Gambar dalam Cerita
Jeon Jungkook.
Siapa yang tidak mengenal nama itu. CEO muda dan tampan dari perusahaan multimedia terbesar di Korea Selatan. J&J Media Corporation . Perusahaan itu dibangun oleh sang kakek, dan nama perusahaannya diambil dari nama kakek dan neneknya, Jeon Jaemin dan Song Jiae. Setelah kakeknya pensiun karena penyakit yang dideritanya, ayahnyalah yang menjabat sebagai direktur utama di perusahaan itu saat ini.
Sebagai seorang CEO perusahaan ternama, Jungkook tentunya menjadi pria idaman para wanita. Bukan hanya karena ia masih muda dan kaya, ia juga memiliki wajah yang rupawan. Ditambah lagi bentuk tubuhnya yang tinggi, tegap dengan otot-otot yang terbentuk sempurna.
Di balik kesempurnaan yang dimilikinya, ia juga memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya adalah sifatnya yang dingin dan sulit didekati. Banyak wanita dari berbagai kalangan, baik itu karyawan di kantornya, rekan bisnis, maupun putri dari teman-teman kedua orangtuanya, telah berusaha mendekatinya. Namun, semua usaha mereka tak ada yang mendapatkan hasil. Jungkook sama sekali tak pernah melirik mereka. Ia belum tertarik untuk menjalin sebuah hubungan. Ia masih ingin memfokuskan dirinya pada pekerjaan. Lagipula di matanya, semua wanita yang mendekatinya hanya melihatnya sebagai seorang CEO J&J Media Corp , bukan sebagai seorang Jeon Jungkook...
" Sajangnim , pak direktur menghubungi anda barusan. Anda diminta segera pulang" ujar Park Jimin, sekretaris pribadinya, sembari menyerahkan ponsel atasannya itu.
Jungkook yang baru saja keluar dari ruangan rapat, segera mengambil ponselnya dari tangan Jimin. Tanpa berbicara sepatah katapun, ia lalu berjalan melenggang menuju lift. Jimin mengikutinya dari belakang, dan seperti biasa, para karyawan wanita yang dilewati ataupun melewatinya, menatap sang CEO dengan tatapan kagum, bahkan tak sedikit yang berani menatap atasannya itu dengan tatapan menggoda. Namun, tetap saja, Jungkook tak terpengaruh sama sekali.
Kini Jungkook telah duduk di kursi belakang mobil Rolls-Royce Ghost EBW hitam miliknya. Jimin duduk di depan, di samping sopir pribadi Jungkook. Saat berangkat ke kantor, Jungkook memang lebih sering menggunakan sopir untuk mengendarai mobilnya.
Hari masih sore saat mereka keluar dari gedung perusahaan. Jalanan juga masih basah dan terdapat beberapa genangan air, sisa-sisa hujan sebelumnya.
"Tidak bisakah kau menyetir lebih cepat?" titah Jungkook dengan ekspresi dinginnya.
"Tapi tuan, jalanan masih basah. Bagaimana nanti kalau..." sang sopir tak berani melanjutkan kalimatnya kala melihat tatapan Jungkook, yang seolah ingin membunuhnya, dari kaca depan mobil. Ia hanya bisa menelan salivanya dan berkata, "baik tuan".
Saat sedang melaju kencang, tanpa sengaja mobil milik Jungkook melintasi genangan air, dan membuat seorang gadis yang tengah berjalan di trotoar kini basah terkena cipratan air tersebut.
.
.
Jieun baru saja keluar dari toko kue. Ia nampak girang menenteng kue tart yang baru saja dibelinya. Hari ini adalah ulang tahun ibunya. Ia sengaja ingin memberi kejutan dengan membelikan kue kesukaan ibunya itu.
Namun, siapa sangka, senyum cerah yang terukir di wajahnya menghilang kala sebuah mobil melewati genangan air tepat di hadapannya dan membuatnya basah kuyup terkena cipratan air.
"YAK!!!"
Mobil itu pun berhenti seketika. Seorang pria turun dari kursi pengemudi.
"Maafkan saya nona. Anda baik-baik saja, bukan?" tanya pria yang merupakan sopir Jungkook.
"Apa kau lihat aku sedang baik-baik saja?" gerutu Jieun seraya menatap dirinya yang tengah basah kuyup. Belum lagi kuenya yang telah hancur karena terguncang saat Jieun berusaha menghindari cipratan air tadi.
"Lagipula siapa yang mengajarimu untuk mempercepat laju kendaraan saat melintasi genangan air?!"
"Maafkan saya sekali lagi nona. Saya hanya seorang sopir yang melaksanakan instruksi atasan saya. Saya mohon anda tidak menyulitkan saya" pinta sang sopir. Ia sudah membayangkan Jungkook akan memarahinya bila ia terlalu lama berurusan dengan gadis ini.
Jungkook yang tidak sabar menunggu di dalam mobil, segera meminta Jimin untuk mengatasi masalah di luar sana. Ia memberikan uang 100.000 KRW kepada Jimin dan menyuruhnya memberikan uang itu kepada sang gadis.
"Nona, kami minta maaf. Atasan kami tengah terburu-buru. Ini dari atasan kami sebagai ganti rugi" ujar Jimin seraya menyerahkan uang 100.000KRW tadi kepada Jieun.
Jieun menatap uang yang diserahkan oleh Jimin padanya.
"Di mana atasanmu? Bukankah ia yang menyuruh untuk mempercepat laju kendaraannya? Kenapa bukan ia yang meminta maaf secara langsung?"
"Nona, anda tak tahu siapa atasan kami. Kalau anda tahu, anda akan..."
Belum sempat Jimin menyelesaikan kalimatnya, Jieun segera meraih uang tersebut dari tangan Jimin dan berjalan menghampiri mobil Rolls-Royce yang tengah menepi itu.
Tok...tok...tok...
Jieun mengetuk kaca mobil tepat di mana Jungkook tengah duduk menunggu. Jungkook melirik ke arah gadis itu. Kaca mobil miliknya cukup gelap, sehingga ia takkan terlihat dari pandangan Jieun. Sebaliknya, ia dapat melihat Jieun dengan jelas. Gadis itu memiliki kulit putih seperti susu. Wajahnya nyaris tanpa riasan, selain lipstik merah jambu yang mewarnai bibirnya. Rambut hitam panjangnya tergerai lurus dengan indah.
Jungkook awalnya tak menghiraukan apa yang dilakukan Jieun. Ia berpikir gadis itu ingin bertemu dengannya agar ia bisa meminta ganti rugi yang lebih banyak. Tapi Jungkook tak semurah hati itu. Baginya 100.000 KRW yang diberikannya sudah cukup banyak.
Namun, saat melihat Jieun memegang sebuah batu dan hendak menggunakan batu itu untuk dilempar ke jendela mobilnya, ia pun segera menurunkan kaca mobilnya.
"Apa kau gila?" tanya Jungkook dengan tatapan dinginnya.
Jieun nampak emosi kala mendengar ucapan Jungkook barusan.
" Mwo ? Gila? Hei, bukankah yang gila di sini adalah kau? Ini! Ambil uangmu! Aku tidak memerlukannya!" ujarnya seraya melemparkan uang itu ke dalam mobil, tepat di hadaan Jungkook.
" Wae ? Apa uang segitu kurang bagimu?" sahut Jungkook. Nada bicaranya sangat tenang dan dingin.
