Mabuk CEO
Romance
08 Jan 2026

Mabuk CEO

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-09T003759.691.jfif

download - 2026-01-09T003759.691.jfif

08 Jan 2026, 17:38

download - 2026-01-09T003756.571.jfif

download - 2026-01-09T003756.571.jfif

08 Jan 2026, 17:38

Hidup adalah tentang menyenangkan semua orang. – Hani

***

Bekerja di Jakarta itu berat. Selain jam kerja yang panjang, karyawan harus berhadapan dengan kemacetan Jakarta yang disebut sebagai salah satu yang terburuk di dunia.

Pulang melewati jam kantor demi menghindari macet dan tiba di rumah larut malam. Keesokan paginya, harus bangun lebih cepat dari seekor ayam jago agar tiba di kantor tepat waktu.

Tergopoh-gopoh memakai sepatu, menyambar tas dan merapikan pakaian yang kusut setelah berdesakan di dalam bis, dilakukan hampir semua karyawan di kota metropolitan itu. Termasuk Hani.

Permisi—permisi, maaf .... Hani memiringkan tubuhnya melewati celah himpitan tubuh-tubuh manusia yang belum tiba di tujuan. Dengan satu lompatan, ia sudah menjejak tepi jalan raya.

Sedikit melompat-lompat menghindari trotoar yang tak rata, Hani merogoh kantong jasnya. Ponselnya bergetar sejak tadi. Pasti urusan yang sama, umpatnya dalam hati.

Han! Kopi ya. Semua varian kayak biasa. Dan kayak biasa juga, pake duit lo dulu, entar diganti. Thank you in advance.

Doni yang hobi menyuruh-nyuruh junior tak pernah lupa menyampaikan titipannya pagi itu. Dulu Hani merasa luar biasa keren setelah diterima di perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Di antara penghuni jajaran lantai satu kos-nya, Hani dianggap paling sukses. Wanita karir sejati. Padahal ....

Hani mengetikkan balasan untuk pesan Doni, Siap, Mas. Ia langsung mempercepat langkah kakinya menuju kedai kopi mahal yang seolah sudah menjadi kewajiban untuk menampilkan urban lifestyle.

Dua orang karyawati yang menggandeng anak kecil masuk tergopoh menuju lobi. Hani meringis menoleh sekilas. Ibu-ibu itu pasti menuju tempat penitipan anak yang berada di lantai dasar.

Untuk kesekian kalinya, Hani mensyukuri bahwa ia belum menikah. Perkantoran Jakarta, ia nilai terlalu berat untuk ibu bekerja. Mereka pasti bangun jauh sebelum matahari terbit menyiapkan sarapan bagi keluarga. Atau setidaknya, persiapan untuk dirinya sendiri menuju kantor. Lantas mereka harus menitipkan anak kepada pengasuh atau orang tua mereka kalau di kantornya tak ada fasilitas penitipan. Ditambah lagi dengan menjejalkan diri ke dalam transportasi umum. Hani bergidik.

Betapa pun kerasnya usaha para perempuan itu, pada akhirnya, mereka terpaksa harus berhenti bekerja karena tingginya biaya yang harus ditanggung, sebuah fakta yang ditemukan dalam riset-riset.

Dengan kacamata yang melorot sampai ke ujung hidungnya, Hani menenteng empat paper cup berbagai ukuran di tangan kirinya.

Lagi-lagi ia harus menyebut mantra yang sama. "Permisi—permisi, maaf ...."

Sepuluh menit lagi menjelang waktu yang ditolerir mesin finger print . Hani mendatangi tiap kubikel dan meletakkan pesanan masing-masing rekan di timnya. Beres dengan semua pesanan itu, Hani meletakkan ibu jarinya pada mesin finger print hingga bunyi bip terdengar.

"Han! Tolong ke ruangan saya!" seru Bu Curry saat melintas di depan kubikelnya.

Ya, Tuhan . Apa berkas yang kemarin salah lagi?

Hani langsung gelisah dan mual seperti biasa.

"Eh, lo dipanggil, tuh! Minum kopi dulu biar tenang. Sampe keringetan gitu." Dini satu-satunya karyawan lama yang sering mengajak Hani berbicara menghampiri kubikel.

"Gue nggak beli kopi," jawab Hani.

"Kebiasaan lo emang. Jangan terlalu pelit untuk diri sendiri, Beb!" Dini berlalu menuju ruang fotokopi di sebelah pantry.

Ya, memang sudah menjadi kebiasaan Hani. Terlalu pelit dengan diri sendiri. Mati-matian mengencangkan ikat pinggang demi menumpuk pundi rupiah di tabungan demi mencapai kebebasan finansial di usia muda seperti impian banyak orang.

Semua buku tentang kepribadian dan cara menghadapi atasan, seketika tak berguna saat berhadapan dengan Bu Curry. Wanita karir berparas tegas dan menikah dengan seorang pria asing itu adalah legal manager. Dan Hani adalah seorang legal staff. Ya. Lulus dengan nilai IPK bergelar summa cumlaude tak membuat Hani cepat diangkat menjadi legal coordinator. Bekerja selama empat tahun, Hani masih menjadi pesuruh di timnya.

Dan sekarang, Bu Curry memanggilnya ke ruangan yang sudah bisa dipastikannya untuk urusan apa. Pekerjaan Doni si legal coordinator yang dilimpahkan padanya pasti ada kekeliruan.

Hani meneguk air putih hangat dari tumbler-nya. Setelah merapikan rambut dan letak kacamatanya, ia menyeret langkahnya menuju ruangan Bu Curry.

"Pasti kamu yang mengerjakan update regulasi nasional ini, kan?" Bu Curry setengah mencampakkan beberapa lembar kertas yang disisipi paper clip ke meja.

"Iya, Bu. Benar. Saya yang mengerjakannya karena—"

"Sudah berapa tahun kerja, sih? Masa yang begini aja kamu nggak becus. Di bawah itu memang tanda tangan Doni, tapi kalau kamu yang diminta bantu mengeceknya, harusnya bisa lebih bener. Sudah dua orang yang ngerjain, masih bisa salah!"

"Maaf, Bu," sahut Hani dengan gugup memasukkan lembaran rambutnya ke belakang telinga. Perutnya semakin mual dan rasa-rasanya ia bisa muntah di tempat itu.

Please, jangan ngomel panjang lebar. Jangan sampe abis diomelin aku harus bersihin muntahku di ruangan ini.

"Memangnya kamu nggak pernah belajar dari senior-senior? Dalam beberapa tahun ini, apa yang kamu pelajari?" sergah Bu Curry.

Hani menunduk memandangi tanda pengenal yang menampilkan foto cantiknya tengah tersenyum. Dalam pasfoto itu ia terlihat bahagia sekali. Foto awal diterima bekerja di sebuah perusahaan besar farmasi yang bergerak di bidang manufaktur.

Apa yang udah aku pelajari? Memerintah junior seenak jidat? Enggak pernah melibatkan junior dalam setiap project yang melibatkan kompetensi saat rekan sejawat lain diikutsertakan? Khawatir akan kemampuan junior yang lebih unggul? Menegur di depan orang ramai? Mencemooh? Kritikan terus-menerus? Menekan dan mengintimidasi? Atau yang paling parah, mengambinghitamkan junior yang belum memiliki wewenang apa pun? Gimana kerjaan si Doni tolol itu? Banyak keliru, kan? Ternyata masuk ke sebuah kantor besar karena relasi erat dengan direksi nggak bikin tambah pinter. Yang ada malah makin goblok!

Hani memaki-maki di dalam pikirannya. Mengatakan semua hal yang tak bisa ia katakan langsung pada orang lain. Di dalam pikirannya ia bebas mengatakan apapun tanpa khawatir siapa pun tersinggung.

"Hani ... kamu denger?" tegur Bu Curry.

Hani mendongak dan mengerjapkan mata. Ia sedang berusaha keluar dari kubangan pikiran yang sedang berusaha menghiburnya. "Maaf, Bu. Saya akan perbaiki secepatnya. Besok pagi saya serahkan lagi ke Mas Doni untuk ditandatangani lebih dulu. Sekali lagi maaf, Bu" Hani sedikit menunduk, kemudian maju selangkah untuk mengambil berkas dari atas meja.

Meski selalu mual karena hardikan Bu Curry, Hani selalu puas jika mendapati pekerjaan seniornya tak diterima. Bu Curry seperti biasa. Tak menjawab sepatah pun. Perempuan itu hanya mengibaskan tangan mengusirnya dari sana.

Sebentar lagi masuk waktu makan siang. Dan Hani masih mengerjakan perbaikan soal regulasi nasional yang diminta atasannya. Ternyata Doni tak memperbarui tentang dimensi penataan regulasi nasional yang baru ditetapkan pemerintah.

"Han, gimana? Revisinya kalo bisa jangan sampe sore, ya. Gue mau pulang lebih awal. Besok gue nggak masuk. Udah ngambil cuti sehari doang. Jadi, kalo bisa lo kerjain secepatnya," ujar Doni menumpukan sikunya di atas kubikel.

Jangan sampai sore nenek moyangmu, Don! Aku udah ngelewatin makan siang demi mengerjakan sesuatu yang harusnya jadi urusanmu. Harusnya kertas-kertas ini aku jejalkan ke mulutmu biar kamu ngerti cara kerja yang benar!

Hani ingin mengatakan hal itu. Tapi sayangnya yang keluar dari mulutnya hanya, "Baik Mas, paling lama gue siapin sejam lagi."

"Sip! Hani memang selalu keren," ucap Doni kemudian pergi sambil bersiul-siul.

