Gambar dalam Cerita
"Mama dan papamu meninggal di tempat."
Dunia Zahra hancur sejak masih berusia 5 tahun. Dua orang tercinta pergi untuk selamanya. Membuat gadis kecil itu harus hidup sebatang kara.
Zahra adalah putri tunggal, seorang pengusaha bernama Wirahadi Gunawan. Dan belum lama ini, bisnisnya mengalami peningkatan pesat.
Semua orang merasa janggal atas kejadian yang mer3nggut nyawa Wirahadi dan istrinya.
Akhirnya kakak kandung Wirahadi menawarkan diri untuk mengasuh sang keponakan. Serta mengelola seluruh asset dan harta yang dimiliki oleh Wirahadi.
Sebelum Zahra tumbuh dewasa dan mampu mengelola sendiri harta yang sudah mutlak menjadi hak miliknya.
Sang paman yang baru saja mengalami kebangkrutan, kemudian ikut tinggal di rumah Zahra.
Zahra kecil merasa tidak nyaman, melihat keluarga sang paman menguasai rumah megahnya. Namun, dia hanya bisa pasrah, karena hanya mereka lah yang mau mengurusi Zahra.
Awalnya kehadiran keluarga sang paman, sedikit mengobati rasa rindu Zahra kepada mama dan papanya. Meskipun kakak sepupunya terlihat tidak suka kepada Zahra.
Mulanya Zahra diperlakukan dengan baik seperti anak kandung sendiri. Hingga satu tahun lamanya.
Ketika Zahra memasuki masa sekolah, mereka mulai memperlakukannya dengan tidak adil.
Zahra disuruh pindah dari kamar kesayangannya. Tidak pernah dibelikan mainan seperti kakak sepupunya. Dipaksa hidup mandiri, dan harus menerima jika makanan paling enak di meja makan sudah dihabiskan oleh kakak sepupunya.
Zahra dituntut harus selalu mengalah dengan kakak sepupunya.
Mereka seakan tak peduli bahwa Zahra lah sang pemilik h*rta, yang mereka nikmati sekarang.
"Kamu sekarang tidur di sini, ya!" ucap paman Aji kepada Zahra.
Zahra mengamati kamar berukuran kecil itu, yang biasanya digunakan sebagai kamar para pembantu.
"Kamarku kenapa?" tanyanya polos, dengan mata berkaca-kaca.
"Kamarmu sekarang ditempati kak Sari. Kak Sari pengen tidur di sana," ucap paman Aji.
Padahal sejak kecil Zahra sudah sangat nyaman dengan kamar itu. Ada banyak boneka di atas ranjang, ukiran lemari pakaian yang indah, serta tembok yang dihiasi oleh gambar-gambar kartoon kesayangannya.
Almarhum ayahnya juga memasang lampu kelap-kelip ketika malam, agar Zahra merasa senang.
Terdapat banyak buku anak-anak, yang akan dibacakan sang ayah sebelum tidur dengan nyenyak.
Begitu banyak kenangan indah yang pernah terjadi di kamar itu. Namun sekarang Zahra dipaksa pergi, karena harus mengalah dengan orang baru.
Zahra kecil tidak bisa tidur di kamar barunya yang kotor dan bau. Dia hanya bisa menangis, karena menahan rindu.
Rumah yang dulu terasa nyaman dan menyenangkan kini menjadi asing setelah ditinggali oleh para benalu.
Gadis kecil itu terisak sambil memeluk baju almarhumah ibunya.
"Mama, besok Zahra minta digorengin ayam goreng boleh!" tanya Zahra di tengah keheningan. Berbicara kepada sepotong baju yang sedang dia peluk. Seolah itu adalah sosok sang ibu.
"Kok mama diam aja sih?" Zahra mencium kain lembut itu. Sekaligus mengelap wajahnya yang basah oleh air mata.
"Mama marah ya?" ceracau-nya lagi, dengan suara serak.
"Yaudah Zahra nggak minta aneh-aneh lagi deh. Zahra nggak bakalan nakal lagi, tapi ibu jangan pergi!"
