Pernah melihat seekor banteng bertanduk besar berjalan dengan boneka porselen yang mungil? Seperti itulah rupa Jaka dan Ratna saat mereka sedang menghabiskan waktu malam minggu mereka di pekan raya.
Mereka berdua begitu berbeda, bukan hanya dari penampilan, tapi juga latar belakang. Ratna adalah seorang akuntan di sebuah perusahaan bisnis ternama, penampilannya rapi, dan badannya tidak tinggi. Sementara Jaka adalah seorang preman.
Bukan hanya seorang preman biasa, tapi ketua preman di Gang Girang. Jaka ditakuti oleh orang-orang sekitar dengan perawakannya yang besar dan amarahnya yang tidak kalah besarnya. Sumbunya juga sependek rambutnya yang dipotong cepak, potongan yang dia pilih karena anak buahnya mengatakan itu modis—dan dia sudah menjitak dengan keras mereka yang mengatakan sebaliknya.
Sebelum bertemu dengan Ratna, malam Minggu Jaka dimulai dengan mengamankan daerah kekuasaannya dari ancaman-ancaman geng saingan, sekaligus mengumpulkan uang dari toko-toko sekitar yang berterima kasih banyak—tanpa paksaan atau ancaman apapun, kata Jaka—karena sudah mengamankan toko mereka dari bahaya kekerasan dan perampokan.
Lalu ketika itu semua selesai, dia akan pergi ke warung langganannya untuk memikirkan tujuan hidupnya yang cukup sederhana, yang terakhir setelah harta dan tahta, yaitu wanita.
Ketika Jaka masih menjadi ajudan ketua geng yang sebelumnya, dia pernah bertanya apa yang diperlukan lelaki sejati seperti dirinya agar bisa dianggap sukses dalam hidupnya. Sang ketua menjawab kalau dia harus memiliki ketiga hal tersebut, karena hidup harus dinikmati semaksimal mungkin karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok harinya.
Jaka sangat menganggap serius pesan dari sang ketua, saking seriusnya sampai dia melengserkannya dan membuat sang "mantan" ketua harus dirawat inap di rumah sakit luar kota demi keselamatannya.
Sebagai ketua yang baru, Jaka sudah memiliki harta dan tahta. Sekarang, tinggal wanita saja. Bagi Jaka yang sering membajak TV warung untuk memutar sinetron-sinetron romansa favoritnya, dia tahu kalau wanita tidak bisa dibeli begitu saja dengan uang, karena itu bukanlah cinta yang tulus. Seorang wanita harus bisa didapatkan dengan menggunakan usaha dan pesonanya sendiri sebagai seorang laki-laki sejati. Lebih dari satu wanita sudah berusaha mendekatinya karena posisi dan statusnya, tapi tidak ada satupun yang Jaka terima karena dia bisa merasakan kalau mereka tidak tulus kepadanya.
Hal ini membuat Jaka gundah, yang bisa dilihat jelas oleh orang sekitarnya ketika dia menghabiskan minimal tujuh gelas soda gembira di warung dan menonton sinetron dengan tatapan murung. Terkadang dia memejamkan matanya dan membayangkan dirinya sedang mencium seorang wanita saat sebuah adegan romansa sedang berlangsung, terus berharap dalam hatinya kalau suatu saat akan datang wanita yang dia idamkan selama ini.
"Heh! Ngapain kalian lihat-lihat?!"
Itulah saat Jaka pertama kali mendengar suara Ratna, yang langsung tersentak keluar dari fantasinya untuk melihat apa gerangan yang terjadi di luar warung.
"Sini dong cantik..."
"Ayo mbak, ikut sama kita..."
