Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
1144
Genre Romance
230
Genre Folklore
228
Genre Horror
228
Genre Fantasy
230
Genre Teen
228
Your Smile
Ku lihat weker, ternyata jam 5 pagi aku bergegas bangun setelah itu aku sholat, dalam sholat aku berdoa semoga hari ini lebih baik dari kemaren.Kenalkan namaku Annisa. pagi ini seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan diantar ayahku. Hari senin, kami akan melaksanakan upacara bendera. Upacara adalah momen yang selalu aku nantikan karena saat berbaris di lapangan karena aku dapat melihat seseorang yang aku kagumi.“kamu lagi nyari siapa Ca?” pertanyaan itu membuatku kaget dan menghentikan mataku yang terus mencari seseorang sejak tadi.“Hmm,, gak lagi nyari siapa-siapa kok Din” jawabku cuek.“Masak sih? Kamu jujur aja deh Ca?”“Tapi aku gak lagi nyari siapa-siapa, suer deh”“Iya deh aku percaya.”Aku memang belum menceritakan tentang seseorang yang aku kagumi itu kepada siapapun termasuk si Dinda sahabatku yang mulutnya ember banget. Dia gak bisa menyimpan rahasia dalam satu minggu pun. Aku takut menceritakan pada Dinda tentang pria itu. Bisa-bisa Dinda akan menyebarkannya dalam dua hari saja, dan aku gak mau itu sampai terjadi.Aku selalu memendam perasaanku ini hingga tak seorang pun yang tau.Oh ya aku lupa ada seseorang yang tau, dia adalah sahabatku sewaktu SMP dan sekarang dia sudah berada jauh di luar kota untuk melanjutkan sekolahnya. Terkadang aku merasa sakit dan butuh teman curhat namun rasa takutku dipermalukan jauh lebih besar. Jadi aku lebih memilih menyimpanya rapat-rapat dalam hatiku. Selain temanku waktu SMP tak ada lagi yang tau perasanku selain aku, Tuhan dan diaryku.Pada awalnya aku tak percaya cinta pada pandangan pertama itu ada, mana mungkin seseorang akan jatuh cinta saat dia baru pertama kali melihat seseorang tersebut dan bahkan belum mengenalnya, bagaimana bisa jatuh cinta? Namun semua itu hilang saat kejadian itu.TIGA TAHUN YANG LALU...Hari ini adalah hari pertama sekolah sejak aku naik ke kelas VIII. Karena hari pertama jadi tidak ada pelajaran tapi karena kos ku sagat dekat dengan sekolah aku tetap datang setidaknya untuk melihat siswa kelas VII yang sedang melaksanakan MOS.“Ca temanin ke kelas kak Sri ya?” ajak Tari sahabatku.“Mau ngapain Ri? Nanti pulang sekolah kamu juga ketemu kan?” jawabku. Aku merasa malas harus berjalan siang ini.“Iya tapi aku pengen liat anak-ank yang lagi MOS. Lagian ngapain kita duduk aja dikelas dari tadi.” Dia terus membujuk.“Ya udah deh. Yuk” akhirnya aku tak menolak lagi.Sesampai di kelas kak Sri, Tari langsung menemui kak Sri. Aku hanya menunggu di depan kelas. Karena bosan menunggu aku berjalan menuju kelas di sebelah kelas kak Sri yang merupakan kelas VII yang sedang melaksanakan MOS. Namun karena hari sudah siang mereka sudah istirahat, namun pandanganku tersita oleh sebuah senyuman disana, seseorang yang tengah terenyum pada perempuan yang berdiri di depannya.Aku terpaku karena senyuman itu, jantungku berdegup sangat kencang, lidahku terasa kaku dan keringat membasahi tubuhku seperti hujan. Aku benar-benar tak mengerti apa yang sedang melandaku.“Aku kembali ke kelas ku dulu ya” ujarnya pada perempuan di depannya lagi-lagi tersenyum yang membuatku detak jantungku tak menentu.“Ya, hati-hati” balas perempuan itu.“Kamu disini toh Ca? Aku nyariin tauk.” Tari datang mengejutkanku dan membuyarkan lamunanku barusan.“Eh, udah Ri?” jawabku gugup.“Udah, bagaimana kalau kita keliling dulu liat anak-anak lagi MOS.” Ajak Tari.“Ini kan udah jam istirahat Tar, mereka pasti lagi nyari makan karena habis dikerjain.”“Iya juga ya Ca. Trus kita mau kemana?” tanya Tari.“Terserah kamu.”“Gimana kalau kita ke kantin juga, laper nih.”“Boleh tuh.” Jawabku.Semenjak hari itu aku jadi sering memperhatikan pria yang memiliki senyuman indah itu dari kejauhan, tapi aku tak berani untuk mendekatinya ataupun bertanya tentang dia pada seseorang. Pada awalnya untuk mengetahui namanya saja sangat sulit bagiku yang tak berani menanyakan perihal pria yang membuatku jatuh hati saat pertama melihat senyumannya. Untung saja kakak kos ku adalah sahabat dari kekasih pria itu sehingga darinya lah aku mengetahui nama pria itu.Kakak kos ku selalu menceritakan kisah cinta lelaki itu dengan kekasihnya yang tak lain adalah sahabat kak rani. Aku adalah pendengar yang setia dari perjalan kisah cinta pasangan itu. Meskipun memiliki pacar yang dua tahun lebih tua darinya tapi aku tau dari cerita kak Rani mereka merupakan pasangan yang sangat romantis. Aku makin mengagumi lelaki itu mendengarkan kisah cintanya.Aku benar-benar menikmati sekali cerita kak Rani dengan topik yang sama, bahkan aku selalu menanti- nanti karena dengan mendengarkan cerita kak Rani aku mengetahui banyak hal tentang dirinya meski tanpa mengenal dirinya. Meskipun terbesit rasa cemburu yang sebenarnya tak wajar aku rasakan padanya karena aku hanyalah pengagum rahasia lelaki itu.“Hari ini Yoli mutusin Randi.” Kata kak Rani tampak senang.“Kenapa kak?” aku mendekati kak Rani untuk bertanya lebih jelas.“Entahlah, aku sendiri gak tau apa masalah mereka.”“Tapi bukannya mereka itu pasangan yang romantis kak?” aku masih merasa bingung.“Aku sendiri juga bingung, tapi Yoli bilang dia gak mau pacaran sama anak kecil dan Yoli gak nganggap bahwa dia pernah pacaran sama Randi.” Jelas kak Rani.“Tapi aku merasa sangat senang, karena pasti anak jahil itu lagi patah hati sekarang.” Ucap kak Rani terlihat senang.Perasaanku saat itu campur aduk antara sedih, senang dan kasihan membayangkan orang yang aku kagumi sedang patah hati dan pasti dia dalam suasana hati yang buruk. Tapi dibandingkan rasa senang aku jauh merasa sedih mengetahui hal itu karena aku gak mungkin bisa bahagia atas kesedihannya, karena kesedihannya adalah kesedihanku juga dan melihatnya bahagia akan membuatku jauh lebih bahagia. Apa mungkin ini yang di sebut cinta sejati? Atau cinta buta? Entahlah.Yang jelas semakin hari aku semakin memperhatikan pria itu dari kejauhan tanpa sepengetahuannya dan tanpa sepengetahuan siapapun.Waktu terasa berjalan sangat cepat, kini aku sudah duduk di kelas IX dan sebentar lagi akan meninggalkan sekolah ini. Aku merasa takut tidak bisa melihat Randi lagi, aku takut tak bisa melihat senyuman indahnya lagi aku benar-benar merasa takut.Hari ini aku dan Tari sedang berjalan pulang. Aku dan Tari bertemu dengan Randi yang sedang nongkrong dengan teman-temannya.“Kok pulangnya lama sekali kak?” kata Randi sambil tersenyum ke arah kami. Mungkin itu adalah sapaan pertamanya untukku meskipun bukan khusus untukku.“Masalah buat Lo!” jawab Tari enteng. Sedangkan diriku jangankan untuk menjawab sapaan itu untuk tersenyum saja terasa hambar.“Kamu kenapa Ca?” Tanya Tari setelah kami berlalu darinya.“Gak apa-apa kok.” Jawabku sambil tersenyum pada Tari dan mendelikkan mata.“Jadi dia?” tanya Tari.Aku hanya mengangguk lemah. Tari mungkin melihat pipiku memerah karena sapaan itu atau tubuhku yang gemetar mendengar suaranya.***Hari itu datang juga. Hari kelulusanku, aku merasa bahagia karena aku dinyatakan lulus dari sekolah menengah pertama ini tapi aku juga merasa sedih karena mungkin aku tak bisa lagi melihat senyuman Randi, tak dapat lagi melihat dirinya meski hanya dari kejauhan.Aku merasa sangat sedih untuk meninggalkan semua kenangan yang ku lalui di sekolah ini, aku sedih meninggalkan mimpi-mimpiku, aku sedih meninggalkan cinta pertamaku. Cinta pada pandangan pertamaku. Dan cintaku tertiggal di SMP, aku harap dia akan menyusulku ke SMA yang sama setidaknya untuk melihat senyuman itu lagi.SETAHUN KEMUDIAN...Dalam satu tahun itu aku tak pernah bisa melupakan Randi. Sampai saat ini aku masih mengingat senyuman pertamanya walaupun senyuman itu untuk Yoli tapi sedikitpun aku tak pernah bisa melupakannya. Dan aku masih berharap dia akan menyusulku ke sekolah ini tak mengapa aku hanya menjadi pengagum rahasia seperti dulu asalkan aku dapat melihat senyum itu sekali lagi.Harapanku dikabulkan oleh Tuhan. Randi benar-benar sekolah di sini. Aku tidak sanggup untuk tidak melihat senyuman itu, senyuman pertama yang meninggalkan kesan selamanya dihatiku. Sekarang senyuman itu masih sama seperti tiga tahun yang lalu saat pertama kali aku melihatnya dan senyuman itu masih sama bukanlah untukku melainkan untuk seseorang yang entah siapa.Pemilik senyum itu masih orang yang sama, orang yang tak pernah menganggap keberadaanku,orang yang tak pernah tau perasaanku terhadapnya dan aku juga berharap orang itu tak mengetahui perasaanku saat ini karena aku masih belum benar-benar melupakan dirinya.Aku bahagia karena Tuhan izinkan aku mengenalnya. Aku tak pernah merasa menyesal pernah mengenalnya walaupun aku hanya menjadi pengagum semata. Aku juga tak berniat untuk melupakan Randi begitu saja, aku hanya ingin menghapus rasa cintaku pada Randi yang tak semestinya aku miliki.Terima kasih Randi, kamu membuat aku mengerti arti cinta sesungguhnya. Arti mencintai tanpa harus memiliki seperti aku yang mencintaimu tapi aku tak harus memilikimu dan Aku tak harus memilikimu untuk mencintaimu.Aku hanya berharap suatu saat nanti Randi akan mengerti perasaanku terhadapnya, dia tak perlu membalas perasaan itu, cukup dia mengetahui bahwa dirinya pernah bersemayam sangat lama di hati ini dan merupakan kenangan termanis dalam kisah cintaku semanis senyuman pertamamu.=TAMAT=
Kata Cinta
Pagi ini sangat cerah seperti biasa aku bangun dan bergegas berangkat sekolah. Kenalkan aku Fandy sekarang aku duduk di kelas XI MIPA.Pagi ini aku berangkat sekolah dengan teman yang selalu setia mengantarku kemana saja. Dia adalah sepeda motor. Kendaraan pertama yang dibelikan ayah sebagai hadiah ulang tahun ku.Setiba di sekolah aku pergi ke kantin untuk mengisi perut yang selalu ribut setiap pagi. selesai makan aku menyusuri koridor menuju kelasku. Fikiranku melayang pada kejadian beberapa bulan belakangan ini.Kedua orang tuaku ribut besar dan rumah tangga orang tuaku diambang kehancuran. Kemudian aku merasakan seseorang menubruk tubuhku dari depan yang berhasil membuyarkan lamunanku. Bajuku basah karena minuman yang dibawa seseorang yang menubruk tubuhku barusan."Eh..sorry,sorry" Ujarnya sambil membersihkan bajuku yang basah dengan tangannya."Tidak apa-apa"Balasku sambil menatap wajah bgersalahnya."Tapi baju kamu jadi kotor begini gara-gara aku,aku mintak maaf ya tadi aku tak melihatmu karena aku jalan sambil mendengarkan earphone,sekali lagi aku mintak maaf ya." Katanya lagi penuh penyelasan."Tidak apa-apa aku juga bersalah, tadi aku jalan sambil melamun" Kataku."Kalau begitu aku akan membersihkan bajuku di toilet dulu."Sambungku dan berlalu meninggalkanya, sebelum aku pergi dia sempat meminta maaf sekali lagi.Aku tidak ingin membersihkan bajuku ini, biarlah baju ini menjadi saksi bisu perbincangan ku dengan gadis yang ku puja.Akhir-akhir ini aku sering menjadikan kertas dan pena sebagai teman. Tempat aku mencurahkan segala isi hatiku dan mengembangkan menjadi cerita atau puisi terlebih setelah retaknya rumah tangga orang tuaku."Fan hari ini ada rapat pengurus mading, lo udah tau belum?" Tanya Meli saat aku baru sampai di kelas."Oh ya, Kapan?""Sekarang, barusan sarah telpon katanya disuruh kumpul di ruang OSIS" Jelas Sarah.Akhirnya aku dan Meli memutuskan untuk pergi bersama ke ruang osis.Semenjak aku hobi menulis aku memutuskan bergabung menjadi pengurus mading untuk menyalurkan bakatku.Rapat anggota pengurus mading kali ini dalam rangka memperingati hari ulang tahun sekolah. Mading akan menerbitkan artikel tentang berbagai persiapan dan kegiatan apa saja yang akan ditampilkan pada hari ulang tahun sekolah nanti."Fan kamu akan mewawancarai dan meliput persiapan masing-masing ekskul" Kata Kak Arif selaku ketua pengurus mading."Baik Kak" Jawabku yakin.Aku sangat senang bisa mengemban tanggung jawab ini karena salah seorang anak ekskul seni yang aku kagumi sejak lama. Aku sudah tidak sabar untuk memulaitugas ini.Kegiatan pertama yang aku liput persiapanya adalah ekskul keagamaan kemudian ekskul olahraga dilanjutkan dengan pramuka dan paskibraka dan yang terakhir persiapan ekskul seni. Inilah yang sangat aku tunggu-tunggu.Aku berdiri mematung dihadapanya,aku bingung harus memulai wawancara ini. Aku tidak tahu bagaimana memulai wawancaranya.Akhirnya tugasku pun selesai, sekarang hanya tinggal menyusun hasil liputan dan wawancaraku menjadi sebuah artikel untuk diterbitkan di mading. Aku merasa sangat senang hari ini meskipun hanya tanya-jawab biasa saja.***Sepulang sekolah aku langsung menuju kamar,maklumlah semenjak rumah tangga orang tuaku retak ayah sudah tak tinggal di rumah ini. Aku hanya menjadikan kamar sebagai tempat ternyaman. Pulang sekolah aku akan langsung menuju kamar dan hanya akan keluar jika ada perlu saja jika tidak maka aku akan mengurung diri di kamar seharian.Setelah aku mengganti pakaianku aku duduk di meja belajarku. Pikiranku kembali mengingat kejadian tadi siang.Akhirnya aku mengetahui namanya,Bunga. Sesuai dengan namanya dia adalah bunga di hati yang menambah warna di hidupku. Siang itu ditemani oleh pena dan kertas aku menuangkan semua perasaanku pada Bunga dalam sebuah puisi.Pagi ini seperti biasa aku berangkat sekolah. Aku sengaja berangkat lebih awal pagi ini karena hasil wawancaraku kemarin menghilang. Aku rasa kertas tersebut tertinggal di ruang ekskul seni. Dan ternyata benar saja hasil wawancaraku kemarin tertinggal di ruangan itu.Saat aku kembali menuju kelasku aku teringat akan puisi yang kemarin aku tulis sebagai ungkapan isi hatiku pada Bunga. Aku membaca puisi itu sepanjang perjalanan menuju kelasku sampai semua kertas di tanganku berhamburan ke lantai termasuk puisiku karena seseorang menabrak tubuhku."Maaf, aku gak sengaja..Kamu?" ujarnya sambil memunguti kertas yang bertebaran di lantai.Aku tertegun sejenak setelah mengetahui siapa yang menabrak tubuhku barusan."Maafkan aku, aku tidak sengaja."ujarnya lagi"tidak apa-apa""Maaf ya, seharusnya aku tidak mendengarkan earphone sambil jalan hingga menabrakmu sampai dua kali" Sesalnya."Tidak apa-apa kok." Kataku."aku malah merasa senang." kataku dalam hati.Setelah mengambil kertas di tangan Bunga yang tadi dipungutinya akupun berlalu meninggalkanya bersama dengan rasa bersalahnya. Setelah aku menjauh ku dengar dia memanggilku namun aku tak menghiraukan panggilan itu,malah aku mempercepat langkahku meninggalkan gadis cantik itu.Aku terhenyak dikursiku dan mengingat kembali kejadian tadi. Bagaimana mungkin seseorang yang sangat mencintai musik seperti Bunga bisa bersatu denganku yang hanya terfokus pada barisan kata yang rapi dan indah. Munkin kata dan nada memang tak mungkin pernah bersatu."Fan ada yang nyari tuh." Aku tersadar mendengar suara itu."Siapa?""Tuh" Tunjuknya ke arah jendela.Ku lihat seorang gadis tengah duduk disana tapi aku tak melihat wajahnya karena membelakangi jendela. Aku segera menghampiri gadis itu. Aku sangat terkejut ternyata yang mencariku adalah Bunga. Ku lihat dia tersenyum saat aku menghampirinya."Kamu Fandy?" tanya BungaAku hanya mengangguk karena terlalu gugup berhadapan dengan Bunga."Aku kesini mau mintak maaf atas kejadian tadi,...""Oh tidak masalah, lupakan saja" putusku sebelum dia menyelesaikan ucapanya."Bukan bukan itu, sebenarnya aku mencarimu karena ingin mengembalikan ini."ujarnya memperlihatkan sebuah kertas."ini puisimu kan?"tanyanya kemudian.Aku terkejut melihat puisiku berada di tangan Bunga. Aku merasa senang sekaligus malu, aku senang karena puisi yang ku tulis untuk Bunga sekarang ada di tanganya dan aku merasa malu karena menghiraukan panggilanya tadi."Hei kenapa diam? Apa benar ini puisimu?""I..iya""Tadi setelah membaca puisimu aku jatuh cinta dengan kata-katanya,begitu indah seperti ungkapan perasaan seseorang." Aku hanya diam menunggu kalimat berikutnya."Kalau kamu tidak keberatan aku ingin menjadikan puisimu menjadi lirik lagu untuk ku nyanyikan pada acara ulang tahun sekolah nanti"Deg!! Jantung ku berdegup sangat kencang. Aku tak percaya Bunga akan menyanyikan puisi yang ku ciptakan khusus untuknya."Bagaimana, Kamu tidak keberatan kan?""Oh tidak sama sekali, malahan aku merasa sangat terhormat kalau kamu bisa menyanyikan itu di acara ulang tahun sekolah nanti."Semenjak saat itu aku dan Bunga sering betemu. Aku dan Bunga menjadi sahabat. Bunga sering mengatakan bahwa dia menyukai karyaku, aku hanya membalas dengan mengatakan bahwa aku juga mengagumi suara dan kemampuanya bermain musik.Ternyata pemikiranku selama ini salah. Kata dan nada dapat diatukan bahkan mereka tidak dapat terpisahkan. Kata- kata yang indah jika diberikan nada yang bagus akan menjadi sebuah karya seni yang Wow.Acarapun dimulai. Berbagai aksi pun ditampilkan aku turut ambil bagian didalamnya yaitu membacakan sebuah puisi yang berupa ungkapan isi hatiku pada Bunga. Aku sudah menyiapkanya sejak beberapa hari terakhir. Sudah berbagai aksi ditampilkan kini giliran Bunga dan bandnya. Bunga berperan sebagai vokalis. Bunga tampak anggun di atas panggung dan menyanyikan puisi yang kuciptakan khusus untuknya.Aku merasa senang karena Bunga bisa menyanyikan perasaanku padanya yang tak dapat ku ungkapkan secara langsung. Setelah penampilanya Bunga menghampiriku."Fan" sapanya sambil tersenyum. Aku menjadi sangat gugup karena gadis cantik itu berjalan menghampiriku."Makasih ya Fan" ujarnya sambil memeluk tubuhku setelah cukup dekat denganku.Aku sungguh tak percaya sekarang aku berada dalam pelukan gadis yang selama ini hanya bisa ku perhatikan dari kejauhan. Sungguh ini suatu keajaiban untuk diriku. Entah setan apakah yang telah memasuki tubuhku hingga aku membalas pelukan itu dan membisikkan sesuatu ke telinganya tanpa ku sadari."Bunga sebenarnya aku sayaang banget sama kamu, aku udah suka sama kamu saat pertama kali melihatmu." aku sendiri bingung dari mana datangnya kata-kata itu hingga meluncur begitu saja dari mulutku.Aku menjadi sangat gugup dan takut Bunga akan marah dan menjauhiku atau bahkan lebih parah mungkin saja dia akan membenci diriku karena kebodohanku sendiri. Tubuhku terasa bergetar seperti sedang terjadi gempa besar disini dan hanya aku sendiri yang merasakanya."Aku juga sayang sama kamu Fan" Bunga berbisik tepat di telingaku dan mempererat pelukanya padaku.Semuanya terasa seperti mimpi bagiku. Ternyata opiniku benar-benar salah tentang kata dan nada, kata dan nada seperti aku dan bunga tidak dapat dipisahkan itulah kenyataanya.=Selesai=
Jangan Rubah Takdirku
Jangan pernah bilang jika kamu tidak pernah butuh bantuan orang lain. I ngatlah kita ini manusia, ma kh luk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain. Dan kamu sangat membutuhkan bantuan aku untuk membuat dongeng ini menjadi lebih indah .***Impian adalah sebuah angan-angan yang dimiliki semua orang. Percaya atau tidak, kita adalah manusia hebat. Semenjak kita lahir di dunia, kita sudah termasuk orang-orang yang hebat. Dari dalam rahim Ibu kita, yang dulunya kita adalah kumpulan sperma yang memperebutkan sel telur, tantangan demi tantangan kita lalui dan sampai akhirnya kita tumbuh dan lahir di dunia.Betapa nikmatnya hidup itu, walaupun dalam hidup selalu ada masalah yang terkadang sangat berat, tetapi seberat apa pun itu kita lalui semuanya dengan senyuman. Hidup adalah sebuah proses antara harus memilih melepaskan atau bertahan dengan kondisi apa pun.***Yogi Sandy Pratama. Cowok yang memiliki sejuta impian. Cowok jangkung nan putih itu sering dipanggil dengan nama Sandy. Seorang introver , yang memiliki tatapan dingin.Di keluarganya, Sandy di perlakukan seperti robot. Semua kegiatan ataupun aktivitasnya selalu di atur oleh orang tua Sandy. Jika Sandy melawan atau tetap dengan pendiriannya yang selalu bertentangan dengan isi pikiran orang tuanya, ia akan merasa, telah menyakiti hati mereka.Di sekolah, Sandy selalu membuat masalah. Sejatinya, semua kenakalan yang ia lakukan ada tujuan yang sangat dalam yang ingin Sandy sampaikan.Sandy berjalan di koridor sekolahnya, dengan tangan di masukan ke dalam saku celananya. Lagi dan lagi Sandy bolos dari mata pelajaran yang menurutnya sangat membosankan yaitu otomatisasi perkantoran. Bukan tanpa alasan Sandy tidak menyukai mata pelajaran itu, ia di paksa oleh orang tuanya untuk masuk di jurusan perkantoran, yang sama sekali tidak ia minati. Dengan menggunakan alasan klasik untuk pergi dari kelas, kini Sandy sudah berada di rooftop sekolahan. Ia duduk di pinggir pembatas membiarkan angin meniup rambut nya yang sedikit panjang itu. Melihat langit biru yang begitu cerah, ia tersenyum ngejek pada dirinya sendiri."Mau sampai kapan kau berdrama, San!" ucap Sandy pada dirinya sendiri. Sebenarnya ia sudah capek dengan semua ini, tapi ia terlalu pengecut untuk menyampaikan semuanya.BrakSuara pintu terbuka dengan keras, Sandy yang duduk di pinggir pembatas itu terkejut dan hampir terjatuh, kalau saja dia tidak memegang pembatas itu. Sandy melihat kearah sumber masalah itu."Apa lo mandang-mandang?" tanya cewek mungil dengan galak, ia menutup pintu yang ia buka tadi dengan kuat. Cewek itu berjalan berlawan arah dari tempat Sandy."Ih, sebel, sebel, sebel, masa iya gue cuman memberi kritikan terus di suruh keluar, tidak boleh ikut pelajaran. Dasar guru aneh!" teriak cewek mungil itu di seberang sana. Sandy benar-benar merasa terganggu dengan teriakan dan hentakan kaki yang cewek itu ciptakan. Sandy berjalan ke arah cewek mungil itu. Cewek itu melihat Sandy dengan tatapan kesel."Eh cowok tukang cabut, jangan ikut campur deh," ucap cewek mungil itu pergi berjauhan dari Sandy. Sandy melihat kepergian cewek itu dengan kebingungan. Cewek mungil itu adalah Rahma teman sekelas Sandy, yang dimana Sandy sendiri tidak mengetahui itu.***Claudia Valen Dinata, cewek sejuta cahaya. Cewek cantik yang sering di panggil Valen itu adalah seorang wanita yang kuat, dan pandai menjaga perasaan pasangannya, dan tidak lupa kalau Valen itu adalah orang yang peka sekali dengan keadaan."Kenapa lagi?" tanya Valen yang duduk di samping Sandy."Gue capek Len, gini terus," ujar Sandy menyadarkan kepalanya di bahu Valen. Valen diam, memberi ruang untuk Sandy agar bertenang dan juga berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang. Valen tau apa yang membuat Sandy harus berpikir keras dengan keadaannya. Beberapa minggu lagi, Valen dan Sandy akan lulus dari SMK, benar benar hal yang menyenangkan, tapi itu untuk semua orang saja, bukan untuk Sandy yang harus melawan dengan takdir.BrakLagi dan lagi suara pintu di buka dengan keras, oleh pelaku yang sama si Rahma, cewek mungil yang hari-harinya di sekolah selalu kesel dan marah marah."Ih, kalian lagi, kalian lagi, nggak bisa apa, mesra-mesranya di tempat lain. Gue itu mau teriak," ucap Rahma yang masih berdiri di ambang pintu, memandang Valen dan Sandy dengan wajah marah."Ya udah, teriak aja, lo. Sekalian kalau mau lompat, noh, silakan!" Valen menarik Sandy untuk berdiri dan pergi sana.***Di sepanjang perjalanan menuju rumah Sandy, Valen dan Sandy saling berdiam diri, tidak ada yang berani membuka suara. Sampai di depan pagar rumah yang sangat megah itu, Sandy membuka suara dan berkata, "Nanti, kamu jadi diri kamu sendiri, jangan jaga image, bagaimanapun situasinya." Sandy membawa Valen masuk ke dalam rumahnya, yang sudah terdapat orang tua Sandy yang duduk di sofa ruang tamu. Tidak lupa Sandy memberi salam kepada orang tuanya, Sandy membawa Valen duduk di sampingnya."Ma, Pa, Sandy mau bicara sama kalian berdua!" orang tua Sandy sudah memasang wajah tidak bersahabat, saat yang melihat Sandy dari ambang pintu sampai ke tempat mereka berdua. Mama Sandy memberi kode kepada Sandy untuk menjelaskan siapa perempuan yang ada di samping Sandy. Sandy menjelaskan terlebih dahulu siapa Valen dalam hidupnya, dengan menunjukkan ekspresi tenang agar orang tuanya bisa memberi ketenangan kepada tamu yang ia bawa ke rumah. Tapi Sandy salah, orang tuanya malah bertambah tidak suka dengan kehadiran Valen. Valen yang menyadari perubahan sikap orang tua Sandy, ia hanya bisa diam, dan akan berbicara jika ia di perlukan."Bawa dia keluar sekarang!" Perintah Papa Sandy, yang sudah memasang ekspresi datarnya. Ia benar-benar tidak menyetujui Sandy berpacaran dengan Valen."Pa, Ma, jangan pergi dulu!. Bukan itu yang mau Sandy bicarakan dengan kalian berdua." Sandy menghadang orang tuanya untuk pergi, Sandy menundukkan kepalanya, untuk mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki."Maaf Pa, Ma, Sandy untuk kali ini tidak mau ikut perkataan Papa dan Mama. Lebih tepatnya Sandy tidak mau kuliah di luar negeri." Sandy memberanikan dirinya untuk melihat ke arah depan, ia melihat orang tuanya sudah melihat dirinya dengan wajah yang menahan amarah. "Pasti gara gara cewek itu kan?" Papa Sandy menuju Valen yang berada di samping Sandy."Bukan Pa, semua ini tidak ada sangkut-pautnya dengan Valen," bela Sandy kepada Valen."Alah, jangan banyak alasan kamu, Papa sudah tau, ini semua pasti sudah kamu rencanakan dengan perempuan itu kan! membujuk Papa agar kamu tidak kuliah luar negeri, agar kalian bisa bersama-sama. Pujukan kalian tidak akan mempan buat saya! mau kalian sudah pacaran 1 tahun lebih, ingat! Papa tidak peduli. Dan kamu Sandy putusi segera cewek itu," Papa Sandy pergi dari hadapan Sandy membawa istrinya untuk pergi dari sana."Om, Tante, maaf jika saya lancang berbicara. Disini saya cuman mau membantu Sandy, bukan bermaksud apa apa. Jika Om, Tante tidak menyukai saya, itu wajar, kita baru ketemu 1 kali ini dan di dalam situasi seperti ini, saya maklumin. Tapi tolong kalian dengarin dulu apa alasan Sandy untuk tidak mau kuliah di luar negeri. Dia hanya ingin selalu bersama dengan Om dan Tante. Ia tidak mau pisah dengan kalian, selama ini Sandy membuat kenakalan di sekolah, ia hanya ingin Om dan Tante datang ke sekolahan untuk mendengar apa yang mau Sandy katakan, tapi apa Om dan Tante malah menyuruh Assisten untuk mengurus semua keperluan Sandy sesuai dengan rencana yang sudah kalian buat. Sandy itu ingin bebas dan selalu mau bersama Om dan Tante. Dia bukan robot yang semau Om dan Tante atur semua aktivitasnya dan impian dia. selama belasan tahun ini Sandy sudah bercerita kepada saya kalau dia itu stres dengan semuanya, ia seperti tahanan yang selalu di awasi. Dia hanya mau satu hal, tolong jangan membatasi semua aktivitas yang mau Sandy lakukan. Jika Om dan Tante tidak memperbolehkan Sandy untuk berpacaran, ok saya siap putus dari Sandy, tapi asalkan Om dan Tante mengizinkan Sandy untuk berteman dengan siapa pun, jangan membuat Sandy seorang diri di dunia ini." ucap Valen sangat lantang, membuat orang tua Sandy yang ingin masuk ke dalam kamar, berhenti dan mendengar perkataan Valen. Tanpa ingin membalikan badan ke arah anak satu satunya yaitu Sandy, air mata keduanya mengalir dengan deras mendengar perkataan Valen yang mewakili isi hati Sandy. Sandy hanya diam, menundukkan kepalanya lagi, ia tidak berani melihat ke arah depan."Om, Tante, Valen permisi dulu," pamit Valen kepada orang tua Sandy yang masih dengan posisi yang sama. Valen menepuk bahu Sandy yang masih terdiam itu, Valen memberi senyuman semangat buat Sandy agar dia bisa melanjutkan dengan mulut nya sendiri tanpa di wakilkan oleh orang lain."Valen!" Valen memberhentikan langkahnya, ia melihat Sandy yang mengejar dirinya. "Jangan pergi!" ucap Sandy yang sudah berdiri di depan pintu mobil Valen."Aku memang harus pergi, San. Dalam situasi seperti ini, aku tidak berhak ada di sini. Tenang kita pasti akan berjumpa jika Tuhan mengizinkan, aku tidak apa-apa, dan ingat jangan nangisi orang yang belum tentu menjadi milik mu.""Tante, Om, sekali lagi Valen pamit ya," pamit Valen dengan senyuman, Valen memasuk kedalam mobilnya, melihat dari arah cermin mobilnya Sandy dan kedua orang tuanya berpelukan, Valen tersenyum melihat itu. biarlah dirinya berpisah dari Sandy, asalkan Sandy tidak berpisah dari keluarganya. Valen merasa beruntung mendapatkan Sandy dalam kehidupannya. Benar benar butuh perjuangan ia mendapatkan Sandy yang begitu dingin dengan lawan jenis. Walaupun dengan segala kekurangan yang ada pada diri Sandy, tapi Valen tidak pernah mempersalahkan masalah itu. Ia lebih bahagia jika ia bisa memberi cahaya dan kebahagian pada orang orang yang ia sayangi.TAMAT.
VALENTINE DAY "ALEANGGA"
Alea Putri Hendra, anak bungsu dari keluarga Hendra si pengusaha sukses. Alea hanya tinggal bersama sang kakak yang bernama Andrean, orang tua Alea sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Alea merupakan anak baru di SMA Yawira, dan sekarang Alea duduk di bangku kelas XII."Al!" panggil Zaskia kepada Alea yang sudah begitu lemas untuk berdiri."Apaan," ucap Alea dengan tidak semangat."Lihat kedepan," Zaskia menyenggol bahu Alea."Apaan?" tanya Alea yang celingga celinggu tidak tau apa yang harus di lihatnya, padahal di depan hanya ada kepala sekolah yang sedang memberi kata sambutan kepada siswa siswi yang menang lomba olimpiade kimia."Itu tu, cowok yang di tengah, coba deh lo perhatikan baik baik," Zaskia menunjuk cowok yang ia maksud, Alea menajamkan perlihatannya, ia merasa tidak asing dengan wajah cowok itu."Siapa?" tanya Alea menyatukan alisnya."Masa lo lupa?" tanya Zaskia yang tidak percaya, jika sahabatnya ini melupakan sosok cowok itu, "Dia Angga, Al," ucap Zaskia, Alea terkejut mendengar nama itu, ia benar tidak percaya sosok yang di depan itu adalah kawan SMPnya dulu yang begitu jail dan pecicilan pada dirinya."Hahaha canda lo receh Ki," ketawa Alea, tidak percaya dengan perkataan Zaskia."Yang di belakang, kalian berdua, kedepan sekarang!" perintah kepala sekolah dengan suara lantang, Zaskia dan Alea saling mandang, kepala sekolah menunjuk mereka berdua, dengan saling tolak menolak Alea dan Zaskia sudah di depan dengan menundukkan kepalanya, sangat malu di lihat seluruh penghuni sekolah."Baiklah, sampai disini dulu kata sambutan saya, sekali lagi terimakasih kepada ananda Angga, Iqbal, dan juga Naura yang sudah membawa nama baik sekolah kita." Kepala sekolah turun dari podion. "Kalian berdua ikut saya!" ucap kepala sekolah kepada Zaskia dan Alea.***"Al, apes banget sih kita," ngeluh Zaskia, dia memilih duduk di lapangan yang luas dan begitu kotor dengan dedaunan kering berserakan, daripada menjalanin hukumannya.Alea menggeleng gelengkan kepala, melihat tingkah Zaskia yang belum mengerjakan apa apa sudah capek duluan, Alea pergi menjalankan hukumannya sendirian."Eh ada Leale nya, Angga nih," ucap seorang cowok yang datang ntah dari mana. Alea melihat cowok itu, penuh dengan ketelitian."Tidak nyangka ya, kita ketemu lagi," Alea menaikan satu alisnya, dengan gaya bertangan pinggangnya, Alea melihat Zaskia yang asik bermain Handphone."Mau apa lo?""Gue? Gue tidak mau apa apa," jawab Angga meletakkan tangan nya di depan dadanya. "Gue cuman kaget aja jumpa lo lagi, perasaan terakhir kita berjumpa itu pada saat elo pergi ke london," lanjut Angga."Gue rindu lo, Alea," ucap pelan Angga yang masih bisa di dengar oleh Alea."ALEA!" panggil Zaskia yang sudah berlari menghamperi Alea yang asik berdebat argumen dengan Angga."Selamat datang kembali di dunia gue," Angga mencubit pipi tembem Alea, dan langsung pergi sebelum Zaskia sampai di sana, "Sampai jumpa Leale.""Al, lo tidak apa apa kan? Tadi gue lihat, Angga...hmm...itu...hmm...," ucap Zaskia yang tidak bisa berkata kalau ia melihat memegang pipi Alea. Alea menggelengkan kepalanya, "Gue tidak kenapa napa kok," Alea menepuk pelan bahu Zaskia, dan ia menlanjutkan hukumannya lagi.***Alea memasuki kelasnya dengan seribu kelelahan di badannya, ia duduk di bangkunya dengan bersandar dan berkipas kipas karena kepanasan."APA APAAN INI?" teriak Alea yang terkejut di mejanya sudah penuh dengan coret coretan kata "Leale". Alea naik pitam ketika melihat sosok Angga yang lewat di depan kelasnya, buru buru ia keluar dari kelas."Eh Angga paok," Alea menarik kerah baju Angga dari belakang."Woi woi woi," Teman Angga yang jalan bersama Angga tadi, mencoba melepaskan tangga Alea dari baju Angga. "Lepasin tu tangan," teman Angga memukul mukul tangan Alea dan menarik Alea jauh dari sana."Lepas!" teriak Alea tidak terima di tarik dengan kasar."Bal, lepasin!" ucap Angga yang langsung di turuti oleh iqbal melepaskan genggamannya di lengan Alea. Angga mendekat Alea yang memegang tanganya karena kesakitan di genggam oleh Iqbal tadi."Ada apa?" tanya Angga sok cool. Alea tersenyum miring melihat tingkah Angga yang aneh menurut Alea."Tidak berubah ya lo, maksud lo apa? Coret coret di meja gue, lo kira gue minuman? Gue manusia tau," ujar Alea dengan nada tinggi, tidak terima dengan coretan di mejanya."Maksudnya?" ucap Angga pura pura tidak tau."Jangan sok bego deh lo," Alea melihat sekelilingnya, dengan suara lantang Alea yang memanggil Angga, dia sudah mengundang banyak orang untuk berkumpul disana. Alea mendengar siswa siswi lain membisiki dirinya lagi caper kepada Angga."Dasar, P E N C I T R A A N," ucap Alean penuh penekanan di depan wajah Angga, Alea pergi dari sana, ia malu sekali, semua orang menuduhnya kalau dia berbohong dan caper kepada Angga si idola SMA Yawira.***"Ih, Sebel Sebel Sebel," teriak Alea memukul mukul bantal di atas pahanya."Udah deh marahnya, nih angkat dulu telepon dari ayang ebeb lo," Zaskia memberi Handphone Alea yang sengaja ia jauhkan darinya."Lo aja yang angkat, gue lagi gak mood," Zaskia memberi kode "Ok" kepada Alea."Hallo." Ucap Zaskia sok imut."...""Alea nya sudah tidur yan, besok aja lo teleponnya," ucap Zaskia berbohong kepada Adrian pacar jarak jauh Alea."Udah kali marahnya," bujuk Zaskia yang ikut berbaring di samping Alea."Kesel gue Ki, tau gak sih lo, anak anak pada mengira, gue lagi caper sama tu orang, lo tau gak..." ucap Alea terhenti oleh tingkah Zaskia yang buru buru berdiri dan keluar dari kamarnya. Alea cemberut melihat Zaskia, "Tu kan belum juga selesai cerita, udah pergi aja.""Tada, ini dia, makan dulu deh, kasian tu perut asik berbunyi dari tadi," ujar Zaskia membawa mangkok yang berisi seblak, yang tadi sempat ia pesan saat ia selesai bertelepon dengan Adrian.Alea memakan seblak dengan lahap, sampai ia tidak tau kalau Zaskia membuat vidio dirinya lagi makan dan di masukkan di instastory.***Alea yang sedari tadi risih karena Handphone nya terus bergetar, ia tidak bisa bermain Hp disaat jam pelajaran berlangsung, di tambah lagi guru yang sekarang mengajar dirinya merupakan guru killer, dan dirinya tidak mau mengambil resiko jika Hp nya di tangkap oleh sang guru.Bel istirahat pun berbunyi, cepat cepat Alea membuka kunci Hpnya, ia melihat begitu banyak pesan dari Adrian, ia membaca satu per satu pesan tersebut. Entah sejak kapan Air mata Alea keluar dari tempat persembunyiannya.Zaskia yang melihat Alea menangis dalam diam, ia ikut melihat apa yang sedang Alea lihat, Zaskia memeluk bahu Alea, memberi ketenangan buat Alea. Alea menghapus air mata, ia keluar kelas dengan berlari, ia mencari tempat persembunyian untuk meluapkan kesedihannya.Berkali kali Alea menelepon Adrian, tetapi Adrian tidak mengangkatnya juga. Saat ini Alea butuh seseorang di sampingnya, Alea menangis dengan wajahnya di tutup oleh tangannya.Angga yang sedari tadi melihat Alea dari kejauhan, kini ia berjalan mendekati Alea yang masih dengan posisi sama. Angga memanggil Alea dengan pelan, Angga terkejut dengan tingkah Alea yang tiba tiba memeluk dirinya. Angga yang bingung harus bagaimana, ia hanya mengelus punggung Alea, dan membiarkan Alea mengeluarkan semua kesedihannya."Nih minum dulu," ucap Angga memberi air putih kepada Alea."Tidak mau masuk kelas ni?" tanya Angga, karena sudah 10 menit bel masuk berbunyi, tetapi ia melihat Alea tidak mau masuk, dan iya berinisiatif menemani Alea. Alea menggelengkan kepalanya."Nanti malam ada acara tidak?" Angga membuka suara dari suasana keheningan yang mereka ciptakan. Lagi lagi Alea hanya menggelengkan kepalanya."Jalan yuk," tawar Angga. Alea langsung menyetujui itu.Malam harinya Alea bersiap siap pergi bersama Angga, dari pagi tadi dirinya hanya galau karna di putusin oleh Adrian begitu saja tanpa alasan apapun, kini ia harus bersenang senang walau itu dengan teman lamanya.Selama 15 menit Alea bersiap dan menunggu jemputan dari Angga, kini dengan waktu 10 menit saja mereka berdua sudah sampai di pasar malam, Angga mengajak Alea menaik semua permainan disana, tujuan Angga membawa Alea ke pasar malam, ia ingin melihat Alea tersenyum lagi, dan kini tujuan ia terwujud."Naik itu yuk?" Angga menunjuk bialalang yang di penuhi lampu itu. Alea yang sedang makan permen kapan, ia hanya menganggukan kepalanya. Angga pergi ke tempat jual tiket, Angga menyuruh Alea masuk duluan. Angga melihat pemandangan yang bagus sekali dari atas, ia melihat kearah Alea yang sudah bergeteran dan keringat dingin."Le, lo kenapa?", "Lo takut ketinggian?" Angga memegang tangan Alea begitu erat. Alea hanya diam saja, ia begitu takut dengan ketinggian, ia menyesali menyetujui tantangan dari Angga, Alea tidak mau di katakan pengecut oleh Angga."Ga, gue takut," Alea bertambah bergeteran karena dirinya dan Angga berhenti di bagian atas."Hei tidak apa apa, sini sini lihat gue," Angga mengambil wajah Alea yang sedari tadi menunduk."Buka mata nya, lihat gue, Lea." Alea mengikuti perintah Angga, ia melihat Angga yang tersenyum manis. Seketika hati Alea berdeguk dengan kencang. Angga mengusap ucapkan tangan Alea agar tidak bergemeteran lagi."Udah tenang kan?" tanya angga begitu lembut. Alea menganggukan kepalanya lagi."Angga, angga, lo mau apa?" Angga melepaskan tangannya dari genggaman Alea."Suit, lo tenang aja," Angga mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Alea terkejut dengan benda yang ada di tangannya sekarang ini."Happy Valentine, Alea," ucap angga memeluk Alea begitu erat.Dihari special ini, Angga tidak mau melihat sang ratu nya bersedih, walau dengan sederhana seperti ini, Angga mampu mengembalikan senyum seorang Alea Putri Hendra.
SANTET
"Nia, akhirnya aku menemukanmu," cewek bertubuh tinggi, berkulit sawo matang, kini duduk dengan napas yang ngos ngosan, akibat berkeliling wilayah kampusnya untuk mencari satu orang saja, yaitu Nia, teman dekatnya.Dia adalah Linda, cewek yang mempunyai seribu masalah tentang masalah percintaannya. Linda tidak begitu cantik, dan juga tidak jelek jelek amat. Linda hanya gadis biasa yang selalu di sakiti oleh kaum adam."Kenapa?" tanya Nia si cewek gendut yang asyik makan mi rebus buatan bude kantin di kampusnya."Gue memimpikan itu lagi," ucap Linda memajukan wajahnya agar orang di sekitar tidak mendengar percakapan mereka berdua. Nia tetap asyik memakan mi rebus itu, sambil menunggu kelanjutan cerita tentang apa yang dialami Linda semalam."Gue bermimpi pocong serem itu lagi, berwarna hitam, yang selalu menatapku," Nia yang mendengar itu tersedak kaget, bagaimana bisa temannya ini selalu bermimpi hal begituan sudah seminggu ini.Ini pasti ada yang tidak beres, batin Nia, mengeluarkan benda pipih yang berada di dalam tasnya, ia memberi pesan kepada seseorang yang Linda tidak ketahui."Besok ikut gue, jumpa sama papa gue, gue tunggu jam 8 malam," ucap Nia yang langsung pergi dari sana setelah ia membayar mi yang ia makan tadi.***Linda sudah sampai di sebuah rumah yang cukup mewah, ia termenung melihat betapa besarnya rumah itu daripada rumahnya."Oik, mau sampai kapan berdiri di situ?" Linda tersadar dari lamunannya, akibat teriakan Nia dari ambang pintu.Linda hati-hati masuk ke dalam,takut menyengol sesuatu dirumah itu, selain barang barang di sana termasuk barang yang mahal, di rumah itu juga banyak penjaga yang kasat mata."Ini pa, teman Nia, yang kemaren Nia ceritakan," Linda duduk di hadapan laki laki baru baya yang sedang bermain handphone sambil merokok, lelaki paruh baya itu adalah ayah Nia yang bernama Putra. Putra melihat kedatangan Linda dengan tatapan tajam.Dengan diberi waktu untuk bercerita apa yang sedang Linda alami selama ini, ia gunakan itu dengan maksimal mungkin, walaupun ia begitu gugup dan takut."Besok kamu bawa buah kelapa muda kecil, ingat!, belinya jangan di tawar!" hanya itu perkataan Putra selama Linda menunggu. Linda pun pulang dari rumah itu dengan suasana aneh di dalam tubuhnya.***Keesokan harinya, Linda di suruh menginap di rumah Nia, di karenakan ritual nya di mulai tengah malam, itu juga membantu untuk papa nya Nia mengawasi ku untuk sementara agar Linda tidak kenapa napa setelah selesai menjalani ritual itu.Sebelum mulai, papa nya Nia menghidupkan lidi china, dan menghidupkan lagu lagu khas jawa, Linda berusaha untuk tidak takut, lama kelamaan bahu Linda sebelah kanan berat sebelah, disana tidak hanya ada Linda dan juga papa nya Nia, Nia pun ikut Menemani Linda, agar Linda tidak perlu takut."Jangan takut, semuanya akan baik baik saja," ucap Nia memeluk bahu Linda dan mengelus elus, agar Linda tenang.Linda melihat Pak Putra alias papa nya Nia memotong buah kelapa yang Linda bawa tadi, membuat sedikit lubang agar Linda meminum air itu sampai habis."Ini, kamu minum di depan pintu itu," Putra menunjuk pintu belakang rumahnya yang mengarah keluar bagian belakang, Linda berjalan kearah pintu itu, Putra sudah berada di belakang Linda, untuk mengeluar apa yang ada di tubuh Linda.Linda membaca doa dan berharap semuanya baik baik saja, dan mimpi aneh itu tidak datang kembali, Linda menyatukan buah kelapa itu ke mulut nya. Linda merasa kesusahan untuk meminum air kelapa itu, ia merasa ada yang mendorong buah kelapa itu agar buah kelapa itu terjatuh dan Linda tidak bisa meminumnya.Sebagian air buah kelapa itu bertumpah tumpah sampai baju nya basah.Linda memberhentikan meminim air itu, dia melihat kebelakang, mukanya sudah sangat sedih dan memohon, dia sudah tidak sanggup meminumair kelapa itu lagi. Tapi Putra tetap menyuruh Linda meminum air itu sampai habis, mau tidak mau Linda melakukannya.Seteguk demi seteguk Linda memasuk air buah kelapa itu ke tenggorokannya, ia merasa air itu tidak habis juga, padahal ia merasa sudah meminum air itu sudah banyak dan baju yang ia pakai sudah basah juga."Huft," akhirnya selesai sudah, Linda memberi buah kelapa itu yang sudah kosong kepada putra. Linda terduduk lemas, sebenarnya dari semalam ia mau bertanya kenapa dirinya sampai ia harus melakukan itu, tapi karna hari sudah malam dan sudah jam 03.00 pagi, Nia mengajak Linda untuk kekamar membersihkan diri setelah itu tidur.***Selama tidur, Linda gelisah, ia takut sekali, tetapi matanya tidak bisa di buka. Sampai akhirnya Linda terhanyut dalam mimpi itu."Linda, lin, bangun," Nia menggoyang goyangkan tubuh Linda. Linda langsung terbangun dengan terduduk, membuat Nia yang di sampingnya terkejut."Lin, ada apa?" Tanya Nia memastikan, bahwa temannya ini baik baik saja. Linda menggeleng dan langsung pergi ke kamar mandi.Akhirnya aku bisa terbangun juga, pikir Linda di kamar mandi."Lin, makan dulu," panggil Nia melihat Linda keluar kamar yang sudah berpakaian rapi.Selama di meja makan, Linda makan dengan tenang, walaupun pikirannya lagi berpikir apa maksud mimpi terakhirnya itu."Lin, lo kenapa sih? Dari tadi diam aja, ada yang ganjal di kepala mu, di ceritain atuh,"ucap Nia yang sudah tidak tahan dengan sikap temannya itu."Kemaren," gantung Linda."Kemaren, gue mimpi itu lagi,"Linda menundukkan kepalanya."Tapi ini beda dari yang dulu dulu,"Linda menggangkat kepalanya, melihat Nia dengan lekat."Gue mimpinya, pocong itu kemaren ada di delan gue pada saat gue minum air kelapa itu," Nia masih diam mendengarkan."Terus, setelah gue selesai minum air kelapa itu, pocong itu kayak marah gitu, dan muka seramnya tu terzoom zoom gitu di kepala gue," Nia langsung menarik Linda untuk bertemu dengan sang papa.Linda menceritakan ulang kejadian tadi. "Alhamdulilah, itu tidak apa apa, berarti kamu sudah terbebas," ucap Putra sambil memain handphone nya dan mendengarkan cerita dari Linda."Terbebas dari apa om? Emangnya aku kenapa?" Tanya Linda yang sudah penasaran."Kamu di guna guna oleh seseorang," Linda tidak percaya dengan itu, ia menutup mulutnya dengan tangannya, kenapa tega sekali orang itu guna gunakan Linda, apa salah Linda? Sampai orang itu berani bermain hal begituan.Selama Linda hidup, setahu Linda dirinya lah yang paling menyedihkan, terlebih lagi dalam hal percintaan, dia selalu di sakitioleh orang orang yang ia sayangi. Dan sekarang, ditambah lagi dengan orang yang berani menyantet Linda selama 8 bulan ini."Kenapa tega banget ya Jovan melakukan itu kepada gue Ni?" Tanya Linda yang sudah tersedu sedu akibat menangis orang itu lagi. Lebih tepatnya ia masih belum percaya, bahwa pelaku di balik ini semua adalah Jovan mantan pacarnya selama 8 bulan mereka menjalin hubungan pacaran."Sebenarnya dari dulu gue udah mau bilang, kalaulo harus jauh jauh dari Jovan, tapi gue terlambat lo sudah terlalu jatuh di pelukan Jovan," Nia memeluk Linda yang masih tersedu."Dari dulu gue sudah sadar dengan sikap aneh lo, yang nangis karna Jovan kecelakaan dan lo gebet banget ingin menjeguk dia yang jauh itu,""Terus di tambah lagi, lo sudah di putuskan dengan cara tidak baik, dia mengeluarkan kata mutiaranya kepada lo, tapi lo tetap ingin dia kembali lagi di pelukan lo,""Dan sampai akhirnya lo bercerita semua yang lo alami, dari lo yang drop lah, sampai ke mimpi itu, dan akhirnya gue bisa menolong lo terbebas, dari santet nya yang Jovan gunakan untuk lo, walau itu sangat terlambat,""Tidak nya, tidak ada kata terlambat, ini semua hanya butuh proses, sampai akhir waktu yang menentukannya," Linda mempererat pelukan Nia.Ini adalah pelajaran untuk Linda, maupun untuk semuanya. Jangan mudah percaya seseorang, dan jangan mudah terbuai dengan kata kata manis seseorang. Kita memang tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan kepada kita. Tapi setidaknya kita bisa berjaga jarak untuk me n yelamatkan kita dari hal hal yang tidak kita inginkan.
