kan?” Ucapnya sambil mencubit pipinya tak disangkan ikan yang dia pancing menjadi manusia yang tampan. “Kakak ini sebenarnya manusia yah? Lalu kenapa kakak jadi ikan dikutuk karena apa kak?” Tanya Toto. “Sekarang kita duduk dulu disitu kakak akan bercerita kepadamu Toto” akhirnya mereka duduk.“Sebelumnya kakak mau memperkenalkan nama kakak adalah Saputra biasa dipanggil putra.” Ucapannya lalu bersalaman dengan Toto.” “Ohh begitu saya Toto, tapi kakak sudah kenal hehe”. “Iya, terimakasih banyak kamu sudah menolong kakak Toto.” “Iya kak sama sama.” “Dulu kakak pernah hampir tenggelam di laut, mungkin kakak pas itu sudah gak bisa bertahan karena kakak sudah sangat dalam masuk ke air laut itu, gak juga sadar bagaimana keadaan maksa saat itu tapi setelah sadar kakak sudah ada di sebuah istana, istana itu adalah milik kerajaan di bawah laut raja dan ratunya sangat baik, mereka menyembuhkan kakak, tapi dalam proses pengobatan kakak berjalan jalan mengelilingi istana itu, karena kakak bosan berbaring atau duduk di tempat Kakak itu. Saat kakak jalan jalan kakak penasaran dengan sebuah tempat dimana disitu ada pedang lalu kakak ambil pedang itu entah kenapa sangat berat sekali kakak mengambilnya. Karena kakak sangking penasarannya dengan pedang itu. Entah kenapa semua bergoyang kakak merasa gelisah dengan perbuatan kakak akhirnya langsung kakak kembalikan pedang tersebut. Dan tiba tiba istana itu berhenti bergoyang. Raja dan ratu serta seluruh penghuni istana itu menghampiri kakak dan marah kepada kakak. Kakak sudah menjelaskannya dan mereka percaya tapi hukuman tetap hukuman kakak dikutuk menjadi seorang ikan selama 5 tahun. Dan sudah berbulan-bulan kakak menanti ada orang yang bisa membantu kakak dan akhirnya kakak bertemu kamu.” “Ooh begitu yah, tapi keluarga kakak gimana?” “Mereka mungkin mengira saya sudah tiada. Karena sudah 5 tahun tak pulang ke rumah dan keadaannya saya tenggelam dan tak bisa pulang saya juga berharap bisa pulang ke rumah.” “Yasudah kakak menginap dulu di rumah saya nanti masalah kakak bisa dibicarakan ke orangtua saya kak, ayo” ucap Toto.Sampai di rumah mereka menceritakan kepada ibunya Toto. Ibu Toto awalnya tak percaya, tapi akhirnya ia percaya. Tak lama kemudian ayah Toto yang baru saja pulang dari sawah melihat kak putra habis ada di dapur. “Oalah siapa ini?” Ucap ayah toto. “Ya udah sekarang bapak duduk dulu di meja makan, nanti ibu dan ceritakan”. Akhirnya mereka menceritakanya kepada bapak. Mereka juga akan membantu kak putra pulang.Beberapa hari kemudian sampailah di rumah kak putra. “Terimakasih banyak Toto, bapak dan ibu yang sudah menolong saya.” “Iyaa sudah seharusnya sebagai seorang manusia saling tolong menolong.” Ucap bapak. Tak lama kemudian mereka pun menghampiri rumah tersebut. Diketuknya pintu tersebut, dan seorang membukanya. “Ayah..” ucap kak putra. “Pu put putraaa ini putra anak ayah?” Tak menyangka anaknya kini datang ke hadapannya. “Mah… mah… Ada putraaa” ibunya pun datang dan langsung memeluk putra. “Tapi ini benar putra kan? Atau jangan kamu hanya mirip dengan anakku. Jangan pernah berani menipu kami kamu!” “Ayah.. mamah.. saya putra. Anak kalian saya Saputra. Mah.. yah.. saya belum meninggal saya akan menjelaskannya pada kalian.” Ucapnya lalu kak putra menjelaskannya kepada mereka, dan akhirnya mereka percaya. Dan bahagialah keluarga tersebut. Bukan hanya keluarga kak putra tetapi keluarga Toto juga ikut merasakan kebahagiaannya setelah 5 tahun terpisah dari anaknya, anak satu satunya.Beberapa hari kemudian. Kak putra datang, Toto dan kedua orangtuanya senang ia datang apalagi bersama kedua orangtuanya. Tiba tiba datang mobil membawa motor dan juga sepeda yang sangat bagus, ternyata kak putra dan keluarganya memberikan hadiah itu kepada Toto dan keluarganya. Ia juga akan menyekolahkan Toto sampai lulus SMA.

