Gambar dalam Cerita
Salsa masih ingat dengan jelas hari pertama ia masuk SMA—bukan karena semangat masa putih abu-abu, tapi karena langsung bertengkar dengan seorang cowok menyebalkan bernama Roly. Hanya karena mereka rebutan bangku dekat jendela, semuanya berubah jadi medan perang kecil.
"Kamu yang datang belakangan, kok malah ngusir?" protes Salsa waktu itu.
Roly mengangkat alis, "Siapa cepat dia dapat. Atau kamu mau duduk di lantai aja?"
Murid-murid lain tertawa. Tapi tidak dengan Salsa. Sejak hari itu, dia menandai Roly sebagai musuh nomor satu .
Dan entah kenapa, semesta seolah mendukung permusuhan mereka. Tiga tahun SMA, selalu sekelas. Saat Salsa menang lomba pidato, Roly menyindirnya "tukang ceramah". Saat Roly jadi ketua OSIS, Salsa terang-terangan memprotes. Perdebatan mereka jadi tontonan favorit teman-teman sekelas.
Di balik permusuhan itu, tak ada yang tahu bahwa ada hal kecil yang bersembunyi: perhatian yang tak pernah diakui .
....
Beberapa tahun kemudian, setelah mereka menjalani kehidupan masing-masing, Salsa fokus mengejar karier di dunia periklanan. Perempuan mandiri, ambisius, dan tidak tertarik menjalin hubungan.
Hingga suatu malam, ayahnya—yang telah lama sakit jantung—memanggilnya.
"Ayah cuma ingin satu hal sebelum pergi, Sal... Lihat kamu menikah."
Salsa terdiam. Ia ingin membantah, tapi tangis ibunya sudah lebih dulu pecah.
Dan keesokan harinya, saat nama calon yang disebutkan adalah Roly , rasanya seperti dijatuhi petir.
"Mereka sudah lama dekat, Sal. Sahabat Ayah dan Om Bram ingin menjodohkan kalian sejak lama," jelas ibunya.
Salsa ingin menolak, tapi dia juga tahu... waktu ayah tidak lama lagi. Dan di tengah dilema itu, Roly muncul.
Masih dengan wajah dinginnya, tapi kini lebih dewasa, lebih tenang.
"Kalau kamu nggak mau, bilang aja. Tapi... aku mau lakuin ini buat orang tua."
Dan akhirnya, dengan hati berat, Salsa mengangguk.
....
Pernikahan mereka berlangsung sederhana. Tidak ada pelaminan mewah, tidak ada pesta besar. Hanya dua keluarga yang saling menatap penuh harap.
Roly dan Salsa resmi menjadi suami-istri—dua orang yang dulu saling benci, kini berbagi atap.
Malam pertama mereka bukan malam romantis. Roly tidur di sofa. Salsa di ranjang. Sepasang cincin di jari mereka terasa seperti borgol tak kasat mata.
"Mau sampai kapan begini?" tanya Salsa suatu malam.
"Sampai kita menemukan cara buat keluar dari ini tanpa menyakiti siapa-siapa," jawab Roly pelan.
Hari-hari awal pernikahan mereka berjalan seperti dua orang asing yang tinggal dalam satu rumah. Percakapan hanya seputar hal-hal penting: belanja bulanan, urusan keluarga, atau tagihan listrik.
Namun seiring waktu, ada hal-hal kecil yang mengubah segalanya.
Roly mulai membuatkan kopi tiap pagi, tanpa diminta. Ia ingat jenis teh favorit Salsa. Dia diam-diam mengganti lampu kamar mandi yang rusak, membersihkan kaca mobil istri yang kotor.
"Kenapa kamu ngelakuin semua ini?" tanya Salsa.
"Karena kamu istriku."
....
Suatu hari, Salsa jatuh sakit. Demam tinggi membuatnya lemas dan tidak bisa bangun dari tempat tidur.
Saat membuka mata, ia mendapati Roly tertidur di sisi ranjang, menggenggam tangannya erat.
"Aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap Roly lirih ketika sadar Salsa terbangun.
