Dari balkon kamarnya di lantai dua, pohon sakura terlihat cantik di pandang. Dia bisa melihat langsung dan berhadapan dengan senja kemerahan. Hidupnya tampak tidak menarik sama sekali. Bahkan tidak tahu apa hidup yang sebenarnya.
Apa yang kau pikirkan ketika kau tahu apa yang terjadi esok? Bahkan tak ada kejutan sama sekali yang membuatnya menerka-nerka. Dia tahu cara pikir semua orang di sekitarnya. Dan, dengan mudah dia bisa membedakan teman yang tulus atau sekedar memanfaatkannya. Bukan hanya itu, dia bisa menghentikan waktu sesaat. Tidak. Dia jarang melakukan itu, setelah dia menghentikan waktu, dia harus tidur selama seminggu penuh untuk memulihkan tenaganya. Dia sekali melakukannya dan tidak berencana melakukannya. Dua lagi. Dia bisa memindahkan benda tanpa tersentuh oleh tangannya. Dan satu hal dari semuanya yang satu-satunya menyebalkan. Dia tidak pernah merasakan sakit dan sedih. Baik sakit tubuh yang terluka atau sedih perasaan. Jangan pernah bercerita kesedihanmu padanya dia tak pernah mengerti. Yang diketahui hanya rasa bahagia luar biasa setiap harinya.
Aisawa Tsukinami percaya bahwa dirinya adalah putri sang dewa. Namun dalam hati kecilnya dia tak menginginkan itu semua. Dia ingin menjadi manusia normal. Bisa merasakan cinta dan tentunya akan merasakan sakit hati. Tak ada dorongan lain selain kekuatannya untuk bahagia. Bahkan seberapa banyak temannya. Tidak ada satu pun yang benar-benar membuatnya bahagia. Dia tampak asing dari mereka dan lebih memilih sendirian. Meskipun dia tak merasa sedih saat itu.
"Kau harus mencarinya. Kau harus mencarinya untuk menyempurnakan hidup. Kau harus mencarinya untuk menjadi manusia seutuhnya." Suara itu lagi. Aisawa tidak menggubris seperti biasanya. Dia termenung membayangkan orang yang selama ini dikatakan oleh suara sang dewa. Tapi, dia tak mengenal siapa pun.
Dia bosan. Dia tidak merasakan sebuah petualangan dalam hidup. Dia merasa dirinya paling tahu, paling kuat, paling bisa dan paling-paling yang lainnya. Matanya yang bening bahkan sudah tak terlihat indah lagi. Dia tak pernah sekali pun menangis. Entah ketika pertama kali dia dilahirkan. Apakah dia menangis? Tidak. Dia bahkan tak tahu apakah dia benar-benar dilahirkan atau diturunkan dewa dari langit. Yang dia tahu, dia dirawat sepasang suami istri yang sudah tua. Dan, mereka meninggal ketika Aisawa belum sempat bertanya siapa kedua orangtua kandungnya.
Aisawa memandangi kelopak bunga sakura yang merah muda. Satu persatunya berhamburan hanya dengan perlakuan Aisawa yang menggerak-gerakkan jari telunjuk seolah mengomandoi setiap kelopaknya turun. Tiba-tiba saja semua itu berhenti seketika. Dia mencoba lagi dan lagi. Namun, sia-sia. Jemarinya tak berfungsi. Pikirannya juga kacau. Tak ada pandangan untuk esok. Hatinya pun serasa aneh tidak seperti biasanya dia segelisah ini. Bahkan dia belum tahu apa itu gelisah. Ini sangat aneh.
"Ada apa ini?!" tanyanya pada diri sendiri.
Seketika pandangan membunuhnya terhenti pada seorang lelaki yang sedang mengobrol lewat telepon dengan sangat ceria. Bahkan dia sama sekali tak punya kekuatan. Dia tidak bisa membaca pikiran lelaki itu, masa depan, menggerakkan benda, atau bahkan menghentikan waktu. Hatinya benar-benar aneh sekarang. Dengan cepat dia menuruni anak tangga turun ke lantai satu dan keluar pagar rumah. Dia bertemu lelaki itu sekarang. Lelaki yang membuatnya tidak bisa apa-apa.
Lelaki itu melirik sebentar ke arah Aisawa. Alisnya mengangkat tanda tidak mengerti mengapa gadis itu keluar dari rumah dengan terengah-engah. Dia tersenyum ramah sementara itu Aisawa menatap tajam kepadanya. Kali ini lelaki berwajah sangat Jepang itu mengerutkan kening tanda lebih bingung. Dia melirik sekitar tapi tak ada siapa pun di trotoar itu. Hanya dia. Dan tatapan itu memang untuknya.
"Apa saya mengganggumu, Nona?" tanyanya ramah. Benar-benar ramah. Bibir merah gelapnya tersenyum sangat manis. Seketika Aisawa takjub dan entah mengapa emosinya mereda. Meski masih lemas karena berlari menuruni tangga terburu-buru.
"Tidak." Ujar Aisawa masih berusaha sinis dan meninggalkan lelaki itu.
Dia memasuki rumah meninggalkan lelaki itu dengan wajah bingung sekaligus menyejukkannya. Aisawa merasakan itu. Perasaan yang tak biasa. Perasaan yang belum pernah dirasakannya. Perasaan lain selain bahagia yang tak pernah menjeda dalam hidupnya. Siapa dia? Siapa dia? Siapa dia? Satu pertanyaan itu memburu pikirannya dengan berentetan seolah banyak pertanyaan. Namun hanya satu. Dia ingin tahu lelaki itu. Bagaimana pun dia penasaran. Perasaan yang pertama kalinya ia rasakan di dalam hidupnya. Betapa menyenangkan merasakan sebuah penasaran. Sesuatu yang belum diketahui sebelumnya. Apa ini yang disebut kejutan?
☆☆☆☆☆
Sejak lulus SMA dia sungkan melanjutkan kuliah. Apa pentingnya melakukan itu semua? Bahkan dia tidak pernah punya alasan untuk SMA atau pun hidup.
Pikirannya menggantung tepat di atas kepalanya. Belum sampai ke otaknya. Dan, klakson mobil membuatnya tersadar. Teriakan demi teriakan. Dia baru sadar ada keramaian di sini. Keramaian yang biasanya dilewati namun tidak pernah diingat-ingat sama sekali. Seolah berlalu begitu saja.
"Minggirlah! Kau mau mati?!" teriakan itu seketika membuat hatinya tersentak. Satu lagi perasaan aneh. Dia tak pernah tersinggung sebelumnya.
Akhirnya Aisawa buru-buru menuju trotoar dan meninggalkan zebra cross dimana lampu merah sudah berwarna hijau. Suara dewa pernah berkata bahwa yang membuat dia menjadi manusia sungguhan adalah seseorang yang tanpa sengaja membuatnya kehilangan kekuatan. Jika dekat dengan orang tersebut dia tak merasakan kekuatan apa pun. Dan, dia di sini sekarang.
BRUK! Seseorang menabraknya dari belakang. Seorang gadis cantik lebih tua dua tahun darinya. Rambutnya yang hitam sepinggang dikepang satu ke belakang dengan diikat pita putih di bagian ujung. Matanya tidak begitu sipit. Sangat cantik!
"Maafkan aku." Ujar gadis itu menundukkan kepala beberapa kali dengan rasa bersalah. Aisawa mengangguk tanpa senyum sedikit pun.
Tiba-tiba dia merasakan sakit. Punggung tangannya tergores. Ternyata mengenai gelang kerang yang dipakai gadis itu. Aisawa tidak mempermasalahkan hal itu, tapi dia baru pertama kalinya terluka seumur hidupnya. Rasa sakit yang luar biasa. Apa begini menjadi manusia? Sangat tidak menyenangkan. Jika begini, dia akan berhenti mengejar mimpinya untuk menjadi manusia. Dia lebih suka kekuatannya kembali.
