Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Catatan Sejarah
“Alisa… bangun!” Aku tergelak, mencoba membuka mata. Di depanku sudah berdiri guru sejarah. “Dasar!” umpatku dalam hati.Aku tertidur lagi saat jam pelajaran sejarah. Pasti Bu Ayu akan menyuruhku berdiri di luar kelas yang sunyi dan menyeramkan.“Alisa! Sekarang juga kamu berdiri di luar kelas sampai jam pelajaran saya selesai!” seru Bu Ayu dengan wajah galaknya. “M-maaf, Bu. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Berdirinya di depan saja, ya, Bu. Jangan di luar, seram,” kataku memelas. “Apanya yang seram? Ini masih siang, Alisa! Ayo berdiri sana! Jangan diulangi lagi!” ketus Bu Ayu.“Ahh… ini ketiga kalinya aku tertidur saat jam pelajaran Bu Ayu. Menurutku, sejarah itu sangat membosankan. Lagipula apa pentingnya mengungkit masa lalu,” gerutuku sembari berjalan menuju teras kelas.Detik demi detik berlalu, aku mulai bosan berdiri di sini. Keadaan memang siang, tapi suasananya selalu terlihat suram. Aku jadi merinding. Terlebih lokasi kelasku berada di belakang, jauh dari kelas-kelas lainnya.Aku memutuskan untuk mengirim sebuah chat kepada teman satu komunitasku, Meisya. Hari ini kelasnya sedang ada jadwal olahraga, barangkali ia mau menemaniku menghabiskan waktu pada menit-menit terburuk ini.Alisa: Mei, masih olahraga? Kantin kuy! 09.45Meisya: Sekarang? Oke, aku ke sana yaw! 09.48Sudah sekitar tiga puluh menit aku menunggu. Namun nihil, tidak ada tanda-tanda kedatangan Meisya. Aku memutuskan untuk pergi ke lapangan belakang, mencoba mencari tahu keberadaan Meisya.Ketika aku akan melangkah, tiba-tiba kakiku tidak bisa digerakkan. Tubuhku terasa membeku. Guguran salju berjatuhan mengenaiku. Aku melirik ke atas. Atap lorong kelasku berubah menjadi awan hitam yang kelam. Terdengar suara dentuman dari berbagai arah. Aku menggigil ketakutan.Belum sempat aku memahami keadaan ini, diriku terasa didorong dari ketinggian. Bruuukk! Lalu aku tersadar, berusaha bangun sekuat tenaga. Aku begitu kaget melihat diriku sendiri. Tubuhku dibalut oleh pakaian model kuno. Mataku menyaksikan pemandangan yang memilukan, tampak begitu nyata di hadapanku.Ini seperti keadaan kota yang mengalami perang dahsyat. Seluruh bangunannya porak-poranda. Juga terdapat beberapa tentara mengenakan baju zirah. Mereka berbisik-bisik tentang rencana penyerangan yang tidak kumengerti.Aku masih berdiri linglung saat tiba-tiba tanganku ditarik paksa. “Ara, apa yang kamu lakukan di tempat ini? Pergilah! Ini berbahaya!” ucapnya setengah berteriak. “Siapa? Aku bukan Ara. Aku Alisa,” kataku. “Kamu ini bilang apa, sih? Ini bukan saatnya bercanda!” serunya.Aku teringat sesuatu. Keadaan yang aku lihat tadi, seperti gambar perang di buku sejarah. Bu Ayu sedang mejelaskan latar belakang mengapa perang itu terjadi, lalu aku tertidur. Apakah aku masuk dalam sejarah?Seseorang itu bernama Elisa. Dia adalah penulis terkenal di zamannya. Penulis yang memenangkan Nobel Perdamaian atas karyanya yang menggebu terhadap perdamaian dunia. Bagaimana tadi dia memanggilku? Ara? Seingatku, Ara merupakan asisten Elisa yang turut andil dalam setiap tulisan hebat Elisa. Aku tidak percaya. Bagaimana mungkin? Jadi, aku sekarang memasuki tubuh Ara?Saat aku berusaha melengkapi potongan teka-teki ini, Elisa menghentikan langkahku. “Lihatlah! Sahabatku, Ara. Keadaan di kota kita semakin parah. Banyak penduduk tidak bersalah yang mati sia-sia karena perang saudara ini. Perang hanya akan membawa kesedihan, menurutku,” kata Elisa pilu.Hatiku terenyuh melihat keadaan para penduduk. Mereka benar-benar kasihan. Kejam sekali orang yang menyerukan perang itu. Elisa kemudian mengajakku ke sebuah rumah—menurutku itu rumahnya. Dari luar, rumah ini terlihat bergaya klasik dengan dua lantai lengkap bersama perabot antiknya.“Oke, Ara, perjalanan kita hari ini cukup sampai di sini. Silakan masuk dan istirahat yang cukup. Firasatku mengatakan besok akan ada petualangan yang lebih menantang!” ujarnya dengan tatapan penuh semangat. “Iya,” kataku. “Kenapa hari ini kamu banyak melamun? Hmm… ya… sudahlah. Mungkin kamu terlalu lelah. Selamat malam,” ujar Elisa diiringi senyum manisnya.Elisa pun menuju kamarnya yang kebetulan bersebelahan dengan kamar Ara. Sejauh ini, aku melihat bahwa Elisa memanglah seorang perempuan berjiwa mulia, baik dan ramah.Malam ini, aku tidak bisa tidur. Entah kenapa, bahkan kamar yang kutempati pun tidak buruk desainnya. Kuputuskan untuk menuju balkon saat ini juga. Menatap jutaan bintang beserta purnama yang indah. Seandainya pemandangan seperti ini juga muncul di permukaan bumi.Waktu menunjukkan pukul 23:30. Tiba-tiba perutku berbunyi, tanda bahwa aku mulai kelaparan. Sejak tadi aku belum makan atau minum apapun. Dengan langkah hati-hati, aku berjalan menyusuri rumah Elisa untuk mencari dapur. Saat kuyakin itu dapurnya, aku terkejut melihat Elisa.“Astaga! Aku kira tadi siapa, El,” kataku. “Maaf… maaf sudah membuatmu kaget. Kamu ngapain malam-malam ke dapur?” tanya Elisa. “Aku lapar, mau buat makanan. Kamu mau?” tanyaku sambil mulai mencari bahan untuk dimasak. “Tidak. Terimakasih,” kata Elisa sambil terus menatap bukunya. “Tapi, El, kamu ngapain masih baca buku? Nggak tidur?” tanyaku. “Jadi begini, Ra. Kamu mau nggak bantuin aku? Aku mau menulis sebuah buku tentang perdamaian. Supaya orang-orang sadar bahwa perang tidak ada gunanya. Perang hanya akan membawa kehancuran,” terangnya panjang lebar. “Lalu, apa yang bisa aku lakukan untukmu?” tanyaku. “Tolong bantu aku cari referensi. Pasti akan butuh banyak,” jawab Elisa.Esok harinya, aku membantu Elisa mencari referensi untuk tulisannya. Kami pergi ke perpustakaan kota. Setidaknya, beberapa bangunan di kota sebelah barat—termasuk rumah Elisa—masih layak untuk digunakan.Selama berminggu-minggu aku membantu Elisa menyelesaikan bukunya. Tepat pada minggu ketiga, buku itu selesai. Namun, ternyata perjuangan kami belum usai. Masalah datang dari pihak penerbit. Berhari-hari aku dan Elisa mencoba menjelaskan tentang manfaat buku itu. Hingga pada detik-detik kami hampir menyerah, telepon rumah berbunyi. Salah satu penerbit mau menerima buku Elisa. Kejadiannya berlangsung sangat cepat. Buku itu beserta penulisnya mendadak jadi perbincangan hangat.Tepat setahun setelah penerbitan, Elisa menerima Nobel Perdamaian. Tulisannya telah menyadarkan para pemimpin perang untuk memilih jalan damai.Sore ini, kami memutuskan untuk berbincang di balkon lantai dua. “Aku tidak menyangka bukunya akan sehebat ini,” kata Elisa sembari menoleh ke arahku. “Ini semua berkat bantuanmu, Ra,” imbuhnya. “Sebagai tanda terimakasih, aku mau memberimu sebuah cincin,” lanjut Elisa.Ketika Elisa mengenakan cincin itu padaku, aku merasakan tubuhku seperti ditarik ke dalam lubang yang sangat dalam dan gelap.Tiba-tiba, bruuukk! Aku terbangun. “Alisa! Bangun! Kamu ini, lagi-lagi tidur di kelas!” ucap Bu Ayu dengan nada tinggi. “Bu, bukannya saya tadi sedang di tempat kuno, terus ada perang-perangnya?” tanyaku setengah sadar. “Kamu ini mengigau ya? Cuci muka sana!” seru Bu Ayu.Saat di kamar mandi, aku merasa hal itu benar-benar terjadi. Tapi kenyataannya sekarang aku benar-benar ada di kelas, dunia nyata.Aku menyalakan kran dan mulai membasuh muka. Tanganku menengadah untuk mengambil air, dan ahhh…. aku hampir saja menjerit kencang. Cincin yang ada di jariku, persis dengan cincin yang diberikan Elisa.Aku bergegas kembali menuju kelas. Membuka buku paket sejarahku. Ada coretan bolpoin tinta merah tepat di halaman catatan perang.“Terimakasih telah membantu! Simpan baik-baik cincin perdamaian itu!” -ElisaJadi, apa maksud semua ini? Ataukah aku…
Peristiwa Semalam
Malam ini tak seperti biasanya, setelah makan malam majikan tuaku minta diajak keluar jalan jalan ke taman. Kuturuti permintaannya begitu saja tanpa banyak protes, kupikir mungkin ada yang sedang dirisaukannya sehingga dia ingin keluar untuk sekedar menjernihkan pikiran. Sudah dua hari ini kudapati dia lebih pendiam dan suka termenung.Sepanjang jalan kami sama sama membisu, padahal biasanya majikan tuaku banyak omong, menceritakan cerita yang sama yang entah sudah berapa puluh kali kudengar dari mulutnya. Kubiarkan dia sibuk dengan lamunannya sementara aku menikmati alunan lagu yang tersimpan dalam memory hpku melalui earphone. Lagu lagu itu mampu membuat langkahku terasa lebih ringan.Hampir sebagian besar waktuku kuhabiskan untuk menyusuri jalanan sambil mendorong majikan tua yang duduk di kursi roda. Bobo begitu aku biasa nemanggilnya. Bobo memang suka jalan jalan, dalam sehari bisa 3 sampai 4 kali kami keluar rumah.Aku merasa suasana malam ini begitu ganjil, kuamati lebih seksama keadaan disekitarku, baru kusadari sejak tadi tak kujumpai seorangpun berpapasan jalan denganku, tak ada satu kendaraanpun melaju membelah malam, kulihat jam di layar hp ku padahal waktu baru menunjukkan jam 20.30 masih terlalu sore untuk naik ke peraduan. Lagipula northpoin termasuk daerah padat penduduk, selalu ramai, tengah malam sekalipun tak akan sesepi malam ini.Belum juga hilang rasa heranku tiba-tiba saja kursi roda yang diduduki si mbah seperti melaju diatas jalan berbatu padahal jalanan didepanku rata. Aku berhenti ketika kudengar si mbah mulai berteriak teriak, wajahnya pucat pasi, tatapan matanya kosong, mulutnya terus meracau berkata kata dengan bahasa hokian, yang sama sekali tak kupahami maknanya, dan suara itu bukan suara mbah. Aku syok hal hal yang selama ini paling kutakuti yang hanya kusaksikan dilayar kaca, kini terpampang di depan mataku, menimpa orang terdekatku, si mbah kerasukan roh halus, dengan panik kutepuk tepuk wajahnya, kugoyang goyangkan tubuhnya berusaha mengembalikan kesadarannya, sambil mulutku tak henti membaca doa apa saja yang kubisa, aku ketakutan setengah mati, tak ada seorangpun yang bisa kumintai pertolongan, dan aku hanya bisa memeluknya erat ketika si mbah mulai meronta.Kuedarkan pandanganku berharap ada orang yang lewat, tiba tiba kulihat ada bayangan orang di gedung apartemen seberang jalan, dia berdiri dibalik tirai, di jendela lantai 7, sedang menatap kearahku, lalu dia menghilang dan lampu yang tadi menyala redup pun padam, gelap.Tiba-tiba tubuhku tersentak oleh kekuatan hebat, aku seperti baru terlepas dari sepasang lengan raksasa yang memeluku erat. Aku tersadar, ketika membuka mata sekelebat bayangan berlalu meninggalkanku, kudapati aku terbaring di ranjang kamarku. Kupaksa diriku untuk mengingat apa yang telah terjadi, kulihat jam dilayar hp ‘jam 03.00’ dini hari, ah rupanya aku mimpi buruk.Segera kuhampiri kamar si mbah, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Tapi si mbah sedang tertidur lelap. YA ALLAH mimpiku serasa begitu nyata, badanku masih pegal akibat kekuatan yang tak kasat mata yang memelukku erat, dan sekelebat bayangan itu aku benar benar melihatnya.Pagi ini sama seperti pagi-pagi sebelumnya, selesai sarapan kuantar si mbah ke taman untuk olah raga. Kuperlambat langkahku ketika kulihat kerumunan orang di depan apartemen yang muncul dalam mimpiku semalam, ada mobil ambulan, mobil pemadam kebakaran pun berjejer disana. Juga mobil mobil dari stasiun tv, para aparat keamanan sibuk menertibkan orang-orang yang menonton. Para wartawan pencari berita sibuk mengatur kamera, mencari posisi yang tepat untuk mengambil gambar. Dan dari bisik bisik yang kudengar dari orang-orang itu aku tau bahwa semalam ada seorang nenek yang gantung diri di lantai 7, dan yang gantung diri itu ternyata teman si mbah yang akhir akhir ini tak pernah lagi kujumpai di taman. Dia memang sering mengeluh kepada teman-temannya sesama lanjut usia kalau menantunya memperlakukan dia seperti pembantu, bahkan jatah bulanan dari pemerintah yang setiap bulan diterima pun dirampas oleh menantunya. Dia sering bilang lebih baik mati daripada hidup tak ada artinya. Aku yakin sekali itu dia, karena aku sempat melihat wajahnya menyembul dibalik selimut biru yang sempat tersingkap ketika petugas ambulance mengusung mayatnya.Segera saja kutinggalkan tempat itu dengan tergesa, aku hanya menjawab ‘tak tahu’ ketika si mbah bertanya siapa yang bunuh diri. Aku tak ingin membuatnya bersedih, jiwanya pasti terguncang.
Sosok yang Sedang Balas Dendam
Berita tentang pembunuhan di jalan yang menghubungkan antara desa Jetis dan desa Wringin semakin menyebar luas ke seluruh penghuni desa sekitar. Jalan itu memang sepi dan tidak pernah dilalui seorangpun jika malam tiba. Jika ada yang melewati jalan itu saat hari sudah gelap, pasti keesokan harinya jasadnya sudah tergeletak di ujung jalan dengan kondisi tidak sewajarnya. Kejadian seperti ini memang sudah sering terjadi.Kali ini korban pembunuhannya mati begitu mengenaskan, dengan kepala terpisah dari tubuhnya, biasanya hanya ada beberapa tusukan benda tajam atau bekas sayatan di seluruh tubuhnya. Mengerikan memang, hingga warga di sini pun jika malam tiba tidak akan ada yang melewati jalan itu.“Ben, kau tau? Pelaku pembunuhan itu bukanlah manusia, melainkan penunggu jalan itu yang dulu pernah menjadi korban perampokan, dan sampai saat ini si hantu itu terus saja membunuh siapapun yang melewati jalan itu kalau sudah malam, mungkin dia sedang membalas dendam.” Ikal sahabatku bercerita sambil sesekali memegang lehernya yang terasa merinding. Ya, kabar tentang siapa pelaku pembunuhannya memang sudah tersebar luas dan hampir semua warga mempercayainya. Sekitar 2 tahun yang lalu memang pernah ada tragedi perampokan di jalan itu, korbannya seorang perempuan, dia dirampok dan dibunuh dengan banyak luka tusukan di sekujur tubuhnya, dan bahkan tangan kanannya sampai terpisah dari tubuhnya.“Sudahlah Kal, aku penasaran siapa yang sudah menyebarkan rumor begitu, aku bahkan tidak percaya jika aku belum melihatnya sendiri, barangkali itu memang perbuatan manusia.” Aku bahkan rasanya tidak percaya dengan berita itu. “Jelas-jelas itu perbuatan makhluk ghoib Ben, Mbah Parja yang merupakan orang pintar di desa ini pun bilang kalau itu perbuatan penunggu jalan itu, makanya warga di sini percaya dan tidak ada yang berani melewati jalan itu jika malam tiba.” Jelas Ikal dengan nada suaranya agak meninggi, mungkin dia agak kesal kepadaku karena dari dulu hanya aku yang tidak percaya dengan mitos itu. Jika siang aku sering melewati jalan itu, tapi memang aku tidak pernah melewati ketika malam tiba. Sebagian orang pasti akan memilih memutari desa lain jika ingin ke desa seberang daripada harus melewati jalan itu, dan hingga kini walau siangpun jalan itu menjadi sepi.“Kal, aku mau pulang dulu, ini sudah jam 4 sore.” Rumah Ikal memang berada di desa Jetis, sedangkan rumahku berada di desa Wringin. Sebenarnya jarak rumah kami dekat, hanya terpaut jarak kurang lebih 500 meter saja jika melewati jalan mistis itu. Tapi jika harus memutar lewat desa lain menghindari jalan itu, jaraknya menjadi kurang lebih 1.5 km. “Ya, ini sudah sore Ben, tapi ingat jangan lewat jalan itu.” Ikal mengingatkanku, tapi aku memang berniat akan melewati jalan itu, toh ini masih sore, masih ada beberapa jam lagi hingga malam tiba, dan aku perkirakan tidak akan sampai 30 menit untuk sampai rumah. “Masih jam 4 Kal, kau tenang saja.” Jawabku “Beni, kubilang jangan.” Ucapnya lagi, kemudian aku hanya tersenyum menanggapinya sambil berjalan pulang.Suasana di jalan ini masih sama seperti hari biasanya jika aku melewatinya, Sepi. Baru jam 4 lebih 10 menit tapi suasananya sudah hampir seperti malam. Mendung, dan pohon pohon di sekitar jalan ini terlalu rimbun jadi nampak gelap. Aku merasakan ada air menetes di mukaku. “Ah, gerimis. Aku harus lebih cepat sampai di rumah sebelum hujan.” Begitu pikirku.Panjang jalan itu hanya sekitar 100 meter saja. Sampai di tengah jalan aku merasa ada seseorang yang memanggil namaku. Aku mengabaikannya. Tapi berulangkali memang seperti ada yang memanggil namaku. Ah, itu hanya perasaanku saja, pikirku.Beberapa langkah berjalan aku melihat sekelebat bayangan hitam melintas di depanku. Aku kaget. Kali ini aku merasa jantungku sudah berdebar tak karuan. Aku kemudian mempercepat laju langkahku, namun yang kudapati aku melihat sosok perempuan berdiri di depanku. Wajahnya hancur, noda darah terlihat jelas di pakaiannya. Disamping perempuan itu berdiri, tergeletak tangan yang berlumuran darah, dan aku lihat tangan kirinya memegang pisau yang ukurannya seperti pisau daging. Sosok itu mendekat kepadaku sambil mengacungkan pisaunya. Aku melotot, tubuhku kaku, dan bibirku bergetar hebat, untung melangkah mundur pun serasa ada yang memegangi kakiku.“Si..Siapa kau?” dengan sisa keberanianku aku melontarkan kalimat tak bermutu. Mulutku sudah mulai berkomat kamit membaca doa yang sekiranya aku bisa. Sosok di depanku kemudian menghilang, aku kemudian berlari agar lebih cepat sampai rumah.Beberapa meter lagi aku berhasil melewati jalan itu, tapi aku merasakan ada sesuatu menyentuh punggungku, saat kuraba ternyata ada pisau yang menancap di punggungku. Lama-lama aku merasa pandanganku mulai gelap, aku melihat sosok itu lagi di depanku membawa pisaunya lagi dan ia tancapkan di dadaku. Dan kini aku merasakan duniaku benar-benar gelap. Aku sudah mati.