Salsa tak mampu menjawab. Dadanya sesak oleh perasaan yang tidak bisa ia definisikan.
Sejak hari itu, ia mulai melihat Roly dengan cara berbeda.
Ia perhatikan cara pria itu memperhatikan detail kecil: menyiapkan jaket saat cuaca dingin, memasang pengingat di ponselnya agar Salsa minum obat, atau menyelipkan makanan kesukaan di kulkas.
Semua perhatian itu... perlahan mencairkan kebekuan di hati Salsa.
....
Suatu malam, saat mencari dokumen di lemari Roly, Salsa menemukan sebuah kotak kecil. Isinya surat-surat lama, potongan kertas bertuliskan puisi, dan yang paling mengejutkan: foto dirinya saat SMA .
Di balik foto itu tertulis:
"Kalau saja aku cukup berani, mungkin dia sudah jadi milikku sejak dulu."
—R
Tangis Salsa pecah. Semua sikap menyebalkan Roly di masa lalu ternyata bukan karena benci, tapi karena... rasa suka yang tak bisa diungkap.
....
Salsa mendekati Roly malam itu, memperlihatkan foto tersebut.
"Jadi... semua ini... sejak SMA?"
Roly menatapnya lama, lalu mengangguk. "Aku nggak pernah benci kamu, Sal. Aku cuma... nggak tahu caranya deketin kamu. Dan kamu terlalu keras kepala buat didekati dengan cara biasa."
"Jadi kita bertahun-tahun buang waktu buat musuhan... padahal saling suka?" tanya Salsa, separuh tertawa, separuh menangis.
Roly tersenyum. "Lebih baik telat dari pada nggak sama sekali, kan?"
Dan untuk pertama kalinya, mereka berciuman. Bukan karena drama, bukan karena tuntutan, tapi karena cinta yang akhirnya menemukan jalannya.
....
Dua tahun kemudian, Salsa duduk di ruang tamu rumah mereka yang kini terasa benar-benar seperti "rumah." Di pangkuannya, seorang bayi laki-laki tertidur lelap.
Roly datang membawa dua cangkir teh, mencium kening Salsa lalu duduk di sampingnya.
"Aku masih nggak percaya kalau kamu dulu musuh bebuyutanku," kata Salsa.
Roly terkekeh. "Dan sekarang jadi cinta sejatimu?"
"Lebih dari itu... Kamu rumahku."
Mereka tertawa kecil. Dunia boleh berubah, tapi satu hal takkan pernah berubah: cinta yang hadir setelah pertengkaran panjang, justru terasa paling dalam.
....
Kebahagiaan rumah tangga Salsa dan Roly sempat terasa sempurna. Namun, hidup tak pernah sesederhana itu. Sebuah pesan masuk ke ponsel Salsa, dari nomor tak dikenal.
"Lama tak bertemu. Aku masih ingat kita pernah punya rencana masa depan. Mau kopi sore ini?"
Pengirimnya: Dion , mantan pacar Salsa yang dulu sempat berjanji menikahinya—sebelum menghilang tanpa kabar.
Salsa terdiam lama. Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh. Dion adalah bagian dari masa lalunya yang tidak pernah ia pahami akhir ceritanya. Tapi dia juga sadar, sekarang dia sudah menjadi istri Roly .
Sialnya, Roly melihat pesan itu malam harinya. Tak ada nada marah, hanya satu tatapan dingin yang membuat jantung Salsa mencelos.
"Dia... datang lagi?" tanya Roly pelan.
Salsa mengangguk.
"Aku cuma mau tahu... kenapa dulu dia pergi," kata Salsa.
"Dan kamu pikir kamu berhak tahu, setelah kamu menikah sama aku?" Nada suara Roly berubah.
Pertengkaran tak terhindarkan malam itu. Untuk pertama kalinya, mereka tidur dengan punggung saling membelakangi. Tak ada kata cinta. Tak ada pelukan pagi. Yang ada hanyalah dingin , dan luka yang terbuka kembali.
....
