Simpanan CEO
Romance
12 Jan 2026

Simpanan CEO

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (45).jfif

download (45).jfif

12 Jan 2026, 16:05

download (44).jfif

download (44).jfif

12 Jan 2026, 16:05

Lany Maulia. Seorang wanita muda yang masih berusia 22 tahun. Tinggal sendirian, dan tak memiliki orang tua. Sebenarnya, dia masih memiliki seorang ibu tiri. Hanya saja, dia tak tahu di mana keberadaan ibu tirinya.

Lany bekerja sebagai wanita malam atau biasa di sebut juga sebagai wanita panggilan. Hampir setiap malam dia mendapatkan klien yang meminta untuk di temani. Tentu saja Lany menerima, karena itu memang pekerjaannya.

Sebenarnya, Lany bukan sengaja mau menjadi seorang wanita panggilan. Namun kondisi terdesak memaksanya mau mengambil pekerjaan ini. Dan pada akhirnya, menjadi pekerjaan tetap baginya.

Semuanya berawal dari satu tahun yang lalu, saat Lany kehilangan pekerjaan dan tak punya uang banyak. Ibu tirinya yang kabur entah kemana meninggalkan hutang sampai berpuluh juta yang akhirnya imbasnya dirasakan oleh Lany.

Atas saran dari teman, akhirnya Lany berani menjual keperawanannya pada seorang pria kaya yang mau membayarnya mahal. Tentu itu bukan kenangan yang indah. Lany bahkan sempat mengutuk dirinya yang kotor.

Dan sekarang, menemani pria-pria berdompet tebal menjadi pekerjaan tetap Lany. Dia bekerja secara individu, tanpa memiliki bos. Dia hanya sering saling kontak dengan teman-temannya yang sesama wanita panggilan. Hingga akhirnya, Lany tetap mendapatkan seorang klien.

Seperti malam ini, Lany mendapatkan telepon dari salah satu temannya. Katanya, ada seseorang yang ingin di temani. Pria itu sudah menunggu di kamar hotel, dan Lany di beritahu alamat beserta nomor kamarnya.

Lany belum tahu siapa pria yang akan dia temani malam ini. Apakah dia seorang pria muda atau sudah lanjut usia. Apakah dia seorang pria single atau sudah memiliki pasangan. Lagi pula, itu bukan hal yang harus Lany pikirkan. Yang penting, dia mendapatkan uang untuk kebutuhan hidupnya.

Lany berdiri di depan sebuah pintu hotel dengan tulisan angka 353. Dia mengetuk pintu itu beberapa kali, hingga seseorang membukanya dari dalam. Lany mendongak, menatap seorang pria dengan mata yang sayu. Lany langsung bernafas lega dan tersenyum saat tahu kalau kliennya malam ini bukan seorang kakek-kakek.

"Kamu temannya si Clarissa itu?" Pria itu bertanya dengan suara parau.

"Iya, Tuan. Saya temannya." Lany menjawab dengan ramah. Pria itu mengangguk lalu menyuruh Lany untuk masuk. Lany tak merasa gugup, karena ini sudah menjadi pekerjaannya sejak setahun yang lalu. Lany bahkan sudah mempelajari banyak hal agar kliennya puas. Karena banyak dari mereka yang selalu memberikan bonus jika Lany bisa memuaskan mereka.

Lany berjalan mendekati laci di samping tempat tidur dan menyimpan tasnya di sana. Dia lalu melepaskan cardigan panjang yang dia pakai, memperlihatkan dirinya yang hanya memakai sebuah gaun pendek.

Pria yang belum Lany ketahui namanya itu berjalan pelan mendekati ranjang. Dia tak menyentuh Lany, hanya duduk dengan mata kosong terarah pada dinding di depan. Lany jadi terheran-heran melihatnya. Selama ini, Lany seringnya mendapatkan klien yang agresif dan selalu terburu-buru.

"Siapa namamu?" Pria itu bertanya tanpa menatap Lany.

"Lany, Tuan." Lany menjawab lalu memberanikan diri duduk di samping pria itu.

"Sudah berapa lama kamu kerja begini?" Pria itu kembali bertanya. Lany menatapnya cukup lama, entah kenapa dia merasa tersinggung.

"Satu tahun, Tuan."

Pria itu terdiam mendengar jawaban Lany, seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Satu tahun ya. Kenapa dia gak jadi wanita panggilan juga? Lumayan kalau di bayar."

Lany menatap pria itu dengan bingung. Siapa yang pria itu maksud? Tapi sepertinya, memang bukan dia.

Cukup lama mereka sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Lany pun tak tahu harus apa, karena pria di sampingnya tak memperlihatkan keinginan untuk segera melakukan seks. Jadi, mungkin Lany akan menemani pria itu mengobrol saja. Sampai pria itu sendiri yang meminta lebih dulu.

***

Lany memang bekerja sebagai wanita panggilan. Hingga tak aneh, kalau yang harus dia lakukan adalah melayani kebutuhan biologis para pria yang membayarnya.

Namun selama setahun bekerja, baru kali ini Lany mendapatkan klien yang berbeda. Pria itu, tak melakukan apa-apa padanya. Dia hanya bercerita pada Lany, menceritakan kisah hidupnya. Walau Lany tak terlalu paham, dia mendengarkan dengan seksama.