Pembunuh Berantai
Sudah tiga hari terakhir ini, media cetak dan online mewartakan kasus pembunuhan berantai. Bermula tiga hari yang lalu, ditemukan dua sosok tidak bernyawa di dua lokasi yang berjauhan. Namun, yang menarik, ciri kedua mayat itu mirip; laki-laki, usia sekitar 30 tahun, dibunuh dengan dengan cara diracun, dan dibunuh bukan di lokasi tempat mayat itu ditemukan.Semula, polisi dan masyarakat mengira kemiripan ciri dari kedua mayat itu hanya kebetulan belaka. Ternyata, esoknya ditemukan kembali mayat dengan ciri yang sama. Kemudian kemarin, dua hari setelah ditemukan mayat pertama, ditemukan kembali dua mayat lagi, masih sama, dengan ciri-ciri yang mirip mayat sebelumnya.Sejak itulah, polisi dan masyarakat menyimpulkan, kelima mayat itu dibunuh oleh orang yang sama. Hebohlah kemudian masyarakat di kotaku, bahwa sekarang sedang berkeliaran pembunuh berantai. Seorang psikopat.Siang itu aku hendak kembali ke kantor setelah istirahat makan siang, ketika tiba-tiba di seberang jalan terlihat Toni. Aku tidak mungkin salah, dia pasti Toni teman SMA, walaupun sudah berpisah sejak lulus SMA. Sepuluh tahun yang lalu.Aku kemudian mengejarnya. “Toni! Hey Toni,” panggilku seraya menghampirinya. “Kamu Toni, kan? SMA 4 Bandung!” Dia sedikit kaget. “Andi? Kau kah Andi?” tanyanya gugup. “Iya! Masa kau lupa sama teman sekelas.” “Bukan begitu, ga ngira ketemu kamu di sini.” “Aku memang kerja di sini. Sudah tiga tahun aku tinggal di sini. Aku juga kaget melihatmu di sini. Kamu kok ada di sini?” tanyaku tak kalah kaget. “Aku sedang ada riset. Aku baru lima hari di sini,” jelas Toni. “Riset? Riset apa, emang kamu kerja di mana?” tanyaku penasaran. “Bagaimana kalau kita ketemu lagi nanti? Sekarang aku lagi buru-buru.” “Oke, aku juga harus sudah masuk kantor. Bagaimana kalau jam enam nanti?” pintaku. “Oke, di mana?” “Di rumahku saja.” Jawabku seraya menyerahkan kartu nama. “Oke. Sampai nanti.”Pukul enam lewat, Toni memenuhi janjinya. “Kamu tinggal sendiri?” tanyanya setelah kupersilahkan duduk. “Ya. Istri dan anakku masih di Bandung. Nantilah, kalau sudah punya rumah, aku boyong ke sini.” “Jadi di sini kamu nge-kost?” “Ya … begitulah. Kamu sendiri, riset apa yang mengharuskanmu datang ke kota kecil ini?” Toni tidak segera menjawab. Dia sedikit gugup. Terlihat saat mengambil gelas dan minum. Seolah itu untuk menutup kegugupannya.“Aku kerja di media online,” jawabnya setelah meletakkan gelas. Toni kemudian menyebutkan nama sebuah media online. “Hobimu nulis di majalah dinding rupanya kau teruskan, ya?” “Ya, aku bertugas di bagian investigasi. Rubrik kriminal. Sudah hampir empat tahun aku jadi reporter kasus-kasus kriminal.” “Wow, menarik kayaknya.” “Awalnya iya. Setahun dua tahun aku menikmatinya. Beberapa kasus aku terlibat menyelidikinya bersama polisi. Tapi lama kelamaan bosan juga.” “Lalu?” tanyaku penasaran dengan ceritanya. “Aku tadinya mau mengundurkan diri. Tapi bosku menantangku untuk menjadi penulis,” lanjutnya. “Penulis? Apa bedanya?” tanyaku lagi. “Maksudnya menulis fiksi. Bosku menantangku untuk menulis cerita bersambung di mediaku. Kalau ceritaku nanti banyak yang ‘read’, ratingnya tinggi, aku akan mendapat bonus tambahan yang lebih besar dari sekedar meliput kasus.” “Oh ya? Lalu, kau sudah mulai nulis ceritanya?” “Sudah! Sudah jalan 12 chapter. Sampai saat ini yang ‘read’ lumayan. Tapi aku belum puas. Aku harus menulis cerita yang betul-betul mirip dengan kenyataan.” “Ooh … jadi itu alasan kamu sedang riset?” tanyaku. “Ngomong-ngomong kamu nulis cerita tentang apa?” Aku makin tertarik dan penasaran.“Pembunuhan!” jawabnya singkat. “Pembunuhan?” “Ya. Tapi tidak seperti pembunuhan yang aku temui dalam kasus-kasus selama ini. Pembunuhan dalam ceritaku ini penuh misteri. Sampai-sampai polisi tidak bisa mengungkap kasusnya, walaupun korban sudah jatuh sembilan orang.” “Sembilan?” tanyaku kaget, “Berarti itu pembunuhan berantai?” “Ya. Pembunuhan berantai sangat jarang terjadi. Bahkan selama aku meliput kasus pembunuhan, perasaan belum pernah terjadi.” Toni terlihat bersemangat menjelaskannya. “Pembaca harus menikmati cerita yang berbeda. Yang lain daripada yang lain.”“Lalu, riset apa yang kamu kerjakan, sampai harus jauh ke sini?” tanyaku memotong penjelasannya. Toni terbatuk-batuk, terlihat gugup lagi. Tak menyangka kupotong dengan pertanyaan itu. Aku pun merasa aneh dengan perubahan sikapnya yang mendadak itu. Tapi keanehanku terganggu saat telepon berdering. Aku pun bangkit, setelah memberi kode pada Toni untuk minta izin untuk menerima telepon. Aku hampiri gagang telepon di atas kulkas. Rupanya dari kantor, mengkonfirmasi beberapa pekerjaan tadi siang.Aku kembali menghampiri Toni. Dia sedang menutup tas tangannya saat aku duduk kembali. Dia pun sudah tidak terlihat gugup lagi. “Pertanyaanku belum dijawab ya? Jadi, riset apa?” tanyaku Kembali. “Yaa … riset yang bisa mendukung jalan ceritaku,” Toni mengambil gelas dan meminumnya. Aku pun turut mengambil gelasku dan minum. Lalu lanjutnya, setelah meletakkan gelasnya, “Supaya aku sebagai penulis bisa lebih menjiwai.” “Maksudmu?” Aku belum mengerti maksud dari riset yang dia jelaskan.Toni tidak menjawab, dia malah minum lagi. Aku pun jadi terbawa, kuminum lagi minumanku. Namun, setelah tegukan ketiga kepalaku pusing. Pandanganku kabur. Toni terlihat senyum, lebih tepat menyeringai, saat semakin kabur bayangan wajahnya di mataku. Sampai kemudian semua gelap.
Tukang Kebun
Pagi ini, Ian memandang halaman rumahnya, tepatnya menatap tukang kebun asing yang sibuk merapikan tanaman hias disana.“Bukankah seharusnya Tuan Maden yang membersihkan kebun ini? Kenapa nenek memanggil tukang kebun lain?” tanyanya. “Yah, tidak biasanya. Maden tak kunjung datang. Aku tidak tahan melihat halaman ini penuh dengan tanaman yang tak beraturan, jadi kupanggil saja orang lain.” jelas sang nenek yang tengah sibuk membelai kucing putih di pangkuannya. Ian hanya mengangguk-angguk.Tak lama terdengar suara langkah sepatu di belakang mereka berdua. Nampak seorang perempuan muda menenteng tas kecil, “Aku akan pergi ke perpustakaan untuk beberapa menit, kau ikut, Ian?” tawarnya. Sekali lagi, Ian hanya mengangguk menanggapi perempuan itu, kakaknya. “Pastikan kau membawa makanan kucing saat pulang nanti, Elisa!” pinta neneknya. “Tentu!” balas mereka berdua bersamaan.Cuaca cukup sejuk pagi ini, menjelang siang, namun tak begitu banyak orang memenuhi jalanan. Ian berjalan sembari menenteng karton pembungkus berisi makanan kucing, sementara Elisa mendekap beberapa buku yang ia idamkan dari perpustakaan tadi. “Akhirnya aku bisa meminjam buku ini setelah berminggu-minggu!” ujar Elisa sembari tertawa kecil. “Ya, ya. Kau sudah mengatakannya, nona kutu buku.” goda Ian pada kakaknya.Mereka terus berjalan, hingga mata Ian menangkap sesosok gemuk yang ia kenal tengah duduk sendirian di kursi sebuah taman, “Tuan Maden!” Tuan Maden, si tukang kebun andalan mereka. Orang yang Ian panggil menoleh dan tersenyum sambil melambaikan tangannya, mengisyaratkan mereka berdua agar mendekat. “Hei, kalian,” sapa pria gemuk itu.“Kenapa anda tidak datang pagi ini? Nenek menunggumu tadi,” tanya Elisa. Si tukang kebun itu tersenyum dan menjawab, “Maaf, aku sungguh minta maaf karena tidak bisa membersihkan halaman kalian. Aku benar-benar sedang tidak bisa pergi.” “Tidak bisa pergi? Tapi anda pergi menuju taman ini.” tanggap Ian sembari menatap pria berkaos putih dan berompi coklat usang itu. “Ya, karena aku harus mengurus beberapa urusan sebelum terlambat, agar aku bisa merasa tenang.” jelas Maden santai, sambil menyisir rambut berubannya. Elisa menatap pria itu dengan sedikit simpati. “Anda memerlukan bantuan untuk urusan ini?” tanya Elisa. Maden nampak berpikir sejenak, dan dengan tenang mengatakan, “Aku tak bisa mengabaikan bantuan kalian,”“Bisakah kalian pergi ke rumahku? Aku ingin kalian mengambil rompi coklatku dan sebuah botol berisi pil.” tanyanya. Ian sedikit memiringkan kepalanya, “Ada rompi lain? Kukira anda hanya memiliki satu rompi,” ujarnya sambil menunjuk rompi coklat yang dikenakan pria itu, yang mereka tahu, Tuan Maden hanya memiliki sebuah rompi coklat kesayangan. Yeah, sudah lama, mereka saling mengenal dengan cukup baik, hingga mereka hampir bisa mengerti kebiasaan satu sama lain. “Dan botol pil? Seperti apa bentuknya, warnanya?” tanya Elisa. Wajah Maden nampak lega. “Botol putih. Hanya ada satu botol pil di rumahku, aku meletakannya diatas televisi.” jelas Tuan Maden. “Baiklah. Tapi untuk apa?” Ian penasaran. “Sekedar untuk berjaga-jaga. Aku sedang menunggu teman lamaku disini, akan aneh jika ia tiba dan aku malah tidak ada disini. Karena itu aku minta tolong pada kalian. Oh ya, masuk saja ke kamarku untuk mengambil rompi miliku.” terang pria itu.Tak lama Maden menepuk dahinya, mengusap wajahnya seperti orang bingung, “Astaga, kenapa aku tidak mengunci pintu rumahku tadi?!” sesalnya. “Hah? Anda lupa untuk mengunci pintu? Baiklah, baik. Kami akan segera kesana.” tegas Elisa. Si tukang kebun itu mengangguk lega, “Baiklah, aku menunggu.”Elisa dan Ian berjalan beriringan dengan sedikit cepat, melakukan apa yang diminta Tuan Maden. “Pil? Aku tidak tahu jika Tuan Maden sakit.” ucap Ian memecah keheningan. “Tidak ada yang tahu diantara kita.” jawab Elisa, ia tampak berpikir.Mereka mendekat ke arah sebuah rumah yang usianya nampak cukup tua, sebuah papan kayu kecil bertuliskan ‘Maden’ menggantung di pintunya. Sudah lebih dari lima kali mereka mampir ke rumah ini. Cahaya matahari sedikit menyinari teras.Hanya ada sebuah rumah yang menjadi tetangga Maden, jaraknya tidak begitu dekat. Tidak ada siapapun, tidak ada aktivitas apapun di sekitarnya. Elisa kemudian mendahului Ian. Dengan perlahan, perempuan itu membuka pintunya. Elise terkekeh, “Hei, benar-benar tidak dikunci.” Kakak beradik itu memasuki rumah Maden.Beberapa furnitur sederhana tertata rapi di dalamnya, terdapat jam menunjukkan 10.05 AM. Ian meletakkan makanan kucing yang ia bawa tadi diatas meja kecil.Tak lama Ian melirik sebuah televisi yang ada di depan sebuah sofa dan meja tua, matanya menangkap sesuatu yang ia cari. “Ah, ini pilnya!” ujarnya. Ian menggenggam botol putih berisi pil itu. “Aspirin” gumam Ian membaca tulisan yang tertera di botol itu.“Kita ambil rompinya,” ucap Elisa sedikit tergesa. Ia masih mendekap buku-bukunya, seolah buku itu hanya akan aman jika berada di tangannya. Mereka berjalan lebih ke dalam, mendekati sebuah pintu kamar. Elise memegang knop pintunya, sambil menoleh kearah Ian. “Hanya ada satu kamar yang digunakan, kan? Akan lebih mudah untuk kita menemukan rompi–” “AAAHH!” Elisa dan Ian berteriak. Buku-buku di tangan Elisa berjatuhan.Teriakan keluar begitu saja setelah Elisa membuka pintu kamar. Nafas mereka memburu, kaki mereka bergetar. “Astaga!” jerit Elisa sambil menyembunyikan wajahnya di pundak adik laki-lakinya. Mata Ian melebar, tak percaya apa yang mereka lihat.Di dalam kamar itu, di depan mereka, tergeletak seorang pria gemuk beruban, tergeletak dengan kaos putih dan rompi coklat usang terpasang di tubuhnya pria itu, pria yang mereka kenal, Maden. “Bagaimana bisa?!” bingung Ian. Ia baru saja berjumpa dengan pria itu, dan sekarang apa?! Ia malah ditemukan tergeletak di rumahnya?“T- Tuan Maden? Tuan?” Ian berjongkok di samping tubuh yang tergeletak, ia menekan nadi Maden, tak ada detak nadi. Ia lalu meletakkan jari tangannya di bawah hidung pria itu, tak ada hembusan napas, terakhir, Ian tak merasakan detak jantung Maden. Kulit pria itu dingin.“Di-dia… bagaimana?” tanya Elisa dengan suara bergetar. Ian hanya menggeleng, “Aku tak bisa merasakan napas dan detak jantungnya, tubuhnya mendingin.”Elisa memberanikan diri untuk mendekat, sebuah benda menarik perhatiannya. Sebuah pisau. Pisau itu tergeletak tepat di samping tangan dingin Maden. “Apa-apaan pisau ini? Ti- tidak ada luka apapun di tubuh Tuan Maden!” panik perempuan itu. “Ini bukan pembunuhan, kan?” gumam Ian.Tak lama, terdengar suara langkah kaki masuk, disusul teriakan seseorang memanggil, “Maden! Kenapa kau mengabaikan ketukkanku? Aku kembali! Aku akan mengambil barangku—” ucap seorang pria terputus, matanya melebar, mulutnya menganga saat melihat dua anak muda menatapnya dengan kaget sambil berjongkok di dekat sebuah tubuh yang tergeletak.“Apa yang kalian lakukan?!”—Beberapa orang berseragam menggotong tubuh Maden dan membaringkannya diatas stretcher. Mereka memasukannya ke dalam mobil putih bertuliskan ‘ambulance’.Tampak dua orang polisi bercakap-cakap, berdiskusi rumah itu. Semua dimulai dari hal sederhana, dimulai ketika Maden meminta tolong pada mereka.“Apakah polisi itu akan menganggap kami gila? Maksudku, kami baru saja bertemu dengan Tuan Maden, atau tepatnya hantu Tuan Maden? Dan tidak lama kami menemukannya dalam keadaan tak bernyawa, dengan pakaian yang sama!” lenguh Ian pada pria yang ‘memergoki’ mereka berdua tadi.Kejadian yang sulit diterima akal baru saja terjadi. Elisa yang berdiri di samping Ian masih menunjukkan ekspresi kosongnya. “Tadi… anda bilang akhir-akhir ini Tuan Maden kerap mengeluh karena melihat sesuatu, Tuan Jackson?” tanya Elisa perlahan pada pria tadi, Jackson, tetangga Maden.Pria itu menghela napas sejenak dan menjawab, “Ya, begitulah. Maden bercerita padaku, ia kerap melihat orang lain di dalam rumahnya. Aku kesini hampir setiap hari, dan akhir-akhir ini ia kerap berbicara aneh! Dia berteriak, ‘hei, ada orang di sampingmu! Orang jahat!’. Kau tahu? Maden mengatakan itu sambil melemparkan sebuah vas ke arah sampingku, entah apa yang menjadi sasarannya. Hah, itu membuatku takut,” jelas Jackson pelan. “Mungkinkah dia mengalami halusinasi? Sebab dia semakin khawatir dengan kesehatannya, hingga ia kesulitan untuk tidur karena memikirkan kondisinya.” sambungnya.Elisa dan Ian terdiam, memikirkan ucapan pria itu. “Tentang kesehatan Tuan Maden… anda bilang dia memiliki penyakit serangan jantung?” tanya Ian, hampir berbisik. “Karena kami menemukan sebotol pil aspirin di dalam, dan seingatku aspirin digunakan untuk menghambat penggumpalan darah yang bisa mencegah serangan jantung.” sambung Elisa.Jackson menghela napas panjang, tak habis pikir dengan kejadian yang terjadi, “Belum lama ini Maden memang dinyatakan memiliki serangan jantung.” ungkapnya. “Omong-omong, aku minta maaf karena berteriak pada kalian tadi. Aku terlalu kaget, aku baru saja kembali dari dua hari urusan bisnis dan malah disambut dengan Maden yang tak bernyawa.” sesal Jackson pada dua anak muda di depannya. Ian dan Elisa mengangguk, “Tidak masalah, siapa juga yang tidak akan terkejut?”Mereka kembali hening, tak lama, kakak beradik itu saling bertukar tatapan. Teringat akan pisau dan aspirin, obat serangan jantung. “Mungkinkah Tuan Maden mengalami halusinasi karena kesulitan tidur?” tanggap Ian. “Dan pisau itu, bisa saja ia gunakan untuk menyerang seseorang yang menjadi halusinasinya,” kini Elisa yang mulai tenang pun ikut bersuara. “Dan saat akan melemparkan pisau ke arah sosok halusinasinya, Tuan Maden mengalami serangan jantung. Karena itulah tak ada luka apapun di tubuhnya!” tegasnya.“Bisakah begitu?”Pambajeng L. Klaten, Jawa Tengah.