Dunia dengan Takdir Terikat
Fantasy
25 Nov 2025

Dunia dengan Takdir Terikat

Perkenalkan, namaku Keep dan aku adalah salah satu anak yang tinggal di atas tanah penuh abu yang kelabu di mana segala sesuatu telah ditentukan untuk setiap orang. Ada ‘Hukum’ yang mengatur setiap orang untuk tidak menyimpang dari jalan yang sudah ditentukan untuk dirinya sendiri, kami menyebut itu ‘takdir’ dan hukum itu sangat terasa dalam kehidupan kami.Kemarin tetanggaku berhenti bekerja menjadi penjahit yang ditentukan ‘takdir’-nya. Dia sudah tua, sih.. Tapi seketika itu juga ia kehilangan nyawanya. Mengejutkan memang, tapi tidak bisa ditolak.Akan kuceritakan mengenai hidup disini. Saat kau lahir, hidupmu sudah mulai ditentukan, siapa yang akan menjadi ayah dan ibumu, di mana kau akan dilahirkan, siapa yang akan merawatmu, dengan siapa kau akan berteman, bagaimana kau harus bersikap, dimana kau akan bekerja dan bagaimana pencapaianmu, apa pekerjaanmu dan bagaimana kau akan mati. Semua ini terjadi karena takdir yang mengikat. Semuanya sudah ada dalam pikiranmu. Banyak orang yang mengikutinya dengan santai dan tenang, namun ada juga yang menentangnya dan kalah menggenaskan, belum pernah terdengar berita mengenai orang yang dapat melawan takdir tersebut dan terbebas darinya.Kesanku pribadi adalah mengenai perasaanku sendiri, bukan berarti aku mau menolak semuanya, sih.. Tapi ada beberapa hal yang membuat perasaanku gelisah dan tidak enak. Ketika kau bertemu dengan orang yang membutuhkan pertolongan namun dia tidak ditakdirkan untuk ditolong atau aku tidak ditakdirkan untuk menolongnya, ketika aku melihat orang yang menyenangkan dan aku tidak ditakdirkan untuk berteman dengannya tapi berteman dengan para penindas yang membullyku setiap hari, aku ingin memberontak, tapi aku tidak punya keberanian untuk itu.Aku menemukan sebuah buku tua terlarang di ruang bawah tanah kakekku mengenai dunia dimana orang-orang dapat menggapai apa yang mereka impikan, berteman dengan siapapun yang mereka senangi dan pergi ke tempat-tempat menakjubkan yang belum pernah kulihat dengan mata kepalaku sendiri, rasanya sangat menyenangkan. Sejak saat itu aku mulai mempunyai apa yang disebut dalam buku tersebut, sebuah ‘mimpi’.Aku gelisah setiap kali aku mengingat cerita dari buku itu, aku ingin bebas, lepas dari takdir yang mengikat ini. Aku ingin punya takdir yang tidak mengikat, tidak membatasiku. Namun disinilah aku sekarang, di dunia ini. Bagaimana dengan duniamu sobat? Adakah yang berbeda?