"Haha... Yang benar saja"
Jieun tertawa sinis.
"Aku seharusnya mendapat permintaan maaf darimu. Kau yang menyuruh sopirmu mempercepat laju kendaraannya di tengah jalanan yang tergenang air, bukan? Apa orang-orang seperti kalian menyelesaikan semua masalah hanya dengan uang, huh?"
"Nona, sebaiknya anda menerima uang itu dan pergilah. Anda tak tahu siapa beliau" pinta sang sopir pada Jieun.
"Memangnya aku peduli siapa dia?" geram Jieun.
"Nona, dia adalah CEO J&J Media Company . Kau pasti memgenal namanya, Jeon Jungkook" ujar Jimin.
Jungkook, Jimin, dan sang sopir berpikir Jieun akan diam dan mundur setelah mengetahui identitas Jungkook yang sebenarnya. Tetapi dugaan mereka salah. Reaksi Jieun tak sesuai dengan ekspektasi mereka.
"Oooh. Jadi kau yang namanya Jeon Jungkook? Kurasa mereka terlalu melebih-lebihkan cerita tentangmu. Bahkan Jongsuk oppa masih lebih tampan darimu. Ditambah lagi kau sama sekali tak memiliki etika. Kau hanya beruntung karena kau kaya" sindir Jieun.
Wajah Jimin dan sang sopir nampak pucat pasi kala mendengar perkataan yang keluar dari mulut Jieun. Mereka sangat takut bila Jungkook merasa tersinggung karenanya.
Namun rupanya, Jungkook bereaksi sebaliknya, sudut bibirnya malah terangkat. Ia menatap Jieun dan bertanya, "Baiklah, kau menginginkan permintaan maaf dariku, bukan?"
Usai bertanya seperti itu, Jungkook keluar dari mobil dan berdiri di hadapan Jieun.
"Aku minta maaf nona" ujarnya seraya sedikit membungkuk.
Jieun nampak tersenyum puas.
"Hmmm.. Kali ini aku memaafkanmu. Lain kali kalian tak boleh melajukan mobil dengan kencang saat jalanan basah begini. Bukan hanya merugikan orang yang tengah berjalan di trotoar, kalian juga membahayakan diri kalian sendiri" ujarnya seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Jieun lalu menatap kue yang masih berada di tangannya.
"Hhhh... Bagaimana bisa aku memberikan kue ini pada eomma " keluhnya lalu berjalan menjauhi ketiga pria itu.
Tanpa Jieun sadari, dompet miliknya terjatuh di tempat tadi.
.
.
Jungkook memungut dompet ungu yang tergeletak di trotoar. Ia melihat tanda pengenal yang berada di dalamnya.
"Ini milik gadis itu rupanya" gumamnya.
Ia pun menyimpan dompet itu di saku celananya dan segera kembali ke mobilnya. Sepanjang perjalanan, Jungkook nampak beberapa kali membuka dompet milik Jieun dan memperhatikan kartu tanda pengenal gadis itu.
.
.
.
Jungkook kini telah tiba di rumahnya. Sesuai dugaannya, di ruang tamu, kedua orangtuanya telah menunggunya bersama dua orang wanita. Yang seorang Jungkook kenali sebagai sahabat ibunya. Yang seorang lagi sepertinya adalah putrinya.
"Ah, kau sudah datang? Kemarilah" pinta Ny. Jeon.
Jungkook pun duduk di samping ibunya. Namun, ia lebih banyak diam dibanding meladeni pertanyaan-pertanyaan yang diajukan gadis itu.
Saat kedua tamunya telah pulang, kedua orangtua Jungkook menatap putranya penuh rasa penasaran.
"Bagaimana gadis itu? Kau tertarik padanya?" tanya Ny. Jeon.
"Tidak"
" Aigoo . Sebenarnya gadis seperti apa yang kau inginkan, huh? Semua gadis yang kukenalkan padamu kau tolak" keluh Ny. Jeon.
"Jungkook-ah, kau tahu kan, kakekmu ingin melihatmu segera menikah. Dengan penyakit yang dideritanya saat ini, dia takkan punya banyak waktu" bujuk Tn. Jeon.
Jungkook nampak berpikir sejenak. Meskipun ia terlihat tak memiliki empati, pria itu sangat menyayangi kakeknya dan tidak ingin mengecewakannya. Apalagi dokter telah memberikan vonis umur kakek Jungkook takkan lama.
"Aku akan memikirkannya kembali. Sekarang aku ingin istirahat dahulu" ujarnya kemudian beranjak pergi menuju kamarnya.
Setelah menutup pintu kamarnya, Jungkook segera mengambil ponselnya dan menghubungi Jimin.
"Cari tahu tentang gadis yang bernama Lee Jieun tadi. Aku ingin mengetahui semua tentang dirinya. Jangan melewatkan hal sekecil apapun".
'Baik sajangnim'
.
.
Pagi-pagi sekali Jimin telah mendatangi kediaman keluarga Jeon. Seperti biasa, ia akan meninggalkan mobilnya di sana dan berangkat bersama Jungkook usai memaparkan jadwal atasannya itu.
"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan informasi yang kuminta?" tanya Jungkook pada Jimin yang tengah duduk di samping sopir.
" Ne sajangnim "
Jimin pun mengambil sebuah map cokelat dari dalam tas dan menyerahkannya kepada Jungkook.
"Gadis yang bernama Lee Jieun itu tinggal di Myeong-dong. Ia tinggal bersama kedua orangtuanya. Mereka keluarga yang sederhana. Kedua orangtuanya memiliki sebuah rumah makan di daerah sana, dan sepertinya ayahnya tengah terlibat hutang yang cukup besar pada seorang rentenir dan ia kesulitan membayarnya. Dari informasi yang kudapat, rentenir itu ingin menikahi Jieun agar hutang Tn. Lee dapat dianggapnya lunas. Meskipun Ny. Lee menolaknya mati-matian, kurasa nona Jieun bisa saja menerima syarat itu untuk melunasi utang ayahnya, mengingat ia sangat berbakti kepada kedua orangtuanya" papar Jimin seraya melirik Jungkook yang tengah membaca laporannya.
Jungkook pun menutup map tersebut.
"Antarkan aku ke rumah gadis itu" titah Jungkook.
Jimin dan sang sopir nampak terkejut mendengar permintaan Jungkook.
" Ne ?"
"Apa kau tak mendengarku?" tanya Jungkook dengan tatapan tajamnya. Mau tak mau, sang sopir pun memutar balik mobilnya menuju alamat yang diberikan oleh Jimin.
.
.
Jieun tengah sibuk membantu ibunya menyiapkan sarapan saat pintu rumahnya diketuk.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" gerutu ayah Jieun yang tengah membaca surat kabar di ruang makan.
"Biar aku yang membuka pintunya, appa " ujar Jieun seraya melepaskan celemek yang dipakainya.
Saat membuka pintu rumahnya, Jieun nampak terkejut melihat wajah pria yang kemarin membuatnya kesal.
"Kau?? Kenapa kau bisa kemari?" tanya Jieun.
Bukannya menjawab pertayaan Jieun, Jungkook malah bertanya balik kepadanya.
"Apa kau tidak mempersilahkan tamumu untuk masuk?"
