Sinar matahari menerobos masuk memasuki celah jendela sebuah kamar dengan nuansa abu-abu.
Perlahan mata lentik itu mengerjab memindai sekeliling.
"Gue masih hidup?"
Bagaimana tidak heran? Dirinya baru saja mengalami kecelakaan pesawat. Kenapa bisa ia masih hidup? Terlebih dengan badan yang sehat bugar.
"Shhhh" gadis itu bangun dari tidurnya, matanya berkeliling memindai setiap sudutnya.
Sebuah kamar yang cukup besar dengan nuansa abu-abu. Di dindingnya terdapat beberapa bingkai yang berisi lukisan abstrak dan pemandangan alam.
"Ini dimana?" Gumam gadis itu pada dirinya sendiri.
Cklekk
Suara pintu terbuka, lalu tampaklah seorang wanita paruh baya dengan pakaian daster dengan rambut yang di cepol asal.
"Udah bangun ternyata, cepetan mandi di bawah ada Hades." Lalu wanita itu pergi disusul Dengan pintu yang tertutup rapat.
Melihatnya membuat Rena mengernyit bingung.
Banyak pertanyaan di benak Rena
Tadi itu siapa? Dan siapa Hades?
Ini dimana?
Apa dirinya telah diculik?
Tapi kan seharusnya dirinya sudah mati
Siapapun tolong beri Rena jawaban..!!
"CK ini dimana sihh?!" Rena menyibak selimut yang membungkus dirinya lalu bangkit dari ranjangnya. Kakinya mendekat ke arah jendela. Ahhhh ternyata kamar ini berada di lantai dua.
Di bawah sana tampak taman dengan berbagai jenis bunga yang bermekaran
Sangat indah pikirnya
Lama dirinya termenung dalam pikirnya, gadis itu terkejut takkala sebuah tangan melilit di perutnya.
"Aaaaaa" teriak Rena takut
Sontak Rena berbalik lalu mendorong sosok itu agar menjauh.
Nafas Rena tercekat, kenapa Rena tidak menyadari jika ada orang yang masuk ke kamar ini?
"Si-siapa lo?!" Remaja laki-laki itu mengerutkan dahi. Lalu tanpa dipinta dia duduk pada sebuah meja belajar. Memandang Rena intes.
"Mandi" ucapnya dengan gerakan dagu mengarah pada sebuah pintu yang Rena tebak adalah kamar mandi.
Alih-alih menuruti perintah remaja laki-laki itu Rena beringsut menjauh dengan berjalan mundur, lalu berlari kencang keluar kamar, meninggalkan remaja laki-laki yang kini menatap jendela bekas Rena berdiri dengan tatapan rumit.
🍁🍁🍁🍁🍁
Rena berlari hingga keluar rumah, nafasnya ngos-ngosan dengan degub jantung yang bertalu-talu.
Ini aneh, kenapa Rena bisa tidak nyasar saat ingin keluar rumah?
Apa kepanikan memberi kekuatan tak terduga?
Berpikir jika ini adalah sebuah kebetulan, Rena mendekat pada seorang wanita paruh baya yang sedang menyirami tanaman. Dia bukan wanita yang tadi, tapi dilihat pakaiannya sepertinya dia adalah pembantu di rumah ini.
"Per-permisi?" Wanita itu menoleh.
"Nona? Anda butuh sesuatu?" Jawabnya.
"Saya mau tanya, ini di mana ya?" Sekejab wanita itu menatap Rena bingung di susul tawa kecil yang membuat Rena menatap wanita itu aneh.
"Nona mau ngeprank saya lagi ya? Maaf ya kali ini gak akan kena?"
Ngeprank gundulmu , kenal aja kagak
Rena merasa dongkol. Sudah bangun di tempat asing, ketemu orang-orang aneh pula. Sial sekali hidupnya.
Ehh dirinya ini masih hidup atau sudah mati sihh..?!
"Maaf ya mbak tapi saya serius, atau jangan-jangan mbak yang lagi ngeprank saya ya?" Tuduh Rena menahan kekesalanya.
"Sudahlah nona Rana, menyerahlah kali ini saya gak akan kena."
Apa tadi, Rana? Hey namanya Rena
"Maaf ya mbak kita kenal saja enggak,buat apa saya ngeprank anda. Dan lagi nama saya Rena bukan Rana."
Rena menunjuk mulutnya lalu menyebut namanya dengan nada menekan
"Rrreeeeennnaaaaa.... R-e-n-a..!!"
