Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Crush
Romance
25 Nov 2025

Crush

Aku menyukainya sejak aku masuk di bangku SMP. Aku menyukainya bukan karena aku satu kelas atau satu sekolah dengannya, hanya saja aku memang mengenalnya. Aku tidak tahu kapan perasaan ini muncul karena aku juga tidak terlalu sering melihatnya. Bahkan perasaan ini semakin bertambah hanya dengan melihatnya.Kupikir jika aku mengabaikannya perasaan ini akan hilang namun, semakin aku mengabaikannya semakin aku tak bisa menyangkal kalau ternyata aku benar benar menyukainya. Yang bisa kulakukan hanya menatapnya dari jauh tanpa berani berbicara padanya. Aku hanya bisa melihatnya berbicara dan bercanda dengan orang lain, bukan denganku.Kupikir dengan membuka hati pada orang lain aku bisa melupakannya, namun saat aku melihatnya atau bertemu dengannya lagi nyatanya perasaan ini masih ada bahkan gak berkurang sama sekali. Pernah suatu hari saat di malam natal hal yang memalukan terjadi padaku, tiba tiba saja saat aku mulai berjalan hak sepatuku rusak, aku tak mungkin memakainya apalagi kami akan tampil pada saat itu. Kawanku pun berkata padanya (si crush) untuk mengantarku mengganti sepatuku. Kebetulan rumahku dengan gereja tempat kami mengadakan natal memang agak jauh. Aku benar benar malu dan awalnya aku juga menolak untuk tidak perlu menggantinya. Namun mereka bilang padaku “memangnya kamu gak malu memakai itu didepan nanti, semua orang pasti akan melihat!” Akhirnya aku pun setuju walaupun aku sudah sudah malu setengah mati.Itu adalah pertama kalinya aku bisa benar benar dekat dengannya. Selama perjalanan hanya ada keheningan karena memang tidak ada satupun dari kami yang memulai obrolan. Aku hanya berharap semoga kami cepat sampai karena rasanya benar benar canggung.Saat sampai aku langsung turun dan pergi meninggalkannya bahkan sampai lupa untuk mengucapkan terima kasih padanya karena begitu gugupnya.Setelah hari itu pun kami tak pernah saling bicara atau sekedar menyapa. Dan aku juga tak pernah berpikir untuk mendekatinya karena aku memang tak bisa.Bertahun tahun bahkan hingga aku masuk SMA yang kulakukan hanya menatapnya dari jauh dan juga masih mencoba untuk melupakannya. Aku juga tak berani mengatakan padanya bahwa aku menyukainya, karena aku tak mau ia merasa ilfeel denganku.Dan akhirnya disaat aku naik kelas 12 aku bertemu dengan seorang adik kelas, entah bagaimana aku bisa menyukainya yang pasti dengan kehadirannya aku bisa mulai melupakannya (si crush).Kini hanya ada dia yang ada di pikiranku. Aku mulai dekat dengannya bahkan kami sering ngobrol saat jam istirahat sekolah karena memang hanya pada saat itu kami bisa bertemu.Kupikir kali ini jalan cintaku akan berjalan dengan baik. Namun ternyata, aku mendengar rumor jika ia sudah memiliki pacar. Mulai hari itu aku pun mulai menjauhinya, kami tak pernah bertemu lagi seakan saling menghindar. Dia juga bahkan tak menjelaskan apapun padaku. Yah aku memang bukan siapa siapanya jadi kukira dia berhak untuk tak perlu memberitahuku tentang hubungannya.Mulai hari itu aku tak mau mengenal kata suka lagi. Aku mencoba melupakannya dan mulai menutup pintu hatiku untuk siapapun.

Cinta Pungguk Kepada Bulan?
Romance
25 Nov 2025

Cinta Pungguk Kepada Bulan?

Kuperhatikan dari jauh seorang lelaki dengan seragam olahraganya di antara lelaki berseragam olahraga lainnya yang sedang bermain voli. Ia tampak bergerak aktif mengikuti ritme permainan, kadang wajahnya serius, tetapi terlihat lebih banyak tertawa, ia menikmati permainan itu. Melihat pemandangan itu rasanya seperti dinaungi pohon rindang di tengah cuaca terik pagi menjelang siang ini, hmm… adem dan sejuk. Tak bosan-bosan kupandangi senyum dan tawanya itu, ah… andaikan ia kekasihku, mungkin aku jadi orang yang paling bahagia di dunia. Tapi nyatanya bukan, aku hanyalah seorang teman masa SMP nya yang mungkin sudah ia lupa karena kami memang tidak pernah satu kelas, mengobrol pun hanya sekali itu pun karena ada keperluan. Aku merasa seperti pungguk yang merindukan bulan.Permainan voli berakhir, Rayyan namanya, lelaki itu tampak lelah dan berpeluh, ingin sekali kuhapus peluh di wajahnya dengan sapu tanganku, tapi sangat tidak mungkin, aku bukan siapa-siapanya. Kusudahi apa yang sedari tadi kulakukan, Listia, temanku memanggilku mengajakku ke perpustakaan. Kami berdua memang hobi membaca, di perpustakaan banyak bahan bacaan yang bisa kami pinjam dan kami bawa pulang, baik itu referensi pelajaran ataupun buku bacaan hiburan.Selesai meminjam kami kembali ke kelas kami yang berada agak pojok dekat dengan toilet. Tanpa sengaja kami berpapasan dengan Rayyan, rupanya ia dari toilet, ia tampak rapi dan sudah mengganti seragam olahraga yang tadi dipakai dengan seragam putih abu-abunya. Ia tersenyum sambil lalu, entah senyum untukku atau bukan, tapi aku balas saja tersenyum. Aku merasa ia tersenyum padaku, karena matanya mengarah padaku. Aku bahagia. Apa senyummu mengartikan kau masih mengingatku? Atau karena kau memang lelaki yang ramah pada siapapun.Aku ingat sekali dulu kita, bersama belasan teman siswa siswi lain mewakili SMP kita mengikuti kompetisi antar sekolah sekabupaten, aku tergabung di tim bahasa Inggris dan kamu tim Matematika, tapi ah… kalau kupikir-pikir, mana mungkin kamu mengingatku, lagi pula menurutku dari sekian banyak siswi, mungkin siswi-siswi seperti Rena saja yang akan diingat oleh para siswa, gadis cantik, menarik, kulitnya putih bersih dan mulus, tapi… apalah aku, meski ibuku meyakinkanku kalau aku itu cantik dari hatiku.Hari berikutnya, aku harus piket kelas bersama beberapa teman yang lain. Sudah biasa kalau seperti ini, Lis pulang lebih dulu dan aku harus pulang sekolah sendiri. Biasanya kami pulang bersama, naik angkot bersama karena rumah kami memang searah. Jalan raya jaraknya kurang lebih 300 m dari sekolah kami, lumayan terasa memang kalau harus jalan seorang diri karena teman yang lain memilih jasa ojek online.Sekolah mulai sepi, dan seperti biasa pula kupacu jalanku agak laju. “Sis…” sebuah suara memanggil namaku, terdengar dekat, aku menengok ke belakang. Aku terkejut, ia Rayyan. Ia tersenyum padaku. Setelah dua tahun kami menimba ilmu di sekolah ini, baru kali ini ia memanggil namaku. “Hai…” satu kata yang bisa kuucapkan. Kenapa Rayyan baru pulang? dan tumben ia jalan kaki, biasanya kan naik motor, dalam hatiku.“Kamu Sista kan? Boleh bareng ngga?” tanyanya. Aku mengangguk. “Boleh kok” jawabku kikuk. Aku terdiam, bingung mau bicara apa, aku termasuk orang yang pemalu. “Sis, kamu alumni SMP DWI BINTANG SAPTA kan? aku ingat kok dulu kita pernah jadi tim perwakilan sekolah untuk kompetisi antar sekolah, benar kan?” tanyanya. Oh… ternyata dia masih mengingatku, batinku. “Iya benar, kupikir kamu tidak mengenaliku, kalau aku sih masih mengingatmu… Rayyan” “Enggak lah, masak aku lupa, kamu juga kan yang mendapatkan nilai tertinggi saat kelulusan SMP kita waktu itu? Aku dengar kok pengumumannya dari pak kepala sekolah” “Iyakah? Aku malah ngga tau kalau itu diumumkan, saat kelulusan aku memang ngga ke sekolah, waktu itu aku sakit cacar, hanya ibuku yang diberi kabar oleh wali kelas bahwa nilaiku tertinggi”. “Kamu kok baru pulang juga, Ray?” tanyaku setelah itu. “Hari ini giliran aku piket kelas, kamu juga kan? Aku tahu karena sering melihatmu… “.Singkat cerita, sejak saat itu kami mulai akrab, Rayyan beberapa kali mengajakku pulang bareng dengan motornya saat aku tidak pulang bersama Lis. Aku senang sekali bisa jadi teman dan dekat dengan Rayyan meski tidak berharap banyak menjadi kekasihnya. Mulai ada bisik-bisik tentang kedekatan kami dan kurasakan tatapan sinis dari beberapa siswi yang kutemui. Aku tahu banyak yang iri padaku karena banyak siswi yang menyukai Rayyan dan banyak pula yang ingin dekat dengannya. Aku tahu itu karena adiknya yang juga adalah adik kelas kami sering kulihat didekati siswi kakak kelas yaitu angkatan kami hanya untuk menarik perhatian kakaknya, Rayyan.“Ray… Kulihat banyak siswi-siswi di sini yang naksir padamu dan mencari perhatianmu, kenapa sampai sekarang masih jomblo?” tanyaku suatu hari karena penasaran. Rayyan hanya menggeleng dan tersenyum. Setelah itu, aku tak berani lagi menanyakan tentang itu.Bulan berganti tahun, hari perpisahan sekolah telah tiba. Panggung telah siap, kami berkumpul di aula dan hanya mengadakan serupa pentas seni untuk perpisahan kami tanpa dihadiri orangtua, hanya siswa siswi kelas XII dan pihak guru serta pengurus yayasan. Semua berpakaian bebas. Guru-guru dan pengurus yayasan duduk di deretan depan panggung, sedangkan siswa-siswi duduk di belakangnya, bercampur baur tidak tertib perkelas, ramai sekali. Aku senang dan terhibur melihat aksi panggung teman-teman semua, yaitu ketika unjuk kebolehan menyanyi, menari tradisional atau ngedance tari modern, tapi seketika menjadi sedih, haru saat akhir performance teman-teman membaca puisi dan menyanyikan lagu perpisahan. Aku ikut menangis tak dapat menahan kesedihan, mengingat kenangan masa-masa SMA di sekolah ini selama 3 tahun bersama teman-teman dan guru-guru.Kubuka resleting tas selempang biruku mencari sapu tanganku, tiba-tiba sebuah tangan menjulur dari belakangku menyodorkan tisu padaku. Kuikuti arah tangan itu hingga mataku tertuju ke wajahnya. Ada senyum manis tersungging di bibirnya yang merah yang kutahu adalah warna asli bibirnya, bukan karena lipstik seperti artis-artis K-Pop itu. Kuambil tisu yang Rayyan berikan padaku, aku malu terlihat habis menangis, mataku agak sembab. Entah sejak kapan ia duduk di belakangku, setahuku tadi temanku, si Ari yang duduk di situ. Kuucapkan terima kasih pada Rayyan. Ia berbisik padaku, memintaku untuk menunggunya sepulang dari acara. Aku mengiyakan.Acara sudah berakhir, siswa siswi satu persatu membubarkan diri, tinggal guru-guru dan panitia acara yang masih terlihat membereskan kembali aula dan panggung. Rayyan yang menjadi salah satu panitia ikut sibuk, aku menuruti permintaannya untuk menunggu di tempat parkir motor. Kurang lebih 40 menit menunggu sendiri, kulihat Rayyan berjalan ke arahku yang duduk di sisi tempat parkir motor. Rayyan duduk di sampingku. Tampak beberapa siswa teman Rayyan yang juga sebagai panitia menuju ke tempat parkir motor. Mereka melambai pada Rayyan untuk pamit pulang, Rayyan balas melambaikan tangan. “Yo, ati-ati bro…” teriak Rayyan pada teman-temannya.“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan Sis, mau ngga?” tanya Rayyan. “Mau! Tadi aku sudah izin sama ibuku kalau aku pulang telat, terus kita mau kemana?” “Terserah kamu, tapi hmm… kalau ke pantai mau?…” ajak Rayyan. Aku menyetujuinya, kemana pun asal berdua Rayyan, aku pasti mau.Rayyan bangun dari duduknya, memakai helmnya dan memberikan helm lain padaku untuk kupakai. Kami berdua sudah diposisi siap berkendara, Rayyan tampak diam sesaat, lalu tiba-tiba Rayyan menurunkan standar motornya dan turun dari motor. Aku masih duduk di jok motor bagian belakang. Ada apa… tak jadi pergikah? batinku. Lelaki itu membuka helmnya. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi agak ragu. Ia memandangku. “Sis, kamu tahu… sudah sejak lama aku menyukaimu… sejak kita SMP, tapi hanya kusimpan dalam hati, tak ada yang tahu…”. Kubuka helmku agar bisa mendengar lebih jelas. “Aku diam-diam mengagumimu, kamu gadis yang baik dan pandai, dan aku sering melihatmu sedang melaksanakan ibadah. Aku senang sekali pada akhirnya kita bisa satu sekolah lagi di sini. Di sini aku makin mengenalmu dan aku tahu kamu orangnya tulus, dan…” Rayyan terdiam sejenak. Tatapan lelaki itu lurus mengarah ke mataku. Aku tak dapat mengatakan sepatah katapun mendengar perkataan Rayyan, aku masih tidak percaya dengan apa yang kudengar barusan dari mulut Rayyan.Setelah sesaat dalam kebisuan, akhirnya kuberanikan diri bertanya… “Dan apa…?” suaraku terdengar parau. “AKU MENCINTAIMU SISTA, Apa kamu mau menerimaku jadi kekasihmu?” Aku tak mengira akan mendengar ini, aku tak percaya sama sekali. Aku pikir pasti Rayyan sedang bercanda. Aku jadi salah tingkah. Seketika kutundukkan wajahku karena ada rasa malu dan juga rasa ingin menangis menjadi satu.Rayyan memanggil namaku, kuberanikan untuk memandang wajahnya. “Apa katamu barusan Ray? Apa kamu sedang bercanda?” Rayyan menggeleng dan dengan mantap mengulangi pernyataan yang sama seperti yang tadi ia katakan. “Benarkah?” kutanya padanya lagi untuk meyakinkan hatiku. Rayyan mengangguk dan menebar senyum manis untukku. “Aku… aku… menerimamu Ray, aku… aku pun merasakan hal yang sama denganmu,” kujawab dengan terbata dan tersipu. Rayyan tersenyum manis (lagi), ia menyentuh rambutku dan merapikannya. Ia menyeka titik air di mataku yang sudah hampir jatuh. Ia mengambil helm yang kupegang dan memakaikan helm itu padaku. “Ayo kita berangkat, kita rayakan hari jadi kita…”.Kupandangi wajahnya yang dekat di depanku. Tak terkira bahagianya ternyata ia juga mencintaiku. Cinta pungguk tak bertepuk sebelah tangan. “Ternyata harapan itu selalu ada, Tuhan Maha Penyayang, Dia mengabulkan doa-doaku“.

Sempat Sekamar tak Sempat Dilamar
Romance
25 Nov 2025

Sempat Sekamar tak Sempat Dilamar

Perbedaan suku dan keyakinan menjadi penghalang untuk mendapatkan restu. “Aku sudah jelaskan kepada orangtuaku, kalau perbedaan suku saja, mereka akhirnya mau menerimamu sebagai menantu, tetapi perbedaan keyakinan yang tidak dapat mereka terima”, cowokku menjelaskan setelah dia meminta restu kepada orangtuanya yang tak berhasil.Dia seorang bersuku minang, katanya kalau cowok orang minang itu harus menikah dengan orang minang juga agar keturunannya masih meneruskan suku yang melekat di belakang nama. Berbeda dengan cewek orang minang bisa saja menikah dengan suku lain karena anaknya tetap menggunakan nama suku ibunya.Menurutku memang unik, tetapi itulah kekayaan budaya yang harus aku hormati, tetapi kalau masalah hati, kan cinta anugerah dari Tuhan yang tidak dapat ditolak manusia? kenapa harus dihalangi oleh berbagai persoalan yang seharusnya dapat dikomunikasikan.Apalagi di negara ini yang menganut Bhineka Tunggal Ika, perbedaan suku seharusnya tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak memberikan restu. Terkadang aku mengutuk mereka yang masih bersikukuh pada aturan itu, tetapi norma dari leluhur itu juga tidak dapat aku tipe ex dengan seketika.Dia seorang muslim, aku menganut ajaran Yesus. Kami sering berdiskusi tentang ajaran agama kami masing-masing yang dapat aku simpulkan ajaran agama kami tidak ada yang salah, hanya cara beribadah kami yang berbeda. Tetapi perbedaan ini yang susah untuk disatukan. Kami sama-sama taat beribadah.Dia sering mengantarkanku ke gereja pada hari Minggu sebelum kami jalan-jalan. Akupun sering mengantarkannya ke mesjid kalau tiba waktu sholat bahkan kalau bulan ramadhan, aku sering mengiriminya makanan untuk buka puasa. Semua aku lakukan karena cinta.“Jangan kamu gadaikan Roh Kudus yang ada dalam dirimu hanya karena perasaanmu saja”, demikian nasehat orangtuaku yang juga tidak menginginkan aku untuk berpindah agama.Kami sama-sama kebingunan untuk meyakinkan orangtua kami masing-masing tentang cinta.“Chek in, yuk?”, tawarnya pada sore itu setelah kami sama-sama bingung untuk mendapatkan restu orangtua.Entah kenapa aku terbuai dengan rayuannya? Mungkin karena aku seorang wanita yang selalu mengikuti perasaan dan selalu ingin membahagiakan orang lain apalagi orang yang aku cintai.Malam itu menjadi awal dari masa kelamku, kami terbuai dengan bisikan setan sehingga perbuatan yang tidak sah itu terjadi. Semula tidak ada rasa penyesalan dan suatu kebanggaan bagiku telah mempersembahkan yang paling suci kepada orang yang sangat aku cintai.“Aku berharap setelah ini kamu hamil, dan mau tidak mau mereka akan merestui hubungan kita”, kata cowokku. Ternyata dia sudah menyusun siasat untuk mendapatkan restu walau dengan cara yang tidak dapat dibenarkan.Perbuatan illegal itu seperti candu, sejak itu kami sering melakukannya. Sampai suatu saat kami sepakat untuk mengungkapkan kegiatan ini kepada orangtua agar mereka dapat merestui kami.“Keluar kamu dari sini selamanya”, demikianlah murka ayahnya ketika kami sama-sama meminta restu. Bukan solusi yang kami dapati tetapi caci maki dan kamipun diusir. Dia sendiri tidak lagi diakui.Hebatnya cowokku, walau kehilangan keluarga besarnya, dia masih memilihku. Dan kamipun menghadap orangtuaku dengan harapan yang sama. Kalaupun nantinya kami diusir, kami akan kimp*i lari, demikianlah tekad kami berdua.“Keluar kamu, jangan pernah dekati anak saya lagi”, ucapan yang sama tetapi berbeda belakangnya dari ayahku. Dia diusir dari rumahku, sedangkan aku langsung dipingit.Selang beberapa hari setelah itu, akupun dilamar oleh orang pilihan orangtuaku. Dengan terpaksa aku harus menerima. Walau aku tidak mencintainya, setidaknya kalau tidak dapat membahagiakan orang yang aku cintai, biar aku membahagiakan ayahku.18 tahun waktu berlalu. Entah kenapa hatiku ingin mengajak diri ini bertamsya di kota yang dulu pernah menjadi kenangan indah. Sekalian aku memesan kamar di hotel yang dulu menjadi tempat favorit untuk melakukan perbuatan asusila.“Mba, kamar no 305 kosong gak?” tanyaku kepada resepsionist. “Maaf Bu, kamar itu tidak disewakan”, jawabnya. “Kenapa Mba?”, tanyaku penasaran. “Kami tidak tahu Bu, mungkin bisa bertanya ke manajemen”, katanya.Akupun mencoba mencari manajemen hotel itu. “Maaf Pak, apakah saya boleh sewa kamar 305?”, tanyaku. “Maaf Bu, kamar tersebut tidak disewakan”, jawabnya. “Kanapa Pak?” tanyaku lagi. “Seseorang telah reserve kamar itu menjadi private room dan hanya dia yang bisa menginap disana”, katanya. “Boleh tahu, siapa namanya?” tanyaku penasaran. “Mohon maaf, Bu. Itu privasi, kami tidak dapat memberitahukan”, jawabnya.Akhirnya aku memesan kamar yang dekat dengan kamar itu. Sengaja melawati kamar yang menjadi kenangan tersebut. Aku baca di pintu terdapat tulisan “Private Room”.Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak karena kenangan masa lalu selalu terpampang dalam ingatanku. Dulu aku dan cowokku melakukan kegiatan yang tidak pantas di kamar itu hanya untuk mencari solusi agar hubungan kami direstui ternyata pada akhirnya hubungan kamipun kandas. Kami sempat sekamar tapi aku tidak pernah dilamar.Malam itu aku mendengar kamar tersebut ada yang membuka, aku mencoba mengintip tapi tidak ada orang yang aku lihat. Semakin aku tidak bisa tidur dan ditambah pikiranku mengarah kepada yang mistis seperti menjadi horror.Paginya aku sarapan, setelah sarapan mencoba mencari udara segar. Tidak aku sangka kursi yang dulu sering aku duduki masih utuh di taman itu. Aku pun duduk disana dengan membayangkan dia ada disisiku saat ini. Aku mulai berfantasi dengan kenangan-kenangan indah.“Selamat pagi, Bu!”, seorang petugas hotel menyapaku. “Selamat pagi, Pak!”, balasku. “Mohon maaf Bu, apakah berkenan pindah ke kursi yang lain?”, tawarnya. “Emang kenapa saya tidak boleh disini?”, protesku. “Mohon maaf, kursi ini sudah direservasi oleh orang lain”, jawabnya. “Hotel ini kok aneh? semua pengunjung kan memiliki hak yang sama, Pak?”, aku menolak.Aku mendengar seseorang memarahi petugas itu. Dia meminta untuk memasang tulisan reservasi di kursi tersebut agar tidak ada yang duduk disana. Aku tidak tahu siapa yang begitu sombong tersebut.Esok harinya, aku kembali ke kursi itu, ternyata memang benar ada tulisan reservasi. Aku tidak peduli, langsung aku duduki kursi tersebut. Dan kembali aku diusir oleh petugas tersebut dan tetap aku bersikeras untuk duduk.“Selamat pagi, Bu!”, seseorang menyapaku dengan sedikit nada keras dari arah belakang. Karena nadanya tidak bersahabat, aku juga tidak mau menoleh dan enggan untuk membalas sapaannya. “Maaf Bu, kursi ini sudah direservasi, mohon maaf, ibu bisa mencari kursi lainnya”, katanya agak sedikit sopan. Akupun tidak mau menoleh. “Maaf, Pak. Silakan Bapak cari kursi yang lain, saya juga punya hak duduk disini’, jawabku dengan ketus.Tiba-tiba dia melangkah ke depanku dan alagkah kagetnya aku, ternyata dia adalah cowokku yang dulu. Entah kenapa aku begitu lancang langsung memeluknya dan dia menepis pelukanku.“Maaf Bu, Ibu siapa?” dia membentakku. “Maaf Pak, kalau saya lancang, saya sangka Bapak adalah pacar saya yang dulu duduk bersama saya disini”, jawabku sambil mengurai air mata dan karena malu aku langsung berlari ke kamarku. “ireeen,…”, dia memanggil namaku. Tapi aku sudah terlanjur malu dan terus berlari ke kamar.“Tok-Tok,..” pintu kamarku di gedor seseorang. Aku tidak menghiraukannya karena aku sedang sesak dengan tangisku. Aku hanya kecewa dia melupakanku. “Ireen, aku mohon maaf, mohon buka pintu!”, akhirnya aku mendengar suaranya. Orang yang aku tunggu selama ini. Tapi karena aku masih belum mampu mengendalikan emosi, aku tidak mau membukakan pintu. “Baiklah, kalau kamu masih marah, aku maklum. Kalau sudah tidak marah lagi aku tunggu di kamar 305”, katanya.Entah kenapa hatiku luluh mendengar nomor kamar 305. Setelah bisa mengendalikan emosi, aku coba beranikan diri ke kamar 305.“Tok-tok”, aku mengetuk pintu itu. Dia membuka pintu dan langsung memelukku. Aku ingin menepisnya seperti tadi dia menepisku di taman tetapi hatiku tidak kuasa mendengar tangisnya dan akupun berurai air mata. Kami saling melepaskan rindu. Dan entah siapa yang memulai perbuatan hina itu kembali terjadi.Banyak cerita yang ia ungkapkan, hingga saat ini dia mengaku tidak pernah memilih wanita lain untuk mendampinginya. Ia yang membeli kamar ini hanya untuk mengenang masa lalu. Dan dia selalu berharap kejadian ini.Akupun bercerita tentang masalah keluargaku. Ternyata pria yang dijodohkan untukku bukan lelaki yang baik. Dia seorang bandar nark*ba dan sudah meninggal dunia karena overdosis. Entah karena bunuh diri atau apapun alasannya, yang jelas dia mati sebelum dijebloskan ke penjara. Dan terjadi dua tahun yang lalu.Sore harinya, kami duduk di kursi yang sempat menjadi sengketa itu. Dia sengaja mengabadikan dengan tujuan menantiku. “Maafin aku, aku tidak tahu kamu yang duduk disini tadi pagi”, katanya. “Aku juga tidak mengira kamu melakukan ide gila ini sampai membeli kamar dan kursi ini’, kataku sambil menikmati pelukannya. “Gimana aku tahu, sekarang kamu berjilbab”, katanya.Aku bercerita, setelah suamiku meninggal, anakku menjadi mualaf. Ia ingin hidup dengan jalan yang benar karena selama ini ayahnya tidak pernah mengajarinya tentang agama dan aku mengikuti anakku sehingga aku sekarang sudah menjadi muslimah.“Maukah engkau menikah denganku?”, pertanyaan yang mengejutkanku sambil dia menyerahkan seutas cincin pernikahan. Aku tidak menjawabnya dan hanya memeluknya sembari menganggukkan kepala.Kamipun menikah dan hidup dengan bahagia. Aku percaya Tuhan tidak pernah salah memberi cinta.

