Suara Cilo
Fantasy
30 Jan 2026

Suara Cilo

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-30T232952.701.jfif

download - 2026-01-30T232952.701.jfif

30 Jan 2026, 16:31

download - 2026-01-30T232950.981.jfif

download - 2026-01-30T232950.981.jfif

30 Jan 2026, 16:31

Suara Cilo

Cilo adalah peri berambut keriting dengan pipi tembem. Dia sangat lucu dan juga ramah. Jika bicara, suaranya halus bahkan hampir tidak terdengar. Semua teman-temannya menyukai Cilo, kecuali satu kurcaci di ujung hutan.

"Cilo, kita butuh banyak jamur untuk membuat asinan pesanan Ratu. Kita harus pergi ke ujung hutan dimana kurcaci Mozi menanamnya," kata peri Tita suatu pagi.

"Baik Tita, ayo kita mengambilnya ke sana!"

"Apa katamu?" Tita menatap sahabatnya.

"Ayo kita mengambilnya sekarang juga." Cilo berbisik di telinga Tita

"Tapi, ini masih sangat pagi."

"Tidak apa-apa, ayo!"

Cilo dan Tita terbang menuju ujung hutan dengan membawa keranjang jamur.

Tanaman jamur milik Mozi Kurcaci tampak sangat indah dengan macam-macam bentuk dan warna.

"Ratu menyukai jamur yang merah ini, Cilo!" Teriak Tita ketika sampai di kebun jamur.

"Tunggu Tita! Sebaiknya kita menemui Tuan Mozi dulu."

"Apa katamu?" Tita menoleh.

"Kita harus mencari Tuan Mozi dulu," ulang Cilo.

"Cilo, kalau bicara itu yang keras aku nggak mendengar!" Teriak Tita sambil memasukkan jamur pada keranjang.

Cilo hanya melongo dan tidak bicara lagi.

"Hai sedang apa kalian di sana!" Teriakan bergema mengegetkan kedua peri yang sedang asyik memanen jamur itu.

Seorang kurcaci datang dengan wajah marah.

"Letakkan jamur itu!" Teriaknya nyaring.

Cilo dan tita saling berpandangan. Keduanya sepakat untuk turun dan meletakkan keranjang jamur.

"Maaf anda siapa?" Tanya Tita heran.

"Aku Lilo, penjaga kebun jamur Tuan Mozi. Kalian mencuri ya?!" Lilo kurcaci melotot.

"Maaf, Tuan Lilo. Kami tak bermaksud mencuri. Kami membutuhkan jamur ini untuk membuat asinan pesanan ratu." Tita mencoba menjelaskan.

Lilo melirik Cilo yang tak bicara sedikit pun. "Kalau butuh saja kalian datang! Kalian ini peri sombong!"

Tita dan Cilo saling bertatapan dengan cemas.

"Maaf Tuan, kenapa bilang kami sombong?" Tanya Tita.

"Tanya saja sama dia!" Seru Lilo melirik Cilo yang langsung memerah pipinya.

"Cilo ada apa?" Tanta Tita menatap sahabatnya. Cilo menggeleng dan mengangkat kedua tangannya.

"Pulang saja kalian! Aku tak sudi memberikan jamur ini untuk peri sombong!" Lilo pergi sambil membawa keranjang jamur milik Tita dan Cilo.

"Cilo, apa yang telah kau lakukan?" Kembali Tita menatap sahabatnya.

Cilo hanya merenung sambil duduk di salah satu jamur.

"Kau beberapa hari yang lalu kemana saja?" Tita mencoba membuka ingatan Cilo.

"Aku hanya mengantar asinan jamur. Memang itu kan pekerjaanku!"

"Apa kau bertemu Tuan Lilo!" Tita bertanya lagi.

Cilo mondar mandir sambil mengingat ingat.

"Aku mengantarkan asinan terakhir ke ke rumah Nyonya Min. Eits tunggu, aku ingat!"

"Ingat apa?"

"Iya aku bertemu Tuan Lilo dan Lian anaknya!"

"Dimana?"

"Di jalan sebelum ke rumah Nyonya Min."

"Lalu?"

"Saat itu hujan. Tuan Lilo dan Lian memesan asinan juga. Aku bilang kalau asinannya habis, itu saja."

Tita mengernyitkan dahi.

"Kenapa Tuan Lilo marah? Apa karena asinannya habis? Tapi kan tidak perlu marah."

"Aku juga tidak tahu."

"Ayo kita datangi dia lagi!" Seru Tita menarik tangan Cilo.

Tampak tuan Lilo sedang merapikan jamur yang dipetik mereka berdua ke freezer.

"Tuan, apa kau marah karena asinan jamurnya habis waktu itu?" Tanya Tita.

"Kalau habis aku maklumi. Temanmu itu yang kelewat sombong!" Tuan Lilo tak menjawab tanpa menoleh.

Tita menatap Cilo.

"Kenapa Tuan menganggap saya sombong? Saya kan bilang kalau asinannya habis, jadi maaf kami tidak bisa mengantarkan pesanan Tuan."

"Apa katamu? Aku tidak dengar," kata Tuan Lilo menoleh.

"Cilo bilang asinannya waktu itu habis. Dia bilang maaf tidak bisa mengantarkan pesanan hari itu ke rumah Tuan." Tita mengulang ucapan Cilo.

"Oh jadi begitu? Aku tahu sekarang. Kau ini peri dengan suara yang sangat pelan bahkan dalam jarak dekat begini. Tahukah kamu, aku dan anakku Lian menunggumu lama sekali dalam kondisi kelaparan waktu itu. Kau tidak datang!"

Cilo betul-betul kaget.

"Maafkan aku Tuan Lilo. Aku benar-benar minta maaf," ucapnya dengan penuh penyesalan.

"Apa katamu?"

"Maafkan aku, Tuan Lilo!" Cilo berkata sambil berteriak. Teriakannya itu bergema di seluruh kebun jamur mengagetkan banyak binatang yang masih tidur. Seluruh binatang menatap mereka dengan kaget.

"Cilo?" Tita merangkul sahabatnya.

"Itulah suaraku kalau berteriak. Aku hanya akan mengganggu tidur para binatang dan juga teman-teman." Cilo menunduk.

"Cilo, maafkan aku. Aku hanya salah paham, kukira kamu peri sombong yang tak mau bicara," ucap Lilo kurcaci.

"Jadi, bolehkah kami mengambil jamurnya?" Tanya Tita dengan mata berbinar.

"Silakan. Tapi ada syaratnya." Tuan Lilo menatap mereka.

"Apa itu?"

"Antarkan aku asinan jamurnya." Kurcaci Lilo tersenyum.

"Baik, Tuan!" Teriak Cilo yang disambut tawa Tita dan Lilo.

===========================

Hai hai Readers! Apa kabarnya?😊

Maaf baru updet lagi, saya sedang sedikit sibuk menyelesaikan beberapa deadline menulis buku.

Selamat mendongeng ya, terima kasih banyak.😊😘



Kembali ke Beranda