Fairy Corpses
Fantasy
21 Feb 2026

Fairy Corpses

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-02-22T065644.022.jfif

download - 2026-02-22T065644.022.jfif

21 Feb 2026, 23:56

download - 2026-02-22T065640.715.jfif

download - 2026-02-22T065640.715.jfif

21 Feb 2026, 23:56

"Tatianna!"

Albert menghambur ke arah Tatianna yang lehernya nyaris di gigit Thomas. Kedatangan sang putra mahkota sontak memecah fokus Thomas yang telah bangkit kembali dan berubah menjadi mayat hidup. Gigi-gigi tajamnya yang nyaris menggigit kulit mulus sang putri tertahan saat ia menyeringai menyambut kedatangan Albert.

Albert melayangkan sebuah tinjuan ke wajah Thomas seraya berteriak berang, hingga mayat hidup itu terpental menghantam tembok taman istana. Albert tahu jika tinjuannya tidak akan berdampak besar bagi si mayat hidup. Namun, setidaknya, ia dapat melampiaskan amarahnya sekaligus menggagalkan upaya makhluk yang nyaris membunuh adiknya.

Napas Albert terengah. Ia mundur beberapa langkah dan segera merengkuh Tatianna yang menggigil ketakutan ke sisinya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Albert dengan kening berkerut.

Tatianna mengangguk pelan. Wajahnya terlihat pucat. Ia menggigil dan memeluk tubuhnya sendiri.

"Tenang, ada kakak-kakakmu di sini!" hibur Albert seraya mengeratkan rangkulannya pada pundak Tatianna.

Sebuah raungan berat terdengar membuat Albert dan Tatianna sontak mengarahkan pandangannya pada asal suara. Mata membulat membulat ketika mendapati sosok Thomas yang bangkit dan berjalan tertatih menuju mereka. Albert terkesiap, sementara Tatianna membuang pandangannya dari sosok itu dan berlindung di balik tubuh Albert.

Albert harus mengakui jika Thomas adalah mayat hidup yang terlihat paling mengerikan di antara mayat hidup lainnya, dengan usus terburai dan beberapa luka menganga di wajahnya. Thomas telah bertarung sekuat tenaga, sebelum akhirnya luka terbukanya terkena percikan darah Hydra.

Albert meraih sebilah pedang sihir yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia menghunuskan pedang itu, bersiap menangkis kedatangan Thomas.

Thomas merangsek maju. Dengan sekali kibasan pedang Albert, salah satu tangan Thomas terputus dan terpental ke arah Archibald, Elwood dan Claude yang baru saja melewati gerbang taman. Mereka sontak memundurkan langkah agar tak terkena percikan darah Hydra.

Thomas, tidak seperti mayat hidup lainnya. Ia jauh lebih kuat, lebih tangkas dengan gerakan yang lebih gesit. Thomas meraung marah menampakkan gigi-geliginya yang menghitam, dengan liur kehijauan berceceran membasahi sekitar mulut dan dagunya. Dengan cepat, mayat hidup itu melompat ke arah Albert, berusaha menerkamnya.

Dengan gesit, Albert menahan tubuh Thomas yang hanya berjarak beberapa jengkal lagi darinya dengan bilah pedang. Kedua lengan Albert gemetar, seiring bobot tubuh Thomas yang semakin menekan ke arahnya.

Thomas dengan mulut menganga yang menampakkan gigi-geligi yang siap menancap pada salah satu bahu Albert. Beberapa tetes lelehan liur Thomas membasahi salah satu pundak sang pangeran peri.

Albert berteriak nyalang. Urat-urat timbul pada kedua lengan dan lehernya, menandakan besarnya tenaga yang ia keluarkan untuk menahan tubuh Thomas. Namun, salah satu lengannya lambat laun mulai melemah.

Demi melihat kesusahan kakaknya, Putri Tatianna mencoba membantu dengan memukulkan barang apa pun yang dapat ia temukan di sekitarnya pada punggung Thomas. Mayat hidup itu bergeming, bahkan semakin mengeratkan cengkeramannya pada tubuh Albert.

Albert kepayahan. Bulir-bulir keringat mengalir deras di pelipisnya. Lengannya bergetar hebat dan genggamannya mulai mengendur.

Tiba-tiba, suara raungan Thomas terdengar keras diiringi suara tusukan pada jantungnya yang terdengar brutal. Tubuh mayat hidup itu roboh nyaris menghantam Albert yang terhuyung. Namun, Tatianna dan Elwood serta merta segera menarik tubuh sang putra mahkota munghindari percikan darah Thomas. Akhirnya sosok Thomas jatuh tertelungkup menghantam tanah.