Gadis kecil itu malah semakin terisak karena begitu rindu dengan almarhumah ibunya.
"Zahra boleh nggak sih kangen sama ibu?"
***
Ketika makan bersama, Zahra hanya pasrah melihat ker4kusan mereka.
"Aku mau paha ayamnya, Ma!" seru kak Sari setelah duduk di kursi.
Sang ibu langsung mengambilkan.
"Sama sayap!"
Dengan tak tahu diri, gadis kecil itu minta dua potong. Sang ibu langsung menuruti.
Sisa dua daging di atas piring, tentu saja untuk paman Aji dan istrinya.
Sementara Zahra hanya terdiam manyun di tempatnya. Kehilangan selera makan.
"Daging ayamnya habis, kamu makan pakai sayur aja, ya!" ucap Tante Susi, menuangkan sup bayam ke piring Zahra.
Mereka semua makan dengan lahap, kecuali Zahra yang mencebikkan bibir, menahan tangis.
Padahal dia sangat ingin sekali makan ayam goreng.
***
Puncak k3k3jaman mereka terjadi ketika Zahra diajak ke suatu tempat yang sangat asing bagi anak itu.
"Mulai sekarang kamu tinggal di sini, ya?" ucap paman Aji sambil mendorong tubuh mungil Zahra ke depan. Ke arah anak-anak yang sedang bermain di sebuah gedung sederhana.
Zahra tampak ketakutan.
"Nggak pa-pa sayang, di sini kamu banyak temennya," bisik tantenya.
Zahra menggeleng takut.
"Tante sama paman nggak bisa jagain kamu tiap hari. Jadi lebih baik kamu dititipkan di sini aja, ya," ucap sang Tante.
"Nanti paman bakalan sering-sering ke sini, kok," sahut paman Aji.
Zahra masih tetep menggeleng.
Paman Aji menghela napas kasar, memberi kode kepada penjaga pantai asuhan untuk membawa Zahra.
Zahra berontak, tapi tenaganya kalah kuat dengan ibu panti itu. Dia meronta sambil menangis terisak-isak.
Namun, tangisan menyedihkan itu tak didengarkan oleh sang paman.
Sang paman dan istrinya justru tersenyum puas, karena berhasil bebas menikmati h4rta adiknya tanpa perlu mengurusi keponakannya.
Sementara itu, tak jauh dari mobil mereka. Seorang pria berjas rapi sedang mengamati di balik kaca mobilnya.
Pria tampan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia berjanji akan merebut kembali h4rta Zahra yang sudah dirampas oleh pamannya sendiri.Komentar kalian tentang bos Erwin wkwk...
Malang sekali hidup Zahra. Setelah orang tuanya meninggal, sang paman tega membuangnya ke panti asuhan.
Sejak kecil dia dipaksa asing dengan segala kemewahan yang ia miliki.
Sang paman tega melakukan itu untuk menguasai seluruh h4rta yang dimiliki keluarga Zahra.
Bocah malang itu harus disingkirkan dari kemewahan yang ia miliki. Meskipun sejatinya ia tidak butuh kemewahan, karena yang ia butuhkan hanyalah kasih sayang.
Diusianya yang belum genap 6 tahun, Zahra harus beradaptasi tinggal di lingkungan baru, bersama anak-anak yang senasib dengan dirinya. Tidak punya ayah dan ibu.
Satu minggu berada di sana, Zahra menghabiskan hari-harinya dengan tangisan. Minggu berikutnya dia mulai terbiasa. Mendengarkan celotehan bocah yang lebih kecil darinya, mengantri ketika mengambil makanan, berbagi mainan dengan teman-teman sebaya, dan tertawa senang jika ada donatur yang datang membawa banyak makanan dan mainan.
Zahra mulai berpikir bahwa hidup di panti jauh lebih menyenangkan daripada harus hidup dengan keluarga sang paman yang sering bertindak kasar kepadanya.
Gadis kecil itu sampai hafal dengan salah satu donatur yang sering datang berkunjung. Namanya Erwin Zamzami, biasa dipanggil Om Erwin oleh anak-anak.
