Farewell
Fantasy
16 Feb 2026

Farewell

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-16T163743.337.jfif

download - 2026-02-16T163743.337.jfif

16 Feb 2026, 09:37

download - 2026-02-16T163728.143.jfif

download - 2026-02-16T163728.143.jfif

16 Feb 2026, 09:37

Hari beranjak petang. Kunang-kunang mulai keluar dari persembunyian, memendarkan cahaya kekuningan di sela-sela pepohonan di Fairyverse. Tak lama lagi, kelopak-kelopak bunga pun akan mengeluarkan cahaya pertanda malam telah tiba.

Ammara duduk termenung menghadap keluar jendela biliknya di Kastel Timur. Matanya menatap langit lembayung yang hampir gelap, tetapi nyatanya pikiran sang peri sedang berkelana menuju Fairyfam, ke rumah cendawan. Ia tak beranjak dari tempat itu barang sejenak pun sejak kepergian para pangeran peri siang tadi.

Ammara sangat merindukan ibunya. Bayangan Ella yang sedang melakukan aktivitas di setiap penjuru rumah cendawan seakan menari-nari di pelupuk mata hingga tetes-tetes air bening bergulir di pipinya yang pucat.

Setelahnya, bayangan Ella berganti dengan kejadian terakhir di kebun plum Ailfryd. Kemarahan sang ayah justru menjadi sesuatu yang ia rindukan sekarang. Ammara juga merindukan Marybell dan Tally yang menyebalkan, serta kebisuan Selly yang menenangkan, dan Fairyfarm yang damai. Ammara mendadak mengingat unicornnya yang ia tinggalkan di halaman Istana Avery begitu saja saat mengikuti cahaya berwarna ungu. Ia berharap ada yang berbaik hati mengurus dan memberi buah-buahan pada unicorn berwarna putih itu.

Ammara mengembuskan napas panjang. Ia merasa sesak memikirkan nasib yang menimpanya. Ia merasa dijebak. Hidupnya yang aman dan tenang di Fairyfarm mendadak berubah jadi petaka gara-gara kalung zamrud yang ia miliki, dan anehnya ia tak dapat mengingat sama sekali dari mana kalung zamrud itu berasal. Ia juga tidak tahu bagaimana kalung itu bisa mengeluarkan cahaya ungu.

Apakah kalung itu pemberian orang tuanya? Ataukah ada peri lain yang memberikannya? Ammara tidak tahu pasti. Satu hal yang sangat ia yakini adalah orang tuanya tidak mungkin melakukan hal yang dapat mencelakakannya.

Tiba-tiba terdengar suara derit pintu bilik Ammara. Peri perempuan bersurai keemasan itu sontak menoleh seraya menghapus sisa air mata di pipinya.

Ella, ibunya, secara mengejutkan, berdiri dengan mata sembab yang sama di depan pintu bilik. Seorang peri kesatria elf penjaga bilik telah membukakannya pintu. Sementara, sesosok peri pixie dengan sayap kupu-kupu mengekor di belakang Ella.

"Ibu! Marybell!" jerit Ammara senang. Ia langsung menghambur ke pelukan Ella. Tangisnya mendadak pecah.

Untuk beberapa saat lamanya Ammara melepaskan raungannya, seumpama anak kecil kehilangan permen. Sementara, Ella pecah dalam kesedihan yang sama sembari mengusap punggung anaknya lembut. Kedua peri perempuan itu larut dalam keharuan dan kesedihan yang serupa.

Marybell yang mengambang di samping Ella turut menitikkan air mata. Bahu peri kecil itu bergetar. Pemandangan pertemuan ibu dan anak di hadapannya itu benar-benar mengoyak hatinya. Benar-benar senja yang penuh haru.

"Kau terlihat sangat menyedihkan, Nak," gumam Ella pelan setelah melepaskan pelukannya dari Ammara. Iris mata hijaunya menatap Ammara lekat dan kedua tangannya menyeka pipi peri perempuan itu lembut.

"A-aku merindukan ibu," ucap Ammara lirih. Ia kembali membenamkan wajahnya di dada sang ibu, meminta untuk dipeluk lagi.

Ella memeluk putrinya lagi seraya mengelus surai emas Ammara. Wajahnya sendu, tetapi ia memaksa dirinya untuk tersenyum tegar agar putrinya tidak bertambah sedih.

"Apa kau tidak merindukanku, Ammara?" celetuk Marybell di antara isak tangisnya.