Ailana
Fantasy
25 Nov 2025

Ailana

Lana sedang berada di dasar lautan. Perlahan menatap pemandangan sekililing. Ingin rasanya beranjak menjadi manusia. Menikmati makan ice-cream bertemu cogan yang sering ia lihat di ponsel. Seandainya kejadian itu nyata maka Lana akan bahagia seketika.Sampai sebuah badai besar menghantam kerajaan Sea Word. Dan kemudian Lana harus pergi meninggalkan laut. Badannya lusuh berantakan, kotor akibat tidak mengenakan pakaian. “Cuy kita bakalan ambil foto di mana makalah kita harus bagus.” “Iya bego otak lo ditaruh di mana gue juga lagi nyari?” Suara berisik dari sana membuat Lana panik. Tidak ada yang dapat memberikan rasa terkejut selain suara di bumi. Mendengar itu Lana buru-buru bersembunyi di balik pohon. “Panas cuy gue mau nyari es kelapa muda dulu?” Akhirnya setelah kepergian Megan Rey segera duduk menikmati keindahan sunset.Tugas bahasa Indonesia mengenai liburan belum juga usai. Sementara cowok itu mendengar suara aneh di balik pohon lekas mendekat. Astagafirullah ada manusia tanpa busana. Dia tutup mata lalu melepas jaket memberikan kepada gadis itu.Senyuman terbit di wajah Lana. Lana kemudian berbicara. “Makasih.” Belajar sedikit bahasa manusia walaupun tidak banyak namun Lana mengucapkan sangat tulus. “Lo… lo… siapa?” Bergetar mengucapakan. “Ailana.” Cuma itu keluar dari bibir mungilnya. “Ailana, bagus juga nama lo tinggal di daerah sini ya?” tanya cowok itu berjongkok.” “Eh???” Bingung menjawab apa hanya kalimat eh. Tampan sekali wajahnya putih. Matanya bagus indah Lana menyentuh pipi dari cowok itu. Dibalas ketus. “Udah gila ya sih Megan mana lagi? Panas nih.”“Rumah lo di mana?” tanya Rey mulai bosan pada sikap gadis yang tidak jelas asal-usulnya. “Rumah apa itu?” Teringat sesuatu Lana pun paham.” “Tidak punya, aku sendiri.” Jawab Lana singkat memahami sedikit bahasa manusia. “Oke, gue ajak lo apartemen gue bentar lagi kita pulang.” Berbaik hati. Sementara Megan terkejut menemukan sahabatnya berbicara pada orang asing. Sama-sama terpelongo melihat gadis cantik. “Gue mau ajak ke apartemen gue.” “Dih, lo mau gitu-gituan sama nih cewek kagak gue nggak setuju.” “Bukan cuma sementara dia gak punya rumah keknya dia amesia atau apa? Gue kasian sama dia.” Papar Rey merasa iba. Mengajak ke mobil meminjamkan baju Megan ditaruh di jok mobil. Menyuruh mengganti.Penampilan gadis itu berubah jadi rapi. Sebelum pulang ke hotel. Mereka singgah makan di salah satu restoran di Bali. Sepanjang makan gadis itu terlihat lahap makan Ayam tapi tidak sama ikan. Mereka sudah tiba di hotel bersih tertata.Keesokan paginya… Terkejut Rey menemukan gadis itu tanpa busana di kasur. Segera mengambil selimut. “Dingin.” Bisiknya. AC di ruangan di matikan. Setelah itu keluar menemui Megan.“Gimana semalam asyik gak?” “Asyik apanya cih biasa aja tuh alay lo.” Ledek Rey tidak mau berbasa-basi. Mencari makanan dan kembali ke kamar hotel. Gadis itu terbangun namun masuk ke dalam kamar mandi jadi banjir. Menyuruh berpakaian menyerahkan dengan tangan tanpa melihat ke dalam. “Pakai ya cepat makan, kita mau balik ke Jakarta.” Suara dari gadis itu riang. Tidak sabar bertemu Arya Saloka idolanya. Kata para dayang Jakarta surga para artis tinggal di sana termaksud pemain yang naik daun itu.Selesai berpakaian Lana lekas makan. Lahap sekali sampai habis. “Jakarta Arya Saloka!” “Lo fangirl pemain ikatan cinta gue sih ogah, emak gue suka banget tuh.” ucap Rey teringat akan Dinda sang Mama di rumah. Pasti cocok kalau ketemu Lana. Telinga gadis itu berdegung hebat seperti ada yang memanggilnya. Namun tetap ia hiraukan sampai suara itu memaksanya keluar. Berjalan keluar ternyata ada seorang memegang tombak. “Takut.” ujar Lana ingin kabur. Memilih bersembunyi. Menutup mulut Rey tanpa suara.Orang tersebut sudah menghilang mereka menuju bandara Ngurah Rai. Tampak sekali jika Lana belum pernah menaiki pesawat. Tiba di Jakarta setelah menempuh perjalanan cukup lama. Ia terus bersorak gembira menatap ibu kota. Namun ketika poster Arya Salok dan Amanda Manopo muncul gadis itu berteriak histeris.