Cinta Lama Bersemi Kembali
Romance
25 Nov 2025

Cinta Lama Bersemi Kembali

Aku termenung di dalam kamarku. Memandang bintang-bintang yang berkelip dengan pandangan kosong. Ya, sudah satu bulan yang lalu aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Nayla (mantan pacarku), karena aku memergokinya sedang bersama laki-laki lain di bioskop. Akhirnya aku putus dengan Nayla. Meski penyesalan itu datang menghantuiku berkali-kali.Siapa yang tidak menyesal telah putus dengan Nayla? Apalagi, Nayla adalah primadona di sekolah. Dia cantik, putih, cerdas, baik pula. Tentu saja, banyak laki-laki yang suka.Angin malam masuk melalui jendela kamarku yang masih terbuka. Hawa dingin menyergapku. Membuatku menutup jendela rapat-rapat. Aku memperhatikan jam dinding. Sudah pukul 24.30. Lalu aku memutuskan untuk tidur.Krinnggg… Bel istirahat telah berbunyi. Aku segera merapikan bukuku. “Fan, ke kantin yuk!” Ajakku kepada sahabatku, Fandy. “Eits, bentar ya. Gue mau ke cewek pdkt gue,” jawab Fandy sombong. Benar-benar Fandy banget.“Tumben punya pdkt,” ledekku. Ia melotot kepadaku. Aku tertawa. “Siapa pdkt lo?” Tanyaku penasaran. Ia menggeleng. “Nggak ah. Nanti lo ngiler lagi.” Aku mendengus. Kemudian aku mengikuti Fandy ke kelas XI IPA 2. Aku jadi ingat sama Nayla, karena dia juga kelas di sini. “Dia nggak ada, Ndra. Langsung cabut, yuk!” Fandy membuyarkan lamunanku. Lalu kami segera menuju kantin.Pulang sekolah, aku langsung bergegas bersama Fandy. “Ntar, Ndra. Ke kelas XI IPA 2 dulu.” Ajak Fandy. “Fan?” Tanyaku. Saat kami berdua berjalan menuju kelas XI IPA 2. “Iya, Ndra?” “Emang cewek pdkt lo itu kayak apa sih kok mau sama lo?” Candaku. “Huh.. dasar! Gue, kan, keren,” dengusnya. “Dia itu, ya, primadona gitu di sekolah kita.” Kata Fandy bangga. Aku termenung. Kenapa hampir sama dengan Nayla? Dan tak terasa kami sudah berada di depan kelas XI IPA 2. Dan sesuai dugaanku, ternyata cewek yang dimaksud Fandy adalah Nayla. Aku terkejut melihat keberadaan Nayla di hadapanku. Sepertinya, Nayla juga tak kalah terkejut denganku.Kami terdiam dengan pikiran masing-masing. Fandy menatapku dan Nayla bergantian. Rupanya Fandy belum tahu bahwa Nayla adalah mantan pacarku, karena aku belum pernah bercerita dengannya. “Hey, Nay!” Sapaku gugup. “Eh.. em, hey, Andra!” Jawab Nayla terbata-bata. “Kalian kenal?” Tanya Fandy heran. “Nggak!” Ucap Nayla tegas. “Gue tahu dari bedge namanya, Fan,” kataku berbohong. “Iya kan, Nay?” “Iya Fandy.” Kata Nayla meyakinkan. Fandy manggut-manggut tanda ia percaya. Aku bernafas lega. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja daripada aku merasakan cemburu. Mungkin, rasa cintaku kepada Nayla masih sama seperti dulu. “Fan, gue pulang dulu ya?” Pamitku. “Eh, jangan, Ndra. Di sini aja, bareng-bareng kita jalan-jalan,” cegah Nayla. Aku menggeleng. “Maaf, Nay. Nggak bisa.” “Ya udah. Hati-hati ya!” “Iya.” Aku berjalan meninggalkan mereka berdua. Pikiranku benar-benar kacau. Aku ingin secepatnya sampai di rumah.“Andra, malam Minggu kok nggak keluar? Dari tadi nonton tv mulu.” Mamaku bertanya. “Ntar nggak boleh lagi.” Jawabku. Ya, seperti malam minggu yang lalu, aku nggak boleh keluar gara-gara nilai matematikaku jeblok. Itu sangat menyebalkan. “Boleh kok sama Papa. Kamu diizinin.” Aku sangat bahagia dengan perkataan mamaku. Aku mencium pipi mamaku. Lalu segera menyambar jaket dan menaiki sepeda motorku. Aku bergegas menuju ke rumah Fandy.Sesampainya di rumah Fandy, ternyata dia keluar. Aku segera menuju ke cafe yang tadi ditunjukkan oleh mamanya Fandy.‘Sampai juga’, batinku. Aku memarkirkan sepedaku dan masuk ke dalam cafe. Aku menemukan Fandy. Tapi aku tetap terpaku di pintu cafe. Aku sangat jelas mendengar suara Fandy, karena ia duduk di tempat duduk yang jaraknya hanya tiga meter dari pintu. Ia tidak sendirian. Melainkan duduk berhadapan dengan Nayla. “Nay, mau nggak jadi pacarku?” Tanya Fandy. Sepertinya Nayla gugup. Dan aku mulai merasakan cemburu. Aku sadar bahwa aku masih cinta dengan Nayla. Bahkan rasa cintaku tidak berubah dari sebulan yang lalu.Aku hanya termenung menatap pemandangan yang menyayat hatiku. Hingga seseorang menegurku, “mas, jangan di pintu donk!” Tegurnya lumayan keras. Sehingga Nayla dan Fandy ikut menoleh. “Andra!” Teriak Nayla.Aku segera berlari dan menaiki sepeda motorku. Aku tak kuasa menahan tangis yang telah kubendung sedari tadi. Aku cengeng. Aku memang sangat cengeng. Aku hanya melamun dan pandanganku kosong. Hingga tak kusadari aku menerobos lampu merah dan ada truk melintas. “BRUUKK!!” Aku menghantam truk tersebut. Pandanganku menggelap dan aku tidak sadar.Aku terbangun dan mengerjapkan mata. Pertama yang kulihat hanyalah ruangan yang putih. Tercium bau obat-obatan yang sangat kubenci. Kepalaku pusing. Aku bisa menebak bahwa aku ada di rumah sakit. “Andra, kamu sudah bangun.” Kata suara yang tak asing di telingaku. Ternyata mamaku. “Ma, kenapa aku ada di sini?” Tanyaku. “Sudahlah, nak. Kamu istirahat saja,” kata papaku. Aku menghela nafas. Rasanya udara di sini semakin berkurang. Susah sekali untuk bernafas. Seperti ada yang menutup hidungku.“Andra maafin aku!” Kata seseorang yang baru saja datang. Pandanganku samar-samar. Ternyata Nayla dan Fandy. “Iya, Ndra. Gue juga nggak tahu kalau Nayla itu mantan lo. Dan gue juga tahu kalau lo lagi CLBK ke Nayla.”Aku mengangguk, rasanya berat sekali. “Fan, gue titip Nayla ya? Jagain dia. Jangan sakiti dia. Kamu juga, Nay. Jangan sakiti Fandy.” Kataku lirih. Aku semakin kesulitan bernafas. “Andra.. jangan pergi..” Nayla terisak. Aku menoleh ke arah mama dan papaku yang menangis. “Ma, Pa, maafin Andra. Andra belum bisa bahagiain Mama sama Papa. Aku..aku sa..ya..ng kaa..liannn.” Aku memghembuskan nafas terakhirku.

Ghosting
Romance
25 Nov 2025

Ghosting

Aku mengenal Ani sudah lama. Hanya sekedar teman lama yang hanya sekedar kenal tanpa saling bertegur sapa. Cuman, baru baru ini aku mulai mengenalnya lebih jauh. Dan tidak kusangka, tiba-tiba aku menyukainya. Semua itu berawal dari…“Halo joo, aku Ani, simpan nomorku yaa.” Pesannya pertama nya kepadaku. “Eh iya iya”. Balasku sambil kaget. Dia mulai menanyakan kabar, seperti layaknya teman lama. . . . Lama kita tidak saling berhubungan lagi, sampai pada akhirnya kita bertemu lagi saat kita berdua mengikuti organisasi OSIS. “Loh, Lajo? Ikut OSIS juga ya?”. Tanya dia padaku dengan senyuman. “Iya cuy, lumayan sambil cari pengalaman baru”. “Wihh, keren kerennn”.Sejak saat itu aku mulai akrab dengan dia. Saat ada kegiatan OSIS, aku dan Ani selalu berdua. Aku mulai menyukainya saat kami diutus mengambil uang sumbangan. “Wih Lajo, ayo sama aku aja ambilnya.” Ajaknya dengan penuh semangat. Aku menjawab ajakannya dengan semangat pula “Hayyyyyyuuukkkk.” Ucapku sambil sedikit berteriak.Kami berangkat berdua menuju kelas yang ditugaskan. Dalam perjalanan, Aku dan Ani sedikit berbincang dan bercanda. Kulihat matanya, kulihat senyumnya, begitu manis dan indah. Sesampainya di kelas, kita bersuit dulu untuk menentukan siapa yang masuk dan berbicara didepan kelas, “Gunting… Batu… Kertas…” Aku menang, tetapi dia menolak untuk masuk dan berbicara didepan kelas. Aku pun dengan sok langsung menyaut “Ya sudahhhhhhh, aku aja yang masuk duluann, tapi kamu nanti bantu aku ya waktu ambil uang”. Kataku dengan nada halus “Nahh gitu dongg”. Ucapannya dengan muka sedikit mengejek. Setelah mengambil uang, kita kembali ke ruang OSIS untuk menyerahkan uangnya. Setelah itu, kita kembali ke kelas masing masing.Saat di kelas, aku mulai memikirkannya. Di kelas, aku tidak bisa fokus, memikirkan tentang indahnya senyuman dan matanya yang membuatku menyukainya. Sejak saat itu, Aku dan Ani hampir setiap hari selalu chattingan. Menanyakan tentang tugas, pelajaran, dan bahkan membicarakan hal hal yang tidak berguna. Semakin lama, aku semakin jatuh dengan Ani. Cara dia memperlakukanku, sifatnya, matanya, senyumnya, tawanya, bahkan baunya, semakin membuatku tak bisa melupakannya.Beberapa bulan berlalu, kita semakin dekat. Tiba-tiba, Ani mengirimkan foto pertamanya kepadaku “*Fotonya bersama teman-temannya sedang membeli makanan untuk berbuka puasa*” “Wih, enak tuhhh” balasku sambil tersenyum dan hati yang berbunga-bunga. “Beli dimana?” Tanyaku lagi dengan maksud untuk tetap chattingan dengan Ani. “Di Badung” jawabannya “Ohh, di Badung, adzan Maghrib nih, bisa makan yey” pesanku lagi. Tanpa kuduga, Ani mengirim pesan suara. Pesan yang sampai saat ini masih kusimpan. “Allahumma lakasumtu wabikaa amantu, waalarizqika aftortu, birohmatika yaa arhamarrohimiin.” Suaranya yang indah membuatku semakin bahagia pada saat itu. Membuat buka puasaku semakin berkesan. “Aminnnnn” jawabku dengan pesan suara juga. Setelah berbuka, aku bersiap siap untuk sholat tarawih. Kebetulan rumah kita saling berdekatan. Sembari menunggu adzan, aku juga menunggu Ani berangkat ke masjid. Aku duduk di tempat duduk dekat jalan masuk perumahanku.“Eh, itu dia.” Ujarku. “Ni Aniii.” Sapaku kepadanya agar dia menoleh “Eh Lajo”. Sahutnya Kuhampiri dia dengan berlari, dengan maksud menemaninya berjalan ke masjid.“Sendiri aja Jo? Mana temenmu?” tanya Ani padaku. “Iya nih, aku berangkat awal, nanti temen-temenku nyusul.” “Ohh iya”. Ujarnya “Kamu juga, kok tumben sendiri, mana mamamu?” tanyaku “Mamaku lagi libur, jadi ga bisa sholat bareng deh”. “Oh, oke deh”.“Eh ngomong-ngomong, gimana puasanya? Lancar apa nggak nih? Atau mungkin udah ada yang bolong?” ucapku sambil ekspresi bercanda. “Ehhh, enak aja, masih penuh ya. Kamu kali yang udah bolong, bolong bolong kaya sarang tawon.” “Heh, sama ya aku juga belum bolong sama sekali”. UcapkuSaat menuju ke masjid, kita bercanda dan berbincang-bincang cukup lama. Kita juga sempat membeli sedikit camilan dan minuman kesukaannya. Kebetulan di depan perumahanku, banyak pedagang kaki lima yang berjualan aneka camilan dan minuman. Tiba tiba adzan terdengar dari masjid. Kita bergegas menghabiskan camilan dan minuman yang kita beli dan segera menuju masjid.“Uhuk uhuk uhuk”. Tiba-tiba Ani tersedak makanannya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung memberikan minumanku yang rasa vanilla itu. “Minum punyaku.” Kataku “glek glek glek.”“Bweh, rasa apa ini?” tanya Ani dengan ekspresi lucu “Vanilla” jawabku dengan nyengir. Aku baru ingat kalau Ani tidak suka rasa vanilla. “Pantesan nggak enak”. “Udah gapapa, yang penting kamu udah mendingan”. “Iya deh, makasih ya joo”. Ucapnya kepada dengan muka sedikit mengkerut. “Udah, ayo ke masjid, keburu telat”. Sambil kubuang gelas plastik bekas minuman rasa vanilla yang tidak enak itu. “Iya, sabar dong.”Kita berdua menuju masjid. Aku dan Ani tertawa mengingat kejadian tersedak dan mengingat ekspresi wajah Ani saat merasakan minuman itu. Berjalan dengan penuh tawa dan kebahagiaan pada malam itu. Diiringi dengan suara adzan dan musik pedagang kaki lima di pinggiran jalan.Sejak saat itu. Aku lebih jatuh cinta lagi kepada Ani. Entah kenapa setiap hari aku selalu memikirkannya. Padahal setiap hari pula kita saling mengirim pesan. Setiap hari pula kita bertemu saat pergi menuju masjid. Kita semakin dekat sampai teman-teman mengira aku berpacaran dengan Ani. Ani mungkin tahu aku menyukainya, tetapi aku tidak pernah mengatakan itu kepada siapapun. Dan aku juga merasa dia menyukaiku juga. Tetapi aku selalu berpikir bahwa aku hanya GR saja. Mungkin dia menganggap aku hanya teman dekat laki-lakinya saja.Libur puasa telah selesai. Kita semua naik ke kelas IX. Sialnya, aku menjadi teman sekelasnya. Semakin tidak mungkin buatku untuk tidak memikirkannya. Hari demi hari, perbincangan kita semakin dalam. Dia mulai sering berkeluh kesah tentang harinya kepadaku, aku memberinya semangat dan beberapa dorongan buatnya. Karena aku sadar sekali, dia adalah seorang gadis yang membutuhkan dorongan dan semangat, dan aku harus memberikan apa yang dia butuhkan.Setiap hari kita semakin dekat, bahkan mungkin sangat dekat. Aku mulai menaruh harapan besar kepadanya. Semakin banyak rahasia dan sesuatu yang kuketahui tentangnya. Bahkan hal buruk pun kuketahui, tetapi aku berusaha menutup mata dari keburukan yang dia miliki. Mungkin ini adalah arti dari Cinta itu buta.Tiba-tiba, beberapa hari dia menghilang. Tak memberi kabar, tak bertukar pesan, tak berkeluh kesah kepadaku. “Kemana dia? Kenapa tiba-tiba menghilang?” tanyaku kepada diri sendiri. “Mungkin dia sibuk, atau mungkin tidak punya paket internet.” Ucapku untuk menenangkan hatiku.Hubungan kita semakin merenggang, berminggu-minggu tak pernah bertukar kabar lagi, jarang berbincang dan bercanda seperti dulu lagi. Hingga pada suatu sore, Ani mengirim pesan singkat “Halo Jo.” Aku yang sudah terlanjur asyik dengan diriku sendiri, berusaha tidak menghiraukannya.Sakit memang, saat mengingat kejadian dan kenangan di masa lalu. Aku sempat larut dalam kesedihan saat mengingat kenangan-kenangan manis itu. Membaca kembali pesan pesan yang dikirimkan Ani kepadaku. Mendengarkan kembali pesan suara yang dia kirimkan kepadaku. Melihat kembali foto-foto lucunya. Tapi aku sadar, mengapa masa mudaku yang indah ini harus diisi dengan air mata dan patah hati yang tidak berguna? Sedangkan masih banyak sekali kebahagiaan dan cita-cita yang harus kucapai untuk masa depanku.

Garis Takdir
Romance
25 Nov 2025

Garis Takdir

Hari ini, Luna memiliki sebuah janji yang dibuat bersama oleh kekasih—Atlas kerap Luna menyapanya. Niatnya, Atlas hendak menemui perempuan itu. Sekarang adalah waktunya.Luna menjalani rutinitasnya seperti biasa. Dengan bersiap diri dan memantapkan hati bahwa hari itu akan menjadi hari yang baik untuk Luna, karena Atlas meminta Luna untuk menemuinya. Entahlah, Luna berpikir seakan-akan hari ini adalah hari terakhir bertemu dengan Atlas. Angan Luna sangat gundah. Seperti halnya, hati ini ada yang mengganjal.Atlas ialah kekasih Luna yang sudah menjalani hubungannya selama 1 tahun. Atlas sosok lelaki yang Luna sukai di bangku SMA. Lelaki yang Luna kagumi dalam cara menulis dan keseriusannya saat membaca buku. Atlas Bhagawanta Egbert, jelas tercetak khas namanya seperti ada campuran turunan bangsa Eropa. Dengan rambutnya hitam sedikit pirang, dan matanya memiliki warna cokelat. Luna tertarik pada saat bertemu di perpustakaan, tetapi waktu itu Atlas dan Luna tak saling mengenal.Luna masih ingat pertama kali menemui Atlas waktu itu, Atlas mendekati bangku Luna dan menanyakan buku apa yang sedang dibaca. Katanya, buku itu adalah buku yang dicari-cari oleh Atlas. Spontan Luna langsung meminjamkan kepada Atlas, untungnya Luna sudah membaca buku itu sampai habis. Sejak itu mereka menjadi saling dekat dan membicarakan tentang buku bahkan musik selera mereka berdua. Atlas menjadi teman membaca Luna saat di perpustakaan.Hari-hari pun berlalu, Luna semakin sering menemui dan menghabiskan waktu dengan Atlas. Entah itu membaca buku di perpustakaan, atau bermain ke alun-alun untuk melihat bianglala, juga membeli arumanis. Tak lama pun Luna dan Atlas saling menyukai. Atlas mengungkapkan perasaannya jika menyukai gadis itu, dan Atlas meminta Luna untuk menjadi kekasihnya.Memang sesederhana itu pertemuan Luna dan Atlas untuk pertama kalinya, ia pula tak menyangka bahwa hubungannya dengan Atlas sudah sejauh ini. Jarak dan kesibukan menjadi alasan Luna tidak bisa menghabiskan waktu dengannya akhir-akhir ini, sehingga hanya bisa bertukar kabar lewat ponselnya.Atlas menemui Luna hari ini, Atlas berpesan agar ia bisa datang ke tempat mereka berdua bertemu. Bukan perpustakaan, tetapi pantai. Aneh, saat Luna membaca pesan dari Atlas. Kenapa harus bertemu di pantai?Langit cerah terlihat serasi berpasangan dengan Mentarinya, kawanan burung tampak menari di langit. Suara ombak yang memecah kala bertabrakan dengan batu karang memberikan suara dan wangi yang khas.Hati Luna berdegup tak karuan saat ia berjalan menemui Atlas, lelaki itu sedang berdiri di tepi pantai sembari melihat deburan ombak. Nyaring sekali, seperti sedang bunuh diri menabrakkan badan pada tebing-tebing. Pasrah berlalu-lalang dibawa alam semesta.Luna teringat bahwa Atlas pernah mengatakan, jika Atlas sangat menyukai laut. Ia merasakan arus bawah laut berdentuman. Ke sana kemari mendekap begitu erat, begitu hangat, seolah memang sudah tertitah membuat Atlas tenang. Ujarnya waktu itu. Mungkin, inilah alasan mengapa Atlas memintanya untuk bertemu di pantai.Atlas tersenyum lebar kearah Luna, lantas Luna tersenyum kepadanya.“Atlas, maaf aku terlambat hadir.” Luna membuka percakapan. “Enggak apa-apa, kamu apa kabar? Lama nggak menanyakan kabar. Sudah lama sejak pertemuan kita kala itu di bangku SMA, kita saling menyibukkan diri untuk belajar, kan? Hingga lulus pun, kita juga jarang bertemu.” Jawab Atlas santai.Suara Atlas, suara yang Luna rindukan. Sosok lelaki yang menarik hatinya saat pertama kali melihatnya berada di perpustakaan. Parasnya tetap menawan walau dilihat dari jauh sekalipun.“Oh ya, ada hal yang saya akan bicarakan.” Ucap Atlas memecah keheningan. “Apa itu?” tanya Luna.“Sebelumnya, selamat atas kelulusan serta kelancaran kamu sebagai seniman. Turut bangga akhirnya hobi dan pendidikan kamu tempa membuahkan hasil setimpal. Na, baik-baik, saja kan? Lama tak melihatmu tersenyum.” Gumam Atlas sembari menggenggam kedua tangan perempuan itu.“Sebenarnya, banyak hal terjadi dengan bentang perjalanan waktu akhir-akhir ini. Jakarta terus terik, hawanya panas. Tetapi selalu kemudian adem ketika saya masih mengingat bagaimana kamu mengulas senyum tipis di perpustakaan sekolah kita dahulu,” ungkap Atlas seperti berat untuk menjelaskan.“Atlas kamu ngomong apa? Jangan seperti ini. Aku seakan-akan merasa.. semuanya akan berakhir. Bukankah kita harus bahagia saat bertemu? Kita lama tak berjumpa. Harusnya kita melepas rindu dan menikmati pemandangan pantai hari ini …” lirih Luna, seketika dadanya mendadak menjadi sangat sesak dan tanpa disadari.“Saya nggak tahu, kapan dan dimana kita akan bertemu lagi. Entah itu di kehidupan selanjutnya, atau nanti. Saya minta maaf, saya nggak punya banyak kuasa untuk memaksa takdir mempertemukan kita. Hingga akhirnya pekan depan, saya benar-benar harus mengatakan bahwa kita sudah tak dapat lagi mencipta kisah. Sejujurnya saat ini saya ingin memberitahu kamu kalau mungkin saja hari ini adalah hari-hari terakhir saya akan ada di sampingmu.” Lanjut Atlas.Rasa senang bertemu dengan Atlas kini hilang. Sekarang hening. Begitu sunyi. Begitu sendu.“Saya harus ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan saya yakni Jurusan Sastra. Syukur, saya berhasil meraih mimpi saya untuk berada di Universite d’Orleans yang terletak di kota Orleans, Prancis. Pekan depan saya harus pergi meninggalkan Indonesia. Jujur, saya tidak bisa menerka takdir nantinya. Apa saya harus meminta takdir agar mengantarku untuk bertemu denganmu? Pasti tidak. Tetapi satu hal saya tahu. Ketika kita bertemu lagi, kita berdua sudah sama-sama meraih mimpi kita, dan.. kita akan bertemu dengan jiwa kita yang baru yaitu diri kita yang versi lebih baik.” Ucap laki-laki dengan rambut hitam yang sedikit pirang dan tinggi itu. Mata cokelatnya menyala saat menatap perempuan yang kini sedang berdiri dihadapannya.Keduanya diam-diam tersenyum dibalik air mata. Atlas menarik napas, lantas melanjutkan kalimatnya.Atlas berkata, “Kita berpisah untuk alasan yang baik, oleh karena itu saya pun ingin kamu baik-baik saja kedepannya. Seperti namamu, Luna. Kamu cantik seperti bulan, semua orang menatapmu dan mencintaimu seperti yang saya lakukan. Dengan segala diri kamu yang luar biasa banyaknya, kalau kamu baik-baik saja, saya juga akan begitu. Bahagia, bahagia, bahagia selalu ya Nona.”Ia membawa perempuan itu kedalam dekapannya. Hangat. Dekapan menjadi jawaban mereka berdua saat itu. Menjadi sebuah pilihan berat ketika harus meninggalkan.Usai sudah kisahnya, Luna ingat betul bahwa Atlas menitipkan sebagaian hatinya dan sebagaian hatinya lalu pergi begitu saja.Bukankah semua yang hadir akan selalu pergi? Begitu juga dengan pagi, malam, dan siang hari bukan? Itu hukum alam. Yang perlu manusia lakukan hanyalah menyambut dan melepas. Manusia pasti mempunyai sebuah pilihan, dan sekarang takdir menyuruh manusia untuk memilih antara meninggalkan dan ditinggalkan. Atlas dan Luna harus memilih salah satu dari dua pilihan itu, namun rupanya Atlas sudah memilih untuk meninggalkan. Kata yang dipilih takdir untuk Luna memang menyakitkan, tetapi mau tak mau, itulah yang akan terjadi dan pasti terjadi. Karena hidup akan terus berjalan semestinya.Nasib takdir tentukan mereka ‘tuk bersama, namun hanya sementara. Itu semua telah menjadi hukum alam. Apapun yang menyangkut kepergian, sisanya adalah rahasia dan tidak diketahui banyak manusia. Luna tidak bisa menebak bahwa Atlas akan pasti kembali. Luna tidak bisa mengharuskan Atlas kembali. Tidak bisa. Tapi, Luna akan bahagia sesuai dengan permintaan terakhirnya. Luna akan baik-baik saja, begitu pula dengan Atlas.

