Aku Ingin Pulang
Romance
16 Jan 2026

Aku Ingin Pulang

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-17T000128.796.jfif

download - 2026-01-17T000128.796.jfif

16 Jan 2026, 17:01

download - 2026-01-17T000101.230.jfif

download - 2026-01-17T000101.230.jfif

16 Jan 2026, 17:01

Namaku Tini, aku berusia 12 tahun. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kakakku bernama Oka, dan adikku bernama Mina. Ibuku bernama Surti, seorang perempuan tangguh yang selalu tabah. Kak Oka adalah seorang pemuda kuat tak kenal lelah.

Adikku Mina adalah seorang adik penyayang dan lembut usia nya baru 8 tahun. Ayahku? Ayah telah meninggal 2 tahun yang lalu, kecelakaan adalah penyebab kematian ayah, kami sangat terpukul oleh kepergian nya, karena ayah adalah tulang punggung, imam dan motivator keluarga.

Setelah kepergian ayah, keluarga kami menjadi sangat sulit, jangankan membeli baju membeli sesuap nasi saja sangat sulit bagi kami. Hingga aku dan kak Oka harus pergi merantau ke ibukota untuk mencari nafkah bagi keluarga, ibu dan Mina tinggal berdua di gubuk reyot.

Kakak ku berkerja sebagai penjaga toko orang, dan aku sebagai tukang cuci piring di tukang bakso agak jauh toko pemilik kakakku. Gaji nya lumayan, bila di kumpulkan dengan gaji kakak ku. Aku dan kakak tinggal di sebuah kontrakan kecil.

Cukup untuk berteduh, setiap hari aku dan kakak selalu berdoa kepada sang kuasa agar kami selalu di lindungi dan di mudahkan rezeki.

***

"Kerja yang bener dong" bentak pak Dirman kepadaku, aku hanya menunduk dan mengucapkan kata maaf. Usia ku masih belia, bila harus mengerjakan pekerjaan ini, seiring bertambahnya pelanggan bakso Pak Dirman maka aku juga harus semakin cepat mengerjakan nya.

Tak terhitung tetes keringat yang telah menjadi saksi bisu pengorbananku selama ini, tak apalah yang penting kebutuhan kami tercukupi. Aku membawa setumpuk mangkuk bakso menuju wadah yang telah di sediakan, bagiku membawa barang berat seperti ini sudah biasa ku lakukan toh aku sudah biasa membantu ibu di kampung.

Perutku lapar, aku melihat ke arah meja para pelanggan pak Dirman banyak juga, mereka bercanda ria sambil berkumpul bersama membuat aku ingat keluarga di kampung. Ku pegangi perutku yang keroncongan, aku semakin lapar, ku usap keringat yang menetes, aku ingat dari pagi aku dan kakak memang belum sarapan.

Ku langkah kan kaki ku, niat ku untuk minta izin kepada pak Dirman untuk pergi sebentar ke arah warung tempat kakak berkerja. Namun sebuah tangan menghentikan langkahku, aku berbalik dan melihat ke arah belakang.

Seorang kakak cantik menggunakan kerudung berwarna hijau army tengah tersenyum ke arah ku. Aku melepaskan tangan kakak itu, aku ingat pesan ibu jangan cepat akrab dengan orang yang belum di kenal. Kakak itu tersenyum melihat tingkah ku, aku jadi merasa kikuk."Dek? namanya siapa? " tanya kakak itu seketika membuat aku sedikit lega, ternyata kakak ini ramah dan baik.

"Namaku Tini kak." Jawab ku di sambut senyuman oleh kakak itu,"Kakak siapa?" Tanya ku pada kakak itu. "Nama kakak Aisha, panggil aja kak Ica, kakak anak Pak Dirman dek." Ucap kakak yang bernama Aisha itu.

Aku mengangguk, ternyata aku telah berprasangka buruk kepada kakak ini. "Adek udah makan?" Tanyak kak Ica membuat aku sedikit tertunduk karena malu, lalu ku gelengkan kepalaku.

Kak Ica menarik tangan ku lembut dan membawa aku untuk duduk di sebuah kursi,"Pak, Tini belum makan." Ucap kak Ica membuat aku malu. Pak Dirman seketika melihat ke sumber suara,"Eh adek kok gak bilang, maaf ya dek bapak pelupa." Ucap Pak Dirman lalu membawakan aku semangkuk bakso yang seketika membuat aku semakin lapar.

Tenyata pak Dirman memiliki sifat yang lembut, padahal awal nya aku mengira bahwa pak Dirman seorang yang jahat dan kasar, ternyata aku salah. Seketika aku santap bakso yang terhidang di depan ku, tanpa aku pedulikan kak Ica yang menatapku.

