Elijah berjalan tergesa memasuki gerbang utama Istana Avery yang masih dijaga ketat oleh puluhan kesatria Elf. Langit Fairyverse telah sepenuhnya gelap dan kelopak bunga bercahaya, saat Elijah menyusuri lorong istana yang terlihat lebih ramai dari biasanya.
Elijah berjalan dengan wajah ditekuk. Kedua netra birunya menatap kosong pada jalan di hadapannya. Beberapa kali ia menghela dan mengembuskan napas berat. Pikirannya sedang suntuk dipenuhi banyak hal. Pada sebuah persimpangan koridor istana, Elijah berpapasan dengan beberapa kesatria dan dayang peri Elf. Elijah terkesiap lamunannya buyar saat melihat gelagat aneh para rombongan peri itu.
Rombongan peri Elf itu sama terkejutnya dengan sang pangeran. Mereka segera menyingkir dari jalan sambil menundukkan wajah mereka dalam-dalam. Namun, belum lagi Elijah berjalan menjauh, suara bisik-bisik terdengar.
"Jadi, Pangeran Elijah sebenarnya adalah anak Ratu Kegelapan? Anak peri unsheelie?!" tanya sebuah suara cempreng.
"Aku sangat kecewa karena wajah setampan itu ternyata diwariskan dari peri Unsheelie," timpal yang lain.
"Dia cerdas dan berbakat. Namun tidak dapat menjadi Putra Mahkota pasti karena ibunya peri Unsheelie."
Kedua tangan Elijah terkepal.
"Tidak menutup kemungkinan lambat laun kutukan itu akan menurun padanya, 'kan?"
"Aku lebih memilih Pangeran Archibald Yang jelas le--"
"Hentikan!" bentak Elijah berang. Ia telah berbalik menghampiri para kesatria Elf yang sedang membicarakannya. Wajahnya merah padam. Napasnya memburu, sementara kedua iris matanya memicing menatap satu per satu wajah kesatria Elf yang menggunjingnya.
Para kesatria Elf itu sontak membelalak. Mereka gemetar ketakutan, tak menyangka jika sang pangeran mendengarkan pembicaraan mereka.
"Ma-maafkan ka--"
"Maaf katamu?!" desis Elijah. Ia menarik kerah baju salah satu kesatria Elf yang terjangkau olehnya. Matanya menatap nyalang pada kesatria Elf malang yang kini menggigil ketakutan itu.
"Kesatria Elf sepertimu layak untuk dihukum!" bentak Elijah marah.
Elijah mengempaskan tubuh kesatria Elf yang malang itu hingga menghantam sebuah tiang di koridor. Dengan sigap, ia mengeluarkan sebilah pedang sihir dari sarung yang tersampir di pinggangnya. Tanpa keraguan, Elijah menebaskan pedang sihir itu pada leher kesatria Elf yang hendak bangkit dengan susah payah. Percikan darah segar mengenai wajah sang pangeran disertai dengan suara teriakan tercekat dari si peri malang.
Demi melihat kejadian itu, rekan-rekan kesatria Elf yang lainnya berteriak ketakutan seraya melangkah mundur. Mereka melotot tak percaya pada Pangeran Elijah yang tanpa ekspresi telah mengembalikan pedang sihir itu ke dalam sarungnya.
Elijah menyeka bekas darah yang menempel di salah satu pipinya, kemudian menepiskan tangannya dengan kasar. Ia mendelik ke arah para kesatria Elf di depannya. "Pergilah. Bereskan mayat teman kalian, sebelum aku berubah pikiran!" teriaknya berang.
Sontak para kesatria Elf itu berlutut dengan tubuh gemetar. "Ampuni kami, Pangeran Elijah! Ampuni kami!" ratap mereka. Suara tangis ketakutan memenuhi koridor istana.
Beberapa sosok kesatria Elf berdatangan untuk melihat apa yang terjadi. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat mayat sesosok kesatria Elf tergeletak bersimbah darah dengan leher yang nyaris putus. Yang lebih mengejutkan lagi adalah sosok Pangeran Elijah berwajah berang berada di dekat mayat peri itu. Pangeran peri itu sedang memegang gagang pedang dengan wajah memerah dan rahang yang mengatup rapat.
