Gambar dalam Cerita
Sabetan pedang berwarna putih bercahaya membelah salah satu leher Hydra yang hampir menyemburkan napas di depan wajah Claude dan Elwood. Kepalanya terputus dan menggelinding ke bawah kaki Elwood. Sang pangeran peri bergidik ngeri, sontak ia mengangkat kakinya menghindari percikan darah hijau yang keluar dari potongan kepala Hydra tersebut.
Sebuah nyala api putih menyambar tunggul leher Hydra sebelum kepala baru sempat tumbuh. Nyala api yang sama juga menyambar potongan kepala Hydra yang tergeletak di dekat kaki Elwood. Monster Hydra meraung keras, tubuhnya terhuyung tak tentu arah. Beberapa saat kemudian makhluk itu roboh menghantam salah satu sisi benteng. Namun sepersekian detik kemudian, monster itu bangkit lagi.
"Archibald!" pekik Claude yang baru saja menyadari jika peri yang menolongnya saat itu adalah Archibald.
Archibald yang kini berada di sampingnya mengangguk pelan sebagai respon. Napasnya memburu, sementara matanya masih fokus menatap Hydra yang perlahan kembali bangkit. Sang pangeran peri tidak datang sendiri. Tak jauh dari tempatnya berdiri, Ratu Breena muncul dengan kedua telapak tangan yang menggenggam dua bola api putih.
"Breena?!" pekik Maurelle dengan mata membelalak.
Ratu Breena mengerling sekilas ke arah Maurelle dengan salah satu sudut bibir tertarik ke atas. "Sudah lama tidak bertemu, Maurelle!" sapanya sarkas. Sorot matanya kembali fokus pada Hydra yang mulai mendekatinya. "Apa kau sudah bisa mengetahui di mana kepala abadinya, Maurelle?"
Maurelle terhenyak. Sang cenayang lantas mengalihkan pandang ke arah kepala-kepala Hydra yang bergerak liar sembari menyemburkan napas hijaunya, berusaha menemukan kejanggalan pada setiap kepala Hydra yang nyaris terlihat serupa. Namun, Maurelle gagal mengembalikan fokusnya dan berdecak frustrasi. "Di mana kepala abadinya?"
"Kukira mata batinmu sudah semakin tajam, Maurelle. Ternyata masih sama saja seperti dahulu!" ejek Ratu Breena yang sedang melompat untuk membakar salah satu tunggul leher Hydra yang baru saja ditebas putranya.
Rahang Maurelle mengeras, sementara salah satu tangannya sibuk mengayun pedang sihirnya untuk menangkis napas hijau Hydra yang mengarah padanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkataan Breena barusan merupakan sindiran keras terhadap kesalahannya di masa lampau.
"Aku tahu yang mana kepala abadinya!" teriak Claude, menyela ketegangan yang tercipta di antara Ratu Breena dan Maurelle.
Archibald dan Ratu Breena yang berdiri bersisian sontak memandangi Claude. "Cepat katakan yang mana kepala abadinya!" jerit Archibald.
Claude menatap monster Hydra di hadapannya dengan sengit. "Itu kepala yang itu!" tunjuknya pada salah satu kepala Hydra yang sedang menatap lurus ke depan, berbeda dengan kepala lainnya yang menatap liar ke sembarang arah. "Kepala yang selalu menatap ke arah Putra Mahkota Albert!" sambungnya mantap.
Mendengar itu, Albert mundur beberapa langkah dengan raut wajah mencekam. Sementara, Archibald dan Ratu Breena merangsek maju, menjadi tameng bagi Albert.
"Dia benar!" desis Ratu Breena. Serta merta, kedua telapak tangannya memunculkan kepulan bola api putih yang lebih besar. Kedua tangannya terangkat dalam posisi siaga.
Di sisinya, Archibald melompat dengan bertumpu pada satu kaki. Pedang perak bercahaya putih terhunus mantap dengan kedua tangan yang menggenggam erat pada gagangnya.
Kepala Hydra yang tadinya bergeming seraya menatap tajam Putra Mahkota Albert kini meraung dan hendak menyembur. Namun, kalah cepat dengan kibasan pedang Archibald yang lebih dulu membelah lehernya.
Dengan sigap, Ratu Breena memancarkan api putihnya yang langsung membakar tunggul leher dan potongan kepala Hydra. Serta merta, monster besar itu roboh menghantam tumpukan reruntuhan benteng. Tubuh monster itu bergeming dengan kepulan asap tipis yang menguar dari lehernya yang terbakar. Makhluk itu telah meregang nyawa.