Pria tampan itu memperlakukan Zahra lebih spesial dari anak-anak yang lain. Erwin suka dengan iris mata Zahra yang berkilau seperti berlian. Dengan rambut halus yang sering dikuncir ekor kuda. Bibir mungilnya sering mengerucut ketika Erwin mulai menggodanya.
"Om gemes banget sama kamu. Rasanya pengen Om jadiin gantungan kunci deh," ledeknya sambil tertawa.
Zahra mengerucutkan bibir, membuat Erwin mengacak-ngacak rambutnya gemas.
"Om Erwin nyebelin, deh!" sungutnya dengan suara cadel.
"Tapi om ganteng kan?" Erwin menaik-turunkan alisnya.
"Lebih gantengan Yongki," jawab Zahra polos.
"Siapa Yongki?"
"Kucingnya si Mira."
Erwin menepuk jidat. Kemudian tertawa gemas.
"Kapan-kapan kalau Om datang ke sini lagi kamu mau dibawain apa?" tanya Erwin.
Zahra menatap wajahnya dengan sorot sendu. Membuat Erwin menaikkan sebelah alis.
Gadis itu malah menunduk, dengan wajah sedih.
"Hey Zahra, kamu mau minta apa?" tanya Erwin lembut, sambil memegang bahu rapuh itu.
"Zahra cuma minta dipeluk," lirih gadis itu dengan suarat berat.
"Yaudah sini Om, peluk."
Zahra langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan dipeluk sama Om."
"Lalu?"
"Pengen dipeluk sama bapak sama ibu," ucap Zahra penuh harap, dengan bulir-bulir bening yang mulai menetes di pipinya.
Erwin menelan ludahnya dengan susah payah. Karena keinginan itu tidak akan pernah bisa dikabulkan oleh siapapun, selain Tuhan.
Pria itu memalingkan wajah, dengan rahang yang mengeras, menahan emosi. Karena mengingat dua sosok yang membuat Zahra menjadi yatim-piatu seperti ini.
Siapa lagi kalau bukan Pak Aji, paman Zahra sendiri, yang tega merancang rencana untuk menyingkirkan ayah Zahra, yang merupakan senior Erwin di dunia bisnis.
***
Suatu ketika Zahra kembali dijemput oleh pamannya. Sang paman ingin mengajak dia datang ke sebuah pesta, karena yang hadir ke pesta itu kebanyakan adalah sahabat dekat almarhum ayah Zahra.
Jadi pak Aji mau tak mau harus membawa Zahra ikut datang ke acara. Sebelum berangkat pak Aji sempat mencubit lengan Zahra sembari memberi ancaman.
"Awas nanti kalau kamu sampe bilang aneh-aneh kalau ditanya!"
Istri pak Aji mengimbuhi. "Nanti bilang aja kalau kamu sangat bahagia tinggal dengan kami."
Sesampainya di pesta yang meriah itu, semua atensi langsung beralih ke arah Zahra yang berada di gendongan paman Aji. Semuanya merasa iba dengan nasib bocah kecil itu yang ditinggal oleh kedua orang tuanya.
"Zahra cantik, gimana kabarnya?"
Banyak yang berbondong-bondong menghampiri Zahra, ingin menghibur atau sekedar bertanya hal-hal kecil.
"Zahra udah waktunya sekolah ya, kamu sekolah di mana?"
"Kalau libur sekolah main ke rumah tante, dong!"
"Zahra sehat kan?"
"Kamu suka makanan apa Zahra, biar Om ambilin!"
Zahra hanya tersenyum menanggapi rentetan pertanyaan mereka. Sementara sang paman langsung memberi jawaban yang membangun citra sebagai paman yang sangat menyayangi keponakannya.
"Zahra sangat bahagia tinggal bersama kami. Dia sekolah di tempat bagus, ingin apapun selalu kami belikan, dan yang paling terpenting dia tidak kehilangan kasih sayang," jelas Pak Aji.
