Gambar dalam Cerita
Elijah berjalan perlahan, mengekori Lucifer dengan jantung berdetak tak karuan. Sesekali ia menoleh ke belakang, melihat sosok Ammara yang semakin samar ditelan jarak dan kegelapan lorong kastil.
"Jangan khawatir, Tuan Elijah. Setelah ini, aku akan kembali untuk menjaga temanmu," ucap Lucifer yang menangkap gelagat Elijah.
Elijah menyahut, "baiklah, terima kasih Lucifer. Jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan memaafkanmu."
Lucifer menyeringai di dalam keremangan ruangan. "Aku tidak akan berani macam-macam, Tuan Elijah, karena ini adalah perintah sang Ratu."
Elijah mengernyit, kedua alisnya bertaut. Lagi-lagi perintah Ratu. Rahang Elijah mengeras. Raut wajah tampan itu menyiratkan kegelisahan. Benaknya dipenuhi bebagai pertanyaan mengenai sosok Sang Ratu dari Kastel Larangan yang dimaksud Lucifer. Sejujurnya, Elijah tak mengenal sosok Ratu itu, tetapi ada sesuatu yang ingin ia pastikan. Apakah sosok ratu yang dimaksud Lucifer adalah sosok yang sama dengan yang selama ini ia cari di Hutan Larangan?
Elijah dan Lucifer telah tiba di depan sebuah pintu batu besar berwarna hitam dengan ukiran yang sangat mirip dengan lambang kerajaan Avery. Namun, tak satu pun pengawal yang terlihat berjaga di depan pintu itu laiknya ruang singgasana ratu di Kerajaan Avery.
"Silakan masuk, Tuan Muda Elijah!" Lucifer membungkukan tubuhnya di depan pintu batu yang membuka dengan sendirinya.
Elijah memasuki ruangan itu perlahan. Dari kejauhan, matanya telah menangkap sesosok peri perempuan bersurai hitam tergerai tanpa jalinan, membelakanginya. Surai peri perempuan yang tergerai itu memperlihatkan jati dirinya dengan jelas, bahwa ia adalah sesosok peri unsheelie. Di belakang sosok sang ratu berjubah gelap yang sedang bergeming itu sebuah singgasana dari batu-batu kristal besar berwarna hitam berdiri kokoh seolah menantang siapa pun yang memasuki balairung.
"Ratu Minerva, Pangeran Elijah sudah datang!" Lucifer mengumumkan dengan takzim seraya membungkukan tubuhnya.
Serta-merta sang ratu berbalik lantas menyongsong Elijah yang berjalan ke arah singgasana. Iris mata ungu peri cantik dengan raut bengis itu berbinar begitu melihat Elijah.
"Pangeran Elijah, kau sudah datang?" sapa peri perempuan itu dengan senyum mengembang.
Elijah terkesiap kala bersitatap dengan sang ratu, hingga refleks mundur beberapa langkah. "Ka-kau?!" desisnya tertahan.
"Ya, ini aku. Kau mengingatku? Kita bertemu di dalam mimpi-mimpimu dan pada saat pesta ulang tahun Putri Tatianna. Aku senang kau masih mengingatku, Elijah." Ratu Minerva menjeda kalimatnya seraya memperhatikan perubahan raut wajah Elijah. "Aku adalah ibumu, peri terkuat di Hutan Larangan."
Elijah membelalak. Tubuhnya bergetar menahan emosi yang mendadak mulai menguasai diri. Apa yang ia takutkan akhirnya terjadi juga. Elijah tahu bahwa cepat atau lambat dirinya akan bertemu dengan peri perempuan itu, peri perempuan yang kerap hadir dalam mimpinya dan mengaku sebagai ibunya.
"Aku tahu, kau juga mencariku selama ini. Para pengikutku melaporkan bahwa kau sering berkeliaran di Hutan Larangan. Tidak ada peri sheelie yang berjalan-jalan ke dalam Hutan Larangan tanpa tujuan yang penting. Darahku yang mengalir dalam tubuhmu adalah alasan kuat yang menyebabkan kau terbebas dari kutukan Hutan Larangan."
Elijah masih terdiam. Matanya menatap peri perempuan di hadapannya dengan nanar. Pikirannya nyalang, mencerna setiap perkataan sang ratu. Ia ingin tak percaya, tetapi jauh di lubuk hatinya, alasan itu terlalu meyakinkan untuk disangkal.
"Ternyata sangat sulit juga memancingmu datang padaku," lanjut Ratu Minerva dengan nada sedih. "Aku harus mengorbankan banyak pihak, banyak hal."