Kalau saja dulu Hani tahu bahwa Doni yang dinilainya paling berengsek di antara para senior berengsek di kantor itu seumuran dengannya, ia tak akan sudi memanggil laki-laki itu dengan sebutan Mas. Sayangnya semua sudah terlambat. Doni sudah telanjur besar kepala dengan senioritasnya.

Sejam kemudian, Hani yang selalu berhasil menepati janjinya sudah memegang sebuntalan kertas menuju meja Doni. Seperti biasa Doni menandatangani semua kolom bagiannya dengan wajah puas dan senyum menjengkelkan.

Pukul delapan malam, Hani membereskan mejanya. Semua pekerjaannya hari itu berhasil ia selesaikan tepat waktu. Besok pagi ia tinggal menyerahkan pada Bu Curry. Dini satu-satunya manusia di kantor yang mau berbicara selain hal pekerjaan padanya, sudah pulang sejak tadi.

Ponsel yang terletak di atas meja bergetar pendek-pendek. Kantor yang lengang dan kubikel kosong membuat suara getaran ponsel itu sedikit mengejutkan Hani. Ia cepat-cepat membuka aplikasi pesan. Benar dugaannya, pesan dari Indra.

Lo masih di kantor? Gue baru selesai meeting di pusat. Makan dulu, yuk.

Tak perlu berpikir dua kali, Hani langsung menyambar ponsel dan tasnya, lalu tergesa menuju lift. Sebagian lampu ruangan telah dipadamkan menuruti kampanye hemat energi demi menutupi efisiensi perusahaan. Sama sekali tak memikirkan nasib karyawan over time yang merinding tiap harus menyusuri ruangan gelap menuju lift.

"Gue di mini market biasa! Makan onigiri. Buruan!" Hani kembali memasukkan ponselnya ke saku jas.

Dengan kresek putih di tangannya berisi empat onigiri dan dua botol air mineral, ia menarik kursi besi berat di salah satu pojok teras mini market.

Mini market itu menempati dua buah bangunan lantai dasar gedung perkantoran. Tempatnya di sisi luar mengarah jalan yang masih berada dalam lingkungan tiga tower gedung yang berdampingan. Bagi Hani, mini market itu aman sebagai tempat mengumpat dan melepaskan penat.

"Onigiri lagi? Gak ada bosennya. Ckckck." Indra baru tiba dan langsung berdecak seraya menarik kursi besi.

"Lo mau nambahin omelan ke gue lagi?" Hani langsung melahap setengah onigiri dengan satu gigitan. Pandangannya lurus ke depan. Tak menoleh pada Indra yang sudah duduk di sisi kanannya.

Indra menunduk sekilas untuk menggeser kursinya sedikit maju. "Sepatu lo ganti, udah butut banget. Kasi kado buat diri sendiri," ujar Indra yang ternyata benar-benar menambahkan omelannya.

"Tabungan gue masih jauh dari kata cukup untuk pelesir ke Machu Picchu," sahut Hani menyodorkan botol air mineral pada Indra. Sahabat pertama dan satu-satunya sejak ia menangis pertama kali di salah satu kursi teras mini market itu.

Indra memutar tutup botol lalu menyodorkannya kembali pada Hani. "Gimana kantor?"

"Si Curry sehat walafiat. Masih buta ama bawahan langsungnya. Dan tim gue, tetap cuma judulnya aja yang tim. Yang kerja sebagian besar masih gue sendiri."

"Gue udah capek nyuruh lo resign , tukas Indra mengambil sebuah onigiri dari dalam kresek mini market dan membuka botol air mineral untuknya sendiri.

"Gue takut bakal susah cari kerja. Bisa pingsan emak gue di kampung kalo tiba-tiba gue pulang jadi pengangguran."

"Gue juga udah capek bilang ke lo jangan resign dulu sebelum keterima di perusahaan lain Hani . Jakarta ini luas. Enggak ada tempat untuk manusia-manusia lembek. Lo khawatir nggak dapet kerja yang berurusan dengan bidang hukum? Sampe kapan mau kerja yang posisinya sesuai ama gelar lo?" Indra kembali mendaratkan omelan yang sama untuk ratusan kalinya.

Dan jawaban Hani selalu sama. "Gue nggak pede, Ndra. Gue rikuh kalo harus mulai semuanya dari awal lagi. Enggak bakal sanggup gue," ucap Hani.

Indra menoleh iba pada perempuan di sebelahnya. Stephanie, nama yang terkesan kota namun tak menyiratkan hal itu di kelakuannya. Alih-alih dipanggil dengan sebutan Stefie bak bintang film. Di kampungnya, ia dipanggil dengan sebutan Hani yang melekat sampai di ibukota.

DRRRTT DRRRTT

Ponsel Hani bergetar panjang di atas meja. Hanya sederetan angka. Tak merasa punya hutang dan keharusan menghindar dari debt collector, Hani menjawab telepon itu.

"Ya?" jawabnya malas-malasan.

"Han, ini Ayu! Kamu, kok, keluar dari grup besar SMA sih? Inget ini tahun berapa? Reuni akbaaar," teriak Ayu dari seberang telepon.

"Hah? Ayu? Reuni ak—bar?" Dua kata yang menyadarkan Hani malam itu. Dagunya yang tadi bertumpu di atas meja, kini tegak. Suara Ayu yang ceria di telepon, belum apa-apa sudah membuatnya insecure. Ia keluar dari grup SMA dan menghilang dari dua sahabatnya yang sama-sama merantau ke ibukota, bukan tanpa alasan.

Hani minder. Grup SMA terasa mencekiknya. Yang dibicarakan semua orang hanya pencapaian dan pencapaian. Suami, istri, anak, harta, karir, dan kalimat-kalimat menyombongkan diri yang dibalut keluhan. Merendah untuk melambung tinggi.

"Han! Kita harus ketemu. Inget, reuninya tiga bulan lagi. Inget juga janji kita dulu. Kamu, aku, Tika. Kita harus ketemu. Bawa suami atau pacar kamu. Aku pengen liat pasangannya primadona SMA Membalong kayak apa. Info reuni aku kirim lewat chat. Aku panitianya. Semua orang pada nyariin kamu. Dasar!" pekik Ayu dengan girangnya.

Seperti apa? Primadona SMA? Primadona itu sudah lama mati. Kalau saja ia mendapat suami seorang politisi muda seperti Ayu, atau Tika yang bersuamikan dokter sukses, ia mungkin tak akan capek-capek menghilang.

Dua wanita dari desa dengan pendidikan sarjana sepertinya tapi memiliki pencapaian luar biasa. Tak perlu kerja keras membanting tulang, tapi bisa kaya dan cantik mentereng. Dua wanita itu hanya perlu menjadi seorang istri laki-laki hebat.

Pembicaraan sudah berakhir. Hani diam menunduk memandang heels kusamnya. Heels yang sudah dijahit dan dilem empat kali.

"Kenapa?" tanya Indra.

"Reuni akbar SMA Membalong."

"Terus?"

Fixed gue enggak dateng. Gue enggak mau cari penyakit," lirih Hani.

"Hei, stupid ... lo harus dateng," ucap Indra."Kalo di kota, gue wanita karier. Kalo di kampung, gue perawan tua." – Hani

***

"Gue mo balik," kata Hani seraya bangkit menggeser kursi.

"Sendirian di kos-kosan? Mending ke apartemen gue. Kita main kartu kayak kemarin. Yuk, ah," ajak Indra ikut berdiri dan menyeret lengan Hani.

Indra merangkul pundak Hani menuju taksi yang baru saja menurunkan penumpang. Malam itu, kemungkinan besar mereka akan kembali menikmati waktu semalam suntuk untuk mengeluh dan mencerca atasan di kantor.

"Kerja di sektor swasta yang dinamis, sebenarnya bisa jadi media yang bagus untuk mengembangkan diri dan kompetensi," gumam Hani dari jok belakang taksi.

"Hmmm ...," lirih Indra tanpa menoleh. Pandangan mereka sama-sama lurus ke depan. Indra kembali mendengar cerita yang sudah diulang puluhan kali oleh sahabatnya.

"Harusnya bisa saling tukar pikiran, brain storming sehat dan persaingan sportif. Demi memajukan perusahaan dan memajukan karier tentunya."

"Nyatanya?"

"Nyatanya komunitas nggak sehat itu dianggap normal. Gue yang dasarnya susah deket dengan orang baru, sekarang malah makin parah. Cuma Machu Picchu yang bikin gue tahan, nggak turn over ."

"Dan itu nggak cuma lo aja. Di awal jabatan gue jadi marcom manager , gue kelimpungan Han .... Mana yang biasa nempatin posisi itu tiba-tiba ngundurin diri. Gue belajar semuanya dari nol lagi. Promotion awareness branding , semua. Apalagi lo tau brand perhiasan perusahaan gue udah tinggi banget. Hampir semua orang kaya di Indonesia punya berlian dari perusahaan gue kerja. Lain lagi kalo gue harus ke kota lain untuk ngurus pembukaan boutique store baru. Ribet, sampe kadang gue lupa istirahat. Tapi gue happy , gue menikmati. Menurut gue, level kebahagiaan tiap orang itu, nggak cuma mentok cuma soal nikah. Untuk sekarang, gue lagi happy sendirian. Menikmati perkembangan karier gue."

"Lo sih enak ...," ucap Hani.

"Gue ngomong gitu bukan mau manas-manasin lo. Gue cuma mau lo bisa milih sesuatu yang bisa lo jalani dengan happy, tanpa ngeluh. Kerja kalo nggak ikhlas capeknya double."