Ammara mengangkat wajahnya dari pelukan Ella demi mendengar suara melengking Marybell yang parau. Ia tersadar bahwa Marybell sedari tadi terbang mengambang di sebelah ibunya. Ia menatap Marybell, kemudian memeluk erat peri pixie itu.

Marybell terkejut. Tangisnya terhenti seketika. Bukannya ia tidak senang dipeluk Ammara yang dirindukannya. Akan tetapi, pelukan peri elf pada tubuh kecilnya itu terlalu erat hingga membuatnya susah bernapas.

"Le-lepaskan aku Ammara! Lepaskan! LEPASKAN!" jeritnya sambil berusaha mengeluarkan diri dari dekapan Ammara.

Ammara sontak terkekeh dan melepaskan pelukannya. "Maafkan aku Marybell. Aku sangat merindukanmu."

"Aku juga. Fairyfarm terasa sepi tanpa kehadiran Ammaraku yang cantik!" sahutnya seraya mengembuskan napas lega karena telah terbebas dari dekapan Ammara.

"Kau tidak mengajak Tally? Apa dwarf itu sudah melupakanku?" Ammara mengerucutkan bibirnya memasang tampang kecewa karena Tally tidak ikut menjenguknya.

"Dia sangat ingin menjengukmu. Dwarf tua yang malang itu mengumpat sepanjang waktu sejak kau ditahan pihak Kerajaan Avery. Sebenarnya dia dan Tuan Ailfryd ikut kemari, tetapi pihak istana hanya memperbolehkan ibumu masuk. Dan aku, aku mengaku sebagai asisten ibumu, sehingga aku bisa masuk."

Ammara tersenyum dan mengangguk pelan menanggapi penjelasan Marybell yang panjang lebar. Suara melengking peri pixie itu sedikit mengobati kesedihan Ammara. Namun, di sisi lain juga menambah kerinduan Ammara pada Fairyfarm.

Ammara mengusap sisa-sisa air mata yang menggenang di pipinya. Tangisnya telah berhenti. Ia menuntun ibunya dan Marybell untuk menduduki kursi yang mengelilingi meja bundar di tengah biliknya.

"Aku membawakanmu ini," ucap ibunya seraya menghaturkan keranjang-keranjang rotan kecil yang ditutupi dengan daun ke atas meja.

Ella menyingkap daun yang menutupi keranjang-keranjang rotan tersebut, sehingga tampaklah buah-buah plum, jeruk dan apel yang ranum. Buah-buahan itu ia petik dari kebunnya sendiri di Fairyfarm. Ia tahu Ammara sangat merindukan Fairyfarm, ia berharap buah-buahan itu dapat sedikit mengobati kerinduan Ammara.

"Bagaimana, kau suka, Nak?" Tanya Ella lembut.

Ammara menatap buah-buahan ranum itu dengan berselera. Ia mencomot sebuah plum yang paling besar dan menggigitnya.

"Terima kasih, Bu," sahut Ammara dengan mulut penuh.

Ella menatap peri perempuan di hadapannya dengan tatapan sendu. Ada kesedihan mendalam yang coba ia sembunyikan dari Ammara.

"Aku senang sekali Ratu memberikanku izin untuk menemuimu, Nak. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku merasa bersalah karena tidak dapat menjagamu dengan baik. Maafkan aku." Ella berucap lirih. Ia meraih tangan Ammara dan meremasnya pelan.

"Ibu tidak salah," sergah Ammara. "Akulah yang bersalah. Aku tidak mendengarkan ibu. Seharusnya aku tidak pernah keluar dari Fairyfarm. Aku bahkan pernah pergi ke Fairyfall dan Fairyhill tanpa seizin ayah dan ibu. Aku sangat menyesal. Maafkan aku, bu."

Ammara kembali terisak. Ella mengelus punggung tangan Ammara untuk menenangkannya.

"Harusnya ibu tidak perlu mengekangmu seperti itu 'kan? Kau gadisku yang punya rasa ingin tahu tinggi. Harusnya aku tahu bahwa semakin aku mengekangmu, rasa ingin tahumu akan semakin besar dan kau akan melakukan apa pun untuk memuaskannya. Salah satunya adalah dengan melanggar laranganku."

Ammara tertunduk menekuri meja kayu bundar di hadapannya. Ia mencerna setiap perkataan ibunya.

