Magic Seal
Fantasy
25 Feb 2026

Magic Seal

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (70).jfif

download (70).jfif

25 Feb 2026, 15:49

download (69).jfif

download (69).jfif

25 Feb 2026, 15:49

Matahari pagi berwarna kuning keemasan menyorot wajah Ammara. Gadis itu sedang duduk bersandar pada batang pohon oak dengan mata tertutup di kebun Ailfryd. Seperti biasa, ia tidak tertidur, tetapi kepalanya terasa sangat berat sejak ia terlalu banyak menangis beberapa hari yang lalu.

Di sampingnya, Selly berdiri tegak dengan mata memicing awas menatap sekitar. Unicorn bersurai putih itu tak henti-hentinya mengunyah plum yang membuat sekitar mulutnya menjadi kemerahan. Ia tak boleh mengantuk dan tertidur karena Ella dan Ailfryd menugaskannya untuk menjaga Ammara dengan lebih ketat.

"Ammara!" sapa sebuah suara.

Gadis itu terkesiap dan langsung membuka matanya. Tubuhnya masih bersandar malas pada batang pohon, tetapi netranya telah menangkap sosok peri laki-laki yang berjalan memasuki kebun plum Ailfryd.

"Elwood?" sapa Ammara seraya mengucek matanya. Gadis bersurai keemasan itu segera bangkit dari posisinya dan merapikan permukaan gaun lilac -nya yang sedikit berantakan.

Selly tiba-tiba meringkik nyaring . Unicorn itu melotot tidak suka begitu melihat kedatangan Elwood. Makhluk itu dengan sigap mendekati Ammara dan mengelilingi tubuh si gadis dengan protektif.

"Hei, Selly, tenanglah. Dia hanya Elwood. Kau mengenalnya, bukan?" ucap Ammara lembut. Ia membelai surai putih unicornnya sekilas untuk menenangkan makhluk itu.

Selly tak jua tenang. Unicorn itu kembali meringkik gusar sambil mengenduskan moncong hidungnya pada Elwood.

Elwood mundur beberapa langkah saat hidung Selly nyaris mengenai pipinya. Peri laki-laki itu berdecak kesal.

Hidung Selly mengernyit dan bibirnya mengerucut tidak suka.

"Wah, sepertinya Pangeran Elwood sedang dalam mood yang buruk," sindir Ammara sambil terkekeh. Gadis itu menarik tubuh Selly menjauhi Elwood. Namun, makhluk bersurai putih itu kembali mendekat dan mengitari Elwood dengan tatapan waspada.

Elwood menghindar. Kali ini ia bersembunyi di balik tubuh Ammara. "Tolong, singkirkan makhluk ini, Ammara," ujarnya kesal.

"Selly! Cukup. Elwood bukan makhluk asing. Kau mengenalnya bukan?!" sergah Ammara. Kedua lengannya membentang untuk menghalangi unicorn yang hendak mendekati Elwood lagi.

Selly sama sekali tak mendengarkan. Ia menggeram dan meringkik beberapa kali. Unicorn itu bahkan berusaha menerobos lengan Ammara untuk menyeruduk Elwood.

Wajah Elwood seketika memerah saat kepala unicorn itu akhirnya mengenai perutnya. Peri laki-laki itu jatuh terduduk. Bokongnya menghantam tanah dengan keras hingga menimbulkan bunyi gedebuk.

"Kau tidak apa-apa, Elwood?" jerit Ammara yang sontak menghampiri peri laki-laki itu. Ia memeriksa keadaan Elwood sekilas kemudian mengalihkan pandangannya pada Selly yang terlihat masih menggeram marah.

"Makhluk sialan!" umpat Elwood berang.

Ammara terkesiap. Gadis itu melotot pada Elwood ketika mendengar umpatan marahnya. Elwood yang ia kenal tidak seperti ini.

"Maafkan Selly, Elwood. Ia sedang mengalami hari yang buruk belakangan ini," cicit Ammara seraya membantu Elwood berdiri. "Mari kita masuk ke rumah cendawan. Selly tidak akan mengganggumu di sana," usul Ammara.

Elwood menggeleng cepat. "Di sini saja," tolaknya. Netra birunya masih lekat menyorot Selly dengan waspada.