Orang-orang sebenarnya tidak seb*doh itu untuk langsung percaya kepada ucapannya. Wajah Zahra tidak terlihat cerah seperti anak orang kaya. Kulitnya dekil dan gelap, karena sering tersengat cahaya matahari saat bermain di panti.
Sebagian menyarankan agar Zahra ikut dengan nenek atau kakeknya saja.
Namun sayangnya Zahra sudah tidak punya nenek dan kakek. Saudara dari jalur bapak, hanya ada pak Aji, sementara saudara dari jalur ibu, tempat tinggalnya jauh di seberang pulau, dengan kondisi perekonomian yang terbilang m!skin.
Diam-diam istri pak Aji mencubit lengan Zahra. Zahra hampir memekik, untung masih bisa ditahan karena tidak ingin dimarahi.
Iris mata gadis kecil itu menyorot seorang pria berjas rapi yang mengawasi dari kejauhan. Seakan sedang meminta perlindungan.
Sosok itu adalah Erwin Zamzami, dia sangat geram. Ingin membongkar kebvsukan paman Zahra.
***
Keesokan harinya ketika dipulangkan ke panti, tubuh mungil Zahra sudah dipenuhi dengan luka l3bam dan memar. Pengurus panti merasa prihatin dengan keadaan Zahra. Gadis kecil itu juga tidak mau berbicara apapun ketika ditanya. Membuat pengurus panti meminta untuk menghiburnya.
Akhirnya berkat Erwin, senyuman yang sering terlukis indah di bibir Zahra kembali terbit. Ibu panti pun merasa lega.
"Terimakasih pak Erwin, sudah menganggap Zahra seperti anak sendiri."
Erwin tersenyum tipis. "Saya tidak menganggap Zahra sebagai anak sendiri."
Dahi Ibu panti mengerut bingung.
"Karena saya belum menikah." Erwin tertawa.
"Yaudah kalau begitu terimakasih karena sudah menganggap Zahra sebagai adik."
"Saya lebih suka menganggap Zahra sebagai calon istri," jawab Erwin.
Ibu panti hampir tersedak dengan ludahnya sendiri. "Edan!"
Erwin terbahak. "Iya, sepertinya saya sudah mencintai Zahra sejak dia masih kecil."
"Terlalu kecil."
"Berarti tinggal menunggu dia tumbuh dewasa." Erwin pamit pergi sambil tertawa terbahak-bahak di depan ibu panti.
***
Sementara itu, paman Aji dan istrinya sedang merancang skenario p3mbvnuhan. Segalanya sudah di setting sedemikian rupa, agar mereka bisa melenyapkan satu-satunya orang yang memiliki hak atas harta yang mereka nikmati sekarang. Tanpa ada satu pun orang yang curiga.
Pak Aji kemudian ke panti untuk menjemput Zahra, lalu berpamitan kepada pemilik panti. Memberikan ucapan terimakasih karena mau menjaga Zahra.
Ibu panti melepas kepergian Zahra dengan perasaan khawatir.
Karena memang Zahra tidak dibawa pulang, melainkan dipasrahkan oleh beberapa orang berwajah sangar.
"Selesaikan tugas kalian!" ucap paman Aji sebelum pergi meninggalkan Zahra yang menangis ketakutan di cengkraman para segerombolan preman.Zahra kalau pakai kerudung wkwk...
***
Zahra, pewaris tunggal almarhum Wirahadi harus menjadi korb4n keg4nasan sang paman yang ingin merebut harta warisannya.
Gadis kecil tak berdosa itu dibawa ke suatu tempat misterius oleh segrombolan preman. Dan sang paman tertawa puas melihatnya.
"Siapa yang berani melakukan?" tanya salah satu preman, merasa tidak tega melihat bocah kecil yang terisak di depan mereka.
"Dia tampak cantik sekali." Nuraninya memberontak, ingin melepaskan anak malang itu.
"Miris sekali dunia ini. Rela menyingkirkan apapun hanya demi du1t!"
"Termasuk dirimu!" sahut temannya.
Pria berambut gondrong itu tersenyum tipis. "Kita semua sama, hanya cara berdosa-nya saja yang berbeda."
