Gambar dalam Cerita
Suara derap langkah unicorn memecah keheningan Fairyhill. Archibald terkesiap. Ia menajamkan penglihatan dan pendengarannya di dalam kabut yang mulai menipis. Tangannya yang gemetar menghunus sebilah pedang perak dengan waspada. Tubuh Archibald menegang.
Siluet sepasukan peri elf yang menunggang unicorn mendekati perbatasan Fairyhill dan Hutan Larangan. Jubah berwarna merah marun para peri elf itu berkibar seirama guncangan tubuh mereka di atas unicorn yang berlari kencang.
Archibald mengenali pasukan tersebut sehingga sontak menurunkan pedang dan memasukannya kembali ke dalam sarung yang tersampir di salah satu sisi pinggang. Mereka bukan ancaman. Mereka adalah para kesatria elf dengan jubah formal Kerajaan Avery. Dari balik kabut yang kian menipis, Archibald mengenali jika pasukan itu dipimpin oleh Maurelle.
Setelah jarak rombongan itu dengan perbatasan Hutan Larangan sang peri cenayang lantas memerintahkan para kesatria elf untuk menghentikan unicorn mereka. Suara derap langkah unicorn serentak berhenti.
Maurelle melompat turun dari unicornnya. Raut waspadanya seketika berubah panik saat mendapati Claude, Elwood, dan Elijah yang tergeletak tak sadarkan diri. Segera ia menghampiri Archibald yang bergeming di dekat perbatasan.
"Apa yang terjadi pada para pangeran?" tanya Maurelle kalut. Ia menatap para pangeran yang tergeletak tak sadarkan diri itu bergantian, sekali lagi. Kengerian mendadak menyelimuti wajahnya saat tak mendapati sosok Albert di sana. Sekali lagi, peri cenayang itu memutar tubuhnya melihat ke tempat-tempat yang dapat dijangkau oleh pandangan. Namun, ia tak juga menemukan sosok Putra Mahkota Albert di mana pun. Sosok sang Putra Mahkota seolah menghilang tanpa jejak. "Di mana Putra Mahkota Albert?" ulangnya sekali lagi.
Archibald mengembuskan napas panjang. "Kami baru saja diserang para orc . Setelah penyerangan itu Putra Mahkota Albert menghilang."
"A-apa? Para orc ? Mana mungkin mereka bisa memasuki Fairyhill!" Maurelle membelalak.
"Kabut dari Hutan Larangan juga masuk ke tempat ini. Kabut itulah yang membuat para orc dan Putra Mahkota Albert tiba-tiba menghilang. Apa kau mengetahui sesuatu, Maurelle? Apakah segel putih di perbatasan Hutan Larangan telah melemah?" Archibald balik bertanya penuh selidik.
"Ba-bagaimana bisa, Pangeran?!"
Archibald menaikkan salah satu sudut bibirnya, tersenyum asimetris. "Kau adalah peri cenayang, Maurelle. Mengapa kau sangat tidak peka untuk hal-hal seperti ini!"
Maurelle terdiam. Ia menundukkan pandangan, tak mampu membalas tatapan penuh selidik Archibald. Agaknya peri cenayang itu telah menyadari untuk kemudian menekuri kesalahannya.
"Bawa para pangeran ke istana! Batalkan saja misi apa pun yang akan kalian kerjakan di Fairyhill saat ini. Tempat ini tidak aman!" perintah Archibald.
"Baik, Pangeran!" sahut Maurelle. Ia mengangkat wajahnya melihat Archibald yang hendak berbalik menjauhinya. "Anda mau ke mana, Pangeran?"
"Aku harus menemukan Putra Mahkota Albert," sahut Archibald penuh tekad.
"Tidakkah lebih baik jika Anda membawa sebagian pasukan, Pangeran?" Maurelle memberi saran. Kekhawatiran tergurat jelas pada wajahnya.
Archibald lagi-lagi menyunggingkan senyuman miring. "Cih! Aku tidak memerlukan pasukan yang hanya akan menyusahkanku!"
Maurelle bungkam, menelan ludahnya dengan susah payah. Ia paham betul sifat sombong dan keras kepala yang dimiliki Archibald. Lebih baik ia mengalah dan membiarkan sang pangeran melakukan apa pun yang ingin dilakukannya. Setelahnya, Maurelle segera memerintahkan para kesatria elf untuk membawa tiga pangeran yang tengah tak sadarkan diri itu dan beranjak dari Fairyhill. Misi mereka untuk penyelidikan Dewan Peri otomatis dibatalkan.