"Cih! Dasar kesatria Elf tidak berguna!" umpatnya. Elijah berbalik dan melanjutkan langkah menuju balairung Istana Avery di mana seluruh keluarga kerajaan telah berkumpul.
Pintu emas dengan ukiran lambang kerajaan Avery di depannya terbuka dari dalam, setelah salah satu kesatria Elf yang berjaga di luar mengetuk sebanyak dua kali.
"Syukurlah, kau sudah datang Pangeran Elijah!" sambut Raja Brian seraya tersenyum lemah.
Elijah mengangguk takzim, kemudian duduk di salah satu kursi emas di antara Elwood dan Claude. Netra birunya bertemu tatap dengan dengan netra hazel green Archibald. Ia dan Archibald sama-sama membuang muka cepat.
"Karena seluruh anggota keluarga kerajaan telah berkumpul, aku akan segera mengutarakan maksud dan tujuanku mengundang kalian semua berkumpul di balairung ini," terang Raja Brian.
Raja Brian mengedarkan pandangannya menyapu balairung. Ia menatap satu per satu wajah anggota Kerajaan Avery yang hadir di ruangan itu. "Sebagaimana kita ketahui bahwa Kerajaan Avery sedang dalam keadaan berkabung karena wafatnya Putra Mahkota Albert. Namun, untuk memulihkan stabilitas kerajaan, Kerajaan Avery tidak bisa terus berlarut dalam kesedihan, terutama karena kerajaan baru saja diserang monster yang terkena sihir hitam. Kejadian ini tentu sangat meresahkan seluruh peri di Fairyverse," ucapnya lantang.
Raja Brian menarik napas. "Untuk mengembalikan stabilitas Kerajaan Avery dan meminimalisir keresahan di Fairyverse, maka Raja dan Dewan Peri memutuskan untuk segera menunjuk Putra Mahkota baru dalam waktu dekat," putus sang raja.
Balairung hening seketika. Setiap mata yang hadir menyorot serius kepada sang raja dengan pikiran masing-masing.
"Yang Mulia." sapa Ratu Serenity seraya mengangkat salah satu tangannya.
Raja Brian mengangguk, memberi kesempatan kepada sang ratu untuk berbicara.
"Terima kasih, Yang Mulia. Hamba merasa keberatan jika kita harus membicarakan mengenai pengganti Putra Mahkota saat ini. Setidaknya, kita perlu menunda keinginan untuk mencari pengganti Putra Mahkota Albert selama beberapa purnama. Untuk urusan stabilitas kerajaan dan kedamaian Fairyverse, hamba percaya, kami masih bisa mengandalkan Anda, Yang Mulia," terang Ratu Serenity.
Raja Brian mengangguk pelan. Pandangannya menerawang ke arah langit-langit balairung Istana Avery. Ia mempertimbangkan saran dari sang ratu. "Apa ada masukan lain?" tanya Raja Brian beberapa saat kemudian.
Elijah dengan sigap mengacungkan salah satu tanganya.
Suara gumaman mulai terdengar memenuhi balairung. Beberapa peri anggota Kerajaan Avery terlihat sedang berbisik-bisik dengan sesamanya seraya mengerling Elijah dengan tatapan meremehkan.
Elijah mengembuskan napas kasar. Ia menenangkan diri sesaat sebelum membuka suara. "Terima kasih, Yang Mulia. Hamba sepakat dengan keputusan Yang Mulia Raja Brian untuk segera menunjuk pengganti Putra Mahkota Albert. Stabilitas kerajaan dan kedamaian Fairyverse lebih utama daripada berlarut-larut dalam kesedihan. Bukankah Putra Mahkota Albert gugur sebagai pejuang yang melindungi istana? Putra Mahkota pasti tidak suka jika kita terlalu lama menangisinya," tukasnya panjang lebar. Ekor matanya mengerling Ratu Serenity yang melotot marah kepadanya. Salah satu sudut bibir Elijah terangkat dan senyum asimetris tersungging di bibirnya.
Raja Brian mengangguk pelan. Pandangannya masing menerawang mencari pertimbangan, sementara balairung terdengar makin riuh. Para peri anggota Kerajaan Avery sibuk mengeluarkan pendapatnya masing-masing.