Semua orang terdiam.
"Kita cari cara lain untuk melenyapkannya," ucap salah seorang dari mereka melangkah meninggalkan Zahra yang terikat di atas meja.
Sementara itu di tempat lain. Pak Aji sedang duduk di sebuah ruang rapat bersama beberapa pemimpin dari perusahaan ternama di Indonesia.
Setiap pemimpin dikawal oleh satu orang pria kepercayaan mereka. Salah satunya adalah Erwin Zamzami yang terus melirik pak Aji dengan tatapan tajam di belakang bosnya.
Pak Aji merasa terintimidasi dengan tatapan itu.
"Kenapa pengawal anda melirik saya seperti itu," protes pak Aji kepada Dendy Wijaya.
"Dia tidak yakin dengan kinerja anda!" ucap pak Dendy dengan wajah tenang.
"Apa haknya?" Pak Aji menaikkan sebelah alis.
"Sebelumnya dia adalah suksesor Wirahadi Gunawan dalam bidang marketing. Setelah itu saya merekrutnya. Bisa dibilang, dia adalah orang yang paling tahu luar dan dalam perusahaan yang anda kelola sekarang," jelas Pak Dendy lalu menyesap secangkir kopi di atas meja.
"Tidak usah khawatir, saya akan mengelolanya dengan baik," jawab Pak Aji.
"Seharusnya Zahra yang duduk di situ," seru Erwin dengan wajah dingin dan datar.
Pak Aji tertawa. "Tentu saja, suatu saat nanti Zahra akan duduk di sini. Sekarang dia baru masuk sekolah dasar. Saya akan akan menjaga seluruh aset yang dimiliki adik saya untuk masa depan keponakan saya."
Erwin menyeringai lebar, aura wajahnya menyorotkan kebencian. "Lalu kenapa anda berusaha menyingkirkan Zahra?"
Semua orang di meja itu terbelalak lebar mendengar ucapan Erwin. Mereka yang merupakan sahabat dekat Wirahadi sekaligus klien dalam dunia bisnis mendadak merasa curiga dengan pak Aji.
"Apa maksudmu, Zahra sedang sekolah sekarang. Dia sangat bahagia, dan tidak kekurangan kasih sayang," jelas pak Aji gugup.
"Banyak orang yang bilang bahwa keluarga dari pihak ayah itu selalu ruwet. Saya lebih setuju jika Zahra ikut keluarga dari pihak ibunya saja," celetuk salah seorang yang sejak kemarin mengampanyekan hal itu.
"Keluarga dari pihak ibu Zahra sangat tidak memungkinkan untuk merawat Zahra, mereka tinggal jauh dari ibu kota."
Suasana di tempat itu mendadak tegang.
"Sudah-sudah lebih baik kita segera memulai rapat. Saya tidak punya banyak waktu untuk berdebat," ucap pak Dendy yang memiliki mega bisnis paling besar di antara mereka. Dan tentu saja paling ditakuti.
Erwin tersenyum tipis melihat tekanan yang dia berikan kepada pak Aji.
***
"Apa kita berikan r4cun saja?" saran salah satu preman.
"Kasihan ah, gue nggak tega."
"Bakalan repot nanti kalau diberitakan dia t3w4s karena dir4cun, cepat atau lambat kita bakalan ikut ketangkap juga."
Pria bertatto elang di lengan menyahut. "Pak Aji kabarnya sudah bekerja sama dengan polis1 yang akan jadi penyidik pada kasus ini, kita akan terselamatkan. Tak hanya itu, Pak Aji juga memb4yar beberapa wartawan untu membuat berita yang bisa menyelamatkan pelaku utama."
"Lalu bagimana?"
"Ah sudah lah, lebih baik kita segera selesaikan sesuai arahan Pak Aji saja."
"Serius?"
Kemudian mereka dengan paksa, mengganti pakaian Zahra dengan baju sekolah, seolah-olah Zahra mengalami kecel4kaan setelah pulang sekolah. Jurnalis yang disuruh pak Aji pasti sudah bersiap mengembangkan berita.