Mereka tak melakukan hubungan badan, dan pria itu hanya memeluk Lany, berkata kalau dia hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya. Lany tentu senang, karena dia tak perlu lelah dan berkeringat untuk mendapatkan uang.

Pagi hari saat bangun, Lany mendapatkan dirinya masih berada dalam pelukan pria itu. Pria bernama Sebastian, yang Lany terka memiliki banyak beban hidup. Apakah beban hidup pria itu terlalu berat hingga dia tak bergairah? Menjadi sebuah tanda tanya bagi Lany.

"Tuan, ini sudah pagi. Saya harus segera pulang." Lany berbicara kala dia sulit melepaskan lengan kekar pria itu dari pinggangnya.

"Aku akan bayar lebih." Pria itu bergumam, menandakan kalau Lany harus tinggal lebih lama. Lany pun tak menolak, dan kembali diam. Lumayan dong. Dia bisa mendapatkan uang tanpa harus melakukan apa-apa. Cukup diam dan mendengarkan cerita pria bernama Sebastian tersebut.

"Kamu punya orang tua?" Tiba-tiba Sebastian bertanya, membuat Lany cukup terkejut dengan pertanyaannya.

"Ayah dan ibu saya sudah meninggal dunia. Ibu tiri saya entah berada di mana." Lany menjawab secara jujur, sesuai kenyataan. Tak ada kesedihan dalam sorot matanya, karena dia sudah tegar menerima nasib hidupnya.

"Kamu tak punya keluarga lain?"

"Ada. Tapi mereka yang tak mau mengakui sebagai keluarga. Saya tak bisa memaksa masuk ke dalam keluarga mereka."

"Hm. Kenapa kamu kerja seperti ini?" Lany terdiam mendengar pertanyaan itu. Memang tak sedikit yang menanyakan hal sama padanya.

"Uang. Itu yang saya butuhkan untuk kebutuhan hidup." Lany menjawab dengan lugas. Sebastian bergumam tak jelas saat mendengar itu. Posisi tangannya masih memeluk pinggang Lany, dengan wajah berada di dada wanita tersebut. Mata terpejam, merasakan kenyamanan yang timbul, tanpa berniat melakukan hal lebih.

"Ah, kau benar. Hidup di kota ini tidak mudah," gumam Sebastian lebih jelas. Lany terdiam lagi, merasa sebal juga. Sudah tahu, kenapa masih bertanya?

"Apa kamu selalu menikmati sentuhan semua laki-laki yang tidur denganmu?" Sebastian bertanya lagi. Lany cukup terkejut mendengar pertanyaan Sebastian barusan.

"Tidak. Saya melakukannya demi uang." Lany menjawab dengan pelan. Memang, kadang Lany menikmati permainan yang dia lakukan dengan para kliennya. Tapi tak sedikit yang membuat Lany merasa tak nyaman. Intinya, dia tak bisa menikmati semua sentuhan pria yang membayarnya. Lany bisa ikut menikmati, tergantung bagaimana sentuhan yang dia dapatkan.

Sebastian terdiam cukup lama mendengar itu. Dia tak bicara lagi, dan tetap sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga akhirnya dia bersuara kembali, dan berhasil membuat Lany merasa sangat kaget.

"Aku akan menjamin kehidupanmu asal kamu hanya melayaniku saja. Kamu sanggup?"

Lany duduk berhadapan dengan Sebastian di sebuah restoran mewah bintang lima. Tentu itu bukan tempat aneh bagi Lany, karena dia juga pernah ke sana beberapa kali dengan kliennya. Well , bisa dibilang Lany cukup beruntung sebagai seorang wanita panggilan. Karena selama ini, kebanyakan pria yang dia temani bukanlah sembarang pria. Maksudnya, pria-pria itu memiliki status sosial yang tinggi. Bahkan, Lany juga pernah mendapatkan klien seorang pejabat negara.

Namanya -sensor-.

"Aku mau nasi goreng seafood dan lemon tea saja." Lany menutup buku menu seraya menyebutkan makanan yang akan dia pesan. Pelayan yang berdiri di dekat meja langsung mencatat pesanan Lany.

"Samakan saja." Sebastian menimpali dengan singkat. Pelayan itu mengangguk, lalu pamit undur diri.

Lany melipat tangannya di atas meja, lalu menatap Sebastian. Dia tak pernah gugup melakukan ini, karena dia selalu bisa profesional. Ini semua demi uang, bukan cinta. Jadi, tak perlu memakai perasaan.

"Jadi Tuan, bagaimana surat perjanjian yang aku minta?" Lany bertanya disertai senyuman yang manis. Sebastian menatapnya dengan datar, tak merasa tertarik. Oke, bisa dibilang dia menjadikan Lany sebagai simpanan hanya untuk ajang balas dendam dan pembuktian saja. Membuktikan kalau dia juga bisa mengikat wanita manapun yang dia inginkan. Membuktikannya pada sang tunangan, Rhita.

"Perjanjian seperti apa yang kamu mau?" Sebastian bertanya. Lany diam sesaat, dan berpikir.

"Mudah saja. Tuan sebagai pihak pertama berhak mendapatkan pelayanan yang sangat baik dariku. Dan aku sebagai pihak kedua, berhak mendapatkan jaminan hidup yang cukup." Lany menjawab dengan simple. Masa bodoh Sebastian mencapnya sebagai wanita matre, karena nyatanya uang adalah segalanya bagi Lany.