"Jieun-ah! Siapa itu? Kenapa tidak dipersilahkan masuk?!" seru ayah Jieun dari dalam.
Dengan terpaksa, Jieun pun membuka lebar pintu rumahnya dan mempersilahkan Jungkook dan Jimin untuk masuk. Ayah Jieun pun berjalan menuju ruang tamu untuk melihat siapa tamu yang berkunjung ke rumah mereka. Ia nampak terkejut saat mengenali Jungkook. Bagaimana tidak, wajah pria itu kerap muncul menghiasi TV dan majalah. Semua media memberitakannya sebagai CEO termuda dan terkaya di Korea.
"A...anda Tuan Jeon Jungkook? A...ada perlu apa a..anda kemari?" tanya ayah Jieun gugup.
Ibu Jieun yang sedari tadi masih di dapur, segera bergegas keluar saat mendengar nama Jeon Jungkook keluar dari mulut suaminya.
" O...omo ! Apa aku tak salah lihat?"
Jungkook membungkuk dengan sopan pada ayah dan ibu Jieun.
" Anyeonghaseyo . Maaf pagi-pagi seperti ini aku sudah mengganggu kalian".
"A .. .ah... Gwe...gwenchana . Kami tidak merasa terganggu" sahut ibu Jieun.
Jieun sendiri memutar bola matanya malas melihat tingkah kedua orangtuanya yang nampak segan dengan Jungkook. Menurutnya, seharusnya Jungkook lah yang segan kepada orangtuanya karena mereka jauh lebih tua darinya, bukan sebaliknya.
"Ada urusan apa kau kemari? Cepat katakan dan segeralah pergi dari sini" celetuk Jieun ketus.
"Jieun!" ayah dan ibu Jieun kompak menegur Jieun yang bersikap tak sopan di depan Jungkook.
"Ah. Maafkan putriku, tuan Jeon. Aku kurang mendidiknya dengan benar" ujar ayah Jieun penuh penyesalan.
Jungkook tersenyum tipis.
" Gwenchana Tuan Lee. Aku kemari ingin mengembalikan dompet Jieun yang terjatuh kemarin" ujarnya seraya mengeluarkan sebuah dompet dari saku jasnya dan menyerahkannya pada Jieun.
Jieun segera mengambil dompet itu dari tangan Jungkook.
"Ah, aku bahkan tak menyadari dompetku terjatuh".
"Jieun, kau harus berterima kasih pada tuan Jeon" tegur ibu Jieun.
" Gomawo " ujar Jieun setengah terpaksa.
"Selain itu, ada hal yang ingin kubicarakan dengan kalian" sela Jungkook kembali.
"Eh? Apa yang anda ingin bicarakan?" tanya ayah Jieun.
"Sebelumnya aku minta maaf karena aku mencari tahu informasi mengenai Jieun. Kudengar, ahjussi memiliki hutang yang cukup besar pada rentenir".
Ayah dan ibu Jieun terkejut mendengar ucapan Jungkook. Mereka merasa sedikit malu karena Jungkook mengetahui soal hutang mereka. Berbeda dengan Jieun yang marah karena pria itu diam-diam mencari tahu tentang dirinya-tentang keluarganya.
"Yak! Kau sungguh tak sopan! Mencari informasi pribadi seseorang itu melanggar hukum!" protes Jieun.
Jungkook tak menggubris protes yang diucapkan gadis itu. Ia malah menatap kedua orangtua Jieun bergantian.
"Aku ingin menawarkan bantuan pada kalian. Aku bisa membantu melunasi hutang kalian pada rentenir itu. Tetapi dengan satu syarat".
"Be...benarkah? A...apa syarat yang ingin anda ajukan?" tanya ayah Jieun.
"Aku ingin menikah dengan putri kalian, Lee Jieun"
Kedua orangtua Jieun sangat terkejut mendengar syarat yang diajukan oleh Jungkook. Terlebih Jieun. Ia benar-benar tak tahu apa yang ada di pikiran pria itu.
"Yang benar saja! Kenapa aku harus menikah denganmu? Tidak! Kami tak perlu bentuanmu!" seru Jieun kesal.
"Jieun!" tegur ayah Jieun.
"Lalu kau mau menikah dengan rentenir itu? Bukankah ia juga memberikan syarat yang sama denganku?" tanya Jungkook seraya menunjukkan smirk -nya pada Jieun.
"Ka...kau mengetahuinya?" tanya Jieun tak percaya.
"Sudah kukatakan padamu bukan? Aku mencari tahu semuanya" sahut Jungkook datar.
"Maaf, tuan Jeon. Untuk hal ini, kami harus mendengar pendapat Jieun. Kami tak ingin memaksa Jieun menanggung hutang kami" ujar ayah Jieun.
"Benar tuan Jeon. Kami tak bisa menjual putri kami hanya untuk melunasi hutang itu" imbuh ibu Jieun dengan wajah sendunya.
Jieun nampak tersentuh mendengar ucapan kedua orangtuanya. Meskipun mereka hidup pas-pasan, Jieun selalu merasa bersyukur memiliki orangtua yang menyayangi dan menghargainya. Namun, Jieun tentu saja tak ingin hutang ayahnya terus menghantui mereka. Ia tak tega melihat ayahnya selalu dipukuli kala rentenir itu datang untuk menagih hutang mereka.
"Maaf kalau membuat kalian berpikir seperti itu, tapi bisakah aku berbicara berdua dengan Jieun terlebih dulu?" tanya Jungkook.
Kedua orangtua Jieun saling menatap kemudian beralih menatap Jieun. Melihat Jieun menganggukkan kepalanya, kedua orangtuanya lalu mempersilahkan Jungkook berbicara berdua dengan putri mereka. Jieun mengajak Jungkook berbicara di kamarnya sementara Jimin bersama kedua orangtua Jieun menunggu di ruang tamu.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Jieun setelah menutup pintu kamarnya.
"Pertimbangkanlah syarat yang kuberi. Dibanding menikah dengan rentenir itu, jauh lebih baik menikah denganku. Kau tahu, aku tahu banyak tentang rentenir yang berurusan dengan appa mu. Tua bangka itu telah memiliki enam belas istri, apa kau mau menjadi istri ke tujuh belasnya? Terlebih lagi, kuyakin ia akan terus memaksamu melayani kebutuhan seksualnya setiap hari" ujar Jungkook sedikit menakut-nakuti Jieun.
Jieun bergidik ngeri membayangkan ucapan Jungkook. Memang benar, pria paruh baya itu selalu menatapnya dengan mata berkilat, dan tersenyum seperti pria mesum setiap kali ia datang.
"La..lalu apa bedanya denganmu?" tanya Jieun masih ragu.
"Oh, ayolah. Aku tak perlu memberitahumu kalau aku jauh lebih muda darinya. Aku lebih kaya, dan juga aku akan menghargaimu" sahut Jungkook sedikit menyombongkan dirinya.
"Maksudmu?"
"Begini Jieun, bila kau mau menikah denganku, bukan hanya aku yang membantu keluargamu, tapi kau juga membantuku. Kakekku memiliki penyakit jantung dan komplikasi lainnya. Dokter menyatakan umurnya takkan lama. Dan sebelum ia meninggal, ia ingin melihatku menikah. Aku ingin mengabulkan permintaan terakhirnya itu. Karena itu, aku ingin membuat syarat yang menguntungkan untuk kita berdua".
