Gereja Yang Terbakar & Akhir Bunga Perasaan
Fantasy
28 Nov 2025 27 Nov 2025

Gereja Yang Terbakar & Akhir Bunga Perasaan

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download (5).jpeg

download (5).jpeg

26 Nov 2025, 12:45

Aktivitas favorit Arin pada sore hari adalah duduk di bangku taman sambil memandangi indahnya bunga-bunga dan teduhnya pepohonan. Hatinya menjadi damai, ketimbang saat ia dikelilingi oleh manusia. Biasanya ia berada di sana cukup lama, hingga matahari nyaris terbenam.

Namun, sore itu aktivitasnya terganggu. Sekelompok anak bermain kejar-kejaran, lalu menerjang sebaris bunga dengan seenaknya saja. Sontak Arin berdiri ingin memarahi mereka. Tapi kata-katanya tak keluar. Dan anak-anak itu terlanjur berlalu meninggalkan taman.

Arin pun mendesah.

"Dasar bocah-bocah kampret..."

Pemuda itu mendekati bunga-bunga yang dirusak, lalu berjongkok di sana. Ia meletakkan telapak tangan kanannya di tanah dan di batang tanaman yang patah. Ajaib, batang itu perlahan pulih seperti sedia kala. Bunga yang terinjak pun mekar lagi. Itulah bakat spesial yang dimiliki Arin, yang tak pernah ia ceritakan pada siapapun.

"Waw... itu keren banget!"

Pemuda itu sontak menoleh. Ia kaget setengah mati, tak mengira ada orang yang memperhatikannya. Seorang gadis muda berpakaian suster berdiri di dekatnya. Gadis itu sedang menenteng plastik belanjaan.

"A—anu—aku bisa jelaskan!" seru Arin tergagap.

Sang gadis menggeleng, "Aku lihat semuanya. Tadinya kan aku mau mengejar anak-anak itu karena merusak tanaman."

"Mati aku..." Arin tertunduk, tak tahu harus berbuat apa. Ia tak mau dianggap aneh. Orang-orang dengan kemampuan khusus sepertinya biasanya akan diviralkan, menjadi pusat pembicaraan, didatangi wartawan, memiliki haters—

"Aku tidak akan bilang siapa-siapa," ucap gadis itu, menghentikan kegundahan Arin. "Namaku Silvia." Ia mengulurkan tangannya.

"Arin," jawab sang pemuda sembari menjawab uluran tangan tersebut.

"Kau memiliki bakat yang luar biasa," ulang Silvia.

"Eh... Terima kasih," jawab Arin tersipu malu.

"Jadi... apa kau mau membantuku menanam bunga di kebun gereja?"

"Eh?"

"Suster kepala memerintahkanku, tapi kurasa aku tidak punya bakat berkebun."

"Tapi—"

Silvia memegang kedua tangan Arin, kedua matanya berbinar, "Tolonglah..."

Pemuda itu pun tak sanggup menolak. Meski ia tahu sedang dimanfaatkan, tapi nalurinya sebagai lelaki sangat menggebu.

"Kalau begitu besok pagi aku akan ke gereja!" seru Arin lalu berlari meninggalkan Silvia.

Awalnya Silvia ragu apakah pemuda itu akan benar-benar datang. Tapi keesokan paginya ia benar-benar datang. Jadi mereka pun mulai bekerja. Silvia yang mengatur desain dan jenis bunga apa yang perlu ditanam, sedangkan Arin yang mengeksekusi rencana tersebut.

Setelah selesai, Silvia menyuguhkan teh dan kue untuk Arin. Pemuda itu langsung menyantap hidangannya dengan lahap.

"Kamu lapar atau doyan?" tanya Silvia yang memperhatikan pemuda tersebut.

"Dua-duanya," jawab Arin. Tapi kemudian ia berhenti. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Setelah ini apa aku masih boleh main-main ke sini?"

Silvia mengerutkan dahinya, "Memangnya kenapa tidak boleh?"

"Tugasku kan sudah selesai..."

Arin merasa tahu diri. Silvia adalah gadis yang manis. Apalagi ia seorang suster. Kalau bukan karena butuh bantuan, mustahil ia bisa terus bersama Silvia.

"Tentu saja, datang saja sesukamu! Nanti aku akan membuatkan teh dan kue!" jawab Silvia.

"Serius?"

Silvia mengangguk.

"Baiklah," Arin pun tersenyum bahagia.

