Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Get The Wind Up
“Tapi, Ma, kuota Armel sudah habis.”Mama menyergah pembicaraanku dari seberang telepon, “ Salah kamu sendiri. Siapa suruh kamu nge-kos jauh-jauh? Sudah Mama bilang kan, kemarin? Kuliahnya di tempat yang deket rumah aja. Kamu sih, ngeyel, nggak mau dengerin .”Aku memutar bola mataku malas. “Ya udah deh.”Usai Mama menutup telepon, aku menjerit kesal. Mama-ku benar-benar pelit dan tidak mengerti keadaanku sebagai mahasiswi. Aku sudah berulang kali menjelaskan padanya kalau kami—mahasiswa—selalu membuat tugas pada detik-detik terakhir. Besok tugas ini sudah harus dikumpulkan dan kuota midnight -ku baru saja habis saat aku mencari artikel terkait.Sepertinya Mama tidak percaya kalau aku benar-benar serius kuliah di sini.Berbekal artikel terakhir yang kubuka barusan, aku mulai membaca setiap katanya dengan hati-hati, agar aku tak melewatkan bagian penting yang ada. Kalau hari ini aku tidak dapat menyelesaikannya, mungkin besok pagi aku harus benar-benar membuatnya dengan cepat.Dan karena aku mengharapkan kebaikan hati dari jaringan wifi dot id, aku melakukan scanning hingga berkali-kali. Apapun koneksi gratis yang masuk, aku benar-benar ...TRING.Sebuah jaringan terkunci dengan nama ‘ Passwordnya KECOAK ’ mulai mencuri perhatianku.Semula, kupikir itu hanyalah kelakuan orang iseng di samping kamarku, namun saat aku mencobanya, aku benar-benar bisa masuk ke dalam jaringan itu. Passwordnya benar-benar adalah KECOAK.Dengan keajaiban terakhir itulah, akhirnya aku memanfaatkannya untuk membuat tugasku.Pagi itu aku mengisi kuotaku dan tidak pernah mengingat soal keberadaan jaringan itu, atau mencoba mencari tahu soal siapapun yang meminjamkannya untukku.Malam ini, saat aku tengah bermain Facebook, jaringanku dialihkan ke jaringan orang lain. Nama jaringannya adalah ‘hai’.Belum sempat aku berpikir apapun, nama jaringan itu berganti lagi.‘ Hai, Armel. Kamu cantik ’.Aku mulai berpikir bahwa itu adalah perbuatan iseng salah satu penghuni kos di sana. Langsunglah aku beranjak dari dudukku, lalu mengetuk satu persatu kamar yang ada di antara kamarku. Tapi, saat aku ingat bahwa mereka semua tidak berada di sana, aku langsung pucat pasi.Untuk memastikan bahwa pemikiranku benar, aku mengecek sepatu mereka. Dan yang benar saja, mereka sedang tidak ada di tempat.Aku kembali ke kamarku dengan wajah pucat.Nama jaringan itu berganti lagi.‘ Wajahmu benar-benar cantik saat ini ’.Tak menunggu lama, aku langsung keluar dari kosan-ku sambil membawa laptop dan ponselku.Kurasa mendengar saran Mama untuk tidak menetap di kos adalah hal yang tepat.
FLASHBACK - Just Me and You"Anne, panggil Zeffrey kemari ya." Guru olahraga di sekolah kami yang bernama Pak Suhendra itu lagi-lagi membuatku kesal untuk kesekian kalinya, tadi manggil-manggil dari kelas sampai meminta anak sebelah buat panggil aku di ke
"Anne, panggil Zeffrey kemari ya."Guru olahraga di sekolah kami yang bernama Pak Suhendra itu lagi-lagi membuatku kesal untuk kesekian kalinya, tadi manggil-manggil dari kelas sampai meminta anak sebelah buat panggil aku di kelas, sekarang, ketika aku sudah sampai di mejanya, eh, malah disuruh panggil si Zeff."Kok saya, Pak?" tanyaku yang terdengar sedikit tidak senang. Sebenarnya aku bukan tidak senang karena diminta memanggil Zeff, tapi karena sifat Pak Suhendra yang suka semena-mena itu."Bapak mau bicarain soal tour Sudirman Cup , team kita akan melawan team dari sekolah Garuda Putih, kamu tahu kan, betapa unggulnya mereka?"Dari minggu kemarin juga, kami sudah tahu kalau team basket sekolah kami akan melawan Garuda Putih yang benar-benar terkenal karena permainan basketnya yang ahli, tidak ada siapapun yang tak mengenal Garuda Putih, apalagi katanya captain -nya ganteng.Eh, eh, salkus-salkus. Tapi William emang keren ya~Oke, makin ngaco.Dan ya, aku harus siap diperbudak oleh Pak Suhendra yang kadang suka semena-mena memperlakukan murid layaknya pembawa pesan. Sebagai ketua tim basket putri, aku harus berbangga hati karena tidak ada team dari sekolah manapun yang bisa melawan team kami. Tapi, jadi cewek ya gitu, pertandingannya benar-benar dianggap remeh sama dunia.Aku memperhatikan Zeff yang sedang latihan sangat serius dengan team -nya. Kali ini mereka benar-benar ambisius untuk memenangkan pertandingan kali ini.Loncatan, passing, dribble dan shoot .Zeff seharusnya bisa menyaingi William, baik dari tampang maupun permainan basketnya. Tapi entah mengapa fans William yang bejibun dan seolah dimana-mana itu kadang membuatku ngeri juga. Kadang aku mensyukuri Zeff yang tidak setenar William meskipun dia juga terkenal....Zeff keren banget kalau lagi fokus shoot ."Annely!" seru Zeff yang membuat kesadaranku kembali, aku yang menyadari bayangan sebuah bola mendekat pun refleks memajukan langkahku beberapa langkah, bola basket itu memantul tepat di area yang kupijak tadi."Iih, Zeff nggak hati-hati, nih. Tadi kalau kena gue, terus gue amnesia, gimana?"Zeff menatapku datar, lalu melemparkan bola yang dipungutnya ke arahku, "Jangan lebay, lah. Lagian, lo ngapain di sini? Mending lo belajar bagus-bagus buat try out .""Gue kemari juga karena disuruh Pak Hendra, kali. Disuruh ke kantor, mau diskusiin soal pertandingan."Zeff menghela nafas lelah, "Bakalan sampe maghrib nih, kalo diskusi sama pak Hendra."Zeff memantulkan bola basketnya ke lapangan, memberi arahan pada anggota-anggotanya untuk latihan tanpanya. Sedangkan aku diam-diam tersenyum juga karena aku menyadari bahwa aku akan menghabiskan waktu dengan Zeff.Ya, meski ada Pak Suhendra sih, tapi nggak masalah.*"Gila, capek banget debat sama Pak Hendra," keluhnya kesal, aku mengangguk setuju, padahal bukan aku yang sedang berdebat, tapi aku ikut kesal karenanya.Pak Suhendra mengatakan bahwa beliau kurang menyukai susunan formasi yang diterapkan Zeff cs, dan menyarankan mereka untuk mengganti formasi yang lain."Lo sih enak ya, cewek, kemana bola pergi, di situ cewek-cewek berkumpul. Tanpa formasi yang jelas pun, kalian bisa menang."Aku memutar bola mataku kesal, "Kalau enak, lo tukaran aja sama gue, lo jadi cewek dan gue jadi cowok. Lo cuman gatau, saking gampangnya sampai terlalu membosankan. Kadang gue ingin bermain bersama team lo, tapi lo-nya ngga ngizinin mulu dengan alasan klasik karena gue cewek.""Kan lo emang cewek?"Aku kesal dengan perbedaan itu. Perbedaan yang membuat semuanya menjadi amat jauh berbeda. Kenyataannya kami sama, makan nasi, bernafas dan sama-sama manusia, tapi apa?"Gue capek sebenarnya jadi captain ," ungkap Zeff."Sama, gue juga capek," balasku malas."Mau makan nggak? Gue traktir deh."Aku menggeleng, "Nggak deh, gue lagi diet."Aku diet bukan karena ada pakaian kesempitan yang sedang ingin kupakai, tapi hanya agar tubuhku lebih ringan dan loncatanku lebih tinggi. Oh, dan sebenarnya juga merasa berat badanku sudah sedikit over dari kebanyakan cewek. Sedikit doang, kok, sumpah."Siang tadi emang lo sempat makan?"Aku tersenyum, "Ihh, Zezef kok tau? Perhatian banget," aku tertawa mengejek, sebenarnya hanya akal-akalan agar Zeff tak membahas apapun yang berhubungan dengan permintaan memintaku makan atau apapun itu.Padahal sebenarnya tadi siang itu banyak PR dan kami sekelas nggak ada yang keluar dari kelas karena itu. Zeff tentu saja tahu karena itu. Dasar miris."Annely....""Hm?" Aku membalikkan kepalaku, sedikit terdiam juga dengan perubahan ekspresinya yang begitu cepat itu. Seharusnya aku sudah menyeberang karena rambu lalu lintas masih menunjukan warna hijau, namun aku tak melakukannya.Zeff serius sekali, sih?"Lo bakal kuliah di mana?"Aku terdiam untuk beberapa saat, "Ih, kok Zezef kepo tiba-tiba?" tanyaku iseng, wajah mengerut milik Zeff benar-benar membuatku gemas, ingin memonopoli keberadaannya seorang diri. Bahaya."Serius, Anne, lo mau kemana?" tanyanya lagi.Aku menarik nafas, "Gue mau ke Pulau Jawa, gue denger universitas di sana bagus-bagus semua. Lo sendiri mau kemana?" tanyaku meringis pelan saat menyadari bahwa rambu kembali merah. Tapi nggak masalah, selama ada Zeff di sini, aku siap nunggu lebih lama lagi."Kenapa mesti jauh-jauh sih?" tanyanya malas. "Gue stay di provinsi ini, tapi bakal keluar kota. Secara, lo tau kan kalau kota kecil kita nggak punya satu bangunan universitas pun?"Aku mengangguk mengiyakan."Terus , pulangnya kapan?""Kalo libur, gue usahain pulang. Tapi tiket pesawat mahal, nih. Doain aja gue-nya cepet sukses."Keheningan berlangsung selama beberapa menit, hingga akhirnya rambu berubah hijau, membuatku sontak melangkah menuruni trotoar. Di sinilah kami berpisah biasanya setiap pulang, Zeff tetap di sana dan aku diseberang sana."Anne!" serunya yang membuatku berbalik lagi ke arahnya, namun yang kulihat bukanlah lambaian tangan yang biasanya ia lakukan. Zeff sudah berada di sampingku.Di belakang Zeff, aku bisa melihat sebuah truk melaju dengan kecepatan sedang, namun tak bisa kami hindarkan lagi. Truk jelas muncul dari perbelokan tajam dari belakang sana.Jeritan klakson terdengar begitu tajam.BRAKKK!!!...Zeff,Zeff...Aku ingin bersama denganmu .*Mataku terbuka secara tiba-tiba, cahaya putih terlihat jelas di atasku. Semuanya putih. Ah, apa ini sudah di surga?Saat menolehkan kepalaku ke samping, aku langsung berusaha menjauhkan diriku, pasalnya Zeff berada sangat dekat denganku. Hanya beberapa centi. Namun tubuhku tertahan, dan tak kunjung menjauh darinya meski aku sudah berupaya keras menarik diri. Aku memperhatikan tubuhku yang tak mau menurut....Kakiku.Kakiku dimana?D-dan mengapa tubuhku menyatu dengan tubuh Zeff?"Zeff...Zeff! Zeffrey, bangun!"Mata Zeff terbuka, dia langsung menolehkan wajahnya ke arahku. "...Annely?" tanyanya tak percaya, "Kapan datangnya?""Apa yang lo maks-"Tangannya yang terulur ke arah kepalaku, sukses membuat bola mataku membulat sempurna. Mengapa bisa?! Mengapa bisa tangannya melewati kepalaku?!"Z-Zeff, apa gue kehilangan kepala atas juga?" tanyaku hampir menangis, sudah cukup aku kehilangan kakiku. Basket bukan segalanya dihidupku, kehilangan kaki memang menakutkan, tapi lebih menakutkan lagi tidak punya kepala."Kepala lo baik-baik aja, tapi kayaknya jiwa lo keluar dari tubuh lo," balasnya mencoba menjelaskan dengan pelan, Zeff sendiri terlihat tak percaya dengan apa yang terjadi. "Tubuh lo masih di ICU, sudah hampir tiga jam belum ada kabar apa-apa.""Gue nggak mau mati, Zeff!" seruku frustasi.Zeff menatapku dalam, "Sama!" serunya yang membuatku terpana beberapa saat, "Gue juga nggak mau lo mati."Aku terdiam. Di saat seperti ini, kupikir wajar bagi Zeff untuk mengatakan itu. Aku benar-benar menyesali hal yang terjadi, meskipun itu bukanlah kesalahanku. Tapi, aku manusia, setelah mengetahui diriku kemungkinan meninggal, hal yang ingin kulakukan hanyalah meminta maaf sebanyak-banyaknya pada siapapun yang sempat kuminta maaf."Boleh lo bawa gue ke Bokap-nyokap gue? Gue pengen lo titipin pesan ke mereka sebelum aku-""Nggak! Lo nggak bakal mati, Anne!" gumamnya tegas. "Gue nggak bakal nerima satupun pesan lo kalau lo nggak hidup!"" Please , Zeff...." sahutku memelas, "Gue masih berantem sama nyokap gue tadi pagi.""ANNELY! Lo nggak bakal dan nggak boleh mati!" bentaknya yang membuat tubuhku tersentak, air mata yang berada di sudut kelopakku turun dengan sendirinya. " Please, Anne, stay alive ."Pintu kamar tiba-tiba saja terbuka, menampakan Dokter berpakaian serba putih yang datang terburu-buru bersama streoskopnya. "Ada apa?"Matanya yang menatap lurus ke arah Zeff membuatku putus asa, aku bisa langsung yakin bahwa sosokku tak bisa terlihat olehnya. Ini benar-benar membuatku ingin menjerit putus asa."...Teman saya yang di ICU, bagaimana keadaannya?" tanya Zeff."Anda tenang saja ya, nak. Kami akan berusaha semampu kami."... Mom, maafkan aku .Ini pasti kutukan buatku karena sudah melawan Mom tadi pagi. Mom memintaku untuk tidak bermain basket lagi sejak dulu. Aku paham, Mom hanya takut sifatku yang kasar itu semakin tak terkendali, dan aku paham benar kekhawatiran setiap orangtua terhadap anaknya.Aku yang salah.Zeff turun dari ranjangnya, meraih tongkat yang berada di sisi nakas dan berjalan keluar tanpa berkata apa-apa. Dokter di belakang kami hanya melangkah mengikuti kami, lalu berbalik lagi ke arah lain begitu Zeff sampai di depan yang bertuliskan ICU.Aku bisa melihat Mom sedang menangis di sana, sedangkan Dad nampak serius berbicara dibalik telepon, dengan air muka yang jelas amat emosi."Orang yang menabrak tadi sepertinya mabuk," gumam Zeff yang membuatku menggertakan gigiku."Gue pengen bunuh dia!"Zeff menatapku dalam, lalu menarik nafas panjang. "Gue pengen banget, meluk lo, tau?""Huh?" Aku mengerjapkan mataku, "Maksud lo?""Jangan sedih, please , Anne. Gue nggak tau gimana caranya nenangin lo."...jangan baik begini, Zeff. Aku bisa terjatuh makin dalam.Aku termenung untuk pertama kalinya setelah bangun barusan.Mungkinkah gara-gara itu?Aku ingin bersama denganmu ....Permintaanku terkabul...?Apa ini yang namanya permintaan terakhir saat hidup?"Anne, lo udah tenang?" tanya Zeff dengan hati-hati.Aku mengangguk dan mencoba tenang, "Duduk di samping bokap nyokap gue, tenangin mereka dulu, please .""Anne..."" Please , Zeff, ini permintaan sekali seumur hidup gue. Please ."Tubuhku mulai menghilang dan aku menangis semakin keras, Zeff yang tidak tahan langsung menghampiri orangtuaku dan duduk di samping mereka, dia memeluk Dad dan Mom yang kini meratap ke lantai dengan tatapan kosong. Keduanya hanya terdiam. Zeff membisikkan sesuatu di telinga mereka berdua.Aku mulai mendengar suara yang terdengar makin cepat. Lalu suara dokter dan suster yang terdengar bergerak semakin cepat. Aku memeluk kedua orangtuaku meski mereka berdua tak mampu melihat keberadaanku."Mom, Dad, Anne sayang kalian..." bisikku.Suara mesin tiba-tiba memanjang, aku hanya sempat melihat tanganku menghilang sebelum akhirnya tubuhku terasa tertarik dengan begitu cepat. Aku bisa melihat sekilas seorang dokter menggosokan dua buah alat bersamaan, lalu menekan duanya bersamaan di tubuhku.Aku semakin merasakan tarikan itu, alat kejut jantung itu sepertinya bisa..., sepertinya bisa menyelamatkanku."Coba lagi."Sekali lagi, aku bisa melihat tubuhku tersentak, mataku masih terpejam erat tak rela terbuka. Aku menangisi keadaanku saat ini. Kuharap Zeff benar-benar menghibur kedua orangtuaku.Aku bukan anak yang baik, aku hanya menyusahkan kalian selama ini. Tapi aku tahu, kalau mereka kehilanganku, mereka akan sedih."...Sekali lagi."Mom, Dad, maafkan Anne tidak bisa menjadi anak yang baik.Alat itu kembali menyetrum diriku, tubuhku terasa ditarik oleh sesuatu yang kencang, tubuhku tiba-tiba saja merasa lemah, pelan-pelan aku bisa mendengar suara pelan dari mesin di sampingku. Aku membuka mataku pelan-pelan dan melihat para dokter menatapku sangat lega."...Pasien kecelakaan barusan, berhasil diselamatkan," gumam salah satu dokter tadi entah kepada siapa.*"Sudah gue bilang kan, lo bakalan selamat..." Zeff mendorong kursi rodaku sambil menghela nafas lelah. "Malah nyuruh gue hibur orangtua lo... Lo beneran bikin orang cemas, tau nggak?"Aku menunduk dalam, " Sorry , Zeff. Gara-gara lo nyelamatin gue, lo ga bisa ikutan tour ya?""Sudahlah, nggak apa-apa. Nanti gue langsung ajak William tanding saja tanpa perlu ada pertandingan resmi. Gue kenal dia kok, gue punya kontaknya."Aku langsung bersemangat, "Serius? Lo punya kontaknya William? Gue boleh minta tidak?" Asyikk, nambah kontak cogan di hapeku.Zeff menatapku datar, "Nggak bakal gue kasih," ucapnya jengkel."Ih, Zefferey pelit, ih." Aku pura-pura merajuk. Mana mungkin aku merajuk gara-gara Zeff tidak memberikan kontak William. Orang aku sukanya ke Zeff kok, bukan William."...Anne,""Hm?"Tubuhnya menunduk, aku bisa merasakan leherku kini tengah dipeluk olehnya, aku benar-benar...benar-benar kaget setengah mati."Z-Zeff, lo ngapain?!""Meluk lo, lah, masak nggak tau?"Aku makin tergagap mendengar jawaban santainya, yaampun, selamatkanlah aku dari apapun namanya ini. Jantungku sudah bekerja lebih maksimal dari biasanya. Aku bisa mati, sepertinya."Iya, ngapain lo meluk gue?!"Dan Zeff berbisik amat pelan, "Gue sayang lo, Annely."
