Archibald duduk termangu di salah satu sudut taman Peristirahatan Terakhir di saat semua peri telah kembali ke Kerajaan Avery. Ia masih enggan beranjak dari tempat penebaran abu Putra Mahkota Albert, penyesalan demi penyesalan terus menderanya hingga yang dirasakannya hanyalah sesak. Sang pangeran peri terlihat berkali-kali menarik dan mengembuskan napasnya dengan berat.
Langit senja yang mendung dan muram menaungi taman itu, sementara benih-benih dandelion berterbaran di udara menambah kesyahduan tempat itu. Archibald bergeming. Selain penyesalan, bayangan masa lalu bersama Albert datang silih berganti menggelayuti pikirannya hingga membuatnya tak sanggup beranjak dari tempat itu. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih ingin bersama sang putra mahkota.
Akan tetapi, keheningan yang melingkupinya segera terusik. Sayup-sayup pendengarannya menangkap suara langkah kaki berjalan di suatu tempat di dalam taman. Langkah kaki itu kemudian berhenti tak jauh dari tempat Archibald duduk termangu. Archibald masih bergeming. Ia sama sekali tak berminat untuk mencari tahu siapa gerangan pemilik langkah kaki tersebut.
Tiba-tiba suara bersitan ingus mengganggu pendengaran Archibald. Keningnya berkerut dan wajahnya mengernyit masam. Dengan malas Archibald menolehkan pandangan ke arah suara. Ia menangkap sosok peri perempuan berambut keemasan di balik rimbun dedaunan yang tepat berada di balik punggungnya. Suara tangis tertahan mulai terdengar pelan dari sosok itu.
Archibald menggeser duduknya hingga dari samping ia dapat melihat getaran pada bahu peri perempuan yang berdiam di balik semak itu. Lambat laun suara tangisan itu terdengar semakin keras bahkan terkesan meraung.
Archibald mendengkus, mulai merasa terganggu dengan ulah peri perempuan yang sepertinya tidak menyadari keberadaannya di sekitar tempat itu. Keheningan yang menemani lamunannya kini sirnah sudah. Archibald lantas berdeham keras beberapa kali agar peri perempuan itu menyadari keberadaannya.
Peri perempuan yang menangis itu seketika terdiam, meredam tangisnya dengan paksa. "Maaf Tuan, aku tidak tahu jika masih ada peri lain di tempat ini," ucapnya sesenggukan.
Suara itu. Archibald mengenali suara itu .
Archibald menghembuskan napas kasar. "Tidak masalah. Aku sudah selesai!" sahutnya ketus. Ia lantas berdiri dari posisinya dan mendekati asal suara. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dingin seraya berbalik menyorot tajam kepada Ammara.
Ammara sontak mengangkat wajah. Kedua tangannya membersihkan sisa-sisa air mata yang menggenang di pipi. Begitu matanya beradu dengan mata Archibald, air mukanya berubah masam. "Bukan urusanmu!" jawab Ammara tak kalah ketus.
Archibald menggeram pelan. Ia hendak beranjak dari tempat itu dan mengacuhkan Ammara, tetapi sesuatu dalam hatinya menahannya untuk tidak meninggalkan peri perempuan itu seorang diri di sana. Ia berbalik dan duduk di samping Ammara seraya mengembuskan napas panjang. Untuk beberapa saat lamanya mereka duduk di sana dalam hening.
"Untuk apa bunga matahari itu?" tanya Archibald datar saat melirik bunga matahari di dalam genggaman Ammara. Ia menyandarkan tubuhnya pada rimbun dedaunan di belakang mereka.
Ammara mendengkus. Matanya menyorot pada sekuntum bunga matahari besar di pangkuannya. Bunga Matahari itu tertanam dalam sebuah wadah berwarna gelap. "Aku ingin memberi Putra Mahkota Albert bunga ini," jawabnya lirih.
"Bunga Matahari?" Archibald menaikkan salah satu alisnya.
Ammara mengangguk pelan. Setetes air bening mengalir di pipinya. "Bunga Matahari adalah bunga yang akan bercahaya paling terang di malam hari. Aku harap bunga ini dapat menerangi peristirahatan terakhir Putra Mahkota di tempat ini. Aku harap dia tidakakan kesepian." Ammara kembali terisak.
