Malapetaka dari Bintang Jatuh
Fantasy
01 Dec 2025

Malapetaka dari Bintang Jatuh

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (5).jpeg

download (5).jpeg

01 Dec 2025, 14:46

Pagi itu Linda tak terbangun di rumahnya. Ia dan ratusan penghuni pulau Kecubung lainnya menempati tenda-tenda pengungsian. Beberapa orang mulai sakit akibat dingin dan hujan deras semalam. Anggota Badan Nasional Penanggulangan Bencana sedang membagi-bagikan bantuan sembako serta pakaian bersih. Prajurit TNI juga ramai memenuhi tempat tersebut, tapi mereka lebih fokus mengawasi objek raksasa yang saat ini berdiri kaku bagai gunung di atas Pulau Kecubung—bekas rumah Linda dan ratusan orang lainnya.

"Sialan... Aku nggak menyangka kalau bajingan itu akan berani datang ke tempatku seperti ini... " Gadis berparas cantik dan berperawakan tomboy itu kini mengamati kedua telapak tangannya lamat-lamat. "Kalau sudah begini, ya berarti aku juga harus meninggalkan kehidupanku yang lama deh... "

Semua bermula kemarin sore. Langit yang tenang tiba-tiba dilintasi garis cahaya benderang. Awalnya semua mengira itu adalah bintang jatuh biasa. Namun, semakin lama tampak jelas benda itu bergerak menuju pulau mereka. Perangkat desa segera menyerukan agar penduduk berlindung di rumahnya masing-masing.

Kemudian bintang jatuh itu menghantam pulau disertai dentuman luar biasa. Seluruh daratan bergetar. Tanah, pasir, dan batuan beterbangan. Gelombang kejutnya menghantam rumah-rumah warga hingga luluh-lantak. Seolah dalam sekejap mata kiamat sedang terjadi. Malam itu menjadi malam yang kacau.

Baru keesokan paginya kapal dari pulau seberang datang untuk mengevakuasi korban selamat. Tapi mereka harus menunggu hingga bantuan dari pulau utama tiba, sebab tempat tinggal mereka berada jauh di perbatasan negara yang menghadap Samudra Hindia.

Kesedihan meliputi hati semua orang, terlebih bagi yang kehilangan keluarga maupun orang-orang tersayang.

Itu juga yang dirasakan Linda. Namun, kemarahannya jauh melampaui kesedihan. Gadis itu berjalan sendirian ke tepi pulau, lalu memperhatikan objek raksasa yang menghancurkan rumahnya. Wujudnya menjulang dengan bagian-bagian seperti kepala, tangan, sayap, dan kaki. Wajahnya mengerikan, tatapannya mengancam, bahkan meski jarak mereka terpaut lautan. Mengingatkan Linda pada patung Garuda Wisnu Kencana di Pulau Bali, namun yang ini ukurannya jauh lebih dahsyat.

Banyak yang berspekulasi. Ada yang bilang bahwa benda itu cuma batu meteor yang kebetulan menyerupai makhluk hidup. Ada juga yang bilang kalau itu adalah alien yang sedang berhibernasi—meski saat ini cuma diam, suatu saat ia akan bergerak. Yang paling liar, bahwa itu adalah malaikat yang hendak meniupkan sangkakala kiamat.

Apapun itu, entah mengapa Linda merasa tahu mengenai patung tersebut. Ia tahu namanya. Deus Dorogon. Dan ia harus ke sana untuk menghancurkannya. Memang tidak masuk akal, bagaimana caranya menghancurkan sesuatu yang sebesar itu? Pasti butuh sesuatu dengan kekuatan ledak yang dahsyat seperti bom nuklir.

Tetapi Linda merasakan tubuhnya sangat kuat. Darahnya membara. Kepalannya begitu keras, hingga ia yakin bisa menghancurkan batu dengan tinju tersebut. Cahaya merah bersinar dari sana.

"Ya, tugasku di sini sudah selesai." Linda berbisik pada hati kecilnya. "Keajaiban memang selalu terlihat sebagai sesuatu yang tampak murni dan tak bercela, tapi bukan berarti itu adalah hal yang baik. Karena semua orang tahu... kalau kegelapan selalu bisa muncul dari cahaya yang paling terang sekalipun."

"Hei, kamu ngapain disitu?!"