INSOMNIA Again
27th Desember 2016, Tue***Sebelum kau terlelap dalam mimpi yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya, pastikan kau telah membersihkan dirimu sepenuhnya. Jangan lupa mencuci kakimu, menggosok gigimu dan memanjatkan doa sebelum tidur.Hei, mau kuceritakan cerita yang menarik sebelum kau akan beranjak tidur malam ini?Kau tahu? Bed covermu mungkin sudah harus kau ganti. Ah, maksudku, kau tidak akan tahu ada berapa makhluk kecil yang tak terlihat selalu mengulurkan tangan mereka untuk menunggumu berbaring disana. Mereka bisa sepuasnya menguasai dirimu saat kau terlelap, memasuki organ tubuhmu yang hampir selalu terbuka setiap waktu.Ah, kita bukan ingin membahas itu, tenanglah. Ya, aku tahu itu menjijikan, aku pun sebenarnya ragu untuk menceritakan ini padamu. Aku takut tidurmu akan terganggu hari ini, jadi kalau kau merasa tak sanggup, jangan lanjutkan! Karena aku tidak akan bisa bertanggung jawab.Omong-omong, hei, aku akan melanjutkan topik ini. Kalau terganggu, tutuplah dan lupakan apa yang kusampaikan hari ini.Pertama, posisikan bantalmu agar kepalamu sejajar dengan tubuhmu. Atau lebih singkatnya, posisikan dirimu yang paling nyaman di atas kasurmu, tidurlah dalam keadaan lurus, tangan di sisi tubuhmu. Pastikan lututmu tak terangkat, aku bisa jelaskan mengapa kau harus benar-benar santai saat tidur. Percayalah.Jika kau terbiasa menggunakan selimut, kenakanlah, malam ini mungkin akan dingin. Kalau kau terbiasa memeluk guling, peluklah, kau juga boleh berada dalam posisi miring dan dalam keadaan meringkuk (asal kau tidak berbaring lurus dan bagian kakimu tidak membentuk /\ ).Nah, aku akan ceritakan apa yang kualami sejak dulu, kalau kau mengangkat lututmu dan telapak kakimu berada di atas kasur, ada beberapa kemungkinan. Kau mimpi indah, mimpi buruk, atau mungkin bermimpi (tapi kau tidak akan mengingatnya). Kalau kau mimpi indah, kau pasti tidak bisa terbang bebas di sana, dan kalau kau mimpi buruk, kau tak akan bisa lari dari kejaran- nya . Begini, akan kuceritakan sesingkatnya saja, kalau kau melakukan itu saat tidur, kau tidak akan bisa berjalan saat di mimpimu.Kalau tanganmu berada di kedua sisi kepalamu, kau biasanya tidak akan ingat mimpi yang kau alami. Tenang, itu bukan hal yang buruk. Nah, dan itu adalah biasanya , bukan berarti kau tidak akan ingat. Karena ada beberapa cerita lain di sana.Hey, apa kau pernah merasakan takut saat tidur? Oh, tidak, kau hanya memejamkan matamu, sebenarnya. Kesadaranmu masih utuh, tapi seluruh organ tubuhmu tidak ingin mengikuti perintah otakmu.Ah, selamat! Mungkin kau sedang tertindih!Biar kuberitahu soal masalah ketindihan, ini bukan hal yang langka dan jarang terjadi. Kebanyakan orang sudah pernah merasakannya, aku pun pernah, haha. Eh, itu bukan sesuatu yang perlu ditakutkan, biar kuceritakan langkah aman yang mungkin harus kau tahu.Yang harus kau lakukan saat ketindihan adalah membaca doa sesuai kepercayaanmu. Setelah bait doamu selesai, kau boleh mencoba menggerakan jari telunjukmu. Kalau gagal, ulangi sekali lagi. Kalau masih gagal, kau boleh mencoba untuk menggerakan kakimu atau mungkin kepalamu. Kalau kau berhasil melakukannya tapi matamu tetap tidak bisa terbuka, cobalah menggeser tubuhmu menjauh dari pinggir kasur, itu akan membantumu sedikit. Kalau sudah, baca doa sekali lagi dan tidurlah. Besoknya kau akan kembali seperti semula.Hei, itu hanya ketindihan. Aku bahkan pernah mengalami yang lebih dari itu. Aku pernah menghadapi mimpi dimana aku mengira bahwa aku baru terbangun dari mimpi dan rupanya aku masih bermimpi. Ah, bahasaku aneh sekali, biar kuperjelas di bawah.Begini, bayangkanlah kau baru terbangun dari sebuah mimpi buruk. Kau sangat lega karena berasumsi bahwa itu hanyalah mimpi dan semuanya telah berakhir. Kau bangun dan melakukan aktivitas biasamu, namun kau tiba-tiba melihat kejadian aneh disekitarmu. Kau menyadari bahwa itu hanya mimpi dan mencoba untuk bangun.Kau bangun, bersyukur bahwa itu hanyalah mimpi. Kau mencoba mengingat mimpi burukmu barusan. Kau melakukan aktivitas dan lagi-lagi melihat kejadian aneh di depanmu. Kau lagi-lagi berusaha bangun.Kau bangun lagi, mencurigai bahwa kau masih bermimpi. Kau mencubit dirimu dan tak merasakan sakit. Kau mencoba bangun lagi.Berulang-ulang sampai kau tak bisa membedakan dunia nyata dan dunia mimpi.Ketahuilah bahwa saat itu, sebenarnya kau sedang menggantikan dirimu yang juga terlelap. Maksudku, dirimu yang lain, dirimu yang ada di dunia lain, dirimu yang juga mengira bahwa hanya ada satu dunia di semesta ini.Kau lagi-lagi bangun, namun kali ini kau mengalami ketindihan dalam mimpimu. Kau masih sadar sepenuhnya dan masih mengira-ngira apakah ketindihan ini terjadi di dunia nyata atau dunia mimpimu. Kau tidak bisa menyimpulkan. Kau hanya melihat gelap, dan kau bisa merasakan seluruh tubuhmu mati rasa dan tak bisa kau kendalikan.Begini, kalau kau mengalami kejadian seperti itu, kusarankan kau untuk tidur saja atau menunggu seseorang dari dunia nyata untuk membangunkanmu.Karena kalau kau bangun, ada dua kemungkinan.Yang pertama; kau benar-benar terbangun.Atau yang kedua; matamu terbuka dan kau akan langsung bersitatap dengan seseorang yang di atasmu.Biar kuberitahu, ini cara yang beresiko. Ini akan membuka indra keenammu selama beberapa saat. Setelah itu wujud diatasmu akan menghilang tanpa kau sempat menjerit, karena kau bahkan tak bisa mengeluarkan suaramu.Kau akan tertidur secara otomatis dan terbangun keesokan harinya, mengingat semua mimpi buruk itu.Tapi, setelah itu, jika kejadian tadi berulang kembali, apa kau akan berpikir untuk terbangun dari situasi seperti itu lagi?
Lilyon
"Woi, Lyon! Udah pagi!" seruku sambil memukuli Lyon dengan bantal.Enak aja dia malah enak-enakan tidur di sini. Berasa dayangnya, tau gak sih. Bangun pagi-pagi harus aku yang lakuin, diberlakuin kayak cowok sama Lyon sialan ini. Masak iya aku disuruh manjat ke jendela kamar dia? Iya, aku emang udah kebiasa manjat-manjat di jendela kamar dia, tapi kalau diperintahin langsung rasanya engga banget.Namaku Lily, aku udah SMA 3. Namaku cantik banget ya? Sayangnya orangnya nggak secantik namanya. Cowok yang tidur kayak kebo itu namanya Lyon. Dia childhood friend -ku sejak kami kecil, gatau deh dari kapan."Lyon! Kalau masih tidur, aku tinggalin nih!"Tetap aja dia masih tidur."Lyon!"Dan kesabaranku yang memang limit pun habis terkikis oleh ulah Lyon yang tak bergerak sedikitpun. Dia memang bakalan jadi mayat kalau udah tidur."AKU PERGI!" seruku sambil membanting pintu kamarnya keras-keras, lalu turun ke lantai bawah untuk menyapa Tante."Lho, Lily manjat lagi?" tanya Tante begitu melihatku turun ditangga. "Aduh, padahal kan kalau kamu menekan bel, pasti dibukain," ujarnya tak enak hati.Aku tidak bilang pada Tante bahwa Putra kedua-nya lah yang memintaku memanjat dan membangunkannya pagi-pagi. Habisnya kalau aku nekan bel, Tante pasti nyuruh aku nunggu di sofa yang ada di ruang keluarga, terus naik ke kamar sendiri buat bangunin Lyon. Kata Lyon, cara Tante bangunin dia itu TSADEST pake banget. Ya, aku mengakuinya, soalnya aku pernah lihat Tante membangunkan Lyon dengan cara berteriak, " KEBAKARAN !" atau " ADA KECOAK TERBANG !" Tapi reaksi Lyon lucu deh, dia ngeloncat dari tidurnya tiba-tiba gitu."Lyon-nya belum bangun?" tanya Tante sambil mencoba ngintip-ngintip dari bawah.Aku cuman ngangkat bahu. Harapannya sih, Tante naik sendiri dan bangun Lyon dengan salah satu jurus TSADESTnya, ini gara-gara aku udah kesal sampai pengen banget loncat-loncatin tubuhnya bak trampoline .Tapi Lyon sedikit beruntung pagi ini, soalnya pas Tante mau naik, dia udah keluar kamar sambil bawa handuk. Rambut-nya acak-acakan kayak singa, wajah dia kusut bak pakaian kusut. Heran aja akunya, kok banyak sih cewek yang suka sama dia?Aku dipaksa Tante untuk sarapan bersama keluarganya lagi . Di sana Kak Leo sudah makan roti isi selai kacangnya dengan nikmat, sedangkan Lyon sedang menggosok giginya di depan cermin berwastafel dengan malas-malasan."Lily nggak makan?" tegur Kak Leo memergokiku sedang memperhatikan Lyon mengusap wajahnya sendiri dengan mimik wajah yang lucu."Eh. Aku udah makan di rumah tadi.""Makan aja lagi, kamu kurus banget kayak lidi," balas Lyon terdengar mengejek. Aku menatapnya dengan tatapan tajam, bahkan sampai dia duduk bergabung di meja makan bersama. "Lily kurus kayak lidi," ulangnya dengan kening berkerut. "Wah, mirip! Aku memang jenius!""Hush, Lyon," tegur Kak Leo dengan bijak.Omong-omong, kak Leo memang bijak, keren, dan sangat-sangat berbeda dengan Lyon yang pencicilan. Ah, sudahlah, aku lelah membandingkan mereka berdua.Entah bagaimana ceritanya, selang beberapa menit setelah Lyon bahkan sudah menyelesaikan sarapannya, Tante tiba-tiba saja menjerit histeris. Aku yakin bukan cuma aku yang terkaget saking tiba-tibanya itu. Kak Leo dan Lyon juga ikut tersentak dan menoleh horror ke sang Ibu."Iih! Mama kok gitu sih?" tanya Lyon dengan nada tidak senang.Tante langsung berdiri menghampiriku dan menjabat tanganku dengan gerakan yang amat cepat, "Ya ampun, Lily sayang, Tante hampir lupa! Selamat ulangtahun ya, sayang. Semoga panjang umur, makin sehat, makin cantik, makin manis, makin makin deh, pokoknya!"Senyumanku melebar saat aku menyadari hal itu, ah, benar juga . Aku sendiri hampir melupakan fakta itu sampai Tante mengingatkannya."Terima kasih, Tante," balasku sambil tersenyum lebar."Duh ...," Tante mengelus kepalaku, "Kok masih manggil Tante, sih? Manggil Mama kenapa? Lily kan sudah lama bareng Lyon."Aku tertawa kecil. "Iya deh, iya. Mama sayang.""Ini kamu sudah tujuh belas kan? Aduh, Mama pengen deh kalian cepat-cepat married !" pekiknya sambil memelukku erat."Maa," tegur Lyon saat menyadari sifat over-antusias yang dirasakan Tante saat ini."Selamat ulang tahun ya, Lily." Kak Leo menjabat tanganku, melemparkan senyuman khasnya yang membuatku membalas jabatannya dengan salam yang sama."Hehe, makasih kak Leo."Lyon mengintrupsi. "Udah ah, udah. Kami mau ke sekolah, udah telat. Ada try out .""Yeeh, kamunya yang bikin telat." Aku memutar bola mataku malas."Pergi dulu ya, Kak, Ma."Usai Lyon memberi salim, aku melakukan hal yang sama dan langsung keluar dari rumah Lyon sebelum Tante over-reacted dan membuat kami makin terlambat hari ini."Eh, kita naik itu? Gamau naik angkot aja?" tanyaku sambil menaikkan sebelah alisku.Lyon menepuk bangku kosong di belakang sepedanya sambil tersenyum lebar. "Naik angkot mulu, mau jadi Nyonya angkot, apa? Sesekali Bang Lyon bonceng, dong. Sini."Aku pun duduk di bangku itu dalam keadaan menyamping. Meski sebenarnya aku lebih suka duduk dalam keadaan normal, tapi tentu saja aku harus ingat kalau aku sedang memakai rok."Nih." Lyon menyerahkan jaket kainnya untuk kuikat di pinggangku. "Oh ya, Selamat ulang tahun Lily, maaf telat, hehe."Aku memutar bola mataku bosan, "Udah biasa kok, kamu telat kayak gini. Jadi aku sama sekali nggak ngarep kaca jendela kamar dilempari kerikil, terus kamu-nya di bawah main gitar sambil bawa kue.""Gimana ceritanya, coba?" Lyon tertawa ringan. Bagian ini selalu menjadi favoritku. Selalu.Saat Lyon mulai menjalankan sepedanya, aku memeluk tasnya yang digantung di bahunya. "...Lyon, kapan kamu mau lurusin masalah ini ke Mama-mu?" tanyaku sambil menghela nafas. "Sudah berapa tahun mereka mengira kita jadian?""Boleh nggak usah lurusin, nggak sih? Toh kita sudah nyaman."Aku lagi-lagi menghela nafas, "Iya, tapi kan-"...Jadian karena omongan dan perasaan itu, beda kan?Aku sudah nyaman sama Lyon. Bukan sebagai sahabat .Ya Tuhan, bangunkan aku jika ini memang hanya keindahan sesaat.Lyon memang mengumbarkan kepada dunia bahwa aku adalah pacarnya sejak dia telah terlanjur mengatakannya pada Ibunya. Dunia tahu bahwa aku dan Lyon memiliki hubungan. Tapi, hanya aku seorang yang tahu tentang perasaan ini.Aku memejamkan mataku, memeluk erat tas Lyon yang jelas memiliki aroma khas Lyon. Semoga saja aku bisa melupakanmu saat kamu melepaskanku."Lily...."Aku tak berani membalas, takut pikiranku kacau dan salah mengungkap lagi."Apa aku terlihat tak seserius itu?"Ya. Tapi, suaramu tak terdengar seperti itu."Tidak," balasku pada akhirnya. "Bukan begitu.""Jadi?"Aku menarik nafas, "Aku hanya terlalu nyaman denganmu, sampai-sampai aku takut terlalu bergantung padamu. Seandainya suatu hari kamu menemukan gadis lain, apa yang harus kulakukan?"Lyon tertawa pelan, "Waw, sepertinya kita memang berjodoh. Kita punya kekhawatiran yang sama.""Jangan menganggapnya lelucon, Lyon," balasku malas."Tenang saja, Lily, aku belum pernah sekalipun menganggap hubungan kita lelucon. Aku bisa menjamin bahwa dimasa depan sekalipun, aku akan berpikir begitu."Omongan Lyon manis sekali, ya ampun.Terlalu manis sampai aku sangat takut."Aku sayang kamu."Tiga kata itu membuat semuanya pergi. Kekhawatiran, kegelisahan, ketakutan. Mengundang hal-hal menyenangkan lain yang membuatku terlupa akan segalanya yang kurasakan kini. Aku lupa segalanya, lupa bernafas adalah salah satunya."Lily, bernafaslah!" Lyon memberi arahan sekalipun matanya kni fokus menatap jalanan kota besar, dan ia masih sempat mengingatkanku sebelum aku benar-benar terlupa lebih lama dan kehilangan diriku. "Sudah bernafas?""Sudah," balasku jengkel, darimana coba dia tahu kalau aku menahan nafas tadi?"Kalau kamu?" Aku bisa merasakan Lyon mempercepat laju sepedanya. "Sayang aku, tidak?"Aku tersenyum dan berhenti memeluk tasnya, beralih menyentuh bahunya."Sayang, kok."Laju sepedanya yang melambat membuatku tahu bahwa dia bisa mendengarkan ucapanku tadi. itu benar-benar membuatku menghela nafas lega.Lega dengan semua ini."Ulangi lagi kata-katamu tadi saat kita pulang ya? Aku tidak bisa mendengarmu."Aku memukul pelan bahunya, "Aku tahu kau mendengarnya!"Entahlah, ini hadiah termanis yang pernah diberikan oleh seorang Lyon padaku. Semoga saja semua ini bertahan lama, lebih dari selamanya.