"Ta..tapi kenapa harus aku? Bu...bukankah kau bisa mencari gadis lain? Ada ribuan gadis di luar sana yang pasti sangat ingin menikah denganmu"
Jungkook mendekat dan menatap Jieun lekat.
"Karena itu aku tidak menginginkan mereka. Aku tidak ingin ada perasaan yang terlibat karena itu akan menyusahkan, karena itu aku memilih gadis yang tidak tertarik padaku seperti dirimu" ujarnya.
Melihat Jieun mulai bimbang, Jungkook pun berusaha meyakinkannya sekali lagi. "Begini saja. Enam bulan. Setidaknya jadilah istriku selama enam bulan, setelah itu kita akan berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. Selama itu, aku berjanji tidak akan berlaku buruk padamu. Kita tidak akan melakukan kontak fisik tanpa persetujuan kedua belah pihak. Aku juga takkan mengekangmu atau melarangmu kalau kau mencari lelaki lain di luar sana selama keluargaku tidak mengetahuinya".
Setelah berpikir cukup lama, Jieun merasa alasan yang diberikan Jungkook cukup masuk akal. Enam bulan bukanlah waktu yang lama. Terlebih Jungkook telah berjanji untuk tidak berbuat yang macam-macam. Menikah dengan Jungkook akan jauh lebih baik dibanding menikah dengan rentenir tua mesum itu.
"Ba...baiklah kalau begitu. Aku setuju dengan syaratmu".
Jungkook tersenyum mendengar jawaban Jieun.
"Bagus. Kalau begitu, segera beritahu kedua orangtuamu. Kita akan mendaftarkan pernikahan kita sekarang juga".
" N..ne ???"
Jungkook nampak tak memperdulikan Jieun yang terlihat sangat terkejut. Ia meraih lengan Jieun dan membawanya ke ruang tamu menemui tuan dan nyonya Lee.
" Ahjussi, ahjumma , kami telah membicarakannya dan Jieun telah menyetujui syarat yang kuajukan" ujar Jungkook sopan.
Ayah dan ibu Jieun tentunya terkejut dengan keputusan yang diambil Jieun.
"Jieun-ah apa kau yakin dengan keputusanmu?" tanya ayah Jieun.
"Jangan melakukannya bila terpaksa, sayang. Kau tak perlu melakukannya demi kami" pinta ibu Jieun.
"Aku tidak terpaksa appa , eomma . Kurasa tak ada pilihan yang lebih baik dari ini. Kami sudah membicarakan semuanya dan Jungkook juga memiliki alasannya sendiri" sahut Jieun. Mereka lalu memaparkan alasan Jungkook memilih Jieun. Tapi tentu saja, mereka tak menjelaskan mengenai perjanjian enam bulan itu.
"Kalian jangan khawatir. Aku akan memperlakukannya dengan baik. Kalau klaian mengizinkan, kami akan segera mendaftarkan pernikahan ini sekarang juga" ujar Jungkook.
"Aku percaya kalau ia akan menjagaku" bujuk Jieun berusaha meyakinkan kedua orangtuanya.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Aku tahu, kalau kau sudah memutuskannya, kami tak bisa menghalangimu" sahut ayah Jieun.
"Maafkan kami, Jieun. Kami membuatmu harus menanggung beban hutang ini" ujar ibu Jieun lirih.
" Eomma , kau tak perlu meminta maaf. Aku juga bertanggung jawab melunasi hutang itu. Bagaimanapun, appa berhutang juga demi kita".
Ibu Jieun lalu menarik putrinya itu ke dalam pelukannya. Ia merasa bersalah karena harus membiarkan putri semata wayangnya itu menanggung beban hutang mereka. Tapi di sisi lain, ia juga menyadari kalau mustahil bagi mereka melunasi hutang itu tanpa bantuan Jungkook. Dibanding melepaskan putrinya pada rentenir tua bangka yang mesum itu, entah mengapa hati ibunya merasa percaya melepaskan putrinya pada Jungkook.
"Jungkook-ssi, kau tahu keluarga kami bukan keluarga terpandang sepertimu. Putri kami tidak terbiasa hidup dalam kemewahan sepertimu. Tetapi ketahuilah, bagi kami, ia adalah harta yang paling berharga. Kami memberikannya pendidikan yang terbaik, menjaganya dengan baik. Kuharap kau juga bisa menjaganya dengan baik. Jangan biarkan orang lain merendahkannya" pinta ibu Jieun.
Jungkook menatap ibu Jieun penuh ketulusan.
"Aku berjanji, eommonim ".
Usai memberitahukan keputusan mereka kepada kedua orang tua Jieun, Jungkook dan Jieun pun segera menuju ke kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan mereka, setelah sebelumnya menyiapkan berkas-berkas yang mereka perlukan.
"Apa kau tidak bertanya kepada orangtuamu lebih dulu?" tanya Jieun ragu. Saat ini mereka telah berada di depan kantor catatan sipil.
"Tak perlu. Mereka pasti tidak keberatan. Ayo kita masuk sekarang. Setelah ini kita temui rentenir itu" sahut Jungkook seraya meraih lengan Jieun.
Setelah mereka mengisi formulir dan menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan, keduanya pun kini telah sah menikah secara hukum.
Jieun menatap sertifikat pernikahannya.
"Tak bisa dipercaya secepat ini statusku berubah" gumamnya miris.
"Yah, sekarang kita telah resmi menjadi suami-istri. Tapi jangan khawatir, aku tetap akan mengurus pemberkatan dan resepsi untuk pernikahan kita. Sekarang sebaiknya kita pergi menemui rentenir itu" sahut Jungkook tenang.
.
.
"Apa maksud semua ini tuan Jeon?" tanya Mr. Son, sang rentenir, seraya menatap cek bernilai dua ratus juta won tertera di sana.
"Itu adalah pembayaran hutang tuan Lee. Aku bahkan melebihkannya untukmu. Mulai sekarang, jangan mengganggu mereka lagi" sahut Jungkook datar.
Awalnya Mr. Son merasa sangat marah karena gadis yang diincarnya ternyata telah dimiliki oleh pria lain, dan pria itu adalah CEO dari perusahaan J&J Media Co rporation . Tetapi ia tak dapat berbuat banyak kala Jungkook mengancam akan membuat bisnisnya gulung tikar bahkan bisa saja memasukkannya ke dalam penjara bila ia masih berani mengganggu keluarga Lee. Lagipula uang yang diberikan Jungkook dua kali lipat dari hutang keluarga Lee ditambah bunganya.
Setelah memperoleh kesepakatan dengan Mr. Son, Jungkook pun mengajak Jieun menemaninya ke kantor.
Semua pegawai di perusahaan J&J Media corporation menatap penuh rasa penasaran pada wanita yang berjalan di samping CEO mereka. Terlebih Jimin, sekretaris pribadi sang CEO bahkan bersikap sopan padanya. Tak pernah ada wanita yang bisa berada sedekat itu pada CEO mereka. Meskipun banyak wanita yang berusaha mendekat, Jungkook selalu menjaga jarak dengan mereka.
Jungkook tidak langsung menuju ruangannya, melainkan menuju ruangan presdir, ayahnya sendiri. Ia juga mengajak Jieun menemaninya, sementara Jimin menunggu di ruangannya.
