AIR SUSU PERAWAN
Fantasy
30 Nov 2025 27 Nov 2025

AIR SUSU PERAWAN

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (20).jpeg

download (20).jpeg

27 Nov 2025, 04:41

"Zyan, kenapa dia mengompol?" teriakan itu membuat sang gadis yang dituju jadi serba salah, dan mengambil apa saja yang ada di depannya.

"Kenapa kamu pegang pembalut?" tanya sang pria dengan nada galak. Mata bundar itu melotot setelah mengetahui kebodohan apa yang dia lakukan dengan wajah memerah seperti tomat rebus dia menyembunyikan di belakang.

"M-maksudnya, mau ambil popok." Sang gadis nyegir.


"Nih, urus bayi ini. Jangan biarkan dia menangis, beri dia air susu 24 jam, jangan ada bau kotoran bayi, saya benci anak kecil!" desisnya.

Azyan hanya mengangguk kaku, dan hanya bisa menelan ludahnya. Baru seminggu dia bertugas menjadi babysitter demi menjaga seorang bayi menggemaskan yang diadopsi dari panti asuhan, berbekal pengelaman nol dia akan mengurus bayi sepenuh hati walau ia belum punya anak.

"Kenapa kamu masih berdiri di situ? Ambil bayi ini."

"I-iya," jawab Azyan dengan gugup.

Bayi merah yang diberi nama Danish berpindah tangan dan dengan telaten Azyan memaikan popok pada bayi tersebut.

Azyan melirik pada laki-laki dewasa yang masih mengawasi dirinya, gadis itu menjadi semakin gugup oleh tatapan tersebut. Dennis adalah manusia kaku yang tidak pernah tahu bercanda dan juga sangat irit bicara, seolah keyboard dalam otaknya hanya terdiri dari beberapa huruf.

Berkali-kali ia mengembuskan napas lelah sambil memijit kepala otaknya yang hampir pecah karena punya keluarga yang kelewat bar-bar. Keluarga paling berisik sedunia yang ia sebut sebagai keluarga: Raja Hutan.

Dennis masih berdiri di sana sambil memperhatikan gadis yang begitu telaten mengurus bayi. Demi menuruti bundanya ia mengalah menerima orang baru dalam rumahnya karena tuntutan yang tidak masuk akal baginya.

Saat bayi Danish menangis Azyan jadi kelabakan sendiri. Dennis masih berdiri di depan pintu membuat sang gadis kian gugup.

"Coba beri air susu. Saya benci suara anak kecil menangis."

"I-iya."

Dengan malu-malu Azyan mencoba memberi air susu tapi bayi itu masih rewel, Dennis kian berang. Semua karena bundanya, hidup damainya yang penuh ketenangan terusik dengan kehadiran bayi yang menyusahkan.

"Apakah kamu tidak bisa membuat dia diam? Beri apa saja agar dia diam." Azyan hanya mengangguk dengan gugup.

Karena kesusahan menenangkan bayi merah yang terus menangis kain untuk menutupi buah dadanya sekarang terbuka lebar yang membuat buah dada Azyan sudah terpampang nyata di depan Dennis.

Matanya melotot dengan perasaan gugup yang luar biasa saat Dennis berjalan ke arahnya, apa pria itu semakin melihat buah dadanya dekat? Azyan adalah seorang gadis perawan yang tidak pernah disentuh lelaki manapun.

Dennis menunduk membuat seluruh tubuhnya ikut bergetar, apa laki-laki ini akan menyusu juga? Apa air susunya akan habis dalam sekali sedot, begitu malu dan takut sekuat tenaga Azyan menutupi matanya. Ia hanya mengandalkan indra pendengaran untuk mengetahui semua gerakan Dennis.

"Kamu berharap sekali saya rasa susu kamu sepuluh detik?" Pertanyaan itu membuat mulutnya terbuka lebar. Kurang ajar!

Tapi, dengan sopan Dennis mengambil kain yang jatuh di lantai dan menutup kedua payudara Azyan.

"Saya tidak tertarik dengan buah dada kecil," pungkas Dennis tanpa rasa bersalah membuat rahang Azyan jatuh hingga ke lantai. Sialan! Bedebah! Laki-laki sial! Ia hanya bisa memaki dalam hati, karena Azyan masih training mengurus bayi jadi dia hanya bisa menahan dalam hati.

+

Saat Dennis keluar dari kamar tangisan bayi kian kuat, hingga seluruh wajahnya memerah.


"Kenapa tidak beri dia susu?" Dennis kembali berkacak pinggang di pembatas pintu membuat Azyan kian menjadi serba salah.

...

"S-sudah."

"Oh Tuhan!" Dennis semakin menggerang frustrasi karena pekikan bayi itu semakin membuat kepala otaknya mau pecah.