APPLE
Menyicip apel yang telah dipotong kecil sebelum memberikannya pada para bangsawan tentu saja adalah hal yang biasa kulakukan sebagai seorang pelayan, terlebih lagi setelah ramalan buruk itu muncul, bahwa di antara banyaknya apel yang terbentuk setiap waktu, ada satu buah apel yang mengandung racun.Ramalan itu baru muncul beberapa waktu yang lalu, saat pihak kerajaan menghabisi penyihir terakhir yang ada karena merasa terancam dengan keberadaan mereka.Aku tak bisa berbohong bahwa aku selalu mengambil keuntungan dari ramalan itu, pelayan seperti kami sangat jarang memakan buah yang segar.Kami bahkan boleh memakan apel yang ada di dalam karung setelah mereka mengambil apel yang paling berkualitas.Ramalan buruk datang tidak selalu membawa hal yang buruk, karena berkat ramalan itu, para manusia yang kelaparan di luar sana pun mendapatkan apel yang dibagi cuma-cuma."Hei, bagaimana bisa kau makan apel itu dengan tenangnya?" tanya temanku yang juga merupakan seorang pelayan dengan cemas, "Kau tidak takut akan memakan racun?""Satu dari sekian banyaknya orang, aku percaya bahwa bukan aku yang akan memakannya."Temanku itu hanya mengendikan bahunya tanpa membalas perkataanku sedikitpun. Aku merasa dia iri padaku, karena ibunya tidak akan pernah mengizinkannya memakan apel dan yang dia lakukan hanyalah melihatku memakan buah itu setiap harinya.Lihat saja tubuhnya yang kurus dan kulitnya yang kasar itu, terlihat jelas kalau dia kurang asupan gizi. Padahal, dia itu pelayan yang mengurus kebersihan kastil, bagaimana mungkin dia bisa melakukannya dengan tubuh kurus itu?Pokoknya, aku masih percaya dengan kata-kata pelayan di dapur, bahwa bekerja sebagai pelayan dapur adalah pekerjaan yang paling menyenangkan di kerajaan ini.*Aku tetap tidak bisa terlelap meskipun sudah berulang kali mencari posisi nyaman, rasanya tubuhku begitu gelisah tanpa tahu dan mengerti apa yang terjadi. Punggungku terasa panas-dingin, kuabaikan itu karena itu bukanlah hal yang tidak wajar.Keringat dingin mulai mengalir di pelipisku, jari-jariku terasa begitu gatal jika tidak digerakan, kakiku terasa lemas, dan rasanya nyeri di bagian jantungku tak terelakkan.Kepalaku mulai pusing dan mataku mulai begitu berat. Penglihatanku berkunang-kunang, nafasku mulai tersenggal karena sesak, dan lidahku terlalu kelu untuk menjerit memohon pertolongan.Akhirnya aku pasrah, mempercayakan apapun pyang akan terjadi kepada diriku terhadap kenyataan...Namaku terpanggil berulang kali oleh beberapa orang yang berbeda. Suara pintu yang dibuka-tutup terdengar lebih keras dari biasanya.Setelah memaksakan diri, akhirnya aku membuka mataku perlahan.Orang-orang masih memanggilku dan terus lalu-lalang tanpa mempedulikanku yang duduk termenung di depan mereka.Aku meratapi diriku sendiri.Aku percaya bahwa aku telah memakan racun itu.Karena jika tidak, tidak mungkin aku berubah menjadi makhluk kerdil dengan sayap transparan dibelakang punggungku.Bagaimana bisa aku menjadi orang tersial itu ?*Berita tentang diriku yang telah menghilang berhari-hari, membuatku begitu marah. Dalam sosokku yang tak berdaya, aku bertanya-tanya mengapa tidak ada siapapun yang mencariku.Mereka memang mencariku pagi itu, tapi hanya sebentar saja.Aku sangat bingung, mengapa mereka malah mengadakan pesta yang megah nan mewah, entah menyambut siapa atau mengadakan acara apa.Ayah dan ibuku bahkan tak mencariku, malahan mereka diberi banyak koin emas dan benda berharga lainnya oleh pihak kerajaan. Senyuman lebar mereka yang terlihat begitu senang mendapatkan benda-benda mewah itu membuatku tak mengerti.Aku tidak mengerti.Sampai akhirnya aku mendengar perbincangan mereka mengenai perihal itu...Dan aku sadar ..., pesta itu, kesenangan itu, dan semua imbalan itu adalah bentuk suka cita yang mereka perlihatkan karena satu-satunya apel beracun itu, kini telah lenyap termakan olehku.Tapi aku dikejutkan kembali dengan seringai Ayah yang mengerikan, lalu melambaikan tangan di depanku seolah dapat melihatku, aku menghilangkan keraguanku."Mereka itu bodoh ya?"Aku memiringkan kepalaku bingung, namun aku masih melihat mata Ayah yang menatapku fokus."Tunggulah beberapa hari lagi, kau bisa berubah menjadi manusia lagi setelah kita pindah ke kerajaan lain."Aku melongo. "Bagaimana dengan ramalannya?""Putri-ku yang lugu, haruskah aku menjawabmu?" Ibu mengelus kepalaku dengan telunjuknya. "Tentu saja apel itu masih ada, tunggu saja sampai ada manusia sial yang memakannya."Ayah memberikan sebuah cairan kepada Ibu. "Berikan dia minum, agar dia tak mengingatnya lagi nanti," bisik Ayah yang terdengar amat jelas di pendengaranku."Minum ini, biar kau lebih cepat menjadi manusia."Aku menelan saliva-ku tertahan, meski tahu bahwa cairan itu akan membuatku kehilangan ingatanku tentang ini, aku tetap saja meminumnya. Aku percaya pada Ayah dan Ibu.Kegelapan menuntunku untuk kembali terlelap.*Menyicip pir yang telah dipotong kecil sebelum memberikannya pada para bangsawan tentu saja adalah hal yang biasa kulakukan sebagai seorang pelayan, terlebih lagi setelah ramalan buruk itu muncul, bahwa di antara banyaknya pir yang terbentuk setiap waktu, ada satu buah pir yang mengandung racun.Ramalan itu baru muncul beberapa waktu yang lalu, saat pihak kerajaan menghabisi penyihir terakhir yang ada karena merasa terancam dengan keberadaan mereka.Aku tak bisa berbohong bahwa aku selalu mengambil keuntungan dari ramalan itu, pelayan seperti kami sangat jarang memakan buah yang segar.Kami bahkan boleh memakan pir yang ada di dalam karung setelah mereka mengambil pir yang paling berkualitas.Ramalan buruk datang tidak selalu membawa hal yang buruk, karena berkat ramalan itu, para manusia yang kelaparan di luar sana pun mendapatkan pir yang dibagi cuma-cuma.
I Hate You
"Cepet banget ya, kita kelas enam... bentar lagi ujian, habis itu perpisahan. Terus, kita semua mencar," gumamku sedih kepada kedua sahabatku."Hm," jawab mereka berdua dengan sama sedihnya."Cepet banget kita kelas enamnya, padahal dulu awal ketemu itu kita kelas satu SD... masih kecil banget kita," lirihku lagi, dan dibalas anggukan oleh mereka."Hanya ada satu hal yang tak berubah..." Aku menaikkan kepalaku, ingin mengatakan 'Persahabatan' guna membuat kedua sahabatku ini menangis terisak, sebelum akhirnya dia datang dan mengacaukan segalanya. "Persaha-""Yeah, tinggi badanmu."Tanganku seolah tercipta hanya untuk mencubit tangannya, sebab pemadangan dimana aku mencubitnya dan dia mengaduh kesakitan itu seperti sudah menjadi sarapan untuk seisi kelas--sudah biasa."AW!" Dia mengaduh kesakitan. "Apaan sih, kan aku bilang kenyataan!""Iya, gausah frontal kayak gitu juga dong!" makiku tanpa berhenti mencubitinya."Mesra amat, ciyeee," goda sahabat baiknya, yang membuatku memanas dan akhirnya memutuskan untuk menjauh dari mereka."Capek tau nggak sih, berantem mulu sama kamu! Sifatmu masih aja kayak anak-anak, padahal kita udah mau lulus SD!" seruku dengan berapi-api."Ye, kamu-nya juga kayak anak-anak, diledekin dikit langsung meledak," ucapnya dengan penuh dengan tatapan mengejek. Tangannya yang berada disisi tubuhnya tiba-tiba terangkat dan ditaruhnya di puncak kepalaku sebelum akhirnya menariknya kembali ke lehernya. "Tinggimu juga kayak anak-anak."Dan aku benar-benar meledak."AKU BENCI KAMU!"***Pada kenyataannya, setelah selesai ujian dan kami mengadakan acara perpisahan, melewati semuanya dengan begitu normal, aku tidak tahu bagaimana bisa aku masih bingung dengan diriku sendiri yang tak kunjung meminta maaf dengannya, meskipun aku tidak pernah merasa bahwa aku yang salah, karena yang diledekin itu aku, bukan dia.Aku masih marah dengannya sampai akhirnya salah satu temanku mengabarkan padaku tentang apa yang terjadi padanya setelah seminggu acara perpisahan kami terlewat."Hah?"Aku mengerjapkan mataku tak percaya. Dibalik telepon, perkataan mereka terdengar terlalu serius untuk kucerna. Aku sempat berpikir bahwa aku tengah di prank call atau mungkin ini usaha yang dilakukan oleh teman sekelasku yang tahu bahwa hubungan kami tak dalam keadaan baik-baik saja setelah aku membentaknya di depan kelas dan di hadapan semua orang, namun nada yang serius itu membuatku mau tak mau harus mempercayai perkataannya." Iya... Nanti kita mau jenguk dia, mau ikutan ?"Terdengar penuh dengan bualan dan dusta, namun aku tak percaya bahwa aku mempercayainya, dan dengan perasaan cemas dan penuh keyakinan, aku menjawab, "Iya, aku ikut."...Dan mataku tak bisa berhenti menatapnya--sama seperti teman-temanku yang lain, semuanya menatapnya iba. Matanya menatap kami semua dengan sorot bingung, sebelum akhirnya sahabat mainnya menunjuk dirinya sendiri dan berbicara dengan sedikit ragu."...Kau ingat aku kan?"Hening, kamar itu hening, semua orang dalam kamar menatap ke arahnya dengan penuh keingintahuan. Kami semua menghela nafas panjang saat dia menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan."Kamu benar-benar amnesia ya?" tanya salah satu temanku yang mendapatkan perlototan tajam dari kami semua, orang yang ada di sampingnya pun menyikut sikunya dengan amat kesal."...Apa aku pernah mengenal kalian sebelumnya?"Dan perkataannya itu sontak membuat seisi manusia dalam ruangan terdiam. Akupun tanpa sadar menahan nafas, tak percaya dengan apapun yang sebenarnya terjadi.Katanya, saat pendaftaran di salah satu sekolah ternama di kota kami, salah satu tiang listrik tak sengaja roboh. Tampaknya kepalanya terbentur kuat dengan batu kala ia mencoba menghindar. Siapapun pasti tahu mengenai robohnya tiang listrik yang membuat seluruh kota harus mengalami mati lampu selama semalaman, aku pun tahu. Aku hanya tidak tahu, kalau korban yang kami dengar itu ternyata...dia.Setelah agak lama mulai mengobrol dan memperkenalkan diri, juga setelah mencoba membantunya mengorek ingatannya dulu--meskipun tak sekalipun berhasil, beberapa orang pun memutuskan kembali.Aku masih duduk terdiam di tempatku, tak bergerak sedikitpun sampai akhirnya aku melihatnya menghampiriku dengan tongkat yang membantunya bangkit."Kamu belum pulang?"Aku menggelengkan kepalaku dan mengepalkan tanganku erat sekali, berusaha agar aku tak menangis di depannya. "Kamu ingat denganku?"Dia mengernyitkan keningnya, sedetik kemudian menggelengkan kepalanya pasrah. "Maaf, aku tidak ingat."Bahkan sifatnya yang berubah drastis itu, membuatku berpikir bahwa dia punya maksud terselubung--seperti yang biasanya dilakukannya."Kamu ...," Dia mendekatkan wajahnya, menatap mataku dalam. "Kamu terlihat tidak asing ..., uh, ya, mungkin karena kita memang pernah bertemu sebelumnya?""Ya," jawabku sangat pelan. "Aku sangat membencimu."Dirinya menatapku bingung, butuh beberapa saat bagiku untuk menarik nafas dan tersadar dari keheningan itu. "Aku minta maaf."...Kata-kata itu bukanlah yang kuharapkan akan keluar dari mulutnya."Kamu dimaafkan," ucapku sebelum akhirnya bangkit dari dudukku dan berjalan menuju pintu keluar."Kamu mau kemana?""Aku sudah menjengukmu, ini sudah malam. Aku tidak mau ketinggalan bus pagi besok." Aku memincingkan mataku, menatap matanya yang kini menatapku bingung--atau memang sedaritadi menatapku bingung. Dan saat itu aku sadar, dia benar-benar kehilangan ingatannya. "Kuharap ingatanmu cepat pulih, kudengar dari dokter, kamu akan mendapatkan ingatanmu kembali dalam waktu singkat ini.""...Kamu mau pergi?""Yah," balasku singkat. "Sejauh-jauhnya, menjauhimu."Aku membuka pintu dan menutupnya tanpa berkata apa-apa lagi.*Sepuluh tahun kemudian ...Rasanya aku patut ditertawakan nantinya. Maksudku kebanyakan teman-temanku sudah menyelesaikan tugas akhir mereka dan terbebas dari kutukan maut itu, sementara aku? Dosen pembimbingku sepertinya tak menyukaiku. Dia mencibirku terang-terangan, semua hal yang kuajukan ditolak dengan alasan tak manusiawi.Kemarin lusa mungkin adalah hal yang kebetulan. Sebab aku tak biasanya membuka sosial media disaat aku memiliki tugas. Salah satu temanku mengirimkan undangan tentang reuni SD kami, dan acaranya akan berlangsung nanti malam.Yeah, karena itulah aku lesu sedari kemarin. Mungkin saja kebanyakan mereka sudah menyelesaikan skripsi mereka--seperti teman-teman angkatanku?Kutarik koperku dengan sedikit malas, ini terdengar gila, namun Ibuku menyarankan agar aku mengunjungi kota kelahiranku selama seminggu ini. Mungkin saja beliau tahu betapa gila-nya aku setiap pulang kuliah dan menghadapi dosen itu.Dan bye! Melupakannya memang saat terbaik saat ini!Rumahku memang terletak di tempat yang lumayan strategis, karena jauh dari jalan besar namun di sekitarnya sangat banyak perumahan. Meskipun lahan hijaunya tak lagi sebanyak dulu, tapi tetap saja tempat ini masih sangat segar berapa kalipun kau mengunjunginya. Kota besar tempat aku menaung ilmu sekarang, tentu saja lebih minim lahan hijau daripada di sini.Di depan rumah, Bi Surti telah menyambutku dengan senyum sumirgah, aku pun membalasnya dengan senyuman lebar. Bi Surti diberi kepercayaan oleh Ibuku untuk menjaga rumah kami di kota kelahiran ini. Melihat fisik rumahku hanya dari taman dan pohon-pohon yang digunting rapi, aku percaya bahwa dia melakukan tugasnya dengan baik.Sudah sepuluh tahun aku meninggalkan kota kelahiranku ini. Masa SMP dan SMA di kota besar benar-benar berbeda dengan di sini. Di sana, kita mengikuti gaya kehidupan mereka. Aku tidak membandingkan, tapi memang di sana dan di sini sangatlah berbeda.Tidak ada yang berubah di sini, begitupun kenangan dulu.*Dan di sinilah aku, di cafe yang 'lumayan' ternama di kota ini. Bersama beberapa orang yang kurang kukenal, namun mereka berbicara dengan sangat akrab kepadaku. Padahal, aku sama sekali tidak merasa kenal dengan mereka, tapi biarlah, daripada aku sendiri di sini, kan?Orang-orang yang datang belum terlalu ramai, karena aku memang datang lebih awal daripada jadwal yang telah ditentukan--begitupun orang-orang disini. Kukira saat reuni, aku hanya akan mengobrol dengan orang yang kukenal dan sekelas denganku saja, rupanya perkiraanku salah.Karena pakaian wajib di acara ini adalah dress, aku mengenakan dress pastel tanpa lengan selutut yang kubalut dengan cardigan putih. Selama diperjalanan tadi aku amat panik dan hampir berbalik pulang saat aku membayangkan mereka semua datang dengan dress formal yang biasanya digunakan saat acara-acara yang formal pula, untungnya dugaanku salah.Saat orang-orang mulai berdatangan, aku berpencar dengan orang-orang tadi (yang tadi kusebut ramah), sepertinya mereka juga sibuk untuk bertemu dan bersapa ria dengan teman-temannya dulu. Aku pun bertemu dengan beberapa teman sekelasku. Tidak ramai yang menggunakan dress informal, itu benar-benar membuatku canggung.Tadinya aku memilih untuk tak menyesal, sebelum akhirnya aku merutuki diriku sendiri karena lupa dengan pakaian wajib pria yang diharuskan memakai jas. Ini benar-benar canggung. Jadi, aku memutuskan untuk melepas cardiganku dan menyimpannya dalam tas. Untunglah karena ini, aku tak terlihat aneh seperti tadi."Eh, lihat!" Temanku menunjuk keberadaan pintu yang membuatku ikut menoleh ke sana.Dan aku melihatnya.Dia sedang berbincang dengan teman-temannya yang lain. Jas hitam yang dikenakannya benar-benar pantas di tubuhnya. Aku hanya bisa berbalik kembali dan bertanya pada teman yang tadi menunjuknya."Ingatannya udah balik?"Temanku itu hanya mengangguk mengiyakan, lalu mengambil gelas berisi minuman berwarna merah yang aku tidak tahu apa namanya. "Hm, beberapa hari setelah kamu pindah, ingatannya kembali."Aku menghela nafas panjang. "Sudah kubilang kalau ingatannya itu akan segera kemba-""Hei." Seseorang menepuk bahuku membuatku merinding. Temanku itu langsung ngacir pergi begitu melihat siapa yang berbicara, sedangkan aku enggan berbalik ke belakang. "Kamu tidak dengar, aku memanggilmu?"Dengan berat hati, aku berbalik ke belakang, "Oh, hei...""Gimana kabarmu?""Baik," balasku canggung. "Uhm, kabarmu?""Aku juga baik," Lalu dia memperhatikanku dari atas hingga bawah. "Wah, kukira tinggimu bakalan segitu terus."Dia tetap menyebalkan!"Kukira kamu berubah, kamu masih menyebalkan!" hardikku sambil membuang muka."Kamu masih membenciku?" tanyanya dengan nada seperti tengah menggoda dan meledekku."Tentu saja!"Pembicaraan terhenti saat salah satu temanku--yang aku lupa namanya--naik ke atas panggung dan mempersilahkan kami semua untuk duduk. Mataku tak henti-hentinya menatap pria di sampingku dengan tajam."Kamu ngapain ikutin aku?" tanyaku tak terima.Dan aku berani bertaruh, jawabannya pasti bisa membuatku jengkel."Memangnya acara ini punya kamu?" balasnya santai, membuatku ingin mencungkil matanya keluar. Baiklah, kurasa aku harus berhenti membaca cerita psycho.Aku memilih tempat duduk yang berada di paling ujung, dan aku hanya bisa menatapnya kesal karena dia mengambil tempat di sampingku.Saat acara dimulai dengan pertunjukan sulap, nyanyi dari teman-teman angkatanku itu, aku mulai bosan dan bangkit menuju meja tempat dimana makanan dan minuman dihidangkan. Kulihat sebotol vodka tersedia di atas meja, dan aku tanpa ragu menuangkannya di dalam gelasku."Kamu yakin minum itu?" Terdengar suaranya di belakangku, membuatku berbalik dan menatapnya bosan."Aku bukan tipe yang tidak tahan minum," balasku santai. "Aku hanya minum sedikit," lanjutku saat kulihat wajahnya menegang. Kupikir dia bukan tipe pria yang bisa minum, entahlah."Kalau begitu...," Dia juga menuangkan vodka ke dalam gelas kosong, dan tanpa persetujuanku dia bersulang padaku. "Bersulang!"