"Lo langsung berhadapan dengan klien lo yang kaya-kaya. Enggak kayak gue yang cuma jadi kacung."

"Kan, lo idealis. Cuma mau kerja yang sesuai latar pendidikan lo aja. Padahal sayang banget ngabisin empat tahun dengan mengeluh," tukas Indra setengah bangkit melihat taksi yang sudah masuk lingkungan apartemen.

"Oke, Pak. Berenti di sini aja." Indra mengambil tas laptopnya dari jok dan membuka pintu mobil bersamaan dengan Hani.

"Apa gue harus jadi kacung lo aja?" tanya Hani tertawa melangkahkan kaki masuk ke lobi apartemen.

"Kenal banyak klien kaya itu enak lho ...." Indra mendahului Hani untuk men-tap kartu akses di sensor lift.

"Enak? Jangan-jangan lo ...." Hani menoleh pada sahabatnya yang tengah tersenyum mengangkat alis.

"Gue dikasi wine lagi. Ayo kita buka," ajak Indra mengalungkan tangannya di bahu mungil Hani dan berjalan keluar lift.

"Besok masih ngantor. Sinting ...," gerutu Hani.

"Enggak apa-apa sinting, ketimbang pusing. Baju lo masih ada di tempat gue."

Indra merasa malam itu mereka harus melakukan ritual mengeluh semalam suntuk. Menurutnya, Hani sudah terlampau rajin untuk ukuran seorang staf. Tak pernah terlambat ke kantor dan selalu berhasil mengerjakan tugasnya dengan memuaskan.

Namun sampai detik itu, Hani belum mendapat reward apapun dari kantornya. Bukan berupa benda atau uang, setidaknya Hani pasti membutuhkan pujian yang bisa memotivasinya. Sayang Indra belum bisa membujuk sahabatnya itu untuk lebih 'membebaskan' dirinya sendiri.

Indra mengerti apa yang dirasakan sahabatnya. Beberapa tahun yang lalu, ia sempat mengalami fase yang sedang dijalani Hani sekarang. Bedanya, ia lebih berani mengambil keputusan. Hani pintar. Tapi sayangnya, di dunia pekerjaan pintar saja tidak cukup.

Dua jam tiba di kamar Indra dan duduk beralaskan permadani tebal di depan televisi sudah membuat Hani cekikikan. Wajahnya memerah karena dua gelas wine. Di hadapan mereka terbentang mainan ular tangga. Mereka selalu menganggap itu sebagai hal lucu karena sesuai dengan hidup mereka. Naik tangga yang tinggi, dan sekejab bisa meluncur turun karena salah melangkah. Atau biasa mereka sebutkan sebagai permainan takdir.

"Lo tau nggak?" Hani mengangkat gelas wine-nya ke arah Indra.

Indra yang sudah setengah mabuk menggeleng-geleng karena tak mengerti maksud Hani.

"Oke, lo nggak tau. Jadi gue kasi tau." Hani menarik napas dan mengembuskannya perlahan.

"Dulu, Ayu geblek banget di kelas. Semua-semuanya nyontek dari cowo-cowo yang bisa dia manfaatin. Makanya gue nggak heran kalo dia bisa dapet suami kaya." Hani terbahak-bahak sambil melayangkan pukulan ke bahu Indra.

"Artinya dia yang dulu lebih pinter dari lo. Terbukti, kompetensinya teruji sejak di bangku sekolah." Indra ikut terbahak-bahak. Tawa Indra mampu membuat Hani bungkam.

"Gue ... nggak suka dibanding-bandingkan, Ndra! Gue nggak suka!" pekik Hani yang sudah benar-benar mabuk.

"Ba-gus!" Indra mencondongkan gelas wine-nya dan mengadunya dengan gelas di tangan Hani.

"Apalagi si Tika! Beuuuhh ... lemot banget! Tapi dia pinter memelas. Dulu cowo-cowo kasian ama dia. Bener-bener dia cuma modal tampang doang." Hani menghabiskan sedikit wine yang tersisa dari gelasnya.

"Tambah lageee ...," ujar Indra kembali membuka sumbatan botol wine dan membagi semua sisanya ke gelas mereka berdua. Bukan gelas wine. Mereka meminum wine itu menggunakan mug yang biasa dipakai untuk minum kopi.

"Gue cantik nggak?" Hani berdiri dan memutar tubuhnya di depan Indra.

"Cantik—cantik. Lo cantik, tapi geblek. Pelit, nggak modis, old fashioned ." Indra terkekeh-kekeh.

"Sialan! Temen sialan." Hani mengulangi ucapannya kemudian mengembuskan napas. Sering mual tiap berhadapan dengan Bu Curry, tapi entah kenapa lambungnya baik-baik saja tiap dimasuki alkohol. Indra bilang, mualnya berkaitan dengan kondisi psikis. Bukan kesehatan tubuhnya saja.

"Makanya gue saranin, lo harus dateng ke reuni itu. Bawa laki-laki ganteng, kaya, dan ter-ke-nal. Temen-temen lo bakal ternganga."

"Siapa? Laki-laki kaya mana yang mau ama gembel kayak gue," ratap Hani kembali meneguk wine-nya.

"Kan, Ayu sendiri yang bilang lo dulu primadona. Berubah lagi Han ... lo juga bisa cantik. Duit lo udah banyak. Dipake dong ...."

"Emang! Gue dulu pernah jadi primadona. Jaman SMA, tuh, gue cakep, pinter, bokap gue berduit. Nah, sekarang?" Hani kembali meneguk wine-nya. "Sekarang gue diwanti-wanti berhemat karena seluruh harta bokap gue, udah habis untuk menjadikan adik-adik gue PNS." Hani kembali tertawa. Kali ini tawanya terdengar sumbang.

"Laki-laki idaman lo yang kayak apa?" tanya Indra dengan raut serius namun terlihat tolol karena sebotol red wine yang sudah kandas mereka bagi rata.

"Untuk dibawa ke reuni?" tanya Hani. Indra mengangguk-angguk sambil menutup mulutnya seakan menahan muntah.

"CEO!" pekik Hani dengan mata setengah terpejam.

"Kenapa harus CEO?" tanya Indra.

"Ha-rus! Seandainya gue jadi pergi, laki-laki yang gue bawa ke reuni harus CEO yang terkenal! Harus ganteng! Harus ... single tentunya. Temen-temen gue pasti pada browsing nyari nama CEO itu. Grup alumni SMA yang gue tinggalkan bakal geger. Gue bakal dikenal sebagai Hani si wanita karir yang kekasihnya CEO." Hani tertawa terbahak-bahak sambil memegang gelas wine-nya.

"Sebentar ...," kata Indra meletakkan gelas wine-nya dan merangkak menuju laci meja televisi.

"Oke, gue ambil ini." Indra mengangkat sebuah kotak berisi segepok kartu nama klien Infinity Jewelry yang bertahun-tahun menjadi langganan jaringan butik perhiasan itu.

"Terserah lo—terserah lo," sela Hani terkikik-kikik.

"Trus ... gue sortir. Trus gue acak dulu ... terus ... lo pilih satu. Buat nama yang terpilih, lo harus deketin dia dengan berbagai cara. Abisin tabungan lo untuk ubah penampilan. Soal hasil belakangan. Yang penting lo udah nyoba. Biar hidup lo nggak cuma tentang ngumpulin duit," kata Indra dengan wajah merah.

"Oke-oke, mana ... mana? Gue mau ambil kartunya." Hani mengusap dahinya dan membenarkan letak kacamata.

"Janji?" tanya Indra memastikan.

"Janji ...," ulang Hani.

"Deketin siapapun CEO yang kepilih?"

"Deketin CEO yang kepilih ... siapapun ...," ulang Hani lagi dengan mata mengantuk karena gelas wine ketiga yang diminumnya.

"Oke, ambil!" Indra menyodorkan sepuluh kartu nama CEO yang dibalik.

Hani tergelak sesaat namun kemudian wajahnya berubah serius seakan berpikir keras. Telunjuknya di depan mulut dengan dahi mengernyit.

Kemudian ....

"Yang ma-na-yang-ku-pi-lih!" ucap Hani dengan mata setengah memejam. Jari telunjuknya berpindah-pindah di atas deretan kartu nama yang tengah direntangkan Indra. Ia lalu menarik sebuah kartu nama dan langsung membalikkan kartu untuk melihat hasil pilihannya.

Hani mencoba melebarkan mata. Pandangannya tak fokus karena pengaruh alkohol. Ia lalu mengangkat kacamata hingga ke dahi.

Tak sabar melihat hal itu, Indra merampas kartu itu dari tangan sahabatnya. "Nicholas Cipta Dalmiro. Presiden Direktur Grup Dalmiro."

"Ok-ke!" Hani mengacungkan jempolnya ke arah Indra lalu terkekeh.

"Nicholas ini single tapi ...."

"Kenapa lagi? Cepet! Ak-ku ngantuk ...." Hani merebahkan tubuhnya di sofa.

"Tapi udah tunangan." Indra meringis meletakkan kartu nama itu di depan mulutnya.

"Bodo amat." Hani kembali menegakkan tubuhnya. "Gue nggak akan mundur. Mana kartunya? Gue bakal telfon sekarang." Hani mengulurkan tangan meminta kartu nama.

No—no ... jangan telfon. Udah malem. Gimana kalo kita chat aja? Pake nomor lo. Lebih mesra ...." Indra meraih ponsel Hani yang terletak di dekat ular tangga.

"Ngomong apa—ngomong apa?" tanya Hani antusias.

