SUAMIKU BOCAH SMA MESUM
Fantasy
28 Nov 2025 27 Nov 2025

SUAMIKU BOCAH SMA MESUM

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (16).jpeg

download (16).jpeg

27 Nov 2025, 01:21

"Pendek!"

"Oi, pendek!"

Aku berbalik dan mendelik sebal ke arah suamiku yang super ngeselin itu. Dia baru saja kunikahi tiga hari yang lalu, ya, aku yang memaksanya agar mau bertanggung jawab dan menikah denganku, karena aku rela membohongi semua orang jika aku hamil, membuat Bunda murka dan menuntut agar Gerald segera menikahiku.


Wajah Gerald tidak ramah sama sekali, dia merajuk sodara-sodara karena tidak mendapat jahat, karena aku masih begitu takut untuk unboxing, walau aku tahu punya suami yang super mesum.


Aku mendekat dan mencoba memberi senyum manis padanya, tapi dia malah mendorongku. Perlu kalian ingat, Gerald itu mesum, tidak peka, tidak romantic sama sekali, tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta terlalu dalam padanya, dia adalah muridku. Usiaku 23 tahun saat ini, usia Gerald 18 tahun, dia sudah tingkat akhir masa SMA.

"Muka kamu cemberut terus, kayak kurang jatah aja," celutukku dan mendekat ke arahnya, sedikit berjinjit dan menyentuh ujung hidungnya yang mancung. Gerald itu tingginya 183 centi, sedangkan aku kaum kurcaci yang tinggi hanya 150 centi, itu juga yang membuat dia suka memanggilku pendek.


"Emang kurang jahat," jawab Gerald dengan nada tidak ramah, dia perlu dikasih bintang satu karena tidak ramah.


"Peluk dulu. Kalau Rara sudah siap Rara kasih, okay."

"Yang banyak dan lama," tambahnya.

"Yang banyak dan lama." Aku menambahkan lagi sambil memeluknya. Gerald itu bule nyasar yang kukira dibuang orang tuanya dari luar negri karena dia sangat mesum, dia adalah lelaki paling tampan yang pernah kutemui, harus kuakui jika pertemuan pertama kami sangat tidak berkesan sama sekali, tapi aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dari dulu aku bercita-cita punya suami bule, memilih jurusan bahasa Inggris dengan begitu bisa mudah berkomunikasi dengan suami nanti, dan sekarang menjadi guru bahasa Inggris di SMA Mercusuar.

Aku memeluknya lama, sambil melihat keadaan sekitar karena sekarang kami sedang berada di parkiran sekolah, tidak ada yang pernah tahu hubungan ini karena aku tak mau mendapat masalah, baik aku atau Gerald. Aku tahu bagi orang hubungan ini aneh dan tabu, tapi bagi orang yang sedang jatuh cinta terkadang suka berbuat di luar nalar.

Tangan Gerald melingkar di pinggangku dan mendorong ke arah mobil, keadaan sekolah masih sepi karena kami sengaja berangkat awal agar tidak membuat penghuni sekolah yang lain curiga, aku juga sudah pindah ke rumah Gerald, rumahnya super besar yang tidak ada orang di dalamnya.

"I love you, pendek," ucap Gerald sambil menepuk-nepuk belakangku. Perbedaan yang sangat kontras sekali, dia masih memakai seragam sekolah dan aku memakai seragam kebanggan para guru, jika penghuni sekolah lain melihat pemandangan ini mereka bisa kejang-kejang, tapi aku Bahagia dengan hidupku sekarang walau memulai semuanya dengan kebohongon.

Hubungan yang dilandasi kebohongan apa bisa bertahan lama?

-----

(Flashback)

"Rara hamil, Bunda," ujarku dengan nada penuh penyesalan dan air mata penuh sambil menunduk, mulai melancarkan aksi, jika aku tidak nekat maka Gerald tidak akan menjadi bagian dari cerita hidupku. Setelah lulus sekolah dia akan kuliah di negara asalnya Jerman.

"RARA!" Bunda berteriak heboh, aku belum masuk ke dalam rumah. Gerald juga masih berada di sini karena dia mengantarku, Bunda juga mati-matian menentang hubungan ini karena dia tidak suka dengan Gerald. Aku sudah punya tunangan sebelumnya, Mas Rangga, tapi aku berkhianat pada Mas Rangga dan menjalin hubungan di belakang Bersama Gerald.


"CEPAT GERALD! KAMU NIKAHI!" Bunda masih berteriak heboh, dia berdiri di depan pintu. Aku menunduk dengan rasa bersalah karena tega membohongi Bunda, sedangkan Mas Rangga juga masih berada di rumah. Bunda sudah menganggap Mas Rangga sebagai anaknya, bahkan aku dianggap anak pungut dan Mas Rangga anak kandung Bunda.