"Uang kan yang kamu butuhkan?" tanya Sebastian. Lany hanya menjawab dengan senyuman saja.

"Kartu kredit yang aku berikan itu sebagai jaminan yang tagihannya akan langsung masuk ke rekeningku. Jadi, kamu bebas membeli apapun dengan kartu itu," ucap Sebastian. Lany mengangguk pelan mendengar itu. Ah, dia sempat lupa kalau Sebastian sudah memberinya sebuah kartu kredit unlimited .

"Apa lagi yang kamu butuhkan? Apartemen? Rumah? Kendaraan? Katakan saja agar aku membelinya untukmu," ujar Sebastian. Mata Lany membulat sempurna mendengar itu.

"Apa saja terserah Tuan. Aku akan menerima semua pemberian Tuan," jawab Lany. Sebastian mengangguk kecil mendengar itu. Sungguh, acara makan siang ini membuatnya bosan sebenarnya. Tapi, rasanya setiap hari bahkan setiap jam dia merasakan hal yang sama. Tak ada perasaan menggebu-gebu saat bersama Lany. Yang membuktikan kalau kehadiran wanita itu tidaklah begitu penting.

Simpanan. Ya, statusnya pun hanya sebagai simpanan saja. Tak ada yang istimewa.

Sebastian mengambil ponselnya, dan mulai sibuk dengan urusan sendiri. Sementara Lany, sedang menikmati suasana. Menatap sekeliling, tak pernah bosan mengagumi interior restoran yang mewah. Norak? Bisa saja. Tapi, Lany memang kagum dengan tempat makan yang megah tersebut.

Lany tak protes, tak mempermasalahkan Sebastian yang sibuk dengan ponsel. Tujuannya hanya menemani pria itu saja. Pria itu mau melakukan apapun, bukan urusan Lany. Sekali lagi Lany tegaskan, ini semua demi uang. For the sake of money.

Setelah lama menunggu, akhirnya pelayan datang membawakan pesanan Lany dan Sebastian. Berbeda dengan Sebastian yang memasang wajah bosan, Lany malah terlihat riang. Tentu saja dia sedang berbahagia. Alasannya memang karena Sebastian. Lebih spesifik, Lany bahagia karena Sebastian akan menjadi sumber uang tetap baginya.

Itu berarti, mulai sekarang Lany hanya perlu melayani Sebastian. Dia hanya perlu memuaskan pria itu. Tak perlu lagi berkencan dengan pria yang berbeda setiap malam. Ditambah lagi, Sebastian akan memberikan tempat tinggal untuknya. Siapa juga yang mau menolak?

Ditambah, Sebastian tak begitu buruk dalam segi fisik. Dia tampan. Tubuhnya cukup atletis, dengan dada bidang dan perut kotak-kotak. Lalu bahu lebar, dan paha yang berotot. Satu lagi, that's dick . Lany sungguh menyukainya, karena dia pun ikut terpuaskan.

Lany jadi teringat seks panasnya dengan Sebastian tadi. Sebastian juga hebat dalam urusan ranjang, dan mampu membangkitkan gairah Lany. Itu berarti, Lany mendapatkan banyak keuntungan. Tak ada kerugian apapun.

***

Selesai makan siang, Sebastian mengajak Lany ke mall. Tujuannya adalah menemani Lany berbelanja segala macam barang yang dibutuhkan dan diinginkan. Sebastian meminta Lany untuk langsung tinggal di apartemennya. Karena itu, Lany harus belanja segala kebutuhan pribadinya. Karena Sebastian juga melarang Lany untuk membawa barang-barang dari apartemen lamanya. Untuk apa mengangkut barang jika membelinya juga bisa?

Lany berjalan mendekati deretan dress yang memiliki potongan pendek, dan memperlihatkan kesan seksi. Dia memilih beberapa yang cocok dan dia sukai. Sebastian sendiri yang menawarkan, jadi untuk apa dia malu-malu?

"Buat apa semua baju itu?" Sebastian bertanya dengan sebelah alis terangkat. Lany menoleh, dan tersenyum miring.

"Untukmu, Tuan." Lany menjawab dengan singkat disertai senyuman penuh misteri. Sebastian tertawa remeh setelah mendengar itu. Berani juga ternyata.

"Seberani apa dirimu? Aku jadi penasaran." Sebastian menantang. Lany menaruh semua dress itu di raknya semula lalu mendekati Sebastian. Lany memasang ekspresi nakal, dengan tangannya yang berani menyentuh alat kelamin Sebastian.

Tangan Lany bergerak naik turun, mengusapnya. Hingga Lany bisa merasakan benda itu mengeras dengan sempurna.

"Mari, Tuan. Ada butuh servis sekarang," ucap Lany dengan kedipan nakal. Dia meraih tangan Sebastian dan mengajak pria itu masuk ke dalam ruang ganti. Tanpa basa-basi, Lany langsung berlutut di hadapan Sebastian dan melepaskan ikat pinggang pria itu.

Wajah Sebastian memerah, karena gairah yang sudah menguasai. Dia mendesis nikmat saat lidah Lany menjilat ujung kelaminnya. Lany tertawa puas, melihat ekspresi penuh kenikmatan dari Sebastian. Memang ini yang harus dia lakukan, agar Sebastian merasa puas dan tetap mempertahankannya.

