Gambar dalam Cerita
"Archie, kau kah itu?"
"Tolong aku, Archie, keluarkan aku dari sini ...."
"Tempat apa ini Archie? Aku takut sekali."
Siluet seorang gadis kecil sedang berdiri di depan jeruji besi di dalam kegelapan. Tubuh gadis itu bergetar, terisak. Kilatan cahaya memantul dari salah satu pipinya yang basah oleh air mata.
"Chiara, kau kah itu?"
Archibald mendekati gadis yang sedang menangis itu perlahan. Iris mata hijau sang gadis menatap Archibald nanar, meminta pertolongan.
"Archie..." Sapa gadis kecil itu dengan suara serak. "Aku ingin pulang. Tolong, keluarkan aku dari sini, Archie," lirihnya.
Archibald hendak meraih tangan gadis itu, tetapi beberapa sosok kesatria elf mendadak muncul membuka jeruji besi dan menarik kasar tangan gadis itu menjauh.
"Chiara... Tidak! Chiara!"
Archibald terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Napasnya memburu. Mimpi barusan terasa sangat nyata bagi Archibald.
"Kau memimpikan gadis manusia itu lagi, Archibald?" sapa Claude yang sedari tadi rupanya telah ada di samping Archibald.
"Kau...?" Archibald terkejut menyadari salah satu saudaranya telah berada di dalam ruangan pribadinya, bahkan melihat ke dalam mimpinya. "Apa yang tidak kau ketahui, Claude?!" dengusnya sarkas.
Claude tergelak. "Kau selalu saja kasar, Archibald. Bahkan, di saat kondisimu seperti ini."
Archibald hendak bangkit dari posisinya yang sedang berbaring, tetapi ia mengerang saat merasakan tubuhnya yang terasa nyeri dan kaku. Alhasil, ia kembali merebahkan tubuhnya. Archinald meringis sembari melihat tumpukan dedaunan yang menempel pada beberapa bagian permukaan tubuh. Penghidunya pun mencium aroma herbal yang sangat menyengat. Ia lantas menatap Claude meminta penjelasan.
"Kau terkena sihir tadi malam. Sihir hitam. Kau dan Elijah menyerang Putra Mahkota. Kalian bertiga mengalami luka-luka luar yang cukup parah. Tatianna dan Elwood juga. Kalian bertingkah sangat aneh tadi malam," ucap Claude hati-hati.
"Apa? Sihir hitam? Bagaimana bisa sihir hitam menembus segel di perbatasan Hutan Larangan dan menyerang kerajaan Avery?" Archibald mengerutkan alis seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan Claude.
Claude menggeleng pelan sambil menatap Archibald dengan putus asa. "Aku tidak tahu pasti bagaimana sihir hitam itu bisa menembus segel, aku melihat cahaya keunguan memancar di dada kalian. Maurelle yakin cahaya itu adalah sihir hitam dan... " Claude agak ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Ia melihat Archibald yang meringis saat mengubah posisinya untuk duduk bersandar di atas pembaringan.
"Lebih baik kau istirahat dulu, Archibald."
"Dan, apa?" tanya Archibald sambil memegangi lengan atasnya yang terasa ngilu.
"Apakah kau tidak mengingat apapun?" Claude balik bertanya.
Archibald menggeleng pelan. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian malam itu, tetapi ia sama sekali tidak dapat mengingat apapun. Tiba-tiba, ia merasa kepalanya sedikit pusing. Ia memijit pelipisnya pelan untuk meredakan sakit yang dirasakannya.
Claude mengembuskan napas panjang. Ia khawatir dengan keadaan saudaranya itu. "Mungkin sebaiknya aku kembali lagi nanti. Kau perlu istirahat yang banyak, Archibald."
"Apa yang sebenarnya terjadi, Claude?" Archibald bersikeras ingin mendengar cerita lengkap mengenai kejadian yang tak dapat diingatnya itu. Rahangnya mengeras.
"Kau mengenal Ammara, bukan? Gadis itu saat ini sedang ditahan di ruangan bawah tanah. Sihir hitam berhasil masuk ke Istana Avery melalui mata kalung yang ia kenakan. Menurut Maurelle, mata kalung itu berasal dari Hutan Larangan," jelas Claude.
"Apa? Ammara?" Archibald terkejut. "Tidak mungkin, Claude. Maurelle pasti salah paham," ucap Archibald. Ia bangkit dari posisi bersandarnya.
"Aku kira kau membenci peri perempuan itu." Claude menyunggingkan seulas senyum yang segera sirna saat ia melanjutkan ucapannya. "Peri perempuan itu adalah anak Ailfryd dan Ella dari Fairyfarm. Mereka adalah peri yang baik. Aku juga tidak melihat sesuatu yang buruk dari Ammara, walaupun ia memang tampak sedikit aneh. Entahlah. Aku rasa kita harus menyelamatkannya, Archibald, sebelum sidang Dewan Peri dilakukan."
Archibald menatap Claude khawatir. "Sidang Dewan Peri? Apa Maurelle tidak ingin menyelidikinya terlebih dahulu? Tidak mungkin peri ceroboh seperti itu bersekutu dengan para unsheelie."
Claude terpana mendengar kata-kata Archibald. Saudaranya itu jelas-jelas mengkhawatirkan Ammara, tetapi ia tetap saja mengatai peri perempuan itu ceroboh.