*Aku kewalahan.Sialnya, aku benar. Dia benar-benar bukan tipe pria yang tahan minum.Dia sudah menyandarkan punggungnya di sandaran bangku dan sesekali meracau entah mengatakan apa. Padahal, acara sudah selesai dan foto reuni sudah dilaksanakan tadi. Banyak orang-orang yang sudah pulang, tapi karenanya, aku harus tetap berada di sini."Kau pulang saja, deh." Temannya mengingatkanku."Maunya juga gitu sih, tapi ...," Aku meratapinya yang kini tidur terlelap tanpa mengatakan apa-apa seperti tadi."Tenang saja, nanti kami bawa dia pulang," balas temannya yang membuatku menghela nafas lega. Baru saja aku bangkit, temannya bertanya lagi. "Kau pulang sendiri?""Aku bawa mobil," balasku singkat. "Tolong ya, urusin anak satu ini. Aku duluan.""Ya, hati-hati."Baru saja aku hendak pergi meninggalkan tempat itu, aku mendengar suara keras di belakang sana, yang membuatku reflek berbalik lagi memastikan keadaan.Ah, dia sudah bangun."Kamu mau kemana?" tanyanya dengan mata sayu dan suara serak khas baru saja bangun. Aku hanya bisa mengerutkan kening bingung, sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan langkahku keluar. "Tunggu!"Aku memekik saat merasakan tangannya menahan pundakku. Dengan sedikit kesal, aku berbalik ke belakang. "Aku mau pulang."Teman-temannya ikut menahannya saat menyadari kekesalanku. "Sudahlah, dia mau pulang. Kau-""Aku ikut kamu pulang ya?"Aku melotot galak, lalu menggeleng cepat."Ya?""Enggak boleh!" balasku tegas."Kalau gitu, ayo kita ngobrol sebentar." Dia menarik pergelangan tanganku, lagi-lagi sukses membuat mataku membulat. Aku menatap ke arah teman-temannya yang hanya bisa menggeleng-geleng seolah memintaku pasrah saja."Kita kan sudah ngobrol tadi!""Tapi belum selesai," balasnya.Aku melotot lagi, "Kalau begitu, cepat selesaikan!""Kok buru-buru? Kamu mau kemana?""Aku mau pulang!" jeritku tak terbendung. Inilah mengapa aku kesal setengah mati bicara dengan orang mabuk."Kamu, jangan jauh-jauh dari aku ya!" pintanya layaknya anak-anak, namun sukses membuatku melongo. "Aku nggak bisa...""Kamu ngomong apaan sih?" tanyaku kebingungan. Dia nanya apa, aku jawab apa, dia entah ngomong apa.Ekspresinya berubah cemberut. "Jangan benci aku. Sedaridulu aku ingin memberitahumu langsung seperti ini.""Telat, aku udah benci kamu," balasku enteng. "Udah? Udah ya?""Terus ...," dia menjeda selama tiga detik. "Terus kalau aku suka kamu, gimana?"Hening.Aku berusaha mencerna perkataannya."Huh?"Itu jawaban terbodoh yang pernah kujawab di sepanjang pertanyaan yang ada. Bahkan saat guru bertanya dan aku tak bisa menjawabnya, setidaknya bukan jawaban bodoh itu yang keluar dari mulutku. Atau saat aku diskakmat oleh dosen pembimbingku, aku masih bisa menjawab pertanyaan lain.Sudah kubilang itu jawaban terbodoh yang pernah kujawab."Kamu ngerti aku bilang apa," balasnya dengan suara kecil. "Kamu bukan anak-anak lagi kayak dulu. Kamu pasti ngerti."Tunggu.Tunggu dulu.Sekilas, tatapannya yang menatapku dalam itu, kembali membuatku teringat dengan kejadian dulu. Yeah.Sudah sangat lama.Kala itu, kami berdua masih dalam masa sekolah dasar kelas lima SD.Dan dia mengatakan hal yang sama." Aku lebih suka padamu daripada dia. " Dia membandingkanku dengan salah satu temanku.Tapi saat itu aku masih terlalu polos untuk mengerti maksudnya. " Kamu nggak boleh gitu. Dia kan juga baik ."Maksudku saat itu, dia tidak boleh membanding-bandingkan teman.Tapi sepertinya aku salah.Dan yang aku ingat, setelah kejadian itu, dia sering meledekku 'pendek', 'kurang tinggi', 'tumbuh ke samping' dan lain-lain (pokoknya yang bisa bikin aku kesal)."Aku sedih saat tahu kamu akan pindah," gumamnya. "Makanya, aku bermaksud menemuimu setelah selesai mendaftar."Aku masih diam--masih tak percaya apa yang sedang terjadi sekarang."Tapi aku tidak bisa bertemu denganmu. Saat kita bertemu untuk terakhir kalinya, aku malah nggak ingat kamu," ucapnya panjang-lebar. "Setelah kamu pergi, aku baru bisa mengingatmu. Kamu bilang mau pergi sejauh mungkin dari aku, jadi kukira kamu masih membenciku.""Aku... memang membencimu," jawabku pendek. "Aku hanya bercanda," ucapku cepat saat kulihat ekspresinya kian berubah. "Aku sama sekali tidak membencimu.""Benarkah?""Tapi aku juga tidak memikirkanmu selama aku pindah." Aku melipat kedua tanganku. "Oke, hanya beberapa kali, mungkin.""...Lalu?""Kukira aku mengkhawatirkanmu.""Maafkan aku."Aku berdengus kesal. "Aneh sekali mendengarmu minta maaf. Baiklah-baiklah, aku memaafkanmu.""Ugh... lalu bagaimana? Kamu... mau?""Mau apa?" tanyaku bingung. Hanya butuh sedetik untuk mencerna kata-katanya. "Oh... itu...""Ngomong-ngomong aku serius dengan kata-kataku dari dulu," ujarnya tegas. "Kecuali saat aku bilang kamu pendek.""Kamu memulainya lagi!" kataku tak terima. "Baiklah."Aku membulatkan mataku saat merasakan tubuhnya memeluk tubuhku, sebelum akhirnya melepaskanku dan melemparkan senyuman tipis. "Terima kasih."Aku hanya bisa tertawa kecil, "sama-sama."***
Mata Seorang Remaja
Sebuah sungai terbentuk di wajah sayu Bunda: panjang, amat panjang. Tidak ada yang dapat menghentikannya dan memang tidak sepantasnya dihentikan; Bunda ingin menikmati dingin airnya bersama harum bunga kamboja yang jatuh di pusara Rian."Rian, kamu cerdas, pantas untuk menjadi dokter seperti kami."Masih basah; dan Bunda berharap dapat kembali mendengar kisah-kisah menakjubkan Rian-pecinta sains sekaligus seni rupa, putranya yang santun dan selalu tersenyum, permatanya-sebagaimana dahulu ia mendengar tangis Rian di dunia. Masih sama; bahkan kisah terakhir Rian tentang kunjungan ke tempat yang terkena wabah tetaplah bersemangat serta menggugah.Pelukan itu masihlah Rian yang ia kenal.Oleh karena itu, pantaslah jika sungai terbentuk dan urung hancur ketika permatanya, anak semata wayangnya, tertidur bersama lautan darah dari nadi yang telah terluka parah. Sebanding dengan duka, Bunda justru bertanya: mengapa bisa demikian?"Rian, kamu selalu tersenyum dan menceritakan banyak hal hebat pada Bunda, termasuk kamu yang ikut serta dalam kelompok peneliti khusus tahun ini. Kamu tidak pernah mengeluh, lalu apa yang salah?"Tidak ada yang sanggup menjawab, sedangkan suara itu, pelukan itu, kisah-kisah menakjubkan itu... Menyiksanya secara perlahan.*Wajah Bunda masih mendung ketika ia memasuki kamar itu (yang tertata rapi meskipun empunya telah pergi). Tidak ada lipatan di seprai biru dan komputer sempurna mendingin dengan partikel debu di sekitarnya, ibarat tempat itu telah lama ditinggalkan (dan akan begitu kodratnya)."Apa ini?"Ia tengah menyusuri ruang memori ketika menemukan tumpukan kertas berkerut. Sebuah surat-catatan, mungkin, sebab wujudnya menyerupai kertas lusuh-yang amat santun, tulus, dan menohok di saat bersamaan.Tuhan, maukah Engkau membaca suratku untuk kesekian kalinya?Bunda, aku ingin berkata bahwa aku amat menyayangimu, tetapi kata itu selalu habis di tenggorokan: sama seperti saat aku berkata jurusan ini bukanlah keinginanku dan prestasiku tidak secemerlang bayangan Bunda. Aku ingin menjadi desainer grafis, tetapi amat sulit percaya bahwa aku bisa (aku tidak akan bisa secemerlang Bunda ataupun Ayah). Aku tidak pernah yakin pada cita-citaku, aku berusaha pasrah pada permintaan Bunda tapi rasanya amat menyesakkan.Aku sekarat, tolong aku, Bunda... Benda itu bahkan menjadi momok menakutkan bagiku.Bunda , rasanya ingin mati... tapi aku akan bertahan sampai keinginanmu terwujud.Bunda tercekat lama. Amat lama.Hari itu, hujan turun memenuhi sungai Bunda-deras, amat deras-bersamaan dengan ditemukannya banyak coretan kasar yang terselip di buku catatan, di kertas sampah, di meja kayu yang tidak lagi mulus, di ponsel yang tidak pernah terkunci-lalu, barangkali, akan butuh banyak waktu bagi Bunda untuk berhenti menangis menganak sungai serta memaafkan dirinya yang gagal menjadi orang tua.*Dunia kami sangat liar serta penuh permainan tipu-tipuan; karena itu, para orangtua, lekaslah pergi ke kamar anakmu dan renungkan hal ini sembari memandang wajahnya yang terkadang gelisah: apakah anakmu baik-baik saja? (*)
Kadar Kemanusiaan
Kendati telah bekerja di Departemen Kesehatan Nasional, Silla selalu mengingat potongan dongeng yang Ibu ceritakan: " Tempat tujuan mereka adalah sebuah tempat yang bahkan lebih sulit diimajinasikan oleh kebanyakan dari kita daripada untuk membayangkan kota kebahagiaan ". Orang-orang Omelas, demikian Silla menyebutnya, adalah gambaran betapa manusia telah diperbudak oleh nurani dan kemanusiaan itu sendiri.Setelah perang nuklir terjadi, dunia diselimuti oleh ketakutan akan dampak radiasi. Bunga matahari dibudidayakan, banker-banker dibuat, pemeriksaan barang yang berpotensi terkena dampak radiasi diperketat. Limabelas hari setelah kiamat, negara-negara yang selamat menerbitkan undang-undang perihal suntik mati atas korban paparan radiasi tingkat menengah hingga atas. Kebijakan tersebut diambil untuk meminimalisir pasokan makanan korban selamat dan sepenuhnya dibebankan pada Departemen Kesehatan.Sialnya, Silla lah salah satu dewa kematian tersebut. Maka, tidak heran bila ia dihadapkan oleh banyak nyawa sekarat tiap harinya. Baju anti-radiasinya pengap, tetapi pikirannya sesak oleh pertanyaan monoton: apa itu kemanusiaan di era serbarasional seperti ini?Pertanyaan itu meliar hari demi hari, menghantui layaknya kegilaan negara adikuasa; dan, ketika wanita yang terpapar radiasi 3 Gy itu datang, Silla tidak kuasa menahan gemetar.Rambut wanita itu rontok dan epidermis kulitnya tidak berhenti mengeluarkan darah—tetapi bukan keadaan mengerikan itu yang menjatuhkan pertahanan Silla, melainkan fakta bahwa tanpa bersitatap pun, Silla dapat membayangkan senyuman wanita tersebut.Apa itu kemanusiaan? Apa dan siapa itu "manusia"?Pertanyaan itu menguat ketika Silla mendekat, memperhatikan wajah merah yang matanya ditutup oleh kain hitam.Kala itu, seketika, kisah orang-orang Omelas bergaung membabi buta; bercampur dengan pernyataan gila dari dua negara adikuasa yang melantakkan mimpinya, mimpi banyak orang, mimpi umat manusia.Silla menahan napas, memandangi sosok itu dengan sayu.Ibu, pantaskah kita—aku—disebut manusia?Butuh banyak waktu untuk menjawab pertanyaan kosmik tersebut, tetapi hanya sedetik bagi Silla untuk menyadari, mengingat, betapa manusia di ruangan itu dipenuhi oleh derita, rasa sakit oleh dampak permanen nuklir, serta keputusasaan... yang menghantui, menyakiti, sampai mati.Semisal, masa tigapuluh hari terlewati dengan selamat dan mereka berhasil hidup dengan membawa partikel radioaktif dalam tubuh mereka, penyiksaan mental (hinaan serta fakta mereka hanya akan hidup di atas ranjang ruang isolasi) tetap menghantui; dan itu membuat Silla bertanya: Apakah membiarkan seseorang menderita selama sisa hidupnya ... adalah hal manusiawi?Silla terdiam. Pikirannya bermutasi.a melanggar prosedur suntik mati dan membisikkan sesuatu ke telinga yang tidak berhenti mengeluarkan darah tersebut, "Ibu," Tubuh wanita itu menegang, "aku menyayangimu. Aku tidak akan membiarkanmu kesakitan. Aku harus mengakhiri semua ini."Hening untuk waktu yang lama."Ibu mengerti, 'kan?"Yang dimaksud menarik bibirnya; dan langkah-langkah itu terdengar jelas di telinga.Silla menyuntikkan potasium klorida pada lengan beruam ibunya ... atas nama kebejatan negara tetangga, atas nama dunia yang tidak lagi ramah, atas nama kemanusiaan yang diperjuangkan orang-orang Omelas ... bahwa kemanusiaan masih ada di dunia.*Beberapa sesepuh idealis berkata bahwa inilah zaman rasionalitas, di mana kemanusiaan dibuang untuk membentuk keturunan-bebas-radiasi; tetapi, Silla, dengan tegas menyatakan bahwa kadar kemanusiaan mereka bukan berkurang, melainkan mengalami resistensi ... sebuah evolusi.Kemanusiaan adalah hal yang dilakukan untuk membahagiakan orang-orang—membebaskan mereka dari rasa sakit duniawi—'kan? Jadi, bukankah dengan membebaskan orang-orang itu dari rasa sakit ... sama saja dengan memelihara rasa kemanusiaan dalam diri kita? (*)
Konsekuensi
Apa yang mesti kulakukan?Setiap ujian, ketimbang menghafal Dalil Menelaus dan Hukum Avogadro, Amer memilih memikirkan apa yang mesti ia lakukan. Sudah bukan rahasia lagi jika budaya menyontek telah mengakar di kalangan pelajar; masalahnya adalah bagaimana kau beradaptasi dengan teman-teman yang saling berbisik; buku dan ponsel yang disembunyikan dari lingkup pandangan guru; tangan-tangan yang mencolek bahumu.Awalnya, Amer mengatasinya dengan baik (ia tersenyum dan menolak permintaan mereka). Namun, masa SMA menuntut kebebasan berlebih. Tahu-tahu, keramaian saat ulangan harian menjadi hal yang familiar, dan Amer hanya bisa diam di meja terdepan bersama Fikha, teman seperjuangannya sejak SMP."Mer, apa yang harus kita lakukan?""Udahlah, jalani saja seperti waktu SMP."Wajah-wajah berharap itu masih datang, tetapi lamat-lamat kian kentara lelah, marah, muak ... sampai pada satu titik, pandangan mereka berubah amat sinis pun dingin. Intensitas pertanyaan saat ujian menurun—terus, terus—sampai akhirnya lenyap; lalu, tiba-tiba, keadaan menjadi amat sunyi bagi mereka berdua.( Apa yang mesti kulakukan? )"Kita harus dinamis, Amer. Apa salahnya, sih, memberikan satu-dua jawaban pada mereka?" putus Fikha suatu hari. Amer ingin mengatakan banyak hal pada gadis berkerudung putih tersebut, tetapi manik sendu Fikha membuatnya gamang. "Toh, niat kita, 'kan, untuk mendapat teman... bukan untuk berbuat dosa. Niat kita baik, 'kan?"Apa itu kesepian? Apa itu makhluk sosial? Sains mengatakan bahwa spesies terkuat adalah mereka yang dapat beradaptasi dengan lingkungan; tetapi apakah ikut serta dalam kecurangan adalah sebuah "kebenaran"? Apakah menjadi "makhluk sosial" adalah salah satu bentuk kemanusiaan?Salahkah ... jika manusia menjadi jahat hanya untuk mempunyai teman?"Siapa yang tidak mengerjakan Uji Kompetensi 1?""Amer, Bu!"Apa yang mesti kulakukan? —Amer memendam pertanyaan itu dalam-dalam, kemudian tertawa dalam hati lantaran tahu ia selalu kembali pada jawaban serupa: bahwa ketimbang beradaptasi, ia memilih menjadi spesies yang punah.Amer bangkit, tersenyum miris, lantas begitu ke luar kelas, ia ingat ketika teman-teman nya memilih untuk tidak memberitahukan tugas ketika ia sakit atau dispen olimpiade; saat ia dipaksa menyelesaikan tugas kelompok sendirian; tatkala ia didepak dari grup dan harus bersusah payah bertanya pada Fikha (yang masih sudi berkomunikasi dengannya)—dan, ketika semua ingatan itu terangkum dan dikaji secara menyeluruh, ia menemukan sosok dirinya yang lain... yang terlihat amatlah kesepian.*Lorong lengang; Amer menatap tiang bendera yang kentara jelas dari jendela besar di lantai dua. Ia kini sendirian, selalu demikian, dan ia paham mengapa bisa terjadi: bahwa mereka yang menentang bakal dikucilkan. Itulah hukum absolut di kelas mereka.Amer tertawa keras, menertawakan dirinya yang menyedihkan—ortodoks: yang memuja kejujuran alih-alih mencari kawan. Semua orang paham bahwa tidak ada manusia yang memilih sendirian; tetapi, barangkali, tidak akan ada yang mengerti bahwa ujian melawan diri dan ego sendiri lebih mengerikan ketimbang menghadapi sesuatu bernama "nilai" dan "peringkat"."Aku kesepian, Sialan." (*)