"Sejak kapan nona Rana ganti nama? Perasaan tuan dan nyonya gak pernah nyuruh saya bikin bubur." Santai wanita yang Rena duga adalah pembantu rumah ini dan kembali fokus menyirami tanaman sang majikan.
Lagi-lagi Rena dibuat bingung dengan jawaban wanita aneh ini. Aisshhh kenapa kepalanya kini malah nyut-nyutan.
"Orang aneh" gumam Rena dongkol
"Ya Nona?"
Rena menatap wanita itu malas.
"Disuruh siapa sih mbak?" Dengus Rena kesal
"Hah?"
Rena menggeleng lirih. Dirinya lalu duduk dengan kedua lutut yang ditekuk.
Tiba-tiba kepalanya merasakan sakit. Dirinya memegang kepala yang terasa nyut-nyutan serta perut yang terasa mual
Semakin lama sakit kepalanya semakin menjadi. Rasanya seperti di tusuk oleh sesuatu yang tajam.
"Shhhhh" desis Rena kesakitan
Wanita tadi kelabakan. Dengan sembarang dia membuang selang di genggamannya.
"Ehhh nona kenapa?" Paniknya
"Sa-sakittt..."
"Nona...nona Rana kenapa..!?"
Perut Arana semakin mual. Rasanya ada sesuatu di perutnya yang terdorong ke kerongkongan.
Laluuu
"Huwekkkk...huwekkkk"
"Nonaa..!!"
Setelah itu semuanya gelap.
Ini gila
Bagaimana bisa?
Perpindahan jiwa? Sangat tidak masuk akal.
Dirinya yang amat tak percaya tentang transmigrasi jiwa, kini malah mengalaminya.
Transmigrasi yang nyata itu adalah perpindahan penduduk. Bukan hanya jiwanya saja tapi raganya juga ikut.
Apasih namanya?
Lupakan itu
Karena nyatanya Rena mengalaminya
Mengalami perpindahan jiwa
Catat..!! Hanya jiwanya saja
Raganya? Entahlahh...mungkin sudah habis dimakan megalodon.
Tadi, dalam pingsannya Rena bermimpi jika sekarang dia berada di dalam tubuh seorang figuran novel yang bernama Arana Wilson.
Rasanya Rena ingin tertawa dengan kekonyolan ini.
Maksudnya, siapa yang bakal percaya jika orang bisa berteleportasi ke dunia lain?
Waktumu sudah habis Rena
Ini adalah tubuhmu
Mulai sekarang hiduplah sebagai Arana Wilson
Suara sialan yang tak bertuan itu, bolehkah Rena mencekiknya?
Ohh atau jangan-jangan, selama ini hidupnya dikendalikan oleh mahkluk empat dimensi. Jika manusia yang merupakan mahkluk tiga dimensi bisa menciptakan mahkluk dua dimensi, berarti bisa jadi para mahkluk tiga dimensi juga dikendalikan oleh mahkluk empat dimensi bukan?
Ohhh Tuhan sepertinya Rena sudah tidak mempunyai kewarasan lagi
"Masih sakit?" Lamunan Rena buyar. Gadis itu menoleh ke sumber suara. Di sana, tepatnya di depan pintu, remaja laki-laki yang tadi seenak jidat memeluk Rena berdiri dengan membawa nampan yang Rena yakini berisi makanan.
Dengan langkah tegasnya dia menghampiri Rena, duduk di tepi ranjang dan menatap Rena intes.
"Makan" Astaga... suaranya mengingatkan Rena pada Jisung
Alih-alih mengikuti perintah pemuda itu Rena menatapnya penuh tanya.
"Lo.... Hades?"
Enggan menjawab pemuda itu mengambil piring, menyodorkan sendok pada Rena.
Anehnya Rena menurut. Enggan memberontak sampai makanan itu habis.
Ya...Karena dirinya juga lapar siihh...
Lalu pemuda itu juga menyodorkan gelas dan Rena menerimanya kembali
Melihat sesuatu yang aneh pemuda itu menarik tangan Rena membuat gelas di genggaman Rena hampir tumpah.
"Mana?" Rena menatap pemuda itu bingung
"Apa?"
"Cincin" Rena juga menatap tangannya. Bingungnya bertambah.
"Cincin" gumamnya
"Cincin pertunangan kita Arana."
Ohhh God dia beneran Hades.