Begitulah kata Bang dan Sat, kedua anak buah Jaka yang duduk di depan warung dan sedang berusaha memikat hati seorang wanita yang lewat di hadapan mereka, Ratna. Tidak seperti wanita lainnya yang biasanya mempercepat langkah dan mengabaikan mereka, Ratna menunjukkan kekesalannya dengan mengucapkan berbagai sumpah serapah kepada mereka berdua. Beberapa kata-kata yang diucapkannya bahkan belum pernah Jaka dengar sebelumnya, membuatnya begitu penasaran, sementara Bang dan Sat hanya tertawa mendengar makiannya.
Jaka mulai berpikir, apakah ini wanita yang dicarinya selama ini? Bang dan Sat mengincarnya, jadi sudah pasti wanita ini berbeda dari wanita yang biasanya. Lalu dia menunjukkan perlawanan, yang artinya menunjukkan kalau dia seorang pemberani, cocok untuk pasangan seorang ketua preman sepertinya. Untuk rupa, wanita ini juga terlihat cukup menawan, setidaknya untuk selera Jaka.
Tapi apa yang Jaka dapat katakan untuk menarik perhatiannya? Apa mungkin dimulai dengan yang sopan seperti bertanya siapa namanya? Atau langsung mendatanginya? Atau mungkin...
Apapun yang Jaka pikirkan, Bang, Sat, dan Ratna hanya melihat responnya.
"Grrr..."
Geraman itu saja yang Jaka dapat keluarkan karena saking bingungnya dia untuk menentukan apa yang dia dapat katakan.
Bang dan Sat yang tunduk kepada bos mereka, segera pergi tanpa berkata apapun, mengira kalau mood Jaka sedang buruk. Sementara Ratna mengucapkan kata-kata yang Jaka tidak sangka sama sekali.
"Terima kasih!" sahut Ratna dengan lega sambil berjalan ke arah Jaka, "Kukira aku akan terus diganggu sama dua orang itu, untung saja anda muncul."
"Hmm," gumam Jaka yang masih tidak bisa merangkai kalimat karena suasana hatinya yang gembira.
"Siapa namamu?"
Begitulah cerita bagaimana Jaka bertemu dengan Ratna, yang kemudian saling mengenalkan nama mereka dan berjanji untuk bertemu lagi di lain waktu.
Tapi seperti yang Jaka tahu, dari pengalamannya sebagai ketua, mendapatkan daerah kekuasaan itu tidak sulit. Mempertahankannya, itu lain cerita, dan Jaka mulai merasa kalau mempertahankan Ratna akan lebih sulit dibanding saat mendapatkannya. Hal ini terus Jaka pikirkan saat dia terus berjalan bersama Ratna di pekan raya, wajahnya tetap diam membatu.
"Ada apa, Jaka?"
"N-Nggak kenapa-napa kok, Rat..." kata Jaka dengan nada ragu yang pasti akan membuat orang sekitarnya menoleh dan bertanya-tanya kenapa lelaki perkasa sepertinya bisa dibuat grogi dengan sebuah pertanyaan yang sederhana.
"Kalau ada masalah mending kamu cerita sama aku," Ratna berkata dengan senyuman manis, "Aku pendengar yang baik lho."
Jaka mengangguk mendengarnya, dan mencoba tersenyum ke Ratna dengan senyuman yang bisa membuat anak kecil menangis. Untungnya Ratna bukan anak kecil, dan dia menganggapnya manis karena tertawa melihat usaha Jaka.
"Begini... sebenarnya sudah tiga hari ini aku mendapatkan mimpi itu. Mimpi yang sangat aneh... "
"Hmm? Mimpi seperti apa? Coba kamu jelaskan semuanya." Ujar Ratna tampak tertarik.
"Di mimpiku... aku seperti sedang berada di tempat yang sangat-sangat gelap, tapi anehnya aku bisa melihat dengan jelas. Dan ada seseorang di tempat gelap itu. Dia seorang wanita yang sangat cantik deh pokoknya... dan sangat... sempurna."
"Heh...?" Ratna memasang senyuman yang aneh saat mendengar penjelasan Jaka.