PENGORBANAN YANG ABADI VIAN & VIA
"Gue kan udah bilang sama loe kalau gue tu jahat. Kenapa masih dekatin gue sih?" Teriak cewek berseragam SMA di gerbang sekolah.Orlinda Via Besta, adalah cewek tinggi 160, cuek, dingin, dan pencinta game. Dia tidak terlalu cantik dan terkenal di sekolahnya. Karena dia adalah orang yang susah sekali bergaul di dunia nyata, beda hal nya dengan dunia mobile nya.Di dunia mobile, Via selalu memakai nama samaran, dan selalu menghidupkan mikrofon nya memberitahu strategi atau pun menyapa kepada teman online nya. Hal itu yang membuat Via mempunyai banyak teman online. Karena ia begitu ramah dan lembut memberitahu kepada teman temannya.Tetapi ada suatu hal yang paling Via benci sekali yaitu orang yang mengganggu ketenangannya di dunia nyata. Sebisa mungkin Via menutup dirinya dengan orang orang terdekat. Di sekolah ia tidak mempunyai teman. Setiap jam istirahat ia lebih memilih pergi ke perpus ketimbang ke kantin, bukan halnya Via anak yang rajin membaca, ia memilih ke perpus karena perpus adalah tempat yang sepi dan enak untuk tidur dan bersantai.Gedebuk!Suara benda jatuh begitu keras di ruangan perpustakaan, membuat Via yang sedang tertidur, terkejut terbangun.Bangsat , umpat Via mengucek matanya.Via berdiri memastikan apa yang terjatuh itu. Ia berjalan dari rak ke rak, sampai menemukan seorang cowok sedang membereskan buku buku yang berantakan di lantai begitu banyak.Cowok itu melihat Via sambil tersenyum bersalah. "Sorry, loe pasti terganggu ya bacanya." Ucap cowok itu merasa bersalah kepada Via. Via yang masih dengan muka datarnya, tidak merespon omongan cowok itu, ia pergi keluar dari perpus, dan memilih tempat untuk ia beristirahat.*****"Vian." Dengar namanya di panggil dari belakang, cowok tinggi 170 dan tidak terlalu putih itu berbalik badan."Iyaa buk, kenapa?" Tanya Vian kepada bu guru yang ada di depannya sekarang."Bisa bantu ibu gak?" Vian mengangguk."Itu, ibu minta tolong sama kamu, bantuin ibu ambilkan buku cetak sejarah 20 buah, bisa gak Vian?" Tanya bu guru dengan nada lembut."Bisa buk." Jawab Vian mau tidak mau harus membantu."Ya sudah nanti bawa ke ruangan guru ya." Bu guru dan Vian pergi berlawanan arah. Sampainya di perpustakaan. Vian langsung masuk menjelajah satu per satu rak rak buku yang ada di sana, matanya fokus mencari buku sejarah kelas XI .Ya yang meminta tolong itu adalah guru sejarah yang mengajar di kelas XI. Dulu waktu Vian kelas XI pernah diajarkan oleh guru tersebut. Di sekolahnya guru sejarah ada 6 orang, kebetulan Vian mengenali dan mengingat guru yang meminta bantuannya, karena Vian adalah orang yang susah mengingat dan mengenal seseorang. Vian adalah anak kesayangan dari bu guru itu. Pembelajaran sejarah Vian selalu mendapat A+."Aduh mana ni buku nya." Vian kebingungan mencari buku yang ia cari, 6 rak sudah ia lewati dan tidak mendapatkan buku itu.Vian menyandarkan badannya di rak yang berada di belakangnya. Begitu lelah menyelusuri perpustakaan sekolahnya yang begitu besar.Gedebuk!Buku buku yang ada di belakangnya jatuh berserakan, karena Vian begitu kuat bersandar membuat rak di belakangnya jatuh ke lantai serta dirinya."Aduh punggung gue retak." Teriak Vian terlentang diatas rak jatuh itu.Vian tidak akan berteriak jika perpus itu berisi, walaupun pada saat ia terluka. Ia ingat sekali ngomong pelan saja di kenakan denda, walaupun dendanya tidak seberapa ia tidak akan mau mengeluarkan uangnya dengan sia sia.Tidak ada yang membantu Vian berdiri. Vian berdiri sendiri dan membereskan semuanya dengan sendiri, sebelum penjaga perpus itu datang. Vian mendengar langkah kaki dari arah belakangnya, Vian takut takut mandang kebelakang, jika itu penjaga perpusnya otomatis Vian akan kena omelan dengan penjaga perpus tersebut."Eh..." Vian terkejut ternyata yang datang cewek cantik siswi dari kelasnya."Sorry, loe pasti terganggu ya bacanya." Ucap Vian bersalah, tanpa melihat ke arah cewek itu, Vian tetap lanjut membereskan buku buku itu.Tidak ada respon dari cewek itu, Vian lihat ke belakang, ternyata cewek itu sudah pergi dari sana.Tak pernah berubah dia dari dulu , ucap Vian pelan.Vian Orlando Bramista , adalah cowok yang terkenal dengan wajah manisnya, Vian memang bukan cowok yang berkulit putih, tetapi cewek cewek di sekolahannya tanpa bosan melihat muka Vian yang begitu tampan di manapun Vian berada.Vian juga di kenal orang yang ramah, dan suka menolong jika teman maupun guru nya meminta pertolongannya, dengan sungkan ia membantu mereka.Vian juga di kenal sebagai cowok yang humoris, tetapi ia akan bersikap itu dengan cewek idamannya. Kelakuan konyol apa aja ia keluarkan ketika dengan cewek idamannya itu.Dan Vian juga merupakan orang yang berjuang keras, apapun yang ia inginkan ia akan berjuang sendiri, walaupun itu berat baginya. Termasuk meluluhkan hati cewek idamannya. Tanpa kenal lelah ia tetap berjuang untuk mendapatkan belahan jiwanya.*****"Kopi sudah, laptop sudah, hp sudah, charger sudah, AC hidup, pintu terkunci, dan tempat duduk ternyaman." Ucap Vian sambil menunjuk nunjuk benda yang di sebutinnya."Oke saatnya bermain." Vian menekan tombol on pada laptopnya.Selama loading berlangsung, ia menyempatkan menghirup aroma kopi buatannya.Minuman paling menyegarkan untuk malam hari , ucap Vian senang. Vian fokus tatap pada layar laptopnya sambil Menyeruput kopinya.Srup.....srup.....srup.....Clin...Notif pada laptop nya berbunyi, Vian cepat cepat meletakan kopi itu di mejanya. Tangannya dengan cepat mengklik notif itu."Akhirnya Besta on." Ucap Vian senang, sambil mengetik sesuatu.Bramista : Mabar kuy?Besta : Okey.Vian langsung mengklik kata mulai di dekstop. Memasang handset di telinga nya, meletakan jari jari tangannya pada keyboard.Siap , teriak Vian mengisi ruang kamarnya. Vian bersemangat sekali memainkan game dengan teman online favorit nya selama 3 jam."Dasar keras kepala." Ucap Via tersenyum sinis pada layar komputernya.Ia tau orang yang bertanding dengannya di dunia game, adalah Vian teman sekelasnya.Dari dulu Vian tanpa kenal lelah selalu mengejar Via. Tetapi Via tidak pernah merespon perasaan atau pun perkataan Vian pada dirinya. Hanya lewat dunia game lah, kesempatan Vian untuk bisa berteman dengan Via.Via tau Vian adalah orang tidak suka bermain game online. Karena tujuannya hanya satu, Vian rela belajar mati matian tentang dunia gamers seperti apa, yang dulunya dia nob dan sekarang dia menjadi pro.Kerja kerasnya pada dunia game berhasil, tapi kerja kerasnya pada Via belum berhasil juga.*****"Hai Vian." Sapa Vian kepada Via segaja di buat salah."Eh Vian, salah loe tu manggil nya, masa nama dirinya di panggil." Kata seorang cewek yang duduk di belakang Via. Vian yang mendengar perkataan cewek itu hanya tercengir bahagia.Garing , gumam Via tapi bisa di dengar oleh Vian."Apa sayang aku lucu." Ucap Vian antusias."Alhamdulillah akhirnya sayang ku sudah membuka hatinya." Kata Vian bersorak di tempat duduknya. Via yang melihat tingkah Vian gak berubah dari dulu, muak sudah. Ia pergi meninggalkan kelas, masih ada 15 menit sebelum pelajaran pertama di mulai.*****"Lo kok gak kapok kapok sih memperjuangkan tu cewek." Ucap dirga sambil memakan gorengan."Penasaran gue sama tu cewek." Jawab asal vian. Sebenarnya vian tidak tau alasan dia berkorban, memperjuangan seorang orlinda via besta yang terkenal cuek abis itu.Vian termenung, tak segaja ia melihat via berjalan ke arah kantin, ini perdana seorang via mau ke kantin. Tapi pandangan dia berubah terarah ke orang yang bermain basket di dekat via berjalan.Filling gue berkata lain ni , gumam vian. Ia berdiri dan berjalan dengan cepat kearah via."Via awas!." Teriak Vian memperingati Via harus mengelak cepat dari lemparan bola basket itu."Aww, sakit...." Lambat sudah, bola basket itu berhasil mengenai kepala Via. Via mengadu kesakitan."Via apa yang terluka? Kasi tau gue. Kita ke UKS ya." Vian langsung mengendong Via untuk bawa ke UKS.Via yang terkejut tubuhnya di gendong, ia berontak minta turun. Segala cara ia keluarkan dari pukulan cubitan sampai makian. Tetapi Vian tetap membawanya ke UKS."Loe budek atau apa sih. Kan gue udah bilang turunin." Ucap Via marah yang sudah terduduk di tempat tidur."Kan udah gue turunin Via sayang." Jawab enteng Vian sambil mencari kotak P3K."Ya maksud gue, turunin nya tu dari tadi. Loe gak nampak apa anak anak mandang kita tu aneh kali." Ucap Via kesel. Via membaringkan tubuh nya di tempat tidur dan menghadap ke lain arah dari Vian berdiri.Bugh...Pukulan keras dari Via mengenai dada Vian."Sakit bego.""Ya gue tau itu sakit, tapi loe kan bisa nahan sebentar." Vian mengoleskan obat merah ke luka yang ada di tangan via. Selesai sudah Vian mengobati luka Via, Vian menyuruh Via untuk istirahat. Ia menutup gorden dan meletakan kotak P3K itu di tempat semula. Sedari tadi Vian menahan sakit di dadanya, yang akibat pukulan keras dari Via."Cantik cantik tapi galak."*****Vian tau, Via selama 2 tahun ini merasa risih ia dekati.Apa sampai sini perjuangan Vian untuk mendapati hati Via?Oh tentu tidak, mungkin cara dekati secara langsung Via memang risih, tapi dengan suatu perhatian pasti Via akan luluh kepadanya.Setiap pagi Vian meletakkan kotak bekal makanan di bawah meja Via. Tidak lupa pula surat yang ia selipkan."Ini kotak bekal siapa di dalam meja gue." Teriak Via kesel. Tidak ada yang merespon omongannya. Via melihat ke arah Vian yang asik membaca komik."Punya loe kan?" Via melempar kotak bekal itu ke meja Vian. Vian pura pura terkejut, ia melihat ke arah Via, dan ke kotak bekal itu secara bergantian."Bukan." Ucap Vian dan melanjutkan baca komik. Via yang merasa ada yang berbeda dengan Vian, ia menyipitkan matanya menatap fokus ke arah Vian."Mandang nya jangan gitu kali, jatuh cinta baru tau." Ucap Vian, yang langsung Via duduk di tempatnya dan mengambil kotak bekal itu di meja Vian.Bel istirahat berbunyi, Vian dan teman sekelasnya keluar serentak. Tinggal seorang Via di dalam kelas.Via lapar sekali, ia malas sekali pergi ke kantin, takut musibah itu terulang kembali. Ia teringat kalau di bawah mejanya ada kotak bekal. Ia mengambil kotak bekal itu dari bawah mejanya.Ia membuka kotak bekal itu, sungguh Via terkejut dengan isi nya. Lauk kesukaan Via. Yang sudah lama Via memakan itu, karena ibunda nya sibuk dengan dunia kerja. Via melihat surat yang ada di penutup kotak bekal itu, dia membuka surat itu.Selamat makan tuan putri, jangan lupa di habiskan ya. Mungkin rasanya memang tidak terlalu enak, tapi lihatlah dari proses masaknya.-O"Inisial O? Perasaan di kelas gak ada yang namanya O."Sambil memikirkan nama dari surat itu, Via baca doa dan makan makanan dari seseorang misterius itu.Tanpa Via sadari, sedari tadi ada seseorang yang merhatikan Via dari luar.Sudah seminggu Via mendapatkan kotak bekal di dalam mejanya. Ia kira orang yang ngasih itu ingin mencelakai nya, tetapi ia salah selama ini ia baik baik saja memakan makanan itu. Penasaran Via semakin meraja rela, ia sangat kepo, siapa kah orang yang baik hati memasak makanan kesukaannya untuk dirinya makan.Via segaja datang pagi pagi untuk memastikan orang di balik kotak bekal makanannya."Kayaknya ni tempat cocok untuk gue bersembunyi." Via mengintip di balik jendela. Via terkejut, ternyata yang ia pikir selama ini salah. Bukan Vian yang memberi kotak bekal itu. Via menajamkan penglihatannya. Ia tidak mengenali lelaki itu. Setelah lelaki itu keluar dari kelasnya, Via keluar dari tempat persembunyiannya.Ternyata selain Vian ada seseorang yang suka kepada dirinya. Via terduduk lesu, entah mengapa hatinya mendadak sesak, karena mengetahui seorang misterius itu bukan Vian.Via melihat Vian masuk ke dalam kelas dengan muka lesu juga. Via yang gak mood ia langsung menenggelamkan kepalanya di dalam tangannya.*****Vian lesu saat di parkiran ia tak bersemangat untuk ke sekolah. Ia juga lupa membawa kotak bekal untuk Via."Aduh gimana ya, Via bisa kelaparan nih." Ucap Vian, kakinya yang berjalan terus sampai ke kelas. Vian melihat muka Via yang lesu juga."Tukan pasti dia belum makan." Batin Vian, ia duduk di bangku nya, ia melihat Via yang sudah tertidur dengan kepala di tutup dengan tangannya.Selama pelajaran Vian curi curi pandang ke arah Via. Tetap sama ekspresi Via saat pertama ia masuk kelas.Bel istirahat berbunyi, Vian cepat cepat ke kantin untuk membeli roti untuk Via. Sampai di kelas, ia melihat Via memakan makanan yang ada di kotak bekal."Tumben dia bawa bekal?" Tanya Vian memasuki kelas dengan 2 roti di tangannya.Seperti biasa di jam istirahat Via memakan makanan dari kotak bekal yang selalu di beri lelaki yang belum ia ketahui namanya."Agak berbeda rasanya dari kemaren." ucap Via sambil mengunyah.Walaupun rasanya berbeda, dengan lahap dia menghabiskan makanan yang ada di kotak bekal itu. Sampai sampai ia tidak mengetahui kalau Vian sudah tertidur di bangkunya.Selama pelajaran Via gelisah. Perutnya sakit, ia keringat dingin. Sesekali ia melihat jam di tangannya."Oke bentar lagi, tahan Via tahan." Ucap via menenangkan dirinya.Vian yang melihat Via gelisah, menjadi tidak fokus dengan guru yang sedang menerangkan materi di depan.Bel pulang pun berbunyi. murid di kelasnya dan juga guru sudah keluar. Tinggal Vian yang segaja melambatkan membereskan buku di meja nya, dan via yang sibuk mencoba telpon seseorang."Mau gue antar?" Tawar Vian pada Via. Via hanya melihat sebentar ke arah Vian, dan mencoba telpon supirnya yang gak di angkat angkat sedari tadi. Vian tetap diam, sambil menunggu Via berkata iya atau tidak.Sudah tidak tahan lagi, via menangis sejadi jadi nya. Membuat Vian yang masih berada di sana terkejut."Loe kenapa?" Tanya via sambil menahan Via agak tidak terjatuh di tempat duduknya."Perut gue sakit Vian, hiks...hiks...""Ya udah, kita ke dokter ya. Biar gue antar." Vian membantu via untuk berdiri dan berjalan ke arah parkiran."Pegangan." Perintah Vian kepada Via, yang langsung Via peluk Vian dengan erat.Anjir kenceng banget pelukannya , batin Vian sambil menahan sakit akibat pelukan dari Via.*****"Kok bisa seperti ini nak Vian?" Tanya mama nya Via. Keluar dari kamar Via"Kata dokter Via keracunan makanan tan." Jawab Vian yang sedari tadi berdiri di luar kamar Via."Kok bisa sih?" Mamanya via dan Vian menuruni tangga menuju ke ruang tamu."Setau saya tadi Via makan makanan dari bekal dia tan.""Bekal? Setau tante Via gak pernah ke sekolah bawa bekal." Vian yang mendengar penurutan mamanya Via terkejut.Kalau bukan via yang bawa bekal sendiri, berarti ada seseorang yang ingin mencelakakan Via , gumam Vian yang masih bisa di dengar oleh mamanya Via."Siapa?" Vian terkejut."Eh, Saya juga gak tau tante, tapi nanti saya usahakan cari tau siapa pelakunya.""Saya pamit pulang ya tan, semoga Via cepat sembuh, kirim salam juga untuk papanya Via." Pamit Vian menyalim tangan mamanya Via.3 hari Via tidak masuk sekolah. Vian suntuk sekali, tidak ada yang mau dia lihat sebagai penyemangatnya.*****Ting tong ting tong"Is siapa sih yang datang sore sore ini." Repet Via membuka pintu."Hai cantik." Via terkejut langsung menutup pintu.Tok...tok...tok"Gak ada orang." Teriak Via."Gak ada orang, kok nyaut sih.""Ngapain sih loe datang ke rumah gue." Via membuka pintu rumah nya langsung menyomprot kata pedas ke Vian.Vian tersenyum melihat muka kesel Via, ia mengangkat sesuatu di tangannya."Ma, mama kok izinkan budak tu masuk sih, dia tu modus ma." Ucap Via sambil mengambil mangkok."Dia tu orang jahat ma." Bisik Via kepada mamanya yang langsung di tepuk"Eh kamu ni, orang baik kayak gitu di bilang jahat.""Iya ma, dia tu hanya modus dan jahat, berbuat baik terus ninggalin Via kalau lagi sayang sayangnya.""Gak kok tante." Ucap Vian keras, Via dan mamanya terkejut."Lo ngu..." Ucap Via terpotong oleh Vian yang buru buru ke kamar mandi."Tante numpang kamar mandi dong, udah gak tahan ni." Mamanya Via menunjukkan kamar mandi yang ada di belakang Vian.*****"Nanti pulang sekolah jumpai gue di belakang sekolah." Via terkejut mendengar ucapan Vian yang begitu serius.Selama pelajaran Via melihat Vian begitu berbeda dari biasanya, pakaiannya begitu rapi, Vian potong rambut, muka tampannya jelas terlihat."Astaga gue ngayal apaan sih." Via kembali fokus ke depan.Bel pulang sekolah sudah berbunyi Vian memang benar benar berbeda hari ini, tumben dia gak ganggu Via, jailin Via, dan ngajak Via bicara.Via melihat Vian keluar dari kelas, Via ragu apa dia ikuti kata kata Vian tadi pagi atau dia langsung pulang."Bodo amat..... Bodo amat, palingan dia mau bicara tentang perasaan nya." Via keluar dari kelas, dan berbelok ke kanan mengarah ke gerbang sekolah.Vian melirik jam tangan nya, cukup lama ia menunggu Via. Padahal ada sesuatu hal yang sangat penting ia beri tau ke Via."Vi gue mohon datang." Harapan Vian menanti ke hadiran Via yang berjalan ke arah nya."1...2...3..." Sudah cukup Vian membuang buang waktunya yang gak pernah di hargai oleh Via.Vian pergi ke parkiran sekolahnya, dan pergi dari sana dengan ngebut.Sungguh Vian sangat kecewa untuk saat ini. Tapi ia masih bingung ia kecewa dengan hal apa. Jika marah dengan Via tidak datang ke belakang sekolah, itu sangat tidak pantas karna itu ada juga hak Via untuk datang atau tidak, mungkin dia saja yang terlalu berlebihan dengan keadaan sekarang ini.Apa Vian sampai disini perjuangannya kepada Via?Hanya karena sepele Vian berhenti, di detik ini juga? I dont know.
Potret Usang Tentang Kita
Ali :Dulu, aku selalu memandang wajahnya. Wajahnya yang penuh bahagia dan girang. Dan hingga membuatku ingin sekali bersamanya untuk selamanya.Akan tetapi, seiring waktu berlalu dan pergi meninggalkanku. Takdir mengatakan kami harus berpisah. Aku tak bisa memilikinya.Aku hanya bisa menahan kerinduan terbata ini dengannya. Aku mengurungkan semua niat nekadku agar aku bisa bertemu dengannya. Aku tak ingin Milan curiga.“Ehh.. Milan. How are you, bro?” sapaku setelah aku sadar bahwa Milan sedari tadi sedang mengintaiku.Semuanya seakan hanyalah angin lewat baginya. Dia tidak mengacuhkanku dan hanya terdiam. Memandangku dengan murung.“Ali..”“Ya, mil?”“Sekali lagi, lo lirik-lirik Nila nanti. Gue gak segan-segan bunuh lo nanti.” ancamnya seakan menjadi sebuah batu besar yang menimpaku.“Ingat itu!” Aku meneguk ludahku, ketakutan.Ketahuilah, diantara Milan denganku. Milanlah yang paling kuat daripadaku. Paling tampan mungkin aku. Tapi jika paling jago berantam yaitu dia.Aku mengangguk mengerti. Hanya itulah salah satu cara agar selamat darinya. Hanya itu pula caraku agar bisa mempertahankan hidupku.Nila :Setiap hari, dia selalu memarahiku, mengintaiku saat pergi bersama teman-temanku, dan selalu berlebihan dalam menanggapi pesan dari teman-teman lamaku yang bergender laki-laki. Aku risih! Aku tak suka lelaki posesif seperti Milan ini! Aku lebih menyukai lelaki jenaka daripada lelaki ke-overproctetive-an seperti Milan.Seandainya, aku melihat Ali disini. Saat ini! Kalau bisa kami bisa dinner bareng disini.Ali, kamu apa kabar, ya, disana?Aku mengambil ponselku dan memeriksa sesuatu.Ali :“Halo?” aku mengambil bantal gulingku dan duduk di sofa. “Ini siapa?”Hening.Aku hanya menyandarkan diri dan hanya termangu tak paham. “Halo?”Hening kembali.Aku tak suka berlama-lama tanpa bicara. Langsung ke intinya saja, aku langsung memutuskan panggilan itu dan membiarkan ponselku terdiam di atas sofa.Aku mau ambil cheeky-cheeky kesayanganku di kulkas.Ponsel masih berbunyi. Hmm, siapa sih itu?Aku menghampiri ponselku dan mengangkatnya lagi.“Ali? Ini aku Nila.”Aku terpaku. Semuanya tampak seperti jatuh berbalik di mataku.“Ali, aku kangen sama kamu.”Aku masih terdiam.“Ali? Aku kangen sama kamu. Kamu kangen juga kan?”Aku harus tahan! Tahankan niatmu! Jangan nekad!Tanpa membuang waktu, aku langsung mematikan ponselku dan menjauhkan diri dari ponselku.Nila :Dia tidak mengangkat telepon aku? Kenapa Ali tidak mengangkatnya?Sudah berkali-kali. Dan sudah puluhan kali kulakukan. Dia tetap tidak mengangkat ponselku. Walaupun hanya sekali, tapi dia tampak bisu. Tak berbicara apapun padaku.Aku nyerah sajalah! Untuk malam ini, aku tak usah meneleponnya lagi. Mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya.Aku menyandarkan diri pada sofaku. Aku hela napasku.Ali, aku kangen sama kamu.Aku mengambil sepucuk amplop coklat dari dalam laci lemariku.For Nila Septiany Claudyana. Ini seperangkat potret cinta antara kita berdua untuk dirimu. Meskipun nanti akan usang, tapi ini akan tetap menjadi potret cinta kita berdua untuk selamanya.Aku tersenyum.Aku membuka amplop itu dan mengambil potret kami berdua.Kupandang wajah kami berdua saling tersenyum bersama. Riang bersama. Dia memelukku dengan erat dan aku memegang sebuah bouquet bunga mawar yang terikat indah dengan pita merah muda.Aku ingat, potret ini diambil pada hari valentine pertama kami. Sudah lama kami tidak bersama lagi.Sekarang potret ini semakin menguning. Tampak usang dan tak terurus lagi.Sekarang aku sadar. Semuanya hilang begitu saja, ketika Milan membuatku buta akan cinta dan membuatku terperosok atas cintanya. Dan akhirnya aku menyesal sekarang.“Ali, aku kangen bertemu denganmu. Aku ingin meminta maaf padamu.”Ali :“Ali!”Aku masih meminum pop ice kesayanganku dengan santai. Siapa sih yang sudah menggonggong siang-siang bolong gini? Sudah tahu aku haus!Aku berbalik. Dan tanpa kusadari, sebuah gumpalan batu keras kini menghampiri pipiku yang semakin lama semakin menembem.“Auww.” Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Wajahku mungkin semakin lebam untuk kali ini.“Lo sudah berani, ya? Dekatin cewek gue seenaknya!” aku memandang Milan dengan tidak mengerti. Masalah ceweknya lagi?“Apaan, mil? Aku dekatin Nila?”“Iya! Gue punya buktinya. Lo nelpon Nila kan kemarin?”Aku terdiam.Dan semuanya seakan menjadi kecam. Semakin lama mereka semakin menghimpitku. Milan dan teman-temannya yang dulu sahabatku kini menghantamku dengan beribu gumpalan batu keras. Aku tak tahu, entah nasib apa yang kualami pada saat ini? Semuanya seakan membuatku menjadi manusia paling malang dari semua manusia yang berada di dunia ini.Aku tak tahu, entah sudah berapa kali pukulan yang menghantam wajahku. Tapi, aku tak bisa bertahan lagi. Perlahan, tanpa sepengetahuanku, aku merasa lemah dan ingin tidur lama disini.“ALI!”Nila :“Kau gila?” aku menampar wajahnya dengan keras di depan ruang gawat darurat.“Kau tak waras lagi? Kenapa harus Ali yang kau incar duluan? Bukan dia yang menelponku duluan! Malahan aku, Mil! Aku!” Dia berlutut. Tapi aku menendangnya.“Aku minta maaf, Nil.”“Aku gak butuh!”“Tapi, aku mencintai kamu, Nil.”“Cinta? Ini yang namanya cinta? Untuk mempertahankan sebuah hubungan, kau harus pakai kekerasan fisik dengan orang yang dulu pernah menjadi orang yang kusayangi? Kau pecundang! Bukan pahlawan cinta! Aku tak suka sama orang yang kayak dirimu ini!”“Tapi..”“Aku tak peduli!"“Kau tetaplah pecundang di mataku!”“Nila, aku mohon sama kamu.”“Aku tak butuh! KITA PUTUS!”Ali :Aku merasa ada sebuah sentuhan hangat di tangan kananku. Perlahan, aku membuka mataku. Dan…“Ali? Kamu sudah sadar?”Nila sudah berdiri memandangku dan memegang tangan kananku.“Nila?”Dia memandangku dengan sedih.“Ali, untunglah kamu sudah sadar sekarang. Aku bersyukur. Kamu masih bisa diberi kesempatan hidup untuk kali ini.”Aku masih terpaku.“Ali! Aku kangen sama kamu, Li.” Dia memelukku.“Aku kangen sama kamu, Ali!”Aku ingin menangis tapi tak bisa.Dia melepaskan diri dariku dan mengambil sebuah amplop dan…“Aku ingin menjadi kita seperti di potret usang ini, Li.”Aku tersenyum ketika melihat potret usang itu. Potret usang tentang kami. Dia masih mengingatku.“Ayo, kita menjadi kita dahulu lagi.”Aku mengangguk.“Kau ingin?”Dia tersenyum dan mengangguk.“Iya, Li. Aku menyesal karena meninggalkanmu. Aku minta maaf, Li.”Aku berusaha duduk dan menyandarkan diri pada dinding kamar perawatanku. Aku memandangnya dan memeluknya.“Tidak apa-apa. Yang penting sekarang, waktu dan cinta sudah membuatmu tersadar bahwa masih ada hati yang sedang merindukanmu disini. Yaitu diriku, Nil.”Kini kami saling memandang dan tersenyum bersama.Aku mencintaimu, Nila!
He Is A Ghost
HE IS A GHOST"Maksud lo, lo itu indigo?" Tanya Sephia pada Larasati yang dibalas gadis itu dengan dengusan."Gue gak ngomong gitu loh Ya, gue itu cuma bisa lihat mereka kadang-kadang doang. Lagian gue gak bisa liat masa depan ataupun masa lalu" Larasati mengelak. Lalu dia bangun dari posisi duduknya kemudian meninggalkan Sephia dengan dua mangkok bakso yang belum tersentuh.Setelah meninggalkan kantin, Larasati menyusuri koridor menuju kelasnya. Gadis itu baru saja bercerita dengan teman sebangkunya perihal dia melihat sosok perempuan bergaun putih dengan rambut menjuntai melewati pinggang dikamar nya semalam.Namun, respon Sephia membuatnya jengah. Dia bukan anak indigo, dia tidak bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Lagipula dia yakin itu hanya imajinasi.Larasati lagi lagi menghela nafas dengan kasar. Dia jenuh, sangat. Kenapa bisa akhir-akhir ini dia sering melihat penampakan. Padahal dia bukan anak yang dibilang spesial.Larasati mendongak kalau mendengar suara sepatu mendekatinya. Suasana kelas saat itu sepi karena masih jam istirahat.Gadis itu menaikkan sebelah alisnya ketika seseorang mendekatinya."Apa?" Tanya Larasati sarkastik. Dia sedang pusing, dan cowok ini brani sekali mendekatinya."Kamu jutek banget ya ternyata," Balas cowok itu sambil menyunggingkan senyum."Saya Aldy, kalau kamu pengen tau" Lanjutnya.Mata Larasati berotasi. Ada apa dengan cowok ini? Kenapa tiba-tiba dia memperkenalkan diri begitu tiba-tiba pikir Larasati."Gak penting""Kamu jutek banget ya?" Senyum Aldy belum juga terlepas dari bibirnya dan itu membuat Larasati muak."Lu gila ya?" Tanya Larasati tak segan segan.Aldy menggeleng lalu dia menarik kursi yang berada didepan Larasati dan duduk dengan posisi berhadapan dengan Larasati."Trus kenapa dari tadi senyum senyum gak jelas? Sori ya, lo emang ganteng. Tapi senyum lo gak mempan buat ngegaet hati gue," Terang Larasati."Ternyata kamu gak jutek aja ya, tapi pede juga. Saya boleh tau nama kamu gak?""Kalo gak?""Gak papa. Saya gak maksa" Kembali senyum merekah dibibir Aldy."Larasati. Lo ada perlu apa kesini? Dan cari siapa?Sebelum Aldy sempat menjawab. Larasati mendengar pintu berderit, iapun menoleh ke asal suara."Ngomong sama siapa tadi Ras?" Tanya Sephia.Ia baru saja kembali dari kantin. Setelah menghabiskan dua mangkok bakso miliknya dan milik Larasati."Sama..." Ucapan Larasati terpotong ketika mendapati kursi didepan nya kosong."Loh, dia kemana?" Tanyanya heran."Dia siapa?""Gak penting," Ketus Larasati sambil mengeluarkan novel dari ranselnya."Gue punya novel baru nih. Lo mau baca?" Tawar Larasati yang dibalas anggukan oleh Sephia.Dengan cepat ia mengambil novel tersebut dari tangan Larasati sembari membuka halaman demi halaman dengan antusias."Gue mau ke perpus. Kalo guru masuk, bilang sama dia gue izin. Kayanya gue gak masuk sampe beli pulang berbunyi" Larasati berkata sambil mengemasi buku yang berserakan diatas meja dan memasukkannya ke dalam ransel berwarna pinknya."Lo yakin? Abis ini guru Fisika loh Ras, gue gak tanggung jawab kalo lo dibuat cabut lagi sama tuh guru killer" Sephia mencoba mengingatkan.Larasati menoleh pada Sephia yang berada disampingnya sebentar. Lalu kembali mengecek isi ranselnya."Bodo amat," Cetusnya cuek.Sambil menggendong ransel yang haya berisikan beberapa buku, Larasati melangkah keluar kelas tanpa memperdulikan temannya yang telah tenggelam didalam fantasi novel.Koridor masih ramai ketika Larasati melewatinya. Ia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Masih 5 menit lagi bel masuk berbunyi. Dengan langkah cepat ia segera menaiki tangga yang menghubungkan kelasnya dengan perpustakaan.Larasati sampai didepan pintu perpustakaan ketika bel pertanda masuk berbunyi. Setelah melepas sepatunya, ia masuk sambil mengucapkan salam pada pengawas perpus. Sementara pengawas hanya melirik sekilas dan kembali lagi dengan rutinitasnya.Larasati menyusuri rak mulai dari buku pelajaran, majalah hingga novel dan komik. Kali ini pilihannya jatuh pada komik serial kartun dari negeri sakura.Ketika ia berbalik, ia dikejutkan oleh seseorang yang baru ditemuinya beberapa menit yang lalu dikelasnya."Lu bikin kaget aja," Desis Larasati."Lu ngapain disini?"Tanya gadis tiba tiba bernada curiga." Kamu mau baca buku apa?" Tanya Aldy.Ya, orang yang membuat Larasati kaget itu Aldy."Ohh. Doraemon," Ucapnya sambil melihat sekilas pada buku yang ada digenggaman nya.Larasati pun berlalu dan berjalan menuju meja yang berderet dibalik rak rak buku. Meja tersebut merupakan tempat ternyaman bagi Larasati karena jauh dari meja pengawas.Sementara Aldy juga duduk disebelahnya. Cowok itu tampak misterius bagi Larasati karena kehadirannya yang tak dapat ditebak."Kamu kayak lagi bete. Kalau boleh tau, kenapa? Kamu bisa cerita ke saya" Cowok itu menatap Larasati tak henti sementara gadis itu sibuk dengan buku bacaannya."Bacod" Sepenggal kata tersebut mampu membungkam Aldy.Namun senyum tak memudarkan senyum di wajah tampannya.Tak terasa bel pulang berbunyi. Larasati menatap heran sekitar. Bertanya dalam hati kapan cowok itu pergi. Lalu mengangkat bahu pertanda dia tidak peduli. Mungkin saja karna dia terlalu asik dengan bacaannya Aldy pun pergi tanpa pamit.°°°Hari berganti minggu berlalu begitu saja tanpa terasa, rutinitas Larasati tetap tak berubah. Kecuali kehadiran Aldy yang kerap kali membuat matanya berotasi dan menghela nafas panjang.Pada hari ini saja, cowok itu kembali menghampirinya ketika ia sibuk mengerjakan latihan kimia."Ada apa lagi?" Tanya Larasati tanpa basa basi sementara tangan nya masih sibuk mencoret buku buramnya."Pengen ketemu aja," Ucap cowok itu lirih."Tiap hari lo nyamperin gue. Emang lo gak bosen? Gue yakin, dengan tampang lo yang mirip artis barat gini banyak cewek diluar sana yang ngejar ngejar lo""Jadi kamu mengakui kalau saya itu ganteng?" Demi mendengar penuturan beserta pertanyaan yang meluncur dari bibir Aldy, Larasati menghentikan kegiatan menulisnya ia menatap wajah Aldy dengan seksama lalu kembali berkutat dengan soal soal." Sedikit," Ucap gadis itu jujur.Karena tak ada balasan, Larasati kembali mendongakkan kepalanya. Heran. Cowok itu kembali menghilang tanpa pamit padanya.Setelah selesai dengan soal soal yang disukainya itu dan telah mengecek bahwa jawaban nya benar, Larasati meninggalkan mejanya untuk mengisi perutnya yang dari tadi sudah mendendangkan suara alam yang menandakan bahwa ia lapar.Setelah sampai di kantin dan memesan semangkuk bakso, Larasati menghampiri meja dimana Sephia duduk. Teman sebangkunya itu tak sendiri, ia bersama Ovanita."Hay Ov, Ya," Sapa Larasati.Mereka Menghentikan menyendok makanan masing masing lalu menatap gadis itu." Hay," Balas mereka serentak."Udah selesai ngerjain latihannya Ras? Kalau udah, ntr contek ya," Seru Sephia tanpa rasa malu.Larasati hanya mengangguk sebangai jawaban atas permintaan itu.Pesanan Larasati telah datang, asap mengepul menandakan bahwa bakso tersebut masih panas. Setelah memberi saudara dan kecap iapun melahap dengan tenang."Ras.." Panggil Ovanita yang dibalas gadis itu dengan mengangkat sebelah alisnya.Ia tak suka ada orang yang menggangunya ketika sedang makan."Gue denger ada desas desus tentang lo Ras. Yakan Ya?" Ovanita menoleh pada Sephia seolah meminta persetujuan yang dibalas anggukan.Larasati meletakkan sendok dan garpunya. Menatap serius pada dua teman dekatnya itu. Ia tak suka ketika ada yang membicarakannya dibelakang. Jika seseorang ada masalah dengannya, dia siap melayani orang tersebut dengan senang hati."Lo suka bicara sendiri," Kata Ovanita pelan, seolah olah ucapannya takut membuat Larasati meledak."Maksud lo?" Larasati mengerutkan keningnya.Ia sungguh tak mengerti dengan ucapan Ovanita. Siapa yang telah mlakukan fitnah seperti itu Padanya."Bicara sendiri Ras. Banyak yang udah liat pake mata mereka sendiri. Dari mulai dikelas, perpus bahkan koridor sekolah," Tambah Sephia menjelaskan.Larasati sempat bergidik ngeri. Bagaimana bisa dia dikatakan seperti itu. Karena jelas jelas dia berbicara jika hanya ada lawan bicara saja."Gue gak pernah bicara sendiri Ya, Ov. Percaya sama gue," Ucap Larasati putus asa. Kedua temannya saling berpandangan."Kita percaya sama lo kok Ras" Sephia mencoba menenangkan, Ovanita ikut mengangguk sambil tersenyum."Tapi ada satu hal yang pengen gue tanyain sama lo," Lanjut Sephia menatap Larasati tanpa berkedip."Apa?""Lo inget waktu lo ninggalin gue dikantin terus abis itu gue nyamperin lo dikelas" Ucapan Sephia dibalas anggukan oleh Larasati." Lo bilang lo ada orang yang ngomong sama lo sebelum gue dateng, itu siapa?" Sambungnya lagi."Aldy," Jawab Larasati cepat."Kenapa?""Hm. Lo yakin dia manusia? Maksud gue ya gitu deh" Sephia menatap Larasati dengan Ovanita secara bergantian." Ya ini cuma pemikiran gue aja," Tambahnya.Larasati tercekat. Lalu dengan cepat ia berdiri dari posisi duduknya lalu meninggalkan kantin tanpa sepatah katapun. Ia berlari disepanjang koridor dengan mata menatap sekitar. Ia mencari seseorang.Namun, sudah tiga kali ia mengitari sekolah dari mulai halaman, koridor, perpus, ruang olahraga, ruang osis bahkan halaman belajkang sekolah ia tak kunjung menemukan seseorang yang ia cari.Larasati menyerah. Ia berjalan gontai menuju kantin. Ia lelah, bahkan ia tidak sempat minum dikantin sebelum pergi tadi. Dan sekarang ia rela bolos demi mencari Aldy." Kamu nyari saya?" Tepat didepan ruang musik.Suara yang amat dikenal Larasati terdengar dari arah belakang. Ia segera memutar badannya 180 derjat. Dan mendengua tertahan." Lo darimana aja?" Ucapnya kesal sambil balik badan dan kembali melangkah. Aldy dengan cepat mensejajarkan langkahnya dengan Larasati."Kenapa kamu nyari saya? Tumben banget," Ucap cowok itu sambil memainkan gelang nya yang berada ditangan kirinya."Atau kamu sudah tau siapa saya?"Langkah Larasati terhenti. Ia menatap ragu ragu ke arah Aldy yang berada tepat di sampingnya. Ada rasa takut menghampirinya namun dengan cepat ia tepis."Kamu ... Beneran hantu?" tanyanya hati hati.Dengan tenang, Aldy menjawab 'iya' tanpa suara. Ia menatap lekat pada manik abu abu milik Larasati. Larasati meringsut menjauh secara perlahan dari Aldy."Kamu takut sama saya?" Tanya Aldy.Larasati mengangguk pelan. Ia tak berbohong. Ia takut, sangat. Untung saja Aldy tidak Berpenampilan seperti yang kerap ia lihat sehingga ia mampu bertahan bersama Aldy. Jika tidak ia mungkin akan menjerit."Saya gak berbahaya. Saya gak bakal ngelukain kamu. Kamu mau ikut saya sebentar? Saya hanya ingin mengobrol. Jujur, kamu orangnya menyenangkan walaupun kamu terkesan cuek tapi saya memakluminya" Larasati hanya terdiam kala Aldy berbicara.Alih alih mendengarkan, ia hanya sibuk menatap ujung sepatunya dengan pikiran yang entah kemana."Larasati," Panggil Aldy lembut seraya hendak menyentuh pundak Larasati.Namun tangannya hanya menerpa angin, sementara Larasati mendapatkan sensasi dingin hingga bulukuduknya berdiri.Mata nya melotot menatap Aldy tak percaya."Jangan sentuh gue," Ucapnya bergetar."Kamu mau ikut?""Kemana?" Meski tak percaya sepenuhnya Larasati menjawab dengan nada setenang mungkin."Mari," Ujar Aldy.Ia hanya ingin berbicara dengan Larasati tak lebih tak kurang. Ia mengajak gadis itu keluar dari area sekolah melewati pagar samping. Lalu ia melewati jalan setapak yang terlihat sudah berumout dan sedikit bersemak dikarenakan jarang dilewati. Diujung jalan ada sebuah lama yang terlihat sudah tak berpenghuni."Kamu takut?" Tanya Aldy.Larasati mengangguk patah patah." Saya suka kamu. Kamu gadis yang jujur," Ucapnya lagi.Aldy menatap rumah yang berada 3 meter didepan nya dengan pandangan sendu." Itu rumah saya," Ujarnya membuka cerita." Namun orangtua saya pindah sejak setahun yang lalu karena kepergian saya. Kuburan saya ada disamping rumah itu" Aldy menghentikan ceritanya seraya menoleh ke sisi kirinya ketika mendapati Larasati tengah menatapnya tanpa berkedip. Gadis itu tampak terkejut karena ketauan mencuri pandang ke Aldy. Aldy terkekeh sesaat."Saya tau saya ganteng," Ucapnya percaya diri.Larasati hanya bisa merutuki diri sendiri. Lalu berucap pelan seperti berbisik"Iya, gue akui ko kalau lo ganteng"" Saya dengar Larasati," Balas Aldy. Namun ia kembali melanjutkan cerita yang sempat terputus." Mereka sudah lama tidak melihat saya, membersihkan tempat peristirahatan saya. Saya hanya ingin kamu membantu saya Larasati"Larasati menelan salivanya kuat kuat."Apa?" Tanyanya tak sabaran."Tolong temui orangtua saya. Bilang sama mereka bahwa saya sayang banget sama mereka. Bilang kuga sama mereka sering sering jengukin saya," Pintanya." Saya tau kamu gadis yang spesial dan baik hati Larasati," Lanjutnya." Ayo kita ke sekolah. Berlama lama disini membuat saya sedih," Ujar cowok itu jujur dan dibalas anggukan oleh Larasati.°°°Hari hari berlalu, Larasati tak pernah absen mencari keberadaan orangtua Aldy. Dan tak bisa dipungkiri, ia dan Aldy semakin akrab bahkan tak jarang jika pipi Larasati bersemu merah kala Aldy melontarkan candaannya."Al..," Panggil Larasati. Mereka tengah berada ditaman belakang sekolah karena disana satu satunya tempat yang tepat untuk bertemu.Aldy menoleh, ia menatap pemilik mata abu abu itu."Apa hubungan kita bisa lebih dari sekedar orang yang minta bantuan dan orang yang ngasih bantuan?" Tanya Larasati.Mereka saling tatap dalam waktu yang lama, Aldy terdiam sesaat mendengar pertanyaan Larasati."Jangan berharap lebih Ras," Ujar Aldy membuat Larasati memalingkan wajahnya ke arah lain.Tak bisa dipungkiri ada sesak didalam jiwa masing masing. Tak hanya Larasati yang merasakan nya. Aldy juga merasakan hal yang sama." Kenapa?" Tanya Larasati sedikit parau.Ia kembali menatap Aldy, namun Aldy mengarah kan pandangan ke arah lain."Ras, kita beda alam. Kamu jangan lupakan itu. Jika kamu ingin diperjelas, saya sudah mati Ras. Kamu gak bisa abaiin fakta itu. Mending kamu fokus aja sama tugas kamu," Ujar Aldy."Tapi gue gak bisa boong sama perasaan gue sendiri Al" Larasati tetap bersikeras. Bagaimanapun ia berharap bisa bersama Aldy.Aldy tak punya pilihan. Tiba tiba dari tangannya keluar darah segar, begitupun kepalanya. Larasati yang melihat itu menjerit ketakutan dan pergi meninggalkan Aldy dengan air mata menetes perlahan." Maafkan saya Ras. Andai kamu tau, saya juga mencintai kamu. Tapi saya tau bahwa itu tidak mungkin," Ucap Aldy lirih.°°°°Keringat tak henti gentinya membanjiri Larasati sehingga seragamnya sedikit basah. Nafasnya masih menderu, ia segera menuju kelasnya dan mendapatkan Sephia sedang menyalin latihannya."Lo kenapa Ras?" Tanya Sephia ketika melihat tampilan sahabatnya yang jauh dari kata rapi."Kaya habis ngeliat setan aja" Sambung gadis itu sambil mengangkat bahu."Lo tau sama keluarga Yulianchan gak Ya?" Alib alih menjawab pertanyaan Sephia.Larasati malah melontarkan pertanyaan ke Sephia."Keluarga Yulianchan? Ya tau lah Ras, siapa yang gak kenal sama keluarga tajir itu sih. Emang kenapa?" Tanya Sephia menyelidik."Lo tau rumah mereka gak? Yang mereka tempati sekarang?" Tanya Larasati dengan nafas memburu.Ia tak sabar ingin bertemu dengan orangtua Aldy."Ayah gue kayanya tau soalnya dua salah satu kolega dari perusahaan Yulianchan," Jawab Sephia santai.Larasati mengangguk mantap."Lo hubungin ayah lo sekarang, tanyain. Pulang sekolah kita pergi ke alamat yang dikasih ayah lo" Meski sempat heran dengan Larasati, Sephia tetap mengangguk.°°°°Setelah mengecek alamat yang dikirim ayah Sephia dengan alamat yang tertera, mereka mengetuk pintu sembari mengucapkan salam. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pintu besar denan ukiran rumit itu terbuka."Cari siapa?" Tanyanya. Sepertinya ia asisten rumah tangga dirumah tersebut. Dan berusia lebih dari 40 an dilihat dari wajahnya."Tante Charolina ada?" Tanya Laras sopan." Ada. Kalian siapa ya? Ada perlu Apa ingin menemui nyonya?" Tanya ART tersebut. Sepertinya ia enggan menerima tamu untuk nyonyanya."Penting. Bisa kami bertemu?" Tanya Larasati lagi. ART tersebut mengangguk sembari kembali masuk kedalam rumah besar itu. Beberapa saat kemudian ia kembali dan mempersilahkan Larasati dan Sephia masuk."Kalian siapa ya?" Itu pertanyaan pertama dari wanita cantik yang duduk dengan anggun disofa ruang tamu itu." Saya Larasati tante. Ini teman saya Sephia. Kami temannya Aldy" Sedikit tersentak mendengar penuturan Larasati namun Charolina kembali tenang meski ada sorot sedih dimatanya."Ada perlu apa menemui saya?" Tanya Charoline to the point."Aldy berpesan ke saya..." Belum sempat Larasati menyelesaikan ucapan nya namun Charollina telah memotong dengan kalut."Gak mungkin. Gak. Gak mungkin. Aldy udah meninggal. Dia gak mungkin temuin kalian," Ujarnya sambil berteriak."Tenang tante tenang. Teman saya ini memiliki kemampuan istimewa meski ia tak mengakuinya. Ia Indigo tante" Sephia mencoba menjelaskan, Larasati menyikut dengan sikunya yang dibalas cengiran oleh Larasati.Charolina tampak sedikit tenang dengan penuturan itu. Keadaan nya lebih stabil."Apa pesannya?" Tanya wanita paru baya itu."Dia sayang sama tante sama om. Katanya, tolong seringjengukin dia. Bersihin pemakaman nya. Dia sedih melihat tante gak pernah ketempat istirahat terakhir nya," Jelas Larasati.Seketika butiran kristal menggenangi mata Charolina dan perlahan jatuh setetes demi setetes. Ia menyadari kesalahannya itu."Baik, mulai saat ini tante akan sering kesana. Terimakasih telah menyampaikan pesan dari Aldy. Tante juga menyayangi nya dan tante menyesal karena jarang ke pemakaman nya. Jujur, tante sangar sedih jika mengingat Aldy. Maka dari itu, tante jarang mendatanginya. Tante gak nyangka kalau itu bikin Aldy sedih," Tutur Charolina sambil terisak."Sama sama Tante. Yaudah ikhlasin Aldy tante. Biarin dia tenang." Charolina mengangguk menyetujui ucapan Larasati.Setelah berbasa basi dan makan malam bersama akhirnya Larasati dan Sephia pamit pulang dengan alasan sudah malam. Meski sempat ditawarkan menginap mereka menolak ajakan itu dengan lembut.°°°Larasati datang terlambat hari ini. Ia berlari menyusuri koridor dengan cepat. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Aldy dengan bersandar di dinding koridor."Jangan temui gue lagi," Ucap Larasati dingin. Ia berbalik dan hendak pergi ketika ucapan Aldy menahannya untuk tetap bertahan disana."Saya tau kamu udah benci sama saya sekarang. Tapi saya pengen bilang makasih sama kamu. Mama udah bersihin pemakaman saya. Saya senang akan hal itu. Dan itu semua karna kamu. Saya pengen sehari ini saya ngabisin waktu bareng kamu Ras. Semua terserah kamu. Kalau kamu gak mau juga gak papa saya gak maksa"Hari itu Larasati tidak masuk kelas. Ia bolos dan menerima ajakan Aldy. Mereka menghabiskan waktu seharian hingga sore menjelang. Banyak hal yang mereka lakukan. Dari bercerita, main dan banyak hal lainnya."Udah sore. Kamu harus pulang. Saya yakin kamu gak mau lihat saya berubah lagi" Larasati mengangguk patuh. Meski setengah hatinya tidak menyetujui hal itu." Saya akan pergi jauh. Jiwa saya sekarang lebih tenang. Makasih buat sepenggal kisah ini" Aldy masih tetap berbicara ketika mereka melintasi lorong koridor sekolah. Sementara Larasati hanya diam mendengar penuturan Aldy."Jujur, saya gak bisa bohongi perasaan saya. Saya nyaman sama kamu" Langkah Larasati terhenti demi mendengar sepenggal kalimat tersebut ia menatap Aldy dengan sedikit tersenyum."Gue pulang dulu ya. Udah sore," Ujar Larasati kemudian.Gadis itu berjalan menunduk meninggalkan Aldy, dan Aldy tau Larasati tengah menangis.°°°°Waktu begitu cepat. Seminggu tak terasa telah dilalui Larasati tanpa bertemu Aldy, ada sepercik rindu tertanam didalam diri Larasati meski mati matian ia menguburnya. Ia menyadari hal yang tak mungkin terjadi, ini Salahnya. Mencintai makluk tak kasat mata. Bermain dengan kenyamanan yang diberikan Aldy padanya.Walau tak bisa ia pungkiri. Setiap malam ia menangis kalau memikirkan Aldy.Tepat ke hari sepuluh. Ia mendatangi pemakaman Aldy sendirian. Ia memberanikan diri mendekati rumah tak berpenghuni dan berjalan menuju pemakaman Aldy.Larasati meletakkan sebuket bunga. Pemakaman itu bersih, tidak ada rumput atau tanaman liar disana. Setelah membaca doa, Larasati menatap nisan Aldy dengan perasaan rindu bergejolak."Hay," Sapa Larasati seolah ia tengah berbicara dengan orang sungguhan."Aku kangen," Ujarnya. Untuk kali pertama Larasati memakai kata aku ketika berbicara."Kamu tau? Seminggu ini aku ngerasa sepi tanpa kamu. Aku kangen ngobrol sama kamu. Becanda. Apalagi lihat senyum kamu. Itu bagian terfavorit buat aku. Andai kamu tau Al. Meski aku kenal kamu sebatas imajinasiku aku sangat mencintai kamu Al. Semoga kamu tenang ya disana. Dan aku selalu berharap kita akan bertemu lagi. Dan disatuin ditempat yang abadi nanti. Lucu sebenarnya. Tapi itu yang aku inginkan Al." Setelah mengatakan itu. Larasati berdiri. Untuk terakhir kalinya ia menatap nisan Aldy. Lalu beranjak pergi."Larasati," Panggil seseorang dengan suara familiar. Larasati terhenti. Ia menoleh dan mendapatkan Aldy berada tak jauh darinya."Saya juga merindukanmu Ras. Dan saya juga sangat mencintai kamu Ras. Semoga tuhan mempersatukan kita," Sambungnya. Senyum merekah dibibir Aldy usai mengatakan itu. Begitupun Larasati ikut tersenyum menatap lembut kepada pemilik hatinya itu. Rindu pun meluruh seiring memudarnya bayangan Aldy."Selamat jalan sayangku," Bisik Larasati.