Ketika berusaha menahan sakit yang luar biasa baginya itu, ekor matanya bisa melihat jelas gadis tadi bersama lelaki yang pernah ditemui beberapa waktu yang lalu. Pantas saja kekuatannya tidak berfungsi. Dia begitu dekat dengan lelaki itu. Tiba-tiba rasa sakit yang sulit digambarkan bahkan lebih parah dari lukanya sekarang memburu dan hampir membuatnya menyerah. Hatinya. Ya. Dia baru mengenal apa itu hati. Lelaki tampan itu menatap gadis yang menabraknya dengan perasaan penuh cinta. Lidahnya kelu seketika. Ada apa dengan hatinya? Dia tidak mungkin jatuh cinta. Dia baru dua kali melihatnya dan jatuh cinta? Itu tidak mungkin! Batinnya menegur.
Tak disadari. Langkahnya mendekat. Sepasang kekasih yang tampak serasi itu tak sadar. Tentu saja, mereka berdua tak mengenal Aisawa.
"Sayang, tak bisakah kau duduk sebentar. Aku lelah menunggumu hampir satu jam. Tapi, entah mengapa aku menyukai apa pun tentangmu meskipun membosankan." Ujar lelaki itu manis sekali. Aisawa merasakan sentuhan lembut meskipun kalimat manis itu bukan untuknya. Lelaki yang tahu menghargai dan menyenangkan wanita.
"Jangan berkata seperti itu Mada-kun. Aku malu." Gadis itu menampakkan wajah memerah di pipinya yang putih. "Oh ya, kuharap kau benar-benar menghafal namaku. Namaku, Kirei Kabayashi. Dan namamu, Madara Sanada. Ingatlah!" ujar gadis itu sedikit manja namun bijak. Manis sekali.
Kirei mengambil alih air isotonik dalam botol milik Madara yang digenggam pria itu sedari tadi. Madara tersenyum manis. Tiba-tiba senyumnya berubah lebih sumringah ketika tahu Aisawa sedang memerhatikan sedari tadi. Kirei sama-sama menoleh dan tersenyum. Keduanya sama-sama ramah, sama-sama tampan dan cantik, sama-sama manis, sama-sama sopan dan sama-sama menatapnya penuh tanda tanya.
"Kau nona pemilik rumah ini, bukan?" tanya Madara sembari menunjuk rumah besar di belakangnya. Kirei mengeryit. Aisawa mengangguk. Ingin menjawab namun bimbang. "Namaku Sanada Madara. Ini Kabayashi Kirei, kekasihku." Tegas Madara membuat pipi Kirei menjadi memerah seketika.
"Tsukinami Aisawa." Ujar Aisawa akhirnya. Madara dan Kirei senyum bersama.
"Senang bisa berkenalan denganmu, Ai-chan." Ujar Kirei sumringah. Dia sangat tulus dan begitu manis. Meskipun saat ini Aisawa tidak bisa membaca pikiran gadis itu.
Aisawa lebih banyak diam. Tersenyum canggung dan masih berpikir mengapa kekuatannya melemah. Bahkan tidak berfungsi sama sekali. Dia masih menatap kedua manusia itu, mereka tampak menawan, mengesankan dan membuatnya iri. Itu sangat mengganggu pikirannya juga hatinya yang entah mengapa bergejolak tanpa ampun. Aisawa menggigil memikirkan keraguannya sendiri. Ini bukan dia.
"Kami harus pamit. Sampai jumpa, Ai-chan." Ujar Kirei dijawab anggukan oleh Aisawa. Madara lebih memilih diam meskipun tak lupa tersenyum. Seolah Madara memberi kesempatan untuk wanita berbicara meski didominasi Kirei yang ramai.
Hatinya tiba-tiba merasa keanehan. Dia menginginkan lelaki itu sangat ingin, tapi dia pun merasa terharu dengan hubungan manis keduanya. Aisawa tetap dalam diam memerhatikan sepasang manusia yang sangat serasi itu dari kejauhan. Hingga mereka benar-benar menghilang dan membawanya masuk rumah. Ketika memasuki halaman yang luas dia merasakan pulih. Telunjuknya diarahkan ke arah pintu. Tak perlu lima detik, pintu itu terbuka lebar seolah menerima Aisawa dengan lapang dada. Ketika dia masuk pun, hal sama dilakukannya.
Dia manusia biasa. Dia merasakan itu. Hanya saja dia punya banyak kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Apakah dia akan menjadi setega itu?
☆☆☆☆☆
Aisawa baru ingin keluar untuk berolahraga kecil. Sebenarnya dia butuh keluar untuk melepas kebosanan. Dia tak merasakan berbeda tentang kekuatannya. Ya, Madara tidak ada di sini. Namun, langkahnya terhenti seketika melihat seorang gadis cantik yang muncul tiba-tiba di hadapannya. Wajah yang sesuai dengan namanya, Kirei.
"Hai!" sapa Kirei ramah sekaligus riang. Aisawa hanya tersenyum. "Kau mau kemana? Bolehkah aku main ke rumahmu? Sepertinya rumahmu menarik." Ujar Kirei sambil melirik lantai dua yang terlihat dari gerbang kayu tinggi.
Rumah itu sangat tertutup. Matanya mengambang memerhatikan pohon sakura yang tampak menyentuh atap lantai dua. Siapa pun yang berada di balkon kamar itu akan sangat senang memerhatikan berseminya sakura. Sangat indah. Senyum manis nan tulus merangkai bibir Kirei dengan pesona luar biasa. Aisawa merasakan itu. Senyum yang benar-benar tulus dan bahagia. Tak ada sikap jahat yang ada dipikiran Kirei tentangnya. Perlukah dia menerimanya menjadi teman setelah sekian banyak waktu yang digunakannya untuk sendirian?
"Baiklah jika tidak boleh. Aku akan pulang." Ujar Kirei mengerucutkan bibirnya. Aisawa hampir tertawa melihat tingkah bidadari ini. Bahagia yang selalu menjumpainya berbeda dengan bahagia kali ini. Apa ini tanda-tanda dia akan menjadi manusia?
"Silakan masuk." Ujar Aisawa menjentikkan jarinya membuat gerbang kayu tinggi itu menjadi terbuka sebagian. Kirei takjub sekaligus heran. Aisawa lupa seharusnya dia tak melakukan itu. Dia mengutuk dirinya sendiri. "Ini pintu otomatis. Arsitek mendesain sedemikan rupa dan bisa terbuka otomatis dengan suaraku. Silakan masuk. Membuatku lebih mudah membuka tanpa bersusah payah." Aisawa mengeryit bingung. Dia tak yakin kalau Kirei akan percaya. Namun, dia percaya.
"Menakjubkan! Hebat sekali." Sahutnya senang. Dia melangkah masuk berlari kecil meninggalkan Aisawa yang ada di belakangnya. "Apa pintu itu bisa dibuka manual, Ai-chan?" tanyanya kemudian seperti ingin tahu. Aisawa mengangguk.
Kali ini mereka berjalan bersama saling berjajar. Kirei tampak antusias melirik ke sana kemari memerhatikan rumah yang tidak terawat meskipun sebenarnya sangat indah. Dia tak menemui siapa pun sedari tadi. Ya. Tak ada satu pun selain dirinya dan Aisawa, pemilik rumah. Apa Aisawa tinggal sendiri?
"Aku tinggal sendirian. Sebatangkara." Tegas Aisawa membuat Kirei terkejut. Dia tak menemukan wajah sedih sedikit pun di wajah Aisawa. Tentunya dia menganggap Aisawa berusaha tegar. Pantas saja Aisawa pendiam.
Tidak. Aisawa membantah habis-habisan dalam hatinya tentang pemikiran Kirei. Dia sama sekali tidak memikirkan kesedihan. Bahkan dia belum tahu apa definisi dari kata itu. Mungkin dia akan merasakannya nanti jika bertemu dengan Madara. Seperti tidak bisa membaca pikiran siapa pun ketika ada Madara, tidak bisa menggerakkan telunjuknya jika ada Madara, tidak bisa merasa rileks dan bahagia seperti biasanya saat ada Madara dan semua hal jika dekat dengan Madara.
Kali ini, Aisawa tidak ingin membuat Kirei curiga. Dia mendorong pintu rumah pelan membuka lebar. Ini bukan rumah Jepang kebanyakan. Lebih terkesan Asia Tenggara atau Eropa, mungkin. Tampak mewah dan elegan.
"Kau tidak bersama kekasihmu?" tanya Aisawa akhirnya ketika membaca pikiran Kirei yang menyebutnya aneh karena sejak tadi diam. Itu bisa diketahui dengan mudah.