Archibald mengembuskan napas pelan. "Dia tidak akan pernah kesepian di sini," tuturnya pelan. Pandangannya menerawang menatap langit mendung yang menaungi taman.
Ammara mengangkat wajahnya, menatap Archibald, menunggu penjelasan.
"Dia bersama keluarganya di sini dan tempat ini juga dekat dengan Istana Avery. Jadi, mana mungkin dia kesepian," lanjutnya seraya membalas tatapan Ammara.
Peri perempuan itu segera membuang pandangan. Tanpa ia sadari, semburat merah samar terbit di kedua pipinya. Entah mengapa, berada sedekat ini dengan Archibald membuatnya salah tingkah.
Salah satu sudut bibir Archibald terangkat. "Aku rasa, apa pun yang kau berikan untuknya, ia akan merasa senang."
"Benarkah?" tanya Ammara. Sebuah binar terbit di matanya.
Archibald mengangguk mantap. Kini kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Peri laki-laki itu tersenyum. Namun, sedetik kemudian ia menundukkan wajahnya, merasa canggung dengan tingkahnya sendiri.
Mereka terdiam untuk beberapa saat, menikmati langit senja yang semakin menggelap.
"Harusnya aku yang menghiburmu..." sesal Ammara lirih.
"Kau tidak perlu berpura-pura kuat di saat kau merasa tidak baik-baik saja."
"Kau benar. Aku tidak baik-baik saja. Aku... Aku menyesal karena belum sempat mengucapkan terima kasih padanya karena telah berusaha menolongku dan ibuku. Aku menyesal. Andai umurnya lebih panjang. Andai aku bisa bertemu dengan Putra Mahkota lagi---"
"Aku rasa Putra Mahkota menyukaimu," potong Archibald cepat.
Ammara membelalak, menatap Archibald tak percaya. Peri perempuan itu menggeleng cepat.
Archibald melanjutkan kata-katanya. "Aku juga menyesal tidak menjaganya dengan baik. Aku menyesal karena sering membantahnya. Namun, aku tidak menyesal dengan apa yang aku lakukan untuknya di saat terakhir hidupnya. Hanya itu yang dapat kulakukan untuk menyelamatkan jiwanya."
Setetes air bening terbit di pelupuk mata Archibald. Ia berkedip sehingga bulir bening itu jatuh menyusuri salah satu pipinya. "Aku merindukannya ...."
Ammara refleks menggosok punggung Archibald saat ia menyadari bahwa peri laki-laki di sampingnya sedang berusaha sekuat tenaga menahan tangis. Ia menggeser duduknya mendekati Archibald, sementara salah satu lengannya merangkul peri itu.
Archibald tertunduk, menangis tanpa suara. Tangisan pertamanya sejak Albert wafat.
Untuk beberapa saat lamanya mereka terdiam. Hanya embusan angin yang sesekali terdengar menimbulkan gesekan pada dedaunan dan kelopak bunga.
" Lost my partner, What'll I do?
Lost my partner, What'll I do?
Lost my partner, What'll I do?
Skip to my lou, my darlin'. Skip, skip, skip to my Lou, Skip, skip, skip to my Lou, Skip, skip, skip to my Lou, skip to my Lou, my darlin'."
Archibald terkesiap mendengar lagu yang sangat familier di telinganya. Lagu yang mengingatkannya pada masa lalu. Ia mengangkat wajahnya dan mendapati Ammara sedang bernyanyi pelan di sampingnya.
"Chiara...?" gumamnya pelan. Terlalu pelan hingga desau angin menelannya.
Ammara membalas tatapan Archibald dengan tersenyum sekilas. Peri perempuan itu terus bernyanyi untuk menenangkan perasaannya.
Jantung Archibald tiba-tiba berdetak lebih kencang. Pipinya memanas. Betapa ia merindukan seorang gadis manusia yang mirip dengan Ammara. Iris mata hazel green- nya menatap lekat peri perempuan di sampingnya. Warna kulit itu. Warna rambut keemasannya. Bentuk bibir dan warna mata itu. Suara dan nyanyiannya. Semua terasa sama seperti dulu.