Setelah pasukan Maurelle dan para kesatria elf pergi menjauh, Archibald melanjutkan langkahnya memasuki Hutan Larangan. Pedang perak telah terhunus di salah satu tangannya. Sementara, matanya dengan awas mengamati keadaan di sekitar.
Hutan Larangan masih sama seperti terakhir kali ia kunjungi; sepi dan magis. Kabut yang sangat tebal menyelimuti tempat itu hingga sebatas pinggang peri elf dewasa. Ranting-ranting pepohonan yang menghitam tanpa dedaunan, mencengkeram langit kelabu, menambah kesuraman hutan itu. Sejauh mata memandang, hitam, putih dan abu-abu adalah warna yng mendominasi Hutan Larangan. Bahkan, langit yang melingkupi hutan itu terlampau pekat, tanpa awan atau pun sinar matahari.
Suara koakan gagak terdengar dari berbagai penjuru hutan mengiringi langkah Archibald. Lolongan, rintihan maupun suara-suara raungan makhluk peri terkutuk lainnya juga terdengar sayup-sayup dari kedalaman hutan yang sepenuhnya berwarna hitam di hadapannya. Permukaan tanah yang tertutup kabut sedikit menghambat langkah Archibald karena ia tak dapat melihat dengan jelas akar-akar pohon besar yang menjalar di sepanjang permukaan tanah. Sesekali ia tersandung dan jatuh terguling, tetapi dengan sigap ia bangkit dan kembali berjalan.
Archibald sebenarnya telah terbiasa dengan medan Hutan Larangan. Ia sering ditugaskan sang raja secara pribadi untuk mengawasi pergerakan makhluk-makhluk unsheelie di tempat itu, karena ia adalah satu-satunya peri sheelie yang terbebas dari kutukan Hutan Larangan. Namun, kali ini rasanya sedikit berbeda. Archibald tak hanya memata-matai, tetapi juga harus mencari dan menyelamatkan Putra Mahkota Albert tanpa petunjuk yang memadai. Archibald juga tidak tahu persis siapa sebenarnya yang menculik Albert, tetapi intuisinya mengatakan jika Albert telah diculik dan dibawa ke Hutan Larangan.
Tiba-tiba, pandangan Archibald menangkap sekelebat cahaya di balik kabut tepat di bawah kakinya. Jantungnya mendadak berdentum tidak karuan. Rasa takut dan penasaran berkecamuk di kepalanya hingga akhirnya sang pangeran peri menunduk dan meraba-raba permukaan tanah yang terasa bergelombang untuk menemukan benda tersebut. Setelah beberapa saat, tangannya menyentuh sebuah benda kecil berbentuk lingkaran yang terbuat dari logam.
Archibald meraih benda itu dan mengeluarkannya dari kabut, kemudian memperhatikannya dengan seksama. Matanya membelalak. Ia mengenali benda itu. Gelang keberuntungan yang diberikan Tatianna kepada Albert sebelum mereka berangkat ke Fairyhill. Rupanya dugaan Archibald benar, Albert pasti berada di suatu tempat di Hutan Larangan.
Archibald setengah berlari, menerobos Hutan Larangan lebih jauh. Pengharapannya akan keberadaan Albert tumbuh. Namun, kewaspadaannya meningkat. Pedang peraknya yang sedari tadi terhunus kini memendarkan cahaya putih, menandakan adanya bahaya yang datang mendekat. Seluruh pedang milik para pengeran peri elf di Kerajaan Avery adalah pedang sihir yang akan memberikan peringatan tanda bahaya ketika memasuki Hutan Larangan. Pedang-pedang itu dilapisi semacam sihir putih pelindung untuk mendeteksi kekuatan sihir hitam dan keberadaan peri unsheelie jika dalam keadaan terhunus.
Sekelebat bayangan hitam yang melesat cepat seketika muncul di hadapan Archibald. Archibald berhasil menghindar saat bayangan itu nyaris menabraknya untuk kemudian menghilang kembali di balik kegelapan.
Archibald kian meningkatkan kewaspadaan, memasang kuda-kuda siaga. Matanya menatap nyalang ke sekeliling, sementara pedang peraknya masih berpendar, yang menandakan bahwa makhluk unsheelie tadi masih berada di sekitarnya.
Tiba-tiba embusan angin yang terasa janggal meniup punggung Archibald. Hawa dingin sontak menjalari rubuhnya. Archibald lantas menggeser tubuh, kemudian berbalik dengan pedang terhunus. Sekelebat bayangan hitam kembali muncul dan menyerang Archibald dengan cepat. Archibald sontak mengayunkan pedangnya, tetapi meleset. Pedangnya berdesing menyabet udara kosong di sekitarnya.
