Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

1144

Genre Romance

230

Genre Folklore

228

Genre Horror

228

Genre Fantasy

230

Genre Teen

228

Reset
Vampir di Pemakaman Highgate
Fantasy
25 Dec 2025

Vampir di Pemakaman Highgate

Sosok urban legend ini ramai dikabarkan bergentayangan disekitaran London Highgate Cemetery di akhir era 70’an. Kawasan tersebut merupakan pemakaman yang sudah lama tidak dipakai dan diabaikan. Ditempat tersebut juga beberapa orang termasuk Sean Mancester dan David Farrant, melihat sosok bayangan asing.Pada bulan Desember 1969, David Farrant mengatakan bahwa dirinya telah menyaksikan sesok bayangan mahluk berwarna abu-abu di pemakaman tersebut. Pernyataan David tersebut pun dibenarkan oleh penduduk sekitar Pemakaman London Highgate.Sosok bayangan tersebut semakin menguat eksistensinya ketika Sean Manchester mengatakan kepada Hampstead dan Highgate Express, bahwa sesosok vampire abadi bersemayam di pemakaman tersebut, sejak abad ke 18. Semenjak itulah sosok vampir tersebut menjadi urban legend seperti terlahir.Sean bahkan mengatakan vampir tersebut diagung-agungkan oleh para pemuja setan, sehingga atas dasar itu tubuhnya harus ditusuk, dipenggal dan dibakar. Sean dan David pun seperti saling membenarkan cerita versi masing-masing, hingga puncaknya yaitu pada 13 Maret tahun 1970, seorang pemburu vampir melihat sekumpulan orang berjalan memasuki kawasan pemakaman London Highgate, bahkan polisi pun berusaha menghadang mereka.Bahkan fenomena menjadi semakin aneh, David dalam websitenya selalu memiliki pemahaman yang berlawanan mengenai vampir sebagai fenomena supranatural yang terjadi di Highgate. David ditangkap oleh polisi pada Agustus 1970 atas kepemilikan salib dan kayu pancang.Sementara Sean bertindak lebih antisipatif dan tradisional, ia menaruh bawang putih dan air suci di dalam sebuah katakom yang ia klaim hasil penelusuran seorang gadis yang berjalan dalam tidurnya. Ia pun merencanakan untuk melakukan penusukan dengan kayu pancang terhadap salah satu jasad, namun dihalang-halangi oleh temannya.Aktifitas aneh yang dilakukan oleh Sean dan David ini telah menjadikan sosok vampir itu hidup dalam sebuah budaya tutur, dan menjadi legenda masyarakat setempat.

Robert The Doll
Fantasy
25 Dec 2025

Robert The Doll

Robert the doll. Begitulah panggilan untuk sebuah boneka yang berukuran seperti seorang bocah. Boneka ini sangat terkenal, bukan karena kelucuannya. Tetapi, boneka ini terkenal karena cerita horornya.Kisah ini berawal, pada tahun 1904, ketika seorang bocah bernama Robert Eugene Otto, menerima sebuah boneka dari seseorang, yang menurut legendanya, telah terampil dalam ilmu hitam atau voodoo. Orang tersebut memang senang akan keluarga Otto. Itu lah kenapa orang tersebut memberikan sebuah boneka berukuran seperti bocah ini kepada robert. Segera sesuatu berubah saat boneka tersebut, sudah berada ditangan robert. Robert mulai menamai boneka tersebut dengan namanya sendiri (Robert) sedangankan dia sendiri mengubah namanya menjadi Gene.Orang tua Gene mengatakan bahwa mereka sering mendengar Gene berbicara kepada bonekanya, dan boneka tersebut juga tampak berbicara kepadanya. Meskipun pada awalnya mereka mengira kalau Gene hanya menjawab dirinya sendiri dengan suara yang berbeda, tetapi kemudian mereka percaya bahwa sebenarnya boneka itu berbicara.Banyak tetangga yang mengaku bahwa mereka telah melihat boneka bergerak keluar dari jendela saat keluarga Otto sedang tidak dirumah. Keluarga Otto juga bersumpah, bahwa mereka sering mendengar suara tawa yang menakutkan, dan sering melihat dengan sekilas seseorang berjalan dari kamar ke kamar. Di malam hari, Geneakan menjerit ketakutan, dan ketika kedua orang tua nya berlari ke kamar gene. Mereka menemukan furnitur di kamar Gene berantakan, dan Gene berada di kasur sambil menjerit ketakutan, dan berteriak "Robert Melakukannya!!"Ketika Gene meninggal pada tahun 1974, boneka itu tertinggal di loteng rumah bekas keluarga Otto,sampai rumah tersebut di beli lagi. Keluarga baru termasuk seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun, yang menjadi pemilik baru Robert. Tidak lama kemudian, Setiap malam, gadis tersebut terus menjerit ketakutan, dan mengatakan bahwa Robert bergerak di sekitar kamar, dan bahkan berusaha untuk menyerangnya di beberapa kesempatan.Lebih dari tiga puluh tahun kemudian, Gadis tersebut (yang sudah dewasa) masih mengatakan kepada pewawancara bahwa boneka itu hidup dan ingin membunuhnya.Sekarang ini, Boneka tersebut sudah berada di musem East Martello, florida. Menurut cerita, jika ada yang ingin mengambil gambar Robert, orang tersebut harus bertanya kepadanya secara sopan.Jika kepala Robert bergerak menggelengkan kepala, itu berarti tidak diijikan untuk menggambil gambarnya. Apabila hal tersebut di langgar. Robert akan segera mengutuk orang dan keluarga orang tersebut.Note : Cerita Robert inilah yang sudah menginspirasi pembuatan film Child's Play, yang dibintangi oleh Chucky (boneka hidup yang berusaha untuk membunuh orang - orang).

Boneka dan Gadis Kecil
Fantasy
24 Dec 2025

Boneka dan Gadis Kecil

Dia sudah pergi. Aku tiada lagi rasa. Jatuh pada tanah di tengah hutan tanpa cahaya bukan sesuatu yang suatu boneka pernah rasakan. Dia yang dulu mendekapku dalam hangatnya pelukan, kini menyatu pada tanah. Aku pandang setiap daun dan hewan-hewan kecil menginjak-injak. Tidak merasakan sakit pada fisik. Meski kapas sudah terlepas dari kain, jahitan telah terlepas sebagian pada tangan, sebelah mata telah lama copot entah di jalanan mana, pandangan kini tersisa kabur dengan tumpukan bekas tanah basah menutupi wajah. Semua itu, aku tetap bisa duduk sejenak memandang. Dalam diri ini dirasa kosong selain angin. Inikah yang terjadi setelah bertahun-tahun dilalui bersama? Aku tidak tahu.Beberapa waktu saja berlalu sejak terakhir dia masih memeluk, masih bermain, tapi semua dirasa pada dunia berbeda. Hangatnya kamar kontras pada hutan tempatku berada. Sementara bunyi deru mesin yang perlahan memelan jadi pengisi suara selain keheningan. bunyi petak pelan terdengar saat sebuah bungkus jatuh di sisiku. Benda yang sama menemaniku beberapa saat itu.Apa ini? Aku tidak yakin. Bahkan jika untuk bergerak melihat sekeliling saja sulit jika tidak ada yang menggenggamku. Dia yang dulu membawaku setiap saat kini entah di mana.“Anika! Kamu di mana?” Suara cempreng kecil yang kurindukan terdengar. Saat itu aku terlempar pada bawah ranjangnya, hanya diam menunggu dia menjemput. Saat kakinya terlihat dari bawah sana, dia membungkuk, bertemunya pandangan kami. “Oh, di sini rupanya!” Dia tarik aku dan bawa diriku berputar-putar pada kamar penuh warna cerah.Dia pandang aku dengan mata coklat yang berbinar, menepuk-nepuk diriku saat debu menempel pada kain dan kapas. Sudah biasa jika dia sering bermain sampai lupa waktu, sampai lupa mainan mana saja yang terlempar dalam kegirangan. Setelah selesai bermain dan pergi sesaat, sudah pasti akan dicarinya lagi kami.“Kamu kotor, nih. Mandi, yuk!” Dia terkikik sembaeri berlari menuju kamar mandi dalam kamarnya. Aku sadar kainku juga selain berdebu, juga ada beberapa semut merayap. Bawah kasur sana memang penuh binatang kecil itu sejak awal dia belajar untuk pesta minum teh bersama. Begitu tiba di kamar mandi, kulihat beberapa semut berhasil merayap pada tangannya. Kudengar suara jerit pelan dari gadis itu sebelum menepuk aku lebih kencang, hingga lega saat mereka telah menyingkir.Dia lalu bawa aku ke baskom warna hijau, membiarkan air menenggelamkan aku. Dia gesek pelan kain menyelimuti diri, mencuci dengan sabun cuci wangi. Cepat-cepat dia kuras saat beberapa semut berhasil mengambang di air. Dia bunga sisa air yang penuh semut tadi ke dalam lubang pembuangan. Begitu saja terus hingga dia yakin makhluk kecil itu sudah minggat. Sudah sering dia bersihkan aku setiap permainan panjang. Entah dia mencoba mainan baru atau hampir melempar dan mengajak makan bersama, meski tahu betul aku tidak butuh itu. Setelah tubuhku penuh air, gadis itu mengangkat dan memeras diriku. Sebelum dia kemudian jemur aku di bawah terik matahari hingga sore tiba. Hingga kami bisa bermain bersama.Aku hanya boneka berbentuk beruang dengan warna toska. Dulu dipajang pada sebuah toko, berdempetan dengan boneka lain. Saat hari itu dia melihatku, senyumnya hari itu terpatri pada hati. Sejak hari itu, kami bersama selalu. Aku selalu jadi mainan kesayangannya, entah untuk dilempar, dipeluk, diajak meminum teh bersama, maupun hanya mengobrol kecil tentang kejadian hari itu. Walau tidak mampu menyahut suara, ucapannya selalu menerangi kekosongan di antara kapas menyelimuti kain padaku. Setelah kering tadi, aku didudukan pada meja kami, berisi juga beberapa boneka di sisi, sementara dia di seberang sana, memegang teko berisi teh.“Nanti pas aku ulang tahun, Anika bakal punya teman baru.” Dia ambil teh dengan cangkir kecil dan menyeruput sedikit. “Kalau warnamu hijau biru begitu, bagusnya temannya warna apa ya?”Aku tidak bisa menjawab. Walau mulut ingin menyahut, meski hanya berupa garis hitam melengkung ke atas. Senyum selalu, apa pun kejadian menimpa. Gadis itu hanya tersenyum, dia tuangkan teh lagi pada cangkirku, meski nyatanya aku bahkan tidak butuh makan apalagi minum. Dia kadang biarkan makanan dan minuman bercecer dekatku, tapi begitu kotor pun segera dia mandikan aku. Selama ibunya tidak datang mengomel, kami anggap semua itu aman.Akulah yang dia punya. Padanya hanya tempatku merasa gembira. Akan tetapi, sembari mengenang semua tadi, suara deru mesin yang kini semakin pelan kembali terdengar, embusan angin dan bunyi kotak dan plastik bertepuk-tepuk mengisi kesunyian.Aku ingat kembali, saat mereka bawa aku ke mobil sang ibu, entah mau pergi ke mana. Dia pasti angkut aku di antara barang lain. Sembari menunggu di antara tumpukan kardus dan bungkusan, aku biarkan bunyi mesin mengisi suasana sore itu.Lalu, suara kecil itu kembali terdengar. “Ma, kalau aku ulang tahun nanti, hadiahnya mainan baru, ya!” Aku senang mendengarnya masih ingin menambah teman untukku. Ibunya hanya mengiakan tanpa banyak kata. Kukira ini jadi hal biasa. Dia beli mainan baru bukan suatu yang aku cemaskan. Asalkan tidak ditinggalkan.Begitu pandanganku berbalik pada gelapnya malam, aku sadar diri ini ditinggalkan. Dengan badan rusak, meski tidak merasa, tapi kehampaan dirasa pada hati yang sebelumnya ada untuknya. Terakhir dilihat hanya pandanganku kabur, diangkat seperti biasa oleh gadis kecil itu, sebelum aku dilempar ke kotak penuh bungkusan lain. Kukira kami akan pindah. Kukira kami akan pergi bersama dan jalani kembali hidup layaknya teman selamanya.Dia tinggalkan aku pada tempat asing. Tidak ada bantal, kasur, apalagi mainan. Hanya dedaunan kering dan tanah basah memenuhi kain. Aku tidak bisa bergerak, apalagi mencoba bangkit dan lari. Jika benar dia telah pergi, aku harus mencari. Tidak boleh meninggalkanku.Dia pernah bilang. “Kamu hadiah terindah, sahabat terbaik.” Nyatanya saat dia bungkus aku dalam kotak penuh bungkusan itu, aku dilempar begitu saja. Aku yang dulu dibersihkan begitu tampak sedikit noda, kini penuh dengannya. Tanpa suara kecil menyebutku kotor dan membersihkan, kini hanya sunyi.Namun, hewan-hewan kecil seperti semut dan lalat beterbangan masih di udara. Sejak tadi menunggu entah apa. Aku memandang, bertanya-tanya apa yang mereka cari pada suatu boneka. Makhluk kecil sama yang sering dikeluhkan sang ibu, juga gadis yang sering mengibas tangan menyingkirkan para binatang itu.“Mereka hanya datang kalau ada yang enak,” ujar sang ibu saat gadis itu menjerit melihat seekor semut merayap pada gelas teh punyaku. “Namanya juga minuman manis, pasti semut suka. Kamu harusnya habiskan sebelum mereka datang.”Aku di pelukan gadis itu, suara masih gemetar saat ceritakan kembali bagaimana hewan kecil itu tiba-tiba saja berada dalam pesta minuman kami. “Padahal tehnya untuk Anika. Kenapa mereka ambil, sih?”Ibunya saat itu tidak menyahut banyak selain menyuruhnya kembali bersihkan sisa pesta minuman kami. “Kalau bawa makanan ke kamar, ya harus dibersihkan. Nanti mereka datang terus. Anika juga tidak butuh minum, adanya nanti semut kira buat mereka.”Hanya dengus pelan dari gadis itu yang kudengar. Sebelum dia gendong aku kembali ke kamar. Saat menutup pintu, hela napasnya kembali didengar. Dia kembali bilang padaku. “Aku tidak mau nanti semut malah gigit aku, atau Anika.” Dia peluk erat aku.Terpaan angin menyapu wajahku, kain yang kini basah penuh lumpur. Tidak sanggup bergerak, mengenang semua yang telah kami lalui. Memperhatikan semut berbaris melewati, aku tahu mereka tidak akan gigit aku seperti yang dia khawatirkan. Sementara lalat berkerumun pada satu tempat.Aku arahkan pandangan, pastikan mata dari plastik tidak memudarkan pandangan. Tumpukan kardus, bungkusan plastik, makan dan minuman berceceran pada sudut lain hutan. Aku terheran-heran, bagaimana bisa mereka tinggalkan juga barang-barang ini? Aku hanya boneka, mereka bisa buang aku jika benar telah bosan, tapi semua yang di mobil... Dibuang juga?Barisan semut tadi melangkah menuntun arah pandangku kian dekat. Barulah jelas apa yang aku lihat. Mereka berkumpul di bawah pohon yang penuh retak kayu dan kaca. Tetesan merah terlihat di antara dahan yang bengkok. Pada bawahnya, aku barulah melihat. Oh, sahabatku...Dia hanya terbaring di sebelah ibunya. Mata terpejam, dengan tubuh sama retaknya sepertiku. Berpelukan mereka di bawah pohon dekat mobil yang kini terpecah depannya. Aku hanya bisa memandang. Jika aku bisa, kupanggil dia seperti dia biasa memanggilku saat hilang. Tidak ada suara keluar dari mulut yang hanya menutup, hanya garis melengkung ke atas. Senyum saja. Apa pun yang terjadi.Saat barisan semut telah merayap di tubuhnya, dia tidak menjerit, ibunya tidak mengeluh. Hanya diam terus memejamkan mata. Aku ingin menepuk-nepuk, menjauhkan hewan yang mereka takuti. Jangan... Dia tidak suka semut menggigitnya.... Sementara mereka terus berkerumun di atas mereka. Suara kecilnya kini berganti sunyi, tatapan mata berbinar telah pudar. Sementara tubuhnya penuh warna merah. Dulu, dia selalu mencuci diriku saat kotor. Bagaimana caraku membersihkannya?Terbaring berseberangan, dengan bunyi degung lalat menyelubungi mereka, mata kian kabur penuh warna cokelat dari tanah. Perlahan diriku pun menyatu pada tanah. Apa aku akan dibersihkan lagi setelahnya? Dia juga? Apa hanya berakhir pada tanah yang akan menutupi kami selamanya?Semut-semut yang tertinggal di barisan belakang mulai mendekatiku. Satu demi satu menggeser boneka ini. Entah karena demi mendorong jauh penghalang jalan mereka atau barangkali sadar boneka itu bukan makanan. Tetaplah aku dikerubungi, terseret kian dekat padanya. Begitu tubuh dia tertempel padaku, tanganku dari sisa kain yang nyaris copot, jahitan kian longgar, melingkari tangan kecil yang kini begitu kaku, dingin .Terbaring bersama kini, aku bersandar pada pipinya, tidak ada lagi pelukan, permainan, apalagi obrolan. Hanya bunyi desir angin terasa. Gelapnya malam selalu jadi rasa takut baginya. Jika aku bisa lakukan sebagai boneka, biarlah aku temani dia. Memeluknya, menjaga dari setiap monster seram dalam kegelapan.Jangan takut. Aku akan menjagamu.Tamat

Fantasy
24 Dec 2025

SURAT DI DALAM BOTOL

Melanjutkan cerita yang dikirimkan penerbit.Sani tersandung sesuatu saat ia berjalan tanpa sandal di atas pasir pantai, itu sebuah botol dengan penutup kayu yang kemudian ia perhatikan ada sesuatu di dalamnya. Sebuah surat. Selembar kertas putih kecokelatan, ia pun mengubur kembali botol itu di tempat semula. Namun, entah mengapa ia merasakan sesuatu, dorongan untuk membuka botol itu dan membaca isi suratnya.Janji tetaplah janji. Begitulah isi surat yang dia baca. Bukan aneh lagi bagi Sani, selama ini dia tumbuh besar di sekitar lautan. Barangkali setelah tiba waktunya dia akan berpulang di dekatnya pula. Berpikir ini hanya cendera mata yang jatuh dan dianggap kini jadi "milik bersama," Sani memungutnya dan mendekapnya ke dada."Kayaknya cantik kalau dijadikan hiasan meja belajar. Enaknya yang santai saja dulu." Dia bicara pada dirinya. Dengan senyum di wajah, dia kembali melangkah dalam rumahnya yang hanya berjarak tidak jauh dari lautan itu.Kayu berderit saat dia buka pintu, mata Sani terbalak melihat rumah yang sejak lama dia tempati. Bunyi gesek. Bukan gesekan pasir seperti setiap langkahnya di pantai. Seperti bunyi decit kulit yang mengesek pada kayu. Dia sendirian sejak lama. Tangannya menggenggam erat botol yang berisi surat itu. Berpikir untuk menghajar siapa saja yang berani menerobos dalam rumahnya."Kamu tidak seharusnya tetap di sini." Bisikan menggelitik leher Sani. "Kamu lupa dari mana asalmu? Dari mana surat itu?"Tubuh Sani bergetar pelan merasakan dingin pada leher. Dia kenal suara itu. Sudah lama tidak terdengar sejak terakhir nyawanya di ujung tanduk.Sani memberanikan diri membalas. "Aku tidak mau lagi kembali."Hening sesaat, tapi entah mengapa Sani dapat dengar bisikan itu lagi. "Kamu telah lama terlena sampai lupa janji. Aku hanya menagih.""Kupikir semua sudah selesai sejak aku menyerahkan nyawa ayam." Sani mencoba untuk tenang meski ucapannya sedikit terbata-bata. "Untuk apa kamu kembali?""Janji tetap janji. Aku menuntut apa yang pantas aku terima." Suara itu membalas. "Kamu sudah terlalu enak hidup jauh, jauh dari segala beban." Masih dengan nada tenang, meski Sani dapat merasakan desis pelan padanya.Sani tidak melihat wujudnya sekarang. Dia masih ingat. Semua hanya terjadi tidak sampai satu dekade. Meski ingatan itu sedikit samar sekarang. Terumbu karang. Air laut memenuhi wajahnya. Sosok kabut mendekat, suara wanita lembut bicara. Dia hanya ingat sampai situ. Walau Sani juga tahu jika dia pasti pernah bicara dengan sosok yang menolongnya. "Aku meminta sesuatu padanya. Tapi, apa ya?" Dia berpikir."Sudah kuduga kamu lupa." Suara itu kini mengambil wujud berupa kabut kelabu. Mengelilingi wajah Sani yang gusar. Sedikit embusan dari kabut pekat, dia sentuh wajah gadis itu. "Kamu sudah melakukannya berkali-kali. Kalah terus begini, kamu akan selamanya terjebak."Sani tepis kabut itu, membuatnya sedikit kabur setelah kena tebas tangannya. "Padahal dulu permintaanku... Aku lupa.""Kamu menukar jiwa agar selamat." Suara itu mengingatkan. "Aku hanya meminta menukar raga agar masih bisa tetap di sini. Begitu juga kamu. Kita sepakat untuk mengambil umpan. Kamu malah keasyikan bermain. Padahal sudah lama sekali.""Sabar sedikit, lah." Sani mundur selangkah, menghindari kabut yang terus dekati wajahnya. Tangannya gemetar, terlepas botol berisi surat itu... Kini jelas siapa penulisnya. "Kamu kira gampang cari orang di tengah pantai begini?""Kamu hidup di tempat wisata. Banyak sekali orang di sana." Suara itu terus menyahut. Tahu betul Sani sengaja tidak membawakan satu jiwa tambahan. "Kalau kamu terus begini, nanti-"Tanpa menunggu lagi, Sani mengibas tangannya. Menyapu habis kabut itu dari pandangan. Tanpa menoleh, dia pacu langkahnya keluar dari rumah kayu kecil yang hatinya sudah terpaut padanya.Langkahnya tergesa-gesa saat menyentuh pasir dengan sendalnya. Napas terburu, berusaha menghirup udara terus selagi kakinya terus bergerak. Tidak boleh tertangkap.Sani melompat pada ombak di sampingnya. Dia tahan napas. Lelah benar. Tidak tahu berapa jauh dia berlari. Riak air kembali berbunyi, ombak mengempas di depannya jauh sana. Sani menatap dalam hening, menatap pada lautan yang perlahan menggelap."Aku aman sekarang." Sani menutup mata. Setidaknya, itu yang dia harap.Dorongan keras terasa pada balik punggungnya. Suara pelan Sani tercekik terdengar. Warna merah memenuhi air sekitarnya, beriringan dengan tubuhnya yang mendadak kaku. Pandangannya kabur. Kepalanya terasa berat. Perut terasa amat pedih. Sani membungkuk. Pedih terasa di perutnya yang terbuka.Tidak. Seharusnya dia selamat sekarang.Suara gerakan terdengar mendekat. Air bergerak beriringan dengan langkahnya. Kabut itu perlahan mengambil wujud. Sosok wanita. Dia dekatkan kakinya pada wajah Sani. Tidak ada lagi senyum seperti sebelumnya.Sani gemetar. Tubuhnya menggigil. Darah memenuhi pandangannya dari bawah perutnya yang kini tidak lagi berisi. Meski tangannya dengan gentar terus memeluk perutnya, berharap sedikit saja bisa menjaga nyawanya agar tidak lari dari raga. Suaranya terputus-putus tapi masih jelas bagi sosok yang sudah mengenalnya. "To... Tolong. Jangan... Aku tidak mau." Belum sempat Sani melanjutkan, bibirnya penuh dengan cairan merah dan air. Terasa sesak di dada, pedih pada lehernya.Wanita itu diam sesaat. Kabut secara samar mengelilingi dirinya. Suaranya tidak lagi samar. Hanya terdengar lebih santai alih-alih marah. "Kamu seharusnya belajar dari kejadian lalu. Ikuti saja syaratnya, kamu tidak akan mengulang kehidupan itu lagi dan lagi."Sani bersuara. Begitu pelan. Begitu halus. Namun, jelas sekali dia berkata dari lubuk hatinya. "Ya."Pandangannya kini dari samar jadi kegelapan. Air laut beriak. Ombak menghempas raganya. Sani terguling di antara air laut. Perlahan, Sani rasakan kembali elusan dari desir pasir dan angin lagi. Matanya terbalak. Dia menarik napas. Memastikan tubuhnya masih utuh. Tidak lagi sakit. Dia selamat, kali ini.Belum sempat Sani menatap ombak yang terempas, dia rasakan sesuatu menggelinding di kakinya. Sebuah botol dengan surat.