"Oh, Madara? Ya. Madara selalu sibuk kuliah jam segini. Mungkin dia akan kesini menjemputku. Aku sudah mengirim pesan bahwa aku di rumahmu." Ujar Kirei sambil tersenyum manis. Aisawa tidak terkejut. Tentunya dia lebih tahu apa yang akan dikatakan oleh Kirei. Membosankan sekali, bukan?
"Aku akan membuat secangkir teh putih hangat." Ujar Aisawa sambil berlalu meninggalkan Kirei yang tanpa henti merasakan ingin tahunya pada rumah itu.
"Apa aku boleh ke kamarmu?" tanya Kirei kemudian.
Aisawa mengangguk. Tak ada yang penting di setiap detail rumah ini. Apa yang perlu dicatat jika otaknya berfungsi sangat baik. Dia sudah mencatat nama orang yang membuat kekuatannya tidak berfungsi, bahkan sebelum Aisawa tahu kalau orang itu benar-benar ada. Suara dalam kegelapan itu yang memberitahunya. Dia mencatat apa pun diingatannya. Tentang teman-temannya yang tidak pernah tulus. Tentang pertama kalinya dia menggunakan jemarinya untuk menjahili orang-orang jahat. Tentang suatu waktu dia menghentikan waktu dan membuatnya koma di Rumah Sakit selama satu minggu. Tentang hal-hal lainnya. Itu sangat jelas diingatannya.
"Dia musuhmu. Kenapa kau memperlakukannya dengan baik?" pertanyaan itu milik suara dalam kegelapan. Aisawa jadi ragu apakah itu dewa? Bukankah dewa suatu hal yang baik? Aisawa memilih diam dan mengaduk teh dengan jari telunjuk yang mengaduk otomatis. Sendok itu berputar-putar dengan ritme yang konstan di dalam gelas. Tampak menarik untuk dilihat. "Apa kau memasukkan racun di dalamnya?" suara itu terdengar terkekeh. Suara itu benar-benar memancingnya.
"Tak bisakah kau diam dan pergi dari sini!" bentak Aisawa dengan lantang. Dia hampir saja kelepasan. Emosinya entah mengapa tidak stabil.
Aisawa mengarahkan jari telunjuknya lagi ketika suara itu sudah diam dan pergi meninggalkannya. Gelas terangkat dan Aisawa meletakkannya ke nampan yang sudah dibuat melayang terlebih dahulu. Namun, tiba-tiba saja semuanya jatuh dan pecah seketika. PRANG! Suara itu membuat Kirei yang ada di atas langsung turun dan datang menemui Aisawa. Kirei tampak bingung mengapa nampan kemarik dan gelas kaca itu pecah hancur berkeping-keping. Mungkin, Aisawa tidak sengaja.
"Ada apa, Ai-chan? Kau tadi membentak seseorang dan sekarang gelas itu pecah. Siapa yang mengganggumu?" tanya Kirei khawatir. Aisawa menatapnya tajam. Kirei ketakutan menatap mata itu. Mata yang ingin memakannya bulat-bulat.
"Maafkan aku, Kirei. Sebaiknya kau membukakan gerbang. Seseorang menunggu di sana. Aku akan membuatkanmu teh yang baru." Ujar Aisawa berusaha mengontrol emosinya. Kirei mulai tersenyum meskipun masih dalam keadaan waspada. "Sepertinya Madara datang." Tegasnya membuat Kirei benar-benar tersenyum dan mengangguk.
Kirei sudah berlalu. Sementara itu, Aisawa setengah emosi. Dia tak tahu mengapa perasaannya aneh. Dia pertama kalinya merasakan jatuh cinta, pertama kalinya merasa terharu, pertama kalinya merasa sebuah bahagia yang berbeda dan kali ini pertama kalinya dia merasakan sebuah emosi yang luar biasa berbeda. Sangat besar. Dia ingin membunuh gadis itu dan ingin memiliki Madara. Apa sedemikian rumitnya menjadi manusia normal? Tapi dia tidak ingin menjadi dirinya yang membosankan!
"Kau ingin memiliki lelaki itu, Aisa? Kau sudah jatuh cinta padanya. Kau sudah tergila-gila. Bukankah dia sangat tampan?" suara itu lagi.
Aisawa berusaha tetap diam dan enggan menjawab apa pun. Dia mengaduk teh dengan tangannya sendiri. Dia tak bisa menggunakan kekuatannya. Tiga cangkir teh putih untuknya, untuk Kirei dan tentunya untuk Madara.
"Aku bisa melihat nafsumu itu. Kau benar-benar ingin memilikinya. Dia yang membuatmu merasa aneh, bukan? Dia yang membuatmu sangat lemah. Aku ragu bahwa itu cinta. Kau sangat menginginkannya. Aku tahu kau membenci kekasihnya. Itu nafsu! Lihatlah dirimu. Kau tidak berdaya!" kata-kata dari kegelapan itu merasuki pikirannya. Dia menjadi lebih emosi sekarang. Hati kecilnya berusaha meredakan.
"Jangan memerintahku!" teriakan ini lebih lantang dari sebelumnya.
Suara itu tak bersuara. Namun, Aisawa bisa mendengar pekikan tajam dan tawa yang menggema. Sangat mengganggunya. Sangat mengerikan sekaligus membuatnya berpikir ulang tentang memiliki lelaki itu. Mungkin ini hanya nafsu. Tapi dia tak peduli. Dia benar-benar ingin memiliki lelaki itu. Tapi bagaimana jika dia benar-benar memiliki Madara? Dia hanya seorang wanita lemah. Dia tidak akan bisa menggunakan kekuatan yang dimilikinya. Dia. Dia meragu. Apakah dia siap?
☆☆☆☆☆
Kirei dan Madara duduk di ruang tamu. Rumah mereka yang tidak begitu mewah sekaligus mempunyai rumah yang sangat Jepang terasa canggung duduk di sofa mewah di sebuah ruangan yang bergaya Eropa kelas atas. Lukisan-lukisan negeri-negeri di Eropa seperti menara Eifeel di Prancis, Kincir Angin di Belanda, Liberty di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa-Amerika lainnya pada sebuah lukisan besar yang begitu indah. Keduanya saling pandang ketika Aisawa datang.
Teriakan sekaligus jeritan tadi membuat keduanya bingung. Namun, dia tidak ingin ikut campur. Kali ini, Aisawa tidak bisa membaca pikiran Kirei lagi. Ada Madara di dekatnya membuat kekuatannya tidak berfungsi. Kenapa harus ke semua orang? Dia mengumpat dalam hati. Dan, kenapa dia mulai menginginkan laki-laki yang akan membuatnya tidak memiliki kekuatan selamanya?
"Ada apa?" tanya Aisawa menyerah. Dia tidak enak melihat pandangan Kirei dan Madara seolah-olah menyelidik. Aisawa berusaha tenang.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Kirei, Madara tidak berani menjawab. Aisawa hanya mengangguk. "Apa kau tidak kesepian di sini sendiri? Kau tidak mencari pembantu atau mengangkat seorang adik dari panti asuhan? Tentunya akan begitu menyenangkan, bukan?" Kirei memberi usul. Madara dan Aisawa sama-sama tertegun.
"Kadang-kadang memang membuatku merasa kesepian. Tapi aku menikmatinya. Aku sudah terbiasa." Sahut Aisawa berbohong. Kirei dan Madara mengangguk.
Sebelum bertemu Madara, Aisawa tidak pernah merasakan apa kesepian. Dia selalu merasa bahagia. Meskipun bahagia yang membosankan. Selain bahagia dia hanya tahu marah dan bosan. Itu saja. Tak ada yang lain. Namun, kedatangan Madara berhasil mengubah semuanya. Dia merasakan bahagia yang berbeda, marah yang berbeda dan bosan yang berbeda. Tentunya perasaan yang baru dikenalinya, jatuh cinta, terharu, tenang, cemburu dan emosi yang meledak-ledak.