Di Bawah Pohon
Dewi Kematian Lilith adalah sesosok dewi yang ditakuti bahkan oleh para dewa lain sekalipun. Tidak ada yang berani mendekatinya, apalagi berbicara dengannya. Rumor yang beredar mengatakan bahwa ia selalu mengurung diri di alamnya, berkutat dengan hal-hal gila. Penghuni alam dewa pun sering memperbincangkan Dewi Lilith, lebih tepatnya menggosipkan dewi tersebut.Namun semuanya berubah ketika mereka mengetahui fakta bahwa Dewi Lilith mulai mengunjungi Pohon Yggdrasil, pohon suci di mana Dewa Kehidupan Aleister berada. Mereka mulai beranggapan jika Dewi Lilith ingin membunuh Dewa Aleister, mengingat keduanya adalah sifat yang bertolak belakang.Tak ada yang tahu, kalau kenyataannya Lilith ingin menemui Aleister hanya karena rasa cintanya. Entah sudah berapa lama ia menyimpan rasa untuk Sang Dewa Kehidupan, tetapi Aleister mencintai seluruh makhluk hidup tanpa terkecuali. Lilith ingin perhatian Aleister tertuju hanya padanya.“Aleister,” Lilith menghampiri Aleister yang tengah bersandar di Pohon Yggdrasil. Suara Aleister terdengar samar di kepala Lilith, “Oh, Lilith. Kamu mengunjungiku lagi, terima kasih.” Lilith duduk di samping dewa itu, lalu mendekatkan wajahnya, “Aleister, ceritakan lagi tentang kisah manusia!” “Baiklah,” jawab Aleister menyanggupi.Selama bercerita, raga Aleister yang terbalut busana putih dan cahaya memilaukan tak pernah satu kali pun berubah dari posisi awalnya. Matanya tetap terpejam seperti tidur. Ia hanya bisa berkomunikasi antar pikiran, karena untuk membuka mulut saja ia tak bisa.“Dan keduanya berakhir bahagia… selesai,” Aleister menyudahi ceritanya.Lilith tersenyum, “Hei, apakah kita berdua bisa menjadi seperti kekasih yang ada di kisah itu?” Sang Dewa Kehidupan menjawab, “Tidak bisa, Lilith. Jika kau dan aku tak ada, maka siapa yang akan mengurus siklus kehidupan?” “Tentu akan ada pengganti kita, para dewa baru,” ujar Lilith dengan santai. “Lagipula, memangnya kamu tak bosan hanya berdiam diri berdekade-dekade lamanya di pohon demi menjaga keseimbangan kehidupan di dunia, melindungi mereka?” “Ini merupakan tugasku. Aku tak akan bergerak dari tempat ini sebelum waktunya.” “Kamu butuh kebebasan, Aleister.” “Aku telah merelakan kebebasanku, Lilith.” Lilith mendengar kesedihan di suara Aleister, namun dewa tersebut menutupinya dengan nada yang tegar.“Kau tahu, Aleister? Jiwa-jiwa makhluk yang telah kau besarkan, kehidupan mereka semuanya berakhir di dalamku. Kamu harusnya membenciku karena aku memakan hasil jerih payahmu.” “Aku tak bisa membencimu. Kau hanya melakukan apa yang menjadi tugasmu,” jawab Aleister. Lilith membelai surai putih sang dewa dengan hati-hati, kemudian berbisik di dekat telinganya, “Aku akan memberikanmu kebebasan. Tunggu saja, Aleister.”Tepat setelah pertemuan itu, Lilith tak pernah mengunjunginya lagi. Sekian abad Aleister menunggu, ia tak pernah melihat sosoknya. Ingin mencari, ia tak bisa. Ingin bertanya kepada dewa-dewi lain, tetapi tak ada yang menghampiri pohonnya. Di saat itulah ia menyadari bahwa kehidupan di dunia telah mengalami perubahan. Manusia mulai mempelajari sihir tabu yang membuat makhluk hidup abadi; tak bisa mati. Siklus kehidupan berhenti, tak ada yang lahir, tak ada yang mati. Bukannya seimbang, malah menjadi stagnan.Aleister tak tahu apa yang telah terjadi. Tiba-tiba saja ia bisa menggerakkan tubuhnya. Pohonnya pun menggugurkan daunnya, lalu tumbang perlahan. Sang dewa bangkit berdiri, menghampiri para dewa lain untuk mencari informasi. Ah, tidak. Ia harus mencari Lilith terlebih dahulu.“Lilith, kau di mana, Lilith?!” Aleister melihat kabut gelap yang tebal dan diterjangnya kabut itu. Jika benar kabut itu adalah jalan masuk ke alam milik Lilith, maka–“Lilith!” Betapa terkejutnya Aleister kala mendapati dewi tersebut mulai mengabur sosoknya, kakinya bahkan sudah menghilang. “Oh, Aleister…” lirih dewi berparas jelita itu. “Apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba–?” Aleister berniat membanjirinya dengan pertanyaan, namun Lilith meraih wajahnya dengan kedua tangan, mengamati dengan seksama wajah sang dewa yang biasanya tertidur. “Aku sudah janji, ‘kan?” “Janji apa–” “Aah, lihatlah. Kamu bahkan lebih tampan dari biasanya, Aleister. Kamu juga sudah bisa bergerak bebas…” Aleister menggenggam pergelangan tangan Lilith, “Bukan ini yang kuinginkan, Lilith,” ucapnya parau. Lilith menggeleng, “Kamu membutuhkannya.”Genggaman Aleister terlepas karena tangan dewi tersebut telah menghilang sampai ke siku. Ia pun buru-buru mendekap raganya, dan mendeklarasikan, “Aku akan ikut denganmu, hilang menjadi ketiadaan, kekosongan. Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Sebab yang kuinginkan hanyalah bersamamu, Lilith.” “Aleister, jangan! Kalau kamu hilang, semua kehidupan di dunia akan terulang kembali dari awal! Semua usahaku, jerih payahku untuk memberimu kebeba–” Aleister mengeratkan dekapannya dan membelai helaian hitam milik sang dewi, lalu berkata, “Selama ini kamu memakan hasil jerih payahku, tak bolehkah sekali saja aku yang berada di posisimu?” Tanyanya sambil terkekeh. Tubuhnya sendiri juga sudah mulai menghilang. Lilith mau tak mau tertawa mendengar balasannya. Di saat yang bersamaan, ia meneteskan air mata kebahagiaan.Mungkin inikah akhir yang terbaik?Lilith sempat berpikir apakah mereka bisa bereinkarnasi suatu saat, bertemu kembali dan menjalin hubungan satu sama lain. Seperti kisah-kisah manusia yang sering diceritakan Aleister.Keduanya pun menghilang bersama-sama, yang tertinggal hanyalah setetes air mata Lilith yang jatuh.—“Hei, lihat! Pohon ini besar sekali, seperti mengeluarkan aura-aura pohon mistik saja,” ucap seorang gadis kepada temannya. “Iya, sepertinya perjalanan kita ke sini untuk melihat pohon besar ini tidak sia-sia,” balas gadis yang lain.“Oh, ya, kenapa waktu itu kamu tiba-tiba bilang ingin pergi ke sini, sih? Padahal bisa tunggu liburan panjang.” “Hmm, entah kenapa aku tertarik saja untuk mengunjunginya. Rasanya seperti nostalgia.” “Alasanmu terdengar agak menyeramkan.” “Ya, ya! Lupakan saja apa yang kukatakan tadi, ayo kita foto-foto!”Kedua gadis tersebut pun menyiapkan peralatan kameranya. Ketika si gadis berambut hitam beranjak berdiri setelah mengatur kamera, tak sengaja ia menubruk seseorang yang tengah berjalan di belakangnya. “Aduh, maaf! Kau tidak apa-apa?” “Ah, aku juga salah karena tidak lihat-lihat saat berjalan, maaf.”Gadis itu kemudian diam terpaku di hadapan lelaki yang terasa familier baginya. Sang lelaki pun juga merasakan hal yang sama.“La, ayo sini foto!” Panggil teman gadis tersebut. “Iya, sebentar!” Ia pun bergegas menghampiri temannya, sebelum lelaki itu menggenggam tangannya. “Maaf kalau aku tidak sopan, tapi boleh aku tahu namamu? Namaku Allistor.” “Eh, um, namaku Lyla. Salam kenal. Aku harus pergi dulu, temanku memanggil!” Allistor tersenyum sembari melepaskan genggamannya, “Maaf sudah mengganggumu,” kemudian ia berbalik dan menatap pohon besar itu dengan tatapan sendu.
Virginia McQueen
Pada era 80-an, kasus kriminal dan penindasan serta politik memang sedang berapi-api. Gadis 16 tahun bernama Virginia ini hidup dalam bayang-bayang besar kakak laki-lakinya. Louis McQueen memang terkenal karena ia banyak sekali berpartisipasi dan memecahkan banyak kasus dengan caranya yang unik, selain itu fisik dan karakternya benar-benar membantu dalam ketenarannya ini. Namun, sejak kecil Virginia sudah jarang sekali bertemu dengan Louis. Louis sudah ditempatkan di sekolah yang khusus untuk orang-orang yang nantinya akan bertatap langsung dengan kasus-kasus kriminal.Ibu dari Louis dan Virginia, Meghan McQueen juga mengajari Louis banyak hal seperti Floriography (bahasa bunga), teka-teki huruf, sains, bela diri, seni berpedang dan lain sebagainya yang memang berkaitan dengan hal yang berbau “permainan/teka-teki detektif”. Tidak hanya Louis, Virginia juga diajarkan hal seperti itu oleh ibunya. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, Virginia mulai jarang melihat ibunya. Meghan terkadang suka sekali menghilang tanpa meninggalkan surat sehingga Virginia harus menunggu bahkan mencari ibunya, namun dengan kerumunan kota yang sedikit beresiko, maka Virginia tidak bisa berbuat apa-apa.Suatu pagi Virginia bangun dari tidurnya yang lelap, berlarian kesana kemari dengan senyum yang terlukis di bibirnya. Dengan antusias, ia berteriak memanggil ibunya untuk ikut berkumpul bersamanya di ruang keluarga. Namun, hasilnya nihil. Rumah terasa sangat kosong, Virginia sudah menduga hal ini akan terjadi. Adakah seorang ibu yang tega meninggalkan seorang anak sendirian tepat pada hari ulang tahun anaknya? Meghan meninggalkan rumah tanpa kabar lagi.Virginia kali ini benar-benar bertekad kuat untuk mencari ibunya, karena dia pikir tidak mungkin dia merayakan ulang tahunnya sendirian. Akhirnya dia mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke tengah kota. Virginia membawa buku floriografi, uang, dan barang yang menurutnya penting untuk dibawa selama perjalanan. Tidak lupa dengan dua helai roti sebagai bekal dalam perjalanan. Dan disinilah pertualangan Virginia dimulai.Virginia pergi dari rumah untuk mencari ibunya. Terlebih, diam-diam ia mendapat beberapa petunjuk penting dari Meghan. Kali ini Virginia tahu persis ibunya berada di tengah perkotaan, untuk sampai kesana Virginia harus melewati perjalanan yang panjang. Mau tidak mau ia harus naik kereta. Untuk masuk ke dalam kereta, Virginia wajib membeli tiket. Namun untuk membeli tiket ia harus mengeluarkan uang sebesar $55,43 yang tentu saja ia tidak akan mengeluarkan uang hanya untuk hal sepele seperti ini maka Virginia menemukan cara lain untuk masuk ke dalam kereta yaitu dengan cara menyamar sebagai seorang kakek tua dari seorang wanita muda. Padahal kakek dari wanita muda ini sebenarnya sedang membeli makanan untuk bekal dalam perjalanan, dengan segala akal pintarnya Virginia menyamar dan tanpa disadari mencuri tiket dari seorang kakek tua tadi dan memanipulasi seorang wanita muda.Ketika ia berhasil untuk masuk ke dalam kereta, Virginia berkenalan dengan Gomez, pemuda bangsawan yang kabur dari rumah dengan bersembunyi di tas. Awalnya Virginia hanya melihat sebuah tas besar yang diletakkan tepat di hadapannya tanpa sang pemilik. Virginia adalah orang yang selalu penasaran, namun ia tau membuka sesuatu yang memang bukan miliknya adalah perlakuan yang tidak baik. Dengan segala pergerakan yang ada di dalam tas itu membuat Virginia semakin penasaran dan juga sedikit waspada, maka ia membuka tas itu dan disanalah Gomez meringkuk didalam tas. Tak disangka, pertemuan itu menuntun Virginia pada kasus besar yang berkaitan dengan parlemen Inggris hingga membuat nyawa keduanya terancam.
Lana
Purnama bergelayut di petala langit menghias malam. Bersama jutaan gemintang seperti lentera dalam gua yang dikelilingi kunang-kunang. Semilir angin mendepak dedaun rindang. Satu-dua daun berjatuhan ke jalan tanah tak terurus. Mungkin, sudah lama tidak ada kaki yang menapak di sini. Jalan tersebut tertutup banyak daun.Pelan, langkah kaki terus berjalan. Hati-hati, dia yang sedari tadi berjalan kaki tak jua lelah mencari. Dia menghitung, sudah hampir tiga jam perjalanan, belum juga menemukan satu tanda. Pikirnya, mungkin purnama hari ini akan berakhir gagal seperti purnama sebelumnya.Daun kering jatuh kehadapannya. Perasaannya mengatakan, ada yang aneh di daun itu. Segera ia melangkah cepat ke arah daun.—Trek! Satu ranting terkena pijakan. Sosok dibalik jubah terbangun. Dia yang di atas pohon segera turun. Matanya menerawang sekitar. Aroma manusia menusuk indra penciumnya. “Ada yang datang,” gumamnya pelan. Cepat ia menyuruh anak buahnya untuk memeriksa.—Ada satu kisah masyhur di kalangan penyihir, tentang bagaimana seorang penyihir mencintai manusia. Kisah itu selalu berakhir tragis merengut nyawa.Di semenanjung Roma, terdapat aliansi rahasia yang tidak diketahui manusia. Di hutan belantara, bangunan megah berdiri dengan arsitektur kuno bangsa Romawi. Masih berdinding dan lantai kayu. Mereka menamakannya Akademi sihir yang dihuni puluhan pelajar.Zazlina manusia yang tertarik akan ilmu sihir. Perjalanan panjangnya membawa dia ke akademi sihir. Hampir sepuluh tahun dia belajar di sana.Bukan hanya itu, perjalanan Zazlina membawa dia bertemu dengan Tarmiel Muktah, keturunan penyihir dari negeri antah-berantah. Mereka saling mengenal, bercerita, hingga buih-buih cinta mendekap keduanya. Ini sebuah masalah besar, sudah banyak peringatan untuk mereka. Tapi, cinta adalah cinta. Selalu sempurna dengan ketidak sempurnaannya. Cinta membuat ragu jadi keyakinan yang kuat. Rela menepis badai salju, bersedia berperang dengan semua yang ada. Mereka tetap menikah. Dan ketika dikaruniai satu putra, mereka berdua menghilang.—Senja sudah dirajut mega pertanda malam hari telah tiba. Lampu-lampu bar milik Hugraid menyala terang. Di sebelah kanan pintu bar itu, dua obor yang bersilang mati. Tandanya tidak ada minuman yang bisa dibeli. Semuanya telah habis.Khiim berjalan menuju pintu. Pikirnya, Hugraid lupa menyalakan lampu obor itu. Secara, malam baru saja tiba tidak mungkin minuman habis tidak tersedia.“Hai, Hugraid,” sapa Khiim setelah membuka pintu, “Apa kabar?” “Baik. Selalu baik, Khiim,” jawab Hugraid sembari merapikan gelas-gelas bambu. “Habis?” “Kau tidak lihat? Obornya sudah mati?” “Kenapa?” “Perempuan itu memborongnya,” tunjuk Hugraid kepada seorang wanita yang duduk di meja paling pojok. Khiim mengikuti arah telunjuk Hugraid. “Astaga. Aku sangat ingin minum vodka. Mungkin aku akan memintanya satu botol.” “Jangan,” bisik Hugraid. “Kenapa?” “Kubilang jangan.” “Jangan khawatir, Hugraid.” Khiim berjalan menuju tempat wanita itu. Beberapa botol sudah berserakan di lantai.“Hmm. Maaf, Nona. Aku sangat ingin minum. Bolehkah minta botol vodka. Atau membelinya,” kata Khiim sesampainya di hadapan wanita itu. “Ambil saja.” Wanita itu merapikan posisi duduknya tanpa melihat ke arah Khiim. Khiim sedikit heran. Bagaimana wanita ini tidak mabuk setelah meminum banyak bir. Khiim mengambil satu botol di meja. “Terima kasih.” “Ya.”“Boleh duduk?” “Ya.” Khiim duduk berhadapan terhijab meja. Di tempatnya, Hugraid bersiap dengan segala kemungkinan. Mengumpulkan tenaga, siap merapalkan mantra. Jaga-jaga jika perempuan itu menyerang Khiim. Sorot matanya teliti memerhatikan dengan tangan saling mengepal.“Baik. Namaku Khiim Muktah.” Khiim menyodorkan tangan. “Aku tidak punya nama,” acuh perempuan itu. “Em ….” Khiim berpikir sejenak. “Aku memanggilmu Lana.” “Kenapa harus Lana?” “Lana artinya abadi.” “Ya.” Perempuan itu meraih tangan Adam.Hari kian berganti, keakraban mulai membalut hangat kasih hati mereka. Ada tawa bahagia berlabuh di persimpang cerita. Asa untuk hidup bersama bagai rona-rona rambut Rapunzel. Menjelma menjadi detik-detik penuh makna pindai cinta. Selalu ada puisi dalam hening malam. Suara-suara dua insan syahdu sedang meraung harapan bersama. Tanpa dimakan waktu. Tanpa memajuh usia. Tanpa disibak pisah.Khiim telah menemukan pengisi ruang kosong dalam hati sunyinya. Terkadang, Lana bagai lantunan irama merdu lilin lebah. Nada dan irama memberi titik terang pada lilin batiknya hatinya. Lana berbeda dari perempuan lain yang pernah ia temui. Tubuh tinggi dan ramping dengan rambut dan mata cokelatnya semakin membuat berhasil menyihir kedua matanya.Begitu pula dengan Lana. Ia serasa menemukan jiwa yang telah lama direngut semesta. Rembulan yang sempat tenggelam di wajahnya terbit kembali. Senyum itu, bisikan syair-syair semilir angin menutupi titik-titik kecil hatinya. Ditambah, Khiim tidak merasa terganggu jika dirinya seorang penyihir. Ada perasaan yang tidak biasa ketika ia di dekat Khiim.“Kau pernah berpacaran, Lana?” Tanya Khiim pada suatu sore di tetabun sawah. “Pernah.” “Apa yang terjadi pada mantan pacarmu?” “Aku membunuhnya, Khiim.” Khiim tertawa. Hal menyeramkan akan menjelma lelucon tatkala diucapkan Lana.Lana tidak pernah menetap selama lebih dari tiga hari di satu tempat. Berpindah. Selalu gagal dalam setiap hubungannya dengan manusia. Kecuali saat ini. Saat Khiim memasuki rongga kosong dalam hidupnya.“Sudah lima purnama kita bersama, Lana. Kuharap akan bertahan selama purnama masih ada,” kata Khiim di suatu sore.Hubungan Lana dengan pria lain selalu berakhir tragis. Gagal dengan kematian dari pasangannya. Tercatat, sudah lebih dari delapan pria. Lana sadar, bahaya mengancam kisah mereka. Khiim akan mati dan Lana kembali memeluk sepi.Dunia sihir punya aturan. Jika penyihir menikah dengan manusia, itu berarti mengundang kematian untuk salah satunya. Seperti yang terjadi pada orangtua Khiim, di mana Zazlina harus rela dijemput maut. Dan Tarmiel, meninggal atas rasa sedih kepergian Zazlina.Purnama ke-7 setelah pertemuan mereka, tepat pada pertengahan Desember, Lana secara tiba-tiba menghilang. Ia pergi tanpa pamit, dan memaksa Adam untuk melupakan enam purnama bersamanya. Dalam suratnya, Lana mengatakan jika ini adalah pilihan yang terbaik untuk mereka berdua. Sebelum petaka menimpa, lebih baik sebuah kisah berakhir lebih awal. Kasih yang singkat hanya membekaskan luka ringan. Waktu yang sebentar gampang dilupa ketimbang waktu lama. Dan Khiim, bertekad membatalkan aturan tersebut.“Aku sudah memperingatkanmu, Khiim. Lana seorang penyihir. Jika kamu terus bersamanya, kamu akan mati,” bentak Hugraid di dalam barnya. “Bagaimana jika aku seorang yang mewarisi sihir?” tanya Khiim dengan kepala menunduk. “Tetap saja. Kamu punya darah manusia,” ujar Hugraid. “Tarmiel Muktah dan Zazlina adalah saksi dari perjanjian itu. Cinta mereka berujung maut.” Khiim menjawab pelan. “Mereka orangtuaku.” Sontak Hugraid sedikit kaget. “Jadi, kamu benar-benar mewarisi ilmu sihir?” “Ya. Aku berada di Akademi Sihir.” “Sejak kapan?” “Sebelum aku bisa mengingat.” “Baik. Aku bisa menolongmu.” “Benarkah?”Hugraid berdiri. “Tidak ada cara untuk menghentikan kutukan tersebut. Tapi ada satu mantra terlarang yang bisa membuatmu terus berinkarnasi. Itu artinya, jika kamu mati, rohmu akan mencari wadah baru dan hidup kembali.” “Bagaimana dengan Lana?” “Itu bukan masalah. Aku tidak tahu dia berasal dari mana, tapi dia punya kutukan panjang umur.” “Ajari aku.” Khiim berdiri menghadap Hugraid. Pancaran matanya sedikit berubah. Hugraid menggeleng. “Kau harus mengambil jantung lima penyihir.” Mata Khiim memincing.“Penyihir muara yang bisa mengendalikan ikan, cara mengalahkannya adalah memancing dia untuk naik ke darat. Omong kosong melawan dia di air. Kekuatannya bertambah dua kali.” “kemudian penyihir padang pasir. Dia punya mantra untuk membuat segel. Satu-satunya cara mengalahkan dia adalah memanggil hujan. Dan kamu diuntungkan oleh sihir ibumu.” “Kau tidak bisa menang dengan penyihir jepang. Dia melantunkan mantra berupa haiku. Kau harus membalasnya dengan syair juga. Pelajari mantra-mantra sonetta bapakmu.” “Lalu penyair topi jerami. Dia ada di sebuah tanah yang dikelilingi sawah. Hati-hati, dia bisa mengendalikan sepuluh ribu orang-orangan sawah.” “Dan yang terakhir, pengendali kelalawar. Penyihir yang buruk dan kejam. Saat akhir purnama, dia akan berada di hutan. Aku tak bisa menyebut hutan mana, tapi pasti dia di sana. Tanda-tandanya ketika banyak kelalawar berkumpul.”Dari penjelasan Hugraid, hanya penyihir kelima yang membuat Khiim sedikit terkejut. “Apa harus penyihir kelalawar?” komentarnya. “Ya. Harus.”—“Sudah dekat,” gumam Khiim. Daun yang berlubang itu ternyata bekas pijakan kaki kelalawar. Khiim mulai berjalan kembali.Satu kelalawar terbang di samping kirinya. Dia menoleh cepat. Satu lagi menyusul di arah kanan. Matanya memerhatikan. “Tidak salah lagi. Ini tempatnya.”Puluhan kelalawar dengan bising menuju ke arahnya. Dia yang sadar akan bahaya segera menutup mata. Mengumpulkan tenaga, dan merapalkan mantra. “Grimore.” Mantra pengahalang membuat perisai sebening kaca berwarna merah menutupi tubuhnya. Segara mungkin ia mengeluarkan buku mantra dan bersiap untuk serangan berikutnya.“Percuma saja. Tidak ada yang bisa menembus perisai ini.”Kelalawar membuat gelombang lebih besar. Mengelilingi perisai Khiim. Mereka berkumpul di hadapan Khiim membentuk lingkaran. Kelalawar berpencar, dan, Lana muncul di sana.“Semua mantra punya kelemahan,” kata Lana. Khiim terperanjat. “Lana?” “Kau ingin mengambil jantungku?” Lana menatapnya tajam. “Tidak.” “Reinkarnasi butuh lima jantung.” “Hugraid memberikan miliknya. Dia takut kejadian orangtuaku terulang lagi.”Lana mulai menangis. Ternyata lelaki di hadapannya memberikan cinta yang tulus. “Lepaskan mantra penghalang itu.” “Untuk apa?” Khiim khawatir Lana memberi serangan lanjutan. “Lepaskan.” Tangis Lana menggema. Khiim mengangguk. Lana berlari ke arahnya. Memeluk erat orang yang ia cinta.“Aku diberkahi umur panjang. Usiaku bertambah ketika memakan manusia, Sayang.” Lana menyandarkan pipinya di dada Khiim, membuatnya basah dengan air matanya.Khiim mencium kening Lana dan mengusap rambutnya yang terurai. “Ini sudah berakhir. Ini sudah berakhir.” Bebeberapa air menetes dari matanya.“Reinkarnasi menyakitkan, Khiim. Kau akan mati, dan aku kesepian. Kemudian kau hidup, kita bertemu dan bersama lagi. Dan terus seperti itu.” “Tentu. Tapi yang terpenting adalah kita bisa terus bersama. Jika aku mati, anggap saja kita sedang menjalani LDR.”“Aku sangat mencintaimu, Khiim.” “Aku juga, Lana.”