Jaka yang mengerti maksud dari senyuman itu buru-buru melanjutkan ceritanya, agar Kekasihnya itu tidak salah kaprah.
"A-ah! Tapi, aku tidak peduli dengan kecantikannya kok!" Celetuk Jaka takut-takut.
Ratna tertawa pelan. "Nggak usah panik begitu dong." Kata Ratna. "Tapi, yah mimpimu memang sangat aneh sih menurutku."
"I-iya... Sudah tiga malam aku memimpikan tentang gadis itu. Di tempat yang gelap itu, gadis itu duduk di udara, dan dia terus memandangku dengan tatapan tajam. Hingga akhirnya, tadi malam, gadis itu berhenti menatapku dengan tatapan sinisnya, dan turun dari kursinya yang tak terlihat. Kemudian... dia berjalan ke arahku."
"Hah!? Terus!? Apa yang terjadi!?" Pekik Ratna yang semakin penasaran.
"Dia berkata kalau dia memilihku... Dan dia akan mencobaiku terlebih dahulu... Lalu, saat dia selesai bicara, aku langsung terbangun karena panik."
"Lho... Gitu doang?" Tanya Ratna yang kini keheranan. "Aku nggak paham... "
"Iya... aku juga sama kok—"
"Aku yang duluan!"
"Nggak, aku!"
"Enak saja!"
Sebuah keributan tiba-tiba dapat mereka dengar, yang berasal dari kios es krim. Mereka berdua segera menoleh dan melihat Bang dan Sat sedang bergumul di tanah tanpa peduli atau tahu kalau mereka sekarang menjadi pusat perhatian.
"Dasar tukang nyerobot!"
"Salahnya sendiri pergi duluan!"
"Sudah kubilang jagain tempatku!"
Melihat ini, Jaka membuat catatan ke dirinya untuk segera menjitak dengan keras kedua bawahannya itu saat mereka bertemu lagi di warung karena telah membuatnya malu di depan wanita yang disukainya.
"Huh, dasar preman-preman kasar," kata Ratna dengan ketus, membuat Jaka langsung menoleh ke arahnya dan melihat Ratna menatap mereka seperti bagaimana seseorang melihat gundukan sampah yang bau, "Aku benci orang-orang seperti itu."
Secepat jentikan jari, Ratna menoleh ke Jaka dengan senyuman manis yang harusnya bisa melelehkan hati Jaka, "Tapi untung saja kamu tidak seperti mereka. Ya kan, Jaka?"
Namun Jaka terlalu terhenyak mendengar kata-kata Ratna yang sebelumnya untuk menikmati senyuman itu. Kalau sampai Ratna tahu Jaka seorang preman, apalagi kalau tahu amarahnya serupa dengan amarah banteng saat melihat warna merah, habislah hubungan mereka.
"Hngh," hanyalah kata yang Jaka dapat ucapkan dan Ratna menganggapnya sebagai tanda dia setuju.
"Yuk, kita cari wahana yang lain saja!" kata Ratna dengan semangat sambil menarik tangan Jaka.
Sebuah pergumulan juga sedang terjadi di pikiran Jaka, apa yang dia harus katakan kepada Ratna? Jaka tidak mau berhenti begitu saja menjadi preman, ini adalah hidupnya, dia tidak tahu apa yang dia harus lakukan kalau seandainya dia tiba-tiba berhenti. Apa mungkin kalau dia harus menyembunyikan pekerjaan premanismenya—kalau itu sebuah pekerjaan atau bahkan kata yang sah—untuk seterusnya? Atau Jaka harus mengambil keputusan yang paling sederhana, tapi juga yang tersulit, yaitu jujur saja kepada Ratna?
Tiba-tiba mata Jaka tertuju ke sebuah tenda kecil yang terletak agak jauh dari keramaian, rupanya terlihat mencolok karena kainnya yang berwarna putih bersih. Sebuah papan kayu terpasang di depan tenda itu dengan tulisan serapi sebuah kaligrafi yang berkata "RAMALAN MASA DEPAN: GRATIS".