Semua itu ia kira akan hilang ketika Madara menjauh. Namun, terus membekas dan masih ada meskipun kekuatannya sudah kembali. Dia masih merasakan jatuh cinta pada Madara, bahkan berusaha untuk memiliki lelaki itu. Terharu. Tenang. Dan, yang dia benci dari semuanya adalah cemburu dan emosi. Dia takut kalau suatu saat dia dan Kirei sedang berdua tanpa Madara, dia akan sangat marah. Tentunya dia yang memiliki kekuatan bisa membuat Kirei tak berdaya dengan mudah. Atau mungkin dia akan membunuh wanita itu? Membunuh? Kalau Kirei mati, dia akan memiliki Madara tanpa penghalang. Dia memiliki Madara seutuhnya. Sepertinya menyenangkan.
☆☆☆☆☆
Bangun tidur matanya memerah. Bibirnya pecah-pecah, matanya hampir kering dan daerah sekitar matanya menghitam. Tidak pernah dia seperti ini, bahkan sekali pun tidak pernah di seumur hidupnya. Entah mengapa lelaki yang tak banyak omong itu terus-terusan masuk dalam mimpinya. Dia tak pernah seburuk ini. Dia ingin mengaduh pada siapa kalau sudah begini? Dia hanya mengira kalau jauh dari lelaki itu semuanya seperti mula. Namun, tidak. Dia memang mendapatkan kekuatannya kembali sekaligus membawa perasaan aneh yang terus memburunya.
"Apa enaknya menjadi manusia normal kalau begini? Terasa menyakitkan." Ujar Aisawa menatap wajahnya yang tampak berbeda di cermin.
"Kau hanya harus belajar." Tiba-tiba sebuah suara menyahutinya. Itu bukan suara yang biasa dia dengar. Suaranya lebih halus dan seperti suara lelaki. "Belajar. Hanya itu yang kau perlu." Ujar lelaki itu lagi.
Aisawa mulai mencari asal suara. Tiba-tiba, pandangannya terhenti pada pintu kamar yang terbuka. Seorang pria yang tampak tampan, bahkan lebih tampan dari Madara. Wajah campuran Jepang dan Eropa ada di sana. Mata abu-abu, kulit putih seperti orang Jepang kebanyakan, rambut cokelat terang dan tubuh tinggi dengan dada bidang. Kemeja hitamnya menempel pas pada tubuh membuat lelaki itu bertambah tampan dibalut dengan jaket tebal berbulu. Tampan sekali!
Namun, sesaat Aisawa harus waspada. Dia tak mengenal lelaki itu. Lalu mengapa lelaki itu bisa ada di kamarnya? Lebih tepatnya di rumahnya. Karena, kamarnya selalu dibuka. Dia pasti sudah masuk rumahnya terlebih dahulu. Bagaimana bisa?
"Aku melewati jendela itu. Sejak tadi malam aku berada di sini. Tidur di kamar ini juga, bersamamu." Ujar lelaki tampan itu. Dia setengah bersandar di ambang pintu. Memerhatikan Aisawa yang hanya diam. Dia tersenyum. "Aku sungguh-sungguh lewat jendela itu!" tunjuknya pada jendela kamar yang sedikit terbuka. Aisawa memang butuh udara setiap malamnya. "Baiklah akan aku tunjukkan." Lanjutnya.
Aisawa berusaha tenang meskipun pikirannya sudah kacau. Sepertinya lelaki itu bisa membaca dengan jelas apa yang dipikirkan Aisawa. Tiba-tiba, Aisawa takjub melihat lelaki itu bergerak dengan cepat melewatinya. Seperti tokoh Edward yang menyelamatkan Bella dalam film Twilight Saga.
"Kau tidak mungkin takjub, bukan? Bahkan kekuatanmu lebih dari yang kumiliki kan, Ai-chan?" lelaki itu sudah kembali ke tempat semula dan berjalan pelan menuju Aisawa yang masih terdiam kaku. Kali ini mereka berhadapan.
"Kau siapa? Apa yang sedang kau bicarakan?!" Aisawa belum mengubah posisi. Dia menatap tajam seolah mengancam lelaki itu. Namun, lelaki itu masih tersenyum. Aisawa tidak bisa membaca pikirannya. Tidak. Dia tidak seperti Madara. Dia tidak membuat kekuatannya hilang, hanya saja dia menghalangi pikirannya dengan kekuatan yang dimiliki. Tentunya Aisawa pun melakukan hal sama.
Kali ini lelaki itu melangkah sekali lagi dan mereka sangat dekat. Dada mereka bersentuhan. Aisawa harus mendongak sedikit menatap lelaki yang lebih tinggi darinya itu. Kilatan di mata sang lelaki tak membuatnya takut sama sekali.
"Peter Kawahara." Jawabnya singkat. Keduanya tak ada yang mengubah posisi. "Kurasa kau tahu apa yang kubicarakan, bukan?" lelaki itu tersenyum sinis. Tapi, Aisawa masih tidak bisa menemukan sesuatu dari pikirannya.
"Apa yang kau inginkan dariku?!" tanya Aisawa kemudian.
Lelaki itu tak menjawab. Dia masih tersenyum, menatap Aisawa penuh tanda tanya. Begitu sebaliknya. Hingga menurunkan kepalanya, mengecup pelan bibir Aisawa. Gadis itu terbelalak kaget, namun tak menolak. Ketika sadar bahwa Aisawa tak menolak, maka Peter terus menciumnya lama. Mata mereka masih berpandangan. Sebuah mata terkejut dari Aisawa dan mata tersenyum milik Peter. Tiba-tiba Aisawa tersadar dan memundurkan tubuhnya dari Peter. Bibir Peter sudah lepas dari bibirnya. Ada napas terengah-engah dari keduanya. Namun, Peter masih tersenyum tanpa ekspresi lain.
"Hanya itu yang kuinginkan." Ujar Peter sambil menjilat bibirnya yang tampak kemerahan. Aisawa hampir saja tak bisa mengontrol emosinya.
Namun, emosinya melemah. Tubuhnya melemah. Semuanya tampak abu-abu. Pria bernama Peter itu tiba-tiba mendekatinya lagi. Namun, ada wajah khawatir di sana. Aisawa sudah jatuh terduduk setengah sadar. Peter buru-buru membopongnya ke atas ranjang. Sebuah mata yang berbeda. Tak ada kilatan berbahaya lagi di sana. Dia justru terlihat khawatir dan kebingungan. Setelah meletakkan tubuh Aisawa yang setengah tersadar ke ranjang, Peter buru-buru turun dengan cepat dan mencari sesuatu yang mungkin bisa digunakan untuk membuat Aisawa tersadar.
☆☆☆☆☆
Sejam kemudian Aisawa tersadar. Suara orang yang bercakap-cakap di luar kamarnya membuat dia bangkit dan penasaran. Tubuhnya sudah membaik. Namun, dia merasakan kekuatannya tak terasa. Apa ada Madara di sini?
Ketika bangkit dia menemukan wajahnya di cermin. Ditatapnya lama-lama. Bibir bekas ciuman Peter membuatnya takut bertemu lelaki itu lagi. Tapi dari wajah khawatir Peter dia tahu, lelaki itu tak tahu kalau melakukan hal itu energinya akan berkurang. Dan, Aisawa pingsan karena melakukan itu. Tidak! Bagaimana mungkin Peter tidak tahu tentang itu? Bahkan dia mempunyai kekuatan yang hampir sama sepertinya.
"Kau baik-baik saja, Ai-chan?" suara khas itu membuat Aisawa memalingkan wajah dari cermin dan menoleh ke sumber suara. Kirei. Aisawa hanya mengangguk.
Setiap detik menatap Kirei, tubuhnya memanas, emosinya meledak-ledak. Dia ingin memakan gadis itu mentah-mentah. Sekedar membunuhnya saja mungkin sangat menyenangkan. Namun, bagaimana dengan Madara? Tidak. Dia memang menginginkan Madara. Dan, selama ada Kirei, dia tak akan memiliki Madara.
"Kekasihmu bilang kalau kau baik-baik saja. Aku jadi tenang." Ujar Kirei tampak santai dan tidak mengerti kebingungan Aisawa.
"Kekasihku?" Aisawa memastikan.
"Ya. Kawahara Peter. Dia sangat tampan. Dia bilang kalau dia kekasihmu. Kalian berdua cocok sekali. Kau sangat beruntung mempunyai kekasih seperhatian dia. Bahkan dia menunggumu sakit semalaman. Tidak seperti Madara. Dia begitu manis namun cuek." Ujar Kirei sedih. Aisawa terdiam.