Selly mulai meringkik lagi.

"Selly, cuk--"

"Maaf aku harus melakukan ini," potong Elwood cepat. Ia menjentikkan jarinya ke udara di hadapan Selly. Unicorn putih itu seketika jatuh tertidur. Tubuhnya yang besar ambruk ke tanah.

Elwood tersenyum. "Beres!" serunya senang. Kekesalannya terhadap makhluk itu menguap begitu saja.

Ammara melongo.

"Tenang saja. Dia hanya tertidur," sahut Elwood seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Ammara.

"Aku kira kau tidak bisa menggunakan sihir," imbuh Ammara. Ia mengerjapkan matanya. Gadis itu benar-benar merasakan ada yang aneh dengan Elwood hari ini.

Dahi Elwood mengerut, tetapi sedetik kemudian ia mengubah ekspresinya. "Ah ... Em, itu sihir yang sangat mudah. Seluruh peri pasti bisa melakukannya," tukasnya seraya mengendikkan bahu. "Sebenarnya, ada hal penting yang ingin aku sampaikan, Ammara. Ini mendesak," lanjutnya. Kegusaran seketika menyergap wajah rupawan pangeran peri itu.

"Ada apa?" tanya Ammara yang mulai ditulari rasa khawatir.

"Elijah!"

"Elijah kenapa?" potong Ammara.

"Dia pergi dari istana tadi malam ... setelah bertengkar dengan Ratu Serenity. Ia pergi begitu saja dalam keadaan marah," terang Elwood gusar.

Wajah Ammara seketika menegang. "Dia pergi ke mana?" tanya Ammara. Sebuah tempat yang mungkin dikunjungi Elijah terlintas dalam pikirannya. Ia harus memastikan asumsinya tersebut.

Elwood menggigit bibir bawahnya. Peri laki-laki itu merasa sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan Ammara. Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Elwood membuka suara.

"Beberapa Pixie dan kesatria Elf mengatakan kalau Elijah pergi ke Hutan Larangan dan hingga kini belum kembali. Aku merasa sangat khawatir. Andai aku bisa masuk ke sana dengan selamat, maka aku kan menjemput Elijah," ucap Elwood. Pangeran peri itu mengusap wajahnya kasar.

"Apa?!" pekik Ammara. Matanya sontak membelalak. "Untuk apa dia ke sana? Akan tetapi, bukankah Elijah memang sering ke Hutan Larangan?" tanya Ammara lagi.

Elwood mengendikkan bahu. "Kau tahu, ibu kandungnya tinggal di sana. Ibunya adalah peri Unsheelie yang menculik Putra Mahkota Albert. Aku takut jika ibunya menahannya di sana. Unsheelie selalu punya rencana jahat," tukasnya. Suaranya terdengar bergetar.

"Ibu Elijah?!" ulang Ammara. Gadis itu benar-benar shock mendengar perkataan Elwood. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Pikirannya berkelana pada peristiwa penculikan Putra Mahkota Albert di Kastil Larangan. Mungkinkah Elijah pergi menemui ibunya untuk ....

"Kita harus segera ke sana. Sepertinya aku tahu dia di mana!" putus Ammara. Ia menarik salah satu lengan Elwood dan hendak beranjak dari tempat itu.

"Tunggu!" sergah Elwood seraya menahan lengannya hingga Ammara urung melanjutkan langkah.

"Ada apa?" tanya Ammara. Dahinya mengerut.

"Kita harus membuat rencana terlebih dahulu. Aku tidak bisa masuk ke dalam Hutan Larangan. Namun, aku tahu satu cara agar hutan itu tidak terkutuk lagi, sehingga kita bisa masuk bersama," pungkasnya. Netra biru Elwood melebar.

Ammara berpikir sejenak. "Kita bisa minta bantuan Archibald!" usulnya.

Elwood menggeleng cepat. Raut wajahnya seketika menjadi suram. "Jangan!" pekiknya gelagapan. "Maksudku, aku tidak dapat menemukan Archibald di istana tadi. Dia pergi. Mungkin ke tempat ibunya. Entahlah," terangnya terbata-bata.