Jika Kau Hidup, Aku Rindu!
Romance
24 Nov 2025

Jika Kau Hidup, Aku Rindu!

Hujan menemaniku dalam perjalanan pulang, tetesannya kejam dan pilu membuat semangatku meluntur, sesekali petir menyambar aku masih terjaga, menguatkan diriku, walau perjalanan mungkin masih jauh namun aku berusaha untuk tetap melanjutkan perjalanan.Handphoneku hampir meninggal dengan damai, lengkap dengan GPS ku, yang bisa dipastikan jika aku tersesat maka akan susah untuk kembali mengingat hari sudah hendak memasuki malam hari. Disekelilingku tidak ada rumah sama sekali, hanya aku, aspal, pembatas jalan dan pepohonan yang rimbun aku setengah was was, takut merinding dan sangat kelelahan.2 jam yang lalu undangan dari mantan kekasihku, dia menikah, aku pergi sendirian tanpa mengajak pacarku yang kebetulan masih menjadi rahasia Tuhan, dan sangat disayangkan pula otomatis aku pulang sendirian juga.Hujan masih belum reda, aku semakin memasuki kedalam hutan belantara di daerah Yogyakarta bagian timur, Gunungkidul, aku tak begitu mengingat jalan ketika aku berangkat, apalagi pulang, apalagi hari mulai gelap dan tentu diperparah dengan hujan yang mengguyur bumi tanpa henti, Dalam radius setengah kilo meter kulihat sekilas ada sebuah gapura besar, tinggi, tak begitu aku perhatikan nama gapura itu, aku memasukinya saja, namun tak kusangka, aspal hitam tanpa kusadari tiba tiba lenyap, berganti dengan tanah liat yang begitu licin, aku terperosok jatuh.Ssrtttt… Srt tt t.. Brukkk… Srut… Aku jatuh agak jauh, beberapa meter di depanku adalah jurang dan keberuntungan masih di pihakku.Tak ada yang menolong, tak ada yang membantu, hanya aku yang sangat kesusahan mengangkat motorku di tengah hujan, Di sekeliling hanya hutan pepohonan yang rimbun, aku bergidik, bulu kudukku merinding, kutengok ke kiri dan ke kanan tak kutemui satupun rumah ataupun cahaya, hanya saja ada satu cahaya yang agak gelap di arah lurus jalanku tadi, Aku bergegas menuju kesana. Kupacu sepeda motorku.Sesampai di cahaya yang aku maksud, Seorang wanita tua bersanggul mengenakan kebaya, membawa sebuah lampu petromak, lampu independen jaman dulu, tampak di depan rumahnya, Di tangan kanan wanita itu memegang petromak, tangan kirinya memegang tongkat, Dalam hujan deras aku memperhatikannya, agak samar memang, Wanita tua itu memperhatikanku, hingga waktu beberapa meter ketika aku melewatinya aku melirik wanita tua itu, Wajahnya melotot, nampak tak suka dengan kedatanganku, beberapa kali ia memukul tongkatnya ke tanah,Akhirnya aku hanya melewatinya saja, sembari berdoa aku selalu diberi keselamatan, Beberapa meter dari wanita itu aku melihat sebuah kampung, kampung itu nampak asri, sangat pedesaan dan aku tak menemukan lampu penerangan modern, mungkin mati lampu pikirku, aku menuju ke salah satu rumah di kampung itu, Motorku aku hentikan, aku melihat seorang bapak bapak, mengenakan sarung, dan dia tak mengenakan baju, padahal ini hujan deras tentu saja udara sangat dingin dan kontras dengan bapak yang tak mengenakan baju tersebut“Permisi pak” “Mari nak silakan” dengan menggunakan bahasa Jawa halus bapak itu menanggapiku “Mohon maaf, pak, nampang bertannya jalan untuk menuju ke Bantul* dimana ya pak?” Tanyaku (* Bantul adalah kotaku, salah satu kabupaten di daerah provinsi Jogjakarta) “Bantul?” Bapak itu mencoba menerawang “Iya pak” Bapak itu berusaha mengingat ingat sembari Komari Kamit berusaha menemukan daerah yang aku cari, aku mengerti dia tak paham “Atau mungkin Pantai Parangtritis* pak?” Pantai parang Tritis mungkin bapak itu lebih mengerti (* Parangtritis adalah salah satu pantai di daerah Bantul, pantai itu sangat terkenal) “Pantai parangtritis?” Bapak itu mulai berpikir kembali, mencoba mengingat ingat, tak mengatakan apapun kepadaku.Aku mulai putus asa untuk bertanya, dan mulai berpikiran tidak baik, kepada bapak itu, aku bergegas menyudahi mungkin nanti jika ada orang akan aku tanyakan lagi, aku bertanya pertanyaan terakhir “Atau mungkin arah Timur Utara Selatan?” “Oh, timur sana mas, selatan sana, Utara sana, dan barat sana” Dia berkata sambil menuding-nudingkan tangannya Aku berpikir ada yang tidak beres “Arah selatan sana ya pak?” Tanyaku “Iya mas” “Jika arah pantai selatan kesana ya pak berarti” Parangtritis adalah pantai selatan, otomatis jika aku menuju lurus ke selatan pasti aku akan menuju ke pantai Parangtritis mengingat secara geografis, Gunungkidul di utaranya Parangtritis “Benar mas, pantai selatan ke arah sana” Aku agak bingung, tapi berusaha untuk tetap ramah aku berpikir ada yang tidak beres. “Baiklah pak, terimakasih banyak, saya mohon ijin untuk pulang” “Baik mas, tidak mampir dahulu” “Tidak pak terimakasih” Bapak itu tiba tiba menjulurkan tangannya, aku agak kikuk, dia berusaha menjabat tanganku, dengan agak kikuk aku menjabat tangan bapak itu, namun ketika menggenggam tangan bapak itu, rasanya dingin, tangan bapak itu sangat dingin, bahkan aku yang kehujanan dan tentu tanganku lebih dingin dari biasanya, namun ketika menggenggam tangan bapak itu, tanganku terasa dingin, ada yang tidak beres, pikirku dalam hatiAku menyalakan sepeda motorku, bergegas menuju ke selatan yang diarahkan bapak itu, beberapa meter di depan ada sebuah warung dengan hanya berpenerangan Dian sentir* (Dian sentir adalah alat penerangan dengan kegunaan seperti lilin di tempatku) Aku berhenti di depan warung itu, banyak sekali makanannya, kutaruh mantel dan sepeda motorku lalu memasuki warung itu“Kulonuwun*” aku berusaha menyalami penjual warung itu (* Kulonuwun adalah kata permisi dalam bahasa Jawa halus) “Mari mas” Seorang perempuan setengah baya keluar dari dalam rumah, nampak menjawabku “Buk mau pesan makan” “Silakan mas” perempuan setengah baya itu menyilakan aku untuk menyantap makananAda beberapa makanan, seperti lele, ikan, ayam, pisang, ubi rebus, dan beberapa makanan lainnya, namun tidak aku temui makanan berupa gorengan, ataupun kemasan semuanya di rebus, ataupun beberapa di bakar seperti ayam bakar, Aku mengambil nasi, mengingat aku perjalanan hampir 3 jam dan perutku sangat lapar aku mengambil nasi dan ayam bakar, Diluar dugaanku, ayam bakar itu sangat enak! Bahkan aku berpikir jika suatu saat aku hendak ke tempat ini lagi bersama temanku untuk mencoba warung ini. Seusai makan aku meminum air putih yang disediakan, dahagaku kembali pulih.“Buk, hujannya dari tadi ya buk?” Aku berusaha untuk berbasa-basi “Iya mas” jawab itu pendek, terasa sekali dia menjawab dengan tidak nyaman, kepalanya menunduk, hampir tak pernah melihatku, entah dia berusaha sopan atau karena tidak nyaman akan keberadaanku, mungkin juga tidak ada pelanggan dan hanya aku satu satunya“Maaf buk, ini namanya desa apa” “Desa KENDIL” dia masih menjawab singkat, wajahnya tetap menunduk “Desa Kendil?” Aku bertanya memastikan, namun ibu itu tak menjawab, kini aku yang tidak nyaman, mungkin lebih tepatnya tidak enak hati, karena mungkin karena kedatanganku ibu ini menjadi tidak nyaman. Aku membayar, “Buk berapa ini semua?” Ia berdiri, namun tak melihatku hanya melihat makanan yang ia sediakan “Aku tadi makan, nasi, ayam bakar, kacang dua, dan air putih” Ibu itu menghitung “Sembilan ratus mas” “Hah?” Aku shock, kaget, nyaris tak percaya lalu ngilu, mendadak lemas Makanan di tengah kampung seperti ini harganya fantastis sembilan ratus ribu!“Maaf berapa buk?” Ibu itu menghitung lagi “Maaf, sembilan ratus lima puluh” ibu itu menegaskan kesalahannya dalam menghitung “Hah?” aku tidak percaya “Maaf buk untuk ayam bakar berapa?” Lalu ibu itu menjelaskan, penjelasan ini terpanjang yang pernah ia ucapkan “Nasi tiga ratus, ayam bakar empat ratus, kacang dua ratus, air putih lima puluh” Ibu itu menjelaskan dengan hati hati,Aku mendorong tubuhku ke belakang, ini semua janggal! Ada yang tidak beres, aku agak lemas, mencubit tanganku namun sakit, ah benar aku tidak bermimpi ini semua nyata, Aku tak tahu harus berbuat apa, Aku memberanikan diriku, lalu aku bertanya lagi, “Maaf sembilan ratus ribu atau sembilan ratus rupiah” Ibu itu tak menjawab, nampak kebingungan, mungkin bingung menjelaskan, raut wajahnya yang selalu disembunyikan nampak jelas ibu itu kebingungan, Aku tak tahu berbuat apa“Sembilan ratus” “Hah?” Spontan aku tak percaya, 2022 mana ada makanan harganya sembilan ratus perak? Mana ada? Aku berusaha menutupi ketidak percayaanku, kuambil uang dua ribu, aku memberikan kepada ibu itu,Ibu itu menerima, lalu, menatapku, baru kali ini aku ditatap ibu itu, wajahnya nampak pucat, mukanya kaku, nampak wajahnya bekas dibalut tanah atau apa aku tak mengerti, tulangnya agak terlihat, bibirnya pecah kaku, Kini aku yang gantian menunduk, tak berani menatapnya, perasaanku campur aduk tak karuan, aku tak pernah melihat wanita seperti ini, walaupun aku laki laki namun aku ingin menangis, ataupun meminta tolong kepada ibuku, wanita itu lebih tepatnya seperti mumi yang baru saja dibalsem!Aku tak menyadarinya dari tadi, wajah itu memang tak pernah diperlihatkan kepadaku, histeris dalam hati aku lemas, terduduk hendak pingsan, namun petir menyadarkanku bahwa aku pria, dan aku harus menyelesaikan semua ini. Aku berusaha baik baik saja, kuambil nafas, ibu itu kembali menunduk, Mengembalikan uang dua ribu kertas kepadaku, aku pegang uang itu aku masukkan ke dompet Aku berpikir keras, apakah aku langsung lari? Tak membayar? Lalu mengendarai sepeda motorku kencang kencang? Dan tak pernah melihat kebelakang, kan masih hujan? Ibu itu tak mungkin menangkapku, bagaimana aku memakai mantel? Mantel aku taruh dimana ya?Ah pikiranku kemana mana! Aku buka dompetku, ibu itu masih nampak memperhatikan tingkah lakuku, aku berusaha tetap waras dan realistis, tetap tenang dan menutupi kegagapanku, kekagetanku,Di dalam dompet ada uang 1000 an koin, uang itu uang tahun 80 an, yang 1000 an gambar foto Goro-Goro, yang biasa dipakai untuk kerokan, uang logam besar. Ibu itu menerima uangku mengangkatnya, lalu memperhatikanku, aku kembali menunduk, takut. Ibu itu menerimanya, “Simpan saja kembaliannya buk” dengan mengumpulkan keberanian aku berusaha beritikad baik dengan cara menyogok ibu itu agar semua baik baik saja. “Eh” ibu itu memperhatikanku, kuberanikan melihat wajah ibu itu, Kami nampak canggung, dalam hati memang ibu ini manusia, namun aku perhatikan lagi, Rambutnya putih, memutih, kuperhatikan lagi Astaga! Aku merinding, shock kaget, dan nyaliku jatuh, astaga di ujung kepala ibu itu nampak belatung belatung menggerogoti kepalanya, Aku terduduk kembali, kali ini lebih ketakutan, khawatir pilu dan kini ingin menangis lebih keras, Untuk kedua kalinya petir malam menyadarkanku. “Sebentar” ibu itu membuyarkanku, ingin rasanya aku pingsan saja.Tiba tiba, Ibu itu kembali, dibelakangnya seorang sosok dalam kegelapan, di remang lampu Dian sentir sosok itu keluar, Astaga! Aku yakin, seorang gadis sangat cantik, berusia 20 an bergaun putih, berkebaya dan tersenyum menatapku, Astaga! Sangat kontras dengan keadaan disekitarnya Ibu dan gadis cantik itu bercakap cakap, Dibawah air hujan dan petir aku tak mendengar, hanya memperhatikan mereka bercakap-cakapAku menunggu, sesekali dari tangan ibu itu memberikan kode dengan menunjukku yang menandakan sedang berkata tentang aku, Aku serba salah, ingin aku rasanya pergi, toh aku sudah membayar, toh aku juga tidak salah apa apa, Aku menguatkan tekadku, Kubusungkan dadaku, Kukuat kan kakiku, Aku berdiri Namun,“Mas?” Gadis itu menyapaku, wajahnya tersenyum malu malu, nampak dari gelagatnya “Eh” “Sebentar mas” gadis itu tahu aku hendak pergi, Gadis itu memasuki rumahnya Beberapa waktu keluar kembali, membawakan sebuah kopi hitam Aku menggaruk kepala, tak mengerti.Gadis itu duduk tepat di sampingku, ia berusaha tersenyum, senyumannya manis, sangat manis bahkan membuatku lupa akan hidupku, aku jatuh, terjatuh dalam terikat lubang, tak kan keluar lagi, CINTA, jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupku, setelah remuk redam melihat mantanku menikahi lelaki idiot yang sok kaya itu.“Ini aku buatkan kopi” gadis itu tersenyum, malu, kadang menunduk, mukanya merah menyembunyikan sesuatu “Eh” jawabku, aku gelagapan dibuatnya, butuh waktu yang tepat untuk menanggapi kata-katanya “Ini kopinya diminum dulu, keburu dingin” dia tersenyum kembali menatapku, aku tak membalas pandangan itu, pandangannya menikam perasaanku, mencampuradukkan fakta, realita dan khayalan. “Eh iya” jawabku salah tingkahKopi hitam itu aku pegang, tanganku agak gemetar, aku tidak takut, hanya sedikit gusar, grogi dan entahlah aku tak mengerti apa ini.Kopi hitam itu aku pegang, Tiba tiba perasaan aneh melandaku, entah perasaan apa ini, Aku mencoba berpikir waras, Aku memegang kopi itu, namun aku yakin gelas itu tidak panas seperti yang dikatakan gadis itu, gelas itu dingin, bahkan sangat dingin bisa dikatakan tidak ada panas panasnya sedikitpun, Aku minum sedikit, Aku tersedak, hampir kusemburkan kopi itu, rasa kopi itu aneh, berbau menyan, kembang, dan rasanya sangat pahit, bukan pahit kopi, pahit sejenis tanaman, aku tak pernah meminum kopi seperti ini, ini bukan kopi!Aku perhatikan lagi, aku lihat kopi itu, dalam remang aku rasa ini bukan kopi, aku usah mulutku yang masih ada kopi itu Astaga! Teksturnya aku yakin ini bukan kopi, ini darah!

Janji Senja
Romance
24 Nov 2025

Janji Senja

Zoya Larasati gadis berusia 16 tahun yang duduk di bangku kelas dua SMA Negeri di Jakarta. Nama yang diberikan oleh sang ayah dalam Bahasa Persia yang berarti Senja. Sore itu Zoya mendapat panggilan dari guru piket bahwa ada hal penting yang terjadi dalam keluarganya sehingga mengharuskan Zoya untuk pulang lebih awal. Saat tiba di rumah, ibunya memberitahu bahwa ayahnya mengalami kecelakaan saat bekerja dan meninggal di tempat. Ayahnya bekerja di BUMN bagian pertambangan di luar pulau.“Nak, ayo kita siap-siap untuk melihat ayah. Kita akan berangkat besok pagi pada penerbangan pertama.” Kata sang ibu sambil menangis memeluk Zoya. “Iya bu, kita siapkan apa yang harus kita bawa.” Kata Zoya dalam tangisnya.Malam itu, Zoya dan sang ibu tidak dapat tidur dengan tenang hingga menjelang keberangkatan mereka. Dalam suasana duka yang mendalam, Zoya dan ibunya berangkat ke bandara dengan taxi online dan meneruskan dengan penerbangan menuju Kalimantan.Setibanya di Kalimantan dan bertemu staff kantor ayah zoya. Dengan mempertimbangkan beberapa hal antara pihak perusahaan dan keluarga, akhirnya diputuskan ayahnya dimakamkan disana. Duka begitu terasa ketika proses pemakamam berlangsung karena hanya Zoya dan sang ibu saja yang dapat hadir.“Ayo pulang nak, hari sudah menjelang senja.” Kata sang ibu sambil memeluk Zoya. “Biarkan Zoya menemani ayah disini sampai senja ini berlalu bu.” Kata Zoya sambil mengelus nisan sang ayah, dengan air mata yang belum mengering Zoya berbicara seolah-olah sang ayah bisa mendengar apa yang ia katakan.“Ayah kenapa pergi begitu cepat ninggalin Zoya, padahal ayah berjanji akan menonton konser piano Zoya di akhir bulan ini. Senja hampir pergi dan ayah pernah berkata bahwa sesuatu yang terlihat indah sebagaian besar hanya bersifat sementara. Aku berjanji akan selalu menatap senja dan mengirimkan pesan rindu untukmu.” Kata Zoya sambil tersenyum miris. Setelah hari mulai gelap, akhirnya Zoya dan ibunya pergi meninggalkan area pemakaman.Waktu terus berjalan, kehidupan Zoya dan sang ibu masih diselimuti oleh rasa duka. Hari pertama Zoya kembali bersekolah, ia mendapatkan banyak ucapan belasungkawa. “Turut berduka cita ya Zo.” Kata Putri sambil memberikan pelukan hangat kepada Zoya.Dari sekian banyaknya orang yang mengucapkan belasungkawa, ada kakak kelas yang selama ini diam-diam memperhatikan Zoya. “Eh Zoya, turut berduka cita ya. Lo harus tabah dan kuat menghadapi cobaan ini, gua yakin lo bisa melalui semua ini.” Kata Marcell.Marcellino Irawan, siswa berprestasi dan ketua OSIS yang juga merupakan kakak kelas Zoya. Selama ini Marcell selalu memberikan perhatian lebih kepada Zoya. Setiap Zoya tampil di kegiatan-kegiatan sekolah, Marcell selalu memberikan support kepada Zoya, karena Zoya aktif sebagai sie kesenian di OSIS tetapi sejak ayah Zoya meninggal, Zoya menjadi anak yang pendiam dan dia menjadi tidak aktif di OSIS, hal itu berlangsung cukup lama. Sehingga suatu waktu, Marcell berinisiatif untuk mencari tahu apa yang terjadi kepada Zoya. Ketika pulang sekolah, Marcell datang ke apartemen Zoya dan bertemu dengan ibunya Zoya.“Selamat sore tante, saya Marcell kakak kelasnya Zoya. Apa kabar tante?” Sapa Marcell. “Baik nak, ada perlu apa ya?” Kata ibu Zoya sambil mengerutkan dahinya karena kaget dengan kedatangan kakak kelas Zoya. “Tidak ada apa-apa tante, saya hanya datang berkunjung dikarenakan beberapa minggu ini Zoya tidak aktif dalam kepengurusan OSIS.” Kata Marcell.Ibu Zoya mempersilahkan Marcell untuk masuk dan menjelaskan apa yang terjadi selama ini. “Jadi begini nak, Zoya itu masih terpukul dengan kepergian ayahnya yang begitu mendadak.” Kata ibu Zoya. “Apakah saya bisa bertemu dengan Zoya bu?” Tanya Marcell. “Kalau kamu ingin bertemu Zoya, dia ada di rooftop.” Jawab ibu Zoya.Marcell pun naik ke rooftop untuk menemui Zoya. Marcell melihat Zoya tengah berdiri di rooftop sambil menikmati senja. “Ekhem, lagi ngapain Zoy? Sendirian aja nih, gua temenin boleh ga?” Tanya Marcell. “Ehh ngagetin aja kak, gua lagi santai sambil menikmati senja yang sebentar lagi akan berlalu. Boleh kak, sini gabung.” Jawab Zoya“Kok akhir-akhir ini lo jadi pendiam sih? Terus lo juga jadi ga aktif dalam kepengurusan OSIS, kalau ada masalah cerita Zoy.” Kata Marcell sambil mencari posisi duduk yang enak. “Gua gapapa kok kak, cuman lagi ga semangat aja. Lagian kan sie kesenian OSIS bukan gua doang, ada anak lain yang bisa handle acara OSIS.” Kata Zoya sambil mencari alasan. “Kalau lo ada masalah cerita ke gua aja gapapa, siapa tau gua bisa bantu.” Kata Marcell sambil menatap ke arah Zoya. “Aduh gimana ya kak, sebenarnya ini ga mudah buat gua. Gua masih ga bisa terima kalau nyatanya ayah gua udah pergi selamanya. Ini juga jadi alasan kenapa gua selalu kesini setiap sore.” Kata Zoya dengan raut sedihnya.“Maaf, gua boleh tau ceritanya ga?” Tanya Marcell. “Ketika almarhum ayah gua masih ada, setiap kali dia pulang ke Jakarta ayah gua selalu ngajakin gua ke tempat ini untuk menikmati senja. Di tempat ini ayah selalu nanyain aktifitas gua sehari-hari. Seminggu sebelum ayah gua meninggal, kami pergi liburan ke pulau Dewata. Ada moment dimana ketika kami menikmati senja di pantai Kuta, ayah pernah berjanji bahwa dia akan selalu menemani gua sampai gua sukses. Janji itu diucapkan oleh ayah dan senja menjadi saksinya.” Kata Zoya dengan mata yang berkaca-kaca. “Maaf ya Zoy kalau ini bikin lo sedih, tapi apapun yang terjadi lo harus kuat dan perlu lo ketahui kalau lo ga sendiri dalam menghadapi ini semua. Ada ibu lo dan gua yang akan selalu berada di sisi lo.” Kata Marcell sambil memeluk Zoya. “Makasi ya kak atas supportnya.” Kata Zoya sambil tersenyum.“Eh ga berasa ya senja udah berakhir, gua harus pulang. Ayo temenin gua pamit ke ibu lo.” Kata Marcell sambil berdiri. Marcell pun pamit pulang kepada ibu Zoya. “Terima kasih bu atas waktunya, saya pamit pulang dulu.” Kata Marcell sambil beranjak pergi.Setelah seminggu berlalu, ibu Zoya sedang mempersiapkan ulang tahun putri semata wayangnya yang ke 17. Sebenarnya Zoya tidak ingin merayakan ulang tahunnya karena masih dalam suasana duka tetapi ibu, Kak Marcell dan Putri ingin memberikan surprise kepada Zoya.“Happy birthday Zoyaaa!!” Mereka mengucapkan selamat ulang tahun ketika Zoya naik ke rooftop. Zoya kaget karena tempat itu sudah di dekor seindah mungkin. “Makasi semuanyaa.” Kata Zoya sambil memeluk mereka satu persatu. “Ayo ditiup lilinnya, sebelum itu make a wish dulu dongg.” Kata Putri sambil membawa kue ulang tahun ke arah Zoya.Acara berlangsung dengan penuh canda dan tawa, hal itu membuat Zoya melupakan kesedihannya. Marcell memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara berdua dengan Zoya. “Zoy, ada yang perlu gua bicarain sama lo.” Kata Marcell sambil celingak celinguk memberikan kode kepada Putri dan ibu Zoya. “Ada apa kak?” Tanya Zoya dengan ekspresi bingungnya. Marcell menuntun Zoya ke bangku sambil menghadap ke arah senja yang sebentar lagi akan berlalu.“Gimana perasaan lo Zoy? Lo bahagia ga? Maaf udah bikin lo kaget dengan acara ini, gua udah rencanain ini semua sama ibu lo dan Putri. Hanya satu yang mau gua lihat dari lo, yaitu senyuman lo. Gua mau ngeliat lo tersenyum.” Kata Marcell. “Hampir semua anak gadis di dunia ini menginginkan kedua orangtuanya hadir ketika ia merayakan sweet seventeen, tetapi hal itu tidak terjadi pada gua. Ayah gua pergi menjelang usia gua 17 tahun, gua sedih tapi kalian ngerubah semuanya. Makasi sudah mengukir moment yang indah dalam hidup gua.” Kata Zoya dengan mata berbinar-binar.“Zoy, mungkin ini terlalu cepat buat lo tapi gua ga mau ngelewatin moment ini. Kalau lo berkenan, gua mau lo jadi pacar gua.” Kata Marcell sambil menggenggam tangan Zoya.Zoya kaget dan terdiam beberapa saat, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Marcell meyakinkan bahwa ia tidak akan membuat Zoya kecewa. Setelah berfikir, akhirnya Zoya memutuskan untuk menerima Marcell. “Iya gua mau kak, tapi lo janji kalau lo akan setia sama gua sampai kapanpun.” Kata Zoya sambil menatap Marcell. “Iya, disaksikan oleh senja gua berjanji akan selalu setia sama lo apapun yang terjadi. Eh btw, tadi pas make a wish lo minta apa? Jangan-jangan lo minta gua buat jadi pacar lo lagi.” Kata Marcell dengan nada menggoda. “Enak aja lo kak.” Kata Zoya dengan cemberut. “Terus apa dongg???” Kata Marcell dengan rasa penasaran. “Ah itu mah biar jadi rahasia gua sama Tuhan.” Kata Zoya sambil tertawa dan mengedipkan matanya.Hari ini merupakan hari kelulusan Zoya, tepat satu tahun setelah sang kekasih pergi ke luar negeri untuk kuliah. Sejak kelas dua SMA, Zoya giat belajar dan berjuang untuk mendapatkan beasiswa di sebuah universitas Amerika. Dengan kerja keras Zoya, akhirnya apa yang di cita-citakannya dapat terkabulkan yaitu satu tiket beasiswa seperti yang di dapatkan oleh sang kekasih satu tahun lalu.Untuk pertama kalinya, Zoya menginjakan kaki di kampus. Sang kekasih yang melihat kehadirannya pada saat acara penyambutan mahasiswa baru pun terkejut. “HAH? ZOYA? Gua lagi mimpi ga sih.” Kata Marcell sambil mengucek matanya. Marcell menghampiri Zoya lalu mengajaknya untuk menepi dari keramaian itu. “Zoy, kok lo ga bilang ke gua sih kalau mau kuliah disini.” Kata Marcell sambil memeluk Zoya karena ia rindu dengan sang kekasih. “El, boleh lepasin pelukannya dulu ga? Biar gua jelasin.” Kata Zoya sambil sedikit mendorong tubuh Marcell. “Eh iya, yaudah jelasin.” Kata Marcell sambil melepaskan pelukannya. “Kan lo pernah bertanya apa janji gua pas ulang tahun ke 17, ya ini jawabannya.” Kata Zoya sambil tersenyum. “Makasi ya Zoy, love you.” Kata Marcell sambil mencium kening Zoya. “Love you too El, hadirmu di sisiku seperti senja yang datang sebentar namun sangat menenangkan.” Kata Zoya memeluk Marcell.Ayah, sudah banyak senja yang kulalui, namun belum pernah kulewati senja yang membawamu kembali. “Karena senja menghadirkan semangat kasih sayang ayah buatku, namun senja juga yang pernah mengambilnya kembali dan sekarang senja pula memberikan harapan itu bagiku.”TAMAT