"Yang Mulia!" sela Ratu Serenity. "Hamba hanya ingin memberikan pandangan," serunya lantang.
Seketika balairung menjadi hening kembali. Seluruh anggota Kerajaan Avery kembali fokus menyorot Ratu Serenity.
"Silahkan, Ratu!" sambut Raja Brian. Ia menyandarkan tubuhnya pada sisi kanan singgasana, sementara salah satu tangannya menopang dagu.
"Apa pun keputusan Anda, Yang Mulia, satu hal yang harus Anda pertimbangkan," ujar Ratu Serenity. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling balairung. Iris matanya berhenti pada netra Elijah yang juga sedang menatap tajam kepadanya.
"Pengganti Putra Mahkota haruslah Pangeran atau Putri berdarah murni. Penyerangan sihir hitam hingga monster Hydra yang terkena sihir menunjukan betapa lemahnya pertahanan Kerajaan Avery dan betapa tidak berdaulatnya kita di mata para unsheelie. Kehormatan Raja dan Dewan Peri dipertaruhkan di sini. Jika kita ingin memulihkan nama baik dan kehormatan Kerajaan Avery, maka Raja dan Dewan Peri harus menunjuk pengganti Pangeran atau Putri sheelie berdarah murni untuk memimpin Avery. Hanya dengan itulah stabilitas dan kedamaian di Fairyverse dapat tercipta."
"Satu hal yang kita anggap remeh adalah pemberontakan unsheelie melalui kasus Ammara dan penyerangan Hydra. Jangan pernah beri celah pada makhluk-makhluk terkutuk itu untuk keluar dari Hutan Larangan. Raja juga harus memikirkan untuk memperkuat atau menyegel ulang perbatasan agar makhluk terkuat unsheelie sekali pun tidak akan dapat melewatinya."
Elijah sontak mengangkat lengannya begitu Ratu Serenity selesai bicara. Begitu Raja Brian mengangguk, Elijah langsung mengajukan keberatannya. "Maaf Yang Mulia, apa yang dimaksud Ratu Serenity dengan pangeran berdarah murni? Bukankah seluruh keturunan Raja Brian adalah peri berdarah murni. Hamba rasa ada yang perlu diluruskan dari perkataan Ratu Serenity!" semburnya dengan nada meninggi. Wajah rupawannya mulai memerah.
"Kau tidak berhak memberi pendapat di sini, keturunan Unsheelie! Aku merasa khawatir jika penyerangan terhadap Putra Mahkota Albert dan Istana Avery ada sangkut pautnya denganmu. Bukankah dengan jelas Minerva telah mengakui kau sebagai putranya!" bentak Ratu Serenity berang. Napasnya memburu, sementara wajahnya mulai memerah.
"Tenang, Yang Mulia Ratu," sergah Raja Brian.
"Apa yang membuatmu setakut ini Ratu Serenity?! Kau takut jika aku menjadi Putra Mahkota? Apa kau tidak punya pion lagi untuk melanggengkan kekuasaanmu?!" balas Elijah tak kalah sengit.
Wajah Ratu Serenity seketika merah padam. Ia berdiri dari kursi emasnya hendak merangsek maju ke arah Elijah yang duduk tepat di hadapannya. Namun, sesosok dayang menahan tubuhnya dan menenangkannya.
Tanpa sadar, Elijah mengepalkan dua tangannya. Rahangnya mengeras dan perlahan wajah rupawannya menjadi merah padam demi mendengar kata-kata sang ratu.
"Yang Mulia!" seru Archibald di tengah-tengah keriuhan Balairung. Ia mengangkat salah satu tangannya. Pangeran peri itu mengangguk sekilas dan membuka suara ketika sang raja telah menganggukkan kepala untuk menyilakannya berpendapat.
"Terima kasih, Yang Mulia. Hamba sebagai pangeran Kerajaan Avery akan mendukung sepenuhnya keputusan Raja Brian. Untuk masalah pemberontakan unsheelie, kita tidak boleh gegabah dan menganggap itu sebagai sebuah pemberontakan. Kita harus menyelidikinya lebih lanjut. Dan, sebaiknya, seluruh anggota kerajaan Avery saling membantu untuk meredam isu-isu yang dapat meresahkan penghuni Fairyverse. Setelah kondisi Fairyverse lebih stabil dan kondusif, barulah Raja dan Para Dewan Peri memikirkan langkah selanjutnya untuk pemilihan Putra Mahkota yang baru," papar Archibald tenang.