Tidak ada manusia yang tidak suka dengan kata gratis—dengan beberapa pengecualian—termasuk Jaka. Mungkin ini kesempatan baginya untuk mengetahui keputusan apa yang dia harus ambil untuk menjaga hubungannya dengan Ratna.
"Ratna, kita ke situ saja yuk," ajak Jaka sambil menunjuk ke tenda itu, "Sepertinya menarik."
"Wah, boleh tuh! Yuk!"
Ketika memasuki tenda itu, entah kenapa Jaka merasa kalau dirinya seakan sedang berada di dunia lain, dan itu bukan kiasan belaka. Selain udara yang terasa lebih dingin, cahaya terang yang masuk lewat jendela-jendela yang tinggi dan anggun membuatnya seakan berada di siang hari yang cerah dan bukan lagi di malam pekan raya. Tidak mungkin tenda yang terlihat sebesar warung di Gang Girang bisa menampung sebuah aula yang seluas lapangan sepak bola di dekat rumahnya dan setinggi gedung kantor Ratna.
Keduanya mendongak ke atas dengan keheranan.
"Kayaknya ada yang nggak beres deh... Tapi tempat ini keren banget deh kalau dipikir-pikir." Gumam Ratna. Kekaguman terpancar di wajahnya yang cantik.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Suara perempuan berlogat asing itu mengejutkan Jaka dan Ratna, yang seakan muncul begitu saja di belakang mereka dengan badan yang tinggi dan tegap seperti seorang pelayan yang terlatih.
Mempertajam matanya, Jaka mulai mengamati perempuan itu sambil memosisikan tangannya di depan Ratna untuk menjaganya. Perempuan itu juga menatapnya dengan mata yang tajam dan terlihat licik seperti seekor rubah yang mengamati mangsanya. Jaka juga menganggapnya seperti rubah, dengan rambut panjang berwarna jingga kemerahan dan sosoknya yang ramping mengenakan pakaian formal bagaikan pelayan.
Tapi rupa pelayan ini begitu kontras dengan rupa aula tempat mereka berada, yang memiliki langit-langit yang tinggi dan ditopang oleh pilar-pilar batu yang kokoh, begitu juga dengan tangga-tangga ukiran yang mengarah ke bawah mereka. Dalam tenda ini—kalau masih bisa dibilang begitu—malah seperti aula sebuah katedral lama yang Jaka sering lihat dikunjungi oleh turis.
"Kami ingin melihat masa depan," jawab Ratna dengan polos, membuat Jaka merasa kalau Ratna sepertinya mengabaikan keanehan tempat ini.
"Silahkan duduk terlebih dahulu," kata sang pelayan yang menunjuk ke kursi-kursi yang mengitari sebuah meja kecil bertaplak putih yang terlihat begitu kecil dibandingkan dengan luasnya aula. "Saya akan memanggil orang yang anda cari."
Jaka masih terus menatap tajam pelayan itu, memberinya tatapan yang selama ini dia gunakan setiap kali sedang menagih hutang ke para pemilik toko setempat. Tapi pelayan itu tidak bergeming, sampai Jaka merasa kalau mata sang pelayan bahkan tidak berkedip dari tadi.
"Ayo Jaka, sini duduk."
"Ah—oke," jawab Jaka yang sesaat menoleh memandang kekasihnya, dan kemudian sempat mengalami serangan jantung kecil ketika melihat kalau sang pelayan telah menghilang dari hadapannya ketika dia menoleh ke Ratna. Bulu kuduknya mulai berdiri, dan sang preman Gang Girang mulai mengakui di dalam hatinya kalau dia merasa takut.
Demi Ratna, dia tetap memasang wajah tegar. Tapi Ratna sepertinya tahu tentang itu.