Bayangan hitam yang ternyata menyimpan sebilah senjata tajam itu berhasil melukai lengan atas sang pangeran peri. Di saat bersamaan, energi kuat makhluk itu membuat Archibald terpental ke udara dengan segaris luka gores menganga tertinggal pada lengan atasnya, lalu bayangan hitam itu kembali menghilang tertelan kabut tebal di salah satu sisi hutan.
Archibald meringis seraya membekap lukanya dengan telapak tangan, sebelum kembali berdiri dengan posisi siaga. Meski sepasang tungkainya gemetaran, ia bertekad untuk tidak lengah.
Beberapa saat kemudian, keheningan yang janggal menyergap Hutan Larangan. Suara koakan gagak yang tadi berbunyi ramai mendadak menghilang. Raungan monster dan jeritan banshee pun mendadak senyap. Dalam sepersekian detik, sekelebat bayangan hitam yang sama kembali menyerang Archibald dari arah yang tak terduga dengan sangat cepat. Archibald kehilangan fokus sehingga serangan makhluk itu membuat tubuhnya melambung tinggi menghantam ranting-ranting kering yang menghitam pada salah satu pohon. Ranting-ranting kering yang rapuh itu patah sehingga tubuh sang pangeran peri serta-merta jatuh dari ketinggian.
Archibald menjerit kesakitan bersamaan dengan tubuhnya yang berdebum menghantam tanah. Bunyi gemeretak tulang terdengar, sementara Archibald merasa tubuhnya mendadak kaku dan tak bisa digerakkan.
Sesosok makhluk menyeramkan perlahan muncul dari gelapnya kabut Hutan Larangan. Makhluk itu berkulit hijau dengan telinga runcing dan rupa menyeramkan. Sepasang sayap besar yang mirip sayap kelelawar berwarna hitam membentang, menambah kengerian sosok tersebut. Dari mulutnya yang bertaring keluarlah suara raungan keras hingga memenuhi seluruh Hutan Larangan. Gagak dan kelelawar berhamburan dari sudut-sudut tergelap hutan demi mendengar suara itu. Makhluk itu adalah goblin, makhluk peri paling jahat yang menghuni Hutan Larangan.
Archibald meringis menahan sakit saat darah segar keluar dari lubang telinganya. Belum reda sakit yang mendera sekujur tubuhnya, sang pangeran peri dihadapkan dengan kenyataan nyaris kehilangan pendengaran.
Goblin berjalan mendekati Archibald perlahan. Bibirnya menyeringai menatap tubuh malang Archibald yang tak mampu bergerak. "Kau ingin menyelamatkan saudaramu dengan kondisi seperti ini?" tanya makhluk itu dengan nada mengejek.
"Katakan di mana Putra Mahkota Albert?!" bentak Archibald berang. Wajah pucatnya terlihat memerah diliputi emosi yang sedang memuncak dan rasa sakit luar biasa yang menggerogoti tubuh.
"Dasar peri sombong! Kau bahkan tidak dapat menyelamatkan dirimu sendiri dariku!" desis Goblin marah.
Kedua mata makhluk itu menyala berwarna merah. Sebelah tangannya terangkat, memunculkan sebuah bola api yang kian lama kian membesar. Bola itu menyala, dengan lidah-lidah api berwarna kuning yang memancarkan suhu yang teramat panas. Sang goblin menyeringai jahat, sebelum mengambil ancang-ancang, bersiap untuk melemparkan bola api panas itu pada Archibald.
Archibald menatap tajam pada mata merah menyala goblin, seakan menantang. Ia menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak takut dan tidak akan tunduk, apa pun yang terjadi.
"Aku tidak takut!"
Bola api berwarna kemerahan itu akhirnya terlempar ke arah Archibald. Panas yang menguar dari permukaan bola api itu membuat sang pangeran peri seketika pingsan tak sadarkan diri, bahkan sebelum lidah api itu sempat menyentuh kulit Archibald. Namun, keajaiban terjadi. Sebuah bola api berwarna putih melesat dari arah lain dan berhasil menghalau bola api Goblin. Bola api goblin mendadak hancur menjadi serpihan-serpihan kecil yang langsung hilang begitu menyentuh udara.
Goblin membelalak. Ia tak menyangka bola api andalannya bisa hancur begitu saja. Makhluk itu menggeram marah dan mengalihkan pandangan pada sosok yang tiba-tiba muncul merusak rencananya.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia menangkap sesosok peri cantik, yang seluruh tubuhnya diliputi cahaya putih. Peri itulah yang mengeluarkan bola api putih penghancur bola api Goblin. Rambut pirang peri itu berkibar terlihat kontras dengan jubahnya yang berwarna hijau tua.