"A-apa?! Apa maksudmu?" Elijah akhirnya membuka suaranya dengan gusar.
Seulas senyum asimetris tersungging di bibir merah Minerva. "Aku sampai harus menculik Putra Mahkota Albert supaya bisa bertemu denganmu!"
Elijah membelalak. "Jadi, Putra Mahkota Albert ada di sini?!"
"Mengapa kau berhenti mencariku, Elijah. Kau tahu, aku telah menunggumu begitu lama. Apa kau malu dengan kenyataan bahwa ibumu adalah seorang peri Unsheelie?"
Elijah bungkam. Wajahnya tertunduk. Pertanyaan Ratu Minerva benar-benar menohok hatinya. Kenyataan bahwa ibunya adalah sesosok peri Unsheelie sangat membuatnya terpukul.
"Tidak ... Ibuku tidak mungkin seorang peri Unsheelie!" Elijah menggeleng pelan, matanya menyorot tidak percaya pada Ratu Minerva.
"Aku adalah ibumu, Elijah! Kekebalan mu terhadap Hutan Larangan adalah bukti yang tak terbantahkan. Hanya keturunan Unsheelie yang dapat keluar masuk Hutan Larangan tanpa terkena kutukan!"
"Aku tidak percaya! Kau pasti sedang berbohong!" Teriak Elijah marah seraya menghunuskan pedang sihirnya ke arah Minerva.
Minerva bergeming. Matanya redup, menatap sedih pada Elijah. "Jadi apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan membunuh ibumu? Itukah yang kau inginkan? Lakukanlah, jika membunuhku dapat menghilangkan rasa malumu."
Pedang di tangan Elijah bergetar.
"Bunuh aku, Elijah. Lakukan apa pun yang membuatmu bahagia."
"AAARRKHHHHH!!!" Elijah berteriak meluapkan seluruh kemarahan dan kekecewaannya seraya membanting pedang sihirnya ke lantai. Pedang itu patah dan cahayanya padam. Elijah kemudian tersungkur di atas lututnya sendiri dengan suara tangis tertahan.
Demi melihat itu, Minerva menghambur dan menyongsong tubuh putranya. Ia juga tak dapat menahan tangisnya yang pecah begitu saja.
Lucifer yang tadinya berdiri di samping singgasana Minerva, membuang muka. Ia tak sanggup melihat suasana pertemuan ibu dan anak yang sangat emosional itu. Buru- buru ia menghambur keluar dari balairung.
Elijah seolah tersadar saat lengan Minerva yang terasa dingin melingkari bahunya. Sontak, ia menggeser tubuhnya seraya menyorot marah ke arah peri perempuan itu.
"Seorang ibu tidak akan pernah meninggalkan anaknya, seburuk apa pun keadaan!" desis Elijah marah.
"Aku sama sekali tidak berniat meninggalkanmu, Elijah. Semua ini kulakukan untuk melindungimu. Lagi pula, aku tidak ingin kau tumbuh dan besar di hutan terkutuk ini," lirih Minerva.
Elijah menggeleng frustrasi. "Dan, kau kembali di saat yang tidak tepat. Kau benar-benar telah menghancurkan anakmu sendiri!"
Minerva menatap Elijah tidak percaya. Ia seolah sedang membaca pikiran putranya. "Apa maksudmu? Aku menghancurkanmu? Apa kau berniat menjadi raja?" Ia menatap iris mata putranya dalam-dalam. "Kau ingin menjadi raja, bukan? Itu kah yang kau inginkan?" tanyanya lagi.
Elijah terkesiap. Ia menyadari tatapan ibunya yang menyelidik, lantas ia membuang muka. "Keinginan itu telah hancur berantakan karena aku adalah putra seorang Unsheelie."
Minerva membelalak demi mendengar pengakuan putranya. "Jadi benar, kau memang ingin menjadi Raja?"
Elijah menjauhi Minerva beberapa langkah dan dengan kasar menepis tangan sang Ratu yang mencoba meraihnya. "Jangan berani-berani menyentuhku. Harusnya kau tidak datang lagi, setelah meninggalkanku. Aku akan lebih bahagia. Aku tidak perlu kau dihidupku!"
"Elijah, dengarkan aku." Minerva masih berusaha meraih hati putranya. "Aku bisa mengabulkan apa pun yang kau inginkan. Asalkan kau bersedia menerimaku sebagai ibumu."
Elijah yang hendak melangkah meninggalkan balairung mendadak berhenti. Ia menoleh ke arah Minerva. "Dapatkah kau menjadikanku Raja terkuat di Fairyverse dengan mengeluarkan darah terkutukmu dari tubuhku?!" bentaknya sarkas. "Tentu saja kau tidak bisa!"