Kemampuan Baru
Aku sering mengalami pengalaman mistis. Bermula saat aku berumur sekitar 8 tahun atau 9 tahun. Dan sejak kejadian itu, aku mulai bisa merasakan, mendengar, melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat kebanyakan orang..Hari itu adalah hari yang paling gembira untukku. Kenapa begitu? Di kantorku, tanpa sepengetahuan atasan dan pimpinanku, untuk menghemat kuota internetku, aku mendownload lagu Kulihat Ibu Pertiwi. Sudah berapa hari ini aku disibukkan dengan pekerjaanku di kantor dan sampai di rumah yang tersisa hanya kelelahan dan tertidur lelap sehingga belum sempat mendownload lagu kesukaanku sejak beberapa hari belakangan ini.Setelah berhasil didownload, sepanjang hari di kantor, telingaku tidak pernah lepas dari headset untuk mendengar lagu itu. Ketika malam tiba, sebelum tidur, lagu itu kudengarkan lagi dan kuhayati. Seketika terlintas di benakku kejadian aneh dari lirik-liriknya. Kejadian itu seperti flashback ke masa lalu.“Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati Air matanya berlinang bak intannya terkenang..”Mendengar lirik ini terlintas begitu saja di pikiranku sesosok wanita usia 40 tahunan, sedang menangis tersedu-sedu di bawah dipan, meratapi kepergian seseorang yang amat dicintainya. Awalnya aku tidak mengetahui siapa orang yang dicintainya. Tetapi setelah aku mendengarnya berkali-kali, aku baru menyadari bahwasanya suaminyalah yang dicintainya telah meninggal dan sedang terbaring di dipan.“Hutan, gunung, sawah, lautan, simpanan kekayaan.Mendengar lirik ini terlintas di pikiranku sesosok tentara atau prajurit atau mungkin polisi sedang bersedih hati memandangi keindahan alam indonesia. Dia merasa sebentar lagi akan meninggalkan tanah air tercintanya yang selama ini dia bela. Semakin mendengarkan lirik ini, muncul dipikiranku kalau dia meninggal karena jantungnya ditembak musuh saat sedang tempur atau mungkin sedang berperang. Ia terjatuh ke tanah sambil memegangi jantungnya yang berlumuran darah. Pikiran terakhirnya sebelum meninggal teringat akan Indonesia, akan tanah air yang dicintainya.“Kini ibu sedang lara, merintih dan berdoa..”Lirik ini beralih pada seorang ibu yang menangis tadi. Ia masih belum bisa melepas suaminya.Pukul 06.40 tiba saatnya aku berangkat kerja. Kulangkahkan kakiku dengan penuh damai menyambut pagi yang terlihat tenang namun sedikit sendu. Kusimpan handphone dan headsetku di dalam tas karena aku tidak mau pagi ini diganggu suara-suara handphone apalagi musik. Tidak jauh dari tempatku berjalan, di pinggir jalan di sebuah rumah terlihat banner dukacita atau bunga papan dukacita dari kepolisian. Aku terkejut, kenapa dari kepolisian? Apakah ada yang terkena salah tembak polisi hingga meninggal sehingga polisi harus bertanggungjawab lalu sebagai ungkapan dukacita dibawakannya banner tersrbut? Semakin dekat jarakku dengan rumah itu, kuperhatikan satu per satu orang yang datang melayat. Rasa ingin tahuku semakin menjadi, kuperhatikan pintu masuk rumah berharap bisa melihat kejadian yang sebenarnya walau dari kejauhan namun tidak melihat apapun selain beras dan minyak di dekat pintu masuk.Tiba di kantor, aku bertanya pada temanku yang kebetulan rumahnya dekat dengan rumah tadi.“Memangnya siapa yang meninggal, San?” tanyaku. “Oh itu Pak Anwar, kak. Tadi pukul 5 pagi beliau meninggal,” jelas Sandy. “Meninggal kenapa?” tanyaku lagi. “Kena serangan jantung, kak. Beliau memang ada riwayat penyakit jantung juga. Kambuh seminggu yang lalu sampai tidak bisa jalan cuma bisa berbaring di tempat tidur akhirnya meninggal pagi tadi,” jawab Sandy.Mendengar ini, aku terkejut bukan kepalang. Terkena serangan jantung? Bukankah sejak kemarin pikiranku terlintas pada sepasang suami istri yang mana suaminya meninggal karena jantungnya ditembak? Rasa penasaranku bertambah dan kutanyakan lagi pada Sandy.“Dia polisi? Tentara?” “Polisi, kak. Sudah lama beliau jadi polisi. Suaminya asli orang Bali. Pindah ke daerah sini,” jelas Sandy. “Kok kakak tahu beliau polisi?”Aku termangu mendengar jawaban Sandy. Polisi? Sakit jantung? Aku mulai menerka-nerka, dalam kepercayaan agama Buddha terdapat reinkarnasi atau kelahiran kembali, mungkinkah di kehidupan yang lampau dia seorang tentara atau mungkin polisi juga sama seperti sekarang yang mana jantungnya ditembak dan berakibat di kehidupan ini harus terkena serangan jantung? Ataukah dulunya dia seorang tentara atau mungkin polisi juga yang mana orang yang menembak dirinya adalah dirinya sendiri sehingga dia harus menanggung karma buruknya di kehidupan ini dan berakibat terkena serangan jantung? Oh astaga, aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Terlalu banyak pertanyaan yang menyelimuti pikiranku dan aku sedikit pusing pagi itu.Kejadian itu adalah awal dari kemampuan baruku. Dan setelahnya, aku mulai melihat kejadian yang akan datang baik dari sebuah lagu atau hanya sekedar melihat sesuatu saja. Kejadian itu seperti potongan-potongan film yang muncul dipikiran. Terkadang aku tidak tahu maksud dari potongan-potongan tersebut sehingga aku harus mencari tahu sendiri arti yang terkandung di dalamnya. Tetapi sering kali aku telat memahaminya dan baru menyadarinya setelah kejadian itu telah terjadi. Aku bukanlah Tuhan yang tahu segalanya. Tapi aku senang dengan kemampuanku ini. Dan aku bangga karena aku berbeda dari kebanyakan orang lain.
Guna Guna Harta Warisan
Untuk saat ini hatiku masih terbalut kesedihan akan kehilangan seorang bapak. Pria yang selalu ada untuk mendidikku telah pergi dari dunia. Aku tahu memang kehidupan dunia adalah kehidupan yang fana dan yang abadi adalah kehidupan di alam arwah bersama yang Maha Kuasa. Bagiku, bapakku adalah orang yang baik meskipun manusia tak luput dari kesalahan namun beliau selalu mengajariku untuk menjadi orang yang bijak, setidaknya itu yang selalu kuingat.Enam bulan sudah bapakku meninggal dunia, keadaan ibuku tentu berubah total. Dulu, beliau semangat menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga walau lelah namun sekarang semangat itu berkurang banyak.“Aku belum memasak, lha mau memasak untuk siapa?” kalimat itu terlontar dari bibir tipis ibuku. Jujur, hatiku tersayat dengan kalimat itu. Aku teringat akan pria tua yang melemah akibat kadar gula yang berlebih di dalam darahnya. Kenyataan itu memang harus aku terima karena Tuhan pasti telah menitipkan hikmah yang besar untuk kita.“Kemarin kakakmu ke sini, ia bilang katanya bapakmu itu meninggal akibat diguna-guna orang” ucap ibuku saat aku datang berkunjung ke rumahnya. “Ibu, siapa yang membuat bapak sedemikian?” tanyaku “Entahlah nak, kakakmu hanya berbicara seperti itu. Saat ini kakakmu akan berpuasa setiap hari untuk mencari tahu siapa pembunuh bapakmu” ucap ibuku dengan raut muramnya. “Ibu.. bapak itu meninggal bukan karena guna-guna melainkan karena kadar gula dalam darahnya yang telah merusak seluruh organ tubuhnya. Ibu masih ingat saat kita membawa bapak ke rumah sakit sebelum bapak menghembuskan nafas terakhirnya?” tanyaku “Iya ibu ingat. Waktu itu nafas bapakmu tersenggal, beliau tak mampu berjalan. Ibu juga masih ingat bapakmu ke rumah sakit digotong oleh orang 3” ucap ibuku“Berapa kadar gula dan tensi bapak bu?” tanyaku “Waktu itu tensinya 170/100 dan gulanya 527” jawab ibuku “Tuh… ibu ingat semuanya. Aku juga masih ingat waktu itu bapak tak lagi mengenaliku lalu mau guna-guna dari mana bu? Ibu jangan berfikir yang macam-macam, nanti ibu bisa sakit” ucapku “Iya tapi ekspresi kakakmu kemarin sangat serius aku takut kalau itu memang benar” jawab ibu “Sudahlah bu, zaman sudah millennial guna-guna sudah kalah sama whatsapp. Hehehe” ucapku menghibur. “Hahaha. Kau ini bisa saja menghiburku” ucap ibu“Ibu, ibu sekarang tinggal di rumah hanya bersama kak Reno dan kak Reno pun baru pulang kerja pukul 17.00 sedangkan aku juga jarang kemari. Jadi, ibu harus bisa menjaga kesehatan ya, jangan berfikir yang macam-macam” ucapku “Iya, kau benar” jawab ibuHari hari telah berganti, tak terasa sudah 8 bulan kepergian bapakku. Aku masih sering teringat bapak, baik ketika aku mengajar anakku ataupun membetulkan mainan anakku. Terkadang, dalam kesendirianku, aku merindukan bapak. Rinduku padanya akan kusampaikan lewat do’a karena hanya itu saja yang bisa kulakukan sambil berharap semoga dengan do’aku bisa meringankan siksa kuburnya. Seusai kupanjatkan do’a untuk bapak, tiba-tiba ponselku berdering.“Ibu. Ada apa dengannya?” gumamku, tanpa banyak kata kuangkat telfon darinya. “Apakah kau bisa mengunjungi ibu sekarang?” Tanya ibuku “Oh iya bu, sekarang aku masih kerja nanti seusai kerja aku akan mengunjungi ibu” ucapku “Iya. Usahakan hari ini bisa yak arena ibu mau bicara penting denganmu” ucap ibu “Baik bu” ucapku sambil menutup telfon ibu karena aku tak enak dengan bosku kalau menerima telfon saat jam kerja.Seperti perintah ibu, kukunjungi beliau setelah jam kerja berakhir namun sebelum ke rumah ibu terlebih dahulu aku mengunjungi pusara bapakku. Pusara seorang pria yang selalu mendo’akanku menjadi pewaris barisan perempuan yang terpuji, itulah arti dari namaku. Salah satu kenangan yang diberikan bapakku. Setelah membaca do’a di atas pusaranya, aku pergi mengunjungi ibuku. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang janggal yang terjadi pada ibuku. Kejanggalan itu yang membuatku bergegas ke rumah ibu.10 menit kemudian aku telah sampai ke rumah ibuku, kuparkir dulu sepeda motorku dengan benar kemudian aku masuk ke rumah ibuku. Sejak awal aku masuk rasanya rumah itu semakin suram, seperti ada penghuni baru maksudku penghuni halus alias jin.Kedatanganku disambut hangat oleh ibu dan kak Reno. “Duduklah Sil, sekarang saatnya kita berunding” ucap kak Reno “Iya Kak, mau berunding apa ya?” tanyaku “Gini nak, bapakmu sudah 1 tahun meninggal dan sekarang saatnya kita membagi warisan” ucap ibuku tiba-tiba. “Ibu, kenapa tiba-tiba membaginya? Bukankah kemarin ibu tidak ingin membicarakan warisan dulu?” tanyaku bingung merasa ada yang ganjil. “Begini Nak, kemarin kak Eliya kemari dengan bijaknya ia membagi harta warisan bapakmu. Kak Eliya dapat rumah di pinggir jalan dan mobil sedangkan kak Reno dan ibu mendapat rumah ini” ucap ibu “Lha terus aku bu?” tanyaku “Kata kak Eliya kau tidak dapat apa-apa jadi ya sudah diamlah” ucap kak Reno “Loh kak, ya nggak bisa gitu. Aku kan juga anaknya bapak, kalau kalian dapat mengapa aku tidak dapat? Apa aku ini bukan anak bapak bu?” tanyaku “Kau memang anak bapakmu namun keputusan kak Eliya sudah bulat jadi kau harus menurutinya, lagipula dia adalah saudara tertua jadi kau harus menurut” ucap ibu “Ibu, saudara tua akan dituruti jika ia benar namun jika ia salah maka ia harus kita ingatkan. Aku tidak setuju bu” ucapku “Setuju atau tidak setuju sertifikat rumah dan mobil sudah ada di tangan kak Eliya” ucap kak Reno“Kalian ini kenapa sih? Kok jadi aneh begini?” tanyaku bingung merasa ada keganjilan yang mencolok. “Ini sudah keputusan kak Eliya nak, kau harus ikut” ucap ibu “Baiklah bu, aku terima keputusan kak Eliya. Aku hanya ingin ibu mendo’akanku agar aku bisa menjadi anak, istri dan ibu yang baik. Dan aku ingin ibu mendo’akanku agar aku menjadi PNS” ucapku “Iya Amin, ibu sangat senang kalau kau jadi PNS” ucap ibuAku sangat kecewa dengan keputusan berat sebelah ini namun apalah dayaku sebagai anak, yang jelas sertifikat rumah yang ada di tepi jalan itu atas nama ibuku. Jadi, jika ingin dijual atau diubah nama harus ada tanda tanganku. Biarlah ia merebut dengan segala cara yang ia bisa namun Tuhan tak akan tinggal diam pikirku.“Ibu, ini sudah sangat sore. Jadi, aku pulang dulu ya” ucapku menahan kecewa “Oh ya, sebelum pulang bawalah makanan ini” ucap ibuku sambil menyodorkan 3 kaleng cornet dan 3 bungkus nasi. Deg, ada apa ini? Kecurigaanku semakin bertambah dengan adanya makanan ini. “Berikan ini pada anak dan suamimu. Cornetnya enak lo kemarin aku makan dengan itu, rasanya sangat enak. Aku jadi lahap makan” ucap kak Reno “Cornet darimana ini bu?” tanyaku “Ini cornet dari kakakmu, kak Eliya. Kakakmu sekarang jualan frozen food juga kok. Alhamdulillah dagangannya semakin beragam, ibu sangat senang mendengarnya” ucap ibuku Ya Allah, apa mungkin kak Eliya membubuhi makanan ini dengan do’a-do’a jahat? Bukankah hal itu bisa membuat hidup kita semakin sengsara? Pikirku. “Iya bu, anakku pasti suka makan dengan cornet goreng” ucapku. Akupun segera pulang sambil dag dig dug membawa makanan itu.Saat aku sampai di lampu merah, kulihat ada seorang pengamen yang tengah bernyanyi dengan suara sumbangnya. Aku jadi punya ide gila memberikan cornet itu ke pengamen. “Mas, ini ada cornet. Terimalah” ucapku sambil memberikan cornet itu padanya. Sang pengamen kaget dengan pemberianku karena cornet termasuk makanan mahal. “Terimakasih banyak mbak. Semoga mbaknya diberikan kelapangan Rejeki dan apapun cita-cita mbaknya semoga terlaksana. Amin” ucap pengamen itu sebelum lampu hijau menyala. akupun meng amini do’a si pengamen sebelum berlalu pergi meninggalkannya.30 menit kemudian aku sampai rumah dengan selamat. Aku masih terngiang-ngiang kalimat kak Reno, kau tak dapat apa-apa, sertifikat rumah dan mobil sudah ada di tangan kak Eliya ditambah lagi kalimat ibuku kak Eliya adalah kakak tertuamu jadi apapun keputusannya kau harus ikut. Apakah kebijaksanaan ibuku telah dilunturkan makanan itu? Ah.. sudahlah yang penting aku tidak boleh dendam pada keluargaku dan jika mendapat makanan dari mereka harus segera kuberikan pada orang lain.Benar saja, semenjak saat itu ibuku jadi sering mendapat kiriman makanan dari kakakku. Ya, namanya saja ibu ketika ia mendapat makanan pasti ia aka teringat anak-anaknya dan itu juga terjadi pada ibuku. Setiap kali kakakku memberi makanan, aku selalu diberi sedikit oleh ibu bahkan terkadang kakakku juga memberikan khusus untukku namun dititipkan ke ibu. Aku semakin curiga dengan tabiat kakakku. Bagaiman tidak? Ia meminta bagian rumah dan mobil namun rumah itu tak kunjung ditempatinya sedangkan ia terus saja memberi makanan pada ibuku dan anehnya setiap kali ibuku memakan makanan kiriman kakakku, beliau semakin menurut dengan apa yang dikatakan kakakku.“Berikan ini pada suamimu ya, yang ini harus kau berikan pada suamimu” ucap ibuku sambil memberikan sebungkus kue kering padaku. Kue itu kuterima saja namun tak akan dimakan oleh keluarga kecilku karena pasti akan kuberikan ke pengamen di lampu merah ataupun pengemis jalanan. “Ibu, maafkan anakmu ini. Aku hanya tidak ingin keluargaku diganggu oleh hal-hal gaib” pikirkuRumah di tepi jalan itu, tak kunjung ditempati kakakku namun kiriman makanan itu terus saja diberikan kakakku lewat ibuku dan akupun juga terus memberikan makanan itu ke orang lain. Puncak keserakahan kakakku terjadi di sepertiga malam.Malam itu adalah malam jum’at, seperti biasa aku bangun pukul 02.15 dini hari untuk makan sahur dan lanjut sholat tahajud. Seusai sholat tahajud, aku membaca Al-Qur’an sebisaku dan tentu saja aku juga sudah berdo’a untuk bapakku. Aku tahu di waktu sepertiga malam, adalah salah satu waktu yang mujarab untuk berdo’a karena malaikat tengah turun untuk meng aminkan do’a manusia. Saat itu, aku merasa ada orang di luar rumahku namun orang itu tiba-tiba lari, menghilang pergi. Aku sangat takut melihat kejadian itu, dengan segera kulanjutkan membaca Al-Qur’an supaya keluargaku selalu aman.Matahari telah memunculkan diri, seperti biasa aku melakukan tugas sebagai ibu rumah tangga sebelum aku bekerja freeline. Saat aku tengah ayik mencuci piring, ponselku berbunyi. “Mama, nenek telpon” ucap anakku sambil memberikan ponsel padaku “Oh iya, mana ponselnya” ucapku sambil mengulurkan tangan “Iya bu, ibu masak apa hari ini?” tanyaku “Gawat nak.. gawat” ucap ibuku tergopoh “Apa yang gawat bu?!” tanyaku sontak kaget “Sertifikat rumah yang di tepi jalan itu hilang” ucap ibuku dengan tergopohnya “Ibu, ibu pasti lupa menaruhnya” ucapku “Enggak. Ibu nggak lupa kok. Sertifikat itu, ibu taruh di dalam almari” ucap ibu “Ya sudah, kalau begitu nanti saya ke situ. Kita cari sama-sama ya bu” ucapkuAkupun pergi ke rumah ibu, kulihat ibuku tengah bingung akibat sertifikat itu. Dicari-carinya sertifikat itu kemana-mana namun tetap saja tidak ada. Ibu juga sudah mengeluarkan seisi lemari namun juga hasilnya tetap sama.“Ibu, coba ibu ingat-ingat lagi dimana ibu menaruhnya” ucapku. Kemudian ibuku berpikir keras mengingat kejadian-kejadian sebelum sertifikat itu hilang. “Waktu itu ibu habis makan lobster goreng dari kak Eliya kemudian ibu memberikan sertifikat itu ke kak Eliya” ucap ibuku “Berarti ya ada di kak Elya bu. Lagipula ibu kan sudah memberikan rumah beserta mobil ke kak Elya” ucapku “Kapan ibu memberikannya? Ibu tidak pernah membagi warisan” ucap ibu “Loh, yang ibu telpon saya pagi-pagi. Waktu itu ibu nyuruh saya ke sini untuk membicarakan pembagian warisan. Ibu bilang kalau kak Elya dapat rumah di tepi jalan dan mobil sedangkan kak Reno dapat rumah ini” jelasku “Lha terus kamu dpaat apa?” Tanya ibuku “Nggak dapat apa-apa” ucapku “Hei! Kau ini kan juga anak bapakmu, mana mungkin aku membagi berat sebelah begitu” ucap ibuku. Dalam hati aku sangat senang karena ibuku telah terbebas dari guna-guna.“Sekarang ibu tenang dulu, kita ambil sertifikat itu ke rumah kak Elya ya” ucapku namun belum sempat ibu mengiyakan ajakanku terdengar orang berteriak. “Bu! Bu..! bu..! Aku mengembalikan sertifikat rumah dan mobil!” teriaknya. Akupun dan ibu berlari menemui suara itu dan benar dugaanku ternyata itu adalah suara kak Elya dan suaminya. Ia datang ke rumah membawa sertifikat dan mengembalikan mobil.“Hei Sisil! Kau ada di sini? Kau ini kemarin mau kusintingin tapi nggak bisa akhirnya jinnya kembali pada kita. Horee!” ucap kak Elya.Aku tersentak kaget dengan pengakuaannya. Mau kusintingin? Jinnya kembali padaku? Berarti yang kemarin datang ke halaman rumahku adalah jin yang bertugas menyintingkanku? Ya Allah kak, jahat nian tabiatmu. Bukankah kita ini saudara sekandung yang seharusnya saling menguatkan bukan menghancurkan? Setan apa yang telah merasuki otakmu? Pikirku“Ya sudah dik, ayo kita berkelana! Kita mau ada pertemuan besar bu” ucap kakak iparku sambil meyodorkan sertifikat beserta kunci mobilnya. “Ya Allah, jadi kalian selama ini bersekutu dengan jin? Maafkan ibu nak, ibu tidak mau bertemu dengan kalian” ucap ibuku menahan tangis “Ya itu terserah ibu. Habis ibu sih, nggak mau memberikan semua hartanya padaku padahal aku kan anak pertama jadi aku lebih berhak daripada yang lainnya. Hahaha” ucap kakakku sambil berlalu meninggalkan kami.Kejadian itu selalu mengingatkanku untuk tetap sholat 5 waktu dan juga sholat tahajud. Sudah 1 bulan kejadian itu berlalu, dan betapa bahagianya aku, aku diterima menjadi PNS di sebuah instansi. Dan yang paling membuatku bahagia adalah meskipun aku sudah menjadi PNS namun aku masih bisa merawat anakku dan terlebih lagi aku masih bisa memberikan secuil gajiku untuk ibuku. Terimakasih ya Rab, karena kau telah mengabulkan do’aku. Semoga aku selalu bisa menjadi orang yang istiqomah. Amin