Buah Cinta
Fantasy
23 Dec 2025

Buah Cinta

“Untuk kau yang lahir dari sehelai bulu.”Hidup dalam hutan terselubung dari dunia, pohon itu tumbuh penuh dengan beragam bulu dari sayap entah siapa pemiliknya. Layaknya buah-buahan, tumbuh subur di bawah sinar yang terbenam dari ufuk barat, cahaya jingga lembut, hangatkan helaian bulu yang menghiasi pohon. Mereka tidak biasa warnanya, jingga, merah, hijau, dan beragam warna bersinar dengan cahaya dari dalam, sekadar pemanis pandangan dan barangkali... kelezatan. Setiap helai menyimpan bisikan dari jiwa terkubur dalam tanah hutan. Beristirahat dalam damai, menjelma menjadi helaian bulu pada pohon itu, katanya sebagai bagian siklus kehidupan di hutan ini.Helaian bulu penghias pohon hanya satu dari bagian hutan. Ada pula bunga-bunga berwarna terang bersinar dalam kegelapan malam dan seperti helaian bulu pada pohon, tumbuhannya juga tampak lezat. Seekor elang menukik, warna tubuhnya keperakan memantul pada sinar jingga sore itu. Dia hinggap pada sebuah batang pohon, ingat betul bagaimana rasa buah itu. Saat induknya menyuapi sekali, wajahnya berkerut. Rasanya aneh, manis dan pahit sekaligus. Meski saat itu dia mencuit kencang, berharap makanan aneh itu segera disingkirkan, sang elang betina tetap saja menyuapinya.“Ini sehat.” Dia berdalih. Waktu telah berlalu, dan elang itu masih ingat suara ibunya. Elang yang merawatnya saat dia bahkan belum bisa mengoyak daging sendiri.Dia mengingat kisah yang telah lampau, waktu dia bahkan belum bisa melihat dunia. Menetas dalam pohon kosong lagi dingin, dunia masih begitu gelap. Tidak tahu apa yang terjadi di sekitar. Tubuh begitu lemah sementara paruhnya berjuang mengeluarkan cuitan menyeru induk yang tidak juga menghampiri. Kakinya perlahan berdiri, mencari sumber makanan sekiranya dapat menganjal perut. Akan tetapi, dalam sarang yang tidak jelas rupanya ini, dia hanya bisa mencuit tanpa menyadari kenyataan. Tanpa bulu dan penglihatan, dia tidak akan bertahan hingga beberapa saat lagi. Harus pergi. Harus mencari.Ciutan menggema, berharap cemas ada induknya. Tubuhnya belum berbulu, gemetar merangkak sekeliling sarang. Tanpa sengaja kakinya melangkah keluar dari lubang pada sarang dalam pohon, tubuh oleng dan jatuh. Dia menjerit, jantung berdebar menakuti hal yang tidak dia tahu. Tepat tubuhnya nyaris terempas tanah, sesuatu mencengkeram. Tumpukkan bulu yang agak keras, mengingatkan dia akan sarang kosong itu. Ciutan terhenti, tubuh menggigil dalam balutan sayap kelabu yang mendekapnya, tubuhnya yang lemah kini berada pada sayap seekor elang. Aroma dedaunan tercium di antara sayapnya. Hanya sekali entak, mereka melesat kembali ke udara. Tidak sempat bergerak apalagi bersuara, burung kecil itu menggigil dalam punggung elang yang membawanya. Perlahan embusan udara makin lembut, dia diturunkan hingga menggelinding.Burung kecil langsung menciut meminta makan. Rasa takut dan bingung kini dikuasai lapar. Kebingungan dia rasakan. Tekstur keras pada sarang asing dan bau bulu yang tidak dikenal membuatnya gemetar. Tidak tahu harus berharap diberi makan atau meratapi diri.Tidak lama setelahnya, dia dengar suara-suara dari elang lain. “Ayo, siapa di sini yang bisa menyuapinya?” Suara berat dari seekor elang terdengar sangat dekat dengannya, sayapnya yang kelabu bergerak pelan mendorong tubuh burung itu. Burung kecil itu mengenali bau pepohonan padanya, yakin dia yang membawanya tadi.Keheningan tidak berlangsung lama karena seekor elang betina menyahut. “Sini, biar aku suapi dia.” Dia dengar langkah itu semakin dekat. Sayap yang kelabu itu mengelus pelan tubuh burung kecil itu.Pada saat yang sama, burung kecil merasakan sesuatu masuk ke dalam mulut. Makanan pertama. Begitu lahap. Keheningan kembali menyambut, hanya suara tegukan dari burung kelaparan yang samar terdengar. Ketika usai makan, dia langsung tidur, kepala terbaring pada sarang yang keras. Begitu burung kecil hendak menyambut mimpi, sayap besar mendekapnya, membuat dia hangat sepanjang malam.Beberapa hari berlalu dalam keheningan, hanya elusan sayap hangat dan makanan masuk sebelum kembali tidur. Perlahan, dia dapat melihat dunia. Mata menyambut sinar matahari dari sarang yang membesarkannya. Begitu sadar telah melihat dunia, dia bergegas mengeluarkan kepala dari sarang untuk sekadar melihat matahari lebih dekat.“Horia, hati-hati!” seru elang betina yang kini ibu baginya. “Jangan sampai satu helai bulu milikmu terlepas!”Ah, masa lalu itu. Kini dia paham, dia diasuh sepasang elang yang kebetulan menginginkan seekor anak. Dia tidak tahu apa pun waktu itu, hanya mengira jika dia selama ini anak mereka.Kini, sebelum kegelapan menguasai pandangannya, dia tahu di balik kisah sederhana lagi hangat itu ada segelintir kejadian pula. Dia tahu itu sejak dia kepakkan sayap pertamanya.+++Pada tengah hutan, bulu berkilauan terbaring di antara tanah saat musim gugur, para burung kecil penuh warna terang juga terbang, sesekali membaringkan diri di tengah helaian bulu yang terlepas dari dahan. Ciutan dan tawa menggema darinya. Antara pohon-pohon yang menjulang tinggi dan dedaunan yang melambai lembut, dia sebut dirinya seekor elang juga. Perak itu warna sayapnya, seperti elang lain. Dia makan dan bertingkah seperti elang di sekitarnya pula. Horia, elang yang kini hidup dalam keluarga itu, memandangi mereka dalam diam. Dia tidak pernah menanyakan pada induknya apa gerangan. Sesuatu yang menempel pada setiap raga elang, tumbuh pada pohon, helai yang lepas juga dimainkan. Dari mana asalnya? Kini dia mulai resah. Horia menoleh, memandang pada dekat bawah pohon, pada gerbang tua dari kayu hitam, dihiasi ukiran-ukiran memanjang, mulai terbuka.“Jangan ke sana, belum waktunya.” Begitulah yang pernah ibunya katakan. Lagi-lagi... “Jangan sampai helai bulu milikmu terlepas.”Horia tahu, sebagai pemilik raga maka mesti dia jaga. Tidak pernah keluar dari sarang hingga sayapnya mulai tumbuh, hanya berani mengepakkan sayap bila ibunya melemparnya dari pohon. Perlahan belajar, perlahan tahu. Dunia belum sepenuhnya dia jelajahi, dia pula tidak tahu pasti mana saja yang aman selain dari ibunya.Horia kembali merenung di sudut hutan di antara helai bulu pohon. Dia tahu dirinya tidak beda jauh, termasuk ibunya, dari helai sayap di pohon tadi. Mereka barangkali seperti mereka, hidup dan terbang bebas. Hingga tiba saatnya hanya menyisakan sehelai bulu. Horia angkat sayapnya, mengelus bulu kemerahan yang halus. Sama lembutnya. Aromanya juga. “Ibu tidak pernah cerita.” Dia hanya tahu, ibunya meminta untuk menjaga setiap helai bulu dalam raganya. Apa bakal jadi bulu-bulu itu, beristirahat sebagai bagian dari tanah ini?Kepakan sayap terdengar. Seekor elang betina keperakan bertengger di sisi Horia. Dia sedikit lebih besar, sayapnya terlipat saat dia mendekat. Mui, sang induk. Dia dengar suara anaknya. Ah, tentang menjaga setiap helai hingga tiba saatnya. Belum pernah dia bercerita panjang, tentang bulu, pohon, apalagi masa lalu elang yang tumbuh di bawah asuhannya.“Horia.” Suaranya halus di antara angin, membiarkan Horia tetap pada pikirannya selagi dia lanjut bicara. “Kita sama-sama elang. Terbang, makan, dan asal kita sama. Begitu juga dengan akhir.” Dia menunggu, berharap anaknya bakal bertanya lebih.Horia menoleh sesaat. Mereka sama, akhir bisa sama. Namun, dia tidak tahu apa selain tanda pada helai demi helai yang berkilau di antara dahan pohon. Matanya yang perak bergerak tertuju pada sinar jingga matahari yang terpantul dari bulu itu. “Bulu-bulu ini membingungkan. Aku tidak yakin itu berasal dari elang.”Mui mengepakkan sayapnya dengan pelan, helai demi helai bulu pada pohon perlahan bergoyang. “Kamu ingat ini siapa saja?” Perak dan kelabu. Dua warna yang pasti mereka ingat.Horia menatap, kakinya bergerak mundur. Dia kenal bau dedaunan dari sisa helai itu. Aroma yang membawanya ke sarang. Dia tidak pernah bicara langsung pada elang itu. Namun, sedikit sisa dari hatinya berbisik gemetar.Mui tersenyum tipis, dia gerakkan sedikit paruhnya pada sehelai bulu keperakan yang menggantung. “Kita berasal dari hutan ini, dari jiwa-jiwa yang beristirahat. Kamu ... juga dari cintaku sebagai ibu. Suatu saat, kamu akan kembali padanya.”Horia terdiam, mencerna kata-kata ibunya. Dia menatap lagi beberapa helai bulu beragam warna di sekelilingnya. Berayun pelan diterpa angin. Dia masih mengenali beberapa aroma khas. Para elang yang pernah hinggap pada pohon yang sama tempat dia tumbuh besar. “Kenapa... Harus di pohon ini?”“Karena dari situ juga, kamu sebenarnya lahir. Ibu kandungmu hadir sebagai wadah untukmu menetas, sebelum dia kembali ke pohon ini.” Mui mengangkat sayap, mengarahkan pada sehelai bulu keperakan itu. Tanpa perlu dia sebutkan, dia yakin Horia tahu betul siapa itu.Horia menggeleng. “Aku tidak siap. Terlalu cepat. Aku masih ingin terbang bebas.”Mui menatapnya. “Kau bisa, tapi jika meninggalkan hutan ini, kau kehilangan apa yang membuatmu istimewa. Luar sana, kau akan jadi elang biasa, tanpa ikatan antara kita. Hati-hati dengan pilihanmu, Horia.” Dia menatap ke bawah, memandang pada helai bulu yang telah dijatuhkan angin. “Setiap elang akan memberi sehelai jiwanya, untuk kehidupan hutan. Dia yang membawamu ke dunia, juga dia yang layak menjemputmu.”Sudah lama Horia tidak menanggapi ucapan Mui sejak saat itu. Sang induk elang hanya membiarkan, tahu jika dia butuh beberapa saat mencerna. Angin terus berembus pelan, membiarkan beberapa helai bulu yang sebelumnya menempel pada dahan, perlahan jatuh dan kembali ke tanah. Mui mengamati, jantungnya berdegup kencang menunggu saatnya. Saat helai itu menyentuh dirinya, Mui merasakan dirinya lebih berat. Sesuatu menunggu, seperti saat elang kecil itu tiba. Dia menarik napas, mempersiapkan diri. Jika induk dari Horia sempat melihat anaknya sebelum waktunya, dia akan jadikan ini sekaligus perpisahan.Sehelai bulu kelabu. Melayang perlahan mendekati mereka. Mui menatap ke arah Horia, paruhnya bergerak mendekati kepala elang yang dulu dia suapi dalam pelukannya. Mengelus, merasakan Horia sedikit gemetar. “Selama ini, aku yang menyuapi, merindukan cuitan lamu yang rewel menghiasi sunyinya sarang.” Matanya terbuka lebih lebar, bersama paruhnya. “Horia, Ibu minta temani sebentar.”Dia sudah merasakannya. Dia terduduk pada tengah pohon, satu-satunya tempat paling bisa mereka jadikan untuk beristirahat sejenak saat tiba saatnya. Menyisakan sehelai bulu perak di bawah kakinya. Sebelumnya utuh. Sebelumnya bernyawa.“Jaga dirimu.”Angin bertiup lebih menusuk, awan-awan perlahan menutupi langit yang kian gelap. Horia merasa jantungnya berdetak lebih kencang, meskipun tidak sepenuhnya yakin jika itu jantung miliknya atau sekadar gema kehidupan yang diberikan ibunya. Kejadian dalam sekejap. Hanya sempat melihat senyum ibunya. Mui hanya menyisakan sehelai bulu.Dalam dirimu dia tetap ada. Helai itu terbang menjauh diterpa angin, menyapu sejenak wajsh Horia. Belum sempat paruhnya mencoba mengambil sisa dari raga induk yang membesarkannya, kini tersisa sehelai bulu perak pada pohon.Setetes. Horia segera menggelengkan kepala, menyapu sisa cairan yang menetes dari paruhnya. Merah. Lidahnya masih merasa aneh. Sisa dari ibunya masih melekat di paruh. Dia yang dulunya menyuapi.“Apa yang harus kulakukan?” Horia bertanya, hampir bergetar. Lebih pada ibunya yang sebelumnya ada. “Bagaimana aku bisa... Pergi.” Dia meragukan ucapannya. Horia tahu Mui ingin dia terus terbang, melanjutkan kisahnya.Horia menoleh pada dedaunan... Lebih tepatnya helai demi helai bulu menghias pohon itu, bergoyang diterpa angin. Bersamaan dengan jiwa-jiwa penghuni hutan. Hanya keheningan. Entah mengapa Horia merasa seakan ada yang bersuara untuknya.“Suatu saat, kamu akan tumbuh dan terbang bebas.”Sekilas senyum muncul pada Horia. Sapuan angin yang halus membuatnya membentangkan sayap. Setetes. Masih merah. Masih basah. Suatu saat dia akan menyusulnya.Suara halus, persis suara Mui kembali terdengar. “Ikuti jejak kami, Horia. Itulah satu-satunya arah yang kau andalkan. Ingat, suatu saat kau akan kembali pada pohon itu.”Horia mengepakkan sayapnya. Dia memberiku makan. Dia arahkan pandangan pada sinar bulan. Satu-satunya arah...Sehelai bulu perak jatuh pada kepalanya. Horia tahu tandanya. Jantungnya berdegup kencang. Belum. Belum. Dia berharap cemas. Sapuan angin semakin menusuk di antara helai bulu keperakan pada tubuhnya. Harus pergi. Harus mencari. Dia dengar seekor burung kecil yang mencuit kelaparan, melengking suaranya dalam kesunyian malam. Horia mendengarnya. Semua terasa kembali.Sayapnya berkepak. Tubuhnya perlahan terangkat. Tidak seperti biasanya, detak jantungnya bergema. Horia merasakan begitu tubuhnya melayang di antara awan, tubuhnya yang terbuat dari bagian hutan terasa amat ringan. Horia merasa kosong, napasnya perlahan terisap. Dia kepakkan sayap sekali lagi, melanjutkan kisahnya, tapi tubuh Horia semakin ringan. Tidak bisa lagi mengangkatnya. Horia jatuh menghantam tanah, merasakan jiwanya terkikis.Saat pandangannya menyatu dalam kegelapan, Horia sadar tubuhnya menyusut. Dia tidak bisa hidup tanpa hutan itu. Dia bagian darinya dan akan kembali padanya. Begitu kesadaran menyelimuti dirinya, Horia tersenyum saat helai demi helai bulu pada pohon perlahan berguguran menjemputnya.“Waktunya kembali.”“Aku ... pulang,” bisiknya dalam napas terakhir.Seekor elang betina mengepakkan sayap, merasakan kematian di dekatnya. Dia menukik, melihat sehelai bulu keperakan tergeletak di tanah. Bersiap untuk menyatu kembali dengan dahan. Elang betina itu tersenyum. Dengan paruhnya, dia ambil sehelai bulu itu. Berbisik sembari berharap empunya sisa raga itu mendengar. “Kamu kembali.”Dengan sehelai bulu keperakan di paruhnya, dia bawa ke sarangnya. Bulu yang menyimpan jiwa Horia, kini berada dalam pohon itu. Elang betina itu kembali mengingat kejadian sebelumnya. Peristiwa yang terulang dalam ribuan malam. Suatu saat dia akan kembali. Suatu saat, aku akan merasakannya lagi.Sayapnya berkepak menepuk bulu keperakan di sentuhannya. Sinar perak berpendar. Elang betina itu tersenyum. Menyaksikan cahaya itu perlahan jadi kemerahan. Helai demi helai bulu kecil beterbangan keluar darinya.Cuitan terdengar.Elang betina itu mendekatkan paruhnya. “Selamat datang kembali, Horia.”Dia akan kembali dengan nama indah itu. Mui. Dia perkenalkan nama itu padanya. Akan dia kenalkan dunia singkat itu pada burung kecil di sayapnya. Untuk dia beri makan. Untuk dimakan kembali. Untuk dia kembali.“Untuk dia yang lahir dari sehelai bulu.”Tamat

Catatan Harian sang Kucing dari Kampung Asri
Fantasy
23 Dec 2025

Catatan Harian sang Kucing dari Kampung Asri

Sekian purnama berlalu, akhirnya aku menyelesaikan misi yang diberikan sang Penyihir kepadaku. Di tengah perjalanan, harusnya aku menemukan sesuatu yang menarik untuk dimakan. Akhirnya, aku menemukan sekelompok peri hutan yang sedang mengelilingi api unggun, membisikan kisah demi kisah yang diturunkan leluhur mereka.Salah satu dari mereka melihatku. "Ah, Kucing dari Negeri Jingga, bukan?"Aku mengiakan. Memang benar aku meninggali negeri itu walau kini lebih sering berkelana."Duduk sini, mari kita berbincang!" ajaknya.Rupanya, peri hutan yang mengajakku tadi merupakan Kapten Peri yang kebetulan sedang beristirahat bersama anak buahnya. Mereka semua menyambutku dan kami pun saling memamerkan kekuatan sihir masing-masing. Aku berikan tanggapan, juga sebaliknya. Kami pun menikmati waktu kebersamaan ini hingga aku mulai betah dan memutuskan mengikat tali pertemanan bersama mereka.Namun, yang kutemukan justru sosok aneh yang mengaku sebagai Penyihir Agung. Penampilannya aneh, tingkahnya pun tidak menunjukkan wibawa layaknya Penyihir Agung lainnya. Dia tiba-tiba masuk dan merusak acara pertemanan kami.Sosok itu menyeringai dan meminta Kapten Peri untuk menampilkan kekuatan sihirnya. Sang Kapten membiarkan.Sosok itu mulai mengeluarkan mantra-mantra mengerikan yang entah dari iblis mana dia dapatnya. Aku yang ketakutan pun tidak berani berkata sepatah kata pun."Lihatlah, Kaum Dungu!" seru sosok itu. "Jangan gunakan sihir bilamana terasa perlu, karena sihir tiada pantas digunakan dalam kehidupan sama sekali. Hanya Penyihir yang pantas menggunakannya."Aku tersinggung. Lantaran aku pun terlahir karena sihir dan itu sudah menjadi bagian dari hidupku. Meski aku memang pada dasarnya hanya seekor kucing ajaib. Kutunggu sampai ada yang protes padanya.Namun, tidak ada yang membalasnya. Sang Kapten hanya menatap sosok itu tanpa reaksi, seakan menunggu aksi lain darinya.Sosok itu kian keras melafalkan mantranya, dia bahkan menari di atas api unggun dan menghasilkan api raksasa yang nyaris membakar kami."Cukup! Pergi dari sini!" seru Kapten Peri sambil mengeluarkan bola api dari tangannya. Sukses membuat makhluk meresahkan itu memental hingga tak terlihat lagi.Begitu dia pergi, kami berusaha menenangkan diri dengan membahas kata-katanya."Ah, masa hanya Penyihir yang pantas memakai sihir? Bukankah dunia ini terbuat dari sihir dan untuknya pula kita gunakan untuk melengkapi hidup," ujar salah satu peri.Aku melirik sang Kapten, dia lalu tersenyum menahan tawa. "Sudah, biarkan saja. Dia pasti hanya Penyihir gila yang tersesat di hutan."Kami pun melupakan kedatangan makhluk itu dengan melanjutkan obrolan kami hingga bulan berganti menjadi matahari.Melihat hari sudah berganti, aku pamit dan meninggalkan mereka sekaligus berjanji untuk tetap saling sapa bila bertemu kembali.***Aku akhirnya bisa kembali ke kampung halamanku, Kampung Asri. Namun, ada kejanggalan yang kutemukan.Kulihat sosok misterius sedang bicara di tengah kampung, tampak serius seperti biasa. Ah, dia si Penyihir Hitam dari Negeri Kegelapan. Sudah sejak lama dia tidak muncul dan menciptakan percikan api di antara keharmonisan kampung ini. Mantra apa lagi yang akan dia lafalkan?"Kepada seluruh penghuni Kampung Asri, aku ingin telah menemukan sosok yang ingin menyesatkan kalian!" serunya di antara kerumunan yang penasaran.Aku pun mendekat untuk mendengarkan.Penyihir Hitam melanjutkan. "Dia mengaku sebagai Penyihir Agung. Dia pernah menyampaikan bahwa tidak pantas bagi kita-makhluk sihir biasa-menggunakan sihir dalam dunia yang penuh dengan sihir ini, kecuali jika dia Penyihir Agung seperti dirinya. Itu tidak pantas! Menentang arti sihir yang bumi berikan kepada kita, penghuninya!"Sorak-sorai mulai menyambut. Baru kali ini warga Asri termasuk aku, tidak merasa terancam akan keberadaannya. Dia memang sering berbuat onar, tapi dia tidak pernah memberatkan warga lain.Tawa menggelegar membuat suasana seketika hening. Jauh di ujung sana, terlihat bayangan putih, sangat kontras dengan penampilan Penyihir Hitam. Kami semua mengenalnya dan kami segan padanya. Dialah Raja Penyihir, penguasa absolut Kampung Asri. Dia terkenal akan kekuatan sihirnya yang di luar nalar dan tentunya, satu dari sedikit warga yang berhasil membuat Penyihir Hitam tunduk padanya."Baru kali ini kulihat kau di jalan yang benar," ujar Raja Penyihir sambil tersenyum mengejek.Sesuai dugaan, Penyihir Hitam menyambut ucapan itu dengan wajah masam. "Kali ini, aku akan memihakmu bila makhluk itu datang ke kampung kita.""Oh, luar biasa!" seru salah satu warga. "Penyihir Hitam dan Raja Penyihir bersatu? Kisah ini layak diabadikan dalam tinta emas!"Warga pun bersorak.Namun, keceriaan kami terhenti ketika sosok yang kulihat di hutan kemarin kembali. Itulah sosok yang mengaku sebagai Penyihir Agung.Penyihir Hitam menyiapkan senjatanya berupa bayangan hitam yang mampu menarik lawannya ke neraka.Sementara Raja Penyihir hanya tinggal menarik Pedang Surgawi andalannya yang mampu menghilangkan jejak lawannya bahkan sampai ke dimensi lain sekali pun. Raja Penyihir jelas juga waspada, tapi dia tetap memasang wajah ramah pada sosok itu.Penyihir Agung menyadari bahwa kedatangannya tidak disambut dengan baik. "Kalian kaum sesat! Jangan pakai sihir jika kalian bukan Penyihir Agung sepertiku!""Bumi ini ada bersama dengan sihir, dengan sihir juga kami gunakan untuk melengkapi hidup," sahut Penyihir Hitam."Kau dari Negeri Kegelapan dan kau bawa serta pula kegelapan itu ke negeri orang," sinis Penyihir Agung."Setidaknya aku tidak membuat aturan seenaknya sepertimu," ujar Penyihir Hitam."Kaum sesat akan selamanya sesat!" Penyihir Agung mengeluarkan aura putih dari tubuhnya, membuatnya hampir tak terlihat akibat tertelan cahaya itu."Jangan kau sebarkan kesesatanmu pada penghuni bumi!" tegur Raja Penyihir. "Jika semesta memberi kita sihir, berarti kita pantas memakainya asalkan atas dasar kebaikan.""Oh, kau kira mereka akan melakukannya sesuai kehendakmu yang mustahil itu?" sahut Penyihir Agung."Memang apa dasar dari hukum sesat yang kausampaikan tadi? Kata siapa sihir dilarang jika kita saja hidup dipenuhi dengannya pula?" balas Penyihir Hitam."Tidak ada yang lebih pantas menggunakan sihir kecuali Penyihir Agung, karena hanya dia yang cukup bijak menggunakannya," kata Penyihir Agung."Apa tingkahmu sudah mencerminkan kebijakan itu sendiri?" sahut Raja Penyihir.Blash!Kilat nyaris saja menyambar Raja Penyihir. Dia berhasil menahannya dengan Perisai Sihir, nyaris saja lenyap kalau saja terlambat.Warga terkesiap, mereka mulai bergerak mendekati Penyihir Agung untuk menyerang. Aku tidak tinggal diam, aku ambil sebuah buku mantra yang setebal satu pulau untuk meratakan kepalanya. Namun, belum sempat kuangkat buku itu, terdengar seruan dari Raja Penyihir."Orang sepertimu akan selamanya merasa bijak kalau tidak melihat sisi lain dari dunia ini," katanya dengan tenang.Penyihir Agung tidak terima. Dia melesat ke arah Raja Penyihir.Tubuhnya terpental akibat tendangan sepatu besi milik Penyihir Hitam. Dia nyaris mengirim sosok aneh itu ke neraka, tapi serangannya berhasil ditangkis oleh Penyihir Agung.Penyihir Agung berlari menjauh hingga tercipta jarak antara mereka. Dia menatap kami semua dengan tajam, seakan siap menghabisi kami. Namun, kami tidak akan takut dengan sosok seperti dia. Lihatlah, bisanya hanya berkoar-koar tapi sihirnya saja bahkan tidak sanggup melawan satu orang saja."Pengecut sepertimu tidak pantas menjadi Penyihir Agung!" seru Penyihir Hitam. "Melihatmu seenaknya memberi perintah sudah memberiku gambaran akan negeri yang kau pimpin kelak, kehancuran.""Kau yang sesat akan selamanya menganggap kebenaran itu batil," ujar Penyihir Agung. Dia bergerak mundur, tampak hendak pergi."Mau ke mana kau?!" Penyihir Hitam bergerak mengejarnya.Keduanya pun menghilang dari pandangan kami, sepertinya, ini akhir dari pertempuran aneh kali ini. Raja Penyihir tampak berdiri sambil mengamati kepergian kedua sosok itu. Dia hanya tersenyum lalu berjalan meninggalkan kami.Raja Penyihir tahu, kami semua tahu. Apa pun yang terjadi, Penyihir Hitam pasti akan kembali ke Kampung Asri dan tentunya akan membawakan mantra baru untuk kami kelak.Entah apa yang akan terjadi setelahnya, aku hanya bisa menunggu dan mempersiapkan diri.TAMAT

Berdiri Kokoh
Fantasy
22 Dec 2025

Berdiri Kokoh

Malam berselimut embun, siang bertudung awan. Begitu kisah hidupku dalam satu kalimat. Setiap hari menyaksikan penghuni bumi ini lalu lalang di sekitarku, membiarkan keadaanku kian menyedihkan. Padahal, jika diberi sedikit kasih sayang, maka aku sudah dikatakan layak.Bumi memberi belas kasih dengan menyediakan tempat berteduh bagi penghuninya. Namun, ada kalanya bumi mulai marah dan mengusir sebagian penghuninya, termasuk orang tuaku. Mereka marah karena perbuatan penghuninya yang belum juga membalas belas kasih darinya. Hingga saat ini pun, semua masih berlalu seperti sebelumnya.Aku kini hanya bisa mengandalkan bumi untuk merawatku, meski tentu saja ada banyak sekali penghuni lain yang harus dijaga. Namun, saat ini untuk bisa melihat esok hari pun sudah membuatku mensyukuri keadaan. Bumi memang memberiku tempat berteduh, meski tidak seperti penghuni lain. Setidaknya, aku masih bisa makan dari berian bumi meski tidak sebanyak yang lain. Selama ini, aku hanya mengandalkan belas kasih."Tolong, beri belas kasih," ujarku lirih.Namun, tidak ada yang memberi bahkan melirik. Kupandangi langit, cuaca hari ini memang cerah, tapi tidak pernah menggambarkan keadaan penduduk di perumahan ini.Aku berada di sebuah perumahan sunyi, bisa dibilang hampir mati karena jumlah warganya yang bisa dihitung dengan jari. Mereka melewati perumahan ini tanpa senyuman apalagi sapaan. Seperti boneka yang berjalan tanpa jiwa. Itulah mengapa aku hanya menyaksikan mereka melewatiku tanpa sekalipun menunjukkan belas kasih.Bumi memang memberikan belas kasihnya dengan sedikit makanan dan tempat berteduh bagi penghuninya. Namun, aku tidak mendapat belas kasih seperti itu. Hanya bisa duduk diam sambil menunggu keajaiban tiba.Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara benda keras saling menumbuk, diselingi suara orang-orang saling menyahut. Kulihat, kebanyakan arah jalan warga yang melewatiku itu melanjutkan langkahnya menuju arah suara tadi. Bisa jadi ada kejadian luar biasa di perunahan ini sampai bisa menarik banyak perhatian warga.Rasa penasaran mendorongku menuju arah keramaian. Rupanya ada tanah lapang yang sedang diberi beberapa kayu dan semen, entah rumah siapa yang akan dibangun kali ini.Di antara keramaian, kulihat dua pria sedang berbincang. Dari pakaiannya yang megah, kuduga salah satu pria itu pasti seorang hartawan."Untuk anakku nanti, tidak mungkin kuberikan rumah yang biasa," ujarnya kepada pria lain. "Kamu selaku pengawas harus memastikan kalau rumah ini akan jadi tempat yang bagus baginya."Pria satunya, yang aku yakini sebagai mandor, membalas ucapannya. "Kalau begitu, Tuan cukup tambahkan upah bagi kuli bangunan agar mereka dapat menciptakan rumah yang indah.""Tidak, tidak, itu tidak akan cukup," balas sang hartawan. Dia menatap fondasi bangunan yang belum rampung itu. "Aku menginginkan rumah yang kokoh. Bangunan yang kuat butuh fondasi yang kuat pula.""Kalau fondasi, kami bisa memberikan saran," ujar si mandor. "Apa Tuan tertarik?""Apa itu?" tanya sang hartawan."Jika ditambahkan satu saja, sudah cukup membuat rumah ini tetap kokoh meski sudah diterpa seribu badai," ujar si mandor. "Bahkan akan tetap terlihat baru dibangun meski sudah lewat seribu tahun."Aku yang waktu itu penasaran, langsung mendekat sambil mengharapkan belas kasih dari mereka. Mereka pasti akan bergerak hatinya. Toh, demi anak saja rela membangun rumah yang bagus, apalagi anak kecil malang sepertiku yang hanya bisa menetap diselimuti tanah."Tolonglah aku," lirihku. "Aku sudah lama tidak diberi makan." Aku ulangi ucapan itu, kukira mereka tidak mendengar karena masih sibuk berbincang. Namun, pada akhirnya seluruh tatapan tertuju padaku.Aku pun meninggikan nada suaraku. "Tuan, mohon berbelas kasihlah!"Perutku yang kosong menuntut banyak makanan, sementara aku saat ini bahkan belum diberi sedikit belas kasih dari bumi. Entah karena bumi mulai bosan merawatku atau aku mungkin sudah dianggap tidak layak untuk dikasihi.Sang hartawan menatapku. Tidak seperti dugaanku, dia justru memandangiku dengan wajah risi. "Hei, di mana orang tuamu? Beraninya masuk ke sini!"Suara kerasnya membuatku gemetar, tapi aku berhasil memberanikan diri untuk membalas. "Keduanya telah mati karena bencana."Sang hartawan terdiam, begitu juga dengan si mandor. Keduanya diam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan pembahasan perihal rumah itu."Jadi, apa satu hal yang kamu maksud itu?" tanya si hartawan."Cukup satu hal saja." Si mandor mulai menatapku."Satu?" Si hartawan mengulang, matanya pun ikut mengarah kepadaku.Si mandor mengiakan, tanpa mengalihkan tatapannya dariku. "Tentu saja, tanpa jiwa yang menyangga, bangunan ini tidak akan berdiri lama."TAMAT

Mengapa Aku Ada?
Fantasy
22 Dec 2025

Mengapa Aku Ada?