Dennis mendekat membuat Azyan semakin gugup, sedangkan tangisan bayi merah yang tak tahu apa-apa semakin kuat.

"Sini." Dengan perasaan gugup Azyan menyerahkan bayi merah pada Dennis, ajaibnya bayi itu mau diam yang membuat dia merasa lega, jika sudah begini rasanya Azyan ingin mengadu pada Ilona dan resign segera.

Walau benci anak-anak saat melihat bayi merah yang terdiam di tangannya membuat Dennis tak percaya dengan penglihatannya. Apa bayi merah suka berbuat di luar nalar?

Keduanya sama-sama menarik napas panjang, tak pernah mengurus bayi sebelumnya tentu saja akan kesusahan bagi Dennis maupun Azyan dengan kehadiran bayi merah di dalam hidup keduanya.

Azyan masih kuliah semester lima, jika kuliah, bayi merah akan dititipkan pada pengasuh yang lain.

"Jadi sekarang apa? Saya harus mengendongnya setiap saat?" tanya Dennis yang membuat Azyan hanya berdiri serba salah.

"Bisa ditidurkan." Azyan menunujuk ke arah sisi ranjang.

Dennis mencoba untuk meletakkan bayi merah di atas ranjang, tak lagi mencium bau Dennis ia kembali terpekik. Azyan menjadi tak enak pada Dennis. Laki-laki itu terlihat frustrasi dengan tangisan bayi.

Akhirnya Dennis mengalah dan mencoba untuk ikut berbaring karena sejujurnya tangannya terasa keram.

Azyan hanya berdiri serba salah. Sekarang apa? Dia harus ikut berbaring juga? Atau berdiri melihat dua laki-laki ini tertidur. Gadis itu menunduk dan memainkan jari-jari kakinya, ini adalah keadaan paling awkward yang pernah dia rasakan.

"Kenapa berdiri di situ? Tidur sini," ajak Dennis.

Dengan susah payah ia menelan salivanya, tenggorokannya terasa kering, bibirnya terasa sakit karena digigit begitu kuat.

Saat tubuhnya perlahan mendekat, Azyan langsung tersentak karena Dennis sudah menarik tubuhnya dan ia terjatuh di atas tubuh pria itu. Degupan jantungnya terasa bertalu-talu, Azyan juga ikut merasakan degupan jantung milik Dennis.

Ini bahaya! Alarm dalam otaknya sudah berbunyi keras, tapi seluruh tubuhnya terasa kaku karena baru kali ini dia bersentuhan langsung dengan laki-laki.

"Kenapa? Merasa nyaman?"

Azyan menutupi matanya sambil menggepalkan tangan, kenapa laki-laki ini bicaranya sembarangan? Dia tahu seluruh keluarga Dennis adalah manusia yang bicara tanpa peduli perasaan orang lain, ia kira Dennis akan berbeda tapi sama saja, memang darah lebih kental daripada air.

Saat tatapan keduanya bertemu seluruh kegiatan di seluruh dunia seolah terhenti, dan Azyan kembali menelan ludah karena merasa gugup luar biasa.

Harus ia akui jika dia adalah laki-laki matang paling tampan yang pernah ia temui, seluruh keluarga gen Raja Hutan adalah keluarga yang good looking, dengan banyak bibit unggul.

Alis tebal, jambang tipis, rahang tegas, bibir merah alami, tatapan tajam tapi juga teduh di saat bersamaan. Dia punya bahu lebar dan juga tangan berotot yang menunjukkan seorang laki-laki jantan, aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya membuat tenggorokan Azyan terasa kering.

Ini adalah pose paling intim yang terjadi dalam hidupnya, oleh laki-laki dewasa abang sahabatnya sendiri. Hidung mancung yang membuat Azyan ingin sekali menyentuhnya.

"Dia sangat tampan!" Gadis itu menjerit dalam hatinya walau ia tak bisa mengeluarkan itu.

"Handsome as hell."

"Bayinya menangis." Tangisan bayi kembali mengintrupsi keduanya, tanpa sadar Dennis mendorong tubuh Azyan ke lantai, padahal baru saja beberapa detik lalu ia memujinya. Jika sudah begini, Azyan kembali menarik kata-katanya.

Gadis itu memegang bokongnya yang baru saja mencium lantai, gini amat kerja. Segala sumpah serapah ia keluarkan akhirnya kembali berdiri, tentu saja dia harus sabar. Azyan hanya seorang gadis yatim piatu yang tidak punya keluarga, selama ini ia tinggal di panti asuhan setelah Ilona memintanya untuk mengurus bayi ia menyetujui untuk mendapatkan uang, tempat tinggal, dan juga ia punya penyakit langka bisa mengeluarkan air susu walau tak pernah hamil sebelumnya.