"Kita cari dulu tipe perempuan dia tuh kayak apa—" Indra meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu di kolom pencarian.

"Yang gimana?" tanya Hani sambil mengetikkan sederet nomor ponsel dan menyimpannya. "Gue bikin siapa namanya? Hmm ... Mas Nicho?"

"Iya—iya, itu aja. Lebih mesra. Mas Nicho," sambut Indra terkikik-kikik.

"Oke, udah gue save. Jadi, gue ngomong apa nih?" Hani menyeka dahinya yang sudah mulai berkeringat. Banyaknya alkohol yang masuk ke tubuh membuatnya kepanasan.

"Artikel di sini, katanya ... dia nggak punya tipe wanita tertentu. Yang penting nyambung. Apa, ya, maksudnya ...," gumam Indra yang mendadak bodoh karena alkohol.

"Nyambung ... trus apalagi?" tanya Hani tak sabar.

"Menurut artikelnya, 'Manja dan menggemaskan pasti akan disukai setiap pria. Mengingat karakter pria yang ingin selalu dibutuhkan.' Gitu Han ...," sambung Indra lagi.

"Hueeek ... kok, gue jadi jijik? Man-ja dan menggemaskan. Ge-mas." Hani berpikir-pikir kemudian menunduk mengetikkan pesan. Bibirnya menyunggingkan senyum.

"Lo bilang apa? Jangan bilang lo cuma kacung di perusahaan lo!" Indra berseru mengingatkan.

"Tenang—tenang. Gue bakal ngegantiin posisi Bu Curry sementara. Hahaha." Hani kembali tertawa.

"Iya ... iya ... bagus. Gue udah ngantuk banget by ... the ... way ...." Indra menjatuhkan dirinya di permadani dan berguling membelakangi Hani memeluk bantal sofa.

Hani masih mengetikkan pesan panjang di ponselnya dengan raut bahagia luar biasa. Setelah puas dengan hal yang diketiknya, Hani mencampakkan ponsel dan ikut merebahkan tubuhnya di atas permadani.

Sebelum menutup mata, ia melirik jam dinding. Sudah lewat tengah malam. Tak akan ada pria baik-baik yang membalas pesan di jam itu. Alam mimpi perlahan merangkak memasuki tidurnya.

Wine selalu bisa membuat Hani tertidur pulas tanpa mimpi buruk sampai pagi. Dan seperti acara mabuk-mabukan sebelumnya, pagi berikutnya selalu diwarnai dengan kegaduhan.

"Mampus! Gue harus ngasi kerjaan yang kemarin ke Bu Curry. Gue udah bilang, jangan ajak gue mabok. Lo udah manager, gaji lo nggak akan dipotong dan lo nggak bakal dapet SP kalo telat." Hani terburu-buru menyisir rambutnya di depan sebuah kaca tinggi di dekat pintu.

"Ndra! Bikinin gue teh, please ... perut gue agak mual karena inget si Curry ayam. Buruan!" pinta Hani.

Indra yang sudah selesai berpakaian langsung menuju mini bar dan membuatkan segelas teh untuk sahabatnya.

"Ini! Cepet minum." Indra menyodorkan secangkir teh hangat langsung ke mulut Hani.

Hani mencampakkan sisirnya dan meraih cangkir teh untuk segera menuntaskan isinya.

"Gue berangkat!" pekik Hani dari depan pintu seraya buru-buru memasukkan kakinya ke sepatu.

"Eh, hape lo—hape!" Indra menyambar ponsel Hani yang masih berada di atas permadani.

"Hampir aja! Untung si Curry ayam nggak nelfon gue. Atau jangan-jangan gue udah dititipin kopi pagi ini?" Hani mengusap layar ponselnya.

Sedetik, dua detik, mata Hani kian terbelalak.

"Ya, Tuhan ... Ndra! Mati gue, mati! Kali ini gue pasti mati. Ya, Tuhan ... wine terkutuk." Hani membekap mulutnya.

"Bilang apa lagi si Curry ayam? Liat sini!" Indra menyambar ponsel dari tangan Hani yang masih membekap mulutnya.

Ternyata pesan itu bukan dari Bu Curry. Tapi dari seseorang yang dini hari tadi dinamai Hani dengan sebutan 'Mas Nicho'.

Isi pesannya, 'Siang ini saya ada urusan di Escape Tower. Jadi penasaran dengan legal manager yang katanya bisa manja dan menggemaskan. Oke. See you Stefie ...'

Indra membelalakkan matanya. "Anjiir ... Stefie. Emangnya lo ngirim pesan apa Stef?"Ternyata selain kecantikan dan otak encer, perempuan itu juga perlu nyali. – Hani

***

'Siang ini saya ada urusan di Escape Tower. Jadi penasaran dengan legal manager yang katanya bisa manja dan menggemaskan. Oke. See you Stefie.'

Hani mencampakkan tasnya ke lantai dan menyeret Indra ke sofa. Saat ini ia tak terlalu mengkhawatirkan Bu Curry. Ia lebih mengkhawatirkan apa saja yang sudah dikatakannya pada Presdir Grup Dalmiro dini hari tadi. Setelah beberapa saat mencengkeram erat tangan Indra, Hani menghirup napas dalam-dalam dan menyodorkan ponselnya.

"Ndra, gue nggak berani scroll pesan itu. Lo aja! Liat apa yang udah gue ketik ke Mas Nicho itu. Gue nggak berani—gue nggak berani. Ya, Tuhan legal manager di perkantoran Escape Tower. Stefie. Oh, shit!" Hani membungkam mulutnya.

"Oke, kita liat sama-sama." Indra menyambar ponsel dan langsung membuka aplikasi pesan.

Hani menggigit bibirnya.

"Kita mulai dari paling bawah." Indra melirik Hani yang sudah menggigit bibir bawahnya, memejamkan mata dan mengangguk-angguk lemah. "Oh God" – Indra menegakkan duduknya – "gue bacain sekarang."

"Nicholas Cipta Dalmiro, gimana rasanya jadi orang kaya? Pasti asik. Setidaknya harta bisa menyelamatkan tampang kamu yang biasa-biasa aja." Indra menatap Hani yang sekarang membekap mulutnya dengan mata memejam. Indra kembali melanjutkan.

"Kaya berkat orang tua, ya? Aku curiga kamu sebenarnya nggak bisa apa-apa. Dan sekarang, udah tunangan. Tunangan kamu pasti cantik, dengan warisan berlimpah dan isi kepala pas-pasan. Kamu tersinggung? Wajar. Karena yang aku katakan, semuanya pasti bener." Indra melirik reaksi Hani.

"Wine terkutuk," desis Hani.

"Kalo cuma cari wanita yang bisa manja dan menggemaskan, seorang legal manager di Escape Tower juga bisa. Bisa jadi aku jauh lebih cantik dan jenius dibanding tunangan kamu. Lingkaran pernikahan orang kaya omong kosong. Yang kaya kawin ama yang kaya biar hartanya nggak ke mana-mana. Mengabaikan perasaan dan milih dijodohin cuma karena duit. Sound disgusting!" Suara Indra ikut meninggi seiring dengan pesan teks Hani yang dibacanya.

"Ibu," ratap Hani.

"Takut miskin? Hidup di kota besar pemikiran, kok, kampungan!"

"Oh, no ...." Hani memutar tubuhnya dan membungkuk di pegangan tangan sofa.

"Pemilik perusahaan seperti kalian sebenarnya nggak kerja. Yang banting tulang itu para bawahan. Kalian juga nggak pernah ngecek keadaan karyawan kalian gimana. Betah atau tidak? Sejahtera atau tidak? Lingkungan kerjanya baik atau tidak. Yang kalian pikirkan cuma profit profit profiiit terus." Indra membacakan pesan itu dengan berapi-api yang membuat Hani semakin tersiksa.

Hani tersengal-sengal meremas bagian dada kemeja satinnya. "Cukup—cukup. Gue nggak sanggup lagi."

Ada dikit lagi, "Wanita manja dan menggemaskan? Mesum banget." Indra menutup aplikasi pesan. "Gimana?" Indra memandang sahabatnya.

Selama hidup di dunia ini, Hani merasa tak pernah membuat satu pun kekacauan. Hidupnya selalu lurus-lurus saja. Jadi anak manis dan pintar, jadi siswi baik, mahasiswi baik, bahkan karyawati yang saking baiknya malah selalu dimanfaatkan. Hani bangkit dari sofa dan memungut tas tangan yang tadi dicampakkannya begitu saja.

Dan kemarin malam, Hani menumpahkan segala unek-uneknya pada seorang presdir. Ia tak mengenal siapa Nicholas. Melihatnya saja tak pernah. Hidupnya sudah terlalu sibuk pergi subuh dan pulang larut malam. Bukannya mencaci maki Bu Curry, Doni atau rekan-rekan kerja yang selalu merendahkannya, Hani malah mengumpat hidup orang lain.

"Gue mau pulang aja. Enggak masuk kerja hari ini. Gue mo nyiapin surat resign ," ucap Hani merampas ponselnya dari tangan Indra. Gue pasti dituntut. Hate speech , penghinaan, perbuatan tidak menyenangkan, dan gue pasti disomasi untuk minta maaf di depan khalayak ramai. Gue pasti harus memposting video permintaan maaf di semua sosial media yang gue miliki. Gue nggak pernah posting apa-apa. Sekalinya posting, malah video nangis-nangis minta maaf. Sebelum itu terjadi, gue kayaknya harus nyari orang itu buat minta maaf." Bahunya terkulai dan Hani menyeret kakinya yang lemas ke arah pintu.