Setiap yang diciptakan, pasti ada tujuan.Namun, mengapa aku ada?Semua makhluk yang berjalan di atas bumi memiliki tugasnya masing-masing.Lantas bagaimana denganku?Mereka menjalani hidup sesuai dengan garis takdir yang ditentukan.Namun, apa garis takdirku?Tercipta dari makhluk ciptaan, aku tidak dapat menerka. Jika aku ada hanya sekadar untuk mengisi dunia, maka tiada gunanya aku di sini. Penciptaku hanya bisa membuatku ada, tapi tidak mampu memberi tujuan untukku ada.Pada malam itu, aku diciptakan. Kali pertama aku melihat dunia dan penciptaku. Dia memberiku raga dari gumpalan daging dan tulang, setelahnya dia jejal dengan tumpukan organ dan menyatukannya dalam rangkaian benang jahitan. Dapat kulihat wajah penciptaku dipenuhi gairah, tanpa lelah menyatukan satu demi satu bagian tubuh itu.Aku berada di ruang yang remang, sehingga sulit menerka waktu. Aroma harum yang berasal dari kobaran api kecil di pojokkan membuatku merasa aman. Sementara dia merakitku dari sisi kiri dan kanan, perlahan tapi pasti, dengan dua tangannya menyatukan ragaku menjadi satu.Bagian tubuh pertama yang dia ciptakan adalah kepala, tempatku bisa melihat dan mendengar. Ketika dia memasang telinga di kedua sisi wajahku, aku bisa mendengar. Dia lanjutkan menyatukan bagian tubuh lain. Sepanjang mengerjakannya, kulihat dia sesekali tertawa menatapku, sesekali pula menangis ketika tangannya tidak sengaja tergores jarum. Namun, itu tidak membuatnya berhenti. Terus menerus hingga akhirnya dia berhenti dan menarik napas."Nah, sedikit lagi." Kudengar ucapan penciptaku untuk kali pertama. Sebelumnya hanya kikikan dan tangisan sejenak.Dia mengambil sebuah gumpalan daging yang tampak lebih pucat dan meletakkannya dalam kepalaku. Dia tutup bagian atas kepalaku dengan tempurung. Ukuran benda itu sama persis dengan kepalaku. Lalu dia satukan dalam satu jahitan.Sesekali dalam proses menjahit, kudengar dia bicara sambil menatapku seakan tahu jika aku dapat memahami bahasanya."Kamu ciptaanku, dan kamu mahakarya terbaik yang bisa manusia ciptakan. Oh, mana mungkin orang lain bisa? Aku pasti diberkati!" Dia kemudian terkikik.Dari bentuknya, penciptaku sepertinya jauh lebih kecil dan pendek. Rambutnya cokelat dan panjang terurai, dia sepertinya tidak keberatan jika rambut itu sesekali menghalangi pandangannya."Nah, sudah jadi!" Penciptaku berdiri sambil berkacak pinggang, dia bernapas dengan berat. "Perjuanganku! Akhirnya terbayar sudah!"Hening sesaat. Asap yang berasal dari kobaran api kecil itu perlahan memamerkan diri. Seakan membiarkan aroma harum itu tampil untuk kami sesaat.Sungguh wangi, hanya bau itu yang tercium dalam ruangan ini."Ah, kamu suka bau itu?" Penciptaku bicara lagi, seakan membaca pikiranku. "Ini untuk menutupi bau busuk, sekaligus memicu api agar tidak pernah padam kecuali jika tersentuh air."Dia mengambil sebuah lilin dan menyodorkannya pada kobaran api harum itu. Dia dekatkan padaku. "Ini aroma dari dupa ciptaanku. Begitu menyengat hingga kamu tidak dapat mencium bau busuk sama sekali."Tidak heran aku tidak dapat mencium aroma tanah atau aroma badanku sendiri selama di sini. Untuk apa dia melakukannya? Barangkali karena aku terbuat dari gumpalan daging yang bau.Aku berdehem tanda mendengar."Kamu mengerti?" Matanya melotot dihiasi senyuman di wajahnya.Aku tidak tahu harus balas apa selain dengan menutup mataku dan membukanya secara perlahan."Kamu mengerti!" serunya diselingi jeritan tertahan. "Aku berhasil! Aku menciptakan manusia!"Mengapa aku memahami bahasa yang dia ucapkan? Barangkali karena sesuatu yang dia letakkan dalam kepalaku. Apakah itu benda yang digunakan manusia juga? Aku mencoba menggerakkan bibir, tapi terasa berat dan keras."Oh!" Dia menutup mulutnya, tapi aku tahu dia sepertinya gembira. "Ayo, ayo! Ucapkan sesuatu!"Bibirku begitu berat, terasa kaku dan kering. Berbeda dengan dia yang bisa buka-tutup mulut sesuka hati. Beberapa saat berjuang, akhirnya keluar suara dari bibirku. "A ..."Kukira dia akan kecewa, tapi kulihat dia berjingkat-jingkat di tanah sambil menjerit pelan. Dia berseru kembali. "Aku berhasil! Aku telah menciptakan manusia!"Aku diam saja menyaksikan dia menari-nari selama beberapa saat hingga dia berhenti dan menghampiriku."Luar biasa! Kamu pintar! Tidak rugi aku menciptakanmu! Kamu mahakaryaku! Ciptaan terbaik umat manusia! Tidak tertandingi!" Dia serbu aku dengan puluhan pujian lainnya dengan cepat hingga ludahnya menciprat ke arahku.Setelah puas memuji, dia pun berhenti untuk mengatur napas. Aku mencoba duduk hingga posisi kami sejajar. Meski dia masih terlihat mungil."Karena kamu perempuan sepertiku, akan kuberi nama yang cantik," ujarnya. "Kamu tidak bisa hidup tanpa jantung, jadi aku ambil dari nama lain dari 'jantung' itu sendiri. Ya, namamu Cordia!""Cor ..." Aku mencoba menyebut namaku." ... dia." Dia menyambungkan. "Cor-dia, namamu Cordia."Aku ulangi sekali lagi. Dia bertepuk tangan dan kembali menari lagi mengelilingi ruang beralaskan tanah ini. Tak lama, dia roboh di tanah dan tidak bergerak. Aku mendekat dan memeriksa keadaannya. Rupanya dia tertidur. Entah berapa lama bekerja untuk menciptakanku, yang pasti telah menguras tenaganya.Sekarang apa?Apa aku harus menunggunya? Berapa lama dia akan tidur?Kulihat secercah cahaya memantul dari belakang kami. Ketika menoleh, kulihat itu berasal dari lubang di atas sana, seakan memberiku isyarat untuk mendekat.Barangkali, di sana ada yang menarik.Aku lewati penciptaku dan menaiki tangga yang terbuat dari besi. Menuju pintu menuju keadaan luar.Dia tinggal di rumah yang cukup luas, entah kenapa malah memilih menciptakanku dalam rubanah yang kotor, pengap, lagi gelap. Barangkali agar terkesan tersembunyi, tapi aku lebih yakin dia hanya tidak ingin mengotori rumahnya selama menciptakanku. Melihat beberapa bercak noda dan tumpukkan benda tajam tergeletak di tanah.Aku menyusuri rumah yang terdiri dari satu tingkat ini, hanya rubanah menjadi daya tariknya karena di situ keadaan tampak kebalikan dengan di atas. Bawah sana sungguh tidak nyaman untuk dilihat, sebaliknya atas sana malah terkesan nyaman untuk dihuni.Sepertinya, penciptaku hidup nyaman di sini. Lantas, untuk apa dia menciptakanku?Aku duduk di sebuah sofa. Kali pertama merasa nyaman berbaring setelah merasa kaku akibat berbaring di atas tanah yang keras selama ini. Terasa tidak adil dia bisa berbaring dengan nyaman selama aku kedinginan dan merasa nista di bawah sana.Pada akhirnya, aku habiskan malam dengan menyusuri rumah penciptaku dan menikmati segala yang ada di sana.***Kudengar bunyi ketukan pintu dari luar. Di saat itu juga terdengar langkah kaki dari balik rubanah."Sebentar!" seru penciptaku. Dia keluar dari rubahan dengan rupa persis seperti sebelumnya. Tatapan kami kembali bertemu. "Waduh, Cordia, aku kira kamu hilang!"Terdengar lagi ketukan pintu."Iya, sebentar!" sahut penciptaku. Dia berlari ke arah pintu dan membukakannya.Terlihat sosok gadis yang tampak sebaya dengannya. "Waduh, Mallory, kamu kok terlihat lusuh begitu?"Penciptaku tertawa canggung. "Malam itu aku selesai menciptakan manusia."Gadis itu melotot mendengarnya. "Ma ... nusia?"Mallory–penciptaku berbalik dan menunjukku. "Perkenalkan, Cordia! Manusia pertama yang diciptakan oleh sesama manusia!"Aku yang tadinya berbaring pun berdiri. Mereka tampak hanya setinggi perutku yang mana membuat mereka harus mendongak untuk melihat wajahku.Gadis itu begitu pucat, bibirnya gemetar, bahkan dapat kulihat matanya sedikit berkaca. Dia terbata-bata. Bibirnya berjuang mengeluarkan sepatah kata. "Mo ... monster!"Gadis itu berpaling dan lari tunggang langgang."Hei!" tegur Mallory, dia berusaha meraih gadis itu tapi gagal. Dia berdecak. "Orang yang tidak paham mana mau mendengarkan."Dari ilmu yang diberikan padaku, aku mengerti maksud dari kalimat gadis itu. Monster. Apa maksudnya? Dia melihat sesuatu yang menakutkan? Tapi ... hanya ada aku di pantulan matanya."Pencipta, apa aku monster?" tanyaku. Bukankah dia bilang aku ciptaan terbaik umat manusia? Harusnya tidak seburuk itu, bukan?"Bukan, bukan." Mallory mengibas tangan sebagai isyarat betapa konyolnya kalimat tadi. "Kamu ciptaan terbaik umat manusia. Tidak ada yang bisa menandingi. Jangan dengarkan mereka, mereka iri karena tidak sepertimu.""Benarkah?" sahutku, sedikit terhibur.Mallory tersenyum. "Ya, tentu. Yuk, sarapan. Kamu dari kemarin belum makan, tuh."Aku ikut dia ke dapur dan menikmati sarapan bersama. Karena kursi yang disediakan terlalu kecil, aku duduk di lantai sementara Mallory membuatnya sarapan berupa roti selai kacang dan memberiku dua potong. Meski dua potong tampak terlalu banyak baginya, aku bisa langsung melahapnya dalam sekali gigit. Begitu mungilnya dia dan temannya di mataku. Entah kenapa Mallory menciptakanku begitu tinggi."Nah, habis ini, aku mau belanja dulu. Kamu di rumah saja dan tunggu aku, ya," pesan Mallory. "Nanti malam kita akan jalan-jalan. Kebetulan ada pasar malam, jadi kamu pasti suka."Aku mengangguk patuh. Selagi menunggunya mandi dan berdandan untuk pergi, aku berpikir lebih baik berbaring sambil memandangi langit-langit rumahnya yang berhias warna krem. Di sisi lain aku membayangkan bagaimana kehidupan di luar rumah ini. Mendengar ucapan dari Mallory membuatku kian penasaran dan antusias.Sepertinya, ini akan seru.***Seusai kepergian Mallory, aku kembali merana sendirian di rumah. Dalam keadaan tidak tahu harus berbuat apa, aku mencari segala cara agar tidak bosan menunggu. Ada beberapa hal yang kulakukan guna mengulur waktu, mulai dari mengamati lukisan-lukisan yang dipajang, hingga hiasan rumah.Dari lukisan, hanya ada satu gambar yaitu Mallory seorang. Wajahnya sama persis dengan yang kulihat di masa sekarang tanda ini lukisan yang masih baru. Namun, aku tidak menemukan lukisan lain seakan hanya dia yang menghuni rumah ini sejak awal. Berarti, Mallory bisa jadi sendirian sejak awal. Apa karena ini dia menciptakanku?***Aroma dupa dari rubanah kian menyengat bahkan sampai menguasai rumah ini. Aku bukannya terganggu, hanya saja cemas jikalau api yang menyalakan dupa itu perlahan akan menghabisi rumah ini.Pintu terbuka dan kulihat Mallory telah datang membawa beberapa bungkus, entah apa isinya."Aku membawa beberapa makanan," ujarnya.Aku bukannya membalas kalimat itu, justru menanyai perihal bau itu. "Bau dupanya ...""Ah, itu," potong Mallory. "Sengaja kubiarkan. Tidak masalah jika rumah kita sedikit harum, 'kan?"Aku mengiakan.Mallory mengeluarkan beberapa buah dan daging ayam dari bungkusan. "Nah, kamu mau makan apa?"Aku mengamati makanan yang ditata. Meski aku tahu namanya, tidak dapat kutebak rasa yang dihasilkan. "Apa saja."Dia mulai mengambil sepotong daging ayam mentah. "Cobalah."Maka kukunyah. Rasanya sedikit aneh tapi entah kenapa lidahku memaksa untuk mencicipinya lebih banyak. Hingga aku habiskan ayam mentah dengan utuh."Enak, 'kan?" tanya Mallory.Aku mengiakan.Kudengar suara ricuh dari luar. Pintu dan jendela digedor hingga dapat kudengar bunyi kaca pecah. Aku tersentak dan bahkan tidak bersiap untuk menghadap apa pun di luar sana."Monster! Monster! Monster!"Suara itu menggema bersama dengan derap kaki yang sukses mengguncang bumi. Aku menelan ludah, antara berniat kabur atau merasa harus menghadap mereka.Mallory mendekati pintu. "Tetap di belakangku."Aku mendengar dan patuh.Pintu hancur akibat pukulan dari senjata mereka. Membuatku merasa kian terpojok. Mereka semakin dekat.Kini, mereka di hadapanku. Mengangkat setiap benda yang bisa dijadikan senjata, bahkan batu sekali pun, menghadap padaku."Monster! Monster! Monster!"Kenapa mereka begitu marah?Kenapa mereka ingin mengusirku?"Mallory sudah gila! Apa dia kira dengan begini bisa menghidupkan orang tuanya kembali?" Salah seorang dari mereka berucap."Lihat! Itu wajah orang tuanya yang digabung jadi satu! Menjijikkan!" Seorang wanita berseru sambil menunjuk wajahku."Lihat badannya yang tinggi! Semua berasal dari dua jasad, ini kejahatan!" seru salah satu dari mereka.Kulihat seorang gadis di antara mereka, orang asing pertama yang melihatku. "Musnahkan dia!""Hentikan!" seruku.Mereka terkesiap, masih siaga senjata.Mallory berdiri di depanku. "Dia bukan monster, dia manusia seperti kalian, lihat?"Aku coba untuk tersenyum, sekiranya bisa meredakan amarah.Mereka melangkah mundur, tidak sedikit juga menutup mata begitu melihat senyumanku."Wajahnya tidak tampak manusiawi," sahut salah satu dari mereka. "Bahkan iblis pun akan berpaling begitu melihatnya.""Aku tetap manusia!" sahutku."Sepertinya dia belum pernah berkaca," balas seorang dari mereka.Makin ricuhlah mereka. Masing-masing melempar senjata ke arahku dan tidak sedikit pula melempariku dengan kata-kata menyayat hati."Monster." Kata yang terus mereka ulangi hingga nyaris membuatku gila.Aku dan Mallory menghindari lemparan batu bahkan benda tajam yang mereka arahkan padaku. Belum lagi harus menahan batin agar tidak tersayat mendengar ucapan buruk dari mereka. Ini sungguh menyakitkan.Sebuah batu mendarat di wajahku, aku menggerang.Mallory bergerak mendekat. Wajahnya tampak kontras dengan wajah-wajah di sekeliling kami, penuh belas kasih."Dia belum tahu sampai melihat sendiri." Gadis itu berkata. "Berikan dia cermin!"Aku mengelus pipi, tepat pada luka bekas lemparan batu.Tangan gadis itu mengarahkan cermin itu padaku dengan gemetar. "Lihat dirimu!"Cermin itu hampir saja memantulkan wajahku tapi dia menepis tanganku yang mencoba meraih cermin tadi."Ew, jelek!" seru gadis itu ketika aku menatapnya. Dia melempar cermin itu.Aku langsung mengambilnya dan mencoba memandangi bayanganku.Terdengar bunyi batu yang menghantam dinding rumah."Hei!" tegur Mallory. "Hentikan!"Duk!Sebuah batu mendarat di wajahku. Aku menggerang dan terduduk membelakangi mereka. Bertepatan dengan itu, dapat kulihat dari pantulan kaca ...Mengapa ... wajahku ...Dipenuhi jahitan, susunan kulit pucat dengan berantakan, mata tajam membekas ke dalam jiwa, bila aku tersenyum, benang-benang itu melebar dan menciptakan lubang yang lebih dalam di wajah. Sementara mereka memiliki kulit mulus dan tampak elok dipandang, berbeda denganku yang tampak seperti kutukan.Aku seperti dua jasad yang menyatu, seperti apa yang mereka ucapkan.Betapa buruk rupanya ...Mengapa aku diciptakan dengan seburuk-buruknya rupa?Dia bilang aku manis, tapi aku sendiri bahkan tidak sanggup melihat wajahku.Pencipta, mengapa kau membuatku ada?"Hei! Hentikan itu!" Kudengar seruan Mallory. "Lepaskan Cordia! Kalian yang monster, rupa bagus tapi tidak punya rasa kemanusiaan!"Terdengar suara erangan dari belakang. Ketika aku menoleh, terlihat Mallory tengah berjuang melawan kumpulan orang yang telah menggerombolnya."Lepaskan Cordia, dasar monster berkedok manusia!" seru Mallory pada sekitarnya. "Kalian bahkan belum melihat sifatnya, malah sok menilai dari luar!""Kami tidak ingin kehancuran umat manusia!" seru seorang dari mereka. "Kau kira mayat hidup itu mau mendengarmu? Dengan badan sebesar itu dia pasti akan memberontak dan menghabisi kita semua!""Memangnya kau pernah dengar dia bilang begitu?" sahut Mallory."Kami khawatir jika dia berbahaya bagi dunia.""Lepaskan kalau begitu. Kalian manusia, 'kan? Kenapa tidak berempati sedikit dan memberi Cordia kesempatan? Aku heran dengan kalian yang merasa paling sempurna di sini, padahal perusak dunia yang sebenarnya adalah kalian sendiri.""Jadi, kau kira mayat hidup dapat menyelamatkan dunia?" tanya gadis yang tadinya menjadi temannya. "Mallory, aku mengerti kamu sedang berduka, tapi sadarlah jika orang tuamu tidak akan kembali.""Ini tidak ada sangkut pautnya dengan mereka," sahut Mallory. "Lepaskan saja Cordia! Dia anak baik!""Kau mau mayat berkeliaran di rumahmu?"Pertanyaan itu membuat hatiku tersayat. Hanya karena rupa, mereka telah menilai seakan telah melihat segala tindakan dan membaca lubuk hatiku. Mereka kira aku akan membinasakan umatnya.Ah, sungguh lucu.Mereka menakuti sesuatu padahal mereka sendiri yang melakukannya.Mereka tidak akan sadar.Manusia tidak akan sadar.Sementara Mallory paham, tapi tidak ada yang ingin mendengarnya. Mengira dia akan menyakiti mereka.Aku mengerti, aku tidak mampu membaca isi hatinya, tapi pantaskah jika aku langsung bertindak berdasarkan asumsi belaka tanpa melihat sedikit kenyataan dari itu?Aku baru ada sejak kemarin dan belum memahami dunia, tapi sepertinya mereka tidak ingin aku maupun Mallory di sini.Oh.Mereka tidak ingin kami di sini. Maka mereka tidak pantas berada di dekat kami sejak awal. Jika itu yang mereka pikir aku tidak pantas hidup di dunia maka mereka juga tidak pantas berlama-lama di sini.Aku berpaling selagi mereka sibuk berdebat dengan Mallory. Di rubanah, kulihat sebuah obor dan sebuah bubuk yang kuyakini telah menghiasi aroma rumah ini, begitu harum hingga dapat menutupi segala bau. Ini akan menjadi jawaban atas keinginan manusia-manusia itu.Aku keluar sambil membawanya. Kulihat Mallory telah dipenuhi luka wajahnya, bahkan sebelah mata tidak mampu melihat terhalang oleh lebam. Malangnya dia.Aku secara perlahan membiarkan angin membawa bubuk itu, biar angin membawanya pergi entah ke mana asalkan di desa ini sudah mulai tertutup bubuk itu. Mereka tidak sadar bahwa ada butiran berjatuhan ke wajah bahkan tidak sedikit telah masuk ke dalam dirinya.Mereka terlalu sibuk merasa sempurna."Kalian hanya akan merusak bumi!"Aku taburi bubuk lagi hingga habis. Udara dipenuhi bubuk yang telah menyatu dengan angin. Menciptakan gambaran layaknya terkurung dalam kabut.Seseorang mulai menyadari tanganku yang sedari tadi terangkat. "Hei! Apa yang dipegangnya?!"Terlambat sudah. Ini keputusan dariku. Aku sangat menyayangkan tindakan mereka. Jika dibiarkan terus, maka binasa sudah dunia seperti yang mereka takutkan.Aku angkat obor tinggi-tinggi. Menciptakan kobaran api yang kian meluas."Kalian yang seharusnya binasa."Pandanganku dipenuhi warna merah diiringi jeritan dan tangisan di balik asap yang mengepul. Mereka yang telah menghirup udara kematian itu tumbang menjadi abu sementara lainnya telah tersapu angin dengan kobaran api menyertai.Di antara manusia-manusia yang berjuang menyelamatkan diri meski sudah di ambang kematian, kulihat seorang gadis terkapar di tanah. Setiap bagian dari wajahnya dipenuhi tanah habis diinjak secara bertubi-tubi.Aku mendekat dan menatapnya. "Pencipta."Kudengar bisikan darinya, layaknya desiran angin bersama jeritan dan tangisan. Tidak dapat kudengar, namun daat kusentuh maknanya. Dia menutup mata dan membiarkan api mendekapnya.Aku terdiam. Meski semua orang memandangku dengan jijik, dia satu-satunya yang tetap membelaku.Untuk apa aku masih di sini? Pencipta, satu-satunya yang menunjukkan kebaikan padaku kini telah tiada.Sementara mereka yang telah menyakiti kami telah binasa.Mereka membuatku menderita. Mereka alasanku tidak dapat menikmati hidup layaknya manusia lain.Mereka harus merasakan deritaku.Mereka harus diberi pelajaran.Mereka harus tahu jika aku telah terzalimi.Mereka telah merasakan akibatnya.Jika tidak ada lagi yang tersisa bagiku, untuk apa aku masih di sini? Apa aku akan bertahan di luar sana seorang diri?Apa aku harus menjalani hidup seperti yang dia harapkan padaku? Dia menciptakanku dengan alasan pastinya agar aku bertahan di dunia ini. Di luar sana, masih ada yang belum kujangkau dan barangkali ini yang Mallory inginkan padaku.Dia ingin aku bertahan. Dia ingin aku terus melangkah.Maka, kukabulkan keinginannya.Aku melangkah pergi dari desa itu. Menyisakan abu dan asap menghias udara. Jeritan mereka berangsur hilang menyatu dengan angin, bersamaan dengan aroma dupa mengubur bau jasad yang menyengat.Tibalah aku di luar batas desa, satu-satunya area yang belum tersentuh api. Sebelum melangkah, aku menatap desa itu untuk terakhir kali. Menyaksikan api membawa mereka menuju dunia yang pantas mereka tinggali.Tamat