*****
Novel My Cruel Mate. Novel yang sedang booming di kalangan pecinta novel. Novel dengan genre dark romance.
Bercerita seorang remaja sma yaitu Malvin Wijaya jatuh cinta dengan Mira de Louis. Tentu tidak akan seru jika kisah asmara mereka berjalan lancar, lalu terciptalah antagonis.
Salah satunya adalah Hades Giovandrick, dia dikenal sebagai antagonis paling ganas diantara antagonis lainnya. Tidak diceritakan secara detail bagaimana kehidupan dari seorang Hades. Hanya saja dituliskan jika Hades sudah memiliki tunangan
Tidak diceritakan secara detail bagaimana kisah hubungan asmara Hades dengan tunangannya. Mungkin karena Hades hanyalah peran pembantu atau Hades hanya bumbu pedas untuk membuat cerita lebih menantang.
Dan sekarang Rena harus terperangkap dalam tubuh dari Arana. Ini tidak masuk akal tapi ini benar-benar terjadi.
Tuhan, apa yang harus Rena lakukan ketika Rena saja tidak tau bagaimana hubungannya dengan Hades
Baik?
Tidak baik?
Biasa saja?
Dingin?
Atau bahkan pasangan bucin?
Tolong, bolehkah dia menjedotkan kepala pada dinding?
"Rana?"
Rana tersentak dari lamunannya, lalu menatap seorang pria paruh baya dengan pakaian kantornya. Dia adalah Dika Wilson, ayah dari Arana Wilson.
"Ehh i-iya?" Rana menjawab linglung
"Kenapa makan nya gak selera gitu? Makanannya gak enak?"
Rana kelabakan, jujur saja dirinya masih merasa asing dengan dunia ini begitupun dengan para tokohnya. Sebelumnya mereka tidak saling mengenal bukan? Lalu sekarang secara tiba-tiba disatukan menjadi keluarga. Ahh walaupun disini hanya jiwa Rena yang tidak mengenali mereka.
"Enggak kok p-pa, makanannya enak" Arana tersenyum kikuk
"Kamu sakit?" Kini pandangan Rana beralih pada seorang wanita kini menatapnya khawatir. Dia wanita berdaster kemarin. Namanya Dela Wilson, ibu dari Arana.
Rana menggelengkan kepala sebagai jawaban. Lalu mulai fokus pada makanannya.
"Aku baik-baik aja"ujar Arana pelan lalu mulai memaksakan makan.
"Oh ya, kata mama, kemarin Hades kesini?" Dika kembali membuka obrolan.
Rana berhenti mengunyah lalu mengangguk singkat.
"Bagaimana hubungan kalian sekarang?"
"Maksud papa?"
"Kalian jadi lebih dekat mungkin?" Tebak Dika yang membuat Arana berspekulasi yang tidak-tidak
Rana termenung, jadi selama ini hubungannya dengan Hades tidak rukun apa bagaimana?
"Kayaknya ada kemajuan deh pa, kemarin aja mereka seharian di kamar. Berdua doang lagi." Ujar Dela tanpa beban yang diakhiri tawa cekikikan.
Takkk
Dika berhenti memotong roti panggangnya lalu menatap Rana dengan alis bertaut.
"Ak-aku gak ngapa-ngapain!" Rana panik. "Suerr!!" Lanjutnya dengan menunjukan tanda peace.
"Emangnya papa tanya kamu ngapain aja sama Hades?"
Damn
Rana menatap Dika memelas. "Paaa" rengeknya.
"Hahaha, ya ampun Rana. Kenapa panik gitu? Emang kemarin ngapain aja sama Hades?" Goda Dela yang tambah membuat Rena frustasi.
"Gak ngapa-ngapain ma" lirihnya.
Dela mengulum senyum jenaka "Ngapa-ngapain juga gak papa kok, asal setelah itu mau dinikahin."
Pantatmu
"Gak boleh ya ma, nunggu sah dulu." Dika bersuara.
"Papa gak mau putri papa hamil di luar nikah. Apalagi jika mental Rana belum siap. Jangan sampai Rana nanti menikah dalam keadaan terpaksa." Dika berujar tegas, namun Rana tahu ada nada kekhawatiran di sana. Untuk sekejab perasaan Rana menghangat.
Dela menghela nafas lalu dengan gemasnya mencubit pipi anaknya
"Iya-iyaa yang kesayanganya papa"
"Sakit maa"
"Utututu tayangnya mama sakit...? Mana yang sakit hm?" Lalu dengan lancangnya Dela mengecup pipi Rana yang tadi dia cubit.