“Eh… Arya Saloka.” Cuma itu keluar dari bibirnya. “Dia fans berat Megan, udah kek emak gue?” “Micin dong hahaha…” Mereka tertawa di dalam taksi.Tiba di apartemen Rey turun membawa koper. Perasaan berbeda hadir. Tidak terasa sudah satu Minggu gadis itu tinggal di apartemen miliknya. Belum mengetahui asal-usul. Perlahan saat menonton tv berita bencana alam terjadi di Dewata Bali, tempat di mana gadis itu ditemukan. Mata Lana basah melihat lautnya hancur.“Aku mau pulang.” ujar Lana tercetus begitu saja. Netra Lana semakin basah dan mengeluarkan banyak mutiara.Segera menyembunyikan di nakas laci sebelum ketahuan oleh Rey. Ia tidak ingin Rey curiga padanya lalu mengusir ketika tahu bahwa ia duyung. “Lo tinggal di mana? Apa lo ingat saudara ada di mana?” Bersemangat berharap menemukan jawaban Rey terus menunggu. “Tidak, tapi Dewata rumahku.” “Jadi yang lo ingat lo ada di rumah di Dewata nanti gue cari tahu sabar ya, lo pasti pulang.” Rey mengusap rambut panjang gadis itu. Memberikan senyum manis.Belum ada tanda orang mencari seorang gadis. Sudah lebih tiga Minggu. Rey sedang hangout di restoran fast-food. “Kemarin cewek gue berburu Bts Meal di sini, heboh banget cakepan juga gue daripada Bts.” Luki terus bertingkah percaya diri. Sementara Rey masih terus melamun.Nasib Lana begitu berharga? Bagaimana jika keluarganya mencari? Semua perasaan ditumpahkan lewat lamunan. Di dalam apartemen bosan mengacak-acak kulkas mencari makanan bisa dimakan. Semua buah dilahap habis. Hingga suara bel datang Rey membawa ayam kesukaan Lana.Berantakan. Menatap ke arah kulkas dan benar saja Lana melakukan lagi. Segera membereskan lalu mengajak gadis itu makan. “Nih makan, habisin lain kali jangan buka kulkas bikin repot aja lo.” Ketus Rey pada Lana cuma nyengir kuda, menyantap ayam fried chicken kesukaan.Mutiara disimpan Lana belum juga dipakai. Diam-diam setalah Rey berangkat sekolah ia pergi ke sebuah butik belanja baju. Walaupun berasal dari laut tapi Lana punya ponsel memudahkan mencari tahu tentang bumi.Lagu aku merindu terputar Lana bernyanyi cuma satu lagu saja Lana hafal saking sukanya pada Arya Saloka. Membuat keriuhan pengunjung butik saat Lana berjoget. Sudah sejam me-time shopping berhenti makan di tempat Rey membelikan ayam.Penampilan sudah rapi Lana ke salon. Ia tidak tampak lagi seperti orang utan. Sebuah tangan menariknya. Memaksa pulang ke laut gadis itu menolak. Ia sudah nyaman di bumi.“Pulang atau Ayah kamu bisa murka!” “Tidak, aku mau di bumi.” “Di bumi bukan tempat kamu,” Berteriak kencang semua warga datang. Dan Lana berhasil kabur mengatakan jika ada orang jahat tadi di sini. Semua melirik ke sana kemari kosong.Lelaki tadi bersembunyi di balik pohon. Segera warga mengejar. Ia tersesat lupa pulang. Berdiri di jalan raya. Sebuah motor sport berwarna merah muncul jaket hoodie tampan mendongak ke arah Lana. “Gue Luki, lo siapa?” “Ailana, Lana.” “Mau ke mana?” “Mau ke apartemen Rey, aku tidak tahu di mana apartenen Rey?” “Sini biar gue antar, Rey Kelana Subakti kan gue kenal dia sohib