Pendamping
Fantasy
21 Dec 2025

Pendamping

Aku adalah pendamping dan tugasku hanya mendampingi. Sejak awal penciptaan, dia sudah ada bersamaku dan kami dibesarkan di tempat yang sama. Namun, dia tidak tahu tentangku sementara dia terus kuawasi. Sejak kecil hingga detik ini, perkembangan dan seluruh kisah hidupnya kutahu. Hanya itu yang kulakukan, mengamati dalam diam tanpa campur tangan selagi dia melukis takdirnya. Sejak matahari terbit hingga bulan terlelap, aku selalu ada. Ketika dia bersuka cita maupun berduka, setiap kisah tidak lepas dari pandanganku.Aku menjadi pendamping bagi seorang anak lelaki yang diberi nama Dale. Meski nama itu terkesan monoton, tapi dia sepertinya suka nama itu mengingat dia sering mengucapkannya dengan bangga. Dia jalani hidup layaknya anak lelaki lain. Mulai dari belajar berjalan, bicara, hingga akhirnya memasuki bangku sekolah menengah akhir yaitu masa sebelum kuliah dimulai. Kujalani semua tugas ini dalam diam selagi mengamati.Aku adalah pendamping dan aku pula cerminan darinya. Karena darinya saja yang kutahu. Selama dia masih hidup, aku harus selalu ada di sisinya. Semua kusaksikan dalam diam meski sesekali kubisiki ke dalam hatinya pendapat dan ajakan dariku. Ketika sedang menyendiri, aku bisikkan kata-kata di hati. Dia dengarkan dan renungkan, entah setelahnya. Dalam beberapa kisah Dale bergerak melakukan semua bisikanku dan bilang jika itu ungkapan dari hati, dalam beberapa kisah lainnya diabaikan atau hanya dia simpan dalam hati. Mengira jika semua pemikiran tadi murni berasal darinya karena yang didengarnya sama persis dengan suaranya sendiri. Selama itu Dale masih saja mengira bahwa pemikiran yang dianggapnya “aneh” atau “tidak biasa” ini berasal darinya, lagi dan lagi. Setiap ungkapan dariku merupakan cerminan dari hati dan sikapnya selama ini. Salah satunya ketika dia memutuskan untuk mengenal lebih jauh dengan seorang teman sekelas.Anak itu pendiam dan tidak memiliki teman. Semua orang mengabaikannya selama di luar maupun dalam lingkungan sekolah. Orang yang kudampingi tentu muncul rasa iba darinya. Padahal sebentar lagi masa sekolah akan berakhir dan sayang sekali jika tidak meninggalkan kenangan berkesan bersama teman sekelas. Sebagai makhluk sosial, Dale merasa perlu bicara pada anak itu meski aku sendiri ragu.Melihat tingkah anehnya, aku bisikkan kembali pendapatku dan kali ini kuharap dia memilih mengikuti ucapanku. “Sebaiknya abaikan saja. Toh, dia mungkin anak yang tidak ingin berteman seperti yang lain. Sudah, jangan diganggu.”Tidak sesuai harapan, Dale mulai mendekat dan bicara pada anak itu. Mulai bahas sana dan sini hingga beberapa penggalan pengalaman kisah yang dilalui masing-masing. Aku dengarkan dengan saksama dan kutarik sebuah kesimpulan sederhana mengenai anak itu.Anak lelaki itu tidak ingin banyak bicara karena dia tidak tahu cara memulai pertemanan. Nama dia Hail. Sejak kecil selalu di rumah dan tidak dibiarkan bermain di luar layaknya anak lain. Sementara Dale telah melewati rangkaian pengalaman bermain di luar rumah bahkan sampai nyaris disangka menghilang oleh orang tuanya. Namun, anak itu tidak pernah merasakan dan dia mengaku ingin mengalaminya. Aura yang dipancarkan anak itu memang janggal, tidak tampak tertarik dengan obrolan tapi langsung banyak berkisah pada orang yang kudampingi. Mungkin memang pemalu, tapi firasatku berkata lain.Kudengar lagi Dale bicara padanya. “Bagaimana kalau hari ini kamu main ke rumahku?”Aku rasa itu tawaran yang buruk. Aku pun berbisik padanya. “Apa yang kamu lakukan? Jangan secepat itu! Kalian baru saja mengenal!” Bukannya kenapa tapi aku merasa semakin janggal jadinya. Aku masih bisa hidup setelah Dale, tapi aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.Dale membatin yang selama ini dia anggap secara konflik internal. “Sudahlah, kasihan kalau dia habiskan waktu sekolah seorang diri. Setidaknya dalam sebulan ini ada pengalaman bersama seorang teman.”Aku masih ragu tapi tidak bisa membalas.Dale dan Hail sepakat untuk bertemu di rumah Hail yang jaraknya hanya beberapa perumahan dari rumah Dale. Aku kian ragu dan terus membisikan keraguan di hati orang yang kudampingi ini.Sayangnya, Dale terus membalasku dengan penolakan tegas. “Aku tidak mau mendengar lagi! Pokoknya aku akan memastikan Hail punya teman!”Atas izin orang tuanya, Dale pergi menggunakan sepeda dan mengayuh hingga tiba di alamat rumah yang Hail sebutkan. Rumah anak itu ternyata tidak seseram yang kukira. Terbuat dari beton dan masih tampak baru dan kokoh.Ketika Dale mengetuk pintu, terlihat seorang pria paruh baya menyambut kedatangannya. “Oh, kamu pasti Dale.”“Benar, Pak. Apa Hail di sini?” tanya Dale berusaha formal.Aku yang kian ragu mencoba berbisik untuk menyuruhnya pulang, tapi dia abaikan setiap pendapatku. Kenapa dia begitu keras kepala? Apa yang merasukinya?Pria itu menyuruh Dale duduk dan meminum teh hangat di meja. Aku dengan cepat berseru ke hatinya. “Jangan minum itu! Tolak dengan sopan!”Namun, Dale sudah meneguk teh itu hingga habis akibat lelah selama mengayuh sepeda. Dia pun bicara sejenak dengan pria itu selagi menunggu Hail muncul. Tidak berselang lama, dapat kulihat mata Dale kian berat dan perlahan seakan menahan kantuk yang amat berat.Aku berseru ke hatinya. “Ada apa?”Dale membatin. “Aku merasa pusing dan mengantuk. Sepertinya aku akan tidur.”“Hei! Jangan sekarang! Pergi dari sini!”Dale membalas dengan membatin. “Aku ... sangat mengantuk.” Dia pun memejamkan mata, meninggalkan wajah yang teduh.Dapat kurasakan tubuhku terdorong mundur bahkan sukses membuatku terjengkang seakan ada yang memukulku. Rupanya, aku tidak terikat lagi dengan jiwa Dale dan tugasku selesai. Di saat itu juga, tubuhku mulai terasa lebih ringan, aku merasa lebih leluasa bergerak bahkan tidak sebatas sekitar Dale saja. Tanda kontrak kami telah putus. Namun, di saat itu juga muncul perasaan cemas akan nasib Dale yang kini tewas. Apa yang harus kulakukan?Kudengar suara Hail dari balik ruangan. Keparat itu muncul pada akhirnya. “Sudahkah?”Pria itu menjawabnya. “Sudah. Lama sekali!”“Maaf, hanya dia yang mau mendekatiku, kamu sendiri yang menyuruhku diam saja layaknya sebuah benda yang dijaja,” sahut Hail.Pria itu mengangkat jasad Dale layaknya sebuah karung. “Sudahlah. Setidaknya sekarang kita sudah bisa berjualan lagi di pasar gelap dengan tubuh muda ini.”Aku menatap mereka pergi membawa tubuh orang yang pernah kudampingi dulu. Sementara aku pergi meninggalkan mereka, tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain menyaksikan. Kini, aku telah bebas meski telah gagal menjaga seseorang. Kubiarkan angin membawaku, menanti suatu tempat yang bisa ditinggali tanpa jejak darinya. Semua kenangan dari orang yang kudampingi akan aku kubur dalam hati layaknya kenangan tersembunyi.TAMAT

Penguasa Absolut
Fantasy
21 Dec 2025

Penguasa Absolut

Setiap makhluk memiliki kuasa atas dirinya. Namun, di antara mereka harus ada penguasa dan yang pantas berkuasa hanyalah aku.***Ketika ajal menjemput, tidak dikira akan seperti ini. Semua terjadi begitu cepat layaknya badai di tengah damainya siang hari. Cat hitam mulai memenuhi pintu rumahku. Tidak hentinya aku mengagumi warna itu. Rumah yang baru saja dibangun ini terletak di pinggir jalan, tapi suasana masih saja sunyi entah mengapa.Di saat berlena, sebuah mobil sedan hitam kehilangan kendali laju dan menghantam rumah beserta diriku.Sebelum menghembuskan napas terakhir, kudengar suara asing seakan berbisik padaku."Engkau akan dilahirkan kembali sebagai sosok yang akan menaklukkan dunia!"Langsung saja ajal menjemput.***Tidak disangka kematian akan tiba secepat itu. Bahkan beberapa utang belum juga dilunasi, tapi beginilah nasib.Suara tadi membuatku merenung. Apa maksudnya? Akan jadi apa aku nanti? Kenapa harus menjadi penakluk dunia? Bagaimana caranya? Dia kira aku bisa melakukan itu semua dengan mudah dengan segala keterbatasan ini. Tidak mungkin aku bisa dan tidak mungkin pula akan semudah itu dilakukan. Kalau begini, seharusnya aku tetap di dunia dan mengecat rumahku.Saat meratapi nasib, pandanganku yang tadinya gelap berganti jadi ruang megah terbuat dari beton lengkap dengan warna cat krem. Ditambah adanya gadis manis yang sedang berbaring di sisiku sambil terkikik. Rupanya dia baru saja menyentuh hidungku."Ih! Imutnya!"Baru hendak memberontak, aku menyadari bentuk tangan yang aneh.Apa?Kenapa dipenuhi bulu putih? Kenapa pula telapaknya hitam? Kenapa aku begitu mungil dibandingkan gadis ini?Kenapa? Kenapa? Kenapa?Isi kepalaku dipenuhi dengan rasa heran serta ketakutan, sedikit. Terlebih tidak adanya kejelasan atas semua ini.Aku bereinkarnasi menjadi kucing!Gadis ini jelas majikanku–tunggu, babu lebih tepatnya. Karena dia pasti akan tunduk kepadaku.Ha! Aku sadar, inilah kekuatanku!"Nyaw (Peluk aku)!" Aku mengeong.Benar saja, gadis itu tersenyum dan mendekapku ke dadanya. Merasa nyaman, aku mendengkur."Imutnya!" jerit gadis itu sambil mempererat pelukan. Alhasil, aku tercekik."Meow (Lepaskan)!" Aku menjerit.Dia serta merta melepaskanku.Aku turun kemudian menatapnya. "Meow, ngeong ... Raw! Ngeow ... Ngaw ... (Sadarlah, engkau bukan majikanku. Sekali-kali tidak! Kau hanyalah alat bagiku dan aku tidak akan membiarkanmu menjadikanku sebagai budak!)"Gadis itu diam. Dia kembali mengelus kepalaku.Ah, segarnya.Tanpa sadar, aku terbuai dalam belaiannya.***Payah! Aku dikalahkan oleh gadis itu!Seharusnya aku tidak tunduk kepadanya!Ah, sudahlah. Akan kucoba lain waktu. Semua ini tidak bisa dipaksakan meski aku ingin ini segera terlaksana. Tidak semua makhluk dapat berkuasa tapi aku ingin melakukannya sekarang!Dia telah pergi. Tanda aku bisa dengan leluasa menjelajah.Aku langkahkan keempat kaki menuju jendela yang terbuka dan melompat. Di depanku terpampang kerumunan orang. Sebagian berdagang, mengobrol, bahkan sekadar melintas. Banyak sekali manusia, peluangku untuk mengendalikan mereka akan semakin besar.Ha! Dunia sebentar lagi akan tunduk kepadaku!"Eh, kucing!""Ih! Comel!"Kerumunan gadis mendekat. Mereka langsung mengangkatku.Menjijikkan! Beraninya mereka tersenyum selagi menghancurkan harga diriku!"Eh, eh! Minta kucingnya!"Seorang pemuda mendekat. Langsung saja aku diberikan kepadanya.Bagus, dia akan jadi korban pertama yang ...Apa yang dia lakukan?Dia melipat kepalaku! Membentuk diriku layaknya bola!"Dor!"Dia berucap sambil menggulingkanku di jalan. Kepala menjadi pusing ditambah rasa malu tiada tara. Terlebih mereka justru menertawakanku.Memalukan! Lihat saja pembalasanku nanti!***Menahan malu di tengah kerumunan sungguh tidak nyaman, terlebih ketika badanmu kini dipenuhi pasir kotor dari jalanan. Kucing manis yang tercoreng harga dirinya tidak mungkin menerima semua itu begitu saja.Aku harus menemukan cara.Harus ..."Hei, kenapa dia?"Kudengar suara anak perempuan dari seberang. Bukan, lebih tepatnya beberapa langkah saja. Kami berdiri di antara tanah sempit yang mengalirkan air layaknya sungai kecil."Eh, anak kucing!" balas perempuan di sebelahnya dengan antusias.Kenapa aku dipenuhi gadis-gadis sekarang?Tangan gadis itu mengarah padaku sementara temannya masih menatapku."Meow (Hei)!" seruku.Jangan ... Jangan terulang lagi!Dia meletakkanku di sisi mereka, tepatnya di seberang sungai kecil ini. Rupanya dia berniat menyeberangkan aku entah untuk apa, barangkali agar terkesan baik hati dan ringan tangan.Kedua gadis itu berjalan menjauh, membiarkanku begitu saja.Tunggu, sepertinya ini target yang cocok untuk membalaskan dendamku. Agar aku dihormati dan disegani. Harga diriku akan pulih dan aku akan menguasai dunia!Aku melangkah mengikuti mereka. Kedua gadis itu akan jatuh dalam pesonaku. Aku akan menjadi penguasa absolut–Hingga tubuhku tenggelam kembali dalam dasar sungai kecil itu.***"Dia sepertinya di ambang kematian.""Sudah kubilang, kucing ini seharusnya tidak perlu diselamatkan, nanti susah sendiri.""Sudahlah, kita telanjur mengangkatnya. Lagi pula, dia tampak lucu."Begitu mataku terbuka, kulihat tiga orang wanita tengah mencuci badanku. Mereka mengusap bulu putihku hingga menyebabkan air yang merendam badanku menjadi cokelat. Entah kenapa aku tidak mampu bergerak untuk melawan apalagi menyerang mereka bertiga.Ketiga wanita ini mengenakan pakaian layaknya pelayan istana. Tanda aku bisa jadi telah menarik begitu banyak perhatian. Apa ini pertanda baik? Tentu saja."Nah, sudah cantik kembali."Tubuhku digosok menggunakan kain halus yang hangat. Belum lagi mereka memuji sambil mengeringkan badanku. Ketika badanku kering, mereka tersenyum memandangiku."Kucing ini terlalu lucu untuk ukuran kucing jalanan," komentar salah satu wanita."Bahkan kucing hias pun kalah akan pesonanya," sahut wanita lain.Aku membusungkan dada, mereka entah memuji atau membeberkan fakta. Bagaimanapun, ini langkah bagus menuju tujuan utamaku."Sepertinya Tuan Putri akan menyukainya," komentar wanita itu lagi. "Lumayan untuk dijadikan hiasan kerajaan."Wah, sepertinya harapanku melambung tinggi menyentuh nirwana."Mari kita coba." Temannya serta merta mengangkat dan mendekapku ke dadanya.Aku dibawa mereka menuju tempat yang menyerupai lorong dipenuhi benda megah di antaranya lukisan maupun ukiran indah menghias dinding marmer, menciptakan kesan luar biasa dari depan. Berarti benar aku berada di tempat kaum ningrat, tidak bisa dipercaya memang, tapi aku layak menyaksikan semua kemegahan ini secara langsung."Oh, Tuan Putri!" sapa wanita yang membawaku. "Lihat apa yang kami bawa!"Dari jauh terlihat wanita yang mengenakan gaun berwarna hijau laut mendekat. Meski terlihat tergesa, dia sanggup berlari dalam keadaan anggun. Aku mengakui, dia tampak manis."Oh, kucing kecil!"Tanpa aba-aba, aku ditarik olehnya dan dibawa lari dalam keadaan kaki menjuntai. Membuat kedua kaki bagian depan terasa sakit terlebih karena berat perut yang menekan ke bawah.Parah! Dia hancurkan harga diriku!"Kucing! Kucing!" jerit sang Putri selagi berlari membawaku. Dia jelas telah kehilangan kendali.Pandangan berputar. Dia membawaku layaknya saputangan yang dibiarkan berkibar di tengah serbuan angin. Jika seperti ini terus, aku akan gagal!"Putriku!" Seruan dari seorang wanita terdengar."Ibu?" Gadis itu berhenti berlari.Akhirnya siksaan ini berakhir. Aku langsung turun dari cengkeramannya dan duduk, mencoba menyeimbangkan diri agar tidak tumbang."Di sini rupanya." Wanita itu mengenakan gaun yang lebar dan panjang hingga menutupi seluruh kakinya. Sama seperti sang Putri, warna gaunnya serba hijau laut. Kemungkinan ini ciri baju anggota kerajaan. "Kucing dari mana ini? Kotor!"Beraninya dia menyebutku kotor! Aku melotot tanda tidak terima. Dia membalas tatapanku. Menciptakan suasana hening sejenak."Ibu?" Sang Putri jelas merasa canggung dengan keheningan ini. Dia menatapku juga.Aku tatap mereka berdua secara bergantian. Lucu sekali, mereka langsung saja diam ketika pandangan kami bertemu. Tanpa sadar bibirku melengkung hingga menampakkan taringku."Meow ... Meow ... Ngaung ... Ngeow! (Jangan pernah merendahkanku, hai Manusia. Sungguh kalian akan tunduk padaku dan selamanya aku akan berkuasa di atas kalian!)"Keduanya menatapku. Pandangan tampak kosong. Detik itu juga, wanita tua yang kuduga sebagai ratu negeri ini mengangkatku."Daulat, Yang Mulia," bisiknya sambil membawaku menuju lorong istana lagi.Semakin dekat menuju ruang singgasana, tempat berkuasa.Baguslah, kalau sampai berani menjatuhkan harga diriku lagi, tidak akan kumaafkan.Inilah saatnya bagiku menjadi penguasa absolut negeri ini!***"Hei, apa-apaan ini?!"Aku dikejutkan oleh suara seorang pemuda ketika sedang bersantai di takhta berlapis paha Tuan Putri. Rupanya suara itu berasal dari seorang Pangeran yang bisa jadi saudara kandung sang Putri.Aku menyeringai, memamerkan geligi tajam yang menghias bibirku. Namun, beberapa saat berlalu tidak ada reaksi darinya."Adik, kau biarkan kucing jalanan mengotori takhta Ayah?" tanya pemuda itu lagi.Aku menatap sang Putri. Dia akan bicara untukku, karena jelas Pangeran tidak akan mengerti bahasa kucing."Ayolah, kucing ini sudah dimandikan dan jelas tidak akan mengotori istana."Abangnya membalas lagi. "Kamu kira seekor kucing layak duduk di singgsana? Kita bahkan belum layak, apalagi makhluk itu.""Dia layak." Adiknya membalas dengan datar. "Dia yang berhak berkuasa."Pangeran berkacak pinggang sambil menggeleng pelan, dipikirnya sang adik sudah hilang akalnya."Di mana Ibu?" tanya Pangeran."Dia sedang mempersiapkan upacara pemahkotaan." Adiknya menjawab."Pemahkotaan siapa?"Sang Putri menunjukku. "Dia."Dapat kulihat wajah Pangeran merah padam, rahangnya mengatup, ditambah tangan yang dikepal, tanda amarah tidak dapat dia bendung."Cukup sudah!" Pangeran menarik pedang yang tersarung di pinggangnya. "Pemberontak itu tidak layak mewarisi takhta!""Meow!" Aku mengeong dengan keras hingga menggetarkan istana.Menyertai itu, langkah kaki berirama terdengar semakin keras tanda mereka semakin dekat. Itulah pasukan yang kudapatkan secara sukarela karena kelucuanku.Pangeran menatap sekelilingnya dengan tajam. Aku yakin dia tidak menyangka akan kebesaran kekuatanku. Terlalu merendahkan seekor kucing.Begitu pasukan kerajaan berkerumun, mereka mengarahkan pedang pada Pangeran. Meski jumlah mereka tidak sebanyak jumlah keseluruhan pasukan kerajaan, setidaknya cukup untuk menjatuhkan Pangeran."Apa ini?" Pangeran menatap pasukan kerajaan yang mengepungnya. "Ada apa dengan kalian?""Tidak ada yang layak berkuasa," ucap salah seorang dari mereka. "Melainkan dia."Semua jari telunjuk–kecuali jari sang Pangeran–mengarah padaku. Membuktikan kekuasaanku di atas mereka.Aneh, kenapa sang Pangeran tidak tersentuh dengan kelucuanku padahal sebagian besar penghuni kerajaan telah tunduk kepadaku? Dia pasti pembenci kucing. Parah!"Kami beri kesempatan untuk menyerah atau memihak kami," ucap sang Putri kepada kakaknya. "Kami akan menjamin keselamatanmu."Pangeran menatapku dengan sinis. "Setelah apa yang Ayah perbuat, ini balasannya?"Tiada yang membalas.Aku mengeong, menyebabkan semua yang ada di ruangan kecuali si Pangeran, turut mengucapkan kalimat yang manusia itu pahami."Dia yang layak berkuasa. Dia penguasa sesungguhnya. Tidak ada yang berhak dihormati selain dia."Pangeran berdecak. "Dia? Hei, kucing ini bahkan tidak punya nama dan gelar. Dia malah seenaknya mengambil hak orang lain.""Meow ..." Aku mengeong dengan nada pelan."Kau sebaiknya menyerah." Putri menerjemahkan.Aku kembali mengeong."Karena bagaimanapun kau pasti akan kalah. Kami akan menyelamatkanmu jika memihak kami.""Aku? Tunduk pada kucing?" Pangeran tertawa. "Bahkan jika kerajaan ini runtuh pun tidak akan kulakukan!""Terlalu percaya diri," komentarku yang diterjemahkan oleh sang Putri."Kau berani mengendalikan pikiran saudari, kemudian ibuku, lalu pasukan kerajaan. Kau pasti tidak bisa mengalahkan Ayah karena di luar sana banyak yang tidak suka dengan kucing, termasuk aku, selaku pewaris takhta yang sesungguhnya.""Kau terlalu banyak bicara," balasku. "Kenapa tidak coba tunjukkan kekuatanmu sekarang?"Pangeran menyeringai. "Kau takut melawanku sendiri? Tunjukkan bahwa kamu layak berkuasa!"Sang Putri berdiri, hendak melawan kakaknya demi aku. Tapi, karena aku merasa harga diri akan tercoreng karenanya, maka aku cegah gadis itu dan maju menghadap Pangeran dengan kepercayaan diri penuh.Aku memang hanya seekor kucing, tapi aku tidak mungkin selemah yang dia bayangkan. Lihat saja, akulah yang layak berkuasa!Pangeran menarik pedangnya dan menebasnya ke arahku.Aku tidak akan kalah! Aku akan berkuasa–Slash!***Pandanganku menghitam seketika itu juga. Semua mendadak hening bahkan tidak terlihat apa pun melainkan kegelapan.Hei, apa aku mati? Atau sekadar dikurung? Di mana lagi aku?"Kukira kamu belajar dari pengalaman," ucap suara yang pertama kali menyambutku di alam kematian. "Nyatanya kamu mati akibat injakan kaki sang Pangeran."Aku tidak percaya ini! "Apa? Bukannya dia memegang pedang?""Dia berlari lalu tidak sadar jika badanmu lebih kecil dari bayi, akhirnya terinjak." Sosok yang tidak jelas rupanya itu menarik napas, tampak lelah dengan semua ini. "Memalukan. Seharusnya aku tidak memberimu kekuatan.""Hei! Ini salahmu yang tidak membuat tubuhku sedikit lebih besar!" Aku membantah. "Kaukira bisa menaklukkan dunia dengan kekuatan sekecil ini?""Cukup!" bentaknya. "Kamu akan terlahir kembali sebagai kucing kecil biasa dan jangan bertingkah lagi!"Semburat cahaya merasuki mata.***Aku dikejutkan oleh cubitan dari tangan seorang gadis."Ih, lucunya!" Dia mendekapku begitu erat hingga nyaris mencekik.Argh! Hargaku diriku hancur!"Eh, itu bayi kucing yang kemarin." Seseorang mendekat lalu menarikku kepadanya. Dia berputar pelan dan sukses membuatku mual. "Lucunya!"Aku mendengkus. Apa seperti ini akhirnya? Sungguh memalukan! Penakluk kerajaan dan sekarang menjadi seekor kucing biasa tanpa kekuatan spesial.Aku melompat dari pegangan manusia itu dan berlari. Tunggu saja pembalasan dariku!TAMAT

Chain Reaction
Fantasy
20 Dec 2025

Chain Reaction

"Lari! Lari!"Jeritan memenuhi udara ketika aku masih sibuk menyapu ruang kerja raja. Bukannya turut mencari tempat berlindung, aku justru diam dan kembali bekerja. Inilah waktu yang selama ini kutunggu."Lari, Blair! Gajimu tetap akan dibayar!"Seruan dari rekan sesama pelayan ini tidak pula aku dengarkan. Bukan perkara gaji, melainkan rasa penasaran akan kejadian selanjutnya. Aku tahu ini terdengar bodoh, tapi ada satu hal yang harus aku lihat setelah sekian lama."Lari! Selamatkan diri kalian!"Seruan itu tidak juga aku gubris. Kembali menyapu ruang kerja baginda raja, aku dengan tenang melanjutkan pekerjaan selagi pelayan lain kalang kabut dalam istana. Mereka mungkin akan tewas juga terinjak kerumunan akibat panik. Sebagian lagi ada yang memilih menunggu sejenak membiarkan yang lain berlalu daripada menyatu dengan karpet nantinya.Keadaan semakin parah ketika terdengar kabar tidak kalah mengerikannya."Drystan dari Utara telah memasuki gerbang!"Drystan dari Utara, itukah namanya sekarang? Terdengar menarik.Dia bocah dari negeri di utara yang desanya dihancurkan dua dekade lalu. Drystan bisa dibilang satu-satunya yang selamat dari tragedi tersebut. Kini, dia menjelma menjadi sosok pria yang dipenuhi amarah dan dendam kepada raja kami, Raja Brone."Keluarlah, Brone! Hadapi aku dan jangan jadi pengecut!"Wah, cepat sekali dia sampai ke depan gerbang.Tentu saja momen ini yang aku tunggu. Ketika sang pahlawan berasal dari kaum yang paling tersakiti kini berdiri tegak mengarahkan pedang pada leher sang tiran.Ah, ungkapan tiran terkesan terlalu kejam. Tapi, biarlah. Toh, begitulah Raja Brone di mata Drystan, bukan?"Berakhir sudah eramu!" ucap Dyrstan dengan sorot mata layaknya api membara.Tanpa aba-aba, kulihat Drystan sudah mendekatkan pedangnya ke leher Raja Brone. Bahkan dari jendela istana saja aku merasakan hawa dingin menusuk hingga membuatku gemetar, antara takut sekaligus penasaran."Engkau merenggut semua yang aku miliki!" Drystan menatapnya tajam. "Kini, aku ingin membalas ribuan nyawa yang engkau renggut!"Raja Brone tentu mengetahui, dia juga yang terlebih dahulu merencanakan misi kabur bagi para penghuni istana ini, kecuali para jenderal dan pasukannya, setelah mendengar kabar Drystan dalam perjalanan menuju istana.Tragedi dua dekade yang lalu sebenarnya cukup sederhana. Ada tiga ekor naga penghancur massal dari istana yang menyerang tiga negeri sekaligus, termasuk daerah Drystan berasal. Akibatnya, kami kehilangan banyak sekali rakyat dan harta.Raja Brone tidak bertindak banyak atas tragedi tadi, dia justru sibuk menyembuhkan jiwanya dengan bertamasya di sebuah gunung bersama para jenderal. Dan aku harus tetap membersihkan ruang kerjanya selama seminggu meski tidak ada yang mengotori selain debu yang tidak jelas asal-usulnya."Engkau harusnya menahan diri, Drystan dari Utara," balas Raja Brone dengan nada tenang."Menahan diri?" beo Drystan dengan nada mengejek. "Kaukira ribuan nyawa itu tiada harganya, begitu? Oh, rakyat kecil mana pernah berharga di matamu.""Engkau terlalu cepat menilai."Nah, di situasi seperti ini Raja Brone yang usianya setengah abad tetap bersikap tenang. Bahkan tidak tampak gentar. Dia berani menatap langsung ke mata hitam Drystan yang memancarkan api kebencian."Lantas, siapa yang membebaskan Tiga Naga Penghancur dua dekade lalu?" balas Drystan. "Asalnya dari istanamu! Dari mana lagi?"Raja Brone masih tidak mengubah nada suaranya. "Percayalah, waktu itu aku masih di gunung bersama para jenderal. Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada mereka!"Dia tunjuk para jenderal yang berbaris di depan pasukan. Semua secara serempak menyatakan bahwa memang betul apa yang raja mereka katakan. Memang benar, bersantai di gunung merupakan kegiatan bulanan Raja Brone bersama beberapa jenderal yang dia pilih. Tidak jarang juga dia ajak beberapa pelayan dan staff istana lain untuk turut serta.Drystan berdecak. "Yang benar saja! Para jenderal bisa kamu ancam agar mau berbohong, bukan?"Tidak ada yang membalas.Drystan mengangkat pedangnya, bersiap membelah Raja Brone. "Siapa lagi yang membebaskan para naga itu selain engkau, he?"Pada akhirnya, Raja Brone mengepalkan tinju hingga keluar aura keunguan di balik tangannya. Bertepatan dengan itu, sihirnya berhasil menahan tebasan pedang Drystan.Di situlah pertempuran pecah.Aku menjauh dari jendela, takut jika ada sesuatu yang menabrak hingga membuat jantungku meledak. Sebagai satu-satunya pelayan lelaki yang bertahan di dalam istana, aku kembali membersihkan ruang kerja baginda raja. Menghindari segala jenis keributan seperti yang terjadi di luar."Aku tidak memberi apa pun. Tapi, engkau seenaknya mengambil segala yang aku miliki!"Seruan Drystan dari luar disertai dentingan pedang dan perisai membuat bulu kudukku meremang. Menyadari tekadnya yang kuat serta aura membunuh darinya membuatku ingin segera melayang ke langit dan duduk di antara para malaikat. Namun, nyawaku tidak juga dicabut dan terpaksa aku terima saja takdir ini."Brone! Enyahlah di neraka!" Seruan Drystan menciptakan kericuhan yang lebih parah.Untungnya, Raja Brone masih utuh di dalam tameng ungu ciptaannya dan membiarkan Drystan mengamuk di luar sambil menebas pedangnya.Drystan tidak lelah menyeru kalimat yang sama."Pembunuh! Perampas! Tiran!"Tentu aku tidak bisa membiarkan Drystan terus tenggelam dalam bayangan palsu akan kejadian di balik semua ini. Dia mungkin tidak siap mengetahui fakta di balik tragedi yang merenggut nyawa keluarga serta temannya.Semua ini terjadi karena satu hal. Aku benci mengakuinya, tapi inilah saat yang tepat untuk menyampaikan kebenaran.Banyak orang yang tahu bahwa dalam istana ini, lebih tepatnya di ruang ini, ada ruang rahasia yang hanya bisa dimasuki oleh raja dan aku–sebagai tukang kebersihan. Ruangan itu harus selalu dijaga agar tidak jatuh ke tangan yang salah apalagi sampai menciptakan keributan seperti di luar.Tunggu, memang seperti itu kejadiannya.***Dua dekade yang lalu, waktu aku masih baru saja dilantik sebagai tukang kebersihan ruang kerja raja, aku diutus untuk menjaga ruang ini selagi raja bersama para jenderal berlibur eh, maksudnya bertugas mengasah kemampuan berburu mereka di gunung.Aku bersihkan setiap jengkal yang ada, termasuk lukisan keluarga sang raja yang ukurannya luar biasa besar. Belum lagi aku perlu menyusun rak buku, memungut dan merapikan berkas berhamburan, hingga memeriksa tinta jikalau kosong."Bersihkan setiap jengkal ruangan ini atau kupenggal gajimu!"Tentu, ancaman dari Raja Brone tadi membuatku takut seribu satu kali. Hingga ketika membersihkan ruangan, tiada lagi bekas noda yang tersisa.Ketika hendak beristirahat, aku menyadari ada satu ruang yang belum disentuh. Maka terpaksa aku bangkit dari tempat duduk kemudian berjalan mengarah ke ruangan rahasia tadi. Kunci yang Raja Brone berikan memang ajaib, karena ruang mana saja bisa dimasuki termasuk ruang rahasia sekalipun.Raja Brone memiliki tiga ekor naga yang dia rampas dari sebuah kerajaan beberapa dekade sebelumnya. Kini naga-naga itu sudah pasti tumbuh besar dan semakin kuat. Tentu akan sangat berguna nanti. Tidak heran mengapa dia sangat menjaga binatang buas ini, meski nyawa taruhannya.Jika Raja ingin naga itu tetap terawat selama dia pergi, maka tidak menutup kemungkinan bahwa dia juga ingin aku setidaknya membersihkan ruangan ketiga peliharaannya.Maka tanpa ragu aku buka pintu besar itu dengan harapan dapat membersihkannya. Namun ketika pintu terbuka, aku menyadari kesalahan kecil ini."ROOOAAARRR ....!"Aku menjerit dan jatuh. Dunia bergetar kala raungan dari ruangan tadi menggelegar menggetarkan istana."Naga! Naga!" Aku menjerit.Para pelayan yang masih di istana juga turut menjerit. Apalagi ketika dentuman bersahutan mulai meruntuhkan bagian dalam maupun luar istana. Tidak ada yang lolos dari semburan api, gigitan naga, bahkan yang lolos dari keduanya pun tetap akan mati terinjak kaki naga. Tanda makhluk itu benar-benar ingin memusnahkan setiap apa yang mereka lihat.Anehnya, para naga yang berfungsi sebagai pemusnah massal ini tidak menggubrisku ketika lepas. Mereka membiarkanku terbaring sambil melongo menyaksikan kepergian mereka. Barangkali tidak melihatku akibat terlalu bersemangat ingin memusnahkan umat. Bagaimanapun juga, aku tetap menyesal dan membawa perasaan ini hingga sekarang.***Saat itulah aku menyadari, aku telah membebaskan senjata pemusnah massal yang berakibatkan perang ini. Akulah penyebab kematian ribuan nyawa tidak bersalah. Dan kini raja di negeriku menjadi taruhannya pula. Sekarang, seorang pria pemarah yang tampaknya akan menjelma menjadi naga pemusnah massal tadi, mungkin akan membunuh setiap pelayan di istana yang tersisa, hingga sampai padaku.Lalu di sinilah aku, di ruangan yang memulai tragedi ini, sedang menanti takdir.TAMAT