Sempurna
Romance
24 Nov 2025

Sempurna

Malam ini, angin terasa menusuk di permukaan kulit. Namun seorang gadis menggosok kedua telapak tangannya agar terasa hangat. Ternyata gadis itu dibantu oleh kekasihnya agar semakin merasa hangat.“Dingin banget ya?” ucap Ayden. “Bangett, tapi ada kamu, nggak jadi dingin,” Sahara terkekeh. “Peluk aja aku, biar kamu semakin merasa hangat,” dengan senang hati, Sahara memeluk kekasihnya dengan erat. “Walau tanpa kamu peluk, aku udah ngerasa hangat, dari hati menjalar ke seluruh tubuh,” sekali lagi, Sahara berucap.Begitu bersyukur Sahara mempunyai kekasih seperti Ayden. Hubungan mereka setenang air. Sesekali pernah memanas seperti api namun kembali lagi setenang air. Mengalahkan ego masing masing agar tidak menyakiti satu sama lain.“Aku bersyukur punya kamu, Sahara,” Ayden semakin mengeratkan pelukannya pada Sahara. “Aku juga, enggak pernah terpikir buat ninggalin kamu, Ayden,” Sahara memejamkan mata, menikmati pelukan Ayden yang semakin erat. “Aku bisa gila kalau kamu ninggalin aku, kamu adalah duniaku, bulanku, matahariku,” ucap Ayden begitu tulus.“Bisa kamu jelaskan, apa yang kamu ucapin?” ucap Sahara. “Kamu duniaku, seluruh hidupku aku serahin ke kamu, Sahara. Ketika duniaku merasa sedih, aku juga bakal merasa sedih dan ketika duniaku merasa senang, aku juga bakal ngerasa senang,” ucap Ayden. “Dan kamu adalah bulanku, yang menerangiku disetiap kegelapan yang mendatang. Ketika bayangan pun pergi meninggalkanku, kamu tetap ada disampingku memberi penerangan disetiap langkah”. “Dan kamu juga matahariku, yang selalu memberi kehangatan lembut disetiap pagi yang dingin. Ada yang bilang kehangatan matahari memancarkan kesetiaan, semua itu ada pada diri kamu, Sahara,”.“I love you in every universe, Sahara,” kata kata yang diucapkan Ayden selalu membuat Sahara terpukau.Rasa cintanya pada Ayden tidak pernah berkurang, selalu bertambah dan terus bertambah. Begitupun Ayden yang selalu mencintai Sahara sampai kapanpun. Kisah cinta yang begitu sempurna.Mereka menikmati segala suasana yang mereka rasakan. Melihat bulan yang menjadi tokoh utama di cerita langit yang gelap dan dibantu oleh miliaran bintang. Membuat langit menjadi indah untuk dipandang, sempurna.“Kamu tau, Ayden,” Sahara tiba tiba bertanya. “Apa?” jawab Ayden. “Ibaratnya aku ini Api dan kamu adalah Air,” Sahara menatap Ayden. “Api selalu takluk dengan Air,”. “Api selalu luluh dengan Air,”. “Dan Api selalu tenang ketika bersama dengan Air,”. “Hanya Air yang mampu membuat Api tenang dari segala emosi yang muncul, itulah sebabnya mengapa Air ditakdirkan untuk memadamkan Api,” ucap Sahara.“Aku semakin jatuh sama kamu, Sahara,” mata Ayden menjadi teduh. “Izinin aku untuk menjadi teman hidup kamu dan izinin aku untuk menjadi Air abadi untuk Api,” Ayden berkata dengan bersungguh sungguh.“So, will you be my wife?” Sahara terkejut, tidak menyangka jika Ayden akan melamarnya.“Aku…,” Sahara berkata dengan ragu. “Mantepin hati kamu dulu, aku enggak mau kamu nyesel dalam menjalani hubungan kita nantinya” ucap Ayden. “Aku mau, aku enggak akan nyesel,” pernyataan Sahara membuat Ayden merasa bahagia.Bulan semakin memancarkan sinarnya dan semakin berbentuk sempurna untuk dipandang. Mungkin bulan turut merasakan bahagia atas kedua insan itu.Ayden mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi cincin. Berwarna silver yang dihiasi oleh berlian, membuat cincin itu terlihat elegan.“Kamu udah nyiapin ini?” Sahara merasa terkejut sekali lagi. “Udah lama dan aku nunggu waktu buat ngelamar kamu, aku takut kalau jawaban kamu enggak sesuai ekspektasi aku,” ucap Ayden.Ayden mengambil tangan Sahara dan memasangkan cincin itu dijari manis Sahara. Tangan Sahara terlihat semakin cantik akan cincin itu.“I love you, Ayden,” ucap Sahara begitu tulus. “I love you more, my moon, sun and world,” jawab Ayden.

Ketika Hujan Menimbulkan Cinta
Romance
24 Nov 2025

Ketika Hujan Menimbulkan Cinta

Waktu itu menunjukkan sebentar lagi sudah mulai menjelang magrib. Tetapi aku dan Iqbal tetap saja duduk santai di taman kota. Setelah berbincang lama sambil menikmati suasana taman yang indah, petang pun tiba.Masjid-masjid di sekitar taman satu persatu mulai mengumandangkan adzan. Aku dan Iqbal bergegas menuju masjid dan segera mengambil wudhu. Hingga akhirnya saat selesai sholat, tiba-tiba hujan yang deras mengguyur kota. Aku dan Iqbal duduk di depan masjid menunggu hujan reda.Setelah lama menunggu, hujan pun sedikit reda. Hingga akhirnya aku dan Iqbal menuju tempat parkir untuk mengambil sepedah yang tadi dititipkan. Ketika berjalan menuju parkiran aku dan Iqbal masih berbincang sambil tertawa.Tidak lama kemudian hujan tiba-tiba mengguyur kota lagi. Karena hampir sampai di tempat parkir, akhirnya kita berdua memutuskan untuk lanjut berjalan menuju tempat parkir itu. Hujan itu membuat badanku terasa sedikit dingin dan menggigil.“kamu kenapa?” tanya Iqbal sedikit panik karena wajahku pucat. “badanku sedikit kedinginan” jawabku sedikit menggigil. Iqbal dengan cepat kilat melepas jaket dan dipakaikan ke tubuhku.Dan akhirnya tibalah kami di tempat parkir. Aku duduk di bangku pojok parkiran tersebut, Iqbal yang mengambil jaket kering di jok kendaraannya, dan langsung diberikan kepadaku untuk menggantikan jaket yang habis terkena hujan. Sembari mengibas-ngibaskan jaket yang habis kehujanan, Iqbal menyusul duduk di bangku depanku sambil menatapku.“Apakah kamu masih kedinginan?” tanya Iqbal sambil memakaikan jaket yang kering karena belum kupakai. “sudah sidikit mendingan daripada tadi” jawabku sambil malu karena lagi-lagi Iqbal memakaikan jaket untukku.Kami sedikit berbincang sambil menunggu hujan reda. Setelah hujan reda kita berdua langsung menuju masjid karena waktu menunjukkan sholat isya. Kami berdua mengambil wudhu dan segera sholat karena sudah sedikit terlambat. Setelah selesai sholat kita berdua mengambil sepeda dan akan segera pulang.Pelan-pelan sambil menikmati jalan kota yang habis diguyur hujan, kita berdua berbincang-bincang dengan lucunya. Waktu di sepanjang jalan aku masih sedikit merasakan kedinginan. “Tiba-tiba tangan Iqbal memegang tanganku” kagetku tapi aku diam saja karena disitu aku merasa diberi sedikit kehangatan.Karena masih ada waktu kita berdua memutuskan pergi ke cafe untuk rileks dan meminum kopi. Sesampainya di cafe, kita berdua turun dari sepeda.Kita masuk ke cafe dan lanjut memesan kopi. Selanjutnya kita berdua menikmati kopi yang telah dibuat. Setelah lama rileks di cafe, tidak terasa waktu sudah larut malam. Kita berdua memutuskan untuk pulang. Di perjalanan lagi-lagi Iqbal memegang tanganku. Aku hanya bisa tersenyum malu.Sesampainya aku di rumah, Iqbal berpamitan kepada ibuku untuk segera pulang karena sudah malam. Aku segera masuk ke kamar mandi untuk mengganti baju yang basah tadi. Sehabis itu aku pun segera masuk ke kamar untuk tidur. Sebelum tidur aku tiba-tiba memikirkan hal yang terjadi tadi sore. “apa sih yang sedang kupikirkan ini” ucapku sambil tersenyum. Aku pun segera tidur.Seminggu kemudian, hari yang ditunggu pun tiba. Waktu menunjukkan telah pagi dan aku pun bangun kerena alarm sudah berbunyi. Aku bergegas menuju kamar mandi.“mau kemana pagi-pagi gini?” kata ibuku sambil heran karena aku tergesa-gesa. “mau pergi keluar sama temanku yang kemarin hehe” jawabku.Aku bersiap-siap dan tinggal memakai kerudung. Tiba-tiba terdengar sepeda motor dia. Aku semakin tergesa-gesa. Akhirnya aku pun selesai dan segera keluar kamar. Ternyata Iqbal sudah di ruang tamu bersama ibuku. Iqbal pun berpamitan akan mengajakku keluar. Aku dan Iqbal akhirnya keluar. Iqbal membawaku ke suatu tempat yang aku pun tidak tahu itu dimana.Sesampainya di parkir tempat itu, mataku tiba-tiba ditutup dengan tangannya. Aku hanya kaget dan malu hampir tidak mau. Aku dibawa masuk ke tempat tersebut dan didudukkan di kursi dengan keadaan mata masih ditutup. Aku masih kebingungan kenapa mataku harus ditutup seperti ini.Akhirnya mataku dibuka pelan-pelan dan aku dikejutkan dengan sekitarku yang banyak sekali bunga berwarna pink. Tiba-tiba Iqbal berdiri di depanku membawa setangkai bunga pink itu.“ini maksudnya apa?” kataku semakin terheran-heran. Akhirnya Iqbal berbicara mengungkapkan semuanya. “sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak awal aku bertemu denganmu” kata Iqbal sedikit malu. Aku pun menjawab “apa yang kamu suka dari aku?”. “Karena kamu baik, itu yang aku suka darimu” jawab Iqbal sekali lagi. “lantas apa maksud dari semua ini?” tanyaku. “Aku ingin kamu menjadi kekasihku” kata Iqbal dengan wajah merah. Aku pun menjawab “iya aku mau”.Setelah lama melanjutkan perbincangan di tempat itu, akhirnya Iqbal mengajakku pulang. Di jalan Iqbal berkata “minggu depan aku datang ke rumahmu untuk melamar dirimu”. “Sebenarnya aku tadi sudah merencanakan ini semua sama ibumu. Ibu bicara kepadaku kalau kamu sering bicara tentang diriku, karena itu aku memberanikan diri untuk mengungkapkan itu semua kepadamu” ucap Iqbal lagi. Aku hanya bisa tersenyum malu.Setelah sampai di rumahku kita bertiga berbicara tentang acara minggu depan. Aku hanya bisa iya-iya saja karena aku sudah siap menunggu acara itu. Setelah itu Iqbal pamit pulang karena ingin membicarakan semua ini dengan keluarganya.Beberapa jam kemudian Iqbal mengirim pesan melalui whatsapp. “Aku tadi sudah membicarakannya dengan keluargaku, dan mereka setuju”. Isi pesan itu. Aku pun merasa senang dan bahagia.Beberapa hari sebelum hari H aku dan Iqbal pergi mencari baju couple untuk seluruh keluarga. Tak terasa kurang satu hari lagi, besok sudah hari H. Aku tidak bisa tidur karena tidak sabar untuk besok. Aku hanya bisa menghubungi Iqbal melalui whatsapp saja.Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ternyata di rumah sudah banyak tetangga-tetangga yang membantu menyiapkan makanan untuk acara tersebut. Selesai mandi aku langsung melanjutkan untuk make-up. Tak terasa waktu sudah kurang setengah jam lagi.Setelah menunggu, akhirnya Iqbal beserta keluarga dan beberapa orang pun datang. Acara dimulai dan berlangsung dengan lancar. Aku merasa mendapat suatu kebahagiaan tambahan. Akhirnya setelah acara itu, hubungan kita berdua semakin bahagia. Semoga hubungan kami munuju ke jenjang yang lebih serius aminn…Ingat SIAPAPUN bisa menjadi APAPUN Kalau memang itu TAKDIR

Patung Kayu Ukiran Bersama
Romance
24 Nov 2025

Patung Kayu Ukiran Bersama

6 bulan lalu dia pergi, meninggalkan patung kayu ini yang dulu sering kita ukir bersama. Hingga ahirnya ada yang mengadopsimu, agar menjadi anak angkatnya.Aku Diana, dan orang yang sedang aku pikirkan adalah roby, dia teman aku dari kecil, aku dan dia sama sama dibuang oleh orangtua kita, aku anak panti asuhan, berumur 22 tahun, yang sedang ingin-inginnya merasakan apa itu cinta. “aku akan selalu ngabarin kamu, tenang saja!” janjimu yang kamu ucapkan 6 bulan lalu sebelum orang itu mengadopsi kamu masih menggema di pikiranku.Aku menunggu, tak ada kabar darimu. hingga suatu saat aku beranikan diri, menemui orangtua angkatmu. “Misi…” sapaku di depan pintu rumah ortu angkat kamu. “iya bentat!!!” terdengar suara seorang laki laki. Setelah keluar, ternyata itu roby. otomatis aku langsung memeluknya. “hey hey, apa apaan ini” bentak roby sambil melepaskan pelukku. “Roby kenapa kamu begitu? ini aku bawa patung kayu yang sering kita ukir bersama dulu!” ucapku. “apa ini, lebay amat sih” bentak roby sambil melemparkan patung itu lalu belah. Kemudian dia masuk lagi ke rumah dengan perasaan kesal. Diana hanya bisa menangis sambil berjalan pulang.Satu minggu setelah kejadian itu, Diana mendapatkan kontak roby dari teman roby, diana berusaha mengajak roby ketemuan, tapi selalu ditolak. hingga paksaan demi paksaan keluar dari mulut Diana, dengan setengah hati roby mengiyakan kemauan Diana.Malam tiba, waktu ketemuan Roby dan Diana. “roby, maaf membuatmu menunggu, macet soalnya” ucapku. “alasan” gerutu Roby. “kamu ke mana saja, janjimu gak ditepati, aku menunggu kamu” rengek Diana “kamu gak usah tau” ucap Roby “Rob aku sayang sama kamu!” ungkap Diana “terus?” tanya roby “kamu tau! kamu punya penyakit ginjal!?” ucap Diana “itu dulu, sekarang sudah sembuh!” jawab roby “iya, aku tau, itu ginjal aku yang satunya, karena aku donor ginjalku padamu!” ucap Diana, sambil pikirannya berkunang kunang lalu pingsan. “Diana…!” teriak RobyLalu roby menelepon ibu panti asuhan, dan mereka mengantar Diana ke Rumah Sakit terdekat. di perjalanan ibu panti asuhan menceritakan semuanya termasuk ginjalnya Diana yang didonorkan ke Roby. Roby menyesal, dia tidak mengetahui semua ini, hingga ahirnya nyawa Diana tidak tertolong di perjalanan.

Rasa Yang Hadir Pada Pertemuan Pertama
Romance
24 Nov 2025

Rasa Yang Hadir Pada Pertemuan Pertama

Patrycia adalah gadis cantik yang sangat baik hati. Dia adalah seorang mahasiswa yang kuliah di kampus Unika Santu Paulus Ruteng. Gadis yang berumur berkisaran 19 tahun itu tampaknya memiliki keunikan tersendiri yang dapat merasa candu bagi yang menatapnya. Hal itu yang membuat aku merasa penasaran untuk bertemu dengannya. Walaupun aku sadar bahwa tidak mungkin dia bisa menerima saya, akan tetapi rasa penasaranku dengannya tidak bisa dihalangi.Rasa penasaranku sudah menjadi-jadi, ketika aku pertama kali melihatnya pada saat kegiatan di Golo Lusang. Kala itu, Patrycia datang dengan sepeda motor dengan menggunakan helm berwarna putih. Aku pun memandangnya dengan penuh penasaran, tanpa berkedip selama beberapa menit. Dalam hati berkata “ah… ternyata Patrycia sangat cantik”.Setelah dia turun dari sepeda motornya, dia berjalan menuju gerombolan anggota kegiatan. Aku memandang wajahnya nan cantik itu. Dan begitupun sebaliknya, dia pun menatap dan melempar senyuman yang manis dari bibirnya. Aku merasa sedikit malu dan grogi untuk menegurnya, sehingga kami berdua hanya bisa beradu pandang.Selang beberapa menit kemudian, aku pun menegurnya “halo Patrycia”, sambil berjabat tangan dengannya. Lalu, ia menjawab “Iya halo kaka”.Setelah berjabat tangan, aku pun kembali ke tempat panita untuk mempersiapkan agenda kegiatan. Seluruh peserta yang hadir dalam kegiatan itu berkumpul untuk mempersiapkan, karena waktu kegiatannya akan segera dimulai. Peserta tampaknya sangat antusias dalam mengikuti kegiatan tersebut, termasuk Patrycia. Selama menjalani kegiatan, pusat perhatian saya selalu tertuju pada Patrycia. Hal ini yang membuat saya selalu gagal fokus dengan jalannya kegiatan. Kehadiran patrycia membawa perubahan baru bagi saya. Rasa penasaran akan gadis yang berparas cantik itu belum hilang dan selalu bertanya dalam hati, “kapan aku menjemputnya”?Tak puas dengan itu, saya coba mendekati temanya yang bernama Lani. “Patrycia itu, kamu punya teman?” “Iya kaka, dia saya punya teman, memangnya kenapa kaka?” Tanya Lani kepadaku. Lalu saya jawab, “tidak apa-apa adek, hanya sekedar tanya”.Sekitar 3 jam lamanya kami melaksanakan kegiatan tersebut, ketua panitia pelaksana kegiatan mengumumkan kepada peserta bahwa kegiatan tersebut telah selesai.Semua peserta bubar dari barisan dan mempersiapkan perlengkapan untuk dibawa pulang. Lagi-lagi aku melihat Patrycia yang keluar dari barisannya. Aku pun tersenyum melihat sosok gadis yang berwajah dingin itu, tampaknya dia sangat rajin dan semangat.Setelah perlengkapan mereka dibereskan, tibalah saatnya kami pulang. Semua peserta berhamburan masuk kedalam bemo yang telah disiapkan. Sementara itu, Patrycia masih duduk disalah satu kayu yang rindang sembari memegang helmnya dengan ekspresi yang penuh kebingungan. Melihat itu, aku coba memberanikan diri untuk mendekatinya.“Halo… Patrycia, kamu lagi buat apa?” Kok, kelihatannya seperti orang yang dalam keadaan kebingungan? Mendengar itu, Patrycia kaget dan berkata “tidak kakak, saya lagi menunggu teman yang antar saya tadi”. “Hm… kamu tidak usah pusing, biar aku saja yang mengantarkanmu pulang”. Kata saya. “Apa tidak merepotkan ya kak?” Kembali dia bertanya kepadaku. “Tidak apa- pa, kebetulan aku pulang sendiri”.Patrycia pun memutuskan untuk pulang bersamaku. Aku sangat senang dan bahagia, gadis yang aku kagumi ini bisa pulang bersamaku. Untuk diketahui, gadis yang aku kagumi ini belum berstatus berpacaran, karena masih sedang “PDKT”.