Matahari di Pangkal Samudra
Perempuan itu telah bersuami-cucunya genap balita beberapa tahun lalu-tetapi ia selalu tepekur di sana, memilin kenangan, sembari memandang senja yang mengambil paksa pria itu ... yang berjanji akan membawanya mengarungi samudra.Ri-Matoari-sama seperti kebanyakan pemuda Mentawai: berkulit hitam terbakar matahari. Ia yatim piatu dan sesekali mencuri hasil ladang orang-orang untuk bertahan hidup. Ketika Manua memergoki Ri mencuri hasil ladang bapaknya, Manua langsung tahu pemuda itu punya mata yang berbeda. Tidak seperti kebanyakan penduduk Mentawai yang bekerja di ladang serta berburu di hutan, Ri sering mengunjungi pesisir Mapadegat untuk melihat laut serta para turis. Ia badung; tetapi dari kebadungannya itulah Manua tersihir untuk terus duduk di sampingnya, mendengar betapa semangatnya Ri dalam menceritakan mimpinya.Ri ingin mengarungi dunia, pergi ke Dataran Sumatera, menjadi nahkoda ke Gujarat, bahkan mampir ke Tanjung Harapan. Katanya, ia ingin melihat dunia .Manua mempelajarinya di sekolah, tetapi Ri menceritakannya dengan bergairah ... dengan semangat meletup di manik arangnya. Manua tidak jemu mendengarkan di sampingnya, dengan khidmat pun setia, setiap hari, setiap sore."Saya akan membawamu mengarungi samudra," ucapnya suatu hari; dan gadis bergigi tajam itu tertawa meremehkan, bertanya alasannya. Ri menjawab sembari memandang senja di lepas pantai Mapadegat, pantai kebanggaan mereka, "Karena kamu istimewa."" Kamu orang pertama yang mau menerima saya-setelah laut, pasir putih ini. Kamu seperti matahari. Jadi, kamu sangat istimewa ."Senja melahap wajah bersemu Manua ketika Ri mengatakan hal itu.Mereka tumbuh dengan tawa di bawah sinar matahari serta di rerimbunan pohon bakau. Mereka menebar impian di perairan Hindia sembari menggambarkan banyak mimpi indah. Mereka menunggu Tuhan memberikan satu kesempatan itu sehingga Ri dapat berlayar ke Daratan Sumatra; lalu Manua akan ikut bersamanya mengarungi dunia."Saya akan memastikan bahwa laut menerima kehadiran kamu," kata Ri saat kesempatan pertama datang. Manua tertawa; Ri tertawa; takdir tertawa terbahak.Sore itu, badai menghantam, memporakporandakan ruang kecilnya, membawa serta Ri dalam dekapan Ibu Laut; selamanya. Orang-orang mengatakan ia telah kandas dihantam ombak; beberapa mengatakan ia menemukan pekerjaan menarik dan akhirnya menetap di suatu kota, menikah, lantas melupakan semua-tetapi telinga Manua mendenging. Ia tidak mendengar apa-apa dan memilih tidak mendengar apa-apa. Perlahan, ia menjadi karang di sudut Mapadegat; menunggu sembari memilin kenangan yang berubah menjadi fosil tak kasat mata. Menunggu seseorang datang dari pangkal samudra dan mengajaknya mengelilingi dunia.*Perempuan itu telah habis dimakan usia; kulitnya telah bergelambir pun keriput, tetapi ia tidak pernah lelah duduk di atas karang: menghabiskan waktu, menunggu Ibu Laut melumatnya ke dasar Hindia dan ia dapat melupakan semua kenangan itu.Tidak ada yang tahu ia terus menerus menunggu; dan memang tidak ada yang perlu tahu.Sore itu, laut bergemuruh; matahari mengirim seseorang dalam perahu. Seorang remaja laki-laki. Kulitnya hitam terbakar matahari. Gigi putihnya bersinar mengalahkan semburat jingga yang menelusup lewat tubuh kokohnya di usia muda. Dan, Manua tidak kuasa menahan senyum. Telapak kakinya telah pecah-pecah oleh panas, tetapi ia tetap berdiri dengan gemetar, mengeja: sudah lama, Ri, sudah sangat lama.Remaja itu mengulurkan tangan, tertawa jenaka. "Halo, Manua! Saya tahu ini terlambat, tetapi masih ada waktu untuk mengarungi samudra, bukan?" (*)
Kegelapan yang Membebaskan
Tidurlah, bukankah kau sudah lelah menangisinya?Lihatlah! Ada laba-laba yang merangkak di sudut dinding yang catnya mengelupas. Ada tirai jendela yang berkibar ketika udara di sekitarmu semakin dingin. Lalu, barangkali, ada sosok yang mengintip dari balik jendela.Dengarkan! Keheningan yang merambat teramat ganjil; tetes air dari kamar mandi yang sedang tidak dipakai; laju kendaraan yang kian jarang, kemudian menghilang; desah napasmu yang semakin tidak beraturan. (Kamu ketakutan oleh semua itu, 'kan?)Selimut hangat itu membuatmu gerah. Aku tidak dapat menahan tawa melihat matamu yang memerah, persis anak kecil. Elta, kalau dipikir, kau masihlah anak kecil yang berbinar ketika mendapat surat dariku. Aku masih ingat, dulu, kau lekas memberikannya pada Bunda sembari menceritakan diriku dengan bersemangat—aku pun masih ingat wajah kebingungan Bunda ketika membacanya (ia memandangmu sembari mengulang namaku, "Rea?"). Kau tidak pernah melihatku, tetapi surat-suratku cukup untuk mendorongmu berdoa agar dapat bertemu dan bermain denganku.Aku ingat, itulah hari terakhir aku merasakan kebahagiaan.Beberapa minggu kemudian, kau menangis karena diganggu bocah sialan dari kelas sebelah. Tas sekolahmu basah karena masuk selokan. Kau menangis seharian, mengabaikan suratku, karena takut tidak dapat mengikuti pelajaran.Saat itulah, Elta, aku meminta izin pada Tuhan agar bisa memelukmu, tetapi Dia melarang. Kata-Nya, kita tidak bisa bertemu. Kata-Nya, dunia kita berbeda ... dan kini aku paham maksud itu semua; karena itulah kita melakukan permainan ini, 'kan?"Kau itu cahaya dan selamanya cahaya, jadi jangan pernah takut padaku." Matamu mulai mengerjap, berusaha menahan kantuk, padahal ketakutanmu telah sampai di ubun-ubun. Ini pukul tiga dini hari, saatnya "mereka" bangkit buat menakuti, saatmu untuk tidur setelah terjaga tiga hari penuh, menangisi dia yang tidak mungkin kembali."Saatnya kamu berhenti berjuang untuk dia yang tidak lagi memikirkanmu, Elta."Kamu orang baik, Elta, anak kecil polos yang berpikiran positif pada semua orang. Aku tidak bisa mengubahnya, tetapi aku akan berusaha agar kau tidak dipandang sebelah mata.Pejamkanlah mata ... dan rasakanlah esensi diriku yang meluap-luap dalam tubuhmu. Lalu, di satu waktu, ketika kau tidak dapat menahan kantuk dan mulai mendengar suaraku di kamarmu yang sangat hening, menyerahlah, dan serahkan kebebasanmu untuk kupakai sebagai kegelapan... beberapa jam saja. Kau tahu bahwa aku hanya ingin membantu. Jadi, mengertilah di detik-detik ketika kesadaran kita nyaris bertemu."Mengapa kau sangat keras kepala? Kita sudah bermain hal ini sejak berumur tujuh tahun dan kau tahu akulah pemenangnya, 'kan?" Matamu mulai tertutup. "Aku masih anak yang sama, yang sangat menyayangimu, jadi mengalahlah demi aku, ya? Elta?""Dia selingkuh, 'kan? Mereka yang dalam cahaya tidak akan bisa balik menyakiti, tetapi aku berbeda ... Aku adalah kegelapan. "Akhirnya, kau tertidur, sedangkan aku tersenyum.Aku bangkit. Meluruskan badan. Memandang tubuhmu yang terlihat amat kuyu.Tenanglah, aku tidak akan melukainya seperti mantan pacarmu yang terakhir ... hanya ingin memberikan peringatan bahwa gadis yang ia putuskan punya sisi gelap... yang sangatlah gelap. "Jadi, biarkan aku kembali jadi penjahat, ya? Elta?" (*)
Bloodlust
Ada perasaan yang ganjil ketika gadis berambut hitam itu duduk di depannya: sebuah kengerian; hawa intimidasi yang amat pekat. Awalnya, Lee—pria berusia duapuluh lima tahun yang telah bergabung dengan tim interogasi kepolisian pusat—menganggapnya wajar, sebab psikopat selalu menghadirkan hawa tenang yang amat mencekam. Namun, semakin ia menyelami latar belakang gadis bertubuh kurus itu, semakin ketakutan menguncinya tanpa ampun."Kim, duapuluh enam tahun, terbukti melakukan pembunuhan berantai atas petinggi kota. Kau memutilasi dan menyebarkan bagian tubuh mereka ke sepanjang jalan menuju Gedung Pemerintahan." Lee merasakan bulu romanya meremang oleh sensasi aneh, terlebih ketika Kim menatapnya dalam (bukan sebagai predator; sesuatu yang lain ). "Kenapa melakukan hal itu?""Aku hanya menyukainya: ketika memotong tubuh-tubuh pendosa itu," Kim memilin rambut kusutnya, "teriakan mereka seperti suara Siren; tetapi itu belumlah cukup untuk menebus semua kebejatan mereka."Sesuai tugasnya, Lee menuliskan semua jawaban Kim di lembar putih di hadapannya ... sebelum perkataan Kim membuat membatu, "Dan, aku tahu siapa yang juga menyukai hiburan macam itu."Kim menyibak poninya. "Dulu, tetanggaku juga suka dengan darah ... hanya, dia lebih tidak pandang bulu," Ia mengalihkan pandangan pada kamera CCTV yang terpasang di sudut ruang kelam tersebut sembari tertawa mengejek. "Karena muak, aku mengajaknya untuk membungkam wanita sialan yang selalu pergi dengan pria berbrankas emas. Haha, kau takkan membayangkan betapa menyenangkannya bermain-main dengan darah dan daging seorang penghuni neraka."Kim tergelak, kentara puas dengan apa yang ia lakukan.Udara mendingin; dan, dari earphone yang ia kenakan, kepala tim tempatnya bernaung sudah menginstruksikan agar pembicaraan dikembalikan ke topik awal ... tetapi insting Lee memaksanya untuk memberontak. Ia tetap menunduk, berpura-pura menulis, padahal pikirannya telah dipenuhi berbagai prasangka.Sebuah ketakutan."Sialnya, aku lolos dan malah dia yang tertangkap. Sekarang, pastilah orang-orang keparat itu sudah mengubahnya menjadi boneka abnormal ... sampai-sampai ia tidak mengenali sahabatnya sendiri."Sekali lagi, Lee mengangkat wajah, memperhatikan betul-betul wajah tirus dengan mata cekung mengerikan tersebut; dan, pelan-pelan, ia menyadari betapa miripnya wajah itu dengan seseorang ... seorang bocah perempuan."Apa aku harus mengucapkan salam?"Lee bergetar hebat. Ingatan itu datang; mengacaukan semua omongan psikolog yang menanganinya sejak kejadian itu. Tiba-tiba, semua kenangan masa kecilnya berubah menjadi mengerikan: bagian tubuh laba-laba yang tercerai berai, anak ayam yang ia injak hingga dengan sengaja, desahan Ibu ketika jarinya tersayat saat memotong sayur mayur; gadis yang tersenyum padanya dengan wajah penuh cipratan darah. Sialnya, Lee merasakan darahnya berdesir dan adrenalinnya terpacu ketika mengingat semua itu.Keterlaluan... Perasaan macam apa ini?Suara-suara di intercome terdengar panik menyadari satu kecolongan besar di kepolisian mereka. Derap orang berlari lamat-lamat terdengar ketika Kim tertawa sembari mendekatkan diri pada Lee, "Jangan berpura-pura, Lee: kita ini sama, 'kan?" (*)
Orang-orang Dalam Lubang
Orang-orang di lubang ini punya nama, begitu juga aku. Pria di depanku bisa saja bernama Muttaqin; lansia di seberang sana mungkin bernama Matius; sedangkan yang baru saja meregang nyawa itu bisa kausebut Toiran. Namun, tampaknya dunia sepakat bahwa menyebut kami sebagai pendosa lebih efisien ketimbang mendaftar identitas kami dalam sejarah bangsa.Bukan tanpa alasan. Sejak setahun silam, atmosfer negara kami dipenuhi oleh bau darah dan kemarahan massa. Jumlahnya melebihi kadar oksigen di udara. Amat pekat, tentu. Saking pekatnya, masyarakat seolah dibutakan oleh dendam dan memilih memangkas semua golongan yang disinyalir sebagai pendosa, entah itu kabar burung atau fakta.Manusia punya trauma hebat akan tragedi masa lalu dan aku bisa mengerti alasan mereka sudi mengenyahkan kemanusiaan adalah agar kejadian itu tidak terulang lagi ... bahkan jika itu berarti menjadi anjing-anjing dari sebagian orang."Berlutut! Angkat kedua tangan kalian!" Pria bersenapan itu berteriak. "Pendosa seperti kalian pantas untuk mati! Kafir seperti kalian harus hilang dari tanah ini!"Aku tersenyum sarkas. Masyarakat selalu terpaku akan cap yang diberikan oleh pihak berkuasa ; sama seperti yang mereka lihat dari orang-orang di lubang ini. Muttaqin mungkin seorang guru teladan di sekolahnya; Matius bisa saja seorang tokoh yang dihormati masyarakat; sedangkan Toiran adalah penggerak massa yang cukup kritis—tetapi sekali didakwa menjadi pendosa, publik serta merta menuntut buat dihukum seberat-beratnya ... tidak peduli riwayat asli serta kebaikan yang kami lakukan. Tidak akan ada yang meneliti berkas-berkas yang menegaskan kami tidak bersalah. Tidak akan ada yang menyadari bahwa kami hanyalah korban—kambing hitam atas propaganda raksasa di balik Istana.Aku memandang salah seorang dari mereka yang memaksa Muttaqin untuk berlutut. Marah sekaligus lelah.Kami adalah umpan ... tidakkah kalian menyadari hal tersebut?"Tuhan tidak akan mengampuni kalian! Kalian akan dikutuk di neraka terdalam! Kalian akan merasakan kesengsaraan kami akibat perbuatan kalian!"Telingaku memanas. Aku ingin berteriak bahwa di mereka telah diperalat kekuasaan, bahwa sang Dalang Utama tengah tertawa menyadari rencananya terlaksana. Namun, buat apa membela diri ketika sang petinggi menitah untuk membasmi orang-orang berdosa tanpa terkecuali? Buat apa menjelaskan sekian hipotesis tentang kudeta besar-besaran jika publik telah didoktrin untuk membenci sebagian orang? Suaraku bakal habis dan aku kelak jadi bangkai juga. Iya, kan?"Bersiap!"Aku memejamkan mata sampai air mataku menetes. Tawa sarkasku bergema dalam kepala."Tembak!"Sedetik kemudian, rentetan tembakan meniadakan kami sebagaimana angin menghapus jejak musafir di atas padang pasir.*Tidak perlu bertanya siapa namaku, apa jenis kelaminku, apa pekerjaanku, apakah aku betulan penjahat atau justru yang dijahati, serta apakah aku cukup waras untuk kalian percayai. Identitas dan fakta tak lagi berguna jika masyarakat telah mencap kita dengan sesuatu (itulah yang kuyakini sampai akhir hayatku). Namun, jika kalian betul-betul ingin tahu siapa aku (atau mungkin cap yang telah mereka berikan padaku), buka saja buku sejarahmu dan temukan aku dalam salah satu arsip kelam nasional.Ya, itu dia! Kalian sudah menemukannya, kan? (*)
Felony