Pahlawan
Fantasy
20 Dec 2025

Pahlawan

Seorang gadis kecil menjerit ketika rambutnya yang jingga dijambak oleh seorang pria yang diduga mendagangkan buah. Di tengah suasana pasar yang ramai, gadis malang itu tampak sengaja dipermalukan. Terdapat banyak tumpukan buah yang keluar dari tas yang gadis itu bawa, tanda banyaknya buah yang dia curi. Tidak heran menyulut amarah pedagang itu“Lihat! Ini pencurinya!” Si penjambak menarik kepala gadis itu dengan kasar. “Dia pantas untuk dihukum!”Aku yang waktu itu berusia dua belas tahun tidak sanggup menyaksikan anak seusiaku diperlakukan begitu. Namun, di sisi lain aku memang tidak bisa membenarkan tindakannya. Belum pernah kulihat gadis ini di kota tempatku berasal, barangkali dia pendatang yang kelaparan.“Apa yang sebaiknya kulakukan?” ucap si pedagang dengan nada mengejek. “Akan kupukuli saja!”“Tunggu!” seruku. “Biar aku yang ganti rugi, asal bebaskan dia!”Pedagang itu menatapku. “Kamu mau membayar sebanyak ini?” Dia tunjuk tumpukan buah yang berjatuhan.Entah kenapa aku dengan penuh percaya diri berucap. “Ya, akan kubayar semua kerugian ini. Dengan syarat, bebaskan gadis itu!”***Kejadian empat tahun silam kembali membuatku sedikit malu meski di sisi lain bangga telah menyelamatkan seseorang. Namun, hingga kini aku belum juga menemui gadis itu lantaran dia langsung pergi begitu dibebaskan. Menduga dia sebagai pendatang membuatku berprasangka bahwa bisa jadi dia sekarang telah kembali ke kampung halamannya. Andai kami dapat berjumpa kembali suatu saat nanti.Kini, aku berada di pasar dan hendak membeli makan malam. Hingga jeritan memecah suasana pasar yang meriah. Bersamaan dengan itu, beberapa barang yang akan dijual di pasar berjatuhan akibat sesuatu yang mengejar. Berlarian para warga berusaha menyelamatkan diri. Sebagian bahkan berani saling mendorong dan menjatuhkan agar selamat.Seekor iblis telah memangsa seseorang, tapi masih menginginkan mangsa baru. Di antara yang terjatuh dan terinjak kerumunan menjadi santapan.Di antara yang berlarian, aku berjuang menyeimbangkan kaki agar tidak mudah terjatuh apalagi terinjak. Namun, tubuhku terdorong oleh sosok di belakang hingga jatuh.Bruk! Aku jatuh di antara kerumunan yang berlari. Mereka hanya terus berlari, tidak peduli dengan apa pun selain keselamatan diri.Tepat ketika aku membuka mata. Wajahku berhadapan langsung dengan sosok iblis yang kelaparan.Aku menutup mata, tidak sanggup jika harus menyaksikan iblis itu menyantapku.Kudengar suara sesuatu yang terpotong. Bertepatan dengan benda jatuh di depan. Perlahan ketika mata terbuka, dapat kulihat sosok wanita berdiri di depanku, di tangannya terdapat sebilah pedang yang berdarah serta kepala iblis yang terpenggal di tanah.Dialah Dima, yang melindungi kota ini dari para iblis. Selain gerakannya yang tangkas, juga penglihatannya yang tajam membuat dia selalu menjadi pengawas terbaik. Meski kali ini dia datang terlambat karena sudah memakan korban.Ketika iblis tadi tumbang, kerumunan perlahan menghentikan langkah untuk menyaksikan tubuh iblis yang telah terpenggal itu.“Terima kasih!” Ucapan yang menggema dan selalu terdengar setelah kedatangannya. Hampir semua orang di area terdekat berseru bahkan menganggungkan Dima. Meski begitu, tidak pernah kulihat dia menanggapi. Barangkali karena itu hanya sekadar ucapan, bukan sambutan lain seperti upah atau hadiah.Dima menjauh membiarkan mereka terus mengucapkan terima kasih padanya. Bahkan ketika sebagian mendekat untuk mengucapinya pun dia abaikan layaknya angin lalu. Namun, sikap itu tidak membuat reputasinya menjadi buruk karena dia tetaplah pelindung kota ini. Sebagai sosok yang terkenal, tidak sedikit yang mendekat dan ingin menjadi temannya. Namun, sejauh ini belum ada yang menarik perhatiannya.Ketika Dima menjauh, aku memberanikan diri mendekat dan menatap wajahnya. Rambutnya jingga agak bergelombang yang diikat di bagian belakang, kulitnya kuning langsat sementara matanya kuning. Penampilannya memang seperti kebanyakan penduduk sekitar sini sehingga asal-usulnya bisa ditebak hanya dengan anggapan bahwa dia memang benar terlahir dari bangsa kami.“Terima kasih.” Ucapan itu keluar dari bibirku.Tidak disangka, matanya tertuju padaku. “Aku yang seharusnya berterima kasih.”Meski terlihat biasa saja, balasan darinya sukses membuatku terkesiap. Jantungku berdebar ketika ucapan dibalas oleh sosok yang aku kagumi juga. Namun, kenapa dia berterima kasih padaku?Namun, belum sempat berbuat banyak, dia telah raib.***“Keren, lho, dia bicara padamu langsung,” puji tetanggaku keesokan paginya.“Barangkali itu hanya ucapan untuk kita semua, bukan hanya untukku,” ujarku berkilah. Meski aku tahu dia mengucapkannya sambil menatap langsung ke arahku. Tapi, kenapa bilang terima kasih alih-alih bilang “sama-sama” yang lebih masuk akal?“Siapa tahu kamu bakal menjadi temannya,” ujarnya lagi.Ucapan itu hanya kubalas dengan gelak tawa.Setelah obrolan kecil itu, aku memutuskan untuk pergi ke hutan untuk mencari beberapa kayu bakar atau barangkali berburu. Setelah berkemas, aku bawa dalam satu tas kulit dan melangkah menuju hutan di tengah teriknya mentari. Memasuki hutan, aku berhenti sejenak untuk mengamati sekitar. Memastikan tidak ada bahaya mengintai. Bahkan di suasana hening pun tidak selamanya aman. Dengan waspada, kembali kulangkahkan kaki dan mencari kayu bakar. Bila beruntung, akan ada seekor kelinci yang bisa disantap untuk malam ini.Srek! Bunyi daun kering terinjak membuatku terperanjat. Langsung saja aku berpaling dan memegang erat pisau yang kugunakan sebagai alat berburu. Suasana hutan kembali hening, namun tentu setelah mendengar bunyi itu membuatku skeptis.“Maaf sudah membuatmu takut.”Suara yang kukenal.“Dima?” Aku nyaris tidak percaya. Kebetulan macam apa ini?!Baru kali ini kulihat dia tersenyum. “Maaf kalau malam tadi terlalu membingungkan.”“Tidak apa.” Ah, mungkin saja dia salah berucap.Dima kemudian merogoh saku dan menunjukkan beberapa keping uang. “Terima kasih sudah membayar ganti rugi waktu itu. Kini, aku kembalikan uangmu.”Aku ternganga melihat kepingan uang yang ada di tangannya. Hendak berucap tidak tapi aku juga merasa pantas menerimanya. Kuakui waktu itu dia mencuri buah dalam jumlah yang tidak sedikit. Maka, aku terima uang itu. “Terima kasih.”Dima mengangguk. “Sama-sama, pahlawanku.”Aku tersipu mendengarnya. Melihat sosok yang waktu itu hanya gadis kurus kering yang tampak menyedihkan kini menjelma menjadi wanita penuh wibawa.Baru saja hendak berucap lagi, Dima telah pergi. Meninggalkanku yang hanya bisa menyaksikan kepergiannya dengan melongo.Tamat

Nomagi Academy
Fantasy
19 Dec 2025

Nomagi Academy

Aku menarik napas selagi mencoba membaca kembali apa yang tertulis di depanku. Sudah beberapa menit berlalu dan bukannya berkembang, pikiranku malah semakin kalut ditambah suhu memanas. Berusaha fokus menjadi hal tersulit sekarang ditambah suasana kelas semakin ricuh setelah kepergian guru beberapa detik yang lalu.Ayo, fokus!Aku membaca kembali paragraf yang bertuliskan tentang sejarah sekolah yang kutempati saat ini. Ketika aku di ambang kesusahan di bawah gelapnya malam tanpa rembulan ditemani onggokan sampah jalanan, di situlah muncul selembar surat mendarat tepat di depanku. Cukup dengan membaca sebaris kata saja sudah membuat duniaku terasa terang benderang seketika.Kamu diterima di Nomagi Academy, tempat sihir dan keajaiban berada!Nomagi Academy terkenal di tempatku sebagai sekolah asrama yang mengajar sihir serta makhluk ajaib dari berbagai belahan dunia. Kamu cukup lahir dari keluarga keturunan penyihir, barulah akan diseleksi oleh salah seorang pengurus sekolah yang biasa menyamar di tengah manusia. Mereka tahu tanpa diberi tahu. Kini, aku diterima sebagai siswi di sana."Kudengar sebentar lagi kita akan belajar tentang unicorn !" ujar salah seorang siswa yang berkacamata. Dia berdiri di tengah kerumunan siswa yang penasaran akan kabar terbaru sekolah ini.Jujur saja, aku juga tertarik mendengar bahasan mereka. Tetapi, tidak satu pun dari anak-anak itu kukenal sehingga aku mengurungkan niat untuk berkumpul. Barangkali setelah cukup berani memperkenalkan diri di depan kelas, barulah aku bisa ikut mengobrol."Aku paling suka dengan unicorn ," komentar salah satu siswi dengan nada antusias. "Ah, kita belum mengobrol dengan anak lain, nih. Ayo, kita kumpulkan mereka!"Mataku terbalak. Semoga mereka tidak ..."Para penghuni kelas, mendekatlah!"Hanya dengan mendengar suara siswa berkacamata itu, sebagian murid yang sibuk sendiri, termasuk aku, tertarik ke arahnya."Tolong!"Jeritan kami menggema sepanjang ruang kelas selagi kami ditarik oleh sihir si bocah berkacamata itu.Meski diizinkan masuk ke sekolah sihir, bukan berarti bisa sebebasnya bermain dengan sihir!Aku terjatuh membelakangi salah satu siswi yang merupakan teman dari si Kacamata tadi. Sungguh memalukan!Beberapa erangan terdengar dari para murid yang diseret mendekat, padahal bocah itu cukup bicara pelan saja sudah bisa didengar satu kelas."Anak baru, ya?" sapa si Kacamata kepadaku."Kita semua anak baru," balas si gadis kepadanya. "Ayo, semua! Kita mengobrol soal sihir atau diri kalian!"Aku lantas duduk dan mengelus pantat.Mentang-mentang ini sekolah penyihir dia bisa pakai seenaknya. Tetapi, sekarang aku tidak bisa protes karena kedua orang ini langsung mengatur posisi kami semua hingga duduk berjajar layaknya anak kecil yang siap mendengarkan dongeng."Nah, perkenalkan diri kalian masing-masing," ujar si Kacamata. "Sebelum guru datang, ada baiknya latihan dulu, 'kan?"Tidak ada yang menanggapi."Nomagi Academy adalah sekolah sihir yang didirikan, tentu saja, untuk anak penyihir seperti kita," kata si gadis. "Aku dan saudara kembarku ini akan membimbing kalian bersekolah di sini, lho. Kalian kalau ada pertanyaan seputar sekolah bisa langsung datang ke kami."Ah, ternyata begitu.Ketika aku hendak melontarkan pertanyaan soal sekolah sihir ini, terdengar bunyi langkah kaki dari luar. Beberapa murid langsung bebas dari sihir si Kacamata dan berlari menuju kursi masing-masing. Aku pun begitu, memacu langkah sebelum pintu kelas dibuka dan mengatur napas ketika seorang wanita mengenakan topi panjang hitam muncul dari balik pintu."Selamat datang di Nomagi Academy!" sambut wanita itu. "Kalian siap belajar tentang sihir?""Siap!" Tentu saja kami semua membalas dengan serentak. Apalagi sekarang atmosfer ruangan berubah menjadi lebih ceria dari sebelumnya.Wanita itu tersenyum. "Baguslah. Sekarang, kita akan saling memperkenalkan diri. Aku guru wali kelas kalian dan hari ini kita akan belajar tentang unicorn ."Tamat

Cermin
Fantasy
19 Dec 2025

Cermin

“Cermin ini istimewa, aku membelinya dengan harga mahal.” Maia baru saja pamer kepada adiknya. Dia bangga dengan hasil tabungannya selama ini. Sudah lama dia menginginkan cermin ini.Cermin itu memiliki warna biru tua dengan rangkaian ukiran menghiasnya. Bentuknya memang cukup kecil, hanya segenggam tangan Maia. Tetapi, warna dan hiasan yang tampak seperti tiruan berlian itu yang menarik minatnya. Tentu Maia tidak mau cermin itu direbut.Meski harganya lumayan mahal dan nyaris menghabiskan tabungannya, Maia tidak begitu peduli. Selama masih bisa memiliki cermin ini, tidak masalah.Dia membeli cermin itu dari sebuah stan yang baru muncul dekat sekolahnya, lebih tepatnya di bagian belakang sekolah di mana beberapa pedagang menjaja dagangan mereka. Ada yang menarik perhatiannya waktu itu, yaitu pantulan dari cermin yang dipajang di sebuah stan itu.Seorang gadis yang sedang menjaga stan itu tersenyum pada Maia. Dia membiarkan Maia terus menatap cermin itu hingga beberapa detik.“Cermin ini kudapatkan dari seseorang beberapa tahun silam,” ucap gadis itu. “Ini benda antik, harus terus dijaga dan dirawat.”Maia yang tidak terlalu memusingkan, langsung menanyakan harganya dan dari situ saja sejarah di mana dia mendapatkan cermin itu. Tanpa bertanya banyak melainkan ingin segera mendapatkan cerminnya.“Kakak tidak bertanya dari mana asalnya?” tanya adiknya. “Kakak tidak mungkin membeli tanpa berpikir terlebih dahulu, ‘kan?”Maia terdiam. Dia kembali menatap cermin yang digenggamnya, hasil tabungan yang seharusnya akan dipakai untuk kebutuhan lain justru berkurang demi sebuah cermin yang cantik.“Aku yakin ini cermin yang datang dari pabrik seperti kebanyakan cermin lainnya,” jawab Maia.Adiknya hanya mengiakan sebelum akhirnya meninggalkan Maia sendirian di kamarnya.Maia senang memandangi dirinya di cermin, terutama jika dia suka warnanya. Apalagi kalau bentuknya yang sedang cukup mudah dibawa ke mana saja.Saat memandangi pantulan wajahnya, Maia tersenyum. Melihat kulit kuning langsatnya yang mulus tanpa jerawat, manis cokelat tua seolah menambah kepercayaan diri bagi Maia. Dia memang merasa lebih cantik dibandingkan teman sebayanya, tapi itu tidak membuatnya terlalu berbangga diri.“Aku jadi penasaran, bagaimana rasanya jika bayanganku melihat aku di seberang sini.” Maia membatin selagi memandangi pantulan dirinya di cermin itu.Maia pun meletakkan cermin itu di kasur lalu keluar untuk makan siang. Setelah pulang dari sekolah dan langsung memandangi barang beliannya tentu menunda jam makan yang seharusnya sudah berlangsung selama tiga puluh menit.Maia berniat akan menata cermin itu lagi setelah makan. Mungkin di meja belajar bagus untuk dipajang.***Makan siang hari ini sukses membuat Maia kenyang. Niatnya hendak kembali meletakkan cermin baru itu ke meja belajar, supaya dia lancar mempelajari materi di sekolah, kalaupun dia fokus.Kembalinya ke kamar, Maia ambil cerminnya dan meletakkan ke meja belajar.Tunggu, ada yang aneh.“Eh, mana bayanganku?” Maia membatin sambil menatap cermin yang hanya memantulkan dinding putih di belakangnya, dinding kamarnya. Tapi, di mana wajahnya yang seharusnya menatap balik dia?Maia memutar cermin itu lalu kembali mengarahkannya tepat di wajahnya.Sama saja. Hanya terlihat lantai berlapis marmer. Bukannya wajah serta badannya.“Kok bisa?” Dengan bingung, Maia terus mengarahkan cermin ke mana saja.Memang, cermin itu sudah memantulkan bayangan, tapi di mana bayangan Maia?Maia yang kebingungan lantas pergi keluar kamar mencari anggota keluarganya. Tidak mungkin semua ini terjadi pada dirinya seorang, bukan?Begitu dia keluar, dia melihat kucing ras peliharaannya yang berbelang kelabu. Ia menatap babunya dengan bingung seakan berkata, “Ada apa dengannya?”Maia langsung mengarahkan cerminnya ke kucing itu. Tentu saja hewan itu terkejut melihat wajah kucing aneh menatap tajam dirinya.Kucing Maia kabur ketika melihat bayangannya sendiri.Maia menatap kepergian kucingnya dengan bingung. “Aneh, ke mana bayanganku?”Maia tidak mau menyerah. Dia keluar dan mencari anggota keluarganya. Satu-satunya yang masih di rumah saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah adik Maia.“Adik!” seru Maia panik. Dia mengetuk pintu kamar adiknya.Sang adik keluar dengan melotot, beraninya seseorang mengganggu tidur cantiknya. “Kenapa, Kak?”Maia langsung mengarahkan cermin itu ke adiknya. “Adik lihat bayangannya?”“Ya, ada wajah,” komentar sang Adik. “Kenapa?”Maia berdiri di sisi adiknya dan mengarahkan cermin kepada mereka. Hanya bayangan adiknya yang terpantul.“Lho, Kakak di mana?” heran adiknya.“Makanya,” balas Maia. “Aneh, ‘kan?”Adiknya tentu tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi. Dia kembali menatap bayangannya dan pantulan karpet kamar dia, tanpa ada bayangan kakaknya meski dia berdiri tepat di samping.“Kakak mending buang saja cerminnya,” saran adiknya. “Tidak berguna lagi cerminnya kalau begini.”“Hei, enggak bisa!” tolak Maia. “Kakak beli ini mahal, lho.”“Tapi, apa gunanya cermin tanpa bayangan?” balas adiknya.“Sudahlah.” Maia pun melangkah keluar dari kamar adiknya. “Nanti dipikirkan.”Adiknya hanya bisa menatap kakaknya dalam kebingungan.***“Bagaimana ini? Masa aku buang begitu saja? Tapi, cermin tanpa bayangan juga percuma, walau hanya berlaku untukku.”Maia duduk diam di kasur sambil menatap cerminnya dalam dilema. Kalau tujuan utama dia beli selain bentuknya juga karena dia memang suka bercermin. Cermin ini hanya menemaninya selama beberapa jam saja, sangat disayangkan jika dia singkirkan. Tidak mungkin, harus ada jalan.Sangat aneh jika sebuah cermin enggan memantulkan bayangan, apalagi jika itu hanya berlaku untuk dirinya seorang.“Apa aku harus mencari bayanganku?” batin Maia. Dia tatap cerminnya yang tergeletak dekat kakinya. “Bagaimana caranya?”Sejak awal beli, Maia memang tahu cermin ini istimewa. Tapi, dia tidak mengira bakal seaneh ini. Dia kira, ini hanya benda antik warisan seseorang. Seingatnya, gadis yang menjual cermin ini dari seseorang. Tapi, siapa?“Aku harus kembali ke sana!” Maia bertekad.Maia memberanikan diri menatap lekat cermin itu. “Aku harus tahu asal-usulmu.”Dia pun bergegas kembali ke tempat itu. Jaraknya memang sedikit jauh, hampir dua kilometer. Maia menaiki sepedanya dan menyimpan cermin dalam tas, kemudian mengayuh. Tidak butuh waktu lama baginya kembali ke sana.“Aku harus menanyakannya langsung,” batin Maia di tengah perjalananan.Setibanya di sana, dia tercengang. Tempatnya sudah kosong tanpa siapa pun menjaja dagangannya. Ya, mungkin karena hari sudah sore dan sekolah jelas telah tutup. Dengan gontai, Maia pulang dan mencoba memikirkannya sendiri.Dia berhenti di dekat minimarket dan membeli minuman akibat haus sepanjang jalan. Di saat meminum, Maia kembali memandangi cermin tanpa bayangannya.“Ya, sudahlah, akan aku simpan di kamar dan tidak bakal menyentuhnya lagi,” batin Maia. Dia yakin cermin ini pasti ada niat tersembunyi untuknya, tapi dia tidak tahu apa.“Jika kamu mau sesuatu dariku, katakan saja!” seru Maia kepada cerminnya. Dia benar-benar bingung dengan semua keanehan ini. “Aku akan melakukan apa pun asalkan kamu kembalikan bayanganku!”Tidak disangka, cermin itu memantulnya cahaya biru, bersinar di bawah senja dan nyaris membuat Maia menjerit ketakutan. Dia mencoba menggoyangkan cermin itu yang malah membuat sinarnya semakin terang.Maia yang ngeri langsung mengempaskan cermin itu ke aspal.Cermin itu retak. Sinarnya memudar.“Aneh,” batin Maia. “Sebaiknya aku lari.”Tanpa berpikir panjang, Maia mengayuh sepedanya.Tetapi ...“Hah? Kenapa ini?” Maia memandangi dirinya yang mulai memantulkan sinar kebiruan dari kulitnya.Maia langsung berhenti di tepi jalan, menengok ke sana ke mari, memastikan tidak ada yang melihat. Dia coba menggosok tangannya agar sinar itu menghilang. Akan tetapi, tubuhnya perlahan menjadi terang hingga tidak jelas rupanya.“Tolong!” jerit Maia. Namun, di sore ini, jalanan begitu sepi hingga teriakannya pun hampir tidak terdengar. “Tolong!”Tubuh Maia bersinar terang, bahkan berhasil memerangi langit senja yang menggelap.Dalam sekejap, tubuhnya lenyap. Menyisakan sepeda dan tas kecilnya yang tidak berisi.***Di lain waktu, seorang gadis menatap kejadian tadi dari kejauhan. Wajahnya tidak menunjukkan reaksi apa pun, hanya diam memandang salah satu pembelinya yang lenyap tak berbekas.Dengan pelan, dia mendekati cermin yang tergeletak di aspal. Memungutnya, lalu memandangi wajahnya yang terpantul jelas.“Cermin ajaib, kamu sudah kenyang?” tanya gadis itu.Si cermin membalas dengan memantulkan sinar redup kebiruan, tidak membuat gadis itu gentar sama sekali.“Baguslah,” ucap gadis itu. “Lumayan untuk sebulan.”Gadis itu membawa pergi cermin tadi. “Enak, ya. Sudah dapat duit, ada tumbal untuk kecantikan abadiku.”Tamat