Pekan Raya Fisika
“Rita…” suara heboh Ellin memanggil Rita dari pintu kelas.“Apaan sih lin pagi-pagi udah ribut aja lo,” jengkel Rita pada Ellin.“Ada berita penting nih buat lo”“Berita apaan, gosip mulu kerjaan lo” Rita selonjoran di kursinya memandang ellin jengah.“nama lo ada di mading, lo lulus di tahap pertama seleksi olimpiade fisika ta” dengan antusias Ellin memberikan informasi yang diliatnya di mading.“yang bener lo, demi apa kok bisa sih” Rita terkejut dengan yang di katakan sahabatnya ini dan langsung pergi untuk melihat sendiri nama nya di madding.“eehh.. mau ke mana lo ta, gue bener kok ga percayaan amat sih nih anak, heh tunggu gue napa” Ellin menyusul langkah Rita menuju mading.Sampainya di mading dengan teliti Rita melihat pengumuman yang di temple.“nama gue lin, ini nama gue” Rita sungguh tidak menyangka jika namanya muncul dan lulus tahap pertama di seleksi olimpiade fisika ini, dan Rita langsung memeluk sahabatnya Ellin. Dan terjadilah kehebohan lokal diantara mereka berdua.****“Eehh bro gue dapet info terbaru nih tadi, lo tau ga?” tanya Alan dengan antusias kepada Jojo.“Buset… mana gue tau sih lan kan lo belum ngasih tau,” jawab Jojo kesal.“Dasar bego,” tukas Rahmad.“Hahaa… jadi infonya nama lo jo, si jojo arsento lulus di tahap pertama seleksi olimpiade fisika” beritahu Alan dengan cengengesan.Jojo hanya menampilkan wajah datar.“Ouhh yang itu ketinggalan berita lo lan, Jojo mah udah tau kali orang yang nempelin kertas seleksinya dia kok di suruh pak didit tadi,” jelas Rahmad pada Alan.“kok gue ga di kasih tau sih, apa yang kalian lakuin itu jahat!” Alan menunjuk Jojo dan Rahmad bergantian.“udah deh ga usah drama” timpal Jojo tidak berminat bermain drama dengan Alan.“Yokk masuk kelas, bentar lagi bu sima masuk nih.” Rahmad melihat jam di tangannya.Dan akhirnya mereka pun masuk kekelas dan dengan khidmat mengikuti pelajaran sejarah.*****Hari ini peserta yang lolos di seleksi di kumpulkan kelapangan basket. Ada sepuluh orang siswa-siswi yang lulus di tahap pertama. Mereka di beri pengarahan untuk mengikuti seleksi tahap kedua. Dan yang lulus di tahap pertama seleksi olimpiade fisika akan mulai lagi seleksi yang kedua pada hari selasa pas pulang sekolah.Dan hari selasa pun tiba, semua siswa-siswi berkumpul di lab fisika sekolah. Termasuk Rita yang duduk di pojok ruangan. Yang awalnya ribut seketika hening karena bu wati memasuki lab fisika.“Assalamualaikum anak-anak dan selamat sore”“Walaikumsalam bu, selamat sore,” jawab mereka serempak.“baiklah terima kasih sudah mau meluangkan waktunya hari ini untuk mengikuti seleksi tahap kedua dari olimpiade fisika ini, Apakah sudah datang semua?” tanya Bu Wati.Salah satu siswa mengangkat tangan bernama Wina.“Belum bu, Jojo masih belum datang,” jawab Wina.“Permisi bu, maaf saya terlambat.” terdengar suara dari arah pintu.“Silahkan masuk jo.” bu wati menyuruh jojo untuk masuk.“Baiklah, karena sudah kumpul semua kalian akan di seleksi untuk tahap kedua hari ini. Pengumuman tahap kedua akan di umumkan hari senin depan. Kalian akan mengisi lembar pertanyaan ini. Kalian akan mengisi 50 soal. Saya akan mengawasi kalian. Saya akan beri waktu 60 menit. Saya memilih 3 orang di sini untuk mengikuti olimpiade antar nasional di Jakarta nanti. Andi tolong bagikan ini kepada teman-teman mu” Andi berdiri dari kursinya dan memberikan lembar pertanyaan kepada teman-temannya.Yang mengikuti olimpiade tidak hanya dari jurusan Ipa, ada juga jurusan Ips yang lulus di tahap seleksi yang pertama misalnya Jojo dan Wina.Mereka berdua diikutkan karena pada kelas X, mereka mendapat nilai terbaik dan di kelas XI mereka memilih jurusan Ips. Jadi masih bisa di ikutkan untuk seleksi olimpiade tahap pertama.“ waktu tersisa tinggal 15 menit” peringatan dari Bu Wati.“bu saya sudah selesai” Rita mengangkat tangan.“silahkan kumpulkan Rita, dan kamu boleh pulang” Rita berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju kedepan untuk menyerah kan lembar jawabannya.Setelah Rita menyusul-lah Jojo, dan teman-teman yang lain. Begitu selesai semua Bu Wati langsung keluar ruangan dan mengunci ruangan lab fisika.****Rita yang datang awal kesekolah langsung menuju ke tempat mading berada. Dan menunggu di depan mading dari setengah jam yang lalu,dia duduk di kursi didepan mading.“kapan sih di tempel nama-nama nya nih ga sabar gue,” guman Rita.Datanglah Jojo dari ruangan guru menuju kearah mading, dan menempel satu kertas.Rita melihat gerak-gerik Jojo.“ jangan-jangan orang ini yang bakal nempel nama-namanya nih” dan tebakan Rita benar.Selesai Jojo menempel satu kertas dan menuju kekelasnya di lantai 2.Dengan sigap Rita dan siswa yang lewat seketika melihat mading dan di situlah Rita berteriak dengan hebohnya menandakan dia lolos di tahap kedua untuk seleksi olimpiade fisika.Rita menuju kelas dengan berlari, sesampainya di kelas XI IPA 2 dia langsung menghampiri ellin yang sedang menulis.“Ellin… gue lulus lin, gue lulus” Rita memberitahukan kelulusannya dengan suka cita kepada Ellin.“iya” Ellin melihat Rita sebentar dan kembali menulis.“Lin… kok reaksi lo kayak gitu sih ga seneng yaa kalo gue lolos?” protes Rita.“nanti dulu ta, gue lagi nyalin tugas pak handoko nih gue belum selesai nanti gue di hukum lagi kalo ga selesain nih tugas,” ucap Ellin menjelaskan masalah nya mengapa dia tidak antusias mendengar informasi Rita.“Emang ada tugas ya.. perasaan ga ada deh” tanya Rita mengingat tugas yang kemarin.“Sebaiknya lo kerjain deh bareng gue, nanti lo di hukum lagi kalo ga ngerjain, gue tau lo pasti belum ngerjain kalo lo masih nanya kaya gini” Rita cengengesan.“Tau aja lo lin gue lupa kok kalo ada tugas,yaudah mana tugasnya?”“Ga usah ngeles deh lo, nih” Ellin mengeser bukunya agar dapat dilihat oleh Rita.*****Hari ini ada tiga orang yang terpilih sebagai perwakilan dari sekolah SMA NEGERI 1 NUSA JAYA. Mereka di kumpulkan ke ruangan bapak kepala sekolah.“Selamat untuk kalian, kalian akan berlomba pada bulan februari jadi kita akan melakukan pelatihan dari sekarang agar persiapan kita matang”“Baik pak, kami akan melakukan pelatihan dengan baik dan akan berusaha menjadi yang terbaik” Rita hanya diam mendengarkan dua orang yang saat ini berbicara.“padahal gue juga ada disini tapi ga di omongin,” batin Rita jengkel.“Dan mana satu orangnya, mengapa kalian hanya berdua?” tanya Bapak kepala sekolah.“Ohh itu, dia ijin hari ini pak karena ibunya masuk rumah sakit,” jawab Jojo dengan sopan.“Nanti beritahu dia bahwa kalian akan pelatihan untuk persiapan olimpiade fisika ini”“Baik pak akan saya sampaikan nanti”Akhirnya mereka keluar dari ruang kepala sekolah.Mereka berjalan menuju ruang lab fisika tanpa ada percakapan. Rita sungkan untuk menyapa Jojo dan Jojo juga sebaliknya. Padahal mereka satu sekolah tetapi mereka berdua jarang berinteraksi dengan orang lain selain sahabat-sahabat mereka. Rita asik dengan pikirannya sendiri dam membayangkan bagaimana dia nanti akan berlomba. Ini adalah perlombaan pertama bagi Rita, tidak dengan Jojo yang waktu smp sudah pernah mengikuti olimpiade fisika. Begitu sampainya diruangan lab fisika mereka duduk bersebelahan dengan canggung.“Hhhmm gue asmarita” Rita memberanikan diri untuk berbicara kepada rekannya yang sedang sibuk melihat kertas.Jojo diam sesaat dan melihat Rita.“huhh nama lo Asma?” tanya Jojo bingung dia hanya mendengar nama awal Rita.“Yaa nama gue Asmarita, lo bisa panggil gue Rita,” jelas Rita.“Kalo gue mau panggil bengek gimana”“Eeeh enak aja gue ga ada penyakit bengek atau asam yaa”“Tapi nama lo Asma”“Kenapa emang nya kalo nama gue ada Asmanya, yang penting gue ga ada penyakit asma” Rita jengkel kepada Jojo.“Terserah gue dong mau manggil lo apa, kan yang punya mulut gue,” jawab Jojo santai sambil masih melihat soal latihan yang dia pegang.“Tapi kan…” ucapan Rita terpotong karena ada Bu Wati yang masuk ke lab fisika.“Kenapa rita?” Tanya Bu Wati kepada Rita.“Eehh ibu udah datang, ga kenapa-kenapa kok bu” Rita menjawab dengan cengengesan.“Baiklah kita mulai sekarang yaa di mulai dengan kalian menjawab soal-soal yang ibu bawa ini,” perintah Bu Wati kepada Rita dan Jojo.“Bu, Anis Wulandari hari ini ijin karena Ibunya masuk rumah sakit,” beritahu Jojo kepada Bu Wati.“Iya jo, tadi juga anis ada nelpon ibu kalo dia ga bisa ikut latihan sama kita”Akhirnya Rita dan Jojo mengisi soal yang di berikan Bu Wati.****“Ta, semalam gue di chat sam anak Ips, nama nya” Ellin berhenti bicara saat menoleh Rita yang di sebelahnya yang sedang tertidur pulas.“Ta bangun ta ada bu wati”“Huhh mana mana” Rita langsung bangun dan menanyakan keberadaan Bu Wati.“hahahahahahha” Ellin tertawa sambil memegangi perutnya.Rita sadar bahwa dia sedang di bohongi.“kurang asem lo lin, gue lagi tidur juga”“Lo sihh gue lagi cerita lo malah tidur dan ga dengerin,” bela Ellin.“Gue ngantuk lin, semalem gue begadang gara-gara si jojo tuh,” jelas Rita kesal.“Wait wait… siapa Jojo?” tanya Ellin bingung dan melihat Rita dengan curiga.“Itu temen satu olimpiade gue lin, masa lo ga tau sih”“Oh… Jojo Arsento”“Nah tuh lo tau”“Ya tau lah gue, siapa sih yang ga tau sama Jojo Arsento”“Tumben lo lin ga kekantin” Rita mencoba mengalihkan pembicaraan.“Lagi ga mood jalan gue” alasan Ellin untuk bertanya lebih lanjut tentang Jojo dari Rita sahabatnya.Rita adalah tipe orang yang jarang bicara dengan orang lain dan termasuk dengan teman-temannya di kelas. Dan dikelas dia hanya punya satu teman yaitu Ellin. Berbeda dengan Rita, Ellin adalah anak yang aktif dalam berorganisasi dan pintar dalam bergaul. Biarpun banyak temannya tapi Ellin tetap memilih untuk bersama Rita di waktu istirahat.****Sudah 2 minggu Jojo, Rita dan juga Anis melakukan perlatihan untuk perisapan olimpiade fisika. Mereka biasanya mengerjakan soal latihan yang di berikan Bu Wati. Dan Rita juga Jojo semangkin dekat. Setiap malam Jojo akan mengirimkan chat dengan Rita.Ting ting tingRita mendengar pesan masuk di handphonenya.Jojon kuker : uhuk uhukRita : batuk pak hajiJojo : nyanyi nengRita: ohJojo: oh doangRita : mau apa lagi emang nyaJojo: gimana asma lo dah baikan?Rita : apaan sih jo, gue ga asma kaliJojo : tapi nama lo ada asmanya, dasar bengekRita: lo tuh jojonJojo: enak aje lo nama gue bagus yaa, kaya pemain badminton tuh yang ada di tv lo tau kagakRita: ga tau tuh gue, dan gue ga ngurusin orang yang namanya lo sebut itu yee.Hari sudah semangkin malam, mereka berdua masih saling bertukar pesan.****Besok adalah pertandiangan olimpiadenya di mulai. Rita, Jojo dan juga Anis berangkat kejakarta hari ini, yang ditemani Bu Wati dan Bapak Handoko. Mereka berangkat memakai mobil yang sudah disediakan oleh sekolah. Setibanya sampai dihotel Rita, Anis dan Bu wina berada di satu kamar sedangkan Jojo dan juga Pak Handoko juga satu kamar. Rita sedang duduk di kursi kamar hotel dan tiba-tiba mendapat pesan.Rita berdiri dari duduknya dan memanggil Anis.“nis gue kebawah bentar ya, bilangin ke Bu Wati gue beli mie kedepan”“iya nanti gue bilangin” Anis bingung sendiri bukannya hotel banyak makanan ngapain masih mau beli mie lagi pikir Anis.Rita turun dan berjalan menuju pintu keluar hotel. Dan didepan pintu hotel sudah berdiri seseorang yang dikenal oleh Rita yaitu Jojo.“Ngapain nyuruh gue kesini”“eehh dari mana lo datang nya, kok gue ga liat?”“Yaa ga liat lah muka lo kemana gue kemana”“yok jalan keburu sore nanti” Jojo menarik tangan Rita.“Eeh mau kemana nih, nanti bu wati marah sama gue”“Gue udah ngasih tau bu wati kalo lo pergi sama gue”“kapan lo ngasih tau bu wati”“Tadi sebelum gue chat lo, gue chat bu wati dulu”“oh gitu, jadi kita mau kemana nih dan mau ngapain?” tanya Rita sambil melihat tangan nya yang di genggam oleh Jojo.“kita ke rumah nenek gue bentar” Jojo masih fokus mencari mobil yang dikirim neneknya ke hotel tempat mereka menginap.“jo,” panggil Rita.“apaan sih,” gumam Jojo yang menemukan mobil neneknya.“Tangan gue”“Hah tangan lo” Jojo langsung melihat tangannya sendiri dan cepat-cepat melepaskan tangan Rita.“Maaf ta gue sengaja, biar tangan lo anget hehehe tuh mobil nenek gue” Jojo mengajak Rita menuju mobil. Dan akhirnya mereka naik kedalam mobil. Di dalam mobil suasananya menjadi canggung.“Den Jojo udah lama ya ga main ke rumah nyonya?”“Iya pak, emang udah lama saya ga ke rumah nenek” Jojo menjawab pertanyaan pak sopir.Jojo melihat Rita yang berada di samping nya. Diperjalan mereka hanya diam dan tidak bicara apa-apa. Akhirnya mobil berhenti didepan gerbang rumah neneknya Jojo. Mereka berdua turun, Jojo memimpin jalan. Sedangkan Rita berjalan di belakang Jojo.“assalamualaikum...” Jojo mengucapkan salam di depan pintu rumah yang tertutup.“waalaikumsalam” terdengar suara sautan dari dalam rumah. Pintu terbuka dan muncullah seseorang.“Jojo ya ampun sudah besar ternyata kamu udah lama kita ga ketemu kamu mangkin tinngi saja, ayo masuk” Jojo langsung di peluk oleh neneknya dan menyuruh Jojo untuk masuk ke dalam.“Nek, Jojo ga datang sendiri Jojo datang sama temen Jojo” Jojo menoleh kebelakang dan melihat Rita yang juga melihatnya. Nenek melihat kebelakang dan melihat Rita yang sedang tersenyum canggung. Dan juga menyuruh Rita untuk masuk bersama mereka.****Selama 2 jam mereka berbincang-bincang dan sekitar jam 5 sore mereka berdua sampai kehotel. Rita langsung keluar mobil dan menuju ke kamarnya tanpa menunggu Jojo.“Perempuan emang selalu benar, dan cowo selalu salah” pikir Jojo karena sempat berdebat dengan Rita tentang hubungan mereka.Tibalah dimana mereka akan melakukan pertandingan.“Ta, perut gue sakit banget” Anis memegang perutnya.Rita memberikan minum kepada Anis“minum dulu nis”“Anis lo kenapa kok muka lo pucet banget, bentar lagi kita tanding nih” Jojo melihat Anis dengan sedikit khawatir karena mereka akan bertanding sebentar lagi.“Jojo, Anis, Rita kalian sudah siap nak, sebentar lagi pertandingannya dimulai” Bu Wati bertanya dengan anak didiknya.“Tapi bu-” ucapan Rita terpotong oleh Anis.“Gue gapapa kok ta”Mereka bertanding dengan sangat sengit banyak sekolah yang mengirim perwakilannya yang pintar-pintar. sempat mereka ketinggalan poin. Tetapi mereka masih tetap berusaha untuk menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh juri. Dan ini adalah saat-saat pengumuman kemenangan.Akhirnya jerih payah mereka berlatih selama hampir sebulan membuahkan hasil. Mereka menang dan berada di urutan pertama juara nasioanal sejakarta.****“Ritaaaaa” Ellin berteriak dengan heboh setiba sampai dikelas.“Apaan sih lo lin, sakit nih kuping gue” Ellin mengedipkan sebelah matanya.“gimana hubungan lo sama jojo, ada perkembangan ga?”Rita senyum malu-malu.“ hhmm kami udah pacaran”“Udah gue duga, selamat ya yang udah ga jomlo lagi” Ellin duduk di samping Rita.Dengan berakhirnya olimpiade fisika akhirnya Jojo dan Rita pacaran. Sebenarnya mereka sudah pacaran saat pulang dari rumah neneknya Jojo. Jojo mengajak Rita ke luar hotel, awalnya Rita menolak karena masih marah dengan Jojo pas di dalam mobil. Tapi malam itu Jojo meyakinkan Rita, bahwa dia sangat menyayangi Rita. Karena Rita juga ada perasaan lebih kepada Jojo, akhirnya Rita memutuskan untuk menerima perasaan Jojo. Walau pun pada awalnya mereka menyembunyikan hubungan mereka, sebenarnya hanya Rita yang tidak mau teman-temannya di sekolah mengetahui hubungan nya bersama Jojo. Tetapi karena mulut ember sahabatnya sendiri si Ellin, akhirnya hubungan mereka berdua terbongkar hanya dengan hitungan menit. Jojo tidak masalah jika hubungan nya dengan Rita di ketahui semua orang di sekolah, karena percuma di sembunyikan ujung-ujungnya juga pasti juga nanti ketuan. Dan akhirnya sekarang sudah terbongkar juga karena Rita sendiri yang menceritakan hubugan mereka berdua terbongkar dan menjadi gosip terhangat disekolah.
Serena
" Kerap terjadi, ketika kita menyukai seseorang ia malah berpaling muka seolah tidak perduli tetapi ketika kita sudah menjauh ia malah balik mengejar, memang benar cinta butuh kesepakatan namun apa lantas bisa aku jatuh cinta kepadanya yang sedingin kutub Utara? "S erena🍅🍅🍅"Sebenernya lo itu cantik, deh Ser. Mata lo hazel, bibir lo mungil, senyum lo manis." Aci duduk khidmat di samping temannya itu sambil menatap lekat wajah Serena."Baru sadar lo?" Jawab Serena tidak menanggapi lebih lanjut perkataan Aci, karena ia tengah sibuk menata bungkusan camilan yang ia beli tadi."Ya seharusnya lo bisa nyari cowok yang menganggap lo ada, yang bangga punya elo."Serena melirik Aci sinis tanpa menolehkan kepalanya, "Kenapa lo ngurusin urusan gue? Kenapa lo nggak nyelesaiin masalah lo sama kak Ramond yang playboy itu?""Kalo gue jadi elo ya, Ci. Si Ramond udah gue tendang jauh-jauh dari hidup gue.""Bisa-bisanya dia jalan sama cewek lain, terus masih sempat-sempatnya selfie bareng!" Serena bergidik membayangkannya."Urusan gue sama kak Ramond udah kelar kok, malah gue sempet ketemu sama ceweknya." Nada suara Aci yang terlihat santai membuat serena gemas."Gila lo?! Berarti lo putus dong sekarang?" Sontak Serena memutar badannya 360° menghadap Aci.Aci menggelengkan kepalanya, "Bukan putus tapi baikan."Serena langsung menoyor kepala sahabatnya, "Bego! Gue kasih tau ya sama lo, cowok kalo udah berani selingkuh selamanya dia enggak akan berubah!""Lebih begoan mana sama lo yang hobinya ngejar Dendra padahal dia ga respect sama lo." Aci mengulum senyumnya melihat serena memutar bola matanya malas." For you information, ya Serena. Yang kemarin jalan sama kak Ramond itu saudara kembarnya yang baru balik dari jogja bukan selingkuhannya, mana ada spek bidadari semacam gue di selingkuhin.""Serah!"🍅🍅🍅"Pagi sayang!!!" Sapa Serena renyah kepada pemuda yang berdiri tidak jauh di depannya."Sayang, tadi aku bangunin kamu kesiangan enggak?" Pemuda yang di panggil sayang itu hanya melirik Serena yang sekarang sudah ada di sebelahnya tanpa berniat menjawabnya."Yaudah deh, besok aku bangunin kamu lebih pagi lagi. Belajar yang pinter ya, sampai ketemu istirahat nanti!" Senyum di bibir Serena tidak pernah surut jika sudah bertemu dengan kekasih hatinya."Iya." Dendra langsung memasuki ruang kelasnya tanpa menghiraukan gadis yang berdiri di depan kelasnya sambil melambai-lambaikan tangannya."Woe, udah lonceng!" Tepukan tangan di pundaknya membuat Serena mengumpat kesal."Apasih! Rival!""Biasalah, Rival kan emang gajelas," sahut Wildan yang berkata lebih kalem kepada Serena."Makanya otak sering-sering di cuci biar kelakuan lo ga kaya ...." Ucapan Serena menggantung di udara ketika pandangan matanya bertemu dengan Dendra."Ssst ... Udah, bubar, masuk kelas masing-masing," kali ini Joy yang bersuara.Sejurus kemudian rival langsung menarik lengan Serena menjauh dari kelas XII ipa 1."Ngapain, sih, Val!" Serena menepiskan tangannya kesal."Mau nganterin lo ke kelas lo, lah.""Heh, ubi jalar, lo gausah sok pahlawan! minggir!" Jo dengan sengaja menabrak tubuh Rival lalu berdiri di depan Serena."Gue aja yang nganterin lo ke kelas, ya?" Ucap Jo lembut. Sedangkan Rival yang mendengarkan langsung berlagak ingin muntah.Serena berdecak kesal, "Ga perlu, gue masih punya kaki, dan masih normal. jadi, gue bisa jalan ke kelas tanpa bantuan kalian."Wildan yang sedari tadi diam kini ikut angkat bicara, "Iya, kita semua tau Ser. tapi yang jadi masalah lo itu deket sama Dendra. Lo tau kan hampir 95% cewek gasuka sama orang yang ngedeketin dia.""Kita takut lo di apa-apain."Serena mengerutkan alisnya tidak terima, "Buktinya hampir tiga bulan gue sama Dendra, adem ayem aja. Mereka cuma berani ngatain gue di belakang dan itu ga masalah.""Hati-hati aja, Ser. Kalo lo butuh, gue akan selalu ada kok.'"Aseek piwwit, cuit ... cuit ...," teriak Rival heboh lantaran melihat Dendra yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik mereka dari dalam kelas."Dahlah, gue balik dulu papay sayaaang ...." Serena memberikan kiss bye pada Dendra membuat pemuda itu mengalihkan pandangannya dengan raut datar.***Dendra, Rival, Jo, dan Wildan baru saja sampai di sebuah kafe milik Dendra."Widih makin rame aja, nih kafe." Rival sudah mulai tebar pesona pada perempuan-perempuan yang ada di kafe tersebut.Mereka duduk di salah satu kursi pengunjung sedangkan Dendra sedang berbicara kepada waiters kepercayannya."Lo mau ngapain?" Tanya Jo pada Rival yang seolah sedang menelpon seseorang."Nyuruh pacar kesini," jawabnya enteng."Tumben, pacar yang mana Val?""Ayang Bila.""lo ga takut Bila naksir gue?" Jo menaikkan sebelah alisnya menggoda Rival."Enggak lah, kan stoknya masih banyak, ambil aja kalo lo emang naksir.""Dasar buaya!" seru Jo."Heh, buaya teriak buaya. Sakit lo pada." Dendra yang baru ikut bergabung langsung angkat bicara.Wildan yang sejatinya tidak memiliki mulut comel hanya bisa tersenyum melihat ketiga temannya."Nah, gini kan enak. Damai.""Ndra?" panggil Wildan pelan"Paan?""Lo sebenernya suka kan sama Serena."Dendra diam sejenak sebelum berkata, "Pertanyaan lo itu nggak bermutu.""Bukan apa-apa kalo lo ga bisa buat Serena bahagia, gue siap kok gantiin posisi lo." Dendra yang duduk di depan Wildan langsung melayangkan tatapan tajamnya.Ditatap seperti itu Wildan langsung mengulum senyum, "bercanda elah."Dendra langsung mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang terus memberinya singal nontifikasi.SerenaSayang lagi dimana?Kata Rival kalian lagi nongkrongAda Bila juga ya katanya?Dendra hanya membaca chat dari Serena tanpa membalasnya, tidak lama Dendra mendapatkan panggilan video dari Serena. Ia membiarkannya tanpa ada niatan sedikit pun untuk mengangkatnya, ia malah lanjut mengobrol bersama Wildan.Berkali-kali panggilan video masuk di ponsel Dendra membuat pemiliknya kesal.SayangkuuhKenapaSerenaKangeeeenMau ketemu:(DendraIyaSerenaAku dataaang mwahSerena berjingkrak senang akhirnya ia bisa bertemu dengan kekasih hatinya. Ia segera berganti pakaian lalu menelpon Aci untuk menemaninya pergi ke kafe milik Dendra.Di sepanjang perjalanan Serena hanya membahas Dendra, Dendra, dan Dendra membuat kepala Aci pening rasanya. Tadi saja ia memaksa Aci untuk menemaninya meskipun Aci sudah menolak sekuat tenaga tetapi tetap saja, Serena sudah berada di depan rumah menjemputnya.Sesampainya di sana, Serena masih dengan hati yang berbunga-bunga. Menebarkan senyum kepada pengunjung yang melihatnya."Itu, Dendra." Aci menunjuk menggunakan dagu empat orang yang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri."Sayaaaang." Cicitnya nyaris tidak berbunyi takut mengganggu pengunjung lain. Serena langsung mengambil tempat di samping Dendra lalu mendekap sebelah lengan kekar pemuda tersebut."Aaaaa gue juga mau Serena!" Rival berteriak heboh membuat Jo langsung menyumpal mulut Rival menggunakan tissue."Ahahaha mampus!" Jo tertawa terbahak-bahak begitupun yang lainnya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya heran.Terkecuali Wildan, pemuda itu hanya tersenyum tipis alih-alih memandangi Rival yang mendumel kepada Jo. Ia malah memandangi Serena di depannya yang terlihat bahagia."Hai baby!" Bila dan antek-anteknya datang ke meja mereka membuat suasana langsung hening.Bila yang pada dasarnya pernah memiliki hubungan dengan Dendra, ketika di beri kabar oleh Rival jika ia dan Dendra sedang berada di kafe. Ia pun segera datang."Hai ayang Bila, baru dateng ya, sini duduk samping aak." Rival menepuk kursi kosong di sebelahnya.Melihat Bila datang Dendra langsung menyingkirkan tangan Serena yang menggelayut di lengannya sedikit kasar membuat Serena menyebikkan mulutnya."Gue maunya duduk di samping Dendra, jadi tolong dong lo cewek yang di samping Dendra minggir."Aci mengerutkan keningnya merasa tidak nyaman, sedangkan Serena langsung menatap Bila terang-terangan."Lo siapa?" Ejeknya sambil tersenyum."Gue mau duduk di samping Dendra, lo tuli?!" Bila sedikit nyolot."Apa susahnya lo pindah duduk di samping Rival?" Serena pikir kalimat yang Dendra lontarkan untuk Bila tetapi ternyata untuk dirinya."Gamau ayaaang." Serena memeluk lengan Dendra merengek seperti anak kecil."Minggir!" Bila sudah berdiri di samping Serena yang tengah bergelayut di lengan Dendra.Suasana langsung memanas, seluruh pengunjung memusatkan perhatiannya kepada mereka.Tidak ada yang berani angkat bicara, termasuk Rival ia hanya mengamati apa yang selanjutnya akan terjadi.Serena memejamkan matanya sedikit lama sebelum akhirnya ia bangkit berdiri menghadap Bila, "Lo siapa?! Hah!""Lo cuman masalalunya Dendra, hubungan diantara kalian berdua udah selesai! Dan gue, gue pacar sekaligus masa depannya Dendra. Ngerti lo!""Jadi, lo ga berhak ngusir gue!""Serena!" Jantung Serena terasa berhenti berdetak ketika Dendra berteriak menyebut namanya."Malu-maluin aja, sih lo!" Serena berbalik menatap Dendra yang terlihat menahan amarah."Sayang, Bila yang mulai duluan. Bukan aku." Serena merengek lagi bahkan sekarang sambil menyebikkan bibirnya terlihat menggemaskan."Kita, putus!"Bila dan antek-anteknya yang mendengarkan langsung tersenyum bahagia.Sedangkan Rival, Jo, dan Aci mentap tidak percaya."Gamau! Pokoknya aku gamau putus." Mata Serena mulai berkaca-kaca ia menahan malu di jadikan bahan tontonan pengunjung kafe."Sayang aku gamau putus hiks," Serena mencoba meraih tangan Dendra tetapi langsung di tepis oleh pemiliknya."Bisa nggak lo gausah kasar!" Wildan bangkit berdiri lalu menarik tangan Serena menjauh dari Dendra."Ucapan gue tadinya cuman bercanda, tapi karena kelakuan lo udah kelewat batas. Gue bakal lakuin apa yang udah gue omongin tadi." Tegas Wildan.Dendra menatap Wildan dengan tatapan membunuh, "Lepasin, tangan dia.""Lo siapa?" Tanya Wildan mengejek."Lo sama Serena udah putus!"Wildan mengajak Serena yang menangis sesenggukan meninggalkan kafe tersebut."Sabar bro, sabar." Rival menepuk pundak Dendra lalu menuntunnya agar kembali duduk.🍅🍅🍅Seminggu setelah kejadian itu. Serena benar-benar merasa kecewa dengan laki-lakinya. Ia bahkan tidak memiliki semangat untuk sekedar makan bahkan bersekolah. Setiap hari Aci lah yang membujuknya tetapi nihil.Begitupun dengan Wildan ia selalu setia menemani Serena, membelikannya makanan sampai barang kesukaannya. Wildan juga membujuk anak yang hidup jauh dari orangtuanya ini untuk pergi ke sekolah."Ke sekolah bareng gue ya?" Serena diam tidak menjawab. Wildan mengelus rambut Serena lembut lalu meninggalkan Serena sendirian di kamarnya untuk bersiap-siap.Sesampainya di sekolah, tidak sengaja Serena bertemu dengan Dendra, Jo, dan Rival. Pandangan mata Serena dan Dendra bertemu. Serena yang biasanya langsung menghampiri dan bermanja-manja kepada Dendra sekarang hanya diam, sedangkan Wildan di sampingnya menghela nafas lalu mengajak Serena pergi masuk ke dalam kelas."Gue ke kelas dulu ya, nanti pulangnya bareng gue. Semangat Serena cantik." Wildan berucap lembut sambil mengelus puncak kepala Serena. Ketika Wildan sudah berlalu tiba-tiba sudut bibir serena terangkat ke atas."Aaaaa Serena, akhirnya lo berangkat juga!" Aci yang baru datang langsung menghambur ke pelukan Serena.Tidak lama segerombol teman sekelasnya yang terkenal julid memasuki kelas."Eh, si cewek gatau diri berangkat sekolah guys. Gue kira udah ga berani lagi nunjukin mukanya di sini.""Ga punya malu, ih."Serena menatap datar teman-temannya yang dengan terang-terangan mengatainya."Mulut lo belum pernah gue gampar ya, Na? Lemes banget perasaan!""Upss ... Sorry!" Ketiganya tertawa mengejek."Udah gapapa, sabar yaa." Aci mengelus pundak Serena menguatkan.🍅🍅🍅Bel sekolah berbunyi seluruh siswa siswi SMA karang bintang menghambur keluar kelas.Serena berjalan menuju parkiran bersama Aci, entah mengapa ia tidak memiliki semangat sedikitpun bahkan untuk sekedar berjalan.Ia memandangi ujung kakinya sambi terus berjalan sampai langkahnya terhenti karena ada sesuatu menghalangi.Serena menatap sepasang sepatu yang pemiliknya begitu ia kenali. Perlahan Serena mendongak menatap datar wajah Dendra yang menampilkan senyum manis."Selama lo belum punya pacar, gue masih cowok lo.""Stres." Serena berlalu begitu saja namun lagi-lagi di hentikan."Pulang bareng gue, jauhin Wildan. Gue gasuka lo deket sama dia.""Apaan sih!""Love you serena."Serena mengedipkan matanya cepat. Berusaha mencerna apa yang baru saja laki-laki ini katakan."Maafin Dendra ya Serena. Selama ini belum bisa jadi pacar yang baik buat Serena. Tapi mulai sekarang Dendra bakalan buktiin kalo Dendra pantes buat Serena."Aci melotot tidak percaya pertama kali ini ia mendengar suara lembut Dendra begitupun dengan Serena."Iyain Ser," bisik Aci gemas.Di satu sisi ada Wildan yang memperhatikan dari jauh, hatinya seperti tercelos sesuatu. Tapi bibirnya tetap tersenyum."Gue rela Ser, asal lo bahagia," bisiknya dari kejauhan.Serena mengangguk bersamaan dengan itu air matanya menetes."Aku kangen sama ayang, mau peyuk." Akhirnya Serena bisa merengek lagi namun kali ini rengekannya berujung pelukan, perhatian, serta senyuman."Love you, love you Serenaku." Dendra memeluk erat tubuh Serena sambil menghirup aroma strawberry di rambutnya.End
Don't bet on it
Aleta menghempaskan bokongnya ke jok mobil Tiara, mulutnya sudah menguap berulang kali."Yuk, gas," Serunya tak bertenaga."Kasian banget, sih lo. Udah gue bilang nggak usah dateng ke tempat kek gini masih aja ngeyel." Tiara yang memegang kemudi hanya bisa mendengus kesal melihat temannya tepar."Tiara, gue juga mau kaya lo. Gue mau kaya anak cewek pada umumnya.""Tapi nggak gini juga!""Lo beda, Let. Lo cewek baik-baik."Tidak ada sahutan, karena selanjutnya dengkuran haluslah yang Tiara dengar. Memang salah Tiara mengajak temannya yang masih bau popok emaknya itu ke tempat party. Tiara menggeleng pelan mengingat Aleta yang banyak meminum minuman beralkohol, mungkin malam ini Aleta akan ia ajak pulang ke indekosnya.****"Huaa...!"Seisi penghuni kos berlari tergopoh-gopoh menuju sumber teriakan."Ada apa yak?""Enek opo to?""Ana apa kue?"Hening. Sampai kemudian Tiara muncul dengan handuk yang melilit di atas kepalanya."Eh, kenapa pada ke sini?" Tanyanya bingung ketika melihat tiga orang temannya berdiri di depan kamarnya."Itu, ada yang tereak di kamar lu.""Aleta!" Tiara segera menggedor pintu kamarnya."Leta! Buka Ta! Lo nggak papa kan?""Huaaa....!" Teriakan kembali terdengar membuat empat gadis di depan pintu kamar Tiara kembali gaduh."Jangan jangan koncomu arep bundir?""Hus, lambene lah nik ngomong oradi saring sik.""Minggir!" gadis keturunan betawi mengusir teman-temannya agar menyingkir dari depan pintu. Tiara lupa jika Neli punya bakat bela diri.SatuDuaTigaDan...Gubrak!Neli terjerembab ke lantai, seluruh temannya hanya terpaku lantaran terkejut melihat pemandangan di depannya."Bwahahahaha! Ngapain lo?"Aleta?" Tiara ikut menahan senyum pasalnya ketika Neli mendobrak pintu tiba-tiba saja Aleta membukanya."Aduh, sealan!" Umpat Neli lantas berdiri sambil mengusap-usap wajahnya."Sorry, sorry. Lagian lo ngapain main dobrak kamar orang?" Aleta masih cekikikan melihat wajah Neli yang kini membiru akibat ulahnya sendiri. Ralat akibat ulah Aleta. Sebenarnya."Oke, balik ke topik awal. Lo ngapain teriak-teriak, Let?" Tiara berkacak pinggang sembari menaikkan sebelah alisnya."Gue... Gue berubah jadi ayam!"Tiara hanya mengedikkan bahunya, "Mungkin efek karena semalem lo minum terlalu banyak. Fine, sekarang kenapa kalian masih pada di sini?" Ketiganya menyengir lantas membubarkan diri. Menyisakan Tiara dan Aleta."Yaudah masuk, gue mau ganti baju." Tiara mendorong tubuh Aleta kembali masuk ke dalam kamarnya.****Pasca kejadian semalam. Aleta di buat mengantuk pagi ini. Dia mendengarkan materi pelajaran sambil sesekali menguap. Bahkan kondisinya saat ini sangat mengenaskan. Rambutnya awut-awutan di tambah lingkaran hitam di sekeliling matanya membuatnya seperti Mak lampir. Boro-boro make up-an, mandi aja enggak!What the...FuckTuk! Kepala Aleta terkatuk meja. Ia hanya meringis lalu kembali memejamkan matanya sampai sebuah suara mengerikan bergaung."Leta, cuci muka. Sekarang!""Leta!" Melihat siswinya itu hanya mengangguk-angguk tanpa arti akhirnya Pak Jojon pun bertindak.Byuur...Nasi sudah menjadi bubur. Aleta terperangah merasakan guyuran hujan menimpa tubuhnya. Aleta mendongak untuk melihat siapa pelakunya yang tak lain adalah guru kimianya sendiri."Hehe..." Aleta hanya meringis melihat pak Jojon yang mendelik menatapnya."Keluar dari kelas! Murid krucil ini sukanya bikin ulah saja."Aleta menurutinya tanpa banyak bicara. Lagipula kesadarannya masih belum sempurna. Ia akan tidur di tempat lain yang pastinya lebih nyaman dari ruang kelas. Yap! Perpustakaan. Ide bagus.Aleta berjalan perlahan menyusuri anak tangga karena perpustakaannya berada di lantai atas. Namun, tiba-tiba suara maskulin menyapanya membuat Aleta terperangah."Hai, Aleta.""Eh, hai!" Aleta semakin canggung ketika melihat pemuda yang baru saja menyamakan langkahnya."Lo, mau kemana?" Tanyanya sambil memiringkan kepala menatap Aleta."Gu... Gue mau ke... Ke perpustakaan. Lo sendiri?" Aleta menoleh menatap pemuda berkumis tipis di sampingnya."Oh, gue mau juga mau ke sana.""Dih cie... Samaan!""Hehe iya. Btw bukannya kelas lo lagi ada guru, ya?"Keduanya melangkah masuk ke dalam perpustakaan. "Iya ada guru. Gue di suruh belajar sendiri. Gatau itu pak Jojon jahat banget sama gue.""Eh, curhat?""Bukan gitu Rafael. Yaudahlah." Aleta mengibaskan tangannya lantas mengisi daftar hadir diikuti Rafael.Setelah mengisinya. Mereka berjalan mulai membiak ratusan buku yang tertata rapi di atas rak."Lo mau nyari buku apa, sih?""Gue?" Tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri."Hm.""Mau cari buku yang tebel.""Buku tebel? Buku apaan?""Ya, pokoknya buku yang tebel!""Heh, kalian berdua. Udah tau tata tertib di sini, kan?" Petugas perpustakaan mengangkat tongkat panjang yang diacungkan tepat ke arah Aleta dan Rafael."Iya, kak. Sorry." Aleta memutar tubuhnya namun malah tersandung kakinya sendiri alhasil tubuhnya limbung, belum sempat punggungnya menyentuh lantai Rafael sudah menyangganya.Keduanya bertatapan sama-sama canggung sampai deheman penjaga perpustakaan menyadarkan mereka."Ehm....""Eh.""Lo, lo, ga papa?" Tanya Rafael gugup."Gue... Gapapa kok."Setelah mengambil buku keduanya berjalan dan duduk di meja melingkar. Semula keduanya hanya diam namun, setelah penjaga perpustakaan keluar dari ruangan barulah Rafael bergumam, "Aleta, semalem lo ke bar, ya?"Aleta yang masih membaca sambil terkantuk-kantuk pun mendongak lantas menyengir kuda. "Iya hehe lo, tau darimana?""Yah, semalem gue juga ada di sana."Bibir Aleta membentuk huruf O."Lo nanti balik sama siapa?"Aleta menaikkan sebelah alisnya.' kenapa Rafael jadi care sama gue, duh jadi melting kan!!!'"Leta...""Eh, iya?""Gue balik sama Tiara kaya biasanya, lah.""Oh, kalo baliknya sama gue gimana?""Hah?" Terlihat Rafael memutar bola matanya sekilas sambil tersenyum."Gue anterin ke kosan lo, Mau?""Enggak tau.""Oke gue anterin.""Lho?" Aleta memasang wajah cengo sedangkan Rafael hanya tersenyum sekilas.****Ketiganya berjalan beriringan menuju parkiran."Rafael mau nganterin gue balik, lo beneran, nih gapapa nyopir sendirian?""Gapapa lah, yaudah sono. Rafael tiati bawa ni bocah."Rafael menyengir sambil mengacungkan jempolnya. "Siap, gue duluan ya.""Bye."Keduanya meninggalkan Tiara menuju mobil Rafael. Rafael sendiri hanya senyam-senyum sedari tadi."Lo, kenapa, sih, Raf senyum-senyum sendiri?""Gapapa, cuma gatau kenapa gue gemesh sendiri sama muka lo.""Hah! Muka gue?""Iya muka lo itu imut jadi pengen gigit tau."Aleta menggembungkan pipinya.Masa gue mau di gigit sih, mending juga di tium terus di coyong coyong ya kan:(Rafael yang masih mengemudi sekilas menoleh. "Ngambek?""Kagak, siapa juga yang ngambek!""Lah itu ngegas, berarti lo ngambek.""Enggak Rafael.""Kok berhenti?" Aleta berkedip pelan ketika Rafael mematikan mesin mobilnya."Donat.""Hah?!""Gue mau beli donat.""Oh.""Lo suka donat?"Enggak, gue gasuka donat, gue sukanya Lo"Aleta, kok malah ngelamun, sih?""Lo gasuka donat?"Enggak! Dibilangin gue sukanya elo bukan donat ga peka banget sih_-"Leta," panggil Rafael untuk kesekian kalinya, namun kali ini sambil menepuk lengan Aleta."Iya kenapa? Gimana?""Gue nanya, lo suka donat enggak?""Oh, gue sih ga terlalu suka.""Yaudah kalo gitu, lo tunggu sini bentar."Setelahnya Rafael pun keluar dari mobilnya lalu berjalan memasuki sebuahBakery cake yang cukup terkenal.Aleta menghembuskan nafasnya berat."Dua tahun lebih gue suka sama lo, Raf dan sekarang lo datang tanpa gue minta," lirihnya.Aleta menoleh ketika Rafael masuk kembali ke dalam mobil sambil membawa selusin donat kacang di tangannya.Ternyata lo ga perduli sama gue yang ga terlalu suka donat. Buktinya tuh lo beli donatnya, selusin lagi!"Sorry, ya lama nunggu."Aleta mengangguk. Rafael kemudian melanjutkan perjalanan mereka.Setelah beberapa lama, Rafael kembali membanting setir menepikan mobilnya ke pinggir jalan."Kenapa lagi?""Lo suka bunga kan?"Senyum Aleta mengembang, matanya memancarkan harapan yang teramat besar. Ia mengangguk, "Gue suka... elo Banget.""Yaudah, yuk turun."Aleta dan Rafael melihat lihat berbagai macam bunga, Aleta nyaris berteriak ketika matanya melihat bunga berwarna putih"Daisy!""Apa, Let?" Rafael menoleh melihat Aleta yang sudah berlari memeluk bunga berwarna putih itu."Gue mau ini!" Katanya setengah berseru."Oke.""Mbak bunganya yang itu, ya. Dua."Alis Aleta berkerut, "Dua?"Rafael tersenyum sambil mengangguk, "Lo mau nemenin gue sebentar nanti?""Kemana?""Secret...."Aleta mendengus namun kembali tersenyum ketika pegawai toko menyodorkan bunga Daisy kesukaannya.Aleta berjalan membawa dua bunga sekaligus, hatinya berbunga-bunga."Let."Aleta yang baru saja menutup pintu mobil pun menoleh."Kenapa?""E... Jangan jauh dari gue ya nanti."Mata mereka bertemu, pipi Aleta memanas ketika Rafael mendekatkan kepalanya ke kepala Aleta. Aleta memejamkan matanya dan..."Pipi ke tempelan daun."Yah gue kira mau di ciumHup...Kening Aleta terasa panas oleh benda kenyal yang tak lain adalah bibir Rafael yang menempel di sana.Jantungnya sudah berlari kesana kemari bahkan perutnya terasa mual mungkin ini yang di sebut butterfly syndrome?***"Kita mau kemana, sih Raf?"Mereka sampai di sebuah apartemen. Rafael tidak menjawab hanya saja ia langsung menyuruh Aleta turun, tidak lupa ia mengambil donat yang tadi ia beli.Rafael mengotak-atik ponselnya, tidak lama kemudian seorang cewek berpipi chubby keluar dalam apartemen tersebut."Rafael?" Cewek itu tersenyum membuat matanya menyipit.Rafael balas tersenyum, ia menoleh ke arah Aleta yang hanya mematung di tempat dengan wajah penuh tanda tanya.Selanjutnya, Rafael menggandeng tangan Aleta mendekati cewek berpipi chubby tersebut.Rafael melepaskan tangannya dari tangan Aleta ketika mereka sudah berdiri tepat di depan cewek itu."Kenalin ini Aleta, temen aku.""Aleta ini pacar gue, Wulan."Aleta mendengus, "Wulan kan punyanya Joko, ngapain lo pacarin!"Kenapa, kenapa Rafael setega ini!"Garing tau Let."Rafael menganggap ini guyonan?! Enggak enggak gue ga bisa ngalah lagi sekarang."Nama gue Wulan intan Nuraini, kalo menurut lo Wulan itu punyanya Joko, lo bisa panggil gue Intan karena Intan itu punyanya Rafael." Cewek itu tersenyum manis membuat Aleta jengah bahkan ingin menangis sekarang.Aleta tidak menjawab, hatinya dongkol pada makhluk mungil bantat di hadapannya. Saat ini ia benar-benar bernafsu untuk mencabik-cabik serta memolor pipinya yang tembam itu."Kamu udah makan?" Wulan menggeleng."Makan donat dulu nih buat ganjel perut, aku masakin gurame ya?" Wulan mengangguk."Pinter." Rafael tersenyum lalu mencubit pipi Wulan gemas.Aleta mendengus, bisa-bisanya dia diajak ke sini hanya untuk menyaksikan ke-uWuan mereka berdua."Aku ke mobil sebentar ada yang ketinggalan."Aleta mengedikkan bahunya acuh, sementara Wulan mengangguk."Lo anggep Rafael pacar Lo?" Kali ini Aleta bersuara."Iya, ada masalah?""Lo anggep dia budak atau pacar? Bisa-bisanya dia mau repot masakin lo.""Rafael itu... kerjaannya ngurusin gue, macarin gue, ngedate sama gue, ngurusin gue, jalan bareng gue, ngurusin gue, merhatiin gue, ngurusin gue," terangnya polos."Lo...." Aleta menahan ucapannya ketika Rafael datang dan langsung menyodorkan bunga Daisy kepada Wulan."Wah indah banget." Wulan terkagum-kagum melihat satu buket bunga di tangannya."Iya, Aleta yang milihin."Aleta memutar bola matanya malas, kalau saja dia tau akhirnya akan seperti ini tidak akan dia memilih bunga Daisy untuk cewek ini."Gue mau balik.""Aleta, kenapa?" Rafael menarik lengan Aleta, mencegahnya untuk pergi."Terlalu berharap sama orang itu... Ribet!" Aleta menepis tangan Rafael kasar sebelum akhirnya ia berlari meninggalkan apartemen Wulan.Gue ga sedih, gue ga kecewa, cuma nyesek aja kenapa bisa Rafael milih wulannya Joko ketimbang gue, cewek bantat kaya dia yang bisanya cuma ngerepoti doang. The right, gue bakalan nyari yang lebih pantes dari lo Rafae l.End
Sweetest
