Gambar dalam Cerita
Jam dinding menunjuk pukul empat sore ketika sebagian besar siswa sudah meninggalkan halaman sekolah. Hanya beberapa anak OSIS dan petugas kebersihan yang masih terlihat di area kampus. Namun di tribun lapangan basket yang sepi, seorang siswa laki-laki masih duduk dengan tubuh condong ke depan, tangan menggenggam bola basket yang sudah usang.
Namanya Arlian . Pendiam, penulis puisi, dan bukan tipe yang suka keramaian. Ia lebih suka langit sore daripada lampu kota, lebih nyaman menulis daripada bicara. Dan sejak beberapa bulan terakhir, ia semakin sering datang ke tribun itu. Bukan hanya karena senja yang cantik, tapi karena seseorang.
Suara langkah mendekat. Ringan. Tidak terburu-buru.
"Masih suka ngumpet di sini?" tanya suara itu, akrab.
Arlian menoleh. Salsa berdiri di sampingnya, mengenakan seragam sekolah dengan jaket digantung di bahu. Rambutnya dikuncir tinggi, dan senyumnya—seperti biasa—hangat.
"Bukan ngumpet," jawab Arlian. "Nungguin langit."
Salsa duduk di sampingnya tanpa diundang. "Langitnya sama setiap sore. Tapi kamu nggak bosen?"
"Langitnya nggak pernah benar-benar sama," gumam Arlian.
Mereka terdiam sebentar. Lalu Salsa berkata pelan, "Aku suka kamu, Arlian."
Arlian menoleh. Jantungnya seperti berhenti sepersekian detik. Bukan karena ia kaget, tapi karena perasaan itu ternyata tidak sepihak.
"Aku tahu," jawab Arlian.
Salsa mengerutkan kening. "Kamu tahu? Dari kapan?"
"Dari caramu ngeliatin aku waktu rapat redaksi. Dari cara kamu selalu duduk deket aku tiap di lapangan. Dan... dari caramu nggak pernah marah walau aku susah ditebak."
Salsa tertawa kecil. "Kenapa nggak ngomong duluan?"
"Aku takut. Takut kamu berubah pikiran kalau tahu aku sebenarnya rumit."
"Justru karena kamu rumit, aku tertarik."
Diam sebentar.
"Aku juga suka kamu," kata Arlian akhirnya.
Hari itu, tanpa pengumuman, tanpa pelukan, mereka resmi saling mencintai.
Hari-hari selanjutnya, hubungan mereka tumbuh pelan. Bukan yang heboh atau penuh status media sosial. Mereka cukup tahu; cukup saling.
Setiap pulang sekolah, mereka duduk di tribun. Kadang diam, kadang ngobrol, kadang hanya saling tatap sambil dengar lagu lewat satu earphone yang dibagi dua. Arlian mulai menulis puisi-puisi yang lebih personal, dan Salsa mulai membaca lebih banyak dari sebelumnya, agar bisa mengerti dunia sunyi milik Arlian.
"Aku bikin ini waktu kamu nggak masuk," kata Arlian suatu hari, menyodorkan selembar kertas bertulisan tangan.
Langkahmu seperti bayangan sore
Lambat tapi menenangkan
Aku tak perlu tahu ke mana kamu pergi
Asal kamu ajak aku ikut
Salsa membacanya dengan mata berbinar. "Kamu serius bikin ini buat aku?"
Arlian mengangguk. "Sore itu sepi. Tapi kamu tetap ada di pikiranku."
Namun, seperti langit, cinta tak selamanya cerah.
Menjelang ujian semester, Salsa mulai terlihat lelah. Raut wajahnya mulai sering murung, dan ponselnya jarang aktif. Arlian mencoba mengerti, tapi ia tak bisa membohongi rasa khawatirnya.
Suatu sore, Salsa datang ke tribun setelah hampir dua minggu tak muncul.
Wajahnya pucat. Matanya bengkak.
"Aku dimarahin Mama," katanya lirih. "Nilai-nilaiku jelek. Aku disuruh berhenti dari kegiatan ekstrakurikuler, termasuk jurnalistik."
Arlian diam. Ia tahu betapa Salsa mencintai dunia menulis, betapa ia hidup dari kata-kata.
"Dan... aku diminta berhenti ketemu kamu dulu," lanjut Salsa. "Katanya aku terlalu sering main, terlalu sering keluar rumah."
Arlian menunduk. Hatinya berat.
"Aku nggak mau kamu jadi beban," ucap Salsa. "Aku juga nggak pengen kehilangan ini semua. Tapi... kalau aku terus kayak gini, aku kehilangan kepercayaan orang tuaku."
"Kamu mau putus?" tanya Arlian pelan.
"Enggak," jawab Salsa cepat. "Tapi aku... perlu ruang. Perlu waktu."
Arlian menarik napas dalam. "Oke."
Salsa menatapnya dalam-dalam. "Kamu marah?"
"Enggak. Tapi sedih, iya."
Salsa meraih tangannya dan menggenggam erat. "Aku sayang kamu, Lian."
"Aku juga, Sal."
Hari itu, mereka berpisah bukan karena tak saling cinta. Tapi karena saling mengerti.
Waktu berjalan. Mereka tak lagi rutin bertemu. Kadang hanya bertukar pesan singkat, kadang hanya saling lihat dari kejauhan di sekolah. Tapi tak ada dendam, tak ada saling jauhi. Hanya ruang—dan rindu yang terjaga diam-diam.
Arlian tetap menulis. Salah satu puisinya bahkan dimuat di majalah sekolah edisi kelulusan:
Ada yang tak selesai, tapi tak harus diperpanjang
Ada yang tak kembali, tapi tak pernah benar-benar pergi
Kamu, mungkin bukan takdirku
Tapi kamu tetap yang terindah di tiap soreku
Hari kelulusan tiba.
Suasana sekolah riuh oleh foto-foto, tangis perpisahan, dan pelukan. Arlian datang dengan kemeja biru dan celana bahan, menggenggam buku kenangan yang nyaris kosong.
Ia mendapati Salsa duduk sendiri di taman belakang. Seperti sudah menunggunya.
"Hey," sapa Arlian.
Salsa berdiri dan tersenyum. "Hey."
Tak ada pelukan. Tak ada drama. Tapi ada rasa yang mendalam.
"Aku masih baca puisimu," kata Salsa.
"Aku masih simpan fotomu di dompet," balas Arlian.
Mereka tertawa kecil.
Lalu Salsa membuka buku kenangan miliknya. Di sana, Arlian menulis satu halaman penuh:
Kamu bukan hanya kisah SMA-ku
Kamu adalah orang pertama yang membuat aku ingin dibaca, bukan disembunyikan
Aku nggak nyesel pernah duduk bersamamu di tribun, sore-sore
Dan kalau suatu hari nanti kita ketemu lagi
Aku harap kamu masih suka langit sore
Salsa menutup bukunya perlahan.
"Selamat jalan ya, Lian."
"Selamat tumbuh, Sal."
~END~