Ternyata Suamiku
Teen
27 Jan 2026

Ternyata Suamiku

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-27T190323.097.jfif

download - 2026-01-27T190323.097.jfif

27 Jan 2026, 12:03

download - 2026-01-27T190319.273.jfif

download - 2026-01-27T190319.273.jfif

27 Jan 2026, 12:03

Angin sore menyapa rambut Salca yang terurai saat ia menurunkan koper terakhir dari mobil travel. Kota Srigading tampak sunyi, jauh dari hiruk pikuk ibu kota. Tepat seperti yang ia butuhkan: tempat untuk menghilang. Tempat untuk melupakan semua yang membuatnya hancur.

Sudah satu tahun sejak kecelakaan itu—kecelakaan yang merenggut segalanya. Hidupnya, identitasnya, bahkan ingatannya.

Kini, yang ia tahu hanyalah nama pemberian keluarga panti: Salca . Nama baru, hidup baru, tanpa masa lalu.

Di rumah sebelah, tinggal seorang pria bernama Roly . Warga menyebutnya "duda kaya", pemilik rumah mewah bergaya kolonial. Ia hampir tak pernah berbicara, namun tiap sore terlihat menyiram taman dan memberi makan anjing Dobermann-nya, Leo .

Pertemuan pertama mereka... tidak manis.

Salca sedang mengecat pagar ketika embernya terjatuh. Roly yang lewat hanya menatapnya datar.

"Pakai sarung tangan. Cat itu keras di kulit," katanya singkat.

Sebelum Salca sempat menjawab, pria itu sudah berlalu. Nyebelin, pikirnya. Tapi entah kenapa, wajah dingin itu... terasa familiar.

Beberapa minggu kemudian, Salca mulai merasakan hal aneh. Setiap kali berpapasan dengan Roly, jantungnya berdetak tak karuan. Kadang ia merasa seperti pernah berada di dalam rumah mewah itu. Bahkan, pernah mimpi berciuman di balkon yang sangat mirip dengan balkon rumah Roly.

"Cuma mimpi aneh," katanya menenangkan diri.

Tapi mimpi itu makin sering muncul. Dan yang lebih aneh lagi—dalam mimpi itu, ia dipanggil dengan nama "Sayang" oleh suara yang sangat mirip... suara Roly.

Suatu malam, Salca demam tinggi. Pingsan di ruang tamu. Saat ia terbangun, ia terkejut mendapati dirinya... terbaring di sofa mewah rumah Roly.

"Aku nemu kamu di lantai. Kamu ngigau nyebut 'Roly... Roly...'," kata pria itu pelan sambil menyodorkan sup hangat.

Salca terdiam. "Aku... nyebut namamu?"

"Iya."

Dan saat itulah, sebuah kilas balik menyeruak di benaknya: dirinya mengenakan gaun pengantin. Tangan menggenggam tangan pria bertuxedo. Di hadapan mereka... penghulu.

Dan pria itu... adalah Roly .

Salca menggigil.

"Aku... kita... pernah menikah?" bisiknya.

Roly menatapnya lama. Mata cokelat gelap itu tak bisa menyembunyikan luka.

"Kita suami-istri, Salca. Kau hilang lima tahun lalu setelah kecelakaan di Swiss. Semua orang mengira kau meninggal. Tapi aku... aku yakin kau masih hidup. Dan aku benar."

Salca menggeleng. "Itu tidak mungkin..."

Roly mengambil sesuatu dari laci. Album foto. Di dalamnya: foto pernikahan mereka, tiket bulan madu, dan... surat nikah.

Air mata menetes tanpa izin.

Salca mulai percaya. Tapi itu tak membuat semuanya mudah.

Ia hidup selama bertahun-tahun dengan identitas baru. Dunia lamanya asing. Ia tak ingat cinta yang katanya pernah ia bagi bersama Roly. Bahkan, ia sempat dekat dengan pria lain—yang ternyata hanya berniat memanfaatkannya.

Sementara Roly... terlalu sempurna untuk ia pahami. Kaya, penyendiri, misterius, dan sangat mencintainya.

"Kenapa kamu gak cari istri lain?" tanya Salca suatu malam.

Roly tersenyum tipis. "Karena yang hilang bukan hanya istriku, tapi jiwaku. Dan kamu bawa keduanya."

Salca mencoba menyatukan masa lalu dan masa kini. Ia membuka kembali album, surat cinta lama, rekaman suara, hingga video pernikahan mereka. Perlahan, rasa itu muncul. Ia mulai memanggil Roly tanpa ragu. Ia mulai ingat lagu mereka, candaan khas mereka, dan bagaimana Roly selalu mengelus kepalanya sebelum tidur.