Tanpa aba-aba, Lany langsung melahap kejantanan Sebastian. Menghisapnya, dan mengocoknya secara bersamaan. Kepalanya bergerak cepat maju mundur, memberikan servis terbaik yang dia bisa lakukan. Tatapannya terlihat puas, kala melihat Sebastian mati-matian menahan desahan dengan mata tertutup.

Gerakan kepala Lany semakin cepat, dibantu oleh tangan kanannya. Setelah beberapa saat, Sebastian menggeram dan menekan kepala Lany dengan kuat. Tubuhnya bergetar, menyemburkan cairan kepuasannya ke dalam mulut Lany. Dan tanpa rasa jijik, Lany menelannya.

Lany membereskan celana Sebastian, memastikan penampilan pria itu agar tetap rapih. Kemudian, dengan sengaja dia menjilat bibirnya sendiri, menggoda sang tuan yang berdiri di hadapannya.

"Katakan saja apa yang Tuan inginkan, maka aku akan melakukannya sebaik mungkin. Tuan tak akan kecewa." Lany berucap dengan percaya diri. Setelah itu dia keluar dari ruang ganti, meninggalkan Sebastian yang sedang memulihkan tenaga.Lany memandangi wajah Sebastian dengan lekat. Sesekali jemari lentiknya menyentuh pipi Sebastian dan mengelusnya dengan lembut. Pria itu sedang tidur siang, dengan posisi memeluk Lany. Mereka tidur di kamar utama. Hanya tidur, tidak melakukan apapun. Lany juga sempat tidur, namun dia lebih dulu bangun.

Sebelum terlelap tadi, Sebastian dengan sengaja bercerita dan mengeluh padanya. Mengeluh akan hidupnya yang terus dikekang oleh sang ayah. Juga menceritakan siapa Rhita.

Lany tentu penasaran, dan dia merasa puas karena mendapatkan jawaban. Tapi sungguh, jawaban dari Sebastian membuat Lany sangat terkejut.

Jika dibandingkan, mungkin dia dengan Rhita itu memiliki kesamaan. Yaitu, sering tidur dengan banyak pria. Namun, alasan yang mereka miliki berbeda. Saat Lany melakukan semua itu demi uang, agar kehidupannya terjamin, Rhita melakukan itu memang hanya demi nafsu semata.

Dari Sebastian, Lany tahu kalau Rhita katanya mengidap hypersex . Salah satu kelainan seks, di mana penderitanya selalu merasa kurang puas. Dan ternyata, Rhita sering melakukan hubungan seks dengan pria lain di belakang Sebastian, dengan alasan kalau Sebastian tak bisa memuaskannya.

Perkataan Rhita itu terasa sebagai hinaan bagi Sebastian, hingga egonya sebagai lelaki terluka. Sebastian sempat ingin memaafkan, dan menyarankan Rhita untuk melakukan pengobatan. Namun nyatanya, tak ada hasil. Rhita malah bermain serong dengan psikiaternya sendiri.

Karena hal itu, Sebastian membenci Rhita. Saat hati dan tubuhnya setia hanya untuk Rhita, tapi wanita itu tidak. Sampai sekarang Sebastian enggan lagi berhubungan badan dengan Rhita. Hinaan Rhita yang merendahkannya masih terngiang-ngiang, membuat Sebastian selalu diliputi amarah.

Lany sempat kebingungan setelah mendengar cerita Sebastian tentang Rhita. Jika misalnya Sebastian merasa jijik karena Rhita sudah sering melakukan seks dengan laki-laki lain, lalu kenapa memilihnya menjadi seorang simpanan? Padahal sudah jelas kalau Lany bekerja sebagai wanita panggilan, yang berarti dia pun sudah sering melakukan seks dengan laki-laki lain.

Namun alasan Sebastian membuat Lany sedikit terenyuh.

"Kamu berbeda dengannya. Kamu sanggup meninggalkan pekerjaanmu hanya untuk melayaniku seorang."

Itulah alasan kenapa Sebastian mau menjadikan Lany sebagai simpanan. Simplenya, Sebastian hanya tak suka berbagi. Jika terjalin sebuah hubungan, maka Sebastian ingin mereka saling memiliki, tanpa berhubungan dengan orang lain. Entah itu dirinya, atau pasangannya.

Mendengar itu, Lany merasa lega. Sekaligus merasa heran pada Rhita yang menyia-nyiakan pria seperti Sebastian. Padahal, jika bukan terdesak oleh keadaan, Lany pun enggan melakukan pekerjaan itu, bergonta-ganti pria. Namun apa daya, keadaan yang menjepit membuatnya terpaksa mau menjajakan tubuh demi uang. Karena hanya pekerjaan itu saja yang memudahkan Lany mendapatkan uang.

Lany menarik kepala Sebastian, dan memeluknya. Pria itu tertekan oleh banyak hal, dan hanya menginginkan sesuatu yang sederhana. Yaitu seseorang yang mau mendengarkan semua keluh kesahnya, dan setia padanya seorang.

Dan dalam hati, Lany berjanji akan melakukan itu. Selama Sebastian menjadikannya seorang simpanan, dia akan setia pada pria itu. Dia tak akan berhubungan dengan pria mana pun lagi, walau itu kliennya. Dan Lany akan berusaha menjadi tempat curhat Sebastian. Lany rasa, itu semua setimpal.