Tiba-tiba sosok seorang gadis kecil hadir tepat di samping Archibald. Gadis manusia dengan rambut keemasan dan gaun berwarna lilac selutut itu sedang bernyanyi. Lagu yang sama, yang pernah Archibald dengar dulu.
"Chiara?" tanpa sadar, Archibald menggumamkan nama itu lagi.
"Kau bilang apa?" tanya gadis itu seraya menoleh pada Archibald. Ia menghentikan nyanyiannya.
Archibald bergeming. Mulutnya tanpa sadar membuka dan pupil matanya membesar. Gadis manusia di sampingnya kini telah berubah menjadi seorang gadis, dengan paras yang masih sama, bahkan semakin cantik.
Kau kah itu Chiara? Tetapi mengapa kau tak mengenaliku?
Archibald menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca. "Aku hanya sedang merindukan seseorang," lirihnya sambil mengalihkan pandang dari Ammara.
Ammara tersenyum kecut. "Aku tahu. Kita sama-sama merindukan Albert."
Mereka sama-sama terdiam.
Kelopak-kelopak bunga mulai menyala pertanda malam telah menjejak Fairyverse. Kunang-kunang perlahan bermunculan dari sela-sela dedaunan.
Di balik sebuah pohon willow berbatang besar, Elijah menyembunyikan diri. Iris mata birunya menyorot sepasang peri yang sedang duduk bersebelahan di salah satu sudut taman Peristirahatan Terakhir. Dalam cahaya remang, air muka Elijah terlihat keruh. Bibirnya terkatup rapat dengan rahang mengeras. Salah satu tangannya mengepal, menekan pada batang kayu di hadapannya. Entah mengapa, Ia merasa tidak terima dengan kedekatan Archibald dan Ammara.
Peri laki-laki itu mengembuskan napas kasar sebelum akhirnya beranjak dari persembunyiannya tanpa suara. Ia melangkah cepat meninggalkan Taman Peristirahatan Terakhir yang kini telah gelap sepenuhnya.
* * *
"Ammara," sapa Ella lembut ketika mereka telah tiba di Rumah Cendawan.
Kali ini mereka pulang ke rumah menggunakan sihir Ella sehingga perjalanan pulang hanya memakan waktu kurang dari satu jam.
Ammara menghentikan langkahnya yang baru saja hendak memasuki bilik tidur, saat Ella menyebut namanya. Ammara menoleh dan mendapati Ella tengah menatapnya dengan sorot yang tak dapat Ammara artikan.
"Ada apa, Bu?" tanya Ammara dengan kening mengerut.
"Ada yang ingin ibu sampaikan padamu," ucap Ella ragu. Di sampingnya, Ailfryd menggenggam tangan peri perempuan itu erat seolah sedang memberikan kekuatan.
Kerutan di kening Ammara semakin dalam. "Ada apa sebenarnya, Bu?"
Ammara kemudian mengikuti Ella dan Ailfryd yang menuntunnya menuju sebuah meja batu bundar dengan kursi-kursi di sekelilingnya. Mereka duduk mengelilingi meja bundar tersebut dalam hening untuk beberapa saat lamanya.
"Ada sesuatu yang sangat penting yang ingin Ibu sampaikan, Ammara." Ella berkata, memecah keheningan di antara mereka. Netra hijaunya menatap Ammara lekat. Sementara, Ailfryd yang duduk di samping peri perempuan berambut keemasan itu terlihat menunduk.
Ada apa ini? batin Ammara.
Ammara berdeham beberapa kali, membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa tercekat. Ia menegakkan punggung seraya memasang wajah setenang mungkin. Ia mengangguk terlalu cepat saat membalas tatapan ibunyadengan canggung.
Ella mengembuskan napas panjang. "Kau ingat, saat kami bilang kau terjatuh saat menunggang unicornmu dan kau kehilangan seluruh ingatanmu?"
Ammara mengangguk pelan. Tanpa sadar kedua tangannya terkepal di atas pangkuan. Tubuhnya menegang. Ia menatap netra hijau Ella tanpa berkedip.
"Kami berbohong saat itu... " ungkap Ella lirih. Sorot matanya meredup dan terlihat berkaca-kaca.