"Eh, tunggu dulu—tunggu dulu. Kita harus ngomongin ini dengan kepala dingin. Kita analisa isi pesan si Mas Nicho. Gue rasa, kalo dia mau nuntut lo secara hukum, dia nggak perlu capek-capek bales pesan lo itu. Sekretaris pribadinya langsung laporin lo, dan tiba-tiba lo dapet surat panggilan kepolisian."

"Masa, sih?" tanya Hani tak yakin. Tapi rautnya sedikit mengendur.

"Nyari lo itu mudah. Dia malah repot-repot bales pesan. Menurut gue, dia kesel. Marah. Tapi pengen meluapkannya langsung ke lo." Wajah Indra kembali serius.

Hani kembali mencampakkan tasnya dan duduk di sofa. "Jadi, nasib gue gimana?"

"Sebentar—sebentar, jangan buru-buru. Gue malah nggak bisa mikir kalo diburu-buru. Gue baca lagi pesannya." Indra kembali merampas ponsel sahabatnya dan kembali menekuni pesan pendek Nicholas.

"Its like confessions." Indra bergumam mengatakan bahwa Hani seperti sedang membuat pengakuan.

"Enggak tau, gue nggak tau." Hani merebahkan tubuhnya di permadani. "Gue nggak tau harus gimana ini. Sinting banget gue, sinting!" Hani berguling memeluk bantal sofa dan memukul permadani berkali-kali.

"Tapi ...," gumam Indra.

"Apa?" Hani mengangkat wajahnya memandang Indra.

"Kalo cuma ngirim itu aja, nggak apa-apa. Masih aman, kecuali kalo lo ada ngetik nama perusahaan. Gue baca lagi, lo nggak ada ngomong apa-apa selain nama Escape Tower. Cuekin aja mungkin laki-laki itu cuma kesal sesaat waktu bales pesan lo. Dia orang terkenal, pasti sering nerima pesan teror." Indra duduk di sofa masih menggenggam ponsel

"Sering nerima pesan teror, tapi mungkin nggak ada nerima pesan mencela kayak gue. Haduuh ...," ratap Hani kembali berguling.

"Tapi dia nggak ada bales lagi, kok. See ?" Indra mengangkat ponsel Hani dengan senyum percaya diri.

"Jadi, diabaikan aja?" tanya Hani meyakinkan diri.

"Abaikan aja. Lagian dia itu presdir, pasti sibuk. Enggak ada waktu untuk ngurusin hal receh kayak gini." Indra mencampakkan ponsel ke permadani tebal.

Namun, seperti mendengar akan hal yang sedang mereka bicarakan, ponsel Hani bergetar dan menyala sebegitunya menyentuh permadani. Sebuah notifikasi pesan menyembul keluar.

Hani dan Indra saling berpandangan. Indra turun dari sofa dan kembali memungut ponsel. Hani duduk menegakkan diri sedang bersiap dengan kabar terburuk.

"Siapa?" Suara Hani sedikit bergetar. Kabar dari siapapun tak ingin didengarnya. Bu Curry, Doni, atau ayahnya di kampung halaman. Hani tak mau. Untuk saat ini Hani tak ingin menerima kabar dari siapapun.

"Han ...," bisik Indra dengan suara yang membuat kuduk merinding. Hani mengangguk pelan mempersilakan sahabatnya merilis berita. "Liat ini," ucap Indra menyodorkan pesan terbaru dari Nicholas.

'Hai Stefie, status pesan saya sudah terbaca, tapi sepertinya Anda abaikan. Saya tunggu klarifikasi Anda di kedai kopi lantai dasar Escape Tower pukul satu siang ini. Kalau Anda tidak datang, tiga jam berikutnya akan ada orang yang datang mencari Anda.'

"Dia kayak denger lagi diomongin," ucap Hani. "Gue dateng Ndra, gue datengin aja. Gue minta maaf, jujur kalo gue lagi mabuk dan terlibat permainan konyol. Thats it. Gimana?"

Indra yang tadinya telah rapi dengan seluruh rambutnya tersisir rapi ke belakang dengan aroma minyak rambut segar, kini sedikit berantakan. Beberapa rambutnya turun dan ia terlihat gelisah memikirkan nasib sahabatnya.

"Ini karena gue. Gue yang mulai nantangin lo. Lo udah pasti kena damprat ama Curry ayam, pasti dihina-hina si Doni karena hari ini nggak masuk. Lo pasti ditinggal makan siang dengan setumpuk kerjaan yang dititipin mereka. Dan sekarang, lo dateng cuma minta maaf kayak pecundang. Gue nggak rela, Han .... Nicholas manusia sibuk. Gue sering ketemu dengan manusia kayak dia. Mereka akan menghargai orang yang sama levelnya dengan mereka. Atau setidaknya yang dia nilai intelektualitasnya lebih tinggi. Kalo lo datengin Presdir itu dengan dandanan segembel ini, lo juga bisa jadi korban amarah dia di depan umum." Indra menggeleng tak setuju.

"Dan itu kedai kopi Escape Tower, Ndra .... Tempat gue hilir mudik tiap hari buat beli titipan temen-temen gue." Hani melemparkan tatapan resah. "Jadi gue harus gimana?" tanya Hani putus asa.

"Gue juga mau nambahin ...," kata Indra.

"Ya, Tuhan .... Apalagi?" Hani berdecak frustasi.

"Kalimat lo yang bilang ke dia setidaknya harta bisa nyelamatin wajah kamu yang pas-pasan. Gue nggak nyangka lo bisa sebego itu. Lo nggak pernah liat berita atau majalah-majalah pria?" tanya Indra.

Hani menggeleng. "Gue terlalu sibuk hidup di kantor," lirih Hani. "Memangnya tampangnya si Nicholas ini gimana, sih?" Hani mengambil ponselnya bermaksud untuk browsing.

"Enggak usah. Udah telanjur." Indra menghela napas panjang.

"Jadi gue harus gimana?" Hani kembali mencampakkan ponselnya dengan kesal. "Tadi gue mo minta maaf, lo bilang nggak usah. Orang semarah apapun kalo ada yang minta maaf dengan tulus, mustahil nggak dimaafin. Setidaknya gue terlihat tulus," sergah Hani.

"Lo pilih yang mana? Laki-laki ganteng minta maaf ke lo, atau laki-laki yang biasa banget minta maaf ke lo?" tanya Indra dengan satu alisnya dinaikkan. "Mana yang bikin lo ngerasa lebih keren?"

"Ada orang ganteng minta maaf ama gue. Jelas gitu."

"Nah, kita kembali ke rencana semula. Lo harus buat presdir itu nggak jadi marah." Indra duduk di permadani menyilangkan dadanya.

"Caranya?" Hani menaikkan kacamata dan menghembus helaian rambut yang menghalangi pandangannya.

"Sebentar," ucap Indra merogoh ponsel di kantongnya dan mengetikkan sesuatu dengan cepat di sana. "Kita langsung berangkat. Ini udah mau jam sepuluh pagi. Gue bolos juga hari ini. Ayo berangkat! Gue jelasin di jalan rencananya."

Indra menyeret Hani yang masih terlihat bimbang mengikuti ajakannya. Langkah Hani tersandung-sandung mengikuti langkah kaki sahabat dekatnya itu.

"Oke, ucap Indra. Lo jangan potong ucapan gue, cukup dengerin dan jawab ya atau tidak. Kita nggak banyak waktu."

"Ya," sahut Hani langsung.

"Belum dimulai, Nyong." Indra melengos menoleh Hani yang kadang bisa begitu naif.

"Kita beli pakaian. Setidaknya, satu set jas terbaik yang biasa dipakai eksekutif muda pasti dipakai oleh seorang legal manager ." Indra menoleh pada Hani meminta persetujuan.

"Ya," jawab Hani.

"Dan lo tau jas itu pasti mahal. Lo yang bayar," sambung Indra melambaikan tangan memanggil taksi yang melintas baru saja menurunkan penumpang di depan lobi apartemen.

"Tidak," sahut Hani. Indra menoleh dan menyipitkan matanya.

"Ya," ralat Hani kemudian mengikuti Indra masuk ke taksi.

"Sepatu lo itu, buang." Indra memandang tajam Hani di sebelahnya.

"Ya." Hani mengangguk. Mungkin sudah saatnya ia berpisah dengan sepatu butut yang sudah membersamai langkahnya selama empat tahun terakhir.

"Trus kita ke salon," ucap Indra. Tampilan lo nggak banget. Dan gue nyesel baru bilang itu sekarang," sambungnya lagi.

"Sialan ...," desis Hani.

Perlu waktu dua jam buat Hani memutuskan setelan jas yang akan dibelinya. Bukan perkara model, tapi masalah harganya. Setelah diskusi yang panjang dan alot, akhirnya Hani melepas kartu debitnya untuk digesek mesin EDC sebuah outlet brand high end . Indra tersenyum puas keluar dari outlet itu. Dan Hani tentu saja berjalan bak raga tak bernyawa. Jas, sepatu dan sebuah tas baru menghabiskan dua bulan gajinya. Buat Hani, itu jumlah yang sangat besar.

Sejam berikutnya mereka habiskan di sebuah salon mal itu. Hani lagi-lagi kembali ragu saat memutuskan rambutnya harus diapakan. Dan Indra harus berdebat beberapa saat soal mode terbaru yang belakangan dianut oleh para wanita.

"Buruan ganti pakaian di belakang aja," pinta Indra menyodorkan sebuah paper bag pada sahabatnya.