Dia bisa menjadi pendamping Sebastian, sesuai keinginan pria itu. Dan Sebastian bisa menjamin kehidupannya agar tetap baik.

Lupakan soal pelayanan Lany terhadap Sebastian perihal seks. Karena dia bukan hanya sekedar melayani. Tapi, dia ikut menikmati. Suka sama suka, tak ada yang terpaksa.

***

Malam ini, Lany dan Sebastian memustukan untuk tetap di apartemen. Lany memesan makanan via online untuk makan malamnya dengan Sebastian. Tentu saja Sebastian yang membayar. Hehe.

Malam ini, sengaja Lany berdandan agar terlihat lebih cantik dan segar. Dia mandi, tak lupa keramas juga. Lany sengaja memakai sebuah dress tidur yang cukup seksi. Dengan tujuan memanjakan mata Sebastian.

Selain itu, Lany juga memoles wajahnya dengan make up tipis. Tak lupa sebuah lipstik dengan warna natural agar tidak terlihat pucat.

Sebastian menatap Lany penuh dengan rasa tertarik. Well , wanita muda itu cukup pintar untuk bisa memuaskan pandangannya. Dan tentu, bukan hanya itu saja.

"Bagaimana? Apa aku cocok memakai ini?" Lany bertanya seraya berdiri di depan Sebastian. Sebastian tersenyum tipis dan mengangguk. Lany ikut tersenyum melihat reaksi Sebastian yang tak mengecewakan.

Tanpa rasa malu dan gugup, Lany melangkah mendekati Sebastian. Dia langsung duduk di atas pangkuan pria tersebut, yang disambut rangkulan mesra oleh Sebastian.

"Filmnya seru?" tanya Lany seraya melihat sekilas pada televisi. Sebastian hanya mengangguk, dan kembali fokus pada film yang sedang di putar. Sementara Lany, sibuk memandangi wajah tampan Sebastian dari samping.

Mimpi apa dia hingga bisa bersama dengan pria tampan dan kaya raya seperti Sebastian? Ini seperti sebuah keberuntungan. Selain kemewahan yang diberikan, Sebastian juga memberikan pengertian pada Lany kalau tak setiap pria itu suka bermain dengan banyak wanita.

Ah, sudahlah. Rumit memang menjelaskan tentang Sebastian dengan segala hal yang ada dalam dirinya, yang berbeda dari pria lain. Yang jelas, Lany beruntung.

Lany memeluk leher Sebastian, lalu mengecup singkat pipi pria itu. Sebastian tak bereaksi apa-apa, membiarkan Lany melakukan apa yang diinginkan. Dan Lany pun semakin menjadi-jadi.

"Mas Tian, apakah film itu lebih menarik dari pada aku?" Lany bertanya dengan nada merajuk. Dia memaksa Sebastian untuk menghadap ke arahnya, dan matanya memicing tajam melihat ekspresi Sebastian yang terlalu biasa.

"Mau apa hm?" Sebastian bertanya dengan lembut. Dia meraih remote tv dan mematikannya. Kini fokusnya hanya pada wanita yang duduk di atas pangkuannya.

Lany tak menjawab, hanya memberikan senyuman nakal. Dengan berani Lany menggoda Sebastian. Menyentuh dada pria itu, dan mengusapnya. Lalu menjilat telinga Sebastian, yang berhasil membuat Sebastian menggeram. Lany sudah tahu kalau telinga adalah salah satu titik sensitif para pria. Dia sudah belajar banyak hal.

"Kamu pintar menggoda juga rupanya," desis Sebastian. Tanpa aba-aba, Sebastian langsung membaringkan tubuh Lany di atas sofa. Lany tertawa genit, menarik kepala Sebastian agar semakin dekat dengannya.

"Ini memang tugasku," balas Lany. Dengan berani dia mencium bibir Sebastian. Tentu saja Sebastian tak menolak, dan membalas ciuman Lany tak kalah panas.

Setelah beberapa saat, bibir mereka terlepas. Gairah mulai menguasai Sebastian, terlihat dari sorot matanya. Dan Lany bersorak riang karena berhasil membangunkan 'sesuatu'.

"Kamu lebih suka lidah atau jari?" Sebastian bertanya dengan suara berat dan serak. Mata Lany melebar tak percaya, namun berakhir terkikik geli.

"Kalau bisa dua-duanya, kenapa harus memilih salah satu?" Lany bertanya dengan pose menantang. Sebastian menyeringai mendengar jawaban berani dari wanita itu. Tanpa bicara lagi, Sebastian kembali mencium Lany dengan kasar. Tangan kekarnya bergerak berusaha menelanjangi wanita di bawahnya tersebut. Untuk saat ini, Sebastian ingin sekali mendengar Lany mendesahkan namanya. Itu pasti akan terdengar sangat menyenangkan.Lany keasyikan mengobrol dengan dua teman dekatnya sampai-sampai mereka bertiga lupa waktu. Setelah menghabiskan kurang lebih tiga jam di cafe, mereka memutuskan untuk belanja bersama ke mall sekalian jalan-jalan. Posisi Lany yang sudah berbeda membuatnya akan sedikit sulit untuk berkumpul dengan dua temannya tersebut. Karena jika mau, dia harus mendapatkan izin dulu dari Sebastian.