Kita hidup dalam lingkaran kejahatan. Kita menelurkan dosa seumpama menyemai ilalang. Kita bergumul dengan kemaksiatan seperti seorang bocah yang tergila-gila dengan manisan. Kehidupan selalu berjalan menuju kematian dan, pelan tapi pasti, umat manusia telah sampai di titik nadir kekuasaan mereka—Geddon mengamini pernyataan tersebut sembari memandang ranah berpolusi pun terpapar radiasi yang kini menjadi tempat tinggalnya. Tidak ada berhala, tidak ada agama; bagaimana kehidupan bisa tetap berjalan tanpa semua pondasi tersebut?Ah, tapi juga tidak ada kepastian ia adalah "makhluk beragama", 'kan?Arma menghela napas. "Kau yakin akan melakukannya? Energi sebesar itu hanya akan cukup untuk satu perjalanan, yaitu ketika kau kembali ke masa itu. Tapi, aku juga tidak menjamin kau dapat mencapainya," Ia memandang mesin impian yang selama ini ia ciptakan bersama kembarannya—Geddon—lantas memegang kuat-kuat tuas berwarna merah tersebut, "kau bisa saja kembali ke masa Perang Salib; saat bom atom meledak di Hiroshima; bahkan saat tragedi Chernobyl. Kau bisa saja mati sia-sia.""Lalu apa, Arma? Manusia pasti mati suatu hari nanti, 'kan?" Geddon membalas cepat, memandang miris pada mayat orangtuanya yang diawetkan sebagai kelinci percobaan. "Lagipula, jika aku berhasil melakukannya, tidak ada lagi masa depan ... kau paham, 'kan?"Arma memandang sendu pada Geddon yang mendekati mesin impian mereka. "Sial, kau benar-benar tidak punya harapan, ya?"Geddon tertawa sarkas. "Sejak kapan umat manusia punya harapan, Arma?"*Sejak orangtuanya "dimatikan" dunia ini, Geddon telah memutuskan untuk menjadi sosok egois. Ia akan menghentikan semua kekacauan ini bahkan jika harus mengorbankan hidup banyak orang, termasuk kakak kembarnya. Manusia diwajibkan untuk memilih ... dan ia telah membuat keputusan absolut.Langit berkilau. Pohon-pohon sutra. Sungai susu. Daun emas. Alunan harpa malaikat yang mampu meninabobokan banyak makhluk. Tawa di antara ranting-ranting gulali; sepasang kekasih yang menjadi pusat semua kebahagiaan tersebut.Pusat pohon kehidupan. Adam dan Hawa.Dan, di kejauhan, sang iblis telah bersiap untuk membuat pelanggaran pertama.Geddon memejamkan mata. "Menyucikan" dunia memang harus dilakukan sejak awal kesalahan itu dibuat—kendati itu berarti menghapus semua sejarah yang telah dibuat hingga masanya kelak. (*)
Prasasti
"Aku mau jadi prasasti. Biar abadi di hatimu." Al tertawa jenaka-matanya ikut-ikutan tersenyum-sedangkan aku bergeming, melanjutkan memilah tumpukan kertas usang di gudang panti, mengabaikannya yang terus saja berputar sembari membeo.Al memang begitu. Kendati sepantaran, ia kentara amat kekanakan. Ketika masih di panti, ia selalu memaksaku membacakan buku-buku fairy tale koleksinya, bahkan bersekongkol dengan penghuni lain yang masih muda untuk membuat berantakan ruang bermain di bagian tengah. Orang-orang telah membiarkan lakon gilanya, tetapi aku dengan tolol tetap mengingatkannya-dan ia selalu punya alasan untuk menyanggah perkataan sarkasku.Pernah, saat menonton film Twilight di televisi, ia menceletuk ingin hidup abadi serta menyebut Edward bodoh karena tidak mengabulkan keinginan Bella untuk menjadi vampir. Jam menunjuk pukul satu dini hari dan penghuni panti lain telah terlelap. Aku, yang memang menemaninya dengan ogah-ogahan, nyaris menanggapi hingga ia menghabiskan camilan seraya berkata, "Mereka hanya tidak melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Kalau aku, sih, pasti langsung memilih buat hidup selamanya."Film telah menginjak scene prom night ketika aku bersyukur menjadi pendengar tunggal atas pernyataan Al.Setelah itu, suasana panti menjadi lebih tenang dan Al berubah sedikit normal. Ia masih tersenyum lebar sembari sesekali menceritakan hal-hal tidak masuk akal. Kertas gambar, buku dongeng, serta foto-foto konyol berserakan di ranjangnya. Candaannya masih segaring dulu ketika aku mengkritik sikap random -nya. Al masih kekanakan, seperti dulu, dan kupikir ia akan terus seperti itu-tetapi, ketika pernyataan ironis itu keluar, ia lekas melihat potret kami ketika SD. "Dulu, aku sempat ingin menjadi penjahat, tetapi aku sadar bahwa aku terlalu kecil untuk melakukan hal itu."Al menghela napas dan, seketika, aku benci melihatnya menjadi orang normal. "Aku ingin dikenang, tetapi aku takut tidak pantas mendapatkannya. Aku takut hilang dalam sejarah. Aku takut bila batu nisanku kelak digusur karena pembangunan. Aku ingin menjadi seseorang yang berguna, tetapi aku sadar tidak bisa melakukannya ." Tangannya tremor kecil.Aku mendengus. "Fokus saja pada apa yang kauinginkan di dunia ini. Tidak usah melihat ke belakang," Ucapanku terhenti sejenak, "aku selalu ada di belakangmu. Kau harus ingat itu."Ia mengerjap. "Selamanya?" tanyanya, yang kujawab dengan berdeham. Tidak puas, ia kembali mengajukan pertanyaan serupa, "Selama-lama-lama-lamanya?"" Just shut up and do your treatment, Kid ."Saat itu, Al tertawa lepas, sedangkan aku memandang datar playgroup yang memang terletak di samping tempat ini, tidak menyadari apa yang kelak terjadi. Waktu berlalu dan dunia berubah teramat cepat seperti kelereng yang berbenturan dengan gugusan kelereng lain. Aku tidak suka hal picisan, tetapi baru sekarang memahami bahwa membuat janji dengan orang seperti Al hanya mencipta luka permanen. Sesuatu yang muskil dihapuskan.*Al masih mengoceh, menceritakan seberapa banyak ia menggambar ulang pemandangan di panti asuhan-serta seberapa sering aku menyingkirkannya ke dalam kotak karena mengotori dinding rumah sakit-ketika air mataku menetes tidak diundang, menetes di atas gambar bodoh yang sedari tadi kupegang. Aku mengeratkan genggaman, kemudian dengan cepat berbalik. Dapat kupastikan ia menahan napas lantaran kami nyaris berciuman ... tetapi apa makna interaksi tersebut bila akhirnya aku hanya mencium udara hampa?Aku menarik napas, berusaha mengontrol emosi berlebih yang akhirnya tumpah. " You've seen it, Al. So, can you let me go and enjoying my life ... once again ?"(*)
Avaritia
Grith ingin abadi.Ia telah mengubah sebuah tempat gersang penuh penderita busung lapar menjadi destinasi serta sentral pendidikan dan perdagangan dunia. Ia telah memberikan banyak mimpi ketika orang-orang telah menyerah dan memilih hidup dalam penjajahan nonfisik. Kata anak-anak, Grith adalah malaikat tanpa sayap ... dan malaikat ini telah menorehkan tinta emas di kertas papirus lapuk yang menjadi sejarah negaranya.Grith ingin abadi. Ia ingin terus menjadi pemimpin. Ia ingin melihat tanah kelahirannya berkembang, berevolusi, berjaya ... ia tidak dapat menerima jikalau negerinya hancur di tangan orang-orang tak berpengalaman. Ia tidak ingin anak cucunya kembali merasakan atmosfer kemiskinan pun kemelaratan yang sedari kecil generasinya kecap. Grith tidak ingin jatuh. Grith ingin bersinar.Grith ingin abadi."Rumput di rumah tetangga memang terlihat lebih hijau, Grith. Ini pilihan krusial. Sekarang, kau mungkin tidak dapat memahami apa itu kehampaan, rasa jenuh, dan keputusasaan. Namun, kau akan benar-benar tahu itu saat kau tidak punya jalan untuk kembali." Dia diam. "Apa kau masih mau menjadi abadi?"Grith menjawab mantap, "Pengabdian terhadap negara merupakan kehormatan yang tidak ada duanya ... dan saya rela mengorbankan apa pun untuk itu semua."Dia memandang Grith lekat-lekat. "Seberapa cintakah kamu pada negaramu?""Seberharga hidup saya sendiri.""Seberapa tidak inginkah kamu mengalami stagnasi?""Sama seperti Muhammad yang tidak rela pamannya dilalap api neraka."Mereka saling berpandangan. Dia bertanya pelan, menusuk, "Seberapa besar ... ketidakpercayaanmu terhadap generasimu sendiri, Lux?"Kalimat Dia menggantung di udara. Amat lama.*Grith ingin abadi ... dan ia telah mendapatkannya: di tengah roda pemerintahan yang selalu berputar; di antara sekian sanjungan masyarakat padanya yang seorang malaikat; dalam sebuah keabadian yang ia inginkan. Menjadi dirinya sendiri: sebuah patung perunggu yang dibangun tepat di Gedung Ibukota ... benda tanpa nyawa, tak bisa mati, dan hanya menunggu waktu untuk rusak atau hancur—entah kapan itu terjadi.Grith ingin marah. Ia ingin berteriak, menyumpah, menangis hingga tenggorokannya kering dan tidak lagi mengeluarkan suara ... tetapi apa yang dapat dilakukan batu sepertinya selain pasif pada keadaan sekitar?Langit terbelah dan mega berarak menutup cakrawala pagi. Badai datang tiba-tiba dan suara tanpa muara menggema di antara guntur pun guruh, "Kau tidak percaya pada bangsamu. Kau tidak percaya pada bara api dalam hati generasi mudamu. Kau terlalu meremehkan mereka. Kau ingin abadi di atas remah kesombongan dan keegoisanmu sendiri," Grith benar-benar membatu, tak dapat berkata apa-apa. Ia ingin tidur dan bangun di Nirwana, tetapi ia bahkan tidak bisa memejamkan mata untuk menyalahi realita.Grith telah membuat keputusan krusial ... dan Dia dengan terang menunjukkan bahwa Grith punya sebuah sisi kelam dalam hati terdalamnya."Kini, nikmatilah keabadianmu, Grith! Di antara laju pemerintahan negaramu, di antara sanjungan orang-orang ... hanya diam, tidak dapat berbuat apa-apa, sambil menunggu kehancuran yang tidak kauketahui kapan kedatangannya!" (*)[1] (bhs. Latin) ketamakan; salah satu dari Tujuh Dosa Besar
Kinanthi
Nak, Ibu mesti berbagi sesuatu padamu: betapa Tuhan telah mengirimkan rahmat mahabesar di Desember yang menggigil. Seorang perempuan tidak akan tahu apa itu kasih sayang hingga malaikat kecil hinggap di rahim realis yang lebih kompleks. Kamu salah satunya; dan lewat Lir Ilir yang acap ditembangkan di lapangan ujung desa, Ibu akhirnya menerima dan bertekad menuntunmu sebagai anak ."Ibu, bolehkah aku bersandar di pundakmu?"Ibu menyayangimu melebihi gugus bintang dan kedatangan kemukus; karenanya Ibu akan mendidikmu, membantumu menjadi seorang Kartini masa kini, mandiri yang dapat menentukan keputusan sendiri. Bukan agama yang wajib Ibu tanamkan padamu, tetapi bagaimana menjadi makhluk ber agama sehingga kamu bisa lebih bijaksana, terbuka menghadapi semua.Ibu tidak cerdas, tetapi berpengalaman... dan sepotong harta itulah yang akan Ibu kidungkan selama duapuluh tahun masa hidupmu; untuk melindungimu."Ibu, mengapa Ibu bungkam? Apa aku mengganggu Ibu?"Nak, ada banyak hal yang mesti diceritakan: tentang kamu yang dianggap sebagai noktah hitam oleh masyarakat; tentang Ibu yang mesti menutup telingamu rapat-rapat dan menjauhkanmu dari ingat-bingar kehidupan kelam. Ibu tidak sanggup berterus terang, tidak bisa melihat wajah kecewamu tatkala tahu cahaya terkadang berasal dari lembah kegelapan. Namun, meski sendiri, Ibu berjanji untuk memberikanmu lanskap infinitas kirana di mana setelah kamu menempatinya, kamu boleh tahu dan membuang semua: Ibu serta masa lalu itu."Ibu... mengapa Ibu tidak bangun? Apa Ibu marah padaku yang selalu manja? Apa Ibu marah karena aku rela membuang apa saja demi berada dalam pelukanmu?"Tuhan akan memberikan kebebasan saat hamba-Nya melakukan penebusan—dan Dia selalu menepati janji, Nak. Azan subuh terdengar amat merdu ketika Izrail menjalankan tugas dengan lembut, tanpa aba-aba, tanpa peringatan sebagaimana dilakukan pada mereka yang ingkar. Ibu tidak kuasa menolak, Nak, pembebasan itu adalah jalan spiritual yang dirindukan semua manusia."Bangunlah, Bu... Aku berjanji akan mandiri mulai saat ini."Pergi bukan berarti benci. Mendiamkan bukan berarti melupakan. Jika dirunut, barangkali dibutuhkan berlembar kertas untuk menuliskan ketakutan ini... tetapi, doa Ibu tampaknya didengar oleh kawanan tonggeret dan perdu di sekitar rumah: kamu tidak akan menjadi seperti Ibu."Ibu, aku ketakutan...."Nak, kendati kamu telah beranjak dewasa, kamu tetaplah bayi mungil Ibu yang selalu merengek ketika malam hair, yang senantiasa Ibu cium tatkala dunia terlampau keras memperlakukanmu. Akan tetapi, ada saatnya kamu mesti menginjak kedewasaan... dan inilah momen yang tepat—ada banyak kata belum terucap, tetapi Ibu yakin kamu baik-baik saja.Amarga urip terus mlaku, cah ayu/ Nadyan nggegirisi ati/ Lila kareben pinuju/ Tumimbal bali nyang Gusti/ Tan isa diselak wong-wong[2]Malaikat berbisik pelan... tanpa kamu tahu. (*)[1] tembang Jawa yang punya karakteristik tresna asih; cocok digunakan sebagai pituduh (nasihat)[2] Karena hidup terus berjalan, Anak Cantik/ Meskipun membuat hati teriris/ Ikhlas untuk menuju/ Kembali ke Tuhan/ Yang tidak bisa ditolak orang-orang
Dialog dari Daun yang Gugur
Raka pikir, ayahnya serupa dedaunan: terus bekerja demi kelangsungan hidup sebuah pohon tanpa berpikir ia bakal menua dan gugur juga.Ayah adalah pemikir revolusioner. Ia memiliki kegelisahan agung akan hidup dan memutuskan untuk mengabdi pada dunia ilmu pengetahuan guna mengatasi hal itu. Ia berani dan kontroversial, karenanya banyak orang menganggap Ayah sebagai robot hidup. Namun, ketika melihat mata tulus yang siang-malam bekerja merealisasikan segudang ide, Raka tahu Ayah melakukannya karena fanatisme terhadap hidup—“pohon" mereka—secara universal.Meski seorang diri, Raka percaya ayahnya adalah seorang yang baik hati.Ketika Ayah memulai penelitian gila tentang solusi overpopulasi, publik kian geram dan akhirnya melontarkan cacian. Pemerintah lamat-lamat turun tangan. Instansi serta donatur kabur untuk menyelamatkan saham serta reputasi mereka. Walau Ayah kukuh melanjutkan penelitian, desakan berlanjut menuju diskriminasi, sampai-sampai Ibu memilih untuk pergi."Raka, Ibu akan pergi... tidak tahan dengan semua ini."Raka tersenyum kecut. "Bukankah Ibu pergi karena tidak tahan dengan cacian orang-orang?"Kendati masyarakat selalu mengkritik dan kepolisian kerap keluar-masuk rumah mereka, Raka tetap percaya ayahnya adalah seorang yang baik hati. Ia tidak pernah goyah akan hal tersebut; yang ia ragukan justru dunia ini, masyarakat ini, bahkan dirinya sendiri.Raka selalu bertanya dalam diam, mengapa masyarakat selalu menghakimi tanpa mengulik lebih dalam? Apakah mereka tidak bisa menerima rasionalitas yang dipadu kemanusiaan? Tidakkah mereka mengerti, daun itu hanya ingin berbuat sesuatu untuk pohon kita?Apakah... ia harus menjadi seperti mereka agar mereka mau mendengarkan?"Ayah, bolehkah kita menjadi orang jahat?""Memang orang jahat itu seperti apa, sih? Apakah Robin Hood termasuk orang jahat?" Ayah masih bisa tertawa meskipun sirene polisi mendenging di depan rumah. "Semesta lebih luas dari kaca mata kita. Tuhan tidak melarangmu menjadi orang jahat, tetapi ia menginginkanmu menjadi seorang manusia ."Terkadang, Raka berpikir ayahnya adalah seorang altruis naif. Ia berharap Ayah melepaskan semua penelitian itu dan menjadi manusia normal yang melakukan kebaikan standar (yang pastinya dibantah oleh sang tokoh utama).Lucunya, kenaifan itu justru membuat Raka tidak bisa berkutik dan menuruti semua perkataan Ayah. Meskipun, itu berarti ia menulikan diri atas batinnya sendiri yang ibarat tidak lagi memijak kenyataan.*Di satu waktu, ketika Raka benar-benar pasrah dan hilang tempat berpijak, ia genggam kedua tangan keriput itu, lantas mengucapkan pertanyaan agung yang bercokol sedari kanak—dengan suara parau yang berusaha ia sembunyikan, "Aku tahu Ayah tidak akan pergi pun kembali, tetapi haruskah begini caranya? Dengan dianggap sebagai penjahat?""Jostein Gaarder menulis, butuh miliaran tahun untuk menciptakan manusia dan hanya butuh sedetik untuk mati. Lalu, apa arti hidup kita selama ini? Apakah perbuatan kita salah atau benar bagi kehidupan? Kadang kala kita tidak menemukan jawaban itu saat mati, Nak, melainkan beratus-ratus tahun kemudian," Mata Ayah meneduh laksana embun di dedaunan pinus, "sama halnya dengan daun: ia tidak akan tahu sumbangsihnya pada sebuah pohon besar hingga pohon itu tumbuh lebat dan membawa kebahagiaan bagi makhluk hidup lain."Raka bergetar. "Ayah, aku pasti merindukanmu.""Teruslah merindu, Nak, karena ciri penghuni surga adalah mereka yang selalu merindukan kebajikan... dan terus mencari apa itu kebajikan."Rembulan tepat di tengah angkasa ketika pertanyaan, kehidupan, serta daun itu luruh-membusuk di tanah.