Archibald menarik pedangnya dari tubuh Thomas dengan raut wajah dingin, kemudian kembali memasang kuda-kuda, bersiap menghalau mayat hidup lain yang merangsek maju.

"Cepat pergi dari sini, Tatianna. Bersembunyilah di ruang bawah tanah. Kau akan aman di sana. Claude dan Elwood, tolong lindungi Tatianna!" titah Albert seraya menggenggam erat jari-jemari sang adik. Ia mengecup punggung tangan Tatianna sekilas, kemudian melepaskan genggamannya.

"Aku tak bisa pergi tanpa kakak," rengek Tatianna, enggan meninggalkan sisi Albert.

"Aku akan segera menyusul. Aku janji, Tatianna..." ucap Albert lirih. Bola matanya tampak berkaca-kaca.

Elwood dan Claude segera mengarahkan tubuh Tatianna untuk menjauhi taman istana yang kini mulai dipenuhi mayat hidup. Mereka mengangguk sekilas pada Albert, yang disambut seulas senyum sedih dari sang putra mahkota.

Tatianna menoleh kembali pada Albert untuk yang terakhir kali, sebelum Elwood dan Claude menyeretnya pergi dari tempat itu.

Sesosok mayat hidup menerkam Albert yang lengah karena memandangi kepergian Tatianna. Albert terjengkang dengan luka gores memanjang di salah satu lengannya akibat cakaran kuku-kuku si mayat hidup. Beberapa tetes darah segar mengalir dari luka gores itu. Di luar dugaannya, luka itu serta-merta memancing kedatangan mayat hidup lainnya.

Albert mundur beberapa langkah seraya menutupi luka yang mengucur di salah satu lengannya. Beberapa mayat hidup terlihat mengganas dan mendekat lebih cepat ke arahnya. Sepasang tungkai Albert mulai goyah dan ketakutan menyergapnya seketika.

Namun, dengan sigap, Maurelle dan Archibald memposisikan diri siaga di sisi Albert, dengan pedang sihir terhunus di tangan masing-masing. Mereka menangkis serangan demi serangan dari mayat hidup yang ditujukan kepada Albert.

Mayat-mayat hidup semakin banyak, berdatangan dari arah gerbang taman yang terbuka. Sementara kesatria Elf yang tersisa jumlahnya semakin berkurang karena sebagian telah meninggalkan taman dan sebagian lagi telah berubah menjadi mayat hidup. Beberapa mayat hidup merangsek maju bersamaan, mengepung Albert, Maurelle dan Archibald yang mulai kewalahan di salah satu sudut taman.

"Kita terdesak," keluh Maurelle. Keringat membanjiri pelipisnya. Napasnya memburu, sementara para mayat hidup semakin brutal menyerang saat mencium bau darah Albert.

Di atas mereka, beberapa sosok peri Pixie terbang berputar, mencari celah untuk menyerang. Peri Pixie yang telah terkontaminasi darah Hydra terlihat sangat menyeramkan dan ganas. Tak ada cahaya keemasan yang melingkupi tubuh mereka, cahaya itu telah redup saat mereka berubah menjadi mayat hidup. Gaun dari kelopak bunga yang mereka kenakan terlihat rusak dan bernoda darah. Pun sayap-sayap mereka yang semula indah telah berubah rusak kehitaman. Para Pixie juga mengintai Albert.

"Sial!" umpat Albert gusar. Tangannya sibuk mengayun pedang ke atas, menghalau para peri Pixie ganas yang terbang mendekat. Suara dengungan peri Pixie yang telah berubah menjadi mayat hidup itu sangat mengganggu pendengaran Albert. Pertahanannya mulai melemah. Beberapa kali kibasan pedangnya meleset, tak mengenai peri Pixie yang disasarnya. Fokus Albert mulai terganggu.

Sesosok peri Pixie terbang mendekat dari arah punggung Albert. Sementara Albert sibuk menghalau beberapa Pixie di depannya, peri Pixie itu menyelinap perlahan dan menggigit bagian belakang leher Albert. Taring mungilnya yang beracun sontak melunturkan pertahan diri sang putra mahkota.

"AAARRKHHHHH!"