Namun, yang paling membuat hatinya bergetar adalah satu hal:

Tatapan Roly tak pernah berubah , bahkan setelah lima tahun kehilangan.

Di hari hujan yang sama seperti malam pertama mereka bertemu kembali, Salca memanggil Roly ke taman rumahnya.

"Aku ingat semuanya."

Roly menatapnya.

"Dan aku... ingat kenapa aku jatuh cinta sama kamu dulu."

Salca mengambil tangannya.

"Karena bahkan saat aku lupa segalanya... hatiku tetap memilih kamu."

Roly memeluknya erat. Tak ada kata yang bisa menggambarkan momen itu.

Hanya satu kenyataan yang tersisa:

Ternyata, dia memang suaminya. Dan kini, mereka punya kesempatan kedua untuk jatuh cinta lagi.

Beberapa minggu setelah Salca mengingat segalanya dan menerima kenyataan bahwa Roly memang suaminya, hubungan mereka mulai membaik. Namun kehidupan yang tenang itu tak bertahan lama.

Suatu hari, seorang pria muncul di depan rumah. Namanya Alvino , pria yang dulu dekat dengan Salca saat ia kehilangan ingatannya. Pria yang mengaku menyelamatkan Salca dan sempat ingin melamarnya.

"Kau milikku dulu, Salca," kata Alvino saat Roly tak ada.

Salca menatapnya dengan dingin. "Dulu, iya. Tapi sekarang aku tahu siapa aku, dan aku tahu di mana rumahku."

Namun Alvino tak menyerah. Ia menyebar gosip ke tetangga bahwa Roly sebenarnya menyembunyikan Salca dari dunia, bahkan menyebut Roly manipulatif.

Desakan dari warga dan gosip tak membuat Roly marah. Tapi Salca melihat perubahan: Roly menjadi lebih tertutup, lebih sering termenung. Suatu malam, ia akhirnya membuka suara.

"Waktu kau hilang, aku depresi. Aku hampir menjual rumah ini dan pergi jauh. Aku bahkan sempat dirawat karena gangguan stres berat."

Salca menggenggam tangannya erat. "Kenapa kamu gak bilang dari awal?"

Roly tersenyum sedih. "Karena aku ingin kamu mengenalku sekarang, bukan sebagai pria rusak yang dulu."

Salca menangis malam itu. Ia sadar, cintanya lebih besar dari yang ia kira.

Hubungan mereka kembali menghangat. Salca mulai menata kembali hidup lamanya. Ia menulis diari, mulai melukis—kebiasaan lamanya sebelum kecelakaan.

Suatu pagi, ia merasa mual dan pusing.

Tes kehamilan menunjukkan dua garis merah.

Salca hamil.

Saat ia memberi tahu Roly, pria itu sempat diam cukup lama. Lalu air matanya jatuh.

"Aku pikir aku gak akan pernah lihat kamu tersenyum seperti ini lagi."

Kehamilan Salca tak mudah. Karena cedera rahim akibat kecelakaan dulu, dokter memperingatkan risikonya tinggi. Salca harus bedrest total.

Di sinilah cinta Roly diuji. Ia mengurus semuanya: memasak, menyuapi Salca, memijat kakinya, bahkan mencuci rambutnya.

Suatu malam saat Salca kesakitan, ia berkata lemah, "Kalau nanti aku gak selamat, jaga anak kita..."

Tapi Roly menahan air mata.

"Tidak. Kita bertiga akan selamat. Kita harus bahagia. Itu janjiku sejak aku mengikat cincin di jarimu."

....................

Hari kelahiran tiba. Proses berjalan lama dan penuh ketegangan. Tapi akhirnya, tangis bayi memecah ruang operasi. Seorang bayi perempuan sehat lahir ke dunia.

Roly menangis. Salca juga.

Beberapa hari kemudian, mereka duduk di balkon rumah, Salca menggendong bayi kecil mereka.

"Aku masih gak percaya," bisik Salca. "Setelah semua yang terjadi... kamu tetap di sini."

Roly mencium keningnya. "Aku gak pernah ke mana-mana. Karena aku cuma punya satu rumah—kamu."

Salca tersenyum, menatap langit senja.

"Dulu aku pikir kamu orang asing. Tapi ternyata... kamu suamiku. Rumahku. Takdirku."

Dan kali ini, mereka benar-benar memulai lagi. Dari cinta yang hilang, kini tumbuh kembali—lebih kuat dari sebelumnya.


~END~


Kembali ke Beranda