Ammara memicingkan mata. "Aneh sekali," gumamnya lebih kepada diri sendiri. Setelah menarik napas panjang, gadis itu berkata. "Jadi, apa saranmu?"

Elwood melipat kedua lengannya di dada. Wajahnya berubah serius. "Di perbatasan Hutan Larangan terdapat sebuah segel. Segel itu terselubung dan sangat sulit untuk dibuka oleh bangsa peri. Segel tersebutlah yang menyebabkan peri Sheelie dan Unsheelie tidak bisa keluar masuk Hutan Larangan dengan leluasa. Peri sakti sekali pun tidak akan bisa menghancurkan segel tersebut. Tetapi aku yakin kau bisa, Ammara ...."

Ammara membelalak. "Aku?!" semburnya. Kepalanya menggeleng cepat. "Jangan bercanda, Elwood. Tidak mungkin!"

Elwood menatap tajam pada sepasang iris mata Ammara. Ia merendahkan suaranya. "Aku tahu siapa sebenarnya kau, Ammara. Aku tidak perlu menyebutkannya. Kau bukanlah makhluk peri, bukan?" bisik Elwood penuh selidik.

Ammara terkesiap. Tanpa sadar, mulutnya menganga. Jantungnya terasa hendak melompat keluar dari dada. Bagaimana mungkin Elwood mengetahui rahasianya. Apakah Claude telah dengan lancang menceritakannya pada peri laki-laki di hadapannya ini.

"Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan Claude," kilahnya. Ammara mengalihkan pandangan. Ia menghindari penghakiman yang diberikan Elwood melalui netranya.

"Jangan mengelak, Ammara. Baumu ... yang khas telah mengungkapkan semuanya," decak Elwood. Wajahnya mendekat hingga membuat gadis itu sedikit risih, sementara hidungnya mengendus Ammara. "Jangan khawatir, rahasiamu aman denganku," sambungnya, berbisik di telinga Ammara.

Ammara bergidik seketika. Ia merasa diancam oleh Elwood. Yang benar saja, mengapa pangeran peri satu ini jadi berubah drastis setelah Putra Mahkota wafat. Ammara segera menepiskan prasangka itu. Yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan Elijah. Setelah menghirup napas dalam-dalam, gadis itu membuka suara. "Katakan bagaimana aku bisa membuka segel di perbatasan Hutan Larangan?" tanya Ammara tak sabar.

Salah satu sudut bibir Elwood terangkat. Pangeran peri itu menyeringai. Namun, sedetik kemudian ekspresinya berubah datar, tak terbaca. "Kau tidak perlu menghancurkan segelnya. Kau hanya perlu menemukan, kemudian membukanya. Segel putih itu diciptakan oleh para penyihir peri Sheelie. Ia terselubung dan sama sekali tak bisa disentuh oleh seluruh bangsa peri, Sheelie maupun Unsheelie. Hanya manusia terpilih yang dapat membukanya. Aku yakin kau adalah manusia terpilih Ammara. Kau ada di Fairyverse ini karena takdir yang telah memilihmu. Jadi kau pasti bisa dengan mudah menemukan segel itu," terangnya panjang lebar.

Ammara mengerjap. Ia berusaha memahami apa yang baru saja dijelaskan oleh Elwood. Semuanya terdengar tak masuk akal. Bagaimana mungkin makhluk lemah seperti dirinya bisa melepaskan segel Hutan Larangan, yang bahkan peri terkuat sekali pun tak akan bisa menemukan dan melepaskannya.

"Kau bersedia membantuku, 'kan, Ammara? Kita tidak punya banyak waktu," desak Elwood. Peri laki-laki itu kembali meraih salah satu lengan Ammara.

"Aku--"

"Kau pasti bisa, Ammara," potong Elwood dengan nada mantap.

Ammara menghembuskan napas panjang. "Tapi, aku ... bagaimana caranya kita ke sana? dan ...." Ammara mengedarkan pandangannya ke sekeliling kebun buah plum Ailfryd. Hatinya mendadak was-was, bagaimana jika Ailfryd ataupun Ella memergokinya dan mengetahui rencananya untuk pergi ke Hutan Larangan.