Reaksi yang diberikan presdir Jeon benar-benar di luar dugaan Jieun. Bukannya marah dan menyerang Jieun dengan beribu pertanyaan, pria paruh baya itu malah tersenyum sumringah mendengar berita yang disampaikan Jungkook.
Bahkan, ia dengan semangatnya meminta Jieun memanggilnya abonim . Presdir Jeon bahkan tak bertanya tentang asal usul Jieun. Baginya, selama wanita yang dipilih Jungkook adalah wanita baik-baik, ia akan merestuinya.
Ayah Jungkook pun berjanji akan mengatur acara pemberkatan dan resepsi pernikahan mereka yang akan dilaksanakan minggu depan, tepat di hari ulang tahun kakek Jungkook.
.
.
Tak terasa seminggu telah berlalu. Selama seminggu ini, Jieun telah tinggal di rumah keluarga Jeon. Ia pun tidur sekamar dengan Jungkook, karena secara hukum mereka telah sah sebagai suami-istri. Namun, Jungkook tak pernah menyentuhnya sedikitpun. Jieun menaruh guling besar di tengah kasur mereka sebagai pembatas saat mereka tidur.
Dan hari ini adalah hari yang melelahkan bagi mereka. Setelah pemberkatan nikah di Gereja, mereka segera menuju ke sebuah hotel mewah yang merupakan tempat berlangsungnya resepsi. Banyak tamu dari kalangan atas yang menghadiri acara itu. Tak sedikit wanita yang merasa iri pada Jieun karena telah berhasil mendapatkan Jungkook.
Keluarga Jungkook pun sangat menyukai Jieun, terutama kakek Jungkook. Meskipun Jieun bukan berasal dari kalangan mereka, namun gadis itu sangat sopan dan berpengetahuan luas. Ia juga sangat tulus dan baik hati. Jungkook saja tak menyangka bila gadis arogan yang beberapa hari lalu ditemuinya itu ternyata memiliki hati seperti emas.
Hampir lima jam lamanya mereka menjamu tamu-tamu mereka yang tak terhitung jumlahnya. Setelah tiba di rumah, Jieun segera merebahkan diri di atas kasur. Kaki dan punggungnya terasa sangat pegal usai berjalan ke sana kemari menjamu tamu.
Jungkook sendiri segera melepas jasnya dan melonggarkan dasi yang dikenakannya.
"Apa kau tak mau mandi dan berganti baju terlebih dulu?" tanyanya pada Jieun.
"Tentu saja aku mau. Tapi tubuhku terasa berat" sahut Jieun lemah.
Namun, tak lama kemudian, ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Semakin lama, pakaian itu membuatnya tak nyaman.
Jungkook menunggu Jieun selesai mandi. Ia juga merasa sangat gerah dan tak nyaman. Hampir setengah jam menunggu, tak juga suara pancuran air terdengar dari dalam kamar mandi. Ia pun mengetuk pintu kamar mandi.
"Hei, Jieun. Apa kau masih lama di dalam sana?"
Tak terdengar sahutan dari dalam, sehingga Jungkook hendak mengetuk sekali lagi. Namun, pintu kamar mandi terlebih dahulu terbuka dan Jieun memunculkan kepalanya di sana.
"Jungkook, aku butuh bantuanmu" pinta Jieun dengan pipi merona.
Rupanya Jieun kesulitan membuka resleting di belakang gaunnya sehingga ia meminta Jungkook untuk membantunya melepaskan gaun itu.
Kala jemari Jungkook menarik restleting gaun Jieun, Jungkook tak dapat menahan kekagumannya menatap punggung Jieun yang putih dan mulus. Bagaimanapun, ia seorang pria normal. Tidak mungkin ia tak bergejolak melihat punggung polos wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Namun, ia mengingat janjinya. Susah payah ia menahan dirinya.
"Aku akan menunggu di luar. Jangan terlalu lama. Aku juga butuh mandi" ujar Jungkook dengan nada yang sangat dingin, seolah ingin menutupi kegugupannya.
.
Tengah malam, Jieun terbangun karena ingin ke kamar kecil. Sekembalinya dari kamar mandi, ia menyadari suaminya tak berada di tempat tidur. Matanya lalu menangkap sosok seseorang di beranda kamarnya. Ia pun keluar menghampiri orang itu, Jeon Jungkook.
"Kau belum tidur?"
Pertanyaan Jieun membuat Jungkook tersadar dari lamunannya.
"Kau terbangun?" tanya Jungkook kembali. Jieun hanya mengangguk.
Jungkook menatap Jieun yang hanya memakai gaun tidur yang tipis. Sepertinya gadis itu lupa memakai luaran sebelum menuju beranda. Ia pun segera berjalan menghampiri Jieun dan membawa gadis itu kembali ke kamar.
"Di luar sangat dingin. Kau bisa masuk angin" ujar Jungkook dingin. Namun, Jieun bisa merasakan kehangatan dalam kalimat itu. Tanpa sadar pipinya kini merona.
Jungkook menatap wajah Jieun yang memerah. Entah mengapa sekujur tubuhnya terasa panas saat ini. Terlebih melihat Jieun dalam gaun tidur yang memperlihatkan bahu mulusnya itu membuat jantungnya berdebar kencang.
'Sejak kapan ia menjadi secantik ini?' batinnya.
Menyadari tatapan Jungkook yang intens padanya, membuat Jieun semakin gugup.
"Ke...kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Jieun..... boleh aku.... menciummu?"
Pertanyaan Jungkook membuat Jieun terkejut bukan main.
" M...mwo?! Neon michyeosseo? "
" Wae ? Bukankah kita telah menikah?"
Ia terdiam, berpikir untuk beberapa saat. Ia tak memiliki alasan untuk menolaknya. Secara hukum, mereka adalah suami-istri. Jungkook berhak mendapatkannya, meskipun setelah enam bulan mereka akan berpisah. Apalagi Jungkook secara sopan menanyakan persetujuannya. Tapi tetap saja Jieun ragu.
Melihat Jieun hanya terdiam sejak tadi, Jungkook pun mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Perlahan, bibir mereka semakin mendekat hingga akhirnya bertemu. Jieun tentu saja terkejut, namun entah mengapa tubuhnya tak bisa menolak. Untuk sesaat, bibir Jungkook hanya menempel, seolah ingin memastikan sesuatu. Lalu perlahan, Jungkook mulai melumat bibir ranum istrinya itu. Lembut dan memabukkan.
Bagi Jieun, ini adalah ciuman pertamanya. Ironis memang, ia tak pernah berkencan sebelumnya. Sebagai ciuman pernikahan mereka saja, Jungkook hanya memberikannya di kening Jieun. Namun, dari cara Jungkook menciumnya, ia tahu ini bukan pertama kalinya bagi Jungkook.
Semakin lama ciuman mereka semakin menuntut. Jungkook bahkan telah menjelajahi rongga mulut Jieun dengan lidahnya. Jieun nampak mulai kehabisan nafas. Ia pun mendorong tubuh Jungkook perlahan.
"Yak! Kau mau membunuhku, huh?" gertak Jieun dengan wajah yang sangat memerah.
Jungkook segera memalingkan wajahnya dan beranjak keluar kamar.
"Kau mau ke mana?" tanya Jieun ketus.
"Tidurlah duluan. Masih ada hal yang harus kukerjakan" sahut Jungkook tanpa menoleh sedikitpun.
Jieun menatap punggung Jungkook dengan penuh tanda tanya.