Mata sang Raja tampak berbinar seketika. "Kau benar Pangeran Archibald. Kita tidak boleh gegabah. Aku akan menugaskanmu dan Maurelle untuk mengawasi perbatasan Hutan Larangan. Sementara untuk keamanan dan perbaikan Istana Avery akan aku serahkan kepada Pangeran Claude dan Pangeran Elwood untuk mengawasinya. Untuk permasalahan pemilihan Putra Mahkota baru, aku akan merembukkannya dengan Dewan Peri," pungkasnya.
Maurelle, Archibald, Claude dan Elwood serempak mengangguk takzim begitu mendengar titah Raja Brian.
Elijah ingin menyela. Namun, Raja Brian terlebih dahulu mengibaskan salah satu tangannya pertanda ia tak menginginkan ada yang bicara lagi. Sang pangeran peri menggeram dalam diam. Semakin lama emosinya tak lagi dapat terbendung. Pangeran peri itu menggebrak meja batu di hadapannya hingga retak. Ia menatap nyalang kepada seluruh anggota keluarga kerajaan. Terakhir, tatapannya menghujam Raja Brian.
Claude dan Elwood sontak berdiri, berusaha menenangkan saudaranya. Namun dengan kasar, Elijah menepis tangan kedua pangeran peri itu.
Balairung kembali riuh dengan bisik-bisik penghuninya yang rata-rata menatap tidak senang pada Elijah.
Elijah mengembuskan napas kasar, kemudian dengan cepat beranjak keluar dari Balairung tanpa pamit. Wajahnya merah padam. Emosinya tak terbendung lagi, hingga ia sama sekali tak menghiraukan panggilan Raja Brian.
* * *
Putri Serenity berjalan mondar-mandir di depan jendela besar kamarnya. Alisnya bertaut. Ia sesekali menggigit bibir bawahnya dengan decakan kesal.
"Ada apa, Ratuku?" tanya Raja Brian seraya mengangkat wajahnya dari dokumen kerajaan yang sedang ia baca. Ia meletakkan dokumen itu di atas meja batu dan mengamati Ratu Serenity.
Ratu Serenity mengembuskan napas panjang. Kegusaran jelas meliputi wajahnya. "Yang Mulia, bagaimana kalau Anda mengangkat Putri Tatianna sebagai Putri Mahkota. Berikan kesempatan pada Putri Tatianna untuk menjadi Ratu Kerajaan Avery yang pertama?" tanya Ratu Serenity setengah mendesak.
"Mengapa harus Tatianna, Ratu?" tanya Raja Brian dengan tatapan menelisik.
"Karena dia satu-satunya keturunan peri berdarah murni. Keturunan langsung kita berdua," jelas Ratu Serenity.
Raja Brian menggeleng pelan. "Ia tidak pernah dididik untuk menjadi pemimpin seperti kakak-kakaknya, Ratu. Lagi pula belum tentu Putri Tatianna bersedia," sahut Raja Brian.
Ratu Serenity mendengkus. "Tentu saja Putri Tatianna bersedia. Aku yang akan mempersiapkannya. Raja harus ingat bahwa kita harus menjaga kemurnian darah pemimpin kerajaan, jangan sampai Unsheelie yang mengambil alih," ujar Ratu Serenity dengan mata memicing.
Raja Brian memiringkan kepalanya seraya menatap mata Ratu Serenity intens. "Ratuku, tidak cukupkah aku bagimu? Kau tetap akan menjadi Ratuku walaupun aku tidak lagi menjadi raja," ucap Raja Brian dengan tatapan menggoda. "Lagi pula, untuk masalah pemilihan Putra Mahkota, aku akan meminta pertimbangan Maurelle. Dia cenayang, Ratuku. Dia pasti telah mengetahui sesuatu mengenai pesan dari masa depan."
Ratu Serenity bungkam. Bibirnya mengerucut. Kedua tangannya terkepal kuat hingga memperlihatkan buku-buku jarinya yang memutih. Sedetik kemudian, ia meninggalkan bilik Raja Brian dengan langkah cepat penuh kemarahan.
