Gambar dalam Cerita
Namaku Mayang. Aku sekarang baru kelas X SMA. Hidupku menyebalkan dan membosankan semua hal yang hadir sekarang dengan ajaib nya bisa hilang di telan waktu.
Begitu juga dengan seseorang yang datang membawa sepucuk harapan lalu pergi menanam benih kesakitan. Aku tak suka mengistimewakan seseorang karena fisik.
Fisik bisa hilang pada waktu nya. Sedangkan hati akan tetap ada meski warna rambut mulai memudar. Bahkan hari hariku hanya biasa ku habiskan dengan pena dan kertas.
Menulis bait bait puisi adalah hal yang biasa aku lakukan. Dengan mencurahkan semua isi hati pada kertas yang tak akan pernah membukakan rahasia ku.
Namun semua berubah. Saat aku mulai mengenal seseorang. Sebut saja dia Kak Panji kakak kelasku yang tak sengaja ku lihat saat dia sedang berolah raga di depan kelasku. Aku memang biasa melihatnya. Namun entah kenapa saat itu dia tampak berbeda. Laun hari aku mulai mencari tahu tentang kak Panji.
Perlahan lahan cerita temanku mengenai kak Panji mulai aku sukai, tentang kak Panji baik mahir olahraga dan aku dengar dia belum pernah punya pacar. Aku terus menerus mencari tahu, hingga aku mulai menyukai kak Panji. Setiap pagi dan pulang sekolah aku selalu duduk di teras kelas hanya untuk melihat kak Panji lewat.
Aku hanya bisa melihat kak Panji dari jauh. Aku tak akan pernah bisa menyentuh kak Panji. Dia terlalu sempurna untuk aku yang hanya biasa. Semua hal itu membuat aku tertekan. Aku mulai sering mengeluh dan melamun. Teman teman ku terus menguatkan aku dan mengatakan kak Panji pasti akan sadar akan keberadaanku.
Suatu hari teman ku mengatakan bahwa kak Panji akan mewakili sekolah untuk mengikuti turnamen sepak bola, tentu saja itu adalah salah satu waktu yang bisa aku gunakan untuk melihat kak Panji dari Jauh. Namun semua membuat aku sedikit tersadar bahwa kak Panji terlalu sibuk dengan dunianya. Ia bahkan tak pernah mengirim pesan atau pun menyapaku, aku merasa seperti seseorang yang bodoh.
Saat aku benar benar terpuruk seseorang kembali hadir, panggil saja dia Leo. Leo baik dia selalu menghiburku dan selalu ada bahkan untuk sebuah perhatian yang kecil. Aku hanya merespon seadanya dengan hati masih berharap pada kak Panji yang bahkan tak mengenalku.
Semua waktu aku habiskan dengan hancur, lalu Leo tiba tiba mengungkapkan perasaan nya. Membuat aku kaget dan tak tahu bila Leo menyukai ku.Teman temanku menyarankan agar aku menerima Leo yang sudah pasti dari pada Kak Panji.
Namun aku memikirkan matang matang. Aku telah memilih kak Panji dari awal lalu Leo datang dan menarik perhatianku, namun hatiku masih sama aku masih berharap pada Kak Panji. Dengan penuh pertimbangan aku menolak Leo dia tampak sedih dan tak percaya. Namun aku mengatakan aku masih menyukai kak Panji walau tak pernah di lihat.
Leo pergi dari hidupku dengan kekecewaan yang aku berikan padanya dan sebagai timbal balik nya aku pun sama menerima kekecewaan dari sikap kak Panji yang dingin dan tak pernah mengganggap aku di depannya. Aku. merasa aku bodoh karena tetap menunggu seseorang yang belum pasti, tapi tak apa yang pasti aku masih tetap berharap pada satu orang, tanda dan bukti bahwa aku tak main main.
Aku harap Kak Panji segera tahu.
***
end.