"Oke,"jawab Hani segera bangkit dan mematut wajahnya sekilas di cermin salon. Kacamatanya telah tanggal dan berganti dengan sepasang soft lense berwarna hazelnut. Sesaat tadi ia tak menyangka bahwa dengan sentuhan sederhana pada mata dan rambutnya bisa membuat tampilannya begitu berbeda.

Selama Hani berganti pakaian, Indra menyibukkan dirinya dengan membaca-baca berita soal Nicholas. Ia tak ingin Hani diam tanpa bahan pembicaraan dengan pria itu. Permintaan maaf ini harus elegan, pikirnya. Kesan pertama harus benar-benar baik. Hani harus angkuh, sombong, berkelas, dan mahal. Nicholas tak boleh meremehkannya.

Dan saat Hani melangkah keluar dari bagian belakang salon, Indra mendongak terperangah.

"Gimana?" tanya Hani memutar tubuhnya. Sepasang sepatu bertumit sepuluh senti dan rok span di atas lutut, membuat kaki jenjangnya terlihat.

"Lo cantik banget ...," ucap Indra.

"Makasi ...," sambut Hani.

"Sama-sama. Selama lo diem aja, lo cantik banget," tegas Indra.

"Tetep sialan seperti biasa," umpat Hani.

Sudah lewat dari waktu yang dijanjikan Nicholas. Mereka terjebak macet dalam perjalanan kembali ke Escape Tower. Indra menyeret-nyeret Hani agar bisa berjalan lebih cepat dengan heels barunya. Pukul 13.15 mereka baru tiba di depan kedai kopi.

"Sabar, kaki gue udah lecet ini kayanya," keluh Hani.

"Han ... si Nicholas beneran dateng," bisik Indra menunjuk sosok pria berjas yang duduk membelakangi dinding kaca. "Cepet masuk, inget yang udah gue ajarin selama di jalan tadi." Indra mendorong pintu kaca dengan satu tangannya menggenggam tangan Hani.

Sesaat mereka berdua berpandangan, lalu Indra mengangguk. Hani menarik napas dalam-dalam.

"Doain," bisik Hani, melepaskan genggaman tangan sahabatnya.

"Pasti," bisik Indra. "Pasti gue doain.""Satu kebohongan akan mengikuti kebohongan lainnya." -Hani

***

Langit masih tersungkup awan gelap saat Nicholas bangun tidur setiap hari. Tak ada kata begadang. Kecuali untuk urusan-urusan penting yang melibatkan bisnisnya. Lebih tepatnya, bisnis keluarga yang ia kelola.

Ayahnya adalah pemilik gurita bisnis properti asal Indonesia, Grup Dalmiro. Diambil dari nama keluarga yang turun temurun menekuni bisnis itu dimulai dari sederet bangunan pertokoan puluhan tahun yang lalu.

Bulan sebelumnya, Nicholas baru meneken sale and purchase agreement , sebagai pengembang utama Signature Tower senilai 2,43 triliun yang akan menjadi landmark baru di Kuala Lumpur. Sebuah proyek prestisius dan investasi besar Grup Dalmiro di negara tetangga. Yang lumayan mengejutkan lantaran, bukan sikap seorang Nicholas Cipta Dalmiro mau muncul di depan publik.

Grup Dalmiro memiliki properti yang terdiri dari sekitar 21 perusahaan sebagai bisnis utama, bidang jasa sebanyak lima perusahaan, perusahaan investasi dan keuangan sebanyak dua perusahaan di luar negeri, serta enam perusahaan di sektor manufaktur seperti kaca dan keramik yang bertempat di dalam negeri dan Singapura.

Terdengar sangat 'wah' di telinga siapa saja. Kakek buyutnya sangat berhasil membuat keturunannya bisa hidup lapang dan berbalut kemewahan.

Namun, hal yang terlihat sempurna itu tak membuat hidup Nicholas mulus. Ayahnya telah menikah lagi dan tinggal bersama istri sirinya di Singapura. Sedangkan ibunya, tinggal di sebuah rumah mewah dan bertahan untuk tak menggugat cerai karena khawatir akan masa depan putra satu-satunya.

Ayahnya pergi meninggalkan mereka dan sekarang memiliki putra-putri lain. Meski dari istri kedua, ayah Nicholas mengusahakan harta peninggalan untuk anak-anak hasil perkawinan keduanya.

Setiap hari, urusan Nicholas tak hanya mengurusi perusahaan kakeknya yang bisa diambil kapan saja untuk dibagi. Meski secara hukum yang tertulis sekarang, ia merupakan CEO dari semua itu, ia masih merasa bahwa kedudukannya lemah.

Ibu tirinya, sebut saja begitu. Setiap saat mengirimkan bujukan-bujukan, ancaman atau peringatan bahwa semua harta itu tak sepenuhnya milik ia dan ibunya.

Dan Nicholas, tak rela kalau ibunya harus menyerah dan kembali berbagi sesuatu yang memang menjadi hak mereka. Bukan soal harta, tapi itu semua soal harga dirinya.

Nicholas bangkit keluar kamar dan pergi menuju dinding kaca. Ia menyibak tirai apartemen yang berada di lantai 40. Langit mulai menyemburat merah pertanda matahari sesaat lagi akan keluar.

Terbayang lagi percakapan bersama ibunya kemarin malam.

"Kamu nggak harus nikah sama Tari cuma demi menguatkan posisi kamu di perusahaan. Mama nggak apa-apa," ucap ibunya.

"Mama lebih sayang kalo kamu harus ngabisin hidup dengan perempuan yang nggak kamu cinta. Harusnya kamu bisa jadiin hidup Mama sebagai contoh. "

Kemarin malam ia dan ibunya berdiri bersisian menghadap hamparan gedung pencakar langit dan bergumul dengan pikiran mereka masing-masing sambil sesekali berdebat.

"Nich, Mama nggak apa-apa." Ibunya menoleh, mencengkeram erat lengannya demi meyakinkan isi perkataan barusan.

"Kamu nggak harus kasian dengan Mama yang bertahan dalam rumah tangga di atas kertas ini. Papa dan Mama pernah saling cinta. Mama yang mau bertahan demi kamu. Bagaimana pun, kamu putra sulung."

Kemarin malam, Nicholas hanya diam. Ia hanya ingin membebaskan ibunya dari rumah tangga toxic . Ia menyanggupi untuk menikahi Tari karena orangtua wanita itu bersedia memberikan dukungan penuh untuknya di jajaran direksi. Jika suatu saat adik tirinya masuk ke perusahaan, posisinya sudah kuat. Ibunya bisa melenggang mengurus perceraian dan menikah dengan pria yang mungkin bisa mendampingi masa tuanya. Ia hanya tak mau ibunya merasa kesepian.

"Jangan Nich ... Mama nggak niat menikah lagi. Mama nggak apa-apa. Mama masih cinta Papa kamu. Anak Mama terlalu keren untuk perempuan seperti Tari. Mama kurang suka," tambah ibunya.

Nicholas mengembuskan napas kasar. Baginya menikah dengan siapa saja tak ada bedanya. Tari cukup cantik dan sangat berpendidikan. Jabatannya di perusahaan keluarga mereka sangat bagus. Setidaknya, anak-anak mereka nanti memiliki masa depan cemerlang.

Meski pembicaraan mereka terkesan sangat serius, tapi ibunya turun dari lantai 40 itu dengan wajah riang. Ibunya hanya berpesan untuk mengabaikan pesan teror dari wanita yang mengambil suaminya.

Matahari memancarkan cahaya dari sela-sela gedung pencakar langit. Pagi yang baru, pikirnya. Pikirannya berat, egonya sedang bertempur untuk tak menyerah begitu saja. Tapi pembicaraan bersama sang ibu selalu menjadi siraman semangat untuk menyusun keputusannya.

Sudah dua hari Nicholas tak mendapat pesan teror dari perempuan yang mengiba pembagian harta padanya. Untuk itu, dia berterima kasih pada sang kakek yang begitu cerdas membuat wasiat. Walau setiap saat ayahnya bisa memberikan jabatan dan mengalihkan sebagian saham pada anak laki-lakinya yang lain.

Seiring matahari menerpa wajahnya, Nicholas tersenyum. Sedikit lagi, pikirnya. Ia berjalan menjauhi jendela menuju ponsel yang terletak di atas lempengan charger wireless .

Nicholas menyalakan ponsel dengan harapan harinya bakal lebih menenangkan tanpa pesan-pesan itu lagi. Semoga ... pikirnya.

Ponselnya berkedip sekali kemudian menyala seluruhnya. Tanpa suara, ponsel itu bergetar tak henti-henti menandakan banyaknya berbagai notifikasi yang masuk.

Aplikasi pesan selalu menjadi tujuan pertama jarinya. Mulai dari atas, pesan dari sekretaris, dari ibunya, dari seorang sahabatnya dan berbagai grup yang kadang tak sempat ia toleh. Jemarinya terus menggeser mencari pesan aneh dari nomor telepon negara tetangga.

Bibirnya baru saja mengukir senyum karena tak melihat pesan yang membuatnya naik darah. Tapi ternyata, paginya belum bisa menenangkan. Sebuah pesan dari nomor telepon yang tak dikenalnya mengirimkan pesan panjang lebar yang berisi hinaan bertubi-tubi. Dadanya sampai sesak karena isi tulisan itu benar-benar menggambarkan keadaannya.

"Stefi? Legal manager ?" desisnya. Rahangnya kembali mengeras. Bahkan ia belum meneguk teh pagi itu.