***
"Kita harus berhati-hati, sepertinya Pak Aji bukan orang sembarangan," ucap seseorang di seberang sana.
"Ya," jawab Erwin datar sebelum memutus panggilan. Kemudian fokus mengemudikan mobil mengikuti pak Aji yang entah pergi kemana. Bersama keluarganya.
Erwin menggertakkan gigi dengan tangan terkepal, setelah mobilnya berhenti di sebuah mall. Mengamati keluarga pak Aji yang turun dari sana.
Tidak ada sosok Zahra di sana. Padahal kemarin bocah mungil itu sudah dijemput pulang. Lalu kemana dia sekarang?
Firasat Erwin mendadak tidak enak.
Pria itu mengempeskan mobil pak Aji dengan kesal. Lalu ikut membuntuti masuk ke dalam mall.
Mereka beberbelanja banyak barang, tapi tidak memikirkan Zahra sama sekali. Erwin menyangkan seniornya yang meninggal di usia terbilang muda, sebelum membuat surat ahli waris. Ya, memamngnya maut bisa dipersiapkan?
Erwin berusaha memanfaatkan momen dimana putrinya pamit buang air kecil. Diam-diam pria tampan itu melangkah mengikuti, kemudian ikut masuk ke dalam kamar mandi.
Sari menjerit kaget, untung saja Erwin langsung membekap mulutnya. "Katakan padaku dimana Zahra sekarang?" bisiknya penuh penekanan.
Sari menangis sambil menggeleng pelan. "Cepat katakan! Kalau kamu ingin sdelamat."
Sari memundurkan langkah dengan tersengal-sengal. Setelah Erwin melepaskan cengkraman.
"Cepat katakan!" bentaknya pelan.
"A-aku tidak tahu!" jawab Sari ketakutan.
Erwin melotot sambil mengeraskan rahang. "Apa dia ada di rumah!"
"I-iya!" jawab Sari.
"Jangan berbohong!"
"Tidak, Zahra memang baru pulang sekolah. Kami tidak sempat mengajaknya!"
Erwin mendengkus kesal, kemudian mendorong tubuh Sari dengan kasar. Lalu pergi dari kamar mandi itu sebelum dia berteriak minta tolong.
***
Erwin langsung bergegas menuju ke rumah Zahra. Kemudian bertanya kepada satpam yang berjaga di rumah itu. Jawaban yang diberikan berbeda dengan keterangan Sari.
Setelah Erwin mendesak, akhirnya satpam itu mengaku bahwa Zahra diserahkan kepada segerombolan preman oleh pak Aji.
Erwin yang tersulut emosi, langsung menjadikan satpam itu sebagai pelampiasan.
Arrghhh... Dia benar-benar tidak tahu harus kemana mencari preman-preman yang membawa Zahra.
Ponselnya berdering, Erwin langsung buru-buru mengangkatnya. Ternyata dari pak Dendy.
"Erwin, saya menemukan berita seorang anak sekolah tak sengaja tertabr4k mobil. Anak itu mirip Zahra."
Kedua tangan Erwin langsung melemas, hingga ponsel itu terjatuh dari genggaman.Pemakaman boc4h kec1l itu diiringi oleh isak tangis banyak orang. Erwin menjadi orang yang paling terpukul karena gagal menjaganya. Apalagi mereka tidak mengizinkan ia melihat wajah Zahra untuk yang terakhir kalinya.
Dibalik kaca mata hitam, air matanya terus bercucuran membasahi wajah. Kedua tangan terkepal, ingin mengh4jar keluarga benalu yang pura-pura bersedih di depan pusara. Semua orang berbela sungkawa, dan pak Aji meminta maaf karena tidak bisa menjaga Zahra dengan baik.
Gembar-gembor di media memberitakan bahwa Zahra sengaja bvnvh diri agar bisa menyusul kedua orang tuanya. Tentu saja Erwin tidak percaya, mana mungkin bocah sekecil Zahra berani melakukan itu. Dia yakin, pasti pak Aji adalah dalang dibalik musibah ini.