'Apa-apaan dia? Setelah menciumku lalu meninggalkanku begitu saja?' batinnya kesal.
Jieun tak tahu, di balik pintu, Jungkook menyandarkan tubuhnya dan menempelkan telapak tangan di dadanya, mengatur nafasnya yang saling beradu dengan detak jantungnya.
.
.
Hari ini adalah hari pertama Jieun bekerja. Sebenarnya ayah Jungkook meminta Jieun untuk bekerja di perusahaan mereka saja. Terlebih melihat riwayat pendidikan Jieun yang merupakan lulusan Universitas Seoul jurusan bussiness management . Tetapi Jieun menolaknya. Ia merasa jika ia menerima tawaran itu, seluruh karyawan akan berpikir ia diterima karena merupakan menantu presdir, bukan karena kemampuan yang dimilikinya. Untung saja Jungkook memahami keputusannya.
Setelah memasukkan lamaran pekerjaan di beberapa perusahaan, Jieun akhirnya diterima di sebuah perusahaan entertainment.
Hari itu, Jungkook berangkat lebih pagi untuk mengantarkan sang istri terlebih dahulu sebelum berangkat menuju kantornya.
"Pukul enam sore nanti aku akan menjemputmu" ujar Jungkook saat menurunkan Jieun di depan tempat kerjanya.
"Kau tak perlu repot-repot. Aku bisa pulang dengan bus atau taxi. Lagipula aku juga tak tahu pastinya akan pulang jam berapa" tolak Jieun.
Jungkook hanya mengendikkan bahunya.
"Baiklah. Terserah kau saja".
Setelah Jieun turun, mobil Jungkook pun segera melaju meninggalkan tempat itu.
Jieun menatap miris kepergian mobil suaminya itu.
"Cih! Katakan saja memang tak berniat menjemput" gerutunya.
Jieun melangkah memasuki gedung berlantai enambelas itu. Ia pun segera menuju lantai tujuh, tempat dimana divisinya berada. Saat pintu lift nyaris tertutup, seorang pria nampak menahan pintu itu, lalu masuk ke dalam.
Jieun mengamati pria itu. Pria itu berkulit putih dan berwajah manis. Satu persatu pengguna lift itu keluar saat lift berhenti di tujuan mereka. Hingga saat perhentian di lantai empat, tersisa Jieun berdua saja dengan pria itu.
Pria itu pun kini mulai memperhatikan keberadaan Jieun. Ia menaikkan sebelah alisnya menatap Jieun.
"Kau karyawan baru di sini? Aku baru melihatmu".
"Ah. Ne . Aku Lee Jieun, karyawan baru di divisi pemasaran. Ini adalah hari pertamaku bekerja" sahut Jieun.
"Oh begitu ya?"
Kini pria itu mulai tersenyum menatap Jieun. Ia pun mengulurkan tangannya di hadapan Jieun.
"Perkenalkan, aku Min Yoongi. Salah satu produser di perusahaan ini".
Jieun menatap pria itu lalu menjabat tangannya. Untuk sesaat, Jieun merasa terpesona dengan senyuman Yoongi yang membuat pria itu nampak semakin manis
.
.
Jieun baru saja selesai dengan pekerjaannya. Berhubung dia adalah karyawan baru, dia harus pulang lebih lambat dibanding karyawan lainnya. Jieun melirik jam tangannya, pukul delapan malam. Ia pun meraih ponselnya, entah mengapa ia berharap ada pesan dari Jungkook yang masuk ke ponselnya. Namun ternyata nihil. Pria itu tak menanyakannya sama sekali.
Jieun pun mulai mengetikkan pesan untuk suaminya agar pria itu tak khawatir. Meski Jieun ragu pria itu akan khawatir terhadapnya. Setelah memastikan pesannya terkirim, Jieun pun beranjak keluar dari bangunan itu.
Sayangnya, hujan deras di luar sana membuat langkah Jieun terhenti. Ia tidak membawa payung sama sekali.
"Apa aku terobos saja hujan ini?" gumamnya bingung.
Di tengah kebingungan Jieun, sebuah mobil mercedes hitam berhenti tepat di depannya. Sang pengemudi menurunkan kaca mobilnya dan memanggil Jieun.
"Jieun-ssi? Kau baru pulang?"
Jieun mengamati sang pemilik mobil yang rupanya adalah produser yang ditemuinya pagi tadi.
"Ah, Yoongi-ssi. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku. Tapi sepertinya aku harus menunggu hingga hujan sedikit reda".
Tanpa basa-basi, Yoongi pun membuka pintu mobil di bagian penumpang.
"Naiklah".
" N..ne ?"
"Aku akan mengantarmu kalau kau tidak keberatan. Hujan sepertinya masih akan lama redanya".
Meskipun sesaat ragu, Jieun pun akhirnya menerima tawaran Yoongi. Awalnya Jieun meminta Yoongi menurunkannya di depan kompleks perumahannya saja, tetapi Yoongu bersikeras ingin mengantarnya hingga di depan rumah. Pria itu bahkan memayungi Jieun memasuki halaman rumahnya yang cukup besar. Hari itu di rumah Jieun hanya Jieun, Jungkook, dan ara pelayan. Kedua orangtua Jungkook sendiri sedang mengadakan perjalanan bisnis di Jerman selama dua minggu.
Yoongi mengamati sekeliling rumah Jieun.
Ia melihat mobil Rolls Royce hitam dan beberapa mobil mewah lainnya terparkir di garasi rumahnya.
"Kenapa tak membawa mobil ke kantor?"
"Ahh... Itu bukan mobilku. Mobil itu milik suamiku" sahut Jieun.
"Kenapa suamimu tidak menjemputmu?" tanya Yoongi bingung. Ia telah menyadari Jieun telah menikah saat mereka bertemu tadi karena cincin pernikahan yang melingkar di jari manis wanita itu.
"Sebenarnya dia ingin menjemputku tadi. Tapi aku menolaknya".
"Tetap saja, sebagai suami seharusnya ia menjemputmu meskipun kau menolaknya. Apalagi di hari hujan seperti ini akan sangat sulit menunggu kendaraan umum" ujar Yoongi.
Jieun merasa sedikit tersentuh dengan perhatian yang diberikan Yoongi. Pria itu kemudian kembali menatapnya seraya tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Jangan lupa mengeringkan rambutmu segera" ujarnya seraya menepuk ringan puncak kepala Jieun.
"Ah.. N..ne . Kamsahamnida Yoongi-ssi" ujar Jieun dengan wajah tersipu. Ia menatap punggung Yoongi hingga pria itu menghilang di balik pintu pagar rumahnya
Jieun tidak sadar ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak tadi.
.
Jungkook menatap pemandangan di depan rumahnya itu dari beranda kamarnya. Entah mengapa ada perasaan tak suka saat seorang pria asing tersenyum kepada istrinya. Terlebih istrinya membalasnya dengan senyuman. Bahkan wajahnya turut tersipu. Ia pun segera masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan kesal.
Tak berselang lama, Jieun pun memasuki kamar mereka. Jungkook berdiri di tepi jendela dengan tangan bersilang di depan dadanya, menatap setiap pergerakan istrinya.
"Siapa pria tadi?"
Jieun menatap Jungkook bingung untuk sesaat. Namun kemudian mulai menyadari maksud pertanyaan suaminya.