Amanda
Romance
24 Nov 2025

Amanda

Keadaan masih belum berubah, meski delapan tahun sudah berlalu. Kau masih bertahan diam, menolak bicara dengan siapapun. Sebagian dari dirimu telah membatu, aku tahu itu, tapi aku merasa perlu membawamu keluar dari rasa bersalah yang kau pendam dalam-dalam. Rasa bersalah yang bertahun-tahun memenjarakanmu dalam ruang yang sama sekali tidak aku pahami.Sabtu sore, sebagaiamana telah menjadi kebiasaanmu, aku kembali mengantarmu ke pemakaman yang terletak di tepi sebuah danau. Dan seperti yang sudah aku duga, kau datang untuk sekedar menatap kosong sebuah makam, berdiri mematung, dan sesekali mendongak ke langit. Di belakangmu aku hanya bisa menerka-nerka, barangkali kau sedang bercerita, tentang hari-hari berat yang harus kau tempuh dalam delapan tahun terakhir. Atau mungkin kau sedang menyampaikan bahwa selama delapan tahun berlalu, kau tidak pernah benar-benar sendirian. Sebab ada seorang lelaki yang keras kepala menemanimu, memperlakukanmu dengan sebaik-baiknya. Ah tidak, tidak mungkin. Aku terlalu jauh menerawang. Atau lebih tepatnya: menghayal, sorry.Aku melirik arloji di pergelangan tangan kiri. Dari sana aku kemudian menyimpulkan, sekira lima belas menit lagi azan magrib akan berkumandang. Itulah saat dimana kau akan memutuskan untuk beranjak dari tempatmu berdiri, pulang.Belum juga lima menit berjalan, rintik hujan turun perlahan. Beruntung aku sudah mempersiapkan kemungkinan tersebut. Maka kudekati kau yang masih bergeming, lantas kukembangkan payung persis di atas kepalamu. “Kali ini kau tidak harus menunggu magrib. Mari pulang. Percaya padaku, dia juga pasti akan mengerti.” Meski aku tahu kau tak akan menjawabnya, tapi toh kalimat itu keluar juga. Iya, bagiku sudah tidak penting lagi kau bakal menjawabnya atau tidak. Sebab urusanku denganmu, sudah bukan lagi perihal kata-kata.Kau berbalik tanpa merasa perlu melihatku—melintas begitu saja—seolah aku tidak sedang berada di sana. Tidak mengapa, aku toh sudah delapan tahun hanya menjadi bayanganmu, ada tapi tidak terlihat dalam pandangan matamu.Setiba di rumahmu, aku menitip pesan kepada adikmu, Ara, untuk mempersipakan makan malam. Sementara aku harus bergegas ke salah satu coffee shop di tengah kota. Ada janji yang harus kupenuhi. “Hujan lebat begini Kak, apa nggak sebaiknya Kakak nunggu reda.”, tawar Ara kepadaku. Aku tersenyum, lalu mengacak-acak rambutnya. “Aku sudah ditunggu Ra. Nggak enak kalau membuat temen-temen nunggu lebih lama lagi”, jawabku sekenanya. “Kalau begitu kakak pakai mobil rumah saja”, dia kembali memberi tawaran. Setelah kutimbang, ah rasanya tidak perlu juga. Mobil rumah hanya khusus untuk mengantarmu dan Ara. Untuk urusanku pribadi, ya tetap harus menggunakan milikku sendiri.“Ra, nggak apa-apa, aku pakai motor saja”, aku mencoba meyakinkan Ara. “Tapi kak”, tanggapannya memprotes keputusanku. Kudekati dia dan kuyakinkan sekali lagi, “Udah, amaaannn”. Ara pun luluh. Setelah mengenakan mantel dan menstarter motor bututku, aku perlahan menancap gas sambil melambai ke arah Ara. Setelahnya motor kupacu menyibak kerumunan hujan.—Setelah mempersiapkan makan malam, Ara kemudian mengantar satu nampan berisi nasi goreng dan segelas susu hangat untuk kakaknya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Ara langsung masuk ke kamar kakaknya yang jendelanya berhadapan dengan taman belakang. Dan di hadapan jendela itulah sang kakak menghabiskan hari demi hari tanpa bicara. “Kak Gigih baru saja pergi, kak. Katanya sih ada urusan kerjaan”, meski kalimat itu hanya akan memenuhi kebebelan, namun Ara merasa hal tersebut tetap perlu disampaikan.Tanpa banyak bicara lagi, Ara beranjak meninggalkan kamar sang kakak. Namun tiba-tiba saja dia berhenti di muka pintu. Dia berbalik dan menatap nanar kondisi kakaknya. Sudah sekian psikiater, namun semuanya tidak ada yang berhasil mengembalikan kehidupan sang kakak. Sang kakak sudah lama hilang dari dunianya. Dunia yang berisi romantisme dan keceriaan.Di kepala Ara kini berpilin peristiwa demi peristiwa di masa lalu. Delapan tahun lalu, kecelakaan maut terjadi di ruas jalan tol yang melibatkan antara sebuah mobil pribadi dengan truk pengangkut muatan. Pengemudi truk mengalami cidera di bagian kepala dan lengan kanan, sementara dua penumpang mobil pribadi dalam keadaan kritis.Segera setelah dilarikan ke rumah sakit, tim dokter mewartakan bahwa korban lelaki berikut janin dalam kandungan korban perempuan tidak bisa diselamatkan. Korban perempuan yang baru siuman dua hari berselang menangis histeris menerima kenyataan yang harus ia terima. Hari-hari selanjutnya, si korban perempuan berubah menjadi pribadi yang pendiam, gampang depresi, dan sangat sensitif. Dalam suatu kesempatan bahkan ia pernah hampir melakukan percobaan bunuh diri. Pasalnya dia merasa sangat bersalah atas tragedi yang merenggut suami dan bakal anaknya itu. Sebab seandainya dia tidak memaksakan diri untuk ke suatu tempat, tregadi itu tidak semestinya terjadi.Untunglah ada Gigih, seorang laki-laki yang berkat kehadirannya, perempuan itu perlahan-lahan mulai bangkit dari keterpurukannya. Ya meski tak pernah bicara kepada siapapun, paling tidak dia sudah mau melakukan beberapa aktivitas semisal rutinitas ke makam setiap Sabtu sore. Paling tidak dia tidak terlalu mengurung diri, dan yang paling penting tidak lagi melakukan percobaan bunuh diri.Siapakah Gigih? Sesuai namanya, dia adalah sosok laki-laki yang gigih dalam segala hal, termasuk dalam menghadapi perempuan yang tidak lain adalah kakak Ara tersebut. Gigih sebenarnya sudah menaruh rasa pada kakak Ara sudah sejak masa kuliah, namun dia tidak pernah berani mengatakannya sampai kemudian kakak Ara dinikahi oleh lelaki lain.Gigihlah yang kemudian menemani Ara dan kakaknya selama delapan tahun terakhir.Suara siaran televisi kemudian membuyarkan Ara dari lamunan. Laporan dari salah satu kanal berita menyebutkan telah terjadi kecalakan di jalan X, jalan menuju kota. Segera Ara mengambil telepon genggamnya, mengurutkan abjad, dan kemudian menyentuh salah satu kontak yang bertuliskan “Kak Gigih”. Hanya terdengar bunyi “nut.. nut.. nut..” sedari tadi, nomor Gigih sedang tidak bisa dihubungi. Ara semakin panik, pikirannya semakin tak karuan, hatinya kian gusar.Dalam ketidakpastian itu, Ara melihat kakaknya berdiri di muka pintu kamarnya dengan menggunakan sweater. “Kita ke lokasi, cari Gigih.” Begitu kalimat pendek yang entah bagaimana bisa keluar dari mulut kakaknya. Ara terkejut, antara bahagia dan bingung. Bahagia karena kakaknya sudah mau berbicara lagi, bingung karena sisi lain Gigih masih belum jelas keadaannya.Keduanya bergegas menaiki mobil dan mobilpun dipegang kendali oleh Ara menyibak hujan yang masih tak kunjung reda.—Amanda, aku juga tidak tahu bakal berapa lama bertahan menunggu kau keluar dari penjara yang kau ciptakan sendiri untuk pikiranmu. Tapi betapapun, aku tidak bisa berhenti begitu saja menunggumu, sebab aku percaya, tidak ada yang sia-sia dari sebuah penantian. Iya, aku terlalu keras kepala untuk terus mencintaimu.Di tengah hujan yang luar biasa lebat, seorang perempuan dari seberang jalan berlari menghampiriku yang duduk di sebuah tempat tambal ban, menunggu roda motoku ditambal karena bocor di tengah perjalanan. Samar-samar tak kukenali perempuan itu, tapi semakin dekat dia berlari menuju arahku. Semula kupikir dia sama halnya denganku, ingin memastikan bahwa ban mobilnya bisa ditambal. Tapi entah bagaimana, tiba-tiba saja perempuan itu menyongsongku, memelukku dengan tangis sesenggukan.“Maafin aku”. Dari suaranya sepertinya aku kenal. Perlahan kukendurkan pelukannya, dan benar saja, perempuan itu adalah Amanda.“Kak Gigih nggak kenapa-kenapa kan?”, seorang perempuan di belakangnya turut bersuara. “Ara?”.“Ada berita kecelakaan motor di jalan X, ku pikir Kak Gigih”. Mendengar itu tawaku meledak begitu saja. “Iya Ra, aku kecelakaan. Nih liat, ban motor kakak bocor. Kakak telat kumpul juga akhirnya..”. Kali ini kualihkan pandangan ke Amanda, matanya yang redup hari ini kembali menyala. Aku mengusap air hujan yang membasahi wajahnya dengan kedua telapak tanganku. Dia kemudian menggenggam tanganku sambil berkata lirih, “Kamu nggak boleh kenapa-kenapa. Kamu masih harus menemaniku tiap Sabtu sore”.

Cinta 130 Km
Romance
24 Nov 2025

Cinta 130 Km

“pagi sayangku,” sapa Adit pacarku di seberang telpon. “ih.. kamu mah pagi-pagi udah telepon aja, ada apa si?” cicitku baru bangun tidur dan masih memeluk guling. “wih si cantik baru bangun,” gombalan maut pacarku mulai keluar. “ih.. kamu mah pagi-pagi udah bikin orang salting,” sahutku dengan pipi memerah dan menahan senyum malu. “hahaha lucunya pacarku.. oh ya, hari ini kamu sibuk ngga?” tanya Adit. “engga terlalu si, mau ketemu?” tanyaku. “iya dongg, udah lama ngga ketemu kita.” Jawab Adit pacarku. “ih.. mager banget aku,” sahutku dengan nada malas. “kebiasaan pacarku mulai nih, ayolaaa sayang.. dikurangi rasa malasnyaa! Nanti kubelikan es cream yang banyak deh.” Bujuk Adit kepadaku. “ih serius? Oke deh, ketemu di Malioboro ya! See you sayangku, dadahh..” sahutku dengan nada yang sangat senang sekali, hehe. “giliran dibelikan es cream aja langsung mau, dasar malasan. Oke deh, see you sayangku..” ucap Adit dengan nada kesal dan senang sembari menutup telpon.Percakapan kita berakhir, aku segera bebersih dan mempersiapkan diri. Menunggu Adit pacarku datang, ia ke Malioboro naik kereta api, karena ngga ada macetnya jadi mungkin sampai ditujuan dengan cepat.Aku dan Adit sudah berpacaran sejak SMP hingga saat ini, kita menjalani kuliah dengan kota yang berbeda. Dia di kota Semarang dan aku di kota Yogyakarta. Sebulan sekali kita menghabiskan waktu bersama, kalau kata Adit mengobati rasa rindu, hahaha. Jika libur kuliah kadang kita pulang ke Mojokerto bersama, menemui orangtuaku dan orangtua Adit pacarku. Orangtua kitapun sudah saling mengenal akrab, jadi tak heran jika kita juga sangat akrab.Setelah semua pekerjaan selesai dan akupun sudah siap segera menuju Malioboro, Adit juga baru saja menelepon katanya dia sudah sampai di sana. Jarak kost anku ke Malioboro hanya 5 meter saja dan membutuhkan waktu 5 menit.Sesampainya di sana.. “DOR!! Hai sayangku,” kejutan disembari dengan sapaan yang membuat Adit terkaget. “astaghfirullahaladzim, kaget aku,” ucap Adit sambil mengelus dada karena terkejut. “HAHAHAHAHA,” aku tertawa puas.“oh ya, ini es creammu, kubelikan banyak biar kamu gemuk haha..” kata Adit yang sengaja meledekku sambil menyodorkan es cream dan mengelus kepalaku. “wih… makasi ya sayang, hehe.” Ucapku sangat senang. “jadi.. mau kemana kita hari ini?” tanya Adit dengan raut wajah yang sangat senang. “jalan-jalan aja dulu keliling Malioboro, sama cari makan di lesehan pinggir jalan.” Sahutku sambil memakan es cream. “okedeh, ayoo!” ajak Adit pacarku sambil menggandeng tanganku.Kita berdua berjalan bersama mengelilingi Malioboro sambil bercerita tentang pengalaman sehari-hari dan bersendau gurau bersama, makan di lesehan pinggir jalan, jajan di angkringan sambil menikmati senja, dan berfoto-foto. Momen itu seperti memecahkan celengan rindu yang sudah kita tabung sekian lamanya.Tak terasa malam sudah tiba, rasanya waktu begitu cepat. Kini saatnya Adit pacarku kembali ke kota Semarang dan kita kembali menabung rasa rindu.Sudah dua minggu Adit tidak menghubungiku, biasanya tiap malam ia selalu minta telepon. Awalnya aku kira ia sibuk dengan kuliahnya, jadi aku biarkan saja. Kini kucoba menghubungi orang tuanya, katanya mereka juga berusaha menghubunginya tetapi nihil. Aku mencoba menenangkan diri dan tidak panik. Aku mencari kesibukan dengan mengerjakan tugas kuliahku.Kini 1 bulan telah berlalu, setelah pekerjaan kampus kelar dan saatnya berlibur. Berlibur adalah momen yang di tunggu-tunggu mahasiswa untuk pulang ke kampung atau ke kota menemui orangtuanya. Itu sangat berbeda denganku saat ini, aku yang disemuliti kesedihan dan panik akan menghilangnya kabar pacarku membuatku tidak bersemangat lagi. Akhirnya aku menelpon orangtuaku guna mengabari aku akan pulang ke kampung besok, tetapi aku kecewa karena aku sendirian tidak dengan Adit pacarku.Aku berangkat menuju kota Mojokerto naik kereta api, di sepanjang perjalanan aku hanya merenung dan memikirkan kabar dari Adit pacarku. Setelah sampai di stasiun kota Mojokerto aku menelepon ayahku agar dijemput. Tak lama kemudian datang sebuah mobil yang dikendarai oleh ayahku dan dua penumpang yaitu adikku, seketika itu aku menyembunyikan raut wajah sedihku dengan senyuman yang manis.“kak, ayo cepat naik mobil! Di rumah ada orang yang nunggu kakak.” Ucap adekku mengajakku pulang. “siapa dek?” tanyaku. “nanti juga kakak tau sendiri,” ucap adekku yang semakin membuatku penasaran.Sesampainya di rumah, hendak masuk ke dalam aku terkejut. Selama ini orang yang kutunggu kabarnya pun berada di ruang tamu rumah dengan kedua orangtuanya dan sedang berhadapan dengan Ayah dan Bundaku. “ADITT??” “RICHAA??” Aku langsung menghampirinya dan dia langsung memelukku, dia adalah Adit pacarku. Aku menangis sendu dalam pelukannya.“ada apa kamu kesini? Kenapa ngga bilang?” tanyaku kepada Adit sambil sesegukan yang masih berada di pelukannya. “Adit telah menceritakan semuanya kepada kami tentangmu, Nak. Dari kepribadianmu, akhlakmu, dan cara berpikirmu sehingga kau patut dipinang. Sekarang dia ingin meminta restu dari kami dan orangtuamu untuk melamarmu.” Jawab seorang laki-laki paruh baya, yaitu Ayahnya Adit.Entah aku harus sedih ataupun senang, aku langsung ke pelukan Bunda. “loh kenapa nangis, Cha? Bukannya harus senang yaa..” kata Bunda membujukku. Seketika tangisanku berhenti dan aku duduk di sebelah Bunda. Dan pada akhirnya keluargaku dan keluarga Adit merestui kami berdua. Menentukan hari yang tepat untuk pemasangan cincin pengikatan.“meskipun kamu sudah ada calonnya, kamu jangan lupa akan kuliahmu ya, Nak. Habis ini lulus to?” kata bundanya Adit menasehatiku. “iya, bunda. Siapp, hehe..” ucapku dengan tersenyum.

Diam Diam Menatapmu di Sisi Tirai Jendela Kantin Kampus
Romance
24 Nov 2025

Diam Diam Menatapmu di Sisi Tirai Jendela Kantin Kampus

Pagi yang begitu cerah dan mentari terlihat begitu indah. Ketika tatapan mataku tertuju pada tirai jendela kantin Kampus Unika Santu Paulus Ruteng. Rupanya tirai jendela kantin kampus itu tak lagi mampu menyembunyikan terangnya sinar surya, hingga terlihat dan tampak jelas wajah yang ada di sisi ruangan itu. Dibalik tirai jendela bermotif merah marun itu, paras seorang puan cantik seperti bule yang berkulit putih, isung lempe nau (hidung pesek, kelihatnya elok), tinggi badannya persis seperti saya. Dari kejauhan kami dua saling melempar senyum yang manis, seolah-olah kode sudah mulai bekerja.Sekarang dibenakku selalu bertanya, kapan aku menjemputmu? Berharap suatu saat nanti, kami berdua menemukan waktu untuk saling sapa dan ngobrol, pasti aku merasa bangga, senang dan bahagia. Mengaguminya adalah sesuatu yang sangat berarti bagiku, entah mengapa rasa ini muncul dengan tiba-tiba. Tapi tak mengapa, karena tidak ada yang mengajarkan rasa suka, tumbuh tanpa sepengetahuan diri.Kantin Kampus merupakan tempat pertama kali aku menemukan sosok puan cantik serupa bule itu. Setelah saya mencari tahu tentang keberadaannya, ternyata dia anak keperawatan. Ehhh… salah, maksudnya dia Prodi Bahasa Inggris (PBI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNIKA Santu Paulus Ruteng. Anehnya, setiap kali aku mengunjungi tempat itu, dia juga pasti ada disitu. Saya berpikir dalam hati, mungkin ini yang dikatakan tak ada yang dapat menghalangi kemana jalannya hati, karena hati tahu dimana pemiliknya yang sesungguhnya.Diketahui, kantin kampus menyediakan berbagai jenis jual-jualan, seperti gorengan, kopi, teh, mie, dan sebagainya. Kantin ini, tak salahnya selalu mempertemukan mahasiswa dari berbagai jurusan yang ada di Kampus UNIKA Santu Paulus Ruteng. Jangan heran, kalau ada mahasiswa menemukan rasa yang sama di tempat ini.Lalu, bagaiaman dengan puan yang serupa bule tadi. Jujur, saya sangat mengaguminya. Mencintainya dalam diam, memberi asa setiap rasa. Salahkah aku mencintaimu dalam diam? Kurasa tidak, waktu selalu memperindahkan setiap rencana dan niat baik kita. Berharap selain aku dan Tuhan, kamu juga harus tahu bahwa aku sedang menunggumu.Sampai dengan saat ini, namanya saja saya belum tahu, apalagi akun media sosialnya, seperti facebook dan instagram. Kalau nomor Whatsappnya, mohon maaf saya belum memberanikan diri untuk memualinya… hehehe.Oh… iya. Saya juga pernah melihatnya di Aula Gedung Utama Kampus Lantai 5. Persis waktu itu, kami sama-sama mengikuti seminar karir yang diadakan oleh Kampus UNIKA Santu Paulus Ruteng. Kebetulan waktu itu, salah satu pemateri dari media Tabeite.Com yang membawakan materi terkait dengan literasi di era digital. Disela-sela itu, saya membagikan pengalaman saya kepada pemateri, “bahwa saya selama ini pegiat literasi menulis dan membaca di media Savirari.Com seperti puisi, cerpen, opini, esai dan tulisan-tulisan sederhana semampu kita. Media ini merupakan sebuah portal menulis yang dikelola oleh praktis pendidikan dan mahasiswa di Kabupaten Manggarai. Bukan hanya di media Savirari.Com saja yang saya tulis selama ini, tetapi ada berbagai banyak media yang saya tidak bisa sebut satu-persatu”. Ungkapku kepada forum.Berharap waktu itu, puan berwajah dingin dari Prodi Bahasa Inggris, mendengarkan dan menatap saya pada saat itu, agar nantinya kalau ketemu bisa saling sapa dan akrab seperti teman. Dan waktu itu aku berharap juga, dia bisa mengirimkan tulisannya di media yang aku kerja sekarang, yaitu Savirari.Com. Andai dia mengirikan tulisan di mediaku, tentu saja saya senang. Mungkin itu kesempatan emas buat saya untuk bisa memulai komunikasi bersamanya. Mohon maaf, anganku terlalu berlebihan, semoga menjadi kenyataan… ohok.. ohok.Ceritanya sampai disini, entah saja bagaimana endingnya nanti. Saya tetap kasih tahu kalian, walaupun aku menunggu waktu tentang jawaban yang pasti, entah saling menjaga hati ataupun aku iklas untuk tetap sendiri.

Sakit Hati Di Selingkuhi Pacar, Akhirnya Ku Tidur Dengan Adik Sahabat !
Romance
24 Nov 2025

Sakit Hati Di Selingkuhi Pacar, Akhirnya Ku Tidur Dengan Adik Sahabat !