Setelah bakso itu habis, aku mengucapkan terima kasih pada Pak Dirman, Pak Dirman pun memberi ku upah untuk kerja hari ini. Adzan Ashar berkumandang kak Ica mengajakku untuk shalat berjamaah di masjid terdekat aku pun akhirnya mengikuti ajakan kak Ica.

"Kakak ini ternyata baik dan salihah."

***

Pagi ini aku di antarkan kak Oka menuju warung bakso pak Dirman dengan berjalan kaki, betapa kaget nya aku saat melihat beberapa preman tengah mengacak warung pak Dirman.

Mereka seperti sedang marah, aku tak melihat kak Ica, aku dan kak Oka hanya melihat Pak Dirman tengah berdebat dengan seorang preman bertubuh kekar. Kak Oka mendekati warung bakso pak Dirman dan menanyakan ada apa, tapi preman itu telah pergi karena warga sekitar mulai berkumpul dan meneriaki mereka.

Aku dan kak Oka mendekati pak Dirman yang tengah mengusap dada, setelah di tanyakan ternyata preman tadi adalah adik pak Dirman sendiri nama nya Jaka. Ia meminta uang untuk berjudi, tapi karena pak Dirman menolak lalu Jaka marah dan akhirnya memporakporandakan warung Pak Dirman bersama dua anak buahnya.

Kak Oka pamit untuk kembali ke warung, aku mulai bekerja pelanggan mulai ramai aku akui bakso pak Dirman memang enak. Waktu cepat berlalu terdengar suara adzan berkumandang, karena hari ini hari jumat Pak Dirman akan pergi ke masjid aku pun di tugaskan menjaga warung bersama Kak Ica yang baru saja datang.

"Dek kakak ke kamar mandi sebentar yaa " ucap Kak Ica saat aku masih sibuk dengan mangkuk kotor, aku menangguk. Baru saja kak Ica ke kamar mandi tiba tiba sebuah tangan membekam mulutku, aku tak bisa bernafas tiba tiba saja semua menjadi gelap.

***

Mataku perlahan membuka, aku dapat merasakan bahwa aku sedang berada di dalam sebuah mobil. Aku kaget di sampingku seorang preman sedang tidur, ia memiliki tubuh lumayan gemuk, di samping pengemudi seorang preman dengan jaket hitam tengah merokok.

Dan aku sudah bisa mengira pasti pengemudi itu adalah Jaka adik pak Dirman, aku berusaha bergerak namun tangan dan kaki ku di ikat dan mulutku di tutupi kain. Seorang preman di sampingku melihat ke arahku aku langsung pura pura tidur, lalu mendengarkan apa yang mereka obrolkan.

"Buat apa si nyulik anak kecil?" Tanya Preman di sampingku. "Buat jadiin pengemis ntar kita ambil uang nya." Ucap Preman satu lagi, keringat dingin menetes aku takut, kakak, ibu. Aku masih memejamkan mataku.

Deru mobil tak secepat jerit ku dalam jiwa aku takut kemana mereka akan membawaku? kak Oka aku takut kak, ibu aku takut, ayah Tini takut ayah, aku menangis dalam diam aku ingin pulang, aku ingin pulang ibu.

***

Aku tak tahu berapa puluh km yang di tempuh yang aku tau ini jauh. Sepanjang perjalanan aku tak henti nya berdoa, agar selalu di lindungi. Aku terus berpikir bagaimana caranya aku kabur dari mobil ini, aku ingin pulang menemui Kak Oka.

Tiba tiba mobil berhenti aku yang pura pura memejamkan mataku kaget, jantungku berdebar keringat dingin mulai menetes. Aku di gendong oleh preman berbadan kekar yang aku tahu nama nya jaka, mereka membawaku ke sebuah rumah kosong bersama dua anak buahnya.

Di sana aku dikurung di sebuah ruangan yang kotor, aku ketakutan aku hanya berdoa dan berusaha berpikir positif. Aku di ikat pada sebuah kursi dan akhirnya penutup mulut ku di buka, aku hanya memperhatikan 3 preman yang sedang berbincang, aku takut. Tiba tiba Jaka menghampiri ku,“Siapa nama mu?" Ucap nya bersamaan dengan keluarnya aroma asap rokok dari napas nya.

Aku gemetaran, bibirku kaku, darah di tubuhku seperti mendadak berhenti. Jaka tiba tiba mengangkat daguku.“Kau bisu?" Tanya nya, seketika aku langsung menggeleng. “Jawab pertanyaanku!" Bentak nya membuat aku semakin takut “Namaku Tini." Ucap ku secepat kilat wajah ku menunduk aku takut,air mata mengalir, aku ingin pulang.