"Kamu kok pucat? Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa kok," jawab Jaka dengan datar sambil mengusap keringat dingin di dahinya, "Kayaknya di sini terlalu panas, aku jadi nggak nyaman."
"Hahaha, masa sih? Tempat ini dingin lho, kayak saat kamu ngajak aku pergi ke puncak," Ratna tersenyum dengan manis, mengingat momen-momen menyenangkan yang mereka habiskan bersama di tempat itu, "Pasti tempat ini pakai banyak AC supaya bisa bikin suasana dingin ini."
Jaka hanya mengiyakan kata-kata Ratna, tidak berani mengatakan kalau hawa dingin ini malah terlalu mirip dengan hawa pegunungan. Apapun yang perempuan aneh itu akan lakukan, Jaka akan melindungi kekasihnya.
"Selamat datang," kata satu suara lelaki dengan logat yang sama asingnya bagi Jaka, "Maaf membuat kalian berdua menunggu."
Pelayan itu kembali muncul dari tangga yang mengarah ke bawah tanah sambil menuntun orang yang Jaka anggap sebagai sang peramal. Jaka yakin dia seorang laki-laki karena suaranya, meski penampilannya terlihat feminin baginya, dengan rambut putih panjang yang mencapai pundaknya, begitu pula dengan wajahnya yang terlihat halus serta kulitnya yang sepucat jubah putih yang dia kenakan. Jelas kalau sang peramal ini juga buta, karena sebuah kain sutra putih menutupi matanya—atau mungkin seperti itulah.
"Jadi," kata sang sang peramal yang dibantu duduk oleh sang pelayan, "Siapa yang ingin melakukannya terlebih dahulu?"
"Aku!" jawab Ratna dengan penuh semangat, "Tapi boleh aku bertanya dulu?"
"Silahkan."
"Kenapa gratis? Bukannya melihat masa depan itu membutuhkan kemampuan yang khusus ya? Jadi harusnya ada..." Ratna diam beberapa saat selagi memikirkan kata-kata yang tepat sebelum melanjutkan kalimatnya, "Bayarannya, bukan?"
"Sebelum saya mendapatkan anugerah ini, saya juga memikirkan hal yang sama," jawab sang peramal dengan tenang, "Tapi ternyata orang-orang tidak ingin mendengar masa depan mereka sendiri karena mereka takut kalau masa depan itu tidak mereka sukai dan tidak dapat dihindari. Lagipula saya juga tidak membutuhkan uang, saya hanya ingin mencoba melihat masa depan orang lain selain raja-raja dan para penguasa yang sering berusaha mencari saya."
Jaka mendengus mendengar penjelasan sang peramal, ini pasti sekedar skenario akal-akalan supaya dia dapat terdengar lebih menyakinkan. Tapi sebuah suara kecil di dalam dirinya merasa kalau semua yang peramal itu katakan memang benar, dan dari nadanya menjelaskan, bisa jadi dia jauh lebih tua dari rupanya.
"Oh begitu rupanya. Terima kasih atas penjelasannya, tuan peramal," kata Ratna dengan sopan, "Kalau begitu saya tidak usah dilihat masa depannya, mungkin apa yang anda bilang memang benar. Biar saja masa depanku menjadi kejutan, kayaknya nggak seru deh kalau tahu apa yang akan terjadi nantinya, hahaha!"
Sang peramal hanya tersenyum mendengarnya, seakan Ratna telah mengambil keputusan yang bijak, atau karena sang peramal memang memiliki pribadi yang lembut.
"Peramal," kata Jaka dengan nada tinggi, "Baca masa depanku."
"Baik, apa mungkin anda ada permintaan yang lebih spesifik?"
"Soal asmara."
"Letakkan tangan anda di sini," kata sang peramal yang mengulurkan telapak tangannya ke Jaka, "Dan saya akan lihat."