Manik matanya yang berwarna hazel kehijauan membalas tatapan goblin dengan sorot mengintimidasi. "Beraninya kau menyentuh putraku, Wahai Makhluk Terkutuk?!"
Sang goblin terlihat gentar untuk beberapa saat. Seringainya menghilang berganti dengan keterkejutan. Sebuah ingatan melintas dalam benak goblin, mengenali peri perempuan itu.
Peri perempuan cantik itu lantas mengetukkan tongkat putihnya ke bumi. Kepala tongkat yang berbentuk bulat bertabur batu-batu mulia itu perlahan mulai bercahaya. Bersamaan dengan itu, manik mata sang peri menghilang meninggalkan bola mata putih, sementara mulutnya merapalkan mantra dalam suara rendah. Tongkat itu terangkat dengan sendirinya ke udara, lalu memunculkan garis-garis cahaya yang menyerang ke arah goblin dengan cepat.
Goblin yang lengah, menjadi gelagapan saat segaris cahaya mengenai salah satu betisnya. Garis cahaya itu meninggalkan rasa panas yang tak terbayangkan, membuat sang goblin meraung. Garis-garis cahaya lainnya kembali menyerang Goblin, silih berganti tanpa jeda. Goblin yang awalnya bisa menghindari garis-garis cahaya itu lambat-laun merasa kewalahan dan kelelahan. Beberapa garis cahaya menyabet bagian tubuhnya. Bahkan, salah satu garis cahaya berhasil menyabet dadanya hingga menembus punggung. Akhirnya Goblin itu jatuh menggelepar di atas tanah. Tubuh hijaunya yang hangus mengepulkan asap tipis beraroma daging terbakar.
Peri perempuan itu mendekati Archibald, mengangkat tubuh peri laki-laki yang tak sadarkan diri itu dengan kekuatan telekinesisnya, sebelum akhirnya menghilang di balik kabut Hutan Larangan.
* * *
Suara ketukan pintu membangunkan Ammara dari alam mimpi. Ia bergegas bangkit dari peraduannya dan berlari panik ke arah pintu bilik. Tidak pernah ada yang bertamu sepagi ini, bahkan mahkota bunga saja masih bercahaya. Pertanda pagi belum kunjung tiba. Sebuah perasaan aneh menyusupi hati Ammara.
Ammara terkesiap kala melihat beberapa sosok prajurit elf telah berbaris di depan pintunya dengan gaya formal. Sesosok kesatria elf berjubah merah marun dengan lambang Kerajaan Avery menempel di dadanya maju ke hadapan Ammara.
"Ada apa ini?" tanya Ammara bingung.
"Maaf menganggu Anda pagi-pagi buta begini, Nona Ammara," ucap kesatria Elf itu seraya membungkukkan badannya sebentar. "Ada yang ingin saya sampaikan."
"Katakanlah, ada apa?" tanya Ammara lagi. Wajahnya gusar. Ia sudah tidak sabar menanti apa yang ingin disampaikan utusan resmi kerajaan itu.
"Saya membawa sebuah kabar gembira. Nona Ammara dinyatakan bebas dari segala tuduhan yang berkaitan dengan sihir hitam yang menimpa para pangeran dan putri Kerajaan Avery. Nona Ammara juga dinyatakan bebas dari segala tuduhan persekongkolan dengan para peri unsheelie dari Hutan Larangan. Mulai detik ini juga, Nona Ammara dinyatakan bebas dan dapat kembali ke Fairyfarm kapan pun Nona siap."
Ammara membelalak tak percaya. Di satu sisi, ia merasa sangat senang, tetapi di sisi lain ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Tidak mungkin!" desisnya pelan. Ia lantas menatap peri elf yang baru saja menyampaikan keputusan itu. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Peri elf perwakilan kerajaan Avery itu membalas tatapan Ammara bingung. "Pihak Kerajaan Avery telah menemukan pelaku sebenarnya. Raja dan Ratu meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahpahaman dan tuduhan yang diberikan kepada Nona Ammara."
Peri Elf itu melanjutkan. "Dan, sebagai permintaan maaf kerajaan Avery, Raja dan Ratu Kerajaan Avery kelak akan mengundang Nona Ammara menghadiri sebuah perjamuan resmi."
"Benar-benar sulit di percaya!" gumam Ammara pelan. Raut wajah bingungnya dalam sekejap kemudian berubah menjadi ceria. Ammara nyaris melompat-lompat di tempatnya berdiri. Namun, ia segera sadar ada banyak peri elf yang tengah memperhatikannya saat itu sehingga ia berusaha menahan diri.