Burung dalam Sangkar
Fantasy
18 Dec 2025

Burung dalam Sangkar

Dengan gagah ia bentangkan sayap, membelah langit dengan bangga, selagi menatap ke bawah binatang tak bersayap yang menatapnya kagum. Dengan bulu cokelat yang bersih menghias badannya, membuat ia semakin dikagumi bagi siapa saja yang melihatnya terbang.“Lihatlah dia, terbang bebas di angkasa!”Begitulah pujian yang kerap ia dengar, yang mana membuatnya kian melambung. Semakin tinggi terbangnya, semakin ia merasa bangga. Kadang ia merasa telah menjumpai awan dan menyentuh mentari. Belum lagi ia telah berencana akan mengelilingi dunia dengan sepasang sayap kecilnya yang kokoh. Maka, ia terbang. Semakin tinggi hingga merasa telah melampaui awan dan badai.Itu beberapa tahun silam selama ia berbangga diri melintasi awan dan badai. Hingga pada suatu siang yang terik, tubuhnya terasa letih dan rapuh.Burung yang berbangga akan kekuatannya kini mulai goyah, angin yang biasa menerpanya terasa menyiksa, ditambah napasnya terasa berat kian detik ia hirup.Semua telah berubah, tidak seperti sedia kala. Terbang bebas di langit, hanya itu yang didambakan. Tapi, takdir berkehendak lain ketika sayapnya tidak mampu menopang badannya lagi.Hari ini, dia mulai letih. Di usianya yang entah sudah berapa musim ini, mulai melemah. Bulu yang menghias badannya dengan indah mulai mengikis, sayap yang kokoh mulai rapuh, dan kini ia tidak lain hanya seekor burung yang tidak bisa terbang kembali, seperti hari di mana ia menetas.Ia terjatuh ke tanah, tak berdaya. Begitu membalikkan badan, pemandangan langit biru menyambut seolah merindukan kehadirannya. Di tengah menyapa awan-awan, matanya terasa berat begitu juga napasnya.Hingga tubuhnya menyerah.Badannya terasa dielus angin sementara tanah tampak semakin mendekat ke wajahnya. Ia tidak mampu mengepakkan sayap lagi, dia sudah cukup letih terbang selama beberapa musim yang dilalui. Ketika badannya terasa ringan dan semakin dekat ke tanah, ia hanya bisa membayangkan rasanya tidur setelah sekian lama menjelajahi langit.Ketika raga bertemu tanah, burung kecil itu tidak tahu ke mana ia mendarat, hanya bisa merasakan dari tubuhnya di mana ia berada. Yang diingat hanya tanah hijau yang perlahan berganti warna. Tanah ini terasa aneh. Tidak biasa dia mendarat apalagi jatuh ke tanah yang terasa keras lagi dingin ini.Bukan, ini bukan tanah, melainkan seperti batu. Tapi, ia tidak tahu apa batu bisa semulus ini teksturnya apalagi dengan bentuknya yang rata.Begitu kakinya berhasil menopang badan, ia berdiri dan mengamati sekitar. Sambil membersihkan bulu cokelatnya yang mulai memudar dan kotor, diselidikinya tempat baru ini. Belum pernah ia melihat bentuk taman seaneh ini.Di depan matanya, ternyata ada garis-garis putih yang membatas antara dia dan taman luar sana. Tapi, taman itu terlihat aneh di matanya, seperti ada sesuatu yang menghalangi pula, tapi tidak jelas bentuknya. Ia tatap lagi sekeliling untuk memastikan, barulah dia sadar kalau dirinya berada di tempat yang jauh berbeda.Ia dikelilingi garis pembatas putih laksana disegel. Ketika ia mencoba keluar, hanya sayap dan kaki saja yang bisa menyentuh area luar.Sering kali ia mendengar kabar dari kawanannya tentang makhluk besar yang senang menangkap burung sejenisnya lalu mengurung di tempat ini. Mereka menyebut benda itu sebagai “sangkar.”Burung yang telah berusia beberapa musim ini mulai mengamati sekitar. Hanya ada dirinya, sangkar ini, dan sebuah tempat berisikan benda-benda asing. Tapi, ia tahu betul ini sarang makhluk besar yang kerap menangkap sejenisnya.Menjerit pun percuma, karena yang ada hanya makhluk raksasa itu akan datang dan justru menikmati jeritan penderitaan mereka. Ia hanya burung yang sudah letih, kini telah dipaksa tinggal bersama makhluk yang tidak sudi ia tatap.Ia bukan lagi burung yang bebas terbang di angkasa. Ia bukan lagi burung muda yang bertekad menjelajahi dunia.Ia kini hanya seekor burung tua yang terperangkap. Tanpa teman maupun siapa saja yang menemani seperti sedia kala. Tidak ada lagi awan maupun angin yang senantiasa menyapa. Tiada yang bisa ia lakukan selain merenung, menunggu ajal menjemput.Tamat

Lonte Bulan
Fantasy
18 Dec 2025

Lonte Bulan

Malam terang menemani kesunyianku. Ini sangat syahdu. Aku tengah berbaring dengan cantik di kasur dengan permadani beledu marun dilengkapi dengan parfum khas Kerajaan Sentosa.Aku memalingkan tubuh indahku menghadap jendela yang terbuka lebar agar semua makhluk di semesta bisa menyaksikan keindahanku.Huhuhu ...Huhuhu ...Aku terbangun karena mendengar suara merdu dari balik jendela.Aku kira, itu pertanda musim kawin. Ternyata, itu suara panggilan turun menurun yang terus didoktrin kepada anak-anak.Ibuku pernah bercerita tentang legenda, tapi aku abaikan karena aku spesial.Namaku Astra, tapi aku bukan makhluk astral. Bukan pula anak pajangan yang tinggal di rumah manusia seperti anak-anak lain.Seperti makhluk lain–agak kontradiktif memang–diriku ini menjalani hidup dengan biasa saja. Tidak dibenci, tidak pula disayang. Makan, tidur, ke luar rumah untuk ngelon–berjalan-jalan, sampai akhirnya kembali tidur baru kemudian bangun dan makan lagi.Huhuhu ...Suara itu kembali terdengar. Begitu lembut layaknya rocker . Aku yang penasaran pun lantas menengok ke luar jendela. Maunya sih, menebas tengkuknya pakai sendal sultan impor langsung dari Saturnus. Tapi, lagi-lagi, mana ada orang gila bernyanyi di tengah malam begini.Kukira, itu perbuatan salah satu musangku, tetapi semua peliharaanku berjenis kelamin lelaki dan tidak satu pun bersuara di saat santuy begini.Huhuhu–Suara itu berhenti tepat ketika aku menengok. Begitu menunduk, oh sunguh mengejutkan!Tanah istana kini dipenuhi kopi gemoi!Aku lantas berlari memanggil dayang-dayangku. Mereka biasanya menghibah dari pagi hingga jam penyihir alias jam tiga dini. Dari merekalah aku tahu ternyata aku bukan anak haram tukang sayur seperti yang selir katakan."Oh, dayang-dayangku, kemarilah?" seruku dengan tanda tanya. "Majikanmu membutuhkanmu."Kulihat dayang-dayangku masih bersenda gemoi di harem. Meski tempat itu diperuntukan bagiku dan kedua ayahku. Karena ibuku tidak mungkin bersantai di harem."Wahai, dayang-dayang! Mari bersiap!" seruku lagi. Tapi, tidak digubris.Ternyata, mereka tidak takut akan terjadinya banjir. Karena mereka jelmaan ikan mujair.Sebelum menjelma jadi ikan salmon, aku biasanya memberi mereka makanan. Namun, kali ini tidak ada persiapan sehingga dayang-dayangku pun pergi tanpa makan dan berenang dengan syahdu.Ya, sudahlah, setidaknya mereka bisa cari sendiri dengan melont–meminta dengan kerajaan sebelah.Huft , menyebalkan!Karena istana sudah sepi dan para pengawal pada main kartu Remi di kerajaan sebelah, aku mau tidak mau mencari tahu sendiri penyebabnya.Ternyata, oh, ternyata.Rahasia itu! Doktrin keluarga yang aku abaikan selama seribu purnama!Aku bergegas ke perpustakaan istana sebelum digenangi banjir. Di antara tumpukan buku yang sudah basi, aku berhasil menemukan buku yang dimaksud. Tidak hanya dengan mengetahui umurnya yang tua, aku juga harus mencemoi-cemoi badannya untuk memastikan tekstur yang benar.Unch , lembut!Ternyata, penyebab kopi menggenang di istanaku rupanya air dari bulan. Satu-satunya yang bisa mengendalikan bulan tidak lain adalah si Lonte Bulan.Lonte diambil dari nama serangga Kuwawung atau Lonthe. Serangga gemoi ini memiliki warna cokelat manis, biasa keluar saat senja, memiliki bau harum polos, dan suka gemerlapnya dunia malam.Si Lonte Bulan yang dimaksud bukanlah sosok kumbang atau pria malam. Melainkan ...Huhuhu ...Seorang biduan liar.Aku tidak yakin makhluk macam apa yang berani dengan sosok gemoi seperti aku. Tega benar mereka menganggu tidur manisku.Aku pun mencari barang-barang yang ada. Tapi, pertama-tama, aku harus meraup harta orangtuaku. Tidak jadi karena hanya berupa batu mulia. Di kerajaan ini, hanya aku yang paling missqueen .Sudahlah, kalau memang Lonte ini sedang memikatku, akan kujawab panggilannya.Perjalanan menuju Lonte ini tidaklah sulit. Aku cukup berjalan kaki menuju bulan dengan kekuatan mistisku.Tapi ...Tapi, perjalananku nyaris terhalang akibat para permaisuri ganas yang sedang mencoba memikat Kaisar Rembulan.Huhuhu ...Kaisar Rembulan yang tengah duduk di singgasananya, sedang rock 'n roll selagi para permaisuri ganas itu memainkan kecapi.Kaisar Rembulan tidak ada hubungannya dengan Lonte Bulan karena ia tidak tertarik pada biduan. Untungnya, para permaisuri ganas ini tahu betul selera suami mereka.Aku berhasil menyelipkan tubuh indahku di antara mereka dan berhasil melampaui sang Kaisar menuju bulan. Ah, betapa lelahnya!Tibalah aku di sebuah istana di atas awan lalu menyapa seorang bidadari yang sedang rebahan. Aku kira, dia sedang ngopi, tapi ternyata terkena efek sihir Lonte Bulan tadi.Beberapa langkah aku lalui dengan syahdu, akhirnya tiba di bulan tepat waktu.Kulihat seorang wanita berambut ungu kotor yang duduk tak beradab di singgasana berupa kardus. Dia memiliki kulit putih bagai kapur barus dan suara merdu seperti bidadari kejepit."Mau apa kau ke sini?" tanya biang kerok ini.Duhai, dia benar-benar cantik sampai aku mual.Penampilannya begitu nge-JRENG hingga aku keselek seketika. Kekuatannya jauh melampaui Kaisar Rembulan yang bahkan masih asyik menari bersama para permasuri ganasnya.Lihatlah matanya yang ikemen ini![masukin foto mata Gojo]"Kecantikan tak terbatas!"Dengan sekali jentikan, awan yang kupijak berubah jadi rangkaian bintang. Kini kami berdiri di tengah bulan, agak jauh sedikit dari Kerajaan Sentosa."Hai, Lonte Bulan, jangan banjiri rumahku!" pintaku dengan tulus.Alasan dia disebut demikian mungkin merujuk pada serangga-serangga peliharaannya yang disebut lonthe tadi.Ada yang bilang, makhluk berambut ungu-apalah-itu berasal dari negeri antah berantah dan diciptakan untuk memuaskan nafsu penciptanya yang dikabarkan sebagai anak nolep.Nama Lonte Bulan ini adalah ..."Aku Astra Maraelsa Miz Coraline Keira Rapunzel Star Sirena d'Gemoi!" Dia menjawab tanpa ditanya. "Mau apa kamu ke sini tadi, kamu kenapa copy namaku?"Dia memang cebol, sekitar 120 sentimeter dengan tubuh ramping bagai lidi. Rambutnya dari tadi ungu kotor tapi kemudian dicat putih biar mirip bule. Netra merah muda dengan tatapan penuh keganasan ala anak dakjal.Belum sempat aku menjelaskan, dia langsung menceritakan masa lalunya yang unik itu."Aku dilahirkan dari rahim seorang iblis yandere tapi kemudian keluar dari perut ibuku yang seorang ratu siren di Kerajaan Laut Tsunamiwave." Dia jeda untuk memamerkan belahannya yang terbuat dari pensil Ibisp4in."Tidak ada yang menyayangiku sejak kecil kecuali ibu tiriku, di sekolah aku disayangi semua orang termasuk dua budak kekasihku." Astra meneteskan air mata entah kenapa. "Suatu ketika, aku bingung harus menikahi siapa antara dua budak nafsuku.""Ya, pilih salah satu," sahutku. "Mana ada pasangan bertiga?"Dia mengabaikan pertanyaan itu. "Aku jadi prestasi hingga kampung halamanku, Kerajaan Tsunamiwave, hancur karena Kristal Kehidupan kesenggol adik pajangan kekasihku hingga kerajaan itu runtuh seketika."Astra roboh ke lantai dan menangis sambil mengusap mata dengan permadani."Hidupku benar-benar berat, aku mati bersama salah satu kekasihku yang lututnya tertusuk tusuk gigi hingga jantungnya resign . Anak pajangan kami pun jadi yatim piatu, dia kini hanya mau menggenakan pakaian berwarna hitam menyimbolkan hatinya yang gelap seperti dakinya.""Dengar, aku hanya ingin banjir itu pergi dari rumahku–""Kamu tidak tahu rasanya tidak pernah keluar kamar tapi dikeroyok masyarakat!" bentak Astra. "Satu anak pajanganku kini memakai gelang guci merah dan mondar-mandir mencari laki sebagai pelampiasan!""Kalau kamu tahu, kenapa tidak bimbing anakmu?" sahutku."Aku 'kan mayat!" sahut Astra. "Sekarang, anak pajanganku tinggal bersama suamiku dan adiknya yang juga anak dari suamiku.""Punya berapa suami kamu?" tanyaku."Cuma dua ... Um , satu pacar dan ... Tiga belas?" Dia menghitung-hitung.Tidak habis pikir. "Siapa?""Akan kuceritakan kisah cinta kami yang epik dan bikin kamu ketagihan langsung!" Astra lalu berdiri memamerkan gaunnya yang gemerlap.Kisahnya pun dimulai.Astra memiliki suami dari Kerajaan Waffle karena perutnya yang waffle hingga mengundang syahwat. Selain itu, ia secangkir werewolf yang edgy . Namanya Kazutae Hosee Le Jun-Seo Marcopollo Xalamender.Kazutae ternyata yang membunuh ibu Astra karena sedang badmood dan dia diutus ayah kandungnya untuk membunuh Astra. Namun, kebodohan membuat mereka bersatu dan sekarang jadi pasangan. Tidak ada yang bisa hentikan keduanya, sekarang.Astra dan Kazutae kini mempunyai anak bernama Mikasa Le Jun-Seo Miz Coraline Sirena d'Gemoi. Dia memang rada edgy dan berpotensi menggoyangkan dunia karena seseorang merebut susunya saat masih bayi.Nah, Mikasa yang mengurus anak dari Astra. Anak itu hasil hubungan gelapnya dengan seekor iblis bernama Pedotom Kasuari Edgee Lucidor.Pedotom ini yang mati bersama Astra karena ia hanya kuat saat di ranjang saja. Mereka menghasilkan anak, diberi nama Lusiyana Edgee Lucidor Sirena d'Gemoi. Dialah anak yang selalu memakai pakaian hitam setelah ditelantarkan orangtua.Kedua anak itu memang tidak berguna bagi alur ceritanya, tapi ditambahkan saja biar pembaca peduli."Sekarang, kamu tahu deritaku," ucap Astra lirih."Kamu tetap mengotori rumahku, dasar Mary Sue!" Aku mengumpat sambil melempar sendal mahalku yang diimpor dari Saturnus.CROT!Aku ditembak dengan kekuatan es berair dari Astra hingga terpental dua kilometer. Menghantam dinding lalu terguling."Tidak ada yang menderita di dunia ini selain aku!" seru Astra. "Terima ini, Playing-Victim Blass!"Hisrot!Aku terkurung dalam gelembung gelap dipenuhi foto penuh kesedihan edgy dari keluarga vertebrata ini."Rasakan amukan edgy -ku! Hiyaaat!"Seruan Astra disertai dengan amarah dan lonthe-lonthe yang beterbangan. Hm, wangi.Untungnya, aku tidak terluka akibat gelembung Playing-Victim ini, sehingga kecantikanku masih terawat.Tidak disangka, aku menemukan sebuah kristal yang kuduga sebagai Kristal Kehidupan tadi. Bentuknya memang seperti batang, tapi ujungnya agak bengkok.Saat itulah, jeritan syahdu Astra menganggu kuping. Aku menutup telinga dan berjuang meraih kristal yang bentuknya seperti ... Seperti pedang."Jangan serang Ibu!"Siapa itu? Lusiyana?!Wujudnya memang seperti anak edgy . Serba hitam dilengkapi dengan eyeliners tebal. Muncul petir dan halilintar dari tangannya.Crot! Aku terlempar lagi.Krak! Tidak sengaja, menyebabkan Kristal Kehidupan patah batangnya.Astra terkesiap. "Tidaaak ...!"Dia meninggal."Oh, tidak." Lusiyana berlari ke arah ibunya. Namun, terhalang oleh Mikasa."Ibu kita terbebas sekarang," ujar Mikasa, terkesan bijak. "Ikhlaskan saja.""Argh!" Lusiyana mengeluarkan petir dari segala penjuru badannya. "Aku kecewa!""Auuu ...!"Lolongan serigala menginterupsi drama keluarga ini. Muncul sosok kekar dengan penutup mata layaknya seorang Chūnibyō. Rambutnya berbeda dari punya Mikasa, ia turquoise sementara Mikasa berambut ungu pucat dengan hijau daun. Jangan-jangan ..."Ayah!" panggil Mikasa."Siapa yang membunuh rembulanku?!" bentak pria yang kuduga sebagai Kazutae. Netra kelabunya menatapku tajam.Aku serta merta menjawab, "Kaisar Rembulan!"Kazutae melolong liar. Ia melepas baju dan menampilkan waffle di perutnya. Lantas menjelma jadi anjing puddle dan menyerang ke arah antara awan dan bulan, menuju Kaisar Rembulan.Sebenarnya, Kaisar Rembulan secara de facto yang menguasai bulan. Tapi kekuatan lon–cinta Astra berhasil mengusirnya. Meski Kaisar Rembulan-lah yang duluan mengalah karena ia lebih waras.Aku dan dua anak pajangan Astra berlari menyusul Kazutae yang bahkan tidak berpikir panjang untuk menghabisi sosok penguasa bulan sesungguhnya.Aku dan Mikasa berhasil masuk duluan ke Kekasairan Rembulan, mendahului Lusiyana yang tiba-tiba berhenti untuk menangis karena serangan masa edgy -nya."Kaisar Rembulan!" seruku.Kulihat Kaisar Rembulan sedang breakdance di hadapan para permaisurinya. Ia disoraki lalu kembali menggoyangkan tubuh indahnya depan para wanita itu."Kaisar Rembulan!"Seruanku lantas menghentikan acara seketika.Berbeda dengan Astra yang mengaku-ngaku sebagai penguasa bulan, ia mendekat dengan tatapan seakan aku tidak diundang ke acara ini. "Ya?"Mikasa menyenggolku. "Ratu Rembulan Astra meninggal!"Kaisar Rembulan kembali memakai kacamata lopenya yang merah muda. "Lanjot!"Ia kembali breakdance bersama para permaisurinya."Auuu ...!"Kazutae masuk dari jendela dan menendang salah satu permaisuri ganas Kaisar Rembulan."Kamu membunuh biniku!" Kazutae menarik kerah baju kekaisaran sang Kaisar. Menatapnya tajam."Eh?" Hanya itu balasan sang Kaisar. "Kau punya bini?""Dia sosok terindah yang pernah kutemukan!" Kazutae membentak sang Kaisar.Sang Kaisar berhasil meloloskan diri. " Ew, ih! Dasar mesum!"Tindakan Kazutae ini mengundang amarah dari Kaisar Rembulan.Seketika terjadi guncangan di bulan dan muncul petir entah dari mana.Ternyata, Lusiyana mencoba membunuh Kaisar Rembulan karena dia edgy dan badmoo d , tapi tidak disangka sosok yang diburu masih berdiri dengan tatapan kesal tertuju pada Kazutae.Kaisar Rembulan melepas kacamata lopenya. "Cukup! Kalian merusak suasana!"DUAR!Kaisar Rembulan menggerahkan tenaganya menyerang Kazutae. Semburat cahaya putih yang berhasil memukul mundur anjing jadi-jadian itu."Uhuk!" Kazutae memuntahkan kecap merah."Ayaaah!" seru Lusiyana dan Mikasa, menghampiri gary stu itu.Wujud Kaisar Rembulan kini menjelma jadi sosok kesatria berzirah putih sekarang. Ia menghantamkan palunya ke arah Kazutae."Jangan sakiti Ayah!" seru Mikasa frustrasi. "Ia memiliki masa lalu yang kelam dan sedih, belum lagi sekarang dia memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan!"Mikasa pun menangis selagi mendekap ayahnya yang terbatuk-batuk manja."Bacot!" Kaisar Rembulan menghantam mereka bertiga dengan palunya dan ...BUUUM!Kami semua terlempar.Para tokoh pemuas nafsu itu telah mati gepeng di tangan Kaisar Rembulan.Sementara aku tercebur di kopi gemoi yang pelahan menjelma jadi kasur.Akhirnya aku jadi penguasa bulan setelah Kaisar Rembulan karena itu yang diinginkan author .TAMAT

Sana dan Saha
Fantasy
17 Dec 2025

Sana dan Saha

Manan Sana.Manan Saha.Sang Kembar, tak terpisahkan.Mereka dari desa terpencil, dekat pegunungan penuh siluman.***Memikul kayu bakar di punggung masing-masing, si Kembar terus berjalan perlahan menuruni gunung selagi mencari sesuatu yang bisa dijual atau dimakan langsung."Aku dengar kabar," kata Sana. "Kalau tetangga kita meninggal malam itu."Saha membalasnya. "Aku mendengar, kalau dia tewas dimangsa."Desa yang mereka tinggali saat ini, punya kisah tersembunyi. Setiap satu purnama, pasti ada setidaknya satu warga yang meninggal. Jasad tampak kering seakan darahnya dihisap, juga begitu kurus bagai tengkorak berbalut kulit.Semua sudah terjadi selama mereka tinggal di sana. Si Kembar terus mendengarkan setiap larangan dan peringatan warga sekitar akan teror makhluk yang menganggu mereka sejak satu dekade lamanya."Dahulu, ada kakak beradik seperti kalian tinggal di sini," kata salah satu tetangga Sana dan Saha di hari kedua kedatangan mereka. "Namun, di malam purnama mereka lenyap tanpa jejak."Bukan hal janggal jika ada warga yang kabur akibat teror makhluk misterius itu. Namun, sekali melangkah, sudah raib dan tidak terdengar lagi kabarnya.Sana dan Saha bukan pendatang baru di desa ini. Mereka menetap di sana baru beberapa bulan dan sudah ada banyak kehilangan tetangga. Entah tewas dalam keadaan aneh tadi atau justru lenyap seperti beberapa warga.Namun, Sana dan Saha hanya menyimak. Entah percaya atau tidak.Selagi menyusuri jalan kecil, mereka sesekali menengok ke belakang. Kadang ke kiri dan kanan sambil memasang telinga. Waspada ketika mendengar suara gemerisik, meski itu hanya dari babi hutan yang mencari makan."Sana, malam ini malam purnama." Saha menginggatkan.Sana pun mengiakan.Mereka hidup bersama sejak lama, lebih tepatnya kembar tak terpisahkan. Tapi, tidak jelas dari mana kedua orangtua mereka dan tidak sekalipun dibahas ketika mengobrol santai maupun ditanya."Kami dilahirkan dan hidup begitu saja," ujar Sana ketika ditanyai perihal orangtua. "Aku dan Saha saling melengkapi. Kami hidup berdampingan dan saling menjaga."Maka, keduanya pun tetap hidup bersama meski tidak mengenang atau mengingat masa lalu barang sekali.Sana punya rambut lurus hitam legam yang diurai dengan mata biru langit serta postur tubuh yang tinggi.Saha punya postur dan gaya rambut sama dengan warna ungu, sebagai pembeda di antara mereka.Keduanya tinggal bersama di sebuah desa kecil di bawah gunung bersama warga lain. Orang-orang sana tahu keduanya hanyalah pendatang yang kemudian menjadi warga di desa itu.Mereka berdua muncul dalam wujud yang kita ketahui saat ini, tampak seperti dua gadis remaja yang menawan. Meski hidup di tengah desa yang diteror makhluk misterius pemangsa warga selama satu dekade lamanya."Kamu dari desa mana?" tanya salah seorang warga begitu melihat si Kembar.Sana menatap adiknya sesaat. "Dari sebuah desa dekat pegunungan.""Pegunungan yang terpencil," timpal Saha.Keduanya lalu meninggalkan si petanya. Kesannya seperti tidak ingin bicara, tapi jika ditanya lagi mereka akan menjawabnya dengan kalimat yang sama untuk pertanyaan serupa. Hampir semua orang menanyai, dari kepala suku hingga warga sekitar bahkan sesekali pengunjung yang kebetulan menetap di tempat mereka untuk sementara. Semua pertanyaan itu selalu dijawab demikian seakan mereka tidak ingat asal usul sendiri."Saha, lihat di sana, desa ini telah mati," ujar Sana setibanya mereka di tempat yang mereka tinggali saat ini.Hanya ada rumah-rumah kosong dan suasana hening menyambut. Belum lagi kabut putih menyelimuti menambah kesan kelam. Seakan desa ini tidak dihuni sejak lama.Saha mengiakan. "Kamu sudah kumpulkan semuanya?""Iya, aku sudah mengumpulkan semua ." Sana sengaja mengucapkannya dengan perlahan untuk menekankan. "Kamu lapar?""Tentu saja tidak," balas Saha. "Ayo, kita cari rumah lain!"Mereka pun melanjutkan perjalanan.***Hingga keduanya tiba di sebuah danau yang cukup keruh dan diselimuti kabut.Saha menyalakan api, Sana mencari kayu.Keduanya lalu duduk diam saling tatap, sesekali juga memandang sekitar tanpa mengucapkan sepatah kata."Sana, aku lapar," keluh Saha."Aku juga," balas Sana. "Sebentar, aku merasakan aura makhluk yang mendekat."Benar saja, muncul perahu dengan seorang pria mengayuh pelan menyusuri danau. Ia berhenti kala menyadari keberadaan si Kembar."Hai, gadis-gadis! Tidak takut di sana berduaan?" Sang pengayuh berniat menggoda, melihat paras sang Kembar bagai bintang-bintang penghias malam.Sana lantas berdiri, bersama Saha keduanya melambaikan tangan, isyarat menyuruh si pengayuh mendekat.Si pengayuh tersenyum. Ia mendekat dengan antusias, mengabaikan kabut yang kian pekat menghalangi pandangan.Kabut-kabut ditembus tanpa beban, si pengayuh tadi akhirnya tiba di depan sang Kembar lalu duduk menghadap mereka."Kalian berani sekali ke sini," komentarnya. "Banyak siluman ganas, lho."Sana dan Saha tersenyum."Kami terbiasa," ujar Sana."Kami tahu apa yang harus dilakukan," timpal Saha."Kami tidak perlu takut.""Kami tidak akan takut."Keduanya tersenyum pada pria yang baru dikenal itu. Membuat lawan bicara terlena akibat suara mereka yang mendayu bagai kicauan burung."Kamu pasti lapar," ujar Sana.Saha kembali menimpali. "Kamu pasti lelah.""Izinkan kami menghiburmu," ucap si Kembar.Tentu saja pria itu senang mendengarnya. Ia lalu kembali berkomentar."Kalian kembar yang cantik," pujinya. "Akan kupinang kalian berdua."Sana dan Saha terkikik, mereka tidak menjawab setelahnya melainkan dengan menyodorkan segelas air hangat.Si pengayuh menegaknya dengan lahap. "Terima kasih. Aku tidak menyangka kalian ternyata di sini."Sana dan Saha hanya tersenyum menanggapi. Bukan hal aneh jika mereka bertemu lagi meski dengan wajah yang berbeda.Pria itu menghabiskan gelasnya. "Benar-benar lezat, aku suka hasil panen dari desa itu.""Sayangnya, para warga telah pergi beberapa jam lalu," ujar Sana.Saha membenarkan. "Sepertinya mereka sudah tahu.""Sayang sekali." Pria itu lantas berdiri. "Kalau begitu, sampai jumpa di lain desa."Ia lalu kembali ke perahunya lalu lenyap ditelan kabut.Sana berdiri. "Ayo, kita cari tempat baru."Saha menyusun bekal mereka. "Ayo."Mereka pun melanjutkan perjalanan.***Manan Sana.Manan Saha.Sang Kembar, tak terpisahkan.Mereka dari desa terpencil, dekat pegunungan penuh siluman.TAMAT