Jaka lalu membuka ikatan tangan dan kaki ku, lalu memberi ku sebungkus nasi.“Makanlah " ucap nya lalu mereka keluar. Aku melihat sekeliling ruangan ini tidak lah luas, tapi cukup untuk tidurku malam ini. Aku menemukan sebuah tikar dan menggelar nya, ruangan ini berdebu dulu ibu sering mendongeng kan aku sebuah kisah yang membuat aku tertidur pulas.

Sekarang aku jauh dari ibu, bahkan aku tak tahu di mana aku sekarang, aku ingat Mina dia yang selalu tersenyum dan menguatkan aku, aku ingat kak Oka yang selalu melindungiku, ayah yang selalu memberi aku nasihat, aku rindu mereka. Ku simpan nasi bungkus tadi, rasa nya aku tidak lapar, ku baring kan tubuh ku di tikar tadi, aku menangis aku ingin pulang menemui kak Oka.

Aku berpikir mungkin sekarang kak Oka,Kak Ica dan pak Dirman tengah mencari ku, aku berharap semoga aku bisa secepatnya pulang.

***

“Heh bangun." Seseorang mengguncang kan tubuh ku, aku seketika terbangun dan mendapati seorang preman yang tak aku ketahui nama nya. “Udah siang masih aja tidur, cepetan cari duit." Ucap nya, aku bingung.“Saya harus kerja apa?" Tanya ku tanpa berani menatap wajah nya.

“Ngamen atau ngemis" ucap nya lalu ia mengeluarkan sebuah perban,“Aku tak sakit apapun om." Ucapku menolak saat Ia akan membungkus lututku. “Kamu ini tak punya otak! Ini agar orang orang kasihan sama kamu, jadi kamu bisa dapet uang banyak." Ucap nya lalu langsung membungkus kaki ku. "Kau pura pura pincang." ucap nya lalu mendorong tubuhku dengan kasar menuju pintu keluar.

Saat aku baru saja akan keluar “Tini, tunggu!" Suara kasar Jaka terdengar aku melihat ke sumber suara, Jaka membawa seorang anak laki laki seusia ku membawa sebuah ukulele tua. “Ajak Rio, jangan pernah berusaha kabur!" ucap Jaka kepadaku,ku lihat Rio dengan baju lusuh dan wajah kumal nya, aku sudah bisa membayangkan dia pasti sudah lama mengamen di jalan.

Aku langsung menggandeng tangan Rio dan pergi dari tempat itu menuju pasar yang dekat dengan daerah sini. “Namamu siapa?" Tanya Rio saat bening menuju pasar, aku menoleh ke arah nya.“Tini "ucap ku sambil mengulurkan tangan.

Kami mengamen di pasar, Rio yang memetik ukulele dan aku yang bernyanyi, rasanya lelah tapi tak apa dari pada aku meminta minta lebih baik aku menyanyi dan berusaha. Sepulang dari pasar aku dan Rio berlarian menuju rumah kosong, Jaka menghampiri kami lalu mengambil uang kami, kami hanya pasrah lalu Jaka memberikan kami nasi bungkus. Hari hari itu terus berjalan,termasuk pertemanan ku dengan Rio.

***

Suara adzan Subuh terdengar, aku tak tidur aku hanya menangis aku rindu pada keluargaku sudah berbulan bulan aku tak pulang, apakah mereka tahu aku di culik?

Rio berbaring di sampingku aku tahu dia tak tidur, Rio bangun dan melihat ke arahku.“Tini berhentilah menangis, nanti aku bantu kau agar cepat pulang." Ucap Rio membuat aku berhenti menangis.

Rio tiba tiba bangun dan melihat ke luar lewat jendela,aku hanya diam memperhatikan.“Tini kemarilah." Ucap Rio tanpa melihat ke arahku,a ku seketika berlari ke arahnya.

Di luar ada mobil bak yang sedang terparkir,“Itu adalah mobil pak Zainal biasanya pak Zainal mengantarkan barang ke pasar di daerah Jakarta Selatan tapi aku tak tahu pasar apa, kau bisa ikut." Ucap Rio membuat aku tersentak, tiba tiba aku ingat pernah pergi ke pasar bersama kak Ica dan pak Dirman, aku berharap semoga pasar itu.

Tapi aku tak bisa membayangkan bila aku pergi pulang, pasti Jaka marah pada Rio tapi Rio meyakinkan aku bahwa semua akan baik baik saja, Rio mengatakan bahwa Ia juga akan berusaha kabur dari tempat terpencil ini.