"Ishh mama...." rengeknya.
"Sudah-sudah, Rana cepat habiskan makananmu. Sebentar lagi Hades bakalan jemput."
🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi ini SMA Cendana dihebohkan dengan kedatangan salah satu most wanted mereka dengan anak eksul Sastra.
Hades Giovandrick yang terkenal akan sifat dinginnya sukses membuat gempar satu sekolah. Bukan hanya murid tapi guru dan kariawan lainya turut melongo melihat pemandangan yang satu ini.
Selama ini Hades tidak pernah terlibat kasus asmara dengan siapapun. Tapi lihat apa yang terjadi sekarang.
Hades juga jarang berinteraksi dengan siswa lain.
"Lo ada hubungan apa sama Hades Ran?" Rana menatap gadis kucir kuda ini gugup.
Arana sudah berada di kelasnya dan duduk di kursi nomor dua dari depan dengan deretan kursi paling jauh dari pintu.
"Hub-hubungan apa emangnya?"
"Yeuhh lo, ditanya malah tanya balik" Sasti menggeplak pelan kepala Rana membuat sang empu meringis pelan.
"Aduhh, sakit woy."
"Sasti nakal banget, kasian tau Rana nya." Kata Lia.
"Diem lo" semprot Sasti membuat Lia langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan mata yang menatap memelas.
"Berisik!" Ketiga gadis itu berjengit. Menatap aneh pada Puput yang tengah bermain dengan angka di bukunya.
"Si Paling ambis" Rana mengangguk setuju mendengar bisikan dari Sasti.
Rana menghela nafas panjang. Mereka adalah teman-teman Arana Wilson.
Lalu dengan langkah gontainya dia duduk di bangku sebelah Puput si anak ambis.
Jujur saja Rana masih berharap ini adalah mimpi.
🍁🍁🍁🍁🍁
Rasa lega melingkupi Arana ketika hajatnya telah terselesaikan. Gadis itu lalu mencuci tanganya pada wastafel.
Cklekkkk
Arana tahu, ada seseorang yang masuk, namun dirinya cuek-cuek saja. Palingan juga orang mau pipis.
"Ohhh....haii...Arana..."
Merasa nama raga ini dipanggil, Arana menoleh. Di sampingnya berdiri seorang gadis yang sedikit lebih tinggi darinya tengah tersenyum lembut.
Cantik banget gilaaaa.....
"O-ohhh..haiii.." Arana membalas tersenyum kikuk setelah itu mematikan kran yang baru dipakainya.
"Duluan yaaa..." Pamit Arana
Lalu ia, mengambil beberapa lembar tisu yang tersedia dan hendak meninggalkan toilet, namun gadis asing tadi menghentikan langkahnya.
"Arana..."
Arana menoleh ke belakang menatap penuh tanya.
"Seberapa indah masalalu kalian...tetap saja, sekarang dia udah jadi milikku"
"Hahh...?"
Gadis tadi kembali tersenyum lembut lalu berjalan menuju Arana, sempat menepuk pundak Arana dua kali, gadis itu berbisik pelan.
"Jadi.... siapa di sini pemenangnya?"
Fakta baru yang Arana dapatkan. Tidak ada yang tahu tentang pertunanganya dengan Hades dan itu cukup membuat Arana bernafas lega.
Ehh tapi
Gara-gara dirinya berangkat bareng Hades tadi pagi, dirinya berhasil jadi bahan gosib murid SMA Cendana.
Tapi lupakanlah...harusnya dirinya siap, jika hidupnya tak akan sama. Hidup tenangnya telah hilang...
Ohhh....menyedihkan sekali...
Dengan pelan Aranaa memakan batagor yang dia pesan di kantin sekolah.
Entahlah, sejak hidup di dunia semu ini Rana tidak memiliki nafsu makan yang bagus.
Bagaimana punya nafsu makan jika sedang dilanda musibah? Yaa..ini adalah sebuah musibah bagi Arana.
"Kenapa Ran? lesuh gitu." Arana menoleh pada Sasti lalu menggeleng pelan.
"Kenyang." Lalu dia meletakan sendok dan membersihkan mulutnya menggunakan tisu yang memang tersedia di meja kantin.
"Masih banyak batagor nya Ran."