Ammara melotot mendengar ucapan ibunya. Tanpa sadar mulutnya menganga. Kepalanya menggeleng pelan, menolak percaya dengan kata-kata yang barusan ia dengar. Namun, sebisa mungkin Ammara mengendalikan diri.
"Ibu, apa yang Ibu bicarakan?!"
Ella mengangguk pelan. Setetes air bening mengalir di salah satu pipinya. Ia menyahut dengan suara serak. "Maafkan Ibu dan ayah. Kami tidak bermaksud berbohong padamu. Kami hanya ingin melindungimu, Ammara."
Ammara merasakan sakit yang seketika menyerang kepalanya. Ia memegang salah satu pelipisnya seraya menggeleng lemah. Mulutnya membuka dan menutup seolah ada kata yang terasa berat untuk diucapkan, tetapi ia tetap bungkam.
Ella menghela napas berat, sebelum melanjutkan ucapan. "Jadi ... sebenarnya, kau bukanlah anak kami. Saat kami menemukanmu, ingatanmu hilang, Nak. Kau bahkan tak mengingat namamu sendiri. Jadi kami menamaimu Ammara. Namun, ada sesuatu yang lebih penting terkait dengan identitasmu ... " terang Ella susah payah. Kalimatnya menggantung di udara ruangan yang mendadak terasa membeku. Sesekali iris matanya beradu dengan iris mata Ailfryd.
Bagaikan tersambar petir, sesuatu di dalam dada Ammara terasa nyeri. Sakit yang tak terlihat itu terasa menggerogotinya. Ia lantas menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Setetes air bening luruh di pipinya. Ia berusaha keras menahan gejolak di dalam dadanya, dengan memilih bungkam, menanti Ella melanjutkan kata-kata.
Ella menarik napas panjang. Air mata bergulir perlahan di pipinya. "Maafkan aku ... Kau sebenarnya tidak sama dengan kami," lirihnya tertelan rasa bersalah.
Ailfryd meneguk salivanya susah payah, akhirnya sebelum membuka suara. "Waktu itu, kami menemukanmu di dekat portal utara, tergeletak tak sadarkan diri. Saat itu Ella mengetahui bahwa kau dibawah pengaruh sihir hitam hingga tak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama." Ailfryd mengjeda kata-katanya, mengumpulkan segenap kekuatan yang ia miliki untuk melanjutkan ucapannya. "Saat itu kami menyadari bahwa kau sedang berada dalam bahaya. Ella menyamarkan sosokmu dengan menaburkan serbuk peri ke sekujur tubuhmu. Namun, saat kau terluka, khasiat serbuk itu otomatis menghilang ...."
Ammara tak dapat lagi membayangkan bagaimana ia terlihat saat itu. Yang jelas, sekujur tubuhnya gemetaran. Dadanya sesak dan kepalanya terasa berputar. Saat Ella berpindah duduk di sampingnya, Ammara merasa sedikit lebih baik, meski sentuhan tangan itu kini terasa sangat asing.
"Maafkan kami, Ammara," ucap Ella lirih. "Kami merahasiakan semua ini demi melindungimu. Kami tidak tahu siapa yang menyihirmu. Namun, kami tidak bisa membiarkanmu begitu saja di portal Utara, terlebih saat aku mengetahui bahwa seluruh ingatanmu tersegel di suatu tempat oleh sihir hitam. Oleh karena itu, kami mengangkatmu sebagai anak dan membawamu tinggal di Fairyfarm. Kami juga sangat keras melarangmu untuk meninggalkan Fairyfarm karena kami tahu, sesuatu pasti sedang mengincarmu."
Ammara terisak pelan. "Jika aku tidak sama seperti kalian, jadi aku ini apa?" tanya Ammara getir di sela-sela isak tangisnya.
Ella menghela napas dalam-dalam. Ia menggigit bibirnya seraya berpikir mencari kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada Ammara. Setelah menimbang beberapa saat lamanya, akhirnya Ella membuka suara. "Kau adalah manusia. Aku bisa mengetahuinya dari baumu. Selama ini, aku memberimu serbuk pelindung agar bau dan bentuk telingamu menjadi samar. Sungguh, tempat ini bukanlah tempat yang aman bagi manusia sepertimu, Ammara."