Minerva bergeming. Perkataan Elijah seolah pedang perak yang menusuk tepat di dadanya, menghancurkan hatinya. Ia adalah makhluk terkutuk yang telah merasakan segala derita dan deraan di Hutan Larangan. Namun, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mendengar ucapan Elijah, darah dagingnya yang tak dapat menerima dirinya. Iris matanya yang ungu mendadak berubah menjadi merah menyala, bersamaan dengan emosi yang meluap menguasai logika.
"Aku akan menjadikanmu raja, Elijah. Aku akan membunuh Putra Mahkota Albert sekarang juga, jika itu maumu!" teriak Minerva dengan sebelah tangan yang memegang tongkat sihir terangkat tinggi melebihi kepalanya. Bola kristal besar berwarna hitam yang bertakhta di tas tongkatnya menyala merah terang.
Tiba-tiba suasana di sekitar Kastel Larangan menggelap. Gemuruh saling bersahutan. Kilat menyambar-nyambar dan angin berhembus kencang.
Elijah yang hendak melewati ambang pintu balairung segera berbalik dengan panik. Matanya membelalak demi melihat pemandangan di atas singgasana. Minerva dengan mata menyala merah dan badai brutal yang melatarinya seolah nyaris meledak dan siap menghancurkan apa pun.
Seberkas cahaya petir menyambar pada bola kristal Minerva. Alih-alih membuat bola itu hancur, cahaya petir itu malah membuat bola kristal pada tongkatnya mengeluarkan percikan-percikan api. Iris mata peri itu hampir menghilang dan menyisakan bola mata putih yang tampak mengerikan.
Sebelum sebuah kutukan terucap dan tak dapat ditarik kembali, Elijah harus menghentikannya.
"Hentikan!" teriak Elijah yang tertelan suara gemuruh dan pusaran angin. "Hentikan Ibu!"
Telinga Minerva menangkap panggilan ibu yang bergema hingga mengguncang hatinya, menyentuh kesadarannya. Kemarahannya lenyap seketika. Suasana Kastel Larangan kembali hening dalam sekejap mata.
"Kau, me-memanggilku ibu?" sang ratu bertanya dengan suara bergetar.
Elijah membuang muka, tak mampu menatap kesedihan yang terpancar jelas di mata sang Ratu. Sebagian dari dirinya merasa rindu, tetapi sebagian lagi terasa sangat sakit dan terluka.
"Buktikan padaku bahwa kau bisa menjadikanku raja, menggantikan Raja Brian. Maka aku akan memanggilmu ibu dan membawamu berada di sisiku selamanya." Setetes air mata terbit di pelupuk matanya. Elijah berusaha tegar. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-katanya. "Kali ini, tolong biarkan Putra Mahkota Albert pergi bersamaku. Jangan sampai Istana Avery tahu bahwa kau telah menculik Putra Mahkotanya. Jaga dirimu baik-baik!"
Setelah mengatakan itu, Elijah segera berlalu meninggalkan sang Ratu yang tergugu dalam kesedihan di atas singgasananya.
* * *
Pintu batu ruangan itu berderit terbuka perlahan, Lucifer yang berwujud peri Elf memasuki ruangan. "Max, kau kah itu? Di mana kau, anjing kecil?" Suara paraunya menggema.
Anjing berbulu keemasan itu seolah menyahut. Suara dengkingannya terdengar dari salah satu sudut ruangan.
Lucifer menyalakan sebuah bola api kecil di atas permukaan telapak tangannya. Bola api berwarna ungu menerangi ruangan yang gelap itu. Suara kakinya yang menyentuh lantai menimbulkan gema dalam ruangan yang nyaris kosong. Matanya menyorot liar ke setiap sudut yang dapat dijangkau cahaya mencar.i pergerakan janggal yang menimbulkan suara berisik dari luar bilik.
Tiba-tiba bunyi dengkingan Max yang pelan berubah menjadi gonggongan marah. Anjing itu mendadak muncul dari kegelapan kemudian berlari kencang ke arah Lucifer.
Peri Elf jelmaan itu sontak terjengkang. Tubuhnya jatuh menghantam lantai batu yang dingin.
"Dasar anjing sialan! Tunggu kau. Aku akan menghajarmu!" umpatnya seraya meringis memegangi punggungnya yang terasa nyeri. Matanya memicing marah menatap Max yang telah lari melaju meninggalkan ruangan.
Dengan susah payah, Lucifer bangkit dan serta merta melupakan keinginannya untuk memeriksa seluruh penjuru ruangan. Ia keluar dari ruangan itu dengan langkah terseok untuk mengikuti Max.