Lany, Gesya, dan Clarissa asyik memilih baju dan sepatu. Tentu mereka memilih yang bagus dan berkualitas. Utamanya, yang bisa memperlihatkan sisi sensual mereka. Karena mereka membeli baju-baju itu untuk pekerjaan mereka.

Lany ikut memilih dan hanya mengambil satu. Baru kemarin dia belanja dengan Sebastian, jadi dia masih memilih beberapa baju baru yang bahkan belum dia coba. Jadi, untuk sekarang Lany tak terlalu membutuhkannya.

"Lan, selain dibayarin belanja, kamu udah di beri apa saja?" Gesya bertanya seraya memilih sepasang sepatu hak yang cocok di kakinya.

"Ehm, sampai sekarang aku sudah di beri kartu kredit unlimited ." Lany menjawab dengan ekspresi polos seperti anak kecil.

"Ck, beruntung sekali kamu, Lan. Btw , kamu punya rencana gak?" Kini Clarissa yang bertanya.

"Rencana apa?" tanya Lany tak paham. Gesya dan Clarissa saling tatap. Gemas dengan Lany yang memang susah untuk diajak berpikir panjang ke depan.

"Saran dariku nih ya. Kamu gunakan pemberian dari Sebastian dengan sebaik mungkin. Ya, kamu bisa buat usaha offline atau online . Atau melakukan investasi. Jadi, saat Sebastian memutuskan hubungan denganmu, kamu gak perlu kerja malam lagi," ujar Gesya. Dalam matanya, terlihat keseriusan. Dia dan Clarissa memang lebih dulu terjun kerja sebagai wanita panggilan. Mereka memang sudah memiliki tabungan, tapi tak seberapa. Karena sebagian hasil kerja mereka juga dipakai untuk biaya hidup keluarga. Beda dengan Lany yang memang untuk dirinya saja.

"Gesya benar, Lan. Kamu berhak menjalani hidup normal. Apalagi kamu memiliki peluang besar bisa keluar dari pekerjaan malam ini," lanjut Clarissa. Lany terdiam, seraya memperhatikan sepatu hak berwarna hitam di depannya. Jujur saja, dia tak pernah kepikiran sampai ke sana.

"Kamu gak ada tanggungan, Lan. Beda dengan kita yang memang dituntut untuk selalu mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat," sambung Gesya. Lany tetap diam, namun mulai memikirkan perkataan dua temannya tersebut. Tak salah juga sebenarnya.

"Aku pikir-pikir dulu," jawab Lany pada akhirnya. Gesya dan Clarissa tersenyum mendengar itu.

Selesai memilih baju dan sepatu, mereka pun melangkah menuju kasir untuk membayar belanjaan. Tak ada yang aneh, dan semuanya berjalan dengan lancar tanpa masalah. Selesai belanja di mall, mereka berniat mencari tempat yang nyaman untuk kembali ngobrol dan berbincang-bincang. Tapi ternyata, Lany mendapatkan telepon dari Sebastian.

"Halo, Mas Tian. Ada apa?" Lany bertanya dengan ramah. Gesya dan Clarissa yang mendengar itu terkikik geli.

"Kantormu, Mas? Boleh saja. Tapi, aku gak tahu di mana tempatnya."

"..."

"Oh, oke. Aku akan segera meluncur ke sana," ujar Lany riang. Setelah sambungan telepon di putus, Lany berbalik menghadap dua temannya.

"Mas Tian memintaku datang ke kantor tempatnya bekerja," ujar Lany dengan senyuman. Gesya dan Clarissa saling tatap cukup lama mendengar itu.

"Kamu yakin? Maksudku, apa itu bukan tindakan berbahaya?" tanya Clarissa hati-hati. Lany mengangkat kedua bahunya.

"Aku tak tahu. Tapi Mas Tian sendiri yang minta," jawab Lany jujur.

"Pergi saja, Lan. Tapi tetap hati-hati saja," ucap Gesya. Lany tersenyum dan mengangguk. Dia pun pergi meninggalkan kedua temannya untuk segera menemui Sebastian.

***

Lany tak mengkhawatirkan apa-apa, saat Sebastian menghubunginya dan memintanya datang ke kantor. Sebastian bahkan mengirimkan alamat kantornya lewat ponsel. Dan dengan mudah Lany menurut.

Lany baru sadar, kala dia berhadapan dengan resepsionis untuk menanyakan di mana ruangan Sebastian. Tatapan bingung dan curiga dari resepsionis membuatnya sadar akan kenyataan.

Dia ini hanya seorang simpanan. Bagaimana kalau nanti orang-orang curiga?

Walau rasa khawatir mulai menyergap dalam hati, Lany tetap berusaha bersikap tenang. Dan akhirnya, dia bisa segera menemui Sebastian setelah tahu di mana ruangan kerja pria itu.

Lany kagum, karena ternyata Sebastian merupakan pemimpin dari perusahaan besar. Itu berarti, Sebastian memang kaya raya. Pantas saja Sebastian dengan mudah memberinya sebuah kartu kredit unlimited .