Cerita apa yang dikarang Peter? Kekasih? Menunggu semalaman? Astaga! Dan, dari semua pernyataan itu dia membenci tidak seperti Madara. Lelaki itu memang tidak seperti Madara. Madara yang manis dan pendiam. Dan, Aisawa harus memilikinya. Lalu, bagaimana bisa Kirei tidak menyukuri itu semua? Aisawa benar-benar geram. Ingin membunuh wanita itu sekarang juga. Namun, sepertinya kehendaknya terhenti ketika Madara dan Peter memutuskan masuk. Keempatnya berdiri saling diam. Tentu saja, percakapan dimulai lagi dengan obrolan milik Kirei.
Aisawa terdiam memerhatikan Peter yang sejak tadi menatapnya penuh jahil dari belakang Madara. Pria itu menggigit bibirnya seolah memberi petunjuk sekaligus ledekan pada Aisawa tentang pagi tadi.
"Kita bisa mengobrol di ruang tamu." Ujar Aisawa tiba-tiba.
Mereka bertiga diam. Kemudian Kirei dan Madara mengangguk setuju. Hingga mereka turun dan meninggalkan Aisawa bersama Peter. Lelaki itu tampak menyebalkan namun jahil. Bukan tentang itu, yang Aisawa rasakan, lelaki itu membuatnya muak. Aisawa berusaha tak peduli. Gadis itu hendak keluar, namun Peter berusaha berdiri di tengah ambang pintu untuk menghalangi.
"Kau ingin membunuhnya?" tanya Peter sinis. Sebelah tangannya mencengkeram rahang Aisawa. Namun, dia diam saja.
"Bukan urusanmu!" Aisawa mendengus. Peter tertawa sinis.
"Kau menginginkannya lagi? Bibirku?" goda Peter membuat Aisawa bergidik. Dia tak tahu ada lelaki segila itu. Aisawa berusaha tenang dalam diam. Dia akan kalah jika melawan. Dia tidak berkekuatan sekarang. Tangan sebelahnya lagi melingkar di pinggang Aisawa membuat gadis itu kaget setengah mati.
Mereka sangat dekat, lebih dekat dari tadi pagi. Peter memeluk Aisawa dengan erat tak membiarkan gadis itu lepas dari pelukannya. Bibirnya mencium bibir Aisawa dengan nafsu dan gairah. Aisawa berusaha bergerak. Namun, tidak ada ruang baginya untuk bergerak. Lelaki itu sudah gila! Tangan yang memeluk pinggang Aisawa terus dieratkan ketika Aisawa berusaha keluar dari pelukannya. Ciumannya belum juga dilepas. Aisawa benar-benar merasakan kekonyolan luar biasa! Namun, dia tak merasa kalau energinya habis. Dia tampak biasa saja.
"Lelaki itu melindungimu." Ujar Peter melepas ciumannya. Namun, tidak untuk pelukannya. Setelahnya, dia mencium pipi kanan Aisawa dan melepaskan gadis itu. "Meskipun kau tidak mempunyai kekuatanmu sekarang. Tapi, dia membuatmu terlindungi dan tak pingsan seperti tadi." Peter terkekeh. "Sayangnya, kau ingin membunuh kekasihnya. Madara yang malang." Peter masih tertawa. Sinis.
"Ketika mereka pergi. Aku akan membunuhmu lebih dulu!" tegas Aisawa tajam. Gadis itu menuruni tangga meninggalkan Peter yang mendengus kesal.
☆☆☆☆☆
Sejak kejadian itu, Aisawa tak menemukan Peter dimana pun. Mungkin Peter ketakutan dengan ancamannya. Berhari-hari setelahnya, dia tak menemukan Madara atau pun Kirei. Perasaannya bergejolak tak beraturan. Dia menyukai Madara, ingin memiliki Madara. Namun, rasa penasarannya tentang Peter membuatnya bingung dan enggan menghabisi Kirei. Apa dia begitu jahat? Dia tak tahu harus melakukan apa.
"Aku menghilang beberapa hari ini untuk mencari tahu tentang Kawahara Peter, Aisawa." Ujar suara kegelapan yang sudah hilang dan membuatnya rindu beberapa hari. Aisawa mendengarkan intens. "Sebelumnya akan saya jelaskan tentang kekuatan itu. Di Jepang ada tujuh orang yang memiliki kekuatan sepertimu. Dua di antaranya kau dan Peter. Ambisi Peter yang besar menginginkan kekuatan itu dimilikinya sendiri. Namun, dari semuanya, kekuatanmu yang paling besar. Peter sudah mengambil empat kekuatan dan dia sedang mencari satu orang lagi. Jika dia mendapatkan satu orang itu, maka dia memiliki kekuatan seimbang denganmu. Dia akan mengambil milikmu juga. Kau harus berhati-hati. Waktu itu kau hampir terkecoh." Jelas suara itu membuat Aisawa terkejut dan mengutuk dirinya sendiri dengan bingung luar biasa.
"Aku ingin menjadi manusia normal. Bukankah tidak apa-apa memberikan ini padanya. Toh, aku akan kehilangan juga." Ujar Aisawa akhirnya.
"Dia akan menggunakannya dengan tidak bermanfaat." Tegas suara itu lagi.
"Saat ada Madara. Dan, dia menciumku. Itu tidak berpengaruh sama sekali. Bagaimana bisa?" tanya Aisawa benar-benar bingung. Suara langkah menyusuri tangga membuatnya resah. Pasti Peter!
"Madara melindungimu. Meskipun kau kehilangan kekuatanmu, tak ada yang menyakitimu meskipun itu kekuatan besar sekali pun." Tegas suara itu hingga menjadi sayup-sayup. Dan, semakin lama semakin menghilang.
Aisawa mulai melangkah dan membuka pintu kamar. Di sana ia menemukan Peter. Lelaki yang dengan sengaja membuatnya pingsan. Peter menatap Aisawa dengan senyuman yang biasanya, senyuman manis dan menggoda. Sebenarnya, Peter sudah tahu kalau Aisawa mengetahui semua rahasia itu. Namun, dia tak ingin membahasnya.
"Hai Sayang." Ujar Peter sembari mendekatkan wajah ingin mencium Aisawa. Dia dengan cepat menghindar dan menuruni tangga. Dengan lebih cepat, Peter sudah berada di bawah sana. "Kau kenapa menghindariku? Bukankah kau menikmati saat aku menciummu?" ujar Peter tepat di hadapan Aisawa. Gadis itu tak bisa menghindar lagi. Peter mendorong tubuh Aisawa ke dinding dan membuatnya tidak bisa bergerak.
"Selama kau belum mendapatkan kekuatan kelima. Kau tidak akan bisa menang dariku." Aisawa mencibir. Matanya menajam.
Yang tak di duga, Peter melepas cengkeramannya. Dia membalik tubuh dan turun tanpa menggunakan kekuatannya. Sepertinya, kata-kata Aisawa berhasil membuat Peter ketakutan atau pura-pura ketakutan?
☆☆☆☆☆
Sejak saat itu Peter benar-benar menghilang. Sebenarnya itu membuat Aisawa tenang. Namun, dia tetap harus waspada. Kemungkinan, Peter sudah memiliki apa yang sedang dicarinya. Kebosanan melingkupi perasaannya. Ia juga ingin bertemu dengan Madara. Dia merasakan rindu luar biasa. Entah karena cinta atau nafsu memilikinya.
Jari telunjuknya tak berfungsi dengan baik membuka gerbang. Gerbang itu menjadi gebrak-gebrak tak beraturan. Mungkin karena ada Madara di sekitar sini. Pikir Aisawa. Akhirnya, dia keluar dengan mendorong pelan gerbang kayu yang tinggi itu. Dan, benar saja. Dia menemukan lelaki Jepang itu duduk di bangku besi panjang di depan rumah sekaligus sepanjang trotoar. Lelaki itu setengah tertidur. Tubuhnya bersandar pada punggung bangku sementara kepalanya tertunduk.
Dengan hati-hati, Aisawa mendekatinya dan duduk di sampingnya. Suasana sepagi itu membuat jalanan masih lenggang. Tiba-tiba, kepala Madara jatuh ke samping dan berada tepat di bahu Aisawa. Jantung Aisawa meledak-ledak dengan gejolak aneh. Hatinya entah mengapa merasa berbunga-bunga. Bibirnya merekah tersenyum.