"Hebat sekali kau, Claude!" puji Elwood dengan senyuman lebar, merasa lega karena Hydra sudah mati.
Claude menggeleng pelan, tatapannya masih melekat pada tubuh Hydra yang teronggok tak bernyawa. "Kau tidak perlu sihir untuk melihat sesuatu yang janggal. Kau hanya perlu melihat dengan mata hatimu," sahutnya.
"Kau benar. Sayang sekali, sesosok peri yang pernah kukenal lebih percaya sihir daripada mata hatinya sendiri!" ucap Ratu Breena menimpali.
Claude dan Elwood mengangguk pelan, menyetujui ucapan tersebut. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, Maurelle mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Rahangnya terkatup, berusaha menahan semburan kata-kata untuk menjawab ucapan Ratu Breena.
Putra Mahkota Albert yang menyadari munculnya ketegangan di antara Maurelle dan Ratu Breena berupaya mencairkan suasana. "Terima kasih banyak Ratu Breena dan Pangeran Archibald. Kalian telah menyelamatkanku dan seluruh kerajaan Avery," tuturnya takzim.
Archibald menyunggingkan senyum asimetris. "Aku heran, belakangan begitu banyak makhluk yang ingin menyelakaimu, Putra Mahkota!" ucapnya.
"Entahlah, mungkin bintangku sedang redup," sahut Albert asal sambil terkekeh.
Claude dan Elwood serentak tertawa mendengar jawaban Albert, sementara Archibald hanya mengulas senyum tipis.
"Kau harus lebih berhati-hati, Putra Mahkota. Tentu saja banyak yang mengincarmu karena posisimu, terlebih saat ini kudengar Raja Brian sedang sakit keras." Ratu Breena menimpali.
"Terima kasih telah mengkhawatirkanku, Ratu Breena. Aku akan lebih berhati-hati." Albert membungkuk hormat.
"Baiklah, sepertinya aku harus segera pamit." Ratu Breena tersenyum kecil. Pandangannya beralih dari Albert kepada Archibald. "Jaga dirimu baik-baik, Nak."
Archibald menjawab dengan anggukan takzim pada sang ibu. Dalam hitungan detik, sosok Ratu Breena menghilang.
Maurelle, Putra Mahkota Albert, Claude dan Elwood hendak beranjak memasuki Istana bersama beberapa kesatria Elf yang tersisa dari pertempuran melawan monster Hydra, ketika suara jeritan panik kembali terdengar. Mereka urung melanjutkan langkah dan menoleh pada sumber teriakan.
"A-apa itu?!" tanya Elwood panik.
Iris mata birunya menangkap beberapa makhluk mengerikan berjalan tertatih ke arah mereka. Makhluk-makhluk itu adalah para kesatria Elf yang sebenarnya telah tewas terkena napas beracun Hydra. Mereka bangkit kembali dengan kondisi yang sangat mengenaskan, dengan kulit menghijau, kuku-kuku dan gigi-gigi yang memanjang serta tatapan mata yang kosong.
"Mayat hidup?! Mayat hidup!"
Tiba-tiba suasana kembali gaduh. Para peri yang masih hidup menghambur berlarian menuju pintu-pintu terbuka di istana utama untuk menyelamatkan diri. Beberapa peri yang berhasil selamat lantas langsung menutup pintu di belakang mereka, tanpa peduli terhadap peri lain yang masih tertinggal.
Salah satu peri kesatria Elf yang tertinggal tanpa senjata diterkam mayat hidup dari arah belakang. Lehernya terkoyak dan mengeluarkan darah kental. Mendadak beberapa mayat hidup lain datang menghampiri peri nahas itu. Mereka mencakar, merobek serta menggigit peri malang itu dengan brutal.
Dalam hitungan detik, peri malang itu juga berubah menjadi mayat hidup dengan rupa yang jauh lebih mengerikan akibat luka-luka yang dialaminya. Dengan cepat, jumlah mayat hidup itu bertambah drastis dan bergerak menuju ke arah istana utama.
Archibald kembali menghunus pedangnya. Matanya memicing ke arah mayat hidup yang berjalan tertatih mendekatinya. Ia mengayunkan pedangnya, menebas salah satu lengan si mayat. Lengan itu terputus dan terpental ke sembarang arah, tetapi mayat hidup itu terus merangsek maju mendekatinya.
