Gambar dalam Cerita
Hujan lebat mengguyur sekolahku, petir menyambar menyisakan cahaya kilatan petir. Lorong sekolah telah kotor dan basah karena jejak sepatu siswa siswi yang berlalu lalang. Aku berjalan tak tentu arah dan tujuan, tiba tiba aku melihat seorang gadis cantik tengah membaca buku dengan tenang, kulitnya kuning langsat, wajah tirus dengan kacamata yang menambah kecantikan wajahnya, rambutnya bergelombang dan sedikit di selipkan di balik telinganya.
Aku tak tahu siapa nama gadis manis itu, karena hari ini adalah hari pertama ku bersekolah di sini. Aku Rio siswa baru di sini, sialnya aku belum memiliki satu teman pun, seperti nya tak ada satu pun orang yang mau berteman dengan lelaki sepertiku.
Aku terlihat idiot kata teman ku dulu padahal apa kah berpenampilan rapih dengan baju rapih dan rambut di sisir rapih adalah telihat idiot? Menurutku tidak, justru mereka anak brandalan tak tahu aturan berpenampilan bebas dan rambut berwarna yang tampak mengerikan.
Ku lihat gadis manis itu masih memegang sebuah buku dengan raut wajah tenang. Baru saja aku berjalan mendekati nya bel tiba tiba berbunyi menandakan jal pelajaran kembali tiba, niat untuk berkenalan dengan nya ku urungkan.
Aku berjalan menjauhi nya "Besok, aku akan mengenalmu gadis manis."
***
Pelajaran telah usai, jam dinding menujukan pukul 15.30 waktu nya pulang, tiba tiba aku kembali teringat akan gadis manis yang tadi aku lihat. Aku pun segera ke luar dan melihat sekeliling, aku lupa kalau aku sama sekali tak tahu gadis itu kelas apa dan berapa, kalau begitu bagaimana mungkin aku bisa mencari nya sekarang.
Aku berjalan dan menuju gerbang sekolah berharap gadis manis itu belum pergi, saat aku baru melangkah kan kaki, tiba tiba aku melihat gadis manis berjalan agak jauh di depan ku, aku memang tak bisa melihat wajah nya tapi, aku yakin dia adalah gadis manis yang tadi aku temui.
Aku berlari mengejarnya, namun tanpa sengaja aku malah menabrak seseorang yang juga sedang berlari dari arah samping. “Woy, jalan liat liat." Ucap seseorang itu, ternyata dia adalah seorang perempuan, dari penampilan nya dia terlihat tomboy wajahnya mirip dengan gadis manis.
“Lo yang liat liat." Ucap ku pada nya. Aku tak melihat gadis manis tadi, mata ku mengedar ke seluruh penjuru sekolah namun nihil, gadis tadi hilang seketika. “Lo siapa?" Tanya ku pada gadis yang barusan bertabrakan denganku, dan ku lihat gadis di sampingku ini sedang mengusap kaki nya, astaga kakinya berdarah.
“Eh, kaki lo kenapa?" Tanya ku pada nya namun dia malah melihat ke arahku dengan tatapan sinis, dasar gadis aneh. “Ini kan gara gara lo" ucapnya, lalu berjalan meninggalkan ku, kaki nya yang berdarah di balut nya dengan dasi.
“Sorry yaudah sini gue obatin." Ucap ku padanya, namun dia malah tersenyum meremehkan. “Gak usah so care orang asing." Ucap nya, mataku tak bermasalah wajah nya mirip dengan gadis manis yang tadi ku lihat, apakah dia gadis tadi? tapi mengapa penampilan nya bisa berbeda? gadis tadi tampak feminim dan gadis ini tampak sangat tomboy.
Dia kembali melajutkan langkah nya “Tunggu." Ucap ku seketika berhasil membuat langkah gadis ini berhenti. “Nama lo siapa?" Tanya ku padanya.
“Shanti." Ucap nya lalu pergi berlalu. Aku menatap punggung nya dari belakang, dia mirip seperti gadis manis bahkan sangat mirip.
***
“Oke anak anak pelajaran sampai di sini dulu besok kita lanjutkan." Ucap Bu Arum ketika bel istirahat kembali berdering. Kelas perlahan sepi menyisakan aku yang masih sibuk memberekan buku. Setelah usai aku berjalan ke luar dan berniat mengisi perut di kantin.
“Doorr." Seseorang mengagetkan ku, aku berbalik dengan detak jantung masih tak beraturan ku lihat siapa orang ini.