Chelsea yang diselingkuhi pacarnya galau dan mabuk-mabukkan, besoknya dia mendadak bangun dari kasur, melihat ke sekitar yang cukup asing baginya, dia menyadari dia sedang di hotel!Dengan pelan dia menolah ke sampingnya, seketika nafasnya berhenti, dia telah meniduri adik sahabatnya sendiri !1"Chelsea, buka pintunya cepat !" Sunna menendang pintu dan meneriak keras buat Chelsea merinding.Kalau tetap biarkan dia menendang pintu mungkin dia akan dilapor tetangganya ke polisi, dari pada dinasehati polisi Chelsea akhirnya memilih buka pintu.Awalnya Chelsea hanya membuka celah kecil, Sunna cukup cepat bereaksi dan langsung masuk."Bagus ya kamu, sebagai dokter muda profesional sudah berbuat tapi tidak mau tanggung jawab ya !"Chelsea tidak berdaya dan memejamkan matanya, dugaanya benar, Sunna datang utnuk menanyainya masalah malam itu, tapi masalah itu terjadi dengan sangat mendadak, dia sendiri juga belum pulih dari keterkejutan.Sunna baring di sofa, menyilangkan kaki, dengan ekspresi seperti sedang menonton pertunjukkan seru "Jadi, bagaimana rencanamu? Ini semua sudah terjadi.""Aku......"Chelsea memikirkan tiga kali sebelum berkata sambil melirik Sunna berkali-kali baru berani berbicara,"Hmm, ini sudah abad 21, semua ini hanyalah ketidaksengajaan, gimana kalau...... ""Bagus ya kamu, sudah berbuat tapi tidak mau tanggung jawab ya ! Kamu hanya mau nikmatnya saja......"Chelsea menutup mulutnya, jika membiarkannya terus berbicara entah apa saja yang akan dikatakannya, bagaimanapun juga Sunna adalah dokter paling berani dirumah sakit mereka !"Aku bukan tidak mau tanggung jawab, hanya saja semua masalah ini terlalu mendadak dan juga ini hal yang normal bukan?......""Jangan banyak bacot !" Sunna mengeluarkan dokumen "Cepat keluarkan KTP dan KK kamu nikah sana!""Sama siapa ?""Siapa lagi ? Kamu tidur sama siapa ya nikah sama dia sana."Sunna tertawa jahat "Akhirnya nikah juga si kaku itu."2Chelsea akhir-akhir ini sedang dalam masalah besar, karena lelaki brengsek dan dua botol minuman.Awalnya Chelsea adalah dokter wanita ahli beda ortopedi, dia tidak pernah mengalami masalah dalam pekerjaan, di rumah sakit Chelsea memiliki reputasi yang cukup baik, masa depannya bisa bilang sangat cerah.Ditambah lagi pacarnya adalah wakil manager dari sebauh perusahaan publik, orang luar memandang Chelsea sebagai wanita wanita abad baru yang memiliki karier dan hubungan cinta yang sukses.Semua baik-baik saja hingga Chelsea melihat mobil yang familiar itu, di sisi penumpang yang sering dia duduki muncul sebuah lipstik yang asing, Chelsea dengan tenang melihat pacarnya Carlos, setelah itu mengantongi lipstik itu.Chelsea yang sejak kecil lebih cerdas dibanding orang sekitarnya, tentu dia tidak akan dengan bodoh menangis dan langsung menanyakan masalah ini pada pacarnya, jangan lupa dia adalah dokter cantik yang sangat hebat mengontrol emosional.Dengan tenang Chelsea diam-diam mengumpulkan buksti dan Chelsea menyaksikan dengan mata sendiri, pacarnya ciuman dengan selingkuhan itu, Chelsea merasa inilah saatnya dan segera maju melemparkan lipstik itu ke muka lelaki brengsek.Wanita cantik itu kaget dan teriak keras, segera berlindung dibelakang lelaki brengsek itu, Chelsea tertawa dingin "Saya awal mengira anda adalah wanita cantik yang lemah lembut ternyata paru-paru anda sangat sehat sampai bisa teriak sekeras dan selama ini, harusnya tadi saya melemparkan lipstik itu ke muka anda, namanya juga membalikkan barang ke pemiliknya."Chelsea pergi tanpa ada penyesalan, walaupun lelaki itu adalah pria berkualitas yang sudah dia jalani hubungan selama setahun, bagi Chelsea dia tidak pernah bisa menrolerir perselingkuhan.Chelsea mengambil cuti untuk istirahat sejenak, dia memasuki sebuah bar di dekat rumah untuk mabuk-mabukan.Di zaman sekarang ini sudah sangat umum jika bertemu dengan lelaki brengsek, Chelsea membujuk diri ini semua akan berlewat.Chelsea tidak terlalu sedih, dia hanya merasa kesal dirinya di selingkuhi ! Setelah minum dua gelas, Chelsea semakin merasa jengkel, karena setengah bulan yang lalu dia baru saja memberikan jam cukup mahal kepada lelaki brengsek itu.Chelsea mengeluarkan handphone telepon ke Sunna, Chelsea terus curhat masalah lelaki brengsek itu, orang yang angkap telepon menanyakan alamay, setelah itu berkata "Tunggu disana, aku pergi jemput."Chelsea bukan peminum yang baik, setelah dua botol dia habisi, matanya mulai melayang.Dalam keadaan linglung, dia melihat seorang pria muncul di hadapannya, tampangnya tampan, postur tubuhnya bagus, nampak umurnya tidak terlalu tua.Huh, hanya lelaki saja, asal dia mau lelaki mana yang tidak bisa dia dapatkan.Setelah muncul pemikiran ini, Chelsea segera mempraktekkannya, dia mengambil segelas minuman dan mulai menggoda pria didepannya "Hei cowok ganteng, mau lewati malam ini denganku ?""......"3Chelsea mengerutkan keningnya saat sinar matahari pertama menyinarinya, dia perlahan membua mata.Konsekuensi mabuk dirasakan Chelsea sekarang, kepalanya sakit, bahunya sakit, pingganya sakit dan......

Bintang Kejora
Romance
23 Nov 2025

Bintang Kejora

Sore hari itu terasa sangat hampa bagi seorang perempuan bernama Kejora Anastasya. Sore itu ia baru saja ditinggalkan sang pujaan hati selama lamanya, semua yang telah melayat satu persatu sudah pulang ke rumah masing masing, yang tersisa disana hanyalah Kejora dan sahabatnya, Lyora.“Kejora, ayo dong pulang, mau sampai kapan lo disini Jora, bentar lagi mau hujan nih, udah hampir 2 jam lo disini, ga keram tuh kaki jongkok mulu, udah gerimis kayak gini masih gak mau pulang?” Kata Lyora sambil memayungi sahabat nya itu. “Pulang duluan aja ly, gua masih mau disini” Kata Kejora sambil menatap Lyora dengan mata sendu nya itu. “Lo mah kayak gitu, aduh yaudah deh, gua tunggu aja tuh di dalam mobil ya, nanti biar gua aja yang setir mobilnya ya Ra, inget kalau udah mau Maghrib udahan ya, besok besok lagi kesini, gua tau berat Ra ngelepasin langit, nih payung, gerimis tuh, bisa sakit” Kata Lyora sambil memberi sebuah payung dan lanjut berjalan kearah mobil.Langit Ajendra—adalah kekasih dari Kejora Anastasya yang mengidap penyakit kanker hati stadium akhir, Perawatan dapat membantu, namun penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Hal ini membuat Langit harus menjalani kemoterapinya, kemoterapi itu sudah ia lakukan sejak 3 tahun yang lalu, namun karena merasa kemoterapinya itu tidak membuat perubahan bagi dirinya, ia mengakhiri kemoterapinya semenjak 2 bulan yang lalu tanpa sepengetahuan dari siapapun karena ia tau tidak ada yang akan menyetujui perbuatannya itu. Setelah ia tiada, dokter yang menangani Langit pun akhirnya memberi tau kepada keluarganya dan Kejora.Kejora bangkit dari duduknya sambil memegang payung dan dengan berat hati ia berjalan kearah mobil, ia menutup payungnya dan langsung mengetuk jendela mobil itu. tuk.. tuk.. tuk“AAAAAAAAA SETANNNNNNNNN” Jerit Lyora yang terkejut. “Ini gua, gak usah lebay, cepetan buka pintunya” Kata Kejora. “Sumpah ngagetin aja lo Ra, untung sahabat lo ini ga kena serangan jantung” Kata Lyora sambil membuka pintu itu.Kejora tak membalas dan langsung masuk kedalam mobil, Lyora pun langsung menjalankan mobil itu. malam ini Lyora memutuskan untuk menginap di rumah Kejora, karena ia berjaga jaga agar Kejora tidak melakukan perbuatan yang tidak baik walaupun ia tau Kejora tidak sebodoh itu sampai harus melakukan sesuatu seperti mengakhiri hidupnya.Sebulan pun berlalu, Kejora sudah terlihat lebih baik, mungkin ia belum bisa ikhlas sepenuhnya tetapi senyum Kejora sudah muncul, walaupun hanya karena Lyora yang dengan cerobohnya tersandung dan menumpahkan jus buah naga ke dosennya itu, setelah itu Kejora hanya tersenyum tipis. Saat ini mereka sedang menyantap makan siangnya di kantin.“Ly, nanti sore temenin gua yuk ke pantai, kangen pantai, kangen Langit” Kata Kejora. “Yahhh Ra maaf gua ga bisa, hari ini tuh gua mau jalan sama pacar gua, besok aja mau ga?” Kata Lyora. “Ohh yaudah Ly ga usah, gua sendiri aja gapapa, gua bisa sendiri kok santai” Kata Kejora sambil tersenyum. “Beneran gapapa Ra?” Tanya Lyora. “Gapapa Ly, sahabat lo ini kan udah gede” Kata Kejora. “Yaudah hati hati lo nanti” Kata Lyora. “Siap boss” Kata Kejora.Sore hari pun tiba, saat ini Kejora sudah berada di pantai, saat ia sedang ingin keluar dari mobil, ia melihat sosok laki laki yang tak asing baginya. Perlahan ia berjalan mendekati laki laki itu.“Langit?” Kata Kejora dengan sangat pelan. “Eh saya bukan Langit” Kata laki laki itu yang sedikit terkejut. “Oh maaf mas, mas nya mirip banget sama almarhum pacar saya, mulai dari postur tubuh, wajah dan suara” Kata Kejora yang sedikit tak enak hati. “Saya turut berdukacita ya mba, ah iya nama saya Bintang” Kata laki laki itu. “Saya Kejora, jangan pake mba, kalau mau juga pake lo gua gapapa hehe, jangan terlalu formal” Kata Kejora. “Eh hahaha oke deh Kejora” Kata Bintang sambil tersenyumSore itu mereka habiskan untuk berbincang-bincang dan bertukar nomor ditemani dengan indahnya matahari terbenam yang artinya ini sudah mulai sore.“Gua pulang dulu ya, kapan kapan ketemu lagi okey Bintang” Kata Kejora sambil melambaikan tangan kearah Bintang dan langsung masuk kedalam mobil.Sampainya di rumah ia langsung mengabari Lyora dan memberi tahu kabar bahwa ia bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengan almarhum kekasihnya itu, Lyora bingung harus percaya atau tidak karena ia tahu sahabatnya itu belum bisa ikhlas sepenuhnya, akhirnya Kejora pun mengirimkan foto yang sempat ia ambil diam diam tanpa sepengetahuan Bintang, akhirnya Lyora pun percaya.Selama sebulan ini Kejora selalu ke pantai sebagai tempat janjian untuk Kejora dan Bintang saling bertemu, setelah beberapa Minggu ia tidak bertemu Bintang akibat dirinya sedang disibukan dengan tugas kuliahnya itu, akhirnya Kejora mengajak Bintang untuk bertemu di pantai itu, Bintang tak pernah membalas pesannya, hanya dibaca saja, hal ini sudah biasa, walaupun awalnya Kejora mengira ia seperti selalu mengganggu Bintang, tetapi saat mereka bertemu Bintang memberi alasan mengapa ia tidak memberi balasan pesan Kejora, Bintang akan membahas semua pesan yang Kejora beri ketika mereka saling bertemu. Seperti biasa mereka bercanda bersama menghabiskan waktu di pantai itu ditemani dengan matahari terbenam yang sangat indah.“Bintang, bagaimana kalau gua bilang gua jatuh cinta sama lo?” Tanya Kejora. “Kejora, lo jatuh cinta sama gua karena gua mirip almarhum pacar lo kan?” Kata Bintang “Engga Bintang, gua jatuh cinta bukan karena lo mirip Langit” Kata Kejora.Bintang hanya tersenyum kikuk kearah Kejora, setelah berbicara seperti itu Kejora memutuskan untuk pamit pulang ke rumahnya. Sampai di rumah Kejora menelepon sahabatnya itu.“Ly, gua jatuh cinta sama Bintang” Kata Kejora. “Ra, kayaknya kita perlu ngomong besok deh, penting, demi lo” Kata Lyora dan langsung mematikan sambungan sepihak.Sesuai seperti yang Lyora bilang di teleponnya semalam, ia ingin berbicara sesuatu yang bisa dibilang sangat penting, Lyora, Kejora, dan kekasih Lyora—Tio, mereka sudah ada di kantin untuk membicarakan hal ini.“Ayang, kayaknya kamu harus kasih tau sekarang deh” Kata Tio. “Iya ay” Kata Kejora. “Ini mau ngomong atau ngebucin? cepetan, udah sore nih, gua mau ketemu Bintang lagi di pantai” Kata Kejora.“Ra, sadar, semua tentang Bintang itu hanya imajinasi lo Ra” Kata Lyora yang nampak mengkhawatirkan sahabatnya itu. “Maksudnya gimana Ly, bercanda mulu lo, semua kenyataan kok” Kata Kejora yang sedang kebingungan. “Ga Kejora, Bintang itu imajinasi lo yang masih ga bisa ikhlas sama kepergian Langit, foto yang lo kirim itu, gua sama Tio cuma liat ada pantai, sedangkan sosok Bintang yang lo maksud ga ada, gua awalnya mau nyadarin lo saat itu juga, tapi kata Tio jangan dulu, cuma sekarang gua harus kasih tau Ra, ikhlas emang susah, tapi jangan tenggelam sampai sampai imajinasi yang menguasai lo sekarang” Kata Lyora. “Apaan sih Ly, ga mungkin lah, ngaco lo, udah ah gua mau ketemu Bintang aja, lo semua ga jelas banget” Kata Kejora yang langsung lari meninggalkan mereka berdua.Melihat Lyora yang ingin mengejar Kejora, Tio dengan sigap menarik tangan Lyora. “Kasih dia waktu Ly, emang susah buat dia terima kalau mencakup hal seperti ini” Kata Tio.Lyora menurut dan langsung kembali duduk di sebelah Tio dengan raut wajah khawatir. Disisi lain Kejora menjalankan mobilnya ke pantai untuk bertemu Bintang, ia memikirkan apa yang barusan Lyora bicarakan, saat ia sudah sampai di pantai itu, Kejora langsung turun dan berjalan menuju kearah Bintang, Bintang memunggungi Kejora, jarak mereka sekitar 1 meter atau 100 cm. Bintang berbicara tanpa menghadap kearah Kejora.“Ra, udah tau ya? yang Lyora bilang bener kok, harus belajar ikhlas, biar imajinasi lo ga menguasai, gua ga bisa juga lama lama di imajinasi lo, setelah lo tau gua ini cuma imajinasi lo, gua harus pergi, semua tentang gua bakal lo lupain seiring berjalannya waktu” Kata Bintang. “Bintang..” lirih KejoraBintang berjalan pelan dan memeluk Kejora sampai sosok Bintang benar benar menghilang.Benar, semua ini hanya imajinasi Kejora, Bintang memang sebenarnya tidak ada, Kejora begitu merindukan sang kekasih sampai ia tidak sadar sedang membangkitkan imajinasinya, kontak chat Bintang pun hanya terlihat seperti nomor yang sudah lama tidak aktif, foto yang Kejora ambil diam diam itu masih terlihat wajah Bintang walaupun hanya kejora yang bisa melihat.Setelah seminggu berlalu Kejora pun memutuskan untuk ke tempat peristirahatan terakhir sang kekasih, jujur saja ia sangat merindukan Langit, saat sampai disana ia berbincang-bincang dengan Langit, ia tahu Langit bisa mendengarkannya.Tamat.

Hadiah Indah Untuk Rere
Romance
23 Nov 2025

Hadiah Indah Untuk Rere

Malam ini, angin berhembus cukup kencang membuat pohon pohon bergoyang, menerbangkan jauh dedaunan yang jatuh menerpa tanah, membuat siapapun takkan mau keluar di malam yang begitu dingin ini. Dinginnya angin malam menembus kulit hingga tulang“Ayah, kok malam malam begini ada yang nangis sih?” Suara ibu rere memecah keheningan malam, membangunkan ayahnya rere. Karena rasa khawatirnya, mereka menghampiri pintu kamar rere, terdengar jelas suara langkah mereka hingga rere tersadar dan buru buru menghentikan tangisnya, lalu ia pura pura tertidur.Tok… tok… tok… “Rere, sayang buka pintunya” ujar ibu rere Lama tak mendapat jawaban dari rere, mereka pun membuka pintu kamar rere, dilihatnya oleh mereka rere sedang terlelap (padahal pura pura) “Lho bu, rere tidur kok, siapa yang nangis? Ah halusinasi ibu aja mungkin” ujar ayah. “Gak mungkin lah ayah, apa jangan jangan yang nangis tadi itu suara hantu?” Ujar ibu ketakutan “Hush ibu, ayo kita balik ke kamar aja, jangan ribut di sini, kasian rere” ajak ayah sambil berlalu dan menutup pintu kamar rere.Karena mereka sudah pergi, rere menyingkapkan selimut tebalnya itu, ia duduk di ranjangnya dengan melihat beberapa foto. Raganya berada di situ tapi entah mengapa pikirannya melayang jauh menembus angkasa, dibawa terbang oleh rasa sakit yang dihadapinya. Tidak terasa, air mata menetes dengan mudahnya, dia sudah sangat tidak kuat menahan rasa sakit ini. “Rendra, lu bener bener tega sama gua! Salah gua apa?” Ujar rere sambil menyobekkan beberapa lembar foto yang ada di tangannya.Segera ia membawa ponselnya, mencoba menghubungi sahabatnya, Rasti dengan aplikasi sosial medianya. “Damn Rastiii please dong bales” ujarnya geram. Kesal tidak mendapat jawaban dari Rasti, rere pun meneleponnya ‘Tengah malam buta’ “Hallo rereee ada apaaaa?” Seketika hati rere tenang mendengar suara sahabatnya ini. “Rasti, hiks… hiks” rere terisak lagi. “Loh loh loh re? Rere? Lo kenapaaa? Please jangan bikin gua menderita karena khawatir sama elu dong re” “Gu..gua.. p..putus..s..sama. Ren..dra” ujar rere dengan suara yang putus putus karena terisak. “Oh ya?” Tanya Rasti dengan nada datar, tidak seperti biasanya. “Gua nelpon malem malem dan lo cuma bales ‘oh ya’ aja? Tega lu” “Ehm g..gimana ya re.. mungkin ajaa… emmm..emmm mungkin aja itu udah takdir tuhan” jawab Rasti dengan terbata bata. “Seberat inikah takdir gua?” Tanya rere putus asa. “Re, udah dulu ya udah malem niih tidur gih biar mata lo nggak sembab, semangat laaah besok hari minggu” rasti menyemangati rere. Rere merasa sangat sangat baik saat ia sudah mencurahkan semua pada sahabatnya, rasti. Akhirnya dengan makin dinginnya udara di luar rere pun terlelap.Hari kemarin berlalu begitu saja, menyisakan kenangan buruk yang tak bisa dilupakan. Hari ini, subuh subuh begini rere sudah bangun, setelah melaksanakan shalat subuh, rere diam di jendela kamarnya yang menghadap ke jalanan kompleks, tiba tiba terlihat oleh rere, rendra sedang berjalan, mungkin ia habis melaksanakan sholat subuh. Tak terduga, rendra melihat ke arah rere “Oh my god, harus gimana ini? Senyum? Ah ntar dikira gua cewek apaan lagi, cuek? Ntar disangka sok jual mahal, oh tuhaaan bantu akuu” gumam rere. Rendra melambaikan tangan ke arah rere, mengisyaratkan pada rere agar turun ke bawah dan menemuinya. Entah iblis apa yang merasuki rere, tiba tiba ia menuruti mau rendra, ia pun mengajak rendra untuk ngobrol di gazebo rumah rere.“Re?” Tanya rendra pelan, memecah keheningan dan rasa canggung yang ada. “Ya” balas rere singkat. Ia tak mau memperpanjang urusannya lagi dengan rendra. “Aku tau aku salah, aku.. aku gak tau.. rasa gila ini muncul begitu saja re” ujar rendra putus asa. “Maksudnya apa?” “Aku mutusin kamu bukan karena sosial media kamu yang difollow lebih dari 3000 orang, tapi karena aku… aku udah nggak cinta lagi sama kamu re” Deg. Sulit dan sangat sakit memang. “Itu karena aku, aku mencintai orang lain, dan orang itu sahabat kamu sendiri re, rasti. Maafkan aku..” Ya tuhan, hantaman apa yang mengenai jantung dan ulu hati rere? Semua ini sulit dicerna oleh akal sehat, orang yang ia cintai dengan sangat malah mencintai sahabatmu sendiri. “Bagus deh, kamu udah berhasil nyari yang lebih dari aku, langgeng ya” ujar rere sambil tersenyum getir “Aku masuk ya, dingin mau tidur lagi, aku cape” ujar rere sambil berlalu “Ya tuhan apa ini semua? Ini sangat menyakitkan bagiku, ini.. sulit sekali” rere terisak kembaliSegera ia membawa ponselnya dan menghubungi rasti “Pantes kemarin kamu slow respon pas aku curhat tentang rendra, pantes kamu nggak kayak biasanya, ternyata, kamu … busuk ras, makasih semuanya terutama lukanya” “Re? Apa? Enggak kok enggak?” “Enggak apa? Enggak ngaku?”Selang sepuluh menit status rasti berubah menjadi ‘Rendra Akbar?’ “Ya tuhaaan cobaan apalagi ini” rere memukul kaca kamarnya hingga pecah, darah mengalir dari tangannya. Perih? Ya tapi tak seperih luka yang mereka buat untuk rere.Hari ke hari, rere mulai bisa melupakan rendra dan rasti walau hanya 2 % dari 100 %. Tapi tak apa, itu awal yang bagus. Hari itu, rere hendak membeli es krim yang terkenal di daerahnya, di daerah taman cinta. Mungkin jomblo seperti rere salah memasuki taman, di taman cinta orang orang berpacaran sana sini, tapi masih batas wajar. “Sial, salah masuk taman, harusnya ke taman jomblo nih gua” gumam rere sambil menyantap es krimnya. Tiba tiba rere melihat rasti dengan rendra di sana. “Rere?” Tanya rasti Rere mencoba menghindar dari mereka, bukan menghindar dari permasalahan, tapi menghindar dari rasa sakit.“Re, maafin gue, ini soal hati ini soal rasa” ujar rasti “Selow udah gua maafin kok, btw gua harus pergi” Rere berlari meninggalkan mereka hingga ia bertabrakan dengan seseorang, rere terjatuh dan es krimnya mengenai baju pria itu, aduuuh kejadian yang, argh you know laah. Saat rere memberanikan menatap pria tersebut, rere seperti sedang mengingat ngingat sesuatu, ia seperti tak asing dengan pria yang sedang tersenyum simpul ke arahnya itu. “Rere kan?” Tanya pria tersebut “I..iya” jawab rere “Anaknya tante yeni sama ayah yadi kan?” Pia tersebut kembali bertanya. Rere hanya mengangguk bingung, sebuah titik terang akhirnya menerangi suramnya otak rere. “Mungkin dia? Azka? Tapi gak mungkin lah dia kan di solo” gumamnya dalam hati “Hello, ngelamun bu? Lupa lagi sama temen lo yang ganteng ini? Yang sering maen soap bubbles sama lo, yang sering maen bubble gum” “Ya tuhan, az… azka?” Tanya rere Dia hanya tertawa sambil membantu rere berdiri. “Azka kan? Azka aditia pratama?” “Iyaa rere adilla” “Bukan…nya dii… s..solo ya” “Udah pindah, kita tetanggaan reee” “Serius? Kapan pindah dan di mana?” “Kemarin, di ujung komplek. Lo gak tau?” Rere hanya menggeleng senang, sahabatnya akhirnya kembali, teman masa kecil yang dipisahkan oleh jarak.Hari ke hari mereka semakin dekat, azka menghapus perlahan luka luka yang tertanam di dalam diri rere, mengubah rere ke rere yang dulu. Hingga suatu hari saat azka sedang berada di gazebo rumah rere, datang rasti dan rendra, rere uanh semula tertawa mendadak bermuram durja kembali. Azka menoleh ke arah di mana rasti dan rendra berada. Azka mengepal tangannya, rahangnya mengeras, sadar akan azka, rere buru buru menahan azka, memandang lembut pria tampan itu dan berkata “everything will be oke”Rasti dan rendra menghampiri mereka “Re, sorry gua emang sahabat yang gak tau diuntung.. so..ry” rasti terisak. Ia hendak sujud di kaki rere tapi dengan sigap rere memeluk rasti erat. “Gua udah maafin kalian kok” Ada pancaran rasa bangga yang terpatri di hati azka, rere yang ia kenal memang sudah banyak berubah, ia semakin memantapkan pilihan hatinya pada gadis cantik ini. Mereka tersenyum, senang memang bisa berbaikan dengan sahabat sendiri. “Ciyeee yang punya pacar baruu” goda rasti. “Paan sih ras, sahabatan kok, ya kan ka?” Ujar rere “Tapi gua gak mau cuma jadi sahabat elu re” ujar azka “So? Jadi sodara? Atau abang?” “Gua mau jadi someone yang spesial di hati elu. Jadi orang yang selalu elu sayang, selalu lo fikirin. Gua sayang elu re, gua tau ini kecepetan tapi please jangan pernah lo nyama nyamain gua sama cowok lain, gua beda re, gua bener bener sayang sama lo, dan gua janji gak kan pernah bikin lo sedih apalagi sampe bikin air mata lo keluar buat yang kesekian kalinya.” “Ka? Lo nggak lagi becanda kan?” “Gua serius rereee” “ya udah terima aja ree dibuang sayang” goda rasti. “Iya” “Apa re? Gua gak denger?” Tanya azka “Iya azka aditia pratama, gua mau jadi pacar elu” “Oh baby.. i think i wanna marry you” goda azka. “Sekolah dulu yang bener bego” ujar rere. Mereka tertawa, rere sudah sangat memaafkan rasti dan rendra.“Rendra?” Tanya rere “Ya?” “Gua gak mau kita jadi musuh, ya walau jujur gua sakit karena kalian, tapi gua pengen terus sahabatan sama kalian” Rendra tersenyum simpul Rere pun kembali pada azka, kembali duduk berdua, azka berkata dengan tiba tiba “Menjadikan sahabat jadi pacar itu adalah ketulusaan, tapi menjadikan mantan jadi sahabat itu kedewasaan. Belum tentu lho orang di luar sama kayak kamu re, aku sayang kamu, sangat” “Aku juga sayang kamu ka, lebih dari sangat”

Malam Minggu Yang Menyakitkan
Romance
23 Nov 2025

Malam Minggu Yang Menyakitkan

Tepat pada malam minggu dengan gemerciknya suara hujan Ulo dan Mabi seperti biasa selalu sms-an. Ditengah kedamaian tersebut, Ulo ingin membicarakan sesuatu dan disitu pun perasaan mabi sudah tidak enak.“Mabi aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, tetapi aku ingin berbicara secara langsung.” ajak Ulo. “Ingin membicarakan apa? Bicarakan saja sekarang.” jawab Mabi. Tetapi Ulo hanya ingin berbicara secara langsung dan permasalahannya Mabi besok akan ada acara bersama teman-temannya. Dan akhirnya Mabi pun menolak secara perlahan. “Mau membicarakan apa?” dengan perasaan sedikit kesal. Ucap Mabi. “Tapi aku ingin membicarakannya secara langsung.” dengan keras kepalanya dia membalas seperti itu. Jawab Ulo. Dan Mabi pun setelah melihat pesan tersebut, dia berfikir hingga lama membalasnya.Ulo pun beberapa menit kemudian mengirim pesan dan membuat Mabi terkejut dengan pesan tersebut. Isi pesannya yaitu “Sudah ya Mabi, kau lupakan aku saja mulai sekarang dan aku pun akan melupakanmu. Karena percuma saja kita mempunyai perasaan spesial tetapi tidak dapat bersatu. Mulai sekarang lupakan aku ya, walaupun itu sakit dan susah tetapi kita harus melupakannya.” Itulah pesan yang dikirim Ulo. Mereka berdua pun mulai saling adu mulut karena keputusan tersebut. Dan Mabi pun mulai berfikir “Mengapa di saat malam yang sedamai ini hal seperti ini bisa terjadi.” dengan banyak pertanyaan yang bermunculan. Dan Mabi pun mulai berfikir bahwa Ulo mempunyai teman dekat cewek namanya Ica. Mereka selalu sms-an seperti kami. Kelihatannya sih Ica dan Ulo di pesannya terlihat romantis, saling perhatian antara keduanya, dan disitu pun Mabi mulai merasakan kembali rasanya sakit hati.Akhinya pun Mabi mengirim pesan kepada Ica, walaupun perasaannya sedang tidak enak, dia tetap mengirim pesan dengan cara baik-baik kepada Ica.“Assalamualaikum.” ucap Mabi. “Waalaikum salam, iya apa?” balas Ica. “Tidak, tidak apa-apa.” jawab Mabi.Beberapa menit kemudian hp Mabi pun berdering terdapat pesan masuk. “Iya Ulo kamu mau nonton?” pesan Ica.Melihat pesan baru itu Mabi semakin sakit dan mungkin Ica salah kirim seharusnya dikirim ke Ulo ini malah ke Mabi. Disitu pun Mabi tidak membalasnya dan Ulo pun tidak mengirim pesan lagi kepada Mabi. Mungkin dia sedang bersama Ica, Mabi pun dengan perasaan yang sakit dan lelah dengan semuanya dia pun tertidur dengan selalu memikirkan Ulo.Keesokan harinya Mabi dan Ulo untuk sementara tidak tidak saling mengabari dan Mabi merasakan kembali rasanya kesepian.