Archibald segera menghampiri Albert yang tiba-tiba terduduk bersimpuh sambil mengerang. Salah satu lengannya bertumpu pada pedang sihir yang ia hunjamkan ke tanah. Sementara Maurelle masih sibuk menghalau peri-peri pixie lain yang terbang berputar di sekitar mereka.

"Apa yang terjadi?!" tanya Archibald setengah berteriak. Matanya membelalak ketika menyorot sebuah luka gigitan di belakang leher yang ditutupi Albert dengan salah satu tangannya. Teror membayang jelas di wajahnya.

Albert mengangkat wajahnya yang pucat dengan raut ngeri. Ia tidak kesakitan, tentu saja bekas gigitan sekecil itu tak akan membuatnya kesakitan. Ia meringis, ada sesuatu yang lebih mengerikan dari sekedar gigitan. "Pixie itu menggigitku!"

"A-apa maksudmu, Putra Mahkota?!" Archibald mengernyit, sebelah tangannya tersampir pada salah satu pundak Albert.

"Archibald..." lirihnya dengan napas tersengal. Ia seperti sedang berjuang melawan sakit yang tak kasat mata. "Jika... sesuatu yang buruk terjadi padaku," ucapnya seraya meneguk ludah kasar. "Tolong... Jangan ragu untuk... " Albert menghela napas dengan berat. Tangannya yang bertumpu pada pedang bergerak pelan, berusaha mencabut pedang sihir dan menyerahkannya pada Archibald.

Archibald menggeleng pelan. Matanya membelalak pada Albert, sementara rahangnya mengeras. "Tidak akan terjadi apa-apa padamu. Claude akan menyembuhkan mu!" Sergahnya kalut.

Albert tersenyum miring. "Aku yang akan mengakhiri ini semua. Karena dari awal, mereka memang mengincarku 'kan...?" Napasnya kembali tersengal. Pelipisnya telah dibanjiri bulir-bulir keringat dingin. Kulitnya semakin memucat.

"Tidak! TIDAK! Albert kau harus bertahan! Tidak bisa begini!" racau Archibald panik. Ia membopong tubuh Albert dan membawanya keluar dari taman Istana. Maurelle membuntuti mereka seraya melindungi para pangeran peri itu dari serangan mayat hidup.

"Archibald, ayolah. Ini tidak akan berhasil... " Albert menghentikan langkah lemahnya. Kulit wajah dan tubuhnya perlahan-lahan menghijau. Racun Hydra telah bereaksi. Albert kembali terduduk seraya memegangi perutnya yang terasa nyeri.

"Claude! Kemarilah! Carikan penawar untuk Putra Mahkota!" teriak Archibald gusar. Ia memandang ke sekitar mencari-cari sosok Claude, yang ternyata tidak ada di dekatnya. Kemudian, ia meraih kasar lengan salah satu kesatria Elf yang berlari melewatinya. Kesatria Elf itu berhenti dan membungkukkan badan. "Temui Pangeran Claude, katakan padanya untuk mencari penawar bagi Putra Mahkota Albert! Cepat!"

Kesatria Elf itu mengangguk dengan tampang panik. Kemudian, berlari dengan pedang terhunus memasuki Istana utama.

"Bertahanlah, Putra Mahkota!" pekik Maurelle gusar.

Archibald hendak menaikkan Albert ke atas punggungnya, tetapi Albert segera menepis tangan peri itu kasar. Matanya melotot pada Archibald. Tubuhnya bergetar menahan sakit yang terus mendera. Dengan terbata, Albert berucap, "jika waktunya telah tiba, jangan ragu untuk membunuhku, Archie. Berjanjilah... padaku!"

Archibald menggeleng putus asa. Matanya berkaca-kaca mengamati kondisi Albert yang kian memburuk.

"Ammara... sampaikan salamku padanya," lirih Albert susah payah. Napasnya terasa semakin sesak. Sesuatu yang tak kasat mata mencekik lehernya kuat hingga napasnya terputus. Cahaya di mata Albert akhirnya redup. Tubuh hijaunya terkulai di pangkuan Archibald.

Archibald bergeming. Matanya menatap nanar tubuh kaku Albert di pangkuan. Tidak ada derai air mata maupun Isak tangis. Namun, tangannya mengepal keras menahan bermacam-macam emosi yang hendak meledak. Archibald benar-benar terguncang.

Di sampingnya, Maurelle terkesiap menatap tubuh kaku Albert dan tubuh bergeming Archibald. Peri cenayang itu serta merta menjatuhkan lututnya di atas tanah, menunduk dalam dengan tangis tertahan. Ia telah gagal melindungi Putra Mahkota Kerajaan Avery. Rasanya, ia pantas mati.