"Ma-manusia?!"
Tangis Ammara semakin kencang. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kedua bahunya berguncang, sementara suara raungannya teredam telapak tangan.
"Namun satu hal yang harus kau ingat, Ammara, aku dan ibumu tulus menyayangimu dan ingin melindungimu," timpal Ailfryd lirih.
Ella mengeratkan rangkulannya pada pundak Ammara. Peri penyembuh itu turut menitikkan air mata. Ia bungkam dan membiarkan Ammara menumpahkan seluruh kesedihannya dalam pelukan.
* * *
Seekor rajawali besar terbang melesat melewati jurang menganga di depan Kastel Larangan. Salah satu tentakel makhluk besar yang menempel di dinding jurang nyaris saja meraih sebelah sayapnya. Beruntung sang rajawali bermanuver cepat untuk menghindarinya. Rajawali itu memekik marah, sebelum akhirnya memasuki salah satu jendela menara Kastel Larangan.
Burung rajawali itu langsung berubah menjadi kepulan asap hitam begitu melewati jendela menara seraya mendarat dengan sempurna. Dari kepulan asap yang kian lama kian menipis itu munculah sosok Lucifer.
Lucifer membungkuk seraya tersenyum lebar, memberi hormat kepada Minerva yang telah menantinya dengan tidak sabar. Sang ratu kegelapan mengangguk sekilas, kemudian kembali menekuri kitab-kitab sihir yang tengah ia baca. "Aku harap kau membawa kabar yang menarik," ucapnya acuh.
Lucifer mengangguk takzim. Senyum lebar masih tersungging di bibirnya. Lucifer seolah menjadi makhluk paling bahagia saat itu. "Banyak sekali kabar menarik yang kubawa, Ratuku," ujarnya.
Minerva menoleh padanya. Manik kelam milik sang ratu kegelapan menyorot tajam pada netra cokelat Lucifer. Peri perempuan itu kemudian beranjak dari kursi batu yang sedang ia duduki dan mendekati Lucifer dengan langkah perlahan.
Hening seketika. Lucifer dan Minerva saling tatap. Seolah dapat membaca pikiran Lucifer, ratu kegelapan itu kemudian menyeringai lebar dalam redup cahaya di menara kastel.
"Jadi menurutmu, sudah waktunya manusia kecil itu kita tuntun untuk melenyapkan sihir putih di perbatasan Hutan Larangan?" tanya Minerva seraya memicingkan matanya.
Lucifer mengangguk mantap. "Lagi pula, setelah kedatangan Yang Mulia Ratu pada penaburan Abu di Taman Peristirahatan Terakhir, Elijah pasti akan berpihak pada kita," sahutnya.
"Kau terdengar sangat yakin, Lucifer?" decak Minerva.
"Yang Mulia Ratu bisa mengandalkanku."
"Baiklah," sahut Minerva. "Jika rencana ini gagal, apa yang kau pertaruhkan?"
Lucifer membelalak. Namun, sepersekian detik kemudian, ia menjatuhkan lutut di hadapan sang ratu kegelapan. "Jika rencana ini gagal, kepalaku sepenuhnya akan menjadi milik Yang Mulia Ratu!"
"Bagus!" desis Minerva. Ia kembali menyeringai. "Aku tidak bisa menerima kegagalan. Lakukan apa pun untuk membuat rencana ini berjalan lancar. Dan, kau ... tetap awasi mereka, jangan sampai ada hal yang luput!" bentak Minerva dengan nada dingin.
Lucifer mengangguk takzim. Rahangnya terkatup rapat, sementara pandangannya menyiratkan tekad yang kuat.
"Pergilah!" titah Minerva. Peri perempuan itu mengibaskan salah satu tangannya, kemudian duduk kembali menghadap meja batu yang dipenuhi tumpukan kitab sihir.
Sekali lagi, Lucifer mengangguk. Dengan cepat ia mengubah dirinya menjadi seekor rajawali. Rajawali itu lantas terbang cepat keluar jendela, menembus kegelapan di luar Kastil Larangan.