"Aisawa?" ujar Madara memastikan ketika mendapati gadis itu berada di sisinya. "Kenapa kau disini?" tanya Madara akhirnya.
"Aku melihatmu ketiduran. Kau kenapa berada di sini?" tanya Aisawa akhirnya. Mukanya sudah memerah karena malu. Dia tertangkap basah meminjamkan bahunya untuk tidur Madara. Pria itu tampak letih.
"Kirei. Dia sudah janji menemuiku dua hari yang lalu di sini. Tapi dia tidak ada dimana pun. Aku sudah bertanya ke rumah dan teman-temannya. Dia sudah hilang, Ai-chan. Aku semalaman mencarinya. Dan, tak sengaja tidur di sini. Aku sangat khawatir padanya. Aku sangat mencintainya." Kalimat terakhir adalah hantaman hebat yang meluluh-lantahkan bunga-bunga yang baru saja terkembang di hatinya.
Aisawa terdiam. Antara sakit hati dan sama khawatirnya. Dia melihat wajah sedih Madara yang sedih sekaligus ketakutan. Meskipun dia tidak bisa membaca apa yang dipikirkan Madara, dia tahu betul kalau lelaki itu sangat kehilangan kekasihnya. Apa dia perlu membantu? Kalau tidak ada Kirei. Dia bisa memiliki Madara seutuhnya. Tapi, dia tidak bisa melakukan itu. Melihat Madara sedih, itu lebih sakit dari apa pun.
"Kau tetap di sini. Aku akan mencarinya." Ujar Aisawa membuat Madara tertegun dan mengeryit. Aisawa masih berpikir keras.
"Aku tidak mungkin diam saja. Kita cari Kirei bersama-sama." Ujar Madara akhirnya. Aisawa terdiam. Dia tidak mungkin bisa mendeteksi Kirei jika ada Madara. Dia pun tidak mungkin menyuruh Madara tetap diam. Andai saja dia bisa menggunakan kekuatannya bersama Madara yang ada di sisinya.
"Tetaplah di sini. Aku akan membeli beberapa minuman dan sarapan untukmu. Kau tidak akan berpikir jernih kalau tidak makan, Madara-kun. Sepuluh menit lagi aku akan kembali. Aku pinjam sepedamu." Ujar Aisawa dengan cepat tanpa mengizinkan Madara menjawabnya. Gadis itu sudah pergi.
"Aku tidak mungkin makan. Bahkan aku tak bisa membayangkan apa Kirei bisa makan di sana." Ujar Madara lirih. Air matanya menetes begitu saja.
☆☆☆☆☆
Dia tidak benar-benar ke supermarket. Dia memilih tempat yang jauh dari Madara untuk menggunakan kekuatannya. Membaca pikiran Kirei dan membaca masa depan yang akan terjadi. Dia terus berusaha keras. Hingga benar-benar menjauh dari Madara. Bahkan dia tidak tahu, sudah berapa lama dia mengayuh sepeda. Sepuluh menit rasanya tidak cukup jika tak bisa berlari secepat Peter.
Tunggu. Peter?
Tiba-tiba bayangan demi bayangan masuk ke penglihatannya. Dan di sana dia melihat Kirei. Tubuhnya diikat dengan tali dan didudukkan pada sebuah kursi kayu kecil. Mulutnya diplester dan matanya sudah sangat lama menangis. Dia tahu tempat itu. Beberapa orang berada di sana sama-sama diikat dan diplester di bagian mulut. Kirei tak seperti biasanya yang ceria, ramah dan murah senyum. Dia tampat sangat marah.
☆☆☆☆☆
Aisawa dan Madara di sini sekarang. Aisawa tidak tahu harus melakukan apa. Dia ingin terus bersama Madara, memiliki lelaki itu dan dia pun mencintainya. Membiarkan Kirei hilang selama-lamanya dan memandangnya. Nafsu dan cinta itu beda tipis hanya dibatasi selaput tipis yang bahkan mungkin tak bisa dilihat oleh mikroskop. Kau tahu, mengikhlaskan sesuatu tidak semudah yang dibayangkan siapa pun. Dan, Aisawa pun tidak sebaik itu. Bahkan dia baru pertama kali mengenal rasa lain selain bahagia.
"Aku mencintaimu. Aku menginginkanmu." Ujar Aisawa sambil menahan tangan Madara yang hendak masuk ke sebuah gedung.
"Heh?" hanya itu jawaban dari Madara. Lelaki itu memandang pintu utama gedung sekaligus berganti menatap Aisawa yang masih diam di tempat. Madara melihat setitik air mata menetes di sudut mata Aisawa.
Aisawa buru-buru menghapusnya. Menenangkan hatinya yang telah hancur berkeping-keping. Ketika dia ingin melanjutkan masuk menuju gedung. Seseorang yang cukup dikenalnya berjalan cepat dan kali ini sudah berada di hadapannya, begitu dekat atau bahkan tanpa jarang sekali pun. Aisawa menatap lelaki itu dengan tatapan penuh amarah. Tentu saja dia tahu siapa di balik penculikan Kirei. Aisawa tak sempat melihat wajah terkejut, kaget dan ketakutan yang ada di wajah milik Madara.
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Aisawa setengah berbisik. Madara tak mendengar jelas obrolan keduanya. Peter tersenyum kecut.
"Aku mencintaimu. Aku menginginkanmu!" ujar Peter meledek dan mengulang kata-kata yang diucapkan Aisawa pada Madara. Madara mendelik ke arah keduanya. "Aku hanya mempermudah kau memiliki dia." Lanjut Peter dengan nada lebih lirih dan menggoda. Nada bicaranya begitu mesra dan membuat Aisawa jijik.
"Kau tidak membunuhnya, bukan?" kali ini Aisawa ketakutan dan khawatir. "Kau lihat Kirei di dalam!" perintah Aisawa pada Madara. Madara menurut saja.
"Kau serahkan semua kekuatanmu maka aku akan membuat mereka baik-baik saja. Mudah, bukan? Dan, kau akan mati dengan tenang." Ujar Peter berusaha setenang mungkin. Jantungnya bergejolak tak tentu arah. Sepertinya Aisawa mulai menyadari sesuatu yang beda pada tatapan Peter.
Napas Peter terengah-engah. Dia berusaha tenang dan terus tenang, matanya terus menatap Aisawa yang seolah menantang menatapnya penuh kebencian. Keduanya sama-sama berpandangan tak seorang pun pindah dari posisinya. Aisawa tersenyum sinis dengan tatapan mencibir seolah tidak takut kematian atau keadaan rekan-rekannya. Peter mengeraskan rahang dan mulai stabil. Dia tersenyum jahil sambil terkikik kecil. Aisawa kali ini mengeryit.
"Kau tak menjawab. Apa berarti kau ingin kubunuh tanpa perlawanan?" bisik Peter pada telinga Aisawa. Bibirnya menempel pada telinga Aisawa. Membuat Aisawa merasakan dingin pada telinganya. Peter menegakkan tubuhnya lagi.
"Aku tidak yakin kau akan melakukan itu padanya." Seseorang melangkah dan mendekati keduanya. Keduanya menoleh dan hampir saja bertabrakan karena begitu spontan. Peter terkejut begitu pula Aisawa. Namun, Aisawa mengenal suara ini.
"Kenapa kau tidak yakin? Aku bisa membunuhnya dengan mudah kalau aku mau. Lelaki konyol itu sudah pergi menjemput kekasihnya. Dia tak akan menolong gadis ini." Tegas Peter membuat Aisawa mendelik tajam namun masih tak bicara.
Aisawa menerka-nerka siapa suara itu. Justru baginya ocehan Peter sudah tidak menarik lagi. Dia lebih tertarik pada lelaki setengah baya dengan pakaian adat Jepang serba hitam. Matanya membelok tajam ke arah Peter dan Aisawa. Bergantian menatap kedua makhluk setengah manusia itu satu persatu.