"Sial!" desisnya kesal. Ia kembali menebaskan pedangnya ke arah salah satu bahu si mayat hidup. Bahunya terbelah dalam, menampakkan luka hitam yang menganga. Tak ada darah yang mengucur, pun tak ada erangan sakit dari si mayat hidup.
Archibald mengernyitkan keningnya. Tangannya terus mengayun pedang melukai tubuh si mayat, berharap menemukan cara yang tepat untuk membunuh mayat hidup itu. Ia mengerling ke arah Maurelle yang berhasil menancapkan sebilah pedang tepat di jantung salah satu mayat hidup. Cara itu ternyata berhasil membuat mayat hidup benar-benar mati.
Archibald lantas melakukan persis seperti yang dilakukan Maurelle. Peri itu mengangkat pedang sihirnya tinggi-tinggi dengan kedua tangan, kemudian dalam sekali hentakan keras, ia menancapkan ujung pedang yang runcing tepat pada jantung si mayat hidup. Makhluk itu kontan jatuh tersungkur, tak sadarkan diri.
Archibald menyeringai. Permainan itu rasanya mulai sedikit menyenangkan. Gerakan sang pangeran peri semakin lincah menghabisi mayat-mayat hidup yang menyerangnya. Namun, jumlah mayat hidup itu terus bertambah semakin banyak dan semakin cepat. Semakin banyak yang tergigit atau terinfeksi mayat hidup, maka semakin banyak pula pasukan mereka.
"Bagaimana menghentikan mereka?" tanya Albert setengah mengeluh. Keringat telah membanjiri pelipisnya. Sementara gerakan pedangnya semakin melemah dan sering tak tepat sasaran.
"Mereka semua berada di bawah pengaruh sihir!" sahut Claude di tengah-tengah pertarungannya dengan sesosok mayat hidup yang sedang menggigit sebongkah kayu yang dijadikannya senjata. Napasnya tersengal. "Kita harus menemukan siapa di balik sihir ini agar dapat menghentikan sihirnya!"
"Apa?!" pekik Elwood yang sedang berlari menghindari sesosok mayat hidup seraya melemparkan barang-barang yang ia temukan. "Jika seperti ini lebih lama, kita akan berubah jadi mayat hidup sebelum kita menemukan penyihirnya!" racaunya panik.
"A-aku perlu berpikir dengan tenang! Aku tidak bisa berpikir dalam keadaan seperti ini!" Claude yang terhimpit kayu yang membatasi lehernya dan gigi mayat hidup berteriak panik. Ia meringis ngeri melihat gigi-geligi si mayat yang berlumur air liur.
Dengan sigap, Archibald menusuk jantung mayat hidup yang nyaris menggigit leher Claude dari belakang. Sementara Claude terkesiap karena ujung pedang Archibald yang nyaris menyentuh permukaan perutnya. Ia menelan ludah. "Kau nyaris membunuhku, Archibald!"
Archibald menyeringai. "Aku akan benar-benar membunuhmu jika kau tak dapat menemukan cara lain untuk memusnahkan sihir ini, Claude!"
Claude bergidik. Ancaman Archibald, meskipun hanya kelakar, baginya lebih mengerikan dari pada pasukan mayat hidup yang kini sedang mereka hadapi.
"AAARRKHHHHH Tolong! Tolong!"
Tiba-tiba sebuah teriakan melengking terdengar dari salah satu sudut taman Kerajaan Avery. Suara teriakan yang terdengar tidak asing di telinga mereka. Padahal pintu gerbang taman kala itu telah ditutup agar para mayat hidup tak menerobos ke dalamnya.
Archibald, Claude dan Elwood sontak memandang gerbang taman yang tampak terkunci itu. Beberapa peri Pixie kerajaan terlihat terbang menghambur dengan wajah panik dari bagian atas taman yang tak tertutup.
"Apa yang terjadi?" tanya Elwood pada sesosok peri Pixie yang terbang melewatinya.
Wajah peri Pixie itu terlihat pucat dan gusar. Dengan gelagapan, ia menjawab. "Jendral Thomas, ia menggigiti dan membunuh para kesatria Elf. Kemudian peri-peri yang ia gigit mulai menggila dan mengejar kami! Lalu... Putri juga dalam bahaya! Tolong selamatkan Putri Tatianna!"
Peri Pixie itu kemudian terbang berputar-putar tak tentu arah dengan panik, sebelum menghilang di balik kekacauan Istana Avery.