Linda spontan meredupkan cahaya di tangannya, lalu berbalik. Sekelompok prajurit TNI berjalan ke arahnya.

"Di sini berbahaya," ucap salah satu dari mereka. "Sana kembali ke tenda. Ada pembagian makan malam."

"Eh... oke." Kata Linda kalem. Tapi, entah kenapa saat dia menoleh ke arah Deus Dorogon, tiba-tiba saja Linda merasa sangat kesal dan mendidih. Gadis itu menggigit bibir seakan berusaha menahan emosinya. "Kunyuk... ! Tunggu saja kau keparat! Akan ku remukkan ginjalmu!" Pekiknya sepelan mungkin.

Linda kembali ke pengungsian. Sesampainya di sana, ibu dan adiknya langsung memanggil. Gadis itu bergabung dengan mereka dan berusaha menyembunyikan keanehan yang timbul dalam dirinya.

Esoknya, sebelum mentari fajar terbit, Linda sudah bersiap-siap pergi. Ia bergerak pelan-pelan agar tak membangunkan siapapun di dalam tenda, lalu berjingkat keluar.

Sesampainya di tepi pantai, tiba-tiba ada suara sahutan yang mencegat Linda.

"Diam di tempat!"

Satu lusin pucuk senapan terarah padanya oleh barisan prajurit TNI. Linda dapat mengenali wajah-wajah itu, yakni anggota yang memergokinya kemarin.

"Kau mau ke mana?" hardik pemimpin mereka.

"Ya ke pulau dong, Pak," jawab Linda jengkel.

"Sudah kuduga, gadis ini ada kaitannya dengan patung raksasa itu!" seru sang TNI.

Linda segera membantah dengan pandangan tak percaya. Matanya membelalak. "Tunggu! Hey! Aku ini mau ke sana untuk menghancurkan monster itu!"

"Monster? Apa maksudnya? Apa kau juga adalah monster?!"

"Manusia-manusia gila... " Linda pun putus asa. Ia merasa bicara tak ada gunanya. Ia menghentakkan kaki, lalu melesat dengan kecepatan tinggi.

Seorang prajurit mengarahkan senapannya, lalu melepas tembakan. Sang gadis yang khawatir tembakan itu mengenai penduduk segera berhenti. Kedua tangannya menyala merah, lalu menangkap tiap peluru yang dimuntahkan ke arahnya. Tak hanya itu, ia menyentil peluru-peluru tersebut hingga berbalik melesat ke arah para prajurit. Sebuah aksi yang mustahil dilakukan manusia biasa.

Satu persatu prajurit TNI berjatuhan karena pahanya tertembak.

Pemimpin mereka yang menyadari bahwa senapan tak berfungsi segera mengeluarkan belati, kemudian menerjang. Ia menghujamkan senjata tersebut. Namun, Linda menangkap bilahnya hanya menggunakan tangan kosong. Lalu gadis itu meremasnya hingga hancur seperti kaca.

"Minggir!"

Linda menapak perut sang prajurit, dan pria besar itu terhempas bermeter-meter ke belakang.

"Satu hal yang perlu kalian tahu, aku berada di pihak manusia!" serunya menggema. Kini para penduduk yang tadinya terlelap juga sudah bangun akibat keributan. "Aku akan menyerang Deus Dorogon. Doakan saja aku berhasil. Karena kalau tidak... yah, aku juga nggak tau sih."

Lalu ia melangkah. Tiap jengkal tanah yang ia pijak bagai meleleh. Sinar di tangannya menyala makin terang, memancarkan hawa panas yang membuat para prajurit TNI tak berani mendekat. Tatapan gadis itu begitu mantap dan tajam, sehingga siapapun yang tertatap merasa bola matanya seperti mencair. Matanya pun ikut berpendar merah.

Ia terus bergerak meninggalkan pulau, lalu masuk ke air. Dan ajaib, ia berjalan di atas permukaannya. Sementara uap tebal mengepul menyamarkan tubuhnya. Seolah lautan mendidih.

Sang monster yang semula hanya diam pun kini mulai bergerak. Terdengar suara derak keras hanya ketika ia memutar tubuh. Makhluk itu menatap Linda.

"Aku datang, keajaiban sialan... Deus Dorogon. Mati kau bajingan..." Bisik Linda sambil memasang senyuman kecut. Urat-urat di pelipisnya timbul. Dia benar-benar jengkel sekarang.

Kembali ke Beranda