Jinmenken
Di Jepang telah lama terdengar kisah urban legend mengenai seekor anjing yang mengerikan. Mereka serig terlihat saat hari mulai malam di sudut-sudut perkotaan di Negeri Sakura tersebut.Orang-orang yang pernah bertemu dengan anjing itu akan mengira itu adalah anjing-anjing biasa, namun saat berbalik dan melihatnya dengan saksama, mereka melihat dengan jelas anjing itu berwajah manusia. Itulah Jinmenken, anjing berwajah manusia dan bisa bicara.Banyak sekali laporan yang datang dari orang-orang yang ketakutan setelah melihat Jinmenken. Ada yang pernah melihatnya ketika berada di luar rumah, ada yang bertemu saat anjing itu sedang mengais-ngais sampah di jalanan kota.Laporan juga pernah diberikan oleh seseorang pengendara mobil yang ketakutan saat berada pada Expressway.Lewat spion, ia dapat melihat ada seekor hewan yang berlari mengejar mobilnya. Padahal saat itu sang pengendara sedang melaju kencang sekitar 100 mil per jam. Makhluk itu berlari begitu cepat hingga pada saat tertentu ia berdampingan dengan mobil orang tersebut. Saat sang sopir berusaha mengamati makhluk apakah itu, ia melihat jelas anjing berwarna gelap kecoklatan dengan kepala manusia.Anjing itu berkata, “Jangan lihat aku!”Kejadian itu membuat si sopir tidak fokus sehingga menyimpang dari lajur jalan dan mengalami kecelakaan mengerikan.Dalam kisah lain, ada suatu restoran yang buka hingga tengah malam dan sampah-sampahnya di buang di pintu belakang.Suatu malam, sang koki mendapati seekor anjing yang mengobrak-abrik sampah untuk mencari makan. Koki pun berusaha mengusir anjing itu.Saat anjing itu sedikit berlari menjauh, ia berbalik lagi dan berkata, “Tinggalkan aku sendiri!” Koki tersebut juga melihat dengan jelas wajah manusia pada hewan itu.Di Jepang, Jinmenken dianggap sebagai suatu pertanda buruk mengenai datangnya bencana atau kecelakaan.Pada tahun-tahun 1989 dan 1990, orang-orang di Jepang sangat heboh dengan penampakan Jinmenken. Orang-orang yang khawatir dan ketakutan seringkali memanggil polisi agar menyingkirkan Jinmenken dari lingkungan mereka. Berbagai kecelakaan mobil yang terjadi disebut-sebut akibat adanya penampakan Jinmenken. Pihak kepolisian pun kesulitan untuk mengatasi tuduhan itu, karena harus dibuktikan bahwa makhluk aneh itu benar-benar ada.Ada berbagai macam spekulasi atas hebohnya penampakan Jinmenken di Jepang.Pertama, orang-orang beranggapan bahwa Jinmenken adalah roh-roh dari korban kecelakaan lalu lintas yang bereinkarnasi sebagai anjing.Kedua, ada yang beranggapan anjing berwajah manusia itu adalah peliharaan roh-roh jahat.Sementara yang terakhir lebih berkaitan dengan teori konspirasi mengenai percobaan biologi rahasia untuk menghasilkan hibrida manusia-anjing namun mereka berhasil melarikan diri dari laboratorium eksp
Black Eyed Children
Ada sebuah kisah menyeramkan mengenai kemunculan sosok anak-anak misterius dengan bola mata berwarna hitam.Kisah ini terdengar seperti mitos/urban legend biasa karena memang kisahnya mulai ramai dan marak di internet. Meski demikian banyak laporan diterima dari berbagai tempat mengenai penampakan sosok misterius ini..Black Eyed Children (Anak-Anak Bermata Hitam) adalah legenda urban yang merujuk pada makhluk paranormal (beberapa percaya bahwa mereka alien) yang berbentuk anak-anak berusia 6 hingga 16 tahun, memiliki kulit pucat, dan memiliki bola mata yang seluruhnya berwarna hitam sehingga akan terlihat seperti mata berongga atau berlubang. Singkatnya sosok ini digambarkan begitu menyeramkan.Anak-anak bermata hitam ini seringkali diceritakan muncul secara tiba-tiba di tempat sepi misalnya saja di jalanan yang jarang dilalui kendaraan. Mereka biasanya berdiri di sisi jalan dan mengangkat tangan ketika ada kendaraan yang melintas. Mereka lalu meminta tumpangan pada sang pengendara.Beberapa kisah juga menceritakan bahwa anak-anak ini kadang muncul seorang diri, terkadang juga berdua atau berkelompok. Mereka juga biasanya mendatangi rumah-rumah penduduk yang kebetulan berada di wilayah sepi. Mengetuk pintu rumah seakan bertamu. Lalu ketika pemilik rumah membukakan pintu, mereka akan memaksa masuk ke dalam.Awal mula kisah anak-anak bermata hitam ini dimulai dari sebuah tulisan "ghost related mailing list" yang ditulis oleh seorang jurnalis dan reporter bernama Brian Bethel pada tahun 1996. Pada tulisannya itu, Bethel menceritakan pengalamannya bertemu dengan dua orang anak laki-laki misterius di Abilene, Texas dan di Portland Oregon.Diceritakan saat itu Bethel sedang mengendarai mobilnya seorang diri saat tiba-tiba di belokan jalan yang sepi, dua orang anak laki-laki menghentikan kendaraannya meminta tumpangan. Saat itu Bethel tidak memperhatikan bola mata anak-anak itu. Ia pun mempersilahkan mereka masuk ke dalam mobil.Menurut ceritanya, anak-anak ini minta diantarkan ke teater. Namun begitu melihat bola mata yang mengerikan dari anak-anak ini, Bethel langsung mengeluarkan mereka dari mobil dan langsung tancap gas pergi.Setelah cerita Brian Bethel menyebar, mulai banyak laporan mengenai munculnya anak-anak bermata hitam ini. Awalnya kisah-kisah itu dianggap cerita karangan dan hanya sebuah histeria massa mengingat kisah mengenai perjumpaan dengan anak-anak misterius ini dilaporkan terjadi di banyak wilayah.Meskipun beberapa meyakini cerita ini hanyalah legenda urban (urban legend) yang mulai ramai pada akhir tahun 1990an. Namun ternyata ada beberapa kisah yang diyakini memang benar-benar terjadi dan terkonfirmasi.Berikut adalah beberapa kisah mengenai kemunculan anak-anak bermata hitam ini bahkan beberapa di antaranya terjadi sebelum tahun 1996.Pada tahun 1974, dua orang pria bernama Alan G dan Patrick V sedang mengendarai mobil berkeliling kota Asne, Prancis. Mereka lalu berhenti sejenak di sebuah tikungan dan memarkirkan kendaraan mereka di depan halaman sebuah rumah. Ketika itulah mereka dikejutkan dengan kemunculan sosok 5 anak yang memiliki tinggi sekitar 1,3 meter memakai baju terusan dengan bola mata hitam.Seorang wanita bernama Kerrie Kisner baru saja kembali dari kampusnya di Raleigh, California Utara. Ia lalu mampir di sebuah supermarket tak jauh dari sana. Saat akan pulang dan menuju parkiran dirinya melihat abak perempuan berusia sekitar 12 tahun bersama dengan seorang nenek. Anak perempuan ini mengejutkan Kisner karena kedua matanya berwarna hitam.Pada November tahun 2009, seorang perwira Angkatan Laut di Carolina Utara sedang bersantai menonton TV di dalam rumahnya ketika tiba-tiba pintu rumahnya diketuk seseorang. Karena berpikir itu adalah temannya yang baru pulang, ia lantas langsung membukakan pintu. Namun yang ia dapati adalah dua anak bermata hitam yang kemudian memaksa masuk ke dalam rumahnya. Perwira ini yang terkejut langsung menyambar pintu dan menutupnya.Pada September 2014 di Cannock Chase, Staffordshire seorang wanita melaporkan telah bertemu dengan seorang anak perempuan bermata hitam. Ia sedang bersama putrinya tiba-tiba mendengar teriakan anak kecil. Wanita ini langsung mencari sumber suara. Saat ia bertemu dengan anak tersebut, awalnya ia tidak mengetahui anak tersebut bermata hitam. Anak ini terus saja menutup kedua matanya. Saat ia meminta mata anak itu agar dibuka, ia kaget setengah mati mendapati anak itu memiliki mata hitam yang mengerikan.Laporan terbaru datang dari sebuah pom bensin di Louisiana. Dua orang anak mendatangi pom bensin pada pukul 3 dini hari. Saat itu cuaca sedang buruk dan listrik padam. Penjaga pom bensin awalnya tidak menaruh curiga karena anak-anak ini bertutur sopan dan hendak meminjam ponsel. Namun ternyata ia segera menydari anak-anak tersebut bukanlah anak-anak biasa.
Anneliese Michel
Kisah tragis seorang gadis remaja asal Jerman, Anneliese Michel. Gadis berusia 23 tahun yang kerap mengalami kesurupan (kerasukan setan) selama sepuluh tahun hingga dia akhirnya meregang nyawa.Anneliese Michel yang lahir pada 12 September 1952 di Leiblfing, Bavaria, Jerman Barat ini berasal dari keluarga yang taat. Namun semenjak usia enam belas tahun, dia kerap mengalami kejang parah dan sering mengalami halusinasi yang biasanya terjadi saat memanjatkan doa.Puncak penderitaan Anneliese Michel terjadi pada tahun 1973, setelah dia mengalami depresi karena sering berhalusinasi saat berdoa. Dia juga mulai mendengar bisikan-bisikan gaib yang mengatakan dia adalah manusia yang terkutuk dan akan membusuk di dasar neraka.Diagnosa medis, dia dinyatakan menderita epilepsi. Selain itu dia juga dianggap mengalami gangguan jiwa dan harus menjalani perawatan di rumah sakit jiwa yang tidak disebutkan namanya untuk memulihkan kesehatan Anneliese Michel.Namun penanganan medis ini justru semakin memperdalam tingkat depresi Anneliese Michel dan memperparah kondisi kesehatannya. Perawatan medis jangka panjang menggunakan berbagai obat anti-psikotik terbukti tidak berhasil. Bahkan Anneliese Michel mengaku sering melihat wajah menyeramkan.Seorang ahli agama percaya Anneliese Michel tengah kerasukan setan. Apalagi saat sedang kerasukan, Anneliese Michel biasanya menjadi tidak bersahabat setiap mendatangani tempat peribadatan dan objek suci keagamaan. Fakta ini membuat keluarga Anneliese Michel berupaya menyembuhkan Anneliese Michel dengan ritual pengusiran setan.Seorang ahli agama yang tinggal di dekat kediaman Anneliese Michel, Ernst pun bersedia melakukan ritual pengusiran. Setelah menyaksikan kondisi Anneliese Michel, Ernst menganggap gejala kejang gadis tersebut bukan karena epilepsi tapi karena gangguan makhluk halus.Ritual pengusiran setan mulai dilakukan pada 24 September 1975. Sedikitnya telah dilakukan puluhan kali ritual pengusiran selama sepuluh bulan dalam rentang tahun 1975 hingga 1976. Setiap sesi pengusiran berlangsung selama 4 jam dan dilakukan satu atau dua kali setiap pekan.Dalam proses ini, Anneliese Michel kerap meracau tentang kematiannya yang sudah dekat. Tidak hanya itu, gadis berambut hitam itu juga mulai menolak untuk makan. Dalam proses ini, pihak keluarga dan Ernst tidak berkonsultasi dengan pihak medis.Anneliese Michel akhirnya meninggal pada 1 Juli 1976 di kediamannya. Hasil otopsi menyatakan penyebab kematian karena kekurangan gizi (malnutrisi) dan dehidrasi. Saat meninggal, berat badan Anneliese Michel diketahui telah menyusut menjadi hanya 31 Kg.Pihak medis menilai nyawa Anneliese Michel bisa saja diselamatkan jika dilakukan langkah pencegahan seminggu sebelum saat dia menghembuskan nafas terakhir. Tuduhan pun mengarah kepada keluarga Anneliese Michel dan Ernst Alt yang dianggap lalai dan mengakibatkan nyawa seseorang melayang.Sidang perdana kasus tewasnya Anneliese Michel dimulai pada tanggal 30 Maret 1978. Persidangan berlangsung sengit karena terjadi dua silang pendapat. Antara yang mempercayai fenomena kerasukan dan pihak yang tidak mempercayai fenomena tersebut.Namun pada akhirnya, majlis hakim memutuskan para terdakwa dinyatakan bersalah atas kelalaian yang membuat seseorang tewas. Mereka dijatuhi hukuman enam bulan penjara (yang kemudian ditangguhkan) dan tiga tahun masa percobaan.Kisah Anneliese Michel ini sendiri menjadi inspirasi bagi sejumlah sineas. Sedikitnya ada tiga film yang memiliki alur cerita berdasarkan kisah tragis Anneliese Michel. Yaitu "The Exorcism of Emily Rose (2005), Requiem (2006) dan The Asylum, Anneliese: The Exorcist Tapes (2011).Anneliese Michel Versi Cerita PanjangKisah nyata di balik "The Exorcism of Emily Rose," melibatkan seorang gadis muda Jerman bernama Anneliese Michel.Orang yang pertama kali mengetahui bahwa Anneliese Michel telah dirasuki oleh roh jahat adalah seorang wanita tua yang mendampingi Anneliese Michel ketika ia berziarah. Wanita itu menyadari keanehan pada diri Anneliese Michel ketika Anneliese Michel berulangkali menghindar ketika melewati lukisan Yesus. Anneliese Michel juga menolak ketika diberi air suci dari sumber mata air.Wanita itu juga mengatakan bahwa ia merasakan aura yang berbeda ketika berada didekat Anneliese Michel. Seorang dukun dari kota terdekat memeriksa Anneliese Michel. Ia menyimpulkan bahwa Anneliese Michel memang telah dirasuki oleh roh jahat. Orang tua Anneliese Michel meminta ritual pengusiran roh jahat kepada dukun itu, namun dukun itu menolak. Akhirnya, mereka meminta bantuan kepada Uskup setempat.Orang tua Anneliese Michel yang putus asa kemudian meminta bantuan seorang Uskup untuk menyembuhkan Anneliese Michel. Uskup yang bernama Joseph Stangl ini kemudian menugaskan dua orang pendeta, yaitu Pastor Arnold Renz dan Pendeta Ernst Alt. Keduanya ditugaskan oleh sang Uskup untuk melakukan ritual pengusiran besar terhadap Anneliese Michel.Ritual Exorcist yang dilakukan kedua pendeta ini berdasar pada "Rituale Romanum" sesuai dengan (Gereja Katolik) yang berlaku pada abad ke-17. Pastor Arnold Renz adalah mantan misionaris di China, sedangkan Pendeta Ernst adalah seorang Pendeta biasa di tempat asalnya.Mereka berdua melakukan ritual pengusiran roh jahat terhadap Anneliese Michel selama 10 bulan, yang terdiri dari 67 sesi. Setiap minggu, kadang dilakukan satu atau dua sesi ritual. Beberapa sesi bahkan berlangsung hingga 4 jamMenurut The Washington Post, Anneliese Michel mulai melihat sesosok setan pada setiap orang yang dilihatnya saat ia mulai mengalami gejala aneh diatas. Ini mungkin menjelaskan mengapa Anneliese Michel sering histeris secara tiba-tiba. Bahkan kedua pendeta itu yakin bahwa sejak mereka melakukan ritual pengusiran, roh yang merasuki Anneliese Michel malah semakin memperparah keadaan Anneliese Michel.Anneliese Michel sendiri mengatakan kepada dua pendeta itu, bahwa ada beberapa roh yang kini merasuki dirinya. Dia menyebutkan ada roh Judas Iscariot, Adolf Hitler, Nero, Cain, Fleischmann, dan yang paling kuat, yaitu Lucifer. Dia juga menyebutkan bahwa sisi gelap dari dirinya juga turut merasukinya.Kedua pendeta ini bahkan kerap berhadapan dengan roh Lucifer yang menolak untuk keluar dari tubuh Anneliese Michel. Mereka mengatakan bahwa roh ini adalah roh yang paling sulit untuk dihadapi.Anneliese Michel telah menjalani 67 sesi ritual pengusiran roh jahat selama 10 bulan. Selama itu pula, Anneliese Michel mengalami sejumlah kerusakan pada bagian tubuhnya. Ligamen di lututnya telah pecah, kakinya juga mengalami kelumpuhan.Belum ada keterangan pasti mengenai penyebab Anneliese Michel dirasuki oleh roh-roh itu. Dia adalah seorang yang religius, begitu juga dengan keluarganya. Hanya saja, 4 tahun sebelum Anneliese Michel lahir, ibunya melahirkan seorang anak hasil hubungan gelapnya yang bernama Martha.Ketika Anneliese Michel masih kecil, ibu Anneliese Michel mendorongnya untuk melakukan penebusan dosa atas dosa yang dilakukan oleh ibunya dahulu. Pendeta yakin, ini adalah sebab utama Anneliese Michel dirasuki oleh roh-roh itu. " Ini seharusnya tidak terjadi. Ini adalah pengorbanan seorang anak kepada ibunya ", kata Pendeta Ernst.Pada tanggal 1 Juli 1976, Anneliese Michel ditemukan telah meninggal. Menurut otopsi, Anneliese Michel meninggal akibat dehidrasi parah dan kekurangan gizi. Sebelum kematiannya, Anneliese Michel selalu menolak untuk makan. Dia percaya bahwa tindakannya itu akan mempercepat kematiannya, dan itu satu - satunya cara untuk mengusir roh-roh jahat yang tengah merasukinya.Tentunya, hal ini membuat kedua orang tuanya sangat sedih. Sebelum kematiannya, Anneliese Michel sempat mengutarakan kata-kata terakhirnya "Beg for Absolution", ini ditujukan kepada kedua pendeta yang telah berusaha menolongnya, dan untuk ibunya ia berkata " Mother, I'm Afraid."Dalam pengadilan setempat menjatuhkan hukuman 6 bulan masa percobaan hukuman terhadap kedua pendeta tadi dan keluarga Anneliese Michel. Tuduhannya adalah mereka dianggap menghalangi upaya medis untuk melakukan pertolongan terhadap Anneliese Michel. Namun, seorang pengacara membela mereka karena merasa apa yang dilakukan pihak keluarga dan pendeta tadi adalah upaya untuk menyembuhkan Anneliese Michel.Sekitar 32 tahun setelah kematian Anneliese Michel, dengan baik dan ayahnya juga tewas, Anneliese Michel masih dihormati oleh kelompok-kelompok kecil umat Katolik.
Castelul Iuliei Hasdeu
Castelul Iuliei Hasdeu atau Istana Iulia Hasdeu merupakan salah satu istana tertua di Romania. Berdiri di kota Campina, Romania, istana itu pertama kali dibangun di tahun 1893 hingga selesai pada tahun 1896. Konon istana ini merupakan tempat di mana hantu Iulia Hasdeu selalu bergentayangan.Catelul Iuliei Hasdeu yang menjadi tempat di mana urban legend tentang Iulia Hasdeu beredar, sebenarnya berawal dari cerita sedih yang melatarbelakangi pembangunan istana ini.Iulia Hasdeu merupakan seorang anak dari penulis, psikolog, sejarahwan, dan juga politisi yang bernama Bogdan Petriceicu Hasdeu. Lahir di tanggai 14 November 1869, Iulia merupakan seorang anak perempuan yang cerdas. Sejak kecil dia sudah pintar menulis, bahkan di usia yang ke 8 tahun dia sudah menulis tentang Mihai Viteazu – salah satu pahlawan nasional Romania – dan menguasai bahasa Perancis, Inggris, dan Jerman.Di usia yang ke-11, dia lulus sekolah tingkat menengahnya untuk pertama kali. Iulia Hasdeu juga merupakan satu-satunya perempuan Romania yang belajar di Universitas La Sorbonne di Perancis. Iulia Hasdeu dikenal dengan karya-karya seninya yang berupa tulisan, puisi, dan beberapa prosa.Dia juga sangat senang dengan bahasa asing, memainkan piano dan canto – itu semua dia pelajari sendiri. Namun menginjak usianya yang ke-18, Iulia menderita penyakit TBC (tuberculosis) dan membuatnya harus meninggal karena penyakitnya itu, di usia yang sangat muda.Bogdan Petriceicu Hasdeu, ayahnya yang sangat mencintai anak perempuannya ini, merasa sangat kehilangan dengan kematian anaknya. Dirundung duka yang mendalam, kehidupan B. P. Hasdeu kemudian perlahan berubah dari seorang politisi dan sejarahwan menjadi seorang praktisi spiritual.Itu dilakukannya sendiri agar bisa tetap berhubungan dengan Iulia, putri kesayangannya. Wujud rasa cinta seorang ayah kepada anaknya itu, kemudian mendorong B. P. Hasdeu membangun sebuah istana untuk putrinya itu, dan menamakannya Castelul Iuliei Hasdeu – Istana Iulia Hasdeu.Kendati membutuhkan beberapa kali perbaikan, Istana Iulia Hasdeu akhirnya didaftarkan menjadi salah satu monumen bersejarah rakyat Romania di tahun 1955, setelah bangunan itu melewati perang dunia pertama dan kedua. Tahun 1994, istana ini kemudian dijadikan museum kenang-kenangan B. P. Hasdeu, di mana di beberapa ruangannya menampilkan beberapa perabotan, barang-barang pribadi keluarga Hasdeu, foto-foto, dokumen, tulisan, dan lainnya.Di salah satu sisi di dalam bangunan tersebut, juga bisa ditemukan sebuah kamar di mana seluruh dindingnya berwarna hitam. Kabarnya di kamar inilah, Bogdan Hasdeu melakukan praktik spiritualnya untuk berkomunikasi dengan Iulia.Setelah kematian, B. P. Hasdeu, Istana Iulia Hasdeu itu kemudian berubah menjadi bangunan berhantu yang penuh dengan legenda keluarga Hasdeu. Beberapa orang mengatakan melihat penampakan hantu perempuan muda yang dipercaya sebagai wujud arwah Iulia Hasdeu di sekitar pekarangan istana itu.Dia sering muncul dengan mengenakan gaun putihnya dan serangkai bunga Daisy di tangannya. Konon, jika kamu melewati istana itu di malam hari – bahkan di tiap malamnya – kamu akan mendengar hantu Iulia memainkan pianonya, di dalam istana yang tak berpenghuni itu. Sebagian lagi mengatakan bahwa arwah B. P. Hasdeu, ayah Iulia juga sering terlihat di beberapa sudut bangunannya dan bercakap-cakap dengan putrinya. Bersatunya arwah B. P. Hasdeu dan putri kesayangannya, Iulia, menunjukkan rasa cinta yang dalam dari orangtua kepada anaknya yang tidak memiliki batas apa pun.Istana Iulia Hasdeu juga menjadi gambaran bagaimana kehilangan seseorang yang sangat dicintai bisa menghancurkan atau mengubah nasib seseorang yang masih hidup atau ditinggalkan.