"Ah, maksudmu yang mengantarku tadi? Dia Min Yoongi, produser di tempatku bekerja".
"Ohh.. Sepertinya kau cukup akrab dengannya".
"Tidak juga. Kami baru saja bertemu. Tadi dia berbaik hati memberiku tumpangan karena hujan. Itu saja" bantah Jieun.
"Tapi kelihatannya tidak sebatas itu".
Jieun mulai bingung dengan ucapan suaminya itu.
"Ada apa denganmu sebenarnya?"
"Lee Jieun, ingatlah kau sudah menikah. Ku harap kau tahu menempatkan dirimu.Tak pantas bila kau mendekati pria lain dengan statusmu itu" tegur Jungkook.
Jieun nampak kesal kini.
" Heol . Apa kau lupa? Bukankah kau sendiri yang berkata aku bebas menemui pria lain di luar sana? Lagipula pernikahan ini hanya sekedar perjanjian di antara kita. Setelah enam bulan, bukankah semuanya akan selesai?"
Jungkook mengeram kesal. Memang benar, ia sendiri yang mengatakan semua itu pada Jieun. Tapi mengapa hatinya merasa tak rela saat Jieun mengatakannya kembali?
Dengan amarah yang meliputinya, ia menarik tubuh Jieun dan melemparkannya ke atas kasur. Dikungkungnya tubuh mungil wanita itu. Tanpa berbicara sepatah kata pun, Jungkook melumat bibir Jieun dengan kasar. Jieun meronta, berusaha melepaskan dirinya. Namun, tenaga Jungkook jauh lebih kuat.
Jungkook semakin memperdalam ciumannya, memainkan lidahnya dengan leluasa. Jemarinya bermain di balik kemeja yang dikenakan Jieun sehingga membuat Jieun mulai melenguh merasakan sensasi aneh menjalari tubuhnya. Jungkook mulai membuka kancing kemeja Jieun, membuat kulit mulus di baliknya terekspos. Kemudian ia mulai melepaskan satu per satu kancing kemejanya sendiri.
Jungkook pun kini beralih menciumi leher Jieun, menuruni leher jenjang gadis itu hingga menuju ke payudara Jieun yang hanya tertutupi bra.
"Ngghhh... Jung...kookhhh.... H..hentikan".
Tak menggubris ucapan Jieun, jemari Jungkook bahkan dengan lincahnya membuka pengait bra Jieun, membebaskan kedua benda kenyal di baliknya. Jieun menatap mata Jungkook yang menggelap dan berkilat. Ini pertama kalinya ia melihat Jungkook seperti itu. Pria itu kini mulai memainkan lidahnya di nipple Jieun, sementara sebelah tangannya meremas payudara sebelahnya.
Lenguhan-lenguhan tertahan Jieun membuat Jungkook semakin gelap mata, entah berapa banyak kissmark yang ditinggalkannya di kulit mulus istrinya itu. Tubuh Jieun bergetar. Tangisnya mulai pecah.
"Hhh... Jungh..kookhh.. Hiksss.. Kumohon...hentikan...hiks...".
Mendengar isakan Jieun, Jungkook menghentikan aksinya. Ditatapnya wajah Jieun yang nampak ketakutan dengan air mata yang mulai menggenang di kedua matanya. Ia pun mulai menjauhkan dirinya dari tubuh Jieun.
Setelah Jungkook melepaskan kungkungannya, Jieun segera menutupi tubuhnya lalu mendaratkan satu tamparan di pipi Jungkook.
"Kau keterlaluan! Apa bedanya dirimu dengan rentenir mesum itu!!" seru Jieun penuh amarah. Dihapusnya air mata yang mulai mengalir di pipinya dengan kasar.
Jungkook tak bergeming. Bahkan setelah ditampar seperti itu, ia tak menunjukkan tanda pembelaan diri. Ia pun tak sedikitpun menatap Jieun.
" Mianhae "
Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Jungkook sebelum bangkit dan keluar meninggalkan Jieun sendiri. Malam itu, dan malam-malam setelahnya, Jungkook tak pernah tidur di kamarnya dan memilih tidur di kamar tamu. Ia juga mulai berangkat sendiri ke kantor, sementara sopirnya ia perintahkan untuk mengantar jemput Jieun.
Jieun berbaring menatap tempat kosong di sampingnya. Entah sejak kapan, ia telah terbiasa dengan keberadaan Jungkook di sisinya. Meskipun ia masih marah bila teringat perlakuan Jungkook terhadapnya beberapa hari lalu.
Sudah hampir seminggu ini pria itu selalu menghindarinya. Jungkook selalu berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut malam sehingga hampir mustahil bagi mereka untuk bertemu meskipun tinggal bersama. Jieun merasa sedikit kehilangan. Ia tak dapat membohongi dirinya. Ia merindukan Jungkook.
Apa mungkin Jieun telah mulai mencintai suaminya itu?
"Augh... Itu tak mungkin" gumam Jieun menyangkal pikirannya sendiri.
Sementara itu di sebuah bar, Jungkook nampak bersama seorang wanita. Ia adalah Kim Yerim, sahabatnya sejak kecil. Mereka sama-sama berkuliah di New York. Hanya saja saat Jungkook kembali ke Korea, Yerim masih tinggal di sana. Yerim sendiri tengah datang berlibur di Seoul.
"Kudengar kau telah menikah. Tega sekali tak mengundangku" ujar Yerim merajuk.
"Maaf, aku tak sempat menghubungimu. Lagipula pernikahan kami bukan seperti yang kau pikirkan" sahut Jungkook kemudian menyesap segelas cocktail di hadapannya.
"Aku tahu. Mengingat sifatmu, mustahil kau mau berkomitmen secepat itu dengan wanita yang baru kau kenal. Pasti kau punya alasan. Tapi aku penasaran, siapa wanita beruntung itu?" tanya Yerim penasaran.
"Kau tak mengenalnya"
Yerim tersenyum kecut mendengar jawaban Jungkook.
"Melihatmu seperti ini, kurasa kau sedang bertengkar dengannya"
Jungkook tak menjawab, ia hanya kembali meneguk cocktail -nya.
Yerim memajukan wajahnya mendekati Jungkook.
"Apa kau ingin kutemani malam ini?"
Melihat wajah Yerim berada sangat dekat dengannya, refleks Jungkook mendorong tubuh Yerim.
"Maaf. Aku harus ke toilet sebentar" ujarnya lalu bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Yerim sejenak.
Yerim menatap kesal kepergian Jungkook. Memang bagi Jungkook mereka hanya bersahabat. Tetapi baginya, Jungkook adalah pria yang disukainya diam-diam. Selama mereka di New York bahkan tak jarang mereka berciuman-sebagai sepasang sahabat. Terutama bila keduanya tengah dipengaruhi alkohol, dan itu bukanlah sesuatu yang dipermasalahkan Jungkook. Tetapi hari ini, pria itu menolaknya.
Yerim pun menyadari ponsel Jungkook yang tertinggal di meja bar. Ia meraihnya dan membuka kunci layarnya. Jungkook tak pernah merubah kode sandinya dan ia tahu itu. Ia membuka kotak pesan Jungkook, jemarinya sibuk menggeser ke bawah, ke pesan-pesan terdahulu. Matanya lalu menatap satu nama yang terlihat di sana. Jieunnie .