"Baiklah, terima kasih. Apakah aku boleh pergi sekarang?" tanya Ammara antusias.
"Tentu saja, Nona. Namun, apa tidak lebih baik jika Anda menunggu sampai matahari terbit untuk pulang ke Fairyhill?"
Ammara menggeleng cepat. "Tidak! Tidak masalah. Aku harus segera pulang. Ayah dan Ibuku pasti sangat mencemaskanku!"
Kesatria Elf itu mengangguk takzim, memaklumi keputusan Ammara. Para kesatria Elf itu mengatur barisan untuk memberi jalan kepada Ammara.
Ammara dengan sigap meraih jubah cokelatnya dan segera melesat turun dari kastel Timur. Ia tidak ingin menunggu pagi. Ia sudah sangat merindukan ibunya.
Langkahnya terhenti pada sebuah taman khusus para unicorn istana. Di sana ia mendapati Selly yang sedang tertidur. Suara dengkuran halus terdengar dari mulut makhluk putih yang setengah terbuka.
"Selly!" Panggil Ammara setengah berbisik. Ia tak ingin membangunkan seluruh unicorn yang ada di sana.
"Psstt ... Selly, bangunlah. Ini aku!" desis Ammara pelan sembari berusaha membangunkan Selly dengan lemparan-lemparan batu kecil.
"Dia tidak akan bangun dengan kekerasan seperti itu," sela sebuah suara lemah lembut yang kontan mengagetkan Ammara.
Ammara menoleh ke arah suara dan mendapati sosok Putri Tatianna telah berdiri di sampingnya. Salah satu tangan peri perempuan itu menjinjing sekeranjang penuh berisi buah Plum.
"Putri Tatianna?!"
"Aku senang karena akhirnya kau terbukti tidak bersalah," ucap Tatianna tanpa memandang ke arah Ammara. Tangannya sedang sibuk melempari buah Plum ke sekitar tempat Selly tertidur.
Selly yang masih tertidur seakan dapat mencium aroma buah Plum. Hidung besarnya bergerak-gerak mengendus aroma yang paling ia sukai itu. Perlahan mata Selly terbuka, kemudian menguap beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar bangun dari tidurnya. Selly lantas mencomot buah-buah plum di sekitarnya satu per satu.
Ammara hendak memanggil Selly lagi, tetapi Tatianna terlebih dahulu melanjutkan perkataannya. "Apakah kau tahu bahwa Kerajaan Avery sedang berkabung?" Tatianna menatap kosong ke arah Selly. Kesedihan jelas membayang pada sorot matanya.
"Berkabung?"
Tatianna mengangguk pelan. "Putra Mahkota Albert menghilang. Kemungkinan besar ia diculik, dan para pangeran terluka," tuturnya dengan dramatis. Sang putri kemudian menatap Ammara lekat-lekat. "Semua ini karena kamu. Karena mereka bersikeras menyelamatkan seorang peri biasa sepertimu."
"A-apa?!" Ammara membelalak. Ia sangat terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan Tatianna. Sesuatu di dalam dadanya terasa sangat sakit.
"Kau tahu apa bagian terburuknya? Archibald pergi seorang diri memasuki Hutan Larangan untuk menyelamatkan Putra Mahkota Albert. Dan, hingga kini ia belum juga kembali!" Tatianna mengatakan itu dengan menatap tajam iris mata hijau Ammara. Tatapan yang penuh dengan kebencian dan penghakiman.
Ammara menggeleng tak percaya. Wajahnya memucat. Sesuatu terasa menyesakkan dadanya.
Tatianna menangkap gelagat ketidaknyamanan dalam ekspresi Ammara, ia kemudian melanjutkan perkataannya. "Tolong, jauhi para pangeran. Segala sesuatunya berubah jadi tak terkendali karena pertemuan mereka denganmu. Kembalilah dengan tenang ke Fairyhill. Dan, jangan pernah menginjakkan kakimu ke istana ini lagi." Setelah menyelesaikan kalimatnya, peri cantik itu segera berlalu begitu saja dari hadapan Ammara. Ia meninggalkan Ammara yang masih tampak syok dengan semua perkataannya.
Putra Mahkota Albert di culik. Para pangeran Kerajaan Avery terluka dan Pangeran Archibald juga menghilang. Batin Ammara terus mengulang-ulang pernyataan itu hingga raut wajahnya berubah menjadi panik seketika.
Dini hari itu juga, Ammara menunggang unicornnya keluar dari Istana Avery, menembus embun yang masih menggantung pekat di langit Fairyverse. Tujuannya hanya satu, yaitu Hutan Larangan.