“Shanti" Ucap ku.
Setelah kejadian di gerbang sekolah Aku dan Shanti jadi teman dekat, aku tahu Shanti adalah gadis manis yang ku lihat saat itu. Namun ada berbagai keanehan yang terjadi, Shanti sama sekali tak suka membaca buku dia lebih suka musik, Shanti tidak suka berpenampilan feminin dia lebih suka berpenampilan senyaman nya dia. Namun selalu ku tepis kemungkinan itu, mungkin itu hanya pikiran negatif.
***
Waktu kian berlalu aku dan Shanti telah lama berteman, ada keinginan dalam benak ku untuk melepas status teman yang telah lama melekat menjadi seseorang yang lebih istimewa, ya kalian pasti mengerti maksudku.
Sore ini di taman, aku berjanjian dengan Shanti untuk bertemu, tepat nya jam 15.00 sore ini, di rumah pikiran ku berdebar tak karuan. Aku mungkin grogi karena akan mengungkapkan semua rasa ku pada Shanti.
Ku lihat jam masih pukul 14.45, aku rasanya sudah tak sabar karena aku tak sabar aku pun menuju taman. Saat aku telah sampai, ku lihat seorang gadis mengenakan gaun putih dengan rambut terurai, dia pasti Shanti.
Aku berjalan dari arah belakang nya, perlahan lahan dan saat jarak sudah dekat rasanya tubuhku terasa dingin pasti karena grogi, pikirku. Aku menarik nafas secara perlahan “Rio." Panggil seseorang aku melihat ke sumber suara Shanti tengah berdiri di belakang ku dengan baju tomboy seperti biasanya.
Aku melihat ke arah kursi, gadis tadi yang ku kira Shanti kini tak ada, siapa gadis itu? Shanti menarik tangan ku dan kami duduk di kursi taman, wajah ku pucat bukan karena grogi tapi aku bingung siapa gadis tadi? “Shan, sejak kapan sampai?" Tanya ku. Shanti tersenyum “Kan tadi," ucap nya, aku menelan saliva berati gadis tadi bukan Shanti.
“Shan, aku mau nanya tapi kamu jangan tersinggung atau marah ya." Ucap ku mengendalikan suasana. Shanti mengangguk, aku berfikir mulai dari mana aku bertanya,“Kamu masih ingat pertama bertemu dengan ku?" Tanya ku pada nya.
“Ingat, di gerbang saat itu" jawab nya seketika.
“Berati kau tak menyadari waktu aku memperhatikan mu di lorong sekolah saat itu?" Shanti diam tampak mencerna apa yang aku tanyakan, dia menggeleng dengan wajah bingung. “Kapan? aku tak menyadari?" Tanya nya “Waktu itu kamu terlihat sedang membaca sebuah buku" Shanti kembali diam.
“Aku tak suka membaca buku dan aku tak suka berdiam di lorong." Jawaban Shanti membuat aku kaget, berati dia bukan Shanti? “Lalu siapa dia?" Tanya ku pada Shanti “Ciri cirinya?" Tanya Shanti kembali.
"Dia sangat mirip dengan mu, hanya saja sedikit feminin dengan kacamata nya, rambut nya teruarai." Ucap ku seketika merubah ekspresi wajah Shanti yang tadi nya tenang menjadi gugup.
Shanti terdiam sedikit lama, aku hanya diam menunggu Jawaban nya “Dia Shinta." Aku terdiam tak mengerti. “Bukan, aku melihat wajahnya dia mirip bahkan sangat mirip dengan mu tak mungkin aku salah lihat." Ucap ku. “Kau tak mengerti Rio," ucap Shanti, aku terdiam.
“Dia Shinta, kembaran ku." Ucap nya. Aku kaget berati gadis manis itu adalah Shinta bukan Shanti. “Dan mana Shinta?" Tanya ku padanya.
“Shinta udah meninggal kerena kecelakaan dulu waktu bus pariwisata yang di tumpangi menabrak bohon dan jatuh ke jurang, sial nya aku tak ikut, waktu itu aku dan dia jauh berbeda aku adalah wanita yang tak punya sopan santun dan dia sebaliknya, aku tak suka membaca buku dan dia sebaliknya, aku dan dia berbeda sangat berbeda." Ucap Shanti mengakhiri.
Aku membeku diam, kaget berati selama ini aku telah diam diam menyukai arwah Shinta, bukan Shanti.
****
End