Saat tangan Dennis menyentuh bayi merah seolah mengerti bayi itu kembali terdiam. Azyan kembali terdiam memikirkan nasibnya dan bagaimana dia berakhir di sini.

Sedangkan Dennis terpaksa menerima Azyan dan bayi Danish karena tuntutan sang bunda sebagai pancingan agar dia memikirkan pasangan. Usianya nyaris menyentuh kepala tiga tapi ia seolah lelaki abnormal yang tidak mengenal cinta selama hidupnya.

"Sekarang sudah jam berapa?" tanya Dennis merasa jengkel karena harus terjebak bersama bayi yang tidak ia inginkan sama sekali.

"J-jam lima."

Dennis menghela napas tak ikhlas, andai bisa menyumpahi ibunya sendiri dan juga saudarinya ia akan melakukannya sekarang, tapi yang bisa ia lakukan adalah terbiasa dengan kehadiran bayi, tangisan bayi dan juga mencium kotoran bayi.

"A-bang bisa bisa pergi, aku akan mengurusnya."

"Nanti dia menangis lagi."

Azyan menggigit bibirnya lagi, tentu saja dia tidak bisa mencegah tangisan bayi ini.

"Saya lapar."

"A-abang bisa makan, aku bisa mengurusnya," ucap Azyan tertunduk dalam. Ia tak berani menatap Dennis, laki-laki itu masih berbaring menempelkan tangannya pada kulit bayi merah tersebut karena ia seolah punya radar jika Dennis tak lagi menyentuhnya.

"Bisakah kamu suapin? Saya sungguh lapar," pinta Dennis.

"O-oke."

Azyan dengan cepat berlari ke dapur, dia merasa serba salah dengan keadaan super canggung di antara mereka. Gadis itu berkali-kali menggigit bibirnya.

Usianya masih 20 tahun, Dennis berusia 29 tahun.

Azyan menyiapkan makanan yang tersisa di meja. Biasanya saat bayi merah Danish menangis ia yang akan masak, tugasnya memang banyak selain mengurus bayi, seolah jadi istri seorang Dennis Nortman walau tanpa status.

Dennis membawa bayi merah menyusul ke dalam meja makan, Azyan hanya melirik lewat bulu mata lentiknya. Entah kenapa, dia suka melihat interaksi alami yang terjadi antara Dennis dan bayi merah. Seolah ayah dan anak beneran.

Dengan susah payah dan keadaan yang begitu canggung, Azyan menyuapi Dennis. Laki-laki itu bisa bekerjasama dengan membuka mulutnya lebar.

"Kamu tidak makan?" Azyan hanya menggeleng dengan pertanyaan tersebut dan kembali menyuapi Dennis.

"Mau saya suapi juga?"

"Tidak perlu!" jawab Azyan cepat. Padahal seluruh wajahnya sudah memanas.

Dennis berusaha untuk menggendong bayi merah dengan satu tangan dan menyuapi Azyan balik, gadis itu menolaknya tapi pria itu masih keras kepala untuk menyuapi gadis di depannya.

Dengan mulut setengah terbuka ia menerima suapan besar tersebut yang membuat separuh nasi tumpah.

"Apakah setiap hari akan seperti ini?" tanya Dennis sambil menunduk mengisyaratkan pada bayi merah yang ia gendong.

"T-tidak."

Akhirnya gantian Azyan yang menyuapi Dennis. Tanpa sadar keduanya saling menyuapi alih-alih makan sendiri.


Setelah makan Dennis kembali ke kamar Azyan dan mencoba untuk meniduri bayi merah yang manja.

Azyan dan Danish berada di kamar bawah, kamar yang dulunya Dennis jadikan sebagai kamar tamu, sedangkan laki-laki itu tinggal di kamar lantai atas, kamar utama miliknya.

Azyan membereskan peralatan makan keduanya, sebenarnya dia suka mengurus bayi bahkan sudah ada rasa sayang pada bayi merah tersebut.

"Oh Tuhan!" Azyan berseru dengan kaget saat tubuh tinggi Dennis tiba-tiba sudah berdiri di pintu, laki-laki itu suka sekali berdiri di pintu tiba-tiba.

"Bayinya sudah tidur. Oh Tuhan, jika setiap hari seperti ini saya bisa mati berdiri," keluh Dennis sambil menyugar rambutnya. Setelah ini dia akan protes pada bundanya pada beban yang dipikulkan untuknya.

+

"Karena bayi sudah tidur, sekarang untuk mengasuh bayi yang lain." Azyan berbalik tak mengerti dengan ucapan pria tersebut.

"Tidur sama saya malam ini," putus Dennis dan berlalu.

Kembali ke Beranda