"Dikirim dini hari. Perempuan gila mana ini?" gumam Nicholas, lalu mengetikkan balasan.

***

Nicholas melirik jam di pergelangan tangannya, lalu memandang ke luar jendela, sudah terlambat 15 menit dari waktu yang disepakati. Di luar kedai kopi itu orang lalu lalang namun tak terlihat satu pun yang memiliki gelagat akan datang menemuinya ke dalam.

Nicholas sengaja memilih sebuah sofa yang membelakangi pintu masuk. Ia tak ingin terlihat begitu menunggu. Pesan-pesan itu belum dihapusnya. Seperti ingin kembali membakar emosinya, Nicholas kembali menunduk memandang ponsel membaca deret hinaan yang ditujukan padanya.

Bodoh sekali pikirnya. Nomor telepon yang sangat mudah dilacak sekejab saja. Ia memang tak berniat memanjang-manjangkan masalah ini. Andai publik tahu isi pesan yang dikirimkan padanya, hal itu malah bisa membuatnya malu. Dia hanya ingin memastikan alasan perempuan tak beretika itu menghinanya. Apa ia pernah berbuat kesalahan di masa lalu yang bahkan tak diingatnya?

Saat Nicholas tengah menunduk, suara langkah sepatu terdengar semakin jelas mendekat. Suara yang ia sering dengar saat sekretaris datang membawa berkas ke mejanya. Entah kenapa ia sedikit menahan napas. Kepalanya masih menunduk saat sudut matanya menangkap sepasang kaki berbalut sepatu tinggi tengah berdiri di hadapannya.

Betisnya bagus ....

Nicholas perlahan mengangkat kepala. Sedikit kesal dengan isi pikirannya barusan. Ia menatap wanita dengan dandanan kelas atas yang melemparkan tatapan angkuh padanya.

Sudah berbuat salah, bukannya memasang wajah memelas tapi malah sesombong itu. Percuma cantik kalau tak beretika.

"Excuse me," sapa Hani. "Mr. Dalmiro?" tanyanya lagi. Hani menelengkan kepalanya ke kiri untuk memindahkan rambutnya ke sisi itu.

Pandangan Nicholas langsung tertuju pada leher jenjang yang seperti sengaja dipertontonkan padanya. Stefi. Inilah wanita yang bekerja sebagai legal manager dan memaki-makinya dini hari tadi.

"Hmmm-" sahut Nicholas kemudian. "Stefi?" tanyanya meyakinkan diri.

Yes , saya Stefi. Boleh saya duduk? Atau saya cukup meminta maaf sambil berdiri?" Hani berharap makhluk di depannya tak mendengar nada suaranya yang sedikit bergetar.

Benar-benar sombong. Legal manager katanya ....

Hani merasa harus segera duduk. Kakinya lecet dan sepatu mahal yang dirasanya sangat tinggi itu sudah membuat betisnya menegang.

"Duduk," pinta Nicholas melirik sofa kosong di hadapannya.

Tak sadar Hani langsung menghempaskan dirinya dan berseru, "Ahh ...." Kemudian ia langsung diam mencoba menguasai dirinya lagi. Ia sadar Nicholas sedang meneliti penampilannya.

Hani menegakkan bahu dan menyilangkan kaki seperti yang diajarkan Indra tadi. Dengan mulut sedikit mengerucut, ia membelai permukaan buku menu dengan jemarinya.

Harus konsep manja dan menggemaskan. Konsep wanita tolol yang disukai pria-pria munafik. Tak perlu otak. Cukup bergelayut manja. Menjijikkan!

"Langsung saja, kamu sadar nggak kalo kamu bisa dituntut atas isi pesan kamu itu?" Nicholas duduk bersandar menyilangkan satu kakinya dengan elegan dan kedua tangannya berada di pegangan sofa tunggal.

Hani tak berani memandang Nicholas, sedikit panik ia membalik-balikkan buku menu yang kini sudah berada di pangkuannya.

"Boleh saya pesan minum lebih dulu?" tanya Hani dengan mata masih tertuju pada buku menu.

"Bisa jawab saya?" Nada suara Nicholas sedikit meninggi.

"Oh, ya-ya. Tentu saja," potong Hani cepat. Ia gugup sekali. Kepalanya langsung terangkat dan tangannya refleks memeluk buku menu. Pandangan mereka kini beradu.

Ya, Tuhan. Harusnya kemarin aku browsing dulu soal si Dalmiro ini .... Terlalu ganteng untuk dimaki-maki. Bodohnya aku ....

Pandangan Hani benar-benar terpaku. Hani membelai wajah Nicholas dengan tatapannya. Wajah dan penampilan Nicholas benar-benar jauh dari bayangannya.

"Beri saya alasan untuk nggak ngelaporin kamu," kata Nicholas.

"Silakan aja laporin," sahut Hani langsung. Dagunya sedikit terangkat saat mengatakan hal itu.

Semoga ilmu sesat ini berhasil. Semoga .... Ya, Tuhan .... Aku bersumpah nggak akan minum alkohol lagi.

Nicholas menaikkan alis dan melemparkan tatapan tajam ke arah Hani.

"Kamu nantangin saya?" tanya Nicholas dengan nada rendah nyaris berbisik.

"Nggak mungkin saya nantangin anggota keluarga Dalmiro yang kaya dan berjasa untuk kemajuan negara ini." Hani menarik senyum sinis dan mengerjapkan matanya sekali.

Entah penelitian mana yang udah ngebuktiin kalo mengerjap bisa meluluhkan hati orang lain. Indra sinting ... Indra sinting .... Dan aku lebih sinting lagi karena nuruti semuanya.

Nicholas mengubah duduknya. Kedua tangan yang tadinya berada di pegangan sofa, kini menyatu di atas pahanya.

"Isi pesan kamu itu nggak mencerminkan kalo kamu legal manager . Kamu tau konsekuensinya apa. Kamu ada dendam apa dengan saya?"

"Ok, wait ...." Hani menatap berkeliling. "Saya perlu minum. Tenggorokan saya rasanya kering banget." Hani meletakkan menu dan berjalan melewati Nicholas seanggun mungkin.

Belai pegangan sofa si Dalmiro dengan ujung jari kalo berjalan melintasinya. Ilmu sesat yang baru. Kenapa harus pegangan sofanya, Ndra?

Kasir kedai kopi hampir saja meneriaki Hani saat melihatnya berdiri dengan tampilan yang sepenuhnya berubah.

"Kak Hani ... ternyata Kak Hani yang duduk di depan Mas Ganteng itu. Cantik banget. Kenapa nggak gini setiap hari? Barusan Mas Doni dari sini beli kopi. Pake acara ngomel karena Kak Hani nggak masuk. Kayak nggak punya kaki untuk jalan aja." Kasir muda yang mengomel itu bernama Tati. Hani kenal baik karena hampir setiap hari Tati menghiburnya dengan ikut mengata-ngatai Doni.

"Psst ... buruan. Aku nggak bisa lama." Hani melirik gelisah pada punggung lebar Nicholas di kejauhan.

"Ya, udah, nanti dianter. Sana!" usir Tati.

"Kamu yang anter, ya. Jangan berisik." Hani meletakkan telunjuk di bibirnya. Tati masih oke dalam hal menahan omongan. Asal jangan pegawai lain yang sering mengatakan, 'Ganbatte!' Untuk menyemangati kerja rodinya. Bisa porak poranda skrip yang sudah disusun tadi.

Hani berjalan kembali ke sofanya.

Doni berengsek. Apa aku pantesnya cuma jadi jongosnya aja? Dasar mulut ember. Bangga banget punya anak buah yang bisa disuruh kayak kacung.

Hani mengepalkan tangannya dan kembali duduk di hadapan Nicholas. Laki-laki itu langsung mendongak dan menarik napas untuk berbicara.

"Jadi- "

"Maaf. I'm so sorry . Aku nggak sengaja. Aku dan temenku minum wine dan buat permainan konyol. Menghubungi orang dengan kartu nama orang lain secara acak. Yang kepilih, nama kamu. Aku minta maaf ...." Hani mengubah tatapan matanya seolah sedang memohon perpanjangan deadline pada Bu Curry. Ia menyebutnya sebagai tatapan tanggal tua.

Nicholas terpaku sesaat. Tak menyangka wanita yang awalnya tadi begitu angkuh sekarang terlihat memelas.

Enak aja. Terlalu mudah Kalau dimaafin sekarang. Permainan konyol dan nggak bertanggung jawab sampai melibatkan orang asing. Oh no ... kamu kira kamu berurusan dengan siapa?

"Udah berapa tahun kamu jadi legal manager ?" tanya Nicholas memastikan.

"Empat. Kurang lebih," jawab Hani mengedikkan bahunya dengan anggun. "Kenapa?"

"Pasti kamu sering main golf dengan perkumpulan advokat. Ya, kan?"

"Of course , golf ... terlalu sering malah."

"Cocok kalo gitu." Nicholas tersenyum puas.

"Maksudnya?" Hani mulai cemas dengan kata cocok yang baru saja ia dengar.

Cocok apa? Cocok apa miskaaahh? Cocok jadi Caddy? Atau jadi stick-nya?

Buktikan di lapangan golf Sabtu nanti. Tempat dan waktunya akan diinfo. Nicholas berdiri kemudian mengancingkan jasnya. Saya permisi dulu. Kamu juga pasti sibuk karena ini masih jam kerja. Jangan biarkan bawahan kamu yang ngerjain semua.

Nicholas mengibas bagian depan jasnya kemudian berbalik dan menuju pintu. Hani mengikutinya dengan pandangan.