Naskah Maut
Pada suatu pagi menjelang siang, Eko sedang sibuk bersih-bersih rumahnya. Tidak seperti biasanya, pagi itu ia terlihat rajin, karena biasanya jam segitu ia masih tidur. Televisi di ruang tengah dibiarkan menyala sambil ia mengepel lantai. Sesaat ia berhenti sejenak dan menolehkan kepalanya di sebuah pintu kamarnya yang tertutup, lalu ia lanjutkan lagi. Pandangannya yang terus tertuju pada pintu itu seakan menimbulkan tanda tanya besar, ada apa dibalik pintu kamar itu. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba fokus agar tidak terlalu memikirkan kamarnya lagi.Setelah mengepel lantai, ia mengambil sebuah gelas yang berisi teh di meja. Eko membuang teh yang masih tersisa setengah gelas, lalu ia mencuci gelas itu ke bak cucian. Saat mencuci gelas, pikirannya kembali tidak fokus, masih terbayang apa yang terjadi semalam di rumah ini. Semalam ia dan istrinya bertengkar hebat. Pertengkaran ini dipicu oleh kemarahan sang istri yang melihat keadaan Eko yang terlalu lama menganggur dan memiliki banyak hutang. Kata-kata kasar yang dilontarkan semalam masih terngiang dalam kepalanya. Dan malam itu Eko tidak tidur satu ranjang dengan istrinya, sebab istrinya menyuruh dia agar tidur di ruang tamu saja.Sarung tangan kain yang ia kenakan basah kuyup terkena air saat mencuci. Setelah selesai mencuci gelas itu, Eko langsung keluar rumah sambil melepas sarung tangan dan kaus kakinya yang ia kenakan dari tadi, ia hendak pergi ke warung kopi tempat ia biasanya nangkring. Di warung itu Eko benar-benar tidak dapat menikmati sebatang rokok dan kopi hitamnya. Tatapannya kosong, wajahnya sedikit gelisah, dan ia hanya diam lama sendirian di warung kopi itu hingga sore. Adapun dia hanya mengobrol sekenanya saja dengan pemilik warung.Sore pun tiba, ia segera pulang ke rumahnya. Di jalan ia kebetulan bertemu tetangga-tetangganya dan saling bertegur sapa. Sesampainya di depan rumahnya, Eko tidak langsung masuk ke dalam, melainkan menuju samping rumahnya. Ia mengintip lewat jendela kamarnya. Saat mengintip di dalam kamar itu, ia kaget bukan main melihat istrinya gantung diri dengan tali tampar yang diikat di lobang ventilasi diatas pintu kamarnya. Eko yang panik dan histeris berteriak minta tolong warga.“Tolooong!” teriak Eko.Teriakan Eko sontak membuat warga berdatangan. Warga yang datang langsung mendobrak pintu kamarnya dan tak lama setelah itu, datanglah polisi. Malam itu, polisi melakukan olah TKP dan tentu Eko sebagai saksi mata pertama sekaligus suami dari korban dimintai keterangan oleh polisi. Mertua Eko yang datang malam itu langsung naik pitam memaki-maki Eko hampir memukulnya, namun polisi disana berhasil menenangkannya.Keesokan harinya, investigasi masih berlanjut. Polisi menemukan satu buah silet cutter yang tergeletak tepat di bawah tempat korban gantung diri dengan bercak darah di sisinya, diduga cutter itu digunakan korban untuk menyileti tangannya dulu sebelum ia menggantung dirinya, terdapat 5 sayatan di tangan kiri korban. Ditemukan juga racun tikus cair dan berbagai obat-obatan di dekatnya yang diduga digunakan korban untuk mengakhiri hidupnya. Dan yang terakhir ditemukan secarik kertas bertuliskan “Lebih baik aku mati saja!”Perihal kronologinya, Eko menjelaskan sangat rinci kepada polisi terkait apa permasalahan rumah tangga yang sedang dihadapi selama ini. Ia menyodorkan surat-surat hutang yang ia miliki dan ia juga menyodorkan surat pemberhentian kerja dari kantornya sebagai barang bukti. Ia menjelaskan kepada polisi bahwasanya ia saat ini menganggur dan istrinya stress berat dengan itu semua. Eko juga bercerita, sebelum korban melakukan bunuh diri, dia sempat bertengkar hebat dengan korban. Tetangga Eko dan pemilik warung kopi langganan Eko juga dimintai keterangan oleh polisi. Mereka mengaku tidak tahu menahu perihal kehidupan rumah tangga Eko. Mereka hanya bisa memberi saksi dan keterangan bahwa sehari-harinya Eko sering terlihat berada di warung kopi langganannya. Tidak banyak penjelasan tentang karakter korban, korban hanya dikenal sebagai orang yang ramah dan baik.3 hari kemudian, Case closed! Kesimpulan akhir dari polisi yaitu, kasus ini adalah murni kasus bunuh diri. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda penganiayaan pada tubuh korban. Dengan adanya barang bukti berupa silet cutter, obat-obatan dan racun tikus cair, polisi membeberkan bahwasanya korban sudah kalap ingin mengakhiri hidupnya dengan tergesa-gesa. Berdasarkan reka ulang yang dilakukan tim kepolisian, korban memulainya dari menenggak racun tikus dan 7 butir kapsul secara bersamaan. Lalu korban menyayat tangannya sendiri dengan cutter. Dan tanpa panjang lebar, korban langsung naik kursi dan menggantung dirinya. Kurang lebih seperti itu.Setelah kasus ini ditutup, pihak keluarga korban masih menyangkal dan mengatakan bahwa korban dibunuh oleh suaminya sendiri. Karena tidak ada bukti yang kuat dari pihak keluarga korban, hanya sebatas tuduhan lisan saja, maka pihak polisi tidak menggubrisnya. Polisi meminta keluarga korban agar bersabar menghadapi kenyataan yang dialaminya. Sorot mata tajam Aji, kakak kandung korban, tertuju pada Eko yang duduk di ruang tamu. Aji nampak kehabisan kata-kata untuk meyakinkan polisi disana. Memaki Eko sepertinya juga percuma.“Awas aja kamu! Bentar lagi kamu yang mati. Dan hey, utangmu di aku belum kelar. Udah tau miskin gak ada kerjaan makanya gausah utang!” bentak Aji sambil menunjuk Eko yang sedang duduk.Eko hanya memandang datar Aji yang marah-marah padanya. Tak lama, polisi pun langsung menyuruh orang-orang yang ada disana untuk meninggalkan rumah Eko.Keesokan harinya, suasana kampung terasa rada sepi. Angin sepoi-sepoi ikut menyapu insiden kelam yang terjadi beberapa hari lalu. Eko di dalam rumah seperti terlihat linglung, mondar-mandir tidak jelas. Matanya terbelalak ketika melihat sebuah buku tulis sekolah dengan cover gambar Hello Kitty yang terletak diatas meja marmer kecil ruang tamunya. Ia segera cepat mengambil buku itu dan membukanya. Halaman pertama berjudul “Yuli”, nama istrinya. Ia membuka cepat halaman demi halaman dan pikirannya langsung kalang kabut flashback beberapa hari lalu.Teringat saat ia memberi serbuk obat di minuman teh istrinya, karena dosis dan efeknya tinggi, sang istri yang minum teh sambil menonton tv langsung mengeluh pusing lalu tidak sadarkan diri. Seketika itu, Eko memasang sarung tangan dan kaos kaki untuk menghilangkan jejaknya, lalu membopong tubuh istrinya ke kamar. Ternyata skenario yang ia tulis dalam buku itu adalah rencana konspirasi besar agar sang istri terlihat bunuh diri. Dan ia juga menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang dimungkinkan akan ditanyakan oleh polisi kepadanya walau sebenarnya banyak pertanyaan yang meleset tidak sesuai. Pada kenyataannya, ia tetap saja mampu menjawab semua pertanyaan polisi dengan sama sekali tidak terlihat mencurigakan. What a gimmick.“bodohnya aku! Untung tidak ketahuan nih buku” gumamnya dalam hati.Ia merobek naskah itu, meremas-remas dan membuangnya. Memorinya kembali teringat pada Aji yang mengata-ngatainya kemarin. Tangan Eko meraba-raba cepat mencari pulpen. Lalu di halaman barunya itu, ia tuliskan judul baru, “Aji”.
Buruk Nampaknya?
MIMPI adalah bunga tidur, tetapi ada juga yang menganggapnya cermin kehidupan. Terlebih bila mimpi yang sama terulang hingga lebih dari tiga kali. Pertanda baik atau burukkah bila terlalu sering mendapatkan mimpi yang sama pada waktu yang berbeda dan terus berulang?Meila terbangun dari mimpi yang menakutkan itu, sambil mengehela napas, dan mencari tombol lampu kamarnya. “Mengapa mimpi itu selalu berulang?” Bisik Meila dalam hati. “Apa ini…? Apa mungkin, Ayah dan Bunda sedang tidak baik-baik saja!?” Khawatir Meila dalam dirinya yang terus berkecamuk.Ia segera mengecek kamar Ayah Bundanya. Ia dekati, pelan-pelan. Terdengar dengkuran tidur Ayah yang begitu nyaring. “Huft… Ternyata tenang-tenang saja, mereka terlalu lelap, mungkin hanya terlalu banyak nonton ‘drakor gila’. Semoga baik-baik saja kehidupanku, Bunda, Ayah, dan kita semua.”Meila pun kembali tidur lagi, tapi bayangan ‘Asap menggumpal, membubung melalui atap rumahnya’ terus muncul begitu saja. Ia teringat Nasehat Ayah dan Bundanya: “kalau kamu sedang gelisah, bahkan sangat gelisah, jangan coba ingat lagi segala hal yang membuatmu gelisah, tapi ingatlah Sang Maha Pencipta Langit dan Bumi, beserta isinya.” Tersentak Meila, seakan Ibu dan Ayahnya sedang menasehatinya saat itu.Ia pun ke kamar mandi, mengambil air wudhu, lalu memohon pertolongan kepada pemilik segala sesuatu. Larut dalam sembahyangnya. Ia yakin semua akan baik-baik saja.Terlalu cepat, sebelum pagi datang, “KRIIIIINGGG” suara jam waker memecah lelapnya tidur Meila. “Huft… Akhirnya tidak lagi masuk ke dalam mimpi ‘asap menggumpal, membubung melalui atap rumah’. Kadang tetap muncul begitu saja, padahal sudah berusaha kubuang jauh-jauh. Tapi aku yakin setelah subuh ini, semua akan membaik.”Tidak seperti kebanyakan anak seusianya, Meila tidak berangkat sekolah, ia hanya sekolah di rumah saja, Bunda dan Ayahnya lah sebagai guru tetapnya. Kurikulum pembelajaran telah disusun rapih sebelum Meila lahir oleh Ayah Bundanya. Mulai dari standard jenjang pendidikan TK, SD, SMP, bahkan SMA, telah disiapkan semua dengan metode buatan Orangtua Meila.Ayah Meila bekerja sebagai tukang Nasi goreng dan Es goreng di pasar dekat rumah, serta jualan makanan pendukung lainnya. Walaupun Nasi Goreng identik dengan suasana malam, tapi tetap saja jualan Ayah Meila tetap laku keras. Mulai dari situlah hal yang menjadi momok menakutkan Dari mimpi Meila menemui alurnya.Semakin hari, semakin laris trus, jualan Ayah Meila, sampai-sampai ia menambah karyawan berkali-kali. Tidak cukup sampai disitu, Ayah Meila pun menambah lahan jualannya, membeli lahan setempat, yang semakin meluas, pelan tapi pasti. Lahan tempat jualan yang tadinya sewa sekarang sudah terbeli.Walau sudah sedemikan kemudahan menerpa keluarga Meila. Ayahnya tidak pernah congkak dan berpikir untuk hidup bermegah-megahan. Ia tetap ber style-an ‘low profil’ walau sudah high level. Ayah Meila pun selalu mengajarkan ‘kesederhanaan kepada keluarganya’ bahkan sekolah pun ia percayakan ke tangan Istrinya, dan memang Istrinya juga telah menempuh pendidikan yang mumpuni sebelum menikah, bukan hanya pelajaran umum saja, tapi tak akan pernah lupa pelajaran Agama, karena itu yang paling utama, terlebih Bundanya Meila pun pernah menyetorkan hafalan 30Juz Al-Qur’an kepada Bu Gurunya di masa sekolah dulu.Setelah keberlimpahan itu menyelimuti keluarga Meila. Ia pun teringat mimpinya tentang, ‘Asap menggumpal, membubung melalui atap rumahnya’ membuatnya ngeri, tapi setelah semua ini ia akhirnya mengerti.“Oh rupanya arti ‘Asap menggumpal, membubung melalui atap rumahnya. Bahkan, mimpi-mimpi itu seperti sebuah tayangan sinetron bersambung. Saling berkaitan satu sama lain dan tampak begitu runtut’. Itu tanda usaha Ayah akan berkembang pesat. Luar biasa, aku kira akan terjadi berbagai petaka. ‘Alhamdulillah Ya Alloh’ semua terjadi atas izin kehendakmu.” Gumam Meila dalam dada.
Potret Keluarga Bahagia
Lamia merapatkan jaket tebal di tubuh kurusnya karena angin yang berembus malam ini tidak main-main dinginnya. Ia mempercepat langkah kaki menuju rumah. Masuk ke rumah adalah satu-satunya hal yang diinginkannya sekarang.Tangannya mengambang di udara ketika ia melihat pintu rumahnya sedikit terbuka. Bau amis menguar kuat dari pintu yang sedikit terbuka itu sampai-sampai membuatnya mual. Bau amis itu semakin kentara saat angin musim dingin membawanya, memaksa masuk ke hidung Lamia. Bau amis yang Lamia yakin adalah bau darah itu semakin menguat seiring dengan pintu yang dibuka lebih lebar.Lamia tidak mendapati siapa-siapa di ruang tamu. Juga tidak ada hal mencurigakan di sana. Namun, saat hendak menuju dapur pandangannya terkunci pada dua sosok yang terbujur kaku di lantai di dekat pintu kamar. Ibu dan adiknya. Lamia berlari menghampiri. Sesaat kemudian berteriak histeris.Dua perempuan itu sudah meregang nyawa dengan leher tersayat yang mengeluarkan banyak darah. Menggenang di lantai marmer putih. Mata mereka ditutup dengan kain hitam, mulut mereka disumpal dengan kain berwarna hitam juga, sedangkan tangan dan kaki terikat kuat dengan tali jemuran. Lamia menangis sejadi-jadinya. Meraung. Memanggil-manggil ibu dan adiknya.Ratapannya didengar oleh para tetangga, semenit kemudian mereka sudah memenuhi rumah Lamia yang kecil itu. Tentu saja para tetangga sangat terkejut. Mereka saling berbisik, entah apa yang mereka bisikkan. Sesaat mereka mengangguk lalu menggeleng, lalu mengangguk lagi begitu beberapa kali sampai polisi datang.“Aku pergi ke acara reuni SMA sore tadi. Baru pulang lima belas menit yang lalu, tepatnya jam sepuluh lewat lima belas menit.” Lamia menjelaskan panjang lebar kepada dua polisi itu. “Mungkinkah ada seseoarang yang menaruh dendam dengan ibu dan adikmu?” Lamia menggeleng. “Mereka berdua orang baik. Saya yakin tidak ada orang yang dendam.”Kemudian ia teringat ayahnya. Ayahnya adalah seorang pengangguran dan pecandu alkohol kelas berat. Laki-laki itu sering keluar pada malam hari. Mabuk-mabukan sampai pagi. Siang harinya ia gunakan untuk tidur, mengumpulkan tenaga agar malam bisa mabuk seperti biasa. Jika sudah mabuk, laki-laki itu mulai meracau. Saat sampai di rumah ia mengamuk. Meminta uang kepada mereka bertiga, lalu, selalu saja laki-laki itu memaki ibunya yang berakhir dengan beberapa tamparan yang mendarat di pipi sang ibu. Semua itu diceritakannya pada kedua polisi- yang salah satu polisi- sedang sibuk mengamati mayat.“Apakah ayah saya yang membunuh mereka?” tanya Lamia geram. Kedua polisi itu menggeleng kecil. Polisi yang mengamati mayat menggelang lalu menjawab, “Kami belum menemukan petunjuk-” perkataannya terpotong ketika melihat secarik kertas tersembul dari kantong baju ibu Lamia. Laki-laki besar itu mengambilnya. Kertas berukuran kecil itu cukup lusuh, hampir robek menjadi dua. Kedua polisi tadi mengamati dengan cermat, sesaat kemudian menyodorkan kepada Lamia. “Anda tahu tulisan siapa ini?” Wajah Lamia berubah pucat ketika kertas lusuh itu berpindah ke tangannya. Jelas sekali tulisan yang berbunyi: Mati saja! Kalian tak pantas hidup! adalah tulisan tangan ayahnya. Lamia memberitahukan dua polisi itu. “Apakah ayah saya yang membunuh mereka? Benar ayah saya? Iya, kan? Pasti. Pasti. Ini tulisan ayah saya. Siapa lagi yang tega menghabisi nyawa keluarganya sendiri selain laki-laki gila itu.” Lamia berjalan mondar mandir. Tangannya meremas kertas itu sampai menjadi bulatan kecil. “Ayah saya adalah pembunuhnya! Kalian harus segera menangkapnya dan balaskan kematian ibu dan adik saya!” Dua polisi itu pamit setelah mereka menenangkan Lamia dan mengatakan akan mencari ayahnya sampai dapat. Lamia mengangguk pasrah lalu mengucapkan terimakasih pada keduanya.Setelah polisi pergi bersama kedua mayat itu, Lamia hanya terduduk lesu di lantai berhadapan dengan noda darah yang masih bertengger di sana. Lamia kembali terisak. Ia mengutuk ayahnya dalam hati. Empat orang tetangga yang masih setia di sana berusaha menenangkan Lamia. “Ikhlaskanlah.” “Ini adalah kehendak Tuhan.” “Berdoalah semoga pembunuhnya cepat tertangkap.” Lamia memejamkan mata. Mendengar kata-kata sampah itu membuatnya sakit kepala. Ia akan merasa lebih baik jika para tetangga itu diam saja. Tidak usah terlalu menampilkan rasa simpati padanya. Rasa simpati yang Lamia yakin seratus persen dibuat-buat.“Kasihan sekali. Ibu dan adiknya dibunuh. Ayahnya pasti sedang mabuk entah dimana.” “Siapa pelakunya?” “Tentu saja ayahnya” “Kupikir bukan.” “Mengapa tidak? Ayahnya punya tabiat sangat buruk. Mabuk-mabukan tiap hari dan suka main tangan. Aku tidak heran kalau dia yang membunuh istri dan anaknya.” “Tidak mungkin laki-laki itu bisa membuhuh istri dan anaknya. Ia takkan mampu menyayat leher serapi itu. Berjalan saja ia sempoyongan. Hahaha.” “Benar sekali.” Tawa para tetangga lepas begitu saja membentur lantai dan memenuhi rumah yang dingin karena pintunya dibiarkan terbuka. Lamia menggeram tertahan, seharusnya yang mati adalah para tetangganya ini. Mulut mereka bahkan lebih kotor dari pada tempat sampah di seberang jalan.Belum selesai Lamia mengutuk tetangga dalam hati, ponselnya berdering. Temannya yang tadi bertemu dengannya di acara reuni menelepon. Dengan ragu Lamia menjawab. “Mia, seorang warga menemukan mayat mengapung di pinggir sungai. Aku mencoba merapat ke sana dan aku mendapati wajah mayat itu adalah wajah yang kukenal,” kata temannya yang sontak membuat Lamia gugup. Gadis itu menggigit bibirnya. Lalu suara temannya terdengar lagi. “Sepertinya mayat itu ayahmu. A-aku tidak begitu yakin, sih. Bisa saja bukan, kan? Jadi maukah kau kemari dan memastikannya?” “Ayahku?” ulang Lamia. “Wajahnya mirip dengan wajah ayahmu. Namun sumpah, aku tidak yakin dengan ingatanku.”Lamia langsung bangkit dan bergegas memanggil taksi kemudian pergi menuju sungai yang dimaksud oleh temannya. Sungai itu terletak cukup jauh dari tempat tinggalnya. Perlu waktu tiga puluh menit perjalanan dengan mobil jika jalanan lengang seperti sekarang.Lamia sampai tepat tiga puluh menit kemudian, polisi sudah tiba jauh sebelum dirinya. Setelah membayar tip taksi Lamia hanya berdiri di pinggir jalan. Matanya menatap kerumunan manusia berdiri di depan bentangan garis berwarna kuning, garis polisi. Para polisi sibuk mengamankan warga yang mencoba menerobos, masuk melewati garis kuning itu.“Apa yang terjadi padanya?” “Entahlah! Sepertinya bunuh diri.” “Mungkin jatuh dari jembatan karena mabuk berat.” “Sepertinya meninggalnya sudah lama.” “Mungkin kemarin malam.” “Ya, ya. Mayatnya baru ditemukan mengapung oleh seorang pemancingkan?” “Ya benar.” Para warga yang berdiri agak jauh dari mayat saling menimpali satu sama lain. Lamia yang mendengar itu hanya mendengus kecil, terukir senyum tipis yang tidak terlalu kentara pada wajahnya. Entah ia tersenyum karena apa.Lamia hanya menatap mayat yang telah ditutupi kain dari kejauhan. Matanya yang sedari tadi menyiratkan kesedihan kini telah berganti. Ada rasa puas yang terpancar di sana. Ia lalu pergi menjauh. Baru beberapa langkah, para warga di belakangnya berteriak saat kain penutup itu tertiup angin dan menampilkan setengah badan si mayat.“Lihat! Lihat lehernya!” “Lehernya menganga!” Tanpa menoleh, lagi-lagi Lamia tersenyum. Kali ini lebih lebar menampilkan barisan giginya. Seseorang menatap Lamia. Lamia menyadari itu lalu berjalan menghampirinya. “Terimakasih.” kata Lamia sambil menepuk pundak orang yang berbaju hitam itu. Orang itu mengangguk, ia menyerahkan sesuatu kepada Lamia. Sebuah foto keluarga seukuran telapak tangan dengan sedikit bercak darah di pinggirnya. Di foto itu tampak tiga orang yaitu ibu, ayah dan adiknya yang tengah tersenyum bahagia.
