Gambar dalam Cerita
Kisah ini pernah ada, kisah ini pernah terasa. Semua tetap sama bahkan jeritan dan tawa hari itu masih begitu jelas di telinga. Luka yang tak kunjung kering menjadi bukti bahwa aku pernah ada, aku pernah bertahan hingga semua menjadi tak lagi bermakna.
Adinda Elereaina
***
"Adinda Adinda " Suara itu terus menggema di depanku, dengan berat hati ku angkat kepala yang dari tadi ku benamkan pada kedua tangan ku. "Apa?" Satu kata yang keluar dari mulutku dengan ketus.
Anak di depanku ini hanya diam menatapku tanpa kedip, rambut hitam lebat nya ia garuk perlahan. "Kita main yuk keluar." Ajak nya dengan seyum sumringah. Aku menatap malas ku lihat seluruh kelas kosong semua orang pasti sedang mengisi perut di kantin.
"Aku ngantuk." Ucapku sampil kembali memejamkan mataku. Dia memutar bola matanya, lalu melangkahkan kaki dengan lesu. Aku membuka kedua mataku, dia sudah tak ada di depanku. Sepi, satu kata yang aku rasa saat ini, padahal harus nya aku senang bukan?
***
"Adinddaaa" aku menoleh ke sumber suara, Dino lagi Dino lagi. "Apa ?" Tanyaku ketus, dia tersenyum picik sambil menyembunyikan sesuatu di balik tubuh nya.
Tentu saja itu membuat aku penasaran, dengan segera aku berjalan me arah nya,dan mendapati dua es krim yang dari tadi ia sembunyikan. "Aku mau Dino, rasa vanila." Ucapku sambil mataku tak lepas dari dua benda dingin nan manis itu.
"Apa? Adinda mau Dino yang rasa Vanila?" Ucap nya sambil sesekali menggodaku. Aku tertawa mendengar gurauan nya,Dino memang orang yang humoris, ingat hari itu aku masih tak mengerti apa yang di maksudkan Dino.
Matahari tersenyum lebar membuat semua orang kepanasan, tepat jam itu kelas kami kosong tak ada guru yang mengajar. Seperti biasanya, aku membenamkan wajahku pada kedua lenganku "Adindaa" pasti Dino pikirku.
Ku angkat wajahku dan mendapati Dino sedang menatapku, ku lemparkan pandangan ku pada seluruh kelas. Banyak orang orang yang sedang bersenda gurau,sedangkan Dino? Dia malah duduk di depanku.
Dia mencoret coret buku milikku, dengan namanya yang ia beri bingkai hati. Tentu saja itu membuatku marah, aku segera menutup buku ku dengan rasa tak menentu. "Apaan si Adinda ini itu buat kenang kenangan di rumah kalau Dinda inget sama Dino." Ucap Dino membuat aku kesal.
"Apaan sih, aku itu gak inget sama Dino. Dino bisa gak kalau gak ganggu Adinda? Masih banyak teman selain Adinda, Adinda cape pengen tidur Adinda gak mau di ganggu Dino lagi, Dino bisa kan gak ganggu Adinda lagi?" Ucapku dengan sabar.
Lain dari Dino biasanya yang semakin gencar menggangguku,Dino berdiri sebentar lalu pergi ke luar, aku menatapnya dengan heran apakah perkataanku terlalu jahat? Aku berusaha bertingkah tak peduli, sekarang aku bisa melanjutkan tidur ku dengan harapan bahwa pelajaran hari ini tak ada guru yang datang.
***
Aku berjalan kaki sambil membaca buku novel yang mamaku beli kan semalam. Tanpa sengaja aku menginjak batu lalu jatuh terpeleset. Ku lihat luka di lututku, lalu tak jauh dari tempatku jatuh Dino berdiri dengan wajah tak bisa ku tebak. "Dino?." Panggilku, tapi Dino malah pergi menjauh tanpa mempedulikan aku yang sedang meringis kesakitan.
Buku novel yang jatuh dan basah tak lagi ku hiraukan, aku terus melihat punggung Dino yang perlahan menjauh. Ada rasa sakit yang aku rasa. Bahkan luka tangan ku tak lagi ku ingat yang aku pikirkan hanyalah kenapa Dino?
***
Pelajaran usai, aku membereskan buku dan kali ini ku angkat lagi novel yang sedikit basah karena jatuh. Hening. Itu yang ku rasa, namun aneh nya aku seperti kehilangan sesuatu ku tutup novel tadi dan kembali melihat seisi kelas, tak ada Dino lagi.
Aku berjalan ke luar dan mendapati Dino sedang melamun di ujung koridor, baru saja ku langkah kan kaki ku. Rara datang dengan dua minuman dingin di tangan nya. Tentu saja itu membuatku kaget, aneh, kesal, mungkin sedikit cemburu.
Aku kembali ke kelas berusaha menyibukkan diri dengan tumpukan buku di depanku, namun mataku tiba tiba rabun tatapan ku kabur, tidak aku tidak menangis aku tidak ingin menangis tapi mataku memanas melihat Dino yang duduk bersama Rara.
Aku tak boleh menangis.
***
"Dino ini gimana? " tanya Rara membuat aku kesal, dengan tatapan teduh Dino mengajarkan Rara yang duduk di sampingku. Dino sedikit melirikku, aku pura pura baik baik saja, aku tak akan menunjukan cemburu.
Dino kembali fokus pada buku Rara dan mengajarkan Rara bagaimana rumus matematika. Aku berdiri lalu berjalan ke toilet udara cukup panas. "Adinda, mau kemana?" Tanya Rendi ketua kelas kami.
"Udara panas, aku mau cuci muka." Ucapku ketus, di luar dugaanku teman teman berdehem, melirik ke arah Dino. Aku berjalan tak peduli. Hari demi hari Dino tak lagi menyapa ku aku seperti di jauhi. Bahkan sekarang Dino tengah dekat dekat dengan Rara.
Aku akui mungkin aku yang salah aku yang terlalu menutup diri dari semua orang, hingga tak ada satupun orang yang mau berteman denganku, aku rindu Dino.
Sudah ku coba cara membuka percakapan kecil, namun jangankan merespon mendengarkan ucapan ku saja tidak. Aku seperti jatuh, Dino dan Rara sekarang semakin dekat, sedangkan aku? Aku hanya melihat dari kejauhan dengan rasa pahit di dada.
Dino, aku tahu mungkin di abaikan adalah hal yang tak menyenangkan, tapi percayalah tak di lihat adalah hal yang terpahit yang pernah aku rasa. Dino kamu sahabat terbaik ku terima kasih mau menajdi seseorang bersandar walau akhirnya kau pergi karena aku sendiri.
Dan sampai saat ini tak ada lagi percakapan antara aku dan Dino, kami seolah menjadi dua manusia asing yang entah sampai kapan ini akan terus terjadi. Dino kamu tak mau kita seperti dulu lagi?
***
end.