Spirit of The Forest
Fantasy
17 Dec 2025

Spirit of The Forest

Pada hari itu, hutan hening seperti biasa. Di hari itu pula, dia berkeliling. Seperti penghuni hutan lain, dia memulai harinya dengan menghirup udara segar, kemudian mencuci wajah di genangan air yang terkumpul berkat embun. Setelahnya, dia akan melangkah keluar dari pohon tempatnya bernaung dan mengamati tanah dia dilahirkan.“Selamat pagi!” sapa salah seorang tetangga. Dia memiliki tubuh mungil dengan telinga runcing serta sepasang sayap tipis menghias badan guna memudahkan tugas sebagai penjaga hutan.Dia pun membalas sapaan kenalannya dengan senyuman. Dalam wujud hari ini, dia menyerupai tetangganya itu. Sehari sebelumnya, menyamar sebagai tupai. Karena dia tidak memiliki wujud asli melainkan menyerupai makhluk hutan.“Kamu menjadi peri hari ini?” tanya tetangganya lagi.Dia mengiakan, kemudian pamit kepada tetangganya. Hari ini, dia akan memulai aktivitas yang sama seperti hari sebelumnya.Sambil mengepakkan sayapnya yang tipis, dia itu terbang melintasi pepohonan subur layaknya pagar penjaga. Sesekali mengamati sesama penghuni pohon yang masih terlelap dalam dahan berselimut dedaunan. Sebagai salah satu peri penghuni hutan, dia tahu betul apa tugasnya hari ini.Sebagai ruh penjaga hutan, dia tidak bisa berjaga tanpa raga. Pada malamnya, dia bisa leluasa berkeliling tapi ketika mentari menampakkan wajahnya, ruh tidak bisa berbuat banyak. Maka, dengan menjelma sebagai makhluk lain bisa membantu.Seperti yang terjadi di percakapan sebelumnya, dia kini mengambil wujud salah satu pekerja keras yang senantiasa menjaga hutan, sekaligus sebagai pilar penyangga agar hutan tetap berjalan dengan stabil. Maka, ruh ini tertarik dan mencoba wujud sebagai bagian dari mereka hari ini. Entah wujud apa yang akan dia pakai esok harinya.Terus menyusuri, di antara pepohonan yang berdiri kukuh, dia menemukan seekor tupai yang tengah sibuk mengumpulkan biji-bijian di mulut mereka. Namun, masih banyak barang bawaannya sementara pohon yang dipanjang jauh lebih tinggi.Tupai itu pasti kesulitan, itulah yang ruh ini pikirkan. Maka, dia dekati tupai itu dan terus mengamati dalam diam selama beberapa saat.Tidak lama, salah satu biji yang dibawa si tupai terjatuh ke tanah, padahal jaraknya begitu jauh. Mau tidak mau, si tupai harus turun dan memanjat jauh lagi agar bisa mengambil makananya atau dia tidak akan makan hari ini.Ruh memang tidak sepenuhnya punya empati, tapi mereka dikaruniai akal untuk meresap apa yang dilihat dan memikirkan solusi untuk penghuni hutan.Tanpa berpikir panjang, ruh itu mengerakkan jemari mengikuti irama hati. Saat itulah biji-bijian yang tadinya tergeletak di tanah mulai terbang perlahan dengan sendirinya, mengikuti arah si tupai menuju sarang. Akhirnya, si tupai tidak perlu lagi turun dan memanjat untuk mengumpulkan semua makanan.Si tupai tersenyum cerah melihat bantuan yang datang untuknya. Dia tatap ruh dalam wujud peri itu. “Terima kasih!”Ruh itu hanya membalas dengan senyuman.Sebelum masuk, tupai itu melambai ke arah sosok yang membantunya tadi dan kemudian pergi dari pandangan. Kini dia bisa menghabiskan waktu bersama makanannya hari ini tanpa kesulitan.Itulah salah satu tugasnya, berjaga dan memastikan keadaan hutan tetap aman sambil sesekali membantu yang membutuhkan. Maka, pada hari ini, sang ruh merasa puas dengan bantuan kecilnya dan kembali menjalankan tugas dengan menyusuri hutan.Sambil tersenyum puas, ruh itu melayang lagi menyusuri hutan, memastikan tidak ada yang kesulitan hari ini dan seterusnya.Tamat

Maiden of The Sea
Fantasy
17 Dec 2025

Maiden of The Sea

Lautan menyimpan seribu misteri. Di antara misteri, menyimpan keajaiban. Sebagian disembunyikan dari penghuni darat, sebagian pula sudah diketahui.Di antara misteri lautan, berdiri sebuah tempat yang aman bagi penghuni lautan dalam. Mereka menjaga dan memastikan tidak ada penghuni darat yang berani masuk. Mereka disebut penjaga lautan.Alannis salah satunya. Di hari ulang tahunnya yang keenam belas, dia akhirnya bisa bebas berenang menjelajahi lautan lepas tanpa pengawasan dari orangtuanya. Sudah lama bercita-cita menjaga laut, dia bertekad akan memastikan dunianya senantiasa aman.Di hari pertamanya berjaga, Alannis ditemani beberapa temannya. Meski berada di lautan dalam, mereka berenang tanpa beban. Dengan siripnya yang ungu gelap, Alannis terus berenang di sisi teman-temannya sambil mengawasi lautan untuk kali pertama.Sebagai penghuni lautan dalam, tidak banyak yang mau mendekati. Itu sebabnya tempat asal Alannis selalu sepi. Namun, dia tidak memedulikan selama masih berada di sisi teman-temannya."Hari ini, aku melihat kapal berlayar." Temannya bercerita. "Mereka mencoba menangkap mermaid.""Ah, biarkan saja," sahut Alannis. "Salah mereka mencari perhatian terus dengan manusia."Siren memang tidak sering bercengkerama dengan manusia. Alannis sudah muak dengan para mermaid sejak dia masih kecil. Tidak tahan menyaksikan kaumnya selalu disisihkan dengan "yang cantik" padahal mereka saja tidak mengurusi hidup para mermaid."Kalau ada manusia yang jatuh cinta dengan mermaid, pasti terjadi hal yang tidak diinginkan," sahut temannya dengan wajah masam."Ya, paling mermaid dungu itu berakhir di restoran ikan." Alannis pun tertawa dan diikuti teman-temannya.Alannis merasa, kaumnya yang seharusnya tinggal bahagia di laut. Meski tidak secantik mermaid, setidaknya tidak pernah mencampuri urusan makhluk di darat sana. Kenapa juga para mermaid berduyun-duyun hendak ke darat? Ah, harusnya ini jadi berita bagus bagi para siren agar tidak diganggu terus. Perlahan, mungkin kaumnya akan menguasai lautan seperti sedia kala."Alannis," panggil temannya. "Kamu lihat itu?"Alannis mendongak. Di atas sana, terpantul cahaya bulan yang senantiasa menghias lautan. Namun, di laut dalam fenomena ini cukup jarang sehingga sukses membuat Alannis kagum menyaksikannya. Tanpa sadar, bayangan sirip merah muda memantul menyakiti matanya."Akh!" Alannis lantas mundur dengan wajah jijik penuh kekesalahan."Alannis!" Teman-temannya yang berjumlah empat siren mendekat dan menahan Alannis agar tidak terlempar jauh."Beraninya dia merusak pemandangan!" kesal Alannis.Tepat ketika Alannis mengucapkannya, mermaid itu menjulurkan lidah dan memandangnya hina. Membakar hati Alannis seketika."Hei, lihat! Ada kapal!" seru temannya sambil menunjuk ke atas. Dia lalu berbisik kepada ketiga teman lainnya. "Kita tarik dia ke sana, lumayan buat dijadikan ikan bakar."Alannis terkikik. "Ide bagus, ayo!"Tanpa ragu, mereka semua berenang cepat ke arah mermaid yang juga terpana menyaksikan kapal berlayar. Dia menyadari kehadiran Alannis dan teman-temannya. "Hei!"Belum sempat mermaid itu bersuara, Alannis menyambar tubuhnya lalu dengan kuat melempar badan mermaid malang itu ke atas kapal. Mereka semua menertawakan kesialan lawan mereka saat mendengar bunyi benda jatuh di atas kapal. Diam-diam semua mengintip suara dari sana."Wah, ada mermaid." Terdengar suara berat dari atas. "Lumayan dijual dengan harga mahal."Tawa seketika memecah malam, perpaduan antara kru kapal dengan kawanan Alannis sukses membuat mermaid itu menjerit ketakutan."Tunggu, jangan!" seru mermaid itu. Namun, naas sebilah pedang telah menusuk jantungnya hingga tewas.Alannis dan teman-temannya pun langsung meninggalkan tempat dan kembali menjelajahi lautan lepas.Tamat

Let's Fly Together
Fantasy
17 Dec 2025

Let's Fly Together

Seharusnya aku tidur malam ini. Namun, entah kenapa mata menolak untuk memejam meski malam sudah larut. Ah, aku ingat niatku sekarang, menunggu kepulangannya. Sudah sebulan lamanya dia tinggal di rumah ini dan kedatangannya bagai penerang dalam kegelapan hidup. Selama hidup sebatang kara tanpa seseorang menemani setelah kematian Ibu, hidup ini terasa hampa. Apalagi sebagai satu-satunya manusia di perumahan ini. Namun, seorang wanita datang membawakan surat adopsi beberapa bulan setelahnya. Kini, dia resmi menjadi waliku atau ... Hanya sekadar penggalang dana.Dia datang dengan niat menemani, meski lebih sibuk dibandingkan Ibu. Diselingi pekerjaannya, dia akan pulang membawa makan malam dan mengobrol bersama hingga jam tidur. Kali ini, sosoknya tidak juga muncul meski sudah lewat jam sembilan malam.Kuraih ponsel dan berniat menghubungi, tidak terjawab. Bahkan pesanku tiada yang terkirim. Barangkali dia sibuk mengurus segala hal yang tidak pernah diceritakan. Kalau kutanya apa pekerjaannya, dijawabnya dengan sesederhana ini."Memastikan kota ini tetap aman."Lalu, jika ditanya lebih jauh, dia hanya tersenyum lalu mengalihkan topik. Aku sendiri tidak paham mengapa dirahasiakan. Alasannya mengadopsiku belum jelas selain simpati. Barangkali karena dia dekat dengan mendiang Ibu, atau sesuatu.Dya namanya. Setiap hari pergi dan pulang jam tujuh, kadang kala lebih awal atau sebaliknya. Tidak banyak waktu yang kami habiskan, kecuali akhir pekan atau tanggal merah. Itu pun lebih canggung dibandingkan obrolanku dengan orang asing. Namun, aku maklum jika Dya mencoba menjadi sosok 'Ibu' bagiku.Terdengar suara kepakkan sayap dari luar jendela. Beberapa bulu putih berjatuhan menghiasi pandangan."Aku pulang!"Suara khas Dya yang antusias dan berima menggelitik telinga. Aku keluar kamar lalu menyambutnya di ruang tamu yang menyatu dengan pintu depan. Sudah pasti dia mendarat tepat setelah mengucapkannya."Bagaimana harimu?" sapanya dengan senyuman. Rambut pirangnya disisir ke belakang, hanya sebatas bahu, membuatnya tampak seperti pria dari belakang. Dia kenakan jaket hitam kesayangannya yang kabarnya sudah dipakai sejak memasuki masa Sekolah Menengah Atas. Sayapnya yang terpasang di punggung, dia lipat agar dapat masuk ke rumah. Ya, barangkali kami perlu merenovasi pintunya.Tidak banyak keluhan darinya selain pintu tadi, itu pun hanya diucapkan sekali saat pertemuan pertama saat Ibu masih ada."Ayo, dimakan! Nanti dingin." Dya letakkan sebungkus makanan di meja lalu melepas jaketnya. Kini dia mengenakan kaos putih yang dirancang sesuai dengan tubuh sehingga tidak menyulitkannya untuk terbang.Kutatap diriku di cermin. Aku hanya manusia biasa, sama seperti Ibu. Lingkunganku dipenuhi makhluk ajaib, terutama Dya yang bersayap. Kuhela napas, aku tidak berguna baginya. Tapi, dia juga yang memungutku sejak awal tanpa diminta."Kamie?" Suara Dya terdengar lagi. "Ada apa?"Aku tidak menjawab. Langsung duduk dan menatap makanan yang dibeli. Ini sudah lewat jam sembilan dan aku seharusnya tidur dan kenyang. Namun, kupilih untuk diam dan menyantap apa yang ada. Dya membelikan gorengan yang lumayan banyak dan mengunggah selera. Wanita itu duduk di depan, makan lebih lahap dariku.Kutarik napas. Ada perasaan menjanggal yang selama ini menghantui. Perbedaan ras hanya masalah kecil, apalagi bagi sosok Dya. Namun, kekuatanku tiada gunanya dibandingkan bayi sekalipun. Bisa dibilang, keluargaku yang manusia hanya penumpang gelap perumahan ini."Kamie, dari tadi kamu diam saja," tegur Dya sambil mengepakkan sedikit sayapnya. "Ada apa? Seseorang mengganggumu di sekolah?"Itu bukan masalah, lantaran aku diperlakukan sama di sekolah. Atau, barangkali semua siswa disuruh menghargaiku sebagai makhluk lain. Sepertinya, aku jenis terakhir yang harus dilindungi setelah Perang Besar. Kuharap, jauh di sana ada manusia yang bertahan. Barangkali, Dya bisa membantu. Namun, lagi-lagi aku tidak nyaman meminta.Aku ingin keluarga manusia, yang mengerti dan menjalani hidup sepertiku. Bukannya tidak bersyukur, tapi hidup di dunia seperti ini, rasanya bagai titik hitam di kertas putih. Dya sendiri belum tentu paham tentang manusia, apalagi makhluk lain selain dia.Kepakkan sayapnya membuyarkan lamunan. "Kamu tampak sedih hari ini. Aku telat, ya?"Merasa tidak nyaman, aku balas dengan pelan. "Bukan. Aku ... Agak ragu."Dya tersenyum, "ragu kenapa, Nak? Siapa tahu aku bisa bantu."Kutarik napas, berharap agar dia paham maksudku. "Apa benar aku satu-satunya manusia di dunia ini?"Setelah kematian Ibu, aku jelas kesepian dan tiada manusia yang bisa diajak bicara. Tentu saja, Dya datang saat beliau dimakamkan lalu menghibur dengan beragam kata. Meski sedikit membaik, aku tetap tidak terima kenyataan bahwa satu-satunya manusia dalam hidupku telah pergi dan tidak akan kembali."Tidak juga," sahut Dya sambil tersenyum. "Aku yakin di luar sana ada manusia menunggumu."Kupaksakan senyum, pendapat kami ternyata sama. "Dya, kamu ... Mau membantuku mencari mereka? Aku butuh keluarga.""Keluarga?"Ah, ucapanku sepertinya kasar. Aku jelas menyakiti perasaannya. Ya, Dya memang bukan manusia, namun masih punya hati nurani dan perasaan. Kalimatku tadi seakan menolak keberadaannya di rumahku."Maksudku ... Aku ..." Aku kehabisan kata. Mau bagaimana lagi? Tidak ada makhluk yang cocok di sini. Dalam segala hal, tentu memerlukan ras yang sama, bukan?Tidak disangka, Dya tersenyum lalu berdiri dan menepuk pelan bahuku. "Kamie, kamu mau melihat dunia baru?"Belum sempat menjawab, Dya tarik tanganku dan mengepakkan sayap. Lantas melesat keluar jendela sambil mendekapku yang belum siap sama sekali. Entah ke mana dia membawaku, diri ini sibuk berlindung di pelukannya lantaran takut jatuh. Udara dingin menusuk kulit namun tampak tidak mengganggu Dya yang berpakaian kaos biasa, sementara aku mengenakan piama merah muda dan celana panjang."Dya!" seruku selagi kani melesat melewati sebuah gedung.Dya tertawa dan malah melesat.Kueratkan pelukan sambil memejamkan mata. Kuharap Dya tidak pergi ke tempat aneh para makhluk lain di kota.Tak lama, Dya mendarat. Menurunkanku lalu duduk di samping sambil menikmati keindahan kota. Kami berada di atas gedung, tidak terlalu tinggi sehingga tidak menakutiku. Tercium aroma udara malam nan segar."Dya?" panggilku, meminta penjelasan."Kamie, kamu pikir keluarga itu harus satu ras?" Dya tersenyum sambil menikmati pemandangan."Tentu," balasku. Ibu manusia, begitu juga dengan Ayah. Aku juga satu ras dengan mereka. Yang mana membuat kami satu keluarga. Meski Ayah tidak pernah menampakkan diri."Jadi, kamu anggap sedarah itu keluarga?" sahut Dya. "Lalu, apa kabar orangtua yang membuang anaknya? Atau anak yang mendurhakai orangtuanya?"Pertanyaannya lantas membuatku bungkam. Apa Ayah sosok yang dimaksud? Aku sendiri tidak tahu. Ibu tidak pernah cerita dan menolak membahas. Jika ditanya, pasti mengalihkan topik atau menjawab kalau beliau sedang bekerja di luar sana. Nyatanya, setelah kematian Ibu, tidak ada pria yang datang ke pemakanannya yang mengaku sebagai suami beliau atau ayahku. Ke mana dia? Tidak ada yang tahu. Ibu bahkan tampak marah jika ditanya soal itu.Dya tatap para pejalan kaki menikmati malam. "Aku sama sepertimu. Dulu berpikir jika sedarah berarti keluarga. Ya, tidak sepenuhnya salah. Tapi, tidak semua orang pantas menjadi bagian dari keluarga."Aku diam saja."Kamie, kalau kamu ingin mencari keluarga-mu di sana, aku tidak keberatan membantu," lanjutnya dengan senyuman. "Lagi pula, tidak ada salahnya mencoba. Kalau kamu ingin keluarga manusia, bukannya makhluk aneh sepertiku."Aku lantas menyahut, entah dari dorongan mana. "Dya!"Dya menatapku. "Hm?""A ..." Kugantung kalimat, mencari yang tepat.Dia berusaha menjadi teman bahkan keluarga bagiku. Jelas tidak ingin melihatku sedih atas kesendirian ini. Kalau Ibu melihatnya, beliau pun pasti senang menerimanya di rumah. Kalau begitu, keputusanku telah bulat."Dya, mari terbang bersama!" ajakku. "Ajak aku keliling duniamu dan jadikan aku sebagai sahabatmu.""Ah, kamu berubah pikiran?""Kurasa, keluarga tidak harus sedarah. Melainkan mereka yang menerimamu apa adanya," balasku. "Tidak masalah jika aku berbeda, bukan?"Dya tersenyum, "tidak ada yang menolak, Nak."Aku mendekat lalu menatapnya penuh tekad. "Terima kasih, Dya.""Atas apa?" Dya mengangkat sebelah alis."Telah mengajariku apa arti dari keluarga." Kuhela napas. "Terima kasih."Dya tersenyum. "Kamie, let's fly together!"Dya meraihku lalu kami melesat pulang. Tanpa banyak bicara, kami tidur di ruang terpisah dengan damai menghabiskan malam. Ah, entah kenapa ada perasaan baru di kalbu. Sesuatu yang kudambakan sejak awal.Ucapan Dya terus terdengar, seakan menolak untuk berpisah.Let's fly together!Tamat

Pemburu dan Iblis
Fantasy
17 Dec 2025

Pemburu dan Iblis

Ada iblis, ada pemburu.Ketika dunia perlahan dikuasai iblis, di situlah para pemburu berusaha menjaga ras mereka dari kepunahan.Iblis membutuhkan daging manusia untuk dimakan, tapi tiada manusia yang bersedia menyerahkan diri begitu saja. Pada akhirnya, para iblis mulai membantai di kala lapar maupun bosan. Kematian dan darah sudah menjadi makanan sehari-hari bagi kedua ras itu.Manusia yang pemberani mulai berkumpul dan melindungi sesama. Beberapa iblis tumbang, namun ada juga yang berhasil mengubah pemburu menjadi iblis.Hanya sinar matahari yang ditakuti iblis, hanya di saat itulah manusia merasa aman.Iblis hanya akan berkeliaran di malam hari hingga fajar tiba. Memangsa siapa saja yang berdiri di depan mata. Tidak banyak yang bisa dilakukan manusia selain mencoba berjaga meski di kala lelah dan sakit.Ada iblis, ada pemburu.Para pemburu lahir dari kalangan manusia pemberani, mereka tidak takut mati apalagi iblis.Sudah menjadi kewajiban bagi mereka untuk memburu iblis dan melindungi sesama. Tidak sedikit juga berusaha mencegah manusia lain menjadi iblis.Mereka memastikan tidak ada benda yang mengandung sihir hitam, sekaligus membagikan benda yang sekiranya bisa dipakai untuk membela diri.Para pemburu akan berjaga pada malam hari, memastikan manusia aman. Jika ada tanda kedatangan iblis, mereka akan bergerak melawan hingga titik darah penghabisan.Meski tidak sedikit dari mereka yang tumbang dimangsa bahkan menjadi iblis, namun tekad para pemburu menjaga sesama tidak akan padam.Iblis tetaplah iblis.Jika pemburu menjadi iblis, tamatlah riwayatnya.Jika iblis bertemu pemburu, mereka akan bertarung hingga salah satu akan memutuskan nasib yang lain.Kedua kubu ini akan selamanya berdampingan.Iblis akan memburu pemburu.Pemburu akan membasmi iblis.Ada iblis, ada pemburu.Jika iblis bertemu pemburu, tidak selamanya mereka akan saling memburu.Jika pemburu melihat iblis, tidak selamanya akan membunuh.Ada iblis, ada pemburu.Keduanya tidak akan dipisahkan.***“Tolong! Iblis!”Jeritan seorang wanita menggemparkan seisi desa lantaran saudaranya telah berubah menjadi iblis setelah berburu.Seorang pria dengan tatapan liar dengan taring tajam siap memangsa. Cakarnya hendak mencengkeram leher wanita yang berlari di depannya.Wanita itu tumbang.Iblis telah mengisap darahnya. Geligi itu perlahan menggerogoti seluruh bahu wanita malang itu.Mangsanya menjerit dengan sia-sia. Perlahan, suaranya semakin serak hingga akhirnya hening. Wanita itu tewas dengan mata terbalak merasakan dirinya dimangsa hidup-hidup.Syaaat!Iblis telah tumbang. Sebuah tombak menancap di kepalanya.Sosok wanita berdiri memandangi tragedi di depannya. Dia terlambat.Wanita itu menatap korban dengan tatapan prihatin. Namun, segera setelahnya, dia tancapkan pisau ke kening sang mayat hingga remuk kepalanya demi mencegah perubahan.Seorang warga yang ketakutan mencoba memastikan bahwa wanita di depannya itu memang berasal dari rasnya sendiri. Menyadari bahwa itu manusia, dia mendekat. “Terima kasih!”Para warga yang ketakutan mulai berduyun-duyun keluar rumah untuk mengucapkan terima kasih kepadanya. Namun, wanita itu hanya membalas dengan senyuman lalu pergi meninggalkan mereka.Wanita ini sudah cukup lama menjadi pemburu. Terbiasa baginya jika setiap langkah hidup akan dihantu makhluk pemangsa manusia itu. Karena dia pemburu.Ada iblis, ada pemburu.Di setiap langkah pemburu, akan ada iblis menyertai.***Yumi dibesarkan di sebuah desa seperti kebanyakan anak, dengan ibu yang menyayangi serta teman-temannya. Terlahir dari keluarga pemburu membuatnya tumbuh besar dengan keahlian memanah dan bela diri, termasuk memanfaatkan peralatan dapur seperti pisau bahkan sendok. Ayah Yumi tewas dimangsa iblis ketika dia masih di dalam rahim ibunya. Maka dia tidak pernah tahu rasanya memiliki seorang ayah.Tinggal bersama dengan ibunya yang merupakan salah satu pemburu membuatnya harus sering ditinggalkan. Tapi, bukan berarti ibunya jarang menjenguk. Beliau selalu memastikan akan punya waktu di rumah dan menghabiskan hari bersama sang buah hati.Hari ini, ibunya datang lebih awal.“Yumi, Ibu pulang!”Yumi yang waktu itu berusia tujuh tahun bergegas menghampiri sang ibu dan memeluknya. Di tengah pelukan manis bersama sang ibu, Yumi melihat seorang anak berdiri di belakang.“Siapa itu?” bisik Yumi pada ibunya.Sang Ibu tersenyum, dia menyuruh bocah itu masuk. “Yumi, perkenalkan, ini Hisa.” Ibunya menepuk bahu anak itu.Sama dengan Yumi, anak itu memiliki rambut hitam sebahu dengan kulit pucat serta mata biru, sementara Yumi punya netra cokelat seperti ibunya dengan kulit kuning langsat.“Halo, Hisa!” sapa Yumi.Hisa membalas dengan senyuman.“Hisa sekarang keluargamu,” ujar ibunya. “Yumi tidak akan sendirian lagi.”***Yumi dengan cepat bergaul dan berteman baik Hisa yang kini menjadi keluarganya. Mereka hampir tidak bisa dipisahkan dan saling menyayangi.Yumi menyadari jika Hisa berbeda dari kebanyakan anak. Dia berpenampilan pucat dan begitu pendiam. Bahkan setelah bertahun-tahun lamanya mereka bersama, tidak juga muncul sifat lain seperti yang dia kira.“Hisa,” panggil Yumi ketika mereka mencapai usia dua belas tahun. Keduanya memang sebaya. “Kenapa kamu begitu pucat?”Hisa hanya tersenyum. “Setiap makhluk diciptakan berbeda.”Yumi hanya ber-“oh” panjang tanpa bertanya banyak.“Yumi, Hisa!” Ibu mereka memanggil.Kedua anak itu langsung mencari ibu mereka yang sedang duduk di serambi. Beliau sudah memakai pakaian tebal demi melindungi diri dari gigitan dan beberapa senjata.“Ibu akan berburu,” ujar ibu mereka. “Kalian jaga diri!”Hanya dengan itu, ibu mereka tersenyum dan melangkah pergi untuk terakhir kalinya.***Tahun demi tahun berlalu, Yumi dan Hisa tumbuh menjadi lebih dewasa tanpa kehadiran ibu mereka. Yumi akhirnya mengikuti jejak sang ibu dan mulai berkelana mencari tempat yang nyaman untuk ditinggali. Sementara Hisa pada akhirnya keluar rumah untuk mendampinginya.Yumi mengamati sekitar, sudah lama dia melihat hal yang sama di daerah berbeda, tapi kali ini dia yakin dengan apa yang dilihatnya.Syut!Hanya dengan sekali lemparan, iblis tumbang dari semak belukar. Nyaris saja memangsanya.Yumi memungut kembali pisaunya yang menancap di kening iblis itu. Dia pun menghancurkan kepala sang iblis, memastikan makhluk terkutuk itu tidak bangkit kembali.Sambil menarik napas, Yumi pun membersihkan pisau di genangan air terdekat lalu menyimpannya ke kantong sebelum melanjutkan perjalanan.Ada pemburu, ada iblis.Selama dia melangkah, ada iblis menyertai.***“Yumi, apa kabar?”Untuk pertama kali dari sekian lamanya, Yumi mendengar suara itu lagi. Dia sedang beristirahat di salah satu rumah warga dan tidak menyangka akan dikunjungi.“Baik.” Yumi menyahuti suara tadi. “Bagaimana denganmu?”“Aman, aku sudah menumbangkan iblis yang nyaris memangsamu. Beberapa bergerak menuju ke arah sini. Sebaiknya kita bersiap.” Hisa yang telah lama berpisah dengannya kembali membawa beberapa uang dan kabar. Seperti biasa, mereka akan saling menjaga dari kejauhan. Dia tidak boleh terlihat.Yumi tahu, bagaimanapun, Hisa akan memihaknya meski dia tahu kenyataannya.Sudah sejak lama ibunya menyembunyikan kebenaran itu, bahkan setelah kepergiannya. Yumi tahu dan Hisa berjanji akan melindunginya.Yumi akan berburu, Hisa akan menjaga.Ada pemburu, ada iblis.Tamat