Detektif SMA Keira dan Kasus Bar M
Keira salah satu teman terbaikku. Kecantikan yang tidak ada duanya dan kepintaran yang dapat membuat semua hati lelaki dan perempuan berdebar. Ia blasteran Australia dan chinese Indonesia. Sepulang sekolah setelah Ekskul kami selalu minum-minum di bar dekat Blok M Jakarta Selatan. Walau kami belum 18 dan ber-ktp muslim, Keira mengenal pemilik bar sehingga kami diperbolehkan minum di Barnya terkadang itu juga gratis.Anak seumuran kami datang ke bar dan club terkadang sangat mencolok. Mereka yang dewasa dan berpengalaman dapat mencium bau seorang bocah seperti diriku. Keira dengan kedewasaannya dapat dengan mudah membaur dirinya. Menurutku rambutnya yang pendek dan diwarnai membuatnya tampak cantik.Dari semua kasus yang temanku tangani mungkin kasus pertama merupakan kasus dimana cerita ini harus dimulai setelah pertemuan kami di New York. singkatnya pada sore hari itu kami datang terdapat empat tamu yang mendahului kami, sebenarnya tiga tapi akan kujelaskan. Bisanya Keira dan dirikulah yang hanya berada di sini ketika Boss membuka Barnya. Boss menyuguhkan kami minuman yang biasa kami minum, Martini. Kami duduk di meja bar selagi empat tamu lain duduk di tempat yang berbeda.Yang pertama seorang berambut pirang di ujung Bar menggunakan Polo berlogo dan celana pendek. Ia sepertinya meminum Bintang tetapi bisa terlihat bahwa dia telah menghabiskan beberapa botol bintang di mejanya. Seorang lain bersandar ke jendela di ujung, beretnis Tionghoa dengan kumis tipis. Bajunya kemeja rapi dengan celana panjang serta sepatu sandal. Bukanlah tipe yang biasanya terlihat di bar tetapi itu bukanlah hakku untuk menghakimi seseorang. Ia terlihatnya meminum Smirnoff dengan gelas sejernih itu pun terlihat seperti meminum air.Yang ketiga terlihat anak Punk dengan rambut panjang dan tangan bertato. Menggunakan tanktop polos hitam, kalung militer serta celana jeans yang ketat. Tindikan di telinga dan jidatnya membuatku sedikit takut. Ia bermain billiard di belakang panggung Pole Dancing. Kemudian orang ke empat datang dengan baju seksi dan pakaian minim, celana pendek jeans dan baju yang menunjukan udelnya. Ia merupakan penari di sini akan tetapi diriku tak pernah dekat dengannya. Ia dengan cepatnya memeluk Keira dan memegang pinggulnya. Diriku berusaha menahan amarah yang kupendam melihat Keira dengan senang hati melayani dirinya. Kemudian ia mengatakan, “terimakasih yah Kei buat main-main kemarin, mungkin kau bisa mengajak temanmu yang imut” mereka memandangku dan diriku hanya melihat ke arah yang berlawanan dengan rasa kesal. Kemudian dengan pelan ia meninggalkan kami dan pergi ke ruang belakang.Keira seperti memandang perempuan tersebut dengan senyum dan pandangan yang tidak bisa kujelaskan. Dia dengan mudahnya menyatakan bahwa diriku iri pada perempuan itu. Diriku tahu bahwa itu salah tetapi ku masih merasa kesal dan kuminum Martini Nya hingga habis untuk pembalasan. Diriku sendiri teler dan sudah merasa mabuk ingin muntah. Diriku pergi berjalan ke belakang dan menuju toilet selagi Boss dan Keira berbincang.Setelah memuntahkan isi perutku di toilet, ku akhirnya dapat berpikir lebih jelas dan ku melihat berbagai kamar berdempetan. Tentu saja kamar itu untuk menarik orang VIP dan melayani jasa yang cukup intim. Tetapi kamar yang berada paling ujung terlihat menyala, membuatku berpikir mengenai penari yang datang lebih awal. Walau begitu bukanlah itu yang mengejutkanku, karena melihat pintunya terbuka dan membuatku berteriak melihat sang penari tergeletak dengan kepala berlumuran darah. Keira dan Boss datang menghampiri segera menelpon 118.Keira mengecek detak jantungnya dan untungnya ia masih terselamatkan. Kami berhasil membawanya menuju ambulans, segera Boss menutup Bar dan Keira meminta ketiga orang tersebut untuk tetap di tempat. Ia menyatakan untuk menyelesaikannya di sini dengan Boss dari pada dengan polisi. Kami juga tidak mau membawa kasus ini menuju polisi karena korban terselamatkan serta membawanya akan membawa nama buruk bagi barnya Boss.Keira meminta Boss untuk membolehkannya melihat kamar kejadian lebih lama. Keira menunjuk bekas darah di tempat tidur dimana kepalanya bersandar, genangan Air di ambang pintu serta darah di atas lubang mata pengait pintu. Setelah itu kami mewawancarai ketiga tersangka. Semuanya menjelaskan cerita yang sama, bahwa mereka pergi ke toilet dan melihat pintunya tertutup.Yang pertama memperkenalkan diri sebagai seorang dosen yang datang dari luar dan hanya minum setelah bepergian dengan teman-temannya. Yang kedua seorang penjaga toko kelontongan dan ketiga merupakan biker yang sedang singgah. Diriku tak melihat bahwa diantara mereka bersalah. Terutama sang dosen yang bila kulihat Handphone Nya memiliki photo anaknya sebagai wallpaper.Keira membisikan ke diriku bahwa dia sudah memecahkan misterinya. Setelah kami mendapat privasi, ia mulai menjelaskan terhadap diriku dan Boss setelah kami memberikan pendapatnya terhadap Keira. Menurutku sendiri orang biker itu merupakan yang salah karena ia yang paling terlihat bisa melakukan hal ini.Keira menjitak diriku dan berkata, “kamu jangan meloncat ke konklusi begitu saja. Walau begitu kau memang benar, bahwa si bule tidak bersalah. Selain wallpaper di handphonenya, ia memiliki cincin, jadi dia bukanlah klien. Sedangkan dia juga terlalu mabuk untuk melakukan itu. Maka tinggal dua tersangka kita. Terus begini menentukannya, senjatanya yang ia gunakan masih ada di ruang Kejadian.” Boss dan diriku saling menatap dan mengatakan “ooooh”Sepulangnya dari bar diriku bertanya pada Keira bagaimana ia mengetahuinya? Kemudian ia menjawab bahwa dia sudah mengetahuinya setelah melihat genangan air dan tempat gelas smirnoff itu kehabisan es. Diriku juga tidak menyangka bahwa ternyata orang punk itu adalah pacar penari tersebut dan yang menyebabkan kecelakaan ini adalah bapaknya si penari yang memiliki toko kelontong tersebut.Kemudian diriku mulai bertanya pada Keira, “jadi apakah kau benar-benar melakukannya dengan penari tadi…” sambil ragu-ragu ku mengatakannya. “Kyln Ismail, kau tidak iri kan?” ia mengatakannya sambil berusaha melihat wajahku yang memerah “Tentu Tidak, aku tidak iri” sambil berusaha melihat ke arah lain menyembunyikan wajahku. Ia kemudian membisikan bahwa ia hanya bermain kartu bersama si penari. Itu membuatku makin malu dan menjongkok menutup wajah diriku bahwa diriku telah berpikiran kotor mengenai temanku sendiri.“Sudahlah, kuantar kau pulang ok” ia melempar helmnya padaku dan diriku hanya bisa menjawab iya dengan kesal. Hari itu rasanya pelukanku lebih erat pada Keira, “lo bangsat tau” Dia hanya menjawab “tau kok” sambil tertawa kecil.
Detektif SMA Keira, Drama di Club Drama
Ekskul Drama Club, ekskul yang menguasai panggung dan aula sekolah. Setiap pulang sekolah pasti aula dikuasai mereka. Sedangkan diriku Kyln memiliki peran penting di club tersebut sebagai pengatur lampu, “Akulah Kyln Lampu” sambil melakukan gaya di ujung platform dimana ada spotlight. “Hey ketua, pesanan datang” diriku berbalik melihat Keira yang membawakan Ayam penyetku. “Ih Kei kita kan di Drama club bukan Gaming club, aku kan bukan ketua di ekskul ini” “Yah kau ketua lampu” dia mengusap kepalaku dengan sedikit mengacak rambutku.Diriku menjelaskan pada Keira bahwa tidak ada orang yang ingin mengambil tugasku ini, semua berfokus pada panggung. Terus dia melanjutkan dengan mengatakan, kalau diriku mengambil tugas ini karena diriku bisa lari bermain hp ketika ada acara atau ceramah di aula. Dengan alasan bahwa diriku bekerja mengatur lampu. Walaupun itu benar… ketika ceramah tamu dari pemerintah mengenai penggunaan narkoba, atau pas pendidikan digital, atau pas semua dicermahi ketika ada yang salah. Mengingatnya lagi membuatku sedikit tersenyum tetapi senyum itu sedikit terhapuskan melihat ayam penyetku ada sambelnya.“KEI!! Kan gue udah bilang gak bisa makan pedes” “Oh iya! Sorry gue lupa bilang, sini gue bersihin”Kemudian di tengah cakap-cakap kami, keributan terjadi di depan panggung. Keira mempertanyakan hal tersebut, yang membuat diriku harus menjelaskan bahwa hari ini adalah pemutusan pemain. Setelah beberapa menit kami turun dari platform yang seperti lantai dua ruangan aula tersebut. Kami menanyakan mengenai kejadian yang terjadi terhadap dua teman kami. Asep, teman yang sangat unik dan memiliki kepercayaan yang tinggi. Walau wajahnya tidak mendukung tetapi berkat keahliannya dan kelucuannya membuatnya dapat peran. Kemudian ada Kurua lelaki dengan wajah dewasa karena kumis tipis serta jenggotnya ini menjadi direktur dan sutradara untuk tim kedua pentas semester ini.Mereka menjelaskan bahwa terjadi perdebatan antar siapa yang menjadi pemain utama pada tim satu. Karena biasanya tim dua memainkan drama sampingan saja. Tetapi diriku tidak bisa menahan diri harus memuji teman-temanku Kurua dan Asep yang dapat memainkan adegan di drama pentas semester ini. Mereka hanya menyampingkan pencapaian mereka, itupun belum tentu mereka sukses.Dalam beberapa minggu terakhir kami berlatih dan tentunya diriku harus berada di sana untuk mengatur lampu. Kemudian dalam beberapa kali latihan terjadi beberapa gangguan di panggung, dari panggung lantai yang roboh, hingga peralatan yang hampir mencelakai pemain. Untung saja tidak menjadi masalah apapun karena diriku selalu memeriksa lampu sebelum dan sesudah hingga dua kali. Tentunya diriku bangga dengan hal tersebut, karena integritasku lah yang membuat diriku dipercaya akan posisi ini.Pada gladi bersih, sehari sebelum pentas. Ketika semua orang telah selesai latihan, hanya diriku dan Keira yang tersisa. Kemudian kami pergi ke kamar mandi untuk cuci tangan. Keira bersikar untuk diriku menggunakan sarung tangan ketika memeriksa lampu karena debu serta lampu yang penuh oli. Diriku menolaknya karena diriku tidak bisa menyetel lampunya menggunakan sarung tangan yang kebesaran untukku.Sepulang itu kami juga berpapasan dengan si pemeran utama di tim satu. Falerisia, seorang yang sudah memainkan sinetron dan juga sangat cantik. Keira dan diriku juga tidak dapat menyangkal fakta tersebut. Ia masih menunggu taxi online, setelah bercakap Keira dan diriku berjalan menuju parkir motornya. Keira melamun sebentar di samping motornya ketika ingin mengenakan helmnya. Ketika ku bertanya mengapa ia hanya bergumam tangan kiri. Kemudian ketika dia kembali tersadar dia meminta maaf kepadaku. Terkadang hal seperti ini membuatku kesal tetapi dia sedikit imut ketika melakukannya.Esok harinya ketika pentas, tim kedua berhasil melakukannya dengan sukses. kemudian ketika tim pertama, dan pemain utamanya bermonolog di tengah panggung bersama pasangan lelakinya yang menjemputnya. Gorden ditutup salah satu lampu sorot di langit-langit panggung copot dan menggantung, berayun mengenai pemain utama Falerisia pingsan serta pasangan lelakinya mendapat luka lebam pada wajahnya. Tentu saja diriku dimarahi saat itu juga ketika istirahat, oleh ketua ekskul kami. Diriku sudah ingin menangis ketika itu, tetapi kemudian Keira memotong kata-kata ketua. Keira menunjukan sarung tangan kostum putri Falerisia yang sedikit menghitam di ujungnya. Juga menunjukan bahwa sarung tangan khusus membenarkan lampu juga digunakan. Ia menunjukan kebiasaan diriku yang sering tidak menggunakan sarung tangan. Bekas oli hitam pada sarung tangan Falerisia menunjukan ini perbuatannya sendiri apapun tujuan awalnya.Ketua club Drama kami, Clodia kemudian berkata “bahwa kak Ren yang sekelas bersamanya merekomendasikan diriku untuk membantu club drama di bagian lampu karena kinerjaku pada acara MUN”. Kemudian pada saat itu juga ia menghukum diriku dan Keira untuk memainkan perannya Falerisia dan pasangannya untuk apapun yang terjadi, karena the show must goes on katanya. Aku beralasan bahwa aku harus mengurus lampu tetapi ketua menugaskan Asep dan Kurua menggantikanku di bagian lampu, membuatku sedikit menyesal mengajarkan mereka mengenai lampu.Melihat Keira menggunakan baju pangeran membuat wajahku memerah. Kemudian diriku bertanya, “bagaimana dengan diriku?” ia mengatakan bahwa diriku sangat cantik yang membuatku makin berdebar. Setelah memainkan beberapa adegan, Falerisia yang baru sadar meminta maaf padaku dan diriku bukanlah target yang ia ingin lukai. Diriku memaafkannya tetapi apapun alasanya, dia seharusnya tidak harus sampai sejauh itu hingga harus melukai seseorang.Keira kemudian datang dan berbisik pada Falerisia. Diriku hanya mendengar kata opsional. Ternyata diriku baru sadar apa yang mereka bisikan. Pada adegan terakhir, karakterku ditikam oleh pasangannya sendiri dan sang pasangan meminta maaf pada pasangannya ketika karakterku mati. Ketika Keira sudah menikam diriku di atas panggung, kuucapkan dialog terakhirku dan mengatakan “aku selalu mencintaimu, pangeranku” tanpa sepengetahuanku Keira menciumku di bibir di atas panggung dan membuat semua orang terdiam hingga tirai ditutup. Wajahku yang memerah terus memerah bahkan ketika semuanya selesai dan bertepuk tangan.Banyak yang memuji Keira dan aktingnya setelah itu, mereka bahkan mengajaknya untuk bergabung dalam ekskul. Setelah bersih-bersih, diriku bertanya mengenai kasus hari ini. Ia menjelaskan bahwa Falerisia menargetkan pemain antagonisnya yang merupakan seorang influencer di sosial media. Ini terbukti dari lampu yang tepat selalu berada di atas pemain sang antagonis. Ketika ku menanyakan mengapa alasan ia melakukan hal tersebut, Keira menjawab bahwa alasannya tersebut menjadi bukti kedua. Setelah Keira menjelaskan alasannya, diriku hanya berkata, “Demi apa!? Hanya karena gitu doang?!”. Membuat diriku berpikir dua kali untuk menjadi artis.
Anak Rajin
Pada suatu waktu, hiduplah seorang anak yang rajin belajar. Haikal namanya usianya 13 tahun Sehari hari ia berladang. Juga mencari kayu bakar di hutan. Hidupnya sebatang kara. Haikal amat rajin membaca, semua buku habis dilahapnya. Ia rindu akan pengetahuan.Suatu hari ia tersesat di hutan. Hari sudah gelap. Akhirnya, haikal memutuskan untuk bermalam di hutan. Ia bersandar di pohon dan jatuh tertidur.Dalam tidurnya, samar samar haikal mendengar suara memanggilnya. Mula mula ia berpikir itu hanya mimpi. Namun, disaat dia ia terbangun, suara itu masih memanggilnya. “Anak muda, bangunlah!” “Siapakah engkau? Mengapa aku ada di sini?” haikal amat bingung. Dari mana suara itu berasal? Ia mencoba melihat ke sekeliling. “Aku di sini. Aku pohon yang kau sandari!” ujar suara itu lagi. Seketika haikal menengok. Alangkah terkejutnya ia! Pohon disandarinya dan haikal menanya si pohon tersebut “Siapa kamu?” “Namaku pohon pintar aku bisa membuat kamu menjadi anak pintar” dan haikal pun tidak percaya perkataan pohon tersebut “Kalau gitu kita buktin. Nanti sewaktu kamu pulang dari hutan ini kamu makin sangat rajin belajar dan pintar”Pada suatu hari haikal berangkat ke sekolah dia mendapatkan ulangan harian dari gurunya dan ia memgerjakannya sendiri biasa haikal selalu mencontek ulangan pada temannya dan dia sudah mengerjakan sampai selesai setelah itu gurunya mengoreksi ulangan haikal mendapatkan nilai diatas kkm. Dan besoknya gurunya membagikan hasil ulangannya haikal pun terkejut mendapatkan nilai yang sangat bagus. “Apa benar perkataan pohon pintar itu?”Keesok harinya haikal mendatangi pohon pintar itu lagi. “Perkataan kamu kemarin sangat terbukti nyata sekali dengan perkatanmu kemarin dan aku mendapatkan nilai ulangan yang bagus tanpa menyontek biasanya tidak bisa mendapatkan nilai sebagus itu apa lagi mengerjakan sendiri”. “Sekarang terbukti kan perkataanku kemarin?” “Iya sangat terbukti sekali perkataanmu” Dan haikal berpamitan ke pohon pintar untuk berpulang ke rumah karena hari sudah mulai malam.Sesampai di rumah dia pun bersih-bersih rumah dan dia membersihkan badannya, setelah itu haikal membantu ibunya memasak untuk makan malam dan setelah makan haikal pun mengerjakan tugas-tugas dari gurunya setelah mengerjakan tugas dari gurunya dia pun tertidur.Dan keesokan hari dia bangun pagi-pagi untuk berolahraga dengan teman-teman karena hari ini hari minggu setelah berolahraga dia pulang dan membersihkan bandanya agar tidak berbau badan setelah membersihkan badan haikal diajak kedua orangtuanya keluar untuk mencari makan dan sesampai di rumah makan dia pesan makanan dan minuman setalah makan haikal diajak kedua orangtuanya ke mall untuk membelikannya baju karena mendapatkan nilai yang bagus, haikal senang karena dibelikan baju kedua orangtuanya.2 minggu kemudian haikal mendapatkan informasi dari gurunya akan melaksanakan ulangan akhir semester dan dia belajar dengan tekun agar mendapatkan peringkat, esok harinya haikal mengerjakan ulanganya dengan tenang selama 4 hari ulangan pun berakhir guru-guru mencocokkan hasil semua ulanganya dan ternyataa haikal mendapatkan nilai yang sangat bagus dan mendapatkan peringkat 1 haikal pun terkejut melihatnya.Sesampai di rumah haikal pun memberi tahu kedua orangtuanya karena di mendapatkan nilai bagus dan peringkat 1 orangtuanya bangga dan sangat senang karena haikal mendapatkan peringkat 1 di sekolah, sore hari haikal mendapatkan kejutaan dari kedua orangtuanya yaitu berupa sepeda yang dia inginkan dia pun sangat senang sekali karena dia berhasil mendapatkan sepeda yang dia inginkan sekali.Haikal pun memakai sepeda motornya tersebut untuk berjalan jalan sore dengan teman temannya. Haikal sangat senang menggunakan sepeda barunya tersebut dan keesokkan harinya haikal memakai sepeda untuk berangkat ke sekolah bersama teman temannyaSesampai di sekolah teman teman haikal yang ada di sekolah bertanya kepada haikal “Dibelikan siapa sepeda baru itu kal?” “Dibelikan oleh kedua orangtuaku karna aku mendapatkan peringkat 1.” “Wahh beruntung banget kamu” “Dan juga berkat pohon pintar aku menjadi rajin belajar dan menjadi pintar” “Wahh kamu banyak banyak bersyukur karna berkat pohon pintar kamu menjadi sangat pintar”.