gue.” Luki memasangkan helm.Tiba di apartemen mobil terparkir. Lekas masuk ke dalam lift di lantai tiga. Luki terkejut kenapa selama ini Rey tidak pernah cerita jika sudah punya kekasih kalau tahu begitu harusnya jujur jangan ada ditutupi. Membuka bel Rey kaget mendapati Luki bersama Lana. “Dari mana aja lo? Nyusahin?” “Gue nemuin dia di jalan mau ketemu lo mungkin dia pacar lo, kok gak cerita punya pacar secantik ini?” ucap Luki penasaran. “Dia bukan pacar gue, gue cuma nemu di Dewata dalam keadaan dia amesia, udah itu doang.” Memperhatikan penampilan dari gadis tersebut ada yang berubah, rambut terurai rapi. Baju juga bagus dari mana mendapatkan uang merombak penampilan, pasti harganya mahal pikir Rey bertanya dalam-hati.“Rey, lapar!” “Ambil sana di dapur gue gak bisa ambillin gue capek habis kerjain pr!” Luki pergi ke dapur mengambil ayam goreng dan nasi kemudian memberikan kepada Lana. Senyumannya sangat manis. Membuat hati terasa bergetar hebat.Saat malam tiba gadis itu bermimpi jika Ayah sedang sekarat. Dan seseorang memintanya pulang. Terbangun dari mimpi Lana lekas beranjak keluar. Mencari dasar danau. Di sini sama sekali tidak ada. Sampai di tengah perjalanan naik taksi menyuruh mencari laut terdekat. Tiba di salah satu pantai segera gadis itu berenang. Kerinduan pada Ayah sudah semakin tinggi.Terbangun dari tidur di pagi hari kosong Lana tidak ada di sudut manapun. Mengucek kedua mata lelah Rey memilih minum air-mineral. Kehilangan sosok di cari kemudian di hari Minggu mobil melaju mencari ke sudut jalanan. Belum menemukan jawaban. “Di mana sih lo bikin repot aja?”Di dalam kerajaan muka Lana begitu lesu. Merindukan sosok Rey disisinya. Semenjak kembali ke istana bawah laut kerinduan memupuk di hati Lana. Satu-satunya cara mengirim pesan tapi nomor saja tidak punya. Berjalan dari dasar danau, lelaki yang biasa mengejarnya ikut memburu.“Mau ke mana? Kau tidak lihat ayahmu sedang sakit.” “Aku… aku… cuma sebentar saja lebih baik kau pergi Jeno.” “Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian.” Jeno memang penguntit sejati menyebalkan. “Kenapa tuhan menciptakan sosok duyung posesif bukan pacar tapi nempelnya minta ampun pengen ditabok pakai sesuatu biar kapok”.Tidak terasa sudah sebulan lebih di dasar laut tanpa ke mana-mana. Sang ibu menghampiri putrinya yang menekuk diri. “Kamu mencintainya pergilah jadi manusia biasa ini kalung, supaya kamu dapat bertahan.” Meninggalkan laut Ibu pengertian sekali soal cinta.Ternyata Rey bersama gadis lain tertawa di sebuah gerai pizza. Airmata jatuh penantian terasa sia-sia. Sebaiknya kembali ke laut. Tapi tangannya disentuh oleh Luki. “Kamu ke mana aja?” Luki sudah rapi setelan kaus di tambah cardigan biru. Bicara juga lebih formal dari biasanya. “Luki?” “Kamu cemburu ya liat Rey sama cewek lain itu sahabat kecilnya Rey namanya Nadhira dia udah punya pacar kali gue orangnya.” Menatap wajah Luki penuh binar bahagia. Mereka masuk ke dalam Rey memeluknya erat tanpa ada pergerakan untuk melepas.Berjalan di dermaga dekat danau obrolan keluar cerita tentang rasa rindu Rey pada Lana. Airmata jatuh tak tertahan lagi. Menceritakan indetitas bahwa ia duyung, awalnya cowok itu syok setengah mati namun dia percaya kekuatan cinta bisa mengubah Lana menjadi manusia seutuhnya.“I love you…” “I love you too…” Berpelukan lagi. Sunset di pantai muncul memberikan warna cerah bagi seorang Rey. Cinta sangat membahagiakan dan berdoa bisa menikmati seterusnya dan hari esok.Selesai

Menampilkan 24 dari 166 cerita Halaman 5 dari 7
Menampilkan 24 cerita