Yerim mengerutkan keningnya. Bagi sebagian orang, menulis nama seperti itu dalam daftar kontak mereka adalah hal yang wajar, tapi tidak bagi Jungkook. Yerim pun membuka daftar kontak Jungkook, untuk memastikan kebiasaan pria itu masih sama atau tidak. Setelah melihat daftar kontak itu, ia menyadari kebiasaan Jungkook tak pernah berubah.
Ahn Jaehyun, Mr.
0xxxxxxx
Appa
0xxxxxxxx
Cha Eunwoo, Mr.
0xxxxxxx
Damian Peter, Mr.
0xxxxxxx
Eomma
0xxxxx
|
|
Harabeoji
0xxxxx
Jieunnie
0xxxxx
Kim Taehyung, Mr.
0xxxx
Kim Yerim, Mrs.
0xxxxx
Hanya ada tiga nama dalam kontak itu yang penulisannya berbeda dari yang lain: appa, eomma, harabeoji dan Jieunnie . Bahkan namanya pun ditulis dengan formal, meskipun mereka telah berteman sejak kecil. Saat itu pula, Yerim menyadari kalau wanita yang bernama Jieun itu pastilah memiliki tempat spesial di hati Jungkook.
.
Jam telah menunjukkan pukul 00.15, dan Jungkook belum pulang juga. Setiap malam, secara tak sadar, ia selalu terjaga menunggu kepulangan Jungkook. Tak berselang lama, Jieun dapat mendengar bunyi mobil memasuki pekarangan rumahnya.
Jieun bangkit dari tempat tidurnya dan mencoba menengok dari balik jendela kamarnya. Ia melihat Jungkook keluar dari mobil yang Jieun yakini bukanlah mobil suaminya. Terlebih Jungkook turun dari bangku penumpang. Kemudian turunlah pengemudi mobil itu, gadis cantik berambut pirang sepinggang. Belum lagi pakaiannya, yang bagi Jieun terlalu terbuka.
Jieun mengamati keduanya nampak bercakap-cakap sesaat. Jungkook bahkan tersenyum pada wanita itu. Sebelum wanita itu kembali masuk ke mobilnya, ia sempat mendaratkan sebuah kecupan di pipi Jungkook.
Entah kenapa, melihat pemandangan itu, dada Jieun terasa sesak.
'Siapa wanita itu? Apa Jungkook selama ini pulang selarut ini karena bersama wanita itu?'
Sayup-sayup terdengar langkah kaki Jungkook dari koridor depan kamar mereka. Ia tahu tujuan Jungkook adalah kamar tamu yang berada di ujung koridor. Ia pun segera membuka pintu kamar.
Jungkook terkejut kala pintu kamar Jieun tiba-tiba terbuka.
"Eoh. Kau belum tidur?" tanya Jungkook datar.
Jieun tak menyahut. Ia menatap Jungkook penuh kekesalan.
"Ada apa?" tanya Jungkook yang mulai bingung melihat Jieun yang sepertinya tengah kesal padanya.
"Kau benar-benar pria egois" gerutu Jieun.
"Maksudmu?"
"Saat Yoongi mengantarku pulang malam itu, kau marah padaku hingga...hingga kau melecehkanku. Dan lihatlah sekarang... Kau pulang dengan seorang wanita, bahkan berciuman dengannya".
Kening Jungkook berkerut. 'Apa Jieun melihat Yerim mengantarku tadi? Tapi berciuman? Tidak. Aku tidak berciuman dengannya'
Jungkook menghela nafasnya panjang.
"Kau salah paham. Kami tidak berciuman. Dia hanya mencium pipiku".
"Hanya?! Bahkan aku yang HANYA diantar Yoongi kau anggap aku tidak tahu menempatkan diri! Heol ! Daebak !" seru Jieun tak terima.
"Jieun"
Jungkook berusaha menenangkan Jieun. Ia melirik sekitarnya, memastikan tak ada pelayan yang mendengar keributan mereka.
"Sebaiknya kita bicarakan ini di dalam" bujuk Jungkook seraya membimbing Jieun masuk ke kamarnya.
Jieun baru menyadari bau alkohol yang menyeruak dari tubuh Jungkook kala jarak mereka sedekat ini.
"Kau minum-minum dengan wanita itu?" selidik Jieun. Alisnya terangkat sebelah menatap Jungkook.
Jungkook nampak bingung untuk menjawab. Melihatnya, Jieun dapat memastikan sendiri jawaban pertanyaannya.
"Sepertinya kau telah melanggar banyak hal di perjanjian kita. Pertama kau menyentuhku tanpa persetujuan dariku, kemudian kau melarangku terlalu dekat dengan Yoongi, sementara kau sendiri minum-minum dengan wanita lain hingga larut malam, bahkan berciuman dengannya" ujar Jieun dingin.
"Jieun, sudah kukatakan, itu bukan berciuman" terang Jungkook.
Namun Jieun tak peduli.
"Kurasa sebaiknya kita mengakhiri semuanya. Aku tak bisa menunggu hingga enam bulan lagi. Lagipula kau sendiri yang telah melanggar perjanjian kita. Mengenai uangmu, aku akan berusaha untuk mengembalikannya padamu secepatnya".
Jungkook nampak sangat terkejut mendengar ucapan Jieun. Tidak. Ia tidak ingin berpisah dengan Jieun. Tidak setelah ia menyadari perasaannya pada wanita itu.
" Shirreo ".
" Mwo ?! Apa-apaan ka...."
Kelimat Jieun terputus kala Jungkook menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.
" Mianhae . Perlakuanku malam itu memang keterlaluan. Aku mengakuinya. Aku tidak akan bertemu Yerim lagi kalau kau tidak menyukainya. Tapi maaf, aku tak ingin melepaskanmu. Bahkan setelah enam bulan pun, kuharap kau masih berada di sisiku"
Jieun melonggarkan pelukan Jungkook dan memberanikan diri menatap Jungkook.
"Ma..maksudmu?"
Jungkook membelai rambut Jieun kemudian menyampirkan rambut-rambut Jieun ke belakang telinganya.
"Dengarkan aku baik-baik karena aku mungkin hanya akan mengatakannya sekali"
"Lee Jieun, saranghae ".
Jieun terdiam berusaha mencerna kalimat barusan.
"Karena itu, mari lupakan perjanjian itu, dan teruslah berada di sisiku" bujuk Jungkook kembali.
"Ka..kau tidak sedang bercanda bukan?" tanya Jieun tak percaya.
"Sejak kapan aku pernah bercanda?" tanya Jungkook balik. Kali ini ekspresinya lebih tenang dan lembut menatap Jieun.
Jieun tahu, Jungkook bukanlah pria yang suka bercanda. Ia selalu serius dalam segala hal. Bahkan terkadang terlalu serius. Karena itu, mau tak mau, Jieun mulai mempercayai perkataan Jungkook.
"Jieun, kau maukan hidup bersamaku hingga seterusnya?" tanya Jungkook penasaran, sebab sejak tadi Jieun sama sekali tidak menanggapi perkataannya.
Jieun terdiam sesaat, mencoba meyakinkan perasaannya sendiri. Setelah beberapa menit berpikir, ia pun menengadahkan kepalanya menatap Jungkook.
Sambil tersenyum, Jieun pun berkata,
"Baiklah. Aku mau".
.
.
.
.
.
#####