Aku berusaha ke luar melewati jendela di bantu oleh Rio saat aku telah melewati jendela aku menatap Wajah Rio ku lihat ada titik kesedihan di sana, namun Rio masih bisa tersenyum pada ku aku berjalan perlahan menjauhi rumah kosong itu dan kembali melihat ke arah Rio dia masih tetap tersenyum meyakinkan aku.

Aku menyelinap dan menaiki mobil bak pak Zainal, beruntungnya mobil ini ditutupi terpal hingga aku bisa bersembunyi di bawahnya saat aku akan melambaikan tangan ke arah Rio, aku melihat Jaka datang ke rumah itu dan mendobraknya, aku pun menunduk karena Jaka melihat ke arah mobil ini.

Mesin mobik di nyalakan lalu mobil ini melaju menjauhi rumah kosong itu, aku melihat sebentar memandangi rumah kosong itu,bada rasa sakit saat mengingat betapa Rio baik pada ku, aku harap aku bisa bertemu dengannya lagi agar bisa membalas kebaikan Rio ibu... Tini pulang.

***

Mobil berhenti menandakan bahwa mobil ini telah sampai di pasar, aku segera ke luar sebelum pak Zainal mengetahui keberadaan ku, tapi saat aku baru akan berlari sebuah tangan menangkap tanganku.

Aku melihat ke arah nya ternyata itu pak Zainal, aku takut dia marah.“Tunggu nak" ucap nya aku hanya tertunduk, Pak Zainal lalu memandang Wajah ku,“Kau Tini bukan?" Tanya nya lalu aku mengangguk “Dirman sudah lama mencari mu,mari saya antarkan." Ucap pak Zainal.

Aku duduk di samping pak Zainal, ternyata pak Zainal adalah teman pak Dirman, aku beruntung bisa ikut dengannya. Mobil pak Zainal berhenti di warung bakso Pak Dirman, tak banyak perubahan aku lalu di gandeng oleh pak Zainal.

Lalu aku dapat melihat kak Ica yang sedang melayani pelanggan, kak Ica melihat ke arahku lalu kak Ica tampak kaget dan berlari menghampiriku. “Tini kamu kemana aja?" Tanya kak Ica lalu memelukku, aku menangis tak bisa bicara, rasanya aku sudah lama tak di peluk kak Ica.

Pak Zainal izin pergi, lalu aku di ajak kak Ica untuk menemui pak Dirman yang katanya sakit, aku di ajak kak Ica memasuki sebuah kamar di sana ada kak Oka yang sedang mengobrol dengan pak Dirman.

Kak Oka kaget lalu menghampiriku,memelukku sangat erat. “Tini kamu dari mana? kakak khawatir, ibu di kampung juga khawatir." Ucap kak Oka, aku menangis bahagia akhirnya aku bertemu dengan kak Oka.

Ku lihat pak Dirman, tampak lemah kak Ica mengatakan bahwa Pak Dirman sakit aku menyalami pak Dirman,aku rindu.

***

Akhirnya aku bisa pulang kampung,aku rindu ibu dan Mina aku juga sudah menceritakan semua yang aku alami, kak Ica marah pada Jaka sekarang Jaka dan kedua anak buahnya sudah di penjara,aku lega. Tapi ada hal yang kurang, Rio. Di mana Rio?aku bahkan tak mendengar kabar tentang nya lagi, di mana dia? Aku sepertinya merindukan dia.

Banyak hal yang tak aku ketahui karena penculikan itu, salah satunya adalah tentang hubungan kak Oka dan kak Ica yang sebentar lagi akan menuju jenjang yang lebih serius.

Hampir setiap malam aku merenung, melihat purnama yang biasanya aku pandangi bersama Rio, hmm aku rindu Rio. “Tini " panggil Ibu dengan lembut, lalu aku menghampiri ibu, ibu menarik ku menuju ruang tengah.

Betapa kaget nya aku, saat melihat Rio bersama pak Zainal, aku lalu lalu menyalami mereka lalu kami semua berkumpul dan mengobrol, termasuk kak Ica dan kak Oka. Aku baru tahu ternyata sekarang pak Zainal mengangkat Rio menjadi anak nya, aku ikut bahagia mendengarnya.

Apalagi kabar tentang Kepindahan pak Zainal dan keluarganya ke kampungku, berarti Rio juga kan, aku bisa bermain dengan Rio setiap hari, terimakasih Ya Allah.

“Tini?." Ucap Rio saat aku sedang duduk di teras, ku lihat Rio dia lebih rapih kami pun berbincang tentang hari baru yang akan datang, ahh Rio ternyata dia juga merindukanku.

***

end.


Kembali ke Beranda