* * *

"Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini, Ratu!" decak Raja Brian lemah. Ia berjalan mondar-mandir di dalam ruang bawah tanah di dalam biliknya. Suara genderang penanda bahaya tak terdengar lagi sejak kepergian Maurelle, tetapi Raja Brian tidak merasakan kelegaan. Ia bahkan bertambah khawatir, terlebih Murelle tidak kunjung kembali.

"Tenanglah, Raja Brian. Murelle pasti sedang mengatasinya," bujuk Ratu Serenity yang setia menemaninya di dalam ruangan remang yang minim perabot itu.

Raja Brian menggeleng pelan. Ia menghela napas kasar, kemudian berjalan mendekati tangga batu yang mengarah ke biliknya.

"Yang Mulia, mau kemana?" tanya Ratu Serenity bimbang. Ia mengekori suaminya dengan langkah gusar.

"Aku tidak bisa berdiam diri saja, Ratuku. Para Pangeran dan para abdi pasti sedang kesulitan saat ini. Setidaknya, aku ingin mengangkat pedang kali ini dan berjuang bersama mereka..." sahut Raja Brian lirih. Ia melangkahkan kaki pada undakan pertama tangga batu itu. Langkahnya terhenti saat Ratu Serenity menarik salah satu lengannya.

"Jangan pergi, Yang Mulia... aku mohon, Anda sedang tidak sehat. Bagaimana kalau Anda terluka atau bahkan--"

"Tenanglah, Ratuku! Jika aku terluka kali inI, aku akan terluka dengan rasa bangga karena itu berarti aku berjuang untuk melindungi abdi kita dan seluruh peri di Kerajaan Avery." Raja Brian menghela napas seraya menatap pintu ruang bawah tanah yang tertutup. Pandangannya kemudian teralih pada istrinya. "Ratuku, tinggalah di sini sampai situasi benar-benar aman."

Raja Brian mengumpulkan seluruh kekuatannya, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah menaiki undakan tangga batu perlahan. Di luar dugaannya, Ratu Serenity mengikutinya dengan berjinjit.

Raja Brian menoleh pada istrinya. "Tunggulah di sini, Ratuku. Aku akan segera kembali!"

Ratu Serenity menggeleng cepat. "Tidak. Aku akan mengikutimu. Kau akan berjuang membantu abdi dan para peri penghuni Avery, aku juga akan melakukan hal yang sama!"

Sudut-sudut bibir Raja Brian tertarik ke atas. "Kau begitu mencintaiku, ya, Ratuku?" ledeknya.

Ratu Serenity tak menjawab, ia hanya membuang wajahnya untuk menutupi rona merah yang tiba-tiba muncul di pipinya.

"Baiklah, pegang tanganku. Tetaplah di balik punggungku. Aku akan berusaha melindungimu, Ratu," ucapnya sambil melanjutkan langkah dan membuka pintu ruang bawah tanah dengan mudah. Pintu itu tak memiliki kunci dan tersegel dari luar, sehingga sangat mudah untuk dibuka dari dalam.

Langkah Raja Brian terhenti tiba-tiba saat matanya menangkap sesosok kesatria Elf berdiri membelakanginya di dalam biliknya, sementara pintu bilik tampak tertutup. Raja Brian mengernyitkan alisnya, merasa tidak familier dengan sosok tersebut. Dengan pelan, Raja Brian meraih sebuah tongkat besi yang entah bagaimana bisa berada di atas pintu ruang bawah tanah.

Raja Brian menggenggam tongkat besi itu erat dalam posisi siaga. Ratu Serenity yang sedari tadi mengekor di belakangnya, mengintip dari balik punggung Raja Brian dengan was-was.

"Siapa kau?! Beraninya kau memasuki bilik Raja?!" hardik Raja Brian. Matanya menatap nyalang pada sosok peri itu.

Tidak ada jawaban. Sosok kesatria Elf itu bergeming di tempatnya, tetapi kepalanya terlihat bergerak liar seolah mencari asal suara Raja Brian.

"Mungkin ia tak dapat mendengar, Yang Mulia!" bisik Putri Serenity.

Raja Brian berpikir sembari mengamati gerak-gerik kesatria Elf itu. "Aku harap kau memiliki alasan yang bagus hingga tersesat masuk ke dalam bilikku!" bentak Raja Brian dengan suara lebih nyaring.