"Bu, tetapi bukan aku yang menyihir putri dan para pangeran. Aku tidak tahu kenapa kalung itu bisa mengeluarkan cahaya berwarna ungu. Aku hanya berusaha mencari tahu ke mana cahaya itu pergi. Aku mengikutinya, ternyata cahaya itu menuju Istana Avery."

"Ibu percaya padamu, Nak," sahut Ella seraya menatap Ammara lekat-lekat. "Ibu menyesal tidak menjagamu dengan baik. Apa pun yang terjadi, ibu janji ibu akan selalu melindungimu. Ibu benar-benar menyayangimu, Nak."

"Ke-kenapa ibu bicara seperti ini?"

Ella menggenggam kedua tangan putrinya erat-erat. "Ada sesuatu yang harusnya ibu sampaikan sejak lama padamu, Nak. Ibu sengaja menutupinya untuk melindungimu. Namun, ibu rasa ... sudah saatnya kamu mengetahui kebenaran ini."

Suara Ella seolah menggantung di udara. Di hadapannya Ammara menatap dengan sorot tegang. Marybell yang sedari tadi duduk santai mengunyah plum sontak membuang sisa potongan kecil plum yang digenggamnya. Tubuh mungil peri pixie itu kini ikut menegang. Telinga kecilnya yang runcing bergerak-gerak.

Ella menyadari reaksi Marybell. Ia teringat bahwa ada peri lain yang akan mendengarkan pembicaraan rahasianya dengan sang anak.

Ella berdeham. "Marybell, tolong cari Ailfryd dan Tally. Katakan pada mereka untuk mempersiapkan kereta. Kita tak lama lagi akan pulang ke Fairyfarm."

"Ta-tapi, Nyonya Ella, aku ..."

"Cepat susul mereka. Aku takut mereka lupa dengan kita karena keluyuran di taman istana!" tegas Ella sambil membelalakan mata memberi kode agar Marybell segera pergi.

"Baik, Nyonya Ella. Sampai ketemu lagi Ammara!" Marybell mendengkus sedikit kecewa. Namun, ia menuruti juga permintaan Ella. Di ambang pintu bilik, Marybell menoleh dan memberikan fly kiss dengan gaya genit ke arah Ammara. Ammara mendelik, sementara Marybell melanjutkan terbangnya sambil mengikik geli.

Suasana menjadi hening kembali sepeninggal Marybell. Ella beralih duduk tepat di samping Ammara.

"Apa sebenarnya yang harus aku ketahui, Bu?" tanya Ammara tidak sabar. Iris mata hijaunya menatap mata Ella, berusaha mencari kebenaran.

Ella masih diam. Ia memainkan rambut pirang keemasan Ammara dengan lembut. Peri itu tampak berpikir keras merangkai kata-kata terbaik.

"Aku ingin kau berjanji, anakku. Apa pun yang terjadi, tetaplah menjadi jadi dirimu sendiri. Tetaplah jadi peri kecilku yang jujur, baik hati, dan pemberani. Berjanjilah kau tidak akan berubah, anakku? Karena setelah ini, sesuatu yang besar akan kau hadapi. Apa pun atau siapa pun yang membawamu ke dalam lingkaran ini, tidak akan berhenti sampai di sini."

"Aku berjanji, Bu. Akan tetapi, a-apa maksud ibu?"

"Saat ini mungkin kau tidak mengerti. Namun, kelak kau akan memahami semuanya, Nak."

"Jadi, apa ibu tahu siapa pemilik kalung zamrud yang aku pakai dan cahaya ungu apa yang keluar dari mata kalung itu, Bu? Para pangeran menanyaiku. A-aku sama sekali tidak tahu, Bu."

Ella menggeleng pelan. "Setahu ibu cahaya ungu itu biasanya hanya dimiliki oleh para penyihir hitam di Hutan Larangan. Mereka adalah peri unsheelie."

Ammara mengerutkan alis, mencoba mencerna setiap perkataan ibunya. "Aku sama sekali tidak mengenal dan terlibat dengan para penyihir hitam, Bu. Aku juga tidak pernah ke Hutan Larangan."

"Ibu percaya padamu, Ammara. Pesan ibu, jangan pernah melihat segala sesuatu hanya dengan mata. Namun, lihat juga dengan mata hatimu. Karena mata hatimu yang akan menuntunmu pada kebenaran."

"Ibu, kenapa dari tadi ibu memberiku pesan-pesan seolah akan pergi jauh?" tanya Ammara lirih.

