Gambar dalam Cerita
Lian, CEO muda dan tampan dari perusahaan media digital terbesar di Jakarta, terkenal karena dua hal: profesionalismenya yang dingin dan ketampanannya yang mematikan.
Ia tidak pernah mencampur urusan kerja dengan urusan hati. Bahkan banyak yang bilang, pria itu anti cinta.
Sampai suatu hari, datanglah seorang sekretaris baru bernama Salca —perempuan berwajah manis dengan mata tajam dan bibir jenaka. Bukan tipe wanita pendiam. Bukan juga tipe yang akan takut pada bos sekelas Lian.
"Kalau kamu ingin bertahan di sini, jangan terlalu banyak bicara," kata Lian saat hari pertama.
Salca hanya tersenyum. "Kalau Anda ingin saya diam, pastikan tidak sering-sering menatap saya seperti itu, Pak."
Lian terdiam. Bibirnya sempat menyungging senyum tipis, lalu buru-buru menepisnya.
Wanita ini... berbeda.
....
Hari-hari berikutnya di kantor tidak pernah sama lagi. Salca punya cara sendiri untuk 'mengganggu' Lian. Dari menyelipkan sticky note berisi kalimat genit di laptop sang CEO, hingga pura-pura menjatuhkan pena hanya untuk membungkuk di hadapannya.
Tapi Lian tetap diam. Dingin. Tak bergeming.
Hingga suatu malam, hujan deras turun, dan Salca masih bekerja lembur. Lian lewat dan tanpa berkata apa-apa, meletakkan jaket di bahunya.
"Aku bisa antar kamu pulang," katanya.
Salca terkejut. "Tumben, Pak Bos perhatian."
Lian tidak menjawab. Tapi di dalam mobil, selama perjalanan, hening itu justru terasa... hangat.
....
Suatu malam, Salca mendengar kabar dari rekan kerja: Lian pernah patah hati parah karena ditinggal tunangannya di altar. Sejak saat itu, pria itu tak pernah membiarkan siapa pun mendekat. Termasuk dirinya.
Salca mulai ragu.
"Jangan-jangan aku cuma main-main sendiri..."
Tapi Lian, diam-diam, sudah mulai gelisah juga. Perempuan itu terlalu cerah untuk diabaikan. Terlalu berani untuk dilupakan.
Suatu hari, Salca tidak masuk kerja. Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Lian merasa... kehilangan.
....
Setelah dua hari absen, Lian memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Ia mendatangi alamat rumah di data HRD, dan menemukan Salca demam tinggi, sendirian.
Tanpa banyak bicara, ia membelikan obat, membuatkan bubur, dan menemani sampai Salca tertidur.
Pagi harinya, saat Salca membuka mata, Lian sedang duduk di lantai, tertidur dengan tangan masih menggenggam tangan Salca.
Saat Salca menggerakkan jari pelan, Lian terbangun dan menatap matanya.
"Aku pikir aku bisa terus jadi dingin sama kamu," ucap Lian pelan. "Ternyata... aku salah."
....
Setelah pengakuan itu, hubungan mereka berubah. Tidak lagi ada batasan dingin antara bos dan sekretaris. Tapi mereka sepakat: cinta ini tetap harus tersembunyi.
Namun, cinta diam-diam tak pernah bisa benar-benar sembunyi.
Desas-desus mulai terdengar. Rekan kerja mulai bergosip. Hingga akhirnya, pemegang saham utama mendesak Lian: pilih antara profesionalisme... atau skandal yang bisa menghancurkan reputasi.
Lian bimbang. Tapi Salca justru yang membuat keputusan lebih dulu.
Ia mengajukan surat pengunduran diri.
"Aku mencintaimu, tapi aku tidak ingin jadi alasan reputasimu hancur," katanya dengan air mata di mata.
....
Dua bulan setelah kepergian Salca, Lian berubah. Ia tidak fokus bekerja. Setiap ruangan terasa kosong. Setiap pagi, ia mencari-cari sticky note yang tak pernah lagi muncul.
Hingga suatu pagi, ia menghentikan rapat, berdiri, dan berkata:
"Ada seseorang yang lebih penting dari perusahaan ini. Dan aku bodoh karena membiarkannya pergi."
Dia keluar, mengendarai mobilnya sendiri, dan datang ke tempat Salca kini bekerja—di kantor kecil milik startup temannya.
Di hadapan semua orang, Lian berdiri dan berkata:
"Kamu sekretarisku dulu. Sekarang, biarkan aku jadi milikmu sepenuhnya. Aku mau kamu... jadi istriku."
Salca menatapnya. Terdiam. Lalu tersenyum kecil.
"Kamu yakin bisa ngadepin aku tiap hari seumur hidupmu?"
"Selama kamu tetap gangguin aku seperti dulu... aku yakin."
....
Beberapa bulan kemudian, mereka menikah secara sederhana. Salca tidak lagi menjadi sekretaris, tapi kini menjadi pemilik hati sang bos besar.
Lian yang dulu dingin, kini jadi pria paling perhatian. Dan Salca? Masih sama. Masih suka menggoda. Tapi sekarang, dengan tambahan status: istri sah .