Sejak saat itu mereka sering bertemu. Kadang Arin datang ke gereja sambil berpura-pura menjadi jemaat, kadang Silvia mampir saat melihat Arin di taman, dan kadang mereka mengatur pertemuan di tempat rahasia. Di hutan pinggir kota yang lebat, tapi Arin mendekorasinya senyaman mungkin menggunakan kekuatannya. Tanpa diketahui siapapun, mereka memadu kasih. Sebuah cinta terlarang antara orang biasa dan pelayan Tuhan.

Di suatu sore yang damai, setelah selesai berpetualang menyusuri hutan, Arin dan Silvia pun memutuskan untuk beristirahat di bagian terdalam hutan, dan berbaring diatas rerumputan yang lembut.

"Sil," ucap Arin sembari memegang tangan Silvia.

"Kenapa?" Jawab Silvia yang masih menikmati pemandangan langit nan cerah.

"Apa ini benar?" Rasa takut terdengar jelas dalam suara Arin.

"Hah? Gimana?"

"Yang kita lakukan... terkadang aku khawatir... tidak seharusnya kita memiliki hubungan seperti ini."

"Eh? Kenapa? Karena aku seorang suster?"

"Ya, tentu saja lah." Arin menatap gadis itu. Ia bisa melihat bola mata Silvia yang begitu jernih.

Silvia ragu sejenak sebelum menjawab, "Yah... Aku sendiri sebenarnya tidak pernah mau menjadi suster kok. Orang tuaku yang mengirimku ke sana. Jadi... Aku bisa apa? Terkadang hidup kita seperti boneka marionette yang dikendalikan orang lain... dan Tuhan, pastinya."

Arin merinding mendengarnya. Selama ini ia tak pernah terlalu memikirkan soal Tuhan. Tapi ide untuk membangkang sang pencipta agak membuatnya takut. Namun, Arin juga sebenarnya masih ingin mengungkapkan sesuatu yang lain, tapi dia mengurungkan niatnya.

"Sesekali, aku hanya ingin melakukan apa yang kumau. Aku mau kamu, Arin."

"Tapi ini beresiko banget loh..."

"Biar aku yang tanggung resikonya." Gadis itu mendekatkan kepalanya ke samping Arin, dan memandang wajah pemuda itu. "Daripada hidup seribu tahun sebagai domba, aku ingin menjadi serigala satu hari saja. Meski akhirnya dibunuh gembala."

Kemudian gadis itu mendekatkan wajahnya ke arah Arin. Bibir mereka pun bertemu, berpagutan. Rasanya ingin agar sore itu berlangsung selamanya, agar mereka tak perlu pulang ke tempat masing-masing dan berusaha menyembunyikan bahwa kisah ini pernah terjadi.

Keesokan harinya, Arin datang ke gereja membawakan buah-buahan untuk suster kepala. Ia takut wanita tua itu mulai mencurigainya. Mungkin ia perlu lebih rajin beribadah agar tak dikira macam-macam.

Namun, dari kejauhan ia melihat asap hitam yang membumbung tinggi. Perasaannya segera berubah tidak enak. Ia mempercepat langkahnya menuju gereja. Tampak orang-orang sedang berkumpul, sementara lidah api berkobar melalap bangunan gereja. Sontak Arin menjatuhkan barang bawaannya lalu berlari.

"Silvia!"

Orang-orang segera menghentikan pemuda itu.

"Jangan! Bahaya!"

"Tidak! Lepaskan!"

Tapi akhirnya Arin tak kuasa. Ia berlutut lemas. Katanya api tiba-tiba menyambar di tengah kebaktian, memberangus semua orang yang terjebak di dalamnya—termasuk Silvia.

"Inikah hukuman? Inikah hukuman dari-Mu?" isak Arin tak tertahan. Air matanya berurai. Ia akhirnya menempelkan kedua telapak tangannya di tanah, lalu mengerahkan seluruh kekuatannya. Tiba-tiba sulur-sulur raksasa mencuat dari dalam tanah lalu melilit bangunan gereja, mematikan api yang berkobar.

Semua orang terkejut, dan tak ada yang menyadari bahwa itu adalah perbuatan Arin. Atau mungkin, ada beberapa yang menyadarinya. Makanya Arin merasakan ada tatapan aneh yang terarah ke arahnya. Tapi dia tidak peduli. Tidak untuk saat ini.

Namun, warga dibuat semakin terkejut saat melihat ada banyak bunga-bunga berwarna-warni dari berbagai jenis yang tiba-tiba tumbuh menutupi seluruh gereja itu.

Kemudian hujan yang deras turun, seakan menyudahi hukuman bagi sang pemuda. Walau akhirnya tetap tak bisa mengembalikan Silvia.

"Tidak... ini tidak mungkin..." Kini air mata Arin telah bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya.

Kembali ke Beranda