"Aku punya unicorn. Kita akan melakukannya dengan cepat. Aku berjanji. Jika segel itu terbuka, aku akan langsung masuk ke Hutan Larangan untuk menyelamatkan Elijah. Aku akan meminta bantuan istana juga," ucap Elwood begitu menangkap keraguan di wajah Ammara.

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Ammara menyetujui permintaan Elwood. Dengan tergesa, mereka menunggangi unicorn bersurai cokelat menuju perbatasan Hutan Larangan.

* * *

Seekor unicorn berhenti tepat di depan perbatasan Hutan Larangan. Dari punggungnya, Elwood dan Ammara melompat turun dengan tergopoh-gopoh.

Ammara memerhatikan perbatasan Hutan Larangan yang masih sama persis dengan keadaan saat terakhir kali ia kunjungi. Hutan yang gelap dan suram. Perbatasan hutan itu diselimuti kabut tipis yang seolah menghantam sebuah dinding kaca besar tak kasat mata yang menjadi pembatas dengan Fairyhill.

"Bagaimana, apa kau menemukan segel itu?" tanya Elwood dengan nada mendesak.

Ammara menggeleng pelan. "Aku tidak melihat--"

"Ammara, aku akan mencari bala bantuan ke Istana Avery. Kau tunggulah di sini. Setelah segelnya terbuka, kita akan masuk bersama. Bagaimana menurutmu?" potong Elwood tiba-tiba. Raut wajah pangeran peri itu terlihat menegang.

"Baiklah," sahut Ammara seraya mengangguk pelan. Netranya sedang fokus menyisir perbatasan untuk mencari segel yang dimaksud.

Tanpa menunggu waktu lama, Elwood memacu unicornnya menjauhi perbatasan Hutan Larangan. Ammara dapat mendengar derap langkah unicorn yang semakin lama semakin menjauh.

Ammara mengembuskan napas panjang, setelah kepergian Elwood seolah keberadaannya mengurangi keleluasaan gadis itu. Ia lebih dekat menyusuri perbatasan, bahkan sesekali masuk ke dalam Hutan Larangan untuk mencari segel yang dimaksud.

Entah kenapa, hal-hal yang ditakuti oleh para peri di tempat itu sama sekali tidak berpengaruh untuk Ammara. Kabut Hutan Larangan serta kutukannya tak menimbulkan reaksi apa pun bagi gadis itu. Ah ya, bukankah ia memang bukan peri, tetapi manusia.

Haruskah aku masuk saja sendirian dan melupakan segel itu? Tapi bagaimana jika di dalam aku bertemu makhluk-makhluk kegelapan yang haus darah manusia seperti dulu? Ammara seketika bergidik. Ia memutuskan untuk mengikuti rencana Elwood.

Tiba-tiba iris mata hijau Ammara menangkap kilauan cahaya yang tak biasa dari salah satu sudut perbatasan Hutan Larangan. Ammara berjalan mendekati asal kilatan cahaya tersebut.

Sebuah bejana transparan yang terbuat dari kaca tergeletak begitu saja di bawah sebatang pohon oak besar. Di dalam bejana kaca tersebut terdapat benda-benda kecil berbentuk seperti bintang dengan cahaya terang berwarna putih. Dari situlah asal cahaya yang tertangkap iris mata Ammara.

Namun, seketika langkah Ammara meragu. Terlebih saat melihat sebatang pohon oak besar yang menaungi bejana. Pohon itu memiliki ranting-ranting pohon yang lebih besar dari ranting biasa, seperti tangan monster, membuat bulu kuduk Ammara meremang.

Aku tidak punya banyak waktu, atau Elijah berada dalam bahaya , batinnya.

Ammara menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya untuk menenangkan diri. Tekadnya telah bulat. Gadis itu kembali melangkah mendekati bejana bercahaya yang sedari tadi tertangkap netranya.

Ammara berjongkok di hadapan bejana itu, seraya memutar tutupnya perlahan tanpa mengangkat benda tersebut. Gadis itu menahan napas ketika ia merasa tutup bejana itu mulai longgar. Dengan tangan gemetar, Ammara melepas tutupnya.

Cahaya-cahaya kecil berwarna putih terang satu per satu mulai keluar dari bejana kaca. Mereka berterbangan bebas ke segala arah hingga meninggalkan bejana bening dalam keadaan kosong.