Ada yang cinta tapi bukan lauraCirah membereskan kelas barunya sambil bersiul menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, dia sangat senang karena hari ini adalah hari pertama ia menyandang status baru yakni menjadi seorang senior sekolah, lebay memang tapi begitulah Cirah mengekspresikan dirinya. Padahal ia bukanlah siswu berprestasi atau berbakat dalam bidang apapun dia hanyalah Cirah, gadis dengan segala kesantuyannya."Lagi bersih-bersih, Reng?" Cirah menoleh lantas memutar bola matanya malas, ia bahkan menggantungkan pertanyaan yang memang ditujukan untuknya di udara tanpa berminat untuk menjawab."Sombong, nih sombong!""Lo bersihin kaca deh, timbang bicit aja," ujar Cirah kepada pemuda yang sedari tadi hanya duduk di atas meja sambil memandangi para siswa lain membersihkan ruang kelas."Si Bima sama si deglek udah gue utus, tuh." Pemuda itu mengarahkan pandangannya kepada dua orang laki-laki yang sama sibuknya dengan siswa lain."Reng, gue duduk di sebelah lo."Alis Cirah langsung menjengit sebelah seolah tak rela. "Lo manggil gue apa barusan? Reng? Lo kira gue Gareng apa." nada suaranya yang santuy memang selalu menjadi nilai tersendiri bagi Yoyon untuk terus menggoda Cirah.Yoyon terkekeh kecil lantas turun dari meja dan berjalan mendekati Cirah yang sudah selesai menata bangkunya."Gue di sini." Yoyon mengambil tempat di sebelah Cirah tanpa sadar ia tersenyum melihat gadis bertubuh bantat itu tidak menggubrisnya."Mau kemana?" Yoyon mendongak ketika melihat Cirah sudah mencangklong tasnya hendak keluar kelas."Mau bolos di hari pertama? Gila ya lo! Tunggu woe!" Yoyon ikut ikutan mencangklong tasnya lantas menyusul Cirah yang sudah menghilang lebih dahulu."Percuma kalik gue masuk kelas kalo gurunya masih pada stand di kantor.""Lo hobi banget, sih, bolos," gerutu Yoyon yang memegangi perutnya lantaran berlari mengejar Cirah tadi."Lah, emang lo nggak?""Ya, kan bedaa cireng.""Stop, panggil gue cireng, nggak enak di denger.""Ya iyalah Cireng nggak enak buat di denger, Cireng enaknya kan, di makan," kelakar Yoyon."Aci di goreng maksud lo?"Yoyon mengangguk lantas menghentikan langkah Cirah."Ada, apa?" Cirah menoleh dengan raut wajah bingung."Ada yang cinta tapi bukan laura." Yoyon mengekspresikan wajahnya secengo mungkin dan sedetik kemudian wajah malas Cirah lah yang menyambut Yoyon."Kita mau loncat pager, lo duluan abis itu gue.""Siap, mulai," Cirah mengintrupsi.Yoyon hanya mengangguk lalu melompat keatas pagar dengan begitu lincahnya begitupun dengan Cirah, meskipun ia seorang wanita yang memiliki berat badan lumayan tetapi, jangan remehkan attaksi lompat melompatnya apalagi jika hanya melompati pagar sekolah yang tingginya sekitar satu meter setengah."Lo, ninggalin Bima sama Angga di sekolahan?""Iyalah, biarin aja ntar juga mereka nyusul kok," sahut Yoyon sembari menyedot es degan."Gue mau pulang ke rumah," Cirah bangkit berdiri sudah bersiap untuk meninggalkan Yoyon."Lo bolos bareng gue, masak mau ninggalin gue sih, Reng.""Yang suruh lo ikut gue, siapa?" Cirah menatap Yoyon teduh dengan suara yang datar."Gue,""Ya udah berarti itu urusan lo, bukan urusan gue. Bye," kata Cirah diiringi senyum tipis."Dasar Cireng! Di ikutin malah ninggalin, untung sayang kalo nggak udah gue buang.""Ini cendolnya, kenapa sih, kok ngedumel aja dari tadi?" Seorang pedagang cendol memberikan segelas cendol kepada Yoyon lantas ikut duduk di sebelahnya."Enggak papa bu, cuma kesel aja sama Cireng yang nggak pernah peka ups.""Siapa nama ceweknya? Cireng? Kok kaya makanan begitu ya?" Bu Pur tertawa kecil lantas bangkit berdiri."Bu," panggil Yoyon ketika sang pemilik kedai mulai masuk kedalam untuk membuatkan minuman kepada pelanggan lain."Iya nak?""Cendolnya satu lagi, hehe."Bu Pur tersenyum lembut lantas mengangguk. "Dari SD tidak pernah berubah kamu itu, ya, Favoritnya cendol.""Enggak papa lah bu, enak soalnya." Yoyon menggaruk kepalanya ketika para pelanggan imut tersenyum.🌺🌺🌺Corona jangan sentuh!Penyebaran virus corona benar-benar meresahkan masyarakat. Sama halnya yang terjadi di Jakarta pusat. Akibatnya, masyarakat berlomba-lomba membeli masker untuk mencegah tertular virus mematikan itu."Reng, masker lo buluk tuh, nih pake masker gue aja masih wangih tauk." Jika bukan Yoyon pasti Cirah sudah menendangnya."Sorry masker gue sekali pakai, kok. Dan ini masih baru." Cirah memasang maskernya menutupi sebagian wajahnya lantas memasuki ruang kelas."Smart," kikik Yoyon."Hai Cirah, good morning hony!" Nelson menghampiri Cirah ingin menjabat tangannya dan melakukan cipika cipiki tetapi ..."Corona jangan sentuh!" Yoyon membuka kedua tangannya menghadang tubuh tinggi Nelson yang sudah merentangkan tangannya. Sedetik kemudian tawa Cirah lah yang pecah melihat dua orang lelaki yang berdiri berhadapan dengan kedua tangan terentang seolah ingin berpelukan."Ih, najis!""Lo kali yang najis, pake mau peluk peluk Cireng segala," ketus Yoyon lantas menarik tangan Cirah agar menjauh."Kenapa sih, lo Yon?""Gue? Kena Corona!""Kok, ngegas?""Tauk!""Jangan panggil gue Cireng lagi, sih. Nama gue kan Cirah." masih dengan nada santai Cirah meletakkan tangannya di atas meja untuk menopang wajahnya."Cirah bukannya ini, ya kalo dalam bahasa Jawa?" Yoyon memegang kepala Cirah."Itu ...." Cirah yang memang bukan orang Jawa hanya bisa memasang muka cengok."Sirah, sayang.""Oh.""Ntar ikut gue, yuk." Yoyon membuka buka buku pelajarannya tanpa berniat untuk membacanya."Kemana?""Ada, deh. Ke sebuah tempat favorit gue dari zaman esde."Cirah hanya mengangguk sekilas lantas bangkit berdiri."Mau kemana?""Toilet." Yoyon hanya mengangguk membiarkan Cirah pergi sendirian, biasanya tidak. Dimana pun Cirah pergi di situlah Yoyon mengintili.Satu jamDua jamYoyon resah karena sudah dua jam Cirah pergi ke toilet tanpa kembali. "Atau jangan-jangan Cireng kebebelan lagi!" Yoyon segera meminta izin kepada guru yang mengajar saat itu untuk mencari Cirah dan hasilnya nihil."Sinting! Dia bolos lagi." Yoyon kembali ke kelas sebelum sebuah suara yang bersumber dari kantor kembali membuatnya merinding."Sekali lagi, untuk pemilik tas ransel wanita berwarna pink yang di temukan di dalam kelas XII IPA 2 segera datang untuk mengambilnya."Tidak salah lagi, itu adalah tas milik Cirah. Allahu alam karena pemiliknya pasti jelas sudah merebah dan berguling-guling diatas kasur tanpa memikirkan nasib tasnya yang tertinggal.Yoyon sudah menghubungi Cirah berkali-kali dan hasilnya nihil!"Untung sayang!" Akhirnya Yoyon lah yang mengakui jika tas ransel itu miliknya meski harus berdebat dahulu dengan beberapa guru yang ada di sana. Parahnya seisi teman sekelasnya tidak tahu jika tas itu adalah milik Cirah lalu, selama ini mereka ngapain aja? Njemur semvak?🌺🌺🌺"Kopinya satu, jangan terlalu manis.""Iya, pak, silahkan tunggu sebentar.""Mbak, es tehnya dong kaya biasanya.""Oke.""Cendolnya, Bu kaya biasanya ya.""Loh? Yoyon?" Mata Cirah mengerjap cepat ketika mendapati Yoyon tengah duduk nyaman di kedainya."Lah? Lo kok disini Reng? Kerja tempatnya Bu Pur?" Yoyon sama bingungnya dengan Cirah."Gue, anaknya Bu Pur. Lo pelanggannya Yon?"Yoyon menggaruk tengkuknya salah tingkah, jadi selama ini yang ia jahili adalah anak dari Bu Pur. Dan kenapa selama ini mereka tidak pernah bertemu padahal Yoyon selalu datang ke kedai ini dari SD sepulang sekolah berhubung sekarang Yoyon sudah SMA jadi ia lebih sering membolos dan datang ke sini semata mata hanya demi cendol buatan Bu Pur? Entahlah."Yoyon kan, gimana ya, cool gitu kenapa sukanya minum cendol udah kaya banci aja," ejek Cirah."Diem lo, Reng." Terlihat jelas jika Yoyon tengah menahan malunya."Ah, sekali-kali gue sebar ke kelas biar viral gitu.""Jangan, ih!""Bodo wlee." Cirah berbalik lantas membuatkan minuman untuk para pelanggannya termasuk Yoyon."Nih." Cirah meletakkan segelas cendol di atas meja Yoyon."Ibu lo kemana emang? Baru tau gue kalo lo anaknya dia.""Ibu gue di rumah, lagi sakit. Iyalah orang nyokap gue selalu ngelarang gue buat datang kesini.""Why?""Takut ketemu sama lo dan ikutan sinting."Tapi malah gue udah kenal sama lo batinnya miris.🌺🌺🌺Cirah menggigiti pensilnya sambil menatap nanar lembar soal PTS di hadapannya. Ia sama sekali tidak mudeng dengan soal matematika yang satu ini. Ia kemudian menoleh ke arah Yoyon yang kelihatannya sedang sibuk menghitung."Sst ... Yhon" bisik Cirah berusaha sepelan mungkin agar pengawas tidak mencurigainya."Yhooyooon!"Yoyon menoleh dengan wajah cengok lantas mengangkat dagunya seolah menjawab 'apa?'"Nyontek siih""Ha?" Yoyon membuka mulutnya."Conteekin!" Yoyon mengangguk mengerti."Itu yang dibelakang harap tenang karena kalau tidak tenang saya akan ambil lembar jawabannya dan saya sobek!" Keduanya merapatkan bibir lalu mengangguk.Setengah jam kemudian Cirah sudah berhasil mengerjakan 45 dari 50 soal pilihan ganda, ralat ia berhasil mencontek dari Yoyon."Yon, ikut gue jualan cendol yuk.""Hayok!" Seru Yoyon dengan semangat45 ia merasa senang akhirnya walaupun dengan perlahan Cirah mengerti perasaannya. Meskipun tidak pesat tapi ini sudah termasuk kemajuan bukan?End
Cetak Rindu
Gajah di depan mata tak tampak, semut di ujung jalan nampakYuk yang mau ralat, author lupa itu pepatahnya. Mon maap! Ye ya nggak usah ngegad bisa kan Thor?Huhu so pasti bisa. Lama nggak update nih lagi dilanda sejuta kemiskinan imajinasi huhu. Cus lanjut aja! Siap, mulai ...Malam ini bener bener gabut. Orangtua ke luar kota, do'i nge-game mulu kerjaannya, temen pas butuh doang muncul. Sedangkan aku, aku tertinggal disini dikamar sendirian tanpa makanan."enaknya ngapain, nih, njir." Ucapku pada diri sendiri. Yang kulakukan saat ini adalah rebahan di samping stop kontak, yah you know lah apa yang sedang aku lakuin.Layar ponselku menyala, Azril, nama itu tertera di layar ponselku. Dengan gerakan malas aku membuka chat darinya.Azril : Woi bukain pintu .Seutas kata namun berhasil mengembangkan senyumku. Akupun membalas chat darinya dengan sigap.Gue : Gue bakal bukain, asal lo beliin gue nasi Padang:)Akupun mengklik send.Azril : gue ga beli nasi Padang, tapi gue beli ayam bakar lo mau nggak?Pemberitahuan itu masuk dengan cepat di layar ponselku.Gue : Ok! karena lo baik hati, gue meluncur sekarang.Dengan girang akupun turun dari tangga untuk membukakan pintu untuknya.Ckleak...Bunyi pintu yang ku buka perlahan. Kulihat Azril tengah berdiri di teras, bajunya basah kuyup dan OMG! gue bener bener ga sadar kalo di luar lagi..."Ehm ...." Azril berdehem melihat ku melamun."Eh, ya udah yuk, masuk." Akupun mengambil kantong plastik yang ada ditangannya."Lo bego banget si Zril, udah tauk ujan kenapa nekat kesini," Ucapku kesal."Karena gue tauk lo lagi kelaparan sekarang," Ucapnya sembari menoyor kepalaku."Ya udah tunggu sini, gue ambilin handuk dulu, lo jangan duduk di sofa ntar basah lagi sofa gue." Tidak ada jawaban tapi sekilas ku lihat dia menggelengkan kepalanya."Nih keringin dulu badan lo, abis itu lo ganti baju di kamar tamu." Akupun kembali sambil menyodorkan handuk dan pakaian untuknya."Baju siapa nih." Azril mengerutkan keningnya mihat kaos oblong berwarna hitam."Itu baju Kenzo, kemaren dia nginep sini," Jawabku santai."Hm." Aku tidak memperdulikan dia lagi karena sekarang perhatian ku sepenuhnya tertuju pada kantong plastik yang tergeletak di atas meja. Dengan cepat aku membuka kantong plastik itu, aroma ayam yang menggiurkan langsung membuat cacing di perutku meronta-ronta minta jatah."Ck ck ck, udah makannya?" Suara Azril mengagetkan ku."Mau?" Ucapku lirih karena tidak rela aku berbagi makanan dengannya."Enggak buat lo aja." Huft... Untung aja Azril nolak, nih, ayam bakar karena yang tersisa hanya tulangnya saja.selesai makan akupun duduk di samping Azril, "Kenyang?" Tanyanya padaku, dengan cepat aku mengangguk."Thanks, ya lo baik banget hari ini," kataku tulus sambil bersandar di bahunya. Kebiasaanku untuk bersandar di bahunya sudah seperti candu, karena setiap kali aku dan Azril duduk berdampingan, aku selalu tertarik untuk meletakkan kepalaku di bahunya. Toh dia pun tidak bergeming."Sya?" Suaranya menggugah lamunanku."Hm..." Jawabku malas"Lo ngantuk ya?""Dikit doang," Sahutku lirih."Tidur gih gue mau pulang, lagian dirumah ga ada siapa siapa ntar gue digebukin massa lagi." Mendengar itu akupun menegakkan kepala."Ya udah deh, pulang sono oh ya besok lo mau nganterin gue ke mall gak?" Tanyaku padanya."Besok?" Tanyanya memastikan."Iya," jawabku. Kemudian Dia menatapku lekat entah apa yang ada di pikirannya."Oke, jam delapan gue jemput," katanya final lalu beranjak dari duduknya."Oke!" Dengan semangat aku mengikutinya untuk menutup pintu."See you," Azril tersenyum manis.Dan aku? apa yang aku lakukan, aku hanya terpaku melihatnya. Nghehehe.Who is Azril? Sahabat ku, yah, dia selalu ada untuku setiap saat, setiap waktu, bahkan setiap detiknya rela ia habiskan untuk diriku. Meskipun aku sering sekali membuat dia kecewa, kemarin saja aku membuat dia panas panasan karena menungguiku bersama Kenzo, biasalah mantai sambil foto foto syantiks.Anehnya setiap aku mulai tidak enak karena sering merepotkannya dia selalu berkata, "Elisya lo nggak perlu sungkan minta tolong ke gue." Akupun menutup pintu lalu beranjak tidur."Non, bangun non!" Suara pembantuku menggema memenuhi ruangan."Eum..." Aku menggeliat, mataku perlahan terbuka."Ehm, iya Bik?" Ucapku malas."Azril, nak Azril kecelakaan!" Ucap pembantuku panik. Akupun langsung terduduk dengan mata terbelalak."Hah Azril!" Seruku tak percaya dengan cepat aku berlari, mengeluarkan mobil jazz putih ku lalu pergi ke RS. Aku tidak menghiraukan perkataan pembantuku yang aku dengar Faro dilarikan ke RS indah purnama.Sesampainya di RS aku langsung masuk ke dalam belum sempat aku bertanya kepada resepsionis mataku sudah menangkap sosok lelaki tinggi, putih, dengan luka di kepala, tangan, serta kakinya. Darah mengalir deras di sekitar kepalanya."Azril," lirihku, kugunakan sisa tenagaku untuk menghampirinya."Azril!!" Tangisku pecah.Beberapa suster sempat menenangkan ku. Di dorongnya Faro menuju sebuah ruang akupun berhenti sejenak.Ruang mayatTulisan itu tertera di depan pintu masuknya, "Yang sabar ya mbak." seorang suster memelukku erat. Tubuhku lunglai hingga akhirnya kesadaran ku pudar."Azril kecelakaan saat ingin menjemput Elisya, mobilnya menabrak mobil truk di depannya, korban mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya nyawa korban melayang," keterangan dari Salsa salah seorang saksi mata.Aku baru saja selesai menaburkan bunga diatas makam sahabatku, Kenzo masih setia menungguiku meratapi kebodohan yang aku buat sendiri. Satu persatu para pelayat sudah melenggang pergi.Dear ElisyaGue seneng lo udah mau jadi sahabat gue, gue seneng akhirnya gue bisa lebih deket sama lo. Astaga terserah kalau lo mau bilang gue alay atau apalah itu karena jujur gue bener bener nge-fly ketika kepala cantik lo bersandar di bahu gue. Asal lo tau gue setengah mati nahan detak jantung gue yang melompat lompat mau keluar dari tempatnya, gue ingin nyatain perasaan gue selama ini Sya, perasaan yang terkubur selama 17 tahun tetapi gue nggak bisa, orang bilang cinta gue kejebak friend zone. Entah kenapa gue tiba-tiba bahagia karena berhasil jadi penyelamat lo malam ini. Besok gue akan jujur mengenai perasaan gue, gue tau lo masih punya Kenzo. Tapi, tenang aja karena gue cuma mau lo tau perasaan gue ke elo. Good night Elisya wijaya-,Diary yang baru saja aku baca ini adalah diary terakhir sebelum Azril meninggalkanku untuk selama lamanya. Selain selembar diary ini masih banyak lembaran lain yang aku sendiri dibuat menangis karenanya. Semua diary ini bertuliskan tentangku, mulai dari aku yang baru saja bertemu dengannya di TK dahulu, aku yang marah karena ingin naik kuda sewaktu SMP, sampai aku yang menangis haru karena Kenzo menembakku, semuanya tertulis jelas disini.Azril I'm so sorry gue terlalu cupu buat peka terhadap perasaan lo. Gue bahkan nggak menangkap singal singal yang lo kasih. Azril, lo sadar kalau lo pergi dengan membawa perasaan yang terpendam? Kamu pergi tanpa ucapan selamat tinggal dan kamu pergi meninggalkan aku yang kini hanya bisa menyesal.End
Never the twain shall meet
"Cinta memang katarak sampai mendekati picek ."Vivi Permatasari"Gue nggak bisa deket sama dia!""Enggak akan pernah bisa. you know it is something that is impossible!" Ujarnya tanpa menurunkan nada bicaranya. Mata Abrizio memicing terus menatap ponsel yang menampilkan foto seorang gadis."Kenapa?! Dia terlalu baik buat lo? Terlalu lembut untuk ukuran cowok bad kaya lo?!" Zen yang geram langsung menyaut ponsel Abrizio, lantas memandangi sekali lagi wajah imut cewek yang paling di benci sahabatnya itu.Abrizio menghisap rokoknya dalam dalam hingga perlahan asapnya keluar melalui lubang hidung."Gue enggak bisa biarin cewek itu terus terusan ngintilin gue.""Tapi ..." Perkataan Zen terputus karena Abrizio yang mengambil ponselnya lalu melenggang pergi tanpa menghiraukan Zen di belakangnya.💔💔💔"Zio ntar malem gue ikut ...""Gak.""Ih gue belom selesai ngomong tauk.""...""Abrizio jalannya jan cepet cepet." Abrizio menghentikan langkahnya, ia mengatur nafasnya yang memburu menahan amarah. Diliriknya gadis yang sedang menyebikkan bibirnya, jujur Abrizio begitu gemas ingin sekali ia mengecupnya. Argh! Ada yang lebih penting dari gadis ini yakni menjauhinya."Capek?" Tanya Abrizio dan gadis itu hanya mengangguk tetapi kali ini dengan mata mengerling, kapan lagi ye kan di tanyain seperhatian gitu sama kecengan! Hoho."Gue mau naik tangga lo naik lift biar nggak capek.""No way. Capek gue udah ilang kok sayang hehe." Abrizio melirik sinis gadis yang tingginya hanya sebatas bahunya. Ia kembali berjalan tanpa memperdulikan gadis di belakangnya yang terus saja mengejarnya mencoba menjajari langkah panjang Abrizio."Zio, gue er- ke kelas dulu ya. Bye!" Serunya ketika Abrizio sudah sampai di ambang pintu kelasnya. Sekali lagi Abrizio menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.Mana ada coba orang yang rela relain naik tangga ke lantai tiga cuma demi nganterin kecengan gajelass macam zio sedangkan kelasnya sendiri IPA 3 berada di lantai paling bawah. Kebutaan cinta membuat kita goblog nggak ketulungan ."Hei. Ngapain nganyer di depan pintu, pamali." Zen yang baru saja datang langsung menyeret Abrizio yang mematung di tempatnya masuk ke dalam kelas."Ardania udah balik ke kelasnya?" Pertanyaan Zen hanya mendapat anggukan samar dari Abrizio. Sepertinya Abrizio mulai linglung setelah kurang lebih setengah bulan gadis bernama Ardania itu mengejar ngejarnya dengan tidak tahu malu."Dahlah, mending lo sikat aja tuh cewek. Gue kasian ngeliat dia pantang mundur gitu.""Kalo bisa udah gue sikat dari kemarin-kemarin, tapi gue nggak bisa karena dia itu spesies cewek yang paling gue hindari seumur hidup.""Nggak bodygoals? Kaya si Lisa? Xixi?""Yeah. Dia terlalu child buat gue.""Entah apa yang merasukimu Ardania sampai-sampai suka sama bad boy cem Abrizio." Setelah mengucapkan itu Zen mendapatkan bogem gratis tepat di kepalanya."Hei, Be." Gadis berpakaian serba ketat berjalan mendekati Abrizio lalu dengan tidak tahu malunya ia bergelayut manja di lengan kekar Abrizio."Gue cabut bentar mau ngambil rokok di kantin," kata Zen seraya memutar bola matanya malas ketika melihat Lisa."Oke, Xixi juga ada di kantin kok." Lisa menyaut, Zen tersenyum samar lantas bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan kelas. Alih-alih ke kantin Zen malah turun ke lantai 1 menuju kelasnya Ardania.Tok ... tok ... tok ..."Permisi, Bu saya minjem Ardania sebentar, boleh?" Seluruh murid termasuk seorang guru berperawakan tinggi putih itu menoleh kearah pintu masuk kelas."Mau apa kamu Zen?! Buat ulah lagi? Kenapa keluar waktu jam pelajaran?! Mana Abrizio?" Mata sipitnya menjelajah ke belakang punggung Zen mencari sosok Abrizio dan hasilnya nihil."Maaf, Bu. Saya minjem Ardania sebentar kenapa Ibu malah nyari temen saya?" Tanyanya balik.Ardania menggeleng pelan sambil mengulum senyum melihat teman kecengannya yang mendadak goblok."Memangnya Ibu ini tolol apa, kalo ada Zen malik Ibrahim pasti ada Abrizio mungkar nakir!" Serunya seraya berkacak pinggang.Hah? Apa? Jadi nama kecengannya Ardania itu Abrizio mungkar nakir ? Astaga nggak ada keren kerennya begitu! Iya masak nama malaikat yang bertugas di alam kubur. Enggak banget deh padahal tuh ya nama depannya udah kece abis ABRIZIO tuh kan kek nama Inggris ke Korea korean begitu kok. Emaknya ngidam apaan sih?!."Senakal nakalnya saya, saya tidak pernah mengajak Abrizio kemana mana Bu paling cuman main solo di kamar mandi." Seketika semburat merah di kedua pipi guru mata pelajaran fisika itu terlihat jelas, tentu saja dia tau apa yang dimaksudkan.Zen bermain solo dikamar mandi pula akh, sudah sudah jangan sang'e readers!"Ardania 10 menit." Ardania yang masih menyalin rumus rumit di papan tulis itu langsung bangkit lalu berjalan mendekati Zen yang tersenyum lebar."Kenapa Zen?" Tanya Ardania setelah mereka berbicara di depan tangga."Lo beneran suka sama Abrizio?""Hah? Ya iyalah Zen gue suka dia.""Maka dari itu lo berjuang?" Ardania mengangguk."Kenapa, sih?""Dia nggak suka lo, udah berapa kali sih dia ngomong begitu ke elo." Ujar Zen mulai gerah."Gue tauk, tapi gue bakalan berjuang buat dapetin Abrizio.""Nggak akan dapat.""Why?""Kalian nggak seimbang. Kalian berbeda, lo ngerti kan?" Zen menatap gadis di depannya yang tengah menggembungkan kedua pipi gembulnya. Huah Zen dibuat gemas ingin menelan bulat bulat gadis ini!"Sebenarnya maksud kedatangan lo apa Zen?""Memperingatkan lo, gue udah ngasih lampu kuning ke lo. Inget Abrizio berbahaya."Setelah mengucapkan itu Zen langsung berbalik arah dan melenggang pergi meninggalkan Ardania yang menghela nafas panjang.🌺🌺🌺Ardania memandangi foto yang terpajang besar besar di dinding kamarnya lekat-lekat, pertanyaannya kenapa ia bisa jatuh hati kepada Abrizio yang notabennya adalah cowok nakal, suka ngerokok, minum minuman beralkohol, suka merawani anak orang sampe keluar masuk penjara karena balapan motor liar. Kenapa hatinya terpatri kepada sosok yang baru ia sadari getarannya di Indomaret bulan lalu. Ardania tersenyum geli membayangkan pertemuan pertamanya dengan Abrizio yang bisa dikatakan gila.Flash backGadis berpakaian serba pink berjalan melihat-lihat rak makanan yang berjejer rapi, tentu saja ia terngiler ! Tetapi ia langsung kebingungan ketika ingat sesuatu, Bibinya menyuruhnya membeli barang sakral!!Barang yang Ardania sendiri tidak tau gunanya untuk apa, tetapi dari covernya saja ia sudah bergidik ngeri. Apalagi setelah ia iseng membaca bagian belakang bungkusnya, setelah tau apa kegunaannya. Cepat-cepat Ardania menjauh bahkan ia sempat berjongkok membelakangi rak barang yang dianggapnya sakral itu akibat malu ketika sadar kalau ada CCTV tengah mengintainya.Ia menggigit bibir bawahnya gugup harus berbuat apa, pasalnya jika ia tidak membelikan pesanan Bibinya ia pasti akan mendapat seember omelan panjang yang kalau didengarkan bisa sampai seminggu suntuk."Minggir, jangan di jalan." Suara tegas penuh penekanan membuat Ardania mendongak mendapati seorang laki-laki berperawakan tinggi, berponi, berkulit putih yang menatapnya aneh."Maaf, hehe." Ardania segera berdiri membuka jalan untuk laki-laki berbaju putih polos itu."Eh sebentar. Lo bisa bantuin gue nggak?" Cegah Ardania sebelum punggung pemuda itu menjauh."Apa?"" Ambilin itu, dong." Pintanya memelas. Abrizio melirik rak besi yang di tunjuk lewat gerakan mata oleh Ardania."Hah! Kondom?"" Sst , jangan kenceng kenceng." Bisik Ardania seraya menyentuhkan jari telunjuknya ke bibir."Lo gila?" Abrizio menatap tak percaya gadis mungil itu."Cewek sepolos lo beli begituan buat apa? Masih kecil ga usah aneh aneh.""Wait ... Wait ... Wait ... Gue nggak asing deh sama muka lo?" Ardania mencoba mengingat-ingat kembali apakah mereka pernah bertemu sebelumnya."Lo Two Z kan?!" Serunya dengan mata mengerling. Ardania mengamati lebih detail wajah laki-laki dihadapannya sambil mengulum senyum."Yang suka bikin rusuh di sekolah, kita se- SMA." Lanjutnya.Berbeda dengan Ardania yang langsung terlihat bersemangat, Abrizio malah mengedikkan bahunya acuh. Ia tidak pernah melihat gadis ini sebelumnya, mungkin dia tidak terkenal di sekolah. Entahlah."Nama lo Zio kan, ya? Satu lagi si Zen, kemana anaknya?" Ngapain sih nanyain Zen! Bukan apa apa kenapa gadis imut ini malah mencari yang tidak ada sedangkan yang ada saat ini wajahnya tampan luar biasa, kurang apa lagi coba?"Gue, Ardania rifda." Ardania mengulurkan tangannya untuk bersalaman, tadinya Abrizio enggan untuk menjabat tangan mungil nan lembut milik gadis itu. Tetapi karena dia tidak tega mengabaikannya akhirnya Abrizio membalas jabatan tangannya."Udah kan, gue cabut." Abrizio hendak berbalik namun lagi lagi Ardania mencegahnya."Tunggu, ih. Buru buru amat." Ardania menyebikkan bibirnya."Gue sibuk Ar-nia .""Ardania." Ralat Ardania."Iya, gue sibuk Ardania rifda ." Ulang Abrizio."Lo IPA berapa?" Tanya Ardania, meski sikap Abrizio terbilang tidak cukup baik padanya tetapi ia seolah mendapat lampu hijau karena Abrizio sudah mau menjabat tangannya."IPA 2.""Lantai atas dong, wih gue jarang tuh ke lantai atas. Mentok jalan jalan sampek lantai 2.""Terus?" Abrizio menaikkan sebelah alisnya."Tolong ambilin itu." Pintanya lagi."Buat apaan, lo masih kecil.""Ralat, masih polos.""Bukan buat gue, tapi buat saudara gue." Belanya tak terima."Ya, ya, ya?" Ardania menarik ujung kaos oblong Abrizio hingga molor ke bawah."Apaan sih." Abrizio menghempaskan tangan gadis itu lalu sedikit mundur kebelakang."Enggak mau, nih?" Tanyanya hampir menyerah."Males, gue lagi sibuk.""Beneran?""Gue cabut.""Yakin," katanya lagi."Permisi.""Tega?" Ardania menyebikkan bibirnya." Sssh , iya dah." Abrizio menghela nafasnya panjang lantas melangkah maju menuju rak besi yang berisikan barang barang sakral."Mau berapa?" Tanya Abrizio."Dua." Sahut Ardania seraya tersenyum lebar.Setelah mengambil dua bungkus benda sakral yang bertuliskan kondom sutera itu, ia lalu berjalan menuju kasir.Mbak mbak penjaga kasir mengulum bibir ketika melihat tiga buah barang yang disodorkan Abrizio. "Kondom sutera 2 sama Pocary Sweet 1, ya?" Abrizio menggaruk tengkuknya sambil mengangguk, ia sedikit melirik kebelakang dimana tubuh Ardania berdiri tepat dibelakangnya.Setelah selesai membayar Abrizio keluar dahulu, ia menunggui Ardania selesai melakukan pembayaran."Nih." Disodorkannya dua kondom berwarna merah itu pada Ardania dengan kasar."Huah makasih." Ardania yang baru keluar pun langsung menerimanya."Nih uangnya, gw gantiin.""Nggak perlu." Tanpa menunggu apa-apa lagi Abrizio langsung meninggalkan Ardania begitu saja.Tidak pernah Ardania sadari, diam diam ia kagum kepada seorang Abrizio padahal lebih dari 5 tahun ia tidak pernah merasa seperti sekarang ini, bahagia ketika melihat Abrizio kesal. Sejak saat itulah Ardania memutuskan untuk mengejar cinta pertamanya.Flashback off"let's say I'm crazy for chasing after men with no embarrassment. even though I have often been rejected outright, but maybe because of this first love, I consider this a challenge."Ujar Ardania pada dirinya sendiri. Seharusnya ia mundur tetapi tidak meski ditolak mentah-mentah dia harus tetap bertahan. Dia yakin seyakin-yakinnya kalau Abrizio akan melihatnya, Abrizio akan mencintainya. Itu pasti itu.Pikiran jahil terlintas dalam benaknya, Ardania menghidupkan ponselnya lantas masuk ke dalam aplikasi foto. Dengan gayanya yang khas ia menckrek/selfie🤳, setelah selesai ia membuka aplikasi WhatsApp dan langsung menemukan kontak milik Abrizio di bagian paling atas lalu Ia mengirimkan fotonya dengan caption ...Secantik cantiknya gue, gue enggak pernah jelek karena lo tolakTidak masuk akal memang, tapi biarlah. Ia mengklik tombol send, ia langsung melempar ponselnya ke sembarang arah.Di rumah lain, Abrizio baru saja selesai mandi. Ia menyempatkan diri untuk melihat ponselnya yang sedari tadi berbunyi. Ia melihat ada 87 notifikasi salah satunya milik Ardania. Karena ingin tahu ia pun melihat pesan darinya.Abrizio hampir tak berkedip melihat foto yang dikirimkan Ardania untuknya. Gadis cantik berponi tipis tengah tersenyum manis sambil meletakkan jari telunjuknya di sudut bawah bibir orangenya. Cantik, batinnya.Tetapi Abrizio mendadak geli ketika membaca tulisan di bawahnya."Kurang kerjaan." Abrizio hanya me-read pesan Ardania begitu saja, meskipun ia sempat tenggelam oleh kecantikan Ardania.💔💔💔Ardania ArdaniaArdania ArdaniaArdania ....Nama yang selalu memenuhi kepalanya hingga ia merasa pusing. Malam minggu, seperti biasanya ia menghabiskan malamnya di sebuah club ternama di Jakarta. Abrizio sudah menghabiskan 10 botol white wine tanpa sadar. Ia ingin mengenyahkan nama Ardania dari kepalanya, sungguh gadis itu mengusik hatinya, Mengusik ketenangannya."Zio, gue ke toilet bentar." Zen yang menemani Abrizio ke bar sedikit risih karena para jalang melingkarinya dengan gaya aneh aneh. Ada yang memonyongkan bibir sambil menungging, ada yang memutar mutar matanya seolah ingin menunjukkan bahwa bulu matanya anti badai dan masih banyak lagi."Hm ..." Abrizio sudah tidak kuat membuka matanya, matanya teramat sangat berat namun tubuhnya terasa ringan raungan raungan nama Ardania lenyap begitu saja. Apalagi di pangkuannya terdapat wanita bertubuh gempal yang terus saja menyodorkan white wine.Kepalanya berputar, pandangannya kabut. Abrizio yang sudah berada di ambang batas kesadarannya merogoh saku untuk mengambil rokok, dibantu wanita gempal yang melayaninya akhirnya Abrizio dapat merokok meski agak kesusahan karena kepala gembul wanita yang ada di pangkuannya menghalanginya.Lama, hingga rokok yang disulutnya sudah menjadi putung. Abrizio benar benar teler, ia di papah oleh wanita sebut saja mutan (mon maap namanya begitu, author benci jalang soalnya. Berdoa aja semoga Zen segera datang!)Baru beberapa langkah Abrizio di papah sebuah teriakan menghentikannya. Mutan menoleh kearah teriakan tersebut seraya menaikkan sebelah alis tebalnya."Ada apa?" Tanyanya."Maaf, itu pacar gue.""Pacar lo?" Mutan menyebikkan bibirnya mengejek, dari penampilannya saja sudah jelas bahwa gadis itu sangat tidak cocok dengan Abrizio. Gadis berpakaian serba orange itu mengangguk lalu dengan gesit mengambil alih Abrizio dari mutan."Mau bawa kemana, eh?""Terserah gue dong, kan ini pacar gue." Ujarnya lalu melangkah keluar club.Mutan mendengus kasar sambil mendumel ala emak emak sampai bahunya terasa di tepuk oleh sebuah tangan."Abrizio mana?" Zen menyipitkan matanya melihat mutan yang masih memasang muka jutek."Temen gue mana?!" Karena suara musik yang terlalu keras Zen pikir suaranya tidak terdengar oleh Mutan."Dibawa cewek. Puas!" Teriaknya lalu meninggalkan Zen yang mematung di tempatnya."Njir! Kok gue di bentak sih." Setelah memastikan sekali lagi kalau Abrizio tidak ada di dalam club, Zen pun berjalan keluar club sambil menggaruk kepalanya yang pusing dengan hilangnya Abrizio.Zen lupa dia punya ponsel, lalu apa guna ponsel itu sendiri kalau pemiliknya goblog? Tapi tidak masalah yang penting TAMPAN nice."Bego! Gue kan bawa handphone." Kesalnya. Setelah mendial nomor Abrizio yang tak kunjung tersambung akhirnya ia baru sadar kalau kondisi Abrizio sedang mabuk dan sekarang yang harus digoblogkan siapa!💔💔💔"Cowok bandel. Padahal kan tadi gue udah chat dia banyak banyak supaya nggak ke club lagi ...""Untung aja nyokap gue lagi nggak dirumah." Iya, Ardania membawa Abrizio ke rumahnya. Hanya ada dia dan Abrizio saja di sana."Zio, kok lo ganteng sih?" Parahnya Ardana membawa Abrizio ke dalam kamarnya."Bau lo alkohol, lepas baju ya. Pake baju papa gue." Setelah bermonolog Ardania mendekatkan dirinya kepada Abrizio untuk melepas Hoodie hitam yang dikenakannya setelah Hoodie nya lolos, hanya tersisa kaos oblong putih. Kaos yang mirip dikenakannya pertama kali mereka bertemu.Senyum Ardania mengembang mendengar Abrizio meracau, meski kurang jelas tapi cukup untuk di dengar."Ardamia ... Ardamia ... Ardamia.""Kenapa?" Jawab Ardania pelan sambil memajukan wajahnya ke wajah Abrizio."Ardamia .... Arh.""Shit!" Umpat Ardania ketika tangan kekar Abrizio dengan lancang memeluk pinggangnya erat."Zio, Zio, lepas.""Love you." Bisik Abrizio setengah sadar tepat di telinga Ardania. Mau tidak mau Ardania tetap tersenyum, pertama kali dalam sejarah hidupnya seorang Abrizio mengatakan cinta padanya."Love you to." Perlahan Ardania melepaskan tangan Abrizio di pinggangnya, setelah usaha beratnya setelah beberapa kali tidak sengaja jatuh ke pelukan Abrizio berkali-kali ia akhirnya lolos.Ardania berdiri tegak sambil mengelap peluhnya yang sudah sebesar jagung karena menahan nafas. Ia tidak bisa melihat human sesempurna ini!"Abrizio bangun, bangun Zio.""Lo nggak sekolah?""Abrizio!"Bulu mata lentik Abrizio bergerak gerak sebelum akhirnya matanya terbuka, ia langsung melotot ketika rentina matanya menangkap sosok Ardania."Morning!" Sapa Ardania yang sudah mengenakan seragam sekolah."Lo ngapain disini!" Abrizio menggelengkan kepalanya seolah kehadiran Ardania sangat mustahil."Lah, ini kan kamar gue." Bola mata Abrizio hampir lolos dari tempatnya. Ia mengedarkan pandangannya menyapu bersih setiap sudut ruangan dengan warna dominan pink."Lo gila!" Abrizio segera bangkit lalu keluar dari kamar Ardania."Zio, kita berangkat sekolah bareng.""Nggak.""Kenapa kita kan searah.""Gue bilang enggak ya enggak!" Ardania tertegun efek dari bentakan keras Abrizio namun ia tidak mundur begitu saja."Zio tunggu!" Meskipun Abrizio tidak membawa mobil tetapi ia menaiki taksi."Zio!" Langkah kecilnya tertinggal jauh dengan langkah besar Abrizio yang bahkan sekarang sudah masuk kedalam taksi."Abrizio tungguin gue!!" Teriaknya lagi dengan nafas memburu, bahkan setetes bening sempat mengalir di kedua pipinya.Ia memegangi perutnya yang terasa sakit hingga suara klakson mobil berbunyi nyaring.Hingga"Aaaaaaaaaaaaaaaaa ....!!!!"Abrizio menoleh kebelakang melihat lewat lewat kaca mobil. Ia segera menyuruh sopir taksinya berhenti. Ia terkejut luar biasa melihat gadis yang dihindarinya sekarang terpelanting ke sisi jalan. Bahkan mobil yang menabraknya sama sekali tidak bertanggung jawab memilih tancap gas."Ardania!" Teriak Abrizio yang tidak sabar, ia keluar dari mobil lalu berlari sekuat tenaga."Ardania, lo nggak papa kan?" Abrizio berjongkok mengangkat kepala Ardania ya bersimbahan darah akibat menghantam pembatas jalan.Abrizio ketakutan melihat banyaknya darah yang mengalir di kepala Ardania, ia menduga kepala Ardania bocor.Ardania masih sadar meski matanya hanya terbuka sayu."Zio mmm ...." Rintihnya menahan sakit."Lo nggak papa, lo akan baik baik aja.""Ayo kita ke dokter." Ardania tersenyum samar. Air matanya mengalir. Ia melihat ketulusan seorang Abrizio, ia melihat ketakutan seorang Abrizio, ia melihat kekhawatiran seorang Abrizio, Ardania melihatnya!"Abrizio ..." Ardania ingin berbicara tapi mulutnya kelu, ia hanya pasrah ketika Abrizio menggendongnya ala bridal style.💔💔💔Bau antiseptik yang begitu menyengat membuat mual siapa saja yang benci dengan bau obat-obatan. Persetan dengan bau obat-obatan, Abrizio gelisah menunggu Ardania yang sedang di tangani oleh dokter."Bro! Gimana keadaannya." Zen menepuk keras bahu Abrizio yang membelakanginya, Zen sendiri baru datang setelah tadi dikabari oleh Abrizio."Ck cepet amat lo datangnya, gue ngabarin lo baru 5 menit yang lalu."Zen menyengir kuda "Gue tadi lompat gerbang belakang kek biasanya, untung aja ada mobil Reno yang parkir di luar. Ya gue embat lah." Katanya menyombongkan diri."Oh."Abrizio tidak tertarik lagi untuk bertanya ataupun menjawab pertanyaan Zen sebelumnya. Karen keinginannya saat ini hanya satu yakni melihat Ardania baik-baik saja."Bagaimana keadaan Ardania Dok?" Tanya Abrizio tepat setelah dokter berperawakan tinggi itu keluar dari ruangan Ardania."Bisa saya berbicara dengan orang tua atau saudaranya." Abrizio menoleh ke samping, ia bahkan tidak mengabari orang tua Ardania lagi pula dirinya sama sekali tidak tahu menahu soal keluarga gadis itu."Dia tunangannya, Dok." Zen menunjuk Abrizio yang masih menatapnya, Abrizio ingin menggeleng namun urung."Jadi anda tunangannya, baiklah mari ikut saya."Tidak sampai 30 menit Abrizio sudah selesai berbicara dengan dokter, dokter mengatakan bahwa Ardania kehilangan banyak darah sehingga membutuhkan donor darah, untungnya rumah sakit memiliki kantung darah golongan B. Goresan goresan di sekitar tangan tidak terlalu parah hanya saja kali Ardania harus di amputasi karena Kaki kirinya mengalami patah tulang.Abrizio mengacak rambutnya frustasi melihat gadis mungil yang selalu menganggu hidupnya tengah terbaring lemas. Ia bingung harus mengatakan apa kepada orang tua Ardania dan lagi bagaimana dia memberitahu Ardania jika kakinya akan diangkat sebelah."Kasian Ardania, cantik dan sekarang harus cacat karena lo."Abrizio tidak mengelak ia bahkan mengangguk setuju. "Gue emang brengsek, Zen." Zen mengelus punggung Abrizio menenangkan."Semua akan baik-baik saja asalkan lo mau bertanggung jawab.""Gue takut Ardania akan benci sama gue.""Karena gue dia jadi kehilangan kakinya, karena gue dia jadi kehilangan banyak darah, karena gue dia jadi kaya gini ..."Dua hari berikutnya hanya senyap, Zen memberikan waktu kepada Abrizio untuk berdua saja dengan Ardania yang baru saja sadar."Zio ..." Nama itu yang pertama kali ia sebut setelah 48 jam tertidur. Bibirnya pucat."Gue disini Dania." Lirih Abrizio seraya menggenggam lembut jemari Ardania."Gue panggil dokter dulu ya." Abrizio hendak bangkit berdiri namun Ardania mencegahnya."Please, jangan ...""Jangan tinggalin gue ..." Suaranya seringan bulu membuat siapa saja yang mendengarnya akan luluh begitu saja."Ya udah gue di sini aja." Abrizio ingin menekan interkom lagi lagi Ardania menggeleng keras kepala."Jangan .... Jangan panggil dokter.""Tapi kamu harus di periksa dulu." Senyuman tipis terbit di bibir pucat Ardania mendengar Abrizio menggunakan kata aku-kamu.Abrizio menoleh menatap Ardania yah masih tersenyum, rasa bersalah semakin bergumul di dalam hatinya. Ia ingin mengucapkan kata maaf tetapi sepertinya itu saja tidaklah cukup untuk membayar apa yang sudah ia lakukan kepadanya.Kening Ardania berkerut merasakan sesuatu di kaki kirinya. Ia mencoba menggerakkan kakinya tetapi nihil meski ia telah berusaha sekuat tenaga."Kaki gu .... E ke ... Napa susah di ... Gerakin."Abrizio menelan ludahnya pahit, ia bingung harus berkata apa. Tadi Abrizio sudah menghubungi keluarga Ardania, Ayah dan ibu Ardania mungkin sebentar lagi sampai dan yang ia takutkan akan terjadi dibenci gadis yang dahulu mengejarnya, Ia akan di bayangi oleh rasa bersalah."Kita harus panggil dokter dulu ya." Kata Abrizio lembut, ia berjanji kepada dirinya sendiri kalau ia yang akan mengatakan sendiri tentang aputasi di kaki Ardania.Ardania kembali tersenyum merasakan jemari ramping Abrizio mengelus rambut poninya.Abrizio menekan interkom dua kali, tidak sampai tiga menit dokter yang menangani Ardania datang ke ruangannya.Orang tua ardania datang bersamaan dengan keluarnya dokter yang menangani Ardania. Abrizio menengguk ludah menatap sendu dua orang pasangan yang berjalan kearahnya dengan raut wajah cemas."Anak saya dimana?" Wanita berumur akhir tiga puluhan bertanya kepada Abrizio dan dokternya."Ibu orang tua dari saudari Ardania rifda?" Wanita itu mengangguk."Anak ibu sudah sadar dan kondisinya mulai membaik namun kakinya harus segera di amputasi karena kalau tidak tulangnya yang hancur akan membusuk." Mata ibu Ardania sudah berlinangan air mata, ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Tanpa pikir panjang keduanya langsung masuk ke dalam untuk menemui Ardania."Ardania ....""Sayang ...." Ibu Ardania langsung menubruk tubuh Ardania."Mama, Papa." Ardania ikut menangis."Ardania bakalan nggak punya kaki Ma, Pa." Tutur Ardania. Sementara itu Abrizio hanya terdiam membisu bersandar di samping pintu, ia lebih hancur lagi ketika mendengar suara pilu Ardania.Ayah Ardania keluar dari ruangan dengan wajah dingin. Abrizio menoleh dan balik menatap ayah Ardania sendu."Kamu laki-laki yang menyebabkan anak saya menjadi cacat?" Abrizio mengangguk."Kamu laki laki yang di cintai anak saya?" Abrizio kembali mengangguk."Brengsek!" Ayah Ardania meninju tembok di samping Abrizio yang menutup matanya pasrah. Keduanya tampak tidak baik-baik saja sekarang."Maaf Om.""Maaf?!""Saya akan melakukan apapun agar Om mau memaafkan saya.""Saya tidak mau apapun dari kamu. Pergi sekarang dan jangan temui Ardania." Abrizio menggeleng."Saya tidak bisa jauh dari Ardania om.""Kenapa?! Bukannya kamu senang sudah bisa lepas dari anak saya?""Baiklah kalau itu yang Om mau, tapi izinkan saya bertemu dengan Ardania sekali saja.""Baiklah." Setelah menghela nafas panjang akhirnya ia mengiayakan."Ardania." Ardania melengoskan kepalanya menghindari kontak mata dengan Abrizio."Maafin gue," Abrizio mendekati Ardania mencoba meraih jemarinya namun Ardania menepisnya kasar."Ar ...""Apalagi! Lo puas kan sekarang.""Ardania dengerin gue, gue cuma mau bilang.""Bilang apa! Nggak cukup selama ini pengorbanan gue ngejar ngejar Lo?!""Pergi sekarang gue nggak butuh cowok berhati ...""I love you.""I love you, Ardania." Satu kalimat itu membuat Ardania bungkam. Ia mencoba membuka mulutnya namun gagal.Rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya menghilang entah kemana yang timbul sekarang malah perasaan bahagia yang teramat sangat."Gue nggak akan pergi kemanapun, meskipun bokap lo nyuruh gue pergi sejauh-jauhnya dari lo.""Gue baru sadar kalo gue jatuh cinta sama lo Ardania."Ardania hanya mampu tersenyum manis sembari menganggukkan kepalanya.End
Takdir Cinta