Bunyi gaun Ratu Serenity yang menyapu lantai terdengar kasar di telinga Raja Brian. Sementara sang raja mengikuti kepergian ratunya dengan ekor mata seraya menggelengankan pelan.
* * *
Ratu Serenity membuka perlahan sebuah pintu berwarna perak di hadapannya. Salah satu tangannya menggenggam erat sebuah teko yang terbuat dari emas berisi seduhan teh. Sebelum melangkahkan kaki masuk ke ruangan itu, sang ratu menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tak ada peri lain di sekitarnya.
Bau herbal yang tajam menguar dari dalam ruangan berpintu perak. Ratu Serenity sampai harus menutup hidungnya dengan wajah mengernyit. Seberapa sering pun ia masuk ke ruangan itu, ia tetap tak pernah terbiasa dengan baunya.
Setelah menutup pintu di belakangnya, Ratu Serenity menjentikkan jari ke udara dan seketika beberapa bola api berwarna perak menyala di sekelilingnya. Pemandangan botol-botol kaca beraneka warna yang tersusun rapi dalam deretan rak besar langsung menyergap netra sang ratu.
Ratu Serenity memicingkan matanya, meneliti botol-botol pada barisan paling atas. Dengan sigap ia menurunkan dua botol sekaligus dan meletakkannya pada sebuah meja batu kecil yang menempel ke dinding ruangan. Dari balik gaun, sang ratu mengeluarkan sekuntum kelopak bunga berwarna ungu.
Dengan cekatan, kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan, melumat kuntum bunga berwarna ungu itu menjadi halus. Ratu Serenity kemudian mengambil sedikit lumatan itu dan memasukannya ke dalam teko yang ia bawa. Tak lupa ia membubuhkan isi dari dua botol kaca yang telah diambilnya dari rak.
Bibir merahnya menyeringai dalam keremangan ruangan seraya merapatkan kembali tutup teko emas di hadapannya. Ia hendak berbalik keluar dari ruangan, ketika pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan keras.
Ratu Serenity terkesiap. Teko yang dibawanya terjatuh menghantam lantai marmer, menimbulkan suara kelontang yang nyaring.
Maurelle masuk dengan tergopoh-gopoh. Wajah peri laki-laki itu merah padam. Matanya melotot, menghakimi Ratu Serenity dengan pandangannya.
"Apa yang Anda lakukan di sini, Ratu? Ini bukanlah tempat yang lazim untuk didatangi seorang Ratu?" selidik Maurelle. Tatapannya memicing bagaikan elang yang sedang mengincar mangsa.
Wajah Ratu Serenity mendadak pucat pasi. Lidahnya menjadi kelu untuk menjawab pertanyaan Maurelle. Ia hanya bergeming, dengan tubuh bergetar.
Maurelle melangkah maju dan mengedarkan pandangannya pada seisi ruangan. Iris mata cokelatnya menangkap sisa lumatan kelopak bunga berwarna ungu yang sangat mencolok di atas meja batu. Kengerian tiba-tiba terbayang jelas di wajah peri laki-laki itu.
Maurelle beralih menatap Ratu Serenity tak percaya. " Wolfsbane ?!" pekiknya tertahan. Ia melotot pada sang ratu.
Ratu Serenity menggeleng cepat. Ia gelagapan. Panik. "I-ini tidak seperti yang kau bayangkan, Maurelle. A-aku bisa menjelaskan," sahut sang ratu dengan suara bergetar.
"Apa pun yang Anda rencanakan, Ratu, aku harap Anda menghentikannya sekarang. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mencelakai Raja Brian!" kecam Maurelle. "Ini peringatan terakhir, Ratu Serenity. Selanjutnya, aku akan langsung bertindak dan tidak akan pernah memaafkan Anda!"
Maurelle langsung pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah menghentak kasar, meninggalkan Ratu Serenity yang bergeming shock .
Di dalam keremangan ruangan, tangis Ratu Serenity mendadak pecah. Dengan marah, ia menendang teko emas yang tergeletak di lantai dengan genangan air seduhan teh di sekitarnya seraya menjerit. Maurelle sialan. Tunggu saja pembalasanku!