"Aku tahu. Maurelle pasti menyelidikinya, Archibald. Namun, Maurelle tidak dapat mengambil keputusan sendiri. Ini tidak akan mudah baginya. Dia juga harus mendengar pertimbangan Dewan Peri lainnya. Aku pikir lebih baik kita bertindak juga. Aku meminta bantuanmu untuk menemukan bukti bahwa Ammara tidak bersalah. Kita harus pergi ke Hutan Larangan. Kau satu-satunya yang bisa masuk ke sana dengan selamat. Kita harus tahu dari mana asal kalung itu, Archibald. Aku harap kau bersedia membantu."
"Peri itu benar-benar menyusahkan!" Archibald berdecak. "Aku harus bertemu dengannya dulu, Claude."
"Aku tidak yakin kau bisa bertemu dengannya. Peri yang akan disidang oleh Dewan Peri tidak boleh bertemu dengan siapapun. Itu protokol Istana Avery, kau ingat 'kan? Bahkan ibunya sendiri tidak bisa menemuinya."
Archibald memiringkan kepalanya, menatap Claude bingung. "Peri yang malang," gumamnya. "Aku akan berbicara pada Maurelle atau ayah. Kita harus mendapatkan cukup banyak keterangan dari peri itu supaya kita bisa menolongnya."
"Aku pernah bertemu dengannya di perbatasan Hutan Larangan. Dia bersama Elwood. Namun, aku rasa mereka hanya berjalan-jalan di sekitar sana," lanjut Archibald sambil menerawang.
"Elwood?"
"Ya. Aku juga bertemu dengan Elijah saat itu. Dia berhasil keluar dari Hutan Larangan." Archibald melanjutkan. "Jadi, aku bukan satu-satunya peri di kerajaan Avery yang bisa keluar masuk Hutan Larangan dengan leluasa, Claude."
"Elijah memasuki Hutan Larangan?" Claude tampak berpikir keras. Setahunya tidak semua peri bisa keluar masuk Hutan Larangan tanpa terkena sihir hitam. Hanya para peri dengan kemampuan khusus seperti Archibald atau peri yang merupakan keturunan langsung dari peri unsheelie. Seingatnya, Elijah hanya peri biasa yang tidak memiliki kemampuan sihir.
Archibald mengangguk. "Kami bertemu di perbatasan Hutan Larangan. Entahlah. Sepertinya ada sesuatu yang Elijah sembunyikan dari kita."
"Apa Elijah dan Ammara saling kenal?" tanya Claude lagi.
"Aku rasa tidak. Mereka sepertinya baru bertemu pertama kali di sana."
Claude terdiam beberapa saat. Ia sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Kita harus mengumpulkan banyak saksi dan bukti bahwa dia adalah peri yang baik. Secepatnya. Sebelum Ammara disidang oleh para Dewan Peri," ucapnya pelan. "Jika Ammara telah disidang tanpa ada pembelaan yang cukup, aku khawatir ia akan langsung diasingkan ke Hutan Larangan. Bagaimanapun, memiliki batu yang berasal dari Hutan Larangan adalah hal yang tidak dapat diterima para Dewan Peri. Apalagi batu itu telah membahayakan Putri dan para Pangeran."
Archibald berusaha berdiri dari duduknya sambil meringis menahan otot pahanya yang terasa nyeri. Claude segera meraih tangannya dan membantunya berdiri.
"Waktu kita tidak banyak," desis Archibald seraya mencoba berdiri dengan seimbang.
"Kau masih harus istirahat yang banyak dulu, Archibald," sergah Claude.
"Aku sudah merasa lebih baik. Aku ingin bertemu dengan Maurelle," ucap Archibald sambil berjalan sedikit tertatih melewati Claude yang masih bergeming menatapnya.
Peri tampan bermanik kelam itu menatap punggung Archibald yang berjalan menjauh dari pandangan. Ia menyunggingkan seulas senyum melihat pangeran dingin yang selama ini ia kenal tampak sangat bersemangat untuk menyelamatkan seorang peri.
* * *
Ammara meringkuk di dalam kegelapan ruang tahanan bawah tanah kerajaan Avery. Seberkas cahaya yang masuk dari celah ventilasi menerpa kelopak matanya yang tertutup. Ia menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang kaku karena berbaring di lantai dingin sepanjang malam. Matanya perlahan terbuka, menampakan iris hijaunya yang berkilat diterpa seberkas cahaya matahari.
Ammara mengernyit dan bangkit perlahan dari posisinya. Ia menatap sekitar dengan gamang. Ternyata ia masih berada di ruangan itu. Ia tidak bermimpi.
"Ibu ..." Lirihnya.
Ammara membayangkan sosok Ella yang sedang mengolah plum di rumah cendawannya. Ella dengan kedua tangannya yang sibuk sambil bersenandung pelan di atas sebuah dipan. Ella yang menyambutnya dengan senyum penuh kasih saat Ammara bangun tidur setiap pagi. Bayangan itu lantas memudar berganti keremangan dan dingin lantai batu.
Ammara sangat merindukan Ella. Ia tidak pernah merasa serindu ini sebelumnya.
"Ibu ..." lirihnya lagi.
Pagi itu tidak ada Ella. Pagi itu hanya ruangan gelap dan dingin yang menyambutnya. Ammara memeluk kedua lutut dan membenamkan wajahnya di sana. Tubuhnya bergetar. Ia menangis lagi. Entah untuk yang keberapa kali.