Sosok itu bergerak perlahan, berbalik menghadap Raja Brian dan Ratu Serenity.

Raja Brian membelalak dan mundur beberapa langkah. Betapa terkejutnya Raja Brian dan Ratu Serenity melihat sosok peri Elf dengan penampilan yang sangat mengenaskan di hadapannya.

Sosok peri Elf yang telah terinfeksi darah hydra itu memandang Raja Brian dan Ratu Serenity dengan mata melotot yang tidak fokus. Tubuh peri Elf itu dipenuhi luka menganga yang terlihat membusuk. Rambutnya tergerai kusut dan tak bercahaya. Gigi-geliginya yang menghitam terlihat dari balik bibirnya yang tersenyum menyeringai. Peri itu mendesis bagai monster kelaparan ke arah Raja Brian, sebelum akhirnya merangsek maju.

Raja Brian bergidik ngeri melihat penampilan tak biasa peri Elf di hadapannya. Namun, sedetik kemudian ia tersadar dan segara mengangkat tinggi-tinggi tongkat besi di tangannya.

Ujung tongkat besi itu telak menghantam kepala peri elf itu tepat di tengah-tengah kepalanya. Daging di bagian keningnya tampak berkerut dan sedikit terbelah menampakkan celah menghitam. Peri Elf itu meraung keras untuk beberapa saat, lalu rubuh menghantam lantai marmer di bawahnya.

Raja Brian terengah, keringat membanjiri pelipisnya. Wajahnya memucat seketika. Demikian juga dengan Ratu Serenity yang berlindung di balik punggung suaminya karena tak kuat melihat penampakan mengerikan per Elf itu.

Peri Elf itu mengerang marah. Dalam sepersekian detik, ia bangkit dan berjalan tertatih mendekati Raja Brian.

"A-apa ini?!" pekik Raja Brian seraya mundur beberapa langkah sehingga Ratu Serenity yang berdiri di belakangnya terdesak pada dinding bilik.

Raja Brian mengangkat tongkat besinya dengan susah payah, hendak memukul kepala mayat hidup itu lagi. Namun, kali ini pukulannya meleset, tongkat besi menghantam lantai marmer dan menimbulkan retakan halus pada permukaannya. Sementara sosok peri Elf itu merangsek maju tanpa hambatan ke arah Raja Brian.

Raja Brian tak lagi sempat menghindar, ketika dua tangan berkuku tajam milik peri Elf itu mencekik lehernya kuat. Raja Brian sontak berteriak tertahan. Kedua lengannya mencoba menahan tangan mayat hidup itu untuk merenggangkan cekikan.

"Tidak! Tolong!" jerit Ratu Serenity dengan suara melengking. Ia berlari menghindar ke sudut lain bilik..

Raja Brian mulai kehabisan napas. Sementara, mayat hidup itu semakin keras mencekik leher sang raja. Tubuh Raja Brian perlahan mulai terangkat.

Ratu Serenity yang ketakutan, mengambil apa pun yang dapat ia jangkau dan angkat, kemudian menghantamkannya ke tubuh mayat hidup yang mencekik Raja Brian.

Mayat hidup itu menjerit parau saat sebuah kendi air menghantam kepalanya dan sontak melepaskan cekikannya pada leher Raja Brian. Tubuh Raja Brian terjatuh menghantam lantai marmer di bawahnya sambil terbatuk-batuk. Fokus mayat hidup itu kini teralih pada Ratu Serenity.

"Ti-tidak! Pergi kau makhluk jahat!" jerit Ratu Serenity ketika sosok peri Elf itu berbalik mendekatinya. "Pergi kau!" Ratu Serenity kembali melempar barang-barang ke arah mayat hidup yang mendekat. Seolah mampu mendeteksi ketakutan Ratu Serenity, peri Elf dengan rupa mengerikan itu menyeringai memamerkan gigi-geliginya yang menghitam dan runcing. Langkah anehnya yang terseok menapak semakin cepat.

"Tidak. Lepaskan Ratuku!" Raja Brian berang, tetapi ia bahkan tak mampu mengangkat tubuhnya yang lemah akibat kehabisan napas. Teror membayang di wajahnya saat menyaksikan makhluk mengerikan itu mulai mencekik Ratu Serenity.

Di tengah-tengah ketegangan dan ketakutan yang melingkupi bilik, pintu ruangan itu mendadak terbuka. Elijah dengan pedang terhunus berdiri di ambangnya, siap menyerang. Iris mata birunya menatap nyalang pada peri Elf yang sedang mencekik Ratu Serenity di salah satu sisi bilik.