"Banyak kejanggalan yang terjadi. Seperti sebuah pembvnvhan yang terencana," bisik pak Dendy di sebelahnya.
Erwin menghela napas kasar. Mendongak ke atas, menikmati semilir angin yang menyibak rambutnya. Dia sebenarnya hanya berusaha tegar.
Teringat dengan celotehan renyah Zahra ketika berada di panti tempo lalu. "Om, gimana ya caranya biar Zahra bisa bermimpi ketemu sama mama dan papa?"
Erwin hanya bisa terdiam.
"Andaikan dengan tidur bisa selalu bermimpi bertemu mereka, pasti Zahra pengen tidur terus, nggak usah bangun lagi," ucap Zahra sambil tersenyum getir.
Dada Erwin terasa sesak saat membayangkannya. Pandangannya beralih ke arah pak Aji yang berusaha ditenangkan banyak orang. Seolah dia adalah orang yang paling terpukul atas kepergian Zahra, padahal sebaliknya.
Karena merasa j1j1k melihatnya, akhirnya Erwin memutuskan pergi terlebih dahulu dari pemakaman.
Selama 3 hari Erwin hanya melamun di depan jendela kamarnya. Tidak n4fsu makan, juga tidak berminat melakukan apa-apa. D3ndam dan rasa penyesalan masih menggrogoti hatinya.
Seenaknya media menyebarkan berita yang tidak akurat tentang Zahra, dan pol1si pun sudah menetapkan seorang sopir sebagai pelaku. Sayangnya Erwin tidak punya wewenang untuk ikut campur dalam urusan itu. Mereka seperti sudah merekayasa semuanya.
Refan sahabatnya datang untuk melihat keadaannya. "Sudahlah Win, ikhlaskan saja. Zahra sudah bahagia menyusul papa dan mamanya."
"Ya," jawab Erwin dengan suara serak.
"Lalu, kenapa masih sedih?"
"Aku tidak bisa membiarkan kedzoliman menang begitu saja. Pak Aji harus diberi pelajaran," jawabnya dengan tangan terkepal.
"Ya, kita akan pikirkan itu. Sekarang kau harus makan!" ucap Refan. "Karena balas d3ndam juga butuh energi!"
***
Pak Aji tahu, satu-satunya orang yang paling berbahaya adalah Erwin. Dia sering ikut campur segala urusannya, karena sudah tahu bagaimana tabiat aslinya.
Untuk itu pak Aji mulai berencana untuk melenyapkan Erwin, agar hidupnya menjadi tenang. Tidak ada lagi orang yang bisa mengganggunya.
"Bvnvh pria ini!" ucapnya kepada seseorang berhoodie hitam, sambil menyodorkan foto Erwin.
Pria itu memegang amplop coklat yang diberikan pak Aji kemudian pamit pergi.
Beberapa rencana dilakukan untuk menc3lakakan Erwin. Termasuk menyuruh seorang office boy untuk menuangkan r4cun ke dalam sacangkir kopi susu yang akan diberikan Erwin.
"Ini kopinya, Pak!" ucap office boy itu.
"Taruh situ saja," jawab Erwin masih fokus membaca berkas di atas meja.
Pria yang mengantarkan kopi masih belum beranjak, menatap Erwin dengan sorot tajam.
"Kenapa?" tanya Erwin.
"Segera diminum, Pak. Keburu dingin."
"Ya!"
Pria itu pamit keluar.
Erwin yang hendak mengambil secangkir kopi itu dengan pandangan yang masih fokus membaca tumpukan berkas, tanpa sadar menyenggolnya jatuh dari meja, hingga cangkir itu pecah berserakan.
Prakk!!!
Erwin memijat-mijat kening, kemudian memanggil office boy tadi lewat telepon untuk membersihkan lantainya yang kotor.
Office boy itu terlihat kesal karena usahanya gagal.
***
"Kamu kenal orang ini?" tanya pak Dendy menunjukkan foto seorang pria di layar ponselnya.
Erwin mengamatinya dengan seksama, dengan dahi yang mengerut. "Tidak, Pak."