Ella menunduk menahan air mata yang sebentar lagi akan runtuh. Setetes air mata lolos dan mengalir di salah satu pipinya. Ia mengembuskan napas panjang, kemudian kembali menatap manik mata Ammara.

"Harusnya aku mengatakan ini dari awal, Ammara. Sebenarnya, aku dan Ailfryd bukanlah orang tua kandungmu," ucap Ella dengan suara bergetar.

"Apa ... ?"

Pernyataan Ella sontak meruntuhkan kedamaian hati yang baru saja kembali Ammara reguk senja itu. Ia menatap Ella tak percaya. Ia berharap apa yang didengar telinganya adalah sebuah kesalahan.

"Maafkan kami yang merahasiakan ini dari awal. Kami tahu, kami bersalah Ammara. Kami hanya ingin melindungimu."

Ammara bergeming. Ternyata telinganya tidak salah dengar. Pelupuk matanya perih, tetapi tak setetes air mata pun keluar. Kenyataan yang diungkapkan Ella seakan menamparnya. Ammara tersenyum getir, mencium kedua tangan ibunya seraya menahan sakit. Sesuatu di dalam dadanya terasa hancur.

* * *

Ella berjalan perlahan menyusuri lorong Kastel Timur, menuju gerbang keluar. Temaram cahaya senja menyamarkan pipinya yang berkilat karena air mata.

Hatinya sedikit lega karena telah mengungkapkan kebenaran yang selama ini ia pendam kepada Ammara. Namun, masih ada satu rahasia besar yang akan tetap ia simpan. Ia bertekad untuk menyimpan rahasia itu sampai mati.

"Ella, kaukah itu?" tanya sebuah suara yang muncul di hadapan Ella dari arah berlawanan.

Ella mengangkat wajahnya dan menyunggingkan seulas senyum. "Maurelle? Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini."

"Aku sengaja ingin menemuimu. Aku tahu kau akan datang ke mari," sahut peri cenayang istana itu seraya membalas senyum Ella.

"Ada apa, Maurelle?"

"Aku juga tahu apa yang kau rencanakan, Ella."

Ella tertegun mendengar kata-kata Maurelle. "A-aku tidak tahu apa maksudmu."

"Aku sudah tahu siapa Ammara."

"Apa maksudmu?" tanya Ella terkejut.

"Aku menanyai hampir seluruh dwarf dan pixie pekerja di Fairyfarm. Mereka bilang Ammara bukan anakmu. Kau dan Ailfryd hanya mengangkatnya sebagai anak." Maurelle berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya dengan nada ancaman. "Jangan pernah melindunginya, Ella. Jangan pernah!" desis Maurelle sambil menatap Ella tajam.

"Kau memata-mataiku, Maurelle? Kau tidak mempercayai temanmu sendiri?!" Emosi Ella tersulut.

"Tidak, Ella. Aku bukannya tidak mempercayaimu. Aku berusaha melindungimu. Jangan sampai kau berurusan dengan Dewan Peri, Ella. Karena jika terbukti bersalah pilihannya hanya dua, mati atau dibuang ke Hutan Larangan!"

"Anakku tidak bersalah, Maurelle!"

"Dia bukan anakmu, Ella! Berhentilah melindungi peri itu. Jangan bersikap sebagai lilin yang merelakan dirinya habis demi sebuah nyala kecil. Keberadaanmu lebih berharga dari pada peri itu!"

Ella menatap Maurelle dengan sorot mata penuh kemarahan. "Apa pun yang terjadi dia adalah anakku, Maurelle. Kau tidak berhak menilai apa yang berharga atau tidak untukku. Aku akan melindunginya dan kau tidak akan bisa mencegahku!"

Maurelle terdiam. Matanya menatap nanar peri perempuan yang ada di hadapannya. Begitu juga sebaliknya. Dua peri yang dulunya bersahabat erat, kini tampak saling bertentangan. Suasana menjadi hening dengan aura kebencian dan kemarahan yang melingkupinya.

"Ella sayang, kami sudah siap, kata Marybell kau su---

Ailfryd yang tiba-tiba datang menyusul Ella terkejut dan tidak jadi melanjutkan kata-katanya saat melihat Ella dan Maurelle bersitegang dengan sorot mata saling membenci. Ailfryd merasa tidak nyaman.

"Aku sudah selesai, Sayang. Mari kita pulang!" sahut Ella. Ia menggandeng lengan Ailfryd meninggalkan Maurelle yang masih bergeming dalam kemarahannya.

Kembali ke Beranda