Alena dan Peri Cream Kue
Pada salah satu desa pelangi yang segar dan sejuk. Tinggalah seorang anak yang bernama alena yang sangat menyukai cream kue. Dia suka membuat cream kue.Pada suatu hari, alena menginginkan cream kue itu hidup dan bisa berbicara agar alena bisa bermain dengan cream kue itu. Alena pun berkata “ahhh namun tidak mungkin cream kue itu bisa hidup dan berbicara”. “tapi aku ingin bermain bersama cream kue”Pada suatu saat di malam hari ketika alena mau tidur datanglah seorang peri cream kue. Peri itu tau kalau alena suka membuat cream kue tapi mengapa sekarang alena jarang membuat cream kue. Peri itu pun bertanya kepada alena. “mengapa kamu sudah jarang membuat cream kue bukannya kamu suka dan senang membuat cream kue”. Alena terkejut mengapa peri itu bisa ada di kamarnya dan mengetahui semua tentangnya. Alena pun menjawab. “aku ingin bermain bersama cream kue dan ingin cream kue itu hidup”. Peri itu pun berkata “aku bisa mewujudkan apa yang kmu inginkan.”Keesokan harinya, pagi hari alena bangun dan ketika ia melihat keluar ia sangat terkejut di halaman rumahnya terlihat banyak cream kue yang sedang bermain.Alena pun keluar rumah dan salah satu cream kue pun mengajak ia bermain. “Hai alena, aku coky,” kata coky patung cream kue sambil menyapa alena “Haii juga coky,senang bertemu denganku,” jawab alena “Alena kamu mau enggak bermain sama aku,” kata coky “Ayoo, aku mau kok,” jawab alena “Banyak ya teman-temanmu disini?” Tanya alena “Iya banyak teman-temanku disini, ini berkat kamu buat banyak cream kue,” jawab coky “Hahahah iyaa juga yaa,” saut alena sambil tertawaAlena pun sangat senang ia bisa bermain bersama cream-cream kue itu dan alena tidak menyangka bahwa desanya dipenuhi oleh cream kue. Tak terasa hari demi hari ia lewati dengan bermain bersama cream kue itu.Saat musim dingin tiba, dimana di hari itu cuaca yang sangat amat dingin sekali membuat cream-cream kue itu mulai membeku dan mengeras, sampai-sampai semua patung pun tidak bisa bergerak.Alena berusaha untuk menghangatkan cream-cream kue itu namun cream kue yang banyak dan cuacanya yang sangat dingin membuat semua cream kue-nya membeku dan mengkeras. Alena bingung apa yang harus dia lakukan agar cream-cream kue itu tidak mengkeras dan membeku.Ketika ia duduk dan ia mengingat peri yang waktu itu mendatanginya ke kamar. Alena terus mencari peri itu dia mencari kesana kemari dan mencari kemana-kemana dia masih belum menemukan peri itu alena lelah dan putus asa ia sedih karena tidak bisa menemukan peri itu.Tak lama kemudian peri itu tiba-tiba datang dan menghampiri alena, alena sangat senang peri itu menemuinya. Alena menceritakan semua yang terjadi dan dia menginginkan cream-cream kue itu agar bisa hidup dan bergerak saat di musim dingin. Peri itu bisa menghidupkan kembali cream-cream kue itu dengan syarat, cream kue itu tidak bisa hidup dan bermain lagi dengan alena lagi. Alena bingung jika ia ingin cream kue itu kembali dan tidak mengaras dan membeku, ia tidak bisa bermain lagi dengan cream kue itu.Alena pun mengambil keputusan bahwa cream kue itu kembali seperti sebelumnya dan dia tidak bisa bermain lagi dengan cream kue. “Kebalikan semua cream kuenya seperti sebelumnya peri” kata alena sedihSemuanya sudah kembali seperti semula dan alena pun sangat sedih karena tidak bisa bermain lagi dengan cream-cream kue tersebut dan alena sekarang pun jadi jarang buat cream kue lagi.
Arloji Dari Kakek
Pagi saat mau berangakat sekolah, Ega bersiap siap untuk berangakat ke sekolah memakai seragam serta tidak lupa juga ia memakai arloji kesayangan pemberian kakeknya, namun saat ia memakai arloji tersebut ternyata arlojinya mati. Ega pun bertanya kepada ayahnya.“Yah ini arlojinya kok mati ya?” tanya Ega “Waduuh ayah juga gak ngerti, arloji ini udah sangat tua” jawab ayah dengan kebingungan “Terus gimana dong yah, ini kan arloji kesayanganku yang dikasih dari kakek” ucap Ega dengan mata berkaca kaca “Gimana kalo nanti sore kita pergi ke rumah kakek, coba kamu tanyakan ke kakekmu” ujar Ayah “Oke yah nanti sore ya,” jawab Ega dengan penuh semangatEga pun berangakat sekolah bersama adiknya Jio, Ega agak sedih karna berangakat sekolah tanpa memakai arlojinya, Jio mencoba menyemangati Ega namun Ega Cuma tersenyum dan berterimakasih karena telah menyemangatinya.Sesampainya di sekolah Ega dan Jio berpisah untuk pergi ke kelas masing masing, sesampainya di kelas Ega langsung pergi ke bangakunya. Bahkan teman teman Ega pun menanyakan kemana arloji yang biasa dipakai Ega. “Kemana perginya arloji yang biasa kamu pakek Ga” tanya Zidan “Di rumah Dann arlojiku mati jadi gak kupakai dulu” jawab Ega “ohh gitu ya Ga” ucap ZidanEga pun bersekolah dengan sedikit kesedihan, setelah sekolah selesai Jio langsung menemui Ega untuk pulang bersama. Setelah sampai di rumah Ega dan Jio bebersih dan mandi untuk bersiap siap pergi ke rumah kakek, namun ternyata ayah belum di rumah.Ega pun menanyakan ke ibu “Buu ayah kemana, kok gak di rumah” tanya Ega ke ibu “Ayah masih keluar untuk mengecek perkebunan pisang dulu sebentar” jawab Ibu “Yahhh.. pasti lamaa” ucap EgaEga menunggu dengan sangat berharap ayah cepat pulang, setelah lama menunggu ayah pun pulang, Ega pun langsung menghampiri ayah dan menanyakan kapan ke rumah kakek untuk membetulkan arlojinya “Ayah kapan kita berangakat ke rumah kakek?, katanya tadi saat sore, ini kan udah sore, ayok berangakat yah” tanya Ega “Iya iya bentar lagi ya ayah bersiap siap dulu” jawab Ayah “oke Yah” ucap Ega Ayahpun bersiap siap untuk pergi ke rumah kakek.5 menit kemudian ayah memnggil Ega untuk mengajaknya pergi “Egaa hayuk berangakat, jadi tidak?” tanya Ayah “Iyaa Ayaah sebentar lagi, Jio masih ganti baju dulu” jawab Ega “okee, jangan lama lama ya” ucap AyahMereka beriga berangakat ke rumah kakek, rumah kakek tidak terlalu jauh dari rumah Ega, sesampainya di rumah kakek Ega langsung turun dari motor dan langsung mencari kakeknya, nenek pun menghampiri Ega dan lansung memeluknya “Oohhh cucuku tersayaang, gimana kabarmu? mana ayahmu dan adikmu? sudah makan belum?” tanya nenek sambil memeluk Ega “Aku baik nekk.., mereka berdua masih di motor aku juga sudah makan, gimana kabar nenek juga? kemana kakek nek?” jawab dan tanya Ega “Nenek sehat sehat kok apalagi ketemu Ega dan Jio yang tadinya capek jadi sehat lagi deh, Kakekmu kan seperti biasanya pasti di ruangan koleksi antiknya, dimana lagi kalo bukan disana” jawab nenek “Oke nek makasih aku mau kesana dulu yaa” ucap Ega sambil lari ke ruangan koleksi milik kakek “Jangan larii Egaa nanti jatoh loh!” sentak nenek Jio pun mengikuti Ega ke ruangan koleksi kakeknya sambil berlari memegang boneka kesayangannya “Awasss jatoh Jio, jangan larii!!” sentak Nenek ke JioSetelah sampai di ruangan koleksinya si kakek, kakek sedang membersihkan salah satu koleksinya, Ega pun langsung menghampiri kakek, kakekpun langsung meletakan barangnya dan langsung memeluk Ega dengan erat, Jio pun datang dan ikut merasakan pellukan erat dari kakek.Ega pun langsung menanyakan kek kakek kenapa arlojinya mati. “Kakek kenapa arloji ini mati yah?” tanya Ega ke ke kakek “Coba kakek cek dulu ya Ga” jawab kakekSetelah dicek oleh kakek, kakek pun langsung mengerti apa yang terjadi di arloji tersebut, kakek pun langsung menjelaskan kenapa arloji tersebut mati kepada Ega. “Sepetinya kakek tau kenapa arloji ini mati” ucap kakek “Kenapa memangnya kek?” saut Ega “Jadi arloji ini bukan arloji biasa, arloji ini bisa membawa kita yang memakai bisa kembali ke masa lalu dan dapat kembali lagi ke masa dimana kita memakainya, jadi arloji ini tidak rusak tapi karna dia lagi menyesuaikan dengan semua ingatanmu” jelas kakek ke Ega “Beneran kek? Kakek tidak bercanda kan?” tanya Ega dengan kebingungan “Beneran lah, masak kakek boong sih, Ega gak liat muka kakek yang seserius ini” jawab kakek ke Ega dengan muka yang seriusTiba tiba arloji tersebut bercahaya dan berfungsi kembali dengan putaran yang agak lebih cepat dari biasanya, cahayannyapun tidak lama dan langsung kembali sepeti biasanya, Ega dan Jio pun terheran heran melihat arloji tersebut.“Apa yang terjadi tadi kek?” tanya Ega dan Jio kepada kakek “Sepertinya arloji tersebut sudah selesai melihat semua ingatanmu di masa lalu, sekarang kamu bisa kembali ke masa lalumu” jawab kakek “Bagaimana caranya kek?” tanya Ega “Kakek akan mengajarimu namun ingat jangan menyalahgunakan arloji ini untuka kejahatan ya Ga!” jawab dan sentak kakek ke Ega “Baik kek Ega janji tidak akan menyalah gunakannya” ucap EgaAkhirnya Ega pun diajari kakek bagaimana cara menggunakan arloji tersebut, mereka juga berhasil kembali ke masa lalu dimana Ega mau dilahirkan, disitu Ega pun bisa melihat saat saat dia dilahirkan oleh ibunya. Ega pun menangis melihat perjuangan ibunya melahirkanya dan Ega pun ingin segara kembali karna tidak kuat melihat perjuangan ibunya, kakek pun langsung mengembalikan kemasa dimana mereka memulai ke masa lalu, tidak lupa juga kakek memberi tahu cara kembali ke masa awal.Mulai saat itu Ega terus menggunakan arlojinya tersebut untuk berbuat kebaikan dan ingin menjadi pahlawan yang dapat kembali kemasa lalu agar masa depan menjadi lebih baik.
Sebuah Buku
Saat hari libur kuliah, Er sedang menginap di rumah saudaranya yaitu Adit. Pada hari Minggu pagi, Cuaca di sana sedang gerimis, saat itu Adit sedang membersihkan gudang lama yang ada di rumahnya, dan Ia tampak sedikit kesusahan untuk membersihkan gudang itu sendiri, lalu Er berinisiatif untuk membantunya.“Hei Dit, kau sepertinya sedang perlu bantuan. Mau kubantu?” “Iya jelas dong, sini bantuin angkatin barang-barang lamaku.”Setelah itu, Er pun membantu saudaranya membersihkan gudang. Lalu pada saat mengangkat kardus terakhir, mereka menemukan sebuah buku-buku lama yang berada di dalam kardus tersebut.“Beuh… banyak bet bukumu Dit, dari kapan tu bukumu disimpen disini?” “Dari jaman SMA dulu sih, tapi kecampur sama buku punya Ibu.”Er pun melihat buku-buku itu dan membuat Ia tertarik untuk membaca buku-buku tersebut. Ia pun meminta izin saudaranya untuk membaca buku-buku yang ada di kardus tersebut. Dan dia memutuskan untuk mengambil buku yang paling besar, dan saat itu mereka menyudahinya karena sudah lumayan bersih dan mereka juga sudah lelah.“Em… ni buku kok gada judulnya ya? pake aksara Jawa lagi ni buku,” gumam Er dalam hatinya.Walau Er tidak mengerti judul buku tersebut, Ia pun tetap ingin mencoba membaca buku itu. Di-buku tersebut terdapat gambar bunga yang pernah dia lihat sebelumnya pada saat ziarah.Pada malam harinya dia mencoba mencari semua bunga dan perlengkapan yang lain persis seperti yang ada di-buku tadi. Saat Adit pergi kerja shift malam di pabrik, Er mengundang teman yang dia kenal ke rumah saudaranya.“Eh kalian ada waktu kosong ga? kalo kosong, kalian kesini dong kerumahnya Adit.” ucap Er ketika Ia bertelepon dengan teman-temannya. “Oke… kita langsung utiwi ya.” ucap “Siap… ku tunggu.”Saat teman-temannya sudah sampai, Er pun menyuruh mereka untuk masuk kedalam rumahnya. Lalu Er pun menunjukkan apa yang Ia lihat di-buku yang tadi Ia baca.“Apaan tuh? kok agak aneh gitu.” tanya Rizki yang kebingungan melihat buku itu. “Iya loh, buku ini lumayan aneh kalo dilihat-lihat.” saut Reza. “Mungkin aja ni buku ritual mendapatkan uang” ucap Artanto sembari bercanda. “Hahaha, bisa jadi.” ucapku. “Yaudah ayo dicoba aja.”Disaat hendak mencoba ritual, datanglah Adit yang tiba-tiba sudah kembali dari tempat kerjanya, dikarenakan ada beberapa masalah di pabriknya sehingga membuat Ia pulang lebih cepat.“Assalamualaikum…” “Eh, kok gak ada yang jawab ya…,” pikir Adit yang merasa sedikit aneh. Karena merasa aneh tanpa pikir panjang Adit langsung berlari ke sekeliling rumah, meskipun pada saat itu masih malam tetapi dia merasakan ada sesuatu keanehan yang menyelimuti rumahnya.“Hei! Siapa disitu!,” teriak Adit. “Loh ngapain kalian di belakang rumah? bawa beginian segala,” tanya Adit dengan keheranan. “Ini loh Dit gua nemu buku yang mungkin aja kita bisa dapet uang…, lumayankan kalo beneran dapet uang hehe,” jawab Er dengan semangat.Adit yang penasaran pun dengan cepat menyambar buku tersebut dan membaca isinya. Dan setelah buku itu dibaca mereka berlima akhirnya mereka menyadari ternyata isi buku tersebut adalah“Hahahaha, akhirnya aku bebas! Sekarang untuk apa kalian memanggilku?” Mereka berlima pun takut, saking kaget dan takutnya hingga mereka tidak bisa menjawab pertanyaan mahkluk yang keluar dari buku tersebut.“Kenapa kalian memanggilku!” “Maaf, kami bukannya berniat memanggilmu kami hanya penasaran tentang buku itu.” “Jadi kalian memanggilku tanpa tujuan!” “Iya…,” “Karena kalian sudah membebaskanku, aku akan mengabulkan permintaan kalian semua tapi dengan satu syarat,” “Wah… kalo boleh tau, apa saja syaratnya?” tanya Artanto karena ia tergiur oleh penawaran makhluk tersebut. “Aku akan memakan salah satu dari kalian berlima,” “Boleh,” jawab Artanto karena sudah tergiur oleh tawaran makhluk itu.“Lho… apa maksudmu? kau ingin mengorbankan teman-temanmu hanya untuk permintaanmu itu?” jawab Rizki dengan emosi. “Baiklah… jika kalian belum memutuskan aku tunggu kalian sampai 3 hari, jika 3 hari kalian belum memutuskan apa permintaan kalian, aku akan memakan kalian semua satu per satu sampai kalian lenyap dari dunia.” jawab makhluk itu dengan tawaran juga mengancam. Lalu makhluk itu menghilang tak tampak lagi.Pada keesokan harinya mereka berlima memutuskan membuka buku itu lagi untuk mendapatkan petunjuk. “Loh ini kok ada halaman yang disobek tapi ditulisi alamat?” ucap Rizki dengan heran. Tak berselang lama mereka langsung menyusun rencana, mereka berlima yakin bahwa lembaran itulah yang bisa membunuh makhluk itu. “Kalian berempat pergi ke tempat yang sudah ada, aku bakal disini supaya kalian selamat di jalan,” ucap Adit yang sudah bertekad untuk menyelesaikan semua ini. Mereka berempat pun berangkat dan mereka tak pernah kembali lagi.