Ponselku berdering berulang kali, aku belum sempat mengangkat sebab aku sedang berusaha membopong temanku, Nayla ke rumahnya karena ia terjatuh."Hallo" ucapku mengangkat panggilan itu namun tak ada suara"Hallo" ucapku kembali"Hallo, pak... Are you okay? " Ucapku kembali dengan nada sejenaka mungkin"Gea" jawab suara diseberang dengan lesuAku langsung menegakkan badanku dan menjawab dengan nada khawatir "Kamu dimana?" Sambil berjalan keluar rumah mengambil kunci mobil di dalam tas dengan tergesa memasuki mobil"Gea" ucap suara itu kembali"Iya.. Kamu dimana?" Aku mulai melajukan mobilku ke apartementnyaTanpa menjawab panggilan terputus, bukan apa-apa aku hanya takut dia melakukan hal yang tidak diinginkan. Usai kebanyakan nonton film menghasilkan cemasku berlebih. Dan dia juga pernah menyiksa dirinya sendiri hanya karena kesalahan yang bukan dirinya lakukan. Orang tuanya.Sialan kamu Arman, gimana sih?Memakan perjalanan 15 menit sampai disana, aku berjalan tergesa ke unitnya memencet bel berulang kali tanpa jawaban. Persetan tidak ada jawaban aku langsung memencet sandinya namun di dalam tak ku temukan siapapun."Arman kamu dimana?" PanggilkuSeketika aku mengingat tempat yang sering dikunjunginya apalagi saat dia ingin mencari udara segar.Aku bergegas kembali menaiki lift disana menuju lantai paling atas, kembali bergegas jalan dengan tergesa menaiki undakan tangga menuju rooftop.Aku bernafas lega menemukannya di sudut sambil menekuk lututnya, menetralkan nafas yang tak beraturan.Kemudian aku mendekat ke arahnya, berdiri tepat di depannya."Gea" ucapnya parau, kemejanya yang biasa rapi kini 2 kancingnya sudah terbuka, lengan kemeja di gulung hingga siku. Rambutnya yang biasa di tata dengan rapi kini juga terurai berantakan.Tapi sungguh, Arman tetap terlihat tampan dan em... Seksi. Ah maksudku bagaimanapun dia tampan."Aku tahu, pasti kamu menemukanku. Lagi"Aku menghela nafas sejenak, kemudian ikut berjongkok dan memeluknya yang ia balas tak kalah erat memelukku."Ge.. Hatiku sakit melihat mama sedih. Papa Ge, akhirnya papa kembali."Aku menepuk mengusap-usapnya perlahan "Semua pasti akan baik-baik saja"Dia menggeleng di dalam pelukanku "Akan lebih baik dia gak kembalikan daripada mengusik kehidupanku dengan mama yang sudah tentram"Aku hanya berusaha menenangkannya karena kehidupannya sudah pelik. Dulu sekali ia pernah menyayat lengannya dengan silet hanya karena tidak tahu harus bagaimana saat melihat ibunya seperti ingin bunuh diri.Papanya yang suka marah tanpa tentu arah."Mama kamu pasti sekarang sudah lebih kuatkan, buktinya mama kamu berusaha kuat meski di depan kamu. Tidak histeris seperti dulu"Ia mengangguk kemudian mengangkat wajahnya "Terima kasih""Tadinya rasanya tidak nyaman, tapi lihat kamu disini jadi lebih baik" ucapnya lagi.Aku tersenyum lalu mengangguk "Oke sekarang gimana? Betah banget peluk aku terus ni?" Tanyaku dengan meledekIa terkekeh geli "Yasudah usap ni air matanya" ucapku sambil mengusap air matanya dengan ibu jariku.Arman yang sekarangku kenalkan berbeda, sekarang dia lebih ke galak gak sih? Karena mengingat dia sedang jadi dosen di kampusku. Salah satu kampus ternama di kotaku.Dia juga adalah pimpinan di perusahaan, milik mamanya. Aku tahu ini dari dia yang bercerita, yah sepertinya dia ingin pamer padaku.Kalau begini aku jadi ingat awal pertemuan kami, dimana saat itu ia sedang berdiri di pinggir jembatan saat malam hari. Aku yang kebetulan pulang dari rumah Eriska teman SMP ku melewati jembatan itu melihatnya sedang berdiri dengan posisi kaki naik ke pembatas.Spontanitasku sebagus itu dan menghentikan laju mobil dengan segera ku tarik dan ku dekap sambil berkata "Mas... Please mas.. jangan gegabah. Hidup ini memang berat tapi semua pasti ada hikmahnya""Ha?" Jawabnya"Iya, mas. Percaya deh. Aku gak bohong. Dengan mas bunuh diri bukan berarti masalah mas selesai. Ih gak tau aja ntar di akhirat serem loh mas."Tapi jawabannya malah tertawa "Kamu mikir saya mau bunuh diri?"Aku mengangguk "Iya, jangan ya mas ya. Setidaknya jangan ada saya bunuh dirinya. Kan jadi pertanggungjawaban saya juga di akhirat nanti""Ntar malaikat nanya gini, heh kamu kenapa gak mencoba menolongnya gitu gimana dong?" TambahkuDia semakin tertawa dengan keras "Kamu kebanyakan nonton tv deh, korban sinetron. Saya gak mau bunuh diri."Aku tertawa kecil mengingat awal pertemuan kami itu yang berlanjut bertemu sebagai dosen yang kini dia mengajar di kampusku. Saat bertemu bukannya tidak syok, aku sengaja menghindar awalnya tapi dia mulai merecokiku dengan mengingatkan kejadian itu. Hih.. gemes. Lama-lama ntah bagaimana kami jadi dekat. Mungkin juga karena sering terpergokku kala ia sedang dalam masa sulit."Kamu mikir apa sih?" Tanya Arman menarikku dari ingatan masa lalu, kini kami sudah berada di unitnya dengan teh hangat.Aku menggeleng sambil tersenyum "Ingat dulu lucu aja. Aku kira kamu bakalan bunuh diri""Enggaklah. Gak sependek itu juga""Lah terus dulu pernah...""Kan gak bunuh diri." Potongnya"Tapi nyakitin diri sendiri tau gak" balasku ketus"Kan sudah berubah" jawabnya kalemTanganku terangkat merapikan rambutnya, yang terasa halus di jemariku. Lalu ku usap pipinya perlahan tangannya juga merangkum tanganku di pipinya."Semua pasti akan baik-baik saja." Ucapku lalu ku tarik tanganku lalu ia mengangguk"Oke, aku balik dulu ya kalau gitu dah malam ini""Karena itu, menginap disini saja""Besok akutuh ada kuliah pagi""Dosennya aku juga"Aku memang beberapa kali pernah menginap disini salah satunya saat ia begini tapi jangan salah paham loh ya, kamar kan gak cuma satu."Bajunya kan di kos. Gak bawa baju" kilahku"Perasaan kamu selalu bawa persediaan baju deh di mobil"Aku tertawa, bangkit dari kursi setelah sebelumnya melempar bantal sofa ke arahnya yang di balas dengan tawanya juga."Duh.. Aku ngantuk banget deh" berjalan memasuki kamar ke dua di unit apartemen milih Arman.----------"Ngeliatin apa sih Ge?" Suara Nayla mengingatkanku, saat ini kami sedang di kantin kampus.Aku menggaruk tengkukku "Enggak, lihat Kevin gak muncul ya" kilahkuPadahal di depan sana aku melihat Arman sedang berbincang dengan bu Rani. Sepertinya seru sekali.Mendadak makanannya jadi gak enak.Tak lama ponselku berdenting, pesan dari Arman mengajakku nonton bioskop.Mas ArmanNtar ketemu di parkiran, kita nonton bioskop ada yang mau aku lihat bareng kamuWah... Asik nih nonton dan makan gratis. Ku tatap ia yang duduk di depan sana yang ternyata juga menatapku sambil tersenyum. Ku peringatkan, nama Mas Arman di ponsel, dialah yang memberi nama itu."Demi apa coba? Pak Arman senyum coy" pekikan Nayla heboh "Dan sama lo senyumnya"Aku tertawa kecil menanggapinya"Seriusan gue kepo, lo gak pacaran sama pak Arman?""Enggak" balasku"Gila ya.. sedekat itu bisa gak jadian""Emang gimana sih?" Balasku tak ramah"Ya gimana ya, Ge. Saling berbagi kasih tapi kek gada apa-apa gitu. Pahamlah maksudnya ya""Ya jalanin aja sih, Nay. Belum mau nikah cepat juga""Gaya lo. Lo bilang mau nikah muda. Makanya dipepet Kevin mau aja. Tapi Kevin juga ganteng dan kaya sih. Cocok buat lo yang banyak maunya""Kakak gue kan belum menikah""Gampanglah. Langkahin aja. Dah gak zaman bahela ini. Lengkapin permintaannya yang minta emas 24 karat itukan? Halah.. bisa di aturlah itu" papar Nayla panjang lebarTapi masalahnya, aku gak cinta sama Kevin. Dia memang baik tapi hati gak bisa di paksakan.Ponselku kembali berdering menampilkan nama kak Ayasha"Ya hallo kak"" Dek jadi pulangkan minggu depan?""Kenapa kak?"" Kan sudah janji. Libur semester pulang ""Iya kak. Aku pulang kok. Sampaikan salam sama mama papa ya kak."" Telpon dong mereka ""Nanti aku di introgasi pacar mana pacar mana kak. Ah bosan"Kak ayasha tertawa " Ya sudah, kakak cuma mau mengingatkan saja "Dan sambungannya terputus, aku mendesah pelan."Kenapa sih?" Desak Nayla"Lo taukan, Nay. Salah satu alasan gue kuliah jauh karena kak Ayasha juga. Gue gak tega kak Ayasha di pojokkan selalu harus cepat menikah lalu ujungnya ke gue, karena gue belum punya pasangan kak Ayasha jadi bersantai dengan pasangannya karena karir mereka"Kak Ayasha memang sedang bagus-bagusnya berkarir. Dia baru saja di angkat menjadi manajer pemasaran di perusahaan ternama, memang usianya hanya terpaut 4 tahun dariku. Saat ini usiaku 22 tahun."Lagipula kak Ayasha masih 26 tahun ya kenapa di buru nikah terus sih?""Sebenarnya bukan itu pokok permasalahnnya, Nay. Karena Mas Brendon sudah 2 tahun belum pulang dari London. Mama cuma gak mau kakak di gantungin gitu"Aku mengerti maksud orang tuaku, mereka memang berhubungan dengan serius tapi bisa sajakan waktu yang berkhianat.Misal ni mereka saling cinta tapi tiba-tiba mas Brendon dijodohkan mamanya. Seperti di novel yang pernah kita baca. Orang tuaku hanya tidak ingin kak Ayasha mendapat harapan palsu yang berujung patah hati.Mengenai tunangan? Mas Brendon tidak ingin ada lamaran, ia ingin langsung menikah saja.Nayla mengangguk-angguk "Sebenernya alasan lo aja kan libur semester, kita juga cuma nyusun skripsian doang ini. Yah kalau mau kabur bisa aja" balas Nayla sambil tertawa kecil.---------"Ya ampun pak Arman romantis syekali ya" ucapku kemudian setelah keluar dari bioskop dan membelokkan langkah ke tempat makan, masih di mall yang sama tempat kami menonton film.Bagaimana tidak? Aku itu penakutkan, katanya tadi mau lihat film romantis, eh taunya malah film horor, sepanjang film aku sibuk menutup mata dan Arman sibuk dengan tawa nya menertawakan aku."Serukan filmnya? Teman-temanku banyak bilang ini seru makanya aku mengajakmu""Bodo amat, pak.""Yasudah pesan, mau apa?" Dia menyodorkan menunya padaku"Mm.. yang paling mahal ya" balasku dengan tawa kecil tapi aku hanya bercanda, nyatanya aku hanya pesan nasi goreng pataya dengan segelas lemon tea saja.Tak lama pesanan kami datang dan mulai memakannya perlahan."Akhir pekan mau kemana?""Pulang ke Bandung, mama nyuruh pulang""Kenapa? Mau di jodohkan"Aku mengangkat bahu, "Kakakku kan belum menikah. Masih menunggu pacarnya. Gak yakin juga jodohku bisa nyanggupin permintaannya ketika di langkahin kan" jelasku sambil menyuapkan sesendok nasiArman mengangguk-angguk lalu berkata "Tapi aku bisa nyanggupin permintaannya kalau cuma perihal materi""Iya iyaa orang kaya mah bebas ya" balasku sambil meledeknya. Jangan baper, ini sudah biasa terjadi.Ia melihat ponselnya sebentar sebelum kembali berkata padaku "Wah. Kebetulan dong, aku juga mau kesana. Bareng aja bagaimana?""Kemana?" Tanyaku"Semarang""Jangan deh, merepotkan gak sih""Enggak kok""Nanti aku pikir-pikir dulu""Ge, kayaknya aku lagi tertarik deh sama seseorang"Aku mengangkat wajahku ke arahnya "Siapa?" Balasku"Nanti aku beritahu, mungkin karena nyaman bicara aja sih. Aku ketemu dia saat ke Semarang bulan lalu, ketemuannya juga gak sengaja ternyata dia bekerja di kantor....""Oh jadi nanti ke Semarang sekalian mau bertemu dengannya?" Potongku"Tidak juga. Mama barusan kabarin aku disuruh mengecek ke sana, jadi yasudah sekalian ajakan. Kamu juga mau ke Semarang."Aku mengangguk, "Iya sih" tapi aku masih penasaran sih "Kamu... Suka sama perempuan itu?" Tambahku"Gak bisa dikatakan begitu juga." Aku hanya diam sambil menganggukkan kepala."Sudah selesaikan? Kamu ikut aku dulu ya. Aku ambil berkas di rumah dulu ada yang tertinggal. Sekalian ketemu sama mama. Aku belum pernah ajak kamu ketemu langsungkan?""Wah.. gak bisa berkata-kata akutuh sama pak Arman." Balasku tapi dia hanya tertawaLalu kamipun keluar menuju perjalanan ke rumahnya. Hanya perasaanku saja atau bagaimana ya, ia terus memegang tanganku. Aku menatapnya lamat-lamat.Ku perhatikan wajahnya saat fokus mengemudi lalu beralih ke tangannya yang memegang tanganku.Bolehkah aku jatuh hati padanya Tuhan?Bahkan sebelum meminta izin aku sudah jatuh hati duluan padanya tanpa ku sadari. Ya mau bagaimana jika keseharianku selalu banyak diisi oleh kehadirannya."Kenapa sih?" Tanyanya padaku"Ha? Tidak apa-apa" balasku sambil menarik tanganku darinya"Ohiya mama kamu galak gak?" TambahkuDia tertawa "Mungkin lebih ke cerewet kali ya"Tiba di rumahnya kami berjalan mulai memasuki rumah, tiba di pintu utama ia terdiam aku yang di belakangnya bingung.Menyentuh lengannya aku bertanya "Arman, ada apa?" Dia diam menatapku lalu menatap ke dalam. Ku ikuti arah pandangnya terdapat pria paruhbaya yang sedang menatapnya juga. Yang kuyakini itu adalah papanya."Ayo" ajaknya"Mm.. Arman, aku tunggu di sini saja ya"Ia menaikkan alis tanda tak mengerti. Maksudnya gimana ya aku juga bingung, kayak akutuh orang lain. Gak enak aja gitu.Ia menarik tanganku membimbingku masuk ke dalam rumahnya yang besar, wah ku ralat ini besar sekali.Aku menganggukkan kepalaku saat melewati papanya Arman dan beliau tersenyum ramah padaku."Kamu tunggu di sini dulu ya" ia menyuruhku duduk di ruang tamunya dan aku mengangguk. Memangnya mau kemana lagi?Lalu papa Arman tiba-tiba datang, "Kamu kekasih Arman?""Ah? Bukan, om. Hanya teman"Papa Arman tersenyum "Saya berharap kamu yang mendampinginya." Lalu ia pergi dari sanaTak lama seorang wanita yang ku yakini adalah mama Arman masuk berjalan ke arahku, dengan segera aku bangkit."Hallo, tante. Aku temannya Arman"Ia menatapku sekilas tersenyum lalu pergi menyusul Arman ke suatu ruangan yang dimasuki Arman tadi. Tampak terburu-buru.Aku menghela nafas, meminum jus jeruk yang di buatkan oleh ART.Lalu tak lama Arman keluar dari ruangan itu diikuti mamanya."Arman" ucap papanyaJadi kini situasinya aku sedang menyaksikan drama keluarga ini. Pahamkan maksudnya bagaimana? Tentu tidak enakTerlihat Arman menghela nafas sejenak, lalu mengangguk mengikuti langkah papanya.Mamanya datang duduk di sebelahku "Kamu Gea, kan?"Aku tersenyum "Iya, tante""Arman banyak cerita soal kamu. Tante senang" Mama Arman memegang tanganku "Terima kasih sudah bersama Arman selama tiga tahun terakhir ini, tante berharap kamu terus bersamanya""Mm... Tante, aku sama Arman gak punya hubungan apa-apa kok" jawabku kalemIa tertawa "Arman sama seperti papanya. Ia hanya belum menyadari mungkin. Mengenai hubungan kami, pasti Arman banyak cerita sama Gea. Tapi sebenarnya papa Arman baik. Mungkin lebih tepatnya sudah berubah menjadi lebih baik"Aku tidak tahu seperti apa wanita di hadapanku ini tapi dia sungguh baik sekali. Bisa berbijaksana memaafkan keadaan yang sudah-sudah.Perasaan Arman yang tak menyadari aku tidak ingin berharap, karena Arman baru saja mengatakan tertarik pada seseorang.Juga... Aku tidak ingin mengakui perasaanku padanya.Aku dan mama Arman berbincang kecil tak jarang kami tertawa, rasanya baru sebentar saja kami sudah terlihat akrab. Mama Arman sungguh ramah dan terlihat hangat padaku."Kalian bicarakan apa?" Arman datang lalu duduk di sebelahku."Ah rahasia ya, Ge" balas mamanya "Sudah bicara pada papa?" Tanyanya lagiArman mengangguk singkat"Mama harap, semoga bisa mengubah pandanganmu, nak. Papa tidak seperti yang kamu pikirkan"Arman menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu, aku menggenggam tangannya lembut dan ia mendongak. Tersenyum padaku lalu mengangguk."Kalian mau kemana? Makan malam disini aja bagaimana" tawar mamanya"Tidak, ma. Kami mau pulang saja. Gea juga sibuk. Iyakan?"Aku mengerutkan kening tapi mengangguk juga.Mama Arman tertawa "Kamu posesif sekali, Arman""Ayo" ajaknya padaku. Akupun mengikutinya setelah sebelumnya berpamitan pada orang tuanya.Arman melajukan mobilnya perlahan keluar dari komplek perumahan itu."Ke apartemenku ya, Ge?""Mm.. lain kali ya. Aku mau berkemas. Besok aku mau ke Semarang""Bukannya akhir pekan ya?" Tanyanya"Tadinya. Tapi orang tuaku menyuruh segera. Katanya mereka kangen"Arman diam sebentar sebelum menjawab "Oke. Kalau begitu, minggu depan setelah aku tiba disana. Aku akan menemuimu lalu kita jalan-jalan"Aku tersenyum lalu mengangguk ke arahnya "aye.. aye, Capten!"Tiba Arman menghentikan laju mobilnya, aku melirik sekitar tidak ada apa-apa hanta jalanan biasa. Tadinya aku pikir ia ingin membeli sesuatu.Ia menarik tubuhku, memeluknya menyandarkan kepalanya pada bahuku."Ge.. ""Ya?""Ternyata selama ini aku salah paham. Aku pikir papa dengan sengaja beberapa tahun belakangan ini menyakiti mama. Tapi ternyata papa punya misi khusus"Sungguh aku tidak mengerti maksudnya tapi karena dia membutuhkan pelukan maka akan kuberikan, padahal jika ia meminta ciuman manis pasti aku akan berikan juga.Aduhh.. pikiran kotorku ini. Mungkin efek cuaca yang mendadak turun rintik ya"Ge""Ya?""Sekarang tugas papaku sudah selesai, misi yang dikatakannya sudah selesai dengan baik. Dia sengaja melakukan itu demi melindungi kami. Bahkan mamaku yang seperti berniat membunuh diri diluar kendali papa. Intinya adalah papa begini demi pekerjaannya""Aku gak mengerti kamu bicarakan apa. Misi atau apapun itu. Tapi, Ar. Bukankah papa kamu bekerja sebagai Arsitektur""Yang orang tahu" balasnya "Sebenarnya papa juga anggota BIN"" Whatt !" Pekikku lalu melepaskan pelukan darinya kemudian menatapnya "Beneran?"Dia merengut sebal melihatku lalu kembali memelukku."Beneran?" Tanyaku lagi, ia mengangguk "Aku cuma cerita ini ke kamu""Oke. Tapi aku gak ngerti kenapa bisa begitu" aku mendesah kesal bercampur tidak percaya lalu berkata "Lihat apa yang kamu dan mama kamu laluin selama ini"Arnan mengangguk "Tapi aku bersyukur juga. Ternyata pandanganku terhadap papaku tidak seburuk itu."Aku ikut mengangguk, mengusap rambutnya dengan lembut "Hikmahnya, kamu sudah jadi yang terbaik untuk mama kamu""Ah, Arman!" Protesku, bagaimana tidak jika ia mengecup leherku. Mendadak begini membuatku aneh.Lalu tangannya mengusap pipiku perlahan "Ge, boleh aku cium kamu?"Ha? Apa aku tidak salah dengar. Ini untuk pertama kalinya, sungguh.Belum sempat aku melayangkan jawaban tapi dia sudah membungkamku dengan ciumannya. Awalnya hanya diam sejenak lalu perlahan bibirnya bergerak, aroma mint dan rasa manis dari bibirnya menyapaku dan kegilaan dari mana akupun membalasnya. Membalas ciuman manisnya.Ia menarik diri membuatku merasa kehilangan, ia menyatukan kening kami memberi jeda mengambil nafas karena terengah. Tapi nyatanya belum usai, ia kembali menyatukan bibirnya padaku mencecap kembali melumat hingga sebagian akalku hilang di telan cecapan manisnya padaku.Ia menarik diri mengusapkan wajahnya yang nampak frustasi atas apa yang dia lakukan padaku. Aku membuang wajah ke arah luar. Menghindarinya.Menunduk dan memegang kemudi lalu menjalankan kembali mobilnya.Tangannya menggemgam tanganku melirikku singkat lalu berkata" Sorry , Ge. Tapi aku gak menyesal uda cium kamu"---------Sudah seminggu ini aku di Semarang tapi kejadian tempo lalu yang terjadi padaku dengan Arman masih terasa manis. Entahlah, harusnya tidak boleh beginikan.Aku ingat ketika turun dari mobil yang mengantarkan aku ke kos-kosan saat itu. Ia berkata " Aku ingin sekali mengantarmu besok. Tapi pekerjaanku tidak bisa tinggal begitu saja. Jadi, sampai bertemu di Semarang, Ge." Ucapnya padaku lalu mengusap rambutku.Aku berguling-guling di tempat tidurku, sudah mandi dan rapi tapi yang ku lakukan seminggu ini memang hanya di rumah saja. Hanya beberapa kali menyapa tetangga dan teman dekat di sekitar. Tidak ada kegiatan khusus.Aku memekik perlahan ketika mendapati Arman menelponku."Halo"" Ge, tebak aku dimana?"Aku diam seperti berpikir sejenak "Di kampus?" BalaskuDia tertawa " Salah. Aku di Semarang""Wahh beneran, pak?"" Sudah 4 hari yang lalu tapi aku belum bisa menemuimu. Banyak sekali yang harus aku cek disini "Aku mengangguk paham "Mau aku yang kesana menemuimu?" Ucapku" Ini bukan di Jakarta, Ge ." Balasnya ambigu tapi memang benar, dia punya pekerjaan di Semarang tapi tidak pernah terlibat langsung padaku atau main ke rumahku, misalnya. Kami juga baru kali ini bisa di Semarang secara bersamaan. Itupun lagi-lagi karena pekerjaannya."Iya deh "" Kamu kira-kira kapan balik ke Jakarta?""Hari kamis rencanya sih"" 4 hari lagi. Oke aku usahakan segera selesai kerjaanku .""Memangnya mau kemana? Kalau gak bisa ketemu, di Jakartakan juga bertemu."" Mana bisa begitu, Ah iya, Ge, nanti aku hubungi lagi. Aku sudah tiba di kantor ni""Sebentar" ucapku cepat" Ya ?""Kamu sudah bertemu dengan cewe itu?" Tanyaku raguArman tertawa sebelum menjawab " Sudah "" Tapi aku lebih gak sabar bertemu kamu sih" tambahnya. Lalu panggilan terputus, aku menatap ponselku lalu tersenyum."Seneng banget kayaknya anak mama" celetukan khas suara mamaku yang super kepo menyapa indraku, aku menoleh langsung berkata"Iya dong""Pacar kamu?"Aku terkekeh kecil "Belum sih, ma"Mamaku duduk di atas ranjang bersebelahan denganku "Ayo ceritakan sama mama"Aku nampak berpikir tapi kami berdua tertawa "Dia dosen di kampus, ma. Tapi juga mengurus perusahaan.""Sudah tua dong?""Ih, mama.. ya gak gitu juga. Beda... 6 tahun gak terlalu tua kan?"Mama mengangguk "Memangnya dia sudah bilang suka sama kamu? Sampai kamu sesenang ini"Ah aku melupakan fakta, bukankah dia mengatakan padaku tertarik dengan seseorang. Di Semarang apa dia juga bertemu dengan perempuan itu.Melihat ekspresiku agak murung, mama memegang pergelangan tanganku. "Tidak apa-apa. Kita boleh berharap tapi jangan terlalu ya, nak. Mama khawatir kamu patah hati. Sama seperti mama khawatir terhadap kak Ayasha, dia setia sekali dengan Brendon.""Iya, ma"Begitulah mamaku....Usai berbincang sedikit dengan mamaku, ia keluar dari kamarku. Aku memainkan ponsel di kamar, hanya sekedar lihat-lihat medsos.Ku lirik jam dinding menunjukkan pukul 4. Tidak tahu mau melakukan apa, berjalan menuju pekarangan depan lalu menghidupkan keran air untuk menyiram bunga-bunga milih mamaku yang tersusun rapi di pekarangan.Seingatku pagi tadi tidak di siramkan? Cuaca juga lumayan terik jadi lumayan kerjaan untuk menghilangkan kebosananku.Ku lihat ada mobil berhenti, kak Ayasha turun dari mobil itu. Ah mungkin dia naik taksi online, tapi berikutnya melihat yang turun membuatku mengumpat tertahan. Mematikan keran, aku berbalik ingin menyapa tapi keberadaan kak Ayasha ditengah-tengah membuatku kembali bungkam.Aku menatap penuh minat pada Arman, tapi..."Mm... Mas kenalin. Ini adik aku, Gea. Dan Gea, ini Arman." oke, mas. Kata yang disematkan kak Ayasha membuatku bingungDia tersenyum canggung, menaikkan tangannya "Hallo. Aku Arman."Aku mendengus tidak percaya tapi juga menjabat tangannya "Gea" ucapkuTHE END
Dia, Rio.
Aku melihat tangan kami yang saling menggenggam memberikan kehangatan melalui genggaman, berjalan mengelilingi pantai dengan senyum yang tak lepas dari bibir kami. Sesekali kami saling pandang mencurahkan isi hati melalui tatapan mata kami.Untuk kali ini biarkan kami menikmati keindahannya.Untuk kali ini biarkan kami melepaskan gejolak kami.Sekali lagi, untuk kali ini biarkan kami menjadi satu tanpa ada yang lain."Ih, Rio gimana sih? Aku lapar tahu" aduku karena sedari tadi ia terus menggandengku berputar-putar.Ia mengusap keningku, "Lapar ya makan" jawabnya acuhAku tahu, tapi bagaimana mau makan jika ia terus menarikku berkeliling terus."Kamu tahukan besok kita pulang?"Aku menghela nafas lalu mengangguk "Bisa rubah keputusan yang sejak awal kedatangan kita?"Aku bimbang, ini terasa memabukkan tapi juga terasa tidak nyata. Akhirnya aku hanya diam."Maksudku, bisakan kita disini hanya berlibur tanpa bekerja atau lainnya?" LanjutnyaAku tertawa kecil lalu mengangguk.Rio menggiringku duduk di tempat makan yang ada di dekat pantai ini, tak lupa memesankan makanan kesukaanku."Terima kasih" ucapku padanyaIa menggeleng, "Harusnya aku, terima kasih untuk kesempatan ini"Aku menyenderkan kepalaku pada bahu kekarnya, ia balas memelukku. Nyaman sekali.Menikmati hembusan angin bersama seorang lelaki, Rio. Namanya sudah ku kenal dari jaman putih biru.Benar, tidak salah putih biru, SMP.Lucu sekali saat itu. Kami yang saling pandang. Aku tahu dia tertarik padaku tapi aku berpikir jika masa itu hanya terkesan cinta monyet.Saat berada di kantin, matanya juga selalu menatapku yang selalu ku balas dengan senyuman.Iseng, aku mengikutinya dengan masuk ekskul pramuka di sekolahku. Saat itu permainan game petunjuk jadi tiap tim terdiri dari 3 orang. 1 menutup mata sedangkan 2 orang lainnya memberi arahan.Aku tahu, Rio adalah orang yang paling bersemangat dan itu hal yang menarik yang paling ku sukai darinya.Ia sebagai pihak penutup mata yang diberikan petunjuk, entah bagaimana yang memberi arahan salah atau bagaimana berakhir dia tertabrak tembok menyebabkan keningnya bengkak. Sontak permainan dihentikan memusatkan perhatian padanya.Tapi ia menatapku dalam diam, aku tersenyum dan ia balas pula dengan senyuman konyolnya. Melalui tatapan mata dan senyumnya menyampaikan bahwa aku baik-baik saja.Bodoh.Itu pasti sangat menyakitkan."Sayang, boleh malam ini aku menginap di kamarmu?" Tanyanya menarikku dari potongan ingatan masa SMP kami yang lucu.Aku tertawa kecil "Bukankah tadi malam juga menginap."Ia tertawa geli "Satu minggu ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin" ucapnya mengulang kataku saat kami pertama kali menginjakkan kaki di pulau dewata.Aku mengangguk "Menurutmu, Kenapa laki-laki dan perempuan bisa menikah?" Tanyaku sambil menggambar abstrak di lengannya.Ia mengernyit heran atas pertanyaanku tapi juga menjawab "Karena cinta, mungkin""Apakah cinta saja cukup? Bukankah banyak pertengkaran karena ekonomi""Benar, tapi ekonomi bisa dicari dan tergantung perempuannya bagaimana kan. Bertahan atau meninggalkan""Lalu menurutmu aku bagaimana?"Ia mencubit gemas hidungku "Itu adalah ujian dari rumah tangga, Mey. Dan aku percaya kamu gak akan goyah hanya karna perekonomian"Aku tersenyum "Lalu jika karena pria, apakah aku bisa goyah?"Dia menatapku cukup lama lalu mengatakan "Entahlah, aku harap tidak""Jika tidak ada cinta, tidak mungkinkan akan bersatu dalam pernikahan" tambahnya"Lalu kita?""Bukankah kita juga saling mencintai" balasnya"Apakah cinta bisa bertahan jika tidak ada kepercayaan?" Tanyaku lagiDia menghela nafas, "Berputar-putar. Apa yang ingin kamu ketahui, sayang?"Aku mengangguk, "Jika kamu diberi kesempatan mengulang waktu, apakah kamu menyesali bertemu denganku?"Ia menatapku dalam, memegang erat tanganku, "Aku menyesal baru menemuimu sekarang. Harusnya aku lebih berani sejak dulu" balasnya yakin."Bahkan sekalipun kita tidak bertemu?""Aku yang akan mencarimu.""Baiklah, buka mulut. Aku ingin menyuapimu"Ia berdecak tapi juga mengikuti kemauanku"Meysa, aku mencintaimu" ucapnya disela kunyahannya ku balas senyuman.Benar, ia dulu terlalu pengecut menurutku. Jika dulu ia suka kenapa hanya saling curi pandang saja. Yaya masa SMP tapikan bisa dimulai dari berteman.Biar begini, akukan perempuan. Gengsi dong. Gimana sih!Haripun menjelang sore kami kembali ke kamar kami masing-masing, untuk mandi dan beristirahat.Rio juga kembali ke kamarnya untuk mandi dan pergi bergegas menemuiku lagi.Aku menatap pemandangan pantai dari balkon kamarku sambil memandang cincin di jari manisku, tangan melingkar di perutku menambah sensasi kehangatan.Mengecup pipku lalu berkata "Kita seperti bulan madu ya" ucap Rio sambil tertawaAku tersenyum "Tidak ada bulan madu yang kamarnya terpisah, sayang""Tapi setiap malam kita selalu bersama""Mau berenang bersama?" Tanyaku mengambil bikini di dalam koperku"Kamu membawa bikini?""Tentu saja, aku belum memiliki kesempatan menggunakannya""Kalau begitu jangan"Aku mengernyitkan dahiku, dia mengusapnya lalu berkata "Aku takut khilaf"Setelah itu ia menempelkan bibirnya padaku, melumatnya perlahan tapi memabukkan, tanganku ku kalungkan di lehernya, ia memperdalam ciuman kami yang ku balas dengan senang hati. Lalu melepasnya menempelkan kening kami sembari menghirup oksigen."Tapi ini sudah khilaf" ucapku, dia melarangku menggunakan bikini tapi juga menciumku."Kamu terlalu sayang untuk dilewatkan" jawabnya dengan tawa"Aku lapar""Perasaan kamu lapar mulu""Aku ingin dimasakkan sama kamu" balasku manja yang kini sudah memeluknyaIa melepaskan pelukannya, " Okay , aku masakkan nasi goreng saja ya. Katanya nasi goreng buatanku bisa meluluhkan hati wanita."Aku tersenyum yang sudah entah keberapa kalinya "Tapi aku sudah luluh, Rio""Menikahlah denganku jika begitu""Nanti akan aku pikirkan" ucapku sambil mengedipkan mata jahilTak lama ponselnya berdering, ia hanya menatapnya tanpa berniat mengangkat.Ia menghela nafas lalu pergi ke dapur yang kebetulan ada di dalam kamar ini, tidak luas tapi lumayan, tak lama ia kembali padaku. Pasti disana tidak ada apa-apa."Aku akan membeli beberapa bahan. Tunggu disini ya" ucapnya seraya mengecup keningku lalu pergi keluar.Sembari menunggunya aku jadi ingat saat dulu, ia selalu menungguku di depan kelasnya. Kelas kami berbeda, dia sebagai siswa pintar di kelas A, unggulan tentu letaknya di depan sedangkan aku kelasnya di nomor 2 akhir dari 8 kelas masa itu, jangan salah biar begini aku tetap dapat peringkat 1."Si Rio perasaan liatin kamu terus deh" ucap Devi membisikku saat kami melewati kelasnya, saat itu ia duduk di depan kelasnya. Ah membuatku salah tingkah di jaman putih biru kelas 2 saat itu.Melewatinya, kami saling tersenyum."Demi apa, dia ganteng banget" kata Devi"Hai, Mey" sapa Alfer di kelas yang sama dengan Rio."Oh hai, tumben cepat datang" balaskuIa mengangguk "Iya pengen liat kamu"Aku tertawa lalu melanjutkan langkahkau, Alfer ini dari kelas 1 sudah mendekatiku. Berbeda dengan Rio yang tidak punya nyali untuk berdekatan denganku padahal aku sudah memberikan sinyal. Meskipun Alfer ini ku ketahui menyukaiku tapi dia tak kunjung menyatakannya, aku cukup bersyukur karena aku hanya menganggapnya teman. Dan kedekatan kami ini bahkan berlanjut sampai aku kuliah, mungkin sekitar semester 4 kami lepas kontak.Begitulah kisahku dengan Rio hingga tamat SMP tidak ada saling kata hanya penyampaian lewat mata dan senyum.Saat SMA, aku mulai berpacaran dengan beberapa pria. Kami hanya saling menyapa lewat media sosial itupun hanya dengan mengklik tanda suka atau love. Tidak lebih dari itu, tak ada kata sedikitpun, seakan sekedar menyapa bahwa kami pernah saling mengenal.Tak lama dari itu, tepatnya 4 tahun usai lulus dari SMP aku berpacaran dengan teman sekelasnya SMP dulu, Afsyah. Dia lelaki yang cukup rumit hanya bertahan 2 tahun. Usai putus dengannya, dia menanyakannya lewat media sosial. Percakapan awal kami. Aku tahu dari media sosialnya, ia sudah cukup sukses untuk karirnya."Hai, kamu beneran putus sama Afsyah?" Chatnya kala itu, untuk pertama kalinya.Aku hanya menjawab, "Hehe kenapa?"Dia menjawab, "Tidak ada, hanya bertanya" balasnya di chat itu yang hanya ku baca saja.Tak lama dari itu, aku memposting foto terbaruku dengan kekasihku, dia mengomentarinya "Baru, wak?"Ku balas "Hehe.. Iya ni"Lalu ia membalas lagi "Kenapa bisa putus?"Akupun hanya menjawab seadanya "Gak jodoh"Dia membalasnya lagi tapi ku hiraukan.Aroma masakan tercium, tak sadar Rio sudah kembali dan memasak disana, segera ku hampiri dan memeluk tubuhnya dari belakang dan ia membalas sambil memegang tanganku yang melingkar di perutnya."Kenapa?" Tanyanya, aku menggelengIa mengusap tanganku perlahan masih terus memasak."Dari aromanya sih, enak."Dia tertawa kecil "Kamu akan luluh setelah memakannya""Aku sudah luluh, gimana dong?"Dia balas tertawa lagi, "Yasudah, ayo kita makan""Enak sekali..." Pekikku ketika kurasakan masakannya"Kan sudah ku katakan" jawabnya sombong sambil mengakhiri acara makannya.Aku berdecih tapi ada yang hampir terlupa kutanyakan "Rio, kenapa sih dulu gak pernah deketin aku. Bukannya gimana ya, saat SMP kan kamu terlihat gimana gitu ke aku"Dia sedikit tertawa "Jangan GR kamu""Aku gak GR tapikan memang iya, terus bisa jelasin arti curi pandang kamu ke aku?" Tanyaku lagi tak mau kalahDia tertawa mengusap kepalaku "Lucu banget sih, aku akuin, aku takut dekatin kamu. Ya gimana, yang deketin kamu kebanyakan tampangnya lumayan.""Tapikan kamu juga ganteng" ucapku kalem"Makasih.." jawabnya dengan senyum dan mencuri satu kecupan di pipi "Tapi saat itukan pikiran SMP tu ya malu, kamu SMA, aku pilih SMK nah disitu aku juga belum berniat dekatin kamu karena kamu terlanjur jadian sama mas-mas kantor pemerintahan itu""Aku baru sadar, kamu update banget ya soal aku." Jawabku terkikikDia mendengus "Terus giliran aku mau deketin lagi kamu malah pacaran sama temen satu kelasku. Kejutan apalagi coba? Setelah putus, kamu malah cepat langsung jadian. Aku jadi mikir, apa sebegitunya aku gak punya kesempatan? Putus bentar langsung disambar aja"Aku terbahak "Ya gimana, kamu juga gak gerak cepat. Akukan suka yang sat set sat set""Seneng banget kayaknya" ucapnya padaku lalu melangkahkan kaki ke arahku, mengelap sudut bibirku.Matanya menatap mataku, mempersempit jarak kami. Bibirnya menempel ke bibirku, awalnya hanya menempel kemudian ia memberi kecupan.Dari kecupan menjadi lumatan dan semakin liar, tangan kanannya meraih tengkukku memperdalam sedang satunya merengkuh pinggangku. Tanganku bergerak meremas rambutnya.Badanku di angkat ke pangkuannya menambah keintiman kami, masih saling menempel.Tak lama ia mengangkatku menuju ranjang, dihempaskan perlahan dengan cepat ia memposisikan di atas tubuhku, kembali memberikan ciuman panas, dari bibir turun ke leherku memberi sensasi remang padaku.Tangannya tak henti memberi usapan-usapan pada tubuhku "ahh" sebuah lenguhan lolos dari bibirku dan bibirnyaIa mencium telingaku kembali merambat ke leher dan membuka kancing kemeja atas, memberikan pijatan disana sambil menciumnya.Kembali aku melenguh dengan sensasi dahsyat ini. Tangannya turun mengusap bagian bawahku yang masih tertutup celana pendekku."Ah.. Ri.o""Mm.. Meysa..""Cukup" ucapku tak ingin dibantah"Meysa, aku gak tahan" balasnya dengan mata yang dipenuhi kabut gairahAku menggeleng tegas, "Maaf, Rio. Aku ingin memberikannya hanya pada suamiku""Tapi..""Kita belum menikah" tukasku.Ia menghela nafas, memegang pelipisnya lalu bangkit dari atas tubuhku, menjambak rambutnya. " Sorry , Mey. Aku kelepasan"Lalu ia berlalu pergi ke kamar mandi, entahlah apa yang dia lakukan. Biarkan saja. Saat ini aku ingin tidur saja, menarik selimut menutupi tubuhku.Tak lama ku rasakan ranjangku bergerak, Rio datang masuk ke dalam selimutku memeluk tubuhku. Aroma sabun menyeruak dalam indra penciumanku, aku yakin dia usai mandi."Rio, kamu..""Diam, Mey. Aku ngantuk. Tidur saja ya" ucapnya parau, aku hanya membalasnya mengangguk.Saat ini kami telah tiba di bandara ngurah rai. Waktu seminggu full ku habiskan bersama Rio, sebenarnya 2 minggu tapi 1 minggu adalah waktu yang menakjubkan bagiku dan Rio.Tangan kami masih saling bertaut. Bersama menaiki pesawat ini duduk bersebelahan, sama seperti halnya pertama kali kami datang.Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, dia membalas mengusap kepalaku."Apakah memang sudah tidak ada kesempatan untukku, Mey?""Aku sudah memberimu kesempatan, Yo. Maafkan aku""Aku rela meninggalkan segalanya demi kamu"Aku menggeleng "Maafkan aku, Rio. Aku tidak bisa""Apa waktu kita bersama tidak berharga untukmu?" Tanyanya menatapkuKu bingkai wajahnya dengan tanganku "Ini sangat berharga, Rio. Aku menikmati hari-hari kita. Tapi ini juga sudah terlambat. Aku tidak bisa menjadi egois""Tapi egois untuk diri sendiri juga tidak apa, Mey. Untuk masa depan kita" balasnya tak terima dengan memegang tangankuKu tarik tanganku dari genggamannya, "Harusnya kita sadar sedari awal, Rio. Kalau aku sama kamu, sudah tidak bisa bersama. Kita sudah memiliki tujuan sendiri."Rio menggeleng dengan tegas. "Kata siapa? Kamu yang menyimpulkan itu. Sedari awal aku sudah mengatakan jika aku mau bersama kamu."Aku menghela nafas, "Maafkan aku, mungkin di kehidupan selanjutnya kita akan dipertemukan."Ia diam, tidak menjawab. Memilih menutup mata dan mengeratkan genggaman tangan kami.Tak terasa kami sudah tiba di Jakarta, masih saling menggengam tanganku ia bertanya, "Kamu sudah yakin dengan keputusanmu, Mey? Aku siap meninggalkannya demi kamu" tatapannya lurus kedepan tanpa menolehku."Maafkan aku, Yo" balasku"Baiklah.. Itu artinya hubungan kita akan seperti dulu" balasnya yang aku akan tahu pada intinya.Di depan sana terlihat lelaki yang dua minggu ini ku hindari tersenyum senang menatapku."Kamu mencintainya?" Tanyanya lagi masih dengan tatapan lurus.Aku mengangguk "Sangat" balaskuPerlahan genggaman kami mengendur dan terlepas begitu saja, Aku memperlambat langkahku dibelakangnya.Lelaki disana, Janu. Memandangku dengan binar bahagia. Maafkan aku, maafkan aku. Bisikku perlahan, aku menuduhmu tapi aku malah terlena meski sesaat.Di belakang tubuh Janu tampak berjalan dengan tergesa seorang wanita dengan teriakan "Rio..."Dan menubruk pada tubuh Rio, memeluknya dengan erat "Aku rindu sekali. Kenapa tidak memberiku kabar" ku lihat Rio tak menjawab hanya mengusap punggungnyaJanu merentangkan tangannya memberi pelukan padaku, yang ku balas dengan pelukan erat."Terima kasih sudah kembali, Sayang. Maafkan aku. Aku mencintaimu, sangat."Aku mengangguk dalam pelukannya, "Aku mencintaimu. Maafkan aku, maafkan aku" rapalku.Dia mengurai pelukannya, "Maafkan aku juga. Tapi sungguh tidak ada yang lain. Kamu salah paham""Aku tahu. Kamu cuma mencintaiku. Persiapannya sudah semuakan?" Tanyaku dengan senyuman manisku dan dia mengangguk antusiasTuhan, bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan lelaki sebaik ini. Aku tak ingin kehilangannya, pernikahan kami akan segera berlangsung.Dia menarik jemari manisku dan tersenyum lega, aku mengernyit heran "Syukurlah, kamu memakainya. Jangan berani melepaskan cincin itu"Aku tertawa, "Nanti aku mau cincin 24 karat ya, Janu""Iya, sayang. Apapun" balasnya seraya mengambil alih koper di sampingku."Ayo, Rio. Kita pulang. Lama banget kamu dinasnya dua minggu. Biasa juga cuma seminggu, mana tanpa kabar" tutur wanita bersama Rio ku dengar.Aku meliriknya ia hanya patuh berjalan mengikuti wanita itu. Setelah menatapku sesaat."Kamu sudah menghukumku dua minggu ini. Jadi, sudah puaskan? Ayo kita pulang"Aku sontak menatapnya, apakah Janu tahu kelakuan dua mingguku ini dengan Rio? Tapi ungkapan selanjutnya membuat hatiku tenang, sungguh aku mencintainya, tak ingin kehilangannya. Aku khilaf."Jangan meninggalkanku lagi, apalagi tak memberiku kabar. Aku uring-uringan disini. Ingin menyusul tapi kamu sudah mengancamku di awal"Benar, saat itu terjadi kesalahpahaman antara aku dengan Janu. Mantan Janu menemuinya untuk kembali tapi Janu menolak, adegan mantannya memeluk Janu untuk terakhir kalinya, aku melihatnya membuatku terbakar api cemburu.Dan aku bilang sebelum menikah dengannya, aku ingin dua minggu berjauhan dengannya karena aku marah. Dan tak ingin ia menyusul, karena aku pasti akan kembali. Aku sudah berjanji padanya.Lalu bertemu dengan Rio, mengiming-imingku dengan segala keindahan, memporak-porandakan hatiku. "Berikan aku kesempatan untuk semua moment yang sudah kita lewatkan. Meski pada akhirnya kamu akan tetap memilihnya" ucapnya kala itu yang tanpa sadar, ku iyakan dan terjadilah, aku khilaf."Ayo" ucap Janu merangkulku, meninggalkan bandara.Tiga bulan kemudian kamipun menikah, semua berjalan dengan baik. Maafkan aku Janu telah berbohong, dan akan selalu ku simpan. Aku tidak mau kehilanganmu.Setahun kemudian, undangan pernikahan Rio datang padaku. Mungkin ini yang terbaik untuk kita, senyumku menatap undangan itu yang ditatap curiga oleh suamiku."Kenapa?" TanyanyaAku menggeleng dengan senyuman "Kamu ingatkan teman SMP aku yang gimana gitu sama aku. Dia nikah" jawabku sambil mengangkat undangannya.Dia hanya tertawa, karena dulu di awal pertunangan, aku pernah bercerita tentang Rio padanya. Jadi aku tak bisa membayangkan bagaimana marahnya Janu jika ia tahu yang aku perbuat di Bali.Katanya, ingin menikah itu banyak Rintangan. Aku sudah rasakan, aku sempat terlena dengan Rio. Janu dengan datangnya mantan padanya.Tapi kami memilih untuk bertahan.Mengingat ucapanku tempo lalu pada Rio, meski dikehidupan selanjutnya aku dipertemukan kembali padanya, aku akan tetap memilih Janu.Rio hanyalah suatu tantangan. Karena nyatanya aku memilih Janu, Suamiku.END
Titik Temu