"Apa?" tanya Gerald kebingungan, dia mendekat ke arahku.

"KAMU HARUS NIKAHI RARA. GILA KALIAN YA, MASIH ANAK-ANAK, TAPI NEKAT SEPERTI ITU. DI MANA OTAK KALIAN! DI MANA OTAKMU, RARA?"

Aku berbalik menatap Gerald memohon agar dia mengikuti saja permainan ini.

"Apa?" tanya Gerald lagi. Dia semakin kebingungan.

Mas Rangga keluar dari dalam sambil melihat drama apa yang terjadi.

"Rara hamil, jadi kamu harus menikahi dia," tuntut Bunda.

"What? Pendek, apa ini?"

Aku mundur dan menggengam tangan Gerald, sedikit meremasnya agar dia mengikuti saja permainan gila ini. sudah terlanjur, aku juga muak karena Bunda terus memaksa agar aku segera menikah dengan Mas Rangga, lelaki paling sabar, baik hati, lelaki impian para mertua, tapi aku mati rasa saat aku menemukan Gerald dan berani main gila di belakang Mas Rangga Bersama Gerald muridku sendiri.

"Rara hamil! Jadi, panggil orang tua kamu Gerald, nikah sekarang!"

Gerald menatap bingung ke arahku, mata hijaunya ikut menyala.

"Please!" Aku menggerakan bibirku berharap agar Gerald peka dan menyelamatkan aku dari situasi sekarang.

"Whoaa! Burung anak kecil sekarang tidak bisa tahan, luar biasa. Paling juga itu kencingnya belum lurus," ejek Mas Rangga. Sekarang berdiri di samping Bunda, sekarang aku dan Gerald makin terpojokan.

"What the fuck!" Gerald masih shock, dia menarik tanganku kasar. Aku mulai melancarkan aksi drama yang lainnya, menangis.

"Rara hamil, Gerald. Kamu harus tanggung jawab, aku nggak mau punya anak tanpa ayah." Aku tersedu-sedu.

"The fuck!" Gerald masih kebingungan dan terima apa yang terjadi, aku berjinjit dan mengecup bibirnya agar dia diam, dan mengikuti permainan ini.

"GILA KALIAN! UDAH TAK PUNYA OTAK LAGI!" Bunda makin histeris.

"Cepat panggil orang tua kamu. Sekarang!"

Bunda maju dan mendorong Gerald agar dia segera memanggil orang tuanya, Gerald masih kebingungan, sedangkan aku hanya mengangguk. Berharap jika Gerald bisa bekerja sama karena dia satu-satunya yang bisa menyelamatkan dari kekacauan ini.

Gerald langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, aku hanya menggigit bibirku dan berharap jika Gerald bisa pulang dan membawa orang tuanya, jika tidak akan akan jadi gembel di jalanan karena diusir Bunda.

"Nggak punya otak kamu, ya," maki Bunda. Dengan geram, Bunda menarik rambutku karena begitu kesal dan merasa kecewa. Bunda selalu menganggap Mas Rangga sebagai menantu potensial dan aku hanya ingin Bersama Gerald.

"Ampun, Bunda." Aku meingis menahan rambutku yang rasanya rontok semua karena Bunda nariknya tidak kira-kira.

"Ingat kamu Rara, Bunda tidak akan pernah sudi kamu Bersama anak itu. Sampai mati!"

Tubuhku bergetar. Belum apa-apa, aku sudah mendapatkan sumpah sial.

"Jika hari ini anak itu tidak datang Bersama orang tuanya, maka kamu Bunda usir."

Sekarang aku menangis beneran karena merasa takut jika semua kebohongan ini tidak berjalan mulus. Karena yang aku inginkan hanya Gerald.

"Tidak perlu, Bunda. Rara bisa nikah sama Mas," timpal Mas Rangga sambil tersenyum manis.

"Dia memang tak punya otak! Udah dikasih laki-laki baik-baik, malah milih anak kecil yang tak bisa apa-apa. Hidupmu akan berada di neraka, Rara." Bunda masih begitu geram dan menarik-narik rambuktu, sebenarnya karena terlalu geram Bunda ingin mengoyakkan bajuku.

"AHHH... Bunda. Ampun!"

"Jangan masuk ke dalam rumah sebelum anak kecil itu datang membawa orang tuanya," ancam Bunda dan masuk ke dalam rumah membanting pintu sekuat mungkin.

"Jika anak kecil itu tak mau. Mas selalu ada untuk kamu," tambah Mas Rangga dan berlalu pergi. Aku hanya berdiri kaku dan melirik dengan ekor mataku melihat mobil Mas Rangga perlahan menjauh.

Ya Tuhan, nasibku bergantung pada Gerald sekarang!

Kembali ke Beranda