Sang Pemenang
Di sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Awasyam yang berada di perbatasan antara kerajaan Visaka, yang dibatasi dengan laut yang sangat dalam. Kedua kerajaan ini memiliki konflik yang disebabkan sang putri dari kerajaan Visaka, putri tersebut merupakan anak dari raja Visaka Raxen II yang bernama Shao-Ling. Shao-Ling dibunuh oleh pangeran Jicha dari kerajaan Awasyam, dikarenakan sang putri melakukan hubungan badan dengan sang pangeran yang membuat sang putri mengandung anak dari sang pangeran Jicha.Suatu hari ahli cuaca dari kerajaan Awasyam bernama Xio yang memprediksikan akan terjadi musim dingin yang sangat lama, prediksi ini membuat raja Amambo (raja dari kerajaan Awasyam) mengerahkan 100ribu pasukannya untuk mengumpulkan sayur-sayuran, dan bahan makanan yang ada di gunung Alanda. Gunung ini memiliki lahan yang cocok untuk bertani yang dikuasai oleh kerajaan Awasyam, yang membuat banyak kerajaan mengincar gunung Alanda yang memiliki luas sepertiga bumi.Ramalan tersebut diketahui oleh kerajaan Visaka, dengan ramalan ini raja Tia-Hao (raja dari kejaraan visaka) memerintahkan mata-matanya untuk mengintai lumbung makanan milik kerajaan Awasyam. Saat raja Tia-Hao sedang makan malam bersama petinggi kerajaan, tiba-tiba pendamping setia raja Tia-Hao yang bernama Raxal datang dan memberi tahu bahwa diujung kerajaan bagian utara ada seorang penambang batu yang menemukan pintu raksasa yang terhalang oleh batu yang besar. Karena raja Tia-Hao penasaran, ia langsung meninggalkan meja makan dan bergegas menuju utara kerajaan dengan didampingi 100 pengawal dan 3 petinggi kerajaan.Sesampainnya disana raja dan rombongannya terkaget karena pintu tersebut 2x lebih besar dari kastil kerajaan, yang membuat raja Tia-Hao berambisi untuk menghancurkan batu yang mengahalanginnya, lalu sang raja meminta untuk Tixam memanggil Zhaolin untuk membawa peledak. Tixam merupakan salah satu petinggi kerajaan Visaka sebagai jendral yang memimpin pasukan kuda diformasi sayap kanan dan kiri barisan.Zhaolin pun tiba dengan membawa kereta kuda berisi peledak, tanpa pikir lama Zhaolin langsung menaruh peledak ke batu tersebut. Tak lama setelah peledak dinyalakan, batu tersebut pun hancur lebur. Dan membuat sang raja terdiam, sebab pintu tersebut merupakan kastil pertama kerajaan Visaka yang berkisar 600 tahun.Penemuan kastil pertama kerajaan Visaka membuat kerajaan Visaka mendadak sangat kaya raya, karena terdapat 1 ruangan yang berisi emas, permata, tumpukan uang, patung, dan barang kuno yang bernilai tinggi. Salah satu petinggi kerajaan yang bersamannya saat itu yang bernama Zhiang-Chi mengusulkan kepada raja Tia-Hao untuk mengeluarkan dana dengan tujuan untuk melawan kerajaan Amambo guna memperingati kematian sang putri Shao-Ling yang ke 36 tahun tepat minggu depan.Rencana peperangan tersebut yang direncanakan diketahui oleh raja Amambo, yang dikirim dengan surat melalui seekor burung yang dikirim oleh mata-mata yang sudah lama di kerajaan Visaka, ia bernama Cha-Ling. Kabar ini membuat petinggi kerajaan yang saat itu sedang berkumpul sontak terdiam, dan raja Amambo pun memanggil jendral perang divisi utama yang ditakuti oleh kerajaan lain, jendral ini bernama Ghang-Shao. Ghang-Shao merupakan anak dari ahli perang kerajaan Awasyam. Raja Amambo meminta Ghang-Shao untuk melatih prajurit kerajaan Awasyam secara maksimal dan tegas.Lalu raja Amambo menghampiri ahli kapal sekaligus petinggi kerajaan bagian jendral perang laut, yang bernama Nanha-Thailang-Chi, biasa dipanggi Nanha. Nanha diminta untuk memodifikasi kapal perang andalan kerajaan Awasyam yang dijuluki kapal kura-kura, karena dinding kapal yang keras dengan di lengkapi meriam, serta dibagian depan kapal terdapat sebuah kepala kura-kura terbuat tadi emas, kepala kura-kura tersebut bertujuan untuk menghantam kapal musuh yang dapat hancur dengan mudah. Akan tetapi kepala kura-kura sempat tersangkut saat perang melawan kerajaan Visaka yang saat itu ingin menghantam kapal tempur milik raja Visaka pertama, yang langsung dengan mudah kapal kura-kura dengan mudah dihancurkan.Terdapat beberapa kekurangan kapal kura-kura seperti dibagian belakang kapal kura-kura dapat mudah dihancurkan yang memudahkan lawan untuk menyerang serta kecepatannya yang begitu lambat. Hal ini yang membuat raja Amambo menghampiri Nanha dengan tujuan untuk Nanha memodifikasi kapal kura-kura dengan rancangan terbaru yang masih dirahasiakan. Setelah itu Amambo meminta pendampingnya Malmava untuk memanggil sekutunya untuk membantu dalam peperangan. Sememntara dikerajaan Visakaraja Tia-Hao memetintahkan 5 ribu pasukannya untuk pergi ke gunung Alanda dengan tujuan merampas, dan membunuh orang yang ada disana tanpa belas kasihan. Dengan dipimpin seorang mantan pemain gladiator ternama yang bernama Lie-Kai.Pada malam hari saat raja Amambo sedang melakukan rapat rahasia dengan para petinggi kerajaan dan 5 orang aliansi, yang membuat Lie-Kai sampai di gunung Alanda tanpa sepengetahuan rakyat maupun petinggi Awasyam. Dengan mudah Lie-Kai dan prajuritnya merampas hasil panen yang ada di lubung makanan di deket gunung Alanda, serta membunuh semua penduduk dan pengawas di sana. Setelah itu Lie-Kai dan prajuritnya pergi kembali ke kerajaan Visaka.Selesai rapat raja Amambo mendapat kabar penyerangan di gunung Alanda yang disampaikan oleh seorang petani yang berhasil kabur. Raja Amambo pun geram dan langsung berangkat menuju gunung Alanda dengan 50 ribu prajurit, serta sang raja memerintahkan 25 ribu pasukan elite kerajaan untuk menuju perbatasan kerajaan Amambo-Visaka dengan di pimpin 5 petinggi kerajaan.Sesampainnya raja Amambo di gunung Alanda ia merasa sedih dan kesal saat meihat jasad dimana-mana, dan raja Amambo memerintahkan untuk prajuritnya membawa jasad-jasadnya. Sementara pasukan elite dan 5 petinggi kerajaan melihat rombongan pasukan musuh, Salah satu petinggi kerajaan bernama Swa-Khong ahli panah langsung menghujani pasukan musuh dengan busur panah dibantu oleh 10 ribu pasukan panah yang selalu mendampinginnya. Panah yang menghujani musuh, membuat musuh kewalahan, yang memulainnya sebuah peperangan. Lalu Righnold petinggi kerajaan Awasyam ahli kapak menghampiri Lie-Kai untuk ber duel. Sementara 3 petinggi lainnya menyerang serta membunuh pasukan lawan tanpa ada yang kabur, dengan mata yang tajam Swa-Khong dari kejauhan melepaskan busur terakhirnya kearah Lie-Kai yang mengenai kepala Lie-kai.Setelah perang selesai dengan kemenangan kerajaan Amambo, Ching-Lie seorang petinggi kerajaan sekaligus ahli tombak langsung mengumpulkan peralatan perang yang masih berguna dibantu oleh beberapa pasukan. Kabar kekalahan rombongan Lie-Kai sampai kepada raja Tia-Hao, ia pun langsung membuat peraturan untuk setiap penduduknya wajib mengikuti pelatihan pasukan, guna membantu saat peperangan nanti, yang membuat penduduknya mulai merasa sengsara.6 hari kemudian, musim dingin tiba dan hari peperangan dimulai, yang membuat Raja Tia-Hao mempersiapkan pasukannya dan 500 kapal perang terbuat dari besi, serta membawa kapal perang Phau-Shing (kapal yang besar dengan dilengkapinnya meriam), serta membawa pasukan elitenya, pasukan kuda, pemanah, pasukan pedang yang berjumlah 900 ribu pasukan secara keseluruhan.Persiapan perang kerajaan Visaka diketahui Raja Amambo. Raja Ambo pun langsung membunyikan alarm darurat bertanda untuk segera keruang rapat. Setelah semua berkumpul diruang rapat Raja Amambo meminta John untuk membuat formasi perang. Setelah banyak formasi yang ditolak, akhirnya semua sepakat untuk menggunakan formasi kepala ikan untuk area laut, dan tenaga kuda untuk area darat. Formasi kepala ikan adalah formasi untuk semua pasukan tidak ada yang mundur dan formasi tenaga kuda adalah formasi dimana setiap individu untuk melawan tanpa kenal kasihan dan tanpa kenal lelah.Rappat pun selesai, dan langsung mempersiapkan pasukannya masing-masing dibagian masing-masing. Ghang-Shao mengumpulkan Nanha, Rignold, Swa-Khong, dan para aliansi diantaranya Tha-Shang (psukan ahli panah), Shukhang-Ghi (pasukan gajah), Rifa (pasukan kapal), Bastor (pasukan pengecoh darat),dan Athaman (pasukan kapal). Ghang-Shao meminta untuk menyiapkan sesuai divisi masing-masing.Tak lama pasukan musuh sampai di area perang, dengan persiapan yang sudah matang pasukan darat dan laut langsung menghampiri lawan Sekitar 200 kapal diberangkatkan. Sesampainya disana pasukan lawan langsung menyerang, saat peperangan berlangsung terdapat 10 kapal pengangkut pasukan menuju gunung Alanda. Nanha pun langsung memerintahkan 8 kapal untuk mengejar 10 kapal musuh. Saat sedang mengejar dari balik bebatuan banyak kapal musuh yang menyerang 8 kapal kerajaan Awasyam. Ternyata itu sebuah jebakan yang dipimpin oleh raja Tia-Hao dengan didampingi 1000 kapal serta pasukan elitenya, kedatangan rombongan kapal raja Tia-Hao membuat 8 kapal kerajaam Awasyam berputar balik, yang langsung dikejar oleh raja Tia-Hao dan rombongannya. Dari arah belakang terdapat 10 kapal kura-kura berkecepatan tinggi hasil modifikasi yang langsung menghantam kapal musuh dan masuk ke formasi tengah musuh, dibarengi dengan 300 kapal kerajaan Awasyam yang mengikutinnya dari belakang sambil melontarkan bom api, yang membuat banyak kapal musuh yang terbakar serta membuat tim lawan kewalahan hingga tidak ada penyerangan.Rignold yang saat itu sedang menaiki sebuah kapal yang berada tepat di belakang kapal raja Tia-Hao, dan langsung menghampiri serta masuk untuk menghabisi pasukan elite yang didalam dan penjaga disana. Perang pun berhenti saat bendera putih berkibar di kapal yang dinaiki Tia-Hao, bertanda kerajaan Visaka kalah. Kemenangan kerajaan Amambo di raih lagi, Raja Amambo memerintahkan untuk para rombogannya membawa pasukan lawan yang terjun kelaut dari kapal guna untuk menyelamatkan diri, dan membawa peralatan perang yang masih layak serta membawa raja Tia-Hao.Sore hari tiba semua rakyat keajaan Amambo beserta petinggi kerajaan dan raja Amambo menerbangkan ribuan lampion, dengan tujuan sebagai upacara kematian sekaligus kemenangan. Selesai upacara kematian, raja Amambo, petinggi kerajaan, dan 500 ribu pasukan menuju kerajaan Visaka, bersama pasukan kerajaan Visaka dan Raja Tia-Hao.Sesampainya di kerajaan Visaka, membuat rakyat kerajaan visaka dan para petinggi yang ada disana terdiam karena kedatangan raja Amambo dan rombongannya, ditambah raja Tia-Hao yang diikat sebuah rantai. Raja amambo meminta semua rakyat kerajaan Visaka dan rakyatnya untuk berkumpul di kastil kerajaan Visaka untuk upacara pergantian pemimpin.Saat upacara berlangsung tanpa adanya pertentangan dari kedua belah pihak, akhirnya raja Amambo menjadi raja dari kerajaan Amambo dan Visaka, hal ini menjadi perhatian bagi kerajaan lain. Raja Tia-Hao pun langsung pergi karena sudah diizinkan oleh raja Amambo.1 tahun kemudian kerajaan Amambo dan Visaka menjadi kerajaan yang maju karena peraturan yang bijaksana dan pertahanan yang ketat, yang membuat rakyatnya menjadi tertib. Dan kerajaan Amambo serta kerajaan Visaka menjadi kerajaan yang maju dan sejahtera.
Abu Abu
Suatu hari, di bumi muncullah seorang alien perempuan dan robotnya. Mereka tiba-tiba berteleportasi ke bumi secara tidak sengaja. Alien itu bernama Ruby dan robotnya Lora. Berbagai cara sudah mereka coba dan akhirnya Lora menemukan sesuatu hal, ketika secara tidak sengaja bertemu dengan seorang presdir yang bisa membuat mereka kembali. Dia adalah Presdir Ace Dexter seorang pemuda pemilik sebuah perusahaan terkenal di Italia.“Ruby sepertinya kau harus menjadi sekertaris dari Presdir Ace agar kita bisa pulang”, ucap Lora. “Tapi bagaimana caranya?”, tanya Ruby. “Hei tenanglah aku akan membantumu”.Akhirnya setelah sekian lama Ruby menjadi sekertaris Presdir. Hubungan Ruby dan Ace menjadi sangat baik, sekarang mereka menjadi kekasih, dan berjalan hampir satu tahun. Sebenarnya Ruby sudah menemukan cara agar bisa kembali ke dunianya tapi dia tidak rela meninggalkan Ace, karena jika sudah pulang ke planet asal maka ia tidak bisa kembali ke bumi. Ace memperlakukan Ruby dengan sangat baik, dia memberikan apapun itu yang bisa membuat sang kekasih senang.Saat ini ada sebuah rapat proyek terbaru yang dihadiri oleh orang-orang penting dalam bisnis, Ruby tentunya hadir. Mereka merencanakan akan membuat robot di masa depan. Robot itu diberi nama Zoe’s.Setelah selesai rapat, Ruby pergi ke toilet, lalu disusul beberapa pegawai yang masuk, sepertinya mereka sedang membicarakan proyek baru itu, dan secara tak sengaja Ruby mendengar suatu fakta.“Zoe’s project? Bukankah itu nama mantan kekasih Presdir?”, ucap salah satu dari mereka. “Ya kau benar, mantan kekasih Presdir bernama Zoe. Yang kudengar Nona Zoe adalah cinta pertama Presdir. Sungguh nona Zoe sangat cantik dan anggun. Tapi sayang hubungan mereka hanya berjalan beberapa bulan”. “Dan sekarang muncul rumor bahwa Presdir dan nona Ruby sedang memiliki hubungan spesial, tentunya bukan hanya sekedar boss dan sekertaris”. “Wahhh… benarkah. Aku tidak percaya ini, menurutku dibandingkan nona Ruby aku lebih memilih nona Zoe. Tapi aku akui wajah mereka lumayan mirip”. “Apakah Presdir belum bisa melupakan nona Zoe, sehingga membuat project dengan namanya. Kalau benar begitu akan sangat menyedihkan jika nona Ruby tahu”. “Yaa, itu sangat menyedihkan”. “Sudahlah ayo kita kembali dan melihat apa yang terjadi selanjutnya”. Mereka pun pergi.Ruby yang sedari tadi mendengar tentunya terkejut mengenai fakta itu. Dia tidak menyangka bahwa Ace pernah berpacaran sebelumnya, padahal dulu Ruby sempat bertanya pada Ace, namun Ace mengatakan bahwa tidak pernah memiliki kekasih. Ruby kira dia orang pertama namun nyatanya tidak seperti itu. Dia juga lupa tentang fakta bahwa ia bukan manusia, ia adalah alien dari planet lain. Dan sekarang Ruby bingung apa yang akan ia lakukan untuk kedepannya.
Mencoba Mentradisikan Tradisi Lama
Awan putih dan hitam masih terus bergantian mencampakkan. Langit yang biru kadang pula berubah menjadi langit yang hitam pekat. Matahari yang terang benderang menyinari bumi, kadang juga pula berubah tidak tampak, disebabkan ditutupi berbagai varian awan hitam. Begitupun dengan dunia masih terus berputar menyusuri arus alurnya semesta alam. Mungkin alam sekarang sudah tak lagi sama dengan alam terdahulu, ditambah dengan semakin canggihnya teknologi yang semakin hari bertambah dan terus dikelabuhi para penikmatnya.Sama seperti yang dilakukan anak kecil di dalam sebuah kamar berukuran 4 kali 6 meter. Dengan berbagai varian yang ditampilkan kamar anak kecil tersebut, mulai tempat kasur tercanggih, predator thronosa atau kita bisa menyebutnya kursi gaming termahal.. Pintu dua dimensi dan berbagai alat canggih lainnya terdapat dalam kamar anak kecil tersebut. Zaman sekarang sudah tak main lagi dengan namanya rasa letih, segala aktivitas bisa dengan efesien dikerjakan. Intinya dengan ucapan semua bisa dilakukan.“Ah boring.. di rumah terus.” Anak kecil tadi mendesah beranjak pindah dari kursi gamingnya. Sebut saja namanya Gatan Ganesa. Gatan pindah dari tempat semulanya itu, tidak dengan berjalan. Dia menggunakkan sandal terbangnya. Dan langsung terbaring tempat di kasurnya.Sejenak mata Gatan meenerawang keatas seolah dia menemukan ide. “Aha.. gue ngajak temen ngumpul ah.” Begitulah ide yang Gatan temukan. Kemudian tangan kanan Gatan ditaruh ke arah depan dua matanya, dan mengusap-ngusap. Muncullah sebuah layar tembus pandang dihadapannya, dan menggulirkan jari jemarinya mencari sosok kontak bernama farel. Layar yang semula menancapkan beberapa aplikasi, kini muncul sosok anak sebaya dengan Gatan, bernama Farel tersebut.“Woi gabut cuy… ngumpul ke kafe yok?” Ajak gatan dibalik layarnya. Sosok farel lengkap dengan poster tubuh yang sangat jelas dihadapan layarnya itu tersenyum. “Gas kuen Tan.” Balas farel yang lagi asyik duduk di sofa emmpuk rumahnya. Sama dengan yang keadaan farel, terlihat sosok Gatan jelas dibalik layar miliknya. “Woke, jangan lupa, yang lain ajak yo.” tambahnya Gatan. Farel pun membalas dengan acungan jempol tangan kanan serta disusul dengan lambaian tangannya. Dan kemudian Gatan pun memencet tombol merah, menandakan berakhirnya obrolan mereka berdua. Masing-masing dari mereka pun, bersiap-siap untuk pergi ngumpul ke kafe.Lalu lalang penghuni bumi terus berputar, dengan berbagai alat kecanggihan yang sudah terobsesi oleh mereka semua. Tak milih anak kecil, anak dewasa, orang tua semua sudah terhipnotis dan bisa mengaplikasikannya. Jika zaman Dulu para penghuni bumi ingin mengambil foto dengan kamera flim, atau kamera digital ataupun smartphone, sekarang tidak lagi. Jika dulu mereka ingin melangkahkan kakinya atau sekedar beranjak dengan perantara kaki atau kendaraan, sekarang tidak lagi. Jika anak sekolah dulu belajar menyimak penjelas guru kemudian menulis di atas kertas, sekarang tidak lagi. Dan intinya semua tidak lagi sama seperti zaman dulu, cukup dengan sebuah ucapan dan sebuah alat bantu canggih (mesin) semua bisa dilakukan. Entah saking canggihnya dan cepatnya perbuhan alat di dunia ini, membuat segala aktivitas tampak lebih senang dan gampang dikerjakan.Sudah tibalah zaman sekarang dengan sebutan zaman fase keempat atau bisa menyebutnya dengan revolusi industri 4.0. Dimana sudah tergambar oleh kehidupan anak bernama Gatan dan teman-temannya saat ini. Mereka semua berkumpul di sebuah kafe. Tampak robot-robot berseragam sama sedang melakukan aktivitasnya. Ya mereka adalah pekerja kafe, tidak lagi dengan namanya pekerja seorang manusia, semua telah tergantikan oleh robot.Gatan, Farel dan tiga temanya saat ini, sedang duduk santai melingkar disalah satu tempat yang disajikan oleh kafe. Sistem pemesanan tidak lagi dengan menghampiri pelanggan. Dengan layar virtualy di meja makan, Gatan dan temannya memasan makanan dan minuman yang mereka sukai. Kemudian masing-masing dari mereka saling becanda ria, mengobrol sesukanya.Lantas Gatan dan temannya itu tidak sekolah kah? Sekolah, ya mereka sekolah tapi tidak dengan tatap muka dengan seorang guru, mereka sekolah masih tetap dengan layar virtualy.Empat menit berlalu datanglah tiga robot mebawa makanan serta minumana yang dipesan oleh Gatan dan yang lain. Sebuah mangkok dan gelas terisi dan kehormatan diberikan kepadanya. Kemudian mereka berlima langsung menerimanya, dan menyantapnya.Sempat terlintas dalam pikiran anak kecil beranama Gatan itu tentang anak-anak seusianya zaman dulu. Apakah sama dengan yang telah dunia alami saat ini atau tidak? Dan mengira-ngira permainan apa yang dimainkan.“Oh iya kawan, mungkin kalian tahu permainan anak-anak dulu seperti apa?” Gatan mencoba bertanya tentang pikiran yang sempat terlintas tadi. Farel dan tiga temannya saling bertatap muka dan menggelengkan kepala. “Kenapa gak tanyakan ke mbah gogle aja Tan.” Saran satu teman Gatan anak bernama Yogi. “Iya tuh.” Tambahnya Reza dan Kamil bersamaan.Tanpa pikir panjang Gatanpun langsung memencet layar virtualy miliknya dan mencarinya di aplikasi gogle. Perlahan Gatan mengetik dengan bacaan permainan anak zaman dulu. Pertama mucul sebuah deskripsi plus dengan gambar permainan anak zaman dulu. Empat teman lainnya yang awalnya fokus sama makannan dan minuman, kini mereka juga terbelalak melihat dan membaca deskrisinya.Diantaranya deskripsi dan gambar yang disajikan dari layar virtualy gatan; Petak umpet: satu anak menjadi penjaga dengan menutup mata sesuai waktu ditentukan. Dan yang lain mencari tempat bersembunyi … Gundu atau kelereng: bentuk bola kecil, warna kaca bening. Caranya dengan menyentil gundu dengan mengarahkan gundu milik musuh. Dan jika mengenai maka ia mendapatkan. Egrang: dua tongkat panjang yang bagian tengahnya diberi pembatas. Caranya dengan naikkan kaki pada pijakan enggrang, kemudian berjalan, jika jatuh diberi hukuman … Gobak sodor: permaianan dibagi dua kelompok dengan masing-masing kelompok menjaga benteng … Engklek : permaianan yang dialkuakan perorongan. Menggambar kotak-kotak terlebih dahulu kemudian setap orang memainkannya dengan cara melompati kotak-kotak tersebut secara bergiliran dengan satu kaki … Layang-layang: sebuah maianan yang dibuat dari irisan bambu serta dengan kertas yang dibentuk apa saja. Caranya dengan menerbangkan ke udara …Seusai Gatan, dan empat tema lainnya membaca dan melihat ilustrasi gambar tersebut, mereka semua menggangguk. Dilihat dari sektor mimik wajah mereka kegirangan ingin mecoba. Tapi apalah zaman sekarang sudah tidak lagi seperti zaman dulu. Mungkin cara mentradisikan tradisi lama itu susah.“Coba nonton videonya Tan, kayaknya seru deh” usul Farel kepada Gatan. Gatan pun langsung menggulirkan layarnya dan memencet tombol bacaan video kemudian muncul berbagai video pemainan zaman dulu. Seperti deksripsi di atas. Dengan berurutan Gatan menyetel video paling atas yakni tentang permaiana petak umpet.Sorotan mata anak kecil kelima ini teralih dengan penuh kefokusan pada video di hadapannya tersebut. Video yang menampilkan lima anak zaman dulu sedang memainkan petak umpet. Tak disangka Gatan dan temannya itu terbayang seakan mereka authornya (lima anak pemain petak umpet). Tampak masing-masing dari wajah mereka tersenyum dan bahagia yang tak terduga.Seketika itu Gatan menyadari kalau pemainan anak zaman dulu adalah permainan yang sangat mengasyikkan, terbaik dan tidak bisa tergantikkan dari permaianan zaman sekarang. Begitupun dengan teman-teman Gatan ikut sadar tentang hal sebenarnanya.“Woi … gimana kita mainkan yang aslinya atau kita berlima ini mari mengaktifkan kembali permaiana anak zaman dulu” gatan berusul dengan kesemangatan yang terpancar dalam dirinya. “Setuju” jawab bersamaan mereka berempat dengan kompak dan wajah yang penuh seri-seri. Dari persetujuan kelima anak kecil ini, telah menjadikann sebuah tanda menuju bukti untuk mengenallkan permainan zaman dulu yang telah terkuburkan.