Tangan sang peramal terasa begitu mulus dan dingin, tapi Jaka tidak begitu memikirkannya dan menoleh ke Ratna sambil memberikannya senyum yang penuh percaya diri. Baginya, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan keberaniannya di depan Ratna, kalau dia tidak takut dengan masa depannya.
"Terima kasih," kata Sang peramal sambil menarik lagi tangannya, membuat Jaka terkejut karena dia hanya membutuhkan beberapa detik untuk melihat masa depan, "Jadi apa anda mau saya berbohong atau jujur saja?"
"Hah!? Apa maksudmu?!" sahut Jaka dengan bingung, mengejutkan Ratna yang tidak pernah mendengar Jaka menggunakan suara sekeras itu, suara yang Jaka sering gunakan untuk mengintimidasi lawannya sebelum melakukan tawuran.
"Saya rasa kejujuran adalah kebijakan yang terbaik, Karena itu saya tidak akan menyembunyikan apapun," jawab sang peramal dengan polosnya, "Tapi banyak orang hebat sekalipun yang tidak puas mendengar ramalan saya yang sejujurnya, jadi saya bisa memberikan ramalan bohong yang sangat enak untuk didengar."
"Bohong seperti apa?!"
"Seperti, 'hubungan dengan pasangan anda akan berjalan mulus tanpa hambatan apapun'."
Kata-kata sang peramal membuat Jaka naik pitam, dan Ratna tidak pernah melihat wajah sebuas itu sejak dia melihat dokumenter tentang serudukan banteng di Spanyol.
"Lalu ramalan yang sebenarnya akan seperti apa?!"
"Yah, kalian akan putus malam ini juga."
Biasanya orang-orang yang mendengar kejujuran sang peramal segera pergi dengan penuh amarah tanpa berkata apapun, atau menyangkal sang peramal.
Namun, Jaka tidak seperti mereka. Dengan satu pukulan yang perkasa, sang peramal terpental ke belakang dan pelayannya langsung berlari menghampirinya. Sebuah kepuasan bagi Jaka untuk melihatnya terkapar lemas di lantai setelah mendengarnya mengatakan hal yang dia tidak ingin dengar.
Tapi sebuah langkah kaki yang semakin menjauh darinya membuat Jaka sadar dari amarahnya. Ketika dia menoleh, dia hanya melihat Ratna yang berjalan keluar menjauh dari dirinya. Sebuah kata-kata permohonan dan maaf segera terucap dari mulutnya yang tidak didengarkan oleh Ratna.
Sekarang Jaka sadar betapa bahayanya mengetahui masa depan, dan ketika Ratna pulang dengan sendirinya, Jaka berusaha mencari tenda kecil milik sang peramal, tapi dia tidak menemukannya.
Untuk pertama kalinya bagi Bang dan Sat yang melihat Jaka dari kejauhan, mereka melihat sang ketua preman Gang Girang menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.
Mungkin Jaka harus bersiap mempertahankan kedudukannya dari kedua bawahannya yang menganggap kalau dia sudah melunak.
Mungkin Jaka tidak sadar dengan pepatah yang mengatakan kalau cinta sejati tidak akan selalu berjalan dengan mulus, dan sang peramal hanya mengatakan kalau malam itu mereka akan putus.
Mungkin saja kalau Jaka dan Ratna dapat kembali berbaikan suatu saat. Mungkin.
Karena masa depan hanyalah sebuah harapan, bukan sesuatu yang dijanjikan.
"Apa jadinya kalau Tuhan itu tidak ada? Aku tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa dunia ini jika sang Takdir yang berkuasa atas kehidupan. Pasti dunia ini akan dipenuhi oleh suara tangisan yang mengerikan." sang Peramal itu melirik kepada pelayannya, dan pelayannya itu menunduk. "Tapi yah, syukurlah sang Takdir telah mendapatkan mainan barunya... Korban kedua puluh tiga..."
Lalu, sang peramal pun menutup tendanya, dan pada saat itu pula, tenda itu pun lenyap begitu saja dari pandangan.