"Aku tahu, kau mencintainya, bukan?" lelaki itu memastikan pada Peter. Aisawa mendelik kaget, begitu pula Peter. Hanya saja ada wajah terkejut yang berbeda. "Kau tahu bahwa mendapatkan kekuatan dari Aisawa yang begitu tak banyak omong adalah mudah, bukan? Bahkan kau bisa melakukannya sekarang juga. Tapi, apa?" lelaki itu bicara lagi. Namun, Peter masih terdiam. "Tanpa perlu menculik Kirei. Kau bisa dengan mudah melakukannya. Kau bermain perasaan dalam misimu!" tegas lelaki itu membuat Peter memanas dan meledak-ledak. Pasir di bawah kakinya berhamburan.
Kali ini, Aisawa sudah mendapatkan jawaban siapa suara itu. Suara kegelapan yang selalu memberitahu apa yang dibutuhkannya. Namun, Aisawa sudah melupakan tentang itu. Dia menatap Peter yang emosi dan detik berikutnya entah pergi kemana.
☆☆☆☆☆
Ketika Aisawa masuk gedung bersama lelaki yang baru dikenalnya meskipun dia tahu sebenarnya, Ikogi Hatake, dia sedang mendapati Madara memeluk Kirei dengan penuh cinta. Beberapa orang yang sama-sama dikurung semua seusia dengannya. Dan, kelima yang lain tampak berbincang meninggalkan Madara dan Kirei di sudut ruangan. Kirei menangis, Madara menghapus air mata gadis itu penuh cinta. Mereka berbincang kecil dan membuat tawa yang Aisawa inginkan. Tak disadari, dia menangis.
Berusaha baik-baik saja, gadis itu menghampiri Kirei yang bersama Madara. Dia berusaha menahan gejolak hatinya yang terasa pedih dan teriris. Dia tidak mempunyai kekuatan apa-apa sekarang. Ketika menyadari Aisawa mendekat, Kirei melepaskan pelukannya dari Madara. Gadis menatap Aisawa penuh ketakutan.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Aisawa yang sebenarnya hanya formalitas. Dia melihat ada ketakutan luar biasa di mata Kirei. Kirei atau Madara hanya saling pandang tanpa berani menjawab apa pun. "Lelaki brengsek itu pasti mengatakan sesuatu yang tidak-tidak, Kirei-chan?" ini kali pertama Aisawa menyebut nama gadis itu. Kirei diam kemudian mendongak dan mengangguk.
"Dia bilang, kau ingin membunuhku." Ujar Kirei lirih. Madara menggenggam erat tangan Kirei berusaha menguatkan. Ada pedih yang dalam di hati Aisawa.
"Pasti kau lebih tahu siapa yang sedang berbohong saat ini." Ujar Aisawa tegas. Bukan hanya Kirei dan Madara yang mendelik. Lima orang yang tidak dikenal Aisawa dan Ikogi pun mendelik. "Aku tidak memaksamu mempercayaiku. Kurasa kau lebih tahu kenyataannya." Lanjut Aisawa seraya pergi dengan tatapan tak bisa ditebak.
Bersamaan dengan itu, semuanya bangkit dan meninggalkan tempat mengerikan yang bisa saja Peter sedang bersembunyi di salah sudutnya. Apakah ini sakit hati? Sakit yang begitu pedih dan menyesakkan. Jika sakit hati seperti ini, dia lebih memilih tidak berperasaan, tidak jatuh cinta, tidak tersenyum untuk orang lain dan tidak merasakan apa pun. Dia lebih menyukai kehampaan sekaligus bahagia yang biasa-biasa saja.
☆☆☆☆☆
Sejak dua hari yang lalu, Aisawa mengurung diri. Dia tidak ingin menemui Kirei atau pun Madara. Itu adalah sumber penyakitnya yang luar biasa pedih. Lagipula dia lebih menyukai kesendiriannya seperti sebelum-sebelumnya. Namun, semua itu tampak berbeda. Dia bukan dia yang dulu. Dia masih merasakan gundah, sedih, terkekang, bosan dan semua yang sebelum bertemu dengan Madara tidak pernah dirasakannya. Dia tampak putus asa untuk kembali ke kehidupan semulanya yang bahagia, melakukan apa pun sesukanya. Dia tak menyangka dia sudah menjadi manusia normal meskipun kekuatannya tidak hilang. Malam ini dia benar-benar tidak bisa tidur. Lebih tepatnya dua malam berturut-turut dan itu melelahkan sekali.
"Apa kabar, Sayang?" pertanyaan itu membuat Aisawa sontak bergerak waspada. Dia duduk di tepi ranjang, dengan cepat Peter duduk di samping gadis itu.
"Apa yang kau inginkan dariku?" pertanyaan itu begitu saja keluar dari Aisawa tanpa ingin menjawab pertanyaan yang diajukan Peter lebih dulu. Aisawa bangkit dari tepi ranjang dan buru-buru tangannya ditarik Peter agar tetap duduk. Dia menurut.
"Tidak ada keinginan apa pun selain ingin dirimu." Ujar Peter singkat.
Peter melepaskan genggamannya dan bangkit ingin meninggalkan Aisawa. Mata abu-abunya tampak sedih dan tidak bersemangat. Tubuhnya pun terlihat begitu lemah. Apa benar Peter menyayanginya dengan tulus? Aisawa membuang semua pikiran itu. Lelaki itu yang membawa hidupnya pada masalah-masalah baru. Dia tidak harus percaya dan tidak harus membencinya juga. Peter yang memunggungi Aisawa akhirnya menoleh dan menatap gadis itu lembut, tidak seperti biasanya.
"Ada apa?" tanya Aisawa sinis. Gadis itu menatap Peter penuh kebencian. Peter membalas tatapan Aisawa dengan wajah murung kemudian tersenyum. Senyum yang jelas-jelas dibuat-buat. Peter menghela napas kecewa.
"Tidak ada apa-apa. Aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggumu lagi." Jawab Peter lirih. Dia kembali membalik tubuhnya, kali ini Aisawa yang tampak sedih.
Entah apa yang dirasakan Aisawa saat ini. Hatinya bergejolak tak keruan. Bibir kelu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, hatinya menolak kepergian Peter. Ketika Peter ingin melangkah keluar dengan cekatan Aisawa menggerakkan jari telunjuknya dan membuat pintu tertutup dengan gebrakan keras. Kali ini, Peter menoleh dan menatap Aisawa tak mengerti. Lelaki itu jelas-jelas tak menampakkan perasaan bahagia sama sekali. Namun, tiba-tiba saja Aisawa merasakan sesuatu yang aneh. Dia bisa membaca pikiran Peter. Pemikiran yang rasanya amat mustahil.
Keduanya sama-sama diam di tempat. Saling menatap dan terus begitu beberapa saat. Peter mencintainya? Bahkan sejak awal dia berencana ingin memiliki kekuatan Aisawa, Peter sudah menghapus mimpi-mimpinya. Peter benar-benar bodoh! Dia menculik Kirei hanya untuk membuat Aisawa memilih Madara. Peter ingin melihat Aisawa bahagia. Ancaman bahwa dia akan membunuh Aisawa pun hanya bohong. Aisawa tidak mempercayai bacaannya. Ini benar-benar konyol.
"Kau bodoh!" ujar Aisawa sinis. Membuat Peter menatap lebih tajam.
"Aku memang bodoh. Kenapa kau menahan orang bodoh ini? Aku ingin pergi." Ujar Peter lirih. Pria itu memasukkan kedua tangannya di kantung jaket tebalnya. Dingin musim dingin memang mulai dirasakan belakangan ini.
"Kau bodoh!" ulang Aisawa masih sinis.
Peter menatap Aisawa dalam diam. Ada kemarahan yang begitu besar di mata itu. Aisawa merasakan gejolak di hatinya tidak keruan. Bukan hanya rasa ingin memiliki yang dirasakannya pada Madara. Ini berbeda. Benar-benar berbeda. Dia tidak tahu perasaan apa. Dia ingin memiliki sekaligus menginginkan lelaki itu tetap tinggal.
"Kau bodoh!" ujarnya sekali lagi. Peter masih diam di tempat. "Kau sangat bodoh! Sangat bodoh!" hardik Aisawa dengan volume lebih tinggi.