Sementara, di salah satu sudut lemari, Ammara menggigil sembari membekap mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. Jantungnya masih berdebar sangat kencang. Di sampingnya, sosok Albert terlihat masih belum sadarkan diri. Kepala pangeran peri itu bersandar pada salah satu pundak Ammara.
Setelah Ammara yakin Lucifer telah pergi menjauh dari ruangan, ia bersusah payah menggerakan tangannya untuk menyandarkan kepala Albert pada dinding bagian dalam lemari. Ammara mendesah sedikit lega saat kepala Albert telah berpindah dari bahunya
"Putra Mahkota Albert, bangunlah! Aku mohon, kita harus segera keluar dari tempat ini!" desis Ammara kalut seraya menggoyang-goyangkan tubuh peri laki-laki itu. "Aku tidak mungkin menggendongmu 'kan?!" gerutunya kesal.
Albert tak juga menunjukkan tanda-tanda akan sadar.
"Bangun!" teriak Ammara nyaris lupa jika ia tengah berada dalam persembuyian. Namun. sedetik kemudian ia menutup mulutnya saat mengingat posisinya kala itu. Ammara mendengkus lalu menatap wajah Albert yang masih tak sadarkan diri. Pikirannya yang kalut tengah berkelana mencari cara untuk membangunkan sang putra mahkota.
Setelah beberapa saat, sebuah ide kemudian melintas dalam pikirannya. Binar pengharapan terpit dari kedua netranya. Ia lantas mendekatkan wajah pada Albert, mengamati wajah rupawan itu sesaat. "Maafkan aku Putra Mahkota, tapi aku harus membangunkanmu supaya kita berdua bisa selamat dan keluar dari tempat ini."
Dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, Ammara menarik napas dalam-dalam sebelum menampar salah satu pipi sang putra mahkota. Namun, sang putra mahkota belum juga bereaksi. Ammara tak patah semangat. Dengan dada bergemuruh khawatir, ia kembali menampar pipi Albert dengan lebih keras, tetapi berusaha untuk tak menimbulkan bunyi yang kentara. lagi-lagi Albert tak bereaksi.
Ammara berdecak frustrasi. Dengan kegusaran yang menjadi-jadi, peri perempuan itu lantas memutuskan untuk mencoba tinjuannya. Setelah meniup kepalan tangannya, dalam gerakan cepat, Ammara kemudian melayangkan tinjuan ke arah hidung.
"AAARRKKKHH!!!" Albert sontak tersadar sambil menjerit. Peri laki-laki itu refleks memegang hidungnya yang berkedut nyeri.
Ammara beringsut mundur, memberi ruang bagi Albert. "Sstt! Jangan berteriak Putra Mahkota, nanti naga itu datang dan menyergap kita di sini!"
Albert membelalak, seraya menepis tangan Ammara. Namun, sedetik kemudian kesadarannya terkumpul. "Ammara?!" tanya Albert dengan alis berkerut bingung. Ia tambah bingung ketika mendapati dirinya berdesak-desakan dengan peri perempuan itu di dalam sebuah lemari sempit.
"Kau terluka, Putra Mahkota?!" Ammara terkesiap melihat setetes darah kental mengintip dari lubang hidung Albert.
"Tentu saja, kau meninjuku barusan," sahut Albert sambil mengerucutkan bibirnya. Ia berusaha meregangkan tubuh di dalam lemari sempit itu. Namun ternyata sangat sulit.
Ammara mendapati kerutan kecil di antara kedua alis Albert. Peri itu terlihat seperti sedang menahan sakit. Akan tetapi, ia tetap saja berpura-pura terlihat tegar di depan Ammara. Ammara jadi merasa tidak enak. "Maafkan aku Putra Mahkota jika aku membangunkanmu dengan kekerasan. Aku sudah membangunkanmu dengan cara yang lebih baik, tetapi kau tak kunjung sadar. Aku harus segera membangunkanmu. Supaya kita bisa sama-sama keluar dari tempat ini."
"Sudahlah, Ammara. Aku tidak apa-apa. Terima kasih telah menyelamatkanku," tutur Albert seraya menyunggingkan seulas senyum. "Namun, tolong jangan panggil aku Putra Mahkota. Itu membuat bekas tamparanmu terasa sangat menyakitkan."
Ammara hendak tersenyum mendengar kelakar Albert, namun ia tersadar bahwa mereka harus segera pergi dari tempat itu, sebelum sang naga sadar bahwa Max hanya berusaha mengalihkan perhatiannya.
"Mari kubantu!" Ammara meraih pergelangan tangan Albert. Peri perempuan itu telah berdiri dan hendak membuka pintu lemari perlahan.