Dan setiap pagi, sebelum Lian berangkat kerja, Salca akan berbisik:
"Hati-hati ya, Pak Bos. Jangan godain sekretaris lain."
....
Setelah permintaan lamaran mendadak dari Lian, kabar itu menyebar lebih cepat daripada yang mereka kira. Foto Lian memegang tangan Salca di depan kantor startup tempat Salca bekerja menyebar di media sosial, dibagikan oleh salah satu karyawan di sana.
Pagi berikutnya, media ramai dengan judul:
"CEO Muda Jatuh Cinta pada Sekretarisnya—Cinta di Balik Meja Kerja!"
Lian menghela napas panjang di ruangannya. Sementara Salca hanya bisa tertunduk, merasa bersalah telah menjadi pusat perhatian yang seharusnya bukan miliknya.
"Maaf, aku nggak bermaksud bikin semua jadi ribet," ucap Salca.
Lian mengangkat wajahnya. "Ribet memang. Tapi kamu tahu? Aku lebih takut kehilangan kamu daripada kehilangan reputasi."
....
Masalah belum selesai. Di tengah hebohnya kabar pertunangan mereka, muncul satu nama lama: Tiara , mantan tunangan Lian yang dulu meninggalkannya di altar.
Tiara kembali dari luar negeri dan datang langsung ke kantor Lian, tanpa izin. Dengan wajah cantik dan percaya diri, ia langsung masuk ke ruang CEO, membuat Salca yang sedang duduk di luar menegang.
"Kamu masih milik aku, Lian. Jangan bilang kamu benar-benar jatuh cinta sama... sekretarismu itu?"
Lian berdiri pelan, tenang namun tegas. "Dulu kamu yang pergi. Sekarang aku sudah milik orang lain."
Tapi Tiara tak mudah menyerah. Dia mulai menyebarkan rumor ke para investor, menyebut Lian tidak profesional dan menjadikan perusahaan tempat 'main cinta'.
Akibatnya, dewan direksi mulai mempertanyakan kapasitas Lian sebagai CEO. Mereka mendesak agar Lian memutuskan: pertahankan posisinya... atau lepaskan Salca.
....
Tekanan itu akhirnya membuat Lian mengambil langkah drastis: meminta Salca pergi dari hidupnya.
"Aku ingin kamu pergi jauh dari aku, Salca," kata Lian malam itu. Dingin. Datar.
Salca membeku. "Kamu bohong."
"Enggak. Aku nggak bisa lagi mempertaruhkan semuanya demi hubungan ini."
"Jadi aku cuma gangguan, ya?" suara Salca bergetar.
Tanpa kata lagi, Salca pergi. Malam itu, dia meninggalkan apartemen Lian—dan juga hatinya yang telah terlanjur ia beri pada pria itu.
....
Tiga bulan berlalu. Salca bekerja di sebuah perusahaan media kecil sebagai penulis konten. Ia mencoba memulai hidup baru—tapi setiap malam, ingatannya tetap kembali pada pria bernama Lian.
Sementara Lian tampak tenang di luar, tapi di dalam dirinya hancur. Ia tidak pernah memecat Salca. Ia tidak pernah mengganti sekretaris. Meja Salca tetap kosong. Sticky note yang dulu mengganggunya... kini justru dirindukannya.
....
Hingga suatu malam, Lian melihat presentasi dari perusahaan kecil yang sedang naik daun. Di dalamnya, ada nama yang sangat ia kenal.
Salca Rineka.
Tanpa pikir panjang, ia hadir ke acara peluncuran produk startup itu, duduk di deretan belakang. Dan saat mata mereka bertemu, dunia seolah berhenti.
Setelah acara, Lian mendekat.
"Kamu kelihatan kuat sekarang," katanya.
"Dan kamu terlihat lebih kurus," jawab Salca ringan, meski hatinya bergetar.
"Aku salah waktu itu. Aku takut. Tapi sekarang aku sadar... aku lebih takut hidup tanpa kamu."
Salca menatapnya, menahan air mata.
"Aku nggak butuh janji lagi, Lian. Aku cuma butuh bukti."
....
Sebulan kemudian, Lian mengundurkan diri dari posisi CEO dan menyerahkan jabatan pada wakilnya. Ia memutuskan membuka agensi media kreatif sendiri, dan mengajak Salca bergabung—bukan sebagai sekretaris, tapi sebagai partner bisnis sekaligus calon istri.
"Aku ingin mendirikan sesuatu dari nol, bersamamu. Tanpa tekanan, tanpa bayang-bayang siapa pun. Hanya kita."
Salca mengangguk, dan kali ini, dia tak ragu lagi.
....
Dua tahun kemudian, Salca dan Lian menikah dalam upacara kecil di tepi danau. Tak mewah, tapi hangat. Di hadapan keluarga dan sahabat, mereka saling bersumpah.
"Aku pernah menggoda kamu setiap hari," kata Salca, tertawa.
"Dan sekarang kamu yang berhasil buat aku menyerah," balas Lian sambil menggenggam tangan istrinya.
Di akhir hari, mereka sadar—hubungan yang dimulai dari candaan ringan, bisa jadi cinta yang paling kuat. Karena yang benar-benar bertahan... bukan hanya yang romantis, tapi yang berani berjuang bersama.
~END~