"Kalo mau buat lo aja"
"Aisshhh makasih Rana cantik" dengan semangat Lia menggeser piring Arana untuk mendekat dan memakannya tanpa beban.
"Enak!" Serunya membuat Arana tersenyum tipis. Sangat tipis.
Lalu dia menelungkupkan kepalanya pada meja. Memandang Puput yang memakan mie ayamnya disambi membaca buku sejarah kedatangan bangsa barat di Indonesia .
Benar-benar anak ambis.
Lama-lama matanya memberat. Kebisingan kantin samar-samar menghilang. Tidak setelah mendengar sesuatu yang terbanting.
Pyarrrrr
Arana terkejut dari kantuknya. Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara itu. Kantin yang tadinya riuh semakin riuh.
"Ada apa" Tanya Arana serak.
"Itu Malvin mecahin piringnya Mira."
Deg
Kantuk yang tadi hinggap terbang entah kemana digantikan dengan degub jantung yang bertalu-talu.
"Siapa? Malvin? Mira?"
"CK iyaa, makanya jangan molor aja."
"Huhh" gadis itu mendengus.
"Emangnya kenapa? Emm maksudnya masalahnya apa?" Arana kembali bertanya.
Apakah alur tetap berjalan semestinya?
Sasti meletakan ponsel yang sejak tadi ia mainkan lalu menghadap Arana.
"Biasa, sifat keposesifanya Malvin kambuh. Lo tau sendiri kan gimana dramanya pasangan yang satu ini."
Arana termenung
"Coba pikir deh, gara-gara Mira bicara sama Bobi aja dia marah. Toxic banget tau gak."
"Mira juga, udah tau Malvin gak waras, masih mau aja."
Arana paham, karena di dalam novel memang di ceritakan jika Malvin adalah sosok yang sangat posesif dan penuh dengan obsesi terhadap Mira.
Tidak seharusnya Sasti mencibir Mira, karena sebenarnya Mira juga terpaksa.
Dan satu rahasia yang para tokoh tidak ketahui
Malvin dan Mira
Mereka sudah menikah
Jadi alur novel tetap berjalan semestinya?
Adegan ini adalah ketika Mira bertanya pada Bobi tentang acara gelar karya dan bazar yang akan dilangsungkan di SMA Cendana. Pada saat itu Malvin marah besar dan langsung menyeret Mira pulang tak peduli jika masih dalam jam pembelajaran.
Tapi bukan itu point pentingnya, Karena ketika mereka sampai di apartment Malvin. Protagonis pria itu menyiksa Mira. Menyayat bahu Mira membentuk sebuah tulisan 'Malvins'
Yaaaa dia psikopat
Memang harus seperti ini
Arana berharap alur tidak akan melenceng hanya karena kehadiranya.
"Tapi Malvin tuh ganteng Sas, gak salah lah kalo Mira tetep mau."
Suara itu membuat Arana kembali sadar dari pikiranya.
"Buat apa ganteng kalo gila." Lia mendengus mendengarnya.
"Puput mana?"
"Kabur duluan, dia kan paling anti sama keributan."
Arana paham, sahabat Arana yang satu ini. Entah sudah berapa kali Arana harus merasa insecure dengan keambisan Puput.
"Sekarang, Malvin sama Mira nya kemana?" Arana celingak celinguk.
"Udah pergi, mana perginya pakai seret-seretan. Le to the bay lebay."
"Terus-
"Banyak tanya lo!"
Sebenarnya Arana penasaran bagaimana rupa rupa mereka berdua.
Apa... yang tadi di toilet itu.... Mira?
🍁🍁🍁🍁🍁
Arana mengemasi buku-bukunya. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak tadi tapi karena Arana harus menyelesaikan catatan biologi jadinya dia pulang sedikit terlambat.
Menghela nafas panjang Arana keluar dari kelas dan betapa terkejutnya dia melihat pemuda berhody hitam sedang bersadar pada pintu.
"Pulang?"
"Hah??" Mengendikan bahu acuh pemuda tampan itu merangkul Arana lalu membawa mereka menjauh dari kelas.
"Gue pikir, lo udah pulang." Tidak ada jawaban. Hades mendorong Arana agar gadis itu masuk ke dalam mobil lalu disusul dirinya.
Di perjalanan tidak ada suara. Hades yang irit bicara dan Arana yang malas berbicara. Sungguh pasangan yang klop
Lagi-lagi Arana melamun. Memikirkan nasib aneh yang menimpa dirinya. Bagaimana dirinya bisa masuk dalam cerita khayalan orang?