Pernahkah kamu mencintai tapi merasa tak dicintai?Sekian lama berhasil menyita perhatian tapi terkalahkan oleh kebersamaan. Bukan, melainkan kebersamaan dengan dia.Mungkin inilah yang sedang ku alami.Temaram yang sedang terjadi menyita perhatian. Di pantai, kami bediri tegak saling menatap ke dalam dasar bola mata. Perlahan kami tersenyum bersama.Semakin lama, cahaya semakin menusuk ke dalam dasar ingatan kami."Hai" ucapku yang malu-malu saat kini ia melihatku dengan baju basketnya juga beberapa titik keringat di dahi juga tubuhnya.Ia tersenyum dengan menghampiriku, ku berikan ia sebotol mineral yang langsung di teguknya hingga tak bersisa."Gimana? Aku hebatkan di pertandingan kali ini"Aku mengangguk "Kamu selalu hebat. Selamat untuk kemenanganmu" jawabku tulusIa mengusap rambutku, "Tunggu ya, Pita. Aku ganti dulu" ucapnyaSena, lelaki yang kini menyandang status pacaran denganku. Kisah kami seperti remaja lainnya, ia salah satu lelaki tertampan dan populer di sekolah menengah atas yang kedudukannya sebagai ketua tim basket.Sedangkan aku? Tentu saja aku hanya siswi biasa yang tidak terlalu populer atau bahkan bisa dikatakan sedikit populer berkat pacaran dengan Sena.Jangan salah paham, aku murni mencintainya juga dia begitu.Ah aku ingat awal pertemuan hingga kedekatan kami. Itu semua bermula saat hujan turun begitu derasnya ketika pulang sekolah, terpaksa aku menepi di dekat halte bus, aku tidak membawa kendaraan karena kendaraanku masuk bengkel.Ia yang baik hati, menawarkan tumpangannya padaku yang mulanya ku tolak. Tidak enak, kami tidak terlalu dekat, bukan? Namun berkat gadis di samping kemudi yang memaksaku naik, maka mau tidak mau aku naik bersama. Gadis itu bernama Luvi, sahabat dari Sena.Ia sungguh gadis yang cerdas juga menawan. Ia adalah ketua tim chereleader juga bagian dari anggota osis. Menarik bukan?Entah bagaimana, kami menjadi sangat dekat sejak saat itu."Ayo, sayang" ucap Sena, yang menarikku dari awal cerita kami.Aku mengangguk, namun Sena tampak merhatikan sekelilingnya."Luvi?" Tanyaku, ia mengangguk"Ah itu si Luvi duluan, di jemput sama Brian"Ia tampak senang "Woah.. gencar sekali Brian. Semoga mereka cocok ya" balas Sena dengan tawa dan wajah yang semangat dan aku juga tersenyum sambil mengangguk.Sebenarnya, jika jujur aku sedikit meragukan pertemanan antara Sena dan Luvi. Seperti yang kita tahu, tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan tanpa perasaan salah satunya. Namun biarpun begitu, mereka sudah bertemu dahulu dibandingkan denganku."Mm.. Sena, kamu tidak cemburu?" Tanyaku ragu. Kini kami sudah mulai berjalan ke area parkir.Dia menyemburkan tawanya "Aku dengan Luvi maksudnya?"Aku hanya mengangguk"Yang benar saja, Pita sayang. Jika memang aku menyukainya tentu sudah dari dulu bukan bersama dia?""Iya sih, tapikan bagaimanapun itu....""Sst.. ah bercandaan kamu gak lucu, sayang. Intinya, aku sudah sama kamu sekarang. Dan cuma kamu." PotongnyaIa membukakan pintu mobil untukku, akupun memasuki mobilnya sementara ia mengitari mobilnya untuk duduk di bangku kemudi."Jadi mau kemana kita, yang?""Aku lapar""Mau makan apa?""Terserah" jawabkuDia tampak berpikir mengetukkan jarinya di kemudi."Mie ayam?" Tanyanya"Enak sih, tapi belum makan nasi.""Nasi padang?""Sedang tidak ingin""Fast food?""Tidak sehat, sayang" balasku lagi"Batagor?""Kan belum makan nasi, yang""Oh aku tahu, nasi goreng mang oleh" dengan semangat"Tenggorokan lagi gak enak, ntar batuk""Jadi apa dong?""Sudah deh, fast food di depan jalan itu saja, biar cepat" balasku dengan senyum lebarIa tampak mengusap wajah sambil bergumam "Untung cinta" lalu tak lupa mengecup pipiku.Akhirnya kami memilih makanan fast food di depan sana, renyahnya ayam goreng dengan tepung memanjakan lidahku. Aku memang penyuka makanan jenis fast food. Sedangkan Sena, penyuka segala jika bersama denganku pastinya.Memulai hubungan dari kelas 2 yang kini kami telah menduduki kelas 3 semester akhir membuat kami saling memahami satu dengan lain. Mengenai Luvi aku terkadang sedikit cemburu tapi selalu berusaha untuk tampak biasa saja. Lagi pula mereka memang sudah dekat yang ku ketahui sedari awal masuk sekolah dulu.Bahkan yang ku ketahui, ibu mereka saling berteman dekat juga rumah yang searah. Syukurlah antara ibu itu tidak menampilkan drama perjodohan karena persahabatan sebab itu akan merepotkan urusan percintaanku dengan Sena. Kesimpulannya, selama itu tidak terjadi maka hatiku aman, bukan?Usai makan Sena langsung mengantarkanku pulang kerumah. Begitu tiba akupun langsung bergegas memasuki kamar untuk berganti pakaian dan terlelap sejenak hingga panggilan ibu membangunkanku dari mimpiku yang indah.Sialan! Bisa-bisanya aku bermimpi menikah dengan Sena di sore hari begini.Wah... Sepertinya aku memang sudah terserang virus bucin."Ada apa, Ma?" Tanyaku"Itu hp kamu bunyi terus menerus siapa tau yang menelpon penting." Ibu menggelengkan kepalanya "Tidur sudah seperti orang pingsan"Aku tergelak mendengar omelan di akhir kalimat ibuku. Ku akui memang itu kebiasan burukku."Yasudah, angkat telpon lalu mandi setelah itu kita makan malam bersama""Ay... Ay. Kapten!" Balasku.Segera aku mengecek ponselku yang tergeletak di nakas.Ada 10 panggilan tak terjawab dari Sena. Juga beberapa pesannya.Komandanku♥️Sayang.. KangenEh.. kita baru ketemu. Tapi gimana dong?Gak diangkat pasti tidurOhh.. Aku tau, kamukan tidur seperti orang mati.Aku tertawa geli melihat pesannya yang tak kunjung ku balas. Satu pesan terakhir yang membuat aku sedikit was-was tapi mencoba biasa saja.Aku mengantar Luvi sebentar ya, sayang. Belanja disuruh bundanya. Tidak lama.Laluku balas dengan kata " O ke, hati-hati, sayang. Tipsam sama Luvi ya"Setelah balasan iya darinya aku mandi dan makan bersama orang tuaku. Sedikit membahas beberapa hal untuk melanjutkan pendidikan apa setelah masa abu-abu usai. Orang tuaku, selalu berkata bahwa jangan pikirkan biaya, tugas anak adalah belajar saja. Biaya urusan kami dan yang terpenting jangan permalukan orang tua.Aku memilih untuk mengambil hukum saja. Aku memang berasal dari kelas jurusan IPA tapi aku ingin menjadi Jaksa. Itupun kuliah di sini saja tanpa keluar negara. Mungkin aku akan memilih universitas terbaik di negeri saja.Usai membahas ku lihat ponselku berbunyi menampilkan nama Luvi, sepertinya mereka sudah selesai belanja.Kami memang menjadi dekat bahkan kami selalu curhat bersama, aku yakin ia ingin bercerita tentang Brian.Segera ku angat panggilannya"Hallo" ucapku" Pitaaacuuuu " teriaknya gembira, membuatku sedikit menjauhkan ponselku"Ia, Vi. Budek ni teriak-teriak" balasku" Seriusan demi apa, Brian nembak aku tadi. Gilee banget, gak sih?" Nahkan dia memang akan curhat tentang semua gebetannya padaku tapi tampaknya Brian yang memenangkan hatinya"Wah.. Terus gimana?"" Ya terima dong. Gilee aja aku nolak. Uhh.. mana dia sweet banget bikin meleleh ketika nembaknya" ucapnya dengan lebayAku tertawa singkat "Selamat my luv luv nya aku. Jangan lupa PJ ya" balasku dengan semangat" Eh tapikan, Pit. Masa Sena bilang Brian tidak sebaik pikiran kita"Tunggu, bukankah Sena mendoakan semoga mereka cocok ya"Masa sih? Bukannya Sena biasa suka ya menjodoh-jodohkan kalian malahan"" Nah iya, bener, Pit. Tapi ketika saat Sena mengantarkanku tadi dia bilang melihat Brian bersama perempuan." Jelasnya di seberang sana"Mungkin adik atau kakak atau sodara kali, Luv"" Sepakat. Aku juga bilang gitu sama Sena.""Lalu apa katanya?"" Dia cuma menghendikan bahunya aja tanda tidak peduli""Yasudahlah, intinya kembali sama luvi aja gimananya. Nanti tanya aja sama Brian biar enak jugakan daripada prasangka buruk" jelasku" Iya bener, Pit. Ohiya..."Selanjutnya dilanjutkan dengan percakapan kami yang lainnya hingga tak terasa sudah malam dan kami mengakhirinya karena mengantuk.Keesokan harinya libur, Sena mengajakku untuk berjalan-jalan ala remaja biasa. Menghabiskan waktu bersamanya minus Luvi karena ia juga berjalan bersama Brian yang ia tidak mau main bersama. Katanya nanti saja baru juga jadian pengen berduaan dulu."Wah.. warna lipstiknya bagus ya" ucapku seraya melihat lipstik baru kubeli yang di balas tawa kecil oleh Sena."Sena, bagaimana? Sudah menentukan pilihan lanjut kemana" tanyaku kemudianSaat ini kami sedang di pusat perbelanjaan yang kini sedang makan di restoran setelah lelah berputar-putar juga menonton film."Sepertinya aku lanjut ke Harvard deh, yang. Kembali di pilihan utama. Mama Papa juga ingin begitu"Ya Sena memang pernah mengatakan ini, Sena anak tunggal yang tentunya kedua orang tuanya ingin Sena menjadi penerusnya. Salah satunya melalui pendidikan diluar negeri. Saat itu ia bercerita masih bingung namun kini kutahu ia telah mantap dengan pilihannya berbeda denganku yang hanya ingin kuliah di dalam negeri saja."Artinya kita bakalan LDR" jawabkuSena tertawa singkat lalu mengacak rambutku, menyuapkan potongan steak padaku yang langsung kuterima "Hanya sementara. Libur nanti kitakan bisa bertemu, sayang"Aku menghela nafas, "Bagaimana jika kamu selingkuh dengan bule disana?"Sena semakin tertawa "Seleraku masih lokal, sayang."Tak urung aku tersenyum, "Yasudah deh""Kamu sudah bulat memilih hukum? Jadi jaksa" tanyanyaAku mengangguk antusias. "Tentu saja, sudah ada beberapa referensi sih. Tapi sepertinya aku lebih tertarik ke Sumatera, kampus USU. Sepertinya menarik kalau aku bisa kuliah disana. Lagipula aku juga bisa hidup mandiri tanpa terlalu jauh kan? Ya setidaknya bukan diluar negeri" jelasku"Serius? Banyak kampus bagus di pulau jawa padahal seperti kampus...""Iya, iya, sayang. Aku tau, tapi aku tertarik dengan kota Medan. Kampus USU. Aku lebih tertarik disana." PotongkuIa menganggukkan kepalanya, "Oke. Yang terpenting selalu jaga hati kita ya" putusnya lalu aku mengangguk dan kami bercerita ringan tentang hal lainnya, layaknya pasangan mabuk asmara lainnya.Selang beberapa bulan akhirnya, hari dimana kami tunggu telah tiba. Kami semua telah dinyatakan lulus. Masa putih abu-abu telah usai, digantian dengan kami yang memilih langkah mana yang kami ambil.Malam ini adalah malam prom nigth , malam pesta kelulusan kami. Tentu saja malam ini aku berpasangan dengan Sena, Luvi dengan Brian, pacarnya.Kami sedang menikmati alunan syahdu dengan gerakan ikut alunan juga tangan saling menggenggam pasangan. Mungkin esok aku dan Sena akan terpisah dengan jarak, perbedaan waktu dan tempat karena menuntut ilmu pendidikan untuk menjadi layak bersama.Dan betapa senangnya, aku dan Sena terpilih menjadi raja dan ratu malam ini.Lepas dari berdansa, aku kembali duduk di meja awal kedatanganku disini. Menikmati sedikit makanan ringan, seraya menyesap jus aku mengedarkan pandangan ke sekitar lalu tersenyum. Masa putih abu-abu yang menyenangkan.Terlihat Luvi yang tertawa gembira bersama Brian, aku berharap ia bahagia selalu. Ku tatap Sena diujung sana, ia berbincang seru bersama temannya. Aku sudah cukup lelah karena sedari awal hadir aku sudah berbincang seru bersama yang lainnya.Tak lama ponselku berdenting, nama Luvi tertera mengatakan bahwa Ia akan pulang duluan.Ku lihat ia berjalan keluar bersama Brian dengan tangan tertaut dengan senyum mengukir.Aku melirik arloji ternyata sudah cukup malam, usapan di rambut membuatku menoleh ternyata Sena sudah kembali ke meja kami."Sudah malam, bagaimana kita kembali saja"Aku mengangguk "Luvi dimana?" Tanyanya karena memang kami datang bersama"Ah iya, tadi Luvi bilang pulang duluan sama Brian. Barusan saja."Ia mengangguk "Yasudah, ayo"Kami berjalan menuju parkiran lalu masuk ke dalam mobil, mulai menjalankan mobilnya perlahan.Percakapan sederhana mulai tercipta, mungkin usai ini kami akan menjalani LDR, tak masalah bagiku asal kami saling menjaga hati.Hingga dering ponsel Sena berbunyi, ia langsung mengangkatnya"Ya, Vi" ucapnya, aku menoleh ternyata Luvi yang menghubungi."Apa!" Ucapnya sambil melirik ke arahku, "Katakan kamu dimana?" Tambahnya, lalu membelokkan setir mobil ke arah balik"Luvi kenapa?" Tanyaku penuh kekhawatiran"Sayang, aku turunin disini. Tidak apa?"Aku juga menatapnya penuh khawatir, ini sudah malam aku juga sedikit takut."Ada apa, Sena?""Luvi dilecehkan sama Brian. Aku ingin menjemputnya. Aku pesankan taksi online saja ya, aku juga gak tega ninggalin kamu""Aku ikut" balasku"Pita, tapi...""Sudahlah Sena, ayo cepat. Luvi butuh bantuan kita" tukaskuIa menghela nafas, "Baiklah" balasnya sambil menambah kecepatanDalam hati aku merapalkan doa semoga Luvi baik-baik saja disana. Aku tidak habis pikir, bagaimana Brian lelaki baik itu melecehkan Luvi. Sungguh ini diluar dugaanku. Brian adalah lelaki baik juga dari keluarga baik, tapi apa yang terjadi padanya sehingga ia seperti itu.Hubungan pertemanan kami juga cukup baik, sedikit banyaknya aku mengerti dia tidak akan pernah berbuat buruk pada wanita.Bahkan terkadang ia membantu Sesil, wanita seangkatan kami yang sering dibully. Sungguh apa yang terjadi?Hingga kami tiba di sekolah, langkahku berlari terseok-seok mengikuti langkah Sena ke arah belakang sekolah.Terlihat dari sana, adegan tarik menarik antara Brian dan Luvi, kancing teratas gaun Luvi juga sedikit terlepas.Sena langsung menarik Brian dan melayangkan pukulan bertubi-tubi.Aku mendekat pada Luvi langsung memeluknya, Luvi terisak-isak di pelukanku.Aku menenangkannya, mengusap punggungnya berharap bisa meredakan sesak di jiwanya. "Aku takut, Sen" gumamnya yang cukup ku dengar jelas meski pelan, padahal aku yang sedang memeluknya. Mungkin dia syok.Aku terus mengusap "Tidak apa, kamu sudah aman sama kami" ucapkuLalu dengan tarikan sedikit tersentak, tanpa aba-aba Sena langsung menarik Luvi kedalam pelukannya dengan erat."Kamu tidak apa-apakan? Kamu sudah aman sekarang sama aku"Tangis Luvi semakin nyaring, ia menganggukkan kepalanya "Sena, aku takut" paraunyaIa masih menangis sesenggukan dalam dekapan sena, ku lihat Sena mencium puncak kepalanya, melihatnya hatiku seperti diremas.Suara batuk dari Brian mengalihkan pandanganku terhadapnya, tampak ia terkapar dengan beberapa luka dan darah. Itu pasti sakit sekali.Ia bangkit duduk, memegangi perutnya dan terbatuk kembali."Kau lihatkan mereka. Itu yang ku rasakan" aku menatap Brian mengangkat alis tidak mengerti maksud perkataannya, tapi aku menatap Sena dan Luvi lalu kembali memandang Brian."Aku tidak akan melakukan hal serendah ini, hanya aku harus berpura melakukannya agar semuanya jelas"Aku sungguh tidak mengerti maksud perkataannya."Tidak ada kalimat pembenaran untukmu" balasku sambil menatap Sena dan Luvi yang kini sedang terduduk saling mengusap menenangkan."Mereka saling mencintai. Kita hanyalah penghalang mereka" ucapnya lagi dengan tertatih "Tapi terserah kau saja"Aku menatap kembali ke arah Sena dan Luvi. Mereka bahkan tidak menghiraukan aku disini, perlakuan Sena saat menarik Luvi tadi juga tidak mempedulikan keberadaanku.Menatap mereka begini, membuatku tertampar kenyataan bahwa tak ada pertemanan antara lelaki dan perempuan tanpa cinta di dalamnya.Mungkin mereka bisa saja mengelak, tidak ada perjodohan ataupun semacamnya, tapi lelaki dan perempuan bersama selama bertahun-tahun menumbuhkan rasa tanpa disadari.Tak sadar, air mataku menetes, kenapa sesakit ini rasanya.Aku berjalan ke arah Sena dan Luvi. "Luvi, kamu baik-baik sajakan?" Tanyaku sambil duduk disebelahnya dan ia hanya mengangguk.Lalu Sena mengajak kami pulang dengan merangkul Luvi dan aku mengekori di belakang mereka. Betapa bodohnya aku, kenapa baru benar-benar sadar."Pita, duduk di belakang tidak apakan? Luvi di depan" ucap SenaAku mendongak menatapnya sambil menggigit bibirku berusaha menahan sesak, tapi juga mengangguk "Ah, baiklah" jawabku, kenapa jadi mellow beginiUsai beberapa malam itu aku terus berpikir mengenai hubungan kami, bahkan Sena selalu menghibur dan bersama Luvi. Mereka bahkan lupa jika hari ini adalah jadwal keberangkatanku untuk ke Medan karena cita-citaku. Tak apa setidaknya, aku sudah mengingatkan melalui pesan singkat.Saat aku sudah di bandara menunggu jadwal keberangkatan, Sena memanggilku juga disana bersama Luvi."Sayang, maaf aku lupa sampai tidak mengantarmu" ucapnya, orang tuaku sudah kembali karena ada urusan mendadak"Tidak apa, tadi aku diantar sama orang tuaku kok""Pita, maaf aku juga lupa" ungkapnya ia memelukku "Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu"Aku menganggukkan kepalaku. Lalu aku menghampiri Sena, "Maaf ya, selama ini aku kurang peka dengan hubungan kalian""Kamu ngomong apa sih?" Tanya Sena"Kamu dengan Luvi. Hubungan kita sampai sini saja ya. Kalian harus mulai peka terhadap satu sama lain""Pita, aku dan Sena hanya..."Aku menggeleng, "Aku tahu kamu, Vi. Kamu harus percaya sama aku." Potongku cepat, sialnya air mataku menetesSena memelukku, "Maafin aku.""Suatu hari nanti kita bertemu, kita akan jadi orang asing. Jangan tegur aku jika kamu bisa" tukasku menatapnya namun dia menggeleng.Suara keberangkatanku diumumkan, aku mulai berjalan masuk tanpa menoleh ke belakang lagi, tak ingin mendengarkan ucapan Sena maupun Luvi. Aku sudah berusaha merelakan.Bahkan saat aku kuliah di Medan, tepatnya di semester akhir, aku bertemu dengan Brian. Ia hanya sedang berlibur beberapa hari ke rumah saudaranya, bertemu denganku yang sedang jalan ke mall di Medan. Percakapan singkat kami terjadi, mengapa dia berbuat seperti itu pada Luvi.Bahkan aku juga mempertanyakan perempuan yang pernah dibicarakan Luvi kala itu, tapi Brian hanya menjawab ia adalah sepupunya yang di Medan ini.faktanya saat itu, ia berusaha meyakinkan Luvi bahwa Sena dan Luvi saling mencintai namun Luvi selalu menyangkal. Hingga ia berpura mengajak Luvi untuk melakukannya, Luvi berlari menolak dan ia menelpon Sena. Brian memberikan sedikit waktu pada Luvi hingga kami datang ia segera menarik Luvi berpura akan melakukannya.Dan ku dengar darinya, jika Luvi berangkat ke Amerika lalu menikah dengan teman di kampusnya itu sesama pelajar indonesia. Sejak saat itu aku memang memutuskan hubungan dengan mereka.Kini, saat ini, aku tertarik dari khayalanku di masa lalu.Kini di hadapanku tampak Sena, kami saling menatap di tepi pantai ini, sudah bertahun-tahun berlalu tapi wajahnya masih juga rupawan, sinar senja yang memantul menjadi saksi bisu kami bertemu.Mungkin sudah 6 tahun sejak pertemuan terakhir di bandara itu, namun dilihat ia semakin tampan saja, tubuhnya juga masih tegap sama seperti dulu. Tatanan rambutnya sedikit berubah tapi tak jauh."Mama..." Panggil anakku, Devan berusia 2 tahun.Aku menoleh langsung mengangkatnya ke gendonganku, "Papa beliin kita es krim" adunya padakuTak lama suamiku, Arta. Datang menghampiriku "Ayo kita kembali ke hotel, anginnya mulai dingin" Aku mengangguk mengiyakan, Devan di ambil alih oleh Arta. Kami memang sedang berlibur di Bali.Aku kembali sejenak menatap Sena yang sepertinya ingin menyapaku tapi ia ragu. Saat aku berbalik berjalan, ada suara lembut menyapa di telingaku"Ih.. Sena aku cari kemana-mana ternyata disini. Ayo kitakan baru saja menikah. Jadi harus bersama terus"Aku menolehkan kembali kepalaku sejenak menatap mereka, menyunggingkan senyuman padanya dan di balas anggukan senyuman pula untukku.Pada akhirnya, kami hanyalah seorang figuran dalam kisah kehidupan kami.Sena yang ku kira adalah tokoh utama dalam ceritaku, juga Luvi sahabat tokoh utama, ternyata mereka hanya figuran. Pemanis cerita cinta singkat kami.Di masa putih abu-abu.End
Menyekap Rasa 2
Aku berjalan mengikuti langkahnya, ia cepat sekali berjalan. Ini sudah malam dan aku sama sekali tidak mengetahui tempat ini, lebih tepatnya pertama kali datang kesini.Suara burung gagak menambah bulu kudukku semakin naik, belum lagi angin berhembus menggerakkan dedahanan di sekeliling yang menciptakan sensasi aneh di malam hari. Oh ayolah, ini sudah pukul 10 malam."Renal, kamu gak lagi berusaha buat ninggalin aku, kan?"Tadi kami ada urusan meninjau lapangan bersama, lokasi ini cukup seram karena banyak pepohonan. Kabarnya, ini akan dijadikan tempat wisata asri. Harusnya memang tadi siang kami sudah sampai tapi akibat beberapa kendala jadi sampai malam kami baru selesai. Belum lagi menunggu para petinggi lainnya, sungguh melelahkan."Oh ayolah Tasya, lihat mobilnya terparkir di sana. Udaranya dingin"Aku menepuk keningku, benar. Kenapa aku saat ini jadi penakut sih.Langsung ku bergegas berlari menuju mobil Renal "Cepat buka, Renal!" TeriakkuAkhirnya lega sekali sudah di dalam mobil.Renal segera menghidupkan mesinnya, dan mulai merangkak perlahan meninggalkan proyek."Huh.. Lega banget" desahku"Tumben, biasanya kamu pemberani"Aku terkikik geli, mungkin ini akibat aku sering menonton maupun membaca kisah horor "Penakutkan manusiawi" tampikkuIa hanya menganggukkan kepalanya sambil tetap fokus menyetir."Sya, makan dulu ya sebelum cari hotel. Laper juga ni""Oke. Aku juga laper banget sebenernya cuma malu aja mau bilang" ucapku sambil tertawaDiapun ikut tertawa "Gayaaa syekali anda""Itu aja nasi goreng, enak deh kayaknya malam-malam gini" sarankuDi depan sana terdapat beberapa gerobak penjual makanan, Renal memberhentikan mobilnya kamipun segera turun.Memesan nasi goreng dengan pelengkap minum teh manis hangat."Sudah seperti orang tua, minum kita teh manis" candakuRenal tertawa "Ngejek akukan? Kamu kan tau aku suka ngeteh"Ya aku tahu, karena sedari dulu aku sudah berteman dengan Renal.Tak lama pesananpun datang dan kami langsung melahapnya, kelaparan tentu saja melanda kami jika dari tadi kami belum sempat makan."Loh, Tasya Renal" ucap seorang perempuan menghampiri kami"Eh. Ya ampun. Windy, kan?" TanyakuIa mengangguk antusias "kalian kok bisa sampai sini? Jauh banget mainnya sampe Bandung. Padahal di Jakarta juga banyak yang jual nasi goreng" ucapnya sambil tertawaWindy tetaplah Windy, dia adalah teman SMA kami. Orangnya seperti ini, suka sekali berbicara tanpa jeda. Tapi tak urung ia baik hati. Saat di Jakarta dulu ia menemani neneknya, namun setelah neneknya tiada, ia kembali ke Bandung."Oh aku tahu, kalian lagi Honeymoon ya? Parah sih, nikah gak ngundang aku"Wah... Ternyata dia tidak berubah. Masih saja suka menyimpulkan tanpa sebab dan masih belum memberi cela untuk kami menjawab"Kamu apa kabar, Wind?" Tanya Renal"Sehat dong" jawabnya "Kalian juga sehatkan?" Tambahnya"Sehat juga ni. Seneng deh bisa ketemu kamu disini" ucapku"Eh kalian honeymoon kenapa bajunya formal banget. Pake kemeja, celana bahan, blazer, apa-apan itu?"Aku tertawa geli "Kami tadi ada kerjaan, Wind" balasku, Renal juga tertawa geli tapi tidak menjelaskan"Oh sweet banget kalian. SD, SMP, SMA, kuliah sampe kerjaanpun barengan""Kita belum nikah, Wind" jelasku padanya" What ! Ih Renal kok gitu" cecar Windy"Aduh.. Wind. Pusing aku. Tanya aja sendiri sama Tasya." Balas Renal"Ah gak seru Tasya, aku aja bisa liat loh Renal terbaik." Ucapnya "Tapi tenang Renal, aku jomblo ini. Baru putus. Kalau Tasya gak peka. Bisa banget sama aku. Apalagi kamu juga jomblokan? Makin seneng akutuh" tambahnya sambil tertawa"Boleh. Sini deh no wa kamu"Hah! Jawaban apa itu Renal. Katanya kamu mau berjuang buat aku, kok begitu.Seperti dikatakan Windy, aku dan Renal bersahabat sedari dulu. SD, SMP, SMA, Kuliah hingga bekerja aku selalu terlibat bersamanya, selain itu rumah kami berdekatan. Berbicara tentang Renal, saat itu Renal menyatakan perasaannya padaku ketika tak lama aku bermasalah dengan pacarku, tepatnya mantan pacarku.Bisa dibilang waktu yang tidak tepat, tapi begitulah faktanya. Mengingat hal itu, Roki aka mantanku pasti sudah bertunangan dengan Caca, anak teman ibunya.Menyebalkan bukan? Dan Renal katanya akan berusaha membuatku menerimanya tapi kenapa malah begini.Renal itu memang cuek, terkesan tidak peduli tapi sejujurnya dia orang yang humble juga hangat. Kesan yang sulit ditemukan pada orang lain dan itu yang membuatku bertahan untuk selalu berteman padanya." Tenkyu , Ren." Balas Windy ku lihat ia mengambil ponselnya dari Renal."Eh aku juga mau no kamu" sahutku sambil menyerahkan ponselku "No kamu gantikan" tambahkuWindy tertawa "Iya, ponsel aku hancur setelah di banting mantanku dulu, bukan mantan yang ini ya. Trus hilang kontak sama kalian" ia dengan cepat mengetikkan no nya padakuSegera ku hubungi no itu lalu berkata "Itu no aku""Yauda aku duluan ya." pamitnya berjalan, tapi tak lama memalingkan wajahnya pada kami "Renal, nanti aku hubungi kamu ya." TambahnyaRenal tertawa lalu mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya.Aku menggelengkan wajahku "Dari dulu Windy gak berubah ya. Tetap aja lucu""Tapi Windy banyak berubah ya" Ucap RenalAku melihat ke arahnya, ku lihat Renal masih melihat Windy yang masuk ke dalam mobilnya "Makin cantik ya" lalu kembali melahap nasi gorengnyaAku mengangguk, benar Windy memang makin cantik. Aku kembali melahap nasi gorengku juga.Tak lama, acar berpindah ke piringku. Tentu saja Renal pelakunya. Aku tersenyum sejenak, "Terima kasih"Aku memang sangat menyukai acar jika makan nasi goreng."Dihabiskan. Setelah ini ga ada drama lapar tengah malam ya, Sya"Aku terbahak lalu menggoyangkan bahuku mengenai tubuhnya "Ah Renal.. Suka gitu" ia juga ikut tertawa sambil mengambilkan tisu mengelap sudut bibirku.Akhirnya kamipun selesai, segera mencari hotel terdekat karena tubuh kami memang sangat letih. Ini adalah malam sabtu, besok libur tentu saja. Tapi pulang ke rumah juga bukan pilihan yang tepat karena seharian ini kami sudah sangat bekerja keras ditambah hujan lebat mengguyur jalanan.Akhirnya kami menemukan sebuah hotel tidak besar lebih tepatnya seperti motel. Aku dan Renal segera masuk, tak sabar ingin merebahkan tubuh. Menunggu Renal memesan kamar."Ayo, Sya." Ucap Renal, ku lihat resepsionis tersenyum meledekku. Entahlah mungkin hanya firasatku"Kamar berapa? Letih banget aku"Renal menggaruk tengkuknya "Sya, jangan marah. Kamar sisa 1 jadi""Ha? Terus gimana?""Ya gimana? Sudah letih banget kalau kita keluar lagikan"Aku menganggukkan kepala, ya sudahlah. Lagipula tidak akan terjadi apa-apa juga antara aku dengan Renal. Aku tahu banget siapa dia. Dulu juga kami pernah berbagi kamar saat SMA, aku yang takut menginap dirumahnya lalu malah menonton horror. Dia bisa menjaga batasan, malah aku yang tidur tanpa sengaja memeluknya, memalukan.Begitu tiba di kamar, aku melepaskan sepatuku melompat ke kasur. "Ya ampun lega banget" desahku"Bersih-bersih dulu kali, Sya."Aku menepuk sisi ranjangku, "Sini deh, Ren. Nyaman banget dijamin malas bersih-bersih"Renal tertawa geli "Aku bisa khilaf, Sya. Kamu tidak lupakan mengenai perasaanku?" BalasnyaAku terdiam mengatupkan bibirku rapat, aku sedikit melupakan itu karena kami biasa bercanda ria. Ku tatap wajahnya yang sepertinya memang tidak bercanda hanya saja terselip nada canda saat ia mengatakannya."Ren... Mm.. Aku"Cup.Ia mengecup keningku membuatku terdiam sejenak lalu menatapnya. Ia hanya tersenyum lalu berlalu memasuki kamar mandi.Aku menutup wajahku dengan tangan, lalu menelungkupkan wajahku pada bantal menggoyang-goyangkan kedua kakiku.Oh kenapa aku salting?Dulu gak begini deh perasaan.Sudah deh mending tidur aja, rilex Tasya.---Dering ponsel mengusik tidur lelapku, posisi ini beneran nyaman. Aku terbangun dengan posisi memeluk Renal, tanganku mencari-cari ponsel lalu melihat siapa yang menghubungi sepagi weekend ku ini.Aku bangkit duduk di ranjang menghela nafas karena terpampang nama Roki di layar ponselku.Huh! Ada apa sihKu akui beberapa waktu belakangan ini dia selalu menghubungiku tapi selalu ku abaikan.Ayolah.. Dia sudah bertunangan. Untuk apa lagi?"Kenapa gak di angkat sih, Sya? Berisik banget" suara serak Renal mengintrupsi, aku menoleh ke arahnya"Roki" jawabkuDiapun bangkit duduk, "Mau apa lagi sih dia? Gak bosen apa" tersirat nada cemburu di wajahnya sedikit menggelitik hatiku membuatku senangEh tadi aku bilang apa? Senang?Tapi kenapa?Gak, gak, gak. Aku gak boleh begitukan"Angkat ajalah, siapa tau penting" sarannyaAku menekannya, memutuskan untuk menjawabnya"Ya?" Tanyaku" Hallo, Sya. Syukurlah kamu angkat ""Ada apa, Ki?"" Bisa kita bertemu sebentar?"Aku mengerutkan glabelaku, "Untuk?"" Ada hal penting, boleh?"Aku menghela nafas, "Roki, aku rasa kita sudah berakhir, aku tidak enak pada Caca. Jadi tolong kita akhiri saja" putusku" Sya, Aku masih mencin " ku akhiri sepihak, aku sudah tahu apa yang ingin dia sampaikan.Jika dia memang benar-benar tidak bisa bersama Caca, lalu kenapa melanjutkan? Itukan sudah keputusannya dari awal."Sya.. Aku rasa kamu perlu berdamai dengan keadaan." Ucap Renal"Aku sudah berdamai, Ren. Aku juga sudah mulai mengikhlaskannya kalau kamu lupa, tapi lihatlah"Ia memegang bahuku, mengarahkannya ke hadapannya "Bilang sama aku, kalau kamu sudah gak cinta sama dia?"Aku terdiam, tidak mengerti harus berkata apa.Tapi jika ditanya perasaanku, bohong sekali jika aku berkata tidak mencintainya. Sudah 3 bulan lamanya, tapi aku rasa perasaan ini masih ada.Tapi aku rasa juga tidak. Sungguh aku tidak mengerti.Dia melepaskan tangannya, "Gak bisa jawab? Bimbang?" Lalu ia tertawa kecil tapi terlihat terluka dan sungguh aku tak menginginkan itu"Kamu masih cinta sama dia, Sya. Jadi untuk apa membohongi diri? Temuilah Roki" tambahnya lalu bangkit menuju kamar mandi meninggalkanku yang termangu akan jawabannya.--Sudah dua minggu ini Renal seperti menghindariku. Apakah aku ada salah dengannya?Sepulang dari kegiatan proyek lalu sepertinya kami masih baik-baik saja.Tadi ketika aku mengetuk ruangannya, berniat untuk mengajaknya makan siang tapi ia menolak mengatakan sudah ada janji dengan seseorang.Satu hal baru yang kini ku ketahui, sekarang ia adalah direktur di perusahaan ini. Lebih tepatnya ternyata ini salah satu anak perusahaan milik kakeknya. Ia tidak pernah menceritakan ini, mungkin karena aku bukan siapa-siapanya kan?Lupakan soal ini, yang paling menyebalkan adalah ia janji makan siang dengan Windy. Ah sedekat apa mereka sekarang ini? Bukankah baru bertemu dua minggu yang lalu.Tentu saja, mereka sudah bertukar nomor ponsel.Dan kini aku sedang di cafe yang sama dengan mereka, cafe yang tidak jauh dari kantor. Memandang mereka yang tengah asik berbincang.Jangan katakan aku mengikutinya, sudah ku katakan bahwa ini letaknya tak jauh dari kantor.Tapi Windy kan temanku juga, kenapa mereka tidak mengajakku?Kenapa juga Renal merahasiakannya? Biasa juga kami selalu berbagi cerita.Dari mulai zaman sekolah hingga kini, kami selalu bersama. Berbagi keseharian.Aku menghela nafas, untuk apa juga aku bertanya-tanya. Biasa juga tidak begini. Saat bersama mantan-mantanku juga aku tidak peduli dengannya, karena dia juga akan selalu disampingku.Ah sial. Ternyata aku baru sadar temanku hanya Renal.Aku menunduk memegang bibir cangkir tehku, mengusapnya perlahan. Menstruasi membuatku mellow."Kebiasaan kamu gak berubah ya, Sya?"Aku kembali mendongak, "Roki?"Ia duduk di hadapanku, "Senang sekali akhirnya bisa bertemu denganmu. Akhir-akhir ini aku selalu menunggu kamu. Tapi aku lupa kamukan lebih sering makan di kantin kantor"Aku hanya diam, ada benarnya. Aku biasa malas untuk keluar tapi kini entahlah.Roki memegang tanganku yang langsung ku tarik. Aku menggeleng tanpa kata."Sya, please..." MohonnyaAku menggeleng "Maaf, Ki. Aku gak bisa'"Aku menyesal, Sya. Aku uda batalin sama Caca."Aku menatapnya tidak percaya, sependek itu pemikirannya. Aku mendengus tak percaya, mengalihkan ke arah lain yang sialnya malah terlihat kemesraan antara Renal dan Windy.Hey apa-apaan itu Renal kenapa mengusap sudut bibir Windy? Ada tisu kali bisa sendiri. Biasa juga Renal begitu padaku. Sedikit aneh melihat Renal begitu, biasa juga sama aku."Sya, Aku ingin kita seperti dahulu" ucap Roki lagi."Ki, harusnya itu yang kamu katakan dahulu. Kemudian, ibumu juga tidak merestui kita. Kamu paham gak sih? Ibumu maunya Caca yang menjadi menantunya." Ucapku menggebu-gebu, lumayan untuk pelampiasan amarahku.Eh tapi kenapa juga?"Tapi aku sadar, aku bener-bener maunya kamu, Sya. Tolong pertimbangkan lagi"Kini aku sadar, perasaanku pada Roki sudah hilang tak tersisa entah pergi kemana. Melihatnya sungguh membuatku muak."Maaf, Ki. Aku gak bisa. Jam makan siangku sudah habis."Aku bangkit dari kursiku, tangan Roki menahanku, "Sya" ucapnya dengan tatapan memohon yang membuatku sekali lagi untuk mengatakan muak dalam hati karena Caca juga mengekori Roki sampai disini.Aku melepaskan cekalan tangannya dari tanganku "Itu Caca sudah datang ke sini, Ki" lalu aku pergi meninggalkannya. Berpapasan dengan Caca dengan pandangannya yang penuh permusuhan.Aku berjalan keluar cafe, tanganku kembali di tahan seseorang yang ku yakini pasti Roki. "Akukan... Renal?" Ucapku"Ayo kembali ke kantor bareng. Daripada jalan kaki" ucapnya, padahal cafe ini kurang lebih berjarak 200 meter saja."Wind, aku duluan ya? Maaf ya gak bisa antar" ucapnya pada Windy"Ah iya tidak apa, santai aja" balasnya"Kalau tau kamu disinikan bisa bareng, Sya. Gak bilang sih" kata Windy padaku"Ah aku juga tidak tau kalian disini" kilahkuWindy mengangguk "Yasudah lain kali aja kita makan bareng ya. Byee.." ucapnya padakukemudian ia menatap Renal sebelum berlalu " See you "Ku alihkan pandanganku pada Renal, "Apa sih? Kenapa tidak mengantar Windy saja"Renal hanya tertawa kecil tanpa menjawab membuatku semakin kesal. Ia membukakan pintu mobilnya padaku lalu aku masuk. Kembali ke kantor, sampai di parkiran, ia ingin turun aku mencegahnya dengan memegang tangannya."Ren, kamu kenapa sih dua minggu ini menghindariku? Oh aku tahu, karena posisi kamu uda Direktur ya jadi gak mau temenan sama aku lagi yang staff biasa""Apaan sih, Sya" balasnya dengan nada protes"Aku yakin kamu tau maksudku, kenapa menghindariku? Aku ada salah ya""Sya, kita sudah dewasa. Aku rasa tidak sepantasnya kita seperti ini, kan?" Katanya dengan suara yang dalam sambil menatapku, lalu mengalihkan tatapannya pada tanganku yang masih menggenggam lengannyaAku menggigit bibirku lalu melepaskannya, "Renal, bukankah kita biasa saja selama ini?" TanyakuIa mengangguk, "Kamu mungkin begitu, Sya. Tidak denganku. Aku rasa aku juga butuh pelabuhan terakhir untuk melanjutkan hidup"Aku menatapnya bingung. Kenapa Renal sikapnya aneh sekali."Aku yakin kamu mengerti. Aku juga gak bisa terus di samping kamukan Sya? Suatu hari nanti mungkin kita akan punya pasangan masing-masing." Jelasnya"Ren, dari dulukan meskipun kita punya pasangan kita tetap temenan" kilahku"Kamu harus tahu ini, Sya. Bu Karmila yang terhormat itu akan mencarikan istri buat aku kalau-kalau sampai akhir ini aku belum bisa bawakan calon menantu untuknya" jelas Renal padaku, aku tahu nada ucapannya terlihat kesal terbukti dia kesal pada ibunya sehingga menyebutnya bu Karmila"Terus apa kita harus mengakhiri pertemanan, Ren?""Bu Karmila bilang, dia gak akan dapatkan calon menantu kalau aku terus sama kamu.""Kenapa mama kamu gak jodohin kita aja?" Tanyaku dengan spontanTapi benarkan? Aku mengenal bu Karmila sudah pasti. Kami juga sudah berteman lama. Juga sering pergi bersama.Renal tersenyum geli "Emang kamu mau sama aku? Kemarin kan kamu nolak aku"Aku salah tingkah di buatnya, selama ini aku dengan Renal dekat, sangat tapi sepertinya tidak pernah begini. Renal selalu perhatian dari dulu tapi kami selalu layaknya teman.Tapi satu hal yang sangat ingin aku tahu."Aa.. ee.. iya. Tadi bertemu Windy ngapain?""Kamu cemburu?""Enggak" sanggahku dengan cepatIa mengangguk-anggukkan kepalanya, "Dia salah satu kandidat calon menantu Bu Karmila""Ha? Apa!" Pekikanku tak sadar begitu saja. Oh Tuhan sempit sekali dunia itu"Terus kamu mau?" Tanyaku tak sabarDia mengangkat bahu acuh "Ya mau gimana, cuma dia satu-satunya orang yang masuk di akal jika aku menerimanya. Ya setidaknya aku sudah kenal. Mmm.. kecuali...."Ia menggantung ucapannya, "Kecuali?" TanyakuDia hanya diam, tapi tatapannya begitu dalam padaku. Aku bahkan tidak dapat menafsirkan tatapannya, tatapan Renal yang sama saat ia menyatakan perasaannya.Kemuadian tatapannya naik turun dari mata ke bibirku, oh aku tidak tau harus bagaimanaSelama beberapa detik begitu, tapi aku mulai sadar saat bibir kami bertemu.Awalnya sebuah kecupan ringan tanpa protes dariku, dia mulai melumatnya perlahan tapi pasti. Yang mulanya aku diam, kini aku membalas ciumannya. Tanganku ku kalungkan ke lehernya, tangannya menarik tengkukku guna memperdalam ciuman kami. Lama kelamaan ciumannya seakan menuntut."Ahh.." lenguhan tak sadar keluarIa semakin bersemangat mencecapnya, hingga ia mengangkatku ke pangkuannya, entahlah kemahirannya datang dari mana yang jelas saat ini setan apa yang merasukiku. Tapi aku sungguh menikmatinya.Renal melepas tautan bibir kami, nafas kami terengah-engah akibat ciuman itu. Ku lihat tatapannya menggelap menatapku. Matanya memandang lekat mataku."Ren..." Kataku terhenti kala bibir itu kembali memagut bibirku, menyalurkan hasrat yang menggelap di matanya. Ciuman kami kembali panas, dari ciuman ini aku dapat merasakan cinta yang diberikan Renal.Perlahan kecupannya turun ke leherku, aku mendongakkan kepalaku agar ia dapat menjangkau sisi lainnya sedangkan jemariku meremas rambutnya. Saat tangannya ku rasakan membuka kancing kemejaku, atensi kepalaku lansung tersadar bahwa saat ini kami sedang di parkiran.Aku mendorongnya pelan, "Ren... Cukup. Kita di parkiran"Umpatan lirih ku dengar dari mulutnya, sungguh sisi liar Renal yang baru kali ini ku ketahui. Dan ini cukup menggangguku.Ia mengusap pelan bibirku dengan ibu jarinya yang kuyakini bibirku terasa bengkak olehnya.Menyadari posisiku yang tengah duduk di atasnya, akupun melepaskan diri kembali pada posisiku yang semula.Aku memijat pangkal hidungku menelungkupkan kepalaku, menutup wajahku dengan tangan.Sungguh aku malu bukan kepalang.Ku dengar tawa kecil dari Renal tapi sepertinya aku ragu jika ia menyesalinya.Aku menatapnya sejenak lalu menghela nafas, rasanya sesak mengingat ia akan di jodohkan oleh orang lain."Mm.. Jadi kamu terima jika dijodohkan oleh orang lain?"Ia hanya mengangkat bahu tanpa mengatakan apapun.Aku menghela nafas perlahan lalu turun dari mobilnya, ku lihat ia tidak turun melainkan menjalankan kembali mobilnya entah kemana, kemudian berjalan memasuki kantor duduk di kubikelku mengerjakan pekerjaan yang tertunda.Tapi nihil, pikiranku tidak bisa fokus. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku benar-benar tidak akan berteman lagi dengan Renal.Atau mungkin, hidup tanpa Renal.Ponselku berbunyi menampilkan nama Windy sebagai penelponnya. Dan segera ku angkat."Ya?"" Maaf menghubungimu di jam kerja. Aku hanya ingin bertanya, Renal sukanya apa ya? Maksudku ia suka penampilan perempuan yang bagaimana?" Tanyanya di seberang sana. Aku menunggu kelanjutan ucapannya" Mmm.. ini sedikit mengejutkan sih, tapi kami ya bisa dikatakan di jodohkan begitu. Nanti malam kami rencana ingin makan malam bersama. Jadi aku ingin terlihat cantik " ucapnya sambil sedikit tertawa disana." Sebenarnya ya, Sya. Aku dari dulu suka sama Renal. Tapi kalian selalu bersama buat aku patah hati. Tapi sekarang malah begini ceritanya " tambahnyaUhh aku yakin disana dia pasti kesemsem gitu. Aku tahu sih dia memang suka Renal dulu, terlihat dari gestur tubuhnya. Belum lagi terkadang dia suka salah tingkah. Aku sih bodo amat tapi kenapa sekarang aku yang ketar ketir yaIh.... Apaan sih." Sya " panggilnya di seberang sana"Eh.. Iya, Wind" sahutku" Jadi Renal suka perempuan yang bagaimana?"Tentu saja sepertiku, iyakan?"Mm.. Aku juga tidak tahu pasti, Wind. Tapi dandan semaksimal mungkin saja" ucapku pada akhirnyaDia tertawa diujung sana sebelum menjawab " Iya sih, setidaknya aku juga harus berusaha menarik hati diakan" tukasnyaPanggilan telah berkahir beberapa menit yang lalu, aku sungguh tidak fokus lagi disini. Aku harus bertemu dengan Renal.Dan Sebelum kanjeng ratu Renal itu menjodohkan Renal aku harus bicara padanya, melabrak jika perlu. Enak saja dia mau jodoh-jodohkan Renal.Ku lirik jam, 15 menit lagi jam kerja usai. Ah bodo amat aku kabur saja, keburu Renal bertemu dengan si Windy itu.Aku melirik ke kanan dan ke kiri, lalu berlari keluar cepat-cepat pergi menuju kediaman kanjeng ratu Renal.Begitu tiba dirumahnya, aku mendengar ucapan ibunya Renal "Kamu mau cari yang gimana lagi? Windy kan sudah masuk kriteria yang kamu sebutkan itu. Lagipula, Tasya itukan gak mau sama kamu" cerca Karmila itu yang di balas dengkusan oleh RenalCepat-cepat aku masuk menyela pembicaraan mereka "Tante, aku mau kok sama Renal" ucapku sambil menggandeng lengan Renal.Tante Karmila berdecak "Jangan bercanda kamu, Sya. Nanti malam kami akan makan malam membicarakan hubungan mereka."Aku menatap Renal mencari pembelaan. Ini aku sungguh-sungguh loh."Aku gak bercanda, Tante. Asal tante restuin sih hehe" ucapnya sambil tertawa di akhirnya karena malu"Lihatkan, ma? Tasya itu suka sama aku. Cuma kemarin lagi bodoh aja" ucapnya lalu ku balas dengan tatapan tajam."Haduh... Pusing mama kalau begini""Tenang, ma. Nanti aku bicara sama Windy" lerai Renal"Yasudahlah. Tasya awas kamu ya jadi menantu tante, nanti tante repotin Shooping bareng" tukasnya lalu berlalu, aku tertawa kecil, gak jadi menantu juga aku sering shopping bareng dia. Renal mana mau shopping bareng ibunya."Jadi, Sya. Lanjutin yang tadi di mobil yuk!" Bisik Renal di telingaku dengan muka tengilnyaAku menatapnya dengan pongah lalu mengangkat tanganku, menggoyangkan jemariku lalu berkata" Buy me ring."ENDDDDDDD
Eidelweiss