Sayang Semuanya
Fantasy
17 Dec 2025

Sayang Semuanya

Aku sayang semuanya.Tiada dari mereka yang tidak kucinta.Mereka pergi, aku tidak rela.Karena mereka keluarga.Keluarga akan selalu bersama.***Dalam laut, kami hidup damai.Dalam buaian ombak, kami bermain.Setiap hari, dilalui bersama. Membiarkan ombak membawa ekor kami selagi lautan jernih menampilkan beragam makhluk dan tumbuhan. Beberapa menyapa, beberapa pula sekadar melewati.Aku mengintip ke luar dari air, disambut dunia atas dengan embusan angin. Pemandangan biru cerah disertai cahaya hangat menyambut. Di saat itu juga aku perlahan merasa kedinginan dan kembali ke air demi menghangatkan diri."Cordelia!" Seruan Kakak menyambut ketika aku kembali ke dalam. "Ayo, pulang! Nanti ditangkap bajak laut!"Aku mengibaskan ekor menuju Kakak. Tentu saja tidak mau ditangkap bajak laut yang telah lama memburu para putri duyung seperti kami.Kakak mengenggam tangan dan kami berenang kembali ke dasar air. Dia mrmang bertugas menjagaku dan Adik saat bermain. Tapi, sepertinya Adik sudah pulang dan tinggal aku yang tersisa.Kami hidup di bagian gelapnya laut. Ketika makhluk atas tidak mampu menjangkau kami. Karena mereka yang selalu memburu, aku tidak tahu mengapa.Rumah kami hanya berupa lubang yang menjorok ke bawah, lebih tepatnya berupa lorong panjang yang menyatu dengan lorong lainnya menuju satu tempat di bagian terdalam yang belum pernah kujangkau.Semakin dekat, kulihat ekor kuning melesat ke arah kami. Ketika ekorku tercekat akibat kaget, saat itu juga kudengar seruan."Kakak!" Adik berenang mendekat dan menyambut kami berdua.Aku memeluk Adik dan mencubit pelan pipinya yang tembam. "Makin gemuk saja.""Iya dong, Adik 'kan, sehat," balasnya dengan senyuman cerah."Makan terus, sih, sama kayak kamu." Kakak justru mengacak rambut pirangku.Aku mengangkat pelan tangannya dari kepala. "Ih, mana ada.""Sudah," tegur Kakak. "Ayo, masuk. Nanti telat."Kami pun berenang masuk ke rumah. Bergandengan selagi sesekali mengayunkan tangan untuk bermain sejenak.Ketika memasuki rumah, Ibu menyambut kami dengan hidangan malam ini. Dia tersenyum dan menyuruhku duduk di antara mereka.Sementara Ayah sudah duduk dan tampak menunggu kami sebelum menyantap hidangannya. Begitu kami duduk, dia menyambut kami semua."Bagaimana harimu?" Begitulah basa-basi yang kerab diucapkan orang tua kami, tapi kami tidak akan bosan mendengar."Cordelia kembali menengok daratan," lapor Kakak."Hanya sekali!" sanggahku."Tidak ada manusia, 'kan?" tanya Ibu, raut wajahnya tampak khawatir.Selama ini, aku hanya melihat langit biru serta burung camar dari kejauhan. Rasanya sukar jika ada manusia atau makhluk dunia atas yang melihat."Tidak ada, seperti biasa," jawabku."Hati-hati ke sana," ucap Ayah. "Kita tidak tahu jika mereka bisa melihat dari jauh."Aku mengiakan tanda patuh."Cordelia juga kurangi ke atas," timpal Ibu. "Takutnya kalau berjumpa dengan satu saja manusia, habislah."Aku diam saja, memilih menunduk dan tidak bersuara sebagai jalan aman. Memang benar nasihat mereka, tapi manusia mana yang rela menempuh jarak begitu jauh hanya untuk melihat kami?Sementara Adik dan Kakak makan, kedua orang tua kami pun menyantap makan malam.Kami pun kembali makan bersama. Makanan kami beragam setiap hari tergantung suasana hati Ibu. Menu utama kali ini adalah ikan tentunya. Di tengah waktu, beberapa dari kami akan bercerita tentang hari ini untuk mendapat saran atau hanya sekadar bercerita.Setelah makan malam, kami pun pergi tidur. Kamar hanya terdiri dari bebatuan penyusun gua. Dalam satu ruang ini kami isi bersama khusus tidur hingga hari esok menyambut.Aku memejamkan mata.***"Pagi, Ibu! Pagi juga, Ayah!" sambutku ketika hari esok tiba. Mata biruku menyambut lembaran baru kehidupan.Mereka sedang duduk di meja makan, tersenyum kepadaku."Di mana Adik dan Kakak?" tanyaku, menyadari keduanya tidak muncul juga setelah ditunggu."Mereka bermain," jawab Ibu. "Kamu ketiduran, jadi ditinggal, deh."Aku tersenyum meski sedikit malu. Jarang sekali aku bangun terlambat, padahal kemarin biasa saja."Ya, sudah. Cordelia pergi juga, ya." Aku mendekat dan memeluk kedua orang tuaku sebagai tanda perpisahan singkat. Toh, nanti bakal kembali lagi ke sini setelah beberapa waktu."Hati-hati," ucap Ibu."Jangan sampai tertangkap," timpal Ayah."Baik." Aku berenang menjauh. "Cordelia pergi, ya!"Aku pun pergi meninggalkan mereka dengan semangat membara, tidak sabar kembali menyambut daratan dan desiran angin pantai yang segar.***Ketika pandangan laut biru gelap semakin terang, aku melesat ke atas dan berniat melompat."Halo, daratan!" seruku.Langit tersenyum cerah hari ini, tanda akan menjadi hari yang baik seperti kemarin. Aku melompat dan merasakan angin membelai wajah dan kembali dipeluk lautan.Kembali melompat, aku menatap lautan luas seakan melihat dari sudut pandang burung camar, belum setinggi itu sudah membuatku terkesima.Hari ini begitu damai, begitu sunyi.Tiada suara, tiada interupsi.Sepertinya memang aku harus sendirian saat ini. Kenapa gerangan?Aku kembali menyelam ke dalam, menatap lautan yang masih hening. Sejauh mata memandang, tiada suara melainkan gelombang air."Kakak? Adik?" panggilku. Biasanya mereka yang terlebih dahulu menyeru namaku. Tapi, ini sudah lebih lama dari biasanya.Aku menyelam semakin dalam, menuju daerah terpencil, lebih tepatnya rumahku.Masih saja hening."Ibu? Ayah?" panggilku. "Adik? Kakak?"Lagi-lagi, tiada sahutan.Tetapi, aku dapat melihat secara samar warna gua yang berubah menjadi lebih gelap dan bau aneh.Aku diam, mencoba mencerna apa gerangan yang terjadi. Namun, tidak ada yang baik. Tidak ingin semakin menjadi, aku memberanikan diri masuk ke rumah."Ibu! Ayah!" seruku semakin kencang. "Adik! Kakak!"Terdengar bunyi geraman, di saat itu juga gua bergetar hebat menciptakan guncangan. Aku yang tidak sempat berpikir langsung berlari menyelamatkan diri. Tidak peduli makhluk jenis apa yang mencoba merisak rumahku.Ekorku kini terasa berat. Sesuatu seakan mencoba menarik.Aku berhasil menebas hingga ekorku terlepas. Bergegas pergi sebelum makhluk itu memangsa.Makhluk itu berbentuk bulat besar serta dipenuhi tentakel. Begitu besar hingga gua tempatku tinggal terasa begitu sempit. Dia menyelinap ke sana tanpa memedulikan ukuran.Aku menelan ludah, menatapnya tanpa gerakan. Seakan melihat makhluk ini sukses membuatku gentar hingga pasrah.Namun, makhluk itu berlalu. Meninggalkanku seakan aku makhluk tiada daya tariknya.Menyadari ada kesempatan, aku berenang kembali ke dalam gua dan menyeru nama keluargaku."Ibu! Ayah!" seruku lagi dan lagi. "Adik! Kakak!"Namun, tiada balasan.Ekorku yang lelah mulai melamban. Aku berenang begitu pelan hingga berhenti tepat di ruang makan tempat terakhir aku menjumpai mereka.Mereka di sana.Ekor terpisah dari raga, sementara beberapa bagian telah dimangsa makhluk itu. Menyiksakan tulang dan beberapa daging yang tidak tergigit.Mereka di sana.Tidak mampu bergerak maupun bicara padaku lagi.Terlelap dalam keabadian.Tidak akan ada yang menyambutku pulang.Tidak akan ada yang menemaniku.Tiada lagi ...Mereka yang kusayangi telah pergi.Aku dekati mereka. Terdiam selagi ekorku yang masih menyatu dengan raga mencoba menyeimbangkan diriku yang mulai lunglai.Keluargaku.Aku baringkan badan. Membiarkan raga menyentuh bagian bawah gua yang dingin, menatap langit-langit yang tersusun dari bebatuan.Membiarkan ini menjadi momen kebersamaan kami.Aku tersenyum selagi mata terasa berat. Dunia terasa berputar.Perlahan, menginggat kembali.Andai aku pulang lebih dahulu.Andai pula aku lebih waspada.Andai saja ...Kegelapan perlahan menyambut. Membawaku ke dunia mimpi, satu-satunya tempatku bisa melihat mereka kembali.Aku sayang Ibu.Juga sayang Ayah.Sayang Adik dan Kakak.Aku sayang semuanya.Tamat

Ada Lima
Fantasy
17 Dec 2025

Ada Lima

Ada lima, termasuk aku.Beragam rupa dan kisah.Dari yang senasib hingga beda nasib.Tapi, tujuan kami hanya satu.Pergi dari sini hidup-hidup.***Hijaunya rumput membuatku rindu, mengenang masa di mana masih bisa menikmati indahnya sinar mentari yang kuning dan hangat.Tinggal di sini, dunia rasanya hanya terdiri dari warna kelabu. Hambar rasanya tanpa bisa menghirup udara segar, melihat dunia luar, harus tetap tegar.Di sini, kami hanya makan apa yang diberikan. Bentuknya hanya satu, yaitu berupa bubur merah muda. Baunya aneh seperti bahan yang biasa dipakai untuk berobat. Tapi, demi mengisi perut kami makan saja. Jika minta yang lain, yang ada hanya cacian.“Sudah diberi gratis malah minta lagi! Dasar tidak tahu terima kasih!”Setelahnya, kami hanya bungkam. Berserah diri dengan apa yang diterima.Tinggal dalam satu ruang bersama empat orang lainnya, lengkap dengan keheningan dan kecanggungan, tiada rasa selama beberapa waktu terkurung di sini.Aku tidak ingat banyak apa yang terjadi. Dahulu, aku hanya bermain bersama teman sebayaku di sebuah taman.Muncul sosok pria datang kepadaku, menawarkan sebuah permen.“Ini permen paling manis yang pernah diciptakan,” katanya sambil menyodorkan permen kecil berwarna merah muda. “Kamu yang terpilih untuk mencicipinya.”Tanpa ragu, diriku yang tidak tahu menahu langsung menyantapnya kemudian lari menyusul teman-temanku.Langkah kakiku terpacu mengejar teman-teman sambil tertawa riang. Bermain sambil mengecap permen manis ini. Hingga perlahan dunia terada berputar, kaki perlahan kaku, hingga kepalaku terbentur ke tanah.Menyisakan kegelapan.Disertai jeritan teman-temanku.***Begitu bangun, aku telah berada di ruangan kelabu ini bersama keempat anak lainnya. Mereka duduk memeluk lutut, sebagian berbaring, tapi tidak satu pun menyapa saat menatapku.“Um, halo?” sapaku.Hening.Tiada dari mereka yang bahkan membuka mulut. Semua diam menatapku. Tatapan yang sama herannya.Menyadari bahwa aku barangkali tidak akan bisa bicara lagi, kuputuskan untuk diam dan duduk di pojokkan. Menunggu dan menunggu.Di sinilah aku berada. Bersama orang baru di tempat yang baru pula.***Langit biru tampak di sela jendela berjeruji. Aku dekati kemudian berusaha menghirup udara dari sana. Saking lamanya di sini, lupa bagaimana bau kebebasan itu.Ada lima orang termasuk aku di sini. Kami diambil pada suatu hari, direngut dari tanah kelahiran tanpa tahu apa yang terjadi.Tidak ada yang bicara, bahkan aku sendiri merasa berat saat hendak berbisik. Namun, kami semua tetap saling menerima, meski di sisi lain tampak lebih mengabaikan.Terkurung di sini dan diberi makan makanan yang aneh, tanpa alasan yang jelas, membuat semangat hidup pudar.Rasanya, tiada gunanya hidup di dunia candramawa ini.Namun, aku tidak akan menyerah.Kami akan keluar.Kami harus pergi.Suatu saat nanti jika takdir berkehendak, aku akan mengibarkan sayapku menuju langit biru.Mencari keluargaku yang tidak pernah ada.***Ada lima, termasuk aku.Meski tidak bicara, kami bisa saling memahami melalui isyarat.Tapi, dengan ini kami juga harus bersabar dan menunggu sebelum melancarkan aksi.Ketika penjaga yang biasa mengawasi kami pergi, kami mencoba mendobrak pintu. Setiap bunyi dentuman yang kami ciptakan, tidak menimbulkan suara lain melainkan dentuman tadi. Pertanda kami benar-benar aman.Inilah kesempatan.Makanan merah muda aneh itu memang terasa memengaruhi badan kami, membuat kami kian cepat letih. Tetapi, tekad kami tetap kuat hingga ...Pintu didobrak.Jatuh di hadapan kami.Atas ketabahan dan kekuatan, kami bersama berhasil keluar dari jeruji besi ini.Terpampang jelas rumput hijau menyambut. Artinya kami hanya dikurung di satu ruang kecil tanpa pengawasan yang berarti. Tampak warna lembayung senja menyambut mata, membuatku seakan telah bertemu dengan sosok yang telah lama tidak dijumpa.Rasa rindu ini ... Membuat jantungku berdebar.Rasa rindu ini membuat hatiku terasa berbunga.Aku telah bebas.Tapi, ada yang aneh.Kami hanya dikurung semudah ini dan bebas secepat ini pula. Lantas, kenapa kami ditangkap dan dikurung? Jika benar tiada niat, kenapa bisa terjadi?Aku tidak begitu memusingkan, kami pun saling tatap dan memantapkan diri.Begitu mentari mulai tenggelam, kami meneruskan langkah ke depan. Tidak tahu pasti apa yang menghadang.Kami akan maju.Kami harus tetap maju.Bergandengan kami berlari menembus hijaunya hutan di kelamnya malam.Tidak ada yang terlihat melainkan bayangan kegelapan.Tiada suara melainkan suara napas dan langkah kaki.Napasku memburu, perlahan membuatku tersenggal. Tapi, tekad untuk bebas tetap berkobar. Demi bisa merasakan kehidupan lamaku yang indah.Hingga tampak semburat cahaya dari kejauhan. Tampak bagaikan malaikat penyelamat.Itu lampu jalanan menuju kota.Sebentar lagi kami akan diselamatkan warga kota di ujung sana.Kami akan keluar.Kami telah bebas ...Dor!Jantungku berdegup kencang, napasku kian kacau. Bahkan kaki nyaris terjatuh akibat tidak fokus berlari saking gentarnya.Rasa takut kembali menggelayut. Harapanku untuk bebas pecah bersamaan dengan bunyi tembakan itu. Seakan sebuah peluru menembus langsung ke kepala.Bruk!Bunyi benda jatuh menghantam tanah. Diiringi langkah kaki kami yang meleburkan suara kekacauan tadi.Mataku tidak sempat menoleh, hanya melihat salah seorang dari kami jatuh.Dia telah gugur. Bersama genangan merah dari kepala.Kami tidak menjerit. Sejak awal kami tidak bisa bersuara meski berharap.Kami tidak boleh bersuara. Tidak bisa menolong apalagi membopong.Kami harus maju.Kami harus tetap maju.Meneruskan langkah, menghindari bunyi tembakan serta peluru yang melesat ke segala arah.Beberapa pohon dan tanah tertembak, mereka tidak menjerit juga.Lidahku kelu, ditambah tenaga kian menipis. Yang ada di benak adalah cara bebas. Setelah semua perjuangan ini, aku akan pergi, harus.Kini tinggal kami berempat.Ketika bunyi dentuman disertai bentakan menghias udara malam yang sunyi, kami berpegangan dengan erat.“Sialan! Di mana mereka?!”Suara itu tidak digubris melainkan dengan bunyi tembakan dan bentakan lain darinya. Bagai kesetanan, dia menjerit layaknya seekor serigala yang kelaparan dan geram akibat kehilangan mangsa.Sayangnya, dia hanya berhasil menemukan satu. Itu pun tiada gunanya lagi baginya.Aku menarik napas, mengumpulkan tenaga sebelum akhirnya melesat sambil menarik tangan teman-temanku.Kami berlari.Berlari dan terus berlari.Menyusuri hutan yang gelap, disertai bunyi tembakan dalam ketakutan.Kami akan bebas.Kami harus bebas.Jika perjuangan kami sia-sia, setidaknya kami tidak menunjukkan kalau kami pasrah.Ketika bunyi mengerikan itu perlahan tertelan di dalam gelapnya hutan, kami akhirnya bisa tenang.Meski kami tidak tahu pasti jika kami telah aman.Aku terus menggandeng teman-temanku. Bertekad akan menjaga mereka hingga maut memisah.Kami terus berlari. Meninggalkan semua kesialan ini. Menuju terbitnya mentari.Tamat

Makanan Hari Ini (Special Halloween)
Fantasy
17 Dec 2025

Makanan Hari Ini (Special Halloween)

Aku merentangkan badan, berusaha mengumpulkan kesembilan nyawaku yang berjalan di kala lelap. Hari sudah gelap, biasanya babu akan datang dan menyapa. Mata masih setengah terbuka. Begitu bisa melihat dengan jelas, seisi ruangan masih terlihat sama seperti sedia kala. Hanya diterangi cahaya lampu beserta perabotan rumah yang masih tertata rapi.Mengeong pelan, memastikan tidak ada siapa pun di rumah ini, atau setidaknya direspons oleh babuku. Nyatanya, semua hening.Aku lalu melangkah keluar dari tempatku tidur yang berupa keranjang kecil berisi kain menumpuk. Mencari apa saja yang bisa dilakukan selama babuku pergi.Tidak banyak cerita tentang diriku. Aku hanya makhluk kecil imut yang berbulu kelabu. Kegiatanku hanya makan, tidur, dan sesekali kawin jika berkehendak. Bukan berarti aku hanya hiasan di rumah, aku berguna jika ada tikus, lho. Meski tidak semua bisa ditangkap.Babu yang kumiliki saat ini sepertinya sibuk. Karena biasanya dia akan pulang membawa daging. Mungkin makanan hari ini lebih susah dicari karena jalanan lebih ramai.Kenapa jalanan ramai? Karena sekarang ini Halloween.Perayaan setahun sekali yang menurutku biasa saja. Ketika orang-orang memakai pakaian gembel dan berkeliling komplek sambil menjerit minta sebiji makanan. Memang, babuku juga ikut merayakan, tapi percuma dia membawa pulang banyak permen kalau taringku tidak kuat. Sebagai kucing, aku merasa tidak dihargai.Sambil menginggat-ingat, berulah aku sadar jika babuku keluar rumah lebih awal. Sepertinya suasana hati tampak berbunga, melihat dia langsung pergi tanpa pamit maupun memeriksa mangkuk makananku bilamana kosong. Padahal biasanya, sebelum pergi, dia akan datang padaku dan menggendong majikannya yang imut ini sambil memberitahu rencananya."Hari ini, aku cari makanan yang banyak, ya." Begitulah pesan dari babuku.Tapi, hari ini tidak ada sama sekali.Aku hanya diam sambil memandanginya keluar. Sebagai kucing yang baik, harus tetap kalem. Meski dalam hati sedikit kesal karena pelayanannya kurang.Tapi, sudahlah. Toh, sebentar lagi dia pulang dan aku akan memaafkannya.Kepergian babuku sudah biasa terjadi, lebih tepatnya hampir setiap hari. Maka aku sebagai majikan, harus menjaga rumah. Baru setelahnya kuhabiskan waktu di tempat tidur. Jangan salah, tidur bukan berarti lengah.Sebagai kucing yang istimewa dan imut, telingaku berfungsi dengan baik. Saat tidur, masih bisa mendengar bunyi decitan tikus yang sedang bergosip di loteng. Ah, apa gerangan yang mereka bahas?"Cit, cit, cit!" Decitan yang menyebalkan.Aku biarkan saja. Mereka barangkali membahas kenapa makanan di sini mulai berkurang. Salah sendiri rakus, yang punya rumah siapa, yang susah siapa.Aku lanjutkan perjalanan menyusuri rumah. Mengabaikan para tikus yang sedang berkumpul. Selama mereka tidak merusak barang berharga, biarkan saja. Lagian, sudah wajar kalau rumah berbau ini dipenuhi tikus. Makanya aku di sini.Ekor yang panjang ini bergoyang tegak selagi menuntunku berjalan mengelilingi rumah babuku. Meski sudah hidup bersamanya selama hampir empat tahun, aku tetap saja jarang melihat ruangan tersembunyi. Barangkali ada benda yang menarik.Sayangnya, meski dia babuku, dia sering marah ketika aku merobek gorden jendela maupun melubangi seprai kasur dengan cakar. Maksudku, aku hanya mengasah pusakaku demi melindungi kami berdua dari segala gangguan. Kenapa harus marah?Karena hari ini dia tidak ada, aku bisa kembaki mengasah pusakaku tanpa halangan. Tapi, itu untuk hari lain. Sekarang, aku butuh istirahat setelah perjalanan panjang.Ketika aku kembali ke kamar babuku, aku pun berbaring di kasurnya. Ah, ada aroma kami berdua. Baguslah kalau dia tidak menghilangkan bauku dari barangnya.Ah, nyamannya. Enak sekali dia berbaring di tempat yang lebih luas dan empuk, sementara aku hanya di keranjang berisi tumpukan kain. Aku harus protes!Tapi ...Mataku perlahan terpejam selagi aku membaringkan diri. Begitu nyamannya hingga aku melupakan sejenak kekesalanku. Tidak heran babu,ini betah berbaring. Sehabis menghilang beberapa jam, langsung saja dia tepar di sini. Sayangnya, babu tidak sepenuhnya senang melihatku berbaring di kasurnya. Tapi, salah dia membiarkan pintu kamar terbuka."Venn! Venn!"Akhirnya datang juga babuku.Bergegas aku datang mengeong, mengeluh kenapa dia terlambat.Dia menggendong lalu mencium pipiku yang berbulu. Sudah biasa bagiku, meski tetap saja di sisi lain risi.Babu ini cukup pendek untuk anak berusia enam belas tahun, dengan tubuh kurus serta rambut kelabu agak panjang yang terlihat lepek. Pascal namanya, dan dia babu ekslusifku. Maksudku, memang hanya aku yang dibesarkan oleh Pascal.Seperti hari biasa, aku mencium bau menyengat tapi lezat. Langsung saja mengeong meminta.Pascal ternyata membawa beberapa kantong yang cukup besar, dia lempar ke lantai.Aku pun mendekat lantaran penasaran.Ternyata seperti biasa. Pascal memang membawa daging yang sering kami santap bersama. Kali ini, jumlahnya lebih banyak dan ada tambahan daging yang telah dihancurkan hingga tidak jelas bentuknya. Tapi, baunya sungguh harum.Aku pun menatapnya polos, meminta penjelasan.Pascal tersenyum, "Venn, malam ini kita makan daging lagi, ya."Aku akui, memang bosan makan daging. Tapi, aku juga tidak bisa makan yang lain selain itu. Selama bertahun-tahun, kupendam saja perasaan ini.Pascal kemudian mengambil beberapa potong daging dari kantong yang paling besar. Ternyata banyak cairan merah yang masih basah dan perlu dibersihkan. Bagian ini hanya akan disimpan untuk beberapa hari ke depan.Kantong kedua sedikit lebih kecil, dan terakhir tentunya. Dia hanya membawa dua kantong yang cukup besar. Sementara isinya kebanyakan berisi bagian yang paling kami suka, tangan.Pascal mendekatkan tangan itu padaku. Seperti biasa, aku akan mengendusnya. Sedikit tergoda untuk menyantap, tapi sudah telanjur ditarik kembali."Hari ini, dagingnya sedikit susah dicari karena agak gagah," ujar Pascal. "Kulitnya susah dipotong, belum lagi aku sudah lelah dari tadi mengejarnya."Aku diam saja, membiarkan Pascal mengelusku lembut. Bertingkah seakan mendengarkan, demi makanan. Maka, aku gulingkan badan dan menampilkan perutku yang indah."Venn," panggil Pascal dengan nada manja. "Kamu manja, deh. Ya, sudah, aku kasih sekarang."Langsung saja aku berdiri dan mengeong keras, sudah tidak sabar tentunya.Pascal tertawa kecil dan menyerahkan tangan pucat itu padaku. "Makan yang lahap, ya."Aku pun menggigit tangan itu dan berjalan menuju mangkuk makan yang telah kosong. Rasanya enak, meski sedikit keras. Pasti semasa hidup belum pernah merawat diri.Pascal tampak tersenyum melihatku lahap. Dia lalu berpaling dan kembali membereskan daging-daging itu. Tidak perlu menunggu lama bagiku menunggu Pascal memasak dan menyajikan makanannya. Sementara sisa daging bisa disaji besok.Pascal duduk di meja bersama sup dengan daging baru itu. Dia menghirup asap yang mengepul dari mangkuk sebelum akhirnya menyantap masakannya.Setelah selesai menyantap tangan mentah, aku mendekati babuku.Aku mendekat lalu mengeong, menunjukkan betapa enaknya dagingnya kali ini, meski sedikit keras. Tapi toh, tetap saja lidahku merasa dimanja. Sekaligus ingin daging tambahan.Pascal mengelus kepalaku, dia lalu menyerahkan sepotong daging mentah padaku. Langsung aku santap dengan nikmat. Sementara dia kembali menyantap sup tadi."Hari biasa, bersama daging," ujar Pascal sambil tersenyum.Aku mengeong, tanda setuju. Barangkali nanti dia bisa mencarikan daging yang lebih montok. Tapi, untuk kali ini, sudah cukup.Di malam Halloween, kami menikmati makan malam bersama. Di bawah rembulan yang lembut diselimuti kebahagiaan kami bersama.Tamat

Menampilkan 24 dari 230 cerita Halaman 6 dari 10
Menampilkan 24 cerita