Tanpa diduga, pria itu dengan cepat duduk di samping Aisawa. Gadis itu kaget dan hampir saja terjatuh, namun Peter mencengkeram bahunya. Detik berikutnya pria itu mencium bibir Aisawa pelan. Lelaki itu menutup mata, begitu pula Aisawa. Namun, tiba-tiba saja, Aisawa merasakan tak ada lagi dingin di bibirnya. Ketika membuka mata, Peter menatapnya dengan wajah sedih. Ada penyesalan yang sangat besar. Dan, detik selanjutnya, yang Aisawa ketahui hanya samar dan abu-abu. Tubuhnya lemas dan setengah sadar tubuhnya terjatuh ke belakang. Peter tampak kebingungan.
Peter mengangkat kedua kaki Aisawa hingga tubuh keseluruhannya berbaring di ranjang. Setiap menyentuh Aisawa, itu sama saja mengambil energi Aisawa. Meskipun tidak keseluruhan energi tercabut. Dan, dia tidak ingin melakukan itu lagi.
"Kau bodoh, Peter." Ujar Aisawa lirih. Matanya setengah terbuka. Lelaki itu diam, namun melirik ke arah Aisawa dengan konstan.
Hingga akhirnya, Peter bangkit dan hendak pergi. Namun, pergelangannya digenggam erat oleh Aisawa. Ketika dia membalik tubuhnya, genggamannya makin lemah dan beberapa detik kemudian terlepas. Kedua mata gadis itu tertutup rapat, napas yang semula konstan menjadi lemah. Peter benar-benar kebingungan. Memang sebuah larangan jika bersentuhan dengan seseorang yang berkekuatan. Siapa yang hatinya lebih lemah, energinya akan tertarik dengan mudah meskipun kenyataannya memiliki kekuatan luar biasa. Dan, Aisawa begitu lemah.
"Dewa, berikan dia kehidupan lagi. Aku rela menukarnya dengan nyawaku!" teriak Peter sejadinya. Tangis pecah dan mengucurkan banyak air mata di sana.
Entah mengapa dia bisa selemah ini. Dia tak pernah tahu mencintai Aisawa begitu dalam. Semula dia ingin berbuat jahat dan mengambil semua kekuatan gadis lemah itu. Namun, dengan mudah pula gadis itu membuatnya jatuh cinta. Dia adalah orang bodoh yang pernah ada. Mencintai namun menyakiti. Bahkan untuk Madara yang tidak pernah mencintainya pun, Madara selalu melindungi Aisawa.
☆☆☆☆☆
Sudah lebih dari sebulan lamanya tak ada kabar dari Peter. Aisawa duduk diam memerhatikan salju yang turun dengan cantik. Putih dan tampak menyejukkan. Sudah sekian lama dia menunggu Peter datang, namun lelaki itu tak pernah hadir. Aisawa melangkah dengan cepat menuju ranjang kamarnya. Dia tak tahu mengapa bisa mendapatkan ilmu kecepatan milik Peter. Dia tidak ambil pusing.
Tubuhnya ia baringkan pada tempat tidur yang empuk. Udara dingin yang masuk dari jendela membuatnya menggerakkan ujung telunjuk untuk menutupnya. Tertutup dan terkancing dengan sempurna. Selanjutnya, dia mulai menarik selimut ingin tidur.
"Dia...," suara Ikogi membuat Aisawa mengurungkan diri untuk tidur. Sejak saat kemunculan perdananya, Aisawa tak bertemu dengan Ikogi sekaligus mendengar suara lelaki setengah baya itu lagi. Ini pertama kalinya. "Dia mengorbankan dirinya agar kau tetap hidup. Dan, dewa mengabulkan. Dia sudah tidak ada di dunia sekarang." Lanjut Ikogi membuat Aisawa mengeryit tanpa tak mengerti.
"Dia? Siapa?" tanya Aisawa.
"Kawahara Peter. Dia telah membuatmu pingsan waktu itu. Kau menggenggam erat tangannya begitu erat, itu membuatmu kehilangan banyak energi. Kau tahu bukan kalau bersentuhan dengan orang jenis kalian, maka salah satu di antara kalian yang memiliki hati bersedih akan kehilangan energi. Dan, dia tak sengaja membuatmu seperti itu. Dia merasa sangat bersalah. Dia meminta dewa agar menghidupkanmu lagi. Dan, dia terima jika dia yang harus mati." Jelas Ikogi membuat Aisawa hampir menangis karena tak percaya. "Sebenarnya aku tidak percaya dia begitu mencintaimu. Saat pertama kali dia datang ke sini saat kau bangun tidur, saat dia menciummu dan membuatmu hampir pingsan, dia sangat merasa bersalah. Aku tahu, saat itu dia sudah mencintaimu." Tegas Ikogi. "Dia menculik dan berniat membunuh Kirei hanya agar kau bahagia dengan Madara. Ternyata kau mengetahui keberadaan Kirei. Akhirnya, dia pura-pura marah dan mengancammu. Dia itu sangat konyol, Aisawa." Lanjut Ikogi.
"Sudah cukup aku mendengarnya! Aku ingin keluar sebentar!" bentak Aisawa emosi. Dia menghapus air matanya yang sudah bercucuran deras.
☆☆☆☆☆
Udara malam yang dingin ditambah musim salju menjadi dingin yang luar biasa. Aisawa menyusuri jalan setapak berusaha mencari-cari sesuatu yang membuatnya tidak merasa bosan dan merindukan Peter. Namun, itu begitu sulit. Hingga langkahnya terhenti ketika melihat seseorang sedang berdiri memeluk tubuh dengan kedua tangan yang masing-masing mengenakan kaus tangan hangat. Uap putih keluar dengan cantik dari mulutnya. Aisawa terdiam masih memerhatikan, hingga seseorang di sana sadar telah diperhatikan. Aisawa mendekat dengan cepat tanpa langkah berarti.
"Astaga!" teriaknya refleks. Aisawa hampir tertawa dibuatnya.
Lelaki itu mundur satu langkah tampak ketakutan. Kali ini, Aisawa yang terdiam sekaligus menatap penuh tanda tanya. Mengapa orang itu takut padanya. Aisawa melangkah satu kali ke depan. Membuat orang itu mundur sekali lagi hingga akhirnya dia menyerah ketika tahu tubuhnya sudah menempel di dinding. Aisawa tersenyum jahil dengan tatapan menggoda.
"Apa kau hantu? Kau bisa melakukan seperti tadi." Ujarnya terbata-bata.
Aisawa mulai sangat kebingungan. Lelaki itu setengah gemetar, mungkin karena efek langkah Aisawa yang begitu cepat. Aisawa menjadi kesal dan tidak sabaran. Dia menjinjitkan kaki dan mencium bibir lelaki itu dengan susah payah. Lelaki itu terdiam dengan mata terbelalak kaget. Bibir basah Aisawa masih menyentuh bibirnya dengan lembut, Aisawa belum melepaskannya. Sangat lama seolah menikmatinya ketika Aisawa menyadari bahwa energi dalam tubuhnya baik-baik saja.
"Apa yang kau lakukan? Bahkan kita belum pernah mengenal!" teriak lelaki itu tak terima. Napasnya terengah-engah. Pipinya panas. Aisawa sama-sama terengah-engahnya. Dia tak menyangka melakukan hal bodoh seperti yang dilakukan Peter padanya dulu. Aisawa masih merapatkan tubuhnya dengan tubuh lelaki itu.
"Bukankah aku kekasihmu? Ini aku, Peter!" tegas Aisawa geram.
Wajah itu benar-benar sama persis. Sebenarnya dia yakin kalau lelaki itu Peter. Namun, lelaki itu memang sedikit berubah, lebih lembut dan culun. Namun, masih tampan dan membuatnya rindu seperti sebelumnya. Aisawa menatap lelaki itu tanpa berkedip sekali pun melihat kebenaran yang ada di matanya. Dia sudah membaca hal yang ada di pikirannya. Lelaki itu sedang berpura-pura. Hingga akhirnya, Peter tersenyum dan tangan kanannya meraih pinggang Aisawa ke pelukannya. Tangan kiri meraih leher Aisawa dan membenamkannya ke dadanya yang bidang. Terasa hangat.
"Aku mencintaimu, Aisawa. Meskipun aku sudah tak punya kekuatan apa pun. Aku akan melindungimu dengan seluruh ragaku." Ujar Peter sembari mengeratkan pelukannya. Tak ada yang dilakukan. Aisawa membalas pelukan hangat Peter. Mungkin itu sudah jawaban lebih atas ucapan Peter. Peter tersenyum.