Ammara terpesona beberapa saat lamanya ketika melihat cahaya putih laksana bintang-gemintang itu terbang bergerombol memenuhi langit perbatasan Hutan Larangan. Namun, ia segera tersadar saat kabut dari Hutan Larangan mendadak mulai memenuhi tempatnya berdiri. Langit Fairyhill seketika menggelap.

Tanpa Ammara sadari, pohon oak besar yang menaungi bejana itu perlahan bergerak. Seraut wajah monster seketika muncul pada batang pohon oak. Sepasang mata terbuka. Sepasang mata putih yang menyala milik si monster pohon menyorot gadis itu marah. Tanpa suara dan dengan gerakan yang cepat, monster itu menggerakkan ranting-rantingnya. Ranting-ranting mengumpulkan garis-garis cahaya dari seluruh cabang dan pucuk daunnya, kemudian mengumpulkan kekuatan itu di tengah-tengah batang hingga sebuah bola cahaya berwarna putih terbentuk di sana.

Bola putih itu kemudian dilesatkan dengan kecepatan luar biasa oleh si monster pohon kepada Ammara. Sontak tubuh kecil Ammara terlempar ke belakang tanpa sempat menghindar.

Ammara terkesiap. Rasa sakit dan panas menghantam perut bagian belakang tubuhnya. Tubuhnya kini terbaring di atas permukaan tanah yang tertutupi kabut tebal. Perlahan gadis itu memaksa tubuhnya untuk bangkit.

"Apa ini?!" lirih Ammara saat mengedarkan pandangan ke sekitar.

Kabut tebal Hutan Larangan telah memenuhi Fairyhill. Langit Fairyverse pun seketika berubah menjadi kelabu. Batas antara Hutan Larangan dan Fairyhill mendadak hilang tanpa bekas, seolah perbatasan itu tak pernah ada.

"Tolong! Tolong!"

Sayup-sayup pendengaran Ammara menangkap suara teriakan peri perempuan. Gadis itu mencari sosok empunya suara dengan sepasang netra hijaunya. Akan tetapi jejak pemilik suara itu seolah tak terlihat. Kabut terlalu tebal.

Tiba-tiba sebuah suara raungan monster terdengar. Ammara terkesiap. Tubuhnya menegang di tempat. Dari balik kabut, tepat di hadapannya, sebuah bayangan besar berwarna hitam dengan mata putih menyala meraung tepat di depan wajahnya.

"Dasar manusia lancang! Berani-beraninya kau membuka segel Hutan Larangan yang telah dipasang oleh para leluhur bangsa peri. Tidakkah kau tahu, jika segel itu terlepas, maka seluruh makhluk kegelapan akan terbebas. Keseimbangan Fairyverse akan terganggu!" hardik bayangan hitam itu. Suara beratnya yang menggelegar seolah memenuhi Fairyhill.

Angin berhmembus dan mengusir sebagian kabut yang menyelubungi makhluk besar itu. Kini tampaklah pohon oak besar yang hidup dengan wajah menyeramkan terukir pada batangnya. Ranting-ranting besar pohon itu berubah jadi tangan-tangan yang bergerak-gerak liar mencoba menggapai tubuh Ammara.

Ammara terhenyak di tempatnya. Wajahnya pucat seketika. Tubuhnya gemetar. Tangan dan kakinya mendadak dingin dan kaku.

Apa yang harus kulakukan ?!

"Karena kelancanganmu, wahai manusia, aku akan menghukum mu!" sambung si monster dengan suara yang lebih menggelegar. Salah satu ranting monster pohon yang menyerupai tangan tiba-tiba terangkat ke atas.

Ammara membelalak saat netra hijaunya menangkap kilatan cahaya dari sebilah tongkat sabit dengan mata runcing di genggaman si monster. Tongkat sabit itu terhunus tinggi. Dalam sepersekian detik, tongkat sabit itu mengayun cepat ke arahnya.

Ammara menutup kelopak matanya erat-erat. Tak ingin menyaksikan kematian yang rasanya sebentar lagi akan menyergapnya. Jadi, inikah akhirnya ?

Kembali ke Beranda