Salsa menemui Dion di sebuah kafe. Pertemuan singkat itu menjawab semua pertanyaan yang tertunda selama bertahun-tahun. Dion mengaku saat itu dia kabur karena dijodohkan oleh keluarganya ke luar negeri. Tapi kini, dia kembali—dan menyesal.
"Aku bisa memperbaiki semuanya. Kita bisa mulai dari awal."
Salsa hanya menatapnya kosong.
"Maaf. Aku sudah menikah."
"Tapi kamu nggak mencintai dia, kan?" desak Dion.
Salsa terdiam. Sebuah bayangan muncul—Roly yang merawatnya saat demam, membelikan cokelat saat dia lelah, diam-diam menyelimutinya saat tertidur di sofa.
"Aku benci dia dulu... tapi sekarang aku takut kehilangan dia."
Itulah jawabannya.
....
Salsa pulang dan mendapati rumah kosong. Tidak ada suara Roly. Tidak ada aroma kopi. Hanya keheningan yang menyesakkan.
Di meja makan, ada sepucuk surat:
"Aku pernah jadi pengecut waktu SMA—menyembunyikan perasaan dengan cara yang salah.
Sekarang aku kembali jadi pengecut karena cemburu pada seseorang dari masa lalu kamu.
Tapi yang paling aku takutkan...
Kamu lebih memilih dia, bukan aku."
– Roly
Salsa mengejarnya. Hujan deras malam itu tak menyurutkan langkahnya. Ia tahu ke mana harus mencari—apartemen lama Roly, tempat kenangan mereka dulu dimulai.
Saat pintu dibuka, Roly berdiri di ambang pintu. Basah, lelah, dan... patah.
"Aku milikmu," ucap Salsa pelan. "Kalau aku pernah mencintai dia, itu dulu. Tapi kamu... kamu yang aku pilih sekarang. Dan besok. Dan setiap hari setelahnya."
Malam itu mereka saling berpelukan. Tanpa suara. Hanya detak jantung yang menjawab.
....
Tak lama setelah konflik itu mereda, cobaan lain datang.
Salsa keguguran.
Kandungan yang baru berjalan dua bulan itu, hilang dalam satu malam penuh tangis dan darah. Roly yang saat itu sedang di luar kota, segera pulang dengan panik. Di rumah sakit, ia mendapati Salsa dengan mata bengkak dan tubuh lemah.
"Aku nggak bisa jadi ibu yang baik..." bisik Salsa, suara tercekat.
"Jangan pernah bilang begitu. Kamu kuat, Sal. Kita gagal sekali, bukan berarti gagal selamanya."
Mereka melewati masa-masa berat itu bersama. Menangis di malam hari. Diam saat sarapan. Tapi perlahan, mereka bangkit. Bersama.
....
Setahun kemudian, Salsa hamil kembali. Tapi kali ini, ia memilih berhenti kerja sementara. Roly menolak awalnya—khawatir Salsa kehilangan jati diri. Tapi Salsa meyakinkannya.
"Aku ingin fokus. Kali ini aku ingin menikmati semuanya—bersama kamu."
Di usia kandungan tujuh bulan, mereka pindah ke rumah baru. Tak besar, tapi hangat. Setiap sudutnya dipenuhi foto-foto mereka—dari SMA hingga kini.
Roly bahkan membuatkan kamar bayi dengan tema langit malam, lengkap dengan bintang dan bulan di langit-langit.
"Biar anak kita tahu, dia datang ke dunia dengan cinta."
....
Tiga tahun kemudian, pagi di rumah kecil itu selalu ramai.
Tawa seorang balita laki-laki, suara Roly yang cerewet soal popok, dan Salsa yang kini bekerja dari rumah sebagai konsultan kreatif—semua menyatu menjadi simfoni kebahagiaan.
Suatu sore, mereka duduk di teras, seperti biasa.
"Dulu aku benci kamu setengah mati," kata Salsa sambil menyeruput teh.
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku cinta kamu... seumur hidupku."
Roly memeluknya dari samping. "Ternyata musuh terbesarku... adalah cinta terbesar dalam hidupku."
~END~