Suara gemuruh dan kilatan petir tiba-tiba menyambar. Lemari tempat mereka bersembunyi terasa bergetar. Bunyi tersebut mengejutkan Ammara terkejut hingga nyaris hilang keseimbangan. Peri perempuan itu nyaris jatuh terjengkang di dalam lemari, tetapi dengan sigap Albert meraih tubuhnya.
"Seorang peri unsheelie sepertinya akan segera mengeluarkan kutukan!" gumamnya pelan. Albert kemudian memapah Ammara berdiri dan membawanya keluar dari lemari. "Kita harus segera pergi!"
Albert dan Ammara keluar mengendap-endap. Pintu batu yang mereka buka, nyaris tak menimbulkan suara. Setelah dirasa cukup aman, Albert lantas menarik lengan Ammara dan membawanya berlari menyusuri lorong gelap Kastel Larangan. Mereka tidak peduli ke mana mereka akan menuju, yang terpenting adalah mereka harus terus bergerak untuk mencari jalan keluar.
Suara raungan tiba-tiba terdengar di belakang mereka, disertai suara langkah kaki yang menggema dan menggetarkan lorong yang mereka lalui. Suara langkah kaki itu kian lama kian mendekat.
Sesosok naga besar berwarna hitam dengan mata merah menyala marah berjalan dengan langkah-langkah besar memburu Ammara dan Albert. Naga itu menyemburkan api dari mulutnya.
"Ammara! kau harus lari duluan. Aku akan menahan naga itu!" teriak Albert dengan napas terengah. Ia melambatkan larinya seraya melepaskan tangan Ammara.
"Tidak! Kau tidak punya senjata apa-apa Albert. Kau bisa terluka!" peri perempuan itu ikut memelankan langkah.
Albert menatap Ammara jengkel, kemudian mendorong tubuh peri perempuan itu ke samping untuk menghindari jilatan api lain yang nyaris membakar tubuh Ammar. Tubuh peri perempuan itu terpental ke dinding lorong.
Naga yang semakin marah menyemburkan apinya sekali lagi. Kali ini lebih besar, disertai suara raungan yang memekakkan telinga.
Sebilah pedang sihir tiba-tiba menangkis api itu. Pedang sihir yang terhunus itu membentuk sebuah dinding perisai tak kasat mata yang menghalangi semburan api yang hampir saja mengenai tubuh Albert.
Albert terkesiap ketika menyadari siapa sosok yang menolongnya. "Elijah?!"
Elijah menoleh sekilas ke arah Albert seraya menyunggingkan senyum asimetris. "Syukurlah kau selamat, saudaraku."
Naga itu semakin kalap dan berlari kencang ke arah Elijah dan Albert yang berdiri berjajar.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Albert panik.
"LUCIFER!" teriak sebuah suara peri perempuan yang bergema dari bagian lain Kastel Larangan. Teriakan itu menggetarkan seluruh bangunan kastel.
Sang naga sontak menghentikan pengejarannya. Kemudian, ia berbalik dan berlari kembali memasuki kegelapan kastel, memenuhi panggilan sang Ratu.
Albert dan Elijah saling bertukar pandang. "Yang harus kita lakukan adalah lari, sebelum Sang Ratu berubah pikiran!" Serta merta Albert dan Elijah berlari menuju ke lorong lain yang tampak bercahaya di penghujungnya. Albert meraih pergelangan tangan Ammara dan menarik lengan peri perempuan itu berlari mengekori Elijah.
Ammara mati-matian menyesuaikan kecepatan larinya dengan dua pangeran peri yang mendahuluinya. Napasnya memburu dan jantungnya berdetak kencang. Ammara mulai kelelahan.
Akhirnya, pemandangan langit kelabu mulai terpampang jelas dari balik pintu, setelah sederetan lorong gelap yang mereka lalui. Mereka lantas memacu tunkai agar dapat berlari lebih cepat. Tanpa menyadari bahwa di balik pintu itu adalah jurang yang menganga.
"Awas Jurang!" teriak Elijah. Namun tubuhnya telah terlebih dahulu melayang melampaui ujung lorong yang terbuka. Ia lalai untuk menghentikan larinya, hingga tanpa sadar terperosok ke dalam jurang.
"ELIJAH!" teriak Albert dan Ammara bersamaan.
Albert nyaris saja ikut terperosok masuk ke jurang, jika Ammara tidak menarik lengannya dengan kuat.
"TOLONG ...!"
Elijah menjerit. Suaranya bergema, sementara tubuhnya terjun bebas ke dalam jurang hitam berkabut.