Dibalik meja kerjanya, Pak Dendy tersenyum tipis. "Namanya Rustam, anak pertama dari pak Aji, dia kuliah di luar kota."
"Apakah dia baik? Atau malah lebih berbahaya?" tanya Erwin.
"Sepertinya jauh lebih berbahaya, karena dia menjalin hubungan dengan putriku, Viola."
"Maksud bapak?"
"Mereka pacaran," jawab pak Dendy sambil menautkan jari jemarinya di atas meja. Kemudian teremenung dengan napas kasar.
"Saya sudah melarang Viola berhubungan dengan pria itu tapi Viola malah semakin nekad."
"Lalu apa hubungannya dengan saya?" tanya Erwin bingung.
***
Mobil hitam melaju membelah jalan raya, tanpa sadar banyak bahaya yang sedang mengintainya dari kejauhan. Pak Aji sudah mengincarnya, dan tentu saja membuat status pria itu menjadi tidak aman.
Tiba-tiba dari perempatan jalan mobil truck melaju kencang, hendak menyambar mobil Erwin dari arah kanan. Untung saja pria itu membanting setir ke arah kiri, sehingga mobilnya menabrak pohon di pinggir trotoar dan lolos dari pecahan kaca.
Meskipun pelipisnya berd4rahmembentur sesuatu. Pria itu masih bisa keluar dari mobilnya yang berasap dengan napas tersengal-sengal. Namun, tepat di belakang, sebuah mobil Jeep melaju kencang, dengan sengaja ingin menyambar tvbuh lemah itu.
Untung saja Tuhan masih berbaik hati melindunginya. Seorang bapak-bapak yang berada di trotoar berlari menarik tubuh Erwin agar terhindar dari sambaran mobil hitam itu.
Erwin terhempas ke trotoar ketika ditarik oleh bapak itu. Tubuhnya sampai membeku beberapa detik karena selamat dari maut untuk kesekian kali. Andai saja bapak itu terlambat untuk menyelamatkannya pasti Erwin sudah pindah alam sekarang.
Warga mulai berbondong-bondong datang, mengerumuni Erwin yang meringis kesakitan. Kemudian bergegas membawa Erwin ke rumah terdekat. Untuk memberi pertolongan pertama.
Salah satu warga yang datang adalah preman yang membvunuh Zahra. Preman itu berbalik badan kemudian melangkah pergi sambil menelpon seseorang.
Luka di sekujur tubuh Erwin sudah diobati. Tinggal menunggu Refan datang menjemputnya. Dua kali hampir tertabrak, dan untung saja masih selamat, tidak ada luka serius yang diderita.
Warga yang datang memberondongi Erwin dengan banyak pertanyaan. Meskipun Erwin sedikit susah untuk memberi jawaban, karena kepalanya masih terasa pusing luar biasa.
Erwin terkejut melihat segerombolan preman yang datang, kemudian meminta Erwin untuk ikut bersama mereka. Para warga tidak bisa membantu karena mereka membawa senj4ta t4j4m.
Erwin ditarik dengan paksa masuk ke dalam mobil. Lalu, bergegas pergi sebelum para pol1si datang.
"Kalian mau membawa saya kemana?" ucap Ewrin yang duduk di tengah-tengah mereka dengan tvbuh lemah.
"Sudah diamlah!" bentak preman bertubuh besar di sebelahnya.
Erwin dibawa ke suatu tempat yang asing di pinggiran kota. Mereka mendorong tvbuh lemah Erwin masuk ke dalam rumah usang yang terbengkalai. Halaman rumah itu dipenuhi dengan rumput liar dan pepohan yang rimbun.
Erwin tidak menyangka jika rumah itu dijadikan markas oleh mereka,
Pria itu terkejut bukan kepalang, setelah sampai ke dalam. Melihat Zahra duduk dengan santai di atas meja, sambil melahap lolipop di tangannya.
"Om Erwin!" ucap Zahra tak kalah kaget, melihat pria itu datang dibawa oleh para preman.
Ewrin menelan ludah dengan susah payah. "Zahra, ternyata kamu masih hidup?"