Saat pintu lift terbuka, Lany pun melangkah keluar dan mendekati ruangan Sebastian. Rasa khawatir kembali menyergap, kala sadar dia harus berhadapan dulu dengan sekretaris Sebastian. Dan beruntungnya, sekretaris Sebastian tak menanyakan apapun. Malah langsung menyuruh Lany untuk masuk.

"Kamu tersesat?" Sebastian melontarkan pertanyaan saat tahu kalau Lany sudah berada di ruangannya.

"Tidak. Hanya sedikit khawatir saja," jawab Lany jujur. Dia menyimpan tas belanjaan dan tas pribadinya di atas sofa secara asal. Kemudian menghampiri Sebastian yang masih duduk di kursi kerjanya.

"Khawatir apa?" Sebastian bertanya lagi. Tangannya direntangkan, menerima Lany yang langsung duduk di atas pangkuannya.

"Resepsionis dibawah sepertinya mencurigaiku," jawab Lany dengan suara pelan. Sebastian tak bereaksi lebih, membuat Lany keheranan.

"Mas, bagaimana kalau nanti tunangan Mas tahu tentang hubungan kita?" tanya Lany. Ada kekhawatiran dalam sorot matanya.

"Dia memang sudah tahu." Sebastian menjawab dengan mudah. Mata Lany melebar kaget mendengar itu.

"Dia tahu kalau aku memiliki wanita lain. Dan aku memiliki banyak alasan untuk memberikan pengertian padanya kalau dia tak berhak melarang." Sebastian menjelaskan. Lany paham apa yang dimaksud oleh Sebastian. Pasti hal tentang kelainan tunangan Sebastian tersebut.

"Apa semuanya akan baik-baik saja?"

"Jangan khawatir. Aku akan menjamin keselamatanmu," jawab Sebastian. Ujung bibirnya tertarik, membuat sebuah senyuman tipis. Lany ikut tersenyum melihat itu. Kemudian, tanpa malu Lany memeluk Sebastian dan menyandarkan kepalanya di bahu lebar sang pria.

"Ngomong-ngomong, ada apa Mas Tian memanggilku ke sini?" Lany mendongak, menatap wajah tampan Sebastian.

"Menurutmu?" Bukannya menjawab, Sebastian malah balik bertanya dengan senyuman misterius. Lany mengerling nakal kemudian turun dari pangkuan Sebastian.

"Mau bermain sebentar?" tanya Lany dengan genit.

"Lama pun tak masalah." Lany tertawa pelan mendengar itu. Dia kembali duduk di atas pangkuan Sebastian, dengan posisi mengangkang. Dia siap untuk memulai permainan panas dengan sang tuan. Yang tentu, dia sukai juga.Sebastian memeluk pinggang ramping Lany dengan lembut. Perlahan tapi pasti, Sebastian semakin memojokkan Lany ke arah ranjang. Lany tak menolak, dan menerima dengan senang hati. Tangannya tak henti menggerayangi dada dan perut Sebastian, membuat pria itu menggeram nikmat.

Akhirnya, Lany terbaring pasrah di atas ranjang dengan Sebastian yang siap menggagahi. Mata sayu Lany membuat Sebastian semakin bernafsu. Dan dia kembali mencium bibir Lany, tanpa kelembutan.

Lany mengerang, merasakan nikmat kala tangan Sebastian menyentuh dadanya. Remasan yang teratur membuat Lany keenakan. Tanpa sadar, Lany semakin membusungkan dadanya. Membiarkan Sebastian mempermainkan kedua buah dadanya.

Gairah yang membara terlihat jelas dalam sorot mata Sebastian. Dia semakin tak tahan, kala Lany terus saja menggerling manja. Wanita itu, benar-benar hebat dalam hal menggoda dan merayu. Bahkan tak segan untuk memulai permainan panas mereka.

"Mas, buka saja," ujar Lany dengan suara lemah. Sebastian tak membalas, dan mulai melepaskan gaun tipis itu hingga hanya tersisa bra dan g-string saja. Dan tentu saja, dua kain itu juga tak bertahan lama di tubuh Lany.

Sebastian menatap nyalang tubuh telanjang Lany, sudah tak sabar untuk segera melahapnya. Lany tak bisa berhenti tersenyum melihat segala ekspresi yang ditampilkan oleh Sebastian.

Lany membuka kakinya, membiarkan Sebastian melihat bagian tubuhnya yang sudah basah dan mendambakan dirinya. Namun, Sebastian tak ingin buru-buru. Dia ingin mempermainkan wanitanya terlebih dahulu. Membuat wanitanya tersebut memohon padanya.

Sebastian kembali mencium bibir Lany dengan perlahan dan lembut. Sementara tangannya, menyentuh setiap inchi kulit Lany yang tergapai. Meninggalkan jejak-jejak panas di tubuh Lany. Tubuh Lany menggelinjang pelan, tak sabar untuk segera mendapatkan yang lebih. Namun, Sebastian memang tak ada niatan untuk mengabulkan keinginan Lany secepat mungkin.

Pelan, sentuhan bibir Sebastian turun ke dagu dan leher. Menciuminya perlahan, tanpa meninggalkan jejak. Lalu tak lama kemudian, wajah Sebastian berhadapan dengan dada Lany. Lany mendesah pelan merasakan puncak dadanya yang dikulum. Rasa nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya karena Sebastian mempermainkan puncak dadanya dengan sangat baik.