Dengan gesit, Elijah menghampiri peri Elf yang telah berubah menjadi mayat hidup itu. Elijah mengangkat pedang sihirnya tinggi, kemudian dalam hitungan detik ia menancapkan pedang sihir itu pada jantung si mayat hidup. Mayat hidup itu menjerit sembari menggeliat sesaat, sebelum terkulai tak bernyawa dalam posisi menggantung pada pedang Elijah yang menembus tubuhnya.

Ratu Serenity merosot jatuh ketika cekikan mayat hidup itu terlepas dari lehernya. Wajahnya pucat pasi. Napasnya terengah. Matanya kembali membelalak begitu melihat ujung pedang sihir Elijah yang menembus tubuh mayat hidup itu berada tepat di atas kepalanya. Ratu Serenity sontak menjerit seraya menutup mulutnya.

Salah satu sudut bibir Elijah tertarik ke atas, melihat gelagat sang Ratu yang menurutnya sangat menggelikan. Elijah kemudian mencabut pedangnya dari tubuh kaku si mayat hidup. Tubuh itu jatuh terhempas di hadapan Ratu Serenity.

"AAAAAARRKKHH!!" jerit Ratu Serenity begitu melihat tubuh mengerikan mayat hidup dengan lubang menganga di dadanya.

"Tenang, Ratu. Mayat hidup ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan mayat hidup lainnya yang berkeliaran di luar bilik," ucap Elijah sarkas seraya menyarungkan pedang sihirnya kembali pada sarung yang tersampir di pinggang. Elijah kemudian berbalik dan memberi hormat pada Raja Brian dengan membungkuk dalam. Setelah itu, ia membantu sang Raja berdiri dari posisinya.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Pangeran Elijah?" tanya Raja Brian dengan suara parau.

"Ampun, Yang Mulia. Monster Hydra menyerang istana. Namun, ketika monster itu tewas, ia berhasil menginfeksi para kesatria Elf dengan napas beracunnya sehingga para kesatria Elf berubah menjadi mayat hidup, Yang Mulia!" jelas Elijah.

"Hydra? Hydra yang berasal dari Fairyfall?! Bagaimana bisa? Apakah Hydra itu ingin dibuang ke Hutan Larangan?!" tanya Raja Brian dengan suara tinggi. Kekesalan terpancar jelas dari wajahnya.

Elijah menyahut takzim. "Hydra sudah tewas, Raja Brian. Pangeran Archibald dan Ratu Breena yang membunuhnya."

"Apa?! Breena? beraninya ia datang kemari?!" Ratu Serenity seraya bangkit sendiri dengan susah payah sambil menepis kotoran di gaunnya dan mendekati Raja Brian.

"Tenanglah, Ratuku."

Elijah menghela napas pelan, kegundahan menyambangi wajah tampannya. "Akan tetapi, Yang Mulia, kondisi Kerajaan Avery sangat kacau. Banyak peri Elf yang berubah menjadi mayat hidup, banyak juga yang meninggal. Saya menyarankan agar Raja dan Ratu tetap berdiam di ruang bawah tanah sampai keadaan benar-benar aman."

"A-apa?!" Raja Brian membelalak. Ia kemudian menggeleng cepat. "Aku tidak bisa bersembunyi sementara para peri di bawah kuasaku sedang terancam. Aku tidak ingin menjadi Raja yang pengecut. Apa pun yang terjadi, aku harus menyelamatkan mereka!"

"Yang Mulia.... Pangeran Elijah benar, lebih baik kita menunggu di sini," bujuk Ratu Serenity.

Raja Brian menggeleng mantap. "Kita harus melindungi rakyat kita, Ratu. Jika kau takut melihat kekacauan di luar, lebih baik Ratuku tinggal di sini," ucapnya pada Ratu Serenity lembut seraya mengecup punggung tangan Ratu sekilas. Ia kemudian berbalik menatap Elijah. "Mari kita keluar, Pangeran Elijah!"

Elijah mengangguk tazim, membungkukan setengah badannya kemudian berjalan mengiringi Raja Brian.

Kedua sudut bibir Ratu Serenity menurun. Dengan berat hati, ia mengikuti langkah Elijah dan Raja Brian yang telah mendahuluinya. Bagaimanapun, lebih baik menghadapi kengerian bersama sang Raja daripada harus tinggal seorang diri di dalam ruang bawah tanah.





Kembali ke Beranda