Di luar pintu kaca, Indra sedang berusaha tak menarik perhatian Nicholas dengan menempelkan tubuhnya pada dinding kaca."Orang berlomba memakai barang branded hanya demi terlihat hebat di mata orang lain. Bukan untuk dirinya sendiri." - Hani

***

Indra masih berdiri merapatkan tubuhnya di dinding luar kedai kopi dengan mata tak lepas memandang Nicholas yang menghilang ke dalam sedan mewah berwarna hitam.

Hani tertatih-tatih berjalan keluar setelah mengambil kopinya yang baru saja selesai dibuatkan.

"Nih, buat lo. Kalo tau ketemunya cuma sebentar, gue nggak akan pake acara akting beli kopi. Rugi," ketus Hani menyerahkan caramel macchiato berukuran sedang.

Indra masih terperangah dengan mulut setengah ternganga.

"Heh!" teriak Hani.

"Iya gue denger, ck." Indra menyambar gelas kopi dengan wajah sebal.

"Ngeliatin apa, sih?" tanya Hani melihat ke arah tempat di mana mobil Nicholas baru saja pergi.

"Gue nggak nyangka. Aslinya seganteng itu. Kakeknya berdarah Jerman. Pantes idungnya tinggi kayak Monas." Indra masih berdecak.

"Ndra, kayaknya gue nggak bakal sanggup deh ... barusan gue salah ngomong lagi kayaknya." Hani menghentakkan kakinya yang semakin terasa pegal saat ia berdiri.

"Apa lagi? Lo bilang apa lagi?" Indra menyeret Hani yang menghalangi pintu masuk kedai kopi.

"Gue laper, kita ke mini market." Hani gantian menyeret lengan Indra untuk menuruni undakan anak tangga dan pergi menyeberang ke tower lain.

Setelah membayar tak lebih dari lima puluh ribu, Hani keluar mini market menenteng belanjaannya. Indra sudah duduk di kursi teras tempat mereka biasa duduk. Siang itu tak ada orang di sana selain mereka berdua.

"Jadi?" tanya Indra tak sabar. "Ganteng, kan?" Indra menaikkan alisnya menunggu Hani memuji Nicholas.

"Awalnya, gue speechless . Lo harusnya menyiapkan batin gue untuk hal itu. Mana gue sempet bilang mukanya pas-pasan ck. Enggak akan sanggup kalo lama-lama ngobrol ama dia. Gue nggak tahan ama cara dia natap gue. Hii-" Hani bergidik.

"Tapi lo udah minta maaf, kan?" Indra memastikan.

"Udah-udah. Malah karena gue minta maaf itu jadi timbul masalah baru." Hani menarik napas berat.

"Apa?"

"Gue minum dulu." Hani memutar tutup botol dan meneguk setengah botol air putih dengan satu napas.

"Sabar-gue sabar," jawab Indra ikut menusukkan sedotan pada caramel macchiato yang sejak tadi dipegangnya.

"Sebelumnya gue mau ngomong. Gue emang belum pernah ngeliat wujud asli si Nicholas ini secara langsung. Liat berita aja gue hampir nggak pernah. Tapi menurut gue dia terlalu artifisial. Dari ujung kaki sampe ujung rambut, semuanya branded . Penampilannya itu kayak hasil cuci otak kaum kapitalis yang berhasil menjual produknya ke dia. Si Nicho ini, make sesuatu yang mahal untuk ngebentuk pribadi buatannya itu. Biar keren diliat orang lain. Bukan demi dirinya sendiri." Hani meletakkan botol air mineral dan meraih onigiri yang ia letakkan di atas ponselnya.

"Lo yang milih bawa tumbler berisi air anget tiap hari ketimbang beli kopi, gak akan pernah ngerti soal itu. Semua bukan soal branded dan kaum kapitalis yang lo sebut tadi. Merek-merek itu, mahal karena menghargai perancangnya. Masa lo udah kuliah designer mahal-mahal, tapi lo nggak pengen balik modal. Buat lo yang beli tas 300 ribuan mata tau rasanya pake tas mahal. Mungkin ini kali pertama lo beli tas harga empat juta. Itu juga pasti udah mahal banget buat lo ," sinis Indra menatap hani yang langsung mengambil tisu dan mengelap tas barunya.

"Eh, ini masukin ke paper bag -nya lagi dong ... gue nggak mau naik bis pake ini." Hani mengeluarkan semua isi tas yang baru sejam dipakainya.

Indra melengos lalu mengambil paper bag yang ia letakkan di atas kursi sebelah kirinya. "Lo nggak usah ngomongin soal kapitalis selain ama gue. Entar kalo banyak duit, lo nggak akan ngomong kayak gitu lagi. Jangan sampe lo menjilat ludah lo sendiri." Indra mengeluarkan tas butut dan mencampakkannya ke pangkuan hani.

Hani terkekeh-kekeh saat memasukkan kembali isi tasnya yang berserakan di atas meja. "Setidaknya gue nggak ngikut arus. Enggak mati-matian nyicil kartu kredit setiap bulannya cuma demi beli barang branded . Gue lebih milih pake barang lokal yang asli. Gue nggak mau jadi budak gaya hidup. Setidaknya, meski saat ini gue masih jadi pecundang di kantor, gue masih punya jati diri." Hani tersenyum jumawa dengan sudut bibirnya berselemak saus mayo.

"Doyan banget nyimpen struk mini market." Indra meraup struk dari dua mini market langganan Hani. Satu dari mini market di tempat mereka duduk, satunya lagi struk dari mini market yang terletak di simpang jalan kos-kosan sahabatnya itu.

"Jangan dibuang ... ini belum sempet gue itung jumlahnya berapa. Gue harus tau udah ngabisin berapa tiap bulan hanya untuk jajan aja. Lo jangan malu punya temen kayak gue. Yang penting, gue jadi diri sendiri." Hani merampas struk yang akan dibuang Indra. Setelah mengancing tas bututnya, Hani kembali mengambil onigiri dan menyobek sebungkus saus mayo sachet dengan giginya.

"Jangan lupa jati diri lo sebagai legal manager ," tukas Indra santai mengingatkan.

Hani mendelik saat mendengar ucapan Indra barusan. Ia langsung meletakkan onigiri dan menyeka mulutnya dengan asal.

'Ndra ... golf-golf." Hani mengguncang lengan kanan Indra yang bertumpu di atas meja.

"Apa sih?" Indra menoleh lengan kemejanya. Ia tahu tangan Hani baru saja menyeka mulutnya yang belepotan saus mayo. Indra mengambil tisu dan mengelap ujung lengan kemejanya.

Sementara Hani mengibaskan mulutnya seperti orang kepedasan. Ia berusaha menyusun kata-kata yang sulit keluar karena rasa panik yang menyerangnya barusan.

"Gue- legal manager . Kata si Nicholas, para legal manager yang tergabung di persatuan atau perkumpulan advokat sering main golf. Gue bilang gue sering main golf ...." Hani terdengar mencicit di akhir kalimatnya. Ia meraup rambut panjangnya yang tadi dibentuk ikal cantik, untuk menutupi seluruh wajahnya.

"Ha? Trus?" Indra meletakkan gelas kopinya.

"Dia nantangin gue main golf hari Sabtu nanti ... gue salah jawab-gue salah jawab. Harusnya gue emang jujur aja dari awal. Gue nggak mungkin dateng hari Sabtu buat main golf. Gue nggak ngerti orang ngapain mukul bola jauh-jauh terus sibuk dicari-cari di lapangan seluas itu. Gue nggak ngerti .... Liat stik golf langsung aja gue nggak pernah. Kali ini gue nggak mungkin dateng ...." Hani membenamkan wajahnya di lipatan tangan.

Indra masih terdiam mencermati ratapan Hani yang membabi buta. Sesaat terdiam, Ia membelalak dan memancarkan cahaya cemerlang di matanya.

"Eh, perempuan! Lo diem dulu. Dengerin gue." Indra mengambil bekas sedotan kopinya dan menusuk kepala Hani berkali-kali.

"Apa?!" Hani bangkit mengusap-usap kepalanya yang terasa sedikit basah terkena tetesan sisa kopi dari ujung sedotan.

"Lo masih belum lupa tujuan kita ngacak kartu nama malem itu, kan? Nyari CEO Han! Gue udah bilang ke lo bolak-balik, Nicholas itu orang sibuk. Dia nggak akan buang waktu cuma untuk nemuin orang yang ngirim pesan nggak jelas ke dia. Bisa jadi dia dapet bisikan gaib kalo dia harus nemuin lo .... Nah sekarang, lo liat sendiri. Dia malah nantangin lo main golf, hari Sabtu pula. Kalo nggak karena ada feeling ke lo, gak mungkin dia mau buang-buang waktu. Mending dia ngapel tunangannya." Indra kembali menyilangkan tangan di depan dada.

Hani mulai merasa gelisah tiap Indra melakukan gesture yang satu itu. Hani selalu merasa terintimidasi.

"Masa, sih ," gumam Hani tak yakin. "Tapi gue nggak punya peralatan golf ... mahal. Gue juga nggak punya seragam golf, gue harus beli lagi-duit lagi ... aaargghh," pekik Hani kembali meraup rambutnya untuk menutupi wajah.

"Gue cariin peralatan golfnya. Kalo kita sewa, kesannya nggak eksklusif. Gue pinjem ke Bu Erni atasan gue, doi pasti ngasi. Lo tinggal beli baju, sepatu, sarung tangan ama topi biar keliatan keren dan profesional. Gimana?" Indra mencengkeram lengan Hani deng

Kembali ke Beranda