"Mau makan?" Arana terkejut. Dengan cengo dia menoleh pada Hades.
"Gimana?"
Pemuda itu menghela nafas panjang
"Makan. Mau?"
Sejenak Arana termenung, entah apa yang dia pikirkan. Sampai dirinya tersentak saat merasakan elusan di kepalanya.
"Jangan melamun."
"Maaf"
"Hm, kita mampir ke BlueResto ya?"
Malam ini langit terlihat sangat cantik, berhias ribuan bintang yang berkilau menemani bulan.
Arana duduk di gazebo yang berada di taman belakang rumahnya. Mengenakan piyama bermotif bulan dan bintang. Walau malam ini cerah nyatanya sapuan angin malam berhasil membuat Arana berkali-kali menggosokan kedua tangannya.
Arana kembali memikirkan tentang kelanjutan nasibnya. Jika di tanya apakah dia ingin menuruti alur novel, Arana akan menjawab dengan lantang 'tidak'
Ohhh ayolah dirinya tidak ingin mati konyol hanya karena sebuah perasaan yang dinamakan cinta. Sangat bukan dirinya.
Dirinya harus bisa menyelamatkan nyawanya
Arana memandang jejeran bintang yang mempertontonkan keindahanya. Sangat cantik dengan kemilaunya.
Lalu, dirinya tersentak kala sebuah selimut kecil bersandar di bahunya. Reflek dia menoleh ke belakang.
"Dingin" ucap orang itu
Arana diam tidak berniat merespon dan berposisi seperti semula. Lalu orang itu menyusulnya.
"Belum ngantuk?" Tanya nya, mengikuti Arana menatap hamparan langit malam.
Arana menggeleng. Tanpa diduga dia bersandar pada bahu Hades. Pemuda itu sempet tersentak kemudian membiarkanya.
"Hades"
"Hm?"
Arana membasahi bibirnya.
"Menurut lo, hubungan kita ini apa?"
Pemuda itu menaikan salah satu alisnya. Kenapa gadis ini tiba-tiba bertanya seperti itu?
"Maksudnya?" Tanya nya dengan mata yang senantiasa menatap langit.
Arana berdebar, gadis itu menegakkan badannya.
"Selama kita menjalani hubungan ini, lo nyaman gak sih?"
Pemuda itu terdiam hingga Hades tersenyum miring setelahnya
"Menurut lo gimana?"
Arana menghela nafas panjang. Dia turut memandang langit malam menerawang jauh akan gambaran nasibnya di waktu yang akan datang
"Makanya gue tanya, karena yaaa gue gak tahu. Semisal lo terganggu dengan ikatan ini, gue gak papa kalo hubungan ini berakhir." Ucapnya tanpa melihat perubahan ekspresi Hades.
Rahang itu mengeras, walaupun wajahnya terlihat tenang tapi satu yang pasti dia sedang menyimpan amarah.
"Kalo lo gak enak buat ngomong sama para orangtua, gue yang bakal ngomong. Lo gak usah pusing soal itu."
Mendengarnya, membuat Hades terkekeh. Tangannya terulur merangkul Arana erat. Menyalurkan rasa hangat kepada gadis itu. Dan Arana menerima tanpa menolaknya. Entahlah, tapi Arana merasa nyaman.
"Sangat pengertian" bisik Hades.
Lalu dengan lancang dia mengecup kening Arana cukup lama yang membuat empunya terkejut.
Dia ingin marah tapi entah kenapa bibirnya kelu.
"Tidur ya? Lo kebanyakan ngelantur."
Tanpa aba-aba Hades membopong Arana.
"Hades-
"Sttttt"
Cup
Lagi-lagi kening Arana sebagai sasaran
"Malam, Ara"
🍁🍁🍁🍁🍁
Di lain tempat, seorang gadis tengah meringkuk pada sebuah kamar.
Matanya sembab rambutnya berantakan badannya bergemetar.
Cklekk
Mendengar pintu berdecit membuat ketakutan gadis itu semakin bertambah. Dirinya beringsut mundur sampai menabrak penyangga.
Sampai di depan gadis itu orang itu tersenyum lebar. Dirinya berjongkok menatap sang gadis dari bawah.
Sangat cantik pikirnya
Perlahan tangannya mengelus pipi sembab gadisnya.
"Makan, lalu tidur. Oke?"
"Hukumanya sudah selesai."