Malaikat di Tengah Hutan
Romance
23 Nov 2025

Malaikat di Tengah Hutan

Lima hari perjuangan mengahadapi soal ujian yang mengerikan sudah berlalu. Aku tidak perlu takut kepalaku menguap lagi karena terlalu fokus memikirkan soal. Aku duduk di atas kursi plastik warna putih. Kursi sejuta umat yang dapat kau kenali dengan mudah hanya dengan melihatnya. Akun permainan berlevel tinggi terpampang di layar komputer kesayangan. Sejumlah cemilan ringan tergeletak di samping keyboard warna-warni edisi terbaru. Event spesial akhir pekan yang kutunggu-tunggu telah dimulai. Aku dapat menyelesaikannya dengan mudah jika aku bermain beberapa jam. Seharusnya itulah rencana hari ini.Tapi, kenapa aku berada di tempat entah berantah ini? Pemandangan penuh dengan warna hijau terasa asing di depan mata. Pohon-pohon besar menjulang tinggi di sisi kiri dan kanan. Rindangnya pepohonan menyembunyikan langit dari pandangan. Sinar matahari yang seharusnya sedang terik-teriknya tidak mampu menembus kanopi hutan. Aku yang terbiasa berdiam diri di dalam ruangan kini berada di tengah hutan.Lama aku berjalan menyusuri jalan setapak ini. Jalur yang hanya terbuat dari tanah, becek karena air, sisa hujan semalam. Beberapa kubangan air berwarna coklat terlihat sepanjang jalan. Aku melangkah, berhati-hati, menjaga langkah agar tidak terjatuh. Aku tidak mau kamera yang kubawa di dalam tas selempang rusak. “Kenapa tadi malam harus hujan, sih?”Seorang gadis yang dari tadi ikut berjalan di belakangku mengungkapkan kekesalannya. Gaun pendek ala gadis perkotaan yang dipakainya terlihat mencolok di tengah lebatnya hutan. Kulit kaki serta tangannya terbuka, tak terlindungi dari ancaman serangga yang bisa saja menyerang. Salah satu tangannya menenteng dua buah sepatu hak tinggi kotor. Tangannya yang lain sibuk memegangi bajuku, takut terjatuh. Nama gadis itu adalah Melisa. Kami bersekolah di tempat yang sama. Aku tidak bisa mengatakan kalau kami berdua dekat. Hubungan kami hanya sebatas kakak dan adik kelas.Lalu, kenapa kami berduaan di dalam hutan? Jawabannya simpel: aku terpaksa. Semenjak kemarin pagi, Melisa terus memohon padaku menemaninya berfoto untuk perlombaan, katanya. Melisa yang aku kenal memang seperti ini. Dia selalu memintaku melakukan hal yang ia katakan, bahkan semenjak pertama kali kami mengenal. Mulai dari menemaninya belajar soal ujian di perpustakaan, sampai harus mendengarkan curhatannya semalaman. Aku yang tak terbiasa berargumen tidak dapat menolak permintaannya. Begitulah hari ini, sekali lagi, aku menjadi budak pesuruh yang menuruti semua kemauan Melisa.“Sudah kubilang, jalannya akan seperti ini kalau habis hujan.” ucapku mencoba menenangkannya. “Mau pulang saja?” aku berhenti sejenak dan mengalihkan pandanganku kepada Melisa. “Enggak mau. Kita harus melakukannya hari ini” jawabnya menolak.Melisa mendorong tubuhku sedikit ke depan, memaksaku terus berjalan. Deras aliran air terdengar lemah dari kejauhan. Mungkin Melisa tidak mau kembali karena kita sudah dekat? Tempat yang kami tuju, menurut informasi Melisa, adalah sungai kecil yang berada di tengah hutan. Air sungai itu bening. Bebatuan besar menghiasi di sepanjang tepiannya. Belum banyak orang yang mengetahui keberadaan sungai itu karena letaknya yang tersembunyi dan sedikit jauh dari pemukiman.Kami kembali melanjutkan perjalanan. Suara aliran sungai semakin terdengar keras di telinga. Tidak lama kemudian terlihat tempat yang kami tuju. Sungai kecil dengan bebatuan berwarna abu-abu kehitaman di pinggiran, sesuai perkataan Melisa. Air sungai itu berkilauan, memantulkan cahaya surya. Langit biru dengan sedikit awan di atas sungai tak tertutupi kanopi hutan. Latar rindang hijaunya hutan menambah keeksotisan tempat ini. Kicauan burung hutan bercampur gemercik air yang terus terdengar dari aliran sungai, menciptakan kesunyian yang menenangkan.Kami terdiam di tepi sungai. Kupejamkan mataku menikmati suasana yang jarang kurasakan ini. Mengikuti permintaan Melisa untuk datang kesini sepertinya bukanlah hal yang buruk. Suasana asri alam yang belum terjamah manusia memberikan ketenangan. Kedamaian seolah merasuk ke dalam jiwa.“Kak, cepetan foto” Saat aku kembali membuka mata, Melisa sudah berada di atas salah satu batu besar, menyuruhku untuk memotretnya. Melisa duduk di atas batuan besar itu dan mulai berpose menyilangkan kaki. Aku ambil kamera dari dalam tas, bersiap memfoto. Senyum manis terlihat dari balik kamera.Klik Figur gadis kota duduk di atas batu pinggir sungai tersimpan dalam kameraku. Melisa kembali berdiri, membersihkan bagian belakang pakaiannya dan menuju ke arahku. Kuperlihatkan hasil tangkapan gambar kepadanya.. “Jelek. Ulang lagi.” Aku menghela napas. Jika Melisa ingin aku memfotonya, aku tahu bahwa aku harus melakukannya berulang kali.Kami mengulangi hal yang sama, tentunya dengan sedikit variasi. Mulai dari berdiri di atas bebatuan sungai sampai berpindah tempat ke tengah sungai yang ternyata tidak terlalu dalam. Semua untuk mendapat hasil foto yang bagus.“Mel, berhenti sebentar. Istirahat” ucapku Aku duduk di salah satu batu besar. Aku memilih tempat yang teduh tertutupi pohon agar tidak kepanansan. Kutaruh kamera di sampingku dan mengajak Melisa ikut beristirahat. Meskipun Melisa awalnya menolak, setelah melihat aku yang kelelahan, ia memilih untuk ikut beristirahat. Dia duduk di sampingku, di atas batu yang sama denganku.“Jadi gimana? Tempatnya bagus, kan?” tanya Melisa antusias. “Iya. Bagus” jawabku singkat. Wajah Melisa terlihat cemberut mendengar jawabanku. Aku berpura-pura tidak tahu. Aku mengalihkan pandanganku ke sungai. Arus sungai mengalir tenang, tidak terlalu deras walau semalam hujan. Ikan-ikan kecil sesekali terlihat bersembunyi di sela-sela bebatuan. Terkadang daun yang jatuh dari pohon, hanyut terbawa arus sungai. Melihat hal biasa seperti itu entah kenapa memberikan ketenangan tersendiri.Kembali aku memikirkan hubunganku dengan Melisa. Kenapa dia selalu datang padaku dengan dengan berbagai keinginnnya? Kenapa ia tidak meminta teman sekelas atau orang lain? Kebanyakan permintaannya mengharuskan bersama dengannya sendirian. Bagimana ia terus meladeni sikapku yang kata orang dingin dengan selalu memasang senyum hangat. Seolah Melisa mencoba menarik perhatianku untuk terus tertuju padanya.“Kak” Suara kecil Melisa memanggil, memecah aku yang terfokus dalam pikiran. Kepalaku spontan menengok ke arah suara itu berasal. Klik Suara jebretan kamera terdengar. Kamera yang tadinya keletakkan di sampingku kini berada di tangan Melisa. Kamera itu menutupi sebagian wajah Melisa, kulihat sebelah matanya menutup dan yang lain berada dibalik kamera. Melisa memfotoku diam-diam.“Ah, kok eggak senyum sih, kak? Enggak jadi bagus hasilnya, deh.” gerutu Melisa. Merasa tidak puas dengan hasil foto yang baru ia ambil, Melisa mengalihkan perhatiannya ke kamera. Ia melihat satu-persatu gambar dirinya yang telah kuambil sebelumnya. Sesekali ia mengomel jika melihat gambar yang tidak bagus. Kemudian, ia langsung tersenyum saat melihat foto dirinya yang bagus, memujinya berlebihan.Aku melihat semua itu dari samping. Sebuah perasaan memaksaku untuk terus memandangi hal yang ia lakukan. Mengamati bagaimana dengan mudah wajah itu berganti-ganti ekspresi. Caranya menyikapi sesuatu secara berlebihan, penuh dengan jiwa, tidak pernah membuatku jenuh.“Kenapa, kak?” Alis Melisa naik seraya pertanyaan itu keluar dari bibirnya. Terlalu lama aku memandangnya mungkin membuatnya merasa aneh. Tetapi, pandanganku menolak untuk beralih. “Enggak apa-apa” jawabku.Tanpa kusadari kedua ujung bibirku naik ke atas, menciptakan lengkungan senyum sederhana. Entah Melisa memang suka memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya sendiri, atau ia memang menginginkanku untuk memperhatikannya. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Melisa. Hal yang kutahu dengan pasti adalah keseharianku yang membosankan terasa menjadi lebih berwarna setiap kali aku bersamanya. Ocehan gundah, gerutu yang menyebalkan, senyuman manis, hal yang menurutku asing untuk kurasakan ada pada dirinya. Dia seolah membuatku tidak sabar dengan hal asing apa yang ia perlihatkan lagi padaku. Semua itu membuatku tertarik.“Kamu cuma kelihatan cantik”Di dalam kedamaian hutan, di pinggir aliran sungai yang menghanyutkan, di atas batu besar nan kokoh, sosok malaikat yang tanpa sadar membuatku terpikat memiringkan kepalanya kebingungan.

Cinta Dalam Diam
Romance
23 Nov 2025

Cinta Dalam Diam

Hai, namaku Azhar. Aku adalah mahasiswa ngetop di Fakultas Ekonomi, alasan ngetopku bukan karena wajahku yang tampan tapi karena IP ku yang selalu 4,0 di setiap semesternya. Bagaimana tidak 4,0 semua mata kuliah yang disampaikan dosenku bisa kuserap dengan mudahnya. Semua mata kuliah Ekonomi kukuasai dengan baik, bahkan tak jarang banyak temanku yang bertanya padaku. Tapi, dari sekian banyak yang kutahu hanya satu yang tidak kumengerti yaitu Riana.Riana adalah temanku kuliah sekelas. Jika kau mendengar namanya pasti kau akan mengira kalau dia adalah cewek yang ekstra feminin tapi kenyataannya jauh dari kata feminin alias tomboy abis. Setiap hari ia selalu membuat mataku malas dengan penampilan tomboynya. Semua teman perempuanku berpakaian selayaknya gadis pada umumnya namun tidak dengan Riana. Setiap hari ia memakai jilbab pendek instan, kaos oblong, celana jeans dan sepatu cats. Daann tidak pernah memakai make up sedikitpun di wajahnya. Rasa benciku padanya semakin memuncak saat papa membicarakan pernikahanku dengan Riana.“Tidak Pa. aku belum siap berumah tangga. Aku masih ingin kuliah pa, lagian sekarang aku masih semester 6” protesku “Iya, papa tahu tapi kalau kau menikah, kau kan bisa menunda punya anak dulu jadi no problem, kan” ucap Papa bersikeras “Aku belum bekerja Pa, mau aku hidupi dengan apa nanti dia? Lagian papa ini kenapa sih kok tiba-tiba mau menikahkanku dengan gadis yang tidak kukenal” “Zhar, papa ini sudah terikat janji dengan om Gito untuk menjodohkan anak kami jika lahir berlawanan jenis. Papa harap kau mengerti” “Siapa dia? Papa punya fotonya?” “Sebentar, fotonya ada di HP papa” ucap Papa sambil mengusap HPnya“Ini dia Zhar. Kau suka kan?” ucap papa sambil menyodorkan HPnya padaku “Riana?!” ucapku “Kau mengenalnya?” Tanya Papa dengan muka berbinar “Cewek ekstra tomboy yang membuat mataku malas melihatnya setiap saat. Nggak ada yang lain yang lebih jelek lagi pa?” “Hush! Ngomong apa kamu ini?” “Nggak Pa, sampai kapanpun Azhar nggak mau menikahinya” ucapku sambil berlalu meninggalkan papa dan tiba-tiba … bruk “Papa! Tolong-tolong papaku pingsan!”Cepat-cepat pak Darso, pak Ucin dan mbok Darmi membantuku menggotong papa ke kamar. Kemudian aku segera menghubungi dokter pribadi kami. Beberapa menit kemudian dokterpun datang. “Pak Handi hanya kelelahan saja Mas. Jangan khawatir. Saya bikinkan resep dulu ya nanti ditebus di apotek biasanya” “Baik dok”“Zhar.. Azhar” “Papa.. papa sudah sadar?” “Sudah, tapi masih sedikit pusing” ucap Papa dengan wajah pucatnya “Syukurlah pak kalau bapak sudah siuman. Bapak hanya kelelahan saja, tidak apa-apa kok pak” “Terimakasih dok” “Kalau begitu saya pamit dulu ya. Mari..” “Mari Dok”Setelah mengantar Dokter sampai ke pintu depan, aku kembali ke kamar Papa. Kulihat papaku sedang memikirkan sesuatu. Apakah sikapku tadi terlalu berlebihan padanya? “Pa, Azhar minta maaf kalau tadi Azhar sudah berlebihan ke Papa” “Tidak Zhar, papalah yang harusnya memikirkan perasaanmu. Kau sangat jijik pada Riana mana mungkin kau mau menikah dengannya” ucap Papa “Tapi pa, Azhar mau melihat papa sehat sudahlah pa biarlah Azhar menikah dengan Riana” “Kau yakin anakku?” “Yang penting papa sehat” ucapkuHari pernikahanku dengan Riana telah tiba tapi aku masih tetap saja illfeel melihat si gadis tomboy itu. Entahlah apa yang akan terjadi pada rumah tanggaku selanjutnya, karena aku berpikir pernikahanku bukanlah sebuah rumah tangga tapi sebuah kompromi kesehatan Papa. Rencanaku nanti malam aku akan tidur di sofa saja. Maafkan Azhar Pa..“Mas, aku perhatikan dari tadi pagi kau cemberut terus? Kenapa mas?” “Nggak papa” jawabku cetus “Ya udah kalau gitu aku tidur dulu mas. Selamat malam” “Malam”Keesokan paginya aku bangun tidur, kulihat tak ada Riana di kamar tapi ada selimut yang menyelimutiku, entah siapa yang melakukannya. Akupun bangun dan melipat selimut itu kemudian ke kamar mandi. Setelah bersih-bersih badan kulihat Riana di dapur sedang memasak. “Mas, sarapan dulu. Aku sudah buatin sarapan buat kamu Mas” ucap Riana ramah “Iya” jawabku singkat dan aku langsung sarapan“Oh iya Ri, setelah ini aku mau ke kampus” “Loh Mas bukannya sekarang nggak ada kuliah kan?” “Bukan urusan kuliah tapi yang lainnya” “Iya Mas”Jujur, setelah aku menikah dengan Riana aku merasa menjadi manusia pembohong besar. Bagaimana tidak aku telah membohongi Papa, diriku sendiri dan Nabila. Nabila adalah wanita terindahku. Di mataku, hanya Nabilalah yang pantas menjadi pendampingku bukan Riana si gadis tomboy.Sudah 3 bulan aku menikah dengan Riana dan tinggal satu atap bersamanya. Papaku menghadiahkan sebuah rumah kecil padaku sebagai hadiah pernikahanku. Bagiku, 3 bulan adalah waktu yang sangat panjang dan menyiksa. Aku sudah berusaha sekuat tenaga menahan diriku tapi aku tak bisa, hatiku tetap tidak bisa menerima Riana, hingga suatu ketika..Malam itu aku sedang duduk di ruang tamu sambil memandangi foto Nabila, tak terasa air mataku jatuh terurai dan entah sejak kapan Riana ada di belakangku.“Foto siapa itu Mas?” “Ri, ini foto Nabila” “Siapa dia Mas? Mengapa kau memandanginya sampai berlinang air mata?” Tanya Riana penasaran “Dia kekasihku. Ri, maafkan aku. Aku tidak pernah bisa mencintaimu karena hatiku telah dimilikinya” “Aku tahu mas. Sejak hari pertama kita menikah kau selalu cemberut bahkan aku juga tahu kalau kau sangat illfeel padaku. Kenapa kau tidak bilang sejak awal mas?” “Aku hanya mengkhawatirkan kesehatan Papa Ri tapi setelah 3 bulan aku tidak bisa” “Aku tahu kenapa kau tak bisa, pasti karena mbak Nabila sangat cantik dan kalau aku perhatikan dia gadis yang cerdas” “Kau benar Ri. Dia pernah membuat sebuah essay yang ternyata essaynya itu sekelas mahasiswa S2 padahal waktu itu ia masih kelas 2 SMA” “Wau pintarnya! Sekarang dia dimana mas?” “Dia menjadi mahasiswi fakultas kedokteran di Bandung”Riana terdiam, ia menatapku sambil berusaha tersenyum tenang kemudian ia duduk di sampingku. “Mas, sekarang apa rencanamu?” “Aku ingin kita bercerai Ri” “Apakah kau sudah memikirkannya masak-masak?” “Sudah Ri. Bagaimana menurutmu?” “Aku terserah padamu mas. Apapun keputusanmu aku ikut” “Aku sudah mantap Ri, aku ingin kita bercerai” “Baik mas aku akan beres-beres barangku dulu”—“Kau akan menceraikan Riana?” “Iya Pa aku sudah tidak bisa membohongi diriku lagi. Maafkan aku” “Lalu bagaimana dengan Riana? Apakah ia setuju?” “Dia menyerahkan semuanya padaku Pa. Apapun keputusanku dia ikut” “Baiklah nak, jika beberapa bulan yang lalu kau telah berkorban untuk Papa sekarang giliran Papa yang harus berkorban untukmu”Sertifikat duda sudah ada di tanganku, kini aku sudah terbebas dari belenggu menjadi suami Riana dan sudah tiba saatnya bagiku meyakinkan Nabila. Sore itu, masih libur semester aku mengajak Nabila bertemu di sebuah Café favorit kita.“Sayang, aku sudah bercerai dari Riana” “Mana buktinya?” “Lihatlah. Ini sertifikatnya” “Kau sangat membenci Riana?” “Iya sangat. Dia tak seperti yang aku inginkan, hanya kaulah yang aku inginkan sayang. I Love You” “Sayang, I love you to” ucap Nabila sambil menggenggam tangankuHari itu kurasakan kembali kebahagiaan yang telah lama hilang dalam hidupku, Nabilaku nafasku. Sebentar lagi aku sudah semester 7 lalu semester 8 dan wisuda kemudian aku akan berkerja supaya bisa dengan segera melamar Nabila. Semangatku kuliah sangat menggebu-nggebu bahkan akupun mulai mencari lowongan kerja khusus S1 Ekonomi.Semangatku membuahkan hasil juga, tepat semester 7 lebih 3 bulan skripsiku sudah selesai dan akupun juga sudah mendapat panggilan kerja di sebuah perusahaan ternama. Oh iya, seusai bercerai denganku Riana tetaplah Riana gadis tomboy dengan sejuta tawa. Ia masih saja bercanda dengan kawan-kawannya seputar film komedi. Riana.. Riana kau tetap saja tak bisa berubah.Hari itu kudapati Riana tengah bercanda seputar film komedi dengan kawannya di koridor kampus. Aku perhatikan ada yang lain dengan pakaiannya, sepertinya pakaian itu adalah seragam karyawan love café.“Apa kabar Ri?” “Oh.. Mas. Kabarku baik? Mas gimana kabarnya?” “Baik. Kau sekarang sudah kerja Ri?” “Iya Mas di Love Café, lumayan mas bisa buat bayar kuliah dikit-dikit” “Sejak kapan Ri” “Sejak bercerai denganmu. Daripada diem nggak ada kesibukan mending aku kerja” “Ooo” “Kamu gimana Mas? Nglamar kerja dimana?” “Aku udah dapat panggilan kerja di perusahaan ternama di Bandung Ri” “Wahh jauh banget mas tapi Mas jadi dekat dengan mbak Nabila dong” “Iya rencananya aku mau menikahinya 2-3 bulan lagi. Do’ain ya Ri” “Iya Mas semoga lancar” ucap Riana sambil tersenyum manisHari ini adalah hari wisudaku, hari dimana aku mendapat gelar Sarjana dan bukan hanya itu, di hari itu juga aku mendapatkan sebuah pelajaran besar yang telah meruntuhkan keangkuhanku. Pagi itu wisudaku dilaksanakan di sebuah gedung kebanggaan kampus. Aku duduk di salah satu kursi yang telah disiapkan dan tanpa kusadari wisudawati sebelahku adalah Riana.“Riana” “Hei Mas. Kamu datang ke sini sama siapa?” “Sama Papa dan Istriku, Ri” “Istri? Mbak Nabila sudah menjadi istrimu mas?” “Iya. Kami menikah sudah sebulan yang lalu” “Alhamdulillah. Selamat ya Mas. Semoga awet sampai surga” “Amin. Makasih do’anya” “Sama-sama Mas”Para perwakilan kampus satu persatu memberikan sambutannya pada wisudawan dan wisudawati, ya kurang lebih mereka menghabiskan waktu 2 jam. Kulihat Riana sudah tidak betah ingin ke kamar mandi. “Mas, aku ke kamar mandi sebentar ya” ucap Riana berlalu begitu saja meninggalkanku. Lama sekali ia belum kembali ke kursi wisudawati, aku takut dia tertinggal prosesi pemberian ucapan selamat dari Rektor, tanpa pikir panjang kutelfon dia ternyata HPnya tertinggal di kursi. Kuambil HP itu dan… “Ri, tadi HPmu tertinggal” ucapku sambil menyodorkan HP Riana. “Makasih ya mas” ucap Riana gugup“Kenapa kau sembunyikan perasaanmu dariku Ri? Kenapa kau tak pernah bilang kalau kau sayang padaku?” “Mas, kau bicara apa? Aku tak mengerti” “Ri, kalau kau tidak menyayangiku kenapa kau menyimpan kontakku dengan nama yank? Dan kau juga memakai fotoku sebagai foto desktop hp” ucapku menatap Riana lekat-lekat tapi Riana masih gugup dan bingung.“Mas, sejak dulu aku memang sayang sama kamu. Cita-citaku adalah hidup bersamamu tapi setelah menjadi istrimu aku mengerti kalau di hatimu hanya ada mbak Nabila. Jadi, aku harus melepasmu” “Apakah hatimu tak sakit melihatku dengan Nabila?” “Kalau sakit, iya memang sakit mas tapi rasa sakit itu hanya di awal saja, seiring berjalannya waktu rasa sakit itu akan berubah menjadi bahagia karena aku telah melihatmu bahagia dengan pilihanmu”“Bagaimana bisa kau melakukan itu untukku?” tanyaku berlinang air mata “Mas, jika kita mencintai seseorang kita tidak boleh egois karena keegoisan kita akan menyakiti hati orang yang kita cintai dan aku tidak ingin menyakitimu terlalu lama” “Kenapa ini harus terjadi sekarang, Ri? Kenapa ini harus terjadi saat aku sudah menikah dengan Nabila? Seandainya kuketahui sebelum kumenikahi Nabila pasti aku akan memilihmu, Ri” ucapku menahan sesaknya isak “Sudahlah mas, anggap saja yang tadi itu adalah angin lalu yang penting sekarang adalah rumah tanggamu dengan mbak Nabila. Tugasmu adalah menjaganya supaya tetap kuat, cukuplah denganku yang retak jangan dengan mbak Nabila” ucap Riana sambil tersenyum menahan tangis “Iya Ri akan kujaga rumah tanggaku. Maafkan aku, Ri” “Iya Mas, aku sudah memaafkanmu sejak dulu”Kupandangi wajah tenang Riana, sosok wanita yang pernah hadir di hidupku walau hanya sekejap tapi ia telah mengajarkan satu hal yang berarti padaku. Jika ingin bahagia dalam bercinta, maka buanglah keegoisan. Maafkan aku Riana..