Aku duduk sambil menatap monitor, mataku dengan sigap menelisik deretan nama disana mencari hal yang ditanyakan wanita paruh baya di depanku."Maaf, bu. Sudah saya periksa namun memang tidak ada." ucapku menjelaskan karena wanita di depan ini menanyakan seseorang yang informasinya ada di rumah sakit ini."Coba tolong periksa lagi," ia menjedanya sebentar "Ana.. Tolong saya. Informasi yang saya terima begitu"Aku tersenyum tipis karena wanita paruh baya ini memanggil namaku, tidak heran karena seluruh petugas disini menggunakan nametag "Mohon maaf, bu. Namun nama yang ibu sebutkan tidak terdaftar" Jelasku kembali untuk kesekian kalinya. Begini memang jika bekerja dibagian admin yang ada di rumah sakit.Sudah terhitung 3 tahun lamanya aku bekerja disini, rumah sakit yang ada di kotaku yang dapat dikatakan kota kecil, dan tidak heran jika ada pertanyaan yang ditemui beragam seperti pertanyaan wanita paruh baya itu yang menanyakan keberadaan anaknya namun tak satupun ku temui nama itu di catatan kami.Ku lihat wanita itu menghela nafasnya "Baiklah.. Terima kasih" sebelum ia melangkahkan kakinya.Aku kembali mendudukkan diri pada bangku, sebenarnya aku rindu pada seseorang.Seseorang yang telah berjanji untuk menunaikan niat baik kami. Aku percaya, kepergiannya untuk kebaikan kami.Dia yang selalu berkata "Sabar ya"Aku melihat jam yang melingkar dipergelangan tanganku sudah pukul setengah 4 sore itu artinya setengah jam lagi jam kerjaku akan segera berakhir dan aku bisa istirahat di rumah. Dan ini adalah hari sabtu, malam minggu.Ponselku berdering tanda sebuah pesan masuk, menghela nafas ternyata pesan dari provider bukan seseorang yang ku rindukan.Andrew, seorang pria yang berhasil mencuri hatiku. Menjalani kisah empat tahun lamanya lalu berjanji untuk menikahiku. Lebih tepatnya, kepergiannya untuk mencari pundi rupiah agar kami dapat bersatu.Sudah ku katakan kepergiannya untuk kebaikan kami bukan?Telah terhitung pula dua tahun kami menjalani komunikasi jarak jauh. Bahkan aku bekerja disinipun, untuk membantunya mencari uang agar kami dapat bersatu.Awalnya aku tidak ingin menjalani hubungan jarak jauh, seperti kata kebanyakan orang. Long distance relationship hanyalah omong kosong belaka. Namun Ia selalu meyakinkanku dengan ucapannya "Kamu harus percaya"Atau ucapannya "Aku pergi untuk menunaikan janji kita bersama"Atau bahkan yang paling membekas diingatan "Aku pergi tidak dengan sebenar-benarnya. Aku akan kembali kepadamu"Namun sudah sepekan ini ia belum memberiku kabar. Sebenarnya, ia memang jarang memberiku kabar dalam waktu dekat ini tapi aku memakluminya, bagaimanapun ia pergi untuk bekerja. Aku memilih mempercayainya.Terlebih omongan tetangga yang selalu mengatakan tidak ada hubungan komunikasi jarak jauh yang berhasil, bahkan para tetangga sering membandingkan dengan kata-kata "Lihat tu si A, ternyata pacarnya selingkuh. Bilangnya pergi cari kerja tapi malah selingkuh"Yang paling sadisnya "Pacaran tidak pernah bertemu, barangkali hanya mainan"Juga jajaran para temanku selalu mengatakan "Tidak ada hubungan yang baik jika dia jarang memberimu kabar""Dia tidak memberimu kabar itu karena dia juga lagi sibuk sama perempuan lain" merupakan kata yang juga membuatku sedikit gelisah disini. Bagaimanapun kami sudah merencanakan pernikahan.Bukan aku tidak pernah mengutarakan itu pada kekasihku hanya saja ia selalu memiliki kalimat penenang untukku yang berakhir aku memilih kembali mempercayainya.Apakah aku sudah mengatakan bahwa aku begitu mencintai kekasihku itu? Yang anehnya belum memberiku kabar selama sepekan ini dan membuatku gelisah.Jam kerja telah usai, saatnya aku bergegas kembali kerumah. Aku langsung merebahkan tubuhku lalu melihat notifikasi pada ponsel yang sialnya untuk kesekian kalinya tidak ku dapati kabar darinya.Kalau dipikir-pikir hubungan ini melelahkan, juga rutinitas keseharianku yang melelahkan.Tak lama ponselku berdering menampilkan nama yang kutunggu sejak sepekan ini, senyumku terulas dengan mengatakan "Halo"" Halo.. Sudah pulang kerja, sayang?" tanya suara di seberang yang kudengar masih sama.Aku mengangguk seolah lupa yang tengah berbicara tak bisa melihat itu dengan cepat aku mengatakan "Sudah, sayang. Kamu sedang apa?"" Aku.." ia menjeda suaranya, sayup-sayup terdengar suara seperti seorang perempuan. Tapi siapa? Andrew tengah berbicara dengan siapa"Sayang" panggilku namun belum kudapati jawaban dari seberang, seketika hening. Ku tarik ponsel dari telinga untuk memeriksa ternyata panggilannya masih terhubung." Sayang, nanti aku hubungi lagi ya" ucapnya kemudian setelah hening dan memutus panggilan tanpa respon dariku.Aku menghembuskan nafas lelah.Begini, sudah dua bulan belakangan ini dia begitu. Meskipun sedari dulu ia memang tidak pernah romantis terhadapku.Jika pacar kalian datang dengan membawa bunga atau coklat, jangan ditanya, Andrew tidak akan pernah membawakan itu padaku.Jika pacar kalian mengajak kalian diner romantis, dengan berat hati aku tertawa miris. Andrew sama sekali tidak pernah membawaku terbang seperti kalian.Tapi itu sisi romantisnya. Aku menyukai sikapnya yang begitu.Menggelengkan kepala menepiskan segala pemikiran buruk yang terlintas di kepala, dengan merapalkan kalimat "Aku cinta Andrew, ia bekerja"Dahulu aku juga pernah malam minggu bersama Andrew, malam minggu yang berjalan biasa saja. Hanya sekedar berbincang bersama.------Hari ini kembali seperti rutinitas biasa, bekerja. Aku berangkat menggunakan sepeda motor yang telah ku parkirkan. Hari ini aku sengaja datang lebih awal, karena ingin sarapan dulu di dekat rumah sakit karena tidak ingin sarapan di rumah.Aku memilih memakan sarapan di pedagang kaki lima di sekitar rumah sakit, duduk sembari menunggu pesananku datang. Seorang pria, bernama Jason duduk di seberangku. Pria ini memerhatikanku yang ku balas dengan senyuman."Belum sarapan juga, Ana?""Belum, pak" jawabku"Panggil Jason saja kita tidak sedang bekerja" balasnya dengan cepat yang hanya ku angguki. Jason adalah seorang dokter bedah yang belakangan ini mendekatiku, bukan aku baper. Dan aku bukan tidak tahu bahwa Jason sebenarnya menyukaiku namun aku memilih untuk menutup mata karena sudah bersama Andrew."Sepulang kerja ingin berkeliling kota?" tanya lagi dan seperti biasa maka aku menjawab"Maaf, mungkin lain kali ya" tolakku halus dan untuk kesekian kalinya ia hanya mengangguk dan tersenyum lalu kami hanya diam.Tak sengaja aku menatap sepasang remaja yang begitu romantis. Melihatnya aku jadi ingin, Andrew cepat pulang aku ingin seperti mereka.Ah aku jadi ingat, dulu aku pernah makan bersama Andrew berharap kami melakukan hal romantis seperti pasangan lainnya namun untuk kesekian kalinya aku hanya tertawa miris. Mustahil.Kata orang, perut kenyang hatipun senang tapi tidak denganku karena setelah sambungan telepon terputus kemarin hingga kini Andrew belum juga menghubungiku.Ditambah dengan adanya suara perempuan disana, apa yang sedang terjadi?Aku berjalan ke tempat dimana aku bekerja, melakukan hal yang seharusnya ku lakukan."Kusut banget tuh muka" ucap Tiara rekan kerjaku seraya menekuni ponselnyaAku tertawa rasanya ingin menjemput Andrew pulang. Rinduku belum tertuntaskan. Bahkan aku sudah berusaha menghubunginya namun belum ada jawaban."An.. Kamu sudah putus ya?"Aku menoleh "Maksudnya?""Andrew. Ini... Andrewkan, pacar kamu?" ucap Tiara sembari memperlihatkan ponselnya padakuAku mengernyitkan dahi melihat itu, mengerjabkan mata. Tak sadar mataku sudah berkaca-kaca. Apa maksudnya?Foto yang memperlihatkan Andrew berkumpul dengan teman-temannya, iya tidak ada yang salah. Lalu apa maksudnya Andrew duduk bersama seorang perempuan dengan saling merangkul.Memilih tak menjawab Tiara, aku menoleh pada ponselku yang terlihat sepi dan aman tak ada ku dapati satupun pesan dari Andrew.Pantas saja.Beberapa waktu ini ia tidak memerhatikanku, tidak memberiku kabar atau sekedar berbincang.Faktanya ia sedang asik dengan dunianya.Lagi, aku tertawa miris menertawakan suatu kebodohan yang sepertinya harus segera ku akhiri.Aku berjuang melawan segala perkataan orang lain, tanggapan miring tentangnya. Namun disana? Ia bermesraan bersama wanita lain.Inikah balasan yang setimpal akan kesetiaanku padanya?"Kamu tidak apa-apa?" tanya Tiara lagi yang ku balas dengan gelengan kepala dan senyum tulusku.I'm not okay but i'm to be okay.Segera ku ambil ponselku, membuka media sosial mencari fotonya dengan wanita yang tidak ku ketahui siapa namanya. Menutup segala akses agar ia tak bisa menghubungiku.Yang sebelumnya ku kirim pesan dengan kalimat perpisahan dan juga alasan berakhirnya hubungan kami.Dan satu fakta yang seolah menamparku, aku sama sekali tidak mengetahui apa pekerjaannya disana. Jangan salahkan aku karena tidak bertanya itu karena keengganan ia menceritakan pekerjaannya disana.Ia hanya selalu mengatakan "Jangan khawatir pekerjaanku baik-baik saja". Ternyata jarak kami sejauh itu.Aku menyerah."Ana.. Apa kabar?" ucap suara lembut yang mengalun merdu di telingaku menarikku dari daya ingatan."Eh, ibu. Sedang apa?" tanyaku terkejut melihat sosok ibu dari seorang yang kucintai, Ibu Andrew.Ia tersenyum "Baru kembali jenguk teman, Ana bagaimana kabarnya?"Aku kembali melukiskan senyum "Sehat, bu. Ibu juga sehatkan?" tanyaku yang dibalas anggukan dan senyuman tulusnya."Sudah lama tidak main kerumah ya. Nanti kerumah ya? Ibu masakin makanan kesukaan kamu. Kemungkinan Andrew lusa pulangkan"Aku tersenyum "Ana tidak janji ya, bu. Ana usahakan karena sedang banyak pekerjaan" Dan bahkan aku sendiri tidak yakin akan sudi datang kerumah itu terlebih bertemu dengan Andrew. Ia menghianatiku bu. Tentu saja itu hanya mampu ku sebutkan dalam hatiku.Setelah itu ibu Andrew pamit kembali dan aku dengan senang hati mempersilahkannya, karena jika tidak aku takut lepas kendali dan mengatakan sesuatu yang buruk padanya akibat prilaku anaknya yang berkilah bekerja sembari menghianatiku.-----Selepas keputusanku untuk menyerah pada hubungan kami aku tidak baik-baik saja. Tentu saja aku bersedih, hubungan yang telah kami jalani harus berakhir dengan adanya pihak ketiga.Kabar yang disampaikan ibu Andrew benar adanya, ia kembali.Bahkan saat itu ia tidak memberikanku kabar akan kembali. Ia memang mengunjungiku tapi aku melakukan segala penolakan untuk bertemu dengannya.Aku belum siap. Nyatanya hatiku masih selalu memihaknya.Pintu kamarku diketuk menampilkan sosok yang teramat ku cintai masuk"Bagaimana pekerjaan kamu?" tanya ibuku"Baik, bu"Ku lihat ibuku tampak mengatakan sesuatu namun ragu "Katakan saja, bu""Andrew sudah pulang" ucap ibu membuka percakapan kami dan langsung ku angguki"Tadi dia kesini, ingin bertemu dengan kamu. Katanya ada yang ingin di jelaskan padamu"Aku tahu apa yang ingin di jelaskan olehnya tapi rasanya hatiku sakit, aku sudah terlalu dalam mencintainya tapi ia..."Dia menghianati Ana, bu" cicitku pada ibuku lalu memeluknya bahkan tak sadar aku menangis di pelukan ibuku.Ini sangat menyesakkan dan aku tidak menyukai perasaan ini."Sudah meminta penjelasan padanya?" tanya ibuku sambil merenggangkan pelukan kami. Aku menggelengkan kepalaku dan ibu membantuku mengusap lelehan air mataku."Cobalah temui Andrew besok dan meminta penjelasan padanya" saran ibuku.Haruskah?"Tiana anak ibu yang bijak, kan?" tanya ibuku tampak tersenyum "Ibu ingat dulu semasa kecil teman kamu pernah berebut mainan lalu kamu menengahi mereka agar tidak bertengkar dengan memberikan solusi menggabungkan mainan bersama dan main bersama" ibu menjedanya dan menatap ke arahku "Ibu yakin kamu bisa mengambil keputusan yang lebih bijak." tambahnya lalu meninggalkanku sendirian di kamar.Benar-benar sendirian, hanya berteman dengan luka yang menganga ini. Aku mencintai pria itu namun kenapa seperti ini?Tapi apa itu artinya ibuku menyuruhku menemuinya dan menyadari keputusanku itu juga salah. Aku memang belum mendengar penjelasannya, aku akui itu.Tak sengaja mataku menangkap bunga pemberiannya padaku semasa dulu awal ia mendaki gunung bersama teman-temannya, mungkin di awal masa pacaran kami.Bunga Eidelweiss.Pria itu selepas pulang langsung menemuiku hanya untuk memberikan bunga itu, ia berucap "Kamu tahukan bunga ini?""Eidelweiss, orang juga menyebutnya bunga Abadi, kan?" balaskuIa mengangguk dan tersenyum "Aku hanya berharap semoga cinta kita tetap abadi. Aku pamit pulang ya"Sialan kamu Andrew! Bisa-bisanya aku tetap memikirkanmu disaat luka yang kamu torehkan ini belum terselesaikan.----Tidak dapat dipungkiri percakapanku dengan ibuku sangat mempengaruhi pikiranku.Aku memang harus mendengarkan penjelasan Andrew terlebih dahulu sebelum memutuskan segala sesuatunya agar tidak menimbulkan penyesalan di akhir nanti, juga sepertinya aku juga masih terlalu dalam mencintainyanya.Atas dasar itu, kini aku telah duduk di teras rumahku bersamanya, Andrew yang baru saja kusuguhkan teh bahkan cangkir itu masih mengeluarkan kepulan asap. Udara malam ini cukup dingin, sepertinya akan segera hujan padahal waktu masih menunjukkan pukul 7 malam."Sayang" panggilnya membuka percakapan yang memang sudah 30 menit terdiam. Pangilannya masih sama, masih juga membuat hatiku bergetar."Jadi apa yang mau kamu bicarakan?" aku menjedanya "Aku tidak punya banyak wak..""Kamu salah paham." potongnya dengan cepatAku langsung menoleh ke arahnya, salah paham kalau dia tidak hanya merangkul wanita lain, begitukah maksudnya."Yang pertama, aku ingin memberimu kejutan makanya tidak menghubungi kepulanganku. Dan aku tidak memiliki hubungan apapun dan dengan siapapun. Hanya kamu" jelasnyaAku berdecih "Lalu? Kamu mau mengatakan kalau kamu tidak sengaja bertemu perempuan itu begitu"Tatapannya melembut ke arahku "Dengarkan dahulu, setelah itu kamu boleh memutuskannya""Jadi maksud kamu memang ingin mengakhiri ini semuakan?"Ia menggeleng dengan cepat "Tidak begitu, aku hanya ingin menjelaskannya dulu. Kamu salah paham.""Aku minta maaf, mungkin belakangan ini kita kurang berkomunikasi" tambahnya"Sudahlah, Ndrew. Aku bahkan tidak mengetahui calon suamiku disana bekerja apa"Ia memegang tanganku yang segera ku tepis, ia menghela nafasnya sebelum bercerita "Jadi sebenarnya disana aku bekerja sebagai supervisor di sebuah gudang pemasaran produk kosmetik yang cukup ternama. Aku tidak mengatakannya padamu karena aku takut kamu semakin salah paham, aku tahu kamu adalah wanita pencemburu." ia menatap ke arahku yang ku balas menatap ke arahnya.Iya tepat sekali itu, aku cemburu. Tapi tetap saja siapa perempuan yang dirangkul itu?"Aku tahu, sekarang bukan itu pertanyaanmu. Mengenai perempuan itu, ia salah satu karyawan disana juga yang tidak sengaja baru putus dari pacarnya dan berencana akan bunuh diri. Jadi kami menolongnya. Bahkan kamu mungkin pernah mendengar suaranya saat aku menghubungimu, itu karena ada kendala di pekerjaan."Aku tertawa remeh, itu jelas sekali berbohong "Andrew, kalian sedang berkumpul disalah satu tempat makan. Lalu kamu merangkul wanita itu, apa aku harus percaya?" balasku tak mau kalahIa menggeleng "Benar kami berkumpul. Tepat saat itu ia ingin bunuh diri. Sebagai rekan kerja, apakah aku akan membiarkannya mati begitu saja?""Tetap saja. Aku..." aku kehabisa kata-kata, karena jauh dalam lubuk hatiku berteriak ingin kembali kepelukannya tapi aku cemburu."Komunikasi kita memang buruk belakangan ini tapi itu murni karena pekerjaan dan kendala disana. Bukan karena wanita lain." ia menggamit tanganku namun kali ini tidakku tolak dengan tatapan memohon ia melanjutkan ucapannya"Beri aku kesempatan ya"Tentu saja. Tapi, mungkin sedikit memberinya pelajaran boleh juga."Aku akan memberimu kesempatan dengan satu syarat" ucapku dengan menyeringaiIa mengerutkan glabelnya "Apa?" tanyanyaAku menahan tawa melihat ekspresinya "Buatkan 1000 candi dalam satu malam" pintaku"Hah?" ia melongo di tempat sebelum berucap " Imposible . Kamu pikir aku Bandung Bondowoso?"Lagi, aku menahan tawa saat ia menyebutkan karakter laki-laki di dalam dongeng roro jonggrang.Aku mengangkat bahu acuh "Ya sudah, kalau kamu tidak ingin kuberi kesempatan"Ia tampak gelagapan "1000 candi?" tanyanya dan aku mengangguk."Dalam semalam?" tanyanya lagi dan aku menganggukBahunya yang tegap menjadi lemas, ya ampun lucu sekali dia. Kira-kira apa yang akan dia lakukan ya? Ah aku tidak sabar."Besok pagi sebelum aku berangkat bekerja kamu sudah harus sampai disini. Siap?"Ia menghela nafas "Kalau tidak bisa bagaimana?" ah ternyara Andrew belum patah semangat, ia ingin bernegosiasi ternyata. Tidak akan kubiarkan. Biarkan saja ia kelimpungan memikirkan itu, lagipula itu hukuman untuknya."Aku akan memikirkannya besok" tutupku pada akhirnya dan ku lihat ia mengangguk lalu mengusap puncak kepalaku"Baiklah. Aku pamit pulang" ucapnya melangkahkan kaki lalu kembali berjalan ke arahku lalu berkata "Tapi buka dulu blokirnya ya, Sayang" dan ku balas dengan dengkusan.Apa yang akan dilakukannya besok ya? Membayangkannya saja sudah membuatku tertawaSeperti ucapanku tadi malam, Andrew benar-benar datang di pagi hari sebelum aku berangkat bekerja.Tapi ada yang aneh, wajahnya kenapa cerah sekali?Tersenyum dengan sumringah menghampiriku dan berkata " I'm coming kesempatan!" sapanya kelewat bahagiaMau tidak mau senyum itu menular padaku "Pede sekali" cibirku"Tentu saja. Ini yang kamu mintakan, Sayang" ucapnya dengan menekankan kata sayang dan menunjukkan maha karyanya yang membuatku seketika terbahak.Kalian tahu apa? Ia menggambarkanku gambar seribu candi di dalam sebuah kertas berukuran jumbo."Coba kamu hitung, pasti ada seribu." ucapnya dengan menaik turunkan alisnya "Beruntungnya aku memahami kalimat perintahmu 'buatkan', makanya aku membuat gambar coba kalau kamu bilang bangunkan bakalan ribet dong" tambahnyaDan membuatku tidak habis pikir dan terus tertawa, aku bahkan tidak seserius itu menyuruhnya. Hanya ingin mengerjainya. Andrew diluar ekspektasiku!"Lalu kita jadi menikahkan, sayang?"Aku tertawa lalu mengangguk "Tapi antarkan aku kerja dulu ya" pintaku lagi dan ia langsung berlari ke arah motornya dan memakaikan kepalaku dengan helm.Ah.. Aku sungguh begitu teramat mencintainya pria ini.End
Complicated Love
Ibukota masih saja setia dengan padatnya kendaraan. Sahutan klakson kendaraan turut menemani sinar mentari pagi menjelang siang ini.Sesekali suara pengendara umum terdengar berteriak untuk memanggil penumpang. Sesekali juga terdengar tawa pejalan kaki.Hari yang indah. Tapi tidak denganku, kakiku bergerak gelisah dibawah sana sesekali mataku melirik arloji."Pak, bisa cepat sedikit tidak?" ucapku pada supir taksi yang ku tumpangi."Maaf mbak, ini sudah cepat tapi jalanan macet"Aku terus saja menggerutu dalam hati, apakah ini adalah akhir dari kisahku dengannya?Mataku menelisik sekali lagi pada surat dan arloji di tangan. Tidak akan ku biarkan dia meninggalkan ku begitu saja. Tidakkah dia tahu aku begitu teramat mencintainya?Menghembuskan nafas dengan segala pertimbangan, aku mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar tagihan argo pada taksi dan segera meninggalkan taksi itu.Aku mempercepat langkahku agar segera sampai pada tempat yang ku tuju.Hingga aku tiba di depan gerbang rumah bernuansa klasik itu"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya..."Kakiku melemas, telingaku berdenging tak kuasa mendengar suara itu. Lekaki yang begitu teramat ku cintai meninggalkanku?Aku terduduk di halaman itu, tak sadar air mataku menetes tanpa bisa di cegah. Meremas surat yang ia berikan berisi surat perpisahan"Kamu penipu, Arlan" lirihku.Ini adalah akhir dari kisah yang sudah kita bangun Arlan, kamu menghancurkan itu.Ya, hari ini adalah hari pernikahan Arlan dengan wanita yang ku tahu adalah pacarnya itu. Jangan salah sangka, aku adalah pacarnya juga. Maksudku, pacar dalam arti sebenar-benarnya.Ia dengan wanita itu yang ku ketahui bernama Mela, dengan nama panjang Melati merupakan wanita yang sengaja di kenalkan oleh orang tuanya.Dan aku? Tentu saja aku adalah wanita yang dicintainya. Ah.. Masih bolehkah aku berkata sombong setelah ditinggalkan olehnya?Rasanya aku ingin tertawa sekaligus menangis."Mbak, jangan duduk disitu. Ayo masuk saja"Intrupsi suara asing yang mengganggu drama sedihku ini. Aku mendongak, sejenak mata kami bertemu.Gilaa... Tampan sekali.Aku segera menggelengkan kepalaku, tetap saja aku cintanya dengan Arlan.Ia mengulurkan tangannya padaku "Ayo, mbak. Saya bantu. Mau masuk tidak? Ada beberapa makanan."Tunggu, dia kira aku ini pengemis apa?"Hari ini keluarga kami sedang berbahagia. Adik saya menikah dengan..."Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya aku segera bangkit, menatapnya dengan nyalang tak lupa menyeka air mata dan hidungku sebab menangisi pria tak tahu malu itu.Aku membalikkan badan tanpa menghiraukan panggilan pria itu dan meninggalkan rumah itu dengan menaiki taksi yang kebetulan berhenti menurunkan seorang wanita.4 tahun kemudian"Dil, dipanggil pak bos tu" seru teman satu divisiku, dengan wajahnya yang cantik tapi mulut lambe turahnya."Ngapain?""Tau dah. Naksir mungkin"Nahkan.. Begitu, selalu begitu. Rautnya tampak tidak suka padaku.Aku segera berlalu menuju ke ruang pak bos, dia ini sungguh tampan. Ah.. Lucu sekali pertemuanku dengannya.Saat itu, aku melamar kerja di salah satu perusahaan. Dan aku nyaris terkena serangan jantung karena yang menginterview ku adalah pria yang saat itu pernah menghentikan drama tangisku ditinggal Arlan. Nuga.Mimpi terburukku.Aku segera mengetuk pintu ruangan itu sebanyak 3 kali, tidak jangan berpikir anjuran agama. Tapi ini perintahnya, jika tidak ada intrupsi maka harus balik kanan. Sama seperti ini tidak ada sahutan, aku memutar tumit kakiku tapi pintu itu terbuka menampilkan pak bosku yang super tampan."Masuklah..." aku bergidik. Pasalnya jika suara ia lembut begini aku takut. Takut diberi proyek yang letaknya jauh dan mengharuskanku ke luar kota hingga berhari-hari.Tapi biarlah.. Aku akan mengerjakan 1 proyek lagi sebelum pengunduran diriku.Ya sudah 3 tahun aku bekerja di perusahaan ini, bagiku bekerja disini adalah pelarianku untuk melupakan rasa sakit hatiku.Nyatanya, hatiku terlalu ringkih untuk dipulihkan. Setelah ditinggalkan olehnya bukan membencinya melainkan semakin mencintainya. Aku berani bertaruh mereka pasti sudah bahagia dengan buah hatinya.Ibuku selalu bersikeukeh untuk aku segera menikah, tentu saja usia 27 tahunku sudah cukup matang untuk menikah. Ia juga menyuruhku untuk berhenti bekerja dan mengikuti aturannya dengan pergi kencan buta dengan salah satu anak dari sahabatnya.Kalau sudah begitu, aku bisa apa? Lagipula aku tidak punya kandidat yang tepat untuk di bawa pulang. Jadi ku pikir tidak ada salahnya mengikuti perintah kanjeng ratu.Sebelum ia mengatakan apapun, dengan sigap aku mengeluarkan amplop putih surat pengunduran diriku padanya.Kulihat ia menaikkan alisnya, "Saya ingin mengundurkan diri, pak" ujarku"Saya memanggil kamu bukan untuk itu. Saya in...""Iya saya akan mengerjakan proyek itu sebelum mengundurkan diri, tentu saja, pak""Bisa jangan di potong?"Aku mengangguk cepat, dia menghela nafas dengan berat. Lalu menumpukan tangannya di atas meja kerjanya."Begini, adik saya baru saja kembali dari Jepang tetapi tidak ada yang menjemputnya. Karena Suaminya tidak bisa ikut pulang dengannya dan saya juga sedang ada rapat penting besok. Bisa kamu menjemputnya?" jelasnya padakuApa maksud dari perkataannya, tidakkah dia tahu bahwa adiknya adalah penyebab perpisahanku dengan Arlan juga drama tangisku di halaman rumahnya saat itu?Ah sekelibat ide muncul, bagaimana jika aku rusak saja wajah cantik adiknya itu dengan kuku indahku ini?Tidak, aku tidak sejahat itu.Tapi tetap saja, aku tidak sudi menjemputnya."Maaf, pak Nuga yang terhormat. Bukankah bapak orang kaya yang bisa saja menyuruh supir untuk menjemputnya." ucapku dengan nada kesal."Saya permisi. Dan ini surat pengunduran diri saya" lanjutku seraya mendorong amplop putih itu.------Sudah seminggu ini kerjaanku hanya rebahan dan maraton drama korea ataupun drama thailand.Sudah seminggu pula, aku berhenti bekerja. Ibuku masih tetap sama, mengingatkan kandidat untuk dinikahin.Akukan wanita? Kenapa harus sibuk mencari.Pintu kamarku diketuk lalu ibuku masuk duduk di pinggir ranjangku"Ingatkan nanti siang ke Rumah Sakit untuk menemui Bian, kan?"Aku menghela nafas sejenak sebelum mengangguk "Bian pria tampan juga baik.. Kamu pasti menyukainya. Ibu juga sudah menyiapkan makanan untuknya, nanti sekalian kamu bawa ya. Malam itu melihat kalian berdua ibu rasa kalian cocok"Aku mengangguk merasa pasrah tak memiliki kalimat pembelaan yang tepat untuk diriku sendiri.Aku memang sudah pernah bertemu dengannya, lebih tepatnya tiga hari yang lalu ia datang menyambangi rumah kami mengantarkan makanan yang katanya masakan ibunya dan berbincang sedikit.Namanya Arbian, pria itu berprofesi sebagai dokter. Yang ku ketahui ia seorang dokter bedah. Orangnya cukup tampan, sopan dan juga supel. Tapi entahlah, ia belum mampu menggetarkan hatiku. Masih tetap Arlan di hati.Dengan begitu aku segera bangkit bersiap untuk menuju rumah sakit menemui Bian.Aku berjalan menelusuri koridor rumah sakit sambil menenteng paper bag berisikan makanan. Aku sudah memberitahu Bian bahwa aku akan mengunjunginya, ya sedikit seperti pacar yang membawakan makan siang. Ia mengatakan bahwa ia sedang ada pasien untuk dibedah, uhh mendengarnya saja aku bergidik. Dan ia menyuruhku menunggu di dalam ruang kerjanya.Tapi kurasa aku perlu ke kantin untuk membeli minuman untuk melegakan kerongkonganku yang terasa gatal.Tapi saat aku tiba disana, langkahku terhenti sistem saraf kerjaku melambat melihat sosok yang sedang duduk disana yang kini juga menatapku.Tuhan... Ada apa lagi ini? Setelah sekian lama aku menghindarinya haruskah aku bertemu kembali.Bagaimana hati ini bisa move on. Pria itu, Arlan. Sosok pria yang sampai saat ini masih kucintai, kini ia semakin tampan mengenakan jas snelinya.Ah.. Apakah itu artinya cita-citanya tercapai? Aku turut senang.Tampaknya ia bersungguh-sungguh saat mengucapkan ingin menjadi dokter. Akan tetapi dokter apa?Melihatnya bangkit dari kursi dan berjalan ke arahku semakin membuat degub jantungku semakin kencang. Ia masih sama, bahkan lebih tampan.Tunggu.. Jika ia berjalan ke arahku harusnya aku menghindarkan? Tapi terlambat ia sudah terlebih dahulu mencekal pergelangan tanganku seraya berkata "Kita perlu bicara" dan menarikku pergi meninggalkan kantin rumah sakit.Kini disini, aku duduk di dalam ruang kerjanya. Sudah 20 menit kami diam tanpa suara, hanya dentingan jam yang terdengar ataupun orang yang berlalu lalang di luar sana."Dila, aku merindukanmu"Aku tertawa singkat "Omong kosong apalagi ini, Arlan?"Raut wajah Arlan sulit dijabarkan, ia menatapku dengan tatapan yang akupun tak mengerti. Seolah-olah akulah yang salah disini."Harusnya itu yang aku tanyakan padamu 4 tahun yang lalu, Dila."Aku tertawa singkat seraya menggelengkan kepala, "Sudahlah, Arlan. Aku ada janji""Tunggu.. Aku belum selesai""Tapi aku sudah selesai" Arlan melihatku menenteng paper bag dan mulai menggapainya dari tanganku."Untuk siapa?" tanyanya namun aku diam tak menjawab"Erdila Novia, untuk siapa?" tanyanya lagi. Kini aku takut dengannya, syarat akan kekesalannya jika memanggil nama lengkapku."Bian" lirihku"Apa kamu mencintainya?"Kenapa ia harus bertanya seperti itu. Apa kalimat yang tepat untuk jawaban pertanyaannya. Sadarlah Dilla, ia sudah menikah."Ya, aku mencintainya" jawaban itu meluncur begitu saja.Ku lihat ia mengumpat tertahan, entahlah.. Bukankah ia sudah memiliki istri mengapa begitu."Apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" tanyanyaAku diam. Aku bahkan masih begitu teramat mencintainya, tapi mana mungkin aku tega menghancurkan istana orang lain demi kebahagaiaan ku."Sudahlah, Arlan" putusku pada akhirnya.Diluar dugaan, ia bangkit menepiskan berkas pada meja kerjanya kemudian ia mengangkatku lalu mendudukkanku di atas meja kerjanya.Tangannya menahan tanganku dengan tubuhnya berada di antara kakiku. Ia menciumku, melumatnya hingga menggigit bibirku terasa kasar dan tergesa-gesa isyarat penuh kerinduan.Sebisa mungkin aku menghindar yang pada akhirnya itu terasa sia-sia. Faktanya, hatiku kembali luluh pada euforia kebahagian kami dahulu. Kilasan-kilasan balik momen kami terasa berputar memenuhi isi kepalaku.Betapa bahagianya aku saat itu, sebelum surat itu sampai mengatakan bahwa ia pergi meninggalkanku dengan wanita lain.Ia melepaskan pagutannya, menyatukan keningku dengan keningnya seraya berbisik yang membuat kulitku meremang"Kamu masih mencintaiku, begitu sangat mencintaiku, Dilla. Kamu tidak bisa menipuku."Aku hanya diam menikmati hal yang mungkin akan menjadi terakhir kalinya. Setelah ini aku akan pergi dan melupakannya."Lihatlah, aku kini sudah menjadi dokter spesialis jantung seperti keingininanmu, bukan?" ia menghela nafasnyaAku tertegun, ia masih mengingat itu. Ya saat ayahku sakit aku memang mengutarakan nya untuk mengambil spesialis jantung agar ia bisa menangani ayahku nantinya."Aku tidak mengerti mengapa kamu menghindariku, aku sudah kembali dan tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku hanya pergi untuk pendidikan ini, Dilla. Aku sungguh mencintaimu."Tunggu apa katanya? Ia masih tidak ingin mengakui kesalahannya.Aku mendorong tubuhnya, menegakkan badanku dan tak lupa dengan tatapan nyalang. Tanganku meraih paper bag kemudian meninggalkan ruangan itu sebelum berkata "Sudah cukup, Arlan. Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu lagi"Aku menutup pintu ruangan Arlan dan membalikkan badan berniat pergi sebelum sebuah suara masuk ke indra pendengaranku"Dila.. Sudah lama? Tapi Itu bukan ruanganku""Eh.. Aku"Ya, Bian ada di belakangku memandangku dengan raut bingung"Salah ruangan ya.. Yasudah ayo" ajaknya seraya meraih tanganku untuk digenggam. Terlihat dari sudut mataku, Arlan melihat kami.Biarlah mungkin ini lebih baik."Bian, aku membawa makanan untukmu. Sudah laparkan?" tanyaku-------Saat ini aku sedang menunggu Bian di taman, memandang sepasang cincin yang melingkari jariku.Aku menghela nafas, semoga memang ini yang terbaik. Sudah terhitung sebulan berlalu sejak kejadian aku bertemu Arlan kembali, malamnya Bian melamarku yang lebih tepatnya masih hanya kami berdua yang tahu. Setidaknya ia berniat serius padaku.Awalnya aku ingin menjawab tidak namun terlintas wajah Arlan disertai ucapan janji suci pernikahannya beberapa tahun yang lalu, aku membencinya sekaligus mencintainya.Jujur saja, saat ini aku bimbang harus melakukan apa dan bagaimana."Cincin yang bagus" celetuk suara disampingku yang membuatku menoleh."Arlan.." lirihkuIa mengangguk lalu duduk disampingku tanpa dipinta, ia menghela nafas berat seraya mengusap wajahnya dengan kasar.Apakah ia sedang banyak pekerjaan? Atau ia bertengkar dengan istrinya.Kalau bukan, lalu apa yang menganggu pikirannya sehingga wajahnya tampak kalut."Aku pikir kamu bohong saat itu" aku kembali menatapnya tak mengerti"Saat mengatakan sudah tidak mencintaku lagi, maaf aku menciummu tanpa izin tapi melihatmu menggunakan cincin itu, aku sadar. Kamu sudah tidak mencintaiku lagi" jelasnyaKamu salah Arlan, aku bahkan ingin sekali rasanya berteriak mengatakan pada dunia kalau aku masih terlalu mencintaimu. Tapi kita tidak bisa begini, Aku tidak sejahat itu hingga merusak rumah tanggamu bersama Mela."Tidak apa-apa" hanya itu yang mampu ku katakan."Tapi sebelum itu, boleh aku bertanya?"Aku mengerutkan glabelaku, tapi juga mengangguk. Aku rasa ini adalah akhir sebelum aku benar-benar melepaskannya."4 tahun yang lalu. Kamu kemana? Kenapa menghindariku"Aku tertawa sumbang mendengar itu "Arlan, tidakkah kamu ingat kamu mengirim surat perpisahan untukku? Kamu meninggalkan aku demi perempuan lain" ucapku dengan kesal kulihat ia mengerutkan dahinya, ah sekalian saja ku tumpahkan ini yang sudah sesak di dada"Kamu penipu, Arlan. Kamu bilang kamu tidak akan pernah meninggalkanku tapi faktanya apa? Kamu menikah dengan Mela. Sadarlah, Arlan kamu sudah menikah untuk apa menemuiku lagi" semburku tanpa celaTapi Arlan tertawa bahkan sangat kencang, apa itu terlihat lucu untuknya?"Astaga, Dilla." ucapnya setelah tawanya mereda."Otak cantikmu itu selalu saja menyimpulkan sesuatu dengan sesukamu"Aku menyipitkan mata, jangan-jangan dia mau menipuku dengan berkata batal menikah atau apa. Jelas-jelas tempo hari yang lalu mantan bosku sekaligus kakak dari Mela menyuruhku menjemput adiknya karena suaminya tak bisa mengantarnya."Okay, yang pertama aku minta maaf baru kembali setelah 4 tahun" ujarnyaIa menghela nafas, " Dila, aku sungguh mencintaimu. Mana mungkin aku meninggalkanmu demi wanita lain. Perihal Mela, ia memang menikah tapi bukan denganku melainkan dengan kakakku, Erlangga."Eh tunggu apa maksudnya sih ini? Kenapa begitu"Tapi isi surat itu jelas mengatakan kamu menikah dengan Mela. Bahkan aku sempat pergi ke acara itu tapi terlambat" sahutkuIa tersenyum geli "Dilla sayang, suratnya tertukar. Pantas saja aku menunggumu di bandara tapi kamu tidak datang"Penjelasan apa itu? Dia kira aku mudah tertipu."Jangan menipuku, Arlan" ketuskuIa mengeluarkan ponselnya menampilkan foto kakaknya bersanding dengan Mela juga seorang balita sekitar umur 2 tahunan."Masih tidak percaya, hm? Mereka saling mencintai, karena Mela sering curhat padaku orang tua kami menjodohkan kami. Tapi itu keliru, dan pada akhirnya mereka menikah.""Tapi...""Andra kan yang mengantar surat itu. Dia keliru mengirimnya, bahkan jika kamu lebih lama sedikit akan bertemu dengan Linda yang mengamuk di resepsi itu. Erlan mencintai Mela. Ia tidak pernah mencintai Linda, itu hanya pelariannya saja. Sedikit kejam, tapi begitu"Aku memegang kepalaku yang terasa berdenyut setelah mendengar rentetan penjelasannya. Jadi ini hanya salah paham? Bagaimana bisa.. Ah rasanya aku frustasi lalu bagaimana ini.Dan sialnya aku mengingat wanita yang saat itu turun dari taksi yang aku tumpangi kejalan pulang dari acara itu.Tapii..."Kenapa kamu tidak menjelaskan itu padaku, Arlan?" tanyaku seakan tak puas akan penjelasannya itu"Apakah kamu memberiku kesempatan, Dil? Bahkan saat aku libur mengetuk rumahmu terasa sia-sia karena untuk kesekian kalinya aku takkan bisa bertemu denganmu. Aku hanya pergi untuk menempuh gelar doker seperti impian kita saat itu dan sebulan yang lalu aku baru saja kembali, melihatmu membuatku semakin frustasi"Aku menutup wajahku tidak tahu harus bagaimana, kurasakan Arlan memelukku."Jika aku masih memiliki tempat di hatimu, aku mohon. Kembalilah padaku, Dil" bisiknya di telingaku.Aku menegakkan kembali punggungku menatapnya penuh keraguan, sebelum bibirku berucap. Suara orang lain terdengar lebih dahulu"Kembalilah padanya, Dil" aku kembali menoleh kebelakang, ada Bian yang menatapku dengan sendu.Ah bagaimana ini?"Tidak apa-apa. Kamu harus bahagia, Dila." ucapnya padaku, lalu ia menatap Arlan "Jaga dia baik-baik, jika tidak aku akan mengambilnya kembali""Aku pastikan kau tidak akan pernah bisa mengambilnya dariku" tukas Arlan cepat.Aku tersenyum haru kemudian menghampirinya seraya memberikan cincin itu padanya yang langsung diterima "Terima kasih, Bian. Semoga kamu mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku" ucapku tulus dibalas dengan usapan lembut dipuncak kepalaku dan senyumannya.Lalu Bian pergi dari tempat itu menyisakan aku, Arlan dan kenangan bodoh kami tapi mataku masih menatap punggungnya.Bian lelaki baik. Pantas saja ibuku menjodohkanku dengannya."Besok kita nikah saja ya?" ucap Arlan di sampingku yang langsung ku hadiahi dengan tatapan kekesalan tapi juga rindu yang teramat.Ia meringis merasakan pukulanku di bahunya tapi detik itu ia langsung merengkuh tubuhku.Akhirnya aku bisa merasakan nyamannya pelukannya.Sejauh apapun kita pergi, tetap saja akan kembali kerumah.Ya, Arlan adalah rumahku untuk pulang.The end
She's Helena
Happy ReadingAku terbangun dari tidur yang ku rasakan bermimpi sangat lama, aku mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya mentari yang mengusik mata kemudian mengedarkan pandangan menatap langit-langit ruangan berwarna putih, ah tidak semuanya berwarna putih di ruangan ini.Aroma khas obat menyeruak di penciumanku, aku mencoba mengenali siapa perempuan yang sedang tertidur dengan kepala bertumpu di ranjangku ini.Menatap kemudian aku mencoba menggerakkan tubuhnya tapi rasa sakit menghantam kepalaku menciptakan lenguhan"Engghh.."Seorang wanita yang tertidur tadi segera terbangun karena merasa terusik. "Kamu sudah sadar?" tanyanya lalu wanita itu segera memanggil dokter.Dokter disertai perawat itu masuk memeriksa keadaanku yang baru saja bangun, dokter mengatakan bahwa keadaan aku itu stabil dan akan segera membaik. Entahlah aku masih bingung dengan ini semua.Wanita itu menghembuskan nafas seolah kabar itu menciptakan kelegaan di hati wanita itu. Namun dokter itu sedikit menjauh dan berbincang sedikit dengan wanita itu, lalu keluar. Entahlah aku tidak mengerti.Selepas kepergian dokter tersebut, wanita itu duduk dan kembali bertanya padaku "Bagaimana? Sudah baikan?"Aku menatap wanita itu sejenak sebelum menjawab "Kamu siapa?"Aku benar-benar tidak mengenali siapa wanita itu dan bahkan aku tidak tahu siapa aku sebenarnya.Aku menangkap raut wanita itu terkejut namun berusaha mengontrol emosinya "Aku Helena"Aku berusaha mengingat tapi nihil tak kutemukan jawaban itu, bahkan siapa aku?"Aku siapa?" tanyaku pada wanita yang baru ku ketahui bernama Helena, kurasa dia orang baik. Ia orang pertama yang aku lihat bahkan ia sampai tertidur hanya kepala saja yang bertumpu di ranjang. Pasti itu tidak menyenangkan."David. Ya namamu David" jawabnya"Lalu kamu siapaku?" tanyaku yang bingung tidak mengerti kenapa dia bisa disini, semuanya terasa membingungkan."Aku... Aku tunangan kamu"Aku tidak mengerti ada apa ini, aku butuh penjelasan "Aku tidak mengerti. Bisa tolong jelaskan semuanya padaku, Lena""Sudahlah, simpan pertanyaanmu nanti aku akan menjawabnya" lalu ku lihat Helena yang berkata bahwa ia tunanganku itu bangkit dari duduknya.Dengan cepat aku menggapai tangannya "Mau kemana?" tanyaku, ia tersenyum kemudian mengusap kepalaku dan berkata "Aku akan membelikan makanan untukmu"Dengan enggan aku melepaskannya dan ia pergi berlalu, sungguh ada banyak sekali rentetan pertanyaan bersarang dikepalaku. Aku ingin segera mengetahuinya.Seminggu berlalu dengan cepat dan aku sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Sehingga disinilah aku dengan tunanganku, Helena. Ia berkata ini adalah apartemenku dan benar terdapat bingkai fotoku disebuah ruangan yang Helena katakan tempatku menghabiskan waktu untuk bekerja.Satu hal yang membuatku bingung, Helena masih bungkam tidak menyuarakan penjelasan padaku, ia berkilah akan menjelaskannya nanti menungguku sudah membaik.Kami sedang duduk di depan tv, dengan Helena bersandar di bahuku dan sesekali menyuapkan buah padaku."Lena, aku ingin mendengar penjelasanmu. Ini sudah seminggu, dan kamu lihatkan bahwa keadaanku baik-baik saja" ucapkuHelena hendak bangkit menjauhkan kepalanya dari bahuku dengan cepat aku menahannya, "Tetap seperti ini" pintaku sambil menahan kepalanya, mengusap puncak kepalanya seolah tak ingin mengganggu hal yang disenanginya. Ia tunanganku bukan?Kudengar ia berdehem singkat "Kamu tahu Dave, saat itu kamu bertengkar dengan seorang wanita di jalan. Saat menemaniku ke mini market di ujung jalan sana."Ia menghela nafas "Saat aku melihatmu, aku ingin menghampirimu namun ada mobil yang melaju kencang. Aku pikir kamu tidak melihatku tapi ternyata kamu menyelamatkanku. Dan..." ia menghela nafas sebelum melanjutkan "Maafkan aku, karena aku kamu begini""Sstt... Sudahlah. Terpenting aku masih berada disini" jawabku "Tapi siapa perempuan itu?" tanyaku lagi"Aku.. Aku tidak tahu siapa perempuan itu. Ia langsung pergi meninggalkanmu saat itu"Aku mengangguk singkat tapi sejak kapan dan bagaimana aku kisahku dengan Helena sehingga kami bisa bertunangan"Boleh ceritakan kisah kita, sayang?" tanyaku memunculkan rona merah di pipinya, apa ada yang salah. Aku melihat beberapa pasangan menyebutkan kata 'sayang' pada kekasihnya"Kisah kita?"Aku mengangguk "Seperti awal pertemuan kita" balaskuSaat ini kami sudah duduk saling berhadapan, ia tersenyum dan pandangannya seakan menerawang "Pertemuan kita di Bandara, Bandara ngurah rai. Saat itu aku sedang menunggu taksi dan kamu dengan baik hati menawarkan tumpanganmu, padahal kamu tahu Dave? Di pesawat kita bertengkar, ada saja hal yang kita perdebatkan. Kita duduk bersebelahan saat itu." Helena tertawa kecil seoalah memori itu begitu indah untuknya"Lalu lama kelamaan kita dekat dan yaa menjalin hubungan dan akhirnya kamu..."Baiklah aku mengerti, aku tahu bahwa ia akan mengungkapkan aku kecelekaan hingga amnesia. Segera ku rengkuh tubuhnya mengusap surai hitamnya.Aku merasa bersalah tidak mengingat moment indah kami "Maafkan aku tidak mengingatnya. Andai aku mengingatnya pasti akan menyenangkan" ucapku.Helena menggeleng " Tidak apa, ayo kita buat kenangan baru dan lebih banyak lagi" ucapnya dengan tersenyum sambil menyeka air matanyaAku mengangguk membantunya mengusap ait matanya " As your wish , Honey "----Pagi ini aku terbangun karena mendengar suara di dapur, membuka pintu aku langsung menghirup aroma masakan.Aku berjalan ke arah dapur, tersenyum singkat ternyata tunanganku sedang menyiapkan sesuatu untukku.Aku berjalan mendekatinya, memeluk tubuhnya dari belakang serta menumpukan kepalaku di bahunya."Sudah bangun?" tanyanya yang hanya ku angguki."Tumben pagi sekali sudah datang. Masak apa?""Hari ini kamu check up, ingat?" tanyanya padaku menghiraukan pertanyaanku sebelumnya"Iya aku ingat" jawabku, ia mematikan kompor dan berbalik ke arahku.Tangannya ia kalungkan di leherku, ekspresinya sungguh menggemaskan. Aku mendekatkan wajahku berniat mengecupnya sedikit tapi ia sudah berkata "Tidak boleh" seraya jarinya menutup mulutku dan ku balas dengan gigitan di jarinya"Ewuh.. Dave" protesnyaAku menggenggam jarinya menatap kejanggalan yang ada disana "Sayang, dimana cincin pertunangan kita?"Helena tampak terkejut, apakah pertanyaanku aneh? Wajarkan jika aku bertanya padanya"Aku.. Aku lupa meletakkannya dimana" balasnya,"Nanti aku akan mencarinya" tambahnya.aku memandang raut wajahnya. Enggan bertanya lebih, takut menyakiti hatinya."Mmm.. Dave, aku.."Aku menatapnya sepertinya ada yang ingin dikatakannya namun ia ragu, "Ada apa? Katakan saja"ku lihat ia menggeleng lalu berkata "Yasudah.. Ayo kita sarapan. Setelah itu mandi lalu kita berangkat" ucapnya yang langsung ku turuti sepertinya ia mengalihkan topik, sudahlah biarkan saja.Seperti rencana, kami sudah melakukan chek up. Dokter mengatakan bahwa keadaanku semakin membaik. Aku bersyukur memiliki tunangan seperti Helena.Dia cantik, mandiri juga tegas. Dan sikapnya bisa berubah manja sekaligus padaku."Dengan dibantu mengingatkannya pada hal-hal kecil itu akan membantu saudara Dave" itulah yang dikatakan oleh dokter, aku tidak khawatir karena aku memiliki Helena.Kami berjalan sambil bergandengan tangan keluar menuju parkiran, setiba di parkiran yang tak jauh dari letak mobil kami berada langkah Helena terhenti dan ia juga melepaskan tautan tangan kami, yang otomatis langkahku juga terhenti dan menatapnya.Baru saja aku ingin bertanya pada Helena namun suara lirihan orang lain terdengar"Sam.." lirih seorang wanita disana, aku mengernyitkan dahi. Kenapa dia memanggilku Sam.Lalu ia mendekat mencoba meraih tanganku yang langsung ku hindari "Maaf, kamu siapa?" tanyaku, ku dengar ia menangis sesenggukan, apa ada yang salah"Sam, ini aku.. Arlita""Aku David, bukan Sam" ucapku"Ya, David Samudra. Kamu lebih suka di panggil Sam" jelas wanita itu yang semakin membuatku bingung."Sam, aku tunangan kamu, Arlita. Bagaimana mungkin kamu menghilang begitu saja dan apa ini"Tunangan katanya?Aku menggeleng "Saya tidak mengerti" hanya itu yang mampu ku ucapkan.Aku menoleh menatap Helena yang hanya diam. Apa dia marah? Tidak ingin menyakiti hati Helena akupun merangkulnya mengajaknya pergi dari sana."Ayo Sayang" ucapku yang diikuti Helena"Tunggu" ucap wanita itu. Kami berhenti dan wanita itu mendekatikami dan menampar pipi Helena membuat kami terkesiap. Aku membantu Helena dengan tetap merangkulnya"Dasar tidak tahu malu!" teriaknya"Sam, kamu harus tahu. Dia perempuan yang membuat kita bertengkar. Aku tunangan kamu, kita bahkan sudah bersama sejak SMA" Jelasnya lagi yang membuatku bingung"Ayo Sam, ingatlah kenangan kita"Aku berusaha mengingatnya, tapi yang ku dapat hanyalah sakit yang begitu mendera. Aku memegang kepalaku kuat-kuat rasanya sungguh sakit sekali.Ku lihat Arlita mendekat tapi aku semakin mundur. Aku tidak mengerti penjelasan itu, Helena selalu menceritakan bagaimana aku yang ketus dan lebih suka dipanggil David olehnya dan lain-lain. Itu membuatku pusing.Aku memegang pergelangan tangan Helena, dengan sigap ia memapahku memasuki mobil dan meninggalkan pelataran rumah sakit.Entah bagaimana kesadaranku raib seketika dan menggelab setelah sebelumnya aku mendengar gumaman Helena mengatakan "Maafkan aku, Dave"Kilasan aneh saat aku terpejam begitu tercetak di mimpiku, kilasan pertemuanku dengan Helena di pesawat meski aku tidak terlalu jelas tapi itu memanglah wajah Helena.Perlahan aku membuka mata meringis merasakan sakit di kepalaku."Dave.. Sudah sadar" ucap pertama kali aku membuka mata, selalu Helena. Aku semakin yakin bahwa ia tunanganku, dan bahkan yang kurasakan aku mencintainya. Entahlah tapi rasa tak ingin kehilangan begitu kental di hatiku."Helena, aku mencintaimu."Helena hanya diam namun ia tersenyum dan mengangguk sambil terus menggenggam jemariku."Kamu mencintaikukan?" tanyaku padanya"Tentu saja""Terlepas dari masa lalu sebelum aku amnesia, tetaplah bersamaku. Aku memanglah tidak tahu apa yang terjadi di masa itu tapi saat ini aku yakin bahwa aku begitu sangat mencintaimu" ucapku tulus dengan bersungguh-sungguh padanya.Aku tidak perduli ada apa dan mengapa tapi hanya Helena, aku ingin selalu dia berada di sisiku.Setetes air mata menetes di wajahnya, aku mengusapnya. Menggeleng seraya mengatakan "Jangan menangis, sayang. Stay with me , okay " ia mengangguk meskipun masih menangis.Ya biarlah begitu.