El Dorado
El Dorado merupakan salah satu kota hilang yang paling dicari, karena konon katanya banyak sekali emas yang terdapat di kota ini. Maka dari itulah, El darado dikenal sebagai kota emas dari sebuah kerajaan mistis yang ditemukan di hutan Amerika Selatan.Rakit emas El Dorado ditemukan pada tahun 1969 di gua dekat Bogota, Kolombia. Adanya harta karun yang tersimpan di kawasan El Dorado di Amerika Selatan, hingga kini masih menjadi sebuah legenda bagi rakyat Amerika dan dunia.Sejumlah penelitian sejarah atau penelitian pribadi dilakukan untuk mengungkap misteri yang meliputinya. Bayangan tentang emas dan permata berharga yang terkubur di suatu tempat di pedalaman Amerika Selatan itu, masih tetap hangat dibicarakan.Satu-satunya pijakan untuk mengungkap rahasia besar itu adalah legenda yang tersiar sejak lima ratus tahun lalu. Tentang suku Chibcha, sub suku Indian Amerika Selatan yang sangat memuja Dewa Matahari.Mitologi kuno mereka yang dilansir orang-orang Spanyol menyebutkan, bahwa pemujaan ini berkaitan dengan sejumlah persembahan harta berharga seperti emas dan batu permata. Orang-orang Chibcha menganggap emas adalah anugerah dari Dewa Matahari dan selayaknya dipersembahkan kembali kepada sang Dewa.Lalu kisah yang menyeruak dari mulut ke mulut menyebutkan, pemujaan tersebut membuat suku-suku Chibcha melebur emas sebagai perisai bagi bangunannya. Sehingga, kuil-kuil pemujaan mereka disebut dilapisi oleh lempeng emas. Namun, tak ada bukti yang tersisa dari perkiraan ini.Kisah ini mirip dengan legenda dalam bahasa Omagua yang diketahui sebagai Indian Tupi-Guyana di teritori antara Brasil dan Guyana. Mereka percaya pada legenda El Dorado berkaitan dengan emas. Namun, penjelajah sering menafsir El Dorado mengacu pada sebuah kota emas. Dan dalam peta kuno mereka, terdapat sebuah nama El Dorado yang lokasi persisnya tidak jelas.Sebuah mitologi dalam kepercayaan kuno Chibcha ada disebutkan soal Dewi penunggu danau suci. Selain pemujaan terhadap Dewa Matahari, pemujaan dewi air suci ini juga sangat populer di kalangan Indian itu di masa lalu.Kisah tentang Dewi ini bermula dari mitologi tentang seorang istri kepala suku Chibcha di masa awal. Karena dituduh melakukan suatu pelanggaran "hukum", perempuan yang merasa benar itu kemudian bunuh diri dengan melompat ke dalam sebuah danau.Kemurnian hatinya ternyata terbukti dan ia pun bertransfromasi menjadi seorang dewi. Maka sang Dewi ini akhirnya menjadi penunggu danau suci yang dalam perkamen tua dikenal sebagai Danau Guatavita.Pemujaan terhadap Dewi Guatavita ini kemudian menjadi ceremoni satu tahun sekali. Di puncak upacara tersebut, seluruh tubuh kepala suku Chibcha akan dilabur dengan getah, kemudian dilapisi dengan serbuk emas, dari kepala hingga ujung jari kaki. Lewat ritual tertentu, kepala suku kemudian diarak menuju danau. Dari sana ia akan dinaikkan ke rakit hingga ke tengah danau.Tiba di tengah danau kepala suku akan terjun ke air dan membasuh tubuhnya, hingga bersih. Saat ritual ini dilakukan, barisan upacara yang mengiringinya akan melemparkan sejumlah persembahan emas dan permata ke dalam danau.Inilah yang disebut sebagai upacara orang emas yang dalam bahasa Muisca (Chibcha) disebut sebagai El Dorado.Apakah benar legenda ini?Sebuah laporan bertahun 1962 menyebutkan, tentang penemuan spektakuler dua petani. Di suatu desa dekat Bogota (ibukota Colombia sekarang), mereka menemukan sebuah liang gua yang sangat kecil.Penasaran, kedua petani ini kemudian masuk ke dalamnya dan mereka menemukan emas. Emas temuan mereka ini berupa artefak berbentuk rakit miniatur dengan delapan pendayung dan seorang kepala suku yang terbuat dari emas.Kedelapan pendayung ini duduk membelakangi sang kepala suku. Inilah salah satu bukti kuat tentang legenda El Dorado yang berhasil ditemukan. Namun, impian tentang emas yang melimpah di El Dorado, tak pernah ditemukan hingga kini. Walau Danau Guatavita tercantum di peta, deskripsinya itu tidak sesuai dengan perkamen kuno tentang danau suci Guatavita yang sesungguhnya.Konon, danau suci itu terdapat di antara pegunungan Andes, di dalam sebuah gua yang kini sudah tertutup di dekat Bogota. Seluruh upaya pencarian tidak membuahkan hasil. Terkadang misteri memang bukan untuk diungkap.Memburu Emas El Dorado, semua berawal dari legenda. Dikisahkan dari mulut ke mulut oleh penjelajah Spanyol, tentang sebuah kota yang berlapis emas bernama El Dorado. Legenda ini menarik minat beratus-ratus pemburu harta karun. Namun, sebagian besar akhirnya menemui ajal, tewas di pedalaman belantara Amerika Selatan di gugus pegunungan Andes.Sejak penjelajah Spanyol, Juan Ponce de Leon pada 1513 menemukan Puerto Rico di Karibia, Ia mendengar kisah tentang emas di sana namun tak menemukannya. Sampai akhirnya, orang-orang Indian menyebut bahwa di Pulau Bimini (sekarang Bahama) ada sumber air awet muda. Ia kemudian lebih tertarik mencari air awet muda. Dalam pencarian tersebut, ia berlayar sampai ke semenanjung Florida.Dalam sebuah ekspedisi militer tahun 1521, Ponce de León mendarat di Charlotte Harbor (Florida) bersama 200 tentara yang menumpang 2 kapal. Saat itu pasukan ekspedisi militer Spanyol ini dihadang pejuang Indian Seminole. Pertempuran pun pecah. Ponce de Leon terkena panah dan segera dievakuasi. Namun, ia akhirnya menemui ajal setibanya di Kuba.Pasca de Leon, kisah tentang emas suku-suku Indian ternyata menarik bagi penjelajah Spanyol lain bernama Gonzalo Jiménez de Quesada. Dengan menggunakan kekuatan senjata pada 1530-an, Quesada bersama pasukan ekpedisi merangsek ke pedalaman Amerika Selatan.Ia kemudian mendarat di wilayah kerajaan Bogota (sekarang columbia) dan untuk pertama kali bertemu dengan suku Indian Chibcha (Sering disebut Muisca) di tahun 1537. Indian yang menghuni dataran tinggi yang erat dengan kisah emas tersembunyi.Lalu ekspedisi lain yang dipimpin Sebastian de Belalcazar mendengar legenda El Dorado. Dalam bayangannya El Dorado adalah sebuah kota atau wilayah dengan emas yang melimpah ruah. Namun, pencarian itu tak pernah membuahkan hasil.Kegilaan pada emas terus menghantui para penjelajah. Orellana and Gonzalo Pizarro pada 1541 menyusul memasuki teritori Indian melalui perairan Amazon dengan melakukan pembantaian Indian dan pencarian emas yang paling brutal.Para penjelajah tak pernah mengetahui pasti apakah El Dorado yang sesungguhnya. Kecuali, cerita rakyat dan legenda yang membaur bahwa El Dorado berhubungan dengan emas dan harta karun paling berharga milik suku-suku Indian Amerika Selatan.Padahal sesungguhnya, arti kata El Dorado lebih mendekati pengertian "Orang Emas" (Golden Man) ketimbang sebuah tempat emas (Golden Place). Yang dalam penyebutan suku Indian lokal sebagai El Rey Dorado yang artinya raja emas. Karena katanya, kota ini dipimpin oleh seorang raja yang kuat dan dengan kekayaan emas yang tak terhingga.Penyalahartian El Dorado sebagai suatu tempat dengan emas dan permata yang melimpah, ternyata telah membutakan para penjajah dan penjelajah Eropa. Konsepsi El Dorado yang tak pernah jelas asal-muasal aslinya, ditangkap orang-orang Eropa sebagai misteri tentang harta karun terpendam.Maka sejak isu tentang kota emas itu merebak, para pencari harta dan penjelajah berupaya mati-matian mencari lokasinya. Ternyata setiap ekspedisi yang dikirim selalu mengalamai kebuntuan. Total korban tewas dalam upaya pencarian emas ini mencapai ribuan.Mereka tewas dalam pertempuran dengan suku-suku Indian, terjebak keganasan alam hutan hujan tropis, tewas dalam kecelakaan di medan jelajah pegunungan dan lembah, namun tidak menemukan titik terang tentang harta karun, emas atau pun permata.Lalu, apakah sesunguhnya El Dorado itu?Chibcha adalah satu suku yang mendiami dataran tinggi di wilayah gugus pegunungan Andes teritori Columbia. Dalam sebuah catatan tentang mitologi suku ini, kemungkinan El Dorado merupakan lambang dari sebuah energi besar yang mengandung kekuatan trinitas dari Chiminigagua. Sebuah kekuatan penciptaan semesta.Namun, kemudian El Dorado digunakan secara metaforis untuk merujuk pada tempat benda berharga yang bisa ditemukan. Karena itulah, nama El Dorado bisa ditemukan di dalam peta Amerika, terutama sebuah tempat di California dan beberapa tempat lain.El Dorado juga digunakan untuk merujuk pada pengertian cinta, surgawi, kebahagiaan, atau kesuksesan. Bisa juga dipakai untuk menyatakan sesuatu harapan yang tidak terwujud atau ilusi yang tak nyata. Pemaknaan ini berkaitan dengan banyak upaya menguak misteri emas di balik El Dorado.Dan Sir Walter Raleight pernah menduga, El Dorado sebagai sebuah kota di tepian Danau Parima tak jauh dari Orinoco, Guyana (sekarang Venezuela). Dan beberapa penjelajah yang putus asa pernah berencana mengeringkan Danau Guatavita yang diduga menjadi kuburan harta karun suku Chibcha.Karena di tepian danau di wilayah Sesquile, Provinsi Almeidas itu pernah ditemukan sejumput hiasan emas dan batu zamrud. Namun, upaya itu tak pernah diwujudkan.
Ted Bundy
Berapa waktu silam, US sedang banyak membicarakan salah satu pembunuh berantai paling berbahaya di Amerika bernama "Ted Bundy", yang dikategorikan sebagai seorang psikopat yang berbahaya. Netflix sendiri sampai membuat dokumenter khusus dirinya berjudul "Conversations with a Killer: The Ted Bundy Tapes" dan film yang di bintangi Zac Efron berjudul "Extremely Wicked, Shockingly Evil and Vile" .Ted Bundy adalah salah satu pembunuh berantai paling terkenal di Amerika Serikat. Hanya dalam waktu 4 tahun saja (1974-1978) dia berhasil membunuh 30 perempuan, bahkan polisi memperkirakan dirinya membunuh lebih banyak dari itu. Dia akan mengambil bagian tubuh dari korban sebagai trophi, bahkan polisi menemukan beberapa kepala korban di apartemennya. Selain mengambil bagian tubuh, dia juga menyetubuhi mayat yang sudah dia bunuh. Parahnya Bundy mampu lolos selama 2 kali ketika sudah di tahan.Pertama Bundy pernah ditahan di tahun 1975 karena menangkap seorang wanita bernama, Carol DaRonch, dan divonis 15 tahun penjara. Di tahun 1977 memloloskan diri dari penjara dengan melompat dari jendela perpustakaan penjara. Untungnya dia ditangkap lagi delapan hari setelah lolos, namun dia berhasil lolos lagi hingga ditangkap tahun 1978. Setelah penangkapan kedua kalinya Bundy mendapatkan penjagaan yang ketat hingga tahun 1989 ketika dirinya di eksekusi mati.Hal yang membuat Ted Bundy berbeda adalah kemampuannya untuk membuat para korbannya percaya dengan dirinya. Kadang kala dia beralasan mobilnya sedang mengalami masalah namun dia tidak bisa menyelesaikan masalah itu karena sedang cedera. Banyak orang juga merasa bahwa Ted mampu untuk mencari korban dengan cepat karena wajahnya yang ganteng dan memesona.Latar belakang kehidupan Ted BundyTed Bundy terlahir dengan nama Theodore Robert Cowel dari seorang single parent . Namun sang ibu yang masih muda tak mengakuinya sebagai anak, melainkan berperan sebagai kakak perempuannya dalam keluarga mereka saat itu.Mengetahui wanita yang diyakini sebagai kakak perempuan ternyata ibu kandungnya, Bundy mulai mengalami mental breakdown. Bundy mulai berubah menjadi pendiam dan mengisolasi diri. Upaya ayah tirinya untuk mendekatkan Bundy dengan keluarganya dimentahkan.Ted Bundy terlihat menonjol karena kecerdasan otaknya. Karenanya mudah saja bagi Bundy meraih sarjana psikologi di Universitas Washington pada 1972.Di universitas, Bundy jatuh cinta pada gadis populer dan kaya bernama Stephanie. Namun, Bundy dibuat kecewa lantaran perempuan itu mengakhiri hubungannya secara tiba-tiba dan menghilang begitu saja.Setelah putus cinta, Bundy lebih giat kuliah dalam rangka mengambil hati keluarga cinta pertamanya. Setelahnya, ia terjun ke dunia politik dan menjadi juru kampanye kharismatik untuk Partai Republik.Ketika kekayaan sudah dicapai, Bundy untuk kedua kalinya berkesempatan bertemu dengan Brooks dan menjalin cinta. Brooks pun yakin untuk menikah dengan Bundy. Namun di saat seperti itu, Bundy dengan sengaja meninggalkan Brooks seperti yang dilakukan wanita itu kepadanya.Dendamnya kepada kisah cinta pertamanya membuat dirinya diliputi amarah. Ia pun melampiaskan amarahnya kepada perempuan-perempuan yang memiliki ciri-ciri fisik yang sama dengan Brooks.Sebanyak 30 pembunuhan yang diakui oleh Bundy. Sebelum dibunuh semua korbannya dilecehkan dan diperkosa terlebih dulu. Beberapa di antaranya sengaja dipenggal untuk diambil kepalanya. Penggalan kepala itu disimpan Bundy sebagai kenang-kenangan.Kasus perkosaan dan pembunuhan berantai yang dilakuan Bundy susah diungkapkan. Kebanyakan polisi terkecoh oleh pesona ramah dan ketampanan Bundy.Polisi menganggap tidak mungkin sosok berlatarbelakang pendidikan psikologi menjadi tersangka pembunuhan berantai yang mengerikan. Kharismati dan ketampanan Bundy jugalah yang membuatnya mudah saja memperdaya korban.Identitas Bundy terungkap setelah ada seorang korban yang berhasil lolos dari tikamannya. Dan pada akhirnya, Bundy meninggal di atas kursi listrik di Penjara Raiford Florida.Kisah hidupnya berulangkali dibuatkan film, termasuk serial terbaru yang ditayangangkan di Netflix beberapa waktu lalu berjudul 'Extremely Wicked, Shockingly Evil and Vile.' Zac efron memerankan karakter psikopat kharismatik tersebut.Sekilas tentang psikopatDengan kepribadiannya yang dingin dan aksinya yang sangat brutal membuar profesor kriminologi, Scott A. Bonn Ph.D. mengelompokkan dirinya sebagai seorang psikopat.Hal yang paling mendasar dari seorang psikopat aadalah kurangnya empati karena tidak memahami emosi sama seperti orang lain rasakan. Mereka sangat sulit mengerti apa yang banyak orang rasakan, sehingga tidak terlalu memedulikan orang lain. Menjelaskan emosi pada psikopat seperti menjelaskan warna pada orang buta warna, mereka akan sangat susah memahaminya. Oleh karena itu semua hal yang mereka lakukan seringkali tidak mempertimbangkan nasib dan perasaan orang lain, mereka hanya peduli dengan diri sendiri dan kebutuhan apa yang harus dipenuhi.Psikopat juga sangat terkenal sebagai seorang pembohong, meski kondisi tidak memaksa mereka untuk berbohong. Disamping itu mereka kadang mampu memikat perhatian dari perkataan dan perilakunya, hal ini karena mereka bisa fokus untuk mendalami "apa yang orang lain mau" untuk kepentingan mereka sendiri. Beberapa ciri-ciri di atas juga terlihat pada Ted Bundy dalam menjalankan aksinya.Dia sendiri pernah mengatakan ketika dirinya di interogasi bahwa "aku adalah orang berdarah dingin yang paling berengsek yang pernah kalian temui".Setelah mendengar Ted Bundy dan beberapa ciri psikopat, pastinya banyak dari kita menilai bahwa seorang psikopat akan jadi pembunuh dan kriminal. Namun sebenarnya masih ada beberapa hal keliru, dan ternyata banyak sekali kondisi orang psikopat bisa menguntungkan dirinya.Paul Babiak, penulis buku berjudul “Snakes in suits: When Psychopaths go to work” , meneliti 203 pegawai perusahaan dan menemukan 4% dari mereka ditemukan skor yang tinggi sebagai orang yang condong memiliki kepribadian seorang psikopat.Namun mereka suka juga tidak memiliki catatan kriminal dan menjadi seorang kriminal. Mereka bekerja seperti orang kebanyakan, malah ada beberapa yang jauh lebih sukses dari yang lain. Hal itu dikarenakan kebanyakan psikopat mampu bekerja dengan angat cepat dan memiliki IQ yang jauh lebih tinggi dari yang lain, karena dia tidak banyak terpengaruh oleh pertimbangan moral dalam dirinya.Mereka juga hidup seperti yang lain, menikah, punya keturunan dan bisa berkarier dengan sangat baik. Jadi, masih menganggap psikopat pasti seorang pelaku kriminal?.