Beku
Romance
19 Jan 2026

Beku

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-20T002218.119.jfif

download - 2026-01-20T002218.119.jfif

19 Jan 2026, 17:22

download - 2026-01-20T002211.937.jfif

download - 2026-01-20T002211.937.jfif

19 Jan 2026, 17:22

Musim hujan selalu menjadi ujian tersendiri bagi Taufan. Meskipun hujan telah reda dari tadi pagi, hawa dingin masih melekat di udara, membuat Taufan mengeratkan jaket tebal yang dikenakannya saat udara dingin dari luar menyapa tubuhnya.

Ia duduk di bangkunya, merapatkan diri ke dinding kelas sembari memeluk tubuhnya sendiri. Hawa dingin terasa semakin menusuk, membuat hidung dan pipinya memerah. Taufan menggenggam jaket tebalnya erat, berusaha menahan dirinya sendiri agar tidak semakin gemetar.

Suara bising di sekitar tidak dipedulikan olehnya. Ia masih sibuk memejamkan mata dan mencoba menenangkan diri agar terbiasa dengan hawa dingin-meskipun ia yakin tidak akan berhasil tanpa penghangat tambahan. Saat tubuhnya terasa semakin gemetar kedinginan, tiba-tiba sebuah jaket tebal dengan aroma familiar tersampir di tubuhnya.

Taufan membuka mata, melihat Halilintar dan Gempa yang menatapnya khawatir. "Dingin banget? Mau pulang aja?" tanya Halilintar. Tubuhnya kini duduk di bangku kosong setelah memberikan jaket miliknya pada Taufan.

"Muka Kakak udah pucet banget sekarang. Nanti biar aku aja yang bikinin surat izin ke guru piket," ujar Gempa. Tangannya mengulurkan hand warmer pada Taufan, yang disambut dengan gerakan patah-patah oleh sang kakak.

Taufan mengucapkan terima kasih dengan suara gemetar pada kedua kembarannya, lalu menggenggam benda itu erat. Matanya terpejam lega saat merasakan kehangatan mulai menjalari kedua telapak tangannya, mengurangi sedikit hawa dingin yang dirasakannya sejak tadi.

Halilintar dan Gempa menatap Taufan yang masih meremat hand warmer di tangannya. Raut khawatir masih tercetak jelas di wajah keduanya. Meskipun kembar, mereka bertiga memiliki metabolisme tubuh yang cukup berbeda, dan Taufan adalah yang memiliki metabolisme paling rendah di antara mereka.

Tubuh Taufan juga lebih kecil dibandingkan kedua saudaranya. Kulitnya lebih sering terlihat putih pucat di saat kedua saudaranya memiliki skin tone yang sedikit lebih hangat-terlebih saat sedang kedinginan seperti sekarang.

"Pulang aja, sih, Fan. Kasihan gue liat lo gemeteran gitu. Mana muka lo kayak gradasi lagi, merah sama putih, udah mirip bendera Indo."

Suara Fang terdengar dari arah depan, membuat Taufan menoleh ke sumber suara. Ia ingin menjawab ucapan Fang, namun kehangatan dari hand warmer itu tidak cukup untuk menetralkan pita suaranya yang ikut kedinginan-gemetar.

"Iya, anjir. Macam es batu. Jangan mentang-mentang lo abangnya Ice, lo jadi ikut-ikutan jadi es batu."

"Logika lo gak nyambung, anjir."

Ah, sepertinya Taufan harus membatalkan rasa kesalnya pada Fang. Daripada merasa kesal, sepertinya lebih baik jika ia mengucapkan terima kasih pada pemuda berkacamata itu-yang kini sudah mulai berdebat dengan Gopal.

"Pulang aja ya, Kak?" suara Gempa kembali terdengar. Taufan mengalihkan atensinya, menatap manik emas sang adik yang menatapnya khawatir.

Ia terdiam, memikirkan haruskah ia menerima tawaran kedua kembarannya untuk pulang ke rumah, atau menetap di sekolah dengan tumpukan jaket dan beberapa gelas berisi teh hangat di atas meja.

Setelah cukup lama menimbang-nimbang tawaran keduanya, Taufan menganggukkan kepalanya pelan, menyetujui usulan kedua kembarannya.

"Aku akan pergi meminta izin dulu. Sebentar, ya, kak." ucap Gempa, kemudian berlalu keluar kelas, meninggalkan Taufan bersama Halilintar, yang kini menggenggam sebelah tangannya-berusaha membantu sang adik menghangatkan tubuhnya.

▵▾▵▾▵▾▵

Dan di sinilah mereka, duduk berdempetan di dalam mobil yang dikendarai oleh sopir yang menjemput mereka. Tepat setelah Gempa kembali ke kelas Taufan sehabis meminta izin, Halilintar langsung menelpon sopir yang memang ditugaskan untuk menjemput mereka di sekolah-biasanya hanya bertugas menjemput ke empat adik mereka.

Ah, ya. Mereka: Halilintar, Taufan, dan Gempa. Mereka berakhir meminta izin untuk pulang lebih awal dengan alasan ingin menemani Taufan di rumah karena kedua orang tua mereka sedang tidak ada di rumah. Guru pun langsung mengizinkan tanpa meminta penjelasan lebih jauh-terlampau hafal dengan kondisi Taufan yang memang paling mudah terdampak efek dari suhu dingin.

Taufan sendiri kini telah memejamkan matanya sambil menyenderkan kepalanya pada bahu Hali. Tubuhnya sudah terbalut selimut yang memang tersedia di jok belakang mobil. Di samping kanannya, terdapat Gempa yang memeluk erat lengannya.

Suasana hening menemani perjalanan mereka. Tidak ada satu pun yang berniat membuka suara. Halilintar menatap datar jalanan yang mereka lalui dalam diam, sementara sebelah tangannya menggenggam tangan Taufan dengan lembut.

Taufan menghela napas pelan, merasakan sedikit kehangatan mulai menjalari tubuhnya. Ia tidak benar-benar tertidur, hanya memejamkan mata untuk menikmati kehangatan yang diberikan kedua kembarannya.

Perlahan, ia membuka matanya dan menatap jendela yang kembali menampilkan rintik-rintik hujan. Hujan turun lagi seperti tadi pagi, membuat suhu yang memang sudah dingin terasa semakin membekukan. Namun, sekarang, Taufan tidak lagi takut akan suhu dingin. Karena kedua saudaranya ada di sisinya, dan akan selalu bersedia membagi kehangatan pada tubuhnya yang kedinginan.

Kembali ke Beranda