Gadis Tribute Hall
Romance
23 Nov 2025

Gadis Tribute Hall

Semakin ku membuka mata, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Kakiku seperti akan meledak. Ku merasa berjam-jam lamanya aku tidak sadarkan diri dalam posisi berdiri dengan tali tambang yang melilitku dan tiang besi yang tegak berdiri menyangga tubuhku. Tali itu membuat kemeja kotak-kotak dan jeans panjang yang kukenakan hampir tak terlihat. Aku seperti mumi yang menyedihkan. Dadaku mulai sesak. Anggota tubuhku sama sekali tak bisa digerakkan. Hanya kepala yang dapat kugerakkan dengan sempurna ke atas, ke bawah, ke samping kanan atau ke samping kiri. Beruntung, seluruh alat indraku masih bisa berfungsi dengan cukup baik. Tak jarang ku mendengar suara samar-samar jangkrik dan burung hantu dari luar.“Baiklah, sekarang bau badanku seperti bau badanmu, tiang bodoh!”, gumamku. Aku seperti membodoh-bodohkan diriku sendiri. Aku sedikit melirik lampu corong redup yang digantungkan tepat sejengkal di atasku. Sangat dekat. Aku sama sekali tidak merasakan panasnya lampu yang memancar. Entahlah, mungkin saja panasnya lampu dan dinginnya malam itu membuat suhu di sekitarku menjadi netral. Ruangan itu sangat gelap. Sinar lampu itu hanya mampu menyinari tubuh dan tiang di belakangku. Hal itu membuat siapapun atau apapun dapat melihatku dari kejauhan. Aku hanya dapat melihat dengan jarak pandang sekitar 5 meter saja. Selebihnya, gelap.“Hei apa-apaan ini! Sam, Nick? Ayolah, aku tak sedang ulang tahun,” suaraku menggema ke seluruh penjuru ruangan. Kurasa ruangan ini semacam aula atau sejenisnya. Yang pasti ruangan ini cukup luas. Tak biasanya teman-temanku mengerjaiku sekejam ini. Yah, memang mereka kadang melampaui batas. “Istirahatku sudah selesai, kawan. Keluarlah dan lepaskan aku. Aku susah bernapas,” kataku sambil menggerak-gerakkan tubuhku dengan percuma. Selang hitungan detik setelah itu, aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahku. Semakin lama, suara itu semakin jelas, lalu berhenti. Kurasa seseorang sedang mengawasiku. “Hei, siapa saja yang datang tolong aku. Keluarlah! Aku tak bisa – Arrrgggghhhh,” Tiba-tiba ada seseorang berlari dan menyundul perutku dari depan. Ku menutup mata menahan rasa sakit di perutku. Belum sampat ku melihat pelakunya, dia menamparku bertubi-tubi. Disela-sela tamparannya ia mengayunkan kepalan tangannya tepat ke wajahku. Akibatnya, kepalaku menghantam keras tiang yang sedari tadi masih setia di belakangku. Ku merasakan darah segar mengalir lewat kedua lubang hidungku. Tak hanya kaki, sekarang kepalaku pun ikut meledak sebentar lagi. Ku berusaha membuka mataku untuk kesekian kalinya. Seorang gadis sedang berdiri tepat di depanku. Gadis itu mengenakan jaket berwarna merah dan celana training berwarna hitam. Dia menyeringai ke arahku.“Kau… bukan temanku,” kataku sambil berharap dapat menunjuk wanita itu dengan jari tengah yang kupunya. “Joey, Apa kau ingat sesuatu, Joey?” kali ini namaku disebutnya lebih dari sekali. Gadis itu berputar-putar mengelilingiku dan tiang bodoh yang masih menemaniku. Melihatnya berputar-putar membuatku aku teringat kejadian yang menimpaku sebelumnya.Lewat tengah malam, aku memperoleh pesan singkat dari nomor Rossy. Dia meminta tolong padaku untuk menjemputnya di Jalan Wrightstone karena ia baru saja mengalami kecelakaan. Tanpa berpikir panjang, aku menyalakan mesin mobil dan pergi untuk menjemputnya. Namun, tak ada seorangpun di Wrightstone. Saat ku keluar dari mobil, ada sesuatu yang menancap di bahuku. Hanya itu yang kuingat sebelum aku bertemu gadis sialan di tempat ini.“Mana temanku, Nona?” seketika kuteringat Rossy. “Teman? Bukankah aku temanmu?” gadis itu tertawa terbahak-bahak. “Gampang juga membuatmu menyalakan mesin mobil dan menemuiku,” kata gadis itu sambil memainkan rambut hitamnya. Untuk kesekian kalinya aku ditipu oleh seorang gadis. Entahlah, yang ini sedikit berbeda. “Apa Rossy pacarmu?” wajahnya mendadak serius. “Apa yang kau lakukan padanya?” “Tenang Bung. Kau ingin tau apa yang sedang dilakukan Rossy-mu itu? Mungkin dia sedang memimpikan dirimu sekarang,” kalimatnya membuatku sedikit lega. “Nomor itu…” aku mulai teringat sesuatu. Handphone Rossy hilang beberapa hari yang lalu. “Aku yang mencurinya. Kenapa? Kau ingin memukulku sekarang?” katanya. “Aku tak akan berani memukul seorang gadis. Walaupun gadis itu sesialan dirimu,” kataku.Seketika raut wajah gadis itu berubah. Aku mendengar kalimat yang lirih keluar dari mulutnya “Joey, aku cemburu,” “Apa maksudmu?” “Apa kau tak ingat padaku? Ingatanmu payah. Selain tampan, kau juga bodoh, Joey,” tanyanya yang kemudian memujiku lalu menghinaku. Aku hanya menggeleng pelan. Benar saya, pukulannya tadi membuat otak kiriku berantakan. Sebuah nama tempat disebutkannya, “Tribute Hall,” “Emma,” sontak aku menyebut sebuah nama saat ku mendengar Tribute Hall. Namanya Emma, gadis sialan ini bernama Emma. Dia hanya tersenyum.Aku dan Rossy bertemu Emma seminggu yang lalu di Tribute Hall, aula beladiri yang ada di kota Redburn. Rossy memperkenalkanku pada Emma. Kesan pertama aku tak merasakan keanehan. Dan sekarang, apa yang dia lakukan? Cemburu? Padaku?“Apa kau ingin bernostalgia denganku malam ini, Joey?” “Aku sedang tak ingin. Bicara saja. Apa urusanmu?” “Apa kau menjalin kasih dengan Rossy?” untuk kedua kalinya dia menanyakan hal yang sama dengan susunan kalimat yang sedikit berbeda. “Ya. Dia kekasihku. Ada masalah?” “Kau membuat diriku membenci dirinya. Terlebih dengan dirimu,” suaranya sedikit bergetar. “Aku tak mengerti,” kataku sambi mengernyitkan dahi. “Tempo hari, aku mengajak Rossy makan malam. Aku menungguinya di restoran hampir semalaman. Disaat yang bersamaan, aku melihatmu menggandeng tangan seorang gadis. Gadis itu adalah Rossy. Sejak dia mengenalmu, dia menjauhiku,” gadis itu menangis. Ruangan itu seketika hening. “Aku masih tak mengerti,” kataku. Emma mendekatiku. Sangat dekat. Suara nafasnya terdengar jelas di telingaku. Lalu dia membisikkan sesuatu padaku, “Kau merebutnya dariku, Joey. Aku mencintainya” kalimat terakhirnya membuat mataku terbelalak. Seluruh tubuhku bergetar. “Emma, kau…,“ “Rossy milikku!,” Tiba-tiba Emma menancapkan sebuah jarum suntik di bahuku.

Bintang, Bulan dan Langit Malam
Romance
23 Nov 2025

Bintang, Bulan dan Langit Malam

“Biarkan aku jadi yang terhebat, jadilah kamu kekasih yang kuat …” Pandanganku terpaku ke arah panggung. Tepat pada seorang cowok yang sedang bernyanyi. Suaranya begitu merdu, raut wajah yang menghayati setiap lirik pada lagu, dan petikan gitarnya, membuatku terhipnotis pada pesonanya. Entah sudah berapa menit yang kuhabiskan tanpa berkedip saat menatapnya.Dia serupa bulan, bersinar di antara ribuan bintang. Dan aku bersyukur, berada di tempat yang dekat dengannya. Kembali, kuingat kerasnya perjuangan untuk membuatnya menyadari kehadiranku.“Ini,” ucapku seraya meletakkan buku paket pada mejanya. Dia lalu mengambil buku itu tanpa bertanya, membuatku menghembuskan napas, kesal. “Kamu kerjain nomor 1 sampai 10 dan aku akan melanjutkan nomor 11 sampai 20, praktekan dulu setiap petunjuknya dan jawab sesuai dengan hasilnya. Aku nggak mau terima jawaban yang hanya sekadar ditebak saja,” jelasku panjang dan lebar. Dia mengangguk tanpa menoleh padaku. Yaa, sepertinya handphone yang berada dalam genggamannya begitu penting daripada kerja kelompok. Aku beranjak menjauh dari bangkunya, sambil mendengus keras sebab tingkahnya yang cuek.“Ini,” ucapku sambil memberikan sebatang pensil padanya. Saat itu sedang berlangsung pelajaran biologi, dan tugas kami menggambar organ-organ pencernaan tubuh pada manusia. Tugas yang begitu rumit karena aku tak terlalu pandai menggambar. Namun disaat rumit seperti itu, aku masih sempat memperhatikan sekilas raut gelisah pada wajahnya. Sungguh miris, sebab setelah aku melakukan hal yang menurutku tepat, yang dibalas hanya anggukan dan menerima pensil yang kuberikan. Tanpa kata-kata lebay yang biasa diucapkan oleh teman-temanku saat aku memberikan sedikit bantuan. Bukan bermaksud mengharapkan ucapan lebay atau kata terima kasih, tapi respon mengangguk, menerima pemberianku, lalu segera terjun pada kesibukan yang ditugaskan guru sungguh membuat kesan seakan aku adalah tempat pensil. Sudah semestinya dia mendapatkan pensil dariku.“Aku manusia yang membutuhkanmu, membutuhkanmu. Hatiku memainkan pandang hanya padamu, pada hatimu …”Sungguh, tak masalah jika aku hanya menjadi sebuah sandaran di saat kau butuh beristirahat sejenak dari kepenatan hidupmu. Sungguh, aku tak apa-apa. Asal kau tetap di sisiku.“Terima kasih Mrs. Ini,” ucapnya sambil terkekeh. Saat itu adalah kali pertama dia menyapaku, dari sekian banyak cara yang telah kucoba, untuk membuat dia memandangku. Mrs. Ini. Aku tersenyum mendengar julukannya padaku. Kuharap langkahku untuk menepati satu bagian dari hatinya, akan mulai berjalan lancar.“Jangan lelah, menghadapiku. Biarkan aku jadi yang terhebat, jadilah kamu kekasih yang kuat. Genggam tanganku, bernyanyi bersama. Karena kamu kekasih terhebat …”Bulan hanya bersinar untuk langit malam. Dan bintang ada hanya untuk memperindah langit malam dan menemani bulan di sepanjang ia bersinar.Ia tersenyum setelah menyanyikan lirik terakhir. Dan aku hanya mampu terpaku pada senyumnya. Yaa, hanya itu yang dapat kulakukan, karena senyumannya dan setiap lirik yang ia nyanyikan bukan untukku. “Love you …” Kulirik gadis yang membalas senyumannya seraya mengguman sebuah kalimat pamungkas. Kalimat pamungkas yang membuatku tak berdaya, hingga melipat harapan yang telah kurajut hari demi hari. Harapan yang belum sempat kutunjukan padanya.“Mita! Yuk kita ke belakang panggung,” ajak cewek tersebut, menggenggam tanganku, lalu menariknya agar aku mengikuti langkahnya. “Jadilah sahabat yang kuat, Mit,” gumanku dalam hati.Bintang ada hanya untuk menjadi teman bagi bulan. Seharusnya kusadari makna di balik pengandaiannya, ketika dia menggambarkan aku serupa bintang. Karena bulan hanya bersinar untuk langit malam, sahabatku. Yaa, seharusnya aku menyadari alasan ia memandangku, karena langit malam, Vinny, adalah sahabatku. Dan sudah sepantasnya aku berada di antara mereka. Bulan dan langit malam.“Mita. Brian memintaku mengirimkan foto. Dan aku mengirimkan foto kita berdua. Tidak apa-apa kan? Yaa, supaya ia juga mengetahui wajah sahabatku yang cantik ini.” Ucapan Vinny berulang kali berputar-putar dalam benakku. Kalimat yang ia ucapkan sehari sebelum rembulanku pertama kali memandangku. Menyadari kehadiranku.

Tidak Ada Lagi Ruang Hati
Romance
23 Nov 2025

Tidak Ada Lagi Ruang Hati

Pada senja yang sedang rintik-rintik dengan begitu cantik, gadis pemilik senyum manis itu berjalan sendirian dengan berlindung pada payungnya, sebagai tameng dirinya agar terhindar dari setetes air hujan yang sedang berkunjung pada tanah kota kembang.Ia berjalan dengan hati-hati dan sepasang netra yang fokus pada jalanan becek yang sedang ia lewati. Namun, ternyata semakin ia jauh melangkah, tetesan air yang awalnya sedikit berubah menjadi guyuran deras, dan gemuruh pun ikut mengiringi hujan kala itu. Lantas, dengan alasan ia tak ingin bajunya basah dan juga sekotak pizza untuk pelanggannya tidak kebasahan, gadis itu pun berhenti untuk berteduh pada sebuah ruko yang sedang tutup. Beruntung di tempat itu ada kursi untuk duduk, sehingga ia tidak lelah untuk terus berdiri sambil menunggu guyuran hujan ini mereda.Atmosfer dingin pun mulai terasa, ia menangkup kedua tangannya dan meniup dengan nafas yang keluar dari mulut untuk menghangatkan tangannya yang hampir membeku. Mungkin saja sekotak pizza itu sudah dingin jika dibiarkan saja terlalu lama dan itu akan merusak cita rasanya.“semoga saja hujannya tidak lama. Aku akan merasa bersalah jika pizza ini sudah tidak enak ketika diberikan pada pelanggan,” gerutu gadis itu. Ia tidak ingin menyalahkan hujan, ia hanya menyalahkan dirinya sendiri. Jika saja ia tidak nekat karena antusias menghantarkan makanan, tidak mungkin ia akan merasa bersalah seperti ini.Sepuluh menit sudah hujan tak kunjung berhenti. Mungkin ia fikir akan kembali untuk menukarkan pizzanya dengan yang lebih baik setelah hujan reda. Namun, suara langkah kaki yang cepat terdengar di telinganya, pun dengan bayangan yang ia lihat di balik derasnya hujan. Sampai akhirnya, sosok itu menampakan wujud sepenuhnya dengan keadaan seluruh badannya basah kuyup.Pria itu berhenti untuk berteduh di ruko itu. Kekesalan jelas terpatri di wajah lelaki yang tiba-tiba saja muncul itu. Namun, gadis itu merasa tidak asing dengan wajah lelaki yang baru pertama ia temui, sekarang. “sial! Kalau saja hujan ini tidak turun, mungkin badan saya tidak basah kuyup seperti sekarang,” ucap laki-laki itu dengan raut wajah kesalnya.Gadis itu pun memandang dengan lekat, lelaki itu juga tak sengaja melirik ke arah gadis yang sedang berteduh bersama dengannya, dan di situ pada akhirnya pandangan mereka bertemu.Hening, hanya terdengar suara hujan dan juga angin yang berhembus. Mereka kalut dalam perasaan mereka masing-masing, dan seseorang yang asing itu, ternyata dulunya pernah berjalan seiring.“sudah lama tidak berjumpa,” setelah keheningan berlalu, akhirnya salah satu dari mereka membuka bicara. Gadis itu tersenyum, meski senyumnya terlihat pilu. Lelaki itu melangkah, dan berjalan mendekat. Bagaimana pertemuan antara dua insan yang sudah berpisah sejak lama ini terjadi? Tidak ada yang tau, dan inilah yang disebut takdir.Debar jantung mulai terasa saat usapan tangan itu dengan lembut membelai pipinya. Namun, ini semua salah, dan gadis itu dengan perlahan menepis tangan lelaki itu. Ia tidak mau mengingat, bagaimana setiap belaian tangan itu begitu menyakitkan. Apa lagi disaat perpisahan.“maaf, maafkan saya.” lirih pria itu begitu tulus. Begitu pula dengan tatapannya. Gadis itu menggeleng pelan, “aku sudah memaafkan semuanya sejak dulu. Tapi bagiku, itu semua masih bukan salahmu,” balas gadis itu dengan mengukir senyumannya. “kamu tidak salah. Saya hanya belum dewasa saat itu, memutuskan hubungan tanpa tau bagaimana kedepannya,” ucapan dan penyesalan menyatu jadi satu dalam diri lelaki itu. “aku ataupun kamu yang bersalah di masa lalu, tetap saja takdir yang menginginkan kita untuk berpisah,” jelas gadis itu, dengan alasan tidak mau lagi untuk saling menganggap keduanya menjadi pusat permasalahan dari perpisahan di masa lalu itu.“tapi kali ini takdir mempertemukan kita, apa takdir juga menginginkan kita untuk kembali bersama?” pertanyaan yang terucapkan berharap ada keajaiban. “sepertinya, tidak. Di pertemukan belum tentu untuk kembali disatukan. Bisa jadi ini hanyalah jalan untuk mengobati rindu yang selalu terabaikan,” jelas gadis itu, ia merasa bodoh dengan dirinya sendiri yang terkadang, mengeluh, dan ingin bertemu.Lelaki itu terdiam, merasakan afeksi yang menjalar pada hati. Apakah dikarenakan sebuah tumpukan rindu yang sudah menggunung, sehingga tidak bisa ditampung dan berakhirlah dengan pertemuan yang akhirnya berujung.“begitu ya? Benar-benar tidak ada kesempatan sekali lagi?” tanya pria itu, yang sudah tidak kuat lagi merasakan kekosongan di hati. Debaran jantung lebih terasa, takut, takut rasanya jika tidak bisa kembali bersama. “tidak tau, dan itu belum pasti. Tapi, aku rasa kamu masih belum sepenuhnya suka dengan hujan,” kata gadis itu di iringin dengan kekehan. “na, saya minta maaf. Tapi apakah saya harus suka hujan dahulu, lalu menyukai kamu?” Gadis itu menggeleng, “tidak, bukan itu maksudku. Lupakan saja,”“jadi, kita tidak bisa kembali?” kata lelaki itu. Gadis itu pun mengukir senyum, “aku bahagia lihat kamu seperti ini. Tapi kalau aku ingat masa lalu, kadang sedih aja ingat tentang masa lalu kita yang membodohkan dan terlalu saling menyalahkan,” “na..” “udah, Havis. Ga ada yang perlu diperbaiki lagi. Aku bahagia bisa ketemu sama kamu di sini dan… Aku juga bahagia kamu sudah bisa sukses seperti ini,”Lelaki bernama Havis itu nampak tertegun dengan ucapan gadis itu. Senja perlahan mulai tergantikan dengan pergantian malam. Pertemuan ini, apakah mengobati kerinduan atau justru menambah rasa kesakitan?“tidak apa-apa jika kamu tidak mau kembali. Tapi saya harap kamu tidak akan melupakan saya,” harap lelaki itu, yang terdengar membodohkan. Gadis itu memegang pundak havis, seraya berucap, “tidak, havis. Terus terang saja, jika aku terus-terusan menyimpan barang di tempat yang aman, maka ia akan utuh dan tidak bisa hilang. Begitu pula kamu, jika kamu masih terus di dalam pikiran atau bahkan masih tersimpan rapi pada ruang hati, mana bisa rasa cinta itu akan menghilang tanpa membekas?” jelas gadis itu. Lagi-lagi, lelaki bernama Havis merasakan sebuah sayatan dalam hatinya.Hubungan mereka berdua itu kandas karena beberapa alasan. Pertama masalah mereka, gadis itu tidak bisa mencintai Havis sepenuhnya, sedangkan Havis, tidak bisa mengontrol rasa cemburunya. Mereka itu tak searah, tidak ada gunanya lagi untuk mempertahankan suatu hubungan. Jadi mereka rasa, tidak ada salahnya untuk mengambil jalan perpisahan.“maaf, havis. Sepertinya aku harus pergi,” tutur gadis itu, saat ia menengok hujan sudah mereda. “na..” “lebih baik kamu pulang saja. Baju kamu sudah basah kuyup, nanti sakit. Minum obat ya? Habis itu..” “istirahat,” lanjut havis menyambung ucapan dari gadis itu. “bahkan saya masih ingat kata-kata kamu dulu waktu saya sakit saat kehujanan.” ungkap havis, sedangkan gadis itu hanya diam membeku. “Nadisa, saya masih ingat semua tentang kamu. Dan saya masih cinta sama kamu,”Dia, seharusnya tidak mengungkapkan perihal cinta itu lagi. Gadis itu, Nadisa, dia merasakan tetesan air mata jatuh di pipinya. Lantas, ia membalikan badan, dan melangkah pergi meninggalakan havis di sana sendirian.Havis terdiam membisu di sana. Ia merasakan penyesalan yang luar biasa, seseorang yang sudah lama ia nanti pertemuannya, ternyata tidak bisa lagi mencintainya. Pupus, dan tidak lagi ada harapan. Semuanya menghilang, bersama senja kala itu.Perpisahan yang tidak bisa dipaksakan untuk kembali, sebaiknya ikhlaskan saja. Lebih baik melupakan masa lalu itu, dan berkelana jauh, lalu mencari manusia-manusia baru.

Menampilkan 24 dari 166 cerita Halaman 6 dari 7
Menampilkan 24 cerita