Demi mendengar itu, Putra Mahkota Albert langsung berlari ke arah pintu gerbang taman yang terkunci. Archibald mengekor di belakangnya, seraya menangkis serangan dari para mayat hidup yang mengincar mereka.
Dengan sekali dobrakan Albert, gerbang besi itu rusak dan terbuka. Albert membelalak ngeri begitu melihat pemandangan yang terpampang di balik gerbang taman itu.
"Tatianna!"
* * *
Suara tawa menggema dari salah satu menara di Kastel Larangan. Suara itu adalah suara tawa Minerva yang sedang menonton bayangan-bayangan bergerak tentang kekacauan yang terjadi di Istana Avery pada sebuah bola kristal yang bercahaya terang di hadapannya.
Lucifer yang bergeming di belakangnya mengerutkan alis. "Apakah ada hal yang sangat menyenangkan, Ratuku?" tanyanya ingin tahu.
Minerva terbahak, alih-alih menjawab pertanyaan Lucifer. Peri bersurai hitam itu semakin menikmati bayangan yang ditampilkan bola kristalnya.
Lucifer mendengkus sebal, merasa tak diacuhkan. "Jika tidak ada lagi yang Ratu inginkan---"
"Tunggu sebentar, Lucifer!" seru Minerva seraya melirik sekilas ke abdinya. Pandangannya kembali menyorot serius pada bola kristal di hadapannya. Kali ini tanpa tawa sedikit pun.
Dengan patuh Lucifer kembali mematung di tempatnya, menanti apa pun yang akan diucapkan dan dititahkan sang ratu. Tiba-tiba suara gonggongan Max memecah keheningan ruangan menara kastel. Anjing golden retriever itu berjalan mengitari kaki Lucifer.
"Diamlah, Makhluk Berbulu. Aku akan memberimu makan setelah ini!" hardik Lucifer dengan suara rendah pada anjing yang kini terduduk gelisah di dekat kakinya.
Minerva tersentak. Bola kristalnya otomatis padam saat ia membalikan tubuhnya menatap Max. Anjing berbulu keemasan itu meringkik ketakutan. Pandangan Minerva kemudian beralih pada Lucifer. "Apa kau sudah menemukan manusia bernama Chiara itu?" Jejaknya menghilang ketika kita meninggalkannya di dekat portal Utara," decak Minerva. Kedua lengannya terlipat di dada. Tatapannya dingin, tetapi Lucifer dapat melihat penghakiman tersirat disana.
Lucifer menundukkan kepalanya, merasa terintimidasi oleh tatapan sang ratu kegelapan. "Ampun, Ratuku. Hamba merasa ada sesosok peri yang melindungi gadis manusia itu. Hamba kesulitan mengendus jejaknya."
"Cih! Kau benar-benar tidak becus, Lucifer!" bentaknya berang. Minerva memalingkan wajahnya dari Lucifer. Tatapannya menerawang menatap langit kelabu Hutan Larangan yang terpampang dari jendela menara.
Lucifer terhenyak. Menunduk semakin dalam dan tak berani menyahut bentakan Ratunya.
"Sepertinya aku juga harus mengerjakannya sendiri!" gumam Minerva pada dirinya sendiri.
Minerva kemudian membentangkan kedua belah tangannya seraya merapal mantra dengan suara rendah. Mendadak angin bertiup masuk ke arah jendela menara di hadapan Minerva, semakin lama semakin kencang. Suara dengungan sayap serangga tiba-tiba memenuhi ruangan itu. Puluhan, ratusan, ribuan serangga beraneka jenis terbang memasuki jendela, terbang mengambang di hadapan Minerva.
Sang ratu kegelapan menyeringai bengis di dalam keremangan ruangan menara. Seekor kepik merah menempel pada salah satu telapak tangannya. Minerva lantas mendekatkan telapak tangannya itu ke bibir, kemudian menggumamkan sebuah mantra singkat. Setelahnya, ia meniup kepik kecil di permukaan telapak tangannya, sebelum meniupkan udara ke arah serangga lainnya yang terbang mengambang di hadapannya. Cahaya keunguan muncul dan berpendar dari tubuh serangga-serangga itu.
"Pergilah, para serangga kegelapan! Temukan gadis manusia itu untukku!" titahnya.
Setelah mendengar Titah sang ratu kegelapan, para serangga itu terbang menghambur ke luar jendela menara membawa pendar keuangan di tubuhnya masing-masing. Titah sang ratu adalah mutlak, yaitu menemukan gadis manusia bernama Chiara secepatnya.