Desahan Lany semakin kuat, saat tangan kekar Sebastian menyentuh paha dalamnya. Pinggul Lany bergerak tak sabar, menginginkan jari Sebastian. Sebastian tak bisa menahan senyumnya lagi, melihat Lany yang seperti tersiksa oleh hasratnya sendiri.

"Ahhh...." Lany mendesah panjang saat merasakan belaian lembut di klitorisnya. Kedua tangannya meremas sprei dengan kuat, tak tahan dengan sensasi nikmat yang diberikan Sebastian. Kepala Lany bergerak tak tentu arah, saat lidah dan jari Sebastian memberikan kepuasan secara bersamaan. Sungguh, Lany tak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini. Dan Sebastian, berhasil membuat Lany ketagihan untuk melakukannya lagi dan lagi.

"Ahh ahh. Mas, lebih cepat. Ahh..." Sebastian menurutinya, menggerakkan dua jarinya semakin cepat. Desahan Lany terdengar semakin bergema di dalam kamar mewah tersebut. Hingga akhirnya Lany menjerit penuh kenikmatan, saat orgasmenya datang.

Sebastian tersenyum miring, melihat kewanitaan Lany yang berkedut. Kemudian dia melepaskan handuknya, dan mengurut kejantanannya. Jangan bilang dia tak bergairah. Karena sejak tadi dia pun sudah tak tahan.

"Cepat masukin, Mas." Lany meminta dengan tak sabar. Sebastian tertawa pelan, lalu memposisikan tubuh mereka agar segera menyatu. Baru juga masuk setengah, ponsel Sebastian yang berada di atas laci berdering nyaring. Tanpa memikirkan Lany, Sebastian mencabut kejantanannya dan mengangkat telepon yang masuk. Sementara Lany, menganga tak percaya karena ulah Sebastian.

"Siapa, Mas?" Lany bertanya penasaran. Dia memperhatikan Sebastian yang mendekati lemari dan memakai celana pendek juga kaos oblong polos.

"Pengantar makanan sudah di depan," jawab Sebastian kalem. Setelah berpakaian dan mengambil uang di dompet, Sebastian keluar dari kamar. Meninggalkan Lany ditengah-tengah percintaan mereka. Lany menggerutu, merasa kesal dengan kelakuan Sebastian. Padahal, dia sudah tidak tahan lagi. Tapi pria itu terus saja mempermainkannya.

Lany turun dari atas ranjang dan berjalan keluar dari kamar dengan tubuh telanjang. Masa bodoh reaksi Sebastian, yang jelas dia akan menuntut pada pria itu. Enak saja meninggalkan dirinya saat semuanya belum selesai.

Sebastian menutup pintu dengan tangan yang memegang kresek berwarna putih. Dia berbalik, dan cukup kaget melihat Lany yang berdiri telanjang beberapa langkah darinya.

"Sabar dong, Lan." Sebastian berbicara. Dia menaruh semua makanan itu di atas meja kemudian mendekati Lany yang sudah merajuk padanya.

"Ini yang kedua kalinya loh, Mas. Bagaimana aku tidak kesal?" Lany bertanya. Sebastian terkekeh geli mendengar itu. Dia lalu memeluk Lany, dan menggendong wanita itu untuk kembali ke kamar.

"Ya sudah. Ayo kita lanjutkan," ujar Sebastian. Bibir mereka kembali bertemu, berusaha membangkitkan gairah yang hampir padam. Lany jadi lebih agresif sekarang, mungkin karena kesal pada Sebastian. Namun, Sebastian tak membiarkan Lany menjadi pemimpin. Dia memaksa Lany agar tetap berada di bawah tubuhnya.

Jari Sebastian kembali masuk ke dalam tubuh Lany, dan bergerak pelan membuat wanita muda tersebut mendesah nikmat. Setelah dirasa cukup, Sebastian langsung melepaskan pakaiannya. Melebarkan kaki Lany, dan mulai memasukkan kejantanannya ke dalam tubuh Lany.

Lany mendesah, dengan tangan mencengkeram bahu Sebastian. Sebastian pun tak bisa menahan desahannya saat merasakan miliknya yang diremas kuat oleh Lany. Tak sabar, Sebastian pun segera menggerakkan pinggulnya.

Desahan Lany terdengar begitu nyaring memenuhi kamar. Ini sungguh nikmat, hingga Lany tak ingin Sebastian berhenti. Kedua kakinya melingkar erat di pinggul Sebastian, tak membiarkan pria itu lepas darinya.

Detik demi detik, gerakan pinggul Sebastian semakin cepat. Suara dua kelamin yang beradu terdengar sangat menggoda. Sebastian semakin mempercepat gerakannya, tak sabar untuk segera mencapai puncak kenikmatan.

"Mas Tian!" Lany menjerit, saat kembali mendapatkan orgasmenya. Disusul oleh Sebastian, yang menyemburkan banyak benih ke dalam rahimnya. Nafas mereka terengah-engah, dengan peluh yang membasahi sekujur tubuh. Lany memeluk Sebastian dengan erat, dengan nafas yang mulai teratur.

"Aku lupa tidak memakai pengaman." Sebastian berucap. Lany mengerjap pelan, mulai menyadari. Benar saja.

"Tak apa, Mas. Aku aman," balas Lany. Sebastian mengangguk, dengan tubuh masih terasa lemas.

Kembali ke Beranda