-----Sudah 2 bulan selepas kejadian itu. Hubunganku dengan Helena juga semakin membaik seiring berjalannya waktu.Aku bahkan sudah dapat mengingat sedikit demi sedikit.Kini aku duduk di cafe tempat janji temu dengan Helena, aku tidak sabar bertemu dengannya.Tiba-tiba di sisi kiri mejaku ada anak kecil mungkin usianya sekitar setahun hendak terpleset aku berusaha menolongnya namun entah bagaimana kepalaku malah terbentur nampan pelayan yang sedang lewat.Ah ini seperti pernah terjadi, "Hei, hati-hati boy." ucapku pada anak itu yang tak lama ibunya datang dan megucapkan terima kasih telah menolong anaknya.Aku duduk termenung, ingin sekali rasanya aku mengingat semuanya. Akupun berusaha mengingat, sakit sungguh sakit sekali rasanya. Namun aneh, kilasan balik semua tercetak jelas. Bahkan kejadian terbentur nampan pernah ku rasakan, dan wajah Helena yang muncul disana bukan Arlita yang mengaku tunanganku tempo hari lalu.Tapi kilasan itu juga jelas bahwa ada Arlita disana. Menghembuskan nafas aku mengontrol diriku.Lama aku menanti, seorang wanita yang pernah aku temui di pelataran rumah sakit datang dan duduk di hadapanku, ya dia Arlita."Hallo, Sam" sapanya"David. Bukan Sam" balasku, wanita bernama Arlita itu terseyum mengangguk"Baiklah, David. Aku ingin berbicara padamu sebentar saja"Aku melihat ke arloji, aku takut jika Helena tiba dan salah paham atas pertemuanku dengan Arlita ini. Bagaimanapun hati perempuan itu begitukan? Mengaku tidak apa-apa padahal jelas terjadi apa-apa."Baiklah, cepat katakan" putusku yang memang ku akui penasaran."Dave, aku ini tuna..""Tunanganku, benar?" potongkuIa diam mengangguk "Dave, maafkan aku. Awalnya aku tidak tahu jika kamu kecelakaan selepas kita bertengkar"Tunggu jadi ia yang dikatakan Helena saat itu "Sebenarnya siapa kamu ini Arlita?" tanyakuIa menghembuskan nafas lelah "Aku tunangan kamu, lihat ini cincin yang pernah kamu berikan padaku" sambil memperlihatkan cincinnya sebelum melanjutkan penjelasannya."Saat kamu koma di hari ketiga, kamu sadar dan selalu menyebutkan nama Helena namun kamu kembali koma hingga dokter menyarankan Helena disisimu. Entahlah aku juga tidak mengerti. Tapi aku mohon ingatlah kenangan kita, Dave"Aku memejamkan mataku, kembali.. Kilasan itu bergerak sangat cepat kepalaku semakin berdengung sakit. Kurasakan tangan Arlita menyentuh bahuku wajahnya tampak khawatir. Aku ingat, aku ingat...Aku memerintahkan ia duduk kembali kala sakit dikepalaku sedikit mereda "Lanjutkan ceritamu" pintakuIa diam sejenak menatapku "Ini kesalahanku, aku memberikannya password apartemenmu bermaksud ia akan menebus kesalahannya itu yang dikatakan padanya. Aku pikir ia akan membantu kita ternyata ia egois. Ia lebih mementingkan cintanya terhadapmu."Fakta baru yang membuat aku tidak mampu mengatakan apapun "Lihat Dave, ini foto moment kita saat bersama" ia memberikan ponselnya padaku memperlihatkan segala foto dengan kami berdua.Lalu bagaimana ini? Arlita yang memang tunanganku tapi aku mencintai Helena.Yaa aku sudah mengingatnya sekarang disertai bukti yang diberikan Arlita.Tetap saja, aku tidak menerima kebohongan atas Helena lakukan. Aku mengedarkan pandangan dan menangkap sosok Helena berdiri di depan pintu cafe, pandangannya sendu menatapku.Aku bangkit ke arahnya "Kenapa Helena?" tanyaku."Dave.. Aku" aku menggeleng enggan mendengar penjelasannya. Andai saja, ia tidak berbohong sedari awal.Aku mengambil kotak beludru berisi cincin dari sakuku dan menyerahkan itu ketangannya "Aku sudah melupakan semuanya berniat hanya ingin denganmu tapi kebohonganmu.." aku menghembuskan nafas dan berlalu pergi dari hadapannya.Aku berjalan keluar cafe, jika tidak salah diseberang jalan sana ada taman aku akan kesana untuk menenangkan hatiku serta mencari jawaban atas hatiku.Namun baru saja aku sampai di trotoar seberang jalan, bunyi benturan kuat memekakan telingaku. Tunggu.. Apa itu? Aku segera membalik tubuhku mendapati Helena bersimbah darah, rasanya lututku lemas.Berjalan perlahan menghampirinya "Helena.." lirihku, aku menumpukan kepalanya di pangkuanku, tidak ku hiraukan darah yang mengenai kemejaku. "Tolong..." teriakku frustasi"Sayang, bertahanlah" ucapku lagi padanya. Ia terbatuk, aku menggelengkan kepalaku berharap ini hanya mimpi"Dave, maafkan aku." ucapnya dengan parau tapi aku menggeleng "Kamu bilang tidak ingin berpisah denganku" ucapnya lagi sebelum terbatuk"Iya sayang itu benar. Bertahanlah.." balaskuIa menggeleng pelan "Aku tidak bisa, aku salah. Kembalilah bersama Arlita. Maafkan aku" gumamnya lagi sebelum matanya tertutup meninggalkanku dengan segala rasa frustasiku."PAPAAAAA!!" Teriakan pagi hari Aksa menyentakku dari lamunan itu, setiap pagi ia selalu memanggilku hanya untuk sarapan saja. Anakku sungguh pintar meski usianya sudah menginjak 5 tahun.Aku segera bangkit dari ranjang menghampiri Aksa yang sedang duduk bercerita dengan ibunya."Ma, Aksa ingin bisa mengendarai pesawat. Aksa ingin jadi supir pesawat""Pilot. Supir pesawat disebut Pilot." selaku sambil mencium pipi jagoanku."Hari ini kamu tidak kerjakan" tanya istriku, aku tersenyum mengangguk."Mas, aku ingin memberikan surat ini" lalu ia mengulurkan surat itu padaku "Beberapa tahun lalu aku menemukannya di laci nakas. Maaf baru memberikannya sekarang"Aku menghela nafas, sudah 7 tahun berlalu juga. "Tadinya aku sangat marah pada Helena tapi setelah membaca surat itu, aku mengerti""Arlita, sudahlah..""Kamu harus baca surat itu, mas. Setelah mengantar Aksa ke sekolah kita akan ke makam nya." balas Arlita.Ya, kecelakaan itu merenggut nyawa Helena. Sudah 7 tahun berlalu, setiap tahunnya aku dan Arlita ke makamnya untuk berziarah di hari tepat kematiannya seperti hari ini.Aku segera membuka surat ituHallo, David.Yang pertama maaf aku berbohong. Niat awalku hanya ingin membantu kalian yang bertengkar karena aku.Tapi aku juga berusaha ingin mempertemukan kalian suatu hari meski aku akan kehilanganmu.Tapi kau tahu? Egoku menghancurkan itu. Alih-alih mengatakan aku temanmu tapi aku malah berkata tunanganmu.Lucu sekali ya. Aku merasa bersalah tapi tidak memiliki kekuatan untuk menyampaikan itu semua makanya aku menulis surat.Tolong.. Jangan marah padaku. Aku hanya orang dari salah satu korban cinta.Dan mengenai pertemuan kita, benar saat kau memberikan tumpangan itu, aku mencintaimu. Dan kau tahu David? Perdebatan kecil kita di pesawat jugaku sengaja, karena saat melihatmu pertama kali aku sudah merasakan sesuatu yang aneh di hatiku. Dan kau juga harus tahu Dave, aku baru saja patah hati saat itu. Tapi melihatmu seketika aku lupa.Hingga kau mengantarkan aku di minimarket, aku melihat kau bertengkar dengan seorang perempuan yang ternyata, Arlita tunanganmu. Niatku ingin meluruskan kesalahpahaman.Tapi ternyata semakin memperburuk keadaan. Sekali lagi, maafkan aku.The And
Unexpected Love
I'm Come back, guys. Adakah yang rindu. Semoga bisa menemani Saturday Night kalian yaaaSemoga terhibur .Happy Reading , guysRinai sudah reda berjatuhan membasuh bumi pertiwi walaupun tidak terlalu deras. Aku yang masih berdiri di pelataran kantor melipat tanganku berusaha menghalau hawa dingin yang menembus tulang.Aku melihat jam yang bertengger di pergelangan tanganku menunggu seseorang yang berjanji akan menjemputku. Sudah pukul 8 malam, waktu yang cukup terlambat untuk kepulangan dari kantor. Hari ini lembur, ini semua ulah kepala divisiku yang seenak jidatnya mengatur karyawannya.Mobil hitam terhenti tak jauh dari tempatku berdiri, seorang pria yang ku cintai turun menghampiriku. Aku melambaikan tanganku, ia tersenyum menghangatkan sudut hatiku.Ku lihat ia membuka jas kerjanya, memakaikan pada tubuh kurusku namun cukup berisi untuk seorang perempuan yang berusia 23 tahun dengan tinggi 157 cm.Ini adalah hari pertamaku bekerja, dan benar sekali, di hari pertama bekerja aku sudah kena lembur oleh kepala divisiku. Uh rasanya aku ingin bercerita banyak bersama pria yang ku cintai ini, sudah seminggu kami tidak bertemu.Pria itu berucap "Dingin ya, Lisa. Ayo pulang" ajaknya padaku sambil melingkarkan lengannya di bahuku, ah rasanya sungguh nyaman."Bagaimana hari pertama kerjanya?" tanyanya, namun belum sempat bibirku berucap ponsel di sakunya berdering.Ia menghentikan langkahnya, tangannya masih merangkulku dengan sigap tangan satunya menjawab panggilan di ponselnya. Aku mengalihkan wajahku berpura tidak melihatnya."Baiklah, Amel" hanya itu suara yang sangat jelas ku tangkap di indera pendengaranku.Ia melepaskan rangkulannya dan menatapku dengan tatapan memohon maaf, ya aku tahu jelas artinya apa.Aku mengangguk "Pergilah.." ucapku"Maafkan aku, Amel memintaku menjemputnya." balasnya, aku sudah paham itu dan ini bukanlah pertama kalinya untukku. Ku lihat ia mengetikkan sesuatu di ponselnya lalu kembali berucap "Dengar, tunggu disini jangan kemanapun. Aku sudah memesankan taksi online untukmu. Mengerti?"Aku mengangguk seraya tersenyum "Baiklah. Hati-hati" jawabku, ia mengacak singkat rambutku sebelum pergi meninggalkanku bersama sendu gelapnya malam.Aku merapatkan jas yang tersampir di tubuhku dengan harum parfumnya terasa nyaman di penciumanku seraya menatap nanar punggungnya yang meninggalkanku dan hilang ketika ia memasuki mobilnya.Ah bukan hanya rambutku yang di acak tapi hatiku juga terasa diacak-acak olehnya.Bian Alprasesa. Seorang pria berusia 24 tahun, anak teman dekat ayahku. Pria yang sudah mengisi hatiku delapan tahun lamanya.Sedari kecil kami memang selalu bersama, rumah yang berdekatan serta sekolah yang selalu bersama. Entahlah saat itu ia bagaikan sosok kakak lelaki bagiku hingga saat usiaku 15 tahun aku menyadari bahwa aku mencintainya, aku tidak memandangnya sebagai sosok kakak.Dan tentu saja ia menganggapku hanya sosok adik kecilnya yang harus dijaga. Ia juga sudah terlalu sering bergonta-ganti pacar yang berujung aku ditinggalkan olehnya jika pacarnya memintanya bertemu.Dan yang paling menyebalkan adalah pacarnya akan selalu mengadu padaku jika kak Bian menyakiti mereka. Hanya reaksi kata "Baiklah, nanti aku bicarakan pada Kak Bian" yang aku berikan pada mereka, karena hatiku sendiripun rasanya sakit.Orang tua kami adalah orang yang terlalu sibuk untuk sekedar menanyakan kabar pada anaknya, jika salah satu orang tua kami pulang maka mereka akan mengundang kami makan malam. Seperti malam itu tepatnya beberapa hari yang lalu saat aku makan malam di rumahnya bersama ayah dan juga ibunya, ia mengatakan hal yang membuat hatiku berkedut nyeri.Saat makan malam sedang berlangsung kak Bian mengatakan bahwa ia akan melamar gadis bernama Amel, aku yang mendengarnya tersedak yang langsung diberikan segelas air oleh kak Bian.Ayah dan ibunya juga terkejut bahkan beliau sempat mengatakan "Kenapa mendadak, Bi? Apa kau menghamilinya?" tapi kak Bian hanya menjawab "Tidak pa, aku tidak seberengsek itu. Amel menanyakan keseriusanku padanya" ucapnya padahal yang ku ketahui mereka baru berpacaran 3 bulan lamanya.Namun tanpa berniat mendengar kelanjutannya, aku pergi meninggalkan makan malam itu memasuki kamar tamu yang biasa ku gunakan jika aku menginap di rumahnya kala orang tuaku tak di rumah. Aku hanya berkilah bahwa aku sedang tidak enak badan."Nona, benar atas nama Bian?" teriakan suara pria dari dalam mobil menarik lamunanku, sepertinya ini taksi online yang sudah dipesan kak Bian. Aku segera mengangguk dan melesak masuk ke dalam taksi.Dan sepertinya aku harus secara benar-benar melupakan kak Bian.Bukankah aku juga berhak untuk bahagia? Seperti yang dilakukan kak Bian pada Amel.Lagipula seperti apa rasanya berpacaran? Hidup selama 23 tahun aku tidak pernah merasakan berpacaran.Bukan karena aku jelek, mereka bilang aku cantik dan menarik hanya saja kak Bian selalu menghalangiku.----Sudah dua bulan lamanya aku aku berhasil menghindari kak Bian, aku selalu berusaha mencari alasan-alasan kecil untuk tidak terlalu dekat padanya. Seperti tadi pagi saat ia menjemputku berniat mengantarkanku ke kantor untuk bekerja belum sempat aku mengucapkan sepatah katapun, klakson mobil berbunyi.Kepala divisi bidang akunting, Jatmiko, ya kepala divisi yang di awal pertemuan kami ia sudah membuatku lembur entah bagaimana seiring berjalannya waktu kami menjadi dekat. Dan pagi ini ia datang menjemputku.Ia memang kerap beberapa kali menjemput dan mengantarku bekerja, dimana ia selalu mengatakan bahwa "Kan searah".Aku menghela nafas karena untuk kesekian kalinya aku bisa menghindari kak Bian, setidaknya aku ingin melupakannya juga dan menikah dengan orang yang mencintaiku."Kak, aku berangkat dengan pak Miko saja" ucapku pagi tadi dan ku lihat ia hanya mengangguk pasrah lalu mengusap lembut rambutku.Saat ini aku sedang duduk di cafe yang tak jauh dari kantorku, duduk sambil menikmati dalgona coffe yang akhir-akhir ini sedang viral. Rasanya segar sekali cocok dengan cuaca yang panas ditambah aku yang sedang menahan rasa kantuk.Aku tahu cara membuat dalgona coffe ini, membuatnya sangatlah mudah. Aku jadi ingin membuatkannya untuk kak Bian. Karena dari dulu semua percobaanku dia yang selalu mencobanya.Ah shut up, Lisa! Harus Move on.Tak lama seorang pria duduk di depanku sambil menyesap coffenya dengan berbalut kemeja biru muda, yang lengan kemejanya digulung hingga ke siku." Long time no see.. Remember, me?" ucapnya padaku, aku mengernyitkan seakan teringat siapa pria ini."Ra.. Radit, Right? " balasnya dengan antusias dan pria itu juga tersenyum.Dia tertawa singkat lalu berujar "Apa kabar, Lis?""Ya beginilah, sehat. Kamu bagaimana?" tanyaku" You look me, I'm fine. Btw , bodyguard kamu kemana?"Aku mengernyit tak mengerti maksudnya, seakan mengerti Radit berucap "Bian, bagaimana sudah jadian?" tanyanyaAku tertawa sebelum menjawab "Kak Bian menganggapku adiknya, begitu pula aku jadi mana mungkin kami memiliki hubungan lebih" walaupun sebenarnya aku ingin kak Bian memelukku lalu mengatakan bahwa ia mencintaiku."Tidak mungkin. Ia jelas mencintaimu, bahkan dulu aku pernah dilempar petasan olehnya" balasnya lagi sambil tertawa di ujung kalimatnya.Aku sudah bilang bukan bahwa kak Bian selalu menghalangi pria yang dekat denganku.Aku juga tertawa mengingat moment itu, saat itu aku dan Radit masih duduk di bangku kelas dua hanya beda kelas, aku di IPA dan Radit IPS. Ia selalu memiliki cara untuk mendekatiku dan kak Bian selalu memiliki cara untuk menyingkirkan pria yang selalu berusaha mendekatiku seperti melempar petasan ke Radit saat kami duduk berdua di taman, ia mengatakan bahwa ia takut aku disakiti tanpa pernah ia sadari aku sakit karenanya.Aku menatap jam yang bertengger di pergelanganku, seperti jam makan siang akan berakhir dan dengan segera aku bangkit untuk pamit dari hadapannya karena akan melanjutkan pekerjaanku dengan sebelumnya ia meminta no ponselku.---Hari ini aku kembali lembur, aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul sembilan malam.Akupun bergegas segera membereskan berkas tiba-tiba ponselku berdering menampilkan nama kak Bian. Ada apa sih ia menghubungiku, tidakkah dia tahu aku sedang menjaga hatiku agar tidak terbawa perasaan padanya.Ponsel berhenti berdering, beberapa menit kemudian kembali berdering dengan malas aku mengangkatnya namun bukan suara kak Bian melainkan suara pria lain.Seorang bartender menelponku untuk menjemput kak Bian, ah kalau begini aku jadi khawatir padanya. Semabuk apa dia sekarang ini.Dengan cepat aku memesan ojek online agar lebih cepat sampai. Sampai disana aku mulai masuk perlahan, yang mana aroma alkohol begitu menyengat sampai ke paru-paru. Sungguh baru kali ini aku masuk ke tempat seperti ini.Membayangkan sajapun aku tidak pernah.Aku menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri mencari kak Bian, ah dia di depan meja Bartender. Aku melesat segera menghampirinya."Kak" ucapku padanya sambil menepuk bahunya"Ah.. Sayangku" racaunya sambil berusaha memelukku."Ayo kita pulang" ucapku sambil berusaha memapahnya.Uh sungguh dia itu berat, "Kak mana kunci mobilnya?" tanyaku lagi tapi dia hanya diam, apa segitu mabuknya.Aku merogoh ke saku celananya, diluar dugaan ia malah berkata "Geli, honey. Sabar" lalu ia membantuku mengambilkan kunci mobilnya padaku.Setelah memastikan ia duduk di kursi penumpang samping kemudi akupun memposisikan duduk di balik kemudi dan mulai mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya.Sampai di rumahnya aku kembali memapahnya menaiki kamarnya yang ada di lantai dua, oh sungguh perjalanan yang panjang dan menyusahkanku.Begitu sampai di kamarnya, aku membaringkannya, membantunya membukakan sepatu juga kaos kakinya dan aku juga membantunya membukakan jas serta dasinya.Aku berjongkok seraya menghela nafas lelah, sejenak memandang wajahnya yang sungguh tampan dan ku idamkan menjadi suamiku kelak meski aku sadar siapa aku.Kembali menghela nafas, aku mulai bangkit dan pergi namun tangan kak Bian menarikku sehingga aku terjatuh di sampingnya, ia memelukku dengan erat."Sayang, aku rindu" gumamnya membuatku memutar bola mata, ia pikir aku Amel kali ya"Kak, ini aku Lisa" balasku menyadarkannya, sesak juga dipeluk erat begini lalu ia membalikan tubuhnya menjadi di atasku sedangkan aku di bawahnya." I know ." balasnya yang membuatku bingung, apa efek alkohol begitu dahsyat yaa sampai ia jadi begitu."Kak.. Ay.." ucapanku terhenti kala bibirnya membungkamku, hanya sebatas kecupan. Ia melepaskannya lalu menatapku yang ku balas dengan tatapan tak percaya.Bukan sadar, ia malah kembali mendekati wajahnya dan kembali menciumku kali ini ia melumatnya, entah setan dari mana ataupun apa aku tidak mengerti tapi aku juga membalas ciumannya.Rasa yang tak pernah ku rasakan selama hidupku ini, dan akupun tak mengerti mengapa malam ini aku melakukan hubungan itu dengannya.Aku tahu kak Bian mabuk sedangkan aku dalam keadaan sadar, logikaku menolak tapi reaksi tubuhku menginginkannya, hal yang seharusnya ku berikan pada suamiku. Rasanya aku menikmatinya meski aku tahu kak Bian dalam keadaan mabuk.Dan aku menyukainya, ya ketika dia menyebutkan namaku di sela aktivitas kami yang terasa salah.Aku mengerjabkan mataku, tangan kiriku berusaha menghalau cahaya mentari yang mengusik tidurku, entahlah mimpi tadi malam begitu terasa indah.Mimpi yang begitu penuh hasrat menggebu dan menyenangkan, mimpi yang akan menjadi malam yang panjang untukku.Perutku terasa berat seperti tertindih sesuatu, ku lihat ada tangan di bawah selimut memelukku dengan erat.Oh Tuhan.. Apa yang terjadi? Bahkan aku tak mengenakan sehelai benangpun.Ini bukanlah mimpi.Aku menolehkan wajahku pada seoarang pria yang tak lain kak Bian, aku memiringkan tubuhku ke arahnya menatap wajahnya yang masih setia memejamkan matanya dengan ekspresi tak percayaku.Apa yang sudah ku lakukan? Aku berusaha mengingat apa yang terjadi dan sialnya semua terasa detail di ingatanku, bahkan kini air mataku mulai berkaca-kaca.Biar bagaimanapun aku yang salah, aku dalam keadaan sadar.Terasa ia memelukku semakin erat, merapatkan tubuhku ke dada bidangnya. Aku menangis sesengukan disana, aku bingung harus bagaimana. Bukankah ia akan segera melamar Amel? Demi Tuhan aku tak ingin menyakiti mereka meskipun aku mencintai pria ini.Kak Bian mengelus suraiku sesekali mengecup puncak kepalaku lalu berkata " It's okay, dear" bukan menjawab aku semakin menangis."Kak bagaimana ini?" parauku"Tenanglah, aku akan bertanggung jawab, okay ?"Sungguh aku menginginkan ia tapi bukan berarti aku harus menghancurkan istana Amel, kan?Aku juga sangat menginginkan pria ini tapi juga dengan cintanya. Aku tak ingin memaksanya hanya karena rasa bersalahnya, karena di sini aku yang salah.Perlahan aku menggeleng, kurasakan ia terkejut, aku melonggarkan pelukan kami lalu menatap manik matanya, yang mana menatap manik matanya saat ini entah kenapa ada ketulusan disana "Aku tidak ingin jika kakak menikahiku hanya karena rasa bersalah" ucapku perlahanIa menggeleng dengan tegas kemudian ia berkata "Tidak, apapun itu aku akan tetap menikahimu"Andaikan ia mencintaiku, tapi bolehkah aku egois?"Bagaimana dengan Amel?" balasku lagi yang sudah meninggikan satu oktaf suaraku padanyaIa menghembuskan nafasnya, "Tenanglah.. Aku akan mengurusnya" jawabnya sambil mengusap pipiku "Tapi... boleh aku memintanya lagi?" tambahnya dengan ekspresi menjengkelkan.Aku membelalakkan mata tak percaya pada kata yang di ucapkannya, aku masih mode marah ini.."Kak!" pekikku kala ia menggigit leherku dan ia tertawa, namun selanjutnya aku bangkit ke kamar mandi dengan membelitkan selimut di tubuhku dan membuatnya kelimpungan untuk menutupi tubuhnya.Rasakan itu.Sejak kejadian beberapa minggu yang lalu aku memang sudah menyandang status resmi menjadi istri sahnya. Tapi tidak dengan cintanya, ya bahkan di malam pernikahan itu ia menemui Amel hingga waktu tengah malam ia baru kembali ke kamar kami. Bahkan aku sudah berhenti bekerja karena permintaannya.Meskipun saat ini hubungan kami seperti suami istri pada umumnya, seperti pagi ini aku memasangkan dasi untuknya."Baiklah aku pergi ke kantor dulu ya. Ada apapun kabarin aku, okay" ucapnya padaku lalu mengecup keningku, dan aku mengantarkannya sampai di pintu lalu menyalim tangannya. Sebelum masuk ke dalam mobilpun ia kembali mengecup kening dan mengelus perutku, entahlah.. Aku membiarkannya saja.Aku berlari ke kamar mandi, sejak beberapa hari ini memang tubuhku terasa tidak enak bahkan perutku mual sekali. Aku memijat pelipisku, dan segera mencuci mukaku.Kalian benar jika berfikir aku hamil, aku memang hamil itulah yang ku lihat di tespeck yang menunjukkan garis dua saat itu.Namun kak Bian belum mengetahuinya, aku sempat ingin memberitahukannya sore itu namun melihatnya duduk berdua bersama Amel di teras itu, teras rumah kami seraya tertawa dengan menyesap teh ditemani brownis yang dibawa oleh Amel membuat hatiku sakit.Apakah aku terlalu egois untuk memiliki kak Bian yang hatinya jelas untuk Amel?Menunduk aku mengelus perutku yang belum terlihat "Sabar ya sayang, mama akan bertahan meskipun papamu mungkin tidak sayang padamu" ucapku berinteraksi padanya."Atau apa kita pergi saja dari papamu?" monologku lagi tapi aku menggeleng.Tidak akan, tidak akan ku biarkan kamu hidup tanpa kasih sayang papamu nak.Aku merebahkan kembali tubuhku namun aku bangkit kembali ketika muncul suatu keinginan di kepalaku. Nanti siang aku ingin mengantarkan makanan pada kak Bian di kantornya."Kamu sudah rindu dengan papamu ya, sayang. Padahal baru sebentar." ucapku sambil mengelus kembali perut rataku "Okay sayang. Kita beres-beres rumah lalu memasak untuk papa kamu ya" ucapku lagi.Akupun mulai membereskan rumah, hingga aku memasuki ruang kerja kak Bian. Semenjak menikah aku tidak pernah masuk ke ruang ini memang, tapi rasanya tingkat keingintahuan ku sangat besar hari ini.Aku sedikit membersihkan debu di raknya, merasa lelah aku duduk di kursi kebesarannya melihat bingkai kecil berisi pernikahan kami yang terpajang di meja sisi kanan. Garis bibirku melengkung menatap bingkai itu."Setidaknya ia ingat memiliki kita sayang" monologku lagi dengan mengusap perutku.Iseng aku membuka laci mejanya, aku menemukan fotoku selfie dengan kak Bian memakai seragam SMA, foto kami duduk dengan pose kak Bian yang merangkulku dan kepala kami saling bertumpu.Lagi, aku tersenyum mengingatnya. Dimana moment ini adalah saat kami bolos sekolah dan pergi ke kedai es krim karena hari itu aku marah padanya telah menjatuhkan bekal yang buat untuknya. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas dua sedangkan dia kelas tiga SMA.Menghela nafas, aku memasukkan kembali foto itu namun belum dengan benar memasukkan foto itu, fotonya jatuh ke lantai.Aku mengerjap, ternyata di balik foto itu terdapat tulisan tangan kak Bian. Aku segara mengambil dan membacanya namun aku kembali tersenyum, apa-apaan ini? Aku membacanya berulang kali seakan meyakinkan bahwa ini benar.Apa maksudnya, aku tidak percaya namun aku sangat bahagia.Melihatmu menatapku dengan sendu aku sadar bahwa aku begitu mencintaimu, Lisa. A l ways, forever and till the end.Iseng, aku membuka bingkai foto pernikahan kami. Entahlah aku hanya penasaran, apakah isi bingkai dengan ukuran sekitar lima inci memiliki kata-kata.Tertawa kecil, aku menemukan kata-kata itu lagi. Sekaligus tidak menyangka kalau kak Bian sedikit berlebihan.I wish I was your mirror; I could look at you every morning.Kemudian aku memperbaiki bingkai itu dan menatanya kembali."Papamu mencintai mama" aku kembali bermonolog. Aku melihat jam yang bertengger di dinding. Aku bangkit untuk segera bersiap.Ah aku semakin semangat, masih dengan semangat aku memasukkan makanan yang telah ku masak ke dalam paper bag dan tak lupa memasukkan foto selfie kami ke dalam tasku.Aku pergi ke kantornya dengan menggunakan taksi, sesampai di kantor beberapa karyawan menyapaku.Saat aku tiba di depan ruangan kak Bian, Aryo selaku sekretaris kak Bian terlihat khawatir."Kenapa? Kak Bian di dalam kan" tanya padanya yang langsung di angguki dan di jawab "Benar, nona"Aku langsung membuka pintu namun pemandangan di depanku saat membuka pintu membuatku ingin marah.Terlihat tangan Amel di bahu kak Bian, ia yang melihatku karena ia menghadap pintu langsung menyentak tangan Amel."Sayang.." ucapnya dengan wajah panik aku masih diam menatap mereka, bahkan kak Bian mulai melangkah tapi aku menahannya dengan gerakan tangan untuk berhenti.Ku lihat Amel mulai merangkulkan tangannya ke lengan kak Bian namun dengan cepat ditepis oleh pria itu. Aku masih diam menatap mereka, rasanya aku ingin lari dan menangis. Tapi itu tidak akan ku lakukan. Ya tentu saja, aku menjadi kuat setelah melihat foto kami dengan tulisannya."Lepas Amel, kau membuat istriku salah paham" bentak pria di depanku. Entahlah aku masih ingin menikmati wajah panik kak Bian, apakah ia masih mencintaiku seperti ucapannya di foto itu."Sayang.. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan okay " ucapnya lagi, namun Amel masih terus menempel padanya. Aku sudah tidak tahan.Dengan menghela nafas, aku melangkahkan kaki menuju ke suamiku menatapnya tajam lalu mengayunkan tanganku menamparnya. Bukan, aku tidak menampar kak Bian tetapi menampar Amel tentu saja. Enak saja ia mengganggu suamiku.Amel tampah syok berbeda dengan ekspresi kak Bian yang terlihat... senang?"Dengar. Dia itu sudah menjadi suamiku harusnya kamu sadar posisi kamu sekarang" ucapku pada Amel lalu aku bergelanyut manja di lengan suamiku dengan berkata "Sayang aku bawa makan siang"Diluar dugaan kak Bian malah merangkulku dan mengecup pipiku dengan tersenyum senang "See.. Sekarang keluarlah. Aku ingin makan bersama istriku" ucap kak Bian pada Amel, dan Amel mendengkus lalu pergi.Sepeninggalan Amel aku langsung menghempaskan tangannya dan duduk di sofa."Jelaskan!" ucapku dengan tegas padanya, ia menggaruk belakang kepalanya lalu mengikutiku.Ia menunduk mengecup perutku "Mama kamu galak banget hari ini" gumamnya yang masih dapat ku dengar. Loh kok?"Kak?""Kenapa? Kamu pikir aku tidak tahu.""Tapi..""Aku melihat tespeckmu di laci namun aku menunggu kamu memberitahuku langsung" potongnyaLalu aku mengeluarkan foto yang ku bawa ia terlihat salah tingkah melihat foto itu "Kenapa tidak beritahu kalau dari dulu mencintaiku" ucapku padanya"Apa kamu mencintaiku?" tanyanya dan ku balas dengan senyuman dan anggukan"God.. Tahu begitu aku tidak menggunakan Amel untuk memancingmu" ucapnya lagi dengan menjambak rambutnya yang membuat aku mengernyit.Ia memelukku dengan erat "Aku sungguh mencintaimu.." ucapnya lagi"Halah.. Cinta tapi pacaran sama yang lain juga" balasku lagi padanyaIa tidak menjawab namun mengurai pelukannya dan menunduk di depan perutku "Sayang, kamu harus jadi tim papa nanti ya" yang membuat hatiku merasa hangat.Ah selama ini kami hanya gengsi. Tapi perkataan kak Bian selanjutnya membuatku terdiam, bahagia dan seketika menyerangnya."Okay, sekarang aku ingin jujur padamu. Aku sangat mencintaimu dan tak pernah menyesalinya. Dan.....""Dan?" tanyaku"Malam itu aku tidak benar-benar mabuk. Aku frustasi ingin memilikimu"The End
Sagara ❤ Baby
"Baby, gak apa-apa nih gue pulang duluan?""Iya gak apa-apa, gue mau nunggu bis di halte.""Oke deh kalo udah nyampe rumah lo telepon gue, dan kalo sampe malem lo belum dapat bis juga lo pesen taksi aja, oke?""Sip.""Dah Baby..."Rena pulang duluan karena di jemput Iras pacarnya, biasanya kita berdua akan menunggu bisnya barengan karena memang kita jalannya searah.Sayangnya juga sore ini turun hujan yang cukup lebat membuat halte ini terlihat sepi, kelas sore, hujan lebat aku yakin akan cukup sulit untuk mendapatkan kendaraan pulang."Huft... Semoga saja masih ada bis lewat." Gumamku sangat pelan.Dan sekarang aku benar-benar sendiri di halte ini, orang terakhir yang menunggu bersamaku memlilih menyebrang membelah hujan, dan sekarang sudah pukul 17.20, langit lebih gelap dari waktu biasanya, dan hujan semakin deras."Kamu sendirian?"Aku sungguh kaget mendengar suara bariton itu mengudara dari belakangku."Maaf, saya mengagetkanmu yah?""I..iya Pak, maaf saya gak lihat Bapak."Aku ingat dia adalah salah satu dosen di fakultasku, tapi kelasku tidak ada yang kebagian diajar olehnya."Teman kamu mana?""Dia sudah pulang duluan."Meskipun aku heran kenapa Pak Sagara bisa tau kabiasaanku yang suka kemana-kemana berdua bareng Rena dan dia hanya membalasnya dengan anggukan."Keberatan kalau saya merokok?" Tanyanya seraya memperlihatkan bungkus rokok yang dia kleuarkan dari balik jaket."Tidak Pak, silahkan.""Sagara saja.""Ap...apa?""Panggil saya Sagara saja Baby, kita tidak sedang berada di kampus lagi pula saya bukan dosen kamu, secara teknis saya tidak mengajar kamu."'Gusti, mana mungkin aku hanya memanggilnya Sagara saja, bisa di penggal ini leher kalau ada yang denger' Aku hanya diam saja tidak mengiyakan.Dia mulai menghisap rokoknya, jujur aku kaget banget kalau dosen kesayangan mahasiswi ini ternyata merokok, dari selentingan yang ku dengar dia termasuk dosen yang ramah tapi juga misterius."Kamu mau menunggu disini sampai kapan, Baby? Biasanya kalau hujan begini agak susah dapat kendaraan, sebaiknya kamu pesan taksi atau mau saya antar?""Hah?""Mobil saya ada disana." Dia menunjuk bengkel dekat kampus, "Bannya bocor sedang di perbaiki, kalau sudah selesai saya bisa antar kamu."Akhirnya karena sudah satu jam aku menunggu dan tak ada bis yang lewat aku mengikuti ajakan Pak Sagara hanya sampai bis yang biasa ku tumpangi terlihat, nantinya aku akan naik bis. Lagipula aku tak tau rumah Pak Sagara dimana, bisa saja berlawanan arah dengan rumahku.Tapi baru sepuluh menit perjalanan mobil Pak Sagara menepi di sebuah restoran, restoran yang tentu saja harganya sangat jauh untuk kantong mahasiswi sepertiku."Saya lapar, kita makan dulu." Ucapnya ketika mesin mobil mati dan dia bergegas keluar."Tapi...pak..." Ucapku tertelan kembali.'Ya ampun ini gue harus turun apa nunggu aja sih, atau gue keluar aja nyari taksi, kenapa gak dari tadi coba.'Tapi Pak Sagara sudah membuka pintu mobil sebelahku dan menyuruhku keluar."Ayo, temani saya makan dulu."Dengan terpaksa aku mengikutinya, aku tau ini restoran mahal, penampilanku yang sudah berantakan sangat kontradiksi sekali dengan tampilan restoran ini, penampilan Pak Sagara meskipun sudah seharian mengajar di kampus masih terlihat mempesona, tampan luar biasa. Kalau sudah seperti ini ingin rasanya aku menghilang atau mengecil jadi gantungan kunci mobil Pak Sagara, menyesal sudah menerima ajakannya harusnya ia pesan taksi saja walaupun harus memakai jatah jajan tiga hari."Kamu mau pesana apa Baby? Steak di restoran ini sangat enak, kamu mau mencobanya?""Tapi... tapi saya..."'Duh ini di bayarin apa bayar sendiri'"Tenang saja karena saya yang mengajak kamu jadi kamu saya traktir jika itu yang kamu khawatirkan."Aku hanya tersenyum kaku. "Terimakasih pak."Walaupun steak di restoran ini memang sangat enak tapi jujur aku tidak bisa menikmatinya, gugup di depan Pak Sagara, juga takut ada orang yang melihat kami, kenal Pak Sagara tentunya, bisa repot jadinya. Baru saja minggu kemarin ada mahasiswi yang nekat mendekati Pak Sagara dan akhirnya mendapatkan banyak cemoohan di kampusku, membuatnya langsung cuti kuliah.Setalah selesai membayar aku yang mengatakan akan naik taksi saja sampai rumah malah tak digubris sama dosen di depanku ini."Udah malam, biar saya antar sampai rumah.""Tapi pak... Saya semakin merepotkan bapak.""Kamu bisa menggantinya lain waktu."Dengan canggung dan kurang mengerti aku hanya mengatakan ia saja, agar percakapan kami cepat selesai, aku sangat gugup karena setiap kali berbicara dengan Pak Sagara, beliau selalu menatap mata lawan bicaranya, dan kali ini adalah aku.Sebulan lebih berlalu sejak kejadian itu, aku tak pernah menceritakannya pada siapapun termasuk Rena, aku hanya tak ingin membuat kehebohan, dan sikap Pak Sagara pun biasa saja bahkan cenderung tak mengenaliku, jadi aku menganggap kejadian waktu itu hanya sekedar lewat saja walaupun aku masih bertanya-tanya kenapa Pak Sagara bisa tau namaku."Beb, nanti temenin gue ya mau ketemu sama Iras.""Ko gue harus ikut, biasanyakan juga berdua?" Tanyaku pada Rena."Iras ulang tahun, nah dia mau rayain sama temen-temennya juga, makan-makan, gue kan belum kenal-kenal banget sama temen-temenya dia, jadi lo ikut ya temenin gue, mau ya... Pliss.""Oke, tapi nanti anterin gue pulang.""Beres!"Acara surprise ulang tahunnya Iras lumayan rame dan seru, dan aku menyesal kenapa gak membeli kado terlebih dahulu, aku jadi gak enak hati."Santai aja Beb, gue bukan anak kecil yang akan nangis kalo gak di kasih kado." Kelakarnya saat aku minta maaf."Ren gue ke toilet dulu, kalo mau pulang tungguin gue, perut gue mules." Bisiku pada Rena."Ya kali gue tinggalin lo, sana gih buruan."Aku cukup lama di toilet karena perutku benar-benar gak enak, dan betapa kagetnya aku saat keluar dan berpapasan dengan Pak Sagara. Apalagi penampilan beliau sangat berbeda dengan saat di kampus, saat ini beliau hanya mengenakan kaos santai dan celana selutut dipadukan dengan sneaker hitam dan tatanan rambut messy yang membuatnya terlihat bak anak kuliahan."Pak Sagara...""Baby, sedang apa kamu disini?""Makan-makan pak, ada temen yang ulang tahun.""Oh.. Sama siapa kesini?""Sama Rena pak, saya duluan ya Pak.""Baby...."Aku yang sudah berjalan beberapa langkah berbalik menatap pada Pak Sagara yang memandang lurus kearahku tanpa mengatakan apa-apa."Enggak apa-apa..." lalu dia tersenyum, dan sumpah senyumannya membuat dadaku berdebar kencang, dengan buru-buru aku pamit segera menuju Rena."Beb... Gue lihat Pak Sagara lo tadi, ke arah toilet hampir bareng sama lo, lo papasan gak sama dia?"Aku hanya menggeleng sebagai jawaban berbohong pada Rena."Itu Pak Sagara, " tunjuk Rena padanya yang baru saja muncul dari lorong, "Gila ganteng banget," aku yang ikut melihat arah pandang Rena tak melihat jiga ada waitress yang berjalan di depanku sehingga minuman yang di bawanya tumpah diatas bajuku."Aduh mbak maaf, saya kurang hati-hati." Ucapnya.Terlihat Rena mau memarahi waitress itu aku langsung menghalaunya karena ini memang salahku yang gak lihat jalan."Baju lo basah Beb, gimana dong nih."Saat kami masih berdiskusi perihal bajuku yang basah dari arah belakang seseorang menyodorkan kemeja flanel berbau cologne yang sangat wangi, dan itu adalah Pak Sagara. Aku dan Rena terbengong sesaat."Beby lebih baik kamu ganti baju kamh dengan kemeja ini, kamu bisa masuk angin nanti." Ia menawarkan."Gak usah pak, saya mau pulang kok." Namun pak Sagara diam saja tanpa menurunkan kemeja yang ia tawarkan padaku."Iya Beb, kamu ganti aja gih di kamar mandi." Rena memberi dukungan.Akhirnya aku mengambil baju itu dan pergi ke kamar mandi, pak Sagara bahkan sampai memberikanku paperbag untuk bajuku yang basah. Kemeja pak Sagara begitu besar di tubuhku yang ramping dan aroma parfumnya serasa membuatku dipeluk Pak Gara, wanginya membuat nyaman.Saat aku kembali Rena ternyata sudah pergi, membuatku kebingungan mencarinya."Ayo...""Kemana Pak?""Saya antar kamu pulang.""Tapi pak..."Tanpa mengatakan apa-apa, Pak Gara menarik tanganku menuju mobilnya, seperti ada sengatan listrik saat kulit kami bersentuhan, dan membuat jantungku berdebar.Hujan yang mengguyur Jakarta sejak siang membuat banjir di beberapa titik, sehingga kami terjebak macet parah. Membuatku mengantuk dan menguap beberapa kali dan tertangkap mata Pak Gara."Kalau kamu mengantuk tidur saja, turunkan kursinya, tuasnya ada di sebelah kirimu.""Gak apa-apa Pak kalau saya tidur?" Aku merasa gak enak, tapi aku ngantuk banget."Tidur aja, macet juga."Akupun mencari tuas namun sangat sulit menurunkan sandaran kursi, sehingga aku sangat terkejut saat pak Gara yang mengambil alih membuat posisi kami begitu dekat. Bahkan jika pak Gara berbalik sedikit saja maka bibir kami akan bersentuhan. Tepat setelah aku memikirkan itu pak Gara berbalik dan jarak kami hanya terpaut satu cm, tatapan matanya yang tajam perlahan turun pada bibirku membuat jantungku berdetak tak karuan.Lalu dia bergerak semakin dekat. "Can i?"Aku hanya diam, otakku blank, hingga aku merasakan benda kenyal itu menyentuh bibirky dengan lembut, pelan, intens lalu saat bibir itu menjauh aku merasa kehilangan."Baby, saya minta maaf tapi saya tidak akan menyesal telah melakukan ini."Lalu dia menciumku lagi lebih dalam, lebih intense dan lebih menggairahkan, sehingga tanpa sadar akupun membalas ciumannya, membuat ciuman kami semakin panas, Pak Gara segera menurunkan sandaran kursi dengan mudahnya dan tangnnya yang lain sudah masuk kedalam kemejaku membuat kuliat tangnnya berada dipingganku, mengelus perut rataku, hingga saat nafas kami habis baru kami berhenti, kami mulai mengatur nafas, namun wajah pak Gara masih sedekat tadi dengan wajahku, membuat pipiku memanas, dan ingat bahwa aku baru saja ciuman dengan dosenku."Saya menyukaimu sejak pertama kali melihatmu bersandar di mobil saya, tapi kamu begitu sulit untuk saya dekati Beby..."
Menjadikan Namamu Abadi
Kenapa kamu selalu hadir Ar?Sudah dua belas tahun berlalu, tapi kenapa kamu masih gak bisa lepas dari ingatanku.Berbagai cara sudah kulakukan agar bisa melupakanmu, tapi tiap aku sudah lupa, kamu selalu datang melalui mimpi hingga akhirnya aku memikirkanmu lagi.Sudah lama, bahkan aku gak tau bagaimana kehidupanmu, bagaimana hidupmu, dimana kamupun aku tak tau, dan sudah lama tak mencari tau.Tapi, kenapa aku gak pernah bisa benar-benar lepas dari kamu.Saat awal-awal aku bermimpi, dimimpi itu selalu aku yang mengejar kamu, memuja kamu, tapi kamu selalu saja tak terjangkau. Lalu semakin lama mimpi itu berubah, seperti mimpi yang membuat harapan, kadang dimimpi itu kamu tiba-tiba datang, tiba-tiba nyapa, tiba-tiba baik.Lalu akhir-akhir ini, mimpi itu seolah kamu cinta, seolah kamu punya rasa yang sama.Tapi aku sudah tak tergoda, sudah ku bilang aku tak bisa melupakanmu, tapi memujapun aku sudah tidak, kamu hanya akan jadi kenangan yang ku simpan saja.Tolong saja, semoga kita tidak pernah berjumpa, karena aku takut, takut... takut aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya, jangan sampai itu terjadi.Aku sudah bahagia dengan hidupku yang tanpa kamu, meski kadang kalau malam menjelang, kenangan tentang dirimu selalu datang, seperti saat ini.Tapi aku sudah berjanji, tak akan buka social mediamu, dan aku bersyukur disaat tak tahan postingan terakhirmu masih yang tiga tahun lalu, artinya akunmu sudah ganti, dan seperti kataku tadi, aku tak akan mencari.Pernah ku berjanji sepuluh atau sebelas tahun lalu, saat jarak ku dan jarakmu hanya terhalang dinding sekolah, aku berbicara begini pada tuhan."Ya tuhan jika engkau memang mengijinkan kami bertemu maka pertemukanlah kami, tanpa aku yang harus mencarinya atau menemuinya."Dan kamu tau apa hasilnya, kita tidak bertemu, saat itu aku sudah lelah aku terus yang mencarimu, sebenarnya dalam permintaanku pada tuhan itu ada doa terselubung "aku ingin kamu yang mencariku."Tapi walaupun saat itu kita tidak bertemu, beberapa jam setelah itu kita bertemu, kamu menelponku dan aku pura-pura gak tau itu kamu. Padahal lihat nomormu atau hanya suara deheman kamupun aku sudah sangat bisa mengenalimu.Dan saat itu adalah petemuan terakhir kita, benar-benar terakhir, kita tidak pernah bertemu lagi sampai saat ini.Dan aku selalu bilang pada diriku sendiri "sangat mustahil kita bertemu secara kebetulan, kecuali itu benar-benar takdir tuhan."Ya.. Benar-benar mustahil, karena garis kita gak ada yang bersinggungan. Beda kota, beda angkatan, beda sekolah, beda circle pertemanan.Tapi ada satu kejadian yang buatku benar-benar lucu, seperti sebuah kebetulan kita pernah ada di tempat yang sama hanya berbeda sepuluh menit saja. Lucu bukan? Setelah bertahun-tahun, hanya berbeda sepuluh menit saja. Tapi kembali lagi aku gak ingin mencari, kita akan bertemu kalau itu benar-benar takdir tuhan, atau kalau kamu yang mencariku.Tapi kalau kita bertemupun mau apa?Pernah di suatu malam gila, aku dan sahabatku bernostalgia untuk kembali ke masalalu hanya satu malam itu saja. Saat itu kami benar-benar membicarakan masa lalu, sesuatu yang sudah ku anggap tabu, dia membicarakan crushnya dulu dan aku membicarakan kamu.Bahkan dia membuka sosmedmu dan melike satu foto terbawahmu, apa kamu melihatnya?Haha, itu ulah sahabatku ya bukan aku.Tapi aku berfikir kalau kamu lihat notifikasi like itu, apa yang ada di pikiranmu? Apa terlintas itu aku?Kamu tau cara mudahku melupakanmu? Yaitu dengan tidak menyebut namamu baik oleh lidahku ataupun otakku, jadi dalam pikiranku pun namamu gak boleh disebut. Dan itu cukup ampuh. Benar itu cukup ampuh.Tapi malam ini aku menyebut bahkan menulis setengah namamu. Membuatmu abadi dalam tulisanku.Kenapa? Beranikah kamu datang lagi dalam mimpiku?